P. 1
Ilmu Dalam Perspektif Islam

Ilmu Dalam Perspektif Islam

|Views: 62|Likes:
Published by Apria Ruzmadhany
Ilmu Dalam Perspektif Islam
Ilmu Dalam Perspektif Islam

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Apria Ruzmadhany on Mar 17, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/13/2013

pdf

text

original

Ilmu dalam perspektif Islam

Idealnya kehidupan dan prilaku umat Islam merupakan perwujudan dari keagungan dan kebenaran ajaran Islam. Namun dalam kenyataannya terdapat jurang yang lebar antara keduanya. Oleh karena itu kita tidak bisa menilai Islam dari kehidupan dan prestasi para penganutnya. Demikian pula ketika kita hendak melihat bagaimana pandangan Islam tentang ilmu, tidak cukup hanya dengan menilai prestasi umat Islam, apalagi umat Islam saat ini yang sedang terjajah secara keilmuan. Kita harus merujuk langsung ke dua sumber utamanya Islam, yakni Al Qur’an dan Al Hadist.Menurut penelitian Dawam Raharjo,1 kata ilmu (ilm) dalam Al Qur’an disebut sebanyak 105 kali, tetapi jika dihitung berikut kata jadiannya menjadi 744 dengan perincian : alima (35), ya’ lamu (215), i’lam (31), yu’lamu (1), ‘ilm (105), ‘alim (18), ma’lum (13), ‘alamin (73), ‘alam (3), a’lam (49), ‘alim atau ulama (163), ‘allam (4), yu’allimu (16), ‘ulima (3), mu’allam (1) dan ta’allama (2). Dari kata jadian tersebut muncul beberapa pengertian seperti; mengetahui, pengetahuan, orang yang berpengetahuan, yang tahu, terpelajar, paling mengetahui, memahami, mengetahui segala sesuatu, lebih tahu, sangat mengetahui, cerdik, mengajar, belajar, orang yang menerima pelajaran. Selain itu muncul juga pengertian tanda, alamat, tanda batas, tanda peringatan, segala kejadian alam, alam (dunia), segala yang ada, segala yang dapat diketahui. Selanjutnya menurut Dawam terdapat kata lain yang semakna dengan ilmu yaitu ‘arafa, khabara, dara, sya’ara, ya’isa, ankara, bashirah dan hakimPenyebutan kata ilmu yang berulang ulang dalam Al - Qur’an menunjukan kepada kita bahwa ilmu merupakan salah satu konsep kunci dalam Islam sekaligus menunjukkan betapa besar perhatian Islam terhadap ilmu. Berikut kita petik beberapa ayat Al Qur’an yang berisi dorongan kepada umat Islam untuk menguasai ilmu :Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan dalam silih bergantinya malam dan siang, adalah pertanda (ayat) bagi Ulil albab. Yaitu orang-orang yang melakukan refleksi (tadzakkur) tentang Allah ketika mereka sedang berdiri, sedang duduk maupun sedang berbaring sambil memikirkan (tafakkur) tentang kejadian langit dan bumi.

telah membangun etos tersendiri pada kehidupan generasi awal umat Islam. Al Khazimi. Barang siapa wafat sedang mengembangkan ilmu untuk menghidupkan Islam. Dalam membaca sejarah perkembangan ilmu yang ditulis oleh kalangan Barat dibutuhkan sikap ekstra hati-hati. Ibnu Bajjah dll. Ibn Khaldun dll. Muhammad Ibnu Musa al Khawarazmi. dorongan mencari ilmu kita dapatkan dalam serangkaian hadist Nabi saw sebagai berikut : Carilah ilmu walaupun sampai ke negeri Cina . Hal ini dapat kita lihat dari sederetan ilmuan muslim beserta karya-karya legendaris mereka. Umar Khaiyam. maka ia lebih berhak dari yang lain.Dan mereka berkata “Tuhan kami. Sayangnya semangat keilmuan yang telah melahirkan karya-karya besar legendaris dan telah mengangkat umat Islam ke puncak kejayaan peradaban. Engkau tak menciptakannya tanpa tujuan. Selain dalam Al Qur’an.Dorongan yang demikian besar dari Al Qur’an dan hadist kepada umat Islam untuk menguasai ilmu. Bahkan saat ini umat Islam berada pada kondisi paling buruk yang hanya menjadi konsumen ilmu-ilmu (lebih tepat disebut sains) Barat yang dibangun berdasar konsep-konsep yang sama sekali berbeda dengan Islam. Sufyan ibn Said ibn Masruq. Abdullah Muhammad ibn Ishaq. Di bidang astronomi dikenal nama Fadhl ibn al Naubakht. Namun demikian. Di bidang fisika kita kenal Ibnu al Haitsam. tidak bertahan selamanya surut untuk kurun waktu setelah abad ke-12 sampai saat ini. Selamatkanlah kami dari siksa neraka “ (QS 3 . Di bidang ilmu-ilmu sosial dikenal namanama Abdullah al Hawami. Maha Suci Engkau. Di bidang matematika dikenal nama Al Khawarizmi. mengingat terdapat kecenderungan upaya .9). Al Batani. Ikhwan Al Shafa dll. Abdul Rahman Al Shufi. Al Biruni. tidak berarti dalam kurun waktu setelah abad ke-12 tidak lahir ilmuwan-ilmuwan besar muslim. Katakanlah : “ Samakah orang-orang yang berilmu dengan orang-orang yang tidak berilmu ? Hanya orang-orang yang mengerti yang dapat memikirkan (QS 39. Pada hari qiamat ditimbanglah tinta ulama dengan darah syuhada. maka tinta ulama dilebihkan dari darah syuhada.190-191). Para ulama itu adalah pewaris nabi. Carilah ilmu sejak dari buaian ibu sampai liang lahat (sepanjang hayat). hanya saja kalah secara kuantitatif maupun kualitatif dari Barat.

mendirikan perpustakaan-perpustakaan. Drafer dalam karyanya History of the Conflict Between Religioan and Science membongkar kepalsuan klaim tersebut. Nicolas Copernicus mati merana tahun 1543 M. J.Barat sering mengklaim bahwa metoda ilmiah merupakan penemuan dari Roger Bacon (12141292) yang dikembangkan oleh Francis Bacon (1561-1627). tidak pernah tercatat dalam sejarah Islam ada seorang ilmuwan yang dihukum oleh penguasa (umara dan ulama) karena penemuan-penemuannya sebagaimana terjadi dalam sejarah Kristen. Brifault menyebut Roger Bacon tidak lebih sebagai plagiator dan utusan keilmuan muslim ke Barat. Kalau kita telurusi sejarah. Prof. Robert Brifault dalam The Making of Humanity membuktikan bahwa Roger Bacon dan Fancis Bacon meniru tradisi ilmiah dari tradisi Islam. Minguel Sarvetto dibakar 1553 atas perintah reformer Kristen bernama Jean Calvin. dihukum dan disiksa oleh gereja karena mengemukakan teori-teori yang bertentangan dengan doktrin gereja. dalam The Religion and Science tanpa malu-malu mamutarbalikkan fakta sejarah yang sudah cukup dikenal umum. . Sebaliknya. Nama lain seperti Constatinus Africanus. Opus Majus adalah karya jiplakan dari Al Syifa karya Ibn Sina.jelas bahwa ketertinggalan umat Islam dari Barat di bidang keilmuan bukan karena agama Islam anti kemajuan ilmu. justru para penguasa Islam memiliki perhatian yang besar terhadap perkembangan ilmu dengan menjamin dan menggaji para penterjemah. oleh Dr Akhmad Munawar Anees disebut sebagai pencuri terbesar dalam peradaban Barat karena ia telah menjiplak bulat-bulat sepuluh buku yang ditulis ilmuwan muslim tanpa menyebut penulisnya bahkan mengklaim sebagaikaryanya.memutarbalikkan fakta sejarah mengenai peranan Islam terdapat peradaban dunia. Penulis lain. bahkan sebaliknya Islam menghargai ilmu dan orang yang berilmu. dalam sejarah Kristen tercatat beberapa peristiwa menyedihkan yang dialami oleh para ilmuwan. dan perlu juga dicatat bahwa observatorium pertama didirikan di dunia Islam. Giardano Bruno dibunuh tahun 1600 M dan Galileo Galilei mati dalam penjara setelah dipaksa mengingkari teorinya di bawah pengadilan iman (inquisito) gereja Roma tahun 1642 M. Keith Wilkes misalnya.W. Selain itu.

