P. 1
pengetahuan

pengetahuan

|Views: 38|Likes:
Published by Ahmad Arifin SHut
untuk menambah pengetahuan
untuk menambah pengetahuan

More info:

Published by: Ahmad Arifin SHut on Mar 15, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/08/2014

pdf

text

original

ANALISIS VEGETASI DAN PENDUGAAN CADANGAN KARBON TERSIMPAN PADA POHON DI HUTAN TAMAN WISATA ALAM TAMAN EDEN

DESA SIONGGANG UTARA KECAMATAN LUMBAN JULU KABUPATEN TOBA SAMOSIR

TESIS

Oleh BAKRI 077030006/BIO

S

E

K O L A
H

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009

N

PA

C

A S A R JA

A

S

ANALISIS VEGETASI DAN PENDUGAAN CADANGAN KARBON TERSIMPAN PADA POHON DI HUTAN TAMAN WISATA ALAM TAMAN EDEN DESA SIONGGANG UTARA KECAMATAN LUMBAN JULU KABUPATEN TOBA SAMOSIR

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains dalam Program Studi Biologi pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh BAKRI 077030006/BIO

SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009

Judul Tesis

Nama Mahasiswa Nomor Pokok Program Studi

: ANALISIS VEGETASI DAN PENDUGAAN CADANGAN KARBON TERSIMPAN PADA POHON DI HUTAN TAMAN WISATA ALAM TAMAN EDEN DESA SIONGGANG UTARA KECAMATAN LUMBAN JULU KABUPATEN TOBA SAMOSIR : Bakri : 077030006 : Biologi

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Retno Widhiastuti, MS) Ketua

(Prof. Dr. Ir. B. Sengli J.Damanik, MSc) Anggota

Ketua Program Studi

Direktur

(Prof. Dr. Dwi Suryanto, M.Sc)

(Prof. Dr. Ir. T. Chairun Nisa B, M.Sc)

Tanggal lulus: 30 Juni 2009

Ir. Dr. Retno Widhiastuti. Dr. B. Sengli J. Dr.Telah diuji pada Tanggal 30 Juni 2009 PANITIA PENGUJI TESIS : Ketua : 1. Ir. MS Anggota : 2. Prof. Damanik. Zulkifli Nasution. MSc. Budi Utomo . Prof. Prof. MSc 3. PhD 4.

Lokasi penelitian ditentukan dengan menggunakan “Metode Purposive Sampling”. Jumlah cadangan karbon adalah sebesar 95. Dari penelitian ditemukan 18 jenis pohon yang termasuk dalam 12 famili dengan jumlah individu sebanyak 301 individu/2 ha. Karbon. Kata Kunci: Vegetasi. . Taman Eden.ABSTRAK Penelitian ini dilaksanakan di kawasan Hutan Taman Wisata Alam Taman Eden Desa Sionggang Utara Kecamatan Lumban Julu Kabupaten Toba Samosir pada bulan Januari 2009.82 ton/ha. Dan dalam pengambilan data digunakan “Metode Kombinasi antara Metode Jalur dan Metode Garis Berpetak” pada lima jalur pengamatan dengan plot-plot 20 m x 20 m.

Carbon. Eden Park. Keywords: Vegetation. There were 301 plant per 2 hectares. The examination area was decided by using” Sampling Purposive Method in getting the data we use” Combination between stripy method and box line method on five examined strife in the area of 20m x 20m. . From the examination we found 18 kinds of trees from 12 families.82 ton per hectares.ABSTRACT This examination was carried out in Hutan Taman Wisata Alam Taman Eden area in Desa Sionggang Utara Kecamatan Lumban Julu Kabupaten Toba Samosir from January 2009. The amount of carbon stock is 95.

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala Rahmat dan HidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis yang merupakan tugas akhir dalam menempuh Magister Sains di Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. Tesis ini berjudul Analisis Vegetasi dan Pendugaan Cadangan Karbon Tersimpan pada Pohon di Hutan Taman Wisata Alam Taman Eden Desa Sionggang Utara Kecamatan Lumban Julu Kabupaten Toba Samosir. Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada: 1. Prof. Dr. Retno Widhiastuti, MS dan Prof. Dr.Ir. B. Sengli J.Damanik, MSc yang telah mengajar dan membimbing penulis dalam penulisan dan

penyempurnaan tesis ini. 2. Prof. Ir. Zulkifli Nasution, MSc, PhD dan Dr. Budi Utomo, selaku Dosen Pembanding yang telah memberi masukan dan saran pada penyempurnaan tesis ini. 3. Kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang telah memberi beasiswa kepada penulis. 4. Kepada istriku Lely Marianna Rangkuti, kedua anakku Ananda Rahman.US, dan Ananda Idris. US, yang dengan penuh kesabaran memberi dorongan dan doa hingga selesainya tesis ini. 5. Kepada kawan-kawan di Program Studi Biologi tahun 2007, Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara. 6. Kepada adik-adik asisten Laboratorium Taksonomi Tumbuhan, FMIPA Universitas Sumatera Utara, khususnya kepada adinda Mahya Ihsan.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam penulisan maupun penyajian dalam tesis ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu dengan segala kerendahan hati penulis akan menerima kritik dan saran yang membangun dari semua pihak. Semoga karya ini bermanfaat bagi kehidupan serta perkembangan ilmu pengetahuan. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga dan bersyukur kepada Allah SWT atas Rahmat yang telah diberikannya. Amin.

Medan,

Juni 2009

Penulis

RIWAYAT HIDUP

Bakri, lahir di Berastagi, tanggal 10 April 1964 dari seorang ibu bernama Dadiah Basenga (alm) dan ayah bernama Yahya Pasaribu (alm) yang saat itu adalah anggota TNI AD. Lulus sekolah dasar Seksama tahun 1979, lulus SMP Negeri 13 Medan (sekarang SMP Negeri 15) tahun 1982 dan lulus SMA Negeri 2 Medan tahun 1985. Tahun 1985 melanjutkan pendidikan Diploma 3 Kependidikan FMIPA USU di Medan dan lulus tahun 1988. Setelah lulus ditempatkan pada SMA Negeri 2 Langsa Kabupaten Aceh Timur Provinsi Daerah Istimewa Aceh (sekarang SMA Negeri 2 Kota Langsa NAD). Tahun 1997 mengikuti kuliah penyetaraan S1 pada Program Dikdasmen di IKIP Negeri Medan dan tamat tahun 1998. Tahun 2007 mengikuti kuliah S2 Biologi pada Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara dan tamat tanggal 30 Juni 2009. Mulai Desember 1999 pindah tugas di SMA Negeri 2 Medan hingga saat ini.

...................................................................................................................7 Analisis Komunitas Tumbuhan……...............8 Bahan dan Alat...............5 Vegetasi.................................. 3.......... 12 2...........................6 Vegetasi................3 Tujuan.................... 7 2.......7................…………………………………… 17 2... DAFTAR LAMPIRAN.............................. 1................................................................................................................ 1.. ABSTRACT... DAFTAR TABEL........................1 Hutan....................................... 9 2.....1 Parameter Kualitatif dalam Analisis Komunitas Tumbuhan……… 19 2...........................................8 Kondisi Komunitas Tumbuhan Hutan…….................1 Latar Belakang......................... 3................1 Letak dan Luas.................................................................................................... DAFTAR GAMBAR............. 1........................................................................................................................................................................................................................... 3................................................................... 3.............................................. 11 2...............DAFTAR ISI Halaman ABSTRAK........................10.............Struktur dan Komposisi Hutan………………………………………….....................................4 Manfaat.....................................................................................................................................................................................................................................................................2 Permasalahan...........................................................................2 Parameter Kuantitatif dalam Analisis Komunitas Tumbuhan…….............................................9 Analisis Vegetasi.......... KATA PENGANTAR......... RIWAYAT HIDUP...................................................... 19 2...............................6 Tempat dan Waktu Penelitian……....4 Jenis Tanah.................... 3...........................…………………………………….......5 Mengapa C Tersimpan Perlu Diukur..................... 3........ I PENDAHULUAN...................7.......................................................2 Hutan Pegunungan..............................................................................................…………………………….........................2 Tofografi.........……………………………………… 3.........7 Metode Penelitian................................4 Pohon…………………………………………………………...................... 5 2.............. 24 24 24 25 25 25 25 26 26 ....... 17 2.......................3 Pengaruh Iklim…………………………………………………...................................................................................3 Iklim......... 22 III BAHAN DAN METODE............................... DAFTAR ISI.. 3.. 22 2......................................................................................................................................................................................................................................................... 20 22............................................ i ii iii v vi viii ix x 1 1 4 4 4 II TINJAUAN PUSTAKA....... 5 2..................... 1...............................................

.................... Indeks Keanekaragaman dan Indeks Keseragaman..................................................HASIL DAN PEMBAHASAN……………………………………………............... Komposisi Vegetasi Pohon... 3... 49 5....................... Karbon Tersimpan....................9.10 Analisis Data….......................................1 Di Lapangan….. 4. 50 .......... Kesimpulan........................................... 3...................10.....................5............................................... Struktur Vegetasi Pohon..................................6....9................ V....................... 3.. 4....2..............10.............. StratifikasiVegetasi..... Kekayaan Jenis Pohon........................7.... KESIMPULAN DAN SARAN. 4................................................................................................…………………………………………………......... 3...........................1.........2 Saran............... 27 27 28 28 29 29 32 33 33 36 38 40 43 45 46 IV.................................…………………………………………… 4..................................2 Karbon Tersimpan…….................................................................... 3.....................4....................................................................................... 4...........…………………………………........ 3.... 4.................9..........2 Pengukuran Faktor Abiotik….................... Indeks Nilai Penting.......................1.................................................. 49 5... 49 DAFTAR PUSTAKA............................3.....................................3 Di Laboratorium.......................3...................... 4.......................................................9 Pelaksanaan Penelitian..1 Analisis Vegetasi……............

...........................................DAFTAR TABEL Nomor 1............. ............... Halaman 34 2.. 35 40 41 3................................................................ 5............ 4...... Karbon Tersimpan pada Lokasi Penelitian................... 44 47 6...................... Perbandingan Jumlah Individu dan Jumlah Jenis Pohon di Taman Wisata Alam Taman Eden………………………………………… Data Faktor Fisik Lokasi Penelitian.............................. Indeks Keanekaragaman dan Keseragaman Pohon pada Lokasi Penelitian........ Judul Jenis-Jenis Pohon yang Terdapat pada Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Taman Eden............. Indeks Nilai Penting di Hutan Taman Wisata Alam Taman Eden........

. Stratifikasi Vegetasi di Hutan Taman Wisata Alam Taman Eden Halaman 36 45 .....DAFTAR GAMBAR Nomor 1.. 2... Judul Luas Bidang dasar Tertinggi Pohon di Hutan Taman Eden..

.. 4...... Foto-foto Penelitian.............................. Nilai Kerapatan Kayu Beberapa Jenis Tumbuhan di Hutan Taman Wisata Alam Taman Eden. 80 7............... F....................... dan Karbon Tersimpan………………………………………........... 81 84 85 8. H’.... KR.............. DR.................... 2.... Tabel Pengamatan Vegetasi Pohon di Hutan Taman Eden........... 79 6....DAFTAR LAMPIRAN No 1............................. Hasil Perhitungan Berat Kabon Tersimpan di Hutan Taman Wisata Alam Taman Eden……………………………………........................................... E.......... Hasil Identifikasi Herbarium............ INP...... Tabel Analisis Vegetasi Pohon di Hutan Wisata Alam Taman Eden………………………………………….. Plot Pengamatan..... Judul HHalaman 54 55 56 Peta Kawasan Hutan Wisata Alam Taman Eden... ... Contoh Perhitungan Nilai K.................. FR................ D.. 3......... 9............ 63 5..

ekosistem dan sumberdaya genetik semakin menurun pada tingkat yang membahayakan akibat kerusakan lingkungan. Keanekaragaman spesies. pengawetan dan pemanfaatan secara lestari.1. PENDAHULUAN 1. mulai dari yang paling ekstensif misalnya agroforestri kompleks yang menyerupai hutan. Indonesia juga merupakan salah satu negara tropis yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi dan termasuk ke dalam delapan negara mega biodiversitas di dunia. 2004). terutama kerusakan habitat pada lingkungan alam yang kaya dengan keanekaragam hayati. Perkiraan tingkat kepunahan spesies di seluruh dunia berkisar antara 100. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.000 setiap tahun. baik flora maupun fauna yang penyebarannya sangat luas (Heriyanto dan Garsetiasih. atau beberapa ratus setiap hari. Latar Belakang Indonesia memiliki berbagai macam penggunaan lahan. hingga paling intensif seperti sistem pertanian semusim monokultur. seperti hutan hujan tropik dataran rendah. sehingga tercapai keseimbangan antara perlindungan. 18 Tahun 1994 menyatakan bahwa potensi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya tersebut perlu dikembangkan dan dimanfaatkan bagi sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat melalui upaya konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya.I. Kepunahan akibat beberapa jenis tekanan dan kegiatan. Bahkan dalam kurun waktu dua .

tanah serta berperan sebagai paru-paru dunia dan menjaga kestabilan lingkungan (Budiman. Keseimbangan tersebut dipengaruhi antara lain oleh peningkatan gas-gas asam arang atau karbondioksida (CO2). Bahkan para Ahli . Hal tersebut disebabkan oleh aktivitas manusia yang mengarah pada kerusakan habitat maupun pengalihan fungsi lahan.setengah abad yang akan datang diperkirakan sebanyak 25% kehidupan akan hilang dari permukaan bumi. Perubahan iklim global yang terjadi akhir-akhir ini disebabkan karena terganggunya keseimbangan energi antara bumi dan atmosfir. Kondisi tersebut sangat mengkhawatirkan karena kita ketahui keanekaragaman hayati mempunyai peranan penting sebagai penyedia bahan makanan. obat-obatan dan berbagai komoditi lain penghasil devisa negara.000 kali laju kepunahan yang terjadi secara alami (Alikodra dan Syaukani.000 sampai 10. 2004 dalam Widhiastuti. Vegetasi dapat mengubah CO2 menjadi O2 melalui proses fotosintesis: CO2 + H2O ---------------------- C6H12O6 + O2 Sinar Matahari Untuk melestarikan keanekaragaman hayati di suatu ekosistem cara yang paling efektif adalah melestarikan komunitas hayati secara utuh. Saat ini. kepunahan keanekaragaman hayati di daerah tropis akibat ulah manusia mencapai 1. Kepunahan oleh alam. 2008). berdasarkan catatan para ahli hanya sekitar 9% dari seluruh keanekaragaman hayati yang ada dalam kurun waktu sejuta tahun. 2004). Kepunahan keanekaragaman hayati sebagian besar karena ulah manusia. juga berperan dalam melindungi sumber air.

Pohon memegang peranan yang sangat penting dalam komunitas hutan dan berfungsi sebagai penyangga kehidupan. dan sumber pengetahuan yang kita miliki hanya dapat menyelamatkan sebagian kecil saja spesies yang ada di bumi (Widhiastuti. . 2008). dan menjaga stabilitas iklim global. Untuk itu. merupakan bagian dari hutan yang ada di Indonesia yang keberadaannya perlu mendapat perhatian dari semua lapisan masyarakat.Biologi Konservasi mengatakan konservasi pada tingkat komunitas merupakan satusatunya cara yang efektif untuk melestarikan spesies. Namun sejauh ini belum pernah dilakukan penelitian untuk mendapatkan informasi dan data mengenai keadaan vegetasi pohon dan kandungan cadangan karbon yang tersimpan di kawasan hutan tersebut. Hal ini terutama mengingat dalam situasi penangkaran. kiranya perlu dilakukan suatu penelitian analisis vegetasi pohon dan pendugaan karbon tersimpan yang terdapat di dalamnya. Pohon-pohon di pegunungan memiliki kondisi yang khas di mana pohon akan bertambah rendah atau kecil seiring dengan naiknya ketinggian dan memiliki keanekaragaman jenis yang bervariasi. Berdasarkan pengamatan hutan Taman Wisata Alam Taman Eden Desa Sionggang Utara Kecamatan Lumban Julu Kabupaten Toba Samosir merupakan salah satu tipe hutan pegunungan yang masih baik dan memiliki keanekaragaman jenis pohon yang tinggi dan memiliki cadangan karbon tersimpan yang cukup besar. Hutan wisata alam Taman Eden Desa Sionggang Utara Kecamatan Lumban Julu Kabupaten Toba Samosir. baik dalam mencegah erosi.

1.3.2. Permasalahan Bagaimanakah keadaan vegetasi dan cadangan karbon yang tersimpan di hutan Taman Wisata Alam Taman Eden? 1. . Manfaat Manfaat dari penelitian ini adalah sebagai informasi bagi peneliti dan instansi terkait dalam rangka pengelolaan dan pengembangan mengenai keadaan dan kelimpahan vegetasi serta cadangan karbon tersimpan pada pohon di hutan Taman Wisata Alam Taman Eden. Tujuan Tujuan penelitian ini untuk mengetahui struktur dan komposisi serta cadangan karbon tersimpan pada vegetasi pohon di hutan Taman Wisata Alam Taman Eden.4. 1.

Hutan alami merupakan penyimpan karbon (C) tertinggi bila dibandingkan dengan sistem penggunaan lahan (SPL) pertanian. yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan (UU RI No. Menurut FAO. 1992). . TINJAUAN PUSTAKA 2. Jumlah biomassa ini secara kasar menyimpan 3. 41 Tahun 1999). jumlah total vegetasi hutan Indonesia meningkat lebih dari 14 miliar ton biomassa. Pohon merupakan bagian yang dominan diantara tumbuh-tumbuhan yang hidup di hutan. herba dan paku-pakuan.5 milliar ton karbon (FWI. Sebagai contoh adalah hutan di daerah tropis memiliki jenis dan komposisi pohon yang berbeda dibandingkan dengan hutan pada daerah temprate (Rahman. termasuk juga tanaman kecil lainnya seperti.II.1. 2003). jauh lebih tinggi daripada negara-negara lain di Asia dan setara dengan 20% biomassa di seluruh hutan tropis di Afrika. 2007). Hutan Hutan adalah satu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya. berbeda pula jenis dan komposisi pohon yang terdapat pada hutan tersebut. dikarenakan keragaman pohon yang tinggi (Hairiah dan Rahayu. semak belukar. lumut. Hutan adalah suatu wilayah luas yang ditumbuhi pepohonan. Berbeda letak dan kondisi suatu hutan. Hutan-hutan Indonesia menyimpan jumlah karbon yang sangat besar.

1992). Tumbuh-tumbuhan yang terdapat di dalam hutan ini tidak pernah menggugurkan daunnya secara serentak. Semua manfaat tersebut kecuali produksi bahan bakar fosil. ikan. serangga. ada yang dalam perkecambahan atau berada dalam tingkatan kehidupan sesuai dengan sifat atau kelakuan masing-masing jenis tumbuh-tumbuhan tersebut. (5) penyediaan habitat dan makanan untuk binatang. dan taman. Kawasan hutan adalah wilayah tertentu yang ditunjuk dan atau ditetapkan oleh pemerintah untuk . (6) penyediaan material bangunan.Hutan hujan tropis merupakan ekosistem yang klimaks. bahan bakar dan hasil hutan. dan burung. (3) pengembangan dan proteksi lapisan tanah. Menurut Soerianegara dan Indrawan (1978) hutan adalah masyarakat tetumbuhan yang dikuasai atau didominasi oleh pohon-pohon dan mempunyai keadaan lingkungan yang berbeda dengan keadaan di luar hutan. (4) produksi air bersih dan proteksi daerah aliran sungai terhadap erosi. (2) produksi bahan bakar fosil (batu bara). kondisi alam asli. ada yang sedang berbuah. rekreasi. Hutan hujan tropis memiliki vegetasi yang khas daerah tropis basah dan menutupi semua permukaan daratan yang memiliki iklim panas. Daniel et al. kondisinya sangat bervariasi seperti ada yang sedang berbunga. (7) manfaat penting lainnya seperti nilai estetis. berhubungan dengan pengolahan hutan. curah hujan cukup banyak serta tersebar secara merata (Irwan. (1992) menyatakan bahwa hutan memiliki beberapa fungsi bagi kehidupan manusia antara lain: (1) pengembangan dan penyediaan atmosfir yang baik dengan komponen oksigen yang stabil.

000 meter di atas permukaan air laut (Arief.200 meter di atas permukaan laut. disebut hutan pegunungan bagian bawah. disebut dataran rendah. Daerah ketinggian 2.000 meter diatas permukaan laut. No.II/2001). (1992) ketinggian rata-rata tempat dari berbagai tipe hutan pegunungan di Sumatera kira-kira adalah sebagai berikut: a. Hutan basah dapat tersebar sangat luas dan sering kali sangat lebat . Daerah ketinggian 1. Daerah ketinggian di atas 3. 2. d. c. disebut hutan subalpin.70/Kpts. Mintakat dasar dalam suatu deretan gunung-gunung pada umumnya mempunyai curah hujan yang lebih tinggi daripada daratan-daratan rendah didekatnya.000 meter di atas permukaan laut. disebut hutan pegunungan bagian atas. b. Daerah ketinggian 0 – 1. 1994). Menurut Damanik et al. dan sebagai akibatnya sering ditempati oleh komunitas-komunitas yang mirip dengan komunitas-komunitas yang suka kelembaban yang terdapat di daratandaratan rendah.100 – 3. Hutan Pegunungan Hutan pegunungan adalah hutan yang tumbuh di daerah ketinggian di atas 1. Daerah pegunungan ini sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim yang berbeda-beda menurut ketinggiannya.dipertahankan keberadaannya sebagai hutan tetap (Keputusan Menteri Kehutanan RI.200 – 2.2.100 meter di atas permukaan laut.

atau dengan kata lain lebih sesuai dengan hutan basah daerah iklim sedang (Polunin. Leguminoceae. . Hutan pegunungan bagian bawah mempunyai fisiognomi yang menyerupai hutan. kerdil atau bercabang rendah. Biasanya vegetasi yang tumbuh pada ekosistem ini tidak merupakan satu kesatuan. Pada ekosistem ini biasanya kaya akan jenis Orchidaceae dan Pteridophyta. Bambosaceae. Beberapa jenis bamboo dapat dijumpai pada ekosistem ini. Meliaceae. Begitu pula komposisinya juga agak berbeda. 1993). Burseraceae.dan Sapotaceae (Irwan. Di samping itu pada umumnya dihuni oleh berbagai jenis tetumbuhan antara lain dari famili: Anonaceae. Komposisi botanik hutan ini lebih menyerupai hutan di daerah iklim sedang. Dipterocarpaceae. 1990). terpencar-pencar oleh lapangan rumput atau semak. Hutan pegunungan bagian atas merupakan ekosistem yang mempunyai fisiognomi tetumbuhannya tergantung pada ketinggian dan topografi habitatnya. Daerah ini ditandai dengan terdapatnya hutan yang bertajuk yang tertutup rapat-rapat dan pepohonan yang berbatang tinggi tetapi miskin akan lumut (Rifai. Pada habitat yang berbatu-batu ditumbuhi vegetasi yang berbentuk semak-semak rendah atau pohon-pohon kecil. Tipe vegetasi mintakat gunung lebih mirip dengan daerah iklim sedang. Di samping itu ada kalanya dijumpai jenis pohon conifer atau jenis vegetasi berbunga. hanya pohon-pohonnya yang tumbuh lebih kecil. 1992). Sapindaceae.pada lereng-lereng bagian bawah di gunung-gunung.

Penyinaran pada permukaan tanah sangat intensif sehingga suhu di dekat tanah jauh lebih tinggi dari pada suhu udara di sekelilingnya.3. waktu. musim. Laju pemanasan di pegunungan tidak serupa laju pemanasan di dataran rendah. suhu udara makin turun. dan kisaran suhu harian dapat mencapai 150 – 200 C di tempat-tempat yang tinggi (Mackinnon et al. Pengaruh Iklim Hutan pada pegunungan sangat dipengaruhi oleh perubahan iklim pada ketinggian yang berbeda-beda. 1992). Di tempat yang lebih tinggi. 2000). Arus angin kearah gunung pada siang hari disebabkan oleh panasnya udara di dataran rendah dan akan menyebabkan pengembangan udara dan naik. Panas tanah ini cepat hilang karena radiasi di waktu malam. sinar matahari lebih sedikit kehilangan energi karena melalui lapisan udara yang tipis. Pantulan panas dari permukaan bumi lebih kuat digunung oleh karena tekanan udara yang rendah.6o C setiap penambahan ketinggian sebesar 100 meter. Laju penurunan suhu pada umumnya sekitar 0. Dengan pengembangan dan naiknya udara sebagai akibat tekanan yang lebih rendah.2. tetapi hal ini berbeda-beda tergantung kepada tempat. maka suhu akan turun. Inilah sebab utama dengan bertambahnya ketingian. Suhu secara perlahan menurun sejalan dengan ketinggian yang meningkat. bahkan pada katulistiwa seperti gunung Kilimanjaro di Afrika Timur terdapat salju abadi (Ewusie. kandungan uap air dalam udara dan lain sebagainya (Damanik et al. . 1990). sehingga pada gunung-gunung yang tinggi.

Sifat tanah pegunungan berubah dengan pertambahan ketinggian tempat.Pada umumnya. Penyebab keadaan ini adalah karena udara yang panas dari lokasi itu menjadi dingin pada waktu dipaksa naik mengikuti lereng pegunungan. terutama di tempat-tempat di mana terdapat gambut asam. (2000) mengemukakan bahwa pada ketinggian tertentu di mana awan biasanya menaungi gunung merupakan hal yang penting karena awan mencegah cahaya matahari yang terang untuk manaikkan suhu daun. 1990). sehingga kelebihan air dalam udara itu membentuk awan yang menyebabkan hujan. 2000). curah hujan pada lereng bawah pegunungan itu lebih lebat ketimbang pada lokasi di sekelilingnya. sering terdapat hutan yang lebih subur pada ketinggian rendah dan menengah ketimbang pada lokasi yang berbatasan (Ewusie. Lebih lanjut Mackinnon et al. umumnya menjadi lebih masam dan miskin zat hara. Sebagai akibat sebaran hujan itu. Karena persentase kejenuhan suatu massa udara meningkat bila suhu turun. Hal ini menyebabkan penurunan daya tambat air oleh udara. Banyak tumbuhan di tempat-tempat tinggi juga memperoleh kelembaban dari tetes-tetes air dari awan yang menempel pada daun dan batangnya. Tanah di puncak gunung. kelembaban hutan di tempat-tempat yang tinggi relatife tinggi. tetapi di atas ketinggian itu pengembunan uap air dari udara tidak cukup untuk membentuk banyak hujan. dibagian atas punggung- . terutama pada waktu malam (Mackinnon et al. Sampai suatu ketinggian tertentu terdapat kenaikan curah hujan pada lereng bukit. dan juga mengurangi jumlah radiasi yang tersedia untuk fotosintesis.

Banyak ciri-ciri pohon tropis berbeda dengan daerah lain mengingat terdapat ciri-ciri tertentu dan kebiasaan bercabang. pohon dibedakan menjadi stadium seedling. yang hanya menerima air dari atmosfir. dedaunan. Soerianegara dan Indrawan (1978) membedakan sebagai berikut: . dan di bukit-bukit kecil.4. buahbuahan dan sistem akar yang jarang dan tidak pernah dijumpai di bagian bumi lain (Longman dan Jenik. Suhu rendah memperlambat proses pembentukan tanah karena evapotranspirasi menurun. 2. Untuk keperluan inventarisasi. 1987). bentuk kehidupan pohon berpengaruh pada physiognomi umum.punggung gunung. kering dan lebih miskin zat hara dari tanah-tanah di dalam cekungan atau di lerenglereng yang lebih rendah yang menerima masukan air yang tertapis dari atas. dan pohon dewasa. sapling. produksi dasar dan lingkaran keseluruhan dari komunitas. pole. reaksi kimia lebih lambat dan kerapatan organisme tanah lebih rendah (Mackinnon et al. Selain itu kemiringan lereng dan keterbukaan vegetasi penutup juga merupakan faktor-faktor yang penting. Pohon Pohon-pohon menjadi organisme dominan di hutan tropis. 2000). Perbedaan dalam komposisi batuan dasar dan iklim merupakan faktor-faktor utama yang mempengaruhi pembentukan tanah pada ketinggian ynag berbada di atas gunung.

d. Keseimbangan tersebut dipengaruhi antara lain oleh peningkatan gas-gas asam arang atau karbondioksida (CO2). Kegiatankegiatan tersebut umumnya dilakukan pada awal alih guna lahan hutan menjadi lahan pertanian.5 m. Pohon dewasa yaitu pohon yang berdiameter lebih dari 35 cm yang diukur 1. b. Indonesia berada di bawah Amerika Serikat dan China. antara lain adanya pembakaran vegetasi hutan dalam skala luas pada waktu yang bersamaan dan adanya pengeringan lahan gambut. metana (CH4) dan nitrogen oksida (N2O) yang lebih dikenal dengan gas rumah kaca (GRK). Mengapa C Tersimpan Perlu Diukur Perubahan iklim global yang terjadi akhir-akhir ini disebabkan karena terganggunya keseimbangan energi antara bumi dan atmosfir.3 meter dari permukaan tanah. 2007).5. Pole (tiang) yaitu pohon-pohon muda yang berdiameter 10 . dengan jumlah emisi . Saat ini konsentrasi GRK sudah mencapai tingkat yang membahayakan iklim bumi dan keseimbangan ekosistem (Hairiah dan Rahayu.5 m dan lebih sampai pohon-pohon muda yang berdiameter kurang dari 10 cm. Seedling (semai) yaitu permudaan mulai kecambah sampai setinggi 1. c.35 cm. sapihan) yaitu permudaan yang tingginya 1.a. Sapling (pancang. 2. Kebakaran hutan dan lahan serta gangguan lahan lainnya telah menempatkan Indonesia dalam urutan ketiga negara penghasil emisi CO2 terbesar di dunia. Konsentrasi GRK di atmosfir meningkat sebagai akibat adanya pengelolaan lahan yang kurang tepat.

Tumbuhan memerlukan sinar matahari. 2007). Berkenaan dengan upaya pengembangan lingkungan bersih. Proses penimbunan C dalam tubuh tanaman hidup dinamakan proses sekuestrasi (Csequestration). namun pelepasannya terjadi secara bertahap. Bila hutan diubah fungsinya menjadi lahan-lahan pertanian atau perkebunan atau ladang pengembalaan maka C tersimpan akan merosot. kemudian disebarkan ke seluruh tubah tanaman dan akhirnya ditimbun dalam tubuh tanaman berupa daun. Lebih lanjut Hairiah dan Rahayu (2007) mengatakan. Melalui proses fotosintasis. gas asam arang (CO2) yang diserap dari udara serta air dan hara yang diserap dari dalam tanah untuk kelangsungan hidupnya. .yang dihasilkan mencapai dua miliar ton CO2 pertahunnya atau menyumbang 10% dari emisi CO2 di dunia (Hairiah dan Rahayu. 2007). bunga dan buah. Hutan juga melepaskan CO2 ke udara lewat respirasi dan dekomposisi (pelapukan) seresah. batang. ranting. hutan alami dengan keragaman jenis pepohonan berumur panjang dan seresah yang banyak merupakan gudang penyimpanan C tertinggi (baik di atas maupun di dalam tanah). Oleh karena itu. CO2 di udara diserap oleh tanaman dan diubah menjadi karbohidrat. tanaman atau pohon berumur panjang yang tumbuh di hutan maupun di kebun campuran (agroforestri) merupakan tempat penimbunan atau penyimpanan C (rosot C =C sink) yang jauh lebih besar daripada tanaman semusim. Dengan demikian mengukur jumlah C yang disimpan dalam tubuh tanaman hidup (biomasa) pada suatu lahan dapat menggambarkan banyaknya CO2 di atmosfir yang diserap oleh tanaman (Hairiah dan Rahayu. tidak sebesar bila ada pembakaran yang melepaskan CO2 sekaligus dalam jumlah yang besar.

seresah dan tanah. Penebangan hutan akan menyebabkan terbukanya permukaan tanah terhadap radiasi dan cahaya matahari. menanam pepohonan pada lahan-lahan pertanian dan melindungi lahan gambut sangat penting untuk mengurangi jumlah CO2 yang berlebihan di udara. yaitu pengikatan CO2 ke dalam biomasa melalui fotosintesis dan pelepasan CO2 ke atmosfir melalui proses dekomposisi dan pembakaran.maka jumlah CO2 di udara harus dikendalikan dengan jalan meningkatkan jumlah serapan CO2 oleh tanaman sebanyak mungkin dan menekan pelepasan (emisi) CO2 ke udara serendah mungkin. Jumlah “C tersimpan” dalam setiap penggunaan lahan tanaman. biasanya disebut juga sebagai “cadangan C”. Diperkirakan sekitar 60 Pg . 2007). Jadi. mempertahankan keutuhan hutan alami. Dampak langsung lainnya dari kegiatan penebangan hutan adalah menurunnya cadangan karbon atas-permukaan (above-ground carbon stocks) dan selanjutnya akan mempengaruhi penyusutan cadangan karbon bawahpermukaan (below-ground carbon stocks) (Murdiyarso et al. Dampak langsungnya adalah meningkatnya suhu tanah dan turunnya kadar air tanah. 2004). Aliran karbon dari atmosfir ke vegetasi merupakan aliran yang bersifat dua arah. Penyimpanan C suatu lahan menjadi lebih besar bila kondisi kesuburan tanahnya baik. jenis tanahnya serta cara pengelolaannya. atau dengan kata lain jumlah C tersimpan di atas tanah (biomasa tanaman) ditentukan oleh besarnya jumlah C tersimpan di dalam tanah (bahan organik tanah. tergantung pada keragaman dan kerapatan tumbuhan yang ada. Jumlah C tersimpan antar lahan berbeda-beda. BOT) (Hairiah dan Rahayu.

7 – 4. . namun jumlah cadangan karbon yang terserap lahan pertanian jauh lebih kecil. karbon yang terikat oleh vegetasi hutan akan segara dilepaskan kembali ke atmosfir melalui pembakaran. S et al.karbon mengalir antara ekosistem daratan dan atmosfir setiap tahunnya. serta berkurangnya proses fotosintesis akibat munculnya hutan beton serta lahan yang dipenuhi bangunanbangunan dari aspal sebagai pengganti tanah atau rumput.6 Pg karbon pertahun. Selain itu. Masalah utama yang terkait dengan alih guna lahan adalah perubahan jumlah cadangan karbon. Meskipun laju fotosintesis pada lahan pertanian dapat menyamai laju fotosintesis pada hutan. Apabila laju konsumsi bahan bakar dan pertumbuhan ekonomi global terus berlanjut seperti yang terjadi pada saat ini.7 ± 1. 2007). dan sebesar 0. sedangkan penyerapan kembali karbon menjadi vegetasi pohon relatif lambat. hanya sekitar 5 Mg ha-1 C. Namun jumlah tersebut tidak memberikan dampak yang berarti terhadap jumlah CO2 yang mampu diserap oleh hutan dan daratan secara keseluruhan. Dampak konversi hutan ini baru terasa apabila diikuti dengan degradasi tanah dan hilannya vegetasi. Alih guna lahan dan konversi hutan merupakan sumber utama emisi CO2 dengan jumlah sebesar 1.7 ± 0. maka dalam jangka waktu 100 tahun yang akan datang suhu global rata-rata akan meningkat sekitar 1. Kegiatan konversi hutan menjadi lahan pertanian melepaskan cadangan karbon ke atmosfir dalam jumlah yang cukup berarti. dekomposisi sisa panen maupun pengangkutan hasil panen.50 C (Rahayu. Pelepasan karbon ke atmosfir akibat konversi hutan berjumlah sekitar 250 Mg ha-1 C yang terjadi selama penebangan dan pembakaran.0 Pg karbon diserap oleh ekosistem daratan.

karena jumlah bahan organik tanah yang relatif lebih kecil dan masa keberadaannya singkat. Peningkatan penyerapan cadangan karbon dapat dilakukan dengan: (a) meningkatkan pertumbuhan biomasa hutan secara alami. dan (c) mengembangkan hutan dengan jenis pohon yang cepat tumbuh. mengendalikan deforestasi. (b) menambah cadangan kayu pada hutan yang ada dengan penanaman pohon atau mengurangi pemanenan kayu. menerapkan praktek silvikultur yang baik. Untuk memperoleh potensial penyerapan karbon yang maksimum perlu ditekankan pada kegiatan peningkatan biomasa di atas permukaan tanah bukan karbon yang ada dalam tanah. (b) meningkatkan cadangan karbon melalui penanaman tanaman berkayu dan (c) mengganti bahan bakar fosil dengan bahan bakar yang dapat diperbarui secara langsung maupun tidak langsung (angin. atau aktivitas panas bumi (Rahayu. 2007). Cadangan karbon pada suatu sistem penggunaan lahan dipengaruhi oleh jenis vegetasinya. Hal ini tidak berlaku pada tanah gambut (Rahayu. mencegah degradasi lahan gambut dan memperbaiki pengelolaan cadangan bahan organik tanah. Suatu sistem penggunaan lahan yang terdiri dari pohon dengan spesies . 2007). sehingga cara yang paling mudah untuk meningkatkan cadangan karbon adalah dengan menanam dan memelihara pohon (Hairiah dan Rahayu. S et al. biomasa. radiasi matahari.Penurunan emisi karbon dapat dilakukan dengan: (a) mempertahankan cadangan karbon yang telah ada dengan: mengelola hutan lindung. 2007). Karbon yang diserap oleh tanaman disimpan dalam bentuk biomasa kayu. S et al. aliran air).

Dalam ekologi hutan. 2. Oleh karena itu. 2. 1978).6. 2007). baik di antara tumbuh-tumbuhan maupun dengan hewanhewan yang hidup dalam vegetasi dan lingkungan tersebut. Vegetasi Vegetasi yaitu kumpulan dari beberapa jenis tumbuhan yang tumbuh bersama-sama pada satu tempat di mana antara individu-individu penyusunnya terdapat interaksi yang erat. biomasanya akan lebih tinggi bila dibandingkan dengan lahan yang mempunyai spesies dengan nilai kerapatan kayu rendah. yang disebut sebagai suatu komunitas tumbuh-tumbuhan (Soerianegara dan Indrawan.7. Dengan kata lain. satuan vegetasi yang dipelajari atau diselidiki berupa komunitas tumbuhan yang merupakan asosiasi konkret dari semua spesies tetumbuhan yang menempati suatu habitat. Biomasa pohon (dalam berat kering) dihitung menggunakan “allometric equation” berdasarkan pada diameter batang setinggi 1. tujuan yang ingin dicapai dalam analisis komunitas adalah untuk . vegetasi tidak hanya kumpulan dari individu-individu tumbuhan melainkan membentuk suatu kesatuan di mana individu-individunya saling tergantung satu sama lain.3 m di atas permukaan tanah (Rahayu. S et al.yang mempunyai nilai kerapatan kayu tinggi. Analisis Komunitas Tumbuhan Analisis komunitas tumbuhan merupakan suatu cara mempelajari susunan atau komposisi jenis dan bentuk atau struktur vegetasi.

bahwa hal yang demikian itu menyebabkan kelimpahan relatif suatu spesies dapat mempengaruhi fungsi suatu komunitas. Hasil analisis komunitas tumbuhan disajikan secara deskripsi mengenai komposisi spesies dan struktur komunitasnya. 2006).mengetahui komposisi spesies dan struktur komunitas pada suatu wilayah yang dipelajari (Indriyanto. dan interpretasi data. dalam deskripsi struktur komunitas tumbuhan dapat dilakukan secara kualitatif dengan parameter kualitatif atau secara kuantitatif dengan parameter kuantitatif. Struktur suatu komunitas tidak hanya dipengaruhi oleh hubungan antarspesies. 1979). Lebih lanjut Soegianto (1994) menjelaskan. 1994). distribusi individu antarspesies dalam komunitas. Struktur komunitas tumbuhan memiliki sifat kualitatif dan kuantitatif (Gopal dan Bhardwaj. penyajian data. Namun persoalan yang sangat penting dalam analisis komunitas adalah bagaimana cara mendapatkan data terutama data kuantitatif dari semua spesies tumbuhan yang menyusun komunitas. Dengan demikian. . agar dapat mengemukakan komposisi floristik serta sifat-sifat komunitas tumbuhan secara utuh dan menyeluruh. tetapi juga oleh jumlah individu dari setiap spesies organisme (Soegianto. bahkan dapat memberikan pengaruh pada keseimbangan sistem dan akhirnya akan berpengaruh pada stabilitas komunitas. parameter kuantitatif dan kualitatif apa saja yang diperlukan.

untuk kepentingan deskripsi suatu komunitas tumbuhan diperlukan minimal tiga macam parameter kuantitatif antara lain: densitas. hal ini sesuai dengan sifat komunitas tumbuhan itu sendiri bahwa dia memiliki sifat kualitatif dan sifat kuantitatif. Ukuran dominansi dapat dinyatakan . Parameter Kuantitatif dalam Analisis Komunitas Tumbuhan Menurut Gopal dan Bhardwaj (1979). biomassa. stratifikasi.7. Kusmana (1997) mengemukakan bahwa untuk keperluan deskripsi vegetasi tersebut ada tiga macam parameter kuantitatif yang penting. Spesies tetumbuhan yang dominan dalam komunitas dapat diketahui dengan mengukur dominansi tersebut. bentuk pertumbuhan. frekuensi. daya hidup. dan dominansi.1. Kusmana (1997) mengemukakan bahwa dalam penelitian ekologi hutan pada umumnya para peneliti ingin mengetahui spesies tetumbuhan yang dominan yang memberi ciri utama terhadap fisiognomi suatu komunitas hutan.2. 2. antara lain densitas. dan periodisitas (Indriyanto. penyebaran. Oleh karena itu. Kelindungan yang sebenarnya sebagai bagian dari parameter dominansi. Beberapa parameter kualitatif komunitas tumbuhan antara lain: fisiognomi. dan produktivitas. Kelindungan adalah daerah yang ditempati oleh tetumbuhan dan dapat dinyatakan dengan salah satu atau kedua-duanya dari penutupan dasar (basal cover) dan penutupan tajuk (canopy cover).2.7. Adapun parameter umum dari dominansi yang dikemukakan oleh Indriyanto (2006) meliputi kelindungan. frekuensi. 2006). fenologi. dan kelindungan. kelimpahan. Parameter Kualitatif dalam Analisis Komunitas Tumbuhan Untuk kepentingan analisis komunitas tumbuhan diperlukan parameter kualitatif.

baik dari segi struktur komunitas maupun tingkat kesamaannya dengan komunitas lainnya. . pembakaran hutan. Aktivitas manusia yang berkaitan dengan upaya memanfaatkan hutan sebagai salah satu faktor penyebab terjadinya perubahan kondisi komunitas tumbuhan yang ada di dalamnya. Adapun aktifitas manusia yang bersifat memperbaiki kondisi komunitas tumbuhan hutan adalah kegiatan reboisasi dalam rangka merehabilitasi areal kosong bekas penebangan. antara lain biomassa. areal kosong bekas kebakaran.dengan beberapa parameter. Aktivitas manusia dalam hutan yang bersifat merusak komunitas tumbuhan misalnya penebangan pohon. peladangan liar. pengembalaan liar. dan perambahan dalam kawasan hutan. penutupan tajuk. dan perbandingan nilai penting (summed dominance ratio). 2006). Parameter yang dimaksud untuk kepentingan tersebut adalah indeks keanekaragaman spesies dan indeks kesamaan komunitas (Soegianto.8. 1994). juga bersifat memperbaiki kondisi komunitas tumbuhan hutan. 2. masih banyak parameter kuantitatif yang dapat digunakan untuk mendeskripsikan komunitas tumbuhan. Meskipun demikian. pencurian hasil hutan. baik yang disebabkan oleh adanya aktivitas alam maupun manusia. Aktivitas manusia di dalam hutan dapat bersifat merusak. indeks nilai penting. luas basal area. maupun reboisasi dalam rangka pembangunan hutan tanaman industri (Indriyanto. Kondisi Komunitas Tumbuhan Hutan Komunitas tumbuhan hutan memiliki dinamika atau perubahan.

Sejak 1996. Laju kehilangan hutan di Indonesia rata-rata sekitar 1 juta hektar per tahun pada tahuntahun pertama 1990 an.Laju kehilangan hutan semakin meningkat pada tahun 1980-an. kajian kondisi komunitas hutan akan sangat berguna dalam menerapkan sistem pengelolaan hutan (Indriyanto. kondisi komunitas tumbuhan hutan dapat dideskripsikan berdasarkan atas parameter yang diperlukan dan dianalisis untuk menginterpretasi perubahan yang terjadi. Untuk mengetahui kondisi komunitas hutan harus dilakukan survei vegetasi dengan menggunakan salah satu dari beberapa metode pengambilan contoh untuk analisis komunitas tumbuhan. Inventore ulangan ini tidak hanya dilakukan terhadap tegakan baru atau tegakan yang . Dengan demikian. Selain itu. menyebabkan perlu adanya inventore hutan ulangan setiap jangka waktu tertentu. 2006). 2006). evaluasi kondisi komunitas tumbuhan di hutan sangat berguna dalam memantau proses regenerasi tegakan hutan (Indriyanto. laju deforestasi tampaknya meningkat lagi menjadi 2 juta hektar per tahun (FWI. 2003). Mengingat ada banyak faktor yang dapat menyebabkan perubahan kondisi komunitas tumbuhan hutan. maka dalam periode waktu tertentu komunitas tunbuhan hutan perlu dievaluasi agar faktor-faktor yang dapat menyebabkan rusaknya komunitas tumbuhan hutan dapat dikendalikan dan kerusakan hutan dapat ditanggulangi. Kemudian. Potensi dan keadaan hutan yang selalu berubah karena pertumbuhan dan kematian yang terjadi maupun karena penebangan yang dilakukan manusia.

Struktur masyarakat hutan dapat dipelajari dengan mengetahui sejumlah karakteristik tertentu diantaranya. Analisis Vegetasi Menurut Soerianegara dan Indrawan (1978) yang dimaksud analisis vegetasi atau studi komunitas adalah suatu cara mempelajari susunan (komposisi jenis) dan bentuk (struktur) vegetasi atau masyarakat tumbuh-tumbuhan.9. tetapi terhadap seluruh tegakan yang ada (Simon. titik berat penganalisisan terletak pada komposisi jenis atau jenis.mengalami perubahan besar saja. Cain dan Castro (1959) dalam Soerianegara dan Indrawan (1978) menyatakan bahwa penelitian yang mengarah pada analisis vegetasi. Selanjutnya Daniel et al. menyatakan struktur tegakan atau hutan menunjukkan sebaran umur dan atau kelas diameter dan kelas tajuk. . Struktur dan Komposisi Hutan Struktur merupakan lapisan vertikal dari suatu komunitas hutan. dominansi dan nilai penting. frekuensi. kepadatan.10. 20 dan 10 meter. Sementara itu dinyatakan struktur hutan menunjukkan stratifikasi yang tegas antara stratum A. 2007). 2. Dalam komunitas selalu terjadi kehidupan bersama saling menguntungkan sehingga dikenal adanya lapisan-lapisan bentuk kehidupan (Syahbudin. (1992). 2. 1987). stratum B dan stratum C yang tingginya secara berurutan sekitar 40.

Ketinggian rata-rata 4 sampai 20 meter. Lapisan C dan D adalah lapisan semak dan lapisan penutup tanah (Hafild. sehingga tajuknya saling bertautan membentuk kesinambungan dan menjadi atap hutan. Komposisi hutan sangat ditentukan oleh faktor-faktor kebetulan. Rata-rata ketinggiannya adalah 20 sampai 35 meter. Lapisan-lapisan ini dibedakan atas lapisan tajuk (kanopi) (A dan B) dan lapisan bawah (C dan D). 1990). 1993). kanopi merupakan atap hutan. 1984). tumbuh rapat. . Komposisi hutan merupakan penyusun suatu tegakan atau hutan yang meliputi jumlah jenis ataupun banyaknya individu dari suatu jenis tumbuhan (Wirakusuma. 1992). Pada daerah tertentu komposisi hutan berkaitan erat dengan ciri habitat dan topografi (Damanik et al.Terdapat tajuk berlapis-lapis merupakan salah satu ciri hutan hujan tropik yang juga dapat disaksikan di hutan pegunungan (Rifai. Lapisan B dihuni oleh pohon-pohon yang masih muda dan kecil. terutama waktu-waktu pemencaran buah dan perkembangan bibit.

BAHAN DAN METODE 3.2. . Tofografi Hutan Wisata Alam Taman Eden.1. Letak dan Luas Hutan Wisata Alam Taman Eden secara administratif berada di dusun Lumban Rang Desa Sionggang Utara. Propinsi Sumatera Utara dengan luas areal ± 1000 ha. Kabupaten Toba Samosir.750 m dpl terdiri dari tebing-tebing tinggi. Lokasi ini berjarak lebih kurang 16 km dari Parapat ke arah Kota Balige dan 55 km dari Kota Balige ke arah Parapat. Hutan Wisata AlamTaman Eden berbatasan: Sebelah Utara Sebelah Selatan Sebelah Barat Sebelah Timur : Kecamatan Ajibata Kabupaten Simalungun : Desa Sionggang Tengah dan Sionggang Selatan : Kecamatan Sipanganbolon : Lumban Julu 3. dan sungai yang deras. Kecamatan Lumban Julu.III. Secara geografis terletak di antara 02º 39´00`` BT sampai 02º 42´00`` BT dan 099º 62´00`` LU sampai 099º 64´00`` LU. Kabupaten Toba Samosir yang berada pada ketinggian 1. jurang yang terjal.100 – 1.

3. dan kecepatan angin berkisar 1 . Araliaceae. Theaceae. tanahnya bertekstur berliat halus. Kabupaten Toba Samosir. Pinnaceae. liat berdebu. Hammamelidaceae. Fagaceae.5. Vegetasi Berdasarkan pengamatan di sekitar areal penelitian. Kecamatan Lumban Julu.4 knot.64%. Desa Sionggang Utara. lempung berdebu. Cunoniaceae. berlempung halus. intensitas cahaya 1627.36 serta suhu tanah berkisar 20. lempung berliat. Pelaksanaan penelitian dilaksanakan bulan Januari 2009. dengan pH tanah 6.6. lempung liat berdebu dan berdebu halus. lempung berpasir. Iklim Iklim yang ada di kawasan hutan wisata alam Taman Eden dengan kelembaban relatif berkisar 96.3. Melliaceae. 3. 3.98 lux meter. vegetasi yang umum ditemukan yaitu dari famili.01 ºC. suhu udara siang 20.3.4. Sthyracaceae. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di hutan Taman Wisata Alam Taman Eden. Annonaceae. Jenis Tanah Jenis tanah di kawasan hutan wisata alam Taman Eden. . Myrtaceae dan famili Orchidaceae.96ºC.

parang.8.3. 1997).7. Metode ini merupakan metode penentuan lokasi penelitian secara sengaja yang dianggap representatif. . Metode Penelitian Penentuan areal lokasi penelitian dilakukan dengan menggunakan metode purposive sampling. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah. spesimen daun yang digunakan untuk identifikasi pohon. meteran berukuran panjang 50 meter. soil thermometer yang digunakan untuk mengukur suhu tanah. gunting tanaman. 3. Bahan dan Alat Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah. hygrometer yang digunakan untuk mengukur kelembaban udara dan soil tester yang digunakan untuk mengukur kelembaban dan pH tanah. GPS yang digunakan untuk mengukur ketinggian dan koordinat. hagameter. thermometer yang digunakan untuk mengukur suhu udara. jangka sorong. meteran berukuran panjang 1. alat tulis. spidol.5 meter. Pengambilan data pada areal penelitian dilakukan dengan menggunakan metode kombinasi antara metode jalur dan metode garis berpetak dengan plot-plot 20 m x 20 m (Kusmana. blangko pengamatan. alkohol 70% yang digunakan sebagai pengawet spesimen dari lokasi penelitian.

Lokasi yang dipilih adalah lokasi yang dianggap mewakili dari keragaman berbagai faktor lingkungan di sekitar penelitian. Untuk mengukur dbh. Masing-masing sampel daun.1. Lokasi penelitian dibagi lima jalur. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive sampling dengan memperhatikan faktor topografi dan kemiringan.3 m dari permukaan tanah) dan setiap batang yang telah diukur diberi nomor (taging) dan dicatat jenis pohonnya. Pada garis rintis ini dibuat plot besar dengan ukuran 20m x 200m. Pada setiap plot dilakukan pengamatan pada seluruh pohon yang berdiameter ≥35 cm dan mengukur diameter batang pohon setinggi dada orang dewasa (dbh = diameter at breast height = 1. data yang diperoleh adalah diameter pohon. Pada masingmasing lokasi penelitian dibuat garis rintis sepanjang 200 meter.9. tangkai. Cara melakukan pengukuran adalah. .3. Di Lapangan Penelitian dilakukan mulai dari kaki bukit menuju puncak bukit. yang dimulai dari ketinggian ±1300 mdpl. Bila permukaan tanah di lapangan dan bentuk pohon tidak rata maka penentuan titik pengukuran dbh pohon dapat dilihat pada Lampiran 2. Penentuan lokasi penelitian didasarkan atas survei sebelumnya. pita pengukuran dililitkan pada batang pohon dengan posisi pita harus sejajar untuk semua arah. Pada plot besar ini (20m x 200 m) dibuat sub-sub plot dengan ukuran 20 m x 20 m sebanyak 10 sub plot untuk pengambilan data analisis vegetasi pohon. Pelaksanaan Penelitian 3. sehingga data yang diperoleh adalah lingkar/lilit batang(keliling batang = 2ðr). Pengamatan vegetasi menggunakan metode kombinasi metode petak dan metode jalur.9.

Kemudian diberi label gantung kembali sesuai dengan lebel awal dan disusun dalam lipatan kertas koran. suhu tanah dengan soil thermometer. atau mungkin bunga dan buah yang baik saja yang dikoleksi. kemudian dimasukkan dalam kantong plastik dan dilakban yang sebelumnya spesimen tersebut disiram dengan alkohol 70% agar spesimen tidak berjamur.3. kelembaban dan pH tanah dengan soil tester. apesimen-spesimen tersebut disortir ulang agar daun. Kemudian sebelum spesimen dibawa ke laboratorium. 1996). 3. 1954). Di Laboratorium Setelah pengamatan di lapangan berakhir. kelembaban udara dengan menggunakan hygrometer.J. Flora (Steenis. 3. Kemudian disusun kembali untuk dikeringkan dalam oven pengering dengan temperatur ± 600 C selama 48 jam. Tumbuhan monokotil (Sudarnadi. spesimen tumbuhan yang telah dikoleksi dibawa ke laboratorium dibuka kembali dan kertas korannya diganti dengan kertas koran yang baru. dilakukan pengukuran faktor fisik yang meliputi ketinggian dan koordinat dengan menggunakan GPS. Pengukuran Faktor Abiotik Pada lokasi pengamatan.bunga dan buah dikoleksi dan diberi label gantung.9. 1959). Malayan Wild Flowers Monocotyledons (M. Henderson.2.9. tangkai pohon. C. 2. suhu udara dengan menggunakan thermometer.G. Spesimen yang telah benarbenar kering dibuat herbarium dan diidentifikasi dengan menggunakan buku identifikasi antara lain: 1. 1987). Malayan Wild Flowers Dicotyledon (Henderson.V. 3. . 4.R.

2006). Dominansi Relatif (DR). 1997). 8. Frekuensi Relatif (FR). Untuk analisis vegetasi pohon. A Manual for Foresters Volume 1 (Whitmore. Jumlah individu a. Kerapatan (K) = Luas petak contoh . 1978). Analisis Data 3. nilai INP terdiri dari KR. 1969). Tree Flora of Malaya. dari masingmasing lokasi penelitian.10.1. Indeks Keseragaman. A Field Guide to Common Sumatran Trees (Draft & Wulf. 1972). 10.5. 9.10. 11. Tree Flora of Malaya. 1978). Indeks Nilai Penting (INP). 1973). A Manual for Foresters Volume 2 (Whitmore. A Manual for Foresters Volume 3 (Phil. Tree Flora of Malaya. Collection of Illustrated Tropical Plant (Watanabe and Corner. Malesian Seed Plants Volume 1 – Spot-Characters An Aid for Identification of Families and Genera (Balgooy. 3. Latihan Mengenal Pohon Hutan: Kunci Identifikasi dan Fakta Jenis (Sutarno dan Soedarsono. 1997). 6. Analisis Vegetasi Data vegetasi yang dikumpulkan dianalisis untuk mendapatkan nilai Kerapatan Relatif (KR). FR. dan DR. 7. dianalisis menurut buku acuan Ekologi Hutan (Indriyanto. Indeks Keanekaragaman.

Luas bidang dasar suatu spesies d. Frekuensi (F) = Jumlah seluruh petak contoh F suatu spesies Frekuensi relatife (FR) = F seluruh spesies c.K suatu jenis Kerapatan relatife (KR) = K total seluruh jenis x 100% Jumlah petak contoh ditemukannya suatu spesies b. Dominansi (D) = Luas petak contok ð d2 x 100 % D suatu spesies Dominansi relatif = D seluruh spesies x 100% e. Indeks nilai penting (INP) = KR + FR + DR . Luas Basal Area = ð r2 1 = 4 ( ð = 3.14).

sebesar Ln S S = Jumlah genus/jenis h. Stratifikasi Vegetasi Stratifikasi diukur berdasarkan tinggi tegakan vegetasi menurut Indriyanto. g. Stratum C : Tinggi tegakan 4-20 m 4. Pi = Ratio jumlah species dengan jumlah total individu dari seluruh spesies. N = Jumlah total individu seluruh jenis. Stratum A : Tinggi tegakan ≥ 30 m 2. Indeks Keseragaman H1 E= H maks Keterangan: E H1 = Indeks keseragaman = Indeks keanekaragaman H maks = Indeks keragaman maksimum. Stratum D : Tinggi tegakan 1-4 m . Indeks Keanekaragaman H i = .∑ pi ln pi Ni Pi = — N dengan : ni = Jumlah individu suatu jenis.f. Stratum B : Tinggi tegakan 20-30 m 3. 2006 sebagai berikut: 1.

10. 2007). Stratum E : Tinggi tegakan 0-1 m 3.11 x ñ x D2... Karbon Tersimpan Karbon tersimpan dianalisis berdasarkan Persamaan Allometrik Ketterings (Hairiah.. K dan Rahayu.2. BK : 0..62 Keterangan : BK : Berat kering ñ : Berat jenis kayu ( g cm-3 ) D : Diameter pohon (cm) Total Biomassa = BK1 + BK2 + . Total Biomassa Biomassa per satuan luas = Luas area (m2) Karbon tersimpan = Biomassa per satuan luas x 0.BKn . dapat dilihat pada Lampiran 4 ..5.46 Nilai ñ masing-masing pohon..

bila dibandingkan dengan penelitian-penelitian sejenis yang pernah dilakukan diantaranya: Tarigan (2000) yang melaporkan di kawasan hutan Gunung Sinabung ditemukan 93 jenis pohon yang termasuk ke dalam 33 famili dengan jumlah individu 276/0. Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa kawasan hutan Taman Wisata Alam Taman Eden memiliki jumlah jenis pohon cukup rendah. yang melaporkan di kawasan hutan Gunung Sibayak II Bukit Barisan ditemukan 46 jenis pohon yang termasuk dalam 30 famili dengan jumlah individu sebanyak 591 individu/ha. . Sagala (1997). Kekayaan Jenis Pohon Dari penelitian yang dilakukan di kawasan hutan Taman Wisata Alam Taman Eden. ditemukan 18 jenis pohon yang termasuk ke dalam 12 famili dengan jumlah individu sebanyak 301 individu/2 ha (Tabel 1).1. Stasion Resort Tangkahan Subseksi Langkat Sikundur Taman Nasional Gunung Leuser.6 ha.47 indvidu/ha dan Susilo (2004) yang melaporkan di kawasan Hutan Tangkahan. Silalahi (1995) yang melaporkan di kawasan Lae Ordi Dairi ditemukan 32 jenis pohon dengan jumlah individu 163.IV. ditemukan 159 jenis pohon yang termasuk dalam 35 famili dengan jumlah individu sebanyak 437 individu/ha. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.

0899 0.0999 3.1791 1.3903 0.Tabel 1.1527 1.1026 0.2357 1 Anacardiaceae 2 Annonaceae 3 Araliaceae 4 Cunnoniaceae 5 Fagaceae 6 Hammamelidaceae 7 Melliaceae 8 Moraceae 9 Myrtaceae 10 Pinnaceae 11 Sthyracaceae 12 Theaceae Jumlah Total Individu Keterangan: LBD = Luas Bidang Dasar Dari Tabel 1. . Perbandingan antara jumlah jenis dan jumlah individu pohon di Taman wisata Alam Taman Eden ditunjukkan pada Tabel 2. Nilai terendah terdapat pada jenis Lithocarpus sp.3105 0. dapat dilihat bahwa jumlah individu terbanyak terdapat pada jenis Gordonia sp dengan jumlah individu 89/2 Ha.486 0.5293 4. Shtyrax sp Schima wallichii (DC) Korth.2762 2.0851 1.2593 0.7054 0. Selanjutnya diikuti oleh Pinus merkusii yang mempunyai jumlah 61/2 Ha. Jenis-Jenis Pohon yang Terdapat pada Kawasan Hutan Taman Wisata Alam Taman Eden Jumlah Individu/2 ha 3 20 2 11 15 1 22 1 9 10 6 2 1 3 61 12 33 89 301 No Family Spesies Swintonia sp Xylopia sp Brassaiopsis glomerulata (BL) Regel Brassaiopsis minor Stone Weinmannia blumei Planch Lithocarpus sp Castanopsis sp Altingia excelsa Norona Rhodelia sp Symingtonia populnea Steniss.0734 1.944 10. Aglaia sp Ficus sp Eugenia sp. 2 Pinus merkusii Jung & de Vriese.575 0. Gordonia sp LBD 0.1569 1. Altingia excelsa dan Eugenia sp 1 yang mempunyai nilai yang sama yaitu 1 Indv/2 Ha.1 Eugenia sp.

56% 11.00% 6. diikuti Theaceae.99% 0.27%). Adapun jumlah jenis tertinggi yang terdapat pada hutan ini adalah dari famili Hammamelidaceae yang memiliki jumlah jenis sebanyak 3 jenis (16.66% 1. Ia melaporkan bahwa di Gunung Binaiya di atas 1.67%). Sedangkan yang terendah terdapat pada Family Moraceae yang memiliki jumlah 2 indv/2 ha (0.56% 11. diikuti oleh famili Pinnaceae yang memiliki jumlah individu 61 indv/2ha (20.98% 7.11% Pada Tabel 2 dapat dilihat dengan jelas bahwa jumlah individu terbanyak terdapat pada famili Theaceae dengan 122 indv/2ha (40.53%).67% 5.56% 11.53% Jlh Jenis/2ha 1 1 2 1 2 3 1 1 2 1 1 2 18 Persentase 5.56% 11.33% 20.66%).64% 1.11% 5.11% 16. (2000). Selanjutnya Monk et al.64% 6.Tabel 2.27% 3.32% 4. Hal ini sesuai dengan Damanik (1992) yang menyatakan bahwa pada hutan pegunungan banyak dijumpai famili Myrtaceae.56% 5. Perbandingan Jumlah Individu dan Jumlah Jenis Pohon di Taman Wisata Alam Taman Eden No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Family Anacardiaceae Annonaceae Araliaceae Cunnoniaceae Fagaceae Hammamelidaceae Melliaceae Moraceae Myrtaceae Pinnaceae Sthyracaceae Theaceae Jumlah Jlh Individu/2ha 3 20 13 15 23 20 6 2 4 61 12 122 301 Persentase 1.56% 5.99% 40. menyatakan hutan pegunungan dapat dibedakan menurut penampakan umum. Araliaceae.11% 5.56% 5.11%). Fagaceae. atau keragaman jenis dari suku tumbuhan.64% 4. arah lokasi hutan. dan Myrtaceae yang memiliki jumlah jenis sebanyak 2 jenis (11.600 mdpl hutan pegunungan bawahnya bertipe .

17 16 14 12 10 8 6 4 0.27 2 0 2.7 0. di hutan pegunungan Seram didominasi oleh famili Fagaceae. 4. dan Fagaceae dengan luas bidang dasar sebesar 3. Annonaceae dengan luas bidang dasar sebesar 2. sementara hutan pegunungan atas ditandai oleh bangsa Coniferae.4 0.48 m2. Struktur Vegetasi Pohon Salah satu indikator dalam menelaah struktur hutan sering digunakan data ukuran pohon yang meliputi lingkar ataupun diameter batang. 15.17 m2.57 3. (1992).Myrtaceae.17 m2. Ericaceae dan Myrtaceae.52 Anacardiaceae Fagaceae Myrtaceae Annonaceae 1 Hammamelidaceae Pinnaceae Araliaceae Melliaceae Sthyracaceae Cunnoniaceae Moraceae Theaceae Gambar 1. Luas Bidang Dasar Tertinggi Pohon di Hutan Taman Eden Dari Gambar 1 dapat diketahui bahwa famili Theaceae memiliki luas bidang dasar terbesar yaitu 15.3 1.48 1. Gambar 1 menyajikan data basal area dari masing-masing famili yang terdapat dalam 2 ha pada lokasi penelitian.17 2. yang menyatakan bahwa hutan pegunungan bawah ditandai oleh berlimpahnya suku Fagaceae dan Lauraceae.49 0.2.31 0.17 1. Nilai ini sangat tinggi dan . Demikian juga dengan Damanik et al.

Selain luas basal area ditentukan dengan diameter batang. Perbedaan ukuran pohon yang berukuran kecil dengan berukuran besar menunjukkan perbandingan yang mencolok. kelembaban dan keadaan tanah serta kompetisi terhadap nutrisi pada lingkungan ini. sinar matahari dan ruang tumbuh dengan jenis-jenis lainnya yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dari diameter batang pohon.mencolok jika dibandingkan dengan famili lainnya seperti Cunnoniaceae sebesar 1. Hortson (1976) dalam Yefri (1987).57 m2. Beragamnya nilai ini menyatakan adanya pengaruh lingkungan tempat tumbuhnya seperti kelembaban dan suhu dan tidak mampu atau kalah berkompetisi seperti perebutan akan zat hara. sehingga memungkinkan untuk famili ini dapat berkembang dan tumbuh dengan baik dan memiliki diameter batang yang besar. kelembaban tanah dan udara serta angin. menyatakan bahwa yang paling berpengaruh dalam menentukan diameter batang adalah jenis dan umur pohon. Famili Theaceae dan Fagaceae merupakan tumbuhan dataran tinggi sehingga memiliki kisaran toleransi yang luas terhadap suhu.3 m2. Sthyracaceae sebesar 1. di mana dengan naiknya ketinggian temperatur menurun. curah hujan meningkat dan kecepatan angin juga meningkat yang sangat mempengaruhi kelembaban udara. Sedangkan untuk famili lainnya mempunyai nilai di bawah dari famili Araliaceae. nilai ini juga dipengaruhi oleh umur suatu pohon.52 m2 dan Araliaceae dengan luas bidang dasar sebesar 1. Krebs (1985) menyatakan hutan pegunungan sangat dipengaruhi oleh suhu. Selanjutnya keadaan hutan tersebut juga dipengaruhi oleh batuan yang menyusun lapisan tanah di mana kebanyakan lapisan tanah pegunungan .

menyatakan bahwa kelembaban tanah mempengaruhi penyebaran geografi pada sebagian besar pohon pada hutan pegunungan dan mempengaruhi kandungan/ketersediaan air tanah. Di mana pada . Krebs (1985). famili Cunnoniaceae hanya ditemukan pada plot III. Kondisi fisik lingkungan seperti kelembaban dan kecepatan angin sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan penyebaran biji. Hal ini menunjukkan tingkat penyebaran dan adaptasi yang tinggi dari famili ini terhadap kondisi fisik lingkungan hutan tersebut. sehinggga dapat dijumpai pada kelima plot pengamatan.merupakan turunan dari batuan vulkanik yang sangat asam dan kurang akan posfor dan nitrogen. Beragamnya jumlah Famili yang didapatkan tiap lokasi mungkin disebabkan oleh kondisi lingkungan yang sangat khas pada hutan pegunungan. di mana hubungannya dengan temperatur dapat mempengaruhi keseimbangan air tumbuhan. Pada lokasi penelitian didapat 12 famili pohon. Komposisi Vegetasi Pohon Komposisi merupakan penyusun suatu tegakan yang meliputi jumlah jenis/ famili ataupun banyaknya individu dari suatu jenis pohon. famili Melliaceae hanya ditemukan pada plot V. Hanya famili Theaceae yang ada pada kelima plot penelitian. IV dan V. II dan III.3. Hal tersebut dapat dilihat pada famili Pinnaceae hanya ditemukan pada plot I. Lebih lanjut ia juga menyatakan angin mempengaruhi kelembaban udara dan penyebaran biji tumbuhan pada hutan pegunungan. 4. Komposisi dari setiap famili yang terdapat pada kelima plot penelitian relatif berubah.

Variasi jumlah tersebut dapat juga disebabkan oleh kondisi iklim yang berubah seiring dengan naiknya ketinggian tempat. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa vegetasi pohon pada hutan Taman Wisata Alam Taman Eden memiliki komposisi yang berbeda. Perubahan penting pada tanah karena perubahan ketinggian adalah penurunan pH.960C. (1990).98 Lux Meter. peningkatan karbon organik dan penurunan kedalaman perakaran. Pohon ini mempunyai satu stratum. di mana pada lokasi penelitian pH tanah berkisar 6.64%. didapat suhu udara rata-rata 20. seperti keadaan tanahnya. Edwards et al. dimana semakin tinggi dari permukaan air laut semakin rendahlah pohon-pohon yang dijumpai. dalam Monk et al. iklim dan faktor tanah dan kompetisi akan nutrisi yang sedikit pada hutan pegunungan.hutan ini terjadi perubahan faktor-faktor lingkungan seiring dengan meningkatnya ketinggian tempat.010C. Untuk lebih jelasnya dapat . Variasi dan keberadaan jenis pada tiap lokasi tidak terlepas dari adanya pengaruh faktor lingkungan. Sama halnya juga dengan keadaan tanah. (2000).36. Jenis pepohonan yang tumbuh sangat miskin akan jenis tetapi kaya akan epifit. Kelembaban udara rata-rata berkisar 96. Berdasarkan pengamatan di lapangan. menyatakan distribusi jenis-jenis tumbuhan menurut ketinggian tempat berkaitan dengan perubahan jenis tanah. Pada lokasi penelitian didapat perubahan faktor fisik/suhu harian yang berpengaruh terhadap jenis-jenis tersebut sehingga mampu beradaptasi dengan keadaan lingkungan tersebut dan dapat tumbuh dengan baik. Intensitas cahaya berkisar 1627. Suhu tanah pada setiap lokasi berkisar 20.

6 Ulangan I II III IV V Rata-rata 4.6 96.6 1103.4.11%.96 Intensitas Cahaya (Lux) 4380 460 900 1296. .64 Ketinggian (mdpl) 1322 1345 1367 1401 1403 1367. Indeks Nilai Penting tertinggi terdapat pada jenis Gordonia sp dengan nilai sebesar 97.36 Kelembaban Udara (%) 96. Sedangkan pada belta didapat dari penjumlahan nilai kerapatan relatif (KR) dan Frekuensi relatif (FR).4 6. Dari penelitian yang dilakukan didapat Indeks Nilai Penting terendah pada jenis Altingia excelsa yang mempunyai nilai sebesar 1. untuk lebih jelaskan dapat dilihat pada Tabel 4.01 Suhu Tanah (0C) 21.3 97 97 96.06 19.3 1627. Data Faktor Fisik Lokasi Penelitian Suhu Udara (0C) 19.3 96. kompetisi dengan organisme lainnya dan juga dipengaruhi oleh zat-zat organik yang tersedia. mikroorganisme.3 20.71%. (1992). iklim. Tabel 3. Daniel et al. frekuensi relatif (FR) dan dominansi relatif (DR). menyatakan bahwa pertumbuhan tumbuhan dipengaruhi oleh faktor tanah. kelembaban dan sinar matahari.1 20.3 6. di mana nilai penting itu pada tingkatan pohon didapat dari hasil penjumlahan kerapatan relatif (KR).dilihat pada Tabel 3 di bawah ini.5 6.6 20.3 21 20.98 pH Tanah 6.6 20. Indeks Nilai Penting Indeks Nilai Penting menyatakan kepentingan suatu jenis tumbuhan serta memperlihatkan peranannya dalam komunitas.3 21 20.2 6.4 6.6 21.

96 29.27 3. Vietnam. dari 95º30'-121º30' Bujur Timur dan 22º Lintang Utara hingga 02º Lintang Selatan.62 4.12 1.1 Eugenia sp. Pinus merkusii mempunyai beberapa sinonim. 1968). terdapat pada jenis Pinus merkusii dengan nilai sebesar 68.432 INP (%) 2.97 14.65%.Tabel 4.26 1. dan P.18 6.044 2.18 21.47 1.78 0.66 0.515 0.77 1.99 10. P.59 17.017 0.004 0.65 8.522 0.latteri Mason.64 0. sumatrana Jungh. Indeks Nilai Penting di Hutan Taman Wisata Alam Taman Eden No 1 2 3 4 5 6 Family Anacardiaceae Annonaceae Araliaceae Cunnoniaceae Fagaceae Hammamelidaceae Species Swintonia sp Xylopia sp Brassaiopsis glomerulata Brassaiopsis minor Weinmannia blumei Lithocarpus sp Castanopsis sp Altingia excelsa Rhodelia sp Symingtonia populnea Aglaia sp Ficus sp Eugenia sp.93 97.200 0.. finlaysoniana Wallich.652 0. merkiana Gordon (Hidajat dan Hansen. Pulau Mindoro dan Luzon di Filipina.99 0.673 1.71 7 8 9 10 11 12 Melliaceae Moraceae Myrtaceae Pinnaceae Sthyracaceae Theaceae Indeks Nilai Penting tertinggi kedua setelah Gordonia sp.55 8.78 4. Kamboja. meliputi Myanmar. .94 31.65 2. Laos.98 0.258 0.65 11.12 16. Pinus merkusii merupakan satu-satunya jenis konifer di daerah tropika yang daerah persebarannya luas di Asia Tenggara.032 0.78 4. yaitu P.98 13. serta Sumatera di Indonesia (Cooling.57 FR (%) 1.78 0.53 0.597 0.31 0.53 0.33 7.46 8.99 3.77 1.006 0.16 8.33 0.33 2.54 1.65 4.00 6. Kepulauan Hainan.65 4.973 7.062 35.78 13. 2 Pinus merkusii Shtyrax sp Schima wallichii Gordonia sp KR (%) 1. 2001). Thailand.84 68.71 DR (%) 0.66 3.32 1.005 3.33 1.00 20.43 0. P.787 46.11 8.222 0.78 5.

Penyebaran dan pertumbuhan daripada individu pohon sangat dipengaruhi oleh daya tumbuh biji. akan tetapi famili Theaceae akan berkurang jumlah maupun jenisnya. Konstansi atau frekuensi kehadiran organisme dapat dikelompokkan atas empat kelompok yaitu jenis yang aksidental (frekuensi 0-25%). Nilai frekuensi relatif (FR) tertinggi terdapat pada jenis Gordonia sp dengan nilai sebesar 21. Biji pohon yang tersebar di daerah yang miskin akan bahan organik dan dengan intensitas cahaya yang berlebih seperti yang terdapat pada hutan Taman Wisata Alam Taman Eden ini dapat berakibat buruk dan mematikan bagi pertumbuhan biji tersebut. Beragamnya nilai kerapatan relatif ini mungkin disebabkan karena kondisi hutan pegunungan yang memiliki variasi lingkungan yang tinggi. Jenis-jenis tersebut dapat beradaptasi dengan kondisi lingkungan pegunungan. jenis assesori (frekuensi 25-50%). Menurut Loveless (1989). . 2002). sebagian tumbuhan dapat berhasil tumbuh dalam kondisi lingkungan yang beraneka ragam sehingga tumbuhan tersebut cenderung tersebar luas. topografi keadaan tanah dan faktor lingkungan lainnya. Berdasarkan nilai FR tersebut dapat dilihat proporsi antara jumlah pohon dalam suatu jenis dengan jumlah jenis lainnya di dalam komunitas serta dapat menggambarkan penyebaran individu di dalam komunitas.Nilai Kerapatan Relatif (KR) tertinggi terdapat pada jenis Gordonia sp dengan nilai sebesar 29.71%.57%. Tingginya nilai ini menunjukkan banyaknya jenis tersebut pada hutan ini. jenis konstan (frekuensi 50-75%). dan jenis absolut (frekuensi di atas 75%) (Suin. Frekuensi kehadiran sering pula dinyatakan dengan konstansi. Dari nilai tersebut dapat dilihat bahwa jenis-jenis ini banyak terdapat pada hutan pegunungan Taman Eden.

004%. menyatakan pohon-pohon yang tumbuh di bawah ketinggian optimum. Indeks Keanekaragaman dan Indeks Keseragaman Untuk mengetahui keanekaragaman dan keseragamanan pada lokasi penelitian telah dilakukan analisa data dan didapat hasilnya sebagai berikut: . Monk et al. dan menyebarkan bijinya hanya pada sekitar lokasi hutan tempat tumbuhnya saja. dan dalam menentukan suatu jenis vegetasi dominan yang perlu diketahui adalah diameter batangnya. Keberadaan jenis dominan pada lokasi penelitian menjadi suatu indikator bahwa komunitas tersebut berada pada habitat yang sesuai dan mendukung pertumbuhannya. 4. Nilai Dominansi Relatif menunjukkan proporsi antara luas tempat yang ditutupi oleh jenis tumbuhan dengan luas total habitat serta menunjukkan jenis tumbuhan yang dominan didalam komunitas (Indriyanto. Hal ini memperlihatkan jenis-jenis tersebut daerah penyebarannya terbatas. jenis yang dominan mempunyai produktivitas yang besar.432%. Menurut Odum (1971). (2000). 2006). umumnya mengandalkan pasokan bijinya dari pohon-pohon di ketinggian atasnya.5. yaitu sebesar 0.Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa pohon-pohon pada hutan Taman Wisata Alam Taman Eden termasuk dalam kategori aksidental (nilai FR 0-25%). Nilai Dominansi Relatif tertinggi ditempati oleh jenis Gordonia sp yaitu sebesar 46. sedangkan yang terendah ditempati oleh jenis Altingia execelsa.

21 E 0. Menurut Sastrawidjaya (1991). jika diantara 1-3 berarti keanekaragaman jenis sedang.5<E<1. ketersediaan nutrisi dan pemanfaatan nutrisi yang berbeda menyebabkan nilai keanekaragaman dan nilai Indeks keseragaman bervariasi. jika lebih besar dari 3 berarti keanekaragaman jenis tinggi.76 Dari Tabel 5 dapat dilihat bahwa pada lokasi penelitian didapat indeks keanekaragaman sebesar 2. Indeks keseragaman pohon pada lokasi penelitian didapat 0.Tabel 5. Lebih lanjut Krebs (1985). jika nilai Indeks Keanekaragaman lebih kecil dari 1 berarti keanekaragaman jenis rendah. Hal ini menunjukkan jumlah jenis diantara jumlah total individu seluruh jenis yang ada termasuk dalam kategori sedang. Indeks Keanekaragaman dan Keseragaman Pohon pada Lokasi Penelitian H' 2.21. .76.5 dan keseragaman tinggi apabila 0. Dari nilai-nilai tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa nilai keseragaman pada Hutan Taman Eden termasuk dalam kategori tinggi. menyatakan bahwa Indeks Keseragaman rendah 0<E<0. Menurut Mason (1980). Nilai indeks keseragaman didapat dengan membandingkan nilai H’ dengan total jumlah jenis atau genus (ln S) yang terdapat pada suatu lokasi.

Stratum A disusun oleh 141 Individu. . stratifikasi vegetasinya tersusun atas stratum A. Stratifikasi Vegetasi Stratifikasi atau pelapisan tajuk merupakan susunan tumbuhan secara vertikal di dalam suatu komunitas tumbuhan atau ekosistem hutan.4. Pada ekosistem hutan hujan tropis. B dan C. Hal ini menjelaskan bahwa di Hutan ini masih banyak dijumpai pohon-pohon besar dan tinggi. Tiap lapisan dalam stratifikasi itu disebut dengan stratum.6. stratifikasi itu terkenal dan lengkap. Indriyanto (2006) menjelaskan bahwa adanya stratum ini dikarenakan persaingan antar tumbuhan serta sifat toleransi spesies pohon terhadap radiasi matahari. Stratifikasi Vegetasi di Hutan Taman Wisata Alam Taman Eden Dari Gambar 2 di atas dapat dilihat bahwa di Hutan Taman Wisata Alam Taman Eden. Di Hutan Taman Wisata Alam Taman Eden bentuk stratifikasi tersebut dapat dilihat pada Gambar 2 berikut ini: 141 160 140 Jumlah Individu 120 100 80 60 40 20 0 Stratum A 142 18 Stratum B Stratum C Gambar 2. stratum B tersusun atas 142 individu dan stratum C tersusun atas 18 individu dalam 2 ha areal.

yaitu strata A. Hal ini disebabkan karena pada hutan hujan tropik. D dan E. Biomasa pohon (dalam berat kering) dihitung menggunakan "allometric equation" berdasarkan pada diameter batang setinggi 1. Karbon Tersimpan Nilai karbon tersimpan ditentukan dengan pengukuran biomassa pohon.7. Dari penelitian yang dilakukan didapat hasil sebagai berikut: . C. faktor lingkungan berfluktuasi. Perbedaan tersebut dapat dilihat dari tidak seragamnya tajuk-tajuk pohon (stratum) di Hutan Taman Wisata Alam Taman Eden. atau dengan kata lain di hutan ini terdapat perbedaan kelas umur dari setiap vegetasi. 4. Seperti yang umum dijumpai. pada tegakan hutan alam di hutan hujan tropik bahwa stratifikasi (pelapisan tajuk hutan) berkembang dengan baik sehingga hutan hujan tropik yang sempurna akan memiliki lima strata atau lapisan tajuk hutan. Kondisi seperti ini mencerminkan tegakan hutan tidak seumur (Indriyanto.Selain itu stratum juga menunjukkan kelas umur dari masing-masing vegetasi penyusun hutan. B. 2008). Karbon tersimpan merupakan 46% dari Biomassa pohon yang diukur.3 m di atas permukaan tanah (dalam cm).

50 2 65.50 16.82 Ton/Ha.08 3. biomasanya akan lebih tinggi bila dibandingkan dengan lahan yang mempunyai spesies dengan nilai kerapatan kayu rendah (Rahayu et al.75 0.73 0.7 7.63 1.99 0.9 27.14 2.4 6.30 5. Cadangan karbon pada suatu sistem penggunaan lahan dipengaruhi oleh jenis vegetasinya.3 11 0.7 6.17 12.23 0.23 7.51 0.4 2.8 Ton.08 95. Suatu sistem penggunaan lahan yang terdiri dari pohon dengan spesies yang mempunyai nilai kerapatan kayu tinggi.65 22. 2 Pinus merkusii Shtyrax sp Schima wallichii Gordonia sp Total Biomassa (Ton/Ha) 1.62 3.60 5.5 48 Karbon Tersimpan (Ton/Ha) 0.1 0.5 0.9 3.82 Dari data di atas dapat dilihat bahwa cadangan karbon di Hutan Taman Wisata Alam Taman Eden sebanyak 95.92 30. Sehingga pada Hutan Taman Wisata Alam Taman Eden yang memiliki luas 40 ha didapat jumlah karbon tersimpan sebesar 3832.Tabel 6.24 2.8 1. Karbon Tersimpan pada Lokasi Penelitian No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 Jenis Swintonia sp Xylopia sp Brassaiopsis glomerulata Brassaiopsis minor Weinmannia blumei Lithocarpus sp Castanopsis sp Altingia excelsa Rhodelia sp Symingtonia populnea Aglaia sp Ficus sp Eugenia sp.8 0. Perbedaan jumlah cadangan karbon pada setiap lokasi penelitian disebabkan karena perbedaan kerapatan tumbuhan pada setiap lokasi. .1 Eugenia sp.06 0. 2007).18 1.

karbon maksimum dan minimum yang tersimpan dalam suatu sistem penggunaan lahan. Dengan demikian dapat diramalkan berapa banyak tumbuhan yang harus ditanam pada suatu lahan untuk mengimbangi jumlah karbon yang terbebas di udara.. waktu untuk mencapai karbon maksimum dan waktu rotasi (Palm et al.Nilai karbon tersimpan menyatakan banyaknya karbon yang mampu diserap oleh tumbuhan dalam bentuk biomassa. . Jumlah karbon yang semakin meningkat pada saat ini harus diimbangi dengan jumlah serapannya oleh tumbuhan guna menghindari pemanasan global. in press dalam Rahayu et al. yang nantinya digunakan untuk menghitung 'timeaveraged karbon di atas permukaan tanah pada masing-masing sistem. Nilai cadangan karbon mencerminkan dinamika karbon dari sistem penggunaan lahan yang berbeda. Timeaveraged karbon tergantung pada laju akumulasi karbon. 2007).

c. Ditemukan 18 jenis pohon yang termasuk dalam 12 famili dengan jumlah individu sebanyak 301 individu dalam 2 ha (150. Saran Kepada Pemerintah Daerah diminta agar tetap menjaga kelestarian hutan Taman Wisata Alam Taman Eden.71%. demi terjaganya ekosistem yang baik.8 ton. d. Startifikasi vegetasi di lokasi penelitian termasuk dalam stratum A.5 Indv/ha). Komposisi Pohon pada lokasi penelitian didominasi oleh Gordonia sp dengan Dominasi Relatif sebesar 46. Struktur pohon pada lokasi penelitian didominasi oleh Gordonia sp dengan INP sebesar 97.1. 5.2. KESIMPULAN DAN SARAN 5. Kesimpulan Dari penelitian yang telah dilakukan mengenai Analisis Vegetasi dan Pendugaan Cadangan Karbon Tersimpan pada Pohon di Hutan Taman Wisata Alam Taman Eden Desa Sionggang Utara Kecamatan Lumban Julu Kabupaten Toba Samosir dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: a.V. b. e. Jumlah Cadangan Karbon tersimpan sebesar 3832.43%. B dan C. .

Hafild & Aniger.DAFTAR PUSTAKA Arief. 2007. N. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 2003. S. Whitten. Bandung. A. 1990. Cet 1. FWI/GFW. 2007. F. Ewusie. Indonesia Forest Project dalam http//www. Informasi Singkat Benih. 1994. J. R. N. Bogor: PT. Lingkungan Hidup di Hutan Hujan Tropika. Potensi Pohon Kulim (Scorodocarpus borneensis Becc) di Kelompok Hutan Gelawan Kampar. Global Forest Watch.W. Jakarta: Penerbit PT Bumi Aksara. Pengukuran ”Karbon Tersimpan” Di Berbagai Macam Penggunaan Lahan. Bogor: World Agroforestry Centre. 2006. J. Damanik. 1984. Direktorat Jenderal Kehutanan. Indriyanto. Jakarta: Penerbit Yayasan Obor Indonesia. 1992. K dan Rahayu. Haeruman Js.id/Informasi/RPL/IFSP/Pinus_ merkusii. Boraspati Wahana...pdf. Heriyanto. J.S. Ekologi Tropika. Helms. Laporan Akhir Kajian Penilaian Karbon di Bukit Lawang dalam Rangka Pemanfaatan Jasa Lingkungan di Balai Besar TNGL. Jakarta. . Anwar. Ekologi Ekosistem Sumatera. Riau.S. Prinsip-Prinsip Silvinatural. Edisi 3. Hisyam. Bogor. Hidajat dan Hansen. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan. 1980. Jakarta: Kantor Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup. Diakses tanggal 25 Maret 2009. 2001. Indonesia: Fores Watch Indonesia dan Washington D..A. 2004.go. T. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Balai Besar TNGL.M dan Garsetiasih.dephut. Baker. 1992.Y. J. Hairiah. A. Bandung: Penerbit ITB. Hutan: Hakikat dan Pengaruhnya terhadap Lingkungan. Potret Keadaan Hutan Indonesia. Daniel. Ekologi Hutan.C.. Hutan sebagai Lingkungan Hidup. H. 1976.

2000. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. Y. T. Penerbit: PT Bumi Aksara. Jakarta.. Jenik. Dasar-Dasar Ekologi.. Second Edition. Thahjono Samingan. Alih bahasa Gembong tjitrosoepomo. Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia No. Ekologi Kalimantan.A. J. Monk.Sc.G. Lumban Tobing. p. Tropikal Forestand Its Environment. Terjemahan Ir. Rosalina. (tidak dipublikasi ). New York: Harper & Row Publishers Inc.A. 1985.. 2. Samarinda : Tesis Sarjana Kehutanan Universitas Mulawarman. 2004. Kusmana. Longman. Halim. C. Bogor: Wetlands International. Cet. 2000. Murdiyarso. M. Mangalik. Petunjuk Lapangan: Pendugaan Cadangan Karbon pada Lahan Gambut. R. Krebs. 106.D. K. Muslihat. K.F. Hatta. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Bogor: Penerbit Institut Pertanian Bogor.________. . R. London: Longman Group Limited. U. 18 Tahun 1994. K. C. H. Hairiah. IN. Irwan. De Fretes. E. 70/Kpts-II/2001. A. Ecology: the Experimental Analysis of Distribution and Abundance. Ecology. New York: Longman Inc. Jakarta. & J. L. Mackkinon..-Lilley. Odum. 1997. 1989.N dan Jaya. C. Third Edition. 1980. Struktur dan Komposisi Jenis Pada Komunitas Hutan Primer di Hutan Koleksi Universitas Mulawarman Lempaka Kalimantan Timur. Suryadipura. D. Ekologi Nusa Tenggara dan Maluku. K. Prinsip-Prinsip Ekologi dan OrganismeEkosistem Komunitas dan Lingkungan. Pengantar Budidaya Hutan. Metode Survey Vegetasi. Z. Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan Untuk Daerah Tropik 2. 1992. Jakarta: Prenhallindo. Mason. 1971. Jakarta. A. P. 2008. Jakarta: Percetakan PT Gramedia. 1987.. 1980. G. Jakarta: Bumi Aksara. Loveless. Jakarta: Prenhallindo.

Silalahi. Pendugaan Cadangan Karbon di Atas Permukaan Tanah pada Berbagai Sistem Penggunaan Lahan di Kabupaten Nunukan. Rahman. Peri Kehidupan Alam Sepanjang Jalan Pegunungan. Pedoman Pengumpulan Keanekaragaman Flora. Santoso. 1995. Keanekaragaman Hayati dari Bio Imperialisme ke Bio Demokrasi. Kalimantan Timur. 1990. & A. 1994. Praptiwi. Ekologi Kuantitatif: Metode Analisis Populasi dan Komunitas. Jakarta: Panitia Program Nasional UNESCO-MAB Indonesia. Jakarta: Penerbit Pustaka Pelajar. Soerianegara. H. No. I. Bogor: Pusat Penelitian Biologi – LIPI. Soegianto. Bogor. Indrawan. Padang: Universitas Andalas. Diversitas dan Tipologi Ekosistem Hutan yang Perlu Dilestarikan. Simon. Jakarta: Penerbit Usaha Nasional.2. Lusiana. A. Suin. 1996. A. N. Analisa Vegetasi Hutan Sibayak II pada Taman Hutan Rakyat Bukit Barisan Sumatera Utara. Data Sagala. N. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta: PT. 2002. Bogor: Departemen Managemen Hutan. van Noordwijk. Terjemahan Sri Nuryati. Vol. 1997. M. Rifai. . Metode Inventore Hutan. S. Ekologi Hutan Indonesia. Jenis dan Kerapatan Pohon Dipterocarpacea di Bukit Gajabuih Padang. Bogor: World Agroforestry Centre. Pengantar Geografi Tumbuhan dan Beberapa Ilmu Serumpun. Elizabeth.P. Kerja Sama Fakultas Kehutanan IPB dengan Yayasan Gunung Menghijau dan Yayasan Pendidikan Ambarwati. B.Polunin. Rugayah. Skripsi Sarjana Biologi (Tidak dipublikasi) Medan: FMIPA USU. 1992. Jurnal Matematika dan Pengetahuan Alam. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. 1978.H. 1993. 2004. E. Y.H. Rahayu. Fakultas Kehutanan.M. M 2007. 2007. Metoda Ekologi. S. Proseding Simposium Penerapan Ekolabel di Hutan Produksi pada Tanggal 10 – 12 Agustus 1995.1.

H & R. Padang: FMIPA-UNAND. Yefri. diucapkan dihadapan rapat terbuka Universitas Sumatera Utara. 2008. A. 2000. Jakarta: Pradya Paramita. R. Struktur dan Komposisi Vegetasi Pohon di Kawasan Hutan Gunung Sinabung Kabupaten Karo. 2004. Wirakusuma. 1987. Soedarsono. Hutan Hujan Tropika di Timur Jauh. N. Widhiastuti. Citra dan Fenomena Hutan Tropika Humida Kalimantan Timur.S. 1. R. 1990. 1991. Skripsi Sarjana Biologi (tidak dipublikasi) Medan: FMIPA-USU. Tamin. Medan. Sutarno. F. Tarigan. Struktur Pohon Hutan Bekas Tebangan di Air Gadang Pasaman. N. Bogor: Yayasan Prosea. 1987. Keanekaragaman dan Konservasi Vegetasi Hutan Gunung Sinabung untuk Pembangunan Berkelanjutan. Padang: Universitas Andalas Press. . Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam Bidang Ilmu Ekologi Tumbuhan pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Dasar-Dasar Ekologi Tumbuhan. Keanekaragaman Jenis Pohon di Kawasan Hutan Tangkahan Taman Nasional Gunung Leuser Kabupaten Langkat. Cet. M. Skripsi Sarjana Biologi (tidak dipublikasi) Medan: FMIPA-USU. Syahbudin.Susilo. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia. Latihan Mengenal Pohon Hutan (Kunci Identifikasi dan Fakta Jenis). Tesis Sarjana Biologi (Tidak dipublikasi). 1997.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->