P. 1
Pancasila

Pancasila

|Views: 13|Likes:
Published by ersaputri
pancasila sevagai ideologi terbuka
pancasila sevagai ideologi terbuka

More info:

Categories:Types, Business/Law
Published by: ersaputri on Mar 18, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/16/2013

pdf

text

original

PANCASILA SEBAGAI IDEOLOGI TERBUKA

Dipresentasikan Oleh:
Cikra Wakhidah N.F.A. Klaudio Halsi Ersa Putri Ardi O. Faisal Nur Rachman Kecuk Yulianto Moch. Cahya Mulya U. P. Intan Wulandari Dewi Kurniawati 120710101390 120710101400 120710101403 120710101427 120810201087 120803101007 120803101159 120803102005

1. Sejarah Asal Mula Pancasila
Secara kausalitas asal mula Pancasila dibedakan atas dua macam yaitu asal mula yang langsung dan asal mula yang tidak langsung. Adapun pengertian asal mula tersebut adalah sebagai berikut: a. Asal Mula Langsung, adapun rincian asal mula langsung Pancasila menurut Notonegora adalah sebagai berikut: • Asal Mula Bahan (Causa Materialis) • Asal Mula Bentuk (Causa Formalis) • Asal Mula Karya (Causa Efficient) b. Asal mula tidak langsung, apabila dirinci adalah sebagai berikut: • Unsur-Unsur Pancasila sebelum secara langsung dirumuskan menjadi dasar filsafat Negara. • Nilai-nilai yang terkandung dalam pandangan hidup masyarakat Indonesia sebelum membentuk Negara.

2. Ideologi
a. Pengertian Ideologi berasal dari kata idea, yang berarti gagasan, konsep, pengertian dasar, cita-cita, dan logos, yang artinya ilmu. Secara harfiah ideologi berarti ilmu pengetahuan tentang ide-ide, atau ajaran tentang pengertian-pengertian dasar (Kodhi dan Soejadi, 1988: 49).

Ideologi merupakan pemikiran tentang cita-cita yang dapat ditetapkan sebagai tujuan terakhir, bukan pengetahuan mengenai hal yang objektif. Ideologi memikirkan mengenai kebenaran yang diyakini dapat dijadikan tujuan hidup, dan tidak sibuk memikirkan mengenai sarana-saran dan pemecahan masalah-masalah teknis.

2. Ideologi
b. Definisi Berikut ini ada beberapa definisi dari para ahli, yaitu: a b c d e f g • W. White:

• Nicollo Machiavelli
• Antoine Destut de Tracy • Karl Marx • Louis Althusser • A.S. Hornby • Harol H. Titus

2. Ideologi
b. Definisi Berikut ini ada beberapa definisi dari para ahli, yaitu: a b c d e f g • W. White

• Nicollo Machiavelli
• Antoine Destut de Tracy • Karl Marx • Louis Althusser • A.S. Hornby • Harol H. Titus

Ideologi ialah soal citacita politik atau doktrin atau ajaran suatu lapisan masyarakat atau sekelompok manusia yang dapat dibeda-bedakan.

2. Ideologi
b. Definisi Berikut ini ada beberapa definisi dari para ahli, yaitu: a b c d e f g • W. White:
Ideologi adalah pengetahuan mengenai cara menyembunyikan kepentingan, mendapatkan serta mempertahankan kekuasaan dengan memanfaatkan konsepkonsepsi keagamaan dan tipu daya.

• Nicollo Machiavelli
• Antoine Destut de Tracy • Karl Marx • Louis Althusser • A.S. Hornby • Harol H. Titus

2. Ideologi
b. Definisi Berikut ini ada beberapa definisi dari para ahli, yaitu: a b c d e f g • W. White:

• Nicollo Machiavelli
• Antoine Destut de Tracy • Karl Marx • Louis Althusser • A.S. Hornby • Harol H. Titus

Ideologi negara adalah ilmu mengenai gagasan atau ilmu tentang ide-ide.

2. Ideologi
b. Definisi Berikut ini ada beberapa definisi dari para ahli, yaitu: a b c d e f g • W. White: Ideologi adalah merupakankesadaran palsu. Disebut demikian karena ideologi merupakan hasil pemikiran tertentu yang diciptakan oleh para pemikir.

• Nicollo Machiavelli
• Antoine Destut de Tracy • Karl Marx • Louis Althusser • A.S. Hornby • Harol H. Titus

2. Ideologi
b. Definisi Berikut ini ada beberapa definisi dari para ahli, yaitu: a b c d e f g • W. White: Ideologi adalah gagasangagasan spekulatif, tetapi bukan sebagai kesadaran palsu. Gagasan ini untuk memberikan gambaran tentang bagaimana manusia seharusnya menjalankan kehidupan.

• Nicollo Machiavelli
• Antoine Destut de Tracy • Karl Marx • Louis Althusser • A.S. Hornby • Harol H. Titus

2. Ideologi
b. Definisi Berikut ini ada beberapa definisi dari para ahli, yaitu: a b c d e f g • W. White:

• Nicollo Machiavelli
• Antoine Destut de Tracy • Karl Marx • Louis Althusser • A.S. Hornby • Harol H. Titus

Ideologi adalah seperangkat gagasan yang membentuk landasan teori ekonomi dan politik yang dipegang oleh seseorang atau sekelompok orang.

2. Ideologi
b. Definisi Berikut ini ada beberapa definisi dari para ahli, yaitu: a b c d e f g • W. White:

• Nicollo Machiavelli
• Antoine Destut de Tracy • Karl Marx • Louis Althusser • A.S. Hornby • Harol H. Titus

Suatu istilah yang digunakan unuk sekelompok cita-cita mengenai berbagai macam masalah politik dan ekonomi filsafat sosial.

2. Ideologi
c. Fungsi Ideologi
Ideologi adalah sebuah pandangan hidup yang mana berfungsi sebagai orientasi tujuan dari sebuah negara untuk mencapai keselarasan dan keseimbangan dalam hidup bernegara maupun berbangsa. Ideologi juga berfungsi sebagai motivator untuk sebuah perkembangan negara agar menjadi negara yang dicita-citakan seluruh rakyatnya. Hali ini yang memberi arti betapa pentingnya sebuah ideologi bagi suatu negara.

3. Ideologi Terbuka
a. Pengertian Ideologi terbuka ialah: • Pandangan hidup bangsa yang mempunyai nilai dasar yang bersifat tetap sepanjang zaman, yaitu Pancasila. • Pandangan hidup bangsa yang mampu berkembang secara dinamis (nilai instrumental). • Nilai praktis berupa pelaksanaan nyata dari instrumental, seperti pemilihan umum dan demokrasi. b. Definisi

Ideologi terbuka ialah pandangan hidup bangsa yang sealain mempunyai nilai dasar yang bersifat tetap, juga mampu berkembang secara dinamis (nilai instrumental).

3. Ideologi Terbuka
c. Unsur-Unsur Ideologi Terbuka Pandangan hidup bangsa yang mempunyai nilai dasar yang bersifat tetap dan nilai instrumental yang bersifat dinamis. d. Nilai-Nilai Dalam Ideologi Terbuka Nilai yang terkandung dalam ideologi terbuka, terdiri dari dua jenis nilai: • Nilai-nilai dasar, yang berisi tentang cita-cita, tujuan, serta lembaga-lembaga penyelenggara negara utama. • Nilai-nilai instrumental, merupakan arahan, kebijaksanaan, strategi, sasaran, serta lembaga pelaksanaannya.

3. Ideologi Terbuka
e. Hakikat Ideologi Terbuka Berdasarkan uraian di atas: • Pancasila sebagai nilai dasar ideologi negara (Pancasila dalam Pembukaan UUD 1945) tidak boleh berubah. • Yang dapat berubah adalah nilai-nilai instrumental yang merupakan: 1. Voting (musyawarah untuk mufakat atau suara terbanyak). 2. Asas Pancasila (satu-satunya asas). 3. Sistem penataran P-4, diskusi paripurna, permainan simulasi.

4. Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka
Pancasila sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia berakar pada pandangan hidup dan budaya bangsa, dan bukannya mengangkat atau mengambil ideologi dari bangsa lain. Selain itu Pancasila juga bukan hanya merupakan ide-ide atau perenungan dari seseorang saja, yang hanya memperjuangkan suatu kelompok atau golongan tertentu, melainkan Pancasila berasal dari nilai-nilai yang dimiliki oleh bangsa sehingga Pancasila berasal dari nilai-nilai yang dimiliki oleh bangsa sehingga Pancasila pada hakikatnya untuk seluruh lapisan serta unsur-unsur bangsa secara komperhensif. Oleh karena ciri khas Pancasila itu maka memiliki kesesuaian dengan bangsa Indonesia.

5. Faktor – Faktor Pendorong
Faktor-Faktor Pendorong Pemikiran Mengenai Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka: Kenyataan bangkrutnya ideologi marxisme/leninisme/ komunisme. tertutup seperti

Kenyataan bahwa dalam proses pembangunan nasional berencana, dinamika masyarakat kita berkembang dengan cepat.
Pengalaman sejarah politik di Indonesia pada masa lalu sewaktu pengaruh komunisme sangat besar.

Tekad Indonesia untuk mejadikan Pancasila sebagai satusatunya asa dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

6. Landasan dari Nilai - Nilai
a. Nilai Dasar Pancasila yang Abadi Nilai dasar Pancasila yang abadi kita ketemukan dalam 4 alinea Pembukaan UUD 1945. b. Nilai Instrumental yang Berkembang Dinamis Nilai dasar sifatnya belum operasional, kita belum dapat menjabarkan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari. Penjabaran lanjut ini disebut nilai instrumental.

7. Implikasi
Implikasi Penerimaan Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka Proses penerimaan ini tidak mudah, sebab ada kekhawatiran dalam keterbukaan itu berarti diterimanya seluruh nilai apapun, termasuk yang bertentangan denagn nilai dasar Pancasila. Penerimaan nilai-nilai yang harus sesuai dengan Pancasila sebagai acuan antra lain senagai landasan konseptual untuk kebijaksanaan deregulasi dan debiokratisasi.

8. Pembatasan Keterbukaan Ideologi
Keterbukaan ideologi ada batas-batasnya yang tidak boleh dilanggar, yaitu: • Stabilitas nasional yang dinamis • Larangan terhadap ideologi marxisme, leninisme, komunisme. • Mencegah berkembangnya paham liberalisme. • Larangan terhadap pandangan ekstrim yang menggelisahkan kehidupan masyarakat. • Penciptaan norma yang baru harus melaui konsensus (kesepakatan).

9. Perwujudan Pancasila
Perwujudan Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka Bangsa Indonesia Untuk mewujudkan ideologi Pancasila itu, kita harus tetap memperhatikan awal terbentuknya dan ditetapkannya ideologi Pancasila. Ideologi Pancasila merupakan ideologi dari dan diperuntukkan bagi seluruh bangsa Indonesia, bukan dari seseorang atau skelompok kecll bangsa Indonesia yang diperuntukkan bagi seluruh bangsa Indonesia. Pancasila sebagai ideologi negara tentunya mampu memberikan orientasi, wawasan, asas, dan pedoman normatif dalam seluruh bidang kehidupan negara. Nilai-nilai Pancasila harus dituangkan ke dalam bidang-bidang ekonomi, politik, sosial dan hankam. Dengan demikian, jelas kemana sistem penyelenggaraan negara harus diwujudkan.

KESIMPULAN
Ideologi mencerminkan cara berpikir masyarakat, bangsa maupun negara, di samping itu juga mengantarkan masyarakat mencapai citacitanya. Dengan demikian, ideologi sangat menentukan eksistensi suatu bangsa dan negara. Ideologi akan menjadi realistis manakala terjadi orientasi yang bersifat dinamis antara masyarakat bangsa dengan ideologi. Dengan demikian ideologi akan bersifat terbuka dan antisipasif bahkan bersifat reformatif, dalam arti mampu mengadaptasi perubahan – perubahan sesuai dengan aspirasi bangsanya. Namun jika perlakuan terhadap ideologi diletakkan sebagai nilai yang sakral bahkan sebagai alat legitimasi kekuasaan, maka dapat dipastikan ideologi menjadi tertutup, kaku, beku, dogmatis, dan menguasai kehidupan bangsanya.

TERIMA KASIH

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->