Jurnal Pembelajaran Sains Vol. 5 No.

2, Agustus 2009, 172-178

Skrining Fitokimia Tumbuhan Ophiopogon jaburan Lodd dari Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara
N o h o n g* Jurusan Kimia FMIPA Universitas Haluoleo Kendari Abstract Phytochemistry screening for Ophiopogon jaburan Lodd showed the presence of metabolite secondary compounds flavonoids, triterpenoid and steroids. Isolation of triterpenoid used soklet for 345,78 gram of root Ophiopogon jaburan Lodd. with n-hexana as solvent gave 5,16 gram non polar extract (1,49%). Fractination for non polar extract by thin layer chromatography preparative used chloroform:hexane (8:1/2) as eluen gave seven fraction. Analysis by GC-MS of second fraction contain 12 constituents compound, two of them suspected was tritepane and monoaromatic triterpenoid compounds while the others was bicyclic sesquiterpanes, tricyclic diterpane, terpenes, methyl sterol, dioctyl phthalate and acid compound. Keywords : Ophiopogon jaburan Lodd., phytochemistry screening, metabolite secondary compounds ___________________________________________________________________________ A. Pendahuluan Tumbuh-tumbuhan mempunyai kedudukan dan peranan yang amat penting dalam kehidupan manusia. Hampir lima dekade terakhir ini timbul ketertarikan yang kuat dalam meneliti tumbuhan sebagai sumber obat-obatan. Ini didasarkan pada beberapa alasan. Pertama, adanya gerakan revolusi hijau yang didasari keyakinan bahwa pengobatan dengan tumbuhan lebih aman dan dapat mengurangi efek samping pada tubuh manusia dibandingkan dengan obat-obatan sintetis. Kedua, adanya fakta bahwa banyak obat-obatan penting yang digunakan sekarang berasal dari tumbuhan (Williamson, 1996). Diperkirakan sekitar 30.000 spesies tumbuhan ditemukan di dalam hutan hujan tropika, sekitar 1.260 spesies diantaranya berkhasiat sebagai obat. Pada saat ini, baru sekitar 180 spesies yang telah digunakan untuk berbagai keperluan industri obat dan jamu, tetapi baru beberapa spesies yang telah dibudidayakan secara intensif. Diperkirakan masih banyak tumbuhan berkhasiat obat yang belum diketahui kandungan senyawa aktifnya, sehingga diperlukan penelitian khusus. Agar pengobatan secara tradisional dapat dipertanggungjawabkan maka diperlukan penelitian ilmiah seperti penelitian di bidang farmakologi, toksikologi, identifikasi dan isolasi zat kimia aktif yang terdapat dalam tumbuhan (Lenny, 2006). Tumbuhan dapat digunakan sebagai obatobatan karena tumbuhan tersebut menghasilkan suatu senyawa yang memperlihatkan aktifitas biologis tertentu. Senyawa aktif biologis itu merupakan senyawa metabolit sekunder yang meliputi alkaloid, flavonoid, terpenoid dan steroid. Famili Liliaceae adalah salah satu dari begitu banyaknya famili yang ada dalam dunia tumbuhan yang memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yang berguna. Beberapa tumbuhan dalam famili ini telah banyak digunakan untuk pengobatan, seperti obat batuk, penumbuh rambut, mengobati asma, kencing manis, sakit perut dan pencahar (Heyne, K., 1987). Penelitian terhadap famili Liliaceae telah banyak mengungkapkan senyawa-senyawa kimia baru yang berfungsi sebagai obat. Salah satu diantaranya pada Allium

digerus lagi dan disaring. serta ditemukan pula senyawa spirostanol saponin baru (Mimaki. Y. Selanjutnya kepada masing-masing tabung reaksi ditambahkan pereaksi Mayer. B.. Pengujian Alkaloid Pengujian Alkaloid dilakukan melalui tahapan berikut.4’-diglukosida jaburan Kaemferol 4’ glukosida Ophionin Ophiopogon 6-formilisoophiopogonanon A ohwii metilophiopogonon B 6-formilisoophiopogonanon B yang ditimbulkan oleh senyawa metabolit sekunder yang berasal dari tumbuhan sangat diperlukan dalam usaha penemuan sumber obat baru.. Tabel 1. tigogenin. et al. Lapisan bagian atas diambil dan dipindahkan ke dalam tiga tabung reaksi. F-gitoginin. 172-178 jesdianum ditemukan empat steroid glikosida yang menunjukkan aktifitas sitostatik dan sitotoksik yang dapat melawan beberapa sel tumor berbahaya.. 5 No. Adapun secara umum kandungan senyawa metabolit sekunder genus Ophiopogon dapat dilihat pada tabel 1. 2. Kandungan Senyawa Metabolit Sekunder Genus Ophiopogon Spesies Kandungan senyawa kimia Ophiopogon 6-aldehoisoophiopogonon A japonicus 6-aldehoisoophiopogonon B desmetilisoophiopogonon B metilophiopogonon A metilophiopogonanon A 6-formilisoophiopogonanon A 7-O-metil-6formilisoophiopogonanon A metilophiopogonanon B 6-formilisoophiopogonanon B 7-O-metil-6formilisoophiopogonanon B ophiopogonon A ophiopogonanon A ophiopogonon B ophiopogonanon ophiopogonin B ophiopogonin D Ophiopogon ophiopogonin C japonicus ophiopogonin A ophiopogonin B’ ophiopogonin C’ ophiopogonin D’ Ophiopogon Kaemferol 3.Nohong/Jurnal Pembelajaran Sains Vol. Sebagai penentu kadar relatif digunakan pembanding brucin dalam asam klorida Mengingat pentingnya peran tumbuhan bagi kehidupan manusia. sedikit menggunakan peralatan serta sangat selektif. maka pengetahuan mengenai aktifitas biologis 173 . Metode Penelitian Akar tumbuhan Ophiopogon jaburan Lodd dicuci bersih dari tanah dan pengotor lain yang melekat dan dikeringkan di udara terbuka tanpa terkena matahari langsung. Salah satu genus dalam famili Liliaceae adalah genus Ophiopogon yang memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder (Buckhingham. Disamping itu. et al. hekogenin dan manogenin yang memiliki aktifitas sitotstatik pada sel leukemia (Mimaki. Jika bahan mengandung alkaloid maka akan terbentuk berturut-turut endapan putih dengan peraksi Mayer. Tambahkan 20 ml kloroform ke dalam bahan yang sudah digerus halus lalu tambahkan kloroform amoniak. Kemudian ke dalam filtrate ditambahkan asam sulfat 2 N sebanyak 10 tetes. dan Wagner. skrining fitokimia dapat memberikan informasi tentang keberadaan senyawa metabolit sekunder yang merupakan sumber senyawa aktif biologis yang terdistribusi dalam jaringan tanaman. Agustus 2009. J. Akar tumbuhan yang telah bersih ini digerus sampai halus sehingga terbentuk serbuk halus yang siap untuk diekstraksi. Selain itu. dan endapan coklat dengan pereaksi Wagner. Metode ini digunakan karena cara pengerjaannya yang sederhana. Y. cepat. 1999). Skrining fitokimia merupakan metode pendekatan yang dapat digunakan untuk mengungkapkan keberadaan senyawa-senyawa metabolit sekunder dari tumbuh-tumbuhan. bagian tumbuhan yang digunakan hanya sedikit yang dibutuhkan sehingga tidak akan merusak tumbuhan itu secara keseluruhan. 1998). kocok dan didiamkan sampai batas kedua lapisan terlihat. 1994). Selain itu pada spesies Hosta sielbodii ditemukan 18 steroid saponin tipe gitogenin.

05% dan 0. +++ dan ++++. Ekstraksi dilakukan beberapa kali dan dihentikan bila ekstrak telah menunjukkan hasil negatif terhadap pereaksi Leibermann-Burchard. Serbuk halus akar tumbuhan Ophiopogon jaburan Lodd. dan dielusi dengan eluen kloroform : heksan (8:1/2) secara acak tegak lurus pada garis cupilkan di dalam ruang pengembangan (chamber) sehingga campuran akan terpisah menjadi beberapa fraksi. dikocok agar sisa yang kering larut kembali.50 gram dilarutkan dalam pelarut kloroform. sedangkan triterpenoid ditunjukkan dengan terjadinya warna jingga sampai ungu. Lapisan sebelah atas diambil dan dipindahkan ke dalam tabung reaksi. Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Sedikit ekstrak n-heksan ditotolkan pada plat kromatografi lais tipis silica gel GF254 (0. diambil dan dikeringkan pada plat tetes.Nohong/Jurnal Pembelajaran Sains Vol. Dua tetes asam sulfat pekat ditambahkan dan diamati perubahan warna yang terjadi.5 mm) sebagai fase diam. Pengujian Flavonoid. 172-178 yang kadarnya 0. 2. Saring dan tambahkan natrium hidroksida 10% lalu kocok. 0. Sebagai penentu kadar relatif untuk steroid digunakan pembanding bubuk kolesterol dengan nilai +++ dan untuk triterpenoid digunakan biji mahoni dengan nilai +++. diekstraksi dengan pelarut kloroform dan disaring untuk mendapatkan filtratnya. 0. Ekstraksi Akar Ophiopogon jaburan Lodd. Plat kromatografi lapis tipis preparatif yang telah dielusi dibiarkan kering terbuka dan disinari dengan lampu UV. Ekstrak n-heksan yang diperoleh dikumpulkan dan pelarutnya diuapkan dengan rotary evapator sehingga menjadi ekstrak pekat. methanol (100%). kemudian dielusi dengan pelarut dan campuran pelarut yang berbeda. Eluen yang digunakan adalah kloroform (100%). Pemisahan Secara Kromatografi Lapis Tipis Preparatif Ekstrak n-heksan sebanyak 2. Adanya steroid ditunjukkan dengan terbentuknya warna biru. Selanjutnya ke dalam tabung reaksi ditambahkan FeCl3. heksana (100%). Terbentuknya larutan merah menunjukkan adanya flavonoid. diklorometan (100%).78 gram diekstraksi kontinu menggunakan alat soklet dengan pelarut n-heksan teknis. kocok dan didiamkan sampai terbentuk dua lapisan larutan.1%.25 mm). Pelarut yang memberikan pemisahan terbaik pada plat kromatografi lapis tipis akan digunakan sebagai fase gerak untuk kromatografi lapis tipis preparatif. Lapisan bawah dari sisa pemeriksaan alkaloid.345. Pengujian Steroid dan Triterpenoid dilakukan melalui tahapan berikut. Kadar ini biasa dinyatakan secara kualitatif dengan sebutan berturut-turut sebagai : +. Pita-pita pemisahan yang tampak ditandai dengan pensil. Analisa Kromatografi Gas-Spektroskopi massa (KG-SM) Fraksi hasil pemisahan secara kromatografi lapis tipis preparatif yang berupa padatan diidentifikasi dengan 174 . campuran pelarut kloroform : diklorometan dan campuran pelarut kloroform : heksan. Sebagai penentu kadar relatif digunakan pembanding daun lagundi ( Vitex trifolia) yang memberikan reaksi positif terhadap pereaksi FeCl3 dan dinyatakan dengan nilai ++. Bahan yang telah halus sebanyak 4 gram dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan diekstraksi dengan eter. 5 No. Larutan bagian bawah yang berupa Na-fenolat ditambahkan asam klorida 2N dan ditambah eter lagi. Masing-masing fraksi yang terpisah dikerok dari plat kaca lalu ditampung dalam gelas piala. ++.01%. Asam asetat anhidrat ditambahkan beberapa tetes. Cuplikan yang akan dipisahkan ini ditotolkan pada garis dengan jarak 2 cm dari tepi bawah plat kromatografi lapis tipis ukuran 20x20 cm yang menggunakan silica gel GF254 (0.025%. Masing-masing filtrat dikumpulkan dan diuapkan pelarutnya untuk mendapatkan padatan. Agustus 2009.

Penyinarin dengan lampu UV memperlihatkan tujuh pita kelompok senyawa yang menunjukkan tujuh fraksi. kemudian cuplikan sebanyak 0. Cuplikan ini selanjutnya ditotolkan berupa garis pada jarak 2 cm dari tepi bawah plat kromatografi lapis tipis. triterpenoid dan steroid.7 mg 10. Suhu detector : 2800C dan Jumlah injeks : 0. aliran 40 mL/menit. Plat kromatografi lapis tipis dielusi dengan campuran pelarut kloroform : heksan (8:1/2) dalam ruang pengembang (chamber). Tekanan : 15 Kpa. Daftar Berat Fraksi Fraksi Wujud Jumlah 1 Padatan 8.09 0.8 mg 19. oleh karena itu spesies ini dipilih untuk di teliti lebih lanjut.77-0. Tumbuhan ini memiliki kandungan triterpenoid terbesar dibandingkan spesiesspesies yang lainnya ( Erika. dengan kondisi operasi sebagai berikut : Jenis pengionan : EI (Elektroron Impact).5 µL diinjeksikan kedalam peralatan KG-SM merek Shimadzu QP-5000. Bahan (1.06-0. Pemisahan terhadap ekstrak n-heksan dengan pelarut kloroform terdapat tujuh noda yang terpisah dengan baik sehingga pemisahan selanjutnya dilakukan secara kromatografi lapis tipis preparatif.93 Ketujuh fraksi tersebut selanjutnya dikerok dari plat kromatografi lapis tipis.10-0. Ekstraksi 345. 172-178 menggunakan kromatografi gasspektroskopi massa (KG-SM). Filtrat yang diperoleh diuapkan dengan penguap vakum sehingga didapatkan fraksi pekat. Perhitungan nilai Rf dan warna masing-masing fraksi dapat dilihat pada tabel 2. Hasil Penelitian dan Pembahasan Ekstraksi Akar Ophiopogon jaburan Lodd. Suhu kolom 600C (5 menit) s/d 2900C. 2006).16 gram (1.0 mgram) dilarutkan dalam 2 mL pelarut kloroform hingga larut semuanya.44 0. seperti dilihat pada 3. Gas pembawa :Helium. silikanya dihaluskan dan kemudian diekstrak dengan pelarut kloroform untuk mendapatkan kembali masing-masing senyawa yang ada. Agustus 2009.70 mg 2 3 4 5 6 7 Padatan Padatan Padatan Padatan Padatan Padatan 10. Tabel 3.78 gram akar Ophiopogon jaburan Lodd dilakukan dengan alat soklet dengan pelarut n-heksan teknis. Tabel 2.36-0. Nilai Rf dan Warna Fraksi Fraksi 1 2 3 4 5 6 7 Warna Merah muda Kuning Ungu Ungu Oranye Ungu Kuning Rf 0. C. 175 Pemisahan Secara Kromatografi Lapis Tipis Sebanyak 2.5 mg 10. Penguapan pelarut dengan alat rotary evapator menghasilkan ekstrak pekat non polar yang berwarna oranye sebanyak 5. kenaikan 100C/menit.75 0.6 mg 11. Suhu injector: 2900C.63 0.Nohong/Jurnal Pembelajaran Sains Vol.56-0. 2.66-0.2 mg Warna Merah muda Kuning Putih Putih Merah Oranye Kuning . Jenis kolom : DB1 (100% dimetil polisiksan) panjang 30 meter. Plat yang sudah dielusi dikeluarkan dari ruang pengembang dan pelarut dibiarkan menguap di udara terbuka dan disinari dengan lampu UV. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa akar spesies Ophiopogon jaburan Lodd positif mengandung flavonoid.34 0.50 gram ekstrak pekat nheksan dilarutkan dalam 8 ml pelarut kloroform sehingga ekstrak dapat larut sempurna. 5 No. Analisa Kromatografi Lapis Tipis Analisa kromatografi lapis tipis dilakukan untuk menentukan eluen yang akan digunakan pada kromatografi lapis tipis preparatif.25-0. Noda memisah dengan baik setelah eluen yang digunakan kloroform : heksan (8:1/2).49%).5µL.17 0.3 mg 17.

Terlihat pada gambar: Gambar 1. Oleh karena itu. Spektrum massa senyawa nomor 8 mempunyai puncak-puncak pada m/z 39 63 77 91 102 121 130 149 151 175 194 235 251 281 296 314 dan 452 [M+] dengan puncak dasar pada m/z 175. Ditandai dengan adanya puncak dasar yang kuat pada m/z 149 dab fragmentasi khas pada m/z 43 57 71 104 149. Spektrum massa pada puncak 6 merupakan senyawa dioktil ptalat (C16H22O4). Keberadaan gugus metal ditandai dengan pengurangan fragmen sebanyak 15 dari m/z 166 ke m/z 151 demikian juga dari m/z 284 ke m/z 269. 2. Fragmen-fragmen pada senyawa ini mempunyai kemiripan dengan fragmen senyawa asam alifatik yakni dengan adanya fragmen khas pada m/z 43 60 73 83 97 115 129 [55. Andanya fragmen khas 121 148 dan 178 yang merupakan fragmen khas untuk senyawa metal sterol. Adanya fragmen khas m/z 121 137 163 dan 190 spesifik untuk senyawa trisiklik diterpen sehingga diperkirakan senyawa ini merupakan trisiklik diterpen. Agustus 2009. Kromatogram fraksi 2 Data kromatografi gas menunjukkan adanya 12 puncak yang menunjukkan adanya 12 komponen senyawa. Fragmen khas untuk senyawa yang muncul pada m/z 121 memberi dugaan bahwa senyawa ini termasuk senyawa terpen. Spektrum massa senyawa nomor 7 memberikan m/z 39 55 69 77 91 107 121 137 284 339 374 dan 428 [M+] dengan puncak dasar m/z 121. Identifikasi Senyawa Hasil Fraksinasi Analisa kromatografi gasspektroskopi massa terhadap fraksi 2 menunjukkan bahwa masing-masing fraksi belumlah merupakan komponen murni. identifikasi senyawa hasil fraksinasi secara kromatografi gas spektroskopi-massa hanya dilakukan terhadap fraksi 2. 172-178 Uji kromatografi lapis tipis yang dilakukan terhadap ketujuh fraksi pekat dengan eluen kloroform : heksan (8:1/2) tersebut menunjukkan hanya fraksi 2 yang memberikan pemisahan yang lebih baik. Pola fragmentasi senyawa nomor 1 mempunyai fragmentasi yang sama dengan senyawa bisiklik seskuiterpen yang memberikan puncak pada m/z 43 55 69 81 121 133 149 191 205 dan 234 [M+] dengan puncak dasar m/z 43. Munculnya puncak m/z 95 121 149 191 merupakan fragmen khas dari senyawa-senyawa bisiklik seskuiterpen sehingga dapat diduga nomor 1 merupakan senyawa bisiklik seskuiterpen. Senyawa nomor 4 memberikan puncak-puncak pada m/z 51 65 77 91 107 121 134 148 151 166 178 195 269 155 284 300 358 dan 448 [M+] dengan puncak dasar pada m/z 178. 5 No. Spektrum senyawa nomor 5 memberikan puncak pada m/z 39 65 77 911 103 121 134 148 161 175 260 270 dan 487 [M+] dengan puncak dasar m/z 148. Kedua belas senyawa tersebut dianalisa lagi secara spektroskopi-massa. Spektrum massa senyawa nomor 3 memberikan puncak-puncak pada m/z 43 60 73 83 97 115 129 171 185 199 213 227 256 dan 494 [M+] dengan puncak dasar m/z 43.56] sehingga senyawa ini diduga sebagai senyawa asam. Adanya fragmentasi pada m/z 107 dan 121 yang khas bagi senyawa terpen [54] memberikan dugaan senyawa ini merupakan senyawa terpen. Senyawa nomor 2 memberikan puncak-puncak pada m/z 43 55 79 107 121 139 187 220 362 dan 406 [M+] dengan puncak dasar m/z 43. Senyawa ini kemungkinan merupakan senyawa pengotor yang berasal dari pelarut atau silica yang digunakan. sehingga dapat diduga senyawa nomor 4 kemungkinan suatu metal sterol. Fragmen khas untuk senyawa terpen yang muncul pada m/z 121 memberi dugaan bahwa senyawa nomor 8 merupakan senyawa terpen.Nohong/Jurnal Pembelajaran Sains Vol. 176 .

10. Heyne. 2. Isolasi dan Uji Bioaktifitas Kandungan Kimia Utama Puding Merah (Gruptophyllum pictum L.W. Kimia Analitik Instrumen. Menghasilkan ekstrak pekat non polar sebanyak 5. Munculnya fragmen bagi senyawa terpen m/z 137 151 189 memberi dugaan bahwa senyawa ini merupakan senyawa terpen.. et al.Griff). Johnson and Miller. Mimaki. Prentice Hall Inc. 172-178 Spektrum massa senyawa nomor 9 memberikan puncak-puncak pada m/z 39 53 77 91 105 117 131 137 151 189 283 dan 314 [M+] dengan puncak dasar m/z 314. Yogyakarta.. Experimental and Technique in Organic Chemistry.49%). Mimaki. 8. Samarinda. 1998. Hendayana dkk. 6. 1987. F. edisi kedua.Nohong/Jurnal Pembelajaran Sains Vol. USU Respitory. Semarang. IKIP Semarang Press... vol 7. Liberty. Spektrum massa senyawa nomor 11 memberikan puncak-puncak pada m/z 39 51 69 75 94 119 123 151 165 201 217 257 297 343 358 359 dan 386 [M+] dengan puncak dasar m/z 358. Kesimpulan Ekstraksi yang dilakukan terhadap 345. Gadjah Mada University Press. Bandung.. Chapman and Hall. Lenny. S. Spektrum massa senyawa nomor 12 mempunyai berat molekul 402 dengan puncak dasar m/z 55 mempunyai fragmentasi khas pada m/z 105 133 145 159 189 218 287 369 yang spesifik untuk senyawa triterpen monoaromatik. edisi pertama. 2006. et al. . Munculnya fragmen khas senyawa triterpen pada m/z 123 135 217 315 memberi dugaan kemungkinan senyawa ini merupakan triterpen. Analisa KG-SM terhadap fraksi dua mendapatkan 12 komponen senyawa. Agustus 2009. 2006. Jakarta. Phytochemistry 10. Y. 5 No.. London. Penerbit ITB. Buckhingham. 1994. 1994. Interpertasi Spektra Massa (terjemah). Medan. New Jersey. vol VII No. Sastrohamidjojo. Yogyakarta. Harborne. Mc Lafferty. 4.B. 2.78 gram akar tanaman Ophiopogon jaburan Lodd. Journal of Natural Product. Spektroskopi. Steroidal Glycosides from The Bulbs of Allium jesdianum. trisiklik diterpen. Buletin Bappeda Kaltim. 1999. K. 7. J.16 gram (1. sehingga dapat diperkirakan senyawa nomor 12 kemungkinan suatu triterpen monoaromatik. Keberadaan senyawa aromatic ditandai dengan pengurangan fragmen sebanyak 78 dari m/z 133 ke m/z 55 demikian juga dari m/z 145 ke m/z 67. 9. Metode Fitokimia (terjemah). F. 1987. metal sterol. Y.H. D. dua diantaranya diduga merupakan senyawa triterpen dan triterpen 177 monoaromatik sedangkan yang lain merupakan senyawa bisiklik seskuiterpen. Pasto. 1998. senyawa-senyawa terpen. dioktil ftalat dan asam alifatik. Dictionary of Natural Products Spesies Index. 1992. edisi ketiga. 5. Fraksinasi dengan kromatografi lapis tipis preparatif dengan eluen kloroform:heksan (8:1/2) didapatkan tujuh fraksi.. 1991. 3.. Steroidal Saponins from The Rhizomes of Hosta seilboldii and Their Cytostatic Activity on HL-60 Cells. Skrining Fitokimia Tumbuhan famili Liliaceae koleksi Kebun Raya Purwodadi. Erika. 11. Departemen Kehutanan. J. Daftar Pustaka 1. Spektrum massa senyawa nomor 10 memberikan puncak dasar pada m/z 137 dan adanya fragmen khas m/z 109 121 137 163 dan 207 yang spesifik untuk senyawa trisiklik diterpen dengan berat molekul 346 memberi dugaan bahwa senyawa nomor 10 merupakan senyawa trisiklik diterpen. Tumbuhan Berguna Indonesia I..

2001.Nohong/Jurnal Pembelajaran Sains Vol. Chichester. John Wiley&Sons 178 . New York. Tumbuhan Obat Indonesia. Pustaka Populer Obor. Penggunaan dan Khasiatnya. 172-178 12. Touchstone. Jakarta. Selection. Williamson.. 14. 1995. Supriadi dkk. 13.. Agustus 2009. 1996. John Wiley Interscience Publication.et al .. Preparation and Pharmacological Evaluation of Plant Material. third edition. E.C. 2. J. Pratice of Thin Layer Chromatography.M. 5 No.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful