DAFTAR ISI

BAB I : PENDAHULUAN................................................................................. BAB II : LANDASAN TEORI ASIDOSIS METABOLIK A.Definisi............................................................. B.Etiologi............................................................. C.Patogenesis....................................................... E. Manifestasi klinis............................................. F. Pengukuran klinis dan analisis asidosis...........

2

4 4 6 7 8 9 9 10

NATRIUM BIKARBONAT A. Definisi............................................................ B. Penggunaan infus Natrium bikarbonat............. C. Evaluasi penggunaan Natrium bikarbonat....... BAB III : PEMBAHASAN A.PRINSIP TERAPI NATRIUM BIKARBON ................................................ B.CONTOH KASUS MEMERLUKAN TERAPI NATRIUM BIKARBONAT C.KONDISI YANG TIDAK MEMERLUKAN TERAPI NATRIUM BIKARBONAT ......................................................................... BAB IV : KESIMPULAN.................................................................................. DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................... DAFTAR GAMBAR............................................................................................

11 12 16 19 20 21

BAB I PENDAHULUAN Asidosis metabolik adalah suatu keadaan terjadi peningkatan keasaman di dalam darah yang disebabkan oleh berbagai keadaan dan penyakit tertentu dimana tubuh tidak bisa mengeluarkan asam dalam pengaturan keseimbangan asam basa. Hal ini penting untuk menjaga keseimbangan fungsi sistem organ tubuh manusia. Ginjal dan paru merupakan dua organ yang berperan penting dalam pengaturan keseimbangan ini. Untuk mempertahankan pH antara 7,38-7,42, tubuh menetralkan dan membuang kuantitas volatile acid (dari pembakaran selular karbohidrat dan lemak) dan nonvolatile acid (hasil metabolisme protein). Asam-asam tersebut dibuffer segera setelah diproduksi, sehingga akan mencegah perubahan pH secara mendadak. Sistem buffer yang pokok dalam tubuh adalah protein dan fosfat dalam kompartemen intra seluler, sistem bikarbonat-asam karbonik dalam kompartemen ekstra seluler, dan hemoglobin di dalam sel darah merah. Dalam praktek sehari hari di klinik, sistem bikarbonat-asam karbonik dipakai untuk analisis, karena dengan mudah komponen bagian dapat diukur. Sebagian besar diagnosis gangguan asam basa dapat ditegakan dengan data laboratorium, seperti pH, PCO2, konsentrasi bikarbonat natrium (biknat), klorida urin, dan perhitungan kesenjangan anion. Walaupun demikian, untuk akurasi diagnosis, data laboratorium harus dikaitkan dengan klinik pasien. Kelainan komponen respirasi ditentukan oleh pengukuran PCO2 arterial, kadar dibawah 40 mmHg menunjukan terjadinya ventilasi pulmonary yang berlebihan dan kadar diatas 40 mmHg menunjukan keadaan hipoventilasi. Apakah perubahan ventilasi disebabkan oleh kelainan primer (asidosis atau alkalosis respiratorik) atau akibat kompensasi gangguan metabolik (asidosis atau alkalosis metabolik) tergantung dari penilaian klinik. Komponen metabolik dievaluasi dengan pengukuran CO2 content atau CO2 combining power. Suatu perubahan konsentrasi bikarbonat dapat merupakan kelainan metabolik primer atau sekunder akibat kelainan respirasi. Cara membedakan kedua hal ini adalah dengan cara mencocokan data laboratorium dengan kondisi klinik pasien. 2
Asidosis metabolik perlukah diterapi natrium bikarbonat

Apabila terjadi asidosis ringan. diberikan bikarbonat mungkin secara intravena. 3 Asidosis metabolik perlukah diterapi natrium bikarbonat . Sebagai contoh. sehingga harus dipertimbangkan dengan tepat risiko dan manfaat terapi berdasarkan data ilmiah yang terpercaya. Asidosis metabolik juga bisa diobati secara langsung tanpa kecuali. namun bikarbonat hanya memberikan kesembuhan sementara dan dapat membahayakan pasien Pemilihan terapi memang seharusnya mengutamakan keselamatan jiwa pasien. yang diperlukan hanya cairan intravena dan pengobatan terhadap penyebabnya.Pengobatan asidosis metabolik tergantung pada penyebabnya. diabetes tipe II IDDM (Insulin Dependen Diabetic Mellitus) dikendalikan dengan insulin atau keracunan diatasi dengan membuang racun tersebut dari dalam darah. Apabila terjadi asidosis berat. Kadangkadang perlu dilakukan dialisa untuk mengobati overdosis atau keracunan yang berat.

3. Kehilangan basa dari cairan tubuh (faal). ditandai dengan rendahnya kadar bikarbonat dalam darah.2] 4 Asidosis metabolik perlukah diterapi natrium bikarbonat . Bila peningkatan keasaman melampaui sistem penyangga pH. darah akan benar-benar menjadi asam. Kegagalan ginjal untuk mengekresikan asam metabolik yang normalnya dibentuk dalam tubuh. DEFINISI Asidosis metabolik adalah keasaman darah yang berlebihan.[1. Tetapi kedua mekanisme tersebut bisa berlebihan jika tubuh terus menerus menghasilkan terlalu banyak asam. 2. ETIOLOGI Asidosis metabolik dapat disebabkan oleh beberapa penyebab umum seperti : 1.BAB II LANDASAN TEORI ASIDOSIS METABOLIK A.[1] B. ginjal juga berusaha mengkompensasi keadaan tersebut dengan cara mengeluarkan lebih banyak asam dalam urin. Seiring dengan menurunnya pH darah. Pada akhirnya. Asidosis di tubulus ginjal Akibat dari gangguan ekskresi ion hidrogen atau reabsorbsi bikarbonat oleh ginjal atau kedua-duanya. pernafasan menjadi lebih dalam dan lebih cepat sebagai usaha tubuh untuk menurunkan kelebihan asam dalam darah dengan cara menurunkan jumlah karbon dioksida. sehingga terjadi asidosis berat dan berakhir dengan keadaan koma. 4. Gangguan reabsorbsi bikarbonat di tubulus ginjal menyebabkan hilangnya bikarbonat dalam urin atau ketidakmampuan mekanisme sekresi hidrogen di tubulus ginjal untuk mencapai keasaman urin yang normal menyebabkan eksresi urin yang alkalis. Penambahan asam metabolik ke dalam tubuh melalui makanan. Pembentukan asam metabolik yang berlebihan dalam tubuh.

[1] Penyerapan Asam Jarang sekali sejumlah besar asam diserap dari makanan normal akan tetapi asidosis metabolik yang berat kadang-kadang dapat disebabkan oleh keracuan asam tertentu antara lain aspirin dan metil alkohol.Diare Diare berat merupakan penyebab asidosis yang paling sering.[1. Asidosis metabolik bisa terjadi jika ginjal tidak mampu untuk membuang asam dalam jumlah yang semestinya.3] Gagal Ginjal Kronis Saat fungsi ginjal sangat menurun terjadi pembentukan anion dari asam lemak dalam cairan tubuh yang tidak eksresikan oleh ginjal. menggantikan glukosa.[1. Bentuk asidosis metabolik ini berlangsung berat dan dapat menyebabkan kematian terutama pada anak-anak. Bahkan jumlah asam yang normal bisa menyebabkan asidosis jika ginjal tidak berfungsi secara normal. Penyebabnya adalah hilangnya sejumlah besar natrium bikarbonat melalui feses karena sekresi gastrointestinal yang secara normal mengandung sejumlah besar bikarbonat dan diare ini menyebabkan hilangnya ion bikarbonat dari tubuh. Pada DM yang berat kadar asetoasetat dalam darah meningkat sangat tinggi sehingga menyebabkan asidosis metabolik yang berat. Hal ini terjadi karena adanya pemecahan lemak menjadi asam asetoasetat dan asam ini dimetabolisme oleh jaringan untuk menghasilkan energi. yang bisa terjadi pada penderita gagal ginjal atau penderita dengan kelainan yang mempengaruhi kemampuan ginjal untuk membuang asam.2] Diabetes Melitus(DM) Diabetes melitus disebabkan oleh tidak adanya sekresi insulin oleh pankreas yang menghambat penggunaan glukosa dalam metabolisme.2.[1. Selain itu penurunan laju filtrasi glomerulus mengurangi eksresi fosfat dan NH4+ yang mengurangi jumlah bikarbonat.4] 5 Asidosis metabolik perlukah diterapi natrium bikarbonat . Kelainan fungsi ginjal ini dikenal sebagai asidosis tubulus renalis.

Karena penumpukan asam dapat dinetralisir oleh sistem buffer yang dibantu mekanisme kompensasi dan koreksi oleh paru-paru dan ginjal. akan dijumpai peninggian kadar klorida darah. PATOGENESIS Pada keadaan normal.4] Dari persamaan Henderson-Hasselbalch: pH = pK + log HCO3¯ H2CO3 Terlihat pH dipengaruhi oleh rasio kadar bikarbonat (HCO3-) dan asam karbonat darah (H2CO3) sedangkan kadar asam karbonat darah dipengaruhi oleh tekanan CO2 darah (pCO2). Misalnya. akan dijumpai pernafasan cepat dan dalam (pernafasan Kussmaul) sehingga tekanan CO2 darah menurun (hipokarbia). -baik endogen maupun eksogen-. istilah .C. pH darah dipertahankan dalam rentang yang sempit (7. Sedangkan istilah – osis (asidosis atau alkalosis) merupakan proses yang menyebabkan perubahan kadar asam atau basa dalam darah (asidemia atau alkalemia). Selain itu ginjal akan membentuk bikarbonat baru (asidifikasi urine) sehingga pH urine akan menjadi asam. Penurunan pH darah di bawah normal yang disebabkan penurunan kadar bikarbonat darah disebut asidosis metabolik. pada asidosis metabolik tidak selalu ada asidemia. yang menetralisir bikarbonat. Penurunan kadar bikarbonat darah bisa disebabkan oleh hilangnya bikarbonat dari dalam tubuh (keluar melalui saluran cerna atau ginjal) ataupun disebabkan oleh penumpukan asam-asam organik.osis tidak selalu berarti ada perubahan pH darah. Bila rasio ini berubah. pH akan naik atau turun. [3. pada asidosis metabolik di mana terjadi penurunan kadar bikarbonat plasma akibat penumpukan asam organik dalam plasma (anion yang tidak terukur meningkat). jumlah kation harus sama dengan jumlah anion dalam satu larutan. Demikian juga. Berdasarkan hukum elektroneutral. Ini dimungkinkan dengan adanya sistem buffer yang dibantu mekanisme kompensasi dan koreksi fisiologis oleh paru-paru dan ginjal.35-7. Sebaliknya bila asidosis metabolik terjadi karena penurunan kadar bikarbonat plasma akibat hilangnya bikarbonat dari tubuh. Bila pH darah meningkat dari normal disebut alkalemia dan sebaliknya pH darah menurun disebut asidemia.45) agar sel tubuh dapat bekerja dengan baik. Ini disebut dengan asidosis metabolik dengan 6 Asidosis metabolik perlukah diterapi natrium bikarbonat . dijumpai kadar klorida darah normal. Keadaan ini disebut asidosis metabolik dengan anion gap (kesenjangan anion) meningkat atau asidosis metabolik normokloremia. Sebagai kompensasi penurunan bikarbonat darah.

[1. muntah dan kelelahan. Apabila asidosis semakin memburuk. Jika itu terjadi maka bisa terjadi kerusakan pada sel-sel ginjal dan gagal ginjal kronis. maka terjadi kelainan neurologis seperti kelemahan otot. Jika kadar kalium darah rendah. tekanan darah dapat turun. dan berjalan. • • • Kecenderungan terjadinya dehidrasi (kekurangan cairan). penderita mulai merasakan kelelahan yang luar biasa. MANIFESTASI KLINIS Asidosis metabolik ringan bisa tidak menimbulkan gejala. sehingga anak mengalami keterlambatan untuk dapat duduk. disamping kadar bikarbonat dan natrium darah diperlukan untuk membedakan kedua jenis asidosis metabolik tersebut di atas. koma dan kematian. Normalnya antara 8–16 mEq/L. Anion gap (kesenjangan anion) dihitung dengan cara mengurangi kadar natrium darah dengan jumlah bikarbonat dan klorida darah atau anion gap = Na + .4] D. Pernafasan menjadi lebih dalam atau sedikit lebih cepat. menyebabkan syok. karena kelebihan asam dalam lambung dan usus. sehingga pasien mengalami gangguan penyerapan zat gizi dari usus ke dalam darah. namun biasanya penderita merasakan mual. rasa mengantuk. • Kecenderungan gangguan pencernaan. Sejalan dengan memburuknya asidosis. Gangguan motorik tungkai bawah merupakan keluhan utama yang sering ditemukan. Akibat selanjutnya pasien akan mengalami keterlambatan tumbuh kembang (delayed development) dan berat badan kurang.(HCO3¯ + Cl¯). • Pengendapan kalsium di dalam ginjal yang dapat mengakibatkan pembentukan batu ginjal.[1] Penyakit asidosis jika dibiarkan bisa menimbulkan dampak berikut: • Rendahnya kadar kalium dalam darah. [4. merangkak.anion gap (kesenjangan anion) normal ataupun asidosis metabolik hiperkloremia. semakin mual dan mengalami kebingungan. Perlunakan dan pembengkokan tulang yang menimbulkan rasa nyeri (osteomalasia atau rakhitis).3. penurunan refleks dan bahkan kelumpuhan. Karena itu pemeriksaan kadar klorida darah.5] 7 Asidosis metabolik perlukah diterapi natrium bikarbonat .

d +2 Tabel 1. dan oksigenasi darah. Konsentrasi bikarbonat kurang dari 22 mEq/L.E. Pengukuran pH (rentang) pO2 (mmHg) (turun sesuai usia) pCO2 (mmHg) SaO2 (turun sesuai usia) HCO3 (mEq/L) BE Nilai normal (arteri) 7. Nilai AGD normal • • • Nilai pH kurang dari 7. Konsentrasi PCO2 plasma akan meningkat dari 44 mmHg.4 (7. Kadang-kadang dilakukan pemeriksaan urinalisa secara mikroskopis dan pengukuran pH urin serta kadar elektrolit serum. Misalnya kadar gula darah yang tinggi dan adanya keton dalam urin biasanya menunjukkan suatu diabetes yang tidak terkendali.4. Adanya bahan toksik dalam darah menunjukkan bahwa asidosis metabolik yang terjadi disebabkan oleh keracunan atau kelebihan dosis. [a] Selain dari AGD dapat diperlukan pemeriksaan tambahan untuk membantu menentukan penyebabnya.44) 80-100 36-44 >95 22-26 -2 s.36-7.2] 8 Asidosis metabolik perlukah diterapi natrium bikarbonat . PENGUKURAN KLINIS DAN ANALISIS ASIDOSIS Diagnosis asidosis dapat dilakukan dari analisis gas darah karena dapat memberikan gambaran homeostasis dari keseimbangan asam basa. perbedaan basa. [1.

[6] Gambar 2: Struktur senyawa natrium bikarbonat[b] B. 9 Asidosis metabolik perlukah diterapi natrium bikarbonat . DEFINISI Natrium bikarbonat adalah senyawa kimia dengan rumus NaHCO3. Senyawa ini merupakan kristal yang sering terdapat dalam bentuk serbuk. Bikarbonat berfungsi sebagai buffer/penyangga pada kondisi atau penyakit tertentu. yang memerlukan reaksi natrium klorida. dan juga metabolisme yang tidak normal. asupan asam yang lebih tinggi dibandingkan pengeluaran asam melalui ginjal. PENGGUNAAN INFUS BIKNAT Bikarbonat bereaksi dengan ion H+ membentuk air dan karbon dioksida.NATRIUM BIKARBONAT A. maka campuran akan bersifat buffer (penjaga pH). Beberapa mekanisme penyebab asidosis asidosis. amonia. dan karbon dioksida dalam air. NaHCO3 umumnya diproduksi melalui proses Solvay. Natrium bikarbonat (sodium bicarbonate) adalah senyawa kimia berbentuk kristal putih dengan rumus molekul NaHCO3 yang larut dalam air kemudian terionisasi menjadi ion Na+ dan HCO3-. Diare kronik juga dapat menyebabkan kehilangan bikarbonat. Natrium bikarbonat larut dalam air. Asidosis diantaranya adalah merupakan peningkatan asam di dalam darah yang disebabkan oleh berbagai keadaan kehilangan basa melalui urin ataupun saluran pencernaan. Dalam penyebutannya kerap disingkat menjadi ‘biknat’. yakni senyawa yang mengandung ion CO32-. Jika dicampur dengan garam konjugatnya.

berkurangnya asupan oksigen dalam jaringan. penurunan tekanan cairan serebro spinal. C. dan penurunan fungsi jantung.Gambar 3: Reaksi bikarbonat dengan ion H+[c] Besarnya dosis injeksi biknat ditentukan berdasarkan keparahan asidosis. berat badan. menyatakan tidak ada data yang mendukung adanya efek menguntungkan terhadap pemberian natrium bikarbonat pada bayi yang terkena asidosis metabolik. elektrolit. memperberat asidosis intraseluler. dan intracranial hemorrhage (pendarahan otak). Studi terbaru lainya menyatakan bahwa penggunaan infus intravena biknat untuk mengobati asidosis pada bayi meningkatkan risiko pendarahan intraventrikular. dan keseimbangan asam basa. dan kondisi klinik. Uji laboratorium dan evaluasi klinik pasien sangat penting dilakukan terutama dalam penggunaan jangka panjang.7] 10 Asidosis metabolik perlukah diterapi natrium bikarbonat . dapat diberikan 4. Efek samping yang mungkin terjadi adalah fluktuasi aliran darah dalam otak. Untuk bayi dan anak-anak dibawah 2 tahun. hasil uji laboratorium. pendarahan intrakranial.[6. EVALUASI PENGGUNAAN BIKNAT Sebuah artikel yang diterbitkan oleh American Journal of Pediatrics.2% infus Biknat dengan dosis tidak lebih dari 8 mEq/Kg hari. umur pasien. Pemberian infus biknat pada bayi dan anak dibawah 2 tahun dapat menyebabkan hipernatremia (kelebihan natrium dalam darah). untuk memantau perubahan cairan. Studi klinik secara retrospektif yang dilakukan pada tahun 2002-2006 tersebut juga menyatakan bahwa penggunaan infus biknat tidak menunjukkan peningkatan pH yang signifikan.

Diberikan sampai pH 7. Tidak memberikan secara cepat melalui intravena kecuali kasus cardiopulmonary resuscitation (CPR). 11 Asidosis metabolik perlukah diterapi natrium bikarbonat . 2. PRINSIP TERAPI BIKNAT 1.25 • Konsentrasi bikarbonat dalam serum harus mencapai 15 mEq/L jika pasien tidak dapat mencapai pCO2 < 35 mmHg.BAB III PEMBAHASAN ASIDOSIS METABOLIK PERLUKAH DITERAPI NATRIUM BIKARBONAT A.

Untuk pengobatan asidosis respiratorik dapat diberikan O2 dan juga obat-obatan yang bersifat bronkodilator. Dilakukan pemeriksaan analisa gas darah secara serial. Hal ini karena asam laktat sebagai produksi dari koreksi akan dimetabolisme menjadi bikarbonat setelah direhidrasi dan diberi oksigen serta glukosa. [7] B. Diberikan secara perlahan-perlahan yaitu ½ dari total defisit pada 1 jam pertama jika pH kurang dari 7. 4.Gambar 4: Nomogram asam basa [d] • Base excess = ( 15-serum[HCO3]) x BB(kg) x 0. Untuk menetralkan kelebihan asam sejumlah besar natrium bikarbonat dapat diserap melalui mulut. Pengobatan yang paling baik untuk asidosis adalah mengoreksi keadaan yang menyebabkan kelainan. Natrium bikarbonat diabsorbsi dari traktus gastroinstestinal ke dalam darah dan meningkatkan bagian bikarbonat pada sistem penyangga bikarbonat sehingga meningkatkan pH menuju normal.3 3. CONTOH KASUS YANG MEMERLUKAN TERAPI BIKNAT Koreksi dengan biknat hanya dilakukan pada asidosis metabolik berat atau diperkirakan tidak terkompensasi dengan sendirinya atau pada keadaan dengan gagal 12 Asidosis metabolik perlukah diterapi natrium bikarbonat . Natrium bikarbonat dapat juga diberikan secara intravena. seringkali pengobatan ini menjadi sulit terutama pada penyakit kronis yang menyebabkan gangguan fungsi paru atau gagal ginjal.15 dan selanjutnya diberi 2-3 jam berikutnya.

3 Kasus-kasus yang sering memerlukan terapi biknat adalah: 1. Pada penderita diare dan dehidrasi berat. bayi/anak dengan diare sering disertai demam. Keadaan ini diperberat lagi dengan memuasakan anak. Ketiga hal ini menyebabkan timbulnya asidosis metabolik dengan anion gap meningkat pada penderita diare.3. Cara cepat: 100mEq jika pH < 7. Target pH adalah >7. Pada bayi atau anak diare yang mengalami anoreksia.2 dan HCO3 >38 (kecuali pada gagal ginjal dimana target adalah nilai normal). 13 Asidosis metabolik perlukah diterapi natrium bikarbonat . terjadi penurunan sirkulasi ke ginjal dan jaringan yang menyebabkan gangguan pembuangan asam-asam organik oleh ginjal dan penumpukan asam laktat akibat hipoksia jaringan. penurunan sirkulasi ke ginjal dan hipoksia jaringan menyebabkan penumpukan asam organik di dalam darah. Kemungkinan adanya keracunan salisilat pada penderita diare dengan asidosis metabolik harus dipikirkan bila: 1.2. asidosis metabolik dengan anion gap normal dijumpai bila penurunan kadar bikarbonat darah murni akibat hilangnya bikarbonat melalui tinja. Tidak boleh dilupakan. Hal ini menyebabkan asidosis metabolik dengan anion gap meningkat. Sehingga oleh orang tuanya atau petugas kesehatan diberi obat demam yang mengandung asam salisilat. Karena pada pH demikian sangat mudah terjadi disritmia akibat gangguan kontraktilitas otot jantung dan respons terhadap katekolamin. Adanya kelaparan.ginjal. • • Dengan defisit basa: Dengan kadar HCO3 HCO3 = defisit basa x BB (kg) / 4 HCO3 = (HCO3 target-HCO3 terukur) x BB x 0. Asidosis metabolik berat didefinisikan sebagai pH <7. Untuk banyaknya biknat yg diberikan dapat dengan langsung memberikan biknat IV sebesar 50-100 mEq dititrasi sampai konsentrasi HCO3 sesuai target. terjadi peningkatan kadar asam organik pada darah karena pemecahan lemak dan protein tubuh untuk memenuhi kebutuhan kalori. Diare akut atau kronik yang berat Pada penderita diare.6 atau BE x BB x 0. pH darah jauh lebih rendah dibandingkan dengan beratnya diare.

3. Di samping itu hiperkarbia menyebabkan asidosis intraselular dan anoksia jaringan (karena afinitas haemoglobin terhadap CO2 lebih tinggi dibandingkan dengan O2).54 x HCO3¯actual) + 8.2) pemberian bikarbonat 1-2 mEq/kgBB dapat dipertimbangkan. Ini terjadi karena salisilat merangsang pusat pernafasan. Bila ada indikasi (pH darah <7. umumnya penurunan pCO2 darah sejajar dengan penurunan kadar bikarbonat darah. Dengan melakukan rehidrasi 14 Asidosis metabolik perlukah diterapi natrium bikarbonat . Risiko overshoot metabolic alkalosis juga dijumpai pada diare dengan asidosis metabolik dengan anion gap yang meninggi (adanya asidosis laktat). penderita mengalami kombinasi antara asidosis metabolik dengan asidosis respiratorik. Hasil pengukuran pCO2 laboratorium (actual) yang lebih tinggi dari batas-batas pCO2 yang dihitung (calculated). Pemberian bikarbonat dalam keadaan ini akan menyebabkan overshoot metabolic alkalosis. Alkalosis juga akan menyebabkan hipokalemia dan hipokalsemia. Asidosis metabolik dengan anion gap meninggi. Hiperkarbia menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah serebral sehingga terjadi peningkatan tekanan intrakranial. Hasil analisis gas darah penderita asidosis metabolik menunjukkan penurunan pH. penderita mengalami kombinasi asidosis metabolik dan alkalosis respiratorik. bila pCO2 laboratorium (actual) lebih rendah dari pCO2 yang dihitung (calculated). kadar bikarbonat dan pCO2. dengan perkataan lain ada perangsangan pusat pernafasan. anoksia jaringan karena afinitas haemoglobin terhadap O2 meningkat.11 Bila pengukuran pCO2 laboratorium (actual) dalam batas pCO2 yang dihitung (calculated). Demikian sebaliknya.36 ± 1. Asidosis paradoksal sendiri menyebabkan depresi susunan saraf pusat. Sehingga bisa dijumpai paralisis otot-otot pernafasan menyebabkan penderita tiba-tiba henti bernafas (apnu) dan kejang tetani. Namun harus ditentukan apakah asidosis metabolik tersebut murni atau campuran. Untuk menentukan apakah penurunan pCO2 darah sejajar atau tidak dengan kadar bikarbonat darah dipakai rumus: pCO2 calculated (mmHg) = (1. pCO2 darah jauh lebih rendah dibandingkan dengan penurunan bikarbonat darah.2. Pada asidosis metabolik murni. Kemungkinan terdapat gangguan fungsi paru-paru. Alkalosis akan menyebabkan penurunan sirkulasi ke serebral. dan pemberian bikarbonat dapat menyebabkan penumpukan CO2 di darah (hiperkarbia) dan asidosis paradoksal. penderita mengalami asidosis metabolik murni.

Hiperkalemia Hiperkalemia perlu segera ditanggulangi karena bisa membahayakan jiwa penderita. Bila kadar K >7 mg/L atau ada 15 Asidosis metabolik perlukah diterapi natrium bikarbonat . Setelah itu dicampur dengan air matang. maka jika menggunakan obat dalam bentuk tablet. Karena bikarbonat yang diberikan umumnya cairan hipertonik (0. seperti pada orang normal. Zat basa ini mengandung bahan aktif natrium bikarbonat (biknat). tablet tersebut harus digerus terlebih dulu sebelum digunakan. sesuai dengan dosis yang ditentukan dokter.10] 2.3 (mEq) ii.9–1 molar).5-7. Asidosis Bila hasil pemeriksaan analisis gas darah menunjukkan hasil asidosis metabolik. Gagal ginjal kronik Sementara ini penanganan gagal ginjal baru sebatas terapi untuk mengontrol tingkat keasaman darah.0 mEq/L perlu diberi kayexalat yaitu suatu kation exchange resin (Resonium A) 1 g/kgBB per oral atau per rektal 4x sehari. Pemberian bikarbonat tidak boleh diberikan kalau sirkulasi ke ginjal belum membaik. tinggal dicampur air matang lalu diberikan kepada pasien. yaitu dengan memberikan obat yang mengandung zat bersifat basa (alkalis) secara berkala (periodik). sehingga tercapai tingkat keasaman netral.sehingga perfusi jaringan menjadi lebih baik risiko ini akan diperkecil. Sedangkan apabila menggunakan bentuk bubuk dan cairan. Bila kadar K serum 5. Pada gagal ginjal terjadi keadaan ketidakstabilan asam basa yaitu: i. tonisitas cairan ini 5–6 kali tonisitas cairan ekstraselular maka bikarbonat harus diencerkan 5–6 kali untuk mencegah pengerutan sel (bisa terjadi perdarahan intrakranial). dikoreksi dengan cairan natrium bikarbonat sesuai dengan hasil analisis gas darah yaitu: BE x BB x 0.[9. Jika pasiennya anak-anak. lalu diberikan pada pasien. Pemberian bikarbonat yang terlalu cepat menyebabkan penurunan pH intraselular dan hipoksia jaringan karena overshoot metabolic alkalosis. dapat terjadi kelebihan volume cairan intravaskular (hipervolemia). Pemberian bikarbonat dilakukan secara pelan–pelan (per-drip) dalam waktu ± 1 jam.

5 unit/gram glukosa sambil menyiapkan dialisis.5 mEq/kgBB IV dalam 10-15 menit Bila hiperkalemia tetap ada diberi glukosa 20% per infus ditambah insulin 0. Penurunan pernapasan Penurunan pernapasan melibatkan perubahan fungsi neuron dalam menstimulus inhalasi dan ekshalasi. Pendapat lain menganjurkan koreksi natrium cukup sampai natrium serum 125 mEq/L sehingga pemberian Na = (125 – Na serum) x 0.5 mmol/ml). Hal ini menyebabkan peningkatan H2CO3 dan konsentrasi ion hidrogen sehingga menghasilkan asidosis. Na (mmol) = (140 – Na) x 0.[12] Beberapa masalah respiratorik dibagi berdasarkan penyebab : 1. iii. Keadaan ini timbul akibat ketidakmampuan paru untuk mengeluarkan CO 2 hasil metabolisme (keadaan hipoventilasi).6 x BB [1.kelainan EKG (berupa gelombang T yang meruncing. KONDISI YANG TIDAK MEMERLUKAN TERAPI BIKNAT Kasus yang berkaitan dengan asidosis metabolik ringan yaitu pH > 7.5% 2.6 x BB Diberikan hanya separuhnya untuk mencegah terjadinya hipertensi dan overload cairan.11] B.atau aritmia jantung perlu diberikan: • Glukonas kalsikus 10% 0. pemanjangan interval PR dan pelebaran kompleks QRS). Bila disertai dengan gejala serebral maka perlu dikoreksi dengan cairan NaCl hipertonik 3% (0.5 ml/kgBB IV dalam 5-10 menit • Natrium bikarbonat 7.4.2 dan berkaitan dengan asidosis respiratorik tidak diberi terapi bikarbonat karena menyebabkan penumpukan ion bikarbonat yang tinggi dalam darah dan menyebabkan gagal napas. Neuron mengurangi pada tingkat sel tubuh melalui zat/agen kimia dan 16 Asidosis metabolik perlukah diterapi natrium bikarbonat . Pemberian Natrium dihitung dengan rumus. Hiponatremia Hiponatremia <130 mEq/L sering ditemukan karena pemberian cairan yang berlebihan sebelumnya dan cukup dikoreksi dengan restriksi cairan.

hasilnya asidemia. Akibat neuron respiratorik juga akan mengurangi keadaan fisik. Trauma sebagai hasil langsung kerusakan fisik untuk neuron respirasi atau menimbulkan hipoksia sampai iskemik yang dapat mengganggu atau menghancurkan kemampuan neuron untuk membangkitkan dan mengirim impuls ke otot skeletal yang membantu dalam respirasi. Masalah skeletal yang membatasi perpindahan pernapasan dalam dinding dada jika terdapat kerusakan tulang atau malformasi tulang 17 Asidosis metabolik perlukah diterapi natrium bikarbonat . Bagaimanapun meningkatnya aktivitas atau kerusakan pada jaringan paru menghasilkan permintaan untuk pertukaran gas dimana seseorang tidak dapat memenuhinya. Tidak adekuatnya ekspansi dada dapat disebabkan trauma skeletal atau deformitas. Beberapa orang mengalami masalah dalam ekspansi dada dapat mencukupi pertukaran gas selama periode istirahat sehingga retensi CO2 tidak terjadi pada waktu itu. Cedera spinal cord. dan kelemahan otot respirasi. Disamping itu ketidakseimbangan elektrolit (hiponatrium. Neuron respirasi dapat rusak atau hancur secara tidak langsung apabila terdapat masalah di area otak karena meningkatnya tekanan intrakranial. hiperkalsemia dan hiperkalami) juga secara lambat menghalangi depolarisasi neural. Beberapa kondisi dapat membatasi ekspansi dada sehingga menghasilkan inadekuatnya pertukaran gas walaupun jaringan paru sehat dan pusat pesan sudah dimulai dan dengan transmisi yang tepat. Meningkatnya tekanan intrakranial ini karena adanya edema jaringan. yang akan menekan pusat pernapasan (batang otak). Penurunan kimia pada neuron dapat terjadi sebagai hasil agen anastesi. obat-obatan (narkotik) dan racun dimana menghalangi darah menuju ke otak dan langsung menghalangi depolarisasi. dan syndrom Guillain-Barre yang mengganggu transmisi impuls saraf ke otot skeletal) 2. Inadekuatnya ekspansi dada Karena ekspansi ini penting untuk mengurangi tekanan di dalam rongga dada sehingga terjadi pernapasan. penyakit tertentu seperti polio adalah sebab yang sering pada kerusakan di axon dan penyakit lain seperti mistenia gravis.kerusakan fisik.

yang menyebabkan distorsi dalam fungsi dada. Jalan napas bagian atas dan bawah dapat tersumbat secara internal dan eksternal. Struktur tulang dada yang tidak serasi dapat menyebabkan deformitas pada rongga dada dan mencegah penuhnya ekspansi pada satu atau kedua paru.12. Masalah difusi dapat terjadi pada membran alveolar. [1. osteodistropi renal. pembesaran nodus limpa regional. Obstruksi jalan napas Tahanan perpindahan masuk dan keluarnya udara pada paru melalui bagian atas dan bawah pada obstruksi jalan napas dapat menimbulkan pertukaran gas yang tidak efektif. serat asbes. pembentukan jaringan luminal. Beberapa kondisi dimana mencegah atau mengurangi proses difusi karena dapat meretensi CO2 dan terjadi asidemia.13] 4. retensi CO2 dan asidemia. pembentukan lendir yang berlebihan. serat kapas. membran kapiler atau area di antara keduanya. Kondisi kelemahan otot respirasi berhubungan dengan ketidakseimbangan elektrolit dan kelelahan. Gangguan difusi alveolar-kapiler Pertukaran gas pulmonal terjadi oleh difusi di persimpangan alveolar dan membran kapiler.13] 3. Deformitas skeletal bisa terjadi secara kongenital: hasil dari kesalahan pertumbuhan tulang (seperti skoliosis. emfisema dan asma) dan masuknya bahan-bahan iritan seperti asap rokok. 18 Asidosis metabolik perlukah diterapi natrium bikarbonat . konstriksi otot halus bronkial dan pembentukan edema pada jaringan luminal. Sedangkan kondisi internal yang menyebabkan obstruksi jalan napas atas termasuk masuknya benda asing pada saat bernapas. debu batu bara. osteogenesis imperfekta dan Hurler’s syndrom) atau hasil yang tidak seimbang dari degenerasi jaringan tulang (osteoporosis. metastase sel kanker). Kondisi umum yang berhubungan dengan obstruksi jalan napas bagian bawah yaitu karena terlalu lama menderita penyakit inflamasi (bronkitis. [12. Obstruksi jalan napas bagian bawah terjadi melalui konstriksi otot halus. Kondisi eksterna yang menyebabkan obstruksi jalan napas atas termasuk tekanan yang kuat pada daerah leher. debu silikon dan beberapa partikel yang mencapai jalan napas bagian bawah.

2. bronkiolitis). tanda-tanda vital.Barre dan akibat obat yang merelaksasi otot. 19 Asidosis metabolik perlukah diterapi natrium bikarbonat . asma. 2. antibiotik. Senyawa ini termasuk kelompok garam dan telah digunakan sejak lama.4 serta kadar bikarbonat < 36 mmHg. penyakit sindrom Guillain. Hati-hati dalam mengatur ventilator mekanik jika digunakan. intestinal paru. [14] Intervensi keperawatan yang bisa dilakukan pada Asidosis Respiratorik : 1. obstruksi (empisema. gangguan saluran fibrosis pulmonal. Dalam penyebutannya kerap disingkat menjadi biknat. bronkitis.[12] BAB IV SIMPULAN 1. Jaga keadekuatan hidrasi (2 – 3 l cairan perhari) 3. O2 sesuai perintah).Asidosis respiratorik sering terjadi akibat kondisi patologis yang merusak pusat pernapasan atau yang menurunkan kemampuan paru untuk mengeliminasi CO2. Perbaiki ventilasi pernapasan (melakukan dilator bronkial. gas darah dan pH arteri. 4. Natrium bikarbonat adalah senyawa kimia dengan rumus NaHCO3. Monitor intake dan output cairan. Asidosis metabolik adalah peningkatan keasaman darah yang ditandai dengan pH < 7. Ada beberapa hal yang menyebabkan keadaan asidosis respiratorik yaitu : • • • penyakit otot-otot bantu napas pernapasan seperti misal mistenia gravis.

Alwi I. Hal ini dapat dinilai dari pemeriksaan fisik dan laboratorium. Kasus yang tidak diberi terapi bikarbonat adalah asidosis metabolik yang dapat dikompensasi oleh tubuh sendiri dan berkaitan dengan penyakit yang menyebabkan asidosis respiratorik. Setiyohadi B. New York. Dalam: Pocket Medicine 3rd ed. Sabatine M. 2008 3. Salim S. Setyohadi B. Terapi bikarbonat diberikan pada pasien dengan nilai pH < 7. Lippincot William & Willkins. 2004:159-164 2. Dalam: Sudoyo AW. Haist S. ed. Dalam: Clinicians Pocket Reference 10th ed. Blood Gases and Acid Base Disorders. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam 20 Asidosis metabolik perlukah diterapi natrium bikarbonat . Pemberian bikarbonat tergantung pada kondisi beratnya keadaan pasien. McGraww-Hill. DAFTAR PUSTAKA 1. 4. Setiati S. Gomella L. Simadibrata M. Gangguan Keseimbangan Asam Basa.3. Acid Base Disturbances.2 serta tidak terkompensasi oleh tubuh. Philadelphia.

D. Kasper DL.jilid III. Mc Graw hill. Dalam: Kasper DL. Iseman MD. 5. Tabel 1. Dalam: Stockman III JA. Asidosis Metabolik pada Diare. McGraww-Hill. Medan–20 Maret 2001. 1990. Sodium bicarbonate administration and outcome in preterm infants.Available at: http://technologysifi. Yudkoff M. The Management of Diarrheal Dehydration in Infants using Parenteral Fluids. h. 2005:267-70.html c. Fauchi AS et al (editor). J Pediatr 2010 Oct. Berg CS et al. Philadelphia: Saunders.J. Difficult Diagnosis in Pediatrics.J med 1993.Access on 3 Augustus 2011. Priciples of Pediatric Fluid Therapy. 23-55.M. Pediatrics 2008 . 37: 42547. 10. 4. Brewer E. 37: 265-86. Brown and Company. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI.Available at: 21 Asidosis metabolik perlukah diterapi natrium bikarbonat . 11.ru/dic.831-835 : American Academy of Pediatric 8. Kallen R. Ergi. Pediatr Clin North Am 1990. Hurt`s the lungs 10 ed.Available at: http://en. Fauci AS et al (eds). 1982. h. Disorder of Acid–Base Balance. 157:684. Edisi ke-2.academic. Judi LA et al. Braunwald E. New York. Acidosis and Alkalosis. 2211 14. N. 12. Boston:Little. Pediatr Clin North Am 1990.nsf/enwiki/2479511 b. Harrison`s Principles of internal medicines. 2003 DAFTAR GAMBAR a. DuBose TD. Jr. penyunting.com/2010/03/sodium bicarbonate. 122. Unexplained Acidosis. 7. Access on 2 Augustus 2011. Jakarta. Gambar 3. Clinical Signs and Symptomps. 401 6. 9. 329: 784-91 13. Harrison’s Principles of Internal Medicine 16th. Dipresentasikan pada Simposium Ilmiah “Probiotic Agents: Clinical Application in Infants and Children”. Edisi ke-1. edisi keempat. 2006: 143-149. Sodium Bicarbonate: Basically Useless Therapy. Winter R. Sinuhaji A. Braunwald E. 16 ed.blogspot.B. Gambar 2: Access on 2 Augustus 2011. Respiratory acidosis.Company.

blogspot.com/2011/03/acid base.http://biochemical-Review. Gambar 4: Access on 3 Augustus 2011.html d.Available at: http://wahyurawely.html REFERAT ILMU PENYAKIT ANAK ASIDOSIS METABOLIK DAN KOREKSI NATRIUM BIKARBONAT Pembimbing: 22 Asidosis metabolik perlukah diterapi natrium bikarbonat .

Meiriani Sari.dr. SpA Disusun Oleh: Ruriyandini Prakasita 030.Msc.05.198 Kepaniteraan Klinik Ilmu Penyakit Anak RSUD Tarakan Periode 27 Juni 2011 – 3 September 2011 Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti Jakarta 23 Asidosis metabolik perlukah diterapi natrium bikarbonat .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful