PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Lobster (Spiny lobster) merupakan salah satu komoditas perikanan perairan karang yang mempunya nilai ekonomis penting. Pada beberapa tahun terakhir permintaan pasar baik lokal maupun ekspor relatif tinggi. Produksi lobster di Indonesia, pada tahun 1998, masih tergolong rendah. Data statistik menunjukkan produksi lobster di selatan Jawa pada tahun 1998 baru dimanfaatkan sekitar 710 ton dengan tingkat pemanfaatan 44,38 % (Aziz et al., 1998). Usaha penangkapan lobster yang belum optimal ini, menurut Moosa dan Aswandy (1984) diperkirakan karena kurangnya informasi tentang potensi lobster di suatu perairan. Namun dalam kurun waktu 10 tahun, hasil tangkapan lobster diduga sudah mulai mengalami penurunan.

Lobster dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain substrat, suhu, salinitas, cahaya dan kekeruhan. Herrnkind (1980) dalam Cobb and Phillips (1980) menyebutkan bahwa faktor cahaya sangat mempengaruhi kehidupan lobster. Hal ini disebabkan oleh sifat nokturnal lobster itu sendiri sehingga aktifitas lobster dimulai sebelum matahari terbenam, semakin meningkat dan pada akhirnya aktifitas tersebut akan menurun menjelang matahari terbit.

Selain itu, Able (1980)menyatakan bahwa sebagian besar hewan air memanfaatkan bulan sebagai acuan untuk melakukan aktifitas ruaya secara vertikal atau horizontal maupun aktifitas yang lain. Lobster seperti hewan air lainnya dalam aktifitasnya banyak dipengaruhi oleh adanya perubahan fase bulan. Walaupun Herrkind (1980) dalam penelitiannya di perairan Atlantik Utara memperoleh data yang menunjukkan bahwa tingkat cahaya pada bulan purnama (pada permukaan) mengakibatkan tekanan yang berarti bagi aktifitas Panulirus argus.

Upaya pemanfaatan sumber daya ikan dilakukan dengan menggunakan berbagai tingkatan teknologi, baik teknologi tingkat tinggi (moderen), tingkat madya dan tradisional. Pemanfaatansumber daya ikan yang dilakukan masyarakat nelayan kebanyakan dilakukan diperairan pantai dan didominasi oleh kegiatan perikanan tangkap skala kecil yang sangat besar dalam jumlah unit penangkapan dan jumlah nelayan.

2. 1989).1. Sungutnya tumbuh sempurna dengan sungut kedua melebihi panjang tubuhnya (Ditjen Perikanan. Perairan pacitan merupakan perairan yang sebagian besar memiliki ombak cukup besar dan dasar batu berkarang. kualitas hasil tangkapan dan nilai jual yang rendah. seperti menurunnya hasil tangkapan per upaya penangkapan. Perairan yang memiliki substrat demikian sangat disenangi lobster untuk pertumbuhannya. sehingga secara keseluruhan dapat mengurangi keragaan usaha yang dilakukannya. Klasifikasi Udang karang (Abele.1 Lobster 2.1. Kondisi ini akan mempengaruhi produktivitas usaha yang dijalankan. 1982) adalah sebagai berikut: Phylum : Arthropoda : : Mandibulata Crustacea Subphylum Superkelas Kelas : Malacostraca . Biologi Lobster Lobster panulirud yang disebut juga udang karang atau udang barong termasuk jenis udang besar dan mudah dibedakan dengan udang-udag yang lain. Tujuan Penelitian Kajian ini memiliki tujuan untuk: TINJAUAN PUSTAKA 2. Hampir seluruh tubuhnya diselubungi dengan kerangka kulit yang keras dan ber zat kapur berduri-duri tajam.Kegiatan Perikanan tangkap skala kecil cenderung statis dalam upaya pengembangan teknologi yang digunakan. Selain kondisi oseanografisnya seperti ombak yang besar serta perairan yang jernih sangat mendukung kelangsungan hidup lobster terutama pada saat pertumbuhan 1.

Selanjutnya. Lamanya waktu yang dijalani oleh tiap jenis dalam daur hidupnya berbeda-beda.Sub kelas : Superordo : Ordo : Eumalacostraca Eucarida Decapoda Pleocymata Palinura : Palinuroidea Sub ordo : Infra ordo : Super famili Famili Genus Spesies : : : Palinuridae Panulirus Panulirus spp 2.000 butir. Telur menetas menjadi burayak dan kemudian masuk pada stadium berikutnya yang disebut phyllosoma. Biasanya lobster keluar dari tempat tinggalnya ke perairan yang dalam untuk bertelur atau kawin. Larva phyllosoma menyukai cahaya dan hidup bergerombol di dekat permukaan air. . Telur yang dibuahi menetas menjadi burayak dengan beberapa macam tingkatan yang berbeda-beda pada tiap jenis. Bentuk larva phyllosoma sangat berbeda degan bentuk dewasanya. proses yang terjadi yaitu: lobster jantan meletakkan cairan kental dari liang kelamin (liang sperma) pada lubang peneluran betina. lobster betina merobek kantong sperma dengan ujung kaki-jalan kelima yang berupa capit semu (Pseudo claw). Menurut Subani (1984). Lobster membawa telur yang telah dibuahi selama kira-kira 20 hari.1. sehingga mudah terbawa arus. Kemudian cairan tersebut mengeras membentuk semacam kantong sperma. Pembuahan lobster secara eksternal.2 Reproduksi dan daur Hidup Lobster Lobster dari genus Panulirus mempunyai daur hidup yang amat kompleks. Setelah kejadian tersebut. 1984). dan dengan demikian terjadi pembuahan. lobster betina mulai mengeluarkan butir-butir telur yang berwujud cairan kental kemudian melekat pada kaki-kaki renangnya. dimulai setelah lobster betina melakukan moulting. Menurut Nontji (1987). jumlah telur yang dihasilkan tiap ekor lobster betina bisa mencapai lebih dari 400. Pengetahuan tentang tingkatan-tingkatan burayak masih sangat kurang terutama terhadap jenisjenis yang hidup di perairan tropik. yaitu pipih seperti daun. Umumnya jenis-jenis yang hidup di perairan tropik mempunya daur hidup dengan waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan jenis-jenis yang hidup di perairan sub tropik (Moosa dan Aswandy.

menetas menjadi filosoma (larva). namun berzat kapur. 1980). tumbuh menjadi juvenil dan dewasa (Phillips et el. Panjang baku panulirus longipes dapat mencapai 20-25 cm. larva lobster yang dilepaskan di daerah continental shelf akan terbawa arus samudra sampai sejauh 1. lama kehidupan sebagai puerulus diperkirakan 10-14 hari dan mencapai ukuran kira-kira 5-7 cm. Panulirus polyphagus dapat mencapai panjang baku 40 cm. Lobster jantan lebih sering melakukan moulting daripada betina. Marga Panulirus mempunyai daur hidup yang majemuk. Menurut Ditjen Perikanan (1992). Setelah melawati stadium phyllosoma. pengetahuan tentang tingkatan hidup larva masih sangat kurang terutama terhadap jenis-jenis yang hidup di perairan tropik (Romimohtarto dan Juwana. Bentuknya menyerupai lobster dewasa.Siklus hidup lobster terdiri dari 5 fase yaitu mulai dari dewasa yang memproduksi sperma atau telur. rata-rata panjang total antara 20-25cm. panjang karapas 12 cm.500 km. pertumbuhan berikutnya menjadi stadium puerulus. Subani (1984) menyatakan bahwa pergantian kulit lobster dewasa (matang telur dan memijah) terjadi sekitar 4 -5 bulan sekali. Pergantian kulit biasanya terjadi pada malam hari di dalam goa=goa karang yang terlindung (Purnomo. tetapi pada uuumnya 30-35 cm. kemudian berubah menjadi puerulus (post larva). Literatur resmi FAO (1991). 1977). 1988). lama proses moulting sekitar 15 menit. Sedangkan lobster muda sering mengalami moulting sebanyak 14-17 kali selama satu tahun. panjang karapas maksimum 12 cm dengan ratarata 8-10 cm. Berdasarkan penelitian Mossa dan Aswandy (1984). Pada stadium dewasa. dapat mencapai panjang baku 50 cm. Puerulus sudah mulai aktif berenang dan terbawa arus laut menuju ke daerah pembesaran (weed bed) pada perairan dangkal (Subani. umumnya mencapai 20-25 cm. . 2005). panulirus penicillatus dapat mencapai panjang baku maksimum 40 cm tetapi rata-rata panjang baku dewasa 30 cm. panulirus ornatus merupakan yang terbesar. menyebutkan bahwa panjang baku maksimum Panulirus homarus dapat mencapai 31 cm. panulirus versicolor dapat mencapai panjang baku 40 cm tetapi rata-rata yang dicapai pada umumnya kurang dari 30 cm. lobster mempunyai ukuran total lebih dari 20 cm dan sering berganti kulit (Molting) karena proses pertumbuhannya.

2 kg/ekor (Yusnaini et al. homarus dan P. termasuk udang penaeid. P. 2006). versicolor. Jenis lobster tersebut pertumbuhannya paling tinggi jika dibandingkan dengan lobster tropis lainnya seperi P. polyphagus (Vijayakumaran dan Radhakrishnan. Menurut Dall et al.. 2000). daerah lintang rendah (Phillips et al. Kelestarian dan produksi dapat ditingkatkan dengan pengelolaan yang taat pada asas keberlanjutan dengan memberi kesempatan induk memijah. 2000). puerulus (3-5 g) dapat mencapai 300 g dalam waktu setahun (Tam. masih berasal dari penangkapan di laut.1. ( 1990) jenis udang penaeid yang ada di perairan Indonesia termasuk jenis udang penaeid Sub-region Indo-Malaysian pada region Indo-West Pacific yang . 1980).3 Penyebaran Lobster di Indonesia Udang hasil tangkapan di laut perairan Indonesia terdiri dari beberapa jenis udang. 1997). di alam dapat ditemukan bobot badan 4... menjaga jumlah minimal induk di setiap area dan memperbaiki habitat. 1980).Lobster berukuran benih atau komsumsi merupakan komoditas perikanan yang bernilai ekonomi penting. Lobster laut sangat beragam jenisnya dan mempunyai spesifikasi perkembangan dan tabiat hidup berbeda. Salah satu jenis lobster yang potensial adalah lobster mutiara (Panulirus ornatus). hidup di perairan IndoPasifik. dan sebagai sumberdaya yang dapat diperbaharui (Kittaka dan Booth.5 kg/ekor. Tetapi hal tersebut sulit diwujudkan karena keterbatasan dalam pengontrolan eksploitasi dan pertumbuhan lobster relatif lambat. 2. Eksploitasi lobster kurang terkendali atau tangkap lebih telah menyebabkan penurunan produktivitas sumberdaya perairan (Chubb. bahkan dapat mencapai ukuran 6.

1980). pantai timur Sumatera. Sulawesi Selatan.5 Tingkah laku Lobster Lobster merupakan binatang yang secara periodik tiap hari berlindung pada waktu tidak aktif. 1964 dalam Cobb and Phillips. Pada pangkal kaki kelima terdapat seperti tinjolan lipatan kulit liang kelamin (liang sperma). Kalimantan Barat.4 Jenis kelamin Lobster Jenis kelamin lobster bisa ditentukan dengan mudah secara morfologis. kaki renangnya terdiri dari dua lembar daun. faktor lingkungan lain yang mempengaruhi hidup lobster adalah suhu. 1980 dalam Cobb and Phillips. Jenis udang yang terdapat di Indonesia menurut Naamin et al. kaki renangnya hanya ada satu lembar daun saja. salinitas. pantai utara Jawa. Kepulauan Aru dan Laut Arafura. pantai selatan Jawa. kegunaannya adalah sebagai tepat menempel telur sebelum menetas menjadi larva. 1971). Teluk Penyu Cilacap dan Karang Bolong Gombong (Jawa Tengah) sampai Selatan Yogyakarta dan Pacitan (Jawa Timur). sedangkan lembaran kedua sama sekali tidak tumbuh (gereduceerd). Pada lobster jantan.1. dimana lembaran sisi luar (outer branch) lebih lebar dari lembaran sisi dalam (inner branch). 2. termasuk lobster di perairan Indonesia menurut Naamin (1979) adalah di perairan sepanjang pantai barat Sumatera. (1992) sebanyak 83 jenis udang dan salah satu di antaranya adalah lobster yang banyak tertangkap di perairan Indonesia. yaitu tempat dimana sperma nantinya dapat dikeluarkan pada waktu pemijahan (Subani.1. kumpulan rumput laut atau pada celah-celah dalam substrat lembut (Khanker. pada dasar kaki jalan yang ketiga terdapat lubang peneluran. 1980). Penyebaran udang di perairan selatan Jawa menurut Naamin dan Sudrajat (1973) adalah di perairan sepanjang pantai dari Pengandaran (Ciamis Jawa Barat). Daerah penyebaran udang. 2. Guna capit semu adalah untuk menyobek kantung sperma pada waktu pemijahan. Tempat berlindungnya antara lain karang. cahaya dan kekeruhan (Herrnkind. Lembaran sisi dalam ini bercagak dua dan berbulu-bulu panjang. Selat Malaka. Kalimantan Timur.jumlahnya sebanyak 85 species. Kalimantan Selatan. . ujung kaki jalannya (periopod) semua hanya terdapat kuku runcing. Selain itu sepasang kaki jalannya yang kelima memiliki capit semu (Pseudo claw). Teluk Bintuni. Selain substrat. Pada udang betina.

Suhu optimum untuk bertumbuh dan bertahan hidup sekitar 25-28 C. Lobster mempunyai pola kebiasaan hidup pada malam hari. panulirus longipes. lobster memilih tempat di batu-batu karang. makanannya pun terdiri dari binatang-binatang yang hidupnya menetap pada dasar perairan di sekitarnya. Panulirus polyphagus. seperti sebangsa keong-keongan.2 Jenis dan Kelimpahan Lobster Hasil penelitian yang dilakukan LON/P3O menunjukkan bahwa dari sebelas jenis lobster yang ada di perairan Indo-pasifik barat. Karena lobster tidak aktif bergerak mencari makan. Selanjutnya aktifitas semakin berkurang setelah beberapa jam dari matahari terbit (Herrnkid. Panulirus penicillatus.Lobster hidup dalam air yang memiliki kisaran suhu sekitar 11-29C. bangkai ikan. jenis panulirus polyphagus tidak ditemukan di daerah penelitian. Aktifitas nokturnal lobster dimulai beberapa jam sebelum matahari tenggelam dan aktifitas semakin meningkat pada saat gelap. 1992). sebangsa bulu babi. 1983). dan Panulirus ornatus. teripang (ketimun laut). di sepanjang pantai atau di teluk-teluk (Subani. yaitu keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Panulirus versicolor. 2. baik yang masih hidup maupun yang telah mati. yaitu panulirus homarus. Hampir sepanjang hidupnya. Sedangkan pada waktu penelitian. . Pada suhu 30 C atau lebih akan mengakibatkan gangguan bagi lobster dalam perkembangannya. Sedangkan pada siang hari lobster bersembunyi diantara batu karang. enam diantaranya terdapat di Indonesia. Dalam penelitiannya menunjukkan bahwa rata-rata hasil tangkapan mencapai minimal pada saat blan penuh dan setengah penuh dan mencapai maksimal pada saat bulan baru. 1980 dalam Cobb and Phillips. Selain itu Herrnkind (1980) juga menyebutkan bahwa tingkat cahaya pada bulan penuh (purnama) mengakibatkan tekanan yang berarti bagi aktifitas Panulirus. kerang-kerangan. 1980). tergantung jenis spesiesnya. moluska dan lain-lain (Ditjen Perikanan.

kumis belang hitam-putih atau coklat tua. Punggung/abdomen berwarna biru kehijauan sampai biru kekuningan. Punggung/abdomen berwarna dasar hijau terang dengan garis putih melintang yang diapit garis hitam. Kepalanya besar. Rua-ruas pada perut berwarna kegelapan pada bagia tengah. P. Jenis yang bagus terdapat garis coklat di tubuhnya. kanibalisme tinggi. kaki bercak-bercak putih Punggung/abdomen berwarna hijau kehitaman. Pada bagian perut terdapat bintik yang tidak begitu jelas. dengan bintik putih menyebar di seluruh permukaan tubuh.Penelitian krustasea dalam pengumpulannya mencapai 95 jenis dari daerah-daerah sepanjang pantai Utara maupun Selatan pulau Jawa. Pennicillatus. P. Versocolor dan P. Pejantan biasanya memiliki corak warna lebih gelap daripada betinanya. penicillatus Lobster batu / Hitam P longipes Lobster merah P ornatus Lobster mutiara P versicolor Lobster batik . Antena berwarna merah jambu di bagian pangkalnya dan warna yag serupa juga terlihat pada sisi bagian kepala. Punggung/abdomen berwarna dasar merah coklat gelap sampai cerah atau kemerahan. Jenis udang karang yang bernilai ekonomik. P. sedangan bagian sisinya mempunyai bercak putih. Longipa. P. Pada lobster yag masih muda warna dasarnya kebiruan. Pada kaki jalannya terdapat sejumlah garis putih memanjang pada tiap-tiap ruas kaki. Tabel Jenis Lobster dan ciri-cirinya Nama latin P homarus Nama daerah Lobster Hijau Ciri-ciri Jenis Punggung/abdomen berwarna kehijauan atau kecoklatan dengan bintik-bintik terang tersebar di seluruh permukaan segmen perut. P. antena berwarna coklat gelap. terbanyak diketemukan di Teluk Sentoro/Pacitan/Jawa Timur yang ke-seluruhannya berjumlah 8 jenis yaitu Panulirus Homarus. termasuk jenis ganas. Ornatus. Adapun ciri-ciri masing-masing jenis spiny lobster yang ditemukan pada waktu penelitian disajikan pada tabel berikut. Modo. Kumis belang hitam putih.

Sulawesi Utara. Selain itu. perairan Nusa Tenggara Timur. utara Timor dan perairan Sulawesi Utara. yaitu bagian yang selalu menerima hempasan ombak keras. c. mulai dari perairan dengan zona karang yang jernih (>18 meter) sampai perairan dangkal keruh ( 1 meter). Spesies ini banyak ditemukan pada daerah yang berombak besar karena jenis ini toleran terhadap gelombang dan pergolakan air/turbulensi (Cobbs and Phillips. d. selatan dan barat Jawa barat. Panulirus homarus : Hidup di perairan yang dangkal sampai kedalaman beberapa belas meter dan tinggal di lubang-lubang batuan. selatan Jawa. Di Indonesia banyak ditemukan di pantai barat Sumatera. halmahera. Di Indonesia banyak ditemukan di perairan Aceh. Selatan Jawa. Hidup dalam kelompok yang bisa berjumlah banyak. Panulirus ornatus : Hidup di perairan batuan atau terumbu karang yang agak dangkal (1-4 meter) dan juga ditemukan pada perairan yang dasarnya berlumpur. Sulawesi Selatan. b. Namun demikian. Di Indonesia banyak terdapat di perairan barat Sumatra. perairan timur Flores. habitat yang disukai jenis ini adalah perairan dalam dekat tubir. dan lainnya. . Biasanya mendiami tempattempat yang terlindung diantara batu-batu karang dan jarang terdapat dalam kelompok yang berjumlah banyak. Ambon. Selatan jawa. 1980).Jenis ini menghindari kondisi habitat yang mengalami Turbulensi maupun arus tidal yang kuat (Cobbs and Phillips. Sulewesi Utara. e.Sumber: Ijah Muljanah (1994) dan Hardhono (1989) Sedangkan penyebaran masing-masing jenis lobster tersebut Indonesia menurut Ditjen Perikanan (1989) adalah sebagai berikut: di a. Panulirus longipes : Cobbs dan Phillips (1980) berpendapat bahwa jenis ini dapat ditemukan di berbagai habitat. Di Indonesia banyak ditemukan di perairan Sulawesi Selatan. perairan Sulawesi Selatan dan Ambon. Sumatera Barat. mengalami turbulensi dan airnya keruh. pangandaran dan selatan Madura. 1980). Panulirus penicillatus : Hidup di perairan dangkal di sebelah luar terumbu karang. Panulirus versicolor: Hidup pada perairan terumbu karang sampai kedalaman beberapa meter. distribusi P homarus berkorelasi dengan penyebaran makanan utama mereka yakni remis Perra perra.

perangkap krendet (jodang) dan perangkap bubu (pot) yang belum berkembang secara luas di Indonesia. sehingga banyak jenis jaring yang digunakan. lobster akan berusaha untuk melepaskan diri dan hal ini dapat menyebabkan kondisi lobster tidak lengkap karena dapat saja terjadi bahwa ada bagian dari anggota tubuhnya yang terputus atau kondisi lobster sudah tidak utuh lagi. Namun untuk lobster dikenal ada dua siklus musim. Moosa dan Aswandy (1984) menyatakan bahwa penangkapan lobster pada umumnya masih menggunakan cara yang sederhana dan merupakan usaha sampingan. Operasi penangkapan lobster dilakukan di perairanpantai dengan teknologi dan cara penangkapan yang bervariasi. Penangkapan lobster yang dilakukan oleh nelayan termasuk dalam kegiatan perikanan tangkap skala kecil.3 Alat Tangkap Lobster Lobster merupakan binatang yang secara periodik tiap hari berlindung pada waktu tidak aktif. dengan atau tanpa modifikasi. Musim lobster siklus lima tahunan merupakan musim besar yang terjadi setiap 4-5 tahun sekali. Siklus ini pernah dialami pada tahun 1986 yang . 2. Jenis alat tangkap yang kebanyakan digunakan adalah perangkap jaring yang disebut dengan jaring gilnetdasar monofilamen (sirang). Oleh karena itu. Alat tangkap perangkap yang digunakan untuk menangkap lobster bersifat pasif dan proses tertangkapnya lobster akan mempengaruhi kualitas hasil tangkapannya. 1994). alat tangkap yang banyak digunakan untuk penangkapan lobster meskipun setelah penangkapan jaring sering sobek dan rusak diakibatkan karena jaring tersangkut pada karang. nelayan memanfaatkan jaring bekas. Alat tangkap tersebut menggunakan berbagai jenis umpan sebagai bahan atraktor untuk keberhasilan memperoleh hasil tangkapan lobster. Kondisi lobster yang tertangkap dengan perangkap jaring gillnet dasar monofilamen dan perangkap krendet adalah terperangkap dan terbelit oleh jaring. Tempat berlindungnya antara lain karang. kumpulan rumput laut atau pada celah-celah batu.4 Musim penangkapan Lobster Musim penangkapan lobster biasanya jatuh bersamaan dengan musim penangkapan ikan. Menurut Sondita (1992). Seringkali jaring baru hanya digunakan sekali saja.2. Selama proses terperangkap. Alattangkap tersebut tidak memiliki fungsi pelindung bagi lobster saat terperangkap pada alat tangkap terhadap predator yang memangsanya. yaitu siklus musim lima tahunan dan siklus musim tahunan (Muljanah.

biasanya pada musim paceklik ombak besar sehingga nelayan sulit melaut. harga lobster mati jauh lebih rendah dibandingkan lobster hidup (Muljanah.diikuti tahun 1991 dan 1996.Permintaan ekspor tidak pernah terpenuhi karena hasil tangkapan yang kurang . Musim lobster tahunan berlangsung sekitar 6 bulan per tahun. Musim puncak berlangsung bulan Agustus . PERIKAN AN LOBSTER UPAYA PENGEMBANGAN PELUANG .Harga lobster cukup tinggi . Untuk lobster yang masih hidup biasanya dijual ke pengumpul untuk selanjutnya dikirim keluar daerah dan diekspor. Biasanya berlangsung antara bulan Juli .Lobster hasil tangkapan dapat saja dalam kondisi ada anggota tubuh yang terputus atau cacat KAJIAN Mekanisme Produksi Lobster secara Berkelanjutan .September. Pada musim besar yang tertangkap sangat banyak dan berlangsung tiap bulan sepanjang tahun. dan diperkirakan tahun 2001.Sumber daya lobster cukup besar .Teknologi alat tangkap dan pembudidayaan mulai berkembang PERIKANAN SKALA KECIL KENDALA Kurangnya pertimbangan aspek efisiensi dan efektivitas kegiatan tangkap . sedangkan januari sampai dengan April atau Mei terjadi musim paceklik. Sementara lobster yang mati digunakan untuk kebutuhan konsumsi lokal.Pasar sangat terbuka (lokal/ekspor) .Desember bahkan sampai bulan januari yag biasanya bersamaan dengan musim hujan.Ukuran lobster yang tertangkap kebanyakan dibawah ukuran konsumsi .5 Pemanfaatan Lobster Pemanfaatan lobster hasil tangkapan dapat dalam kedaan hidup atau mati. 1994). 2.

Pada umumnya daerah penelitian udang penaeid di perairan Pacitan dan sekitarnya tersebut sebagaimana pada Tabel 1 diatas adalah perairan Pacitan dan sekitarnya tanpa dibedakan antara perairan Pacitan dan sekitarnya bagian barat dengan perairan Pacitan dan sekitarnya bagian timur. (1981) diperkirakan relatif pendek yaitu berkisar antara 12 – 18 bulan dan menurut Garcia and Le Reste (1981) mengemukakan umur maksimum udang penaeid adalah 2 tahun. Periode waktu evaluasi pemanfaatan tidak sesuai dengan daur hidup udang lobster. Untuk lobster 2. termasuk sumber daya udang. Untuk kegiatan evaluasi sumber daya perikanan sebaiknya dilakukan sesuai dengan periode waktu daur hidup sumber daya perikanan tersebut.1.2. Perbedaan daerah penyebaran dan daerah penangkapan dalam evaluasi pemanfaatan sumber daya udang tersebut diatas dikarenakan belum adanya persamaan persepsi para peneliti untuk perairan tersebut sehingga hasil evaluasinya berbeda diantara penelitipeneliti tersebut. 2. Diharapkan pengelolaan tersebut dapat diaplikasikan di lapangan dan dapat dimengerti semua pihak yang berkepentingan terhadap pemanfaatan sumber daya udang tersebut. terutama para nelayan yang menangkap udang di perairan Pacitan dan sekitarnya.6. Untuk itu diperlukan upaya pengelolaan sumber daya udang yang disesuaikan dengan situasi perkembangan pemanfaatannya dan kondisi lingkungan perairan. Belum ada pengaturan paerah penangkapan. 2. Pengembangan upaya penangkapan yang terkendali Untuk pengembangan pemanfaatan udang. .6. termasuk udang lobster sering kali kurang dari 1.6 Permasalahan pemanfaatan Lobster Pemanfaatan lobster hasil tangkapan dapat dalam kedaan hidup atau mati.3.5 tahun. Untuk daur hidup udang di daerah tropis menurut Dall et al.2. Untuk itu perlu diseragamkan perbedaan persepsi daerah penyebaran dan daerah penangkapan lobster di perairan tersebut untuk mendapatkan hasil evaluasi yang sesuai dengan situasi di lapangan. Sedangkan umur udang penaeid menurut Staples et al. (1990) diperkirakan hanya 1 -2 tahun dan untuk jenis penaeid.6. termasuk Lobster di perairan Pacitan dan sekitarnya perlu dilakukan secara hati -hati agar tidak melampui daya dukung perairan (MSY) dan upaya penangkapan yang optimum sehingga kelestarian sumber daya udang dapat terpelihara dan pada akhirnya akan terjadi kesinambungan usaha untuk waktu yang akan datang.

termasuk data potensi sumber daya udang relatif sama dengan waktu daur hidupnya yaitu sekitar 2 tahun.4. Untuk itu dalam penelitian ini akan dievaluasi dan dianalisis faktor-faktor sebagai berikut : (1) Melakukan assessment besarnya MSY sumber daya udang lobster di perairan tersebut. Data evaluasi pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya udang yang ada sekarang berdasarkan data potensi sumber daya udang yang sudah berusia sekitar 10 tahun. Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut diatas dapat digambarkan alur kerangka penelitian sebagai berikut sebagai berikut . Didalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya udang lobster di perairan Pacitan dan sekitarnya diupayakan agar pemanfaatan sumber daya udang lobster dapat berkelanjutan sehingga pemanfaatannya disesuaikan dengan potensi sumber daya udang lobster serta upaya optimum yang diperbolehkan beroperasi di perairan tersebut. maka periode waktu kegiatan evaluasi pemanfaatan dan pengelolaan sumber daya udang. Sumber daya udang lobster di perairan Pacitan dan sekitarnya ini dimanfaatkan oleh para nelayan dari beberapa daerah. antara lain : (1) Situasi pemanfaatan sumber daya udang lobster di perairan Pacitan dan sekitarnya untuk masing – masing daerah. terutama perubahan situasi pemanfaatannya. sehingga sangat mendesak untuk dilakukan evaluasi lagi yang disesuaikan dengan perubahan -perubahan lingkungannya. sehingga dalam pengembangan pemanfaatan sumber daya udang lobster yang optimum di perairan Pacitan dan sekitarnya yang berkelanjutan harus memperhatikan beberapa faktor. (2) Menentukan upaya penangkapan optimal untuk mencapai MSY sumber daya udang lobster di perairan tersebut.6. (3) Menentukan status pemanfaatan sumber daya udang lobster di perairan tersebut yang dilengkapi dengan strategi pengelolaannya.Sehubungan dengan umur udang tersebut diatas. seperti dari Blitar. (2) Pemanfaatan sumber daya udang lobster di perairan Pacitan dan sekitarnya yang optimum untuk masing-masing daerah. Kerangka Penelitian. (3) Fasilitas sarana dan prasarana perikanan yang mendukung perkembangan kegiatan penangkapan udang lobster pada masing . 2.masing perairan Pacitan dan sekitarnya. Pacitan dan Trenggalek.

.

2) Jenis dan ukuran alat tangkap udang. dengan mengambil lokasi di perairan Selatan Kabupaten Pacitan Jawa Timur. 3. 2) Jenis dan ukuran alat tangkap serta jenis dan ukuran kapal penangkapan udang. jenis dan ukuran kapal penangkapan udang serta produktivitasnya. Data dan informasi sekunder terdiri dari : 1) Produksi udang yang tertangkap. LIPI dan instansi penelitian lainnya.BAHAN DAN METODE 3. Pelabuhan Perikanan dan instansi terkait lainnya serta hasil penelitian yang sudah ada di Perguruan Tinggi. 5) Peraturan perundangan yang mengatur kegiatan pemanfaatan dan penangkapan udang.1. Balai Penelitian Perikanan Laut. 4) Faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan penangkapan udang. Data dan informasi pada penelitian ini dapat digolongkan menjadi data dan informasi primer serta data dan informasi skunder. Waktu dan Lokasi Penelitian Penelitian dilakukan selama tiga bulan dari bulan Februari sampai dengan Mei 2013. . 4) Faktor-faktor yang mempengaruhi kegiatan penangkapan udang. Data dan Informasi primer diperoleh langsung di lapangan yaitu di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) selama bulan maret sampai bulan Mei tahun 2013 dan di laut pada saat survei laut pada tanggal 25 Mei 2013. Data dan informasi primer terdiri dari : 1) Jenis dan ukuran serta jumlah produksi lobster yang tertangkap. Sedangkan data dan informasi diperoleh dari instansi terkait seperti Dinas Perikanan dan Kelautan Daerah. 3) Daerah penangkapan udang dan musim penangkapan udang.2 Metode Pengumpulan Data. 3) Daerah penangkapan dan musim penangkapan udang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful