BEJAT

:
sebuah kumpulan cerpen

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

PENGANTAR “BEJAT: sebuah kumpulan cerpen” adalah salah satu tugas yang dibebankan pada mahasiswa Matakuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi (MPKT) FIB-UI kelas 4, semester ganjil 2009/2010. Tugas ini diberikan sebagai penambah nilai pada pokok bahasan pertama yang bertema “kekerasan.” Dengan demikian, dapat kita pastikan bahwa tema-tema yang termuat dalam cerita-cerita yang terkumpul di dalamnya adalah cerita tentang kekerasan. Kekerasan di sini mempunyai beragam bentuk. Di antaranya kekerasan suami kepada istrinya, orang tua kepada anaknya, senior kepada junior, hingga manusia kepada hewan. Kekerasan tidak melulu dalam bentuk fisik. Seseorang yang mengalami penderitaan secara psikis juga dapat disebut sedang mengalami kekerasan mental. Kembali ke topik kumpulan cerpen ini. Dengan membaca kumpulan cerpen secara tidak langsung kita mengenal karakter seseorang dari tulisannya. Tiap orang memiliki pengalaman dan pemahaman yang berbeda memandang sesuatu hal. Dari perbedaan tersebutlah karakter seseorang dapat kita ketahui. Ada yang menulis cerita berdasar pada pengalaman hidupnya, ada yang menulis berdasar pada perasaan pada saat ia sedang menulis, dan ada yang menulis berdasar pada ide atau angan-angan yang ia harapkan. Semua menjadi satu, dan menarik untuk Anda pelajari satu per satu. Selamat menikmati.

Penyusun Arie Toursino Hadi

halaman 2 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

DAFTAR CERPEN Cerpen Bertema Kekerasan...................................................................................................................M Reza Fatahilla

The Apartement..........................................................................................................................Ervilia Lupita Andriyanti
Kekerasan Dalam Kehidupan........................................................................................Glory Meirisa Pakpahan Diaz dan Anwar.............................................................................................................................................Indah Permata Sari Yumi...................................................................................................................................................................Indra Puspita Kusuma Kau Bukan Ayahku.......................................................................................................................................Intan Puji Lestari Keluarga dan Sekolah.........................................................................................................................Irvanuddin Rahman Liburan Lebaran.............................................................................................................................................Jodia Pravita Dini Cinta, Kinanti!.........................................................................................................................................................Juwita Anindya (untitled)............................................................................................................................................................Dwi Cahyaningtyas Cerpen Tentang Kekerasan..............................................................................................................................Kartika Putri Tindak Kekerasan Pemerintah Terhadap Anak-anak Jalanan.......................Khamim Hudori Kau dan Kekerasanku.....................................................................................................................................Khaula Fathina Cinta Terlarang.............................................................................RA Koeshamimurti Tosani Natya Laksitha Benderaku.....................................................................................................................................................................Krisna Karim Z Eyang Neli......................................................................................................................................................Lestari Sari Pambudi Bejat.......................................................................................................................................................................Fauzana Fidya Rizky Akhir dari Cinta Sejati................................................................................................................................................Lia Pratiwi Murti................................................................................................................................................................Louise Viranti Lasnida Si Cantik yang Malang...................................................................................................................Fazra Fatima Azzahra Jangan Main Hakim Sendiri............................................................................................................Lourin Hertyastiwi Jan............................................................................................................................................................................................Marsha Jozana Kenangan..........................................................................................................................................................Muhammad Garit N Kekerasan Terhadap Anak...................................................................................................Munadhilah Ummahat Balada Sarimin.......................................................................................................................................................Nadia Khaerani ! ! ! ....................................................................................................................................................................................Arie Toursino Hadi

halaman 3 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

CERPEN BERTEMA KEKERASAN
Oleh: M Reza Fatahilla

Dahulu

saat kepemerintahan Hitler di Jerman, hiduplah seorang saudagar Yahudi yang sangat kaya bersama tiga anak lelakinya. Aku adalah anak orang kaya berkewarganegaraan Inggris yang bekerja sebagai fotografer untuk sebuah perusahaan media jurnal di Inggris Raya dan menetap di Jerman semasa kepemerintahan Hitler. Pada suatu hari sedang dilaksanakan patroli militer Jerman terhadap orangorang Yahudi, yang menyebabkan kekacauan dan kerusuhan. Rumah-rumah banyak yang terbakar akibat patroli tersebut, pasar-pasar pun berantakan akibat tindakan semena-mena dari tentara Jerman. Saudagar Yahudi yang sangat kaya bersama tiga anak lelakinya mendadak menjadi jatuh miskin, selain itu mereka juga disiksa dan dikucilkan karena mereka keluarga Yahudi. Siang itu aku sedang berjalan di pasar yang telah porak poranda akibat patroli Yahudi tadi siang untuk melihat-melihat dan tidak sengaja aku melihat saudagar Yahudi yang sangat kaya dengan tiga anak laki-lakinya sedang bermain sulap, lalu aku tertarik untuk mendekatinya. “Hai kalian, tunjukan sulap terhebat yang pernah kalian punya kepadaku,”
halaman 4 dari 83 halaman

“Pak. Aku terus melihat dan memfoto kejadian tersebut sebagai bahan dokumentasi. “Saya mohon ampun. “Kami ingin bebas! Kami tidak ingin disiksa seperti ini terus! Kebebasaaaaaaaan!” teriak mereka bertiga. benar. Lalu aku berjalan menuju toko yang menjual sebuah air mineral. Saat itu. Saya punya harga diri!” sayup-sayup suara isak tangisan salah seorang Yahudi itu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kataku. “Ini silahkan tuan. Membuat bunga dari kertas. Dan aku sesaat baru menyadari bahwa mereka yang disiksa adalah warga Jerman yang beragama Yahudi. ”DAAWR! CKCK DAWR! CKCK DAWR!” Suara tembakan polisi militer Jerman kepada tiga orang Yahudi itu. Aku pun heran. Aku disajikan pemandangan sebuah monumen besar di tengah taman kota yang hijau rumputnya dan ramai akan banyak orang. Mereka bermain dengan lincah dan sangat hebat. Mereka diperlakukan bagai binatang. Saya adalah Yahudi.” pintaku kepada penjual toko. terlihat lima orang polisi militer Jerman bersama tiga wanita orang warga Jerman sedang berjalan di tepi jalan. Dan aku hanya bisa melihat dan memfoto segala kejadian yang terjadi saat itu untuk bahan dokumentasi jurnal. “Ya. Setelah itu aku pergi meninggalkan mereka. Dengan cepatnya polisi militer Jerman mendorong ketiga wanita Yahudi tersebut sampai mereka tergeletak jatuh di aspal jalanan dan beberapa saat kemudian terdengar bunyi tembakan senjata sebanyak tiga kali. membuat api dari plastik dan lain-lain. dan diludahi oleh polisi militer Jerman itu. karena leher sudah terasa sangat kering dan haus. Pak! Sudahi penderitaan saya. Sekejap nyawa ketiga wanita Yahudi itu pun lenyap. Aku sangat terhibur lantas memberi mereka uang logam 5 pence dan tidak lupa menyuruh mereka bergaya menghadap kamera serta memfoto mereka sebagai bahan dokumentasi jurnal. harganya 10 pence” jawab penjual toko. halaman 5 dari 83 halaman . mengapa mereka bertindak tidak manusiawi seperti itu. Mereka ditendang. Namun. Lalu aku berjalan ke depan sejauh 50 km dari pasar tersebut dan aku sampai di kota Berlin. “Saya mau beli satu botol air mineral pak. “Baiklah tuanku. Lalu aku berjalan melewati monumen itu dan mencari sebuah toko yang menjual air mineral. apakah kejadian seperti barusan di jalanan sudah sering terjadi?” tanyaku.” jawab mereka berempat. Mereka tetap dipukuli dan disiksa sampai babak belur di pinggir jalan tersebut. Kami punya harga diri! Kami ingin bebas!” sahut suara temannya itu. tiga wanita tersebut disiksa habis-habisan. Namun tetap saja polisi militer Jerman tidak mendengarkan rintihan mereka. Dan tiba-tiba ketiga wanita Yahudi tersebut menyerang kelima polisi militer Jerman tersebut dengan mendorong-dorong. Monumen itu adalah monumen Hitler yang sangat megah dengan penjagaan oleh tiga orang polisi militer jerman di sekelilingnya. dipukuli.

Aku bingung dan baru menyadari ternyata dia adalah teman kantor dari perusahaan media jurnal.” pernyataan ketua direksi perusahaan media jurnal. Tuan. Lalu aku diantar ke perusahaan dan di sana aku bertemu teman-teman kantorku dan mereka bergembira menyambut kedatanganku karena sudah lama sekali mereka tidak bertemu denganku. Mungkin sedikit lelah perjalan dari Jerman” jawab diriku. Mereka tercengang mendengar hasilnya. Aku langsung mengambil tas bawaan dan menuju lobby bandara Manchester dan terdengar suara yang sudah familiar di telinga. jurnal tersebut masuk dalam berita utama televisi terkenal di kota Manchester tersebut. kira-kira 55 km dari toko itu. Setelah itu aku memfoto bapak penjual tersebut dan pergi menuju stasiun kereta api yang bernama Zoo yang terletak tidak begitu jauh. Inggris. jurnal anda terpilih menjadi topik utama televisi terkenal kota Manchester. Sesampai di sana. “Oh. “Selamat siang.ngantuk dan tiba-tiba seorang pramugari yang cantik membangunkan aku. aku membeli tiket dan naik kereta sampai kota Munich dan sore telah menjelang. Selamat. halaman 6 dari 83 halaman . karena jurnal yang aku buat sangat detil dan berdasarkan kejadian faktual. Selama perjalanan di pesawat terbang aku hanya terdiam dan menulis sebuah catatan perjalanan selama di Jerman pada sebuah buku kecil yang muat di saku jas hitam yang sore itu aku pakai di pesawat terbang dan tidak lama kemudian aku tertidur lelap. Pemandangan matahari yang sangat indah saat terbenam di kota Munich. Dan ceritaku berakhir sampai di sini. Setelah itu aku langsung menuju bandara dan melakukan penerbangan menuju Manchester. Setelah tiga puluh menit tidak terasa perjalanan aku mencoba bangun dari tidur. namun itu sudah menjadi peraturan semenjak Hitler berkuasa.” jawab penjual toko. dengan mata yang masih mengantuk. aku baik saja. Seminggu kemudian. Tuan. Lalu. kita telah sampai di Manchester.” kata pramugari cantik tersebut. Terima kasih.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Ya. Tamat. sebenarnya saya juga sudah gerah melihat kelakuan polisi-polisi militer itu. Dengan ini saya promosikan anda untuk naik jabatan dan naik gaji. “Yeeeeeeeeeesss! I’m freee! Yuhhuu! “ aku berteriak akan keberhasilan. “Haaai! Kamu apa kabar?” tanya wanita itu kepadaku. “Selamat sore. periksa kembali barang bawaan anda. Aku pun kini naik jabatan dan terus memberikan kontribusi yang bagus bagi perusahaan media jurnal tersebut. aku menceritakan hasil laporan jurnal yang aku dapat di Jerman. namun mereka sangat puas.

tiba di depan pintu apartemen milik Aya. Sebenarnya itu adalah kabar yang sedikit mengejutkan. pintu itu tidak terbuka. Oleh karena itu. Rei. kedatangan kami ke apartemen mereka kali ini. aku dan seorang temanku. Mengetahui hubungan keduanya yang sudah cukup lama. Namun. ketika Aya menghubungi kami dan mengundang kami untuk makan malam bersama di apartemen barunya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen THE APARTMENT Oleh: Ervilia Lupita Adriyanti Saat ini sudah pukul lima lewat dua puluh satu menit ketika kami. kami berdua segera mengiyakan lalu dengan semangat pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa bahan makanan yang dimasak bersama nanti. Ryo. agak heran mengapa mereka tidak langsung saja memutuskan untuk segera menikah. aku teringat beberapa bulan yang lalu Aya mengabarkan kepada kami kalau ia akhirnya memutuskan untuk tinggal di apartemen kekasihnya. salah satu teman dekat kami ketika masih duduk di bangku SMA. Sebuah senyum terlukis di bibir Rei ketika aku menekan bel apartemen Aya dengan siku kananku seakan tidak sabar menunggu Aya membuka pintu apartemennya. Oleh karena itu. Di depan pintu apartemen Aya. Detik selanjutnya pun kami saling halaman 7 dari 83 halaman . juga ingin melihat sosok seorang Ryo yang selama ini kami hanya kenal melalui cerita-cerita dari Aya saja.

“Hah? Benar tidak apa-apa aku tidak membantu?” “Tidak. Perlahan. Aya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen berpandangan dan mulai bertanya-tanya mengapa Aya belum membuka pintu apartemennya. ” “Kalian tidak memajang satu pun foto di sini. Lalu. aku hanya mengangguk-angguk pelan sambil mulai melihat ke sekeliling ruangan tersebut. “Maaf.” Rei menunjuk bel apartemen Aya dengan dagunya. Kami juga membeli lebih kalau kamu ingin memasaknya lagi. Aya pun mengucapkan terima kasih sambil menutup kembali pintu apartemennya dan menguncinya lagi. Pertanyaan itu disusul dengan suara pisau yang mulai bekerja memotongmotong bahan makanan. Rasa penasaran kami tiba-tiba terbayar ketika kami sama-sama mendengar suara langkah kaki dari dalam apartemen.. Kini ia sudah berada di ruang tengah apartemen dan melihat ke sekeliling ruangan. Biar aku dan Rei yang menyiapkan semuanya di dapur.” Rei menambahkan.” sambil melambaikan tangannya cepat. dia mengambil salah satu kantung itu dariku dan mulai melihat ke dalamnya. di belakang pintu itu.. “Mmm. duduk saja dulu. Kini aku menurunkan kantung belanja yang aku jinjing di tangan kananku lantas menekan sekali lagi bel tersebut. “Coba tekan belnya sekali lagi. tadi Aku ketiduran. Suara itu kemudian disambung dengan suara kunci pintu yang dibuka.” aku dengan cepat mengganti topik ketika sadar tidak ada satu pun figura foto yang tergantung di dinding ataupun dipajang di atas meja. Setelahnya. ketika ia lihat aku membawa dua buah kantung belanjaan. Ia tersenyum lebar ketika melihat kami berada di depan apartemennya. aku mengangguk. Kalian belum lama. pintu apartemen itu terbuka dan kami melihat teman kami. Biar wanita saja yang memasak di dapur. “Ya.” Aya melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah dapur sambil mempersilahkanku untuk duduk di sofa ruang tengahnya. Tidak ada jalan lain. Agak mengherankan memang ketika sebuah rumah tidak halaman 8 dari 83 halaman . kami berdua mulai memasang telinga baik-baik. ia seakan menahan langkahku yang berusaha memasuki dapur apartemennya. tidak lama lagi. kan?” Aya sedikit bergeser ke sebelah kanan dan mempersilahkan kami masuk ke dalam apartemennya. “Tom. Kali ini dengan jari telunjukku. “Kalian sudah membeli tepung okonomiyaki-nya juga. kan?” sambil mengenakan sandal berwarna putih polos yang diletakkan tidak jauh dari pintu. “Jam berapa Ryo pulang dari kantornya?” dari arah dapur aku mendengar Rei bertanya. menunggu adakah suara derap langkah kaki dari dalam sana. karena kami berencana membuat nasi kare. Mungkin itu wortel.. Bersamaan dengan itu ia menunjuk sofa ruang tengahnya dan memberi isyarat dengan matanya agar aku duduk saja di sana.

Tom dan Rei.. “O. Lalu.” halaman 9 dari 83 halaman .” aku menambahkan tanpa mengindahkan jawaban terbata-bata yang dilontarkan oleh Aya.” bersamaan dengan itu ia kembali membuka kunci pintunya.. Aku tersenyum sambil menundukkan badanku sedikit.. Sebaiknya di pindahkan saja.. Senyuman yang disunggingkan Ryo seperti dipaksakan atau bahkan sebenarnya Ryo tidak menyukai kehadiran kami sejak awal. Aku mulai menebak kalau orang itu adalah Ryo.” Aya dengan segera keluar dari dalam dapur kemudian disusul oleh Rei. yaa. Suara bel yang kedua menyusul kemudian. Rambutnya pendek dan tingginya hampir sejajar denganku. Kini. Ryo.” “Mereka teman SMA-ku. Benar juga. “A. Rei. langkahnya langsung terhenti ketika melihat kami di ruang tengah. dan Aya. di saat yang bersamaan terdengar bunyi bel pintu. Bahkan. “Jarang sekali Aya mengundang temannya datang ke sini. Ryo mengalihkan pandangannya ke arah Aya dan mulai mengangguk-angguk. Namun.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen dihiasi paling tidak satu foto pemiliknya. “Mereka. “Apakah itu Ryo?” terdengar suara Rei bertanya dari dalam dapur.” Benarlah ternyata laki-laki itu adalah Ryo. Ryo. “A. “Mungkin. Hanya sesekali ia memandang Rei. Ia lalu tersenyum kepada kami. Entah mengapa ia terus saja memandang ke arahku. Apakah mobil putih di parkiran bawah milikmu. yaa. Tunggu sebentar.. entah mengapa suasana menjadi sedikit tidak nyaman. sedang memasak. Aku saja yang seorang laki-laki masih memajang foto kelulusanku ketika SMA di ruang tengah apartemen.” “Bahkan tidak ada foto Ryo satu pun di sini.. Laki-laki berperawakan tegas.. Sementara itu. “Hmm. ia pun melepaskan celemek yang ia pakai dan menyampirkannya di kursi meja makan... Kemudian. aku berpikir ada baiknya kamu juga mulai mengenal teman-teman baikku. “Yaa. tidak pernah. Tom? Sepertinya kamu memarkirkannya di tempat orang lain. Ketika pintu mulai terbuka.” ucapnya dengan suara yang sedikit berat. “Aku. Sepertinya dia belum menyadari kehadiran kami.. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah pintu apartemen. dari kejauhan aku melihat seseorang mengenakan setelan jas di luar sana.” “Masak?” Laki-laki itu kini membuka jasnya. “Teman SMA?” Ryo mulai melangkah mendekat. iya. kulitnya agak sedikit coklat jika dibandingkan dengan warna kulitku.. Rei juga melakukan hal yang sama. aku mulai merasakan ada sesuatu yang aneh di sini. Bersamaan dengan itu. “Kenapa lama sekali kamu membuka pintunya?” laki-laki itu mulai memasuki apartemennya. Ketika ia mulai melangkah masuk. Matanya memandang kami penuh dengan rasa penasaran.” Aya mulai berusaha mencairkan suasana.” Ryo mengiyakan ucapan Aya..

” Kami semakin kuat menggedor pintu tersebut walaupun sepertinya Ryo berusaha tidak mengindahkannya. terdengar suara sesuatu jatuh kemudian pecah dari dalam apartemen. “Sepertinya aku ikut saja ke bawah. Tiba-tiba aku dengan refleks mencoba memutar kenop pintu dan ternyata pintu itu tidak terkunci. Ryo juga mengarahkan tendangan kakinya ke arah tubuh Aya yang sudah tidak berdaya. Langkah kami berhenti di depan pintu apartemen Aya untuk kedua kalinya. Suaranya lirih. aku pun segera berjalan ke arah pintu apartemen. sebuah lampu kaca sudah terjatuh dan pecahannya menyebar tidak beraturan. Kami sontak tercengang dan mulai menggedor-gedor pintu apartemen tersebut sambil meneriakkan nama Aya. Namun. Setidaknya tidak ada orang yang menunggu di sana dan mengatakan bahwa kami harus segera memindahkan mobil kami ke parkiran yang lain. “Ini bukan urusan kalian!!” Kini Ryo mengarahkan pemukulnya kepadaku dan mulai memukulnya kepada secara membabi buta.. “Apa yang terjadi?” Rei terlihat syok. Dengan cepat aku buka pintu tersebut dan mendapati Aya tersungkur di lantai ruang tengahnya. halaman 10 dari 83 halaman . “Sudah aku katakan kamu tidak boleh membawa laki-laki ke apartemen ini!!” kini terdengar suara bentakan Ryo dari dalam apartemen. Ketika Rei mulai menekan bel. Ia menangis dan Ryo berdiri sambil mengarahkan pemukul baseball ke arahnya. Ryo seperti sudah hilang kendali dan ia mendorongku dengan kuat hingga Aku terjatuh. “Apa yang kamu lakukan?! Apa kamu sudah gila?!” aku balik meneriaki Ryo ketika kami saling berebut pemukul itu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Masih dikuasai oleh suasana canggung beberapa saat yang lalu. Sesaat kemudian kami mendengar suara Aya dari dalam. “Tom hanya temanku. Tidak jauh dari mereka. Sementara itu. Kami kembali menuju apartemen Aya dengan perasaan bingung. Aku berusaha menghindar. tidak ada tanda-tanda bahwa kami memarkirkan mobil di tempat yang salah. Ketika kami sampai di parkiran sekitar lima belas menit yang lalu. Kami terlonjak kaget dan mulai berpandangan. Tidak sampai di situ. Rei juga berlari memasuki ruangan dan langsung memeluk Aya yang masih tergeletak di lantai.” “Teman?!” “Maafkan aku. Mimik wajahnya berubah menjadi sangat khawatir.” Rei pun membuntutiku dari belakang. tapi pukulannya yang bersarang di punggungku mulai meruntuhkan kekuatanku. “Hei!” aku dengan geram melangkah masuk dan mencoba merebut pemukul baseball tersebut.” sambil memberikan isyarat kepada Aya. Aku hanya bisa memperlihatkan ekspresi ‘benarkah?’ tanpa berkata-kata.. “Kalau begitu aku ke bawah dulu.

halaman 11 dari 83 halaman .. Ketika itu.. Ryo seakan tidak peduli dan ia kembali balik menyerangku. Namun.. Tapi.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Ryo! Hentikan!” Aya berteriak keras sambil terus menangis di pelukan Rei. tanpa sadar Aya sudah berada diantara kami dan berusaha memisahkan kami berdua. Sementara itu. Ryo mendekati Aya lalu menggoncanggoncangkan tubuh wanita muda itu. Namun. kami melihat Aya tergeletak tidak sadarkan diri dibawah sebuah rak kaca di dekat meja makan. “Aya!!” diiringi teriakan keras dari Rei. Ryo langsung mendorong Aya ke arah belakang. kami mendengar kabar Aya sudah melewati masa kritisnya dan tidak lama lagi akan segera meninggalkan rumah sakit. Tapi tidak ada respon sedikitpun. Tiba-tiba semuanya hening. Ryo berada di bawah tahanan polisi setelah Aya menceritakan segala bentuk kekerasan yang dilakukan Ryo kepada dirinya selama mereka tinggal bersama di apartemen tersebut... Rei pun mulai menarikku kebelakang agar menjauh dari Ryo. Kami bertiga langsung mengalihkan pandangan kami ke arah sumber suara.” suara Aya mulai melemah. PRANG. “DIAM!!” Ryo menendangkan kakinya hingga Aya kembali tersungkur di lantai. Seperti bukan Ryo yang beberapa saat lalu sangat menakutkan. Ketika kami terus berbaku hantam.. Tangannya mulai menggapai-gapai pergelangan kaki Ryo dan memeluknya. Sementara itu isak tangisnya semakin menjadi-jadi. “Aya. yang paling melegakan ketika kami juga diberitahukan bahwa Aya memutuskan untuk kembali tinggal bersama kedua orang tuanya.” seperti sudah tersadar. “Sekarang hentikan semua ini atau aku akan menelpon polisi!” aku berusaha berdiri dan berbalik menodongkan pemukul itu kepadanya. aku dan Rei hanya terpaku saja melihat pemandangan itu. Seminggu kemudian. konsentrasi Ryo seperti terpecah dan aku menemukan kesempatan untuk merebut pemukul baseballnya... Ryo yang sekarang mulai memeluk Aya dan menangisinya. Darah mulai mengalir keluar dari balik rambutnya yang sudah acak-acakan. “Aku mohon hentikan.. tanpa pikir panjang. Aya..

dan ketiga anaknya yang bernama Faris. Kedua orang tua Faris sangat kecewa dengannnya karena Faris tidak dapat memenuhi keinginan orang tuanya untuk melanjutkan kuliah di halaman 12 dari 83 halaman . maka keduanya bisa bersekolah di SMA unggulan yang sama. Saat ini Faris sedang melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas swasta di Jakarta. kakak tertua dari Gina dan Gisel. Keluarga itu terdiri dari seorang ayah. dan Gina. Gisel dan Gina adalah anak kembar yang saat ini sedang meneruskan pendidikannya ke tingkat SMA. Kepala keluarga itu bernama Susanto. Ibu Susanto pun adalah seorang wanita karir yang bekerja di salah satu perusahaan asuransi terkemuka di Indonesia. Gina dan Gisel. ibu. direktur utama dari salah satu perusahaan ternama di daerah Jakarta. Orang tua mereka ingin sekali kedua anak kembarnya itu bisa bersekolah bersama di SMA unggulan. hiduplah sebuah keluarga yang mapan dan berpendidikan. Orang tua mereka sangat membanggakan dua putri kembarnya itu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KEKERASAN DALAM KEHIDUPAN Oleh: Glory Meirisa Pakpahan Pada suatu hari di daerah pinggiran kota Jakarta. Memang pada dasarnya kedua anak itu adalah anak yang cerdas. Namun lain keadaannya dengan Faris. Gisel.

Oleh sebab itu Faris selalu dihukum oleh kedua orang tuanya bahkan orang tua Faris suka melakukan kekerasan pada dirinya. aku sangat memehami apa yang ia rasakan. Aku mulai curiga dengan keadaan Faris. sahabatku. Hingga suatu ketika ia meneleponku dan mengajakku untuk bertemu di salah satu cafe. aku dan Faris mengakhiri pertemuan malam itu dan berharap semoga Faris bisa menjalani kehidupannya dengan sabar. aku hanya dapat bertemu dengan pembantu yang biasa bekerja disana. Waktu terus berjalan hingga pukul 21. Farisnya ada?” Lalu si Mbak menjawab “Maaf Non. Aku mendengar suara ayah Faris dan ibunya yang sedang membentak Faris. dan selalu menjadi bahan pembicaraan rekan-rekan di kantor ayahnya. Dan kudapati satu buah pesan dari Faris yang berisi. maaf ya gw ganggu. Dua minggu berlalu dan aku tidak mendapat kabar dari Faris. Ketiaka sampai dirumah Faris. Kedua orang tuanya pilih kasih. ia selalu diremahkan dalam keluarganya. Saat itu Faris hanya bercerita bahwa ia sangat tidak dihargai di rumah. Ketika sudah bertemu dengannya.00. tiba-tiba handphone-ku berdering. Untuk menghilangkan rasa penasaranku. Namun saat ini Faris bener-benar menghilang bagai ditelan bumi. Aku pun sedih mendengar kesaksian dari Faris. lo mau ga ketemu gw siang ini ditaman deket komplek humz gw?” Cepat-cepat aku membalasnya dan setuju untuk bertemu dengannya. Nasib Faris cukup dibilang kurang beruntung. namun Faris tidak bisa memenuhi segala keinginan orang tuanya. Goresan ikat pinggang pada badannya sudah menjadi hal yang biasa.” Saat itu aku merasa terenyuh dengan keadaan Faris. “ Mbak. Mas Faris sedang dihukum tuan dan nyonya karena di kamar Mas Faris ditemukan rokok dan minuman keras. Dua hari setelah aku mendatangi rumah Faris. aku pun memutuskan untuk kembali pulang. Mereka lebih menyayangi Gina dan Gisel karena menurut mereka Gina dan Gisel tidak membuat malu nama keluarga mereka. Ia merasa seperti benalu dalam kehidupan keluarganya. Akhirnya pada malam itu pun aku menemuinya. biasanya ia selalu sms atau paling tidak meneleponku saat akhir pekan. Faris merasa malu. tidak dapat lulus S1 dalam waktu 4 tahun. Ia tidak bisa memenuhi keinginan orang tuanya untuk masuk perguruan tinggi negeri.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen universitas negeri. Pukulan yang diberikan ayahnya pun sudah halaman 13 dari 83 halaman . “Pagi. Aku pun bertanya. Sesekali dari luar aku mendengar suara ribut dari arah kamar Faris. Orang tua Faris sangat memaksa Faris untuk menjadi yang terbaik. Saat itu aku menyarankan kepada Faris untuk membuktikan pada orang tuanya bahwa Faris mampu dan tidak bisa dipandang sebelah mata. aku pun berniat mendatangi rumah Faris yang tidak terlalu jauh dari komplek rumahku. baik lewat telepon atau sms. Karena aku tidak ingin terlalu banyak ikut campur. ia mulai bercerita tentang kehidupannya di rumah. ia merasa rendah dan tak berguna bagi keluarganya. Klo lo ada waktu.

Saat itu aku hanya bisa memberi dorongan dan semangat pada Faris. menangis. Sungguh perasaan Faris bercampur jadi satu. supaya ia tidak menyia-nyiakan hidupnya dan tidak merusak tubuhnya dengan benda-benda haram itu. Dan mungkin jika ada waktu yang tepat. Ia ingin marah. halaman 14 dari 83 halaman . tapi sejak Faris duduk di bangku sekolah dasar ia memang sudah mendapat kekerasan dari ayahnya. Faris memang harus berbicara pada kedua orang tuanya secara baik-baik tentang masalah yang dihadapinya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen jadi makanan Faris setiap hari. Dan menjelaskan pada kedua orang tuanya bahwa kekerasan bukanlah menjadi kunci dalam suatu permasalahan. melainkan kekerasan hanya dapat menimbulkan masalah baru. Kekerasan yang dialami Faris bukan kekerasan yang baru terjadi sesekali ini. Sehingga pada minggu yang lalu Faris merusak tubuhnya dengan mencari pelampiasan seperti rokok dan alkohol. dan merasa rendah.

kini masalah sudah selesai. “Ada apa? Apa yang terjadi? Bukankah masalah kita sudah selesai. Kau memulai sedikit kata. Dan aku pun mencintainya!” halaman 15 dari 83 halaman . tapi tak tahu terasa ada yang berbeda. wanita yang kau sapa itu menjawab.” Kau pun memulai pembicaraan.” “Kenapa? Dengan cara apa?” kau pun bertanya dengan hati bergetar. “Iya. “Hai.” Rani. Akhirnya kau tak sabar dan menghampirinya. Menunggunya yang tak juga menghampirimu walaupun sudah sejam berlalu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen DIAZ DAN ANWAR Oleh: Indah Permata Sari Kau berdiri di sana. di sudut ujung jalan. Kau pun diam tak tau ingin bicara apa. Tanpa sadar aku mencintai ayahmu yang sudah tak beristri itu. memang sudah selesai. Dan dia pun sudah merenggut keperawananku. Aku tahu sekarang jawabannya. Tapi aku telah banyak menyakitimu dan akan terus menyakitimu. Kau pun bertanya. Tapi dia yang kau ajak berbicara hanya menjawab sapaanmu dengan air mata yang tumpah ruah tak ada tara. “Setelah ribuan masalah datang menghampiri kita. Jawabannya adalah aku tidak lagi mencintaimu. Setelah ribuan masalah yang telah kau hadapi bersamanya.

Hanya kicauan burung di beberapa pohon besar. tapi ternyata hubunganmu dengan Rani membuatmu trauma menjalani hubungan. Rani dan ayahmu kembali.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Bumi serasa berguncang. Dan menerima adik barumu. Ini adik barumu. Sudah lima tahun kau tidak mendapat pengganti Rani. Yoga. Tanpa merasa berdosa mereka mengenalkan adik barumu Yoga. Kau pun melanjutkan hidupmu seperti biasa walaupun setiap harinya hatimu hancur tak terkira. Ingin rasanya kau membunuh ayahmu sendiri. Dan itu kau lakukan dengan ayah kandungku sendiri. kenalkan. Lima tahun kemudian. halaman 16 dari 83 halaman . “Diaz. JAHANAM KAU! BEDEBAH KAU! SAMA SAJA DENGAN AYAHKU!” Kau pun membelalakkan mata dan air mata pun tumpah tak terkira. Yang telah merenggut belahan jiwamu yang sedari dulu kau jaga. Dan mulai hari ini kami akan tinggal bersamamu. Kau tak bisa berbuat apa-apa lagi. seakan tak mampu menahan langit yang mulai bergeming. semua kau ingat dengan jelas.” Ayahmu memaksa kamu untuk menerima kenyataan pahit ini. Nasi telah menjadi bubur. Dan kini kau menjalin hubungan cinta bersamaku tanpa sadar. Yoga. Rani menghilang bersama ayahmu. Tapi apa daya. “Jadi selama ini kamu menghianatiku. Bersamaku. ya Tuhan? Apa yang harus kulakukan? Inikah balasan untukku yang telah menjaga dengan baik belahan jiwaku?” Kau berteriak seperti tak berakal. Dan kami bahagia menjalani hubungan sesama jenis ini. ”Aku harus berbuat apa. Beruntung ujung jalan sedang sepi tak ada satu pun orang. Kau harus memanggil mantan kekasihmu Rani dengan sebutan 'Ibu'. Anwar. Setelah kejadian itu. Tak ada kejadian pun yang kau lupakan.

karena aku akan segera menghampirinya. pikiranku selalu tentang Yumi. prestasi non-akademiknya juga sangat memuaskan. Selama perjalanan aku ke tempatnya. Yumi adalah gadis yang sangat cantik. hatiku sangat gembira. suara isak tangisnya membuatku tidak tega dan segera ingin datang kepadanya. Kami terlibat dalam satu klub ekskul softball di sekolah kami. kami diterima di fakultas yang sama. Aku mengenalnya sejak SMA. Tak disangka sekarang ini. Sejak dia mulai berpacaran dengan Kibum. Selain prestasi akademiknya yang tinggi. Jarang sekali Yumi meneleponku enam bulan terakhir ini. memberikan bahuku untuknya dan menghapus air matanya. Sejujurnya. Dia adalah gadis yang paling mendekati sempurna menurutku.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen YUMI Oleh: Indra Puspita Kusuma Aku terkejut ketika mendapati tulisan nama yang berkedip-kedip tanda ada seseorang menelepon ke telepon genggamku. Kebetulan rumah kami berdekatan maka kami jadi semakin akrab. Aku pun berkata padanya untuk tetap tinggal di tempat dia berada. Tetapi. Bisa dibilang dia adalah sahabat dan orang yang selalu ingin aku lindungi. di sebrang telepon. sudah lama aku menunggu hari ini. Dia menjelaskan bahwa dia memergoki Jun selingkuh dengan gadis lain. cerdas dan juga ceria. Penampilannya yang halaman 17 dari 83 halaman .

aku mencoba menghiburnya sedikit dengan lawakan-lawakan garingku. Di perjalanan. suaranya mulai bergetar dan matanya mulai berair. “Jika kau masih mencintainya. Percaya padaku. “Apakah kau sudah siap untuk menceritakannya?” tanyaku. kebetulan memang tidak terlalu jauh. Seluruh keluarga besarnya ada di Seoul.” Yumi terhenti. Karena aku tahu itu akan menyakiti hatinya. Kali ini tangisnya deras. aku menyuruhnya untuk duduk saja. Aku sengaja tidak menanyakan kejadian Kibum dulu kepadanya. Dia terdiam dan tetap terlihat cantik.” jelas Yumi. kayaknya itu enak. “Yumi. “Hmm…boleh juga. Aku masih tak percaya posisinya sekarang adalah di dalam pelukanku. Ketika aku sampai di taman itu. aku duduk disebelahnya dan memeluknya.” ulangnya lagi. “Jangan menangis lagi. kau akan melupakan ini semua. Jelaskan bahwa kemarin kau memergoki dia dengan gadis lain. Betapa aku ingin dia segera halaman 18 dari 83 halaman . “Aku melihat Kibum didalam mobil dengan gadis lain. “Kau mau teh?” tanyaku. Tangisannya reda tetapi air matanya masih keluar. “Ini teh mu. bagaimana jika kita cari minum untukmu?” Yumi pun tersenyum dan mulai berdiri. aku lihat Yumi duduk tertunduk di ayunan yang tidak bergerak. Aku memegang tangannya. Tanya padanya siapakah gadis itu. pasti dia sangat dikecewakan oleh Jun. Jarak mereka dekat sekali. Sesampainya di kafe tersebut. Minho? Aku sangat mencintai Kibum. “Wah.” aku menaruh cangkir tehnya di depan dia. Hati Yumi pun berlabuh di hati Kibum. kau masih ingat saja dengan teh kesukaanku.” jawabnya sambil tersenyum. Tetapi lelaki ini ternyata juga berhasil melukai hati Yumi. Minho.” jelasku. Aku menghampirinya sambil menyodorkan sapu tanganku kepadanya seraya berkata. Aku mengerti. Kami menuju kafe teh langganan kami itu dengan berjalan kaki. Aku sudah hafal teh yang biasanya dia pesan. “Hhh… Baiklah… Pagi tadi ketika aku mau berolahraga ke taman. Matanya masih berkacakaca.” Aku berlutut didepannya dan mencoba menenangkannya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen berbeda dari semua gadis seusianya membuat banyak lelaki mengejarnya.” gumamnya “Apakah kau yakin itu bukan sepupu Kibum?” tanyaku “Yakin! Hanya keluarga dia yang ada di Jakarta. Aku tidak tega melihatnya. Lalu ia bertanya lagi. “Apakah yang harus aku lakukan.” jawabnya. salah satu senior yang cukup terkenal karena prestasinya di bidang olahraga. Terima kasih.” lanjut Yumi. “Aku sangat mencintai Kibum…. “Kau tidak pantas menangisi lelaki macam dia. Ia mulai menangis lagi.” Terpaksa aku berbohong. aku melihat mobil Kibum di depan taman. mungkin ada baiknya kau tanyakan dulu kepadanya. Dia terdiam sejenak.

Aku mencoba bertanya pada Yumi tentang Kibum. Aku mulai menghibur dia. Tapi aku sendiri yang memilih kuenya. Dan mungkin Yumi benar-benar mencintai Kibum. Yumi membalas senyumanku dengan tatapan yang aneh. Yumi. Tapi aku lebih ingin membalas budimu kemarin. Kibum di mana memang? Kau tidak bertemu dengannya?” “Oh. Siangnya. Aku ingin menanyakan padanya tentang Kibum. Mereka berjalan berdampingan. yuk! Sekalian. ya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen mengakhiri ini semua dengan Kibum. aku ingin melihat Kibum latihan. Kau masih ada kuliah sesudah ini?” tanyaku “Hmm tidak ada sih… Kenapa kau menanyakan itu? Mau mentraktirku teh lagi?” tanya Yumi dengan nada iseng. kami keluar dari perpustakaan bersama. “Minho! Sedang apa kau?” sapanya dengan ceria.” “Oke!” “Ya sudah. Minho. Yumi pun tersenyum. Yumi. Kau mau teh?” “Hmmm. Mau nggak kalau aku gantinya dengan kue saja?” tanya Yumi dengan senyuman termanis yang pernah kulihat. Kibum sedang latihan basket di lapangan basket Fakultas Ekonomi. Oh iya. Ternyata Kibum memberikan Yumi selusin mawar yang telah terbungkus indah. ketika aku sedang duduk menikmati internet gratis di perpustakaan. Aku berhutang kan padamu?” “Berhutang?” “Iya. Aku hanya tersenyum pada mereka berdua. Setelah kami selesai membereskan barang-barangku. Kami menghabiskan waktu di kafe tersebut hingga larut malam. Yumi yang memang gadis manis yang baik hati menerimanya dan sepertinya dia tidak jadi menanyakan Kibum tentang kejadian kemarin. Aku hanya bermain internet saja. melewatiku. boleh juga. “Sudahlah. jangan tangisi dia lagi. Kau jadi terlihat jelek sekali jika menangis. “Hmm.” candaku. Sudah lama aku tidak melihat dia berlari di lapangan…” halaman 19 dari 83 halaman . beli kuenya di toko kue yang ada di Fakultas Ekonomi saja. “Baiklah.” “Sini aku bantu!” Aku sangat penasaran mengapa dia sangat ceria hari ini. “Bisa juga akal bulusnya!” kataku dalam hati. Paginya aku melihat Yumi di taman kampus. mengajaknya mengobrol yang tidak ada hubungannya dengan Kibum. Tak lama kemudian datanglah Kibum menghampirinya. teh yang kemarin kau belikan untukku belum aku ganti duitmu. Mungkin Yumi memang sangat pemaaf. “Eh kau. aku dikejutkan oleh Yumi yang tiba-tiba datang. aku bereskan barang-barangku terlebih dahulu ya. “Hahahaha.