cara kerja. Dalam pengertian sehari-hari ilmu adalah pengetahuan yang telah disistematisir. pengukuran. Islam memandang . Ilmu (sains) diperoleh dan disusun tidak cukup hanya dari pencaman dan perenungan melainkan berkembang melalui pencerapan indera dan penginderaan (sensation). dari data yang bersifat umum menuju yang bersifat khusus (deduksi). sedangkan ilmu (sains. Kedua adalah.5 Ilmu menurut konsepsi Islam secara garis besar dibagi menjadi dua yaitu ilmu Allah yang mencakup segala sesuatu. Pengetahuan (knowledge) adalah kumpulan fakta-fakta yang saling berhubungan satu dengan yang lainnya mengenai suatu hal tertentu. Kumpulan dari ilmu (sains) disebut dengan pengetahuan. dan penakaran meningkat dari data-data yang bersifat khusus menuju ke kesimpulan yang umum (induksi) atau sebaliknya. Sampai di sini cukup jelas bahwa kata ilmu dalam Al Qur’an tidak bisa begitu saja disamakan dengan kata ilmu dalam pengertian sehari-hari. Mungkinkah hal ini disebabkan oleh perangkap taklidisme? Tentu tidak mudah untuk menjawabnya.Kiranya perlu segera ditemukan penyebabnya mengapa umat Islam yang memiliki nilai yang begitu besar perhatiannya terhadap ilmu. Ilmu perolehan kita dapatkan lewat berbagai perenungan dan pembuktian. disusun teratur mengenai suatu bidang tertentu yang jelas batas-batasnya mengenai sasaran. Dan jika ia mendapatkan ilmu ini maka terkuaklah sebagian besar rahasia alam dan kehidupan di hadapannya. perbandingan data. hanya mereka yang bersih dan suci hatinya yang berpeluang mendapatkan ilmu ini. penimbangan. ilmu manusia meliputi ilmu perolehan dan ilmu laduni. Dalam perbincangan sehari-hari terdapat beberapa kata yang semakna yaitu pengetahuan. diukur. dan ilmu pengetahuan. termasuk yang dapat disaksikan oleh indera manusia maupun yang tidak bisa disaksikan oleh indera (gaib) yang hanya bisa diketahui oleh manusia lewat wahyu. dan tujuannya. sedangkan ilmu laduni adalah ilmu yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang tertentu yang dipilih-Nya. Hakekat dan Fungsi Ilmu. Sesuatu yang tidak bisa diindera. Ilmu (sains) sepenuhnya bersifat empirik. malah mundur tertinggal oleh bangsa lain. ditimbang atau dilihat tidak bisa menjadi obyek ilmu (sains). Dalam hal ini. ilmu. pengumpulan data. science) dalam pengertian sehari-hari tidak bisa begitu saja disamakan dengan kata ilmu dalam arti sesungguhnya yang dirujuk dari konsep Al Qur’an. penilaian jumlah berupa perhitungan.

bahkan sebaliknya telah menimbulkan kerusakan kehidupan.bahwa terdapat kesatuan penciptaan. maka agar tidak membingungkan ada baiknya untuk sementara kita mengikuti pengertian umum tersebut. merupakan reduksi dan tidak mungkin mampu mencapai hakekat realitas. Bukankah semua ilmu berasal dari Allah? Lalu mengapa harus ada Islamisasi Ilmu? Namun karena kesalahan menyamakan ilmu dengan sains sudah sedemikian luas sehingga tidak lagi terasa sebagai kesalahan. Tentu saja banyak dibutuhkan pengetahuan agar manusia mampu melaksanakan tugas ini. Dengan demikian ilmu dalam pengertian sehari-hari yang tidak lebih sebatas sains. Salah satu tujuan penciptaan manusia di muka bumi adalah sebagai khalifah Allah (khalifatullah fil ardl). secara pragmatis ilmu membantu manusia menunaikan tugas kekhalifahan yang diamanahkan kepadanya. Dengan ilmu pula manusia semakin banyak tahu akan keagungan ciptaan Allah. dan kesatuan mekanisme dalam alam kehidupan. Dalam buku tersebut Nasr mengemukakan pendapat yang bertentangan dengan arus dominan . Islamisasi Ilmu Sebenarnya.6 Manusia mendapat tugas mewakili Allah mengelola dan menyuburkan bumi untuk kepentingan manusia sendiri. Ilmu yang benar akan menuntun manusia mensyukuri nikmat yang dilimpahkan Allah kepadanya. Ilmu menurut konsepsi Islam tidak melihat keterpisahan antara yang riil dan yang gaib. Inilah barangkali salah satu penyebab perkembangan sains tidak menambah kedekatan kita dengan Sang Pencipta. Oleh karenanya hanya ada satu realitas meliputi yang riil dan yang gaib. Ilmu yang benar akan mampu meningkatkan ketakwaan seseorang terhadap Tuhannya. karena dalam Islamisasi Ilmu mengandung kontradiksi. Dalam hal ini. bagian ini akan lebih tepat jika diberi sub judul Islamisasi Sains. Isu islamisasi ilmu mencuat ke permukaan sejak terbitnya buku The Encounter of Man and Nature karya Seyyed Hossein Nasr (l968). Salah satu tujuan ilmu adalah mengetahui hakekat realitas termasuk segala mekanisme di dalamnya baik untuk kepentingan pragmatis maupun untuk lebih jauh lagi untuk mengenal Sang Pencipta. kesatuan pengaturan. sebagai konsekuensinya Islam melihat bahwa peristiwa atau sebuah mekanisme alam tidak bisa dijelaskan hanya secara empirik sebagaimana dikemukakan oleh sains. Anehnya sains (ilmu) yang hanya sebuah reduksi ini dipercaya mampu menjelaskan segala-galanya.

Isu islamisasi ilmu ini selanjutnya dikembangkan oleh Dr. Bagi mereka sains bukanlah sesuatu yang netral dan bebas nilai. malainkan diperantara dan dibangun oleh skema konseptual (Kant). Isyu ini menemukan momentumnya bersamaan dengan dicanangkannya abad ke lima belas hijriah sebagai abad kebangkitan umat Islam. Pendapat paling ekstrim menganggap sains modern bersifat universal. penulis buku Filsafat . permainanpermainan bahasa (Wittgenstein) atau pun paradigma-paradigma (Kuhn). Bertrand Russell mengatakan bahwa apa yang diketahui seseorang.pemikiran sains saat itu yang mengatakan sains sesuai dengan Islam. mencerminkan nilai-nilai dan kepentingan-kepentingan kelompok yang berbeda. maka harus diganti ilmu-ilmu Islam tradisional yang dikembangkan oleh para ilmuwan muslim klasik.. Menurut Nasr. melainkan terikat dengan asumsi-asumsi epistemologis tertentu. sikap-sikap mental maupun kepentingan-kepentingan para pengamat. (3) manusia berhubungan dengan realitas bukan sebagai sesuatu yang sudah ada (given) tanpa interpretasi. ilmu yang saat ini dominan ( sains modern) tidak islami karena tidak bersumber dari wawasan Qur’ani. Ia mengetahui apa yang telah ia lihat dan dengar.9CA Qadir. adalah bergantung pada pengalaman pribadi sendiri. pendapat ilmuwan yang mengatakan bahwa sains modern adalah sains Barat yang tumbuh dari akar budaya Barat yang sekuler. karena itu hanya ada satu sains. Islamisasi sains.Di ujung ekstrim yang lain. juga aturan-aturan tentang kebenaran dan validitas .8 Senada dengan Sardar. pada masa sejarah yang berbeda . dan juga apa yang telah ia simpulkan dari data-data tersebut. (2) kategori-kategori yang dengannya kita mengorganisasikan dan pada gilirannya mengetahui pengalaman.7 Menurut mereka rasionalitas sains tidak bisa dikompromikan dengan urusan-urusan keagamaan yang berdimensi lain. idiologi-idiologi (Marx).Ternyata respon para ilmuwan muslim terhadap islamisasi ilmu sangat beragam dan membentuk sebuah spektrum yang lebar. bagi mereka berarti mengorbankan obyektivitas dan netralitas sains. netral dan bebas nilai (free Value). Sardar dalam bukunya Masa Depan Islam mengatakan bahwa (1) persepsi bukanlah netral secara konseptual terstruktur baik oleh kategori-kategori linguistik. Naquib Al Attas dan dipopulerkan oleh Ismail Raji Al Faruqi serta Ziaudin Sardar. apa yang telah ia baca dan apa yang telah ia diberitahukan oleh orang lain kepadanya. dalam arti yang penting.

tetapi penerapannya harus untuk tujuan-tujuan islami. Ali Kattani berpendapat bahwa sains Islam tidak berbeda secara radikal dengan sain Barat. maka tidak penting gagasan Islamisasi sains dan teknologi. Begitu pula tujuantujuan pemakaiannya. yang menganggap isi sain bersifat universal.dan Ilmu Pengetahuan Dalam Islam mengatakan terdapat perbedaan penting antara sains Modern Barat dengan ilmu Islam Klasik : Salah satu sebab utama perbedaan itu adalah kenyataan yang pertama (ilmu Islam) didasarkan atas konsepsi spiritual tentang manusia dan alam tempat dia hidup sedangkan yang kedua (sains modern) sifatnya sekuler dan tidak mengandung wawasan tentang yang kudus. Abdussalam. Yang diperlukan adalah saintifikasi umat Islam dengan cara mengirim lebih banyak siswa-siswa muslim untuk belajar di negeri-negeri yang kini sedang menjadi pusat-pusat perkembangan sains dan teknologi. Semenanjung Melayu dan Indonesia. maka . Andi Hakim Nasution menilai gagasan Islamisasi sains justeru akan memagari perkembangan sains itu sendiri karena percepatan perkembangan sains lebih cepat dibanding dengan perkembangan umat Islam terhadap ajarannya.10 Diantara dua kutub pendapat ekstrim tersebut terdapat beberapa pendapat lain yang lebih moderat. disamping pendapat Maurice Buchaille yang sulit dimasukan dalam spektrum tersebut. Menurut Salam karena sains itu bersifat universal. Nasution memahami isu Islamisasi sebagai upaya mengembangkan sains disesuaikan dengan doktrin Islam.Sekarang ini di kalangan ulama dan cendekiawan Islam ada gerakan yang ingin “mengislamkan sains”. teori Barat mengenai pengetahuan merupakan salah satu tantangan yang terbesar bagi umat manusia. Pengetahuan Barat telah menjadi problematik karena telah kehilangan tujuannya. hanya saja prioritas riset dan penekanannya yang berbeda.11Pendapat moderat lainnya banyak dianut oleh ilmuwan muslim di Pakistan. seorang ilmuwan Pakistan pemegang hadiah Nobel bidang fisika l979. Justru karena itulah menurut para pemikir Islam. Contoh paling baik kelompok ini adalah Dr.12 Senada dengan pendapat Abbdussalam. Kalau ini benar bahwa semua penelitian baru dalam sains yang dilakukan ilmuwan muslim harus sesuai dengan isi Qur’an dan Hadits.

nafs al lawwamah dan nafs al muthma’innah dari Al Qur’an. krisis moral maupun krisis spiritual. menganggap sejalan (paralel) konsep yang berasal dari sains karena kemiripan konotasinya. dapat diatasi dengan perkembangan Iptek selanjutnya.2.pemeluk agama Islam akan mendapat giliran terjebak dalam perangkap yang sama seperti para gerejawan Nasrani beberapa abad yang lalu terjebak mempermasalahkan Galileo atas nama agama.14Apapun juga responsnya. atau nafs al ammarah. dari kubu yang sama tampil Dr. Paralelisasi sering digunakan sebagai . yang dapat mengakibatkan biasnya sains dengan direduksinya agama ke taraf sains. padahal belum tentu sama. Penyamaan seperti ini sebenarnya dapat disebut sebagai similarisasi semu. sehingga sebagai akibatnya apa yang ditemukan sebagai kebenaran ilmiah itu boleh saja tercemar oleh ketidakbenaran. baik krisis lingkungan. maka pencarian kebenaran itu dikekang oleh kendala yang belum tentu benar mutlak. menganggap roh sama dengan jiwa. Menurut pengamatan Hanna Jumhana Bastaman terdapat beberapa bentuk pola pemikiran “Islamisasi Sains”. gerakan Islamisasi semakin hari semakin menampakkan sosoknya meskipun belum banyak hasilnya. atau menjelaskan Isra’ Mi’raj paralel dengan perjalanan ruang angkasa dengan menggunakan rumus fisika S = v. Marwah tetap meyakini bahwa sains merupakan rahmat Allah buat manusia.t (jarak sama dengan kecepatan kali waktu). Paralelisasi. dan super ego dari psikologi. di mana faktor velocitas = tidak terhingga. Marwah Daud Ibrahim yang menyangkal tuduhan bahwa sains modern sebagai penyebab utama krisis yang sedang berlangsung. menyamakan begitu saja konsep-konsep sains dengan konsep-konsep yang berasal dari agama. Misalnya menganggap Perang Dunia III sejalan dengan kiamat. atau menyamakan super ego dengan qalb.13 Sementara itu. Meskipun ada efek negatif dari sains terutama pada dataran penerapannya (teknologi).Similarisasi. tanpa menyamakan (mengidentikkan) keduanya. dianggap identik dengan konsep-konsep id. Misalnya. Mengapa? Karena apa yang kita anggap adalah isi Qur’an dan Hadits sebagian juga sampai kepada umat Islam dalam bentuk tafsiran manusia yang belum tntu benar mutlak ini sama saja mengebangkan sans dengan persyaratan. mulai dari bentuk yang paling supervisial sampai bentuk yang agak mendasar. ego. Karena mengembangkan sains identik dengan mencari kebenaran. Pola-pola tersebut adalah15 :1.

Atau kebijakan Keluarga Berencana didukung dengan ayat-ayat Qur’an dan Hadits Nabi. Komparasi. tetapi tetap mempertahankan eksistensi masing-masing. Dalam hal ini. merupakan contoh proses induktivikasi dari pemikiran sains ke pemikiran agama. Menurut penilaian Bastaman sendiri. Teori mengenai adanya “sumber gerak yang tak bergerak” dari Aristoteles misalnya. yaitu Al Qur’an dan madu”.3. kemudian dihubungkan dengan prinsip-prinsip agama dalam hal tersebut. mengungkapkan hasil-hasil temuan penelitian ilmiah yang menunjang dan membuktikan kebenaran ayat-ayat Qur’an. Misalnya teori motivasi dalam ilmu jiwa dibandingkan dengan konsep motivasi yang dijabarkan dalam ayat-ayat Al Qur’an. Induktivikasi.4. 6. 5. Tentu saja tidak tertutup kemungkinan kita menemukan pola baru yang lebih radikal. antara sains dan agama saling mengisi dan melengkapi satu dengan lainnya. Komplementasi. keenam pola di atas belum memuaskan karena terasa ada semacam missing link antara keduanya yaitu ilmu dan agama. Misalnya penelitian mengenai potensi madu sebagai obat yang dihubungkan dengan Surat An-Nahl : 69.scientific Explanation atas kebenaran ayat ayat Al Qur’an dalam rangka menjabarkan syiar Islam kepada kelompok masyarakat tertentu. sebagai agama yang anti kemajuan dan anti ilmu pengetahuan. tetapi justru Islam . membandingkan antara konsep sains dan konsep agama mengenai gejala-gejala yang sama. tampaknya saling mengabsyahkan antara sains dan agama. Misalnya manfaat puasa Romadhon (untuk kesehatan) dijelaskan dengan prinsip-prinsip dietry dari ilmu kedokteran. Bastaman mengajukan pola lain yang lebih bercorak falsafi/metafisis yang disebutnya sebagai fondasi falsafi dan sikap Islami yaitu memberi landasan filsafat yang Islami kepada sains. Penutup Telah kita lihat bahwa Islam tidak sebagaimana yang dituduhkan sebagian orang. dan hadits “lazimkanlah memakai dua `macam obat. asumsi-asumsi dasar dari teori-teori ilmiah yang didukung oleh temuan-temuan empiris dilanjutkan pemikiran teoritis abstrak ke arah pemikiran metafisika/gaib. Contoh lain. Verifikasi. Dalam artikel tersebut. adanya keteraturan dan keseimbangan yang sangat menakjubkan di alam semesta ini menyimpulkan adanya Hukum Maha Besar yang mengatur.

Catatan Akhir 1. Dawam Rahardjo. M. Ilmuwan Muslim Sepanjang Sejarah (Bandung . 1992).Dalam menanggapi isu ini ternyata para ilmuwan muslim memperlihatkan respon yang beragam. Ulumul Qur’an.I Poeradisastra. dan Endang Saepudin Ansyari. Nampaknya masih dibutuhkan waktu yang panjang untuk mewujudkan seperti apa sain yang islami itu. Cf Seyyed Hossein Nasr. 1990 2. hal. Cit. S. Sumbangan Islam Kepada Ilmu dan Peradaban Modern (Jakarta. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya ayat Al Qur’an yang menganjurkan manusia menguasai Ilmu. Mizan cet II 1991) hal 14-15. 11. S. Prof. 6. Kini terjadi dialog yang panjang diantara mereka dan melahirkan berbagai lembaga yang secara serius melakukan riset di bidang ini. Akhmad Munawar Anees. . bukan menjauh bahkan mengingkari sebagaimana dampak dari konsep sains modern. 1990. 4. 1986). Ilmu.I Poeradisastra. Yang jelas ilmu dalam konsep Al Qur’an akan membawa manusia semakin dekat dengan Tuhannya. Filsafat dan Agama (Surabaya. 1986).adalah agama utama yang mengedepankan ilmu sebagai sesuatu yang penting. Bina Ilmu cet II 1981) hal 41. S. Terdapat perbedaan asumsi diantara keduanya. Pustaka. Bandingkan dengan AM Saepudin et al. Cit. dalam Ulumul Qur’an nomor 4. 5. M. Al Qur’an Surat Al-Baqarah 29-30 dan Al Fathir 39. Yang menjadi persoalan adalah ternyata ilmu dalam konsepsi Al Qur’an tidak bisa begitu saja disamakan dengan ilmu dalam pengertian sehari-hari (sain). Ilmu. Natsir Arsyad. hal. Sain dan Peradaban Dalam Islam (Bandung. dalam Ulumul Qur’an Nomor 4. Op. Dari sinilah lalu muncul gagasan islamisasi ilmu atau lebih tepatnya islamisasi sain. Mizan. Desekularisasi Pemikiran (Bandung. Percakapan dengan Dr.I Poeradisastra. P3M. 3. 3. Besar penghargaan Islam terhadap mereka yang berilmu. Op. Reorientasi Epistemologi dan Keadilan Sejarah.

1989). Armahedi Mahzar. 11. III. 1992. Bandung. Marwah Daud Ibrahim. 1990. 13. Dr. Titus. 1991. 1992 Op. dalam M. Yayasan Obor. Etika. dalam Ulumul Qur’an nomor 8. 15. Living Issues in Philosophy (terjemahan. Cit. 9. Diposkan oleh AGUS THOHIR Label: Ilmu dalam perspektif Islam . Op. Filsafat dan Ilmu Pengetahuan Dalam Islam (Jakarta. Pengantar ke Filsafat Sains (Bogor. Mizan cet. Andi Hakim Nasution. dalam Ulumul Qur’an Nomor 4. Bandung. Armahedi mahzar.7. 1992 Op. Islamisasi Pengetahuan dengan Psikologi sebagai Ilustrasi. Cit. 8. (Terjemahan Rahmani Astuti. Bulan Bintang 1984 hal.. C. Hanna Djumhana Bastaman. hal 19. Smith dan Nolan.. Strategi Ilmu dan Teknologi Masa Depan. Armahedi mahzar. 14. Cit. 1989). Masa Depan Islam. 1992). hal 15. Natsir Arsyad. 10.A. Ziaudin sardar. Litera Antar Nusa. 12. 187). Qadir.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->