BEJAT

:
sebuah kumpulan cerpen

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

PENGANTAR “BEJAT: sebuah kumpulan cerpen” adalah salah satu tugas yang dibebankan pada mahasiswa Matakuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi (MPKT) FIB-UI kelas 4, semester ganjil 2009/2010. Tugas ini diberikan sebagai penambah nilai pada pokok bahasan pertama yang bertema “kekerasan.” Dengan demikian, dapat kita pastikan bahwa tema-tema yang termuat dalam cerita-cerita yang terkumpul di dalamnya adalah cerita tentang kekerasan. Kekerasan di sini mempunyai beragam bentuk. Di antaranya kekerasan suami kepada istrinya, orang tua kepada anaknya, senior kepada junior, hingga manusia kepada hewan. Kekerasan tidak melulu dalam bentuk fisik. Seseorang yang mengalami penderitaan secara psikis juga dapat disebut sedang mengalami kekerasan mental. Kembali ke topik kumpulan cerpen ini. Dengan membaca kumpulan cerpen secara tidak langsung kita mengenal karakter seseorang dari tulisannya. Tiap orang memiliki pengalaman dan pemahaman yang berbeda memandang sesuatu hal. Dari perbedaan tersebutlah karakter seseorang dapat kita ketahui. Ada yang menulis cerita berdasar pada pengalaman hidupnya, ada yang menulis berdasar pada perasaan pada saat ia sedang menulis, dan ada yang menulis berdasar pada ide atau angan-angan yang ia harapkan. Semua menjadi satu, dan menarik untuk Anda pelajari satu per satu. Selamat menikmati.

Penyusun Arie Toursino Hadi

halaman 2 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

DAFTAR CERPEN Cerpen Bertema Kekerasan...................................................................................................................M Reza Fatahilla

The Apartement..........................................................................................................................Ervilia Lupita Andriyanti
Kekerasan Dalam Kehidupan........................................................................................Glory Meirisa Pakpahan Diaz dan Anwar.............................................................................................................................................Indah Permata Sari Yumi...................................................................................................................................................................Indra Puspita Kusuma Kau Bukan Ayahku.......................................................................................................................................Intan Puji Lestari Keluarga dan Sekolah.........................................................................................................................Irvanuddin Rahman Liburan Lebaran.............................................................................................................................................Jodia Pravita Dini Cinta, Kinanti!.........................................................................................................................................................Juwita Anindya (untitled)............................................................................................................................................................Dwi Cahyaningtyas Cerpen Tentang Kekerasan..............................................................................................................................Kartika Putri Tindak Kekerasan Pemerintah Terhadap Anak-anak Jalanan.......................Khamim Hudori Kau dan Kekerasanku.....................................................................................................................................Khaula Fathina Cinta Terlarang.............................................................................RA Koeshamimurti Tosani Natya Laksitha Benderaku.....................................................................................................................................................................Krisna Karim Z Eyang Neli......................................................................................................................................................Lestari Sari Pambudi Bejat.......................................................................................................................................................................Fauzana Fidya Rizky Akhir dari Cinta Sejati................................................................................................................................................Lia Pratiwi Murti................................................................................................................................................................Louise Viranti Lasnida Si Cantik yang Malang...................................................................................................................Fazra Fatima Azzahra Jangan Main Hakim Sendiri............................................................................................................Lourin Hertyastiwi Jan............................................................................................................................................................................................Marsha Jozana Kenangan..........................................................................................................................................................Muhammad Garit N Kekerasan Terhadap Anak...................................................................................................Munadhilah Ummahat Balada Sarimin.......................................................................................................................................................Nadia Khaerani ! ! ! ....................................................................................................................................................................................Arie Toursino Hadi

halaman 3 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

CERPEN BERTEMA KEKERASAN
Oleh: M Reza Fatahilla

Dahulu

saat kepemerintahan Hitler di Jerman, hiduplah seorang saudagar Yahudi yang sangat kaya bersama tiga anak lelakinya. Aku adalah anak orang kaya berkewarganegaraan Inggris yang bekerja sebagai fotografer untuk sebuah perusahaan media jurnal di Inggris Raya dan menetap di Jerman semasa kepemerintahan Hitler. Pada suatu hari sedang dilaksanakan patroli militer Jerman terhadap orangorang Yahudi, yang menyebabkan kekacauan dan kerusuhan. Rumah-rumah banyak yang terbakar akibat patroli tersebut, pasar-pasar pun berantakan akibat tindakan semena-mena dari tentara Jerman. Saudagar Yahudi yang sangat kaya bersama tiga anak lelakinya mendadak menjadi jatuh miskin, selain itu mereka juga disiksa dan dikucilkan karena mereka keluarga Yahudi. Siang itu aku sedang berjalan di pasar yang telah porak poranda akibat patroli Yahudi tadi siang untuk melihat-melihat dan tidak sengaja aku melihat saudagar Yahudi yang sangat kaya dengan tiga anak laki-lakinya sedang bermain sulap, lalu aku tertarik untuk mendekatinya. “Hai kalian, tunjukan sulap terhebat yang pernah kalian punya kepadaku,”
halaman 4 dari 83 halaman

Pak! Sudahi penderitaan saya. “Baiklah tuanku. Dan aku hanya bisa melihat dan memfoto segala kejadian yang terjadi saat itu untuk bahan dokumentasi jurnal. halaman 5 dari 83 halaman .” jawab mereka berempat. “Ini silahkan tuan. “Saya mohon ampun. Saya punya harga diri!” sayup-sayup suara isak tangisan salah seorang Yahudi itu. Namun tetap saja polisi militer Jerman tidak mendengarkan rintihan mereka. Mereka tetap dipukuli dan disiksa sampai babak belur di pinggir jalan tersebut. Aku pun heran. Aku sangat terhibur lantas memberi mereka uang logam 5 pence dan tidak lupa menyuruh mereka bergaya menghadap kamera serta memfoto mereka sebagai bahan dokumentasi jurnal.” pintaku kepada penjual toko.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kataku. Mereka diperlakukan bagai binatang. “Ya. “Kami ingin bebas! Kami tidak ingin disiksa seperti ini terus! Kebebasaaaaaaaan!” teriak mereka bertiga. Lalu aku berjalan melewati monumen itu dan mencari sebuah toko yang menjual air mineral. “Pak. ”DAAWR! CKCK DAWR! CKCK DAWR!” Suara tembakan polisi militer Jerman kepada tiga orang Yahudi itu. Monumen itu adalah monumen Hitler yang sangat megah dengan penjagaan oleh tiga orang polisi militer jerman di sekelilingnya. Setelah itu aku pergi meninggalkan mereka. “Saya mau beli satu botol air mineral pak. dipukuli. mengapa mereka bertindak tidak manusiawi seperti itu. Membuat bunga dari kertas. Dengan cepatnya polisi militer Jerman mendorong ketiga wanita Yahudi tersebut sampai mereka tergeletak jatuh di aspal jalanan dan beberapa saat kemudian terdengar bunyi tembakan senjata sebanyak tiga kali. Lalu aku berjalan menuju toko yang menjual sebuah air mineral. Aku terus melihat dan memfoto kejadian tersebut sebagai bahan dokumentasi. Dan aku sesaat baru menyadari bahwa mereka yang disiksa adalah warga Jerman yang beragama Yahudi. terlihat lima orang polisi militer Jerman bersama tiga wanita orang warga Jerman sedang berjalan di tepi jalan. Lalu aku berjalan ke depan sejauh 50 km dari pasar tersebut dan aku sampai di kota Berlin. Mereka ditendang. Kami punya harga diri! Kami ingin bebas!” sahut suara temannya itu. harganya 10 pence” jawab penjual toko. Aku disajikan pemandangan sebuah monumen besar di tengah taman kota yang hijau rumputnya dan ramai akan banyak orang. tiga wanita tersebut disiksa habis-habisan. apakah kejadian seperti barusan di jalanan sudah sering terjadi?” tanyaku. Mereka bermain dengan lincah dan sangat hebat. Dan tiba-tiba ketiga wanita Yahudi tersebut menyerang kelima polisi militer Jerman tersebut dengan mendorong-dorong. benar. Saat itu. karena leher sudah terasa sangat kering dan haus. Namun. membuat api dari plastik dan lain-lain. Sekejap nyawa ketiga wanita Yahudi itu pun lenyap. dan diludahi oleh polisi militer Jerman itu. Saya adalah Yahudi.

aku membeli tiket dan naik kereta sampai kota Munich dan sore telah menjelang. “Selamat sore. Tuan. Mereka tercengang mendengar hasilnya. aku menceritakan hasil laporan jurnal yang aku dapat di Jerman. Aku bingung dan baru menyadari ternyata dia adalah teman kantor dari perusahaan media jurnal. namun itu sudah menjadi peraturan semenjak Hitler berkuasa. Aku pun kini naik jabatan dan terus memberikan kontribusi yang bagus bagi perusahaan media jurnal tersebut. Tamat. “Haaai! Kamu apa kabar?” tanya wanita itu kepadaku. Tuan. Dengan ini saya promosikan anda untuk naik jabatan dan naik gaji. jurnal anda terpilih menjadi topik utama televisi terkenal kota Manchester.ngantuk dan tiba-tiba seorang pramugari yang cantik membangunkan aku. “Selamat siang. namun mereka sangat puas. “Oh. Dan ceritaku berakhir sampai di sini.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Ya. Aku langsung mengambil tas bawaan dan menuju lobby bandara Manchester dan terdengar suara yang sudah familiar di telinga.” pernyataan ketua direksi perusahaan media jurnal. Setelah tiga puluh menit tidak terasa perjalanan aku mencoba bangun dari tidur. kita telah sampai di Manchester. Selamat. Terima kasih. Sesampai di sana. kira-kira 55 km dari toko itu. periksa kembali barang bawaan anda. Lalu aku diantar ke perusahaan dan di sana aku bertemu teman-teman kantorku dan mereka bergembira menyambut kedatanganku karena sudah lama sekali mereka tidak bertemu denganku. Mungkin sedikit lelah perjalan dari Jerman” jawab diriku. “Yeeeeeeeeeesss! I’m freee! Yuhhuu! “ aku berteriak akan keberhasilan. aku baik saja.” kata pramugari cantik tersebut. Seminggu kemudian. Pemandangan matahari yang sangat indah saat terbenam di kota Munich. Inggris. halaman 6 dari 83 halaman . jurnal tersebut masuk dalam berita utama televisi terkenal di kota Manchester tersebut. dengan mata yang masih mengantuk. Selama perjalanan di pesawat terbang aku hanya terdiam dan menulis sebuah catatan perjalanan selama di Jerman pada sebuah buku kecil yang muat di saku jas hitam yang sore itu aku pakai di pesawat terbang dan tidak lama kemudian aku tertidur lelap. Setelah itu aku memfoto bapak penjual tersebut dan pergi menuju stasiun kereta api yang bernama Zoo yang terletak tidak begitu jauh. Lalu. sebenarnya saya juga sudah gerah melihat kelakuan polisi-polisi militer itu.” jawab penjual toko. karena jurnal yang aku buat sangat detil dan berdasarkan kejadian faktual. Setelah itu aku langsung menuju bandara dan melakukan penerbangan menuju Manchester.

Sebuah senyum terlukis di bibir Rei ketika aku menekan bel apartemen Aya dengan siku kananku seakan tidak sabar menunggu Aya membuka pintu apartemennya. Rei. Sebenarnya itu adalah kabar yang sedikit mengejutkan. Namun. Ryo. ketika Aya menghubungi kami dan mengundang kami untuk makan malam bersama di apartemen barunya. Detik selanjutnya pun kami saling halaman 7 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen THE APARTMENT Oleh: Ervilia Lupita Adriyanti Saat ini sudah pukul lima lewat dua puluh satu menit ketika kami. Oleh karena itu. tiba di depan pintu apartemen milik Aya. aku dan seorang temanku. agak heran mengapa mereka tidak langsung saja memutuskan untuk segera menikah. pintu itu tidak terbuka. kedatangan kami ke apartemen mereka kali ini. juga ingin melihat sosok seorang Ryo yang selama ini kami hanya kenal melalui cerita-cerita dari Aya saja. kami berdua segera mengiyakan lalu dengan semangat pergi ke pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa bahan makanan yang dimasak bersama nanti. Mengetahui hubungan keduanya yang sudah cukup lama. Di depan pintu apartemen Aya. aku teringat beberapa bulan yang lalu Aya mengabarkan kepada kami kalau ia akhirnya memutuskan untuk tinggal di apartemen kekasihnya. salah satu teman dekat kami ketika masih duduk di bangku SMA. Oleh karena itu.

” Rei menunjuk bel apartemen Aya dengan dagunya. tidak lama lagi. kan?” Aya sedikit bergeser ke sebelah kanan dan mempersilahkan kami masuk ke dalam apartemennya. “Ya.” Aya melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah dapur sambil mempersilahkanku untuk duduk di sofa ruang tengahnya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen berpandangan dan mulai bertanya-tanya mengapa Aya belum membuka pintu apartemennya. aku mengangguk. Biar wanita saja yang memasak di dapur. Kali ini dengan jari telunjukku. Aya pun mengucapkan terima kasih sambil menutup kembali pintu apartemennya dan menguncinya lagi. Biar aku dan Rei yang menyiapkan semuanya di dapur. aku hanya mengangguk-angguk pelan sambil mulai melihat ke sekeliling ruangan tersebut. Kini aku menurunkan kantung belanja yang aku jinjing di tangan kananku lantas menekan sekali lagi bel tersebut. ketika ia lihat aku membawa dua buah kantung belanjaan. Aya... Ia tersenyum lebar ketika melihat kami berada di depan apartemennya. Perlahan. “Mmm. Kalian belum lama. kami berdua mulai memasang telinga baik-baik. ia seakan menahan langkahku yang berusaha memasuki dapur apartemennya. dia mengambil salah satu kantung itu dariku dan mulai melihat ke dalamnya. kan?” sambil mengenakan sandal berwarna putih polos yang diletakkan tidak jauh dari pintu. Kini ia sudah berada di ruang tengah apartemen dan melihat ke sekeliling ruangan. Bersamaan dengan itu ia menunjuk sofa ruang tengahnya dan memberi isyarat dengan matanya agar aku duduk saja di sana. “Kalian sudah membeli tepung okonomiyaki-nya juga.” sambil melambaikan tangannya cepat. pintu apartemen itu terbuka dan kami melihat teman kami. menunggu adakah suara derap langkah kaki dari dalam sana.. ” “Kalian tidak memajang satu pun foto di sini. “Tom. tadi Aku ketiduran. Lalu. “Hah? Benar tidak apa-apa aku tidak membantu?” “Tidak. Kami juga membeli lebih kalau kamu ingin memasaknya lagi. “Coba tekan belnya sekali lagi.” aku dengan cepat mengganti topik ketika sadar tidak ada satu pun figura foto yang tergantung di dinding ataupun dipajang di atas meja. karena kami berencana membuat nasi kare. Suara itu kemudian disambung dengan suara kunci pintu yang dibuka. Pertanyaan itu disusul dengan suara pisau yang mulai bekerja memotongmotong bahan makanan. Tidak ada jalan lain. Mungkin itu wortel. Agak mengherankan memang ketika sebuah rumah tidak halaman 8 dari 83 halaman . Rasa penasaran kami tiba-tiba terbayar ketika kami sama-sama mendengar suara langkah kaki dari dalam apartemen. “Maaf. “Jam berapa Ryo pulang dari kantornya?” dari arah dapur aku mendengar Rei bertanya. di belakang pintu itu. Setelahnya. duduk saja dulu.” Rei menambahkan.

Benar juga. Tunggu sebentar. “Yaa. “Aku. Aku tersenyum sambil menundukkan badanku sedikit. “Mungkin.. yaa. Ryo. Aku langsung mengalihkan pandanganku ke arah pintu apartemen. ia pun melepaskan celemek yang ia pakai dan menyampirkannya di kursi meja makan. Sepertinya dia belum menyadari kehadiran kami.” Aya dengan segera keluar dari dalam dapur kemudian disusul oleh Rei. Hanya sesekali ia memandang Rei. “Teman SMA?” Ryo mulai melangkah mendekat. tidak pernah.” “Mereka teman SMA-ku. Bersamaan dengan itu. “Kenapa lama sekali kamu membuka pintunya?” laki-laki itu mulai memasuki apartemennya. Aku saja yang seorang laki-laki masih memajang foto kelulusanku ketika SMA di ruang tengah apartemen. Laki-laki berperawakan tegas.” Benarlah ternyata laki-laki itu adalah Ryo. Entah mengapa ia terus saja memandang ke arahku. “A.. Sementara itu.” ucapnya dengan suara yang sedikit berat. sedang memasak.. Suara bel yang kedua menyusul kemudian. “Hmm. entah mengapa suasana menjadi sedikit tidak nyaman. “Apakah itu Ryo?” terdengar suara Rei bertanya dari dalam dapur. Ketika pintu mulai terbuka.” Ryo mengiyakan ucapan Aya. “A.” “Masak?” Laki-laki itu kini membuka jasnya.” Aya mulai berusaha mencairkan suasana. di saat yang bersamaan terdengar bunyi bel pintu. yaa. Tom? Sepertinya kamu memarkirkannya di tempat orang lain. Ryo mengalihkan pandangannya ke arah Aya dan mulai mengangguk-angguk. “O. Ia lalu tersenyum kepada kami. Tom dan Rei... Aku mulai menebak kalau orang itu adalah Ryo. “Mereka. Apakah mobil putih di parkiran bawah milikmu....” “Bahkan tidak ada foto Ryo satu pun di sini.” aku menambahkan tanpa mengindahkan jawaban terbata-bata yang dilontarkan oleh Aya. Sebaiknya di pindahkan saja.” bersamaan dengan itu ia kembali membuka kunci pintunya. Bahkan. Kini. Lalu. Namun. aku berpikir ada baiknya kamu juga mulai mengenal teman-teman baikku. Ryo. Kemudian. “Jarang sekali Aya mengundang temannya datang ke sini.. Ketika ia mulai melangkah masuk. Matanya memandang kami penuh dengan rasa penasaran. iya.. Senyuman yang disunggingkan Ryo seperti dipaksakan atau bahkan sebenarnya Ryo tidak menyukai kehadiran kami sejak awal. kulitnya agak sedikit coklat jika dibandingkan dengan warna kulitku.. Rambutnya pendek dan tingginya hampir sejajar denganku. aku mulai merasakan ada sesuatu yang aneh di sini. dan Aya. Rei juga melakukan hal yang sama.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen dihiasi paling tidak satu foto pemiliknya.. dari kejauhan aku melihat seseorang mengenakan setelan jas di luar sana. langkahnya langsung terhenti ketika melihat kami di ruang tengah. Rei.” halaman 9 dari 83 halaman .

“Sepertinya aku ikut saja ke bawah.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Masih dikuasai oleh suasana canggung beberapa saat yang lalu.” Kami semakin kuat menggedor pintu tersebut walaupun sepertinya Ryo berusaha tidak mengindahkannya. Dengan cepat aku buka pintu tersebut dan mendapati Aya tersungkur di lantai ruang tengahnya. Tidak sampai di situ. Tiba-tiba aku dengan refleks mencoba memutar kenop pintu dan ternyata pintu itu tidak terkunci. Ketika kami sampai di parkiran sekitar lima belas menit yang lalu.” Rei pun membuntutiku dari belakang. “Tom hanya temanku. Ketika Rei mulai menekan bel.. Kami kembali menuju apartemen Aya dengan perasaan bingung. tapi pukulannya yang bersarang di punggungku mulai meruntuhkan kekuatanku.” “Teman?!” “Maafkan aku. “Kalau begitu aku ke bawah dulu. halaman 10 dari 83 halaman . Suaranya lirih. Sesaat kemudian kami mendengar suara Aya dari dalam. Sementara itu. Kami sontak tercengang dan mulai menggedor-gedor pintu apartemen tersebut sambil meneriakkan nama Aya.. Aku hanya bisa memperlihatkan ekspresi ‘benarkah?’ tanpa berkata-kata. Kami terlonjak kaget dan mulai berpandangan. Mimik wajahnya berubah menjadi sangat khawatir. Langkah kami berhenti di depan pintu apartemen Aya untuk kedua kalinya. “Hei!” aku dengan geram melangkah masuk dan mencoba merebut pemukul baseball tersebut. “Apa yang terjadi?” Rei terlihat syok. Rei juga berlari memasuki ruangan dan langsung memeluk Aya yang masih tergeletak di lantai. Namun. Ia menangis dan Ryo berdiri sambil mengarahkan pemukul baseball ke arahnya. “Apa yang kamu lakukan?! Apa kamu sudah gila?!” aku balik meneriaki Ryo ketika kami saling berebut pemukul itu. Aku berusaha menghindar. sebuah lampu kaca sudah terjatuh dan pecahannya menyebar tidak beraturan. Setidaknya tidak ada orang yang menunggu di sana dan mengatakan bahwa kami harus segera memindahkan mobil kami ke parkiran yang lain. Ryo seperti sudah hilang kendali dan ia mendorongku dengan kuat hingga Aku terjatuh. “Sudah aku katakan kamu tidak boleh membawa laki-laki ke apartemen ini!!” kini terdengar suara bentakan Ryo dari dalam apartemen. Ryo juga mengarahkan tendangan kakinya ke arah tubuh Aya yang sudah tidak berdaya.” sambil memberikan isyarat kepada Aya. “Ini bukan urusan kalian!!” Kini Ryo mengarahkan pemukulnya kepadaku dan mulai memukulnya kepada secara membabi buta. tidak ada tanda-tanda bahwa kami memarkirkan mobil di tempat yang salah. aku pun segera berjalan ke arah pintu apartemen. Tidak jauh dari mereka. terdengar suara sesuatu jatuh kemudian pecah dari dalam apartemen.

. Tangannya mulai menggapai-gapai pergelangan kaki Ryo dan memeluknya. Ketika kami terus berbaku hantam. “DIAM!!” Ryo menendangkan kakinya hingga Aya kembali tersungkur di lantai. Tapi. “Aya.” seperti sudah tersadar. Ryo berada di bawah tahanan polisi setelah Aya menceritakan segala bentuk kekerasan yang dilakukan Ryo kepada dirinya selama mereka tinggal bersama di apartemen tersebut.. tanpa pikir panjang. yang paling melegakan ketika kami juga diberitahukan bahwa Aya memutuskan untuk kembali tinggal bersama kedua orang tuanya.. “Aya!!” diiringi teriakan keras dari Rei. Tiba-tiba semuanya hening. kami melihat Aya tergeletak tidak sadarkan diri dibawah sebuah rak kaca di dekat meja makan. Ryo mendekati Aya lalu menggoncanggoncangkan tubuh wanita muda itu.. Seperti bukan Ryo yang beberapa saat lalu sangat menakutkan. tanpa sadar Aya sudah berada diantara kami dan berusaha memisahkan kami berdua. kami mendengar kabar Aya sudah melewati masa kritisnya dan tidak lama lagi akan segera meninggalkan rumah sakit. konsentrasi Ryo seperti terpecah dan aku menemukan kesempatan untuk merebut pemukul baseballnya.” suara Aya mulai melemah. Ryo seakan tidak peduli dan ia kembali balik menyerangku. PRANG. “Aku mohon hentikan. Namun. “Sekarang hentikan semua ini atau aku akan menelpon polisi!” aku berusaha berdiri dan berbalik menodongkan pemukul itu kepadanya. Ketika itu. Kami bertiga langsung mengalihkan pandangan kami ke arah sumber suara. Ryo langsung mendorong Aya ke arah belakang. Tapi tidak ada respon sedikitpun... Namun.. Sementara itu. Rei pun mulai menarikku kebelakang agar menjauh dari Ryo.. halaman 11 dari 83 halaman . aku dan Rei hanya terpaku saja melihat pemandangan itu.. Sementara itu isak tangisnya semakin menjadi-jadi..BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Ryo! Hentikan!” Aya berteriak keras sambil terus menangis di pelukan Rei. Ryo yang sekarang mulai memeluk Aya dan menangisinya. Seminggu kemudian. Aya. Darah mulai mengalir keluar dari balik rambutnya yang sudah acak-acakan.

hiduplah sebuah keluarga yang mapan dan berpendidikan. kakak tertua dari Gina dan Gisel. Ibu Susanto pun adalah seorang wanita karir yang bekerja di salah satu perusahaan asuransi terkemuka di Indonesia. Gisel dan Gina adalah anak kembar yang saat ini sedang meneruskan pendidikannya ke tingkat SMA. dan Gina. Orang tua mereka sangat membanggakan dua putri kembarnya itu. Namun lain keadaannya dengan Faris. direktur utama dari salah satu perusahaan ternama di daerah Jakarta. dan ketiga anaknya yang bernama Faris. Gina dan Gisel. Gisel. Kedua orang tua Faris sangat kecewa dengannnya karena Faris tidak dapat memenuhi keinginan orang tuanya untuk melanjutkan kuliah di halaman 12 dari 83 halaman . Memang pada dasarnya kedua anak itu adalah anak yang cerdas.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KEKERASAN DALAM KEHIDUPAN Oleh: Glory Meirisa Pakpahan Pada suatu hari di daerah pinggiran kota Jakarta. maka keduanya bisa bersekolah di SMA unggulan yang sama. Orang tua mereka ingin sekali kedua anak kembarnya itu bisa bersekolah bersama di SMA unggulan. Kepala keluarga itu bernama Susanto. ibu. Keluarga itu terdiri dari seorang ayah. Saat ini Faris sedang melanjutkan pendidikannya di salah satu universitas swasta di Jakarta.

Aku pun bertanya. aku pun memutuskan untuk kembali pulang.” Saat itu aku merasa terenyuh dengan keadaan Faris. Namun saat ini Faris bener-benar menghilang bagai ditelan bumi. Sesekali dari luar aku mendengar suara ribut dari arah kamar Faris. ia merasa rendah dan tak berguna bagi keluarganya. Ketiaka sampai dirumah Faris.00. Dan kudapati satu buah pesan dari Faris yang berisi. tiba-tiba handphone-ku berdering. Kedua orang tuanya pilih kasih. Ia tidak bisa memenuhi keinginan orang tuanya untuk masuk perguruan tinggi negeri. Karena aku tidak ingin terlalu banyak ikut campur. Akhirnya pada malam itu pun aku menemuinya. Mas Faris sedang dihukum tuan dan nyonya karena di kamar Mas Faris ditemukan rokok dan minuman keras. ia selalu diremahkan dalam keluarganya. Saat itu Faris hanya bercerita bahwa ia sangat tidak dihargai di rumah. Untuk menghilangkan rasa penasaranku. Oleh sebab itu Faris selalu dihukum oleh kedua orang tuanya bahkan orang tua Faris suka melakukan kekerasan pada dirinya. maaf ya gw ganggu. Aku pun sedih mendengar kesaksian dari Faris. Dua hari setelah aku mendatangi rumah Faris. Aku mulai curiga dengan keadaan Faris. lo mau ga ketemu gw siang ini ditaman deket komplek humz gw?” Cepat-cepat aku membalasnya dan setuju untuk bertemu dengannya. Aku mendengar suara ayah Faris dan ibunya yang sedang membentak Faris. Goresan ikat pinggang pada badannya sudah menjadi hal yang biasa. namun Faris tidak bisa memenuhi segala keinginan orang tuanya. Orang tua Faris sangat memaksa Faris untuk menjadi yang terbaik. Waktu terus berjalan hingga pukul 21. dan selalu menjadi bahan pembicaraan rekan-rekan di kantor ayahnya. Ketika sudah bertemu dengannya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen universitas negeri. biasanya ia selalu sms atau paling tidak meneleponku saat akhir pekan. Faris merasa malu. Hingga suatu ketika ia meneleponku dan mengajakku untuk bertemu di salah satu cafe. Mereka lebih menyayangi Gina dan Gisel karena menurut mereka Gina dan Gisel tidak membuat malu nama keluarga mereka. Dua minggu berlalu dan aku tidak mendapat kabar dari Faris. Klo lo ada waktu. baik lewat telepon atau sms. aku sangat memehami apa yang ia rasakan. Nasib Faris cukup dibilang kurang beruntung. tidak dapat lulus S1 dalam waktu 4 tahun. Saat itu aku menyarankan kepada Faris untuk membuktikan pada orang tuanya bahwa Faris mampu dan tidak bisa dipandang sebelah mata. aku pun berniat mendatangi rumah Faris yang tidak terlalu jauh dari komplek rumahku. aku dan Faris mengakhiri pertemuan malam itu dan berharap semoga Faris bisa menjalani kehidupannya dengan sabar. “Pagi. aku hanya dapat bertemu dengan pembantu yang biasa bekerja disana. sahabatku. Ia merasa seperti benalu dalam kehidupan keluarganya. Farisnya ada?” Lalu si Mbak menjawab “Maaf Non. Pukulan yang diberikan ayahnya pun sudah halaman 13 dari 83 halaman . “ Mbak. ia mulai bercerita tentang kehidupannya di rumah.

Dan menjelaskan pada kedua orang tuanya bahwa kekerasan bukanlah menjadi kunci dalam suatu permasalahan. menangis. tapi sejak Faris duduk di bangku sekolah dasar ia memang sudah mendapat kekerasan dari ayahnya. Saat itu aku hanya bisa memberi dorongan dan semangat pada Faris. Sungguh perasaan Faris bercampur jadi satu. Dan mungkin jika ada waktu yang tepat.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen jadi makanan Faris setiap hari. supaya ia tidak menyia-nyiakan hidupnya dan tidak merusak tubuhnya dengan benda-benda haram itu. Ia ingin marah. Kekerasan yang dialami Faris bukan kekerasan yang baru terjadi sesekali ini. Sehingga pada minggu yang lalu Faris merusak tubuhnya dengan mencari pelampiasan seperti rokok dan alkohol. melainkan kekerasan hanya dapat menimbulkan masalah baru. halaman 14 dari 83 halaman . dan merasa rendah. Faris memang harus berbicara pada kedua orang tuanya secara baik-baik tentang masalah yang dihadapinya.

Kau pun bertanya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen DIAZ DAN ANWAR Oleh: Indah Permata Sari Kau berdiri di sana. “Hai. tapi tak tahu terasa ada yang berbeda. Setelah ribuan masalah yang telah kau hadapi bersamanya.” Kau pun memulai pembicaraan. “Setelah ribuan masalah datang menghampiri kita. Menunggunya yang tak juga menghampirimu walaupun sudah sejam berlalu. kini masalah sudah selesai. Dan dia pun sudah merenggut keperawananku. Kau memulai sedikit kata. Jawabannya adalah aku tidak lagi mencintaimu. wanita yang kau sapa itu menjawab.” Rani. Aku tahu sekarang jawabannya. Tanpa sadar aku mencintai ayahmu yang sudah tak beristri itu. “Iya. “Ada apa? Apa yang terjadi? Bukankah masalah kita sudah selesai. memang sudah selesai. Tapi dia yang kau ajak berbicara hanya menjawab sapaanmu dengan air mata yang tumpah ruah tak ada tara. Dan aku pun mencintainya!” halaman 15 dari 83 halaman . di sudut ujung jalan. Akhirnya kau tak sabar dan menghampirinya. Kau pun diam tak tau ingin bicara apa.” “Kenapa? Dengan cara apa?” kau pun bertanya dengan hati bergetar. Tapi aku telah banyak menyakitimu dan akan terus menyakitimu.

Nasi telah menjadi bubur. “Diaz. semua kau ingat dengan jelas. Hanya kicauan burung di beberapa pohon besar.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Bumi serasa berguncang. Bersamaku. Rani dan ayahmu kembali. Yoga. Tanpa merasa berdosa mereka mengenalkan adik barumu Yoga.” Ayahmu memaksa kamu untuk menerima kenyataan pahit ini. “Jadi selama ini kamu menghianatiku. Ingin rasanya kau membunuh ayahmu sendiri. Kau harus memanggil mantan kekasihmu Rani dengan sebutan 'Ibu'. Tapi apa daya. seakan tak mampu menahan langit yang mulai bergeming. Yang telah merenggut belahan jiwamu yang sedari dulu kau jaga. Setelah kejadian itu. Ini adik barumu. JAHANAM KAU! BEDEBAH KAU! SAMA SAJA DENGAN AYAHKU!” Kau pun membelalakkan mata dan air mata pun tumpah tak terkira. Yoga. Dan mulai hari ini kami akan tinggal bersamamu. Lima tahun kemudian. ya Tuhan? Apa yang harus kulakukan? Inikah balasan untukku yang telah menjaga dengan baik belahan jiwaku?” Kau berteriak seperti tak berakal. Kau tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dan kini kau menjalin hubungan cinta bersamaku tanpa sadar. Tak ada kejadian pun yang kau lupakan. Dan menerima adik barumu. Beruntung ujung jalan sedang sepi tak ada satu pun orang. Sudah lima tahun kau tidak mendapat pengganti Rani. tapi ternyata hubunganmu dengan Rani membuatmu trauma menjalani hubungan. Kau pun melanjutkan hidupmu seperti biasa walaupun setiap harinya hatimu hancur tak terkira. halaman 16 dari 83 halaman . Dan kami bahagia menjalani hubungan sesama jenis ini. Anwar. Dan itu kau lakukan dengan ayah kandungku sendiri. Rani menghilang bersama ayahmu. ”Aku harus berbuat apa. kenalkan.

Jarang sekali Yumi meneleponku enam bulan terakhir ini. Sejak dia mulai berpacaran dengan Kibum. Tak disangka sekarang ini. cerdas dan juga ceria. Selain prestasi akademiknya yang tinggi. Kami terlibat dalam satu klub ekskul softball di sekolah kami. kami diterima di fakultas yang sama. Dia menjelaskan bahwa dia memergoki Jun selingkuh dengan gadis lain. Selama perjalanan aku ke tempatnya. Dia adalah gadis yang paling mendekati sempurna menurutku. prestasi non-akademiknya juga sangat memuaskan. memberikan bahuku untuknya dan menghapus air matanya. Aku pun berkata padanya untuk tetap tinggal di tempat dia berada. Aku mengenalnya sejak SMA. Yumi adalah gadis yang sangat cantik. hatiku sangat gembira. pikiranku selalu tentang Yumi. Bisa dibilang dia adalah sahabat dan orang yang selalu ingin aku lindungi. Tetapi. suara isak tangisnya membuatku tidak tega dan segera ingin datang kepadanya. Penampilannya yang halaman 17 dari 83 halaman . sudah lama aku menunggu hari ini.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen YUMI Oleh: Indra Puspita Kusuma Aku terkejut ketika mendapati tulisan nama yang berkedip-kedip tanda ada seseorang menelepon ke telepon genggamku. Sejujurnya. Kebetulan rumah kami berdekatan maka kami jadi semakin akrab. di sebrang telepon. karena aku akan segera menghampirinya.

Matanya masih berkacakaca.” lanjut Yumi.” Aku berlutut didepannya dan mencoba menenangkannya. Minho? Aku sangat mencintai Kibum. Tangisannya reda tetapi air matanya masih keluar. aku melihat mobil Kibum di depan taman. suaranya mulai bergetar dan matanya mulai berair. mungkin ada baiknya kau tanyakan dulu kepadanya.” jelasku.” Terpaksa aku berbohong.” Yumi terhenti. “Apakah kau sudah siap untuk menceritakannya?” tanyaku. Sesampainya di kafe tersebut.” gumamnya “Apakah kau yakin itu bukan sepupu Kibum?” tanyaku “Yakin! Hanya keluarga dia yang ada di Jakarta. Jarak mereka dekat sekali. Tanya padanya siapakah gadis itu. Aku menghampirinya sambil menyodorkan sapu tanganku kepadanya seraya berkata. “Yumi.” jawabnya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen berbeda dari semua gadis seusianya membuat banyak lelaki mengejarnya. aku duduk disebelahnya dan memeluknya. Dia terdiam dan tetap terlihat cantik. Terima kasih. Aku masih tak percaya posisinya sekarang adalah di dalam pelukanku. Aku sudah hafal teh yang biasanya dia pesan. “Apakah yang harus aku lakukan. Aku sengaja tidak menanyakan kejadian Kibum dulu kepadanya. “Kau tidak pantas menangisi lelaki macam dia. salah satu senior yang cukup terkenal karena prestasinya di bidang olahraga. Aku memegang tangannya. Percaya padaku. “Wah. Betapa aku ingin dia segera halaman 18 dari 83 halaman . kayaknya itu enak. Aku tidak tega melihatnya. “Jangan menangis lagi. Kami menuju kafe teh langganan kami itu dengan berjalan kaki. kebetulan memang tidak terlalu jauh.” jawabnya sambil tersenyum. “Aku melihat Kibum didalam mobil dengan gadis lain. Dia terdiam sejenak. Ketika aku sampai di taman itu. “Aku sangat mencintai Kibum…. Hati Yumi pun berlabuh di hati Kibum. Ia mulai menangis lagi. “Kau mau teh?” tanyaku. Kali ini tangisnya deras.” jelas Yumi. aku menyuruhnya untuk duduk saja. Di perjalanan. Aku mengerti. Seluruh keluarga besarnya ada di Seoul. kau akan melupakan ini semua. “Ini teh mu. Minho. “Hhh… Baiklah… Pagi tadi ketika aku mau berolahraga ke taman. pasti dia sangat dikecewakan oleh Jun. aku lihat Yumi duduk tertunduk di ayunan yang tidak bergerak. Jelaskan bahwa kemarin kau memergoki dia dengan gadis lain. aku mencoba menghiburnya sedikit dengan lawakan-lawakan garingku. Karena aku tahu itu akan menyakiti hatinya.” ulangnya lagi. bagaimana jika kita cari minum untukmu?” Yumi pun tersenyum dan mulai berdiri. Lalu ia bertanya lagi. “Hmm…boleh juga. kau masih ingat saja dengan teh kesukaanku. Tetapi lelaki ini ternyata juga berhasil melukai hati Yumi. “Jika kau masih mencintainya.” aku menaruh cangkir tehnya di depan dia.

Aku mulai menghibur dia.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen mengakhiri ini semua dengan Kibum. Yumi. Yumi. aku bereskan barang-barangku terlebih dahulu ya. Sudah lama aku tidak melihat dia berlari di lapangan…” halaman 19 dari 83 halaman . “Minho! Sedang apa kau?” sapanya dengan ceria. “Hahahaha. Setelah kami selesai membereskan barang-barangku. Kau masih ada kuliah sesudah ini?” tanyaku “Hmm tidak ada sih… Kenapa kau menanyakan itu? Mau mentraktirku teh lagi?” tanya Yumi dengan nada iseng. aku dikejutkan oleh Yumi yang tiba-tiba datang. boleh juga. yuk! Sekalian. Yumi membalas senyumanku dengan tatapan yang aneh. Kau jadi terlihat jelek sekali jika menangis. Tak lama kemudian datanglah Kibum menghampirinya. Aku hanya bermain internet saja. Yumi yang memang gadis manis yang baik hati menerimanya dan sepertinya dia tidak jadi menanyakan Kibum tentang kejadian kemarin. Mungkin Yumi memang sangat pemaaf. ya. kami keluar dari perpustakaan bersama. Kibum di mana memang? Kau tidak bertemu dengannya?” “Oh. Kami menghabiskan waktu di kafe tersebut hingga larut malam. Dan mungkin Yumi benar-benar mencintai Kibum. Minho. Aku ingin menanyakan padanya tentang Kibum. Mau nggak kalau aku gantinya dengan kue saja?” tanya Yumi dengan senyuman termanis yang pernah kulihat. Ternyata Kibum memberikan Yumi selusin mawar yang telah terbungkus indah. Aku berhutang kan padamu?” “Berhutang?” “Iya. “Bisa juga akal bulusnya!” kataku dalam hati. Mereka berjalan berdampingan. Aku hanya tersenyum pada mereka berdua. Kau mau teh?” “Hmmm.” candaku. ketika aku sedang duduk menikmati internet gratis di perpustakaan. “Sudahlah. “Hmm. melewatiku. beli kuenya di toko kue yang ada di Fakultas Ekonomi saja. aku ingin melihat Kibum latihan. “Baiklah. Tapi aku lebih ingin membalas budimu kemarin. Siangnya.” “Sini aku bantu!” Aku sangat penasaran mengapa dia sangat ceria hari ini. teh yang kemarin kau belikan untukku belum aku ganti duitmu. Oh iya.” “Oke!” “Ya sudah. Paginya aku melihat Yumi di taman kampus. “Eh kau. jangan tangisi dia lagi. Kibum sedang latihan basket di lapangan basket Fakultas Ekonomi. Yumi pun tersenyum. mengajaknya mengobrol yang tidak ada hubungannya dengan Kibum. Tapi aku sendiri yang memilih kuenya. Aku mencoba bertanya pada Yumi tentang Kibum.

aku antar kau pulang ya.” Ya.” “Aku tidak tahu deh. “Aku masih mencari waktu yang tepat. aku boleh bertanya nggak?” “Boleh. bisakah kau mengantarku kesana?” Aku segera melajukan motorku ke arah taman. Mau kan?” Yumi mengangguk. memelukku dengan erat. Aku bingung. Matanya masih tertuju pada sosok Kibum. adalah gadis yang sama dengan gadis yang aku lihat kemarin. Di perjalanan hening. “Bisakah kau mendorongku?” Aku mendorong ayunan itu dengan pelan. Minho! Giliran mau dibeliin kue aja langsung semangat deh.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Baiklah. “Kau pasti mengira aku sangat pengecut. ada sesuatu yang mendorong hatiku untuk tetap menemaninya saat ini. aku tak bisa bertemu Kibum sekarang. “Yumi. Hatiku sakit melihat Jun dengan gadis itu. kau mau nanya apa?” “Bagaimana jadinya kau dengan Kibum? Kau sudah tanyakan padanya?” Yumi terdiam. Minho?” “Ya aku melihat kalian dari kejauhan. Aku akhirnya memberanikan diri bertanya tentang kelanjutan dia dan Kibum. Ekspresi mukanya berubah. Biasanya kau tak mau menemaniku. hanya suara angin yang terdengar di telingaku. Aku yakin. “Hmm Yumi. Dia diam tak berkutik.” jawabnya. Aku mengikuti arah matanya dan mendapati dua sosok manusia yang sedang duduk berdampingan dengan romantis di pinggir lapangan basket. Tetapi entah mengapa.” “Dasar kau.” air mata Yumi pun mulai menetes. Aku mengantarnya pulang menaiki motorku. gadis yang kita lihat tadi. aku tak suka melihat Yumi dengan Kibum. Aku melihat Yumi kembali. “Bukannya kau luluh karena diberikan seikat mawar tadi pagi?” “Kau melihatnya. Yumi yang kubonceng. Yumi langsung turun dan menuju ayunan. Tapi yang pasti aku akan menanyakan pada Kibum jika…. aku akan selalu melindungi mu. Hatiku bergetar tetapi aku tau dibelakang sana dia sedang menangis. Aku berhenti mendorongnya dan berlutut didepannya. Aku tak ingin Yumi kembali menangis. Aku tidak akan merelakan kau halaman 20 dari 83 halaman .” tiba-tiba Yumi seperti dikejutkan oleh sesuatu. Aku juga ingin makan kue coklat yang dijual di toko itu. tatapannya terpaku pada sesosok yang berada di lapangan basket. “Minho. Di taman. Aku tidak mengerti lagi harus bagaimana ke Kibum. Makanya aku tidak pernah mau menemani Yumi jika ia mau melihat Kibum latihan. aku ingin ke taman.” kata Yumi. Aku tahu apa yang dipikiran Yumi. aku mengajaknya segera pergi dari tempat itu. “Minho. Jelas sekali itu adalah Kibum dan mungkin dengan wanita yang kemarin dipergoki oleh Yumi. “Yumi. Tiba-tiba ia berkata padaku. “Apakah kau mau menanyakan pada Kibum sekarang?!” tanyaku dengan tegas.

“Terima kasih. Yumi melambaikan tangannya padaku lengkap dengan senyum manisnya. Tetapi aku memutuskan untuk diam saja dan menikmati makanan yang ia buatkan untukku. bahwa aku tak pantas menangisi lelaki seperti dia. Minho. “Yumi.” kataku sambil melahap sandwich itu. maaf. Aku teringat katakatamu. “Dia bilang. Setidaknya. Keesokan harinya. “Semalam.” “Benar?” “Ya. “Pagi Minho! Tolong jemput aku di taman ya :D” Betapa senangnya hatiku mendapat SMS dari Yumi. Ia mulai tak bisa menahan tangisnya. Walau tanggapan Yumi tak sesuai dengan apa yang ingin ku dengar. Kamu selalu lupa sarapan. selama ini kau yang selalu setia mendampingiku. Kau pasti belum sarapan kan?” “Ah kok kau tahu saja?” “Tuh kan. Kebiasaanmu itu dari dulu tak pernah berubah! Ini aku membawakanmu susu dan sandwich yang aku bikin sendiri. benar. Aku mulai mendorong ayunannya lagi. Kau memang sahabatku yang paling aku sayang. Aku segera mandi dan berpakaian. Dia bengong. Sesampainya di taman. Yumi tidak menjawab lagi. Ayo kita duduk di kursi itu. Walaupun selama aku berpacaran dengan Kibum.” Aku tersentak.” “Waduh.” Aku benar-benar curiga mengapa Yumi berubah seperti dahulu lagi. aku dapat menjadi tempat yang nyaman untuknya. “…dan aku juga merasa. mengapa aku jadi membuatmu repot begini?” “Ih tidak apa-apa kok. jangan bengong dong…” “Eh. aku mendapatkan SMS dari Yumi. Aku malah senang. Aku jadi ingat ketika dahulu. di saat aku senang dan susah.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen terluka karena siapapun. Aku bersyukur Yumi mengingat perkataanku.” Aku tersenyum.” “Kau kenapa sih?” tanyaku. “Apa yang ia lakukan dirumahmu?” “Dia mengakhiri hubungan kita. Aku makin tersentak. Yumi. Isinya. kita halaman 21 dari 83 halaman . Aku juga belum lama datang. Kibum kerumahku.” kata Yumi. tidak kok. “Sandwichnya enak…. hehehe. aku melihat Yumi berdiri sendiri membawa tas dan menurutku dia sangat cantik. Kau sudah lama ya menungguku?” “Oh. Yumi masih belum berpacaran dengan Kibum. “Maaf ya.” jelasku. dia bosan denganku. Kau makan ini dulu ya. Apakah Kibum gila?! “Apa alasan Kibum???” tanyaku. Minho. tapi aku masih bisa menahan diri. Aku menjemputnya setiap pagi di taman adalah kebiasaan kami dulu.” jawab Yumi seraya tersenyum. Aku sudah cukup menangisinya semalaman.

yang selalu berada disampingmu.” Aku menggenggam tangan Yumi dengan erat.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen tidak terlalu sering bertemu dan berkomunikasi. “Apakah kau yakin kau sudah bisa melupakannya?” “Ya. *TAMAT* halaman 22 dari 83 halaman . aku akan selalu ada selamanya untukmu. setiap aku bersamamu. Sekarang. lihat aku. lebih dari sekedar sahabat…. Sepertinya. cinta lama akan terhapus oleh cinta baru.” Aku mengecup bibirnya. rasa sayangku untukmu. Tetapi aku bisa merasakan kau selalu siap menemaniku. Percayalah padaku. dan aku merasa nyaman. “Yumi. Menghapus air matanya dan berkata.” lanjutnya. aku selalu bisa menjadi diriku sendiri.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KAU BUKAN AYAHKU Oleh: Intan Puji Lestari Di malam itu gue jalan sendiri pulang dari kampus. Setibanya gue di rumah Sari. Sampe-sampe gue anggep dia kaya mama gue sendiri. suasana sepi. Sari namanya. dan satu yang penting jago masak! Hahaha. gue langsung cepet pulang ke rumah. Wah. dan gw nggak bawa jaket. Tanpa pikir panjang. Mungkin karena malas atau ribet ya. Tapi di hari itu. gue ngeliat ada yang beda dari raur muka Mamanya Sari. trus langsung cabut lagi.—Lengkap banget deh itu mama-mama kayaknya. Gue paling yaa. dan ada semacam bekas merah2 deh di tangan dan mukanya. dan menutup pintu dengan kencang. ramah.. Ah. Tiba-tiba Ayahnya Sari datang dan langsung masuk ke dalam rumah. urusan orang yang udah berumah tangga mah beda sama urusan orang kuliah kayak gue.. ah. gue langsung dipersilahkan masuk sama Mamanya Sari. Mamanya Sari udah kenal banget sama gue. Hehehe. Bukan urusan gue juga kayaknya. ga mau gue pikirin. belom mikirin keluarga jadinya. dingin pula. mikirnya masih pacaran gitugitulah. Nah ternyata gue inget kalo hari itu gue ada janji mau ke rumah temen gw. makan dikit. Tatapannya kosong. Orangnya baik.. gue pikir pasti ada yang gak beres nih antara halaman 23 dari 83 halaman .

tatapannya kosong. Gue tanya sama dia. trus gue liat juga di pahanya banyak tanda2 yg sama seperti yang gue liat di tangannya si Tante. Di jalan gue mikir terus. karena kejadian ini ya. Namanya juga orang kantoran. gue tanya ada masalah apa antara Bokap dan Nyokapnya. dan akhirnya gue sibuk chating-chatingan sama pacar gue. eh dia diem aja sambil ngelamun. Tante ga mau kamu ngeliat kelakuan si Om yang udah jahat sama Tante dan Sari. gue langsung pamitan sama Tante. dan mengajak Nyokapnya ngobrol di teras belakang. Gue ngintip dari sela-sela sofa dan nyoba buat dengerin apa yang diomongin sama si Om. Gue liat si Om udah ga ada. gue mulai curiga deh. trus tangannya si Tante langsung dipukulin. si Om ngeluarin gesper yang tadi dia pake kerja. tinggal Nyokapnya si Sari yang ada sambil nangis. Tiba2 Bokapnya Sari keluar dari kamar. ada orang yang setega itu halaman 24 dari 83 halaman . langsung gue peluk Nyokapnya si Sari. Trus gua liat Nyokapnya Sari udah duduk sambil nangis. Tiba-tiba gue inget sama keadaan si Tante yang di luar. Tapi dia kayak orang gila gitu. Tante lagi ada masalah sama si Om. kayaknya kesel gitu deh.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen mereka berdua. tapi dia tetep aja diem sambil terus ngelamunin foto keluarganya itu. Lagi asik chating sama pacar gue. Ga enak kalo sampe Mama sama Papa kamu tau kejadian ini. di sampingnya udah ada vas bunga yang pecah. Trus gue mulai memberanikan diri. kenapa ya. “Sabar ya. dan dia cuma ngeliatin foto dia sama Bokap dan Nyokapnya waktu liburan. Kayaknya ini orang kebanyakan nangis deh. gue denger suara. kalo Tante lagi ada masalah sama si Om. Dan yang gue kagetnya. pantesan aja dari tadi gue liat tangannya Nyokapnya Sari penuh merah-merah di mana-mana. dan ngeliat tuh anak lagi diem aja di atas kasurnya. Gue ga ngerti apa yang diomongin antara mereka berdua. Wah gilaaa. dari cara Bokapnya Sari ngeliat istrinya. Sambil gue bisikin. Hahaha. kayaknya itu abis dilempar deh sama si om. Pelan2 gue deketin si Sari.” Pokoknya gue bikin supaya dia bisa kehibur deh. Gue liat matanya udah item. dan ternyata Nyokapnya Sari lagi nangis!! Wah gak salah lagi pasti ada masalah antara mereka berdua!! Ya udah tanpa gue pikir panjang. Tante minta maaf sama kamu. dan langsung ninggalin itu rumah. Tanpa mikir panjang. Gue nyapa dia tapi kayaknya dia gak menanggapi dan pasti karena mungkin dia kecapean kali ya. GUMPRANG!! Dari teras belakang. tatapan mukanya juga sinis banget. Akhirnya gue langsung keluar dan menuju teras belakang. Baru gue mau deketin dia. Tante. Gue langsung ke kamarnya Sari. nanya ke nyokapnya. Oh iya kamu jangan cerita ke siapa2 ya. “Mendingan kamu pulang aja ya.” Gila! Ga tega gue ngeliat Nyokapnya Sari yang ngomong sambil terbata2 nangis begitu sama gue. (Gue yakin si Om udah ngelakuin hal yang ga pantes dilakuin seorang bapak pada mestinya). dia langsung ngomong gini sama gue.

mukanya udah kembali ceria seperti dulu. Tiga hari kemudian gue liat Sari nongol di kampus dan langsung cerita banyak sama gue. yaitu Sari. Harusnya sebagai ayah yang baik. dan alhamdulillah jauh dari masalah yang seperti ini. Yah ya udahlah. Sebenernya gue kasian juga sama Bokapnya si Sari. Nyokapnya Sari ngelaporin suaminya itu ke polisi. Dia cerita banyak banget ke gue. Gue jadi kasian sama Sari karena dia juga jadi korban kegilaan bapaknya sendiri. tapi mau gimana lagi. kayaknya dia udah bisa ngelupain kejadian yang menimpa keluarganya itu deh. dia cerita kalo Ayahnya ternyata lagi stress berat karena ada masalah di dalam kantornya. dan langsung diproses secara hukum. Gue bersyukur sama Allah. tapi malah digituin keluarganya. dan karena Nyokapnya Sari ga kuat dengan perlakuan kayak gitu. jangan malah dikasarin istri dan anak2 nya. ga usah dipikirin orang kayak gitu. karena gue dikasih keluarga yang baik2 aja. Besoknya gue liat Sari nggak ada di kampus. Hari2 gue lewatin tanpa hadirnya seorang teman baik gue. kayaknya dia masih syok sama kejadian yang menimpa keluarganya. At lease sekarang gue udah bisa ngeliat temen gue senyum dan ceria kayak dulu lagi. harus bisa ngejagain keluarganya. halaman 25 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen sama keluarganya. susah2 cari duit buat keluarga.

dengan memberikan tempat duduk di kantin saat jam istirahat yang penuh sesak. Ternyata Radit juga tertarik untuk masuk ke dalam kelompok tersebut. Namun hal itu tidak mengurungkan niat saya untuk menjadi siswa di sekolah ini dan juga bergabung dengan kelompok yang terkenal dengan tradisi bulying-nya berlandaskan ingin mendapat pengalaman yang lebih. Saya dan Radit mulai menanyakan mekanisme perekrutan kepada senior di sekolah yang pada waktu itu duduk di bangku kelas 3 SMA. baik perempuan maupun lelaki. sebut saja kelompok Gorazper. Tetapi bulying pada junior perempuan sudah tidak pernah lagi ada sejak 3 tahun terakhir. halaman 26 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KELUARGA DAN SEKOLAH Oleh: Irvanuddin Rahman Cerita ini berawal saat saya menjadi siswa baru di salah satu SMA Negeri ternama di bilangan Jakarta Selatan. Senior Gorazper menunjukkan sikap yang baik dan ramah kepada kami para junior. Setelah diberitahu segala sesuatunya. Di akhir istirahat. Singkat cerita. Sekolah ini memang sudah terkenal dengan tradisi bulying atau kekerasan pada junior-juniornya sejak 10 tahun terakhir. saya langsung kenal dengan Radit dan kami menjadi teman yang bisa dibilang dekat. bahkan ada yang rela berdiri memberikan tempat duduknya. Kami mulai mengumpulkan temanteman seangkatan sesuai dengan jumlah yang diminta oleh senior yaitu sekitar 40 orang.

namun lain halnya dengan Radit. kamipun berpamitan dan pulang. langsung disuruh kumpul di tongkrongan oleh senior-senior Gorazper dan lagi-lagi mendapat kekerasan. Kekerasan yang saya dan teman-teman saya alami memang sama. saya pun tercengang dan kaget apakah itu suara Radit atau bukan. Hingga pada suatu hari kami angkatan 2009 disuruh berjualan bunga untuk keperluan pencarian dana acara pensi sekolah. Radit dan kawan-kawan yang lain segera bergegas menuju tempat yang ditentukan dan langsung berjualan. dengan sepeda motor saya. selain di sekolah dia juga mendapat perlakuan kasar di rumahnya lantaran ayahnya yang sering memukulinya karena kesalahan-kesalahan sepele Radit. Dan seperti itu juga pada tataran-tataran berikutnya. Begitu juga sepulang sekolah. Keadaan seperti itu hampir setiap hari dirasakan. Lalu Radit mengambilkan minuman sirup kepada saya dan yang lain. Radit berasumsi bahwa Ayahnya mengalami gangguan jiwa dan saya juga halaman 27 dari 83 halaman . keadaan keluarganya sangatlah berantakan. Radit keluar dari kamar dengan wajah pucat dan mata yang berkaca-kaca. Keesokan harinya di sekolah saya ingin sekali menanyakan apa yang terjadi pada Radit. Rupanya kekerasan yang dialami oleh Radit ialah karena keadaan keluarganya yang broken home dan juga Ayahnya yang baru menjadi korban PHK karena kasus lumpur Lapindo di Sidoarjo yang sampai saat ini tidak jelas penyelesaiannya. di sela-sela berjualan itu kami diberikan waktu istirahat oleh para senior.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Radit yang sudah dikenal di kalangan senior diminta untuk menjadi koordinator angkatan 2009 dalam hal perekrutan/inisiasi/penataran dan lain sebagainya. Kesempatan itu saya gunakan untuk menanyakan hal yang terjadi tempo hari di rumahnya kepada Radit. Karena suasana yang garing dan tidak bersahabat. Selang 10 menit kemudian. Saya dan Radit kedapatan bagian berjualan di daerah Kemang. sikap baik itu berubah 180 derajat menjadi sikap yang sangat beringas dan tidak berkeprimanusiaan. tidak lama kami di rumah Radit. Setelah itu Radit dipanggil ke kamar Ayahnya lalu terdengar suara orang memukul dengan benda keras dan suara orang merintih kesakitan. namun kegiatan siswa baru sangat sangat disibukkan dengan kegiatan ini itu sehingga tidak memungkinkan saya berbicara dengan Radit. Namun saat penataran pertama. Saya langsung menanyakan apa yang terjadi namun Radit hanya terdiam sambil menggelengkan kepalanya. Akhirnya Radit menceritakan semuanya kepada saya namun dengan syarat hanya saya yang boleh mengetahuinya. Ibunya tidak pernah mendatanginya lagi bahkan mungkin Ibunya tidak tahu apa yang terjadi sekarang terhadap Radit dan Ayahnya. Dia meceritakan kisah hidupnya panjang lebar. Pernah suatu kali saya mengunjungi rumah Radit untuk sekedar menghabiskan waktu sepulang sekolah dan juga dengan dua orang teman lain yaitu Rama dan Amar. Radit bercerita setelah Ayahnya bercerai dengan Ibunya dan dipecat dari perusahaan Lapindo Brantas.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

berfikiran begitu karena tindak kekerasan yang dialami Radit disebabkan permasalahan sepele, seperti misalnya tempo hari Radit memberikan sirup kepada saya, Rama dan Amar, ia langsung dipukuli oleh Ayahnya dengan balok yang selalu ada bersama Ayahnya kemanapun Ayahnya itu pergi. Alasan yang diceritakan Radit kepada saya membuat saya sangat kaget sekaligus prihatin karena hanya karena mahalnya harga sirup dan menurut Ayahnya tidak sepantasnya kami teman-teman Radit disuguhkan sirup, cukup dengan air putih saja. Saya benar-benar terpukul saat Radit menceritakannya, bukan karena saya tidak terima diberikan air putih tetapi cara Ayahnya itu yang benar-benar tidak wajar. Saya dan Radit menghabiskan malam itu dengan cerita sedih yang dialami Radit sampai saya mengantarkannya pulang. Di rumah saya selalu kepikiran kisah Radit dan saya benar-benar bersyukur mempunyai keluarga yang sakinah dan rukun. Namun muncul dalam hati saya keinginan untuk menolong Radit sebagai sahabat. Tetapi saya bingung bagaimana cara saya menolongnya. Saya berfikir bahwa Ayah Radit perlu rehabilitasi untuk kembali menyadarkan jiwanya dan menyembuhkan jiwanya dari gangguan jiwa yang dialaminya akibat stres. Saya menceritakan hal tersebut kepada teman-teman dekat saya tanpa sepengetahuan Radit, namun lama kelamaan berita itu menyebar di angkatan 2009 walaupun tidak semuanya tahu tetapi realtif banyak yang tahu dan tetap tanpa sepengetahuan Radit. Kami pun berinisiatif untuk mengumpulkan dana swadaya untuk membantu Radit dan keluarganya karena mengingat juga banyak sekali kontribusi Radit dalam hal mengompakkan angkatan, membela angkatan di depan senior dan tidak jarang pula Radit menanggung dampak dari kesalahan yang diperbuat angkatan seperti misalnya jumlah orang tidak sampai batas minimal yang ditetapkan senior saat menjadi supporter pertandingan basket sekolah kami dengan sekolah lain, dan sebagainya. Kami pun diam mengumpulkan dana swadaya tersebut secara diam-diam tanpa sepengetahuan Radit agar dia tidak minder dalam bergaul. Memang agak susah mengumpulkan uang yang diperlukan karena pasti sangat besar jumlahnya, maka dari itu kami membutuhkan waktu yang lama untuk mengumpulkan uang sampai target. Seiring waktu berlalu, Kekompakan angakatan kami semakin timbul dan setiap permintaan dari senior untuk menambah jumlah orang yang ikut dalam kelompok Gorazper tidak pernah gagal. Dari 40 orang, menjadi 50 orang, dan terakhir para senior meminta harus ada 60 orang saat tataran berikutnya. Hal yang sangat sulit tentunya bagi kami untuk mengumpulkan sebanyak itu, namun lagi-lagi berkat kemampuan Radit akhirnya kami dapat menggenapkan jumlah kami menjadi 60 orang di tataran berikutnya. Tidak terasa waktu terus berlalu dan hampir tiba saat pelantikan angkatan baru Gorazper yang notabennya adalah angkatan kami, angkatan 2009. Malam pelantikan itu diawali dengan acara menonton bareng di bioskop di salah satu mall di bilangan Pondok Indah, Jakarta Selatan dan ditutup dengan acara pelantikan di sebuah jalan yang biasa menjadi tempat tongkrongan anak-anak remaja seumuran
halaman 28 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

kami. Dan malam itu menjadi malam yang sangat ditunggu-tunggu oleh saya, Radit dan juga teman-teman 2009 lainnya karena setelah malam pelantikan itu kami sudah resmi menjadi anggota Gorazper dengan membawa angakatan 2009 dan itu artinya tidak ada lagi penindasan-penindasan yang selama kurang lebih satu tahun kami alami. Benar-benar malam yang sangat menyenangkan, terlebih bagi Radit, karena di malam itu juga kami memberikan bantuan yang berupa dana yang selama ini kami kumpulkan untuk membantu Ayah Radit. Perasaan kaget bercampur bahagia sangat terlihat dari raut wajahnya saat saya menyerahkan amplop berisi uang itu kepadanya. Semoga malam itu benar-benar menjadi malam terakhir bagi Radit mangalami kekerasan baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan keluarganya.

halaman 29 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

LIBURAN LEBARAN
Oleh: Jodia Pravita Dini

Liburan

ini, aku dan keluargaku akan berlibur ke Makassar tempat Tanteku. Pagi ini aku berangkat ke Makassar, aku dan keluargaku segera bergegas ke bandara pada pagi hari. Sesampainya di Bandara Hassanuddin, Tanteku dan keluarganya menjemput dengan menggunakan mobil keluarga. Rasanya rindu sekali karena sudah lama tidak bertemu mereka. Tujuanku kesana adalah melihat kedua sepupuku yang masih kecil, Andrew dan Darrent namanya. Tetapi aku lebih dekat dengan Darrent. Darrent adalah anak kedua Tanteku, wajahnya mungil dan menggemaskan. Ekspresinya polos saat aku memberinya sebuah coklat. Hari kedua di Makassar, kedua sepupuku itu sungguh manis dan tidak cengeng. Tetapi ketika Darrent melakukan kesalahan kecil yang biasa anak kecil lakukan,Tanteku langsung memarahi dan memukulnya. Aku dan Ibuku kaget karena hal tersebut sangat wajar dilakukan anak seumur Darrent. Dia pun menangis tersedusedu dan berlari kearahku. Aku peluk dia, dan tak lama dia bercerita dengan kosa kata seadanya. Ternyata Tanteku sudah sering memarahi bahkan main tangan kepada anak-anaknya. Selama aku di sana memang terlihat sering sekali Tanteku melakukan hal itu. Ibuku sebagai kakak dari Tanteku sudah member nasihat, tetapi tak didengarkannya.
halaman 30 dari 83 halaman

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen

Aku hanya bisa diam jika Tanteku melakukan hal itu lagi. Akhirnya aku mengajak Andrew dan Darrent untuk jalan-jalan ke pantai Losari. Mereka terlihat senang dan lepas dari kejenuhan. Aku senang bila sepupu-sepupuku senang.

halaman 31 dari 83 halaman

berangkat ke kampus yang tidak terlalu jauh dari rumah kami. halaman 32 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen CINTA. pagi itu aku dan Kinan. aku selalu bergantian membawa mobil dengannya. dan bisa menemaniku saat susah maupun mudah. Seperti biasanya. Badannya tinggi. Begitu juga dengannya. ramah. Kinanti Maharani. KINANTI! Oleh: Juwita Anindya Anak itu bernama Cinta. serta tubuhnya yang tinggi ramping membuat semua orang tertarik padanya. Sebagai sahabatnya. Sepertinya hidup Kinan sangat sempurna. ceria. hanya berbeda jalan saja. sahabatku. wajahnya cantik mirip seperti Ibunya. mencoba melarikan diri dari Ibunya. serta saat aku kesepian. Saat aku memiliki masalah. saat sedih maupun senang. kadang aku pun ingin menjadi dirinya. gayanya yang anggun. gadis yang saat itu berusia 18 tahun dengan wajahnya yang cantik. Ia baik. Saat berangkat kuliah. Cinta mencoba melarikan diri dari kehidupannya. Tapi ia sudah dekat dengan kehidupan malam. Rumahku dan rumah Kinan memang berdekatan. aku selalu menceritakannya pada Kinan. langsing. Kinan adalah sahabat terbaikku sejak aku bersekolah di Taman Kanakkanak. Kinanti Maharani. Umurnya baru 15 tahun tapi ia terlihat seperti 20 tahun.

” “Pastinya.” Kami pun sampai di kampus. Tak pernah lupa ia percantik bibirnya dengan sentuhan lipgloss warna softpink. “Siapa.” “Bawa mobil kemana-mana?” “Ya. Aku menggeleng.” “Dia ganteng?” “Ya. sampai akhirnya mereka halaman 33 dari 83 halaman . Untuk gadis secantik Kinan. aku mendengar mereka akan bertemu malam itu juga.” “Tajir?” “Ya. Dia kuliah di Universitas Nusantara. Nanti kapan-kapan gue kenalin ya. maka ia akan langsung menolaknya dan berkata bahwa ia tidak mau dengan lakilaki itu. Aku sendiri tidak tahu siapa yang menelponnya. lho. gue sama dia mau jalan. Semenjak berkenalan dengan Paul. Oleh sebab itu tidak sedikit pula laki-laki yang sakit hati dibuatnya. Nin! Kayaknya sih dia juga suka sama gue.” “Seagama?” “Ya. Sesekali Kinan menengok ke arahku yang sedang menyetir lalu tersenyum centil. ia tidak memikirkan perasaan laki-laki yang menyatakan cinta padanya. Itulah salah satu kekurangan Kinan. Ia terlihat sangat bahagia. Lo nanti malem mau ketemuan ya?” “Iya. Kemaren gue ketemu dia di kafe. Kinan masih asyik bercakap-cakap di handphone-nya. Ia juga selalu memakai pakaian yang modis. Nan?” “Namanya Paul.” “Paul? Temen baru?” “Ya.” “Boleh. sesuai sama persyaratan lo. Bila ia tidak suka. Sampai saat itu Kinan belum mempunyai pacar. soalnya dia ngajakin gue kenalan. “Nin.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Hari itu Kinan terlihat cantik dengan bando pita putih di kepalanya. Kinan dan Paul sering jalan berdua. Pokonya oke banget deh. Setelah lama mereka bercakap-cakap.” “Badannya atletis?” “Ya. Dia oke banget. hari-hari Kinan semakin berwarna. Aku mulai bisa menebak sepertinya yang meneleponnya adalah laki-laki yang sedang dekat dengannya. Paling nonton sama makan aja.” “Wah perfect banget dong. tau nggak siapa yang nelepon gue barusan?” tanya Kinan padaku sambil memasukkan handphone ke tasnya lagi. Tiba-tiba handphone-nya berdering. Pembicaraan mereka terdengar sangat akrab. wajar kalau ia sangat perfeksionis dalam mencari pasangan. Bahkan tak jarang lakilaki yang ditolaknya mentah-mentah. Dugaanku semakin kuat. Dengan gayanya yang anggun ia mengangkat panggilan itu.

Kinan bingung. Tapi entah apa yang membuat mereka memutuskan untuk menikah begitu cepat. Tak tanggung-tanggung seringkali Kinan melemparkan barang-barang di rumahnya sambil menangis. Entah mengapa saat teringat masa-masa mereka berpacaran Kinan selalu marah. Kinan bilang beberapa kali ia melakukan hal tersebut meskipun ia tahu kalau semua itu dilarang oleh agama dan hukum. Ia merasa malu dan takut menghadapi kenyataan. Aku melihat ke arah perut Kinan. Resepsi pernikahan mereka digelar begitu meriah. Aku baru mengetahui kalau ternyata Kinan telah hamil dua bulan saat menikah. Kinan menceritakan semua kronologi kejadian sampai mereka menikah. mereka nonton dan makan malam. Saat itu umur Kinan baru menginjak 19 tahun sedangkan Paul 22 tahun. Kinan bertemu dengan Paul. Beberapa bulan setelah mereka menikah. Menghadapi kelakuan istrinya. Gaun pengantin Kinan pun sangat mewah. Tak jarang pula kami pergi bersama. Kinan hanya bilang kalau ia sudah merasa cocok dengan Paul. Kinan menuruti semua instruksi Paul. Sesampainya di sana. Namun sayang. Tak lama kemudian Paul bisa mengakrabkan diri denganku dan juga Dino. Kinan menangis. Di suatu malam. Paul semakin tidak tahan. halaman 34 dari 83 halaman . Mungkin Paul melarikan diri ke luar negeri. ia hanya terlihat gemukan. Malam itu. Aku tersentak tak percaya. Paul menghilang.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen resmi berpacaran atau biasa disebut jadian. adalah satu kata yang Kinan tanamkan dalam hati. Kinan pun semakin sakit hati. Mereka pun menuju rumah kedua Paul yang hanya dihuni oleh dua orang pekerjanya. Kinan pun menyanggupinya dengan senang hati dan tanpa pikir panjang. Seperti biasanya. saat semua kelarga dan sahabat-sahabatnya menjenguk. Masalah pun datang saat Kinan memeriksakan diri ke dokter dan hasilnya ia hamil. bahkan mengurung Kinan di kamar mandi karena Paul menganggap Kinan sudah gila. Namun saat itu Paul meminta lebih. Mereka terlihat cocok sampai akhirnya mereka menikah satu tahun setelah jadian. Paul justru tidak terlihat kehadirannya. Rumah tangga yang dibina Kinan dan Paul semakin tidak harmonis. Tak ada sesuatu yang aneh pada hubungan mereka. Seringkali Paul memarahi. Semua keluarga besar sudah mencari Paul kemana-mana. Sebulan sebelum Kinan melahirkan. pacarku. Sepertinya ia teringat sesuatu dan segera menceritakannya padaku. memukul. Hari demi hari ia lalui dengan perasaan yang kacau balau. Hari itu Kinan melahirkan di sebuah rumah sakit ternama. menampar. Wajah Kinan pun terlihat sangat bersedih. Masalah Kinan dan Paul semakin rumit. mereka pun terlarut dalam hubungan badan. Paul pun meyakinkan Kinan kalau semua akan baik-baik saja. Lalu tibalah saat yang ditunggu-tunggu oleh setiap pasangan. tetapi Paul tidak ditemukan. Tapi hatinya selalu berdalih dan berusaha meyakinkan kalau semua itu akan aman dan baik-baik saja apalagi Paul selalu memaksa. Percaya. tak seperti orang hamil. Tapi akhirnya kedua orangtuanya pun tahu sampai akhirnya Kinan dan Paul menikah.

Kinan malah menangis dan terkadang ia memarahi Cinta. Cinta pun berbicara padaku. Kinan berharap dengan hadirnya Cinta. Aku pun belum sempat mengunjungi mereka. mengurung di kamar mandi. Ibunya sendiri. Kinan selalu mengancam jika Cinta menangis maka ia akan menambah hukumannya menjadi semakin berat. ia hampir tak pernah mau lagi bercerita padaku. Bahkan di hadapanku Kinan masih bisa bercerita tentang kehidupan kelamnya. tidak bisa bergaul. Ia hampir tak pernah menangis. Hidup terasa mulai normal. Alamat Kinan memang masih di Bandung. Paul tak kunjung kembali.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Bayi mungil yang cantik itu pun diberi nama Cinta Kinanti Ananda Paula. Tak ada yang tahu secara detail bagaimana Kinan membesarkan Cinta tanpa seorang suami. Hari demi hari ia lewati dengan berdiam. Melihat aku termangu. tapi tidak dekat dengan Cinta. tapi Cinta malah memberi selembar kertas berisi alamat yang ia bilang itu alamat rumah Kinan bersama suami barunya. aku ingin memperbaiki hubungan persahabatan kami yang sempat renggang. Namun seiring berjalannya waktu. Aku merasa Kinan sudah tidak menganggapku lagi. sampai menyuruh Kinan memakan makanan basi. Aku pun memercayainya. Cinta menjadi korban dari kebodohan kedua orangtuanya sendiri. Orang tua Kinan selalu berkata kalau Kinan dan Cinta baik-baik saja di tempatnya yang baru. Aku pun ke Bandung dan mencari alamatnya. dan tertutup. Aku mencari Kinan. Sampai akhirnya semua mulai terlihat saat Cinta sudah berumur 10 tahun. Dia pasti Cinta. halaman 35 dari 83 halaman . Bahkan beberapa bulan kemudian Kinan dan Cinta pindah rumah ke Bandung. Tapi wajahnya sudah berbeda. Sesampainya di sana aku melihat seorang gadis belia yang aku kenal. Mungkin ia putus asa dengan keadaannya sekarang. Kinan bisa bersikap biasa. yang lebih tepatnya tidak sesuai dengan keinginan Kinan. Aku mencoba mengajak Kina ke psikiater. Bila Cinta melakukan kesalahan. ia cantik tapi tetap saja ia tidak bisa ramah. Suatu hari aku ingin sekali menjenguk Kinan. Aku langsung kaget mendengarnya. Paul bisa kembali dan mereka bertiga bisa berbahagia. Cinta sudah dewasa. Cinta sangat kuat. tapi hasilnya nihil. Entah masalah apa yang membuat Kinan semakin terguncang. Semenjak Kinan marah padaku. Saat Cinta mulai bersekolah. Bahkan yang aku herankan Kinan meninggalkan Cinta tinggal sendirian. Aku merasa keluarga mereka memang benar-benar hancur. Ternyata sejak kecil ia biasa diperlakukan kasar oleh Kinan. memukul. Aku berusaha menghibur Cinta. tapi Kinan justru marah padaku. Anehnya. tanpa segan-segan ia memarahi anaknya itu serta memberinya hukuman mulai dari mencubit. Harapan Kinan pupus sudah. Aku berusaha mencari Paul. ia semakin terlihat sebagai pribadi yang pendiam. Termasuk kepadaku. setiap melihat Cinta. Entah apa yang ada di hati Cinta. tapi aku merasa kasihan. tetapi Cinta tak mau berbicara sepatah katapun padaku. Tetapi saat orangtua Kinan datang menjenguknya.

halaman 36 dari 83 halaman .” Aku tersentak. Bahkan dia kawin lagi juga nggak bilang gue. Ibu selalu ngasih gue hukuman.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Gue lebih baik hidup tanpa Ibu. Dia nggak pernah peduli sama gue. dan cuma bisa bikin aku diperkosa. Nggak kayak Ibu yang lain. Ibu cuma bisa marahmarah. cuma bisa mukul. cuma bisa nyiksa. Gue mati dia juga nggak peduli kayaknya.

Kami semua sangat senang karena berhasil masuk salah satu SMA unggulan di Jakarta. Keesokan harinya kami mulai masuk sekolah seperti biasa. yaitu SMA.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Oleh: Dwi Cahyaningtyas (untitled) Semua itu berawal dari kelulusan kami dari SMP. Meskipun tidak semua dari teman kami diterima di SMA tersebut. karena dari SMP kami hanya kami berempatlah yang diterima di SMA tersebut. Guru pun masuk kelas dan semua berjalan wajar sebagaimana harusnya. Sampai saat MOS berakhir di hari ketiga pun tidak terjadi suatu kejadian yang berarti. Untungnya. saat itu Tia dan Nia yang sudah berteman lebih dulu menyapaku yang duduk sendirian di dalam kelas. Niken dan aku sekelas. Sampai pada saat bel pulang sekolah dibunyikan. sedangkan Tia dan Nia tidak pernah ketinggalan hal-hal yang menyangkut tren dan mode yang ada. siap memulai pelajaran pertama. salah satu teman sekelas halaman 37 dari 83 halaman . Niken orangnya supel. Kami berpencar untuk mencari kelas kami masin-masing. Pada hari pertama MOS. Lalu datang Niken yang langsung nimbrung pembicaraan yang kita bertiga lakukan. sedangkan Tia dan Nia berada di kelas lainnya. semua berjalan biasa saja tidak ada yang istimewa. Kami berteman sejak duduk di kelas dua SMP. yang berarti kami akan menjejak ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Sebagian dari kelas memutuskan akan datang ke tempat yang sudah ditentukan tersebut karena takut akan kelas tiga. sebagian lagi tidak peduli dan memilih segera pulang ke rumah. perlakuan kekerasan yang kami alami sudah menjadi tradisi turun-temurun di sekolah kami yang akan terus berulang di tahun-tahun berikutnya. kelas tiga segera memerintakhkan kami untuk berbaris. kini giliran kami untuk mendidik kelas satu seperti pada saat kami dididik dulu. setelah dirasa cukup banyak anak kelas satu yang berkumpul. halaman 38 dari 83 halaman . akhirnya kami berempat ikut berkumpul sepulang sekolah. pada akhirnya anak laki-laki disuruh tawuran dengan sekolah lain oleh kelas tiga. ternyata di sana sudah banyak anak-anak kelas satu yang berkumpul. Kami pun merasa tegang akan situasi tersebut. Perlakuan itu terus berlanjut hingga kami memiliki nama angkatan. Tak ketinggalan. Niken mengajakku untuk ikut menghadiri perkumpulan itu atas dasar solidaritas teman. kami pun dimarahi habis-habisan dan aku mellihat beberapa temanku ditampar dan dipukuli. Tiga tahun sudah kami bersekolah di sana. anak-anak kelas tiga juga sudah banyak yang datang. Seseampainya di tempat yang ditentukan. melainkan berkumpul si suatu daerah dekat sekolah atas perintah anak kelas tiga. Pada saat kami menjadi siswa kelas tiga.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kami mengumumkan agar kami tidak pulang dulu.

mahasiswi salah satu universitas di Indonesia. Aku berbelok ke jalan kecil yang berhubungan dengan kampusku. “Hei!!!!” Sungguh. Tidak terlepas dari kegiatan sebagai mahasiswi. pusat ibukota beserta keramaian yang bercampur aduk di dalamnya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen CERPEN TENTANG KEKERASAN Oleh: Kartika Putri Di tempat ini aku dilahirkan. Senang atau tidak itu fakta yang ada. Hiruk-pikuk sibuk ibukota. dan semakin sedikitnya lahan hijau yang ada menambah panas matahari ini semakin terasa menyengat. Jakarta. suara bising robotbaja-berjalan. tebalnya polusi udara. “Toh sebentar lagi aku juga sampai” pikirku dalam hati. namaku Ananda. Oh iya. aku halaman 39 dari 83 halaman . robot-baja-berjalan begitu padat merayap di pagi hari. aku putuskan untuk berjalan kaki. aku tersentak. tidak terlepas dari kekerasan yang menyelimuti. Jakarta. aku juga suka memperhatikan keadaan lingkungan sekitar dan menuliskannya dalam beberapa kata sederhana yang orang-orang biasa menyebutnya puisi. teriakan itu seketika membuyarkan lamunanku. Sungguh jauh perjalanan menuju kampus. Jalan kaki lebih menyehatkan dan mengurangi polusi selain itu aku juga mencuri waktu untuk menghabiskan waktu itu sendiri tanpa ada gangguan. aku suka dipanggil Nanda. tembok-tembok beton gedung perkantoran.

tawa membahana.. baju yang entah berwarna putih atau cokelat pudar lusuh itu sudah tidak jelas warnanya—kumal dimakan waktu.. Tiga orang laki-laki bertato.. Saya belum ngamen hari ini. si pengamen hanya bisa mengelushalaman 40 dari 83 halaman . Ya. mereka preman. Pengamen kecil itu berdiri memegang kepalanya sesekali ia berjalan agak sempoyongan ke arah warung dan duduk di sebelahku. Langkahnya gontai.. deh. lagi-lagi kekuatan berjaya. “Heh! Mana setoran. kulit gelap yang membuat semua orang akan merinding melihatnya.. Lengan yang begitu kecil diselimuti berbagai macam luka. Aku yakin bukan aku yang mereka maksud.” Pengamen itu gemetar.. tangannya ditarik dan dipukulnya kepala si pengamen oleh tangan besar sang preman. Rupanya kening si pengamen lecet begitu juga dengan lengan kanan yang menopang kepalanya tadi. Bang.. Ia melangkah takut-takut menghampiri tiga preman tadi. bohong aja lu! Berani bohong sama gua!!” “Cepet periksa sakunya!! Pasti dia bohong!” “Nggak Bang. salah seorang dari preman tersebut menoyor kepala pengamen cilik itu. Saya mohon. tetapi ini terasa lebih nyata... saya.... aku memutuskan untuk berhenti. menyaksikan setiap adegan-adegan yang seperti di tuai dalam acara reality show di televisi kebanyakan. saya. Bocah pengamen itu seakan-akan tahu dan cemas apa yang akan terjadi pada dirinya. sandal jepit lusuh yang sudah tipis solnya. Tidak mungkin mereka memanggilku. lu?!” “Iya mana? Jangan berlaga bego. Semua orang tanpa harus bertanya berapa usiaku juga tahu itu. Ibu lagi sakit demam. “Ini apa??!! Bukan duit?! Berani lu ya sama gua. Aku memutuskan untuk duduk di dekat warung dan membeli sesuatu agar bisa mengamati preman-preman itu tanpa harus dicurigai. Bang.. masih kecil juga!” “Itu uang untuk beli obat ibu di warung. bakalan mati kalo nggak makan!” Pengamen itu bersikeras merebut kira-kira lima lembar uang seribuan dan satu lembar uang lima ribuan dari tangan-tangan kotor si preman. ada. Pasang tampang polos pula!!” Bocah pengamen itu seraya berjalan agak mundur sedikit dan menunduk.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen menoleh. Pengamen itu jatuh tersungkur di tanah. lu! Orang juga nggak ada yang peduli sama gua!! Ibu lu nggak bakalan mati kalo nggak minum obat!” “Lain sama kita. nggak.” “Eh. premanpreman meninggalkannnya dengan tawa keras. Tiga preman tadi memanggil seorang bocah pengamen dengan gitar kecil. bang... “Ng. Dugaan dan firasat yang kuat salah satu kelebihanku. a. Ya... “Hei!!!! Iya sini bocah!!!” Masih tertegun dengan teriakan itu. perawakan besar lengkap dengan baju serta gelang tangan anyaman menghiasi tangan mereka. saya.” “Iba-ibu! Siapa juga yang peduli sama ibu. Aku melihat di kejauhan dan tetap melihat. dan tawa yang lebih tepatnya tawa kekejaman.. Malangnya si pengamen. Jangan diambil. Aku bukan anak-anak lagi.

terima kasih ya. kebahagiaan seperti itu dapat mereka —orang tertindas—rasakan melalui uluran tangan-tangan Yang Maha Kuasa. gelak tawa mereka di kala hujan.. Ibu penjaga warung memberikan air mineral kemasan kecil dan memberikan plester kepada si pengamen.” ibu penjaga warung benarbenar tulus membantu. begitu banyak duka. Hati-hati kalo bawa uang nanti diminta preman lagi. Ternyata di jalan sempit ini menyimpan begitu banyak cerita. tetapi begitu menyimpan makna. “Wah. Wajah bocah pengamen berseri sekali saat memakai plester pemberian ibu itu dan meminum air mineral yang rasanya biasa saja. Saya kesian aja ngeliat kamu dianiaya sama mereka. Setidaknya. halaman 41 dari 83 halaman . tak hanya duka tetapi juga suka. walaupun kelihatannya kecil. dan rasa terima kasih mereka.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen ngelus kepala dan lecet di lengan kirinya. Dek.. Duka bocah pengamen tertindas. nyanyian kebahagiaan mereka.. semua menjadi tumpah ruah di sini. Ibu sudah sering menolong saya” “Nggak apa-apa. Bu.

taman bermain anak. Jembatan dekat ITC Cempaka Mas.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen TINDAK KEKERASAN PEMERINTAH TERHADAP ANAK-ANAK JALANAN Oleh : Khamim Hudori Kekacauan dunia politik di tanah air dan kekerasan-kekerasan yang terjadi belakangan ini di berbagai daerah dan ibukota menyisakan kerisauan yang mendalam bagi anak-anak. Gambaran tentang kondisi sosial yang mengenaskan. Jakarta Pusat. tetapi masih ada satu sisi yang sering dilupakan oleh pemerintah. Banyak sekali anak-anak sekitar usia 4-12 tahun yang sudah mencari penghasilan dengan cara menjadi pengamen dan pengemis. Sedih sekali melihat Jakarta yang katanya kota metropolitan. yang senantiasa menampilkan keindahan. potret wajah-wajah bocah yang kelaparan dan kepedulian para orang tua di pengungsian dapat disaksikan di media masa. banyak gedung-gedung megah berdiri. yaitu halaman 42 dari 83 halaman . Aku melihat dengan nyata praktek kekerasan oleh orang dewasa kepada anak kecil yang terjadi di jalanan ibukota. dunia fantasi anak. kenaifan dan kebebasan seakan tanpa kontaminasi sudah tidak dapat kita lihat lagi. Di kolong jembatan itu.

. sang bocah tadi pun kembali ke kolong jembatan.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen nasib anak-anak jalanan yang tak sekolah dan dapat perlakuan yang tidak wajar oleh para orang tua mereka. “Yee. Sini lo!” panggil bapak tadi ke bocah yang baru mendapat uang receh dari mobil Alphard. Dek? Apakah kamu masih sekolah?” “Saya umur 9 tahun. “Dek. Kak. “Pak Bruto itu yang ngajarin anak-anak di sini ngamen. Sini... Ibu saya sudah tiada. “Namanya siapa. ada suara memanggil Luki dengan nada keras. Kak. Ada apa?” tanya anak kecil itu. Sungguh. “Iya.” Luki langsung lari ke deretan mobil yang sedang menanti lampu hijau menyala. kasih ke gua!” bentak bapak tadi ke anak kecil itu. Terpaksa saya hidup di jalanan seperti ini. Bagaimana cara untuk kita dapat bisa dapet uang di jalanan. Di sanalah aku kenal seorang bocah kecil yang biasa dipanggil Buluk. Pak. Sudah tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolah.. Dan ternyata itu Pak Bruto yang kemarin. Sebenarnya nama asli saya Luki. Kak. Trus nanti kita dapet bagian juga. “Luki. Mmm. “Maaf.” “Kamu umur berapa. uang receh lo tadi.. Saya sudah putus sekolah. Kak. Pak Bruto?” tanya anak itu. Nah.” jawab bocah tadi. “Iya. Ini uangnya. Coba ke sini sebentar!” aku panggil anak kecil itu. “Buluk!!! Cepetan sana ngamen lagi. Saya panggil lagi bocah itu. “Woy.” Luki berbicara dengan sedihnya. kita ngasih duit hasil ngamen tadi ke dia. Tepat di lampu merah Cempaka Mas. apa boleh buat. Di kolong jembatan itu. maka dia dipanggil Buluk di lingkungan sekitar kolong jembatan. Pak. anak sekecil itu sangat tidak pantas untuk mencari uang di jalanan halaman 43 dari 83 halaman . terdengar suara anak kecil sedang menyanyikan lagu ST 12 di depan mobil Alphard. memberikan warna yang bisa menjadikan indah. aku berjalan di jembatan itu lagi untuk mengenal bocah tadi. Yaaa. ada seorang bapak sekitar umur 35 tahun. “Dapatkah aku memeluknya. Besoknya. Buluk. Pake nanya lagi..” jawab Luki dengan ketakutan dilihat oleh pak Bruto. Setelah Luki selesai ngamen dan memberikan setoran ke Pak Bruto. nanti abis ngamen. lampu merah tuh!!” bentak Pak Bruto sambil menghisap sebatang rokok dan menghitung uang setoran anak-anak dari hasil mengamen. Padahal nama aslinya adalah Luki. Karena dia berpakaian yang sangat kusam dan agak kotor. Dek?” “Panggil saja saya Buluk. Tidak lama. sebenarnya pak Bruto itu siapa?” tanya saya. Ya.” Setelah lampu hijau. “Ada apa. Saya juga maunya sekolah.. Kak. bapak saya juga entah kemana.. menjadikan bintang di surga. Kak. Kak.

Amin.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen dengan cara mengamen. Saya sedang berpikir. Dan semoga saja. apakah ada seorang bapak yang tega membiarkan anaknya hidup di kolong jembatan seperti ini dan apakah pemerintah sudah menjalankan apa yang seharusnya mereka kerjakan. yaitu memelihara dan menjamin anak-anak tidak mampu itu untuk mendapatkan pendidikan yang layak? Bukankah tindakan pemerintah yang tidak menjamin anak-anak itu sekolah juga suatu tindakan kekerasan? Semoga saja pemerintah benar-benar serius dalam menjamin pendidikan anak-anak tersebut. semua anak-anak Indonesia berhak mendapat pendidikan yang murah dan tidak ada lagi anak-anak jalanan seperti Luki tersebut. Karena anak-anak itu mempunyai hak untuk bersekolah dan untuk menatap masa depannya. Mereka yang seharusnya sedang asyik-asyiknya bermain dan sekolah dengan teman sebaya. halaman 44 dari 83 halaman . tapi malah menjalani hidup dengan keras di alam kolong jembatan tersebut.

“Mas. aku bangun dan membentak.” halaman 45 dari 83 halaman . “Malah diam saja lagi! Cepat buatkan aku kopi!” bentakku. tapi kau terima saja. PAKK!!! Tamparan keras mampir di pipimu. Kau merasa bersalah karena sampai saat ini kau belum mempunyai anak. Kau bosan dan aku pun bosan. Begini tiap hari suasana pagi. Dan kau pun tetap diam membisu sambil berlalu ke dapur. Tiap hari aku berlaku kasar padamu. Hampir setiap hari tanganku ini menamparmu. “Apa yang kau kerjakan dari tadi! Suami bangun bukannya dikasih kopi atau apa! Ini malah sibuk beres-beres rumah! Istri macam apa kau!” satu tamparan lagi kena di wajahmu. kau bebenah rumah. Padahal sudah 8 tahun kita sudah menikah. tolong jaga rumah ya. aku mau belanja dulu ke pasar. Kau menunduk diam membisu. Dan kau tahu sikap kasarku selama ini karena alasan itu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KAU DAN KEKERASANKU Oleh: Khaula Fathina “Kamu jahat banget sama aku!” kalimat ini kan yang ingin kau katakan untukku?! Tapi selama ini kau hanya diam saja aku perlakukan seperti itu. Tak berkata apa-apa dan tidak melakukan apa-apa.

Tidak ada pukulan keras dariku. Barisan-barisan kalimat yang kau tulis di kertas itu menunjukkan alasan mengapa kau pergi meninggalkan rumah dan suamimu begitu saja. Maaf.” ujarmu. Rupanya hari ini kau terlihat ingin berdamai denganku. Aku tahu. Lalu meninggalkannya di atas meja samping ranjang. Tapi kali ini aku menyerah mas. Seperti tidak mau terlihat olehku. Tidak ada amarahku. kertas yang kau tinggalkan. Mas. “Maaf. “Cih! Masakan apa ini? Sayur asem manis begini!” ludahku sewaktu mencicipi sayur buatanmu. Terbuka rapih di atas meja. Setelah rumah rapih. Seakan-akan takut diikuti seseorang. kau pun bergegas pulang ke rumah. Tidak ada tamparan di pipimu. Kau diam menerima omonganku. kau hanya membeli sayur dan lauk pauk yang akan dimakan hari ini. Hatimu was-was takut kena bentak lagi olehku. Kertas itu. kau masuk ke dalam kamar. halaman 46 dari 83 halaman . Tanpa berkata apa-apa kau meninggalkan rumah dengan terburu-buru. Aku bukan istri yang baik. Aku akan buatkan yang baru. Saat-saat sendiri di rumah adalah saat yang membuat kau tenang. Aku hanya mengangguk dan kau pun pergi ke pasar. Aku sudah tak sanggup lagi untuk menahan segala perlakuanmu kepadaku. maaf aku pergi meninggalkanmu. Aku titip rumah. Kau mulai beres-beres rumah kembali setelah aku pergi meninggalkan rumah. Setelah selesai semua. Kau memasak sayur asem kesukaanku dan ayam goreng. Lalu memasukkan juga beberapa barang keperluan lainnya ke dalam tas. aku pulang ke rumah orang tuaku. dan langsung menuju ke dapur. Kau menuju lemari dan memasukkan beberapa pakaian ke dalam tas. membuat siapapun yang melewati meja itu dapat membacanya. Pulang ke rumah pun seperti mengendap-endap. Dan aku merasa tertekan mas atas hal itu. Kau mencicipi sedikit sayur asem itu. Mas. Aku selama ini selalu sabar menerima puukulan dan tamparan juga bentakanmu padaku.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Kau pamit. Kau menulis beberapa baris kalimat di kertas itu. aku tidak bisa memberikan keturunan kepadamu. Kau mengambil secarik kertas dari laci lemari dan sebuah pulpen. Di pasar. Jaga dirimu baik-baik. PRANG!! Kau tersentak kaget waktu aku membanting mangkuk sayur asem itu. “Tidak usah! Aku makan di luar saja! Kau jadi istri kok gak becus ngurus suami!” bentakku kepadamu. Mas.

Itu semua karena cinta kami berdua. Begitu berat ia menggenggam rantai kebencian pada hidup bersamaku yang dijalaninya. Ditatapnya langit kelam yang tak memberi kasih tanpa cahaya lekat-lekat seakan meminta pada Tuhan agar diberi sedikit saja kesempatan untuk bisa mengecap nikmatnya dunia tanpa siksaan batin yang mahadahsyat dan mencekam. Gadis itu masih termenung di antara batuan cadas hitam yang menemani setiap jeritan lamunannya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen CINTA TERLARANG Oleh: RA Koeshamimurti Tosani Natya Lakshita Flora. Flora hanya bisa menjerit di batinnya. dan Tuhan pun tak kunjung memberinya pertolongan. Sejak kami mengucapkan sumpah sehidup-semati saat pernikahan kami. tak sedikit pun cinta kasih kami direstui oleh orangtua. cinta Flora dan Fajar. Angin hanya lalu-lalang dengan wajah iba. Aliran sungai terasa begitu deras di setiap detakan jantungnya. Telah belasan tahun batinnya tersiksa dan perasaan tenang pun tak dapat ia raih. Namun tampaknya itu semua hanya bunga khayalan saja. Tak sedikit pun senyum keluarga halaman 47 dari 83 halaman . Wajahnya tetap gelap tanpa ada cahaya yang menerangi. walau pada wajah mulusnya begitu ringan rasanya ia menebarkan bunga cinta kasih pada orang-orang. Wajar bila Flora tak dapat menyebarkan senyum anggunnya. Ia terduduk dengan wajah yang masih menatap kelamnya cahaya langit.

aku percaya aku akan menyusulnya nanti di alam sana. Aku pun menjerit histeris melihat Flora telah mati di sampingku. Flora pun mengambil sebuah pisau tajam yang telah diasah olehku. Dia tersenyum menyambutku dan ingin menjemputku ke surga. halaman 48 dari 83 halaman . Flora ada di sana.” Dengan berpasrah segalanya pada Tuhan. Namun.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen mengharumkan pernikahan kami. cinta kami akan selalu dipisahkan dengan cara apa pun. Mataku pun terpejam dan bayanganku pun menggenggam erat tangan Flora. Aku sudah lelah dengan ancaman-ancaman yang terus menyiksa batinku. Aku tak ingin berpisah selamanya denganmu. Namun tiba-tiba. Aku ingin kau terus ada disampingku. ia menggenggam tanganku erat. Maka aku akan membunuh diriku sendiri sebelum kau dibunuh. di sela jerit kesakitanku. “Fajar.” Aku hanya dapat bergumam pasrah dan kemudian air mataku jatuh tak tertahan lagi. Saat pertama aku berhasil melumpuhkan dua orang pemuda. namun kekuatan pemuda terahir telah melumpuhkan nyawaku. Keesokan harinya tercium kabar bahwa orang tua Flora akan menyuruh para preman jalanan untuk membunuhku agar kami tak bisa lagi bersama. tetapi kau harus yakin. Aku tak ingin kau mati sendiri tanpa kehadiranku. siap pergi bersama ke dalam surga cinta yang sejati. aku melihat pintu gerbang cahaya kematian datang di depanku.. Mendengar kabar itu Flora menghampiriku dan berkata dengan tangis yang terisak-isak. Saat tiga preman jalanan datang menyiapkan pedang maut mereka. Dan bila kami tetap melanjutkan mahligai pernikahan kami. “Kau boleh pergi dahulu ke surga sebelum diriku. pertanda bahwa Flora sudah siap menjalani niatnya untuk mengakhiri hidup di dunia menuju kehidupan abadi. Di sana aku berbahagia bersama Flora selamanya.. Flora pun menebaskan pisau itu ke lehernya dan bercucurlah darah. cinta kita tetap abadi. Sebelum ia bunuh diri.” Setelah mengucapkan sumpah setianya pada cinta kami berdua. aku sudah siap dengan sebilah badikku. menjalani kehidupan abadi yang penuh dengan bunga cinta dan kasih. Aku merasa dunia bukan tempat cinta yang bahagia. Aku hanya bisa menahan kesakitan. aku sudah lelah dengan semua ancaman orang tua kita yang terus memisahkan kita. Sebuah pedang tajam menembus jantungku semakin dalam. Aku tak ingin kau dibunuh. agar di surga nanti aku dapat menyambut dirimu dan berbahagia selamanya di sana. “Cinta kita akan terus abadi. tetapi di surga sana.

Bapak menuju almari jati kuno yang berada di kamar Bapak sambil mendekap bendera di dadanya. benderamu!” Ibuku menyodorkan bendera yang baru digosok kepada Bapak. Tidak pernah berubah sejak bapak pensiun dari pekerjaanya. halaman 49 dari 83 halaman . Bau harum pelembut kain menyebar keseluruh ruangan. Peti itu berisi lencana-lencana.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen BENDERAKU Oleh: Krisna Karim Z “Nih Pak. Begitulah tatanan rak paling atas dalam almari Bapak. dicucinya bendera itu sendiri. Diperlakukannya bendera merah-putih dengan khusus. Di sebelah kanan peti diletakkan Al-quran yang berukuran lebih besar daripada biasanya. Bapak adalah mantan pejuang angkatan ’45 dan telah pensiun dari kepala satpam di pabrik gula. dan benda kesayangan bapak lainnya. Dan setiap kali tiba hari-hari bersejarah. kemudian disimpan di tempat yang spesial. bendera itu selalu siap dikibarkan di halaman rumah. Terdengar ada nada mengolok pada suara ibu ketika menyebut ‘benderamu’. piagam penghargaan. Dengan hati-hati ditaruhnya bendera itu di atas sebuah peti kecil dari kulit yang usianya sebaya dengan usia almari. yang ditaksir sekira hampir seabad. Sejak dulu memang Bapak sangat mencintai bendera merah putih dan tampak menjadi-jadi setelah tidak mempunyai kegiatan lagi.

Dan hal itu yang membuat kakakku malu. dengan suara keras kakakku bercerita. Pernah suatu hari ia marah kepada Bapak karena malu sama pacarnya. Malu. Pagi hari Bapak memanggul tiang bendera untuk dipasang di halaman. Bapakku pun selalu menyempatkan melaksanakan sholat dilanjutkan dengan sujud syukur. Setelah makan siang. ”Pak. Wong tugasnya di bagian logistik. aktivitas Bapak kian repot lagi. pacarmu itu. kemudian ia cabut tiang bendera yang terbuat dari bambu dan dipanggulnya menuju tempat yang teduh. Namun. Pekerjaan itu dilakukan selama 4 hari berturut-turut sejak tanggal 14 sampai tanggal 18 Agustus. Ada-ada saja. mulut komat-kamit sambil matanya terpejam entah doa apa yang dipanjatkan barulah kemudian bendera dipasang ke tiang. Dulu katanya pernah berjuang bersama Bapak. Ritual ini dilakukan dua tahun berturut-turut semenjak Bapak pensiun. Hal itu terulang beberapa kali. Lantas diambilnya lagi tiang bendera itu dan dibawa ketempat teduh. tahunya cuma makanan saja. kok tidak pasang bendera?” Padahal ia tahu betul itu bukan hari bersejarah. Sejak pagi hujan gerimis terus turun. “Ibu kenal Pak Samsur.” Adik lelakiku pernah juga terkena marah sama Bapak gara-gara ketika menurunkan bendera merah putih secara tidak sengaja ia gunakan kain bendera itu untuk mengelap keringat di lehernya. Mas Toro.” Dia terus bicara seperti bunyi penyiar radio yang tanpa meminta pendapat pendengarnya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Sikap berlebihan Bapakku terhadap bendera itu menurut kami sering menimbulkan masalah kecil dalam keluarga. Juga setiap tanggal 17 Agustus. calon suami Mbak Nurul tertawa. kalau Pak Dhe-nya tentara yang takut sama bedhil. Ceritanya hari itu tanggal 10 November. dan bapak juga mengerti kalau kakakku tengah menyindirnya. tapi tidak ikut perang. Tentu saja melihat ulah Bapak seperti itu. Dan sore hari menjelang maghrib dipanggulnya kembali ke dalam rumah. orangnya sederhana ya. begitu alasan Ibu. Bapak memasang kembali bendera itu. Bapak memasang bendera. Dengan kalem Bapak menyahut. Ibu selalu mengomel kalau hanya halaman rumah kami yang dipasang bendera. Bilang sama Toro. Saat memperingati hari kemerdekaan RI. Tak lama setelah hujan reda. Mula-mula kami khawati Bapak menderita gangguan jiwa. beberapa jam kemudian hujan turun lagi. Jadi. kemudian dari teras rumah dipandanginya bendera yang basah terkena hujan. Kakak perempuanku yang bawel suka sekali menggoda dan mengolok-olok Bapak dengan pertanyaan. Kami semua tahu kepada siapa cerita itu ditunjukkan. Di bawah rintik-rintik hujan. Namun. Oleh karena itu. Rupanya Bapak tida rela jika benderanya basah. Akhirnya kami biarkan Bapak berbuat sesuka hatinya meskipun kadang-kadang terasa aneh bagi kami. Bu. Setelah itu. Ternyata tidak ada gejala yang mengarah kesitu. Akibatnya selama satu jam lebih ia harus menerima ceramah dari Bapak perihal bendera itu. Tidak pernah menunjukan kalau dirinya mantan pejuang. halaman 50 dari 83 halaman . bendera didekap di dadanya. “Samsuri itu tentara. Pak Dhe Mas Toro? Dia juga pejuang ’45.

kalau dibiarkan terus Mas abu terseret dalam perbuatan syirik. wong ndableg gitu. yang sedang asik menonton telenovela. penyakit yang timbul setelah pensiun. “Ya.. Saya khawatir kalau kalu Mas mulai mengeramatkan bendera.” Ragu-ragu paklik melanjutkan kalimatnya karena Bapak menampakkan rasa tidak suka. “Kamu ngawur Sim.sedangkan aku dan Yana. bukan itu yang saya maksud.” Dengan menggebu-gebu Pak Lik menerangkan akibat dosa besar itu. adik perempuanku. dia pun akhirnya menghentikan pembicaraan. Itukan yang ada di kepalamu?” suara Bapak menunjukan kemarahan. Saya mengerti. Saya lihat Mas mulai berlebihan dalam memperlakukan berdera. lho.. Ibu berkata. adik Ipar Ibu. namun siapa yang berani mengingatkan Masmu. Kasihan kalau tidak diingatkan. Setelah basa-basi sejenak. Dibunuh sama musuh. Mungkin suamimu terkena penyakit post power syndrom. Hati-hati lho. Semua diam. Sudah sering ponakanmu mengingatkan namun tak pernah dihiraukan. ”Kenapa? Kamu takut aku mulai gila. Untuk merebut bendera itu tidak mudah. segera menuju pembicaraan. hanya suara radio dan televisi yang berlomba. Seperti biasa Bapak enggan menanggapi taktala ada orang yang membicarakan perihal kecintaanya pada bendera. Lihat saja bagaimana ia memperlakukan bendera. ”Maaf. “Yu. saya takut. Kita boleh saja cinta kepada negara dan bendera.” halaman 51 dari 83 halaman . Dengan nada prihatin. Sementara itu Ibu mulai terpengaruh dengan perkataan Pak Lik. Makanya kamu ndak bisa merasakan bagaimana rasanya merdeka dari penjajah!” Dengan penuh semangat bapak menceritakan kisah perjuanggannya di masa lampau. siapa tahu Masmu mau mendengarkan!” Suara Ibu terdengar bersungguh-sungguh. sama sekali tidak tertarik ikut nimbrung karena sudah bosan dengan persoalan yang dibicarakan. yang sok tahu mengatakan. Dengar Sim. banyak temanku yang mati! Mati Sim. karena itu dia memotong cerita Bapak. Mas. Coba. Kok. kamu tambah ngawur. Mas Abu lama-lama kelihatan makin aneh ya. Pak Lik bosan mendengarnya. ya. Tiba-tiba. bagaimana kalau kamu yang mengingatkan. Aku jadi geli mendengarnya—apa hubungannya post power syndrom dengan perbuatan syirik. Sikap Bapak yang diam membuat Pak Lik kebingungan. Kamu kira pikiranku sudah gila. begitu? Kamu memang tidak pernah ikut berjuang merebut negara dan penjajahan. “Ya. Ibu yang berada di ruang tengah sesekali menimpalinya. Pak Lik Kashim sengaja ikut duduk-duduk dengan Bapak di ruang makan sambil mendengarkan musik keroncong dari RRI Jakarta. Siang hari setelah makan siang. ”Lho. namun jangan sampai keblinger.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Hati Ibu mulai terusik ketika suatu hari Pak Lik Khasim.” mantap sekali Pak Lik mengucapkan kalimat terakhirnya. Itu Yu. seperti memperlakukan benda keramat saja. suara bapak mengagetkan kami.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Bapak diam sejenak menunggu Pak Lik berbicara. membunuh pemberontak berarti membela negara.. namun kelihatannya Pak Lik malas menanggapi.. seperti pemberontak RMS. ”Mas Abu tidak bersalah. ”Demi Tuhan.” ujar bapak. “Setiap melihat bendera merah putih. hingga suatu ketika aku membaca e-mail dari kakakku yang kini tinggal di Den Haag.” Aku kini benci sekali mendengar ucapan Pak Lik. APRA. Mas Abu selalu bersujud. Ternyata di mata Bapak dalam bentangan kain itu terdapat gambar hidup yang menimbulkan pergolakan batin antara perasaan syukur dan penyesalan yang sangat dalam. Terharu mendengar cerita bapak. Hal tersebut berlangsung bertahun-tahun. Untuk bendera aku juga harus membunuh sesama manusia. yang membuat aku sadar terhadap sesuatu yang aku lupakkan selama ini.” Suara Bapak bergetar menahan tangis dan tampak mata tuanya berkacakaca. Kini kami mengerti alasan bapak memperlakukan bendera dengan istimewa. aku selalu bersyukur kepada Allah karena masih diberi kesempatan untuk mengibarkannya sepuas hati tanpa ada rasa takut dibunuh musuh!” Kali ini Bapak terdengar bersungguh-sungguh mempertahankan pendapatnya tanpa disertai rasa jengkel.. tidak ada lagi perlakuaan dan tempat spesial terhadap sang Dwi Warna. Untuk menutupinya ia memberikan nasehat. kemudian dengan suara parau melanjutkan perkataanya. padahal mereka adalah saudara-saudara yang seakidah denganku. Terlihat air mata bening di mata mereka. Pak Lik Khasim menjadi salah tingkah. begini isinya: halaman 52 dari 83 halaman . ”Lalu kenapa setiap tanggal 17 Agustus. Semua tiada bersuara. Mereka harus kubunuh hanya karena ingin mengganti merah putih dengan bendera mereka. Ibu yang biasanya cerewet dan adikku yang tidak pernah memperdulikan bapak dengan bendera. Tulisan yang membangunkan kesadaranku adalah bagian terakhir dari e-mail itu.” Bapak diam sejenak. Kami sering lupa mengibarkan bendera pada saat harihari bersejarah dan baru ingat ketika diberi tahu oleh Ketua RT. membela negara diwajibkan oleh Tuhan. Pak Lik Khasim menyela. itu salah besar. “Teman-temanku harus mati karena mengibarkan bendera merah putih. Kalau sekarang aku memperlakukan bendera dengan istimewa... bukan berarti menggangap benda itu keramat dan menyembahnya. kami tidak pernah meributkan lagi soal bendera. Hening. kali ini hanyut dalam perasaan Bapak.. “Bahkan oleh tanganku. Membunuh saudara-saudaraku yang sebangsa yang pernah berjuang bersama-sama melawan penjajah. Tanganku ini harus membunuh pemberontajk DII/TII... Setelah Bapak meninggal. kemudian berdoa sambil mendekap bendera?” tanyanya.. Lama-lama Ketua RT bosan memberi tahu keluarga kami yang nyaris lupa kepada bendera dan tidak pernah mengibarkannya lagi. Bapak melanjutkan ceritanya lagi. Selanjutnya.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Semoga Indonesia segera damai dan mendapat pemimpin yang baik serta jujur agar tidak ada lagi wilayah yang memisahkan diri dari RI. karena aku sudah akan memasangnya sendiri. ”Baiklah insya Allah mulai bulan Agustus tahun depan. Mbak menangis untuk bendera dan baru kali ini aku merasakan memiliki bendera. Kepalaku mengangguk. sedangkan bendera merah putih mereka campakkan begitu saja. Aku benar-benar menangis ketika menyaksikan peristiwa itu. Ketua RT tidak perlu menyuruhku memasang bendera. Dan lebih sedih lagi ketika mereka menurunkan bendera merah putih dan menggantikannya dengan bendera mereka. Benar kata Bapak kalau bendera adalah martabat dan harga diri suatu bangsa. Sedih rasanya menyaksikan teman-teman dari Tim-Tim yang berpesta pora merayakan kemerdekaan mereka dari penjajahan Indonesia (begitu menurut mereka).” halaman 53 dari 83 halaman . Baru kali ini. Menyesal rasanya dulu aku sering mentertawakan cinta Bapak terhadap benderanya. Mengiyakan isi e-mail kakakku. Makanya mulai hari ini jangan abaikan lagi benderamu agar tiada orang lain yang menggantikannya dengan bendera lain. dalam hati aku berkata.

Aku pertama kali mengenalnya ketika pernikahan sepupuku beberapa tahun lalu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen EYANG NELI Oleh: Lestari Sari Pambudi Bicara soal sifat pelupa. si tukang tambal—sudah sangat dikenal Eyang Neli. Eyang Neli pergi ke kantor pos di kota tempat tinggal. makanya sore begini baru pulang.. bertanya. Akhirnya. kerabatku dari pihak Ibu. ternyata sepeda saya hilang lalu saya lapor ke polisi. anda harus mengenal Eyang Neli. Dengan langkah gontai beliau melangkah pulang menyusuri jalan menuju rumah. Usai keperluan di kantor pos. Namun. Saat melewati tukang tambal ban. Petugas parkir pun kelabakan karena merasa bertanggung jawab atas raibnya sepeda tua milik Eyang Neli. petugas itu menyarankan Eyang Neli untuk melaporkan kehilangan sepedanya ke kantor polisi terdekat. Beliau mulai panik. Bapak ini halaman 54 dari 83 halaman . Pernah suatu pagi. Saat itu beliau semobil denganku dalam perjalanan menuju tempat resepsi.. Beliau setuju.. ia bergegas ke tempat parkir sepeda. Di mobil itulah beliau bercerita tentang sifat pelupanya yang luar biasa. Hari sudah sore ketika Eyang Neli keluar dari kantor polisi..” jawab Eyang Neli memelas. Pak ?” “Dari kantor pos. ”Dari mana saja. Makjrengat.! Seketika tukang tambal ban tersentak kaget. Eyang Neli tidak dapat menemukan sepedanya. ”Loh.

Karena itu ia menuntun sepedanya ke tukang tambal ban tak jauh dari rumahnya. ke mal.. Ia menolak menggunakan sopir atau naik kendaraan umum.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen gimana sih? Kan. dan menemukan sang istri duduk terkantukhalaman 55 dari 83 halaman . Baru kemudian ia ingat saat berangkat ke kantor pos tadi pagi. “Lho. Lain waktu. Tapi karena khawatir istrinya panik. Ia mencoba setiap jalan mana pun yang tampak layak dilalui di kota yang tak terlalu dipahaminya itu. Di pusat elektronika. dan menyadari istrinya tak ada di sisinya.. tadi pagi sepedanya di tambal di sini. Eyang Neli mengajak istrinya keluar kota. Ia bersikeras menyetir sendiri. keduanya sepakat berpisah untuk bisa mencari keperluan masing-masing. karena ia melihat sepedanya bertengger di ruang kerja si tukang tambal ban. Setelah membayar. Baru setelah beberapa jam kemudian saat bensin mulai habis. Tiba di sana dengan alasan menghemat waktu. dan sang istri tetap tak di temukan. Yakin dengan kekutan fisiknya. ia dan istrinya berjalan ke pusat perbelanjaan. Pak. Sang istri pun cemberut sepanjang jalan. Takut nyasar dalam perjalanan pulang. Lah ini. Eyang Neli memutuskan naik angkot ke kantor pos. Beliau juga sangat percaya diri. beliau mencari ke segenap penjuru rumah. sedangkan sang istri menghilang ke kios baju. Mereka berjanji bertemu di pusat jajanan untuk kemudian pulang bersama. Ibu kemana?” tanyanya pada pembantunya. tidak hilang toh?” komentar Eyang Neli. ban sepedanya kempes. Mereka nyasar. sedikit bingung. Seperti kebiasaannya. fisik Eyang Neli masih sehat dan kuat. Sebab bisa segera mendapatkan barang yang diperlukan. Ternyata yang ditakutkan terjadi. “Cepet deh di ambil sepedanya. Tapi karena sudah ada beberapa sepeda yang di reparasi maka daripada ia menunggu ban sepedanya di tambal. Eyang Neli tak mengakuinya. beliau pun bergegas pulang dan tidur! Sore hari saat bangun tidur. Eyang Neli tidak begitu lama. Saya gak pulangpulang karena nungguin bapak!” Ganti Eyang Neli yang tersentak kaget lebih kaget lagi. Namun justru karena sifatnya itu ia sempat membuat sengsara istrinya. Walaupun sudah tua dan pelupa. Eyang Neli berbelok ke kantor polisi untuk menanyakan jalan yang benar. Ternyata perjalanan memang lancar. Bisa-bisa saya di tangkap polisi karena ngembat sepeda. di rumah kerabatnya itu Eyang Neli bercerita ngalor-ngidul hingga tak terasa hari sudah sore. istrinya buru-buru mengajak pulang saat hari belum benar-benar gelap. Beliau dan istri selamat sampai tujuan. Dan menitipkan sepedanya pada tukang tambal ban itu. Eyang Neli menuju pusat elektronika.” Seketika Eyang Neli ingat janjinya untuk ketemu di food center! Ia pun bergegas kembali ke mal. kan tadi sama Bapak.” kata si tukang tambal seraya menutup kiosnya. “Tin. Ceritanya. “Oh. Eyang Neli sangat suka menyetir mobil memang.

BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kantuk di salah satu sudut pusat pusat jajanan. Seraya menghampiri sang istri. Eyang Neli cuma senyum-senyum saja membayangkan bagaimana raut wajah istrinya bila tahu ia lupa akan janjinya tersebut. halaman 56 dari 83 halaman .

Setelah menikah perlakuan Yanto terhadap Ajeng mulanya biasa saja. Yanto. Yanto kaget karena biayanya sangat mahal dan tidak terpikirkan sebelumnya.” halaman 57 dari 83 halaman . Mereka menikah karena hamil di luar penikahan yang membuat keduanya tidak mempunyai pilihan lain kecuali menikah. suaminya. Pada saat membayar. jangan minta diantarkan sama aku. Yanto sambil memegangi kepalanya berkata pada Ajeng. mereka berdua menuju tempat administrasi untuk menyelesaikan pembayaran. Setelah selesai. Maklum. Yanto hanya mengenyam bangku pendidikan hanya sampai tingkat sekolah menengah. “Lain kali kalu mau ke rumah sakit. Setibanya sampai di rumah. Ajeng dan Yanto langsung memeriksakan kandungan Ajeng. tidak terlalu baik maupun terlalu jahat. adalah anak seorang kepala desa yang saat ini memimpin di kampung yang ditinggali Ajeng pada saat ini. Setibanya di rumah sakit. Ajeng meminta diantarkan ke rumah sakit untuk mengecek kandunganya. Yanto pun mengantarkannya ke rumah sakit.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen BEJAT Oleh: Fauzana Fidyarizky Ajeng adalah istri yang menjadi menjadi korban kekerasan suaminya. aku tidak punya uang untuk membayarnya. Yanto pada saat ini adalah seorang pengangguran. Suatu saat.

Ajeng meminta maaf kepada Yanto karena Ajeng merasa bersalah tidak menghormati suaminya atas perkataaanya. bahkan tendangan ke arah perut Ajeng pun. Ajeng pun menangis dan merasa sakit pada saat itu. dan terulang lagi. halaman 58 dari 83 halaman . Yanto pernah lakukan. dan tiba-tiba Yanto menghampiri Ajeng dan langsung menamparnya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Ajeng pun menjawab. Tiap dua hari sekali kejadian itu terulang. Para tetangga yang sudah geram mengetahui prilaku Yanto terhadap Ajeng. Tapi apa yang dilakukan Yanto. Setelah keluar dari rumah sakit. Lagi pula kan itu sudah menjadi tanggung jawab Mas untuk menanggung semua kehidupan kita. Tanpa disangka Yanto mengambil sebuah kayu dan langsung memukuli Ajeng. Dan Ajeng pun cuma bisa teriak dan minta tolong. Tetapi kekuatan Yanto lebih besar dari pada Ajeng. kalau kita tidak memeriksanya. Caci maki. Ajeng tahu bahwa suaminya akan menemukannya cepat atau lambat. gimana kita bisa tahu keadaan anak kita. tamparan. Ajeng kesakitan sekaligus kaget Yanto bisa berbuat seperti itu. dan secara refleks Ajeng membalas perbuatan Yanto. yang kosong karena keluarga Ajeng pulang ada acara di balai desa. Kondisi ini berbutut kepada Yanto yang harus mendekap dipenjara selama satu tahun. dia malah menampar Ajeng untuk kedua kalinya. menolong Ajeng dan langsung membawa Ajeng ke rumah sakit.” Yanto mulai berbicara dengan nada kerasnya. Pada suatu saat Ajeng dipukuli habis-habisan oleh Yanto. Yanto kabur pada saat warga menolong Ajeng. Benar saja ia bertemu di rumah ayah dari Ajeng. Ajeng pun pingsan dan saat terbangun mata bengkak dan telanjang karena Yanto baru memperkosanya. Keesokan harinya. “Mas.

Dalam perjalanan cinta mereka tak pernah mulus. Dalam permasalahan halaman 59 dari 83 halaman . yang kebetulan ayah dari seorang pria tampan yang bernama Tono. kakak Nia. dapat mempertahankan hubungan mereka dengan sangat baik. setelah pulang dari perantauanya. Ayah kami adalah seorang Kepala Desa yang terpandang. Tak banyak orang dapat mempertahankan hubungan cintanya jarak jauh. sedangkan Nia adalah anak bungsu. Kepala Desa Mantaren. Rafli adalah seorang anak yatim piatu yang menggantungkan hidupnya dengan kerja kerasnya sendiri. hiduplah sepasang kekasih yang saling mencintai yang bernama Rafli dan Nia. Tetapi Rafli dan Nia. Dalam permasalahan tersebut.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen AKHIR DARI CINTA SEJATI Oleh: Lia Andika Pratiwi Pada suatu desa yang dinamakan Pulau Telo. Rafli sedang merantau jauh ke negeri seberang. Pada suatu ketika. Ayah tidak dapat menyanggupi membayar hutangnya kepada Ayahnya Tono. Dua tahun berlalu. Dan mereka berjanji akan hidup dan mati bersama di bawah pohon cemara pinggir laut. terkait hutang yang cukup besar kepada Pak Sugih. Dan Nia juga berjanji akan selalu berdoa untuk keberhasilan Rafli. Berbagai rintangan selalu mereka lalui dengan kesabaran hati mereka. Sebelum Rafli berangkat merantau. Rafli berpesan akan selalu ingat dan berjanji akan menikahi Nia. sang kekasih. Pak Bowo. sebelum Rafli merantau. Aku Santi. Ayah kami.

halaman 60 dari 83 halaman . “Ya. Tidak lama kemudian. Rafli. “Iya. tanpa sepengetahuan Nia. Dan ternyata Nia pun sudah tiada. dengan ayah?” Nia menjawab. Dia lupa. Lalu Nia berlari dan memeluk erat tubuh Rafli. Rafli pun melompat dari atas pohon tersebut. “Ayah. Aku di sini merindukanmu. kamu sayang kan. Lalu Nia terkejut mendengar suara yang dulu sering dia dengar. “Kamu mau bantu ayah kan?” Lalu Nia menjawab.” Lalu Ayah berkata. iyalah Nia bisa dan mau bantu Ayah. “Tuhan cobaan apa yang kau berikan pada hambamu ini. Apalagi karena Tono sejak dulu memang memendam perasaan cinta untuk Nia. pulanglah….” Lalu Rafli menjawab. anak seorang saudagar yang kaya raya. ya Allah. “Nia. Ayah. untuk menikahkan anaknya dengan putranya. di mana tempatnya terakhir bertemu kekasihnya Rafli. Setelah itu. kamu mau kan menikah dengan Tono.” Dan Rafli pun. Setelah Nia mengetahui semuanya itu. adikku. Lalu Nia berkata. Lalu Nia berkata. teryata kau…. Beberapa hari kemudian. Dan Nia pun terpaksa menuruti perkataan ayah. tapi cinta Nia tidak bisa dipaksakan.” Lalu Nia berlari ke bawah pohon cemara di pinggir laut. semuanya akan dianggap lunas. Lalu Rafli menemui Nia yang sedang menjemur pakaian di belakang rumah. Ayah berkata. Rafli menghilang bagaikan di telan bumi. anak Pak Sugih untuk membantu melunasi hutang-hutang ayah?” Dengan kesal lalu Nia menjawab dengan ketus. Satu tahun dari pernikahan Nia dan Tono. Pak Sugih. “Tapi kamu sudah punya calon suami Nia…. akan tetapi aku tidak dapat berbuat banyak. disetujui oleh Ayah. ayah dari Tono. Datanglah sebelum Tono melamarku…!!!!” Sebagai kakak. dan berjanji akan hidup dan mati bersama. apa yang ayah lakukan? Dia kekasih Nia yang selama ini membuat Nia bahagia. keputusan Ayah telah bulat. Nia sangat menyesali dirinya. mestinya Ayah juga yang mesti bertanggung jawab. ya Allah. Begitu berat ujian yang kau berikan ini. Ayah Nia melihat. aku pun merasakan kesedihan yang dialami oleh adikku. bahwa Rafli pernah berkata.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen tersebut. Maka ketika ayah terlilit utang dengan keluarga mereka. ayah kami. Dari permintaan Ayah Tono tersebut. dan langsung mendorong Rafli. apalagi demi melunasi hutang Ayah. Lalu Rafli memangil Nia dari atas pohon. “APA??! Nia. Dia mengakhiri hidupnya di pohon cemara pinggir laut. maka semua utang yang ada pada ayah kami. muka Nia memerah dan tidak mau menikah dengan Tono. bagaikan Spiderman. Ayah yang berbuat. dengan serta merta ayah Tono mengajukan persyaratan tersebut. “TIDAK AYAH! Nia memang sayang dengan Ayah.” Lalu ayah berkata. langsung pergi meninggalkan Nia. “Nia.” Lalu ayahnya berkata. berkata kepada Pak Bowo. Rafli beserta teman merantaunya kembali ke desa Pulau Telo. dan menikah dengan Tono.

akan hidup dan mati bersama. Dan akhirnya. Ternyata begitu besar cinta yang terjalin antara Rafli dan Nia. Dan berakhirlah sudah cerita ini. halaman 61 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen bahwa tempat pohon cemara itu adalah tempat di mana mereka berjanji. Nia pun mengakhiri hidupnya di pohon cemara itu juga.

” kataku sambil berlalu masuk ke dalam rumah.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen MURTI Oleh: Loise Viranti Lasnida Mbak Murti keluar dari rumah besar itu. setiap ditanya.. Mbak. Kamu wis mandi? Sudah pagi. Lah aku masih libur kok.” “Ntar aja aahh mandinya. rahang bawahnya kebiru-biruan dan bengkak dan bibir bawahnya yang sobek juga tambah bengkak. gih. karena yang ia jemur adalah pakaian yang bagus dan besarbesar ukurannya. “Itu mukanya kenapa. Mbak Murti jadi terlihat seram dengan wajah yang bengkak-bangkak begitu.” Aku tidak pernah mengerti maksudnya. Sudah sana.. Pasti baju-baju Ibu Tanti dan Pak Adri.. ntar kamu telat masuk sekolahnya. “Ngjemur nih ye.. Aku diam melihatnya dari luar pagar.mbak.. Mbak? Kok yang sininya jadi biru?” tanyaku sambil memegang rahang bawahku.” godaku pada Mbak Murti. Mbak Murti selalu menjawab. Sudah ya. “Biasaa. membawa ember penuh berisi pakaian yang aku yakin pasti bukan pakaiannya. pikirku. Hari ini ada yang lain lagi dari Mbak Murti. “Biasa. Mbak Murti hanya cengengesan menanggapiku. Selalu begitu. Waktu itu aku pernah ikut duduk-duduk di warung Bu Warsih saat ibu-ibu halaman 62 dari 83 halaman .

Acara di televisi sedang diganti dengan iklan. tapi aku sangat malas dan pernah tidak naik kelas. Aku tetap asik memakan agar-agar yang kubeli sambil bengong melihat ayam-ayam di depan warung Bu Warsih. Kemarin malam si Murti saya lihat sedang tidur di luar.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen sedang belanja memilih-milih sayuran. yang aku kenal betul wajahnya karena ia pernah ke rumahku. Lalu aku pergi dari warung Bu Warsih. Mereka belanja dengan ribut sekali. Aku tidak tahu kampungnya di mana. Tapi sekarang aku jarang bertemu Mbak Murti. Aku selalu dinasehati Mbak Murti setiap kali malas belajar. Dari pagi sampai Maghrib Mbak Murti sudah jarang sekali keluar rumah. Ia suka bertanya-tanya tentang sekolahku dan sering mengajariku matematika. seharusnya kita laporkan saja Bu Tanti sama polisi. Jadi apa “biasa” yang dimaksud Mbak Murti itu maksudnya adalah dipukul oleh Ibu Tanti? Kok disiksa seperti itu dianggap biasa? Aku kasihan sama Mbak Murti.. ya? Mbak Murti pernah bilang padaku bahwa ia sangat rindu kampungnya. Lalu aku memikirkan Mbak Murti. Begitu juga ibu-ibu yang lain. bergosip. Wong rumah kita aja masih nyewa sama dia. “Emang deh. Dulu waktu ia baru-baru datang. dia malah nangis. tapi tidak bisa karena tidak ada biaya. Toh setiap ibu-ibu berkumpul akan seperti itu. iklan-iklan makanan yang ditawarkan untuk berbuka. Tidak ada ekspresi prihatin dari wajahnya. kecuali kalau sedang menyapu teras atau menjemur pakaian seperti tadi. jengah dengan obrolan ibu-ibu tersebut. Kira-kira ia akan mudik ke rumah ayahibunya tidak. Bu Tanti itu sudah keterlaluan. Tapi toh apa bedanya. pas paginya saya tanya sama si Murti. yang bisa bersekolah karena SD saat ini dibiayai pemerintah. kuli bangunan yang suka menganggur jika tidak ada yang membutuhkan tenaganya. di sini juga halaman 63 dari 83 halaman . Berbeda denganku. Aku pergi ke rumah Resih. Terus. Sampai aku mendengar salah satu ibu yang rumahnya tak jauh dari rumah sewaan keluargaku. sebentar lagi lebaran. Awalnya aku tidak memperhatikan apa yang mereka ributkan. Aku ingat ini bulan Ramadhan. Katanya karena sebenarnya ia ingin sekali melanjutkan sekolahnya. Aku menoleh ke wajah ibu yang sedang menjadi pusat perhatian karena bersemangat bercerita itu dan mendengarkan. Sepertinya Murti disuruh tidur di luar sampai pagi. memanggil ayah untuk meminta ayah membetulkan genting rumahnya. menyebut nama Mbak Murti dan Bu Tanti.” cerita ibu itu dengan wajah yang semangat. Ya begitulah pekerjaan ayah. Mbak Murti suka bermain denganku dan ngobrol-ngobrol. “Tuh kan. “Tapi nanti kalo kita laporkan Bu Tanti. padahal Mbak Murti baik. kita mau tinggal dimana? Hahaha. temanku yang mempunyai televisi di rumahnya dan menonton bersama orang-orang yang sedang ikut menumpang. yang mondar-mandir sambil mematuk-matuk beras yang tersebar di tanah. Mbak Murti sangat peduli dengan pendidikan dan sekolahku. Biar kapok dia!” sahut ibu yang lainnya. Kasian banget deh si Murti.” timpal ibu lain yang rumahnya di sebrang rumahku.

kerabat dari paman Mbak Murti yang membawanya ke sini tidak kembali ke kamarnya. Setiap sore ia biasa keluar dan bermain denganku. “Loh kamu kok sudah bangun. Ada rumahrumah kecil dan juga kamar-kamar petakan seperti tempatku dan keluarga tinggal. bisa terlihat besarnya rumah Ibu Tanti dan kulihat ada Mbak Murni duduk di teras rumah itu. halaman 64 dari 83 halaman . Meskipun Jakarta adalah kota yang megah dan besar. rumah Bu Tanti adalah rumah yang paling besar. bukan di dalam gang seperti ini. Mbak Murti terlihat kaget dan berjalan menghampiri aku di seberang pagar dengan tertatih-tatih. sama seperti keluargaku. Awalnya Mbak Murti terlihat senang-senang saja bekerja dengan Ibu Tanti. Mbak Murti mengerutkan dahinya. aku penasaran ada apa dengan kakinya yang membuat jalannya terseret. Mbak? Sama kayak tuh muka? Kok betah sih. Aku berjalan ke depan rumah megah itu dan memegangi pagar. Setahuku semua rumah dan kamar ini adalah milik Ibu Tanti yang setiap bulan menagih pembayaran sewaan pada kami.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kampung. ngapain di situ. Berbeda dengan tempat tinggal kami. Awas saja dia!” *** Pagi ini aku bangun kepagian. Tapi Mbak Murti hanya diam dan menunduk ikut melihat kakinya. “Dipukul ya. Dan sepertinya Pak Adung pergi dengan meninggalkan hutang sewa kamarnya. Panas sekali di dalam kamar ini. seorang kuli panggul di stasiun yang juga menyewa kamar milik Ibu Tanti. Apalagi sejak Pak Adung. bagiku tetap saja aku tinggal di kampung. Tapi aku terlanjur bangun. Karena itulah Mbak Murti datang. Rumahnya tingkat dan pagarnya berukir tinggi. “Dasar si Adung kurang ajar. Jakarta adanya di balik gedung-gedung bertingkat dan jalan tol yang macet. Hampir semua tempat tinggal di sini milik Ibu Tanti. Mungkin karena rumahnya yang besar itu. Tapi sudah tiga bulan ini sepertinya semua berubah. Mbak?” tanyaku sambil melihat ke arah kaki Mbak Murti. lima bulan nunggak sekarang malah ngilang. Karena waktu itu aku pernah melihat Ibu Tanti berdiri di depan kamar Pak Adung sembil bersungut-sungut. Pantas saja di luar seperti masih gelap. Dari depan tempat tinggalku. aku pun keluar. Aku lihat jam dinding yang diletakan di atas tumpukan baju ayah menunjukkan pukul setengah lima pagi. ia membutuhkan pembantu untuk membantunya mengurus rumah. Ndah?” “Kakinya kenapa itu. mungkin ia sudah pindah atau malah sudah pulang kampung. Dulu Mbak Murti datang dari kampungnya karena dibawa oleh Pak Adung. Mbak?” tanyaku langsung. Mbak?” panggilku dengan setengah suara. “Eh Mbak Murti. Sudah dua bulan batang hidung Pak Adung tak terlihat.

Ibu Tanti keras banget. Ternyata di sinipun ada. Ibu Tanti sesumbar. Kupikir hanya orang di negeri seberang sana saja yang suka menyiksa pembantu.” kataku dengan kesal dan geram. Aku sendiri tidak tega melihatnya. Kalau nyuci ndak bersih. Jangan mau digituin.” Mbak Murti menangis. Kamu jangan bilang apa-apa ya ke orang-orang sini. aku lega. “Lawan toh Mbak. Mungkin Bu Tanti takut Mbak Murti melaporkannya ke polisi. Terkadang rindu juga aku dengan Mbak Murti. tidak ada kabar lagi tentangnya. Ndah. melaporkan keberadaan Mbak Murti apabila melihatnya. warga sekampung. ia bilang Mbak Murti pergi dengan mencuri perhiasanperhiasannya dan ia bilang selama ini Mbak Murti tidak pernah beres kerjanya. aku ndak boleh makan. “Aku dipukuli. Ibu Tanti kewalahan mencari-cari Mbak Murti. Ndah? Kamu lihat?” wajah Mbak Murti panik sambil memegangi rahangnya yang masih bengkak dan biru. pikirku. *** Beberapa minggu setelah aku mengobrol dengan Mbak Murti. “Ntar makin jadi-jadi kalau aku lawan. “Aku denger gosipnya. Sedangkan Bu Tanti masih tetap panik dan berusaha mencari Mbak Murti. Ia memaksa kami. Udah dulu ya.” Aku mengangguk dan berbalik pulang ketika kulihat Mbak Murti juga berjalan masuk ke dalam rumah. Kalau nyapu ngepel ndak beres. Nanti kalau ibu bangun terus lihat kita. Ndah. Setidaknya ia tidak dipikuli dan disiksa lagi oleh Bu Tanti. Sudah sana kamu pulang. Gara-gara Bu Tanti kesel sama Mang Adung. Bahkan orang sekitarku sendiri. Aku ndak boleh salah. Ndah. Tapi jadi aku yang diomelin. *** halaman 65 dari 83 halaman . Kayanya ia kabur dari rumah.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Loh. Aku kan ndak tau apa-apa. kok kamu tau. Ndah. aku ditampar. Mbak. Ini muka jadi biru karena dijedotin ke meja. semoga saja Bu Tanti sadar dan kapok menyiksa pembantu seperti Mbak Murti. Waktu ibu-ibu lagi belanja di warung Bu Warsih. Tapi sudah seminggu sejak kepergian Mbak Murti. Aku berharap. Mendengar ceritanya langsung seperti ini aku jadi ikut sedih. aku bisa diomelin. Ntar aku diomelin sama Ibu. Mbak diapain toh Mbak? kok bisa jadi begini?” Mbak Murti hanya diam lama sekali sampai akhirnya buka suara dengan wajah sendu dan berkaca-kaca. Tapi di manapun dia sekarang. Dulu kupikir kekerasan seperti itu hanya ada di televisi dan berita-berita saja.

Aku terpeleset di lantai yang basah. Oca?" halaman 66 dari 83 halaman .BEJAT: sebuah kumpulan cerpen SI CANTIK YANG MALANG Oleh: Fazra Fatima Azzahra Di suatu pagi yang cerah. Ckckck. "Hihi. Kelasnya di mana sih?" "Kelas 12 Sos D. Dia tersenyum kepadaku cantik sekali. "Saya Oca. Aku segera berlari ingin pulang karena film kesukaanku siang ini akan diputar di televisi. aku langsung menuju ruang kelas ku. lagi pula bel masuk sudah berbunyi. syuuuttt... Saya Nanda. Tiba-tiba mataku tertuju kepada seorang perempuan cantik yang asing bagi ku. Aku ingin menyapa. "Hai. Tidak disangka.. Aku malu. Ternyata dia baik. bikin iri jadinya. lain kali hati-hati ya.. Ooo.. Sepertinya dia murid baru di sekolahku.. Tiba-tiba…. sepertinya tidak perlu... Kamu murid baru. Sesampainya aku di sekolah.. Waktunya pulang sekolah. ya? Siapa namanya?" "Ya benar." Keesokan harinya.. semua itu merubah pikiranku sebelumnya. Nda. seperti biasa aku menuju sekolah di antarkan oleh kakakku. Dia terlihat angkuh. siapa namamu?" Waaa suaranya halus sekali.. tapi ah. Murid baru itu menolongku. sepertinya terburu-buru sekali.

” “Memang orang tua kamu kemana. aku ini merasa sangat tersiksa di rumah ini.? Nanda udah nungguin aku di depan kelas? Rajin banget... Menurut lo gimana. doyan banget gosip sih.. “Nanda. Aku di sini disiksa. Oke oke. yah.. mereka justru yang memandang aku sinis. Setiap aku dari luar negeri dan memberi oleh-oleh untuk mereka. Ca. Nda???” “Nanti aja ya. Ca. Senangnyaa. di rumah aku ceritanya. Abis sebel tahu liat anak baru. Pertama kali liat kamu.” “Aku jadi sedih. diperlakukan seperti boneka. "Hmm. aku merasa seperti di neraka. Wkwkwk. Mereka nganggep aku sombong. Ca. Setiap hari. Tapi kenapa kamu kok terbuka banget cerita masalah ini sama orang baru kayak aku??” “Karena cuma kamu yang mau berteman sama aku. Ca?" “Emang siapa yang sebel sama kamu?? Emang mereka ngapain kamu. belagu. a. iya. Tuh di seberang kelas 12 IPA A..” Sesampainya di rumah Nanda. Aku ngga ngerti kenapa semua orang benci sama aku. Kan kita juga belum kenal sebenernya dia gimana. emang sih dia jutek mukanya. "Nanda kenapa?" "A. sebaiknya halaman 67 dari 83 halaman ..... Sipp... Mukanya kaya orang pengen ngajak ribut. Aku segera bergegas pulang.. Padahal setiap kali aku coba ramah atau senyum sama mereka." Ketika di mobil tiba-tiba Nanda menitikan air mata. Ca. Oya." Kring kring…." "Tapi kamu yang ikut mobil aku..” “Kenapa ya. Aku pulang bareng kamu yah?" Haa.di sekolah juga. Tetangga aku juga semua bersikap dan berfikir seperti itu. hehe.. Ca.. ngga seperti orang-orang yang lainnya. Temen-temen di kelas semua mencibir aku.. dan sekarang aku tinggal bersama laki-laki paling kejam. "Ia kenapa ya gosip itu enak. hiks... aku.” “Terus kenapa kamu ngerasa hidup kaya di neraka di rumah ini? Padahal kan di sini enak. dan yang terpenting—dan sangat pribadi sebenarnya. tapi gue juga ngga berani nilai orang sembarangan. rumahnya gede??” “karena aku di sini tinggal bersama orang yang tidak aku kenal.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen "Oo… kalo gitu kita depan-depanan dong. Sok ngartis." aku menghampiri teman-temanku. mereka berfikir seperti itu??” “Mereka berfikir aku ini sok pamer. Nda??” “Kamu tahu tidak?? Aku dijual oleh mereka. Banyak gaya. "Eh. Ca?" sahut Dania. "Eh eh.. gayanya belagu." "Oke lah. Kita memasuki kelas masing-masing. "Hai. kamu kenapa sih tadi???” “Hikksss…. mereka menganggap aku ini hanya ingin mendapat pujian. aku ngerasa kamu itu ramah. Bel pulang berbunyi. Bel pulang lima menit lagi berbunyi.." Bel masuk pun berbunyi..

Sungguh aku tidak kuat mendengarnya. Ocaaaaa…. “Maaf… maaf.” “ISTRI MACAM APA KAMU INI!!!!” Aku shock dalam hati…. karena kalau aku ketahuan membawa kamu ke sini…” “NANDAAAAA… NANDAAAAA!!!!! DI MANA KAMU????!!!” BRAKKKKK…. Sungguh kejam..” Aku tidak dapat berbuat apa-apa selain berdoa meminta perlindungan dariNYA.. halaman 68 dari 83 halaman .. “DIAM KAMU!!!!! RASAKAN!!!!” “AAAAAAAAAAAAA……. “Ocaaaaaa…. Nanda telah tewas karena ulah lelaki itu.. min… minta maaf. Aku mendengar teriakan dan isak tangis Nanda. JANGAN PERNAH MEMBAWA SIAPA PUN KE DALAM RUMAH INI!!! SUDAH BERAPA KALI KAMU BERBUAT KESALAHAN. dan segera aku menelepon polisi.. huhuuuuu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen kamu cepat pulang. Kemudian aku diseret paksa oleh lelaki paruh baya itu ke luar. Tolong aku.” Sebelum polisi itu datang… sepertinya semua sudah terlambat untuk menolong Nanda.” “APA-APAAN INI???!!!! SIAPA DIA??!!! SUDAH KUBILANG. karena… aku melihat percikan darah yang sangat banyak memuncrat di gorden kamarnya yang berwarna putih. Caaaaa. Astaghfirullah… istri???? Tega-teganya orang tua yang menjual anaknya sebagai istri orang lain. HAH??!!” “Aa… aku. Saya minta maaf..

Pamanku seakan-akan mempunyai hidup yang sangat nyaman dan nikmat. Tetapi ternyata kabahagiaan Pamanku diusik oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab. nyaman.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen JANGAN MAIN HAKIM SENDIRI Oleh: Lourin Hertyastiwi Pamanku adalah seorang petani yang sangat giat bekerja. Dan keluarganya pun adalah keluarga yang sangat baik. Tanpa perlu mengeluh dan mengatakan hal macam-macam yang tidak bisa dicapainya. dikarenakan orang tuaku yang pergi merantau entah kemana. Seperti tidak ada masalah sama sekali dalam keluarga ini. Mau makan apa keluargaku kalau begini? Mana bisa aku dapat uang selain dari bertani ini. dan tentram. “Aduh bagaimana ini? Padiku dicuri orang. Aku pun yang hanya keponakannya yang menumpang di rumahnya. Ingin rasanya di kala besar nanti aku menjadi seperti pamanku yang selalu bersyukur dengan keadaannya. Mereka juga tidak pernah mengeluh dengan kehidupan mereka.” keluh Pamanku ketika ia tahu kalau padi-padinya yang siap panen dicuri oleh pencuri-pencuri jahat halaman 69 dari 83 halaman . Hidup terasa aman. Ia tidak pernah mengeluh sekalipun tentang pekerjaannya yang hanya seorang petani. Mereka adalah para pencuri padi yang sering berkeliaran di malam hari dan mencuri padi-padi para petani. merasa sangat senang dan nyaman tinggal di keluarga ini.

Setelah itu barulah si pencuri itu dibawa ke kantor polisi untuk diadili. awas mereka.” kata salah satu orang dari mereka. Paman ingin merenung dulu. Pak. Maka berbondong-bondong lah mereka ke Kepala Desa. agar nanti Kepala Desa untuk melapor. Kenapa ia melakukan hal sebegini jahat pada kita sih. Akupun mendatanginya dan ternyata yang berbicara seperti itu adalah pencuri padi-padi warga. Kasihan juga pencuri itu. “Sungguh jahat pencuri itu. Pak..” jawab Pamanku dengan sedikit kesal tetapi tetap saja terdengar bijaksana bagiku. “Paman. Sudahlah. tapi janganlah kita main hakim sendiri. Aku memang suka melihat paman bekerja di sawah dan sesekali membantunya sebisaku. sudah cukup. ampun.” Terdengar suara seperti itu dari alun-alun desa ketika aku melewatinya. “Hei. Dasar orang-orang yang tidak bertanggung jawab kalau ketemu.. “Kalau mereka baik tentu saja mereka tidak akan menjadi pencuri.. “Ya. Apa itu adil?!” tiba-tiba Pamanku datang dan langsung menghentikan warga yang berusaha menghakimi si pencuri itu dengan pukulan-pukulan yang tentu saja tidak ringan tetapi pukulan yang keras. aku sangat bangga kapadanya. Paman. tetapi kenapa Tuhan memberikan ganjaran seperti ini kepada Paman. Dan sekarang dia sedang diadili di alun-alun desa. Janagn kau pukuli lagi orang ini. Saya kan hanya berusaha mencari makan. Mungkin Tuhan memberikan cobaan ini karena paman kurang bersyukur kepadanya. Kebetulan aku sedang berada di sawah menemani Paman yang ingin segera memanen padinya. Tetapi kalau padinya saja hilang. “Aduh. Hanya Tuhan yang tahu jawabannya kenapa. “Benar juga sih yang Bapak bilang. apa yang bisa aku bantu untuk Paman? Aku hanya bisa mengumpat saja dalam hati agar si pencuri itu ditemukan dan diberikan ganjaran yang setimpal.. Seharusnya kita memberikannya kepada pihak yang berwajib atau kepada Kepala Desa.” kata salah satu dari orang-orang yang memukuli pencuri itu. Kau masih tega memukulinya?! Dia itu sendiri dan kalian beramai-ramai memukuli dan menghakiminya. dia sudah mencuri padi-padi kita dan bapak juga salah satu korbannya. ampun. Lihat mukanya sudah babak belur begitu. Nak.” kataku dengan mengebu-gebu.. Paman capek. Dan ternyata orang itu adalah seorang laki-laki dari desa sebelah. Kok Paman biarkan pencuri itu begitu saja? Maksudku kok Paman tidak ikut memukuli pencuri itu? Memangnya Paman tidak merasa dendam kepada si pencuri itu?” tanya ku kepada paman. Tadi malam pasukan Siskamling memergoki si pencuri itu sedang mencuri padi di sawah. “Tapi kan Pak. Aku memang penasaran kenapa paman bisa halaman 70 dari 83 halaman .. biar nanti mereka yang mengadili.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen itu. Keesokan harinya. kan.” kata Pamanku dengan sangat bijak. Ayo kita bawa dia ke pihak yang berwajib. aduh. Sebenarnya menurutku Paman sudah banyak bersyukur.. Pamanku itu memang orang yang benar-benar bijak. Tolong jangan bawa saya ke kantor polisi. Saya minta maaf.

“Nak. Mungkin bukan hanya salah si pencuri saja makanya padi Paman hilang. halaman 71 dari 83 halaman . Aku bangga punya paman seperti Paman.” pujiku kepada Paman.” jawab Pamanku dengan wajah yang sepertinya agak malu-malu. Dan jika si pencuri sudah melanggar hukum. Ayo kita pulang. tetapi Paman bukan menjaganya tapi malah pulang dan tidur dengan nyenyaknya. Sebenarnya Paman tahu kalau sudah ada pencuri yang berkeliaran. “Kecerobohan Paman. kita tidak seharusnya melanggar hukum juga seperti memukuli si pencuri itu. Dan kalau dendam.” Pamanku menjawab dengan sangat jelas dan sangat bijak. Pamanku adalah paman paling hebat di seluruh dunia. Dia tidak hanya baik kepada keluarganya ataupun orang-orang yang dikenalnya. mungkin saja karena ada ke cerobohan Paman makanya pencuri itu bisa mencuri padi Paman. “Ah kau bisa saja. kita sesama manusia tidak boleh dendam. Iya selalu bijak di setiap kondisi. Jadi Paman ceroboh juga kan sehingga pencuri itu bisa mencuri padi Paman. Jika sudah besar nanti aku ingin menjadi seperti Pamanku. Yang selalu baik dan bijaksana kepada siapa saja. Dan hukumnya bukan hukum rimba yang suka mengadili sendiri si penjahat. Itu lah ciri-ciri Pamanku. karena Paman tidak menjaga padi itu dengan baik. tetapi hukum yang adil untuk semuanya. Dan bijaksana “Wah Paman baik dan bijaksana sekali..” jawab pamanaku panjang lebar. “Loh kecerobohan paman apa?” Tanya ku karena tidak mengerti apa yang pamanku bicarakan. dan kita mempunyai hukum-hukum yang harus ditaati. Tidak seperti warga yang lainnya yang mencoba menghakimi sendiri si pencuri itu. tetapi kepada penjahat pun ia masih dapat menunjukan kebaikannya..BEJAT: sebuah kumpulan cerpen sesabar itu kepada si pencuri. negara kita ini kan negara hukum.

Jika sudah begitu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen JAN Oleh: Marsha Jozana Nama saya Siska. Jan juga sering disuruh Ayahnya untuk mengemis.?” tangis Jan. Jan tinggal sama siapa. Ayahnya akan memanggil Jan hanya untuk memarahi dan memukulinya. Salah satunya sebut saja namanya. Setelah kasus Jan di proses. Saya ingat sekali ketika saya datang ke rumah Jan—setelah mendapat laporan dari tetangganya bahwa sang Ayah bunuh diri dan sang Ibu telah lama pergi dari rumahnya.. Jan.. Jan hanya bisa berjongkok sambil menangis tersedu-sedu dan memanggil-manggil Bapaknya. sang Ayah akan memarahinya dan memukulinya. Ia adalah seorang bocah laki-laki yang masih berumur 9 tahun. Kehidupan ekonomi yang serba sulit mungkin membuat Ayahnya mudah marah. ”Bapak…. kalo Bapak gak ada. Tapi sayang tangan Jan agak halaman 72 dari 83 halaman . Saya adalah seorang aktivis perlindungan dan hak asasi anak. Ia dan keluarganya memang tidak hidup berkecukupan.... saya sering menemukan kasus kekerasan orang tua terhadap anak-anaknya. sekarang Jan tinggal di panti asuhan bersama dengan teman sebayanya dan juga ia bisa bersekolah. Dalam menjalankan aktivitas saya. Dan jika Jan pulang tidak membawa hasil yang memuaskan. Apalagi kedua orang tuanya sering sekali bertengkar.

Karena dulu. halaman 73 dari 83 halaman . Sehingga sekarang tangannya tak bisa di gerakkan. Kisah Jan ini dapat menjadi pelajaran bagi kita semua. sang Ayah suka melempar benda tumpul ke tangannya. Walaupun ia masih terlihat trauma dan sedih jika mengingat kedua orang tuanya.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen tumpul. saat memarahinya. Sekarang Jan dapat bermain dan melakukan aktivitas seperti anak-anak seusianya. Apalagi ia tidak mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya sebagai selayaknya seorang anak.

” “Pasti masa lalu bapak mengharukan. Aku berjengit dan teringat saat aku mulai bertaubat. Tiba-tiba aku teringat masa lalu. Pak? Matanya kok berair?” tanya Rudi. Lalu aku terhenyak lagi. Lalu si Rudi berbicara. Pak?” tanyanya. Aku terhanyut dalam lamunan. Dan Rudi paling suka memperolok. “Kenapa." “Memangnya kenapa. Masa di mana aku pun berlaku sedemikian rupa.olok dan menyiksa teman-teman yang badannya lebih kecil dari pada badannya. Bapak hanya teringat dengan masa lalu Bapak. Nak. “Tidak. Dan aku juga teringat masa masa di mana aku memukul. Di sekumpulan itu ada anak yg paling besar bernama Rudi. “Iya. Bisakah aku melawati ini semua? Mungkin ini hanya cobaan dalam masa laluku ini. Kenangan saat indah itu datang dan pergi. memalak orang-orang yang lewat di depan aku.” “Kok sekarang pake peci dan sarung?” tanyanya. Kemudian aku terngiang masa laluku yang kelam. yang dulu jadi preman itu kan?” Aku menjawab. sampai akhirnya Rudi menghampiriku.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KENANGAN Oleh: Muhammad Garit N Pada suatu hari ada sekumpulan anak di pekarangan. menikam. Sampai membuat bapak menangis. “Bapak. “Sampai-sampai bisa membuat Bapak halaman 74 dari 83 halaman .

walaupun sakitku menerpa lagi. Nak.” Dan aku beralasan. sampai akhirnya dia mengandung. “Ya. Pak?” “Wajahmu memngingatkan aku pada seseorang yang sepertinya paling terluka oleh perlakuan saya di masa lalu. yang di mana gadis itu telah menjadi belahan hidup saya sendiri. Oleh karena itu saya mengusirnya dan melarangnya menemui saya lagi. Kata Ibu. Tapi dia sudah lama meninggal.” “Ooo. Bingung kenapa.” Aku juga berkata lagi. Pak? Emang disakitin sama Bapak?” Aku menghela napas mendengar pertanyaan anak itu. akan kuceritakan kepadanya. ” tambah deras lagi air mata yang aku keluarakan. Bapak saya mengadu nasib keluar negeri. “Dan saya pernah mendengar juga bahwa dia telah melahirkan anak laki-laki gagah perwatakannya... Tapi saya tidak mau mengakuinya.” “Jadi. Dan sekarang sudah meninggal karena kecelakaan. Pak.” “Memanfaatkan seperti apa? Menyakitkan. Bapak tinggal saja?” “Ya. Seolah-olah telah tertanam masa lalu saya yang kelam dalam dirimu. Masa lalu saya yang sangat kelam tidak baik untuk dibuka lagi. Karena kamu menyerupai dengan belahan hati bapak. “Saya tidak tahu hal itu.. Tapi melihatmu saya jadi merasa rindu yang teramat sangat. tapi saya yakin batinnya sangat tersiksa. kah?” tutur Rudi. belahan hati Bapak sekarang di mana?” kata Rudi. “Memangnya beliau sakit?” “Dia tidak sakit fisik. orang tuamu di mana. Nak. Dia hanya saya jadikan mainan. Pak. agar tidak ada lagi kejadian yang pernah kubuat. Hati saya terasa teraduk aduk.. memangnya kamu tinggal di sekitar sini?” halaman 75 dari 83 halaman . wanita itu istri Bapak?” “Iya.” “Lalu. Tapi saya malah memanfaatkan dia. Nak. Sebegitu mudahnya ia mengajukan pertanyaan yang sudah kukubur jauh di dasar pikiranku.” “Mana mungkin ah. Tidak cuma itu. Nak.. “Waktu itu ada gadis yang mencintai saya.” “Terluka kenapa. Dan setelah melihat kamu. Bahkan saya menuduhnya berzina dan membuatnya malu di hadapan orang-orang sekampung. menerima saya apa adanya.” “Memangnya belahan hati Bapak tersiksa kenapa?” “Saya sudah melakukan hal yang sangat memalukan terhadap dirinya.” “Waaahhhhhh. Kita kan baru ketemu. “Memangnya sekarang belahan hati Bapak kemana?” “Dia sudah tiada. Ya. lalu setelah dia mengandung. “Karena saya belum siap dan saya juga merasa tidak bisa menghidupi dia apabila saya menikahinya.” dengan tetes air mata yang keluar aku pun bersedih karena teringat istriku yang telah tiada itu.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen menangis?” “Tidak. O iya. Nak?” “Saya hanya punya ibu. Dia mencintai saya dengan tulus.

pasti dia sangat bangga kepadamu. Wajah yang selalu terbayang sejak 10 tahun yang lalu. Memangnya siapa?” tutur aku. di depan pintu rumah Rudi.” “Itu Pak. halaman 76 dari 83 halaman . Kalau Ayahmu masih ada. Tidak. Rumah saya di belakang lapangan ini. berdiri seorang wanita yang begitu kukenal. Di sana. rumah saya. Tadi Bapak tanya. aku terhenyak. Di sana ada Ibu saya. Sekalian saya mau tahu ibu seperti apa yang mempunyai anak sebaik kamu.” “Bapak mau mampir ke rumah?” “Boleh saja. Ibu saya namannya siapa?” “Iya. Dan di depannya. ini tidak mungkin. wajah yang dulu kusia-siakan begitu saja. Setelah beberapa jarak lagi sampai di rumah Rudi. Ibu saya. Aku diam seribu bahasa dan terdiam mengenang belahan jiwa yang dahulu aku sakit.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen “Iya Pak. Wajah yang dulu memelas memohon belas kasihanku.

aku baik-baik saja. Kadang aku pun selalu berusaha ingin membantu segala masalah yang nampaknya sedang dihadapinya. Ketika aku hendak bertanya kembali. Dengan rasa iba. panas yang ditimbulkan terasa sangat menyengat. “Sudahlah. Aku sangat kasihan melihatnya. dia berkata. halaman 77 dari 83 halaman . Aku sedang berjalan pulang ke rumah ketika kulihat Dinda— tetangga sekaligus teman sebangku ku—berdiri di halaman depan rumahnya sambil mengangkat satu kakinya dan menjewer kedua telinganya sendiri. Karena itulah teman-teman di sekolah sering menjahilinya. dengan raut wajah yang berubah cemas.” Lalu sesuai dengan perintahnya. Percayalah. kuhampiri Dinda. mengapa hari ini tidak masuk sekolah? Dan sedang apa kau di sini?” tanyaku.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen KEKERASAN PADA ANAK Oleh: Munadhilah Ummahat Siang yang terik. aku pun pulang dengan segudang pertanyaan yang masih menggantung dalam benakku. Dia tidak mudah bergaul. Dinda termasuk anak yang pendiam dan sangat tertutup di sekolah. “Dinda. cepat kau pergi dari sini! Jangan hiraukan aku. Namun dia selalu menghindar dan selalu mengatakan bahwa dia baik-baik saja.” jawabnya singkat dengan raut wajah yang malu. “Aku sedang dihukum.

Tidak berhenti sampai di situ. Akhirnya. Keesokan harinya. ya sudah. Pak. seorang anak diberi contoh yang benar dan nasihat yang baik bila melakukan kesalahan-kesalahan. Tak lama kemudian. keesokan harinya aku pun segera melaporkannya ke Wali Kelas. saya jatuh saat berlari menuju sekolah tadi. Kali ini aku mengurungkan niat untuk istirahat di luar kelas.. karena Dinda adalah anak yang ceroboh dan sering melakukan kesalahan. Dinda?” Lalu Dinda menjawab dengan agak ragu. Dengan tergesa-gesa Dinda pun mematuhi perintah Ibunya. “Kenapa baju seragammu robek. Sebenarnya Pak Guru ingin menghukumnya tetapi melihat keadaannya yang seperti itu beliau mengurungkan niatnya. itulah penyebab seragamku robek. menunggu seluruh siswa di kelas kosong. halaman 78 dari 83 halaman . “Sebenarnya. Dinda masuk sekolah.” “Oo. Ibu Dinda pun mengakui perbuatannya tersebut dengan alasan bahwa hal itu pantas diterima oleh Dinda. Pernah suatu hari. Dia banyak bercerita tentang kehidupannya. “Mm. Apalagi bila kesalahan tersebut bukanlah termasuk kesalahan yang besar. Menit berganti menit. Tak sengaja ember yang berisi pembersih lantai tersenggol dan tumpah olehnya. “Apa benar Ibu sering memukuli Dinda?” tanya Wali Kelas. seperti biasa. Beliau hanya bertanya. saat ingin berangkat ke sekolah. itu merupakan awal dari kedisiplinan... tentang Ibunya yang sering memukulinya. memulai pembicaraan. Kukeluarkan bekal makan siangku dari dalam tas. Wali Kelas pun menjelaskan bahwa didikan tersebut merupakan didikan yang salah.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Aku jadi teringat. Ibunya pun mengatakan bahwa beliau tidak akan memberikan bekal makan siang untuk Dinda dan hukumannya pun akan dilanjutkan setelah Dinda pulang sekolah. “Mau?” tawarku pada Dinda sambil menyodorkan bekal makanan. Ibunya marah-marah sambil memukulinya dengan ikat pinggang hingga baju seragamnya robek. Kemudian dia akan mengeluarkan bekal makan siangnya. aku tidak yakin dengan jawabannya itu.. Dengan lirikan yang malu-malu akhirnya Dinda pun menyambut tawaran ku tersebut.. Mendengar kisahnya tersebut. kalau begitu lain kali hati-hati di jalan dan jangan terlambat lagi ya…” kata Pak Guru Dinda pun mengangguk dan langsung menuju kursinya. Dinda disuruh Ibunya untuk mengepel seluruh lantai rumahnya. pernah suatu hari dia datang terlambat ke sekolah dengan baju seragam yang robek di beberapa bagian. Sejujurnya. Tak terasa kami mulai akrab. Saat bel istirahat berbunyi. Dinda diam di kursinya. Sebaiknya. Beliau berpendapat bahwa perbuatannya itu benar. ibu Dinda pun dipanggil untuk menghadap Wali Kelas. Lamunan ku pun buyar ketika tak terasa aku telah sampai di rumah.” ucapnya di sela-sela ceritanya.

Namun Sarimin terlihat berjalan terseok-seok dan terpaksa memegangi rantai mungkin lehernya kesakitan karena ditarik. Di tempat itu bukan hanya ada Sarimin dan sang Pawang namun beberapa pemain gamelan yang mengiringi Sarimin beraksi. topengnya. Ya. Sesekali anak-anak yang menonton tertawa melihat tingkah Sarimin. Aku duduk menanti kedatangan kereta yang sudah telat lebih dari satu jam memperhatikan dari awal aksi Sarimin di peron seberang. Walaupun anak-anak terlihat senang dengan aksi Sarimin. apalagi dengan rantai di lehernya yang rapuh. Sarimin memakai payung…!” Teriak sang Pawang monyet untuk memperjelas aksi Sarimin kepada anak-anak yang berada di sekelilingnya. payungnya. Sarimin memakai topeng…. Sarimin naik kuda kayu…. Di akhir pertunjukan terlihat Sarimin meminta uang kepada penonton yang telah melihat aksinya tadi.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen BALADA SARIMIN Oleh: Nadia Khaerani “Sarimin pergi ke pasar…. Sarimin artis topeng monyet yang menjadi pusat perhatian anak-anak di setiap aksinya. Pawang Sarimin menarik-narik rantai yang panjang untuk menyuruh Sarimin melakukan aksi berikutnya. halaman 79 dari 83 halaman . Sarimin terlihat tidak begitu nyaman dengan kuda kayunya.

ada seorang anak yang memberi sepotong kue kepada Sarimin. Awalnya aku cukup prihatin dengan redupnya topeng monyet sebagai salah satu hiburan tradisional. Di akhir pertunjukan saat Sarimin meminta uang kepada penonton. Kandang itu kecil sehingga Sarimin harus menunduk untuk bisa duduk di dalamnya. Pawang menarik rantai Sarimin sambil berkata. “Toh hanya sewaanpawang topeng monyet hanya menyewa. “Awalnya sih nggak dikasih makan supaya dia nurut.” Astaghfirullah! Ternyata benar. baru dikasih rantai supaya ngerti yang harus dia kerjain. jarang-jarang. Pawang memulai lagi aksinya.” Kurang puas dengan jawaban itu aku bertanya lagi. untuk apa sebenarnya Sarimin ini? Diperlakukan kasar.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen Setelah penonton bubar Sarimin ditarik dengan kasar untuk masuk ke dalam kandang yang dipikul oleh sang Pawang. aku mendekati Pawang Sarimin dan bertanya. “Tapi tetep dikasih makan kan. “Jangan dikasih makan. “Dulu ngelatihnya gimana Pak?” Dan jawaban yang kudapat cukup mengagetkan. Sarimin tetap tidak mau keluar dari kandang. Sarimin hanya dieksploitasi tanpa diperhatikan hak hidupnya. Sudah seharusnya topeng monyet dihentikan kalau tetap menggunakan kekerasan.” Sarimin tetap makhluk hidup yang memiliki hak untuk bertahan hidup. halaman 80 dari 83 halaman . Nanti dia nggak mau kerja. Namun setelah ditarik dengan rantai. Dek. Untuk menjawab pertanyaan itu. Mungkin karena kelaparan. kalau begini berarti pertunjukan topeng monyet termasuk animal abuse yang merupakan kekejaman bukan hiburan. Nah abis itu. Sarimin yang kelelahan terpaksa harus menuruti sang Pawang dan melakukan atraksi lagi. Setelah Sarimin masuk ke kandang sang pawang pindah ke peron dimana aku duduk. Soalnya kalo sering dikasih makan nanti dia kenyang dan gak mau kerja. Sarimin mengambil korek api dari jalan dan mengunyah-ngunyahnya. Sang Pawang menghampiri Sarimin dan memukul kepala Sarimin. dan tidak diberi makan. Tetapi setelah mendengar pernyataan dari sang Pawang aku merasa senang dengan hal ini. Menurut Pawang mungkin itu cara yang benar untuk mendisiplinkan Sarimin. Sebelum Sarimin mengambil kue itu. tetapi bagaimana kalau Sarimin mati kelaparan? Menurutku itu hal yang sangat kejam. Yah kalo tetep nggak nurut pukul aja. Aku berdoa dalam hati agar usaha topeng monyet yang seperti ini mati dan si pawang mencari pekerjaan lain sehingga Sarimin-Sarimin yang lain dapat terselamatkan.” Mendengar hal itu aku bertanya dalam hati. monyet-monyet tersebut bukan milik mereka. Pak?” “Ya. Namun mungkin sang Pawang hanya berfikir.

atau kerbau liar. Namun ia tidak pernah berhasil. Jika semua itu tidak ditemukan. bagaimana cara mengalahkan Wulu Ireng yang sudah menghabisi semua anak-anakku. sehingga kami sulit dilacak warga. Aku jarang memangsa manusia. Aku terbiasa makan binatang liar seperti kancil. aku biasa pergi ke perkampungan untuk sekedar mencuri hewan ternak mereka. Sudah berkali-kali Wulu Ireng datang padaku.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen !!! Oleh: Arie Toursino Hadi Aku berdiri di sebuah batang pohon. dan mencoba mengalahkanku. lalu kami tinggal pergi. Kupandangi seluruh semaksemak yang ada di hadapanku. Aku dan Wulu Ireng memperebutkan tempat yang sekarang menjadi milikku. Kini yang ada dipikiranku. Hal itu berawal dari perebutan wilayah kekuasaan pada tahun-tahun yang sudah lampau. Tempat itu adalah hutan rimba yang dekat dengan lapangan yang biasa dijadikan warga sebagai tempat mengembala hewan ternaknya. demi mendapatkan aku agar keluar dari tempat halaman 81 dari 83 halaman . hanya kami gigit satu bagian tubuhnya. Cukup banyak tempat yang dapat dijadikan persembunyian. Sudah tiga hari ini aku tidak makan—atau lebih tepatnya belum sempat makan. Hingga pada waktu itu. Tapi itu beberapa hari yang lalu. Biasanya jika ada manusia yang aku—atau bangsa kami terkam. Nafsu makanku seakan terkubur oleh perasaan dendam yang membara dalam hatiku. rusa.

suara geraman itu pada awalnya terdengar seperti ancaman agar aku tidak mendekatinya. Bagiku. Suara lengkingan itu lebih kecil dari suara Wulu Ireng. Aku yakin itu anak Wulu Ireng. Indra penciumku mengatakan bahwa di tempat inilah Wulu Ireng berada. Hukum di bangsa kami menyebutkan. Ia pun menggeram. Ku perhatikan ceceran darah yang ada di lantai. Setiap satu langkah. Dari sini aku melihat ceceran darah di lantai. hingga terdengar seperti tangisan memohon agar aku tidak membunuh anaknya. Suara sayatan itu seolah terdengar hingga keluar gua ini. Apalagi kini aku sedanng berdiri di depan pintunya. Aku bersiap untuk menerkam. Yang bisa ia lakukan hanya menggeram. Aku tidak mau ambil resiko dengan berjalan ke sekeliling ruangan ini. Aku terdiam agak jauh dari pojok ruangan itu. Wulu Ireng menyerang anakku dan membunuhnya. Wulu Ireng kini tengah halaman 82 dari 83 halaman . Aku masih belum juga menemukan sosok Wulu Ireng. Dan kini. Ternyata pencarianku tidak sia-sia. mata kucingku yang mengkilat tajam memandang setiap sudut ruangan. Berjaga terhadap kemungkinan terburuk. Hingga akhirnya aku sampai di ujung gua itu. ia tidak bergerak maju sekarang. Tapi di mana dia? Kembali aku perhatikan sekeliling ruangan. Itu lebih terdengar seperti suara anaknya. Ooh. Tapi nasi sudah jadi bubur.. bunuh anak harus dibayar dengan anak.. Makin lama. suara itu makin keras. Kulihat dengan tajam yang ada di hadapanku. Belum sempat aku melompat. Aku diberi tahu burung Jalak yang melihat kejadian tersebut. Tidak ada rasa cemas bagiku jika ia menyerangku sekarang. aku akan tetap membunuh anaknya. Aku pikir ia pun tahu konsekwensi hal tersebut. Aku pikir dia pun demikian. tanda bahwa apapun yang terjadi. ternyata Wulu Ireng sedang tergeletak sekarat di sana. sepasang sinar mata yang lebih besar muncul di atas mata yang kecil itu. Satu lompatan besar sebelum akhirnya aku berada di depan sebuah gua yang biasa menjadi tempat persembunyian Wulu Ireng.. Suara tangisan itu mulai mengganggu pendengaranku. dan. sinar dari bola mata yang kecil. terdengar suara erangan yang lebih keras. Dari sini aku bisa mencium baunya yang khas. Aku melangkah maju. Sejenak aku terdiam. Semakin dalam aku masuk.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen persembunyianku. Dan terus menggeram setiap aku langkahkan kakiku untuk menghampirinya. Gigiku kuperlihatkan. Aku sudah unggul satu angka sebelum kami berkelahi. ruangan gua semakin gelap. Suara geraman juga aku perdengarkan agar lawan yang ada dihadapanku takut. Namun kali ini bukan suara Wulu Ireng. aku sudah berada di wilayah kekuasaannya. Ia terluka oleh sesuatu hal yang aku tidak tahu. Aku harus waspada. Mungkin dia sudah mempersiapkan sedikit kejutan buatku. Pemilik sinar mata itu memperlihatkan giginya. Semua “peralatan” perang sudah aku siapkan hingga akhirnya. Tapi ia tidak beranjak maju. Kembali kuperlihatkan gigiku.. Kusiapkan kuda-kuda untuk melompat. Ku langkahkan kaki masuk ke dalam. Yang aku tahu. Aku harus waspada karena bisa saja tiba-tiba Wulu Ireng menerkamku dari mana saja. Hmm.

Berteriak bangga karena aku gagal melaksanakan dendamku. halaman 83 dari 83 halaman . Makin lama suara tengisan kecil itu menghilang. berganti dengan suara tangis bahagia bercampur sedih dari Wulu Ireng. Ia tidak rela anak yang kini ada di pelukkannya terbunuh oleh tanganku.BEJAT: sebuah kumpulan cerpen menggigit dan mencabiki anaknya sendiri.