P. 1
Tantangan Keperawatan Profesional

Tantangan Keperawatan Profesional

|Views: 41|Likes:
Published by Nisya Andesita H
Tantangan Keperawatan Profesional
Tantangan Keperawatan Profesional

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Nisya Andesita H on Mar 17, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/12/2013

pdf

text

original

MAKALAH KEPERAWATAN PROFESIONAL “TANTANGAN DALAM PROFESI KEPERAWATAN”

DISUSUN OLEH : EGA ARISTA PRATAMA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR JURUSAN D-III KEPERAWATAN TAHUN AKADEMIK 2010/2011

B Tujuan Penulisan • Agar mahasiswa mengetahui tantangan dalam profesi keperawatan. • Agar perawat mengetahui tanggung jawab dan tanggung gugat sebagai perawat.BAB I PENDAHULUAN A Latar Belakang Tantangan profesi keperawatan adalah profesi yang sudah mendapatkan pengakuan dari profesi lain. dituntut untuk mengembangkan dirinya untuk berpartisipasi aktif dalam sistem pelayanan kesehatan agarkeberadaannya mendapat pengakuan dari masyarakat. maka perawat masih harus memperjuangkan langkah-langkah profesionalisme sesuai dengan keadaan dan lingkungan sosial. Untuk mewujudkan pengakuan tersebut. • Memberi pedoman dan pendidikan bagi tenaga keperawatan. .

Profesi keperawatan dihadapkan pada banyak tantangan. Tantangan ini tidak hanya dari eksternal tapi juga dari internal profesi ini sendiri. Suatu profesi memberikan pelayanan tertentu. Untuk menjawab tantangan-tantangan itu dibutuhkan komitmen dari semua pihak yang terkait dengan profesi ini. Anggota dari suatu profesi memiliki otonomi untuk membuat keputusan dan melakukan tindakan. Pembenahan internal yang meliputi empat dimensi dominan yaitu. lembaga pendidikan dalam melahirkan perawat-perawat yang memiliki kualitas yang diharapkan serta pemerintah sebagai fasilitator dan memiliki peran-peran strategis lainnya dalam mewujudkan perubahan ini. kemampuan. lembaga pendidikan keperawatan juga tidak kalah pentingnya peran serta pemerintah. 1. 2. dan tanggung jawab terhadap rekan sejawat dan atasan (Responsibility to Colleague and Supervisor). Belum lagi tantangan eksternal berupa tuntutan akan adanya registrasi. pada orma-norma tertentu. asuhan keperawatan dan praktik keperawatan. demikian juga landasan dasarnya. 5. 4. 3. kompetensi dan perubahan pola penyakit. Organisasi profesi dalam menentukan standarisasi kompetensi dan melakukan pembinaan. sertifikasi.BAB II PEMBAHASAN A. perubahan system pendidikan nasional. pelayanan keperawatan. organisasi profesi. Profesi memiliki beberapa karakteristik utama sebagai berikut. Profesi sebagai satu kesatuan memiliki kode etik untuk melakukan praktik keperawatan Perawat mempunyai tantangan yang sangat banyak salah satunya yaitu menjalakan tanggung jawab dan tanggung gugat yang besar. . lisensi. serta perubahan-perubahan pada supra system dan pranata lain yang terkait. TANTANGAN DALAM PRAKTEK PROFESI KEPERAWATAN Tantangan profesi perawat di Indonesia di abad 21 ini semakin meningkat. Seiring tuntutan menjadikan profesi perawat yang di hargai profesi lain. tanggung jawab tehadap klien dan masyarakat (Responsibility to Client and Society). Tanggung jawab secara umum. tanggung jawab tersebut tidak hanya kepada kliennya saja tetapi tanggung jawab yang diutamakan yaitu tanggung jawab terhadap Tuhannya (Responsibility to God). yaitu. keperawatan. Tantangan dalam profesi keperawatan salah satunya yaitu mempunyai tanggung jawab yang tinggi. Suatu profesi memiliki kerangka pengetahuan teoritis yang mengarah pada keterampilan. Suatu profesi memerlukan pendidikan lanjut dari anggotanya. peningkatan kesadaran masyarakat akan hak dan kewajiban.

Dan tanggung gugat yang menjadi salah satu tantangan dalam profesi keperawatan didasarkan peraturan perundang-undangan yang ada. Mempertahankan standart perawatan kesehatan. Apabila didelegasikan oleh dokter menjawab pertanyaan-pertanyaan pasien dan memberi informasi yang biasanya diberikan oleh dokter. 2. Tahap Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan yang mempunyai tujuan mengumpulkan data. penetapan tujuan dan perencanaan kegiatan-kegiatan keperawatan. Tanggung gugat bertujua untuk : (1). 2. Tahap Perencanaan Perencanaan merupakan pedoman perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan. . Memberikan fasilitas refleksi professional. 4. Tahap Diagnosa Keperawatan Diagnosa merupakan keputusan professional perawat menganalisa data dan merumuskan respon pasien terhadap masalah kesehatan baik actual atau potensial. Tanggung gugat yang tercakup pada tahap perencanaan meliputi: penentuan prioritas. keyakinan dan kebiasaan atau kebudayaan pasien pada waktu menentukan masalah-masalah kesehatan 3. Menghargai setiap hak pasien dan keluarganya dalam hal kerahasiaan informasi. 3. Pada tahap ini perawat juga bertanggung gugat untuk menjamin bahwa prioritas pasien juga dipertimbangkan dalam menetapkan prioritas asuhan. terdiri dari prioritas masalah. meliputi: 1. prosedur atau obat-obatan tertentu dan melaporkan penolakan tersebut kepada dokter dan orang-orang yang tepat di tempat tersebut. Menghargai martabat setiap pasien dan keluargannya.1. (4). Memberi dasar untuk membuat keputusan etis. Pada saat mengkaji perawat bertanggung gugat untuk kesenjangan-kesenjangan dalam data yang bertentangan data yang tidak atau kurang tepat atau data yang meragukan. tujuan serta rencana kegiatan keperawatan. Tanggung gugat pada setiap tahap proses keperawatan. pemikiran etis dan pertumbuhan pribadi sebagai bagian dari professional perawatan kesehatan. Perawat bertanggung gugat untuk keputusan yang dibuat tentang masalah-masalah kesehatan pasien seperti pernyataan diagnostic (masalah kesehatan yang timbul pada pasien apakan diakui oleh pasien atau hanya perawat) Apakah perawat mempertimbangkan nilai-nilai. mendorong partisipasi pasien dan penentuan keabsahan data yang dikumpulkan. (2). Perawat bertanggung gugat untuk pengumpulan data atau informasi. Mengevaluasi praktisi-praktisi professional baru dan mengkaji ulang praktisipraktisi yang sudaj ada. 5. Menghargai hak pasien untuk menolak pengobatan. Mendengarkan pasien secara seksama dan melaporkan hal-hal penting kepada orang yang tepat. (3). Langkah ini semua disatukan ke dalam rencana keperawatan tertulis yang tersedia bagi semua perawat yang terlibat dalam asuhan keperawatan pasien.

oleh sebab itu dibuat catatan tertulis. Bersikap professional. Mengelola ruang lingkup keperawatan berikut sesuai dengan kaidah suatu profesi dalam bidang kesehatan. Pendidikan atau pelatihan keperawatan yang berjenjang dan berlanjut (c). Upaya yang paling strategik untuk dapat menghasilkan perawat pofesional melalui pendidikan keperawatan profesional. Kegiatan keperawatan harus dicatat setelah dilaksanakan. Mempunyai pengetahuan dan ketrampilan professional (c). yaitu: (a). Tahap Evaluasi Evaluasi merupakan tahap penilaian terhadap hasil tindakan keperawatan yang telah diberikan. Perawat bertanggung gugat untuk keberhasilan atau kegagalan tindakan keperawatan. Setiap tantangan yang meliputi tanggung jawab dan tanggung gugat mempunyai bagian masing-masing. Perawat harus dapat menjelaskan mengapa tujuan pasien tidak tercapai dan tahap mana dari proses keperawatan yang perlu dirubah dan mengapa hal itu terjadi. 2. dan (d). (b). pendidikan keperawatan registrasi atau legislasi). dan . diperlukan perawat dengan sikap yang selalu dilandasi oleh kaidah etik profesi. Tahap Implementasi Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan dari rencana asuhan keperawatan dalam bentuk tindakan-tindakan keperawatan. Perawat bertanggung gugat untuk semua tindakan yang dilakukannya dalam memberikan asuhan keperawatan. Adapun keperawatan sebagai suatu profesi memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. 5. perumusan standar keperawatan (asuhan keperawatan. Dapat disimpulkan bahwa menghadapi tantangan yang sangat berat tersebut. Sistem pelayanan atau asuhan keperawatan (b).4. Memberi pelayanan asuhan keperawatan professional. 3. Tindakan-tindakan tersebut dapat dilakukan secara langsung atau dengan bekerja sama dengan orang lain atau dapat pula didelegasikan kepada orang lain. termasuk juga menilai semua tahap proses keperawatan. Memberi pelayanan atau asuhan dan melakukan penelitian sesuai dengan kaidah ilmu dan ketrampilan serta kode etik keperawatan. Menggunakan etika keperawatan dalam memberi pelayanan. Telah lulus dari pendidikan pada Jenjang Perguruan Tinggi (JPT) sehingga diharapkan mampu untuk : (a).

000 – 23. Pertumbuhan institusi keperawatan di Indonesia menjadi tidak terkendali. Dengan telah diakuinya body of knowledge tersebut maka pada saat ini pekerjaan profesi keperawatan tidak lagi dianggap sebagai suatu okupasi. namun secara kualitas masih jauh dari harapan masyarakat.000 lulusan tenaga keperawatan setiap tahunnya. fakta dilapangan menunjukkan penyelenggara pendidikan tinggi keperawatan berasal dari pelaku bisnis murni dan dari profesi non keperawatan. melalui program “health project” (HP V) dibukalah kelas khusus D III keperawatan hampir di setiap kabupaten.670 setiap tahunnya. Anak Dan Jiwa. TANTANGAN DALAM PENDIDIKAN KEPERAWATAN PROFESIONAL Pengakuan body of knowledge keperawatan di Indonesia dimulai sejak tahun 1985.ABRI dan swasta (DAS) yang telah menghasilkan lulusan sekitar 20. Program Pascasarjana Keperawatan dimulai tahun 1999. B. Berangkat dari kondisi tersebut.(d). Komunitas. maka akan terjadi surplus tenaga perawat sekitar 16. sehingga pemahaman tentang hakikat profesi keperawatan dan arah pengembangan perguruan tinggi keperawatan kurang dipahami. Tahun 1984 dikembangkan kurikulum untuk mempersiapkan perawat menjadi pekerja profesional. proses produksi tenaga perawat justru meningkat pesat. 2005). Saat ini di Indonesia berdiri 32 buah Politeknik kesehatan dan 598 Akademi Perawat yang berstatus milik daerah. Parahnya lagi. maka dalam kurun waktu 1990-2000 dengan bantuan dana dari World Bank. Selain itu bank dunia juga memberikan bantuan untu peningkatan kualitas guru dan dosen melalui program “GUDOSEN”. lulusannya disebut ners atau perawat profesional.130 orang setiap tahun. Artinya di masa sulitnya lapangan kerja. Maternitas. Sejak tahun 2000 terjadi euphoria Pendirian Institusi Keperawatan baik itu tingkat Diploma III (akademi keperawatan) maupun Strata I. Seperti jamur di musim kemarau. Salah satu tantangan terberat adalah peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) tenaga keperawatan yang walaupun secara kuantitas merupakan jumlah tenaga kesehatan terbanyak dan terlama kontak dengan pasien. Melakukan riset keperawatan oleh perawat pelaksana secara terencana dan terarah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. dan peneliti. yakni ketika program studi ilmu keperawatan untuk pertama kali dibuka di Fakultas Kedokteran UI. Tujuan lain dari program ini diharapkan bisa memperkecil gap antara perawat dan dokter sehingga perawat tidak lagi menjadi . Apabila dibandingkan dengan jumlah kebutuhan untuk menunjang Indonesia sehat 2010 sebanyak 6. kalaupun ada sangat terbatas (Yusuf. 2006). Program tersebut merupakan suatu percepatan untuk meng-upgrade tingkat pendidikan perawat dari rata-rata hanya berlatar belakang pendidikan SPK menjadi Diploma III (Institusi keperawatan). Tahun 1995 program studi itu mandiri sebagai Fakultas Ilmu Keperawatan. pengajar. Kurikulum ini diimplementasikan tahun 1985 sebagai Program Studi Ilmu Keperawatan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Indikator makronya adalah rata-rata tingkat pendidikan formal perawat yang bekerja di unit pelayanan kesehatan (rumah sakit/puskesmas) hanyalah tamatan SPK (sederajat SMA/SMU). (Sugiharto. Kini sudah ada Program Magister Keperawatan dan Program Spesialis Keperawatan Medikal Bedah. manajer. melainkan suatu profesi yang kedudukannya sejajar dengan profesi lain di Indonesia. Belum lagi sarana prasarana cenderung untuk dipaksakan.

Pengembangan sistem pendidikan tinggi keperawatan yang bemutu merupakan cara untuk menghasilkan tenaga keperawatan yang profesional dan memenuhi standar global. kualitas/mutu. Penurunan jumlah hari rawat mempengaruhi kebutuhan pelayanan keeshatan yang belih berfokus kepada kualitas bukan hanya kuantitas. 2006). IPTEK juga berdampak pada biaya kesehatan yang makin tinggi dan pilihan tindakan penanggulangan maslah kesehatan yang makin banyyak dan kompleks. dan Organisasi profesi serta sector lain yang terlibat mulai dari proses perizinan juga memiliki tanggung jawab moril untuk melakukan pembinaan. 60 tahun 1999 tentang pendidikan tinggi dan keputusan Mendiknas no. selain tentunya menurunkan jumlah hari rawat (Hamid. serta meningkatkan kebutuhan untuk pelayanan / asuhan keperawatan di rumah dengan mengikutsertakan klien dan keluarganya. 1988).misalnya emergency Nursing. hak untuk diberitahu. tetapi juga untuk menapis dan memastikan hanya IPTEK sesuai dengan kebutuhan dan sosial budaya masyarakat Indonesia yang akan diadopsi. 2 tahun 1989 tentang pendidikan nasional.perpanjangan tangan dokter (Prolonged physicians arms) tapi sudah bisa menjadi mitra kerja dalam pemberian pelayanan kesehatan(Yusuf. . institusi harus dipimpin oleh seorang dengan latar belakang pendidikan keperawatan 5. Peraturan pemerintah no. Merubah bahasa pengantar dalam pendidikan keperawatan dengan menggunakan bahasa inggris. coronary nursing. pediatric nursing. hak untuk memilih tindakan yang akan dilakukan dan hak untuk didengarkan pendapatnya. Jerningan. disamping tentunya untuk mengembangkan IPTEK baru lainnya. 1997. 2006). Semua Dosen dan staf pengajar di institusi pendidikan keperawatan harus mampu berbahasa inggris secara aktif 3. Menutup institusi keperawatan yang tidak berkualitas 4. Perkembangan IPTEk harus diikuti dengan upaya perlindungan terhadap hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang aman. Pengelola insttusi hendaknya memberikan warna tersendiri dalam institusi dalam bentuk muatan lokal. Standarisasi kurikulum dan evaluasi bertahan terhadap staf pengajar di insitusi pendidikan keperawatan 7. Standarisasi jenjang. pengguna jasa pelayanan kesehatan perlu memberikan persetujuan secara tertulis sebelum dilakukan tindakan (informed cinsent). Departemen Kesehatan. Kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan sisitem pendidikan keperawatan di Indonesia adalah UU no. kurikulum dari institusi pada pendidikan. Departemen Pendidikan. Oleh karena itu. C. TANTANGAN KEPERAWATAN PROFESIONAL DALAM ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI Perkembangan IPTEk menuntut kemampuan spesifikasi dan penelitian bukan saja agar dapat memanfaatkan IPTEK. 2. 6. 0686 tahun 1991 tentang Pedoman Pendirian Pendidikan Tinggi (Munadi. Hal-hal lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu lulusan pendidikan keperawatan menurut Yusuf (2006) dan Muhammad (2005) adalah : 1.

keperawatan telah mencapai kemajuan yang sangat bermakna bahkan merupakan suatu lompatan yang jauh kedepan. Proses ini berkembang terus sejalan dengan hakikat profesionalisme keperawatan. Pendidikan tinggi keperawatan diharapkan menghasilkan tenaga keperawatan profesional yang mampu mengadakan pembaruan dan perbaikan mutu pelayanan / asuhan keperawatan. Masyarakat semakin sadar akan hukum sehingga mendorong adanya tuntutan tersedianya pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan dengan mutu yang dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat. telah dirumuskan dan disusun dasardasar pengembangan Pendidikan Tinggi Keperawatan. Diperkirakan bahwa dimasa datang tuntutan kebutuhann pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan akan terus meningkat baik dalam aspek mutu maupun keterjangkauan serta cakupan pelayanan. Tenaga keperawatan yang merupakan jumlah tenaga kesehatan terbesar seyogyanya dapat memberikan kontribusi essensial dalam keberhasilan pembangunan kesehatan. Keperawatan sebagai suatu profesi. standar praktek. standar pendidikan. dan peningkatan daya emban ekonomi masyarakat serta meningkatnya komplesitas masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat. Untuk itu tenaga keperawatan dituntut untuk dapat meningkatkan kemampuan profesionalnya agar mampu berperan aktif dalam pembangunan kesehatan khususnya dalam pelayanan keperawatan profesional. Untuk itu memerlukan suatu wadah yang mempunyai fungsi utama untuk menetapkan. Pendidikan tinggi keperawatan diharapkan menghasilkan tenaga keperawatan professional yang mampu mengadakan pembaharuan dan perbaikan mutu pelayanan/asuhan keperawatan. serta penataan perkembangan kehidupan profesi keperawatan. Dalam Lokakarya Keperawatan tahun 1983. Keyakinan inilah yang merupakan faktor penggerak perkembangan pendidikan keperawatan di Indonesia pada jenjang pendidikan tinggi. dan dilanjutkan dengan penyusunan kurikulum pendidikan Sarjana (S1) Keperawatan. Hal ini bermula dari dicapainya kesepakatan bersama pada Lokakarya Nasional Keperawatan pada bulan Januari 1983 yang menerima keperawatan sebagai pelayanan profesional (profesional service) dan pendidikan keperawatan sebagai pendidikan profesi (professional education). mengatur serta mengendalikan berbagai hal yang berkaitan dengan profesi seperti pengaturan hak dan batas kewenangan. Hal ini disebabkan meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan yang diakibatkan meningkatnya kesadaran masyarakat secara umum. kode etik profesi dan peraturan lain yang berkaitan dengan profesi keperawatan. legislasi. yang sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1962 yaitu dengan dibukanya Akademi Keperawatan yang pertama di Jakarta. dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab pengembanggannya harus mampu mandiri. Dengan demikian keperawatan perlu terus . serta penataan perkembangan kehidupan profesi keperawatan.Di Indonesia. Sebagai realisasinya disusun kurikulum program pendidikan D-III Keperawatan.

Dalam memnghadapi tuntutan kebutuhan dimasa datang maka langkah konkrit yang harus dilakukan antara lain adalah : penataan standar praktek dan standar pelayanan/asuhan keperawatan sebagai landasan pengendalian mutu pelayanan keperawatan secara professional. Dan juga globalisasi. kesempatan mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi dan penghasilan yang lebih besar membuat masyarakat Indonesia lebih kritis dan mampu membayar pelayanan kesehatan yang bermutu dan dapat dipertanggungjawabkan. Angka kematian bayi dan angka kematian ibu sebagai indikator derajad kesehatan. penyakit yang disebabkan oleh kurang gizi dan pemukiman tidak sehat. penataan sistem pemberdayagunaan tenaga keperawatan sesuai dengan kepakarannya.mengalami perubahan dan perkembangan sejalan dengan perubahan yang terjadi diberbagai bidang lainnya. pencemaran kesehatan lingkungan dan kecelakaan kerja cenderung meningkat sejalan dengan pembangunan industri. menimbulkan dampak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia. masih tinggi. Begitu pula masalah kesehatan yang berhubungan dengan urbanisasi. pergeseran nilai-nilai keluarga pun turut terpengaruh di mana berkembang kecenderungan keluarga terhadap anggotanya menjadi berkurang. dan 2) persaingan penyelenggaraan pelayanan untuk menarik minat pemakai jasa pelayanan kualitas untuk memberikan jasa pelayanan keseahtanyang terbaik. Kendatipun masih ada masyarakat yang menderita penyakit terkait dengan kemiskinan seperti infeksi. akan tetapi juga adanya tekanan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan serta perkembangan profesi keperawatan dalam menghadapi era globalisasi. khususnya tenaga keperawatan diharapkan untuk dapat memenuhi standar . Untuk hal ini berarti tenaga kesehatan. tanggung jawab tenaga keperawatan dalam melakukan praktek keperawatan. Selain masalah kesehatan yang makin kompleks. Selain daripada itu. tetapi penyakit atau kelainan kesehatan akibat pola hidup modern juga sudah makin meningkat. Pada dasarnya dua hal utama dari globalisasi yang akan berpengaruh terhadap perkembangan pelayanan keseahtan termasuk pelayanan keperawatan adalah : 1) tersedianya alternatif pelayanan. termasuk aspek kesehatan. Keadaan ini akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan kesejahteraan kelompok lanjut usia yang cenderung meningkat jumlahnya dan sangat memerlukan dukungan keluarga. Perkembangan keperawatan bukan saja karena adanya pergeseran masalah kesehatan di masyarakat. Peningkatan umur harapan hidup juga mengakibatkan masalah kesehatan yang terkait dengan masyarakat lanjut usia seperti penyakit generatif. TANTANGAN SOSIAL DALAM KEPERAWATAN PROFESIONAL Pergeseran pola masyarakat agrikultur ke masyarakat industri dan dari masyarakat tradisional berkembang menjadi masyarakat maju. kewajiban. D. pengelolaan sistem pendidikan keperawatan yang mampu menghasilkan keperawatan professional serta penataan sistem legilasi keperawatan untuk mengatur hak dan batas kewenangan.

diperlukan perawat dengan sikap yang selalu dilandasi oleh kaidah etik profesi. Untuk menjawab tantangan-tantangan itu dibutuhkan komitmen dari semua pihak yang terkait dengan profesi ini. Profesi keperawatan dihadapkan pada banyak tantangan. Dapat disimpulkan bahwa menghadapi tantangan yang sangat berat.BAB III PENUTUP Kesimpulan Tantangan profesi perawat di Indonesia di abad 21 ini semakin meningkat. organisasi profesi. Upaya yang paling strategik untuk dapat menghasilkan perawat pofesional melalui pendidikan keperawatan profesiona . lembaga pendidikan keperawatan juga tidak kalah pentingnya peran serta pemerintah. Salah satu dari tantangan tersebut menjalankan tanggung jawab dan tanggung gugat sebagai perawat. Seiring tuntutan menjadikan profesi perawat yang di hargai profesi lain.

http://stikeskabmalang.com/2009/12/04/tantangan-dalam-profesikeperawatan/ di akses tanggal 31 Januari 2010 .wordpress.DAFTAR PUSTAKA 1.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->