MAKALAH KEPERAWATAN PROFESIONAL “TANTANGAN DALAM PROFESI KEPERAWATAN”

DISUSUN OLEH : EGA ARISTA PRATAMA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN KALIMANTAN TIMUR JURUSAN D-III KEPERAWATAN TAHUN AKADEMIK 2010/2011

• Memberi pedoman dan pendidikan bagi tenaga keperawatan. • Agar perawat mengetahui tanggung jawab dan tanggung gugat sebagai perawat. .BAB I PENDAHULUAN A Latar Belakang Tantangan profesi keperawatan adalah profesi yang sudah mendapatkan pengakuan dari profesi lain. B Tujuan Penulisan • Agar mahasiswa mengetahui tantangan dalam profesi keperawatan. Untuk mewujudkan pengakuan tersebut. dituntut untuk mengembangkan dirinya untuk berpartisipasi aktif dalam sistem pelayanan kesehatan agarkeberadaannya mendapat pengakuan dari masyarakat. maka perawat masih harus memperjuangkan langkah-langkah profesionalisme sesuai dengan keadaan dan lingkungan sosial.

Anggota dari suatu profesi memiliki otonomi untuk membuat keputusan dan melakukan tindakan. pada orma-norma tertentu. tanggung jawab tersebut tidak hanya kepada kliennya saja tetapi tanggung jawab yang diutamakan yaitu tanggung jawab terhadap Tuhannya (Responsibility to God). Suatu profesi memberikan pelayanan tertentu. TANTANGAN DALAM PRAKTEK PROFESI KEPERAWATAN Tantangan profesi perawat di Indonesia di abad 21 ini semakin meningkat. asuhan keperawatan dan praktik keperawatan. lembaga pendidikan keperawatan juga tidak kalah pentingnya peran serta pemerintah. Tanggung jawab secara umum. Profesi memiliki beberapa karakteristik utama sebagai berikut. Belum lagi tantangan eksternal berupa tuntutan akan adanya registrasi. Pembenahan internal yang meliputi empat dimensi dominan yaitu. pelayanan keperawatan. Untuk menjawab tantangan-tantangan itu dibutuhkan komitmen dari semua pihak yang terkait dengan profesi ini.BAB II PEMBAHASAN A. organisasi profesi. 4. 5. . lisensi. Profesi sebagai satu kesatuan memiliki kode etik untuk melakukan praktik keperawatan Perawat mempunyai tantangan yang sangat banyak salah satunya yaitu menjalakan tanggung jawab dan tanggung gugat yang besar. yaitu. 2. Tantangan ini tidak hanya dari eksternal tapi juga dari internal profesi ini sendiri. Suatu profesi memerlukan pendidikan lanjut dari anggotanya. Tantangan dalam profesi keperawatan salah satunya yaitu mempunyai tanggung jawab yang tinggi. tanggung jawab tehadap klien dan masyarakat (Responsibility to Client and Society). perubahan system pendidikan nasional. kompetensi dan perubahan pola penyakit. peningkatan kesadaran masyarakat akan hak dan kewajiban. kemampuan. serta perubahan-perubahan pada supra system dan pranata lain yang terkait. Organisasi profesi dalam menentukan standarisasi kompetensi dan melakukan pembinaan. dan tanggung jawab terhadap rekan sejawat dan atasan (Responsibility to Colleague and Supervisor). Suatu profesi memiliki kerangka pengetahuan teoritis yang mengarah pada keterampilan. Profesi keperawatan dihadapkan pada banyak tantangan. Seiring tuntutan menjadikan profesi perawat yang di hargai profesi lain. demikian juga landasan dasarnya. keperawatan. lembaga pendidikan dalam melahirkan perawat-perawat yang memiliki kualitas yang diharapkan serta pemerintah sebagai fasilitator dan memiliki peran-peran strategis lainnya dalam mewujudkan perubahan ini. 3. 1. sertifikasi.

Menghargai hak pasien untuk menolak pengobatan. Mengevaluasi praktisi-praktisi professional baru dan mengkaji ulang praktisipraktisi yang sudaj ada. Mempertahankan standart perawatan kesehatan. 4. Tanggung gugat bertujua untuk : (1). terdiri dari prioritas masalah. Memberi dasar untuk membuat keputusan etis. 3. Tahap Diagnosa Keperawatan Diagnosa merupakan keputusan professional perawat menganalisa data dan merumuskan respon pasien terhadap masalah kesehatan baik actual atau potensial. (2). mendorong partisipasi pasien dan penentuan keabsahan data yang dikumpulkan. (3). keyakinan dan kebiasaan atau kebudayaan pasien pada waktu menentukan masalah-masalah kesehatan 3. Dan tanggung gugat yang menjadi salah satu tantangan dalam profesi keperawatan didasarkan peraturan perundang-undangan yang ada. pemikiran etis dan pertumbuhan pribadi sebagai bagian dari professional perawatan kesehatan. Memberikan fasilitas refleksi professional. Tanggung gugat yang tercakup pada tahap perencanaan meliputi: penentuan prioritas. (4). Menghargai martabat setiap pasien dan keluargannya. Apabila didelegasikan oleh dokter menjawab pertanyaan-pertanyaan pasien dan memberi informasi yang biasanya diberikan oleh dokter. penetapan tujuan dan perencanaan kegiatan-kegiatan keperawatan. Perawat bertanggung gugat untuk pengumpulan data atau informasi. Langkah ini semua disatukan ke dalam rencana keperawatan tertulis yang tersedia bagi semua perawat yang terlibat dalam asuhan keperawatan pasien. Pada saat mengkaji perawat bertanggung gugat untuk kesenjangan-kesenjangan dalam data yang bertentangan data yang tidak atau kurang tepat atau data yang meragukan. meliputi: 1. 2. 5. prosedur atau obat-obatan tertentu dan melaporkan penolakan tersebut kepada dokter dan orang-orang yang tepat di tempat tersebut. . Perawat bertanggung gugat untuk keputusan yang dibuat tentang masalah-masalah kesehatan pasien seperti pernyataan diagnostic (masalah kesehatan yang timbul pada pasien apakan diakui oleh pasien atau hanya perawat) Apakah perawat mempertimbangkan nilai-nilai.1. Menghargai setiap hak pasien dan keluarganya dalam hal kerahasiaan informasi. Tanggung gugat pada setiap tahap proses keperawatan. Tahap Pengkajian Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan yang mempunyai tujuan mengumpulkan data. Mendengarkan pasien secara seksama dan melaporkan hal-hal penting kepada orang yang tepat. tujuan serta rencana kegiatan keperawatan. Pada tahap ini perawat juga bertanggung gugat untuk menjamin bahwa prioritas pasien juga dipertimbangkan dalam menetapkan prioritas asuhan. Tahap Perencanaan Perencanaan merupakan pedoman perawat dalam melaksanakan asuhan keperawatan. 2.

Telah lulus dari pendidikan pada Jenjang Perguruan Tinggi (JPT) sehingga diharapkan mampu untuk : (a). 3. dan . Perawat harus dapat menjelaskan mengapa tujuan pasien tidak tercapai dan tahap mana dari proses keperawatan yang perlu dirubah dan mengapa hal itu terjadi. dan (d). 5. Memberi pelayanan atau asuhan dan melakukan penelitian sesuai dengan kaidah ilmu dan ketrampilan serta kode etik keperawatan. (b). oleh sebab itu dibuat catatan tertulis. pendidikan keperawatan registrasi atau legislasi). Menggunakan etika keperawatan dalam memberi pelayanan. Pendidikan atau pelatihan keperawatan yang berjenjang dan berlanjut (c). diperlukan perawat dengan sikap yang selalu dilandasi oleh kaidah etik profesi. Kegiatan keperawatan harus dicatat setelah dilaksanakan. Mempunyai pengetahuan dan ketrampilan professional (c). Perawat bertanggung gugat untuk semua tindakan yang dilakukannya dalam memberikan asuhan keperawatan. Tindakan-tindakan tersebut dapat dilakukan secara langsung atau dengan bekerja sama dengan orang lain atau dapat pula didelegasikan kepada orang lain. perumusan standar keperawatan (asuhan keperawatan. 2. termasuk juga menilai semua tahap proses keperawatan. Dapat disimpulkan bahwa menghadapi tantangan yang sangat berat tersebut. Perawat bertanggung gugat untuk keberhasilan atau kegagalan tindakan keperawatan. Bersikap professional. Adapun keperawatan sebagai suatu profesi memiliki ciri-ciri sebagai berikut: 1. Sistem pelayanan atau asuhan keperawatan (b). Upaya yang paling strategik untuk dapat menghasilkan perawat pofesional melalui pendidikan keperawatan profesional. Setiap tantangan yang meliputi tanggung jawab dan tanggung gugat mempunyai bagian masing-masing. Tahap Evaluasi Evaluasi merupakan tahap penilaian terhadap hasil tindakan keperawatan yang telah diberikan. Memberi pelayanan asuhan keperawatan professional. Mengelola ruang lingkup keperawatan berikut sesuai dengan kaidah suatu profesi dalam bidang kesehatan. yaitu: (a).4. Tahap Implementasi Implementasi keperawatan adalah pelaksanaan dari rencana asuhan keperawatan dalam bentuk tindakan-tindakan keperawatan.

130 orang setiap tahun. Belum lagi sarana prasarana cenderung untuk dipaksakan. Seperti jamur di musim kemarau.670 setiap tahunnya. Anak Dan Jiwa. Komunitas. Program Pascasarjana Keperawatan dimulai tahun 1999.ABRI dan swasta (DAS) yang telah menghasilkan lulusan sekitar 20.000 – 23. maka dalam kurun waktu 1990-2000 dengan bantuan dana dari World Bank. dan peneliti. Maternitas. Tujuan lain dari program ini diharapkan bisa memperkecil gap antara perawat dan dokter sehingga perawat tidak lagi menjadi . Kini sudah ada Program Magister Keperawatan dan Program Spesialis Keperawatan Medikal Bedah. Melakukan riset keperawatan oleh perawat pelaksana secara terencana dan terarah sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Saat ini di Indonesia berdiri 32 buah Politeknik kesehatan dan 598 Akademi Perawat yang berstatus milik daerah. manajer. melalui program “health project” (HP V) dibukalah kelas khusus D III keperawatan hampir di setiap kabupaten. namun secara kualitas masih jauh dari harapan masyarakat. TANTANGAN DALAM PENDIDIKAN KEPERAWATAN PROFESIONAL Pengakuan body of knowledge keperawatan di Indonesia dimulai sejak tahun 1985. maka akan terjadi surplus tenaga perawat sekitar 16. Tahun 1984 dikembangkan kurikulum untuk mempersiapkan perawat menjadi pekerja profesional. Selain itu bank dunia juga memberikan bantuan untu peningkatan kualitas guru dan dosen melalui program “GUDOSEN”. Parahnya lagi. (Sugiharto. pengajar. Apabila dibandingkan dengan jumlah kebutuhan untuk menunjang Indonesia sehat 2010 sebanyak 6. melainkan suatu profesi yang kedudukannya sejajar dengan profesi lain di Indonesia. Artinya di masa sulitnya lapangan kerja. Sejak tahun 2000 terjadi euphoria Pendirian Institusi Keperawatan baik itu tingkat Diploma III (akademi keperawatan) maupun Strata I. Kurikulum ini diimplementasikan tahun 1985 sebagai Program Studi Ilmu Keperawatan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dengan telah diakuinya body of knowledge tersebut maka pada saat ini pekerjaan profesi keperawatan tidak lagi dianggap sebagai suatu okupasi. 2005). Indikator makronya adalah rata-rata tingkat pendidikan formal perawat yang bekerja di unit pelayanan kesehatan (rumah sakit/puskesmas) hanyalah tamatan SPK (sederajat SMA/SMU). Pertumbuhan institusi keperawatan di Indonesia menjadi tidak terkendali.000 lulusan tenaga keperawatan setiap tahunnya. Program tersebut merupakan suatu percepatan untuk meng-upgrade tingkat pendidikan perawat dari rata-rata hanya berlatar belakang pendidikan SPK menjadi Diploma III (Institusi keperawatan). Salah satu tantangan terberat adalah peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) tenaga keperawatan yang walaupun secara kuantitas merupakan jumlah tenaga kesehatan terbanyak dan terlama kontak dengan pasien. yakni ketika program studi ilmu keperawatan untuk pertama kali dibuka di Fakultas Kedokteran UI. 2006). sehingga pemahaman tentang hakikat profesi keperawatan dan arah pengembangan perguruan tinggi keperawatan kurang dipahami. Berangkat dari kondisi tersebut. kalaupun ada sangat terbatas (Yusuf. B. lulusannya disebut ners atau perawat profesional.(d). fakta dilapangan menunjukkan penyelenggara pendidikan tinggi keperawatan berasal dari pelaku bisnis murni dan dari profesi non keperawatan. Tahun 1995 program studi itu mandiri sebagai Fakultas Ilmu Keperawatan. proses produksi tenaga perawat justru meningkat pesat.

2006). Merubah bahasa pengantar dalam pendidikan keperawatan dengan menggunakan bahasa inggris. pengguna jasa pelayanan kesehatan perlu memberikan persetujuan secara tertulis sebelum dilakukan tindakan (informed cinsent). C. Departemen Pendidikan. dan Organisasi profesi serta sector lain yang terlibat mulai dari proses perizinan juga memiliki tanggung jawab moril untuk melakukan pembinaan. tetapi juga untuk menapis dan memastikan hanya IPTEK sesuai dengan kebutuhan dan sosial budaya masyarakat Indonesia yang akan diadopsi. Peraturan pemerintah no.perpanjangan tangan dokter (Prolonged physicians arms) tapi sudah bisa menjadi mitra kerja dalam pemberian pelayanan kesehatan(Yusuf. 2 tahun 1989 tentang pendidikan nasional. Departemen Kesehatan. disamping tentunya untuk mengembangkan IPTEK baru lainnya. kualitas/mutu. Pengembangan sistem pendidikan tinggi keperawatan yang bemutu merupakan cara untuk menghasilkan tenaga keperawatan yang profesional dan memenuhi standar global. serta meningkatkan kebutuhan untuk pelayanan / asuhan keperawatan di rumah dengan mengikutsertakan klien dan keluarganya. pediatric nursing. institusi harus dipimpin oleh seorang dengan latar belakang pendidikan keperawatan 5. 1997. Standarisasi kurikulum dan evaluasi bertahan terhadap staf pengajar di insitusi pendidikan keperawatan 7. Perkembangan IPTEk harus diikuti dengan upaya perlindungan terhadap hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang aman. selain tentunya menurunkan jumlah hari rawat (Hamid. Menutup institusi keperawatan yang tidak berkualitas 4. Penurunan jumlah hari rawat mempengaruhi kebutuhan pelayanan keeshatan yang belih berfokus kepada kualitas bukan hanya kuantitas. 1988). hak untuk diberitahu. Kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan sisitem pendidikan keperawatan di Indonesia adalah UU no. kurikulum dari institusi pada pendidikan. . Oleh karena itu. 2. 0686 tahun 1991 tentang Pedoman Pendirian Pendidikan Tinggi (Munadi. hak untuk memilih tindakan yang akan dilakukan dan hak untuk didengarkan pendapatnya. TANTANGAN KEPERAWATAN PROFESIONAL DALAM ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI Perkembangan IPTEk menuntut kemampuan spesifikasi dan penelitian bukan saja agar dapat memanfaatkan IPTEK. Pengelola insttusi hendaknya memberikan warna tersendiri dalam institusi dalam bentuk muatan lokal.misalnya emergency Nursing. Semua Dosen dan staf pengajar di institusi pendidikan keperawatan harus mampu berbahasa inggris secara aktif 3. Jerningan. IPTEK juga berdampak pada biaya kesehatan yang makin tinggi dan pilihan tindakan penanggulangan maslah kesehatan yang makin banyyak dan kompleks. 6. coronary nursing. Hal-hal lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu lulusan pendidikan keperawatan menurut Yusuf (2006) dan Muhammad (2005) adalah : 1. Standarisasi jenjang. 60 tahun 1999 tentang pendidikan tinggi dan keputusan Mendiknas no. 2006).

dan peningkatan daya emban ekonomi masyarakat serta meningkatnya komplesitas masalah kesehatan yang dihadapi masyarakat. standar pendidikan. kode etik profesi dan peraturan lain yang berkaitan dengan profesi keperawatan. dan dilanjutkan dengan penyusunan kurikulum pendidikan Sarjana (S1) Keperawatan. Dengan demikian keperawatan perlu terus . dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawab pengembanggannya harus mampu mandiri. telah dirumuskan dan disusun dasardasar pengembangan Pendidikan Tinggi Keperawatan. Dalam Lokakarya Keperawatan tahun 1983. yang sebenarnya telah dimulai sejak tahun 1962 yaitu dengan dibukanya Akademi Keperawatan yang pertama di Jakarta. serta penataan perkembangan kehidupan profesi keperawatan. Keperawatan sebagai suatu profesi. mengatur serta mengendalikan berbagai hal yang berkaitan dengan profesi seperti pengaturan hak dan batas kewenangan. Sebagai realisasinya disusun kurikulum program pendidikan D-III Keperawatan. legislasi. Untuk itu memerlukan suatu wadah yang mempunyai fungsi utama untuk menetapkan. Proses ini berkembang terus sejalan dengan hakikat profesionalisme keperawatan. standar praktek. Keyakinan inilah yang merupakan faktor penggerak perkembangan pendidikan keperawatan di Indonesia pada jenjang pendidikan tinggi. Hal ini bermula dari dicapainya kesepakatan bersama pada Lokakarya Nasional Keperawatan pada bulan Januari 1983 yang menerima keperawatan sebagai pelayanan profesional (profesional service) dan pendidikan keperawatan sebagai pendidikan profesi (professional education). Pendidikan tinggi keperawatan diharapkan menghasilkan tenaga keperawatan professional yang mampu mengadakan pembaharuan dan perbaikan mutu pelayanan/asuhan keperawatan. Untuk itu tenaga keperawatan dituntut untuk dapat meningkatkan kemampuan profesionalnya agar mampu berperan aktif dalam pembangunan kesehatan khususnya dalam pelayanan keperawatan profesional. Pendidikan tinggi keperawatan diharapkan menghasilkan tenaga keperawatan profesional yang mampu mengadakan pembaruan dan perbaikan mutu pelayanan / asuhan keperawatan. Tenaga keperawatan yang merupakan jumlah tenaga kesehatan terbesar seyogyanya dapat memberikan kontribusi essensial dalam keberhasilan pembangunan kesehatan. Masyarakat semakin sadar akan hukum sehingga mendorong adanya tuntutan tersedianya pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan dengan mutu yang dapat dijangkau seluruh lapisan masyarakat. Diperkirakan bahwa dimasa datang tuntutan kebutuhann pelayanan kesehatan termasuk pelayanan keperawatan akan terus meningkat baik dalam aspek mutu maupun keterjangkauan serta cakupan pelayanan. keperawatan telah mencapai kemajuan yang sangat bermakna bahkan merupakan suatu lompatan yang jauh kedepan. serta penataan perkembangan kehidupan profesi keperawatan.Di Indonesia. Hal ini disebabkan meningkatkan kesadaran masyarakat akan kesehatan yang diakibatkan meningkatnya kesadaran masyarakat secara umum.

penyakit yang disebabkan oleh kurang gizi dan pemukiman tidak sehat. Selain daripada itu. Keadaan ini akan sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan kesejahteraan kelompok lanjut usia yang cenderung meningkat jumlahnya dan sangat memerlukan dukungan keluarga. penataan sistem pemberdayagunaan tenaga keperawatan sesuai dengan kepakarannya. akan tetapi juga adanya tekanan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi keperawatan serta perkembangan profesi keperawatan dalam menghadapi era globalisasi. D. dan 2) persaingan penyelenggaraan pelayanan untuk menarik minat pemakai jasa pelayanan kualitas untuk memberikan jasa pelayanan keseahtanyang terbaik. tetapi penyakit atau kelainan kesehatan akibat pola hidup modern juga sudah makin meningkat. kewajiban. Pada dasarnya dua hal utama dari globalisasi yang akan berpengaruh terhadap perkembangan pelayanan keseahtan termasuk pelayanan keperawatan adalah : 1) tersedianya alternatif pelayanan. kesempatan mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi dan penghasilan yang lebih besar membuat masyarakat Indonesia lebih kritis dan mampu membayar pelayanan kesehatan yang bermutu dan dapat dipertanggungjawabkan. Perkembangan keperawatan bukan saja karena adanya pergeseran masalah kesehatan di masyarakat. TANTANGAN SOSIAL DALAM KEPERAWATAN PROFESIONAL Pergeseran pola masyarakat agrikultur ke masyarakat industri dan dari masyarakat tradisional berkembang menjadi masyarakat maju. pengelolaan sistem pendidikan keperawatan yang mampu menghasilkan keperawatan professional serta penataan sistem legilasi keperawatan untuk mengatur hak dan batas kewenangan. Dan juga globalisasi. Selain masalah kesehatan yang makin kompleks. termasuk aspek kesehatan. Kendatipun masih ada masyarakat yang menderita penyakit terkait dengan kemiskinan seperti infeksi. pergeseran nilai-nilai keluarga pun turut terpengaruh di mana berkembang kecenderungan keluarga terhadap anggotanya menjadi berkurang. Untuk hal ini berarti tenaga kesehatan. Dalam memnghadapi tuntutan kebutuhan dimasa datang maka langkah konkrit yang harus dilakukan antara lain adalah : penataan standar praktek dan standar pelayanan/asuhan keperawatan sebagai landasan pengendalian mutu pelayanan keperawatan secara professional.mengalami perubahan dan perkembangan sejalan dengan perubahan yang terjadi diberbagai bidang lainnya. Angka kematian bayi dan angka kematian ibu sebagai indikator derajad kesehatan. khususnya tenaga keperawatan diharapkan untuk dapat memenuhi standar . menimbulkan dampak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia. tanggung jawab tenaga keperawatan dalam melakukan praktek keperawatan. Peningkatan umur harapan hidup juga mengakibatkan masalah kesehatan yang terkait dengan masyarakat lanjut usia seperti penyakit generatif. Begitu pula masalah kesehatan yang berhubungan dengan urbanisasi. masih tinggi. pencemaran kesehatan lingkungan dan kecelakaan kerja cenderung meningkat sejalan dengan pembangunan industri.

Salah satu dari tantangan tersebut menjalankan tanggung jawab dan tanggung gugat sebagai perawat. diperlukan perawat dengan sikap yang selalu dilandasi oleh kaidah etik profesi. organisasi profesi. Profesi keperawatan dihadapkan pada banyak tantangan.BAB III PENUTUP Kesimpulan Tantangan profesi perawat di Indonesia di abad 21 ini semakin meningkat. Dapat disimpulkan bahwa menghadapi tantangan yang sangat berat. Upaya yang paling strategik untuk dapat menghasilkan perawat pofesional melalui pendidikan keperawatan profesiona . lembaga pendidikan keperawatan juga tidak kalah pentingnya peran serta pemerintah. Untuk menjawab tantangan-tantangan itu dibutuhkan komitmen dari semua pihak yang terkait dengan profesi ini. Seiring tuntutan menjadikan profesi perawat yang di hargai profesi lain.

http://stikeskabmalang.DAFTAR PUSTAKA 1.wordpress.com/2009/12/04/tantangan-dalam-profesikeperawatan/ di akses tanggal 31 Januari 2010 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful