P. 1
1. TEORI PEMBELAJARAN perilaku

1. TEORI PEMBELAJARAN perilaku

|Views: 38|Likes:
Published by Gunawan Saleh

More info:

Published by: Gunawan Saleh on Mar 18, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/01/2013

pdf

text

original

TEORI BELAJAR PERILAKU

Pendahuluan Teori belajar Perilaku menjelaskan belajar dengan menekankan pada perilaku yang dapat diamati. Teoriteori perilaku menekankan kepada bagaimana konsekuensi yang menyenangkan atau tak menyenangkan dari perilaku dapat mengubah perilaku individu dari waktu-waktu dan bagaimana perilaku individu mencontoh perilaku individu yang lain (3)

Belajar itu apa ?

Belajar didefinisikan sebagai perubahan di dalam diri seseorang yang disebabkan oleh pengalaman Yang dimaksud Perubahan bukan termasuk : - perubahan-perubahan yang disebabkan oleh perkembangan (seperti badan tumbuh, tinggi) - Perubahan-perubahan karena karakteristik yang dimiliki seseorang saat lahir (seperti gerak refleks dan respons terhadap rasa lapar atau sakit) – (4)

Terjadinya Belajar
1.

Disengaja, yaitu memperoleh informasi dengan disengaja atau direncanakan - misalnya: siswa memperoleh informasi yang disajikan dikelas atau pada saat siswa membaca buku Tidak disengaja, yaitu memperoleh pengetahuan karena stimuli-stimuli tertentu pada waktu tertentu - Seorang anak bereaksi ketika melihat jarum suntik - Menghubungkan sesuatu yang menjadi pengalaman kita dengan apa yang sedang kita baca (5)

2.

B. Evolusi Teori Belajar Perilaku
Penelitian secara sistemik tentang teori belajar relatif masih baru dan dipelajari secara ilmiah pada terakhir abad 19 dengan menggunakan teknik-teknik yang diadopsi dari sains dengan mulai melakukan eksperimen untuk memahami bagaimana manusia dan hewan belajar. Ada 3 ahli yang merintis penelitian tentang teori belajar perilaku:
1.
2. 3.

Ivan Pavlov dengan clasical conditioning (Pengkondisian klasikal)
E.L. Thorndike dengan hukum pengaruh B.F. Skinner dengan Pengkondisian Operan (6)

1. Classical Conditioning (Pengkondisian Klasik)
Jika stimulus yang pada mulanya netral dipasangkan dengan sebuah stimulus tak terkondisi, stimulus netral itu menjadi stimulus terkondisi dan memiliki kekuatan untuk membangkitkan respon serupa dengan yang dihasilkan oleh stimulus tak terkondisi (7)

Pertanyaan 1:

Tuliskan contoh hukum pengkondisian klasik disekolah ? Jawab: Siswa merasa takut pada guru tertentu

Apakah masih relevan hukum pengkondisian klasik di terapkan di sekolah ? Pada saat kapan?

2. Hukum Pengaruh (The law of effect)

Thorndike pada awalnya mengaitkan perilaku dengan refleks tubuh. Ia memandang kebanyakan perilaku sebagai respon terhadap stimuli di dalam lingkungan (10) Kemudian Thorndike menunjukkan bahwa stimuli yang diberikan setelah perilaku tertentu mempunyai pengaruh terhadap perilaku-perilaku selanjutnya (11) Hukum pengaruh thornidike menyatakan bahwa: “ jika suatu tindakan diikuti oleh hal yang memuaskan (menyenangkan) dalam lingkungan, maka kemungkinan tindakan itu akan diulangi dalam suasana serupa, akan meningkat. Sebaliknya jika suatu perilaku diikuti oleh hal yang tidak menyenangkan dalam lingkungan, maka kemungkinan tindakan itu diulangi lagi, akan menurun” (11)

Pertanyaan 2:

Tuliskan contoh penerapan hukum pengaruh dengan peningkatan etika di sekolah oleh guru PPKn Jawab: dengan membuat aturan sekolah setiap pelanggaran etika akan mengurangi nilai (PPkN)

Bagaimana hukum pengaruh dapat efektif diterapkan disekolah

3. Pengkondisian Operan

Skinner berfokus berfokus pada hubungan antara perilaku dan konsekuensi-konsekuensinya. Misalnya, jika perilaku seseorang segera diikuti oleh konsekuensi-konsekuensi yang menyenangkan, maka orang tersebut cenderung akan lebih sering mengulangi perilaku tersebut. Penggunaan konsekuensi-konsekuensi menyenangkan dan tak menyenangkan untuk mengubah perilaku sering disebut pengkondisian operan (operan conditioning). Studi skinner berpusat pada penempatan subyek di dalam situasi terkontrol dan mengamati perubahan-perubahan perilaku yang diakibatkan oleh perubahan konsekuensi-konsekuensi secara sistematis dari perilaku sebelumnya. (12)

Pertanyaan 3:

Jelaskan teori pengkondisian operan oleh B.F Skinner Jawab: Penggunaan konsekuensikonsekuensi menyenangkan dan tak menyenangkan untuk mengubah perilaku

apakah efektif penggunaan peringkat di SD untuk meningkatkan prestasi belajar, atau bisa sebaliknya menurunkan mental siswa lain yang belum berprestasi

Prinsip Teori Belajar Perilaku

prinsip terpenting dari teori belajar perilaku adalah bahwa perilaku berubah sesuai dengan konsekuensi-konsekuensi segera dari perilaku tersebut. konsekuensi-konsekuensi menyenangkan akan “memperkuat” perilaku, sedangkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak menyenangkan akan “memperlemah” perilaku. Dengan kata lain, konsekuensi-konsekuensi yang menyenangkan akan meningkatkan frekuensi seseorang melakukan perilaku serupa, sedangkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak menyenangkan akan menurunkan frekuensi seseorang melakukan perilaku serupa (14) Konsekuensi-konsekuensi yang menyenangkan disebut penguat (reinforcer), sedangkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak menyenangkan disebut hukuman (punisher) (15)

Konsekuensi : Penguat
 

Penguat (reinforcer) didefinisikan sebagai setiap konsekuensi yang menguatkan perilaku (yaitu meningkatkan frekuensi perilaku). Dan keektifan suatu penguat harus terdemonstrasikan (terbukti menguatkan perilaku) (15) Penguat dibedakan menjadi dua kategori: penguat primer (primary reinforcer) dan penguat sekunder (secondary reinforcer). Penguat primer memuaskan kebutuhankebutuhan dasar manusia, misalnya: makanan, air, keamanan, kehangatan dan sex. Sedangkan penguat sekunder adalah penguat yang memperoleh nilai-nilainya setelah dikaitkan dengan penguat primer atau penguat lain yang telah diakui, misalnya: uang dan nilai. Terdapat tiga kategori penguat sekunder, yaitu: (i) penguat sosial, (penghargaan, senyuman, pelukan, perhatian) (ii) penguat aktivitas, diperbolehkan menonton TV, bioskop, mengunjungi arena yg menyenangkan, (iii) penguat simbolik, misal: uang, nilai dan tanda jas (16)

Penguatan positif dan negatif

Penguatan positif (positive reinforcement), penguatan yang sering digunakan disekolah adalah berupa sesuatu yang diberikan kepada siswa. Penguatan positif seperti pujian, nilai, tanda penghargaan Penguatan negatif (negative reinforcement) adalah memberikan konsekuensi perilaku berupa pembebasan dari situasi yang tidak menyenangkan atau suatu cara pencegahan terjadinya sesuatu yang tidak menyenenagkan. Contoh: orang tua dapat membebaskan anaknya dari tugas mencucui piring, jika anak itu menyelesaikan PR dengan baik

Prinsip Premack (17) dan Pelaksaaan Penguatan di kelas Prinsip premack
bahwa aktivitas-aktivitas yang kurang disukai dapat ditingkatkan dengan cara mengkaitkan aktivtas-aktivitas tersebut dengan aktivitas-aktivitas yang lebih disukai. Contoh, seorang guru berkata: “ segera setelah kamu menyelesaikan pekerjaanmu, kamu dapat keluar”. Atau menyelesaikan tugas matematika baru bermain musik (18)
Prinsip utama dari penggunaan penguatan di dalam kelas a. Tetapkan perilaku-perilaku apa yang anda inginkan dari para siswa, dan perkuat perilaku-perilaku itu bila perilaku itu muncul
b.

Beritahu siswa perilaku-perilaku apa yang guru inginkan untuk dilakukan mereka, dan bila meraka melakukaknya, dan guru memperkuat perilaku mereka, katakan kepada mereka mengapa hal itu guru lakukan (19)

Hukuman
Konsekuenkonsekuensi yang tidak memperkuat, yaitu yang melemahkan perilaku disebut hukuman

Hukuman dapat dibagi 2 yaitu: 1). Hukuman paksaan (presentation punishment) adalah hukuman dengan menggunakan konsekuensi-konsekuensi yang tidak menyenangkan (aversive stimuli) dan 2). hukuman larangan (removal punishment) adalah hukuman dalam bentuk penghapusan penguatan, misalnya seorang siswa tidak boleh istrahat, atau hak2 ttt Time out adalah salah satu bentuk hukuman yaitu dengan menyuruh siswa berdiri dipojok depan kelas dalam waktu ttt, digunakaan untuk memperkuat perilaku salah siswa

Kesegeraan konsekuensi-konsekuensi
Suatu penguatan lebih kecil yang diberikan segera, pada umumnya mempunyai efek jauh lebih besar dibandingkan dengan penguatan besar yang diberikan tertunda (kulik dan kulik 1988) (24)

Umpan balik segera mempunyai tujuan:  Umpan balik segera membuat hubungan antara perilaku dan konsekuensi jelas  Umpan balik segera meningkatkan nilai informasi dari umpan balik itu (25) Pembentukan (Shaping); guru membimbing siswa untuk mencapai tujuan tertentu dengan cara memberikan penguatan sepanjang tiap langkah yang menuju kearah keberhasilan. (26) Ini memerlukan pemecahan tugas menjadi langkah-langkah kecil (proses perantaian (chaining)) (28)

Pemunahan; penguatan yang dihentikan secara perlahan (29)

Berapa frekuensi penguatan diberikan, rentang waktu yang dilalui antara kesempatankesempatan untuk memberikan penguatan, dan daya prediksi dari penguatan tersebut (31)

Jadwal penguatan (31)

 

Rasio tetap (Fixed Ratio); salah satu jadwal penguatan yang biasa digunakan dimana suatu penguatan diberikan setelah sejumlah perilaku yg tetap Rasio Variabel (Variabel Ratio); apabila banyaknya perilaku yg diperlukan untuk penguatan tidak dapat diramal, walau dapat dipastikan perilaku itu akhirnya akan diperkuat (33) Interval-tetap (fixed-Interval); penguatan diberikan hanya dalam periode waktu tertentu (contoh UN) Interval-Variabel (Variable-Interval); penguatan diberikan dalam suatu interval waktu acak, seseorang tidak tahu persis kapan suatu perilaku akan dikuatkan (34)

Hipotesis 1
Teori Hukum (pengkondisian Klasik)

Hipotesis

Jika stimulus yang pada mulanya netral dipasangkan dengan sebuah stimulus tak terkondisi, stimulus netral itu menjadi stimulus terkondisi dan memiliki kekuatan untuk membangkitkan respon serupa dengan yang dihasilkan oleh stimulus tak terkondisi (7)

Jika siswa dihukum di depan umum ketika terlambat maka siswa akan pulang ketika pada suatu waktu terlambat

Hipotesis 2
Teori - Hukum Pengaruh Hipotesis

jika suatu tindakan diikuti oleh hal yang memuaskan (menyenangkan) dalam lingkungan, maka kemungkinan tindakan itu akan diulangi dalam suasana serupa, akan meningkat. Sebaliknya jika suatu perilaku diikuti oleh hal yang tidak menyenangkan dalam lingkungan, maka kemungkinan tindakan itu diulangi lagi, akan menurun” (11)

Jika siswa yang bertanya diberi penghargaan dengan penghargaan berupa nilai, maka siswa akan lebih sering bertanya dalam setiap proses pembelajaran

Hipotesis 3
Teori – Hukum Operan Conditioning

Hipotesis

jika perilaku seseorang segera diikuti oleh konsekuensi-konsekuensi yang menyenangkan, maka orang tersebut cenderung akan lebih sering mengulangi perilaku tersebut.

Jika kegiatan belajar mengajar Fisika menggunakan media pembelajaran Phet maka siswa akan senang belajar Fisika

Hipotesis 4:
Teori : kesegeraan konsekuensikonsekuensi

Hipotesisi

Suatu penguatan lebih kecil yang diberikan segera, pada umumnya mempunyai efek jauh lebih besar dibandingkan dengan penguatan besar yang diberikan tertunda (kulik dan kulik.

Jika guru memberi penghargaan dari tugas siswa pada waktu itu juga, maka siswa akan lebih giat mengerjakan tugas”

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->