BEJAT

:
sebuah kumpulan cerpen

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

PENGANTAR “BEJAT: sebuah kumpulan cerpen” adalah salah satu tugas yang dibebankan pada mahasiswa Matakuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi (MPKT) FIB-UI kelas 4, semester ganjil 2009/2010. Tugas ini diberikan sebagai penambah nilai pada pokok bahasan pertama yang bertema “kekerasan.” Dengan demikian, dapat kita pastikan bahwa tema-tema yang termuat dalam cerita-cerita yang terkumpul di dalamnya adalah cerita tentang kekerasan. Kekerasan di sini mempunyai beragam bentuk. Di antaranya kekerasan suami kepada istrinya, orang tua kepada anaknya, senior kepada junior, hingga manusia kepada hewan. Kekerasan tidak melulu dalam bentuk fisik. Seseorang yang mengalami penderitaan secara psikis juga dapat disebut sedang mengalami kekerasan mental. Kembali ke topik kumpulan cerpen ini. Dengan membaca kumpulan cerpen secara tidak langsung kita mengenal karakter seseorang dari tulisannya. Tiap orang memiliki pengalaman dan pemahaman yang berbeda memandang sesuatu hal. Dari perbedaan tersebutlah karakter seseorang dapat kita ketahui. Ada yang menulis cerita berdasar pada pengalaman hidupnya, ada yang menulis berdasar pada perasaan pada saat ia sedang menulis, dan ada yang menulis berdasar pada ide atau angan-angan yang ia harapkan. Semua menjadi satu, dan menarik untuk Anda pelajari satu per satu. Selamat menikmati.

Penyusun Arie Toursino Hadi

halaman 2 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

DAFTAR CERPEN Cerpen Bertema Kekerasan...................................................................................................................M Reza Fatahilla

The Apartement..........................................................................................................................Ervilia Lupita Andriyanti
Kekerasan Dalam Kehidupan........................................................................................Glory Meirisa Pakpahan Diaz dan Anwar.............................................................................................................................................Indah Permata Sari Yumi...................................................................................................................................................................Indra Puspita Kusuma Kau Bukan Ayahku.......................................................................................................................................Intan Puji Lestari Keluarga dan Sekolah.........................................................................................................................Irvanuddin Rahman Liburan Lebaran.............................................................................................................................................Jodia Pravita Dini Cinta, Kinanti!.........................................................................................................................................................Juwita Anindya (untitled)............................................................................................................................................................Dwi Cahyaningtyas Cerpen Tentang Kekerasan..............................................................................................................................Kartika Putri Tindak Kekerasan Pemerintah Terhadap Anak-anak Jalanan.......................Khamim Hudori Kau dan Kekerasanku.....................................................................................................................................Khaula Fathina Cinta Terlarang.............................................................................RA Koeshamimurti Tosani Natya Laksitha Benderaku.....................................................................................................................................................................Krisna Karim Z Eyang Neli......................................................................................................................................................Lestari Sari Pambudi Bejat.......................................................................................................................................................................Fauzana Fidya Rizky Akhir dari Cinta Sejati................................................................................................................................................Lia Pratiwi Murti................................................................................................................................................................Louise Viranti Lasnida Si Cantik yang Malang...................................................................................................................Fazra Fatima Azzahra Jangan Main Hakim Sendiri............................................................................................................Lourin Hertyastiwi Jan............................................................................................................................................................................................Marsha Jozana Kenangan..........................................................................................................................................................Muhammad Garit N Kekerasan Terhadap Anak...................................................................................................Munadhilah Ummahat Balada Sarimin.......................................................................................................................................................Nadia Khaerani ! ! ! ....................................................................................................................................................................................Arie Toursino Hadi

halaman 3 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

CERPEN BERTEMA KEKERASAN
Oleh: M Reza Fatahilla

Dahulu

saat kepemerintahan Hitler di Jerman, hiduplah seorang saudagar Yahudi yang sangat kaya bersama tiga anak lelakinya. Aku adalah anak orang kaya berkewarganegaraan Inggris yang bekerja sebagai fotografer untuk sebuah perusahaan media jurnal di Inggris Raya dan menetap di Jerman semasa kepemerintahan Hitler. Pada suatu hari sedang dilaksanakan patroli militer Jerman terhadap orangorang Yahudi, yang menyebabkan kekacauan dan kerusuhan. Rumah-rumah banyak yang terbakar akibat patroli tersebut, pasar-pasar pun berantakan akibat tindakan semena-mena dari tentara Jerman. Saudagar Yahudi yang sangat kaya bersama tiga anak lelakinya mendadak menjadi jatuh miskin, selain itu mereka juga disiksa dan dikucilkan karena mereka keluarga Yahudi. Siang itu aku sedang berjalan di pasar yang telah porak poranda akibat patroli Yahudi tadi siang untuk melihat-melihat dan tidak sengaja aku melihat saudagar Yahudi yang sangat kaya dengan tiga anak laki-lakinya sedang bermain sulap, lalu aku tertarik untuk mendekatinya. “Hai kalian, tunjukan sulap terhebat yang pernah kalian punya kepadaku,”
halaman 4 dari 83 halaman

“Saya mau beli satu botol air mineral pak. Kami punya harga diri! Kami ingin bebas!” sahut suara temannya itu. Sekejap nyawa ketiga wanita Yahudi itu pun lenyap. Aku terus melihat dan memfoto kejadian tersebut sebagai bahan dokumentasi. Mereka tetap dipukuli dan disiksa sampai babak belur di pinggir jalan tersebut. Mereka ditendang. Lalu aku berjalan melewati monumen itu dan mencari sebuah toko yang menjual air mineral. Saat itu. Pak! Sudahi penderitaan saya. Aku pun heran. mengapa mereka bertindak tidak manusiawi seperti itu. Setelah itu aku pergi meninggalkan mereka. Membuat bunga dari kertas. karena leher sudah terasa sangat kering dan haus. Aku disajikan pemandangan sebuah monumen besar di tengah taman kota yang hijau rumputnya dan ramai akan banyak orang. Dan aku sesaat baru menyadari bahwa mereka yang disiksa adalah warga Jerman yang beragama Yahudi. Saya adalah Yahudi. Dan aku hanya bisa melihat dan memfoto segala kejadian yang terjadi saat itu untuk bahan dokumentasi jurnal. benar.” pintaku kepada penjual toko. terlihat lima orang polisi militer Jerman bersama tiga wanita orang warga Jerman sedang berjalan di tepi jalan. “Saya mohon ampun. apakah kejadian seperti barusan di jalanan sudah sering terjadi?” tanyaku. halaman 5 dari 83 halaman . “Ini silahkan tuan. Saya punya harga diri!” sayup-sayup suara isak tangisan salah seorang Yahudi itu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kataku. Namun tetap saja polisi militer Jerman tidak mendengarkan rintihan mereka. “Pak. tiga wanita tersebut disiksa habis-habisan. Aku sangat terhibur lantas memberi mereka uang logam 5 pence dan tidak lupa menyuruh mereka bergaya menghadap kamera serta memfoto mereka sebagai bahan dokumentasi jurnal. Dan tiba-tiba ketiga wanita Yahudi tersebut menyerang kelima polisi militer Jerman tersebut dengan mendorong-dorong.” jawab mereka berempat. Dengan cepatnya polisi militer Jerman mendorong ketiga wanita Yahudi tersebut sampai mereka tergeletak jatuh di aspal jalanan dan beberapa saat kemudian terdengar bunyi tembakan senjata sebanyak tiga kali. dipukuli. Lalu aku berjalan ke depan sejauh 50 km dari pasar tersebut dan aku sampai di kota Berlin. “Kami ingin bebas! Kami tidak ingin disiksa seperti ini terus! Kebebasaaaaaaaan!” teriak mereka bertiga. dan diludahi oleh polisi militer Jerman itu. harganya 10 pence” jawab penjual toko. membuat api dari plastik dan lain-lain. ”DAAWR! CKCK DAWR! CKCK DAWR!” Suara tembakan polisi militer Jerman kepada tiga orang Yahudi itu. Monumen itu adalah monumen Hitler yang sangat megah dengan penjagaan oleh tiga orang polisi militer jerman di sekelilingnya. Namun. Mereka bermain dengan lincah dan sangat hebat. Lalu aku berjalan menuju toko yang menjual sebuah air mineral. “Baiklah tuanku. Mereka diperlakukan bagai binatang. “Ya.

Lalu. Tuan. halaman 6 dari 83 halaman . jurnal anda terpilih menjadi topik utama televisi terkenal kota Manchester. “Yeeeeeeeeeesss! I’m freee! Yuhhuu! “ aku berteriak akan keberhasilan. Selamat. Terima kasih. Setelah itu aku memfoto bapak penjual tersebut dan pergi menuju stasiun kereta api yang bernama Zoo yang terletak tidak begitu jauh. Tuan.” pernyataan ketua direksi perusahaan media jurnal. karena jurnal yang aku buat sangat detil dan berdasarkan kejadian faktual. Mungkin sedikit lelah perjalan dari Jerman” jawab diriku. “Selamat sore.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Ya. aku baik saja. Tamat. Dan ceritaku berakhir sampai di sini. Aku bingung dan baru menyadari ternyata dia adalah teman kantor dari perusahaan media jurnal. Seminggu kemudian. Setelah tiga puluh menit tidak terasa perjalanan aku mencoba bangun dari tidur. “Selamat siang.” kata pramugari cantik tersebut. Aku langsung mengambil tas bawaan dan menuju lobby bandara Manchester dan terdengar suara yang sudah familiar di telinga. Lalu aku diantar ke perusahaan dan di sana aku bertemu teman-teman kantorku dan mereka bergembira menyambut kedatanganku karena sudah lama sekali mereka tidak bertemu denganku.ngantuk dan tiba-tiba seorang pramugari yang cantik membangunkan aku. jurnal tersebut masuk dalam berita utama televisi terkenal di kota Manchester tersebut. dengan mata yang masih mengantuk.” jawab penjual toko. Setelah itu aku langsung menuju bandara dan melakukan penerbangan menuju Manchester. “Haaai! Kamu apa kabar?” tanya wanita itu kepadaku. Aku pun kini naik jabatan dan terus memberikan kontribusi yang bagus bagi perusahaan media jurnal tersebut. Mereka tercengang mendengar hasilnya. Dengan ini saya promosikan anda untuk naik jabatan dan naik gaji. kita telah sampai di Manchester. “Oh. periksa kembali barang bawaan anda. sebenarnya saya juga sudah gerah melihat kelakuan polisi-polisi militer itu. kira-kira 55 km dari toko itu. Selama perjalanan di pesawat terbang aku hanya terdiam dan menulis sebuah catatan perjalanan selama di Jerman pada sebuah buku kecil yang muat di saku jas hitam yang sore itu aku pakai di pesawat terbang dan tidak lama kemudian aku tertidur lelap. namun mereka sangat puas. Inggris. namun itu sudah menjadi peraturan semenjak Hitler berkuasa. aku menceritakan hasil laporan jurnal yang aku dapat di Jerman. Pemandangan matahari yang sangat indah saat terbenam di kota Munich. Sesampai di sana. aku membeli tiket dan naik kereta sampai kota Munich dan sore telah menjelang.

agak heran mengapa mereka tidak langsung saja memutuskan untuk segera menikah. kedatangan kami ke apartemen mereka kali ini. tiba di depan pintu apartemen milik Aya. Detik selanjutnya pun kami saling halaman 7 dari 83 halaman . ketika Aya menghubungi kami dan mengundang kami untuk makan malam bersama di apartemen barunya. Oleh karena itu. Rei. pintu itu tidak terbuka. Di depan pintu apartemen Aya. salah satu teman dekat kami ketika masih duduk di bangku SMA. Namun. aku dan seorang temanku. juga ingin melihat sosok seorang Ryo yang selama ini kami hanya kenal melalui cerita-cerita dari Aya saja. Sebenarnya itu adalah kabar yang sedikit mengejutkan. Oleh karena itu. kami berdua segera mengiyakan lalu dengan semangat pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa bahan makanan yang dimasak bersama nanti.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen THE APARTMENT Oleh: Ervilia Lupita Adriyanti Saat ini sudah pukul lima lewat dua puluh satu menit ketika kami. aku teringat beberapa bulan yang lalu Aya mengabarkan kepada kami kalau ia akhirnya memutuskan untuk tinggal di apartemen kekasihnya. Sebuah senyum terlukis di bibir Rei ketika aku menekan bel apartemen Aya dengan siku kananku seakan tidak sabar menunggu Aya membuka pintu apartemennya. Mengetahui hubungan keduanya yang sudah cukup lama. Ryo.

Agak mengherankan memang ketika sebuah rumah tidak halaman 8 dari 83 halaman . Setelahnya. “Ya. pintu apartemen itu terbuka dan kami melihat teman kami. “Jam berapa Ryo pulang dari kantornya?” dari arah dapur aku mendengar Rei bertanya.” aku dengan cepat mengganti topik ketika sadar tidak ada satu pun figura foto yang tergantung di dinding ataupun dipajang di atas meja. tadi Aku ketiduran.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen berpandangan dan mulai bertanya-tanya mengapa Aya belum membuka pintu apartemennya. ia seakan menahan langkahku yang berusaha memasuki dapur apartemennya.. Pertanyaan itu disusul dengan suara pisau yang mulai bekerja memotongmotong bahan makanan. Lalu. ” “Kalian tidak memajang satu pun foto di sini. “Tom.. dia mengambil salah satu kantung itu dariku dan mulai melihat ke dalamnya. Suara itu kemudian disambung dengan suara kunci pintu yang dibuka. di belakang pintu itu. Kini aku menurunkan kantung belanja yang aku jinjing di tangan kananku lantas menekan sekali lagi bel tersebut. tidak lama lagi. “Kalian sudah membeli tepung okonomiyaki-nya juga.” Rei menunjuk bel apartemen Aya dengan dagunya. Aya. karena kami berencana membuat nasi kare. kan?” Aya sedikit bergeser ke sebelah kanan dan mempersilahkan kami masuk ke dalam apartemennya. Kami juga membeli lebih kalau kamu ingin memasaknya lagi.” Aya melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah dapur sambil mempersilahkanku untuk duduk di sofa ruang tengahnya. Mungkin itu wortel. aku hanya mengangguk-angguk pelan sambil mulai melihat ke sekeliling ruangan tersebut. kan?” sambil mengenakan sandal berwarna putih polos yang diletakkan tidak jauh dari pintu. “Coba tekan belnya sekali lagi. “Mmm. “Maaf. ketika ia lihat aku membawa dua buah kantung belanjaan. Kalian belum lama. kami berdua mulai memasang telinga baik-baik. Kali ini dengan jari telunjukku.. menunggu adakah suara derap langkah kaki dari dalam sana. Perlahan.” Rei menambahkan. Rasa penasaran kami tiba-tiba terbayar ketika kami sama-sama mendengar suara langkah kaki dari dalam apartemen. Biar aku dan Rei yang menyiapkan semuanya di dapur. “Hah? Benar tidak apa-apa aku tidak membantu?” “Tidak. Biar wanita saja yang memasak di dapur. aku mengangguk. Ia tersenyum lebar ketika melihat kami berada di depan apartemennya. Bersamaan dengan itu ia menunjuk sofa ruang tengahnya dan memberi isyarat dengan matanya agar aku duduk saja di sana. Tidak ada jalan lain. duduk saja dulu. Kini ia sudah berada di ruang tengah apartemen dan melihat ke sekeliling ruangan. Aya pun mengucapkan terima kasih sambil menutup kembali pintu apartemennya dan menguncinya lagi.” sambil melambaikan tangannya cepat.

Rei. “Teman SMA?” Ryo mulai melangkah mendekat.” Benarlah ternyata laki-laki itu adalah Ryo. “Mungkin. di saat yang bersamaan terdengar bunyi bel pintu. Entah mengapa ia terus saja memandang ke arahku. sedang memasak... “Jarang sekali Aya mengundang temannya datang ke sini. Tunggu sebentar. dan Aya.. Ryo mengalihkan pandangannya ke arah Aya dan mulai mengangguk-angguk. yaa. “Hmm. Bahkan. ia pun melepaskan celemek yang ia pakai dan menyampirkannya di kursi meja makan. Namun. “Kenapa lama sekali kamu membuka pintunya?” laki-laki itu mulai memasuki apartemennya. “Yaa. Senyuman yang disunggingkan Ryo seperti dipaksakan atau bahkan sebenarnya Ryo tidak menyukai kehadiran kami sejak awal. Aku mulai menebak kalau orang itu adalah Ryo. Ia lalu tersenyum kepada kami. Ketika ia mulai melangkah masuk... Benar juga. “A. “Aku. “O.. Apakah mobil putih di parkiran bawah milikmu. Matanya memandang kami penuh dengan rasa penasaran. kulitnya agak sedikit coklat jika dibandingkan dengan warna kulitku. aku mulai merasakan ada sesuatu yang aneh di sini.” “Masak?” Laki-laki itu kini membuka jasnya.” “Mereka teman SMA-ku. Sementara itu. Ryo.. Ketika pintu mulai terbuka. aku berpikir ada baiknya kamu juga mulai mengenal teman-teman baikku. Kini.. yaa. entah mengapa suasana menjadi sedikit tidak nyaman. Laki-laki berperawakan tegas. Sebaiknya di pindahkan saja.” “Bahkan tidak ada foto Ryo satu pun di sini. “A. Rei juga melakukan hal yang sama. Hanya sesekali ia memandang Rei. Sepertinya dia belum menyadari kehadiran kami.. “Mereka. “Apakah itu Ryo?” terdengar suara Rei bertanya dari dalam dapur. langkahnya langsung terhenti ketika melihat kami di ruang tengah.” Aya dengan segera keluar dari dalam dapur kemudian disusul oleh Rei. dari kejauhan aku melihat seseorang mengenakan setelan jas di luar sana. Lalu. Aku tersenyum sambil menundukkan badanku sedikit. Ryo.” aku menambahkan tanpa mengindahkan jawaban terbata-bata yang dilontarkan oleh Aya. Kemudian. Aku saja yang seorang laki-laki masih memajang foto kelulusanku ketika SMA di ruang tengah apartemen. tidak pernah.” ucapnya dengan suara yang sedikit berat. Tom? Sepertinya kamu memarkirkannya di tempat orang lain.. Suara bel yang kedua menyusul kemudian.” Ryo mengiyakan ucapan Aya.” bersamaan dengan itu ia kembali membuka kunci pintunya.” Aya mulai berusaha mencairkan suasana. iya. Rambutnya pendek dan tingginya hampir sejajar denganku. Tom dan Rei.” halaman 9 dari 83 halaman . Bersamaan dengan itu. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah pintu apartemen.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen dihiasi paling tidak satu foto pemiliknya...

. “Sudah aku katakan kamu tidak boleh membawa laki-laki ke apartemen ini!!” kini terdengar suara bentakan Ryo dari dalam apartemen. aku pun segera berjalan ke arah pintu apartemen. halaman 10 dari 83 halaman .” Rei pun membuntutiku dari belakang. Aku berusaha menghindar.” sambil memberikan isyarat kepada Aya. “Apa yang kamu lakukan?! Apa kamu sudah gila?!” aku balik meneriaki Ryo ketika kami saling berebut pemukul itu. Ketika kami sampai di parkiran sekitar lima belas menit yang lalu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Masih dikuasai oleh suasana canggung beberapa saat yang lalu. “Sepertinya aku ikut saja ke bawah. Ryo juga mengarahkan tendangan kakinya ke arah tubuh Aya yang sudah tidak berdaya. Suaranya lirih. Ketika Rei mulai menekan bel. “Kalau begitu aku ke bawah dulu. Dengan cepat aku buka pintu tersebut dan mendapati Aya tersungkur di lantai ruang tengahnya. terdengar suara sesuatu jatuh kemudian pecah dari dalam apartemen. tidak ada tanda-tanda bahwa kami memarkirkan mobil di tempat yang salah. Sesaat kemudian kami mendengar suara Aya dari dalam. Kami kembali menuju apartemen Aya dengan perasaan bingung. Kami terlonjak kaget dan mulai berpandangan. Langkah kami berhenti di depan pintu apartemen Aya untuk kedua kalinya. Tiba-tiba aku dengan refleks mencoba memutar kenop pintu dan ternyata pintu itu tidak terkunci. “Tom hanya temanku. Mimik wajahnya berubah menjadi sangat khawatir. tapi pukulannya yang bersarang di punggungku mulai meruntuhkan kekuatanku. Aku hanya bisa memperlihatkan ekspresi ‘benarkah?’ tanpa berkata-kata.” Kami semakin kuat menggedor pintu tersebut walaupun sepertinya Ryo berusaha tidak mengindahkannya. Setidaknya tidak ada orang yang menunggu di sana dan mengatakan bahwa kami harus segera memindahkan mobil kami ke parkiran yang lain. “Apa yang terjadi?” Rei terlihat syok. Rei juga berlari memasuki ruangan dan langsung memeluk Aya yang masih tergeletak di lantai. Ryo seperti sudah hilang kendali dan ia mendorongku dengan kuat hingga Aku terjatuh. Namun.. “Ini bukan urusan kalian!!” Kini Ryo mengarahkan pemukulnya kepadaku dan mulai memukulnya kepada secara membabi buta. Tidak sampai di situ. sebuah lampu kaca sudah terjatuh dan pecahannya menyebar tidak beraturan. Tidak jauh dari mereka. Ia menangis dan Ryo berdiri sambil mengarahkan pemukul baseball ke arahnya. Sementara itu. “Hei!” aku dengan geram melangkah masuk dan mencoba merebut pemukul baseball tersebut.” “Teman?!” “Maafkan aku. Kami sontak tercengang dan mulai menggedor-gedor pintu apartemen tersebut sambil meneriakkan nama Aya.

Seminggu kemudian.. aku dan Rei hanya terpaku saja melihat pemandangan itu. PRANG.. “Aku mohon hentikan.” seperti sudah tersadar. Ketika kami terus berbaku hantam. Ryo seakan tidak peduli dan ia kembali balik menyerangku..... Tangannya mulai menggapai-gapai pergelangan kaki Ryo dan memeluknya. Kami bertiga langsung mengalihkan pandangan kami ke arah sumber suara.. konsentrasi Ryo seperti terpecah dan aku menemukan kesempatan untuk merebut pemukul baseballnya. Tapi tidak ada respon sedikitpun. tanpa pikir panjang. Ryo langsung mendorong Aya ke arah belakang. Ryo mendekati Aya lalu menggoncanggoncangkan tubuh wanita muda itu. Tapi. “Sekarang hentikan semua ini atau aku akan menelpon polisi!” aku berusaha berdiri dan berbalik menodongkan pemukul itu kepadanya. yang paling melegakan ketika kami juga diberitahukan bahwa Aya memutuskan untuk kembali tinggal bersama kedua orang tuanya. “DIAM!!” Ryo menendangkan kakinya hingga Aya kembali tersungkur di lantai.” suara Aya mulai melemah. “Aya!!” diiringi teriakan keras dari Rei. Namun.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Ryo! Hentikan!” Aya berteriak keras sambil terus menangis di pelukan Rei.. Sementara itu isak tangisnya semakin menjadi-jadi. kami melihat Aya tergeletak tidak sadarkan diri dibawah sebuah rak kaca di dekat meja makan.. Tiba-tiba semuanya hening. Seperti bukan Ryo yang beberapa saat lalu sangat menakutkan. Namun. Aya. Ketika itu. Sementara itu. Darah mulai mengalir keluar dari balik rambutnya yang sudah acak-acakan.. Ryo yang sekarang mulai memeluk Aya dan menangisinya. kami mendengar kabar Aya sudah melewati masa kritisnya dan tidak lama lagi akan segera meninggalkan rumah sakit. Rei pun mulai menarikku kebelakang agar menjauh dari Ryo. Ryo berada di bawah tahanan polisi setelah Aya menceritakan segala bentuk kekerasan yang dilakukan Ryo kepada dirinya selama mereka tinggal bersama di apartemen tersebut. halaman 11 dari 83 halaman . tanpa sadar Aya sudah berada diantara kami dan berusaha memisahkan kami berdua. “Aya.

kakak tertua dari Gina dan Gisel. Orang tua mereka sangat membanggakan dua putri kembarnya itu. Gisel. Namun lain keadaannya dengan Faris. Saat ini Faris sedang melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas swasta di Jakarta. Gisel dan Gina adalah anak kembar yang saat ini sedang meneruskan pendidikannya ke tingkat SMA. Memang pada dasarnya kedua anak itu adalah anak yang cerdas. Keluarga itu terdiri dari seorang ayah. dan Gina. hiduplah sebuah keluarga yang mapan dan berpendidikan. Kedua orang tua Faris sangat kecewa dengannnya karena Faris tidak dapat memenuhi keinginan orang tuanya untuk melanjutkan kuliah di halaman 12 dari 83 halaman . maka keduanya bisa bersekolah di SMA unggulan yang sama. dan ketiga anaknya yang bernama Faris. Orang tua mereka ingin sekali kedua anak kembarnya itu bisa bersekolah bersama di SMA unggulan. ibu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KEKERASAN DALAM KEHIDUPAN Oleh: Glory Meirisa Pakpahan Pada suatu hari di daerah pinggiran kota Jakarta. direktur utama dari salah satu perusahaan ternama di daerah Jakarta. Kepala keluarga itu bernama Susanto. Ibu Susanto pun adalah seorang wanita karir yang bekerja di salah satu perusahaan asuransi terkemuka di Indonesia. Gina dan Gisel.

Hingga suatu ketika ia meneleponku dan mengajakku untuk bertemu di salah satu cafe. aku pun memutuskan untuk kembali pulang. Farisnya ada?” Lalu si Mbak menjawab “Maaf Non. Nasib Faris cukup dibilang kurang beruntung. Namun saat ini Faris bener-benar menghilang bagai ditelan bumi. aku dan Faris mengakhiri pertemuan malam itu dan berharap semoga Faris bisa menjalani kehidupannya dengan sabar. Ketiaka sampai dirumah Faris. Waktu terus berjalan hingga pukul 21. aku sangat memehami apa yang ia rasakan. Faris merasa malu.” Saat itu aku merasa terenyuh dengan keadaan Faris. Ia tidak bisa memenuhi keinginan orang tuanya untuk masuk perguruan tinggi negeri. dan selalu menjadi bahan pembicaraan rekan-rekan di kantor ayahnya. aku pun berniat mendatangi rumah Faris yang tidak terlalu jauh dari komplek rumahku. Aku mulai curiga dengan keadaan Faris. ia selalu diremahkan dalam keluarganya. aku hanya dapat bertemu dengan pembantu yang biasa bekerja disana. Orang tua Faris sangat memaksa Faris untuk menjadi yang terbaik. Saat itu aku menyarankan kepada Faris untuk membuktikan pada orang tuanya bahwa Faris mampu dan tidak bisa dipandang sebelah mata. tiba-tiba handphone-ku berdering. namun Faris tidak bisa memenuhi segala keinginan orang tuanya. Ketika sudah bertemu dengannya. ia mulai bercerita tentang kehidupannya di rumah. biasanya ia selalu sms atau paling tidak meneleponku saat akhir pekan. Dua minggu berlalu dan aku tidak mendapat kabar dari Faris. lo mau ga ketemu gw siang ini ditaman deket komplek humz gw?” Cepat-cepat aku membalasnya dan setuju untuk bertemu dengannya. tidak dapat lulus S1 dalam waktu 4 tahun. Karena aku tidak ingin terlalu banyak ikut campur. Mereka lebih menyayangi Gina dan Gisel karena menurut mereka Gina dan Gisel tidak membuat malu nama keluarga mereka. Ia merasa seperti benalu dalam kehidupan keluarganya. sahabatku. maaf ya gw ganggu. Aku pun sedih mendengar kesaksian dari Faris. Oleh sebab itu Faris selalu dihukum oleh kedua orang tuanya bahkan orang tua Faris suka melakukan kekerasan pada dirinya. ia merasa rendah dan tak berguna bagi keluarganya. Dua hari setelah aku mendatangi rumah Faris. baik lewat telepon atau sms. Klo lo ada waktu. Dan kudapati satu buah pesan dari Faris yang berisi. Mas Faris sedang dihukum tuan dan nyonya karena di kamar Mas Faris ditemukan rokok dan minuman keras. Sesekali dari luar aku mendengar suara ribut dari arah kamar Faris. Pukulan yang diberikan ayahnya pun sudah halaman 13 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen universitas negeri. “ Mbak. Saat itu Faris hanya bercerita bahwa ia sangat tidak dihargai di rumah. “Pagi. Aku mendengar suara ayah Faris dan ibunya yang sedang membentak Faris. Akhirnya pada malam itu pun aku menemuinya. Goresan ikat pinggang pada badannya sudah menjadi hal yang biasa. Untuk menghilangkan rasa penasaranku. Aku pun bertanya. Kedua orang tuanya pilih kasih.00.

menangis. Dan mungkin jika ada waktu yang tepat. Dan menjelaskan pada kedua orang tuanya bahwa kekerasan bukanlah menjadi kunci dalam suatu permasalahan. Faris memang harus berbicara pada kedua orang tuanya secara baik-baik tentang masalah yang dihadapinya. halaman 14 dari 83 halaman . Sehingga pada minggu yang lalu Faris merusak tubuhnya dengan mencari pelampiasan seperti rokok dan alkohol. Saat itu aku hanya bisa memberi dorongan dan semangat pada Faris.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen jadi makanan Faris setiap hari. Ia ingin marah. dan merasa rendah. Sungguh perasaan Faris bercampur jadi satu. melainkan kekerasan hanya dapat menimbulkan masalah baru. supaya ia tidak menyia-nyiakan hidupnya dan tidak merusak tubuhnya dengan benda-benda haram itu. Kekerasan yang dialami Faris bukan kekerasan yang baru terjadi sesekali ini. tapi sejak Faris duduk di bangku sekolah dasar ia memang sudah mendapat kekerasan dari ayahnya.

Setelah ribuan masalah yang telah kau hadapi bersamanya. “Hai. Jawabannya adalah aku tidak lagi mencintaimu. Menunggunya yang tak juga menghampirimu walaupun sudah sejam berlalu. wanita yang kau sapa itu menjawab. Kau pun bertanya. Aku tahu sekarang jawabannya. Tanpa sadar aku mencintai ayahmu yang sudah tak beristri itu. Akhirnya kau tak sabar dan menghampirinya. Tapi aku telah banyak menyakitimu dan akan terus menyakitimu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen DIAZ DAN ANWAR Oleh: Indah Permata Sari Kau berdiri di sana. tapi tak tahu terasa ada yang berbeda. di sudut ujung jalan. “Ada apa? Apa yang terjadi? Bukankah masalah kita sudah selesai. “Setelah ribuan masalah datang menghampiri kita. memang sudah selesai. Kau memulai sedikit kata.” “Kenapa? Dengan cara apa?” kau pun bertanya dengan hati bergetar. Dan dia pun sudah merenggut keperawananku.” Rani. Tapi dia yang kau ajak berbicara hanya menjawab sapaanmu dengan air mata yang tumpah ruah tak ada tara. Kau pun diam tak tau ingin bicara apa. Dan aku pun mencintainya!” halaman 15 dari 83 halaman . kini masalah sudah selesai.” Kau pun memulai pembicaraan. “Iya.

Dan menerima adik barumu. Dan kami bahagia menjalani hubungan sesama jenis ini. Rani menghilang bersama ayahmu. Tapi apa daya. kenalkan. Lima tahun kemudian. “Jadi selama ini kamu menghianatiku. Dan itu kau lakukan dengan ayah kandungku sendiri. Dan kini kau menjalin hubungan cinta bersamaku tanpa sadar. Kau tak bisa berbuat apa-apa lagi. Yoga. Nasi telah menjadi bubur. Tak ada kejadian pun yang kau lupakan. Yoga. tapi ternyata hubunganmu dengan Rani membuatmu trauma menjalani hubungan. Dan mulai hari ini kami akan tinggal bersamamu. Sudah lima tahun kau tidak mendapat pengganti Rani. Anwar. Kau harus memanggil mantan kekasihmu Rani dengan sebutan 'Ibu'. Setelah kejadian itu. “Diaz. Rani dan ayahmu kembali. Bersamaku.” Ayahmu memaksa kamu untuk menerima kenyataan pahit ini. semua kau ingat dengan jelas. Hanya kicauan burung di beberapa pohon besar. JAHANAM KAU! BEDEBAH KAU! SAMA SAJA DENGAN AYAHKU!” Kau pun membelalakkan mata dan air mata pun tumpah tak terkira. ”Aku harus berbuat apa. halaman 16 dari 83 halaman . Yang telah merenggut belahan jiwamu yang sedari dulu kau jaga. Ingin rasanya kau membunuh ayahmu sendiri. seakan tak mampu menahan langit yang mulai bergeming.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Bumi serasa berguncang. Tanpa merasa berdosa mereka mengenalkan adik barumu Yoga. ya Tuhan? Apa yang harus kulakukan? Inikah balasan untukku yang telah menjaga dengan baik belahan jiwaku?” Kau berteriak seperti tak berakal. Kau pun melanjutkan hidupmu seperti biasa walaupun setiap harinya hatimu hancur tak terkira. Beruntung ujung jalan sedang sepi tak ada satu pun orang. Ini adik barumu.

suara isak tangisnya membuatku tidak tega dan segera ingin datang kepadanya. Kami terlibat dalam satu klub ekskul softball di sekolah kami. Tetapi. Yumi adalah gadis yang sangat cantik. Aku mengenalnya sejak SMA. prestasi non-akademiknya juga sangat memuaskan.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen YUMI Oleh: Indra Puspita Kusuma Aku terkejut ketika mendapati tulisan nama yang berkedip-kedip tanda ada seseorang menelepon ke telepon genggamku. Tak disangka sekarang ini. hatiku sangat gembira. cerdas dan juga ceria. Dia adalah gadis yang paling mendekati sempurna menurutku. Kebetulan rumah kami berdekatan maka kami jadi semakin akrab. Sejak dia mulai berpacaran dengan Kibum. Dia menjelaskan bahwa dia memergoki Jun selingkuh dengan gadis lain. karena aku akan segera menghampirinya. di sebrang telepon. Sejujurnya. Penampilannya yang halaman 17 dari 83 halaman . sudah lama aku menunggu hari ini. Selama perjalanan aku ke tempatnya. kami diterima di fakultas yang sama. Jarang sekali Yumi meneleponku enam bulan terakhir ini. pikiranku selalu tentang Yumi. Bisa dibilang dia adalah sahabat dan orang yang selalu ingin aku lindungi. Selain prestasi akademiknya yang tinggi. Aku pun berkata padanya untuk tetap tinggal di tempat dia berada. memberikan bahuku untuknya dan menghapus air matanya.

Betapa aku ingin dia segera halaman 18 dari 83 halaman . Aku mengerti. salah satu senior yang cukup terkenal karena prestasinya di bidang olahraga. Di perjalanan. Tanya padanya siapakah gadis itu. Kali ini tangisnya deras. “Aku melihat Kibum didalam mobil dengan gadis lain. kebetulan memang tidak terlalu jauh. Percaya padaku. “Ini teh mu. “Jangan menangis lagi.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen berbeda dari semua gadis seusianya membuat banyak lelaki mengejarnya. Lalu ia bertanya lagi.” lanjut Yumi. Hati Yumi pun berlabuh di hati Kibum. “Aku sangat mencintai Kibum…. aku menyuruhnya untuk duduk saja. aku lihat Yumi duduk tertunduk di ayunan yang tidak bergerak. “Kau mau teh?” tanyaku. kau akan melupakan ini semua. “Apakah yang harus aku lakukan.” aku menaruh cangkir tehnya di depan dia. aku mencoba menghiburnya sedikit dengan lawakan-lawakan garingku. Aku sengaja tidak menanyakan kejadian Kibum dulu kepadanya.” Terpaksa aku berbohong. “Jika kau masih mencintainya. Ia mulai menangis lagi. suaranya mulai bergetar dan matanya mulai berair. Terima kasih. Jelaskan bahwa kemarin kau memergoki dia dengan gadis lain. “Hhh… Baiklah… Pagi tadi ketika aku mau berolahraga ke taman. aku melihat mobil Kibum di depan taman.” Aku berlutut didepannya dan mencoba menenangkannya. Dia terdiam sejenak. aku duduk disebelahnya dan memeluknya. Seluruh keluarga besarnya ada di Seoul. Aku masih tak percaya posisinya sekarang adalah di dalam pelukanku. mungkin ada baiknya kau tanyakan dulu kepadanya. “Hmm…boleh juga.” gumamnya “Apakah kau yakin itu bukan sepupu Kibum?” tanyaku “Yakin! Hanya keluarga dia yang ada di Jakarta.” Yumi terhenti. “Wah. Sesampainya di kafe tersebut. kau masih ingat saja dengan teh kesukaanku. Karena aku tahu itu akan menyakiti hatinya.” jawabnya. Dia terdiam dan tetap terlihat cantik. “Yumi. pasti dia sangat dikecewakan oleh Jun. Tetapi lelaki ini ternyata juga berhasil melukai hati Yumi. Minho. Jarak mereka dekat sekali. Aku tidak tega melihatnya. Minho? Aku sangat mencintai Kibum.” ulangnya lagi. Ketika aku sampai di taman itu. Aku memegang tangannya. “Apakah kau sudah siap untuk menceritakannya?” tanyaku. bagaimana jika kita cari minum untukmu?” Yumi pun tersenyum dan mulai berdiri.” jelas Yumi. Matanya masih berkacakaca.” jelasku. Aku menghampirinya sambil menyodorkan sapu tanganku kepadanya seraya berkata. “Kau tidak pantas menangisi lelaki macam dia.” jawabnya sambil tersenyum. Tangisannya reda tetapi air matanya masih keluar. Aku sudah hafal teh yang biasanya dia pesan. kayaknya itu enak. Kami menuju kafe teh langganan kami itu dengan berjalan kaki.

Kibum sedang latihan basket di lapangan basket Fakultas Ekonomi. ketika aku sedang duduk menikmati internet gratis di perpustakaan. Sudah lama aku tidak melihat dia berlari di lapangan…” halaman 19 dari 83 halaman . melewatiku. Mau nggak kalau aku gantinya dengan kue saja?” tanya Yumi dengan senyuman termanis yang pernah kulihat. jangan tangisi dia lagi. Kami menghabiskan waktu di kafe tersebut hingga larut malam. “Baiklah. aku dikejutkan oleh Yumi yang tiba-tiba datang. Aku hanya bermain internet saja.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen mengakhiri ini semua dengan Kibum. Minho. Kau masih ada kuliah sesudah ini?” tanyaku “Hmm tidak ada sih… Kenapa kau menanyakan itu? Mau mentraktirku teh lagi?” tanya Yumi dengan nada iseng. “Hahahaha. Kau mau teh?” “Hmmm. Paginya aku melihat Yumi di taman kampus. “Eh kau. “Sudahlah. beli kuenya di toko kue yang ada di Fakultas Ekonomi saja. Tapi aku lebih ingin membalas budimu kemarin. Oh iya. Yumi. aku bereskan barang-barangku terlebih dahulu ya. mengajaknya mengobrol yang tidak ada hubungannya dengan Kibum. Yumi pun tersenyum. ya. Tak lama kemudian datanglah Kibum menghampirinya. “Bisa juga akal bulusnya!” kataku dalam hati.” “Sini aku bantu!” Aku sangat penasaran mengapa dia sangat ceria hari ini. Aku mencoba bertanya pada Yumi tentang Kibum. teh yang kemarin kau belikan untukku belum aku ganti duitmu. kami keluar dari perpustakaan bersama. Ternyata Kibum memberikan Yumi selusin mawar yang telah terbungkus indah. Kibum di mana memang? Kau tidak bertemu dengannya?” “Oh. “Hmm. Mungkin Yumi memang sangat pemaaf. aku ingin melihat Kibum latihan. Dan mungkin Yumi benar-benar mencintai Kibum. Aku mulai menghibur dia. Yumi. Setelah kami selesai membereskan barang-barangku. Kau jadi terlihat jelek sekali jika menangis. Siangnya.” candaku. “Minho! Sedang apa kau?” sapanya dengan ceria. Aku berhutang kan padamu?” “Berhutang?” “Iya. Mereka berjalan berdampingan.” “Oke!” “Ya sudah. yuk! Sekalian. Aku hanya tersenyum pada mereka berdua. boleh juga. Yumi membalas senyumanku dengan tatapan yang aneh. Yumi yang memang gadis manis yang baik hati menerimanya dan sepertinya dia tidak jadi menanyakan Kibum tentang kejadian kemarin. Tapi aku sendiri yang memilih kuenya. Aku ingin menanyakan padanya tentang Kibum.

“Kau pasti mengira aku sangat pengecut. Yumi yang kubonceng. Di taman. “Yumi. Matanya masih tertuju pada sosok Kibum. Biasanya kau tak mau menemaniku. aku akan selalu melindungi mu. “Aku masih mencari waktu yang tepat. aku boleh bertanya nggak?” “Boleh. aku antar kau pulang ya. aku tak suka melihat Yumi dengan Kibum. Tapi yang pasti aku akan menanyakan pada Kibum jika…. Aku melihat Yumi kembali. memelukku dengan erat. Aku tahu apa yang dipikiran Yumi. Tetapi entah mengapa. Jelas sekali itu adalah Kibum dan mungkin dengan wanita yang kemarin dipergoki oleh Yumi. Ekspresi mukanya berubah. Aku tidak mengerti lagi harus bagaimana ke Kibum. Dia diam tak berkutik. tatapannya terpaku pada sesosok yang berada di lapangan basket.” tiba-tiba Yumi seperti dikejutkan oleh sesuatu. Hatiku sakit melihat Jun dengan gadis itu. bisakah kau mengantarku kesana?” Aku segera melajukan motorku ke arah taman. Makanya aku tidak pernah mau menemani Yumi jika ia mau melihat Kibum latihan. Yumi langsung turun dan menuju ayunan.” air mata Yumi pun mulai menetes.” kata Yumi. Di perjalanan hening. Aku bingung. Aku mengantarnya pulang menaiki motorku. Aku juga ingin makan kue coklat yang dijual di toko itu.” jawabnya. “Apakah kau mau menanyakan pada Kibum sekarang?!” tanyaku dengan tegas. “Yumi. Aku mengikuti arah matanya dan mendapati dua sosok manusia yang sedang duduk berdampingan dengan romantis di pinggir lapangan basket.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Baiklah. ada sesuatu yang mendorong hatiku untuk tetap menemaninya saat ini. aku mengajaknya segera pergi dari tempat itu.” “Aku tidak tahu deh. “Minho. “Bukannya kau luluh karena diberikan seikat mawar tadi pagi?” “Kau melihatnya. Aku berhenti mendorongnya dan berlutut didepannya. hanya suara angin yang terdengar di telingaku.” Ya. aku tak bisa bertemu Kibum sekarang. Aku yakin. Tiba-tiba ia berkata padaku. “Bisakah kau mendorongku?” Aku mendorong ayunan itu dengan pelan. “Minho. adalah gadis yang sama dengan gadis yang aku lihat kemarin. gadis yang kita lihat tadi. “Hmm Yumi.” “Dasar kau. Minho! Giliran mau dibeliin kue aja langsung semangat deh. Aku akhirnya memberanikan diri bertanya tentang kelanjutan dia dan Kibum. Minho?” “Ya aku melihat kalian dari kejauhan. kau mau nanya apa?” “Bagaimana jadinya kau dengan Kibum? Kau sudah tanyakan padanya?” Yumi terdiam. Hatiku bergetar tetapi aku tau dibelakang sana dia sedang menangis. Mau kan?” Yumi mengangguk. Aku tak ingin Yumi kembali menangis. Aku tidak akan merelakan kau halaman 20 dari 83 halaman . aku ingin ke taman.

Dia bengong. aku dapat menjadi tempat yang nyaman untuknya. Aku bersyukur Yumi mengingat perkataanku. Aku segera mandi dan berpakaian. kita halaman 21 dari 83 halaman . Walaupun selama aku berpacaran dengan Kibum.” Aku tersentak. Ia mulai tak bisa menahan tangisnya. Aku teringat katakatamu. “Maaf ya. jangan bengong dong…” “Eh. Keesokan harinya. “Semalam. Aku juga belum lama datang. Aku makin tersentak. Kau memang sahabatku yang paling aku sayang. Aku mulai mendorong ayunannya lagi.” “Benar?” “Ya. “Sandwichnya enak…. aku mendapatkan SMS dari Yumi.” jawab Yumi seraya tersenyum. “Apa yang ia lakukan dirumahmu?” “Dia mengakhiri hubungan kita.” Aku benar-benar curiga mengapa Yumi berubah seperti dahulu lagi. benar. “Terima kasih. Aku malah senang.” Aku tersenyum. Setidaknya. Yumi masih belum berpacaran dengan Kibum. hehehe. Aku menjemputnya setiap pagi di taman adalah kebiasaan kami dulu. Kamu selalu lupa sarapan. “Pagi Minho! Tolong jemput aku di taman ya :D” Betapa senangnya hatiku mendapat SMS dari Yumi.” jelasku. Aku sudah cukup menangisinya semalaman. Ayo kita duduk di kursi itu. tidak kok.” “Waduh. Tetapi aku memutuskan untuk diam saja dan menikmati makanan yang ia buatkan untukku.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen terluka karena siapapun. tapi aku masih bisa menahan diri. bahwa aku tak pantas menangisi lelaki seperti dia. Sesampainya di taman. selama ini kau yang selalu setia mendampingiku. Apakah Kibum gila?! “Apa alasan Kibum???” tanyaku. Kebiasaanmu itu dari dulu tak pernah berubah! Ini aku membawakanmu susu dan sandwich yang aku bikin sendiri. di saat aku senang dan susah.” kata Yumi. Aku jadi ingat ketika dahulu. Yumi tidak menjawab lagi. Yumi melambaikan tangannya padaku lengkap dengan senyum manisnya. mengapa aku jadi membuatmu repot begini?” “Ih tidak apa-apa kok. maaf. Kau sudah lama ya menungguku?” “Oh. aku melihat Yumi berdiri sendiri membawa tas dan menurutku dia sangat cantik. “Dia bilang. “Yumi. Walau tanggapan Yumi tak sesuai dengan apa yang ingin ku dengar. Kibum kerumahku. Kau makan ini dulu ya. Minho.” “Kau kenapa sih?” tanyaku. Kau pasti belum sarapan kan?” “Ah kok kau tahu saja?” “Tuh kan. Isinya. “…dan aku juga merasa. Minho. Yumi.” kataku sambil melahap sandwich itu. dia bosan denganku.

*TAMAT* halaman 22 dari 83 halaman . aku selalu bisa menjadi diriku sendiri. setiap aku bersamamu. rasa sayangku untukmu.” Aku mengecup bibirnya.” lanjutnya. “Apakah kau yakin kau sudah bisa melupakannya?” “Ya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen tidak terlalu sering bertemu dan berkomunikasi. Sepertinya.” Aku menggenggam tangan Yumi dengan erat. Menghapus air matanya dan berkata. cinta lama akan terhapus oleh cinta baru. aku akan selalu ada selamanya untukmu. Percayalah padaku. yang selalu berada disampingmu. Sekarang. “Yumi. lihat aku. dan aku merasa nyaman. Tetapi aku bisa merasakan kau selalu siap menemaniku. lebih dari sekedar sahabat….

Tanpa pikir panjang. Tiba-tiba Ayahnya Sari datang dan langsung masuk ke dalam rumah.—Lengkap banget deh itu mama-mama kayaknya. gue ngeliat ada yang beda dari raur muka Mamanya Sari. dan ada semacam bekas merah2 deh di tangan dan mukanya. ga mau gue pikirin. Gue paling yaa. Nah ternyata gue inget kalo hari itu gue ada janji mau ke rumah temen gw. urusan orang yang udah berumah tangga mah beda sama urusan orang kuliah kayak gue. Mamanya Sari udah kenal banget sama gue. Sampe-sampe gue anggep dia kaya mama gue sendiri. Orangnya baik. dan gw nggak bawa jaket. Setibanya gue di rumah Sari. Tapi di hari itu. gue langsung dipersilahkan masuk sama Mamanya Sari. dan menutup pintu dengan kencang. suasana sepi. gue pikir pasti ada yang gak beres nih antara halaman 23 dari 83 halaman . mikirnya masih pacaran gitugitulah. trus langsung cabut lagi.. ah.. Sari namanya. makan dikit. Wah. ramah. belom mikirin keluarga jadinya. Hehehe. dingin pula. Bukan urusan gue juga kayaknya. dan satu yang penting jago masak! Hahaha.. Mungkin karena malas atau ribet ya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KAU BUKAN AYAHKU Oleh: Intan Puji Lestari Di malam itu gue jalan sendiri pulang dari kampus. Tatapannya kosong. Ah. gue langsung cepet pulang ke rumah.

trus gue liat juga di pahanya banyak tanda2 yg sama seperti yang gue liat di tangannya si Tante. ada orang yang setega itu halaman 24 dari 83 halaman . Gue tanya sama dia. Oh iya kamu jangan cerita ke siapa2 ya. Gue liat matanya udah item. Tanpa mikir panjang. Hahaha. si Om ngeluarin gesper yang tadi dia pake kerja. Tante ga mau kamu ngeliat kelakuan si Om yang udah jahat sama Tante dan Sari. Di jalan gue mikir terus. Gue liat si Om udah ga ada. dari cara Bokapnya Sari ngeliat istrinya. Baru gue mau deketin dia. dan dia cuma ngeliatin foto dia sama Bokap dan Nyokapnya waktu liburan. Akhirnya gue langsung keluar dan menuju teras belakang. trus tangannya si Tante langsung dipukulin. Trus gua liat Nyokapnya Sari udah duduk sambil nangis. langsung gue peluk Nyokapnya si Sari. karena kejadian ini ya. tapi dia tetep aja diem sambil terus ngelamunin foto keluarganya itu. dan langsung ninggalin itu rumah. dia langsung ngomong gini sama gue. dan mengajak Nyokapnya ngobrol di teras belakang. Tante minta maaf sama kamu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen mereka berdua. Tiba-tiba gue inget sama keadaan si Tante yang di luar. Gue ngintip dari sela-sela sofa dan nyoba buat dengerin apa yang diomongin sama si Om. Lagi asik chating sama pacar gue. di sampingnya udah ada vas bunga yang pecah.” Pokoknya gue bikin supaya dia bisa kehibur deh. tinggal Nyokapnya si Sari yang ada sambil nangis. nanya ke nyokapnya. “Sabar ya. Trus gue mulai memberanikan diri. Tante. (Gue yakin si Om udah ngelakuin hal yang ga pantes dilakuin seorang bapak pada mestinya). Namanya juga orang kantoran. Sambil gue bisikin. Ga enak kalo sampe Mama sama Papa kamu tau kejadian ini.” Gila! Ga tega gue ngeliat Nyokapnya Sari yang ngomong sambil terbata2 nangis begitu sama gue. Gue langsung ke kamarnya Sari. GUMPRANG!! Dari teras belakang. kayaknya itu abis dilempar deh sama si om. Gue ga ngerti apa yang diomongin antara mereka berdua. Tiba2 Bokapnya Sari keluar dari kamar. gue mulai curiga deh. dan akhirnya gue sibuk chating-chatingan sama pacar gue. gue denger suara. Tapi dia kayak orang gila gitu. dan ternyata Nyokapnya Sari lagi nangis!! Wah gak salah lagi pasti ada masalah antara mereka berdua!! Ya udah tanpa gue pikir panjang. eh dia diem aja sambil ngelamun. tatapan mukanya juga sinis banget. kayaknya kesel gitu deh. Wah gilaaa. Kayaknya ini orang kebanyakan nangis deh. Tante lagi ada masalah sama si Om. “Mendingan kamu pulang aja ya. Dan yang gue kagetnya. gue tanya ada masalah apa antara Bokap dan Nyokapnya. Pelan2 gue deketin si Sari. pantesan aja dari tadi gue liat tangannya Nyokapnya Sari penuh merah-merah di mana-mana. Gue nyapa dia tapi kayaknya dia gak menanggapi dan pasti karena mungkin dia kecapean kali ya. kalo Tante lagi ada masalah sama si Om. tatapannya kosong. dan ngeliat tuh anak lagi diem aja di atas kasurnya. kenapa ya. gue langsung pamitan sama Tante.

dan alhamdulillah jauh dari masalah yang seperti ini. tapi mau gimana lagi. Dia cerita banyak banget ke gue. yaitu Sari. karena gue dikasih keluarga yang baik2 aja. jangan malah dikasarin istri dan anak2 nya. Nyokapnya Sari ngelaporin suaminya itu ke polisi. Besoknya gue liat Sari nggak ada di kampus. halaman 25 dari 83 halaman . dan karena Nyokapnya Sari ga kuat dengan perlakuan kayak gitu. tapi malah digituin keluarganya. Sebenernya gue kasian juga sama Bokapnya si Sari. harus bisa ngejagain keluarganya. Hari2 gue lewatin tanpa hadirnya seorang teman baik gue. Gue jadi kasian sama Sari karena dia juga jadi korban kegilaan bapaknya sendiri.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen sama keluarganya. dan langsung diproses secara hukum. Gue bersyukur sama Allah. dia cerita kalo Ayahnya ternyata lagi stress berat karena ada masalah di dalam kantornya. Harusnya sebagai ayah yang baik. ga usah dipikirin orang kayak gitu. Yah ya udahlah. At lease sekarang gue udah bisa ngeliat temen gue senyum dan ceria kayak dulu lagi. kayaknya dia udah bisa ngelupain kejadian yang menimpa keluarganya itu deh. Tiga hari kemudian gue liat Sari nongol di kampus dan langsung cerita banyak sama gue. susah2 cari duit buat keluarga. kayaknya dia masih syok sama kejadian yang menimpa keluarganya. mukanya udah kembali ceria seperti dulu.

bahkan ada yang rela berdiri memberikan tempat duduknya. baik perempuan maupun lelaki. Tetapi bulying pada junior perempuan sudah tidak pernah lagi ada sejak 3 tahun terakhir. Senior Gorazper menunjukkan sikap yang baik dan ramah kepada kami para junior.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KELUARGA DAN SEKOLAH Oleh: Irvanuddin Rahman Cerita ini berawal saat saya menjadi siswa baru di salah satu SMA Negeri ternama di bilangan Jakarta Selatan. Sekolah ini memang sudah terkenal dengan tradisi bulying atau kekerasan pada junior-juniornya sejak 10 tahun terakhir. Di akhir istirahat. Saya dan Radit mulai menanyakan mekanisme perekrutan kepada senior di sekolah yang pada waktu itu duduk di bangku kelas 3 SMA. Singkat cerita. Setelah diberitahu segala sesuatunya. Ternyata Radit juga tertarik untuk masuk ke dalam kelompok tersebut. sebut saja kelompok Gorazper. Namun hal itu tidak mengurungkan niat saya untuk menjadi siswa di sekolah ini dan juga bergabung dengan kelompok yang terkenal dengan tradisi bulying-nya berlandaskan ingin mendapat pengalaman yang lebih. saya langsung kenal dengan Radit dan kami menjadi teman yang bisa dibilang dekat. halaman 26 dari 83 halaman . Kami mulai mengumpulkan temanteman seangkatan sesuai dengan jumlah yang diminta oleh senior yaitu sekitar 40 orang. dengan memberikan tempat duduk di kantin saat jam istirahat yang penuh sesak.

Setelah itu Radit dipanggil ke kamar Ayahnya lalu terdengar suara orang memukul dengan benda keras dan suara orang merintih kesakitan. namun lain halnya dengan Radit. dengan sepeda motor saya. langsung disuruh kumpul di tongkrongan oleh senior-senior Gorazper dan lagi-lagi mendapat kekerasan. Pernah suatu kali saya mengunjungi rumah Radit untuk sekedar menghabiskan waktu sepulang sekolah dan juga dengan dua orang teman lain yaitu Rama dan Amar. Dia meceritakan kisah hidupnya panjang lebar. Kekerasan yang saya dan teman-teman saya alami memang sama. tidak lama kami di rumah Radit. Radit berasumsi bahwa Ayahnya mengalami gangguan jiwa dan saya juga halaman 27 dari 83 halaman . saya pun tercengang dan kaget apakah itu suara Radit atau bukan. di sela-sela berjualan itu kami diberikan waktu istirahat oleh para senior. kamipun berpamitan dan pulang. Hingga pada suatu hari kami angkatan 2009 disuruh berjualan bunga untuk keperluan pencarian dana acara pensi sekolah. Radit dan kawan-kawan yang lain segera bergegas menuju tempat yang ditentukan dan langsung berjualan. Rupanya kekerasan yang dialami oleh Radit ialah karena keadaan keluarganya yang broken home dan juga Ayahnya yang baru menjadi korban PHK karena kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo yang sampai saat ini tidak jelas penyelesaiannya. Namun saat penataran pertama. Dan seperti itu juga pada tataran-tataran berikutnya. sikap baik itu berubah 180 derajat menjadi sikap yang sangat beringas dan tidak berkeprimanusiaan. Saya dan Radit kedapatan bagian berjualan di daerah Kemang.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Radit yang sudah dikenal di kalangan senior diminta untuk menjadi koordinator angkatan 2009 dalam hal perekrutan/inisiasi/penataran dan lain sebagainya. Begitu juga sepulang sekolah. Selang 10 menit kemudian. Akhirnya Radit menceritakan semuanya kepada saya namun dengan syarat hanya saya yang boleh mengetahuinya. Kesempatan itu saya gunakan untuk menanyakan hal yang terjadi tempo hari di rumahnya kepada Radit. Lalu Radit mengambilkan minuman sirup kepada saya dan yang lain. selain di sekolah dia juga mendapat perlakuan kasar di rumahnya lantaran ayahnya yang sering memukulinya karena kesalahan-kesalahan sepele Radit. Radit bercerita setelah Ayahnya bercerai dengan Ibunya dan dipecat dari perusahaan Lapindo Brantas. Ibunya tidak pernah mendatanginya lagi bahkan mungkin Ibunya tidak tahu apa yang terjadi sekarang terhadap Radit dan Ayahnya. Karena suasana yang garing dan tidak bersahabat. Keesokan harinya di sekolah saya ingin sekali menanyakan apa yang terjadi pada Radit. keadaan keluarganya sangatlah berantakan. Saya langsung menanyakan apa yang terjadi namun Radit hanya terdiam sambil menggelengkan kepalanya. namun kegiatan siswa baru sangat sangat disibukkan dengan kegiatan ini itu sehingga tidak memungkinkan saya berbicara dengan Radit. Keadaan seperti itu hampir setiap hari dirasakan. Radit keluar dari kamar dengan wajah pucat dan mata yang berkaca-kaca.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

berfikiran begitu karena tindak kekerasan yang dialami Radit disebabkan permasalahan sepele, seperti misalnya tempo hari Radit memberikan sirup kepada saya, Rama dan Amar, ia langsung dipukuli oleh Ayahnya dengan balok yang selalu ada bersama Ayahnya kemanapun Ayahnya itu pergi. Alasan yang diceritakan Radit kepada saya membuat saya sangat kaget sekaligus prihatin karena hanya karena mahalnya harga sirup dan menurut Ayahnya tidak sepantasnya kami teman-teman Radit disuguhkan sirup, cukup dengan air putih saja. Saya benar-benar terpukul saat Radit menceritakannya, bukan karena saya tidak terima diberikan air putih tetapi cara Ayahnya itu yang benar-benar tidak wajar. Saya dan Radit menghabiskan malam itu dengan cerita sedih yang dialami Radit sampai saya mengantarkannya pulang. Di rumah saya selalu kepikiran kisah Radit dan saya benar-benar bersyukur mempunyai keluarga yang sakinah dan rukun. Namun muncul dalam hati saya keinginan untuk menolong Radit sebagai sahabat. Tetapi saya bingung bagaimana cara saya menolongnya. Saya berfikir bahwa Ayah Radit perlu rehabilitasi untuk kembali menyadarkan jiwanya dan menyembuhkan jiwanya dari gangguan jiwa yang dialaminya akibat stres. Saya menceritakan hal tersebut kepada teman-teman dekat saya tanpa sepengetahuan Radit, namun lama kelamaan berita itu menyebar di angkatan 2009 walaupun tidak semuanya tahu tetapi realtif banyak yang tahu dan tetap tanpa sepengetahuan Radit. Kami pun berinisiatif untuk mengumpulkan dana swadaya untuk membantu Radit dan keluarganya karena mengingat juga banyak sekali kontribusi Radit dalam hal mengompakkan angkatan, membela angkatan di depan senior dan tidak jarang pula Radit menanggung dampak dari kesalahan yang diperbuat angkatan seperti misalnya jumlah orang tidak sampai batas minimal yang ditetapkan senior saat menjadi supporter pertandingan basket sekolah kami dengan sekolah lain, dan sebagainya. Kami pun diam mengumpulkan dana swadaya tersebut secara diam-diam tanpa sepengetahuan Radit agar dia tidak minder dalam bergaul. Memang agak susah mengumpulkan uang yang diperlukan karena pasti sangat besar jumlahnya, maka dari itu kami membutuhkan waktu yang lama untuk mengumpulkan uang sampai target. Seiring waktu berlalu, Kekompakan angakatan kami semakin timbul dan setiap permintaan dari senior untuk menambah jumlah orang yang ikut dalam kelompok Gorazper tidak pernah gagal. Dari 40 orang, menjadi 50 orang, dan terakhir para senior meminta harus ada 60 orang saat tataran berikutnya. Hal yang sangat sulit tentunya bagi kami untuk mengumpulkan sebanyak itu, namun lagi-lagi berkat kemampuan Radit akhirnya kami dapat menggenapkan jumlah kami menjadi 60 orang di tataran berikutnya. Tidak terasa waktu terus berlalu dan hampir tiba saat pelantikan angkatan baru Gorazper yang notabennya adalah angkatan kami, angkatan 2009. Malam pelantikan itu diawali dengan acara menonton bareng di bioskop di salah satu mall di bilangan Pondok Indah, Jakarta Selatan dan ditutup dengan acara pelantikan di sebuah jalan yang biasa menjadi tempat tongkrongan anak-anak remaja seumuran
halaman 28 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

kami. Dan malam itu menjadi malam yang sangat ditunggu-tunggu oleh saya, Radit dan juga teman-teman 2009 lainnya karena setelah malam pelantikan itu kami sudah resmi menjadi anggota Gorazper dengan membawa angakatan 2009 dan itu artinya tidak ada lagi penindasan-penindasan yang selama kurang lebih satu tahun kami alami. Benar-benar malam yang sangat menyenangkan, terlebih bagi Radit, karena di malam itu juga kami memberikan bantuan yang berupa dana yang selama ini kami kumpulkan untuk membantu Ayah Radit. Perasaan kaget bercampur bahagia sangat terlihat dari raut wajahnya saat saya menyerahkan amplop berisi uang itu kepadanya. Semoga malam itu benar-benar menjadi malam terakhir bagi Radit mangalami kekerasan baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan keluarganya.

halaman 29 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

LIBURAN LEBARAN
Oleh: Jodia Pravita Dini

Liburan

ini, aku dan keluargaku akan berlibur ke Makassar tempat Tanteku. Pagi ini aku berangkat ke Makassar, aku dan keluargaku segera bergegas ke bandara pada pagi hari. Sesampainya di Bandara Hassanuddin, Tanteku dan keluarganya menjemput dengan menggunakan mobil keluarga. Rasanya rindu sekali karena sudah lama tidak bertemu mereka. Tujuanku kesana adalah melihat kedua sepupuku yang masih kecil, Andrew dan Darrent namanya. Tetapi aku lebih dekat dengan Darrent. Darrent adalah anak kedua Tanteku, wajahnya mungil dan menggemaskan. Ekspresinya polos saat aku memberinya sebuah coklat. Hari kedua di Makassar, kedua sepupuku itu sungguh manis dan tidak cengeng. Tetapi ketika Darrent melakukan kesalahan kecil yang biasa anak kecil lakukan,Tanteku langsung memarahi dan memukulnya. Aku dan Ibuku kaget karena hal tersebut sangat wajar dilakukan anak seumur Darrent. Dia pun menangis tersedusedu dan berlari kearahku. Aku peluk dia, dan tak lama dia bercerita dengan kosa kata seadanya. Ternyata Tanteku sudah sering memarahi bahkan main tangan kepada anak-anaknya. Selama aku di sana memang terlihat sering sekali Tanteku melakukan hal itu. Ibuku sebagai kakak dari Tanteku sudah member nasihat, tetapi tak didengarkannya.
halaman 30 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

Aku hanya bisa diam jika Tanteku melakukan hal itu lagi. Akhirnya aku mengajak Andrew dan Darrent untuk jalan-jalan ke pantai Losari. Mereka terlihat senang dan lepas dari kejenuhan. Aku senang bila sepupu-sepupuku senang.

halaman 31 dari 83 halaman

serta tubuhnya yang tinggi ramping membuat semua orang tertarik padanya. gadis yang saat itu berusia 18 tahun dengan wajahnya yang cantik. dan bisa menemaniku saat susah maupun mudah. hanya berbeda jalan saja. serta saat aku kesepian. saat sedih maupun senang. Saat aku memiliki masalah. Tapi ia sudah dekat dengan kehidupan malam. pagi itu aku dan Kinan. Badannya tinggi. mencoba melarikan diri dari Ibunya. Umurnya baru 15 tahun tapi ia terlihat seperti 20 tahun. Kinanti Maharani. halaman 32 dari 83 halaman . Ia baik. KINANTI! Oleh: Juwita Anindya Anak itu bernama Cinta. wajahnya cantik mirip seperti Ibunya. sahabatku. Seperti biasanya. Saat berangkat kuliah. gayanya yang anggun. berangkat ke kampus yang tidak terlalu jauh dari rumah kami. Kinanti Maharani.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen CINTA. Sepertinya hidup Kinan sangat sempurna. aku selalu menceritakannya pada Kinan. langsing. Sebagai sahabatnya. Kinan adalah sahabat terbaikku sejak aku bersekolah di Taman Kanakkanak. Begitu juga dengannya. kadang aku pun ingin menjadi dirinya. Cinta mencoba melarikan diri dari kehidupannya. aku selalu bergantian membawa mobil dengannya. ramah. ceria. Rumahku dan rumah Kinan memang berdekatan.

Tiba-tiba handphone-nya berdering. sampai akhirnya mereka halaman 33 dari 83 halaman . Aku mulai bisa menebak sepertinya yang meneleponnya adalah laki-laki yang sedang dekat dengannya. wajar kalau ia sangat perfeksionis dalam mencari pasangan. Lo nanti malem mau ketemuan ya?” “Iya. Kinan masih asyik bercakap-cakap di handphone-nya. Pembicaraan mereka terdengar sangat akrab.” “Paul? Temen baru?” “Ya. Nan?” “Namanya Paul. Dia kuliah di Universitas Nusantara.” “Badannya atletis?” “Ya. Kinan dan Paul sering jalan berdua. Sampai saat itu Kinan belum mempunyai pacar.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Hari itu Kinan terlihat cantik dengan bando pita putih di kepalanya. sesuai sama persyaratan lo. Dugaanku semakin kuat. Dia oke banget. tau nggak siapa yang nelepon gue barusan?” tanya Kinan padaku sambil memasukkan handphone ke tasnya lagi. Nin! Kayaknya sih dia juga suka sama gue. Ia juga selalu memakai pakaian yang modis. Bila ia tidak suka.” “Seagama?” “Ya.” “Wah perfect banget dong. “Siapa. lho. hari-hari Kinan semakin berwarna. “Nin. maka ia akan langsung menolaknya dan berkata bahwa ia tidak mau dengan lakilaki itu. Itulah salah satu kekurangan Kinan. Ia terlihat sangat bahagia. Kemaren gue ketemu dia di kafe. Setelah lama mereka bercakap-cakap.” Kami pun sampai di kampus. Aku menggeleng. Dengan gayanya yang anggun ia mengangkat panggilan itu. Oleh sebab itu tidak sedikit pula laki-laki yang sakit hati dibuatnya.” “Boleh.” “Tajir?” “Ya. Aku sendiri tidak tahu siapa yang menelponnya. Paling nonton sama makan aja. Nanti kapan-kapan gue kenalin ya. ia tidak memikirkan perasaan laki-laki yang menyatakan cinta padanya. Bahkan tak jarang lakilaki yang ditolaknya mentah-mentah. soalnya dia ngajakin gue kenalan.” “Bawa mobil kemana-mana?” “Ya.” “Pastinya. Pokonya oke banget deh. gue sama dia mau jalan. aku mendengar mereka akan bertemu malam itu juga. Sesekali Kinan menengok ke arahku yang sedang menyetir lalu tersenyum centil.” “Dia ganteng?” “Ya. Tak pernah lupa ia percantik bibirnya dengan sentuhan lipgloss warna softpink. Untuk gadis secantik Kinan. Semenjak berkenalan dengan Paul.

Ia merasa malu dan takut menghadapi kenyataan. Tak tanggung-tanggung seringkali Kinan melemparkan barang-barang di rumahnya sambil menangis. Namun saat itu Paul meminta lebih. Entah mengapa saat teringat masa-masa mereka berpacaran Kinan selalu marah. memukul. Aku melihat ke arah perut Kinan. adalah satu kata yang Kinan tanamkan dalam hati. Seringkali Paul memarahi. Namun sayang. Kinan bingung. Kinan menuruti semua instruksi Paul. Hari demi hari ia lalui dengan perasaan yang kacau balau. Di suatu malam. Seperti biasanya. mereka pun terlarut dalam hubungan badan. Aku baru mengetahui kalau ternyata Kinan telah hamil dua bulan saat menikah. Menghadapi kelakuan istrinya. Kinan hanya bilang kalau ia sudah merasa cocok dengan Paul.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen resmi berpacaran atau biasa disebut jadian. tetapi Paul tidak ditemukan. Tapi hatinya selalu berdalih dan berusaha meyakinkan kalau semua itu akan aman dan baik-baik saja apalagi Paul selalu memaksa. Wajah Kinan pun terlihat sangat bersedih. Tapi entah apa yang membuat mereka memutuskan untuk menikah begitu cepat. Kinan pun semakin sakit hati. Masalah pun datang saat Kinan memeriksakan diri ke dokter dan hasilnya ia hamil. Kinan bilang beberapa kali ia melakukan hal tersebut meskipun ia tahu kalau semua itu dilarang oleh agama dan hukum. menampar. Kinan bertemu dengan Paul. Hari itu Kinan melahirkan di sebuah rumah sakit ternama. Resepsi pernikahan mereka digelar begitu meriah. ia hanya terlihat gemukan. Kinan menangis. Paul pun meyakinkan Kinan kalau semua akan baik-baik saja. Sesampainya di sana. Lalu tibalah saat yang ditunggu-tunggu oleh setiap pasangan. Kinan menceritakan semua kronologi kejadian sampai mereka menikah. Aku tersentak tak percaya. Gaun pengantin Kinan pun sangat mewah. Mereka terlihat cocok sampai akhirnya mereka menikah satu tahun setelah jadian. Tak ada sesuatu yang aneh pada hubungan mereka. Tak jarang pula kami pergi bersama. Saat itu umur Kinan baru menginjak 19 tahun sedangkan Paul 22 tahun. Beberapa bulan setelah mereka menikah. Rumah tangga yang dibina Kinan dan Paul semakin tidak harmonis. Paul semakin tidak tahan. Semua keluarga besar sudah mencari Paul kemana-mana. Masalah Kinan dan Paul semakin rumit. Mungkin Paul melarikan diri ke luar negeri. saat semua kelarga dan sahabat-sahabatnya menjenguk. Tak lama kemudian Paul bisa mengakrabkan diri denganku dan juga Dino. Sepertinya ia teringat sesuatu dan segera menceritakannya padaku. Kinan pun menyanggupinya dengan senang hati dan tanpa pikir panjang. mereka nonton dan makan malam. Mereka pun menuju rumah kedua Paul yang hanya dihuni oleh dua orang pekerjanya. Percaya. bahkan mengurung Kinan di kamar mandi karena Paul menganggap Kinan sudah gila. Tapi akhirnya kedua orangtuanya pun tahu sampai akhirnya Kinan dan Paul menikah. pacarku. halaman 34 dari 83 halaman . tak seperti orang hamil. Paul menghilang. Sebulan sebelum Kinan melahirkan. Malam itu. Paul justru tidak terlihat kehadirannya.

Ia hampir tak pernah menangis. Saat Cinta mulai bersekolah. tidak bisa bergaul. Paul bisa kembali dan mereka bertiga bisa berbahagia. mengurung di kamar mandi. Semenjak Kinan marah padaku. Aku mencari Kinan. Tetapi saat orangtua Kinan datang menjenguknya. dan tertutup. Entah masalah apa yang membuat Kinan semakin terguncang. Tapi wajahnya sudah berbeda. Cinta pun berbicara padaku. Aku merasa keluarga mereka memang benar-benar hancur. tapi Kinan justru marah padaku. Aku merasa Kinan sudah tidak menganggapku lagi. memukul. Kinan bisa bersikap biasa. Aku mencoba mengajak Kina ke psikiater. Namun seiring berjalannya waktu. Kinan berharap dengan hadirnya Cinta. Alamat Kinan memang masih di Bandung. Anehnya. Kinan selalu mengancam jika Cinta menangis maka ia akan menambah hukumannya menjadi semakin berat. Ibunya sendiri. Cinta sangat kuat. ia semakin terlihat sebagai pribadi yang pendiam. ia cantik tapi tetap saja ia tidak bisa ramah. sampai menyuruh Kinan memakan makanan basi. Ternyata sejak kecil ia biasa diperlakukan kasar oleh Kinan. Cinta menjadi korban dari kebodohan kedua orangtuanya sendiri. Aku berusaha menghibur Cinta. aku ingin memperbaiki hubungan persahabatan kami yang sempat renggang. Aku berusaha mencari Paul. tapi Cinta malah memberi selembar kertas berisi alamat yang ia bilang itu alamat rumah Kinan bersama suami barunya. tanpa segan-segan ia memarahi anaknya itu serta memberinya hukuman mulai dari mencubit. Sampai akhirnya semua mulai terlihat saat Cinta sudah berumur 10 tahun. Suatu hari aku ingin sekali menjenguk Kinan. Sesampainya di sana aku melihat seorang gadis belia yang aku kenal. Dia pasti Cinta. Hari demi hari ia lewati dengan berdiam. Bila Cinta melakukan kesalahan. Termasuk kepadaku. yang lebih tepatnya tidak sesuai dengan keinginan Kinan. tapi hasilnya nihil. Melihat aku termangu. ia hampir tak pernah mau lagi bercerita padaku. Bahkan di hadapanku Kinan masih bisa bercerita tentang kehidupan kelamnya. Paul tak kunjung kembali. Bahkan beberapa bulan kemudian Kinan dan Cinta pindah rumah ke Bandung. Aku pun belum sempat mengunjungi mereka. Bahkan yang aku herankan Kinan meninggalkan Cinta tinggal sendirian. Mungkin ia putus asa dengan keadaannya sekarang. Aku langsung kaget mendengarnya. Cinta sudah dewasa. Harapan Kinan pupus sudah. tapi aku merasa kasihan. Hidup terasa mulai normal. halaman 35 dari 83 halaman . tapi tidak dekat dengan Cinta.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Bayi mungil yang cantik itu pun diberi nama Cinta Kinanti Ananda Paula. Orang tua Kinan selalu berkata kalau Kinan dan Cinta baik-baik saja di tempatnya yang baru. Kinan malah menangis dan terkadang ia memarahi Cinta. Aku pun memercayainya. Entah apa yang ada di hati Cinta. tetapi Cinta tak mau berbicara sepatah katapun padaku. Aku pun ke Bandung dan mencari alamatnya. setiap melihat Cinta. Tak ada yang tahu secara detail bagaimana Kinan membesarkan Cinta tanpa seorang suami.

Dia nggak pernah peduli sama gue. cuma bisa nyiksa. Nggak kayak Ibu yang lain. halaman 36 dari 83 halaman . Ibu cuma bisa marahmarah. cuma bisa mukul. Bahkan dia kawin lagi juga nggak bilang gue.” Aku tersentak.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Gue lebih baik hidup tanpa Ibu. Gue mati dia juga nggak peduli kayaknya. Ibu selalu ngasih gue hukuman. dan cuma bisa bikin aku diperkosa.

yaitu SMA. salah satu teman sekelas halaman 37 dari 83 halaman . siap memulai pelajaran pertama. Sampai pada saat bel pulang sekolah dibunyikan. Pada hari pertama MOS.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Oleh: Dwi Cahyaningtyas (untitled) Semua itu berawal dari kelulusan kami dari SMP. Niken dan aku sekelas. Keesokan harinya kami mulai masuk sekolah seperti biasa. Guru pun masuk kelas dan semua berjalan wajar sebagaimana harusnya. Kami berteman sejak duduk di kelas dua SMP. semua berjalan biasa saja tidak ada yang istimewa. Sampai saat MOS berakhir di hari ketiga pun tidak terjadi suatu kejadian yang berarti. sedangkan Tia dan Nia berada di kelas lainnya. Lalu datang Niken yang langsung nimbrung pembicaraan yang kita bertiga lakukan. Niken orangnya supel. Untungnya. Kami semua sangat senang karena berhasil masuk salah satu SMA unggulan di Jakarta. karena dari SMP kami hanya kami berempatlah yang diterima di SMA tersebut. Kami berpencar untuk mencari kelas kami masin-masing. saat itu Tia dan Nia yang sudah berteman lebih dulu menyapaku yang duduk sendirian di dalam kelas. yang berarti kami akan menjejak ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Meskipun tidak semua dari teman kami diterima di SMA tersebut. sedangkan Tia dan Nia tidak pernah ketinggalan hal-hal yang menyangkut tren dan mode yang ada.

Pada saat kami menjadi siswa kelas tiga. kami pun dimarahi habis-habisan dan aku mellihat beberapa temanku ditampar dan dipukuli. pada akhirnya anak laki-laki disuruh tawuran dengan sekolah lain oleh kelas tiga. Perlakuan itu terus berlanjut hingga kami memiliki nama angkatan. anak-anak kelas tiga juga sudah banyak yang datang. perlakuan kekerasan yang kami alami sudah menjadi tradisi turun-temurun di sekolah kami yang akan terus berulang di tahun-tahun berikutnya. Tak ketinggalan. melainkan berkumpul si suatu daerah dekat sekolah atas perintah anak kelas tiga. Niken mengajakku untuk ikut menghadiri perkumpulan itu atas dasar solidaritas teman. Sebagian dari kelas memutuskan akan datang ke tempat yang sudah ditentukan tersebut karena takut akan kelas tiga. Tiga tahun sudah kami bersekolah di sana. Kami pun merasa tegang akan situasi tersebut.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kami mengumumkan agar kami tidak pulang dulu. akhirnya kami berempat ikut berkumpul sepulang sekolah. halaman 38 dari 83 halaman . setelah dirasa cukup banyak anak kelas satu yang berkumpul. sebagian lagi tidak peduli dan memilih segera pulang ke rumah. Seseampainya di tempat yang ditentukan. kelas tiga segera memerintakhkan kami untuk berbaris. kini giliran kami untuk mendidik kelas satu seperti pada saat kami dididik dulu. ternyata di sana sudah banyak anak-anak kelas satu yang berkumpul.

namaku Ananda. Senang atau tidak itu fakta yang ada. Jakarta. aku suka dipanggil Nanda.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen CERPEN TENTANG KEKERASAN Oleh: Kartika Putri Di tempat ini aku dilahirkan. teriakan itu seketika membuyarkan lamunanku. aku putuskan untuk berjalan kaki. “Toh sebentar lagi aku juga sampai” pikirku dalam hati. mahasiswi salah satu universitas di Indonesia. suara bising robotbaja-berjalan. “Hei!!!!” Sungguh. robot-baja-berjalan begitu padat merayap di pagi hari. Jakarta. Oh iya. aku juga suka memperhatikan keadaan lingkungan sekitar dan menuliskannya dalam beberapa kata sederhana yang orang-orang biasa menyebutnya puisi. Sungguh jauh perjalanan menuju kampus. aku halaman 39 dari 83 halaman . Aku berbelok ke jalan kecil yang berhubungan dengan kampusku. Hiruk-pikuk sibuk ibukota. tebalnya polusi udara. pusat ibukota beserta keramaian yang bercampur aduk di dalamnya. aku tersentak. tembok-tembok beton gedung perkantoran. Tidak terlepas dari kegiatan sebagai mahasiswi. dan semakin sedikitnya lahan hijau yang ada menambah panas matahari ini semakin terasa menyengat. Jalan kaki lebih menyehatkan dan mengurangi polusi selain itu aku juga mencuri waktu untuk menghabiskan waktu itu sendiri tanpa ada gangguan. tidak terlepas dari kekerasan yang menyelimuti.

“Hei!!!! Iya sini bocah!!!” Masih tertegun dengan teriakan itu.. Jangan diambil. Ya. “Heh! Mana setoran. Bocah pengamen itu seakan-akan tahu dan cemas apa yang akan terjadi pada dirinya.. menyaksikan setiap adegan-adegan yang seperti di tuai dalam acara reality show di televisi kebanyakan. mereka preman. Tiga orang laki-laki bertato. Tidak mungkin mereka memanggilku. masih kecil juga!” “Itu uang untuk beli obat ibu di warung. Saya mohon. tangannya ditarik dan dipukulnya kepala si pengamen oleh tangan besar sang preman. lagi-lagi kekuatan berjaya.. bakalan mati kalo nggak makan!” Pengamen itu bersikeras merebut kira-kira lima lembar uang seribuan dan satu lembar uang lima ribuan dari tangan-tangan kotor si preman. Aku melihat di kejauhan dan tetap melihat.. salah seorang dari preman tersebut menoyor kepala pengamen cilik itu. dan tawa yang lebih tepatnya tawa kekejaman. saya. Semua orang tanpa harus bertanya berapa usiaku juga tahu itu. tetapi ini terasa lebih nyata.... saya..” Pengamen itu gemetar.” “Eh. Ya.” “Iba-ibu! Siapa juga yang peduli sama ibu. “Ng. baju yang entah berwarna putih atau cokelat pudar lusuh itu sudah tidak jelas warnanya—kumal dimakan waktu. nggak. si pengamen hanya bisa mengelushalaman 40 dari 83 halaman . bohong aja lu! Berani bohong sama gua!!” “Cepet periksa sakunya!! Pasti dia bohong!” “Nggak Bang. Tiga preman tadi memanggil seorang bocah pengamen dengan gitar kecil. aku memutuskan untuk berhenti. perawakan besar lengkap dengan baju serta gelang tangan anyaman menghiasi tangan mereka. lu?!” “Iya mana? Jangan berlaga bego. kulit gelap yang membuat semua orang akan merinding melihatnya. Aku memutuskan untuk duduk di dekat warung dan membeli sesuatu agar bisa mengamati preman-preman itu tanpa harus dicurigai. lu! Orang juga nggak ada yang peduli sama gua!! Ibu lu nggak bakalan mati kalo nggak minum obat!” “Lain sama kita... Lengan yang begitu kecil diselimuti berbagai macam luka. Langkahnya gontai. Saya belum ngamen hari ini.. Aku yakin bukan aku yang mereka maksud. Pasang tampang polos pula!!” Bocah pengamen itu seraya berjalan agak mundur sedikit dan menunduk. Pengamen kecil itu berdiri memegang kepalanya sesekali ia berjalan agak sempoyongan ke arah warung dan duduk di sebelahku.. Pengamen itu jatuh tersungkur di tanah. Ia melangkah takut-takut menghampiri tiga preman tadi... sandal jepit lusuh yang sudah tipis solnya. Aku bukan anak-anak lagi. a. Dugaan dan firasat yang kuat salah satu kelebihanku. tawa membahana. ada. premanpreman meninggalkannnya dengan tawa keras.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen menoleh. Rupanya kening si pengamen lecet begitu juga dengan lengan kanan yang menopang kepalanya tadi... bang.. Bang. Malangnya si pengamen.. “Ini apa??!! Bukan duit?! Berani lu ya sama gua. saya. deh. Bang. Ibu lagi sakit demam.

semua menjadi tumpah ruah di sini. dan rasa terima kasih mereka. Hati-hati kalo bawa uang nanti diminta preman lagi. tetapi begitu menyimpan makna. nyanyian kebahagiaan mereka. walaupun kelihatannya kecil.. gelak tawa mereka di kala hujan. Saya kesian aja ngeliat kamu dianiaya sama mereka. tak hanya duka tetapi juga suka. Ibu penjaga warung memberikan air mineral kemasan kecil dan memberikan plester kepada si pengamen. Wajah bocah pengamen berseri sekali saat memakai plester pemberian ibu itu dan meminum air mineral yang rasanya biasa saja. Ibu sudah sering menolong saya” “Nggak apa-apa. Bu. halaman 41 dari 83 halaman . Dek. Ternyata di jalan sempit ini menyimpan begitu banyak cerita. “Wah. Setidaknya... begitu banyak duka. terima kasih ya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen ngelus kepala dan lecet di lengan kirinya. kebahagiaan seperti itu dapat mereka —orang tertindas—rasakan melalui uluran tangan-tangan Yang Maha Kuasa.” ibu penjaga warung benarbenar tulus membantu. Duka bocah pengamen tertindas.

Gambaran tentang kondisi sosial yang mengenaskan. Aku melihat dengan nyata praktek kekerasan oleh orang dewasa kepada anak kecil yang terjadi di jalanan ibukota. Jembatan dekat ITC Cempaka Mas. Banyak sekali anak-anak sekitar usia 4-12 tahun yang sudah mencari penghasilan dengan cara menjadi pengamen dan pengemis. kenaifan dan kebebasan seakan tanpa kontaminasi sudah tidak dapat kita lihat lagi.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen TINDAK KEKERASAN PEMERINTAH TERHADAP ANAK-ANAK JALANAN Oleh : Khamim Hudori Kekacauan dunia politik di tanah air dan kekerasan-kekerasan yang terjadi belakangan ini di berbagai daerah dan ibukota menyisakan kerisauan yang mendalam bagi anak-anak. Sedih sekali melihat Jakarta yang katanya kota metropolitan. banyak gedung-gedung megah berdiri. potret wajah-wajah bocah yang kelaparan dan kepedulian para orang tua di pengungsian dapat disaksikan di media masa. dunia fantasi anak. yaitu halaman 42 dari 83 halaman . yang senantiasa menampilkan keindahan. taman bermain anak. Di kolong jembatan itu. Jakarta Pusat. tetapi masih ada satu sisi yang sering dilupakan oleh pemerintah.

Dan ternyata itu Pak Bruto yang kemarin.. Tidak lama. “Yee. Sebenarnya nama asli saya Luki. maka dia dipanggil Buluk di lingkungan sekitar kolong jembatan. Coba ke sini sebentar!” aku panggil anak kecil itu. “Namanya siapa. Kak. kita ngasih duit hasil ngamen tadi ke dia. Pake nanya lagi. Ya. Nah.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen nasib anak-anak jalanan yang tak sekolah dan dapat perlakuan yang tidak wajar oleh para orang tua mereka. Bagaimana cara untuk kita dapat bisa dapet uang di jalanan. Saya juga maunya sekolah. Terpaksa saya hidup di jalanan seperti ini. Tepat di lampu merah Cempaka Mas.” jawab bocah tadi. anak sekecil itu sangat tidak pantas untuk mencari uang di jalanan halaman 43 dari 83 halaman . “Ada apa. aku berjalan di jembatan itu lagi untuk mengenal bocah tadi. “Maaf.” Luki langsung lari ke deretan mobil yang sedang menanti lampu hijau menyala. Setelah Luki selesai ngamen dan memberikan setoran ke Pak Bruto. Kak. terdengar suara anak kecil sedang menyanyikan lagu ST 12 di depan mobil Alphard. Besoknya. Pak. “Buluk!!! Cepetan sana ngamen lagi. uang receh lo tadi..” “Kamu umur berapa. sang bocah tadi pun kembali ke kolong jembatan. “Luki. Kak. nanti abis ngamen. Kak. Padahal nama aslinya adalah Luki.” Luki berbicara dengan sedihnya. “Iya. sebenarnya pak Bruto itu siapa?” tanya saya.. lampu merah tuh!!” bentak Pak Bruto sambil menghisap sebatang rokok dan menghitung uang setoran anak-anak dari hasil mengamen. “Woy. kasih ke gua!” bentak bapak tadi ke anak kecil itu. ada suara memanggil Luki dengan nada keras. Kak.. “Pak Bruto itu yang ngajarin anak-anak di sini ngamen. Ibu saya sudah tiada. Di kolong jembatan itu. Trus nanti kita dapet bagian juga. Ada apa?” tanya anak kecil itu.. Buluk. “Dapatkah aku memeluknya.. Kak. Dek?” “Panggil saja saya Buluk. bapak saya juga entah kemana. Pak Bruto?” tanya anak itu. Sungguh.. apa boleh buat. Kak. Saya sudah putus sekolah. Ini uangnya.” Setelah lampu hijau. memberikan warna yang bisa menjadikan indah. “Iya. Pak..” jawab Luki dengan ketakutan dilihat oleh pak Bruto. Karena dia berpakaian yang sangat kusam dan agak kotor. ada seorang bapak sekitar umur 35 tahun. Di sanalah aku kenal seorang bocah kecil yang biasa dipanggil Buluk. Dek? Apakah kamu masih sekolah?” “Saya umur 9 tahun. Yaaa. Mmm. Sini lo!” panggil bapak tadi ke bocah yang baru mendapat uang receh dari mobil Alphard. menjadikan bintang di surga. Sini. Saya panggil lagi bocah itu. “Dek. Sudah tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolah.

halaman 44 dari 83 halaman . semua anak-anak Indonesia berhak mendapat pendidikan yang murah dan tidak ada lagi anak-anak jalanan seperti Luki tersebut. Karena anak-anak itu mempunyai hak untuk bersekolah dan untuk menatap masa depannya. tapi malah menjalani hidup dengan keras di alam kolong jembatan tersebut. apakah ada seorang bapak yang tega membiarkan anaknya hidup di kolong jembatan seperti ini dan apakah pemerintah sudah menjalankan apa yang seharusnya mereka kerjakan. Amin. Mereka yang seharusnya sedang asyik-asyiknya bermain dan sekolah dengan teman sebaya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen dengan cara mengamen. yaitu memelihara dan menjamin anak-anak tidak mampu itu untuk mendapatkan pendidikan yang layak? Bukankah tindakan pemerintah yang tidak menjamin anak-anak itu sekolah juga suatu tindakan kekerasan? Semoga saja pemerintah benar-benar serius dalam menjamin pendidikan anak-anak tersebut. Dan semoga saja. Saya sedang berpikir.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KAU DAN KEKERASANKU Oleh: Khaula Fathina “Kamu jahat banget sama aku!” kalimat ini kan yang ingin kau katakan untukku?! Tapi selama ini kau hanya diam saja aku perlakukan seperti itu. Kau menunduk diam membisu. Kau bosan dan aku pun bosan. aku bangun dan membentak. Begini tiap hari suasana pagi. PAKK!!! Tamparan keras mampir di pipimu. Hampir setiap hari tanganku ini menamparmu. Dan kau tahu sikap kasarku selama ini karena alasan itu. Padahal sudah 8 tahun kita sudah menikah. Kau merasa bersalah karena sampai saat ini kau belum mempunyai anak. “Apa yang kau kerjakan dari tadi! Suami bangun bukannya dikasih kopi atau apa! Ini malah sibuk beres-beres rumah! Istri macam apa kau!” satu tamparan lagi kena di wajahmu. Tiap hari aku berlaku kasar padamu. “Malah diam saja lagi! Cepat buatkan aku kopi!” bentakku. Tak berkata apa-apa dan tidak melakukan apa-apa. kau bebenah rumah. aku mau belanja dulu ke pasar. tapi kau terima saja. tolong jaga rumah ya. Dan kau pun tetap diam membisu sambil berlalu ke dapur.” halaman 45 dari 83 halaman . “Mas.

Saat-saat sendiri di rumah adalah saat yang membuat kau tenang. Kau mencicipi sedikit sayur asem itu. PRANG!! Kau tersentak kaget waktu aku membanting mangkuk sayur asem itu. kau hanya membeli sayur dan lauk pauk yang akan dimakan hari ini. aku tidak bisa memberikan keturunan kepadamu. Mas. Kertas itu. Tidak ada tamparan di pipimu. Aku titip rumah. Lalu meninggalkannya di atas meja samping ranjang. Tidak ada amarahku. Di pasar. membuat siapapun yang melewati meja itu dapat membacanya. Dan aku merasa tertekan mas atas hal itu. Aku tahu. kau pun bergegas pulang ke rumah. Lalu memasukkan juga beberapa barang keperluan lainnya ke dalam tas. Kau menuju lemari dan memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas. kau masuk ke dalam kamar. Aku hanya mengangguk dan kau pun pergi ke pasar. Mas. Setelah rumah rapih. Mas. Jaga dirimu baik-baik. Seakan-akan takut diikuti seseorang. dan langsung menuju ke dapur. “Tidak usah! Aku makan di luar saja! Kau jadi istri kok gak becus ngurus suami!” bentakku kepadamu. Pulang ke rumah pun seperti mengendap-endap. Kau menulis beberapa baris kalimat di kertas itu. Aku akan buatkan yang baru. Barisan-barisan kalimat yang kau tulis di kertas itu menunjukkan alasan mengapa kau pergi meninggalkan rumah dan suamimu begitu saja. aku pulang ke rumah orang tuaku. Aku bukan istri yang baik. Seperti tidak mau terlihat olehku. Kau mengambil secarik kertas dari laci lemari dan sebuah pulpen. Aku selama ini selalu sabar menerima puukulan dan tamparan juga bentakanmu padaku. Hatimu was-was takut kena bentak lagi olehku. Maaf. Kau memasak sayur asem kesukaanku dan ayam goreng. Setelah selesai semua. Aku sudah tak sanggup lagi untuk menahan segala perlakuanmu kepadaku. Tanpa berkata apa-apa kau meninggalkan rumah dengan terburu-buru.” ujarmu. “Maaf. Rupanya hari ini kau terlihat ingin berdamai denganku. Kau mulai beres-beres rumah kembali setelah aku pergi meninggalkan rumah. Terbuka rapih di atas meja. Kau diam menerima omonganku. Tapi kali ini aku menyerah mas.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Kau pamit. halaman 46 dari 83 halaman . kertas yang kau tinggalkan. Tidak ada pukulan keras dariku. “Cih! Masakan apa ini? Sayur asem manis begini!” ludahku sewaktu mencicipi sayur buatanmu. maaf aku pergi meninggalkanmu.

Namun tampaknya itu semua hanya bunga khayalan saja. Ditatapnya langit kelam yang tak memberi kasih tanpa cahaya lekat-lekat seakan meminta pada Tuhan agar diberi sedikit saja kesempatan untuk bisa mengecap nikmatnya dunia tanpa siksaan batin yang mahadahsyat dan mencekam. Ia terduduk dengan wajah yang masih menatap kelamnya cahaya langit. Flora hanya bisa menjerit di batinnya. Wajar bila Flora tak dapat menyebarkan senyum anggunnya. Begitu berat ia menggenggam rantai kebencian pada hidup bersamaku yang dijalaninya. Wajahnya tetap gelap tanpa ada cahaya yang menerangi. Sejak kami mengucapkan sumpah sehidup-semati saat pernikahan kami. Aliran sungai terasa begitu deras di setiap detakan jantungnya. Tak sedikit pun senyum keluarga halaman 47 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen CINTA TERLARANG Oleh: RA Koeshamimurti Tosani Natya Lakshita Flora. Telah belasan tahun batinnya tersiksa dan perasaan tenang pun tak dapat ia raih. Itu semua karena cinta kami berdua. tak sedikit pun cinta kasih kami direstui oleh orangtua. Gadis itu masih termenung di antara batuan cadas hitam yang menemani setiap jeritan lamunannya. cinta Flora dan Fajar. walau pada wajah mulusnya begitu ringan rasanya ia menebarkan bunga cinta kasih pada orang-orang. Angin hanya lalu-lalang dengan wajah iba. dan Tuhan pun tak kunjung memberinya pertolongan.

“Cinta kita akan terus abadi. Aku tak ingin kau dibunuh. namun kekuatan pemuda terahir telah melumpuhkan nyawaku. Aku tak ingin kau mati sendiri tanpa kehadiranku. Dan bila kami tetap melanjutkan mahligai pernikahan kami. Dia tersenyum menyambutku dan ingin menjemputku ke surga. Flora pun menebaskan pisau itu ke lehernya dan bercucurlah darah. Saat tiga preman jalanan datang menyiapkan pedang maut mereka. menjalani kehidupan abadi yang penuh dengan bunga cinta dan kasih. “Fajar. tetapi kau harus yakin. siap pergi bersama ke dalam surga cinta yang sejati. Aku sudah lelah dengan ancaman-ancaman yang terus menyiksa batinku. Keesokan harinya tercium kabar bahwa orang tua Flora akan menyuruh para preman jalanan untuk membunuhku agar kami tak bisa lagi bersama. Namun. di sela jerit kesakitanku. Di sana aku berbahagia bersama Flora selamanya. Saat pertama aku berhasil melumpuhkan dua orang pemuda. Maka aku akan membunuh diriku sendiri sebelum kau dibunuh. aku percaya aku akan menyusulnya nanti di alam sana. aku melihat pintu gerbang cahaya kematian datang di depanku.. aku sudah siap dengan sebilah badikku. Namun tiba-tiba. Sebuah pedang tajam menembus jantungku semakin dalam. Flora ada di sana. Flora pun mengambil sebuah pisau tajam yang telah diasah olehku. ia menggenggam tanganku erat. cinta kita tetap abadi. Aku pun menjerit histeris melihat Flora telah mati di sampingku.” Dengan berpasrah segalanya pada Tuhan. aku sudah lelah dengan semua ancaman orang tua kita yang terus memisahkan kita. Aku merasa dunia bukan tempat cinta yang bahagia. Mataku pun terpejam dan bayanganku pun menggenggam erat tangan Flora. halaman 48 dari 83 halaman . Aku hanya bisa menahan kesakitan.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen mengharumkan pernikahan kami. cinta kami akan selalu dipisahkan dengan cara apa pun. Sebelum ia bunuh diri.. agar di surga nanti aku dapat menyambut dirimu dan berbahagia selamanya di sana.” Aku hanya dapat bergumam pasrah dan kemudian air mataku jatuh tak tertahan lagi. “Kau boleh pergi dahulu ke surga sebelum diriku. Aku ingin kau terus ada disampingku. pertanda bahwa Flora sudah siap menjalani niatnya untuk mengakhiri hidup di dunia menuju kehidupan abadi.” Setelah mengucapkan sumpah setianya pada cinta kami berdua. Mendengar kabar itu Flora menghampiriku dan berkata dengan tangis yang terisak-isak. Aku tak ingin berpisah selamanya denganmu. tetapi di surga sana.

benderamu!” Ibuku menyodorkan bendera yang baru digosok kepada Bapak. Dan setiap kali tiba hari-hari bersejarah. halaman 49 dari 83 halaman . Peti itu berisi lencana-lencana. dicucinya bendera itu sendiri. Dengan hati-hati ditaruhnya bendera itu di atas sebuah peti kecil dari kulit yang usianya sebaya dengan usia almari.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen BENDERAKU Oleh: Krisna Karim Z “Nih Pak. yang ditaksir sekira hampir seabad. Bau harum pelembut kain menyebar keseluruh ruangan. Di sebelah kanan peti diletakkan Al-quran yang berukuran lebih besar daripada biasanya. kemudian disimpan di tempat yang spesial. Sejak dulu memang Bapak sangat mencintai bendera merah putih dan tampak menjadi-jadi setelah tidak mempunyai kegiatan lagi. dan benda kesayangan bapak lainnya. Bapak adalah mantan pejuang angkatan ’45 dan telah pensiun dari kepala satpam di pabrik gula. Diperlakukannya bendera merah-putih dengan khusus. Bapak menuju almari jati kuno yang berada di kamar Bapak sambil mendekap bendera di dadanya. Begitulah tatanan rak paling atas dalam almari Bapak. Tidak pernah berubah sejak bapak pensiun dari pekerjaanya. Terdengar ada nada mengolok pada suara ibu ketika menyebut ‘benderamu’. piagam penghargaan. bendera itu selalu siap dikibarkan di halaman rumah.

kok tidak pasang bendera?” Padahal ia tahu betul itu bukan hari bersejarah. Pekerjaan itu dilakukan selama 4 hari berturut-turut sejak tanggal 14 sampai tanggal 18 Agustus. begitu alasan Ibu. tahunya cuma makanan saja. Bapak memasang bendera. kemudian ia cabut tiang bendera yang terbuat dari bambu dan dipanggulnya menuju tempat yang teduh. bendera didekap di dadanya. Tentu saja melihat ulah Bapak seperti itu. Mula-mula kami khawati Bapak menderita gangguan jiwa. Pagi hari Bapak memanggul tiang bendera untuk dipasang di halaman. Pak Dhe Mas Toro? Dia juga pejuang ’45. Ritual ini dilakukan dua tahun berturut-turut semenjak Bapak pensiun. Bapak memasang kembali bendera itu. Mas Toro. “Ibu kenal Pak Samsur. pacarmu itu. Dulu katanya pernah berjuang bersama Bapak. aktivitas Bapak kian repot lagi. Ceritanya hari itu tanggal 10 November.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Sikap berlebihan Bapakku terhadap bendera itu menurut kami sering menimbulkan masalah kecil dalam keluarga. Dan hal itu yang membuat kakakku malu. Tak lama setelah hujan reda. Bilang sama Toro. calon suami Mbak Nurul tertawa. halaman 50 dari 83 halaman .” Adik lelakiku pernah juga terkena marah sama Bapak gara-gara ketika menurunkan bendera merah putih secara tidak sengaja ia gunakan kain bendera itu untuk mengelap keringat di lehernya. Ada-ada saja. Akibatnya selama satu jam lebih ia harus menerima ceramah dari Bapak perihal bendera itu. Hal itu terulang beberapa kali. orangnya sederhana ya. Juga setiap tanggal 17 Agustus. dan bapak juga mengerti kalau kakakku tengah menyindirnya. Tidak pernah menunjukan kalau dirinya mantan pejuang. kemudian dari teras rumah dipandanginya bendera yang basah terkena hujan. Namun. Wong tugasnya di bagian logistik. kalau Pak Dhe-nya tentara yang takut sama bedhil. dengan suara keras kakakku bercerita. Ibu selalu mengomel kalau hanya halaman rumah kami yang dipasang bendera. Malu. beberapa jam kemudian hujan turun lagi. Dan sore hari menjelang maghrib dipanggulnya kembali ke dalam rumah. Setelah itu. Dengan kalem Bapak menyahut. Namun. Pernah suatu hari ia marah kepada Bapak karena malu sama pacarnya. Setelah makan siang. tapi tidak ikut perang. Kakak perempuanku yang bawel suka sekali menggoda dan mengolok-olok Bapak dengan pertanyaan. Rupanya Bapak tida rela jika benderanya basah. Oleh karena itu. mulut komat-kamit sambil matanya terpejam entah doa apa yang dipanjatkan barulah kemudian bendera dipasang ke tiang. Akhirnya kami biarkan Bapak berbuat sesuka hatinya meskipun kadang-kadang terasa aneh bagi kami. Ternyata tidak ada gejala yang mengarah kesitu.” Dia terus bicara seperti bunyi penyiar radio yang tanpa meminta pendapat pendengarnya. Jadi. Kami semua tahu kepada siapa cerita itu ditunjukkan. ”Pak. “Samsuri itu tentara. Bapakku pun selalu menyempatkan melaksanakan sholat dilanjutkan dengan sujud syukur. Lantas diambilnya lagi tiang bendera itu dan dibawa ketempat teduh. Saat memperingati hari kemerdekaan RI. Di bawah rintik-rintik hujan. Sejak pagi hujan gerimis terus turun. Bu.

Ibu berkata. ”Kenapa? Kamu takut aku mulai gila. ”Lho.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Hati Ibu mulai terusik ketika suatu hari Pak Lik Khasim. Siang hari setelah makan siang. “Kamu ngawur Sim. Setelah basa-basi sejenak.. wong ndableg gitu. ya. Sementara itu Ibu mulai terpengaruh dengan perkataan Pak Lik. Saya lihat Mas mulai berlebihan dalam memperlakukan berdera. dia pun akhirnya menghentikan pembicaraan. Sudah sering ponakanmu mengingatkan namun tak pernah dihiraukan. Pak Lik Kashim sengaja ikut duduk-duduk dengan Bapak di ruang makan sambil mendengarkan musik keroncong dari RRI Jakarta. yang sedang asik menonton telenovela. penyakit yang timbul setelah pensiun. Untuk merebut bendera itu tidak mudah. Lihat saja bagaimana ia memperlakukan bendera. adik Ipar Ibu.” mantap sekali Pak Lik mengucapkan kalimat terakhirnya. siapa tahu Masmu mau mendengarkan!” Suara Ibu terdengar bersungguh-sungguh. namun siapa yang berani mengingatkan Masmu. kalau dibiarkan terus Mas abu terseret dalam perbuatan syirik. sama sekali tidak tertarik ikut nimbrung karena sudah bosan dengan persoalan yang dibicarakan. “Ya. Dibunuh sama musuh. Aku jadi geli mendengarnya—apa hubungannya post power syndrom dengan perbuatan syirik. banyak temanku yang mati! Mati Sim. Kasihan kalau tidak diingatkan. Mas. Pak Lik bosan mendengarnya. Kamu kira pikiranku sudah gila. adik perempuanku. suara bapak mengagetkan kami. seperti memperlakukan benda keramat saja. bukan itu yang saya maksud. Hati-hati lho. Tiba-tiba. Itukan yang ada di kepalamu?” suara Bapak menunjukan kemarahan. kamu tambah ngawur. yang sok tahu mengatakan. Saya khawatir kalau kalu Mas mulai mengeramatkan bendera. “Ya. Seperti biasa Bapak enggan menanggapi taktala ada orang yang membicarakan perihal kecintaanya pada bendera. saya takut. Itu Yu. begitu? Kamu memang tidak pernah ikut berjuang merebut negara dan penjajahan. Semua diam. Saya mengerti.” Dengan menggebu-gebu Pak Lik menerangkan akibat dosa besar itu. Ibu yang berada di ruang tengah sesekali menimpalinya. bagaimana kalau kamu yang mengingatkan. “Yu. Makanya kamu ndak bisa merasakan bagaimana rasanya merdeka dari penjajah!” Dengan penuh semangat bapak menceritakan kisah perjuanggannya di masa lampau. lho. Kok. Kita boleh saja cinta kepada negara dan bendera.sedangkan aku dan Yana. Sikap Bapak yang diam membuat Pak Lik kebingungan. namun jangan sampai keblinger.” Ragu-ragu paklik melanjutkan kalimatnya karena Bapak menampakkan rasa tidak suka. Dengar Sim. Mungkin suamimu terkena penyakit post power syndrom. Coba. segera menuju pembicaraan.” halaman 51 dari 83 halaman .. karena itu dia memotong cerita Bapak. Dengan nada prihatin. ”Maaf. hanya suara radio dan televisi yang berlomba. Mas Abu lama-lama kelihatan makin aneh ya.

Terharu mendengar cerita bapak. aku selalu bersyukur kepada Allah karena masih diberi kesempatan untuk mengibarkannya sepuas hati tanpa ada rasa takut dibunuh musuh!” Kali ini Bapak terdengar bersungguh-sungguh mempertahankan pendapatnya tanpa disertai rasa jengkel. Ibu yang biasanya cerewet dan adikku yang tidak pernah memperdulikan bapak dengan bendera. membela negara diwajibkan oleh Tuhan..BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Bapak diam sejenak menunggu Pak Lik berbicara. Setelah Bapak meninggal. Lama-lama Ketua RT bosan memberi tahu keluarga kami yang nyaris lupa kepada bendera dan tidak pernah mengibarkannya lagi. Tanganku ini harus membunuh pemberontajk DII/TII. ”Mas Abu tidak bersalah. Ternyata di mata Bapak dalam bentangan kain itu terdapat gambar hidup yang menimbulkan pergolakan batin antara perasaan syukur dan penyesalan yang sangat dalam. “Bahkan oleh tanganku. kali ini hanyut dalam perasaan Bapak. Hening. Pak Lik Khasim menjadi salah tingkah.. kami tidak pernah meributkan lagi soal bendera.” ujar bapak. kemudian berdoa sambil mendekap bendera?” tanyanya.. Hal tersebut berlangsung bertahun-tahun. kemudian dengan suara parau melanjutkan perkataanya.” Suara Bapak bergetar menahan tangis dan tampak mata tuanya berkacakaca.. Untuk bendera aku juga harus membunuh sesama manusia. “Setiap melihat bendera merah putih. Kini kami mengerti alasan bapak memperlakukan bendera dengan istimewa. Tulisan yang membangunkan kesadaranku adalah bagian terakhir dari e-mail itu. Membunuh saudara-saudaraku yang sebangsa yang pernah berjuang bersama-sama melawan penjajah.. Pak Lik Khasim menyela.. tidak ada lagi perlakuaan dan tempat spesial terhadap sang Dwi Warna. Semua tiada bersuara.. begini isinya: halaman 52 dari 83 halaman . Terlihat air mata bening di mata mereka. Kami sering lupa mengibarkan bendera pada saat harihari bersejarah dan baru ingat ketika diberi tahu oleh Ketua RT.. ”Lalu kenapa setiap tanggal 17 Agustus. yang membuat aku sadar terhadap sesuatu yang aku lupakkan selama ini. Mereka harus kubunuh hanya karena ingin mengganti merah putih dengan bendera mereka. hingga suatu ketika aku membaca e-mail dari kakakku yang kini tinggal di Den Haag. “Teman-temanku harus mati karena mengibarkan bendera merah putih. Bapak melanjutkan ceritanya lagi. bukan berarti menggangap benda itu keramat dan menyembahnya. Selanjutnya. itu salah besar. padahal mereka adalah saudara-saudara yang seakidah denganku. ”Demi Tuhan. seperti pemberontak RMS. Kalau sekarang aku memperlakukan bendera dengan istimewa.. Untuk menutupinya ia memberikan nasehat.” Aku kini benci sekali mendengar ucapan Pak Lik. Mas Abu selalu bersujud.” Bapak diam sejenak. namun kelihatannya Pak Lik malas menanggapi. membunuh pemberontak berarti membela negara. APRA.

karena aku sudah akan memasangnya sendiri. Menyesal rasanya dulu aku sering mentertawakan cinta Bapak terhadap benderanya. Aku benar-benar menangis ketika menyaksikan peristiwa itu. Kepalaku mengangguk. ”Baiklah insya Allah mulai bulan Agustus tahun depan. Sedih rasanya menyaksikan teman-teman dari Tim-Tim yang berpesta pora merayakan kemerdekaan mereka dari penjajahan Indonesia (begitu menurut mereka). Ketua RT tidak perlu menyuruhku memasang bendera. Mengiyakan isi e-mail kakakku. Mbak menangis untuk bendera dan baru kali ini aku merasakan memiliki bendera. sedangkan bendera merah putih mereka campakkan begitu saja. Benar kata Bapak kalau bendera adalah martabat dan harga diri suatu bangsa.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Semoga Indonesia segera damai dan mendapat pemimpin yang baik serta jujur agar tidak ada lagi wilayah yang memisahkan diri dari RI. Makanya mulai hari ini jangan abaikan lagi benderamu agar tiada orang lain yang menggantikannya dengan bendera lain. dalam hati aku berkata. Baru kali ini.” halaman 53 dari 83 halaman . Dan lebih sedih lagi ketika mereka menurunkan bendera merah putih dan menggantikannya dengan bendera mereka.

Namun. Akhirnya. Saat melewati tukang tambal ban. Petugas parkir pun kelabakan karena merasa bertanggung jawab atas raibnya sepeda tua milik Eyang Neli. ”Loh.. bertanya. Aku pertama kali mengenalnya ketika pernikahan sepupuku beberapa tahun lalu. Dengan langkah gontai beliau melangkah pulang menyusuri jalan menuju rumah. petugas itu menyarankan Eyang Neli untuk melaporkan kehilangan sepedanya ke kantor polisi terdekat. ternyata sepeda saya hilang lalu saya lapor ke polisi. si tukang tambal—sudah sangat dikenal Eyang Neli. kerabatku dari pihak Ibu. ”Dari mana saja. Di mobil itulah beliau bercerita tentang sifat pelupanya yang luar biasa.. ia bergegas ke tempat parkir sepeda.. Pak ?” “Dari kantor pos. Bapak ini halaman 54 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen EYANG NELI Oleh: Lestari Sari Pambudi Bicara soal sifat pelupa. Beliau setuju. Pernah suatu pagi. anda harus mengenal Eyang Neli. Makjrengat. Hari sudah sore ketika Eyang Neli keluar dari kantor polisi.” jawab Eyang Neli memelas. Saat itu beliau semobil denganku dalam perjalanan menuju tempat resepsi. makanya sore begini baru pulang. Eyang Neli tidak dapat menemukan sepedanya.! Seketika tukang tambal ban tersentak kaget. Eyang Neli pergi ke kantor pos di kota tempat tinggal.. Usai keperluan di kantor pos. Beliau mulai panik.

Seperti kebiasaannya. “Oh. keduanya sepakat berpisah untuk bisa mencari keperluan masing-masing.. Yakin dengan kekutan fisiknya. Eyang Neli tak mengakuinya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen gimana sih? Kan.” kata si tukang tambal seraya menutup kiosnya. Mereka nyasar. tadi pagi sepedanya di tambal di sini. Walaupun sudah tua dan pelupa. dan menemukan sang istri duduk terkantukhalaman 55 dari 83 halaman . istrinya buru-buru mengajak pulang saat hari belum benar-benar gelap. Beliau dan istri selamat sampai tujuan. Eyang Neli menuju pusat elektronika. sedangkan sang istri menghilang ke kios baju. Ia menolak menggunakan sopir atau naik kendaraan umum. dan menyadari istrinya tak ada di sisinya. Ia mencoba setiap jalan mana pun yang tampak layak dilalui di kota yang tak terlalu dipahaminya itu. Setelah membayar. Ibu kemana?” tanyanya pada pembantunya. “Cepet deh di ambil sepedanya. beliau pun bergegas pulang dan tidur! Sore hari saat bangun tidur. karena ia melihat sepedanya bertengger di ruang kerja si tukang tambal ban. Karena itu ia menuntun sepedanya ke tukang tambal ban tak jauh dari rumahnya. Eyang Neli tidak begitu lama. Tapi karena khawatir istrinya panik. kan tadi sama Bapak. tidak hilang toh?” komentar Eyang Neli. ia dan istrinya berjalan ke pusat perbelanjaan. beliau mencari ke segenap penjuru rumah. Ia bersikeras menyetir sendiri. Beliau juga sangat percaya diri.. di rumah kerabatnya itu Eyang Neli bercerita ngalor-ngidul hingga tak terasa hari sudah sore. Dan menitipkan sepedanya pada tukang tambal ban itu. Eyang Neli mengajak istrinya keluar kota. Baru setelah beberapa jam kemudian saat bensin mulai habis. dan sang istri tetap tak di temukan. Ternyata yang ditakutkan terjadi. Takut nyasar dalam perjalanan pulang. Bisa-bisa saya di tangkap polisi karena ngembat sepeda. Eyang Neli berbelok ke kantor polisi untuk menanyakan jalan yang benar.” Seketika Eyang Neli ingat janjinya untuk ketemu di food center! Ia pun bergegas kembali ke mal. Namun justru karena sifatnya itu ia sempat membuat sengsara istrinya. Tapi karena sudah ada beberapa sepeda yang di reparasi maka daripada ia menunggu ban sepedanya di tambal. Pak. ban sepedanya kempes. Ternyata perjalanan memang lancar. Eyang Neli sangat suka menyetir mobil memang. Saya gak pulangpulang karena nungguin bapak!” Ganti Eyang Neli yang tersentak kaget lebih kaget lagi. Lain waktu. Mereka berjanji bertemu di pusat jajanan untuk kemudian pulang bersama. Tiba di sana dengan alasan menghemat waktu. fisik Eyang Neli masih sehat dan kuat. Ceritanya. “Tin. Sebab bisa segera mendapatkan barang yang diperlukan. Lah ini. sedikit bingung. Di pusat elektronika. “Lho. Sang istri pun cemberut sepanjang jalan. Eyang Neli memutuskan naik angkot ke kantor pos. Baru kemudian ia ingat saat berangkat ke kantor pos tadi pagi. ke mal.

Seraya menghampiri sang istri.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kantuk di salah satu sudut pusat pusat jajanan. halaman 56 dari 83 halaman . Eyang Neli cuma senyum-senyum saja membayangkan bagaimana raut wajah istrinya bila tahu ia lupa akan janjinya tersebut.

Yanto kaget karena biayanya sangat mahal dan tidak terpikirkan sebelumnya. tidak terlalu baik maupun terlalu jahat. Setelah selesai. Ajeng meminta diantarkan ke rumah sakit untuk mengecek kandunganya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen BEJAT Oleh: Fauzana Fidyarizky Ajeng adalah istri yang menjadi menjadi korban kekerasan suaminya. Suatu saat. “Lain kali kalu mau ke rumah sakit. Setibanya sampai di rumah.” halaman 57 dari 83 halaman . Yanto sambil memegangi kepalanya berkata pada Ajeng. Yanto hanya mengenyam bangku pendidikan hanya sampai tingkat sekolah menengah. Yanto pun mengantarkannya ke rumah sakit. Maklum. Ajeng dan Yanto langsung memeriksakan kandungan Ajeng. Yanto. Mereka menikah karena hamil di luar penikahan yang membuat keduanya tidak mempunyai pilihan lain kecuali menikah. Pada saat membayar. Setelah menikah perlakuan Yanto terhadap Ajeng mulanya biasa saja. Yanto pada saat ini adalah seorang pengangguran. Setibanya di rumah sakit. adalah anak seorang kepala desa yang saat ini memimpin di kampung yang ditinggali Ajeng pada saat ini. aku tidak punya uang untuk membayarnya. jangan minta diantarkan sama aku. mereka berdua menuju tempat administrasi untuk menyelesaikan pembayaran. suaminya.

dan tiba-tiba Yanto menghampiri Ajeng dan langsung menamparnya. tamparan. Ajeng kesakitan sekaligus kaget Yanto bisa berbuat seperti itu. menolong Ajeng dan langsung membawa Ajeng ke rumah sakit. “Mas. Tapi apa yang dilakukan Yanto. Tiap dua hari sekali kejadian itu terulang. gimana kita bisa tahu keadaan anak kita. Para tetangga yang sudah geram mengetahui prilaku Yanto terhadap Ajeng. Dan Ajeng pun cuma bisa teriak dan minta tolong. Yanto kabur pada saat warga menolong Ajeng. Pada suatu saat Ajeng dipukuli habis-habisan oleh Yanto. Ajeng meminta maaf kepada Yanto karena Ajeng merasa bersalah tidak menghormati suaminya atas perkataaanya. Keesokan harinya. Caci maki. dia malah menampar Ajeng untuk kedua kalinya. Tanpa disangka Yanto mengambil sebuah kayu dan langsung memukuli Ajeng. Ajeng pun pingsan dan saat terbangun mata bengkak dan telanjang karena Yanto baru memperkosanya. dan terulang lagi. kalau kita tidak memeriksanya. Yanto pernah lakukan. Tetapi kekuatan Yanto lebih besar dari pada Ajeng. halaman 58 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Ajeng pun menjawab. Lagi pula kan itu sudah menjadi tanggung jawab Mas untuk menanggung semua kehidupan kita. Ajeng tahu bahwa suaminya akan menemukannya cepat atau lambat. bahkan tendangan ke arah perut Ajeng pun. Kondisi ini berbutut kepada Yanto yang harus mendekap dipenjara selama satu tahun. yang kosong karena keluarga Ajeng pulang ada acara di balai desa. Benar saja ia bertemu di rumah ayah dari Ajeng. Ajeng pun menangis dan merasa sakit pada saat itu. Setelah keluar dari rumah sakit.” Yanto mulai berbicara dengan nada kerasnya. dan secara refleks Ajeng membalas perbuatan Yanto.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen AKHIR DARI CINTA SEJATI Oleh: Lia Andika Pratiwi Pada suatu desa yang dinamakan Pulau Telo. Dua tahun berlalu. Pak Bowo. Rafli sedang merantau jauh ke negeri seberang. Berbagai rintangan selalu mereka lalui dengan kesabaran hati mereka. sedangkan Nia adalah anak bungsu. kakak Nia. Ayah tidak dapat menyanggupi membayar hutangnya kepada Ayahnya Tono. Dan Nia juga berjanji akan selalu berdoa untuk keberhasilan Rafli. Ayah kami adalah seorang Kepala Desa yang terpandang. Sebelum Rafli berangkat merantau. sebelum Rafli merantau. yang kebetulan ayah dari seorang pria tampan yang bernama Tono. Dalam permasalahan tersebut. Tak banyak orang dapat mempertahankan hubungan cintanya jarak jauh. Ayah kami. Dalam perjalanan cinta mereka tak pernah mulus. Rafli adalah seorang anak yatim piatu yang menggantungkan hidupnya dengan kerja kerasnya sendiri. Aku Santi. Dalam permasalahan halaman 59 dari 83 halaman . Tetapi Rafli dan Nia. Kepala Desa Mantaren. sang kekasih. Pada suatu ketika. hiduplah sepasang kekasih yang saling mencintai yang bernama Rafli dan Nia. terkait hutang yang cukup besar kepada Pak Sugih. Rafli berpesan akan selalu ingat dan berjanji akan menikahi Nia. Dan mereka berjanji akan hidup dan mati bersama di bawah pohon cemara pinggir laut. setelah pulang dari perantauanya. dapat mempertahankan hubungan mereka dengan sangat baik.

untuk menikahkan anaknya dengan putranya. Dari permintaan Ayah Tono tersebut.” Lalu Rafli menjawab.” Lalu ayahnya berkata. dengan serta merta ayah Tono mengajukan persyaratan tersebut. dan menikah dengan Tono.” Lalu Nia berlari ke bawah pohon cemara di pinggir laut. apa yang ayah lakukan? Dia kekasih Nia yang selama ini membuat Nia bahagia.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen tersebut. maka semua utang yang ada pada ayah kami. apalagi demi melunasi hutang Ayah. tapi cinta Nia tidak bisa dipaksakan. disetujui oleh Ayah. “Tuhan cobaan apa yang kau berikan pada hambamu ini. bagaikan Spiderman. ya Allah. Setelah itu. adikku. pulanglah…. “TIDAK AYAH! Nia memang sayang dengan Ayah. Datanglah sebelum Tono melamarku…!!!!” Sebagai kakak. Dia lupa. langsung pergi meninggalkan Nia. Rafli beserta teman merantaunya kembali ke desa Pulau Telo. ayah kami. Nia sangat menyesali dirinya. “Nia. Ayah. Satu tahun dari pernikahan Nia dan Tono. “Nia. Rafli pun melompat dari atas pohon tersebut. anak seorang saudagar yang kaya raya. ayah dari Tono. dengan ayah?” Nia menjawab. aku pun merasakan kesedihan yang dialami oleh adikku. ya Allah. semuanya akan dianggap lunas. Begitu berat ujian yang kau berikan ini. Ayah Nia melihat. mestinya Ayah juga yang mesti bertanggung jawab. Ayah yang berbuat. tanpa sepengetahuan Nia. kamu sayang kan. Dan Nia pun terpaksa menuruti perkataan ayah. Setelah Nia mengetahui semuanya itu. teryata kau…. Dan ternyata Nia pun sudah tiada. “Iya. iyalah Nia bisa dan mau bantu Ayah. “Ayah. Lalu Rafli menemui Nia yang sedang menjemur pakaian di belakang rumah. dan langsung mendorong Rafli. Apalagi karena Tono sejak dulu memang memendam perasaan cinta untuk Nia. keputusan Ayah telah bulat. Lalu Rafli memangil Nia dari atas pohon. Rafli menghilang bagaikan di telan bumi. dan berjanji akan hidup dan mati bersama. Ayah berkata. berkata kepada Pak Bowo. Lalu Nia terkejut mendengar suara yang dulu sering dia dengar. halaman 60 dari 83 halaman . Rafli. “Tapi kamu sudah punya calon suami Nia…. akan tetapi aku tidak dapat berbuat banyak.” Lalu Ayah berkata. muka Nia memerah dan tidak mau menikah dengan Tono. Aku di sini merindukanmu.” Lalu ayah berkata. bahwa Rafli pernah berkata. “APA??! Nia. Tidak lama kemudian. Lalu Nia berkata.” Dan Rafli pun. kamu mau kan menikah dengan Tono. Beberapa hari kemudian. di mana tempatnya terakhir bertemu kekasihnya Rafli. Lalu Nia berkata. anak Pak Sugih untuk membantu melunasi hutang-hutang ayah?” Dengan kesal lalu Nia menjawab dengan ketus. Lalu Nia berlari dan memeluk erat tubuh Rafli. Maka ketika ayah terlilit utang dengan keluarga mereka. “Ya. “Kamu mau bantu ayah kan?” Lalu Nia menjawab. Pak Sugih. Dia mengakhiri hidupnya di pohon cemara pinggir laut.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen bahwa tempat pohon cemara itu adalah tempat di mana mereka berjanji. Dan akhirnya. akan hidup dan mati bersama. Ternyata begitu besar cinta yang terjalin antara Rafli dan Nia. Nia pun mengakhiri hidupnya di pohon cemara itu juga. halaman 61 dari 83 halaman . Dan berakhirlah sudah cerita ini.

. setiap ditanya. Sudah ya. karena yang ia jemur adalah pakaian yang bagus dan besarbesar ukurannya.. Mbak. Pasti baju-baju Ibu Tanti dan Pak Adri.” kataku sambil berlalu masuk ke dalam rumah. “Biasa. Mbak Murti selalu menjawab. Kamu wis mandi? Sudah pagi.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen MURTI Oleh: Loise Viranti Lasnida Mbak Murti keluar dari rumah besar itu. Mbak Murti hanya cengengesan menanggapiku. Selalu begitu. membawa ember penuh berisi pakaian yang aku yakin pasti bukan pakaiannya.. Waktu itu aku pernah ikut duduk-duduk di warung Bu Warsih saat ibu-ibu halaman 62 dari 83 halaman . Mbak? Kok yang sininya jadi biru?” tanyaku sambil memegang rahang bawahku.” godaku pada Mbak Murti. “Biasaa.” “Ntar aja aahh mandinya. Aku diam melihatnya dari luar pagar.. Lah aku masih libur kok.. pikirku.” Aku tidak pernah mengerti maksudnya.mbak. ntar kamu telat masuk sekolahnya. rahang bawahnya kebiru-biruan dan bengkak dan bibir bawahnya yang sobek juga tambah bengkak. “Ngjemur nih ye. “Itu mukanya kenapa. Sudah sana. gih. Hari ini ada yang lain lagi dari Mbak Murti. Mbak Murti jadi terlihat seram dengan wajah yang bengkak-bangkak begitu.

“Tapi nanti kalo kita laporkan Bu Tanti. Kemarin malam si Murti saya lihat sedang tidur di luar. bergosip. Bu Tanti itu sudah keterlaluan. temanku yang mempunyai televisi di rumahnya dan menonton bersama orang-orang yang sedang ikut menumpang.” cerita ibu itu dengan wajah yang semangat. Kasian banget deh si Murti. pas paginya saya tanya sama si Murti. Toh setiap ibu-ibu berkumpul akan seperti itu. memanggil ayah untuk meminta ayah membetulkan genting rumahnya. Biar kapok dia!” sahut ibu yang lainnya. sebentar lagi lebaran. Mbak Murti suka bermain denganku dan ngobrol-ngobrol. dia malah nangis. kecuali kalau sedang menyapu teras atau menjemur pakaian seperti tadi. Kira-kira ia akan mudik ke rumah ayahibunya tidak. yang bisa bersekolah karena SD saat ini dibiayai pemerintah. Tapi sekarang aku jarang bertemu Mbak Murti.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen sedang belanja memilih-milih sayuran. kuli bangunan yang suka menganggur jika tidak ada yang membutuhkan tenaganya. Begitu juga ibu-ibu yang lain. Dulu waktu ia baru-baru datang. seharusnya kita laporkan saja Bu Tanti sama polisi. Mbak Murti sangat peduli dengan pendidikan dan sekolahku. Mereka belanja dengan ribut sekali. tapi aku sangat malas dan pernah tidak naik kelas. Lalu aku memikirkan Mbak Murti. Aku selalu dinasehati Mbak Murti setiap kali malas belajar. padahal Mbak Murti baik. Aku menoleh ke wajah ibu yang sedang menjadi pusat perhatian karena bersemangat bercerita itu dan mendengarkan. yang aku kenal betul wajahnya karena ia pernah ke rumahku. Katanya karena sebenarnya ia ingin sekali melanjutkan sekolahnya. “Tuh kan.” timpal ibu lain yang rumahnya di sebrang rumahku. Aku tidak tahu kampungnya di mana. Lalu aku pergi dari warung Bu Warsih. kita mau tinggal dimana? Hahaha. Aku pergi ke rumah Resih. Ia suka bertanya-tanya tentang sekolahku dan sering mengajariku matematika. Sampai aku mendengar salah satu ibu yang rumahnya tak jauh dari rumah sewaan keluargaku. Terus. jengah dengan obrolan ibu-ibu tersebut. Ya begitulah pekerjaan ayah.. “Emang deh. menyebut nama Mbak Murti dan Bu Tanti. yang mondar-mandir sambil mematuk-matuk beras yang tersebar di tanah. Awalnya aku tidak memperhatikan apa yang mereka ributkan. Acara di televisi sedang diganti dengan iklan. Berbeda denganku. Wong rumah kita aja masih nyewa sama dia. iklan-iklan makanan yang ditawarkan untuk berbuka. Sepertinya Murti disuruh tidur di luar sampai pagi. Tidak ada ekspresi prihatin dari wajahnya. tapi tidak bisa karena tidak ada biaya. ya? Mbak Murti pernah bilang padaku bahwa ia sangat rindu kampungnya. Jadi apa “biasa” yang dimaksud Mbak Murti itu maksudnya adalah dipukul oleh Ibu Tanti? Kok disiksa seperti itu dianggap biasa? Aku kasihan sama Mbak Murti. Tapi toh apa bedanya. Aku tetap asik memakan agar-agar yang kubeli sambil bengong melihat ayam-ayam di depan warung Bu Warsih. Dari pagi sampai Maghrib Mbak Murti sudah jarang sekali keluar rumah. Aku ingat ini bulan Ramadhan. di sini juga halaman 63 dari 83 halaman .

ngapain di situ. Aku berjalan ke depan rumah megah itu dan memegangi pagar. Mbak?” tanyaku langsung. Karena itulah Mbak Murti datang. bagiku tetap saja aku tinggal di kampung. rumah Bu Tanti adalah rumah yang paling besar.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kampung. Hampir semua tempat tinggal di sini milik Ibu Tanti. Mbak?” tanyaku sambil melihat ke arah kaki Mbak Murti. Mbak? Sama kayak tuh muka? Kok betah sih. Dari depan tempat tinggalku. lima bulan nunggak sekarang malah ngilang. Setahuku semua rumah dan kamar ini adalah milik Ibu Tanti yang setiap bulan menagih pembayaran sewaan pada kami. Aku lihat jam dinding yang diletakan di atas tumpukan baju ayah menunjukkan pukul setengah lima pagi. Mbak Murti terlihat kaget dan berjalan menghampiri aku di seberang pagar dengan tertatih-tatih. aku pun keluar. Panas sekali di dalam kamar ini. Tapi Mbak Murti hanya diam dan menunduk ikut melihat kakinya. ia membutuhkan pembantu untuk membantunya mengurus rumah. seorang kuli panggul di stasiun yang juga menyewa kamar milik Ibu Tanti. Awas saja dia!” *** Pagi ini aku bangun kepagian. Awalnya Mbak Murti terlihat senang-senang saja bekerja dengan Ibu Tanti. Jakarta adanya di balik gedung-gedung bertingkat dan jalan tol yang macet. Pantas saja di luar seperti masih gelap. Sudah dua bulan batang hidung Pak Adung tak terlihat. Mbak?” panggilku dengan setengah suara. “Eh Mbak Murti. mungkin ia sudah pindah atau malah sudah pulang kampung. Apalagi sejak Pak Adung. Setiap sore ia biasa keluar dan bermain denganku. kerabat dari paman Mbak Murti yang membawanya ke sini tidak kembali ke kamarnya. “Dasar si Adung kurang ajar. Tapi sudah tiga bulan ini sepertinya semua berubah. Mungkin karena rumahnya yang besar itu. “Loh kamu kok sudah bangun. Ada rumahrumah kecil dan juga kamar-kamar petakan seperti tempatku dan keluarga tinggal. Dulu Mbak Murti datang dari kampungnya karena dibawa oleh Pak Adung. Mbak Murti mengerutkan dahinya. Karena waktu itu aku pernah melihat Ibu Tanti berdiri di depan kamar Pak Adung sembil bersungut-sungut. aku penasaran ada apa dengan kakinya yang membuat jalannya terseret. sama seperti keluargaku. Dan sepertinya Pak Adung pergi dengan meninggalkan hutang sewa kamarnya. Rumahnya tingkat dan pagarnya berukir tinggi. bisa terlihat besarnya rumah Ibu Tanti dan kulihat ada Mbak Murni duduk di teras rumah itu. Ndah?” “Kakinya kenapa itu. Tapi aku terlanjur bangun. bukan di dalam gang seperti ini. Meskipun Jakarta adalah kota yang megah dan besar. “Dipukul ya. Berbeda dengan tempat tinggal kami. halaman 64 dari 83 halaman .

aku lega. melaporkan keberadaan Mbak Murti apabila melihatnya. Udah dulu ya. “Aku dipukuli. aku bisa diomelin. Gara-gara Bu Tanti kesel sama Mang Adung. Kayanya ia kabur dari rumah. Mbak diapain toh Mbak? kok bisa jadi begini?” Mbak Murti hanya diam lama sekali sampai akhirnya buka suara dengan wajah sendu dan berkaca-kaca. Ndah. Kamu jangan bilang apa-apa ya ke orang-orang sini. Ndah. aku ndak boleh makan. Setidaknya ia tidak dipikuli dan disiksa lagi oleh Bu Tanti. Tapi di manapun dia sekarang. semoga saja Bu Tanti sadar dan kapok menyiksa pembantu seperti Mbak Murti. “Aku denger gosipnya. Tapi sudah seminggu sejak kepergian Mbak Murti. Bahkan orang sekitarku sendiri. pikirku. Terkadang rindu juga aku dengan Mbak Murti. Mbak. Aku berharap. ia bilang Mbak Murti pergi dengan mencuri perhiasanperhiasannya dan ia bilang selama ini Mbak Murti tidak pernah beres kerjanya. kok kamu tau. “Lawan toh Mbak. Dulu kupikir kekerasan seperti itu hanya ada di televisi dan berita-berita saja. Aku kan ndak tau apa-apa. Ndah. aku ditampar. Aku sendiri tidak tega melihatnya. Aku ndak boleh salah. Kupikir hanya orang di negeri seberang sana saja yang suka menyiksa pembantu. Ternyata di sinipun ada. Tapi jadi aku yang diomelin. Ini muka jadi biru karena dijedotin ke meja. Ibu Tanti sesumbar. Ndah. Sudah sana kamu pulang. *** halaman 65 dari 83 halaman . tidak ada kabar lagi tentangnya. Mungkin Bu Tanti takut Mbak Murti melaporkannya ke polisi.” Aku mengangguk dan berbalik pulang ketika kulihat Mbak Murti juga berjalan masuk ke dalam rumah.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Loh. Ntar aku diomelin sama Ibu. Sedangkan Bu Tanti masih tetap panik dan berusaha mencari Mbak Murti.” kataku dengan kesal dan geram. *** Beberapa minggu setelah aku mengobrol dengan Mbak Murti. Jangan mau digituin. Kalau nyuci ndak bersih.” Mbak Murti menangis. Mendengar ceritanya langsung seperti ini aku jadi ikut sedih. warga sekampung. “Ntar makin jadi-jadi kalau aku lawan. Kalau nyapu ngepel ndak beres. Ndah? Kamu lihat?” wajah Mbak Murti panik sambil memegangi rahangnya yang masih bengkak dan biru. Waktu ibu-ibu lagi belanja di warung Bu Warsih. Nanti kalau ibu bangun terus lihat kita. Ibu Tanti kewalahan mencari-cari Mbak Murti. Ia memaksa kami. Ibu Tanti keras banget.

.. Nda. Murid baru itu menolongku. Dia terlihat angkuh.. Tidak disangka. Dia tersenyum kepadaku cantik sekali. "Hihi. Kamu murid baru. siapa namamu?" Waaa suaranya halus sekali. tapi ah.. Aku malu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen SI CANTIK YANG MALANG Oleh: Fazra Fatima Azzahra Di suatu pagi yang cerah.. "Hai. Oca?" halaman 66 dari 83 halaman . aku langsung menuju ruang kelas ku. Ckckck.. Sepertinya dia murid baru di sekolahku. Sesampainya aku di sekolah. lain kali hati-hati ya. semua itu merubah pikiranku sebelumnya.. Aku terpeleset di lantai yang basah. Ternyata dia baik. syuuuttt..." Keesokan harinya. Saya Nanda. Aku ingin menyapa. sepertinya tidak perlu. "Saya Oca. Kelasnya di mana sih?" "Kelas 12 Sos D. Ooo. seperti biasa aku menuju sekolah di antarkan oleh kakakku. Aku segera berlari ingin pulang karena film kesukaanku siang ini akan diputar di televisi. sepertinya terburu-buru sekali. Waktunya pulang sekolah. ya? Siapa namanya?" "Ya benar.. bikin iri jadinya. lagi pula bel masuk sudah berbunyi. Tiba-tiba…. Tiba-tiba mataku tertuju kepada seorang perempuan cantik yang asing bagi ku..

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen "Oo… kalo gitu kita depan-depanan dong. kamu kenapa sih tadi???” “Hikksss…." "Oke lah.. Senangnyaa. Setiap hari. Aku di sini disiksa. dan yang terpenting—dan sangat pribadi sebenarnya. "Eh.. a. Bel pulang berbunyi. Ca.. ngga seperti orang-orang yang lainnya." Bel masuk pun berbunyi. Kan kita juga belum kenal sebenernya dia gimana..di sekolah juga... Tuh di seberang kelas 12 IPA A.. tapi gue juga ngga berani nilai orang sembarangan.. mereka justru yang memandang aku sinis. yah. Tapi kenapa kamu kok terbuka banget cerita masalah ini sama orang baru kayak aku??” “Karena cuma kamu yang mau berteman sama aku.. Setiap aku dari luar negeri dan memberi oleh-oleh untuk mereka. Ca?" sahut Dania.” “Aku jadi sedih. Aku segera bergegas pulang. Kita memasuki kelas masing-masing. Padahal setiap kali aku coba ramah atau senyum sama mereka.. aku merasa seperti di neraka. "Hai. hiks." Kring kring…. Oke oke. doyan banget gosip sih. dan sekarang aku tinggal bersama laki-laki paling kejam. Aku pulang bareng kamu yah?" Haa. Ca. Ca. hehe. "Eh eh... Banyak gaya... "Nanda kenapa?" "A... mereka menganggap aku ini hanya ingin mendapat pujian. Ca?" “Emang siapa yang sebel sama kamu?? Emang mereka ngapain kamu. aku. Ca. belagu.. Sipp. aku ngerasa kamu itu ramah. sebaiknya halaman 67 dari 83 halaman . Sok ngartis. Nda??” “Kamu tahu tidak?? Aku dijual oleh mereka." aku menghampiri teman-temanku. di rumah aku ceritanya. Aku ngga ngerti kenapa semua orang benci sama aku. iya. Ca. Pertama kali liat kamu.” “Kenapa ya. "Hmm. Menurut lo gimana. Mereka nganggep aku sombong. Wkwkwk." "Tapi kamu yang ikut mobil aku. mereka berfikir seperti itu??” “Mereka berfikir aku ini sok pamer. rumahnya gede??” “karena aku di sini tinggal bersama orang yang tidak aku kenal.. "Ia kenapa ya gosip itu enak..” Sesampainya di rumah Nanda. Oya. diperlakukan seperti boneka.. emang sih dia jutek mukanya. Bel pulang lima menit lagi berbunyi.. Temen-temen di kelas semua mencibir aku. Tetangga aku juga semua bersikap dan berfikir seperti itu. aku ini merasa sangat tersiksa di rumah ini. Mukanya kaya orang pengen ngajak ribut.” “Memang orang tua kamu kemana. Abis sebel tahu liat anak baru." Ketika di mobil tiba-tiba Nanda menitikan air mata. gayanya belagu.” “Terus kenapa kamu ngerasa hidup kaya di neraka di rumah ini? Padahal kan di sini enak. Nda???” “Nanti aja ya. “Nanda.? Nanda udah nungguin aku di depan kelas? Rajin banget.

Sungguh aku tidak kuat mendengarnya. halaman 68 dari 83 halaman ..” “APA-APAAN INI???!!!! SIAPA DIA??!!! SUDAH KUBILANG.. karena… aku melihat percikan darah yang sangat banyak memuncrat di gorden kamarnya yang berwarna putih. “Maaf… maaf. Aku mendengar teriakan dan isak tangis Nanda. dan segera aku menelepon polisi. Astaghfirullah… istri???? Tega-teganya orang tua yang menjual anaknya sebagai istri orang lain. JANGAN PERNAH MEMBAWA SIAPA PUN KE DALAM RUMAH INI!!! SUDAH BERAPA KALI KAMU BERBUAT KESALAHAN. huhuuuuu. Kemudian aku diseret paksa oleh lelaki paruh baya itu ke luar. Sungguh kejam. “DIAM KAMU!!!!! RASAKAN!!!!” “AAAAAAAAAAAAA…….. Ocaaaaa…. HAH??!!” “Aa… aku. min… minta maaf. karena kalau aku ketahuan membawa kamu ke sini…” “NANDAAAAA… NANDAAAAA!!!!! DI MANA KAMU????!!!” BRAKKKKK…. “Ocaaaaaa…. Nanda telah tewas karena ulah lelaki itu. Caaaaa.” Aku tidak dapat berbuat apa-apa selain berdoa meminta perlindungan dariNYA.... Tolong aku. Saya minta maaf.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kamu cepat pulang.” Sebelum polisi itu datang… sepertinya semua sudah terlambat untuk menolong Nanda.” “ISTRI MACAM APA KAMU INI!!!!” Aku shock dalam hati….

Mereka juga tidak pernah mengeluh dengan kehidupan mereka.” keluh Pamanku ketika ia tahu kalau padi-padinya yang siap panen dicuri oleh pencuri-pencuri jahat halaman 69 dari 83 halaman . Tanpa perlu mengeluh dan mengatakan hal macam-macam yang tidak bisa dicapainya. Hidup terasa aman. Mereka adalah para pencuri padi yang sering berkeliaran di malam hari dan mencuri padi-padi para petani. dan tentram. nyaman. Seperti tidak ada masalah sama sekali dalam keluarga ini. “Aduh bagaimana ini? Padiku dicuri orang. Ia tidak pernah mengeluh sekalipun tentang pekerjaannya yang hanya seorang petani. dikarenakan orang tuaku yang pergi merantau entah kemana. merasa sangat senang dan nyaman tinggal di keluarga ini. Pamanku seakan-akan mempunyai hidup yang sangat nyaman dan nikmat. Aku pun yang hanya keponakannya yang menumpang di rumahnya. Dan keluarganya pun adalah keluarga yang sangat baik.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen JANGAN MAIN HAKIM SENDIRI Oleh: Lourin Hertyastiwi Pamanku adalah seorang petani yang sangat giat bekerja. Tetapi ternyata kabahagiaan Pamanku diusik oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Mau makan apa keluargaku kalau begini? Mana bisa aku dapat uang selain dari bertani ini. Ingin rasanya di kala besar nanti aku menjadi seperti pamanku yang selalu bersyukur dengan keadaannya.

Dan sekarang dia sedang diadili di alun-alun desa. ampun. Aku memang penasaran kenapa paman bisa halaman 70 dari 83 halaman . awas mereka. Paman capek. “Benar juga sih yang Bapak bilang.” kataku dengan mengebu-gebu. Saya kan hanya berusaha mencari makan. aduh. aku sangat bangga kapadanya.. Setelah itu barulah si pencuri itu dibawa ke kantor polisi untuk diadili.” kata salah satu dari orang-orang yang memukuli pencuri itu. Pak. biar nanti mereka yang mengadili.” kata Pamanku dengan sangat bijak. ampun.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen itu. Keesokan harinya. Paman ingin merenung dulu. Akupun mendatanginya dan ternyata yang berbicara seperti itu adalah pencuri padi-padi warga. Mungkin Tuhan memberikan cobaan ini karena paman kurang bersyukur kepadanya. “Paman. Kenapa ia melakukan hal sebegini jahat pada kita sih. dia sudah mencuri padi-padi kita dan bapak juga salah satu korbannya. “Kalau mereka baik tentu saja mereka tidak akan menjadi pencuri. Tetapi kalau padinya saja hilang. tapi janganlah kita main hakim sendiri..” Terdengar suara seperti itu dari alun-alun desa ketika aku melewatinya. Saya minta maaf. tetapi kenapa Tuhan memberikan ganjaran seperti ini kepada Paman. Kok Paman biarkan pencuri itu begitu saja? Maksudku kok Paman tidak ikut memukuli pencuri itu? Memangnya Paman tidak merasa dendam kepada si pencuri itu?” tanya ku kepada paman. Kebetulan aku sedang berada di sawah menemani Paman yang ingin segera memanen padinya. Seharusnya kita memberikannya kepada pihak yang berwajib atau kepada Kepala Desa. “Tapi kan Pak. sudah cukup.. “Hei. “Ya. Ayo kita bawa dia ke pihak yang berwajib. agar nanti Kepala Desa untuk melapor. “Aduh. Paman. Dan ternyata orang itu adalah seorang laki-laki dari desa sebelah. Kau masih tega memukulinya?! Dia itu sendiri dan kalian beramai-ramai memukuli dan menghakiminya. Aku memang suka melihat paman bekerja di sawah dan sesekali membantunya sebisaku.” jawab Pamanku dengan sedikit kesal tetapi tetap saja terdengar bijaksana bagiku. Tadi malam pasukan Siskamling memergoki si pencuri itu sedang mencuri padi di sawah. Apa itu adil?!” tiba-tiba Pamanku datang dan langsung menghentikan warga yang berusaha menghakimi si pencuri itu dengan pukulan-pukulan yang tentu saja tidak ringan tetapi pukulan yang keras. Pak. Tolong jangan bawa saya ke kantor polisi. Nak. kan. Kasihan juga pencuri itu. Sebenarnya menurutku Paman sudah banyak bersyukur. Sudahlah.. Dasar orang-orang yang tidak bertanggung jawab kalau ketemu... Maka berbondong-bondong lah mereka ke Kepala Desa. apa yang bisa aku bantu untuk Paman? Aku hanya bisa mengumpat saja dalam hati agar si pencuri itu ditemukan dan diberikan ganjaran yang setimpal. Lihat mukanya sudah babak belur begitu.” kata salah satu orang dari mereka. Hanya Tuhan yang tahu jawabannya kenapa. Janagn kau pukuli lagi orang ini. Pamanku itu memang orang yang benar-benar bijak.. “Sungguh jahat pencuri itu.

Sebenarnya Paman tahu kalau sudah ada pencuri yang berkeliaran. kita sesama manusia tidak boleh dendam. Dan hukumnya bukan hukum rimba yang suka mengadili sendiri si penjahat. Jadi Paman ceroboh juga kan sehingga pencuri itu bisa mencuri padi Paman.” Pamanku menjawab dengan sangat jelas dan sangat bijak. “Loh kecerobohan paman apa?” Tanya ku karena tidak mengerti apa yang pamanku bicarakan. halaman 71 dari 83 halaman . Mungkin bukan hanya salah si pencuri saja makanya padi Paman hilang. Ayo kita pulang. tetapi hukum yang adil untuk semuanya.” pujiku kepada Paman. tetapi Paman bukan menjaganya tapi malah pulang dan tidur dengan nyenyaknya. Aku bangga punya paman seperti Paman.” jawab pamanaku panjang lebar. “Ah kau bisa saja. mungkin saja karena ada ke cerobohan Paman makanya pencuri itu bisa mencuri padi Paman. dan kita mempunyai hukum-hukum yang harus ditaati. Dan bijaksana “Wah Paman baik dan bijaksana sekali. Dia tidak hanya baik kepada keluarganya ataupun orang-orang yang dikenalnya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen sesabar itu kepada si pencuri. Yang selalu baik dan bijaksana kepada siapa saja. Iya selalu bijak di setiap kondisi. Dan kalau dendam. Tidak seperti warga yang lainnya yang mencoba menghakimi sendiri si pencuri itu. Dan jika si pencuri sudah melanggar hukum. Itu lah ciri-ciri Pamanku. Pamanku adalah paman paling hebat di seluruh dunia. negara kita ini kan negara hukum. “Nak.. Jika sudah besar nanti aku ingin menjadi seperti Pamanku. “Kecerobohan Paman. kita tidak seharusnya melanggar hukum juga seperti memukuli si pencuri itu.” jawab Pamanku dengan wajah yang sepertinya agak malu-malu. karena Paman tidak menjaga padi itu dengan baik.. tetapi kepada penjahat pun ia masih dapat menunjukan kebaikannya.

sekarang Jan tinggal di panti asuhan bersama dengan teman sebayanya dan juga ia bisa bersekolah. Ia adalah seorang bocah laki-laki yang masih berumur 9 tahun. Apalagi kedua orang tuanya sering sekali bertengkar. Salah satunya sebut saja namanya. Setelah kasus Jan di proses. sang Ayah akan memarahinya dan memukulinya.. Kehidupan ekonomi yang serba sulit mungkin membuat Ayahnya mudah marah.. kalo Bapak gak ada. ”Bapak…. Jan hanya bisa berjongkok sambil menangis tersedu-sedu dan memanggil-manggil Bapaknya.. Saya adalah seorang aktivis perlindungan dan hak asasi anak. Ia dan keluarganya memang tidak hidup berkecukupan. Jan. Jan juga sering disuruh Ayahnya untuk mengemis. Jan tinggal sama siapa. Jika sudah begitu. Ayahnya akan memanggil Jan hanya untuk memarahi dan memukulinya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen JAN Oleh: Marsha Jozana Nama saya Siska. Dalam menjalankan aktivitas saya.?” tangis Jan. Tapi sayang tangan Jan agak halaman 72 dari 83 halaman . Saya ingat sekali ketika saya datang ke rumah Jan—setelah mendapat laporan dari tetangganya bahwa sang Ayah bunuh diri dan sang Ibu telah lama pergi dari rumahnya.. Dan jika Jan pulang tidak membawa hasil yang memuaskan.. saya sering menemukan kasus kekerasan orang tua terhadap anak-anaknya.

Kisah Jan ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. Sehingga sekarang tangannya tak bisa di gerakkan. saat memarahinya. Walaupun ia masih terlihat trauma dan sedih jika mengingat kedua orang tuanya. Apalagi ia tidak mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya sebagai selayaknya seorang anak. halaman 73 dari 83 halaman . Karena dulu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen tumpul. Sekarang Jan dapat bermain dan melakukan aktivitas seperti anak-anak seusianya. sang Ayah suka melempar benda tumpul ke tangannya.

Aku berjengit dan teringat saat aku mulai bertaubat. memalak orang-orang yang lewat di depan aku. Dan aku juga teringat masa masa di mana aku memukul. Tiba-tiba aku teringat masa lalu. Lalu aku terhenyak lagi. Nak. Aku terhanyut dalam lamunan. Pak?” tanyanya. “Tidak.” “Kok sekarang pake peci dan sarung?” tanyanya. Lalu si Rudi berbicara. Masa di mana aku pun berlaku sedemikian rupa. Bisakah aku melawati ini semua? Mungkin ini hanya cobaan dalam masa laluku ini.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KENANGAN Oleh: Muhammad Garit N Pada suatu hari ada sekumpulan anak di pekarangan. sampai akhirnya Rudi menghampiriku.” “Pasti masa lalu bapak mengharukan. Sampai membuat bapak menangis. Pak? Matanya kok berair?” tanya Rudi. Bapak hanya teringat dengan masa lalu Bapak.olok dan menyiksa teman-teman yang badannya lebih kecil dari pada badannya. Di sekumpulan itu ada anak yg paling besar bernama Rudi." “Memangnya kenapa. “Sampai-sampai bisa membuat Bapak halaman 74 dari 83 halaman . Kenangan saat indah itu datang dan pergi. yang dulu jadi preman itu kan?” Aku menjawab. “Iya. Kemudian aku terngiang masa laluku yang kelam. menikam. “Bapak. “Kenapa. Dan Rudi paling suka memperolok.

kah?” tutur Rudi. Masa lalu saya yang sangat kelam tidak baik untuk dibuka lagi. Tapi saya malah memanfaatkan dia. Nak. O iya. Pak. Dia mencintai saya dengan tulus. Dia hanya saya jadikan mainan. Bapak tinggal saja?” “Ya. Hati saya terasa teraduk aduk. Karena kamu menyerupai dengan belahan hati bapak. Nak?” “Saya hanya punya ibu. Sebegitu mudahnya ia mengajukan pertanyaan yang sudah kukubur jauh di dasar pikiranku. Tapi saya tidak mau mengakuinya. “Memangnya sekarang belahan hati Bapak kemana?” “Dia sudah tiada. orang tuamu di mana. lalu setelah dia mengandung. ” tambah deras lagi air mata yang aku keluarakan. memangnya kamu tinggal di sekitar sini?” halaman 75 dari 83 halaman . Kata Ibu. Nak.. walaupun sakitku menerpa lagi.” “Memangnya belahan hati Bapak tersiksa kenapa?” “Saya sudah melakukan hal yang sangat memalukan terhadap dirinya.. Tapi melihatmu saya jadi merasa rindu yang teramat sangat.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen menangis?” “Tidak. Tidak cuma itu. yang di mana gadis itu telah menjadi belahan hidup saya sendiri.” Dan aku beralasan. Pak?” “Wajahmu memngingatkan aku pada seseorang yang sepertinya paling terluka oleh perlakuan saya di masa lalu. “Waktu itu ada gadis yang mencintai saya. Dan setelah melihat kamu. Pak. sampai akhirnya dia mengandung. Tapi dia sudah lama meninggal. Kita kan baru ketemu. Dan sekarang sudah meninggal karena kecelakaan. Bapak saya mengadu nasib keluar negeri. Oleh karena itu saya mengusirnya dan melarangnya menemui saya lagi. “Memangnya beliau sakit?” “Dia tidak sakit fisik. akan kuceritakan kepadanya. tapi saya yakin batinnya sangat tersiksa. agar tidak ada lagi kejadian yang pernah kubuat. belahan hati Bapak sekarang di mana?” kata Rudi.” “Terluka kenapa. Seolah-olah telah tertanam masa lalu saya yang kelam dalam dirimu..” “Waaahhhhhh. “Dan saya pernah mendengar juga bahwa dia telah melahirkan anak laki-laki gagah perwatakannya.” Aku juga berkata lagi.” “Memanfaatkan seperti apa? Menyakitkan. “Saya tidak tahu hal itu. Nak. Bahkan saya menuduhnya berzina dan membuatnya malu di hadapan orang-orang sekampung.” “Mana mungkin ah. Pak? Emang disakitin sama Bapak?” Aku menghela napas mendengar pertanyaan anak itu.. Nak.” “Jadi.. menerima saya apa adanya. Ya. “Ya.” “Ooo.” “Lalu. Bingung kenapa. “Karena saya belum siap dan saya juga merasa tidak bisa menghidupi dia apabila saya menikahinya.” dengan tetes air mata yang keluar aku pun bersedih karena teringat istriku yang telah tiada itu. wanita itu istri Bapak?” “Iya.

ini tidak mungkin. aku terhenyak. Aku diam seribu bahasa dan terdiam mengenang belahan jiwa yang dahulu aku sakit. pasti dia sangat bangga kepadamu. Di sana. Sekalian saya mau tahu ibu seperti apa yang mempunyai anak sebaik kamu. Di sana ada Ibu saya. Wajah yang dulu memelas memohon belas kasihanku. halaman 76 dari 83 halaman . Memangnya siapa?” tutur aku. Kalau Ayahmu masih ada. Ibu saya. Tidak. di depan pintu rumah Rudi. Dan di depannya. Tadi Bapak tanya. Rumah saya di belakang lapangan ini.” “Itu Pak. wajah yang dulu kusia-siakan begitu saja. berdiri seorang wanita yang begitu kukenal. Setelah beberapa jarak lagi sampai di rumah Rudi. rumah saya.” “Bapak mau mampir ke rumah?” “Boleh saja.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Iya Pak. Ibu saya namannya siapa?” “Iya. Wajah yang selalu terbayang sejak 10 tahun yang lalu.

kuhampiri Dinda. Karena itulah teman-teman di sekolah sering menjahilinya. aku baik-baik saja.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KEKERASAN PADA ANAK Oleh: Munadhilah Ummahat Siang yang terik. Aku sedang berjalan pulang ke rumah ketika kulihat Dinda— tetangga sekaligus teman sebangku ku—berdiri di halaman depan rumahnya sambil mengangkat satu kakinya dan menjewer kedua telinganya sendiri. “Dinda. Ketika aku hendak bertanya kembali. dia berkata. panas yang ditimbulkan terasa sangat menyengat. Aku sangat kasihan melihatnya. Namun dia selalu menghindar dan selalu mengatakan bahwa dia baik-baik saja. “Sudahlah. Percayalah. Dengan rasa iba. aku pun pulang dengan segudang pertanyaan yang masih menggantung dalam benakku. cepat kau pergi dari sini! Jangan hiraukan aku. Kadang aku pun selalu berusaha ingin membantu segala masalah yang nampaknya sedang dihadapinya. halaman 77 dari 83 halaman . Dia tidak mudah bergaul. Dinda termasuk anak yang pendiam dan sangat tertutup di sekolah. mengapa hari ini tidak masuk sekolah? Dan sedang apa kau di sini?” tanyaku.” jawabnya singkat dengan raut wajah yang malu. “Aku sedang dihukum. dengan raut wajah yang berubah cemas.” Lalu sesuai dengan perintahnya.

Dinda disuruh Ibunya untuk mengepel seluruh lantai rumahnya. karena Dinda adalah anak yang ceroboh dan sering melakukan kesalahan. Sebenarnya Pak Guru ingin menghukumnya tetapi melihat keadaannya yang seperti itu beliau mengurungkan niatnya. Kali ini aku mengurungkan niat untuk istirahat di luar kelas. Beliau berpendapat bahwa perbuatannya itu benar. Ibunya marah-marah sambil memukulinya dengan ikat pinggang hingga baju seragamnya robek. Mendengar kisahnya tersebut. Pak. keesokan harinya aku pun segera melaporkannya ke Wali Kelas. itulah penyebab seragamku robek. Kemudian dia akan mengeluarkan bekal makan siangnya. seorang anak diberi contoh yang benar dan nasihat yang baik bila melakukan kesalahan-kesalahan. Sebaiknya. Dengan tergesa-gesa Dinda pun mematuhi perintah Ibunya. Dinda masuk sekolah. tentang Ibunya yang sering memukulinya. menunggu seluruh siswa di kelas kosong. ibu Dinda pun dipanggil untuk menghadap Wali Kelas. Ibu Dinda pun mengakui perbuatannya tersebut dengan alasan bahwa hal itu pantas diterima oleh Dinda.” ucapnya di sela-sela ceritanya. saya jatuh saat berlari menuju sekolah tadi.. Dia banyak bercerita tentang kehidupannya. Sejujurnya.” “Oo. saat ingin berangkat ke sekolah. Tak terasa kami mulai akrab. Keesokan harinya. Akhirnya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Aku jadi teringat. “Kenapa baju seragammu robek. kalau begitu lain kali hati-hati di jalan dan jangan terlambat lagi ya…” kata Pak Guru Dinda pun mengangguk dan langsung menuju kursinya. Kukeluarkan bekal makan siangku dari dalam tas. Dinda?” Lalu Dinda menjawab dengan agak ragu. Saat bel istirahat berbunyi. Tak sengaja ember yang berisi pembersih lantai tersenggol dan tumpah olehnya. Ibunya pun mengatakan bahwa beliau tidak akan memberikan bekal makan siang untuk Dinda dan hukumannya pun akan dilanjutkan setelah Dinda pulang sekolah. Menit berganti menit. Wali Kelas pun menjelaskan bahwa didikan tersebut merupakan didikan yang salah. seperti biasa.. pernah suatu hari dia datang terlambat ke sekolah dengan baju seragam yang robek di beberapa bagian. memulai pembicaraan. Tak lama kemudian. “Apa benar Ibu sering memukuli Dinda?” tanya Wali Kelas.. itu merupakan awal dari kedisiplinan. Lamunan ku pun buyar ketika tak terasa aku telah sampai di rumah. Tidak berhenti sampai di situ. aku tidak yakin dengan jawabannya itu. “Sebenarnya. “Mau?” tawarku pada Dinda sambil menyodorkan bekal makanan. halaman 78 dari 83 halaman . Dengan lirikan yang malu-malu akhirnya Dinda pun menyambut tawaran ku tersebut. ya sudah.. “Mm. Apalagi bila kesalahan tersebut bukanlah termasuk kesalahan yang besar. Pernah suatu hari. Dinda diam di kursinya.. Beliau hanya bertanya.

Ya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen BALADA SARIMIN Oleh: Nadia Khaerani “Sarimin pergi ke pasar…. Di akhir pertunjukan terlihat Sarimin meminta uang kepada penonton yang telah melihat aksinya tadi. Sarimin naik kuda kayu…. Sarimin memakai payung…!” Teriak sang Pawang monyet untuk memperjelas aksi Sarimin kepada anak-anak yang berada di sekelilingnya. topengnya. Sesekali anak-anak yang menonton tertawa melihat tingkah Sarimin. halaman 79 dari 83 halaman . Di tempat itu bukan hanya ada Sarimin dan sang Pawang namun beberapa pemain gamelan yang mengiringi Sarimin beraksi. apalagi dengan rantai di lehernya yang rapuh. Namun Sarimin terlihat berjalan terseok-seok dan terpaksa memegangi rantai mungkin lehernya kesakitan karena ditarik. Sarimin terlihat tidak begitu nyaman dengan kuda kayunya. payungnya. Sarimin memakai topeng…. Sarimin artis topeng monyet yang menjadi pusat perhatian anak-anak di setiap aksinya. Walaupun anak-anak terlihat senang dengan aksi Sarimin. Aku duduk menanti kedatangan kereta yang sudah telat lebih dari satu jam memperhatikan dari awal aksi Sarimin di peron seberang. Pawang Sarimin menarik-narik rantai yang panjang untuk menyuruh Sarimin melakukan aksi berikutnya.

Menurut Pawang mungkin itu cara yang benar untuk mendisiplinkan Sarimin.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Setelah penonton bubar Sarimin ditarik dengan kasar untuk masuk ke dalam kandang yang dipikul oleh sang Pawang. dan tidak diberi makan. Yah kalo tetep nggak nurut pukul aja.” Sarimin tetap makhluk hidup yang memiliki hak untuk bertahan hidup. “Tapi tetep dikasih makan kan. “Dulu ngelatihnya gimana Pak?” Dan jawaban yang kudapat cukup mengagetkan. Pawang menarik rantai Sarimin sambil berkata. Sarimin mengambil korek api dari jalan dan mengunyah-ngunyahnya. Pawang memulai lagi aksinya. Aku berdoa dalam hati agar usaha topeng monyet yang seperti ini mati dan si pawang mencari pekerjaan lain sehingga Sarimin-Sarimin yang lain dapat terselamatkan. Tetapi setelah mendengar pernyataan dari sang Pawang aku merasa senang dengan hal ini. halaman 80 dari 83 halaman . kalau begini berarti pertunjukan topeng monyet termasuk animal abuse yang merupakan kekejaman bukan hiburan. Sang Pawang menghampiri Sarimin dan memukul kepala Sarimin. Setelah Sarimin masuk ke kandang sang pawang pindah ke peron dimana aku duduk. aku mendekati Pawang Sarimin dan bertanya. Sarimin yang kelelahan terpaksa harus menuruti sang Pawang dan melakukan atraksi lagi. Nanti dia nggak mau kerja. Untuk menjawab pertanyaan itu. ada seorang anak yang memberi sepotong kue kepada Sarimin. “Awalnya sih nggak dikasih makan supaya dia nurut. Sebelum Sarimin mengambil kue itu. “Jangan dikasih makan. Soalnya kalo sering dikasih makan nanti dia kenyang dan gak mau kerja. jarang-jarang. Sudah seharusnya topeng monyet dihentikan kalau tetap menggunakan kekerasan.” Kurang puas dengan jawaban itu aku bertanya lagi. Mungkin karena kelaparan.” Mendengar hal itu aku bertanya dalam hati. Di akhir pertunjukan saat Sarimin meminta uang kepada penonton. Namun setelah ditarik dengan rantai. “Toh hanya sewaanpawang topeng monyet hanya menyewa.” Astaghfirullah! Ternyata benar. Namun mungkin sang Pawang hanya berfikir. Sarimin tetap tidak mau keluar dari kandang. Kandang itu kecil sehingga Sarimin harus menunduk untuk bisa duduk di dalamnya. Nah abis itu. Sarimin hanya dieksploitasi tanpa diperhatikan hak hidupnya. tetapi bagaimana kalau Sarimin mati kelaparan? Menurutku itu hal yang sangat kejam. untuk apa sebenarnya Sarimin ini? Diperlakukan kasar. Dek. monyet-monyet tersebut bukan milik mereka. Awalnya aku cukup prihatin dengan redupnya topeng monyet sebagai salah satu hiburan tradisional. baru dikasih rantai supaya ngerti yang harus dia kerjain. Pak?” “Ya.

aku biasa pergi ke perkampungan untuk sekedar mencuri hewan ternak mereka. Cukup banyak tempat yang dapat dijadikan persembunyian. Jika semua itu tidak ditemukan. sehingga kami sulit dilacak warga. Aku terbiasa makan binatang liar seperti kancil. atau kerbau liar. Sudah berkali-kali Wulu Ireng datang padaku. hanya kami gigit satu bagian tubuhnya. dan mencoba mengalahkanku. lalu kami tinggal pergi. Aku jarang memangsa manusia. demi mendapatkan aku agar keluar dari tempat halaman 81 dari 83 halaman . Hal itu berawal dari perebutan wilayah kekuasaan pada tahun-tahun yang sudah lampau. Tapi itu beberapa hari yang lalu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen !!! Oleh: Arie Toursino Hadi Aku berdiri di sebuah batang pohon. Biasanya jika ada manusia yang aku—atau bangsa kami terkam. bagaimana cara mengalahkan Wulu Ireng yang sudah menghabisi semua anak-anakku. Kupandangi seluruh semaksemak yang ada di hadapanku. Kini yang ada dipikiranku. rusa. Hingga pada waktu itu. Namun ia tidak pernah berhasil. Tempat itu adalah hutan rimba yang dekat dengan lapangan yang biasa dijadikan warga sebagai tempat mengembala hewan ternaknya. Aku dan Wulu Ireng memperebutkan tempat yang sekarang menjadi milikku. Sudah tiga hari ini aku tidak makan—atau lebih tepatnya belum sempat makan. Nafsu makanku seakan terkubur oleh perasaan dendam yang membara dalam hatiku.

mata kucingku yang mengkilat tajam memandang setiap sudut ruangan. sepasang sinar mata yang lebih besar muncul di atas mata yang kecil itu. Kusiapkan kuda-kuda untuk melompat. Dan kini. Makin lama. Yang aku tahu... Kembali kuperlihatkan gigiku. Ternyata pencarianku tidak sia-sia. Suara geraman juga aku perdengarkan agar lawan yang ada dihadapanku takut. Pemilik sinar mata itu memperlihatkan giginya. Gigiku kuperlihatkan. bunuh anak harus dibayar dengan anak. Tapi nasi sudah jadi bubur. ruangan gua semakin gelap. Tapi ia tidak beranjak maju. dan. Dari sini aku bisa mencium baunya yang khas. Setiap satu langkah. Ia terluka oleh sesuatu hal yang aku tidak tahu. Aku diberi tahu burung Jalak yang melihat kejadian tersebut. Aku harus waspada karena bisa saja tiba-tiba Wulu Ireng menerkamku dari mana saja. Aku bersiap untuk menerkam. Yang bisa ia lakukan hanya menggeram. suara itu makin keras. Hingga akhirnya aku sampai di ujung gua itu. Indra penciumku mengatakan bahwa di tempat inilah Wulu Ireng berada. Hmm.. Ia pun menggeram. Aku masih belum juga menemukan sosok Wulu Ireng.. terdengar suara erangan yang lebih keras. Suara lengkingan itu lebih kecil dari suara Wulu Ireng. ternyata Wulu Ireng sedang tergeletak sekarat di sana. Apalagi kini aku sedanng berdiri di depan pintunya. Ooh. aku sudah berada di wilayah kekuasaannya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen persembunyianku. Suara tangisan itu mulai mengganggu pendengaranku. Sejenak aku terdiam. Dan terus menggeram setiap aku langkahkan kakiku untuk menghampirinya. Kulihat dengan tajam yang ada di hadapanku. Semua “peralatan” perang sudah aku siapkan hingga akhirnya. Satu lompatan besar sebelum akhirnya aku berada di depan sebuah gua yang biasa menjadi tempat persembunyian Wulu Ireng. Berjaga terhadap kemungkinan terburuk. Tapi di mana dia? Kembali aku perhatikan sekeliling ruangan. Dari sini aku melihat ceceran darah di lantai. Aku pikir dia pun demikian. sinar dari bola mata yang kecil. Suara sayatan itu seolah terdengar hingga keluar gua ini. Aku pikir ia pun tahu konsekwensi hal tersebut. Wulu Ireng kini tengah halaman 82 dari 83 halaman . hingga terdengar seperti tangisan memohon agar aku tidak membunuh anaknya. Ku langkahkan kaki masuk ke dalam. Aku sudah unggul satu angka sebelum kami berkelahi. Belum sempat aku melompat. tanda bahwa apapun yang terjadi. Hukum di bangsa kami menyebutkan. Mungkin dia sudah mempersiapkan sedikit kejutan buatku. Itu lebih terdengar seperti suara anaknya. Tidak ada rasa cemas bagiku jika ia menyerangku sekarang. Aku tidak mau ambil resiko dengan berjalan ke sekeliling ruangan ini. Semakin dalam aku masuk. Aku terdiam agak jauh dari pojok ruangan itu. Bagiku. Wulu Ireng menyerang anakku dan membunuhnya. Aku yakin itu anak Wulu Ireng. Ku perhatikan ceceran darah yang ada di lantai. suara geraman itu pada awalnya terdengar seperti ancaman agar aku tidak mendekatinya. ia tidak bergerak maju sekarang. Namun kali ini bukan suara Wulu Ireng. Aku melangkah maju. aku akan tetap membunuh anaknya. Aku harus waspada.

Berteriak bangga karena aku gagal melaksanakan dendamku. Ia tidak rela anak yang kini ada di pelukkannya terbunuh oleh tanganku. berganti dengan suara tangis bahagia bercampur sedih dari Wulu Ireng.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen menggigit dan mencabiki anaknya sendiri. Makin lama suara tengisan kecil itu menghilang. halaman 83 dari 83 halaman .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful