BEJAT

:
sebuah kumpulan cerpen

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

PENGANTAR “BEJAT: sebuah kumpulan cerpen” adalah salah satu tugas yang dibebankan pada mahasiswa Matakuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi (MPKT) FIB-UI kelas 4, semester ganjil 2009/2010. Tugas ini diberikan sebagai penambah nilai pada pokok bahasan pertama yang bertema “kekerasan.” Dengan demikian, dapat kita pastikan bahwa tema-tema yang termuat dalam cerita-cerita yang terkumpul di dalamnya adalah cerita tentang kekerasan. Kekerasan di sini mempunyai beragam bentuk. Di antaranya kekerasan suami kepada istrinya, orang tua kepada anaknya, senior kepada junior, hingga manusia kepada hewan. Kekerasan tidak melulu dalam bentuk fisik. Seseorang yang mengalami penderitaan secara psikis juga dapat disebut sedang mengalami kekerasan mental. Kembali ke topik kumpulan cerpen ini. Dengan membaca kumpulan cerpen secara tidak langsung kita mengenal karakter seseorang dari tulisannya. Tiap orang memiliki pengalaman dan pemahaman yang berbeda memandang sesuatu hal. Dari perbedaan tersebutlah karakter seseorang dapat kita ketahui. Ada yang menulis cerita berdasar pada pengalaman hidupnya, ada yang menulis berdasar pada perasaan pada saat ia sedang menulis, dan ada yang menulis berdasar pada ide atau angan-angan yang ia harapkan. Semua menjadi satu, dan menarik untuk Anda pelajari satu per satu. Selamat menikmati.

Penyusun Arie Toursino Hadi

halaman 2 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

DAFTAR CERPEN Cerpen Bertema Kekerasan...................................................................................................................M Reza Fatahilla

The Apartement..........................................................................................................................Ervilia Lupita Andriyanti
Kekerasan Dalam Kehidupan........................................................................................Glory Meirisa Pakpahan Diaz dan Anwar.............................................................................................................................................Indah Permata Sari Yumi...................................................................................................................................................................Indra Puspita Kusuma Kau Bukan Ayahku.......................................................................................................................................Intan Puji Lestari Keluarga dan Sekolah.........................................................................................................................Irvanuddin Rahman Liburan Lebaran.............................................................................................................................................Jodia Pravita Dini Cinta, Kinanti!.........................................................................................................................................................Juwita Anindya (untitled)............................................................................................................................................................Dwi Cahyaningtyas Cerpen Tentang Kekerasan..............................................................................................................................Kartika Putri Tindak Kekerasan Pemerintah Terhadap Anak-anak Jalanan.......................Khamim Hudori Kau dan Kekerasanku.....................................................................................................................................Khaula Fathina Cinta Terlarang.............................................................................RA Koeshamimurti Tosani Natya Laksitha Benderaku.....................................................................................................................................................................Krisna Karim Z Eyang Neli......................................................................................................................................................Lestari Sari Pambudi Bejat.......................................................................................................................................................................Fauzana Fidya Rizky Akhir dari Cinta Sejati................................................................................................................................................Lia Pratiwi Murti................................................................................................................................................................Louise Viranti Lasnida Si Cantik yang Malang...................................................................................................................Fazra Fatima Azzahra Jangan Main Hakim Sendiri............................................................................................................Lourin Hertyastiwi Jan............................................................................................................................................................................................Marsha Jozana Kenangan..........................................................................................................................................................Muhammad Garit N Kekerasan Terhadap Anak...................................................................................................Munadhilah Ummahat Balada Sarimin.......................................................................................................................................................Nadia Khaerani ! ! ! ....................................................................................................................................................................................Arie Toursino Hadi

halaman 3 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

CERPEN BERTEMA KEKERASAN
Oleh: M Reza Fatahilla

Dahulu

saat kepemerintahan Hitler di Jerman, hiduplah seorang saudagar Yahudi yang sangat kaya bersama tiga anak lelakinya. Aku adalah anak orang kaya berkewarganegaraan Inggris yang bekerja sebagai fotografer untuk sebuah perusahaan media jurnal di Inggris Raya dan menetap di Jerman semasa kepemerintahan Hitler. Pada suatu hari sedang dilaksanakan patroli militer Jerman terhadap orangorang Yahudi, yang menyebabkan kekacauan dan kerusuhan. Rumah-rumah banyak yang terbakar akibat patroli tersebut, pasar-pasar pun berantakan akibat tindakan semena-mena dari tentara Jerman. Saudagar Yahudi yang sangat kaya bersama tiga anak lelakinya mendadak menjadi jatuh miskin, selain itu mereka juga disiksa dan dikucilkan karena mereka keluarga Yahudi. Siang itu aku sedang berjalan di pasar yang telah porak poranda akibat patroli Yahudi tadi siang untuk melihat-melihat dan tidak sengaja aku melihat saudagar Yahudi yang sangat kaya dengan tiga anak laki-lakinya sedang bermain sulap, lalu aku tertarik untuk mendekatinya. “Hai kalian, tunjukan sulap terhebat yang pernah kalian punya kepadaku,”
halaman 4 dari 83 halaman

Monumen itu adalah monumen Hitler yang sangat megah dengan penjagaan oleh tiga orang polisi militer jerman di sekelilingnya. Lalu aku berjalan melewati monumen itu dan mencari sebuah toko yang menjual air mineral. Membuat bunga dari kertas. Setelah itu aku pergi meninggalkan mereka. “Pak. Dengan cepatnya polisi militer Jerman mendorong ketiga wanita Yahudi tersebut sampai mereka tergeletak jatuh di aspal jalanan dan beberapa saat kemudian terdengar bunyi tembakan senjata sebanyak tiga kali. Saya adalah Yahudi. Lalu aku berjalan ke depan sejauh 50 km dari pasar tersebut dan aku sampai di kota Berlin. “Saya mohon ampun. terlihat lima orang polisi militer Jerman bersama tiga wanita orang warga Jerman sedang berjalan di tepi jalan. Kami punya harga diri! Kami ingin bebas!” sahut suara temannya itu. harganya 10 pence” jawab penjual toko. “Baiklah tuanku. Mereka tetap dipukuli dan disiksa sampai babak belur di pinggir jalan tersebut. Dan aku sesaat baru menyadari bahwa mereka yang disiksa adalah warga Jerman yang beragama Yahudi. Namun. Mereka ditendang.” jawab mereka berempat. membuat api dari plastik dan lain-lain. Mereka bermain dengan lincah dan sangat hebat.” pintaku kepada penjual toko. halaman 5 dari 83 halaman . dipukuli. dan diludahi oleh polisi militer Jerman itu. mengapa mereka bertindak tidak manusiawi seperti itu. Saat itu. apakah kejadian seperti barusan di jalanan sudah sering terjadi?” tanyaku. karena leher sudah terasa sangat kering dan haus. Saya punya harga diri!” sayup-sayup suara isak tangisan salah seorang Yahudi itu. Mereka diperlakukan bagai binatang. Namun tetap saja polisi militer Jerman tidak mendengarkan rintihan mereka. Lalu aku berjalan menuju toko yang menjual sebuah air mineral. Sekejap nyawa ketiga wanita Yahudi itu pun lenyap. benar. “Ini silahkan tuan. “Ya. Dan aku hanya bisa melihat dan memfoto segala kejadian yang terjadi saat itu untuk bahan dokumentasi jurnal. Aku terus melihat dan memfoto kejadian tersebut sebagai bahan dokumentasi. Aku sangat terhibur lantas memberi mereka uang logam 5 pence dan tidak lupa menyuruh mereka bergaya menghadap kamera serta memfoto mereka sebagai bahan dokumentasi jurnal. tiga wanita tersebut disiksa habis-habisan. Aku disajikan pemandangan sebuah monumen besar di tengah taman kota yang hijau rumputnya dan ramai akan banyak orang. “Kami ingin bebas! Kami tidak ingin disiksa seperti ini terus! Kebebasaaaaaaaan!” teriak mereka bertiga. ”DAAWR! CKCK DAWR! CKCK DAWR!” Suara tembakan polisi militer Jerman kepada tiga orang Yahudi itu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kataku. “Saya mau beli satu botol air mineral pak. Pak! Sudahi penderitaan saya. Dan tiba-tiba ketiga wanita Yahudi tersebut menyerang kelima polisi militer Jerman tersebut dengan mendorong-dorong. Aku pun heran.

” kata pramugari cantik tersebut. jurnal anda terpilih menjadi topik utama televisi terkenal kota Manchester. aku membeli tiket dan naik kereta sampai kota Munich dan sore telah menjelang. Setelah tiga puluh menit tidak terasa perjalanan aku mencoba bangun dari tidur. dengan mata yang masih mengantuk. karena jurnal yang aku buat sangat detil dan berdasarkan kejadian faktual. “Yeeeeeeeeeesss! I’m freee! Yuhhuu! “ aku berteriak akan keberhasilan. jurnal tersebut masuk dalam berita utama televisi terkenal di kota Manchester tersebut. Aku bingung dan baru menyadari ternyata dia adalah teman kantor dari perusahaan media jurnal.” jawab penjual toko. Tuan.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Ya. aku menceritakan hasil laporan jurnal yang aku dapat di Jerman. Inggris. kira-kira 55 km dari toko itu. kita telah sampai di Manchester. Seminggu kemudian. Tuan. Aku langsung mengambil tas bawaan dan menuju lobby bandara Manchester dan terdengar suara yang sudah familiar di telinga. sebenarnya saya juga sudah gerah melihat kelakuan polisi-polisi militer itu. Dan ceritaku berakhir sampai di sini. Lalu. namun mereka sangat puas. “Selamat sore. halaman 6 dari 83 halaman . Pemandangan matahari yang sangat indah saat terbenam di kota Munich. Tamat. “Haaai! Kamu apa kabar?” tanya wanita itu kepadaku. Setelah itu aku langsung menuju bandara dan melakukan penerbangan menuju Manchester. Lalu aku diantar ke perusahaan dan di sana aku bertemu teman-teman kantorku dan mereka bergembira menyambut kedatanganku karena sudah lama sekali mereka tidak bertemu denganku. Mungkin sedikit lelah perjalan dari Jerman” jawab diriku.ngantuk dan tiba-tiba seorang pramugari yang cantik membangunkan aku. namun itu sudah menjadi peraturan semenjak Hitler berkuasa. Mereka tercengang mendengar hasilnya. aku baik saja. “Selamat siang. Setelah itu aku memfoto bapak penjual tersebut dan pergi menuju stasiun kereta api yang bernama Zoo yang terletak tidak begitu jauh. “Oh. Aku pun kini naik jabatan dan terus memberikan kontribusi yang bagus bagi perusahaan media jurnal tersebut.” pernyataan ketua direksi perusahaan media jurnal. Sesampai di sana. periksa kembali barang bawaan anda. Selama perjalanan di pesawat terbang aku hanya terdiam dan menulis sebuah catatan perjalanan selama di Jerman pada sebuah buku kecil yang muat di saku jas hitam yang sore itu aku pakai di pesawat terbang dan tidak lama kemudian aku tertidur lelap. Selamat. Dengan ini saya promosikan anda untuk naik jabatan dan naik gaji. Terima kasih.

agak heran mengapa mereka tidak langsung saja memutuskan untuk segera menikah. ketika Aya menghubungi kami dan mengundang kami untuk makan malam bersama di apartemen barunya. kami berdua segera mengiyakan lalu dengan semangat pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa bahan makanan yang dimasak bersama nanti. Mengetahui hubungan keduanya yang sudah cukup lama. aku teringat beberapa bulan yang lalu Aya mengabarkan kepada kami kalau ia akhirnya memutuskan untuk tinggal di apartemen kekasihnya. Namun.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen THE APARTMENT Oleh: Ervilia Lupita Adriyanti Saat ini sudah pukul lima lewat dua puluh satu menit ketika kami. salah satu teman dekat kami ketika masih duduk di bangku SMA. Ryo. Rei. Sebenarnya itu adalah kabar yang sedikit mengejutkan. Detik selanjutnya pun kami saling halaman 7 dari 83 halaman . Sebuah senyum terlukis di bibir Rei ketika aku menekan bel apartemen Aya dengan siku kananku seakan tidak sabar menunggu Aya membuka pintu apartemennya. Di depan pintu apartemen Aya. juga ingin melihat sosok seorang Ryo yang selama ini kami hanya kenal melalui cerita-cerita dari Aya saja. tiba di depan pintu apartemen milik Aya. aku dan seorang temanku. Oleh karena itu. kedatangan kami ke apartemen mereka kali ini. pintu itu tidak terbuka. Oleh karena itu.

” Rei menunjuk bel apartemen Aya dengan dagunya. menunggu adakah suara derap langkah kaki dari dalam sana. pintu apartemen itu terbuka dan kami melihat teman kami. tidak lama lagi. Mungkin itu wortel. ” “Kalian tidak memajang satu pun foto di sini. Bersamaan dengan itu ia menunjuk sofa ruang tengahnya dan memberi isyarat dengan matanya agar aku duduk saja di sana. Kini aku menurunkan kantung belanja yang aku jinjing di tangan kananku lantas menekan sekali lagi bel tersebut. Ia tersenyum lebar ketika melihat kami berada di depan apartemennya. Setelahnya.” Rei menambahkan.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen berpandangan dan mulai bertanya-tanya mengapa Aya belum membuka pintu apartemennya. kan?” sambil mengenakan sandal berwarna putih polos yang diletakkan tidak jauh dari pintu.” aku dengan cepat mengganti topik ketika sadar tidak ada satu pun figura foto yang tergantung di dinding ataupun dipajang di atas meja. “Ya. Perlahan. “Tom. Lalu. “Hah? Benar tidak apa-apa aku tidak membantu?” “Tidak. Aya. “Mmm. aku mengangguk.” Aya melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah dapur sambil mempersilahkanku untuk duduk di sofa ruang tengahnya.” sambil melambaikan tangannya cepat.. ketika ia lihat aku membawa dua buah kantung belanjaan. Kini ia sudah berada di ruang tengah apartemen dan melihat ke sekeliling ruangan. Biar aku dan Rei yang menyiapkan semuanya di dapur. Agak mengherankan memang ketika sebuah rumah tidak halaman 8 dari 83 halaman . “Jam berapa Ryo pulang dari kantornya?” dari arah dapur aku mendengar Rei bertanya. dia mengambil salah satu kantung itu dariku dan mulai melihat ke dalamnya. duduk saja dulu. tadi Aku ketiduran. karena kami berencana membuat nasi kare. “Coba tekan belnya sekali lagi. Kalian belum lama. Suara itu kemudian disambung dengan suara kunci pintu yang dibuka. Pertanyaan itu disusul dengan suara pisau yang mulai bekerja memotongmotong bahan makanan. Tidak ada jalan lain. ia seakan menahan langkahku yang berusaha memasuki dapur apartemennya. Biar wanita saja yang memasak di dapur. “Kalian sudah membeli tepung okonomiyaki-nya juga. kami berdua mulai memasang telinga baik-baik. aku hanya mengangguk-angguk pelan sambil mulai melihat ke sekeliling ruangan tersebut. Kali ini dengan jari telunjukku. Kami juga membeli lebih kalau kamu ingin memasaknya lagi.. di belakang pintu itu. Aya pun mengucapkan terima kasih sambil menutup kembali pintu apartemennya dan menguncinya lagi. “Maaf. Rasa penasaran kami tiba-tiba terbayar ketika kami sama-sama mendengar suara langkah kaki dari dalam apartemen.. kan?” Aya sedikit bergeser ke sebelah kanan dan mempersilahkan kami masuk ke dalam apartemennya.

tidak pernah. Rei. “O.. sedang memasak... Aku tersenyum sambil menundukkan badanku sedikit. “A.. langkahnya langsung terhenti ketika melihat kami di ruang tengah. Kemudian. aku mulai merasakan ada sesuatu yang aneh di sini. “Mereka. Benar juga. Apakah mobil putih di parkiran bawah milikmu. dari kejauhan aku melihat seseorang mengenakan setelan jas di luar sana.” Ryo mengiyakan ucapan Aya. Ketika pintu mulai terbuka. “Aku. Aku mulai menebak kalau orang itu adalah Ryo. Sementara itu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen dihiasi paling tidak satu foto pemiliknya. Ia lalu tersenyum kepada kami. entah mengapa suasana menjadi sedikit tidak nyaman. yaa. “Jarang sekali Aya mengundang temannya datang ke sini.” Aya mulai berusaha mencairkan suasana. Ryo. Namun. kulitnya agak sedikit coklat jika dibandingkan dengan warna kulitku. di saat yang bersamaan terdengar bunyi bel pintu. Matanya memandang kami penuh dengan rasa penasaran. Tom? Sepertinya kamu memarkirkannya di tempat orang lain. Ketika ia mulai melangkah masuk. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah pintu apartemen.” Aya dengan segera keluar dari dalam dapur kemudian disusul oleh Rei.. Tom dan Rei. “Yaa. Tunggu sebentar. Lalu. Entah mengapa ia terus saja memandang ke arahku. ia pun melepaskan celemek yang ia pakai dan menyampirkannya di kursi meja makan. Hanya sesekali ia memandang Rei. dan Aya.. Senyuman yang disunggingkan Ryo seperti dipaksakan atau bahkan sebenarnya Ryo tidak menyukai kehadiran kami sejak awal. yaa. Sebaiknya di pindahkan saja. Bersamaan dengan itu.” bersamaan dengan itu ia kembali membuka kunci pintunya. Ryo..” “Mereka teman SMA-ku.. Rei juga melakukan hal yang sama.” halaman 9 dari 83 halaman . Ryo mengalihkan pandangannya ke arah Aya dan mulai mengangguk-angguk. Rambutnya pendek dan tingginya hampir sejajar denganku. Kini. Aku saja yang seorang laki-laki masih memajang foto kelulusanku ketika SMA di ruang tengah apartemen. “Mungkin. “Hmm.” “Masak?” Laki-laki itu kini membuka jasnya...” “Bahkan tidak ada foto Ryo satu pun di sini. Laki-laki berperawakan tegas. “Apakah itu Ryo?” terdengar suara Rei bertanya dari dalam dapur. “Kenapa lama sekali kamu membuka pintunya?” laki-laki itu mulai memasuki apartemennya.. Bahkan. aku berpikir ada baiknya kamu juga mulai mengenal teman-teman baikku. iya. “Teman SMA?” Ryo mulai melangkah mendekat.” Benarlah ternyata laki-laki itu adalah Ryo.” ucapnya dengan suara yang sedikit berat. “A. Suara bel yang kedua menyusul kemudian.. Sepertinya dia belum menyadari kehadiran kami.” aku menambahkan tanpa mengindahkan jawaban terbata-bata yang dilontarkan oleh Aya.

Sesaat kemudian kami mendengar suara Aya dari dalam.” Rei pun membuntutiku dari belakang. Setidaknya tidak ada orang yang menunggu di sana dan mengatakan bahwa kami harus segera memindahkan mobil kami ke parkiran yang lain. “Sudah aku katakan kamu tidak boleh membawa laki-laki ke apartemen ini!!” kini terdengar suara bentakan Ryo dari dalam apartemen. Ketika Rei mulai menekan bel.. “Apa yang kamu lakukan?! Apa kamu sudah gila?!” aku balik meneriaki Ryo ketika kami saling berebut pemukul itu. Kami terlonjak kaget dan mulai berpandangan. sebuah lampu kaca sudah terjatuh dan pecahannya menyebar tidak beraturan. Kami kembali menuju apartemen Aya dengan perasaan bingung. Tidak sampai di situ. Aku hanya bisa memperlihatkan ekspresi ‘benarkah?’ tanpa berkata-kata. Ia menangis dan Ryo berdiri sambil mengarahkan pemukul baseball ke arahnya. Mimik wajahnya berubah menjadi sangat khawatir. “Tom hanya temanku. halaman 10 dari 83 halaman . “Hei!” aku dengan geram melangkah masuk dan mencoba merebut pemukul baseball tersebut. Suaranya lirih. Dengan cepat aku buka pintu tersebut dan mendapati Aya tersungkur di lantai ruang tengahnya.” Kami semakin kuat menggedor pintu tersebut walaupun sepertinya Ryo berusaha tidak mengindahkannya. Sementara itu.. Ryo juga mengarahkan tendangan kakinya ke arah tubuh Aya yang sudah tidak berdaya. Aku berusaha menghindar. Tidak jauh dari mereka.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Masih dikuasai oleh suasana canggung beberapa saat yang lalu. “Sepertinya aku ikut saja ke bawah. “Ini bukan urusan kalian!!” Kini Ryo mengarahkan pemukulnya kepadaku dan mulai memukulnya kepada secara membabi buta. “Apa yang terjadi?” Rei terlihat syok.” sambil memberikan isyarat kepada Aya. Kami sontak tercengang dan mulai menggedor-gedor pintu apartemen tersebut sambil meneriakkan nama Aya. Namun. tidak ada tanda-tanda bahwa kami memarkirkan mobil di tempat yang salah. “Kalau begitu aku ke bawah dulu. Ryo seperti sudah hilang kendali dan ia mendorongku dengan kuat hingga Aku terjatuh.” “Teman?!” “Maafkan aku. terdengar suara sesuatu jatuh kemudian pecah dari dalam apartemen. Tiba-tiba aku dengan refleks mencoba memutar kenop pintu dan ternyata pintu itu tidak terkunci. aku pun segera berjalan ke arah pintu apartemen. Langkah kami berhenti di depan pintu apartemen Aya untuk kedua kalinya. Ketika kami sampai di parkiran sekitar lima belas menit yang lalu. Rei juga berlari memasuki ruangan dan langsung memeluk Aya yang masih tergeletak di lantai. tapi pukulannya yang bersarang di punggungku mulai meruntuhkan kekuatanku.

. Seminggu kemudian. Ketika kami terus berbaku hantam. “Aku mohon hentikan. Ryo langsung mendorong Aya ke arah belakang.. yang paling melegakan ketika kami juga diberitahukan bahwa Aya memutuskan untuk kembali tinggal bersama kedua orang tuanya. kami melihat Aya tergeletak tidak sadarkan diri dibawah sebuah rak kaca di dekat meja makan.. Darah mulai mengalir keluar dari balik rambutnya yang sudah acak-acakan. Sementara itu.” suara Aya mulai melemah. Rei pun mulai menarikku kebelakang agar menjauh dari Ryo..” seperti sudah tersadar. Tapi tidak ada respon sedikitpun.. halaman 11 dari 83 halaman . Ryo berada di bawah tahanan polisi setelah Aya menceritakan segala bentuk kekerasan yang dilakukan Ryo kepada dirinya selama mereka tinggal bersama di apartemen tersebut. tanpa pikir panjang. Tapi. tanpa sadar Aya sudah berada diantara kami dan berusaha memisahkan kami berdua. “DIAM!!” Ryo menendangkan kakinya hingga Aya kembali tersungkur di lantai. Tangannya mulai menggapai-gapai pergelangan kaki Ryo dan memeluknya. kami mendengar kabar Aya sudah melewati masa kritisnya dan tidak lama lagi akan segera meninggalkan rumah sakit. “Aya!!” diiringi teriakan keras dari Rei. Sementara itu isak tangisnya semakin menjadi-jadi. Kami bertiga langsung mengalihkan pandangan kami ke arah sumber suara..... “Aya. PRANG. Namun.. Namun. Seperti bukan Ryo yang beberapa saat lalu sangat menakutkan. Ryo seakan tidak peduli dan ia kembali balik menyerangku.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Ryo! Hentikan!” Aya berteriak keras sambil terus menangis di pelukan Rei. “Sekarang hentikan semua ini atau aku akan menelpon polisi!” aku berusaha berdiri dan berbalik menodongkan pemukul itu kepadanya. Ryo mendekati Aya lalu menggoncanggoncangkan tubuh wanita muda itu. Ryo yang sekarang mulai memeluk Aya dan menangisinya. Ketika itu. konsentrasi Ryo seperti terpecah dan aku menemukan kesempatan untuk merebut pemukul baseballnya. aku dan Rei hanya terpaku saja melihat pemandangan itu. Tiba-tiba semuanya hening. Aya.

kakak tertua dari Gina dan Gisel. Namun lain keadaannya dengan Faris. Saat ini Faris sedang melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas swasta di Jakarta. Ibu Susanto pun adalah seorang wanita karir yang bekerja di salah satu perusahaan asuransi terkemuka di Indonesia. dan ketiga anaknya yang bernama Faris.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KEKERASAN DALAM KEHIDUPAN Oleh: Glory Meirisa Pakpahan Pada suatu hari di daerah pinggiran kota Jakarta. Gisel dan Gina adalah anak kembar yang saat ini sedang meneruskan pendidikannya ke tingkat SMA. direktur utama dari salah satu perusahaan ternama di daerah Jakarta. Keluarga itu terdiri dari seorang ayah. hiduplah sebuah keluarga yang mapan dan berpendidikan. dan Gina. Gisel. ibu. Orang tua mereka sangat membanggakan dua putri kembarnya itu. Kepala keluarga itu bernama Susanto. Orang tua mereka ingin sekali kedua anak kembarnya itu bisa bersekolah bersama di SMA unggulan. Kedua orang tua Faris sangat kecewa dengannnya karena Faris tidak dapat memenuhi keinginan orang tuanya untuk melanjutkan kuliah di halaman 12 dari 83 halaman . maka keduanya bisa bersekolah di SMA unggulan yang sama. Gina dan Gisel. Memang pada dasarnya kedua anak itu adalah anak yang cerdas.

Saat itu aku menyarankan kepada Faris untuk membuktikan pada orang tuanya bahwa Faris mampu dan tidak bisa dipandang sebelah mata. Dan kudapati satu buah pesan dari Faris yang berisi. Nasib Faris cukup dibilang kurang beruntung. Ketika sudah bertemu dengannya. lo mau ga ketemu gw siang ini ditaman deket komplek humz gw?” Cepat-cepat aku membalasnya dan setuju untuk bertemu dengannya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen universitas negeri. aku pun memutuskan untuk kembali pulang. Kedua orang tuanya pilih kasih. namun Faris tidak bisa memenuhi segala keinginan orang tuanya. Ia tidak bisa memenuhi keinginan orang tuanya untuk masuk perguruan tinggi negeri. aku sangat memehami apa yang ia rasakan. aku hanya dapat bertemu dengan pembantu yang biasa bekerja disana. Faris merasa malu.00. Namun saat ini Faris bener-benar menghilang bagai ditelan bumi. Ia merasa seperti benalu dalam kehidupan keluarganya. Orang tua Faris sangat memaksa Faris untuk menjadi yang terbaik. Karena aku tidak ingin terlalu banyak ikut campur. biasanya ia selalu sms atau paling tidak meneleponku saat akhir pekan. ia mulai bercerita tentang kehidupannya di rumah. Oleh sebab itu Faris selalu dihukum oleh kedua orang tuanya bahkan orang tua Faris suka melakukan kekerasan pada dirinya. sahabatku. Sesekali dari luar aku mendengar suara ribut dari arah kamar Faris.” Saat itu aku merasa terenyuh dengan keadaan Faris. tidak dapat lulus S1 dalam waktu 4 tahun. Akhirnya pada malam itu pun aku menemuinya. Mas Faris sedang dihukum tuan dan nyonya karena di kamar Mas Faris ditemukan rokok dan minuman keras. Goresan ikat pinggang pada badannya sudah menjadi hal yang biasa. “Pagi. Dua minggu berlalu dan aku tidak mendapat kabar dari Faris. Hingga suatu ketika ia meneleponku dan mengajakku untuk bertemu di salah satu cafe. Untuk menghilangkan rasa penasaranku. Farisnya ada?” Lalu si Mbak menjawab “Maaf Non. ia selalu diremahkan dalam keluarganya. aku pun berniat mendatangi rumah Faris yang tidak terlalu jauh dari komplek rumahku. Aku mulai curiga dengan keadaan Faris. Mereka lebih menyayangi Gina dan Gisel karena menurut mereka Gina dan Gisel tidak membuat malu nama keluarga mereka. “ Mbak. Waktu terus berjalan hingga pukul 21. Saat itu Faris hanya bercerita bahwa ia sangat tidak dihargai di rumah. Aku mendengar suara ayah Faris dan ibunya yang sedang membentak Faris. tiba-tiba handphone-ku berdering. Aku pun bertanya. dan selalu menjadi bahan pembicaraan rekan-rekan di kantor ayahnya. Aku pun sedih mendengar kesaksian dari Faris. ia merasa rendah dan tak berguna bagi keluarganya. Dua hari setelah aku mendatangi rumah Faris. Klo lo ada waktu. Pukulan yang diberikan ayahnya pun sudah halaman 13 dari 83 halaman . baik lewat telepon atau sms. maaf ya gw ganggu. aku dan Faris mengakhiri pertemuan malam itu dan berharap semoga Faris bisa menjalani kehidupannya dengan sabar. Ketiaka sampai dirumah Faris.

dan merasa rendah. halaman 14 dari 83 halaman . Kekerasan yang dialami Faris bukan kekerasan yang baru terjadi sesekali ini. Faris memang harus berbicara pada kedua orang tuanya secara baik-baik tentang masalah yang dihadapinya. Sehingga pada minggu yang lalu Faris merusak tubuhnya dengan mencari pelampiasan seperti rokok dan alkohol. tapi sejak Faris duduk di bangku sekolah dasar ia memang sudah mendapat kekerasan dari ayahnya. menangis. Dan menjelaskan pada kedua orang tuanya bahwa kekerasan bukanlah menjadi kunci dalam suatu permasalahan. Dan mungkin jika ada waktu yang tepat. melainkan kekerasan hanya dapat menimbulkan masalah baru. Saat itu aku hanya bisa memberi dorongan dan semangat pada Faris. Sungguh perasaan Faris bercampur jadi satu. Ia ingin marah.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen jadi makanan Faris setiap hari. supaya ia tidak menyia-nyiakan hidupnya dan tidak merusak tubuhnya dengan benda-benda haram itu.

Dan dia pun sudah merenggut keperawananku. Dan aku pun mencintainya!” halaman 15 dari 83 halaman . Jawabannya adalah aku tidak lagi mencintaimu.” “Kenapa? Dengan cara apa?” kau pun bertanya dengan hati bergetar. “Hai. Tapi aku telah banyak menyakitimu dan akan terus menyakitimu. Menunggunya yang tak juga menghampirimu walaupun sudah sejam berlalu.” Kau pun memulai pembicaraan.” Rani. Aku tahu sekarang jawabannya. kini masalah sudah selesai. tapi tak tahu terasa ada yang berbeda. Kau pun diam tak tau ingin bicara apa. di sudut ujung jalan. memang sudah selesai. Kau pun bertanya. Tanpa sadar aku mencintai ayahmu yang sudah tak beristri itu. Kau memulai sedikit kata. “Iya. wanita yang kau sapa itu menjawab. Tapi dia yang kau ajak berbicara hanya menjawab sapaanmu dengan air mata yang tumpah ruah tak ada tara. Setelah ribuan masalah yang telah kau hadapi bersamanya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen DIAZ DAN ANWAR Oleh: Indah Permata Sari Kau berdiri di sana. Akhirnya kau tak sabar dan menghampirinya. “Ada apa? Apa yang terjadi? Bukankah masalah kita sudah selesai. “Setelah ribuan masalah datang menghampiri kita.

Anwar. Bersamaku. Nasi telah menjadi bubur. Kau tak bisa berbuat apa-apa lagi. Kau pun melanjutkan hidupmu seperti biasa walaupun setiap harinya hatimu hancur tak terkira. Dan menerima adik barumu. ya Tuhan? Apa yang harus kulakukan? Inikah balasan untukku yang telah menjaga dengan baik belahan jiwaku?” Kau berteriak seperti tak berakal. “Diaz. Tak ada kejadian pun yang kau lupakan. Ingin rasanya kau membunuh ayahmu sendiri. Tanpa merasa berdosa mereka mengenalkan adik barumu Yoga.” Ayahmu memaksa kamu untuk menerima kenyataan pahit ini.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Bumi serasa berguncang. halaman 16 dari 83 halaman . Rani menghilang bersama ayahmu. Lima tahun kemudian. Dan kini kau menjalin hubungan cinta bersamaku tanpa sadar. tapi ternyata hubunganmu dengan Rani membuatmu trauma menjalani hubungan. Dan mulai hari ini kami akan tinggal bersamamu. Kau harus memanggil mantan kekasihmu Rani dengan sebutan 'Ibu'. Yoga. Sudah lima tahun kau tidak mendapat pengganti Rani. Yang telah merenggut belahan jiwamu yang sedari dulu kau jaga. Beruntung ujung jalan sedang sepi tak ada satu pun orang. Dan itu kau lakukan dengan ayah kandungku sendiri. Dan kami bahagia menjalani hubungan sesama jenis ini. Rani dan ayahmu kembali. semua kau ingat dengan jelas. Setelah kejadian itu. ”Aku harus berbuat apa. “Jadi selama ini kamu menghianatiku. seakan tak mampu menahan langit yang mulai bergeming. Hanya kicauan burung di beberapa pohon besar. Tapi apa daya. Ini adik barumu. JAHANAM KAU! BEDEBAH KAU! SAMA SAJA DENGAN AYAHKU!” Kau pun membelalakkan mata dan air mata pun tumpah tak terkira. kenalkan. Yoga.

Kami terlibat dalam satu klub ekskul softball di sekolah kami. sudah lama aku menunggu hari ini. Dia menjelaskan bahwa dia memergoki Jun selingkuh dengan gadis lain. cerdas dan juga ceria. Penampilannya yang halaman 17 dari 83 halaman . prestasi non-akademiknya juga sangat memuaskan. pikiranku selalu tentang Yumi. karena aku akan segera menghampirinya. Aku pun berkata padanya untuk tetap tinggal di tempat dia berada. Tak disangka sekarang ini. suara isak tangisnya membuatku tidak tega dan segera ingin datang kepadanya. kami diterima di fakultas yang sama. Dia adalah gadis yang paling mendekati sempurna menurutku. Aku mengenalnya sejak SMA. Yumi adalah gadis yang sangat cantik. Selain prestasi akademiknya yang tinggi. Kebetulan rumah kami berdekatan maka kami jadi semakin akrab. Sejujurnya. Jarang sekali Yumi meneleponku enam bulan terakhir ini. di sebrang telepon. hatiku sangat gembira. memberikan bahuku untuknya dan menghapus air matanya. Sejak dia mulai berpacaran dengan Kibum. Tetapi.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen YUMI Oleh: Indra Puspita Kusuma Aku terkejut ketika mendapati tulisan nama yang berkedip-kedip tanda ada seseorang menelepon ke telepon genggamku. Selama perjalanan aku ke tempatnya. Bisa dibilang dia adalah sahabat dan orang yang selalu ingin aku lindungi.

Terima kasih.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen berbeda dari semua gadis seusianya membuat banyak lelaki mengejarnya. kau akan melupakan ini semua. “Yumi. “Hmm…boleh juga. Seluruh keluarga besarnya ada di Seoul. salah satu senior yang cukup terkenal karena prestasinya di bidang olahraga. bagaimana jika kita cari minum untukmu?” Yumi pun tersenyum dan mulai berdiri.” aku menaruh cangkir tehnya di depan dia. Dia terdiam sejenak. Aku sengaja tidak menanyakan kejadian Kibum dulu kepadanya. “Apakah kau sudah siap untuk menceritakannya?” tanyaku. “Wah. suaranya mulai bergetar dan matanya mulai berair.” Aku berlutut didepannya dan mencoba menenangkannya. “Apakah yang harus aku lakukan. kau masih ingat saja dengan teh kesukaanku. aku menyuruhnya untuk duduk saja. Matanya masih berkacakaca. Aku tidak tega melihatnya. Tetapi lelaki ini ternyata juga berhasil melukai hati Yumi. Hati Yumi pun berlabuh di hati Kibum. Betapa aku ingin dia segera halaman 18 dari 83 halaman . Tanya padanya siapakah gadis itu. “Hhh… Baiklah… Pagi tadi ketika aku mau berolahraga ke taman. “Jangan menangis lagi. Karena aku tahu itu akan menyakiti hatinya. mungkin ada baiknya kau tanyakan dulu kepadanya. Aku mengerti. aku mencoba menghiburnya sedikit dengan lawakan-lawakan garingku. Jelaskan bahwa kemarin kau memergoki dia dengan gadis lain. Minho? Aku sangat mencintai Kibum. Aku sudah hafal teh yang biasanya dia pesan. aku lihat Yumi duduk tertunduk di ayunan yang tidak bergerak. Ketika aku sampai di taman itu. Lalu ia bertanya lagi. “Jika kau masih mencintainya. Dia terdiam dan tetap terlihat cantik. Aku menghampirinya sambil menyodorkan sapu tanganku kepadanya seraya berkata. aku melihat mobil Kibum di depan taman. Sesampainya di kafe tersebut. “Aku melihat Kibum didalam mobil dengan gadis lain.” jawabnya sambil tersenyum. “Ini teh mu.” jelasku. Kali ini tangisnya deras. “Kau tidak pantas menangisi lelaki macam dia. kayaknya itu enak. Minho. Jarak mereka dekat sekali. pasti dia sangat dikecewakan oleh Jun. Tangisannya reda tetapi air matanya masih keluar.” jawabnya. Aku masih tak percaya posisinya sekarang adalah di dalam pelukanku. “Aku sangat mencintai Kibum….” jelas Yumi. Di perjalanan.” Terpaksa aku berbohong.” gumamnya “Apakah kau yakin itu bukan sepupu Kibum?” tanyaku “Yakin! Hanya keluarga dia yang ada di Jakarta.” lanjut Yumi. Ia mulai menangis lagi. kebetulan memang tidak terlalu jauh. Percaya padaku. Aku memegang tangannya. aku duduk disebelahnya dan memeluknya.” ulangnya lagi. “Kau mau teh?” tanyaku. Kami menuju kafe teh langganan kami itu dengan berjalan kaki.” Yumi terhenti.

beli kuenya di toko kue yang ada di Fakultas Ekonomi saja. Siangnya. “Minho! Sedang apa kau?” sapanya dengan ceria.” “Sini aku bantu!” Aku sangat penasaran mengapa dia sangat ceria hari ini. “Baiklah. Tak lama kemudian datanglah Kibum menghampirinya. Dan mungkin Yumi benar-benar mencintai Kibum.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen mengakhiri ini semua dengan Kibum. Mereka berjalan berdampingan. Kibum sedang latihan basket di lapangan basket Fakultas Ekonomi. Mungkin Yumi memang sangat pemaaf. Aku hanya bermain internet saja. Tapi aku lebih ingin membalas budimu kemarin. Yumi pun tersenyum. “Eh kau. Sudah lama aku tidak melihat dia berlari di lapangan…” halaman 19 dari 83 halaman . jangan tangisi dia lagi. Tapi aku sendiri yang memilih kuenya. “Sudahlah. Yumi membalas senyumanku dengan tatapan yang aneh. melewatiku. Kami menghabiskan waktu di kafe tersebut hingga larut malam. Oh iya. Kau mau teh?” “Hmmm. Aku mulai menghibur dia. aku ingin melihat Kibum latihan. Setelah kami selesai membereskan barang-barangku. Minho. Mau nggak kalau aku gantinya dengan kue saja?” tanya Yumi dengan senyuman termanis yang pernah kulihat. Kibum di mana memang? Kau tidak bertemu dengannya?” “Oh. ketika aku sedang duduk menikmati internet gratis di perpustakaan. Yumi. aku bereskan barang-barangku terlebih dahulu ya. Aku hanya tersenyum pada mereka berdua. aku dikejutkan oleh Yumi yang tiba-tiba datang. ya. mengajaknya mengobrol yang tidak ada hubungannya dengan Kibum. Aku ingin menanyakan padanya tentang Kibum. Kau jadi terlihat jelek sekali jika menangis. Ternyata Kibum memberikan Yumi selusin mawar yang telah terbungkus indah. teh yang kemarin kau belikan untukku belum aku ganti duitmu. “Bisa juga akal bulusnya!” kataku dalam hati. Paginya aku melihat Yumi di taman kampus. yuk! Sekalian. boleh juga. “Hahahaha. “Hmm. Aku berhutang kan padamu?” “Berhutang?” “Iya. Kau masih ada kuliah sesudah ini?” tanyaku “Hmm tidak ada sih… Kenapa kau menanyakan itu? Mau mentraktirku teh lagi?” tanya Yumi dengan nada iseng.” “Oke!” “Ya sudah.” candaku. Yumi yang memang gadis manis yang baik hati menerimanya dan sepertinya dia tidak jadi menanyakan Kibum tentang kejadian kemarin. Aku mencoba bertanya pada Yumi tentang Kibum. Yumi. kami keluar dari perpustakaan bersama.

Mau kan?” Yumi mengangguk.” jawabnya. Makanya aku tidak pernah mau menemani Yumi jika ia mau melihat Kibum latihan. aku akan selalu melindungi mu. “Apakah kau mau menanyakan pada Kibum sekarang?!” tanyaku dengan tegas. ada sesuatu yang mendorong hatiku untuk tetap menemaninya saat ini. bisakah kau mengantarku kesana?” Aku segera melajukan motorku ke arah taman. Aku tak ingin Yumi kembali menangis. Aku bingung.” tiba-tiba Yumi seperti dikejutkan oleh sesuatu. Aku tidak mengerti lagi harus bagaimana ke Kibum. Aku tidak akan merelakan kau halaman 20 dari 83 halaman . Biasanya kau tak mau menemaniku. Minho! Giliran mau dibeliin kue aja langsung semangat deh.” air mata Yumi pun mulai menetes. Tiba-tiba ia berkata padaku. “Bukannya kau luluh karena diberikan seikat mawar tadi pagi?” “Kau melihatnya. Aku yakin. Aku melihat Yumi kembali. Dia diam tak berkutik.” “Dasar kau. memelukku dengan erat. aku antar kau pulang ya. Aku akhirnya memberanikan diri bertanya tentang kelanjutan dia dan Kibum. aku ingin ke taman. Aku mengantarnya pulang menaiki motorku. Aku tahu apa yang dipikiran Yumi. Yumi langsung turun dan menuju ayunan. Di perjalanan hening.” “Aku tidak tahu deh. Tapi yang pasti aku akan menanyakan pada Kibum jika…. Di taman. kau mau nanya apa?” “Bagaimana jadinya kau dengan Kibum? Kau sudah tanyakan padanya?” Yumi terdiam. adalah gadis yang sama dengan gadis yang aku lihat kemarin. Matanya masih tertuju pada sosok Kibum. “Aku masih mencari waktu yang tepat. hanya suara angin yang terdengar di telingaku.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Baiklah.” kata Yumi. “Hmm Yumi. Aku juga ingin makan kue coklat yang dijual di toko itu. Yumi yang kubonceng. tatapannya terpaku pada sesosok yang berada di lapangan basket. aku mengajaknya segera pergi dari tempat itu. Hatiku sakit melihat Jun dengan gadis itu. Ekspresi mukanya berubah. aku boleh bertanya nggak?” “Boleh.” Ya. Minho?” “Ya aku melihat kalian dari kejauhan. “Kau pasti mengira aku sangat pengecut. “Minho. Aku mengikuti arah matanya dan mendapati dua sosok manusia yang sedang duduk berdampingan dengan romantis di pinggir lapangan basket. Hatiku bergetar tetapi aku tau dibelakang sana dia sedang menangis. Jelas sekali itu adalah Kibum dan mungkin dengan wanita yang kemarin dipergoki oleh Yumi. aku tak bisa bertemu Kibum sekarang. gadis yang kita lihat tadi. Tetapi entah mengapa. “Minho. “Yumi. Aku berhenti mendorongnya dan berlutut didepannya. “Yumi. “Bisakah kau mendorongku?” Aku mendorong ayunan itu dengan pelan. aku tak suka melihat Yumi dengan Kibum.

