P. 1
Skrining Fitokimia Tumbuhan Ophiopogon Jaburan Lodd Dari Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara

Skrining Fitokimia Tumbuhan Ophiopogon Jaburan Lodd Dari Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara

|Views: 56|Likes:
Published by legend_groovey

More info:

Published by: legend_groovey on Mar 18, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/05/2013

pdf

text

original

Jurnal Pembelajaran Sains Vol. 5 No.

2, Agustus 2009, 172-178

Skrining Fitokimia Tumbuhan Ophiopogon jaburan Lodd dari Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara
N o h o n g* Jurusan Kimia FMIPA Universitas Haluoleo Kendari Abstract Phytochemistry screening for Ophiopogon jaburan Lodd showed the presence of metabolite secondary compounds flavonoids, triterpenoid and steroids. Isolation of triterpenoid used soklet for 345,78 gram of root Ophiopogon jaburan Lodd. with n-hexana as solvent gave 5,16 gram non polar extract (1,49%). Fractination for non polar extract by thin layer chromatography preparative used chloroform:hexane (8:1/2) as eluen gave seven fraction. Analysis by GC-MS of second fraction contain 12 constituents compound, two of them suspected was tritepane and monoaromatic triterpenoid compounds while the others was bicyclic sesquiterpanes, tricyclic diterpane, terpenes, methyl sterol, dioctyl phthalate and acid compound. Keywords : Ophiopogon jaburan Lodd., phytochemistry screening, metabolite secondary compounds ___________________________________________________________________________ A. Pendahuluan Tumbuh-tumbuhan mempunyai kedudukan dan peranan yang amat penting dalam kehidupan manusia. Hampir lima dekade terakhir ini timbul ketertarikan yang kuat dalam meneliti tumbuhan sebagai sumber obat-obatan. Ini didasarkan pada beberapa alasan. Pertama, adanya gerakan revolusi hijau yang didasari keyakinan bahwa pengobatan dengan tumbuhan lebih aman dan dapat mengurangi efek samping pada tubuh manusia dibandingkan dengan obat-obatan sintetis. Kedua, adanya fakta bahwa banyak obat-obatan penting yang digunakan sekarang berasal dari tumbuhan (Williamson, 1996). Diperkirakan sekitar 30.000 spesies tumbuhan ditemukan di dalam hutan hujan tropika, sekitar 1.260 spesies diantaranya berkhasiat sebagai obat. Pada saat ini, baru sekitar 180 spesies yang telah digunakan untuk berbagai keperluan industri obat dan jamu, tetapi baru beberapa spesies yang telah dibudidayakan secara intensif. Diperkirakan masih banyak tumbuhan berkhasiat obat yang belum diketahui kandungan senyawa aktifnya, sehingga diperlukan penelitian khusus. Agar pengobatan secara tradisional dapat dipertanggungjawabkan maka diperlukan penelitian ilmiah seperti penelitian di bidang farmakologi, toksikologi, identifikasi dan isolasi zat kimia aktif yang terdapat dalam tumbuhan (Lenny, 2006). Tumbuhan dapat digunakan sebagai obatobatan karena tumbuhan tersebut menghasilkan suatu senyawa yang memperlihatkan aktifitas biologis tertentu. Senyawa aktif biologis itu merupakan senyawa metabolit sekunder yang meliputi alkaloid, flavonoid, terpenoid dan steroid. Famili Liliaceae adalah salah satu dari begitu banyaknya famili yang ada dalam dunia tumbuhan yang memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yang berguna. Beberapa tumbuhan dalam famili ini telah banyak digunakan untuk pengobatan, seperti obat batuk, penumbuh rambut, mengobati asma, kencing manis, sakit perut dan pencahar (Heyne, K., 1987). Penelitian terhadap famili Liliaceae telah banyak mengungkapkan senyawa-senyawa kimia baru yang berfungsi sebagai obat. Salah satu diantaranya pada Allium

Metode ini digunakan karena cara pengerjaannya yang sederhana. J. maka pengetahuan mengenai aktifitas biologis 173 . bagian tumbuhan yang digunakan hanya sedikit yang dibutuhkan sehingga tidak akan merusak tumbuhan itu secara keseluruhan. et al. skrining fitokimia dapat memberikan informasi tentang keberadaan senyawa metabolit sekunder yang merupakan sumber senyawa aktif biologis yang terdistribusi dalam jaringan tanaman. Kandungan Senyawa Metabolit Sekunder Genus Ophiopogon Spesies Kandungan senyawa kimia Ophiopogon 6-aldehoisoophiopogonon A japonicus 6-aldehoisoophiopogonon B desmetilisoophiopogonon B metilophiopogonon A metilophiopogonanon A 6-formilisoophiopogonanon A 7-O-metil-6formilisoophiopogonanon A metilophiopogonanon B 6-formilisoophiopogonanon B 7-O-metil-6formilisoophiopogonanon B ophiopogonon A ophiopogonanon A ophiopogonon B ophiopogonanon ophiopogonin B ophiopogonin D Ophiopogon ophiopogonin C japonicus ophiopogonin A ophiopogonin B’ ophiopogonin C’ ophiopogonin D’ Ophiopogon Kaemferol 3. dan endapan coklat dengan pereaksi Wagner. Y. dan Wagner.Nohong/Jurnal Pembelajaran Sains Vol. Skrining fitokimia merupakan metode pendekatan yang dapat digunakan untuk mengungkapkan keberadaan senyawa-senyawa metabolit sekunder dari tumbuh-tumbuhan. 1994). Y. Salah satu genus dalam famili Liliaceae adalah genus Ophiopogon yang memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder (Buckhingham. digerus lagi dan disaring. 172-178 jesdianum ditemukan empat steroid glikosida yang menunjukkan aktifitas sitostatik dan sitotoksik yang dapat melawan beberapa sel tumor berbahaya.. Sebagai penentu kadar relatif digunakan pembanding brucin dalam asam klorida Mengingat pentingnya peran tumbuhan bagi kehidupan manusia. Tambahkan 20 ml kloroform ke dalam bahan yang sudah digerus halus lalu tambahkan kloroform amoniak.. B. F-gitoginin. 1999). Pengujian Alkaloid Pengujian Alkaloid dilakukan melalui tahapan berikut. Kemudian ke dalam filtrate ditambahkan asam sulfat 2 N sebanyak 10 tetes. 1998). Akar tumbuhan yang telah bersih ini digerus sampai halus sehingga terbentuk serbuk halus yang siap untuk diekstraksi. cepat. Selain itu. tigogenin. hekogenin dan manogenin yang memiliki aktifitas sitotstatik pada sel leukemia (Mimaki. Lapisan bagian atas diambil dan dipindahkan ke dalam tiga tabung reaksi. Selanjutnya kepada masing-masing tabung reaksi ditambahkan pereaksi Mayer. serta ditemukan pula senyawa spirostanol saponin baru (Mimaki. 2. Adapun secara umum kandungan senyawa metabolit sekunder genus Ophiopogon dapat dilihat pada tabel 1. sedikit menggunakan peralatan serta sangat selektif. Metode Penelitian Akar tumbuhan Ophiopogon jaburan Lodd dicuci bersih dari tanah dan pengotor lain yang melekat dan dikeringkan di udara terbuka tanpa terkena matahari langsung. Agustus 2009. et al. Selain itu pada spesies Hosta sielbodii ditemukan 18 steroid saponin tipe gitogenin. 5 No.4’-diglukosida jaburan Kaemferol 4’ glukosida Ophionin Ophiopogon 6-formilisoophiopogonanon A ohwii metilophiopogonon B 6-formilisoophiopogonanon B yang ditimbulkan oleh senyawa metabolit sekunder yang berasal dari tumbuhan sangat diperlukan dalam usaha penemuan sumber obat baru.. Tabel 1. Jika bahan mengandung alkaloid maka akan terbentuk berturut-turut endapan putih dengan peraksi Mayer. kocok dan didiamkan sampai batas kedua lapisan terlihat. Disamping itu.

Selanjutnya ke dalam tabung reaksi ditambahkan FeCl3. Eluen yang digunakan adalah kloroform (100%). sedangkan triterpenoid ditunjukkan dengan terjadinya warna jingga sampai ungu. dikocok agar sisa yang kering larut kembali. Agustus 2009. Saring dan tambahkan natrium hidroksida 10% lalu kocok.05% dan 0. Sebagai penentu kadar relatif digunakan pembanding daun lagundi ( Vitex trifolia) yang memberikan reaksi positif terhadap pereaksi FeCl3 dan dinyatakan dengan nilai ++. Cuplikan yang akan dipisahkan ini ditotolkan pada garis dengan jarak 2 cm dari tepi bawah plat kromatografi lapis tipis ukuran 20x20 cm yang menggunakan silica gel GF254 (0.345.025%.1%. 5 No. Serbuk halus akar tumbuhan Ophiopogon jaburan Lodd. Pemisahan Secara Kromatografi Lapis Tipis Preparatif Ekstrak n-heksan sebanyak 2. methanol (100%). Kadar ini biasa dinyatakan secara kualitatif dengan sebutan berturut-turut sebagai : +. +++ dan ++++. Sebagai penentu kadar relatif untuk steroid digunakan pembanding bubuk kolesterol dengan nilai +++ dan untuk triterpenoid digunakan biji mahoni dengan nilai +++.50 gram dilarutkan dalam pelarut kloroform.78 gram diekstraksi kontinu menggunakan alat soklet dengan pelarut n-heksan teknis. Terbentuknya larutan merah menunjukkan adanya flavonoid. Ekstrak n-heksan yang diperoleh dikumpulkan dan pelarutnya diuapkan dengan rotary evapator sehingga menjadi ekstrak pekat. Bahan yang telah halus sebanyak 4 gram dimasukkan ke dalam tabung reaksi dan diekstraksi dengan eter.5 mm) sebagai fase diam. Ekstraksi Akar Ophiopogon jaburan Lodd. Dua tetes asam sulfat pekat ditambahkan dan diamati perubahan warna yang terjadi. Plat kromatografi lapis tipis preparatif yang telah dielusi dibiarkan kering terbuka dan disinari dengan lampu UV. Pengujian Steroid dan Triterpenoid dilakukan melalui tahapan berikut. Pelarut yang memberikan pemisahan terbaik pada plat kromatografi lapis tipis akan digunakan sebagai fase gerak untuk kromatografi lapis tipis preparatif. Kromatografi Lapis Tipis (KLT) Sedikit ekstrak n-heksan ditotolkan pada plat kromatografi lais tipis silica gel GF254 (0. heksana (100%). ++. Adanya steroid ditunjukkan dengan terbentuknya warna biru. Masing-masing filtrat dikumpulkan dan diuapkan pelarutnya untuk mendapatkan padatan. Asam asetat anhidrat ditambahkan beberapa tetes. Lapisan sebelah atas diambil dan dipindahkan ke dalam tabung reaksi. Larutan bagian bawah yang berupa Na-fenolat ditambahkan asam klorida 2N dan ditambah eter lagi. kemudian dielusi dengan pelarut dan campuran pelarut yang berbeda. 0.25 mm). Masing-masing fraksi yang terpisah dikerok dari plat kaca lalu ditampung dalam gelas piala. 2. kocok dan didiamkan sampai terbentuk dua lapisan larutan. Pengujian Flavonoid. diklorometan (100%). Pita-pita pemisahan yang tampak ditandai dengan pensil. Lapisan bawah dari sisa pemeriksaan alkaloid. diambil dan dikeringkan pada plat tetes.01%. 0.Nohong/Jurnal Pembelajaran Sains Vol. Ekstraksi dilakukan beberapa kali dan dihentikan bila ekstrak telah menunjukkan hasil negatif terhadap pereaksi Leibermann-Burchard. 172-178 yang kadarnya 0. diekstraksi dengan pelarut kloroform dan disaring untuk mendapatkan filtratnya. dan dielusi dengan eluen kloroform : heksan (8:1/2) secara acak tegak lurus pada garis cupilkan di dalam ruang pengembangan (chamber) sehingga campuran akan terpisah menjadi beberapa fraksi. campuran pelarut kloroform : diklorometan dan campuran pelarut kloroform : heksan. Analisa Kromatografi Gas-Spektroskopi massa (KG-SM) Fraksi hasil pemisahan secara kromatografi lapis tipis preparatif yang berupa padatan diidentifikasi dengan 174 .

93 Ketujuh fraksi tersebut selanjutnya dikerok dari plat kromatografi lapis tipis.77-0. Penguapan pelarut dengan alat rotary evapator menghasilkan ekstrak pekat non polar yang berwarna oranye sebanyak 5. Tekanan : 15 Kpa.3 mg 17. Ekstraksi 345. Tumbuhan ini memiliki kandungan triterpenoid terbesar dibandingkan spesiesspesies yang lainnya ( Erika. Suhu detector : 2800C dan Jumlah injeks : 0.7 mg 10.5 µL diinjeksikan kedalam peralatan KG-SM merek Shimadzu QP-5000. Suhu injector: 2900C.5µL. Daftar Berat Fraksi Fraksi Wujud Jumlah 1 Padatan 8.25-0.75 0.0 mgram) dilarutkan dalam 2 mL pelarut kloroform hingga larut semuanya.16 gram (1. aliran 40 mL/menit. silikanya dihaluskan dan kemudian diekstrak dengan pelarut kloroform untuk mendapatkan kembali masing-masing senyawa yang ada. kenaikan 100C/menit. Noda memisah dengan baik setelah eluen yang digunakan kloroform : heksan (8:1/2). 2. Gas pembawa :Helium.5 mg 10.10-0. C.6 mg 11. Penyinarin dengan lampu UV memperlihatkan tujuh pita kelompok senyawa yang menunjukkan tujuh fraksi.66-0. Bahan (1. Plat kromatografi lapis tipis dielusi dengan campuran pelarut kloroform : heksan (8:1/2) dalam ruang pengembang (chamber).09 0. Agustus 2009. Plat yang sudah dielusi dikeluarkan dari ruang pengembang dan pelarut dibiarkan menguap di udara terbuka dan disinari dengan lampu UV. dengan kondisi operasi sebagai berikut : Jenis pengionan : EI (Elektroron Impact).36-0. triterpenoid dan steroid. Analisa Kromatografi Lapis Tipis Analisa kromatografi lapis tipis dilakukan untuk menentukan eluen yang akan digunakan pada kromatografi lapis tipis preparatif.44 0.34 0. Tabel 2.70 mg 2 3 4 5 6 7 Padatan Padatan Padatan Padatan Padatan Padatan 10.63 0. Filtrat yang diperoleh diuapkan dengan penguap vakum sehingga didapatkan fraksi pekat.17 0.2 mg Warna Merah muda Kuning Putih Putih Merah Oranye Kuning . kemudian cuplikan sebanyak 0. oleh karena itu spesies ini dipilih untuk di teliti lebih lanjut. Cuplikan ini selanjutnya ditotolkan berupa garis pada jarak 2 cm dari tepi bawah plat kromatografi lapis tipis.8 mg 19. 175 Pemisahan Secara Kromatografi Lapis Tipis Sebanyak 2.50 gram ekstrak pekat nheksan dilarutkan dalam 8 ml pelarut kloroform sehingga ekstrak dapat larut sempurna. Perhitungan nilai Rf dan warna masing-masing fraksi dapat dilihat pada tabel 2.78 gram akar Ophiopogon jaburan Lodd dilakukan dengan alat soklet dengan pelarut n-heksan teknis. Hasil skrining fitokimia menunjukkan bahwa akar spesies Ophiopogon jaburan Lodd positif mengandung flavonoid. Nilai Rf dan Warna Fraksi Fraksi 1 2 3 4 5 6 7 Warna Merah muda Kuning Ungu Ungu Oranye Ungu Kuning Rf 0. seperti dilihat pada 3.06-0.Nohong/Jurnal Pembelajaran Sains Vol. Pemisahan terhadap ekstrak n-heksan dengan pelarut kloroform terdapat tujuh noda yang terpisah dengan baik sehingga pemisahan selanjutnya dilakukan secara kromatografi lapis tipis preparatif. 172-178 menggunakan kromatografi gasspektroskopi massa (KG-SM). Suhu kolom 600C (5 menit) s/d 2900C. Jenis kolom : DB1 (100% dimetil polisiksan) panjang 30 meter. Hasil Penelitian dan Pembahasan Ekstraksi Akar Ophiopogon jaburan Lodd.49%). 5 No.56-0. 2006). Tabel 3.

2. Ditandai dengan adanya puncak dasar yang kuat pada m/z 149 dab fragmentasi khas pada m/z 43 57 71 104 149. sehingga dapat diduga senyawa nomor 4 kemungkinan suatu metal sterol.Nohong/Jurnal Pembelajaran Sains Vol. Spektrum massa senyawa nomor 7 memberikan m/z 39 55 69 77 91 107 121 137 284 339 374 dan 428 [M+] dengan puncak dasar m/z 121. Andanya fragmen khas 121 148 dan 178 yang merupakan fragmen khas untuk senyawa metal sterol. Kromatogram fraksi 2 Data kromatografi gas menunjukkan adanya 12 puncak yang menunjukkan adanya 12 komponen senyawa. Senyawa ini kemungkinan merupakan senyawa pengotor yang berasal dari pelarut atau silica yang digunakan. Fragmen khas untuk senyawa terpen yang muncul pada m/z 121 memberi dugaan bahwa senyawa nomor 8 merupakan senyawa terpen. 176 . Fragmen khas untuk senyawa yang muncul pada m/z 121 memberi dugaan bahwa senyawa ini termasuk senyawa terpen. Senyawa nomor 4 memberikan puncak-puncak pada m/z 51 65 77 91 107 121 134 148 151 166 178 195 269 155 284 300 358 dan 448 [M+] dengan puncak dasar pada m/z 178. Keberadaan gugus metal ditandai dengan pengurangan fragmen sebanyak 15 dari m/z 166 ke m/z 151 demikian juga dari m/z 284 ke m/z 269. Pola fragmentasi senyawa nomor 1 mempunyai fragmentasi yang sama dengan senyawa bisiklik seskuiterpen yang memberikan puncak pada m/z 43 55 69 81 121 133 149 191 205 dan 234 [M+] dengan puncak dasar m/z 43. Adanya fragmen khas m/z 121 137 163 dan 190 spesifik untuk senyawa trisiklik diterpen sehingga diperkirakan senyawa ini merupakan trisiklik diterpen. 5 No. 172-178 Uji kromatografi lapis tipis yang dilakukan terhadap ketujuh fraksi pekat dengan eluen kloroform : heksan (8:1/2) tersebut menunjukkan hanya fraksi 2 yang memberikan pemisahan yang lebih baik. Identifikasi Senyawa Hasil Fraksinasi Analisa kromatografi gasspektroskopi massa terhadap fraksi 2 menunjukkan bahwa masing-masing fraksi belumlah merupakan komponen murni. Terlihat pada gambar: Gambar 1. Oleh karena itu. Munculnya puncak m/z 95 121 149 191 merupakan fragmen khas dari senyawa-senyawa bisiklik seskuiterpen sehingga dapat diduga nomor 1 merupakan senyawa bisiklik seskuiterpen. Spektrum massa senyawa nomor 8 mempunyai puncak-puncak pada m/z 39 63 77 91 102 121 130 149 151 175 194 235 251 281 296 314 dan 452 [M+] dengan puncak dasar pada m/z 175. Agustus 2009. identifikasi senyawa hasil fraksinasi secara kromatografi gas spektroskopi-massa hanya dilakukan terhadap fraksi 2. Fragmen-fragmen pada senyawa ini mempunyai kemiripan dengan fragmen senyawa asam alifatik yakni dengan adanya fragmen khas pada m/z 43 60 73 83 97 115 129 [55. Adanya fragmentasi pada m/z 107 dan 121 yang khas bagi senyawa terpen [54] memberikan dugaan senyawa ini merupakan senyawa terpen. Spektrum massa senyawa nomor 3 memberikan puncak-puncak pada m/z 43 60 73 83 97 115 129 171 185 199 213 227 256 dan 494 [M+] dengan puncak dasar m/z 43.56] sehingga senyawa ini diduga sebagai senyawa asam. Kedua belas senyawa tersebut dianalisa lagi secara spektroskopi-massa. Senyawa nomor 2 memberikan puncak-puncak pada m/z 43 55 79 107 121 139 187 220 362 dan 406 [M+] dengan puncak dasar m/z 43. Spektrum massa pada puncak 6 merupakan senyawa dioktil ptalat (C16H22O4). Spektrum senyawa nomor 5 memberikan puncak pada m/z 39 65 77 911 103 121 134 148 161 175 260 270 dan 487 [M+] dengan puncak dasar m/z 148.

vol VII No. dua diantaranya diduga merupakan senyawa triterpen dan triterpen 177 monoaromatik sedangkan yang lain merupakan senyawa bisiklik seskuiterpen. Penerbit ITB. Medan. edisi ketiga. senyawa-senyawa terpen. 1999. 5 No. 2006. 9. Mc Lafferty. Hendayana dkk. Journal of Natural Product.. 2. Munculnya fragmen khas senyawa triterpen pada m/z 123 135 217 315 memberi dugaan kemungkinan senyawa ini merupakan triterpen. sehingga dapat diperkirakan senyawa nomor 12 kemungkinan suatu triterpen monoaromatik. Jakarta.W. F. F. Tumbuhan Berguna Indonesia I. 4. 1992. Bandung. 3. Yogyakarta. Dictionary of Natural Products Spesies Index. S.49%). .. 1987. metal sterol. Mimaki. Keberadaan senyawa aromatic ditandai dengan pengurangan fragmen sebanyak 78 dari m/z 133 ke m/z 55 demikian juga dari m/z 145 ke m/z 67. Spektrum massa senyawa nomor 12 mempunyai berat molekul 402 dengan puncak dasar m/z 55 mempunyai fragmentasi khas pada m/z 105 133 145 159 189 218 287 369 yang spesifik untuk senyawa triterpen monoaromatik. Prentice Hall Inc. Departemen Kehutanan. 11. IKIP Semarang Press. Yogyakarta. D. USU Respitory. 1991. Experimental and Technique in Organic Chemistry. 1998. Menghasilkan ekstrak pekat non polar sebanyak 5. Harborne. Liberty. New Jersey.Griff). Analisa KG-SM terhadap fraksi dua mendapatkan 12 komponen senyawa. Heyne. Buletin Bappeda Kaltim. 1987. dioktil ftalat dan asam alifatik. Johnson and Miller. Chapman and Hall.. Lenny. Spektrum massa senyawa nomor 11 memberikan puncak-puncak pada m/z 39 51 69 75 94 119 123 151 165 201 217 257 297 343 358 359 dan 386 [M+] dengan puncak dasar m/z 358. Kimia Analitik Instrumen.Nohong/Jurnal Pembelajaran Sains Vol. Skrining Fitokimia Tumbuhan famili Liliaceae koleksi Kebun Raya Purwodadi. Steroidal Saponins from The Rhizomes of Hosta seilboldii and Their Cytostatic Activity on HL-60 Cells.16 gram (1.. Sastrohamidjojo. 10... Gadjah Mada University Press. J. Samarinda. Mimaki. Agustus 2009. Isolasi dan Uji Bioaktifitas Kandungan Kimia Utama Puding Merah (Gruptophyllum pictum L. et al. Phytochemistry 10. Kesimpulan Ekstraksi yang dilakukan terhadap 345. Fraksinasi dengan kromatografi lapis tipis preparatif dengan eluen kloroform:heksan (8:1/2) didapatkan tujuh fraksi. et al. 6. Interpertasi Spektra Massa (terjemah). trisiklik diterpen. Buckhingham. Spektroskopi. edisi kedua. Daftar Pustaka 1. 2006. J. 1998. 5. 172-178 Spektrum massa senyawa nomor 9 memberikan puncak-puncak pada m/z 39 53 77 91 105 117 131 137 151 189 283 dan 314 [M+] dengan puncak dasar m/z 314. 8. Metode Fitokimia (terjemah).H.. London.. Spektrum massa senyawa nomor 10 memberikan puncak dasar pada m/z 137 dan adanya fragmen khas m/z 109 121 137 163 dan 207 yang spesifik untuk senyawa trisiklik diterpen dengan berat molekul 346 memberi dugaan bahwa senyawa nomor 10 merupakan senyawa trisiklik diterpen. K. 2. Semarang.B. Munculnya fragmen bagi senyawa terpen m/z 137 151 189 memberi dugaan bahwa senyawa ini merupakan senyawa terpen. Y. vol 7. Erika. Pasto. 7..78 gram akar tanaman Ophiopogon jaburan Lodd. 1994. 1994. Y. edisi pertama. Steroidal Glycosides from The Bulbs of Allium jesdianum.

Touchstone.et al . Pustaka Populer Obor. Chichester. Preparation and Pharmacological Evaluation of Plant Material. 5 No. Selection. Williamson.. Agustus 2009.. 14. Penggunaan dan Khasiatnya.Nohong/Jurnal Pembelajaran Sains Vol. third edition.M. Supriadi dkk.. E. John Wiley Interscience Publication. John Wiley&Sons 178 . 13. 2. 172-178 12. Pratice of Thin Layer Chromatography.C. New York. 2001. Jakarta. 1996. 1995. Tumbuhan Obat Indonesia. J.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->