P. 1
Wakaf Tunai Dan Produktif

Wakaf Tunai Dan Produktif

|Views: 196|Likes:
Published by Iwo Qois
wakaf tunai
wakaf tunai

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Iwo Qois on Mar 17, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/02/2013

pdf

text

original

WAKAF TUNAI WAKAF TUNAI WAKAF TUNAI WAKAF TUNAI

DAN WAKAF PRODUKTIF DAN WAKAF PRODUKTIF DAN WAKAF PRODUKTIF DAN WAKAF PRODUKTIF

Oleh :
MARTINA LOFA, SHI., MHI.
Hakim Pengadilan Agama Maninjau


PENDAHULUAN

Di Indonesia wakaf telah dikenal dan dilaksanakan oleh ummat Islam sejak agama
Islam masuk ke negeri ini. Sebagai suatu lembaga Islam, wakaf telah menjadi salah satu
penunjang perkembangan masyarakat muslim. Tanah wakaf di Indonesia saat ini sangat
banyak, menurut data yang ada di Departemen Agama RI luas tanah wakaf di Indonesia
mencapai 819,207,733,99 M
2
. Sayangnya wakaf yang jumlahnya begitu banyak pada
umumnya pemanfaatannya masih bersifat konsumtif dan belum dikelola secara produktif.
Dengan demikian lembaga wakaf di Indonesia belum terasa manfaatnya bagi kesejahteraan
ekonomi masyarakat.
Berdasarkan data yang ada dalam masyarakat, pada umumnya wakaf di Indonesia
digunakan untuk masjid, mushalla, sekolahan, rumah yatim piatu, makam, dan sedikit sekali
tanah wakaf yang dikelola secara produktif. Pemanfataan tersebut dilihat dari segi sosial,
khususnya untuk kepentingan peribadatan atau lembaga sosial memang efektif. Akan tetapi
dampaknya kurang berpengaruh positif dalam kehidupan ekonomi masyarakat apabila
peruntukan wakaf hanya terbatas pada hal-hal di atas. Tanpa diimbangi dengan wakaf yang
dikelola secara produktif, maka kesejahteraan ekonomi masyarakat yang diharapkan dari
lembaga wakaf tidak akan dapat terealisasi secara optimal.
Usaha untuk merevitalisir unsur wakaf guna memberikan berbagai macam manfaat
ekonomi perlu terobosan pemikiran tentang konsep tersebut yang sesuai dengan
perkembangan yang ada tetapi tidak meninggalkan unsur syari’ah, didalam hal ini konsep
wakaf tunai merupakan salah satu inovasi finansial yang dapat dijalankan guna mengatasi
berbagai masalah ekonomi di Indonesia. Untuk mengetahui lebih lanjut bagaimana wakaf tunai
dan wakaf produktif di Indonesia maka akan dibahas tentang status hukum wakaf tunai,
bagaimana pengelolaan wakaf tunai dan urgensi wakaf tersebut terhadap kegiatan ekonomi
masyarakat Indonesia.






Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif

2
PEMBAHASAN

A. Pengertian, Dasar Hukum, dan Pendapat Ulama tentang Wakaf Tunai
1. Pengertian dan dasar hukum wakaf tunai
1) Pengertian wakaf tunai
Harta benda wakaf terdiri dari benda tidak bergerak dan benda bergerak. Wakaf
benda tidak bergerak seperti tanah, dan bangunan, sedangkan wakaf benda bergerak
adalah harta benda yang tidak bisa habis karena dikonsumsi, meliputi uang, logam mulia,
surat berharga, kendaraan, hak atas kekayaan intelektual, dan hak sewa.
1

Di antara wakaf benda bergerak yang ramai dibincangkan belakangan ini adalah
wakaf yang dikenal dalam istilah Cash Wakaf. Cash Wakaf dikenal juga dengan wakaf
tunai, namun apabila menilik objek wakafnya, yaitu uang, maka Cash Wakaf juga disebut
dengan wakaf uang. Wakaf tunai dalah wakaf yang dilakukan seseorang, sekelompok
orang, dan lembaga atau badan hukum dalam bentuk uang tunai.
2

Komisi fatwa MUI merumuskan definisi baru tentang wakaf, yaitu :
- , _ . ل. , e _ ¸א . . ع. · . _ . ·. . , . · · و · . . · . a _ .א . ¸ ¸ _· ¸ · , . · . . _
. . ¸ ¸ . , _. . , - , د
“Menahan harta yang dapat dimanfaatkan tanpa lenyap bendanya atau pokoknya,
dengan cara tidak melakukan tindakan hukum terhadap benda tersebut (menjual,
memberikan, atau mewariskannya, untuk disalurkan hasilnya pada sesuatu yang
mubah (tidak haram) yang ada.”
3


Selain itu Bank Indonesia memberikan definisi bahwa wakaf tunai adalah penyerahan
asset wakaf berupa uang tunai yang tidak dapat dipindahtangankan dan dibekukan selain
untuk kepentingan umum yang tidak mengurangi ataupun menghilangkan jumlah
pokoknya.
4

Berdasarkan definisi di atas maka dapat disimpulkan bahwa wakaf tunai adalah wakaf
yang sifatnya produktif karena substansi atau wujud-nya dipertahankan dan dikelola,
sementara hasil atau manfaatnya digunakan sesuai dengan keinginan dari orang yang
menyerahkan atau waqif.
Namun wakaf produktif tidak terbatas dengan uang tunai saja karena barang atau
benda yang produktif atau dapat dikembangkan itu banyak sekali seperti wakaf hewan
domba yang bisa diambil wallnya, atau wakaf ayam, bebek, dan sebagainya untuk diambil


1
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf, Pasal 16 ayat 3
2
Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Pedoman
Pengelolan Wakaf Tunai, Jakarta, 2006, hlm.1
3
Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Pedoman
Pengelolan dan Pengembangan Wakaf, Jakarta, 2006, hlm.163
4
Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Pedoman
Pengelolan Wakaf Tunai, Op.cit., hlm. 23-24

Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif

3
telurnya kemudian hasil penjualan telur tersebut dapat digunakan untuk disumbangkan ke
panti asuhan misalnya atau zat telur itu sendiri yang disumbangkan kepada fakir miskin.
Manfaat dari wakaf hewan tersebut tidak harus terwujud ketika diwakafkan, tetapi sah
mewakafkan hewan yang dapat diperoleh manfaatnya pada masa yang akan datang.
5

2) Dasar hukum wakaf tunai
Wakaf tunai dibolehkan berdasarkan firman Allah QS. Ali Imran ayat 92
_ . . אא, ¸ - . _ . . . :א, ÷. , ن, و . . . . . .א, _ . _ · · ¸ ن .א · . . ., ﴿ لא نא¸.. : ٩٢ ﴾
“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu
menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu
nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya” (QS. Ali Imran : 92)
Selain itu Hadist yang diriwayatkan oleh Nasa’I yaitu : “Diriwayatkan dari Umar r.a ,
ia berkata kepada nabi SAW, saya mempunyai seratus saham tanah, kebun di Khaibar,
belum pernah saya mendapatkan harta yang lebih saya kagumi melebihi tanah itu, dan
saya bermaksud menyedekahkannya. Nabi SAW berkata tahanlah pokoknya dan
sedekahkan buahnya pada Sabilillah” (HR. Nasa’i)
6

Hadits di atas menceritakan bahwa Umar bin Khattab, ketika ingin menginfakkan
sebidang tanahnya yang subur di Khaibar. Nabi pada waktu itu menawarkan, bagaimana
kalau kebun itu ditahan dan dipelihara kekelannya, sedang yang diwakafkan adalah
hasilnya. Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa apabila tanah tersebut dikelola dengan
baik sebagai kebun kurma misalnya maka hasil penjualan kurma dari tanah tersebut dapat
diwakafkan dan digunakan untuk membangun masjid, menyantuni fakir-miskin ataupun
untuk kegiatan sosial lainnya.
Praktek pelaksanaan wakaf yang dianjurkan oleh nabi yang dicontohkan oleh Umar
bin Khattab dan diikuti oleh beberapa sahabat nabi yang lain sangat menekankan
pentingnya menahan eksistensi benda wakaf, dan diperintahkan untuk menyedekahkan
hasil dari pengelolaan benda tersebut. Pemahaman yang paling mudah untuk dicerna dari
maksud nabi adalah substansi ajaran wakaf itu tidak semata-mata terletak pada
penyerahan benda wakafnya saja, akan tetapi yang jauh lebih penting adalah nilai manfaat
dari benda tersebut untuk kepentingan kebajikan umum. Sebagaimana yang tertera
dalam Undang-Undang Tentang Wakaf bahwa wakaf berfungsi mewujudkan potensi dan
manfaat ekonomis harta benda wakaf untuk kepentingan ibadah dan untuk memajukan
kesejahteraan umum.
7



5
Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, fiqh Wakaf,
Jakarta, 2006, hlm.42
6
Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Pedoman
Pengelolan Wakaf Tunai, Op.cit., hlm. 16
7
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf, Pasal 5


Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif

4
2. Pendapat Ulama tentang wakaf tunai
a. Ulama Hanafiyah
Ulama Mazhab Hanafi berpendapat bahwa harta yang sah diwakafkan adalah benda
tidak bergerak dan benda bergerak. Benda yang tidak bergerak dipastikan a’in-nya
memiliki sifat yang kekal dan memungkinkan dapat dimanfaatkan secara terus menerus.
Untuk wakaf benda bergerak dibolehkan berdasarkan atsar yang membolehkan
mewakafkan senjata dan binatang-binatang yang dipergunakan untuk perang. Begitu
juga dengan wakaf benda bergerak seperti buku atau kitab-kitab, menurut ulama
Hanafiyah, pengetahuan adalah sumber pemahaman dan tidak bertentangan dengan
nash. Mereka menyatakan untuk mengganti benda wakaf yang dikhawatirkan tidak kekal
adalah memungkinkan kekalnya manfaat. Menurut mereka mewakafkan buku-buku dan
mushaf dimana yang diambil adalah pengetahuannya, kasusnya sama dengan
mewakafkan dirham dan dinar (uang).
8

Wahbah Az-Zuhaili juga mengungkapkan bahwa mazhab Hanafi membolehkan wakaf
tunai sebagai pengecualian, atas dasar Istihsan Bi Al-Urfi, karena sudah banyak
dilakukan oleh masyarakat. Ulama Mazhab Hanafi berpendapat bahwa hukum yang
ditetapkan berdasarkan ‘urf atau adat kebiasaan mempunyai kekuatan yang sama
dengan hukum yang ditetapkan berdasarkan nash.
9

b. Ulama Malikiyah
Ulama pengikut mazhab maliki berpendapat boleh mewakafkan benda bergerak
maupun tidak bergerak. Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan bahwa ulama mazhab Maliki
membolehkan wakaf makanan, uang dan benda bergerak lainnya, lebih lanjut wahbah
Az-Zuhaili juga menjelaskan bahwa wakaf uang dapat diqiyaskan atau dianalogikan
dengan baju perang dan binatang, sebab terdapat persamaan illat antara keduanya.
Sama-sama benda bergerak dan tidak kekal, yang mungkin rusak dalam jangka waktu
tertentu. Hal ini juga menunjukkan bahwa Imam Maliki membolehkan wakaf untuk
jangka waktu tertentu. Namun apabila wakaf uang jika dikelola secara profesional
memungkin uang yang diwakafkan akan kekal selamanya.
10

c. Ulama Syafi’iyah
Mazhab Syafi’I berpendapat boleh mewakafkan benda apapun dengan syarat barang
yang diwakafkan haruslah barang yang kekal manfaatnya , baik berupa benda bergerak
maupun tidak bergerak.
11
Namun Imam Syafi’I mencegah adanya tukar menukar harta

8
Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Fiqh Wakaf,
Op.cit., hlm. 31-32
9
Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Pedoman
Pengelolan Wakaf Tunai, Op.cit., hlm. 2
10
Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Pedoman
Pengelolan dan Pengembangan Wakaf, Op.cit., hlm. 44-46
11
Ibid., hlm. 45

Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif

5
wakaf, menurut beliau tidak boleh menjual masjid secara mutlak, sekalipun mesjid itu
roboh. Namun sebagian golongan syafi’iah yang lain berpendapat boleh ditukar agar
harta wakaf itu ada manfaatnya dan sebagaian lain tetap menolaknya.
12
Menurut Al-
Bakri, mazhab Syafi’I tidak membolehkan wakaf tunai karena dirham dan dinar akan
lenyap ketika dibayarkan sehingga tidak ada wujudnya.
13

Melihat pendapat-pendapat ulama di atas bahwa pendapat yang mengatakan
benda-benda wakaf tidak boleh diutak atik tanpa sentuhan pengelolaan dan pengembangan
yang lebih bermanfaat semakin kurang relevan dengan kondisi saat ini, dimana segala
sesuatu akan bisa memberikan nilai manfaat ekonomi apabila dikelola secara baik.
Selain itu apabila dianalisa maksud dari tujuan wakaf, salah satunya adalah agar
harta yang diwakafkan bermanfaat bagi kepentingan orang banyak. Berdasarkan hal tersebut
maka wakaf uang memilki unsur manfaat, hanya saja manfaat uang baru akan terwujud
bersamaan dengan lenyapnya zat uang secara fisik, tetapi nilai uang yang diwakafkan
terpelihara kekekalannya, karena terus dikelola dan mendatangkan hasil. Yang paling prinsipil
adalah keabadian manfaat dan nilai dari benda yang diwakafkan.
Disamping itu tidak ada nash Al-Quran dan Sunnah Rasulullah yang secara tegas
melarang wakaf uang, maka atas dasar maslahah mursalah, wakaf uang dibolehkan, karena
mendatangkan manfaat yang sangat besar bagi kemaslahatan ummat. Selain maslahah
mursalah wakaf uang juga disandarkan pada hadis yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud
bahwa rasulullah bersabda Apa yang dipandang kaum muslimin baik, dalam pandangan Allah
juga baik.
14


B. Pengelolaan Wakaf Tunai
Sejak awal harus disadari bahwa wakaf, tidak terkecuali wakaf tunai merupakan
dana publik. Wakaf tunai akan mempermudah masyarakat atau wakif dalam mewakafkan
hartanya karena wakif tidak memerlukan dana yang besar untuk mewakafkan sebagian
hartanya. Karena dana wakaf dihimpun dari masyarakat luas yang dengan suka rela
menyisihkan hartanya untuk diwakafkan, maka Wakaf seyogyanya dimanfaatkan untuk
kepentingan masyarakat luas pula. Agar pemanfaatan wakaf untuk kepentingan luas menjadi
maksimal, pengelolaannya harus dilakukan secara professional, transparan dan dapat
dipertanggung jawabkan. Ketiga syarat ini tidak bisa ditawar lagi dalam pengelolaan wakaf,
lebih-lebih wakaf tunai.
15


12
Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Paradigma
Baru Wakaf di Indonesia, Jakarta, 2006, hlm.67-68
13
Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Fiqh Wakaf,
Op.cit., hlm. 45
14
Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji, Direktorat
Pengembangan Zakat dan wakaf, Wakaf Tunai dalam Perspektif Hukum Islam, Jakarta, 2005, hlm.103
15
Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Pedoman
Pengelolan Wakaf Tunai, Op.cit., hlm. 49

Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif

6
Untuk menjamin ketiga syarat pengelolan tersebut, maka lembaga wakaf tunai
seyogyanya memenuhi syarat sebagai berikut :
a. Memiliki akses yang baik kepada calon wakif
b. Memiliki kemampuan untuk menginvestasikan dana wakaf
c. Mampu untuk mendistribusikan hasil atau keuntungan dari investasi dana wakaf
d. Memiliki kemampuan untuk mencatat atau membukukan segala hal yang berkaitan
dengan masyarakat yang diberi wakaf, dan peruntukan wakaf tersebut.
e. Lembaga pengelola wakaf tunai hendaknya dipercaya oleh masyarakat dan kinerjanya
dikontrol sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku terhadap
pengelola dana publik.
16

Oleh karena itu Manajemen wakaf tunai melibatkan tiga pihak yaitu pemberi wakaf
(wakif), Pengelola wakaf (Nazhir) yang dalam hal ini berupa lembaga keuangan Islam, yang
nantinya juga bertindak sebagai manajer investasi, dan beneficiary (masyarakat yang diberi
wakaf).

1. Wakif
Wakif adalah pihak yang mewakafkan harta benda miliknya.
17
Dengan adanya
wakaf tunai seorang wakif tidak lagi memerlukan jumlah uang yang besar untuk dibelikan
tanah atau bangunan guna diwakafkan. Karena wakaf uang jumlahnya bisa lebih bervariasi,
sehingga orang yang memiliki dana terbatas sudah bisa memberikan dana wakafnya tanpa
harus menunggu menjadi konglomerat terlebih dahulu.
Dalam hal ini masyarakat dapat memberikan wakaf dalam bentuk uang tunai
dimana uang tersebut dapat dikumpulkan terlebih dahulu oleh seorang pengelola untuk
kemudian diinvestasikan, dan benefit atas investasi tersebut dapat didistribusikan kepada yang
membutuhkannya.
18
Untuk menjamin dana wakaf tunai tersebut dikelola dengan baik maka
wakif mempunyai hak-hak seperti yang telah diatur dalam Undang-Undang RI No.8 tahun
1999 tentang perlindungan Konsumen yaitu :
a. Hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang
dan/atau jasa.
b. Hak untuk didengar pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang
digunakan
c. Hak untuk mendapatkan pembinaan dan pendidikan konsumen.
19

Hak yang ketiga ini penting terutama bagi mereka yang ingin mewakafkan hartanya
akan tetapi tidak mengetahui teknisnya.

16
Ibid, hlm.50

17
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf, Pasal 1 point 2
18
Ibid, hlm.,96
19
Program Study Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (PSTTI-IU), Wakaf Tunai Inovasi
Finansial Islam, Jakarta, 2006, hlm. 105

Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif

7
2. Nazhir
Nazhir adalah pihak yang menerima harta benda wakaf dari Wakif untuk dikelola
dan dikembangkan sesuai dengan peruntukannya.
20
Sebagaimana yang telah dikemukakan
sebelumnya bahwa wakaf tunai atau wakaf uang harus dikelola secara profesional dan melalui
lembaga-lembaga yang kinerjanya dikontrol sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku, maka lembaga-lembaga yang dapat dipercaya dan memenuhi kriteria untuk
mengelola wakaf tunai adalah lembaga-lembaga keuangan syari’ah.
21
Belakangan banyak
tumbuh lembaga-lembaga keuangan semisal bank syari’ah seperti asuransi syari’ah, atau
lembaga pembiayaan syari’ah lainnya. Dalam pembahasan ini lembaga yang menjadi nazhir
wakaf tunai adalah bank syari’ah.
Di sisi ketentuan perbankan, yaitu SK Dir. BI No.32/34/KEP/DIR tentang bank umum
berdasarkan prinsip syari’ah, kegiatan usaha bank yang terkait dengan masalah wakaf adalah
sebagaimana yang tertera dalam pasal 29 ayat 2 SK Direktur Bank Indonesia tersebut dimana
“Bank dapat bertindak sebagai lembaga baitul mal yaitu menerima dana yang berasal dari
zakat, infaq, shadaqah, wakaf, hibah atau dana sosial lainnya dan menyalurkannya kepada
yang berhak dalam bentuk santunan dan/atau pinjaman kebajikan (qardhul hasan)”
22

Dari ketentuan di atas dapat dilihat bahwa secara umum bank syari’ah dapat
mengambil peran sebagai penerima dan penyalur dana wakaf. Wewenang pengelolaan ini
dipandang penting karena berbeda dengan dana sosial lainnya, seperti zakat, infak atau
shadaqah, dana wakaf tidak dibagikan langsung kepada yang berhak melainkan harus dikelola
terlebih dahulu untuk kemudian hasilnya baru dibagikan kepada yang berhak.
Di sisi lain, dalam SK Dir. BI No.32/34/KEP/DIR tentang bank umum berdasarkan
prinsip syari’ah, pasal 28 huruf m disebutkan bahwa “bank dalam melakukan kegiatan
usahanya dapat melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan bank sepanjang disetujui oleh
Dewan Syari’ah Nasional”
23

Secara regulatif, bank syari’ah merupakan lembaga yang “Syari’ah high Regulated”
dengan dipantau oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) dan Dewan Pengawas Syari’ah (DPS).
Pemantauan yang dilakukan DSN dan DPS berkaitan dengan apakah operasional dan produk
bank syari’ah sudah seiring dengan ketentuan syari’ah atau tidak.
Secara umum peranan perbankan syari’ah dalam wakaf tunai setidaknya memiliki
beberapa keunggulan seperti yang diharapkan dapat mengoptimalkan operasional wakaf
tunai tersebut, adapun keunggulannya adalah :




20
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf, Pasal 1 point 4

21
Ibid., Pasal 28 “Wakif dapat mewakafkan benda bergerak berupa uang melalui lembaga keuangan
syariah yang ditunjuk oleh Menteri”
22
Ibid., hlm.102
23
Ibid., hlm.104

Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif

8
a. Jaringan kantor
Relatif luasnya jaringan kantor perbankan syari’ah dibandingkan lembaga keuangan
syari’ah lainnya merupakan keunggulan tersendiri bagi perbankan syari’ah di dalam
pengelolaan wakaf tunai. Dengan luas jaringan yang mencapai 174 kantor di hampir
seluruh wilayah Indonesia, maka fenomena ini merupakan faktor penting di dalam
mengoptimalkan permasyarakatan atau sosialisasinya, penggalangan dana wakaf serta
penyalurannya
24

b. Kemampuan sebagai fund manager
Lembaga perbankan pada dasarnya merupakan lembaga pengelola dana masyarakat.
Dengan demikian sebuah lembaga perbankan dengan sendirinya haruslah merupakan
lembaga yang memiliki kemampuan untuk mengelola dana. Dengan memahamai bahwa
pilihan produk keuangan syari’ah masih terbatas dalam negeri, maka pilihan untuk
menempatkan dana pada produk-produk syari’ah di pasar internasional menjadi sangat
besar. Untuk itu efektivitas serta optimalisasi pengelolaan dana perbankan syari’ah,
khususnya dana wakaf, akan sangat tergantung pada seberapa jauh perbankan syari’ah
tersebut memiliki akses sekaligus berperan dalam pasar keungan syari’ah
internasional.
25

c. Pengalaman, jaringan informasi, dan peta distribusi
Pengalaman, jaringan informasi, dan peta distribusi menjadi factor yang sangat penting
bagi perbankan syari’ah dalam mengoptimalkan pengelolan dana wakaf tunai. Jaringan
informasi serta peta distribusi juga memungkinkan untuk terbentuknya database
informasi mengenai sektor usaha maupun debitur yang akan dibiayai. Selain itu
pengelolaan dana wakaf dapat dioptimalkan, dan dapat juga mengefektifkan penyaluran
dana wakaf tunai sesuai dengan yang diinginkan oleh wakif.
26

Dengan melibatkan lembaga keuangan syari’ah dalam pengelolaan wakaf tunai,
maka selain produktif, wakaf akan bisa diinvestasikan kedalam berbagai jenis investasi yang
menguntungkan. Untuk menjaga kesalahan investasi dan kelangsungan dana umat yang
terhimpun maka sebelum melakukan investasi, hendaknya mempertimbangkan terlebih dahulu
keamanan dan tingkat profitabilitas usaha guna mengantisipasi adanya resiko kerugian yang
akan mengancam kesinambungan harta wakaf. Yaitu dengan melakukan analisa kelayakan
investasi dan market survey untuk memastikan jaminan pasar dari out put dan jaminan
investasi.
Adapun jenis dan bentuk atau model investasi dana wakaf pada bank syari’ah adalah
sebagai berikut :

24
Ibid., hlm.106
25
Ibid., hlm.107
26
Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Pedoman
Pengelolan Wakaf Tunai, Op.cit., hlm. 45

Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif

9
a. Jenis investasi
Dana wakaf tunai dapat diinvestasikan kedalam berbagai jenis investasi yaitu :
1) Investasi jangka Pendek yaitu dalam bentuk mikro kredit seperti usaha keluarga dan
lainnya.
2) Investasi jangka menengah yaitu industri atau usaha kecil.
3) Investasi jangka panjang yaitu untuk industri manufaktur, dan industri besar lainnya.
27

b. Bentuk-bentuk atau model investasi
1) Mudharabah
Investasi mudharabah merupakan salah satu alternatif yang ditawarkan oleh produk
keuangan syari’ah guna mengembangkan harta wakaf. Salah satu contoh yang dapat
dilakukan oleh pengelola wakaf dengan sistem ini ialah membangkitkan sektor usaha
kecil dan menengah dengan memberikan modal usaha kepada petani, nelayan, para
pedagang kecil dan menengah. Dalam hal ini pengelola wakaf uang berperan sebagai
shahibul mal atau pemilik modal yang menyediakan 100% dari usaha proyek dengan
sistem bagi hasil.
28

2) Musyarakah
Investasi musayarakah ini hampir sama dengan investasi mudharabah , hanya pada
investasi musyarakah ini resiko yang ditanggung oleh pengelola wakaf lebih sedikit,
karena modal ditanggung secara bersama oleh dua pemilik modal atau lebih. Investasi
ini memberikan peluang bagi pengelola wakaf untuk menyertakan modalnya pada
sektor usaha kecil menengah yang dianggap memiiki kelayakan usaha namun
kekurangan modal untuk mengembangkan usahanya.
29

3) Ijarah
Salah satu contoh yang dapat dilakukan dengan sistem investasi ijarah (sewa) ialah
mendayagunakan tanah wakaf yang ada. Dalam hal ini pengelola wakaf menyediakan
dana untuk mendirikan bangunan di atas tanah wakaf, seperti pusat perbelanjaan,
apartemen dan lain-lain. Kemudian pengelola harta wakaf menyewakan gedung
tersebut hingga menutup modal pokok dan keuntungan yang dikehendaki.
30
Jenis
ijarah ini adalah kasus khusus ijarah yang berakhir dengan penyewa memiliki
bangunan dengan kebaikan menjadi pemilik tanah yang dibangun.
4) Murabahah
Penerapan pembiayaan murabahah pada harta proyek mengharuskan nazhir atau
perbankan mengambil fungsi sebagai pengusaha yang mengendalikan proses
investasi yang membeli peralatan dan material yang diperlukan melalui surat kontrak

27
Ibid., hlm.52-53
28
Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji, Direktorat
Pengembangan Zakat dan wakaf, Op.cit., hlm.112
29
Ibid., hlm.113
30
Ibid., hlm.114

Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif

10
murabahah. Pengelola harta wakaf menjadi debitor kepada lembaga perbankan untuk
harga peralatan dan material yang dibeli.
31
Dengan investasi ini, pengelola wakaf
dapat mengambil keuntungan dari selisih harga pembelian dan penjualan. Sebagai
contoh manfaat dari investasi ini adalah pengelola wakaf dapat membantu pengusaha
kecil yang membutuhkan alat-alat produksi, misalnya tukang jahit yang memerlukan
mesin jahit.
5) Istisnaa
Model istisnaa memungkinkan pengelola harta wakaf untuk memesan pengembangan
harta wakaf yang diperlukan kepada lembaga pembiayaan melalui suatu kontrak
istisnaa. Lembaga pembiayaan atau bank kemudian membuat kontrak dengan
kontraktor untuk memenuhi pesanan pengelola harta wakaf atas nama lembaga
pembiayaan itu. Model pembiayaan istisnaa menimbulkan hutang bagi pengelola harta
wakaf dan si pengelola harta wakaf dapat melunasi hutangnya kepada lembaga
pembiayaan atau bank dari hasil pengembangan harta wakaf, dan lembaga
pembiayaan tidak mempunyai hak untuk turut campur dalam pengelolan harta wakaf
tersebut.
32


3. Sertifikat Wakaf Tunai
Wakaf benda bergerak berupa uang sebagaimana dimaksud diatas diterbitkan
dalam bentuk sertifikat wakaf tunai yang diterbitkan serta disampaikan oleh lembaga
keuangan syariah kepada Wakif dan Nazhir sebagai bukti penyerahan harta benda wakaf.
Dalam hal ini Lembaga keuangan syariah atas nama Nazhir mendaftarkan harta benda wakaf
berupa uang kepada Menteri selambat-lambatnya 7 (tujuh) hari kerja sejak diterbitkannya
sertifikat wakaf tunai tersebut.
33

Penerbitan sertifikat wakaf tunai akan membuka peluang penggalangan dana yang
cukup besar karena :
a. Lingkup sasaran pemberi wakaf tunai bisa menjadi sangat luas dibandingkan dengan
wakaf biasa
b. Sertifikat wakaf tunai dapat dibuat dalam berbagai pecahan, yang disesuaikan dengan
segmen muslim yang dituju, yang memiliki kesadaran yang tinggi untuk beramal,
misalnya, pecahan Rp.10.000, Rp.25.000, Rp.50.000, Rp.100.000 dan seterusnya.
34


31
Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Pedoman
Pengelolan dan Pengembangan Wakaf, Op.cit., hlm. 120
32
Ibid.

33
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf, Pasal 29 dan 30
34
Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Pedoman
Pengelolan Wakaf Tunai, Op.cit., hlm. 24

Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif

11
Kegiatan investasi sosial ini akan dapat menciptakan landasan sosial dan moral
bagi terciptanya kesejahteraan masyarakat. Karena seseorang dapat membeli sertifikat wakaf
tunai untuk :
1) Diri sendiri, orang tua, ahli waris, suami/isrtri, tetangga, dan saudara kandung.
2) Peningkatan standar hidup orang miskin, rehabilitasi orang cacat, dan peningkatan
standar hidup penduduk hunian kumuh.
3) Membantu pendidikan anak yatim piatu, beasiswa, pengembangan pendidikan
modern, pengembangan sekolah madrasah, kursus, akademi, dan universitas serta
mendanai riset.
4) Membantu pendidikan keperawatan, riset penyakit tertentu dan membangun pusat
riset, mendirikan rumah sakit dan bank darah, membantu program riset dan
pengembangannya.
5) Menyelesaikan masalah-masalah sosial non muslim.
6) Membantu proyek-proyek untuk penciptaan kerja yang penting untuk menghapus
kemiskinan dan hal-hal lain yang dibolehkan syari’ah.
35

Pembelian sertifikat wakaf tunai dapat dilakukan dengan maksud untuk memenuhi
target investasi sedikitnya empat bidang yaitu :
a. Kemanfaatan bagi kesejahteraan pribadi dunia dan akhirat.
Setiap manusia akan kembali keharibaan ilahi, tidak dapat disangkal lagi bahwa setelah
meningal semuanya akan berakhir kecuali tiga hal; ilmu yang bermanfaat, anak yang
saleh, dan amal jariyah. Wakaf tunai merupakan amal jariyah yang terus mengalir
pahalanya. Wakaf tunai sebagai sedekah jariyah memainkan peranan penting bagi
seseorang untuk mencapai kesejahteraan dunia dan akhirat.
b. Kemanfaatan bagi kesejahteraan keluarga dunia dan akhirat.
Sertifikat wakaf tunai juga dapat dibeli untuk perbaikan kualitas hidup generasi penerus
melalui pelaksanaan program pendidikan, pernikahan dan lain-lain. Sebab bank akan
tetap bertanggung jawab mengelola profit dari sertifikat wakaf tunai itu. Karena dengan
pengeloaan program seperti itu, maka wakaf tunai dapat dimanfaatkan untuk
kesejahteraan generasi mendatang.
c. Pembangunan sosial
Dengan profit dari wakaf tunai seorang dapat memberikan bantuan yang berharga bagi
pendirian ataupun operasionalisasi lembaga-lembaga pendidikan termasuk masjid,
madrasah, rumah sakit dan lainnya



35
M.A.Mannan, Sertifikat Wakaf Tunai Sebuah Inovasi Instrumen Keuangan Islam, CIBER,
Yogyakarta, 2001, hlm.66-67

Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif

12
d. Membangun masyarakat sejahtera
Dana yang terhimpun dari wakaf tunai akan diinvestasikan dan hasilnya akan dapat
memberikan jaminan sosial kepada kaum dhu’afa dan keamanan bagi orang yang
mewakafkan hartanya, dan wakaf tunai akan menjadi wahana bagi terciptanya
kepedulian dan kasih sayang antara sesama, sehingga membantu terciptanya
hubungan yang harmonis dan kerjasama yang baik.
36

Adapun beberapa pedoman sertifikat wakaf tunai antara lain :
a. Wakaf tunai harus di pandang sebagai sumbangan yang sesuai dengan syari’ah, dan
bank akan mengelola wakaf atas nama wakif.
b. Wakaf dapat diberikan berulang kali dan rekening yang dibuka sesuai dengan nama
yang diberikan wakif.
c. Wakif diberi kebebasan untuk memilih sasaran wakaf baik sasaran yang susah
teridentifikasi oleh pihak bank maupun sasaran lainnya yang sesuai dengan syari’ah.
d. Dana wakaf akan tetap dan hanya dana yang berasal dari keuntungan yang akan
dibagikan kepada sasaran yang telah dipilih waqif. Keuntungan yang belum sempat
dibagikan secara otomatis akan digabungkan dengan dana wakaf yang sudah ada akan
mendapatkan keuntungan yang lebih berkembang sepanjang waktu.
e. Waqif juga dapat meminta kepada bank untuk menyalurkan seluruh dana yang telah
diperoleh kepada sasaran yang telah ditentukan oleh waqif.
f. Waqif mempunyai hak untuk memberikan perintah pada pihak bank untuk mengambil
dana wakaf dari rekening yang lain miliknya.
g. Setiap sasaran wakaf tunai harus diberikan tanda terima dan setelah jumlah wakaf tunai
tersebut mencapai jumlah yang ditentukan barulah diterbitkan sertifikat wakaf tunai.
h. Prinsip dan peraturan syari’ah tentang wakaf tunai dapat ditinjau kembali dan dapat
berubah.
37


4. Urgensi wakaf tunai
a. Terhadap bank syari’ah
1) Menjadikan perbankan sebagai fasilitator untuk menciptakan wakaf tunai dan
membantu pengelolaaan dana.
2) Jika dana yang terhimpun oleh bank syari’ah dapat dikelola dengan manajemen yang
profesional, maka akan berdampak positif bagi pengembangan lembaga keuangan
syariah, seperti bertambahnya modal bank syari’ah dan bertambahnya alternative
perolehan pendapatan bagi lembaga keuangan syari’ah.


36
Ibid., hlm 68-69
37
Program Study Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (PSTTI-IU), Op.cit., hlm. 100-
103

Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif

13
b. Terhadap kegiatan ekonomi secara makro
1) Membantu memobilisasi tabungan masyarakat dengan maksud untuk menciptakan
kesejahteraan sesama.
2) Meningkatkan investasi sosial dan mentransformasikan tabungan masyarakat menjadi
modal.
c. Pemerataan pertumbuhan ekonomi
Memberikan manfaat kepada masyarakat luas, terutama golongan miskin, dengan
mengembangkan usaha-usahanya kearah yang lebih maju. Dan dengan majunya suatu
usaha maka akan dapat membuka kesempatan kerja bagi orang lain sehingga
mengurangi tingkat penggangguran
d. Stabilitas politik dan ekonomi
Jika asumsi pada poin a, b, dan c diatas dapat diwujudkan, maka wakaf yang
diperkirakan tidak hanya sebatas mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi, lebih dari
itu juga akan mampu manjaga stabilitas politik yang diakibatkan oleh tidak meratanya
pertumbuhan ekonomi dan stabilitas ekonomi akibat tidak seimbangnya antara uang dan
barang, disamping tingkat bunga, nilai tukar dan komoditas serta harga saham yang
berlebihan.

C. Wakaf Produktif
Sampai saat ini, di Indonesia memang masih terdapat sedikit harta wakaf yang
dikelola secara produktif yang bisa dirasakan betul manfaatnya oleh masyarakat banyak.
Sebagai contoh harta wakaf yang dikelola dan dikembangkan secara baik adalah Yayasan
Pemeliharaan dan Perluasan Pondok Modern Gontor Jawa Timur, Yayasan Badan Wakaf
Sultan Agung, Badan Wakaf Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Badan Wakaf
Universitas Muslimin Indonesia (UMI) Makassar, Yayasan Wakaf Paramadina, dan lain-lain.
38

Sedangkan sebagian besar wakaf yang ada, untuk memelihara dan
melestarikannya masih kekurangan dana dan masih menggantungkan dana dari luar dana
wakaf. Dengan demikian, wakaf yang ada di Indonesia sementara ini relatif sulit berkembang
sebagaimana mestinya jika tidak ada upaya yang sungguh-sungguh dan total oleh semua
pihak yang terkait dalam rangka memperbaiki sistem dan pengelolaan profesional.
Untuk mengatasi kemiskinan, wakaf merupakan sumber dana yang potensial.
Selama ini program pengentasan masyarakat dari kemiskinan tergantung dari bantuan kredit
luar negeri, terutama dari bank dunia. Tapi dana itu terbatas dari segi jumlah maupun waktu.
Dalam hal ini pengembangan wakaf dapat menjadi alternatif, sumber pendanaan. Di Qatar dan
Kuwait, dana wakaf bersama-sama dengan sumber lain, khususnya zakat, dan wakaf yang

38
Achmad Djunaidi dan Thobieb Al-Asyhar, Menuju Era Wakaf Produktif, Mitra Abadi Press, Jakarta,
2006, hlm. 76

Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif

14
diperoleh dari pengusahaan tanah wakaf, misalnya bidang real estate, dipakai untuk
membiayai program kemiskinan, baik langsung oleh pemerintah maupun disalurkan lewat
LSM. Konon, sebuah LSM Kuwait telah membiayai tidak kurang dari 400 proyek di Indonesia,
di antaranya melalui Muhammadiyah.
39

Analog dengan program pemberdayaan atau penyantunan fakir miskin oleh Kuwait,
di Indonesia, bisa disusun skema pengentasan masyarakat dari kemiskinan, meneruskan
program-program yang telah dilaksanakan di masa lalu dan masih diteruskan sekarang.
Program prokesra umpamanya, didanai dari sumbangan perusahaan besar yang memperoleh
laba minimal Rp.100.000.000 (seratus juta) per tahun. Tapi dana ini dipakai melalui
mekanisme simpan pinjam. Untuk memperoleh dana hasil pengelolaan wakaf tersebut disetiap
desa bisa dibentuk lembaga nazir, yang menerima infak wakaf, misalnya berupa lahan-lahan
pertanian, bahkan bisa dalam bentuk wakaf tunai. Wakaf tanah itu bisa dikerjakan secara
kolektif, tapi bisa juga bekerjasama dengan pihak swasta. Proyek-proyek yang bisa
dikerjakan, bisa berupa pertanian padi sawah atau palawija, sehingga bisa menghasilkan
cadangan pangan dan lumbung bibit, perternakan, perikanan dan perkebunan.
40

Model ini merupakan analog dari wakaf ahli, dimana wakif memberikan wasiat agar
hasil pengelolan wakaf dipakai untuk menyantuni anggota keluarga yang kekurangan atau
membutuhkan biaya, dalam model ini anggota keluarga besar seseorang diperluas menjadi
warga desa, sehingga setiap warga desa yang mengalami kemiskinan dan kesulitan lain
seperti kesehatan dan pendidikan dapat disantuni dari dana hasil pengelolaan wakaf tersebut.
Hal yang sama dapat diterapkan pada pesantren. Sebenarnya banyak pesantren
yang telah memiliki lahan, baik milik keluarga kyai maupun tanah wakaf. Lahan keluarga yang
biasanya diperuntukkan bagi keluarga kyai sendiri dikelola secara produktif, sehingga kyai
tidak bergantung penghasilannya dari pembayaran uang sekolah dari para santri, dana wakaf
masih bisa dikembangkan untuk pengembangan pendidikan pesantren atau untuk
memberikan beasiswa kepada anak-anak keluarga desa yang kekurangan. Karena itu
pesantren bisa pula membentuk lembaga nazir. Lembaga lain yang perlu diberikan izin untuk
menjadi nazir adalah perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, masjid dan organisasi
kemasyarakatan seperti NU, Muhammdiyah, Al-Washliyah, DDII, Persis, Al-Irsyad.
Hal yang penting untuk dicatat adalah, bahwa lembaga nazir ini harus dikelola
secara profesional. Karena tanah wakaf dapat dikembangkan sebagai real estate misalnya,
maka diperlukan tenaga-tenaga insinyur sebagaimana dikementrian wakaf Mesir. Juga karena
wakaf dapat dikembangkan menjadi ladang-ladang pertanian, maka diperlukan insinyur
pertanian. Demikian pula karena wakaf bisa berbentuk tanah strategis obligasi, mempunyai

39
Ibid., hlm. 72-73
40
Ibid., hlm. 73

Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif

15
nilai ekonomis, saham-saham perusahaan, maka diperlukan para ahli manajemen keuangan,
ahli enterpreneur, termasuk ahli-ahli pasar modal.
41

Untuk itulah hasil dari pengembangan wakaf yang dikelola secara profesional dan
amanah, kemudian dipergunakan secara optimal untuk keperluan secara sosial, seperti untuk
meningkatkan pendidikan Islam, pengembangan rumah sakit Islam, bantuan pemberdayaan
ekonomi umat dan bantuan atau pengembangan sarana prasarana ibadah. Sedangkan, wakaf
yang ada dan sudah berjalan di kalangan masyarakat dalam bentuk wakaf tanah milik, maka
terhadap wakaf dalam bentuk itu perlu dilakukan pengamanan dan dalam hal benda wakaf
yang mempunyai nilai produktif perlu didorong untuk melakukan pengelolaan yang bersifat
produktif. Badan wakaf Indonesia (BWI) harus segera dibentuk dan diharapkan dapat
membantu, baik dalam pembudayaan, pembiayaan maupun pembinaan para nazir untuk
dapat melakukan pengelolan wakaf produktif.


KESIMPULAN

1. Wakaf tunai atau wakaf uang itu dibolehkan karena manfaat atau maslahah mursalah dari
wakaf tunai tersebut sangat banyak sekali.
2. Wakaf tunai harus dikelola secara professional agar wujud dana tidak habis. Bank
syariah, atau lembaga keungan non bank syari’ah lainnya, adalah lembaga yang tepat
untuk mengelola wakaf tunai karena mereka memiliki akses yang luas terhadap
penggalangan, pengelolaan dana ataupun penyalurannya. Selain itu operasional bank
syari’ah juga diawasi oleh DSN dan DPS
3. Penerbitan sertifikat wakaf tunai akan berdampak positif untuk wakif, keluarga ataupun
orang lain dan dapat digunakan untuk kepentingan sosial yang ruang lingkupnya begitu
luas
4. Wakaf tunai yang dikelola secara benar akan mampu meningkatkan pertumbuhan
ekonomi masyarakat lemah, oleh karena itu akan dapat pula menunjang pertumbuhan
pemerataan ekonomi, dan akhirnya juga dapat menjaga stabilitas politik di indonesia.
5. Pengelolaan tanah wakaf secara produktif dan membuahkan hasil yang baik dapat
dijadikan jembatan untuk memberantas kemiskinan.






41
Ibid., hlm. 74

Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai Wakaf Tunai dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif dan Wakaf Produktif

16
DAFTAR PUSTAKA

Achmad Djunaidi dan Thobieb Al-Asyhar, Menuju Era Wakaf Produktif, Mitra Abadi
Press, Jakarta, 2006.

Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji, Direktorat
Pengembangan Zakat dan wakaf, Wakaf Tunai dalam Perspektif Hukum Islam,
Jakarta, 2005.

Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam,
Paradigma Baru Wakaf di Indonesia, Jakarta, 2006.

Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, fiqh
Wakaf, Jakarta, 2006.

Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Pedoman
Pengelolan dan Pengembangan Wakaf, Jakarta, 2006.

Direktorat Pemberdayaan Wakaf, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Pedoman
Pengelolan Wakaf Tunai, Jakarta, 2006.

M.A.Mannan, Sertifikat Wakaf Tunai Sebuah Inovasi Instrumen Keuangan Islam, CIBER,
Yogyakarta, 2001.

Program Study Timur Tengah dan Islam Universitas Indonesia (PSTTI-IU), Wakaf Tunai
Inovasi Finansial Islam, Jakarta, 2006.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf.




You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->