” “Benar?” “Ya. aku melihat Yumi berdiri sendiri membawa tas dan menurutku dia sangat cantik.” Aku tersenyum. Aku juga belum lama datang.” kata Yumi. Sesampainya di taman. Aku teringat katakatamu. Apakah Kibum gila?! “Apa alasan Kibum???” tanyaku. “Pagi Minho! Tolong jemput aku di taman ya :D” Betapa senangnya hatiku mendapat SMS dari Yumi. maaf. Kau sudah lama ya menungguku?” “Oh. tidak kok. Yumi tidak menjawab lagi.” “Waduh. selama ini kau yang selalu setia mendampingiku. aku mendapatkan SMS dari Yumi. Minho. di saat aku senang dan susah. hehehe. Aku bersyukur Yumi mengingat perkataanku.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen terluka karena siapapun. “…dan aku juga merasa. Tetapi aku memutuskan untuk diam saja dan menikmati makanan yang ia buatkan untukku. Aku malah senang. Aku menjemputnya setiap pagi di taman adalah kebiasaan kami dulu. Isinya. benar. Kau pasti belum sarapan kan?” “Ah kok kau tahu saja?” “Tuh kan. aku dapat menjadi tempat yang nyaman untuknya. Kebiasaanmu itu dari dulu tak pernah berubah! Ini aku membawakanmu susu dan sandwich yang aku bikin sendiri. “Terima kasih. Dia bengong. “Semalam. “Sandwichnya enak…. “Yumi. Kamu selalu lupa sarapan. Aku jadi ingat ketika dahulu.” “Kau kenapa sih?” tanyaku. Walaupun selama aku berpacaran dengan Kibum. Ia mulai tak bisa menahan tangisnya. dia bosan denganku. Yumi melambaikan tangannya padaku lengkap dengan senyum manisnya. Aku segera mandi dan berpakaian. Yumi masih belum berpacaran dengan Kibum. “Maaf ya. bahwa aku tak pantas menangisi lelaki seperti dia. jangan bengong dong…” “Eh. mengapa aku jadi membuatmu repot begini?” “Ih tidak apa-apa kok. Keesokan harinya. kita halaman 21 dari 83 halaman . Yumi. tapi aku masih bisa menahan diri. Minho. Walau tanggapan Yumi tak sesuai dengan apa yang ingin ku dengar. “Apa yang ia lakukan dirumahmu?” “Dia mengakhiri hubungan kita. Kau makan ini dulu ya. Aku mulai mendorong ayunannya lagi. Kau memang sahabatku yang paling aku sayang.” jawab Yumi seraya tersenyum. Kibum kerumahku. Aku makin tersentak. “Dia bilang. Aku sudah cukup menangisinya semalaman.” Aku tersentak.” jelasku. Ayo kita duduk di kursi itu.” kataku sambil melahap sandwich itu.” Aku benar-benar curiga mengapa Yumi berubah seperti dahulu lagi. Setidaknya.

lihat aku. lebih dari sekedar sahabat…. rasa sayangku untukmu. “Apakah kau yakin kau sudah bisa melupakannya?” “Ya. setiap aku bersamamu. Percayalah padaku. aku selalu bisa menjadi diriku sendiri. “Yumi. dan aku merasa nyaman. Tetapi aku bisa merasakan kau selalu siap menemaniku. Sepertinya. *TAMAT* halaman 22 dari 83 halaman .” lanjutnya. aku akan selalu ada selamanya untukmu. yang selalu berada disampingmu. cinta lama akan terhapus oleh cinta baru.” Aku menggenggam tangan Yumi dengan erat. Sekarang.” Aku mengecup bibirnya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen tidak terlalu sering bertemu dan berkomunikasi. Menghapus air matanya dan berkata.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KAU BUKAN AYAHKU Oleh: Intan Puji Lestari Di malam itu gue jalan sendiri pulang dari kampus. belom mikirin keluarga jadinya. dingin pula. gue pikir pasti ada yang gak beres nih antara halaman 23 dari 83 halaman . ramah. makan dikit. Tapi di hari itu. Ah.. Mungkin karena malas atau ribet ya. Sampe-sampe gue anggep dia kaya mama gue sendiri. Tiba-tiba Ayahnya Sari datang dan langsung masuk ke dalam rumah. dan satu yang penting jago masak! Hahaha. urusan orang yang udah berumah tangga mah beda sama urusan orang kuliah kayak gue. Wah. Nah ternyata gue inget kalo hari itu gue ada janji mau ke rumah temen gw. Bukan urusan gue juga kayaknya. Hehehe. gue langsung cepet pulang ke rumah. suasana sepi. Gue paling yaa. Sari namanya... dan menutup pintu dengan kencang. Tanpa pikir panjang. ga mau gue pikirin. Tatapannya kosong. dan gw nggak bawa jaket. dan ada semacam bekas merah2 deh di tangan dan mukanya. gue ngeliat ada yang beda dari raur muka Mamanya Sari. trus langsung cabut lagi. mikirnya masih pacaran gitugitulah. Orangnya baik. ah. Setibanya gue di rumah Sari.—Lengkap banget deh itu mama-mama kayaknya. gue langsung dipersilahkan masuk sama Mamanya Sari. Mamanya Sari udah kenal banget sama gue.

kalo Tante lagi ada masalah sama si Om. dan akhirnya gue sibuk chating-chatingan sama pacar gue. dari cara Bokapnya Sari ngeliat istrinya. gue mulai curiga deh. “Mendingan kamu pulang aja ya. Sambil gue bisikin. Gue ga ngerti apa yang diomongin antara mereka berdua. dan dia cuma ngeliatin foto dia sama Bokap dan Nyokapnya waktu liburan. Tante lagi ada masalah sama si Om. Wah gilaaa. di sampingnya udah ada vas bunga yang pecah. Tante ga mau kamu ngeliat kelakuan si Om yang udah jahat sama Tante dan Sari. dan ternyata Nyokapnya Sari lagi nangis!! Wah gak salah lagi pasti ada masalah antara mereka berdua!! Ya udah tanpa gue pikir panjang. tatapan mukanya juga sinis banget. tapi dia tetep aja diem sambil terus ngelamunin foto keluarganya itu. Tapi dia kayak orang gila gitu. ada orang yang setega itu halaman 24 dari 83 halaman . trus tangannya si Tante langsung dipukulin. Namanya juga orang kantoran. Hahaha. Gue liat matanya udah item.” Gila! Ga tega gue ngeliat Nyokapnya Sari yang ngomong sambil terbata2 nangis begitu sama gue. Tiba2 Bokapnya Sari keluar dari kamar. gue denger suara. “Sabar ya. GUMPRANG!! Dari teras belakang. Gue nyapa dia tapi kayaknya dia gak menanggapi dan pasti karena mungkin dia kecapean kali ya. kayaknya itu abis dilempar deh sama si om. Gue ngintip dari sela-sela sofa dan nyoba buat dengerin apa yang diomongin sama si Om. Pelan2 gue deketin si Sari. Di jalan gue mikir terus. Tanpa mikir panjang. Lagi asik chating sama pacar gue. Ga enak kalo sampe Mama sama Papa kamu tau kejadian ini. (Gue yakin si Om udah ngelakuin hal yang ga pantes dilakuin seorang bapak pada mestinya). gue langsung pamitan sama Tante. Gue tanya sama dia. Tante. Tiba-tiba gue inget sama keadaan si Tante yang di luar. trus gue liat juga di pahanya banyak tanda2 yg sama seperti yang gue liat di tangannya si Tante. langsung gue peluk Nyokapnya si Sari. dan mengajak Nyokapnya ngobrol di teras belakang. Dan yang gue kagetnya. Baru gue mau deketin dia. dia langsung ngomong gini sama gue. Kayaknya ini orang kebanyakan nangis deh. karena kejadian ini ya. kenapa ya. Trus gue mulai memberanikan diri. dan ngeliat tuh anak lagi diem aja di atas kasurnya. Gue langsung ke kamarnya Sari. Gue liat si Om udah ga ada.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen mereka berdua. tinggal Nyokapnya si Sari yang ada sambil nangis. Oh iya kamu jangan cerita ke siapa2 ya. Akhirnya gue langsung keluar dan menuju teras belakang.” Pokoknya gue bikin supaya dia bisa kehibur deh. gue tanya ada masalah apa antara Bokap dan Nyokapnya. Trus gua liat Nyokapnya Sari udah duduk sambil nangis. tatapannya kosong. si Om ngeluarin gesper yang tadi dia pake kerja. pantesan aja dari tadi gue liat tangannya Nyokapnya Sari penuh merah-merah di mana-mana. nanya ke nyokapnya. kayaknya kesel gitu deh. dan langsung ninggalin itu rumah. Tante minta maaf sama kamu. eh dia diem aja sambil ngelamun.

susah2 cari duit buat keluarga. Sebenernya gue kasian juga sama Bokapnya si Sari. Gue jadi kasian sama Sari karena dia juga jadi korban kegilaan bapaknya sendiri. At lease sekarang gue udah bisa ngeliat temen gue senyum dan ceria kayak dulu lagi.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen sama keluarganya. ga usah dipikirin orang kayak gitu. harus bisa ngejagain keluarganya. kayaknya dia masih syok sama kejadian yang menimpa keluarganya. halaman 25 dari 83 halaman . dan karena Nyokapnya Sari ga kuat dengan perlakuan kayak gitu. tapi malah digituin keluarganya. karena gue dikasih keluarga yang baik2 aja. dan alhamdulillah jauh dari masalah yang seperti ini. tapi mau gimana lagi. Yah ya udahlah. Harusnya sebagai ayah yang baik. mukanya udah kembali ceria seperti dulu. yaitu Sari. dia cerita kalo Ayahnya ternyata lagi stress berat karena ada masalah di dalam kantornya. Nyokapnya Sari ngelaporin suaminya itu ke polisi. Hari2 gue lewatin tanpa hadirnya seorang teman baik gue. dan langsung diproses secara hukum. Besoknya gue liat Sari nggak ada di kampus. Tiga hari kemudian gue liat Sari nongol di kampus dan langsung cerita banyak sama gue. kayaknya dia udah bisa ngelupain kejadian yang menimpa keluarganya itu deh. Dia cerita banyak banget ke gue. jangan malah dikasarin istri dan anak2 nya. Gue bersyukur sama Allah.

Di akhir istirahat. Kami mulai mengumpulkan temanteman seangkatan sesuai dengan jumlah yang diminta oleh senior yaitu sekitar 40 orang. halaman 26 dari 83 halaman . Senior Gorazper menunjukkan sikap yang baik dan ramah kepada kami para junior. Sekolah ini memang sudah terkenal dengan tradisi bulying atau kekerasan pada junior-juniornya sejak 10 tahun terakhir. Singkat cerita.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KELUARGA DAN SEKOLAH Oleh: Irvanuddin Rahman Cerita ini berawal saat saya menjadi siswa baru di salah satu SMA Negeri ternama di bilangan Jakarta Selatan. dengan memberikan tempat duduk di kantin saat jam istirahat yang penuh sesak. bahkan ada yang rela berdiri memberikan tempat duduknya. Setelah diberitahu segala sesuatunya. Tetapi bulying pada junior perempuan sudah tidak pernah lagi ada sejak 3 tahun terakhir. saya langsung kenal dengan Radit dan kami menjadi teman yang bisa dibilang dekat. baik perempuan maupun lelaki. Saya dan Radit mulai menanyakan mekanisme perekrutan kepada senior di sekolah yang pada waktu itu duduk di bangku kelas 3 SMA. Namun hal itu tidak mengurungkan niat saya untuk menjadi siswa di sekolah ini dan juga bergabung dengan kelompok yang terkenal dengan tradisi bulying-nya berlandaskan ingin mendapat pengalaman yang lebih. sebut saja kelompok Gorazper. Ternyata Radit juga tertarik untuk masuk ke dalam kelompok tersebut.

Keadaan seperti itu hampir setiap hari dirasakan. Rupanya kekerasan yang dialami oleh Radit ialah karena keadaan keluarganya yang broken home dan juga Ayahnya yang baru menjadi korban PHK karena kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo yang sampai saat ini tidak jelas penyelesaiannya. Radit berasumsi bahwa Ayahnya mengalami gangguan jiwa dan saya juga halaman 27 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Radit yang sudah dikenal di kalangan senior diminta untuk menjadi koordinator angkatan 2009 dalam hal perekrutan/inisiasi/penataran dan lain sebagainya. Setelah itu Radit dipanggil ke kamar Ayahnya lalu terdengar suara orang memukul dengan benda keras dan suara orang merintih kesakitan. Keesokan harinya di sekolah saya ingin sekali menanyakan apa yang terjadi pada Radit. Namun saat penataran pertama. keadaan keluarganya sangatlah berantakan. dengan sepeda motor saya. Saya dan Radit kedapatan bagian berjualan di daerah Kemang. namun lain halnya dengan Radit. di sela-sela berjualan itu kami diberikan waktu istirahat oleh para senior. saya pun tercengang dan kaget apakah itu suara Radit atau bukan. Radit dan kawan-kawan yang lain segera bergegas menuju tempat yang ditentukan dan langsung berjualan. Dan seperti itu juga pada tataran-tataran berikutnya. Radit keluar dari kamar dengan wajah pucat dan mata yang berkaca-kaca. Ibunya tidak pernah mendatanginya lagi bahkan mungkin Ibunya tidak tahu apa yang terjadi sekarang terhadap Radit dan Ayahnya. Saya langsung menanyakan apa yang terjadi namun Radit hanya terdiam sambil menggelengkan kepalanya. Kekerasan yang saya dan teman-teman saya alami memang sama. Selang 10 menit kemudian. tidak lama kami di rumah Radit. namun kegiatan siswa baru sangat sangat disibukkan dengan kegiatan ini itu sehingga tidak memungkinkan saya berbicara dengan Radit. Kesempatan itu saya gunakan untuk menanyakan hal yang terjadi tempo hari di rumahnya kepada Radit. Begitu juga sepulang sekolah. kamipun berpamitan dan pulang. Karena suasana yang garing dan tidak bersahabat. selain di sekolah dia juga mendapat perlakuan kasar di rumahnya lantaran ayahnya yang sering memukulinya karena kesalahan-kesalahan sepele Radit. Radit bercerita setelah Ayahnya bercerai dengan Ibunya dan dipecat dari perusahaan Lapindo Brantas. Hingga pada suatu hari kami angkatan 2009 disuruh berjualan bunga untuk keperluan pencarian dana acara pensi sekolah. Akhirnya Radit menceritakan semuanya kepada saya namun dengan syarat hanya saya yang boleh mengetahuinya. langsung disuruh kumpul di tongkrongan oleh senior-senior Gorazper dan lagi-lagi mendapat kekerasan. sikap baik itu berubah 180 derajat menjadi sikap yang sangat beringas dan tidak berkeprimanusiaan. Dia meceritakan kisah hidupnya panjang lebar. Pernah suatu kali saya mengunjungi rumah Radit untuk sekedar menghabiskan waktu sepulang sekolah dan juga dengan dua orang teman lain yaitu Rama dan Amar. Lalu Radit mengambilkan minuman sirup kepada saya dan yang lain.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

berfikiran begitu karena tindak kekerasan yang dialami Radit disebabkan permasalahan sepele, seperti misalnya tempo hari Radit memberikan sirup kepada saya, Rama dan Amar, ia langsung dipukuli oleh Ayahnya dengan balok yang selalu ada bersama Ayahnya kemanapun Ayahnya itu pergi. Alasan yang diceritakan Radit kepada saya membuat saya sangat kaget sekaligus prihatin karena hanya karena mahalnya harga sirup dan menurut Ayahnya tidak sepantasnya kami teman-teman Radit disuguhkan sirup, cukup dengan air putih saja. Saya benar-benar terpukul saat Radit menceritakannya, bukan karena saya tidak terima diberikan air putih tetapi cara Ayahnya itu yang benar-benar tidak wajar. Saya dan Radit menghabiskan malam itu dengan cerita sedih yang dialami Radit sampai saya mengantarkannya pulang. Di rumah saya selalu kepikiran kisah Radit dan saya benar-benar bersyukur mempunyai keluarga yang sakinah dan rukun. Namun muncul dalam hati saya keinginan untuk menolong Radit sebagai sahabat. Tetapi saya bingung bagaimana cara saya menolongnya. Saya berfikir bahwa Ayah Radit perlu rehabilitasi untuk kembali menyadarkan jiwanya dan menyembuhkan jiwanya dari gangguan jiwa yang dialaminya akibat stres. Saya menceritakan hal tersebut kepada teman-teman dekat saya tanpa sepengetahuan Radit, namun lama kelamaan berita itu menyebar di angkatan 2009 walaupun tidak semuanya tahu tetapi realtif banyak yang tahu dan tetap tanpa sepengetahuan Radit. Kami pun berinisiatif untuk mengumpulkan dana swadaya untuk membantu Radit dan keluarganya karena mengingat juga banyak sekali kontribusi Radit dalam hal mengompakkan angkatan, membela angkatan di depan senior dan tidak jarang pula Radit menanggung dampak dari kesalahan yang diperbuat angkatan seperti misalnya jumlah orang tidak sampai batas minimal yang ditetapkan senior saat menjadi supporter pertandingan basket sekolah kami dengan sekolah lain, dan sebagainya. Kami pun diam mengumpulkan dana swadaya tersebut secara diam-diam tanpa sepengetahuan Radit agar dia tidak minder dalam bergaul. Memang agak susah mengumpulkan uang yang diperlukan karena pasti sangat besar jumlahnya, maka dari itu kami membutuhkan waktu yang lama untuk mengumpulkan uang sampai target. Seiring waktu berlalu, Kekompakan angakatan kami semakin timbul dan setiap permintaan dari senior untuk menambah jumlah orang yang ikut dalam kelompok Gorazper tidak pernah gagal. Dari 40 orang, menjadi 50 orang, dan terakhir para senior meminta harus ada 60 orang saat tataran berikutnya. Hal yang sangat sulit tentunya bagi kami untuk mengumpulkan sebanyak itu, namun lagi-lagi berkat kemampuan Radit akhirnya kami dapat menggenapkan jumlah kami menjadi 60 orang di tataran berikutnya. Tidak terasa waktu terus berlalu dan hampir tiba saat pelantikan angkatan baru Gorazper yang notabennya adalah angkatan kami, angkatan 2009. Malam pelantikan itu diawali dengan acara menonton bareng di bioskop di salah satu mall di bilangan Pondok Indah, Jakarta Selatan dan ditutup dengan acara pelantikan di sebuah jalan yang biasa menjadi tempat tongkrongan anak-anak remaja seumuran
halaman 28 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

kami. Dan malam itu menjadi malam yang sangat ditunggu-tunggu oleh saya, Radit dan juga teman-teman 2009 lainnya karena setelah malam pelantikan itu kami sudah resmi menjadi anggota Gorazper dengan membawa angakatan 2009 dan itu artinya tidak ada lagi penindasan-penindasan yang selama kurang lebih satu tahun kami alami. Benar-benar malam yang sangat menyenangkan, terlebih bagi Radit, karena di malam itu juga kami memberikan bantuan yang berupa dana yang selama ini kami kumpulkan untuk membantu Ayah Radit. Perasaan kaget bercampur bahagia sangat terlihat dari raut wajahnya saat saya menyerahkan amplop berisi uang itu kepadanya. Semoga malam itu benar-benar menjadi malam terakhir bagi Radit mangalami kekerasan baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan keluarganya.

halaman 29 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

LIBURAN LEBARAN
Oleh: Jodia Pravita Dini

Liburan

ini, aku dan keluargaku akan berlibur ke Makassar tempat Tanteku. Pagi ini aku berangkat ke Makassar, aku dan keluargaku segera bergegas ke bandara pada pagi hari. Sesampainya di Bandara Hassanuddin, Tanteku dan keluarganya menjemput dengan menggunakan mobil keluarga. Rasanya rindu sekali karena sudah lama tidak bertemu mereka. Tujuanku kesana adalah melihat kedua sepupuku yang masih kecil, Andrew dan Darrent namanya. Tetapi aku lebih dekat dengan Darrent. Darrent adalah anak kedua Tanteku, wajahnya mungil dan menggemaskan. Ekspresinya polos saat aku memberinya sebuah coklat. Hari kedua di Makassar, kedua sepupuku itu sungguh manis dan tidak cengeng. Tetapi ketika Darrent melakukan kesalahan kecil yang biasa anak kecil lakukan,Tanteku langsung memarahi dan memukulnya. Aku dan Ibuku kaget karena hal tersebut sangat wajar dilakukan anak seumur Darrent. Dia pun menangis tersedusedu dan berlari kearahku. Aku peluk dia, dan tak lama dia bercerita dengan kosa kata seadanya. Ternyata Tanteku sudah sering memarahi bahkan main tangan kepada anak-anaknya. Selama aku di sana memang terlihat sering sekali Tanteku melakukan hal itu. Ibuku sebagai kakak dari Tanteku sudah member nasihat, tetapi tak didengarkannya.
halaman 30 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

Aku hanya bisa diam jika Tanteku melakukan hal itu lagi. Akhirnya aku mengajak Andrew dan Darrent untuk jalan-jalan ke pantai Losari. Mereka terlihat senang dan lepas dari kejenuhan. Aku senang bila sepupu-sepupuku senang.

halaman 31 dari 83 halaman

Kinanti Maharani. langsing. serta tubuhnya yang tinggi ramping membuat semua orang tertarik padanya. aku selalu bergantian membawa mobil dengannya. berangkat ke kampus yang tidak terlalu jauh dari rumah kami. Saat berangkat kuliah. aku selalu menceritakannya pada Kinan. Tapi ia sudah dekat dengan kehidupan malam. Saat aku memiliki masalah.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen CINTA. gadis yang saat itu berusia 18 tahun dengan wajahnya yang cantik. Sebagai sahabatnya. Sepertinya hidup Kinan sangat sempurna. pagi itu aku dan Kinan. ramah. Badannya tinggi. saat sedih maupun senang. hanya berbeda jalan saja. kadang aku pun ingin menjadi dirinya. Cinta mencoba melarikan diri dari kehidupannya. serta saat aku kesepian. gayanya yang anggun. sahabatku. KINANTI! Oleh: Juwita Anindya Anak itu bernama Cinta. Rumahku dan rumah Kinan memang berdekatan. Kinanti Maharani. ceria. wajahnya cantik mirip seperti Ibunya. halaman 32 dari 83 halaman . Begitu juga dengannya. Umurnya baru 15 tahun tapi ia terlihat seperti 20 tahun. Kinan adalah sahabat terbaikku sejak aku bersekolah di Taman Kanakkanak. Ia baik. mencoba melarikan diri dari Ibunya. Seperti biasanya. dan bisa menemaniku saat susah maupun mudah.

Sesekali Kinan menengok ke arahku yang sedang menyetir lalu tersenyum centil. gue sama dia mau jalan. wajar kalau ia sangat perfeksionis dalam mencari pasangan.” “Badannya atletis?” “Ya. Aku menggeleng. Oleh sebab itu tidak sedikit pula laki-laki yang sakit hati dibuatnya. sampai akhirnya mereka halaman 33 dari 83 halaman . lho. Kinan masih asyik bercakap-cakap di handphone-nya. Ia terlihat sangat bahagia. Setelah lama mereka bercakap-cakap. Pembicaraan mereka terdengar sangat akrab.” “Bawa mobil kemana-mana?” “Ya. maka ia akan langsung menolaknya dan berkata bahwa ia tidak mau dengan lakilaki itu. ia tidak memikirkan perasaan laki-laki yang menyatakan cinta padanya. Ia juga selalu memakai pakaian yang modis. Bahkan tak jarang lakilaki yang ditolaknya mentah-mentah. “Nin. Tiba-tiba handphone-nya berdering. Semenjak berkenalan dengan Paul.” “Boleh. Kinan dan Paul sering jalan berdua. Untuk gadis secantik Kinan.” “Seagama?” “Ya. Dengan gayanya yang anggun ia mengangkat panggilan itu. Paling nonton sama makan aja. Itulah salah satu kekurangan Kinan. Sampai saat itu Kinan belum mempunyai pacar.” Kami pun sampai di kampus. Aku sendiri tidak tahu siapa yang menelponnya. “Siapa. tau nggak siapa yang nelepon gue barusan?” tanya Kinan padaku sambil memasukkan handphone ke tasnya lagi.” “Tajir?” “Ya. Dia kuliah di Universitas Nusantara. Nin! Kayaknya sih dia juga suka sama gue.” “Wah perfect banget dong. hari-hari Kinan semakin berwarna. Pokonya oke banget deh.” “Paul? Temen baru?” “Ya. aku mendengar mereka akan bertemu malam itu juga. soalnya dia ngajakin gue kenalan. Dugaanku semakin kuat. Dia oke banget.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Hari itu Kinan terlihat cantik dengan bando pita putih di kepalanya. Nan?” “Namanya Paul. Bila ia tidak suka. Kemaren gue ketemu dia di kafe. Tak pernah lupa ia percantik bibirnya dengan sentuhan lipgloss warna softpink. Aku mulai bisa menebak sepertinya yang meneleponnya adalah laki-laki yang sedang dekat dengannya.” “Pastinya. sesuai sama persyaratan lo.” “Dia ganteng?” “Ya. Nanti kapan-kapan gue kenalin ya. Lo nanti malem mau ketemuan ya?” “Iya.

Tapi akhirnya kedua orangtuanya pun tahu sampai akhirnya Kinan dan Paul menikah. Kinan menangis. Rumah tangga yang dibina Kinan dan Paul semakin tidak harmonis. Namun sayang. menampar. Kinan bilang beberapa kali ia melakukan hal tersebut meskipun ia tahu kalau semua itu dilarang oleh agama dan hukum. Sebulan sebelum Kinan melahirkan. Tak ada sesuatu yang aneh pada hubungan mereka. Masalah Kinan dan Paul semakin rumit. Namun saat itu Paul meminta lebih. Seperti biasanya. Sesampainya di sana. Kinan bingung. Tapi entah apa yang membuat mereka memutuskan untuk menikah begitu cepat. Masalah pun datang saat Kinan memeriksakan diri ke dokter dan hasilnya ia hamil. Kinan menuruti semua instruksi Paul. Aku melihat ke arah perut Kinan. Hari demi hari ia lalui dengan perasaan yang kacau balau. Entah mengapa saat teringat masa-masa mereka berpacaran Kinan selalu marah. Ia merasa malu dan takut menghadapi kenyataan. Paul justru tidak terlihat kehadirannya. tak seperti orang hamil. bahkan mengurung Kinan di kamar mandi karena Paul menganggap Kinan sudah gila. Kinan menceritakan semua kronologi kejadian sampai mereka menikah. saat semua kelarga dan sahabat-sahabatnya menjenguk. mereka pun terlarut dalam hubungan badan. Kinan bertemu dengan Paul. Mungkin Paul melarikan diri ke luar negeri. Lalu tibalah saat yang ditunggu-tunggu oleh setiap pasangan. Kinan hanya bilang kalau ia sudah merasa cocok dengan Paul. Saat itu umur Kinan baru menginjak 19 tahun sedangkan Paul 22 tahun. Tak lama kemudian Paul bisa mengakrabkan diri denganku dan juga Dino. Tak jarang pula kami pergi bersama. adalah satu kata yang Kinan tanamkan dalam hati. Di suatu malam. Aku tersentak tak percaya. Hari itu Kinan melahirkan di sebuah rumah sakit ternama. mereka nonton dan makan malam. Gaun pengantin Kinan pun sangat mewah. Percaya. memukul. Mereka terlihat cocok sampai akhirnya mereka menikah satu tahun setelah jadian. Kinan pun menyanggupinya dengan senang hati dan tanpa pikir panjang. Semua keluarga besar sudah mencari Paul kemana-mana. ia hanya terlihat gemukan. Beberapa bulan setelah mereka menikah. pacarku. Tapi hatinya selalu berdalih dan berusaha meyakinkan kalau semua itu akan aman dan baik-baik saja apalagi Paul selalu memaksa. halaman 34 dari 83 halaman . Paul menghilang.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen resmi berpacaran atau biasa disebut jadian. Paul semakin tidak tahan. Menghadapi kelakuan istrinya. Malam itu. Kinan pun semakin sakit hati. Aku baru mengetahui kalau ternyata Kinan telah hamil dua bulan saat menikah. Wajah Kinan pun terlihat sangat bersedih. Paul pun meyakinkan Kinan kalau semua akan baik-baik saja. Resepsi pernikahan mereka digelar begitu meriah. Mereka pun menuju rumah kedua Paul yang hanya dihuni oleh dua orang pekerjanya. Seringkali Paul memarahi. Tak tanggung-tanggung seringkali Kinan melemparkan barang-barang di rumahnya sambil menangis. Sepertinya ia teringat sesuatu dan segera menceritakannya padaku. tetapi Paul tidak ditemukan.

tetapi Cinta tak mau berbicara sepatah katapun padaku. Suatu hari aku ingin sekali menjenguk Kinan. aku ingin memperbaiki hubungan persahabatan kami yang sempat renggang. Cinta sangat kuat. Namun seiring berjalannya waktu. tapi hasilnya nihil. Mungkin ia putus asa dengan keadaannya sekarang. Cinta sudah dewasa. Paul tak kunjung kembali. tapi tidak dekat dengan Cinta. Aku berusaha mencari Paul. Kinan bisa bersikap biasa. Bahkan di hadapanku Kinan masih bisa bercerita tentang kehidupan kelamnya. Ibunya sendiri. Saat Cinta mulai bersekolah. ia cantik tapi tetap saja ia tidak bisa ramah. Cinta menjadi korban dari kebodohan kedua orangtuanya sendiri. mengurung di kamar mandi. Aku mencari Kinan. tapi Cinta malah memberi selembar kertas berisi alamat yang ia bilang itu alamat rumah Kinan bersama suami barunya. Hidup terasa mulai normal. setiap melihat Cinta. Anehnya. Aku pun ke Bandung dan mencari alamatnya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Bayi mungil yang cantik itu pun diberi nama Cinta Kinanti Ananda Paula. tapi Kinan justru marah padaku. Aku mencoba mengajak Kina ke psikiater. Alamat Kinan memang masih di Bandung. ia hampir tak pernah mau lagi bercerita padaku. Bahkan yang aku herankan Kinan meninggalkan Cinta tinggal sendirian. Ternyata sejak kecil ia biasa diperlakukan kasar oleh Kinan. tanpa segan-segan ia memarahi anaknya itu serta memberinya hukuman mulai dari mencubit. tidak bisa bergaul. Aku langsung kaget mendengarnya. Kinan berharap dengan hadirnya Cinta. Bila Cinta melakukan kesalahan. Hari demi hari ia lewati dengan berdiam. Harapan Kinan pupus sudah. Tapi wajahnya sudah berbeda. dan tertutup. Entah masalah apa yang membuat Kinan semakin terguncang. Ia hampir tak pernah menangis. Melihat aku termangu. Termasuk kepadaku. Sampai akhirnya semua mulai terlihat saat Cinta sudah berumur 10 tahun. Tak ada yang tahu secara detail bagaimana Kinan membesarkan Cinta tanpa seorang suami. Orang tua Kinan selalu berkata kalau Kinan dan Cinta baik-baik saja di tempatnya yang baru. Aku pun memercayainya. tapi aku merasa kasihan. ia semakin terlihat sebagai pribadi yang pendiam. Kinan malah menangis dan terkadang ia memarahi Cinta. Entah apa yang ada di hati Cinta. Aku merasa keluarga mereka memang benar-benar hancur. Tetapi saat orangtua Kinan datang menjenguknya. Bahkan beberapa bulan kemudian Kinan dan Cinta pindah rumah ke Bandung. Aku berusaha menghibur Cinta. yang lebih tepatnya tidak sesuai dengan keinginan Kinan. sampai menyuruh Kinan memakan makanan basi. Kinan selalu mengancam jika Cinta menangis maka ia akan menambah hukumannya menjadi semakin berat. Cinta pun berbicara padaku. Dia pasti Cinta. halaman 35 dari 83 halaman . memukul. Aku merasa Kinan sudah tidak menganggapku lagi. Paul bisa kembali dan mereka bertiga bisa berbahagia. Sesampainya di sana aku melihat seorang gadis belia yang aku kenal. Semenjak Kinan marah padaku. Aku pun belum sempat mengunjungi mereka.

” Aku tersentak. dan cuma bisa bikin aku diperkosa. Gue mati dia juga nggak peduli kayaknya. Nggak kayak Ibu yang lain. cuma bisa mukul. Ibu cuma bisa marahmarah. cuma bisa nyiksa. Dia nggak pernah peduli sama gue.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Gue lebih baik hidup tanpa Ibu. Bahkan dia kawin lagi juga nggak bilang gue. Ibu selalu ngasih gue hukuman. halaman 36 dari 83 halaman .

sedangkan Tia dan Nia berada di kelas lainnya. Keesokan harinya kami mulai masuk sekolah seperti biasa. salah satu teman sekelas halaman 37 dari 83 halaman . siap memulai pelajaran pertama. Guru pun masuk kelas dan semua berjalan wajar sebagaimana harusnya. semua berjalan biasa saja tidak ada yang istimewa.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Oleh: Dwi Cahyaningtyas (untitled) Semua itu berawal dari kelulusan kami dari SMP. saat itu Tia dan Nia yang sudah berteman lebih dulu menyapaku yang duduk sendirian di dalam kelas. Meskipun tidak semua dari teman kami diterima di SMA tersebut. Lalu datang Niken yang langsung nimbrung pembicaraan yang kita bertiga lakukan. karena dari SMP kami hanya kami berempatlah yang diterima di SMA tersebut. Sampai pada saat bel pulang sekolah dibunyikan. Untungnya. yang berarti kami akan menjejak ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Pada hari pertama MOS. Niken orangnya supel. Kami berpencar untuk mencari kelas kami masin-masing. yaitu SMA. Kami berteman sejak duduk di kelas dua SMP. Niken dan aku sekelas. sedangkan Tia dan Nia tidak pernah ketinggalan hal-hal yang menyangkut tren dan mode yang ada. Sampai saat MOS berakhir di hari ketiga pun tidak terjadi suatu kejadian yang berarti. Kami semua sangat senang karena berhasil masuk salah satu SMA unggulan di Jakarta.

Tiga tahun sudah kami bersekolah di sana. anak-anak kelas tiga juga sudah banyak yang datang. Perlakuan itu terus berlanjut hingga kami memiliki nama angkatan. perlakuan kekerasan yang kami alami sudah menjadi tradisi turun-temurun di sekolah kami yang akan terus berulang di tahun-tahun berikutnya. Sebagian dari kelas memutuskan akan datang ke tempat yang sudah ditentukan tersebut karena takut akan kelas tiga. Seseampainya di tempat yang ditentukan. akhirnya kami berempat ikut berkumpul sepulang sekolah. Tak ketinggalan. kami pun dimarahi habis-habisan dan aku mellihat beberapa temanku ditampar dan dipukuli. Niken mengajakku untuk ikut menghadiri perkumpulan itu atas dasar solidaritas teman. setelah dirasa cukup banyak anak kelas satu yang berkumpul. melainkan berkumpul si suatu daerah dekat sekolah atas perintah anak kelas tiga. halaman 38 dari 83 halaman . ternyata di sana sudah banyak anak-anak kelas satu yang berkumpul. kelas tiga segera memerintakhkan kami untuk berbaris. Kami pun merasa tegang akan situasi tersebut. Pada saat kami menjadi siswa kelas tiga. sebagian lagi tidak peduli dan memilih segera pulang ke rumah.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kami mengumumkan agar kami tidak pulang dulu. kini giliran kami untuk mendidik kelas satu seperti pada saat kami dididik dulu. pada akhirnya anak laki-laki disuruh tawuran dengan sekolah lain oleh kelas tiga.

“Toh sebentar lagi aku juga sampai” pikirku dalam hati. tembok-tembok beton gedung perkantoran. Jalan kaki lebih menyehatkan dan mengurangi polusi selain itu aku juga mencuri waktu untuk menghabiskan waktu itu sendiri tanpa ada gangguan. Oh iya. Jakarta. Sungguh jauh perjalanan menuju kampus. suara bising robotbaja-berjalan. tidak terlepas dari kekerasan yang menyelimuti. pusat ibukota beserta keramaian yang bercampur aduk di dalamnya. aku tersentak. Senang atau tidak itu fakta yang ada. Tidak terlepas dari kegiatan sebagai mahasiswi. “Hei!!!!” Sungguh. aku suka dipanggil Nanda. tebalnya polusi udara. aku halaman 39 dari 83 halaman . mahasiswi salah satu universitas di Indonesia. aku putuskan untuk berjalan kaki. Aku berbelok ke jalan kecil yang berhubungan dengan kampusku. namaku Ananda. teriakan itu seketika membuyarkan lamunanku. Hiruk-pikuk sibuk ibukota. dan semakin sedikitnya lahan hijau yang ada menambah panas matahari ini semakin terasa menyengat.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen CERPEN TENTANG KEKERASAN Oleh: Kartika Putri Di tempat ini aku dilahirkan. Jakarta. aku juga suka memperhatikan keadaan lingkungan sekitar dan menuliskannya dalam beberapa kata sederhana yang orang-orang biasa menyebutnya puisi. robot-baja-berjalan begitu padat merayap di pagi hari.

“Ini apa??!! Bukan duit?! Berani lu ya sama gua. tawa membahana.” Pengamen itu gemetar. Malangnya si pengamen..BEJAT: sebuah kumpulan cerpen menoleh... aku memutuskan untuk berhenti.. Ia melangkah takut-takut menghampiri tiga preman tadi. Pasang tampang polos pula!!” Bocah pengamen itu seraya berjalan agak mundur sedikit dan menunduk.. Bocah pengamen itu seakan-akan tahu dan cemas apa yang akan terjadi pada dirinya. saya. Rupanya kening si pengamen lecet begitu juga dengan lengan kanan yang menopang kepalanya tadi. baju yang entah berwarna putih atau cokelat pudar lusuh itu sudah tidak jelas warnanya—kumal dimakan waktu. Semua orang tanpa harus bertanya berapa usiaku juga tahu itu. tetapi ini terasa lebih nyata. lagi-lagi kekuatan berjaya. Aku bukan anak-anak lagi. menyaksikan setiap adegan-adegan yang seperti di tuai dalam acara reality show di televisi kebanyakan. Ya. “Ng. saya. a.” “Eh. “Hei!!!! Iya sini bocah!!!” Masih tertegun dengan teriakan itu. Jangan diambil. Bang... bakalan mati kalo nggak makan!” Pengamen itu bersikeras merebut kira-kira lima lembar uang seribuan dan satu lembar uang lima ribuan dari tangan-tangan kotor si preman. Aku melihat di kejauhan dan tetap melihat. perawakan besar lengkap dengan baju serta gelang tangan anyaman menghiasi tangan mereka.. lu! Orang juga nggak ada yang peduli sama gua!! Ibu lu nggak bakalan mati kalo nggak minum obat!” “Lain sama kita.. Tidak mungkin mereka memanggilku. tangannya ditarik dan dipukulnya kepala si pengamen oleh tangan besar sang preman. Ibu lagi sakit demam. Tiga preman tadi memanggil seorang bocah pengamen dengan gitar kecil. deh.” “Iba-ibu! Siapa juga yang peduli sama ibu. mereka preman. Tiga orang laki-laki bertato. Aku yakin bukan aku yang mereka maksud. “Heh! Mana setoran. Pengamen itu jatuh tersungkur di tanah. premanpreman meninggalkannnya dengan tawa keras. Saya belum ngamen hari ini. bohong aja lu! Berani bohong sama gua!!” “Cepet periksa sakunya!! Pasti dia bohong!” “Nggak Bang.... sandal jepit lusuh yang sudah tipis solnya. Langkahnya gontai. Bang. masih kecil juga!” “Itu uang untuk beli obat ibu di warung. nggak. Saya mohon... Dugaan dan firasat yang kuat salah satu kelebihanku. Lengan yang begitu kecil diselimuti berbagai macam luka. lu?!” “Iya mana? Jangan berlaga bego. Pengamen kecil itu berdiri memegang kepalanya sesekali ia berjalan agak sempoyongan ke arah warung dan duduk di sebelahku. Aku memutuskan untuk duduk di dekat warung dan membeli sesuatu agar bisa mengamati preman-preman itu tanpa harus dicurigai. dan tawa yang lebih tepatnya tawa kekejaman. ada. salah seorang dari preman tersebut menoyor kepala pengamen cilik itu... Ya. saya.. bang. si pengamen hanya bisa mengelushalaman 40 dari 83 halaman . kulit gelap yang membuat semua orang akan merinding melihatnya..

Setidaknya. Duka bocah pengamen tertindas.. Bu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen ngelus kepala dan lecet di lengan kirinya.. walaupun kelihatannya kecil.” ibu penjaga warung benarbenar tulus membantu. tak hanya duka tetapi juga suka. “Wah. begitu banyak duka. Hati-hati kalo bawa uang nanti diminta preman lagi. Dek. nyanyian kebahagiaan mereka. gelak tawa mereka di kala hujan. Ibu penjaga warung memberikan air mineral kemasan kecil dan memberikan plester kepada si pengamen. Saya kesian aja ngeliat kamu dianiaya sama mereka.. halaman 41 dari 83 halaman . Wajah bocah pengamen berseri sekali saat memakai plester pemberian ibu itu dan meminum air mineral yang rasanya biasa saja. Ibu sudah sering menolong saya” “Nggak apa-apa. semua menjadi tumpah ruah di sini. terima kasih ya. dan rasa terima kasih mereka. tetapi begitu menyimpan makna. kebahagiaan seperti itu dapat mereka —orang tertindas—rasakan melalui uluran tangan-tangan Yang Maha Kuasa. Ternyata di jalan sempit ini menyimpan begitu banyak cerita.

Di kolong jembatan itu. Aku melihat dengan nyata praktek kekerasan oleh orang dewasa kepada anak kecil yang terjadi di jalanan ibukota. Gambaran tentang kondisi sosial yang mengenaskan. tetapi masih ada satu sisi yang sering dilupakan oleh pemerintah. kenaifan dan kebebasan seakan tanpa kontaminasi sudah tidak dapat kita lihat lagi. yaitu halaman 42 dari 83 halaman . dunia fantasi anak. taman bermain anak. Jakarta Pusat. Jembatan dekat ITC Cempaka Mas. Sedih sekali melihat Jakarta yang katanya kota metropolitan. yang senantiasa menampilkan keindahan. Banyak sekali anak-anak sekitar usia 4-12 tahun yang sudah mencari penghasilan dengan cara menjadi pengamen dan pengemis.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen TINDAK KEKERASAN PEMERINTAH TERHADAP ANAK-ANAK JALANAN Oleh : Khamim Hudori Kekacauan dunia politik di tanah air dan kekerasan-kekerasan yang terjadi belakangan ini di berbagai daerah dan ibukota menyisakan kerisauan yang mendalam bagi anak-anak. banyak gedung-gedung megah berdiri. potret wajah-wajah bocah yang kelaparan dan kepedulian para orang tua di pengungsian dapat disaksikan di media masa.

Sungguh. Kak. Kak. “Luki. ada seorang bapak sekitar umur 35 tahun. Pak. Sebenarnya nama asli saya Luki. Ini uangnya. Saya panggil lagi bocah itu. Kak. Kak. “Namanya siapa. Saya sudah putus sekolah. anak sekecil itu sangat tidak pantas untuk mencari uang di jalanan halaman 43 dari 83 halaman .. Pake nanya lagi. maka dia dipanggil Buluk di lingkungan sekitar kolong jembatan. Trus nanti kita dapet bagian juga. Yaaa. aku berjalan di jembatan itu lagi untuk mengenal bocah tadi.” Luki langsung lari ke deretan mobil yang sedang menanti lampu hijau menyala. “Iya. “Dapatkah aku memeluknya. kasih ke gua!” bentak bapak tadi ke anak kecil itu.” jawab bocah tadi. Dek? Apakah kamu masih sekolah?” “Saya umur 9 tahun. “Woy. Kak. menjadikan bintang di surga. Karena dia berpakaian yang sangat kusam dan agak kotor.” jawab Luki dengan ketakutan dilihat oleh pak Bruto. Ada apa?” tanya anak kecil itu. “Iya. uang receh lo tadi. Kak. Pak. kita ngasih duit hasil ngamen tadi ke dia. Dan ternyata itu Pak Bruto yang kemarin. sebenarnya pak Bruto itu siapa?” tanya saya. “Buluk!!! Cepetan sana ngamen lagi. nanti abis ngamen. sang bocah tadi pun kembali ke kolong jembatan. Buluk... terdengar suara anak kecil sedang menyanyikan lagu ST 12 di depan mobil Alphard. “Ada apa. Sini. bapak saya juga entah kemana. Tidak lama. Di sanalah aku kenal seorang bocah kecil yang biasa dipanggil Buluk. memberikan warna yang bisa menjadikan indah. Padahal nama aslinya adalah Luki.. ada suara memanggil Luki dengan nada keras. lampu merah tuh!!” bentak Pak Bruto sambil menghisap sebatang rokok dan menghitung uang setoran anak-anak dari hasil mengamen.. apa boleh buat. Saya juga maunya sekolah. Kak. Ibu saya sudah tiada. Pak Bruto?” tanya anak itu..” Setelah lampu hijau. Nah. Sini lo!” panggil bapak tadi ke bocah yang baru mendapat uang receh dari mobil Alphard. Ya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen nasib anak-anak jalanan yang tak sekolah dan dapat perlakuan yang tidak wajar oleh para orang tua mereka. Mmm.. Setelah Luki selesai ngamen dan memberikan setoran ke Pak Bruto. Dek?” “Panggil saja saya Buluk.” “Kamu umur berapa. “Pak Bruto itu yang ngajarin anak-anak di sini ngamen. Di kolong jembatan itu.” Luki berbicara dengan sedihnya. “Maaf. Bagaimana cara untuk kita dapat bisa dapet uang di jalanan. Sudah tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolah. “Dek.. Tepat di lampu merah Cempaka Mas. Terpaksa saya hidup di jalanan seperti ini. “Yee. Besoknya. Coba ke sini sebentar!” aku panggil anak kecil itu.

Dan semoga saja. Karena anak-anak itu mempunyai hak untuk bersekolah dan untuk menatap masa depannya. Mereka yang seharusnya sedang asyik-asyiknya bermain dan sekolah dengan teman sebaya. semua anak-anak Indonesia berhak mendapat pendidikan yang murah dan tidak ada lagi anak-anak jalanan seperti Luki tersebut. Amin. yaitu memelihara dan menjamin anak-anak tidak mampu itu untuk mendapatkan pendidikan yang layak? Bukankah tindakan pemerintah yang tidak menjamin anak-anak itu sekolah juga suatu tindakan kekerasan? Semoga saja pemerintah benar-benar serius dalam menjamin pendidikan anak-anak tersebut.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen dengan cara mengamen. apakah ada seorang bapak yang tega membiarkan anaknya hidup di kolong jembatan seperti ini dan apakah pemerintah sudah menjalankan apa yang seharusnya mereka kerjakan. Saya sedang berpikir. halaman 44 dari 83 halaman . tapi malah menjalani hidup dengan keras di alam kolong jembatan tersebut.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KAU DAN KEKERASANKU Oleh: Khaula Fathina “Kamu jahat banget sama aku!” kalimat ini kan yang ingin kau katakan untukku?! Tapi selama ini kau hanya diam saja aku perlakukan seperti itu. Dan kau pun tetap diam membisu sambil berlalu ke dapur. kau bebenah rumah. Hampir setiap hari tanganku ini menamparmu. Kau merasa bersalah karena sampai saat ini kau belum mempunyai anak. tolong jaga rumah ya. tapi kau terima saja.” halaman 45 dari 83 halaman . Kau bosan dan aku pun bosan. Dan kau tahu sikap kasarku selama ini karena alasan itu. “Mas. “Malah diam saja lagi! Cepat buatkan aku kopi!” bentakku. aku mau belanja dulu ke pasar. PAKK!!! Tamparan keras mampir di pipimu. Begini tiap hari suasana pagi. Tiap hari aku berlaku kasar padamu. Padahal sudah 8 tahun kita sudah menikah. Tak berkata apa-apa dan tidak melakukan apa-apa. Kau menunduk diam membisu. “Apa yang kau kerjakan dari tadi! Suami bangun bukannya dikasih kopi atau apa! Ini malah sibuk beres-beres rumah! Istri macam apa kau!” satu tamparan lagi kena di wajahmu. aku bangun dan membentak.

Rupanya hari ini kau terlihat ingin berdamai denganku. Kertas itu. Tidak ada pukulan keras dariku. Dan aku merasa tertekan mas atas hal itu. Saat-saat sendiri di rumah adalah saat yang membuat kau tenang. Kau memasak sayur asem kesukaanku dan ayam goreng. Seperti tidak mau terlihat olehku. Pulang ke rumah pun seperti mengendap-endap. Jaga dirimu baik-baik. Seakan-akan takut diikuti seseorang. Aku bukan istri yang baik. kau masuk ke dalam kamar. Terbuka rapih di atas meja. Barisan-barisan kalimat yang kau tulis di kertas itu menunjukkan alasan mengapa kau pergi meninggalkan rumah dan suamimu begitu saja. Kau mulai beres-beres rumah kembali setelah aku pergi meninggalkan rumah.” ujarmu. kau hanya membeli sayur dan lauk pauk yang akan dimakan hari ini. kau pun bergegas pulang ke rumah. membuat siapapun yang melewati meja itu dapat membacanya. Aku akan buatkan yang baru. halaman 46 dari 83 halaman . “Cih! Masakan apa ini? Sayur asem manis begini!” ludahku sewaktu mencicipi sayur buatanmu. PRANG!! Kau tersentak kaget waktu aku membanting mangkuk sayur asem itu. Lalu memasukkan juga beberapa barang keperluan lainnya ke dalam tas. aku tidak bisa memberikan keturunan kepadamu. Aku hanya mengangguk dan kau pun pergi ke pasar. maaf aku pergi meninggalkanmu. aku pulang ke rumah orang tuaku. Tidak ada amarahku. Kau mencicipi sedikit sayur asem itu. Tidak ada tamparan di pipimu. Aku selama ini selalu sabar menerima puukulan dan tamparan juga bentakanmu padaku. Aku titip rumah. “Maaf. Di pasar. “Tidak usah! Aku makan di luar saja! Kau jadi istri kok gak becus ngurus suami!” bentakku kepadamu. Kau mengambil secarik kertas dari laci lemari dan sebuah pulpen. Aku tahu. Kau diam menerima omonganku. Kau menulis beberapa baris kalimat di kertas itu. Tanpa berkata apa-apa kau meninggalkan rumah dengan terburu-buru. kertas yang kau tinggalkan. Hatimu was-was takut kena bentak lagi olehku. Kau menuju lemari dan memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas. Mas. Aku sudah tak sanggup lagi untuk menahan segala perlakuanmu kepadaku. Tapi kali ini aku menyerah mas. dan langsung menuju ke dapur. Setelah selesai semua. Lalu meninggalkannya di atas meja samping ranjang. Maaf.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Kau pamit. Mas. Setelah rumah rapih. Mas.

Gadis itu masih termenung di antara batuan cadas hitam yang menemani setiap jeritan lamunannya. Sejak kami mengucapkan sumpah sehidup-semati saat pernikahan kami. Begitu berat ia menggenggam rantai kebencian pada hidup bersamaku yang dijalaninya. Flora hanya bisa menjerit di batinnya. Ia terduduk dengan wajah yang masih menatap kelamnya cahaya langit.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen CINTA TERLARANG Oleh: RA Koeshamimurti Tosani Natya Lakshita Flora. Itu semua karena cinta kami berdua. Aliran sungai terasa begitu deras di setiap detakan jantungnya. tak sedikit pun cinta kasih kami direstui oleh orangtua. Ditatapnya langit kelam yang tak memberi kasih tanpa cahaya lekat-lekat seakan meminta pada Tuhan agar diberi sedikit saja kesempatan untuk bisa mengecap nikmatnya dunia tanpa siksaan batin yang mahadahsyat dan mencekam. dan Tuhan pun tak kunjung memberinya pertolongan. Wajahnya tetap gelap tanpa ada cahaya yang menerangi. Tak sedikit pun senyum keluarga halaman 47 dari 83 halaman . Wajar bila Flora tak dapat menyebarkan senyum anggunnya. Telah belasan tahun batinnya tersiksa dan perasaan tenang pun tak dapat ia raih. Angin hanya lalu-lalang dengan wajah iba. cinta Flora dan Fajar. walau pada wajah mulusnya begitu ringan rasanya ia menebarkan bunga cinta kasih pada orang-orang. Namun tampaknya itu semua hanya bunga khayalan saja.

Di sana aku berbahagia bersama Flora selamanya. Dan bila kami tetap melanjutkan mahligai pernikahan kami. cinta kami akan selalu dipisahkan dengan cara apa pun.” Setelah mengucapkan sumpah setianya pada cinta kami berdua. “Kau boleh pergi dahulu ke surga sebelum diriku. “Cinta kita akan terus abadi. Keesokan harinya tercium kabar bahwa orang tua Flora akan menyuruh para preman jalanan untuk membunuhku agar kami tak bisa lagi bersama. Sebuah pedang tajam menembus jantungku semakin dalam. aku percaya aku akan menyusulnya nanti di alam sana. Aku sudah lelah dengan ancaman-ancaman yang terus menyiksa batinku. aku sudah siap dengan sebilah badikku. Saat pertama aku berhasil melumpuhkan dua orang pemuda. Namun tiba-tiba. Maka aku akan membunuh diriku sendiri sebelum kau dibunuh. aku melihat pintu gerbang cahaya kematian datang di depanku. Aku hanya bisa menahan kesakitan. Dia tersenyum menyambutku dan ingin menjemputku ke surga. Aku tak ingin kau dibunuh. halaman 48 dari 83 halaman . agar di surga nanti aku dapat menyambut dirimu dan berbahagia selamanya di sana. Flora pun menebaskan pisau itu ke lehernya dan bercucurlah darah. Saat tiga preman jalanan datang menyiapkan pedang maut mereka. Aku ingin kau terus ada disampingku. Flora pun mengambil sebuah pisau tajam yang telah diasah olehku. namun kekuatan pemuda terahir telah melumpuhkan nyawaku. Aku pun menjerit histeris melihat Flora telah mati di sampingku.. Aku tak ingin kau mati sendiri tanpa kehadiranku. Mataku pun terpejam dan bayanganku pun menggenggam erat tangan Flora. menjalani kehidupan abadi yang penuh dengan bunga cinta dan kasih. tetapi di surga sana. tetapi kau harus yakin.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen mengharumkan pernikahan kami. siap pergi bersama ke dalam surga cinta yang sejati. Flora ada di sana. Aku merasa dunia bukan tempat cinta yang bahagia. Mendengar kabar itu Flora menghampiriku dan berkata dengan tangis yang terisak-isak. di sela jerit kesakitanku.” Dengan berpasrah segalanya pada Tuhan. Sebelum ia bunuh diri.” Aku hanya dapat bergumam pasrah dan kemudian air mataku jatuh tak tertahan lagi. Aku tak ingin berpisah selamanya denganmu. Namun. ia menggenggam tanganku erat. “Fajar. aku sudah lelah dengan semua ancaman orang tua kita yang terus memisahkan kita. cinta kita tetap abadi. pertanda bahwa Flora sudah siap menjalani niatnya untuk mengakhiri hidup di dunia menuju kehidupan abadi..

benderamu!” Ibuku menyodorkan bendera yang baru digosok kepada Bapak. halaman 49 dari 83 halaman . Sejak dulu memang Bapak sangat mencintai bendera merah putih dan tampak menjadi-jadi setelah tidak mempunyai kegiatan lagi. Bapak menuju almari jati kuno yang berada di kamar Bapak sambil mendekap bendera di dadanya. Bau harum pelembut kain menyebar keseluruh ruangan. yang ditaksir sekira hampir seabad. Tidak pernah berubah sejak bapak pensiun dari pekerjaanya. dicucinya bendera itu sendiri. Dengan hati-hati ditaruhnya bendera itu di atas sebuah peti kecil dari kulit yang usianya sebaya dengan usia almari. bendera itu selalu siap dikibarkan di halaman rumah. Peti itu berisi lencana-lencana. Terdengar ada nada mengolok pada suara ibu ketika menyebut ‘benderamu’. kemudian disimpan di tempat yang spesial.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen BENDERAKU Oleh: Krisna Karim Z “Nih Pak. Bapak adalah mantan pejuang angkatan ’45 dan telah pensiun dari kepala satpam di pabrik gula. Di sebelah kanan peti diletakkan Al-quran yang berukuran lebih besar daripada biasanya. Dan setiap kali tiba hari-hari bersejarah. Begitulah tatanan rak paling atas dalam almari Bapak. Diperlakukannya bendera merah-putih dengan khusus. piagam penghargaan. dan benda kesayangan bapak lainnya.

Ritual ini dilakukan dua tahun berturut-turut semenjak Bapak pensiun. Hal itu terulang beberapa kali. Setelah itu. Juga setiap tanggal 17 Agustus. bendera didekap di dadanya. Mula-mula kami khawati Bapak menderita gangguan jiwa. Bu. Di bawah rintik-rintik hujan.” Adik lelakiku pernah juga terkena marah sama Bapak gara-gara ketika menurunkan bendera merah putih secara tidak sengaja ia gunakan kain bendera itu untuk mengelap keringat di lehernya. Wong tugasnya di bagian logistik. Bilang sama Toro.” Dia terus bicara seperti bunyi penyiar radio yang tanpa meminta pendapat pendengarnya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Sikap berlebihan Bapakku terhadap bendera itu menurut kami sering menimbulkan masalah kecil dalam keluarga. Akibatnya selama satu jam lebih ia harus menerima ceramah dari Bapak perihal bendera itu. “Ibu kenal Pak Samsur. Dengan kalem Bapak menyahut. kalau Pak Dhe-nya tentara yang takut sama bedhil. Pagi hari Bapak memanggul tiang bendera untuk dipasang di halaman. Namun. tapi tidak ikut perang. Malu. Ibu selalu mengomel kalau hanya halaman rumah kami yang dipasang bendera. Kami semua tahu kepada siapa cerita itu ditunjukkan. beberapa jam kemudian hujan turun lagi. Rupanya Bapak tida rela jika benderanya basah. Pernah suatu hari ia marah kepada Bapak karena malu sama pacarnya. dan bapak juga mengerti kalau kakakku tengah menyindirnya. ”Pak. orangnya sederhana ya. Dan hal itu yang membuat kakakku malu. Dulu katanya pernah berjuang bersama Bapak. Namun. “Samsuri itu tentara. Setelah makan siang. Saat memperingati hari kemerdekaan RI. Dan sore hari menjelang maghrib dipanggulnya kembali ke dalam rumah. Sejak pagi hujan gerimis terus turun. Ternyata tidak ada gejala yang mengarah kesitu. Bapak memasang bendera. Lantas diambilnya lagi tiang bendera itu dan dibawa ketempat teduh. mulut komat-kamit sambil matanya terpejam entah doa apa yang dipanjatkan barulah kemudian bendera dipasang ke tiang. Bapakku pun selalu menyempatkan melaksanakan sholat dilanjutkan dengan sujud syukur. Akhirnya kami biarkan Bapak berbuat sesuka hatinya meskipun kadang-kadang terasa aneh bagi kami. pacarmu itu. Ada-ada saja. Tak lama setelah hujan reda. Tentu saja melihat ulah Bapak seperti itu. Mas Toro. kemudian ia cabut tiang bendera yang terbuat dari bambu dan dipanggulnya menuju tempat yang teduh. Bapak memasang kembali bendera itu. Ceritanya hari itu tanggal 10 November. calon suami Mbak Nurul tertawa. dengan suara keras kakakku bercerita. halaman 50 dari 83 halaman . tahunya cuma makanan saja. Pekerjaan itu dilakukan selama 4 hari berturut-turut sejak tanggal 14 sampai tanggal 18 Agustus. kemudian dari teras rumah dipandanginya bendera yang basah terkena hujan. Pak Dhe Mas Toro? Dia juga pejuang ’45. Tidak pernah menunjukan kalau dirinya mantan pejuang. begitu alasan Ibu. aktivitas Bapak kian repot lagi. kok tidak pasang bendera?” Padahal ia tahu betul itu bukan hari bersejarah. Oleh karena itu. Kakak perempuanku yang bawel suka sekali menggoda dan mengolok-olok Bapak dengan pertanyaan. Jadi.

suara bapak mengagetkan kami. yang sok tahu mengatakan. Saya lihat Mas mulai berlebihan dalam memperlakukan berdera. Aku jadi geli mendengarnya—apa hubungannya post power syndrom dengan perbuatan syirik. Ibu berkata. sama sekali tidak tertarik ikut nimbrung karena sudah bosan dengan persoalan yang dibicarakan. saya takut. wong ndableg gitu. Setelah basa-basi sejenak. “Yu. Kita boleh saja cinta kepada negara dan bendera. namun siapa yang berani mengingatkan Masmu. Dengan nada prihatin. Mas. Sikap Bapak yang diam membuat Pak Lik kebingungan. Sementara itu Ibu mulai terpengaruh dengan perkataan Pak Lik. “Ya.” Ragu-ragu paklik melanjutkan kalimatnya karena Bapak menampakkan rasa tidak suka. karena itu dia memotong cerita Bapak. lho. kalau dibiarkan terus Mas abu terseret dalam perbuatan syirik. bagaimana kalau kamu yang mengingatkan. ”Kenapa? Kamu takut aku mulai gila. siapa tahu Masmu mau mendengarkan!” Suara Ibu terdengar bersungguh-sungguh. penyakit yang timbul setelah pensiun. begitu? Kamu memang tidak pernah ikut berjuang merebut negara dan penjajahan. ya..” mantap sekali Pak Lik mengucapkan kalimat terakhirnya. Dengar Sim. Saya mengerti. dia pun akhirnya menghentikan pembicaraan. Seperti biasa Bapak enggan menanggapi taktala ada orang yang membicarakan perihal kecintaanya pada bendera. adik Ipar Ibu. Ibu yang berada di ruang tengah sesekali menimpalinya. Itu Yu. seperti memperlakukan benda keramat saja. banyak temanku yang mati! Mati Sim. Dibunuh sama musuh.. Makanya kamu ndak bisa merasakan bagaimana rasanya merdeka dari penjajah!” Dengan penuh semangat bapak menceritakan kisah perjuanggannya di masa lampau. ”Lho. ”Maaf. Mas Abu lama-lama kelihatan makin aneh ya. “Kamu ngawur Sim. adik perempuanku. Saya khawatir kalau kalu Mas mulai mengeramatkan bendera. namun jangan sampai keblinger. Tiba-tiba. Pak Lik Kashim sengaja ikut duduk-duduk dengan Bapak di ruang makan sambil mendengarkan musik keroncong dari RRI Jakarta. Itukan yang ada di kepalamu?” suara Bapak menunjukan kemarahan. Kok. hanya suara radio dan televisi yang berlomba. “Ya.” Dengan menggebu-gebu Pak Lik menerangkan akibat dosa besar itu. Pak Lik bosan mendengarnya. kamu tambah ngawur. bukan itu yang saya maksud. Kasihan kalau tidak diingatkan.” halaman 51 dari 83 halaman . Untuk merebut bendera itu tidak mudah. Semua diam. Mungkin suamimu terkena penyakit post power syndrom. yang sedang asik menonton telenovela. Siang hari setelah makan siang.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Hati Ibu mulai terusik ketika suatu hari Pak Lik Khasim. Sudah sering ponakanmu mengingatkan namun tak pernah dihiraukan. segera menuju pembicaraan.sedangkan aku dan Yana. Coba. Hati-hati lho. Kamu kira pikiranku sudah gila. Lihat saja bagaimana ia memperlakukan bendera.

Kalau sekarang aku memperlakukan bendera dengan istimewa.. Pak Lik Khasim menjadi salah tingkah. hingga suatu ketika aku membaca e-mail dari kakakku yang kini tinggal di Den Haag.. yang membuat aku sadar terhadap sesuatu yang aku lupakkan selama ini. aku selalu bersyukur kepada Allah karena masih diberi kesempatan untuk mengibarkannya sepuas hati tanpa ada rasa takut dibunuh musuh!” Kali ini Bapak terdengar bersungguh-sungguh mempertahankan pendapatnya tanpa disertai rasa jengkel.” Aku kini benci sekali mendengar ucapan Pak Lik.” Suara Bapak bergetar menahan tangis dan tampak mata tuanya berkacakaca. Pak Lik Khasim menyela. Terlihat air mata bening di mata mereka. tidak ada lagi perlakuaan dan tempat spesial terhadap sang Dwi Warna. padahal mereka adalah saudara-saudara yang seakidah denganku. ”Demi Tuhan.. Tanganku ini harus membunuh pemberontajk DII/TII.. Hal tersebut berlangsung bertahun-tahun.. Lama-lama Ketua RT bosan memberi tahu keluarga kami yang nyaris lupa kepada bendera dan tidak pernah mengibarkannya lagi.. Ibu yang biasanya cerewet dan adikku yang tidak pernah memperdulikan bapak dengan bendera. Ternyata di mata Bapak dalam bentangan kain itu terdapat gambar hidup yang menimbulkan pergolakan batin antara perasaan syukur dan penyesalan yang sangat dalam. Mereka harus kubunuh hanya karena ingin mengganti merah putih dengan bendera mereka. Untuk bendera aku juga harus membunuh sesama manusia. kami tidak pernah meributkan lagi soal bendera. Semua tiada bersuara. kali ini hanyut dalam perasaan Bapak. Hening. Terharu mendengar cerita bapak. Kami sering lupa mengibarkan bendera pada saat harihari bersejarah dan baru ingat ketika diberi tahu oleh Ketua RT. Bapak melanjutkan ceritanya lagi. kemudian berdoa sambil mendekap bendera?” tanyanya. ”Lalu kenapa setiap tanggal 17 Agustus. membunuh pemberontak berarti membela negara. “Setiap melihat bendera merah putih.” Bapak diam sejenak.. itu salah besar. Mas Abu selalu bersujud. namun kelihatannya Pak Lik malas menanggapi.” ujar bapak. bukan berarti menggangap benda itu keramat dan menyembahnya. “Teman-temanku harus mati karena mengibarkan bendera merah putih. Untuk menutupinya ia memberikan nasehat. seperti pemberontak RMS. Tulisan yang membangunkan kesadaranku adalah bagian terakhir dari e-mail itu. Kini kami mengerti alasan bapak memperlakukan bendera dengan istimewa. membela negara diwajibkan oleh Tuhan. Membunuh saudara-saudaraku yang sebangsa yang pernah berjuang bersama-sama melawan penjajah.. kemudian dengan suara parau melanjutkan perkataanya. ”Mas Abu tidak bersalah.. “Bahkan oleh tanganku.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Bapak diam sejenak menunggu Pak Lik berbicara. Setelah Bapak meninggal. APRA. Selanjutnya. begini isinya: halaman 52 dari 83 halaman .

Menyesal rasanya dulu aku sering mentertawakan cinta Bapak terhadap benderanya. Mbak menangis untuk bendera dan baru kali ini aku merasakan memiliki bendera. Baru kali ini. Dan lebih sedih lagi ketika mereka menurunkan bendera merah putih dan menggantikannya dengan bendera mereka. Benar kata Bapak kalau bendera adalah martabat dan harga diri suatu bangsa. Sedih rasanya menyaksikan teman-teman dari Tim-Tim yang berpesta pora merayakan kemerdekaan mereka dari penjajahan Indonesia (begitu menurut mereka). ”Baiklah insya Allah mulai bulan Agustus tahun depan.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Semoga Indonesia segera damai dan mendapat pemimpin yang baik serta jujur agar tidak ada lagi wilayah yang memisahkan diri dari RI. Kepalaku mengangguk. karena aku sudah akan memasangnya sendiri. Makanya mulai hari ini jangan abaikan lagi benderamu agar tiada orang lain yang menggantikannya dengan bendera lain. Ketua RT tidak perlu menyuruhku memasang bendera. Aku benar-benar menangis ketika menyaksikan peristiwa itu. dalam hati aku berkata. Mengiyakan isi e-mail kakakku. sedangkan bendera merah putih mereka campakkan begitu saja.” halaman 53 dari 83 halaman .

Akhirnya. Dengan langkah gontai beliau melangkah pulang menyusuri jalan menuju rumah.! Seketika tukang tambal ban tersentak kaget. Pak ?” “Dari kantor pos. Hari sudah sore ketika Eyang Neli keluar dari kantor polisi.. ”Dari mana saja. Makjrengat.. Saat itu beliau semobil denganku dalam perjalanan menuju tempat resepsi. Beliau setuju. Usai keperluan di kantor pos. petugas itu menyarankan Eyang Neli untuk melaporkan kehilangan sepedanya ke kantor polisi terdekat.. si tukang tambal—sudah sangat dikenal Eyang Neli. Eyang Neli pergi ke kantor pos di kota tempat tinggal. ia bergegas ke tempat parkir sepeda. Beliau mulai panik.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen EYANG NELI Oleh: Lestari Sari Pambudi Bicara soal sifat pelupa. Bapak ini halaman 54 dari 83 halaman . bertanya. ternyata sepeda saya hilang lalu saya lapor ke polisi. Namun. kerabatku dari pihak Ibu. Aku pertama kali mengenalnya ketika pernikahan sepupuku beberapa tahun lalu. anda harus mengenal Eyang Neli. Eyang Neli tidak dapat menemukan sepedanya. makanya sore begini baru pulang.. ”Loh. Di mobil itulah beliau bercerita tentang sifat pelupanya yang luar biasa. Saat melewati tukang tambal ban. Pernah suatu pagi.” jawab Eyang Neli memelas. Petugas parkir pun kelabakan karena merasa bertanggung jawab atas raibnya sepeda tua milik Eyang Neli.

beliau mencari ke segenap penjuru rumah. Lah ini. Di pusat elektronika. Ibu kemana?” tanyanya pada pembantunya. Tiba di sana dengan alasan menghemat waktu. Eyang Neli menuju pusat elektronika. kan tadi sama Bapak. Ternyata perjalanan memang lancar. ia dan istrinya berjalan ke pusat perbelanjaan. dan menyadari istrinya tak ada di sisinya. sedikit bingung.” kata si tukang tambal seraya menutup kiosnya. Ia mencoba setiap jalan mana pun yang tampak layak dilalui di kota yang tak terlalu dipahaminya itu. Takut nyasar dalam perjalanan pulang. dan menemukan sang istri duduk terkantukhalaman 55 dari 83 halaman .. Ia bersikeras menyetir sendiri. Beliau juga sangat percaya diri. “Oh. Tapi karena khawatir istrinya panik. Bisa-bisa saya di tangkap polisi karena ngembat sepeda. Ternyata yang ditakutkan terjadi. Eyang Neli sangat suka menyetir mobil memang. “Lho. fisik Eyang Neli masih sehat dan kuat. Eyang Neli mengajak istrinya keluar kota. Mereka nyasar. Eyang Neli tidak begitu lama. Tapi karena sudah ada beberapa sepeda yang di reparasi maka daripada ia menunggu ban sepedanya di tambal. “Tin. tadi pagi sepedanya di tambal di sini. Dan menitipkan sepedanya pada tukang tambal ban itu.” Seketika Eyang Neli ingat janjinya untuk ketemu di food center! Ia pun bergegas kembali ke mal.. Seperti kebiasaannya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen gimana sih? Kan. tidak hilang toh?” komentar Eyang Neli. Sebab bisa segera mendapatkan barang yang diperlukan. Setelah membayar. Lain waktu. Baru setelah beberapa jam kemudian saat bensin mulai habis. Mereka berjanji bertemu di pusat jajanan untuk kemudian pulang bersama. Walaupun sudah tua dan pelupa. Baru kemudian ia ingat saat berangkat ke kantor pos tadi pagi. Beliau dan istri selamat sampai tujuan. beliau pun bergegas pulang dan tidur! Sore hari saat bangun tidur. Eyang Neli memutuskan naik angkot ke kantor pos. Eyang Neli berbelok ke kantor polisi untuk menanyakan jalan yang benar. Eyang Neli tak mengakuinya. Ia menolak menggunakan sopir atau naik kendaraan umum. Sang istri pun cemberut sepanjang jalan. istrinya buru-buru mengajak pulang saat hari belum benar-benar gelap. “Cepet deh di ambil sepedanya. Ceritanya. Namun justru karena sifatnya itu ia sempat membuat sengsara istrinya. sedangkan sang istri menghilang ke kios baju. karena ia melihat sepedanya bertengger di ruang kerja si tukang tambal ban. Karena itu ia menuntun sepedanya ke tukang tambal ban tak jauh dari rumahnya. Pak. dan sang istri tetap tak di temukan. di rumah kerabatnya itu Eyang Neli bercerita ngalor-ngidul hingga tak terasa hari sudah sore. ke mal. Yakin dengan kekutan fisiknya. Saya gak pulangpulang karena nungguin bapak!” Ganti Eyang Neli yang tersentak kaget lebih kaget lagi. keduanya sepakat berpisah untuk bisa mencari keperluan masing-masing. ban sepedanya kempes.

halaman 56 dari 83 halaman . Eyang Neli cuma senyum-senyum saja membayangkan bagaimana raut wajah istrinya bila tahu ia lupa akan janjinya tersebut.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kantuk di salah satu sudut pusat pusat jajanan. Seraya menghampiri sang istri.

Yanto sambil memegangi kepalanya berkata pada Ajeng. Yanto. suaminya. adalah anak seorang kepala desa yang saat ini memimpin di kampung yang ditinggali Ajeng pada saat ini. Yanto hanya mengenyam bangku pendidikan hanya sampai tingkat sekolah menengah. Setibanya sampai di rumah. Yanto kaget karena biayanya sangat mahal dan tidak terpikirkan sebelumnya. mereka berdua menuju tempat administrasi untuk menyelesaikan pembayaran. Pada saat membayar. Ajeng meminta diantarkan ke rumah sakit untuk mengecek kandunganya. jangan minta diantarkan sama aku. Suatu saat. Setelah menikah perlakuan Yanto terhadap Ajeng mulanya biasa saja. Mereka menikah karena hamil di luar penikahan yang membuat keduanya tidak mempunyai pilihan lain kecuali menikah. aku tidak punya uang untuk membayarnya. Ajeng dan Yanto langsung memeriksakan kandungan Ajeng. tidak terlalu baik maupun terlalu jahat. Setibanya di rumah sakit.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen BEJAT Oleh: Fauzana Fidyarizky Ajeng adalah istri yang menjadi menjadi korban kekerasan suaminya.” halaman 57 dari 83 halaman . Yanto pada saat ini adalah seorang pengangguran. Maklum. Setelah selesai. “Lain kali kalu mau ke rumah sakit. Yanto pun mengantarkannya ke rumah sakit.

Benar saja ia bertemu di rumah ayah dari Ajeng.” Yanto mulai berbicara dengan nada kerasnya. gimana kita bisa tahu keadaan anak kita. Setelah keluar dari rumah sakit. Caci maki. Tapi apa yang dilakukan Yanto. Ajeng tahu bahwa suaminya akan menemukannya cepat atau lambat. Tiap dua hari sekali kejadian itu terulang. Yanto pernah lakukan. Ajeng meminta maaf kepada Yanto karena Ajeng merasa bersalah tidak menghormati suaminya atas perkataaanya. Tanpa disangka Yanto mengambil sebuah kayu dan langsung memukuli Ajeng. Lagi pula kan itu sudah menjadi tanggung jawab Mas untuk menanggung semua kehidupan kita. halaman 58 dari 83 halaman . Ajeng pun pingsan dan saat terbangun mata bengkak dan telanjang karena Yanto baru memperkosanya. dia malah menampar Ajeng untuk kedua kalinya. Ajeng kesakitan sekaligus kaget Yanto bisa berbuat seperti itu. bahkan tendangan ke arah perut Ajeng pun.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Ajeng pun menjawab. dan terulang lagi. Tetapi kekuatan Yanto lebih besar dari pada Ajeng. Kondisi ini berbutut kepada Yanto yang harus mendekap dipenjara selama satu tahun. Para tetangga yang sudah geram mengetahui prilaku Yanto terhadap Ajeng. Dan Ajeng pun cuma bisa teriak dan minta tolong. dan tiba-tiba Yanto menghampiri Ajeng dan langsung menamparnya. kalau kita tidak memeriksanya. Keesokan harinya. Yanto kabur pada saat warga menolong Ajeng. “Mas. Pada suatu saat Ajeng dipukuli habis-habisan oleh Yanto. yang kosong karena keluarga Ajeng pulang ada acara di balai desa. Ajeng pun menangis dan merasa sakit pada saat itu. tamparan. menolong Ajeng dan langsung membawa Ajeng ke rumah sakit. dan secara refleks Ajeng membalas perbuatan Yanto.

sebelum Rafli merantau. Berbagai rintangan selalu mereka lalui dengan kesabaran hati mereka. setelah pulang dari perantauanya. Sebelum Rafli berangkat merantau. Dua tahun berlalu. Pada suatu ketika. Kepala Desa Mantaren. terkait hutang yang cukup besar kepada Pak Sugih. Ayah kami adalah seorang Kepala Desa yang terpandang. dapat mempertahankan hubungan mereka dengan sangat baik.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen AKHIR DARI CINTA SEJATI Oleh: Lia Andika Pratiwi Pada suatu desa yang dinamakan Pulau Telo. yang kebetulan ayah dari seorang pria tampan yang bernama Tono. Rafli adalah seorang anak yatim piatu yang menggantungkan hidupnya dengan kerja kerasnya sendiri. Dalam permasalahan halaman 59 dari 83 halaman . Rafli sedang merantau jauh ke negeri seberang. hiduplah sepasang kekasih yang saling mencintai yang bernama Rafli dan Nia. Dan mereka berjanji akan hidup dan mati bersama di bawah pohon cemara pinggir laut. Rafli berpesan akan selalu ingat dan berjanji akan menikahi Nia. Dan Nia juga berjanji akan selalu berdoa untuk keberhasilan Rafli. Aku Santi. sedangkan Nia adalah anak bungsu. Tak banyak orang dapat mempertahankan hubungan cintanya jarak jauh. Pak Bowo. Ayah tidak dapat menyanggupi membayar hutangnya kepada Ayahnya Tono. Dalam permasalahan tersebut. sang kekasih. Ayah kami. Dalam perjalanan cinta mereka tak pernah mulus. Tetapi Rafli dan Nia. kakak Nia.

apalagi demi melunasi hutang Ayah. Rafli menghilang bagaikan di telan bumi. apa yang ayah lakukan? Dia kekasih Nia yang selama ini membuat Nia bahagia. Rafli pun melompat dari atas pohon tersebut. “Nia. Lalu Nia berkata. mestinya Ayah juga yang mesti bertanggung jawab. ayah kami. muka Nia memerah dan tidak mau menikah dengan Tono. Aku di sini merindukanmu. Dan Nia pun terpaksa menuruti perkataan ayah. maka semua utang yang ada pada ayah kami. Setelah Nia mengetahui semuanya itu.” Lalu Nia berlari ke bawah pohon cemara di pinggir laut. Satu tahun dari pernikahan Nia dan Tono. Tidak lama kemudian. “TIDAK AYAH! Nia memang sayang dengan Ayah. Dari permintaan Ayah Tono tersebut. anak seorang saudagar yang kaya raya. pulanglah…. Dan ternyata Nia pun sudah tiada. dan langsung mendorong Rafli.” Lalu ayahnya berkata. Lalu Nia terkejut mendengar suara yang dulu sering dia dengar. bahwa Rafli pernah berkata. langsung pergi meninggalkan Nia. dengan ayah?” Nia menjawab. kamu sayang kan. bagaikan Spiderman. Lalu Rafli menemui Nia yang sedang menjemur pakaian di belakang rumah. Pak Sugih. ya Allah. disetujui oleh Ayah. Ayah. “Nia. Rafli. “APA??! Nia. untuk menikahkan anaknya dengan putranya. “Ya. Dia lupa.” Dan Rafli pun. aku pun merasakan kesedihan yang dialami oleh adikku. Ayah berkata. Datanglah sebelum Tono melamarku…!!!!” Sebagai kakak. “Tuhan cobaan apa yang kau berikan pada hambamu ini. Begitu berat ujian yang kau berikan ini. “Ayah. Lalu Nia berlari dan memeluk erat tubuh Rafli. Rafli beserta teman merantaunya kembali ke desa Pulau Telo. tanpa sepengetahuan Nia. dan berjanji akan hidup dan mati bersama.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen tersebut. Ayah Nia melihat. Dia mengakhiri hidupnya di pohon cemara pinggir laut.” Lalu Rafli menjawab. Lalu Nia berkata. tapi cinta Nia tidak bisa dipaksakan. adikku. Nia sangat menyesali dirinya. iyalah Nia bisa dan mau bantu Ayah. Beberapa hari kemudian. Ayah yang berbuat. dengan serta merta ayah Tono mengajukan persyaratan tersebut. dan menikah dengan Tono.” Lalu Ayah berkata. ayah dari Tono. ya Allah.” Lalu ayah berkata. akan tetapi aku tidak dapat berbuat banyak. Apalagi karena Tono sejak dulu memang memendam perasaan cinta untuk Nia. di mana tempatnya terakhir bertemu kekasihnya Rafli. berkata kepada Pak Bowo. Maka ketika ayah terlilit utang dengan keluarga mereka. “Iya. keputusan Ayah telah bulat. “Tapi kamu sudah punya calon suami Nia…. Setelah itu. teryata kau…. semuanya akan dianggap lunas. kamu mau kan menikah dengan Tono. halaman 60 dari 83 halaman . Lalu Rafli memangil Nia dari atas pohon. “Kamu mau bantu ayah kan?” Lalu Nia menjawab. anak Pak Sugih untuk membantu melunasi hutang-hutang ayah?” Dengan kesal lalu Nia menjawab dengan ketus.

Ternyata begitu besar cinta yang terjalin antara Rafli dan Nia. Dan berakhirlah sudah cerita ini. Dan akhirnya. Nia pun mengakhiri hidupnya di pohon cemara itu juga. halaman 61 dari 83 halaman . akan hidup dan mati bersama.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen bahwa tempat pohon cemara itu adalah tempat di mana mereka berjanji.

Mbak.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen MURTI Oleh: Loise Viranti Lasnida Mbak Murti keluar dari rumah besar itu.. setiap ditanya. “Ngjemur nih ye.” kataku sambil berlalu masuk ke dalam rumah. “Biasa. membawa ember penuh berisi pakaian yang aku yakin pasti bukan pakaiannya. Selalu begitu.. “Biasaa.. Mbak Murti jadi terlihat seram dengan wajah yang bengkak-bangkak begitu.mbak.. pikirku. Hari ini ada yang lain lagi dari Mbak Murti. Pasti baju-baju Ibu Tanti dan Pak Adri. “Itu mukanya kenapa. Lah aku masih libur kok.” “Ntar aja aahh mandinya. Mbak Murti selalu menjawab. Sudah sana.. gih. Mbak Murti hanya cengengesan menanggapiku. rahang bawahnya kebiru-biruan dan bengkak dan bibir bawahnya yang sobek juga tambah bengkak. karena yang ia jemur adalah pakaian yang bagus dan besarbesar ukurannya. Mbak? Kok yang sininya jadi biru?” tanyaku sambil memegang rahang bawahku. Kamu wis mandi? Sudah pagi. Sudah ya.” godaku pada Mbak Murti.” Aku tidak pernah mengerti maksudnya. Waktu itu aku pernah ikut duduk-duduk di warung Bu Warsih saat ibu-ibu halaman 62 dari 83 halaman . Aku diam melihatnya dari luar pagar. ntar kamu telat masuk sekolahnya.

kuli bangunan yang suka menganggur jika tidak ada yang membutuhkan tenaganya. tapi tidak bisa karena tidak ada biaya. Aku ingat ini bulan Ramadhan. Jadi apa “biasa” yang dimaksud Mbak Murti itu maksudnya adalah dipukul oleh Ibu Tanti? Kok disiksa seperti itu dianggap biasa? Aku kasihan sama Mbak Murti. “Tapi nanti kalo kita laporkan Bu Tanti. Sampai aku mendengar salah satu ibu yang rumahnya tak jauh dari rumah sewaan keluargaku. Aku tidak tahu kampungnya di mana. “Emang deh. Dari pagi sampai Maghrib Mbak Murti sudah jarang sekali keluar rumah. “Tuh kan. Aku pergi ke rumah Resih. Ia suka bertanya-tanya tentang sekolahku dan sering mengajariku matematika. Lalu aku memikirkan Mbak Murti. Aku menoleh ke wajah ibu yang sedang menjadi pusat perhatian karena bersemangat bercerita itu dan mendengarkan. temanku yang mempunyai televisi di rumahnya dan menonton bersama orang-orang yang sedang ikut menumpang. kecuali kalau sedang menyapu teras atau menjemur pakaian seperti tadi. Lalu aku pergi dari warung Bu Warsih. Wong rumah kita aja masih nyewa sama dia. kita mau tinggal dimana? Hahaha.” cerita ibu itu dengan wajah yang semangat. yang aku kenal betul wajahnya karena ia pernah ke rumahku. tapi aku sangat malas dan pernah tidak naik kelas. Toh setiap ibu-ibu berkumpul akan seperti itu.. yang mondar-mandir sambil mematuk-matuk beras yang tersebar di tanah. iklan-iklan makanan yang ditawarkan untuk berbuka. dia malah nangis. Sepertinya Murti disuruh tidur di luar sampai pagi. Begitu juga ibu-ibu yang lain. bergosip. Aku selalu dinasehati Mbak Murti setiap kali malas belajar. memanggil ayah untuk meminta ayah membetulkan genting rumahnya. di sini juga halaman 63 dari 83 halaman . Kasian banget deh si Murti. Tapi toh apa bedanya. menyebut nama Mbak Murti dan Bu Tanti. Tidak ada ekspresi prihatin dari wajahnya. sebentar lagi lebaran. Aku tetap asik memakan agar-agar yang kubeli sambil bengong melihat ayam-ayam di depan warung Bu Warsih. Biar kapok dia!” sahut ibu yang lainnya. Dulu waktu ia baru-baru datang. Ya begitulah pekerjaan ayah.” timpal ibu lain yang rumahnya di sebrang rumahku. jengah dengan obrolan ibu-ibu tersebut. Bu Tanti itu sudah keterlaluan. yang bisa bersekolah karena SD saat ini dibiayai pemerintah. Katanya karena sebenarnya ia ingin sekali melanjutkan sekolahnya. ya? Mbak Murti pernah bilang padaku bahwa ia sangat rindu kampungnya. pas paginya saya tanya sama si Murti. Awalnya aku tidak memperhatikan apa yang mereka ributkan. Tapi sekarang aku jarang bertemu Mbak Murti.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen sedang belanja memilih-milih sayuran. Mbak Murti suka bermain denganku dan ngobrol-ngobrol. Kira-kira ia akan mudik ke rumah ayahibunya tidak. Mereka belanja dengan ribut sekali. Terus. seharusnya kita laporkan saja Bu Tanti sama polisi. Kemarin malam si Murti saya lihat sedang tidur di luar. Acara di televisi sedang diganti dengan iklan. Berbeda denganku. Mbak Murti sangat peduli dengan pendidikan dan sekolahku. padahal Mbak Murti baik.

Pantas saja di luar seperti masih gelap.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kampung. Ndah?” “Kakinya kenapa itu. Mbak Murti terlihat kaget dan berjalan menghampiri aku di seberang pagar dengan tertatih-tatih. bisa terlihat besarnya rumah Ibu Tanti dan kulihat ada Mbak Murni duduk di teras rumah itu. Mungkin karena rumahnya yang besar itu. Ada rumahrumah kecil dan juga kamar-kamar petakan seperti tempatku dan keluarga tinggal. Hampir semua tempat tinggal di sini milik Ibu Tanti. Mbak?” tanyaku langsung. Mbak?” panggilku dengan setengah suara. aku penasaran ada apa dengan kakinya yang membuat jalannya terseret. mungkin ia sudah pindah atau malah sudah pulang kampung. Berbeda dengan tempat tinggal kami. “Eh Mbak Murti. Tapi sudah tiga bulan ini sepertinya semua berubah. bukan di dalam gang seperti ini. rumah Bu Tanti adalah rumah yang paling besar. Awalnya Mbak Murti terlihat senang-senang saja bekerja dengan Ibu Tanti. kerabat dari paman Mbak Murti yang membawanya ke sini tidak kembali ke kamarnya. Karena waktu itu aku pernah melihat Ibu Tanti berdiri di depan kamar Pak Adung sembil bersungut-sungut. seorang kuli panggul di stasiun yang juga menyewa kamar milik Ibu Tanti. Sudah dua bulan batang hidung Pak Adung tak terlihat. Mbak? Sama kayak tuh muka? Kok betah sih. Tapi Mbak Murti hanya diam dan menunduk ikut melihat kakinya. ia membutuhkan pembantu untuk membantunya mengurus rumah. “Dipukul ya. lima bulan nunggak sekarang malah ngilang. Apalagi sejak Pak Adung. ngapain di situ. Dan sepertinya Pak Adung pergi dengan meninggalkan hutang sewa kamarnya. Aku lihat jam dinding yang diletakan di atas tumpukan baju ayah menunjukkan pukul setengah lima pagi. Mbak Murti mengerutkan dahinya. Dari depan tempat tinggalku. Rumahnya tingkat dan pagarnya berukir tinggi. Awas saja dia!” *** Pagi ini aku bangun kepagian. Mbak?” tanyaku sambil melihat ke arah kaki Mbak Murti. sama seperti keluargaku. Dulu Mbak Murti datang dari kampungnya karena dibawa oleh Pak Adung. Panas sekali di dalam kamar ini. bagiku tetap saja aku tinggal di kampung. “Loh kamu kok sudah bangun. aku pun keluar. halaman 64 dari 83 halaman . “Dasar si Adung kurang ajar. Setahuku semua rumah dan kamar ini adalah milik Ibu Tanti yang setiap bulan menagih pembayaran sewaan pada kami. Tapi aku terlanjur bangun. Meskipun Jakarta adalah kota yang megah dan besar. Aku berjalan ke depan rumah megah itu dan memegangi pagar. Jakarta adanya di balik gedung-gedung bertingkat dan jalan tol yang macet. Setiap sore ia biasa keluar dan bermain denganku. Karena itulah Mbak Murti datang.

Tapi di manapun dia sekarang. “Ntar makin jadi-jadi kalau aku lawan. Mbak. tidak ada kabar lagi tentangnya. Terkadang rindu juga aku dengan Mbak Murti. Mungkin Bu Tanti takut Mbak Murti melaporkannya ke polisi. Ibu Tanti keras banget. Gara-gara Bu Tanti kesel sama Mang Adung.” Aku mengangguk dan berbalik pulang ketika kulihat Mbak Murti juga berjalan masuk ke dalam rumah. Dulu kupikir kekerasan seperti itu hanya ada di televisi dan berita-berita saja. Ternyata di sinipun ada. Udah dulu ya. Ini muka jadi biru karena dijedotin ke meja. Ibu Tanti kewalahan mencari-cari Mbak Murti. aku lega. Sedangkan Bu Tanti masih tetap panik dan berusaha mencari Mbak Murti. Bahkan orang sekitarku sendiri. Setidaknya ia tidak dipikuli dan disiksa lagi oleh Bu Tanti. Ndah. Aku sendiri tidak tega melihatnya. Ibu Tanti sesumbar. Mendengar ceritanya langsung seperti ini aku jadi ikut sedih. Aku ndak boleh salah. Ndah.” kataku dengan kesal dan geram. melaporkan keberadaan Mbak Murti apabila melihatnya. Kupikir hanya orang di negeri seberang sana saja yang suka menyiksa pembantu. Sudah sana kamu pulang. Waktu ibu-ibu lagi belanja di warung Bu Warsih. Kalau nyapu ngepel ndak beres. Aku kan ndak tau apa-apa.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Loh. “Aku dipukuli. Tapi jadi aku yang diomelin. warga sekampung. Nanti kalau ibu bangun terus lihat kita. Kayanya ia kabur dari rumah. Ndah? Kamu lihat?” wajah Mbak Murti panik sambil memegangi rahangnya yang masih bengkak dan biru. pikirku. aku ndak boleh makan. Ntar aku diomelin sama Ibu.” Mbak Murti menangis. kok kamu tau. Mbak diapain toh Mbak? kok bisa jadi begini?” Mbak Murti hanya diam lama sekali sampai akhirnya buka suara dengan wajah sendu dan berkaca-kaca. “Lawan toh Mbak. Ndah. “Aku denger gosipnya. semoga saja Bu Tanti sadar dan kapok menyiksa pembantu seperti Mbak Murti. *** Beberapa minggu setelah aku mengobrol dengan Mbak Murti. *** halaman 65 dari 83 halaman . Kamu jangan bilang apa-apa ya ke orang-orang sini. Aku berharap. Kalau nyuci ndak bersih. aku ditampar. ia bilang Mbak Murti pergi dengan mencuri perhiasanperhiasannya dan ia bilang selama ini Mbak Murti tidak pernah beres kerjanya. Ndah. Ia memaksa kami. Tapi sudah seminggu sejak kepergian Mbak Murti. aku bisa diomelin. Jangan mau digituin.

Ooo... semua itu merubah pikiranku sebelumnya. Oca?" halaman 66 dari 83 halaman .... Tidak disangka. Kelasnya di mana sih?" "Kelas 12 Sos D. seperti biasa aku menuju sekolah di antarkan oleh kakakku.. Kamu murid baru. aku langsung menuju ruang kelas ku. Aku terpeleset di lantai yang basah.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen SI CANTIK YANG MALANG Oleh: Fazra Fatima Azzahra Di suatu pagi yang cerah. Aku ingin menyapa. sepertinya tidak perlu. Murid baru itu menolongku. Aku malu.. tapi ah." Keesokan harinya. lagi pula bel masuk sudah berbunyi. sepertinya terburu-buru sekali. Ckckck. Saya Nanda. Dia terlihat angkuh. "Hihi.. lain kali hati-hati ya. "Hai. Sepertinya dia murid baru di sekolahku.. Nda. ya? Siapa namanya?" "Ya benar. Dia tersenyum kepadaku cantik sekali. Tiba-tiba…. Aku segera berlari ingin pulang karena film kesukaanku siang ini akan diputar di televisi. Tiba-tiba mataku tertuju kepada seorang perempuan cantik yang asing bagi ku.. Waktunya pulang sekolah. Ternyata dia baik. siapa namamu?" Waaa suaranya halus sekali. syuuuttt.. Sesampainya aku di sekolah. "Saya Oca. bikin iri jadinya.

Aku pulang bareng kamu yah?" Haa.. Ca?" sahut Dania. belagu. Wkwkwk... Oya. ngga seperti orang-orang yang lainnya. Nda??” “Kamu tahu tidak?? Aku dijual oleh mereka." Kring kring….” “Memang orang tua kamu kemana. aku merasa seperti di neraka.” “Aku jadi sedih. Kan kita juga belum kenal sebenernya dia gimana..BEJAT: sebuah kumpulan cerpen "Oo… kalo gitu kita depan-depanan dong. iya." "Oke lah. Pertama kali liat kamu. Ca. Mukanya kaya orang pengen ngajak ribut." "Tapi kamu yang ikut mobil aku... “Nanda. Ca?" “Emang siapa yang sebel sama kamu?? Emang mereka ngapain kamu. tapi gue juga ngga berani nilai orang sembarangan.di sekolah juga. dan sekarang aku tinggal bersama laki-laki paling kejam. Tuh di seberang kelas 12 IPA A.. Sipp. aku ini merasa sangat tersiksa di rumah ini. hiks.” “Kenapa ya. Setiap hari. yah..” “Terus kenapa kamu ngerasa hidup kaya di neraka di rumah ini? Padahal kan di sini enak. Ca. "Nanda kenapa?" "A... aku. gayanya belagu. Aku segera bergegas pulang... "Hai.? Nanda udah nungguin aku di depan kelas? Rajin banget. aku ngerasa kamu itu ramah. rumahnya gede??” “karena aku di sini tinggal bersama orang yang tidak aku kenal. sebaiknya halaman 67 dari 83 halaman ." aku menghampiri teman-temanku. Banyak gaya. Tetangga aku juga semua bersikap dan berfikir seperti itu. "Hmm. dan yang terpenting—dan sangat pribadi sebenarnya.. diperlakukan seperti boneka. Ca.. doyan banget gosip sih. Ca. "Eh." Bel masuk pun berbunyi. a. Abis sebel tahu liat anak baru... Ca. Temen-temen di kelas semua mencibir aku. Tapi kenapa kamu kok terbuka banget cerita masalah ini sama orang baru kayak aku??” “Karena cuma kamu yang mau berteman sama aku. Aku di sini disiksa. Padahal setiap kali aku coba ramah atau senyum sama mereka. Sok ngartis. emang sih dia jutek mukanya. mereka justru yang memandang aku sinis. Setiap aku dari luar negeri dan memberi oleh-oleh untuk mereka. Senangnyaa. "Ia kenapa ya gosip itu enak. Oke oke. Kita memasuki kelas masing-masing. Menurut lo gimana. Bel pulang berbunyi.." Ketika di mobil tiba-tiba Nanda menitikan air mata. mereka berfikir seperti itu??” “Mereka berfikir aku ini sok pamer. di rumah aku ceritanya.. "Eh eh. hehe. Bel pulang lima menit lagi berbunyi..” Sesampainya di rumah Nanda. kamu kenapa sih tadi???” “Hikksss….. Aku ngga ngerti kenapa semua orang benci sama aku. mereka menganggap aku ini hanya ingin mendapat pujian. Mereka nganggep aku sombong. Nda???” “Nanti aja ya..

karena kalau aku ketahuan membawa kamu ke sini…” “NANDAAAAA… NANDAAAAA!!!!! DI MANA KAMU????!!!” BRAKKKKK….. Astaghfirullah… istri???? Tega-teganya orang tua yang menjual anaknya sebagai istri orang lain.. Aku mendengar teriakan dan isak tangis Nanda. “DIAM KAMU!!!!! RASAKAN!!!!” “AAAAAAAAAAAAA……. “Maaf… maaf.” “ISTRI MACAM APA KAMU INI!!!!” Aku shock dalam hati…. karena… aku melihat percikan darah yang sangat banyak memuncrat di gorden kamarnya yang berwarna putih. Kemudian aku diseret paksa oleh lelaki paruh baya itu ke luar. halaman 68 dari 83 halaman . HAH??!!” “Aa… aku. Caaaaa.. Ocaaaaa…. JANGAN PERNAH MEMBAWA SIAPA PUN KE DALAM RUMAH INI!!! SUDAH BERAPA KALI KAMU BERBUAT KESALAHAN. huhuuuuu.” Aku tidak dapat berbuat apa-apa selain berdoa meminta perlindungan dariNYA. “Ocaaaaaa…. Sungguh kejam.. min… minta maaf. dan segera aku menelepon polisi.” Sebelum polisi itu datang… sepertinya semua sudah terlambat untuk menolong Nanda.. Sungguh aku tidak kuat mendengarnya. Nanda telah tewas karena ulah lelaki itu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kamu cepat pulang.” “APA-APAAN INI???!!!! SIAPA DIA??!!! SUDAH KUBILANG.. Saya minta maaf. Tolong aku.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen JANGAN MAIN HAKIM SENDIRI Oleh: Lourin Hertyastiwi Pamanku adalah seorang petani yang sangat giat bekerja. Tetapi ternyata kabahagiaan Pamanku diusik oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Pamanku seakan-akan mempunyai hidup yang sangat nyaman dan nikmat. Mereka juga tidak pernah mengeluh dengan kehidupan mereka. Ia tidak pernah mengeluh sekalipun tentang pekerjaannya yang hanya seorang petani. Hidup terasa aman. Mau makan apa keluargaku kalau begini? Mana bisa aku dapat uang selain dari bertani ini. nyaman. merasa sangat senang dan nyaman tinggal di keluarga ini.” keluh Pamanku ketika ia tahu kalau padi-padinya yang siap panen dicuri oleh pencuri-pencuri jahat halaman 69 dari 83 halaman . Seperti tidak ada masalah sama sekali dalam keluarga ini. Dan keluarganya pun adalah keluarga yang sangat baik. Tanpa perlu mengeluh dan mengatakan hal macam-macam yang tidak bisa dicapainya. “Aduh bagaimana ini? Padiku dicuri orang. Aku pun yang hanya keponakannya yang menumpang di rumahnya. dan tentram. Mereka adalah para pencuri padi yang sering berkeliaran di malam hari dan mencuri padi-padi para petani. Ingin rasanya di kala besar nanti aku menjadi seperti pamanku yang selalu bersyukur dengan keadaannya. dikarenakan orang tuaku yang pergi merantau entah kemana.

awas mereka. Keesokan harinya. dia sudah mencuri padi-padi kita dan bapak juga salah satu korbannya. Pak.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen itu. Lihat mukanya sudah babak belur begitu. Dasar orang-orang yang tidak bertanggung jawab kalau ketemu.. Pamanku itu memang orang yang benar-benar bijak.” kataku dengan mengebu-gebu. Aku memang suka melihat paman bekerja di sawah dan sesekali membantunya sebisaku. Seharusnya kita memberikannya kepada pihak yang berwajib atau kepada Kepala Desa. ampun. biar nanti mereka yang mengadili. Janagn kau pukuli lagi orang ini.. Mungkin Tuhan memberikan cobaan ini karena paman kurang bersyukur kepadanya.” kata Pamanku dengan sangat bijak.. Hanya Tuhan yang tahu jawabannya kenapa.” kata salah satu dari orang-orang yang memukuli pencuri itu.” Terdengar suara seperti itu dari alun-alun desa ketika aku melewatinya. Paman. “Tapi kan Pak. aku sangat bangga kapadanya.. Saya minta maaf.. Apa itu adil?!” tiba-tiba Pamanku datang dan langsung menghentikan warga yang berusaha menghakimi si pencuri itu dengan pukulan-pukulan yang tentu saja tidak ringan tetapi pukulan yang keras. agar nanti Kepala Desa untuk melapor. Sudahlah. Tetapi kalau padinya saja hilang.” jawab Pamanku dengan sedikit kesal tetapi tetap saja terdengar bijaksana bagiku. Kau masih tega memukulinya?! Dia itu sendiri dan kalian beramai-ramai memukuli dan menghakiminya. Ayo kita bawa dia ke pihak yang berwajib. Paman ingin merenung dulu. ampun. Kebetulan aku sedang berada di sawah menemani Paman yang ingin segera memanen padinya. “Ya. tetapi kenapa Tuhan memberikan ganjaran seperti ini kepada Paman. sudah cukup. Dan sekarang dia sedang diadili di alun-alun desa. tapi janganlah kita main hakim sendiri. “Hei. Paman capek. “Sungguh jahat pencuri itu. “Paman. Kasihan juga pencuri itu. kan. Kok Paman biarkan pencuri itu begitu saja? Maksudku kok Paman tidak ikut memukuli pencuri itu? Memangnya Paman tidak merasa dendam kepada si pencuri itu?” tanya ku kepada paman. “Aduh. Kenapa ia melakukan hal sebegini jahat pada kita sih. “Kalau mereka baik tentu saja mereka tidak akan menjadi pencuri. Tolong jangan bawa saya ke kantor polisi. Aku memang penasaran kenapa paman bisa halaman 70 dari 83 halaman . Sebenarnya menurutku Paman sudah banyak bersyukur. Setelah itu barulah si pencuri itu dibawa ke kantor polisi untuk diadili.. Saya kan hanya berusaha mencari makan.. Tadi malam pasukan Siskamling memergoki si pencuri itu sedang mencuri padi di sawah. Maka berbondong-bondong lah mereka ke Kepala Desa. Nak. aduh. apa yang bisa aku bantu untuk Paman? Aku hanya bisa mengumpat saja dalam hati agar si pencuri itu ditemukan dan diberikan ganjaran yang setimpal. “Benar juga sih yang Bapak bilang.” kata salah satu orang dari mereka. Akupun mendatanginya dan ternyata yang berbicara seperti itu adalah pencuri padi-padi warga. Pak. Dan ternyata orang itu adalah seorang laki-laki dari desa sebelah.

Aku bangga punya paman seperti Paman. halaman 71 dari 83 halaman . dan kita mempunyai hukum-hukum yang harus ditaati. “Loh kecerobohan paman apa?” Tanya ku karena tidak mengerti apa yang pamanku bicarakan.. Yang selalu baik dan bijaksana kepada siapa saja. kita tidak seharusnya melanggar hukum juga seperti memukuli si pencuri itu. tetapi hukum yang adil untuk semuanya. “Kecerobohan Paman.” jawab pamanaku panjang lebar. tetapi Paman bukan menjaganya tapi malah pulang dan tidur dengan nyenyaknya. Ayo kita pulang.” jawab Pamanku dengan wajah yang sepertinya agak malu-malu. negara kita ini kan negara hukum. Tidak seperti warga yang lainnya yang mencoba menghakimi sendiri si pencuri itu. Dan bijaksana “Wah Paman baik dan bijaksana sekali. Dan jika si pencuri sudah melanggar hukum. tetapi kepada penjahat pun ia masih dapat menunjukan kebaikannya. mungkin saja karena ada ke cerobohan Paman makanya pencuri itu bisa mencuri padi Paman. kita sesama manusia tidak boleh dendam.” Pamanku menjawab dengan sangat jelas dan sangat bijak.. Dan kalau dendam. Dan hukumnya bukan hukum rimba yang suka mengadili sendiri si penjahat. Jika sudah besar nanti aku ingin menjadi seperti Pamanku. Sebenarnya Paman tahu kalau sudah ada pencuri yang berkeliaran. Dia tidak hanya baik kepada keluarganya ataupun orang-orang yang dikenalnya.” pujiku kepada Paman. Iya selalu bijak di setiap kondisi. Pamanku adalah paman paling hebat di seluruh dunia. karena Paman tidak menjaga padi itu dengan baik. Itu lah ciri-ciri Pamanku. Mungkin bukan hanya salah si pencuri saja makanya padi Paman hilang. “Ah kau bisa saja. Jadi Paman ceroboh juga kan sehingga pencuri itu bisa mencuri padi Paman. “Nak.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen sesabar itu kepada si pencuri.

Jan. Apalagi kedua orang tuanya sering sekali bertengkar.. Ia adalah seorang bocah laki-laki yang masih berumur 9 tahun.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen JAN Oleh: Marsha Jozana Nama saya Siska. Ia dan keluarganya memang tidak hidup berkecukupan. sekarang Jan tinggal di panti asuhan bersama dengan teman sebayanya dan juga ia bisa bersekolah. Salah satunya sebut saja namanya. saya sering menemukan kasus kekerasan orang tua terhadap anak-anaknya. Jika sudah begitu. Dalam menjalankan aktivitas saya. Tapi sayang tangan Jan agak halaman 72 dari 83 halaman . Setelah kasus Jan di proses. Jan hanya bisa berjongkok sambil menangis tersedu-sedu dan memanggil-manggil Bapaknya. Jan juga sering disuruh Ayahnya untuk mengemis.. sang Ayah akan memarahinya dan memukulinya. Jan tinggal sama siapa.. Dan jika Jan pulang tidak membawa hasil yang memuaskan..?” tangis Jan. kalo Bapak gak ada. Kehidupan ekonomi yang serba sulit mungkin membuat Ayahnya mudah marah. Ayahnya akan memanggil Jan hanya untuk memarahi dan memukulinya. Saya adalah seorang aktivis perlindungan dan hak asasi anak. Saya ingat sekali ketika saya datang ke rumah Jan—setelah mendapat laporan dari tetangganya bahwa sang Ayah bunuh diri dan sang Ibu telah lama pergi dari rumahnya. ”Bapak…..

Apalagi ia tidak mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya sebagai selayaknya seorang anak. Karena dulu. Kisah Jan ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. halaman 73 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen tumpul. saat memarahinya. sang Ayah suka melempar benda tumpul ke tangannya. Sehingga sekarang tangannya tak bisa di gerakkan. Sekarang Jan dapat bermain dan melakukan aktivitas seperti anak-anak seusianya. Walaupun ia masih terlihat trauma dan sedih jika mengingat kedua orang tuanya.

Nak. memalak orang-orang yang lewat di depan aku. yang dulu jadi preman itu kan?” Aku menjawab.” “Kok sekarang pake peci dan sarung?” tanyanya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KENANGAN Oleh: Muhammad Garit N Pada suatu hari ada sekumpulan anak di pekarangan. “Tidak." “Memangnya kenapa. Aku terhanyut dalam lamunan. Di sekumpulan itu ada anak yg paling besar bernama Rudi.” “Pasti masa lalu bapak mengharukan. Masa di mana aku pun berlaku sedemikian rupa. Bapak hanya teringat dengan masa lalu Bapak. Lalu aku terhenyak lagi. Dan Rudi paling suka memperolok. Pak?” tanyanya.olok dan menyiksa teman-teman yang badannya lebih kecil dari pada badannya. “Bapak. “Kenapa. Bisakah aku melawati ini semua? Mungkin ini hanya cobaan dalam masa laluku ini. Lalu si Rudi berbicara. Tiba-tiba aku teringat masa lalu. “Iya. Aku berjengit dan teringat saat aku mulai bertaubat. sampai akhirnya Rudi menghampiriku. Kemudian aku terngiang masa laluku yang kelam. “Sampai-sampai bisa membuat Bapak halaman 74 dari 83 halaman . Sampai membuat bapak menangis. Dan aku juga teringat masa masa di mana aku memukul. Pak? Matanya kok berair?” tanya Rudi. menikam. Kenangan saat indah itu datang dan pergi.

“Karena saya belum siap dan saya juga merasa tidak bisa menghidupi dia apabila saya menikahinya. Bingung kenapa. Tapi saya malah memanfaatkan dia. Karena kamu menyerupai dengan belahan hati bapak. Bahkan saya menuduhnya berzina dan membuatnya malu di hadapan orang-orang sekampung. Kita kan baru ketemu. akan kuceritakan kepadanya. Pak? Emang disakitin sama Bapak?” Aku menghela napas mendengar pertanyaan anak itu. “Saya tidak tahu hal itu..” “Memangnya belahan hati Bapak tersiksa kenapa?” “Saya sudah melakukan hal yang sangat memalukan terhadap dirinya. O iya. Nak. yang di mana gadis itu telah menjadi belahan hidup saya sendiri. kah?” tutur Rudi. tapi saya yakin batinnya sangat tersiksa. Oleh karena itu saya mengusirnya dan melarangnya menemui saya lagi. menerima saya apa adanya. Hati saya terasa teraduk aduk... lalu setelah dia mengandung. Nak?” “Saya hanya punya ibu.” “Lalu. Dan sekarang sudah meninggal karena kecelakaan.” “Terluka kenapa. Nak. Dan setelah melihat kamu. wanita itu istri Bapak?” “Iya.” “Jadi.” “Ooo. Dia hanya saya jadikan mainan. Kata Ibu. Bapak saya mengadu nasib keluar negeri.” Aku juga berkata lagi.. Dia mencintai saya dengan tulus. “Waktu itu ada gadis yang mencintai saya. Seolah-olah telah tertanam masa lalu saya yang kelam dalam dirimu. Pak?” “Wajahmu memngingatkan aku pada seseorang yang sepertinya paling terluka oleh perlakuan saya di masa lalu.” Dan aku beralasan. Tidak cuma itu. Pak.” dengan tetes air mata yang keluar aku pun bersedih karena teringat istriku yang telah tiada itu. belahan hati Bapak sekarang di mana?” kata Rudi.” “Mana mungkin ah. “Ya. Masa lalu saya yang sangat kelam tidak baik untuk dibuka lagi. orang tuamu di mana. “Memangnya beliau sakit?” “Dia tidak sakit fisik. sampai akhirnya dia mengandung. Tapi saya tidak mau mengakuinya. Ya. Sebegitu mudahnya ia mengajukan pertanyaan yang sudah kukubur jauh di dasar pikiranku. ” tambah deras lagi air mata yang aku keluarakan. Pak. walaupun sakitku menerpa lagi.” “Waaahhhhhh. Nak.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen menangis?” “Tidak. Bapak tinggal saja?” “Ya. agar tidak ada lagi kejadian yang pernah kubuat. memangnya kamu tinggal di sekitar sini?” halaman 75 dari 83 halaman ..” “Memanfaatkan seperti apa? Menyakitkan. Tapi melihatmu saya jadi merasa rindu yang teramat sangat. “Memangnya sekarang belahan hati Bapak kemana?” “Dia sudah tiada. “Dan saya pernah mendengar juga bahwa dia telah melahirkan anak laki-laki gagah perwatakannya. Tapi dia sudah lama meninggal. Nak.

rumah saya. Di sana. Rumah saya di belakang lapangan ini. pasti dia sangat bangga kepadamu. berdiri seorang wanita yang begitu kukenal. Wajah yang dulu memelas memohon belas kasihanku. Tidak. Wajah yang selalu terbayang sejak 10 tahun yang lalu.” “Bapak mau mampir ke rumah?” “Boleh saja. ini tidak mungkin. halaman 76 dari 83 halaman . di depan pintu rumah Rudi. wajah yang dulu kusia-siakan begitu saja. Aku diam seribu bahasa dan terdiam mengenang belahan jiwa yang dahulu aku sakit. Ibu saya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Iya Pak.” “Itu Pak. Tadi Bapak tanya. Sekalian saya mau tahu ibu seperti apa yang mempunyai anak sebaik kamu. Dan di depannya. Setelah beberapa jarak lagi sampai di rumah Rudi. Kalau Ayahmu masih ada. Memangnya siapa?” tutur aku. Ibu saya namannya siapa?” “Iya. aku terhenyak. Di sana ada Ibu saya.

Aku sedang berjalan pulang ke rumah ketika kulihat Dinda— tetangga sekaligus teman sebangku ku—berdiri di halaman depan rumahnya sambil mengangkat satu kakinya dan menjewer kedua telinganya sendiri. Ketika aku hendak bertanya kembali. Percayalah. mengapa hari ini tidak masuk sekolah? Dan sedang apa kau di sini?” tanyaku. “Sudahlah. Dinda termasuk anak yang pendiam dan sangat tertutup di sekolah. halaman 77 dari 83 halaman . Namun dia selalu menghindar dan selalu mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Aku sangat kasihan melihatnya. “Dinda. “Aku sedang dihukum. kuhampiri Dinda. Dia tidak mudah bergaul. Dengan rasa iba. dengan raut wajah yang berubah cemas.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KEKERASAN PADA ANAK Oleh: Munadhilah Ummahat Siang yang terik.” Lalu sesuai dengan perintahnya. Karena itulah teman-teman di sekolah sering menjahilinya. Kadang aku pun selalu berusaha ingin membantu segala masalah yang nampaknya sedang dihadapinya. dia berkata. panas yang ditimbulkan terasa sangat menyengat. aku pun pulang dengan segudang pertanyaan yang masih menggantung dalam benakku. aku baik-baik saja.” jawabnya singkat dengan raut wajah yang malu. cepat kau pergi dari sini! Jangan hiraukan aku.

Saat bel istirahat berbunyi. Beliau berpendapat bahwa perbuatannya itu benar. itu merupakan awal dari kedisiplinan. Tidak berhenti sampai di situ. Dinda masuk sekolah. Sebenarnya Pak Guru ingin menghukumnya tetapi melihat keadaannya yang seperti itu beliau mengurungkan niatnya. menunggu seluruh siswa di kelas kosong.. Dinda?” Lalu Dinda menjawab dengan agak ragu. seperti biasa.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Aku jadi teringat. keesokan harinya aku pun segera melaporkannya ke Wali Kelas.” ucapnya di sela-sela ceritanya.. Apalagi bila kesalahan tersebut bukanlah termasuk kesalahan yang besar. Pernah suatu hari. Dengan lirikan yang malu-malu akhirnya Dinda pun menyambut tawaran ku tersebut. Kukeluarkan bekal makan siangku dari dalam tas. Tak lama kemudian. Dinda disuruh Ibunya untuk mengepel seluruh lantai rumahnya. saya jatuh saat berlari menuju sekolah tadi. ya sudah. “Sebenarnya. Sebaiknya. Mendengar kisahnya tersebut. Beliau hanya bertanya. Lamunan ku pun buyar ketika tak terasa aku telah sampai di rumah. seorang anak diberi contoh yang benar dan nasihat yang baik bila melakukan kesalahan-kesalahan. Tak terasa kami mulai akrab. Pak. halaman 78 dari 83 halaman . Ibunya pun mengatakan bahwa beliau tidak akan memberikan bekal makan siang untuk Dinda dan hukumannya pun akan dilanjutkan setelah Dinda pulang sekolah. Dengan tergesa-gesa Dinda pun mematuhi perintah Ibunya. Akhirnya. Kemudian dia akan mengeluarkan bekal makan siangnya. pernah suatu hari dia datang terlambat ke sekolah dengan baju seragam yang robek di beberapa bagian. Ibunya marah-marah sambil memukulinya dengan ikat pinggang hingga baju seragamnya robek. Tak sengaja ember yang berisi pembersih lantai tersenggol dan tumpah olehnya. memulai pembicaraan. Keesokan harinya. “Apa benar Ibu sering memukuli Dinda?” tanya Wali Kelas. itulah penyebab seragamku robek. kalau begitu lain kali hati-hati di jalan dan jangan terlambat lagi ya…” kata Pak Guru Dinda pun mengangguk dan langsung menuju kursinya. Dinda diam di kursinya. “Kenapa baju seragammu robek. ibu Dinda pun dipanggil untuk menghadap Wali Kelas.. saat ingin berangkat ke sekolah. Dia banyak bercerita tentang kehidupannya. Kali ini aku mengurungkan niat untuk istirahat di luar kelas. karena Dinda adalah anak yang ceroboh dan sering melakukan kesalahan. Sejujurnya.. Wali Kelas pun menjelaskan bahwa didikan tersebut merupakan didikan yang salah. aku tidak yakin dengan jawabannya itu. “Mau?” tawarku pada Dinda sambil menyodorkan bekal makanan. “Mm.” “Oo. tentang Ibunya yang sering memukulinya. Ibu Dinda pun mengakui perbuatannya tersebut dengan alasan bahwa hal itu pantas diterima oleh Dinda. Menit berganti menit..

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen BALADA SARIMIN Oleh: Nadia Khaerani “Sarimin pergi ke pasar…. Sarimin artis topeng monyet yang menjadi pusat perhatian anak-anak di setiap aksinya. Sarimin memakai topeng…. Di tempat itu bukan hanya ada Sarimin dan sang Pawang namun beberapa pemain gamelan yang mengiringi Sarimin beraksi. Aku duduk menanti kedatangan kereta yang sudah telat lebih dari satu jam memperhatikan dari awal aksi Sarimin di peron seberang. Sesekali anak-anak yang menonton tertawa melihat tingkah Sarimin. Namun Sarimin terlihat berjalan terseok-seok dan terpaksa memegangi rantai mungkin lehernya kesakitan karena ditarik. topengnya. payungnya. Walaupun anak-anak terlihat senang dengan aksi Sarimin. halaman 79 dari 83 halaman . Pawang Sarimin menarik-narik rantai yang panjang untuk menyuruh Sarimin melakukan aksi berikutnya. Sarimin terlihat tidak begitu nyaman dengan kuda kayunya. Ya. Di akhir pertunjukan terlihat Sarimin meminta uang kepada penonton yang telah melihat aksinya tadi. Sarimin memakai payung…!” Teriak sang Pawang monyet untuk memperjelas aksi Sarimin kepada anak-anak yang berada di sekelilingnya. Sarimin naik kuda kayu…. apalagi dengan rantai di lehernya yang rapuh.

tetapi bagaimana kalau Sarimin mati kelaparan? Menurutku itu hal yang sangat kejam. Mungkin karena kelaparan. Nah abis itu. Di akhir pertunjukan saat Sarimin meminta uang kepada penonton. Pawang menarik rantai Sarimin sambil berkata. Sarimin hanya dieksploitasi tanpa diperhatikan hak hidupnya. Awalnya aku cukup prihatin dengan redupnya topeng monyet sebagai salah satu hiburan tradisional. Untuk menjawab pertanyaan itu. Yah kalo tetep nggak nurut pukul aja. “Toh hanya sewaanpawang topeng monyet hanya menyewa. Dek. Sang Pawang menghampiri Sarimin dan memukul kepala Sarimin. “Awalnya sih nggak dikasih makan supaya dia nurut.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Setelah penonton bubar Sarimin ditarik dengan kasar untuk masuk ke dalam kandang yang dipikul oleh sang Pawang. Pak?” “Ya. Setelah Sarimin masuk ke kandang sang pawang pindah ke peron dimana aku duduk. Sarimin yang kelelahan terpaksa harus menuruti sang Pawang dan melakukan atraksi lagi. Sarimin tetap tidak mau keluar dari kandang. Nanti dia nggak mau kerja. Sarimin mengambil korek api dari jalan dan mengunyah-ngunyahnya. Menurut Pawang mungkin itu cara yang benar untuk mendisiplinkan Sarimin. dan tidak diberi makan. Sudah seharusnya topeng monyet dihentikan kalau tetap menggunakan kekerasan.” Kurang puas dengan jawaban itu aku bertanya lagi. Kandang itu kecil sehingga Sarimin harus menunduk untuk bisa duduk di dalamnya. Pawang memulai lagi aksinya. “Tapi tetep dikasih makan kan. Soalnya kalo sering dikasih makan nanti dia kenyang dan gak mau kerja.” Sarimin tetap makhluk hidup yang memiliki hak untuk bertahan hidup. ada seorang anak yang memberi sepotong kue kepada Sarimin. Namun setelah ditarik dengan rantai.” Astaghfirullah! Ternyata benar. Namun mungkin sang Pawang hanya berfikir. monyet-monyet tersebut bukan milik mereka. “Dulu ngelatihnya gimana Pak?” Dan jawaban yang kudapat cukup mengagetkan. untuk apa sebenarnya Sarimin ini? Diperlakukan kasar. jarang-jarang. “Jangan dikasih makan. aku mendekati Pawang Sarimin dan bertanya.” Mendengar hal itu aku bertanya dalam hati. kalau begini berarti pertunjukan topeng monyet termasuk animal abuse yang merupakan kekejaman bukan hiburan. Aku berdoa dalam hati agar usaha topeng monyet yang seperti ini mati dan si pawang mencari pekerjaan lain sehingga Sarimin-Sarimin yang lain dapat terselamatkan. baru dikasih rantai supaya ngerti yang harus dia kerjain. Tetapi setelah mendengar pernyataan dari sang Pawang aku merasa senang dengan hal ini. Sebelum Sarimin mengambil kue itu. halaman 80 dari 83 halaman .

Tempat itu adalah hutan rimba yang dekat dengan lapangan yang biasa dijadikan warga sebagai tempat mengembala hewan ternaknya. bagaimana cara mengalahkan Wulu Ireng yang sudah menghabisi semua anak-anakku. dan mencoba mengalahkanku. Cukup banyak tempat yang dapat dijadikan persembunyian. Aku jarang memangsa manusia. Kini yang ada dipikiranku. atau kerbau liar. Hal itu berawal dari perebutan wilayah kekuasaan pada tahun-tahun yang sudah lampau. Sudah berkali-kali Wulu Ireng datang padaku. Hingga pada waktu itu. aku biasa pergi ke perkampungan untuk sekedar mencuri hewan ternak mereka. Aku terbiasa makan binatang liar seperti kancil. sehingga kami sulit dilacak warga. Namun ia tidak pernah berhasil. Jika semua itu tidak ditemukan. demi mendapatkan aku agar keluar dari tempat halaman 81 dari 83 halaman . Kupandangi seluruh semaksemak yang ada di hadapanku. Biasanya jika ada manusia yang aku—atau bangsa kami terkam. hanya kami gigit satu bagian tubuhnya. Nafsu makanku seakan terkubur oleh perasaan dendam yang membara dalam hatiku. lalu kami tinggal pergi.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen !!! Oleh: Arie Toursino Hadi Aku berdiri di sebuah batang pohon. Sudah tiga hari ini aku tidak makan—atau lebih tepatnya belum sempat makan. Tapi itu beberapa hari yang lalu. Aku dan Wulu Ireng memperebutkan tempat yang sekarang menjadi milikku. rusa.

Sejenak aku terdiam. mata kucingku yang mengkilat tajam memandang setiap sudut ruangan. Semua “peralatan” perang sudah aku siapkan hingga akhirnya. Tapi di mana dia? Kembali aku perhatikan sekeliling ruangan. Mungkin dia sudah mempersiapkan sedikit kejutan buatku.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen persembunyianku. Makin lama. Aku diberi tahu burung Jalak yang melihat kejadian tersebut. Yang bisa ia lakukan hanya menggeram. ternyata Wulu Ireng sedang tergeletak sekarat di sana. sepasang sinar mata yang lebih besar muncul di atas mata yang kecil itu. Namun kali ini bukan suara Wulu Ireng. Apalagi kini aku sedanng berdiri di depan pintunya. sinar dari bola mata yang kecil. Suara tangisan itu mulai mengganggu pendengaranku. Ku langkahkan kaki masuk ke dalam. Satu lompatan besar sebelum akhirnya aku berada di depan sebuah gua yang biasa menjadi tempat persembunyian Wulu Ireng. suara itu makin keras.. Yang aku tahu. Setiap satu langkah. ia tidak bergerak maju sekarang. Aku pikir ia pun tahu konsekwensi hal tersebut. Aku harus waspada. Aku yakin itu anak Wulu Ireng. bunuh anak harus dibayar dengan anak. Dari sini aku bisa mencium baunya yang khas. Dan terus menggeram setiap aku langkahkan kakiku untuk menghampirinya. Aku tidak mau ambil resiko dengan berjalan ke sekeliling ruangan ini. Aku bersiap untuk menerkam. Pemilik sinar mata itu memperlihatkan giginya. Ooh. Ia pun menggeram.. Suara lengkingan itu lebih kecil dari suara Wulu Ireng. dan. Aku harus waspada karena bisa saja tiba-tiba Wulu Ireng menerkamku dari mana saja. Aku melangkah maju.. terdengar suara erangan yang lebih keras. Dari sini aku melihat ceceran darah di lantai. Wulu Ireng kini tengah halaman 82 dari 83 halaman . Ku perhatikan ceceran darah yang ada di lantai. Tapi ia tidak beranjak maju. Suara geraman juga aku perdengarkan agar lawan yang ada dihadapanku takut. Hmm. Tapi nasi sudah jadi bubur. Hingga akhirnya aku sampai di ujung gua itu. Aku masih belum juga menemukan sosok Wulu Ireng. hingga terdengar seperti tangisan memohon agar aku tidak membunuh anaknya. Wulu Ireng menyerang anakku dan membunuhnya. Gigiku kuperlihatkan.. Aku terdiam agak jauh dari pojok ruangan itu. aku akan tetap membunuh anaknya. Hukum di bangsa kami menyebutkan. Aku sudah unggul satu angka sebelum kami berkelahi. Kulihat dengan tajam yang ada di hadapanku. suara geraman itu pada awalnya terdengar seperti ancaman agar aku tidak mendekatinya. tanda bahwa apapun yang terjadi. ruangan gua semakin gelap. Aku pikir dia pun demikian. Kusiapkan kuda-kuda untuk melompat. Itu lebih terdengar seperti suara anaknya. Ia terluka oleh sesuatu hal yang aku tidak tahu. Berjaga terhadap kemungkinan terburuk. Suara sayatan itu seolah terdengar hingga keluar gua ini. Indra penciumku mengatakan bahwa di tempat inilah Wulu Ireng berada. Kembali kuperlihatkan gigiku. Semakin dalam aku masuk. Ternyata pencarianku tidak sia-sia. Tidak ada rasa cemas bagiku jika ia menyerangku sekarang. Bagiku. aku sudah berada di wilayah kekuasaannya. Dan kini. Belum sempat aku melompat.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen menggigit dan mencabiki anaknya sendiri. Berteriak bangga karena aku gagal melaksanakan dendamku. Makin lama suara tengisan kecil itu menghilang. halaman 83 dari 83 halaman . Ia tidak rela anak yang kini ada di pelukkannya terbunuh oleh tanganku. berganti dengan suara tangis bahagia bercampur sedih dari Wulu Ireng.