Di taman. Aku tak ingin Yumi kembali menangis. aku antar kau pulang ya. Biasanya kau tak mau menemaniku. Ekspresi mukanya berubah. Aku mengikuti arah matanya dan mendapati dua sosok manusia yang sedang duduk berdampingan dengan romantis di pinggir lapangan basket. “Kau pasti mengira aku sangat pengecut. Yumi langsung turun dan menuju ayunan. aku tak bisa bertemu Kibum sekarang. adalah gadis yang sama dengan gadis yang aku lihat kemarin. aku ingin ke taman. Aku tidak mengerti lagi harus bagaimana ke Kibum. “Bisakah kau mendorongku?” Aku mendorong ayunan itu dengan pelan. “Aku masih mencari waktu yang tepat.” Ya. Jelas sekali itu adalah Kibum dan mungkin dengan wanita yang kemarin dipergoki oleh Yumi.” tiba-tiba Yumi seperti dikejutkan oleh sesuatu.” “Dasar kau. tatapannya terpaku pada sesosok yang berada di lapangan basket. aku akan selalu melindungi mu. Tetapi entah mengapa. Aku akhirnya memberanikan diri bertanya tentang kelanjutan dia dan Kibum. Tapi yang pasti aku akan menanyakan pada Kibum jika…. Yumi yang kubonceng. aku tak suka melihat Yumi dengan Kibum.” “Aku tidak tahu deh. memelukku dengan erat. Aku tahu apa yang dipikiran Yumi. hanya suara angin yang terdengar di telingaku. Aku juga ingin makan kue coklat yang dijual di toko itu. kau mau nanya apa?” “Bagaimana jadinya kau dengan Kibum? Kau sudah tanyakan padanya?” Yumi terdiam. “Minho.” jawabnya. Aku mengantarnya pulang menaiki motorku. Aku bingung. Di perjalanan hening. ada sesuatu yang mendorong hatiku untuk tetap menemaninya saat ini. Aku tidak akan merelakan kau halaman 20 dari 83 halaman . Aku yakin. Aku berhenti mendorongnya dan berlutut didepannya. aku mengajaknya segera pergi dari tempat itu. Aku melihat Yumi kembali. “Hmm Yumi. Mau kan?” Yumi mengangguk. Hatiku sakit melihat Jun dengan gadis itu. “Yumi.” kata Yumi. Minho?” “Ya aku melihat kalian dari kejauhan. Makanya aku tidak pernah mau menemani Yumi jika ia mau melihat Kibum latihan.” air mata Yumi pun mulai menetes. Tiba-tiba ia berkata padaku. “Bukannya kau luluh karena diberikan seikat mawar tadi pagi?” “Kau melihatnya. gadis yang kita lihat tadi. Matanya masih tertuju pada sosok Kibum.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Baiklah. Dia diam tak berkutik. “Yumi. Minho! Giliran mau dibeliin kue aja langsung semangat deh. Hatiku bergetar tetapi aku tau dibelakang sana dia sedang menangis. “Minho. bisakah kau mengantarku kesana?” Aku segera melajukan motorku ke arah taman. “Apakah kau mau menanyakan pada Kibum sekarang?!” tanyaku dengan tegas. aku boleh bertanya nggak?” “Boleh.

kita halaman 21 dari 83 halaman . Kibum kerumahku. Kau sudah lama ya menungguku?” “Oh. Yumi tidak menjawab lagi. dia bosan denganku. Aku juga belum lama datang. Kebiasaanmu itu dari dulu tak pernah berubah! Ini aku membawakanmu susu dan sandwich yang aku bikin sendiri. Keesokan harinya.” Aku tersenyum. Setidaknya. Aku sudah cukup menangisinya semalaman. Ayo kita duduk di kursi itu. mengapa aku jadi membuatmu repot begini?” “Ih tidak apa-apa kok. Aku teringat katakatamu. “Semalam. Walau tanggapan Yumi tak sesuai dengan apa yang ingin ku dengar. Dia bengong. tapi aku masih bisa menahan diri. Aku segera mandi dan berpakaian.” kata Yumi. “Dia bilang. Minho.” “Benar?” “Ya. aku melihat Yumi berdiri sendiri membawa tas dan menurutku dia sangat cantik. Walaupun selama aku berpacaran dengan Kibum. aku mendapatkan SMS dari Yumi. “Maaf ya.” Aku tersentak.” Aku benar-benar curiga mengapa Yumi berubah seperti dahulu lagi.” jawab Yumi seraya tersenyum. hehehe. Kamu selalu lupa sarapan. di saat aku senang dan susah. Aku bersyukur Yumi mengingat perkataanku.” “Waduh. Kau pasti belum sarapan kan?” “Ah kok kau tahu saja?” “Tuh kan. Tetapi aku memutuskan untuk diam saja dan menikmati makanan yang ia buatkan untukku. Aku makin tersentak. “Terima kasih.” jelasku. “Sandwichnya enak…. Aku jadi ingat ketika dahulu. “Apa yang ia lakukan dirumahmu?” “Dia mengakhiri hubungan kita. Aku mulai mendorong ayunannya lagi. Ia mulai tak bisa menahan tangisnya. bahwa aku tak pantas menangisi lelaki seperti dia.” “Kau kenapa sih?” tanyaku. Sesampainya di taman. Aku menjemputnya setiap pagi di taman adalah kebiasaan kami dulu. Isinya. Yumi. Minho. “…dan aku juga merasa. Yumi masih belum berpacaran dengan Kibum. Kau memang sahabatku yang paling aku sayang.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen terluka karena siapapun. “Yumi. Apakah Kibum gila?! “Apa alasan Kibum???” tanyaku. selama ini kau yang selalu setia mendampingiku.” kataku sambil melahap sandwich itu. benar. jangan bengong dong…” “Eh. Kau makan ini dulu ya. maaf. Yumi melambaikan tangannya padaku lengkap dengan senyum manisnya. aku dapat menjadi tempat yang nyaman untuknya. tidak kok. “Pagi Minho! Tolong jemput aku di taman ya :D” Betapa senangnya hatiku mendapat SMS dari Yumi. Aku malah senang.

*TAMAT* halaman 22 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen tidak terlalu sering bertemu dan berkomunikasi. Menghapus air matanya dan berkata. setiap aku bersamamu. cinta lama akan terhapus oleh cinta baru. aku akan selalu ada selamanya untukmu.” Aku menggenggam tangan Yumi dengan erat.” Aku mengecup bibirnya. yang selalu berada disampingmu. dan aku merasa nyaman. Sekarang. lebih dari sekedar sahabat…. Sepertinya. “Yumi. rasa sayangku untukmu. Tetapi aku bisa merasakan kau selalu siap menemaniku. lihat aku. aku selalu bisa menjadi diriku sendiri. “Apakah kau yakin kau sudah bisa melupakannya?” “Ya. Percayalah padaku.” lanjutnya.

Tapi di hari itu. suasana sepi. Wah. Mungkin karena malas atau ribet ya. Sari namanya. Orangnya baik. Mamanya Sari udah kenal banget sama gue. ramah. Gue paling yaa. mikirnya masih pacaran gitugitulah. ah. gue langsung dipersilahkan masuk sama Mamanya Sari. dan ada semacam bekas merah2 deh di tangan dan mukanya. ga mau gue pikirin. Bukan urusan gue juga kayaknya. gue ngeliat ada yang beda dari raur muka Mamanya Sari. Hehehe.. Setibanya gue di rumah Sari. Tanpa pikir panjang.. Ah. Nah ternyata gue inget kalo hari itu gue ada janji mau ke rumah temen gw. belom mikirin keluarga jadinya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KAU BUKAN AYAHKU Oleh: Intan Puji Lestari Di malam itu gue jalan sendiri pulang dari kampus. Tatapannya kosong. Tiba-tiba Ayahnya Sari datang dan langsung masuk ke dalam rumah.. gue langsung cepet pulang ke rumah. urusan orang yang udah berumah tangga mah beda sama urusan orang kuliah kayak gue. Sampe-sampe gue anggep dia kaya mama gue sendiri.—Lengkap banget deh itu mama-mama kayaknya. dingin pula. trus langsung cabut lagi. dan satu yang penting jago masak! Hahaha. dan menutup pintu dengan kencang. gue pikir pasti ada yang gak beres nih antara halaman 23 dari 83 halaman . dan gw nggak bawa jaket. makan dikit.

di sampingnya udah ada vas bunga yang pecah. Tiba2 Bokapnya Sari keluar dari kamar. tapi dia tetep aja diem sambil terus ngelamunin foto keluarganya itu. Lagi asik chating sama pacar gue. Ga enak kalo sampe Mama sama Papa kamu tau kejadian ini. GUMPRANG!! Dari teras belakang. dan akhirnya gue sibuk chating-chatingan sama pacar gue. Baru gue mau deketin dia. “Mendingan kamu pulang aja ya. langsung gue peluk Nyokapnya si Sari.” Pokoknya gue bikin supaya dia bisa kehibur deh. Trus gue mulai memberanikan diri. nanya ke nyokapnya. dan dia cuma ngeliatin foto dia sama Bokap dan Nyokapnya waktu liburan. Gue ga ngerti apa yang diomongin antara mereka berdua. Di jalan gue mikir terus. Oh iya kamu jangan cerita ke siapa2 ya. gue denger suara. Tante ga mau kamu ngeliat kelakuan si Om yang udah jahat sama Tante dan Sari. Tante lagi ada masalah sama si Om. gue langsung pamitan sama Tante. dan ngeliat tuh anak lagi diem aja di atas kasurnya. pantesan aja dari tadi gue liat tangannya Nyokapnya Sari penuh merah-merah di mana-mana. kenapa ya. dan mengajak Nyokapnya ngobrol di teras belakang. trus gue liat juga di pahanya banyak tanda2 yg sama seperti yang gue liat di tangannya si Tante. Wah gilaaa. Dan yang gue kagetnya. Tante minta maaf sama kamu. dia langsung ngomong gini sama gue. kayaknya kesel gitu deh. Gue langsung ke kamarnya Sari. (Gue yakin si Om udah ngelakuin hal yang ga pantes dilakuin seorang bapak pada mestinya). tatapan mukanya juga sinis banget. Hahaha. si Om ngeluarin gesper yang tadi dia pake kerja. dari cara Bokapnya Sari ngeliat istrinya. Tiba-tiba gue inget sama keadaan si Tante yang di luar. Gue ngintip dari sela-sela sofa dan nyoba buat dengerin apa yang diomongin sama si Om. tinggal Nyokapnya si Sari yang ada sambil nangis. Namanya juga orang kantoran. ada orang yang setega itu halaman 24 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen mereka berdua. Trus gua liat Nyokapnya Sari udah duduk sambil nangis. dan langsung ninggalin itu rumah.” Gila! Ga tega gue ngeliat Nyokapnya Sari yang ngomong sambil terbata2 nangis begitu sama gue. Tapi dia kayak orang gila gitu. Akhirnya gue langsung keluar dan menuju teras belakang. kayaknya itu abis dilempar deh sama si om. Gue liat matanya udah item. Gue tanya sama dia. “Sabar ya. Sambil gue bisikin. Tante. karena kejadian ini ya. Gue nyapa dia tapi kayaknya dia gak menanggapi dan pasti karena mungkin dia kecapean kali ya. eh dia diem aja sambil ngelamun. Tanpa mikir panjang. gue mulai curiga deh. Kayaknya ini orang kebanyakan nangis deh. trus tangannya si Tante langsung dipukulin. tatapannya kosong. Gue liat si Om udah ga ada. gue tanya ada masalah apa antara Bokap dan Nyokapnya. kalo Tante lagi ada masalah sama si Om. Pelan2 gue deketin si Sari. dan ternyata Nyokapnya Sari lagi nangis!! Wah gak salah lagi pasti ada masalah antara mereka berdua!! Ya udah tanpa gue pikir panjang.

dan karena Nyokapnya Sari ga kuat dengan perlakuan kayak gitu. dan langsung diproses secara hukum. Harusnya sebagai ayah yang baik. susah2 cari duit buat keluarga. kayaknya dia masih syok sama kejadian yang menimpa keluarganya. Nyokapnya Sari ngelaporin suaminya itu ke polisi. Gue jadi kasian sama Sari karena dia juga jadi korban kegilaan bapaknya sendiri.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen sama keluarganya. Dia cerita banyak banget ke gue. Tiga hari kemudian gue liat Sari nongol di kampus dan langsung cerita banyak sama gue. harus bisa ngejagain keluarganya. Hari2 gue lewatin tanpa hadirnya seorang teman baik gue. karena gue dikasih keluarga yang baik2 aja. halaman 25 dari 83 halaman . Gue bersyukur sama Allah. yaitu Sari. Yah ya udahlah. mukanya udah kembali ceria seperti dulu. At lease sekarang gue udah bisa ngeliat temen gue senyum dan ceria kayak dulu lagi. dia cerita kalo Ayahnya ternyata lagi stress berat karena ada masalah di dalam kantornya. Sebenernya gue kasian juga sama Bokapnya si Sari. tapi malah digituin keluarganya. kayaknya dia udah bisa ngelupain kejadian yang menimpa keluarganya itu deh. tapi mau gimana lagi. Besoknya gue liat Sari nggak ada di kampus. dan alhamdulillah jauh dari masalah yang seperti ini. ga usah dipikirin orang kayak gitu. jangan malah dikasarin istri dan anak2 nya.

Sekolah ini memang sudah terkenal dengan tradisi bulying atau kekerasan pada junior-juniornya sejak 10 tahun terakhir. baik perempuan maupun lelaki. Singkat cerita. halaman 26 dari 83 halaman . sebut saja kelompok Gorazper. bahkan ada yang rela berdiri memberikan tempat duduknya. Tetapi bulying pada junior perempuan sudah tidak pernah lagi ada sejak 3 tahun terakhir. Ternyata Radit juga tertarik untuk masuk ke dalam kelompok tersebut. Setelah diberitahu segala sesuatunya. Di akhir istirahat. Namun hal itu tidak mengurungkan niat saya untuk menjadi siswa di sekolah ini dan juga bergabung dengan kelompok yang terkenal dengan tradisi bulying-nya berlandaskan ingin mendapat pengalaman yang lebih. Kami mulai mengumpulkan temanteman seangkatan sesuai dengan jumlah yang diminta oleh senior yaitu sekitar 40 orang. Senior Gorazper menunjukkan sikap yang baik dan ramah kepada kami para junior.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KELUARGA DAN SEKOLAH Oleh: Irvanuddin Rahman Cerita ini berawal saat saya menjadi siswa baru di salah satu SMA Negeri ternama di bilangan Jakarta Selatan. dengan memberikan tempat duduk di kantin saat jam istirahat yang penuh sesak. Saya dan Radit mulai menanyakan mekanisme perekrutan kepada senior di sekolah yang pada waktu itu duduk di bangku kelas 3 SMA. saya langsung kenal dengan Radit dan kami menjadi teman yang bisa dibilang dekat.

dengan sepeda motor saya. Namun saat penataran pertama. Keadaan seperti itu hampir setiap hari dirasakan. Radit bercerita setelah Ayahnya bercerai dengan Ibunya dan dipecat dari perusahaan Lapindo Brantas. selain di sekolah dia juga mendapat perlakuan kasar di rumahnya lantaran ayahnya yang sering memukulinya karena kesalahan-kesalahan sepele Radit. namun lain halnya dengan Radit. kamipun berpamitan dan pulang. Setelah itu Radit dipanggil ke kamar Ayahnya lalu terdengar suara orang memukul dengan benda keras dan suara orang merintih kesakitan. Lalu Radit mengambilkan minuman sirup kepada saya dan yang lain. Hingga pada suatu hari kami angkatan 2009 disuruh berjualan bunga untuk keperluan pencarian dana acara pensi sekolah. Dan seperti itu juga pada tataran-tataran berikutnya. Selang 10 menit kemudian. tidak lama kami di rumah Radit. Dia meceritakan kisah hidupnya panjang lebar. Saya dan Radit kedapatan bagian berjualan di daerah Kemang.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Radit yang sudah dikenal di kalangan senior diminta untuk menjadi koordinator angkatan 2009 dalam hal perekrutan/inisiasi/penataran dan lain sebagainya. Begitu juga sepulang sekolah. Pernah suatu kali saya mengunjungi rumah Radit untuk sekedar menghabiskan waktu sepulang sekolah dan juga dengan dua orang teman lain yaitu Rama dan Amar. Akhirnya Radit menceritakan semuanya kepada saya namun dengan syarat hanya saya yang boleh mengetahuinya. di sela-sela berjualan itu kami diberikan waktu istirahat oleh para senior. keadaan keluarganya sangatlah berantakan. Radit dan kawan-kawan yang lain segera bergegas menuju tempat yang ditentukan dan langsung berjualan. Keesokan harinya di sekolah saya ingin sekali menanyakan apa yang terjadi pada Radit. Rupanya kekerasan yang dialami oleh Radit ialah karena keadaan keluarganya yang broken home dan juga Ayahnya yang baru menjadi korban PHK karena kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo yang sampai saat ini tidak jelas penyelesaiannya. Kekerasan yang saya dan teman-teman saya alami memang sama. namun kegiatan siswa baru sangat sangat disibukkan dengan kegiatan ini itu sehingga tidak memungkinkan saya berbicara dengan Radit. Kesempatan itu saya gunakan untuk menanyakan hal yang terjadi tempo hari di rumahnya kepada Radit. saya pun tercengang dan kaget apakah itu suara Radit atau bukan. Radit berasumsi bahwa Ayahnya mengalami gangguan jiwa dan saya juga halaman 27 dari 83 halaman . sikap baik itu berubah 180 derajat menjadi sikap yang sangat beringas dan tidak berkeprimanusiaan. Saya langsung menanyakan apa yang terjadi namun Radit hanya terdiam sambil menggelengkan kepalanya. langsung disuruh kumpul di tongkrongan oleh senior-senior Gorazper dan lagi-lagi mendapat kekerasan. Ibunya tidak pernah mendatanginya lagi bahkan mungkin Ibunya tidak tahu apa yang terjadi sekarang terhadap Radit dan Ayahnya. Radit keluar dari kamar dengan wajah pucat dan mata yang berkaca-kaca. Karena suasana yang garing dan tidak bersahabat.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

berfikiran begitu karena tindak kekerasan yang dialami Radit disebabkan permasalahan sepele, seperti misalnya tempo hari Radit memberikan sirup kepada saya, Rama dan Amar, ia langsung dipukuli oleh Ayahnya dengan balok yang selalu ada bersama Ayahnya kemanapun Ayahnya itu pergi. Alasan yang diceritakan Radit kepada saya membuat saya sangat kaget sekaligus prihatin karena hanya karena mahalnya harga sirup dan menurut Ayahnya tidak sepantasnya kami teman-teman Radit disuguhkan sirup, cukup dengan air putih saja. Saya benar-benar terpukul saat Radit menceritakannya, bukan karena saya tidak terima diberikan air putih tetapi cara Ayahnya itu yang benar-benar tidak wajar. Saya dan Radit menghabiskan malam itu dengan cerita sedih yang dialami Radit sampai saya mengantarkannya pulang. Di rumah saya selalu kepikiran kisah Radit dan saya benar-benar bersyukur mempunyai keluarga yang sakinah dan rukun. Namun muncul dalam hati saya keinginan untuk menolong Radit sebagai sahabat. Tetapi saya bingung bagaimana cara saya menolongnya. Saya berfikir bahwa Ayah Radit perlu rehabilitasi untuk kembali menyadarkan jiwanya dan menyembuhkan jiwanya dari gangguan jiwa yang dialaminya akibat stres. Saya menceritakan hal tersebut kepada teman-teman dekat saya tanpa sepengetahuan Radit, namun lama kelamaan berita itu menyebar di angkatan 2009 walaupun tidak semuanya tahu tetapi realtif banyak yang tahu dan tetap tanpa sepengetahuan Radit. Kami pun berinisiatif untuk mengumpulkan dana swadaya untuk membantu Radit dan keluarganya karena mengingat juga banyak sekali kontribusi Radit dalam hal mengompakkan angkatan, membela angkatan di depan senior dan tidak jarang pula Radit menanggung dampak dari kesalahan yang diperbuat angkatan seperti misalnya jumlah orang tidak sampai batas minimal yang ditetapkan senior saat menjadi supporter pertandingan basket sekolah kami dengan sekolah lain, dan sebagainya. Kami pun diam mengumpulkan dana swadaya tersebut secara diam-diam tanpa sepengetahuan Radit agar dia tidak minder dalam bergaul. Memang agak susah mengumpulkan uang yang diperlukan karena pasti sangat besar jumlahnya, maka dari itu kami membutuhkan waktu yang lama untuk mengumpulkan uang sampai target. Seiring waktu berlalu, Kekompakan angakatan kami semakin timbul dan setiap permintaan dari senior untuk menambah jumlah orang yang ikut dalam kelompok Gorazper tidak pernah gagal. Dari 40 orang, menjadi 50 orang, dan terakhir para senior meminta harus ada 60 orang saat tataran berikutnya. Hal yang sangat sulit tentunya bagi kami untuk mengumpulkan sebanyak itu, namun lagi-lagi berkat kemampuan Radit akhirnya kami dapat menggenapkan jumlah kami menjadi 60 orang di tataran berikutnya. Tidak terasa waktu terus berlalu dan hampir tiba saat pelantikan angkatan baru Gorazper yang notabennya adalah angkatan kami, angkatan 2009. Malam pelantikan itu diawali dengan acara menonton bareng di bioskop di salah satu mall di bilangan Pondok Indah, Jakarta Selatan dan ditutup dengan acara pelantikan di sebuah jalan yang biasa menjadi tempat tongkrongan anak-anak remaja seumuran
halaman 28 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

kami. Dan malam itu menjadi malam yang sangat ditunggu-tunggu oleh saya, Radit dan juga teman-teman 2009 lainnya karena setelah malam pelantikan itu kami sudah resmi menjadi anggota Gorazper dengan membawa angakatan 2009 dan itu artinya tidak ada lagi penindasan-penindasan yang selama kurang lebih satu tahun kami alami. Benar-benar malam yang sangat menyenangkan, terlebih bagi Radit, karena di malam itu juga kami memberikan bantuan yang berupa dana yang selama ini kami kumpulkan untuk membantu Ayah Radit. Perasaan kaget bercampur bahagia sangat terlihat dari raut wajahnya saat saya menyerahkan amplop berisi uang itu kepadanya. Semoga malam itu benar-benar menjadi malam terakhir bagi Radit mangalami kekerasan baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan keluarganya.

halaman 29 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

LIBURAN LEBARAN
Oleh: Jodia Pravita Dini

Liburan

ini, aku dan keluargaku akan berlibur ke Makassar tempat Tanteku. Pagi ini aku berangkat ke Makassar, aku dan keluargaku segera bergegas ke bandara pada pagi hari. Sesampainya di Bandara Hassanuddin, Tanteku dan keluarganya menjemput dengan menggunakan mobil keluarga. Rasanya rindu sekali karena sudah lama tidak bertemu mereka. Tujuanku kesana adalah melihat kedua sepupuku yang masih kecil, Andrew dan Darrent namanya. Tetapi aku lebih dekat dengan Darrent. Darrent adalah anak kedua Tanteku, wajahnya mungil dan menggemaskan. Ekspresinya polos saat aku memberinya sebuah coklat. Hari kedua di Makassar, kedua sepupuku itu sungguh manis dan tidak cengeng. Tetapi ketika Darrent melakukan kesalahan kecil yang biasa anak kecil lakukan,Tanteku langsung memarahi dan memukulnya. Aku dan Ibuku kaget karena hal tersebut sangat wajar dilakukan anak seumur Darrent. Dia pun menangis tersedusedu dan berlari kearahku. Aku peluk dia, dan tak lama dia bercerita dengan kosa kata seadanya. Ternyata Tanteku sudah sering memarahi bahkan main tangan kepada anak-anaknya. Selama aku di sana memang terlihat sering sekali Tanteku melakukan hal itu. Ibuku sebagai kakak dari Tanteku sudah member nasihat, tetapi tak didengarkannya.
halaman 30 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

Aku hanya bisa diam jika Tanteku melakukan hal itu lagi. Akhirnya aku mengajak Andrew dan Darrent untuk jalan-jalan ke pantai Losari. Mereka terlihat senang dan lepas dari kejenuhan. Aku senang bila sepupu-sepupuku senang.

halaman 31 dari 83 halaman

Kinan adalah sahabat terbaikku sejak aku bersekolah di Taman Kanakkanak. ramah. gadis yang saat itu berusia 18 tahun dengan wajahnya yang cantik. Cinta mencoba melarikan diri dari kehidupannya. aku selalu bergantian membawa mobil dengannya. ceria. Saat aku memiliki masalah. serta saat aku kesepian. aku selalu menceritakannya pada Kinan. wajahnya cantik mirip seperti Ibunya. Rumahku dan rumah Kinan memang berdekatan. Sebagai sahabatnya. Ia baik. Begitu juga dengannya. sahabatku. Kinanti Maharani. Kinanti Maharani. saat sedih maupun senang.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen CINTA. hanya berbeda jalan saja. mencoba melarikan diri dari Ibunya. gayanya yang anggun. berangkat ke kampus yang tidak terlalu jauh dari rumah kami. KINANTI! Oleh: Juwita Anindya Anak itu bernama Cinta. Seperti biasanya. serta tubuhnya yang tinggi ramping membuat semua orang tertarik padanya. Tapi ia sudah dekat dengan kehidupan malam. halaman 32 dari 83 halaman . dan bisa menemaniku saat susah maupun mudah. kadang aku pun ingin menjadi dirinya. pagi itu aku dan Kinan. Umurnya baru 15 tahun tapi ia terlihat seperti 20 tahun. Saat berangkat kuliah. Badannya tinggi. langsing. Sepertinya hidup Kinan sangat sempurna.

Aku mulai bisa menebak sepertinya yang meneleponnya adalah laki-laki yang sedang dekat dengannya.” “Dia ganteng?” “Ya. Dia kuliah di Universitas Nusantara. Ia juga selalu memakai pakaian yang modis. gue sama dia mau jalan.” “Boleh.” Kami pun sampai di kampus. Pokonya oke banget deh. Dengan gayanya yang anggun ia mengangkat panggilan itu. lho. soalnya dia ngajakin gue kenalan. Semenjak berkenalan dengan Paul.” “Seagama?” “Ya. Lo nanti malem mau ketemuan ya?” “Iya. Sesekali Kinan menengok ke arahku yang sedang menyetir lalu tersenyum centil. “Siapa. Kinan dan Paul sering jalan berdua. Kemaren gue ketemu dia di kafe. Bahkan tak jarang lakilaki yang ditolaknya mentah-mentah. Dugaanku semakin kuat. Nin! Kayaknya sih dia juga suka sama gue. ia tidak memikirkan perasaan laki-laki yang menyatakan cinta padanya. Pembicaraan mereka terdengar sangat akrab. Sampai saat itu Kinan belum mempunyai pacar. wajar kalau ia sangat perfeksionis dalam mencari pasangan. Dia oke banget. aku mendengar mereka akan bertemu malam itu juga.” “Wah perfect banget dong.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Hari itu Kinan terlihat cantik dengan bando pita putih di kepalanya. “Nin. hari-hari Kinan semakin berwarna. sesuai sama persyaratan lo.” “Pastinya. Kinan masih asyik bercakap-cakap di handphone-nya. sampai akhirnya mereka halaman 33 dari 83 halaman . Oleh sebab itu tidak sedikit pula laki-laki yang sakit hati dibuatnya. maka ia akan langsung menolaknya dan berkata bahwa ia tidak mau dengan lakilaki itu. Nanti kapan-kapan gue kenalin ya.” “Bawa mobil kemana-mana?” “Ya. Nan?” “Namanya Paul. Bila ia tidak suka.” “Paul? Temen baru?” “Ya.” “Badannya atletis?” “Ya. Untuk gadis secantik Kinan. Ia terlihat sangat bahagia. Aku sendiri tidak tahu siapa yang menelponnya. tau nggak siapa yang nelepon gue barusan?” tanya Kinan padaku sambil memasukkan handphone ke tasnya lagi. Setelah lama mereka bercakap-cakap. Itulah salah satu kekurangan Kinan. Paling nonton sama makan aja. Tiba-tiba handphone-nya berdering. Aku menggeleng.” “Tajir?” “Ya. Tak pernah lupa ia percantik bibirnya dengan sentuhan lipgloss warna softpink.

Kinan menuruti semua instruksi Paul. Tapi akhirnya kedua orangtuanya pun tahu sampai akhirnya Kinan dan Paul menikah. mereka nonton dan makan malam. Masalah pun datang saat Kinan memeriksakan diri ke dokter dan hasilnya ia hamil. Aku melihat ke arah perut Kinan. Paul menghilang. Seperti biasanya. Semua keluarga besar sudah mencari Paul kemana-mana. bahkan mengurung Kinan di kamar mandi karena Paul menganggap Kinan sudah gila. adalah satu kata yang Kinan tanamkan dalam hati. saat semua kelarga dan sahabat-sahabatnya menjenguk. tak seperti orang hamil. Tapi entah apa yang membuat mereka memutuskan untuk menikah begitu cepat. Menghadapi kelakuan istrinya. Namun sayang. Mereka terlihat cocok sampai akhirnya mereka menikah satu tahun setelah jadian. Di suatu malam. Wajah Kinan pun terlihat sangat bersedih. Paul justru tidak terlihat kehadirannya. Hari demi hari ia lalui dengan perasaan yang kacau balau. Mereka pun menuju rumah kedua Paul yang hanya dihuni oleh dua orang pekerjanya. Entah mengapa saat teringat masa-masa mereka berpacaran Kinan selalu marah. menampar. Tak lama kemudian Paul bisa mengakrabkan diri denganku dan juga Dino. Kinan bilang beberapa kali ia melakukan hal tersebut meskipun ia tahu kalau semua itu dilarang oleh agama dan hukum. Rumah tangga yang dibina Kinan dan Paul semakin tidak harmonis. Kinan menangis. Tapi hatinya selalu berdalih dan berusaha meyakinkan kalau semua itu akan aman dan baik-baik saja apalagi Paul selalu memaksa. Percaya. Tak jarang pula kami pergi bersama. Resepsi pernikahan mereka digelar begitu meriah. Kinan bingung. Seringkali Paul memarahi. Aku baru mengetahui kalau ternyata Kinan telah hamil dua bulan saat menikah. halaman 34 dari 83 halaman . pacarku. Kinan bertemu dengan Paul. memukul. Beberapa bulan setelah mereka menikah. Sesampainya di sana. Masalah Kinan dan Paul semakin rumit. Mungkin Paul melarikan diri ke luar negeri. Saat itu umur Kinan baru menginjak 19 tahun sedangkan Paul 22 tahun. Tak tanggung-tanggung seringkali Kinan melemparkan barang-barang di rumahnya sambil menangis. Aku tersentak tak percaya. Paul semakin tidak tahan. Kinan hanya bilang kalau ia sudah merasa cocok dengan Paul. Kinan menceritakan semua kronologi kejadian sampai mereka menikah. Kinan pun menyanggupinya dengan senang hati dan tanpa pikir panjang. Malam itu. Hari itu Kinan melahirkan di sebuah rumah sakit ternama.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen resmi berpacaran atau biasa disebut jadian. Paul pun meyakinkan Kinan kalau semua akan baik-baik saja. Sebulan sebelum Kinan melahirkan. ia hanya terlihat gemukan. Ia merasa malu dan takut menghadapi kenyataan. Kinan pun semakin sakit hati. Lalu tibalah saat yang ditunggu-tunggu oleh setiap pasangan. Namun saat itu Paul meminta lebih. Sepertinya ia teringat sesuatu dan segera menceritakannya padaku. Tak ada sesuatu yang aneh pada hubungan mereka. tetapi Paul tidak ditemukan. mereka pun terlarut dalam hubungan badan. Gaun pengantin Kinan pun sangat mewah.

aku ingin memperbaiki hubungan persahabatan kami yang sempat renggang. mengurung di kamar mandi. Aku berusaha menghibur Cinta. Kinan bisa bersikap biasa. ia semakin terlihat sebagai pribadi yang pendiam. Termasuk kepadaku. Alamat Kinan memang masih di Bandung. ia cantik tapi tetap saja ia tidak bisa ramah. Ternyata sejak kecil ia biasa diperlakukan kasar oleh Kinan. Aku berusaha mencari Paul. Suatu hari aku ingin sekali menjenguk Kinan. Aku langsung kaget mendengarnya. tanpa segan-segan ia memarahi anaknya itu serta memberinya hukuman mulai dari mencubit. Entah apa yang ada di hati Cinta. memukul. tapi hasilnya nihil. Cinta pun berbicara padaku. Ibunya sendiri. Tetapi saat orangtua Kinan datang menjenguknya. Bahkan yang aku herankan Kinan meninggalkan Cinta tinggal sendirian. Namun seiring berjalannya waktu. tapi aku merasa kasihan. Melihat aku termangu. Aku pun memercayainya. tapi tidak dekat dengan Cinta. halaman 35 dari 83 halaman . Bahkan di hadapanku Kinan masih bisa bercerita tentang kehidupan kelamnya. Bahkan beberapa bulan kemudian Kinan dan Cinta pindah rumah ke Bandung. Entah masalah apa yang membuat Kinan semakin terguncang. Saat Cinta mulai bersekolah. Bila Cinta melakukan kesalahan. Mungkin ia putus asa dengan keadaannya sekarang. Paul bisa kembali dan mereka bertiga bisa berbahagia. Aku merasa Kinan sudah tidak menganggapku lagi. Aku merasa keluarga mereka memang benar-benar hancur. Tak ada yang tahu secara detail bagaimana Kinan membesarkan Cinta tanpa seorang suami. Aku mencoba mengajak Kina ke psikiater. Anehnya. Cinta sangat kuat. Harapan Kinan pupus sudah. Aku mencari Kinan. Kinan selalu mengancam jika Cinta menangis maka ia akan menambah hukumannya menjadi semakin berat. Dia pasti Cinta. Aku pun belum sempat mengunjungi mereka. Tapi wajahnya sudah berbeda. Orang tua Kinan selalu berkata kalau Kinan dan Cinta baik-baik saja di tempatnya yang baru. tapi Cinta malah memberi selembar kertas berisi alamat yang ia bilang itu alamat rumah Kinan bersama suami barunya. Aku pun ke Bandung dan mencari alamatnya. tetapi Cinta tak mau berbicara sepatah katapun padaku. tapi Kinan justru marah padaku. ia hampir tak pernah mau lagi bercerita padaku. dan tertutup. Cinta menjadi korban dari kebodohan kedua orangtuanya sendiri. Cinta sudah dewasa. sampai menyuruh Kinan memakan makanan basi. yang lebih tepatnya tidak sesuai dengan keinginan Kinan. Kinan malah menangis dan terkadang ia memarahi Cinta. setiap melihat Cinta.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Bayi mungil yang cantik itu pun diberi nama Cinta Kinanti Ananda Paula. Hidup terasa mulai normal. Semenjak Kinan marah padaku. tidak bisa bergaul. Kinan berharap dengan hadirnya Cinta. Paul tak kunjung kembali. Hari demi hari ia lewati dengan berdiam. Sampai akhirnya semua mulai terlihat saat Cinta sudah berumur 10 tahun. Sesampainya di sana aku melihat seorang gadis belia yang aku kenal. Ia hampir tak pernah menangis.

Dia nggak pernah peduli sama gue. halaman 36 dari 83 halaman . Nggak kayak Ibu yang lain. cuma bisa nyiksa.” Aku tersentak. cuma bisa mukul. Ibu cuma bisa marahmarah. dan cuma bisa bikin aku diperkosa. Gue mati dia juga nggak peduli kayaknya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Gue lebih baik hidup tanpa Ibu. Ibu selalu ngasih gue hukuman. Bahkan dia kawin lagi juga nggak bilang gue.

sedangkan Tia dan Nia tidak pernah ketinggalan hal-hal yang menyangkut tren dan mode yang ada. Niken dan aku sekelas. Niken orangnya supel. yang berarti kami akan menjejak ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. salah satu teman sekelas halaman 37 dari 83 halaman . yaitu SMA. Kami berpencar untuk mencari kelas kami masin-masing. Kami semua sangat senang karena berhasil masuk salah satu SMA unggulan di Jakarta. Guru pun masuk kelas dan semua berjalan wajar sebagaimana harusnya. Sampai pada saat bel pulang sekolah dibunyikan. karena dari SMP kami hanya kami berempatlah yang diterima di SMA tersebut. Keesokan harinya kami mulai masuk sekolah seperti biasa. siap memulai pelajaran pertama.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Oleh: Dwi Cahyaningtyas (untitled) Semua itu berawal dari kelulusan kami dari SMP. Kami berteman sejak duduk di kelas dua SMP. Meskipun tidak semua dari teman kami diterima di SMA tersebut. semua berjalan biasa saja tidak ada yang istimewa. sedangkan Tia dan Nia berada di kelas lainnya. saat itu Tia dan Nia yang sudah berteman lebih dulu menyapaku yang duduk sendirian di dalam kelas. Untungnya. Sampai saat MOS berakhir di hari ketiga pun tidak terjadi suatu kejadian yang berarti. Lalu datang Niken yang langsung nimbrung pembicaraan yang kita bertiga lakukan. Pada hari pertama MOS.

Kami pun merasa tegang akan situasi tersebut. Seseampainya di tempat yang ditentukan. kelas tiga segera memerintakhkan kami untuk berbaris. Sebagian dari kelas memutuskan akan datang ke tempat yang sudah ditentukan tersebut karena takut akan kelas tiga. akhirnya kami berempat ikut berkumpul sepulang sekolah. sebagian lagi tidak peduli dan memilih segera pulang ke rumah. Niken mengajakku untuk ikut menghadiri perkumpulan itu atas dasar solidaritas teman. Tak ketinggalan. ternyata di sana sudah banyak anak-anak kelas satu yang berkumpul. Tiga tahun sudah kami bersekolah di sana. melainkan berkumpul si suatu daerah dekat sekolah atas perintah anak kelas tiga. pada akhirnya anak laki-laki disuruh tawuran dengan sekolah lain oleh kelas tiga. Perlakuan itu terus berlanjut hingga kami memiliki nama angkatan. Pada saat kami menjadi siswa kelas tiga. anak-anak kelas tiga juga sudah banyak yang datang. setelah dirasa cukup banyak anak kelas satu yang berkumpul. halaman 38 dari 83 halaman . perlakuan kekerasan yang kami alami sudah menjadi tradisi turun-temurun di sekolah kami yang akan terus berulang di tahun-tahun berikutnya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kami mengumumkan agar kami tidak pulang dulu. kini giliran kami untuk mendidik kelas satu seperti pada saat kami dididik dulu. kami pun dimarahi habis-habisan dan aku mellihat beberapa temanku ditampar dan dipukuli.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen CERPEN TENTANG KEKERASAN Oleh: Kartika Putri Di tempat ini aku dilahirkan. “Toh sebentar lagi aku juga sampai” pikirku dalam hati. Jakarta. Tidak terlepas dari kegiatan sebagai mahasiswi. aku putuskan untuk berjalan kaki. Hiruk-pikuk sibuk ibukota. teriakan itu seketika membuyarkan lamunanku. Jakarta. suara bising robotbaja-berjalan. aku halaman 39 dari 83 halaman . dan semakin sedikitnya lahan hijau yang ada menambah panas matahari ini semakin terasa menyengat. aku tersentak. pusat ibukota beserta keramaian yang bercampur aduk di dalamnya. namaku Ananda. tebalnya polusi udara. mahasiswi salah satu universitas di Indonesia. Oh iya. aku juga suka memperhatikan keadaan lingkungan sekitar dan menuliskannya dalam beberapa kata sederhana yang orang-orang biasa menyebutnya puisi. Senang atau tidak itu fakta yang ada. “Hei!!!!” Sungguh. tidak terlepas dari kekerasan yang menyelimuti. Jalan kaki lebih menyehatkan dan mengurangi polusi selain itu aku juga mencuri waktu untuk menghabiskan waktu itu sendiri tanpa ada gangguan. Aku berbelok ke jalan kecil yang berhubungan dengan kampusku. robot-baja-berjalan begitu padat merayap di pagi hari. aku suka dipanggil Nanda. tembok-tembok beton gedung perkantoran. Sungguh jauh perjalanan menuju kampus.

.. tangannya ditarik dan dipukulnya kepala si pengamen oleh tangan besar sang preman. Lengan yang begitu kecil diselimuti berbagai macam luka. Tidak mungkin mereka memanggilku. “Heh! Mana setoran. saya. Semua orang tanpa harus bertanya berapa usiaku juga tahu itu.” “Iba-ibu! Siapa juga yang peduli sama ibu. Bocah pengamen itu seakan-akan tahu dan cemas apa yang akan terjadi pada dirinya. lu! Orang juga nggak ada yang peduli sama gua!! Ibu lu nggak bakalan mati kalo nggak minum obat!” “Lain sama kita.. Malangnya si pengamen. Bang. salah seorang dari preman tersebut menoyor kepala pengamen cilik itu. aku memutuskan untuk berhenti. premanpreman meninggalkannnya dengan tawa keras. Aku memutuskan untuk duduk di dekat warung dan membeli sesuatu agar bisa mengamati preman-preman itu tanpa harus dicurigai.. Ia melangkah takut-takut menghampiri tiga preman tadi.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen menoleh. Bang. lagi-lagi kekuatan berjaya.. menyaksikan setiap adegan-adegan yang seperti di tuai dalam acara reality show di televisi kebanyakan. saya. mereka preman. Ya.... Dugaan dan firasat yang kuat salah satu kelebihanku. Pasang tampang polos pula!!” Bocah pengamen itu seraya berjalan agak mundur sedikit dan menunduk. tawa membahana. sandal jepit lusuh yang sudah tipis solnya. Aku bukan anak-anak lagi.. nggak.. Aku yakin bukan aku yang mereka maksud. “Ini apa??!! Bukan duit?! Berani lu ya sama gua. bohong aja lu! Berani bohong sama gua!!” “Cepet periksa sakunya!! Pasti dia bohong!” “Nggak Bang. Saya mohon. “Hei!!!! Iya sini bocah!!!” Masih tertegun dengan teriakan itu... Langkahnya gontai. Rupanya kening si pengamen lecet begitu juga dengan lengan kanan yang menopang kepalanya tadi. ada. Aku melihat di kejauhan dan tetap melihat. bakalan mati kalo nggak makan!” Pengamen itu bersikeras merebut kira-kira lima lembar uang seribuan dan satu lembar uang lima ribuan dari tangan-tangan kotor si preman. Tiga orang laki-laki bertato. si pengamen hanya bisa mengelushalaman 40 dari 83 halaman . baju yang entah berwarna putih atau cokelat pudar lusuh itu sudah tidak jelas warnanya—kumal dimakan waktu. Tiga preman tadi memanggil seorang bocah pengamen dengan gitar kecil. Ya. Saya belum ngamen hari ini. dan tawa yang lebih tepatnya tawa kekejaman. Jangan diambil. saya. Pengamen kecil itu berdiri memegang kepalanya sesekali ia berjalan agak sempoyongan ke arah warung dan duduk di sebelahku.. tetapi ini terasa lebih nyata.. perawakan besar lengkap dengan baju serta gelang tangan anyaman menghiasi tangan mereka. kulit gelap yang membuat semua orang akan merinding melihatnya. a. lu?!” “Iya mana? Jangan berlaga bego. Ibu lagi sakit demam.. Pengamen itu jatuh tersungkur di tanah. bang.” Pengamen itu gemetar.. “Ng.. masih kecil juga!” “Itu uang untuk beli obat ibu di warung.” “Eh. deh..

Duka bocah pengamen tertindas.. nyanyian kebahagiaan mereka. Hati-hati kalo bawa uang nanti diminta preman lagi. halaman 41 dari 83 halaman . terima kasih ya. begitu banyak duka. tak hanya duka tetapi juga suka.. Bu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen ngelus kepala dan lecet di lengan kirinya.” ibu penjaga warung benarbenar tulus membantu. Dek. Setidaknya. Ibu sudah sering menolong saya” “Nggak apa-apa. walaupun kelihatannya kecil. Ternyata di jalan sempit ini menyimpan begitu banyak cerita. Saya kesian aja ngeliat kamu dianiaya sama mereka.. “Wah. semua menjadi tumpah ruah di sini. Ibu penjaga warung memberikan air mineral kemasan kecil dan memberikan plester kepada si pengamen. dan rasa terima kasih mereka. tetapi begitu menyimpan makna. kebahagiaan seperti itu dapat mereka —orang tertindas—rasakan melalui uluran tangan-tangan Yang Maha Kuasa. gelak tawa mereka di kala hujan. Wajah bocah pengamen berseri sekali saat memakai plester pemberian ibu itu dan meminum air mineral yang rasanya biasa saja.

