BEJAT

:
sebuah kumpulan cerpen

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

PENGANTAR “BEJAT: sebuah kumpulan cerpen” adalah salah satu tugas yang dibebankan pada mahasiswa Matakuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi (MPKT) FIB-UI kelas 4, semester ganjil 2009/2010. Tugas ini diberikan sebagai penambah nilai pada pokok bahasan pertama yang bertema “kekerasan.” Dengan demikian, dapat kita pastikan bahwa tema-tema yang termuat dalam cerita-cerita yang terkumpul di dalamnya adalah cerita tentang kekerasan. Kekerasan di sini mempunyai beragam bentuk. Di antaranya kekerasan suami kepada istrinya, orang tua kepada anaknya, senior kepada junior, hingga manusia kepada hewan. Kekerasan tidak melulu dalam bentuk fisik. Seseorang yang mengalami penderitaan secara psikis juga dapat disebut sedang mengalami kekerasan mental. Kembali ke topik kumpulan cerpen ini. Dengan membaca kumpulan cerpen secara tidak langsung kita mengenal karakter seseorang dari tulisannya. Tiap orang memiliki pengalaman dan pemahaman yang berbeda memandang sesuatu hal. Dari perbedaan tersebutlah karakter seseorang dapat kita ketahui. Ada yang menulis cerita berdasar pada pengalaman hidupnya, ada yang menulis berdasar pada perasaan pada saat ia sedang menulis, dan ada yang menulis berdasar pada ide atau angan-angan yang ia harapkan. Semua menjadi satu, dan menarik untuk Anda pelajari satu per satu. Selamat menikmati.

Penyusun Arie Toursino Hadi

halaman 2 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

DAFTAR CERPEN Cerpen Bertema Kekerasan...................................................................................................................M Reza Fatahilla

The Apartement..........................................................................................................................Ervilia Lupita Andriyanti
Kekerasan Dalam Kehidupan........................................................................................Glory Meirisa Pakpahan Diaz dan Anwar.............................................................................................................................................Indah Permata Sari Yumi...................................................................................................................................................................Indra Puspita Kusuma Kau Bukan Ayahku.......................................................................................................................................Intan Puji Lestari Keluarga dan Sekolah.........................................................................................................................Irvanuddin Rahman Liburan Lebaran.............................................................................................................................................Jodia Pravita Dini Cinta, Kinanti!.........................................................................................................................................................Juwita Anindya (untitled)............................................................................................................................................................Dwi Cahyaningtyas Cerpen Tentang Kekerasan..............................................................................................................................Kartika Putri Tindak Kekerasan Pemerintah Terhadap Anak-anak Jalanan.......................Khamim Hudori Kau dan Kekerasanku.....................................................................................................................................Khaula Fathina Cinta Terlarang.............................................................................RA Koeshamimurti Tosani Natya Laksitha Benderaku.....................................................................................................................................................................Krisna Karim Z Eyang Neli......................................................................................................................................................Lestari Sari Pambudi Bejat.......................................................................................................................................................................Fauzana Fidya Rizky Akhir dari Cinta Sejati................................................................................................................................................Lia Pratiwi Murti................................................................................................................................................................Louise Viranti Lasnida Si Cantik yang Malang...................................................................................................................Fazra Fatima Azzahra Jangan Main Hakim Sendiri............................................................................................................Lourin Hertyastiwi Jan............................................................................................................................................................................................Marsha Jozana Kenangan..........................................................................................................................................................Muhammad Garit N Kekerasan Terhadap Anak...................................................................................................Munadhilah Ummahat Balada Sarimin.......................................................................................................................................................Nadia Khaerani ! ! ! ....................................................................................................................................................................................Arie Toursino Hadi

halaman 3 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

CERPEN BERTEMA KEKERASAN
Oleh: M Reza Fatahilla

Dahulu

saat kepemerintahan Hitler di Jerman, hiduplah seorang saudagar Yahudi yang sangat kaya bersama tiga anak lelakinya. Aku adalah anak orang kaya berkewarganegaraan Inggris yang bekerja sebagai fotografer untuk sebuah perusahaan media jurnal di Inggris Raya dan menetap di Jerman semasa kepemerintahan Hitler. Pada suatu hari sedang dilaksanakan patroli militer Jerman terhadap orangorang Yahudi, yang menyebabkan kekacauan dan kerusuhan. Rumah-rumah banyak yang terbakar akibat patroli tersebut, pasar-pasar pun berantakan akibat tindakan semena-mena dari tentara Jerman. Saudagar Yahudi yang sangat kaya bersama tiga anak lelakinya mendadak menjadi jatuh miskin, selain itu mereka juga disiksa dan dikucilkan karena mereka keluarga Yahudi. Siang itu aku sedang berjalan di pasar yang telah porak poranda akibat patroli Yahudi tadi siang untuk melihat-melihat dan tidak sengaja aku melihat saudagar Yahudi yang sangat kaya dengan tiga anak laki-lakinya sedang bermain sulap, lalu aku tertarik untuk mendekatinya. “Hai kalian, tunjukan sulap terhebat yang pernah kalian punya kepadaku,”
halaman 4 dari 83 halaman

”DAAWR! CKCK DAWR! CKCK DAWR!” Suara tembakan polisi militer Jerman kepada tiga orang Yahudi itu. benar. membuat api dari plastik dan lain-lain. Setelah itu aku pergi meninggalkan mereka. dan diludahi oleh polisi militer Jerman itu. Mereka diperlakukan bagai binatang. apakah kejadian seperti barusan di jalanan sudah sering terjadi?” tanyaku. terlihat lima orang polisi militer Jerman bersama tiga wanita orang warga Jerman sedang berjalan di tepi jalan. Dengan cepatnya polisi militer Jerman mendorong ketiga wanita Yahudi tersebut sampai mereka tergeletak jatuh di aspal jalanan dan beberapa saat kemudian terdengar bunyi tembakan senjata sebanyak tiga kali. “Pak. Saya punya harga diri!” sayup-sayup suara isak tangisan salah seorang Yahudi itu. mengapa mereka bertindak tidak manusiawi seperti itu. tiga wanita tersebut disiksa habis-habisan. Mereka tetap dipukuli dan disiksa sampai babak belur di pinggir jalan tersebut. Dan aku hanya bisa melihat dan memfoto segala kejadian yang terjadi saat itu untuk bahan dokumentasi jurnal. Namun tetap saja polisi militer Jerman tidak mendengarkan rintihan mereka. Mereka bermain dengan lincah dan sangat hebat. Dan aku sesaat baru menyadari bahwa mereka yang disiksa adalah warga Jerman yang beragama Yahudi. Kami punya harga diri! Kami ingin bebas!” sahut suara temannya itu. karena leher sudah terasa sangat kering dan haus.” jawab mereka berempat. Membuat bunga dari kertas. “Kami ingin bebas! Kami tidak ingin disiksa seperti ini terus! Kebebasaaaaaaaan!” teriak mereka bertiga. Lalu aku berjalan ke depan sejauh 50 km dari pasar tersebut dan aku sampai di kota Berlin.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kataku.” pintaku kepada penjual toko. Pak! Sudahi penderitaan saya. Saat itu. Saya adalah Yahudi. Lalu aku berjalan menuju toko yang menjual sebuah air mineral. Aku pun heran. “Saya mau beli satu botol air mineral pak. harganya 10 pence” jawab penjual toko. “Ya. Namun. “Baiklah tuanku. halaman 5 dari 83 halaman . Aku terus melihat dan memfoto kejadian tersebut sebagai bahan dokumentasi. “Ini silahkan tuan. Aku sangat terhibur lantas memberi mereka uang logam 5 pence dan tidak lupa menyuruh mereka bergaya menghadap kamera serta memfoto mereka sebagai bahan dokumentasi jurnal. Dan tiba-tiba ketiga wanita Yahudi tersebut menyerang kelima polisi militer Jerman tersebut dengan mendorong-dorong. “Saya mohon ampun. Sekejap nyawa ketiga wanita Yahudi itu pun lenyap. Monumen itu adalah monumen Hitler yang sangat megah dengan penjagaan oleh tiga orang polisi militer jerman di sekelilingnya. dipukuli. Aku disajikan pemandangan sebuah monumen besar di tengah taman kota yang hijau rumputnya dan ramai akan banyak orang. Lalu aku berjalan melewati monumen itu dan mencari sebuah toko yang menjual air mineral. Mereka ditendang.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Ya. karena jurnal yang aku buat sangat detil dan berdasarkan kejadian faktual. aku menceritakan hasil laporan jurnal yang aku dapat di Jerman. Lalu aku diantar ke perusahaan dan di sana aku bertemu teman-teman kantorku dan mereka bergembira menyambut kedatanganku karena sudah lama sekali mereka tidak bertemu denganku. dengan mata yang masih mengantuk.” kata pramugari cantik tersebut. namun itu sudah menjadi peraturan semenjak Hitler berkuasa. sebenarnya saya juga sudah gerah melihat kelakuan polisi-polisi militer itu. Tuan. kita telah sampai di Manchester. jurnal tersebut masuk dalam berita utama televisi terkenal di kota Manchester tersebut. Seminggu kemudian. Pemandangan matahari yang sangat indah saat terbenam di kota Munich. namun mereka sangat puas. Terima kasih. kira-kira 55 km dari toko itu. Selama perjalanan di pesawat terbang aku hanya terdiam dan menulis sebuah catatan perjalanan selama di Jerman pada sebuah buku kecil yang muat di saku jas hitam yang sore itu aku pakai di pesawat terbang dan tidak lama kemudian aku tertidur lelap. Selamat. Inggris. Aku langsung mengambil tas bawaan dan menuju lobby bandara Manchester dan terdengar suara yang sudah familiar di telinga. Mereka tercengang mendengar hasilnya.” pernyataan ketua direksi perusahaan media jurnal. Sesampai di sana. Dengan ini saya promosikan anda untuk naik jabatan dan naik gaji. Setelah tiga puluh menit tidak terasa perjalanan aku mencoba bangun dari tidur.” jawab penjual toko. Aku pun kini naik jabatan dan terus memberikan kontribusi yang bagus bagi perusahaan media jurnal tersebut. “Selamat siang. Lalu. jurnal anda terpilih menjadi topik utama televisi terkenal kota Manchester. Tuan. periksa kembali barang bawaan anda. Setelah itu aku langsung menuju bandara dan melakukan penerbangan menuju Manchester. Setelah itu aku memfoto bapak penjual tersebut dan pergi menuju stasiun kereta api yang bernama Zoo yang terletak tidak begitu jauh.ngantuk dan tiba-tiba seorang pramugari yang cantik membangunkan aku. Mungkin sedikit lelah perjalan dari Jerman” jawab diriku. Tamat. “Selamat sore. “Yeeeeeeeeeesss! I’m freee! Yuhhuu! “ aku berteriak akan keberhasilan. aku membeli tiket dan naik kereta sampai kota Munich dan sore telah menjelang. Dan ceritaku berakhir sampai di sini. “Oh. Aku bingung dan baru menyadari ternyata dia adalah teman kantor dari perusahaan media jurnal. aku baik saja. halaman 6 dari 83 halaman . “Haaai! Kamu apa kabar?” tanya wanita itu kepadaku.

kedatangan kami ke apartemen mereka kali ini. Detik selanjutnya pun kami saling halaman 7 dari 83 halaman . salah satu teman dekat kami ketika masih duduk di bangku SMA. Mengetahui hubungan keduanya yang sudah cukup lama. Namun. agak heran mengapa mereka tidak langsung saja memutuskan untuk segera menikah. Sebenarnya itu adalah kabar yang sedikit mengejutkan. Rei. aku dan seorang temanku. Ryo. Oleh karena itu. pintu itu tidak terbuka. juga ingin melihat sosok seorang Ryo yang selama ini kami hanya kenal melalui cerita-cerita dari Aya saja. Oleh karena itu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen THE APARTMENT Oleh: Ervilia Lupita Adriyanti Saat ini sudah pukul lima lewat dua puluh satu menit ketika kami. Sebuah senyum terlukis di bibir Rei ketika aku menekan bel apartemen Aya dengan siku kananku seakan tidak sabar menunggu Aya membuka pintu apartemennya. kami berdua segera mengiyakan lalu dengan semangat pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa bahan makanan yang dimasak bersama nanti. Di depan pintu apartemen Aya. aku teringat beberapa bulan yang lalu Aya mengabarkan kepada kami kalau ia akhirnya memutuskan untuk tinggal di apartemen kekasihnya. tiba di depan pintu apartemen milik Aya. ketika Aya menghubungi kami dan mengundang kami untuk makan malam bersama di apartemen barunya.

Pertanyaan itu disusul dengan suara pisau yang mulai bekerja memotongmotong bahan makanan. “Mmm.” Aya melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah dapur sambil mempersilahkanku untuk duduk di sofa ruang tengahnya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen berpandangan dan mulai bertanya-tanya mengapa Aya belum membuka pintu apartemennya. ia seakan menahan langkahku yang berusaha memasuki dapur apartemennya.” sambil melambaikan tangannya cepat. Aya pun mengucapkan terima kasih sambil menutup kembali pintu apartemennya dan menguncinya lagi. “Jam berapa Ryo pulang dari kantornya?” dari arah dapur aku mendengar Rei bertanya. ketika ia lihat aku membawa dua buah kantung belanjaan. duduk saja dulu. Bersamaan dengan itu ia menunjuk sofa ruang tengahnya dan memberi isyarat dengan matanya agar aku duduk saja di sana.” aku dengan cepat mengganti topik ketika sadar tidak ada satu pun figura foto yang tergantung di dinding ataupun dipajang di atas meja. Kini aku menurunkan kantung belanja yang aku jinjing di tangan kananku lantas menekan sekali lagi bel tersebut. Kali ini dengan jari telunjukku. Lalu. Aya.. Kami juga membeli lebih kalau kamu ingin memasaknya lagi. “Coba tekan belnya sekali lagi. “Ya. “Hah? Benar tidak apa-apa aku tidak membantu?” “Tidak. menunggu adakah suara derap langkah kaki dari dalam sana. “Tom. Kalian belum lama. Mungkin itu wortel. Agak mengherankan memang ketika sebuah rumah tidak halaman 8 dari 83 halaman . Ia tersenyum lebar ketika melihat kami berada di depan apartemennya. “Maaf. karena kami berencana membuat nasi kare.. pintu apartemen itu terbuka dan kami melihat teman kami. aku mengangguk.. Biar wanita saja yang memasak di dapur. kami berdua mulai memasang telinga baik-baik. Tidak ada jalan lain.” Rei menunjuk bel apartemen Aya dengan dagunya.” Rei menambahkan. di belakang pintu itu. dia mengambil salah satu kantung itu dariku dan mulai melihat ke dalamnya. Perlahan. kan?” Aya sedikit bergeser ke sebelah kanan dan mempersilahkan kami masuk ke dalam apartemennya. Kini ia sudah berada di ruang tengah apartemen dan melihat ke sekeliling ruangan. aku hanya mengangguk-angguk pelan sambil mulai melihat ke sekeliling ruangan tersebut. Suara itu kemudian disambung dengan suara kunci pintu yang dibuka. “Kalian sudah membeli tepung okonomiyaki-nya juga. tidak lama lagi. kan?” sambil mengenakan sandal berwarna putih polos yang diletakkan tidak jauh dari pintu. Rasa penasaran kami tiba-tiba terbayar ketika kami sama-sama mendengar suara langkah kaki dari dalam apartemen. Biar aku dan Rei yang menyiapkan semuanya di dapur. Setelahnya. ” “Kalian tidak memajang satu pun foto di sini. tadi Aku ketiduran.

langkahnya langsung terhenti ketika melihat kami di ruang tengah.” “Mereka teman SMA-ku.. yaa. Suara bel yang kedua menyusul kemudian.” bersamaan dengan itu ia kembali membuka kunci pintunya. “Jarang sekali Aya mengundang temannya datang ke sini. Bahkan. entah mengapa suasana menjadi sedikit tidak nyaman. tidak pernah. “Aku.. “Yaa.” aku menambahkan tanpa mengindahkan jawaban terbata-bata yang dilontarkan oleh Aya. Sebaiknya di pindahkan saja. Ryo.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen dihiasi paling tidak satu foto pemiliknya. Aku saja yang seorang laki-laki masih memajang foto kelulusanku ketika SMA di ruang tengah apartemen. “Teman SMA?” Ryo mulai melangkah mendekat. Entah mengapa ia terus saja memandang ke arahku. Hanya sesekali ia memandang Rei. Senyuman yang disunggingkan Ryo seperti dipaksakan atau bahkan sebenarnya Ryo tidak menyukai kehadiran kami sejak awal. “Apakah itu Ryo?” terdengar suara Rei bertanya dari dalam dapur.. kulitnya agak sedikit coklat jika dibandingkan dengan warna kulitku. Ia lalu tersenyum kepada kami. Apakah mobil putih di parkiran bawah milikmu. Matanya memandang kami penuh dengan rasa penasaran.” Ryo mengiyakan ucapan Aya. ia pun melepaskan celemek yang ia pakai dan menyampirkannya di kursi meja makan. di saat yang bersamaan terdengar bunyi bel pintu. Ketika ia mulai melangkah masuk. Tom dan Rei. Rambutnya pendek dan tingginya hampir sejajar denganku.. Bersamaan dengan itu. Sepertinya dia belum menyadari kehadiran kami. Ryo mengalihkan pandangannya ke arah Aya dan mulai mengangguk-angguk.” “Masak?” Laki-laki itu kini membuka jasnya. dari kejauhan aku melihat seseorang mengenakan setelan jas di luar sana. iya.” “Bahkan tidak ada foto Ryo satu pun di sini..” Aya mulai berusaha mencairkan suasana. Kemudian.. Ketika pintu mulai terbuka. “Mereka. Aku mulai menebak kalau orang itu adalah Ryo. Laki-laki berperawakan tegas..” ucapnya dengan suara yang sedikit berat. Tom? Sepertinya kamu memarkirkannya di tempat orang lain. Benar juga. sedang memasak. “Hmm. “Kenapa lama sekali kamu membuka pintunya?” laki-laki itu mulai memasuki apartemennya. Rei. dan Aya. Lalu... Namun.” halaman 9 dari 83 halaman .. Rei juga melakukan hal yang sama. Tunggu sebentar. Aku tersenyum sambil menundukkan badanku sedikit.. “A. Kini.” Aya dengan segera keluar dari dalam dapur kemudian disusul oleh Rei. Ryo. Sementara itu. yaa. “Mungkin.” Benarlah ternyata laki-laki itu adalah Ryo.. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah pintu apartemen. “O. “A. aku mulai merasakan ada sesuatu yang aneh di sini. aku berpikir ada baiknya kamu juga mulai mengenal teman-teman baikku.

“Sepertinya aku ikut saja ke bawah. aku pun segera berjalan ke arah pintu apartemen. Ketika kami sampai di parkiran sekitar lima belas menit yang lalu. Ia menangis dan Ryo berdiri sambil mengarahkan pemukul baseball ke arahnya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Masih dikuasai oleh suasana canggung beberapa saat yang lalu. Setidaknya tidak ada orang yang menunggu di sana dan mengatakan bahwa kami harus segera memindahkan mobil kami ke parkiran yang lain. terdengar suara sesuatu jatuh kemudian pecah dari dalam apartemen. Aku berusaha menghindar. Langkah kami berhenti di depan pintu apartemen Aya untuk kedua kalinya. Tidak jauh dari mereka.. “Apa yang kamu lakukan?! Apa kamu sudah gila?!” aku balik meneriaki Ryo ketika kami saling berebut pemukul itu. Dengan cepat aku buka pintu tersebut dan mendapati Aya tersungkur di lantai ruang tengahnya. Rei juga berlari memasuki ruangan dan langsung memeluk Aya yang masih tergeletak di lantai. Sementara itu. Tiba-tiba aku dengan refleks mencoba memutar kenop pintu dan ternyata pintu itu tidak terkunci. Ketika Rei mulai menekan bel. Suaranya lirih. sebuah lampu kaca sudah terjatuh dan pecahannya menyebar tidak beraturan. “Sudah aku katakan kamu tidak boleh membawa laki-laki ke apartemen ini!!” kini terdengar suara bentakan Ryo dari dalam apartemen. Kami kembali menuju apartemen Aya dengan perasaan bingung. halaman 10 dari 83 halaman . Namun. Aku hanya bisa memperlihatkan ekspresi ‘benarkah?’ tanpa berkata-kata. Tidak sampai di situ. “Apa yang terjadi?” Rei terlihat syok.” “Teman?!” “Maafkan aku.” Kami semakin kuat menggedor pintu tersebut walaupun sepertinya Ryo berusaha tidak mengindahkannya. Mimik wajahnya berubah menjadi sangat khawatir. Ryo seperti sudah hilang kendali dan ia mendorongku dengan kuat hingga Aku terjatuh. “Kalau begitu aku ke bawah dulu. tapi pukulannya yang bersarang di punggungku mulai meruntuhkan kekuatanku. Kami sontak tercengang dan mulai menggedor-gedor pintu apartemen tersebut sambil meneriakkan nama Aya.” sambil memberikan isyarat kepada Aya.” Rei pun membuntutiku dari belakang. “Ini bukan urusan kalian!!” Kini Ryo mengarahkan pemukulnya kepadaku dan mulai memukulnya kepada secara membabi buta. tidak ada tanda-tanda bahwa kami memarkirkan mobil di tempat yang salah. Ryo juga mengarahkan tendangan kakinya ke arah tubuh Aya yang sudah tidak berdaya. “Hei!” aku dengan geram melangkah masuk dan mencoba merebut pemukul baseball tersebut. “Tom hanya temanku. Kami terlonjak kaget dan mulai berpandangan.. Sesaat kemudian kami mendengar suara Aya dari dalam.

. aku dan Rei hanya terpaku saja melihat pemandangan itu. Sementara itu. Tapi tidak ada respon sedikitpun. Namun. “DIAM!!” Ryo menendangkan kakinya hingga Aya kembali tersungkur di lantai. Ryo berada di bawah tahanan polisi setelah Aya menceritakan segala bentuk kekerasan yang dilakukan Ryo kepada dirinya selama mereka tinggal bersama di apartemen tersebut. Aya.” seperti sudah tersadar. Ryo langsung mendorong Aya ke arah belakang.. tanpa pikir panjang.. Seperti bukan Ryo yang beberapa saat lalu sangat menakutkan.... Tangannya mulai menggapai-gapai pergelangan kaki Ryo dan memeluknya. “Aya!!” diiringi teriakan keras dari Rei..BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Ryo! Hentikan!” Aya berteriak keras sambil terus menangis di pelukan Rei. “Aku mohon hentikan. “Aya.” suara Aya mulai melemah. tanpa sadar Aya sudah berada diantara kami dan berusaha memisahkan kami berdua. “Sekarang hentikan semua ini atau aku akan menelpon polisi!” aku berusaha berdiri dan berbalik menodongkan pemukul itu kepadanya. kami mendengar kabar Aya sudah melewati masa kritisnya dan tidak lama lagi akan segera meninggalkan rumah sakit. Ryo seakan tidak peduli dan ia kembali balik menyerangku. Tiba-tiba semuanya hening. konsentrasi Ryo seperti terpecah dan aku menemukan kesempatan untuk merebut pemukul baseballnya. Ryo yang sekarang mulai memeluk Aya dan menangisinya. yang paling melegakan ketika kami juga diberitahukan bahwa Aya memutuskan untuk kembali tinggal bersama kedua orang tuanya. Darah mulai mengalir keluar dari balik rambutnya yang sudah acak-acakan. Ryo mendekati Aya lalu menggoncanggoncangkan tubuh wanita muda itu. halaman 11 dari 83 halaman .. PRANG. Ketika kami terus berbaku hantam. Seminggu kemudian. Kami bertiga langsung mengalihkan pandangan kami ke arah sumber suara. Sementara itu isak tangisnya semakin menjadi-jadi. Tapi. Rei pun mulai menarikku kebelakang agar menjauh dari Ryo.. Ketika itu. Namun.. kami melihat Aya tergeletak tidak sadarkan diri dibawah sebuah rak kaca di dekat meja makan.

dan Gina. ibu. Ibu Susanto pun adalah seorang wanita karir yang bekerja di salah satu perusahaan asuransi terkemuka di Indonesia. Namun lain keadaannya dengan Faris. Memang pada dasarnya kedua anak itu adalah anak yang cerdas. Kedua orang tua Faris sangat kecewa dengannnya karena Faris tidak dapat memenuhi keinginan orang tuanya untuk melanjutkan kuliah di halaman 12 dari 83 halaman . Saat ini Faris sedang melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas swasta di Jakarta. Orang tua mereka ingin sekali kedua anak kembarnya itu bisa bersekolah bersama di SMA unggulan. Gisel dan Gina adalah anak kembar yang saat ini sedang meneruskan pendidikannya ke tingkat SMA. Orang tua mereka sangat membanggakan dua putri kembarnya itu. Gina dan Gisel. kakak tertua dari Gina dan Gisel. hiduplah sebuah keluarga yang mapan dan berpendidikan. maka keduanya bisa bersekolah di SMA unggulan yang sama. Kepala keluarga itu bernama Susanto. direktur utama dari salah satu perusahaan ternama di daerah Jakarta. Keluarga itu terdiri dari seorang ayah.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KEKERASAN DALAM KEHIDUPAN Oleh: Glory Meirisa Pakpahan Pada suatu hari di daerah pinggiran kota Jakarta. Gisel. dan ketiga anaknya yang bernama Faris.

aku hanya dapat bertemu dengan pembantu yang biasa bekerja disana. “Pagi. “ Mbak.00. Untuk menghilangkan rasa penasaranku. Saat itu Faris hanya bercerita bahwa ia sangat tidak dihargai di rumah. Ketiaka sampai dirumah Faris. Aku mendengar suara ayah Faris dan ibunya yang sedang membentak Faris. ia mulai bercerita tentang kehidupannya di rumah. tiba-tiba handphone-ku berdering. aku pun berniat mendatangi rumah Faris yang tidak terlalu jauh dari komplek rumahku. biasanya ia selalu sms atau paling tidak meneleponku saat akhir pekan. Ia merasa seperti benalu dalam kehidupan keluarganya. Oleh sebab itu Faris selalu dihukum oleh kedua orang tuanya bahkan orang tua Faris suka melakukan kekerasan pada dirinya. sahabatku. Saat itu aku menyarankan kepada Faris untuk membuktikan pada orang tuanya bahwa Faris mampu dan tidak bisa dipandang sebelah mata. tidak dapat lulus S1 dalam waktu 4 tahun. Kedua orang tuanya pilih kasih. Hingga suatu ketika ia meneleponku dan mengajakku untuk bertemu di salah satu cafe. aku dan Faris mengakhiri pertemuan malam itu dan berharap semoga Faris bisa menjalani kehidupannya dengan sabar. Sesekali dari luar aku mendengar suara ribut dari arah kamar Faris. Klo lo ada waktu. Dua hari setelah aku mendatangi rumah Faris. Orang tua Faris sangat memaksa Faris untuk menjadi yang terbaik. aku pun memutuskan untuk kembali pulang. baik lewat telepon atau sms. Akhirnya pada malam itu pun aku menemuinya. ia merasa rendah dan tak berguna bagi keluarganya. Aku pun bertanya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen universitas negeri. ia selalu diremahkan dalam keluarganya. Ketika sudah bertemu dengannya. Ia tidak bisa memenuhi keinginan orang tuanya untuk masuk perguruan tinggi negeri. dan selalu menjadi bahan pembicaraan rekan-rekan di kantor ayahnya. Aku pun sedih mendengar kesaksian dari Faris. Namun saat ini Faris bener-benar menghilang bagai ditelan bumi. Dua minggu berlalu dan aku tidak mendapat kabar dari Faris. Karena aku tidak ingin terlalu banyak ikut campur. Waktu terus berjalan hingga pukul 21. aku sangat memehami apa yang ia rasakan.” Saat itu aku merasa terenyuh dengan keadaan Faris. Mereka lebih menyayangi Gina dan Gisel karena menurut mereka Gina dan Gisel tidak membuat malu nama keluarga mereka. Pukulan yang diberikan ayahnya pun sudah halaman 13 dari 83 halaman . Mas Faris sedang dihukum tuan dan nyonya karena di kamar Mas Faris ditemukan rokok dan minuman keras. Faris merasa malu. Nasib Faris cukup dibilang kurang beruntung. lo mau ga ketemu gw siang ini ditaman deket komplek humz gw?” Cepat-cepat aku membalasnya dan setuju untuk bertemu dengannya. Dan kudapati satu buah pesan dari Faris yang berisi. Farisnya ada?” Lalu si Mbak menjawab “Maaf Non. maaf ya gw ganggu. Goresan ikat pinggang pada badannya sudah menjadi hal yang biasa. namun Faris tidak bisa memenuhi segala keinginan orang tuanya. Aku mulai curiga dengan keadaan Faris.

Kekerasan yang dialami Faris bukan kekerasan yang baru terjadi sesekali ini. Sungguh perasaan Faris bercampur jadi satu. halaman 14 dari 83 halaman . Saat itu aku hanya bisa memberi dorongan dan semangat pada Faris. menangis. Ia ingin marah. dan merasa rendah. Sehingga pada minggu yang lalu Faris merusak tubuhnya dengan mencari pelampiasan seperti rokok dan alkohol. Dan menjelaskan pada kedua orang tuanya bahwa kekerasan bukanlah menjadi kunci dalam suatu permasalahan. tapi sejak Faris duduk di bangku sekolah dasar ia memang sudah mendapat kekerasan dari ayahnya. melainkan kekerasan hanya dapat menimbulkan masalah baru.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen jadi makanan Faris setiap hari. supaya ia tidak menyia-nyiakan hidupnya dan tidak merusak tubuhnya dengan benda-benda haram itu. Faris memang harus berbicara pada kedua orang tuanya secara baik-baik tentang masalah yang dihadapinya. Dan mungkin jika ada waktu yang tepat.

“Ada apa? Apa yang terjadi? Bukankah masalah kita sudah selesai. di sudut ujung jalan. “Hai.” Kau pun memulai pembicaraan.” “Kenapa? Dengan cara apa?” kau pun bertanya dengan hati bergetar. Tanpa sadar aku mencintai ayahmu yang sudah tak beristri itu. Dan dia pun sudah merenggut keperawananku. Aku tahu sekarang jawabannya. Akhirnya kau tak sabar dan menghampirinya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen DIAZ DAN ANWAR Oleh: Indah Permata Sari Kau berdiri di sana. memang sudah selesai. “Iya. wanita yang kau sapa itu menjawab. Setelah ribuan masalah yang telah kau hadapi bersamanya. Menunggunya yang tak juga menghampirimu walaupun sudah sejam berlalu.” Rani. Jawabannya adalah aku tidak lagi mencintaimu. Kau pun bertanya. Kau memulai sedikit kata. Tapi aku telah banyak menyakitimu dan akan terus menyakitimu. Tapi dia yang kau ajak berbicara hanya menjawab sapaanmu dengan air mata yang tumpah ruah tak ada tara. tapi tak tahu terasa ada yang berbeda. Dan aku pun mencintainya!” halaman 15 dari 83 halaman . “Setelah ribuan masalah datang menghampiri kita. kini masalah sudah selesai. Kau pun diam tak tau ingin bicara apa.

“Jadi selama ini kamu menghianatiku. Nasi telah menjadi bubur. Dan kini kau menjalin hubungan cinta bersamaku tanpa sadar. seakan tak mampu menahan langit yang mulai bergeming. Bersamaku. Beruntung ujung jalan sedang sepi tak ada satu pun orang. Lima tahun kemudian. Tapi apa daya. Rani dan ayahmu kembali. JAHANAM KAU! BEDEBAH KAU! SAMA SAJA DENGAN AYAHKU!” Kau pun membelalakkan mata dan air mata pun tumpah tak terkira. “Diaz. Dan itu kau lakukan dengan ayah kandungku sendiri. Ini adik barumu. Yoga. ”Aku harus berbuat apa.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Bumi serasa berguncang. kenalkan. Kau harus memanggil mantan kekasihmu Rani dengan sebutan 'Ibu'. Tanpa merasa berdosa mereka mengenalkan adik barumu Yoga. Anwar. Yoga. Rani menghilang bersama ayahmu. Tak ada kejadian pun yang kau lupakan.” Ayahmu memaksa kamu untuk menerima kenyataan pahit ini. Kau pun melanjutkan hidupmu seperti biasa walaupun setiap harinya hatimu hancur tak terkira. Ingin rasanya kau membunuh ayahmu sendiri. semua kau ingat dengan jelas. Hanya kicauan burung di beberapa pohon besar. Dan kami bahagia menjalani hubungan sesama jenis ini. tapi ternyata hubunganmu dengan Rani membuatmu trauma menjalani hubungan. halaman 16 dari 83 halaman . Setelah kejadian itu. Dan mulai hari ini kami akan tinggal bersamamu. Yang telah merenggut belahan jiwamu yang sedari dulu kau jaga. ya Tuhan? Apa yang harus kulakukan? Inikah balasan untukku yang telah menjaga dengan baik belahan jiwaku?” Kau berteriak seperti tak berakal. Sudah lima tahun kau tidak mendapat pengganti Rani. Kau tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dan menerima adik barumu.

Sejak dia mulai berpacaran dengan Kibum. sudah lama aku menunggu hari ini. karena aku akan segera menghampirinya. Selain prestasi akademiknya yang tinggi. Jarang sekali Yumi meneleponku enam bulan terakhir ini. Aku mengenalnya sejak SMA. Tak disangka sekarang ini. di sebrang telepon.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen YUMI Oleh: Indra Puspita Kusuma Aku terkejut ketika mendapati tulisan nama yang berkedip-kedip tanda ada seseorang menelepon ke telepon genggamku. cerdas dan juga ceria. Dia adalah gadis yang paling mendekati sempurna menurutku. Tetapi. Aku pun berkata padanya untuk tetap tinggal di tempat dia berada. Penampilannya yang halaman 17 dari 83 halaman . Kami terlibat dalam satu klub ekskul softball di sekolah kami. suara isak tangisnya membuatku tidak tega dan segera ingin datang kepadanya. Dia menjelaskan bahwa dia memergoki Jun selingkuh dengan gadis lain. prestasi non-akademiknya juga sangat memuaskan. Yumi adalah gadis yang sangat cantik. Bisa dibilang dia adalah sahabat dan orang yang selalu ingin aku lindungi. pikiranku selalu tentang Yumi. kami diterima di fakultas yang sama. Sejujurnya. Selama perjalanan aku ke tempatnya. Kebetulan rumah kami berdekatan maka kami jadi semakin akrab. hatiku sangat gembira. memberikan bahuku untuknya dan menghapus air matanya.

kau akan melupakan ini semua. “Jangan menangis lagi. Dia terdiam sejenak.” jelasku. aku mencoba menghiburnya sedikit dengan lawakan-lawakan garingku. Aku memegang tangannya. Tangisannya reda tetapi air matanya masih keluar. Sesampainya di kafe tersebut. Terima kasih. Ketika aku sampai di taman itu. Seluruh keluarga besarnya ada di Seoul. aku melihat mobil Kibum di depan taman. aku duduk disebelahnya dan memeluknya. kebetulan memang tidak terlalu jauh.” Yumi terhenti. “Kau mau teh?” tanyaku.” Aku berlutut didepannya dan mencoba menenangkannya. “Kau tidak pantas menangisi lelaki macam dia. pasti dia sangat dikecewakan oleh Jun.” jawabnya. Matanya masih berkacakaca. Aku sudah hafal teh yang biasanya dia pesan. “Yumi. Aku sengaja tidak menanyakan kejadian Kibum dulu kepadanya.” gumamnya “Apakah kau yakin itu bukan sepupu Kibum?” tanyaku “Yakin! Hanya keluarga dia yang ada di Jakarta. “Wah.” aku menaruh cangkir tehnya di depan dia. Aku tidak tega melihatnya. Di perjalanan. Minho. Tetapi lelaki ini ternyata juga berhasil melukai hati Yumi. Lalu ia bertanya lagi. Aku menghampirinya sambil menyodorkan sapu tanganku kepadanya seraya berkata. kayaknya itu enak. aku menyuruhnya untuk duduk saja. Karena aku tahu itu akan menyakiti hatinya. “Aku sangat mencintai Kibum….” ulangnya lagi. Percaya padaku. bagaimana jika kita cari minum untukmu?” Yumi pun tersenyum dan mulai berdiri. Hati Yumi pun berlabuh di hati Kibum.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen berbeda dari semua gadis seusianya membuat banyak lelaki mengejarnya. Minho? Aku sangat mencintai Kibum. mungkin ada baiknya kau tanyakan dulu kepadanya. aku lihat Yumi duduk tertunduk di ayunan yang tidak bergerak. Aku masih tak percaya posisinya sekarang adalah di dalam pelukanku.” Terpaksa aku berbohong. Ia mulai menangis lagi. “Aku melihat Kibum didalam mobil dengan gadis lain. Jarak mereka dekat sekali. Aku mengerti. kau masih ingat saja dengan teh kesukaanku. Kami menuju kafe teh langganan kami itu dengan berjalan kaki.” jelas Yumi. salah satu senior yang cukup terkenal karena prestasinya di bidang olahraga. “Hmm…boleh juga. “Ini teh mu.” jawabnya sambil tersenyum. “Hhh… Baiklah… Pagi tadi ketika aku mau berolahraga ke taman. Dia terdiam dan tetap terlihat cantik. “Apakah kau sudah siap untuk menceritakannya?” tanyaku.” lanjut Yumi. “Jika kau masih mencintainya. Betapa aku ingin dia segera halaman 18 dari 83 halaman . suaranya mulai bergetar dan matanya mulai berair. “Apakah yang harus aku lakukan. Tanya padanya siapakah gadis itu. Jelaskan bahwa kemarin kau memergoki dia dengan gadis lain. Kali ini tangisnya deras.

Kau mau teh?” “Hmmm. “Baiklah. Paginya aku melihat Yumi di taman kampus. Kibum sedang latihan basket di lapangan basket Fakultas Ekonomi. melewatiku. Aku hanya bermain internet saja. Minho. Setelah kami selesai membereskan barang-barangku. Yumi. Tapi aku sendiri yang memilih kuenya. Dan mungkin Yumi benar-benar mencintai Kibum. Tapi aku lebih ingin membalas budimu kemarin.” “Sini aku bantu!” Aku sangat penasaran mengapa dia sangat ceria hari ini. Yumi yang memang gadis manis yang baik hati menerimanya dan sepertinya dia tidak jadi menanyakan Kibum tentang kejadian kemarin. ya. Yumi membalas senyumanku dengan tatapan yang aneh. Kami menghabiskan waktu di kafe tersebut hingga larut malam. Aku berhutang kan padamu?” “Berhutang?” “Iya. Aku hanya tersenyum pada mereka berdua.” candaku. Aku mencoba bertanya pada Yumi tentang Kibum. Ternyata Kibum memberikan Yumi selusin mawar yang telah terbungkus indah. “Hahahaha. Aku ingin menanyakan padanya tentang Kibum. Yumi pun tersenyum. Oh iya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen mengakhiri ini semua dengan Kibum. Tak lama kemudian datanglah Kibum menghampirinya. “Minho! Sedang apa kau?” sapanya dengan ceria. Siangnya. beli kuenya di toko kue yang ada di Fakultas Ekonomi saja. aku bereskan barang-barangku terlebih dahulu ya. “Eh kau. ketika aku sedang duduk menikmati internet gratis di perpustakaan. Kau jadi terlihat jelek sekali jika menangis. Yumi. mengajaknya mengobrol yang tidak ada hubungannya dengan Kibum. Kibum di mana memang? Kau tidak bertemu dengannya?” “Oh. Kau masih ada kuliah sesudah ini?” tanyaku “Hmm tidak ada sih… Kenapa kau menanyakan itu? Mau mentraktirku teh lagi?” tanya Yumi dengan nada iseng. Mungkin Yumi memang sangat pemaaf. jangan tangisi dia lagi. aku dikejutkan oleh Yumi yang tiba-tiba datang.” “Oke!” “Ya sudah. Sudah lama aku tidak melihat dia berlari di lapangan…” halaman 19 dari 83 halaman . kami keluar dari perpustakaan bersama. Mau nggak kalau aku gantinya dengan kue saja?” tanya Yumi dengan senyuman termanis yang pernah kulihat. “Bisa juga akal bulusnya!” kataku dalam hati. Aku mulai menghibur dia. “Sudahlah. teh yang kemarin kau belikan untukku belum aku ganti duitmu. Mereka berjalan berdampingan. aku ingin melihat Kibum latihan. yuk! Sekalian. boleh juga. “Hmm.

“Apakah kau mau menanyakan pada Kibum sekarang?!” tanyaku dengan tegas. Aku tak ingin Yumi kembali menangis. aku mengajaknya segera pergi dari tempat itu. Hatiku sakit melihat Jun dengan gadis itu. aku boleh bertanya nggak?” “Boleh. Aku juga ingin makan kue coklat yang dijual di toko itu. “Hmm Yumi. “Yumi. “Bukannya kau luluh karena diberikan seikat mawar tadi pagi?” “Kau melihatnya. adalah gadis yang sama dengan gadis yang aku lihat kemarin. Aku mengantarnya pulang menaiki motorku. Aku akhirnya memberanikan diri bertanya tentang kelanjutan dia dan Kibum. Hatiku bergetar tetapi aku tau dibelakang sana dia sedang menangis. “Bisakah kau mendorongku?” Aku mendorong ayunan itu dengan pelan. aku ingin ke taman. “Minho. Aku berhenti mendorongnya dan berlutut didepannya.” “Aku tidak tahu deh. kau mau nanya apa?” “Bagaimana jadinya kau dengan Kibum? Kau sudah tanyakan padanya?” Yumi terdiam. gadis yang kita lihat tadi.” tiba-tiba Yumi seperti dikejutkan oleh sesuatu. Yumi yang kubonceng. Aku tahu apa yang dipikiran Yumi. Jelas sekali itu adalah Kibum dan mungkin dengan wanita yang kemarin dipergoki oleh Yumi. ada sesuatu yang mendorong hatiku untuk tetap menemaninya saat ini. Minho?” “Ya aku melihat kalian dari kejauhan. “Minho. aku antar kau pulang ya. Aku tidak akan merelakan kau halaman 20 dari 83 halaman .” jawabnya. Di taman. memelukku dengan erat. “Aku masih mencari waktu yang tepat. aku akan selalu melindungi mu.” kata Yumi. Tapi yang pasti aku akan menanyakan pada Kibum jika…. tatapannya terpaku pada sesosok yang berada di lapangan basket. Tiba-tiba ia berkata padaku. hanya suara angin yang terdengar di telingaku. Aku yakin. Aku mengikuti arah matanya dan mendapati dua sosok manusia yang sedang duduk berdampingan dengan romantis di pinggir lapangan basket.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Baiklah. Makanya aku tidak pernah mau menemani Yumi jika ia mau melihat Kibum latihan. Aku melihat Yumi kembali. Ekspresi mukanya berubah. Biasanya kau tak mau menemaniku. Di perjalanan hening. Mau kan?” Yumi mengangguk. Minho! Giliran mau dibeliin kue aja langsung semangat deh.” Ya.” “Dasar kau. Matanya masih tertuju pada sosok Kibum. “Kau pasti mengira aku sangat pengecut.” air mata Yumi pun mulai menetes. “Yumi. Yumi langsung turun dan menuju ayunan. Dia diam tak berkutik. Tetapi entah mengapa. bisakah kau mengantarku kesana?” Aku segera melajukan motorku ke arah taman. Aku bingung. aku tak suka melihat Yumi dengan Kibum. aku tak bisa bertemu Kibum sekarang. Aku tidak mengerti lagi harus bagaimana ke Kibum.

” “Kau kenapa sih?” tanyaku. Kau sudah lama ya menungguku?” “Oh. Yumi masih belum berpacaran dengan Kibum. Setidaknya. tidak kok.” Aku tersentak. Minho. Apakah Kibum gila?! “Apa alasan Kibum???” tanyaku. “Semalam. Aku mulai mendorong ayunannya lagi. “Dia bilang. Yumi melambaikan tangannya padaku lengkap dengan senyum manisnya. “Maaf ya.” jelasku. Ayo kita duduk di kursi itu.” kata Yumi. aku dapat menjadi tempat yang nyaman untuknya. Minho. hehehe. Isinya. “Yumi.” kataku sambil melahap sandwich itu. “…dan aku juga merasa. selama ini kau yang selalu setia mendampingiku. Kau pasti belum sarapan kan?” “Ah kok kau tahu saja?” “Tuh kan. Kamu selalu lupa sarapan. Aku segera mandi dan berpakaian. “Terima kasih. kita halaman 21 dari 83 halaman . Aku menjemputnya setiap pagi di taman adalah kebiasaan kami dulu. Aku juga belum lama datang.” jawab Yumi seraya tersenyum. Aku bersyukur Yumi mengingat perkataanku. jangan bengong dong…” “Eh. Yumi.” Aku tersenyum. Walaupun selama aku berpacaran dengan Kibum. dia bosan denganku. Kau makan ini dulu ya. benar. Walau tanggapan Yumi tak sesuai dengan apa yang ingin ku dengar. Aku teringat katakatamu. Aku jadi ingat ketika dahulu. aku melihat Yumi berdiri sendiri membawa tas dan menurutku dia sangat cantik. Dia bengong. Aku malah senang. di saat aku senang dan susah. Keesokan harinya. Kau memang sahabatku yang paling aku sayang. Aku makin tersentak. Sesampainya di taman. “Apa yang ia lakukan dirumahmu?” “Dia mengakhiri hubungan kita. Yumi tidak menjawab lagi.” Aku benar-benar curiga mengapa Yumi berubah seperti dahulu lagi. Tetapi aku memutuskan untuk diam saja dan menikmati makanan yang ia buatkan untukku. Aku sudah cukup menangisinya semalaman. tapi aku masih bisa menahan diri. Ia mulai tak bisa menahan tangisnya. “Sandwichnya enak…. Kibum kerumahku. aku mendapatkan SMS dari Yumi.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen terluka karena siapapun. bahwa aku tak pantas menangisi lelaki seperti dia. Kebiasaanmu itu dari dulu tak pernah berubah! Ini aku membawakanmu susu dan sandwich yang aku bikin sendiri. “Pagi Minho! Tolong jemput aku di taman ya :D” Betapa senangnya hatiku mendapat SMS dari Yumi.” “Benar?” “Ya. mengapa aku jadi membuatmu repot begini?” “Ih tidak apa-apa kok.” “Waduh. maaf.

aku akan selalu ada selamanya untukmu. aku selalu bisa menjadi diriku sendiri.” lanjutnya. Tetapi aku bisa merasakan kau selalu siap menemaniku. *TAMAT* halaman 22 dari 83 halaman . “Apakah kau yakin kau sudah bisa melupakannya?” “Ya. Sepertinya. lihat aku. setiap aku bersamamu. lebih dari sekedar sahabat…. rasa sayangku untukmu.” Aku menggenggam tangan Yumi dengan erat. Percayalah padaku.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen tidak terlalu sering bertemu dan berkomunikasi. yang selalu berada disampingmu. Sekarang. cinta lama akan terhapus oleh cinta baru. Menghapus air matanya dan berkata. dan aku merasa nyaman. “Yumi.” Aku mengecup bibirnya.

gue langsung dipersilahkan masuk sama Mamanya Sari. belom mikirin keluarga jadinya. ga mau gue pikirin. Sampe-sampe gue anggep dia kaya mama gue sendiri. mikirnya masih pacaran gitugitulah.. gue ngeliat ada yang beda dari raur muka Mamanya Sari. suasana sepi. Tanpa pikir panjang. Setibanya gue di rumah Sari. Ah. Nah ternyata gue inget kalo hari itu gue ada janji mau ke rumah temen gw. Gue paling yaa. gue langsung cepet pulang ke rumah. gue pikir pasti ada yang gak beres nih antara halaman 23 dari 83 halaman .. makan dikit. Bukan urusan gue juga kayaknya. ramah.—Lengkap banget deh itu mama-mama kayaknya. dan gw nggak bawa jaket. Wah. Orangnya baik. Tiba-tiba Ayahnya Sari datang dan langsung masuk ke dalam rumah. Mungkin karena malas atau ribet ya. Mamanya Sari udah kenal banget sama gue.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KAU BUKAN AYAHKU Oleh: Intan Puji Lestari Di malam itu gue jalan sendiri pulang dari kampus. dan satu yang penting jago masak! Hahaha. ah. dan menutup pintu dengan kencang. dan ada semacam bekas merah2 deh di tangan dan mukanya. Tapi di hari itu. dingin pula.. urusan orang yang udah berumah tangga mah beda sama urusan orang kuliah kayak gue. trus langsung cabut lagi. Hehehe. Tatapannya kosong. Sari namanya.

Kayaknya ini orang kebanyakan nangis deh. Gue liat si Om udah ga ada. gue mulai curiga deh. gue langsung pamitan sama Tante. Tiba2 Bokapnya Sari keluar dari kamar.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen mereka berdua. (Gue yakin si Om udah ngelakuin hal yang ga pantes dilakuin seorang bapak pada mestinya). Dan yang gue kagetnya. dan mengajak Nyokapnya ngobrol di teras belakang. Gue ngintip dari sela-sela sofa dan nyoba buat dengerin apa yang diomongin sama si Om. Gue tanya sama dia. Trus gue mulai memberanikan diri. Tante ga mau kamu ngeliat kelakuan si Om yang udah jahat sama Tante dan Sari. Tapi dia kayak orang gila gitu. dan ternyata Nyokapnya Sari lagi nangis!! Wah gak salah lagi pasti ada masalah antara mereka berdua!! Ya udah tanpa gue pikir panjang. Wah gilaaa.” Pokoknya gue bikin supaya dia bisa kehibur deh. ada orang yang setega itu halaman 24 dari 83 halaman . kenapa ya. kayaknya itu abis dilempar deh sama si om. dan langsung ninggalin itu rumah. pantesan aja dari tadi gue liat tangannya Nyokapnya Sari penuh merah-merah di mana-mana. nanya ke nyokapnya. Trus gua liat Nyokapnya Sari udah duduk sambil nangis. GUMPRANG!! Dari teras belakang. “Mendingan kamu pulang aja ya. langsung gue peluk Nyokapnya si Sari. si Om ngeluarin gesper yang tadi dia pake kerja. Gue liat matanya udah item. dan akhirnya gue sibuk chating-chatingan sama pacar gue. kalo Tante lagi ada masalah sama si Om. Oh iya kamu jangan cerita ke siapa2 ya. trus gue liat juga di pahanya banyak tanda2 yg sama seperti yang gue liat di tangannya si Tante. kayaknya kesel gitu deh. gue tanya ada masalah apa antara Bokap dan Nyokapnya. tinggal Nyokapnya si Sari yang ada sambil nangis. Sambil gue bisikin. Gue ga ngerti apa yang diomongin antara mereka berdua. dan dia cuma ngeliatin foto dia sama Bokap dan Nyokapnya waktu liburan.” Gila! Ga tega gue ngeliat Nyokapnya Sari yang ngomong sambil terbata2 nangis begitu sama gue. Baru gue mau deketin dia. Tante minta maaf sama kamu. gue denger suara. tatapan mukanya juga sinis banget. Gue langsung ke kamarnya Sari. dari cara Bokapnya Sari ngeliat istrinya. Ga enak kalo sampe Mama sama Papa kamu tau kejadian ini. Tanpa mikir panjang. Namanya juga orang kantoran. karena kejadian ini ya. Tante lagi ada masalah sama si Om. Tiba-tiba gue inget sama keadaan si Tante yang di luar. “Sabar ya. Lagi asik chating sama pacar gue. di sampingnya udah ada vas bunga yang pecah. eh dia diem aja sambil ngelamun. dia langsung ngomong gini sama gue. Gue nyapa dia tapi kayaknya dia gak menanggapi dan pasti karena mungkin dia kecapean kali ya. tapi dia tetep aja diem sambil terus ngelamunin foto keluarganya itu. Akhirnya gue langsung keluar dan menuju teras belakang. tatapannya kosong. trus tangannya si Tante langsung dipukulin. dan ngeliat tuh anak lagi diem aja di atas kasurnya. Pelan2 gue deketin si Sari. Tante. Di jalan gue mikir terus. Hahaha.

ga usah dipikirin orang kayak gitu. Harusnya sebagai ayah yang baik. At lease sekarang gue udah bisa ngeliat temen gue senyum dan ceria kayak dulu lagi.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen sama keluarganya. dia cerita kalo Ayahnya ternyata lagi stress berat karena ada masalah di dalam kantornya. Yah ya udahlah. Nyokapnya Sari ngelaporin suaminya itu ke polisi. dan langsung diproses secara hukum. Sebenernya gue kasian juga sama Bokapnya si Sari. Gue bersyukur sama Allah. Tiga hari kemudian gue liat Sari nongol di kampus dan langsung cerita banyak sama gue. Besoknya gue liat Sari nggak ada di kampus. mukanya udah kembali ceria seperti dulu. tapi mau gimana lagi. kayaknya dia masih syok sama kejadian yang menimpa keluarganya. susah2 cari duit buat keluarga. Dia cerita banyak banget ke gue. Gue jadi kasian sama Sari karena dia juga jadi korban kegilaan bapaknya sendiri. karena gue dikasih keluarga yang baik2 aja. yaitu Sari. kayaknya dia udah bisa ngelupain kejadian yang menimpa keluarganya itu deh. jangan malah dikasarin istri dan anak2 nya. Hari2 gue lewatin tanpa hadirnya seorang teman baik gue. tapi malah digituin keluarganya. dan karena Nyokapnya Sari ga kuat dengan perlakuan kayak gitu. dan alhamdulillah jauh dari masalah yang seperti ini. halaman 25 dari 83 halaman . harus bisa ngejagain keluarganya.

Setelah diberitahu segala sesuatunya. Tetapi bulying pada junior perempuan sudah tidak pernah lagi ada sejak 3 tahun terakhir. Namun hal itu tidak mengurungkan niat saya untuk menjadi siswa di sekolah ini dan juga bergabung dengan kelompok yang terkenal dengan tradisi bulying-nya berlandaskan ingin mendapat pengalaman yang lebih. baik perempuan maupun lelaki. Di akhir istirahat. sebut saja kelompok Gorazper. Ternyata Radit juga tertarik untuk masuk ke dalam kelompok tersebut. bahkan ada yang rela berdiri memberikan tempat duduknya. Singkat cerita.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KELUARGA DAN SEKOLAH Oleh: Irvanuddin Rahman Cerita ini berawal saat saya menjadi siswa baru di salah satu SMA Negeri ternama di bilangan Jakarta Selatan. halaman 26 dari 83 halaman . Senior Gorazper menunjukkan sikap yang baik dan ramah kepada kami para junior. Saya dan Radit mulai menanyakan mekanisme perekrutan kepada senior di sekolah yang pada waktu itu duduk di bangku kelas 3 SMA. saya langsung kenal dengan Radit dan kami menjadi teman yang bisa dibilang dekat. Kami mulai mengumpulkan temanteman seangkatan sesuai dengan jumlah yang diminta oleh senior yaitu sekitar 40 orang. dengan memberikan tempat duduk di kantin saat jam istirahat yang penuh sesak. Sekolah ini memang sudah terkenal dengan tradisi bulying atau kekerasan pada junior-juniornya sejak 10 tahun terakhir.

Saya dan Radit kedapatan bagian berjualan di daerah Kemang. Begitu juga sepulang sekolah. langsung disuruh kumpul di tongkrongan oleh senior-senior Gorazper dan lagi-lagi mendapat kekerasan. keadaan keluarganya sangatlah berantakan. Setelah itu Radit dipanggil ke kamar Ayahnya lalu terdengar suara orang memukul dengan benda keras dan suara orang merintih kesakitan. Namun saat penataran pertama. Akhirnya Radit menceritakan semuanya kepada saya namun dengan syarat hanya saya yang boleh mengetahuinya. Radit bercerita setelah Ayahnya bercerai dengan Ibunya dan dipecat dari perusahaan Lapindo Brantas. Selang 10 menit kemudian. Ibunya tidak pernah mendatanginya lagi bahkan mungkin Ibunya tidak tahu apa yang terjadi sekarang terhadap Radit dan Ayahnya. Kekerasan yang saya dan teman-teman saya alami memang sama. saya pun tercengang dan kaget apakah itu suara Radit atau bukan. Keadaan seperti itu hampir setiap hari dirasakan. Dan seperti itu juga pada tataran-tataran berikutnya. Kesempatan itu saya gunakan untuk menanyakan hal yang terjadi tempo hari di rumahnya kepada Radit. di sela-sela berjualan itu kami diberikan waktu istirahat oleh para senior. Pernah suatu kali saya mengunjungi rumah Radit untuk sekedar menghabiskan waktu sepulang sekolah dan juga dengan dua orang teman lain yaitu Rama dan Amar. Radit dan kawan-kawan yang lain segera bergegas menuju tempat yang ditentukan dan langsung berjualan. Keesokan harinya di sekolah saya ingin sekali menanyakan apa yang terjadi pada Radit. Hingga pada suatu hari kami angkatan 2009 disuruh berjualan bunga untuk keperluan pencarian dana acara pensi sekolah. sikap baik itu berubah 180 derajat menjadi sikap yang sangat beringas dan tidak berkeprimanusiaan. namun lain halnya dengan Radit. selain di sekolah dia juga mendapat perlakuan kasar di rumahnya lantaran ayahnya yang sering memukulinya karena kesalahan-kesalahan sepele Radit. namun kegiatan siswa baru sangat sangat disibukkan dengan kegiatan ini itu sehingga tidak memungkinkan saya berbicara dengan Radit. Rupanya kekerasan yang dialami oleh Radit ialah karena keadaan keluarganya yang broken home dan juga Ayahnya yang baru menjadi korban PHK karena kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo yang sampai saat ini tidak jelas penyelesaiannya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Radit yang sudah dikenal di kalangan senior diminta untuk menjadi koordinator angkatan 2009 dalam hal perekrutan/inisiasi/penataran dan lain sebagainya. kamipun berpamitan dan pulang. dengan sepeda motor saya. Dia meceritakan kisah hidupnya panjang lebar. tidak lama kami di rumah Radit. Radit keluar dari kamar dengan wajah pucat dan mata yang berkaca-kaca. Karena suasana yang garing dan tidak bersahabat. Saya langsung menanyakan apa yang terjadi namun Radit hanya terdiam sambil menggelengkan kepalanya. Radit berasumsi bahwa Ayahnya mengalami gangguan jiwa dan saya juga halaman 27 dari 83 halaman . Lalu Radit mengambilkan minuman sirup kepada saya dan yang lain.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

berfikiran begitu karena tindak kekerasan yang dialami Radit disebabkan permasalahan sepele, seperti misalnya tempo hari Radit memberikan sirup kepada saya, Rama dan Amar, ia langsung dipukuli oleh Ayahnya dengan balok yang selalu ada bersama Ayahnya kemanapun Ayahnya itu pergi. Alasan yang diceritakan Radit kepada saya membuat saya sangat kaget sekaligus prihatin karena hanya karena mahalnya harga sirup dan menurut Ayahnya tidak sepantasnya kami teman-teman Radit disuguhkan sirup, cukup dengan air putih saja. Saya benar-benar terpukul saat Radit menceritakannya, bukan karena saya tidak terima diberikan air putih tetapi cara Ayahnya itu yang benar-benar tidak wajar. Saya dan Radit menghabiskan malam itu dengan cerita sedih yang dialami Radit sampai saya mengantarkannya pulang. Di rumah saya selalu kepikiran kisah Radit dan saya benar-benar bersyukur mempunyai keluarga yang sakinah dan rukun. Namun muncul dalam hati saya keinginan untuk menolong Radit sebagai sahabat. Tetapi saya bingung bagaimana cara saya menolongnya. Saya berfikir bahwa Ayah Radit perlu rehabilitasi untuk kembali menyadarkan jiwanya dan menyembuhkan jiwanya dari gangguan jiwa yang dialaminya akibat stres. Saya menceritakan hal tersebut kepada teman-teman dekat saya tanpa sepengetahuan Radit, namun lama kelamaan berita itu menyebar di angkatan 2009 walaupun tidak semuanya tahu tetapi realtif banyak yang tahu dan tetap tanpa sepengetahuan Radit. Kami pun berinisiatif untuk mengumpulkan dana swadaya untuk membantu Radit dan keluarganya karena mengingat juga banyak sekali kontribusi Radit dalam hal mengompakkan angkatan, membela angkatan di depan senior dan tidak jarang pula Radit menanggung dampak dari kesalahan yang diperbuat angkatan seperti misalnya jumlah orang tidak sampai batas minimal yang ditetapkan senior saat menjadi supporter pertandingan basket sekolah kami dengan sekolah lain, dan sebagainya. Kami pun diam mengumpulkan dana swadaya tersebut secara diam-diam tanpa sepengetahuan Radit agar dia tidak minder dalam bergaul. Memang agak susah mengumpulkan uang yang diperlukan karena pasti sangat besar jumlahnya, maka dari itu kami membutuhkan waktu yang lama untuk mengumpulkan uang sampai target. Seiring waktu berlalu, Kekompakan angakatan kami semakin timbul dan setiap permintaan dari senior untuk menambah jumlah orang yang ikut dalam kelompok Gorazper tidak pernah gagal. Dari 40 orang, menjadi 50 orang, dan terakhir para senior meminta harus ada 60 orang saat tataran berikutnya. Hal yang sangat sulit tentunya bagi kami untuk mengumpulkan sebanyak itu, namun lagi-lagi berkat kemampuan Radit akhirnya kami dapat menggenapkan jumlah kami menjadi 60 orang di tataran berikutnya. Tidak terasa waktu terus berlalu dan hampir tiba saat pelantikan angkatan baru Gorazper yang notabennya adalah angkatan kami, angkatan 2009. Malam pelantikan itu diawali dengan acara menonton bareng di bioskop di salah satu mall di bilangan Pondok Indah, Jakarta Selatan dan ditutup dengan acara pelantikan di sebuah jalan yang biasa menjadi tempat tongkrongan anak-anak remaja seumuran
halaman 28 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

kami. Dan malam itu menjadi malam yang sangat ditunggu-tunggu oleh saya, Radit dan juga teman-teman 2009 lainnya karena setelah malam pelantikan itu kami sudah resmi menjadi anggota Gorazper dengan membawa angakatan 2009 dan itu artinya tidak ada lagi penindasan-penindasan yang selama kurang lebih satu tahun kami alami. Benar-benar malam yang sangat menyenangkan, terlebih bagi Radit, karena di malam itu juga kami memberikan bantuan yang berupa dana yang selama ini kami kumpulkan untuk membantu Ayah Radit. Perasaan kaget bercampur bahagia sangat terlihat dari raut wajahnya saat saya menyerahkan amplop berisi uang itu kepadanya. Semoga malam itu benar-benar menjadi malam terakhir bagi Radit mangalami kekerasan baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan keluarganya.

halaman 29 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

LIBURAN LEBARAN
Oleh: Jodia Pravita Dini

Liburan

ini, aku dan keluargaku akan berlibur ke Makassar tempat Tanteku. Pagi ini aku berangkat ke Makassar, aku dan keluargaku segera bergegas ke bandara pada pagi hari. Sesampainya di Bandara Hassanuddin, Tanteku dan keluarganya menjemput dengan menggunakan mobil keluarga. Rasanya rindu sekali karena sudah lama tidak bertemu mereka. Tujuanku kesana adalah melihat kedua sepupuku yang masih kecil, Andrew dan Darrent namanya. Tetapi aku lebih dekat dengan Darrent. Darrent adalah anak kedua Tanteku, wajahnya mungil dan menggemaskan. Ekspresinya polos saat aku memberinya sebuah coklat. Hari kedua di Makassar, kedua sepupuku itu sungguh manis dan tidak cengeng. Tetapi ketika Darrent melakukan kesalahan kecil yang biasa anak kecil lakukan,Tanteku langsung memarahi dan memukulnya. Aku dan Ibuku kaget karena hal tersebut sangat wajar dilakukan anak seumur Darrent. Dia pun menangis tersedusedu dan berlari kearahku. Aku peluk dia, dan tak lama dia bercerita dengan kosa kata seadanya. Ternyata Tanteku sudah sering memarahi bahkan main tangan kepada anak-anaknya. Selama aku di sana memang terlihat sering sekali Tanteku melakukan hal itu. Ibuku sebagai kakak dari Tanteku sudah member nasihat, tetapi tak didengarkannya.
halaman 30 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

Aku hanya bisa diam jika Tanteku melakukan hal itu lagi. Akhirnya aku mengajak Andrew dan Darrent untuk jalan-jalan ke pantai Losari. Mereka terlihat senang dan lepas dari kejenuhan. Aku senang bila sepupu-sepupuku senang.

halaman 31 dari 83 halaman

Badannya tinggi. Sebagai sahabatnya. gadis yang saat itu berusia 18 tahun dengan wajahnya yang cantik. gayanya yang anggun. serta tubuhnya yang tinggi ramping membuat semua orang tertarik padanya. saat sedih maupun senang. Tapi ia sudah dekat dengan kehidupan malam. Saat berangkat kuliah. Rumahku dan rumah Kinan memang berdekatan. Kinanti Maharani. wajahnya cantik mirip seperti Ibunya. berangkat ke kampus yang tidak terlalu jauh dari rumah kami. mencoba melarikan diri dari Ibunya. hanya berbeda jalan saja. ramah. ceria. Saat aku memiliki masalah. kadang aku pun ingin menjadi dirinya. Umurnya baru 15 tahun tapi ia terlihat seperti 20 tahun. KINANTI! Oleh: Juwita Anindya Anak itu bernama Cinta. Kinanti Maharani.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen CINTA. sahabatku. Begitu juga dengannya. aku selalu menceritakannya pada Kinan. Sepertinya hidup Kinan sangat sempurna. langsing. Ia baik. Seperti biasanya. aku selalu bergantian membawa mobil dengannya. pagi itu aku dan Kinan. Kinan adalah sahabat terbaikku sejak aku bersekolah di Taman Kanakkanak. halaman 32 dari 83 halaman . serta saat aku kesepian. Cinta mencoba melarikan diri dari kehidupannya. dan bisa menemaniku saat susah maupun mudah.

Kinan dan Paul sering jalan berdua. Lo nanti malem mau ketemuan ya?” “Iya. lho.” “Tajir?” “Ya. Setelah lama mereka bercakap-cakap. Dengan gayanya yang anggun ia mengangkat panggilan itu. maka ia akan langsung menolaknya dan berkata bahwa ia tidak mau dengan lakilaki itu.” “Badannya atletis?” “Ya. Kinan masih asyik bercakap-cakap di handphone-nya.” “Dia ganteng?” “Ya. Tak pernah lupa ia percantik bibirnya dengan sentuhan lipgloss warna softpink.” Kami pun sampai di kampus. Bila ia tidak suka. Kemaren gue ketemu dia di kafe.” “Seagama?” “Ya. Aku sendiri tidak tahu siapa yang menelponnya. Sesekali Kinan menengok ke arahku yang sedang menyetir lalu tersenyum centil. Ia terlihat sangat bahagia. Bahkan tak jarang lakilaki yang ditolaknya mentah-mentah. Dia kuliah di Universitas Nusantara.” “Paul? Temen baru?” “Ya. Oleh sebab itu tidak sedikit pula laki-laki yang sakit hati dibuatnya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Hari itu Kinan terlihat cantik dengan bando pita putih di kepalanya.” “Pastinya. Nanti kapan-kapan gue kenalin ya. tau nggak siapa yang nelepon gue barusan?” tanya Kinan padaku sambil memasukkan handphone ke tasnya lagi. Itulah salah satu kekurangan Kinan. Sampai saat itu Kinan belum mempunyai pacar. sampai akhirnya mereka halaman 33 dari 83 halaman . Nan?” “Namanya Paul. wajar kalau ia sangat perfeksionis dalam mencari pasangan. Nin! Kayaknya sih dia juga suka sama gue. Pembicaraan mereka terdengar sangat akrab. aku mendengar mereka akan bertemu malam itu juga. Aku mulai bisa menebak sepertinya yang meneleponnya adalah laki-laki yang sedang dekat dengannya.” “Boleh. “Nin. Tiba-tiba handphone-nya berdering. ia tidak memikirkan perasaan laki-laki yang menyatakan cinta padanya. gue sama dia mau jalan. Pokonya oke banget deh.” “Bawa mobil kemana-mana?” “Ya. “Siapa. hari-hari Kinan semakin berwarna. Aku menggeleng. Semenjak berkenalan dengan Paul. Paling nonton sama makan aja. Dugaanku semakin kuat. Untuk gadis secantik Kinan. Dia oke banget.” “Wah perfect banget dong. soalnya dia ngajakin gue kenalan. Ia juga selalu memakai pakaian yang modis. sesuai sama persyaratan lo.

Percaya. Kinan menangis. Tak ada sesuatu yang aneh pada hubungan mereka. Sebulan sebelum Kinan melahirkan. Kinan bilang beberapa kali ia melakukan hal tersebut meskipun ia tahu kalau semua itu dilarang oleh agama dan hukum. Aku tersentak tak percaya. ia hanya terlihat gemukan. Hari demi hari ia lalui dengan perasaan yang kacau balau.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen resmi berpacaran atau biasa disebut jadian. Kinan pun semakin sakit hati. Paul justru tidak terlihat kehadirannya. menampar. Kinan bingung. Tapi hatinya selalu berdalih dan berusaha meyakinkan kalau semua itu akan aman dan baik-baik saja apalagi Paul selalu memaksa. Seringkali Paul memarahi. Mereka pun menuju rumah kedua Paul yang hanya dihuni oleh dua orang pekerjanya. Wajah Kinan pun terlihat sangat bersedih. Sesampainya di sana. Tak lama kemudian Paul bisa mengakrabkan diri denganku dan juga Dino. mereka nonton dan makan malam. Aku baru mengetahui kalau ternyata Kinan telah hamil dua bulan saat menikah. Namun sayang. Paul pun meyakinkan Kinan kalau semua akan baik-baik saja. Gaun pengantin Kinan pun sangat mewah. Lalu tibalah saat yang ditunggu-tunggu oleh setiap pasangan. Tapi akhirnya kedua orangtuanya pun tahu sampai akhirnya Kinan dan Paul menikah. Seperti biasanya. Kinan hanya bilang kalau ia sudah merasa cocok dengan Paul. bahkan mengurung Kinan di kamar mandi karena Paul menganggap Kinan sudah gila. Kinan menuruti semua instruksi Paul. Mungkin Paul melarikan diri ke luar negeri. tak seperti orang hamil. Beberapa bulan setelah mereka menikah. memukul. Di suatu malam. Namun saat itu Paul meminta lebih. Rumah tangga yang dibina Kinan dan Paul semakin tidak harmonis. Semua keluarga besar sudah mencari Paul kemana-mana. Kinan menceritakan semua kronologi kejadian sampai mereka menikah. Hari itu Kinan melahirkan di sebuah rumah sakit ternama. Tak tanggung-tanggung seringkali Kinan melemparkan barang-barang di rumahnya sambil menangis. Paul menghilang. mereka pun terlarut dalam hubungan badan. Masalah pun datang saat Kinan memeriksakan diri ke dokter dan hasilnya ia hamil. Sepertinya ia teringat sesuatu dan segera menceritakannya padaku. halaman 34 dari 83 halaman . Tapi entah apa yang membuat mereka memutuskan untuk menikah begitu cepat. Saat itu umur Kinan baru menginjak 19 tahun sedangkan Paul 22 tahun. saat semua kelarga dan sahabat-sahabatnya menjenguk. Malam itu. Paul semakin tidak tahan. Aku melihat ke arah perut Kinan. Menghadapi kelakuan istrinya. Masalah Kinan dan Paul semakin rumit. Resepsi pernikahan mereka digelar begitu meriah. Mereka terlihat cocok sampai akhirnya mereka menikah satu tahun setelah jadian. Kinan bertemu dengan Paul. Tak jarang pula kami pergi bersama. Entah mengapa saat teringat masa-masa mereka berpacaran Kinan selalu marah. Kinan pun menyanggupinya dengan senang hati dan tanpa pikir panjang. tetapi Paul tidak ditemukan. pacarku. Ia merasa malu dan takut menghadapi kenyataan. adalah satu kata yang Kinan tanamkan dalam hati.

Melihat aku termangu. Aku langsung kaget mendengarnya. Kinan bisa bersikap biasa. mengurung di kamar mandi. Aku pun belum sempat mengunjungi mereka. Aku mencoba mengajak Kina ke psikiater. dan tertutup.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Bayi mungil yang cantik itu pun diberi nama Cinta Kinanti Ananda Paula. Cinta pun berbicara padaku. aku ingin memperbaiki hubungan persahabatan kami yang sempat renggang. Tetapi saat orangtua Kinan datang menjenguknya. ia hampir tak pernah mau lagi bercerita padaku. Entah apa yang ada di hati Cinta. ia semakin terlihat sebagai pribadi yang pendiam. Suatu hari aku ingin sekali menjenguk Kinan. Ternyata sejak kecil ia biasa diperlakukan kasar oleh Kinan. Hari demi hari ia lewati dengan berdiam. tapi Cinta malah memberi selembar kertas berisi alamat yang ia bilang itu alamat rumah Kinan bersama suami barunya. Sesampainya di sana aku melihat seorang gadis belia yang aku kenal. Paul tak kunjung kembali. Tapi wajahnya sudah berbeda. Kinan berharap dengan hadirnya Cinta. Ia hampir tak pernah menangis. Aku berusaha menghibur Cinta. Ibunya sendiri. Entah masalah apa yang membuat Kinan semakin terguncang. Bahkan di hadapanku Kinan masih bisa bercerita tentang kehidupan kelamnya. Cinta menjadi korban dari kebodohan kedua orangtuanya sendiri. Aku berusaha mencari Paul. Cinta sangat kuat. yang lebih tepatnya tidak sesuai dengan keinginan Kinan. Kinan selalu mengancam jika Cinta menangis maka ia akan menambah hukumannya menjadi semakin berat. Dia pasti Cinta. Termasuk kepadaku. tapi aku merasa kasihan. Aku merasa keluarga mereka memang benar-benar hancur. Aku pun ke Bandung dan mencari alamatnya. Paul bisa kembali dan mereka bertiga bisa berbahagia. Bahkan yang aku herankan Kinan meninggalkan Cinta tinggal sendirian. Cinta sudah dewasa. Kinan malah menangis dan terkadang ia memarahi Cinta. tanpa segan-segan ia memarahi anaknya itu serta memberinya hukuman mulai dari mencubit. Aku merasa Kinan sudah tidak menganggapku lagi. tapi tidak dekat dengan Cinta. Anehnya. Namun seiring berjalannya waktu. Alamat Kinan memang masih di Bandung. Bila Cinta melakukan kesalahan. Sampai akhirnya semua mulai terlihat saat Cinta sudah berumur 10 tahun. ia cantik tapi tetap saja ia tidak bisa ramah. setiap melihat Cinta. Semenjak Kinan marah padaku. tetapi Cinta tak mau berbicara sepatah katapun padaku. Mungkin ia putus asa dengan keadaannya sekarang. Saat Cinta mulai bersekolah. Bahkan beberapa bulan kemudian Kinan dan Cinta pindah rumah ke Bandung. Harapan Kinan pupus sudah. Aku mencari Kinan. Hidup terasa mulai normal. Tak ada yang tahu secara detail bagaimana Kinan membesarkan Cinta tanpa seorang suami. halaman 35 dari 83 halaman . tapi Kinan justru marah padaku. tidak bisa bergaul. sampai menyuruh Kinan memakan makanan basi. tapi hasilnya nihil. memukul. Aku pun memercayainya. Orang tua Kinan selalu berkata kalau Kinan dan Cinta baik-baik saja di tempatnya yang baru.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Gue lebih baik hidup tanpa Ibu. cuma bisa mukul. Ibu cuma bisa marahmarah. Bahkan dia kawin lagi juga nggak bilang gue.” Aku tersentak. Gue mati dia juga nggak peduli kayaknya. Nggak kayak Ibu yang lain. cuma bisa nyiksa. halaman 36 dari 83 halaman . Ibu selalu ngasih gue hukuman. Dia nggak pernah peduli sama gue. dan cuma bisa bikin aku diperkosa.

siap memulai pelajaran pertama. Guru pun masuk kelas dan semua berjalan wajar sebagaimana harusnya. Sampai pada saat bel pulang sekolah dibunyikan. Niken dan aku sekelas. yang berarti kami akan menjejak ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. saat itu Tia dan Nia yang sudah berteman lebih dulu menyapaku yang duduk sendirian di dalam kelas. Niken orangnya supel. Pada hari pertama MOS. Lalu datang Niken yang langsung nimbrung pembicaraan yang kita bertiga lakukan. sedangkan Tia dan Nia berada di kelas lainnya. Untungnya. Meskipun tidak semua dari teman kami diterima di SMA tersebut. salah satu teman sekelas halaman 37 dari 83 halaman . Kami berteman sejak duduk di kelas dua SMP.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Oleh: Dwi Cahyaningtyas (untitled) Semua itu berawal dari kelulusan kami dari SMP. yaitu SMA. Sampai saat MOS berakhir di hari ketiga pun tidak terjadi suatu kejadian yang berarti. Kami semua sangat senang karena berhasil masuk salah satu SMA unggulan di Jakarta. Keesokan harinya kami mulai masuk sekolah seperti biasa. Kami berpencar untuk mencari kelas kami masin-masing. semua berjalan biasa saja tidak ada yang istimewa. karena dari SMP kami hanya kami berempatlah yang diterima di SMA tersebut. sedangkan Tia dan Nia tidak pernah ketinggalan hal-hal yang menyangkut tren dan mode yang ada.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kami mengumumkan agar kami tidak pulang dulu. kelas tiga segera memerintakhkan kami untuk berbaris. Niken mengajakku untuk ikut menghadiri perkumpulan itu atas dasar solidaritas teman. ternyata di sana sudah banyak anak-anak kelas satu yang berkumpul. perlakuan kekerasan yang kami alami sudah menjadi tradisi turun-temurun di sekolah kami yang akan terus berulang di tahun-tahun berikutnya. setelah dirasa cukup banyak anak kelas satu yang berkumpul. anak-anak kelas tiga juga sudah banyak yang datang. Sebagian dari kelas memutuskan akan datang ke tempat yang sudah ditentukan tersebut karena takut akan kelas tiga. pada akhirnya anak laki-laki disuruh tawuran dengan sekolah lain oleh kelas tiga. Seseampainya di tempat yang ditentukan. sebagian lagi tidak peduli dan memilih segera pulang ke rumah. halaman 38 dari 83 halaman . Kami pun merasa tegang akan situasi tersebut. akhirnya kami berempat ikut berkumpul sepulang sekolah. Perlakuan itu terus berlanjut hingga kami memiliki nama angkatan. kini giliran kami untuk mendidik kelas satu seperti pada saat kami dididik dulu. melainkan berkumpul si suatu daerah dekat sekolah atas perintah anak kelas tiga. Pada saat kami menjadi siswa kelas tiga. Tiga tahun sudah kami bersekolah di sana. kami pun dimarahi habis-habisan dan aku mellihat beberapa temanku ditampar dan dipukuli. Tak ketinggalan.

pusat ibukota beserta keramaian yang bercampur aduk di dalamnya. namaku Ananda. tidak terlepas dari kekerasan yang menyelimuti. Tidak terlepas dari kegiatan sebagai mahasiswi. Jakarta. Sungguh jauh perjalanan menuju kampus. robot-baja-berjalan begitu padat merayap di pagi hari. tebalnya polusi udara. aku suka dipanggil Nanda. suara bising robotbaja-berjalan. Aku berbelok ke jalan kecil yang berhubungan dengan kampusku. “Hei!!!!” Sungguh. teriakan itu seketika membuyarkan lamunanku. aku juga suka memperhatikan keadaan lingkungan sekitar dan menuliskannya dalam beberapa kata sederhana yang orang-orang biasa menyebutnya puisi. mahasiswi salah satu universitas di Indonesia.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen CERPEN TENTANG KEKERASAN Oleh: Kartika Putri Di tempat ini aku dilahirkan. Jakarta. aku halaman 39 dari 83 halaman . dan semakin sedikitnya lahan hijau yang ada menambah panas matahari ini semakin terasa menyengat. “Toh sebentar lagi aku juga sampai” pikirku dalam hati. tembok-tembok beton gedung perkantoran. Senang atau tidak itu fakta yang ada. aku tersentak. Jalan kaki lebih menyehatkan dan mengurangi polusi selain itu aku juga mencuri waktu untuk menghabiskan waktu itu sendiri tanpa ada gangguan. aku putuskan untuk berjalan kaki. Oh iya. Hiruk-pikuk sibuk ibukota.

Bang. saya. Jangan diambil. Ibu lagi sakit demam. Langkahnya gontai. dan tawa yang lebih tepatnya tawa kekejaman. Pasang tampang polos pula!!” Bocah pengamen itu seraya berjalan agak mundur sedikit dan menunduk. premanpreman meninggalkannnya dengan tawa keras.. nggak. Lengan yang begitu kecil diselimuti berbagai macam luka. tetapi ini terasa lebih nyata. saya. si pengamen hanya bisa mengelushalaman 40 dari 83 halaman . baju yang entah berwarna putih atau cokelat pudar lusuh itu sudah tidak jelas warnanya—kumal dimakan waktu. Aku yakin bukan aku yang mereka maksud. bohong aja lu! Berani bohong sama gua!!” “Cepet periksa sakunya!! Pasti dia bohong!” “Nggak Bang. lu?!” “Iya mana? Jangan berlaga bego. Pengamen kecil itu berdiri memegang kepalanya sesekali ia berjalan agak sempoyongan ke arah warung dan duduk di sebelahku. lu! Orang juga nggak ada yang peduli sama gua!! Ibu lu nggak bakalan mati kalo nggak minum obat!” “Lain sama kita... “Ng. mereka preman. Bang. Aku bukan anak-anak lagi.. Ya.. Saya mohon. lagi-lagi kekuatan berjaya. Tiga preman tadi memanggil seorang bocah pengamen dengan gitar kecil.. masih kecil juga!” “Itu uang untuk beli obat ibu di warung. tawa membahana. ada. a..... aku memutuskan untuk berhenti. “Heh! Mana setoran. bang. sandal jepit lusuh yang sudah tipis solnya. Bocah pengamen itu seakan-akan tahu dan cemas apa yang akan terjadi pada dirinya.. perawakan besar lengkap dengan baju serta gelang tangan anyaman menghiasi tangan mereka.” Pengamen itu gemetar. bakalan mati kalo nggak makan!” Pengamen itu bersikeras merebut kira-kira lima lembar uang seribuan dan satu lembar uang lima ribuan dari tangan-tangan kotor si preman. “Hei!!!! Iya sini bocah!!!” Masih tertegun dengan teriakan itu..... Ya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen menoleh. Tiga orang laki-laki bertato.. Malangnya si pengamen. Tidak mungkin mereka memanggilku. menyaksikan setiap adegan-adegan yang seperti di tuai dalam acara reality show di televisi kebanyakan. Saya belum ngamen hari ini. saya. deh. Pengamen itu jatuh tersungkur di tanah. “Ini apa??!! Bukan duit?! Berani lu ya sama gua..” “Iba-ibu! Siapa juga yang peduli sama ibu. salah seorang dari preman tersebut menoyor kepala pengamen cilik itu. Aku memutuskan untuk duduk di dekat warung dan membeli sesuatu agar bisa mengamati preman-preman itu tanpa harus dicurigai. Rupanya kening si pengamen lecet begitu juga dengan lengan kanan yang menopang kepalanya tadi.” “Eh. Ia melangkah takut-takut menghampiri tiga preman tadi. Semua orang tanpa harus bertanya berapa usiaku juga tahu itu. tangannya ditarik dan dipukulnya kepala si pengamen oleh tangan besar sang preman.. Aku melihat di kejauhan dan tetap melihat. Dugaan dan firasat yang kuat salah satu kelebihanku. kulit gelap yang membuat semua orang akan merinding melihatnya.

.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen ngelus kepala dan lecet di lengan kirinya. Ternyata di jalan sempit ini menyimpan begitu banyak cerita. nyanyian kebahagiaan mereka. walaupun kelihatannya kecil. Wajah bocah pengamen berseri sekali saat memakai plester pemberian ibu itu dan meminum air mineral yang rasanya biasa saja.. terima kasih ya. gelak tawa mereka di kala hujan. begitu banyak duka.” ibu penjaga warung benarbenar tulus membantu. “Wah. dan rasa terima kasih mereka. semua menjadi tumpah ruah di sini. halaman 41 dari 83 halaman . Ibu sudah sering menolong saya” “Nggak apa-apa.. Ibu penjaga warung memberikan air mineral kemasan kecil dan memberikan plester kepada si pengamen. kebahagiaan seperti itu dapat mereka —orang tertindas—rasakan melalui uluran tangan-tangan Yang Maha Kuasa. tetapi begitu menyimpan makna. Setidaknya. Dek. Duka bocah pengamen tertindas. Saya kesian aja ngeliat kamu dianiaya sama mereka. Hati-hati kalo bawa uang nanti diminta preman lagi. tak hanya duka tetapi juga suka. Bu.

