P. 1
ijarah

ijarah

|Views: 174|Likes:
Published by rai_espada
multijasa
multijasa

More info:

Categories:Types, Research
Published by: rai_espada on Mar 17, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/01/2015

pdf

text

original

Sections

  • A. LATAR BELAKANG
  • D. TELAAH PUSTAKA
  • E. METODE PENELITIAN
  • 2. Dasar Hukum Ijarah
  • SEMARANG
  • A. Kesimpulan
  • C. Penutup

ANALISIS HUKUM ISLAM

TERHADAP PEMBIAYAAN MULTI JASA DENGAN AKAD IJARAH
DI BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARI'AH (BPRS)
MITRA HARMONI SEMARANG



SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Dan Melengkapi Syarat
Guna Memperoleh Gelar Sarjana Program Strata ( S.I )
Dalam Ilmu Syari’ah



















Disusun Oleh:
MISBAH ABIDIN
2104083/042311083


FAKULTAS SYARI’AH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2011

KATA PENGANTAR
;-=,-ا Q-=,-ا =ا ;~-
Segala puji hanya bagi Allah, al-Rahman dan al-Rahim. Shalawat dan
salam selalu Penulis sanjungkan pada beliau Nabi Allah, Muhammad Saw, beserta
segenap keluarganya dan para sahabatnya hingga akhir nanti.
Dalam penyelesaian skripsi yang berjudul “Analisis Hukum Islam Terhadap
Pembiayaan Multi Jasa Dengan Akad Ijarah di Bank Pembiayaan Rakyat
Syari'ah (BPRS) Mitra Harmoni Semarang” ini, tentulah tidak lepas dari
bantuan berbagai pihak. Karena itu penulis ucapkan terima kasih kepada yang
terhormat:
1. Prof. Dr. H. Muhibin, M.A selaku Rektor IAIN Walisongo Semarang
2. Dr. Imam Yahya, M.Ag selaku Dekan Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo
Semarang
3. Moh.Arifin,S.Ag.M.Hum selaku Ketua Jurusan Muamalah atas kebijakan
yang dikeluarkan, khususnya yang berkaitan dengan kelancaran penulisan
skripsi ini.
4. Drs.Moh.Solek,MA, atas semua bimbingan dan pengarahannya dalam
penulisan skripsi ini.
5. Para Pejabat di Fakultas Syari’ah dan segenap Bapak dan Ibu Dosen di
lingkungan Fakultas Syari’ah IAIN Walisongo Semarang atas jasa-
jasanya.
6. Untuk Ayah dan Ibu dan keluarga tercinta yang selalu memberi do’a dan
dukungan, baik moral maupun materiil dengan tulus dan ikhlas.
7. Untuk kakak Nurdiana Sari,S.Pd.I. (thank’s very much for you), Ade’
Dofir Habibi, Ade’ Farid Ahksani Taqwim,
Penulis ucapkan banyak terima kasih. Dan penulis sadar tidak mampu
membalas setimpal dengan apa yang telah mereka berikan kepada penulis,
hanya do’aku kepada-Nya semoga diberikan balasan dengan balasan yang
lebih baik dari apa yang telah mereka berikan kepada penulis.

Penulis juga menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini masih jauh dari
sempurna baik dari segi bahasa, isi maupun analisanya, sehingga kritik dan
saran yang kontruktif sangat penulis harapkan demi sempurnanya skripsi ini.
Akhirnya penulis berharap, semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua.
Amin.


Semarang, 14 Juni 2011
Penulis


Misbah Abidin
NIM: 042311083




DEKLARASI

Dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab,
penulis menyatakan bahwa skripsi ini tidak
berisi materi yang pernah ditulis oleh orang lain
atau diterbitkan.
Demikian juga skripsi ini tidak berisi satupun
pikiran-pikiran orang lain, kecuali informasi
yang terdapat dalam referensi yang dijadikan
bahan rujukan.


Semarang, 14 Juni 2011
Deklarator,


Misbah Abidin
NIM: 042311083



MOTTO



β¸| _Β ¸¸.`-9¦ ¦¸.„ ∩∉∪


Artinya: Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
(QS.Al-Insyirah : 6)
PERSEMBAHAN

Skripsi ini penulis persembahkan kepada orang tuaku tercinta, Bapak
Mohammad Jaelani, Ibu Khoirunnisa kakakku Nurdiana Sari,Spd. Adikku
M.Dhofir Habibi dan Farid Akhsani Taqwim dan seluruh keluarga besar
yang tercinta yang dengan setia mendoakan dan banyak hal sehingga
skripsi ini bisa selesai. Semoga Allah senantiasa melindungi dan
memberikan rahmat-Nya kepada mereka.
Semua kawan-kawan KAMAPALA Semarang, kawan-kawan King’s
Community, sahabat-sahabat dan relasi kerja juga semua pihak yang
terkait yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Terimakasih buat do’a dan dukungannya.





ABSTRAK



Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah (BPRS) Mitra Harmoni Semarang
merupakan lembaga keuangan yang menghimpun dana umat melalui produk-
produknya dan senantiasa berupaya semaksimal mungkin menerapkan prinsip-
prinsip syari’ah sebagai landasannya, diantaranya adalah pembiayaan multijasa
dengan akad ijarah
Produk yang ditawarkan oleh PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah
(BPRS) Mitra Harmoni Semarang adalah pembiayaan multijasa dengan akad
ijarah, yaitu sebuah produk pembiayaan yang pembayarannya dengan sistem
cicilan. Dalam operasionalnya tidak menutup kemungkinan adanya permasalahan
yang terjadi. Oleh karena itu, perlu dibahas bagaimana pelaksanaan atau praktek
pembiayaan multijasa dengan akad ijarah, dan bagaimana tinjauan hukum islam
terhadap praktek tersebut di BPRS Mitra Harmoni Semarang.
Penulis melakukan penelitian yang didasarkan pada penelitian lapangan
yang kemudian diuraikan dalam skripsi ini. Adapun dalam pengumpulan data,
penulis menggunakan metode observasi, wawancara, serta dokumentasi. Setelah
data terkumpul langkah selanjutnya adalah menganalisis data kemudian
mengambil kesimpulan dari data yang terkumpul, yaitu dengan menggunakan
metode deskriptif analisis.
Pembiayaan multi jasa dengan akad ijarah yang diterapkan di BPRS Mitra
Harmoni Semarang yaitu untuk talangan biaya jasa pendidikan, biaya jasa
Kesehatan dan biaya renofasi rumah. Pembiayaan ijarah yang telah dipraktekkan
oleh Bank Perkreditan Rakyat Syari’ah (BPRS) Mitra Harmoni Semarang bila
ditinjau dari konsep fiqh ternyata sudah sah dan sesuai, hal ini dapat dilihat dari
akad pembiayaan yang dipraktekkan sudah sesuai dengan ketentuan-ketentuan
syara’, dan dengan adanya kesepakatan antara kedua belah pihak yaitu antara
bank dengan nasabah.


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………. i
PERSETUJUAN PEMBIMBING …………………………………………….. ii
HALAMAN PENGESAHAN ……………………………………………….. iii
KATA PENGANTAR ………………………………………………… iv
HALAMAN DEKLARASI …………………………………………………. v
HALAMAN MOTTO ………...……………………………………………… vi
HALAMAN PERSEMBAHAN ………………………………………… vii
DAFTAR ISI ………………………………………………………………... viii
BAB I : PENDAHULUAN …………………………………………….1
A. Latar Belakang …………………………………………….1
B. Rumusan Masalah …………………………………….6
C. Tujuan Penelitian …………………………………….6
D. Telaah Pustaka …………………………………………….7
E. Metode Penelitian ………………………………….…8
F. Sistematika Penulisan ………………………………….. 10
BAB II : IJARAH DALAM HUKUM ISLAM
A. Pengertian Ijarah dan Dasar Hukumnya ……………………13
B. Dasar Hukum Ijarah………...……………………………….15
C. Rukun dan Syarat-syarat Ijarah ……………………………19
D. Pendapat Ulama Tentang Ijarah……………………………..22
E. Konsep Akad Ijarah dalam Bank Syariah……………...……25
BAB III : PRAKTEK AKAD IJARAH MULTI JASA DI BPRS MITRA
HARMONI SEMARANG
A. Sekilas Tentang BPRS Mitra Harmoni Semarang …...……28
B. Manajemen BPRS Mitra Harmoni Semarang…….……….31
C. Produk-produk BPRS Mitra Harmoni Semarang….………35
D. Praktek akad ijarah multi jasa di BPRS Mitra Harmoni
Semarang…………………….…………………………….39
BAB IV : ANALISIS
A. Analisis Terhadap pembiayaan praktek akad ijarah multi jasa
di BPRS Mitra Harmoni Semarang……...…………………48
B. Analisis Hukum Islam Terhadap praktek akad ijarah multi
jasa di BPRS Mitra Harmoni Semarang……………………54
BAB V : PENUTUP
A. Kesimpulan ………………………………………………63
B. Saran-saran ……………………………………………63
C. Penutup ……………………………………………………64




1
BAB I
ANALISIS HUKUM ISLAM
TERHADAP PEMBIAYAAN MULTI JASA DENGAN AKAD IJARAH
DI BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARI'AH (BPRS)
MITRA HARMONI SEMARANG

A. LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, manusia adalah makhluk
yang senantiasa bergantung dan terikat serta saling membutuhkan kepada
yang lain. Secara naluriah, manusia saling tolong menolong demi
tercapainya sebuah cita-cita yang diharapkan bersama. Namun banyak
juga diantara manusia yang saling membantu dalam hal keburukan atau
kemaksiatan. Karena hal itu, maka Allah memberikan batasan-batasan
dalam hal apa sikap saling membantu itu harus diterapkan dalam
memenuhi kebutuhan hidup diantara mereka.
Hubungan individu dengan lainnya, seperti pembahasan masalah
hak dan kewajiban, harta, jual beli, kerja sama dalam berbagai bidang,
pinjam meminjam, sewa menyewa, penggunaan jasa dan kegiatan-kegiatan
lainnya yang sangat diperlukan manusia dalam kehidupan sehari-hari,
diatur dalam fiqih muamalah.
1

Selain itu, diturunkannya al-Qur’an sebagai petunjuk umat manusia
dapat dijadikan pegangan untuk mengajarkan kepada kita bahwa hidup

1
M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam (Fiqh Muamalah), Jakarta : PT.
Grafindo Persada, 2003, hlm. 1






2
menyendiri yang permanen bagi satu makhluk, tidak tepat dalam ajaran
Islam. Hidup sendiri dan mandiri dalam ketunggalan yang mutlak, dan
dalam keesaan yang tidak mengenal ketergantungan apapun hanyalah sifat
bagi Allah semata. Dari titik tolak yang demikian itu manusia didasarkan
untuk mengenal akan hakekat kehidupan dan lingkungan hidupnya. Manusia
yang mencapai kesadaran untuk batin yang tinggi memandang alam semesta
di sekitarnya sebagai suatu kesatuan, dimana kehadiran antara yang satu
dengan yang lainnya saling terkait dan saling tergantung.
2

Allah dengan menurunkan wahyu-Nya sebagai petunjuk yang ada
dalam Al-Qur’an menjelaskan sikap saling membantu itu harus diterapkan
dalam memenuhi kebutuhan hidup diantara mereka, sesuai firman Allah
SWT:
\·. ¡ ¿!¡.·\!¡ ,.v\_\= !¡.¡\·.v¡ _¡s.\!¡ _,\! _\= !¡.¡
) i..\=\! · * (
Artinya: Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan
takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran (Q.S. al-Maidah:2)
3


Salah satu bentuk tolong-menolong yang dimaksud tersebut dalam
hukum Islam adalah Ijarah. Tujuan utama ijarah yaitu saling membantu dan
saling mencukupi terhadap apa yang mereka butuhkan, dimana dalam ijarah
pihak penyewa butuh terhadap pemilikan manfaat atas barang sedangkan


2
K.H. Ali Yafie, Menggagas Fiqih Sosial: Dari Soal Lingkungan Hidup, Asuransi Hingga
Ukhuwah, Bandung, Mizan, 1995, hlm 193-194

3
Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahnya, Semarang, PT. Karya Toha
Putra,1996, hlm. 85






3
pihak yang menyewakan membutuhkan harga atau pembayaran atas
pemberian manfaat suatu barang, bukan barangnya tetapi manfaatnya.
Ijarah adalah suatu bentuk aktifitas antara dua pihak yang berakad
guna meringankan salah satu pihak atau saling meringankan dan merupakan
bentuk tolong-menolong yang diajarkan agama. Ijarah pada prakteknya
adalah melakukan akad untuk mengambil manfaat sesuatu yang diterima
dari orang lain dengan jalan membayar sesuatu dengan perjanjian yang telah
ditentukan dengan syarat-syarat yang sesuai dengan ketentuan syar’i.
4

Bentuk muamalah ijarah ini sangat dibutuhkan dalam kehidupan
manusia dan syari’at Islam membenarkan. Seseorang kadang dapat
memenuhi salah satu kebutuhan hidupnya tanpa melalui proses pembelian,
karena jumlah uang yang terbatas cukup dengan cara sewa menyewa saja.
Maka disamping muamalah jual-beli muamalah ijarah mempunyai peranan
yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, kesulitan akan timbul
seandainya sewa menyewa tidak dibenarkan dalam Islam.
5

Ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dalam aktifitas
ijarah, yaitu:
1. Para pihak yang menyelenggarakan akad haruslah berbuat atas kemauan
sendiri dengan kerelaan. Dalam konteks ini, tidaklah boleh dilakukan
akad ijarah oleh salah satu pihak atau kedua-duanya atas dasar

4
DR. H. Moh. Rifai, Konsep Perbankan Syari’ah, Semarang, CV. Wicaksana, 2002, hlm
77
5
DR.H. Hamzah Ya’qub, Kode Etik Dagang Menurut Islam, CV. Diponegoro, Bandung,
1992, Cet.II, hlm 320.






4
keterpaksaan, baik itu datangnya dari pihak-pihak yang berakad atau dari
pihak lain.
2. Didalam melakukan akad tidak boleh ada unsur penipuan, baik yang
datang dari muajjir ataupun dari mustajir. Dalam kerangka ini, kedua
belah pihak yang melakukan akad ijarah dituntut memiliki pengetahuan
yang memadai akan obyek yang mereka jadikan sasaran dalam berijarah
sehingga antara keduanya tidak merasa dirugikan atau tidak
mendatangkan perselisihan di kemudian hari.
3. Sesuatu yang diakadkan haruslah sesuatu yang sesuai dengan realitas,
bukan sesuatu yang tidak berwujud. Dengan sifat yang seperti ini, maka
obyek yang menjadi sasaran transaksi dapat diserahterimakan, berikut
segala manfaatnya.
4. Manfaat dari sesuatu yang menjadi obyek transaksi ijarah haruslah
berupa sesuatu yang mubah, bukan sesuatu yang haram. Ini berarti
bahwa agama tidak membenarkan terjadinya sewa-menyewa atau
perburuhan terhadap sesuatu perbuatan yang dilarang agama, seperti
tidak boleh menyewakan rumah untuk perbuatan maksiat, baik
kemaksiatan itu datang dari pihak penyewa atau yang menyewakan.
Demikian pula tidak dibenarkan menerima upah atau memberi upah oleh
sesuatu perbuatan yang dilarang agama.
5. Pemberian upah atau imbalan dalam ijarah haruslah berupa sesuatu yang
bernilai, baik berupa uang atau jasa, yang tidak bertentangan dengan
kebiasaan yang berlaku. Dalam bentuk ini imbalan ijarah bisa saja






5
berupa benda material untuk sewa rumah atau gaji seseorang ataupun
berupa jasa pemeliharaan dan perawatan sesuatu sebagai ganti sewa atau
upah, asalkan dilakukan atas kerelaan dan kejujuran.
6

Dengan demikian mekanisme operasional diharapkan lebih
mengedepankan keadilan serta kemaslahatan dan membuang jauh-jauh
unsur-unsur yang dilarang oleh syara’ yang cenderung merugikan salah satu
pihak sehingga benar-benar berjalan sesuai dengan tujuan pokok
bermuamalah.
Dalam Perbankan Syari’ah ijarah adalah akad pemindahan hak guna
atas barang atau jasa, melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan
pemindahan kepemilikan (ownership/milkiyyah) atas barang itu sendiri.
7

Ada tiga jenis ijarah dalam sistem Bank Syariah pertama, ijarah
mutlaqah atau leasing adalah proses sewa menyewa yang biasa kita temui
dalam perekonomian sehari-hari. Kedua Bai at-Takjiri adalah suatu kontrak
sewa yang diakhiri dengan penjualan. Dalam kontrak ini pembayaran sewa
telah diperhitungkan sedemikian rupa sehingga sebagian padanya
merupakan pembelian terhadap barang secara berangsur. Ketiga
Musyarakah Mutanaqisah adalah kombinasi antara musyarakah dan ijarah
(perkongsian dengan sewa). Dalam kontrak ini kedua belah pihak yang
berkongsi menyertakan modalnya masing-masing.
8


6
Drs. Helmi Karim, M.A.,Fiqh Muamalah, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, Cet.II,
Ed.I, 1997, hlm 35-36
7
Muhammad Syafi'i Antonio, Bank Syari'ah dari Teori ke Praktek, Jakarta : Gema Insani
Press, 2003, hlm.117
8
Muhammad, Sistem dan Prosedur Operasional Bank Syari’ah, Yogyakarta : UII Press,
2001, hlm. 35






6
Sebagai salah satu Perbankan syari’ah, Bank Pembiayaan Rakyat
Syari'ah (BPRS) "Mitra Harmoni Semarang" merupakan Lembaga
Keuangan yang menghimpun dana umat melalui produk-produknya. Salah
satu produk yang ditawarkannya adalah pembiayaan multi jasa dengan akad
ijarah. Praktek Ijarah terhadap pembiayaan multi jasa ini merupakan
fenomena baru sehingga menarik untuk dikaji. Untuk itu, penulis bermaksud
mengadakan penelitian dalam bentuk skripsi dengan judul : “Analisis
Hukum Islam Terhadap Pembiayaan Multi Jasa dengan Akad Ijarah di
Bank Pembiayaan Rakyat Syari'ah (BPRS) Mitra Harmoni Semarang.”

B. PERUMUSAN MASALAH
Berpijak dari latar belakang tersebut di atas, maka ada beberapa
permasalahan yang akan penulis kaji dan teliti dalam penelitian ini. Adapun
yang menjadi topik permasalahannya adalah sebagai berikut:
Bagaimana pelaksanaan pembiayaan multi jasa dengan Akad ljarah yang
diterapkan di Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah (BPRS) “Mitra Harmoni
Semarang”?
Bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap pelaksanaan pembiayaan multi
jasa dengan Akad ljarah di Bank Pembiayaan Rakyat Syari'ah (BPRS)
“Mitra Harmoni Semarang”?











7
C. TUJUAN PENELITIAN
Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini antara lain :
Untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan pembiayaan multi jasa dengan
Akad ljarah yang diterapkan di Bank Pembiayaan Rakyat Syari'ah (BPRS)
“Mitra Harmoni Semarang”.
Untuk mengetahui bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap pelaksanaan
pembiayaan multi jasa dengan Akad ljarah di Bank Pembiayaan Rakyat
Syari'ah (BPRS) “Mitra Harmoni Semarang”.
Untuk memperkenalkan produk-produk Bank Pembiayaan Rakyat Syari'ah
(BPRS) “Mitra Harmoni Semarang” kepada masyarakat.

D. TELAAH PUSTAKA
Telaah pustaka yang penulis sajikan sesuai dengan pokok
permasalahan penelitian ini. Studi ini dilakukan dalam rangka menemukan
kesimpulan relevansi hasil penelitian maupun buku-buku yang sesuai
dengan tujuan penelitian. Hal tersebut tercermin dalam hasil karya-karya.
baik yang berasal dan hasil penelitian maupun buku-buku yang relevan
dengan permasalahan penelitian ini antara lain :
Pembahasan tentang ijarah juga telah dikaji oleh Ani Arifah (2003)
dalam skripsinya yang berjudul Tinjauan Hukum Islam Terhadap
Pelaksanaan Perjanjian Sewa Beli di Baituttamwil “Tamzis” Wonosobo.
Dalam skripsinya hanya membahas tentang perjanjian sewa menyewa yang
diakhiri dengan penjualan.






8
Dari penelitian di atas, belum membahas secara rinci tentang sewa
jasa seperti pembiayaan sewa jasa yang ada di BPRS Mitra Harmoni
Semarang. Oleh karena itu penulis merasa perlu untuk mengadakan suatu
penelitian mengenai sewa menyewa (ijarah).

E. METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan penelitian lapangan, untuk itu sumber
data yang akan dikumpulkan terdiri dari sumber data primer dan sumber
data sekunder.
a. Data Primer
Data yang diperoleh secara langsung oleh penulis dari obyek
penelitian. Yaitu data-data tentang pelaksanaan pembiayaan multi jasa
dengan Akad ljarah di BPRS “Mitra Harmoni Semarang”.
b. Data Sekunder
Data-data yang mendukung pembahasan skripsi. untuk itu
beberapa sumber buku atau data yang akan membantu mengkaji secara
kritis diantaranya buku-buku yang ada kaitannya dengan tema skripsi
yaitu tentang Ijarah.
2. Metode Pengumpulan Data.
Karena penelitian ini merupakan penelitian lapangan, maka metode
pengumpulan data yang penulis gunakan adalah sebagai berikut:






9
a. Observasi yaitu pengamatan langsung, hal ini dapat dilakukan dengan
tes, kuesioner, rekaman gambar, rekaman suara.
9
Ini berkaitan tentang
pelaksanaan pembiayaan multi jasa dengan Akad ljarah di Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah "Mitra Harmoni Semarang”, metode mi
dijadikan sebagai tahapan pertama yang digunakan untuk memperoleh
data-data tentang keadaan dan kondisi tempat penelitian.
b. Wawancara (Interview), yaitu suatu kegiatan yang dilakukan untuk
mendapatkan informasi secara langsung dengan mengungkapkan
pertanyaan-pertanyaan kepada para responden.
10
Metode ini digunakan
untuk memperoleh data tentang pembiayaan multi jasa dengan Akad
ljarah di Bank Pembiayaan Rakyat Syari'ah “Mitra Harmoni
Semarang”. Hal ini akan penulis lakukan dengan cara mengadakan
pertanyaan yang sudah dipersiapkan terlebih dahulu. Dalam metode ini
penulis melakukan wawancara kepada :
1) Bapak M. Ari Prabowo, SH, selaku direksi BPRS Mitra Harmoni
Semarang, karena beliau tidak ada waktu maka diwakilkan oleh
saudari Marlinda Septi P,Amd selaku teller.
2) Ibu Astrina Supriyanti,Amd selaku Personalia.
3) Beberapa nasabah BPRS Mitra Harmoni Semarang yang
dipandang memahami tentang akad Ijarah.


9
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktek), Jakarta : PT.
Rineka Cipta, 1998, hlm. 146
10
P. Joko Subagyo, Metode Penelitian Dalam Teori dan Praktek, Jakarta : Rineka Cipta,
1991, hlm.. 39






10
c. Metode Dokumentasi.
Metode dokumentasi ialah sebuah cara untuk pengumpulan
data dengan mencari data mengenai hal-hal atau variable yang berupa
catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen, hasil
rapat, agenda dan sebagainya.
11
Metode ini digunakan untuk
mengumpulkan bahan-bahan dan pendapat-pendapat untuk menjadikan
landasan teori yakni dengan menganalisis dari literatur-literatur yang
berkaitan dengan permasalahan penelitian.
3. Metode Analisis Data
Setelah data terkumpul langkah selanjutnya adalah menganalisis
data mengambil kesimpulan dan data yang terkumpul. Kesemuanya adalah
untuk menyimpulkan data secara teratur dan rapi. Dalam Pengolahan data
ini penulis menggunakan metode Deskriptif Kualitatif yaitu metode yang
digunakan terhadap suatu data yang telah dikumpulkan, kemudian
diklasifikasikan, disusun, dijelaskan yakni digambarkan dengan kata-kata
atau kalimat yang digunakan untuk memperoleh kesimpulan.
12

Upaya analisis data ini juga dilakukan dengan cara membandingkan
antara fakta yang dihasilkan dari penelitian di lapangan (BPRS “Mitra
Harmoni Semarang” ) dengan teori yang berupa konsep hukum Islam yang
ada.



11
Sulisty Basuki, Pengantar Dokumentasi Ilmiah, Jakarta, Kesaint Balanc, 1989, hlm 1
12
Suharsimi Arikunto, op.cit, hlm. 245






11
F. SISTEMATIKA PENULISAN
Sesuai dengan pedoman penulisan skripsi, maka penulis akan
membagi skripsi ini dalam lima bab. Yang mana antara bab satu dengan
bab yang lain disusun secara sistematis dan logis. Dalam setiap bab terdiri
dari sub-sub pembahasan, untuk lebih jelasnya sistem penulisan skripsi
tersebut adalah sebagai berikut :
BAB I : PENDAHULUAN
Dalam bab pertama ini menguraikan tentang latar belakang,
rumusan masalah, tujuan penelitian skripsi, telaah pustaka,
metode penelitian dan sistematika penelitian.
BAB II : IJARAH DALAM HUKUM ISLAM
Dalam bab ini penulis akan menguraikan landasan teori yang
merupakan pijakan dalam penulisan skripsi ini yang meliputi
pengertian ijarah, landasan syari’at., rukun dan syarat ijarah,
serta dijelaskan pula konsep ijarah dalam perbankan syari’ah.
BAB III : PELAKSANAAN PEMBIAYAAN MULTI JASA DENGAN
AKAD IJARAH DI BANK PEMBIAYAAN RAKYAT
SYARI'AH (BPRS) MITRA HARMONI SEMARANG
Pada bab ini, akan memaparkan sekaligus menguraikan mengenai
hasil penelitian lapangan yang berisikan sekilas tentang BPRS
"Mitra Harmoni Semarang", produk-produk yang ada di BPRS






12
"Mitra Harmoni Semarang", serta pelaksanaan pembiayaan multi
jasa dengan Akad ljarah di BPRS "Mitra Harmoni Semarang".
BAB IV : ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PEMBIAYAAN
MULTI JASA DENGAN AKAD IJARAH DI BANK
PEMBIAYAAN RAKYAT SYARI'AH (BPRS) MITRA
HARMONI SEMARANG
Pada bab IV ini, penulis akan membahas serta
menganalisis pelaksanaan pembiayaan multi jasa dengan Akad
ljarah yang diterapkan oleh Bank Pembiyaan Syari’ah (BPRS)
“Mitra Harmoni Semarang” dan analisis hukum Islam terhadap
pembiayaan multi jasa dengan Akad ljarah di BPRS Mitra
Harmoni Semarang.
BABV : PENUTUP
Pada bab V ini, merupakan bab terakhir dalam penyusunan
skripsi yang berisi tentang kesimpulan dari semua isi skripsi.




13
BAB II
TINJAUAN UMUM IJARAH

1. Pengertian Ijaroh
Ijarah berasal dari bahasa arab," ارا ﺝا , ﺝ , “ yang bisa berarti
“ ضا “ (ganti). Oleh sebab itu ats Tsawab (pahala) dinamai al ajru
(upah)
13
. Ijaroh adalah suatu transaksi sewa menyewa antara pihak penyewa
dengan yang mempersewakan sesuatu harta atau barang untuk mengambil
manfaatnya dengan harga tertentu dan dalam waktu tertentu.
14

Sedangkan menurut istilah/ terminologi, beberapa ulama mendefinisikan
Ijaroh, sebagai berikut:
a. Menurut Sayyid Sabiq, dalam fiqhhussunnah mendifinisikan ijarah
adalah suatu jenis akad untuk mengambil manfaat dengan jalan
penggantian.
15

b. Imam Taqiyyuddin mendefinisikan Ijarah sebagai berikut:
ª='-Vاو ل----ا ªﻡ;-·ﻡ ةد;~-ﻡ ª·--ﻡ _-- --- ر'=یVا م;-·ﻡ ض;·-
١٦

Artinya: Ijarah adalah suatu perjanjian untuk mengambil suatu barang
dengan tujuan yang diketahui dengan penggantian, dan dibolehkan
sebab ada penggantian yang jelas.


13
Muhammad Ridwan, Manajemen Baitul Mal Wa Tamwil (BMT), Yogyakarta : UII
Press, 2004, hlm. 108.
14
Zainudin Ali, Hukum Perdata Islam di Indonesia, Jakarta, Sinar Grafika, 2006,
hlm.150
15
Ibid, hlm.15
16
Imam Taqiyuddin, Kifayah al-Akhyar Fi hal Goyatul ikhthisor, Semarang, Maktabah
wa Mathoba’ah, Toha Putrat.th, hlm, 309


14





c. Syech al-Imam Abi Yahya Zakaria al-Anshori dalam kitab Fath Al-
Wahab. Memberikan definisikan Ijarah adalah:
.· ¸'=, ¸= =,\=. -=».= _¸=, =¸¸=, _.'.
١٧

Artinya: Ijarah adalah memiliki atau mengambil manfaat suatu barang
dengan pengambil atau imbalan dengan syarat-syarat yang sudah
ditentukan.

Dari beberapa pengertian yang diberikan oleh para Ulama tersebut
dapat ditarik pengertian bahwa Ijarah adalah suatu jenis perikatan atau
perjanjian yang bertujuan mengambil manfaat suatu benda yang diterima
dari orang lain dengan jalan membayar upah sesuai dengan perjanjian dan
kerelaan kedua belah pihak dengan rukun dan syarat yang telah ditentukan
18
.
Dengan demikian ijarah itu adalah suatu bentuk muamalah yang
melibatkan dua buah pihak, yaitu penyewa sebagai orang yang memberikan
barang yang dapat dimanfaatkan kepada si penyewa untuk diambil
manfaatnya dengan penggantian atau tukaran yang telah ditentukan oleh
syara’ tanpa diakhiri dengan kepemilikan. Dalam istilah hukum Islam, orang
yang menyewakan disebut Mu’ajjir, sedang orang yang menyewa disebut
Musta’jir dan sesuatu yang diakadkan untuk diambil manfaatnya disebut
Ma’jur, sedangkan jasa yang diberikan sebagai imbalan manfaat disebut
Ajran atau Ujrah (upah).
19


17
Abi Yahya Zakariya, Fath al-Wahab, Juz I, Semarang, Maktabah Wa Maktabah, Toha
Putra, t.th, 246
18
Drs. Sudarsono, S.H., Pokok-Pokok Hukum Islam, Jakarta, PT. Rineka Cipta , Cet.I,
1992, hlm 422
19
Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah 3, Bandung, PT.Al Ma’arif, 1987, hlm.7


15





Pada garis besarnya ijarah itu terdiri atas:
20

a. Ijarah ‘Ayyan, yaitu pemberian imbalan karena mengambil
manfaat dari suatu benda. Seperti; rumah, pakaian, dan lain-lain.
b. Ijarah ‘Amal, yaitu pemberian imbalan atas suatu pekerjaan atau
keahlian yang dilakukan seseorang. Seperti; seorang pelayan,
pekerja, notaris.
Apabila dilihat dari segi pekerjaan yang harus dilakukan maka ajiir
dapat dibagi menjadi:
a. Ajiir Khas, yaitu pihak yang harus melaksanakan pekerjaan dan sifat
pekerjaan ditentukan dalam hal yang khusus dan dalam waktu yang
tertentu pada ajiir khas tidak diperbolehkan bekerja pada pihak lain
dalam waktu tertentu selama terikat dalam pekerjaannya.
b. Ajiir Musytarak, yaitu pihak yang harus melakukan pekerjaan yang
sifat pekerjaannya umum dan tidak terbatas pada hal-hal (pekerjaan)
tertentu yang bersifat khusus.
21


2. Dasar Hukum Ijarah
Sewa-menyewa dalam hukum Islam diperbolehkan, setiap manusia
berhak melakukannya dengan berdasarkan pada prinsip-prinsip yang telah
diatur dalam syari’at Islam. Firman Allah yang dijadikan dalil hukum sewa-
menyewa diantaranya:


20
Drs. Sudarsono, S.H., Op.cit, hlm 426
21
Sudarsono, Op.cit.,hlm 427-428


16





a. Al-Qur’an
Firman Allah Surat al-Baqarah:233:

… β¸|´ρ ¯Ν›.Š´‘¦ β¦ ¦θ`-¸.¸.`.· ¯/.‰≈9ρ¦ Ÿξ· _!´Ζ`> ¯/3‹=. ¦Œ¸| Ν.ϑ=™ !Β Λ‹.¦´™
¸∃ρ·¸-RQ!¸, ¦θ).¦´ρ ´<¦ ¦θϑ=s¦´ρ β¦ ´<¦ !ÿ¸· βθ=´Κ-. ¸¸., ∩⊄⊂⊂∪

Artinya: “Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka
tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran
menurut yang patut. Bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah
bahwa Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan”.
22


Surat Al-Kahfi ayat 77
!)=LΡ!· ´©.> ¦Œ¸| !´‹.¦ Ÿ≅δ¦ ¸πƒ¯¸% !ϑ-L.`™¦ !γ=δ¦ ¦¯θ,!· β¦ !ϑδθ±¸¯‹Ÿ.`ƒ
¦‰>´θ· !κŽ¸· ¦´‘¦‰¸> ‰ƒ¸¸`ƒ β¦ ´_)Ζƒ …µΒ!%!· Α!% ¯θ9 ¸⁄¸: ,‹‚−.9 ¸µ‹=s
¦¸>¦ ∩∠∠∪

Artinya: ”Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai
kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk
negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian
keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh,
Maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau kamu mau,
niscaya kamu mengambil upah untuk itu".

Firman Allah surat az-Zukhruf: 32:

`Οδ¦ βθϑ¸.)ƒ ¸´Η-´‘ 7¸,´‘ >Υ !Ψϑ.% Ν'η´Ζ, ¯Ν·κ.:Š¸-Β ’¸· ¸οθ´Š>9¦ !´‹Ρ‘‰9¦
!´Ζ-·´‘´ρ ¯Ν·κ.-, −¯θ· ¸_-, ¸¸≈>´‘Š ‹¸‚−.´‹¸9 Ν·κ´.-, !.-, !¯ƒ¸¸‚™ ¸´Η-´‘´ρ
7¸,´‘ ¸¯> !´ϑ¸Β βθ`-ϑ>† ∩⊂⊄∪


22
Ibid, hlm 29


17






Artinya: “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami
telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam
kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebagaian mereka
atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka
dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu
lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”
23


b. Hadits
1). Imam Bukhori meriwayatkan dalam hadis dari Aisyah RA.
Menyebutkan:
_= -=.'= ='_=¸ ',.= · '.=· ¸= ¸¸=¸ =· ='_\= -,\= ,\=¸ · ¸,·¸
¸>, >=¸ _= ¸,.\'_., ',.'= '.,¸= ¸=¸ _\= _,. ¸'»> _,¸· '=·.·
-,\· '=,,.\=·¸ ··.=·¸¸ ¸'= ¸¸. .=, .>. ¸',\ ·¸, '=,,.\= _,= .>.
) ·¸·¸ _¸'=,\·
٢٤
(

Artinya: “Rasulullah SAW dan Abu Bakar menyewa seseorang penunjuk
jalan yang ahli dari bani Dail yang memeluk Agama kafir Quraisy,
kedua beliau membayarnya dengan kendaraannya kepada orang
tersebut, dan menjanjikannya digua Tsur sesudah tiga malam
dengan kendaraan keduanya”.

2). Hadits riwayat Imam Bukhori:
_= _,· ·¸,¸= ='_=¸ -.= _= _,.\· ='_\= -,\= ,\=¸ ¸'· · ¸'· =·
_\'=. · -.>. '.· ,,=== ,¸, -=',»\· ¸=¸ _==· _, ,. ¸.= ¸=¸¸ _',
·¸= ¸>'· -.=. ¸=¸¸ ¸='.=· ·¸,=· _·¸.='· -.= ,\¸ -==, ·¸=· ) ··¸¸
_¸'=,\·
٢٥
(

Artinya: “Tiga golongan yang aku memusuhinya besuk dihari kiamat, yaitu
orang yang memberikan kepadaku kemudian menarik kembali,
orang yang menjual orang yang merdeka kemudian makan
harganya, dan orang yang memperkerjakan orang lain dan telah

23
Departemen Agama, Op.cit., hlm 392
24
Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Koleksi Hadis Hadis Hukum, Semarang,
Pustaka Rizki Putra, hlm. 199
25
Ibnu Rusyd, Bidayah al-Mujtahid Wa Nihayatul Muqtasid, Juz 5, Libanon, Darul
Kitab Ilmiyah, Beirut, t.th, hlm 125


18





selesai pekerjaannya tetapi tidak memberikan upahnya”. (HR.
Bukhori).

3. Hadits riwayat Ibnu Majah

¸'· ,\=¸ -,\= =· _\= _,.\· _· ¸== _,· _= · -·¸= ·=, _· ¸,· ·¸=· ¸,=.· ·¸==·

Artinya: “Dari Ibnu Umar Bahwa Rasulullah bersabda, “Berilah
upah pekerja sebelum keringatnya kering” (HR.Ibnu Majah).
26


c. Landasan Ijma’
Mengenai disyari’atkannya ijarah, semua Ulama bersepakat, tidak ada
seorang ulama pun yang membantah kesepakatan ijma’ ini, sekalipun ada
beberapa orang diantara mereka yang berbeda pendapat, akan tetapi hal itu
tidak dianggap.
27

Pakar-pakar keilmuan dan cendekiawan sepanjang sejarah di seluruh
negeri telah sepakat akan legitimasi ijarah.
28
Dari beberapa nash yang ada,
kiranya dapat dipahami bahwa ijarah itu disyari'atkan dalam Islam, karena
pada dasarnya manusia senantiasa terbentur pada keterbatasan dan
kekurangan. Oleh karena itu, manusia antara yang satu dengan yang lain
selalu terikat dan saling membutuhkan. Ijarah (sewa menyewa) merupakan
salah satu aplikasi keterbatasan yang dibutuhkan manusia dalam kehidupan
bermasyarakat. Bila dilihat uraian diatas, rasanya mustahil manusia bisa
berkecukupan hidup tanpa berijarah dengan manusia. Oleh karena itu boleh
dikatakan bahwa pada dasarnya ijarah itu adalah salah satu bentuk aktivitas

26
Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syariah, dari Teori ke Praktek, Jakarta, Gema
Insani, 2001,hlm.108.
27
Sayyid Sabiq, Op.cit., hlm 12
28
Muhamad, op. cit., hlm. 35.


19





antara dua pihak atau saling meringankan, serta termasuk salah satu bentuk
tolong menolong yang diajarkan agama.
Ijarah merupakan salah satu jalan untuk memenuhi hajat manusia.
Oleh sebab itu para ulama menilai bahwa Ijarah itu merupkan suatu hal
yang diperbolehkan.

3. Syarat dan Rukun Ijarah
Ijarah atau sewa menyewa dalam Islam dianggap sah apabila
memenuhi rukun dan syaratnya. Menurut ulama Mazhab Hanafiyah,
bahwa rukun ijarah hanya satu, yaitu ijab dan qabul saja (ungkapan
menyerahkan dan persetujuan sewa menyewa).
29

Adapun syarat sahnya Ijarah adalah sebagai berikut:
a. Kerelaan dua pihak yang melakukan akad
Saling merelakan antara pihak yang berakad ini berdasarkan
firman Allah: surat an-Nisa:29:
!㕃!≈ƒ š¸%!¦ ¦θ`ΨΒ¦´™ Ÿω ¦θ=2!. Ν39≡´θΒ¦ Μ6؏, ¸≅¸L≈,9!¸, ω¸| β¦
šχθ3. ο¸≈>¸´ s ¸_¦¸. ¯Ν3Ζ¸Β Ÿω´ρ ¦θ=.). ¯Ν3.±Ρ¦ β¸| ´<¦ βl. ¯Ν3¸,
!ϑŠ¸>´‘ ∩⊄®∪

29
M. Ali Hasan, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam (Fiqh Muamalat), Jakarta : PT.
Raja Grafindo Persada, 2003, hlm. 227


20





Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling
memakan harta sesamamu dengan jalan bathil, kecuali
dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama
suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh
dirimu, sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang
kepadamu”.
30


b. Mengetahui manfaat dengan sempurna barang yang di akadkan,
sehingga mencegah terjadinya perselisihan.
Manfaat, Jenis dan sifat barang yang diakadkan harus jelas.
Syarat tersebut dimaksudkan untuk menolak terjadinya perselisihan
dan pertengkaran. Seperti halnya tidak boleh menyewa barang dengan
manfaat yang tidak jelas yang dinilai secara kira kira, sebab
dikhawatirkan barang tersebut tidak mempunyai faedah.
31

c. Hendaklah barang yang menjadi objek transaksi dapat dimanfaatkan
kegunaannya menurut kriteria, realita dan syara’
Maksud dari syarat ini adalah, kegunaan barang yang
disewakan itu harus jelas dan dapat dimanfaatkan oleh pihak penyewa
sesuai dengan kegunaannya menurut realita, kriteria dan syara’.
Apabila barang itu tidak dapat dipergunakan sebagaimana yang
diperjanjikan, maka perjanjian sewa menyewa itu dapat dibatalkan.
32


30
Departemen Agama, Op.cit., hlm 65
31
Syeikh Ali Ahmad Al-Jurjawi, Tarjamah Falsafah dan Hikmah Hukum Islam,
Semarang, Asy Syifa’,1992.hlm.397.
32
Suhrawardi K. Lubis, Hukum Ekonomi Islam, Jakarta : Sinar Grafika, 2004, hlm. 146.


21





Jumhur Ulama fiqh berpendapat bahwa Ijarah adalah menjual manfaat
dan yang boleh disewakan adalah manfaatnya bukan bendanya. Oleh
karena itu, mereka melarang menyewakan pohon untuk diambil
buahnya, domba untuk diperah susunya, sumur untuk diambil airnya
dan lain lain, karena semua itu bukan manfaatnya, melainkan
barangnya.
33

d. Dapat diserahkannya sesuatu yang disewakan berikut kegunaannya
(manfaatnya).
Maksudnya adalah, tidak sah menyewakan kendaraan yang
masih belum dibeli, atau menyewakan hewan yang terlepas dari
pemiliknya, lahan tandus untuk pertanian dan lain sebagainya yang
tidak sesuai dengan persetujuan (akad) antara kedua belah pihak.
Barang yang akan disewakan harus jelas dan dapat langsung
diserahkan kepada pihak penyewa sekaligus dapat diambil
kegunaannya.
e. Bahwa manfaat, adalah hal yang mubah, bukan yang diharamkan
34

Kemanfaatan yang dimaksud mubah dan tidak diharamkan
adalah kemanfaatan yang tidak ada larangan dalam syara’,
kemanfaatan itu tidak sah apabila menyewakan tenaga (orang) dalam
hal kemaksiatan, karena maksiat wajib ditinggalkan.
Sedangkan Rukun ijarah terdiri dari:

33
Rahman Syafei, Fiqh Muamalah, Bandung, Pustaka Setia,2000,hlm.122.
34
Sayid Sabiq, Op.Cit hal.13


22





- Sighat ijarah, yakni ijab dan qabul berupa pernyataan dari kedua
belah pihak yang berakad (berkontrak), baik secara verbal atau dalam
bentuk lain.
Sewa-menyewa itu terjadi dan sah apabila ada ijab dan qabul, baik
dalam bentuk perkataan atau dalam bentuk pernyataan lainnya yang
menunjukkan adanya persetujuan antara kedua belah pihak dalam
melakukan sewa-menyewa.
35
Shighat ijab dan qabul adalah suatu
ungkapan antara dua orang yang menyewakan suatu barang atau
benda.
Ijab adalah permulaan penjelasan yang keluar dari seseorang yang
berakad yang menggambarkan kemauannya dalam mengadakan akad,
siapa saja yang memulai. Sedangkan qabul adalah jawaban (pihak)
yang lain sesudah adanya ijab, dan untuk menerangkan
persetujuannnya.
36

- Aqid, yaitu pihak yang melakukan akad yakni pihak yang
menyewa/pengguna jasa (musta’jir) dan pihak yang
menyewakan/pemberi jasa (mu’ajjir).
- Ma’qud alaih/Obyek akad ijarah, yakni :
1. Manfaat barang dan sewa, atau
2. Manfaat jasa dan upah
37


35
TM. Hasbi-Ash-Shiddieqy, Pengantar Fiqh Muamalah, Jakarta: Bulan Bintang, 1984,
hlm 35
36
Prof. TM. Hasbi Ash-Shiddiqy, Pengantar Fiqh Muamalah, Semarang, PT Pustaka
Rizki Putra, 2001, hlm 27
37
Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No. 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan
Ijarah.


23






4. Pendapat Ulama tentang Ijaroh
Hukum ijaroh telah disepakati oleh para ulama seluruhnya dengan
landasan “Mempersewakan barang, dibenarkan syara’”, terkecuali ibnu
‘Ulayyah. Beliau tidak membolehkan Ijaroh dengan alasan:
“Akad ijaroh (sewa menyewa harus dikerjakan oleh kedua belah pihak.
Tak boleh salah seorangnya sesudah akad yang shahih itu membatalkan,
walaupun karena uzur melainkan kalau terdapat sesuatu yang
memasakhkan akad, seperti cacat pada benda yang disewa itu”.

Demikian juga pendapat Imam Malik dan Ahmad yang tidak
membolehkan Ijaroh dengan alasan bahwa sewa-menyewa tersebut tidak
bisa batal, kecuali dengan hal-hal yang membatalkan akad-akad yang
tetap, seperti akadnya cacat atau hilangnya tempat mengambil manfaat itu.
Para ulama yang lain yang tidak menyepakati ijaroh adalah Abu Bakar al
Asham, Ismail Ibn Aliah, Hasan Al Bashri, Al Qasyani, Nahrawi, dan Ibn
Kaisan yang beralasan bahwa Ijarah adalah jual beli kemanfaatan, yang
tidak dapat dipegang (tidak ada). Sesuatu yang tidak dapat dikategorikan
jual beli.
38

Abu Hanifah beserta ashabnya berpendapat bahwa “ Boleh
dibatalkan penyewaan karena sesuatu peristiwa yang terjadi walaupun dari
pihak yang menyewa, umpamanya ia menyewa suatu kedai untuk

38
Rachmat Syafei, Ibid. hlm.123.


24





berniaga, kemudian kedai itu terbakar, atau dicuri, atau dirampas, atau
jatuh bangkrut, maka bolehlah ia membatalkan penyewaan.
39

Ijarah menjadi fasakh (batal) dengan hal, sebagai berikut:
1. Terjadi aib pada barang sewaan yang kejadiannya di tangan penyewa
atau terlihat aib lama padanya.
2. Rusaknya barang yang disewakan, seperti rumah dan binatang yang
menjadi ‘ain
3. Rusaknya barang yang diupahkan (Ma’jur ‘alaih), seperti baju yang
diupahkan untuk dijahitkan, karena akad tidak mungkin terpenuhi
sesudah rusaknya (barang)
4. Terpenuhinya manfaat yang diakadkan, atau selesainya pekerjaan, atau
berakhirnya masa, kecuali jika terdapat uzur yang mencegah fasakh.
Seperti jika masa Ijarah tanah pertanian telah berakhir sebelum
tanaman dipanen, maka ia tetap berada di tangan penyewa sampai
masa selesai diketam, sekalipun terjadi pemaksaan, hal ini
dimaksudkan untuk mencegah terjadinya bahaya (kerugian) pada pihak
penyewa, yaitu dengan mencabut tanaman sebelum waktunya.
5. Penganut-penganut mazhab Hanafi berkata, boleh memfasakh Ijarah,
kecuali adanya uzur sekalipun dari salah satu pihak. Seperti seseorang
yang menyewa toko untuk berdagang, kemudian hartanya terbakar,

39
TM.Hasbi Ash Shiddieqy, Hukum Hukum Fiqh Islam Tinjauan Antar Mazhab,
Semarang, Pustaka Rizki Putra, 2001,hlm.428.


25





atau dicuri, atau dirampas atau bangkrut maka ia berhak memfasakh
Ijarah.
40

Jika masa atau waktu yang telah habis sebagaimana yang
diperjanjikan sebelumnya, maka jika telah habis tempo, akad sewa-
menyewa itu menjadi berakhir, kecuali jika terdapat udzur yang mencegah
fasakh itu. Seperti contoh Ijarah pertanian jika panen sudah tiba namun
telah berakhir maka tetap berada di tangan penyewa sampai masa panen
selesai, sekalipun terjadi pemaksaan. Hal ini dimaksudkan untuk
mencegah terjadinya bahaya (kerusakan) pada pihak penyewa yaitu orang
mencabut tanaman sebelum waktunya.
41

Penganut mazhab Hambali berkata:”manakala Ijarah telah
berakhir, penyewa harus mengangkat tangannya dan tidak ada kepastian
mengembalikan untuk menyerah-terimakannya, seperti barang titipan,
karena ini merupakan akad yang tidak menuntut jaminan sehingga tidak
mesti mengembalikan atau menyerah-terimakannya. Mereka
berkata:”setelah berakhirnya masa maka ia adalah amanat yang apabila
terjadi kerusakan tanpa diniat, tidak kewajiban untuk menanggungnya”.
42


5. Konsep Ijarah pada Bank Syari’ah
Mayoritas produk pembiayaan Bank Syari’ah saat ini masih
terfokus pada produk-produk murabahah (prinsip jual beli). Pembiayaan
murabahah sebenarnya memiliki kesamaan dengan pembiayaan

40
Sayyid Sabiq, Op.Cit. hlm.29
41
Ibid, hlm 34
42
Ibid.


26





ijarah.vYang membedakan keduanya hanyalah obyek transaksi yang
diperjualbelikan tersebut. Dalam pembiayaan murabahah yang menjadi
obyek transaksi adalah barang. Sedangkan dalam pembiayaan ijarah
obyek transaksinya adalah jasa.
Dalam konteks perbankan Islam, Ijarah adalah suatu lease
contract di bawah mana suatu bank atau lembaga keuangan menyewakan
peralatan (equipment), sebuah bangunan atau barang-barang seperti mesin-
mesin, pesawat terbang, dan lainnya kepada salah satu nasabahnya
berdasarkan pembebanan biaya yang sudah ditentukan secara pasti
sebelumnya (fixed charge).
43

Ijarah serupa dengan kegiatan leasing dalam sistem keuangan
tradisional. Dalam transaksi Ijarah, bank menyewakan suatu asset yang
telah dibeli untuk nasabahnya dalam jangka waktu tertentu dan jumlah
sewa yang telah disepakati bersama pada awal transaksi Ijarah tersebut.
Pada akhir perjanjian Ijarah tersebut, barang yang disewa itu kembali
kepada bank. Setelah barang yang disewakan itu kembali, bank dapat
menyewakan kembali kepada orang lain.
Namun selain barang Ijarah yang telah selesai masanya
dikembalikan kepada bank, ada salah satu perjanjian Ijarah yang disebut
termed lease –purchase contract (Ijarah wa iqtina), yakni suatu perjanjian
leasing yang diselesaikan dengan cara pengalihan kepemilikan asset itu
kepada nasabah. Ijarah ini merupakan konsep hire purchase, yang oleh

43
Sutan Remy Sjahdeini,Perbankan Islam dan Keduduknnya dalam Tata Hukum
Perbankkan di Indonesia, Jakarta, Grafiti, hlm.70


27





lembaga-lembaga keuangan Islam disebut lease purchase financing, Ijarah
wa iqtina adalah suatu gabungan dari kegiatan leasing atas barang-barang
bergerak (Movable)dan barang-barang tidak bergerak (immovable) dengan
memberikan kepada penyewa suatu pilihan atau opsi untuk pada akhirnya
membeli barang yang disewa.
44

Ijarah wa iqtina kurang mendapat dukungan dari para ahli
hukum muslim, alasannya karena adanya resiko yang tidak diinginkan,
penentuan keuntungan di muka dan adanya agunan yang menempatkan
bank tidak menanggung resiko dianggap bertentangan dengan semangat
Islam, karena Islam menentukan bahwa antara pemodal dan pengusaha
yang memperoleh fasilitas pembiayaan harus berbagi resiko. Selain itu,
penetapan di muka besarnya premium berdasarkan pengalaman
sebelumnya sebagai kompensasi pembayaran tertunda bertentangan
dengan asas-asas keuangan Islam.
45




44
Sutan Remy Sjahdeini, Op.Cit.hlm.71
45
Elias G, Kazarian dalam Sutan Remy Sjahdeini, Op.Cit.hlm.73.
28
BAB III
PRAKTEK PEMBIAYAAN MULTI JASA DENGAN AKAD IJARAH DI BANK
PEMBIAYAAN RAKYAT SYARI’AH (BPRS) MITRA HARMONI SEMARANG

A. SEKILAS TENTANG PT BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARI’AH
(BPRS) MITRA HARMONI SEMARANG.
1. Sejarah Berdirinya PT Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah (BPRS) Mitra
Harmoni Semarang.
PT Bank Perkreditan Rakyat Syari’ah (BPRS) Mitra Harmoni Semarang
dengan NPWP NPWP NO. 02.775.270.8-518.000 yang beralamat di Jalan
Majapahit No.170 B, Gayamsari, Semarang. Adapun keterangan yang lebih
jelas dapat dilihat dibawah ini.
a. Pemegang Saham
• PT.SENTRA MODAL HARMONI 99,75% Jakarta.
• Ir.TEGUH P. SLAMET 0,25% Jakarta.
b. PERIJINAN.
- Perijinan Pusat.
• Kementrian Hukum Dan HAM Akta pendirian No.20 tanggal 10
februari 2009 dibuat oleh pejabat Notaris Aswendi Kamuli SH di
Jakarta dan disahkan KENENTRIAN HUKUM dan HAM.
• BANK INDONESIA.
• Ijin Prinsip :No.11/325/DPBs Tanggal 24 Februari 2009.
• Ijin Usaha :No.12/44/SK.GBI/DpG/2010 Tanggal 07 juni 2010.



29



- Perijinann Kantor Pajak dan PEMKOT.
• NPWP NO. 02.775.270.8-518.000
• TDP NO.11.01.1.65.06954.
• Ijin gangguan NO.517/495/2009.
46


2. Visi dan Misi PT Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah Mitra Harmoni
Semarang.
a. Visi :
Adapun Visi dari PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah Mitra Harmoni
Semarang adalah: Menjadi perusahaan jasa keuangan perbankan syari’ah
yang sehat,kuat, besar dan amanah sesuai dengan prinsip syari’ah.
b. Misi :
• Memberdayakan usaha mikro, kecil dan menengah sebagai wujud
partisipasi dalam membangun ekonomi umat dengan mengedepankan
prinsip keadilan,keterbukaan dan universal.
• Memberika jasa keuangan dengan sepenuh hati.
• Meningkatkan keunggulan kompetitif melalui inofasi dan kreatifitas
yang berkelanjutan sejalan dengan kebutuhan umat.
• Mengembangkan sumber daya insani yang berkualitas dan profesional.




46
Dokumen Resmi Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah (BPRS) Mitra Harmoni Semarang.



30



3. Perkembangan PT Bank Perkreditan Rakyat Syari’ah Mitra Harmoni
Semarang.
a. Tabungan
Jumlah nasabah tabungan dari tahun 2010- Mei 2011 berjumlah
225 Nasabah. Hal ini dianggap cukup signifikan karena PT Bank
Perkreditan Rakyat Syari’ah Mitra Harmoni Semarang baru berdiri sejak
tanggal 10 Februari 2010.
Adapun kepercayaan nasabah tabungan disebabkan oleh :
1) Pelayanan yang baik.
2) Adanya kemudahan syarat-syarat dalam menabung.
3) Adanya fasilitas antar jemput atau sering disebut fasilitas Bank
Keliling.
4) Kepercayaan masyarakat untuk menyimpan dananya pada PT BPRS
Mitra Harmoni Semarang.
5) Return bagi hasil yang cukup tinggi.

b. Pembiayaan
Jumlah nasabah pembiayaan tahun 2010-Mei 2011 berjumlah 240
Nasabah. Kepercayaan nasabah terhadap pembiayaan disebabkan oleh :
1) Adanya pelayanan yang baik.
2) Adanya kelonggaran dalam pelunasan pembiayaan.


31



3) Kelonggaran dalam pelunasan pembiayaan dilakukan dengan
memberikan jangka waktu yang lebih lama dari jadwal yang telah
disepakati dalam perjanjian atau akad pembiayaan..
4) Adanya kebijakan prosedur pembiayaan yang efektif.
5) Keadaan ekonomi atau dunia usaha yang semakin membaik.
47


c. Deposito
Sampai saat ini belum ada Deposito di PT Bank Pembiayaan Syariah
Mitra Harmoni Semarang.

B. MANAGEMEN PT BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARI’AH (BPRS)
MITRA HARMONI SEMARANG.
Kegiatan PT BPRS Mitra Harmoni Semarang meliputi :
1. Menghimpun dana dari masyarakat.
2. Menyalurkan pembiayaan.
3. Menerima dana dan menyalurkan dana zakat, infaq, shodaqoh.
4. Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh Bank Pembiayaan Rakyat
Syari’ah sepanjang disetujui oleh Dewan Pengawas Syariah.
48

Adapun struktur organisasi pada PT BPRS Mitra harmoni Semarang telah
menunjukkan garis wewenang dan garis tanggung jawab secara sederhana, fleksibel
dan tegas sehingga mencerminkan pemisahan fungsi dengan jelas. Susunan struktur
organisasi dapat dilihat pada skema dibawah ini.

47
Ibid.
48
Dokumen Resmi Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah (BPRS) Mitra Harmoni Semarang.


32



STRUKTUR ORGANISASI PT BPRS MITRA HARMONI SEMARANG






















Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)
Dewan Komisaris:
Komisaris Utama : Sugiarto,SE
Komisaris: Aguslim, SE
Direksi
Direktur Utama : M.Ari Prabowo,SH
Direktur: Lili Setiaji, S.Kom
Dewan Pengawas Syariah
Ketua: Drs.H.Suparyo,M.Ag
Anggota: Arwani,SH
Satuan Pengawas Intern

Kabag.Operasional
M.Hasval Firdaus,SE

Kas/teller
Marlinda Septi P, Amd

Tabungan/Deposit
Edwin Giri Dewi,Amd

Layanan Nasabah
Edwin Giri Dewi,Amd

Umum dan personalia
Astriana Supriyanti,Amd

Akuntansi
M.Naufal Firdaus,SE

Satpam
Setyo Adi R

Office boy
Djunaidi

Staff Pendanaan
Heru Ariyanto
Rifqi Lukman H
Staff Pembiayaan
Arnold Maori,Amd
Ratri Dewastu,Amd
Ahmad Abdul M

Administrasi Pembiayaan
Nurul FithriaAsmarani,Amd

Kabag Marketing
Zaenal Arifin,SE



33



Adapun hal yang selalu junjung tinggi oleh PT Bank Pembiyaan Rakyat
Syariah (BPRS) Mitra Harmoni Semarang adalah pelaksanaan dari Budaya kerja yang
baik. Adapun budaya kerja yang dilaksanakan oleh BPRS Mitra Harmoni Semarang
adalah “Membangun citra BPR Syari’ah Mitra Harmoni Kota Semarang dengan
mengedepankan nilai nilai individu yang islam, profesonal , Ikhlas bermuamalah dan
berakhlaqul kharimah.
Adapun tiga keutamaan yang harus dijunjung tinggi oleh para karyawan
BPRS Mitra Harmoni Semarang guna membentuk pribadi mulia adalah sebagai berikut:
1. Beriman dan bertaqwa kepada Alloh SWT.
2. Cerdas, jujur, bertanggung jawab ikhlas, bermuamalah dan berakhlaqul karimah.
3. Kreatif, Inovatif dan mampu membangun kerjasama team yang solid dan
professional.
Komitmen yang dijunjung tinggi dalam melayani nasabah yakni menjadikan nasabah
adalah:
• Seseorang yang paling penting di sisi kita.
• Kitalah yang bergantung padanya.
• Untuknyalah kita bekerja.
• Ia bukan orang asing pada bisnis kita
• Ia adalah bagian dari kita.
• Kita tidak melayani karena kemurahan kita.
• Tapi dialah yang memberi kemurahan pada kita.
• Dengan memberi kesempatan kepada kita untuk melayani.


34



Selain di kota semarang, Jaringan Kantor PT.BPR Nusamba & BPRS Mitra Haroni
Group telah membuka berbagai jaringan Kantor di berbagai daerah di Indonesia,
diantaranya adalah sebagai berikut:
PT.BPR Syariah Mitra Harmoni Group
• PT.BPRS Mitra Harmoni Kota Yogyakarta
• PT.BPRS Mitra Harmoni Kota Semarang
• PT.BPRS Mitra Harmoni Kota Malang
• PT.BPRS Mitra Harmoni Kota Bandung
Jawa barat
• PT. BPR Mitra Harmoni Indramayu
• PT. BPR Nusamba Plered – Purwakarta
• PT. BPR Nusamba Singaparna – Tasikmalaya
• PT. BPR Nusamba Sukaraja – Sukabumi
• PT. BPR Nusamba Tanjungsari – Sumedang
Jawa Tengah & DIY Yogyakarta
• PT. BPR Nusamba Adiwerna – Tegal
• PT. BPR Nusamba Cepiring – Kendal
• PT. BPR Nusamba Ampel – Boyolali
• PT. BPR Nusamba Pecangaan – Jepara
• PT. BPR Nusamba Banguntapaan – Yogyakarta
Jawa Timur
• PT. BPR Nusamba Brondong – Lamongan
• PT. BPR Nusamba Genteng – Banyuwangi


35



• PT. BPR Nusamba Ngunut – Tulung Agung
• PT. BPR Nusamba Rambipuji – Jember
• PT. BPR Nusamba Wlingi – Blitar
Bali
• PT. BPR Nusamba Kubutambahan – Buleleng
• PT. BPR Nusamba Manggis – Karangasem
• PT. BPR Nusamba Mengwi – Badung
• PT. BPR Nusamba Tegallalang – Gianyar
Nusa Tenggara Barat
• PT. BPR Mitra Harmoni Mataram

C. PRODUK-PRODUK PT BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARI’AH (BPRS)
MITRA HARMONI SEMARANG.
PT BPRS Mitra Harmoni menyalurkan pembiayaan untuk berbagai keperluan.
Adapun pembiayaan yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a. Harmoni umat multiguna
Paket pembiayaan dengan sistem jual beli dan multijasa yang diberikan kepada
mitra untuk pembelian barang modal keperluan berinvestasi renovasi rumah tinggal
pembelian motor/mobil,biaya sekolah dan kebutuhan lainnya yang halal.


b. Deposito


36



Produk investasi dana dalam mata uang rupiah berjangka waktu tertentu yang di
kelola dengan prinsip mudharabah (bagi hasil) dan ketentuannya:
• Jangka waktu yang fleksibel antara 1,2,3,6,12 bulan.
• Deposito tidak dapat dicairkan sebelum jatuh tempo.
• Setoran Minimal Rp1.000.000.
• Bagi hasil langsung di pindah bukukan ke rekening tabungan mitra/nasabah.
• Dana aman sesuai penjamin pemerintah (LPS)
• Mendapatkan fasilitas asuransi jiwa (nominal deposito minimal Rp.7.500.000.)
• Mendapat bagi hasil yang kompetitif.
• Dapat dijadikan jaminan pembiayaan.
Nisbah Bagi Hasil:
• Jangka 1 bulan mitra dan bank:37:63.
• Jangka 3 bulan mitra dan bank:42:58.
• Jangka 6 bulan mitra dan bank:47:53.
• Jangka 12 bulan mitra dan bank:53:47.

c. Tabungan Dinar
Adalah simpanan Dana rencana haji dan umroh,dengan prinsip mudharabah yang
bertujuan dalam merencanakan ibadah haji dan umroh.
Adapun karakteristiknya adalah sebagai berikut:
• Tidak boleh dicairkan kecuali untuk pelunasan biaya penyelenggaraan ibadah
haji (BPIH)


37



• Setoran awal minimal Rp100.000,-dan setoran berikutnya minimal Rp50.000,-
atau sesuai target mitra.
• Saldo minimal untuk dapat disetorkan ke SISKOHAJ adalah sebesar
Rp5.000.000,-atau sesuai ketentuan dari Kementrian Agama RI.
• Tanpa dikenakan biaya administrasi.
Manfaat dari Produk ini adalah dapat dijadikan sebagai fasilitas untuk
mendapatkan dana talangan haji.

d. Tabungan Harmoni syari’ah.
Simpanan dana mitra dengan prinsip wadi’ah yang dapat dicairkan sewaktu
waktu sesuai dengan kebutuhan mitra.
Karakteristik:
• Dapat dicairkan sewaktu waktu sesuai dengan kebutuhan mitra.
• Setoran awal minimal Rp.10000,-dan setoran berikutnya minimal Rp.10000,-
.saldo minimal saat pencairan dana Rp.10000,-.
• Tidak dikenakan biaya administrasi bulanan dan biaya penutupan rekening
sebesar Rp.5000,-.
Manfaat:
• Dapat dijadikan sebagai jaminan pembiayaan.
• Mendapatkan bonus yang menarik di sesuaikan dengan perkembangan
perusahaan.

e. Tabungan IB Qurban


38



Simpanan ummat untuk tujuan pembelian hewan Qurban,dimana
penyetoran dapat dilakukan sewaktu waktu dan penarikanya hanya dapat
dilakukan setahun sekali yaitu pada saat menjelang pembelian hewan qurban.
Karakteristik:
• Hanya dapat dicairkan setahun sekali pada saat pembelian hewan Qurban
• Setoran awal minimal Rp.50.000, dan setoran berikutnya sesuai dengan target
keperluan ibada Qurban sesuai yang dikehendaki, dapat dilakukan dengan
system jemput bola
• Saldo mengendap minimal Rp.50.000
• Pembelian hewan Qurban dan penyerahan kepada pihak yang menerima bias
melalui BPRS Mitra Harmoni Semarang
• Tidak dikenakan biaya administrasi dan biaya penutupan rekening sebesar
Rp.5000
• Kehilangan buku tabungan dikenakan penggantian biaya administrasi
• Tabungan dengan saldo dibawah saldo minimal yang ditetapkan selama 6
bulan berturut turut berakibat dtutupnya rekening tabungan oleh Bank dan
saldo yang tersisa diperhitungkan sebagai biaya administrasi.
Manfaat
• Memudahkan niat nasabah untuk ibadah Qurban secara terencana
• Mendapatkan bagi hasil yang kompetitif.



39



D. PRAKTEK PEMBIAYAAN MULTI JASA DENGAN AKAD IJARAH DI PT
BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARI’AH (BPRS) MITRA HARMONI
SEMARANG.
Pada dasarnya semua pebiayaan prosedurnya sama, yang membedakan adalah
akadnya. Pada pembiayaan multijasa ini menggunakan akad ijarah dikarenakan
produk ini berbasis jasa.
49
Pada Praktek Pembiayaan multi jasa dengan akad Ijarah di
PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Mitra Harmoni Semarang ada yang
dinamakan perjanjian Pembiayaan Multijasa antara pihak Bank dan pihak Nasabah.
Dalam perjanjian tersebut terdapat beberapa pasal yang menerangkan bentuk praktek
pembiayaan Multijasa dengan akad Ijarah.
Adapun pasal pasalnya adalah sebagai berikut:
- Pada Pasal I , terdapat definisi dari perjanjian yang dilakukan, adapun definisinya
adalah sebagai berikut:
Dalam perjanjian yang dimaksud dengan:
a. syariah
Adalah Hukum Islam yang bersumber dari Al-Quran dan as-Sunnah
b. Multijasa
Adalah akad pembiayaan transaksi multi jasa dalam jasa keuangan agar
nasabah dapat memperoleh manfaat untuk pelayanan pendidikan,
kesehatan, ketenagakerjaan, dan jasa lainnya.

c. Ajrun atau Ujrah

49
Hasil wawancara dengan Bapak Ari Prabowo,SH selaku Direksi PT Bank Pembiayaan Rakyat
Syariah Mitra Harmoni Semarang


40



Adalah jasa barang modal yang harus dibayar oleh nasabah.
d. Pengakuan sewa- piutang sewa
Adalah surat pengakuan nasabah berkewajiban membayar sewa kepada
Bank yang dibuat dan ditandatangani nasabah dan diterima serta diakui
oleh Bank karenanya berlaku dan bernilai sebagai bukti sah tentang
adanya kewajiban pembayaran dari nasabah kepada Bank sebesar jumlah
sewa barang yang terhutang.
e. Jangka waktu jasa Manfaat atas barang modal
Adalah masa berlakunya perjanjian ini sesuai dengan yang ditentukan
dalam pasal 3 perjanjian ini.
- Pasal 2 yang menyangkut Pembiayaan dan Penggunaannya
1. Nasabah dengan ini mengakui dengan sebenarnya dan secara sah
menerima pembiayaan multi jasa dari Bank guna (tujuan) sejumlah
(nominal) ditambah dengan sewa manfaat (ujroh) sebesar (ujroh).
Sehingga jumlah untuk sewa manfaat kepada bank sebesar (total).
2. Dengan transaksi multijasa tersebut nasabah dengan ini menyatakan
secara sah berhutang kepada bank sejumlah (total).
- Pasal 3 yang menyangkut jangka waktu angsuran dan administrasi
1. pembiayaan ini diberikan untuk (jangka waktu) bulan terhitung
semenjak tanggal (tanggal akad) hingga tanggal (jatuh tempo).
2. Nasabah wajib melakukan pembayaran kembali kepada Bank secara
angsuran setiap bulannya sebesar (angsuran) terhitung mulai angsuran
pertama tanggal (tanggal mulai sampai tanggal selesai)


41



3. Semua pembayaran kembali atau pelunasan pembiayaan berikut
manfaat, oleh nasabah kepada Bank untuk mendebet rekening nasabah
guna pembayaran kembali pembiayaan berikut sewa manfaat.
- Pasal 4 yang menyangkut Biaya biaya dalam perjanjian
Nasabah setuju untuk membayar dimuka (tunai atau melalui rekening
nasabah) kepada Bank seluruh biaya biaya yang timbul karena perjanjian
ini. Adapun biaya tersebut meliputi:
1. Biaya administrasi (sebesar Rp…….)
2. Biaya materai (sebesar Rp…….)
3. Biaya asuransi (sebesar Rp…….)
4. Biaya Notaris (sebesar Rp…….)
- Pasal 5
Semua pembayaran atau pelunasan oleh Nasabah kepada Bank akan
dilaksanakan melalui rekening nasabah yang dibuka oleh dan atas nama
nasabah di Bank. Dan dengan ini nasabah memberi kuasa kepada Bank
untuk medebet rekening nasabah guna pembayaran angsuran Multijasa
dengan akad Ijarah
- Pasal 6 yang menyangkut tentang jaminan
Untuk menjamin pembayaran kembali hutang nasabah kepada Bank,
dengan ini nasabah menyatakan bahwa:
a. nasabah menyerahkan jaminan berupa (jaminan I), (jaminan II)

- Pasal 7 yang menyangkut tentang Peristiwa Cidera Janji


42



Apabila terjadi hal hal dibawah ini (setiap kejadian demikian, sebelum dan
sesudah ini masing masing secara tersendiri atau secara bersama sama
disebut sebagai “Peristiwa Cidera Janji”)
1. Terlambat membayar angsuran selambat lambatnya satu bulan dari
jadwal yang disepakati
2. Nasabah tidak bisa melunasi kewajibannya setelah tanggal jatuh tempo
hutang.
3. Nasabah tidak bisa memberikan keterangan yang meyakinkan kepada
Bank atas terjadinya keterlambatan pembayaran tersebut.
- Pasal 8 yang menyangkut tentang hal lain lain
Segala sesuatu yang belum diatur dalam Perjanjian pembiayaan ini, akan
diatur dalam surat surat dan atau kertas kertas lain yang merupakan bagian
yang melekat dan dilampirkan serta merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari perjanjian Multijasa ini.
- Pasal 9 yang menyangkut tentang penyelesaian perselisihan
1. Segala perselisihan yang timbul berdasarkan akad ini antara para pihak
berkenan dengan penafsiran dan atau pelaksanaan akad ini, para pihak
sepakat menyelesaikan dengan cara musyawarah dan mufakat
2. Apabila dalam jangka waktu 30 hari kalender sejak dilakukan secara
musyawarah dan mufakat, sebagaimana dimaksud pada ayat 1 pasal ini
tidak tercapai kesepakatan, para pihak sepakat untuk menyelesaikan
melalui Badan Arbritase Syariah.
- Pasal 10 yang menyangkut tentang Penutup


43



1. Sebelum surat perjanjian ini ditandantangani oleh nasabah, nasabah
mengetahui dengan sebenarnya dan tidak lain dari yang sebenarnya,
bahwa nasabah telah membaca dengan cermat atau dibacakan
kepadanya seluruh isi perjanjian ini berikut seluruh surat dan dokumen
yang menjadi lampiran surat perjanjian ini, sehingga oleh karena itu
nasabah memahami sepenuhnya segala yangakan menjadi akibat
hokum setelah menandatangani ini.
2. Apabila ada hal hal yang belum diatur atau belum cukup diatur dalam
perjanjian ini, maka nasabah dan Bank akan mengaturnya bersama
secara musyawarah untuk mufakat dalam satu addendum.
3. Tiap addendum dalam perjanjian ini merupakan satu kesatuan yang
tidak terpisahkan dari perjanjian ini.

Pihak pertama dan kedua sepakat dengan ini mengikatkan diri satu terhadap
yang lain, bahwa untuk perjanjian ini dan segala akibatnya memberlakukan syariat
islam dan peraturan perundang undangan lain yang tidak bertentangan dengan
syariah.50
Setelah perjanjian disetujui oleh kedua pihak yakni pihak Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah BPRS Mitra Harmoni Semarang dengan nasabah, maka pihak Bank
akan menyerahkan draf asumsi kepada nasabah. Adapun draf asumsi pembiayaan
tersebut berisi nominal dan jangka waktu yang akan digunakan.
Adapun asumsi angsuran pembiayaan dapat dilihat pad table dibawah ini:


50
Dokumen Resmi PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Mitra Harmoni Semarang


44



PLAFOND 12 BLN 18 BLN 24 BLN 36 BLN
3.000.000 287.500 204.167 170.000 135.833
4.000.000 383.333 272.222 226.667 181.111
5.000.000 479.167 340.278 283.333 220.389
6.000.000 575.000 408.333 340.000 271.667
7.000.000 670.833 376.389 396.667 316.944
8.000.000 766.667 544.444 453.333 362.222
9.000.000 862.500 612.500 510.000 407.500
10.000.000 958.333 680.556 566.667 452.778
15.000.000 1.437.500 1.020.833 850.000 679.167
20.000.000 1.916.667 1.361.111 1.133.333 905.556
25.000.000 2.395.833 1.701.389 1.416.667 1.131.944
30.000.000 2.875.000 2.041.667 1.700.000 1.358.333
35.000.000 3.354.167 2.381.944 1.983.333 1.584.722
40.000.000 3.833.333 2.722.222 2.666.667 1.811.111
45.000.000 4.312.500 3.062.500 2.550.000 2.037.500
50.000.000 4.791.667 3.402.778 2.833.333 2.263.889

Berikut adalah beberapa nama nasabah yang menggunakan Pembiayaan
multijasa dengan akad Ijarah di PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah(BPRS) Mitra
Harmoni Semarang yang dipilih atas pertimbangan memahami akad ijarah:
1. Agung Sedayu, menggunakan pembiayaan multi jasa untuk pembiayaan renofasi
rumah


45



2. Rudi Hermawan, menggunakan pembiayaan multi jasa untuk pembiayaan
pendidikan
3. Agus Wimbadi, menggunakan pembiayaan multi jasa untuk pembiayaan renofasi
rumah
4. Suciati, menggunakan untuk pembiayaan kepemilikan kendaraan
5. Devi Ambarwanto, menggunakan untuk pembiayaan renofasi rumah. Dan masih
banyak lagi nasabah lainnya yang menggunakan pembiayaan multi jasa dengan
akad ijarah di BPRS Mitra Harmoni Semarang.
Dari kelima sample nasabah tersebut, penulis berhasil melakukan wawancara
dengan mereka dalam waktu yang berbeda. Dari hasil wawancara tersebut dapat
diambil kesimpulan bahwa nasabah merasa terbantu dengan adanya pembiayaan
multi jasa dengan akad ijarah yang diterapkan oleh BPRS Mitra Harmoni Semarang.
Dengan adanya pembiayaan multi jasa dengan akad ijarah, mereka dapat
memenuhi kebutuhannya dengan mudah. Berbeda dengan bank konvensional yang
menerapkan system kredit, system ijarah lebih mendekati pada bentuk sewa
menyewa. Selain itu juga, system yang diterapkan sesuai dengan syariah islam,
sehingga menghidari dari praktek riba.
Seperti bapak Agung Sedayu misalnya, yang menggunakan pembiayaan multi
jasa dengan akad ijarah di BPRS Mitra Harmoni Semarang untuk memenuhi
pembiayaan renovasi rumahnya. Menurutnya, menggunakan akad ijarah untuk
pengupahan tukang sesuai dengan pemahaman agamanya adalah yang lebih tepat.
Karena sesuai dengan syariat Islam dan hokum Fiqh. Selain itu pula, denggan akad


46



ijarah, ia dapat menghindarkan diri dari praktek riba seperti yang diterapkan di bank
konvensional lainnya.
51

Berbeda dengan bapak Agung Sedayu, bapak Rudi Hermawan yang
menggunakan pembiayaan untuk biaya pendidikan mengatakan bahwa jika seluruh
bank di Indonesia bahkan di dunia menggunakan system pembiayaan dengan berdasar
syariah islam, maka pasti akan terhindar dari krisis. Pembiayaan multi jasa dengan
akad ijarah yang diterapkan oleh BPRS Mitra Harmoni Semarang adalah salah satu
contoh yang dapat ditiru oleh bank-bank lain. Ia beranggapan bahwa pembiayaan
multi jasa dengan akad ijarah adalah yang terbaik dari system kredit ataupun sewa
menyewa.
52

Pernyataan serupa juga dilontarkan oleh nasabah-nasabah yang lain. Menurut
mereka, menggunakan pembiayaan multi jasa dengan akad ijarah di BPRS Mitra
Harmoni Semarang sangat membantu untuk pemenuhan kebutuhan yang sangat
mendesak, tanpa harus dibebani dengan bunga yang besar yang tidak sesuai dengan
Syariah islam. Sementara di BPRS Mitra Harmoni Semarang, mereka dapat memilih
produk-produk yang ditawarkan kepada mereka yang kesemua produknya adalah
berdasar kepada prinsip Syariah.
53

Pada dasarnya, kebanyakan para nasabah yang menggunakan jasa pembiayaan
multi jasa dengan akad ijarah di BPRS Mitra Harmoni Semarang belum begitu
mengetahui tentang akad Ijarah, sehingga pihak Bank menjelaskan kepada para
nasabah secara detail sebelum akad dilaksanakan. Hal ini bertujuan untuk

51
Hasil wawancara denggan bapak Agung Sedayu selaku nasabah di BPRS Mitra Harmoni
Semarang
52
Hasil wawancara dengan bapak Rudi Hermawan selaku nasabah di BPRS Mitra Harmoni
Semarang
53
Hasil wawancara denggan para nasabah BPRS Mitra Harmoni Semarang


47



memberikan pilihan kepada nasabah untuk menggunakan dengan system akad jual
beli atau murobahah atau multi jasa dengan akad ijarah.
Dalam pembiayaan multi jasa dengan akad ijarah yang digunakan untuk
merenofasi rumah, itu bukan digunakan untuk membeli material, akan tetapi,
digunakan untuk membayar tukang. Sedangkan dalam pembiayaan pendidikan,
pembiayaan multi jasa yang diserahkan kepada nasabah itu diharapkan benar benar
digunakan dalam pendidikan, bukan untuk hal hal lainnya.
54









54
Hasil wawancara dengan Bp,Ari Prabowo selaku Direksi PT Bank Pembiyaan Rakyat Syariah
(BPRS) Mitra Harmoni Semarang
48
BAB IV
ANALISIS HUKUM ISLAM TERHADAP PRAKTEK PEMBIAYAAN
MULTI JASA DENGAN AKAD IJARAH
DI BANK PEMBIAYAAN RAKYAT SYARI’AH (BPRS) MITRA
HARMONI SEMARANG

A. Analisis Terhadap Pembiayaan Multi Jasa Dengan akad Ijarah di Bank
Pembiayaan Rakyat Syari’ah (BPRS) Mitra Harmoni Semarang.
Pembiayaan ijarah merupakan perjanjian untuk membiayai kegiatan sewa
menyewa yang dilakukan oleh bank syari’ah atau Lembaga Keuangan Syari’ah.
Prinsip ini digunakan sebagai salah satu dasar dalam penyaluran dananya. Demikian
pula Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah (BPRS) Mitra Harmoni Semarang yang
menerapkan prinsip ini kedalam salah satu produk pembiayaannya, yaitu untuk
pembiayaan renovasi rumah, pendidikan, kesehatan dan kepemilikan barang.
Ijarah merupakan akad atau perjanjian untuk kegiatan sewa menyewa,
Prinsip ini digunakan sebagai salah satu dasar dalam penyaluran dana yang
dilaksanakan oleh bank syari’ah atau Lembaga Keuangan Syari’ah.
Mayoritas produk pembiayaan Bank Syari’ah saat ini masih terfokus pada
produk-produk murabahah (prinsip jual beli). Pembiayaan murabahah sebenarnya
memiliki kesamaan dengan pembiayaan ijarah.Yang membedakan keduanya hanyalah
obyek transaksi yang diperjualbelikan tersebut. Dalam pembiayaan murabahah yang
menjadi obyek transaksi adalah barang. Sedangkan dalam pembiayaan ijarah obyek
transaksinya adalah jasa.



49



Dalam konteks perbankan Islam, Ijarah adalah suatu lease contract di bawah
mana suatu bank atau lembaga keuangan menyewakan peralatan (equipment), sebuah
bangunan atau barang-barang seperti mesin-mesin, pesawat terbang, dan lainnya
kepada salah satu nasabahnya berdasarkan pembebanan biaya yang sudah ditentukan
secara pasti sebelumnya (fixed charge).55
Pada PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Mitra Harmoni Semarang
pada praktenya, ada tiga pihak yang terlibat dalam proses pembiayaan multi jasa
dengan akad ijarah, yakni bank, orang yang menyewa ( nasabah), dan pihak yang
diberikan upah oleh nasabah dengan pembiayaan dari bank tersebut. Pada Praktek
Pembiayaan multi jasa dengan akad Ijarah di PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah
(BPRS) Mitra Harmoni Semarang ada yang dinamakan perjanjian Pembiayaan
Multijasa antara pihak Bank dan pihak Nasabah. Dalam perjanjian tersebut terdapat
beberapa pasal yang menerangkan bentuk praktek pembiayaan Multijasa dengan akad
Ijarah. Adapun pasal pasalnya adalah sebagai berikut:
- Pada Pasal I , terdapat definisi dari perjanjian yang dilakukan, adapun
definisinya adalah sebagai berikut:
Dalam perjanjian yang dimaksud dengan:
b. syariah
Adalah Hukum Islam yang bersumber dari Al-Quran dan as-Sunnah
f. Multijasa

55
Sutan Remy Sjahdeini,Perbankan Islam dan Keduduknnya dalam Tata Hukum Perbankkan di
Indonesia, Jakarta, Grafiti, hlm.70



50



Adalah akad pembiayaan transaksi multi jasa dalam jasa keuangan agar
nasabah dapat memperoleh manfaat untuk pelayanan pendidikan,
kesehatan, ketenagakerjaan, dan jasa lainnya.
g. Ajrun atau Ujrah
Adalah jasa barang modal yang harus dibayar oleh nasabah.
h. Pengakuan sewa- piutang sewa
Adalah surat pengakuan nasabah berkewajiban membayar sewa kepada
Bank yang dibuat dan ditandatangani nasabah dan diterima serta diakui
oleh Bank karenanya berlaku dan bernilai sebagai bukti sah tentang
adanya kewajiban pembayaran dari nasabah kepada Bank sebesar jumlah
sewa barang yang terhutang.
i. Jangka waktu jasa Manfaat atas barang modal
Adalah masa berlakunya perjanjian ini sesuai dengan yang ditentukan
dalam pasal 3 perjanjian ini.
- Pasal 2 yang menyangkut Pembiayaan dan Penggunaannya
1. Nasabah dengan ini mengakui dengan sebenarnya dan secara sah
menerima pembiayaan multi jasa dari Bank guna (tujuan) sejumlah
(nominal) ditambah dengan sewa manfaat (ujroh) sebesar (ujroh).
Sehingga jumlah untuk sewa manfaat kepada bank sebesar (total).
2. Dengan transaksi multijasa tersebut nasabah dengan ini menyatakan
secara sah berhutang kepada bank sejumlah (total).
- Pasal 3 yang menyangkut jangka waktu angsuran dan administrasi



51



1. pembiayaan ini diberikan untuk (jangka waktu) bulan terhitung
semenjak tanggal (tanggal akad) hingga tanggal (jatuh tempo).
2. Nasabah wajib melakukan pembayaran kembali kepada Bank secara
angsuran setiap bulannya sebesar (angsuran) terhitung mulai angsuran
pertama tanggal (tanggal mulai sampai tanggal selesai)
3. Semua pembayaran kembali atau pelunasan pembiayaan berikut
manfaat, oleh nasabah kepada Bank untuk mendebet rekening nasabah
guna pembayaran kembali pembiayaan berikut sewa manfaat.
- Pasal 4 yang menyangkut Biaya biaya dalam perjanjian
Nasabah setuju untuk membayar dimuka (tunai atau melalui rekening
nasabah) kepada Bank seluruh biaya biaya yang timbul karena perjanjian
ini. Adapun biaya tersebut meliputi:
1. Biaya administrasi (sebesar Rp…….)
2. Biaya materai (sebesar Rp…….)
3. Biaya asuransi (sebesar Rp…….)
4. Biaya Notaris (sebesar Rp…….)
- Pasal 5
Semua pembayaran atau pelunasan oleh Nasabah kepada Bank akan
dilaksanakan melalui rekening nasabah yang dibuka oleh dan atas nama
nasabah di Bank. Dan dengan ini nasabah memberi kuasa kepada Bank
untuk medebet rekening nasabah guna pembayaran angsuran Multijasa
dengan akad Ijarah
- Pasal 6 yang menyangkut tentang jaminan



52



Untuk menjamin pembayaran kembali hutang nasabah kepada Bank,
dengan ini nasabah menyatakan bahwa:
b. nasabah menyerahkan jaminan berupa (jaminan I), (jaminan II)
- Pasal 7 yang menyangkut tentang Peristiwa Cidera Janji
Apabila terjadi hal hal dibawah ini (setiap kejadian demikian, sebelum dan
sesudah ini masing masing secara tersendiri atau secara bersama sama
disebut sebagai “Peristiwa Cidera Janji”)
1. Terlambat membayar angsuran selambat lambatnya satu bulan dari
jadwal yang disepakati
2. Nasabah tidak bisa melunasi kewajibannya setelah tanggal jatuh tempo
hutang.
3. Nasabah tidak bisa memberikan keterangan yang meyakinkan kepada
Bank atas terjadinya keterlambatan pembayaran tersebut.
- Pasal 8 yang menyangkut tentang hal lain lain
Segala sesuatu yang belum diatur dalam Perjanjian pembiayaan ini, akan
diatur dalam surat surat dan atau kertas kertas lain yang merupakan bagian
yang melekat dan dilampirkan serta merupakan bagian yang tidak
terpisahkan dari perjanjian Multijasa ini.
- Pasal 9 yang menyangkut tentang penyelesaian perselisihan
1. Segala perselisihan yang timbul berdasarkan akad ini antara para pihak
berkenan dengan penafsiran dan atau pelaksanaan akad ini, para pihak
sepakat menyelesaikan dengan cara musyawarah dan mufakat



53



2. Apabila dalam jangka waktu 30 hari kalender sejak dilakukan secara
musyawarah dan mufakat, sebagaimana dimaksud pada ayat 1 pasal ini
tidak tercapai kesepakatan, para pihak sepakat untuk menyelesaikan
melalui Badan Arbritase Syariah.
- Pasal 10 yang menyangkut tentang Penutup
4. Sebelum surat perjanjian ini ditandantangani oleh nasabah, nasabah
mengetahui dengan sebenarnya dan tidak lain dari yang sebenarnya,
bahwa nasabah telah membaca dengan cermat atau dibacakan
kepadanya seluruh isi perjanjian ini berikut seluruh surat dan dokumen
yang menjadi lampiran surat perjanjian ini, sehingga oleh karena itu
nasabah memahami sepenuhnya segala yangakan menjadi akibat
hokum setelah menandatangani ini.
5. Apabila ada hal hal yang belum diatur atau belum cukup diatur dalam
perjanjian ini, maka nasabah dan Bank akan mengaturnya bersama
secara musyawarah untuk mufakat dalam satu addendum.
6. Tiap addendum dalam perjanjian ini merupakan satu kesatuan yang
tidak terpisahkan dari perjanjian ini.
Pihak pertama dan kedua sepakat dengan ini mengikatkan diri satu terhadap
yang lain, bahwa untuk perjanjian ini dan segala akibatnya memberlakukan syariat
islam dan peraturan perundang undangan lain yang tidak bertentangan dengan
syariah.56
Setelah perjanjian disetujui oleh kedua pihak yakni pihak Bank Pembiayaan
Rakyat Syariah BPRS Mitra Harmoni Semarang dengan nasabah, maka pihak Bank

56
Dokumen Resmi PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Mitra Harmoni Semarang



54



akan menyerahkan draf asumsi kepada nasabah. Adapun draf asumsi pembiayaan
tersebut berisi nominal dan jangka waktu yang akan digunakan.
Adapun praktek pembiayaan dengan akad ijarah di BPRS Mitra Harmoni
Semarang berbeda dengan yang terdapat pada kitab Fiqh. Jika dalam kitab Fiqh
diterangkan bahwa ijarah adalah sewa menyewa barang untuk diambil manfaatnya, di
BPRS Mitra Harmoni Semarang tidak menyewakan barang kepada nasabah, akan
tetapi memberikan dana talangan untuk biaya pendidikan, kesehatan, dan renovasi
rumah.

Analisis Hukum Islam Terhadap Praktek Pembiayaan Multi Jasa Dengan akad Ijarah
di Bank Pembiayaan Rakyat (BPRS) Mitra Harmoni Semarang.
Sebagai Sebuah Perusahaan yang bergerak dalam bidang jasa,khususnya
jasa keuangan PT Bank Pembiayaan Syari’ah (BPRS) Mitra Harmoni Semarang
dalam mengembangkan usahanya, berkewajiban mengetahui hal-hal yang dapat
mengakibat suatu perjanjian menjadi sah atau tidak (fasid). Hal ini dimaksudkan agar
muamalah berjalan sah dan segala tindakan jauh dari kerusakan yang terjadi dengan
sebab suatu hal yang tidak dibenarkan syara’.
Sewa-menyewa dalam hukum Islam diperbolehkan, setiap manusia berhak
melakukannya dengan berdasarkan pada prinsip-prinsip yang telah diatur dalam
syari’at Islam. Hukum ijaroh telah disepakati oleh para ulama seluruhnya dengan
landasan “Mempersewakan barang, dibenarkan syara’”
Adapun Firman Allah yang dijadikan dalil hukum sewa-menyewa diantaranya:



55



c. Al-Qur’an
Firman Allah Surat al-Baqarah:233:

… β¸|´ρ ¯Ν›.Š´‘¦ β¦ ¦θ`-¸.¸.`.· ¯/.‰≈9ρ¦ Ÿξ· _!´Ζ`> ¯/3‹=. ¦Œ¸| Ν.ϑ=™ !Β Λ‹.¦´™
¸∃ρ·¸-RQ!¸, ¦θ).¦´ρ ´<¦ ¦θϑ=s¦´ρ β¦ ´<¦ !ÿ¸· βθ=´Κ-. ¸¸., ∩⊄⊂⊂∪

Artinya: “Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada
dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut.
Bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat apa
yang kamu kerjakan”.
57


Surat Al-Kahfi ayat 77
!)=LΡ!· ´©.> ¦Œ¸| !´‹.¦ Ÿ≅δ¦ ¸πƒ¯¸% !ϑ-L.`™¦ !γ=δ¦ ¦¯θ,!· β¦ !ϑδθ±¸¯‹Ÿ.`ƒ ¦‰>´θ· !κŽ¸·
¦´‘¦‰¸> ‰ƒ¸¸`ƒ β¦ ´_)Ζƒ …µΒ!%!· Α!% ¯θ9 ¸⁄¸: ,‹‚−.9 ¸µ‹=s ¦¸>¦ ∩∠∠∪

Artinya: ”Maka keduanya berjalan; hingga tatkala keduanya sampai kepada
penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu,
tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian
keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir
roboh, Maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: "Jikalau
kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu".

d. Hadits
1). Imam Bukhori meriwayatkan dalam hadis dari Aisyah RA. Menyebutkan:
_= -=.'= ='_=¸ ',.= · '.=· ¸= ¸¸=¸ =· ='_\= -,\= ,\=¸ · ¸,·¸ ¸>,
>=¸ _= ¸,.\'_., ',.'= '.,¸= ¸=¸ _\= _,. ¸'»> _,¸· '=·.· -,\· '=,,.\=·¸
··.=·¸¸ ¸'= ¸¸. .=, .>. ¸',\ ·¸, '=,,.\= _,= .>. ) ·¸·¸ _¸'=,\·
٥٨
(

Artinya: “Rasulullah SAW dan Abu Bakar menyewa seseorang penunjuk jalan yang
ahli dari bani Dail yang memeluk Agama kafir Quraisy, kedua beliau
membayarnya dengan kendaraannya kepada orang tersebut, dan

57
Ibid, hlm 29
58
Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Koleksi Hadis Hadis Hukum, Semarang, Pustaka
Rizki Putra, hlm. 199



56



menjanjikannya digua Tsur sesudah tiga malam dengan kendaraan
keduanya”.

Pakar-pakar keilmuan dan cendekiawan sepanjang sejarah di seluruh
negeri telah sepakat akan legitimasi ijarah.
59
Dari beberapa nash yang ada, kiranya
dapat dipahami bahwa ijarah itu disyari'atkan dalam Islam, karena pada dasarnya
manusia senantiasa terbentur pada keterbatasan dan kekurangan. Oleh karena itu,
manusia antara yang satu dengan yang lain selalu terikat dan saling membutuhkan.
Ijarah (sewa menyewa) merupakan salah satu aplikasi keterbatasan yang
dibutuhkan manusia dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh karena itu boleh
dikatakan bahwa pada dasarnya ijarah itu adalah salah satu bentuk aktivitas antara
dua pihak atau saling meringankan, serta termasuk salah satu bentuk tolong
menolong yang diajarkan agama.
Ijarah merupakan salah satu jalan untuk memenuhi hajat manusia. Oleh sebab
itu para ulama menilai bahwa Ijarah itu merupkan suatu hal yang diperbolehkan.
Begitu pula di Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah (BPRS) Mitra Harmoni
Semarang, mekanisme dana yang digunakan untuk pembiayaan didapatkan dari
menghimpun dana dari masyarakat, menyalurkan pembiayaan, menerima dana dan
menyalurkan dana zakat, infaq, shodaqoh, melakukan kegiatan lain yang lazim
dilakukan oleh Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah sepanjang disetujui oleh Dewan
Pengawas Syariah.
60

Melihat prosedur pembiayaan ijarah yang dipraktekkan oleh Bank
Pembiayaan Rakyat Syari’ah (BPRS) Mitra Harmoni Semarang diatas, maka kita bisa

59
Muhamad, op. cit., hlm. 35.
60
Dokumen Resmi Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah (BPRS) Mitra Harmoni Semarang.



57



mengetahui secara pasti apakah praktek pembiayaan sudah sesuai dengan fiqh
ataukah belum. Hal ini bisa terlihat dari syarat sahnya Ijarah adalah sebagai berikut:
c. Kerelaan dua pihak yang melakukan akad
Saling merelakan antara pihak yang berakad ini berdasarkan firman
Allah: surat an-Nisa:29:
!㕃!≈ƒ š¸%!¦ ¦θ`ΨΒ¦´™ Ÿω ¦θ=2!. Ν39≡´θΒ¦ Μ6؏, ¸≅¸L≈,9!¸, ω¸| β¦ šχθ3.
ο¸≈>¸´ s ¸_¦¸. ¯Ν3Ζ¸Β Ÿω´ρ ¦θ=.). ¯Ν3.±Ρ¦ β¸| ´<¦ βl. ¯Ν3¸, !ϑŠ¸>´‘ ∩⊄®∪
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan
harta sesamamu dengan jalan bathil, kecuali dengan jalan
perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.
Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah
Maha Penyayang kepadamu”.
61


d. Mengetahui manfaat dengan sempurna barang yang di akadkan, sehingga
mencegah terjadinya perselisihan.
Manfaat, Jenis dan sifat barang yang diakadkan harus jelas. Syarat
tersebut dimaksudkan untuk menolak terjadinya perselisihan dan
pertengkaran. Seperti halnya tidak boleh menyewa barang dengan manfaat
yang tidak jelas yang dinilai secara kira kira, sebab dikhawatirkan barang
tersebut tidak mempunyai faedah.
62


61
Departemen Agama, Op.cit., hlm 65
62
Syeikh Ali Ahmad Al-Jurjawi, Tarjamah Falsafah dan Hikmah Hukum Islam, Semarang, Asy
Syifa’,1992.hlm.397.



58



e. Hendaklah barang yang menjadi objek transaksi dapat dimanfaatkan
kegunaannya menurut kriteria, realita dan syara’
Maksud dari syarat ini adalah, kegunaan barang yang disewakan itu
harus jelas dan dapat dimanfaatkan oleh pihak penyewa sesuai dengan
kegunaannya menurut realita, kriteria dan syara’. Apabila barang itu tidak
dapat dipergunakan sebagaimana yang diperjanjikan, maka perjanjian sewa
menyewa itu dapat dibatalkan.
63
Jumhur Ulama fiqh berpendapat bahwa
Ijarah adalah menjual manfaat dan yang boleh disewakan adalah manfaatnya
bukan bendanya. Oleh karena itu, mereka melarang menyewakan pohon untuk
diambil buahnya, domba untuk diperah susunya, sumur untuk diambil airnya
dan lain lain, karena semua itu bukan manfaatnya, melainkan barangnya.
64

f. Dapat diserahkannya sesuatu yang disewakan berikut kegunaannya
(manfaatnya).
Maksudnya adalah, tidak sah menyewakan kendaraan yang masih belum
dibeli, atau menyewakan hewan yang terlepas dari pemiliknya, lahan tandus
untuk pertanian dan lain sebagainya yang tidak sesuai dengan persetujuan
(akad) antara kedua belah pihak. Barang yang akan disewakan harus jelas dan
dapat langsung diserahkan kepada pihak penyewa sekaligus dapat diambil
kegunaannya.
g. Bahwa manfaat, adalah hal yang mubah, bukan yang diharamkan
65

Kemanfaatan yang dimaksud mubah dan tidak diharamkan adalah
kemanfaatan yang tidak ada larangan dalam syara’, kemanfaatan itu tidak sah

63
Suhrawardi K. Lubis, Hukum Ekonomi Islam, Jakarta : Sinar Grafika, 2004, hlm. 146.
64
Rahman Syafei, Fiqh Muamalah, Bandung, Pustaka Setia,2000,hlm.122.
65
Sayid Sabiq, Op.Cit hal.13



59



apabila menyewakan tenaga (orang) dalam hal kemaksiatan, karena maksiat
wajib ditinggalkan.
Sedangkan Rukun ijarah terdiri dari:
- Sighat ijarah, yakni ijab dan qabul berupa pernyataan dari kedua belah
pihak yang berakad (berkontrak), baik secara verbal atau dalam bentuk
lain. Sewa-menyewa itu terjadi dan sah apabila ada ijab dan qabul, baik
dalam bentuk perkataan atau dalam bentuk pernyataan lainnya yang
menunjukkan adanya persetujuan antara kedua belah pihak dalam
melakukan sewa-menyewa.
66
Shighat ijab dan qabul adalah suatu
ungkapan antara dua orang yang menyewakan suatu barang atau benda.
Ijab adalah permulaan penjelasan yang keluar dari seseorang yang
berakad yang menggambarkan kemauannya dalam mengadakan akad,
siapa saja yang memulai. Sedangkan qabul adalah jawaban (pihak) yang
lain sesudah adanya ijab, dan untuk menerangkan persetujuannnya.
67

- Aqid, yaitu pihak yang melakukan akad yakni pihak yang
menyewa/pengguna jasa (musta’jir) dan pihak yang menyewakan/pemberi
jasa (mu’ajjir).
- Ma’qud alaih/Obyek akad ijarah, yakni :
1. Manfaat barang dan sewa, atau
2. Manfaat jasa dan upah
68


66
TM. Hasbi-Ash-Shiddieqy, Pengantar Fiqh Muamalah, Jakarta: Bulan Bintang, 1984, hlm 35
67
Prof. TM. Hasbi Ash-Shiddiqy, Pengantar Fiqh Muamalah, Semarang, PT Pustaka Rizki
Putra, 2001, hlm 27
68
Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No. 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Ijarah.



60



Dengan melihat mekanisme tersebut, dapat disimpulkan bahwa pembiayaan
ijarah yang dipraktekkan di Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah (BPRS) Mitra
Harmoni Semarang ternyata telah memenuhi ketentuan-ketentuan syara’. Dan
menurut hemat penulis pembiayaan yang dipraktekkan oleh BPRS Mitra Harmoni
Semarang ini sah dengan syarat-syaratnya yang telah terpenuhi dengan benar.
Ijarah yang dilakukan PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Mitra
Harmoni Semarang memang tidak sama persis dengan definisi ijarah yang dikenal
dalam kitab fiqh. Dalam kitab fiqh dijelaskan bahwa Ijarah adalah suatu jenis
perikatan atau perjanjian yang bertujuan mengambil manfaat suatu benda yang
diterima dari orang lain dengan jalan membayar upah sesuai dengan perjanjian dan
kerelaan kedua belah pihak dengan rukun dan syarat yang telah ditentukan
69
.
Praktek pembiayaan multi jasa dengan akad ijarah yang dilaksanakan di
BPRS Mitra Harmoni Semarang bukanlah menyewakan suatu barang untuk diambil
manfaatnya ataupun mempekerjakan seseorang untuk diberikan upah. Praktek ijarah
yang dilaksanakan oleh BPRS Mitra Harmoni Semarang hanya menyalurkan dana
talangan kepada nasabah yang memerlukan untuk biaya pendidikan, kesehatan dan
renonvasi rumah.
Dalam pembiayaan multi jasa dengan akad ijarah yang digunakan untuk
merenofasi rumah misalnya, dana yang diberikan oleh BPRS Mitra Harmoni
Semarang kepada nasabah itu bukan digunakan untuk membeli material, akan tetapi
digunakan untuk membayar tukang. Sedangkan dalam pembiayaan pendidikan,

69
Drs. Sudarsono, S.H., Pokok-Pokok Hukum Islam, Jakarta, PT. Rineka Cipta , Cet.I, 1992, hlm
422



61



pembiayaan multi jasa yang diserahkan kepada nasabah itu diharapkan benar benar
digunakan dalam pendidikan, bukan untuk hal hal lainnya.
70

Walaupun tidak sama dengan fiqh, menurut hemat penulis, hal ini sah karena
demi kemaslahatan bersama. Selain itu, praktek pembiayaan yang diterapkan oleh BPRS
Mitra Harmoni Semarang telah sesuai dengan Syariah atas dasar fatwa DSN yang
menyatakan bahwa obyek ijarah adalah manfaat dari penggunaan barang dan/atau jasa.
Adapun pembiayaan ijarah hampir sama dengan leasing, hanya pada
pembiayaan dengan Ijarah menerapkan prinsip syari’ah. Pembiayaan berdasarkan
prinsip syari’ah berupa penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu,
berdasarkan persetujuan antara BPRS dengan nasabah, yang mewajibkan nasabah
mengembalikan uang atau tagihan tersebut dalam jangka waktu tertentu, dengan
imbalan atau ujrah.
71

Pada ijarah, bank hanya wajib menyediakan asset yang disewakan, baik
asset itu miliknya atau bukan miliknya. Yang penting adalah bank mempunyai hak
pemanfaatan atas asset yang kemudian disewakannya. Fatwa DSN tentang ijarah ini
kemudian diadopsi kedalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 59
yang menjelaskan bahwa bank dapat bertindak sebagai pemilik obyek sewa, dan bank
dapat bank dapat bertindak sebagai penyewa yang kemudian menyewakan kembali.
Namun tidak seluruh fatwa DSN diadopsi oleh PSAK 59, misalnya fatwa DSN
mengatur bahwa obyek ijarah adalah manfaat dari penggunaan barang dan/atau jasa,
sedangkan dalam PSAK 59 hanya mengkoomodir obyek ijarah yang berupa manfaat

70
Hasil wawancara dengan Bp,Ari Prabowo selaku Direksi PT Bank Pembiyaan Rakyat Syariah
(BPRS) Mitra Harmoni Semarang
71
http:/www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/062006/18/pundi.htm. diakses pada tanggal 3 Juni
2011 pada pukul 08.45 WIB.



62



dari barang saja.
72
Dalam BPRS Mitra Harmoni Semarang, obyek Ijarah Multi Jasa
adalah manfaat dari penggunaan jasa, yakni jasa pendidikan, jasa kesehatan, dan jasa
renovasi rumah.



72
http://www.ekonomisyariah.org/docs/detail_cara.php?mode=pilih&idKategori=2&idSub=14
diakses pada tanggal 3 Juni 2011 pukul 09.00 WIB.
63
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Dari beberapa uraian yang telah penulis paparkan di depan, maka dapat
disimpulkan hal-hal sebagai jawaban atas rumusan masalah yang diajukan, antara
lain sebagai berikut:
1. Pada Praktek Pembiayaan multi jasa dengan akad Ijarah di PT Bank
Pembiayaan Rakyat Syariah (BPRS) Mitra Harmoni Semarang ada yang
dinamakan perjanjian Pembiayaan Multijasa antara pihak Bank dan pihak
Nasabah. Dalam perjanjian tersebut terdapat beberapa pasal yang
menerangkan bentuk praktek pembiayaan Multijasa dengan akad Ijarah.
Disamping itu, pihak BPRS menganjurkan dana digunakan untuk jasa tenaga
atau pendidikan dan kesehatan bukan untuk membeli material.
2. Pembiayaan ijarah yang telah dipraktekkan oleh Bank Perkreditan Rakyat
Syari’ah (BPRS) Mitra Harmoni Semarang bila ditinjau dari konsep fiqh
ternyata sudah sah dan sesuai, hal ini dapat dilihat dari akad pembiayaan yang
dipraktekkan sudah sesuai dengan ketentuan-ketentuan syara’, dan dengan
adanya kesepakatan antara kedua belah pihak yaitu antara bank dengan
nasabah.
B. Saran
1. PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah BPRS Mitra Harmoni semarang harus tetap
berkarya dalam membangun perekonomian untuk menopang kehidupan


64



bermasyarakat dengan cara islam, terutama dalam mengeluarkan produk produk
pembiayaan dengan prinsip syariah agar mampu memberikan kemudahan bagi
kaum muslim.
2. Dari pihak PT Bank Pembiayaan Rakyat Syariah BPRS Mitra Harmoni Semarang
diharapkan dapat menerapkan system pembiayaan multi jasa dengan akad ijarah
dengan sebenarnya agar tercapai visi misi yang telah dicantumkan. Selain itu,
diharapkan BPRS Mitra Harmoni Semarang tidak hanya berlebel syariah namun
didalamnya masih menggunakan system konvensional hanya untuk menarik
nasabah.
3. Perlu bantuan dan pengawasan yang lebih intensif agar pembiayaan dengan akad
ijarah dapat saling menguntungkan.

C. Penutup
Dengan memanjatkan rasa syukur yang setinggi-tingginya atas bimbingan dan
kekuatan yang diberikan Allah SWT penulis mengakhiri keseluruhan penulisan
skripsi ini dengan suatu catatan bahwa yang penulis paparkan dan hasilkan
merupakan upaya optimal tetapi masih jauh dari kesempurnaan dan banyak
kesalahan, maka dari itu kritik dan saran yang membangun penulis harapkan demi
perbaikan dan kesempurnaan skripsi ini. Akhirnya dengan selesainya skripsi ini jika
Akhirnya dengan mengucapkan alhamdullilahi robbil al-alamin, penulis mengakhiri
skripsi ini. Dari hati yang paling dalam, penulis akui bahwa tulisan ini masih sangat
sederhana sekali dan masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis


65



berharap mendapatkan respon, saran dan kritik dari semua pembaca demi
kesempurnaan tulisan ini.
Kemudian atas saran dan kritik yang diberikan, penulis sampaikan terima
kasih yang sebesar-besarnya, semoga tulisan sederhana ini dapat berguna bagi
penulis khususnya, dan bagi seluruh pembaca pada umumnya. Amin.
Ada suatu kebenaran dalam skripsi ini hanyalah semata-mata merupakan
kebenaran dari Allah SWT. Dan jika terdapat kesalahan adalah akibat dari
kesalahan dan kekurangan penulis semata. Dan penulis sangat berharap semoga
skripsi ini dapat memberi manfaat khususnya bagi penulis dan menjadi kontribusi
bagi dunia keilmuan. Amin ya Robbal ‘Alamin.



66



Daftar Pustaka

Ali, Zainudin, Hukum Perdata Islam di Indonesia, Jakarta, Sinar Grafika, 2006
Antonio, Muhammad Syafi’I, Bank Syariah, dari Teori ke Praktek, Jakarta, Gema Insani,
2001.

Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktek), Jakarta : PT.
Rineka Cipta, 1998.

Arifin, Zainul, Dasar-dasar Manajemen Bank Syari’ah, Jakarta : Alva Bet, 2003
Azhar Bazir, Ahmad, Ushul Fiqh, Bandung : Mizan, 1994.
Brosur-brosur Bank Pembiayaan Rakyat Syari’ah (BPRS) Mitra Harmoni Semarang.
Basuki, Sulisty, Pengantar Dokumentasi Ilmiah, Jakarta, Kesaint Balanc, 1989.
Dokumen Bank Peembiayaan Rakyat Syari’ah (BPRS) Mitra Harmoni Semarang.
Departemen Agama RI, Al-Qur’an Dan Terjemahnya, Bandung, CV.J-AR, 2005
Fatwa Dewan Syari’ah Nasional No. 09/DSN-MUI/IV/2000 tentang Pembiayaan Ijarah.
Hasan, A., Tarjamah Bulughul Maram Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Bandung : CV. Penerbit
Hasan, M. Ali, Berbagai Macam Transaksi dalam Islam (Fiqh Muamalah), Jakarta : PT.
Grafindo Persada, 2003.

Hasbi Ash Shiddieqy, Teungku Muhammad, Koleksi Hadis Hadis Hukum, Semarang,
Pustaka Rizki Putra, 2001.

_________________, Pengantar Fiqh Muamalah, Semarang, PT Pustaka Rizki Putra,
2001.

__________________ Hukum Hukum Fiqh Islam Tinjauan Antar Mazhab, Semarang,
Pustaka Rizki Putra, 2001.

Helmi Karim, M.A.,Fiqh Muamalah, Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, Cet.II, Ed.I,
1997.

http:/www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/062006/18/pundi.htm.

http://www.ekonomisyariah.org/docs/detail_cara.php?mode=pilih&idKategori=2&idSub



67



Karim, Adiwarman, Bank Islam Analisis Fiqh dan Keuangan, Jakarta, IIIT Indonesia,
2003.

Muhammad, Sistem dan Prosedur Operasional Bank Syari’ah, Yogyakarta : UII Press,
2001.

Ridwan, Muhammad, Manajemen Baitul Mal Wa Tamwil (BMT), Yogyakarta : UII Press,
2004.

Rifai , H. Moh, Konsep Perbankan Syari’ah, Semarang, CV. Wicaksana, 2002.
Sabiq, Sayyid, Fikih Sunnah 3, Bandung, PT.Al Ma’arif, 1987
Sjahdeini, Sutan Remy, Perbankan Islam dan Keduduknnya dalam Tata Hukum
Perbankkan di Indonesia, Jakarta, Grafiti, 2003.

Subagyo, P. Joko, Metode Penelitian Dalam Teori dan Praktek, Jakarta : Rineka Cipta,
1991.

Shahih Bukhari, Shahih Bukhari, terj. Zainudin Hamidy et.al., Jilid II Jakarta : Wijaya,
1970.
Syafei, Rahman, Fiqh Muamalah, Bandung, Pustaka Setia,2000.
Sudarsono, Drs. S.H., Pokok-Pokok Hukum Islam, Jakarta, PT. Rineka Cipta , Cet.I, 1992
Suhrawardi K. Lubis, Hukum Ekonomi Islam, Jakarta : Sinar Grafika, 2004.
Yafie, Ali, Menggagas Fiqih Sosial: Dari Soal Lingkungan Hidup, Asuransi Hingga
Ukhuwah, Bandung, Mizan, 1995.

Ya’qub, Hamzah, DR.H., Kode Etik Dagang Menurut Islam, CV. Diponegoro, Bandung,
1992, Cet.II.

.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->