BEJAT

:
sebuah kumpulan cerpen

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

PENGANTAR “BEJAT: sebuah kumpulan cerpen” adalah salah satu tugas yang dibebankan pada mahasiswa Matakuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi (MPKT) FIB-UI kelas 4, semester ganjil 2009/2010. Tugas ini diberikan sebagai penambah nilai pada pokok bahasan pertama yang bertema “kekerasan.” Dengan demikian, dapat kita pastikan bahwa tema-tema yang termuat dalam cerita-cerita yang terkumpul di dalamnya adalah cerita tentang kekerasan. Kekerasan di sini mempunyai beragam bentuk. Di antaranya kekerasan suami kepada istrinya, orang tua kepada anaknya, senior kepada junior, hingga manusia kepada hewan. Kekerasan tidak melulu dalam bentuk fisik. Seseorang yang mengalami penderitaan secara psikis juga dapat disebut sedang mengalami kekerasan mental. Kembali ke topik kumpulan cerpen ini. Dengan membaca kumpulan cerpen secara tidak langsung kita mengenal karakter seseorang dari tulisannya. Tiap orang memiliki pengalaman dan pemahaman yang berbeda memandang sesuatu hal. Dari perbedaan tersebutlah karakter seseorang dapat kita ketahui. Ada yang menulis cerita berdasar pada pengalaman hidupnya, ada yang menulis berdasar pada perasaan pada saat ia sedang menulis, dan ada yang menulis berdasar pada ide atau angan-angan yang ia harapkan. Semua menjadi satu, dan menarik untuk Anda pelajari satu per satu. Selamat menikmati.

Penyusun Arie Toursino Hadi

halaman 2 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

DAFTAR CERPEN Cerpen Bertema Kekerasan...................................................................................................................M Reza Fatahilla

The Apartement..........................................................................................................................Ervilia Lupita Andriyanti
Kekerasan Dalam Kehidupan........................................................................................Glory Meirisa Pakpahan Diaz dan Anwar.............................................................................................................................................Indah Permata Sari Yumi...................................................................................................................................................................Indra Puspita Kusuma Kau Bukan Ayahku.......................................................................................................................................Intan Puji Lestari Keluarga dan Sekolah.........................................................................................................................Irvanuddin Rahman Liburan Lebaran.............................................................................................................................................Jodia Pravita Dini Cinta, Kinanti!.........................................................................................................................................................Juwita Anindya (untitled)............................................................................................................................................................Dwi Cahyaningtyas Cerpen Tentang Kekerasan..............................................................................................................................Kartika Putri Tindak Kekerasan Pemerintah Terhadap Anak-anak Jalanan.......................Khamim Hudori Kau dan Kekerasanku.....................................................................................................................................Khaula Fathina Cinta Terlarang.............................................................................RA Koeshamimurti Tosani Natya Laksitha Benderaku.....................................................................................................................................................................Krisna Karim Z Eyang Neli......................................................................................................................................................Lestari Sari Pambudi Bejat.......................................................................................................................................................................Fauzana Fidya Rizky Akhir dari Cinta Sejati................................................................................................................................................Lia Pratiwi Murti................................................................................................................................................................Louise Viranti Lasnida Si Cantik yang Malang...................................................................................................................Fazra Fatima Azzahra Jangan Main Hakim Sendiri............................................................................................................Lourin Hertyastiwi Jan............................................................................................................................................................................................Marsha Jozana Kenangan..........................................................................................................................................................Muhammad Garit N Kekerasan Terhadap Anak...................................................................................................Munadhilah Ummahat Balada Sarimin.......................................................................................................................................................Nadia Khaerani ! ! ! ....................................................................................................................................................................................Arie Toursino Hadi

halaman 3 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

CERPEN BERTEMA KEKERASAN
Oleh: M Reza Fatahilla

Dahulu

saat kepemerintahan Hitler di Jerman, hiduplah seorang saudagar Yahudi yang sangat kaya bersama tiga anak lelakinya. Aku adalah anak orang kaya berkewarganegaraan Inggris yang bekerja sebagai fotografer untuk sebuah perusahaan media jurnal di Inggris Raya dan menetap di Jerman semasa kepemerintahan Hitler. Pada suatu hari sedang dilaksanakan patroli militer Jerman terhadap orangorang Yahudi, yang menyebabkan kekacauan dan kerusuhan. Rumah-rumah banyak yang terbakar akibat patroli tersebut, pasar-pasar pun berantakan akibat tindakan semena-mena dari tentara Jerman. Saudagar Yahudi yang sangat kaya bersama tiga anak lelakinya mendadak menjadi jatuh miskin, selain itu mereka juga disiksa dan dikucilkan karena mereka keluarga Yahudi. Siang itu aku sedang berjalan di pasar yang telah porak poranda akibat patroli Yahudi tadi siang untuk melihat-melihat dan tidak sengaja aku melihat saudagar Yahudi yang sangat kaya dengan tiga anak laki-lakinya sedang bermain sulap, lalu aku tertarik untuk mendekatinya. “Hai kalian, tunjukan sulap terhebat yang pernah kalian punya kepadaku,”
halaman 4 dari 83 halaman

“Kami ingin bebas! Kami tidak ingin disiksa seperti ini terus! Kebebasaaaaaaaan!” teriak mereka bertiga. Mereka tetap dipukuli dan disiksa sampai babak belur di pinggir jalan tersebut. Monumen itu adalah monumen Hitler yang sangat megah dengan penjagaan oleh tiga orang polisi militer jerman di sekelilingnya. benar. mengapa mereka bertindak tidak manusiawi seperti itu. dipukuli. Lalu aku berjalan melewati monumen itu dan mencari sebuah toko yang menjual air mineral. apakah kejadian seperti barusan di jalanan sudah sering terjadi?” tanyaku. “Ini silahkan tuan. Saya punya harga diri!” sayup-sayup suara isak tangisan salah seorang Yahudi itu. Lalu aku berjalan menuju toko yang menjual sebuah air mineral. Namun. Dan aku hanya bisa melihat dan memfoto segala kejadian yang terjadi saat itu untuk bahan dokumentasi jurnal. Sekejap nyawa ketiga wanita Yahudi itu pun lenyap. halaman 5 dari 83 halaman . Namun tetap saja polisi militer Jerman tidak mendengarkan rintihan mereka. karena leher sudah terasa sangat kering dan haus. Pak! Sudahi penderitaan saya. Mereka ditendang. “Baiklah tuanku. Saya adalah Yahudi. Dan tiba-tiba ketiga wanita Yahudi tersebut menyerang kelima polisi militer Jerman tersebut dengan mendorong-dorong. “Pak.” pintaku kepada penjual toko. Mereka diperlakukan bagai binatang. Dengan cepatnya polisi militer Jerman mendorong ketiga wanita Yahudi tersebut sampai mereka tergeletak jatuh di aspal jalanan dan beberapa saat kemudian terdengar bunyi tembakan senjata sebanyak tiga kali. Aku disajikan pemandangan sebuah monumen besar di tengah taman kota yang hijau rumputnya dan ramai akan banyak orang. “Ya. “Saya mohon ampun. Aku sangat terhibur lantas memberi mereka uang logam 5 pence dan tidak lupa menyuruh mereka bergaya menghadap kamera serta memfoto mereka sebagai bahan dokumentasi jurnal. Lalu aku berjalan ke depan sejauh 50 km dari pasar tersebut dan aku sampai di kota Berlin. Dan aku sesaat baru menyadari bahwa mereka yang disiksa adalah warga Jerman yang beragama Yahudi. Setelah itu aku pergi meninggalkan mereka.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kataku. membuat api dari plastik dan lain-lain. tiga wanita tersebut disiksa habis-habisan. Aku terus melihat dan memfoto kejadian tersebut sebagai bahan dokumentasi. Mereka bermain dengan lincah dan sangat hebat. Saat itu. “Saya mau beli satu botol air mineral pak. Kami punya harga diri! Kami ingin bebas!” sahut suara temannya itu.” jawab mereka berempat. terlihat lima orang polisi militer Jerman bersama tiga wanita orang warga Jerman sedang berjalan di tepi jalan. Membuat bunga dari kertas. harganya 10 pence” jawab penjual toko. Aku pun heran. ”DAAWR! CKCK DAWR! CKCK DAWR!” Suara tembakan polisi militer Jerman kepada tiga orang Yahudi itu. dan diludahi oleh polisi militer Jerman itu.

Tuan. Selama perjalanan di pesawat terbang aku hanya terdiam dan menulis sebuah catatan perjalanan selama di Jerman pada sebuah buku kecil yang muat di saku jas hitam yang sore itu aku pakai di pesawat terbang dan tidak lama kemudian aku tertidur lelap. Dan ceritaku berakhir sampai di sini. jurnal anda terpilih menjadi topik utama televisi terkenal kota Manchester.” kata pramugari cantik tersebut. kita telah sampai di Manchester. Aku bingung dan baru menyadari ternyata dia adalah teman kantor dari perusahaan media jurnal.ngantuk dan tiba-tiba seorang pramugari yang cantik membangunkan aku. Setelah itu aku memfoto bapak penjual tersebut dan pergi menuju stasiun kereta api yang bernama Zoo yang terletak tidak begitu jauh. jurnal tersebut masuk dalam berita utama televisi terkenal di kota Manchester tersebut. Inggris. Lalu. periksa kembali barang bawaan anda. Sesampai di sana. aku membeli tiket dan naik kereta sampai kota Munich dan sore telah menjelang. Seminggu kemudian. namun mereka sangat puas. Aku langsung mengambil tas bawaan dan menuju lobby bandara Manchester dan terdengar suara yang sudah familiar di telinga. sebenarnya saya juga sudah gerah melihat kelakuan polisi-polisi militer itu. Mungkin sedikit lelah perjalan dari Jerman” jawab diriku. Dengan ini saya promosikan anda untuk naik jabatan dan naik gaji. Setelah itu aku langsung menuju bandara dan melakukan penerbangan menuju Manchester. Selamat. “Haaai! Kamu apa kabar?” tanya wanita itu kepadaku. aku baik saja. Lalu aku diantar ke perusahaan dan di sana aku bertemu teman-teman kantorku dan mereka bergembira menyambut kedatanganku karena sudah lama sekali mereka tidak bertemu denganku. Pemandangan matahari yang sangat indah saat terbenam di kota Munich. Setelah tiga puluh menit tidak terasa perjalanan aku mencoba bangun dari tidur. dengan mata yang masih mengantuk. “Yeeeeeeeeeesss! I’m freee! Yuhhuu! “ aku berteriak akan keberhasilan. “Selamat siang. aku menceritakan hasil laporan jurnal yang aku dapat di Jerman.” pernyataan ketua direksi perusahaan media jurnal. karena jurnal yang aku buat sangat detil dan berdasarkan kejadian faktual. “Oh. Mereka tercengang mendengar hasilnya. Terima kasih.” jawab penjual toko. halaman 6 dari 83 halaman . Aku pun kini naik jabatan dan terus memberikan kontribusi yang bagus bagi perusahaan media jurnal tersebut. Tamat. Tuan.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Ya. kira-kira 55 km dari toko itu. namun itu sudah menjadi peraturan semenjak Hitler berkuasa. “Selamat sore.

Namun. pintu itu tidak terbuka. Sebuah senyum terlukis di bibir Rei ketika aku menekan bel apartemen Aya dengan siku kananku seakan tidak sabar menunggu Aya membuka pintu apartemennya. kedatangan kami ke apartemen mereka kali ini. Oleh karena itu. Ryo. tiba di depan pintu apartemen milik Aya. Sebenarnya itu adalah kabar yang sedikit mengejutkan. kami berdua segera mengiyakan lalu dengan semangat pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa bahan makanan yang dimasak bersama nanti. salah satu teman dekat kami ketika masih duduk di bangku SMA. aku dan seorang temanku. Detik selanjutnya pun kami saling halaman 7 dari 83 halaman . agak heran mengapa mereka tidak langsung saja memutuskan untuk segera menikah. Di depan pintu apartemen Aya. juga ingin melihat sosok seorang Ryo yang selama ini kami hanya kenal melalui cerita-cerita dari Aya saja. Rei.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen THE APARTMENT Oleh: Ervilia Lupita Adriyanti Saat ini sudah pukul lima lewat dua puluh satu menit ketika kami. aku teringat beberapa bulan yang lalu Aya mengabarkan kepada kami kalau ia akhirnya memutuskan untuk tinggal di apartemen kekasihnya. Mengetahui hubungan keduanya yang sudah cukup lama. Oleh karena itu. ketika Aya menghubungi kami dan mengundang kami untuk makan malam bersama di apartemen barunya.

tadi Aku ketiduran. Kini aku menurunkan kantung belanja yang aku jinjing di tangan kananku lantas menekan sekali lagi bel tersebut. Perlahan. karena kami berencana membuat nasi kare. kami berdua mulai memasang telinga baik-baik. “Kalian sudah membeli tepung okonomiyaki-nya juga. “Jam berapa Ryo pulang dari kantornya?” dari arah dapur aku mendengar Rei bertanya. Suara itu kemudian disambung dengan suara kunci pintu yang dibuka. Ia tersenyum lebar ketika melihat kami berada di depan apartemennya. di belakang pintu itu. Mungkin itu wortel. aku hanya mengangguk-angguk pelan sambil mulai melihat ke sekeliling ruangan tersebut. Biar aku dan Rei yang menyiapkan semuanya di dapur.” Aya melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah dapur sambil mempersilahkanku untuk duduk di sofa ruang tengahnya. “Mmm. “Maaf. “Ya. kan?” sambil mengenakan sandal berwarna putih polos yang diletakkan tidak jauh dari pintu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen berpandangan dan mulai bertanya-tanya mengapa Aya belum membuka pintu apartemennya. Kini ia sudah berada di ruang tengah apartemen dan melihat ke sekeliling ruangan. Setelahnya. Tidak ada jalan lain.. Kalian belum lama. Kali ini dengan jari telunjukku. “Coba tekan belnya sekali lagi. Aya pun mengucapkan terima kasih sambil menutup kembali pintu apartemennya dan menguncinya lagi. Rasa penasaran kami tiba-tiba terbayar ketika kami sama-sama mendengar suara langkah kaki dari dalam apartemen. ia seakan menahan langkahku yang berusaha memasuki dapur apartemennya. ” “Kalian tidak memajang satu pun foto di sini. “Hah? Benar tidak apa-apa aku tidak membantu?” “Tidak. aku mengangguk. dia mengambil salah satu kantung itu dariku dan mulai melihat ke dalamnya. tidak lama lagi. menunggu adakah suara derap langkah kaki dari dalam sana. duduk saja dulu. Lalu. “Tom. ketika ia lihat aku membawa dua buah kantung belanjaan.. Biar wanita saja yang memasak di dapur. Pertanyaan itu disusul dengan suara pisau yang mulai bekerja memotongmotong bahan makanan. Kami juga membeli lebih kalau kamu ingin memasaknya lagi. pintu apartemen itu terbuka dan kami melihat teman kami.” aku dengan cepat mengganti topik ketika sadar tidak ada satu pun figura foto yang tergantung di dinding ataupun dipajang di atas meja. Bersamaan dengan itu ia menunjuk sofa ruang tengahnya dan memberi isyarat dengan matanya agar aku duduk saja di sana. kan?” Aya sedikit bergeser ke sebelah kanan dan mempersilahkan kami masuk ke dalam apartemennya. Aya.” Rei menunjuk bel apartemen Aya dengan dagunya.” sambil melambaikan tangannya cepat.” Rei menambahkan. Agak mengherankan memang ketika sebuah rumah tidak halaman 8 dari 83 halaman ..

Kemudian. Ryo mengalihkan pandangannya ke arah Aya dan mulai mengangguk-angguk.. yaa. dan Aya. “Teman SMA?” Ryo mulai melangkah mendekat. Rambutnya pendek dan tingginya hampir sejajar denganku. “Jarang sekali Aya mengundang temannya datang ke sini.” Benarlah ternyata laki-laki itu adalah Ryo..” bersamaan dengan itu ia kembali membuka kunci pintunya. entah mengapa suasana menjadi sedikit tidak nyaman. Rei.” ucapnya dengan suara yang sedikit berat.. Aku mulai menebak kalau orang itu adalah Ryo. “Yaa.” Aya dengan segera keluar dari dalam dapur kemudian disusul oleh Rei. Sementara itu. Benar juga.” “Bahkan tidak ada foto Ryo satu pun di sini. Matanya memandang kami penuh dengan rasa penasaran.. “A. sedang memasak. Hanya sesekali ia memandang Rei. Namun. “Aku. Ia lalu tersenyum kepada kami. Laki-laki berperawakan tegas. langkahnya langsung terhenti ketika melihat kami di ruang tengah. Senyuman yang disunggingkan Ryo seperti dipaksakan atau bahkan sebenarnya Ryo tidak menyukai kehadiran kami sejak awal. aku berpikir ada baiknya kamu juga mulai mengenal teman-teman baikku. Lalu.” “Masak?” Laki-laki itu kini membuka jasnya. kulitnya agak sedikit coklat jika dibandingkan dengan warna kulitku.” halaman 9 dari 83 halaman . Ketika pintu mulai terbuka. Entah mengapa ia terus saja memandang ke arahku. Bahkan. “O.. aku mulai merasakan ada sesuatu yang aneh di sini. “A.. iya. dari kejauhan aku melihat seseorang mengenakan setelan jas di luar sana. yaa. “Hmm.. Tunggu sebentar.” aku menambahkan tanpa mengindahkan jawaban terbata-bata yang dilontarkan oleh Aya. Aku tersenyum sambil menundukkan badanku sedikit. Aku saja yang seorang laki-laki masih memajang foto kelulusanku ketika SMA di ruang tengah apartemen.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen dihiasi paling tidak satu foto pemiliknya.” “Mereka teman SMA-ku.” Aya mulai berusaha mencairkan suasana. “Mereka.” Ryo mengiyakan ucapan Aya. Rei juga melakukan hal yang sama. Ryo.. Tom? Sepertinya kamu memarkirkannya di tempat orang lain. Bersamaan dengan itu. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah pintu apartemen.. tidak pernah. di saat yang bersamaan terdengar bunyi bel pintu. Ryo. Ketika ia mulai melangkah masuk. Kini. “Mungkin. Suara bel yang kedua menyusul kemudian. ia pun melepaskan celemek yang ia pakai dan menyampirkannya di kursi meja makan. “Kenapa lama sekali kamu membuka pintunya?” laki-laki itu mulai memasuki apartemennya.. Sepertinya dia belum menyadari kehadiran kami. “Apakah itu Ryo?” terdengar suara Rei bertanya dari dalam dapur.. Tom dan Rei. Apakah mobil putih di parkiran bawah milikmu. Sebaiknya di pindahkan saja..

halaman 10 dari 83 halaman . Mimik wajahnya berubah menjadi sangat khawatir. terdengar suara sesuatu jatuh kemudian pecah dari dalam apartemen. Aku hanya bisa memperlihatkan ekspresi ‘benarkah?’ tanpa berkata-kata. Tiba-tiba aku dengan refleks mencoba memutar kenop pintu dan ternyata pintu itu tidak terkunci. Kami sontak tercengang dan mulai menggedor-gedor pintu apartemen tersebut sambil meneriakkan nama Aya. Ia menangis dan Ryo berdiri sambil mengarahkan pemukul baseball ke arahnya.” Rei pun membuntutiku dari belakang. Tidak jauh dari mereka. “Kalau begitu aku ke bawah dulu. Ryo juga mengarahkan tendangan kakinya ke arah tubuh Aya yang sudah tidak berdaya. “Tom hanya temanku. Sesaat kemudian kami mendengar suara Aya dari dalam. Langkah kami berhenti di depan pintu apartemen Aya untuk kedua kalinya. tapi pukulannya yang bersarang di punggungku mulai meruntuhkan kekuatanku. Ketika Rei mulai menekan bel.. “Sepertinya aku ikut saja ke bawah. Tidak sampai di situ. Dengan cepat aku buka pintu tersebut dan mendapati Aya tersungkur di lantai ruang tengahnya.” Kami semakin kuat menggedor pintu tersebut walaupun sepertinya Ryo berusaha tidak mengindahkannya. sebuah lampu kaca sudah terjatuh dan pecahannya menyebar tidak beraturan. Sementara itu. Namun. “Sudah aku katakan kamu tidak boleh membawa laki-laki ke apartemen ini!!” kini terdengar suara bentakan Ryo dari dalam apartemen.” sambil memberikan isyarat kepada Aya. Aku berusaha menghindar. “Ini bukan urusan kalian!!” Kini Ryo mengarahkan pemukulnya kepadaku dan mulai memukulnya kepada secara membabi buta. “Apa yang terjadi?” Rei terlihat syok. Ryo seperti sudah hilang kendali dan ia mendorongku dengan kuat hingga Aku terjatuh. “Hei!” aku dengan geram melangkah masuk dan mencoba merebut pemukul baseball tersebut. Kami terlonjak kaget dan mulai berpandangan. Kami kembali menuju apartemen Aya dengan perasaan bingung.. tidak ada tanda-tanda bahwa kami memarkirkan mobil di tempat yang salah. Rei juga berlari memasuki ruangan dan langsung memeluk Aya yang masih tergeletak di lantai. Ketika kami sampai di parkiran sekitar lima belas menit yang lalu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Masih dikuasai oleh suasana canggung beberapa saat yang lalu. Setidaknya tidak ada orang yang menunggu di sana dan mengatakan bahwa kami harus segera memindahkan mobil kami ke parkiran yang lain. aku pun segera berjalan ke arah pintu apartemen. Suaranya lirih.” “Teman?!” “Maafkan aku. “Apa yang kamu lakukan?! Apa kamu sudah gila?!” aku balik meneriaki Ryo ketika kami saling berebut pemukul itu.

Ryo yang sekarang mulai memeluk Aya dan menangisinya. Ryo seakan tidak peduli dan ia kembali balik menyerangku. Ryo berada di bawah tahanan polisi setelah Aya menceritakan segala bentuk kekerasan yang dilakukan Ryo kepada dirinya selama mereka tinggal bersama di apartemen tersebut. konsentrasi Ryo seperti terpecah dan aku menemukan kesempatan untuk merebut pemukul baseballnya.. tanpa pikir panjang. “Aya!!” diiringi teriakan keras dari Rei. “Aku mohon hentikan.. “Aya. Sementara itu. Tapi.” seperti sudah tersadar. Rei pun mulai menarikku kebelakang agar menjauh dari Ryo... “DIAM!!” Ryo menendangkan kakinya hingga Aya kembali tersungkur di lantai.. “Sekarang hentikan semua ini atau aku akan menelpon polisi!” aku berusaha berdiri dan berbalik menodongkan pemukul itu kepadanya. Aya. Tiba-tiba semuanya hening.. Ketika itu. yang paling melegakan ketika kami juga diberitahukan bahwa Aya memutuskan untuk kembali tinggal bersama kedua orang tuanya. Seperti bukan Ryo yang beberapa saat lalu sangat menakutkan. aku dan Rei hanya terpaku saja melihat pemandangan itu. kami mendengar kabar Aya sudah melewati masa kritisnya dan tidak lama lagi akan segera meninggalkan rumah sakit. Darah mulai mengalir keluar dari balik rambutnya yang sudah acak-acakan.. halaman 11 dari 83 halaman . PRANG. Seminggu kemudian. tanpa sadar Aya sudah berada diantara kami dan berusaha memisahkan kami berdua. Namun. Namun..BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Ryo! Hentikan!” Aya berteriak keras sambil terus menangis di pelukan Rei. Tangannya mulai menggapai-gapai pergelangan kaki Ryo dan memeluknya.” suara Aya mulai melemah. Ketika kami terus berbaku hantam. Ryo mendekati Aya lalu menggoncanggoncangkan tubuh wanita muda itu.. Ryo langsung mendorong Aya ke arah belakang. Tapi tidak ada respon sedikitpun. kami melihat Aya tergeletak tidak sadarkan diri dibawah sebuah rak kaca di dekat meja makan. Kami bertiga langsung mengalihkan pandangan kami ke arah sumber suara.. Sementara itu isak tangisnya semakin menjadi-jadi.

maka keduanya bisa bersekolah di SMA unggulan yang sama. Gina dan Gisel. direktur utama dari salah satu perusahaan ternama di daerah Jakarta. Ibu Susanto pun adalah seorang wanita karir yang bekerja di salah satu perusahaan asuransi terkemuka di Indonesia. hiduplah sebuah keluarga yang mapan dan berpendidikan. Kepala keluarga itu bernama Susanto. Kedua orang tua Faris sangat kecewa dengannnya karena Faris tidak dapat memenuhi keinginan orang tuanya untuk melanjutkan kuliah di halaman 12 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KEKERASAN DALAM KEHIDUPAN Oleh: Glory Meirisa Pakpahan Pada suatu hari di daerah pinggiran kota Jakarta. dan Gina. Namun lain keadaannya dengan Faris. Memang pada dasarnya kedua anak itu adalah anak yang cerdas. Gisel. Keluarga itu terdiri dari seorang ayah. dan ketiga anaknya yang bernama Faris. Orang tua mereka sangat membanggakan dua putri kembarnya itu. ibu. Gisel dan Gina adalah anak kembar yang saat ini sedang meneruskan pendidikannya ke tingkat SMA. kakak tertua dari Gina dan Gisel. Orang tua mereka ingin sekali kedua anak kembarnya itu bisa bersekolah bersama di SMA unggulan. Saat ini Faris sedang melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas swasta di Jakarta.

Nasib Faris cukup dibilang kurang beruntung. ia selalu diremahkan dalam keluarganya. “Pagi.” Saat itu aku merasa terenyuh dengan keadaan Faris. Orang tua Faris sangat memaksa Faris untuk menjadi yang terbaik. Waktu terus berjalan hingga pukul 21. Aku pun bertanya. Dan kudapati satu buah pesan dari Faris yang berisi. Dua minggu berlalu dan aku tidak mendapat kabar dari Faris. Pukulan yang diberikan ayahnya pun sudah halaman 13 dari 83 halaman . Ketiaka sampai dirumah Faris. Aku mendengar suara ayah Faris dan ibunya yang sedang membentak Faris. tidak dapat lulus S1 dalam waktu 4 tahun. maaf ya gw ganggu. Karena aku tidak ingin terlalu banyak ikut campur. Dua hari setelah aku mendatangi rumah Faris. Ketika sudah bertemu dengannya. Hingga suatu ketika ia meneleponku dan mengajakku untuk bertemu di salah satu cafe. sahabatku. Saat itu Faris hanya bercerita bahwa ia sangat tidak dihargai di rumah. “ Mbak. dan selalu menjadi bahan pembicaraan rekan-rekan di kantor ayahnya. ia merasa rendah dan tak berguna bagi keluarganya. Faris merasa malu.00. baik lewat telepon atau sms. Kedua orang tuanya pilih kasih. Mereka lebih menyayangi Gina dan Gisel karena menurut mereka Gina dan Gisel tidak membuat malu nama keluarga mereka. Farisnya ada?” Lalu si Mbak menjawab “Maaf Non. Mas Faris sedang dihukum tuan dan nyonya karena di kamar Mas Faris ditemukan rokok dan minuman keras. aku dan Faris mengakhiri pertemuan malam itu dan berharap semoga Faris bisa menjalani kehidupannya dengan sabar. Ia merasa seperti benalu dalam kehidupan keluarganya. tiba-tiba handphone-ku berdering. Untuk menghilangkan rasa penasaranku. Oleh sebab itu Faris selalu dihukum oleh kedua orang tuanya bahkan orang tua Faris suka melakukan kekerasan pada dirinya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen universitas negeri. lo mau ga ketemu gw siang ini ditaman deket komplek humz gw?” Cepat-cepat aku membalasnya dan setuju untuk bertemu dengannya. Klo lo ada waktu. Saat itu aku menyarankan kepada Faris untuk membuktikan pada orang tuanya bahwa Faris mampu dan tidak bisa dipandang sebelah mata. Ia tidak bisa memenuhi keinginan orang tuanya untuk masuk perguruan tinggi negeri. Sesekali dari luar aku mendengar suara ribut dari arah kamar Faris. Goresan ikat pinggang pada badannya sudah menjadi hal yang biasa. namun Faris tidak bisa memenuhi segala keinginan orang tuanya. Namun saat ini Faris bener-benar menghilang bagai ditelan bumi. aku pun memutuskan untuk kembali pulang. aku hanya dapat bertemu dengan pembantu yang biasa bekerja disana. biasanya ia selalu sms atau paling tidak meneleponku saat akhir pekan. aku pun berniat mendatangi rumah Faris yang tidak terlalu jauh dari komplek rumahku. Aku pun sedih mendengar kesaksian dari Faris. aku sangat memehami apa yang ia rasakan. Akhirnya pada malam itu pun aku menemuinya. ia mulai bercerita tentang kehidupannya di rumah. Aku mulai curiga dengan keadaan Faris.

dan merasa rendah.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen jadi makanan Faris setiap hari. Sungguh perasaan Faris bercampur jadi satu. Saat itu aku hanya bisa memberi dorongan dan semangat pada Faris. tapi sejak Faris duduk di bangku sekolah dasar ia memang sudah mendapat kekerasan dari ayahnya. Sehingga pada minggu yang lalu Faris merusak tubuhnya dengan mencari pelampiasan seperti rokok dan alkohol. Ia ingin marah. supaya ia tidak menyia-nyiakan hidupnya dan tidak merusak tubuhnya dengan benda-benda haram itu. melainkan kekerasan hanya dapat menimbulkan masalah baru. Kekerasan yang dialami Faris bukan kekerasan yang baru terjadi sesekali ini. Dan menjelaskan pada kedua orang tuanya bahwa kekerasan bukanlah menjadi kunci dalam suatu permasalahan. Dan mungkin jika ada waktu yang tepat. menangis. Faris memang harus berbicara pada kedua orang tuanya secara baik-baik tentang masalah yang dihadapinya. halaman 14 dari 83 halaman .

kini masalah sudah selesai. Menunggunya yang tak juga menghampirimu walaupun sudah sejam berlalu.” Rani. Setelah ribuan masalah yang telah kau hadapi bersamanya. di sudut ujung jalan. memang sudah selesai. Aku tahu sekarang jawabannya. wanita yang kau sapa itu menjawab.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen DIAZ DAN ANWAR Oleh: Indah Permata Sari Kau berdiri di sana. “Hai. “Iya. Tapi dia yang kau ajak berbicara hanya menjawab sapaanmu dengan air mata yang tumpah ruah tak ada tara. Kau memulai sedikit kata. “Ada apa? Apa yang terjadi? Bukankah masalah kita sudah selesai. Akhirnya kau tak sabar dan menghampirinya. Kau pun diam tak tau ingin bicara apa. tapi tak tahu terasa ada yang berbeda. Dan dia pun sudah merenggut keperawananku. Jawabannya adalah aku tidak lagi mencintaimu. Tanpa sadar aku mencintai ayahmu yang sudah tak beristri itu.” “Kenapa? Dengan cara apa?” kau pun bertanya dengan hati bergetar.” Kau pun memulai pembicaraan. Dan aku pun mencintainya!” halaman 15 dari 83 halaman . “Setelah ribuan masalah datang menghampiri kita. Tapi aku telah banyak menyakitimu dan akan terus menyakitimu. Kau pun bertanya.

“Jadi selama ini kamu menghianatiku. Dan kami bahagia menjalani hubungan sesama jenis ini. Lima tahun kemudian. JAHANAM KAU! BEDEBAH KAU! SAMA SAJA DENGAN AYAHKU!” Kau pun membelalakkan mata dan air mata pun tumpah tak terkira. halaman 16 dari 83 halaman .” Ayahmu memaksa kamu untuk menerima kenyataan pahit ini. Hanya kicauan burung di beberapa pohon besar. Nasi telah menjadi bubur. ya Tuhan? Apa yang harus kulakukan? Inikah balasan untukku yang telah menjaga dengan baik belahan jiwaku?” Kau berteriak seperti tak berakal. Yoga. Dan itu kau lakukan dengan ayah kandungku sendiri. kenalkan. Tak ada kejadian pun yang kau lupakan. Beruntung ujung jalan sedang sepi tak ada satu pun orang. Kau pun melanjutkan hidupmu seperti biasa walaupun setiap harinya hatimu hancur tak terkira. “Diaz. Dan kini kau menjalin hubungan cinta bersamaku tanpa sadar. Bersamaku.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Bumi serasa berguncang. Yoga. Setelah kejadian itu. seakan tak mampu menahan langit yang mulai bergeming. ”Aku harus berbuat apa. Ingin rasanya kau membunuh ayahmu sendiri. Ini adik barumu. tapi ternyata hubunganmu dengan Rani membuatmu trauma menjalani hubungan. Kau harus memanggil mantan kekasihmu Rani dengan sebutan 'Ibu'. Tanpa merasa berdosa mereka mengenalkan adik barumu Yoga. Dan mulai hari ini kami akan tinggal bersamamu. Anwar. Sudah lima tahun kau tidak mendapat pengganti Rani. Kau tak bisa berbuat apa-apa lagi. Rani dan ayahmu kembali. semua kau ingat dengan jelas. Rani menghilang bersama ayahmu. Dan menerima adik barumu. Yang telah merenggut belahan jiwamu yang sedari dulu kau jaga. Tapi apa daya.

Kebetulan rumah kami berdekatan maka kami jadi semakin akrab. Dia adalah gadis yang paling mendekati sempurna menurutku. kami diterima di fakultas yang sama. Kami terlibat dalam satu klub ekskul softball di sekolah kami. Aku pun berkata padanya untuk tetap tinggal di tempat dia berada. suara isak tangisnya membuatku tidak tega dan segera ingin datang kepadanya. Penampilannya yang halaman 17 dari 83 halaman . di sebrang telepon. karena aku akan segera menghampirinya. Bisa dibilang dia adalah sahabat dan orang yang selalu ingin aku lindungi. Aku mengenalnya sejak SMA. Selama perjalanan aku ke tempatnya. memberikan bahuku untuknya dan menghapus air matanya. Jarang sekali Yumi meneleponku enam bulan terakhir ini. Dia menjelaskan bahwa dia memergoki Jun selingkuh dengan gadis lain. hatiku sangat gembira. Selain prestasi akademiknya yang tinggi. Tetapi. Tak disangka sekarang ini. Yumi adalah gadis yang sangat cantik. Sejak dia mulai berpacaran dengan Kibum.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen YUMI Oleh: Indra Puspita Kusuma Aku terkejut ketika mendapati tulisan nama yang berkedip-kedip tanda ada seseorang menelepon ke telepon genggamku. pikiranku selalu tentang Yumi. prestasi non-akademiknya juga sangat memuaskan. Sejujurnya. cerdas dan juga ceria. sudah lama aku menunggu hari ini.

“Kau tidak pantas menangisi lelaki macam dia.” Aku berlutut didepannya dan mencoba menenangkannya. “Wah. “Ini teh mu. kayaknya itu enak.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen berbeda dari semua gadis seusianya membuat banyak lelaki mengejarnya. Ketika aku sampai di taman itu.” Yumi terhenti. Lalu ia bertanya lagi. suaranya mulai bergetar dan matanya mulai berair. aku mencoba menghiburnya sedikit dengan lawakan-lawakan garingku. Sesampainya di kafe tersebut. Minho? Aku sangat mencintai Kibum. Ia mulai menangis lagi. Di perjalanan. “Kau mau teh?” tanyaku. Seluruh keluarga besarnya ada di Seoul.” gumamnya “Apakah kau yakin itu bukan sepupu Kibum?” tanyaku “Yakin! Hanya keluarga dia yang ada di Jakarta. aku melihat mobil Kibum di depan taman.” Terpaksa aku berbohong. “Jika kau masih mencintainya. pasti dia sangat dikecewakan oleh Jun. Aku mengerti.” jelas Yumi. Aku sengaja tidak menanyakan kejadian Kibum dulu kepadanya.” lanjut Yumi. “Jangan menangis lagi. Aku sudah hafal teh yang biasanya dia pesan. Aku memegang tangannya. kebetulan memang tidak terlalu jauh. aku menyuruhnya untuk duduk saja. Aku menghampirinya sambil menyodorkan sapu tanganku kepadanya seraya berkata. Terima kasih. aku duduk disebelahnya dan memeluknya. Kali ini tangisnya deras. “Aku melihat Kibum didalam mobil dengan gadis lain. Dia terdiam dan tetap terlihat cantik. salah satu senior yang cukup terkenal karena prestasinya di bidang olahraga. “Yumi. kau akan melupakan ini semua. Aku masih tak percaya posisinya sekarang adalah di dalam pelukanku. Kami menuju kafe teh langganan kami itu dengan berjalan kaki. Minho. Karena aku tahu itu akan menyakiti hatinya.” ulangnya lagi. Tetapi lelaki ini ternyata juga berhasil melukai hati Yumi. “Aku sangat mencintai Kibum…. bagaimana jika kita cari minum untukmu?” Yumi pun tersenyum dan mulai berdiri. “Hmm…boleh juga.” jawabnya.” aku menaruh cangkir tehnya di depan dia. Hati Yumi pun berlabuh di hati Kibum. Aku tidak tega melihatnya. Tanya padanya siapakah gadis itu. aku lihat Yumi duduk tertunduk di ayunan yang tidak bergerak. Betapa aku ingin dia segera halaman 18 dari 83 halaman .” jawabnya sambil tersenyum. “Apakah yang harus aku lakukan. Jelaskan bahwa kemarin kau memergoki dia dengan gadis lain. “Apakah kau sudah siap untuk menceritakannya?” tanyaku. Tangisannya reda tetapi air matanya masih keluar. Dia terdiam sejenak. kau masih ingat saja dengan teh kesukaanku.” jelasku. Percaya padaku. Jarak mereka dekat sekali. mungkin ada baiknya kau tanyakan dulu kepadanya. “Hhh… Baiklah… Pagi tadi ketika aku mau berolahraga ke taman. Matanya masih berkacakaca.

Aku mulai menghibur dia. “Bisa juga akal bulusnya!” kataku dalam hati. “Minho! Sedang apa kau?” sapanya dengan ceria. “Hahahaha. aku dikejutkan oleh Yumi yang tiba-tiba datang. aku ingin melihat Kibum latihan. Mereka berjalan berdampingan. Tak lama kemudian datanglah Kibum menghampirinya. Aku ingin menanyakan padanya tentang Kibum. aku bereskan barang-barangku terlebih dahulu ya. Kau jadi terlihat jelek sekali jika menangis.” “Oke!” “Ya sudah. “Eh kau. Kau mau teh?” “Hmmm. Aku mencoba bertanya pada Yumi tentang Kibum. Aku berhutang kan padamu?” “Berhutang?” “Iya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen mengakhiri ini semua dengan Kibum. Kau masih ada kuliah sesudah ini?” tanyaku “Hmm tidak ada sih… Kenapa kau menanyakan itu? Mau mentraktirku teh lagi?” tanya Yumi dengan nada iseng. boleh juga. Tapi aku lebih ingin membalas budimu kemarin. Kami menghabiskan waktu di kafe tersebut hingga larut malam. Yumi pun tersenyum. Kibum di mana memang? Kau tidak bertemu dengannya?” “Oh. Minho. Aku hanya tersenyum pada mereka berdua. Mau nggak kalau aku gantinya dengan kue saja?” tanya Yumi dengan senyuman termanis yang pernah kulihat. Sudah lama aku tidak melihat dia berlari di lapangan…” halaman 19 dari 83 halaman . Kibum sedang latihan basket di lapangan basket Fakultas Ekonomi. Tapi aku sendiri yang memilih kuenya. Yumi. ketika aku sedang duduk menikmati internet gratis di perpustakaan. Siangnya. Paginya aku melihat Yumi di taman kampus. Yumi. kami keluar dari perpustakaan bersama. ya. “Hmm. yuk! Sekalian. Ternyata Kibum memberikan Yumi selusin mawar yang telah terbungkus indah. “Baiklah. Dan mungkin Yumi benar-benar mencintai Kibum.” candaku. jangan tangisi dia lagi. Setelah kami selesai membereskan barang-barangku. Mungkin Yumi memang sangat pemaaf.” “Sini aku bantu!” Aku sangat penasaran mengapa dia sangat ceria hari ini. Oh iya. melewatiku. Aku hanya bermain internet saja. Yumi yang memang gadis manis yang baik hati menerimanya dan sepertinya dia tidak jadi menanyakan Kibum tentang kejadian kemarin. mengajaknya mengobrol yang tidak ada hubungannya dengan Kibum. teh yang kemarin kau belikan untukku belum aku ganti duitmu. Yumi membalas senyumanku dengan tatapan yang aneh. “Sudahlah. beli kuenya di toko kue yang ada di Fakultas Ekonomi saja.

Aku tidak akan merelakan kau halaman 20 dari 83 halaman . ada sesuatu yang mendorong hatiku untuk tetap menemaninya saat ini. Tiba-tiba ia berkata padaku.” “Dasar kau. Di taman. aku boleh bertanya nggak?” “Boleh. “Apakah kau mau menanyakan pada Kibum sekarang?!” tanyaku dengan tegas. Jelas sekali itu adalah Kibum dan mungkin dengan wanita yang kemarin dipergoki oleh Yumi. “Yumi.” “Aku tidak tahu deh. “Bukannya kau luluh karena diberikan seikat mawar tadi pagi?” “Kau melihatnya. Aku mengikuti arah matanya dan mendapati dua sosok manusia yang sedang duduk berdampingan dengan romantis di pinggir lapangan basket. kau mau nanya apa?” “Bagaimana jadinya kau dengan Kibum? Kau sudah tanyakan padanya?” Yumi terdiam. bisakah kau mengantarku kesana?” Aku segera melajukan motorku ke arah taman.” jawabnya. Makanya aku tidak pernah mau menemani Yumi jika ia mau melihat Kibum latihan. Dia diam tak berkutik. Aku tidak mengerti lagi harus bagaimana ke Kibum. “Aku masih mencari waktu yang tepat. Aku melihat Yumi kembali. Aku juga ingin makan kue coklat yang dijual di toko itu. Biasanya kau tak mau menemaniku.” kata Yumi. Matanya masih tertuju pada sosok Kibum.” air mata Yumi pun mulai menetes.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Baiklah. aku tak bisa bertemu Kibum sekarang. Di perjalanan hening. adalah gadis yang sama dengan gadis yang aku lihat kemarin. tatapannya terpaku pada sesosok yang berada di lapangan basket. “Yumi. gadis yang kita lihat tadi. “Minho. Aku tak ingin Yumi kembali menangis. Hatiku bergetar tetapi aku tau dibelakang sana dia sedang menangis. Yumi langsung turun dan menuju ayunan. aku mengajaknya segera pergi dari tempat itu. Aku yakin. “Kau pasti mengira aku sangat pengecut. Aku mengantarnya pulang menaiki motorku.” Ya. Aku bingung. aku tak suka melihat Yumi dengan Kibum. Tapi yang pasti aku akan menanyakan pada Kibum jika…. aku akan selalu melindungi mu. “Minho. Tetapi entah mengapa.” tiba-tiba Yumi seperti dikejutkan oleh sesuatu. Ekspresi mukanya berubah. Aku akhirnya memberanikan diri bertanya tentang kelanjutan dia dan Kibum. Minho! Giliran mau dibeliin kue aja langsung semangat deh. Mau kan?” Yumi mengangguk. memelukku dengan erat. Yumi yang kubonceng. Minho?” “Ya aku melihat kalian dari kejauhan. “Bisakah kau mendorongku?” Aku mendorong ayunan itu dengan pelan. aku antar kau pulang ya. hanya suara angin yang terdengar di telingaku. Aku tahu apa yang dipikiran Yumi. Hatiku sakit melihat Jun dengan gadis itu. “Hmm Yumi. aku ingin ke taman. Aku berhenti mendorongnya dan berlutut didepannya.

” “Kau kenapa sih?” tanyaku. Aku malah senang. tapi aku masih bisa menahan diri. di saat aku senang dan susah. benar. Kau pasti belum sarapan kan?” “Ah kok kau tahu saja?” “Tuh kan. bahwa aku tak pantas menangisi lelaki seperti dia. Yumi tidak menjawab lagi. “Yumi.” jawab Yumi seraya tersenyum. aku mendapatkan SMS dari Yumi. Aku mulai mendorong ayunannya lagi. Aku sudah cukup menangisinya semalaman.” Aku tersenyum. Kau memang sahabatku yang paling aku sayang. Kamu selalu lupa sarapan. Yumi masih belum berpacaran dengan Kibum. Kau sudah lama ya menungguku?” “Oh. Kibum kerumahku. Tetapi aku memutuskan untuk diam saja dan menikmati makanan yang ia buatkan untukku. maaf. Kebiasaanmu itu dari dulu tak pernah berubah! Ini aku membawakanmu susu dan sandwich yang aku bikin sendiri. hehehe. kita halaman 21 dari 83 halaman . jangan bengong dong…” “Eh. tidak kok.” jelasku. Ayo kita duduk di kursi itu. Aku segera mandi dan berpakaian. Aku menjemputnya setiap pagi di taman adalah kebiasaan kami dulu. Dia bengong. “…dan aku juga merasa. Ia mulai tak bisa menahan tangisnya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen terluka karena siapapun. Aku teringat katakatamu. Minho. selama ini kau yang selalu setia mendampingiku. “Sandwichnya enak…. “Maaf ya. “Semalam. Setidaknya. Minho. Keesokan harinya. Walaupun selama aku berpacaran dengan Kibum.” “Waduh. Yumi. Sesampainya di taman.” kataku sambil melahap sandwich itu.” “Benar?” “Ya.” Aku tersentak. Aku makin tersentak. “Terima kasih. Apakah Kibum gila?! “Apa alasan Kibum???” tanyaku. “Apa yang ia lakukan dirumahmu?” “Dia mengakhiri hubungan kita. dia bosan denganku. Kau makan ini dulu ya. “Pagi Minho! Tolong jemput aku di taman ya :D” Betapa senangnya hatiku mendapat SMS dari Yumi.” Aku benar-benar curiga mengapa Yumi berubah seperti dahulu lagi. Aku jadi ingat ketika dahulu. Walau tanggapan Yumi tak sesuai dengan apa yang ingin ku dengar. “Dia bilang. aku melihat Yumi berdiri sendiri membawa tas dan menurutku dia sangat cantik. Yumi melambaikan tangannya padaku lengkap dengan senyum manisnya.” kata Yumi. mengapa aku jadi membuatmu repot begini?” “Ih tidak apa-apa kok. Isinya. aku dapat menjadi tempat yang nyaman untuknya. Aku juga belum lama datang. Aku bersyukur Yumi mengingat perkataanku.

” Aku menggenggam tangan Yumi dengan erat. aku akan selalu ada selamanya untukmu. Tetapi aku bisa merasakan kau selalu siap menemaniku. setiap aku bersamamu. lihat aku. “Yumi.” lanjutnya. Menghapus air matanya dan berkata. yang selalu berada disampingmu. *TAMAT* halaman 22 dari 83 halaman . cinta lama akan terhapus oleh cinta baru. lebih dari sekedar sahabat…. Percayalah padaku. Sekarang. dan aku merasa nyaman. rasa sayangku untukmu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen tidak terlalu sering bertemu dan berkomunikasi. “Apakah kau yakin kau sudah bisa melupakannya?” “Ya.” Aku mengecup bibirnya. aku selalu bisa menjadi diriku sendiri. Sepertinya.

.—Lengkap banget deh itu mama-mama kayaknya. gue langsung dipersilahkan masuk sama Mamanya Sari. trus langsung cabut lagi. mikirnya masih pacaran gitugitulah. Nah ternyata gue inget kalo hari itu gue ada janji mau ke rumah temen gw. Setibanya gue di rumah Sari. Tiba-tiba Ayahnya Sari datang dan langsung masuk ke dalam rumah. makan dikit. Tatapannya kosong. dingin pula. ga mau gue pikirin. Sampe-sampe gue anggep dia kaya mama gue sendiri. urusan orang yang udah berumah tangga mah beda sama urusan orang kuliah kayak gue.. Tanpa pikir panjang.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KAU BUKAN AYAHKU Oleh: Intan Puji Lestari Di malam itu gue jalan sendiri pulang dari kampus. Mamanya Sari udah kenal banget sama gue. Sari namanya. suasana sepi. Tapi di hari itu. ah. Gue paling yaa. Hehehe. Bukan urusan gue juga kayaknya. belom mikirin keluarga jadinya. dan gw nggak bawa jaket. dan menutup pintu dengan kencang. gue pikir pasti ada yang gak beres nih antara halaman 23 dari 83 halaman . gue langsung cepet pulang ke rumah.. Mungkin karena malas atau ribet ya. gue ngeliat ada yang beda dari raur muka Mamanya Sari. dan satu yang penting jago masak! Hahaha. ramah. Ah. Wah. Orangnya baik. dan ada semacam bekas merah2 deh di tangan dan mukanya.

Tiba-tiba gue inget sama keadaan si Tante yang di luar. Wah gilaaa. Pelan2 gue deketin si Sari. Tante lagi ada masalah sama si Om.” Pokoknya gue bikin supaya dia bisa kehibur deh.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen mereka berdua. Gue ga ngerti apa yang diomongin antara mereka berdua. tatapannya kosong. Ga enak kalo sampe Mama sama Papa kamu tau kejadian ini. Baru gue mau deketin dia. kalo Tante lagi ada masalah sama si Om. dan mengajak Nyokapnya ngobrol di teras belakang. trus tangannya si Tante langsung dipukulin. gue tanya ada masalah apa antara Bokap dan Nyokapnya. si Om ngeluarin gesper yang tadi dia pake kerja. Dan yang gue kagetnya. ada orang yang setega itu halaman 24 dari 83 halaman . Tanpa mikir panjang. dan dia cuma ngeliatin foto dia sama Bokap dan Nyokapnya waktu liburan. dan ternyata Nyokapnya Sari lagi nangis!! Wah gak salah lagi pasti ada masalah antara mereka berdua!! Ya udah tanpa gue pikir panjang. Tiba2 Bokapnya Sari keluar dari kamar. kayaknya itu abis dilempar deh sama si om. Lagi asik chating sama pacar gue. trus gue liat juga di pahanya banyak tanda2 yg sama seperti yang gue liat di tangannya si Tante. dan akhirnya gue sibuk chating-chatingan sama pacar gue. kenapa ya. tatapan mukanya juga sinis banget. Sambil gue bisikin. Gue tanya sama dia. Gue liat si Om udah ga ada. Gue langsung ke kamarnya Sari. GUMPRANG!! Dari teras belakang. Tapi dia kayak orang gila gitu. gue langsung pamitan sama Tante. kayaknya kesel gitu deh. eh dia diem aja sambil ngelamun.” Gila! Ga tega gue ngeliat Nyokapnya Sari yang ngomong sambil terbata2 nangis begitu sama gue. nanya ke nyokapnya. dia langsung ngomong gini sama gue. Akhirnya gue langsung keluar dan menuju teras belakang. pantesan aja dari tadi gue liat tangannya Nyokapnya Sari penuh merah-merah di mana-mana. “Sabar ya. tapi dia tetep aja diem sambil terus ngelamunin foto keluarganya itu. Hahaha. di sampingnya udah ada vas bunga yang pecah. (Gue yakin si Om udah ngelakuin hal yang ga pantes dilakuin seorang bapak pada mestinya). Trus gua liat Nyokapnya Sari udah duduk sambil nangis. Oh iya kamu jangan cerita ke siapa2 ya. Tante minta maaf sama kamu. Namanya juga orang kantoran. Gue liat matanya udah item. Gue ngintip dari sela-sela sofa dan nyoba buat dengerin apa yang diomongin sama si Om. dari cara Bokapnya Sari ngeliat istrinya. gue mulai curiga deh. gue denger suara. langsung gue peluk Nyokapnya si Sari. Tante ga mau kamu ngeliat kelakuan si Om yang udah jahat sama Tante dan Sari. “Mendingan kamu pulang aja ya. karena kejadian ini ya. tinggal Nyokapnya si Sari yang ada sambil nangis. Trus gue mulai memberanikan diri. dan langsung ninggalin itu rumah. Gue nyapa dia tapi kayaknya dia gak menanggapi dan pasti karena mungkin dia kecapean kali ya. Tante. Kayaknya ini orang kebanyakan nangis deh. Di jalan gue mikir terus. dan ngeliat tuh anak lagi diem aja di atas kasurnya.

Nyokapnya Sari ngelaporin suaminya itu ke polisi. Gue bersyukur sama Allah. kayaknya dia udah bisa ngelupain kejadian yang menimpa keluarganya itu deh. mukanya udah kembali ceria seperti dulu. yaitu Sari. tapi malah digituin keluarganya. dan karena Nyokapnya Sari ga kuat dengan perlakuan kayak gitu. jangan malah dikasarin istri dan anak2 nya. karena gue dikasih keluarga yang baik2 aja. Hari2 gue lewatin tanpa hadirnya seorang teman baik gue. ga usah dipikirin orang kayak gitu. Sebenernya gue kasian juga sama Bokapnya si Sari.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen sama keluarganya. dia cerita kalo Ayahnya ternyata lagi stress berat karena ada masalah di dalam kantornya. dan langsung diproses secara hukum. tapi mau gimana lagi. susah2 cari duit buat keluarga. Gue jadi kasian sama Sari karena dia juga jadi korban kegilaan bapaknya sendiri. halaman 25 dari 83 halaman . Tiga hari kemudian gue liat Sari nongol di kampus dan langsung cerita banyak sama gue. Besoknya gue liat Sari nggak ada di kampus. At lease sekarang gue udah bisa ngeliat temen gue senyum dan ceria kayak dulu lagi. dan alhamdulillah jauh dari masalah yang seperti ini. Yah ya udahlah. kayaknya dia masih syok sama kejadian yang menimpa keluarganya. Dia cerita banyak banget ke gue. harus bisa ngejagain keluarganya. Harusnya sebagai ayah yang baik.

bahkan ada yang rela berdiri memberikan tempat duduknya. Setelah diberitahu segala sesuatunya. Kami mulai mengumpulkan temanteman seangkatan sesuai dengan jumlah yang diminta oleh senior yaitu sekitar 40 orang. Di akhir istirahat. Saya dan Radit mulai menanyakan mekanisme perekrutan kepada senior di sekolah yang pada waktu itu duduk di bangku kelas 3 SMA. Ternyata Radit juga tertarik untuk masuk ke dalam kelompok tersebut. sebut saja kelompok Gorazper. saya langsung kenal dengan Radit dan kami menjadi teman yang bisa dibilang dekat. Singkat cerita. Sekolah ini memang sudah terkenal dengan tradisi bulying atau kekerasan pada junior-juniornya sejak 10 tahun terakhir. halaman 26 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KELUARGA DAN SEKOLAH Oleh: Irvanuddin Rahman Cerita ini berawal saat saya menjadi siswa baru di salah satu SMA Negeri ternama di bilangan Jakarta Selatan. baik perempuan maupun lelaki. Namun hal itu tidak mengurungkan niat saya untuk menjadi siswa di sekolah ini dan juga bergabung dengan kelompok yang terkenal dengan tradisi bulying-nya berlandaskan ingin mendapat pengalaman yang lebih. Senior Gorazper menunjukkan sikap yang baik dan ramah kepada kami para junior. Tetapi bulying pada junior perempuan sudah tidak pernah lagi ada sejak 3 tahun terakhir. dengan memberikan tempat duduk di kantin saat jam istirahat yang penuh sesak.

namun lain halnya dengan Radit. di sela-sela berjualan itu kami diberikan waktu istirahat oleh para senior. Ibunya tidak pernah mendatanginya lagi bahkan mungkin Ibunya tidak tahu apa yang terjadi sekarang terhadap Radit dan Ayahnya. Radit berasumsi bahwa Ayahnya mengalami gangguan jiwa dan saya juga halaman 27 dari 83 halaman . selain di sekolah dia juga mendapat perlakuan kasar di rumahnya lantaran ayahnya yang sering memukulinya karena kesalahan-kesalahan sepele Radit. sikap baik itu berubah 180 derajat menjadi sikap yang sangat beringas dan tidak berkeprimanusiaan. tidak lama kami di rumah Radit. Kekerasan yang saya dan teman-teman saya alami memang sama. namun kegiatan siswa baru sangat sangat disibukkan dengan kegiatan ini itu sehingga tidak memungkinkan saya berbicara dengan Radit. Dan seperti itu juga pada tataran-tataran berikutnya. Keadaan seperti itu hampir setiap hari dirasakan. keadaan keluarganya sangatlah berantakan. Selang 10 menit kemudian. Karena suasana yang garing dan tidak bersahabat. Rupanya kekerasan yang dialami oleh Radit ialah karena keadaan keluarganya yang broken home dan juga Ayahnya yang baru menjadi korban PHK karena kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo yang sampai saat ini tidak jelas penyelesaiannya. Saya langsung menanyakan apa yang terjadi namun Radit hanya terdiam sambil menggelengkan kepalanya. Namun saat penataran pertama. kamipun berpamitan dan pulang. Radit keluar dari kamar dengan wajah pucat dan mata yang berkaca-kaca. Pernah suatu kali saya mengunjungi rumah Radit untuk sekedar menghabiskan waktu sepulang sekolah dan juga dengan dua orang teman lain yaitu Rama dan Amar. Radit dan kawan-kawan yang lain segera bergegas menuju tempat yang ditentukan dan langsung berjualan.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Radit yang sudah dikenal di kalangan senior diminta untuk menjadi koordinator angkatan 2009 dalam hal perekrutan/inisiasi/penataran dan lain sebagainya. Radit bercerita setelah Ayahnya bercerai dengan Ibunya dan dipecat dari perusahaan Lapindo Brantas. Setelah itu Radit dipanggil ke kamar Ayahnya lalu terdengar suara orang memukul dengan benda keras dan suara orang merintih kesakitan. Saya dan Radit kedapatan bagian berjualan di daerah Kemang. Hingga pada suatu hari kami angkatan 2009 disuruh berjualan bunga untuk keperluan pencarian dana acara pensi sekolah. Begitu juga sepulang sekolah. Akhirnya Radit menceritakan semuanya kepada saya namun dengan syarat hanya saya yang boleh mengetahuinya. Dia meceritakan kisah hidupnya panjang lebar. dengan sepeda motor saya. Lalu Radit mengambilkan minuman sirup kepada saya dan yang lain. langsung disuruh kumpul di tongkrongan oleh senior-senior Gorazper dan lagi-lagi mendapat kekerasan. Keesokan harinya di sekolah saya ingin sekali menanyakan apa yang terjadi pada Radit. saya pun tercengang dan kaget apakah itu suara Radit atau bukan. Kesempatan itu saya gunakan untuk menanyakan hal yang terjadi tempo hari di rumahnya kepada Radit.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

berfikiran begitu karena tindak kekerasan yang dialami Radit disebabkan permasalahan sepele, seperti misalnya tempo hari Radit memberikan sirup kepada saya, Rama dan Amar, ia langsung dipukuli oleh Ayahnya dengan balok yang selalu ada bersama Ayahnya kemanapun Ayahnya itu pergi. Alasan yang diceritakan Radit kepada saya membuat saya sangat kaget sekaligus prihatin karena hanya karena mahalnya harga sirup dan menurut Ayahnya tidak sepantasnya kami teman-teman Radit disuguhkan sirup, cukup dengan air putih saja. Saya benar-benar terpukul saat Radit menceritakannya, bukan karena saya tidak terima diberikan air putih tetapi cara Ayahnya itu yang benar-benar tidak wajar. Saya dan Radit menghabiskan malam itu dengan cerita sedih yang dialami Radit sampai saya mengantarkannya pulang. Di rumah saya selalu kepikiran kisah Radit dan saya benar-benar bersyukur mempunyai keluarga yang sakinah dan rukun. Namun muncul dalam hati saya keinginan untuk menolong Radit sebagai sahabat. Tetapi saya bingung bagaimana cara saya menolongnya. Saya berfikir bahwa Ayah Radit perlu rehabilitasi untuk kembali menyadarkan jiwanya dan menyembuhkan jiwanya dari gangguan jiwa yang dialaminya akibat stres. Saya menceritakan hal tersebut kepada teman-teman dekat saya tanpa sepengetahuan Radit, namun lama kelamaan berita itu menyebar di angkatan 2009 walaupun tidak semuanya tahu tetapi realtif banyak yang tahu dan tetap tanpa sepengetahuan Radit. Kami pun berinisiatif untuk mengumpulkan dana swadaya untuk membantu Radit dan keluarganya karena mengingat juga banyak sekali kontribusi Radit dalam hal mengompakkan angkatan, membela angkatan di depan senior dan tidak jarang pula Radit menanggung dampak dari kesalahan yang diperbuat angkatan seperti misalnya jumlah orang tidak sampai batas minimal yang ditetapkan senior saat menjadi supporter pertandingan basket sekolah kami dengan sekolah lain, dan sebagainya. Kami pun diam mengumpulkan dana swadaya tersebut secara diam-diam tanpa sepengetahuan Radit agar dia tidak minder dalam bergaul. Memang agak susah mengumpulkan uang yang diperlukan karena pasti sangat besar jumlahnya, maka dari itu kami membutuhkan waktu yang lama untuk mengumpulkan uang sampai target. Seiring waktu berlalu, Kekompakan angakatan kami semakin timbul dan setiap permintaan dari senior untuk menambah jumlah orang yang ikut dalam kelompok Gorazper tidak pernah gagal. Dari 40 orang, menjadi 50 orang, dan terakhir para senior meminta harus ada 60 orang saat tataran berikutnya. Hal yang sangat sulit tentunya bagi kami untuk mengumpulkan sebanyak itu, namun lagi-lagi berkat kemampuan Radit akhirnya kami dapat menggenapkan jumlah kami menjadi 60 orang di tataran berikutnya. Tidak terasa waktu terus berlalu dan hampir tiba saat pelantikan angkatan baru Gorazper yang notabennya adalah angkatan kami, angkatan 2009. Malam pelantikan itu diawali dengan acara menonton bareng di bioskop di salah satu mall di bilangan Pondok Indah, Jakarta Selatan dan ditutup dengan acara pelantikan di sebuah jalan yang biasa menjadi tempat tongkrongan anak-anak remaja seumuran
halaman 28 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

kami. Dan malam itu menjadi malam yang sangat ditunggu-tunggu oleh saya, Radit dan juga teman-teman 2009 lainnya karena setelah malam pelantikan itu kami sudah resmi menjadi anggota Gorazper dengan membawa angakatan 2009 dan itu artinya tidak ada lagi penindasan-penindasan yang selama kurang lebih satu tahun kami alami. Benar-benar malam yang sangat menyenangkan, terlebih bagi Radit, karena di malam itu juga kami memberikan bantuan yang berupa dana yang selama ini kami kumpulkan untuk membantu Ayah Radit. Perasaan kaget bercampur bahagia sangat terlihat dari raut wajahnya saat saya menyerahkan amplop berisi uang itu kepadanya. Semoga malam itu benar-benar menjadi malam terakhir bagi Radit mangalami kekerasan baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan keluarganya.

halaman 29 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

LIBURAN LEBARAN
Oleh: Jodia Pravita Dini

Liburan

ini, aku dan keluargaku akan berlibur ke Makassar tempat Tanteku. Pagi ini aku berangkat ke Makassar, aku dan keluargaku segera bergegas ke bandara pada pagi hari. Sesampainya di Bandara Hassanuddin, Tanteku dan keluarganya menjemput dengan menggunakan mobil keluarga. Rasanya rindu sekali karena sudah lama tidak bertemu mereka. Tujuanku kesana adalah melihat kedua sepupuku yang masih kecil, Andrew dan Darrent namanya. Tetapi aku lebih dekat dengan Darrent. Darrent adalah anak kedua Tanteku, wajahnya mungil dan menggemaskan. Ekspresinya polos saat aku memberinya sebuah coklat. Hari kedua di Makassar, kedua sepupuku itu sungguh manis dan tidak cengeng. Tetapi ketika Darrent melakukan kesalahan kecil yang biasa anak kecil lakukan,Tanteku langsung memarahi dan memukulnya. Aku dan Ibuku kaget karena hal tersebut sangat wajar dilakukan anak seumur Darrent. Dia pun menangis tersedusedu dan berlari kearahku. Aku peluk dia, dan tak lama dia bercerita dengan kosa kata seadanya. Ternyata Tanteku sudah sering memarahi bahkan main tangan kepada anak-anaknya. Selama aku di sana memang terlihat sering sekali Tanteku melakukan hal itu. Ibuku sebagai kakak dari Tanteku sudah member nasihat, tetapi tak didengarkannya.
halaman 30 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

Aku hanya bisa diam jika Tanteku melakukan hal itu lagi. Akhirnya aku mengajak Andrew dan Darrent untuk jalan-jalan ke pantai Losari. Mereka terlihat senang dan lepas dari kejenuhan. Aku senang bila sepupu-sepupuku senang.

halaman 31 dari 83 halaman

serta tubuhnya yang tinggi ramping membuat semua orang tertarik padanya. halaman 32 dari 83 halaman . Saat aku memiliki masalah. ramah. Sepertinya hidup Kinan sangat sempurna. langsing. kadang aku pun ingin menjadi dirinya. serta saat aku kesepian. Saat berangkat kuliah. ceria. Seperti biasanya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen CINTA. Tapi ia sudah dekat dengan kehidupan malam. dan bisa menemaniku saat susah maupun mudah. pagi itu aku dan Kinan. wajahnya cantik mirip seperti Ibunya. hanya berbeda jalan saja. Begitu juga dengannya. Cinta mencoba melarikan diri dari kehidupannya. gayanya yang anggun. Ia baik. berangkat ke kampus yang tidak terlalu jauh dari rumah kami. Sebagai sahabatnya. saat sedih maupun senang. Kinanti Maharani. Umurnya baru 15 tahun tapi ia terlihat seperti 20 tahun. aku selalu menceritakannya pada Kinan. KINANTI! Oleh: Juwita Anindya Anak itu bernama Cinta. mencoba melarikan diri dari Ibunya. Rumahku dan rumah Kinan memang berdekatan. Kinanti Maharani. Kinan adalah sahabat terbaikku sejak aku bersekolah di Taman Kanakkanak. gadis yang saat itu berusia 18 tahun dengan wajahnya yang cantik. aku selalu bergantian membawa mobil dengannya. Badannya tinggi. sahabatku.

Dengan gayanya yang anggun ia mengangkat panggilan itu. aku mendengar mereka akan bertemu malam itu juga. Itulah salah satu kekurangan Kinan. Dugaanku semakin kuat. Setelah lama mereka bercakap-cakap. soalnya dia ngajakin gue kenalan. Kinan dan Paul sering jalan berdua. Oleh sebab itu tidak sedikit pula laki-laki yang sakit hati dibuatnya. Aku sendiri tidak tahu siapa yang menelponnya. Nin! Kayaknya sih dia juga suka sama gue. hari-hari Kinan semakin berwarna. sampai akhirnya mereka halaman 33 dari 83 halaman . Paling nonton sama makan aja. tau nggak siapa yang nelepon gue barusan?” tanya Kinan padaku sambil memasukkan handphone ke tasnya lagi. maka ia akan langsung menolaknya dan berkata bahwa ia tidak mau dengan lakilaki itu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Hari itu Kinan terlihat cantik dengan bando pita putih di kepalanya. Pokonya oke banget deh.” “Boleh. Ia terlihat sangat bahagia.” “Dia ganteng?” “Ya. Lo nanti malem mau ketemuan ya?” “Iya.” “Pastinya. Kemaren gue ketemu dia di kafe. Bila ia tidak suka.” “Badannya atletis?” “Ya. gue sama dia mau jalan. wajar kalau ia sangat perfeksionis dalam mencari pasangan. Sesekali Kinan menengok ke arahku yang sedang menyetir lalu tersenyum centil. Sampai saat itu Kinan belum mempunyai pacar.” “Wah perfect banget dong. Aku menggeleng. sesuai sama persyaratan lo. Dia kuliah di Universitas Nusantara. ia tidak memikirkan perasaan laki-laki yang menyatakan cinta padanya. Tak pernah lupa ia percantik bibirnya dengan sentuhan lipgloss warna softpink.” “Bawa mobil kemana-mana?” “Ya.” Kami pun sampai di kampus. Semenjak berkenalan dengan Paul. Nanti kapan-kapan gue kenalin ya. Dia oke banget. lho. Pembicaraan mereka terdengar sangat akrab. “Siapa.” “Tajir?” “Ya. Nan?” “Namanya Paul. Tiba-tiba handphone-nya berdering. Ia juga selalu memakai pakaian yang modis. “Nin. Bahkan tak jarang lakilaki yang ditolaknya mentah-mentah. Untuk gadis secantik Kinan. Aku mulai bisa menebak sepertinya yang meneleponnya adalah laki-laki yang sedang dekat dengannya. Kinan masih asyik bercakap-cakap di handphone-nya.” “Seagama?” “Ya.” “Paul? Temen baru?” “Ya.

Sesampainya di sana. Kinan bingung. Saat itu umur Kinan baru menginjak 19 tahun sedangkan Paul 22 tahun. Mereka terlihat cocok sampai akhirnya mereka menikah satu tahun setelah jadian. memukul. Lalu tibalah saat yang ditunggu-tunggu oleh setiap pasangan. Paul semakin tidak tahan. mereka nonton dan makan malam. Sepertinya ia teringat sesuatu dan segera menceritakannya padaku. Tapi entah apa yang membuat mereka memutuskan untuk menikah begitu cepat.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen resmi berpacaran atau biasa disebut jadian. Namun sayang. ia hanya terlihat gemukan. Kinan menuruti semua instruksi Paul. Gaun pengantin Kinan pun sangat mewah. Aku melihat ke arah perut Kinan. Hari demi hari ia lalui dengan perasaan yang kacau balau. menampar. mereka pun terlarut dalam hubungan badan. Seperti biasanya. tak seperti orang hamil. Percaya. Beberapa bulan setelah mereka menikah. Namun saat itu Paul meminta lebih. Kinan menceritakan semua kronologi kejadian sampai mereka menikah. adalah satu kata yang Kinan tanamkan dalam hati. Tak lama kemudian Paul bisa mengakrabkan diri denganku dan juga Dino. Mereka pun menuju rumah kedua Paul yang hanya dihuni oleh dua orang pekerjanya. Rumah tangga yang dibina Kinan dan Paul semakin tidak harmonis. Kinan bertemu dengan Paul. Tapi hatinya selalu berdalih dan berusaha meyakinkan kalau semua itu akan aman dan baik-baik saja apalagi Paul selalu memaksa. Paul menghilang. Wajah Kinan pun terlihat sangat bersedih. Tak ada sesuatu yang aneh pada hubungan mereka. Entah mengapa saat teringat masa-masa mereka berpacaran Kinan selalu marah. Aku tersentak tak percaya. Di suatu malam. Seringkali Paul memarahi. Kinan pun menyanggupinya dengan senang hati dan tanpa pikir panjang. Tak jarang pula kami pergi bersama. pacarku. Masalah Kinan dan Paul semakin rumit. Semua keluarga besar sudah mencari Paul kemana-mana. Menghadapi kelakuan istrinya. halaman 34 dari 83 halaman . Paul justru tidak terlihat kehadirannya. Masalah pun datang saat Kinan memeriksakan diri ke dokter dan hasilnya ia hamil. Malam itu. Kinan bilang beberapa kali ia melakukan hal tersebut meskipun ia tahu kalau semua itu dilarang oleh agama dan hukum. Tak tanggung-tanggung seringkali Kinan melemparkan barang-barang di rumahnya sambil menangis. tetapi Paul tidak ditemukan. Hari itu Kinan melahirkan di sebuah rumah sakit ternama. Paul pun meyakinkan Kinan kalau semua akan baik-baik saja. Resepsi pernikahan mereka digelar begitu meriah. Kinan menangis. Aku baru mengetahui kalau ternyata Kinan telah hamil dua bulan saat menikah. Kinan hanya bilang kalau ia sudah merasa cocok dengan Paul. Sebulan sebelum Kinan melahirkan. Ia merasa malu dan takut menghadapi kenyataan. Mungkin Paul melarikan diri ke luar negeri. bahkan mengurung Kinan di kamar mandi karena Paul menganggap Kinan sudah gila. saat semua kelarga dan sahabat-sahabatnya menjenguk. Kinan pun semakin sakit hati. Tapi akhirnya kedua orangtuanya pun tahu sampai akhirnya Kinan dan Paul menikah.

halaman 35 dari 83 halaman . Hidup terasa mulai normal. Entah masalah apa yang membuat Kinan semakin terguncang. Paul bisa kembali dan mereka bertiga bisa berbahagia. ia hampir tak pernah mau lagi bercerita padaku. Harapan Kinan pupus sudah. Anehnya. Kinan bisa bersikap biasa. Semenjak Kinan marah padaku. memukul. Kinan malah menangis dan terkadang ia memarahi Cinta. yang lebih tepatnya tidak sesuai dengan keinginan Kinan. Sesampainya di sana aku melihat seorang gadis belia yang aku kenal. Alamat Kinan memang masih di Bandung. tapi Kinan justru marah padaku. Saat Cinta mulai bersekolah. Aku mencoba mengajak Kina ke psikiater. Cinta pun berbicara padaku. Sampai akhirnya semua mulai terlihat saat Cinta sudah berumur 10 tahun. aku ingin memperbaiki hubungan persahabatan kami yang sempat renggang. tidak bisa bergaul. tanpa segan-segan ia memarahi anaknya itu serta memberinya hukuman mulai dari mencubit. Aku mencari Kinan. Dia pasti Cinta. Aku merasa keluarga mereka memang benar-benar hancur. Orang tua Kinan selalu berkata kalau Kinan dan Cinta baik-baik saja di tempatnya yang baru. Tetapi saat orangtua Kinan datang menjenguknya. Suatu hari aku ingin sekali menjenguk Kinan. Ia hampir tak pernah menangis. Bahkan beberapa bulan kemudian Kinan dan Cinta pindah rumah ke Bandung. Ibunya sendiri. Cinta menjadi korban dari kebodohan kedua orangtuanya sendiri. setiap melihat Cinta. ia cantik tapi tetap saja ia tidak bisa ramah. Aku pun ke Bandung dan mencari alamatnya. tapi hasilnya nihil. Tak ada yang tahu secara detail bagaimana Kinan membesarkan Cinta tanpa seorang suami. mengurung di kamar mandi.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Bayi mungil yang cantik itu pun diberi nama Cinta Kinanti Ananda Paula. Bahkan yang aku herankan Kinan meninggalkan Cinta tinggal sendirian. Aku berusaha mencari Paul. tetapi Cinta tak mau berbicara sepatah katapun padaku. Mungkin ia putus asa dengan keadaannya sekarang. Kinan selalu mengancam jika Cinta menangis maka ia akan menambah hukumannya menjadi semakin berat. Aku pun memercayainya. tapi tidak dekat dengan Cinta. Ternyata sejak kecil ia biasa diperlakukan kasar oleh Kinan. Bahkan di hadapanku Kinan masih bisa bercerita tentang kehidupan kelamnya. tapi Cinta malah memberi selembar kertas berisi alamat yang ia bilang itu alamat rumah Kinan bersama suami barunya. Kinan berharap dengan hadirnya Cinta. dan tertutup. Bila Cinta melakukan kesalahan. tapi aku merasa kasihan. Namun seiring berjalannya waktu. Termasuk kepadaku. Hari demi hari ia lewati dengan berdiam. Aku langsung kaget mendengarnya. Paul tak kunjung kembali. Aku merasa Kinan sudah tidak menganggapku lagi. Tapi wajahnya sudah berbeda. Cinta sudah dewasa. Cinta sangat kuat. Entah apa yang ada di hati Cinta. Melihat aku termangu. Aku pun belum sempat mengunjungi mereka. ia semakin terlihat sebagai pribadi yang pendiam. sampai menyuruh Kinan memakan makanan basi. Aku berusaha menghibur Cinta.

Dia nggak pernah peduli sama gue. cuma bisa nyiksa.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Gue lebih baik hidup tanpa Ibu.” Aku tersentak. Nggak kayak Ibu yang lain. halaman 36 dari 83 halaman . cuma bisa mukul. Ibu cuma bisa marahmarah. Ibu selalu ngasih gue hukuman. Gue mati dia juga nggak peduli kayaknya. Bahkan dia kawin lagi juga nggak bilang gue. dan cuma bisa bikin aku diperkosa.

saat itu Tia dan Nia yang sudah berteman lebih dulu menyapaku yang duduk sendirian di dalam kelas. Kami berteman sejak duduk di kelas dua SMP. Guru pun masuk kelas dan semua berjalan wajar sebagaimana harusnya. Niken dan aku sekelas. karena dari SMP kami hanya kami berempatlah yang diterima di SMA tersebut. Sampai pada saat bel pulang sekolah dibunyikan. Kami semua sangat senang karena berhasil masuk salah satu SMA unggulan di Jakarta. Untungnya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Oleh: Dwi Cahyaningtyas (untitled) Semua itu berawal dari kelulusan kami dari SMP. yang berarti kami akan menjejak ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Pada hari pertama MOS. yaitu SMA. Niken orangnya supel. salah satu teman sekelas halaman 37 dari 83 halaman . Keesokan harinya kami mulai masuk sekolah seperti biasa. Meskipun tidak semua dari teman kami diterima di SMA tersebut. sedangkan Tia dan Nia tidak pernah ketinggalan hal-hal yang menyangkut tren dan mode yang ada. siap memulai pelajaran pertama. sedangkan Tia dan Nia berada di kelas lainnya. Sampai saat MOS berakhir di hari ketiga pun tidak terjadi suatu kejadian yang berarti. Lalu datang Niken yang langsung nimbrung pembicaraan yang kita bertiga lakukan. semua berjalan biasa saja tidak ada yang istimewa. Kami berpencar untuk mencari kelas kami masin-masing.

kami pun dimarahi habis-habisan dan aku mellihat beberapa temanku ditampar dan dipukuli. setelah dirasa cukup banyak anak kelas satu yang berkumpul. kelas tiga segera memerintakhkan kami untuk berbaris. akhirnya kami berempat ikut berkumpul sepulang sekolah. ternyata di sana sudah banyak anak-anak kelas satu yang berkumpul. Kami pun merasa tegang akan situasi tersebut. Tak ketinggalan. Niken mengajakku untuk ikut menghadiri perkumpulan itu atas dasar solidaritas teman. Pada saat kami menjadi siswa kelas tiga. Tiga tahun sudah kami bersekolah di sana. pada akhirnya anak laki-laki disuruh tawuran dengan sekolah lain oleh kelas tiga. kini giliran kami untuk mendidik kelas satu seperti pada saat kami dididik dulu. halaman 38 dari 83 halaman . sebagian lagi tidak peduli dan memilih segera pulang ke rumah. melainkan berkumpul si suatu daerah dekat sekolah atas perintah anak kelas tiga.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kami mengumumkan agar kami tidak pulang dulu. Seseampainya di tempat yang ditentukan. Sebagian dari kelas memutuskan akan datang ke tempat yang sudah ditentukan tersebut karena takut akan kelas tiga. perlakuan kekerasan yang kami alami sudah menjadi tradisi turun-temurun di sekolah kami yang akan terus berulang di tahun-tahun berikutnya. anak-anak kelas tiga juga sudah banyak yang datang. Perlakuan itu terus berlanjut hingga kami memiliki nama angkatan.

Aku berbelok ke jalan kecil yang berhubungan dengan kampusku. Jakarta. tebalnya polusi udara. robot-baja-berjalan begitu padat merayap di pagi hari. aku juga suka memperhatikan keadaan lingkungan sekitar dan menuliskannya dalam beberapa kata sederhana yang orang-orang biasa menyebutnya puisi. dan semakin sedikitnya lahan hijau yang ada menambah panas matahari ini semakin terasa menyengat. pusat ibukota beserta keramaian yang bercampur aduk di dalamnya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen CERPEN TENTANG KEKERASAN Oleh: Kartika Putri Di tempat ini aku dilahirkan. Hiruk-pikuk sibuk ibukota. aku putuskan untuk berjalan kaki. teriakan itu seketika membuyarkan lamunanku. Tidak terlepas dari kegiatan sebagai mahasiswi. aku tersentak. Sungguh jauh perjalanan menuju kampus. “Toh sebentar lagi aku juga sampai” pikirku dalam hati. tembok-tembok beton gedung perkantoran. mahasiswi salah satu universitas di Indonesia. Jakarta. “Hei!!!!” Sungguh. tidak terlepas dari kekerasan yang menyelimuti. suara bising robotbaja-berjalan. Oh iya. Senang atau tidak itu fakta yang ada. Jalan kaki lebih menyehatkan dan mengurangi polusi selain itu aku juga mencuri waktu untuk menghabiskan waktu itu sendiri tanpa ada gangguan. aku halaman 39 dari 83 halaman . aku suka dipanggil Nanda. namaku Ananda.

. Ibu lagi sakit demam. mereka preman.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen menoleh. masih kecil juga!” “Itu uang untuk beli obat ibu di warung. perawakan besar lengkap dengan baju serta gelang tangan anyaman menghiasi tangan mereka. Pasang tampang polos pula!!” Bocah pengamen itu seraya berjalan agak mundur sedikit dan menunduk. Bang.. kulit gelap yang membuat semua orang akan merinding melihatnya. bakalan mati kalo nggak makan!” Pengamen itu bersikeras merebut kira-kira lima lembar uang seribuan dan satu lembar uang lima ribuan dari tangan-tangan kotor si preman. deh. Pengamen itu jatuh tersungkur di tanah. salah seorang dari preman tersebut menoyor kepala pengamen cilik itu. bohong aja lu! Berani bohong sama gua!!” “Cepet periksa sakunya!! Pasti dia bohong!” “Nggak Bang. tangannya ditarik dan dipukulnya kepala si pengamen oleh tangan besar sang preman. Aku melihat di kejauhan dan tetap melihat. dan tawa yang lebih tepatnya tawa kekejaman. Lengan yang begitu kecil diselimuti berbagai macam luka..” “Iba-ibu! Siapa juga yang peduli sama ibu. Saya mohon.” “Eh. si pengamen hanya bisa mengelushalaman 40 dari 83 halaman .. tetapi ini terasa lebih nyata. nggak.. lu?!” “Iya mana? Jangan berlaga bego.. lu! Orang juga nggak ada yang peduli sama gua!! Ibu lu nggak bakalan mati kalo nggak minum obat!” “Lain sama kita. Bocah pengamen itu seakan-akan tahu dan cemas apa yang akan terjadi pada dirinya. “Hei!!!! Iya sini bocah!!!” Masih tertegun dengan teriakan itu. Ya. a.. Tiga preman tadi memanggil seorang bocah pengamen dengan gitar kecil. Langkahnya gontai. Ya. Pengamen kecil itu berdiri memegang kepalanya sesekali ia berjalan agak sempoyongan ke arah warung dan duduk di sebelahku. Malangnya si pengamen.” Pengamen itu gemetar. saya.. saya.. ada.. Aku yakin bukan aku yang mereka maksud. Ia melangkah takut-takut menghampiri tiga preman tadi.. Tiga orang laki-laki bertato. menyaksikan setiap adegan-adegan yang seperti di tuai dalam acara reality show di televisi kebanyakan. Aku memutuskan untuk duduk di dekat warung dan membeli sesuatu agar bisa mengamati preman-preman itu tanpa harus dicurigai. Saya belum ngamen hari ini. “Ini apa??!! Bukan duit?! Berani lu ya sama gua. “Heh! Mana setoran.. bang. lagi-lagi kekuatan berjaya. premanpreman meninggalkannnya dengan tawa keras. “Ng. Jangan diambil. Bang. saya. Dugaan dan firasat yang kuat salah satu kelebihanku.... Semua orang tanpa harus bertanya berapa usiaku juga tahu itu. tawa membahana.. sandal jepit lusuh yang sudah tipis solnya.. aku memutuskan untuk berhenti. Aku bukan anak-anak lagi. Tidak mungkin mereka memanggilku.. baju yang entah berwarna putih atau cokelat pudar lusuh itu sudah tidak jelas warnanya—kumal dimakan waktu. Rupanya kening si pengamen lecet begitu juga dengan lengan kanan yang menopang kepalanya tadi.

Duka bocah pengamen tertindas. tetapi begitu menyimpan makna. tak hanya duka tetapi juga suka.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen ngelus kepala dan lecet di lengan kirinya. dan rasa terima kasih mereka. Hati-hati kalo bawa uang nanti diminta preman lagi. terima kasih ya.. gelak tawa mereka di kala hujan. semua menjadi tumpah ruah di sini. nyanyian kebahagiaan mereka. Ibu penjaga warung memberikan air mineral kemasan kecil dan memberikan plester kepada si pengamen.. Bu. kebahagiaan seperti itu dapat mereka —orang tertindas—rasakan melalui uluran tangan-tangan Yang Maha Kuasa. “Wah.” ibu penjaga warung benarbenar tulus membantu. Ternyata di jalan sempit ini menyimpan begitu banyak cerita. Ibu sudah sering menolong saya” “Nggak apa-apa. halaman 41 dari 83 halaman . Dek. Setidaknya. Saya kesian aja ngeliat kamu dianiaya sama mereka. walaupun kelihatannya kecil. Wajah bocah pengamen berseri sekali saat memakai plester pemberian ibu itu dan meminum air mineral yang rasanya biasa saja. begitu banyak duka..

taman bermain anak. yang senantiasa menampilkan keindahan. banyak gedung-gedung megah berdiri. Banyak sekali anak-anak sekitar usia 4-12 tahun yang sudah mencari penghasilan dengan cara menjadi pengamen dan pengemis. Di kolong jembatan itu. tetapi masih ada satu sisi yang sering dilupakan oleh pemerintah. Jembatan dekat ITC Cempaka Mas. yaitu halaman 42 dari 83 halaman . dunia fantasi anak. kenaifan dan kebebasan seakan tanpa kontaminasi sudah tidak dapat kita lihat lagi. Jakarta Pusat. Gambaran tentang kondisi sosial yang mengenaskan. Sedih sekali melihat Jakarta yang katanya kota metropolitan. Aku melihat dengan nyata praktek kekerasan oleh orang dewasa kepada anak kecil yang terjadi di jalanan ibukota.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen TINDAK KEKERASAN PEMERINTAH TERHADAP ANAK-ANAK JALANAN Oleh : Khamim Hudori Kekacauan dunia politik di tanah air dan kekerasan-kekerasan yang terjadi belakangan ini di berbagai daerah dan ibukota menyisakan kerisauan yang mendalam bagi anak-anak. potret wajah-wajah bocah yang kelaparan dan kepedulian para orang tua di pengungsian dapat disaksikan di media masa.

Buluk. “Pak Bruto itu yang ngajarin anak-anak di sini ngamen.” Setelah lampu hijau.” Luki langsung lari ke deretan mobil yang sedang menanti lampu hijau menyala. Tidak lama. Dek? Apakah kamu masih sekolah?” “Saya umur 9 tahun. “Yee. menjadikan bintang di surga. Kak. maka dia dipanggil Buluk di lingkungan sekitar kolong jembatan...BEJAT: sebuah kumpulan cerpen nasib anak-anak jalanan yang tak sekolah dan dapat perlakuan yang tidak wajar oleh para orang tua mereka. Dek?” “Panggil saja saya Buluk. “Ada apa. lampu merah tuh!!” bentak Pak Bruto sambil menghisap sebatang rokok dan menghitung uang setoran anak-anak dari hasil mengamen. Setelah Luki selesai ngamen dan memberikan setoran ke Pak Bruto. anak sekecil itu sangat tidak pantas untuk mencari uang di jalanan halaman 43 dari 83 halaman . sang bocah tadi pun kembali ke kolong jembatan. Padahal nama aslinya adalah Luki. “Buluk!!! Cepetan sana ngamen lagi. Sungguh. Saya sudah putus sekolah. memberikan warna yang bisa menjadikan indah. nanti abis ngamen. Ibu saya sudah tiada. Tepat di lampu merah Cempaka Mas. Mmm.. bapak saya juga entah kemana. Bagaimana cara untuk kita dapat bisa dapet uang di jalanan. Nah. apa boleh buat.. Dan ternyata itu Pak Bruto yang kemarin. “Luki. “Dek. Sebenarnya nama asli saya Luki.. Pake nanya lagi. “Iya. Kak. Kak. Yaaa. Besoknya. Saya juga maunya sekolah. Kak.” jawab bocah tadi. ada suara memanggil Luki dengan nada keras. Ada apa?” tanya anak kecil itu. uang receh lo tadi. terdengar suara anak kecil sedang menyanyikan lagu ST 12 di depan mobil Alphard. Trus nanti kita dapet bagian juga. “Woy. Terpaksa saya hidup di jalanan seperti ini. Coba ke sini sebentar!” aku panggil anak kecil itu.” “Kamu umur berapa.. Kak. sebenarnya pak Bruto itu siapa?” tanya saya..” jawab Luki dengan ketakutan dilihat oleh pak Bruto. Saya panggil lagi bocah itu. Pak Bruto?” tanya anak itu. kita ngasih duit hasil ngamen tadi ke dia. Di sanalah aku kenal seorang bocah kecil yang biasa dipanggil Buluk. Karena dia berpakaian yang sangat kusam dan agak kotor. Ini uangnya. Sini lo!” panggil bapak tadi ke bocah yang baru mendapat uang receh dari mobil Alphard. aku berjalan di jembatan itu lagi untuk mengenal bocah tadi. Ya. Sudah tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolah.” Luki berbicara dengan sedihnya. kasih ke gua!” bentak bapak tadi ke anak kecil itu. “Maaf. Kak. ada seorang bapak sekitar umur 35 tahun. Sini. Kak. “Iya. Di kolong jembatan itu. Pak. Pak.. “Namanya siapa. “Dapatkah aku memeluknya.

Dan semoga saja. Mereka yang seharusnya sedang asyik-asyiknya bermain dan sekolah dengan teman sebaya. Karena anak-anak itu mempunyai hak untuk bersekolah dan untuk menatap masa depannya. halaman 44 dari 83 halaman . yaitu memelihara dan menjamin anak-anak tidak mampu itu untuk mendapatkan pendidikan yang layak? Bukankah tindakan pemerintah yang tidak menjamin anak-anak itu sekolah juga suatu tindakan kekerasan? Semoga saja pemerintah benar-benar serius dalam menjamin pendidikan anak-anak tersebut. apakah ada seorang bapak yang tega membiarkan anaknya hidup di kolong jembatan seperti ini dan apakah pemerintah sudah menjalankan apa yang seharusnya mereka kerjakan. tapi malah menjalani hidup dengan keras di alam kolong jembatan tersebut. semua anak-anak Indonesia berhak mendapat pendidikan yang murah dan tidak ada lagi anak-anak jalanan seperti Luki tersebut. Amin.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen dengan cara mengamen. Saya sedang berpikir.

“Mas. Tiap hari aku berlaku kasar padamu. Padahal sudah 8 tahun kita sudah menikah. Kau bosan dan aku pun bosan. aku bangun dan membentak. Tak berkata apa-apa dan tidak melakukan apa-apa. “Malah diam saja lagi! Cepat buatkan aku kopi!” bentakku. Dan kau tahu sikap kasarku selama ini karena alasan itu. tapi kau terima saja. aku mau belanja dulu ke pasar.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KAU DAN KEKERASANKU Oleh: Khaula Fathina “Kamu jahat banget sama aku!” kalimat ini kan yang ingin kau katakan untukku?! Tapi selama ini kau hanya diam saja aku perlakukan seperti itu.” halaman 45 dari 83 halaman . “Apa yang kau kerjakan dari tadi! Suami bangun bukannya dikasih kopi atau apa! Ini malah sibuk beres-beres rumah! Istri macam apa kau!” satu tamparan lagi kena di wajahmu. Dan kau pun tetap diam membisu sambil berlalu ke dapur. Kau merasa bersalah karena sampai saat ini kau belum mempunyai anak. Kau menunduk diam membisu. Begini tiap hari suasana pagi. Hampir setiap hari tanganku ini menamparmu. PAKK!!! Tamparan keras mampir di pipimu. kau bebenah rumah. tolong jaga rumah ya.

kau pun bergegas pulang ke rumah. Setelah rumah rapih. “Maaf. Kau mengambil secarik kertas dari laci lemari dan sebuah pulpen. Tidak ada pukulan keras dariku. Pulang ke rumah pun seperti mengendap-endap. Barisan-barisan kalimat yang kau tulis di kertas itu menunjukkan alasan mengapa kau pergi meninggalkan rumah dan suamimu begitu saja. Kau mulai beres-beres rumah kembali setelah aku pergi meninggalkan rumah. kau hanya membeli sayur dan lauk pauk yang akan dimakan hari ini. Kau mencicipi sedikit sayur asem itu. Kau memasak sayur asem kesukaanku dan ayam goreng. Kau diam menerima omonganku. PRANG!! Kau tersentak kaget waktu aku membanting mangkuk sayur asem itu. Kertas itu. Aku hanya mengangguk dan kau pun pergi ke pasar. aku tidak bisa memberikan keturunan kepadamu. Seperti tidak mau terlihat olehku. Hatimu was-was takut kena bentak lagi olehku. Mas. Kau menuju lemari dan memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas. Lalu memasukkan juga beberapa barang keperluan lainnya ke dalam tas. Aku selama ini selalu sabar menerima puukulan dan tamparan juga bentakanmu padaku. Lalu meninggalkannya di atas meja samping ranjang. Aku akan buatkan yang baru. Aku bukan istri yang baik. Terbuka rapih di atas meja. Maaf. halaman 46 dari 83 halaman . kertas yang kau tinggalkan. Setelah selesai semua. kau masuk ke dalam kamar. Dan aku merasa tertekan mas atas hal itu. Saat-saat sendiri di rumah adalah saat yang membuat kau tenang. “Tidak usah! Aku makan di luar saja! Kau jadi istri kok gak becus ngurus suami!” bentakku kepadamu. Kau menulis beberapa baris kalimat di kertas itu. Tanpa berkata apa-apa kau meninggalkan rumah dengan terburu-buru. Tapi kali ini aku menyerah mas. Jaga dirimu baik-baik. Aku titip rumah. Di pasar. Tidak ada amarahku. “Cih! Masakan apa ini? Sayur asem manis begini!” ludahku sewaktu mencicipi sayur buatanmu.” ujarmu. aku pulang ke rumah orang tuaku. Mas. Aku tahu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Kau pamit. Aku sudah tak sanggup lagi untuk menahan segala perlakuanmu kepadaku. dan langsung menuju ke dapur. Seakan-akan takut diikuti seseorang. maaf aku pergi meninggalkanmu. Rupanya hari ini kau terlihat ingin berdamai denganku. membuat siapapun yang melewati meja itu dapat membacanya. Mas. Tidak ada tamparan di pipimu.

Telah belasan tahun batinnya tersiksa dan perasaan tenang pun tak dapat ia raih. Begitu berat ia menggenggam rantai kebencian pada hidup bersamaku yang dijalaninya. Itu semua karena cinta kami berdua. walau pada wajah mulusnya begitu ringan rasanya ia menebarkan bunga cinta kasih pada orang-orang. Flora hanya bisa menjerit di batinnya. Gadis itu masih termenung di antara batuan cadas hitam yang menemani setiap jeritan lamunannya. tak sedikit pun cinta kasih kami direstui oleh orangtua. Ia terduduk dengan wajah yang masih menatap kelamnya cahaya langit. Wajahnya tetap gelap tanpa ada cahaya yang menerangi. dan Tuhan pun tak kunjung memberinya pertolongan. Angin hanya lalu-lalang dengan wajah iba.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen CINTA TERLARANG Oleh: RA Koeshamimurti Tosani Natya Lakshita Flora. Aliran sungai terasa begitu deras di setiap detakan jantungnya. Sejak kami mengucapkan sumpah sehidup-semati saat pernikahan kami. Ditatapnya langit kelam yang tak memberi kasih tanpa cahaya lekat-lekat seakan meminta pada Tuhan agar diberi sedikit saja kesempatan untuk bisa mengecap nikmatnya dunia tanpa siksaan batin yang mahadahsyat dan mencekam. cinta Flora dan Fajar. Tak sedikit pun senyum keluarga halaman 47 dari 83 halaman . Namun tampaknya itu semua hanya bunga khayalan saja. Wajar bila Flora tak dapat menyebarkan senyum anggunnya.

Mataku pun terpejam dan bayanganku pun menggenggam erat tangan Flora. Keesokan harinya tercium kabar bahwa orang tua Flora akan menyuruh para preman jalanan untuk membunuhku agar kami tak bisa lagi bersama. agar di surga nanti aku dapat menyambut dirimu dan berbahagia selamanya di sana. Namun. Aku tak ingin kau mati sendiri tanpa kehadiranku. Flora pun menebaskan pisau itu ke lehernya dan bercucurlah darah. Aku ingin kau terus ada disampingku. Dan bila kami tetap melanjutkan mahligai pernikahan kami. Mendengar kabar itu Flora menghampiriku dan berkata dengan tangis yang terisak-isak. tetapi di surga sana. Saat pertama aku berhasil melumpuhkan dua orang pemuda. aku sudah lelah dengan semua ancaman orang tua kita yang terus memisahkan kita. Saat tiga preman jalanan datang menyiapkan pedang maut mereka.” Dengan berpasrah segalanya pada Tuhan. Sebuah pedang tajam menembus jantungku semakin dalam. Aku pun menjerit histeris melihat Flora telah mati di sampingku.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen mengharumkan pernikahan kami. tetapi kau harus yakin. Flora ada di sana. Aku merasa dunia bukan tempat cinta yang bahagia.. Maka aku akan membunuh diriku sendiri sebelum kau dibunuh. “Kau boleh pergi dahulu ke surga sebelum diriku. siap pergi bersama ke dalam surga cinta yang sejati. Aku tak ingin kau dibunuh. cinta kami akan selalu dipisahkan dengan cara apa pun. di sela jerit kesakitanku. Flora pun mengambil sebuah pisau tajam yang telah diasah olehku. Dia tersenyum menyambutku dan ingin menjemputku ke surga. halaman 48 dari 83 halaman . Aku hanya bisa menahan kesakitan. aku percaya aku akan menyusulnya nanti di alam sana. menjalani kehidupan abadi yang penuh dengan bunga cinta dan kasih. “Fajar. Aku tak ingin berpisah selamanya denganmu. cinta kita tetap abadi. Namun tiba-tiba. Di sana aku berbahagia bersama Flora selamanya.” Setelah mengucapkan sumpah setianya pada cinta kami berdua. aku melihat pintu gerbang cahaya kematian datang di depanku. pertanda bahwa Flora sudah siap menjalani niatnya untuk mengakhiri hidup di dunia menuju kehidupan abadi. Aku sudah lelah dengan ancaman-ancaman yang terus menyiksa batinku. “Cinta kita akan terus abadi.. Sebelum ia bunuh diri. ia menggenggam tanganku erat. namun kekuatan pemuda terahir telah melumpuhkan nyawaku.” Aku hanya dapat bergumam pasrah dan kemudian air mataku jatuh tak tertahan lagi. aku sudah siap dengan sebilah badikku.

Dan setiap kali tiba hari-hari bersejarah. Tidak pernah berubah sejak bapak pensiun dari pekerjaanya. Di sebelah kanan peti diletakkan Al-quran yang berukuran lebih besar daripada biasanya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen BENDERAKU Oleh: Krisna Karim Z “Nih Pak. Begitulah tatanan rak paling atas dalam almari Bapak. Bau harum pelembut kain menyebar keseluruh ruangan. Sejak dulu memang Bapak sangat mencintai bendera merah putih dan tampak menjadi-jadi setelah tidak mempunyai kegiatan lagi. Bapak menuju almari jati kuno yang berada di kamar Bapak sambil mendekap bendera di dadanya. benderamu!” Ibuku menyodorkan bendera yang baru digosok kepada Bapak. yang ditaksir sekira hampir seabad. Peti itu berisi lencana-lencana. bendera itu selalu siap dikibarkan di halaman rumah. Bapak adalah mantan pejuang angkatan ’45 dan telah pensiun dari kepala satpam di pabrik gula. Dengan hati-hati ditaruhnya bendera itu di atas sebuah peti kecil dari kulit yang usianya sebaya dengan usia almari. kemudian disimpan di tempat yang spesial. halaman 49 dari 83 halaman . Terdengar ada nada mengolok pada suara ibu ketika menyebut ‘benderamu’. dan benda kesayangan bapak lainnya. Diperlakukannya bendera merah-putih dengan khusus. dicucinya bendera itu sendiri. piagam penghargaan.

halaman 50 dari 83 halaman . beberapa jam kemudian hujan turun lagi. dengan suara keras kakakku bercerita. Namun. kemudian dari teras rumah dipandanginya bendera yang basah terkena hujan. Dan hal itu yang membuat kakakku malu. Sejak pagi hujan gerimis terus turun. Malu.” Adik lelakiku pernah juga terkena marah sama Bapak gara-gara ketika menurunkan bendera merah putih secara tidak sengaja ia gunakan kain bendera itu untuk mengelap keringat di lehernya. Jadi.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Sikap berlebihan Bapakku terhadap bendera itu menurut kami sering menimbulkan masalah kecil dalam keluarga. begitu alasan Ibu.” Dia terus bicara seperti bunyi penyiar radio yang tanpa meminta pendapat pendengarnya. Ibu selalu mengomel kalau hanya halaman rumah kami yang dipasang bendera. kalau Pak Dhe-nya tentara yang takut sama bedhil. mulut komat-kamit sambil matanya terpejam entah doa apa yang dipanjatkan barulah kemudian bendera dipasang ke tiang. Pak Dhe Mas Toro? Dia juga pejuang ’45. Setelah makan siang. Bapak memasang bendera. Bapak memasang kembali bendera itu. tahunya cuma makanan saja. aktivitas Bapak kian repot lagi. Lantas diambilnya lagi tiang bendera itu dan dibawa ketempat teduh. Ceritanya hari itu tanggal 10 November. “Ibu kenal Pak Samsur. Tidak pernah menunjukan kalau dirinya mantan pejuang. Juga setiap tanggal 17 Agustus. Mas Toro. Dulu katanya pernah berjuang bersama Bapak. calon suami Mbak Nurul tertawa. Akhirnya kami biarkan Bapak berbuat sesuka hatinya meskipun kadang-kadang terasa aneh bagi kami. pacarmu itu. Bapakku pun selalu menyempatkan melaksanakan sholat dilanjutkan dengan sujud syukur. ”Pak. Kakak perempuanku yang bawel suka sekali menggoda dan mengolok-olok Bapak dengan pertanyaan. Ada-ada saja. kok tidak pasang bendera?” Padahal ia tahu betul itu bukan hari bersejarah. bendera didekap di dadanya. Bu. Oleh karena itu. Wong tugasnya di bagian logistik. tapi tidak ikut perang. Bilang sama Toro. Tentu saja melihat ulah Bapak seperti itu. Setelah itu. Hal itu terulang beberapa kali. Dengan kalem Bapak menyahut. Rupanya Bapak tida rela jika benderanya basah. orangnya sederhana ya. Pernah suatu hari ia marah kepada Bapak karena malu sama pacarnya. dan bapak juga mengerti kalau kakakku tengah menyindirnya. Kami semua tahu kepada siapa cerita itu ditunjukkan. Mula-mula kami khawati Bapak menderita gangguan jiwa. Tak lama setelah hujan reda. Pagi hari Bapak memanggul tiang bendera untuk dipasang di halaman. kemudian ia cabut tiang bendera yang terbuat dari bambu dan dipanggulnya menuju tempat yang teduh. Namun. Dan sore hari menjelang maghrib dipanggulnya kembali ke dalam rumah. Saat memperingati hari kemerdekaan RI. Pekerjaan itu dilakukan selama 4 hari berturut-turut sejak tanggal 14 sampai tanggal 18 Agustus. Di bawah rintik-rintik hujan. Akibatnya selama satu jam lebih ia harus menerima ceramah dari Bapak perihal bendera itu. Ritual ini dilakukan dua tahun berturut-turut semenjak Bapak pensiun. “Samsuri itu tentara. Ternyata tidak ada gejala yang mengarah kesitu.

karena itu dia memotong cerita Bapak. namun jangan sampai keblinger. bagaimana kalau kamu yang mengingatkan. Semua diam. yang sok tahu mengatakan.” mantap sekali Pak Lik mengucapkan kalimat terakhirnya. Mas. Setelah basa-basi sejenak.” halaman 51 dari 83 halaman .sedangkan aku dan Yana. Saya khawatir kalau kalu Mas mulai mengeramatkan bendera. saya takut. Kamu kira pikiranku sudah gila. Sudah sering ponakanmu mengingatkan namun tak pernah dihiraukan. hanya suara radio dan televisi yang berlomba. Kok. Siang hari setelah makan siang. bukan itu yang saya maksud. Kita boleh saja cinta kepada negara dan bendera. segera menuju pembicaraan. Coba. Pak Lik Kashim sengaja ikut duduk-duduk dengan Bapak di ruang makan sambil mendengarkan musik keroncong dari RRI Jakarta. banyak temanku yang mati! Mati Sim. “Kamu ngawur Sim. ya. siapa tahu Masmu mau mendengarkan!” Suara Ibu terdengar bersungguh-sungguh. Sementara itu Ibu mulai terpengaruh dengan perkataan Pak Lik. adik Ipar Ibu. Tiba-tiba. wong ndableg gitu. penyakit yang timbul setelah pensiun.. sama sekali tidak tertarik ikut nimbrung karena sudah bosan dengan persoalan yang dibicarakan. Saya lihat Mas mulai berlebihan dalam memperlakukan berdera. Untuk merebut bendera itu tidak mudah. ”Maaf. Dibunuh sama musuh. “Yu. Hati-hati lho. “Ya. kamu tambah ngawur.” Dengan menggebu-gebu Pak Lik menerangkan akibat dosa besar itu. Lihat saja bagaimana ia memperlakukan bendera. Ibu yang berada di ruang tengah sesekali menimpalinya. begitu? Kamu memang tidak pernah ikut berjuang merebut negara dan penjajahan.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Hati Ibu mulai terusik ketika suatu hari Pak Lik Khasim. Seperti biasa Bapak enggan menanggapi taktala ada orang yang membicarakan perihal kecintaanya pada bendera. Sikap Bapak yang diam membuat Pak Lik kebingungan. Mas Abu lama-lama kelihatan makin aneh ya. seperti memperlakukan benda keramat saja. lho. Ibu berkata. ”Kenapa? Kamu takut aku mulai gila. kalau dibiarkan terus Mas abu terseret dalam perbuatan syirik. Pak Lik bosan mendengarnya. namun siapa yang berani mengingatkan Masmu. dia pun akhirnya menghentikan pembicaraan. Saya mengerti. Mungkin suamimu terkena penyakit post power syndrom. Kasihan kalau tidak diingatkan. Dengan nada prihatin. Itukan yang ada di kepalamu?” suara Bapak menunjukan kemarahan.” Ragu-ragu paklik melanjutkan kalimatnya karena Bapak menampakkan rasa tidak suka. Itu Yu. Dengar Sim.. ”Lho. Aku jadi geli mendengarnya—apa hubungannya post power syndrom dengan perbuatan syirik. suara bapak mengagetkan kami. yang sedang asik menonton telenovela. “Ya. Makanya kamu ndak bisa merasakan bagaimana rasanya merdeka dari penjajah!” Dengan penuh semangat bapak menceritakan kisah perjuanggannya di masa lampau. adik perempuanku.

Lama-lama Ketua RT bosan memberi tahu keluarga kami yang nyaris lupa kepada bendera dan tidak pernah mengibarkannya lagi. membela negara diwajibkan oleh Tuhan.” Suara Bapak bergetar menahan tangis dan tampak mata tuanya berkacakaca. Membunuh saudara-saudaraku yang sebangsa yang pernah berjuang bersama-sama melawan penjajah.. Ternyata di mata Bapak dalam bentangan kain itu terdapat gambar hidup yang menimbulkan pergolakan batin antara perasaan syukur dan penyesalan yang sangat dalam..” ujar bapak. Mereka harus kubunuh hanya karena ingin mengganti merah putih dengan bendera mereka. Setelah Bapak meninggal. Kini kami mengerti alasan bapak memperlakukan bendera dengan istimewa.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Bapak diam sejenak menunggu Pak Lik berbicara. seperti pemberontak RMS.. ”Mas Abu tidak bersalah.. kali ini hanyut dalam perasaan Bapak. ”Lalu kenapa setiap tanggal 17 Agustus. Pak Lik Khasim menyela. “Teman-temanku harus mati karena mengibarkan bendera merah putih. kemudian berdoa sambil mendekap bendera?” tanyanya. kami tidak pernah meributkan lagi soal bendera. bukan berarti menggangap benda itu keramat dan menyembahnya. Bapak melanjutkan ceritanya lagi. namun kelihatannya Pak Lik malas menanggapi. Hening. Selanjutnya. Terharu mendengar cerita bapak. Mas Abu selalu bersujud. Tulisan yang membangunkan kesadaranku adalah bagian terakhir dari e-mail itu. Tanganku ini harus membunuh pemberontajk DII/TII. Kami sering lupa mengibarkan bendera pada saat harihari bersejarah dan baru ingat ketika diberi tahu oleh Ketua RT. “Setiap melihat bendera merah putih. kemudian dengan suara parau melanjutkan perkataanya.” Bapak diam sejenak.. Untuk bendera aku juga harus membunuh sesama manusia. Untuk menutupinya ia memberikan nasehat. Pak Lik Khasim menjadi salah tingkah.” Aku kini benci sekali mendengar ucapan Pak Lik. hingga suatu ketika aku membaca e-mail dari kakakku yang kini tinggal di Den Haag. Semua tiada bersuara. tidak ada lagi perlakuaan dan tempat spesial terhadap sang Dwi Warna. padahal mereka adalah saudara-saudara yang seakidah denganku. begini isinya: halaman 52 dari 83 halaman . APRA. “Bahkan oleh tanganku. aku selalu bersyukur kepada Allah karena masih diberi kesempatan untuk mengibarkannya sepuas hati tanpa ada rasa takut dibunuh musuh!” Kali ini Bapak terdengar bersungguh-sungguh mempertahankan pendapatnya tanpa disertai rasa jengkel. itu salah besar... Hal tersebut berlangsung bertahun-tahun. yang membuat aku sadar terhadap sesuatu yang aku lupakkan selama ini. membunuh pemberontak berarti membela negara... Kalau sekarang aku memperlakukan bendera dengan istimewa. Ibu yang biasanya cerewet dan adikku yang tidak pernah memperdulikan bapak dengan bendera. Terlihat air mata bening di mata mereka. ”Demi Tuhan.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Semoga Indonesia segera damai dan mendapat pemimpin yang baik serta jujur agar tidak ada lagi wilayah yang memisahkan diri dari RI. Mengiyakan isi e-mail kakakku. Sedih rasanya menyaksikan teman-teman dari Tim-Tim yang berpesta pora merayakan kemerdekaan mereka dari penjajahan Indonesia (begitu menurut mereka). Baru kali ini. Makanya mulai hari ini jangan abaikan lagi benderamu agar tiada orang lain yang menggantikannya dengan bendera lain. Benar kata Bapak kalau bendera adalah martabat dan harga diri suatu bangsa. Ketua RT tidak perlu menyuruhku memasang bendera. Kepalaku mengangguk. Mbak menangis untuk bendera dan baru kali ini aku merasakan memiliki bendera. Menyesal rasanya dulu aku sering mentertawakan cinta Bapak terhadap benderanya. ”Baiklah insya Allah mulai bulan Agustus tahun depan. dalam hati aku berkata. karena aku sudah akan memasangnya sendiri. Dan lebih sedih lagi ketika mereka menurunkan bendera merah putih dan menggantikannya dengan bendera mereka. Aku benar-benar menangis ketika menyaksikan peristiwa itu.” halaman 53 dari 83 halaman . sedangkan bendera merah putih mereka campakkan begitu saja.

bertanya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen EYANG NELI Oleh: Lestari Sari Pambudi Bicara soal sifat pelupa. ”Loh. anda harus mengenal Eyang Neli. Bapak ini halaman 54 dari 83 halaman . ”Dari mana saja. Namun. petugas itu menyarankan Eyang Neli untuk melaporkan kehilangan sepedanya ke kantor polisi terdekat... kerabatku dari pihak Ibu. Akhirnya.” jawab Eyang Neli memelas. Usai keperluan di kantor pos.! Seketika tukang tambal ban tersentak kaget. Petugas parkir pun kelabakan karena merasa bertanggung jawab atas raibnya sepeda tua milik Eyang Neli. Hari sudah sore ketika Eyang Neli keluar dari kantor polisi. Beliau mulai panik... ternyata sepeda saya hilang lalu saya lapor ke polisi. makanya sore begini baru pulang. Eyang Neli pergi ke kantor pos di kota tempat tinggal. si tukang tambal—sudah sangat dikenal Eyang Neli. Aku pertama kali mengenalnya ketika pernikahan sepupuku beberapa tahun lalu. Pak ?” “Dari kantor pos. Di mobil itulah beliau bercerita tentang sifat pelupanya yang luar biasa. Saat melewati tukang tambal ban. Beliau setuju. Pernah suatu pagi. Saat itu beliau semobil denganku dalam perjalanan menuju tempat resepsi. Eyang Neli tidak dapat menemukan sepedanya. Makjrengat. Dengan langkah gontai beliau melangkah pulang menyusuri jalan menuju rumah. ia bergegas ke tempat parkir sepeda.

dan menyadari istrinya tak ada di sisinya. fisik Eyang Neli masih sehat dan kuat. Baru kemudian ia ingat saat berangkat ke kantor pos tadi pagi. Tiba di sana dengan alasan menghemat waktu. Di pusat elektronika. Eyang Neli mengajak istrinya keluar kota. tidak hilang toh?” komentar Eyang Neli. Tapi karena khawatir istrinya panik. Pak. Mereka berjanji bertemu di pusat jajanan untuk kemudian pulang bersama. ke mal. Walaupun sudah tua dan pelupa.” kata si tukang tambal seraya menutup kiosnya. di rumah kerabatnya itu Eyang Neli bercerita ngalor-ngidul hingga tak terasa hari sudah sore. Ibu kemana?” tanyanya pada pembantunya. beliau mencari ke segenap penjuru rumah. Eyang Neli sangat suka menyetir mobil memang. dan sang istri tetap tak di temukan. keduanya sepakat berpisah untuk bisa mencari keperluan masing-masing. Beliau dan istri selamat sampai tujuan. beliau pun bergegas pulang dan tidur! Sore hari saat bangun tidur. istrinya buru-buru mengajak pulang saat hari belum benar-benar gelap. Lah ini. Beliau juga sangat percaya diri. Lain waktu.” Seketika Eyang Neli ingat janjinya untuk ketemu di food center! Ia pun bergegas kembali ke mal. “Cepet deh di ambil sepedanya. Takut nyasar dalam perjalanan pulang. ban sepedanya kempes. Ia menolak menggunakan sopir atau naik kendaraan umum. Ia bersikeras menyetir sendiri.. Mereka nyasar. dan menemukan sang istri duduk terkantukhalaman 55 dari 83 halaman . tadi pagi sepedanya di tambal di sini. Eyang Neli berbelok ke kantor polisi untuk menanyakan jalan yang benar. karena ia melihat sepedanya bertengger di ruang kerja si tukang tambal ban. Sang istri pun cemberut sepanjang jalan. Saya gak pulangpulang karena nungguin bapak!” Ganti Eyang Neli yang tersentak kaget lebih kaget lagi. Baru setelah beberapa jam kemudian saat bensin mulai habis. “Oh. Yakin dengan kekutan fisiknya. kan tadi sama Bapak. ia dan istrinya berjalan ke pusat perbelanjaan. Sebab bisa segera mendapatkan barang yang diperlukan..BEJAT: sebuah kumpulan cerpen gimana sih? Kan. “Tin. Ceritanya. Eyang Neli memutuskan naik angkot ke kantor pos. Karena itu ia menuntun sepedanya ke tukang tambal ban tak jauh dari rumahnya. sedikit bingung. Ia mencoba setiap jalan mana pun yang tampak layak dilalui di kota yang tak terlalu dipahaminya itu. sedangkan sang istri menghilang ke kios baju. Eyang Neli tidak begitu lama. Eyang Neli menuju pusat elektronika. Tapi karena sudah ada beberapa sepeda yang di reparasi maka daripada ia menunggu ban sepedanya di tambal. Eyang Neli tak mengakuinya. Ternyata perjalanan memang lancar. Namun justru karena sifatnya itu ia sempat membuat sengsara istrinya. Seperti kebiasaannya. “Lho. Bisa-bisa saya di tangkap polisi karena ngembat sepeda. Ternyata yang ditakutkan terjadi. Setelah membayar. Dan menitipkan sepedanya pada tukang tambal ban itu.

Seraya menghampiri sang istri. Eyang Neli cuma senyum-senyum saja membayangkan bagaimana raut wajah istrinya bila tahu ia lupa akan janjinya tersebut. halaman 56 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kantuk di salah satu sudut pusat pusat jajanan.

Yanto sambil memegangi kepalanya berkata pada Ajeng. adalah anak seorang kepala desa yang saat ini memimpin di kampung yang ditinggali Ajeng pada saat ini.” halaman 57 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen BEJAT Oleh: Fauzana Fidyarizky Ajeng adalah istri yang menjadi menjadi korban kekerasan suaminya. Yanto hanya mengenyam bangku pendidikan hanya sampai tingkat sekolah menengah. Setibanya sampai di rumah. Yanto pun mengantarkannya ke rumah sakit. aku tidak punya uang untuk membayarnya. Ajeng meminta diantarkan ke rumah sakit untuk mengecek kandunganya. Setibanya di rumah sakit. jangan minta diantarkan sama aku. Ajeng dan Yanto langsung memeriksakan kandungan Ajeng. Yanto kaget karena biayanya sangat mahal dan tidak terpikirkan sebelumnya. Yanto pada saat ini adalah seorang pengangguran. Yanto. tidak terlalu baik maupun terlalu jahat. Pada saat membayar. Setelah menikah perlakuan Yanto terhadap Ajeng mulanya biasa saja. Suatu saat. suaminya. Maklum. “Lain kali kalu mau ke rumah sakit. Mereka menikah karena hamil di luar penikahan yang membuat keduanya tidak mempunyai pilihan lain kecuali menikah. mereka berdua menuju tempat administrasi untuk menyelesaikan pembayaran. Setelah selesai.

halaman 58 dari 83 halaman . Dan Ajeng pun cuma bisa teriak dan minta tolong. Tanpa disangka Yanto mengambil sebuah kayu dan langsung memukuli Ajeng. Tapi apa yang dilakukan Yanto. tamparan. “Mas. Ajeng pun pingsan dan saat terbangun mata bengkak dan telanjang karena Yanto baru memperkosanya. Ajeng pun menangis dan merasa sakit pada saat itu. dan terulang lagi. bahkan tendangan ke arah perut Ajeng pun. Setelah keluar dari rumah sakit. dia malah menampar Ajeng untuk kedua kalinya.” Yanto mulai berbicara dengan nada kerasnya. Tetapi kekuatan Yanto lebih besar dari pada Ajeng. dan tiba-tiba Yanto menghampiri Ajeng dan langsung menamparnya. Kondisi ini berbutut kepada Yanto yang harus mendekap dipenjara selama satu tahun. Ajeng meminta maaf kepada Yanto karena Ajeng merasa bersalah tidak menghormati suaminya atas perkataaanya. menolong Ajeng dan langsung membawa Ajeng ke rumah sakit. Benar saja ia bertemu di rumah ayah dari Ajeng.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Ajeng pun menjawab. Ajeng tahu bahwa suaminya akan menemukannya cepat atau lambat. kalau kita tidak memeriksanya. Pada suatu saat Ajeng dipukuli habis-habisan oleh Yanto. Caci maki. Ajeng kesakitan sekaligus kaget Yanto bisa berbuat seperti itu. Yanto pernah lakukan. Lagi pula kan itu sudah menjadi tanggung jawab Mas untuk menanggung semua kehidupan kita. Para tetangga yang sudah geram mengetahui prilaku Yanto terhadap Ajeng. gimana kita bisa tahu keadaan anak kita. yang kosong karena keluarga Ajeng pulang ada acara di balai desa. Tiap dua hari sekali kejadian itu terulang. Keesokan harinya. dan secara refleks Ajeng membalas perbuatan Yanto. Yanto kabur pada saat warga menolong Ajeng.

sebelum Rafli merantau. Ayah kami. Berbagai rintangan selalu mereka lalui dengan kesabaran hati mereka. Sebelum Rafli berangkat merantau. Ayah tidak dapat menyanggupi membayar hutangnya kepada Ayahnya Tono. Rafli berpesan akan selalu ingat dan berjanji akan menikahi Nia. Dalam perjalanan cinta mereka tak pernah mulus. yang kebetulan ayah dari seorang pria tampan yang bernama Tono. Pak Bowo. dapat mempertahankan hubungan mereka dengan sangat baik. Kepala Desa Mantaren. Dalam permasalahan halaman 59 dari 83 halaman . Aku Santi. sang kekasih. setelah pulang dari perantauanya. kakak Nia. Pada suatu ketika. Tetapi Rafli dan Nia. Dan Nia juga berjanji akan selalu berdoa untuk keberhasilan Rafli. Ayah kami adalah seorang Kepala Desa yang terpandang. Dalam permasalahan tersebut. Tak banyak orang dapat mempertahankan hubungan cintanya jarak jauh. Rafli sedang merantau jauh ke negeri seberang. Dua tahun berlalu. Dan mereka berjanji akan hidup dan mati bersama di bawah pohon cemara pinggir laut. Rafli adalah seorang anak yatim piatu yang menggantungkan hidupnya dengan kerja kerasnya sendiri. sedangkan Nia adalah anak bungsu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen AKHIR DARI CINTA SEJATI Oleh: Lia Andika Pratiwi Pada suatu desa yang dinamakan Pulau Telo. hiduplah sepasang kekasih yang saling mencintai yang bernama Rafli dan Nia. terkait hutang yang cukup besar kepada Pak Sugih.

ayah kami. “Ayah. Dan Nia pun terpaksa menuruti perkataan ayah. Ayah yang berbuat. ya Allah. “Kamu mau bantu ayah kan?” Lalu Nia menjawab. tapi cinta Nia tidak bisa dipaksakan. semuanya akan dianggap lunas. iyalah Nia bisa dan mau bantu Ayah.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen tersebut. tanpa sepengetahuan Nia. muka Nia memerah dan tidak mau menikah dengan Tono. maka semua utang yang ada pada ayah kami. “Ya. bahwa Rafli pernah berkata. apa yang ayah lakukan? Dia kekasih Nia yang selama ini membuat Nia bahagia. kamu mau kan menikah dengan Tono. anak seorang saudagar yang kaya raya. Setelah Nia mengetahui semuanya itu. Lalu Rafli menemui Nia yang sedang menjemur pakaian di belakang rumah. Tidak lama kemudian. Ayah. adikku. dengan serta merta ayah Tono mengajukan persyaratan tersebut. “Nia. anak Pak Sugih untuk membantu melunasi hutang-hutang ayah?” Dengan kesal lalu Nia menjawab dengan ketus. Apalagi karena Tono sejak dulu memang memendam perasaan cinta untuk Nia. langsung pergi meninggalkan Nia. Aku di sini merindukanmu. Datanglah sebelum Tono melamarku…!!!!” Sebagai kakak. Lalu Nia berkata. “TIDAK AYAH! Nia memang sayang dengan Ayah. keputusan Ayah telah bulat. disetujui oleh Ayah. dengan ayah?” Nia menjawab. Lalu Nia terkejut mendengar suara yang dulu sering dia dengar. Rafli menghilang bagaikan di telan bumi. mestinya Ayah juga yang mesti bertanggung jawab. Ayah Nia melihat. “APA??! Nia. Rafli pun melompat dari atas pohon tersebut. Pak Sugih. Dan ternyata Nia pun sudah tiada. Lalu Nia berlari dan memeluk erat tubuh Rafli. pulanglah…. Setelah itu. dan menikah dengan Tono. akan tetapi aku tidak dapat berbuat banyak. dan langsung mendorong Rafli. Rafli. halaman 60 dari 83 halaman .” Dan Rafli pun. aku pun merasakan kesedihan yang dialami oleh adikku. “Tapi kamu sudah punya calon suami Nia…. dan berjanji akan hidup dan mati bersama. Dia lupa.” Lalu ayah berkata. ya Allah. berkata kepada Pak Bowo. untuk menikahkan anaknya dengan putranya. Ayah berkata. Beberapa hari kemudian.” Lalu Nia berlari ke bawah pohon cemara di pinggir laut. “Tuhan cobaan apa yang kau berikan pada hambamu ini. Nia sangat menyesali dirinya. apalagi demi melunasi hutang Ayah. Begitu berat ujian yang kau berikan ini. “Iya. di mana tempatnya terakhir bertemu kekasihnya Rafli. Maka ketika ayah terlilit utang dengan keluarga mereka. Dia mengakhiri hidupnya di pohon cemara pinggir laut. teryata kau….” Lalu Ayah berkata. Satu tahun dari pernikahan Nia dan Tono. bagaikan Spiderman. kamu sayang kan. “Nia.” Lalu Rafli menjawab. Rafli beserta teman merantaunya kembali ke desa Pulau Telo. ayah dari Tono. Lalu Nia berkata.” Lalu ayahnya berkata. Dari permintaan Ayah Tono tersebut. Lalu Rafli memangil Nia dari atas pohon.

halaman 61 dari 83 halaman . Dan akhirnya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen bahwa tempat pohon cemara itu adalah tempat di mana mereka berjanji. Nia pun mengakhiri hidupnya di pohon cemara itu juga. akan hidup dan mati bersama. Dan berakhirlah sudah cerita ini. Ternyata begitu besar cinta yang terjalin antara Rafli dan Nia.

Aku diam melihatnya dari luar pagar. Lah aku masih libur kok. “Ngjemur nih ye. “Itu mukanya kenapa. Mbak Murti hanya cengengesan menanggapiku. setiap ditanya. “Biasa. pikirku.. Sudah sana. “Biasaa.” godaku pada Mbak Murti. rahang bawahnya kebiru-biruan dan bengkak dan bibir bawahnya yang sobek juga tambah bengkak. Sudah ya. Mbak. Mbak? Kok yang sininya jadi biru?” tanyaku sambil memegang rahang bawahku.” “Ntar aja aahh mandinya. Hari ini ada yang lain lagi dari Mbak Murti. Mbak Murti selalu menjawab. karena yang ia jemur adalah pakaian yang bagus dan besarbesar ukurannya. ntar kamu telat masuk sekolahnya. membawa ember penuh berisi pakaian yang aku yakin pasti bukan pakaiannya.. Pasti baju-baju Ibu Tanti dan Pak Adri. Kamu wis mandi? Sudah pagi. Waktu itu aku pernah ikut duduk-duduk di warung Bu Warsih saat ibu-ibu halaman 62 dari 83 halaman .” kataku sambil berlalu masuk ke dalam rumah. Mbak Murti jadi terlihat seram dengan wajah yang bengkak-bangkak begitu. gih.. Selalu begitu..” Aku tidak pernah mengerti maksudnya..BEJAT: sebuah kumpulan cerpen MURTI Oleh: Loise Viranti Lasnida Mbak Murti keluar dari rumah besar itu.mbak.

Wong rumah kita aja masih nyewa sama dia. Kira-kira ia akan mudik ke rumah ayahibunya tidak. yang aku kenal betul wajahnya karena ia pernah ke rumahku. Mbak Murti sangat peduli dengan pendidikan dan sekolahku. Aku pergi ke rumah Resih. Dulu waktu ia baru-baru datang. kecuali kalau sedang menyapu teras atau menjemur pakaian seperti tadi. bergosip. Toh setiap ibu-ibu berkumpul akan seperti itu. kuli bangunan yang suka menganggur jika tidak ada yang membutuhkan tenaganya. Aku tidak tahu kampungnya di mana. Berbeda denganku. Aku tetap asik memakan agar-agar yang kubeli sambil bengong melihat ayam-ayam di depan warung Bu Warsih. Tapi toh apa bedanya. Katanya karena sebenarnya ia ingin sekali melanjutkan sekolahnya. Mbak Murti suka bermain denganku dan ngobrol-ngobrol. jengah dengan obrolan ibu-ibu tersebut. yang mondar-mandir sambil mematuk-matuk beras yang tersebar di tanah. di sini juga halaman 63 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen sedang belanja memilih-milih sayuran. Aku menoleh ke wajah ibu yang sedang menjadi pusat perhatian karena bersemangat bercerita itu dan mendengarkan. Mereka belanja dengan ribut sekali. temanku yang mempunyai televisi di rumahnya dan menonton bersama orang-orang yang sedang ikut menumpang. Kemarin malam si Murti saya lihat sedang tidur di luar. Sepertinya Murti disuruh tidur di luar sampai pagi.. Tidak ada ekspresi prihatin dari wajahnya. Awalnya aku tidak memperhatikan apa yang mereka ributkan. Lalu aku pergi dari warung Bu Warsih. yang bisa bersekolah karena SD saat ini dibiayai pemerintah. Dari pagi sampai Maghrib Mbak Murti sudah jarang sekali keluar rumah. tapi aku sangat malas dan pernah tidak naik kelas. Acara di televisi sedang diganti dengan iklan. memanggil ayah untuk meminta ayah membetulkan genting rumahnya. dia malah nangis. Lalu aku memikirkan Mbak Murti. “Emang deh. Biar kapok dia!” sahut ibu yang lainnya. Aku ingat ini bulan Ramadhan. Kasian banget deh si Murti. Bu Tanti itu sudah keterlaluan. Terus.” cerita ibu itu dengan wajah yang semangat. pas paginya saya tanya sama si Murti.” timpal ibu lain yang rumahnya di sebrang rumahku. ya? Mbak Murti pernah bilang padaku bahwa ia sangat rindu kampungnya. Ia suka bertanya-tanya tentang sekolahku dan sering mengajariku matematika. sebentar lagi lebaran. kita mau tinggal dimana? Hahaha. tapi tidak bisa karena tidak ada biaya. Begitu juga ibu-ibu yang lain. Jadi apa “biasa” yang dimaksud Mbak Murti itu maksudnya adalah dipukul oleh Ibu Tanti? Kok disiksa seperti itu dianggap biasa? Aku kasihan sama Mbak Murti. Aku selalu dinasehati Mbak Murti setiap kali malas belajar. iklan-iklan makanan yang ditawarkan untuk berbuka. “Tapi nanti kalo kita laporkan Bu Tanti. Ya begitulah pekerjaan ayah. “Tuh kan. Sampai aku mendengar salah satu ibu yang rumahnya tak jauh dari rumah sewaan keluargaku. padahal Mbak Murti baik. Tapi sekarang aku jarang bertemu Mbak Murti. seharusnya kita laporkan saja Bu Tanti sama polisi. menyebut nama Mbak Murti dan Bu Tanti.

Awas saja dia!” *** Pagi ini aku bangun kepagian. Ada rumahrumah kecil dan juga kamar-kamar petakan seperti tempatku dan keluarga tinggal. Mbak Murti terlihat kaget dan berjalan menghampiri aku di seberang pagar dengan tertatih-tatih. lima bulan nunggak sekarang malah ngilang. Tapi aku terlanjur bangun. Setiap sore ia biasa keluar dan bermain denganku. Meskipun Jakarta adalah kota yang megah dan besar. “Dasar si Adung kurang ajar. Rumahnya tingkat dan pagarnya berukir tinggi. Dulu Mbak Murti datang dari kampungnya karena dibawa oleh Pak Adung. bisa terlihat besarnya rumah Ibu Tanti dan kulihat ada Mbak Murni duduk di teras rumah itu. Pantas saja di luar seperti masih gelap. rumah Bu Tanti adalah rumah yang paling besar. Tapi Mbak Murti hanya diam dan menunduk ikut melihat kakinya. ngapain di situ. Jakarta adanya di balik gedung-gedung bertingkat dan jalan tol yang macet. Mbak?” tanyaku sambil melihat ke arah kaki Mbak Murti. aku penasaran ada apa dengan kakinya yang membuat jalannya terseret. aku pun keluar. Dan sepertinya Pak Adung pergi dengan meninggalkan hutang sewa kamarnya. Hampir semua tempat tinggal di sini milik Ibu Tanti. sama seperti keluargaku. Mbak?” panggilku dengan setengah suara. “Loh kamu kok sudah bangun. Aku berjalan ke depan rumah megah itu dan memegangi pagar. seorang kuli panggul di stasiun yang juga menyewa kamar milik Ibu Tanti. Mbak?” tanyaku langsung. Mungkin karena rumahnya yang besar itu. ia membutuhkan pembantu untuk membantunya mengurus rumah. mungkin ia sudah pindah atau malah sudah pulang kampung. Dari depan tempat tinggalku. Karena itulah Mbak Murti datang. Mbak Murti mengerutkan dahinya. “Dipukul ya. “Eh Mbak Murti. Setahuku semua rumah dan kamar ini adalah milik Ibu Tanti yang setiap bulan menagih pembayaran sewaan pada kami. Apalagi sejak Pak Adung. Tapi sudah tiga bulan ini sepertinya semua berubah. bukan di dalam gang seperti ini. Berbeda dengan tempat tinggal kami. halaman 64 dari 83 halaman . kerabat dari paman Mbak Murti yang membawanya ke sini tidak kembali ke kamarnya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kampung. Aku lihat jam dinding yang diletakan di atas tumpukan baju ayah menunjukkan pukul setengah lima pagi. Panas sekali di dalam kamar ini. Mbak? Sama kayak tuh muka? Kok betah sih. bagiku tetap saja aku tinggal di kampung. Ndah?” “Kakinya kenapa itu. Karena waktu itu aku pernah melihat Ibu Tanti berdiri di depan kamar Pak Adung sembil bersungut-sungut. Sudah dua bulan batang hidung Pak Adung tak terlihat. Awalnya Mbak Murti terlihat senang-senang saja bekerja dengan Ibu Tanti.

Kalau nyapu ngepel ndak beres. Tapi jadi aku yang diomelin. Kalau nyuci ndak bersih. tidak ada kabar lagi tentangnya. Dulu kupikir kekerasan seperti itu hanya ada di televisi dan berita-berita saja. “Aku dipukuli. melaporkan keberadaan Mbak Murti apabila melihatnya. Mbak diapain toh Mbak? kok bisa jadi begini?” Mbak Murti hanya diam lama sekali sampai akhirnya buka suara dengan wajah sendu dan berkaca-kaca. Ndah. *** halaman 65 dari 83 halaman . *** Beberapa minggu setelah aku mengobrol dengan Mbak Murti. Kupikir hanya orang di negeri seberang sana saja yang suka menyiksa pembantu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Loh. Gara-gara Bu Tanti kesel sama Mang Adung. Setidaknya ia tidak dipikuli dan disiksa lagi oleh Bu Tanti. Aku kan ndak tau apa-apa. Aku ndak boleh salah. Ini muka jadi biru karena dijedotin ke meja. Aku sendiri tidak tega melihatnya.” Mbak Murti menangis. kok kamu tau. “Aku denger gosipnya. ia bilang Mbak Murti pergi dengan mencuri perhiasanperhiasannya dan ia bilang selama ini Mbak Murti tidak pernah beres kerjanya. Udah dulu ya. Terkadang rindu juga aku dengan Mbak Murti. aku lega. Ndah. Mendengar ceritanya langsung seperti ini aku jadi ikut sedih. Ibu Tanti sesumbar. Kayanya ia kabur dari rumah. “Ntar makin jadi-jadi kalau aku lawan. Tapi di manapun dia sekarang.” Aku mengangguk dan berbalik pulang ketika kulihat Mbak Murti juga berjalan masuk ke dalam rumah. Sedangkan Bu Tanti masih tetap panik dan berusaha mencari Mbak Murti. Bahkan orang sekitarku sendiri. semoga saja Bu Tanti sadar dan kapok menyiksa pembantu seperti Mbak Murti. Sudah sana kamu pulang. Ibu Tanti kewalahan mencari-cari Mbak Murti. “Lawan toh Mbak. Ntar aku diomelin sama Ibu. Jangan mau digituin. aku ditampar. aku bisa diomelin. Ndah. Ndah. Tapi sudah seminggu sejak kepergian Mbak Murti. Aku berharap. aku ndak boleh makan. Ndah? Kamu lihat?” wajah Mbak Murti panik sambil memegangi rahangnya yang masih bengkak dan biru.” kataku dengan kesal dan geram. pikirku. Waktu ibu-ibu lagi belanja di warung Bu Warsih. Kamu jangan bilang apa-apa ya ke orang-orang sini. Mbak. Ternyata di sinipun ada. Mungkin Bu Tanti takut Mbak Murti melaporkannya ke polisi. warga sekampung. Nanti kalau ibu bangun terus lihat kita. Ia memaksa kami. Ibu Tanti keras banget.

"Hihi.. aku langsung menuju ruang kelas ku.. sepertinya tidak perlu. Ckckck. lain kali hati-hati ya. bikin iri jadinya. Ternyata dia baik... seperti biasa aku menuju sekolah di antarkan oleh kakakku. Murid baru itu menolongku. Nda. ya? Siapa namanya?" "Ya benar. siapa namamu?" Waaa suaranya halus sekali. Oca?" halaman 66 dari 83 halaman . "Hai. Aku segera berlari ingin pulang karena film kesukaanku siang ini akan diputar di televisi.. syuuuttt. Dia tersenyum kepadaku cantik sekali. tapi ah. Aku malu... semua itu merubah pikiranku sebelumnya. "Saya Oca.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen SI CANTIK YANG MALANG Oleh: Fazra Fatima Azzahra Di suatu pagi yang cerah. Sesampainya aku di sekolah. lagi pula bel masuk sudah berbunyi. Aku terpeleset di lantai yang basah... Tiba-tiba mataku tertuju kepada seorang perempuan cantik yang asing bagi ku. Kelasnya di mana sih?" "Kelas 12 Sos D. Ooo.. Aku ingin menyapa. Saya Nanda. Sepertinya dia murid baru di sekolahku. sepertinya terburu-buru sekali. Kamu murid baru. Waktunya pulang sekolah.. Tidak disangka. Dia terlihat angkuh. Tiba-tiba…." Keesokan harinya.

Ca?" “Emang siapa yang sebel sama kamu?? Emang mereka ngapain kamu." Kring kring…. Tuh di seberang kelas 12 IPA A. ngga seperti orang-orang yang lainnya. Ca?" sahut Dania." "Oke lah." "Tapi kamu yang ikut mobil aku. Nda???” “Nanti aja ya.. Bel pulang berbunyi. Kan kita juga belum kenal sebenernya dia gimana. Ca. aku.. Ca.. Bel pulang lima menit lagi berbunyi.? Nanda udah nungguin aku di depan kelas? Rajin banget. Wkwkwk. Nda??” “Kamu tahu tidak?? Aku dijual oleh mereka. hehe. aku ini merasa sangat tersiksa di rumah ini. di rumah aku ceritanya. Mukanya kaya orang pengen ngajak ribut.” “Memang orang tua kamu kemana.” “Kenapa ya.. Oke oke.. Setiap aku dari luar negeri dan memberi oleh-oleh untuk mereka. Banyak gaya. Ca. sebaiknya halaman 67 dari 83 halaman .... mereka menganggap aku ini hanya ingin mendapat pujian. "Ia kenapa ya gosip itu enak. "Eh. aku merasa seperti di neraka.. Ca. Aku di sini disiksa. Abis sebel tahu liat anak baru. Sipp. Aku segera bergegas pulang.. "Nanda kenapa?" "A. tapi gue juga ngga berani nilai orang sembarangan. dan yang terpenting—dan sangat pribadi sebenarnya.” Sesampainya di rumah Nanda.. “Nanda. yah.di sekolah juga. hiks. "Hai. Aku ngga ngerti kenapa semua orang benci sama aku." Ketika di mobil tiba-tiba Nanda menitikan air mata.. mereka justru yang memandang aku sinis.. mereka berfikir seperti itu??” “Mereka berfikir aku ini sok pamer. "Hmm. Senangnyaa.” “Terus kenapa kamu ngerasa hidup kaya di neraka di rumah ini? Padahal kan di sini enak. a." aku menghampiri teman-temanku. Mereka nganggep aku sombong. Setiap hari.. kamu kenapa sih tadi???” “Hikksss…. dan sekarang aku tinggal bersama laki-laki paling kejam. Tapi kenapa kamu kok terbuka banget cerita masalah ini sama orang baru kayak aku??” “Karena cuma kamu yang mau berteman sama aku.. Sok ngartis. belagu. Menurut lo gimana. Aku pulang bareng kamu yah?" Haa.... Kita memasuki kelas masing-masing. Pertama kali liat kamu. doyan banget gosip sih...BEJAT: sebuah kumpulan cerpen "Oo… kalo gitu kita depan-depanan dong. "Eh eh. iya. rumahnya gede??” “karena aku di sini tinggal bersama orang yang tidak aku kenal. Padahal setiap kali aku coba ramah atau senyum sama mereka. Ca. aku ngerasa kamu itu ramah. Oya. diperlakukan seperti boneka. Tetangga aku juga semua bersikap dan berfikir seperti itu. emang sih dia jutek mukanya. gayanya belagu.” “Aku jadi sedih. Temen-temen di kelas semua mencibir aku.." Bel masuk pun berbunyi.

Tolong aku.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kamu cepat pulang. Nanda telah tewas karena ulah lelaki itu.. Aku mendengar teriakan dan isak tangis Nanda. huhuuuuu. Sungguh kejam. Caaaaa. Kemudian aku diseret paksa oleh lelaki paruh baya itu ke luar.” Aku tidak dapat berbuat apa-apa selain berdoa meminta perlindungan dariNYA. HAH??!!” “Aa… aku. min… minta maaf. karena… aku melihat percikan darah yang sangat banyak memuncrat di gorden kamarnya yang berwarna putih. “DIAM KAMU!!!!! RASAKAN!!!!” “AAAAAAAAAAAAA……. karena kalau aku ketahuan membawa kamu ke sini…” “NANDAAAAA… NANDAAAAA!!!!! DI MANA KAMU????!!!” BRAKKKKK…. “Maaf… maaf. Sungguh aku tidak kuat mendengarnya... “Ocaaaaaa…. Astaghfirullah… istri???? Tega-teganya orang tua yang menjual anaknya sebagai istri orang lain. Ocaaaaa…. Saya minta maaf. JANGAN PERNAH MEMBAWA SIAPA PUN KE DALAM RUMAH INI!!! SUDAH BERAPA KALI KAMU BERBUAT KESALAHAN.. dan segera aku menelepon polisi..” Sebelum polisi itu datang… sepertinya semua sudah terlambat untuk menolong Nanda.” “ISTRI MACAM APA KAMU INI!!!!” Aku shock dalam hati…. halaman 68 dari 83 halaman .” “APA-APAAN INI???!!!! SIAPA DIA??!!! SUDAH KUBILANG..

Ingin rasanya di kala besar nanti aku menjadi seperti pamanku yang selalu bersyukur dengan keadaannya.” keluh Pamanku ketika ia tahu kalau padi-padinya yang siap panen dicuri oleh pencuri-pencuri jahat halaman 69 dari 83 halaman . Ia tidak pernah mengeluh sekalipun tentang pekerjaannya yang hanya seorang petani. “Aduh bagaimana ini? Padiku dicuri orang. Tetapi ternyata kabahagiaan Pamanku diusik oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. merasa sangat senang dan nyaman tinggal di keluarga ini. Mereka adalah para pencuri padi yang sering berkeliaran di malam hari dan mencuri padi-padi para petani. Tanpa perlu mengeluh dan mengatakan hal macam-macam yang tidak bisa dicapainya. dan tentram. dikarenakan orang tuaku yang pergi merantau entah kemana. Aku pun yang hanya keponakannya yang menumpang di rumahnya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen JANGAN MAIN HAKIM SENDIRI Oleh: Lourin Hertyastiwi Pamanku adalah seorang petani yang sangat giat bekerja. Mereka juga tidak pernah mengeluh dengan kehidupan mereka. Mau makan apa keluargaku kalau begini? Mana bisa aku dapat uang selain dari bertani ini. Pamanku seakan-akan mempunyai hidup yang sangat nyaman dan nikmat. Hidup terasa aman. nyaman. Dan keluarganya pun adalah keluarga yang sangat baik. Seperti tidak ada masalah sama sekali dalam keluarga ini.

Kok Paman biarkan pencuri itu begitu saja? Maksudku kok Paman tidak ikut memukuli pencuri itu? Memangnya Paman tidak merasa dendam kepada si pencuri itu?” tanya ku kepada paman. Pak. Kebetulan aku sedang berada di sawah menemani Paman yang ingin segera memanen padinya. dia sudah mencuri padi-padi kita dan bapak juga salah satu korbannya. “Benar juga sih yang Bapak bilang. Saya minta maaf. Seharusnya kita memberikannya kepada pihak yang berwajib atau kepada Kepala Desa. Aku memang penasaran kenapa paman bisa halaman 70 dari 83 halaman . Pak.” Terdengar suara seperti itu dari alun-alun desa ketika aku melewatinya. “Tapi kan Pak. awas mereka. ampun.. “Kalau mereka baik tentu saja mereka tidak akan menjadi pencuri. agar nanti Kepala Desa untuk melapor. Kenapa ia melakukan hal sebegini jahat pada kita sih. Nak. aku sangat bangga kapadanya. sudah cukup.” jawab Pamanku dengan sedikit kesal tetapi tetap saja terdengar bijaksana bagiku. ampun. tetapi kenapa Tuhan memberikan ganjaran seperti ini kepada Paman. Tadi malam pasukan Siskamling memergoki si pencuri itu sedang mencuri padi di sawah. Paman.. “Paman.. Keesokan harinya. “Hei.” kataku dengan mengebu-gebu. Kau masih tega memukulinya?! Dia itu sendiri dan kalian beramai-ramai memukuli dan menghakiminya. Apa itu adil?!” tiba-tiba Pamanku datang dan langsung menghentikan warga yang berusaha menghakimi si pencuri itu dengan pukulan-pukulan yang tentu saja tidak ringan tetapi pukulan yang keras. Setelah itu barulah si pencuri itu dibawa ke kantor polisi untuk diadili. Maka berbondong-bondong lah mereka ke Kepala Desa. Dasar orang-orang yang tidak bertanggung jawab kalau ketemu. Ayo kita bawa dia ke pihak yang berwajib. Sebenarnya menurutku Paman sudah banyak bersyukur.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen itu. biar nanti mereka yang mengadili. Kasihan juga pencuri itu. Dan sekarang dia sedang diadili di alun-alun desa. Paman ingin merenung dulu. Tetapi kalau padinya saja hilang. “Sungguh jahat pencuri itu. Janagn kau pukuli lagi orang ini. “Aduh..” kata salah satu dari orang-orang yang memukuli pencuri itu.” kata Pamanku dengan sangat bijak. Paman capek.” kata salah satu orang dari mereka.. aduh. Pamanku itu memang orang yang benar-benar bijak.. kan. Tolong jangan bawa saya ke kantor polisi. tapi janganlah kita main hakim sendiri.. “Ya. Mungkin Tuhan memberikan cobaan ini karena paman kurang bersyukur kepadanya. Aku memang suka melihat paman bekerja di sawah dan sesekali membantunya sebisaku. Hanya Tuhan yang tahu jawabannya kenapa. Sudahlah. Saya kan hanya berusaha mencari makan. apa yang bisa aku bantu untuk Paman? Aku hanya bisa mengumpat saja dalam hati agar si pencuri itu ditemukan dan diberikan ganjaran yang setimpal. Lihat mukanya sudah babak belur begitu. Dan ternyata orang itu adalah seorang laki-laki dari desa sebelah. Akupun mendatanginya dan ternyata yang berbicara seperti itu adalah pencuri padi-padi warga.

” jawab pamanaku panjang lebar.” Pamanku menjawab dengan sangat jelas dan sangat bijak.. Mungkin bukan hanya salah si pencuri saja makanya padi Paman hilang. Tidak seperti warga yang lainnya yang mencoba menghakimi sendiri si pencuri itu. Dan bijaksana “Wah Paman baik dan bijaksana sekali. “Nak. Dan hukumnya bukan hukum rimba yang suka mengadili sendiri si penjahat. mungkin saja karena ada ke cerobohan Paman makanya pencuri itu bisa mencuri padi Paman. Ayo kita pulang. “Loh kecerobohan paman apa?” Tanya ku karena tidak mengerti apa yang pamanku bicarakan. dan kita mempunyai hukum-hukum yang harus ditaati. “Ah kau bisa saja.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen sesabar itu kepada si pencuri. Sebenarnya Paman tahu kalau sudah ada pencuri yang berkeliaran.” jawab Pamanku dengan wajah yang sepertinya agak malu-malu. Iya selalu bijak di setiap kondisi. Dia tidak hanya baik kepada keluarganya ataupun orang-orang yang dikenalnya. karena Paman tidak menjaga padi itu dengan baik. tetapi hukum yang adil untuk semuanya. Aku bangga punya paman seperti Paman. kita sesama manusia tidak boleh dendam. Pamanku adalah paman paling hebat di seluruh dunia. Dan jika si pencuri sudah melanggar hukum. Itu lah ciri-ciri Pamanku. tetapi Paman bukan menjaganya tapi malah pulang dan tidur dengan nyenyaknya.. halaman 71 dari 83 halaman . tetapi kepada penjahat pun ia masih dapat menunjukan kebaikannya. Dan kalau dendam.” pujiku kepada Paman. Jika sudah besar nanti aku ingin menjadi seperti Pamanku. negara kita ini kan negara hukum. Yang selalu baik dan bijaksana kepada siapa saja. “Kecerobohan Paman. Jadi Paman ceroboh juga kan sehingga pencuri itu bisa mencuri padi Paman. kita tidak seharusnya melanggar hukum juga seperti memukuli si pencuri itu.

Tapi sayang tangan Jan agak halaman 72 dari 83 halaman .. Apalagi kedua orang tuanya sering sekali bertengkar.. kalo Bapak gak ada. Ia dan keluarganya memang tidak hidup berkecukupan. ”Bapak…. Kehidupan ekonomi yang serba sulit mungkin membuat Ayahnya mudah marah. Jan. Setelah kasus Jan di proses. Saya adalah seorang aktivis perlindungan dan hak asasi anak. saya sering menemukan kasus kekerasan orang tua terhadap anak-anaknya. sang Ayah akan memarahinya dan memukulinya. Jan juga sering disuruh Ayahnya untuk mengemis. Dan jika Jan pulang tidak membawa hasil yang memuaskan.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen JAN Oleh: Marsha Jozana Nama saya Siska. Ayahnya akan memanggil Jan hanya untuk memarahi dan memukulinya.. Jan hanya bisa berjongkok sambil menangis tersedu-sedu dan memanggil-manggil Bapaknya. Saya ingat sekali ketika saya datang ke rumah Jan—setelah mendapat laporan dari tetangganya bahwa sang Ayah bunuh diri dan sang Ibu telah lama pergi dari rumahnya.. Jan tinggal sama siapa. Salah satunya sebut saja namanya. Dalam menjalankan aktivitas saya. Ia adalah seorang bocah laki-laki yang masih berumur 9 tahun. Jika sudah begitu.?” tangis Jan. sekarang Jan tinggal di panti asuhan bersama dengan teman sebayanya dan juga ia bisa bersekolah..

saat memarahinya. halaman 73 dari 83 halaman . sang Ayah suka melempar benda tumpul ke tangannya. Sehingga sekarang tangannya tak bisa di gerakkan. Apalagi ia tidak mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya sebagai selayaknya seorang anak. Sekarang Jan dapat bermain dan melakukan aktivitas seperti anak-anak seusianya. Kisah Jan ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Walaupun ia masih terlihat trauma dan sedih jika mengingat kedua orang tuanya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen tumpul. Karena dulu.

Aku berjengit dan teringat saat aku mulai bertaubat. Pak? Matanya kok berair?” tanya Rudi.” “Kok sekarang pake peci dan sarung?” tanyanya. Tiba-tiba aku teringat masa lalu.” “Pasti masa lalu bapak mengharukan. Kemudian aku terngiang masa laluku yang kelam. Sampai membuat bapak menangis.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KENANGAN Oleh: Muhammad Garit N Pada suatu hari ada sekumpulan anak di pekarangan." “Memangnya kenapa. Bapak hanya teringat dengan masa lalu Bapak. Bisakah aku melawati ini semua? Mungkin ini hanya cobaan dalam masa laluku ini. Lalu si Rudi berbicara. sampai akhirnya Rudi menghampiriku. memalak orang-orang yang lewat di depan aku. “Sampai-sampai bisa membuat Bapak halaman 74 dari 83 halaman . Pak?” tanyanya. Nak. “Kenapa. Dan aku juga teringat masa masa di mana aku memukul. Di sekumpulan itu ada anak yg paling besar bernama Rudi. yang dulu jadi preman itu kan?” Aku menjawab. Dan Rudi paling suka memperolok. “Bapak. Aku terhanyut dalam lamunan. “Iya. Masa di mana aku pun berlaku sedemikian rupa. Kenangan saat indah itu datang dan pergi. menikam. “Tidak.olok dan menyiksa teman-teman yang badannya lebih kecil dari pada badannya. Lalu aku terhenyak lagi.

Ya. agar tidak ada lagi kejadian yang pernah kubuat.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen menangis?” “Tidak. “Waktu itu ada gadis yang mencintai saya. Karena kamu menyerupai dengan belahan hati bapak. Pak. belahan hati Bapak sekarang di mana?” kata Rudi.. ” tambah deras lagi air mata yang aku keluarakan. Bapak saya mengadu nasib keluar negeri..” “Ooo. Dia hanya saya jadikan mainan. Bahkan saya menuduhnya berzina dan membuatnya malu di hadapan orang-orang sekampung. O iya. Dan setelah melihat kamu. Kata Ibu. lalu setelah dia mengandung.” “Jadi.. “Memangnya sekarang belahan hati Bapak kemana?” “Dia sudah tiada. “Saya tidak tahu hal itu. akan kuceritakan kepadanya. Kita kan baru ketemu. Nak. Pak?” “Wajahmu memngingatkan aku pada seseorang yang sepertinya paling terluka oleh perlakuan saya di masa lalu. Tapi melihatmu saya jadi merasa rindu yang teramat sangat. Pak? Emang disakitin sama Bapak?” Aku menghela napas mendengar pertanyaan anak itu.” “Mana mungkin ah. Tapi saya malah memanfaatkan dia. tapi saya yakin batinnya sangat tersiksa. Tidak cuma itu. Dan sekarang sudah meninggal karena kecelakaan.. “Karena saya belum siap dan saya juga merasa tidak bisa menghidupi dia apabila saya menikahinya. Bingung kenapa. wanita itu istri Bapak?” “Iya. Nak?” “Saya hanya punya ibu. Tapi saya tidak mau mengakuinya.” Aku juga berkata lagi. Bapak tinggal saja?” “Ya. orang tuamu di mana. Sebegitu mudahnya ia mengajukan pertanyaan yang sudah kukubur jauh di dasar pikiranku. “Dan saya pernah mendengar juga bahwa dia telah melahirkan anak laki-laki gagah perwatakannya.” “Memangnya belahan hati Bapak tersiksa kenapa?” “Saya sudah melakukan hal yang sangat memalukan terhadap dirinya. kah?” tutur Rudi. “Ya.” “Terluka kenapa. Nak.. memangnya kamu tinggal di sekitar sini?” halaman 75 dari 83 halaman . Nak. sampai akhirnya dia mengandung.” “Memanfaatkan seperti apa? Menyakitkan. yang di mana gadis itu telah menjadi belahan hidup saya sendiri. menerima saya apa adanya.” “Waaahhhhhh. Hati saya terasa teraduk aduk.” dengan tetes air mata yang keluar aku pun bersedih karena teringat istriku yang telah tiada itu. walaupun sakitku menerpa lagi.” Dan aku beralasan. Oleh karena itu saya mengusirnya dan melarangnya menemui saya lagi.” “Lalu. Masa lalu saya yang sangat kelam tidak baik untuk dibuka lagi. Pak. Nak. Tapi dia sudah lama meninggal. Dia mencintai saya dengan tulus. Seolah-olah telah tertanam masa lalu saya yang kelam dalam dirimu. “Memangnya beliau sakit?” “Dia tidak sakit fisik.

Rumah saya di belakang lapangan ini. Ibu saya namannya siapa?” “Iya. Ibu saya. Tadi Bapak tanya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Iya Pak.” “Itu Pak. Wajah yang dulu memelas memohon belas kasihanku. rumah saya. berdiri seorang wanita yang begitu kukenal. Di sana ada Ibu saya. Kalau Ayahmu masih ada. Wajah yang selalu terbayang sejak 10 tahun yang lalu. Di sana. pasti dia sangat bangga kepadamu. Memangnya siapa?” tutur aku. aku terhenyak. Setelah beberapa jarak lagi sampai di rumah Rudi. Aku diam seribu bahasa dan terdiam mengenang belahan jiwa yang dahulu aku sakit. Sekalian saya mau tahu ibu seperti apa yang mempunyai anak sebaik kamu. Tidak. ini tidak mungkin.” “Bapak mau mampir ke rumah?” “Boleh saja. halaman 76 dari 83 halaman . Dan di depannya. wajah yang dulu kusia-siakan begitu saja. di depan pintu rumah Rudi.

cepat kau pergi dari sini! Jangan hiraukan aku. Ketika aku hendak bertanya kembali. “Sudahlah. Namun dia selalu menghindar dan selalu mengatakan bahwa dia baik-baik saja.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KEKERASAN PADA ANAK Oleh: Munadhilah Ummahat Siang yang terik. halaman 77 dari 83 halaman .” Lalu sesuai dengan perintahnya. Dengan rasa iba. Dia tidak mudah bergaul. Aku sedang berjalan pulang ke rumah ketika kulihat Dinda— tetangga sekaligus teman sebangku ku—berdiri di halaman depan rumahnya sambil mengangkat satu kakinya dan menjewer kedua telinganya sendiri. Dinda termasuk anak yang pendiam dan sangat tertutup di sekolah. “Aku sedang dihukum. Kadang aku pun selalu berusaha ingin membantu segala masalah yang nampaknya sedang dihadapinya. aku baik-baik saja. dengan raut wajah yang berubah cemas. kuhampiri Dinda. Percayalah. Karena itulah teman-teman di sekolah sering menjahilinya. aku pun pulang dengan segudang pertanyaan yang masih menggantung dalam benakku. dia berkata. Aku sangat kasihan melihatnya.” jawabnya singkat dengan raut wajah yang malu. mengapa hari ini tidak masuk sekolah? Dan sedang apa kau di sini?” tanyaku. “Dinda. panas yang ditimbulkan terasa sangat menyengat.

. Dia banyak bercerita tentang kehidupannya. Akhirnya. ibu Dinda pun dipanggil untuk menghadap Wali Kelas. Ibunya pun mengatakan bahwa beliau tidak akan memberikan bekal makan siang untuk Dinda dan hukumannya pun akan dilanjutkan setelah Dinda pulang sekolah. Tak lama kemudian. Saat bel istirahat berbunyi. seorang anak diberi contoh yang benar dan nasihat yang baik bila melakukan kesalahan-kesalahan.. keesokan harinya aku pun segera melaporkannya ke Wali Kelas. Dinda masuk sekolah. Dinda disuruh Ibunya untuk mengepel seluruh lantai rumahnya.” ucapnya di sela-sela ceritanya. Kali ini aku mengurungkan niat untuk istirahat di luar kelas. Sebenarnya Pak Guru ingin menghukumnya tetapi melihat keadaannya yang seperti itu beliau mengurungkan niatnya. itu merupakan awal dari kedisiplinan. Wali Kelas pun menjelaskan bahwa didikan tersebut merupakan didikan yang salah. Beliau berpendapat bahwa perbuatannya itu benar. “Kenapa baju seragammu robek. seperti biasa. karena Dinda adalah anak yang ceroboh dan sering melakukan kesalahan. Kukeluarkan bekal makan siangku dari dalam tas. saat ingin berangkat ke sekolah. Dinda diam di kursinya.. halaman 78 dari 83 halaman . ya sudah. Menit berganti menit. Mendengar kisahnya tersebut. Beliau hanya bertanya. Tak sengaja ember yang berisi pembersih lantai tersenggol dan tumpah olehnya. kalau begitu lain kali hati-hati di jalan dan jangan terlambat lagi ya…” kata Pak Guru Dinda pun mengangguk dan langsung menuju kursinya. Keesokan harinya. Ibu Dinda pun mengakui perbuatannya tersebut dengan alasan bahwa hal itu pantas diterima oleh Dinda.. “Mau?” tawarku pada Dinda sambil menyodorkan bekal makanan. saya jatuh saat berlari menuju sekolah tadi. Sebaiknya. tentang Ibunya yang sering memukulinya. pernah suatu hari dia datang terlambat ke sekolah dengan baju seragam yang robek di beberapa bagian. aku tidak yakin dengan jawabannya itu. Dengan tergesa-gesa Dinda pun mematuhi perintah Ibunya. Lamunan ku pun buyar ketika tak terasa aku telah sampai di rumah.. Pernah suatu hari. itulah penyebab seragamku robek. Tak terasa kami mulai akrab.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Aku jadi teringat. Pak. Apalagi bila kesalahan tersebut bukanlah termasuk kesalahan yang besar. Tidak berhenti sampai di situ. Dengan lirikan yang malu-malu akhirnya Dinda pun menyambut tawaran ku tersebut. Ibunya marah-marah sambil memukulinya dengan ikat pinggang hingga baju seragamnya robek. “Sebenarnya. Sejujurnya. menunggu seluruh siswa di kelas kosong. “Apa benar Ibu sering memukuli Dinda?” tanya Wali Kelas. Dinda?” Lalu Dinda menjawab dengan agak ragu. “Mm. memulai pembicaraan. Kemudian dia akan mengeluarkan bekal makan siangnya.” “Oo.

Ya. Di tempat itu bukan hanya ada Sarimin dan sang Pawang namun beberapa pemain gamelan yang mengiringi Sarimin beraksi. Sarimin terlihat tidak begitu nyaman dengan kuda kayunya. topengnya. Namun Sarimin terlihat berjalan terseok-seok dan terpaksa memegangi rantai mungkin lehernya kesakitan karena ditarik. Sesekali anak-anak yang menonton tertawa melihat tingkah Sarimin. halaman 79 dari 83 halaman . Di akhir pertunjukan terlihat Sarimin meminta uang kepada penonton yang telah melihat aksinya tadi. payungnya. Sarimin memakai payung…!” Teriak sang Pawang monyet untuk memperjelas aksi Sarimin kepada anak-anak yang berada di sekelilingnya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen BALADA SARIMIN Oleh: Nadia Khaerani “Sarimin pergi ke pasar…. Aku duduk menanti kedatangan kereta yang sudah telat lebih dari satu jam memperhatikan dari awal aksi Sarimin di peron seberang. apalagi dengan rantai di lehernya yang rapuh. Sarimin memakai topeng…. Sarimin naik kuda kayu…. Walaupun anak-anak terlihat senang dengan aksi Sarimin. Pawang Sarimin menarik-narik rantai yang panjang untuk menyuruh Sarimin melakukan aksi berikutnya. Sarimin artis topeng monyet yang menjadi pusat perhatian anak-anak di setiap aksinya.

“Toh hanya sewaanpawang topeng monyet hanya menyewa. Dek. dan tidak diberi makan. Sang Pawang menghampiri Sarimin dan memukul kepala Sarimin. Setelah Sarimin masuk ke kandang sang pawang pindah ke peron dimana aku duduk. Sebelum Sarimin mengambil kue itu. aku mendekati Pawang Sarimin dan bertanya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Setelah penonton bubar Sarimin ditarik dengan kasar untuk masuk ke dalam kandang yang dipikul oleh sang Pawang.” Sarimin tetap makhluk hidup yang memiliki hak untuk bertahan hidup.” Astaghfirullah! Ternyata benar. Yah kalo tetep nggak nurut pukul aja. Nah abis itu. Sarimin tetap tidak mau keluar dari kandang. Awalnya aku cukup prihatin dengan redupnya topeng monyet sebagai salah satu hiburan tradisional. kalau begini berarti pertunjukan topeng monyet termasuk animal abuse yang merupakan kekejaman bukan hiburan. Sarimin yang kelelahan terpaksa harus menuruti sang Pawang dan melakukan atraksi lagi. Namun mungkin sang Pawang hanya berfikir. “Jangan dikasih makan. Sarimin mengambil korek api dari jalan dan mengunyah-ngunyahnya. Pawang menarik rantai Sarimin sambil berkata. Pawang memulai lagi aksinya. Mungkin karena kelaparan. ada seorang anak yang memberi sepotong kue kepada Sarimin. untuk apa sebenarnya Sarimin ini? Diperlakukan kasar. Menurut Pawang mungkin itu cara yang benar untuk mendisiplinkan Sarimin. “Awalnya sih nggak dikasih makan supaya dia nurut. halaman 80 dari 83 halaman .” Kurang puas dengan jawaban itu aku bertanya lagi. monyet-monyet tersebut bukan milik mereka. Sudah seharusnya topeng monyet dihentikan kalau tetap menggunakan kekerasan.” Mendengar hal itu aku bertanya dalam hati. jarang-jarang. Namun setelah ditarik dengan rantai. Nanti dia nggak mau kerja. “Tapi tetep dikasih makan kan. Aku berdoa dalam hati agar usaha topeng monyet yang seperti ini mati dan si pawang mencari pekerjaan lain sehingga Sarimin-Sarimin yang lain dapat terselamatkan. “Dulu ngelatihnya gimana Pak?” Dan jawaban yang kudapat cukup mengagetkan. baru dikasih rantai supaya ngerti yang harus dia kerjain. Sarimin hanya dieksploitasi tanpa diperhatikan hak hidupnya. Untuk menjawab pertanyaan itu. Tetapi setelah mendengar pernyataan dari sang Pawang aku merasa senang dengan hal ini. Di akhir pertunjukan saat Sarimin meminta uang kepada penonton. Soalnya kalo sering dikasih makan nanti dia kenyang dan gak mau kerja. tetapi bagaimana kalau Sarimin mati kelaparan? Menurutku itu hal yang sangat kejam. Pak?” “Ya. Kandang itu kecil sehingga Sarimin harus menunduk untuk bisa duduk di dalamnya.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen !!! Oleh: Arie Toursino Hadi Aku berdiri di sebuah batang pohon. Nafsu makanku seakan terkubur oleh perasaan dendam yang membara dalam hatiku. demi mendapatkan aku agar keluar dari tempat halaman 81 dari 83 halaman . Jika semua itu tidak ditemukan. sehingga kami sulit dilacak warga. Cukup banyak tempat yang dapat dijadikan persembunyian. Aku dan Wulu Ireng memperebutkan tempat yang sekarang menjadi milikku. rusa. Biasanya jika ada manusia yang aku—atau bangsa kami terkam. Sudah tiga hari ini aku tidak makan—atau lebih tepatnya belum sempat makan. Tempat itu adalah hutan rimba yang dekat dengan lapangan yang biasa dijadikan warga sebagai tempat mengembala hewan ternaknya. Aku jarang memangsa manusia. Hingga pada waktu itu. Kupandangi seluruh semaksemak yang ada di hadapanku. Kini yang ada dipikiranku. aku biasa pergi ke perkampungan untuk sekedar mencuri hewan ternak mereka. atau kerbau liar. Tapi itu beberapa hari yang lalu. bagaimana cara mengalahkan Wulu Ireng yang sudah menghabisi semua anak-anakku. Aku terbiasa makan binatang liar seperti kancil. Namun ia tidak pernah berhasil. lalu kami tinggal pergi. hanya kami gigit satu bagian tubuhnya. Hal itu berawal dari perebutan wilayah kekuasaan pada tahun-tahun yang sudah lampau. dan mencoba mengalahkanku. Sudah berkali-kali Wulu Ireng datang padaku.

Berjaga terhadap kemungkinan terburuk.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen persembunyianku. tanda bahwa apapun yang terjadi. Satu lompatan besar sebelum akhirnya aku berada di depan sebuah gua yang biasa menjadi tempat persembunyian Wulu Ireng. Ia terluka oleh sesuatu hal yang aku tidak tahu. terdengar suara erangan yang lebih keras. Aku sudah unggul satu angka sebelum kami berkelahi. suara itu makin keras. Dari sini aku melihat ceceran darah di lantai. Hingga akhirnya aku sampai di ujung gua itu. Dan kini.. Makin lama. suara geraman itu pada awalnya terdengar seperti ancaman agar aku tidak mendekatinya. Yang bisa ia lakukan hanya menggeram. Kusiapkan kuda-kuda untuk melompat. Suara lengkingan itu lebih kecil dari suara Wulu Ireng. Aku harus waspada karena bisa saja tiba-tiba Wulu Ireng menerkamku dari mana saja. Pemilik sinar mata itu memperlihatkan giginya. Itu lebih terdengar seperti suara anaknya. mata kucingku yang mengkilat tajam memandang setiap sudut ruangan. Aku masih belum juga menemukan sosok Wulu Ireng. Wulu Ireng menyerang anakku dan membunuhnya. Mungkin dia sudah mempersiapkan sedikit kejutan buatku. Suara tangisan itu mulai mengganggu pendengaranku. Semua “peralatan” perang sudah aku siapkan hingga akhirnya. Aku melangkah maju. Namun kali ini bukan suara Wulu Ireng. Aku tidak mau ambil resiko dengan berjalan ke sekeliling ruangan ini. Aku bersiap untuk menerkam. Aku pikir dia pun demikian. Indra penciumku mengatakan bahwa di tempat inilah Wulu Ireng berada. Ku langkahkan kaki masuk ke dalam. Apalagi kini aku sedanng berdiri di depan pintunya. Kembali kuperlihatkan gigiku. Sejenak aku terdiam. Hmm. Bagiku. Tidak ada rasa cemas bagiku jika ia menyerangku sekarang. Tapi nasi sudah jadi bubur. Setiap satu langkah. Ooh. Dan terus menggeram setiap aku langkahkan kakiku untuk menghampirinya. sepasang sinar mata yang lebih besar muncul di atas mata yang kecil itu. Hukum di bangsa kami menyebutkan. sinar dari bola mata yang kecil.. ruangan gua semakin gelap. Kulihat dengan tajam yang ada di hadapanku. ia tidak bergerak maju sekarang.. hingga terdengar seperti tangisan memohon agar aku tidak membunuh anaknya. Aku harus waspada. Ku perhatikan ceceran darah yang ada di lantai. Aku diberi tahu burung Jalak yang melihat kejadian tersebut. Ia pun menggeram.. Tapi di mana dia? Kembali aku perhatikan sekeliling ruangan. Aku pikir ia pun tahu konsekwensi hal tersebut. Aku yakin itu anak Wulu Ireng. bunuh anak harus dibayar dengan anak. Ternyata pencarianku tidak sia-sia. aku akan tetap membunuh anaknya. Wulu Ireng kini tengah halaman 82 dari 83 halaman . Suara sayatan itu seolah terdengar hingga keluar gua ini. ternyata Wulu Ireng sedang tergeletak sekarat di sana. dan. Semakin dalam aku masuk. Yang aku tahu. Belum sempat aku melompat. Aku terdiam agak jauh dari pojok ruangan itu. Dari sini aku bisa mencium baunya yang khas. Suara geraman juga aku perdengarkan agar lawan yang ada dihadapanku takut. Tapi ia tidak beranjak maju. Gigiku kuperlihatkan. aku sudah berada di wilayah kekuasaannya.

halaman 83 dari 83 halaman . berganti dengan suara tangis bahagia bercampur sedih dari Wulu Ireng. Makin lama suara tengisan kecil itu menghilang. Ia tidak rela anak yang kini ada di pelukkannya terbunuh oleh tanganku.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen menggigit dan mencabiki anaknya sendiri. Berteriak bangga karena aku gagal melaksanakan dendamku.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful