HUBUNGAN PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU HAMIL DENGAN PELAKSANAAN ANTENATAL CARE DI KAMPUNG NAGA KECAMATAN SALAWU KABUPATEN

TASIKMALAYA A. Latar Belakang Menurut WHO bahwa di dunia setiap menit seorang perempuan meninggal karena komplikasi yang terkait dalam kehamilan dan

persalinannya. Dengan kata lain, 1400 perempuan meninggal setiap hari atau lebih dari 500.000 perempuan meninggal setiap tahun karena kehamilan dan persalinan. Sebagian besar kematian perempuan disebabkan komplikasi karena hamil dan bersalin, termasuk perdarahan, infeksi, aborsi tidak aman, tekanan darah tinggi dan persalinan lama (Makara, 2003). Hasil Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) Depkes, 2007 menetapkan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia secara nasional sebesar 259 per 100.000 kelahiran hidup dan merupakan angka tertinggi dibanding dengan negara-negara ASEAN lainnya (Kompas, 2009). Angka kematian ibu dapat diturunkan bila ibu hamil melakukan antenatal care. Antenatal care adalah pemeriksaan yang dilakukan untuk melihat kondisi kesehatan ibu dan janin secara berkala, yang diikuti dengan upaya koreksi terhadap penyimpangan yang ditemukan. Asuhan antenatal mempunyai tujuan yaitu memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi, meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan sosial ibu dan bayi, mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, mempersiapkan persalinan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin, mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian ASI eksklusif, mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar tumbuh kembang secara normal (Sarwono, 2006). Kesehatan ibu dan anak dapat dinilai dari asuhan selama kehamilan (antenatal care) dan penanganan persalinannya. Asuhan kehamilan dapat dilakukan di RB, RS, Puskesmas, POSYANDU dan tempat-tempat praktek

cakupan K1 adalah 73.956 88. Sedangkan target K1 di Kabupaten Tasikmalaya adalah 95% dan K4 adalah 90%. Dari kedua indikator pelayanan antenatal K1 dan K4 tersebut.35 819. cakupan K1 di Provinsi Jawa Barat pada tahun 2007 adalah 88.727 Tabel 1.1 Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan Di Jawa Barat Tahun 2007 IBU HAMIL K1 % K4 907.2 Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan Di Kabupaten Tasikmalaya Tahun 2007 IBU HAMIL Jumlah K1 % 48.74 Berdasarkan tabel diatas.680 73. Di Propinsi Jawa Barat pemeriksaan kehamilan untuk K1 dan K4 dapat dilihat pada tabel 1.027. Sedangkan target K1 adalah 90% dengan demikian. artinya terdapat kesenjangan 10. Kunjungan pertama pelayanan antenatal disebut K1 dan kunjungan keempat pada trimester ketiga (akhir) disebut K4. terdapat kesenjangan 1. Bidan).75 Sumber : Dinkes Jabar 2007 Dari tabel kunjungan pemeriksaan K4 32.179 kehamilan % 66. ibu hamil yang tidak melakukan Antenatal Care (ANC) (K1) dan pemeriksaan ulang (K4) masih tinggi.2 berikut ini : Tabel 1.26%. hal ini disebabkan karena masih rendahnya pengetahuan ibu hamil akan pentingnya ANC ke fasilitas pelayanan kesehatan atau masyarakat yang kurang puas dengan kualitas pelayanan kesehatan.75% dan K4 sebesar 66.1 berikut ini : Jumlah 1.51%.35%. Menurut hasil pencatatan program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di Dinas Kesehatan Kabupaten Tasikmalaya pemeriksaan kehamilan untuk K1 dan K4 dapat dilihat pada tabel 1.65%. .51 di Kabupaten Tasikmalaya tahun 2007.380 35. Cakupan K4 di Provinsi Jawa Barat sebesar 79.74% dari target 90%. Menurut bidan Desa setempat.484 % 79.swasta (Dokter.

Berdasarkan data yang diperoleh dari puskesmas setempat. Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas Salawu pada tahun 2008. Cakupan K1 adalah 53. pada tahun 2008 pernah terjadi 2 kasus kematian ibu hamil yang diakibatkan oleh komplikasi kehamilan yang tidak terdeteksi. Sehingga ibu hamil lebih memilih tidak memeriksakan kehamilannya ke petugas kesehatan.080 orang ibu hamil hanya 70.40% yang melakukan pemeriksaan kehamilan K4.3 Kunjungan Pemeriksaan Kehamilan di Wilayah Kerja Puskesmas Neglasari Tahun 2008 IBU HAMIL Nama Dusun Jumlah K1 % K4 % Warung Cikopi 40 30 75 28 70 Warung Peuteuy 38 30 78. kurangnya pengetahuan. menunjukan pada bulan Januari jumlah ibu hamil di Kampung Naga adalah 30 orang. Hal ini disebabkan karena sikap ibu hamil yang merasa tidak perlu memeriksakan kehamilannya ke petugas kesehatan.6 Pasir Pari 27 20 74 18 66. sosial ekonomi yang kurang serta faktor kebiasaan atau adat istiadat di masyarakat yang masih tinggi.7 Kampung Naga 30 15 50 10 33.Tabel 1.9 28 73.33 Talun 45 35 77. letak geografis.67%.33% dari target 90% dengan demikian terjadi kesenjangan 36. (Laporan Tahunan Puskesmas Salawu). dari 1.67% dari target 90% (Laporan Bulanan Puskesmas Neglasari). Maka dari itu penulis mengambil tempat penelitian di Kampung tersebut.7 30 66.50% yang melakukan pemeriksaan kehamilan K1 dan 70.6 Langkob 20 15 75 13 65 Berdasarkan tabel diatas cakupan K1 dan K4 yang paling rendah adalah di Kampung Naga. Sedangkan cakupan K4 yaitu 46. kemitraan antara bidan dan dukun paraji tidak terjalin dengan baik. sedangkan target K1 di Puskesmas Salawu adalah 90% dan K4 adalah 90%. . Berdasarkan studi pendahuluan pada tanggal 26 Februari 2009 di Kampung Naga.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful