Zat Pengatur Tumbuh

`Beberapa zat pengatur tumbuh yang telah dikenal adalah: 1. 2. 3. 4. 5. AUXIN GIBBERELLIN CYTOKININ ETHYLENE INHIBITORS

AUXIN Auxin adalah salah satu hormon tumbuh yang tidak terlepas dari proses pertumbuhan dan perkembangan (growth and development) suatu tanaman. Hasil penemuan Kogl dan Konstermans (1934) dan Thymann (1935) mengemukakan bahwa Indole Acetic Acid (IAA) adalah suatu auxin. 1. Kejadian di dalam alam Di dalam alam, stimulasi auxin pada pertumbuhan celeoptile ataupun pucuk suatu tanaman, merupakan suatu hal yang dapat dibuktikan. Praktek yang mudah dalam pembuktian kebenaran diatas dapat dilakukan dengan Bioassay method yaitu dengan the straight growth tets dan curvature test. Menurut Larsen (1944), Indoleacetaldehyde diidentifikasikan sebagai bahan auxin yang aktif dalam tanaman, selanjutnya ia mengemukakan bahwa zat kimia tersebut aktif dalam menstimulasi pertumbuhan kemudian berubah menjadi IAA. Perubahan tersebut menurut Gordon (1956) adalah perubahan dari Trypthopan menjadi IAA Tryptamine sebagai salah satu zat organik, merupakan salah satu zat yang terbentuk dalam biosintesis IAA. Dalam hal ini perlu dikemukakan dalam tanaman fanili Cruciferae dan merupakan zat yang dapat dikelompokan ke dalam auxin (Jones et al, 1952). Menurut Thimann dan Mahadevan (1958), zat tersebut atas bantuan enzym nitrilase dapat membentuk auxin. Ahli lainnya (Cmelin dan Virtanen, 1961) menerangkan bahwa Indoleacetonitrile yang terdapat pada tanaman, terbentuk dari Glucobrassicin atas aktivitas enzym Myrosinase. Dan zat organik lain (Indoleethanol) yang terbentuk dari Trypthopan dalam biosin. Thesis IAA adalah atas bantua bakteri (Rayle dan Purves, 1976).

Metabolisme Auxin Hasil penelitian terhadap metabolisme auxin menunjukan bahwa konsentrasi auxin di dalam tanaman mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Sebagaimana diketahui. selanjutnya menjadi Indole-3-acetid acid (IAA). ternyata aktivitas IAA oksidasinya tinggi. Pemecahan IAA dapat pula terjadi di dalam alam. begitu pula sebaliknya. Dalam peristiwa photo oksidasi ini. pigmen pada tanaman akan menyerap cahaya kemudian energi ini dapat mengoksidasi IAA. Trypthopan berubah menjadi IAA dengan membentuk Indole pyruvic acid dan Indole-3-acetaldehyde. aktivitas auxsin ditentukan oleh : a. Sedangkan mengenai perubahan Indole-3-acetonitrile menjadi IAA dengan bantuan enzym nitrilase prosesnya masih belum diketahui. Di dalam daerah meristematic yang kadar auxinnya tinggi. Dalam hal ini apabila kandungan IAA tinggi. Hal ini sebagai akibat adanya photo oksidasi dan enzyme. Pemecahan Auxin c. maka aktivitas IAA oksidasi menjadi rendah.2. Ada hubungan yang berbanding terbalik antara aktivitas oksidasi IAA dengan kandungan IAA dalam tanaman. Adapun pigmen yang berperan dalam photo oksidasi ialah Ribovlavin dan B-Carotene. pemisahan karboksil grup (-COOH) dari struktur cincin. In-aktifnya IAA sebagai akibat proses pemecahan molekul. Sedangkan di daerah perakaran yang kandungan auxinnya rendah. ternyata aktivitas IAA oksidasinya rendah. 3. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi konsentrasi IAA ini adalah : a. IAA adalah endogeneous auxin yang terbentuk dari Trypthopan yang merupakan suatu senyawa dengan inti Indole dan selalu terdapat dalam jaringan tanaman di dalam proses biosintesis. Tetapi IAA ini dapat pula terbentuk dari Tryptamine yang selanjutnya menjadi Indole-3acetaldehyde. adanya rantai keasaman (acid chain) c. b. Proses lain yang menyebabkan inaktifnya IAA ialah karena adanya degradasi oleh photo oksidasi atau aktivitas suatu enzym. d. Struktur molekul dan aktivitas auxin Menurut Koeffli. Sintesis Auxin b. Adanya pengaturan ruangan antara struktur cincin dengan rantai keasaman. . Thimann dan went (1966). adanya struktur cincin yang tidak jenuh.

Phototropisme Suatu tanaman apabila disinari suatu cahaya. Abisission h. Dalam hubungannya dengan permeabilitas sel. Apical dominasi e. hormon tumbuh ini berpengaruh terhadap : a. Auxin sebagai salah satu hormon tumbuh bagi tanaman mempunyai peranan terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. menunjukan bahwa terdapat indikasi yaitu auxin dapat menaikan tekanan osmotik. meningkatkan sintesis protein. Phototropisme c. maka tanaman tersebut akan membengkok ke arah datangnya sinar. 4. Dilihat dari segi fisiologi. Pertumbuhan akar (root initiation) f. Hal ini ditunjang oleh pendapat Cleland dan Brustrom (1961) bahwa auxin mendukung peningkatan permeabilitas masuknya air ke dalam sel. b. Rantai yang mempunyai karboksil grup dipisahkan oleh karbon atau karbon dan oksigen akan memberikan aktivitas yang normal. Pengembangan sel b. Tentang sifat dari rantai keasaman. Perbedaan rangsangan (respond) tanaman terhadap . Pengembangan sel Dari hasil studi tentang pengaruh auxin terhadap perkembangan sel. Respirasi a. Parthenocarpy g.CH2COOH NH IAA Keempat persyaratan diatas merupakan faktor yang menentukan terhadap aktivitas auxin. kehadiran auxin meningkatkan difusi masuknya air ke dalam sel. menyebabkan pengurangan tekanan pada dinding sel. Geotropisme d. meningkatkan plastisitas dan pengembangan dinding sel. Pembentukan callus (callus formation) dan i. meningkatkan permeabilitas sel terhadap air. Koeffli (1966) menerangkan bahwa posisi dan panjang rantai keasaman. Arti auxin bagi fisiologi tanaman. Membengkoknya tanaman tersebut adalah karena terjadinya pemanjangan sel pada bagian sel yang tidak tersinari lebih besar dibanding dengan sel yang ada pada bagian tanaman yang tersinari. berpengaruh terhadap aktivitas auxin.

Untuk membuktikan pengaruh geotropisme terhadap akumulasi auxin. Dari perlakuan tersebut ternyata bahwa tidak terjadi pertumbuhan tunas pada ketiak daun. Contohnya tumbuhnya akar sebagai organ tanaman ke arah bawah. Bila organ tanaman yang tumbuh berlawanan dengan gravitasi bumi. Apical dominance Di dalam pola pertumbuhan tanaman. Contohnya seperti pertumbuhan batang sebagai organ tanaman. maka pertumbuhan tunas akan tumbuh ke arah samping yang dikenal dengan "tunas lateral" misalnya saja terjadi pemotongan pada ujung batang (pucuk). sebagai akibat treatment tersebut menyebabkan tumbuhnya tunas di ketiak daun.penyinaran dinamakan phototropisme. pucuk tanaman kacang (apical bud) dibuang. Terjadinya phototropisme ini disebabkan karena tidak samanya penyebaran auxin di bagian tanaman yang tidak tersinari dengan bagian tanaman yang tersinari. Dari hasil eksperimennya diperoleh petunjuk bahwa auxin yang terkumpul di bagian bawah memperlihatkan lebih banyak dibanding dengan bagian atas. Bahanbahan yang dipengaruhi gravitasi dinamakan statolith (misalnya pati) dan sel yang terpengaruh oleh gravitasi dinamakan statocyste (termasuk statolith). Hal ini menunjukan adanya transportasi auxin ke arah bawah sebagai akibat dari pengaruh geotropisme. Pada bagian tanaman yang tidak tersinari konsentrasi auxinnya lebih tinggi dibanding dengan bagian tanaman yang tersinari. Dari ujung tanaman yang terpotong itu diletakan blok agar yang mengandung auxin. Sedangkan geotropisme positif adalah organ-organ tanaman yang tumbuh kearah bawah sesuai dengan gravitasi bumi. Dengan adanya gravitasi maka letak bahan yang bersifat cair akan berada di atas. tumbuhnya kearah atas. maka akan tumbuh tunas pada ketiak daun. Dalam eksperimennya. c. Fenomena ini kita namakan "apical dominance" Hubungan antara auxin dengan apical dominance pada suatu tanaman telah dibuktikan oleh Skoog dan Thimann (1975). pertumbuhan ujung batang yang dilengkapi dengan daun muda apabila mengalami hambatan. . maka keadaan tersebut dinamakan geotropisme negatif. Geotropisme Geotropisme adalah pengaruh gravitasi bumi terhadap pertumbuhan organ tanaman. Keadaan auxi dalam proses geotropisme ini. Sel-sel tanaman terdiri dari berbagai komponen bahan cair dan bahan padat. maka akumulasi auxin akan berada di dagian bawah. d. Sedangkan bahan yang bersifat padat berada di bagian bawah. apabila suatu tanaman (celeoptile) diletakan secara horizontal. telah dibuktikan oleh Dolk pd tahun 1936 (dalam Wareing dan Phillips 1970).

Perlu dikemukakan pula di sini. Dari hasil eksperimennya diperoleh petunjuk bahwa ketiga jenis auxin ini mendorong pertumbuhan primordia akar. e. hormon auxin bertalian erat. Strawberry dan tanaman famili mentimun. keadaan seperti ini dinamakan Parthenocarpy. kemungkinan tanaman tersebut akan terhenti pertumbuhannya. Di dalam fisiologi. Apabila ujung coleoptile dipotong. Anggur. hubungan antara auxin dengan pertumbuhan batang nyata erat sekali. Luckwil (1956) telah melakukan suatu eksperimen dengan menggunakan zat kimia NAA (Naphthalene acetic acid). Selanjutnya pada tahun1936. bahwa menurut Delvin (1975). Pada tahun 1934 Yasuda berhasil menemukan penyebab Parthenocarpy dengan menggunakan ekstrak tepung sari pada bunga mentimun. Gustafon telah menemukan terjadinya Parthenocarpy dengan menggunakan IAA yang dicampur dengan lanolin pada stigma. Parthenocarpy Di dalam alam sering kita menjumpai buah yang tidak berbiji. Di dalam tanaman. perpanjangan akar (root initiation) Dalam hubungannya dengan pertumbuhan akar. . Seperti dikemukakan massart (1902) hasil eksperimennya menunjukan bahwa pembengkakan dinding ovary bunga anggrek dapat distimulasi oleh tepung sari yang telah mati. pemberian konsentrasi IAA yang relatif tinggi pada akar.Hal ini membuktikan bahwa auxin yang ada di apical bud menghambat tumbuhnya tunas lateral. Di dalam proses Parthenocarpy. Hasil analisisnya menunjukan bahwa ekstrak tersebut mengandung auxin. f. Seperti . Keadaan seperti ini disebabkan tidak dialaminya pembuahan pada perkembangan buah. jaringan-jaringan muda terdapat pada apical meristem. IAA (Indole acetid acid) dan IAN (Indole-3acetonitrile) yang ditreatment pada kecambah kacang. g. akan menyebabkan terhambatnya perpanjangan akar tetapi meningkatkan jumlah akar. Dalam gambar diatas diperoleh petunjuk bahwa kandungan auxin yang paling tinggi terdapat pada pucuk yang paling rendah (basal). Pertumbuhan batang (stem growth) Di dalam alam. Hubungannya dengan pertumbuhan tanaman peranan auxin sangat erat sekali. Hasil penelitian Muir (1942) menunjukan pula bahwa kandungan auxin pada ovary yang mengalami pembuahan (pollination) meningkat bila dibandingkan dengan ovary yang tidak mengalami pembuahan.

Konsentrasi auxin yang tinggi akan menghambat terjadinya abscission. Tetapi apabila jumlah auxin yang berada di daerah distal lebih besar dari daerah proximal. Pembentukan lapisan abscission (abscission layer). 5-T sebagai exogenous auxin yang diaplikasikan pada blak berry. Suatu anggapan mengenai peranan auxin dalam pertumbuhan buah. Mengenai hubungannya dengan auxin. maka tidak akan terjadi abscission. dingin. strawberry dan jeruk. maka mungkin hormon ini akan mendukung atau menghambat proses tersebut. Keadaan perkembangan ini selalu diikuti oleh peningkatan ukuran buah. kekeringan. Keadaan ini akibat hasil pembelahan sel dan/atau pengembangan sel. telah dibuktikan oleh Crane dalam tahun 1949 dengan menggunakan 2. Mengenai hubungan antara abscission dengan zat tumbuh auxin.h. panas. akan berpengaruh terhadap abscission. Menurut Weaver (1972). Dengan kata lain proses abscission ini akan terlambat. sedangkan auxin dengan konsentrasi rendah akan mempercepat terjadinya abscission. Teori lain (Biggs dan Leopold 1957. Addicot et al (1955) mengemukakan sbb: Abscission akan terjadi apabila jumlah auxin yang ada di daerah proksimal (proximal region) sama atau lebih dari jumlah auxin yang terdapat di daerah distal (distal region). fase pembelahan sel biasanya overlap dengan pengembangan sel (cell enlargementh). i. Di dalam proses abscission. akan terjadi perubahan-perubahan metabolisme dalam dinding sel dan perubahan secara kimia dari pectin dalam midle lamella. buah atau batang. diterangkan oleh Muller-Thurgau dalam tahun 1898 bahwa endosperma dan embrio di dalam biji menghasilkan auxin yang menstimulasi pertumbuhan endosperma. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa pertumbuhan buah lebih cepat 60 hari dari fase normal rata-rata 120 hari. Menurut Addicot (1964) maka dalam proses abscission ini faktor alami seperti . kadang-kadang diikuti oleh susunan cell division proximal. anggur. . Abscission Abscission adalah suatu proses secara alami terjadinya pemisahan bagian/organ tanaman dari tanaman. Pertumbuhan buah (fruit growth) Peningkatan volume buah ada hubungannya dengan pertumbuhan buah. seperti . 1972). daun. 1958) menerangkan bahwa pengaruh auxin terhadap abscission ditentukan oleh konsentrasi auxin itu sendiri. bunga. Dalam hubungannya dengan hormon tumbuh.4. Disini sel-sel baru akan berdiferensiasi ke dalam periderm dan membentuk suatu lapisan pelindung (Weaver.

yang akhirnya buah dan daun terlepas dari batang pokok. Penelitian lanjutan dilakukan oleh Yabuta dan Hayashi (1939). GA2. Begitu pula pertumbuhan dan pigmentasi warna hijau berubah menjadi warna kuning. 1954 . Keadaan seperti ini diikuti oleh meningkatnya abscission serta daun dan buah berguguran dari batang pokok. istilah ini diartikan. adapun hasil penelitian lanjutannya menghasilkan GA1. Fase pertama. Senescence yang terjadi seluruh bagian daun dan buah (decideus senescence) 4. Senescence Menurut Alex Comport (1956) dalam Leopold (1961) "senescence" adalah suatu penurunan kemampuan tumbuh (viability) disertai dengan kenaikan vulnerability suatu organisme. Dalam tahun 1951. Di dalam alam. Ia dapat mengisolasi crystalline material yang dapat menstimulasi pertumbuhan pada akar kecambah. j. Pada saat yang sama dilakukan pula penelitian di Laboratory of the Imperial Chemical Industries di Inggris sehingga menghasilkan GA3 (Cross.Teori terakhir dikemukakan oleh Robinstein dan Leopold (1964) yang menerangkan bahwa respon abscission pada daun terhadap auxin dapat dibagi kedalam dua fase jika perlakuan auxin diberikan setelah daun terlepas. Senescence berkembang dari daun paling bawah menuju kearah atas (progresive senescence) Ciri-ciri terjadinya senescence dapat ditemukan pada morfologi dan perubahan di dalam organ atau seluruh tubuh tanaman. dan fase kedua auxin dengan konsentrasi yang sama akan mendukung terjadinya abscission. menurunnya fase pertumbuhan (growth rate) dan kemampuan tumbuh (vigor) serta diikuti dengan kepekaan (susceptibility) terhadap tantangan lingkungan. Menurut Leopold (1961) ada empat bentuk senescence yang terjadi pada tanaman yaitu : 1. GIBBERELLIN Gibberellin adalah jenis hormon tumbuh yang mula-mula diketemukan di Jepang oleh Kurosawa pada tahun 1926. Stodola dkk melakukan penelitian terhadap substansi ini dan menghasilkan "Gibberelline A" dan "Gibberelline X". senescence terjadi pada daun. Semua organ tumbuh mengalami senescence (over-all senescence) 2. penyakit atau perubahan fisik lainnya. Namun di dalam tanaman. dan GA3. auxin akan menghambat abscission. batang dan buah. Ciri dari fenomena ini selalu diikuti dengan kematian. Senescence yang terjadi pada bagian atas (top senescence) 3.

Biosintesis gibberelline yang terdapat dalam jamur Gibberella Fujikuroi . GA17. GA3. diketemukan pada pucuk bambu. Sedangkan jenis gibberellin yang diketemukan pada tanaman derajat tinggi yaitu .d GA16. dan GA34. GA26. GA2. GA20. GA17. GA13. Adapun pada tanaman Phaseolus coclirecus diketemukan . dan GA20. Sesqueterpene (C-15). GA20. GA4. GA8. diterpene (C-20) dan triterpene (C-30).d GA9. Kemudian pada Rudbeckia bicolor diketemukan . GA28). s. dijumpai pada biji apel. GA25. GA17. GA1. kacang. dan GA29. GA13.d GA9. GA9. diketemukan pada umbi tulip. GA1. Kang (1970) dan Weaver (1972).d GA35. Metabolisme gibberelline Gibberellin adalah zat kimia yang dikelompokan kedalam terpinoid. 1. GA4. GA19. GA1.d GA23. GA7. GA1. GA7. Pada tanaman lain yaitu : Lipinus lutens (GA18. Kejadian di dalam alam. s.dalam Weaver 1972). s. Semua kelompok terpinoid terbentuk dari unit isoprene yang terdiri dari 5 atom karbon. GA9. pada pucuk tanaman jeruk dan biji mentimun diketemukan GA1. GA31. Gibberellin . GA19. Hasil penelitian Meizger dan Zeivaart (1980) menunjukan bahwa pada pucuk bayam (spinach) didapatkan gibberellin . GA27. kemudian GA3. GA44. dan GA13. s. GA33. s. GA7 s.. GA5. GA20. Jenis gibberellin yang diketemukan pada jamur yaitu . GA4. GA7. GA26. pisang (GA7). GA8. diketemukan pada anggur. GA4.d GA4.d GA6. dijumpai pada sword bean. Nama Gibberellin acid untuk zat tersebut telah disepakati oleh kelompok peneliti itu sehingga populer sampai sekarang. Di dalam alam telah ditemukan lebih dari sepuluh buah jenis gibberellin. GA24. GA1.d GA5. selanjutnya GA21. GA3 s. jagung. GA3. Dan yang terakhir yaitu gibberellin yang diketemukan pada jamur dan tanaman derajat tinggi yaitu . gibberellin ada yang diketemukan dalam jamur Gibberella Fujikuroi. C C-C-C C Unit Isoprene (5-C) Unit-unit isoprene ini dapat bergabung sehingga menghasilkan monoterpene (C-10). Menurut Mac Millan dan Takashashi (1968). GA7. GA36.d GA9. GA9. GA53. GA13. 2. GA1 s. tebu (GA5). ada yang diketemukan pada tanaman tinggi dan ada juga yang diketemukan pada keduanya. GA1. Dan yang terakhir yaitu pada Calonyction aculeatum diketemukan : GA30. dan GA29 diketemukan pada Pharbitis nil. GA23. GA18. s. GA7. barley wheat diketemukan GA1. dan GA22. GA19.

Begitu pula growth retardant CCC (2-chloroethyl) trimethyl (-amonium chloride) memperlihatkan aktivitas yang sama dengan Amo-1618. perbedaan utama pada gibberelline adalah: a. Senyawa lain yang ditemukan tanpa gibban skeleton yaitu "Steviol". Grup hidroksil berada dalam posisi 3 dan 13 (ent gibberellene numbering system) Semua gibberelline dengan 19 atom karbon adalah monocarboxylic acid yang mengandung COOH grup pada posisi 7 dan mempunyai sebuah lactonering. penyinaran. namun aktivitasnya seperti gibberelline. O H OH CO CH2 HO H COOH H CH3 H GA3 (gibberellic acid) 4. aktivitas kambium . Arti gibberellin bagi fisiologi tanaman Gibberellin sebagai hormon tumbuh pada tanaman sangat berpengaruh pada sifat genetik (genetic dwarfism). Beberapa contoh growth retardant yang menghambat biosintesis gibberelline pada tanaman antara lain Amo-1618 (2-isopropil-4dimetil-kamine-5 metil phenil-4pipendine karboksilatmetil klorida) menghambat biosintesis gibberelline pada tanaman mentimun liar (Exhmocytis macrocarpa). Dari hasil penelitian Tamura dkk. pembuangan.berproses dari Mevalonic acid sampai menjadi gibberellin. 3. Di dalam alam. b. Di dalam proses biosintesis telah diketemukan zat penghambat (growth retardant) di dalam aktivitas ini. dijumpai pula beberapa senyawa yang di ekstrak dari tanaman. Gibberelline mempunyai peranan dalam mendukung perpanjangan sel (cell elongation). Struktur molekul dan aktivitas gibberelline Gibberelline merupakan suatu compound (senyawa) yang mengandung "gibban skeleton". Amo-1618 menghambat dalam proses perubahan dari Geranylgeranyl pyrophosphat ke Kaurene. Menurut Weaver (1972). Senyawa tersebut tidak mengandung gibberelline atau gibberellane structure tetapi termasuk ke dalam gibberelline. partohenocarpy. beberapa gibberelline mempunyai 19 buah atom karbon dan yang lainnya mempunyai 20 buah atom karbon. mobilisasi karbohidrat selama perkecambahan (germination) dan aspek fisiologi kainnya. ia menemukan suatu substansi dalam jamur Helminthosporium sativum yang dinamakan "helminthosporol" yang aktif dalam perpanjangan daun pada kecambah padi dan barley.

. b. Mengenai hubungannya dengan cell elengation. akan mendukung terbentuknya a amilase. karena adanya hidrolisa pati yang dihasilkan dari gibberelline. a. hasil eksperimen tsb dapat dilihat pada tabel dibawah. Pembungaan (flowering) Gibbereline sebagai salah satu hormon tumbuh pada tanaman. sehingga ada kecenderungan sel tersebut berkembang. dikemukakan bahwa gibbberelline mendukung pengembangan dinding sel.dan mendukung pembentukan RNA baru serta sintesa protein. Hasil dari eksperimen ini menunjukan bahwa gibberellic acid berpengaruh terhadap tanaman kacang yang kerdil dan menjadi tinggi. Pengaruh GA3 terhadap pembungaan Spathiphyllum Mauna Loa GA3 (mg/l) Pembangunan (%) minggu setelah perlakuan 10 12 14 16 18 20 0 0 0 0 0 0 10 250 0 0 30 70 70 90 500 20 50 70 100 100 100 1000 0 60 90 100 100 100 c. 500 dan 1000 mg/l. Hal ini berarti bahwa kehadiran gibberelline tersebut akan meningkatkan kandungan auxin. gibberelline mampu merubah tanaman yang kerdil menjadi tinggi. Hasil penelitian menunjukan bahwa gibberellic acid (GA3) lebih efektif dalam terjadinya Parthenocarpy dibanding dengan auxin yang dilakukan pada blueberry. Sebagai akibat dari proses tersebut. gibberelline pun berpengaruh terhadap Parthenocarpy. Genetic dwarfism Genetic dwarfism adalah suatu gejala kerdil yang disebabkan oleh adanya mutasi. Parthenocarpy dan fruit set Seperti auxin. Penelitian yang dilakukan Henny (1981) pada bungan spothiphyllum Mauna loa. Gejala ini terlihat dari memendeknya internode. Mekanisme lain menerangkan bahwa gibberelline akan menstimulasi cell elengation. Hasil eksperimen lain menunjukan pula bahwa GA3 dapat meningkatkan tandan buah (fruit set) dan hasil. maka konsentrasi gula meningkat yang mengakibatkan tekanan osmotik di dalam sel menjadi nai. Tabel 1. mempunyai peranan dalam pembungaan. Dalam eksperimennya mereka telah memberi perlakuan penyemprotan gibberellic acid pada berbagai varietas kacang. Dengan memberikan perlakuan GA3 dengan dosis: 250. Hal ini telah dibuktikan oleh Brian dan Hemming (1955). Terhadap Genetic dwarfism ini. Menurut van Oberbeek (1966) penggunaan gibberelline akan mendukung pembentukan enzym protolictic yang akan membebaskan tryptophan sebagai asal bentuk dari auxin.

Menurut Copeland (1976). sedangkan embrio itu sendiri merupakan suatu bagian hidup yang suatu saat akan menjadi dewasa. gibberelline mempunyai peran penting yaitu mampu mengundurkan pematangan (repening) dan pemasakan (maturing) suatu jenis buah. ditandai dengan perubahan tekstur. warna. Hal ini telah dibuktikan dengan menggunakan GA yang mengakibatkan aktivitas amilase miningkat. Untuk keperluan kelangsungan hidup embrio maka terjadilah penguraian secara enzimatik yaitu terjadi perubahanpati menjadi gula yang selanjutnya ditranslokasikan ke embrio sebagai sumber energi untuk pertumbuhannya. Stimulasi aktivitas cambium dan perkembangn xylem Gibberelline mempunyai peranan dalam aktivitas kambium dan perkembangn xylem. Sedangkan aplikasi auxin saja tidak memberi pengaruh pada tanaman. yaitu terjadinya perubahan dari kondisi yang tidak menguntungkan ke suatu kondisi yang menguntungkan. Mobilisasi bahan makanan selama fase perkecambahan (germination) Biji cerealia terdiri dari embrio dan endosperm. Dari hasil penelitian menunjukan aplikasi gibberelline pada buah tomat dapat memperlambat pematangan buah. dan 500 ppm mendukung terjadinya diferensiasi xylem pada pucuk olive. Aktivitas enzym a amilase dan protease di dalam endosperm juga didukung oleh GA melalui de novo synthesis. Didalam endosperm terdapat masa pati (starch) yang dikelilingi oleh suatu lapisan "aleuron". Dari hasil penelitian menunjukan bahwa gibberelline berperan penting dalam proses aktivitas amilase. ternyata pemasakannya dapat ditunda. maka terjadi pengaruh sinergis pada xylem.. Dormansi Dormansi adalah masa istirahat bagi suatu organ tanaman atau biji. Dalam proses pematangan ini. 250. rasa dan aroma. sedangkan gibberellic acid yang diterapkan pada buah pisang matang. f.d. Pertumbuhan embrio selama perkecambahan bergantung pada persiapan bahan makanan yang berada di dalam endosperm. dormansi adalah kemampuan biji untuk . Begitu pula dengan mengadakan aplikasi GA3 + IAA dengan konsentrasi masing-masing 250 dan 500 ppm. e. g. Peranan Gibberellin dalam pematangan buah (fruit ripening) Pematangan (ripening) adalah suatu proses fisiologis. Hal ini ada hubungannya dengan terbentuknya DNA baru yang kemudian menghasilkan RNA. Aplikasi GA3 dengan konsentrasi 100.

kulit biji yang tebal (tahan terhadap gerakan mekanis) 4. tidak sempurnanya embrio (rudimentery embriyo) 2. fase tertundanya metabolisme (a period of partial metabolic arrest) 3. Secara umum terjadinya dormansi adalah disebabkan oleh faktor luar dan faktor dalam. 1956). Zat pengatur tumbuh ini mempunyai peranan dalam proses pembelahan sel (cell division). Peranan hormon tumbuh di dalam biji yang mengalami dorminasi telah dibahas oleh warner (1967) yang mengatakan bahwa GA3 dapat menstimulasi sintesis ribonukleas. CYTOKININ Cytokinin adalah salah satu zat pengatur tumbuh yang ditemukan pada tanaman. 4. Fase yang terjadi dalam dorminasi biji.mengundurkan fase perkecambahannya hingga saat dan tempat itu menguntungkan untuk tumbuh. fase bertahannya embrio untuk berkecambah karena faktor lingkungan yang tidak menguntungkan. Perkecambahan (germination). . ditandai dengan terjadinya penurunan jumlah hormon (hormon level) 2. Faktor yang menyebabkan dormansi pada biji adalah sbb: 1. embrio yang belum matang secara fisikologis (physiological immature embriyo) 3. kulit biji impermeable ( impermeable seed coat) 5. adanya zat penghambat (inhibitor) untuk perkecambahan (presence of germination inhibitors). fase induksi. ditandai dengan meningkatnya hormon dan aktivitas enzym. Hasil penelitian menunjukan bahwa purine adenin sangat efektif. amilase dan protoase di dalam endospem biji barley. menurut Amen (1968) ada empat fase yang harus dilalui : 1. Material yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah batang tembakau yang ditumbuhkan pada medium sintesis. Menurut Miller et al (1955. senyawa yang aktif adalah kinetin (6-furfuryl amino purine). Cytokinin pertama kali ditemukan dalam kultur jaringan di Laboratories of Skoog and Strong University of Wisconsin.

gibberellin dan cytokinin bekerja tidak sendiri-sendiri. Pada tanaman. maka hal ini akan memperlihatkan stimulasi pertumbuhan tunas dan daun. Interaksi Cytokinin. sehingga merupakan suatu sistem.1. Sedangkan dalam pembelahan sel. daun dan akar akan berimbang pula. maka pertumbuhan tunas. dikemukakan bahwa IAA dan kinetin. Dihasilkan bahwa apabila dalam perbandingan cytokinin lebih besar dari auxin. maka keadaan pertumbuhan tobacco pith culture tersebut akan berbentuk callus. NH2 N NH Adenine (6-amino purine) 2. kehadiran IAA dan kinetin ini diperlukan dalam proses mitosis walaupun IAA lebih dominan pada fase tersebut. tetapi ketiga hormon tersebut bekerja secara berinteraksi yang dicirikan dalam perkembangan tanaman. Adenin merupakan bentuk dasar yang menentukan terhadap aktifitas cytokinin. 3. Begitu pula dengan zat pengatur tumbuh. Dan menurut ahli tsb. Struktur kimia Cytokinin Bentuk dasar dari cytokinin adalah adenin (6-amino purine). Sebaliknya apabila cytokinin lebih rendah dari auxin. zat pengatur tumbuh auxin. Sedangkan apabila perbandingan cytokinin dan auxin berimbang. Gibberellin dan Auxin dalam perkembangan tanaman Di dalam alam tidak satu unsurpun yang berdiri sendiri. Kesemuanya berinteraksi antara satu sama lainnya. maka ini akan mengakibatkan stimulasi pada pertumbuhan akar. panjang rantai dan hadirnya suatu double bond dalam rantai tersebut akan meningkatkan aktifitas zat pengatur tumbuh ini. Arti Cytokinin bagi fisiologi tanaman Penelitian pertumbuhan pith tissue culture dengan menggunakan cytokinin dan auxin dalam berbagai perbandingan telah dilakukan oleh Weier et al (1974). Tetapi apabila konsentrasi cytokinin itu sedang dan konsentrasi auxin rendah. apabila digunakan secara tersendiri akan menstimulasi sintesis DNA dalam tobacco pith culture. Di dalam senyawa cytokinin. .

mendukung epinasti c. formic acid. Struktur kimia dan Biosintesis ethylene Struktur kimia ethylene sangat sederhana yaitu terdiri dari 2 atom karbon dan 4 atom hidrogen seperti gambar di bawah ini : HH C=C HH Ethylene Biosintesis ethylene terjadi di dalam jaringan tanaman yaitu terjadi perubahan dari asam amino methionine atas bantuan cahaya dan FMN (Flavin Mono Nucleotide) menjadi Methionel. hormon ini akan berperan pada proses pematangan buah dalam fase climacteric. Penelitian terhadap ethylene.ETHYLENE Ethylene adalah hormon tumbuh yang secara umum berlainan dengan Auxin. dan Cytokinin. menghambat perpanjangan batang (elengation growth) dan akar pada . 2. Senyawa tersebut mengalami perubahan atas bantuan cahaya dan FMN menjadi ethykene. Dalam keadaan normal ethylene akan berbentuk gas dan struktur kimianya sangat sederhana sekali. hasilnya menunjukan gas ethylene dapat membuat perubahan pada akar tanaman. Di alam ethilene akan berperan apabila terjadi perubahan secara fisiologis pada suatu tanaman. Hasil penelitian Zimmerman et al (1931) menunjukan bahwa ethylene dapat mendukung terjadinya abscission pada daun. mendukung respirasi climacteric dan pematangan buah b. pertama kali dilakukan oleh Neljubow (1901) dan Kriedermann (1975). Gibberellin. Peranan ethylene dalam fisiologi tanaman Di dalam proses fisiologis. 1. namun menurut Rodriquez (1932). Penelitian lain telah membuktikan tentang adanya kerja sama antara auxin dan ethylene dalam pembengkakan (swelling) dan perakaran dengan cara mengaplikasikan auxin pada jaringan setelah ethylene berperan. zat tersebut dapat mendukung proses pembungaan pada tanaman nanas. Wereing dan Phillips (1970) telah mengelompokan pengaruh ethylene dalam fisiologi tanaman sbb: a. Hasil penelitian menunjukan bahwa kehadiran auxin dapat menstimulasi produksi ethylene. methyl disulphide. ethylene mempunyai peranan penting.

d. Protein disintesa secepatnya dalam proses pematangan. Penelitian lain mengemukakan bahwa perlakuan ethylene pada kecambah kapas menstimulasi aktivitas peroksida dan IAA oksida. Setelah cycloheximide hilang. akan mendukung protein yang akan mengkatalisasi sintesis ethylene dan precursor. hormon tumbuh ini menentukan pembentukan protein yang diperlukan dalam aktifitas pertumbuhan. sintesa protein diperlukan pada tingkat pematangan yang normal. ethylene berpebgaruh terhadap beberapa yang mengontrol pola normal dari proses pematangan. memperlihatkan bahwa pematangan buah dan sintesa protein terhambat sebagai akibat perlakuan cycloheximide pada permulaan fase climacteric.1 ppm. Mekanisme timbal balik secara teratur dengan adanya auxin yaitu konsentrasi auxin yang tinggi menyebabkan terbentuknya ethylene. Mendukung terjadinya abscission pada daun h. Menstimulasi pertumbuhan secara isodiametrical lebih besar dibandingkan dengan pertumbuhan secara longitudinal f. menstimulasi perkembangan peroxidase dan phenyl alanine ammonialyase. 3. Mendukung terbentuknya bulu-bulu akar g. Dari hasil eksperimen ini diperoleh petunjuk bahwa actinomysin D menghambat terbentuknya DNA yang bergantung pada RNA sintesis. Menurut Frenkel et al (1968). sedangkan rendahnya konsentrasi auxin. Menstimulasi perkecambahan e. Dari hasil eksperimen terhadap buah pear. Dalam eksperimen menggunakan buah pear. Peranan ethylene dalam proses pematangan buah Harsen (1967) dalam Dilley (1969) telah mempelajari hubungan antara ethylene dengan tingkat kematangan pada buah pear. Mendukung proses pembungaan pada nanas i. misalnya Colletriche dan padi. ribonucleic acid synthesis pun diperlukan. Hubungannya dengan konsentrasi auxin. . Tetapi kehadiran ethylene menyebabkan rendahnya konsentrasi auxin di dalam jaringan. coleoptyle dan mesocotyle pada tanaman tertentu.beberapa species tanaman walaupun ethylene ini dapat menstimulasi perpanjangan batang. Ethylene yang berkonsentrasi 0. Menghambat transportasi auxin secara basipetal dan lateral k. Ia mengemukakan bahwa pematangan ini menjadi suatu sequential dalam proses kesinambungan kehidupan buah. dengan actinomysin D pada tingkat pre climacteric. Di dalam proses pematangan. buah tersebut ditreated. Imascshi et al (1968) mengemukakan bahwa ethylele mendukung peningkatan aktivitas metabolisme dalam jaringan akar ubi jalar. Mendukung adanya flower fading dalam persarian anggrek j. Menurut konsep tsb. ternyata sintesis ethylene tidak mengalami hambatan.

SADH (succinic acid-2. Inhibitor ini mempunyai fungsi atau peranan yang berlawanan dengan zat pengatur tumbuh: auxin. b. inhibitor menyebar disetiap organ tubuh tanaman tergantung dari jenis inhibitor itu sendiri. tunas (bud). Disini IAA mengontrol pembentukan ethylene dalam perpanjangan batang pea.2-dimethyl hyrdazide) dan Morphactins (methyl-2-chloro-9-hydroxy fluorene-9-carboxylate/IT 3456 dan n-butyl-9-hydroxyfluerene-9carboxylate/IT 3233). Di dalam tanaman. kacang. benzoic acid. batang. Plant growth retardant . Zat kimia yang dikelompokan dalam growth retardant adalah : Amo-1618. Peranan inhibitor di dalam tanaman a. beberapa jenis inhibitor adalah merupakan bentuk phenyl compound termasuk phenol. gibberellin. embrio. menunjukan bahwa pembentukan ethylene lebih tampak pada jaringan meristem tempat auxin dihasilkan. Kehadiran kinetin dalam pertumbuhan tunas lateral dapat mengatasi penghambatan yang diakibatkan oleh IAA. sering didapat pada proses perkecambahan. buah. Menurut weaver (1972). sedangkan ferulic acid dan p-coumaric acid merupakan ko faktor untuk IAA oksida. tepung sari. Di dalam alam.4. Gallic acid dan shikimic acid merupakan turunan dari benzoic acid. pertumbuhan pucuk atau dalam dormansi. adpokat rose dan kelapa. ubi (tuber). rizoma. Phosfon-D. Plant growth retardant adalah inhibitor yang berperan dalam menghambat aktivitas apical meristematic. Selanjutnya ia mengemukakan pula bahwa gallic acid dapat diketemukan pada buah yang matang. CCC (cycocel). ataupun kulit biji (seed coat) misalnya pada tanaman kentang. dan cytokinin. Interaksi ethylene dengan auxin dan kinetin Dari hasil penelitian terhadap tanaman kacang (pea). INHIBITORS Yang dimaksud dengan istilah inhibitor adalah zat yang menghambat pertumbuhan pada tanaman. 1. endosperm. cinamic acid dan coffeic acid. Abscissic acid (ABA) menyebar di dalam jaringan. Abscissic acid Di dalam tanaman. Hasil penelitian lain menunjukan bahwa adanya penghambatan transportasi auxin oleh endogenous ethylene yang menyebabkan terjadinya abscission pada daun. apel. abscisic acid dapat dijumpai pada daun.

Secara garis besar ternyata inhibitor ini menghambat aktivitas auxin. sehingga menghambat perpanjangan batang. MH (Maleic Hydrazide) sering digunakan sebagai herbisida dalam konsentrasi yang tinggi. dapat dipergunakan sebagai weed killer. Aktifitas MH ini menghambat aktifitas meristematic. Sedangkan SADH. abscission dan senscence.Plant growth retardant adalah inhibitor yang berlawanan dengan kegiatan gibbberellin pada perpanjangan batang. gibberellin dan cytokinin. CCC. Hal ini terbukti dari hasil penelitian Lang dkk dengan menggunakan CCC dan Amo-1618 pada jamur fusarium moniliforme dan tanaman derajat tinggi. Begitu pula morphactin dan turunannya. Peranan bahan kimia ini adalah menghambat perpanjangan batang dan berfungsi pula untuk memecahkan auxillary bud. Sedangkan SADH menghambat diamin oksida (yang berperan dalam perubahan tryptamine menjadi IAA). Ternyata bahwa sintesis gibberellin diblokir sehingga gibberellin tersebut tidak berpengaruh. Growth retardant ini aktifasinya berlawanan dengan gibberellin. . Phosfon-D dan Amo-1618 menghambat perpanjangan batang (cell elongation). ABA sebagai salah satu jenis inhibitor mendukung dormansi. dengan menggunakan konsentrasi yang tinggi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful