P. 1
Bejat, Sebuah Kumpulan Cerpen

Bejat, Sebuah Kumpulan Cerpen

5.0

|Views: 293|Likes:
Published by Arie Toursino Hadi
Kumpulan Cerita Pendek Tentang Moral
Kumpulan Cerita Pendek Tentang Moral

More info:

Published by: Arie Toursino Hadi on Mar 16, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/13/2015

pdf

text

original

BEJAT

:
sebuah kumpulan cerpen

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

PENGANTAR “BEJAT: sebuah kumpulan cerpen” adalah salah satu tugas yang dibebankan pada mahasiswa Matakuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi (MPKT) FIB-UI kelas 4, semester ganjil 2009/2010. Tugas ini diberikan sebagai penambah nilai pada pokok bahasan pertama yang bertema “kekerasan.” Dengan demikian, dapat kita pastikan bahwa tema-tema yang termuat dalam cerita-cerita yang terkumpul di dalamnya adalah cerita tentang kekerasan. Kekerasan di sini mempunyai beragam bentuk. Di antaranya kekerasan suami kepada istrinya, orang tua kepada anaknya, senior kepada junior, hingga manusia kepada hewan. Kekerasan tidak melulu dalam bentuk fisik. Seseorang yang mengalami penderitaan secara psikis juga dapat disebut sedang mengalami kekerasan mental. Kembali ke topik kumpulan cerpen ini. Dengan membaca kumpulan cerpen secara tidak langsung kita mengenal karakter seseorang dari tulisannya. Tiap orang memiliki pengalaman dan pemahaman yang berbeda memandang sesuatu hal. Dari perbedaan tersebutlah karakter seseorang dapat kita ketahui. Ada yang menulis cerita berdasar pada pengalaman hidupnya, ada yang menulis berdasar pada perasaan pada saat ia sedang menulis, dan ada yang menulis berdasar pada ide atau angan-angan yang ia harapkan. Semua menjadi satu, dan menarik untuk Anda pelajari satu per satu. Selamat menikmati.

Penyusun Arie Toursino Hadi

halaman 2 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

DAFTAR CERPEN Cerpen Bertema Kekerasan...................................................................................................................M Reza Fatahilla

The Apartement..........................................................................................................................Ervilia Lupita Andriyanti
Kekerasan Dalam Kehidupan........................................................................................Glory Meirisa Pakpahan Diaz dan Anwar.............................................................................................................................................Indah Permata Sari Yumi...................................................................................................................................................................Indra Puspita Kusuma Kau Bukan Ayahku.......................................................................................................................................Intan Puji Lestari Keluarga dan Sekolah.........................................................................................................................Irvanuddin Rahman Liburan Lebaran.............................................................................................................................................Jodia Pravita Dini Cinta, Kinanti!.........................................................................................................................................................Juwita Anindya (untitled)............................................................................................................................................................Dwi Cahyaningtyas Cerpen Tentang Kekerasan..............................................................................................................................Kartika Putri Tindak Kekerasan Pemerintah Terhadap Anak-anak Jalanan.......................Khamim Hudori Kau dan Kekerasanku.....................................................................................................................................Khaula Fathina Cinta Terlarang.............................................................................RA Koeshamimurti Tosani Natya Laksitha Benderaku.....................................................................................................................................................................Krisna Karim Z Eyang Neli......................................................................................................................................................Lestari Sari Pambudi Bejat.......................................................................................................................................................................Fauzana Fidya Rizky Akhir dari Cinta Sejati................................................................................................................................................Lia Pratiwi Murti................................................................................................................................................................Louise Viranti Lasnida Si Cantik yang Malang...................................................................................................................Fazra Fatima Azzahra Jangan Main Hakim Sendiri............................................................................................................Lourin Hertyastiwi Jan............................................................................................................................................................................................Marsha Jozana Kenangan..........................................................................................................................................................Muhammad Garit N Kekerasan Terhadap Anak...................................................................................................Munadhilah Ummahat Balada Sarimin.......................................................................................................................................................Nadia Khaerani ! ! ! ....................................................................................................................................................................................Arie Toursino Hadi

halaman 3 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

CERPEN BERTEMA KEKERASAN
Oleh: M Reza Fatahilla

Dahulu

saat kepemerintahan Hitler di Jerman, hiduplah seorang saudagar Yahudi yang sangat kaya bersama tiga anak lelakinya. Aku adalah anak orang kaya berkewarganegaraan Inggris yang bekerja sebagai fotografer untuk sebuah perusahaan media jurnal di Inggris Raya dan menetap di Jerman semasa kepemerintahan Hitler. Pada suatu hari sedang dilaksanakan patroli militer Jerman terhadap orangorang Yahudi, yang menyebabkan kekacauan dan kerusuhan. Rumah-rumah banyak yang terbakar akibat patroli tersebut, pasar-pasar pun berantakan akibat tindakan semena-mena dari tentara Jerman. Saudagar Yahudi yang sangat kaya bersama tiga anak lelakinya mendadak menjadi jatuh miskin, selain itu mereka juga disiksa dan dikucilkan karena mereka keluarga Yahudi. Siang itu aku sedang berjalan di pasar yang telah porak poranda akibat patroli Yahudi tadi siang untuk melihat-melihat dan tidak sengaja aku melihat saudagar Yahudi yang sangat kaya dengan tiga anak laki-lakinya sedang bermain sulap, lalu aku tertarik untuk mendekatinya. “Hai kalian, tunjukan sulap terhebat yang pernah kalian punya kepadaku,”
halaman 4 dari 83 halaman

Lalu aku berjalan ke depan sejauh 50 km dari pasar tersebut dan aku sampai di kota Berlin. Membuat bunga dari kertas. dipukuli. terlihat lima orang polisi militer Jerman bersama tiga wanita orang warga Jerman sedang berjalan di tepi jalan. Kami punya harga diri! Kami ingin bebas!” sahut suara temannya itu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kataku. “Pak. mengapa mereka bertindak tidak manusiawi seperti itu. Mereka diperlakukan bagai binatang. “Kami ingin bebas! Kami tidak ingin disiksa seperti ini terus! Kebebasaaaaaaaan!” teriak mereka bertiga. Sekejap nyawa ketiga wanita Yahudi itu pun lenyap. ”DAAWR! CKCK DAWR! CKCK DAWR!” Suara tembakan polisi militer Jerman kepada tiga orang Yahudi itu. Saya punya harga diri!” sayup-sayup suara isak tangisan salah seorang Yahudi itu. Dengan cepatnya polisi militer Jerman mendorong ketiga wanita Yahudi tersebut sampai mereka tergeletak jatuh di aspal jalanan dan beberapa saat kemudian terdengar bunyi tembakan senjata sebanyak tiga kali. harganya 10 pence” jawab penjual toko.” pintaku kepada penjual toko. karena leher sudah terasa sangat kering dan haus. Aku terus melihat dan memfoto kejadian tersebut sebagai bahan dokumentasi. Aku pun heran. halaman 5 dari 83 halaman . Mereka tetap dipukuli dan disiksa sampai babak belur di pinggir jalan tersebut. Mereka bermain dengan lincah dan sangat hebat. Saat itu. membuat api dari plastik dan lain-lain. Monumen itu adalah monumen Hitler yang sangat megah dengan penjagaan oleh tiga orang polisi militer jerman di sekelilingnya. Aku sangat terhibur lantas memberi mereka uang logam 5 pence dan tidak lupa menyuruh mereka bergaya menghadap kamera serta memfoto mereka sebagai bahan dokumentasi jurnal. Lalu aku berjalan melewati monumen itu dan mencari sebuah toko yang menjual air mineral. “Saya mohon ampun. Aku disajikan pemandangan sebuah monumen besar di tengah taman kota yang hijau rumputnya dan ramai akan banyak orang. apakah kejadian seperti barusan di jalanan sudah sering terjadi?” tanyaku. Pak! Sudahi penderitaan saya. tiga wanita tersebut disiksa habis-habisan. Namun. “Ya. “Ini silahkan tuan. “Baiklah tuanku. Saya adalah Yahudi. Dan aku hanya bisa melihat dan memfoto segala kejadian yang terjadi saat itu untuk bahan dokumentasi jurnal. Mereka ditendang.” jawab mereka berempat. benar. dan diludahi oleh polisi militer Jerman itu. Setelah itu aku pergi meninggalkan mereka. Lalu aku berjalan menuju toko yang menjual sebuah air mineral. Namun tetap saja polisi militer Jerman tidak mendengarkan rintihan mereka. Dan aku sesaat baru menyadari bahwa mereka yang disiksa adalah warga Jerman yang beragama Yahudi. “Saya mau beli satu botol air mineral pak. Dan tiba-tiba ketiga wanita Yahudi tersebut menyerang kelima polisi militer Jerman tersebut dengan mendorong-dorong.

Selamat. karena jurnal yang aku buat sangat detil dan berdasarkan kejadian faktual. jurnal tersebut masuk dalam berita utama televisi terkenal di kota Manchester tersebut.ngantuk dan tiba-tiba seorang pramugari yang cantik membangunkan aku. Setelah itu aku langsung menuju bandara dan melakukan penerbangan menuju Manchester. aku baik saja. kira-kira 55 km dari toko itu. “Yeeeeeeeeeesss! I’m freee! Yuhhuu! “ aku berteriak akan keberhasilan. Aku langsung mengambil tas bawaan dan menuju lobby bandara Manchester dan terdengar suara yang sudah familiar di telinga. namun itu sudah menjadi peraturan semenjak Hitler berkuasa. Sesampai di sana. Tuan. periksa kembali barang bawaan anda. halaman 6 dari 83 halaman . “Oh.” pernyataan ketua direksi perusahaan media jurnal. jurnal anda terpilih menjadi topik utama televisi terkenal kota Manchester. Selama perjalanan di pesawat terbang aku hanya terdiam dan menulis sebuah catatan perjalanan selama di Jerman pada sebuah buku kecil yang muat di saku jas hitam yang sore itu aku pakai di pesawat terbang dan tidak lama kemudian aku tertidur lelap. Pemandangan matahari yang sangat indah saat terbenam di kota Munich. sebenarnya saya juga sudah gerah melihat kelakuan polisi-polisi militer itu. Mungkin sedikit lelah perjalan dari Jerman” jawab diriku. “Selamat sore. Mereka tercengang mendengar hasilnya. “Haaai! Kamu apa kabar?” tanya wanita itu kepadaku. Lalu aku diantar ke perusahaan dan di sana aku bertemu teman-teman kantorku dan mereka bergembira menyambut kedatanganku karena sudah lama sekali mereka tidak bertemu denganku. “Selamat siang. Terima kasih. aku membeli tiket dan naik kereta sampai kota Munich dan sore telah menjelang.” jawab penjual toko. dengan mata yang masih mengantuk. Seminggu kemudian. Lalu. Setelah tiga puluh menit tidak terasa perjalanan aku mencoba bangun dari tidur. Tuan.” kata pramugari cantik tersebut. Dan ceritaku berakhir sampai di sini. Aku bingung dan baru menyadari ternyata dia adalah teman kantor dari perusahaan media jurnal. aku menceritakan hasil laporan jurnal yang aku dapat di Jerman. Inggris. Aku pun kini naik jabatan dan terus memberikan kontribusi yang bagus bagi perusahaan media jurnal tersebut.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Ya. namun mereka sangat puas. kita telah sampai di Manchester. Tamat. Setelah itu aku memfoto bapak penjual tersebut dan pergi menuju stasiun kereta api yang bernama Zoo yang terletak tidak begitu jauh. Dengan ini saya promosikan anda untuk naik jabatan dan naik gaji.

aku teringat beberapa bulan yang lalu Aya mengabarkan kepada kami kalau ia akhirnya memutuskan untuk tinggal di apartemen kekasihnya. Sebuah senyum terlukis di bibir Rei ketika aku menekan bel apartemen Aya dengan siku kananku seakan tidak sabar menunggu Aya membuka pintu apartemennya. salah satu teman dekat kami ketika masih duduk di bangku SMA. Rei. Sebenarnya itu adalah kabar yang sedikit mengejutkan. Di depan pintu apartemen Aya. tiba di depan pintu apartemen milik Aya. kedatangan kami ke apartemen mereka kali ini.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen THE APARTMENT Oleh: Ervilia Lupita Adriyanti Saat ini sudah pukul lima lewat dua puluh satu menit ketika kami. agak heran mengapa mereka tidak langsung saja memutuskan untuk segera menikah. Namun. pintu itu tidak terbuka. Mengetahui hubungan keduanya yang sudah cukup lama. Ryo. aku dan seorang temanku. Oleh karena itu. kami berdua segera mengiyakan lalu dengan semangat pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa bahan makanan yang dimasak bersama nanti. Detik selanjutnya pun kami saling halaman 7 dari 83 halaman . juga ingin melihat sosok seorang Ryo yang selama ini kami hanya kenal melalui cerita-cerita dari Aya saja. Oleh karena itu. ketika Aya menghubungi kami dan mengundang kami untuk makan malam bersama di apartemen barunya.

” sambil melambaikan tangannya cepat.. ketika ia lihat aku membawa dua buah kantung belanjaan. “Maaf. duduk saja dulu.” aku dengan cepat mengganti topik ketika sadar tidak ada satu pun figura foto yang tergantung di dinding ataupun dipajang di atas meja. ia seakan menahan langkahku yang berusaha memasuki dapur apartemennya. Tidak ada jalan lain.. Biar aku dan Rei yang menyiapkan semuanya di dapur. tidak lama lagi.” Rei menambahkan. Aya pun mengucapkan terima kasih sambil menutup kembali pintu apartemennya dan menguncinya lagi. Kini ia sudah berada di ruang tengah apartemen dan melihat ke sekeliling ruangan. tadi Aku ketiduran. aku hanya mengangguk-angguk pelan sambil mulai melihat ke sekeliling ruangan tersebut. Aya. menunggu adakah suara derap langkah kaki dari dalam sana. dia mengambil salah satu kantung itu dariku dan mulai melihat ke dalamnya. Kalian belum lama. “Ya. karena kami berencana membuat nasi kare. aku mengangguk. Pertanyaan itu disusul dengan suara pisau yang mulai bekerja memotongmotong bahan makanan. kan?” sambil mengenakan sandal berwarna putih polos yang diletakkan tidak jauh dari pintu. Ia tersenyum lebar ketika melihat kami berada di depan apartemennya. Kali ini dengan jari telunjukku.” Aya melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah dapur sambil mempersilahkanku untuk duduk di sofa ruang tengahnya. “Jam berapa Ryo pulang dari kantornya?” dari arah dapur aku mendengar Rei bertanya. Bersamaan dengan itu ia menunjuk sofa ruang tengahnya dan memberi isyarat dengan matanya agar aku duduk saja di sana.” Rei menunjuk bel apartemen Aya dengan dagunya. Suara itu kemudian disambung dengan suara kunci pintu yang dibuka. ” “Kalian tidak memajang satu pun foto di sini. Rasa penasaran kami tiba-tiba terbayar ketika kami sama-sama mendengar suara langkah kaki dari dalam apartemen. “Hah? Benar tidak apa-apa aku tidak membantu?” “Tidak. Lalu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen berpandangan dan mulai bertanya-tanya mengapa Aya belum membuka pintu apartemennya. pintu apartemen itu terbuka dan kami melihat teman kami. Kini aku menurunkan kantung belanja yang aku jinjing di tangan kananku lantas menekan sekali lagi bel tersebut. “Coba tekan belnya sekali lagi. “Tom. di belakang pintu itu. “Mmm. kan?” Aya sedikit bergeser ke sebelah kanan dan mempersilahkan kami masuk ke dalam apartemennya.. Kami juga membeli lebih kalau kamu ingin memasaknya lagi. Perlahan. Agak mengherankan memang ketika sebuah rumah tidak halaman 8 dari 83 halaman . Biar wanita saja yang memasak di dapur. Mungkin itu wortel. Setelahnya. kami berdua mulai memasang telinga baik-baik. “Kalian sudah membeli tepung okonomiyaki-nya juga.

“Jarang sekali Aya mengundang temannya datang ke sini. dan Aya. Rambutnya pendek dan tingginya hampir sejajar denganku. Ryo. Ryo mengalihkan pandangannya ke arah Aya dan mulai mengangguk-angguk. Ketika ia mulai melangkah masuk. “Teman SMA?” Ryo mulai melangkah mendekat. Rei juga melakukan hal yang sama.” “Bahkan tidak ada foto Ryo satu pun di sini.. Sementara itu. Tom dan Rei. Ia lalu tersenyum kepada kami. Hanya sesekali ia memandang Rei. “Aku... Tom? Sepertinya kamu memarkirkannya di tempat orang lain.” Benarlah ternyata laki-laki itu adalah Ryo. Rei. ia pun melepaskan celemek yang ia pakai dan menyampirkannya di kursi meja makan.” halaman 9 dari 83 halaman . Entah mengapa ia terus saja memandang ke arahku. di saat yang bersamaan terdengar bunyi bel pintu. Aku tersenyum sambil menundukkan badanku sedikit. Sepertinya dia belum menyadari kehadiran kami. yaa. Suara bel yang kedua menyusul kemudian. Apakah mobil putih di parkiran bawah milikmu. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah pintu apartemen.. tidak pernah. Ketika pintu mulai terbuka. kulitnya agak sedikit coklat jika dibandingkan dengan warna kulitku. Bersamaan dengan itu.. Namun.. Aku mulai menebak kalau orang itu adalah Ryo. “Apakah itu Ryo?” terdengar suara Rei bertanya dari dalam dapur. Aku saja yang seorang laki-laki masih memajang foto kelulusanku ketika SMA di ruang tengah apartemen.” “Masak?” Laki-laki itu kini membuka jasnya.” Ryo mengiyakan ucapan Aya. Benar juga. Tunggu sebentar. aku mulai merasakan ada sesuatu yang aneh di sini. “Kenapa lama sekali kamu membuka pintunya?” laki-laki itu mulai memasuki apartemennya. “Hmm.” “Mereka teman SMA-ku. dari kejauhan aku melihat seseorang mengenakan setelan jas di luar sana. “Mereka.” aku menambahkan tanpa mengindahkan jawaban terbata-bata yang dilontarkan oleh Aya. Matanya memandang kami penuh dengan rasa penasaran. Lalu. Ryo. “A. Kemudian.. entah mengapa suasana menjadi sedikit tidak nyaman. aku berpikir ada baiknya kamu juga mulai mengenal teman-teman baikku. Senyuman yang disunggingkan Ryo seperti dipaksakan atau bahkan sebenarnya Ryo tidak menyukai kehadiran kami sejak awal. “A. iya.” Aya dengan segera keluar dari dalam dapur kemudian disusul oleh Rei. Kini.” Aya mulai berusaha mencairkan suasana. “Yaa. “O..” bersamaan dengan itu ia kembali membuka kunci pintunya..” ucapnya dengan suara yang sedikit berat... “Mungkin.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen dihiasi paling tidak satu foto pemiliknya. Laki-laki berperawakan tegas. langkahnya langsung terhenti ketika melihat kami di ruang tengah.. Sebaiknya di pindahkan saja. Bahkan. sedang memasak. yaa.

Ketika kami sampai di parkiran sekitar lima belas menit yang lalu. aku pun segera berjalan ke arah pintu apartemen. Dengan cepat aku buka pintu tersebut dan mendapati Aya tersungkur di lantai ruang tengahnya. Mimik wajahnya berubah menjadi sangat khawatir.. tidak ada tanda-tanda bahwa kami memarkirkan mobil di tempat yang salah. “Ini bukan urusan kalian!!” Kini Ryo mengarahkan pemukulnya kepadaku dan mulai memukulnya kepada secara membabi buta. Tiba-tiba aku dengan refleks mencoba memutar kenop pintu dan ternyata pintu itu tidak terkunci. Ryo juga mengarahkan tendangan kakinya ke arah tubuh Aya yang sudah tidak berdaya. Sementara itu. Aku berusaha menghindar. Rei juga berlari memasuki ruangan dan langsung memeluk Aya yang masih tergeletak di lantai. “Kalau begitu aku ke bawah dulu. “Apa yang kamu lakukan?! Apa kamu sudah gila?!” aku balik meneriaki Ryo ketika kami saling berebut pemukul itu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Masih dikuasai oleh suasana canggung beberapa saat yang lalu. Aku hanya bisa memperlihatkan ekspresi ‘benarkah?’ tanpa berkata-kata. “Sepertinya aku ikut saja ke bawah. Suaranya lirih.. halaman 10 dari 83 halaman . “Sudah aku katakan kamu tidak boleh membawa laki-laki ke apartemen ini!!” kini terdengar suara bentakan Ryo dari dalam apartemen. Ketika Rei mulai menekan bel. Setidaknya tidak ada orang yang menunggu di sana dan mengatakan bahwa kami harus segera memindahkan mobil kami ke parkiran yang lain. “Hei!” aku dengan geram melangkah masuk dan mencoba merebut pemukul baseball tersebut. “Apa yang terjadi?” Rei terlihat syok.” sambil memberikan isyarat kepada Aya.” Kami semakin kuat menggedor pintu tersebut walaupun sepertinya Ryo berusaha tidak mengindahkannya.” Rei pun membuntutiku dari belakang. Langkah kami berhenti di depan pintu apartemen Aya untuk kedua kalinya. Kami kembali menuju apartemen Aya dengan perasaan bingung. terdengar suara sesuatu jatuh kemudian pecah dari dalam apartemen. sebuah lampu kaca sudah terjatuh dan pecahannya menyebar tidak beraturan. Ryo seperti sudah hilang kendali dan ia mendorongku dengan kuat hingga Aku terjatuh. tapi pukulannya yang bersarang di punggungku mulai meruntuhkan kekuatanku. Kami terlonjak kaget dan mulai berpandangan. Ia menangis dan Ryo berdiri sambil mengarahkan pemukul baseball ke arahnya. Kami sontak tercengang dan mulai menggedor-gedor pintu apartemen tersebut sambil meneriakkan nama Aya. Sesaat kemudian kami mendengar suara Aya dari dalam.” “Teman?!” “Maafkan aku. Tidak sampai di situ. Namun. Tidak jauh dari mereka. “Tom hanya temanku.

Sementara itu. Namun.. Ketika itu. Seminggu kemudian. aku dan Rei hanya terpaku saja melihat pemandangan itu.. “Aya.. halaman 11 dari 83 halaman . tanpa pikir panjang. Namun. tanpa sadar Aya sudah berada diantara kami dan berusaha memisahkan kami berdua. Seperti bukan Ryo yang beberapa saat lalu sangat menakutkan. Ketika kami terus berbaku hantam.. Kami bertiga langsung mengalihkan pandangan kami ke arah sumber suara..” suara Aya mulai melemah. Tiba-tiba semuanya hening. Tapi tidak ada respon sedikitpun...BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Ryo! Hentikan!” Aya berteriak keras sambil terus menangis di pelukan Rei.. Aya.” seperti sudah tersadar. Darah mulai mengalir keluar dari balik rambutnya yang sudah acak-acakan. Ryo langsung mendorong Aya ke arah belakang. Ryo mendekati Aya lalu menggoncanggoncangkan tubuh wanita muda itu. Sementara itu isak tangisnya semakin menjadi-jadi. kami melihat Aya tergeletak tidak sadarkan diri dibawah sebuah rak kaca di dekat meja makan. “Aku mohon hentikan.. “DIAM!!” Ryo menendangkan kakinya hingga Aya kembali tersungkur di lantai.. Tangannya mulai menggapai-gapai pergelangan kaki Ryo dan memeluknya. Ryo seakan tidak peduli dan ia kembali balik menyerangku. kami mendengar kabar Aya sudah melewati masa kritisnya dan tidak lama lagi akan segera meninggalkan rumah sakit. PRANG. Tapi. Ryo berada di bawah tahanan polisi setelah Aya menceritakan segala bentuk kekerasan yang dilakukan Ryo kepada dirinya selama mereka tinggal bersama di apartemen tersebut. “Sekarang hentikan semua ini atau aku akan menelpon polisi!” aku berusaha berdiri dan berbalik menodongkan pemukul itu kepadanya. “Aya!!” diiringi teriakan keras dari Rei. konsentrasi Ryo seperti terpecah dan aku menemukan kesempatan untuk merebut pemukul baseballnya. Rei pun mulai menarikku kebelakang agar menjauh dari Ryo. Ryo yang sekarang mulai memeluk Aya dan menangisinya. yang paling melegakan ketika kami juga diberitahukan bahwa Aya memutuskan untuk kembali tinggal bersama kedua orang tuanya.

Orang tua mereka sangat membanggakan dua putri kembarnya itu. Kepala keluarga itu bernama Susanto. Ibu Susanto pun adalah seorang wanita karir yang bekerja di salah satu perusahaan asuransi terkemuka di Indonesia. Saat ini Faris sedang melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas swasta di Jakarta. dan Gina. maka keduanya bisa bersekolah di SMA unggulan yang sama. Gina dan Gisel. direktur utama dari salah satu perusahaan ternama di daerah Jakarta. ibu. Kedua orang tua Faris sangat kecewa dengannnya karena Faris tidak dapat memenuhi keinginan orang tuanya untuk melanjutkan kuliah di halaman 12 dari 83 halaman . kakak tertua dari Gina dan Gisel.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KEKERASAN DALAM KEHIDUPAN Oleh: Glory Meirisa Pakpahan Pada suatu hari di daerah pinggiran kota Jakarta. hiduplah sebuah keluarga yang mapan dan berpendidikan. Gisel. Gisel dan Gina adalah anak kembar yang saat ini sedang meneruskan pendidikannya ke tingkat SMA. Memang pada dasarnya kedua anak itu adalah anak yang cerdas. dan ketiga anaknya yang bernama Faris. Namun lain keadaannya dengan Faris. Keluarga itu terdiri dari seorang ayah. Orang tua mereka ingin sekali kedua anak kembarnya itu bisa bersekolah bersama di SMA unggulan.

Mas Faris sedang dihukum tuan dan nyonya karena di kamar Mas Faris ditemukan rokok dan minuman keras. biasanya ia selalu sms atau paling tidak meneleponku saat akhir pekan. ia mulai bercerita tentang kehidupannya di rumah. maaf ya gw ganggu. Saat itu aku menyarankan kepada Faris untuk membuktikan pada orang tuanya bahwa Faris mampu dan tidak bisa dipandang sebelah mata. Sesekali dari luar aku mendengar suara ribut dari arah kamar Faris.00. Ketika sudah bertemu dengannya. Oleh sebab itu Faris selalu dihukum oleh kedua orang tuanya bahkan orang tua Faris suka melakukan kekerasan pada dirinya. aku hanya dapat bertemu dengan pembantu yang biasa bekerja disana. Untuk menghilangkan rasa penasaranku. Dan kudapati satu buah pesan dari Faris yang berisi. Orang tua Faris sangat memaksa Faris untuk menjadi yang terbaik. Ia tidak bisa memenuhi keinginan orang tuanya untuk masuk perguruan tinggi negeri. Aku mulai curiga dengan keadaan Faris. “Pagi. sahabatku. Ia merasa seperti benalu dalam kehidupan keluarganya. namun Faris tidak bisa memenuhi segala keinginan orang tuanya. Nasib Faris cukup dibilang kurang beruntung. Aku mendengar suara ayah Faris dan ibunya yang sedang membentak Faris. Ketiaka sampai dirumah Faris. Dua hari setelah aku mendatangi rumah Faris. Aku pun bertanya. aku pun memutuskan untuk kembali pulang. Aku pun sedih mendengar kesaksian dari Faris. Dua minggu berlalu dan aku tidak mendapat kabar dari Faris. Faris merasa malu. Saat itu Faris hanya bercerita bahwa ia sangat tidak dihargai di rumah. aku pun berniat mendatangi rumah Faris yang tidak terlalu jauh dari komplek rumahku. Akhirnya pada malam itu pun aku menemuinya. tidak dapat lulus S1 dalam waktu 4 tahun. lo mau ga ketemu gw siang ini ditaman deket komplek humz gw?” Cepat-cepat aku membalasnya dan setuju untuk bertemu dengannya.” Saat itu aku merasa terenyuh dengan keadaan Faris. Pukulan yang diberikan ayahnya pun sudah halaman 13 dari 83 halaman . ia selalu diremahkan dalam keluarganya. Namun saat ini Faris bener-benar menghilang bagai ditelan bumi. “ Mbak. Farisnya ada?” Lalu si Mbak menjawab “Maaf Non. aku dan Faris mengakhiri pertemuan malam itu dan berharap semoga Faris bisa menjalani kehidupannya dengan sabar. aku sangat memehami apa yang ia rasakan. Hingga suatu ketika ia meneleponku dan mengajakku untuk bertemu di salah satu cafe. Mereka lebih menyayangi Gina dan Gisel karena menurut mereka Gina dan Gisel tidak membuat malu nama keluarga mereka. Goresan ikat pinggang pada badannya sudah menjadi hal yang biasa. Klo lo ada waktu. Karena aku tidak ingin terlalu banyak ikut campur.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen universitas negeri. dan selalu menjadi bahan pembicaraan rekan-rekan di kantor ayahnya. ia merasa rendah dan tak berguna bagi keluarganya. baik lewat telepon atau sms. tiba-tiba handphone-ku berdering. Waktu terus berjalan hingga pukul 21. Kedua orang tuanya pilih kasih.

menangis. supaya ia tidak menyia-nyiakan hidupnya dan tidak merusak tubuhnya dengan benda-benda haram itu. Ia ingin marah. Kekerasan yang dialami Faris bukan kekerasan yang baru terjadi sesekali ini. melainkan kekerasan hanya dapat menimbulkan masalah baru. halaman 14 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen jadi makanan Faris setiap hari. dan merasa rendah. Saat itu aku hanya bisa memberi dorongan dan semangat pada Faris. Faris memang harus berbicara pada kedua orang tuanya secara baik-baik tentang masalah yang dihadapinya. Dan menjelaskan pada kedua orang tuanya bahwa kekerasan bukanlah menjadi kunci dalam suatu permasalahan. Sungguh perasaan Faris bercampur jadi satu. tapi sejak Faris duduk di bangku sekolah dasar ia memang sudah mendapat kekerasan dari ayahnya. Dan mungkin jika ada waktu yang tepat. Sehingga pada minggu yang lalu Faris merusak tubuhnya dengan mencari pelampiasan seperti rokok dan alkohol.

Jawabannya adalah aku tidak lagi mencintaimu. “Ada apa? Apa yang terjadi? Bukankah masalah kita sudah selesai. “Iya.” Rani. Menunggunya yang tak juga menghampirimu walaupun sudah sejam berlalu. memang sudah selesai. Kau pun bertanya. Setelah ribuan masalah yang telah kau hadapi bersamanya. Dan aku pun mencintainya!” halaman 15 dari 83 halaman .” “Kenapa? Dengan cara apa?” kau pun bertanya dengan hati bergetar. tapi tak tahu terasa ada yang berbeda.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen DIAZ DAN ANWAR Oleh: Indah Permata Sari Kau berdiri di sana. Tapi aku telah banyak menyakitimu dan akan terus menyakitimu. di sudut ujung jalan. Dan dia pun sudah merenggut keperawananku. Kau pun diam tak tau ingin bicara apa. Akhirnya kau tak sabar dan menghampirinya. “Hai. Tanpa sadar aku mencintai ayahmu yang sudah tak beristri itu. Tapi dia yang kau ajak berbicara hanya menjawab sapaanmu dengan air mata yang tumpah ruah tak ada tara. kini masalah sudah selesai. Kau memulai sedikit kata. Aku tahu sekarang jawabannya. wanita yang kau sapa itu menjawab. “Setelah ribuan masalah datang menghampiri kita.” Kau pun memulai pembicaraan.

Nasi telah menjadi bubur. ya Tuhan? Apa yang harus kulakukan? Inikah balasan untukku yang telah menjaga dengan baik belahan jiwaku?” Kau berteriak seperti tak berakal. Dan kami bahagia menjalani hubungan sesama jenis ini. Lima tahun kemudian. Kau harus memanggil mantan kekasihmu Rani dengan sebutan 'Ibu'.” Ayahmu memaksa kamu untuk menerima kenyataan pahit ini. Dan itu kau lakukan dengan ayah kandungku sendiri. Rani menghilang bersama ayahmu. “Diaz. semua kau ingat dengan jelas. Ingin rasanya kau membunuh ayahmu sendiri. “Jadi selama ini kamu menghianatiku. Yoga. Dan mulai hari ini kami akan tinggal bersamamu. kenalkan. Dan kini kau menjalin hubungan cinta bersamaku tanpa sadar. Dan menerima adik barumu. Tanpa merasa berdosa mereka mengenalkan adik barumu Yoga. Yang telah merenggut belahan jiwamu yang sedari dulu kau jaga. Kau pun melanjutkan hidupmu seperti biasa walaupun setiap harinya hatimu hancur tak terkira. Setelah kejadian itu. Rani dan ayahmu kembali. Kau tak bisa berbuat apa-apa lagi. Yoga. ”Aku harus berbuat apa. halaman 16 dari 83 halaman . Tapi apa daya. Bersamaku. Beruntung ujung jalan sedang sepi tak ada satu pun orang. seakan tak mampu menahan langit yang mulai bergeming. JAHANAM KAU! BEDEBAH KAU! SAMA SAJA DENGAN AYAHKU!” Kau pun membelalakkan mata dan air mata pun tumpah tak terkira. tapi ternyata hubunganmu dengan Rani membuatmu trauma menjalani hubungan.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Bumi serasa berguncang. Ini adik barumu. Sudah lima tahun kau tidak mendapat pengganti Rani. Anwar. Tak ada kejadian pun yang kau lupakan. Hanya kicauan burung di beberapa pohon besar.

hatiku sangat gembira. Sejujurnya. pikiranku selalu tentang Yumi. di sebrang telepon. kami diterima di fakultas yang sama. sudah lama aku menunggu hari ini. Selama perjalanan aku ke tempatnya. Jarang sekali Yumi meneleponku enam bulan terakhir ini. Yumi adalah gadis yang sangat cantik. Penampilannya yang halaman 17 dari 83 halaman . Kebetulan rumah kami berdekatan maka kami jadi semakin akrab. Kami terlibat dalam satu klub ekskul softball di sekolah kami. Aku mengenalnya sejak SMA. karena aku akan segera menghampirinya. Dia adalah gadis yang paling mendekati sempurna menurutku.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen YUMI Oleh: Indra Puspita Kusuma Aku terkejut ketika mendapati tulisan nama yang berkedip-kedip tanda ada seseorang menelepon ke telepon genggamku. memberikan bahuku untuknya dan menghapus air matanya. Selain prestasi akademiknya yang tinggi. Tetapi. prestasi non-akademiknya juga sangat memuaskan. suara isak tangisnya membuatku tidak tega dan segera ingin datang kepadanya. Sejak dia mulai berpacaran dengan Kibum. Bisa dibilang dia adalah sahabat dan orang yang selalu ingin aku lindungi. Tak disangka sekarang ini. Aku pun berkata padanya untuk tetap tinggal di tempat dia berada. Dia menjelaskan bahwa dia memergoki Jun selingkuh dengan gadis lain. cerdas dan juga ceria.

Di perjalanan. Kami menuju kafe teh langganan kami itu dengan berjalan kaki.” lanjut Yumi. Aku masih tak percaya posisinya sekarang adalah di dalam pelukanku.” jawabnya sambil tersenyum. aku melihat mobil Kibum di depan taman. Sesampainya di kafe tersebut. Ia mulai menangis lagi. “Jika kau masih mencintainya. kebetulan memang tidak terlalu jauh. “Hmm…boleh juga. Dia terdiam dan tetap terlihat cantik. Aku mengerti. “Kau tidak pantas menangisi lelaki macam dia. mungkin ada baiknya kau tanyakan dulu kepadanya. Tangisannya reda tetapi air matanya masih keluar. “Kau mau teh?” tanyaku. suaranya mulai bergetar dan matanya mulai berair. Minho. Lalu ia bertanya lagi. “Ini teh mu. Minho? Aku sangat mencintai Kibum. Aku sudah hafal teh yang biasanya dia pesan. Aku memegang tangannya. Terima kasih.” Terpaksa aku berbohong. Seluruh keluarga besarnya ada di Seoul. aku duduk disebelahnya dan memeluknya. “Apakah kau sudah siap untuk menceritakannya?” tanyaku.” jawabnya. Matanya masih berkacakaca. kau akan melupakan ini semua. aku mencoba menghiburnya sedikit dengan lawakan-lawakan garingku.” ulangnya lagi.” jelasku. bagaimana jika kita cari minum untukmu?” Yumi pun tersenyum dan mulai berdiri.” gumamnya “Apakah kau yakin itu bukan sepupu Kibum?” tanyaku “Yakin! Hanya keluarga dia yang ada di Jakarta.” Aku berlutut didepannya dan mencoba menenangkannya. Ketika aku sampai di taman itu. Dia terdiam sejenak. “Wah. “Aku melihat Kibum didalam mobil dengan gadis lain. aku menyuruhnya untuk duduk saja. aku lihat Yumi duduk tertunduk di ayunan yang tidak bergerak.” Yumi terhenti. Karena aku tahu itu akan menyakiti hatinya. Tetapi lelaki ini ternyata juga berhasil melukai hati Yumi.” jelas Yumi. “Aku sangat mencintai Kibum…. Hati Yumi pun berlabuh di hati Kibum. Percaya padaku. pasti dia sangat dikecewakan oleh Jun. Aku tidak tega melihatnya. Betapa aku ingin dia segera halaman 18 dari 83 halaman . salah satu senior yang cukup terkenal karena prestasinya di bidang olahraga.” aku menaruh cangkir tehnya di depan dia. Aku sengaja tidak menanyakan kejadian Kibum dulu kepadanya. “Yumi. “Apakah yang harus aku lakukan. “Jangan menangis lagi. Jelaskan bahwa kemarin kau memergoki dia dengan gadis lain. kayaknya itu enak.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen berbeda dari semua gadis seusianya membuat banyak lelaki mengejarnya. “Hhh… Baiklah… Pagi tadi ketika aku mau berolahraga ke taman. Tanya padanya siapakah gadis itu. Kali ini tangisnya deras. Jarak mereka dekat sekali. Aku menghampirinya sambil menyodorkan sapu tanganku kepadanya seraya berkata. kau masih ingat saja dengan teh kesukaanku.

Mereka berjalan berdampingan. aku dikejutkan oleh Yumi yang tiba-tiba datang. “Minho! Sedang apa kau?” sapanya dengan ceria. jangan tangisi dia lagi. mengajaknya mengobrol yang tidak ada hubungannya dengan Kibum. Kau jadi terlihat jelek sekali jika menangis. Yumi yang memang gadis manis yang baik hati menerimanya dan sepertinya dia tidak jadi menanyakan Kibum tentang kejadian kemarin. Mungkin Yumi memang sangat pemaaf. Kibum sedang latihan basket di lapangan basket Fakultas Ekonomi.” “Oke!” “Ya sudah. melewatiku.” candaku. Aku mulai menghibur dia. ya. teh yang kemarin kau belikan untukku belum aku ganti duitmu. Tak lama kemudian datanglah Kibum menghampirinya. “Hahahaha. Yumi pun tersenyum. yuk! Sekalian. Siangnya. “Eh kau. Kau masih ada kuliah sesudah ini?” tanyaku “Hmm tidak ada sih… Kenapa kau menanyakan itu? Mau mentraktirku teh lagi?” tanya Yumi dengan nada iseng. Kibum di mana memang? Kau tidak bertemu dengannya?” “Oh. Oh iya. Sudah lama aku tidak melihat dia berlari di lapangan…” halaman 19 dari 83 halaman . Tapi aku lebih ingin membalas budimu kemarin. Aku hanya tersenyum pada mereka berdua. beli kuenya di toko kue yang ada di Fakultas Ekonomi saja. Ternyata Kibum memberikan Yumi selusin mawar yang telah terbungkus indah. boleh juga. Dan mungkin Yumi benar-benar mencintai Kibum. aku ingin melihat Kibum latihan. “Bisa juga akal bulusnya!” kataku dalam hati. Paginya aku melihat Yumi di taman kampus. Yumi. Aku mencoba bertanya pada Yumi tentang Kibum. aku bereskan barang-barangku terlebih dahulu ya. Aku berhutang kan padamu?” “Berhutang?” “Iya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen mengakhiri ini semua dengan Kibum. “Baiklah. Yumi. Kami menghabiskan waktu di kafe tersebut hingga larut malam. Minho. Mau nggak kalau aku gantinya dengan kue saja?” tanya Yumi dengan senyuman termanis yang pernah kulihat. kami keluar dari perpustakaan bersama.” “Sini aku bantu!” Aku sangat penasaran mengapa dia sangat ceria hari ini. Yumi membalas senyumanku dengan tatapan yang aneh. Kau mau teh?” “Hmmm. Aku ingin menanyakan padanya tentang Kibum. Setelah kami selesai membereskan barang-barangku. “Hmm. ketika aku sedang duduk menikmati internet gratis di perpustakaan. Tapi aku sendiri yang memilih kuenya. “Sudahlah. Aku hanya bermain internet saja.

” kata Yumi. Hatiku bergetar tetapi aku tau dibelakang sana dia sedang menangis. Aku yakin. “Yumi.” “Aku tidak tahu deh. “Minho. tatapannya terpaku pada sesosok yang berada di lapangan basket. Matanya masih tertuju pada sosok Kibum.” Ya. “Aku masih mencari waktu yang tepat. Yumi yang kubonceng.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Baiklah. Mau kan?” Yumi mengangguk. Aku juga ingin makan kue coklat yang dijual di toko itu. Tiba-tiba ia berkata padaku. Yumi langsung turun dan menuju ayunan. hanya suara angin yang terdengar di telingaku.” tiba-tiba Yumi seperti dikejutkan oleh sesuatu. “Hmm Yumi.” air mata Yumi pun mulai menetes. Aku mengantarnya pulang menaiki motorku. aku tak bisa bertemu Kibum sekarang. aku akan selalu melindungi mu. Hatiku sakit melihat Jun dengan gadis itu. aku mengajaknya segera pergi dari tempat itu. gadis yang kita lihat tadi. Aku mengikuti arah matanya dan mendapati dua sosok manusia yang sedang duduk berdampingan dengan romantis di pinggir lapangan basket. bisakah kau mengantarku kesana?” Aku segera melajukan motorku ke arah taman. “Bukannya kau luluh karena diberikan seikat mawar tadi pagi?” “Kau melihatnya. Di perjalanan hening. Aku berhenti mendorongnya dan berlutut didepannya. memelukku dengan erat. “Apakah kau mau menanyakan pada Kibum sekarang?!” tanyaku dengan tegas. Jelas sekali itu adalah Kibum dan mungkin dengan wanita yang kemarin dipergoki oleh Yumi. Aku akhirnya memberanikan diri bertanya tentang kelanjutan dia dan Kibum. Makanya aku tidak pernah mau menemani Yumi jika ia mau melihat Kibum latihan. “Bisakah kau mendorongku?” Aku mendorong ayunan itu dengan pelan. Aku tahu apa yang dipikiran Yumi.” “Dasar kau. aku tak suka melihat Yumi dengan Kibum. “Kau pasti mengira aku sangat pengecut. “Yumi. Biasanya kau tak mau menemaniku. ada sesuatu yang mendorong hatiku untuk tetap menemaninya saat ini. Tetapi entah mengapa. Aku tidak mengerti lagi harus bagaimana ke Kibum. Di taman. Tapi yang pasti aku akan menanyakan pada Kibum jika…. “Minho. Aku bingung. Aku tidak akan merelakan kau halaman 20 dari 83 halaman . aku antar kau pulang ya.” jawabnya. Aku tak ingin Yumi kembali menangis. kau mau nanya apa?” “Bagaimana jadinya kau dengan Kibum? Kau sudah tanyakan padanya?” Yumi terdiam. aku boleh bertanya nggak?” “Boleh. Aku melihat Yumi kembali. Ekspresi mukanya berubah. adalah gadis yang sama dengan gadis yang aku lihat kemarin. Dia diam tak berkutik. Minho?” “Ya aku melihat kalian dari kejauhan. aku ingin ke taman. Minho! Giliran mau dibeliin kue aja langsung semangat deh.

Setidaknya. Aku menjemputnya setiap pagi di taman adalah kebiasaan kami dulu. bahwa aku tak pantas menangisi lelaki seperti dia. Aku makin tersentak. Kamu selalu lupa sarapan. “Pagi Minho! Tolong jemput aku di taman ya :D” Betapa senangnya hatiku mendapat SMS dari Yumi. Yumi masih belum berpacaran dengan Kibum. Walau tanggapan Yumi tak sesuai dengan apa yang ingin ku dengar. Ayo kita duduk di kursi itu. Tetapi aku memutuskan untuk diam saja dan menikmati makanan yang ia buatkan untukku.” Aku tersenyum. Aku jadi ingat ketika dahulu. Kebiasaanmu itu dari dulu tak pernah berubah! Ini aku membawakanmu susu dan sandwich yang aku bikin sendiri. jangan bengong dong…” “Eh. Aku segera mandi dan berpakaian. Isinya. tidak kok.” jelasku.” “Waduh. dia bosan denganku. Dia bengong. Yumi tidak menjawab lagi. “…dan aku juga merasa. “Yumi. “Maaf ya. Minho. “Semalam. Kau sudah lama ya menungguku?” “Oh.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen terluka karena siapapun.” kata Yumi. “Sandwichnya enak…. Yumi melambaikan tangannya padaku lengkap dengan senyum manisnya. benar. “Apa yang ia lakukan dirumahmu?” “Dia mengakhiri hubungan kita. Yumi.” jawab Yumi seraya tersenyum.” “Kau kenapa sih?” tanyaku. selama ini kau yang selalu setia mendampingiku. Aku mulai mendorong ayunannya lagi. Aku sudah cukup menangisinya semalaman. mengapa aku jadi membuatmu repot begini?” “Ih tidak apa-apa kok. Walaupun selama aku berpacaran dengan Kibum. Kau memang sahabatku yang paling aku sayang. Kau makan ini dulu ya. Keesokan harinya. “Dia bilang. di saat aku senang dan susah.” kataku sambil melahap sandwich itu. Kibum kerumahku. aku dapat menjadi tempat yang nyaman untuknya. aku melihat Yumi berdiri sendiri membawa tas dan menurutku dia sangat cantik. hehehe. Kau pasti belum sarapan kan?” “Ah kok kau tahu saja?” “Tuh kan. Aku teringat katakatamu.” Aku benar-benar curiga mengapa Yumi berubah seperti dahulu lagi. aku mendapatkan SMS dari Yumi. maaf. Minho. Ia mulai tak bisa menahan tangisnya.” “Benar?” “Ya. tapi aku masih bisa menahan diri. Sesampainya di taman. kita halaman 21 dari 83 halaman .” Aku tersentak. Aku bersyukur Yumi mengingat perkataanku. Apakah Kibum gila?! “Apa alasan Kibum???” tanyaku. Aku juga belum lama datang. “Terima kasih. Aku malah senang.

cinta lama akan terhapus oleh cinta baru.” lanjutnya. *TAMAT* halaman 22 dari 83 halaman . “Apakah kau yakin kau sudah bisa melupakannya?” “Ya. rasa sayangku untukmu. yang selalu berada disampingmu. Sekarang. dan aku merasa nyaman. “Yumi. lebih dari sekedar sahabat….” Aku mengecup bibirnya. Sepertinya. lihat aku.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen tidak terlalu sering bertemu dan berkomunikasi.” Aku menggenggam tangan Yumi dengan erat. aku selalu bisa menjadi diriku sendiri. Tetapi aku bisa merasakan kau selalu siap menemaniku. Menghapus air matanya dan berkata. Percayalah padaku. setiap aku bersamamu. aku akan selalu ada selamanya untukmu.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KAU BUKAN AYAHKU Oleh: Intan Puji Lestari Di malam itu gue jalan sendiri pulang dari kampus...—Lengkap banget deh itu mama-mama kayaknya. urusan orang yang udah berumah tangga mah beda sama urusan orang kuliah kayak gue. mikirnya masih pacaran gitugitulah. Wah. dan satu yang penting jago masak! Hahaha. makan dikit. Nah ternyata gue inget kalo hari itu gue ada janji mau ke rumah temen gw. Hehehe. ga mau gue pikirin. Sampe-sampe gue anggep dia kaya mama gue sendiri. trus langsung cabut lagi. ramah. Bukan urusan gue juga kayaknya. Orangnya baik. dan menutup pintu dengan kencang. Tanpa pikir panjang. ah. Sari namanya. Tiba-tiba Ayahnya Sari datang dan langsung masuk ke dalam rumah. belom mikirin keluarga jadinya. dingin pula. Mamanya Sari udah kenal banget sama gue. Gue paling yaa. Tapi di hari itu. gue langsung cepet pulang ke rumah. dan gw nggak bawa jaket. suasana sepi. Tatapannya kosong. gue ngeliat ada yang beda dari raur muka Mamanya Sari.. Setibanya gue di rumah Sari. Mungkin karena malas atau ribet ya. dan ada semacam bekas merah2 deh di tangan dan mukanya. gue pikir pasti ada yang gak beres nih antara halaman 23 dari 83 halaman . Ah. gue langsung dipersilahkan masuk sama Mamanya Sari.

Akhirnya gue langsung keluar dan menuju teras belakang. pantesan aja dari tadi gue liat tangannya Nyokapnya Sari penuh merah-merah di mana-mana. trus gue liat juga di pahanya banyak tanda2 yg sama seperti yang gue liat di tangannya si Tante. tatapan mukanya juga sinis banget. Gue ngintip dari sela-sela sofa dan nyoba buat dengerin apa yang diomongin sama si Om. kalo Tante lagi ada masalah sama si Om. dan akhirnya gue sibuk chating-chatingan sama pacar gue. eh dia diem aja sambil ngelamun. nanya ke nyokapnya. karena kejadian ini ya. Namanya juga orang kantoran. di sampingnya udah ada vas bunga yang pecah. Gue nyapa dia tapi kayaknya dia gak menanggapi dan pasti karena mungkin dia kecapean kali ya. dan dia cuma ngeliatin foto dia sama Bokap dan Nyokapnya waktu liburan. Tapi dia kayak orang gila gitu. Tante. dan mengajak Nyokapnya ngobrol di teras belakang.” Gila! Ga tega gue ngeliat Nyokapnya Sari yang ngomong sambil terbata2 nangis begitu sama gue. Wah gilaaa. Pelan2 gue deketin si Sari. tapi dia tetep aja diem sambil terus ngelamunin foto keluarganya itu. “Sabar ya. gue tanya ada masalah apa antara Bokap dan Nyokapnya. tinggal Nyokapnya si Sari yang ada sambil nangis. kayaknya itu abis dilempar deh sama si om. Gue langsung ke kamarnya Sari.” Pokoknya gue bikin supaya dia bisa kehibur deh. Gue ga ngerti apa yang diomongin antara mereka berdua. Tanpa mikir panjang. ada orang yang setega itu halaman 24 dari 83 halaman . Baru gue mau deketin dia. trus tangannya si Tante langsung dipukulin. Lagi asik chating sama pacar gue. Tante minta maaf sama kamu. Gue tanya sama dia. dia langsung ngomong gini sama gue. dari cara Bokapnya Sari ngeliat istrinya. Hahaha. tatapannya kosong. Sambil gue bisikin. GUMPRANG!! Dari teras belakang. Ga enak kalo sampe Mama sama Papa kamu tau kejadian ini. dan langsung ninggalin itu rumah. Tante lagi ada masalah sama si Om. Kayaknya ini orang kebanyakan nangis deh. dan ngeliat tuh anak lagi diem aja di atas kasurnya. Tiba2 Bokapnya Sari keluar dari kamar. Di jalan gue mikir terus. langsung gue peluk Nyokapnya si Sari. Trus gua liat Nyokapnya Sari udah duduk sambil nangis. dan ternyata Nyokapnya Sari lagi nangis!! Wah gak salah lagi pasti ada masalah antara mereka berdua!! Ya udah tanpa gue pikir panjang. kenapa ya. Gue liat si Om udah ga ada. Tiba-tiba gue inget sama keadaan si Tante yang di luar. Tante ga mau kamu ngeliat kelakuan si Om yang udah jahat sama Tante dan Sari. kayaknya kesel gitu deh. (Gue yakin si Om udah ngelakuin hal yang ga pantes dilakuin seorang bapak pada mestinya). Oh iya kamu jangan cerita ke siapa2 ya. gue mulai curiga deh. gue denger suara.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen mereka berdua. gue langsung pamitan sama Tante. “Mendingan kamu pulang aja ya. Trus gue mulai memberanikan diri. Dan yang gue kagetnya. Gue liat matanya udah item. si Om ngeluarin gesper yang tadi dia pake kerja.

ga usah dipikirin orang kayak gitu. Harusnya sebagai ayah yang baik. Gue bersyukur sama Allah. mukanya udah kembali ceria seperti dulu. Dia cerita banyak banget ke gue. jangan malah dikasarin istri dan anak2 nya. Hari2 gue lewatin tanpa hadirnya seorang teman baik gue. halaman 25 dari 83 halaman . dan langsung diproses secara hukum. At lease sekarang gue udah bisa ngeliat temen gue senyum dan ceria kayak dulu lagi. dia cerita kalo Ayahnya ternyata lagi stress berat karena ada masalah di dalam kantornya. Nyokapnya Sari ngelaporin suaminya itu ke polisi. susah2 cari duit buat keluarga. karena gue dikasih keluarga yang baik2 aja. Sebenernya gue kasian juga sama Bokapnya si Sari. tapi malah digituin keluarganya. Gue jadi kasian sama Sari karena dia juga jadi korban kegilaan bapaknya sendiri. kayaknya dia udah bisa ngelupain kejadian yang menimpa keluarganya itu deh. kayaknya dia masih syok sama kejadian yang menimpa keluarganya. dan alhamdulillah jauh dari masalah yang seperti ini. tapi mau gimana lagi. yaitu Sari.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen sama keluarganya. Besoknya gue liat Sari nggak ada di kampus. harus bisa ngejagain keluarganya. dan karena Nyokapnya Sari ga kuat dengan perlakuan kayak gitu. Tiga hari kemudian gue liat Sari nongol di kampus dan langsung cerita banyak sama gue. Yah ya udahlah.

Sekolah ini memang sudah terkenal dengan tradisi bulying atau kekerasan pada junior-juniornya sejak 10 tahun terakhir. sebut saja kelompok Gorazper. Di akhir istirahat. baik perempuan maupun lelaki. Kami mulai mengumpulkan temanteman seangkatan sesuai dengan jumlah yang diminta oleh senior yaitu sekitar 40 orang. Ternyata Radit juga tertarik untuk masuk ke dalam kelompok tersebut. halaman 26 dari 83 halaman . Senior Gorazper menunjukkan sikap yang baik dan ramah kepada kami para junior. Setelah diberitahu segala sesuatunya. dengan memberikan tempat duduk di kantin saat jam istirahat yang penuh sesak. Namun hal itu tidak mengurungkan niat saya untuk menjadi siswa di sekolah ini dan juga bergabung dengan kelompok yang terkenal dengan tradisi bulying-nya berlandaskan ingin mendapat pengalaman yang lebih. Saya dan Radit mulai menanyakan mekanisme perekrutan kepada senior di sekolah yang pada waktu itu duduk di bangku kelas 3 SMA. saya langsung kenal dengan Radit dan kami menjadi teman yang bisa dibilang dekat.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KELUARGA DAN SEKOLAH Oleh: Irvanuddin Rahman Cerita ini berawal saat saya menjadi siswa baru di salah satu SMA Negeri ternama di bilangan Jakarta Selatan. bahkan ada yang rela berdiri memberikan tempat duduknya. Singkat cerita. Tetapi bulying pada junior perempuan sudah tidak pernah lagi ada sejak 3 tahun terakhir.

Selang 10 menit kemudian. Radit bercerita setelah Ayahnya bercerai dengan Ibunya dan dipecat dari perusahaan Lapindo Brantas. Pernah suatu kali saya mengunjungi rumah Radit untuk sekedar menghabiskan waktu sepulang sekolah dan juga dengan dua orang teman lain yaitu Rama dan Amar. selain di sekolah dia juga mendapat perlakuan kasar di rumahnya lantaran ayahnya yang sering memukulinya karena kesalahan-kesalahan sepele Radit. Lalu Radit mengambilkan minuman sirup kepada saya dan yang lain. Keesokan harinya di sekolah saya ingin sekali menanyakan apa yang terjadi pada Radit. dengan sepeda motor saya. Begitu juga sepulang sekolah. saya pun tercengang dan kaget apakah itu suara Radit atau bukan. Kesempatan itu saya gunakan untuk menanyakan hal yang terjadi tempo hari di rumahnya kepada Radit. sikap baik itu berubah 180 derajat menjadi sikap yang sangat beringas dan tidak berkeprimanusiaan. Kekerasan yang saya dan teman-teman saya alami memang sama. namun kegiatan siswa baru sangat sangat disibukkan dengan kegiatan ini itu sehingga tidak memungkinkan saya berbicara dengan Radit. keadaan keluarganya sangatlah berantakan. Dia meceritakan kisah hidupnya panjang lebar. namun lain halnya dengan Radit. Radit berasumsi bahwa Ayahnya mengalami gangguan jiwa dan saya juga halaman 27 dari 83 halaman . tidak lama kami di rumah Radit. kamipun berpamitan dan pulang. Saya langsung menanyakan apa yang terjadi namun Radit hanya terdiam sambil menggelengkan kepalanya. Karena suasana yang garing dan tidak bersahabat. Hingga pada suatu hari kami angkatan 2009 disuruh berjualan bunga untuk keperluan pencarian dana acara pensi sekolah.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Radit yang sudah dikenal di kalangan senior diminta untuk menjadi koordinator angkatan 2009 dalam hal perekrutan/inisiasi/penataran dan lain sebagainya. Radit dan kawan-kawan yang lain segera bergegas menuju tempat yang ditentukan dan langsung berjualan. Dan seperti itu juga pada tataran-tataran berikutnya. di sela-sela berjualan itu kami diberikan waktu istirahat oleh para senior. Radit keluar dari kamar dengan wajah pucat dan mata yang berkaca-kaca. Namun saat penataran pertama. Ibunya tidak pernah mendatanginya lagi bahkan mungkin Ibunya tidak tahu apa yang terjadi sekarang terhadap Radit dan Ayahnya. Akhirnya Radit menceritakan semuanya kepada saya namun dengan syarat hanya saya yang boleh mengetahuinya. Setelah itu Radit dipanggil ke kamar Ayahnya lalu terdengar suara orang memukul dengan benda keras dan suara orang merintih kesakitan. Keadaan seperti itu hampir setiap hari dirasakan. Saya dan Radit kedapatan bagian berjualan di daerah Kemang. Rupanya kekerasan yang dialami oleh Radit ialah karena keadaan keluarganya yang broken home dan juga Ayahnya yang baru menjadi korban PHK karena kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo yang sampai saat ini tidak jelas penyelesaiannya. langsung disuruh kumpul di tongkrongan oleh senior-senior Gorazper dan lagi-lagi mendapat kekerasan.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

berfikiran begitu karena tindak kekerasan yang dialami Radit disebabkan permasalahan sepele, seperti misalnya tempo hari Radit memberikan sirup kepada saya, Rama dan Amar, ia langsung dipukuli oleh Ayahnya dengan balok yang selalu ada bersama Ayahnya kemanapun Ayahnya itu pergi. Alasan yang diceritakan Radit kepada saya membuat saya sangat kaget sekaligus prihatin karena hanya karena mahalnya harga sirup dan menurut Ayahnya tidak sepantasnya kami teman-teman Radit disuguhkan sirup, cukup dengan air putih saja. Saya benar-benar terpukul saat Radit menceritakannya, bukan karena saya tidak terima diberikan air putih tetapi cara Ayahnya itu yang benar-benar tidak wajar. Saya dan Radit menghabiskan malam itu dengan cerita sedih yang dialami Radit sampai saya mengantarkannya pulang. Di rumah saya selalu kepikiran kisah Radit dan saya benar-benar bersyukur mempunyai keluarga yang sakinah dan rukun. Namun muncul dalam hati saya keinginan untuk menolong Radit sebagai sahabat. Tetapi saya bingung bagaimana cara saya menolongnya. Saya berfikir bahwa Ayah Radit perlu rehabilitasi untuk kembali menyadarkan jiwanya dan menyembuhkan jiwanya dari gangguan jiwa yang dialaminya akibat stres. Saya menceritakan hal tersebut kepada teman-teman dekat saya tanpa sepengetahuan Radit, namun lama kelamaan berita itu menyebar di angkatan 2009 walaupun tidak semuanya tahu tetapi realtif banyak yang tahu dan tetap tanpa sepengetahuan Radit. Kami pun berinisiatif untuk mengumpulkan dana swadaya untuk membantu Radit dan keluarganya karena mengingat juga banyak sekali kontribusi Radit dalam hal mengompakkan angkatan, membela angkatan di depan senior dan tidak jarang pula Radit menanggung dampak dari kesalahan yang diperbuat angkatan seperti misalnya jumlah orang tidak sampai batas minimal yang ditetapkan senior saat menjadi supporter pertandingan basket sekolah kami dengan sekolah lain, dan sebagainya. Kami pun diam mengumpulkan dana swadaya tersebut secara diam-diam tanpa sepengetahuan Radit agar dia tidak minder dalam bergaul. Memang agak susah mengumpulkan uang yang diperlukan karena pasti sangat besar jumlahnya, maka dari itu kami membutuhkan waktu yang lama untuk mengumpulkan uang sampai target. Seiring waktu berlalu, Kekompakan angakatan kami semakin timbul dan setiap permintaan dari senior untuk menambah jumlah orang yang ikut dalam kelompok Gorazper tidak pernah gagal. Dari 40 orang, menjadi 50 orang, dan terakhir para senior meminta harus ada 60 orang saat tataran berikutnya. Hal yang sangat sulit tentunya bagi kami untuk mengumpulkan sebanyak itu, namun lagi-lagi berkat kemampuan Radit akhirnya kami dapat menggenapkan jumlah kami menjadi 60 orang di tataran berikutnya. Tidak terasa waktu terus berlalu dan hampir tiba saat pelantikan angkatan baru Gorazper yang notabennya adalah angkatan kami, angkatan 2009. Malam pelantikan itu diawali dengan acara menonton bareng di bioskop di salah satu mall di bilangan Pondok Indah, Jakarta Selatan dan ditutup dengan acara pelantikan di sebuah jalan yang biasa menjadi tempat tongkrongan anak-anak remaja seumuran
halaman 28 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

kami. Dan malam itu menjadi malam yang sangat ditunggu-tunggu oleh saya, Radit dan juga teman-teman 2009 lainnya karena setelah malam pelantikan itu kami sudah resmi menjadi anggota Gorazper dengan membawa angakatan 2009 dan itu artinya tidak ada lagi penindasan-penindasan yang selama kurang lebih satu tahun kami alami. Benar-benar malam yang sangat menyenangkan, terlebih bagi Radit, karena di malam itu juga kami memberikan bantuan yang berupa dana yang selama ini kami kumpulkan untuk membantu Ayah Radit. Perasaan kaget bercampur bahagia sangat terlihat dari raut wajahnya saat saya menyerahkan amplop berisi uang itu kepadanya. Semoga malam itu benar-benar menjadi malam terakhir bagi Radit mangalami kekerasan baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan keluarganya.

halaman 29 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

LIBURAN LEBARAN
Oleh: Jodia Pravita Dini

Liburan

ini, aku dan keluargaku akan berlibur ke Makassar tempat Tanteku. Pagi ini aku berangkat ke Makassar, aku dan keluargaku segera bergegas ke bandara pada pagi hari. Sesampainya di Bandara Hassanuddin, Tanteku dan keluarganya menjemput dengan menggunakan mobil keluarga. Rasanya rindu sekali karena sudah lama tidak bertemu mereka. Tujuanku kesana adalah melihat kedua sepupuku yang masih kecil, Andrew dan Darrent namanya. Tetapi aku lebih dekat dengan Darrent. Darrent adalah anak kedua Tanteku, wajahnya mungil dan menggemaskan. Ekspresinya polos saat aku memberinya sebuah coklat. Hari kedua di Makassar, kedua sepupuku itu sungguh manis dan tidak cengeng. Tetapi ketika Darrent melakukan kesalahan kecil yang biasa anak kecil lakukan,Tanteku langsung memarahi dan memukulnya. Aku dan Ibuku kaget karena hal tersebut sangat wajar dilakukan anak seumur Darrent. Dia pun menangis tersedusedu dan berlari kearahku. Aku peluk dia, dan tak lama dia bercerita dengan kosa kata seadanya. Ternyata Tanteku sudah sering memarahi bahkan main tangan kepada anak-anaknya. Selama aku di sana memang terlihat sering sekali Tanteku melakukan hal itu. Ibuku sebagai kakak dari Tanteku sudah member nasihat, tetapi tak didengarkannya.
halaman 30 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

Aku hanya bisa diam jika Tanteku melakukan hal itu lagi. Akhirnya aku mengajak Andrew dan Darrent untuk jalan-jalan ke pantai Losari. Mereka terlihat senang dan lepas dari kejenuhan. Aku senang bila sepupu-sepupuku senang.

halaman 31 dari 83 halaman

langsing. aku selalu menceritakannya pada Kinan. dan bisa menemaniku saat susah maupun mudah. Begitu juga dengannya. Saat berangkat kuliah. serta saat aku kesepian. sahabatku. ramah. mencoba melarikan diri dari Ibunya. Sepertinya hidup Kinan sangat sempurna. Kinanti Maharani. serta tubuhnya yang tinggi ramping membuat semua orang tertarik padanya. gayanya yang anggun. Saat aku memiliki masalah. hanya berbeda jalan saja. aku selalu bergantian membawa mobil dengannya. gadis yang saat itu berusia 18 tahun dengan wajahnya yang cantik. wajahnya cantik mirip seperti Ibunya. Tapi ia sudah dekat dengan kehidupan malam. Seperti biasanya. Ia baik.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen CINTA. Kinanti Maharani. pagi itu aku dan Kinan. ceria. berangkat ke kampus yang tidak terlalu jauh dari rumah kami. Umurnya baru 15 tahun tapi ia terlihat seperti 20 tahun. kadang aku pun ingin menjadi dirinya. Badannya tinggi. KINANTI! Oleh: Juwita Anindya Anak itu bernama Cinta. Sebagai sahabatnya. Kinan adalah sahabat terbaikku sejak aku bersekolah di Taman Kanakkanak. halaman 32 dari 83 halaman . Cinta mencoba melarikan diri dari kehidupannya. Rumahku dan rumah Kinan memang berdekatan. saat sedih maupun senang.

aku mendengar mereka akan bertemu malam itu juga. “Siapa.” “Wah perfect banget dong. lho. Untuk gadis secantik Kinan. Oleh sebab itu tidak sedikit pula laki-laki yang sakit hati dibuatnya. Ia terlihat sangat bahagia. ia tidak memikirkan perasaan laki-laki yang menyatakan cinta padanya. Sesekali Kinan menengok ke arahku yang sedang menyetir lalu tersenyum centil. hari-hari Kinan semakin berwarna. Tak pernah lupa ia percantik bibirnya dengan sentuhan lipgloss warna softpink. Kemaren gue ketemu dia di kafe.” “Dia ganteng?” “Ya. Dia kuliah di Universitas Nusantara. Setelah lama mereka bercakap-cakap. Lo nanti malem mau ketemuan ya?” “Iya. Pembicaraan mereka terdengar sangat akrab. Tiba-tiba handphone-nya berdering. Itulah salah satu kekurangan Kinan.” “Boleh. gue sama dia mau jalan.” “Pastinya.” “Tajir?” “Ya. “Nin. wajar kalau ia sangat perfeksionis dalam mencari pasangan. Bila ia tidak suka. Aku sendiri tidak tahu siapa yang menelponnya. Aku menggeleng.” Kami pun sampai di kampus.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Hari itu Kinan terlihat cantik dengan bando pita putih di kepalanya. Pokonya oke banget deh. Nanti kapan-kapan gue kenalin ya. Dia oke banget. Kinan masih asyik bercakap-cakap di handphone-nya. Dengan gayanya yang anggun ia mengangkat panggilan itu.” “Badannya atletis?” “Ya.” “Seagama?” “Ya. Ia juga selalu memakai pakaian yang modis. Kinan dan Paul sering jalan berdua. sampai akhirnya mereka halaman 33 dari 83 halaman . Aku mulai bisa menebak sepertinya yang meneleponnya adalah laki-laki yang sedang dekat dengannya. soalnya dia ngajakin gue kenalan. Nin! Kayaknya sih dia juga suka sama gue.” “Bawa mobil kemana-mana?” “Ya. Paling nonton sama makan aja.” “Paul? Temen baru?” “Ya. tau nggak siapa yang nelepon gue barusan?” tanya Kinan padaku sambil memasukkan handphone ke tasnya lagi. Dugaanku semakin kuat. Bahkan tak jarang lakilaki yang ditolaknya mentah-mentah. Semenjak berkenalan dengan Paul. maka ia akan langsung menolaknya dan berkata bahwa ia tidak mau dengan lakilaki itu. sesuai sama persyaratan lo. Nan?” “Namanya Paul. Sampai saat itu Kinan belum mempunyai pacar.

adalah satu kata yang Kinan tanamkan dalam hati. Sepertinya ia teringat sesuatu dan segera menceritakannya padaku. Kinan bingung. Lalu tibalah saat yang ditunggu-tunggu oleh setiap pasangan. Ia merasa malu dan takut menghadapi kenyataan. Kinan pun menyanggupinya dengan senang hati dan tanpa pikir panjang. Resepsi pernikahan mereka digelar begitu meriah. Masalah pun datang saat Kinan memeriksakan diri ke dokter dan hasilnya ia hamil. Tak ada sesuatu yang aneh pada hubungan mereka.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen resmi berpacaran atau biasa disebut jadian. Tapi akhirnya kedua orangtuanya pun tahu sampai akhirnya Kinan dan Paul menikah. Mereka pun menuju rumah kedua Paul yang hanya dihuni oleh dua orang pekerjanya. Saat itu umur Kinan baru menginjak 19 tahun sedangkan Paul 22 tahun. Paul pun meyakinkan Kinan kalau semua akan baik-baik saja. Masalah Kinan dan Paul semakin rumit. pacarku. Kinan menuruti semua instruksi Paul. Kinan menangis. Beberapa bulan setelah mereka menikah. Tak lama kemudian Paul bisa mengakrabkan diri denganku dan juga Dino. Tak tanggung-tanggung seringkali Kinan melemparkan barang-barang di rumahnya sambil menangis. Seringkali Paul memarahi. mereka nonton dan makan malam. Gaun pengantin Kinan pun sangat mewah. Wajah Kinan pun terlihat sangat bersedih. Namun sayang. Hari itu Kinan melahirkan di sebuah rumah sakit ternama. mereka pun terlarut dalam hubungan badan. Aku tersentak tak percaya. Paul menghilang. Kinan menceritakan semua kronologi kejadian sampai mereka menikah. Hari demi hari ia lalui dengan perasaan yang kacau balau. halaman 34 dari 83 halaman . Malam itu. Tak jarang pula kami pergi bersama. Kinan bertemu dengan Paul. Percaya. Kinan pun semakin sakit hati. menampar. Tapi entah apa yang membuat mereka memutuskan untuk menikah begitu cepat. Semua keluarga besar sudah mencari Paul kemana-mana. Seperti biasanya. Kinan hanya bilang kalau ia sudah merasa cocok dengan Paul. Rumah tangga yang dibina Kinan dan Paul semakin tidak harmonis. Tapi hatinya selalu berdalih dan berusaha meyakinkan kalau semua itu akan aman dan baik-baik saja apalagi Paul selalu memaksa. Aku baru mengetahui kalau ternyata Kinan telah hamil dua bulan saat menikah. Sesampainya di sana. Entah mengapa saat teringat masa-masa mereka berpacaran Kinan selalu marah. Mungkin Paul melarikan diri ke luar negeri. Paul semakin tidak tahan. Sebulan sebelum Kinan melahirkan. tetapi Paul tidak ditemukan. Mereka terlihat cocok sampai akhirnya mereka menikah satu tahun setelah jadian. Paul justru tidak terlihat kehadirannya. Kinan bilang beberapa kali ia melakukan hal tersebut meskipun ia tahu kalau semua itu dilarang oleh agama dan hukum. Namun saat itu Paul meminta lebih. Menghadapi kelakuan istrinya. tak seperti orang hamil. Di suatu malam. ia hanya terlihat gemukan. memukul. bahkan mengurung Kinan di kamar mandi karena Paul menganggap Kinan sudah gila. Aku melihat ke arah perut Kinan. saat semua kelarga dan sahabat-sahabatnya menjenguk.

ia semakin terlihat sebagai pribadi yang pendiam. Cinta menjadi korban dari kebodohan kedua orangtuanya sendiri. memukul. sampai menyuruh Kinan memakan makanan basi. Aku pun belum sempat mengunjungi mereka.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Bayi mungil yang cantik itu pun diberi nama Cinta Kinanti Ananda Paula. aku ingin memperbaiki hubungan persahabatan kami yang sempat renggang. ia hampir tak pernah mau lagi bercerita padaku. Aku pun ke Bandung dan mencari alamatnya. Ternyata sejak kecil ia biasa diperlakukan kasar oleh Kinan. Kinan berharap dengan hadirnya Cinta. Suatu hari aku ingin sekali menjenguk Kinan. tetapi Cinta tak mau berbicara sepatah katapun padaku. tidak bisa bergaul. Bahkan beberapa bulan kemudian Kinan dan Cinta pindah rumah ke Bandung. Alamat Kinan memang masih di Bandung. Bahkan yang aku herankan Kinan meninggalkan Cinta tinggal sendirian. setiap melihat Cinta. tapi tidak dekat dengan Cinta. Aku merasa Kinan sudah tidak menganggapku lagi. Aku mencoba mengajak Kina ke psikiater. Aku pun memercayainya. tanpa segan-segan ia memarahi anaknya itu serta memberinya hukuman mulai dari mencubit. tapi Cinta malah memberi selembar kertas berisi alamat yang ia bilang itu alamat rumah Kinan bersama suami barunya. Kinan malah menangis dan terkadang ia memarahi Cinta. Dia pasti Cinta. Sampai akhirnya semua mulai terlihat saat Cinta sudah berumur 10 tahun. yang lebih tepatnya tidak sesuai dengan keinginan Kinan. Tak ada yang tahu secara detail bagaimana Kinan membesarkan Cinta tanpa seorang suami. Ia hampir tak pernah menangis. Bila Cinta melakukan kesalahan. Sesampainya di sana aku melihat seorang gadis belia yang aku kenal. Aku merasa keluarga mereka memang benar-benar hancur. Kinan bisa bersikap biasa. Aku berusaha mencari Paul. Hari demi hari ia lewati dengan berdiam. Aku berusaha menghibur Cinta. Tapi wajahnya sudah berbeda. Saat Cinta mulai bersekolah. Tetapi saat orangtua Kinan datang menjenguknya. Ibunya sendiri. Melihat aku termangu. Termasuk kepadaku. dan tertutup. ia cantik tapi tetap saja ia tidak bisa ramah. Entah apa yang ada di hati Cinta. Anehnya. tapi aku merasa kasihan. Paul bisa kembali dan mereka bertiga bisa berbahagia. Aku mencari Kinan. halaman 35 dari 83 halaman . mengurung di kamar mandi. tapi hasilnya nihil. Bahkan di hadapanku Kinan masih bisa bercerita tentang kehidupan kelamnya. Mungkin ia putus asa dengan keadaannya sekarang. tapi Kinan justru marah padaku. Cinta pun berbicara padaku. Paul tak kunjung kembali. Harapan Kinan pupus sudah. Namun seiring berjalannya waktu. Aku langsung kaget mendengarnya. Entah masalah apa yang membuat Kinan semakin terguncang. Kinan selalu mengancam jika Cinta menangis maka ia akan menambah hukumannya menjadi semakin berat. Cinta sudah dewasa. Semenjak Kinan marah padaku. Orang tua Kinan selalu berkata kalau Kinan dan Cinta baik-baik saja di tempatnya yang baru. Cinta sangat kuat. Hidup terasa mulai normal.

halaman 36 dari 83 halaman . cuma bisa nyiksa. Gue mati dia juga nggak peduli kayaknya. Nggak kayak Ibu yang lain. cuma bisa mukul. Ibu selalu ngasih gue hukuman. Dia nggak pernah peduli sama gue.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Gue lebih baik hidup tanpa Ibu. dan cuma bisa bikin aku diperkosa.” Aku tersentak. Ibu cuma bisa marahmarah. Bahkan dia kawin lagi juga nggak bilang gue.

Keesokan harinya kami mulai masuk sekolah seperti biasa. Sampai pada saat bel pulang sekolah dibunyikan. Lalu datang Niken yang langsung nimbrung pembicaraan yang kita bertiga lakukan. siap memulai pelajaran pertama. Kami berpencar untuk mencari kelas kami masin-masing. Guru pun masuk kelas dan semua berjalan wajar sebagaimana harusnya. salah satu teman sekelas halaman 37 dari 83 halaman . Pada hari pertama MOS. Kami berteman sejak duduk di kelas dua SMP. yang berarti kami akan menjejak ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Niken dan aku sekelas. Sampai saat MOS berakhir di hari ketiga pun tidak terjadi suatu kejadian yang berarti. karena dari SMP kami hanya kami berempatlah yang diterima di SMA tersebut. Meskipun tidak semua dari teman kami diterima di SMA tersebut. semua berjalan biasa saja tidak ada yang istimewa. Niken orangnya supel. Kami semua sangat senang karena berhasil masuk salah satu SMA unggulan di Jakarta. sedangkan Tia dan Nia berada di kelas lainnya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Oleh: Dwi Cahyaningtyas (untitled) Semua itu berawal dari kelulusan kami dari SMP. Untungnya. saat itu Tia dan Nia yang sudah berteman lebih dulu menyapaku yang duduk sendirian di dalam kelas. sedangkan Tia dan Nia tidak pernah ketinggalan hal-hal yang menyangkut tren dan mode yang ada. yaitu SMA.

Pada saat kami menjadi siswa kelas tiga. perlakuan kekerasan yang kami alami sudah menjadi tradisi turun-temurun di sekolah kami yang akan terus berulang di tahun-tahun berikutnya. anak-anak kelas tiga juga sudah banyak yang datang. halaman 38 dari 83 halaman . kini giliran kami untuk mendidik kelas satu seperti pada saat kami dididik dulu. melainkan berkumpul si suatu daerah dekat sekolah atas perintah anak kelas tiga. sebagian lagi tidak peduli dan memilih segera pulang ke rumah. Perlakuan itu terus berlanjut hingga kami memiliki nama angkatan. Kami pun merasa tegang akan situasi tersebut. akhirnya kami berempat ikut berkumpul sepulang sekolah.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kami mengumumkan agar kami tidak pulang dulu. Seseampainya di tempat yang ditentukan. pada akhirnya anak laki-laki disuruh tawuran dengan sekolah lain oleh kelas tiga. setelah dirasa cukup banyak anak kelas satu yang berkumpul. ternyata di sana sudah banyak anak-anak kelas satu yang berkumpul. kami pun dimarahi habis-habisan dan aku mellihat beberapa temanku ditampar dan dipukuli. Tak ketinggalan. Niken mengajakku untuk ikut menghadiri perkumpulan itu atas dasar solidaritas teman. Tiga tahun sudah kami bersekolah di sana. Sebagian dari kelas memutuskan akan datang ke tempat yang sudah ditentukan tersebut karena takut akan kelas tiga. kelas tiga segera memerintakhkan kami untuk berbaris.

aku halaman 39 dari 83 halaman . tembok-tembok beton gedung perkantoran. namaku Ananda. aku tersentak. Hiruk-pikuk sibuk ibukota. aku putuskan untuk berjalan kaki. “Hei!!!!” Sungguh. Jakarta. aku suka dipanggil Nanda. Tidak terlepas dari kegiatan sebagai mahasiswi. Senang atau tidak itu fakta yang ada. pusat ibukota beserta keramaian yang bercampur aduk di dalamnya. “Toh sebentar lagi aku juga sampai” pikirku dalam hati. aku juga suka memperhatikan keadaan lingkungan sekitar dan menuliskannya dalam beberapa kata sederhana yang orang-orang biasa menyebutnya puisi. teriakan itu seketika membuyarkan lamunanku. tidak terlepas dari kekerasan yang menyelimuti.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen CERPEN TENTANG KEKERASAN Oleh: Kartika Putri Di tempat ini aku dilahirkan. mahasiswi salah satu universitas di Indonesia. suara bising robotbaja-berjalan. Oh iya. Jakarta. Jalan kaki lebih menyehatkan dan mengurangi polusi selain itu aku juga mencuri waktu untuk menghabiskan waktu itu sendiri tanpa ada gangguan. Sungguh jauh perjalanan menuju kampus. dan semakin sedikitnya lahan hijau yang ada menambah panas matahari ini semakin terasa menyengat. robot-baja-berjalan begitu padat merayap di pagi hari. Aku berbelok ke jalan kecil yang berhubungan dengan kampusku. tebalnya polusi udara.

Tiga orang laki-laki bertato. lu! Orang juga nggak ada yang peduli sama gua!! Ibu lu nggak bakalan mati kalo nggak minum obat!” “Lain sama kita.. Bocah pengamen itu seakan-akan tahu dan cemas apa yang akan terjadi pada dirinya. si pengamen hanya bisa mengelushalaman 40 dari 83 halaman . Dugaan dan firasat yang kuat salah satu kelebihanku.... dan tawa yang lebih tepatnya tawa kekejaman. Pengamen itu jatuh tersungkur di tanah. sandal jepit lusuh yang sudah tipis solnya. Saya mohon... tangannya ditarik dan dipukulnya kepala si pengamen oleh tangan besar sang preman.. ada.. “Ini apa??!! Bukan duit?! Berani lu ya sama gua.. Bang. Ya. aku memutuskan untuk berhenti. baju yang entah berwarna putih atau cokelat pudar lusuh itu sudah tidak jelas warnanya—kumal dimakan waktu. Tidak mungkin mereka memanggilku. Tiga preman tadi memanggil seorang bocah pengamen dengan gitar kecil. saya... Pasang tampang polos pula!!” Bocah pengamen itu seraya berjalan agak mundur sedikit dan menunduk.. masih kecil juga!” “Itu uang untuk beli obat ibu di warung. menyaksikan setiap adegan-adegan yang seperti di tuai dalam acara reality show di televisi kebanyakan. mereka preman. Bang.” “Iba-ibu! Siapa juga yang peduli sama ibu. Semua orang tanpa harus bertanya berapa usiaku juga tahu itu. bakalan mati kalo nggak makan!” Pengamen itu bersikeras merebut kira-kira lima lembar uang seribuan dan satu lembar uang lima ribuan dari tangan-tangan kotor si preman. Saya belum ngamen hari ini.. Aku melihat di kejauhan dan tetap melihat. Jangan diambil. Aku memutuskan untuk duduk di dekat warung dan membeli sesuatu agar bisa mengamati preman-preman itu tanpa harus dicurigai. Aku bukan anak-anak lagi. Aku yakin bukan aku yang mereka maksud. “Hei!!!! Iya sini bocah!!!” Masih tertegun dengan teriakan itu. tetapi ini terasa lebih nyata. saya. lu?!” “Iya mana? Jangan berlaga bego. salah seorang dari preman tersebut menoyor kepala pengamen cilik itu... tawa membahana. kulit gelap yang membuat semua orang akan merinding melihatnya. Rupanya kening si pengamen lecet begitu juga dengan lengan kanan yang menopang kepalanya tadi. Pengamen kecil itu berdiri memegang kepalanya sesekali ia berjalan agak sempoyongan ke arah warung dan duduk di sebelahku. Ibu lagi sakit demam.” Pengamen itu gemetar.. “Ng. deh. Ia melangkah takut-takut menghampiri tiga preman tadi. perawakan besar lengkap dengan baju serta gelang tangan anyaman menghiasi tangan mereka. Malangnya si pengamen. lagi-lagi kekuatan berjaya. Ya. Langkahnya gontai.. nggak. bang. premanpreman meninggalkannnya dengan tawa keras. “Heh! Mana setoran. Lengan yang begitu kecil diselimuti berbagai macam luka.. a.” “Eh. bohong aja lu! Berani bohong sama gua!!” “Cepet periksa sakunya!! Pasti dia bohong!” “Nggak Bang.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen menoleh. saya.

begitu banyak duka. Wajah bocah pengamen berseri sekali saat memakai plester pemberian ibu itu dan meminum air mineral yang rasanya biasa saja. nyanyian kebahagiaan mereka. semua menjadi tumpah ruah di sini.. gelak tawa mereka di kala hujan.. walaupun kelihatannya kecil. Ibu sudah sering menolong saya” “Nggak apa-apa. tetapi begitu menyimpan makna. Hati-hati kalo bawa uang nanti diminta preman lagi.. Ibu penjaga warung memberikan air mineral kemasan kecil dan memberikan plester kepada si pengamen. tak hanya duka tetapi juga suka. Ternyata di jalan sempit ini menyimpan begitu banyak cerita. Saya kesian aja ngeliat kamu dianiaya sama mereka. kebahagiaan seperti itu dapat mereka —orang tertindas—rasakan melalui uluran tangan-tangan Yang Maha Kuasa.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen ngelus kepala dan lecet di lengan kirinya. Bu. Dek. “Wah. dan rasa terima kasih mereka.” ibu penjaga warung benarbenar tulus membantu. halaman 41 dari 83 halaman . Setidaknya. Duka bocah pengamen tertindas. terima kasih ya.

taman bermain anak. potret wajah-wajah bocah yang kelaparan dan kepedulian para orang tua di pengungsian dapat disaksikan di media masa. yaitu halaman 42 dari 83 halaman . Jembatan dekat ITC Cempaka Mas. kenaifan dan kebebasan seakan tanpa kontaminasi sudah tidak dapat kita lihat lagi. Gambaran tentang kondisi sosial yang mengenaskan. Sedih sekali melihat Jakarta yang katanya kota metropolitan. Aku melihat dengan nyata praktek kekerasan oleh orang dewasa kepada anak kecil yang terjadi di jalanan ibukota. dunia fantasi anak. banyak gedung-gedung megah berdiri.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen TINDAK KEKERASAN PEMERINTAH TERHADAP ANAK-ANAK JALANAN Oleh : Khamim Hudori Kekacauan dunia politik di tanah air dan kekerasan-kekerasan yang terjadi belakangan ini di berbagai daerah dan ibukota menyisakan kerisauan yang mendalam bagi anak-anak. yang senantiasa menampilkan keindahan. Jakarta Pusat. Di kolong jembatan itu. Banyak sekali anak-anak sekitar usia 4-12 tahun yang sudah mencari penghasilan dengan cara menjadi pengamen dan pengemis. tetapi masih ada satu sisi yang sering dilupakan oleh pemerintah.

ada suara memanggil Luki dengan nada keras. memberikan warna yang bisa menjadikan indah.. Pak Bruto?” tanya anak itu. kasih ke gua!” bentak bapak tadi ke anak kecil itu. Trus nanti kita dapet bagian juga. Sebenarnya nama asli saya Luki.. Kak. uang receh lo tadi. Sudah tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolah. Mmm. menjadikan bintang di surga..” Luki berbicara dengan sedihnya. “Yee. aku berjalan di jembatan itu lagi untuk mengenal bocah tadi. Besoknya. Kak. Bagaimana cara untuk kita dapat bisa dapet uang di jalanan. lampu merah tuh!!” bentak Pak Bruto sambil menghisap sebatang rokok dan menghitung uang setoran anak-anak dari hasil mengamen. Tepat di lampu merah Cempaka Mas. anak sekecil itu sangat tidak pantas untuk mencari uang di jalanan halaman 43 dari 83 halaman .. bapak saya juga entah kemana. Ini uangnya. “Maaf. ada seorang bapak sekitar umur 35 tahun. Karena dia berpakaian yang sangat kusam dan agak kotor. Ada apa?” tanya anak kecil itu. Saya panggil lagi bocah itu.” Setelah lampu hijau. Buluk. Dek? Apakah kamu masih sekolah?” “Saya umur 9 tahun. kita ngasih duit hasil ngamen tadi ke dia.” “Kamu umur berapa. Sini. Di sanalah aku kenal seorang bocah kecil yang biasa dipanggil Buluk.. sang bocah tadi pun kembali ke kolong jembatan. Kak.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen nasib anak-anak jalanan yang tak sekolah dan dapat perlakuan yang tidak wajar oleh para orang tua mereka. “Dek. “Iya. maka dia dipanggil Buluk di lingkungan sekitar kolong jembatan. Pak. apa boleh buat. “Ada apa. Ya. Padahal nama aslinya adalah Luki. “Namanya siapa. Yaaa. Dek?” “Panggil saja saya Buluk. Kak..” jawab bocah tadi. Kak.. “Iya. Kak. Coba ke sini sebentar!” aku panggil anak kecil itu. Dan ternyata itu Pak Bruto yang kemarin. Kak. Sini lo!” panggil bapak tadi ke bocah yang baru mendapat uang receh dari mobil Alphard. “Pak Bruto itu yang ngajarin anak-anak di sini ngamen. Saya juga maunya sekolah.. Ibu saya sudah tiada.” Luki langsung lari ke deretan mobil yang sedang menanti lampu hijau menyala. “Luki. Tidak lama. Terpaksa saya hidup di jalanan seperti ini. Di kolong jembatan itu. Setelah Luki selesai ngamen dan memberikan setoran ke Pak Bruto. sebenarnya pak Bruto itu siapa?” tanya saya. Pake nanya lagi. “Woy. Sungguh. Pak. “Dapatkah aku memeluknya. terdengar suara anak kecil sedang menyanyikan lagu ST 12 di depan mobil Alphard. Saya sudah putus sekolah.” jawab Luki dengan ketakutan dilihat oleh pak Bruto. Nah. nanti abis ngamen. “Buluk!!! Cepetan sana ngamen lagi.

Amin. Saya sedang berpikir. Dan semoga saja. Karena anak-anak itu mempunyai hak untuk bersekolah dan untuk menatap masa depannya. semua anak-anak Indonesia berhak mendapat pendidikan yang murah dan tidak ada lagi anak-anak jalanan seperti Luki tersebut.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen dengan cara mengamen. Mereka yang seharusnya sedang asyik-asyiknya bermain dan sekolah dengan teman sebaya. tapi malah menjalani hidup dengan keras di alam kolong jembatan tersebut. apakah ada seorang bapak yang tega membiarkan anaknya hidup di kolong jembatan seperti ini dan apakah pemerintah sudah menjalankan apa yang seharusnya mereka kerjakan. yaitu memelihara dan menjamin anak-anak tidak mampu itu untuk mendapatkan pendidikan yang layak? Bukankah tindakan pemerintah yang tidak menjamin anak-anak itu sekolah juga suatu tindakan kekerasan? Semoga saja pemerintah benar-benar serius dalam menjamin pendidikan anak-anak tersebut. halaman 44 dari 83 halaman .

Padahal sudah 8 tahun kita sudah menikah. Hampir setiap hari tanganku ini menamparmu. kau bebenah rumah. Tak berkata apa-apa dan tidak melakukan apa-apa. “Apa yang kau kerjakan dari tadi! Suami bangun bukannya dikasih kopi atau apa! Ini malah sibuk beres-beres rumah! Istri macam apa kau!” satu tamparan lagi kena di wajahmu. aku bangun dan membentak. PAKK!!! Tamparan keras mampir di pipimu. Kau bosan dan aku pun bosan. Kau merasa bersalah karena sampai saat ini kau belum mempunyai anak. “Malah diam saja lagi! Cepat buatkan aku kopi!” bentakku. tolong jaga rumah ya. Kau menunduk diam membisu. Dan kau tahu sikap kasarku selama ini karena alasan itu. tapi kau terima saja. Tiap hari aku berlaku kasar padamu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KAU DAN KEKERASANKU Oleh: Khaula Fathina “Kamu jahat banget sama aku!” kalimat ini kan yang ingin kau katakan untukku?! Tapi selama ini kau hanya diam saja aku perlakukan seperti itu. “Mas. aku mau belanja dulu ke pasar. Begini tiap hari suasana pagi. Dan kau pun tetap diam membisu sambil berlalu ke dapur.” halaman 45 dari 83 halaman .

Aku sudah tak sanggup lagi untuk menahan segala perlakuanmu kepadaku. Kau mencicipi sedikit sayur asem itu. dan langsung menuju ke dapur. Barisan-barisan kalimat yang kau tulis di kertas itu menunjukkan alasan mengapa kau pergi meninggalkan rumah dan suamimu begitu saja. Tapi kali ini aku menyerah mas. Setelah rumah rapih. Pulang ke rumah pun seperti mengendap-endap. “Tidak usah! Aku makan di luar saja! Kau jadi istri kok gak becus ngurus suami!” bentakku kepadamu. Kau mulai beres-beres rumah kembali setelah aku pergi meninggalkan rumah. PRANG!! Kau tersentak kaget waktu aku membanting mangkuk sayur asem itu. aku tidak bisa memberikan keturunan kepadamu. Aku akan buatkan yang baru. Terbuka rapih di atas meja. Tidak ada amarahku. halaman 46 dari 83 halaman . Mas. kau hanya membeli sayur dan lauk pauk yang akan dimakan hari ini. Tanpa berkata apa-apa kau meninggalkan rumah dengan terburu-buru. “Cih! Masakan apa ini? Sayur asem manis begini!” ludahku sewaktu mencicipi sayur buatanmu. Aku titip rumah. Aku hanya mengangguk dan kau pun pergi ke pasar. Kau menuju lemari dan memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas. Kau diam menerima omonganku. Maaf. Kertas itu. Jaga dirimu baik-baik. Seakan-akan takut diikuti seseorang. Saat-saat sendiri di rumah adalah saat yang membuat kau tenang. Mas.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Kau pamit. Setelah selesai semua. Seperti tidak mau terlihat olehku. Dan aku merasa tertekan mas atas hal itu. “Maaf. membuat siapapun yang melewati meja itu dapat membacanya. aku pulang ke rumah orang tuaku. Mas. Aku selama ini selalu sabar menerima puukulan dan tamparan juga bentakanmu padaku. Kau menulis beberapa baris kalimat di kertas itu. Aku bukan istri yang baik. Kau mengambil secarik kertas dari laci lemari dan sebuah pulpen. Tidak ada pukulan keras dariku. Tidak ada tamparan di pipimu. Kau memasak sayur asem kesukaanku dan ayam goreng. Lalu memasukkan juga beberapa barang keperluan lainnya ke dalam tas. Di pasar. Lalu meninggalkannya di atas meja samping ranjang. Hatimu was-was takut kena bentak lagi olehku.” ujarmu. Rupanya hari ini kau terlihat ingin berdamai denganku. Aku tahu. kau pun bergegas pulang ke rumah. kau masuk ke dalam kamar. kertas yang kau tinggalkan. maaf aku pergi meninggalkanmu.

Gadis itu masih termenung di antara batuan cadas hitam yang menemani setiap jeritan lamunannya. tak sedikit pun cinta kasih kami direstui oleh orangtua. Ditatapnya langit kelam yang tak memberi kasih tanpa cahaya lekat-lekat seakan meminta pada Tuhan agar diberi sedikit saja kesempatan untuk bisa mengecap nikmatnya dunia tanpa siksaan batin yang mahadahsyat dan mencekam. Angin hanya lalu-lalang dengan wajah iba. Itu semua karena cinta kami berdua. Telah belasan tahun batinnya tersiksa dan perasaan tenang pun tak dapat ia raih. Sejak kami mengucapkan sumpah sehidup-semati saat pernikahan kami. Wajahnya tetap gelap tanpa ada cahaya yang menerangi.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen CINTA TERLARANG Oleh: RA Koeshamimurti Tosani Natya Lakshita Flora. Namun tampaknya itu semua hanya bunga khayalan saja. Aliran sungai terasa begitu deras di setiap detakan jantungnya. Flora hanya bisa menjerit di batinnya. Tak sedikit pun senyum keluarga halaman 47 dari 83 halaman . Begitu berat ia menggenggam rantai kebencian pada hidup bersamaku yang dijalaninya. Ia terduduk dengan wajah yang masih menatap kelamnya cahaya langit. cinta Flora dan Fajar. dan Tuhan pun tak kunjung memberinya pertolongan. Wajar bila Flora tak dapat menyebarkan senyum anggunnya. walau pada wajah mulusnya begitu ringan rasanya ia menebarkan bunga cinta kasih pada orang-orang.

Keesokan harinya tercium kabar bahwa orang tua Flora akan menyuruh para preman jalanan untuk membunuhku agar kami tak bisa lagi bersama. menjalani kehidupan abadi yang penuh dengan bunga cinta dan kasih. di sela jerit kesakitanku. agar di surga nanti aku dapat menyambut dirimu dan berbahagia selamanya di sana. aku sudah lelah dengan semua ancaman orang tua kita yang terus memisahkan kita. Flora ada di sana. ia menggenggam tanganku erat. Mendengar kabar itu Flora menghampiriku dan berkata dengan tangis yang terisak-isak. Sebelum ia bunuh diri. cinta kami akan selalu dipisahkan dengan cara apa pun.. halaman 48 dari 83 halaman . Sebuah pedang tajam menembus jantungku semakin dalam. Namun. tetapi di surga sana. Aku merasa dunia bukan tempat cinta yang bahagia. aku sudah siap dengan sebilah badikku. Saat tiga preman jalanan datang menyiapkan pedang maut mereka. Aku tak ingin berpisah selamanya denganmu.” Dengan berpasrah segalanya pada Tuhan. Di sana aku berbahagia bersama Flora selamanya.” Aku hanya dapat bergumam pasrah dan kemudian air mataku jatuh tak tertahan lagi..BEJAT: sebuah kumpulan cerpen mengharumkan pernikahan kami. Dan bila kami tetap melanjutkan mahligai pernikahan kami. Mataku pun terpejam dan bayanganku pun menggenggam erat tangan Flora.” Setelah mengucapkan sumpah setianya pada cinta kami berdua. Maka aku akan membunuh diriku sendiri sebelum kau dibunuh. aku melihat pintu gerbang cahaya kematian datang di depanku. Aku pun menjerit histeris melihat Flora telah mati di sampingku. Aku hanya bisa menahan kesakitan. Saat pertama aku berhasil melumpuhkan dua orang pemuda. namun kekuatan pemuda terahir telah melumpuhkan nyawaku. Dia tersenyum menyambutku dan ingin menjemputku ke surga. tetapi kau harus yakin. Flora pun mengambil sebuah pisau tajam yang telah diasah olehku. Aku tak ingin kau dibunuh. “Fajar. aku percaya aku akan menyusulnya nanti di alam sana. pertanda bahwa Flora sudah siap menjalani niatnya untuk mengakhiri hidup di dunia menuju kehidupan abadi. Aku ingin kau terus ada disampingku. “Kau boleh pergi dahulu ke surga sebelum diriku. Namun tiba-tiba. Aku sudah lelah dengan ancaman-ancaman yang terus menyiksa batinku. Flora pun menebaskan pisau itu ke lehernya dan bercucurlah darah. siap pergi bersama ke dalam surga cinta yang sejati. “Cinta kita akan terus abadi. cinta kita tetap abadi. Aku tak ingin kau mati sendiri tanpa kehadiranku.

kemudian disimpan di tempat yang spesial. Diperlakukannya bendera merah-putih dengan khusus. Bapak adalah mantan pejuang angkatan ’45 dan telah pensiun dari kepala satpam di pabrik gula. Dan setiap kali tiba hari-hari bersejarah. dan benda kesayangan bapak lainnya. Bapak menuju almari jati kuno yang berada di kamar Bapak sambil mendekap bendera di dadanya. Peti itu berisi lencana-lencana. Di sebelah kanan peti diletakkan Al-quran yang berukuran lebih besar daripada biasanya. benderamu!” Ibuku menyodorkan bendera yang baru digosok kepada Bapak. Terdengar ada nada mengolok pada suara ibu ketika menyebut ‘benderamu’. Sejak dulu memang Bapak sangat mencintai bendera merah putih dan tampak menjadi-jadi setelah tidak mempunyai kegiatan lagi. yang ditaksir sekira hampir seabad. piagam penghargaan. Tidak pernah berubah sejak bapak pensiun dari pekerjaanya. Dengan hati-hati ditaruhnya bendera itu di atas sebuah peti kecil dari kulit yang usianya sebaya dengan usia almari. Bau harum pelembut kain menyebar keseluruh ruangan. dicucinya bendera itu sendiri. Begitulah tatanan rak paling atas dalam almari Bapak.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen BENDERAKU Oleh: Krisna Karim Z “Nih Pak. halaman 49 dari 83 halaman . bendera itu selalu siap dikibarkan di halaman rumah.

kemudian ia cabut tiang bendera yang terbuat dari bambu dan dipanggulnya menuju tempat yang teduh. Bilang sama Toro. Mula-mula kami khawati Bapak menderita gangguan jiwa. Saat memperingati hari kemerdekaan RI. Ibu selalu mengomel kalau hanya halaman rumah kami yang dipasang bendera. Namun. Mas Toro. Juga setiap tanggal 17 Agustus. ”Pak. Pekerjaan itu dilakukan selama 4 hari berturut-turut sejak tanggal 14 sampai tanggal 18 Agustus. Sejak pagi hujan gerimis terus turun. Tentu saja melihat ulah Bapak seperti itu. mulut komat-kamit sambil matanya terpejam entah doa apa yang dipanjatkan barulah kemudian bendera dipasang ke tiang. kemudian dari teras rumah dipandanginya bendera yang basah terkena hujan. Pernah suatu hari ia marah kepada Bapak karena malu sama pacarnya. Malu. tapi tidak ikut perang. tahunya cuma makanan saja. Jadi. Akhirnya kami biarkan Bapak berbuat sesuka hatinya meskipun kadang-kadang terasa aneh bagi kami. aktivitas Bapak kian repot lagi. Ceritanya hari itu tanggal 10 November. Bu. Ternyata tidak ada gejala yang mengarah kesitu. dengan suara keras kakakku bercerita. calon suami Mbak Nurul tertawa. Dengan kalem Bapak menyahut. Di bawah rintik-rintik hujan. Bapak memasang bendera. Namun.” Adik lelakiku pernah juga terkena marah sama Bapak gara-gara ketika menurunkan bendera merah putih secara tidak sengaja ia gunakan kain bendera itu untuk mengelap keringat di lehernya. Setelah makan siang. “Samsuri itu tentara. Lantas diambilnya lagi tiang bendera itu dan dibawa ketempat teduh. Bapakku pun selalu menyempatkan melaksanakan sholat dilanjutkan dengan sujud syukur. Dan sore hari menjelang maghrib dipanggulnya kembali ke dalam rumah. Pak Dhe Mas Toro? Dia juga pejuang ’45. Setelah itu. kok tidak pasang bendera?” Padahal ia tahu betul itu bukan hari bersejarah. orangnya sederhana ya. Wong tugasnya di bagian logistik. Rupanya Bapak tida rela jika benderanya basah.” Dia terus bicara seperti bunyi penyiar radio yang tanpa meminta pendapat pendengarnya. Tidak pernah menunjukan kalau dirinya mantan pejuang. Kami semua tahu kepada siapa cerita itu ditunjukkan. halaman 50 dari 83 halaman . Hal itu terulang beberapa kali.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Sikap berlebihan Bapakku terhadap bendera itu menurut kami sering menimbulkan masalah kecil dalam keluarga. begitu alasan Ibu. dan bapak juga mengerti kalau kakakku tengah menyindirnya. Bapak memasang kembali bendera itu. pacarmu itu. bendera didekap di dadanya. Dulu katanya pernah berjuang bersama Bapak. Dan hal itu yang membuat kakakku malu. Pagi hari Bapak memanggul tiang bendera untuk dipasang di halaman. Ritual ini dilakukan dua tahun berturut-turut semenjak Bapak pensiun. Tak lama setelah hujan reda. Oleh karena itu. beberapa jam kemudian hujan turun lagi. Akibatnya selama satu jam lebih ia harus menerima ceramah dari Bapak perihal bendera itu. Ada-ada saja. kalau Pak Dhe-nya tentara yang takut sama bedhil. Kakak perempuanku yang bawel suka sekali menggoda dan mengolok-olok Bapak dengan pertanyaan. “Ibu kenal Pak Samsur.

” Ragu-ragu paklik melanjutkan kalimatnya karena Bapak menampakkan rasa tidak suka. Dengan nada prihatin. “Yu. suara bapak mengagetkan kami. hanya suara radio dan televisi yang berlomba. karena itu dia memotong cerita Bapak. Siang hari setelah makan siang. saya takut. banyak temanku yang mati! Mati Sim. Itukan yang ada di kepalamu?” suara Bapak menunjukan kemarahan. kalau dibiarkan terus Mas abu terseret dalam perbuatan syirik.. ”Kenapa? Kamu takut aku mulai gila. “Ya. Mungkin suamimu terkena penyakit post power syndrom. begitu? Kamu memang tidak pernah ikut berjuang merebut negara dan penjajahan. siapa tahu Masmu mau mendengarkan!” Suara Ibu terdengar bersungguh-sungguh. Mas. Sikap Bapak yang diam membuat Pak Lik kebingungan. wong ndableg gitu. “Kamu ngawur Sim.sedangkan aku dan Yana. ”Lho. Seperti biasa Bapak enggan menanggapi taktala ada orang yang membicarakan perihal kecintaanya pada bendera. Dengar Sim. dia pun akhirnya menghentikan pembicaraan. “Ya.” halaman 51 dari 83 halaman . Kasihan kalau tidak diingatkan. sama sekali tidak tertarik ikut nimbrung karena sudah bosan dengan persoalan yang dibicarakan.” Dengan menggebu-gebu Pak Lik menerangkan akibat dosa besar itu. Aku jadi geli mendengarnya—apa hubungannya post power syndrom dengan perbuatan syirik. Mas Abu lama-lama kelihatan makin aneh ya. Tiba-tiba. ya. Saya khawatir kalau kalu Mas mulai mengeramatkan bendera. Dibunuh sama musuh. Ibu yang berada di ruang tengah sesekali menimpalinya. Untuk merebut bendera itu tidak mudah. namun siapa yang berani mengingatkan Masmu. bagaimana kalau kamu yang mengingatkan. bukan itu yang saya maksud. penyakit yang timbul setelah pensiun.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Hati Ibu mulai terusik ketika suatu hari Pak Lik Khasim. ”Maaf. Sudah sering ponakanmu mengingatkan namun tak pernah dihiraukan. yang sok tahu mengatakan. seperti memperlakukan benda keramat saja. adik perempuanku. Kok.. Hati-hati lho. Lihat saja bagaimana ia memperlakukan bendera. kamu tambah ngawur. Kita boleh saja cinta kepada negara dan bendera. yang sedang asik menonton telenovela.” mantap sekali Pak Lik mengucapkan kalimat terakhirnya. Semua diam. Setelah basa-basi sejenak. Coba. Kamu kira pikiranku sudah gila. Saya lihat Mas mulai berlebihan dalam memperlakukan berdera. Sementara itu Ibu mulai terpengaruh dengan perkataan Pak Lik. Saya mengerti. Ibu berkata. lho. Pak Lik Kashim sengaja ikut duduk-duduk dengan Bapak di ruang makan sambil mendengarkan musik keroncong dari RRI Jakarta. Makanya kamu ndak bisa merasakan bagaimana rasanya merdeka dari penjajah!” Dengan penuh semangat bapak menceritakan kisah perjuanggannya di masa lampau. adik Ipar Ibu. Itu Yu. Pak Lik bosan mendengarnya. namun jangan sampai keblinger. segera menuju pembicaraan.

.. padahal mereka adalah saudara-saudara yang seakidah denganku. tidak ada lagi perlakuaan dan tempat spesial terhadap sang Dwi Warna. yang membuat aku sadar terhadap sesuatu yang aku lupakkan selama ini. “Teman-temanku harus mati karena mengibarkan bendera merah putih. kemudian dengan suara parau melanjutkan perkataanya. membunuh pemberontak berarti membela negara. “Bahkan oleh tanganku. membela negara diwajibkan oleh Tuhan. Pak Lik Khasim menyela. ”Lalu kenapa setiap tanggal 17 Agustus.” Bapak diam sejenak.. Hal tersebut berlangsung bertahun-tahun.. Kalau sekarang aku memperlakukan bendera dengan istimewa. kami tidak pernah meributkan lagi soal bendera. kemudian berdoa sambil mendekap bendera?” tanyanya. Untuk bendera aku juga harus membunuh sesama manusia. Semua tiada bersuara. Selanjutnya. ”Demi Tuhan. APRA. Mereka harus kubunuh hanya karena ingin mengganti merah putih dengan bendera mereka. Mas Abu selalu bersujud.. Untuk menutupinya ia memberikan nasehat.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Bapak diam sejenak menunggu Pak Lik berbicara.. Kini kami mengerti alasan bapak memperlakukan bendera dengan istimewa. namun kelihatannya Pak Lik malas menanggapi. Ternyata di mata Bapak dalam bentangan kain itu terdapat gambar hidup yang menimbulkan pergolakan batin antara perasaan syukur dan penyesalan yang sangat dalam. aku selalu bersyukur kepada Allah karena masih diberi kesempatan untuk mengibarkannya sepuas hati tanpa ada rasa takut dibunuh musuh!” Kali ini Bapak terdengar bersungguh-sungguh mempertahankan pendapatnya tanpa disertai rasa jengkel.. Terharu mendengar cerita bapak. Hening. Setelah Bapak meninggal. ”Mas Abu tidak bersalah.” Aku kini benci sekali mendengar ucapan Pak Lik. Lama-lama Ketua RT bosan memberi tahu keluarga kami yang nyaris lupa kepada bendera dan tidak pernah mengibarkannya lagi. Pak Lik Khasim menjadi salah tingkah.” Suara Bapak bergetar menahan tangis dan tampak mata tuanya berkacakaca.. seperti pemberontak RMS. Tulisan yang membangunkan kesadaranku adalah bagian terakhir dari e-mail itu.. Membunuh saudara-saudaraku yang sebangsa yang pernah berjuang bersama-sama melawan penjajah. Bapak melanjutkan ceritanya lagi. Terlihat air mata bening di mata mereka. kali ini hanyut dalam perasaan Bapak. begini isinya: halaman 52 dari 83 halaman .” ujar bapak. bukan berarti menggangap benda itu keramat dan menyembahnya. itu salah besar. hingga suatu ketika aku membaca e-mail dari kakakku yang kini tinggal di Den Haag. Tanganku ini harus membunuh pemberontajk DII/TII. Ibu yang biasanya cerewet dan adikku yang tidak pernah memperdulikan bapak dengan bendera. Kami sering lupa mengibarkan bendera pada saat harihari bersejarah dan baru ingat ketika diberi tahu oleh Ketua RT. “Setiap melihat bendera merah putih.

”Baiklah insya Allah mulai bulan Agustus tahun depan.” halaman 53 dari 83 halaman . Mengiyakan isi e-mail kakakku. karena aku sudah akan memasangnya sendiri. Mbak menangis untuk bendera dan baru kali ini aku merasakan memiliki bendera. Kepalaku mengangguk. Menyesal rasanya dulu aku sering mentertawakan cinta Bapak terhadap benderanya. Makanya mulai hari ini jangan abaikan lagi benderamu agar tiada orang lain yang menggantikannya dengan bendera lain. Benar kata Bapak kalau bendera adalah martabat dan harga diri suatu bangsa. Sedih rasanya menyaksikan teman-teman dari Tim-Tim yang berpesta pora merayakan kemerdekaan mereka dari penjajahan Indonesia (begitu menurut mereka). Baru kali ini. Aku benar-benar menangis ketika menyaksikan peristiwa itu. Dan lebih sedih lagi ketika mereka menurunkan bendera merah putih dan menggantikannya dengan bendera mereka. sedangkan bendera merah putih mereka campakkan begitu saja.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Semoga Indonesia segera damai dan mendapat pemimpin yang baik serta jujur agar tidak ada lagi wilayah yang memisahkan diri dari RI. Ketua RT tidak perlu menyuruhku memasang bendera. dalam hati aku berkata.

ia bergegas ke tempat parkir sepeda... Pernah suatu pagi. Aku pertama kali mengenalnya ketika pernikahan sepupuku beberapa tahun lalu. bertanya. Dengan langkah gontai beliau melangkah pulang menyusuri jalan menuju rumah. Usai keperluan di kantor pos.! Seketika tukang tambal ban tersentak kaget. ”Dari mana saja. Eyang Neli pergi ke kantor pos di kota tempat tinggal.” jawab Eyang Neli memelas. Namun.. kerabatku dari pihak Ibu. Beliau mulai panik. Di mobil itulah beliau bercerita tentang sifat pelupanya yang luar biasa. si tukang tambal—sudah sangat dikenal Eyang Neli. petugas itu menyarankan Eyang Neli untuk melaporkan kehilangan sepedanya ke kantor polisi terdekat. Eyang Neli tidak dapat menemukan sepedanya. Saat itu beliau semobil denganku dalam perjalanan menuju tempat resepsi. Beliau setuju. Hari sudah sore ketika Eyang Neli keluar dari kantor polisi. ternyata sepeda saya hilang lalu saya lapor ke polisi. anda harus mengenal Eyang Neli. ”Loh. Bapak ini halaman 54 dari 83 halaman . makanya sore begini baru pulang. Makjrengat. Saat melewati tukang tambal ban.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen EYANG NELI Oleh: Lestari Sari Pambudi Bicara soal sifat pelupa.. Petugas parkir pun kelabakan karena merasa bertanggung jawab atas raibnya sepeda tua milik Eyang Neli. Akhirnya. Pak ?” “Dari kantor pos.

dan menyadari istrinya tak ada di sisinya. Beliau dan istri selamat sampai tujuan. Eyang Neli tak mengakuinya. Yakin dengan kekutan fisiknya. Karena itu ia menuntun sepedanya ke tukang tambal ban tak jauh dari rumahnya. Ia bersikeras menyetir sendiri. Ia mencoba setiap jalan mana pun yang tampak layak dilalui di kota yang tak terlalu dipahaminya itu. Eyang Neli menuju pusat elektronika. Eyang Neli memutuskan naik angkot ke kantor pos.” kata si tukang tambal seraya menutup kiosnya. kan tadi sama Bapak. beliau pun bergegas pulang dan tidur! Sore hari saat bangun tidur. dan menemukan sang istri duduk terkantukhalaman 55 dari 83 halaman . dan sang istri tetap tak di temukan. Mereka berjanji bertemu di pusat jajanan untuk kemudian pulang bersama. Tapi karena sudah ada beberapa sepeda yang di reparasi maka daripada ia menunggu ban sepedanya di tambal. Baru kemudian ia ingat saat berangkat ke kantor pos tadi pagi. Ia menolak menggunakan sopir atau naik kendaraan umum. Sebab bisa segera mendapatkan barang yang diperlukan. Dan menitipkan sepedanya pada tukang tambal ban itu. Mereka nyasar. Baru setelah beberapa jam kemudian saat bensin mulai habis. Bisa-bisa saya di tangkap polisi karena ngembat sepeda. tadi pagi sepedanya di tambal di sini. istrinya buru-buru mengajak pulang saat hari belum benar-benar gelap. Tiba di sana dengan alasan menghemat waktu. ke mal. Saya gak pulangpulang karena nungguin bapak!” Ganti Eyang Neli yang tersentak kaget lebih kaget lagi. Ibu kemana?” tanyanya pada pembantunya. Tapi karena khawatir istrinya panik. Beliau juga sangat percaya diri. keduanya sepakat berpisah untuk bisa mencari keperluan masing-masing. “Lho. Eyang Neli tidak begitu lama. Takut nyasar dalam perjalanan pulang. karena ia melihat sepedanya bertengger di ruang kerja si tukang tambal ban. “Oh. sedikit bingung.. Ceritanya. beliau mencari ke segenap penjuru rumah. Lah ini. sedangkan sang istri menghilang ke kios baju. tidak hilang toh?” komentar Eyang Neli. Lain waktu. Ternyata yang ditakutkan terjadi. Di pusat elektronika. “Cepet deh di ambil sepedanya. Setelah membayar. “Tin. Eyang Neli sangat suka menyetir mobil memang. Namun justru karena sifatnya itu ia sempat membuat sengsara istrinya. di rumah kerabatnya itu Eyang Neli bercerita ngalor-ngidul hingga tak terasa hari sudah sore. ia dan istrinya berjalan ke pusat perbelanjaan. Pak. Seperti kebiasaannya.. Ternyata perjalanan memang lancar.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen gimana sih? Kan. ban sepedanya kempes. Sang istri pun cemberut sepanjang jalan. Eyang Neli mengajak istrinya keluar kota.” Seketika Eyang Neli ingat janjinya untuk ketemu di food center! Ia pun bergegas kembali ke mal. Eyang Neli berbelok ke kantor polisi untuk menanyakan jalan yang benar. fisik Eyang Neli masih sehat dan kuat. Walaupun sudah tua dan pelupa.

halaman 56 dari 83 halaman . Seraya menghampiri sang istri.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kantuk di salah satu sudut pusat pusat jajanan. Eyang Neli cuma senyum-senyum saja membayangkan bagaimana raut wajah istrinya bila tahu ia lupa akan janjinya tersebut.

Yanto. Yanto pun mengantarkannya ke rumah sakit. Setelah menikah perlakuan Yanto terhadap Ajeng mulanya biasa saja. tidak terlalu baik maupun terlalu jahat. Maklum. Yanto pada saat ini adalah seorang pengangguran. Pada saat membayar. mereka berdua menuju tempat administrasi untuk menyelesaikan pembayaran.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen BEJAT Oleh: Fauzana Fidyarizky Ajeng adalah istri yang menjadi menjadi korban kekerasan suaminya. Ajeng dan Yanto langsung memeriksakan kandungan Ajeng. Suatu saat. Mereka menikah karena hamil di luar penikahan yang membuat keduanya tidak mempunyai pilihan lain kecuali menikah. Ajeng meminta diantarkan ke rumah sakit untuk mengecek kandunganya. Setibanya di rumah sakit. aku tidak punya uang untuk membayarnya. “Lain kali kalu mau ke rumah sakit. adalah anak seorang kepala desa yang saat ini memimpin di kampung yang ditinggali Ajeng pada saat ini.” halaman 57 dari 83 halaman . Setibanya sampai di rumah. Yanto sambil memegangi kepalanya berkata pada Ajeng. Yanto hanya mengenyam bangku pendidikan hanya sampai tingkat sekolah menengah. jangan minta diantarkan sama aku. Setelah selesai. suaminya. Yanto kaget karena biayanya sangat mahal dan tidak terpikirkan sebelumnya.

Yanto kabur pada saat warga menolong Ajeng. Dan Ajeng pun cuma bisa teriak dan minta tolong. Keesokan harinya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Ajeng pun menjawab. Lagi pula kan itu sudah menjadi tanggung jawab Mas untuk menanggung semua kehidupan kita. Tiap dua hari sekali kejadian itu terulang. dan tiba-tiba Yanto menghampiri Ajeng dan langsung menamparnya.” Yanto mulai berbicara dengan nada kerasnya. Ajeng tahu bahwa suaminya akan menemukannya cepat atau lambat. Para tetangga yang sudah geram mengetahui prilaku Yanto terhadap Ajeng. dia malah menampar Ajeng untuk kedua kalinya. yang kosong karena keluarga Ajeng pulang ada acara di balai desa. Ajeng pun pingsan dan saat terbangun mata bengkak dan telanjang karena Yanto baru memperkosanya. Setelah keluar dari rumah sakit. Tapi apa yang dilakukan Yanto. menolong Ajeng dan langsung membawa Ajeng ke rumah sakit. dan terulang lagi. Ajeng meminta maaf kepada Yanto karena Ajeng merasa bersalah tidak menghormati suaminya atas perkataaanya. tamparan. Yanto pernah lakukan. Benar saja ia bertemu di rumah ayah dari Ajeng. kalau kita tidak memeriksanya. Ajeng kesakitan sekaligus kaget Yanto bisa berbuat seperti itu. halaman 58 dari 83 halaman . Tetapi kekuatan Yanto lebih besar dari pada Ajeng. Kondisi ini berbutut kepada Yanto yang harus mendekap dipenjara selama satu tahun. Caci maki. Pada suatu saat Ajeng dipukuli habis-habisan oleh Yanto. bahkan tendangan ke arah perut Ajeng pun. Tanpa disangka Yanto mengambil sebuah kayu dan langsung memukuli Ajeng. dan secara refleks Ajeng membalas perbuatan Yanto. Ajeng pun menangis dan merasa sakit pada saat itu. gimana kita bisa tahu keadaan anak kita. “Mas.

Ayah kami adalah seorang Kepala Desa yang terpandang. Dan Nia juga berjanji akan selalu berdoa untuk keberhasilan Rafli. setelah pulang dari perantauanya. dapat mempertahankan hubungan mereka dengan sangat baik. Kepala Desa Mantaren. hiduplah sepasang kekasih yang saling mencintai yang bernama Rafli dan Nia.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen AKHIR DARI CINTA SEJATI Oleh: Lia Andika Pratiwi Pada suatu desa yang dinamakan Pulau Telo. sedangkan Nia adalah anak bungsu. Ayah tidak dapat menyanggupi membayar hutangnya kepada Ayahnya Tono. Tetapi Rafli dan Nia. yang kebetulan ayah dari seorang pria tampan yang bernama Tono. sebelum Rafli merantau. Rafli berpesan akan selalu ingat dan berjanji akan menikahi Nia. Tak banyak orang dapat mempertahankan hubungan cintanya jarak jauh. Pak Bowo. terkait hutang yang cukup besar kepada Pak Sugih. kakak Nia. Aku Santi. Dua tahun berlalu. sang kekasih. Sebelum Rafli berangkat merantau. Berbagai rintangan selalu mereka lalui dengan kesabaran hati mereka. Dalam perjalanan cinta mereka tak pernah mulus. Pada suatu ketika. Rafli sedang merantau jauh ke negeri seberang. Dalam permasalahan tersebut. Ayah kami. Dalam permasalahan halaman 59 dari 83 halaman . Rafli adalah seorang anak yatim piatu yang menggantungkan hidupnya dengan kerja kerasnya sendiri. Dan mereka berjanji akan hidup dan mati bersama di bawah pohon cemara pinggir laut.

Dari permintaan Ayah Tono tersebut. mestinya Ayah juga yang mesti bertanggung jawab. “Nia. tanpa sepengetahuan Nia. adikku. Ayah yang berbuat. disetujui oleh Ayah. muka Nia memerah dan tidak mau menikah dengan Tono.” Lalu ayah berkata.” Dan Rafli pun. Lalu Nia berkata. akan tetapi aku tidak dapat berbuat banyak. di mana tempatnya terakhir bertemu kekasihnya Rafli. Datanglah sebelum Tono melamarku…!!!!” Sebagai kakak. Rafli menghilang bagaikan di telan bumi. dengan ayah?” Nia menjawab. anak seorang saudagar yang kaya raya. Apalagi karena Tono sejak dulu memang memendam perasaan cinta untuk Nia. “Nia. ya Allah. “Kamu mau bantu ayah kan?” Lalu Nia menjawab. iyalah Nia bisa dan mau bantu Ayah. “Ya. Pak Sugih. maka semua utang yang ada pada ayah kami. apalagi demi melunasi hutang Ayah. untuk menikahkan anaknya dengan putranya. Rafli pun melompat dari atas pohon tersebut. Lalu Rafli menemui Nia yang sedang menjemur pakaian di belakang rumah. keputusan Ayah telah bulat. pulanglah…. Ayah. dan menikah dengan Tono. Dan Nia pun terpaksa menuruti perkataan ayah. “Tapi kamu sudah punya calon suami Nia…. “TIDAK AYAH! Nia memang sayang dengan Ayah. teryata kau…. dan langsung mendorong Rafli.” Lalu Ayah berkata. Begitu berat ujian yang kau berikan ini. apa yang ayah lakukan? Dia kekasih Nia yang selama ini membuat Nia bahagia. aku pun merasakan kesedihan yang dialami oleh adikku. Lalu Nia berlari dan memeluk erat tubuh Rafli.” Lalu ayahnya berkata. Maka ketika ayah terlilit utang dengan keluarga mereka. anak Pak Sugih untuk membantu melunasi hutang-hutang ayah?” Dengan kesal lalu Nia menjawab dengan ketus.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen tersebut. kamu mau kan menikah dengan Tono. “Iya. ayah kami. “Ayah. Setelah itu. dengan serta merta ayah Tono mengajukan persyaratan tersebut. “Tuhan cobaan apa yang kau berikan pada hambamu ini. bahwa Rafli pernah berkata. Rafli beserta teman merantaunya kembali ke desa Pulau Telo. Dia mengakhiri hidupnya di pohon cemara pinggir laut. Rafli. Satu tahun dari pernikahan Nia dan Tono. Ayah Nia melihat. berkata kepada Pak Bowo. Beberapa hari kemudian. ya Allah. “APA??! Nia. semuanya akan dianggap lunas. tapi cinta Nia tidak bisa dipaksakan. Tidak lama kemudian. bagaikan Spiderman.” Lalu Rafli menjawab. Ayah berkata. dan berjanji akan hidup dan mati bersama. Lalu Rafli memangil Nia dari atas pohon. ayah dari Tono. Lalu Nia berkata. kamu sayang kan. Lalu Nia terkejut mendengar suara yang dulu sering dia dengar. Nia sangat menyesali dirinya. Setelah Nia mengetahui semuanya itu. Aku di sini merindukanmu. langsung pergi meninggalkan Nia. Dan ternyata Nia pun sudah tiada. halaman 60 dari 83 halaman . Dia lupa.” Lalu Nia berlari ke bawah pohon cemara di pinggir laut.

Dan berakhirlah sudah cerita ini. halaman 61 dari 83 halaman . Ternyata begitu besar cinta yang terjalin antara Rafli dan Nia.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen bahwa tempat pohon cemara itu adalah tempat di mana mereka berjanji. Nia pun mengakhiri hidupnya di pohon cemara itu juga. Dan akhirnya. akan hidup dan mati bersama.

Mbak. gih. Mbak Murti jadi terlihat seram dengan wajah yang bengkak-bangkak begitu. Kamu wis mandi? Sudah pagi. “Biasa. Waktu itu aku pernah ikut duduk-duduk di warung Bu Warsih saat ibu-ibu halaman 62 dari 83 halaman . “Ngjemur nih ye. Mbak Murti hanya cengengesan menanggapiku.” Aku tidak pernah mengerti maksudnya.mbak. Sudah ya. rahang bawahnya kebiru-biruan dan bengkak dan bibir bawahnya yang sobek juga tambah bengkak.” kataku sambil berlalu masuk ke dalam rumah. Hari ini ada yang lain lagi dari Mbak Murti. Mbak Murti selalu menjawab. Mbak? Kok yang sininya jadi biru?” tanyaku sambil memegang rahang bawahku. “Itu mukanya kenapa.. Pasti baju-baju Ibu Tanti dan Pak Adri.” godaku pada Mbak Murti.. karena yang ia jemur adalah pakaian yang bagus dan besarbesar ukurannya. ntar kamu telat masuk sekolahnya. Sudah sana.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen MURTI Oleh: Loise Viranti Lasnida Mbak Murti keluar dari rumah besar itu. “Biasaa. membawa ember penuh berisi pakaian yang aku yakin pasti bukan pakaiannya.. Aku diam melihatnya dari luar pagar. Lah aku masih libur kok..” “Ntar aja aahh mandinya. setiap ditanya.. pikirku. Selalu begitu.

Tapi sekarang aku jarang bertemu Mbak Murti. jengah dengan obrolan ibu-ibu tersebut. Terus. Aku menoleh ke wajah ibu yang sedang menjadi pusat perhatian karena bersemangat bercerita itu dan mendengarkan. temanku yang mempunyai televisi di rumahnya dan menonton bersama orang-orang yang sedang ikut menumpang.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen sedang belanja memilih-milih sayuran. Jadi apa “biasa” yang dimaksud Mbak Murti itu maksudnya adalah dipukul oleh Ibu Tanti? Kok disiksa seperti itu dianggap biasa? Aku kasihan sama Mbak Murti. Kasian banget deh si Murti. Mereka belanja dengan ribut sekali. Kira-kira ia akan mudik ke rumah ayahibunya tidak. pas paginya saya tanya sama si Murti.” cerita ibu itu dengan wajah yang semangat. Toh setiap ibu-ibu berkumpul akan seperti itu. Dulu waktu ia baru-baru datang. kita mau tinggal dimana? Hahaha. Acara di televisi sedang diganti dengan iklan. Biar kapok dia!” sahut ibu yang lainnya.” timpal ibu lain yang rumahnya di sebrang rumahku. Tidak ada ekspresi prihatin dari wajahnya. Sepertinya Murti disuruh tidur di luar sampai pagi. Aku pergi ke rumah Resih. Ia suka bertanya-tanya tentang sekolahku dan sering mengajariku matematika. ya? Mbak Murti pernah bilang padaku bahwa ia sangat rindu kampungnya. Tapi toh apa bedanya. Aku selalu dinasehati Mbak Murti setiap kali malas belajar. Katanya karena sebenarnya ia ingin sekali melanjutkan sekolahnya. Mbak Murti suka bermain denganku dan ngobrol-ngobrol. yang aku kenal betul wajahnya karena ia pernah ke rumahku. iklan-iklan makanan yang ditawarkan untuk berbuka. bergosip.. seharusnya kita laporkan saja Bu Tanti sama polisi. “Emang deh. yang mondar-mandir sambil mematuk-matuk beras yang tersebar di tanah. kuli bangunan yang suka menganggur jika tidak ada yang membutuhkan tenaganya. padahal Mbak Murti baik. dia malah nangis. Mbak Murti sangat peduli dengan pendidikan dan sekolahku. menyebut nama Mbak Murti dan Bu Tanti. Wong rumah kita aja masih nyewa sama dia. “Tapi nanti kalo kita laporkan Bu Tanti. Sampai aku mendengar salah satu ibu yang rumahnya tak jauh dari rumah sewaan keluargaku. yang bisa bersekolah karena SD saat ini dibiayai pemerintah. Aku tetap asik memakan agar-agar yang kubeli sambil bengong melihat ayam-ayam di depan warung Bu Warsih. memanggil ayah untuk meminta ayah membetulkan genting rumahnya. “Tuh kan. Lalu aku pergi dari warung Bu Warsih. di sini juga halaman 63 dari 83 halaman . Aku ingat ini bulan Ramadhan. Lalu aku memikirkan Mbak Murti. Ya begitulah pekerjaan ayah. Begitu juga ibu-ibu yang lain. sebentar lagi lebaran. Bu Tanti itu sudah keterlaluan. Kemarin malam si Murti saya lihat sedang tidur di luar. Berbeda denganku. Awalnya aku tidak memperhatikan apa yang mereka ributkan. kecuali kalau sedang menyapu teras atau menjemur pakaian seperti tadi. tapi aku sangat malas dan pernah tidak naik kelas. Dari pagi sampai Maghrib Mbak Murti sudah jarang sekali keluar rumah. Aku tidak tahu kampungnya di mana. tapi tidak bisa karena tidak ada biaya.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kampung. Tapi Mbak Murti hanya diam dan menunduk ikut melihat kakinya. Awalnya Mbak Murti terlihat senang-senang saja bekerja dengan Ibu Tanti. aku pun keluar. ia membutuhkan pembantu untuk membantunya mengurus rumah. Mbak? Sama kayak tuh muka? Kok betah sih. Dan sepertinya Pak Adung pergi dengan meninggalkan hutang sewa kamarnya. Meskipun Jakarta adalah kota yang megah dan besar. seorang kuli panggul di stasiun yang juga menyewa kamar milik Ibu Tanti. Tapi aku terlanjur bangun. Panas sekali di dalam kamar ini. Mbak?” tanyaku sambil melihat ke arah kaki Mbak Murti. Berbeda dengan tempat tinggal kami. Pantas saja di luar seperti masih gelap. Ndah?” “Kakinya kenapa itu. Setiap sore ia biasa keluar dan bermain denganku. Tapi sudah tiga bulan ini sepertinya semua berubah. “Dasar si Adung kurang ajar. Aku berjalan ke depan rumah megah itu dan memegangi pagar. Mbak Murti mengerutkan dahinya. sama seperti keluargaku. “Eh Mbak Murti. “Loh kamu kok sudah bangun. Apalagi sejak Pak Adung. Karena waktu itu aku pernah melihat Ibu Tanti berdiri di depan kamar Pak Adung sembil bersungut-sungut. bagiku tetap saja aku tinggal di kampung. bukan di dalam gang seperti ini. rumah Bu Tanti adalah rumah yang paling besar. bisa terlihat besarnya rumah Ibu Tanti dan kulihat ada Mbak Murni duduk di teras rumah itu. mungkin ia sudah pindah atau malah sudah pulang kampung. lima bulan nunggak sekarang malah ngilang. Karena itulah Mbak Murti datang. Dari depan tempat tinggalku. kerabat dari paman Mbak Murti yang membawanya ke sini tidak kembali ke kamarnya. Setahuku semua rumah dan kamar ini adalah milik Ibu Tanti yang setiap bulan menagih pembayaran sewaan pada kami. Mbak?” panggilku dengan setengah suara. “Dipukul ya. Aku lihat jam dinding yang diletakan di atas tumpukan baju ayah menunjukkan pukul setengah lima pagi. Ada rumahrumah kecil dan juga kamar-kamar petakan seperti tempatku dan keluarga tinggal. aku penasaran ada apa dengan kakinya yang membuat jalannya terseret. halaman 64 dari 83 halaman . Dulu Mbak Murti datang dari kampungnya karena dibawa oleh Pak Adung. Hampir semua tempat tinggal di sini milik Ibu Tanti. Jakarta adanya di balik gedung-gedung bertingkat dan jalan tol yang macet. Mbak Murti terlihat kaget dan berjalan menghampiri aku di seberang pagar dengan tertatih-tatih. Rumahnya tingkat dan pagarnya berukir tinggi. Mbak?” tanyaku langsung. ngapain di situ. Awas saja dia!” *** Pagi ini aku bangun kepagian. Mungkin karena rumahnya yang besar itu. Sudah dua bulan batang hidung Pak Adung tak terlihat.

aku ditampar. “Aku denger gosipnya. Ntar aku diomelin sama Ibu. Ibu Tanti sesumbar. “Ntar makin jadi-jadi kalau aku lawan. Dulu kupikir kekerasan seperti itu hanya ada di televisi dan berita-berita saja. Ndah. Ndah. Ternyata di sinipun ada. Mbak diapain toh Mbak? kok bisa jadi begini?” Mbak Murti hanya diam lama sekali sampai akhirnya buka suara dengan wajah sendu dan berkaca-kaca. Mungkin Bu Tanti takut Mbak Murti melaporkannya ke polisi. Aku ndak boleh salah. Sedangkan Bu Tanti masih tetap panik dan berusaha mencari Mbak Murti. Ia memaksa kami. Mbak. Waktu ibu-ibu lagi belanja di warung Bu Warsih. Aku berharap. Kalau nyuci ndak bersih.” Aku mengangguk dan berbalik pulang ketika kulihat Mbak Murti juga berjalan masuk ke dalam rumah. Ndah? Kamu lihat?” wajah Mbak Murti panik sambil memegangi rahangnya yang masih bengkak dan biru. Aku kan ndak tau apa-apa. aku ndak boleh makan. pikirku. Aku sendiri tidak tega melihatnya. Ibu Tanti kewalahan mencari-cari Mbak Murti. “Aku dipukuli. Sudah sana kamu pulang. Terkadang rindu juga aku dengan Mbak Murti. Ndah. Mendengar ceritanya langsung seperti ini aku jadi ikut sedih.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Loh. tidak ada kabar lagi tentangnya. Nanti kalau ibu bangun terus lihat kita. semoga saja Bu Tanti sadar dan kapok menyiksa pembantu seperti Mbak Murti. Kamu jangan bilang apa-apa ya ke orang-orang sini. Tapi sudah seminggu sejak kepergian Mbak Murti. Jangan mau digituin. Tapi di manapun dia sekarang. *** Beberapa minggu setelah aku mengobrol dengan Mbak Murti. Kalau nyapu ngepel ndak beres. ia bilang Mbak Murti pergi dengan mencuri perhiasanperhiasannya dan ia bilang selama ini Mbak Murti tidak pernah beres kerjanya.” kataku dengan kesal dan geram. Setidaknya ia tidak dipikuli dan disiksa lagi oleh Bu Tanti. Ini muka jadi biru karena dijedotin ke meja. Tapi jadi aku yang diomelin. Kupikir hanya orang di negeri seberang sana saja yang suka menyiksa pembantu. kok kamu tau. Udah dulu ya. *** halaman 65 dari 83 halaman . warga sekampung. Kayanya ia kabur dari rumah. aku bisa diomelin. melaporkan keberadaan Mbak Murti apabila melihatnya. Ndah. Gara-gara Bu Tanti kesel sama Mang Adung.” Mbak Murti menangis. Bahkan orang sekitarku sendiri. “Lawan toh Mbak. Ibu Tanti keras banget. aku lega.

Dia tersenyum kepadaku cantik sekali. Dia terlihat angkuh. Ooo. Ckckck. "Hai. Aku malu.. Oca?" halaman 66 dari 83 halaman . tapi ah. aku langsung menuju ruang kelas ku. Tidak disangka.. Aku segera berlari ingin pulang karena film kesukaanku siang ini akan diputar di televisi. syuuuttt. siapa namamu?" Waaa suaranya halus sekali. Waktunya pulang sekolah. "Hihi." Keesokan harinya.. Tiba-tiba…. Kelasnya di mana sih?" "Kelas 12 Sos D. Aku terpeleset di lantai yang basah. Nda. Aku ingin menyapa. Sepertinya dia murid baru di sekolahku. semua itu merubah pikiranku sebelumnya. sepertinya tidak perlu. lain kali hati-hati ya. Sesampainya aku di sekolah.. Ternyata dia baik... sepertinya terburu-buru sekali.. Kamu murid baru.. Murid baru itu menolongku. bikin iri jadinya. seperti biasa aku menuju sekolah di antarkan oleh kakakku. Saya Nanda. "Saya Oca. lagi pula bel masuk sudah berbunyi. ya? Siapa namanya?" "Ya benar. Tiba-tiba mataku tertuju kepada seorang perempuan cantik yang asing bagi ku...BEJAT: sebuah kumpulan cerpen SI CANTIK YANG MALANG Oleh: Fazra Fatima Azzahra Di suatu pagi yang cerah..

"Hai. Ca." Bel masuk pun berbunyi.” “Aku jadi sedih. Wkwkwk. Aku ngga ngerti kenapa semua orang benci sama aku. Nda???” “Nanti aja ya. diperlakukan seperti boneka.. yah. Pertama kali liat kamu. aku ini merasa sangat tersiksa di rumah ini." aku menghampiri teman-temanku. Setiap aku dari luar negeri dan memberi oleh-oleh untuk mereka. rumahnya gede??” “karena aku di sini tinggal bersama orang yang tidak aku kenal. dan sekarang aku tinggal bersama laki-laki paling kejam. iya. ngga seperti orang-orang yang lainnya.. Temen-temen di kelas semua mencibir aku. hehe... Aku segera bergegas pulang. Nda??” “Kamu tahu tidak?? Aku dijual oleh mereka..? Nanda udah nungguin aku di depan kelas? Rajin banget.” “Terus kenapa kamu ngerasa hidup kaya di neraka di rumah ini? Padahal kan di sini enak. Mukanya kaya orang pengen ngajak ribut. Ca?" “Emang siapa yang sebel sama kamu?? Emang mereka ngapain kamu.. Banyak gaya." Ketika di mobil tiba-tiba Nanda menitikan air mata... Sipp. sebaiknya halaman 67 dari 83 halaman . aku.” “Kenapa ya.. "Nanda kenapa?" "A. Tetangga aku juga semua bersikap dan berfikir seperti itu. di rumah aku ceritanya..” Sesampainya di rumah Nanda.. Senangnyaa... mereka menganggap aku ini hanya ingin mendapat pujian. gayanya belagu. mereka berfikir seperti itu??” “Mereka berfikir aku ini sok pamer. Menurut lo gimana. Bel pulang berbunyi. Aku pulang bareng kamu yah?" Haa. Setiap hari. Ca.. Ca. "Hmm. Ca. aku merasa seperti di neraka. hiks. “Nanda. Mereka nganggep aku sombong. Sok ngartis.. dan yang terpenting—dan sangat pribadi sebenarnya." "Tapi kamu yang ikut mobil aku. Bel pulang lima menit lagi berbunyi. Ca?" sahut Dania. mereka justru yang memandang aku sinis... a.di sekolah juga." Kring kring…. Aku di sini disiksa.. Abis sebel tahu liat anak baru.. Oya.. Kan kita juga belum kenal sebenernya dia gimana. Tapi kenapa kamu kok terbuka banget cerita masalah ini sama orang baru kayak aku??” “Karena cuma kamu yang mau berteman sama aku.” “Memang orang tua kamu kemana. aku ngerasa kamu itu ramah. tapi gue juga ngga berani nilai orang sembarangan. kamu kenapa sih tadi???” “Hikksss…. Oke oke. Kita memasuki kelas masing-masing. doyan banget gosip sih. Ca. "Eh eh. Padahal setiap kali aku coba ramah atau senyum sama mereka. "Eh.. emang sih dia jutek mukanya. "Ia kenapa ya gosip itu enak. Tuh di seberang kelas 12 IPA A." "Oke lah. belagu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen "Oo… kalo gitu kita depan-depanan dong.

” Sebelum polisi itu datang… sepertinya semua sudah terlambat untuk menolong Nanda. Sungguh aku tidak kuat mendengarnya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kamu cepat pulang. huhuuuuu. halaman 68 dari 83 halaman . Tolong aku... “Ocaaaaaa…. Caaaaa. Nanda telah tewas karena ulah lelaki itu. Kemudian aku diseret paksa oleh lelaki paruh baya itu ke luar..” “ISTRI MACAM APA KAMU INI!!!!” Aku shock dalam hati….” Aku tidak dapat berbuat apa-apa selain berdoa meminta perlindungan dariNYA. Sungguh kejam. Saya minta maaf.. karena… aku melihat percikan darah yang sangat banyak memuncrat di gorden kamarnya yang berwarna putih. dan segera aku menelepon polisi.. karena kalau aku ketahuan membawa kamu ke sini…” “NANDAAAAA… NANDAAAAA!!!!! DI MANA KAMU????!!!” BRAKKKKK…. “DIAM KAMU!!!!! RASAKAN!!!!” “AAAAAAAAAAAAA……. Aku mendengar teriakan dan isak tangis Nanda. Ocaaaaa…. HAH??!!” “Aa… aku.. Astaghfirullah… istri???? Tega-teganya orang tua yang menjual anaknya sebagai istri orang lain. “Maaf… maaf. min… minta maaf.” “APA-APAAN INI???!!!! SIAPA DIA??!!! SUDAH KUBILANG. JANGAN PERNAH MEMBAWA SIAPA PUN KE DALAM RUMAH INI!!! SUDAH BERAPA KALI KAMU BERBUAT KESALAHAN.

Seperti tidak ada masalah sama sekali dalam keluarga ini. Mereka adalah para pencuri padi yang sering berkeliaran di malam hari dan mencuri padi-padi para petani. Hidup terasa aman. merasa sangat senang dan nyaman tinggal di keluarga ini. Mereka juga tidak pernah mengeluh dengan kehidupan mereka. Ia tidak pernah mengeluh sekalipun tentang pekerjaannya yang hanya seorang petani. Dan keluarganya pun adalah keluarga yang sangat baik. dikarenakan orang tuaku yang pergi merantau entah kemana.” keluh Pamanku ketika ia tahu kalau padi-padinya yang siap panen dicuri oleh pencuri-pencuri jahat halaman 69 dari 83 halaman . Tetapi ternyata kabahagiaan Pamanku diusik oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Pamanku seakan-akan mempunyai hidup yang sangat nyaman dan nikmat. Aku pun yang hanya keponakannya yang menumpang di rumahnya. Tanpa perlu mengeluh dan mengatakan hal macam-macam yang tidak bisa dicapainya. Ingin rasanya di kala besar nanti aku menjadi seperti pamanku yang selalu bersyukur dengan keadaannya. “Aduh bagaimana ini? Padiku dicuri orang.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen JANGAN MAIN HAKIM SENDIRI Oleh: Lourin Hertyastiwi Pamanku adalah seorang petani yang sangat giat bekerja. dan tentram. Mau makan apa keluargaku kalau begini? Mana bisa aku dapat uang selain dari bertani ini. nyaman.

Setelah itu barulah si pencuri itu dibawa ke kantor polisi untuk diadili.” kata Pamanku dengan sangat bijak. “Aduh. Keesokan harinya. Dan sekarang dia sedang diadili di alun-alun desa. “Ya. Seharusnya kita memberikannya kepada pihak yang berwajib atau kepada Kepala Desa. aduh. Mungkin Tuhan memberikan cobaan ini karena paman kurang bersyukur kepadanya. Janagn kau pukuli lagi orang ini. agar nanti Kepala Desa untuk melapor. apa yang bisa aku bantu untuk Paman? Aku hanya bisa mengumpat saja dalam hati agar si pencuri itu ditemukan dan diberikan ganjaran yang setimpal. Kau masih tega memukulinya?! Dia itu sendiri dan kalian beramai-ramai memukuli dan menghakiminya. Saya kan hanya berusaha mencari makan. Saya minta maaf. Dan ternyata orang itu adalah seorang laki-laki dari desa sebelah. Pamanku itu memang orang yang benar-benar bijak. Ayo kita bawa dia ke pihak yang berwajib. Paman capek.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen itu. Paman ingin merenung dulu. Kebetulan aku sedang berada di sawah menemani Paman yang ingin segera memanen padinya. Aku memang suka melihat paman bekerja di sawah dan sesekali membantunya sebisaku. Kok Paman biarkan pencuri itu begitu saja? Maksudku kok Paman tidak ikut memukuli pencuri itu? Memangnya Paman tidak merasa dendam kepada si pencuri itu?” tanya ku kepada paman. “Kalau mereka baik tentu saja mereka tidak akan menjadi pencuri.. Pak. sudah cukup. Kenapa ia melakukan hal sebegini jahat pada kita sih. kan.. Tadi malam pasukan Siskamling memergoki si pencuri itu sedang mencuri padi di sawah.. Nak. Lihat mukanya sudah babak belur begitu. Aku memang penasaran kenapa paman bisa halaman 70 dari 83 halaman . Pak.” jawab Pamanku dengan sedikit kesal tetapi tetap saja terdengar bijaksana bagiku.” Terdengar suara seperti itu dari alun-alun desa ketika aku melewatinya. Akupun mendatanginya dan ternyata yang berbicara seperti itu adalah pencuri padi-padi warga.” kata salah satu dari orang-orang yang memukuli pencuri itu. tapi janganlah kita main hakim sendiri.” kata salah satu orang dari mereka... Tolong jangan bawa saya ke kantor polisi. Dasar orang-orang yang tidak bertanggung jawab kalau ketemu..” kataku dengan mengebu-gebu. Hanya Tuhan yang tahu jawabannya kenapa. biar nanti mereka yang mengadili. Maka berbondong-bondong lah mereka ke Kepala Desa. Apa itu adil?!” tiba-tiba Pamanku datang dan langsung menghentikan warga yang berusaha menghakimi si pencuri itu dengan pukulan-pukulan yang tentu saja tidak ringan tetapi pukulan yang keras. “Tapi kan Pak. “Sungguh jahat pencuri itu. “Hei. dia sudah mencuri padi-padi kita dan bapak juga salah satu korbannya. aku sangat bangga kapadanya. tetapi kenapa Tuhan memberikan ganjaran seperti ini kepada Paman. Sebenarnya menurutku Paman sudah banyak bersyukur. ampun. ampun. awas mereka. “Benar juga sih yang Bapak bilang.. Tetapi kalau padinya saja hilang. “Paman. Paman. Sudahlah. Kasihan juga pencuri itu.

Dan jika si pencuri sudah melanggar hukum. Dan kalau dendam. kita tidak seharusnya melanggar hukum juga seperti memukuli si pencuri itu. halaman 71 dari 83 halaman . “Kecerobohan Paman. dan kita mempunyai hukum-hukum yang harus ditaati.” jawab Pamanku dengan wajah yang sepertinya agak malu-malu. tetapi Paman bukan menjaganya tapi malah pulang dan tidur dengan nyenyaknya.. Tidak seperti warga yang lainnya yang mencoba menghakimi sendiri si pencuri itu. Mungkin bukan hanya salah si pencuri saja makanya padi Paman hilang.” pujiku kepada Paman. Jadi Paman ceroboh juga kan sehingga pencuri itu bisa mencuri padi Paman. karena Paman tidak menjaga padi itu dengan baik. Yang selalu baik dan bijaksana kepada siapa saja.. kita sesama manusia tidak boleh dendam. Ayo kita pulang. Sebenarnya Paman tahu kalau sudah ada pencuri yang berkeliaran.” Pamanku menjawab dengan sangat jelas dan sangat bijak. Dan hukumnya bukan hukum rimba yang suka mengadili sendiri si penjahat. Dan bijaksana “Wah Paman baik dan bijaksana sekali.” jawab pamanaku panjang lebar. “Nak. Aku bangga punya paman seperti Paman. mungkin saja karena ada ke cerobohan Paman makanya pencuri itu bisa mencuri padi Paman. Dia tidak hanya baik kepada keluarganya ataupun orang-orang yang dikenalnya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen sesabar itu kepada si pencuri. “Loh kecerobohan paman apa?” Tanya ku karena tidak mengerti apa yang pamanku bicarakan. “Ah kau bisa saja. Jika sudah besar nanti aku ingin menjadi seperti Pamanku. Pamanku adalah paman paling hebat di seluruh dunia. negara kita ini kan negara hukum. tetapi hukum yang adil untuk semuanya. Iya selalu bijak di setiap kondisi. Itu lah ciri-ciri Pamanku. tetapi kepada penjahat pun ia masih dapat menunjukan kebaikannya.

Ia adalah seorang bocah laki-laki yang masih berumur 9 tahun. Kehidupan ekonomi yang serba sulit mungkin membuat Ayahnya mudah marah. Jan tinggal sama siapa. Salah satunya sebut saja namanya. Jika sudah begitu. Jan juga sering disuruh Ayahnya untuk mengemis.. sekarang Jan tinggal di panti asuhan bersama dengan teman sebayanya dan juga ia bisa bersekolah. sang Ayah akan memarahinya dan memukulinya. Ia dan keluarganya memang tidak hidup berkecukupan. ”Bapak…. Jan.. Dan jika Jan pulang tidak membawa hasil yang memuaskan. kalo Bapak gak ada. Apalagi kedua orang tuanya sering sekali bertengkar. Jan hanya bisa berjongkok sambil menangis tersedu-sedu dan memanggil-manggil Bapaknya. saya sering menemukan kasus kekerasan orang tua terhadap anak-anaknya. Dalam menjalankan aktivitas saya. Saya ingat sekali ketika saya datang ke rumah Jan—setelah mendapat laporan dari tetangganya bahwa sang Ayah bunuh diri dan sang Ibu telah lama pergi dari rumahnya...?” tangis Jan.. Tapi sayang tangan Jan agak halaman 72 dari 83 halaman . Setelah kasus Jan di proses. Ayahnya akan memanggil Jan hanya untuk memarahi dan memukulinya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen JAN Oleh: Marsha Jozana Nama saya Siska. Saya adalah seorang aktivis perlindungan dan hak asasi anak.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen tumpul. halaman 73 dari 83 halaman . Walaupun ia masih terlihat trauma dan sedih jika mengingat kedua orang tuanya. Sekarang Jan dapat bermain dan melakukan aktivitas seperti anak-anak seusianya. Karena dulu. Apalagi ia tidak mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya sebagai selayaknya seorang anak. sang Ayah suka melempar benda tumpul ke tangannya. saat memarahinya. Kisah Jan ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Sehingga sekarang tangannya tak bisa di gerakkan.

" “Memangnya kenapa.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KENANGAN Oleh: Muhammad Garit N Pada suatu hari ada sekumpulan anak di pekarangan. sampai akhirnya Rudi menghampiriku. Bisakah aku melawati ini semua? Mungkin ini hanya cobaan dalam masa laluku ini. memalak orang-orang yang lewat di depan aku. Pak? Matanya kok berair?” tanya Rudi. Pak?” tanyanya. Nak. Di sekumpulan itu ada anak yg paling besar bernama Rudi.olok dan menyiksa teman-teman yang badannya lebih kecil dari pada badannya. Dan aku juga teringat masa masa di mana aku memukul. Aku berjengit dan teringat saat aku mulai bertaubat.” “Kok sekarang pake peci dan sarung?” tanyanya. “Tidak. Dan Rudi paling suka memperolok. “Sampai-sampai bisa membuat Bapak halaman 74 dari 83 halaman . Kemudian aku terngiang masa laluku yang kelam. Bapak hanya teringat dengan masa lalu Bapak. Lalu aku terhenyak lagi. Aku terhanyut dalam lamunan. Kenangan saat indah itu datang dan pergi. menikam. “Iya. Sampai membuat bapak menangis. Lalu si Rudi berbicara. yang dulu jadi preman itu kan?” Aku menjawab. Masa di mana aku pun berlaku sedemikian rupa. “Kenapa.” “Pasti masa lalu bapak mengharukan. “Bapak. Tiba-tiba aku teringat masa lalu.

.” “Memangnya belahan hati Bapak tersiksa kenapa?” “Saya sudah melakukan hal yang sangat memalukan terhadap dirinya.” “Jadi.” “Lalu. Pak. “Ya. Dia hanya saya jadikan mainan. Ya. Dan setelah melihat kamu. Seolah-olah telah tertanam masa lalu saya yang kelam dalam dirimu. Dan sekarang sudah meninggal karena kecelakaan. Pak?” “Wajahmu memngingatkan aku pada seseorang yang sepertinya paling terluka oleh perlakuan saya di masa lalu.” Aku juga berkata lagi. “Saya tidak tahu hal itu.” “Waaahhhhhh.” “Terluka kenapa. Sebegitu mudahnya ia mengajukan pertanyaan yang sudah kukubur jauh di dasar pikiranku. Hati saya terasa teraduk aduk. yang di mana gadis itu telah menjadi belahan hidup saya sendiri. O iya.. “Dan saya pernah mendengar juga bahwa dia telah melahirkan anak laki-laki gagah perwatakannya. Pak? Emang disakitin sama Bapak?” Aku menghela napas mendengar pertanyaan anak itu. menerima saya apa adanya. agar tidak ada lagi kejadian yang pernah kubuat.” “Ooo. Dia mencintai saya dengan tulus. Bahkan saya menuduhnya berzina dan membuatnya malu di hadapan orang-orang sekampung. ” tambah deras lagi air mata yang aku keluarakan. Oleh karena itu saya mengusirnya dan melarangnya menemui saya lagi. Nak. wanita itu istri Bapak?” “Iya. “Memangnya sekarang belahan hati Bapak kemana?” “Dia sudah tiada.” “Memanfaatkan seperti apa? Menyakitkan. “Waktu itu ada gadis yang mencintai saya.. Nak. lalu setelah dia mengandung. Bapak tinggal saja?” “Ya. Bapak saya mengadu nasib keluar negeri. orang tuamu di mana. “Karena saya belum siap dan saya juga merasa tidak bisa menghidupi dia apabila saya menikahinya. kah?” tutur Rudi. Tapi melihatmu saya jadi merasa rindu yang teramat sangat. Karena kamu menyerupai dengan belahan hati bapak. sampai akhirnya dia mengandung. Tapi saya tidak mau mengakuinya. Masa lalu saya yang sangat kelam tidak baik untuk dibuka lagi. akan kuceritakan kepadanya. Kita kan baru ketemu. Nak?” “Saya hanya punya ibu.. walaupun sakitku menerpa lagi. Tapi saya malah memanfaatkan dia. Tapi dia sudah lama meninggal.” Dan aku beralasan. Nak.. Tidak cuma itu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen menangis?” “Tidak. Nak. Kata Ibu. Pak. “Memangnya beliau sakit?” “Dia tidak sakit fisik.” dengan tetes air mata yang keluar aku pun bersedih karena teringat istriku yang telah tiada itu. memangnya kamu tinggal di sekitar sini?” halaman 75 dari 83 halaman . belahan hati Bapak sekarang di mana?” kata Rudi.” “Mana mungkin ah. Bingung kenapa. tapi saya yakin batinnya sangat tersiksa.

aku terhenyak.” “Itu Pak. Kalau Ayahmu masih ada. Ibu saya. berdiri seorang wanita yang begitu kukenal.” “Bapak mau mampir ke rumah?” “Boleh saja. Wajah yang selalu terbayang sejak 10 tahun yang lalu. Ibu saya namannya siapa?” “Iya. Setelah beberapa jarak lagi sampai di rumah Rudi. di depan pintu rumah Rudi. Tadi Bapak tanya. Tidak. Memangnya siapa?” tutur aku.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Iya Pak. halaman 76 dari 83 halaman . Di sana ada Ibu saya. rumah saya. wajah yang dulu kusia-siakan begitu saja. Sekalian saya mau tahu ibu seperti apa yang mempunyai anak sebaik kamu. Wajah yang dulu memelas memohon belas kasihanku. Di sana. Rumah saya di belakang lapangan ini. Aku diam seribu bahasa dan terdiam mengenang belahan jiwa yang dahulu aku sakit. pasti dia sangat bangga kepadamu. ini tidak mungkin. Dan di depannya.

Namun dia selalu menghindar dan selalu mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Dia tidak mudah bergaul. halaman 77 dari 83 halaman .” Lalu sesuai dengan perintahnya. Karena itulah teman-teman di sekolah sering menjahilinya. kuhampiri Dinda. cepat kau pergi dari sini! Jangan hiraukan aku.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KEKERASAN PADA ANAK Oleh: Munadhilah Ummahat Siang yang terik. dia berkata. “Sudahlah. Percayalah. Ketika aku hendak bertanya kembali. dengan raut wajah yang berubah cemas. Dengan rasa iba. Dinda termasuk anak yang pendiam dan sangat tertutup di sekolah. Kadang aku pun selalu berusaha ingin membantu segala masalah yang nampaknya sedang dihadapinya.” jawabnya singkat dengan raut wajah yang malu. “Aku sedang dihukum. aku baik-baik saja. aku pun pulang dengan segudang pertanyaan yang masih menggantung dalam benakku. Aku sangat kasihan melihatnya. Aku sedang berjalan pulang ke rumah ketika kulihat Dinda— tetangga sekaligus teman sebangku ku—berdiri di halaman depan rumahnya sambil mengangkat satu kakinya dan menjewer kedua telinganya sendiri. mengapa hari ini tidak masuk sekolah? Dan sedang apa kau di sini?” tanyaku. panas yang ditimbulkan terasa sangat menyengat. “Dinda.

Pernah suatu hari. keesokan harinya aku pun segera melaporkannya ke Wali Kelas. Sebenarnya Pak Guru ingin menghukumnya tetapi melihat keadaannya yang seperti itu beliau mengurungkan niatnya. kalau begitu lain kali hati-hati di jalan dan jangan terlambat lagi ya…” kata Pak Guru Dinda pun mengangguk dan langsung menuju kursinya. Dinda?” Lalu Dinda menjawab dengan agak ragu. Ibu Dinda pun mengakui perbuatannya tersebut dengan alasan bahwa hal itu pantas diterima oleh Dinda. Wali Kelas pun menjelaskan bahwa didikan tersebut merupakan didikan yang salah. itu merupakan awal dari kedisiplinan. Akhirnya. Dia banyak bercerita tentang kehidupannya. Dinda diam di kursinya.. Dinda disuruh Ibunya untuk mengepel seluruh lantai rumahnya. “Apa benar Ibu sering memukuli Dinda?” tanya Wali Kelas. itulah penyebab seragamku robek.. Lamunan ku pun buyar ketika tak terasa aku telah sampai di rumah. seorang anak diberi contoh yang benar dan nasihat yang baik bila melakukan kesalahan-kesalahan. Beliau berpendapat bahwa perbuatannya itu benar. Tidak berhenti sampai di situ.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Aku jadi teringat.. Dinda masuk sekolah. Dengan lirikan yang malu-malu akhirnya Dinda pun menyambut tawaran ku tersebut. Dengan tergesa-gesa Dinda pun mematuhi perintah Ibunya. Menit berganti menit. Kali ini aku mengurungkan niat untuk istirahat di luar kelas. tentang Ibunya yang sering memukulinya. Keesokan harinya. saya jatuh saat berlari menuju sekolah tadi. Kemudian dia akan mengeluarkan bekal makan siangnya. seperti biasa. “Mm.” “Oo. “Kenapa baju seragammu robek. ibu Dinda pun dipanggil untuk menghadap Wali Kelas. saat ingin berangkat ke sekolah. Beliau hanya bertanya. Ibunya pun mengatakan bahwa beliau tidak akan memberikan bekal makan siang untuk Dinda dan hukumannya pun akan dilanjutkan setelah Dinda pulang sekolah. menunggu seluruh siswa di kelas kosong.” ucapnya di sela-sela ceritanya. Ibunya marah-marah sambil memukulinya dengan ikat pinggang hingga baju seragamnya robek. Sejujurnya. Saat bel istirahat berbunyi. memulai pembicaraan. aku tidak yakin dengan jawabannya itu. pernah suatu hari dia datang terlambat ke sekolah dengan baju seragam yang robek di beberapa bagian.. Tak lama kemudian. ya sudah. Sebaiknya. Mendengar kisahnya tersebut.. Tak terasa kami mulai akrab. karena Dinda adalah anak yang ceroboh dan sering melakukan kesalahan. halaman 78 dari 83 halaman . “Sebenarnya. Tak sengaja ember yang berisi pembersih lantai tersenggol dan tumpah olehnya. Kukeluarkan bekal makan siangku dari dalam tas. Pak. Apalagi bila kesalahan tersebut bukanlah termasuk kesalahan yang besar. “Mau?” tawarku pada Dinda sambil menyodorkan bekal makanan.

Aku duduk menanti kedatangan kereta yang sudah telat lebih dari satu jam memperhatikan dari awal aksi Sarimin di peron seberang. Sarimin memakai topeng…. Di akhir pertunjukan terlihat Sarimin meminta uang kepada penonton yang telah melihat aksinya tadi. payungnya. Walaupun anak-anak terlihat senang dengan aksi Sarimin. Sesekali anak-anak yang menonton tertawa melihat tingkah Sarimin. Sarimin naik kuda kayu…. Sarimin memakai payung…!” Teriak sang Pawang monyet untuk memperjelas aksi Sarimin kepada anak-anak yang berada di sekelilingnya. topengnya. Pawang Sarimin menarik-narik rantai yang panjang untuk menyuruh Sarimin melakukan aksi berikutnya. Di tempat itu bukan hanya ada Sarimin dan sang Pawang namun beberapa pemain gamelan yang mengiringi Sarimin beraksi. Sarimin artis topeng monyet yang menjadi pusat perhatian anak-anak di setiap aksinya. halaman 79 dari 83 halaman . Namun Sarimin terlihat berjalan terseok-seok dan terpaksa memegangi rantai mungkin lehernya kesakitan karena ditarik. apalagi dengan rantai di lehernya yang rapuh. Sarimin terlihat tidak begitu nyaman dengan kuda kayunya. Ya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen BALADA SARIMIN Oleh: Nadia Khaerani “Sarimin pergi ke pasar….

halaman 80 dari 83 halaman . Yah kalo tetep nggak nurut pukul aja. Dek. Sarimin hanya dieksploitasi tanpa diperhatikan hak hidupnya. “Awalnya sih nggak dikasih makan supaya dia nurut. Setelah Sarimin masuk ke kandang sang pawang pindah ke peron dimana aku duduk. monyet-monyet tersebut bukan milik mereka. aku mendekati Pawang Sarimin dan bertanya. Sarimin yang kelelahan terpaksa harus menuruti sang Pawang dan melakukan atraksi lagi.” Mendengar hal itu aku bertanya dalam hati. dan tidak diberi makan. Awalnya aku cukup prihatin dengan redupnya topeng monyet sebagai salah satu hiburan tradisional. Menurut Pawang mungkin itu cara yang benar untuk mendisiplinkan Sarimin.” Kurang puas dengan jawaban itu aku bertanya lagi. baru dikasih rantai supaya ngerti yang harus dia kerjain. Soalnya kalo sering dikasih makan nanti dia kenyang dan gak mau kerja. kalau begini berarti pertunjukan topeng monyet termasuk animal abuse yang merupakan kekejaman bukan hiburan.” Astaghfirullah! Ternyata benar. Sudah seharusnya topeng monyet dihentikan kalau tetap menggunakan kekerasan. Nanti dia nggak mau kerja. “Dulu ngelatihnya gimana Pak?” Dan jawaban yang kudapat cukup mengagetkan. Di akhir pertunjukan saat Sarimin meminta uang kepada penonton. Pak?” “Ya. Aku berdoa dalam hati agar usaha topeng monyet yang seperti ini mati dan si pawang mencari pekerjaan lain sehingga Sarimin-Sarimin yang lain dapat terselamatkan. Pawang memulai lagi aksinya. Sebelum Sarimin mengambil kue itu. ada seorang anak yang memberi sepotong kue kepada Sarimin. “Tapi tetep dikasih makan kan. Untuk menjawab pertanyaan itu. Nah abis itu. Kandang itu kecil sehingga Sarimin harus menunduk untuk bisa duduk di dalamnya. Pawang menarik rantai Sarimin sambil berkata. Sang Pawang menghampiri Sarimin dan memukul kepala Sarimin.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Setelah penonton bubar Sarimin ditarik dengan kasar untuk masuk ke dalam kandang yang dipikul oleh sang Pawang. Sarimin tetap tidak mau keluar dari kandang. untuk apa sebenarnya Sarimin ini? Diperlakukan kasar. Namun mungkin sang Pawang hanya berfikir. “Jangan dikasih makan. jarang-jarang. “Toh hanya sewaanpawang topeng monyet hanya menyewa. Tetapi setelah mendengar pernyataan dari sang Pawang aku merasa senang dengan hal ini. Mungkin karena kelaparan. Sarimin mengambil korek api dari jalan dan mengunyah-ngunyahnya. tetapi bagaimana kalau Sarimin mati kelaparan? Menurutku itu hal yang sangat kejam. Namun setelah ditarik dengan rantai.” Sarimin tetap makhluk hidup yang memiliki hak untuk bertahan hidup.

Biasanya jika ada manusia yang aku—atau bangsa kami terkam. hanya kami gigit satu bagian tubuhnya. lalu kami tinggal pergi.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen !!! Oleh: Arie Toursino Hadi Aku berdiri di sebuah batang pohon. Namun ia tidak pernah berhasil. Aku terbiasa makan binatang liar seperti kancil. bagaimana cara mengalahkan Wulu Ireng yang sudah menghabisi semua anak-anakku. Aku dan Wulu Ireng memperebutkan tempat yang sekarang menjadi milikku. Sudah berkali-kali Wulu Ireng datang padaku. demi mendapatkan aku agar keluar dari tempat halaman 81 dari 83 halaman . Kini yang ada dipikiranku. Tempat itu adalah hutan rimba yang dekat dengan lapangan yang biasa dijadikan warga sebagai tempat mengembala hewan ternaknya. Jika semua itu tidak ditemukan. atau kerbau liar. Nafsu makanku seakan terkubur oleh perasaan dendam yang membara dalam hatiku. dan mencoba mengalahkanku. sehingga kami sulit dilacak warga. Hingga pada waktu itu. Hal itu berawal dari perebutan wilayah kekuasaan pada tahun-tahun yang sudah lampau. Kupandangi seluruh semaksemak yang ada di hadapanku. Sudah tiga hari ini aku tidak makan—atau lebih tepatnya belum sempat makan. rusa. Tapi itu beberapa hari yang lalu. Aku jarang memangsa manusia. aku biasa pergi ke perkampungan untuk sekedar mencuri hewan ternak mereka. Cukup banyak tempat yang dapat dijadikan persembunyian.

Ku langkahkan kaki masuk ke dalam. Aku harus waspada. Satu lompatan besar sebelum akhirnya aku berada di depan sebuah gua yang biasa menjadi tempat persembunyian Wulu Ireng. Dan terus menggeram setiap aku langkahkan kakiku untuk menghampirinya. Aku pikir dia pun demikian. Setiap satu langkah. Hukum di bangsa kami menyebutkan. Yang aku tahu. Ku perhatikan ceceran darah yang ada di lantai. Kembali kuperlihatkan gigiku. Aku diberi tahu burung Jalak yang melihat kejadian tersebut. Itu lebih terdengar seperti suara anaknya. ruangan gua semakin gelap. Aku sudah unggul satu angka sebelum kami berkelahi. mata kucingku yang mengkilat tajam memandang setiap sudut ruangan. Gigiku kuperlihatkan. Aku bersiap untuk menerkam. Ia pun menggeram. suara geraman itu pada awalnya terdengar seperti ancaman agar aku tidak mendekatinya. Suara sayatan itu seolah terdengar hingga keluar gua ini. Wulu Ireng menyerang anakku dan membunuhnya. Aku masih belum juga menemukan sosok Wulu Ireng.. hingga terdengar seperti tangisan memohon agar aku tidak membunuh anaknya. aku akan tetap membunuh anaknya. Dan kini. Dari sini aku bisa mencium baunya yang khas. tanda bahwa apapun yang terjadi. Hingga akhirnya aku sampai di ujung gua itu. Kulihat dengan tajam yang ada di hadapanku. Suara tangisan itu mulai mengganggu pendengaranku. Aku pikir ia pun tahu konsekwensi hal tersebut. Tapi nasi sudah jadi bubur. Aku melangkah maju. Ternyata pencarianku tidak sia-sia. Kusiapkan kuda-kuda untuk melompat. ternyata Wulu Ireng sedang tergeletak sekarat di sana. Ooh. Wulu Ireng kini tengah halaman 82 dari 83 halaman . Bagiku. sepasang sinar mata yang lebih besar muncul di atas mata yang kecil itu. Aku tidak mau ambil resiko dengan berjalan ke sekeliling ruangan ini. dan... Pemilik sinar mata itu memperlihatkan giginya. Semakin dalam aku masuk. Indra penciumku mengatakan bahwa di tempat inilah Wulu Ireng berada. Tapi di mana dia? Kembali aku perhatikan sekeliling ruangan. Makin lama. Semua “peralatan” perang sudah aku siapkan hingga akhirnya.. Namun kali ini bukan suara Wulu Ireng. Sejenak aku terdiam. Belum sempat aku melompat. Mungkin dia sudah mempersiapkan sedikit kejutan buatku. Suara lengkingan itu lebih kecil dari suara Wulu Ireng. Dari sini aku melihat ceceran darah di lantai.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen persembunyianku. bunuh anak harus dibayar dengan anak. suara itu makin keras. Aku yakin itu anak Wulu Ireng. Aku harus waspada karena bisa saja tiba-tiba Wulu Ireng menerkamku dari mana saja. Berjaga terhadap kemungkinan terburuk. Yang bisa ia lakukan hanya menggeram. Ia terluka oleh sesuatu hal yang aku tidak tahu. Tapi ia tidak beranjak maju. terdengar suara erangan yang lebih keras. Aku terdiam agak jauh dari pojok ruangan itu. ia tidak bergerak maju sekarang. aku sudah berada di wilayah kekuasaannya. sinar dari bola mata yang kecil. Suara geraman juga aku perdengarkan agar lawan yang ada dihadapanku takut. Apalagi kini aku sedanng berdiri di depan pintunya. Tidak ada rasa cemas bagiku jika ia menyerangku sekarang. Hmm.

berganti dengan suara tangis bahagia bercampur sedih dari Wulu Ireng. Makin lama suara tengisan kecil itu menghilang. halaman 83 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen menggigit dan mencabiki anaknya sendiri. Ia tidak rela anak yang kini ada di pelukkannya terbunuh oleh tanganku. Berteriak bangga karena aku gagal melaksanakan dendamku.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->