Sedih sekali melihat Jakarta yang katanya kota metropolitan. Banyak sekali anak-anak sekitar usia 4-12 tahun yang sudah mencari penghasilan dengan cara menjadi pengamen dan pengemis. Di kolong jembatan itu. Jembatan dekat ITC Cempaka Mas. tetapi masih ada satu sisi yang sering dilupakan oleh pemerintah. yang senantiasa menampilkan keindahan. banyak gedung-gedung megah berdiri. dunia fantasi anak. Jakarta Pusat. taman bermain anak. potret wajah-wajah bocah yang kelaparan dan kepedulian para orang tua di pengungsian dapat disaksikan di media masa. Gambaran tentang kondisi sosial yang mengenaskan. yaitu halaman 42 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen TINDAK KEKERASAN PEMERINTAH TERHADAP ANAK-ANAK JALANAN Oleh : Khamim Hudori Kekacauan dunia politik di tanah air dan kekerasan-kekerasan yang terjadi belakangan ini di berbagai daerah dan ibukota menyisakan kerisauan yang mendalam bagi anak-anak. kenaifan dan kebebasan seakan tanpa kontaminasi sudah tidak dapat kita lihat lagi. Aku melihat dengan nyata praktek kekerasan oleh orang dewasa kepada anak kecil yang terjadi di jalanan ibukota.

memberikan warna yang bisa menjadikan indah. Trus nanti kita dapet bagian juga. sebenarnya pak Bruto itu siapa?” tanya saya. Sungguh. “Iya. Kak. Besoknya. nanti abis ngamen. Pake nanya lagi. “Buluk!!! Cepetan sana ngamen lagi. anak sekecil itu sangat tidak pantas untuk mencari uang di jalanan halaman 43 dari 83 halaman . Padahal nama aslinya adalah Luki. “Woy.. “Maaf.” jawab bocah tadi. ada suara memanggil Luki dengan nada keras. Saya juga maunya sekolah. Kak. kasih ke gua!” bentak bapak tadi ke anak kecil itu. Dek?” “Panggil saja saya Buluk. Dek? Apakah kamu masih sekolah?” “Saya umur 9 tahun. aku berjalan di jembatan itu lagi untuk mengenal bocah tadi.” Setelah lampu hijau. Sini lo!” panggil bapak tadi ke bocah yang baru mendapat uang receh dari mobil Alphard.” “Kamu umur berapa. Buluk. Kak. menjadikan bintang di surga. “Pak Bruto itu yang ngajarin anak-anak di sini ngamen. Terpaksa saya hidup di jalanan seperti ini. Tidak lama. Coba ke sini sebentar!” aku panggil anak kecil itu. Yaaa. Bagaimana cara untuk kita dapat bisa dapet uang di jalanan. Ada apa?” tanya anak kecil itu.. Karena dia berpakaian yang sangat kusam dan agak kotor. “Dapatkah aku memeluknya. bapak saya juga entah kemana. Kak. “Ada apa. Kak. Sudah tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolah. kita ngasih duit hasil ngamen tadi ke dia. apa boleh buat. uang receh lo tadi. “Namanya siapa. Saya panggil lagi bocah itu. Ini uangnya.. “Luki. Pak.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen nasib anak-anak jalanan yang tak sekolah dan dapat perlakuan yang tidak wajar oleh para orang tua mereka. Pak Bruto?” tanya anak itu. Setelah Luki selesai ngamen dan memberikan setoran ke Pak Bruto.” Luki langsung lari ke deretan mobil yang sedang menanti lampu hijau menyala. “Iya. Tepat di lampu merah Cempaka Mas.. Sini. ada seorang bapak sekitar umur 35 tahun. Kak. Nah.. Ya.. Saya sudah putus sekolah. terdengar suara anak kecil sedang menyanyikan lagu ST 12 di depan mobil Alphard. Sebenarnya nama asli saya Luki. sang bocah tadi pun kembali ke kolong jembatan..” jawab Luki dengan ketakutan dilihat oleh pak Bruto. Ibu saya sudah tiada. “Dek.” Luki berbicara dengan sedihnya. “Yee. Di kolong jembatan itu. Pak. Di sanalah aku kenal seorang bocah kecil yang biasa dipanggil Buluk. Dan ternyata itu Pak Bruto yang kemarin. Mmm.. maka dia dipanggil Buluk di lingkungan sekitar kolong jembatan. Kak. lampu merah tuh!!” bentak Pak Bruto sambil menghisap sebatang rokok dan menghitung uang setoran anak-anak dari hasil mengamen.

Mereka yang seharusnya sedang asyik-asyiknya bermain dan sekolah dengan teman sebaya. semua anak-anak Indonesia berhak mendapat pendidikan yang murah dan tidak ada lagi anak-anak jalanan seperti Luki tersebut. Saya sedang berpikir. tapi malah menjalani hidup dengan keras di alam kolong jembatan tersebut. Amin. yaitu memelihara dan menjamin anak-anak tidak mampu itu untuk mendapatkan pendidikan yang layak? Bukankah tindakan pemerintah yang tidak menjamin anak-anak itu sekolah juga suatu tindakan kekerasan? Semoga saja pemerintah benar-benar serius dalam menjamin pendidikan anak-anak tersebut. halaman 44 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen dengan cara mengamen. Karena anak-anak itu mempunyai hak untuk bersekolah dan untuk menatap masa depannya. apakah ada seorang bapak yang tega membiarkan anaknya hidup di kolong jembatan seperti ini dan apakah pemerintah sudah menjalankan apa yang seharusnya mereka kerjakan. Dan semoga saja.

Padahal sudah 8 tahun kita sudah menikah.” halaman 45 dari 83 halaman . PAKK!!! Tamparan keras mampir di pipimu. aku mau belanja dulu ke pasar. Kau menunduk diam membisu. “Malah diam saja lagi! Cepat buatkan aku kopi!” bentakku. tolong jaga rumah ya. Kau merasa bersalah karena sampai saat ini kau belum mempunyai anak. Hampir setiap hari tanganku ini menamparmu. “Mas. Kau bosan dan aku pun bosan. tapi kau terima saja.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KAU DAN KEKERASANKU Oleh: Khaula Fathina “Kamu jahat banget sama aku!” kalimat ini kan yang ingin kau katakan untukku?! Tapi selama ini kau hanya diam saja aku perlakukan seperti itu. Begini tiap hari suasana pagi. aku bangun dan membentak. Tak berkata apa-apa dan tidak melakukan apa-apa. kau bebenah rumah. Dan kau tahu sikap kasarku selama ini karena alasan itu. Tiap hari aku berlaku kasar padamu. Dan kau pun tetap diam membisu sambil berlalu ke dapur. “Apa yang kau kerjakan dari tadi! Suami bangun bukannya dikasih kopi atau apa! Ini malah sibuk beres-beres rumah! Istri macam apa kau!” satu tamparan lagi kena di wajahmu.

Seakan-akan takut diikuti seseorang. Barisan-barisan kalimat yang kau tulis di kertas itu menunjukkan alasan mengapa kau pergi meninggalkan rumah dan suamimu begitu saja. Tanpa berkata apa-apa kau meninggalkan rumah dengan terburu-buru. Kau menuju lemari dan memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas. maaf aku pergi meninggalkanmu. membuat siapapun yang melewati meja itu dapat membacanya. Mas. Maaf. Lalu meninggalkannya di atas meja samping ranjang. Seperti tidak mau terlihat olehku.” ujarmu. halaman 46 dari 83 halaman . Dan aku merasa tertekan mas atas hal itu. Tapi kali ini aku menyerah mas. Kau menulis beberapa baris kalimat di kertas itu. Aku sudah tak sanggup lagi untuk menahan segala perlakuanmu kepadaku. aku pulang ke rumah orang tuaku. “Maaf. Kau mencicipi sedikit sayur asem itu. Aku akan buatkan yang baru. Aku bukan istri yang baik. Mas. Lalu memasukkan juga beberapa barang keperluan lainnya ke dalam tas. Aku selama ini selalu sabar menerima puukulan dan tamparan juga bentakanmu padaku. Saat-saat sendiri di rumah adalah saat yang membuat kau tenang. Terbuka rapih di atas meja. Aku hanya mengangguk dan kau pun pergi ke pasar. Kertas itu. Kau diam menerima omonganku. Aku titip rumah. Di pasar. kertas yang kau tinggalkan. Pulang ke rumah pun seperti mengendap-endap. kau hanya membeli sayur dan lauk pauk yang akan dimakan hari ini. Tidak ada tamparan di pipimu. Jaga dirimu baik-baik. Kau mulai beres-beres rumah kembali setelah aku pergi meninggalkan rumah. Mas. Kau memasak sayur asem kesukaanku dan ayam goreng. Tidak ada amarahku. “Cih! Masakan apa ini? Sayur asem manis begini!” ludahku sewaktu mencicipi sayur buatanmu. kau pun bergegas pulang ke rumah. Tidak ada pukulan keras dariku. dan langsung menuju ke dapur.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Kau pamit. Kau mengambil secarik kertas dari laci lemari dan sebuah pulpen. Setelah selesai semua. kau masuk ke dalam kamar. “Tidak usah! Aku makan di luar saja! Kau jadi istri kok gak becus ngurus suami!” bentakku kepadamu. Aku tahu. Hatimu was-was takut kena bentak lagi olehku. Setelah rumah rapih. PRANG!! Kau tersentak kaget waktu aku membanting mangkuk sayur asem itu. aku tidak bisa memberikan keturunan kepadamu. Rupanya hari ini kau terlihat ingin berdamai denganku.

cinta Flora dan Fajar. Sejak kami mengucapkan sumpah sehidup-semati saat pernikahan kami. Telah belasan tahun batinnya tersiksa dan perasaan tenang pun tak dapat ia raih. Itu semua karena cinta kami berdua. Wajahnya tetap gelap tanpa ada cahaya yang menerangi. Gadis itu masih termenung di antara batuan cadas hitam yang menemani setiap jeritan lamunannya. Tak sedikit pun senyum keluarga halaman 47 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen CINTA TERLARANG Oleh: RA Koeshamimurti Tosani Natya Lakshita Flora. Ia terduduk dengan wajah yang masih menatap kelamnya cahaya langit. dan Tuhan pun tak kunjung memberinya pertolongan. Angin hanya lalu-lalang dengan wajah iba. Flora hanya bisa menjerit di batinnya. Aliran sungai terasa begitu deras di setiap detakan jantungnya. Begitu berat ia menggenggam rantai kebencian pada hidup bersamaku yang dijalaninya. Namun tampaknya itu semua hanya bunga khayalan saja. Wajar bila Flora tak dapat menyebarkan senyum anggunnya. tak sedikit pun cinta kasih kami direstui oleh orangtua. walau pada wajah mulusnya begitu ringan rasanya ia menebarkan bunga cinta kasih pada orang-orang. Ditatapnya langit kelam yang tak memberi kasih tanpa cahaya lekat-lekat seakan meminta pada Tuhan agar diberi sedikit saja kesempatan untuk bisa mengecap nikmatnya dunia tanpa siksaan batin yang mahadahsyat dan mencekam.

aku sudah lelah dengan semua ancaman orang tua kita yang terus memisahkan kita. Keesokan harinya tercium kabar bahwa orang tua Flora akan menyuruh para preman jalanan untuk membunuhku agar kami tak bisa lagi bersama. Saat pertama aku berhasil melumpuhkan dua orang pemuda. Aku hanya bisa menahan kesakitan. Di sana aku berbahagia bersama Flora selamanya. cinta kita tetap abadi. Flora pun mengambil sebuah pisau tajam yang telah diasah olehku..” Aku hanya dapat bergumam pasrah dan kemudian air mataku jatuh tak tertahan lagi. menjalani kehidupan abadi yang penuh dengan bunga cinta dan kasih. Namun. Flora pun menebaskan pisau itu ke lehernya dan bercucurlah darah. cinta kami akan selalu dipisahkan dengan cara apa pun.” Setelah mengucapkan sumpah setianya pada cinta kami berdua. “Cinta kita akan terus abadi. Mataku pun terpejam dan bayanganku pun menggenggam erat tangan Flora.. Aku tak ingin berpisah selamanya denganmu. tetapi kau harus yakin. halaman 48 dari 83 halaman . Maka aku akan membunuh diriku sendiri sebelum kau dibunuh. aku percaya aku akan menyusulnya nanti di alam sana.” Dengan berpasrah segalanya pada Tuhan. Mendengar kabar itu Flora menghampiriku dan berkata dengan tangis yang terisak-isak. Dan bila kami tetap melanjutkan mahligai pernikahan kami. di sela jerit kesakitanku. aku sudah siap dengan sebilah badikku. Dia tersenyum menyambutku dan ingin menjemputku ke surga. Flora ada di sana. siap pergi bersama ke dalam surga cinta yang sejati. ia menggenggam tanganku erat. Aku tak ingin kau dibunuh. Sebuah pedang tajam menembus jantungku semakin dalam. pertanda bahwa Flora sudah siap menjalani niatnya untuk mengakhiri hidup di dunia menuju kehidupan abadi. Aku pun menjerit histeris melihat Flora telah mati di sampingku. Aku merasa dunia bukan tempat cinta yang bahagia. Namun tiba-tiba. aku melihat pintu gerbang cahaya kematian datang di depanku. tetapi di surga sana. Aku ingin kau terus ada disampingku. namun kekuatan pemuda terahir telah melumpuhkan nyawaku. Aku tak ingin kau mati sendiri tanpa kehadiranku.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen mengharumkan pernikahan kami. “Kau boleh pergi dahulu ke surga sebelum diriku. Aku sudah lelah dengan ancaman-ancaman yang terus menyiksa batinku. Sebelum ia bunuh diri. Saat tiga preman jalanan datang menyiapkan pedang maut mereka. “Fajar. agar di surga nanti aku dapat menyambut dirimu dan berbahagia selamanya di sana.

Dan setiap kali tiba hari-hari bersejarah. Di sebelah kanan peti diletakkan Al-quran yang berukuran lebih besar daripada biasanya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen BENDERAKU Oleh: Krisna Karim Z “Nih Pak. dicucinya bendera itu sendiri. bendera itu selalu siap dikibarkan di halaman rumah. Dengan hati-hati ditaruhnya bendera itu di atas sebuah peti kecil dari kulit yang usianya sebaya dengan usia almari. Tidak pernah berubah sejak bapak pensiun dari pekerjaanya. dan benda kesayangan bapak lainnya. Begitulah tatanan rak paling atas dalam almari Bapak. Peti itu berisi lencana-lencana. yang ditaksir sekira hampir seabad. Bapak adalah mantan pejuang angkatan ’45 dan telah pensiun dari kepala satpam di pabrik gula. kemudian disimpan di tempat yang spesial. Sejak dulu memang Bapak sangat mencintai bendera merah putih dan tampak menjadi-jadi setelah tidak mempunyai kegiatan lagi. piagam penghargaan. Diperlakukannya bendera merah-putih dengan khusus. benderamu!” Ibuku menyodorkan bendera yang baru digosok kepada Bapak. halaman 49 dari 83 halaman . Terdengar ada nada mengolok pada suara ibu ketika menyebut ‘benderamu’. Bapak menuju almari jati kuno yang berada di kamar Bapak sambil mendekap bendera di dadanya. Bau harum pelembut kain menyebar keseluruh ruangan.

Sejak pagi hujan gerimis terus turun. Ibu selalu mengomel kalau hanya halaman rumah kami yang dipasang bendera. kalau Pak Dhe-nya tentara yang takut sama bedhil. Setelah itu. Akhirnya kami biarkan Bapak berbuat sesuka hatinya meskipun kadang-kadang terasa aneh bagi kami. Malu. Pagi hari Bapak memanggul tiang bendera untuk dipasang di halaman. “Samsuri itu tentara. aktivitas Bapak kian repot lagi. Bapakku pun selalu menyempatkan melaksanakan sholat dilanjutkan dengan sujud syukur. Lantas diambilnya lagi tiang bendera itu dan dibawa ketempat teduh. Hal itu terulang beberapa kali. Dulu katanya pernah berjuang bersama Bapak. tahunya cuma makanan saja. Rupanya Bapak tida rela jika benderanya basah. Di bawah rintik-rintik hujan. Mula-mula kami khawati Bapak menderita gangguan jiwa. kemudian ia cabut tiang bendera yang terbuat dari bambu dan dipanggulnya menuju tempat yang teduh. dan bapak juga mengerti kalau kakakku tengah menyindirnya. kemudian dari teras rumah dipandanginya bendera yang basah terkena hujan. Pernah suatu hari ia marah kepada Bapak karena malu sama pacarnya. Setelah makan siang. Namun. halaman 50 dari 83 halaman . Bu. Juga setiap tanggal 17 Agustus. Dan sore hari menjelang maghrib dipanggulnya kembali ke dalam rumah. calon suami Mbak Nurul tertawa. Bilang sama Toro. dengan suara keras kakakku bercerita. Kami semua tahu kepada siapa cerita itu ditunjukkan. Ada-ada saja. “Ibu kenal Pak Samsur. Oleh karena itu. kok tidak pasang bendera?” Padahal ia tahu betul itu bukan hari bersejarah. Mas Toro. orangnya sederhana ya. Pekerjaan itu dilakukan selama 4 hari berturut-turut sejak tanggal 14 sampai tanggal 18 Agustus. Tak lama setelah hujan reda. Dan hal itu yang membuat kakakku malu. Saat memperingati hari kemerdekaan RI. mulut komat-kamit sambil matanya terpejam entah doa apa yang dipanjatkan barulah kemudian bendera dipasang ke tiang. Bapak memasang bendera. Dengan kalem Bapak menyahut. begitu alasan Ibu. Tentu saja melihat ulah Bapak seperti itu. ”Pak. Bapak memasang kembali bendera itu. Tidak pernah menunjukan kalau dirinya mantan pejuang. Kakak perempuanku yang bawel suka sekali menggoda dan mengolok-olok Bapak dengan pertanyaan.” Dia terus bicara seperti bunyi penyiar radio yang tanpa meminta pendapat pendengarnya. beberapa jam kemudian hujan turun lagi. Ritual ini dilakukan dua tahun berturut-turut semenjak Bapak pensiun.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Sikap berlebihan Bapakku terhadap bendera itu menurut kami sering menimbulkan masalah kecil dalam keluarga. Jadi. Akibatnya selama satu jam lebih ia harus menerima ceramah dari Bapak perihal bendera itu. Namun. Wong tugasnya di bagian logistik. pacarmu itu. Ceritanya hari itu tanggal 10 November.” Adik lelakiku pernah juga terkena marah sama Bapak gara-gara ketika menurunkan bendera merah putih secara tidak sengaja ia gunakan kain bendera itu untuk mengelap keringat di lehernya. Pak Dhe Mas Toro? Dia juga pejuang ’45. bendera didekap di dadanya. tapi tidak ikut perang. Ternyata tidak ada gejala yang mengarah kesitu.

Saya khawatir kalau kalu Mas mulai mengeramatkan bendera. Coba. Semua diam. Setelah basa-basi sejenak. Saya mengerti. kalau dibiarkan terus Mas abu terseret dalam perbuatan syirik. Dibunuh sama musuh. Ibu berkata. wong ndableg gitu. saya takut. bagaimana kalau kamu yang mengingatkan. ”Lho. Makanya kamu ndak bisa merasakan bagaimana rasanya merdeka dari penjajah!” Dengan penuh semangat bapak menceritakan kisah perjuanggannya di masa lampau. namun siapa yang berani mengingatkan Masmu. Untuk merebut bendera itu tidak mudah. adik Ipar Ibu. Pak Lik bosan mendengarnya. Saya lihat Mas mulai berlebihan dalam memperlakukan berdera. seperti memperlakukan benda keramat saja.. Dengan nada prihatin. Itu Yu. kamu tambah ngawur. siapa tahu Masmu mau mendengarkan!” Suara Ibu terdengar bersungguh-sungguh. penyakit yang timbul setelah pensiun. yang sok tahu mengatakan. “Ya. suara bapak mengagetkan kami. Seperti biasa Bapak enggan menanggapi taktala ada orang yang membicarakan perihal kecintaanya pada bendera. “Ya. Sikap Bapak yang diam membuat Pak Lik kebingungan. Lihat saja bagaimana ia memperlakukan bendera. Mungkin suamimu terkena penyakit post power syndrom. lho. Pak Lik Kashim sengaja ikut duduk-duduk dengan Bapak di ruang makan sambil mendengarkan musik keroncong dari RRI Jakarta. Siang hari setelah makan siang. Dengar Sim. ”Maaf.” Ragu-ragu paklik melanjutkan kalimatnya karena Bapak menampakkan rasa tidak suka. segera menuju pembicaraan. namun jangan sampai keblinger. banyak temanku yang mati! Mati Sim. Tiba-tiba. Mas. Mas Abu lama-lama kelihatan makin aneh ya. hanya suara radio dan televisi yang berlomba. Kok. ”Kenapa? Kamu takut aku mulai gila. Ibu yang berada di ruang tengah sesekali menimpalinya. Sudah sering ponakanmu mengingatkan namun tak pernah dihiraukan. ya. Kamu kira pikiranku sudah gila.” halaman 51 dari 83 halaman . Hati-hati lho. Sementara itu Ibu mulai terpengaruh dengan perkataan Pak Lik. Aku jadi geli mendengarnya—apa hubungannya post power syndrom dengan perbuatan syirik. Itukan yang ada di kepalamu?” suara Bapak menunjukan kemarahan. adik perempuanku. “Yu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Hati Ibu mulai terusik ketika suatu hari Pak Lik Khasim. “Kamu ngawur Sim.” mantap sekali Pak Lik mengucapkan kalimat terakhirnya. Kita boleh saja cinta kepada negara dan bendera. sama sekali tidak tertarik ikut nimbrung karena sudah bosan dengan persoalan yang dibicarakan. yang sedang asik menonton telenovela. bukan itu yang saya maksud. dia pun akhirnya menghentikan pembicaraan.. begitu? Kamu memang tidak pernah ikut berjuang merebut negara dan penjajahan.” Dengan menggebu-gebu Pak Lik menerangkan akibat dosa besar itu. karena itu dia memotong cerita Bapak. Kasihan kalau tidak diingatkan.sedangkan aku dan Yana.

Ibu yang biasanya cerewet dan adikku yang tidak pernah memperdulikan bapak dengan bendera. Hal tersebut berlangsung bertahun-tahun.. Hening. Kini kami mengerti alasan bapak memperlakukan bendera dengan istimewa. membunuh pemberontak berarti membela negara. Semua tiada bersuara. ”Lalu kenapa setiap tanggal 17 Agustus. APRA.. kemudian dengan suara parau melanjutkan perkataanya. Kalau sekarang aku memperlakukan bendera dengan istimewa. Pak Lik Khasim menyela. Ternyata di mata Bapak dalam bentangan kain itu terdapat gambar hidup yang menimbulkan pergolakan batin antara perasaan syukur dan penyesalan yang sangat dalam. “Teman-temanku harus mati karena mengibarkan bendera merah putih. ”Mas Abu tidak bersalah. tidak ada lagi perlakuaan dan tempat spesial terhadap sang Dwi Warna. itu salah besar. namun kelihatannya Pak Lik malas menanggapi. Bapak melanjutkan ceritanya lagi. Setelah Bapak meninggal. Untuk bendera aku juga harus membunuh sesama manusia. membela negara diwajibkan oleh Tuhan. Selanjutnya.. Terlihat air mata bening di mata mereka. padahal mereka adalah saudara-saudara yang seakidah denganku.. Tanganku ini harus membunuh pemberontajk DII/TII. kemudian berdoa sambil mendekap bendera?” tanyanya.” Bapak diam sejenak. Lama-lama Ketua RT bosan memberi tahu keluarga kami yang nyaris lupa kepada bendera dan tidak pernah mengibarkannya lagi. Terharu mendengar cerita bapak... kali ini hanyut dalam perasaan Bapak. yang membuat aku sadar terhadap sesuatu yang aku lupakkan selama ini. Mas Abu selalu bersujud.” Suara Bapak bergetar menahan tangis dan tampak mata tuanya berkacakaca. bukan berarti menggangap benda itu keramat dan menyembahnya. aku selalu bersyukur kepada Allah karena masih diberi kesempatan untuk mengibarkannya sepuas hati tanpa ada rasa takut dibunuh musuh!” Kali ini Bapak terdengar bersungguh-sungguh mempertahankan pendapatnya tanpa disertai rasa jengkel. seperti pemberontak RMS. “Setiap melihat bendera merah putih. Mereka harus kubunuh hanya karena ingin mengganti merah putih dengan bendera mereka. “Bahkan oleh tanganku. Membunuh saudara-saudaraku yang sebangsa yang pernah berjuang bersama-sama melawan penjajah. Untuk menutupinya ia memberikan nasehat.” ujar bapak.. kami tidak pernah meributkan lagi soal bendera. begini isinya: halaman 52 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Bapak diam sejenak menunggu Pak Lik berbicara. Tulisan yang membangunkan kesadaranku adalah bagian terakhir dari e-mail itu... ”Demi Tuhan. hingga suatu ketika aku membaca e-mail dari kakakku yang kini tinggal di Den Haag. Kami sering lupa mengibarkan bendera pada saat harihari bersejarah dan baru ingat ketika diberi tahu oleh Ketua RT.” Aku kini benci sekali mendengar ucapan Pak Lik. Pak Lik Khasim menjadi salah tingkah.

Mbak menangis untuk bendera dan baru kali ini aku merasakan memiliki bendera. Dan lebih sedih lagi ketika mereka menurunkan bendera merah putih dan menggantikannya dengan bendera mereka. Benar kata Bapak kalau bendera adalah martabat dan harga diri suatu bangsa. Baru kali ini. Sedih rasanya menyaksikan teman-teman dari Tim-Tim yang berpesta pora merayakan kemerdekaan mereka dari penjajahan Indonesia (begitu menurut mereka). karena aku sudah akan memasangnya sendiri.” halaman 53 dari 83 halaman . Menyesal rasanya dulu aku sering mentertawakan cinta Bapak terhadap benderanya. sedangkan bendera merah putih mereka campakkan begitu saja. Kepalaku mengangguk. Aku benar-benar menangis ketika menyaksikan peristiwa itu. Mengiyakan isi e-mail kakakku. dalam hati aku berkata. Makanya mulai hari ini jangan abaikan lagi benderamu agar tiada orang lain yang menggantikannya dengan bendera lain. ”Baiklah insya Allah mulai bulan Agustus tahun depan.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Semoga Indonesia segera damai dan mendapat pemimpin yang baik serta jujur agar tidak ada lagi wilayah yang memisahkan diri dari RI. Ketua RT tidak perlu menyuruhku memasang bendera.

makanya sore begini baru pulang. ia bergegas ke tempat parkir sepeda. Pak ?” “Dari kantor pos.. Saat melewati tukang tambal ban. Usai keperluan di kantor pos. Dengan langkah gontai beliau melangkah pulang menyusuri jalan menuju rumah. Eyang Neli pergi ke kantor pos di kota tempat tinggal.. Makjrengat. Beliau mulai panik. Namun. ”Loh. si tukang tambal—sudah sangat dikenal Eyang Neli. Petugas parkir pun kelabakan karena merasa bertanggung jawab atas raibnya sepeda tua milik Eyang Neli. ”Dari mana saja.! Seketika tukang tambal ban tersentak kaget. Aku pertama kali mengenalnya ketika pernikahan sepupuku beberapa tahun lalu. bertanya. Pernah suatu pagi. anda harus mengenal Eyang Neli. Bapak ini halaman 54 dari 83 halaman .. Di mobil itulah beliau bercerita tentang sifat pelupanya yang luar biasa. Saat itu beliau semobil denganku dalam perjalanan menuju tempat resepsi. Akhirnya.. kerabatku dari pihak Ibu. Beliau setuju. Hari sudah sore ketika Eyang Neli keluar dari kantor polisi. petugas itu menyarankan Eyang Neli untuk melaporkan kehilangan sepedanya ke kantor polisi terdekat.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen EYANG NELI Oleh: Lestari Sari Pambudi Bicara soal sifat pelupa. ternyata sepeda saya hilang lalu saya lapor ke polisi. Eyang Neli tidak dapat menemukan sepedanya.” jawab Eyang Neli memelas.

Ternyata yang ditakutkan terjadi. “Tin. ke mal. sedikit bingung. Eyang Neli sangat suka menyetir mobil memang. kan tadi sama Bapak. dan menyadari istrinya tak ada di sisinya. Bisa-bisa saya di tangkap polisi karena ngembat sepeda. Beliau dan istri selamat sampai tujuan.” Seketika Eyang Neli ingat janjinya untuk ketemu di food center! Ia pun bergegas kembali ke mal. Mereka nyasar. Ternyata perjalanan memang lancar. Mereka berjanji bertemu di pusat jajanan untuk kemudian pulang bersama. sedangkan sang istri menghilang ke kios baju. Seperti kebiasaannya. beliau pun bergegas pulang dan tidur! Sore hari saat bangun tidur. Tapi karena sudah ada beberapa sepeda yang di reparasi maka daripada ia menunggu ban sepedanya di tambal. “Cepet deh di ambil sepedanya. Ia bersikeras menyetir sendiri.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen gimana sih? Kan. Yakin dengan kekutan fisiknya. Namun justru karena sifatnya itu ia sempat membuat sengsara istrinya. fisik Eyang Neli masih sehat dan kuat..” kata si tukang tambal seraya menutup kiosnya. keduanya sepakat berpisah untuk bisa mencari keperluan masing-masing. Pak. Beliau juga sangat percaya diri. Tapi karena khawatir istrinya panik. Di pusat elektronika. Setelah membayar. di rumah kerabatnya itu Eyang Neli bercerita ngalor-ngidul hingga tak terasa hari sudah sore. beliau mencari ke segenap penjuru rumah. tadi pagi sepedanya di tambal di sini. ia dan istrinya berjalan ke pusat perbelanjaan. dan sang istri tetap tak di temukan. Ia mencoba setiap jalan mana pun yang tampak layak dilalui di kota yang tak terlalu dipahaminya itu. dan menemukan sang istri duduk terkantukhalaman 55 dari 83 halaman . Eyang Neli tidak begitu lama. Eyang Neli mengajak istrinya keluar kota. “Lho. Baru kemudian ia ingat saat berangkat ke kantor pos tadi pagi.. Karena itu ia menuntun sepedanya ke tukang tambal ban tak jauh dari rumahnya. Lain waktu. Baru setelah beberapa jam kemudian saat bensin mulai habis. Sang istri pun cemberut sepanjang jalan. Tiba di sana dengan alasan menghemat waktu. Ia menolak menggunakan sopir atau naik kendaraan umum. karena ia melihat sepedanya bertengger di ruang kerja si tukang tambal ban. Eyang Neli tak mengakuinya. tidak hilang toh?” komentar Eyang Neli. Sebab bisa segera mendapatkan barang yang diperlukan. Ibu kemana?” tanyanya pada pembantunya. “Oh. istrinya buru-buru mengajak pulang saat hari belum benar-benar gelap. Takut nyasar dalam perjalanan pulang. Saya gak pulangpulang karena nungguin bapak!” Ganti Eyang Neli yang tersentak kaget lebih kaget lagi. Lah ini. Ceritanya. Dan menitipkan sepedanya pada tukang tambal ban itu. Eyang Neli memutuskan naik angkot ke kantor pos. Eyang Neli menuju pusat elektronika. Eyang Neli berbelok ke kantor polisi untuk menanyakan jalan yang benar. ban sepedanya kempes. Walaupun sudah tua dan pelupa.

Seraya menghampiri sang istri. halaman 56 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kantuk di salah satu sudut pusat pusat jajanan. Eyang Neli cuma senyum-senyum saja membayangkan bagaimana raut wajah istrinya bila tahu ia lupa akan janjinya tersebut.

Setelah menikah perlakuan Yanto terhadap Ajeng mulanya biasa saja. Yanto sambil memegangi kepalanya berkata pada Ajeng. jangan minta diantarkan sama aku. Yanto pun mengantarkannya ke rumah sakit. Yanto kaget karena biayanya sangat mahal dan tidak terpikirkan sebelumnya. Setibanya sampai di rumah. Yanto. mereka berdua menuju tempat administrasi untuk menyelesaikan pembayaran. Pada saat membayar. Ajeng dan Yanto langsung memeriksakan kandungan Ajeng.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen BEJAT Oleh: Fauzana Fidyarizky Ajeng adalah istri yang menjadi menjadi korban kekerasan suaminya. Setelah selesai. Maklum. Ajeng meminta diantarkan ke rumah sakit untuk mengecek kandunganya. Yanto pada saat ini adalah seorang pengangguran. adalah anak seorang kepala desa yang saat ini memimpin di kampung yang ditinggali Ajeng pada saat ini. “Lain kali kalu mau ke rumah sakit. Setibanya di rumah sakit. Yanto hanya mengenyam bangku pendidikan hanya sampai tingkat sekolah menengah.” halaman 57 dari 83 halaman . aku tidak punya uang untuk membayarnya. suaminya. tidak terlalu baik maupun terlalu jahat. Suatu saat. Mereka menikah karena hamil di luar penikahan yang membuat keduanya tidak mempunyai pilihan lain kecuali menikah.

Ajeng pun pingsan dan saat terbangun mata bengkak dan telanjang karena Yanto baru memperkosanya. Tetapi kekuatan Yanto lebih besar dari pada Ajeng. Tiap dua hari sekali kejadian itu terulang. Keesokan harinya. Caci maki. gimana kita bisa tahu keadaan anak kita. Yanto pernah lakukan. kalau kita tidak memeriksanya. menolong Ajeng dan langsung membawa Ajeng ke rumah sakit. Tanpa disangka Yanto mengambil sebuah kayu dan langsung memukuli Ajeng. dan terulang lagi. “Mas. Dan Ajeng pun cuma bisa teriak dan minta tolong. Ajeng kesakitan sekaligus kaget Yanto bisa berbuat seperti itu. Yanto kabur pada saat warga menolong Ajeng. Pada suatu saat Ajeng dipukuli habis-habisan oleh Yanto. dia malah menampar Ajeng untuk kedua kalinya. bahkan tendangan ke arah perut Ajeng pun.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Ajeng pun menjawab.” Yanto mulai berbicara dengan nada kerasnya. halaman 58 dari 83 halaman . Ajeng meminta maaf kepada Yanto karena Ajeng merasa bersalah tidak menghormati suaminya atas perkataaanya. yang kosong karena keluarga Ajeng pulang ada acara di balai desa. dan tiba-tiba Yanto menghampiri Ajeng dan langsung menamparnya. Setelah keluar dari rumah sakit. Para tetangga yang sudah geram mengetahui prilaku Yanto terhadap Ajeng. dan secara refleks Ajeng membalas perbuatan Yanto. Ajeng tahu bahwa suaminya akan menemukannya cepat atau lambat. Tapi apa yang dilakukan Yanto. Kondisi ini berbutut kepada Yanto yang harus mendekap dipenjara selama satu tahun. Lagi pula kan itu sudah menjadi tanggung jawab Mas untuk menanggung semua kehidupan kita. tamparan. Ajeng pun menangis dan merasa sakit pada saat itu. Benar saja ia bertemu di rumah ayah dari Ajeng.

Ayah kami. Dalam permasalahan halaman 59 dari 83 halaman . Ayah tidak dapat menyanggupi membayar hutangnya kepada Ayahnya Tono. Tak banyak orang dapat mempertahankan hubungan cintanya jarak jauh. Tetapi Rafli dan Nia. sang kekasih. Sebelum Rafli berangkat merantau. setelah pulang dari perantauanya. Rafli adalah seorang anak yatim piatu yang menggantungkan hidupnya dengan kerja kerasnya sendiri. Dan Nia juga berjanji akan selalu berdoa untuk keberhasilan Rafli. Dalam permasalahan tersebut.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen AKHIR DARI CINTA SEJATI Oleh: Lia Andika Pratiwi Pada suatu desa yang dinamakan Pulau Telo. yang kebetulan ayah dari seorang pria tampan yang bernama Tono. sebelum Rafli merantau. Kepala Desa Mantaren. Berbagai rintangan selalu mereka lalui dengan kesabaran hati mereka. Pada suatu ketika. Aku Santi. Dua tahun berlalu. Pak Bowo. hiduplah sepasang kekasih yang saling mencintai yang bernama Rafli dan Nia. Ayah kami adalah seorang Kepala Desa yang terpandang. Dan mereka berjanji akan hidup dan mati bersama di bawah pohon cemara pinggir laut. Rafli berpesan akan selalu ingat dan berjanji akan menikahi Nia. sedangkan Nia adalah anak bungsu. Rafli sedang merantau jauh ke negeri seberang. Dalam perjalanan cinta mereka tak pernah mulus. terkait hutang yang cukup besar kepada Pak Sugih. dapat mempertahankan hubungan mereka dengan sangat baik. kakak Nia.

Rafli pun melompat dari atas pohon tersebut. Satu tahun dari pernikahan Nia dan Tono. Lalu Nia berkata. Ayah berkata.” Lalu ayah berkata. dengan serta merta ayah Tono mengajukan persyaratan tersebut. Rafli menghilang bagaikan di telan bumi. Rafli beserta teman merantaunya kembali ke desa Pulau Telo.” Lalu Nia berlari ke bawah pohon cemara di pinggir laut. “Nia. Ayah. aku pun merasakan kesedihan yang dialami oleh adikku. langsung pergi meninggalkan Nia. Lalu Nia berlari dan memeluk erat tubuh Rafli. bagaikan Spiderman. Aku di sini merindukanmu. akan tetapi aku tidak dapat berbuat banyak. “Kamu mau bantu ayah kan?” Lalu Nia menjawab. muka Nia memerah dan tidak mau menikah dengan Tono. mestinya Ayah juga yang mesti bertanggung jawab. “Tapi kamu sudah punya calon suami Nia…. ya Allah. “Tuhan cobaan apa yang kau berikan pada hambamu ini. “TIDAK AYAH! Nia memang sayang dengan Ayah. “Nia. iyalah Nia bisa dan mau bantu Ayah.” Lalu Ayah berkata. “Ya.” Lalu ayahnya berkata. Datanglah sebelum Tono melamarku…!!!!” Sebagai kakak. di mana tempatnya terakhir bertemu kekasihnya Rafli. tapi cinta Nia tidak bisa dipaksakan. Lalu Rafli menemui Nia yang sedang menjemur pakaian di belakang rumah. “Iya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen tersebut. dan berjanji akan hidup dan mati bersama. Ayah yang berbuat. Pak Sugih. Beberapa hari kemudian. ayah kami. Nia sangat menyesali dirinya. pulanglah…. Setelah Nia mengetahui semuanya itu. kamu mau kan menikah dengan Tono. apa yang ayah lakukan? Dia kekasih Nia yang selama ini membuat Nia bahagia. untuk menikahkan anaknya dengan putranya. bahwa Rafli pernah berkata. Dia mengakhiri hidupnya di pohon cemara pinggir laut. Lalu Nia berkata. “Ayah. teryata kau…. semuanya akan dianggap lunas. Lalu Nia terkejut mendengar suara yang dulu sering dia dengar. ya Allah. Setelah itu. halaman 60 dari 83 halaman . ayah dari Tono. keputusan Ayah telah bulat. berkata kepada Pak Bowo. Maka ketika ayah terlilit utang dengan keluarga mereka. “APA??! Nia. Dan ternyata Nia pun sudah tiada. Begitu berat ujian yang kau berikan ini. disetujui oleh Ayah. Dari permintaan Ayah Tono tersebut. dan langsung mendorong Rafli. Tidak lama kemudian. dengan ayah?” Nia menjawab. Ayah Nia melihat.” Dan Rafli pun. Rafli. dan menikah dengan Tono. kamu sayang kan.” Lalu Rafli menjawab. anak Pak Sugih untuk membantu melunasi hutang-hutang ayah?” Dengan kesal lalu Nia menjawab dengan ketus. Lalu Rafli memangil Nia dari atas pohon. apalagi demi melunasi hutang Ayah. maka semua utang yang ada pada ayah kami. adikku. Apalagi karena Tono sejak dulu memang memendam perasaan cinta untuk Nia. Dan Nia pun terpaksa menuruti perkataan ayah. Dia lupa. anak seorang saudagar yang kaya raya. tanpa sepengetahuan Nia.

Ternyata begitu besar cinta yang terjalin antara Rafli dan Nia. Dan berakhirlah sudah cerita ini. Nia pun mengakhiri hidupnya di pohon cemara itu juga. halaman 61 dari 83 halaman . akan hidup dan mati bersama.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen bahwa tempat pohon cemara itu adalah tempat di mana mereka berjanji. Dan akhirnya.

pikirku.” kataku sambil berlalu masuk ke dalam rumah.. Sudah sana. Mbak. Hari ini ada yang lain lagi dari Mbak Murti.” “Ntar aja aahh mandinya. Mbak Murti hanya cengengesan menanggapiku. Mbak Murti jadi terlihat seram dengan wajah yang bengkak-bangkak begitu. Pasti baju-baju Ibu Tanti dan Pak Adri.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen MURTI Oleh: Loise Viranti Lasnida Mbak Murti keluar dari rumah besar itu. Selalu begitu. Mbak Murti selalu menjawab.. ntar kamu telat masuk sekolahnya. Sudah ya.” godaku pada Mbak Murti. Lah aku masih libur kok.. setiap ditanya. Kamu wis mandi? Sudah pagi.. “Biasaa.mbak.” Aku tidak pernah mengerti maksudnya. gih.. karena yang ia jemur adalah pakaian yang bagus dan besarbesar ukurannya. Mbak? Kok yang sininya jadi biru?” tanyaku sambil memegang rahang bawahku. “Ngjemur nih ye. Aku diam melihatnya dari luar pagar. membawa ember penuh berisi pakaian yang aku yakin pasti bukan pakaiannya. “Itu mukanya kenapa. “Biasa. rahang bawahnya kebiru-biruan dan bengkak dan bibir bawahnya yang sobek juga tambah bengkak. Waktu itu aku pernah ikut duduk-duduk di warung Bu Warsih saat ibu-ibu halaman 62 dari 83 halaman .

Mbak Murti suka bermain denganku dan ngobrol-ngobrol. yang bisa bersekolah karena SD saat ini dibiayai pemerintah. sebentar lagi lebaran. tapi aku sangat malas dan pernah tidak naik kelas. Ya begitulah pekerjaan ayah. “Tapi nanti kalo kita laporkan Bu Tanti. Lalu aku pergi dari warung Bu Warsih. iklan-iklan makanan yang ditawarkan untuk berbuka. bergosip. Bu Tanti itu sudah keterlaluan. Tapi toh apa bedanya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen sedang belanja memilih-milih sayuran. Wong rumah kita aja masih nyewa sama dia. Berbeda denganku. tapi tidak bisa karena tidak ada biaya. Katanya karena sebenarnya ia ingin sekali melanjutkan sekolahnya. Aku pergi ke rumah Resih. Kemarin malam si Murti saya lihat sedang tidur di luar. Aku tetap asik memakan agar-agar yang kubeli sambil bengong melihat ayam-ayam di depan warung Bu Warsih. “Emang deh. Dulu waktu ia baru-baru datang. Lalu aku memikirkan Mbak Murti. Mereka belanja dengan ribut sekali. kuli bangunan yang suka menganggur jika tidak ada yang membutuhkan tenaganya. kita mau tinggal dimana? Hahaha. Jadi apa “biasa” yang dimaksud Mbak Murti itu maksudnya adalah dipukul oleh Ibu Tanti? Kok disiksa seperti itu dianggap biasa? Aku kasihan sama Mbak Murti. Mbak Murti sangat peduli dengan pendidikan dan sekolahku. Kira-kira ia akan mudik ke rumah ayahibunya tidak. di sini juga halaman 63 dari 83 halaman . Awalnya aku tidak memperhatikan apa yang mereka ributkan. Aku selalu dinasehati Mbak Murti setiap kali malas belajar. Aku ingat ini bulan Ramadhan. yang aku kenal betul wajahnya karena ia pernah ke rumahku. Sampai aku mendengar salah satu ibu yang rumahnya tak jauh dari rumah sewaan keluargaku. Aku tidak tahu kampungnya di mana. Terus.” timpal ibu lain yang rumahnya di sebrang rumahku. Tidak ada ekspresi prihatin dari wajahnya. kecuali kalau sedang menyapu teras atau menjemur pakaian seperti tadi. ya? Mbak Murti pernah bilang padaku bahwa ia sangat rindu kampungnya. Aku menoleh ke wajah ibu yang sedang menjadi pusat perhatian karena bersemangat bercerita itu dan mendengarkan. Sepertinya Murti disuruh tidur di luar sampai pagi. Toh setiap ibu-ibu berkumpul akan seperti itu. padahal Mbak Murti baik. Dari pagi sampai Maghrib Mbak Murti sudah jarang sekali keluar rumah. seharusnya kita laporkan saja Bu Tanti sama polisi. Kasian banget deh si Murti. Begitu juga ibu-ibu yang lain. memanggil ayah untuk meminta ayah membetulkan genting rumahnya.” cerita ibu itu dengan wajah yang semangat. temanku yang mempunyai televisi di rumahnya dan menonton bersama orang-orang yang sedang ikut menumpang. pas paginya saya tanya sama si Murti. Tapi sekarang aku jarang bertemu Mbak Murti.. menyebut nama Mbak Murti dan Bu Tanti. jengah dengan obrolan ibu-ibu tersebut. Biar kapok dia!” sahut ibu yang lainnya. “Tuh kan. dia malah nangis. Ia suka bertanya-tanya tentang sekolahku dan sering mengajariku matematika. yang mondar-mandir sambil mematuk-matuk beras yang tersebar di tanah. Acara di televisi sedang diganti dengan iklan.

Apalagi sejak Pak Adung. sama seperti keluargaku. rumah Bu Tanti adalah rumah yang paling besar. Pantas saja di luar seperti masih gelap. Karena itulah Mbak Murti datang. lima bulan nunggak sekarang malah ngilang. Tapi Mbak Murti hanya diam dan menunduk ikut melihat kakinya. “Eh Mbak Murti. aku penasaran ada apa dengan kakinya yang membuat jalannya terseret. Karena waktu itu aku pernah melihat Ibu Tanti berdiri di depan kamar Pak Adung sembil bersungut-sungut.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kampung. Sudah dua bulan batang hidung Pak Adung tak terlihat. kerabat dari paman Mbak Murti yang membawanya ke sini tidak kembali ke kamarnya. Mbak Murti mengerutkan dahinya. “Dasar si Adung kurang ajar. aku pun keluar. seorang kuli panggul di stasiun yang juga menyewa kamar milik Ibu Tanti. ngapain di situ. Jakarta adanya di balik gedung-gedung bertingkat dan jalan tol yang macet. Tapi aku terlanjur bangun. bagiku tetap saja aku tinggal di kampung. Awalnya Mbak Murti terlihat senang-senang saja bekerja dengan Ibu Tanti. Panas sekali di dalam kamar ini. Mbak? Sama kayak tuh muka? Kok betah sih. Tapi sudah tiga bulan ini sepertinya semua berubah. Mbak?” panggilku dengan setengah suara. Mbak Murti terlihat kaget dan berjalan menghampiri aku di seberang pagar dengan tertatih-tatih. Setahuku semua rumah dan kamar ini adalah milik Ibu Tanti yang setiap bulan menagih pembayaran sewaan pada kami. Aku lihat jam dinding yang diletakan di atas tumpukan baju ayah menunjukkan pukul setengah lima pagi. ia membutuhkan pembantu untuk membantunya mengurus rumah. Mungkin karena rumahnya yang besar itu. Awas saja dia!” *** Pagi ini aku bangun kepagian. Rumahnya tingkat dan pagarnya berukir tinggi. Dulu Mbak Murti datang dari kampungnya karena dibawa oleh Pak Adung. halaman 64 dari 83 halaman . “Dipukul ya. Berbeda dengan tempat tinggal kami. Ndah?” “Kakinya kenapa itu. Dari depan tempat tinggalku. Meskipun Jakarta adalah kota yang megah dan besar. mungkin ia sudah pindah atau malah sudah pulang kampung. Hampir semua tempat tinggal di sini milik Ibu Tanti. Dan sepertinya Pak Adung pergi dengan meninggalkan hutang sewa kamarnya. “Loh kamu kok sudah bangun. Mbak?” tanyaku sambil melihat ke arah kaki Mbak Murti. Mbak?” tanyaku langsung. Aku berjalan ke depan rumah megah itu dan memegangi pagar. Ada rumahrumah kecil dan juga kamar-kamar petakan seperti tempatku dan keluarga tinggal. Setiap sore ia biasa keluar dan bermain denganku. bisa terlihat besarnya rumah Ibu Tanti dan kulihat ada Mbak Murni duduk di teras rumah itu. bukan di dalam gang seperti ini.

” kataku dengan kesal dan geram. Aku ndak boleh salah. Setidaknya ia tidak dipikuli dan disiksa lagi oleh Bu Tanti. Aku berharap. aku ndak boleh makan. “Aku dipukuli. Ndah. “Ntar makin jadi-jadi kalau aku lawan. tidak ada kabar lagi tentangnya. Kupikir hanya orang di negeri seberang sana saja yang suka menyiksa pembantu. melaporkan keberadaan Mbak Murti apabila melihatnya. Terkadang rindu juga aku dengan Mbak Murti. Tapi di manapun dia sekarang. Dulu kupikir kekerasan seperti itu hanya ada di televisi dan berita-berita saja. Bahkan orang sekitarku sendiri. kok kamu tau. Ndah. Ibu Tanti sesumbar. Waktu ibu-ibu lagi belanja di warung Bu Warsih. Ibu Tanti keras banget. Ternyata di sinipun ada. Ia memaksa kami. *** halaman 65 dari 83 halaman . warga sekampung. “Aku denger gosipnya. pikirku. Nanti kalau ibu bangun terus lihat kita. aku lega. “Lawan toh Mbak. aku ditampar.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Loh.” Mbak Murti menangis. Tapi jadi aku yang diomelin. Kamu jangan bilang apa-apa ya ke orang-orang sini. Mungkin Bu Tanti takut Mbak Murti melaporkannya ke polisi.” Aku mengangguk dan berbalik pulang ketika kulihat Mbak Murti juga berjalan masuk ke dalam rumah. Aku sendiri tidak tega melihatnya. *** Beberapa minggu setelah aku mengobrol dengan Mbak Murti. Ndah? Kamu lihat?” wajah Mbak Murti panik sambil memegangi rahangnya yang masih bengkak dan biru. Kalau nyuci ndak bersih. Ndah. Kalau nyapu ngepel ndak beres. semoga saja Bu Tanti sadar dan kapok menyiksa pembantu seperti Mbak Murti. Ntar aku diomelin sama Ibu. aku bisa diomelin. Jangan mau digituin. Kayanya ia kabur dari rumah. Ndah. Sedangkan Bu Tanti masih tetap panik dan berusaha mencari Mbak Murti. Aku kan ndak tau apa-apa. Mendengar ceritanya langsung seperti ini aku jadi ikut sedih. Tapi sudah seminggu sejak kepergian Mbak Murti. Ini muka jadi biru karena dijedotin ke meja. Udah dulu ya. ia bilang Mbak Murti pergi dengan mencuri perhiasanperhiasannya dan ia bilang selama ini Mbak Murti tidak pernah beres kerjanya. Mbak diapain toh Mbak? kok bisa jadi begini?” Mbak Murti hanya diam lama sekali sampai akhirnya buka suara dengan wajah sendu dan berkaca-kaca. Sudah sana kamu pulang. Ibu Tanti kewalahan mencari-cari Mbak Murti. Gara-gara Bu Tanti kesel sama Mang Adung. Mbak.

lagi pula bel masuk sudah berbunyi. Sepertinya dia murid baru di sekolahku. siapa namamu?" Waaa suaranya halus sekali. Kamu murid baru. Dia tersenyum kepadaku cantik sekali." Keesokan harinya. Sesampainya aku di sekolah. aku langsung menuju ruang kelas ku. Ternyata dia baik. seperti biasa aku menuju sekolah di antarkan oleh kakakku. Tidak disangka. syuuuttt. Murid baru itu menolongku. lain kali hati-hati ya. sepertinya terburu-buru sekali. Tiba-tiba mataku tertuju kepada seorang perempuan cantik yang asing bagi ku. sepertinya tidak perlu. Dia terlihat angkuh. "Hihi. Aku ingin menyapa. bikin iri jadinya. ya? Siapa namanya?" "Ya benar. "Hai. Aku terpeleset di lantai yang basah. Aku malu. Oca?" halaman 66 dari 83 halaman ... Tiba-tiba…. tapi ah.. "Saya Oca. Waktunya pulang sekolah.. Saya Nanda. Nda. Ckckck....BEJAT: sebuah kumpulan cerpen SI CANTIK YANG MALANG Oleh: Fazra Fatima Azzahra Di suatu pagi yang cerah... Kelasnya di mana sih?" "Kelas 12 Sos D.. Ooo. semua itu merubah pikiranku sebelumnya.. Aku segera berlari ingin pulang karena film kesukaanku siang ini akan diputar di televisi.

Bel pulang lima menit lagi berbunyi. hiks.. Tetangga aku juga semua bersikap dan berfikir seperti itu. Oya. Mukanya kaya orang pengen ngajak ribut. Kan kita juga belum kenal sebenernya dia gimana.. sebaiknya halaman 67 dari 83 halaman ..." Kring kring….di sekolah juga. dan sekarang aku tinggal bersama laki-laki paling kejam. Pertama kali liat kamu. Sipp.. “Nanda. Abis sebel tahu liat anak baru." "Tapi kamu yang ikut mobil aku. hehe. "Nanda kenapa?" "A.” “Kenapa ya. "Ia kenapa ya gosip itu enak. aku ini merasa sangat tersiksa di rumah ini. mereka justru yang memandang aku sinis. aku ngerasa kamu itu ramah. Aku pulang bareng kamu yah?" Haa. Ca?" sahut Dania.? Nanda udah nungguin aku di depan kelas? Rajin banget. Ca?" “Emang siapa yang sebel sama kamu?? Emang mereka ngapain kamu. Ca. kamu kenapa sih tadi???” “Hikksss…. Bel pulang berbunyi.." Bel masuk pun berbunyi. emang sih dia jutek mukanya.. doyan banget gosip sih.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen "Oo… kalo gitu kita depan-depanan dong. iya.” Sesampainya di rumah Nanda. tapi gue juga ngga berani nilai orang sembarangan.. "Eh eh.. Setiap aku dari luar negeri dan memberi oleh-oleh untuk mereka.. gayanya belagu. Menurut lo gimana. Aku segera bergegas pulang. "Eh. rumahnya gede??” “karena aku di sini tinggal bersama orang yang tidak aku kenal. di rumah aku ceritanya.. diperlakukan seperti boneka. Senangnyaa. Tuh di seberang kelas 12 IPA A. Nda???” “Nanti aja ya. Setiap hari.. Aku di sini disiksa. a. yah.. Ca. "Hmm. Wkwkwk.. mereka menganggap aku ini hanya ingin mendapat pujian. ngga seperti orang-orang yang lainnya. Ca. dan yang terpenting—dan sangat pribadi sebenarnya.. belagu. Sok ngartis. Ca... Tapi kenapa kamu kok terbuka banget cerita masalah ini sama orang baru kayak aku??” “Karena cuma kamu yang mau berteman sama aku. Kita memasuki kelas masing-masing." "Oke lah. Oke oke." aku menghampiri teman-temanku. aku. "Hai. Mereka nganggep aku sombong.” “Terus kenapa kamu ngerasa hidup kaya di neraka di rumah ini? Padahal kan di sini enak. Padahal setiap kali aku coba ramah atau senyum sama mereka... Aku ngga ngerti kenapa semua orang benci sama aku. mereka berfikir seperti itu??” “Mereka berfikir aku ini sok pamer. Temen-temen di kelas semua mencibir aku. aku merasa seperti di neraka.." Ketika di mobil tiba-tiba Nanda menitikan air mata.” “Memang orang tua kamu kemana. Banyak gaya. Ca. Nda??” “Kamu tahu tidak?? Aku dijual oleh mereka..” “Aku jadi sedih.

” Sebelum polisi itu datang… sepertinya semua sudah terlambat untuk menolong Nanda... karena kalau aku ketahuan membawa kamu ke sini…” “NANDAAAAA… NANDAAAAA!!!!! DI MANA KAMU????!!!” BRAKKKKK….. Saya minta maaf. JANGAN PERNAH MEMBAWA SIAPA PUN KE DALAM RUMAH INI!!! SUDAH BERAPA KALI KAMU BERBUAT KESALAHAN. Ocaaaaa…. Sungguh kejam.. “Ocaaaaaa….” Aku tidak dapat berbuat apa-apa selain berdoa meminta perlindungan dariNYA. Nanda telah tewas karena ulah lelaki itu. Sungguh aku tidak kuat mendengarnya.. Caaaaa.” “ISTRI MACAM APA KAMU INI!!!!” Aku shock dalam hati…. karena… aku melihat percikan darah yang sangat banyak memuncrat di gorden kamarnya yang berwarna putih. Tolong aku. “Maaf… maaf. dan segera aku menelepon polisi.” “APA-APAAN INI???!!!! SIAPA DIA??!!! SUDAH KUBILANG. huhuuuuu.. HAH??!!” “Aa… aku. Aku mendengar teriakan dan isak tangis Nanda. halaman 68 dari 83 halaman . min… minta maaf. Kemudian aku diseret paksa oleh lelaki paruh baya itu ke luar. Astaghfirullah… istri???? Tega-teganya orang tua yang menjual anaknya sebagai istri orang lain. “DIAM KAMU!!!!! RASAKAN!!!!” “AAAAAAAAAAAAA…….BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kamu cepat pulang.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen JANGAN MAIN HAKIM SENDIRI Oleh: Lourin Hertyastiwi Pamanku adalah seorang petani yang sangat giat bekerja. nyaman. Ia tidak pernah mengeluh sekalipun tentang pekerjaannya yang hanya seorang petani. Ingin rasanya di kala besar nanti aku menjadi seperti pamanku yang selalu bersyukur dengan keadaannya.” keluh Pamanku ketika ia tahu kalau padi-padinya yang siap panen dicuri oleh pencuri-pencuri jahat halaman 69 dari 83 halaman . Mereka juga tidak pernah mengeluh dengan kehidupan mereka. Aku pun yang hanya keponakannya yang menumpang di rumahnya. Tetapi ternyata kabahagiaan Pamanku diusik oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. Pamanku seakan-akan mempunyai hidup yang sangat nyaman dan nikmat. Seperti tidak ada masalah sama sekali dalam keluarga ini. dan tentram. “Aduh bagaimana ini? Padiku dicuri orang. Dan keluarganya pun adalah keluarga yang sangat baik. dikarenakan orang tuaku yang pergi merantau entah kemana. Mereka adalah para pencuri padi yang sering berkeliaran di malam hari dan mencuri padi-padi para petani. merasa sangat senang dan nyaman tinggal di keluarga ini. Tanpa perlu mengeluh dan mengatakan hal macam-macam yang tidak bisa dicapainya. Mau makan apa keluargaku kalau begini? Mana bisa aku dapat uang selain dari bertani ini. Hidup terasa aman.

ampun. biar nanti mereka yang mengadili..” kata Pamanku dengan sangat bijak. Pak.” Terdengar suara seperti itu dari alun-alun desa ketika aku melewatinya. Saya kan hanya berusaha mencari makan. Dasar orang-orang yang tidak bertanggung jawab kalau ketemu. Kenapa ia melakukan hal sebegini jahat pada kita sih. Dan ternyata orang itu adalah seorang laki-laki dari desa sebelah. Sebenarnya menurutku Paman sudah banyak bersyukur. Kok Paman biarkan pencuri itu begitu saja? Maksudku kok Paman tidak ikut memukuli pencuri itu? Memangnya Paman tidak merasa dendam kepada si pencuri itu?” tanya ku kepada paman. dia sudah mencuri padi-padi kita dan bapak juga salah satu korbannya. Paman capek. Sudahlah. Maka berbondong-bondong lah mereka ke Kepala Desa..” kataku dengan mengebu-gebu.” kata salah satu dari orang-orang yang memukuli pencuri itu. Paman ingin merenung dulu. kan. Aku memang suka melihat paman bekerja di sawah dan sesekali membantunya sebisaku. “Hei..” kata salah satu orang dari mereka. Saya minta maaf. Dan sekarang dia sedang diadili di alun-alun desa. agar nanti Kepala Desa untuk melapor. Tetapi kalau padinya saja hilang. Kau masih tega memukulinya?! Dia itu sendiri dan kalian beramai-ramai memukuli dan menghakiminya. “Paman.” jawab Pamanku dengan sedikit kesal tetapi tetap saja terdengar bijaksana bagiku. “Ya.. Aku memang penasaran kenapa paman bisa halaman 70 dari 83 halaman . awas mereka. “Sungguh jahat pencuri itu. Kebetulan aku sedang berada di sawah menemani Paman yang ingin segera memanen padinya. sudah cukup. Ayo kita bawa dia ke pihak yang berwajib. aduh. Hanya Tuhan yang tahu jawabannya kenapa. Lihat mukanya sudah babak belur begitu. tapi janganlah kita main hakim sendiri. tetapi kenapa Tuhan memberikan ganjaran seperti ini kepada Paman. Tadi malam pasukan Siskamling memergoki si pencuri itu sedang mencuri padi di sawah. Apa itu adil?!” tiba-tiba Pamanku datang dan langsung menghentikan warga yang berusaha menghakimi si pencuri itu dengan pukulan-pukulan yang tentu saja tidak ringan tetapi pukulan yang keras. ampun. Janagn kau pukuli lagi orang ini.. Tolong jangan bawa saya ke kantor polisi. Nak. Kasihan juga pencuri itu. Keesokan harinya. apa yang bisa aku bantu untuk Paman? Aku hanya bisa mengumpat saja dalam hati agar si pencuri itu ditemukan dan diberikan ganjaran yang setimpal.. “Benar juga sih yang Bapak bilang. Akupun mendatanginya dan ternyata yang berbicara seperti itu adalah pencuri padi-padi warga. Paman. “Tapi kan Pak. aku sangat bangga kapadanya. “Aduh. Mungkin Tuhan memberikan cobaan ini karena paman kurang bersyukur kepadanya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen itu. Setelah itu barulah si pencuri itu dibawa ke kantor polisi untuk diadili.. Pak. Seharusnya kita memberikannya kepada pihak yang berwajib atau kepada Kepala Desa. Pamanku itu memang orang yang benar-benar bijak. “Kalau mereka baik tentu saja mereka tidak akan menjadi pencuri.

Jadi Paman ceroboh juga kan sehingga pencuri itu bisa mencuri padi Paman. Sebenarnya Paman tahu kalau sudah ada pencuri yang berkeliaran. Pamanku adalah paman paling hebat di seluruh dunia.” Pamanku menjawab dengan sangat jelas dan sangat bijak.. kita tidak seharusnya melanggar hukum juga seperti memukuli si pencuri itu. “Kecerobohan Paman. kita sesama manusia tidak boleh dendam.. “Loh kecerobohan paman apa?” Tanya ku karena tidak mengerti apa yang pamanku bicarakan. halaman 71 dari 83 halaman .” pujiku kepada Paman. Yang selalu baik dan bijaksana kepada siapa saja. Aku bangga punya paman seperti Paman.” jawab Pamanku dengan wajah yang sepertinya agak malu-malu. Tidak seperti warga yang lainnya yang mencoba menghakimi sendiri si pencuri itu. “Nak. Dia tidak hanya baik kepada keluarganya ataupun orang-orang yang dikenalnya. Dan bijaksana “Wah Paman baik dan bijaksana sekali. tetapi hukum yang adil untuk semuanya. tetapi Paman bukan menjaganya tapi malah pulang dan tidur dengan nyenyaknya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen sesabar itu kepada si pencuri. “Ah kau bisa saja. Mungkin bukan hanya salah si pencuri saja makanya padi Paman hilang. negara kita ini kan negara hukum. Dan hukumnya bukan hukum rimba yang suka mengadili sendiri si penjahat.” jawab pamanaku panjang lebar. tetapi kepada penjahat pun ia masih dapat menunjukan kebaikannya. Iya selalu bijak di setiap kondisi. karena Paman tidak menjaga padi itu dengan baik. Dan kalau dendam. dan kita mempunyai hukum-hukum yang harus ditaati. Dan jika si pencuri sudah melanggar hukum. Ayo kita pulang. mungkin saja karena ada ke cerobohan Paman makanya pencuri itu bisa mencuri padi Paman. Jika sudah besar nanti aku ingin menjadi seperti Pamanku. Itu lah ciri-ciri Pamanku.

Dan jika Jan pulang tidak membawa hasil yang memuaskan. Ayahnya akan memanggil Jan hanya untuk memarahi dan memukulinya. Jan.. Jan juga sering disuruh Ayahnya untuk mengemis. ”Bapak….?” tangis Jan.. Setelah kasus Jan di proses. Jika sudah begitu. sekarang Jan tinggal di panti asuhan bersama dengan teman sebayanya dan juga ia bisa bersekolah. Ia adalah seorang bocah laki-laki yang masih berumur 9 tahun. Ia dan keluarganya memang tidak hidup berkecukupan. Tapi sayang tangan Jan agak halaman 72 dari 83 halaman . Saya ingat sekali ketika saya datang ke rumah Jan—setelah mendapat laporan dari tetangganya bahwa sang Ayah bunuh diri dan sang Ibu telah lama pergi dari rumahnya. Saya adalah seorang aktivis perlindungan dan hak asasi anak. Dalam menjalankan aktivitas saya. sang Ayah akan memarahinya dan memukulinya. Jan tinggal sama siapa.. saya sering menemukan kasus kekerasan orang tua terhadap anak-anaknya. Kehidupan ekonomi yang serba sulit mungkin membuat Ayahnya mudah marah.. Apalagi kedua orang tuanya sering sekali bertengkar.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen JAN Oleh: Marsha Jozana Nama saya Siska. kalo Bapak gak ada. Salah satunya sebut saja namanya. Jan hanya bisa berjongkok sambil menangis tersedu-sedu dan memanggil-manggil Bapaknya..

Sekarang Jan dapat bermain dan melakukan aktivitas seperti anak-anak seusianya. saat memarahinya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen tumpul. Walaupun ia masih terlihat trauma dan sedih jika mengingat kedua orang tuanya. Karena dulu. Sehingga sekarang tangannya tak bisa di gerakkan. Apalagi ia tidak mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya sebagai selayaknya seorang anak. sang Ayah suka melempar benda tumpul ke tangannya. Kisah Jan ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. halaman 73 dari 83 halaman .

Bisakah aku melawati ini semua? Mungkin ini hanya cobaan dalam masa laluku ini. Dan aku juga teringat masa masa di mana aku memukul.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KENANGAN Oleh: Muhammad Garit N Pada suatu hari ada sekumpulan anak di pekarangan.olok dan menyiksa teman-teman yang badannya lebih kecil dari pada badannya. “Bapak. Aku berjengit dan teringat saat aku mulai bertaubat. Di sekumpulan itu ada anak yg paling besar bernama Rudi. Kemudian aku terngiang masa laluku yang kelam. Nak. “Iya. Aku terhanyut dalam lamunan. Lalu aku terhenyak lagi.” “Kok sekarang pake peci dan sarung?” tanyanya. Pak? Matanya kok berair?” tanya Rudi. yang dulu jadi preman itu kan?” Aku menjawab. memalak orang-orang yang lewat di depan aku. sampai akhirnya Rudi menghampiriku. menikam. Masa di mana aku pun berlaku sedemikian rupa. Kenangan saat indah itu datang dan pergi. Lalu si Rudi berbicara. “Sampai-sampai bisa membuat Bapak halaman 74 dari 83 halaman . Sampai membuat bapak menangis. Dan Rudi paling suka memperolok. Bapak hanya teringat dengan masa lalu Bapak. Pak?” tanyanya." “Memangnya kenapa. Tiba-tiba aku teringat masa lalu.” “Pasti masa lalu bapak mengharukan. “Tidak. “Kenapa.

O iya..” Dan aku beralasan. “Karena saya belum siap dan saya juga merasa tidak bisa menghidupi dia apabila saya menikahinya. “Dan saya pernah mendengar juga bahwa dia telah melahirkan anak laki-laki gagah perwatakannya. Ya. Karena kamu menyerupai dengan belahan hati bapak.” “Terluka kenapa. Pak. “Memangnya beliau sakit?” “Dia tidak sakit fisik. Tapi dia sudah lama meninggal.” “Memangnya belahan hati Bapak tersiksa kenapa?” “Saya sudah melakukan hal yang sangat memalukan terhadap dirinya. lalu setelah dia mengandung. walaupun sakitku menerpa lagi. “Memangnya sekarang belahan hati Bapak kemana?” “Dia sudah tiada. belahan hati Bapak sekarang di mana?” kata Rudi.” Aku juga berkata lagi. Hati saya terasa teraduk aduk.. “Saya tidak tahu hal itu. sampai akhirnya dia mengandung. Nak. tapi saya yakin batinnya sangat tersiksa. Tidak cuma itu. wanita itu istri Bapak?” “Iya. memangnya kamu tinggal di sekitar sini?” halaman 75 dari 83 halaman . Dan sekarang sudah meninggal karena kecelakaan. Nak. “Waktu itu ada gadis yang mencintai saya. kah?” tutur Rudi..” “Lalu. Kata Ibu. menerima saya apa adanya. akan kuceritakan kepadanya. Pak? Emang disakitin sama Bapak?” Aku menghela napas mendengar pertanyaan anak itu. Oleh karena itu saya mengusirnya dan melarangnya menemui saya lagi. Dia mencintai saya dengan tulus. Pak. Tapi melihatmu saya jadi merasa rindu yang teramat sangat. orang tuamu di mana.” “Ooo. Bapak saya mengadu nasib keluar negeri.” dengan tetes air mata yang keluar aku pun bersedih karena teringat istriku yang telah tiada itu.. Bapak tinggal saja?” “Ya. Pak?” “Wajahmu memngingatkan aku pada seseorang yang sepertinya paling terluka oleh perlakuan saya di masa lalu. Masa lalu saya yang sangat kelam tidak baik untuk dibuka lagi. Sebegitu mudahnya ia mengajukan pertanyaan yang sudah kukubur jauh di dasar pikiranku. Tapi saya malah memanfaatkan dia. Nak.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen menangis?” “Tidak. Tapi saya tidak mau mengakuinya. ” tambah deras lagi air mata yang aku keluarakan. agar tidak ada lagi kejadian yang pernah kubuat. Bahkan saya menuduhnya berzina dan membuatnya malu di hadapan orang-orang sekampung.” “Jadi.” “Waaahhhhhh. Dan setelah melihat kamu. yang di mana gadis itu telah menjadi belahan hidup saya sendiri. Dia hanya saya jadikan mainan.” “Mana mungkin ah. Kita kan baru ketemu. Bingung kenapa.” “Memanfaatkan seperti apa? Menyakitkan. Nak. Nak?” “Saya hanya punya ibu. “Ya.. Seolah-olah telah tertanam masa lalu saya yang kelam dalam dirimu.

Kalau Ayahmu masih ada.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Iya Pak. Ibu saya namannya siapa?” “Iya. Dan di depannya. Tidak. Di sana ada Ibu saya. wajah yang dulu kusia-siakan begitu saja. Wajah yang selalu terbayang sejak 10 tahun yang lalu. pasti dia sangat bangga kepadamu. Ibu saya. Tadi Bapak tanya. Memangnya siapa?” tutur aku. halaman 76 dari 83 halaman . Wajah yang dulu memelas memohon belas kasihanku. berdiri seorang wanita yang begitu kukenal. aku terhenyak.” “Bapak mau mampir ke rumah?” “Boleh saja. Sekalian saya mau tahu ibu seperti apa yang mempunyai anak sebaik kamu. di depan pintu rumah Rudi.” “Itu Pak. Di sana. Aku diam seribu bahasa dan terdiam mengenang belahan jiwa yang dahulu aku sakit. Rumah saya di belakang lapangan ini. rumah saya. ini tidak mungkin. Setelah beberapa jarak lagi sampai di rumah Rudi.

panas yang ditimbulkan terasa sangat menyengat. Namun dia selalu menghindar dan selalu mengatakan bahwa dia baik-baik saja. Percayalah. Dengan rasa iba. cepat kau pergi dari sini! Jangan hiraukan aku. Dia tidak mudah bergaul. “Dinda. aku baik-baik saja. dengan raut wajah yang berubah cemas. Aku sangat kasihan melihatnya. kuhampiri Dinda. “Aku sedang dihukum. Kadang aku pun selalu berusaha ingin membantu segala masalah yang nampaknya sedang dihadapinya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KEKERASAN PADA ANAK Oleh: Munadhilah Ummahat Siang yang terik. “Sudahlah. halaman 77 dari 83 halaman .” jawabnya singkat dengan raut wajah yang malu. dia berkata. Dinda termasuk anak yang pendiam dan sangat tertutup di sekolah. aku pun pulang dengan segudang pertanyaan yang masih menggantung dalam benakku. mengapa hari ini tidak masuk sekolah? Dan sedang apa kau di sini?” tanyaku. Ketika aku hendak bertanya kembali. Aku sedang berjalan pulang ke rumah ketika kulihat Dinda— tetangga sekaligus teman sebangku ku—berdiri di halaman depan rumahnya sambil mengangkat satu kakinya dan menjewer kedua telinganya sendiri. Karena itulah teman-teman di sekolah sering menjahilinya.” Lalu sesuai dengan perintahnya.

.. seperti biasa. Dinda masuk sekolah. Beliau berpendapat bahwa perbuatannya itu benar. ibu Dinda pun dipanggil untuk menghadap Wali Kelas. Pernah suatu hari. Dinda disuruh Ibunya untuk mengepel seluruh lantai rumahnya. itulah penyebab seragamku robek. kalau begitu lain kali hati-hati di jalan dan jangan terlambat lagi ya…” kata Pak Guru Dinda pun mengangguk dan langsung menuju kursinya. aku tidak yakin dengan jawabannya itu. Mendengar kisahnya tersebut. “Apa benar Ibu sering memukuli Dinda?” tanya Wali Kelas.. Menit berganti menit. itu merupakan awal dari kedisiplinan. Sebenarnya Pak Guru ingin menghukumnya tetapi melihat keadaannya yang seperti itu beliau mengurungkan niatnya. keesokan harinya aku pun segera melaporkannya ke Wali Kelas. Kukeluarkan bekal makan siangku dari dalam tas. “Sebenarnya. Dinda?” Lalu Dinda menjawab dengan agak ragu. saat ingin berangkat ke sekolah. Sebaiknya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Aku jadi teringat. Tidak berhenti sampai di situ. seorang anak diberi contoh yang benar dan nasihat yang baik bila melakukan kesalahan-kesalahan. Apalagi bila kesalahan tersebut bukanlah termasuk kesalahan yang besar. halaman 78 dari 83 halaman . Tak lama kemudian..” “Oo. “Mm.” ucapnya di sela-sela ceritanya. “Kenapa baju seragammu robek. Saat bel istirahat berbunyi.. Dinda diam di kursinya. Tak terasa kami mulai akrab. Ibu Dinda pun mengakui perbuatannya tersebut dengan alasan bahwa hal itu pantas diterima oleh Dinda. Ibunya marah-marah sambil memukulinya dengan ikat pinggang hingga baju seragamnya robek. ya sudah. menunggu seluruh siswa di kelas kosong. Pak. “Mau?” tawarku pada Dinda sambil menyodorkan bekal makanan. Akhirnya. Dengan tergesa-gesa Dinda pun mematuhi perintah Ibunya. Tak sengaja ember yang berisi pembersih lantai tersenggol dan tumpah olehnya. saya jatuh saat berlari menuju sekolah tadi. Wali Kelas pun menjelaskan bahwa didikan tersebut merupakan didikan yang salah. Sejujurnya. karena Dinda adalah anak yang ceroboh dan sering melakukan kesalahan. Dia banyak bercerita tentang kehidupannya. pernah suatu hari dia datang terlambat ke sekolah dengan baju seragam yang robek di beberapa bagian. tentang Ibunya yang sering memukulinya. memulai pembicaraan. Keesokan harinya. Dengan lirikan yang malu-malu akhirnya Dinda pun menyambut tawaran ku tersebut. Lamunan ku pun buyar ketika tak terasa aku telah sampai di rumah. Beliau hanya bertanya. Kali ini aku mengurungkan niat untuk istirahat di luar kelas. Kemudian dia akan mengeluarkan bekal makan siangnya. Ibunya pun mengatakan bahwa beliau tidak akan memberikan bekal makan siang untuk Dinda dan hukumannya pun akan dilanjutkan setelah Dinda pulang sekolah.

Di akhir pertunjukan terlihat Sarimin meminta uang kepada penonton yang telah melihat aksinya tadi. Sarimin memakai topeng…. Walaupun anak-anak terlihat senang dengan aksi Sarimin. Sarimin memakai payung…!” Teriak sang Pawang monyet untuk memperjelas aksi Sarimin kepada anak-anak yang berada di sekelilingnya. Pawang Sarimin menarik-narik rantai yang panjang untuk menyuruh Sarimin melakukan aksi berikutnya. Sarimin naik kuda kayu…. Namun Sarimin terlihat berjalan terseok-seok dan terpaksa memegangi rantai mungkin lehernya kesakitan karena ditarik. topengnya. Di tempat itu bukan hanya ada Sarimin dan sang Pawang namun beberapa pemain gamelan yang mengiringi Sarimin beraksi. Sarimin terlihat tidak begitu nyaman dengan kuda kayunya. halaman 79 dari 83 halaman . Aku duduk menanti kedatangan kereta yang sudah telat lebih dari satu jam memperhatikan dari awal aksi Sarimin di peron seberang. Sesekali anak-anak yang menonton tertawa melihat tingkah Sarimin.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen BALADA SARIMIN Oleh: Nadia Khaerani “Sarimin pergi ke pasar…. Ya. Sarimin artis topeng monyet yang menjadi pusat perhatian anak-anak di setiap aksinya. payungnya. apalagi dengan rantai di lehernya yang rapuh.

Kandang itu kecil sehingga Sarimin harus menunduk untuk bisa duduk di dalamnya. Mungkin karena kelaparan. baru dikasih rantai supaya ngerti yang harus dia kerjain. “Toh hanya sewaanpawang topeng monyet hanya menyewa. monyet-monyet tersebut bukan milik mereka.” Sarimin tetap makhluk hidup yang memiliki hak untuk bertahan hidup. Nah abis itu.” Kurang puas dengan jawaban itu aku bertanya lagi.” Mendengar hal itu aku bertanya dalam hati.” Astaghfirullah! Ternyata benar. Dek. Di akhir pertunjukan saat Sarimin meminta uang kepada penonton. Pak?” “Ya. dan tidak diberi makan. Tetapi setelah mendengar pernyataan dari sang Pawang aku merasa senang dengan hal ini. aku mendekati Pawang Sarimin dan bertanya. Sang Pawang menghampiri Sarimin dan memukul kepala Sarimin. tetapi bagaimana kalau Sarimin mati kelaparan? Menurutku itu hal yang sangat kejam. jarang-jarang. Namun mungkin sang Pawang hanya berfikir. Setelah Sarimin masuk ke kandang sang pawang pindah ke peron dimana aku duduk. Pawang memulai lagi aksinya. kalau begini berarti pertunjukan topeng monyet termasuk animal abuse yang merupakan kekejaman bukan hiburan. Untuk menjawab pertanyaan itu. “Dulu ngelatihnya gimana Pak?” Dan jawaban yang kudapat cukup mengagetkan. untuk apa sebenarnya Sarimin ini? Diperlakukan kasar. Sarimin yang kelelahan terpaksa harus menuruti sang Pawang dan melakukan atraksi lagi. Pawang menarik rantai Sarimin sambil berkata. Sudah seharusnya topeng monyet dihentikan kalau tetap menggunakan kekerasan. “Awalnya sih nggak dikasih makan supaya dia nurut. Namun setelah ditarik dengan rantai. Sarimin tetap tidak mau keluar dari kandang. Sarimin mengambil korek api dari jalan dan mengunyah-ngunyahnya. halaman 80 dari 83 halaman . Sarimin hanya dieksploitasi tanpa diperhatikan hak hidupnya. Sebelum Sarimin mengambil kue itu. “Jangan dikasih makan. Soalnya kalo sering dikasih makan nanti dia kenyang dan gak mau kerja. Yah kalo tetep nggak nurut pukul aja.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Setelah penonton bubar Sarimin ditarik dengan kasar untuk masuk ke dalam kandang yang dipikul oleh sang Pawang. Nanti dia nggak mau kerja. “Tapi tetep dikasih makan kan. ada seorang anak yang memberi sepotong kue kepada Sarimin. Menurut Pawang mungkin itu cara yang benar untuk mendisiplinkan Sarimin. Aku berdoa dalam hati agar usaha topeng monyet yang seperti ini mati dan si pawang mencari pekerjaan lain sehingga Sarimin-Sarimin yang lain dapat terselamatkan. Awalnya aku cukup prihatin dengan redupnya topeng monyet sebagai salah satu hiburan tradisional.

Cukup banyak tempat yang dapat dijadikan persembunyian. Kini yang ada dipikiranku. Aku dan Wulu Ireng memperebutkan tempat yang sekarang menjadi milikku. Hal itu berawal dari perebutan wilayah kekuasaan pada tahun-tahun yang sudah lampau. Aku jarang memangsa manusia. Hingga pada waktu itu. Sudah tiga hari ini aku tidak makan—atau lebih tepatnya belum sempat makan. atau kerbau liar. Tapi itu beberapa hari yang lalu. hanya kami gigit satu bagian tubuhnya. Tempat itu adalah hutan rimba yang dekat dengan lapangan yang biasa dijadikan warga sebagai tempat mengembala hewan ternaknya. Biasanya jika ada manusia yang aku—atau bangsa kami terkam. Kupandangi seluruh semaksemak yang ada di hadapanku. Namun ia tidak pernah berhasil. dan mencoba mengalahkanku. Aku terbiasa makan binatang liar seperti kancil. bagaimana cara mengalahkan Wulu Ireng yang sudah menghabisi semua anak-anakku. rusa. Jika semua itu tidak ditemukan.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen !!! Oleh: Arie Toursino Hadi Aku berdiri di sebuah batang pohon. Nafsu makanku seakan terkubur oleh perasaan dendam yang membara dalam hatiku. sehingga kami sulit dilacak warga. Sudah berkali-kali Wulu Ireng datang padaku. lalu kami tinggal pergi. aku biasa pergi ke perkampungan untuk sekedar mencuri hewan ternak mereka. demi mendapatkan aku agar keluar dari tempat halaman 81 dari 83 halaman .

Aku harus waspada karena bisa saja tiba-tiba Wulu Ireng menerkamku dari mana saja. sinar dari bola mata yang kecil. Suara sayatan itu seolah terdengar hingga keluar gua ini. hingga terdengar seperti tangisan memohon agar aku tidak membunuh anaknya. Pemilik sinar mata itu memperlihatkan giginya. Wulu Ireng menyerang anakku dan membunuhnya. Dari sini aku bisa mencium baunya yang khas. Aku melangkah maju. Tapi nasi sudah jadi bubur. mata kucingku yang mengkilat tajam memandang setiap sudut ruangan. Aku masih belum juga menemukan sosok Wulu Ireng. Wulu Ireng kini tengah halaman 82 dari 83 halaman . Kulihat dengan tajam yang ada di hadapanku.. ruangan gua semakin gelap. Dan terus menggeram setiap aku langkahkan kakiku untuk menghampirinya. Ia pun menggeram. Aku pikir ia pun tahu konsekwensi hal tersebut.. Hukum di bangsa kami menyebutkan. sepasang sinar mata yang lebih besar muncul di atas mata yang kecil itu. Suara geraman juga aku perdengarkan agar lawan yang ada dihadapanku takut. Gigiku kuperlihatkan. Yang bisa ia lakukan hanya menggeram. Ia terluka oleh sesuatu hal yang aku tidak tahu. suara geraman itu pada awalnya terdengar seperti ancaman agar aku tidak mendekatinya. Dan kini. dan. Aku terdiam agak jauh dari pojok ruangan itu. Itu lebih terdengar seperti suara anaknya. Aku diberi tahu burung Jalak yang melihat kejadian tersebut. tanda bahwa apapun yang terjadi.. Aku sudah unggul satu angka sebelum kami berkelahi. Ternyata pencarianku tidak sia-sia. Semakin dalam aku masuk. Berjaga terhadap kemungkinan terburuk.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen persembunyianku.. Aku yakin itu anak Wulu Ireng. Aku harus waspada. Tapi ia tidak beranjak maju. aku sudah berada di wilayah kekuasaannya. Tapi di mana dia? Kembali aku perhatikan sekeliling ruangan. ternyata Wulu Ireng sedang tergeletak sekarat di sana. Aku bersiap untuk menerkam. suara itu makin keras. Belum sempat aku melompat. Hingga akhirnya aku sampai di ujung gua itu. Kembali kuperlihatkan gigiku. Aku tidak mau ambil resiko dengan berjalan ke sekeliling ruangan ini. Bagiku. Kusiapkan kuda-kuda untuk melompat. Setiap satu langkah. Makin lama. Sejenak aku terdiam. Hmm. Satu lompatan besar sebelum akhirnya aku berada di depan sebuah gua yang biasa menjadi tempat persembunyian Wulu Ireng. Yang aku tahu. aku akan tetap membunuh anaknya. Suara tangisan itu mulai mengganggu pendengaranku. Tidak ada rasa cemas bagiku jika ia menyerangku sekarang. bunuh anak harus dibayar dengan anak. Ku langkahkan kaki masuk ke dalam. terdengar suara erangan yang lebih keras. Semua “peralatan” perang sudah aku siapkan hingga akhirnya. Ku perhatikan ceceran darah yang ada di lantai. Mungkin dia sudah mempersiapkan sedikit kejutan buatku. ia tidak bergerak maju sekarang. Indra penciumku mengatakan bahwa di tempat inilah Wulu Ireng berada. Apalagi kini aku sedanng berdiri di depan pintunya. Dari sini aku melihat ceceran darah di lantai. Ooh. Aku pikir dia pun demikian. Suara lengkingan itu lebih kecil dari suara Wulu Ireng. Namun kali ini bukan suara Wulu Ireng.

Ia tidak rela anak yang kini ada di pelukkannya terbunuh oleh tanganku. halaman 83 dari 83 halaman . Makin lama suara tengisan kecil itu menghilang. berganti dengan suara tangis bahagia bercampur sedih dari Wulu Ireng.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen menggigit dan mencabiki anaknya sendiri. Berteriak bangga karena aku gagal melaksanakan dendamku.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful