P. 1
F Pendekatan Dan Metodologi

F Pendekatan Dan Metodologi

|Views: 378|Likes:
Published by Widiana Safaat

More info:

Published by: Widiana Safaat on Mar 18, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/06/2013

pdf

text

original

Sections

  • F.1PEKERJAAN PERSIAPAN
  • F.2PENGUMPULAN DATA SEKUNDER
  • F.3.1Manual Survey Topografi Pantai
  • F.3.2Manual Survey Batimetri
  • F.3.3Manual Survey Pengamatan Gelombang
  • F.3.4Manual Survey Hidrometri
  • F.3.5Manual Survey Mekanika Tanah
  • F.3.6Manual Survey Tanah untuk Kesesuaian Mangrove
  • F.3.7Penyusunan Manual Survey Lingkungan
  • F.4.1Manual Analisa Topografi
  • F.4.2Manual Analisa Batimetri
  • F.4.3Manual Analisa Hidrometri
  • F.4.4Manual Tes Laboratorioum Mekanika Tanah
  • F.4.5Manual Tes Tanah untuk Kesesuaian Mangrove
  • F.4.6Manual Analisa Lingkungan
  • F.5.1Analisis Transpor Sedimen
  • F.5.2 Hidrologi DAS
  • F.5.3Hidrodinamika dan Sedimentasi Sungai
  • F.5.4Proses Pantai
  • F.5.5Pembentukan Gelombang
  • F.5.6 Transformasi Gelombang (Ref/Dif )
  • F.5.7 Prediksi Pasang Surut (Dina-Tide )
  • F.5.8 Sedimentasi Lahan (Penelitian Lapangan )
  • F.5.9Perhitungan Runup
  • F.5.10Kriteria Desain Bangunan Pengaman Pantai
  • F.5.11Kriteria Desain Revetment
  • F.5.12Kriteria Desain Groin
  • F.5.13Kriteria Desain Jetty
  • F.5.14Kriteria Desain Breakwater
  • F.5.15Kriteria Pembebanan
  • F.5.16Kriteria Pemilihan Material
  • F.5.17Perhitungan Berat Armor, Jenis Armor, dan Dimensi Struktur
  • F.5.18Perhitungan Berat Armor
  • F.5.19Tebal Lapisan Pelindung
  • F.5.20Lebar Mercu (Crest Width)
  • F.5.21Menghitung Jumlah Armor
  • F.6PERHITUNGAN RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB)

F

PENDEKATAN DAN
METODOLOGI
Metodologi pelaksanaan pekerjaan yang disajikan dalam bab ini merupakan garis besar rangkaian
langkah kerja yang akan dilaksanakan oleh Konsultan untuk menyelesaikan pekerjaan ini. Tiap
tahap pekerjaan akan diberikan penjelasan secara garis besar.
Seperti yang telah digariskan dalam Kerangka Acuan Kerja Pekerjaan “Manual Teknis Perencanaan
Pantai”, perlu dirumuskan suatu metodologi sebagai langkah-langkah atau tahapan pelaksanaan
pekerjaan. Penyusunan metodologi yang baik dengan mengkoordinasikan seluruh pekerjaan dan
personil yang terlibat akan menentukan kesuksesan pekerjaan. Dalam Pekerjaan ini terdapat
kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a. Pekerjaan persiapan yang meliputi beberapa kegiatan awal.
b. Pengumpulan data sekunder dengan studi mengenai pengamanan pantai.
c. Survey investigasi lapangan dan wawancara dengan penduduk setempat maupun
instansi terkait, mengenai kondisi dan karakteristik Sungai Balantieng.
d. Penyusunan Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai.
e. Kegiatan Workshop dan Lokakarya
f. Pelaporan dan diskusi.
Seluruh kegiatan dalam pekerjaan ini akan dilaksanakan selama 6 bulan, dengan melibatkan
dukungan dari tim Konsultan yang akan mendukung kegiatan pengumpulan dan analisis data. Agar
dapat memenuhi tenggat waktu yang tersedia dengan tetap menjaga kualitas hasil pekerjaan
maka kegiatan-kegiatan di atas oleh Konsultan dijabarkan dalam tahapan-tahapan pelaksanaan
pekerjaan seperti yang dijelaskan dalam sub bab-sub bab berikut ini.
F.1PEKERJAAN PERSIAPAN
Persiapan yang baik dan matang akan sangat menunjang pelaksanaan pekerjaan selanjutnya.
Yang termasuk dalam kegiatan persiapan adalah:
a. Penyelesaian administrasi
Administrasi yang harus dilengkapi antara lain adalah kontrak dan surat-surat untuk keperluan
legalitas kegiatan pengumpulan data. Pelaksanaan pngurusan administrasi dimaksudkan untuk
mempermudah kelancaran pekerjaan, terutama yang berkaitan dengan pengumpulan data.
Pengurusan administrasi yang dilakukan terdiri dari:
º Dokumen kontrak, Surat Perintah Mulai Kerja (SPMK), Surat Pengantar yang
diterbutkan oleh pihak pemberi pekerjaan.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-1
º Surat pengantar dari pihak Konsultan untuk pelaksanaan pekerjaan survey
lapangan.
º Surat pengantar dari pihak Konsultan, guna mendapatkan data-data yang
berhubungan dengan pekerjaan ini pada instansi yang terkait.
b. Koordinasi dengan instansi terkait
Sebelum memulai kegiatan pekerjaan di lapangan, Konsultan melakukan koordinasi dengan
instansi pemberi tugas untuk menyamakan persepsi tentang maksud, tujuan, dan sasaran
pekerjaan.
c. Penyusunan rencana dan jadwal kerja
Rencana kerja dengan tahapan dan penjadwalan yang jelas akan sangat berpengaruh terhadap
kualitas pekerjaan, terutama untuk pekerjaan yang sangat singkat waktu pelaksanaannya
seperti pekerjaan ini.
d. Penyusunan Rencana Mutu Kontrak (RMK)
Kegiatan penyusunan RMK ini dilakukan sebagai langkah awal tahapan dalam pelaksanaan
pekerjaan. Uraian dan isi RMK ini memuat kriteria pelaksanaan, metodologi pekerjaan, tahapan
pelaksanaan, sistem koreksi, organisasi pelaksanaan dan jadwal inspeksi pekerjaan yang akan
disepakati antara Konsultan dan direksi pekerjaan.
e. Identifikasi data
Identifikasi data bertujuan untuk mengetahui secara pasti jenis data yang diperlukan, data apa
yang tersedia, data apa yang belum tersedia dan dimana memperolehnya. Dengan demikian
pengumpulan data dapat lebih terfokus.
f. Mobilisasi sumberdaya
Mobilisasi ini meliputi kegiatan-kegiatan di bawah ini.
º Mobilisasi personil, melalui rapat-rapat dan koordinasi.
º Mempersiapkan dana operasi.
º Mobilisasi peralatan, meliputi peralatan survey, transportasi dan lain-lain.
g. Persiapan Pekerjaan Kantor
Pekerjaan kantor adalah pekerjaan yang menyangkut pengolahan data, analisis data sekunder,
dan pengurusan administrasi. Persiapan yang akan dilakukan untuk menangani pelaksanaan
pekerjaan kantor disajikan di bawah ini.
º Mengaktifkan seluruh personil yang terlibat dalam pekerjaan yaitu tenaga ahli dan
tenaga penunjang pelaksanaan proyek.
º Membuat jadwal penugasan personil, meliputi tugas masing-masing personil
dilengkapi dengan jadwal pelaksanaannya.
º Melakukan studi literatur mengenai materi-materi yang akan digunakan dalam
perencanaan.
F.2PENGUMPULAN DATA SEKUNDER
Pengumpulan data adalah pekerjaan teknik pertama yang dilakukan oleh Konsultan setelah
diselesaikannya pekerjaan persiapan. Yang dimaksud dengan pengumpulan data sekunder dalam
pekerjaan ini adalah pengumpulan data dari berbagai instansi baik di Departemen Pekerjaan
Umum pusat maupun di tempat lain.
Dalam hal data-data yang dibutuhkan berada di instansi lain di luar Pihak Pemilik Pekerjaan, surat
pengantar dari Pemilik Pekerjaan sangat dibutuhkan untuk membantu memperlancar perolehan
data yang dicari tersebut. Data sekunder yang perlu untuk dikumpulkan oleh Konsultan antara lain:
Kegiatan pengumpulan data sekunder memiliki 2 (dua) pokok pelaksanaan kegiatan, yaitu:
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-2
a. Kegiatan pengumpulan laporan hasil studi dan SID mengenai pengamanan pantai pada
daerah dimana kasus-kasus permasalahan pengamanan pantai dianggap menonjol, seperti di
daerah-daerah: Bali, Riau, Bengkulu, Kalimantan Barat, Sulawesi Utara, Jambi, Jawa Tengah,
Jawa Barat, dan Sumatera Barat.
b. Kegiatan pengamatan langsung di lapangan, untuk mendata dan menginvestigasi hasil-
hasil pelaksanaan dari studi/SID yang sudah dilaksanakan, sekaligus untuk mendapatkan
umpan balik dari pendekatan penanganan yang dilakukan.
Kegiatan pengumpulan data sekunder ini dilakukan dengan metodologi sebagai berikut:
a. Pengumpulan informasi mengenai kegiatan studi dan SID pengamanan pantai dari
instansi-instansi pusat maupun propinsi.
b. Pengumpulan dokumen laporan hasil studi dan SID dari instansi-instansi pusat maupun
propinsi.
c. Pendataan lokasi-lokasi yang telah memiliki pengamanan pantai.
d. Melakukan kunjungan studi dan investigasi di lokasi-lokasi pantai yang telah diamankan
tersebut, untuk mengetahui hasil pengamanan yang telah dilakukan, baik dari narasumber
pihak pemerintah daerah maupun masyarakat di sekitar lokasi pengamanan pantai.
Peralatan-peralatan yang akan digunakan pada pelaksanaan kegiatan pengumpulan data sekunder
ini diantaranya:
a. Peralatan dokumentasi dan fotografi untuk merekam kondisi lapangan (video
recorder/handycam dan kamera).
b. Peralatan pendataan dan pencatatan (kuisioner).
c. Peralatan pengumpulan data digital (file komputer, file peta ACAD, dan lain-lain)
menggunakan mobile data storage.
d. Peralatan-peralatan pendukung lain yang diperlukan.
Daerah-daerah yang dipandang telah banyak melakukan pekerjaan studi dan SID serta konstruksi-
konstruksi pengamanan pantai ditampilkan pada Gambar F.1 di bawah ini.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-3
0
9
5
O O
1
0
0
O
1
0
5
O
1
1
0
O
1
1
5
1
2
0
O O
1
2
5
S 15
O
S 10
O
5
O
S
O
1
3
0
O
0N
5N
O
N
O
10
80 0 200 400km
U
Gambar F.1 Contoh daerah-daerah tinjauan studi (propinsi yang diarsir).
F.3PENYUSUNAN MANUAL SURVEY LAPANGAN
F.3.1 Manual Survey Topografi Pantai
Survey topografi bertujuan untuk mendapatkan gambaran bentuk permukaan tanah yang berupa
situasi dan ketinggian serta posisi kenampakan yang ada di areal lokasi pekerjaan beserta areal
sekitarnya. Hasilnya kemudian akan dipetakan dengan skala dan interval kontur tertentu, yang
akan digunakan dalam kegiatan-kegiatan analisa lebih lanjut di dalam perencanaan pantai.
Kerangka tahapan survey topografi yang akan diuraikan oleh Konsultan ke dalam sebuah manual
dapat dilihat pada Gambar F.2.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-4
START PEKERJAAN
SURVEY TOPOGRAFI
PERSIAPAN PERALATAN
º Theodolite T.2
º Theololite T.0
º Meteran
º Waterpass
º Rambu Ukur
º Formulir
ORIENTASI DAERAH PENGUKURAN
PEMASANGAN PATOK
º Bench Mark (BM)
º Control Point (CP)
º Patok Kayu
PENGUKURAN SITUASI TOPOGRAFI
KERANGKA VERTIKAL KERANGKA HORIZONTAL
PENGUKURAN SITUASI
DETAIL
PENGOLAHAN DATA TOPOGRAFI
PENGGAMBARAN SITUASI DETAIL
PERHITUNGAN KETELITIAN DAN KOREKSI
PENGGAMBARAN FINAL
Gambar F.2 Bagan alir pelaksanaan kegiatan survey topografi.
Garis-garis besar Item-item kegiatan survey topografi tersebut akan dijelaskan oleh Konsutan
sebagai berikut:
A. Persiapan Peralatan Survey
Peralatan yang dipergunakan dalam survey topografi antara lain meliputi:
i. Wild T-2 Theodolit
ii. Wild T-0 Theodolit
iii. Wild Nak.1 Waterpass
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-5
iv. Rambu ukur
v. Meteran
vi. Formulir pencatatan
vii. Kalkulator
B. Orientasi Daerah Pengukuran
Orientasi lapangan merupakan kegiatan yang dilakukan sebelum dilakukannya kegiatan survei
lapangan. Kegiatan bertujuan:
º Meninjau areal yang akan diukur.
º Menentukan titik awal pengukuran (titik referensi), batas pengukuran dan lokasi BM.
Titik referensi untuk awal pengukuran adalah titik-titik yang sudah diketahui koordinatnya
dan tingginya seperti Titik Triangulasi atau Titik Dopler atau titik-titik yang telah dipasang
pada studi terdahulu sebagai acuan titik awal dari pengukuran, atau titik lainnya yang
telah disetujui oleh Direksi.
C. Pembuatan dan Pemasangan Bench Mark dan Control Point
Secara umum kegiatan ini meliputi pekerjaan :
º Pemasangan patok BM (Bench Mark) yang ada pada setiap rencana bangunan
(setiap bangunan utama yang direncanakan akan mempunyai BM).
º Mengukur kembali semua ketinggian patok BM yang dibuat (x,y,z) dan mengukur
kembali BM eksisting.
º Membuat daftar (register) BM lama dan baru serta membuat peta lokasi posisi
ketinggiannya (x,y,z) serta sket peta lokasinya.
Contoh ketetapan Pemasangan Bench Mark (BM) dan patok kayu, adalah sebagai berikut :
º Ukuran BM besar adalah 20 x 20 x 100 cm dan ditimbun tanah, dengan tinggi patok
yang muncul di atas permukaan adalah 20 cm.
º Ukuran BM kecil tanda azimuth, adalah 10 x 10 x 100 cm.
º BM besar dipasang pada setiap titik simpul utama pada jalur poligon utama dan
cabang, atau setiap luas areal ± 500 ha.
º BM dipasang sebelum pelaksanaan pengukuran detail, dan ditempatkan pada lokasi
yang aman, tanah dasar yang kokoh dan stabil, serta mudah dicari.
º Setiap Bench Mark (BM) dan patok diberi nomor yang teratur, dibuat deskripsinya,
yang dilengkapi dengan foto berwarna serta sketsa lokasi.
º Patok CP dibuat dari kayu dengan ukuran 5 x 7 x 60 cm, dan ditanam 30 cm
kedalam tanah.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-6
Gambar F.3 Contoh standar konstruksi BM dan CP.
D. Pengamatan Azimut Astronomis
Untuk mengetahui arah/azimut awal dilakukan dengan pengamatan matahari yang dilakukan
dengan menggunakan alat ukur Theodolite T2.
Tujuan dari pengamatan azimut ini adalah:
º Sebagai koreksi azimuth guna menghilangkan kesalahan akumulatif pada sudut-
sudut terukur dalam jaringan poligon.
º Untuk menentukan azimuth/arah titik-titik kontrol/poligon yang tidak terlihat satu
dengan yang lainnya.
º Penentuan sumbu X dan Y untuk koordinat bidang datar pada pekerjaan
pengukuran yang bersifat lokal/koordinat lokal.
Metode yang dilaksanakan pada pengamatan azimut astronomi ini adalah sebagai berikut:
1. Tempat pengamatan, titik awal (BM1).
2. Arahkan teropong ke matahari dalam kedudukan biasa.
3. Tempatkan tepi kiri bayangan matahari pada benang silang vertikal dengan
memutar sekrup penggerak hulu horisontal dan vertikal. Dengan memutar diafragma
maka diperoleh bayangan matahari yang jelas pada kertas tadah.
4. Geser tepi atas bayangan matahari hingga menyentuh benang silang horisontal
dengan cara memutar sekrup penggerak vertikal pada kedudukan I dan III (Gambar F.4).
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-7
40
2
0
1
5
6
5
2
0
1
0
0
Beton1:2:3
Pasir dipadatkan
Penkuningan
TulangantiangØ10
SengkangØ5-15
Pelatmarmer 12x 12
20
1
0
2
0
1
0
Ø6cm
PipapralonPVC Ø6cm
Nomor titik
Dicor beton
Dicor beton
7
5
2
5
Benchmark Control Point
5. Catat waktu pengamatan sampai satuan detik bersamaan dengan langkah No.1, 2
dan 3 selesai.
6. Catat sudut horisontal dan vertikal.
7. Putar balik teropong menjadi kedudukan luar biasa. Dengan cara yang sama ulangi
langkah No. 1 – 5 untuk kedudukan II dan IV.
8. Arahkan teropong ke arah target dan baca sudut horisontal dalam keadaan biasa
dan luar biasa sehingga diperoleh asimut sisi target dan alat.
9. Dari hasil pengamatan No. 1-7 dapat dihitung asimut geografis.
10. Dengan melihat metode pengamatan azimuth astronomis (αT) adalah :
αT = αM + β atau
αT = αM + ( ιT - ιM )
di mana:
αT = Azimuth ke target.
αM = Azimuth pusat matahari.
(ιT) = Bacaan jurusan mendatar ke target.
(ιM) = Bacaan jurusan mendatar ke matahari.
β = Sudut mendatar antara jurusan ke matahari dengan jurusan ke target.
Dari hasil pengamatan diperoleh sejumlah harga asimut hasil hitungan. Asimut yang dipakai
adalah hasil rata-rata dari asimut hasil hitungan.
Untuk kontrol hasil pengamatan asimut, maka hitungan salah satu penutup (standard error)
dengan rumus:
α =
[ ]
1
2
− n
V
, di mana α = salah penutup; V = residu
Gambar F.4 Posisi bayangan matahari pada kertas tadah.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-8
Kedudukan I Kedudukan II Kedudukan III Kedudukan IV
Matahari
Utara
(Geografi)
P2
(target)
P1
α
M
α
T
β
ι
M
ι
T
Gambar F.5 Pengukuran azimuth astronomis.
E. Penentuan Kerangka Dasar Horizontal
Tujuan pengukuran horisontal untuk mengetahui posisi setiap titik Bench Mark yang
terpasang, dan memperoleh data kerangka horisontal sepanjang jalur yang dilalui.
Pengukuran Poligon Utama
Cara pengukuran poligon utama adalah sebagai berikut:
1. Poligon utama meliputi daerah yang dipetakan dan merupakan kring terbuka yang
diikatkan pada titik referensi (reference point) yang telah ada di lapangan.
2. Jika poligon utama terlalu besar, dibagi dalam beberapa kring tertutup.
3. Poligon utama dibagi atas seksi-seksi dengan panjang maksimum tiap seksi 2,5 km.
4. Semua Bench Mark baik yang ada maupun baru harus dilalui poligon.
5. Pengukuran sudut poligon utama maksimum 10√N, dimana N adalah banyaknya titik
poligon utama.
6. Sudut vertikal dibaca dalam 1 (satu) seri dengan ketelitian sudut 2” (dua bacaan sudut).
7. Jarak diukur dengan pita ukur baja dan dikontrol dengan jarak optis dilakukan pulang
pergi masing-masing 2 kali bacaan.
8. Alat ukur sudut yang digunakan adalah Theodolit T2 Wild dan pengukuran sudut dilakukan
dengan titik nol yang berada (0, 45, 90 detik).
Pengukuran Sudut Jurusan
Sudut jurusan sisi-sisi poligon yaitu besarnya bacaan lingkaran horisontal alat ukur sudut pada
waktu pembacaan ke suatu titik. Besarnya sudut jurusan ditentukan berdasarkan hasil
pengukuran sudut mendatar di masing-masing titik poligon. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat
pada Gambar F.6.
Berdasarkan Gambar F.6, besarnya sudut β:
β · α
AC
− α
AB
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-9
di mana:
β = sudut mendatar.
αAC = bacaan skala horisontal ke target kiri.
αAB = bacaan skala horisontal ke target kanan.
Pembacaan sudut jurusan dilakukan dalam posisi teropong biasa dan luar biasa. Spesifikasi
teknis pengukuran poligon adalah sebagai berikut:
A
B
C
α
AB
α
AC
β
Gambar F.6 Pengukuran sudut jurusan.
Pengukuran Poligon Cabang
Ketentuan-ketentuan yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:
º Poligon cabang harus dimulai dan diakhiri pada poligon utama.
º Sisi-sisi poligon sama panjang.
º Semua Bench Mark yang ada maupun yang baru dilalui poligon.
Pembacaan sudut jurusan poligon dilakukan dalam posisi teropong biasa (B) dan luar biasa
(LB) dengan spesifikasi teknis sebagai berikut:
º Jarak antara titik-titik poligon adalah ≤ 100 m.
º Alat ukur sudut yang digunakan Theodolite T2 Wild.
º Alat ukur jarak yang digunakan pita ukur 50 meter.
º Jumlah seri pengukuran sudut 4 seri (B1, B2, LB1, LB2).
º Karena pengukuran poligon dilakukan tertutup (loop) maka hasil ukuran sudut dan
jarak harus memenuhi syarat geometris sebagai berikut:
Jumlah sudut (ΣL) ≈ (n+2) x 180o (rumus sudut luar)
Jumlah X (ΣX) ≈ 0
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-10
Jumlah Y (ΣY) ≈ 0
º Selisih sudut antara dua pembacaan ≤ 5” (lima detik).
º Ketelitian jarak linier (KI) ditentukan dengan rumus berikut.
000 . 5 : 1
d
f f
KI
2
y
2
x

+
·

di mana: fx = jumlah ∆X dan fy = jumlah ∆ Y
Perhitungan terhadap data pengukuran kerangka dasar horisontal dilakukan dalam bentuk
spreadsheet sehingga koreksi perhitungan dapat dilakukan dengan tepat dan merata. Hasil
perhitungan tersebut diplot dalam bentuk gambar grafik poligon pengukuran.
F. Penentuan Kerangka Dasar Vertikal
Kerangka dasar vertikal diperoleh dengan melakukan pengukuran sipat datar pada titik-titik
jalur poligon. Jalur pengukuran dilakukan terbuka , yaitu pengukuran dimulai dan diakhiri pada
titik yang berbeda. Seluruh ketinggian di traverse net (titik-titik kerangka pengukuran) telah
diikatkan terhadap BM.
Perhitungan tinggi menggunakan metoda beda tinggi (sifat datar) yaitu dilakukan dengan
menghitung beda tinggi per seksi.
Ukuran waterpass dilakukan pergi pulang dalam setiap seksi dan benang dibaca lengkap (BA -
BT - BB). Pengukuran pergi pulang dilakukan dalam satu hari, untuk menghindari kesalahan
akibat refleksi
Pengukuran dilakukan dalam bentuk loop (kring tertutup) yang dibagi beberapa seksi.
Dalam ukuran pergi pulang didapat:
Beda tinggi pergi = H1
Beda tinggi pulang = H2
Jadi beda tinggi pada ukuran pergi pulang didapat:
2
) 2 1 ( H H
H
+
·
Jarak pergi, didapat dari jumlah jarak belakang ditambah jarak muka, demikian pula jarak
pulang. Salah penutup yang diizinkan : 10√D (jarak rata-rata dalam km)
Pengolahan data hasil pengukuran lapangan terhadap kerangka dasar vertikal menggunakan
spreadsheet sebagaimana kerangka horisontalnya. Hasil pengolahan tersebut mendapatkan
data ketinggian relatif pada titik-titik patok terhadap Bench Mark acuan.
G. Pengukuran Situasi Detil
Pengukuran rinci/situasi dilaksanakan memakai metoda tachymetri dengan cara mengukur
besar sudut dari polygon (titik pengamatan situasi) kearah titik rinci yang diperlukan terhadap
arah titik polygon terdekat lainnya, dan juga mengukur jarak optis dari titik pengamatan
situasi. Pada metoda tachymetri ini didapatkan hasil ukuran jarak dan beda tinggi antara
stasiun alat dan target yang diamati.
Untuk menentukan tinggi titik B dari titik A yang telah diketahui koordinat (X, Y, Z), digunakan
rumus sebagai berikut:
H T T
A B
∆ + ·
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-11
Untuk menghitung jarak datar adalah tachymetri dengan rumus:

( ) BT Sin BB BA H −
1
]
1

¸

− ⋅ · ∆ α
2
100
2
1
Dd = DO.Cos2α
Dd = 100(Ba-Bb)Cos2α
di mana:
TA = Titik tinggi A yang telah diketahui
TB = Titik tinggi B yang akan ditentukan
∆H = Beda tinggi antara titik A dan B
BA = Bacaan benang atas
BB = Bacaan benang bawah
BT = Bacaan benang tengah
TA = Tinggi alat
Do = Jarak optis
α = sudut vertikal
Mengingat banyaknya titik-titik detail yang diukur, serta terbatasnya kemampuan jarak yang
dapat diukur dengan alat tersebut, maka diperlukan titik-titik bantu yang membentuk jaringan
poligon kompas terikat sempurna. Sebagai konsekuensinya pada jalur poligon kompas akan
terjadi perbedaan arah orientasi utara magnetis dengan arah orientasi utara peta sehingga
sebelum dilakukan hitungan, data azimuth magnetis diberi koreksi Boussole supaya menjadi
azimuth geografis.
Hubungan matematik koreksi boussole (C) adalah :
C = αg - αm
di mana: g = Azimuth Geografis
m = Azimuth Magnetis
Pada pelaksanaannya kerapatan titik detail sangat tergantung pada skala peta yang dibuat,
selain itu untuk keadaan tanah yang mempunyai perbedaan tinggi yang ekstrim dilakukan
pengukuran lebih rapat. Hasil dari pengukuran berupa data ray dari masing-masing ruas
dalam jalur poligon yang menyajikan ketinggian titik-titik tanah yang dipilih dan posisi
bangunan yang dianggap penting.
Hasil perhitungan koordinat titik dalam tiap ray lalu diikatkan pada masing-masing patoknya
sehingga didapatkan posisinya terhadap bidang referensi. Secara jelas titik-titik ini dapat
dilihat pada gambar topografi yang memiliki skala rinci.
F.3.2 Manual Survey Batimetri
Survei batimetri atau pemeruman (sounding) dimaksudkan untuk mengetahui kondisi rupa bumi
dasar perairan. Survei dilakukan dengan alat echosounder yang dilengkapi dengan GPS, sehingga
survei dapat dilakukan dengan mudah walau lokasi yang disurvei meliputi cukup jauh dari garis
pantai. Hasil dari survei batimetri ini diolah dan digabung dengan hasil survei topografi sehingga
diperoleh peta darat-laut kawasan yang dikaji.
Metoda pelaksanaan survei batimetri ini digambarkan dalam uraian berikut ini.
1. Penentuan Jalur Sounding
Jalur sounding adalah jalur perjalanan kapal yang melakukan sounding dari titik awal sampai
ke titik akhir dari kawasan survei. Jarak antar jalur sounding tergantung pada resolusi ketelitian
yang diinginkan.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-12
Titik awal dan akhir untuk tiap jalur sounding dicatat dan kemudian di-input ke dalam alat
pengukur yang dilengkapi dengan fasilitas GPS, untuk dijadikan acuan lintasan perahu
sepanjang jalur sounding. Contoh jalur sounding pada suatu kawasan pengukuran dapat dilihat
pada Gambar F.7.
Gambar F.7 Pergerakan perahu dalam menyusuri jalur sounding.
2. Peralatan Survei
Peralatan survei yang diperlukan pada pengukuran batimetri adalah:
i. Echo Sounder GPSMap dan perlengkapannya. Alat ini mempunyai fasilitas GPS
(Global Positioning System) yang akan memberikan posisi alat pada kerangka horisontal
dengan bantuan satelit. Dengan fasilitas ini, kontrol posisi dalam kerangka horisontal dari
suatu titik tetap di darat tidak lagi diperlukan. Selain fasilitas GPS, alat ini mempunyai
kemampuan untuk mengukur kedalaman perairan dengan menggunakan gelombang suara
yang dipantulkan ke dasar perairan. Gambar alat ini disajikan pada Gambar F.8,
sedangkan penempatan alat ini dan perlengkapannya pada perahu dapat dilihat pada
Gambar F.9.
ii. Notebook. Satu unit portable computer diperlukan untuk menyimpan data yang
di-download dari alat GPSMap.
iii. Perahu. Perahu digunakan untuk membawa surveyor dan alat-alat pengukuran
menyusuri jalur-jalur sounding yang telah ditentukan. Dalam operasinya, perahu tersebut
harus memiliki beberapa kriteria, antara lain:
º Perahu harus cukup luas dan nyaman untuk para surveyor dalam melakukan
kegiatan pengukuran dan downloading data dari alat ke komputer, dan lebih baik
tertutup dan bebas dari getaran mesin.
º Perahu harus stabil dan mudah bermanuver pada kecepatan rendah.
º Kapasitas bahan bakar harus sesuai dengan panjang jalur sounding.
º Papan duga. Papan duga digunakan pada kegiatan pengamatan fluktuasi muka air
di laut.
º Peralatan keselamatan. Peralatan keselamatan yang diperlukan selama kegiatan
survei dilakukan antara lain life jacket.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-13
JALUR SOUNDING
DARAT
LAUT
Gambar F.8 Reader alat GPSMap yang digunakan dalam survei batimetri.
ANTENA
SATELIT
READER
DASAR LAUT
TRANDUSER TRANDUSER
ANTENA
TAMPAK BELAKANG TAMPAK SAMPING
Permukaan Air Laut
Gambar F.9 Penempatan GPSMap (tranduser, antena, reader) di perahu.
F.3.3 Manual Survey Pengamatan Gelombang
Survei biasanya dilaksanakan selama 30 hari bersama dengan pelaksanaan survei pasang surut.
Pengamatan gelombang ini dilaksanakan kala terang tanah dengan mengamati fluktuasi muka air
melalui sebuah peilskal. Gelombang yang diamati merupakan gelombang yang sudah berada di
pantai, di posisi pemasangan peilskal. Pengamatan dilakukan setiap satu jam sekali dengan cara
mencatat fluktuasi muka air akibat gelombang (puncak dan lembah) serta mencatat periode
gelombang yang bersangkutan (waktu yang diperlukan dari satu puncak gelombang ke puncak
gelombang berikutnya) dengan menggunakan stopwatch. Setiap jam, pencatatan dilakukan
sebanyak 3 kali, lalu ketiga angka hasil pencatatan ini dirata-rata.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-14
F.3.4 Manual Survey Hidrometri
Cakupan survey hidrometri yang akan djelaskan oleh Konsultan dalam Manual Perencanaan Teknis
Pengamanan Pantai, antara lain:
1. Survey pengamatan pasang surut.
2. Survey pengukuran kecepatan arus.
3. Survey pengambilan contoh sedimen.
Pejelasan umum tentang pelaksanaan survey tersebut diuraikan Konsultan berikut ini.
A. Pengamatan Pasang Surut
Hasil pengamatan pada papan peilschaal dicatat pada formulir pencatatan elevasi air pasang
surut yang telah disediakan. Kemudian diikatkan (levelling) ke patok pengukuran topografi
terdekat pada salah satu patok seperti Gambar F.10, untuk mengetahui elevasi nol peilschaal
dengan menggunakan Zeiss Ni-2 Waterpass. Sehingga pengukuran topografi, Batimetri, dan
pasang surut mempunyai datum (bidang referensi) yang sama.
Elevasi Nol Peilschaal = T.P + BT.1 – BT.2
di mana: T.P = Tinggi titik patok terdekat dengan peilschaal
BT.1 = Bacaan benang tengah di patok
BT.1 = Bacaan benang tengah di peilschaal
Patok
BT. 1
BT. 2
Peilschaal
Gambar F.10 Pengikatan (levelling) peilschaal.
B. Pengukuran Kecepatan Arus
Tujuan pengukuran arus adalah untuk mendapatkan besaran kecepatan dan arah arus yang
akan berguna dalam penentuan sifat dinamika perairan lokal. Metoda pelaksanaan
pengukuran ini dijelaskan sebagai berikut:
i. Pengukuran arus dilakukan pada beberapa lokasi dimana arus mempunyai pengaruh
penting. Penempatan titik pengamatan ini disesuaikan dengan kondisi oseanografi lokal
dan ditentukan dari hasil studi pengamatan/survey pendahuluan (reconnaissance survey).
Pengukuran yang dilakukan adalah pengukuran distribusi kecepatan, dalam hal ini
pengukuran dilakukan di beberapa kedalaman dalam satu penampang. Berdasarkan teori
yang ada, kecepatan arus rata-rata pada suatu penampang yang besar adalah:
V = 0.25 ( v0.2d + 2× v0.6d + v0.8d)
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-15
di mana: v0.2d = arus pada kedalaman 0.2d
d = kedalaman lokasi pengamatan arus.
ii. Pengamatan kecepatan arus beserta arahnya dilakukan pada kedalaman 0.2d, 0.6d, 0.8d
seperti yang ditampilkan pada Gambar F.11.
Di samping mengetahui besar arus, arah arus juga diamati.
Gambar F.11 Arus diukur pada tiga kedalaman laut.
C. Pengambilan Contoh Sedimen
Pekerjaan ini mencakup pengambilan contoh sedimen suspensi dan dasar. Peralatan
pengambilan contoh air (sedimen suspensi) menggunakan satu unit botol yang dilengkapi
dengan katup-katup pemberat. Botol yang digunakan, dimasukkan pada kedalaman yang
dikehendaki di titik pengambilan sampel air. Sampel air yang didapat, disimpan dalam botol
plastik untuk di tes di laboratorium.
Dalam pengambilan sampel air, terdapat dua metoda pengambilan yaitu grab sample dan
composite sample. Grab sample adalah pengambilan sampel dilakukan dengan sekali ambil
pada kedalaman tertentu. Sementara composite sample adalah pengambilan sampel pada
kedalaman air yang berbeda dan kemudian digabung menjadi satu sampel. Metoda yang
dipilih untuk diterapkan dalam pekerjaan ini adalah composite sample.
Pengambilan contoh sedimen layang dilakukan pada kedalaman yang sama dengan arus
seperti yang ditampilkan pada Gambar F.12.
Sementara pengambilan sampel sedimen dasar menggunakan satu unit grabber yang
diturunkan dengan kondisi “mulut” terbuka dengan mengulur tali hingga membentur tanah
dasar laut/sungai. Saat tali ditarik kembali, secara otomatis mulut grabber akan menggaruk
material di bawahnya hingga tertutup. Dengan demikian grabber yang telah memuat material
dasar dapat ditarik ke atas. Sampel material dasar tersebut dimasukkan ke dalam wadah
plastik yang diberi tanda untuk dites di laboratorium.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-16
perahu
dasar sungai/saluran
handset
currentmeter
0,2d; 0,6d; dan 0,8d
muka air sungai/saluran
pemberat
d
Dasar laut
Muka air laut
Gambar F.12 Arus diukur pada tiga kedalaman laut.
F.3.5 Manual Survey Mekanika Tanah
Survey ini bertujuan untuk mengetahui sifat-sifat fisik tanah yang akan dipakai pada rencana
tanggul saluran, bangunan-bangunan air, pondasi jembatan, serta bangunan pelengkap lainnya
yang diperlukan.
Standar yang digunakan dalam prosedur pengerjaan boring beserta peralatannya meliputi:
º ASTM D-420-87; ”Standard Guide for Investigating and Sampling Soil and Rock”.
º ASTM D-1452-80; ”Standard Practice for Soil Investigation and Sampling by Auger
Borings”.
º ASTM D-2488-84; ”Standard Practice for Description and Identification of Soil”.
º ASTM D-1586-84; ”Standard Method for Penetration Test and Split Barrel Sampling of
Soil”.
º ASTM D-1587-83; ”Standard Practice for Thin Walled Tube Sampling of Soil”.
Dari hasil survey ini diharapkan akan didapat parameter-parameter:
º Daya dukung tanah, yang diperlukan dalam disain pondasi dan tanggul saluran.
º Kestabilan lereng, diperlukan dalam perhitungan tanggul saluran.
º Penurunan tanah (settlement), dalam perhitungan tanggul dan bangunan.
º Permeabilitas tanah dalam perhitungan bangunan, rembesan, dan sebagainya.
Selain yang tersebut di atas, setelah dianalisis di laboratorium hasil survey dapat memberikan
saran atau usulan terhadap metode yang digunakan dalam disain rencana.
Tahapan kegiatan survey mekanika tanah yang akan diuraikan Konsultan dalam Manual
Perencanaan Teknis Perencanaan Pantai dsajikan pada Gambar F.13 sebagai berikut:
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-17
START PEKERJAAN
SURVEY MEKANIKA TANAH
PERSIAPAN
º Personil Pelaksana
º Peralatan dan Bahan Survey
º Peta Distribusi Titik Penyelidikan
MOBILISASI
º Personil Pelaksana
º Peralatan dan Bahan Survey
BORING SONDIR TEST PIT
LABORATORIUM MEKANIKA TANAH
DATA PARAMETER TANAH
º Karakteristik Tanah
º Rekomendasi Daya Dukung
º Rekomendasi Sebagai Bahan
Bangunan
ORIENTASI
º Penentuan titik penyelidikan
º Pengikatan titik penyelidikan
terhadap BM
PENGAMBILAN SAMPEL
TANAH
Gambar F.13 Bagan alir survey mekanika tanah.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-18
1. Pengeboran (Soil Boring)
Penyelidikan tanah melalui boring juga memberikan beberapa hal penting antara lain:
º Letak lapisan tanah keras.
º Perkiraan jenis lapisan tanah.
º Perkiraan ketebalan tiap jenis lapisan tanah.
º Pengambilan contoh tanah untuk di uji laboratorium yang selanjutnya dapat
diperoleh parameter-parameter tanah yang diperlukan sehubungan dengan kegiatan
perencanaan.
Gambar F.14 Peralatan pengambilan sampel: Thin Wall Tube Sampler.
Gambar F.15 Contoh kegiatan pengeboran (boring).
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-19
2. Tes Sondir (Penetration Test)
Alat yang digunakan adalah penetrometer dengan pembacaan tekanan dilakukan setiap
kedalaman 20 cm.
Beberapa hal penting yang dapat diperoleh dari penyelidikan tanah melalui sondir, antara lain:
º Perkiraan kedalaman tanah keras sesuai dengan spesifikasi pekerjaan.
º Perkiraan ketebalan tiap jenis tanah.
º Dengan dapat diperkirakannya ketebalan lapisan tanah, maka dapat diperkirakan
penurunan yang mungkin terjadi akibat pembebanan.
Gambar F.16 Peralatan sondir : Dutch Penetration Test.
Gambar F.17 Contoh kegiatan tes sondir (penetration test).
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-20
3. Test Pit
Tujuan pegujian ini adalah untuk mengetahui karakteristik tanah yang akan digunakan sebagai
timbunan. Lokasi titik pengamatan ditentukan atas persetujuan Direksi pekerjaan. Ukuran
lubang uji (Test Pit) adalah (1.25 x 1.25) m
2
pada kedalaman maksimum 5 m. Pada keadaan
muka air tanah dangkal, Test Pit dilakukan dengan pemboran sampai kedalaman 5 meter.
Pada setiap lubang uji diambil contoh tanah terganggu (disturbed soil sample) di setiap
perubahan lapisan seberat 20 kg untuk diuji sifat-sifat pemadatannya (compaction test) di
Laboratorium.
Gambar F.11 Contoh kegiatan penyelidikan tanah dengan membuat lubang uji
(test pit).
4. Pengambilan Contoh Tanah
Untuk penelitian di laboratorium, pengambilan contoh tanah ini sangat penting guna
mengetahui sifat dan jenis tanahnya, sehingga pengambilan contoh tanah ini dilakukan.
Pengambilan contoh tanah dilakukan untuk 2 macam kondisi yakni kondisi tanah asli
(undisturbed sample) dan kondisi tanah terganggu (disturbed sample) yang dapat diperoleh
dari pembuatan sumur uji.
F.3.6 Manual Survey Tanah untuk Kesesuaian Mangrove
Survei kesesuaian mangrove bertujuan untuk mendapakan informasi tentang jenis mangrove yang
sesuai di lokasi pekerjaan. Sampel tanah vegetasi mangrove kemudian diolah di laboratorium
untuk mendapatkan parameter kesuburan tanah berupa kadar nutrisi yang terdapat pada tanah.
Hasil uji laboratorium tersebut akan disesuaikan dengan jenis mangrove yang sudah ada di
lapangan. Berdasarkan kadar kesuburan tanah yang diketahui, dapat ditentukan apakah tanah di
lokasi pekerjaan sesuai untuk perkembangbiakan jenis vegetasi mangrove. Akan diteliti pula jenis
mangrove yang akan dikembangbiakan lebih lanjut di lokasi perkerjaan.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-21
Gambar F.12 Contoh kegiatan pengambilan tanah vegetasi mangrove.
F.3.7 Penyusunan Manual Survey Lingkungan
Pengumpulan data perlu dilakukan, baik untuk mendapatkan data primer maupun sekunder. Data
dikumpulkan melalui kegiatan:
º Wawancara dengan nara sumber penduduk setempat di lokasi pekerjaan.
º Review beberapa laporan/buku dan literatur yang relevan dengan permasalahan studi.
º Pengukuran kualitas lingkungan dan analisisnya didasarkan pada parameter-parameter
yang ditetapkan dengan metode dan teknik atau prosedur yang secara ilmiah berlaku untuk
masing-masing komponen lingkungan.
Metodologi studi lingkungan pada pekerjaan ini merupakan acuan dalam mengkaji aspek
lingkungan mulai dari pengamatan dan pengukuran lapangan, hingga mengevaluasi dampak yang
mungkin timbul terhadap komponen lingkungan akibat kegiatan baru yang berlangsung.
Perkiraan timbulnya dampak dari suatu kegiatan sangat dipengaruhi oleh faktor waktu dan
pengaruh kegiatan terhadap komponen lingkungan. Berdasarkan perkiraan tersebut, maka dapat
dikembangkan suatu studi yang menelaah hal-hal sebagai berikut:
º Sejauh mana pengaruh dampak kegiatan proyek terhadap komponen lingkungan.
º Langkah-langkah apa yang diperlukan lebih lanjut dalam upaya mengelola lingkungan.
º Langkah-langkah apa yang diperlukan lebih lanjut dalam upaya pemantauan lingkungan.
F.4PENYUSUNAN MANUAL PENGOLAHAN DATA
F.4.1 Manual Analisa Topografi
Data hasil pengukuran survei topografi direalisasikan dalam bentuk gambar/peta teknis.
Penggambaran akhir dilaksanakan setelah mendapat persetujuan dari Direksi, setelah pekerjaan
lapangan disetujui oleh Direksi pekerjaan, terutama berkaitan dengan perhitungan-perhitungan
data ukur dan hasil asistensi peta draft situasi hasil lapangan.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-22
A. Perhitungan
Pekerjaan perhitungan sementara diselesaikan di lapangan sehingga kesalahan dapat segera
diulang untuk diperbaiki, selain itu setiap perhitungan disertai dengan sketsa penggambaran.
Sketsa penggambaran mencantumkan hal-hal yang diperlukan, di antaranya:
º Salah satu penutup sudut poligon dan jumlah titik.
º Salah linier poligon dan harga toleransi.
º Salah penutup sifat datar dan harga toleransi.
º Jumlah jarak.
º Stasiun pengamatan matahari.
Ketentuan perhitungan meliputi:
º Perhitungan poligon dapat menggunakan metode Bowditch, Deil atau kuadrat terkecil.
º Perhitungan dilakukan dalam proyeksi yang sudah ada sesuai dengan data referensi
pada awal pengukuran.
B. Ketelitian Penggambaran
Penggambaran dilakukan dengan ketelitian sesuai dengan spesifikasi yang telah ditentukan
oleh Direksi.
F.4.2 Manual Analisa Batimetri
A. Koreksi Terhadap Kedalaman
Data yang tercatat pada alat GPSMap adalah jarak antara transducer alat ke dasar perairan.
Transducer tersebut diletakkan di bagian belakang kapal, di bawah permukaan air yang
terpengaruh oleh pasang surut. Oleh sebab itu diperlukan suatu koreksi kedalaman terhadap
jarak transducer ke permukaan air dan koreksi kedalaman terhadap pasang surut, dengan
persamaan:
EMA A Z ED − + ·
di mana
EMA = Elevasi muka air diukur dari nol papan duga.
Z = Kedalaman air hasil sounding (jarak dasar perairan ke transducer)
A = Jarak transducer ke muka air
B. Pengikatan Terhadap Elevasi Referensi
Hasil dari koreksi pertama (koreksi terhadap jarak transducer ke muka air dan terhadap
pasang surut) menghasilkan elevasi dasar perairan terhadap nol papan duga. Elevasi ini
kemudian diikatkan kepada elevasi LLWL yang dihitung pada pengolahan data pasang surut.
Pengikatan terhadap LLWL dapat dicari dengan menggunakan persamaan berikut ini:
ELWS ED ED
LWS
− ·
Ket: EDLWS = Elevasi dasar perairan relatif terhadap LLWL
ED = Elevasi dasar perairan relatif terhadap nol papan duga
ELWS = Elevasi LWS relatif terhadap nol papan duga
Dengan demikian LLWL berada pada elevasi + 0.00 m.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-23
F.4.3 Manual Analisa Hidrometri
A. Pasang Surut
Selanjutnya dilakukan pengolahan data pasang surut. Perhitungan konstanta pasang surut
dilakukan dengan menggunakan metode Least Square.
Dengan konstanta pasang surut yang ada pada hasil peramalan sebelumnya dilakukan
penentuan jenis pasang surut menurut rumus berikut:
2 2
1 1
S M
O K
NF
+
+
·
Di mana jenis pasut untuk nilai NF:
0....0,25 = semi diurnal
0,25....1,5 = mixed type (semi diurnal dominant)
1,5....3,0 = mixed type (diurnal dominant)
>3,0 = diurnal
Selanjutnya dilakukan peramalan pasang surut untuk hari yang dipilih bersamaan dengan
masa pengukuran yang dilakukan. Hasil peramalan tersebut dibandingkan dengan pembacaan
elevasi di lapangan untuk melihat kesesuaiannya. Dengan konstanta yang didapatkan
dilakukan pula peramalan pasang surut untuk masa 20 tahun sejak tanggal pengamatan. Hasil
peramalan ini dibaca untuk menentukan elevasi-Elevasi Acuan pasang surut yang menjadi ciri
daerah tersebut sebagaimana disajikan pada contoh Tabel F.1.
Dari elevasi acuan pasang surut yang ada maka ditetapkan nilai LLWL sebagai elevasi nol
acuan. Disamping itu dari peramalan untuk masa 20 tahun ke depan akan didapatkan nilai
probabilitas dari masing-masing Elevasi Acuan di atas.
Tabel F.1 Elevasi Acuan Pasang Surut
No Jenis Elevasi Acuan
1 HHWL, Highest High Water Level
2 MHWS, Mean High Water Spring
3 MHWL, Mean High Water Level
4 MSL, Mean Sea Level
5 MLWL, Mean Low Water Level
6 MLWS, Mean Low Water Spring
7 LLWL, Lowest Low Water Level
B. Arus
Pengolahan data arus dilakukan untuk mengetahui besar arus rata di lokasi titik survey
berdasarkan persamaan yang telah disajikan pada halaman di atas.
C. Sedimen
Pengolahan data sedimen di laboratorium dilakukan untuk memperoleh gradasi butiran
sedimen. Data ini selanjutnya digunakan sebagai data masukan dan kalibrasi dalam simulasi
transpor sedimen.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-24
F.4.4 Manual Tes Laboratorioum Mekanika Tanah
Penyelidikan tanah di laboratorium dimaksudkan untuk mendapatkan nilai parameter fisik dan
mekanis dari contoh tanah asli yang didapat dari hasil pengeboran. Pengujian di laboratorium ini
mengikuti prosedur serta standard ASTM.
Untuk mendapatkan hubungan antara berat isi, kadar air, angka pori dan berat jenis dalam sistem
tiga fase, yaitu udara, air dan butiran padat dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
A. Pengujian Sifat Fisik Tanah

U D A R A
T A N A H
A I R
W w
W
B e r a t
V v
V
V o l u m e
W a
W w
W s
V a
V w
V s
K e t e r a n g a n : W a = 0
Gambar F.13 Komposisi partikel tanah pada sistem tiga fase.
di mana:
V = volume total (cm3)
Va = volume udara (cm3)
Vw = volume air (cm3)
Vs = volume tanah (cm3)
Wa = berat udara (≅ 0)
Ww = berat isi (gr)
Ws = berat tanah (gr)
W = jumlah berat (gr)
Dari Gambar F.13 dapat diperoleh rumus-rumus hubungan antara berat-volume partikel tanah
yang digunakan untuk analisisseperti pada Tabel F.2 berikut ini.
Tabel F.2 Hubungan Volume-Berat Partikel Tanah
Karakteristik Simbol Satuan Rumus
a. Kadar air W %
% 100
Ws
Ww
w x ·
b. Angka pori E
S
V
V
V
e ·
c. Porositas N
V
V
n
V
·
e 1
e
n
+
·
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-25
Tabel F.2 Hubungan Volume-Berat Partikel Tanah (lanjutan)
Karakteristik Simbol Satuan Rumus
d. Derajat kejenuhan Sr %
Vv
Vw
Sr ·
e. Berat isi tanah asli γ gr/cm
3
V
W
γ ·
f. Berat isi tanah kering γd gr/cm
3
w 1
γ
γ
d
+
·
g. Berat isi tanah jenuh γsat gr/cm
3
v
w
v
w w
γ
s w
sat
·
+
·
h. Kepadatan relatif Dr
min maks
maks
r
e e
e e
D


·
fi Spesific Grafity Gs
γw
γs
Gs ·
Untuk perhitungan, dapat digunakan beberapa nilai parameter hubungan berat-volume seperti
yang tercantum pada Tabel F.3 dan Tabel F.4 berikut ini.
Tabel F.3 Nilai (n, e, w, γ) dari Beberapa Jenis Tanah
Jenis Tanah
Porositas
Angka
Pori
Kadar
Air
(%)
Berat Isi
(t/m
3
)
(n) (e) (w) γ d γ sat
Pasir seragam, urai
Pasir seragam, padat
Pasir kering, campur, urai
Pasir kering, campur, adat
Lempung organik agak lunak
Lempung lunak sangat organik
Lempung kapuran, lunak
0,46
0,34
0,40
0,30
0,66
0,75
0,84
0,85
0,51
0,67
0,43
1,90
3,00
5,20
32
19
25
16
70
110
194
1,44
1,75
1,59
1,86
0,93
0,69
0,43
1,89
2,08
1,99
2,16
1,57
1,43
1,28
Tabel F.4 Nilai Berat Spesifik (Gs) dari Tanah Asli yang Dapat Mewakili
Jenis Tanah Gs Jenis Tanah Gs
Pasir Kwarsa
Lanau
Lempung
2.64 – 2.66
2.67 – 2.73
2.70 – 2.90
Tanah Kapur
Tanah Loess
Tanah Organis
2.60 – 2.75
2.65 – 2.73
1.30 – 1.90
Tabel F.5 menunjukkan kegunaan dan cara memperoleh parameter sifat fisik tanah yang
diperlukan dan Tabel F.6 adalah jenis pengujian yang digunakan untuk memperoleh parameter-
parameter sifat fisik tanah.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-26
Tabel F.5 Parameter Sifat Fisik Tanah Untuk Analisis
Karakteristik Simbol Satuan
Diperoleh
Dari
Digunakan Untuk
1. VOLUME – BERAT
Kadar Air w % Pengujian
Klasifikasi dan
hubungan volume-
berat
Berat Isi γ Gr/cm
3
Pengujian atau dari
hubungan volume-
berat
Klasifikasi dan
perhitungan tekanan
Porositas η - Perhitungan dari
hubungan volume-
berat
Volume relatif partikel
tanah pada jumlah
volume contoh
Angka Pori E -
Berat Jenis Gs - Pengujian Perhitungan volume
2. BATAS KEKENTALAN (ATTERBERG’S LIMIT)
Batas Cair LL - Pengujian
Klasifikasi dan koreksi
alat
Batas Plastis PL - Pengujian Klasifikasi
Indeks Plastis IP - LL dan PL
Klasifikasi dan koreksi
sifat
Batas Susut SL - Pengujian Klasifikasi dan
perhitungan pemuaian Indeks Susut SI - PL dan SL
3. GRADASI
Diameter
efektif
D10 Mm Kurva ukuran butir
Klasifikasi
Estimasi permeabilitas
dan berat isi
Rencana saringan
Persen butiran
D30
D60
Kurva ukuran butir
Koefisien
keseragaman
Cu -
10
60
D
D
Koefisien kurva Cc -
( )
( ) ( )
60 10
2
30
D x D
D
Ukuran fraksi
lempung
-
Kurva ukuran butir,
% lolos< 0.002 mm
Klasifikasi
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-27
Tabel F.6 Jenis Pengujian dan Rumus yang Digunakan Untuk Sifat Fisik Tanah
Jenis Pengujian AnalisisPengujian
1. Kadar air
100% x
W
W
ω
s
w
·
Ww = berat air (gr)
= berat tanah basah + cawan – berat tanah kering + cawan (gr)
Ws = berat tanah kering (gr)
= berat tanah kering + cawan – berat cawan (gr)
2. Berat Isi
V
W
γ
S
·
WS = berat tanah (gr)
= berat tanah + cetakan - berat cetakan (gr)
V = volume cetakan (cm
3
)
3. Berat Spesifik
b a 0
0
S
W W W
W
G
− +
·
W0 = berat tanah kering (gr)
= berat picnometer + tanah - berat picnometer (gr)
Wa = berat picnometer + air (gr)
Wb = berat picnometer + tanah + air (gr)
4. Batas Cair
Hitung kadar air.
Hitung jumlah pukulan (N), 2 kali di bawah dan 2 kali di atas
25 kali putaran.
Plot pada kertas grafik jumlah pukulan (skala log) dan kadar air
(skala linier).
Standar kadar air pada 25 kali putaran merupakan batas cair.
5. Batas Plastis
Contoh tanah yang telah diberi air dibuat gelintir di atas
lempeng kaca dengan menggunakan tangan.
Hitung kadar air untuk percobaan minimum 3 kali.
Rata-rata kadar air adalah batas plastis.
6. Batas Susut
1
]
1

¸

− · 100% x
W
γ ) V (V
ω S
0
w 0
L
ω = kadar air (%)
V = isi tanah basah (cm
3
)
V0 = isi tanah kering (cm
3
)
W0 = berat tanah kering (gr)
7. AnalisisAyakan
Hitung berat tanah yang tertahan pada setiap ayakan dan
dijumlahkan.
Hiung persentase tanah yang tertahan dan dijumlahkan.
Hitung persentase yang lolos pada setiap ayakan.
Plot pada kertas grafik
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-28
B. Pengujian Sifat Mekanis Tanah (Engineering Properties)
Pengujian sifat mekanis tanah atau sifat keteknikan, diperlukan untuk mengetahui sifat tanah
jika menerima beban luar. Tabel F.7 menunjukkan jenis-jenis parameter sifat mekanis tanah
yang diperlukan untuk analisisdan desain. Pengujian untuk memperoleh besaran parameter
sifat mekanis, yang diperlukan untuk analisisdan desain, seperti Tabel F.8 yang meliputi:
• Pengujian konsolidasi.
• Pengujian kekuatan geser tanah, yang meliputi uji triaxial dan uji kuat tekan
bebas.
Tabel F.7 Parameter Sifat Mekanis Untuk Analisis
Karakteristik Simbol Satuan Diperoleh Dari Digunakan Untuk
1. KONSOLIDASI
a. Koefisien
kompresibilitas
a
v
cm
2
/kg
Perhitungan
kurva hubungan
e dan p
Perhitungan batas
penurunan atau muai
(sweel) pada
analisisKonsolidasi
b. Koefisien perubahan
volume
M
v
cm
2
/kg
o
v
e 1
a
+
c. Indeks kompresi Cc
- Grafik semi log,
kurva hubungan
e dan p
d. Indeks muai Cs
-
e. Koefisien
kompresibilitas
sekunder
C
α
-
Grafik semi log,
kurva hubungan
waktu dan
derajat
Konsolidasi
f. Koefisien konsolidasi c
v
mm
2
/det
Perhitungan waktu
penurunan
g. Tekanan/beban
konsolidasi
P
kg/cm
2
Grafik semi log,
kurva e dan p
Analisiskonsolidasi
2. KEKUATAN GESER
a. Sudut geser dalam
φ
derajat
Lingkaran mohr
untuk tegangan
normal total
Analisisstabilitas
lereng, daya
dukung tanah
b. Kohesi C kg/cm
2
c. Sudut geser dalam
efektif
φ
1
derajat
Lingkaran mohr
untuk tegangan
normal efektif
d. Kohesi efektif C
1
kg/cm
2
e. Kuat tekan bebas q
u
kg/cm
2
Pengujian
f. Kuat geser S kg/cm
2
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-29
Tabel F.8 Jenis Pengujian dan Rumus yang Digunakan Untuk Sifat Mekanis
Jenis Pengujian
AnalisisPerhitunga
n
A. KONSOLIDASI
a. Hitung berat tanah basah, berat isi dan kadar air
benda uji sebelum dan sesudah percobaan serta
hitung berat tanah kering.
b. Perhitungan tinggi efektif benda uji.
A . G
w
H
S
d
t
·
c. Hitung besar penurunan total (H) yang terjadi
pada setiap pembebanan.
d. Hitung angka pori mula-mula.
Ht
H H
e
t 0
0

·
e. Hitung perubahan angka pori.
Ht
H
e · ∆
f. Hitung angka pori setiap pembebanan. e = e0 - ∆e
g. Gambar kurva angka pori terhadap tekanan
(skala log).
h. Hitung derajat kejenuhan.
e
G . w
S
r
·
i. Hitung koefisien konsolidasi.
90
2
v
T
H 0,848
C ·
j. Hitung koefisien kompresi.
P Δlog
Δe
Cc
10
·
k. Hitung koefisien memuai.
ΔlogP
Δe
Cs

·
l. Hitung koefisien kompresibilitas.
o
o
v
P P
e e
ΔP
Δe
a


·

·
m. Koefisien perubahan volume.
o
v
v
e 1
a
m
+
·
n. Koefisien kompresibilitas sekunder.
Δlogt
Δe
C
α
·
B. KEKUATAN GESER
1. Kuat Tekan Bebas
a. Hitung regangan aksial.
0
L
ΔL
ε ·
∆L = perubahan panjang
benda uji (cm)
L0 = panjang benda uji
mula-mula (cm)
b. Hitung tegangan normal.
A
P
σ ·
P = beban aksial (kg)
A = luas penampang
benda uji (cm
2
)
c. Gambarkan kurva ε terhadap σ.
d. Hitung σ maksimum.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-30
Tabel F.8 Jenis Pengujian dan Rumus yang Digunakan Untuk Sifat Mekanis (Lanjutan)
Jenis Pengujian AnalisisPerhitungan
2. Triaxial
a. Hitung perubahan panjang. ∆L = a – b
a = kalibrasi x jumlah
putaran
b = pembacaan cicin
pengukur akhir –
pembacaan cincin
pengukur awal
b. Hitung regangan.
1
C
L
ΔL
ε ·
∆LC =perubahan
panjang contoh
tanah (cm)
L1 = L0 – ∆LC (cm)
c. Hitung tegangan deviator. P = ∆d = ∆1 – ∆3
P = P/A
d. Hitung perbandingan tegangan
utama mayor dan minor.
ch
ch
3
3
3
1
σ
σ
A
P
σ
σ
A
P
σ
σ
+
·
+
·
P = tekanan ruang
e. Hitung sudut geser dalam.

,
_

¸
¸
+

,
_

¸
¸

·

1
σ
σ
1
σ
σ
sin φ
3
1
3
1
1
F.4.5 Manual Tes Tanah untuk Kesesuaian Mangrove
Untuk mengetahui ada atau tidaknya kemungkinan untuk melakukan pembiakan mangrove di
lokasi pekerjaan, maka sampel tanah diuji di laboratorium untuk memperoleh informasi kesuburan
tanah.
Dari hasil analisis kesuburan tanah akan diperoleh informasi ekosistem dataran yang dikaji (pantai)
yang mencakup kondisi tanah keasaman (pH). Akan diperoleh pula informasi kandungan organik
tanah dengan tingkat kematangan bahan organik.
Untuk pembiakan mangrove, maka harus dilakukan species-site matching. Faktor-faktor lingkungan
yang yang sangat penting diperhatikan dalam species-site matching adalah pola pasang surut,
salinitas, tekstur tanah, dan kecepatan angin. Sebagai arahan, faktor-faktor lingkungan yang
diperlukan untuk merehabilitasi komunitas tumbuhan mangrove dapat dilihat pada Tabel F.2
berikut ini.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-31
Tabel F.9 Faktor-Faktor Lingkungan Yang Sesuai Bagi Beberapa Jenis Pohon Mangrove
Salinitas
‰ Ombak dan Angin Kandungan Pasir Lumpur
1 R. mucronata 10 - 30 ST MD ST
2 R. stylosa 11 - 30 MD ST ST
3 R. apiculata 12 - 30 MD MD ST
4 B. parviflora 13 - 30 SV MD ST
5 B. Sexangula 14 - 30 SV MD ST
6 B. gymnorrhyza 15 - 30 SV SV MD
7 S. alba 16 - 30 MD ST ST
8 S. caseolaris 17 - 30 MD MD MD
9 X. granatum 18 - 30 SV MD MD
10 H. littoralis 19 - 30 VS MD MD
11 L. littorea 20 - 30 VS ST MD
12 C. manghas 0 - 10 VS MD MD
13 Nypa fruticans 0 - 10 VS SV ST
14 Avicenniaspp. 10 - 30 MD ST ST
Tergenang musiman
20 hr / bln
9 hr / bln
9 hr / bln
Beberapa kali / tahun
Tergenang musiman
10 - 19 hr / bln
10 - 19 hr / bln
20 hr / bln
20 hr / bln
20 hr / bln
20 hr / bln
20 hr / bln
10 - 19 hr / bln
Toleransi terhadap Frekuensi
Penggenangan
No Jenis
Keterangan: ST = Suitable (sesuai), MD = Moderate (sedang/cukup sesuai), SV = Severe (tidak sesuai),
VS = Very Severe (sangat tidak sesuai)
Anakan/propagul sebaiknya dimasukkan dalam karung goni atau kantung plastik transparan yang
telah diberi lobang-lobang sirkulasi udara. Karung atau kantung plastik tersebut diangkut secara
hati-hati agar propagul tidak lecet atau patah.
Di storage, karung/kantung berisi propagul dapat ditempatkan di ruang ber AC atau ditaruh di
suatu kanal yang dipengaruhi pasang surut yang dibatasi dengan net (kain kassa). Dengan metode
penyimpanan ini, propagul dapat disimpan selama sekitar 4 bulan.
Dalam penyimpanan ini yang harus diperhatikan adalah:
1. Memelihara kadar air propagul sekitar 60 – 90 %.
2. Memelihara suhu ruangan agar stabil sekitar 15 – 40 oC.
3. Memberikan intensitas cahaya yang lemah terhadap propagul.
4. Penyiraman harus dilakukan secara teratur (minimal sekali setiap hari).
Lama penyemaian dan ciri bibit siap tanam dari beberapa jenis pohon mangrove adalah seperti
tertera pada Tabel F.10.
Tabel F.10 Lama Penyemaian dan Ciri Bibit Siap Tanam dari Beberapa Jenis
Pohon Mangrove
Dinaungi Naungan Dibuka
1 R. mucronata 3 - 4 1 Jumlah daun > 2 pasang, tinggi bibit > 55 cm
2 R. apiculata 3 - 4 1 Jumlah daun > 2 pasang, tinggi bibit > 30 cm
3 B. gymnorrhyza 2 - 3 1 Jumlah daun > 2 pasang, tinggi bibit > 35 cm
4 S. alba 2 3 - 4 Jumlah daun > 2 pasang, tinggi bibit > 15 cm
5 Avicenniaspp. 2 1 - 2 Jumlah daun > 2 pasang, tinggi bibit > 30 cm
6 C. manghas 3 - 4 3 - 4 Jumlah daun > 2 pasang, tinggi bibit > 20 cm
7 X. granatum 2 1 - 2 Jumlah daun > 2 pasang, tinggi bibit > 20 cm
No Jenis Ciri Bibit Siap Tanam
Lama Penyemaian (bulan)
Sumber: Kitamura et al, 1997
F.4.6 Manual Analisa Lingkungan
Aspek-aspek lingkungan yang diperoleh dari kajian lingkungan, antara lain:
1. Aspek Fisik Kimia
º Penyinaran Matahari
º Temperatur Udara
º Kelembapan
º Kecepatan Angin
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-32
º Curah Hujan
2. Aspek Biologi (jenis dan aneka ragam vegetasi dan satwa di lokasi kajian)
3. Data Tanah dan Lahan
º Kependudukan
º Penggunaan Tanah
F.5PERENCANAAN TEKNIS BANGUNAN PENGAMAN PANTAI
F.5.1 Analisis Transpor Sedimen
Analisis transpor sedimen dilakukan untuk mengetahui pola pergerakan sedimen sehingga dapat
ditentukan pola perubahan garis pantai dan dasar perairan, berikut perkiraan dimensi waktu dari
perubahan yang terjadi. Dalam analisis transpor sedimen, perlu dilakukan beberapa kajian yang
terdiri dari:
º Analisis Hidrologi DAS: dilakukan untuk mengetahui besar debit dari daratan yang masuk
ke perairan/pantai melalui sungai.
º Analisis Hidrodinamika dan Sedimentasi Sungai: untuk mengetahui pola pergerakan
sedimen yang berasal dari sungai, yang masuk ke perairan pantai.
º Analisis Proses Pantai: untuk mengetahui pergerakan sedimen di pantai yang
berpengaruh pada perubahan garis pantai.
º Analisis Pembentukan Gelombang: untuk memperoleh kondisi gelombang di laut dalam
yang akan menuju ke arah pantai.
º Analisis Transformasi Gelombang: untuk mengetahui arah pergerakan gelombang dari
laut dalam ke arah pantai, sesuai dengan kondisi dasar perairan.
º Analisis Pasang Surut: untuk mengetahui pola pergerakan sedimen di pantai akibat gaya
pasang surut.
º Analisis Penggerusan Lahan: untuk memperoleh besaran atau jumlah material dari lahan
yang akan masuk ke sungai dan terbawa ke perairan pantai.
Ketujuh analisis yang terkait dengan masalah transpor sedimen di pantai, disajikan dalam bentuk
bagan alir pada Gambar F.14.
F.5.2 Hidrologi DAS
Analisis hidrologi sebuah daerah pengaliran sungai (DAS) diperlukan untuk mendapatkan besar
debit aliran rata-rata sungai yang di studi, yang dilakukan dengan metode MockC (Sudirman
1999). Berdasarkan besar debit tersebut, maka Konsultan dapat melaksanakan sebuah simulasi
angkutan sedimen dasar maupun suspensi yang merujuk pada data besaran sedimen dan debit
aliran sungai yang dimaksud.
Metode-metode dalam analisis hidrologi yang lazim digunakan di dalam praktek civil engineering
saat ini telah terbukti mampu memberikan hasil analisis yang dapat dipercaya. Seiring dengan
perkembangan teknologi serta pengetahuan atas bahasa pemrograman komputer, maka seorang
civil engineer saat ini dapat mensimulasikan analisis di atas melalui fasilitas software khusus.
Dalam melaksanakan analisis komponen hidrologi DAS ini, sebagai alternatif selain metode Mock
(Sudirman 1999), Konsultan akan mendayagunakan sebuah software yang dikembangkan oleh
United States Army Corps of Engineers (USACE) Hydraulic Engineering Centre (HEC), yaitu HEC-
Pack. USACE-HEC telah berpengalaman dalam rancangbangun software sejak awal pertumbuhan
perhitungan engineering secara elektronik.
HEC-Pack yang digunakan oleh Konsultan adalah versi for Windows (Gambar F.15) yang terdiri
dari beberapa modul sebagai berikut:
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-33
A. Graphical HEC-1
HEC-1 dapat melaksanakan perhitungan hidrologi yang mencakup presipitasi, runoff hingga
flood routing. Prosedur penggunaanya adalah sebagai berikut:
º Modul ini menggunakan metode numerik HEC-1 yang standar untuk analisis
hidrograph banjir, dengan Windows interface untuk memudahkan pengaturan data dan
built-in fasilitas grafis untuk tampilan data
º Mampu membangun jaringan hidrologi secara grafis dengan fasilitas interface
Windows “drag and drop”, yaitu menarik dan meletakkan icon-icon tertentu yang mewakili
sebuah fungsi tertentu, misalnya icon bangunan pembagi.
º Editing data yang akan diinput ke dalam simulasi dapat dilakukan cukup dengan
meng-“double click” icon yang akan diedit datanya.
Pemodelan curah hujan dan limpasan dapat dilaksanakan sebagai berikut:
º Data curah hujan yang dapat digunakan serupa dengan data hasil pengamatan
dari Biro Meteorologi dan Geofisika (BMG).
º Data input yang dibutuhkan adalah distribusi curah hujan, daerah pengaliran
sungai, data infiltrasi, dan metode routing.
º Konversi hasil perhitungan curah hujan menjadi limpasan dapat dilaksanakan
dengan menggunakan kombinasi dari kelima loss method yang tersedia, yaitu SCS Curve
Number, HEC Exponential, Initial and Uniform, Green and Ampt, serta Holtan.
º Hidrograf limpasan hujan dapat dimunculkan dengan memilih model hidrograf
yang dikehendaki, diantaranya adalah SCS, Clark dan Snyder.
º Hasil dari pemodelan modul ini mencakup tampilan hidrograf pada titik manapun
di dalam jaringan yang disimulasi, dalam bentuk tabel atau grafik, serta kemampuan untuk
mengekspor hasil simulasi ke program Windows lainnya.
B. HEC-HMS
Modul ini serupa dengan HEC-1 dalam kemampuannya menyediakan fasilitas penghitungan
untuk simulasi fenomena badai (storm). Pemakaian kedua modul ini akan memberikan hasil
yang komprehensif dalam analisis hidrograf sebuah daerah pengaliran sungai.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-34
M
O
C
K
1
H
i
d
r
o
l
o
g
i

D
P
S
7
H
i
d
r
o
l
o
g
i

D
P
S
E
M
P
I
R
I
S
S
M
S
S
e
d
i
m
e
n
t
a
s
i

S
u
n
g
a
i
2
H
i
d
r
o
d
i
n
a
m
i
k
a

d
a
n
P
r
e
d
i
k
s
i

P
a
s
a
n
g

S
u
r
u
t
6
G
E
N
E
S
I
S
3
D
i
n
a
-
T
i
d
e
P
r
o
s
e
s

P
a
n
t
a
i
T
r
a
n
s
f
o
r
m
a
s
i

G
e
l
o
m
b
a
n
g
R
E
F
/
D
I
F

U
.

o
f

D
e
l
a
w
a
r
e
5
D
i
n
a
-
H
i
n
d
c
a
s
t
P
e
m
b
e
n
t
u
k
a
n

G
e
l
o
m
b
a
n
g
4
P
e
r
a
i
r
a
n

D
a
l
a
m
B
r
e
a
k
e
r

L
i
n
e
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-35
G
a
m
b
a
r

F
.
1
4



A
n
a
l
i
s
i
s

y
a
n
g

p
e
r
l
u

d
i
l
a
k
u
k
a
n

d
a
l
a
m

k
a
j
i
a
n

t
r
a
n
s
p
o
r

s
e
d
i
m
e
n

d
i

p
a
n
t
a
i
.
Gambar F.15 Tampilan HEC-Pack for Windows.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-36
C. HEC-RAS
HEC-RAS mempunyai kemampuan untuk melaksanakan berbagai analisis dan perhitungan
profil sungai, termasuk evaluasi jalur banjir untuk pengendalian banjir. Prosedur simulasi
program ini adalah sebagai berikut:
º Tentukan lay out sungai yang akan disimulasi secara grafis.
º Edit data potongan melintang pada setiap titik yang dikehendaki.
º Masukkan data-data bangunan air, dan ilustrasi tiga dimensi dari bangunan yang
dimaksud dapat ditampilkan dalam program ini.
º Kemampuan program ini dalam menghitung aspek hidrolis dari suatu aliran
mencakup:
º Menghitung profil permukaan air berdasarkan jenis aliran steady flow maupun
gradually varied flow untuk suatu jaringan saluran terbuka atau sungai.
º Meramalkan kehilangan energi berdasarkan rumus gesekan koefisien Manning, serta
kehilangan akibat ekspansi dan kontraksi lebar saluran.
º Evaluasi jalur banjir untuk pengendalian banjir.
º Menentukan perubahan pada profil muka air akibat adanya struktur bangunan air
seperti jembatan dan pintu air.
º Menangani perubahan dalam aliran yang tiba-tiba, seperti lompatan hidrolis dan
penyempitan aliran akibat jembatan.
D. HEC-GIS
Modul ini menutup paket program HEC-Pack dengan memadukan HEC-RAS dengan program
ArcInfo GIS. HEC-GIS adalah paket Arc Macro Language (AML) yang ditulis khusus untuk
bekerja dengan data geospatial dari pemodelan sungai.
F.5.3 Hidrodinamika dan Sedimentasi Sungai
Fenomena hidrodinamika sungai mencakup pola aliran sungai pada seluruh elevasi pasang surut
serta untuk debit aliran yang dapat terjadi di sungai tersebut. Analisis tahap ini menggunakan data
aliran sungai hasil analisis pada hidrologi DAS sebagai kondisi batas satu, serta untuk kondisi batas
lainnya menggunakan hasil simulasi pasang surut yang akan dibahas pada bagian lain. Hasil dari
simulasi hidrodinamika sungai adalah kecepatan arus yang terjadi pada badan sungai yang
kemudian akan dibandingkan kebenarannya dengan hasil survey arus.
Setelah kondisi hidrodinamika berdasarkan kedua kondisi batas di atas telah didapat, maka dengan
‘menyuntikkan’ muatan sedimen kedalam persamaan numerik, simulasi angkutan sedimen di
sungai yang ditinjau dapat dilaksanakan. Konsentrasi angkutan sedimen yang terdispersi di seluruh
badan sungai secara horizontal dapat ditampilkan secara grafis.
Dalam melaksanakan analisis ini, Konsultan akan menggunakan program yang mempunyai
beberapa modul simulasi numerik yang mencakup simulasi hidrodinamika dan angkutan sedimen
suspensi. Yaitu Surface-Water Modelling System Ver 8.0 (SMS 8.0) dari Boss International Co.
Berikut ini Konsultan akan membahas program simulasi yang dimaksud.
A. Model SMS 8.1C
Simulasi hidrodinamika sebuah muara sungai di dalam studi perairan pantai sangat erat
berkaitan dengan proses pantai. Aspek-aspek dominan yang akan ditinjau berkaitan dengan
hal tersebut di atas, di antaranya adalah arus pada perairan tersebut dan pergerakan sedimen
suspensi. Kedua aspek tersebut disimulasikan dengan bantuan program Surface-Water
Modelling System 8.1 (SMS 8.1) dari Boss International Co. yang mempunyai beberapa modul
simulasi numerik. Berikut ini Konsultan akan membahas simulasi hidrodinamika perairan dan
angkutan sedimen suspensi yang dimaksud.
i. Simulasi Hidrodinamika Perairan
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-37
Tujuan simulasi ini adalah untuk mendapatkan kecepatan dan arah arus yang akan berguna
dalam penentuan sifat dinamika perairan lokal. Pemodelan arus yang digunakan adalah
model numerik RMA2. RMA2 adalah sebuah modul dari SMS berupa model numerik elemen
hingga (finite element) yang diintegralkan dalam arah vertikal (kedalaman perairan dapat
dianggap konstan relatif terhadap dimensi horisontalnya), sehingga dapat dianggap sebagai
masalah dua dimensi (2-D). RMA2 mampu menghitung perubahan elevasi permukaran
perairan dan komponen kecepatan arus horisontal untuk aliran permukaan bebas sub-kritis
dalam medan aliran 2-D.
Pada dasarnya RMA2 menyelesaikan masalah aliran turbulen persamaan Reynolds yang
diturunkan dari persamaan Navier-Stokes. Pengaruh kekasaran diperhitungkan dengan
koefisien Manning atau Chezy, sementara karakteristik turbulensi diperhitungkan dengan
memasukkan koefisien kekentalan turbulen (eddy viscosity). Baik masalah aliran langgeng
maupun aliran tak langgeng dapat diselesaikan dengan baik.
Kelebihan-kelebihan lain dari RMA2:
• RMA2 khusus dirancang untuk mensimulasi perubahan elevasi dan
distribusi kecepatan aliran pada sungai, muara sungai, estuari, atau bahkan
perairan teluk yang terbuka ke laut lepas.
• Mampu mensimulasi bermacam-macam jenis material perairan seperti
pasir, lumpur, rawa-rawa (swamp), dan bantaran rawa (marsh).
• Mampu mensimulasi berbagai kondisi fisik perairan seperti kering, basah,
atau terendam sesuai dengan kekasaran dasar/tebing perairan.
• Memperhitungkan turbulensi fluida sesuai dengan sifat-sifat
pengalirannya.
• Memperhitungkan pengaruh perputaran bumi dan tegangan geser akibat
angin.
• Beberapa macam kondisi batas berikut dapat dimodelkan:
- Elevasi permukaan air (langgeng maupun tak langgeng).
- Debit atau kecepatan aliran (langgeng maupun tak langgeng).
- Kecepatan dan arah angin.
- Fluktuasi debit terhadap elevasi.
Sebagai persamaan pengatur, RMA2 menggunakan persamaan konservasi massa dan
momentum yang diintegrasikan terhadap kedalaman.
Persamaan konservasi massa dan momentum tersebut diselesaikan dengan metode
elemen hingga dengan Metode Sisa Berbobot (Weighted Residuals) Galerkin.
i. Simulasi Angkutan Sedimen Suspensi
Analisis sedimentasi ini dimaksudkan untuk memperkirakan distribusi konsentrasi
sedimen yang bergerak di suatu kawasan kajian. Sedimen yang masuk ke dalam
daerah sekitar pelabuhan perikanan ini biasanya ditranspor dalam bentuk suspensi
sehingga sebuah model numerik yang mampu mensimulasi angkutan sedimen layang
dalam sebuah kawasan kajian tertentu. Model numerik yang akan digunakan oleh
Konsultan adalah SED2D yang merupakan salah satu modul dalam paket program
SMS seperti yang digunakan dalam simulasi hidrodinamika arus perairan.
SED2D adalah model numerik 2-dimensi, yang dirata-ratakan dalam arah vertikal
(kedalaman), untuk mensimulasi proses transpor sedimen dalam saluran terbuka,
seperti muara sungai, dan perairan teluk. SED2D dapat memodelkan dengan cukup
akurat material sedimen yang berupa pasir maupun lempung pada kondisi aliran
langgeng dan tak langgeng, asalkan kecepatan dan arah aliran dapat dianggap
seragam pada seluruh kedalaman.
Asumsi yang dipakai dalam pemodelan SED2D:
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-38
• Proses sedimentasi dikelompokkan kedalam proses penggerusan, proses
permulaan gerak butiran, proses pengangkutan, dan proses pengendapan.
• Aliran air dianggap memiliki potensi untuk menggerus, menggerakkan,
dan mengangkut sedimen apakah partikel sedimen ada atau tidak.
• Sedimen di atas dasar perairan dianggap akan tetap diam selama gaya
aliran masih lebih kecil dari tegangan geser kritis saat butir sedimen mulai
bergerak.
• Perubahan elevasi dasar perairan hanya akan terjadi jika ada selisih antara
laju erosi dan laju pengendapan.
• Karakteristik fisik sedimen kohesif (lempung) dasar perairan akan berubah
sesuai dengan waktu dan pembebanan di atasnya.
• Sebagian besar mekanisme transpor sedimen dianggap berlangsung dalam
bentuk suspensi (suspended load), termasuk bagian yang ditranspor sebagai
muatan dasar.
Proses fisik yang akan dimodelkan dalam SED2D meliputi:
• Konsentrasi sedimen layang
• Tegangan geser dasar
• Sumber/asal sedimen
• Model dasar perairan
Konsentrasi sedimen dasar dimodelkan melalui persamaan konveksi-difusi sebagai
berikut:
2 1 y x
C
y
C
D
y

x
C
D
x

y
C
v
x
C
u
t
C
α + α +

,
_

¸
¸




+
,
_

¸
¸




·


+


+


Di mana:
C = konsentrasi sedimen
Dx = koefisien diffusi turbulen dalam arah-x
Dy = koefisien diffusi turbulen dalam arah-y
α1 = koefisien konsentrasi sedimen
α2 = - α1Ceq
Ceq = konsentrasi seimbang
Tegangan geser dasar dihitung sebagai
2
* b
u ρ · τ dimana u

= kecepatan geser.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-39
Gambar F.16 Contoh tampilan kawasan yang disimulasi berikut syarat batasnya.
Kecepatan geser dihitung dengan 2 pendekatan, yaitu:
1. Persamaan Jonsson untuk tegangan geser permukaan akibat arus dan
gelombang

,
_

¸
¸
+

,
_

¸
¸
+
+
·

2
u
u
u u
u f u f
2
1
u
om
om
c om w
2. Persamaan Bijker untuk tegangan geser total akibat arus dan gelombang
2
om w
2
c
u f
4
1
u f
2
1
u + ·

di mana:
fw = koefisien tegangan geser gelombang
uom = kecepatan orbit maksimum gelombang
fc = koefisien tegangan geser arus
Gambar F.17 dan Gambar F.18 memberikan contoh simulasi angkutan sedimen suspensi
dengan SED2D, dimana gradasi warna pada badan sungai menandakan perbedaan konsentrasi
sedimen suspensi.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-40
Gambar F.17 Contoh tampilan masukan data sedimen.
Gambar F.18 Contoh tampilan hasil simulasi transpor sedimen.
F.5.4 Proses Pantai
Permasalahan dalam perencanaan lingkungan pantai adalah menentukan pola pergerakan sedimen
atau pola perubahan garis pantai yang telah terjadi maupun yang akan terjadi pada kurun waktu
tertentu. Dengan mengetahui pola yang terjadi maka perencanaan pembangunan lingkungan
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-41
pantai tersebut dapat berhasil dengan optimal. Sesuai dengan yang dimandatkan di dalam
Kerangka Acuan Pekerjaan, Konsultan akan melaksanakan analisis angkutan sedimen untuk
mendapatkan parameter-parameter berikut ini:
A. Laju angkutan sedimen dasar, baik yang diakibatkan oleh arus saja atau kombinasi arus
dan gelombang.
B. Laju pengendapan sedimen melayang.
C. Perencanaan sistem penanggulanan sedimentasi secara parsial maupun terpadu.
Berdasarkan Shore Protection Manual, 1984 (SPM 1984), angkutan materi sedimen sejajar pantai
disebut longshore transport. Penamaan longshore transport ini sama artinya dengan littoral
transport atau pergerakan littoral drift, yaitu sedimen yang bergerak pada zone littoral. Zone
littoral di dalam terminologi pantai adalah daerah perairan dari garis pantai hingga tepat sebelum
daerah gelombang pecah. Gambar F.19 menggambarkan pembagian zone pantai di atas.
Berikut ini Konsultan akan menyampaikan metodologi analisis yang akan diterapkan dalam
mencapai hasil yang dimandatkan di atas melalui sebuah program simulasi, yaitu GENESIS
(Generalized Model for Simulating Shoreline Change) dari US Army Corps of Engineers (ASCE).
A. GENESISC
Longshore transport rate (Q), atau tingkat angkutan sedimen sejajar pantai, lazim
mempunyai satuan meter kubik per tahun (dalam SI). Karena pergerakannya sejajar
pantai, maka ada dua kemungkinan arah pergerakan, yaitu ke arah kanan dan kiri relatif
terhadap seorang pengamat yang berdiri di pantai menghadap ke laut. Pergerakan dari
kanan ke kiri diberi notasi Qlt, dan pergerakan dari kiri ke kanan Qrt, sehingga didapat
tingkat angkutan sedimen ‘kotor’ (gross) Qg = Qlt + Qrt , dan tingkat angkutan ‘bersih’ (net)
|Qn| = Qlt - Qrt . Nilai Qg digunakan untuk meramalkan tingkat pendangkalan pada suatu
alur perairan yang terbuka, Qn untuk desain alur yang dilindungi dan perkiraan erosi pantai,
dan Qlt serta Qrt untuk desain penumpukan sedimen di ‘belakang’ sebuah struktur pantai
yang menahan pergerakan sedimen.
Untuk perencanaan ini, metode yang digunakan untuk perkiraan longshore transport rate
adalah dengan metode numerik. Metode numerik yang digunakan pada adalah Program
GENESIS (Generalized Model for Simulating Shoreline Change) dari US Army Corps of
Engineers (ASCE).
Data masukan yang dibutuhkan pada GENESIS adalah sebagai berikut:
i. Data posisi awal garis pantai berupa koordinat (x,y). Fixed boundaries dari garis
pantai yang akan ditinjau adalah posisi dimana perubahan garis pantai tersebut dapat
dianggap tidak signifikan terhadap hasil simulasi, atau pada sebuah struktur yang rigid
(misalnya karang). Batasan ini diperlukan karena di dalam simulasi, perubahan garis
pantai pada kedua titik batas tersebut di atas besarnya dianggap nol.
ii. Time series data gelombang lepas pantai atau gelombang laut dalam, tinggi
gelombang, perioda dan arah rambat gelombang terhadap garis normal pantai untuk
selang waktu tertentu. Untuk pantai dengan kontur batimetri yang sejajar pantai
maka data gelombang ini akan dihitung pergerakan akibat refraksi dan difraksi secara
internal di dalam GENESIS sendiri.
iii. Grid simulasi yang melingkupi garis pantai serta perairan dimana gelombang akan
merambat. Jumlah grid pada arah sumbu x untuk program ini terbatas hingga 80
buah.
iv. Struktur bangunan pantai eksisting atau yang direncanakan dan data struktur-struktur
laut lainnya yang berada pada perairan yang ditinjau.
v. Data-data lain seperti ukuran butiran (D50), parameter kalibrasi, posisi seawall, beach
fill yang diakibatkan oleh masuknya sedimen dari sungai, dan parameter-parameter
lain.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-42
Program GENESIS ini, dengan data-data masukan di atas dapat memberikan perkiraan
nilai longshore transport rate serta perubahan garis pantai akibat angkutan sedimen
tersebut tanpa maupun dengan adanya struktur jetty atau breakwater pada pantai untuk
jangka waktu tertentu.
Simulasi yang dilakukan pada sebuah kawasan kajian mencakup:
i. Laju angkutan sedimen total (jumlah angkutan sedimen akibat longshore transport ke
arah kiri maupun kanan relatif terhadap posisi lokasi pekerjaan).
ii. Perubahan garis pantai kumulatif dalam kurun waktu 10 tahun.
iii. Kondisi awal garis pantai pada kawasan kajian (eksisting) dan perubahan posisi garis
pantai dalam kurun waktu 10 tahun.
Gambar F.20 hingga Gambar F.21 memberikan contoh grafik-grafik hasil simulasi
GENESIS atas ketiga cakupan analisis di atas.
Gambar F.19 Pembagian zone pantai berdasarkan Shore Protection manual, 1984.
Program GENESIS menerapkan “one-line simulation”, dimana batas antara laut dan darat di pantai
digambarkan sebagai suatu bidang yang tegak (tembok). Pengembangan atas program GENESIS
ini adalah program “n-line simulation” yang mensimulasikan kondisi pantai secara lebih realistis,
dimana kontur pantai dapat disimulasikan dengan mendekati kondisi batimetri yang ada. Pada saat
ini, program “n-line” ini sedang dalam tahap pengembangan oleh Konsultan. Sebagai alternatif,
jika memungkinkan program “n-line” ini akan digunakan oleh Konsultan untuk melakukan simulasi
perubahan garis pantai.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-43
Coast
Offshore
Coastal area
Beach or shore
Backshore
Inshore or shoreface
Nearshore zone
surf zone
berms
Beach scarp
crest of berm
Ordinary low water level
Plunge point
Bottom
Breaker
Defined area of nearshore currents
Extends through breakers zone
high water level
Foreshore
Bluff
Escarpment
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-44
G
a
m
b
a
r

F
.
2
0



C
o
n
t
o
h

h
a
s
i
l

s
i
m
u
l
a
s
i

p
e
r
u
b
a
h
a
n

g
a
r
i
s

p
a
n
t
a
i

s
e
t
e
l
a
h

j
a
n
g
k
a

w
a
k
t
u

t
e
r
t
e
n
t
u

(
n

t
a
h
u
n
)
.
P
e
r
u
b
a
h
a
n

G
a
r
i
s

P
a
n
t
a
i

E
k
s
i
s
t
i
n
g
-
2
0
-
1
5
-
1
0
-
5 0 5
1
0
1
5
2
0
2
5
3
0
0
1
0
2
0
3
0
4
0
5
0
6
0
7
0
8
0
G
r
i
d

S
i
m
u
l
a
s
i

(
1

g
r
i
d

=

1
0
0

m
)
P e r u b a h a n G a r i s P a n t a i ( m )
T
a
h
u
n

k
e
-
1
T
a
h
u
n

k
e
-
3
T
a
h
u
n

k
e
-
5
T
a
h
u
n

k
e
-
1
0
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-45
G
a
m
b
a
r

F
.
2
1





C
o
n
t
o
h

t
a
m
p
i
l
a
n

y
a
n
g

l
a
i
n

d
a
r
i

h
a
s
i
l

s
i
m
u
l
a
s
i

p
e
r
u
b
a
h
a
n

g
a
r
i
s

p
a
n
t
a
i
.
1
0
0
2
0
0
3
0
0
4
0
0
5
0
0
6
0
0
7
0
0
0
1
0
2
0
3
0
4
0
5
0
6
0
7
0
8
0
G
r
i
d

S
i
m
u
l
a
s
i

(
1

g
r
i
d

=

1
0
0

m
)
P o s i s i G a r i s P a n t a i ( m )
P
o
s
i
s
i

G
a
r
i
s

P
a
n
t
a
i

A
w
a
l
T
a
h
u
n

k
e
-
1
T
a
h
u
n

k
e
-
3
T
a
h
u
n

k
e
-
5
T
a
h
u
n

k
e
-
1
0
P
a
n
t
a
i

K
e
i

B
e
s
a
r
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-46
G
a
m
b
a
r

F
.
2
2



C
o
n
t
o
h

t
a
m
p
i
l
a
n

s
i
m
u
l
a
s
i

y
a
n
g

b
e
r
u
p
a

l
a
j
u

t
r
a
n
s
p
o
r

s
e
d
i
m
e
n

d
i

p
a
n
t
a
i
.
K
u
m
u
l
a
t
i
f

D
e
b
i
t

S
e
d
i
m
e
n

G
r
o
s
s

E
k
s
i
s
t
i
n
g

(
Q
g

E
k
s
i
s
t
i
n
g
)
0
1
0
.
0
0
0
2
0
.
0
0
0
3
0
.
0
0
0
4
0
.
0
0
0
5
0
.
0
0
0
6
0
.
0
0
0
0
1
0
2
0
3
0
4
0
5
0
6
0
7
0
8
0
G
r
i
d

S
i
m
u
l
a
s
i

(
1

g
r
i
d

=

1
0
0

m
)
K u m u l a t i f D e b i t S e d i m e n G r o s s
( m e t e r k u b i k / n t a h u n )
T
a
h
u
n

k
e
-
1
T
a
h
u
n

k
e
-
3
T
a
h
u
n

k
e
-
5
T
a
h
u
n

k
e
-
1
0
F.5.5 Pembentukan Gelombang
Analisis hidrologi sebuah daerah pengaliran sungai (DAS) diperlukan untuk mendapatkan besar
debit aliran rata-rata sungai yang di studi, yang dilakukan dengan:
A. Pasca-kiraan Gelombang (Dina-Hindcast
C
)
Angin mengakibatkan gelombang laut, oleh karena itu data angin dapat digunakan untuk
memperkirakan tinggi dan arah gelombang di lokasi kajian. Data angin diperlukan sebagai
data masukan dalam peramalan gelombang sehingga diperoleh tinggi gelombang rencana.
Data angin yang diperlukan adalah data angin setiap jam berikut informasi mengenai
arahnya.
Arah angin dinyatakan dalam bentuk delapan penjuru arah angin (Utara, Timur Laut,
Timur, Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat dan Barat Laut). Kecepatan angin disajikan
dalam bentuk satuan knot, dimana:
1 knot = 1 mil laut/jam
1 mil laut = 6080 kaki (feet) = 1853,18 meter
1 knot = 0.515 meter/detik
Angka-angka statistik tersebut dapat disajikan secara visual dalam bentuk Windrose
seperti yang ditunjukkan pada Gambar F.23.
Analisis pola distribusi angin rencana pada kawasan kajian dilakukan pula dengan
menggunakan berbagai distribusi yaitu distribusi Log Normal, Pearson, Log Pearson dan
Gumbel. Selanjutnya akan diperoleh distribusi yang paling cocok untuk diterapkan pada
pola angin yang terjadi di kawasan kajian. dengan kecepatan angin maksimum pada lokasi
pekerjaan.
Untuk mendapatkan gelombang rencana, Konsultan akan melakukan pasca-kiraan
gelombang berdasarkan data angin jangka panjang dengan program Dina-Hindcast yang
dikembangkan oleh Konsultan sendiri. Metode yang dierapkan mengikuti Metode yang
diberikan dalam Shore Protection Manual (Coastal Engineering Research Center, US Army
Corp of Engineer) edisi 1984 yang merupakan acuan standar bagi praktisi pekerjaan-
pekerjaan pengembangan, perlindungan, dan pelestarian pantai.
Data angin jangka panjang, minimum 10 tahun, memberikan data statistik yang lebih
meyakinkan untuk metode hindasting ini. Diagram proses hindasting ditampilkan pada
Gambar F.24.
Untuk melakukan peramalan gelombang di suatu perairan diperlukan masukan berupa
data angin dan peta batimetri. Interaksi antara angin dan permukaan air menyebabkan
timbulnya gelombang (gelombang akibat angin atau wind induced wave). Peta perairan
lokasi dan sekitarnya diperlukan untuk menentukan besarnya “fetch” atau kawasan
pembentukan gelombang. Fetch adalah daerah pembentukan gelombang yang
diasumsikan memiliki kecepatan dan arah angin yang relatif konstan. Adanya kenyataan
bahwa angin bertiup dalam arah yang bervariasi atau sembarang, maka panjang fetch
diukur dari titik pengamatan dengan interval 50.
Panjang fetch dihitung untuk 8 arah mata angin dan ditentukan berdasarkan rumus
berikut:


α
α
·
i
i i
i
cos
cos . Lf
Lf
dimana:
Lfi = panjang fetch ke-i
αi = sudut pengukuran fetch ke-i
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-47
i = jumlah pengukuran fetch
Jumlah pengukuran “i” untuk tiap arah mata angin tersebut meliputi pengukuran-
pengukuran dalam wilayah pengaruh fetch (22,50 searah jarum jam dan 22,50 berlawanan
arah jarum jam). Contoh peta fetch pada sebuah kawasan perairan ditampilkan pada
Gambar F.25.
Pembentukan gelombang di laut dalam dianalisis dengan formula-formula empiris yang
diturunkan dari model parametrik berdasarkan spektrum gelombang JONSWAP (Shore
Protection Manual, 1984). Prosedur peramalan tersebut berlaku baik untuk kondisi fetch
terbatas (fetch limited condition) maupun kondisi durasi terbatas (duration limited
condition) sebagai berikut:
3
2
2
3
1
2 2
2
1
2 2
8 . 68
2857 . 0
0016 . 0
0

,
_

¸
¸
·

,
_

¸
¸
·

,
_

¸
¸
·
A
A
d
A A
p
A A
m
U
gF
U
gt
U
gF
U
gT
U
gF
U
gH
dalam persamaan tersebut,
23 . 1
10 A
U 71 . 0 U ·
adalah faktor tekanan angin, dimana Ua
dan U10 dalam m/detik. Hubungan antara Tp dan Ts diberikan sebagai Ts = 0.95 Tp.
Persamaan tersebut di atas hanya berlaku hingga kondisi gelombang telah terbentuk
penuh (fully developed sea condition), sehingga tinggi dan perioda gelombang yang
dihitung harus dibatasi dengan persamaan empiris berikut:
4
2
0
10 15 . 7
13 . 8
243 . 0
× ·
·
·
A
d
A
p
A
m
U
gt
U
gT
U
gH
dimana:
Hmo = tinggi gelombang signifikan menurut energi spektral
Tp = perioda puncak gelombang
Distribusi arah dan tinggi gelombang hasil peramalan gelombang disajikan dalam bentuk
waverose seperti pada Gambar F.26.
B. Tinggi Gelombang Rencana
Tinggi gelombang rencana yang diperlukan sebagai data input dalam analisis gelombang
selanjutnya diperoleh dengan cara sebagai berikut:
i. Dari hasil pasca-kiraan gelombang, diambil tinggi gelombang yang terbesar
dengan periodanya untuk tiap arah yang mendatangkan gelombang, tiap tahun.
ii. Dari tabel tersebut untuk tiap tahun diambil gelombang terbesar, tidak peduli
arahnya. Hasil inventarisasi gelombang terbesar selama 18 tahun ini disajikan dalam
bentuk tabel dengan informasi mengenai arah gelombang sudah hilang dalam analisis
selanjutnya.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-48
iii. Dilakukan analisis harga ekstrim berdasarkan data gelombang terbesar tahunan
yang telah tersusun dari langkah sebelumnya. Dengan cara analisis harga ekstrim
yang didasarkan pada tinggi gelombang ini, maka informasi mengenai perioda
gelombang hilang dalam langkah selanjutnya.
iv. Analisis frekuensi gelombang rencana dengan metode yang digunakan terdiri dari
beberapa distribusi yaitu Log Normal, Log Pearson III, Pearson III dan Gumbell.
Analisis frekuensi adalah kejadian yang diharapkan terjadi, rata-rata sekali setiap N
tahun atau dengan perkataan lain tahun berulangnya N tahun. Kejadian pada suatu
kurun waktu tertentu tidak berarti akan terjadi sekali setiap 10 tahun akan tetapi
terdapat suatu kemungkinan dalam 1000 tahun akan terjadi 100 kali kejadian 10
tahunan.
v. Pemilihan distribusi yang sesuai dari beberapa distribusi tersebut untuk
memberikan nilai gelombang rencana.
Berikut ini adalah penjelasan untuk masing-masing distribusi frekuensi yang digunakan
pada tahap (4) diatas.
• Distribusi Log Normal
Suatu nilai acak X memiliki fungsi distribusi Log Normal apabila nilai dari fungsi
probabilitas denstitasnya seperti persamaan dibawah ini (Ochi 1992).
( )
∞ < ≤
1
]
1

¸


− · x
x
x
x f 0 ;
2
ln
exp
2
1
) (
2
2
σ
µ
π σ
Distribusi Log Normal memiliki 2 parameter statistik yaitu µ dan σ
2
. Nilai dari
parameter µ dan  σ
2
adalah suatu nilai logaritmik dari variabel acak X yang 
terdistribusi sebagai rata-rata µ dan varian  σ
2
. Persamaan dari nilai rata-rata dan
varian dari distribusi Log Normal adalah sebagai berikut:
[ ]

,
_

¸
¸
+ ·
2
exp
2
σ
µ x E
[ ] ( ) ( ) { } 1 exp 2 exp
2 2
− + · σ σ µ x Var
• Distribusi Pearson Tipe III
Distribusi Pearson Tipe III adalah suatu distribusi gamma (memiliki 3 parameter
gamma) yang diturunkan dari suatu fungsi gamma. Persamaan tersebut diberikan
di bawah ini (Ochi 1992):
( ) ( ) [ ]
( ) β Γ
ε − λ − ε − λ
·
− β β
x exp x
) x ( f
1
dimana nilai dari Γ(β) adalah suatu fungsi gamma dengan λ, β dan ε merupakan
parameters yang diberikan oleh persamaan berikut ini:

,
_

¸
¸
· β
β
· λ
s
x
C
2
,
s
β − · ε
x
s x
• Distribusi Log Pearson Tipe III
Distribusi Log Pearson III merupakan modifikasi dari distribusi Pearson Tipe III
dengan mengubah y = log (x) sehingga mengurangi nilai kemencengan
(skewness). Persamaan distribusi Log Pearson adalah sebagai berikut (Ochi 1992).
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-49
( ) ( ) [ ]
( )
) log( ,
exp
) (
1
x y
x x
x f ·
Γ
− − −
·

β
ε λ ε λ
β β
dimana:
2
) (
2
,

,
_

¸
¸
· ·
y C
s
s
x
β
β
λ
β − · ε
x
s y
• Distribusi Gumbel
Distribusi Gumbel berasal dari Distribusi Nilai Asimtot Ekstrim Tipe I dan
merupakan fungsi distribusi kumulatif sebagai berikut (Ochi 1992).
¹
;
¹
¹
'
¹
1
]
1

¸

,
_

¸
¸
α

− − · ≤ ·
u x
exp ) x X ( P ) x ( F
atau dalam fungsi probabilitas densitas dinyatakan sebagai berikut:
∞ ≤ ≤ ∞
¹
;
¹
¹
'
¹
1
]
1

¸

,
_

¸
¸
α

− − − · x - ;
u x
exp exp 1 ) x ( f
dimana:
π
· α
6 s
α 5772 . 0 − · x u
s = standar deviasi
x = rata-rata
Keempat distribusi yang telah dijelaskan di atas diterapkan ke dalam nilai tinggi
gelombang maksimum seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Nilai dari gelombang
maksimum hasil prediksi berdasarkan masing-masing distribusi diplot berdasarkan nilai
gelombang hasil pengamatan. Data pengamatan diplot berdasarkan nilai probabilitas
Weibull yang terlampaui. Persamaan probabilitas Weibull adalah sebagai berikut:
1
) (
+
· ≤
n
m
x X P
m
dimana:
) x X ( P
m
≤ = probabilitas dari suatu nilai X yang berada di bawah suatu nilai
di bawah xm.
m = ranking dari xm
n = jumlah total data dari nilai maksimum
Fungsi distribusi yang paling sesuai dapat dipilih berdasarkan: (1) pengamatan
visual, dan (2) nilai error (= perbedaan antara data dan perhitungan). Definisi dari
“rata-rata error” adalah sebagai berikut:
Error rata-rata =
( )
1 N
X X
2
Data on Distributi



dimana :
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-50
XDistribustion = tinggi gelombang hasil perhitungan
XData = tinggi gelombang hasil peramalan
N = jumlah data
Perbandingan dari berbagai distribusi diperlihatkan dalam sebuah contoh grafik pada
Gambar F.27. Dengan melihat grafik tersebut tidak terlihat secara jelas perbedaan nilai
dari fungsi distribusi yang memperbandingkan antara data hasil pengamatan gelombang
dengan peramalan gelombang. Selanjutnya dengan menggunakan metoda error terkecil
akan ditemukan nilai dari sebuah distribusi selanjutnya yang akan digunakan dalam
analisis pada Pekerjaan ini.
Setelah mendapatkan tinggi gelombang rencana untuk periode ulang tertentu tersebut
kemudian dianalisis periode gelombang yang sesuai melalui sebuah grafik hubungan
antara tinggi gelombang dengan periode gelombang seperti yang diperlihatkan pada
Gambar F.28.
F.5.6 Transformasi Gelombang (Ref/DifC)
Gelombang pada kawasan pantai (coastal area) berasal dari laut lepas pantai. Penyebaran
gelombang dipengaruhi oleh kontur dasar perairan dimana pergerakan gelombang
ditransformasikan menurut variasi topografi dasar perairan tersebut. Ada beberapa tipe
transformasi gelombang, diantaranya: pendangkalan (shoaling), pecah (breaking), refraksi
(refraction), difraksi (difraction) dan lain-lain. Untuk keperluan perencanaan ini lebih ditekankan
pada analisis refraksi/difraksi saja.
Refraksi adalah peristiwa berubahnya arah perambatan dan tinggi gelombang akibat perubahan
kedalaman dasar laut. Ilustrasi secara sederhana dapat dilihat pada Gambar F.28. Gelombang
akan merambat lebih cepat pada perairan yang dalam dari pada perairan yang dangkal. Hal ini
menyebabkan puncak gelombang membelok dan menyesuaikan diri dengan kontur dasar laut.
Parameter-parameter yang penting pada analisis refraksi gelombang adalah:
Ks : koefisien pendangkalan
Kr : koefisien refraksi
Di mana:
b
b
K
C
C
K
o
s
g
g
s
o
·
·
Cg : kecepatan ‘grup’ gelombang
(subscript “o” menyatakan ‘laut dalam’)
Sementara, tinggi gelombang yang terjadi pada perairan dangkal (H) dapat dihitung sebagai
berikut:
H = Ho.Ks.Kr
Difraksi adalah peristiwa transmisi energi gelombang dalam arah kesamping (lateral) dari arah
perambatan gelombang. Peristiwa ini terjadi apabila terdapat bangunan laut yang menghalangi
perambatan gelombang seperti yang diilustrasi pada Gambar F.29. Pada bagian yang terlindung
oleh bangunan laut, tetap terbentuk gelombang akibat transmisi lateral tadi. Fenomena difraksi
tidak terbatas pada perairan dangkal saja karena difraksi terjadi dimana terdapat bangunan laut
yang menghalangi perambatan gelombang.
Analisis fenomena refraksi/difraksi yang akan digunakan dalam Pekerjaan ini dilaksanakan dengan
mensimulasikan proses refraksi-difraksi di kawasan perairan proyek. Model numerik yang akan
digunakan adalah REF/DIF yang disusun oleh Center for Applied Coastal Research, University of
Delaware, USA.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-51
Untuk eksekusi model refraksi/difraksi gelombang dibutuhkan masukan data sebagai berikut:
A. Batimetri Perairan
Analisis refraksi/difraksi memerlukan kawasan perairan yang agak luas. yang dapat
diperoleh dari Dinas Hidro-Oseanografi TNI-AL (DISHIDROSAL). Batas laut paling luar dari
perairan diambil suatu anggapan bahwa gelombang yang ada atau terbentuk berupa
gelombang sempurna yang belum mengalami refraksi/difraksi. Sedang pada kawasan di
sebelah dalam (dekat pantai) dilakukan simulasi yang lebih teliti dengan peta batimetri
berskala lebih kecil.
B. Tinggi Gelombang
Tinggi gelombang yang digunakan sebagai data masukan model numerik ini adalah tinggi
gelombang yang diperoleh dari hasil pasca-kiraan gelombang berdasarkan data angin
jangka panjang.
C. Arah Datangnya Gelombang
Arah datangnya pergerakan gelombang yang ditinjau dalam simulasi ini adalah arah-arah
yang menghadap ke laut bebas atau relatif bebas.
D. Perioda Gelombang
Dalam proses perhitungan tinggi gelombang rencana, informasi mengenai perioda (dan
arah) gelombang telah “hilang” karena besaran yang menjadi obyek perhitungan adalah
tinggi gelombang.
Hasil dari simulasi refraksi/difraksi di atas diperlihatkan dalam sebuah contoh pada
Gambar F.30.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-52
H
S
= significant wave height
T
P
= peak wave period
F = effective fetch length
U
A
= wind stress factor (modified wind speed)
t = wind duration

Distribusi Kecepatan dan Arah Angin Rata-rata Harian
1989-2002
Lokasi: Pattimura-Ambon
Jenis tongkat menunjukkan kecepatan angin dalam knot.
Panjang tongkat menunjukkan persentase kejadian.
U
S
B T
TG BD
TL BL
0%
10%
20%
30%
40%
Tidak Berangin = 17.18% Tidak Tercatat = 12.07%
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-53
H
S
= significant wave height
T
P
= peak wave period
F = effective fetch length
U
A
= wind stress factor (modified wind speed)
t = wind duration
Gambar F.23 Contoh windrose.
Gambar F.24 Diagram alir proses peramalan gelombang berdasarkan data angin.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-54
N o
( F u l l y
D e v e l o p e d )
S t a r t
4
3 2
2
10 x 15 . 7 8 . 68 ≤

,
_

¸
¸
⋅ ·
A A U
gF
U
gt
Y e s
( N o n F u l l y
D e v e l o p e d )
t 8 . 68
3 2
2
≤ ⋅

,
_

¸
¸
⋅ ·
g
U
U
gF
t
A
A
c
g
U
U
gt
F
A
A
2
2 3
min
8 . 68

,
_

¸
¸

·
N o
( D u r a t i o n L i m i t e d )
0016 . 0
2 1
2
2
0

,
_

¸
¸
⋅ ·
A
A
m
U
gF
g
U
H
3 1
2
2857 . 0

,
_

¸
¸
⋅ ·
A
A
p
U
gF
g
U
T
Y e s
( F e t c h L i m i t e d )
2433 . 0
2
0
g
U
H
A
m
⋅ ·
g
U
T
A
p
⋅ · 134 . 8
F i n i s h F i n i s h
min
F F ·
H
S
= significant wave height
T
P
= peak wave period
F = effective fetch length
U
A
= wind stress factor (modified wind speed)
t = wind duration
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-55
G
a
m
b
a
r

F
.
2
5




C
o
n
t
o
h

p
e
n
e
n
t
u
a
n

d
a
e
r
a
h

p
e
m
b
e
n
t
u
k
a
n

g
e
l
o
m
b
a
n
g

u
n
t
u
k

k
e
p
e
r
l
u
a
n

h
i
n
d
c
a
s
t
i
n
g
.

Distribusi Tinggi dan Arah Gelombang di Lepas Pantai Tepa (P.Babar)
Diramal Berdasarkan Data Angin Rata-rata Harian di Ambon
Total 1989-2002
Jenis tongkat menunjukkan tinggi gelombang dalam meter.
Panjang tongkat menunjukkan persentase kejadian.
U
S
B T
TG BD
TL BL
0%
10%
20%
30%
40%
Calm = 75.39% Tidak Tercatat = 12.07%
Gambar F.26 Contoh waverose.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-56
G
a
m
b
a
r

F
.
2
7



C
o
n
t
o
h

g
r
a
f
i
k


p
e
r
i
o
d
e

u
l
a
n
g


d
a
r
i

b
e
r
b
a
g
a
i

j
e
n
i
s

d
i
s
t
r
i
b
u
s
i
.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-57
G
r
a
f
i
k

P
r
o
b
a
b
i
l
i
t
a
s

G
e
l
o
m
b
a
n
g

B
e
r
b
a
g
a
i

D
i
s
t
r
i
b
u
s
i

L
o
k
a
s
i

:

K
e
i

B
e
s
a
r
0
,
3
0
,
5
0
,
8
1
,
0
1
,
3
1
,
5
0
0
,
1
0
,
2
0
,
3
0
,
4
0
,
5
0
,
6
0
,
7
0
,
8
0
,
9
P
r
o
b
a
b
i
l
i
t
a
s

W
e
i
b
u
l
l
T i n g g i G e l o m b a n g ( m )
D
a
t
a

T
i
n
g
g
i

G
e
l
o
m
b
a
n
g
D
i
s
t
r
i
b
u
s
i

L
o
g

N
o
r
m
a
l
D
i
s
t
r
i
b
u
s
i

P
e
a
r
s
o
n
D
i
s
t
r
i
b
u
s
i

L
o
g

P
e
a
r
s
o
n
D
i
s
t
r
i
b
u
s
i

G
u
m
b
e
l
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-58
G
a
m
b
a
r

F
.
2
8



C
o
n
t
o
h

g
r
a
f
i
k

h
u
b
u
n
g
a
n

a
n
t
a
r
a

t
i
n
g
g
i

d
a
n

p
e
r
i
o
d
e

g
e
l
o
m
b
a
n
g
.
Gambar F.29 Perambatan arah gelombang akibat refraksi.

Gambar F.30 Perambatan arah gelombang akibat diraksi.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-59
Gambar F.31 Contoh hasil simulasi refraksi/difraksi.
F.5.7 Prediksi Pasang Surut (Dina-Tide©)
Data pengukuran elevasi pasang surut dapat diproses untuk mendapatkan konstituen pasang surut
untuk daerah perarian yang ditinjau. Konstituen pasang surut ini merepresentasikan komponen-
komponen harmonik, yaitu fluktuasi sinusoidal dari elevasi muka air dengan amplitudo dan fase
yang berbeda.
F.5.8 Sedimentasi Lahan (Penelitian LapanganC)
Salah satu fenomena hidrologi yang berhubungan secara langsung dengan proses sedimentasi di
sungai-sungai adalah penggerusan lahan akibat runoff (aliran limpasan hujan yang tidak diserap
oleh tanah). Konsultan akan menganalisis data perubahan elevasi muka tanah yang kemudian
dikonversikan menjadi kondisi batas pemodelan transpor sedimen. Metodologi analisis akan
menerapkan metode empiris yang dikembangkan oleh Suyono Sosrodharsono (Bendungan Tipe
Urugan, Pradnja Paramitha). Tabel F.4 dan F.5 memberikan parameter-parameter untuk
memperoleh angka satuan sedimentasi di daerah pengaliran sungai.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-60
Tabel F.11 Angka Satuan Sedimentasi di Daerah Pengaliran Sungai (m
3
/tahun/km
2
)
Luas DAS (km2) 2 5 10 20 30 50 100
Topografi Geografi
Stadium
Permulaan
Pembentukan
Zone A
100
~
300
300 ~ 800
800 ~
1200
Zone B
100
~
200
200 ~ 500
500 ~
1000
Zone C
100
~
150
150 ~ 400
400 ~
800
Stadium Akhir
Pembentukan
Zone A 100 ~ 200 200 ~ 500
500 ~
1000
Zone B 100 ~ 150 150 ~ 400
400 ~
1000
Zone C 50 ~ 100 100 ~ 350
300 ~
500
Stadium
Pertengahan
Zone B < 50 50 ~ 100 100 ~ 350
300 ~
500
Zone C < 50 50 ~ 100 100 ~ 200
Data yang
stabil
Zone B < 50 50 ~ 100 100 ~ 200
Zone C < 50 50 ~ 100
100 ~
200
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-61
Tabel F.12 Karakteristik Topografi Daerah Pengaliran Sungai
Karakteristik
Topografi
Peningkatan
Gejala Erosi
dalam Alur
Sungai
Kemiringan
Dasar Sungai
Perbedaan
Elevasi dan
Permukaan Laut
Lain-lain
Stadium
Permulaan
Pembentukan
Intensitas erosi
terbesar dengan
proses
penggerusan
tebing sungai.
1/100 ~ 1/500 > 500 m
Kemiringan
tebing sungai
sekitar 30
0
.
Stadium Akhir
Pembentukan
Intensitas erosi
besar dengan
proses
penggerusan
dasar sungai.
1/500 ~ 1/700 t 400 m
Stadium
Pertengahan
Intensitas erosi
kecil, kecuali
dalam keadaan
banjir.
t 1/800 t 300 m
Dataran Stabil
Intensitas erosi
kecil, walau
dalam keadaan
banjir.
t 1/1000 t 100 m
F.5.9 Perhitungan Runup
Pada waktu gelombang menghantam suatu bangunan, gelombang tersebut akan naik (runup)
pada permukaan bangunan (Gambar F.23). Elevasi (tinggi) bangunan yang direncanakan
tergantung pada runup dan limpasan yang diijinkan. Runup tergantung pada bentuk dan
kekasaran bangunan, kedalaman air pada kaki bangunan, kemiringan dasar laut di depan
bangunan, dan karakteristik gelombang. Karena banyaknya variabel yang berpengaruh, maka
besarnya runup sangat sulit ditentukan secara analitis. Gambar F.32 menunjukkan runup
gelombang yang terjadi karena gelombang membentur bangunan dengan permukaan miring.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-62
Gambar F.32 Ilustrasi runup gelombang.
Berbagai penelitian tentang runup gelombang telah dilakukan di laboratorium. Hasil penelitian
tersebut berupa grafik-grafik yang dapat digunakan untuk menentukan tinggi runup seperti
dicontohkan pada Gambar di bawah. Grafik-grafik tersebut merupakan fungsi dari runup relatif
(R/Ho’) terhadap kemiringan struktur (cot θ) dan Ho’/gT
2
,dengan variabel R merupakan ketinggian
(vertikal) runup terukur dari Still Water Level (SWL) dan Ho’ merupakan tinggi muka air di laut
dalam (lihat grafik SPM Figure 7-8 s.d. Figure 7-20). Nilai ketinggian runup yang diprediksi
dengan menggunakan grafik-grafik tersebut kemungkinan akan lebih kecil dari yang didapatkan
dari pemodelan fisik di laboratorium akibat kekurangsempurnaan pengaruh kekasaran struktur
yang dibuat dalam skala model tertentu. Faktor koreksi nilai runup yang diperoleh dari pembacaan
grafik pada grafik SPM Figure 7-8 dapat diperoleh dengan menggunakan grafik SPM Figure 7-
13.
Untuk perhitungan runup pada permukaan struktur yang impermeabel dan ber-quarry, vertikal,
bertingat-tingkat (bertangga), dan berbentuk kurva dapat digunakan grafik pada SPM Figure 7-14
s.d. Figure 7-18 (diteliti oleh Saville 1955). Untuk perhitungan runup pada permukaan struktur
impermeabel yang diberi tambahan riprap sebagai penyokong quarry dapat digunakan grafik pada
SPM Figure 7-19 dengan kondisi kemiringan riprap 1:2.
Perbandingan grafik untuk perhitungan runup pada permukaan struktur rubble yang permeabel
dengan permukaan struktur yang rata ditunjukkan pada SPM Figure 7-20.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-63
Gambar F.33 Grafik perhitungan runup untuk permukaan yang rata, impermeabel dengan
Ds/Ho =0 (slope 1:10).
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-64
Gambar F.34 Grafik perhitungan runup untuk permukaan yang rata, impermeabel dengan
Ds/Ho =0,45 (slope 1:10).
Untuk keperluan desain, Battjes (1974), Ahrens (1977), dan Stoa (1978) memperkenalkan
penggunaan faktor koreksi kekasaran dan porositas (r) yang merupakan perbandingan antara
runup relatif pada permukaan tidak rata impermeabel (Rrough) terhadap runup relatif pada
permukaan rata impermeabel (Rsmooth).
smooth
rough
o smooth
o rough
R
R
H R
H R
r · ·
'
'
/
/
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-65
Gambar F.35 Grafik perhitungan runup untuk permukaan yang rata, impermeabel dengan
Ds/Ho =0,8 (slope 1:10).
Tabel F.6 menunjukkan rentang nilai faktor koreksi kekasaran dan porositas (r) untuk berbagai
karakteristik permukaan.
Untuk permukaan material struktur yang memiliki lebih dari satu nilai kekasaran r, dapat digunakan
persamaan di bawah. Namun, persamaan ini tidak memperhitungkan lokasi kekasaran dan
porositas pada struktur, sehingga dirasakan masih banyak kekurangan.
...
3
3
2
2
1
1
+ + + · r
l
l
r
l
l
r
l
l
r
dengan: ·
n
l total panjang permukaan yang memiliki kekasaran
n
r
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-66
Tabel F.13 Variasi Nilai Kekasaran (r) Untuk Berbagai Karakteristik Permukaan
Karakteristik Permukaan Placement r
Smooth, impermeable ----------- 1.00
Concrete Blocks Fitted 0.90
Basalt Blocks Fitted 0.85 - 0.90
Gobi Blocks Fitted 0.85 - 0.90
Grass ----------- 0.85 - 0.90
One layer in quarrystone
(impermeable foundation)
Random 0.80
Quarrystone ----------- 0.75 - 0.80
Rounded quarrystone Random 0.60 - 0.65
Three layer of quarrystone
(impermeable foundation)
Random 0.60 - 0.65
Quarrystone Random 0.50 - 0.55
Concrete armor units (~ 50% void ratio) Random 0.45 - 0.50
F.5.10 Kriteria Desain Bangunan Pengaman Pantai
Pengamanan pantai dengan menggunakan bangunan pelindung pantai, memerlukan desain yang
tepat dan efektif agar diperoleh kegunaannya secara optimal. Parameter-parameter penting dalam
desain dan perencanaan suatu bangunan pengaman pantai seperti tinggi gelombang rencana,
keadaan topografis batimetri perairan, fungsi dan tujuan pengamanan, dan lain-lain digunakan
untuk desain detail, sehingga pemahaman dan aplikasi yang tepat akan sangat mendukung untuk
tercapainya desain yang optimal, baik secara teknis maupun ekonomis.
F.5.11 Kriteria Desain Revetment
Pengamanan pantai menggunakan bangunan tembok pantai (revetment), menggunakan kriteria-
kriteria desain sebagai berikut:
a. Fungsi dan Kegunaan
Fungsi revetment adalah melindungi daerah darat di posisi garis pantai dari hantaman
gelombang, sekaligus melindungi terjadinya erosi dan kelongsoran baik akibat beban arus
maupun beban tanah itu sendiri. Fungsi tambahan yang dapat diaplikasikan adalah
penggunaan revetment sebagai struktur tepi laut yang dapat didesain bertangga atau dapat
ditambahkan fasilitas penambatan kapal.
b. Lokasi dan Penempatan
Lokasi dan penempatan revetment biasanya diletakkan pada posisi garis pantai, dan umumnya
digunakan untuk perlindungan pantai dengan kemiringan kontur yang curam. Penempatan
revetment dilakukan pada lokasi garis pantai yang benar-benar terancam kelongsoran, yang
bila terjadi kelongsoran akan membahayakan hajat hidup masyarakat setempat.
c. Panjang Revetment
Penempatan revetment di suatu lokasi, hanya untuk melindungi lokasi pantai di belakangnya,
dan tidak dapat melindungi lokasi yang tidak ada revetmentnya. Oleh karena itu hendaknya
desain revetment benar-benar dipertimbangkan untuk sepanjang apa, dari prioritas lokasi
pantai yang ingin dilindungi.
d. Tinggi Revetment
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-67
Ketinggian revetment harus didesain agar tidak ada ketinggian air laut, baik gelombang
maupun pasang surut yang dapat melewatinya. Ketinggian ini penting, karena apabila terjadi
percikan gelombang atau muka air masuk ke belakang revetment dan terjadi penyerapan,
akan dapat mempercepat terjadinya erosi pada dasar revetment.
e. Bentuk Revetment
Bentuk desain revetment, biasanya disesuaikan dengan kontur garis pantai yang
bersangkutan. Revetment cukup fleksibel untuk dapat dibangun dan dimodifikasi menjadi
bentuk-bentuk: miring biasa (sloping), melengkung ke depan (convex-curved), melengkung ke
belakang (concave-curved) atau bertangga (stepped).
f. Kedalaman Pondasi Revetment
Pondasi revetment harus didesain pada kedalaman dimana penyerapan air ke belakang
revetment sudah sangat kecil atau kedalaman dimana tidak terjadi penyerapan. Penentuan
kedalaman ini dilakukan dari pertimbangan karakteristik tanah dan beban-beban yang akan
menyebabkan terjadinya setlement (penurunan), sehingga dapat didesain ketinggian
revetment yang sesuai.
g. Keterbatasan Revetment
Penggunaan revetment, hanya terbatas pada kondisi pantai dengan kemiringan yang curam.
Untuk pantai landai, revetment tidak cocok karena tidak adanya resistensi tanah yang ikut
menahan hantaman gelombang, dan kemungkinan akan terjadinya erosi pada dasar
revetment akan lebih besar.
F.5.12 Kriteria Desain Groin
Pengamanan pantai menggunakan bangunan groin, menggunakan kriteria-kriteria desain sebagai
berikut:
a. Fungsi dan Kegunaan
Fungsi groin adalah melindungi pantai dari erosi akibat arus sejajar pantai (longshore current)
yang biasanya membawa sedimen sejajar pantai (longshore sediment). Fungsi insidental dari
penggunaan groin adalah adanya penambahan lahan di satu sisi dan pengurangan lahan di sisi
yang lain, sehingga dapat dimanfaatkan untuk tujuan jangka panjang seperti pembuatan
pantai pariwisata di sisi yang terakresi, dan areal tambat kapal di sisi yang tererosi, dengan
penambahan struktur revetment.
b. Lokasi dan Penempatan
Lokasi dan penempatan groin diutamakan dengan pangkal groin diletakkan pada posisi
gundukan yang ada di pantai (natural berm) atau dapat pula pada garis pantai, memanjang
hingga ke kedalaman gelombang pecah (sepanjang breaking zone). Penempatan groin
dilakukan hanya untuk perlindungan bagian pantai yang tererosi akibat arus sejajar pantai,
dengan konsekuensi adanya penggerusan di sisi pantai yang lain. Pertimbangan penting akan
lokasi groin adalah arah gelombang datang dari laut dalam, dimana gelombang yang
menabrak groin diupayakan searah tegak lurus pantai, sehingga tidak terjadi efek samping
akibat arah gelombang dan perambatan arus, seperti terbentuknya rip current atau pusaran
air (Gambar F.27).
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-68
Gambar F.36 Efek rip current dan pusaran air di antara groin.
c. Panjang Groin
Keuntungan dari struktur groin, adalah dapat melindungi daerah pantai yang panjang dengan
biaya yang lebih ekonomis, tanpa harus mengganggu kenyamanan seperti pembangunan
breakwater atau revetment di lokasi pantai pariwisata. Kriteria panjang groin dapat
disesuaikan untuk jenis perlindungan dan efek pada pantai yang diinginkan, yang umumnya
didesain untuk 3 (tiga) kategori panjang sebagai berikut:
1. Panjang Groin = ¼ panjang breaking zone, untuk kondisi pantai yang belum parah
atau baru mulai terjadi erosi.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-69
2. Panjang Groin = ½ panjang breaking zone, untuk kondisi pantai dengan kerusakan
menengah.
3. Panjang Groin = panjang breaking zone, untuk kondisi pantai yang telah parah tererosi
dan bertujuan untuk mengembalikan lahan pantai yang tererosi.
Kriteria panjang ini diadakan, karena semakin panjang groin yang didesain akan memerlukan
biaya produksi yang lebih mahal dan memperluas juga daerah yang akan dikorbankan untuk
tererosi, sehingga memerlukan pertimbangan lebih lanjut.
d. Tinggi Groin
Ketinggian groin difungsikan agar dapat menghalangi transpor sedimen yang dibawa arus
sejajar pantai, sehingga tidak perlu didesain setinggi tinggi gelombang rencana. Tinggi groin
biasanya didesain mengikuti elevasi pasang surut MHWL (Mean High Water Level), atau untuk
lebih amannya dapat didesain setinggi HWS (High Water Spring).
e. Bentuk Groin
Bentuk desain groin, biasanya digunakan bentuk trapesium seperti desain jetty atau
breakwater, namun dapat juga digunakan sheetpile dari bahan baja atau kayu, yang
umumnya disesuaikan dengan ketersediaan material yang akan digunakan di lokasi tersebut
(pertimbangan borrow area).
f. Kedalaman Ujung Groin
Kedalaman ujung groin adalah posisi kedalaman yang didesain dari panjang groin yang
ditentukan.
g. Jumlah Groin
Pertimbangan dalam penentuan jumlah groin (bila menggunakan lebih dari 1 groin) adalah
pertimbangan jarak antar groin yang ditentukan dari luas daerah penumpukan sedimen yang
diinginkan, yang sama dengan luas daerah yang akan tererosi. Jarak antar groin yang umum
digunakan adalah sama dengan 2 – 3 kali panjang groin.
F.5.13 Kriteria Desain Jetty
Pengamanan menggunakan bangunan jetty, menggunakan kriteria-kriteria desain sebagai yang
hampir sama dengan groin, kecuali pada parameter-parameter berikut ini:
a. Fungsi dan Kegunaan
Fungsi jetty adalah melindungi daerah muara sungai dari pendangkalan, akibat pertemuan
arus sungai dengan arus sejajar pantai. Fungsi insidental yang dapat digunakan adalah
penggunaan jetty sebagai tepi dermaga, untuk pelabuhan yang dibangun dekat daerah hilir.
b. Lokasi dan Penempatan
Lokasi dan penempatan jetty khusus hanya pada daerah muara sungai dengan pertimbangan
penempatan yang sama dengan groin, karena fungsinya sama.
c. Jumlah Jetty
Jetty biasanya dibuat 2 buah, di posisi bibir sungai, namun dapat pula hanya dibuat 1 buah,
yaitu di sisi datang arus sejajar pantai.
F.5.14 Kriteria Desain Breakwater
Breakwater adalah struktur pengaman pantai yang diletakkan di lepas pantai untuk menahan
gempuran gelombang. Beberapa aspek pekerjaan yang harus diperhatikan dalam perencanaan
sebuah sistem breakwater adalah:
a. Layout Breakwater
Orientasi dari breakwater terhadap gelombang dan area yang akan diproteksi sangatlah
menentukan keberhasilan fungsi dari breakwater, dan sejauh mana sistem breakwater akan
berpengaruh terhadap lingkungan sekitar.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-70
b. Pengaruh Breakwater Terhadap Topografi Sekitar.
Profil alami daerah pantai merupakan keseimbangan alami dari aksi gelombang laut, supply
sedimentasi, dan bentuk topografi pantai (berupa proses berulang yang temporer, dan proses
permanen jangka panjang). Pembangunan breakwater akan merubah keseimbangan tersebut,
yang bisa berpengaruh kepada daerah yang diproteksi breakwater dan daerah sekitarnya.
Sebagai contoh, pembangunan breakwater yang sejajar dengan garis pantai dapat
menyebabkan terbentuknya tombolo pada garis pantai, berupa daerah yang maju dan daerah
yang tererosi, Pembangunan breakwater yang melintang dari garis pantai dapat menyetop
transport sedimen arah garis pantai, sehingga daerah yang semestinya mendapat suplai
sediment akan tererosi secara parah, dan terjadi endapan sedimentasi yang terkonsentrasi
pada suatu area.
c. Harmonisasi Dengan Lingkungan Sekitar
Orientasi dari breakwater terhadap gelombang dan area yang akan diproteksi sangatlah
menentukan keberhasilan fungsi dari breakwater, dan sejauh mana sistem breakwater akan
berpengaruh terhadap lingkungan sekitar.Harmonisasi dengan lingkungan sekitar. Ketenangan
air yang dihasilkan oleh breakwater di sisi lain juga mengurangi sirkulasi air di daerah yang
dinaunginya. Pada banyak kasus, terjadi penurunan kualitas air yang signifikan, yang pada
akhirnya menurunkan kualitas hidup di perairan tersebut. Pada sisi landscaping, bahkan
pembangunan breakwater tertentu dapat merusak keindahan dan keterpaduan antara
komponen lingkungan.
d. Kondisi Desain
Orientasi dari breakwater terhadap gelombang dan area yang akan diproteksi sangatlah
menentukan keberhasilan fungsi dari breakwater, dan sejauh mana sistem breakwater akan
berpengaruh terhadap lingkungan sekitar.Harmonisasi dengan lingkungan sekitar. Ketenangan
air yang dihasilkan oleh breakwater di sisi lain juga mengurangi sirkulasi air di daerah yang
dinaunginya. Pada banyak kasus, terjadi penurunan kualitas air yang signifikan, yang pada
akhirnya menurunkan kualitas hidup di perairan tersebut. Pada sisi landscaping, bahkan
pembangunan breakwater tertentu dapat merusak keindahan dan keterpaduan antara
komponen lingkungan.
e. Parameter Perhitungan
Parameter yang diperlukan dalam perhitungan desain breakwater diantaranya:
• Arah angin. Angin merupakan salah satu unsur pembentuk gelombang, sehingga data
perilaku angin dapat menggambarkan perilaku gelombang secara umum.
• Level pasang surut. Keadaan pasang surut termasuk menentukan tinggi dari BW, pola
sirkulasi air pada daerah sekitar breakwater dll.
• Gelombang laut. Gelombang laut, arahnya menentukan layout gelombang. Gelombang
sendiri memberikan gaya pada breakwater.
• Kedalaman dan Jarak Breakwater dari garis pantai. Kedalaman perairan menentukan
jenis breakwater yang efektif dan ekonomis untuk dibangun, dan jarak breakwater dari
garis pantai hendaknya cukup jauh agar pengaruh gelombang di posisi garis pantai
menjadi semakin kecil.
• Kondisi Geoteknis. Parameter ini akan menentukan daya dukung tanah terhadap
breakwater yang pada akhirnya akan mempengaruhi kestabilan breakwater.
Pemilihan jenis struktur breakwater dapat dilakukan setelah mempelajari karakteristik dari jenis-
jenis breakwater dengan mempertimbangkan faktor-faktor sebagai berikut:
1) Layout dari Breakwater
2) Kondisi Lingkungan
3) Kondisi Pelayanan
4) Kondisi/Kesiapan Konstruksi
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-71
5) Aspek Ekonomi
6) Waktu Konstruksi
7) Tingkat Kepentingan Breakwater
8) Ketersediaan Material Konstruksi
9) Pemeliharaan
Secara umum proses desain penampang breakwater adalah sebagai berikut:
1) Persiapan data-data kondisi desain.
2) Penentuan penampang breakwater:
• Penentuan elevasi vertikal breakwater.
• Penentuan dimensi horizontal breakwater (dimensi awal).
3) Analisa stabilitas terhadap gaya-gaya eksternal yang bekerja (dimensi akhir):
• Stabilitas suprastruktur & komponen pendukung.
• Stabilitas pondasi.
4) Desain komponen pelindung:
• Foot Protection.
• Deformed Concrete Blocks/Armouring Stone.
F.5.15 Kriteria Pembebanan
Secara umum, suatu bangunan yang diletakkan di lepas pantai (offshore structure) akan
mengalami pembebanan dari faktor-faktor berikut:
a. Gaya Gelombang
b. Gaya Akibat Arus
c. Gaya Angin
d. Gaya Struktur Terhadap Daya Dukung Tanah (Analisis Kestabilan)
e. Gaya Insidental (Gaya Gempa, Tsunami, dll)
Pengaruh gaya gelombang dan arus dinyatakan dalam Teori Morisson, sedangkan pengaruh
angin pada struktur bangunan pengaman pantai dapat ditiadakan karena kecil sekali.
Untuk desain groin, jetty dan breakwater, analisis pembebanan telah ditransformasikan ke dalam
analisis penentuan berat dan dimensi lapisan pelindung (armor), sehingga apabila struktur
bangunan pengaman pantai di desain dengan tepat dan dengan dimensi lapisan pelindung yang
cukup, akan dapat menahan beban-beban yang bekerja.
F.5.16 Kriteria Pemilihan Material
Pemilihan material yang akan digunakan dalam desain suatu bangunan pengaman pantai,
terutama ditentukan oleh ketersediaan material di borrow areanya. Material-material yang umum
digunakan sebagai bahan konstruksi bangunan pengaman pantai adalah:
a. Tanah pasir (bahan baku pembuatan beton dan bahan pengisian geobag).
b. Batu kerikil kecil dengan diameter 0.01 meter sampai 0.1 meter (bahan lapisan inti dan
bahan pengisian geobag).
c. Batu armor (diameter minimal 0.25 meter, sebagai bahan lapisan pelindung utama).
d. Bahan-bahan lain yang diperlukan dalam proses konstruksi, seperti kayu, dll.
Selanjutnya penggunaan material yang dipilih sebagai lapisan pelindung (armor) untuk desain
groin, jetty, atau breakwater ini dinyatakan dalam nilai-nilai Koefisien Stabilitas Bahan (KD),
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-72
Koefisien Lapisan (Layer Coeficient / K

), dan nilai Porositas Bahan, yang digunakan dalam
perhitungan berat armor, jenis armor, dan dimensi struktur.
F.5.17 Perhitungan Berat Armor, Jenis Armor, dan Dimensi Struktur
Perhitungan berat armor digunakan untuk menentukan berat armor minimal yang harus digunakan
pada lapisan pelindung struktur pengaman pantai, dimana analisis ini memperhitungkan nilai
kekuatan bahan terhadap hantaman gelombang.
F.5.18 Perhitungan Berat Armor
Untuk breakwater maupun groin dengan pelapis terbuat dari tumpukan batu alam atau armor
buatan, berat satu unit pelapis utama (primary cover layer) dihitung memakai persamaan berikut
ini:
di mana:
W = berat satu unit batuan pelapis (armor), ton.
Wr = berat satuan armor (ton/m
3
).
Ww = berat satuan air laut (ton/m
3
).
H = tinggi gelombang rencana.
h = kedalaman air.
Kd = koefisien stabilitas (Tabel 7-8, SPM Volume II, 1984), dapat dilihat pada
Tabel F.7).
Sr = Wr/Ww.
θ = kemiringan dinding breakwater.
F.5.19 Tebal Lapisan Pelindung
Tebal lapisan pelindung (r), dapat dihitung memakai persamaan:
dimana :
r = tebal lapisan pelindung, meter.
n = jumlah lapisan armor.
k∆ = koefisien lapisan batuan (Tabel 7-13, SPM Volume II, 1984), atau dapat
dilihat pada Tabel F.8.
F.5.20 Lebar Mercu (Crest Width)
Lebar mercu (crest width), dapat dihitung dengan persamaan:
dimana :
n = jumlah lapisan batuan pada mercu.
Wr = berat satuan armor (ton/m
3
).
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-73
( ) cotθ 1 S K
H W
W
3
r d
3
r

·
3
1
r
Δ
W
W
k n r

,
_

¸
¸
·
3
1
r
Δ
W
W
k n B

,
_

¸
¸
·
Ww = berat satuan air laut (ton/m
3
).
k∆ = koefisien lapisan batuan (Tabel 7-13, SPM Volume II, 1984).
Tabel F.14 Koefisien Layer dan Porositas Berbagai Jenis Unit Armor
Quarrystone (Smooth) 2 Random 1.02 38
Quarrystone (Rough) 2 Random 1.00 37
Quarrystone (Rough) >3 Random 1.00 40
Quarrystone (Parallepiped) 2 Special -------- 27
Cube (Modified) 2 Random 1.10 47
Tetrapod 2 Random 1.04 50
Quadripod 2 Random 0.95 49
Hexipod 2 Random 1.15 47
Tribar 2 Random 1.02 54
Dolos 2 Random 0.94 56
Toskane 2 Random 1.03 52
Tribar 1 Uniform 1.13 47
Quarrystone Graded Random --------- 37
SPM 1984. VOLUME II, CHAPTER 7/III, PAGE 7- 234
Armor Unit Placement Layer Coefficient k
A
Porosity (P)%
Tabel F.15 Nilai Koefisien Stabilitas Untuk Jenis Armor Dan Kondisi Gelombang
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-74
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-75
Slope
2 Random 1.2 2.4 1.1 1.9 1.5 to 3.0
>3 Random 1.6 3.2 1.4 2.3
5
1 Random 4
4
2.9
4
2.3
5
1.9 3.2 1.5
1.6 2.8 2.0
1.3 2.3 3.0
>3 Random 2.2 4.5 2.1 4.2
5
2 Special 5.8 7.0 5.3 6.4
5
2 Special 7.0 -20.0 8.5 -24.0 ---- -----
5.0 6.0 1.5
2 Random 7.0 8.0 4.5 5.5 2.0
3.5 4.0 3.0
8.3 9.0 1.5
7.8 8.5 2.0
6.0 6.5 3.0
2 Random 15.8
8
31.8
8
8.0 16.0 2.0
9
7.0 14.0 3.0
2 Random 6.5 7.5 ----- 5.0
5
2 Random 8.0 9.5 5.0 7.0
5
2 Random 11.0 22.0
5
1 Unifarm 12.0 15.0 7.5 9.5
5
Random 2.2 2.5 ---- ---- ----
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
No- Damage Criteria and Minor Overtopping
Armor Units
n
3
Placement
Structure Trunk Structure Head
K
D
2
K
D
Breaking
Wave
Nonbreaking
Wave
Breaking
Wave
Nonbreaking
Wave
Cot θ
Quarrystone
Smooth rouded
Smooth rouded
Rough angular
4.0 2 Random 2.0
Rough Angular
Rough Angular
Parallepiped 7
Rough angular
Tetrapod
and
Quadripod
10.0
Dolos
Modified cube
Tribar 2 Random 9.0
Hexapod
Toskane
Tribar
Quarrystone (K
RR
)
Until more information is available on the variation of K
D
value with slope, the use of K
D
should be limited
to slopes ranging from 1 on 1.5 to 1 on 3 some armor units tested on a structure head indicated a KD -
Graded angular
CAUTION: Those K
D
values shown in italics are unsupported by test results and are only provided for
preliminary design purposes
Applicable to slopes ranging from 1 on 1.5 to 1 on 5
Refers to no - damage criteria (<5 percent displacement, rocking, etc); if no rocking (<2 percent) is
desired, reduce K
D
50 percent (Zwamborn and Van Niekern, 1982).
Stability of dolosse on slopes steeper than 1 and 2 should be substantianed by site-specific model test.
slope dependence
Special placement with long axis of stone placed perpendicular to structure face.
Parallelepiped - shaped stone: long slab - like stone dimension about 3 times the shortest dimension
(Mrkle and Davidson, 1979).
n is the number of units comprising the thickness of the armor layer
The use of singel layer of quarrystone armor units is not recommended for structure subject to breaking waves and
only under special conditions for structure subject to nonbreaking waved. When it is used, the stone should be
F.5.21 Menghitung Jumlah Armor
Perhitungan jumlah Armor yang dibutuhkan dengan persamaan (7-122) SPM Volume II:
3
2
100
1
,
_

¸
¸

,
_

¸
¸
− ·

W
w P
nk
A
N
r r
dimana:
Nr = jumlah unit armor pada suatu area
A = luas area
k∆ = layer coefficient
n = jumlah layer
P = Porositas
Luas area (A) dalam persamaan diatas dihitung sebagai berikut:
( ) ) (
2 3 1
breakwater total panjang y x y A + + ≈
dimana besaran y1, x3, dan y2 sesuai dengan yang ditunjukkan oleh Gambar F.37 di bawah ini.
Gambar F.37 Penampang Breakwater.
F.6PERHITUNGAN RENCANA ANGGARAN BIAYA (RAB)
Dalam perhitungan Rencana Anggaran Biaya (RAB) suatu kegiatan konstruksi terutama yang
melibatkan alat-alat berat perlu diperhatikan terlebih dahulu hal-hal, sebagai berikut:
1. Volume pekerjaan.
2. Harga satuan upah, bahan, dan alat.
3. Metode pelaksanaan konstruksi.
4. Kapasitas operasi alat-alat berat.
Langkah pertama dalam membuat estimasi kapasitas alat adalah menghitung secara teoritis. Hasil
perhitungan tersebut kemudian dibandingkan dengan pengalaman yang nyata dari pekerjaan-
pekerjaan yang telah pernah dilakukan dari pekerjaan-pekerjaan sejenis.
Atas dasar perbandingan itu, terutama pada efisiensi kerjanya, kita dapat menentukan harga
besaran estimasi kapasitas alat yang paling sesuai untuk proyek yang bersangkutan, sehingga
estimasi biaya proyek tidak terlalu besar.
Maka dari itu pertama-tama perlu diketahui perhitungan teoritis serta perlu kemampuan
memperkirakan efisiensi kerja yang sesuai untuk jobsite yang bersangkutan. Dari hal-hal tersebut
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-76
α
1
α
2
x
1
x
2
y
1
y
2
Sisi laut Sisi darat
x
3
kita akan mampu memperkirakan dengan tepat penyelesaian suatu volume pekerjaan yang akan
dikerjakan dengan alat-alat yang ditentukan.
9.1 Menghitung Produktivitas Alat Berat
Biasanya kapasitas operasi dari suatu mesin konstruksi dinyatakan dalam m
3
/jam. Produksi
didasarkan pada pelaksanaan volume yang dikerjakan per siklus waktu dari jumlah siklus dalam
suatu jam (sebagai contoh). Secara umum produktivitas kerja alat berat dirumuskan sebagai
berikut:
Q = q x N x E
di mana:
Q = produksi per jam dari alat (m
3
/jam)
q = produksi dalam satu siklus kemampuan alat.
N = jumlah siklus dalam satu jam.
E = Efisiensi kerja
Dalam merencakan suatu proyek, produktivitas per jam dari suatu alat yang diperlukan adalah
produktivitas standar dari alat tersebut dalam kondisi ideal dikalikan dengan suatu faktor. Faktor
tersebut dinamakan efisiensi kerja.
Efisiensi kerja bergantung pada baak faktor seperti: topografi, keahlian operator, pemilihan standar
pemeliharaan, dan sebagainya yang menyangkut operasi alat.
Dalam kenyataan memang sulit untuk menentukan besarnya efisiensi kerja, tetapi dengan dasar
pengalaman-pengalaman dapat ditentukan efisiensi kerja yang mendekati kenyataan. Beberapa
tipe alat-alat berat yang serig digunakan dalam kegiatan konstruksi secara umum akan
diuraikansebagai berikut:
a. Buldozer
Alat berat yang berfungsi mendorong atau menarik objek/material.
Gambar F.38 Ilustrasi kegiatan dozing oleh bulldozer.
b. Excavator
Fungsi dari excavator adalah memindahkan material (tanah/agregat) dan biasanya material
tersebut ditranspor menggunakan alat berat hauler.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-77
Gambar F.39 Ilustrasi kegiatan excavating oleh excavator.
Gambar F.40 Jenis-jenis excavator.
Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas ekscavator:
•Tipe dan karaktiristik tanah/material
•Depth of cut
•Angle of swing
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-78
Backho
e
Draglin
es
Shov
el
Treche
rs
Clamshel
l
•Tipe dan jenis bucket
•Lenght of boom (panjang lengan)
•Efisiensi dan kondisi peralatan
•Efisiensi dan kondisi kerja
Secara umum produktivitas excavator dapat dirumuskan sebagai berikut:
P = corrected bucket capacity / cycle time
di mana:
P = Produktivitas
Corrected bucket capacity = volume/berat material bucket x correction factor
Correction factor = bucket fill factor, %optimum depth of cut, working condition
Cycle time = load-raise, swing, dump, swing back, lower
Contoh cycle time untuk excavator yang dikeluarkan perusahaan supplier peralatan konstruksi
Caterpilar disajikan pada Tabel F.16
Tabel F.16 Contoh Cycle Times Untuk Backhoes
Contoh faktor koreksi untuk excavator yang dikeluarkan perusahaan supplier peralatan
konstruksi Caterpilar disajikan pada Tabel F.17 dan Tabel F.18.
Tabel F.17 Fill Factor Untuk Bucket
Tabel F.18 Faktor Height of Cut dan Angle of Swing
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-79
c. Hauler
Fungsi alat berat hauler adalah mengangkut material (on/off road) dalam jarak yang cukup
jauh.
Gambar F.41 Ilustrasi kegiatan hauling oleh haulers.
Gambar F.42 Jenis-jenis haulers.
Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas ekscavator:
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-80
Flat Bed
Truck
Articulated
Truck
Dump
Truck
•Tipe dan karaktiristik tanah/material
•Kapasitas muat
•Kecepatan angkut (empty vs. loaded)
•Efisiensi dan kondisi peralatan
•Efisiensi dan kondisi kerja
Secara umum produktivitas excavator dapat dirumuskan sebagai berikut:
P = payload / cycle time
di mana:
P = Produktivitas
payload = muatan
cycle time = waktu muat + waktu angkut + waktu membuang + waktu kembali
Ilustrasi siklus haulers disajikan pada Gambar F.43.
Gambar F.44 Siklus kegiatan haulers.
USULAN TEKNIS ♦ Manual Perencanaan Teknis Pengamanan Pantai F-81

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->