TRAUMA EKSTREMITAS

(Muh. Andry Usman) Calcaneus 01 044

Definisi Trauma ekstremitas adalah trauma yang mengakibatkan cedera pada ekstremitas.. Secara umum dikenal dalam bentuk :
  

Fraktur Dislokasi Amputasi

I. FRAKTUR

Fraktur adalah Hilangnya kontinuitas tulang, tulang rawan sendi, tulang rawan epifisis, baik yang bersifat total maupun yang parsial. Tulang mempunyai daya lentur (elastisitas) dengan kekuatan yang memadai, apabila trauma melebihi dari daya lentur tersebut maka terjadi fraktur (patah tulang). Penyebab terjadinya fraktur adalah trauma, stres kronis dan berulang maupun pelunakan tulang yang abnormal. Prioritas dalam menangani fraktur :
  

Fraktur spinal Fraktur tulang kepala dan tulang rusuk Fraktur ekstremitas

Klasifikasi Fraktur 1. Klasifikasi etiologis 2. Klasifikasi klinis

Akibat trauma tiba-tiba 2. Berdasarkan lokalisasi o Diafiseal o Metafiseal o Intra-artikuler o Fraktur dengan dislokasi 2. delayed union. FRAKTUR TERTUTUP. FRAKTUR TERBUKA. Berdasarkan konfigurasi o Fraktur transversal o Fraktur oblik o Fraktur spiral o Fraktur Z o Fraktur komunitif o Fraktur baji o Fraktur avulse o Fraktur depresi o Fraktur impaksi o Fraktur pecah (burst) o Fraktur segmental o Fraktur epifisis . FRAKTUR DENGAN KOMPLIKASI. Terjadi karena kelemahan tulang akibat adanya kelainan patologi pada tulang 3. FRAKTUR TRAUMATIK. Tidak mempunyai hubungan dengan dunia luar 2. Berhubungan dengan dunia luar melalui luka 3. Klasifikasi klinis 1. FRAKTUR PATOLOGIS.3. Klasifikasi radiologis Klasifikasi etiologis 1. Fraktur yang disertai komplikasi seperti infeksi. FRAKTUR STRESS. mal-union. Akibat trauma yang terus menerus pada suatu daerah tertentu. non-union Klasifikasi radiologis 1.

Berdasarkan ekstensi.KLASIFIKASI FRAKTUR BERDASARKAN KONFIGURASI GARIS FRAKTUR 3. o Fraktur total o Fraktur tidak total (crack) o Fraktur torus atau buckle o Fraktur garis rambut o Fraktur greenstick 4. Berdasarkan hubungan antara fragmen dengan fragmen lainnya o Tidak bergeser o Bergeser        Bersampingan Angulasi Rotasi Distraksi Over-riding Impaksi KLASIFIKASI FRAKTUR BERDASARKAN HUBUNGAN ANTARA FRAGMEN DENGAN FRAGMEN LAINNYA Gambaran Klinis Anamnesis         Datang dengan suatu trauma Ketidakmampuan untuk menggunakan anggota gerak Nyeri Pembengkakan Gangguan fungsi anggota gerak Deformitas Kelainan gerak Krepitasi .

arteri dorsalis pedis. arteri tibialis posterior Pengukuran tungkai terutama pada tungkai bawah untuk mengetahui adanya perbedaan panjang tungkai  Pergerakan        Pemeriksaan neurologis .Pemeriksaan Fisik  Inspeksi (look) o Bandingkan dengan bagian yang sehat o Perhatikan posisi anggota gerak o Keadaan umum penderita secara keseluruhan o Ekspresi wajah karena nyeri o Adanya tanda-tanda anemia karena perdarahan o Apakah terdapat luka pada kulit dan jaringan lunak untuk membedakan fraktur tertutup dan terbuka o Perhatikan deformitas  Palpasi Harus dilakukan secara hati-hati oleh karena penderita sangat nyeri Hal-hal yang perlu diperhatikan :      Temperatur Nyeri tekan Krepitasi Pemeriksaan vaskuler daerah distal è palpasi arteri radialis.

Fraktur .Dislokasi .Impaled object . saraf dan lainnya. parestesi dan kelumpuhan Trauma ekstremitas 1. Mengurangidanmenghilangkanrasanyeri. Pemeriksaan radiologis Prinsip Pertolongan 1.  Gejala : nyeri. 2. Prioritas jangan lupa ABC 2.Ketahui jumlah darah yang hilang pada fraktur di pelvis & extremitas . Sindroma kompartemen  Trauma (fraktur terbuka/terutup/kompressi) menyebabkan perdarahan/hematoma.Amputasi . edema. Mencegah gerakan patah tulang yang dapat mengakibatkan kerusakan jaringan lunak sekitarnya seperti: pembuluh darah.Luka terbuka neurovaskuler . otot. denyut nadi hilang. Kenali komplikasi dan pengobatan dari : .Sindroma kompartemen 3.Bahaya timbulkan syok .

Secondary survey  periksa neurovaskuler distal lesi o  Fraktur femur  hilang darah 1000 cc  Fraktur pelvis  darah  rongga abdomen & retroperitoneal  Robekan buli-buli  Robekan pembuluh darah besar 1. II. Pada dasarnya dislokasi : 1.Penderita diperiksa pada primary survey .Perubahan bentuk anatomi .Tindakan emergency . . Dislokasi ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi). Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. DISLOKASI 2.Nyeri hebat ..Mudah dikenal .

FRAKTUR dan DISLOKASI Oleh Rohman Azzam Pengertian Fraktur atau patah tulang adalah keadaan dimana hubungan atau kesatuan jaringan tulang terputus. Penyebab terjadinya fraktur adalah trauma. stres kronis dan berulang maupun pelunakan tulang yang abnormal. persarafan distal lesi 1.. anggota tubuh akibat trauma. Traumatik Amputasi.Rujuk III.Tidak mengancam jiwa . Traumatik amputasi adalah terbuangnya suatu bagian tubuh. xtremitas  posisi menyenangkan penderita .Periksa denyut nadi. Trauma (benturan) . Tulang mempunyai daya lentur (elastisitas) dengan kekuatan yang memadai. Bagaimana patah tulang itu terjadi ? a. apabila trauma melebihi dari daya lentur tersebut maka terjadi fraktur (patah tulang). Sanggah & luruskan e 2.

Adanya perubahan asimetris kanan-kiri 2. 4. fibula (tulang-tulang pada betis) atau metatarsal pada olahragawan. Adanya Deformitas seperti Angulasi (membentuk sudut) atau.Ada dua trauma/ benturan yang dapat mengakibatkan fraktur. Palpasi (Meraba dan merasakan) Perlu dibandingkan dengan sisi yang sehat sehingga penolong dapat merasakan perbedaannya. Pemeriksaan: Inspeksi (Lihat) bandingkan dengan sisi yang normal. Rotasi (memutar)dan Pemendekan 3. Ingat bahwa fraktur tidak selalu terjadi pada daerah yang mengalami trauma (tekanan). Rabalah dengan hati-hati ! a. Riwayat: Setiap patah tulang umumnya mempunyai riwayat trauma yang diikuti pengurangan kemampuan anggota gerak yang terkena. militer maupun penari. Tekanan/stres yang terus menerus dan berlangsung lama Tekanan kronis berulang dalam jangka waktu lama akan mengakibatkan fraktur (patah tulang) yang kebanyakan pada tulang tibia. maka mungkin terjadi patah tulang di daerah tertentu.Benturan langsung . Contoh: Seorang yang senang baris berbaris dan menghentak-hentakkan kakinya. yaitu: . b.Benturan tidak langsung b. Jejas (tanda yang menunjukkan bekas trauma). Adanya keadaan yang tidak normal pada tulang dan usia Kelemahan tulang yang abnormal karena adanya proses patologis seperti tumor maka dengan energi kekerasan yang minimal akan mengakibatkan fraktur yang pada orang normal belum dapat menimbulkan fraktur. 2. dan perhatikan hal-hal dibawah ini: 1. Pembengkakan 5. Terlihat adanya tulang yang keluar dari jaringan lunak. Bagaimana Mengetahui Adanya Patah Tulang 1. c. Adanya nyeri tekan pada daerah cedera (tenderness). . Adanya crepitasi (suara dan sensasi berkeretak) pada perabaan yang sedikit kuat.

Perhatian: Jangan lakukan pemeriksaan yang sengaja untuk mendapat bunyi crepitasi atau gerakan abnormal. Anda akan menemukan: 1. denyut nadi tak teraba. Apabila korban mengalami hal ini. Gerakan Terdapat dua gerakan yaitu : Aktif: Adalah pemeriksaan gerakan dimana anda meminta korban menggerakkan bagian yang cedera. Selain itu pada bagian yang mengalami fraktur. Dislokasi ini dapat hanya komponen tulangnya saja yang bergeser atau terlepasnya seluruh komponen tulang dari tempat yang seharusnya (dari mangkuk sendi). 3. Seseorang yang tidak dapat mengatupkan mulutnya kembali sehabis membuka mulutnya adalah karena sendi rahangnya terlepas dari tempatnya. § Pemeriksaan Komplikasi Periksalah di bawah daerah patah tulang. misal meraba dengan kuat sekali. Dengan kata lain: sendi rahangnya telah mengalami dislokasi. Adanya gerakan abnormal dengan perabaan agak kuat. . otot-otot disekitarnya mengalami spasme DISLOKASI Pengertian Dislokasi adalah terlepasnya kompresi jaringan tulang dari kesatuan sendi. maka dapat disebabkan oleh dua kemungkinan yaitu akibat nyeri karena adanya fraktur atau akibat kerusakan saraf yang mempersarafi bagian tersebut (ini diakibatkan oleh karena patahan tulang merusak saraf tersebut).c. kulit berwarna kebiruan dan pucat. 3. Pasif: Dimana penolong melakukan gerakan pada bagian yang cedera. 2. Pada pemeriksaan ini dapat ditemukan hal-hal sebagai berikut: § Terdapat gerakan abnormal ketika menggeerakkan bagian yang cedera § Korban mengalami kehilangan fungsi pada bagian yang cedera.

6. PEMBIDAIAN Pertolongan Pertama pada Patah Tulang Prinsip Pertolongan 1. Tetapi situasi yang memerlukan Resusitasi baik pernafasan maupun jantung dan cedera kritis yang multipel harus ditangani terlebih dahulu. Dan selalu ingat jika Anda tidak terlatih dan tidak berpengalaman jangan melakukan reposisi baik pada fraktur mapun pada dislokasi. Karena terpeleset dari tempatnya. Selain macet. sendi itu akan gampang dislokasi lagi. otot. fraktur spinal. saraf dan lainnya. 3. Akibatnya. mencegah gerakan patah tulang yang dapat mengakibatkan kerusakan jaringan lunak sekitarnya seperti: pembuluh darah. ligamen-ligamennya biasanya menjadi kendor. maka sendi itupun menjadi macet. 5. Prioritas dalam menangani fraktur: 1. fraktur tulang kepala dan tulang rusuk. 3. jangan hanya terpaku pada frakturnya saja tetapi selalu mulai dengan DRABCH dan lakukan monitoring secara periodik. juga terasa nyeri. Penanganan Secara Umum 1. Pembidaian harus memfixasi tulang yang patah dan persendian yang berada di atas dan dibawah tulang yang . 2.Dislokasi yang sering terjadi pada olahragawan adalah dislokasi sendi bahu dan sendi pinggul (paha). 2. Sebuah sendi yang pernah mengalami dislokasi. DRABC Atasi perdarahan dan tutup seluruh luka Korban tidak boleh menggerakkan daerah yang terluka atau fraktur Imobilisasi fraktur dengan penyandang. pembalut atau bidai Tangani dengan hati-hati Observasi dan atasi syok bila perlu Segera cari pertolongan medis Fraktur dan dislokasi harus diimobilisasi untuk mencegah memburuknya cedera. mengurangi dan menghilangkan rasa nyeri. Pembidaian adalah proses yang digunakan untuk imobilisasi fraktur dan dislokasi. fraktur extremitas Perhatian: Dalam menangani fraktur. 4. 2. 7.

Bidai Rigid adalah bidai yang terbuat dari kayu. 2. 3. Ikatan harus cukup jumlahnya. Ikatlah bidai dari distal ke proximal Periksalah denyut nadi distal dan fungsi saraf sebelum dan sesudah pembidaian dan perhatikan warna kulit ditalnya. 2. 5. plastik. Prinsip Pembidaian a. 4. sebelum dipasang diukur terlebih dahulu pada anggota badan yang tidak sakit. 3. Ikatan jangan terlalu ketat dan jangan terlalu kendor. dimulai dari sebelah atas dan bawah tempat yang patah. jam dan alat yang mengikat tubuh lainnya perlu dilepas. handuk atau pembalut atau bahan yang lunak lainnya. Aturan dasar yang harus diingat ketika melakukan pembidaian: Jika ragu-ragu fraktur atau tidak ‘ Bidai Bidai Rigid sebelum digunakan harus dilapisi dulu. Lakukan juga pembidaian pada kecurigaan patah tulang. jadi tidak perlu harus dipastikan dulu ada atau tidaknya patah tulang.fraktur. bidai harus memfixasi sendi tersebut beserta tulang disebelah distal dan proximalnya. alumunium atau bahan lainyang keras. b. Tipe-tipe bidai: 1. Jika mungkin naikkan bagian tubuh yang mengalami patah tulang. gelang. Sepatu. Bidai Soft adalah bidai dari bantal. Bidai harus meliputi dua sendi. 4. c. Melewati minimal 2 sendi yang berbatasan. cincin. selimut. Bidai Traksi Digunakan untuk imobilisasi ujung tulang yang patah dari fraktur femur sehingga dapat terhindari kerusakan yang lebih lanjut. PEMBALUTAN . Jika yang cedera adalah sendi. Lakukan pembidaian pada bagian badan yang mengalamai cedera. 6. 3. Syarat Pembidaian 1. Jika mungkin naikkan anggota gerak tersebut setelah dibidai. traksi bukanlah meregangkan atau menggerakkan tulang yang patah sampai ujung-ujung tulang yang patah menyatu. 5. Traksi merupakan aplikasi dari kekuatan yang cukup untuk menstabilkan patah tulang yang patah. Bidai dibalut/ dilapisi sebelum digunakan. 1. 2.

3. Periksa dengan interval 15 menit untuk menjamin bahwa pembalut tidak terlalu kencang akibat pembengkakan dari jaringan yang cedera. I – Berikan Ice (es)atau kompres dingin 3. Dengan cara ini biasanya sudah memadai. Ikatan harus cukup kuat pada daerah yang sehat. Topang lengan atau tungkai dengan bidai sampai pembalut cukup memfixasi Setiap 15 menit periksa agar pembalut tudak terlalu ketat Periksa pembalut supaya tidak longgar Dengan Bidai 1.Pembalut harus dipasang cukup kuat untuk mencegah pergerakan tapi tidak terlalu kencang sehingga mengganggu sirkulasi atau menyebabkan nyeri. Dapat dipakai benda apa saja yang kaku dan cukup panjang melewati sendi dan ujung tulang yang patah. 2. tetapi kalau Anda meragukan beratnya cedera perlakukan sebagai fraktur. R – Rest (istirahat) bagian yang sakit 2. Lewatkan pembalut pada bagian lekuk tubuh seperti leher. 2. Pertolongan pokok pada cedera ini: 1. Ujung-ujung lengan/tungkai dibalut di atas dan dibawah daerah fraktur. C -Compress(tekan) bagian yang sakit . Cara Imobilisasi Fraktur Dengan Pembalut Gunakan pembalut lebar bila ada. 4. kalau kedua kaki bawah mengalami cedera. regangan dan memar yang dalam lebih dulu ditangani dengan prosedur RICE. pengikatan dilakukan di depan dan diantara bagian yang cedera. 3. Taruh pembalut dibawah bagian tubuh yang terjadi fraktur. lutut dan pergelangan kaki jika diperlukan. penggunaan bantalan lunak dianjurkan sebelum melakukan balutan. Pengikatan selalu dilakukan di atas bidai atau pada sisi yang tidak cedera. 1. Dalam usaha untuk mencegah pergesekan dan ketidaknyamanan pada kulit. TRAUMA JARINGAN LUNAK Terkilir. Pakai perban bantal diantara bidai dan bagian tubuh yang dibidai.

dinginkan bagian tersebut dengan es yang dibungkus dalam kain atau dengan kompres dingin untuk mengurangi nyeri. Bila cedera baru saja terjadi. eratkan dengan balutan. A. terutama di lapangan olahraga.4. E – Elevate (tinggikan) bagian yang sakit  Istirahatkan. Terkilir disebabkan adanya hentakan keras terhadap sebuah sendi . TERKILIR Terkilir merupakan kecelakaan sehari-hari. peregangan atau robekan urat yang masih menyambung. Robekan ini diikuti oelh perdarahan di bawah kulit. . stabilkan dan topang bagian yang cedera dalam posisi yang paling nyaman bagi korban.   Perhatian: Untuk luka yang baru saja terjadi jangan olesi balsem pada tempat yang bengkak atau memijatnya. Tetapi bila cedera berat segera cari pertolongan medis. bengkak dan memar. bila perlu. Kalau cedera sangat ringan bagian yang cedera distirahatkan dan sarankan agar korban berobat ke dokter.   Seputar bagian yang cedera ditekan sedikit dengan gumpalan kapas atau karet busa yang tebal. dan darah yang mengumpul di bawah kulit itulah yang menyebabkan terjadinya pembengkakan. Tungkai yang cedera ditopang dan ditinggikan supaya aliran darah ke tempat itu berkurang dan untuk mengurangi memar. tetapi dengan arah yang salah sehingga mengakibatkan persendian mendapat tekanan berlebihan.

DRABC 2. Periksalah dengan jalan menekan tulang itu dari telapak kaki dan betis bagian atas secara hati-hati. apabila terasa nyeri. Itulah sebabnya terdapat rasa nyeri bila ditekan terutama di daerah ini. Dalam hal ini. Terkilir ke arah luar dapat juga terjadi. Terkilir pergelangan kaki Terkilir paling banyak terjadi pada daerah pergelangan kaki. rasa nyeri dan bengkak berawal di mata kaki sebelah dalam Pertolongan: 1. Istirahatkan korban dan kendorkan sepatu penderita. ligamen antara tulang betis dan tulang kering bagian depan terobek. 3.Gejala dan Tanda 1. Bengkak. dan pembengkakan pun terjadi di depan mata kaki. Kebanyakan pergelangan kaki terkilir ke arah dalam. Memar (cepat timbul). kemungkinan besar ujung tulang-tulang itu patah. 2. keterbatasan pergerakan dan kehilangan fungsi. Dapat pula dengan menekan tulang kering dan tulang betis ke arah salaing mendekati. Rasa sakit yang cukup kuat. Bila tak ada patah tulang lakukan tindakan selanjutnya. . Pastikan ada tidaknya patah tulang 3. Dengan akibat. Dalam hal ini. 4. tulang yang patah biasanya adalah ujungujung bawah tulang betis dan tulang kering.

Pembengkakan biasanya mereda setelah 36-48 jam kemudian. Complete fraktur (fraktur komplet). integritas kulit masih utuh. Cari pertolongan medis 8. 3. Sedangkan pada Usila prevalensi cenderung lebih banyak terjadi pada wanita berhubungan dengan adanya osteoporosis yang terkait dengan perubahan hormon. o Grade II: luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif. merupakan fraktur dengan luka pada kulit (integritas kulit rusak dan ujung tulang menonjol sampai menembus kulit) atau membran mukosa sampai ke patahan tulang. Jika tidak ada pembalut. Prevalensi Fraktur lebih sering terjadi pada orang laki-laki daripada perempuan dengan umur dibawah 45 tahun dan sering berhubungan dengan olahraga. Open fracture (compound frakture / komplikata/ kompleks). Jenis fraktur 1. dapat pula mempergunakan plester menurut cara Gibney (Gibney ankle strapping).luas dan melintang. tidak menyebabkan robeknya kulit. Compress dilakukan dengan menggunakan pembalut tekan atau pembalut elastis 7. Selama 24 jam berikutnya penderita tidak boleh mempergunakan kakinya yang cedera untuk menahan berat badan. 2. Ia harus beristirahat dengan kaki yang cedera diletakkan lebih tinggi dari bagian tubuh lainnya. Strapping tidak boleh sampai menutupi penuh pergelangan kaki. Strapping tersebut dikenakan dengan kaki dalam kedudukan terbujur dan lebih tinggi dari bagian tubuh lainnya. pekerjaan atau kecelakaan. Prinsip RICE (lihat Luka memar). Closed frakture (simple fracture). Biasanya disertai dengan perpindahan posisi tulang.5. . patah pada seluruh garis tengah tulang. Fraktur terbuka digradasi menjadi: o Grade I: luka bersih dengan panjang kurang dari 1 cm. Untuk sementara balutlah pergelangan kakinya dengan pembalut ataupun mitela seperti gambar di bawah ini: 6.

7. dengan pendekatan bedah. 14. kaawat. Impaksi. bidai dan alat yang lainnya. fraktur melalui epifisis. 13. fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista tulang. 11.Grade III: sangat terkontaminasi. paloor ( kepucatan/perubahan warna). metastasis tulang. Pemeriksaan Tanda dan gejala kemudian setelah bagian yang retak di imobilisasi. fraktur dengan frakmen patahan terdorong ke dalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan wajah). Epifisial. 12. tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendo pada prlekatannya. pembengkakan lokal dan perubahan warna. fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang. 4.imobilisasi bagian yang cedera apabila klien akan dipindhkan perlu disangga bagian bawah dan atas tubuh yang mengalami cedera tersebut untuk mencegah terjadinya rotasi atau angulasi. perabaan. Reduksi terbuka. Alat fiksasi interna dalam bentuk pin. Iimobilisasi Imobilisasi dapat dilakukan dengan metode eksterna dan interna Mempertahankan dan mengembalikan fungsi Status neurovaskuler selalu dipantau meliputi peredaran darah. Transversal. Greenstick. Kompresi. fraktur memuntir seputar batang tulang. mengembalikan fragmen tulang ke posisinya ( ujung ujungnya saling berhubungan ) dengan manipulasi dan traksi manual. perawat perlu mnilai pain ( rasa sakit ). nyeri. 6. paget. Alat yang digunakan biasanya traksi. deformitas. Penatalaksanaan Segera setelah cedera perlu untuk me. Depresi. gerakan. 9. Komunitif. fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen. paralisis ( kelumpuhan/ketidakmampuan untuk bergerak ). dan pulselessnes ( tidak ada denyut ) Rotgen sinar X Pemeriksaan CBC jika terdapat perdarahan untuk menilai banyaknya darah yang hilang. plat. tumor). Spiral. fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang belakang). Perkiraan waktu imobilisasi yang dibutuhkan untuk penyatuan tulang yang mengalami fraktur adalah krg lbh 3 bln. dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif. pemendekan ekstremitas. 5. Avulsi. . 8. Oblik. parasthesia ( kesemutan ). Prinsip penanganan fraktur meliputi : Reduksi Reduksi fraktur berarti mengembalikan fragmen tulang pada kesejajarannya dan rotasi anatomis Reduksi tertutup. Patologik. krepitus. hilangnya fungsi. 10. o Manifestasi klinis Nyeri terus menerus. fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang lainnya. paku. fraktur dimana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainnya membengkok. fraktur sepanjang garis tengah tulang. sekrup.

Metakarpal c. Karpal d. Tibia  Proksimal  Batang  Maleolus . Femur  Intrakapsuler  Intratrohanterik  Batang  Suprakondiler k. Falang ( jari ) b. Klavikula h. Radius dan ulna f. Vertebra i. a. Humerus  Suprakondiler  Batang  Proksimal ( impaksi )  Proksimal ( dengan pergeseran ) g.tergantung dari regio mana yang mengalami fraktur. Skafoid e. serta nutrisi yang diberikan. Pelvis j.

falang (jari kaki) . Kalkaneus m.l. Metatarsal n.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful