P. 1
3 Mortalitas Dan Morbiditas Edit

3 Mortalitas Dan Morbiditas Edit

|Views: 498|Likes:
Published by Se Candra

More info:

Published by: Se Candra on Mar 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/14/2014

pdf

text

original

MORTALITAS DAN MORBIDITAS

Hermanus J. Lalenoh1, Emilzon Taslim2
Latar Belakang

MORTALITAS DAN MORBIDITASI

Seorang ibu meninggal disebabkan oleh komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas setiap menit. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kematian ibu diperkirakan sebanyak 500.000 kematian setiap tahun, 99% diantaranya terjadi di negara berkembang.1 Mortalitas matermal serta angka morbiditas pada kasus-kasus obstetric masih jarang dilaporkan. Sekalipun masih masih dalam tahap penilaian kembali, pemantauan angka mortalitas dan morbiditas tersebut masih harus terus dikembangkan untuk mengurangi angka kejadiannya yang cukup bermakna. Perubahan demografik dari populasi obstetrik seharusnya memungkinkan pemantauan yang berkelanjutan guna mengendalikan peningkatan angka mortalitas dan morbiditas yang cukup bermakna.1-6 Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tetap tinggi. Kecenderungan yang ada, AKI terus menurun, namun perlu upaya dan kerja keras untuk mencapai target Millenium Development Goals (MDGs). Sebelumnya Indonesia telah mampu melakukan penurunan dari angka 300 per 100.000 kelahiran pada tahun 2004. Namun, berdasarkan Sasaran Pembangunan Milenium atau (MDGs), kematian ibu melahirkan ditetapkan pada angka 103 per 100.000 kelahiran pada tahun 2015.2 Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan, rendahnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan ibu hamil menjadi faktor penentu angka kematian, meskipun masih banyak faktor yang harus diperhatikan untuk menangani masalah ini. Persoalan kematian yang terjadi lantaran indikasi yang lazim muncul. Yakni pendarahan, keracunan kehamilan yang disertai kejang, aborsi, dan infeksi. Namun, ternyata masih ada faktor lain yang juga cukup penting. Misalnya, pemberdayaan perempuan yang tidak begitu baik, latar belakang pendidikan, sosial ekonomi keluarga, lingkungan masyarakat dan politik, kebijakan juga berpengaruh.4,5 WHO memperkirakan bahwa 15%-20% ibu hamil baik di negara maju maupun berkembang akan mengalami risiko tinggi (risti ) dan/atau komplikasi. Salah satu cara yang paling efektif untuk menurunkan angka kematian ibu adalah dengan meningkatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih.2 Penurunan angka kematian ibu merupakan salah satu prioritas pembangunan kesehatan sebagaimana tercantum dalam RPJMN 2004-2009. Untuk mencapai sasaran tersebut, kebijakan pembangunan kesehatan terutama diarahkan pada peningkatan jumlah,

fasilitas pelayanan kesehatan diharapkan makin dekat dan mudah terjangkau oleh masyarakat. target yang akan dicapai sampai tahun 2015 adalah mengurangi sampai ¾ risiko jumlah kematian ibu.000 kelahiran hidup. Demikian pula cakupan dan kualitas pelayanan kesehatan reproduksi.2 .2 Hasil survei yang dilakukan. dan kualitas Puskesmas yang disertai dengan peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan. terus ditingkatkan. Dari semua target MDGs. kinerja penurunan angka kematian ibu secara global masih rendah. tantangan dalam menurunkan dan kebijakan yang dibuat pemerintah dalam menurunkan angka kematian ibu di Indonesia dalam rangka mencapai target Millenium Development Goals (MDGs) 2015 serta berbagai gabungan kepustakaan lain yang menunjang. Angka kematian ibu juga merupakan salah satu target yang telah ditentukan dalam tujuan pembangunan millenium (tujuan ke-5) yaitu meningkatkan kesehatan ibu.000 kelahiran hidup pada tahun 2007. namun demikian upaya untuk mewujudkan target tujuan pembangunan millenium masih membutuhkan komitmen dan usaha keras yang terus-menerus. termasuk keluarga berencana. AKI telah menunjukkan penurunan dari waktu ke waktu. Dengan kebijakan ini.MORTALITAS DAN MORBIDITASIjaringan. penyebab.3 Di sini akan dibahas mengenai tinggginya angka kematian ibu. Diperlukan upaya keras untuk mencapai target pada tahun 2015 sebesar 102 per 100. Angka kematian ibu menurun dari 390 pada tahun 1991 menjadi 228 per 100. Angka Kematian Ibu Melahirkan (AKI) Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan salah satu indikator untuk melihat derajat kesehatan perempuan.

b.3 Keadaan dan Kecenderungan AKI Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia telah mengalami penurunan menjadi 307 per 100. c. Kecenderungan nasional dan proyeksi Angka Kematian Ibu (1991-2025) Sumber: BAPPENAS. 2010.000 kelahiran hidup.000 kelahiran hidup pada tahun 2002-2003 bila dibandingkan dengan angka tahun 1994 . Proporsi wanita 15-49 tahun berstatus kawin yang sedang menggunakan atau memakai alat keluarga berencana (%).MORTALITAS DAN MORBIDITASI Gambar . Indikator Angka Kematian Ibu Indikator penilaian untuk penurunan angka kematian ibu sebesar tiga-perempatnya dalam kurun waktu tahun 1990 sampai 2015 ialah sebagai berikut: a. Proporsi kelahiran yang ditolong oleh tenaga kesehatan (%). Angka kematian ibu melahirkan (AKI) per 100.

masih terdapat 20.000 kelahiran hidup. pencapaian target MDGs untuk AKI akan sulit dicapai. Persentase persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih meningkat dari 66.2. Pada tahun 1995. Tingkat sosial ekonomi. informasi tanda bahaya. imunisasi. Persalinan ini sangat memengaruhi angka kematian Ibu dan bayi sekaligus.MORTALITAS DAN MORBIDITASIyang mencapai 390 kematian per 100.3 Pencapaian target MDGs akan dapat terwujud hanya jika dilakukan upaya yang lebih intensif untuk mempercepat laju penurunannya.3% pada tahun 2010 (Data Sementara Riskesdas.100 di Thailand. Risiko kematian ibu karena melahirkan di Indonesia adalah 1 dari 65. Sementara pada tahun 2002 terdapat 17.000 kelahiran hidup pada tahun 2015. persiapan persalinan.3 WHO memperkirakan bahwa 15%-20% ibu hamil baik di negara maju maupun berkembang akan mengalami risiko tinggi (risti) dan/atau komplikasi. Dengan kondisi ini. Tetapi akibat komplikasi kehamilan atau persalinan yang belum sepenuhnya dapat ditangani. tuberkulosis (TB).41 persen pada tahun 2006 (Susenas). faktor budaya. akses terhadap sarana kesehatan. Selain itu disparitas kematian ibu antarwilayah (provinsi) di Indonesia masih tinggi. jauh lebih tinggi dibandingkan dengan risiko 1 dari 1. dan penyakit menular seperti malaria. sedangkan target MDG pada tahun 2015 tersebut adalah 102.3 Penyebab Kematian Ibu a. Faktor Penyebab Langsung Kematian Ibu • • • pelayanan antenatal: pemeriksaan kehamilan. tingkat pendidikan. kekurangan energi kronik (KEK). BPS memproyeksikan bahwa pencapaian AKI baru mencapai angka 163 kematian ibu melahirkan per 100.6 % wanita usia subur yang menderita KEK. serta HIV/AIDS.3%) tempat Persalinan: 60% di rumah .000 ibu yang meninggal setiap tahunnya. Pertolongan persalinan oleh petugas kesehatan terus mengalami peningkatan hingga mencapai 72. Salah satu cara yang paling efektif untuk menurunkan angka kematian ibu adalah dengan meningkatkan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan terlatih. Angka tersebut terus meningkat menjadi 82. ketersediaan darah persalinan oleh tenaga kesehatan (72. pencegahan unwanted pregnancy.34% pada tahun 2009 (Susenas). 2010). hepatitis.3 Risiko kematian ibu semakin besar dengan adanya anemia. prevalensi anemia pada ibu hamil mencapai 51% dan pada ibu nifas 45 %.7% pada tahun 2002 menjadi 77. misalnya. transportasi. dan tidak meratanya distribusi tenaga terlatih terutama bidan juga berkontribusi secara tidak langsung terhadap kematian ibu.

menangani 31. Penyebab Tidak Langsung • Perlindungan dan perilaku dalam keluarga: o kekerasan & beban ganda. yodium.1% ibu hamil wanita usia subur yang kekurangan energi kronik: 19.4.7% kekurangan zat gizi mikro: Vit A. o peran kesetaraan pria • Akses dan penggunaan pelayanan kesehatan4.• • dukun: 2 x lipat jumlah bidan.5 c. o pandangan budaya4. dan pendekatan dalam pendidikan kesehatan reproduksi4. o perilaku konsumsi. Faktor Dasar • keterbatasan pengetahuan o pengetahuan dan budaya kesehatan reproduksi o pendidikan kesehatan reproduksi o pendidik. HIV/AIDS4. o kawin muda. o aborsi & perawatan persalinan.5 • Pemenuhan hak reproduksi: o kesertaan KB. pelayanan obstetri emergency: ketersediaan Puskesmas PONEK dan RS PONED belum mencukupi. o akses dan kualitas pelayanan KB.5%MORTALITAS DAN MORBIDITASI persalinan.5 d. metode. Faktor Yang Memperburuk • • • • anemia gizi besi: 40.5 • Status Perempuan o taraf pendidikan perempuan o status sosial ekonomi perempuan . dll malaria dan TBC.5 b.

5 Tantangan dalam menurunkan AKI a. perbatasan dan kepulauan (DTPK). posyandu dan unit transfusi darah belum merata dan belum seluruhnya terjangkau oleh seluruh penduduk. Sistem rujukan dari rumah ke puskesmas dan ke rumah sakit juga belum berjalan dengan optimal. kualitas dan persebarannya.3 b. dan persediaan darah yang diperlukan untuk menangani keadaan darurat persalinan. Petugas kesehatan di DTPK sering kali tidak memperoleh pelatihan yang memadai.2. Ditambah lagi dengan kendala geografis. . Masih rendahnya status gizi dan kesehatan ibu hamil. terpencil.2 c.5 2. Penyediaan fasilitas pelayanan obstetrik neonatal emergensi komprehensif (PONEK). terutama bidan. obat-obatan. Terbatasnya ketersediaan tenaga kesehatan baik dari segi jumlah.3 d. pelayanan obstetrik neonatal emergensi dasar (PONED).MORTALITAS DAN MORBIDITASI • Kelembagaan o MORTALITAS DAN MORBIDITASI pengambilan keputusan di tingkat rumah tangga4. Beberapa indikator sosial ekonomi seperti tingkat ekonomi dan pendidikan yang rendah serta determinan faktor lainnya dapat memengaruhi tingkat pemanfaatan pelayanan serta berkontribusi pada angka kematian ibu di Indonesia. dan faktor budaya.2. terutama bagi penduduk miskin di daerah tertinggal. hambatan transportasi. Persentase perempuan usia subur (15-45 tahun) yang mengalami kurang energi kronis masih cukup tinggi yaitu mencapai 13. Masih rendahnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan dan keselamatan ibu. kadang-kadang kekurangan peralatan kesehatan.6 persen (Riskesdas 2007).5 o kelembagaan KB dan pemberdayaan perempuan o Posyandu o institusi pendidikan dan keagamaan4. Terbatasnya akses masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan yang berkualitas.

Tingginya angka kemtian ibu melahirkan dipengaruhi oleh usia ibu (terlalu tua.6 Kebijakan Pemerintah dalam Menurunkan AKI Kebijakan yang akan dilaksanakan meliputi:2. d. . Meningkatkan akses layanan keluarga berencana melalui pengembangan jaringan pelayanan kesehatan reproduksi terpadu termasuk pelayanan kesehatan reproduksi remaja dan pelayanan KB berkualitas dengan perha an khusus pada daerah miskin dan tertinggal.3 f. Sejak tahun 1994.3 e. Meningkatkan pelayanan outreach berbasis fasilitas dengan meningkatkan kualitas dan jumlah puskesmas. PONEK2. untuk mengatasi masalah tiga terlambat dan menyelamatkan nyawa ibu ketika terjadi komplikasi melalui perawatan yang memadai tepat pada waktunya. b. terlalu muda). Masih rendahnya angka pemakaian kontrasepsi dan tingginya unmet need. Memperkuat sistem rujukan. 2. Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat). Pengukuran AKI masih belum tepat. selain meningkatkan risikoMORTALITAS DAN MORBIDITASI kesehatan bagi ibu hamil juga menjadi salah satu penyebab bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR).3 a. e. rumah sakit sayang ibu dan bayi serta revitalisasi posyandu. PONED. 2. 2.3 2. c. karena sistem pencatatan penyebab kematian ibu masih belum adekuat. dan rendahnya angka pemakaian kontrasepsi. termasuk kemitraan dengan tenaga kesehatan swasta dan dukun bayi serta memperkuat layanan kesehatan berbasis masyarakat antara lain melalui posyandu dan poskesdes. tingginya angka aborsi. dan BOK (Bantuan Operasional Kesehatan). Memperkuat fungsi bidan desa. Untuk mendapatkan angka kematian ibu yang akurat dan penyebab kematian yang tepat dengan model statistik vital lengkap. (dapat dilakukan melalui registrasi kematian ataupun sensus penduduk) perlu segera diterapkan.Rendahnya status gizi. AKI diperoleh dari perkiraan usia spesifik yang bersifat langsung terkait kematian ibu yang didapat dari laporan dari saudara kandung ibu yang masih hidup (SDKI). Memperkuat dukungan finansial melalui: PKH (Program Keluarga Harapan).

dilakukan pendataan mortalitas maternal di Inggris dan telah dipublikasikan. (ii) fokus pada kelompok dan daerah yang memiliki risiko kematian ibu terbesar. evaluasi. perbatasan dan kepulauan. spesialis. Disamping itu. Menciptakan lingkungan kondusif yang mendukung manajemen dan partisipasi stakeholder dalam pengembangan kebijakan dan proses perencanaan serta mendorong kemitraan lintas program. periode postnatal dan masa kanakkanak. dari sini diperoleh informasi terbaik mengenai insidens dan penyebab . Meningkatkan ketersediaan tenaga kesehatan. tenaga paramedis). j. m. dan (iii) menyusun berbagai model untuk mengidentifikasi strategi-strategi safe motherhood yang efektif. Memperkuat koordinasi dengan memperjelas peran dan tanggung jawab fungsi pusat dan daerah dalam rangka memperkuat survailans. l. g. Morbiditas dan Mortalitas Maternal Informasi mengenai mortalitas maternal berasal dari beberapa sumber. Pada pertengahan abad. kualitas dan persebarannya (dokter umum. h. lintas sektor. k. Memperkuat sistem informasi. swasta dan masyarakat guna menerapkan sinergi dalam advokasi dan penyediaan layanan. terutama untuk memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan di daerah terpencil. Meningkatkan pelayanan continuum of care yang mencakup penyediaan layanan terpadu bagi ibu dan bayi dari kehamilan hingga persalinan. melalui pre-service dan in-services training bagi tenaga kesehatan strategis. bidan. i. monitoring. baik jumlah.MORTALITAS DAN MORBIDITASI f. Meningkatkan upaya pencapaian indikator-indikator Standar Pelayanan Minimum (SPM) bidang kesehatan dalam rangka menjamin pencapaian tujuan pembangunan kesehatan di tingkat pusat dan daerah (kabupaten/kota). Meningkatkan pendidikan kesehatan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran tentang kesehatan dan keselamatan ibu ditingkat masyarakat dan rumah tangga. Memperbaiki status gizi ibu hamil dengan menjamin kecukupan asupan gizi. serta pembiayaan. kemitraan lintas program dan lintas guna menjamin terjadinya sinergi dalam pelaksanaan program. dengan: (i) memperkenalkan metode-metode analisis untuk mengukur kematian ibu dengan memanfaatkan berbagai sumber data yang memiliki kualitas berbeda. dengan penekanan intensitas sasaran pada daerah tertinggal dan miskin. dan penerapan skema tenaga kesehatan kontrak.

sekalipun. pola cedera dan kematian masih dapat diperoleh. juga berkaitan dengan perbaikan tersebut. termasuk pertolongan menggunakan laryngeal airway mask. The American Society of Anesthesiologists Closed Claims Project secara periodic melakukan review penyebab berbagai kasus malpraktrik. Pada akhirnya. karena pencatatan masih dimandatkanMORTALITAS DAN MORBIDITASI pada tingkat nasional. Di Amerika Serikat. Sekalipun hal ini hanya menggambarkan sejumlah trauma maternal (seperti yang menghasilkan masalah-masalah hukum). Pada laporan CEMACH. dan . Hasil yang sama juga ditemukan pada penelitian mortalitas maternal di Michigan di Amerika dari tahun 1985-2003. Peningkatan risiko mortalitas maternal akibat anestesi adalah 16 kali lebih tinggi pada anestesi umum dibanding anestesi regional dalam penelitian yang dilakukan di Amerika.6 Menurut laporan dari CEMACH dan Michigan. Dalam 20 tahun terakhir. Peningkatan penggunaan regional anestesi. Hal tersebut memberikan informasi yang bermakna namun bukan sebagaimana registrasi di Amerika. terdapat delapan kematian yang berkaitan dengan kematian maternal namun tidak ada yang disebabkan oleh gangguan jalan nafas selama induksi. dan perbaikan algoritma jalan nafas emergensi.000 wanita yang meninggal karena aspirasi pada periode dan fase melahirkan. sekitar 1/42. namun tidak ada yang berhubungan dengan gangguan kendali jalan nafas pada saat induksi. kesadaran dari peningkatan risiko kesulitan intubasi dalam obstetrik. ditemukan tiga kematian yang berkaitan dengan kegagalan jalan nafas pada pasien morbid obes periode postpartum. Pada tahun 1950.6 Laporan dari Confidential Enquiries into Maternal Deaths (CEMD) sekarang disebut dengan Confidential Enquiry into Maternal and Child Health (CEMACH) sebagaimana diaudit oleh badan Inggris menunjukkan pola perbaikan pada keseluruhan mortalitas obstetrik dan mortalitas yang berhubugan dengan obstetrik anesthesia. terdapat enam kasus kematian yang berkaitan dengan anestesi. Namun pada sebagian besar laporan CEMACH. hanya 2 kasus aspirasi yang terlihat pada pencatatan ASA Closed-Claims. kegagalan intubasi endotrakeal merupakan penyebab tersering dari mortalitas maternal yang berkaitan anestesi. yang meliputi tahun 2003-2005. dilaporkan tiga hal yang berdasarkan review data kematian dan beberapa yang berhubungan dengan pencatatan medis yang terlihat. Sama halnya pada tahun 1980. dua kasus di antaranya sesudah anestesi umum. perlu ekstra hati-hati dalam melakukan penatalaksanaan jalan nafas sesudah recovery dari anestesi.kejadian tragis tersebut.

Penelitian di Amerika pada sekitar 1. Pada penelitian Michigan. ASA Closed Claims melaporkan dua kali dalam dua decade terakhir untuk penyebab yang berkaitan dengan kasus obstetrik. dan lebih berkaitan dengan cedera saraf.5 miliar kelahiran dari tahun 2000-2006 menunjukkan bahwa penyebab tersering adalah sama dari tahun ke tahun. Pembayaran tertinggi dibuat pada kasus kematian maternal. harus ditambahkan dengan monitoring khusus. lebih berkaitan dengan regional dibanding anestesi umum. disebutkan bahwa kematian paling sering ditemukan pada operasi bedah sesar dibanding partus per vaginam. dan lebih sedikitnya pembayaran. dan bila memang perlu.6 . Fraksi yang lebih kecil berhubungan dengan masalah jalan nafas dan aspirasi. yaitu: preeclampsia> emboli cairan ketuban> perdarahan> penyakit jantung> tromboembolik. angka morbiditas maternal yang cukup serius juga harus diperhatikan. dan kerusakan otak neonatal. lebih sedikitnya fasilitas perawatan yang di bawah standar. Hasil ini menunjukkan bahwa perlu perhatian khusus pada jalan nafas untuk kasus-kasus obstetrik yang harus diteruskan sampai periode postoperatif. karena lebih banyak etioloi obstetrik mayor tersebut. kerusakan otak maternal. kurangnya komunikasi antara tim obstetrik dan anestesiolog serta keterlambatan penatalaksanaan anestesi dihubungkan dengan cedera pada perawatan anesthesia.MORTALITAS DAN MORBIDITASIsatu sesudah anestesi spinal. Kematian yang berkaitan dengan penyebab anestesi adalah sangat jarang.6 Selain mortalitas. Pada kasus cedera otak neonatal. Pada kedua sumber yang meneliti. Laporan terkhir menunjukkan perkembangan terbesar dibanding yang dilaporkan sebelum dan sesudah 1990.6 Secara keseluruhan kasus mortalitas maternal (kecuali kasus yang berkaitan dengan anestesi) terlihat bahwa penyebab tersering adalah komplikasi dari preeclampsia yang mulai menurun pada periode dua decade terakhir. serta tromboembolik yang secara umum mulai meningkat. lima kematian menunjukkan bahwa kehilangan jalan nafas periode postoperative. Kematian akibat perdarahan dan emboli cairan ketuban tetap memiliki angka kejadian yang sama.

6 Penurunan angka kematian ibu merupakan salah satu prioritas pembangunan kesehatan sebagaimana tercantum dalam RPJMN 2004-2009.6 Penatalaksanaan anestesi hanya sedikit kontribusinya pada mortalitas maternal dan anestesiolog mengalami kemajuan dalam hal mengurangi angka mortalitas maternal dan morbiditas mayor yang disebabkan oleh perawatan anestesi.MORTALITAS DAN MORBIDITASI Kesimpulan Angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tetap tinggi. Perlu perhatian yang lebih pada populasi obstetrik serta perawatan obstetrik untuk meneruskan pengembangan teknik penatalaksanaan perioperatif yang lebih aman. Untuk mencapai sasaran tersebut. Kecenderungan yang ada.6 . AKI terus menurun. Berdasarkan data dari departemen kesehatan rendahnya kesadaran masyarakat tentang kesehatan ibu hamil menjadi faktor penentu angka kematian. kebijakan pembangunan kesehatan terutama diarahkan pada peningkatan jumlah. dan kualitas puskesmas yang disertai dengan peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan. namun perlu upaya dan kerja keras untuk mencapai target Millenium Development Goals (MDGs). meskipun masih banyak faktor yang harus diperhatikan untuk menangani masalah ini. jaringan.

Jakarta: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional / Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS). Rancang Bangun Percepatan Penurunan Angka Kematian Ibu untuk Mencapai Sasaran Millenium Development Goals. et al. Jakarta: Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 2010. 5th ed. Kementerian Pembangunan Perencanaan Nasional Pembangunan Nasional 2010. Depkes RI. 2. / Badan Perencanaan Tujuan (BAPPENAS).MORTALITAS DAN MORBIDITASI DAFTAR PUSTAKA 1. Datta S. 2010. Springer Science+Busines Media. Maternal Mortality and Morbidity.who. Download from http://www. Laporan Pencapaian Pembangunan Milenium Indonesia. 2012. Direktur Kesehatan dan Gizi Masyarakat Bappenas. LLC. 2010: 399-4 . Angka Kematian Ibu Melahirkan. Segal S (Eds). 2007. Obstetric Anesthesia Handbook.int/mediacentre pada 05 Desember 2012. Jakarta: Bappenas. Kodali BS. Datta S. Millennium Development Goals (MDGs). Laporan Pencapaian Millenium Development Goals 2007. Jakarta: Depkes RI. WHO.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->