P. 1
Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya Dan Beracun

Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Bahan Berbahaya Dan Beracun

|Views: 305|Likes:
Published by JamesMuaraTeweh
Standar pengelolaan bahan berbahaya dan beracun
Standar pengelolaan bahan berbahaya dan beracun

More info:

Published by: JamesMuaraTeweh on Mar 17, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/23/2015

pdf

text

original

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 74 TAHUN 2001 TENTANG PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa dengan meningkatnya kegiatan pembangunan di berbagai meningkat beracun; b. bahwa sampai saat ini terdapat beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur pengelolaan bahan berbahaya dan beracun, akan tetapi masih belum cukup memadai terutama untuk mencegah terjadinya pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup; c. bahwa untuk mencegah terjadinya dampak yang dapat merusak lingkungan hidup, kesehatan manusia, dan makhluk hidup lainnya diperlukan pengelolaan bahan berbahaya dan beracun secara terpadu sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi; d. bahwa untuk berdasarkan melaksanakan pertimbangan ketentuan 23 Hidup, tentang Pasal perlu sebagaimana 17 1997 ayat (3) bidang pula terutama penggunaan bidang bahan industri berbahaya dan dan perdagangan, terdapat kecenderungan semakin

dimaksud dalam huruf a, huruf b, dan huruf c serta Undang-undang Pengelolaan Peraturan Nomor Tahun tentang Bahan

Lingkungan Pemerintah

menetapkan

Pengelolaan

Berbahaya dan Beracun;

-2Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945

sebagaimana telah diubah dengan Perubahan Kedua Undang-Undang Dasar 1945; 2. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang

Keselamatan Kerja (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1970 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2918); 3. Undang- undang Nomor 14 Tahun 1992 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 49, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3480); 4. Undang-undang Nomor 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 98, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3493); 5. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang

Kesehatan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 100, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3495); 6. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang

Kepabeanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1995 Nomor 75, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3612); 7. Undang-undang Pengelolaan Nomor 23 Tahun 1997 tentang Negara

Lingkungan

Hidup

(Lembaran

Republik Indonesia Tahun 1997 Nomor 68, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3699); 8. Undang-undang Pemerintahan Nomor Daerah 22 Tahun 1999 tentang Republik

(Lembaran

Negara

Indonesia Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839); 9. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1973 tentang Pengawasan Penggunaan atas Peredaran, (Lembaran Penyimpanan Negara dan Pestisida Republik

Indonesia Tahun 1973 Nomor 12);

-310. Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 31, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3815) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 85 Tahun 1999 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 190, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3910) ;

MEMUTUSKAN : Menetapkan : PERATURAN PEMERINTAH TENTANG PENGELOLAAN

BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan : 1. Bahan Berbahaya dan Beracun yang selanjutnya

disingkat dengan B3 adalah bahan yang karena sifat dan atau konsentrasinya dan atau jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, dapat mencemarkan dan atau merusak lingkungan hidup, dan atau dapat membahayakan kelangsungan lainnya; 2. Pengelolaan B3 adalah kegiatan yang menghasilkan, mengangkut, mengedarkan, menyimpan, menggunakan dan atau membuang B3; 3. Registrasi B3 adalah pendaftaran dan pemberian nomor terhadap B3 yang ada di wilayah Republik Indonesia; 4. Penyimpanan B3 adalah teknik kegiatan penempatan B3 untuk menjaga kualitas dan kuantitas B3 dan atau lingkungan hidup manusia hidup, serta kesehatan, hidup makhluk

11. 10. Pengangkutan B3 adalah kegiatan pemindahan B3 dari suatu tempat ke tempat lain dengan menggunakan sarana angkutan. 14. diproduksi. Simbol B3 adalah gambar yang menunjukkan klasifikasi B3. impor dan atau produksinya. dan makhluk hidup lainnya. Ekspor B3 adalah kegiatan mengeluarkan B3 dari daerah kepabeanan Indonesia. 13. 12. Impor B3 adalah kegiatan memasukkan B3 ke dalam daerah kepabeanan Indonesia. dan atau badan hukum. Label adalah uraian singkat yang menunjukkan antara lain klasifikasi dan jenis B3. B3 yang dilarang dipergunakan adalah jenis B3 yang dilarang digunakan. mengisi atau memasukkan B3 ke dalam suatu wadah dan atau kemasan. 5. 8. Notifikasi untuk ekspor adalah pemberitahuan terlebih dahulu dari otoritas negara pengekspor ke otoritas negara penerima dan negara transit apabila akan dilaksanakan perpindahan lintas batas B3 yang terbatas dipergunakan. Pengemasan B3 adalah kegiatan mengemas. B3 terbatas dipergunakan adalah B3 yang dibatasi penggunaan. . 9. dan atau kelompok orang. menutup dan atau menyegelnya. 15. Orang adalah orang perseorangan. 7. 6. diedarkan dan atau diimpor. kesehatan manusia. Notifikasi untuk impor adalah pemberitahuan terlebih dahulu dari otoritas negara pengekspor apabila akan dilaksanakan perpindahan lintas batas untuk B3 yang terbatas dipergunakan dan atau yang pertama kali diimpor.-4mencegah dampak negatif B3 terhadap lingkungan hidup.

20. pengawasan dan hal lain yang sesuai dengan bidangnya masing-masing. bahan sediaan farmasi. senjata kimia dan senjata biologi. makanan dan minuman serta bahan tambahan makanan lainnya. Komisi B3 adalah badan independen yang berfungsi memberikan saran dan atau pertimbangan kepada Pemerintah dalam pengelolaan B3 di Indonesia. Bupati/Walikota adalah Kepala Daerah Kabupaten/Kota. BAB II KLASIFIKASI B3 Pasal 5 . Gubernur adalah Kepala Daerah Propinsi. Pasal 2 Pengaturan pengelolaan B3 bertujuan untuk mencegah dan atau mengurangi risiko dampak B3 terhadap lingkungan hidup. hasil produksi tambang serta minyak dan gas bumi dan hasil olahannya. Menteri adalah Menteri yang ditugasi untuk mengelola lingkungan hidup. 18. perbekalan kesehatan rumah tangga dan kosmetika. kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya. Pasal 4 Setiap orang yang melakukan kegiatan pengelolaan B3 wajib mencegah terjadinya pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup. psikotropika. Instansi yang berwenang adalah instansi yang berwenang dalam memberikan izin. Instansi yang bertanggung jawab adalah instansi yang bertanggung jawab di bidang pengendalian dampak lingkungan.-516. 17. dan prekursornya serta zat adiktif lainnya. Pasal 3 Pengelolaan Peraturan B3 yang tidak ini termasuk adalah dalam lingkup bahan Pemerintah pengelolaan radioaktif. narkotika. 21. 19. bahan peledak.

dan c. beracun (moderately toxic). j. B3 yang dilarang dipergunakan.-6(1) B3 dapat diklasifikasikan sebagai berikut : a. i. f. sangat mudah menyala (highly flammable). o. berbahaya bagi lingkungan (dangerous to the environment). (2) Klasifikasi B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri dari : a. m. n. karsinogenik (carcinogenic). c. l. (3) B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) tercantum dalam Lampiran Peraturan Pemerintah ini. e. h. b. mudah meledak (explosive). BAB III TATA LAKSANA DAN PENGELOLAAN B3 Pasal 6 (1) Setiap B3 wajib diregistrasikan oleh penghasil dan atau pengimpor. bersifat iritasi (irritant). k. . amat sangat beracun (extremely toxic). sangat mudah sekali menyala (extremely flammable). sangat beracun (highly toxic). B3 yang dapat dipergunakan. teratogenik (teratogenic). mudah menyala (flammable). mutagenik (mutagenic). g. pengoksidasi (oxidizing). b. d. berbahaya (harmful). B3 yang terbatas dipergunakan. korosif (corrosive).

wajib menyampaikan notifikasi ke otoritas negara tujuan ekspor. diajukan kepada instansi yang bertanggung yang terbatas dipergunakan. (6) Tata cara registrasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) dan sistem registrasi nasional B3 ditetapkan dengan Keputusan Kepala instansi yang bertanggung jawab. (2) Ekspor B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dilaksanakan setelah adanya persetujuan dari otoritas negara tujuan ekspor. (4) Instansi yang berwenang yang memberikan nomor registrasi B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf a menyampaikan tembusannya kepada instansi yang bertanggung jawab. b. (3) jawab Persetujuan dari instansi yang bertanggung sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) . (5) Instansi yang bertanggung jawab yang memberikan nomor registrasi B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) huruf b menyampaikan tembusannya kepada instansi yang berwenang. (3) Registrasi B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) yang : a.-7(2) Kewajiban registrasi B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berlaku 1 (satu) kali untuk B3 yang dihasilkan dan atau diimpor untuk yang pertama kali. diajukan kepada instansi yang berwenang sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. jawab. otoritas negara transit dan instansi yang bertanggung jawab. otoritas negara transit dan instansi yang bertanggung jawab. termasuk dalam ketentuan Pasal 3. Pasal 7 (1) Setiap orang yang melakukan kegiatan ekspor B3 tidak termasuk dalam ketentuan Pasal 3.

maka instansi yang bertanggung . wajib mengikuti prosedur notifikasi.-8merupakan dasar untuk penerbitan atau penolakan izin ekspor dari instansi yang berwenang di bidang perdagangan. (2) Notifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). kepada bertanggung jawab mengenai B3 sebagaimana dimaksud dalam (5) Berdasarkan saran dan atau pertimbangan yang diberikan jawab: oleh Komisi B3 kepada instansi yang bertanggung jawab. (4) Komisi B3 memberikan instansi saran yang dan atau pertimbangan Pasal 9 ayat (1). (3) Instansi yang bertanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) segera memberitahukan kepada Komisi B3 untuk meminta saran dan atau pertimbangan Komisi B3. wajib disampaikan oleh otoritas negara pengekspor kepada instansi yang bertanggung jawab. Pasal 9 (1) Setiap orang yang melakukan kegiatan impor B3 yang baru yang tidak termasuk dalam daftar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (3). Pasal 8 (1) Setiap orang yang melakukan kegiatan impor B3 yang terbatas dipergunakan dan atau yang pertama kali diimpor. (3) Instansi yang bertanggung jawab wajib memberikan jawaban atas notifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dalam waktu selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal diterimanya permohonan notifikasi. (2) Notifikasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib disampaikan oleh otoritas negara pengekspor kepada instansi yang bertanggung jawab. wajib mengikuti prosedur notifikasi.

penyimpanan. disimpan wajib dikemas sesuai dengan klasifikasinya. dan b. Pasal 15 . mengajukan perubahan terhadap lampiran Peraturan Pemerintah ini. Pasal 12 Setiap penanggung jawab pengangkutan. (2) Persyaratan sarana pengangkutan dan tata cara pengangkutan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan oleh instansi yang berwenang di bidang transportasi. Pasal 11 Setiap orang yang memproduksi B3 wajib membuat Lembar Data Keselamatan Bahan (Material Safety Data Sheet). diangkut.-9a. Pasal 14 Setiap B3 yang dihasilkan. Pasal 10 Tata cara notifikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1). memberikan persetujuan kepada instansi yang berwenang di bidang perdagangan sebagai dasar untuk penerbitan atau penolakan izin impor. Pasal 8 ayat (1) dan Pasal 9 ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Kepala instansi yang bertanggung jawab. Pasal 13 (1) Pengangkutan B3 wajib menggunakan sarana pengangkutan yang laik operasi serta pelaksanaannya sesuai dengan tata cara pengangkutan yang diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. dan pengedaran B3 wajib menyertakan Lembar Data Keselamatan Bahan (Material Safety Data Sheet) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. diedarkan.

tanggung jawabnya ada pada produsen/penghasil. b. produksi. maka tata cara penanganan B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) mengacu kepada kaidah ilmiah yang berlaku. ditetapkan lebih lanjut dengan Keputusan Kepala instansi yang bertanggung jawab.10 (1) label Setiap kemasan B3 wajib diberikan simbol dan serta dilengkapi dengan Lembar Data Keselamatan Bahan (Material Safety Data Sheet). (2) dan B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a huruf b. (3) Dalam hal Keputusan Kepala instansi yang bertanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) belum tersedia. Pasal 16 (1) Dalam hal kemasan B3 mengalami kerusakan untuk : a. (2) Tanggung jawab pemberian simbol dan label dimaksud dalam ayat (1) untuk sebagaimana kerusakan pada tahap: a.. pemberian simbol dan label sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Kepala instansi yang bertanggung jawab. B3 yang masih dapat dikemas ulang. pengemasannya wajib dilakukan oleh pengedar. B3 yang tidak dapat dikemas ulang dan dapat menimbulkan pencemaran dan atau kerusakan lingkungan dan atau keselamatan manusia. Pasal 17 (1) Dalam hal simbol dan label mengalami kerusakan wajib diberikan simbol dan label yang baru. . (2) Tata cara pengemasan. maka pengedar wajib melakukan penanggulangannya.

penyimpanan. Pasal 20 B3 yang kadaluarsa dan atau tidak memenuhi spesifikasi dan atau bekas kemasan. pengangkutan.11 b. b. tanggung jawabnya ada pada penanggung jawab kegiatan pengangkutan. c. Pasal 19 Pengelolaan tempat penyimpanan B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) wajib dilengkapi dengan sistem tanggap darurat dan prosedur penanganan B3. (3) Tata cara pemberian simbol dan label sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan dengan Keputusan Kepala instansi yang bertanggung jawab. (3) Kriteria persyaratan tempat penyimpanan B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan lebih lanjut dengan Keputusan Kepala instansi yang bertanggung jawab. lokasi. wajib dikelola sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun. Pasal 18 (1) Setiap tempat penyimpanan B3 wajib diberikan simbol dan label. (2) Tempat penyimpanan B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) wajib memenuhi persyaratan untuk : a. tangggung jawabnya ada pada penanggung jawab kegiatan penyimpanan. BAB KOMISI B3 Pasal 21 IV . konstruksi bangunan..

(3) Susunan keanggotaan Komisi B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri dari wakil instansi yang berwenang. (3) Dalam melaksanakan kewajiban sebagaimana B3 wajib mengikutsertakan peranan dimaksud dalam ayat (1) penanggung jawab kegiatan pengelolaan tenaga kerjanya. BAB KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA Pasal 22 (1) Setiap orang B3 wajib yang melakukan kegiatan dan V pengelolaan menjaga keselamatan kesehatan kerja. wakil instansi yang bertanggung jawab. wakil perguruan tinggi. fungsi. (2) Komisi B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat terdiri dari beberapa Sub Komisi B3.12 (1) Dalam rangka pengelolaan B3 dibentuk Komisi B3 yang mempunyai tugas untuk memberikan saran dan atau pertimbangan kepada Pemerintah. dan tata kerja Komisi B3 sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) ditetapkan dengan Keputusan Presiden.. Pasal 23 (1) Untuk menjaga keselamatan dan kesehatan dan pengawas B3 wajib dilakukan uji pekerja kesehatan secara berkala. (4) Susunan keanggotaan. tugas. . wakil instansi yang terkait. dan asosiasi. organisasi lingkungan. (4) Peranan tenaga kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dilaksanakan sesuai dengan pedoman yang ditetapkan oleh instansi yang berwenang di bidang ketenagakerjaan. (2) Kewajiban sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku.

langkah-langkah penanggulangan informasi. b. dan d. setelah menerima laporan tentang terjadinya kecelakaan dan atau keadaan darurat akibat B3 sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 25 huruf c.13 (2) (1) Uji kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ayat diselenggarakan oleh masing-masing instansi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. maka setiap orang yang melakukan kegiatan pengelolaan B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 wajib mengambil langkahlangkah : a.. c. BAB PENANGGULANGAN KEADAAN DARURAT Pasal 24 Setiap orang yang melakukan kegiatan pengelolaan B3 wajib menanggulangi terjadinya kecelakaan dan atau keadaan darurat akibat B3. Pasal 26 Aparat Pemerintah Kabupaten/Kota setempat. wajib segera mengambil diperlukan. melaporkan kecelakaan dan atau keadaan darurat kepada aparat Pemerintah Kabupaten/Kota setempat. Pasal 25 Dalam hal terjadi kecelakaan dan atau keadaan darurat yang diakibatkan B3. bantuan. di dan melakukan lokasi (mengisolasi) tempat terjadinya KECELAKAAN VI DAN terhadap masyarakat sekitar . mengamankan kecelakaan. menanggulangi kecelakaan sesuai dengan prosedur tetap penanggulangan kecelakaan. memberikan evakuasi kejadian.

(3) Penyerahan wewenang pengawasan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) ditetapkan oleh instansi yang bertanggung jawab dan atau instansi yang berwenang di bidang tugasnya masing-masing. Pasal 30 . Pasal 29 Pengawas dalam melaksanakan pengawasan terhadap kegiatan pengelolaan B3 sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (1). yang diakibatkan oleh B3.14 Pasal 27 Kewajiban sebagaimana dimaksud dalam Pasal 26. wewenang B3 pengawasan sebagaimana terhadap kegiatan pengelolaan dimaksud dalam ayat (1) dapat diserahkan menjadi urusan daerah Propinsi/Kabupaten/Kota. wajib dilengkapi tanda pengenal dan surat tugas yang dikeluarkan oleh instansi yang bertanggung jawab dan instansi yang berwenang sesuai dengan bidang tugasnya masingmasing. dan atau b. BAB PENGAWASAN DAN PELAPORAN Pasal 28 (1) Wewenang B3 pengawasan dilakukan terhadap oleh kegiatan yang VII pengelolaan instansi bertanggung jawab dan instansi yang berwenang sesuai dengan bidang tugasnya masing-masing. mengganti kerugian akibat kecelakaan dan atau keadaan darurat.. tidak menghilangkan kewajiban setiap orang yang melakukan kegiatan pengelolaan B3 untuk : a. (2) Dalam hal tertentu. memulihkan kondisi lingkungan hidup yang rusak atau tercemar.

mengizinkan pengawas untuk mengambil contoh B3. Pasal 33 Setiap orang yang melakukan pengelolaan B3 wajib meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap potensi dampak B3 yang akan timbul terhadap lingkungan hidup.15 Setiap orang yang melakukan kegiatan pengelolaan B3 wajib: a. memberikan keterangan dengan benar baik lisan maupun tertulis. b. BAB PENINGKATAN KESADARAN MASYARAKAT Pasal 32 Gubernur/Bupati/Walikota/Kepala bertanggung berwenang. Pasal 31 Setiap orang yang melakukan kegiatan pengelolaan B3 wajib setiap menyampaikan 6 (enam) laporan kepada tertulis tentang yang pengelolaan B3 secara berkala sekurang-kurangnya bulan instansi bertanggung jawab dan instansi yang berwenang di bidang tugas masing-masing dengan tembusan kepada Gubernur/Bupati/ Walikota. timbul jawab dapat dan Pimpinan Instansi instansi yang yang VIII meningkatkan hidup. mengizinkan pengawas untuk melakukan pemotretan di lokasi kerja dan atau mengambil gambar. Pasal 34 . kesehatan manusia. d. c. mengizinkan pengawas untuk memasuki lokasi kerja dan membantu terlaksananya tugas pengawasan.. kesadaran kesehatan masyarakat terhadap potensi dampak yang akan terhadap lingkungan manusia dan makhluk hidup lainnya akibat adanya kegiatan pengelolaan B3. dan makhluk hidup lainnya akibat adanya kegiatan pengelolaan B3.

(2) Informasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).. Pasal 15 ayat (3).16 Peningkatan dilakukan tentang B3. Pasal 6 ayat (6). BAB PEMBIAYAAN Pasal 37 Biaya untuk melakukan kegiatan sebagaimana X dimaksud dalam : a. Pasal 17 ayat (3) . media elektronik dan atau papan pengumuman. Pasal 28 ayat (1) dan Pasal 32. Pasal 23 ayat (2). wajib disediakan oleh penanggung jawab kegiatan pengelolaan B3. Pasal 22 ayat (4). (3) Penyediaan informasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat disampaikan melalui media cetak. Pasal 13 ayat (2). Pasal 10. dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan atau . Pasal 16 ayat (2). Pasal 21 ayat (4).Pasal 18 ayat (3). kesadaran dengan masyarakat sebagaimana pemahaman dimaksud dalam Pasal 32 dan Pasal 33 dapat penyebarluasan BAB KETERBUKAAN PERAN MASYARAKAT Pasal 35 (1) Masyarakat mempunyai hak untuk mendapatkan tentang upaya pengendalian dampak INFORMASI IX DAN informasi lingkungan hidup akibat kegiatan pengelolaan B3. Pasal 36 Setiap orang mempunyai hak untuk berperan dalam rangka pengelolaan B3 sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

- 17 sumber dana lain sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku; b. Pasal 26, Pasal 28 ayat (2) dan Pasal 32 dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dan atau sumber dana lain sesuai dengan peraturan perundangundangan yang berlaku. BAB SANKSI ADMINISTRASI Pasal 38 (1) Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 4, Pasal 6 XI

ayat (1), Pasal 7 ayat (1), Pasal 8 ayat (1), Pasal 9 ayat (1), Pasal 11, Pasal 12, Pasal 13 ayat (1), Pasal 14, Pasal 15 ayat (1), Pasal 16 ayat (1), Pasal 17 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 18 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 19, Pasal 20, Pasal 22, Pasal 23, Pasal 24, Pasal 25, Pasal 30, Pasal 31, Pasal 33, dan Pasal 35 dikenakan sanksi administrasi. (2) Sanksi administrasi sebagaimana dimaksud

dalam ayat (1) dilakukan berdasarkan berat dan ringannya jenis pelanggaran sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. BAB GANTI KERUGIAN Pasal 39 (1) dan Penanggung jawab usaha dan atau kegiatan yang penting terhadap lingkungan hidup, yang XII

usaha dan kegiatannya menimbulkan dampak besar menggunakan bahan berbahaya dan beracun, dan atau menghasilkan limbah bahan berbahaya dan beracun, kerugian membayar bertanggung yang ganti jawab secara mutlak langsung atas dan ditimbulkan, kerugian dengan kewajiban

secara

seketika pada saat terjadinya pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup.

- 18 (2) Penanggung jawab usaha dan atau kegiatan

dapat dibebaskan dari kewajiban membayar ganti kerugian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) jika yang bersangkutan dapat membuktikan bahwa pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup disebabkan salah satu alasan di bawah ini : a. adanya bencana alam atau peperangan; atau b. adanya keadaan terpaksa di luar kemampuan manusia; atau c. adanya tindakan pihak ketiga yang

menyebabkan terjadinya pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup. (3) Dalam hal terjadi kerugian yang disebabkan oleh

pihak ketiga sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) huruf c, pihak ketiga bertanggung jawab membayar ganti kerugian. BAB KETENTUAN PIDANA Pasal 40 Setiap orang yang melanggar ketentuan Pasal 4, Pasal 6 ayat (1), Pasal 11, Pasal 12, Pasal 13 ayat (1), Pasal 14, Pasal 15 ayat (1), Pasal 16 ayat (1), Pasal 17 ayat (1), Pasal 18 ayat (1) dan ayat (2), Pasal 19, Pasal 20, Pasal 22, dan Pasal 24 yang mengakibatkan terjadinya pencemaran dan atau perusakan lingkungan hidup, diancam dengan pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41, Pasal 42, Pasal 43, Pasal 44, Pasal 45, Pasal 46, dan Pasal 47 Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. BAB KETENTUAN PERALIHAN Pasal 41 XIV XIII

- 19 Apabila pada saat diundangkan Peraturan Pemerintah ini : a. masih terdapat B3 yang dilarang dipergunakan di Indonesia, maka B3 tersebut dapat diekspor ke negara yang memerlukannya sesuai dengan mekanisme ekspor yang berlaku; b. terdapat B3 yang telah beredar tetapi belum diregistrasikan maka wajib diregistrasikan oleh penyimpan, menurut pengedar dan atau pengguna dimaksud ketentuan sebagaimana

dalam Pasal 6 ayat (3). Pasal 42 Pada saat berlakunya Peraturan Pemerintah ini semua peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan pengelolaan B3 yang telah ada dinyatakan tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan dan belum diganti berdasarkan Peraturan Pemerintah ini.

BAB KETENTUAN PENUTUP Pasal 43 Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku 6 (enam) bulan sejak tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Indonesia. Peraturan Pemerintah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Negara Republik

XV

Diteta pkan di Jakar ta

BAMBANG KESOWO LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2001 NOMOR 138 Salinan sesuai dengan aslinya Deputi Sekretaris Kabinet BidangHukum dan Perundang-undangan. ttd MEGA WATI SOEK ARNO PUTRI Diundangkan di Jakarta pada tanggal 26 November 2001 SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA. ttd. Nahattands . Lambock V..20 pada tangg al 26 Nove mber 2001 PRESI DEN REPU BLIK INDO NESIA .

maka diperlukan peningkatan upaya pengelolaannya dengan lebih baik dan terpadu.. Penggunaan B3 yang terus meningkat dan tersebar luas di semua sektor apabila pengelolaannya tidak dilakukan dengan baik. PEMERINTAH 74 REPUBLIK TAHUN INDONESIA 2001 . dengan berpijak pada prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kualitas hidup manusia. Selama tiga dekade terakhir. maka akan dapat menimbulkan kerugian terhadap kesehatan manusia. seperti pencemaran udara.penggunaan dan jumlah B3 di Indonesia semakin meningkat. dan pencemaran laut. B3 yang dihasilkan dari dalam negeri. pertanian dan kesehatan. juga ada yang diekspor ke suatu negara tertentu. mahluk hidup lainnya dan lingkungan hidup. pencemaran air. pencemaran tanah. pertambangan. Agar pengelolaan B3 tidak mencemari lingkungan hidup dan untuk mencapai derajat keamanan yang tinggi. B3 tersebut dapat berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri (impor).21 - PENJELASAN ATAS PERATURAN NOMOR TENTANG PENGELOLAAN BAHAN BERBAHAYA DAN BERACUN UMUM Meningkatnya kegiatan pembangunan di Indonesia dapat mendorong peningkatan penggunaan bahan berbahaya dan beracun (B3) di berbagai sektor seperti industri. Proses impor dan ekspor ini semakin mudah untuk dilakukan dengan masuknya era globalisasi.

pemberian simbol dan label. pengangkutan. Strategi Nasional Untuk Pembangunan Berkelanjutan dan sebagai pelaksanaan dari Pasal 17 ayat (3) Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Oleh karena itu. Pentingnya penyusunan Peraturan Pemerintah ini secara tegas juga disebutkan dalam Agenda 21 Indonesia..22 Kebijaksanaan pengelolaan B3 yang ada saat ini masih diselenggarakan secara parsial oleh berbagai instansi terkait. sehingga dalam penerapannya masih banyak menemukan kendala. pengemasan. maka semakin disadari produksi. perlunya Peraturan Pemerintah tentang Pengelolaan B3 secara terpadu yang meliputi kegiatan penyimpanan. PASAL DEMI PASAL Pasal 1 Angka 1 Cukup jelas Angka2 Cukup jelas Angka 3 Registrasi beredar dari di bertujuan Indonesia sehingga dampak manusia hidup untuk agar dapat negatif hidup. impor. ekspor dan pembuangannya. penggunaan. mengetahui jumlah B3 yang dapat dilakukan pengawasan awal mengurangi terhadap kesehatan makhluk lingkungan Registrasi merupakan langkah awal dalam pengelolaan B3. dan lainnya. Angka 4 Cukup jelas .

Angka 7 Label misalnya tulisan mudah meledak dan mudah terbakar. Angka 8 Cukup jelas Angka 9 Cukup jelas Angka 10 Cukup jelas Angka 11 Cukup jelas Angka 12 Cukup jelas Angka 13 Cukup jelas Angka 14 Cukup jelas Angka 15 Cukup jelas Angka 16 Cukup jelas Angka 17 Cukup jelas Angka 18 Cukup jelas ..23 Angka 5 Cukup jelas Angka 6 Contoh B3 yang mudah terbakar dengan simbol api.

760 mmHg) dapat meledak atau melalui reaksi kimia dan atau fisika dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan Pengujiannya dengan di dapat sekitarnya.24 Angka 19 Cukup jelas Angka 20 Cukup jelas Angka 21 Cukup jelas Pasal 2 Cukup jelas Pasal 3 Cukup jelas Pasal 4 Cukup jelas Pasal 5 Ayat (1) Untuk dapat mengelola B3 dengan baik dan benar maka perlu diketahui klasifikasi B3 tersebut. 2.4-dinitrotoluena atau Dibenzoilperoksida sebagai senyawa acuan. Mudah meledak (explosive). Dari hasil pengujian tersebut akan . dilakukan Differential menggunakan Scanning Calorymetry (DSC) atau Differential Thermal Analysis (DTA). adalah bahan yang pada suhu dan tekanan standar (250C.. Penjelasan klasifikasi dimaksud sebagai berikut : a.

maka bahan tersebut diklasifikasikan mudah meledak. nilai temperatur nilai Apabila temperatur pemanasan suatu bahan lebih besar dari senyawa acuan. Sangat mudah sekali menyala B3 (extremely flammable) adalah baik berupa padatan maupun cairan yang memiliki titik nyala dibawah 0 0C dan titik didih lebih rendah atau sama dengan 35 0C.210C.25 diperoleh pemanasan. d. e.. c. berupa yang asam menggunakan ammonium persulfat senyawa untuk adalah bahan standar larutan senyawa nitrat. Sangat padatan mudah menyala cairan (highly yang flammable) adalah B3 baik berupa maupun memiliki titik nyala 00C . digunakan metoda bahan dalam dapat uji (oxidizing) padat kriteria yang B3 dilakukan pembakaran standar. Dengan pengujian tersebut. Mudah berikut : menyala (flammable) mempunyai salah satu sifat sebagai . b. Pengoksidasi Pengujian termasuk pengoksidasi dengan sebagai Sedangkan cairan. suatu bahan dinyatakan sebagai B3 pengoksidasi atau lebih apabila pendek dari waktu waktu pembakaran bahan tersebut sama pembakaran senyawa standar.

suatu padatan B3 mudah terbakar apabila dalam pengujian dengan metode Seta Closed-Cup Flash Point Test . 2.. Pengujiannya dapat dilakukan dengan metode Closed-Up Test. Berupa Bahan yang berupa cairan cairan mengandung alkohol kurang dari 24% volume dan atau pada titik nyala (flash point) tidak lebih dari 600C (1400 F) akan menyala apabila terjadi kontak dengan api. pada temperatur dan (250C. percikan api atau sumber nyala lain pada tekanan udara 760 mmHg.26 1. Selain itu. dengan kebakaran gesekan. kimia dan dapat kebakaran menerus bahan diklasifikasikan tekanan 760 standar mmHg) mudah melalui penyerapan spontan terbakar terus 10 menyebabkan terjadinya uap air atau perubahan secara apabila menyebabkan yang dalam detik. Berupa padatan B3 yang bukan berupa cairan.

Berbahaya (harmful) adalah bahan baik padatan maupun cairan ataupun gas yang jika terjadi kontak atau melalui inhalasi ataupun oral dapat tertentu.500 501 5. Tingkatan dikelompokkan berikut : Urutan 1 2 3 4 5 6 Kelompok Amat sangat LD50 (mg/kg) beracun < 1 1 .000 (relatively harmless) i. Beracun (moderately toxic) B3 yang bersifat racun bagi manusia akan menyebabkan kematian atau sakit yang serius apabila masuk ke dalam tubuh melalui pernafasan.27 diperoleh titik nyala kurang dari 400C.50 51 . f..000 racun B3 sebagai (extremely toxic) Sangat beracun (highly toxic) Beracun (moderately toxic) Agak beracun (slightly toxic) Praktis tidak beracun 5001 15. Cukup jelas h. j. Cukup jelas g. kulit atau mulut.000 (practically non-toxic) Relatif tidak berbahaya > 15. Korosif (corrosive) menyebabkan bahaya terhadap kesehatan sampai tingkat .

atau tersebut terus menerus dengan kulit selaput menyebabkan peradangan. atau tersebut merusak lingkungan.5 untuk yang bersifat basa.35 mm/tahun dengan temperatur pengujian 55 0C. Bersifat yang jika iritasi terjadi dan kontak apabila lendir (irritant) secara kontak dapat Bahan baik padatan maupun cairan langsung. k. Karsinogenik (carcinogenic) adalah sifat bahan penyebab sel kanker. 3) Mempunyai pH sama atau kurang dari 2 untuk B3 bersifat asam dan sama atau lebih besar dari 12. . persisten dapat di lingkungan (misalnya PCBs).28 B3 yang bersifat korosif mempunyai sifat antara lain : 1) Menyebabkan iritasi (terbakar) pada kulit. yakni sel liar yang dapat merusak jaringan tubuh. Berbahaya (dangerous to bagi the lingkungan environment) Bahaya yang ditimbulkan oleh suatu bahan seperti merusak lapisan ozon (misalnya bahan CFC). m.. 2) Menyebabkan pada proses lempeng pengkaratan baja SAE 1020 dengan laju korosi lebih besar dari 6. l.

Teratogenik (teratogenic) adalah sifat bahan yang dapat mempengaruhi pembentukan embrio. hasil dimaksud dengan antara lain. menyurat dan pertumbuhan ataupun melalui e-mail. minyak . Mutagenik (mutagenic) adalah sifat bahan yang menyebabkan perubahan kromosom yang berarti dapat merubah genetika.. produksi gas bumi. untuk tambang. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Huruf a Yang sesuai ketentuan peraturan perundangundangan berlaku hasil dan serta yang adalah.29 n. o. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 6 Ayat (1) Registrasi B3 dapat dilakukan dengan melalui cara. surat antara lain.

Huruf b Cukup jelas Ayat (4) Penyampaian kepada bertanggung koordinasi oleh agar impor instansi tembusan yang jawab dan yang di daya bidang energi dan diatur peraturan dimaksudkan sebagai wujud peredaran B3 dapat diketahui instansi bertanggung jawab. muatan data yang perlu kepada bertanggung disampaikan instansi jawab oleh yang tentang penghasil dan atau pengimpor pembuatan nomor registrasi.30 olahannya dalam perundangundangan sumber mineral. pedoman registrasi sistem instansi tentang yang yang bertanggung jawab akan antara lain memuat sistem registrasi. Ayat (5) Cukup jelas Ayat (6) Dalam registrasi membuat tata cara penetapan nasional. Pemberian tersebut nomor registrasi sebagai diperlukan ..

Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) . Ayat (3) Cukup jelas Pasal 9 Ayat (1) B3 baru adalah B3 yang baru pertama B3 kali diimpor dan belum termasuk dalam daftar sebagaimana lampiran tercantum Peraturan dalam negara di pengekspor yang bidang pengawasan dan terjadinya terhadap instansi lingkungan hidup dari negara Pemerintah ini. sehingga dapat dengan mudah dilakukan pencegahan dampak B3 lingkungan hidup.. Pasal 7 Cukup jelas Pasal 8 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Otoritas adalah berwenang pengekspor.31 alat kontrol terhadap peredaran B3 di Indonesia.

32 Cukup jelas Ayat (5) Huruf a Perubahan lampiran Peraturan Pemerintah dilakukan waktu tertentu. Sedangkan kewenangan menerbitkan kewenangan instansi berwenang bidang perdagangan. Oleh karena itu. notifikasi tersebut perlu ke tersebut penerbitan penolakan impor. Huruf b Berdasarkan ketentuan internasional. instansi memberikan notifikasi adalah B3 instansi yang berwenang dalam ini dalam yang bertanggung jawab.. diteruskan instansi untuk atau izin yang di izin impor merupakan .

teknik penyimpanan. jenis B3. Pasal 10 Cukup jelas Pasal 11 Lembar Data Keselamatan Bahan (Material Safety Data Sheet) berisi : a. rumus kimia B3. c. . Pasal 12 Cukup jelas. tata cara penanganan bila terjadi kecelakaan. d. dan mengangkut mengedarkan B3.33 Penerbitan izin tersebut diberikan setelah perubahan terhadap lampiran Peraturan Pemerintah ini selesai dilakukan. b. klasifikasi B3.. Pasal 13 Cukup jelas Pasal 14 Cukup jelas Pasal 15 Ayat (1) Kemasan adalah tempat atau wadah untuk menyimpan. merek dagang. e. dan f.

Pemberian simbol dan label pada setiap kemasan klasifikasi B3 B3 dimaksudkan mengetahui sehingga untuk pengelolaannya dapat dilakukan dengan baik guna mengurangi risiko yang dapat ditimbulkan dari B3.. Ayat (3) . Ayat (2) Ketentuan pengemasan. Pasal 16 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Pengertian B3 yang dimaksud meliputi B3 yang masih dapat dikemas ulang dan B3 yang tidak dapat dikemas ulang. ditetapkan instansi jawab peraturan oleh yang tentang cara pemberian Kepala dengan simbol dan label yang akan bertanggung perundang- disesuaikan undangan yang berlaku.34 Lembar Sheet) Lembar Sheet) Data dapat Data sesuai Keselamatan diperbanyak Keselamatan dengan Bahan (Material Safety Data dengan cara menggandakan Bahan (Material Safety Data kebutuhan.

Juga penyimpanan dapat B3 yang menampung Misalnya industri B3 B3 menghasilkan sesuai dengan B3 yang akan memenuhi persyaratan teknis kesehatan dan perlindungan lingkungan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) . Pasal 17 Cukup jelas Pasal 18 Ayat (1) Tempat sesuai adalah tersendiri sesuai penyimpanan dengan suatu yang dengan yang tempat dirancang karakteristik persyaratan B3 yang disimpan misalnya dicampur dapat tempat harus jumlah disimpan. text book. B3 akan suatu yang harus ditempat B3 kapasitas dan yang yang (reduktor kuat) tidak dapat dengan mineral pengoksidasi karena menimbulkan gas beracun dan api.35 Kaidah ilmiah yang dimaksud adalah seperti hand book. kegiatan menyimpan penyimpanan mempunyai disimpan B3 yang reaktif asam panas. dan manual..

36 Cukup jelas Pasal 19 Sistem tanggap darurat adalah mekanisme atau B3 yang prosedur yang untuk menanggulangi kecepatan ditekan dan terjadinya malapetaka dalam pengelolaan memerlukan dapat ketepatan penanganan. dan dan pertanian.. perindustrian dan . energi mineral. Ayat (3) yang instansi di dimaksud yang bidangnya perhubungan. Ayat (2) Contoh Sub Komisi B3 antara lain Sub Komisi Pestisida. Pasal 21 Ayat (1) Pemerintah adalah berwenang seperti perdagangan. Pasal 20 B3 kadaluarsa adalah B3 yang karena kesalahan (handling) perubahan sesuai lagi B3 dalam komposisi dengan yang penanganannya terjadinya dan atau menyebabkan karakteristik sehingga B3 tersebut tidak spesifikasinya. sehingga bahaya terjadi sekecil mungkin. tidak memenuhi Sedangkan spesifikasi adalah B3 yang dalam proses produksinya tidak sesuai dengan yang diinginkan/ditentukan. sumber daya kesehatan.

untuk mungkin B3 sekurangdengan terjadinya pekerja yang di dan perundangberlaku bidang kesehatan adalah peraturan perundang- kurangnya 1 (satu) kali dalam maksud sedini kimia mengetahui kontaminasi oleh zat/senyawa terhadap dan pengawas..37 Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 22 Ayat (1) Cukup jelas Ayat (2) Peraturan undangan undangan keselamatan kerja. Ayat (2) Cukup jelas Pasal 24 . Ayat (3) Cukup jelas Ayat (4) Cukup jelas Pasal 23 Ayat (1) Uji kesehatan untuk pekerja dan pengawas B3 dilaksanakan 1 (satu) tahun.

Keadaan darurat adalah eskalasi atau peningkatan membutuhkan komprehensif. Pasal 25 Huruf a Cukup jelas Huruf b Cukup jelas Huruf c Aparat Kabupaten/Kota antara lain Pemerintah setempat aparat adalah kecelakaan B3 sehingga lebih penanganan yang kecamatan dan atau aparat desa/lurah.38 Kecelakaan tumpahnya mencegah tersebut. B3 B3 adalah ke lepasnya dampak B3 atau Untuk B3 perlu lingkungan. meluasnya kecelakaan ditanggulangi dengan cepat dan tepat.. Pasal 27 Cukup jelas Pasal 28 Ayat (1) . Huruf d Cukup jelas Pasal 26 Langkah-langkah penanggulangan antara lain dapat berupa instruksi yang diberikan aparat pemerintah daerah kepada masyarakat untuk menghindar dari lokasi kejadian dan menuju ke tempat yang lebih aman.

Yang dimaksud sesuai dengan bidang tugasnya masingmasing misalnya di bidang pengangkutan dilakukan oleh instansi dan di yang bidang bertanggung lingkungan jawab di bidang perhubungan. foto yang bersangkutan serta nama instansi pemberi tugas. Ayat (3) Cukup jelas Pasal 29 Tanda penting untuk pengenal untuk dan surat tugas ini atau Tanda di bidang menghindari pengawas adanya terjadinya petugas-petugas penyalahgunaan palsu. hidup dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab di bidang lingkungan hidup. nomor induk pegawai. Pasal 30 Cukup jelas . pengenal minimal memuat nama. mencegah wewenang..39 Wewenang pengawasan masih dilakukan banyak oleh Pemerintah dengan Pusat karena pengelolaan B3 berkaitan lintas batas propinsi dan atau lintas batas negara. Ayat (2) Hal tertentu adalah keadaan di mana Pemerintah Daerah sudah mampu melaksanakan pengawasan pengelolaan B3.

di samping akan membuka peluang untuk yang bagi masyarakat mengaktualisasi-kan baik dan tersebut sehat.. dapat haknya atas lingkungan hidup Informasi .40 Pasal 31 Cukup jelas Pasal 32 Potensi dampak yang perlu diberitahukan kepada masyarakat bukan hanya dampak negatifnya saja tetapi juga dampak positif dari adanya usaha dan atau kegiatan pengelolaan B3 tersebut. informasi meningkatkan B3 pada Hak tersebut nilai yang azas atas akan dan efektivitas peran masyarakat dalam pengelolaan B3. Pasal 35 Ayat (1) Hak atas informasi tentang kegiatan pengelolaan di B3 bidang merupakan konsekuensi logis dari hak dan peran masyarakat dalam pengelolaan berdasarkan keterbukaan. Pasal 33 Cukup jelas Pasal 34 Penyebarluasan pemahaman tentang B3 dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan penyuluhan dan pelatihan.

keterangan. Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Cukup jelas Pasal 36 Peran dimaksud meliputi peran dalam proses dengan cara pengambilan cara lain keputusan. seperti pemantauan pengelolaan B3. . maupun perubahan lingkungan hidup. Pelaksanaannya didasarkan pada prinsip keterbukaan. Dengan keterbukaan dimungkinkan masyarakat ikut memikirkan dan memberikan pandangan serta pertimbangan dalam pengambilan keputusan di bidang pengelolaan B3. evaluasi pemantauan untuk dampak laporan hasil penaatan kualitas diketahui masyarakat. baik mengajukan yang keberatan. dalam Peran dalam atau pemantauan maupun dengar pendapat atau dengan ditentukan antara analisis lain peraturan tersebut proses dampak perumusan perundang-undangan.41 berupa data. atau informasi lain yang berkenaan dengan pengelolaan B3 yang menurut sifat dan tujuannya memang dokumen lingkungan dan baik terbuka analisis hidup.. dilakukan penilaian mengenai lingkungan lingkungan hidup kebijaksanaan hidup.

. keharusan bersangkutan asuransi atau ditentukan usaha dan atau kegiatan yang . Yang batas dimaksudkan tertentu. kesalahan dibuktikan mutlak atau strict unsur perlu pihak yakni tidak oleh penggugat sebagai dasar pembayaran ganti kerugian. Ketentuan ayat ini merupakan lex specialis dalam gugatan tentang perbuatan melanggar hukum yang terhadap perusak menurut ditetapkan tertentu. Pasal 38 Cukup jelas Pasal 39 Ayat (1) Pengertian bertanggung jawab secara liability. sampai jika yang bagi telah pada dapat umumnya. dibebankan atau hidup dapat batas Besarnya nilai ganti kerugian pencemar lingkungan pasal ini sampai adalah menurut penetapan peraturan perundang-undangan berlaku.42 Pasal 37 Sumber dana lain adalah seperti dana lingkungan atau dana bantuan dari organisasi/asosiasi tertentu.

Pasal 40 Cukup jelas Pasal 41 Cukup jelas Pasal 42 Cukup jelas Pasal 43 Cukup jelas . Ayat (2) Cukup jelas Ayat (3) Yang dimaksud tindakan perbuatan curang yang atau dilakukan dana lingkungan pihak ketiga dalam ayat ini merupakan persaingan kesalahan Pemerintah..43 tersedia hidup.

dichloroethene. 2 79-06-1 Akrilamida Acrilylamide. C3H3N Vinyl Cyanoethylene. Reg.2-dikloroetilena Acetylene dichloride. AlCl3 Vinyl cyanide. 2-propen-1-ol. dichloroethylene. Nama Bahan Kimia Chemical Abstract Service 1 540-59-0 1.44 LAMPIRAN PERATURAN REPUBLIK NOMOR : 74 I PEMERINTAH INDONESIA TAHUN 2001 TANGGAL : 26 NOVEMBER 2001 Daftar Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang dipergunakan No No. propenamide 3 107-13-1 Akrilonitril Acrylonitrile. Ventox 4 107-02-8 Akrolein Acrolein.. Acrilic C3H4O aldehide. C3H6O 1-propenol-3. Acritet. 1. Acrylaldehyde. Fumigrain. Drictor Ammonia NH3 Aluwets.2.Aluminium chloride 0 7 7664-41. Acraldelhyde. 2-propenitrile.C2H2Cl2 1.Amoniak 7 Hexahydrate.21. Ahydrol. 2-propenal.C3H5NO .2symSinonim/ Nama Dagang Rumus Molekul dichloroethylene. 2. Dioform. dichloroethylene. 6 ‘7446-70. carbinol. Aqualin 5 107-18-6 Alil Alkohol Allyl alcohol.

HCl cloride. . C2H3ClO2 acid.45 - 8 62-53-3 Anilin Anilene. C6H7N Phenylamine. Arsenous As2O3 acid.Arsen Triklorida 1 Arsenic Trichloride. Butter AsCl3 of arsenic. Ameisensaure Phosphoric Orthophosphoric acid Hydrochloric Hydrogen CH3COOH CH2O2 7664-38. Aminophen.Argon 1 - Ar 10 1327-53.Arsin 1 Arsine. Fuming liquid Arsenic.Asam Posfat 2 acid. Arsenous oxide. AsH3 Hydrogen arsenide 13 79-10-7 Asam Akrilat Acrylic acid. acid. Arsenic tryhydride. 9 ‘7440-37. Aci-Jel Formic acid. Arsenic sesquioxide white arsenic 11 7784-34. Aminobenzene.Arsen (III) Oksida 3 Arsenous oxide. Ethanedioic C2H2O4 Acid. Aniline Tyanol oil. Anhidrous hydrocloric acid 18 79-11-8 Asam Kloroasetat Chloroacetic Chloroethanoic Monochloroacetic MCA. Benzanamine.. 12 7784-42.Asam Klorida 0 acid. H3PO4 17 7647-01. 2-propenic acid C3H4O2 vinylformic 14 15 16 64-19-7 64-18-6 Asam Asetat Asam Formiat Acetic acid. Arsenous acid anhydrid. 19 144-62-7 Asam Oksalat Oxalic acid acid.

HCN acid. peroxy acetic acid. Prussic acid 24 7664-93.4. Ethine Acetonitrile. Oil of Vitriol H2SO4 benzenedicarboxyclic p-pthalic acid. Acetyl 21 7601-90. Ethyne.C6H3N3O7 Pieronitric acid.Asam Sulfat 9 25 100-21-0 Asam Teraftalik Teraphtalic acid. C7H7Cl 30 100-44-7 Bensil Klorida (chloromethyl)benzene. Acid.4. Blausaure.Asam Perklorat 3 Perchloric Acid. Alpha-chlorotoluena 31 71-43-2 Benzena Benzene. Tepthol 26 27 28 74-86-2 75-05-8 Asbestos Asetilen Asetonitril Amianthus. Chrysolite {Mg6(Si4O10)(OH)8} C2H2 Acetylene.Belerang dioksida 5 Sulphure dioxide.C8H6O4 acid. hexatriene Benzol. nitrite Ethane 29 7446-09. 1.6.46 - 20 79-21-0 Asam Perasetat Pereatic Ethaneperoxide hydroperoxide acid. HClO4 22 88-89-1 Asam pikrat Picric acid. Cyclo C6H6 . 23 74-90-8 Asam Sianida Hydrogen Hydrocyanic cyanide. Sulfurous oxide Benzil chloride. Carbazotic 2. C2H3N Cyanomethane. nitroxanthic acid. Methyl cynide. Sulfuric Acid. C2H4O3 bacid. Sulfurous SO2 anhydride. trinitrophenol..

C4H11N Dimethyl. acrylic acid . 41 77-78-1 Dimetil Sulfat Dimethyl sulphate.47 - 32 7637-07. Dietyl ether.C4H10O oxybisethane. 1. C2H4 Ethyl hidride 44 45 141-43-5 Atanolamine 140-88-5 Etil Akrilat 2-aminoethanol C2H7NO Athyl acrylate. DMF. 40 68-12-2 Dimetil Fornamida Dimethyl Fornamide. Ethyle oxide.Boron Trifluorida 02 Boron Trifluoride - BF3 33 7726-95.C4H11N 36 111-42-2 Dietanolamine 37 60-29-7 Dietil Eter Diethyl ether. Ethoxyethane.Brom 6 Bromine Br2 34 35 106-97-8 Butana 1928745-7 Diboran n-butane Diborane. Anesthetic ether 38 109-89-7 Dietilamina Diethylamine. B2H6 Diboronhexahydride Diethanolamine. DMS 42 43 505-22-6 Dioksana 74-84-0 Etana Dioxane C4H8O2 N. Methyl methane. bis(hydroxyethyl)amine 2.2. C4H10 Boroethane.. iminobisethanol. ethylethanamine 39 111-46-6 Dietilena Glikol Dethylene glycol. C3H7NO DMFA. diethylolamine.1. Ether. Sulfuric C2H6O4S acid dimethyl ester. Beryllium C4H10N diethyl. Sulfuric ether. 2-propenoic C5H8O2 acid ethyl ester.

glycol. Methyl aldehyde .. C2H6O Anhydrous alcohol. Dehydrated alcohol. Ethyl hydrate. C2H5Cl ethanediamine. 1.2.48 ethyl ester 46 64-17-5 Etil Alcohol Ethanol.C2H8N2 1. C2H4 acid. CH2O Formic Oxomethane. hidroxide. Phenilic acid.C2H6O2 Oxirane. C6H5OH Phenic acid. chlorethyl. Methylene oxide. Oxybenzene 53 50-00-0 Formaldehida Formaldehyde. muriatic. Monochloroethane. oxide. C2H4O Elayl. Anodynon. Absolute alcohol. oxymethylene. anesthetic. Chlory chloridum. chloride. aldehyde. Phenyl Hidroxybenzene.2. Ether chloradus. 1. Narcotile 48 107-15-3 Etilena Diamina Ethylene Diamine. Carbolic Ethane. Etherhydrochloric.2Kelene. Aethylis Ether Chelen. diaminoethane. 49 107-21-1 Etilen Glikol Ethylene etahnediol 50 75-21-8 Etilen Oksida Ethylene Anprolene 51 74-85-1 Etilena Ethylene. Ethyl hidroxide 47 75-00-3 Etil Klorida Ethyl Chloroethane. Olefiant gas 52 108-95-2 Fenol Phenol.

C8H4O3 isobenzofurandione 57 98-01-1 Furfural Furfural. C3H8O3 Glycerin.Gas Fluor 4 59 56-81-5 Gliserol Glyserol.2. 55 75-44-5 Fosgen Phosgene. aldehide. furancarboxyaldehide. HF Fluohydric acid .3-butadiene 62 63 110-54-3 Heksana 302-01-2 Hidrasin Hexane Hydrazine.3-propanetriol. Fluorine..3. 2.Hidrogen 0 Hydrogen. Morbicid. Opthalgan 60 61 111-30-8 Glutaraldehyde Pentanediol C5H8O2 IFP. CH2O Formalin. Trihydroxypropane. anhydrous C6H14 Hidrazine H4N2 64 1333-74.49 - 54 50-00-0 Formalin (larutan) Formaldehyde Veracur Solution. F F2 Artificial oil 2. dichloride. chloride. furaldehide.Hidrogen Flourida 3 Hydrogen Fluoro acid. ants. Protium H2 65 7664-39. 1. Fulfurol 58 7782-41. Formol. chloride Carbonic CCl2O Carbonyl Chloroformyl 56 85-44-9 Ftalik Anhidrida Pthalic anhydride.C6H12N4 methyl-1. 1.C5H4O2 2of Pyromuric 100-97-0 Heksametilenatetramina Hexamethylenetetramine.

Hioxyl 67 7783-07.Hidrogen Peroksida 1 Hydrogen Hydrogen peroxide.. 1. Techquinol. Black and bleaching Eldoquine. 170 171 172 173 174 175 176 HCFC – 252 *) HCFC – 253 *) HCFC – 261 *) HCFC – 262 *) HCFC – 271 *) CHFBr2 *) Dichlorodifluoropropane Chlorotrifluoropropane Dichlorofluoropropane Chlorodifluoropropane Chlorofluoropropane Dibromofluoromethane C3H4F2Cl2 C3H4F3Cl C3H5FCl2 C3H5F2Cl C3H6FCl - CHF2Br . Selenide. dihydroxybenzene. H2O2 dioxide. sulphide. H2S hydrogen. Hydroperoxide.HBFC – 22B1 Bromodifluoromethane *) 177 178 179 180 181 - CH2FBr *) C2HFBr4 *) C2HF2Br3 *) C2HF3Br2 *) C2HF4Br *) Bromofluoromethane Tetrabromofluoroethane Tribromodifluoroethane Dibromotrifluoroethane Bromotetrafluoroethane - . Eldopaque.50 - 66 7722-84.C6H6O2 pQuinol.Hidrogen Sulfida 4 Hydrogen Selenium hydride. Hydrogen Sulfurated Hydrosulfuric acid 69 123-31-9 Hidrokwinon Hydroquinone.4. white cream. H2Se Quinnone. Aida.Hidrogen Selenida 5 58 7783-06. benzodiol.

.51 - 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 - C2H2FBr3 *) C2H2F2Br2 *) C2H2F3Br *) C2H3FBr2 *) C2H3F2Br *) C2H4FBr *) C3HFBr6 *) C3HF2Br5 *) C3HF3Br4 *) C3HF4Br3 *) C3HF5Br2 *) C3HF6Br *) C3H2FBr5 *) C3H2F2Br *) C3H2F3Br *) C3H2F4Br *) C3H2F5Br *) C3H3FBr4 *) C3H3F2Br3 *) C3H3F3Br2 *) C3H3F4Br *) C3H4FBr3 *) C3H4F2Br *) C3H4F3Br *) Tribromofluoroethane Dibromodifluoroethane Bromotrifluoroethane Dibromofluoroethane Bromodifluoroethane Bromofluoroethane Hexabromofluoropropane - Pentabromodifluoropropane Tetrabromotrifluoropropane Tribromotetrafluoropropane Dibromopentafluoropropane Bromohexafluoropropane Pentabromofluoropropane - Tetrabromodifluoropropane Tribromotrifluoropropane - Dicbromotetrafluoropropane Bromopentafluoropropane Tetrabromofluoropropane Tribromodifluoropropane Dibromotrifluoropropane Bromotetrafluoropropane Tribromofluoropropane Dibromodifluoropropane Bromotrifluoropropane - .

.52 - 206 207 208 209 - C3H5FBr2 *) C3H5F2Br *) C3H6FBr *) CH2BrCl *) Dibromofluoropropane Bromodifluoropropane Bromofluoropropane Bromochloromethane - Catatan : *) adalah B3 dengan batas waktu yang boleh dipergunakan sampai dengan tahun 2040 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA. sesuai Kabinet dengan Bidang Hukum aslinya dan Lambock V. ttd MEGAWATI SOEKARNOPUTRI Salinan Deputi Sekretaris Perundang-undangan. Nahattands .

p. Octalox 5 72-20-8 Endrin Compound 269. C14H9Cl5 C12H8Cl6 C10H6Cl8 Nama Bahan Kimia Sinonim/Nama Dagang RumusMolekul pentachlorin. Orthoclor. C12H8Cl6O Insectiside Mendrin. Belt. 1 2 309-00-2 57-74-9 Aldrin Chlordane HHDN CD68.53 - LAMPIRAN INDONESIA NOMOR : 74 TAHUN II PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK 2001 TANGGAL : 26 NOVEMBER 2001 TABEL 1.497. No. Nendrin. Gesarex. Guesapon. Niran. Gesarol. Hexadrin 6 76-44-8 Heptachlor E3314.. Clofenotane. ENT 17251. Corodane. Agritan. Velsicol 104. Daftar Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang dilarang dipergunakan No No. D-58. Neocid. Octachlor. Velsicol 1068. C12H8Cl6O 497. Dicophane. Chemical Abstract Service. Chlorophenothane. Toxichlor. Drinox. Synclor. Gesapon.p-DDT. ENT 16225. 3 50-29-3 DDT Dichlorodiphenyltrichloroethane. Reg. 4 60-57-1 Dieldrin Compound HEOD. C10H5Cl7 Heptamul .

Phenochlor. C6Cl6 3956. Strobane-T. Daftar Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) yang terbatas dipergunakan No No. Dechlorane. Anticarie. Aroclor. C10H10Cl8 Julins Carbon Chloride 10 1336-363 PCBs Polychlorinated Chlorobiphenyls. Bunt-cure. Chemical Abstract Service. 9 118-74-1 Hexachlorobenzene Polychlorobenzene. Schering C10H13ClN2 Captafol Difolatan C10H9Cl4NO2S 245. C8H5Cl3O3 Nama Bahan Kimia Sinonim/Nama Dagang Rumus Molekul . Altox. C12X X=H or Cl TABEL 2.54 - 7 2385-855 Mirex C6-1283. 2 2425-061 3 6164-98Chlordimeform (CDM) CDM. ENT 25719. Motox. Pyralene. Geniphene. Santotherm. Clorinatedcamphene. Clophen. Reg. Penphene. Fenclor. Toxakil. Ciba-8514. Kenachlor.4. 1 93-76-5 2.5-T Esterone Weedone. Biphenyls. Bunt-no-more. Phenacide. Phenatox.. Campheclor. Trioxone. C10Cl12 Hexachloropentadienedimer 8 8001-352 Toxaphene Hercules Polychlorocamphene.

ENT 1122.2bis(4chlorophenil)acetate. Jacutin.55 3 36.268. WX-8365. Gulecton.2dibromoethane. Spanon. C10H12N2O5 garam dinoseb (DNBP) amide. Gammaxene. C6H6Cl6 Gama-BHC.4-dichloro benzilate. 9 10 58-89-9 Lindane Senyawa termasuk: merkuri C6H6Cl6 . Esodern. ethyleenebromide.. Dow General. Caldon. Premerge. dibromoethane. Gammalin. Chlorophenamidine 4 510-15-6 Chlorobenzilate Compound 338. Fundal. Chemax PE. Gexane.85. Ethyl 4. Streunex. Laroxane. Dowfume WW. Gamane. 1. Monofluoroacetamide. Gama-hexachlor. K-well Tri-6. Fluoroacetic acid C2H4FNO symC2H4Br2 Subitex. Ethyl 2-hydroxy-2. G23922. 5 88-85-7 Dinoseb dan garamDNBP. Fluorakil 100. Fussol. Ganniso. Lindafoa. Vitou. Akar. Aparasin. Basanite 6 106-93-4 Ethylene (EDB) Dibromida EDB. Quellada. Lindatox. Aphtirin. Folbex. C16H14Cl2O3 Acaraben. 7 640-19-7 Fluoroacetamide 1081. Gama-HCH. 8 608-73-1 Hexachlorocyclohexane (HCH) dan campuran isomernya ENT 7796.

. Debu kandungan E 601. 50%. C6HCl5O Alkyloxyalkyl Santhophene 20. merkuri 4. Alkyl merkuri 3. ENT 27129. Penchloroe. Otrho C2H8NO2PS dalam active formulasi melebihi 600 5D9129. Nuracron. C7H14NO5P 9006. Ponta. ENT 25515. Metron.56 - 1. 2%. Anorganik merkuri 2. 3% active . Azodrin.5%. Dimethyl C8H10NO5PS Dalf(Obsolute) parathion. Monitor. Metacide 40%. 12 6923-224 Monocrotophos (terlarut gr ingredient/liter 13 1026592-6 Methamidophos (terlarut gr ingredient/liter) 14 1317121-6 Phosphamidon (terlarut formulasi 1000 gr dalam melebihi active Ciba 570. 60% active 1. Folidol-M. Metaphos. Metron Penncap M. C10H19ClNO5P dalam active formulasi melebihi 600 Bayer. Nitrox 80. Tamaron Dimecron ingredient/liter) 15 298-00-0 Methyl-parathion (Emulsi kandungan ingredient.5%. dengan ingredient) dengan 19. Aryl merkuri 11 87-86-5 Pentachlorophenol PCP. ENT 17292. parathion-methyl. ENT 27396. SRA 5172. Monocron.

5NP.) 1365409-6 (deca. Keneclor. phosphate. Chlopen. E-605.57 - 16 56-38-2 Parathion formulasi emulsifiable concentrate granular kecuali : (seluruh aerosol.) 2785807-7 (octa.3-dibromopropyl) phosphate.. (GR) dan Fosferone. Pyrulene. Alleron. Aphamile. Fenclor. Flammex T 23P. C9H15Br6O4P . Flammex AP. 20 126-72-7 Tris-BP Tris(2. T 23P. Phenoclor. (EC). ENT 15108. Rhodiatox. Niran. LV-T23P. Folidol.) 19 6178833-8 Polychlorinated terphenyls (PCTs) Polybrominated biphenyls (PBBs) Crocidolite - - Brominated biphenyls. Firemaster Fyrol HB-32 Apex 462-5. C12X X = H or Br polybromobiphenyls Chlorinated Chlorobiphenyls. Diethyl-pEtilon. nitrophenylmonothio C10H14NO5PS dustable powder (DP). Alkron. Santotherm biphenyls. Aroclor. Thiphos wettable powder (WP) capsule suspension (CS) 17 1200128-4 18 3635501-8 (hexa. Raraphos. DNTP. AC 3422. Firemaster T 23P.

Freon 12. EDC. Freon 11. Areton 12. Chorothene Trichloromonofluoromethane. Frigen 12. dichloroethane. Cryfluorane. Dutch liquid. Fluorotrichloromethane. Areton 114 C2Cl3F3 C2Cl2F4 30 31 - CFC-115 CFC-13 Chloropentafluoroethane Chlorotrifluoromethane C2ClF5 CClF3 . Bezinoform C2H4O CCl4 25 71-55-6 TCA Trikhloroethane) (1. Freon 114r.1. Perchloromethane.. Hydrargyrum. Brocide SymEthylene C2H4Cl2 cloride. 23 24 75-21-8 56-23-5 Ethylene Oxide CCL4 Tetraklorida) (Karbon Oxirane. Areton 11 C2H3Cl3 26 75-69-4 CFC-11 CCl3F 27 75-71-8 CFC-12 Dichlorodifluoromethane. Isotron 2 CCl2F2 28 29 - CFC-113 CFC-114 Trichlorotrifluoroethane Dichlorotetrafluoroethane. Halon.2-dichloroethane. Frigen 114. frigen 11.58 - 21 7439-976 Mercury/Air Raksa Liquid Silver.1 Methylchloroform. Genetron 12. Anprolene Tetrachloromethane. Quicksliver Hg 22 107-06-2 Ethylene Dichloride 1. Liquid silver. Orixane. Necatorina.

59 - 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 - CFC-112 CFC-111 CFC-217 CFC-216 CFC-215 CFC-214 CFC-213 CFC-212 CFC-211 Halon-1211 Halon-1301 Halon-2402 R-502 (Campuran Tetrachlorodifluoroethane Pentachlorofluoroethane Chloroheptafluoropropane Dichloroheksafluoropropane Trichloropentafluoropropane Tetrachlorotetrafluoropropane Pentachlorotifluoropropane Heksakchlorodifluoropopane Heptachlorofluoropropane Bromochlorodifluoromethane Bromotrifluoromethane Dibromotetrafluoroethane C2Cl4F2 C2Cl5F C3Cl7F C3Cl2F6 C3Cl3F5 C3Cl4F4 C3Cl5F3 C3Cl6F2 C3Cl7F CBrClF2 CBrF3 C2Rbr2F4 mengandung turunan perhalogenasi dari HC Asiklik berbeda : • mengandung dua atau lebih halogen Mengandung HC. Asiklik perhalogenasi hanya fluor dan Khlor • Mengandung R115/ HCFC-22 ..

Nahattands sesuai Kabinet dengan Bidang Hukum aslinya dan . Embafume CH3Br PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA.60 (Chlorodifluoro ethane) 45 74-83-9 Metil Bromida Bromomethane.. Monobromomethane. ttd MEGAWATI SOEKARNOPUTRI Salinan Deputi Sekretaris Perundang-undangan. Lambock V.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->