P. 1
Analisis Rangkaian Listrik Jilid 2 0812

Analisis Rangkaian Listrik Jilid 2 0812

|Views: 146|Likes:
Published by Sardo Jefri

More info:

Published by: Sardo Jefri on Mar 17, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/08/2014

pdf

text

original

Sections

Kita telah melihat bahwa analisis di kawasan fasor lebih sederhana di-
bandingkan dengan analisis di kawasan waktu karena tidak melibatkan
persamaan diferensial melainkan persamaan-persamaan aljabar biasa.
Akan tetapi analisis ini terbatas hanya untuk sinyal sinus dalam keadaan
mantap. Berikut ini kita akan mempelajari analisis rangkaian di kawasan
s, yang dapat kita terapkan pada analisis rangkaian dengan sinyal sinus
maupun bukan sinus, keadaan mantap maupun keadaan peralihan.

Dalam analisis di kawasan s ini, sinyal-sinyal fungsi waktu f(t), ditrans-
formasikan ke kawasan s menjadi fungsi s, F(s). Sejalan dengan itu
pernyataan elemen rangkaian juga mengalami penyesuaian yang men-
gantarkan kita pada konsep impedansi di kawasan s. Perubahan pern-
yataan suatu fungsi dari kawasan t ke kawasan s dilakukan melalui
Transformasi Laplace, yang secara matematis didefinisikan sebagai suatu
integral

∫∞

=

0

)

(

)

(

dt

e

t

f

s

st

F

dengan s merupakan peubah kompleks, s = σ + jω. Batas bawah integrasi
ini adalah nol yang berarti bahwa dalam analisis rangkaian di kawasan s
kita hanya meninjau sinyal-sinyal kausal.

Dengan melakukan transformasi sinyal dari kawasan t ke kawasan s,
karakteristik i-v elemenpun mengalami penyesuaian dan mengantarkan
kita pada konsep impedansi dimana karakteristik tersebut menjadi fungsi
s. Dengan sinyal dan karakteristik elemen dinyatakan di kawasan s, maka
persamaan rangkaian tidak lagi berbentuk persamaan integrodiferensial
melainkan berbentuk persamaan aljabar biasa sehingga penanganannya
menjadi lebih mudah. Hasil yang diperoleh sudah barang tentu akan me-
rupakan fungsi-fungsi s. Jika kita menghendaki suatu hasil di kawasan
waktu, maka kita lakukan transformasi balik yaitu transformasi dari
fungsi s ke fungsi t.

Di bab ini kita akan membahas mengenai transformasi Laplace, sifat
transformasi Laplace, pole dan zero, transformasi balik, solusi persamaan
diferensial, serta transformasi bentuk gelombang dasar.

Transformasi Laplace

56 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

Setelah mempelajari analisis rangkaian menggunakan transformasi La-
place bagian pertama ini, kita akan
• memahami transformasi Laplace beserta sifat-sifatnya;
• mampu melakukan transformasi berbagai bentuk gelombang
sinyal dari kawasan t ke kawasan s.
• mampu mencari transformasi balik dari pernyataan bentuk ge-
lombang sinyal dari kawasan s ke kawasan t.

3.1. Transformasi Laplace

Melalui transformasi Laplace kita menyatakan suatu fungsi yang semula
dinyatakan sebagai fungsi waktu, t, menjadi suatu fungsi s di mana s ada-
lah peubah kompleks. Kita ingat bahwa kita pernah mentransformasikan
fungsi sinus di kawasan waktu menjadi fasor, dengan memanfaatkan
bagian nyata dari bilangan kompleks. Dengan transformasi Laplace kita
mentransformasikan tidak hanya fungsi sinus akan tetapi juga fungsi-
fungsi yang bukan sinus.

Transformasi Laplace dari suatu fungsi f(t) didefinisikan sebagai

∫∞

=

0

)

(

)

(

dt

e

t

f

s

st

F

(3.1)

dengan notasi :

∫∞

=

=

0

)

(

)

(

)]

(

[

dt

e

t

f

s

t

f

st

F

L

(3.2)

Dengan mengikuti langsung definisi ini, kita dapat mencari transformasi
Laplace dari suatu model sinyal, atau dengan kata lain mencari pern-
yataan sinyal tersebut di kawasan s. Berikut ini kita akan mengaplikasi-
kannya untuk bentuk-bentuk gelombang dasar.

3.1.1. Pernyataan Sinyal Anak Tangga di Kawasan s.

Pernyataan sinyal anak tangga di kawasan t adalah

)

(

)

(

t

Au

t
v =

.

Transformasi Laplace dari bentuk gelombang ini adalah

ω

+

σ

ω

+

σ

=

=

=

0

)

(

0

0

)

(

]

[

j

Ae

dt

Ae

dt

e

t

Au

Au(t)

t

j

st

st

L

Batas atas, dengan σ > 0, memberikan nilai 0, sedangkan batas bawah
memberikan nilai A/s.

Transformasi Laplace

57

Jadi

s

A

t
Au =

)]

(

[

L

(3.3)

3.1.2. Pernyataan Sinyal Eksponensial di Kawasan s

Transformasi Laplace bentuk gelombang eksponensial beramplitudo A,
yaitu v(t) = Ae−at

u(t) , adalah

+

+

+

=

=

=

0

)

(

0

)

(

0

)

(

)]

(

[

a

s

Ae

Ae

dt

e

t

u

e

A

t

u

Ae

t

a

s

t

a

s

st

-at

at

L

Dengan a > 0, batas atas memberikan nilai 0 sedangkan batas bawah
memberikan A/(s+a).

Jadi

a

s

A

t

u

Aeat

+

=

]

)

(

[

L

(3.4)

3.1.3. Sinyal Sinus di Kawasan s

Transformasi Laplace bentuk gelombang sinus v(t) = (A cos ωt) u(t)

adalah :

[

]

dt

e

t

A

dt

e

t

u

t

A

t

u

t

A

st

st

ω

=

ω

=

ω

0

0

)

cos

(

)

(

)

cos

(

)

(

)

cos

(

L

Dengan memanfaatkan hubungan Euler

2

/

)

(

cos

t

j

t

j

e

e

ω

ω

+

=

ω

, ruas

kanan persamaan di atas menjadi

2

2

)

(

0

)

(

0

0

2

2

2

ω

+

=

+

=

+

ω

ω

ω

ω

s

As

dt

e

A

dt

e

A

dt

e

e

e

A

t

s

j

t

s

j

st

t

j

t

j

Jadi

[

]

2

2

)

(

)

cos

(

ω

+

=

ω

s

s

A

t

u

t

A

L

(3.5)

Dengan cara yang sama, diperoleh

Transformasi Laplace

58 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

[

]

2

2

)

(

)

sin

(

ω

+

ω

=

ω

s

A

t

u

t

A

L

(3.6)

3.2. Tabel Transformasi Laplace

Transformasi Laplace dari bentuk gelombang anak tangga, eksponensial,
dan sinus di atas merupakan contoh bagaimana suatu transformasi
dilakukan. Kita lihat bahwa amplitudo sinyal, A, selalu muncul sebagai
faktor pengali dalam pernyataan sinyal di kawasan s. Transformasi dari
beberapa bentuk gelombang yang lain termuat dalam Tabel-3.1. dengan
mengambil amplitudo bernilai satu satuan. Tabel ini, walaupun hanya
memuat beberapa bentuk gelombang saja, tetapi cukup untuk keperluan
pembahasan analisis rangkaian di kawasan s yang akan kita pelajari di
buku ini.

Untuk selanjutnya kita tidak selalu menggunakan notasi L[f(t)]
sebagai pernyataan dari “transformasi Laplace dari f(t)”, tetapi
kita langsung memahami bahwa pasangan fungsi t dan
transformasi Laplace-nya adalah seperti : f(t) ↔ F(s) , v1(t) ↔
V1(s) , i4(t) ↔ I4(s) dan seterusnya. Dengan kata lain kita
memahami bahwa V(s) adalah pernyataan di kawasan s dari
v(t), I(s) adalah penyataan di kawasan s dari i(t) dan
seterusnya.
CONTOH-3.1: Carilah transformasi Laplace dari bentuk gelombang
berikut:

)

(

3

)

(

c).

;

)

(

)

10

sin(

5

)

(

b).

;

)

(

)

10

cos(

5

)

(

a).

2

3

2

1

t

u

e

t

v

t

u

t

t

v

t

u

t

t

v

t

=

=

=

Solusi : Dengan mnggunakan Tabel-3.1 kita peroleh :

2

3

)

(

)

(

3

)

(

c).

100

s

50

)

10
(

10

5

)

(

)

(

)

10

sin(

5

)

(

b).

100

5

)

10
(

5

)

(

)

(

)

10

cos(

5

)

(

a).

3

2

3

2

2

2

2

2

2

2

2

1

1

+

=

=

+

=

+

×

=

=

+

=

+

=

=

s

s

t

u

e

t

v

s

s

t

u

t

t

v

s

s

s

s

s

t

u

t

t

v

t

V

V

V

Transformasi Laplace

59

Tabel 3.1. Pasangan Transformasi Laplace

Pernyataan Sinyal
di Kawasan t : f(t)

Pernyataan Sinyal di Ka-
wasan s : L[f(t)]=F(s)

impuls : δ(t)

1

anak tangga : u(t)

s

1

eksponensial : [e−at

]u(t)

a

s +

1

cosinus : [cos ωt] u(t)

2

2

ω

+

s

s

sinus : [sin ωt] u(t)

2

2

ω

+

ω

s

cosinus teredam : [e−at

cos ωt] u(t)

( )

2

2

ω

+

+

+

a

s

a

s

sinus teredam : [e−at

sin ωt] u(t)

( )

2

2

ω

+

+

ω

a

s

cosinus tergeser : [cos (ωt + θ)] u(t)

2

2

sin

cos

ω

+

θ

ω

θ

s

s

sinus tergeser : [sin (ωt + θ)] u(t)

2

2

cos

sin

ω

+

θ

ω

+

θ

s

s

ramp : [ t ] u(t)

2

1

s

ramp teredam : [ t e−at

] u(t)

( )2

1

a

s +

Transformasi Laplace

60 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

3.3. Sifat-Sifat Transformasi Laplace

3.3.1. Sifat Unik

Sifat ini dapat dinyatakan sebagai berikut.

Jika f(t) mempunyai transformasi Laplace F(s) maka transformasi
balik dari F(s) adalah f(t).

Dengan kata lain

Jika pernyataan di kawasan s suatu bentuk gelombang v(t)
adalah V(s), maka pernyataan di kawasan t suatu bentuk
gelombang V(s) adalah v(t).

Bukti dari pernyataan ini tidak kita bahas di sini. Sifat ini memudahkan
kita untuk mencari F(s) dari suatu fungsi f(t) dan sebaliknya mencari
fungsi f(t) dari suatu fungsi F(s) dengan menggunakan tabel transformasi
Lapalace. Mencari fungsi f(t) dari suatu fungsi F(s) disebut mencari
transformasi balik dari F(s), dengan notasi L−

1[F(s)] = f(t) . Hal terakhir
ini akan kita bahas lebih lanjut setelah membahas sifat-sifat transformasi
Laplace.

3.3.2. Sifat Linier

Karena transformasi Laplace adalah sebuah integral, maka ia bersifat
linier.

Transformasi Laplace dari jumlah beberapa fungsi t adalah
jumlah dari transformasi masing-masing fungsi.

Jika

)

(

)

(

)

(

2

2

1

1

t

f

A

t

f

A

t

f

+

=

maka transformasi Laplace-nya adalah

[

]

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

2

2

1

1

02

2

01

1

0

2

2

1

1

s

A

s

A

dt

t

f

A

dt

t

f

A

dt

e

t

f

A

t

f

A

s

st

F

F

F

+

=

+

=

+

=

(3.7)

dengan F1(s) dan F2(s) adalah transformasi Laplace dari f1(t) dan f2(t).

CONTOH-3.2: a). Carilah transformasi Laplace dari :

)

(

)

3

1(

)

(

2

1

t

u

e

t

v

t

+

=

b). Jika transformasi Laplace sinyal eksponensial

Ae−at

u(t) adalah 1/(s+a), carilah transformasi dari

v2(t)=Acosωt u(t).

Transformasi Laplace

61

Solusi :

2

3

1

)

(

)

(

)

3

1(

)

(

a).

1

2

1

+

+

=

+

=

s

s

s

t

u

e

t

v

t

V

(

)

2

2

2

2

2

2

2

2

1

1

2

)

(

)

(

)

(

2

)

(

2

)

(

)

cos(

b).

ω

+

=



ω

+

=



ω

+

+

ω

=

+

=

+

=

ω

=

ω

ω

ω

ω

s

As

s

s

A

j

s

j

s

A

s

t

u

e

t

u

e

A

t

u

e

e

A

t

u

t

A

(t)

v

t

j

t

j

t

j

t

j

V

3.3.3. Integrasi

Sebagaimana kita ketahui karakteristik i-v kapasitor dan induktor meli-
batkan integrasi dan diferensiasi. Karena kita akan bekerja di kawasan s,
kita perlu mengetahui bagaimana ekivalensi proses integrasi dan diferen-
siasi di kawasan t tersebut. Transformasi Laplace dari integrasi suatu
fungsi dapat kita lihat sebagai berikut.

Misalkan

)

(

)

(

01

dx

x

f

t

f

t

=

. Maka

dt

t

f

s

e

dx

x

f

s

e

dt

e

dx

x

f

s

st

t

st

st

t

∫ ∫





=



=

0

1

0

01

001

)

(

)

(

)

(

)

(

F

Suku pertama ruas kanan persamaan di atas akan bernilai nol untuk t = ∞
karena e−st

= 0 pada t→∞ , dan juga akan bernilai nol untuk t = 0 karena
integral yang di dalam tanda kurung akan bernilai nol (intervalnya nol).
Tinggallah suku kedua ruas kanan; jadi

s

s

dt

e

t

f

s

dt

t

f

s

e

s

st

st

)

(

)

(

1

)

(

)

(

1

0

1

0

1

F

F

=

=

=

(3.8)

Jadi secara singkat dapat kita katakan bahwa :

Transformasi Laplace

62 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

transformasi dari suatu integrasi bentuk gelombang f(t) di kawasan t
dapat diperoleh dengan cara membagi F(s) dengan s.

CONTOH-3.3: Carilah transformasi Laplace dari fungsi ramp
r(t)=tu(t).

Solusi :

Kita mengetahui bahwa fungsi ramp adalah integral dari fungsi anak
tangga.

2

0

0

0

1

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

s

dt

e

dx

x

u

s

dx

x

u

t

tu

t

r

st

t

t

=



=

=

=

∫ ∫

R

Hasil ini sudah tercantum dalam Tabel.3.1.

3.3.4. Diferensiasi

Transformasi Laplace dari suatu diferensiasi dapat kita lihat sebagai
berikut.

Misalkan

dt

t

df

t

f

)

(

)

(

1

=

maka

[

]

=

=

01

0

1

0

1

)

)(

(

)

(

)

(

)

(

dt

e

s

t

f

e

t

f

dt

e

dt

t

df

s

st

st

st

F

Suku pertama ruas kanan bernilai nol untuk t = ∞ karena e−st

= 0 untuk
t→ ∞ , dan bernilai −f(0) untuk t = 0. Dengan demikian dapat kita tulis-
kan

)

0

(

)

(

)

0

(

)

(

)

(

1

1

0

1

f

s

s

f

dt

e

t

f

s

dt

t

df

st

=

=



∫∞

F

L

(3.9)

Transformasi dari suatu fungsi t yang diperoleh melalui diferen-
siasi fungsi f(t) merupakan perkalian dari F(s) dengan s di-
kurangi dengan nilai f(t) pada t = 0.

Transformasi Laplace

63

CONTOH-3.4: Carilah transformasi Laplace dari fungsi cos(ωt) dengan
memandang fungsi ini sebagai turunan dari sin(ωt).

Solusi :

2

2

2

2

)

0

sin(

1

)

(

)

sin(

1

)

cos(

)

(

ω

+

=



ω

+

ω

ω

=

ω

ω

=

ω

=

s

s

s

s

s

dt

t

d

t

t

f

F

Penurunan di atas dapat kita kembangkan lebih lanjut sehingga kita men-
dapatkan transformasi dari fungsi-fungsi yang merupakan fungsi turunan
yang lebih tinggi.

)

0

(

)

0

(

)

0

(

)

(

)

(

)

(

)

(

jika

)

0

(

)

0

(

)

(

)

(

)

(

)

(

jika

1

1

1

2

1

3

3

1

3

1

1

1

2

2

1

2

f

f
s

f

s

s

s

s

dt

t

f

d

t

f

f

sf

s

s

s

dt

t

f

d

t

f

′′

=

=

=

=

F

F

F

F

(3.10)

3.3.5. Translasi di Kawasan t

Sifat transformasi Laplace berkenaan dengan translasi di kawasan t ini
dapat dinyatakan sebagai berikut

Jika transformasi Laplace dari f(t) adalah F(s), maka
transformasi Laplace dari f(t−a)u(t−a) untuk a > 0 adalah
e−as

F(s).

Hal ini dapat kita lihat sebagai berikut. Menurut definisi, transformasi
Laplace dari f(t−a)u(t−a) adalah

∫∞

0

)

(

)

(

dt

e

a

t

u

a

t

f

st

Karena u(t−a) bernilai nol untuk t < a dan bernilai satu untuk t > a , ben-
tuk integral ini dapat kita ubah batas bawahnya serta tidak lagi menulis-
kan faktor u(t−a), menjadi

=

a

st

st

dt

e

a

t

f

dt

e

a

t

u

a

t

f

)

(

)

(

)

(

0

Transformasi Laplace

64 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

Kita ganti peubah integrasinya dari t menjadi τ dengan suatu hubungan τ
= (t−a). Dengan penggantian ini maka dt menjadi dτ dan τ = 0 ketika t =
a dan τ = ∞ ketika t = ∞. Persamaan di atas menjadi

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

0

0

)

(

0

s

e

d

e

f

e

d

e

f

dt

e

a

t

u

a

t

f

as

s

as

a

s

st

F

τ

+

τ

=

τ

τ

=

τ

τ

=

∫ ∫

(3.11)

CONTOH-3.5: Carilah transformasi Laplace
dari bentuk gelombang sinyal seperti
yang tergambar di samping ini.

Solusi :

Model bentuk gelombang ini dapat kita
tuliskan sebagai

)

(

)

(

)

(

a

t

Au

t

Au

t

f

=

.

Transformasi Laplace-nya adalah :

s

e

A

s

A

e

s

A

s

as

as

)

1(

)

(

=

=

F

3.3.6. Translasi di Kawasan s

Sifat mengenai translasi di kawasan s dapat dinyatakan sebagai berikut.

Jika transformasi Laplace dari f(t) adalah F(s) , maka
transformasi Laplace dari e−αt

f(t) adalah F(s + α).

Bukti dari pernyataan ini dapat langsung diperoleh dari definisi trans-
formasi Laplace, yaitu

)

(

)

(

)

(

0

)

(

0

α

+

=

=

α

+

α

s

dt

e

t

f

dt

e

t

f

e

t

s

st

t

F

(3.19)

Sifat ini dapat digunakan untuk menentukan transformasi fungsi teredam
jika diketahui bentuk transformasi fungsi tak teredamnya.

f(t)

A

0 a →t

Transformasi Laplace

65

CONTOH-3.6: Carilah transformasi Laplace dari fungsi-fungsi ramp
teredam dan sinus teredam berikut ini :

)

(

cos

b).

;

)

(

a).

2

1

t

u

t

e

v

e

t

tu

v

t

t

ω

=

=

α

α

Solusi :

2

2

2

2

2

2

2

1

1

2

)

(

)

(

)

(

cos

)

(

jika

maka

,

)

(

)

(

cos

)

untuk

Karena

b).

)

(

1

)

(

)

(

)

(

jika

maka

,

1

)

(

)

(

)

(

untuk

Karena

a).

ω

+

α

+

α

+

=

ω

=

ω

+

=

ω

=

α

+

=

=

=

=

α

α

s

s

s

t

u

t

e

t

v

s

s

s

t

u

t

t

v

s

s

e

t

tu

t

v

s

s

t

tu

t

v

t

t

V

V

V

F

(

3.3.7. Pen-skalaan (scaling)

Sifat ini dapat dinyatakan sebagai :

Jika transformasi Laplace dari f(t) adalah F(s) , maka untuk a

> 0 transformasi dari f(at) adalah



a

s

F

a

1

.

Bukti dari sifat ini dapat langsung diperoleh dari definisinya. Dengan
mengganti peubah t menjadi τ = at maka transformasi Laplace dari f(at)
adalah:

τ



=

τ

τ

=

0

0

1

)

(

1

)

(

a

s

a

d

e

f

a

dt

e

at

f

a

s

st

F

(3.12)

Jadi, jika skala waktu diperbesar (a > 1) maka skala frekuensi s mengecil
dan sebaliknya apabila skala waktu diperkecil (a < 1) maka skala
frekuensi menjadi besar.

3.3.8. Nilai Awal dan Nilai Akhir

Sifat transformasi Laplace berkenaan dengan nilai awal dan nilai akhir
dapat dinyatakan sebagai berikut.

Transformasi Laplace

66 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

0

0

)

(

lim

)

(

lim

:

akhir

Nilai

)

(

lim

)

(

lim

:

awal

Nilai

+

=

=

s

t

s

t

s

s

t

f

s

s

t

f

F

F

Jadi nilai f(t) pada t = 0+

di kawasan waktu (nilai awal) sama dengan
nilai sF(s) pada tak hingga di kawasan s. Sedangkan nilai f(t) pada t = ∞
(nilai akhir) sama dengan nilai sF(s) pada titik asal di kawasan s. Sifat
ini dapat diturunkan dari sifat diferensiasi.

CONTOH-3.7: Transformasi Laplace dari suatu sinyal adalah

)

20

)(

5

(

3

100

)

(

+

+

+

=

s

s

s

s

s

V

Carilah nilai awal dan nilai akhir dari v(t).

Solusi :

Nilai awal adalah :

0

)

20

)(

5

(

3

100

lim

)

(

lim

)

(

lim

0

=



+

+

+

×

=

=

+

s

s

s

s

s

s

s

t

v

s

s

t

V

Nilai akhir adalah :

3

)

20

)(

5

(

3

100

lim

)

(

lim

)

(

lim

0

0

=



+

+

+

×

=

=

s

s

s

s

s

s

s

t

v

s

s

t

V

Tabel 3.2. memuat sifat-sifat transformasi Laplace yang dibahas di atas
kecuali sifat yang terakhir yaitu konvolusi. Konvolusi akan dibahas di
bagian akhir dari pembahasan mengenai transformasi balik.

Transformasi Laplace

67

Tabel 3.2. Sifat-sifat Transformasi Laplace

Pernyataan f(t)

Pernyataan F(s) =L[f(t)]

linier : A1 f1(t) + A2 f2(t)

A1F1(s) + A2 F2(s)

integrasi :

∫t

dx

x

f

0

)

(

s

s)

(

F

diferensiasi :

dt

t
df)
(

)

0

(

)

(

−f

s

sF

2

2

)

(

dt

t

f

d

)

0

(

)

0

(

)

(

2

f

sf

s

sF

3

3

)

(

dt

t

f

d

)

0

(

)

0

(

)

0

(

)

(

2

3

′′

f

sf

f

s

s

sF

linier : A1 f1(t) + A2 f2(t)

A1F1(s) + A2 F2(s)

translasi di t: [ ]

)

(

)

(

a

t

u

a

t

f

)

(s

eas

F

translasi di s :

)

(t

f

eat

)

(a
s+

F

penskalaan :

)

(at

f



a

s

aF

1

nilai awal :

0

)

(

lim

+

t

t

f

)

(

lim

s

s

sF

nilai akhir :

)

(

lim

t

t

f

0

)

(

lim

s

s

sF

konvolusi :

dx

x

t

f

x

f

t

)

(

)

(

0

2

1

)

(

)
(2

1

s

sF

F

Transformasi Laplace

68 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

3.4. Transformasi Balik

Berikut ini kita akan membahas mengenai transformasi balik, yaitu men-
cari f(t) dari suatu F(s) yang diketahui. Jika F(s) yang ingin dicari trans-
formasi baliknya ada dalam tabel transformasi Laplace yang kita punyai,
pekerjaan kita cukup mudah. Akan tetapi dalam analisis rangkaian di
kawasan s, pada umumnya F(s) berupa rasio polinomial yang bentuknya
tidak sesederhana dan tidak selalu ada pasangannya seperti dalam tabel.
Untuk mengatasi hal itu, F(s) kita uraikan menjadi suatu penjumlahan
dari bentuk-bentuk yang ada dalam tabel, sehingga kita akan memperoleh
f(t) sebagai jumlah dari bentuk-bentuk gelombang sederhana. Dengan
perkataan lain kita membuat F(s) menjadi transformasi dari suatu gelom-
bang komposit dan kelinieran dari transformasi Laplace akan memberi-
kan transformasi balik dari F(s) yang berupa jumlah dari bentuk-bentuk
gelombang sederhana. Sebelum membahas mengenai transformasi balik
kita akan mengenal lebih dulu pengertian tentang pole dan zero.

3.4.1. Pole dan Zero

Pada umumnya, transformasi Laplace berbentuk rasio polinom

0

1

1

1

0

1

1

1

)

(

a

s

a

s

a

s

a

b

s

b

s

b

s

b

s

n

n

n

n

m

m

m

m

+

+

+

+

+

+

+

+

=

L

L

F

(3.13)

yang masing-masing polinom dapat dinyatakan dalam bentuk faktor
menjadi

)

(

)

)(

(

)

(

)

)(

(

)

(

2

1

2

1

n

m

p

s

p

s

p

s

z

s

z

s

z

s

K

s

=

L

L

F

(3.14)

dengan K = bm/an dan disebut faktor skala.

Akar-akar dari pembilang dari pernyataan F(s) di atas disebut zero
karena F(s) bernilai nol untuk s = zk (k = 1, 2, …m). Akar-akar dari
penyebut disebut pole karena pada nilai s = pk (k = 1, 2, …n) nilai
penyebut menjadi nol dan nilai F(s) menjadi tak-hingga. Pole dan zero
disebut frekuensi kritis karena pada nilai-nilai itu F(s) menjadi nol atau
tak-hingga.
Peubah s merupakan peubah kompleks s = σ + jω. Dengan demikian kita
dapat memetakan pole dan zero dari suatu F(s) pada bidang kompleks
dan kita sebut diagram pole-zero. Titik pole diberi tanda ″× ″ dan titik
zero diberi tanda ″o ″. Perhatikan contoh 3.8. berikut.

Transformasi Laplace

69

CONTOH-3.8: Gambarkan diagram pole-zero dari

s

s

b

a

s

a

s

A

s

s

s

1

)

(

c).

)

(

)

(

)

(

b).

1

1

)

(

a).

2

2

=

+

+

+

=

+

=

F

F

F

Solusi :

a). Fungsi ini mempunyai pole di s = −1
tanpa zero

tertentu.

b). Fungsi ini mempunyai zero di s = −a.
Pole dapat dicari dari

jb

a

s

b

a

s

±

=

=

+

+

di

pole

0

)

(

2

2

c). Fungsi ini tidak mempunyai zero tertentu
sedangkan pole terletak di titik asal, s = 0 +
j0.

3.4.2. Bentuk Umum F(s)

Bentuk umum F(s) adalah seperti (3.14) yaitu

)

(

)

)(

(

)

(

)

)(

(

)

(

2

1

2

1

n

m

p

s

p

s

p

s

z

s

z

s

z

s

K

s

=

L

L

F

Jika jumlah pole lebih besar dari jumlah zero, jadi n > m, kita katakan
bahwa fungsi ini merupakan fungsi rasional patut. Jika fungsi ini mem-
iliki pole yang semuanya berbeda, jadi pi ≠ pj untuk i ≠ j , maka dikata-
kan bahwa F(s) mempunyai pole sederhana. Jika ada pole yang berupa
bilangan kompleks kita katakan bahwa fungsi ini mempunyai pole
kompleks. Jika ada pole-pole yang bernilai sama kita katakan bahwa
fungsi ini mempunyai pole ganda.

σ

×
−1

σ

σ

+jb

−a

−jb

Transformasi Laplace

70 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

3.4.3. Fungsi Dengan Pole Sederhana

Apabila fungsi rasional F(s) hanya mempunyai pole sederhana, maka ia
dapat diuraikan menjadi berbentuk

)

(

)

(

)

(

)

(

2

2

1

1

n

n

p

s

k

p

s

k

p

s

k

s

+

+

+

=

L

F

(3.15)

Jadi F(s) merupakan kombinasi linier dari beberapa fungsi sederhana;
konstanta k yang berkaitan dengan setiap fungsi pembangun F(s) itu kita
sebut residu. Kita ingat bahwa transformasi balik dari masing-masing
fungsi sederhana itu berbentuk ke−αt

. Dengan demikian maka

transformasi balik dari F(s) menjadi

t

p

n

t

p

t

p

n

e

k

e

k

e

k

t

f

+

+

+

=

L

2

1

2

1

)

(

(3.16)

Persoalan kita sekarang adalah bagaimana menentukan residu. Untuk
mencari k1, kita kalikan kedua ruas (3.15) dengan (s − p1) sehingga faktor
(s− p1) hilang dari ruas kiri sedangkan ruas kanan menjadi k1 ditambah
suku-suku lain yang semuanya mengandung faktor (s− p1). Kemudian
kita substitusikan s = p1 sehingga semua suku di ruas kanan bernilai nol
kecuali k1 dan dengan demikian diperoleh nilai k1. Untuk mencari k2, kita
kalikan kedua ruas (3.15) dengan (s − p2) kemudian kita substitusikan s =
p2; demikian seterusnya sampai semua nilai k diperoleh, dan transformasi
balik dapat dicari.

CONTOH-3.9: Carilah f(t) dari fungsi transformasi berikut.

)

4

)(

1

(

)

2

(

6

)

(

c).

;

)

3

)(

1

(

)

2

(

4

)

(

b).

;

)

3

)(

1

(

4

)

(

a).

+

+

+

=

+

+

+

=

+

+

=

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

F

F

F

Solusi :

a).

3

1

)

3

)(

1

(

4

)

(

2

1

+

+

+

=

+

+

=

s

k

s

k

s

s

s

F

Transformasi Laplace

71

2

3

1

4

1

substitusi

)
1

(

3

)

3

(

4

)
1

(

)

(

1

1

2

1

=

=

+

=

+

+

+

=

+

+

×

k

k

s

s

s

k

k

s

s

s

F

t

t

e

e

t

f

s

s

s

k

k

s

s

s

3

2

2

2

2

)

(

3

2

1

2

)

(

2

1

3

4

3

substitusi

dan

)

3

(

)

(

=

+

+

+

=

=

=

+

=

+

×

F

F

b).

3

1

)

3

)(

1

(

)

2

(

4

)

(

2

1

+

+

+

=

+

+

+

=

s

k

s

k

s

s

s

s

F

t

t

e

e

t

f

s

s

s

k

k

s

s

s

k

k

s

s

s

3

2

2

1

1

2

2

)

(

3

2

1

2

)

(

2

1

3

)

2

3

(

4

3

substitusi

dan

)

3

(

)

(

2

3

1

)

2

1

(

4

1

substitusi

dan

)
1

(

)

(

+

=

+

+

+

=

=

=

+

+

=

+

×

=

=

+

+

=

+

×

F

F

F

c).

4

1

)

4

)(

1

(

)

2

(

6

)

(

3

2

1

+

+

+

+

=

+

+

+

=

s

k

s

k

s

k

s

s

s

s

s

F

Dengan cara seperti di a) dan b) kita peroleh

t

t

s

s

s

e

e

t

f

s

s

s

s

s

s

s

k

s

s

s

k

s

s

s

k

4

4

3

1

2

0

1

2

3

)

(

4

1

1

2

3

)

(

1

)
1

(

)

2

(

6

;

2

)

4

(

)

2

(

6

;

3

)

4

)(

1

(

)

2

(

6

=

=

=

=

+

+

+

+

=

=

+

+

=

=

+

+

=

=

+

+

+

=

F

3.4.4 Fungsi Dengan Pole Kompleks

Secara fisik, fungsi F(s) merupakan rasio polinomial dengan koefisien
riil. Jika F(s) mempunyai pole kompleks yang berbentuk p = −α + jβ,
maka ia juga harus mempunyai pole lain yang berbentuk p* = −α − jβ;

Transformasi Laplace

72 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

sebab jika tidak maka koefisien polinomial tersebut tidak akan riil. Jadi
untuk sinyal yang memang secara fisik kita temui, pole kompleks dari
F(s) haruslah terjadi secara berpasangan konjugat. Oleh karena itu uraian
F(s) harus mengandung dua suku yang berbentuk

L

L

+

β

+

α

+

+

β

α

+

+

=

j

s

k

j

s

k

s

*

)

(

F

(3.17)

Residu k dan k* pada pole konjugat juga merupakan residu konjugat se-
bab F(s) adalah fungsi rasional dengan koefisien rasional. Residu ini
dapat kita cari dengan cara yang sama seperti mencari residu pada uraian
fungsi dengan pole sederhana. Kita cukup mencari salah satu residu dari
pole kompleks karena residu yang lain merupakan konjugatnya.

Transformasi balik dari dua suku dengan pole kompleks akan berupa
cosinus teredam. Tansformasi balik dari dua suku pada (3.17) adalah

)

cos(

2

2

2

*

)

(

)

(

)

(

))

(

(

))

(

(

)

(

)

(

)

(

)

(

θ

+

β

=

+

=

+

=

+

=

+

=

α

θ

+

β

θ

+

β

α

θ

+

β

+

α

θ

+

β

α

β

+

α

θ

β

α

θ

β

+

α

β

α

t

t

j

t

j

t

t

j

t

j

t

j

j

t

j

j

t

j

t

j

k

e

k

e

e

e

k

e

k

e

k

e

e

k

e

e

k

e

k

ke

t

f

(3.18)

Jadi f(t) dari (3.17) akan berbentuk :

L

L

+

θ

+

β

+

=

α

)

cos(

2

)

(

t

e

k

t

f

CONTOH-3.10: Carilah transformasi balik dari

)

8

4

(

8

)

(

2

+

+

=

s

s

s

s

F

Solusi :

Fungsi ini mempunyai pole sederhana di s = 0, dan pole kompleks
yang dapat ditentukan dari faktor penyebut yang berbentuk kwadrat,
yaitu

2

2

2

32

16

4

j

s

±

=

±

=

Transformasi Laplace

73

Uraian dari F(s) , penentuan residu, serta transformasi baliknya ada-
lah sebagai berikut.

1

8

8

)

8

4

(

8

2

2

2

2

)

8

4

(

8

)

(

0

2

1

2

2

1

2

=

=

×

+

+

=

+

+

+

+

+

=

+

+

=

=

s

s

s

s

s

k

j

s

k

j

s

k

s

k

s

s

s

s

F

)

4

/

3

(

2

)

4

/

3

(

2

2

2

2

2

2

2

2

2

2

8

8

8

)

2

2

(

8

)

2

2

(

)

8

4

(

8

π

π

+

=

+

=

=

=

=

+

+

=

+

×

+

+

=

j

j

j

s

j

s

e

k

e

j

j

s

s

j

s

s

s

s

k

[

]

)

4

/

3

2

cos(

2

)

(

2

2

)

(

2

2

2

2

)

(

2

)

2

4

/

3

(

)

2

4

/

3

(

2

)

2

2

(

)
4

/

3

(

)

2

2

(

)

4

/

3

(

π

+

+

=

+

+

=

+

+

=

+

π

+

π

+

π

π

t

e

t

u

e

e

e

t

u

e

e

e

e

t

u

f(t)

t

t

j

t

j

t

t

j

j

t

j

j

3.4.5. Fungsi Dengan Pole Ganda

Pada kondisi tertentu, fungsi F(s) dapat mempunyai pole ganda. Pengu-
raian F(s) yang demikian ini dilakukan dengan “memecah” faktor yang
mengandung pole ganda dengan tujuan untuk mendapatkan bentuk
fungsi dengan pole sederhana yang dapat diuraikan seperti biasanya. Un-
tuk jelasnya kita ambil suatu fungsi yang mengandung pole ganda (dua
pole sama) seperti pada (3.19) berikut ini.

2

2

1

1

)

)(

(

)

(

)

(

p

s

p

s

z

s

K

s

=

F

(3.19)

Dengan mengeluarkan salah satu faktor yang mengandung pole ganda
kita dapatkan

Transformasi Laplace

74 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)



=

)

)(

(

)

(

1

)

(

2

1

1

2

p

s

p

s

z

s

K

p

s

s

F

(3.20)

Bagian yang didalam tanda kurung dari (3.20) mengandung pole
sederhana sehingga kita dapat menguraikannya seperti biasa.

2

2

1

1

2

1

1

1

)

)(

(

)

(

)

(

p

s

k

p

s

k

p

s

p

s

z

s

K

s

+

=



=

F

(3.21)

Residu pada (3.21) dapat ditentukan, misalnya k1 = A dan k2 = B , dan
faktor yang kita keluarkan kita masukkan kembali sehingga (3.20)
menjadi

2

2

1

2

2

1

2

)

(

)

)(

(

1

)

(

p

s

B

p

s

p

s

A

p

s

B

p

s

A

p

s

s

+

=



+

=

F

dan suku pertama ruas kanan diuraikan lebih lanjut menjadi

2

2

2

12

1

11

)

(

)

(

p

s

B

p

s

k

p

s

k

s

+

+

=

F

(3.22)

Transformasi balik dari (3.22) adalah

t

p

t

p

t

p

Bte

e

k

e

k

t

f

2

2

1

12

11

)

(

+

+

=

(3.23)

CONTOH-3.11: Tentukan transformasi balik dari fungsi:

2

)

2

)(

1

(

)

(

+

+

=

s

s

s

s

F

Solusi :

2

)
1

(

1

)

2

(

2

1

)

2

(

1

)

2

)(

1

(

)

2

(

1

)

2

)(

1

(

)

(

2

2

1

1

2

1

2

=

+

=

=

+

=



+

+

+

+

=



+

+

+

=

+

+

=

=

=

s

s

s

s

k

s

s

k

s

k

s

k

s

s

s

s

s

s

s

s

s

F

Transformasi Laplace

75

2

12

11

2

)

2

(

2

2

1

)

2

(

2

)

2

)(

1

(

1

2

2

1

1

)

2

(

1

)

(

+

+

+

+

+

=

+

+

+

+

=



+

+

+

+

=

s

s

k

s

k

s

s

s

s

s

s

s

F

t

t

t

s

s

te

e

e

t

f

s

s

s

s

s

k

s

k

2

2

2

2

12

1

11

2

)

(

)

2

(

2

2

1

1

1

)

(

1

1

1

1

2

1

=

=

+

+

=

+

+

+

+

+

=

=

+

=

=

+

=

F

3.4.6. Konvolusi

Transformasi Laplace menyatakan secara timbal balik bahwa

)

(

)

(

(s)

maka

)

(

)

(

)

(

jika

2

1

2

1

s

s

t

f

t

f

t

f

F

F

F

+

=

+

=

)

(

)

(

(t)

maka

)

(

)

(

)

(

jika

2

1

2

1

t

f

t

f

f

s

s

s

+

=

+

=

F

F

F

Kelinieran dari transformasi Laplace ini tidak mencakup perkalian. Jadi

)

(

)

(

)

(

maka

)

(

)

(

)

(

jika

2

1

2

1

t

f

t

f

t

f

s

s

s

=

F

F

F

Mencari fungsi f(t) dari suatu fungsi F(s) yang merupakan hasil kali dua
fungsi s yang berlainan, melibatkan sifat transformasi Laplace yang kita
sebut konvolusi. Sifat ini dapat dinyatakan sebagai berikut.

[ ]

τ

τ

τ

=

τ

τ

τ

=

=

=

t

t

d

t

f

f

d

t

f

f

t

f

s

s

s

s

0

1

2

0

2

1

1

2

1

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

maka

)

(

)

(

)

(

jika

F

F

F

F

L

(3.24)

Kita katakan bahwa transformasi balik dari perkalian dua F(s) diperoleh
dengan melakukan konvolusi dari kedua bentuk gelombang yang ber-
sangkutan. Kedua bentuk integral pada (3.24) disebut integral konvolusi.

Pandanglah dua fungsi waktu f1(τ) dan f2(t). Transformasi Laplace mas-
ing-masing adalah

∫∞

τ

τ

τ

=

01

1

)

(

)

(

d

e

f

s

s

F

dan

∫∞

=

02

2

)

(

)

(

dt

e

t

f

s

st

F

.

Jika kedua ruas dari persamaan pertama kita kalikan dengan F2(s) akan
kita peroleh

Transformasi Laplace

76 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

∫∞

τ

τ

τ

=

0

2

1

2

1

)

(

)

(

)

(

)

(

d

s

e

f

s

s

s

F

F

F

.

Sifat translasi di kawasan waktu menyatakan bahwa e−sτ

F2(s) adalah
transformasi Laplace dari [ f2(t−τ) ] u(t−τ) sehingga persamaan tersebut
dapat ditulis

∫ ∫

τ



τ

τ

τ

=

0

02

1

2

1

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

d

dt

e

t

u

t

f

f

s

s

st

F

F

Karena untuk τ > t nilai u(t−τ) = 0, maka integrasi yang berada di dalam
kurung pada persamaan di atas cukup dilakukan dari 0 sampai t saja, se-
hingga

∫ ∫

∫ ∫

τ



τ

τ

=

τ



τ

τ

=

0

0

2

1

0

02

1

2

1

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

d

dt

e

t

f

f

d

dt

e

t

f

f

s

s

t

st

t

st

F

F

Dengan mempertukarkan urutan integrasi, kita peroleh



τ

τ

τ

=



τ

τ

τ

=

∫ ∫

t

st

t

d

t

f

f

dt

e

d

t

f

f

s

s

0

2

1

0

0

2

1

2

1

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

L

F

F

CONTOH-3.12: Carilah f(t) dari F(s) berikut.

)

(

1

)

(

c).

)

)(

(

1

)

(

b).

)

(

1

)

(

a).

2

2

a

s

s

s

b

s

a

s

s

a

s

s

+

=

+

+

=

+

=

F

F

F

Solusi : a). Fungsi ini kita pandang sebagai perkalian dari dua
fungsi.

Transformasi Laplace

77

at

t

at

t

ax

at

ax

t

x

t

a

ax

t

at

te

dx

e

dx

e

dx

e

e

dx

x

t

f

x

f

t

f

e

t

f

t

f

a

s

s

s

s

s

s

+

=

=

=

=

=

=

=

+

=

=

=

0

0

0

)

(

0

2

1

2

1

2

1

2

1

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

)

(

1

)

(

)

(

dengan

)

(

)

(

)

(

F

F

F

F

F

b). Fungsi ini juga merupakan perkalian dari dua fungsi.

bt

at

e

t

f

e

t

f

b

s

s

a

s

s

s

s

s

=

=

+

=

+

=

=

)

(

dan

)

(

)

(

1

)

(

dan

)

(

1

)

(

dengan

)

(

)

(

)

(

2

1

2

1

2

1

F

F

F

F

F

(

)

b

a

e

e

b

a

e

e

b

a

e

e

dx

e

e

dx

e

e

dx

x

t

f

x

f

t

f

bt

at

t

b

a

bt

t

x

b

a

bt

t

x

b

a

bt

t

x

t

b

ax

t

+

=

+

=



+

=

=

=

=

+

+

+

1

)

(

)

(

)

(

)

(

0

)

(

0

)

(

0

)

(

0

2

1

c). Fungsi ketiga ini juga dapat dipandang sebagai perkalian dua

fungsi.

2

2

0

2

0

0

0

0

)

(

0

2

1

2

1

2

2

1

2

1

1

1

0

0

)

(

)

(

)

(

)

(

dan

)

(

1

)

(

dan

1

)

(

dengan

)

(

)

(

)

(

a

e

at

a

e

a

te

e

a

e

a

te

e

dx

a

e

a

xe

e

dx

xe

e

dx

xe

dx

x

t

f

x

f

t

f

e

t

f

t

t

f

a

s

s

s

s

s

s

s

at

at

at

at

t

ax

at

at

tax

t

ax

at

t

ax

at

t

x

t

a

t

at

+

=



=



=



=

=

=

=

=

=

+

=

=

=

F

F

F

F

F

Transformasi Laplace

78 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

3.5. Solusi Persamaan Rangkaian Menggunakan Transformasi
Laplace

Dengan menggunakan transformasi Laplace kita dapat mencari solusi
suatu persamaan rangkaian (yang sering berbentuk persamaan
diferensial) dengan lebih mudah. Transformasi akan mengubah
persamaan diferensial menjadi persamaan aljabar biasa di kawasan s
yang dengan mudah dicari solusinya. Dengan mentransformasi balik
solusi di kawasan s tersebut, kita akan memperoleh solusi dari persamaan
diferensialnya.
CONTOH-3.13: Gunakan transformasi Laplace untuk mencari solusi
persamaan berikut.

5

)

0

(

,

0

10

=

=

+

+

v

v

dt

dv

Solusi :

Transformasi Laplace persamaan diferensial ini adalah

10

5

)

(

0

)

(

10

5

)

(

atau

0

)

(

10

)

0

(

)

(

+

=

=

+

=

+

− +

s

s

s

s

s

s

v

s

s

V

V

V

V

V

Transformasi balik memberikan

t

e

t

v

10

5

)
( −

=

Transformasi Laplace dapat kita manfaatkan untuk mencari solusi dari
persamaan diferensial dalam analisis transien. Langkah-langkah yang
harus dilakukan adalah :

1. Menentukan persamaan diferensial rangkaian di kawasan waktu.

2. Mentransformasikan persamaan diferensial yang diperoleh pada
langkah 1 ke kawasan s dan mencari solusinya.

3. Transformasi balik solusi yang diperoleh pada langkah 2 untuk
memperoleh tanggapan rangkaian.

Transformasi Laplace

79

CONTOH-3.14: Saklar S pada rangkaian di samping ini ditutup pada t =
0. Tentukan tegangan kapasitor untuk t > 0 jika sesaat sebelum S di-
tutup tegangan kapasitor 2 V.

Solusi :

Langkah pertama
adalah
menentukan
persamaan
rangkaian untuk t
> 0. Aplikasi
HTK memberikan

0

2

6

atau

0

100

6

=

+

+

=

+

+

C

C

C

v

dt

dv

v

i

.

Langkah kedua adalah mentransformasikan persamaan ini ke kawa-
san s, menjadi

0

)

(

2

)

(

2

6

atau

0

)

(

)

0

(

)

(

2

6

=

+

+

=

+

+

s

s

s

s

s

v

s

s

s

C

C

C

C

C

V

V

V

V

Pemecahan persamaan ini dapat diperoleh dengan mudah.

5,
0

5

6

)

(

5

3

dan

6

)

5,
0

(

3

5,
0

)

5,
0

(

3

)

(

5,
0

2

0

1

2

1

+

=

=

+

=

=

+

+

=

+

+

=

+

+

=

=

=

s

s

s

s

s

k

s

s

k

s

k

s

k

s

s

s

s

C

s

s

C

V

V

Langkah terakhir adalah mentransformasi balik VC (s) :

V

5

6

)

(

5,
0t

C

e

t

v

=

+

100Ω

S

12 V

i

+
vC

0,02F

Transformasi Laplace

80 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

CONTOH-3.15: Pada rangkaian di samping ini, saklar S dipindahkan
dari posisi 1 ke 2 pada t = 0. Tentukan i(t) untuk t > 0, jika sesaat se-
belum saklar dipindah tegangan kapasitor 4 V dan arus induktor 2 A.

Solusi :

Aplikasi HTK pada rangkaian ini setelah saklar ada di posisi 2 ( t > 0
) memberikan

∫∫

=

+

+

+

+

=

+

+

+

+

0

4

13

6

6

atau

0

)

0

(

1

6

6

idt

dt

di

i

v

idt

C

dt

di

L

i

C

Transformasi Laplace dari persamaan rangkaian ini menghasilkan

0

4

)

(

13

2

)

(

)

(

6

6

atau

0

4

)

(

13

)

0

(

)

(

)

(

6

6

=

+

+

+

+

=

+

+

+

+

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

i

s

s

s

s

I

I

I

I

I

I

Pemecahan persamaan ini adalah :

2

3

2

3

)

2

3

)(

2

3

(

2

2

13

6

2

2

)

(

1

1

2

j

s

k

j

s

k

j

s

j

s

s

s

s

s

s

+

+

+

+

=

+

+

+

+

=

+

+

+

=

I

1/13 F

+

1 H

6 Ω

6 V

+
vC

i

S

1

2

Bagian

lain
rangkaian

Transformasi Laplace

81

2

3

2

2

3

2

)

(

2

2

1

1

2

3

2

2

o

o

o

o

45

45

45

1

45

2

3

1

j

s

e

j

s

e

s

e

k

e

j

j

s

s

k

j

j

j

j

j

s

+

+

+

+

=

=

=

+

=

+

+

+

=

+

=

I

Transformasi balik dari I(s) memberikan

A

)

2

sin

2

(cos

2

2

2

)

(

3

)

2

3

(

45

)

2

3

(

45

o

o

t

t

e

e

e

e

e

t

i

t

t

j

j

t

j

j

=

+

=

+

Transformasi Laplace

82 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

Soal-Soal

1. Carilah pernyataannya di kawasan s sinyal-sinyal berikut ini.

)

(

]

4

2

[
10

)

(

);

(

]

[
10

)

(

)

(

]

4

1[
10

)

(

);

(

]

1[
10

)

(

4

2

4

4

2

3

2

2

1

t

u

e

e

t

v

t

u

e

e

t

v

t

u

t

t

v

t

u

e

t

v

t

t

t

t

t

=

=

+

=

=

2. Carilah pernyataannya di kawasan s sinyal-sinyal berikut ini.

)

(

]

10

sin

2

1[
15

)

(

);

(

]

10

cos

20

[cos

15

)

(

)

(

]

20

sin

20

[cos

15

)

(

);

(

)]

30

20

[sin(

15

)

(

4

3

2

o

1

t

u

t

t

v

t

u

t

t

t

v

t

u

t

t

t

v

t

u

t

t

v

=

=

=

=

3. Carilah pernyataannya di kawasan s sinyal-sinyal berikut ini.

)

(

)]

10

sin

2

1(

[
20

)

(

);

(

)]

10

cos

20

(cos

[
20

)

(

)

(

)]

20

sin

20

(cos

[
20

)

(

);

(

)]

30

20

sin(

[
20

)

(

2

4

2

3

2

2

o

2

1

t

u

t

e

t

v

t

u

t

t

e

t

v

t

u

t

t

e

t

v

t

u

t

e

t

v

t

t

t

t

=

=

=

=

4. Carilah pernyataannya di kawasan s sinyal-sinyal berikut ini.

)

(

]

10

sin

[
20

)

(

);

(

20

)

(

)

(

)]

20

)(sin

20

[(cos

15

)

(

);

(

)]

10

[cos

15

)

(

2

4

2

3

2

2

1

t

u

t

e

t

v

t

u

te

t

v

t

u

t

t

t

v

t

u

t

t

v

t

t

=

=

=

=

Transformasi Laplace

83

5. Berikut ini adalah pernyataan sinyal di kawasan s. Carilah pern-
yataannya di kawasan waktu t.

)

4

)(

3

)(

2

(

)

(

;

)
3

)(

2

(

)

(

)
3

)(

2

(

)

(

;

)
3

)(

2

(

1

)

(

2

4

2

3

2

1

+

+

+

=

+

+

=

+

+

=

+

+

=

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

V

V

V

V

6. Carilah pernyataan di kawasan waktu dari sinyal yang dinyatakan di
kawasan s berikut ini.

9

)

2

(

)

(

;

9

)

2

(

)

(

;

9

)

2

(

1

)

(

2

2

3

2

2

2

1

+

+

=

+

+

=

+

+

=

s

s

s

s

s

s

s

s

V

V

V

7. Berikut ini adalah pernyataan sinyal di kawasan s; carilah pern-
yataannya di kawasan waktu.

)
3

(

1

)

(

;

)
3

(

1

)

(

;

)
3

(

1

)

(

3

2

1

+

=

+

=

+

=

s

s

s

s

s

s

s

s

V

V

V

Transformasi Laplace

84 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

8. Berikut ini adalah pernyataan sinyal di kawasan s; carilah pern-
yataannya di kawasan waktu.

25

6

10

)

(

;

16

8

10

)

(

;

16

10

10

)

(

2

3

2

2

2

1

+

+

=

+

+

=

+

+

=

s

s

s

s

s

s

s

s

s

V

V

V

9. Carilah pernyataannya di kawasan waktu sinyal-sinyal berikut ini.

)

4

)(

3

)(

2

(

46

34

6

)

(

;

)

4

)(

3

)(

2

(

26

9

)

(

;

)
3

)(

2

(

14

6

)

(

2

3

2

1

+

+

+

+

+

=

+

+

+

+

=

+

+

+

=

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

V

V

V

10. Carilah pernyataannya di kawasan waktu sinyal-sinyal berikut ini.

)
100

)(

20

(

)
200

)(

10

(

)

(

;

)

4

2

(

)

4

)(

1

(

)

(

;

)
3

)(

1

2

(

2

)

(

3

2

2

2

2

1

+

+

+

+

=

+

+

+

+

=

+

+

+

+

=

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

V

V

V

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace

85

BAB 4 Analisis Rangkaian Menggunakan
Transformasi Laplace

Setalah mempelajari bab ini kita akan
• memahami konsep impedansi di kawasan s.
• mampu melakukan transformasi rangkaian ke kawasan s.
• mampu melakukan analisis rangkaian di kawasan s.

Di bab sebelumnya kita menggunakan transformasi Laplace untuk me-
mecahkan persamaan rangkaian. Kita harus mencari terlebih dahulu per-
samaan rangkaian di kawasan t sebelum perhitungan-perhitungan di ka-
wasan s kita lakukan. Berikut ini kita akan mempelajari konsep im-
pedansi dan dengan konsep ini kita akan dapat melakukan transformasi
rangkaian ke kawasan s. Dengan transformasi rangkaian ini, kita lang-
sung bekerja di kawasan s, artinya persamaan rangkaian langsung dicari
di kawasan s tanpa mencari persamaan rangkaian di kawasan t lebih dulu.

Sebagaimana kita ketahui, elemen dalam analisis rangkaian listrik adalah
model dari piranti yang dinyatakan dengan karakteristik i-v-nya. Jika
analisis dilakukan di kawasan s dimana v(t) dan i(t) ditransformasikan
menjadi V(s) dan I(s), maka pernyataan elemenpun harus dinyatakan di
kawasan s.

4.1. Hubungan Tegangan-Arus Elemen di Kawasan s

4.1.1. Resistor

Hubungan arus dan tegangan resistor di kawasan t adalah

(t)

Ri

t

v

R

R =

)

(

Transformasi Laplace dari vR adalah

(s)

R

dt

e

t

Ri

dt

e

t

v

s

R

st

R

st

R

R

I

V

=

=

=

0

0

)

(

)

(

)

(

Jadi hubungan arus-tegangan resistor di kawasan s adalah

)

(

)

(

s

R

s

R

R

I

V =

(4.1)

4.1.2. Induktor

Hubungan antara arus dan tegangan induktor di kawasan t adalah

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace

86 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

dt

(t)

di

L

t

v

L

L =

)

(

Transformasi Laplace dari vL adalah (ingat sifat diferensiasi dari trans-
formasi Laplace) :

)

0

(

)

(

)

(

)

(

)

(

0

0

L

L

st

L

st

L

L

Li

s

sL

dt

e

dt

t

di

L

dt

e

t

v

s

=



=

=

I

V

Jadi hubungan tegangan-arus induktor adalah

)

0

(

)

(

)

(

L

L

L

Li

s

sL

s

=I

V

(4.2)

dengan iL (0) adalah arus induktor pada saat awal integrasi dilakukan atau
dengan kata lain adalah arus pada t = 0. Kita ingat pada analisis transien
di Bab-4, arus ini adalah kondisi awal dari induktor, yaitu i(0+

) = i(0−

).

4.1.3. Kapasitor

Hubungan antara tegangan dan arus kapasitor di kawasan t adalah

∫ +

=

t

c

C

C

v

dt

t

i

C

t

v

0

)

0

(

)

(

1

)

(

Transformasi Laplace dari tegangan kapasitor adalah

s

v

sC

s

s

C

C

C

)

0

(

)

(

)

(

+

=I

V

(4.3)

dengan vC(0) adalah tegangan kapasitor pada t =0. Inilah hubungan te-
gangan dan arus kapasitor di kawasan s.

4.2. Konsep Impedansi di Kawasan s

Impedansi merupakan suatu konsep di kawasan s yang didefinisikan se-
bagai berikut.

Impedansi di kawasan s adalah rasio tegangan terhadap arus di ka-
wasan s dengan kondisi awal nol.

Sesuai dengan definisi ini, maka impedansi elemen dapat kita peroleh
dari (4.1), (4.2), dan (4.3) dengan iL (0) = 0 maupun vC (0) = 0,

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace

87

sC

s

C

s

Z

sL

s

L

s

Z

R

s

s

Z

C

C

L

L

R

R

R

1

)

(

)

(

;

)

(

)

(

;

)

(

)

(

=

=

=

=

=

=

I

V

I

V

I

V

(4.4)

Dengan konsep impedansi ini maka hubungan tegangan-arus untuk resis-
tor, induktor, dan kapasitor menjadi sederhana, mirip dengan relasi hu-
kum Ohm.

)

(

1

;

(s)

)

(

;

(s)

)

(

s

sC

sL

s

R

s

C

C

L

L

R

R

I

V

I

V

I

V

=

=

=

(4.5)

Sejalan dengan pengertian impedansi, dikembangkan pengertian admi-
tansi, yaitu Y = 1/Z sehingga untuk resistor, induktor, dan kapasitor kita
mempunyai

sC

Y

sL

Y

R

Y

C

L

R

=

=

=

;

1

;

1

(4.6)

4.3. Representasi Elemen di Kawasan s

Dengan pengertian impedansi seperti dikemukakan di atas, dan hubungan
tegangan-arus elemen di kawasan s, maka elemen-elemen dapat direpre-
sentasikan di kawasan s dengan impedansinya, sedangkan kondisi awal
(untuk induktor dan kapasitor) dinyatakan dengan sumber tegangan yang
terhubung seri dengan impedansi tersebut, seperti terlihat pada Gb. 4.1.

Resistor Induktor Kapasitor

Gb.4.1. Representasi elemen di kawasan s.

)

(

)

(

s

R

s

R

R

I

V =

;

)

0

(

)

(

)

(

L

L

L

Li

s

sL

s

=I

V

;

s

v

sC

s

s

C

C

C

)

0

(

)

(

)

(

+

=I

V

Representasi elemen di kawasan s dapat pula dilakukan dengan
menggunakan sumber arus untuk menyatakan kondisi awal induktor dan
kapasitor seperti terlihat pada Gb.4.2.

R

IR (s)

+

VR(s)

+

sL

LiL(0)

+

VL (s)

IL (s)

+

s

vC

)

0

(

+

VC (s)

IC (s)

sC

1

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace

88 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

Gb.4.2. Representasi elemen di kawasan s.

)

(

)

(

s

R

s

R

R

I

V =

;



=

s

i

s

sL

s

L

L

L

)

0

(

)

(

)

(

I

V

;

(

)

)

0

(

)

(

1

)

(

C

C

C

Cv

s

sC

s

+

=

I

V

4.4. Transformasi Rangkaian

Representasi elemen ini dapat kita gunakan untuk mentransformasi
rangkaian ke kawasan s. Dalam melakukan transformasi rangkaian perlu
kita perhatikan juga apakah rangkaian yang kita transformasikan
mengandung simpanan energi awal atau tidak. Jika tidak ada, maka
sumber tegangan ataupun sumber arus pada representasi elemen tidak
perlu kita gambarkan.

CONTOH 4.1: Saklar S pada rangkaian berikut telah lama ada di posisi
1. Pada t = 0 saklar
dipindahkan ke
posisi 2 sehingga
rangkaian

RLC

seri terhubung ke
sumber tegangan
2e−3t

V.
Transformasikan rangkaian ke kawasan untuk t > 0.

Solusi :

Pada t < 0, keadaan telah mantap. Arus induktor nol dan tegangan
kapasitor sama dengan tegangan sumber 8 V.

Untuk t > 0, sumber tegangan adalah vs = 2e−3t

yang transformasinya

adalah

R

IR (s)

+

VR(s)

sC

1

CvC(0)

IC (s)

+
VC (s)

IL (s)

+
VL (s)

sL

s

iL)
0

(

1/2 F

1 H

3 Ω

2e−3t

V

+
vC

S

1

2

+

+

8 V

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace

89

3

2

)

(

+

=

s

s

s

V

Representasi kapasitor adalah impedansinya 1/sC = 2/s seri dengan
sumber tegangan 8/s karena tegangan kapasitor pada t = 0 adalah 8
V. Representasi induktor impedansinya sL = s tanpa diserikan den-
gan sumber tegangan karena arus induktor pada t = 0 adalah nol.

Transformasi rangkaian ke kawasan s untuk t > 0 adalah

Perhatikan bahwa tegangan kapasitor VC (s) mencakup sumber te-
gangan (8/s) dan bukan hanya tegangan pada impedansi (2/s) saja.

Setelah rangkaian ditransformasikan, kita mengharapkan dapat langsung
mencari persamaan rangkaian di kawasan s. Apakah hukum-hukum, kai-
dah, teorema rangkaian serta metoda analisis yang telah kita pelajari da-
pat kita terapkan? Hal tersebut kita bahas berikut ini.

4.5. Hukum Kirchhoff

Hukum arus Kirchhoff menyatakan bahwa untuk suatu simpul

=

=

n

k

kt

i

1

0

)

(

Jika kita lakukan transformasi, akan kita peroleh

0

)

(

)

(

)

(

1

10

0

1

=

=



=



∑ ∫

∫ ∑

=

=

=

n

k

k

n

k

st

k

st

n

k

k

s

dt

e

t

i

dt

e

t

i

I

(4.7)

Jadi hukum arus Kirchhoff (HAK) berlaku di kawasan s. Hal yang sama
terjadi juga pada hukum tegangan Kirchhoff. Untuk suatu loop

s

2

s

3

3

2

+

s

+

+

s

8

+

VC(s)

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace

90 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

0

)

(

)

(

)

(

0

)

(

1

10

0

1

1

=

=



=



=

∑ ∫

∫ ∑

=

=

=

=

n

k

k

n

k

st

k

st

n

k

k

n

k

k

s

dt

e

t

v

dt

e

t

v

t

v

V

(4.8)

4.6. Kaidah-Kaidah Rangkaian

Kaidah-kaidah rangkaian, seperti rangkaian ekivalen seri dan paralel,
pembagi arus, pembagi tegangan, sesungguhnya merupakan konsekuensi
hukum Kirchhoff. Karena hukum ini berlaku di kawasan s maka kaidah-
kaidah rangkaian juga harus berlaku di kawasan s. Dengan mudah kita
akan mendapatkan impedansi ekivalen maupun admitansi ekivalen

=

=

k

paralel

ekiv

k

seri

ekiv

Y

Y

Z

Z

;

(4.9)

Demikian pula dengan pembagi arus dan pembagi tegangan.

)

(

)

(

;

)

(

)

(

s

Z

Z

s

s

Y

Y

s

total

seri

ekiv

k

k

total

paralel

ekiv

k

k

V

V

I

I

=

=

(4.10)

CONTOH-4.2: Carilah VC (s) pada rangkaian impedansi seri RLC
berikut ini.

Solusi :

Kaidah pembagi tegangan pada rangkaian ini memberikan

)

(

)

2

)(

1

(

2

)

(

2

3

2

)

(

2

3

/

2

)

(

2

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

in

in

in

R

V

V

V

V

+

+

=

+

+

=

+

+

=

Pemahaman :

Jika Vin(s) = 10/s maka

s

2

s

3

+

+

VC (s)

Vin (s)

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace

91

t

t

C

C

s

s

s

C

e

e

t

v

s

s

s

s

s

s

k

s

s

k

s

s

k

s

k

s

k

s

k

s

s

s

s

2

2

3

1

2

0

1

3

2

1

10

20

10

)

(

2

10

1

20

10

)

(

10

)
1

(

20

;

20

)

2

(

20

;

10

)

2

)(

1

(

20

2

1

)

2

)(

1

(

20

)

(

=

=

=

+

=

+

+

+

+

=

=

+

=

=

+

=

=

+

+

=

+

+

+

+

=

+

+

=

V

V

Inilah tanggapan rangkaian rangkaian RLC seri (dengan R = 3Ω , L =
1H, C = 0,5 F) dengan masukan sinyal anak tangga yang amplitu-
donya 10 V.

4.7. Teorema Rangkaian

4.7.1. Prinsip Proporsionalitas

Prinsip proporsionalitas merupakan pernyataan langsung dari sifat rang-
kaian linier. Di kawasan t, pada rangkaian dengan elemen-elemen resis-
tor, sifat ini dinyatakan oleh hubungan

)

(

)

(

t

Kx

t
y =

dengan y(t) dan x(t) adalah keluaran dan masukan dan K adalah suatu
konstanta yang ditentukan oleh nilai-nilai resistor yang terlibat. Trans-
formasi Laplace dari kedua ruas hubungan diatas akan memberikan

)

(

)

(

s

K

s

X

Y =

dengan Y(s) dan X(s) adalah sinyal keluaran dan masukan di kawasan s.
Untuk rangkaian impedansi,

)

(

)

(

s

K

s

sX

Y =

(4.11)

Perbedaan antara prinsip proporsionalitas pada rangkaian-rangkaian re-
sistor dengan rangkaian impedansi terletak pada faktor Ks. Dalam rang-
kaian impedansi nilai Ks, merupakan fungsi rasional dalam s. Sebagai
contoh kita lihat rangkaian seri RLC dengan masukan Vin(s). Jika tegan-
gan keluaran adalah tegangan pada resistor VR (s), maka

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace

92 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

)

(

1

)

(

)

/

1(

)

(

2

s

RCs

LCs

RCs

s

sC

sL

R

R

s

in

in

R

V

V

V



+

+

=

+

+

=

Besaran yang berada dalam tanda kurung adalah faktor proporsionalitas.
Faktor ini, yang merupakan fungsi rasional dalam s, memberikan
hubungan antara masukan dan keluaran dan disebut fungsi jaringan.

4.7.2. Prinsip Superposisi

Prinsip superposisi menyatakan bahwa untuk rangkaian linier besarnya
sinyal keluaran dapat dituliskan sebagai

+

+

+

=

)

(

)

(

)

(

)

(

3

3

2

2

1

1

o

t

x

K

t

x

K

t

x

K

t

y

dengan x1, x2 , x3 … adalah sinyal masukan dan K1 , K2 , K3 … adalah
konstanta proporsionalitas yang besarnya tergantung dari nilai-nilai ele-
men dalam rangkaian. Sifat linier dari transformasi Laplace menjamin
bahwa prinsip superposisi berlaku pula untuk rangkaian linier di kawasan
s dengan perbedaan bahwa konstanta proporsionalitas berubah menjadi
fungsi rasional dalam s dan sinyal-sinyal dinyatakan dalam kawasan s.

+

+

+

=

)

(

)

(

)

(

)

(

3

3

2

2

1

1

o

s

K

s

K

s

K

s

s

s

s

X

X

X

Y

(4.12)

4.7.3. Teorema Thévenin dan Norton

Konsep mengenai teorema Thévenin dan Norton pada rangkaian-
rangkaian impedansi, sama dengan apa yang kita pelajari untuk rang-
kaian dengan elemen-elemen resistor. Cara mencari rangkaian ekivalen
Thévenin dan Norton sama seperti dalam rangkaian resistor, hanya di sini
kita mempunyai impedansi ekivalen Thévenin, ZT , dan admitansi ekiva-
len Norton, YN , dengan hubungan sbb:

)

(

)

(

1

)

(

)

(

)

(

;

)

(

)

(

)

(

s

s

Y

Z

Z

s

s

s

Z

s

s

s

N

T

N

T

T

T

hs

N

T

N

ht

T

I

V

V

I

I

I

V

V

=

=

=

=

=

=

(4.13)

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace

93

CONTOH-4.3: Carilah rangkaian ekivalen Thevenin dari rangkaian im-
pedansi berikut ini.

Solusi :

)

)(

/

1

(

/

)

/

1(

/

1

)

(

)

(

2

2

2

2

ω

+

+

=

ω

+

+

=

=

s

RC

s

RC

s

s

s

sC

R

sC

s

s

ht

T

V

V

2

2

1

)

(

)

(

ω

+

=

=

s

s

R

s

s

hs

N

I

I

)

/

1

(

1

/

1

/

)

/

1(

||

RC

s

C

sC

R

sC

R

RC

R

ZT

+

=

+

=

=

4.8. Metoda-Metoda Analisis

Metoda-metoda analisi, baik metoda dasar (metoda reduksi rangkaian,
unit output, superposisi, rangkaian ekivalen Thevenin dan Norton) mau-
pun metoda umum (metoda tegangan simpul, arus mesh) dapat kita
gunakan untuk analisis di kawasan s. Hal ini mudah dipahami mengingat
hukum-hukum, kaidah-kaidah maupun teorema rangkaian yang berlaku
di kawasan t berlaku pula di kawasan s. Berikut ini kita akan melihat
contoh-contoh penggunaan metoda analisis tersebut di kawasan s.

+

B
E
B
A
N

2

2

ω

+

s

s

sC

1

R

+

B
E
B
A
N

T

V

ZT

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace

94 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

4.8.1. Metoda Unit Output

CONTOH-4.4: Dengan menggunakan metoda unit output, carilah
V2(s) pada rangkaian impedansi di bawah ini.

Solusi :

2

2

2

)

(

)

(

)

(

/

1

1

)

(

1

)

(

)

(

1

)

(

:

Misalkan

LCs

sC

sL

s

sC

s

s

sC

sC

s

s

s

s

L

C

L

C

C

=

×

=

=

=

=

=

=

=

=

V

I

I

I

V

V

V

)

(

1

)

(

)

(

1

)

(

1

1

1

)

(

)

(

)

(

1

)

(

1

)

(

)

(

)

(

1

2

1

2

2

*
1

2

2

*
1

2

2

s

RCs

LCs

R

s

K

s

RCs

LCs

R

s

I

K

R

RCs

LCs

sC

R

LCs

s

s

s

R

LCs

s

LCs

s

s

s

s

s

L

R

R

C

L

R

I

I

V

I

I

I

I

V

V

V

+

+

=

=

+

+

=

=

+

+

=

+

+

=

+

=

+

=

+

=

+

=

4.8.2. Metoda Superposisi

CONTOH-4.5: Dengan menggunakan metoda superposisi, carilah te-
gangan induktor vo (t)
pada rangkaian berikut
ini.

Solusi :

Rangkaian kita trans-
formasikan ke kawasan s menjadi

R

1/sC

sL

I1(s)

+
V2(s)

IC (s)

IR (s)

IL (s)

+

Bsinβt

Au(t)

R

L

+

vo

R

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace

95

Jika sumber arus dimatikan, maka rangkaian menjadi :

L

R

s

A

A

sL

R

L

s

A

sL

R

RLs

R

sL

R

RLs

s

sL

R

RLs

Z

R

L

2

/

2

/

2

)

(

o1

//

+

=

+

=

+

+

+

=

+

=

V

Jika sumber tegangan dimatikan, rangkaian menjadi :

)

)(

2

/

(

2

2

1

1

1

/

1

)

(

)

(

2

2

2

2

2

2

o2

β

+

+

β

=

β

+

β

×

+

=

β

+

β

×

+

+

×

=

×

=

s

L

R

s

s

RB

s

B

R

sL

sRL

s

B

sL

R

R

sL

sL

s

I

sL

s

L

V

+

2

2

β

+

β

s

B

s

A

R

sL

+

Vo

R

+

− s

A

R

sL

+

Vo1

R

2

2

β

+

β

s

B

R

sL

+

Vo2

R

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace

96 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

θ

θ

β

=

=

β

+

=



β

+

=

θ

β

+

=

β

=

β

+

=

β

+

=

β

+

=



β

+

β

+

+

+

β

+

+

=

+

=

j

j

j

s

L

R

s

e

L

R

k

L

R

e

L

R

j

L

R

j

s

L

R

s

s

k

L

R

L

R

s

s

k

j

s

k

j

s

k

L

R

s

k

RB

L

R

s

A

s

s

s

2

2

3

1

2

2

2

2

2

2

/

2

2

1

3

2

1

o2

o1

o

4

)

/

(

1

/

2

tan

,

4

)

/

(

1

2

/

1

)

)(

2

/

(

)

2

/

(

)

2

/

(

)

(

2

/

2

2

/

2

/

)

(

)

(

)

(

V

V

V

(

)



+

β

+

+

β

+

β

+

=

θ

β

θ

β

)

(

)

(

2

2

2

2

2

2

o

4

)

/

(

1

)

2

/

(

)

2

/

(

2

2

)

(

t

j

t

j

t

L

R

t

L

R

e

e

L

R

e

L

R

L

R

RB

e

A

t

v

)

cos(

4

)

/

(

4

2

)

(

2

2

2

2

2

2

o

θ

β

β

+

β

+



β

+

β

=

t

L

R

RB

e

L

R

B

R

A

t

v

t

L

R

4.8.3. Metoda Reduksi Rangkaian

CONTOH-4.6: Dengan menggunakan metoda reduksi rangkaian sele-
saikanlah persoalan pada contoh 4.5.

Solusi :

Rangkaian yang
ditransformasikan ke
kawasan s kita gambar lagi
seperti di samping ini.

+

2

2

β

+

β

s

B

s

A

R

sL

+

Vo

R

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace

97

Jika sumber tegangan
ditransformasikan
menjadi sumber arus,
kita mendapatkan
rangkaian dengan dua
sumber arus dan dua
resistor diparalel.

Rangkaian tersebut dapat
disederhanakan menjadi
rangkaian dengan satu
sumber arus, dan kemudian
menjadi rangkaian dengan
sumber tegangan.

Dari rangkaian terakhir ini kita diperoleh :



+

β

+

β

×

+

=

sR

A

s

B

R

R

sL

sL

s

2

2

o

2

2

/

)

(

V

)

)(

2

/

(

)

2

/

(

2

/

2

/

)

(

2

2

o

β

+

+

β

+

+

=

s

L

R

s

s

RB

L

R

s

A

s

V

Hasil ini sama dengan apa yang telah kita peroleh dengan metoda super-
posisi pada contoh 4.20. Selanjutnya transformasi balik ke kawasan t
dilakukan sebagaimana telah dilakukan pada contoh 4.20.



+

β

+

β

sR

A

s

B

R

2

2

2

R/2

sL

+

Vo

+

2

2

β

+

β

s

B

sR

A

R

sL

+

Vo

R

sR

A

s

B

+

β

+

β

2

2

R/2

sL

+

Vo

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace

98 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

4.8.4. Metoda Rangkaian Ekivalen Thévenin

CONTOH-4.7: Dengan menggunakan rangkaian ekivalen Thévenin
selesaikanlah persoalan pa-
da contoh 4.5.

Solusi :

Kita akan menggunakan ga-
bungan metoda superposisi
dengan rangkaian ekivalen
Thévenin.

Tegangan hubungan ter-
buka pada waktu induktor
dilepas, adalah jumlah te-
gangan yang diberikan oleh sumber tegangan dan sumber arus se-
cara terpisah, yaitu

2

2

2

2

2

/

2

/

2

1

)

(

)

(

β

+

β

+

=

β

+

β

×

×

+

×

+

=

=

s

RB

s

A

s

B

R

s

A

R

R

R

s

s

ht

T

V

V

Dilihat dari terminal induktor, im-
pedansi ZT hanyalah berupa dua resis-
tor paralel, yaitu

2

R

ZT =

Dengan demikian maka tegangan induktor menjadi

)

)(

2

/

(

)

2

/

(

2

/

2

/

2

/

2

/

2

/

)

(

)

(

2

2

2

2

o

β

+

+

β

+

+

=



β

+

β

+

+

=

+

=

s

L

R

s

s

RB

L

R

s

A

s

RB

s

A

R

sL

sL

s

Z

sL

sL

s

T

T

V

V

Persamaan ini telah kita peroleh sebelumnya, baik dengan metoda
superposisi maupun metoda reduksi rangkaian.

+

ZT

sL

+

Vo

VT

+

2

2

β

+

β

s

B

s

A

R

sL

+

Vo

R

+

2

2

β

+

β

s

B

s

A

R

+

Vht

R

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace

99

4.8.5. Metoda Tegangan Simpul

CONTOH 4.8: Selesaikan persoalan pada contoh 4.5. dengan meng-
gunakan metoda
tegangan simpul.

Solusi :

Dengan referensi te-
gangan seperti terlihat
pada gambar di atas,
persamaan tegangan simpul untuk simpul A adalah:

0

1

1

1

1

)

(

2

2

o

=

β

+

β



+

+

s

B

s

A

R

sL

R

R

s

V

Dari persamaan tersebut di atas kita peroleh

)

)(

2

/

(

)

2

/

(

2

/

2

/

2

)

(

atau

2

)

(

2

2

2

2

o

2

2

o

β

+

+

β

+

+

=



β

+

β

+

+

=

β

+

β

+

=



+

s

L

R

s

s

RB

L

R

s

A

s

B

Rs

A

R

Ls

RLs

s

s

B

Rs

A

RLs

R

Ls

s

V

V

Hasil yang kita peroleh sama seperti sebelumnya.

Pemahaman :

Dalam analisis di kawasan s, metoda tegangan simpul untuk rang-
kaian dengan beberapa sumber yang mempunyai frekuensi berbeda,
dapat langsung digunakan. Hal ini sangat berbeda dari analisis di
kawasan fasor, dimana kita tidak dapat melakukan superposisi fasor
dari sumber-sumber yang mempunyai frekuensi berbeda.

+

2

2

β

+

β

s

B

s

A

R

sL

+

Vo

R

A

B

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace

100 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

4.8.6. Metoda Arus Mesh

CONTOH-4.9: Pada rangkaian berikut ini tidak terdapat simpanan en-
ergi awal. Gunakan metoda arus mesh untuk menghitung i(t).

Solusi :

Transformasi rangkaian ke kawasan s adalah seperti gambar berikut
ini. Kita
tetapkan
referensi
arus mesh
IA dan IB.
Persamaan
arus mesh dari kedua mesh adalah

(

)

0

10

)

(

10

10

10

)

(

0

10

)

(

10

01
.
0

)

(

10

4

6

4

4

4

4

=

×



+

+

=

×

+

+

s

s

s

s

s

s

s

A

B

B

A

I

I

I

I

Dari persamaan kedua kita peroleh:

( )

)

(

10

2

)

(

2

s

s

s

s

B

A

I

I

+

=

Sehingga:

((((

))))(((( ))))

)

)(

(

10

10

10

02
,
0

10

10

10

10

2

02
,
0

10

)

(

)

(

0

10

)

(

)

(

10

2

10

01
.
0

10

6

4

2

4

6

4

2

4

2

4

β

α −−−−

−−−−

====

++++

++++

====

−−−−

++++

++++

××××

++++

====

====

⇒⇒⇒⇒

====

××××

−−−−

++++

++++

++++

−−−−

⇒⇒⇒⇒

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

s

B

B

B

I

I

I

I

+

10kΩ

10mH

1µF

10 u(t)

i(t)

10kΩ

s

s10
)

(

1 =

V

+

104

104

0.01s

s

6

10

I(s)

IA

IB

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace

101

500000

04
,
0

10

8

10

10

;

100

04
,
0

10

8

10

10

dengan

4

8

4

4

8

4

−−−−

≈≈≈≈

××××

−−−−

−−−−

−−−−

====

−−−−

≈≈≈≈

××××

−−−−

++++

−−−−

====

β

α

[

]mA

02
,
0

)

(

10

2

100

10

;

10

2

500000

10

50000

100

)

500000

)(

100

(

10

)

(

500000

100

5

500000

2

5

100

1

2

1

t

t

s

s

e

e

t

i

s

k

s

k

s

k

s

k

s

s

s

=

=

=

×

=

+

=

×

=

+

=

+

+

+

=

+

+

=

I

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace

102 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

Soal-Soal

1. Sebuah resistor 2 kΩ dihubungkan seri dengan sebuah induktor 2 H;
kemudian pada rangkaian ini diterapkan sinyal tegangan v(t)=10u(t)
V. Bagaimanakah bentuk tegangan pada induktor dan pada resistor ?
Bagaimanakah tegangannya setelah keadaan mantap tercapai?

2. Ulangi soal 1 jika tegangan yang diterapkan v(t) = [20sin300t] u(t) V.

3. Ulangi soal 1 jika tegangan yang diterapkan v(t) = [20cos300t] u(t) V.

4. Rangkaian seri resistor dan induktor soal 1 diparalelkan kapasitor 0.5
µF. Jika kemudian pada rangkaian ini diterapkan tegangan
v(s)=10u(t) V bagaimanakah bentuk arus induktor ? Bagaimanakah
arus tersebut setelah keadaan mantap tercapai?

5. Ulangi soal 4 dengan tegangan masukan v(t)=[20sin300t]u(t) V.

6. Ulangi soal 4 dengan tegangan masukan v(t)=[20cos300t]u(t) V.

7. Sebuah kapasitor 2 pF diserikan dengan induktor 0,5 H dan pada
hubungan seri ini diparalelkan resistor 5 kΩ. Jika kemudian pada
hubungan seri-paralel ini diterapkan sinyal tegangan v(t)=10u(t) V,
bagaimanakah bentuk tegangan kapasitor ?

8. Ulangi soal 7 dengan tegangan masukan v(t) = [20sin300t] u(t) V.

9. Sebuah resistor 100 Ω diparalelkan dengan induktor 10 mH dan pada
hubungan paralel ini diserikan kapasitor 0,25 µF. Jika kemudian pada
hubungan seri-paralel ini diterapkan tegangan v(t) = 10u(t) V, carilah
bentuk tegangan kapasitor.

10. Ulangi soal 9 dengan tegangan masukan v(t) = [20sin300t] u(t) V.

11. Carilah tanggapan status nol (tidak ada simpanan energi awal pada
rangkaian) dari iL pada rangkaian berikut jika vs=10u(t) V.

+

− vs

1kΩ

1kΩ

0.1H

iL

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace

103

12. Carilah tanggapan status nol dari vC dan iL pada rangkaian berikut
jika vs=100u(t) V.

13. Carilah tanggapan status nol dari vC dan iL pada rangkaian berikut
jika vs=[10cos20000t]u(t) V.

14. Carilah i pada rangkaian berikut, jika is=100u(t) mA dan tegangan
awal kapasitor adalah vC (0) = 10 V.

15. Ulangi soal 14 untuk is=[100cos400t] u(t) mA.

16. Carilah vo pada rangkaian berikut, jika is=100u(t) mA dan arus awal
induktor adalah iL (0) = 10 mA.

17. Ulangi soal 16 untuk is = [100cos400t] u(t) mA.

18. Carilah tanggapan status nol dari vL pada rangkaian berikut, jika vs=
10u(t) V , is = [10sin400t]u(t) mA.

is

0,1H 0,5kΩ

+

vL

0,5kΩ

+

− vs

is

+

vo

0,1H

5kΩ

5kΩ

is

0,05µF i

5kΩ 5kΩ

+

− vs

500Ω

50mH

0,05µF

iL

+

vC

+

− vs

5kΩ

50mH

0,05µF

iL

+

vC

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace

104 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

19. Carilah tanggapan status nol dari v2 pada rangkaian berikut jika vs =
[10cos(900t+30o

)] u(t) V.

20. Ulangi soal 17 jika tegangan awal kapasitor 5 V sedangkan arus awal
induktor nol.

21. Pada rangkaian berikut carilah tanggapan status nol dari tegangan
keluaran vo(t) jika tegangan masukan vs(t)=10u(t) mV.

22. Pada rangkaian berikut carilah tanggapan status nol dari tegangan
keluaran vo(t) jika tegangan masukan vs(t)=10u(t) mV.

23. Untuk rangkaian berikut, tentukanlah vo dinyatakan dalam vin.

a).

+

10kΩ

1kΩ

100i

10kΩ

100kΩ

0,1µF

+

vo

vs

i

+

+

vo

+

vin

R2

R1

C1

C2

+

10kΩ

1kΩ

50i

10kΩ

20pF

+

vo

vs

i

2pF

+

− v1

10kΩ

10mH

1µF

+

v2

10kΩ

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace

105

b).

c).

26. Untuk rangkaian transformator linier berikut ini tentukanlah i1 dan i2 .

27. Pada hubungan beban dengan transformator berikut ini, nyatakanlah
impedansi masukan Zin sebagai fungsi dari M.

M

L1

L2

50Ω

Zin

L1=20mH L2=2mH

i1

i2

M

L1

L2

+

50Ω

80Ω

50u(t) V

L1=0,75H L2=1H

M = 0,5H

+

+

vo

+

vin

R2

R1

C1

C2

R2

+

+

vo

+

vin

10kΩ

1µF

10kΩ

Analisis Rangkaian Menggunakan Transformasi Laplace

106 Sudaryatno Sudirham, Analisis Rangkaian Listrik (2)

28. Berapakah M agar Zin pada soal 27 menjadi

(

)

25000

25000

2,
0

02
,
0

+

+

=

s

s

s

Zin

29. Jika tegangan masukan pada transformator soal 28 adalah
V

300

cos

10

t

vin =

, tentukan arus pada beban 50 Ω.

Fungsi Jaringan

107

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->