Aku melihat dengan nyata praktek kekerasan oleh orang dewasa kepada anak kecil yang terjadi di jalanan ibukota. Di kolong jembatan itu. dunia fantasi anak. Gambaran tentang kondisi sosial yang mengenaskan. tetapi masih ada satu sisi yang sering dilupakan oleh pemerintah. yang senantiasa menampilkan keindahan. taman bermain anak. Jembatan dekat ITC Cempaka Mas. potret wajah-wajah bocah yang kelaparan dan kepedulian para orang tua di pengungsian dapat disaksikan di media masa. Banyak sekali anak-anak sekitar usia 4-12 tahun yang sudah mencari penghasilan dengan cara menjadi pengamen dan pengemis. yaitu halaman 42 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen TINDAK KEKERASAN PEMERINTAH TERHADAP ANAK-ANAK JALANAN Oleh : Khamim Hudori Kekacauan dunia politik di tanah air dan kekerasan-kekerasan yang terjadi belakangan ini di berbagai daerah dan ibukota menyisakan kerisauan yang mendalam bagi anak-anak. banyak gedung-gedung megah berdiri. kenaifan dan kebebasan seakan tanpa kontaminasi sudah tidak dapat kita lihat lagi. Jakarta Pusat. Sedih sekali melihat Jakarta yang katanya kota metropolitan.

anak sekecil itu sangat tidak pantas untuk mencari uang di jalanan halaman 43 dari 83 halaman . Sudah tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolah.. Nah. uang receh lo tadi. Sini. Saya juga maunya sekolah. sebenarnya pak Bruto itu siapa?” tanya saya. Di sanalah aku kenal seorang bocah kecil yang biasa dipanggil Buluk.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen nasib anak-anak jalanan yang tak sekolah dan dapat perlakuan yang tidak wajar oleh para orang tua mereka. Sungguh. Besoknya.” Luki berbicara dengan sedihnya. kita ngasih duit hasil ngamen tadi ke dia. Padahal nama aslinya adalah Luki. Pake nanya lagi. “Buluk!!! Cepetan sana ngamen lagi. Kak.” jawab Luki dengan ketakutan dilihat oleh pak Bruto. Saya sudah putus sekolah. apa boleh buat.. “Dek. Buluk. “Maaf. maka dia dipanggil Buluk di lingkungan sekitar kolong jembatan. memberikan warna yang bisa menjadikan indah. “Dapatkah aku memeluknya. Di kolong jembatan itu. nanti abis ngamen. menjadikan bintang di surga. Sini lo!” panggil bapak tadi ke bocah yang baru mendapat uang receh dari mobil Alphard. Kak. “Ada apa.” jawab bocah tadi. “Luki. Tidak lama. “Iya. Kak.. “Pak Bruto itu yang ngajarin anak-anak di sini ngamen.” “Kamu umur berapa. ada seorang bapak sekitar umur 35 tahun. Yaaa. Setelah Luki selesai ngamen dan memberikan setoran ke Pak Bruto. Kak. sang bocah tadi pun kembali ke kolong jembatan. Pak.” Setelah lampu hijau. Kak. Karena dia berpakaian yang sangat kusam dan agak kotor.” Luki langsung lari ke deretan mobil yang sedang menanti lampu hijau menyala..... Bagaimana cara untuk kita dapat bisa dapet uang di jalanan. Pak Bruto?” tanya anak itu. Coba ke sini sebentar!” aku panggil anak kecil itu. “Namanya siapa. Trus nanti kita dapet bagian juga. Sebenarnya nama asli saya Luki. Pak. Dek?” “Panggil saja saya Buluk. Saya panggil lagi bocah itu. terdengar suara anak kecil sedang menyanyikan lagu ST 12 di depan mobil Alphard. Ya. lampu merah tuh!!” bentak Pak Bruto sambil menghisap sebatang rokok dan menghitung uang setoran anak-anak dari hasil mengamen. “Yee.. kasih ke gua!” bentak bapak tadi ke anak kecil itu. ada suara memanggil Luki dengan nada keras. Ini uangnya. Terpaksa saya hidup di jalanan seperti ini. “Iya. bapak saya juga entah kemana. Tepat di lampu merah Cempaka Mas. Ibu saya sudah tiada. “Woy. Kak. Ada apa?” tanya anak kecil itu. Mmm. aku berjalan di jembatan itu lagi untuk mengenal bocah tadi. Dek? Apakah kamu masih sekolah?” “Saya umur 9 tahun. Dan ternyata itu Pak Bruto yang kemarin. Kak.

yaitu memelihara dan menjamin anak-anak tidak mampu itu untuk mendapatkan pendidikan yang layak? Bukankah tindakan pemerintah yang tidak menjamin anak-anak itu sekolah juga suatu tindakan kekerasan? Semoga saja pemerintah benar-benar serius dalam menjamin pendidikan anak-anak tersebut. Dan semoga saja. Amin. semua anak-anak Indonesia berhak mendapat pendidikan yang murah dan tidak ada lagi anak-anak jalanan seperti Luki tersebut. Mereka yang seharusnya sedang asyik-asyiknya bermain dan sekolah dengan teman sebaya. halaman 44 dari 83 halaman . apakah ada seorang bapak yang tega membiarkan anaknya hidup di kolong jembatan seperti ini dan apakah pemerintah sudah menjalankan apa yang seharusnya mereka kerjakan. tapi malah menjalani hidup dengan keras di alam kolong jembatan tersebut. Karena anak-anak itu mempunyai hak untuk bersekolah dan untuk menatap masa depannya. Saya sedang berpikir.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen dengan cara mengamen.

“Malah diam saja lagi! Cepat buatkan aku kopi!” bentakku. Dan kau tahu sikap kasarku selama ini karena alasan itu. Begini tiap hari suasana pagi. aku mau belanja dulu ke pasar. Hampir setiap hari tanganku ini menamparmu. tolong jaga rumah ya.” halaman 45 dari 83 halaman . PAKK!!! Tamparan keras mampir di pipimu. Padahal sudah 8 tahun kita sudah menikah.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KAU DAN KEKERASANKU Oleh: Khaula Fathina “Kamu jahat banget sama aku!” kalimat ini kan yang ingin kau katakan untukku?! Tapi selama ini kau hanya diam saja aku perlakukan seperti itu. Tak berkata apa-apa dan tidak melakukan apa-apa. Kau bosan dan aku pun bosan. Dan kau pun tetap diam membisu sambil berlalu ke dapur. Kau menunduk diam membisu. “Apa yang kau kerjakan dari tadi! Suami bangun bukannya dikasih kopi atau apa! Ini malah sibuk beres-beres rumah! Istri macam apa kau!” satu tamparan lagi kena di wajahmu. Kau merasa bersalah karena sampai saat ini kau belum mempunyai anak. tapi kau terima saja. Tiap hari aku berlaku kasar padamu. “Mas. aku bangun dan membentak. kau bebenah rumah.

PRANG!! Kau tersentak kaget waktu aku membanting mangkuk sayur asem itu. “Maaf. Lalu meninggalkannya di atas meja samping ranjang. Hatimu was-was takut kena bentak lagi olehku. Maaf. Kau mulai beres-beres rumah kembali setelah aku pergi meninggalkan rumah. dan langsung menuju ke dapur. Aku selama ini selalu sabar menerima puukulan dan tamparan juga bentakanmu padaku. Aku sudah tak sanggup lagi untuk menahan segala perlakuanmu kepadaku. kertas yang kau tinggalkan. Kau menulis beberapa baris kalimat di kertas itu. Aku bukan istri yang baik. kau pun bergegas pulang ke rumah. Tidak ada amarahku. Kau mengambil secarik kertas dari laci lemari dan sebuah pulpen. membuat siapapun yang melewati meja itu dapat membacanya. Kau menuju lemari dan memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas. “Tidak usah! Aku makan di luar saja! Kau jadi istri kok gak becus ngurus suami!” bentakku kepadamu. Setelah selesai semua. Terbuka rapih di atas meja. Kau mencicipi sedikit sayur asem itu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Kau pamit.” ujarmu. Aku hanya mengangguk dan kau pun pergi ke pasar. Seakan-akan takut diikuti seseorang. Mas. Kau diam menerima omonganku. Aku tahu. Mas. Tidak ada pukulan keras dariku. Aku titip rumah. aku pulang ke rumah orang tuaku. kau masuk ke dalam kamar. Tanpa berkata apa-apa kau meninggalkan rumah dengan terburu-buru. Rupanya hari ini kau terlihat ingin berdamai denganku. Aku akan buatkan yang baru. Lalu memasukkan juga beberapa barang keperluan lainnya ke dalam tas. maaf aku pergi meninggalkanmu. Di pasar. Barisan-barisan kalimat yang kau tulis di kertas itu menunjukkan alasan mengapa kau pergi meninggalkan rumah dan suamimu begitu saja. Kau memasak sayur asem kesukaanku dan ayam goreng. Dan aku merasa tertekan mas atas hal itu. Mas. Seperti tidak mau terlihat olehku. aku tidak bisa memberikan keturunan kepadamu. Tapi kali ini aku menyerah mas. halaman 46 dari 83 halaman . kau hanya membeli sayur dan lauk pauk yang akan dimakan hari ini. Pulang ke rumah pun seperti mengendap-endap. Jaga dirimu baik-baik. Setelah rumah rapih. Kertas itu. “Cih! Masakan apa ini? Sayur asem manis begini!” ludahku sewaktu mencicipi sayur buatanmu. Saat-saat sendiri di rumah adalah saat yang membuat kau tenang. Tidak ada tamparan di pipimu.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen CINTA TERLARANG Oleh: RA Koeshamimurti Tosani Natya Lakshita Flora. Gadis itu masih termenung di antara batuan cadas hitam yang menemani setiap jeritan lamunannya. Wajahnya tetap gelap tanpa ada cahaya yang menerangi. Angin hanya lalu-lalang dengan wajah iba. cinta Flora dan Fajar. Namun tampaknya itu semua hanya bunga khayalan saja. Telah belasan tahun batinnya tersiksa dan perasaan tenang pun tak dapat ia raih. Itu semua karena cinta kami berdua. Begitu berat ia menggenggam rantai kebencian pada hidup bersamaku yang dijalaninya. Ia terduduk dengan wajah yang masih menatap kelamnya cahaya langit. Flora hanya bisa menjerit di batinnya. Wajar bila Flora tak dapat menyebarkan senyum anggunnya. Ditatapnya langit kelam yang tak memberi kasih tanpa cahaya lekat-lekat seakan meminta pada Tuhan agar diberi sedikit saja kesempatan untuk bisa mengecap nikmatnya dunia tanpa siksaan batin yang mahadahsyat dan mencekam. dan Tuhan pun tak kunjung memberinya pertolongan. tak sedikit pun cinta kasih kami direstui oleh orangtua. Sejak kami mengucapkan sumpah sehidup-semati saat pernikahan kami. walau pada wajah mulusnya begitu ringan rasanya ia menebarkan bunga cinta kasih pada orang-orang. Aliran sungai terasa begitu deras di setiap detakan jantungnya. Tak sedikit pun senyum keluarga halaman 47 dari 83 halaman .

aku melihat pintu gerbang cahaya kematian datang di depanku. Mendengar kabar itu Flora menghampiriku dan berkata dengan tangis yang terisak-isak. Sebelum ia bunuh diri. tetapi di surga sana. cinta kami akan selalu dipisahkan dengan cara apa pun. menjalani kehidupan abadi yang penuh dengan bunga cinta dan kasih. tetapi kau harus yakin. pertanda bahwa Flora sudah siap menjalani niatnya untuk mengakhiri hidup di dunia menuju kehidupan abadi. Di sana aku berbahagia bersama Flora selamanya. “Kau boleh pergi dahulu ke surga sebelum diriku. Aku tak ingin kau dibunuh. Aku tak ingin kau mati sendiri tanpa kehadiranku. Aku merasa dunia bukan tempat cinta yang bahagia. “Cinta kita akan terus abadi.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen mengharumkan pernikahan kami. Mataku pun terpejam dan bayanganku pun menggenggam erat tangan Flora. namun kekuatan pemuda terahir telah melumpuhkan nyawaku... Namun tiba-tiba. aku sudah lelah dengan semua ancaman orang tua kita yang terus memisahkan kita. siap pergi bersama ke dalam surga cinta yang sejati. Aku hanya bisa menahan kesakitan. halaman 48 dari 83 halaman . aku percaya aku akan menyusulnya nanti di alam sana. Dia tersenyum menyambutku dan ingin menjemputku ke surga. Namun. Flora pun menebaskan pisau itu ke lehernya dan bercucurlah darah. Flora pun mengambil sebuah pisau tajam yang telah diasah olehku. Aku pun menjerit histeris melihat Flora telah mati di sampingku. Aku sudah lelah dengan ancaman-ancaman yang terus menyiksa batinku. aku sudah siap dengan sebilah badikku. Saat pertama aku berhasil melumpuhkan dua orang pemuda. Keesokan harinya tercium kabar bahwa orang tua Flora akan menyuruh para preman jalanan untuk membunuhku agar kami tak bisa lagi bersama. Aku ingin kau terus ada disampingku. Sebuah pedang tajam menembus jantungku semakin dalam.” Aku hanya dapat bergumam pasrah dan kemudian air mataku jatuh tak tertahan lagi. di sela jerit kesakitanku. Flora ada di sana.” Dengan berpasrah segalanya pada Tuhan. agar di surga nanti aku dapat menyambut dirimu dan berbahagia selamanya di sana. Aku tak ingin berpisah selamanya denganmu. Maka aku akan membunuh diriku sendiri sebelum kau dibunuh. Dan bila kami tetap melanjutkan mahligai pernikahan kami. cinta kita tetap abadi. ia menggenggam tanganku erat.” Setelah mengucapkan sumpah setianya pada cinta kami berdua. Saat tiga preman jalanan datang menyiapkan pedang maut mereka. “Fajar.

Tidak pernah berubah sejak bapak pensiun dari pekerjaanya. Terdengar ada nada mengolok pada suara ibu ketika menyebut ‘benderamu’. Bapak adalah mantan pejuang angkatan ’45 dan telah pensiun dari kepala satpam di pabrik gula. benderamu!” Ibuku menyodorkan bendera yang baru digosok kepada Bapak. Dan setiap kali tiba hari-hari bersejarah. Diperlakukannya bendera merah-putih dengan khusus. dan benda kesayangan bapak lainnya. piagam penghargaan. Bau harum pelembut kain menyebar keseluruh ruangan. Peti itu berisi lencana-lencana. Dengan hati-hati ditaruhnya bendera itu di atas sebuah peti kecil dari kulit yang usianya sebaya dengan usia almari. bendera itu selalu siap dikibarkan di halaman rumah. Sejak dulu memang Bapak sangat mencintai bendera merah putih dan tampak menjadi-jadi setelah tidak mempunyai kegiatan lagi. Di sebelah kanan peti diletakkan Al-quran yang berukuran lebih besar daripada biasanya. dicucinya bendera itu sendiri. yang ditaksir sekira hampir seabad. Bapak menuju almari jati kuno yang berada di kamar Bapak sambil mendekap bendera di dadanya. halaman 49 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen BENDERAKU Oleh: Krisna Karim Z “Nih Pak. Begitulah tatanan rak paling atas dalam almari Bapak. kemudian disimpan di tempat yang spesial.

Kakak perempuanku yang bawel suka sekali menggoda dan mengolok-olok Bapak dengan pertanyaan. tapi tidak ikut perang. Bilang sama Toro. ”Pak. kok tidak pasang bendera?” Padahal ia tahu betul itu bukan hari bersejarah.” Dia terus bicara seperti bunyi penyiar radio yang tanpa meminta pendapat pendengarnya. Akhirnya kami biarkan Bapak berbuat sesuka hatinya meskipun kadang-kadang terasa aneh bagi kami. “Ibu kenal Pak Samsur. Bu. Wong tugasnya di bagian logistik. beberapa jam kemudian hujan turun lagi. Saat memperingati hari kemerdekaan RI. Ceritanya hari itu tanggal 10 November. Setelah itu. aktivitas Bapak kian repot lagi. Ritual ini dilakukan dua tahun berturut-turut semenjak Bapak pensiun. begitu alasan Ibu. Lantas diambilnya lagi tiang bendera itu dan dibawa ketempat teduh. Di bawah rintik-rintik hujan. Pak Dhe Mas Toro? Dia juga pejuang ’45. Dulu katanya pernah berjuang bersama Bapak. Jadi. Bapak memasang bendera. Tidak pernah menunjukan kalau dirinya mantan pejuang. pacarmu itu. Setelah makan siang. Malu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Sikap berlebihan Bapakku terhadap bendera itu menurut kami sering menimbulkan masalah kecil dalam keluarga. tahunya cuma makanan saja. Dan sore hari menjelang maghrib dipanggulnya kembali ke dalam rumah. Ternyata tidak ada gejala yang mengarah kesitu. bendera didekap di dadanya. kemudian ia cabut tiang bendera yang terbuat dari bambu dan dipanggulnya menuju tempat yang teduh. dengan suara keras kakakku bercerita. Ibu selalu mengomel kalau hanya halaman rumah kami yang dipasang bendera. Akibatnya selama satu jam lebih ia harus menerima ceramah dari Bapak perihal bendera itu. Bapak memasang kembali bendera itu. Oleh karena itu. dan bapak juga mengerti kalau kakakku tengah menyindirnya. Sejak pagi hujan gerimis terus turun. “Samsuri itu tentara. Pekerjaan itu dilakukan selama 4 hari berturut-turut sejak tanggal 14 sampai tanggal 18 Agustus. Hal itu terulang beberapa kali. Juga setiap tanggal 17 Agustus. Tak lama setelah hujan reda. mulut komat-kamit sambil matanya terpejam entah doa apa yang dipanjatkan barulah kemudian bendera dipasang ke tiang. Ada-ada saja. kemudian dari teras rumah dipandanginya bendera yang basah terkena hujan. Dan hal itu yang membuat kakakku malu. Mas Toro. calon suami Mbak Nurul tertawa. Rupanya Bapak tida rela jika benderanya basah. halaman 50 dari 83 halaman .” Adik lelakiku pernah juga terkena marah sama Bapak gara-gara ketika menurunkan bendera merah putih secara tidak sengaja ia gunakan kain bendera itu untuk mengelap keringat di lehernya. Kami semua tahu kepada siapa cerita itu ditunjukkan. Pagi hari Bapak memanggul tiang bendera untuk dipasang di halaman. Tentu saja melihat ulah Bapak seperti itu. Namun. Pernah suatu hari ia marah kepada Bapak karena malu sama pacarnya. Mula-mula kami khawati Bapak menderita gangguan jiwa. Bapakku pun selalu menyempatkan melaksanakan sholat dilanjutkan dengan sujud syukur. Namun. kalau Pak Dhe-nya tentara yang takut sama bedhil. orangnya sederhana ya. Dengan kalem Bapak menyahut.

Seperti biasa Bapak enggan menanggapi taktala ada orang yang membicarakan perihal kecintaanya pada bendera. ”Lho. Dengan nada prihatin. hanya suara radio dan televisi yang berlomba. Siang hari setelah makan siang. ”Maaf. “Yu. ”Kenapa? Kamu takut aku mulai gila. yang sedang asik menonton telenovela. banyak temanku yang mati! Mati Sim. Aku jadi geli mendengarnya—apa hubungannya post power syndrom dengan perbuatan syirik. Kita boleh saja cinta kepada negara dan bendera. kamu tambah ngawur. adik perempuanku. Sementara itu Ibu mulai terpengaruh dengan perkataan Pak Lik.sedangkan aku dan Yana. siapa tahu Masmu mau mendengarkan!” Suara Ibu terdengar bersungguh-sungguh.. Ibu berkata. Sikap Bapak yang diam membuat Pak Lik kebingungan.” halaman 51 dari 83 halaman . sama sekali tidak tertarik ikut nimbrung karena sudah bosan dengan persoalan yang dibicarakan. namun siapa yang berani mengingatkan Masmu. begitu? Kamu memang tidak pernah ikut berjuang merebut negara dan penjajahan. seperti memperlakukan benda keramat saja.. lho. penyakit yang timbul setelah pensiun. Coba. saya takut. wong ndableg gitu. Semua diam. yang sok tahu mengatakan. Kok. Tiba-tiba. Dengar Sim. Lihat saja bagaimana ia memperlakukan bendera. Pak Lik bosan mendengarnya. Mas Abu lama-lama kelihatan makin aneh ya. ya. kalau dibiarkan terus Mas abu terseret dalam perbuatan syirik. namun jangan sampai keblinger. Saya lihat Mas mulai berlebihan dalam memperlakukan berdera. “Ya. Kasihan kalau tidak diingatkan. Itukan yang ada di kepalamu?” suara Bapak menunjukan kemarahan. Untuk merebut bendera itu tidak mudah. bukan itu yang saya maksud. “Kamu ngawur Sim. Sudah sering ponakanmu mengingatkan namun tak pernah dihiraukan. Setelah basa-basi sejenak. suara bapak mengagetkan kami. Ibu yang berada di ruang tengah sesekali menimpalinya. Saya mengerti. Mungkin suamimu terkena penyakit post power syndrom. dia pun akhirnya menghentikan pembicaraan. bagaimana kalau kamu yang mengingatkan. Itu Yu. adik Ipar Ibu. Dibunuh sama musuh. Saya khawatir kalau kalu Mas mulai mengeramatkan bendera. Makanya kamu ndak bisa merasakan bagaimana rasanya merdeka dari penjajah!” Dengan penuh semangat bapak menceritakan kisah perjuanggannya di masa lampau. karena itu dia memotong cerita Bapak.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Hati Ibu mulai terusik ketika suatu hari Pak Lik Khasim.” Dengan menggebu-gebu Pak Lik menerangkan akibat dosa besar itu. segera menuju pembicaraan. Kamu kira pikiranku sudah gila. Hati-hati lho. “Ya. Mas. Pak Lik Kashim sengaja ikut duduk-duduk dengan Bapak di ruang makan sambil mendengarkan musik keroncong dari RRI Jakarta.” mantap sekali Pak Lik mengucapkan kalimat terakhirnya.” Ragu-ragu paklik melanjutkan kalimatnya karena Bapak menampakkan rasa tidak suka.

. ”Lalu kenapa setiap tanggal 17 Agustus. “Teman-temanku harus mati karena mengibarkan bendera merah putih. Membunuh saudara-saudaraku yang sebangsa yang pernah berjuang bersama-sama melawan penjajah.” Bapak diam sejenak. seperti pemberontak RMS... Pak Lik Khasim menjadi salah tingkah. hingga suatu ketika aku membaca e-mail dari kakakku yang kini tinggal di Den Haag... ”Demi Tuhan. padahal mereka adalah saudara-saudara yang seakidah denganku. kemudian berdoa sambil mendekap bendera?” tanyanya.. Selanjutnya. “Setiap melihat bendera merah putih.. yang membuat aku sadar terhadap sesuatu yang aku lupakkan selama ini. aku selalu bersyukur kepada Allah karena masih diberi kesempatan untuk mengibarkannya sepuas hati tanpa ada rasa takut dibunuh musuh!” Kali ini Bapak terdengar bersungguh-sungguh mempertahankan pendapatnya tanpa disertai rasa jengkel. Kini kami mengerti alasan bapak memperlakukan bendera dengan istimewa. Tulisan yang membangunkan kesadaranku adalah bagian terakhir dari e-mail itu. Kalau sekarang aku memperlakukan bendera dengan istimewa. “Bahkan oleh tanganku. namun kelihatannya Pak Lik malas menanggapi. Untuk bendera aku juga harus membunuh sesama manusia. Mas Abu selalu bersujud.” Aku kini benci sekali mendengar ucapan Pak Lik. Semua tiada bersuara.” ujar bapak. Pak Lik Khasim menyela. itu salah besar. Ibu yang biasanya cerewet dan adikku yang tidak pernah memperdulikan bapak dengan bendera.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Bapak diam sejenak menunggu Pak Lik berbicara. bukan berarti menggangap benda itu keramat dan menyembahnya. Hening. kami tidak pernah meributkan lagi soal bendera.” Suara Bapak bergetar menahan tangis dan tampak mata tuanya berkacakaca. kali ini hanyut dalam perasaan Bapak. Setelah Bapak meninggal. Mereka harus kubunuh hanya karena ingin mengganti merah putih dengan bendera mereka.. Lama-lama Ketua RT bosan memberi tahu keluarga kami yang nyaris lupa kepada bendera dan tidak pernah mengibarkannya lagi. Kami sering lupa mengibarkan bendera pada saat harihari bersejarah dan baru ingat ketika diberi tahu oleh Ketua RT. ”Mas Abu tidak bersalah. Bapak melanjutkan ceritanya lagi. Terharu mendengar cerita bapak. Terlihat air mata bening di mata mereka. Untuk menutupinya ia memberikan nasehat. Tanganku ini harus membunuh pemberontajk DII/TII. membela negara diwajibkan oleh Tuhan. APRA.. Ternyata di mata Bapak dalam bentangan kain itu terdapat gambar hidup yang menimbulkan pergolakan batin antara perasaan syukur dan penyesalan yang sangat dalam. begini isinya: halaman 52 dari 83 halaman . membunuh pemberontak berarti membela negara. Hal tersebut berlangsung bertahun-tahun. kemudian dengan suara parau melanjutkan perkataanya. tidak ada lagi perlakuaan dan tempat spesial terhadap sang Dwi Warna.

sedangkan bendera merah putih mereka campakkan begitu saja. Dan lebih sedih lagi ketika mereka menurunkan bendera merah putih dan menggantikannya dengan bendera mereka. Ketua RT tidak perlu menyuruhku memasang bendera. Mbak menangis untuk bendera dan baru kali ini aku merasakan memiliki bendera. Baru kali ini. ”Baiklah insya Allah mulai bulan Agustus tahun depan. Kepalaku mengangguk. Menyesal rasanya dulu aku sering mentertawakan cinta Bapak terhadap benderanya. dalam hati aku berkata. karena aku sudah akan memasangnya sendiri. Sedih rasanya menyaksikan teman-teman dari Tim-Tim yang berpesta pora merayakan kemerdekaan mereka dari penjajahan Indonesia (begitu menurut mereka). Aku benar-benar menangis ketika menyaksikan peristiwa itu. Benar kata Bapak kalau bendera adalah martabat dan harga diri suatu bangsa. Makanya mulai hari ini jangan abaikan lagi benderamu agar tiada orang lain yang menggantikannya dengan bendera lain. Mengiyakan isi e-mail kakakku.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Semoga Indonesia segera damai dan mendapat pemimpin yang baik serta jujur agar tidak ada lagi wilayah yang memisahkan diri dari RI.” halaman 53 dari 83 halaman .

kerabatku dari pihak Ibu. Di mobil itulah beliau bercerita tentang sifat pelupanya yang luar biasa. Bapak ini halaman 54 dari 83 halaman . Aku pertama kali mengenalnya ketika pernikahan sepupuku beberapa tahun lalu. Pernah suatu pagi.. petugas itu menyarankan Eyang Neli untuk melaporkan kehilangan sepedanya ke kantor polisi terdekat. Pak ?” “Dari kantor pos.! Seketika tukang tambal ban tersentak kaget. si tukang tambal—sudah sangat dikenal Eyang Neli. Usai keperluan di kantor pos. Beliau setuju. ”Loh. Makjrengat. Akhirnya. bertanya. ia bergegas ke tempat parkir sepeda. ternyata sepeda saya hilang lalu saya lapor ke polisi. Eyang Neli pergi ke kantor pos di kota tempat tinggal. Eyang Neli tidak dapat menemukan sepedanya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen EYANG NELI Oleh: Lestari Sari Pambudi Bicara soal sifat pelupa. Namun.. Saat melewati tukang tambal ban. Dengan langkah gontai beliau melangkah pulang menyusuri jalan menuju rumah. anda harus mengenal Eyang Neli. Beliau mulai panik.. Hari sudah sore ketika Eyang Neli keluar dari kantor polisi.. ”Dari mana saja. Petugas parkir pun kelabakan karena merasa bertanggung jawab atas raibnya sepeda tua milik Eyang Neli. makanya sore begini baru pulang. Saat itu beliau semobil denganku dalam perjalanan menuju tempat resepsi.” jawab Eyang Neli memelas.

Eyang Neli sangat suka menyetir mobil memang. Baru kemudian ia ingat saat berangkat ke kantor pos tadi pagi. tidak hilang toh?” komentar Eyang Neli. istrinya buru-buru mengajak pulang saat hari belum benar-benar gelap. Baru setelah beberapa jam kemudian saat bensin mulai habis. Dan menitipkan sepedanya pada tukang tambal ban itu. fisik Eyang Neli masih sehat dan kuat. Eyang Neli berbelok ke kantor polisi untuk menanyakan jalan yang benar. keduanya sepakat berpisah untuk bisa mencari keperluan masing-masing. Eyang Neli memutuskan naik angkot ke kantor pos. karena ia melihat sepedanya bertengger di ruang kerja si tukang tambal ban. ban sepedanya kempes. dan menemukan sang istri duduk terkantukhalaman 55 dari 83 halaman . Ia bersikeras menyetir sendiri. Ternyata perjalanan memang lancar. Mereka berjanji bertemu di pusat jajanan untuk kemudian pulang bersama. Tapi karena khawatir istrinya panik.. “Lho. dan menyadari istrinya tak ada di sisinya. Setelah membayar. di rumah kerabatnya itu Eyang Neli bercerita ngalor-ngidul hingga tak terasa hari sudah sore. Sang istri pun cemberut sepanjang jalan. beliau pun bergegas pulang dan tidur! Sore hari saat bangun tidur. sedangkan sang istri menghilang ke kios baju. “Oh. “Tin. Di pusat elektronika. tadi pagi sepedanya di tambal di sini. Takut nyasar dalam perjalanan pulang. Eyang Neli tak mengakuinya. ia dan istrinya berjalan ke pusat perbelanjaan. Mereka nyasar. Bisa-bisa saya di tangkap polisi karena ngembat sepeda. Yakin dengan kekutan fisiknya. Beliau juga sangat percaya diri. beliau mencari ke segenap penjuru rumah.” Seketika Eyang Neli ingat janjinya untuk ketemu di food center! Ia pun bergegas kembali ke mal. Eyang Neli menuju pusat elektronika.” kata si tukang tambal seraya menutup kiosnya. Tapi karena sudah ada beberapa sepeda yang di reparasi maka daripada ia menunggu ban sepedanya di tambal. Pak. Ibu kemana?” tanyanya pada pembantunya. Seperti kebiasaannya. Ia menolak menggunakan sopir atau naik kendaraan umum. Namun justru karena sifatnya itu ia sempat membuat sengsara istrinya. Ia mencoba setiap jalan mana pun yang tampak layak dilalui di kota yang tak terlalu dipahaminya itu. Eyang Neli tidak begitu lama. Eyang Neli mengajak istrinya keluar kota. Ceritanya. kan tadi sama Bapak. Beliau dan istri selamat sampai tujuan. Lain waktu. sedikit bingung. Tiba di sana dengan alasan menghemat waktu. dan sang istri tetap tak di temukan. Karena itu ia menuntun sepedanya ke tukang tambal ban tak jauh dari rumahnya. “Cepet deh di ambil sepedanya. Lah ini..BEJAT: sebuah kumpulan cerpen gimana sih? Kan. Ternyata yang ditakutkan terjadi. ke mal. Walaupun sudah tua dan pelupa. Sebab bisa segera mendapatkan barang yang diperlukan. Saya gak pulangpulang karena nungguin bapak!” Ganti Eyang Neli yang tersentak kaget lebih kaget lagi.

Seraya menghampiri sang istri. halaman 56 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kantuk di salah satu sudut pusat pusat jajanan. Eyang Neli cuma senyum-senyum saja membayangkan bagaimana raut wajah istrinya bila tahu ia lupa akan janjinya tersebut.

tidak terlalu baik maupun terlalu jahat. Maklum. mereka berdua menuju tempat administrasi untuk menyelesaikan pembayaran. Setelah menikah perlakuan Yanto terhadap Ajeng mulanya biasa saja. Yanto kaget karena biayanya sangat mahal dan tidak terpikirkan sebelumnya. Yanto.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen BEJAT Oleh: Fauzana Fidyarizky Ajeng adalah istri yang menjadi menjadi korban kekerasan suaminya. Yanto pada saat ini adalah seorang pengangguran. Ajeng meminta diantarkan ke rumah sakit untuk mengecek kandunganya. Mereka menikah karena hamil di luar penikahan yang membuat keduanya tidak mempunyai pilihan lain kecuali menikah. “Lain kali kalu mau ke rumah sakit. aku tidak punya uang untuk membayarnya. adalah anak seorang kepala desa yang saat ini memimpin di kampung yang ditinggali Ajeng pada saat ini. Yanto hanya mengenyam bangku pendidikan hanya sampai tingkat sekolah menengah. Setibanya sampai di rumah. Yanto sambil memegangi kepalanya berkata pada Ajeng. suaminya. Pada saat membayar. Setelah selesai. jangan minta diantarkan sama aku. Setibanya di rumah sakit. Yanto pun mengantarkannya ke rumah sakit. Ajeng dan Yanto langsung memeriksakan kandungan Ajeng.” halaman 57 dari 83 halaman . Suatu saat.

Lagi pula kan itu sudah menjadi tanggung jawab Mas untuk menanggung semua kehidupan kita. Tiap dua hari sekali kejadian itu terulang. Ajeng pun menangis dan merasa sakit pada saat itu. Yanto kabur pada saat warga menolong Ajeng. kalau kita tidak memeriksanya. yang kosong karena keluarga Ajeng pulang ada acara di balai desa. Caci maki.” Yanto mulai berbicara dengan nada kerasnya. dan terulang lagi. Yanto pernah lakukan.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Ajeng pun menjawab. dan secara refleks Ajeng membalas perbuatan Yanto. Dan Ajeng pun cuma bisa teriak dan minta tolong. “Mas. Benar saja ia bertemu di rumah ayah dari Ajeng. Setelah keluar dari rumah sakit. Ajeng pun pingsan dan saat terbangun mata bengkak dan telanjang karena Yanto baru memperkosanya. Ajeng kesakitan sekaligus kaget Yanto bisa berbuat seperti itu. tamparan. halaman 58 dari 83 halaman . Tapi apa yang dilakukan Yanto. dia malah menampar Ajeng untuk kedua kalinya. gimana kita bisa tahu keadaan anak kita. Keesokan harinya. Ajeng tahu bahwa suaminya akan menemukannya cepat atau lambat. Ajeng meminta maaf kepada Yanto karena Ajeng merasa bersalah tidak menghormati suaminya atas perkataaanya. Tanpa disangka Yanto mengambil sebuah kayu dan langsung memukuli Ajeng. Para tetangga yang sudah geram mengetahui prilaku Yanto terhadap Ajeng. Tetapi kekuatan Yanto lebih besar dari pada Ajeng. bahkan tendangan ke arah perut Ajeng pun. Pada suatu saat Ajeng dipukuli habis-habisan oleh Yanto. Kondisi ini berbutut kepada Yanto yang harus mendekap dipenjara selama satu tahun. menolong Ajeng dan langsung membawa Ajeng ke rumah sakit. dan tiba-tiba Yanto menghampiri Ajeng dan langsung menamparnya.

Ayah tidak dapat menyanggupi membayar hutangnya kepada Ayahnya Tono. sang kekasih. Dalam permasalahan tersebut. Rafli berpesan akan selalu ingat dan berjanji akan menikahi Nia. Berbagai rintangan selalu mereka lalui dengan kesabaran hati mereka. Tetapi Rafli dan Nia. Sebelum Rafli berangkat merantau. Pak Bowo. dapat mempertahankan hubungan mereka dengan sangat baik. Dan mereka berjanji akan hidup dan mati bersama di bawah pohon cemara pinggir laut. Pada suatu ketika. Ayah kami adalah seorang Kepala Desa yang terpandang. Dalam perjalanan cinta mereka tak pernah mulus. Dalam permasalahan halaman 59 dari 83 halaman . Kepala Desa Mantaren. Aku Santi.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen AKHIR DARI CINTA SEJATI Oleh: Lia Andika Pratiwi Pada suatu desa yang dinamakan Pulau Telo. sebelum Rafli merantau. Ayah kami. sedangkan Nia adalah anak bungsu. setelah pulang dari perantauanya. Dan Nia juga berjanji akan selalu berdoa untuk keberhasilan Rafli. Rafli adalah seorang anak yatim piatu yang menggantungkan hidupnya dengan kerja kerasnya sendiri. Dua tahun berlalu. yang kebetulan ayah dari seorang pria tampan yang bernama Tono. Rafli sedang merantau jauh ke negeri seberang. terkait hutang yang cukup besar kepada Pak Sugih. kakak Nia. hiduplah sepasang kekasih yang saling mencintai yang bernama Rafli dan Nia. Tak banyak orang dapat mempertahankan hubungan cintanya jarak jauh.

Dan ternyata Nia pun sudah tiada.” Lalu ayahnya berkata. bagaikan Spiderman. “Ayah. ayah dari Tono. Datanglah sebelum Tono melamarku…!!!!” Sebagai kakak. Rafli. semuanya akan dianggap lunas. halaman 60 dari 83 halaman . Ayah Nia melihat. “Tapi kamu sudah punya calon suami Nia…. iyalah Nia bisa dan mau bantu Ayah. disetujui oleh Ayah. teryata kau…. Lalu Rafli memangil Nia dari atas pohon. berkata kepada Pak Bowo. “Iya. Rafli pun melompat dari atas pohon tersebut. Rafli menghilang bagaikan di telan bumi. Dia lupa. Ayah. langsung pergi meninggalkan Nia. ayah kami.” Dan Rafli pun.” Lalu Ayah berkata. ya Allah. “Tuhan cobaan apa yang kau berikan pada hambamu ini. Begitu berat ujian yang kau berikan ini. Lalu Nia berlari dan memeluk erat tubuh Rafli. “TIDAK AYAH! Nia memang sayang dengan Ayah. Maka ketika ayah terlilit utang dengan keluarga mereka. dan berjanji akan hidup dan mati bersama. kamu mau kan menikah dengan Tono. Ayah yang berbuat. Pak Sugih.” Lalu ayah berkata. apa yang ayah lakukan? Dia kekasih Nia yang selama ini membuat Nia bahagia. muka Nia memerah dan tidak mau menikah dengan Tono. anak Pak Sugih untuk membantu melunasi hutang-hutang ayah?” Dengan kesal lalu Nia menjawab dengan ketus. keputusan Ayah telah bulat. tanpa sepengetahuan Nia. Satu tahun dari pernikahan Nia dan Tono. adikku. dan menikah dengan Tono. akan tetapi aku tidak dapat berbuat banyak. di mana tempatnya terakhir bertemu kekasihnya Rafli.” Lalu Nia berlari ke bawah pohon cemara di pinggir laut. “APA??! Nia. Beberapa hari kemudian. Lalu Nia berkata. Tidak lama kemudian. anak seorang saudagar yang kaya raya. Setelah itu. mestinya Ayah juga yang mesti bertanggung jawab. dan langsung mendorong Rafli. “Kamu mau bantu ayah kan?” Lalu Nia menjawab. Apalagi karena Tono sejak dulu memang memendam perasaan cinta untuk Nia. maka semua utang yang ada pada ayah kami. Aku di sini merindukanmu. aku pun merasakan kesedihan yang dialami oleh adikku. Lalu Nia berkata. “Ya. dengan ayah?” Nia menjawab. kamu sayang kan. Rafli beserta teman merantaunya kembali ke desa Pulau Telo.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen tersebut. apalagi demi melunasi hutang Ayah. Ayah berkata. dengan serta merta ayah Tono mengajukan persyaratan tersebut. Dia mengakhiri hidupnya di pohon cemara pinggir laut. Dan Nia pun terpaksa menuruti perkataan ayah. Nia sangat menyesali dirinya. pulanglah…. ya Allah. Lalu Rafli menemui Nia yang sedang menjemur pakaian di belakang rumah. Lalu Nia terkejut mendengar suara yang dulu sering dia dengar. tapi cinta Nia tidak bisa dipaksakan. “Nia.” Lalu Rafli menjawab. Dari permintaan Ayah Tono tersebut. bahwa Rafli pernah berkata. untuk menikahkan anaknya dengan putranya. “Nia. Setelah Nia mengetahui semuanya itu.

akan hidup dan mati bersama. Dan akhirnya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen bahwa tempat pohon cemara itu adalah tempat di mana mereka berjanji. Ternyata begitu besar cinta yang terjalin antara Rafli dan Nia. Nia pun mengakhiri hidupnya di pohon cemara itu juga. halaman 61 dari 83 halaman . Dan berakhirlah sudah cerita ini.

pikirku. karena yang ia jemur adalah pakaian yang bagus dan besarbesar ukurannya. Kamu wis mandi? Sudah pagi.. Sudah sana. rahang bawahnya kebiru-biruan dan bengkak dan bibir bawahnya yang sobek juga tambah bengkak. Waktu itu aku pernah ikut duduk-duduk di warung Bu Warsih saat ibu-ibu halaman 62 dari 83 halaman . Mbak? Kok yang sininya jadi biru?” tanyaku sambil memegang rahang bawahku. Mbak.. “Ngjemur nih ye.. ntar kamu telat masuk sekolahnya. “Itu mukanya kenapa. “Biasaa.” godaku pada Mbak Murti. membawa ember penuh berisi pakaian yang aku yakin pasti bukan pakaiannya.. Selalu begitu. Mbak Murti jadi terlihat seram dengan wajah yang bengkak-bangkak begitu. Hari ini ada yang lain lagi dari Mbak Murti. setiap ditanya. Mbak Murti hanya cengengesan menanggapiku. Pasti baju-baju Ibu Tanti dan Pak Adri. “Biasa. Aku diam melihatnya dari luar pagar.” kataku sambil berlalu masuk ke dalam rumah. gih.mbak. Lah aku masih libur kok.” Aku tidak pernah mengerti maksudnya. Mbak Murti selalu menjawab. Sudah ya.” “Ntar aja aahh mandinya..BEJAT: sebuah kumpulan cerpen MURTI Oleh: Loise Viranti Lasnida Mbak Murti keluar dari rumah besar itu.

di sini juga halaman 63 dari 83 halaman . Sepertinya Murti disuruh tidur di luar sampai pagi. Kira-kira ia akan mudik ke rumah ayahibunya tidak. Biar kapok dia!” sahut ibu yang lainnya. padahal Mbak Murti baik. “Tuh kan. kita mau tinggal dimana? Hahaha. yang bisa bersekolah karena SD saat ini dibiayai pemerintah. pas paginya saya tanya sama si Murti.” cerita ibu itu dengan wajah yang semangat. yang aku kenal betul wajahnya karena ia pernah ke rumahku. menyebut nama Mbak Murti dan Bu Tanti. Awalnya aku tidak memperhatikan apa yang mereka ributkan. Bu Tanti itu sudah keterlaluan. Katanya karena sebenarnya ia ingin sekali melanjutkan sekolahnya. Wong rumah kita aja masih nyewa sama dia.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen sedang belanja memilih-milih sayuran. Sampai aku mendengar salah satu ibu yang rumahnya tak jauh dari rumah sewaan keluargaku. Tapi toh apa bedanya. Aku tidak tahu kampungnya di mana. Aku tetap asik memakan agar-agar yang kubeli sambil bengong melihat ayam-ayam di depan warung Bu Warsih. Toh setiap ibu-ibu berkumpul akan seperti itu. Berbeda denganku. Dulu waktu ia baru-baru datang. kuli bangunan yang suka menganggur jika tidak ada yang membutuhkan tenaganya. Ya begitulah pekerjaan ayah. Tidak ada ekspresi prihatin dari wajahnya. Jadi apa “biasa” yang dimaksud Mbak Murti itu maksudnya adalah dipukul oleh Ibu Tanti? Kok disiksa seperti itu dianggap biasa? Aku kasihan sama Mbak Murti. Mbak Murti suka bermain denganku dan ngobrol-ngobrol. Mereka belanja dengan ribut sekali. iklan-iklan makanan yang ditawarkan untuk berbuka. yang mondar-mandir sambil mematuk-matuk beras yang tersebar di tanah. Mbak Murti sangat peduli dengan pendidikan dan sekolahku. Lalu aku memikirkan Mbak Murti. temanku yang mempunyai televisi di rumahnya dan menonton bersama orang-orang yang sedang ikut menumpang. jengah dengan obrolan ibu-ibu tersebut. Begitu juga ibu-ibu yang lain. Kemarin malam si Murti saya lihat sedang tidur di luar. Tapi sekarang aku jarang bertemu Mbak Murti. tapi aku sangat malas dan pernah tidak naik kelas. Aku pergi ke rumah Resih. Dari pagi sampai Maghrib Mbak Murti sudah jarang sekali keluar rumah. memanggil ayah untuk meminta ayah membetulkan genting rumahnya. Aku ingat ini bulan Ramadhan. Acara di televisi sedang diganti dengan iklan. sebentar lagi lebaran. Ia suka bertanya-tanya tentang sekolahku dan sering mengajariku matematika. kecuali kalau sedang menyapu teras atau menjemur pakaian seperti tadi. Aku menoleh ke wajah ibu yang sedang menjadi pusat perhatian karena bersemangat bercerita itu dan mendengarkan. Lalu aku pergi dari warung Bu Warsih. Aku selalu dinasehati Mbak Murti setiap kali malas belajar. “Tapi nanti kalo kita laporkan Bu Tanti. Kasian banget deh si Murti. ya? Mbak Murti pernah bilang padaku bahwa ia sangat rindu kampungnya. seharusnya kita laporkan saja Bu Tanti sama polisi. tapi tidak bisa karena tidak ada biaya. bergosip. dia malah nangis.” timpal ibu lain yang rumahnya di sebrang rumahku.. Terus. “Emang deh.

Dari depan tempat tinggalku. bisa terlihat besarnya rumah Ibu Tanti dan kulihat ada Mbak Murni duduk di teras rumah itu. Panas sekali di dalam kamar ini. Karena waktu itu aku pernah melihat Ibu Tanti berdiri di depan kamar Pak Adung sembil bersungut-sungut. Setiap sore ia biasa keluar dan bermain denganku. “Dasar si Adung kurang ajar. Meskipun Jakarta adalah kota yang megah dan besar. “Eh Mbak Murti. seorang kuli panggul di stasiun yang juga menyewa kamar milik Ibu Tanti. Berbeda dengan tempat tinggal kami. Mbak Murti terlihat kaget dan berjalan menghampiri aku di seberang pagar dengan tertatih-tatih. Sudah dua bulan batang hidung Pak Adung tak terlihat.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kampung. Aku berjalan ke depan rumah megah itu dan memegangi pagar. sama seperti keluargaku. Aku lihat jam dinding yang diletakan di atas tumpukan baju ayah menunjukkan pukul setengah lima pagi. Tapi Mbak Murti hanya diam dan menunduk ikut melihat kakinya. lima bulan nunggak sekarang malah ngilang. Mbak Murti mengerutkan dahinya. Rumahnya tingkat dan pagarnya berukir tinggi. halaman 64 dari 83 halaman . Apalagi sejak Pak Adung. Awalnya Mbak Murti terlihat senang-senang saja bekerja dengan Ibu Tanti. Dulu Mbak Murti datang dari kampungnya karena dibawa oleh Pak Adung. Ndah?” “Kakinya kenapa itu. aku pun keluar. rumah Bu Tanti adalah rumah yang paling besar. ia membutuhkan pembantu untuk membantunya mengurus rumah. Mbak?” tanyaku langsung. Mbak?” panggilku dengan setengah suara. Setahuku semua rumah dan kamar ini adalah milik Ibu Tanti yang setiap bulan menagih pembayaran sewaan pada kami. Mbak? Sama kayak tuh muka? Kok betah sih. aku penasaran ada apa dengan kakinya yang membuat jalannya terseret. bagiku tetap saja aku tinggal di kampung. Dan sepertinya Pak Adung pergi dengan meninggalkan hutang sewa kamarnya. Jakarta adanya di balik gedung-gedung bertingkat dan jalan tol yang macet. “Dipukul ya. “Loh kamu kok sudah bangun. Tapi sudah tiga bulan ini sepertinya semua berubah. bukan di dalam gang seperti ini. mungkin ia sudah pindah atau malah sudah pulang kampung. Pantas saja di luar seperti masih gelap. kerabat dari paman Mbak Murti yang membawanya ke sini tidak kembali ke kamarnya. Tapi aku terlanjur bangun. Ada rumahrumah kecil dan juga kamar-kamar petakan seperti tempatku dan keluarga tinggal. Mungkin karena rumahnya yang besar itu. Hampir semua tempat tinggal di sini milik Ibu Tanti. ngapain di situ. Karena itulah Mbak Murti datang. Awas saja dia!” *** Pagi ini aku bangun kepagian. Mbak?” tanyaku sambil melihat ke arah kaki Mbak Murti.

Ini muka jadi biru karena dijedotin ke meja. Bahkan orang sekitarku sendiri. tidak ada kabar lagi tentangnya. Tapi sudah seminggu sejak kepergian Mbak Murti. melaporkan keberadaan Mbak Murti apabila melihatnya. Mendengar ceritanya langsung seperti ini aku jadi ikut sedih. Tapi jadi aku yang diomelin. Jangan mau digituin. Dulu kupikir kekerasan seperti itu hanya ada di televisi dan berita-berita saja. Terkadang rindu juga aku dengan Mbak Murti. Aku sendiri tidak tega melihatnya. Ibu Tanti kewalahan mencari-cari Mbak Murti. Aku berharap. Waktu ibu-ibu lagi belanja di warung Bu Warsih. aku ndak boleh makan. Tapi di manapun dia sekarang. Kamu jangan bilang apa-apa ya ke orang-orang sini. Ndah. “Aku dipukuli. pikirku. Kalau nyapu ngepel ndak beres. Kupikir hanya orang di negeri seberang sana saja yang suka menyiksa pembantu. Sudah sana kamu pulang. Mbak diapain toh Mbak? kok bisa jadi begini?” Mbak Murti hanya diam lama sekali sampai akhirnya buka suara dengan wajah sendu dan berkaca-kaca. kok kamu tau. Setidaknya ia tidak dipikuli dan disiksa lagi oleh Bu Tanti. warga sekampung. aku bisa diomelin. Mbak. semoga saja Bu Tanti sadar dan kapok menyiksa pembantu seperti Mbak Murti. Ibu Tanti sesumbar.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Loh. Kayanya ia kabur dari rumah. Ndah.” Mbak Murti menangis. Ia memaksa kami. “Aku denger gosipnya. Udah dulu ya. Nanti kalau ibu bangun terus lihat kita. *** Beberapa minggu setelah aku mengobrol dengan Mbak Murti. Aku ndak boleh salah. “Lawan toh Mbak. Ibu Tanti keras banget. Mungkin Bu Tanti takut Mbak Murti melaporkannya ke polisi. Ndah? Kamu lihat?” wajah Mbak Murti panik sambil memegangi rahangnya yang masih bengkak dan biru. “Ntar makin jadi-jadi kalau aku lawan. Ntar aku diomelin sama Ibu. *** halaman 65 dari 83 halaman .” kataku dengan kesal dan geram. Gara-gara Bu Tanti kesel sama Mang Adung. aku ditampar.” Aku mengangguk dan berbalik pulang ketika kulihat Mbak Murti juga berjalan masuk ke dalam rumah. Sedangkan Bu Tanti masih tetap panik dan berusaha mencari Mbak Murti. aku lega. Ndah. Ternyata di sinipun ada. Kalau nyuci ndak bersih. Aku kan ndak tau apa-apa. Ndah. ia bilang Mbak Murti pergi dengan mencuri perhiasanperhiasannya dan ia bilang selama ini Mbak Murti tidak pernah beres kerjanya.

"Hai. bikin iri jadinya. sepertinya terburu-buru sekali. lain kali hati-hati ya.. Nda. ya? Siapa namanya?" "Ya benar.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen SI CANTIK YANG MALANG Oleh: Fazra Fatima Azzahra Di suatu pagi yang cerah. Aku malu. Murid baru itu menolongku. Ckckck. Aku terpeleset di lantai yang basah. "Hihi. Aku segera berlari ingin pulang karena film kesukaanku siang ini akan diputar di televisi. lagi pula bel masuk sudah berbunyi. Ternyata dia baik. Kelasnya di mana sih?" "Kelas 12 Sos D.. siapa namamu?" Waaa suaranya halus sekali. sepertinya tidak perlu. Oca?" halaman 66 dari 83 halaman .. Aku ingin menyapa... "Saya Oca. syuuuttt. Tidak disangka. Sesampainya aku di sekolah. Saya Nanda." Keesokan harinya. seperti biasa aku menuju sekolah di antarkan oleh kakakku.. Kamu murid baru. Ooo. Dia tersenyum kepadaku cantik sekali.. tapi ah.. semua itu merubah pikiranku sebelumnya. Waktunya pulang sekolah.. Tiba-tiba…. aku langsung menuju ruang kelas ku. Dia terlihat angkuh.. Sepertinya dia murid baru di sekolahku.. Tiba-tiba mataku tertuju kepada seorang perempuan cantik yang asing bagi ku.

gayanya belagu.. Bel pulang lima menit lagi berbunyi. Nda??” “Kamu tahu tidak?? Aku dijual oleh mereka.. hehe. a. Padahal setiap kali aku coba ramah atau senyum sama mereka.. Oke oke. Pertama kali liat kamu.di sekolah juga.. "Ia kenapa ya gosip itu enak. Bel pulang berbunyi. Oya. "Eh eh. Sipp. Abis sebel tahu liat anak baru. aku ngerasa kamu itu ramah..” Sesampainya di rumah Nanda. "Eh.. Aku ngga ngerti kenapa semua orang benci sama aku. Kan kita juga belum kenal sebenernya dia gimana. "Hmm. belagu.. sebaiknya halaman 67 dari 83 halaman ." "Oke lah.. Banyak gaya. di rumah aku ceritanya.. aku merasa seperti di neraka. "Hai. Setiap hari.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen "Oo… kalo gitu kita depan-depanan dong. hiks. Nda???” “Nanti aja ya. Menurut lo gimana. Tetangga aku juga semua bersikap dan berfikir seperti itu.. dan sekarang aku tinggal bersama laki-laki paling kejam.” “Memang orang tua kamu kemana.. Ca?" sahut Dania. Setiap aku dari luar negeri dan memberi oleh-oleh untuk mereka. emang sih dia jutek mukanya. Kita memasuki kelas masing-masing. yah... Ca. mereka berfikir seperti itu??” “Mereka berfikir aku ini sok pamer." Bel masuk pun berbunyi." aku menghampiri teman-temanku.. mereka justru yang memandang aku sinis. Senangnyaa.. “Nanda. kamu kenapa sih tadi???” “Hikksss…. dan yang terpenting—dan sangat pribadi sebenarnya. mereka menganggap aku ini hanya ingin mendapat pujian. "Nanda kenapa?" "A. Ca. Temen-temen di kelas semua mencibir aku.. Ca. Ca. diperlakukan seperti boneka. aku.” “Kenapa ya. Wkwkwk. Ca. tapi gue juga ngga berani nilai orang sembarangan. Mukanya kaya orang pengen ngajak ribut. rumahnya gede??” “karena aku di sini tinggal bersama orang yang tidak aku kenal.. doyan banget gosip sih.. aku ini merasa sangat tersiksa di rumah ini. ngga seperti orang-orang yang lainnya. Ca?" “Emang siapa yang sebel sama kamu?? Emang mereka ngapain kamu. Aku di sini disiksa. Mereka nganggep aku sombong.” “Terus kenapa kamu ngerasa hidup kaya di neraka di rumah ini? Padahal kan di sini enak. Aku segera bergegas pulang." Kring kring…..." Ketika di mobil tiba-tiba Nanda menitikan air mata. Aku pulang bareng kamu yah?" Haa. Sok ngartis. Tuh di seberang kelas 12 IPA A. Tapi kenapa kamu kok terbuka banget cerita masalah ini sama orang baru kayak aku??” “Karena cuma kamu yang mau berteman sama aku." "Tapi kamu yang ikut mobil aku. iya..? Nanda udah nungguin aku di depan kelas? Rajin banget.” “Aku jadi sedih.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kamu cepat pulang. huhuuuuu.. Nanda telah tewas karena ulah lelaki itu. HAH??!!” “Aa… aku.. Sungguh aku tidak kuat mendengarnya. karena… aku melihat percikan darah yang sangat banyak memuncrat di gorden kamarnya yang berwarna putih. “Ocaaaaaa…. Tolong aku. “DIAM KAMU!!!!! RASAKAN!!!!” “AAAAAAAAAAAAA……. Sungguh kejam. Kemudian aku diseret paksa oleh lelaki paruh baya itu ke luar. Ocaaaaa…. dan segera aku menelepon polisi. Caaaaa.” “ISTRI MACAM APA KAMU INI!!!!” Aku shock dalam hati…. halaman 68 dari 83 halaman . karena kalau aku ketahuan membawa kamu ke sini…” “NANDAAAAA… NANDAAAAA!!!!! DI MANA KAMU????!!!” BRAKKKKK…. Astaghfirullah… istri???? Tega-teganya orang tua yang menjual anaknya sebagai istri orang lain..” Aku tidak dapat berbuat apa-apa selain berdoa meminta perlindungan dariNYA. “Maaf… maaf..” Sebelum polisi itu datang… sepertinya semua sudah terlambat untuk menolong Nanda. Saya minta maaf. Aku mendengar teriakan dan isak tangis Nanda. min… minta maaf. JANGAN PERNAH MEMBAWA SIAPA PUN KE DALAM RUMAH INI!!! SUDAH BERAPA KALI KAMU BERBUAT KESALAHAN...” “APA-APAAN INI???!!!! SIAPA DIA??!!! SUDAH KUBILANG.

Mereka adalah para pencuri padi yang sering berkeliaran di malam hari dan mencuri padi-padi para petani. dikarenakan orang tuaku yang pergi merantau entah kemana. Tetapi ternyata kabahagiaan Pamanku diusik oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. merasa sangat senang dan nyaman tinggal di keluarga ini. Pamanku seakan-akan mempunyai hidup yang sangat nyaman dan nikmat. nyaman. Seperti tidak ada masalah sama sekali dalam keluarga ini. Hidup terasa aman. Dan keluarganya pun adalah keluarga yang sangat baik. Ingin rasanya di kala besar nanti aku menjadi seperti pamanku yang selalu bersyukur dengan keadaannya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen JANGAN MAIN HAKIM SENDIRI Oleh: Lourin Hertyastiwi Pamanku adalah seorang petani yang sangat giat bekerja. Mereka juga tidak pernah mengeluh dengan kehidupan mereka. “Aduh bagaimana ini? Padiku dicuri orang. Mau makan apa keluargaku kalau begini? Mana bisa aku dapat uang selain dari bertani ini.” keluh Pamanku ketika ia tahu kalau padi-padinya yang siap panen dicuri oleh pencuri-pencuri jahat halaman 69 dari 83 halaman . Aku pun yang hanya keponakannya yang menumpang di rumahnya. Ia tidak pernah mengeluh sekalipun tentang pekerjaannya yang hanya seorang petani. Tanpa perlu mengeluh dan mengatakan hal macam-macam yang tidak bisa dicapainya. dan tentram.

apa yang bisa aku bantu untuk Paman? Aku hanya bisa mengumpat saja dalam hati agar si pencuri itu ditemukan dan diberikan ganjaran yang setimpal. Saya kan hanya berusaha mencari makan.” jawab Pamanku dengan sedikit kesal tetapi tetap saja terdengar bijaksana bagiku. kan. Keesokan harinya. Ayo kita bawa dia ke pihak yang berwajib. “Hei.. Mungkin Tuhan memberikan cobaan ini karena paman kurang bersyukur kepadanya. awas mereka.” kata salah satu orang dari mereka. Sebenarnya menurutku Paman sudah banyak bersyukur. Nak. “Paman.” Terdengar suara seperti itu dari alun-alun desa ketika aku melewatinya.. Dasar orang-orang yang tidak bertanggung jawab kalau ketemu. “Tapi kan Pak. ampun. Lihat mukanya sudah babak belur begitu. Sudahlah. Pak. Aku memang penasaran kenapa paman bisa halaman 70 dari 83 halaman ... Tolong jangan bawa saya ke kantor polisi. Kau masih tega memukulinya?! Dia itu sendiri dan kalian beramai-ramai memukuli dan menghakiminya. Paman. sudah cukup. Dan ternyata orang itu adalah seorang laki-laki dari desa sebelah. Tadi malam pasukan Siskamling memergoki si pencuri itu sedang mencuri padi di sawah.” kata Pamanku dengan sangat bijak. Dan sekarang dia sedang diadili di alun-alun desa. Kasihan juga pencuri itu. Saya minta maaf. “Ya. Kok Paman biarkan pencuri itu begitu saja? Maksudku kok Paman tidak ikut memukuli pencuri itu? Memangnya Paman tidak merasa dendam kepada si pencuri itu?” tanya ku kepada paman. Seharusnya kita memberikannya kepada pihak yang berwajib atau kepada Kepala Desa. Tetapi kalau padinya saja hilang. Setelah itu barulah si pencuri itu dibawa ke kantor polisi untuk diadili. Apa itu adil?!” tiba-tiba Pamanku datang dan langsung menghentikan warga yang berusaha menghakimi si pencuri itu dengan pukulan-pukulan yang tentu saja tidak ringan tetapi pukulan yang keras. dia sudah mencuri padi-padi kita dan bapak juga salah satu korbannya. aku sangat bangga kapadanya. Kebetulan aku sedang berada di sawah menemani Paman yang ingin segera memanen padinya.. Maka berbondong-bondong lah mereka ke Kepala Desa.. Pak. Akupun mendatanginya dan ternyata yang berbicara seperti itu adalah pencuri padi-padi warga. “Sungguh jahat pencuri itu.” kataku dengan mengebu-gebu. tapi janganlah kita main hakim sendiri. Paman capek. aduh. Pamanku itu memang orang yang benar-benar bijak. tetapi kenapa Tuhan memberikan ganjaran seperti ini kepada Paman. “Aduh.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen itu. Janagn kau pukuli lagi orang ini. “Kalau mereka baik tentu saja mereka tidak akan menjadi pencuri. “Benar juga sih yang Bapak bilang. ampun. Kenapa ia melakukan hal sebegini jahat pada kita sih. Hanya Tuhan yang tahu jawabannya kenapa. Paman ingin merenung dulu. Aku memang suka melihat paman bekerja di sawah dan sesekali membantunya sebisaku..” kata salah satu dari orang-orang yang memukuli pencuri itu. biar nanti mereka yang mengadili. agar nanti Kepala Desa untuk melapor.

kita sesama manusia tidak boleh dendam. halaman 71 dari 83 halaman . Tidak seperti warga yang lainnya yang mencoba menghakimi sendiri si pencuri itu. Dia tidak hanya baik kepada keluarganya ataupun orang-orang yang dikenalnya.” pujiku kepada Paman. kita tidak seharusnya melanggar hukum juga seperti memukuli si pencuri itu. “Ah kau bisa saja.” jawab Pamanku dengan wajah yang sepertinya agak malu-malu.. Dan kalau dendam. Jadi Paman ceroboh juga kan sehingga pencuri itu bisa mencuri padi Paman. Iya selalu bijak di setiap kondisi. karena Paman tidak menjaga padi itu dengan baik. Pamanku adalah paman paling hebat di seluruh dunia. “Kecerobohan Paman.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen sesabar itu kepada si pencuri. Dan hukumnya bukan hukum rimba yang suka mengadili sendiri si penjahat. “Loh kecerobohan paman apa?” Tanya ku karena tidak mengerti apa yang pamanku bicarakan.” jawab pamanaku panjang lebar. tetapi Paman bukan menjaganya tapi malah pulang dan tidur dengan nyenyaknya. Ayo kita pulang. Sebenarnya Paman tahu kalau sudah ada pencuri yang berkeliaran. “Nak. Dan bijaksana “Wah Paman baik dan bijaksana sekali. Mungkin bukan hanya salah si pencuri saja makanya padi Paman hilang.. Yang selalu baik dan bijaksana kepada siapa saja. negara kita ini kan negara hukum. Jika sudah besar nanti aku ingin menjadi seperti Pamanku.” Pamanku menjawab dengan sangat jelas dan sangat bijak. Aku bangga punya paman seperti Paman. mungkin saja karena ada ke cerobohan Paman makanya pencuri itu bisa mencuri padi Paman. dan kita mempunyai hukum-hukum yang harus ditaati. tetapi hukum yang adil untuk semuanya. tetapi kepada penjahat pun ia masih dapat menunjukan kebaikannya. Itu lah ciri-ciri Pamanku. Dan jika si pencuri sudah melanggar hukum.

Jan tinggal sama siapa. Dan jika Jan pulang tidak membawa hasil yang memuaskan. Ia dan keluarganya memang tidak hidup berkecukupan. kalo Bapak gak ada.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen JAN Oleh: Marsha Jozana Nama saya Siska. Salah satunya sebut saja namanya. Jika sudah begitu. sang Ayah akan memarahinya dan memukulinya.. Dalam menjalankan aktivitas saya.?” tangis Jan. ”Bapak…. sekarang Jan tinggal di panti asuhan bersama dengan teman sebayanya dan juga ia bisa bersekolah. Jan juga sering disuruh Ayahnya untuk mengemis. Ayahnya akan memanggil Jan hanya untuk memarahi dan memukulinya. Saya ingat sekali ketika saya datang ke rumah Jan—setelah mendapat laporan dari tetangganya bahwa sang Ayah bunuh diri dan sang Ibu telah lama pergi dari rumahnya.. saya sering menemukan kasus kekerasan orang tua terhadap anak-anaknya. Jan hanya bisa berjongkok sambil menangis tersedu-sedu dan memanggil-manggil Bapaknya. Ia adalah seorang bocah laki-laki yang masih berumur 9 tahun. Jan. Tapi sayang tangan Jan agak halaman 72 dari 83 halaman . Apalagi kedua orang tuanya sering sekali bertengkar. Setelah kasus Jan di proses... Saya adalah seorang aktivis perlindungan dan hak asasi anak.. Kehidupan ekonomi yang serba sulit mungkin membuat Ayahnya mudah marah.

Apalagi ia tidak mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya sebagai selayaknya seorang anak. Kisah Jan ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Sekarang Jan dapat bermain dan melakukan aktivitas seperti anak-anak seusianya. Sehingga sekarang tangannya tak bisa di gerakkan.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen tumpul. halaman 73 dari 83 halaman . Karena dulu. sang Ayah suka melempar benda tumpul ke tangannya. saat memarahinya. Walaupun ia masih terlihat trauma dan sedih jika mengingat kedua orang tuanya.

“Kenapa. yang dulu jadi preman itu kan?” Aku menjawab. Tiba-tiba aku teringat masa lalu. Bapak hanya teringat dengan masa lalu Bapak." “Memangnya kenapa. menikam. Dan Rudi paling suka memperolok. Bisakah aku melawati ini semua? Mungkin ini hanya cobaan dalam masa laluku ini. Kenangan saat indah itu datang dan pergi. “Tidak. Di sekumpulan itu ada anak yg paling besar bernama Rudi. Dan aku juga teringat masa masa di mana aku memukul. “Sampai-sampai bisa membuat Bapak halaman 74 dari 83 halaman . “Iya.” “Kok sekarang pake peci dan sarung?” tanyanya. Pak? Matanya kok berair?” tanya Rudi. “Bapak. Nak. Sampai membuat bapak menangis.olok dan menyiksa teman-teman yang badannya lebih kecil dari pada badannya. sampai akhirnya Rudi menghampiriku. Aku terhanyut dalam lamunan. memalak orang-orang yang lewat di depan aku.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KENANGAN Oleh: Muhammad Garit N Pada suatu hari ada sekumpulan anak di pekarangan. Kemudian aku terngiang masa laluku yang kelam. Lalu aku terhenyak lagi. Pak?” tanyanya. Aku berjengit dan teringat saat aku mulai bertaubat. Lalu si Rudi berbicara.” “Pasti masa lalu bapak mengharukan. Masa di mana aku pun berlaku sedemikian rupa.

Bingung kenapa.” “Terluka kenapa. Pak?” “Wajahmu memngingatkan aku pada seseorang yang sepertinya paling terluka oleh perlakuan saya di masa lalu. Dan setelah melihat kamu. Bapak tinggal saja?” “Ya..BEJAT: sebuah kumpulan cerpen menangis?” “Tidak.” dengan tetes air mata yang keluar aku pun bersedih karena teringat istriku yang telah tiada itu. Pak. menerima saya apa adanya.” “Jadi. Nak. “Waktu itu ada gadis yang mencintai saya. Kata Ibu. Nak. memangnya kamu tinggal di sekitar sini?” halaman 75 dari 83 halaman .. wanita itu istri Bapak?” “Iya. “Memangnya sekarang belahan hati Bapak kemana?” “Dia sudah tiada. Pak? Emang disakitin sama Bapak?” Aku menghela napas mendengar pertanyaan anak itu. Dia hanya saya jadikan mainan. Dia mencintai saya dengan tulus.” Dan aku beralasan.. Tapi saya malah memanfaatkan dia. Pak. “Dan saya pernah mendengar juga bahwa dia telah melahirkan anak laki-laki gagah perwatakannya. Ya. Oleh karena itu saya mengusirnya dan melarangnya menemui saya lagi.. Nak. lalu setelah dia mengandung. Seolah-olah telah tertanam masa lalu saya yang kelam dalam dirimu. Tidak cuma itu.” “Mana mungkin ah. Bahkan saya menuduhnya berzina dan membuatnya malu di hadapan orang-orang sekampung. Bapak saya mengadu nasib keluar negeri. yang di mana gadis itu telah menjadi belahan hidup saya sendiri. Karena kamu menyerupai dengan belahan hati bapak.” “Lalu. Nak?” “Saya hanya punya ibu. walaupun sakitku menerpa lagi. tapi saya yakin batinnya sangat tersiksa. Kita kan baru ketemu. Tapi saya tidak mau mengakuinya.” “Waaahhhhhh.” “Memanfaatkan seperti apa? Menyakitkan. Masa lalu saya yang sangat kelam tidak baik untuk dibuka lagi.” Aku juga berkata lagi. kah?” tutur Rudi. “Memangnya beliau sakit?” “Dia tidak sakit fisik.” “Ooo. “Ya. Nak.” “Memangnya belahan hati Bapak tersiksa kenapa?” “Saya sudah melakukan hal yang sangat memalukan terhadap dirinya. Tapi melihatmu saya jadi merasa rindu yang teramat sangat. Dan sekarang sudah meninggal karena kecelakaan. O iya. Hati saya terasa teraduk aduk. “Karena saya belum siap dan saya juga merasa tidak bisa menghidupi dia apabila saya menikahinya.. “Saya tidak tahu hal itu. orang tuamu di mana. Sebegitu mudahnya ia mengajukan pertanyaan yang sudah kukubur jauh di dasar pikiranku. akan kuceritakan kepadanya. sampai akhirnya dia mengandung. Tapi dia sudah lama meninggal. belahan hati Bapak sekarang di mana?” kata Rudi. ” tambah deras lagi air mata yang aku keluarakan. agar tidak ada lagi kejadian yang pernah kubuat.

Tadi Bapak tanya. Wajah yang dulu memelas memohon belas kasihanku.” “Itu Pak. aku terhenyak. Di sana. Tidak. Aku diam seribu bahasa dan terdiam mengenang belahan jiwa yang dahulu aku sakit. Di sana ada Ibu saya. rumah saya. berdiri seorang wanita yang begitu kukenal. Ibu saya namannya siapa?” “Iya. ini tidak mungkin. halaman 76 dari 83 halaman . Setelah beberapa jarak lagi sampai di rumah Rudi. Dan di depannya. Rumah saya di belakang lapangan ini. Kalau Ayahmu masih ada. Memangnya siapa?” tutur aku. pasti dia sangat bangga kepadamu. di depan pintu rumah Rudi. Ibu saya. Sekalian saya mau tahu ibu seperti apa yang mempunyai anak sebaik kamu. wajah yang dulu kusia-siakan begitu saja.” “Bapak mau mampir ke rumah?” “Boleh saja.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Iya Pak. Wajah yang selalu terbayang sejak 10 tahun yang lalu.

“Dinda. Karena itulah teman-teman di sekolah sering menjahilinya. Dengan rasa iba.” Lalu sesuai dengan perintahnya. mengapa hari ini tidak masuk sekolah? Dan sedang apa kau di sini?” tanyaku. “Aku sedang dihukum.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KEKERASAN PADA ANAK Oleh: Munadhilah Ummahat Siang yang terik. panas yang ditimbulkan terasa sangat menyengat. kuhampiri Dinda.” jawabnya singkat dengan raut wajah yang malu. halaman 77 dari 83 halaman . dengan raut wajah yang berubah cemas. Kadang aku pun selalu berusaha ingin membantu segala masalah yang nampaknya sedang dihadapinya. “Sudahlah. Aku sedang berjalan pulang ke rumah ketika kulihat Dinda— tetangga sekaligus teman sebangku ku—berdiri di halaman depan rumahnya sambil mengangkat satu kakinya dan menjewer kedua telinganya sendiri. Namun dia selalu menghindar dan selalu mengatakan bahwa dia baik-baik saja. cepat kau pergi dari sini! Jangan hiraukan aku. aku baik-baik saja. Ketika aku hendak bertanya kembali. aku pun pulang dengan segudang pertanyaan yang masih menggantung dalam benakku. dia berkata. Dinda termasuk anak yang pendiam dan sangat tertutup di sekolah. Aku sangat kasihan melihatnya. Dia tidak mudah bergaul. Percayalah.

. itulah penyebab seragamku robek. Tak terasa kami mulai akrab. Saat bel istirahat berbunyi. Kali ini aku mengurungkan niat untuk istirahat di luar kelas. Beliau berpendapat bahwa perbuatannya itu benar.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Aku jadi teringat. Lamunan ku pun buyar ketika tak terasa aku telah sampai di rumah. seperti biasa. “Sebenarnya.. Kukeluarkan bekal makan siangku dari dalam tas. Keesokan harinya.. “Kenapa baju seragammu robek.” “Oo. menunggu seluruh siswa di kelas kosong. Pernah suatu hari. Sejujurnya. memulai pembicaraan. Ibunya pun mengatakan bahwa beliau tidak akan memberikan bekal makan siang untuk Dinda dan hukumannya pun akan dilanjutkan setelah Dinda pulang sekolah. kalau begitu lain kali hati-hati di jalan dan jangan terlambat lagi ya…” kata Pak Guru Dinda pun mengangguk dan langsung menuju kursinya. Akhirnya. Apalagi bila kesalahan tersebut bukanlah termasuk kesalahan yang besar. Pak. Sebaiknya. Ibu Dinda pun mengakui perbuatannya tersebut dengan alasan bahwa hal itu pantas diterima oleh Dinda. saya jatuh saat berlari menuju sekolah tadi. Kemudian dia akan mengeluarkan bekal makan siangnya.. Dengan tergesa-gesa Dinda pun mematuhi perintah Ibunya. aku tidak yakin dengan jawabannya itu.” ucapnya di sela-sela ceritanya. karena Dinda adalah anak yang ceroboh dan sering melakukan kesalahan. Tak sengaja ember yang berisi pembersih lantai tersenggol dan tumpah olehnya. Dinda diam di kursinya. “Mm. keesokan harinya aku pun segera melaporkannya ke Wali Kelas. seorang anak diberi contoh yang benar dan nasihat yang baik bila melakukan kesalahan-kesalahan. “Mau?” tawarku pada Dinda sambil menyodorkan bekal makanan. ya sudah. saat ingin berangkat ke sekolah. Sebenarnya Pak Guru ingin menghukumnya tetapi melihat keadaannya yang seperti itu beliau mengurungkan niatnya. Dia banyak bercerita tentang kehidupannya. Dinda masuk sekolah. “Apa benar Ibu sering memukuli Dinda?” tanya Wali Kelas. Tak lama kemudian. Mendengar kisahnya tersebut. Dinda?” Lalu Dinda menjawab dengan agak ragu. itu merupakan awal dari kedisiplinan. Tidak berhenti sampai di situ. Beliau hanya bertanya. pernah suatu hari dia datang terlambat ke sekolah dengan baju seragam yang robek di beberapa bagian. Dengan lirikan yang malu-malu akhirnya Dinda pun menyambut tawaran ku tersebut. ibu Dinda pun dipanggil untuk menghadap Wali Kelas. Dinda disuruh Ibunya untuk mengepel seluruh lantai rumahnya. halaman 78 dari 83 halaman .. Wali Kelas pun menjelaskan bahwa didikan tersebut merupakan didikan yang salah. tentang Ibunya yang sering memukulinya. Menit berganti menit. Ibunya marah-marah sambil memukulinya dengan ikat pinggang hingga baju seragamnya robek.

Aku duduk menanti kedatangan kereta yang sudah telat lebih dari satu jam memperhatikan dari awal aksi Sarimin di peron seberang. Sesekali anak-anak yang menonton tertawa melihat tingkah Sarimin. Sarimin terlihat tidak begitu nyaman dengan kuda kayunya. Sarimin naik kuda kayu…. Namun Sarimin terlihat berjalan terseok-seok dan terpaksa memegangi rantai mungkin lehernya kesakitan karena ditarik. Pawang Sarimin menarik-narik rantai yang panjang untuk menyuruh Sarimin melakukan aksi berikutnya. Di tempat itu bukan hanya ada Sarimin dan sang Pawang namun beberapa pemain gamelan yang mengiringi Sarimin beraksi. Ya. halaman 79 dari 83 halaman . Di akhir pertunjukan terlihat Sarimin meminta uang kepada penonton yang telah melihat aksinya tadi.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen BALADA SARIMIN Oleh: Nadia Khaerani “Sarimin pergi ke pasar…. topengnya. Sarimin artis topeng monyet yang menjadi pusat perhatian anak-anak di setiap aksinya. Sarimin memakai topeng…. apalagi dengan rantai di lehernya yang rapuh. Sarimin memakai payung…!” Teriak sang Pawang monyet untuk memperjelas aksi Sarimin kepada anak-anak yang berada di sekelilingnya. payungnya. Walaupun anak-anak terlihat senang dengan aksi Sarimin.

” Astaghfirullah! Ternyata benar. Namun setelah ditarik dengan rantai. dan tidak diberi makan. Sebelum Sarimin mengambil kue itu. Pawang memulai lagi aksinya. monyet-monyet tersebut bukan milik mereka.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Setelah penonton bubar Sarimin ditarik dengan kasar untuk masuk ke dalam kandang yang dipikul oleh sang Pawang. Sarimin hanya dieksploitasi tanpa diperhatikan hak hidupnya. “Awalnya sih nggak dikasih makan supaya dia nurut. Tetapi setelah mendengar pernyataan dari sang Pawang aku merasa senang dengan hal ini. “Jangan dikasih makan. Sarimin tetap tidak mau keluar dari kandang. Kandang itu kecil sehingga Sarimin harus menunduk untuk bisa duduk di dalamnya. Awalnya aku cukup prihatin dengan redupnya topeng monyet sebagai salah satu hiburan tradisional. Sudah seharusnya topeng monyet dihentikan kalau tetap menggunakan kekerasan. ada seorang anak yang memberi sepotong kue kepada Sarimin. Yah kalo tetep nggak nurut pukul aja. halaman 80 dari 83 halaman . Untuk menjawab pertanyaan itu.” Mendengar hal itu aku bertanya dalam hati. tetapi bagaimana kalau Sarimin mati kelaparan? Menurutku itu hal yang sangat kejam. Sang Pawang menghampiri Sarimin dan memukul kepala Sarimin. Di akhir pertunjukan saat Sarimin meminta uang kepada penonton.” Sarimin tetap makhluk hidup yang memiliki hak untuk bertahan hidup. kalau begini berarti pertunjukan topeng monyet termasuk animal abuse yang merupakan kekejaman bukan hiburan. Soalnya kalo sering dikasih makan nanti dia kenyang dan gak mau kerja. jarang-jarang. Nah abis itu. “Dulu ngelatihnya gimana Pak?” Dan jawaban yang kudapat cukup mengagetkan. Setelah Sarimin masuk ke kandang sang pawang pindah ke peron dimana aku duduk. Namun mungkin sang Pawang hanya berfikir. untuk apa sebenarnya Sarimin ini? Diperlakukan kasar. Aku berdoa dalam hati agar usaha topeng monyet yang seperti ini mati dan si pawang mencari pekerjaan lain sehingga Sarimin-Sarimin yang lain dapat terselamatkan.” Kurang puas dengan jawaban itu aku bertanya lagi. Nanti dia nggak mau kerja. Pak?” “Ya. Mungkin karena kelaparan. baru dikasih rantai supaya ngerti yang harus dia kerjain. “Toh hanya sewaanpawang topeng monyet hanya menyewa. Sarimin mengambil korek api dari jalan dan mengunyah-ngunyahnya. Menurut Pawang mungkin itu cara yang benar untuk mendisiplinkan Sarimin. Sarimin yang kelelahan terpaksa harus menuruti sang Pawang dan melakukan atraksi lagi. “Tapi tetep dikasih makan kan. Pawang menarik rantai Sarimin sambil berkata. aku mendekati Pawang Sarimin dan bertanya. Dek.

aku biasa pergi ke perkampungan untuk sekedar mencuri hewan ternak mereka. Cukup banyak tempat yang dapat dijadikan persembunyian. Namun ia tidak pernah berhasil. Aku jarang memangsa manusia. hanya kami gigit satu bagian tubuhnya. Tapi itu beberapa hari yang lalu. Sudah tiga hari ini aku tidak makan—atau lebih tepatnya belum sempat makan. Kupandangi seluruh semaksemak yang ada di hadapanku. dan mencoba mengalahkanku. Nafsu makanku seakan terkubur oleh perasaan dendam yang membara dalam hatiku. Sudah berkali-kali Wulu Ireng datang padaku.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen !!! Oleh: Arie Toursino Hadi Aku berdiri di sebuah batang pohon. Tempat itu adalah hutan rimba yang dekat dengan lapangan yang biasa dijadikan warga sebagai tempat mengembala hewan ternaknya. lalu kami tinggal pergi. bagaimana cara mengalahkan Wulu Ireng yang sudah menghabisi semua anak-anakku. Hingga pada waktu itu. Kini yang ada dipikiranku. demi mendapatkan aku agar keluar dari tempat halaman 81 dari 83 halaman . sehingga kami sulit dilacak warga. Aku dan Wulu Ireng memperebutkan tempat yang sekarang menjadi milikku. Jika semua itu tidak ditemukan. rusa. atau kerbau liar. Hal itu berawal dari perebutan wilayah kekuasaan pada tahun-tahun yang sudah lampau. Biasanya jika ada manusia yang aku—atau bangsa kami terkam. Aku terbiasa makan binatang liar seperti kancil.

Aku pikir dia pun demikian. Wulu Ireng menyerang anakku dan membunuhnya. Dan kini. Wulu Ireng kini tengah halaman 82 dari 83 halaman . Hmm. Yang bisa ia lakukan hanya menggeram. Sejenak aku terdiam. aku sudah berada di wilayah kekuasaannya. Semua “peralatan” perang sudah aku siapkan hingga akhirnya. suara geraman itu pada awalnya terdengar seperti ancaman agar aku tidak mendekatinya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen persembunyianku.. Aku terdiam agak jauh dari pojok ruangan itu. Aku pikir ia pun tahu konsekwensi hal tersebut. ruangan gua semakin gelap. Kulihat dengan tajam yang ada di hadapanku. Aku sudah unggul satu angka sebelum kami berkelahi. Pemilik sinar mata itu memperlihatkan giginya... dan. tanda bahwa apapun yang terjadi. Suara tangisan itu mulai mengganggu pendengaranku. Aku harus waspada. bunuh anak harus dibayar dengan anak. Gigiku kuperlihatkan. Yang aku tahu. Aku bersiap untuk menerkam. Itu lebih terdengar seperti suara anaknya. Suara sayatan itu seolah terdengar hingga keluar gua ini. Semakin dalam aku masuk. Suara geraman juga aku perdengarkan agar lawan yang ada dihadapanku takut. Tapi ia tidak beranjak maju. Bagiku. sinar dari bola mata yang kecil. hingga terdengar seperti tangisan memohon agar aku tidak membunuh anaknya. Namun kali ini bukan suara Wulu Ireng. mata kucingku yang mengkilat tajam memandang setiap sudut ruangan. ia tidak bergerak maju sekarang. terdengar suara erangan yang lebih keras. Dan terus menggeram setiap aku langkahkan kakiku untuk menghampirinya. Kusiapkan kuda-kuda untuk melompat. Tapi di mana dia? Kembali aku perhatikan sekeliling ruangan. Ternyata pencarianku tidak sia-sia. Kembali kuperlihatkan gigiku. Hukum di bangsa kami menyebutkan. ternyata Wulu Ireng sedang tergeletak sekarat di sana. Ia terluka oleh sesuatu hal yang aku tidak tahu. Satu lompatan besar sebelum akhirnya aku berada di depan sebuah gua yang biasa menjadi tempat persembunyian Wulu Ireng. Apalagi kini aku sedanng berdiri di depan pintunya. Aku masih belum juga menemukan sosok Wulu Ireng. Ia pun menggeram. Aku melangkah maju. Tidak ada rasa cemas bagiku jika ia menyerangku sekarang. Hingga akhirnya aku sampai di ujung gua itu. Berjaga terhadap kemungkinan terburuk. Aku harus waspada karena bisa saja tiba-tiba Wulu Ireng menerkamku dari mana saja. Indra penciumku mengatakan bahwa di tempat inilah Wulu Ireng berada. Ku perhatikan ceceran darah yang ada di lantai. Mungkin dia sudah mempersiapkan sedikit kejutan buatku. Tapi nasi sudah jadi bubur. Belum sempat aku melompat. Dari sini aku melihat ceceran darah di lantai. Aku diberi tahu burung Jalak yang melihat kejadian tersebut. Makin lama. Suara lengkingan itu lebih kecil dari suara Wulu Ireng. Setiap satu langkah. suara itu makin keras. Ku langkahkan kaki masuk ke dalam. Aku yakin itu anak Wulu Ireng. Dari sini aku bisa mencium baunya yang khas. aku akan tetap membunuh anaknya.. Ooh. sepasang sinar mata yang lebih besar muncul di atas mata yang kecil itu. Aku tidak mau ambil resiko dengan berjalan ke sekeliling ruangan ini.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen menggigit dan mencabiki anaknya sendiri. Berteriak bangga karena aku gagal melaksanakan dendamku. Ia tidak rela anak yang kini ada di pelukkannya terbunuh oleh tanganku. halaman 83 dari 83 halaman . berganti dengan suara tangis bahagia bercampur sedih dari Wulu Ireng. Makin lama suara tengisan kecil itu menghilang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful