MODUL PRAKTIKUM MATERIAL TEKNIK

1.

Pengujian Logam Proses pengujian logam adalah proses pemeriksaan bahan-bahan untuk

diketahui sifat dan karakteristiknya yang meliputi sifat mekanik, sifat fisik, bentuk struktur, dan komposisi unsur-unsur yang terdapat di dalamnya. Adapun proses pengujiannya dikelompokkan ke dalam tiga kelompok metode pengujian, yaitu : 1. Destructive Test (DT), yaitu proses pengujian logam yang dapat menimbulkan kerusakan logam yang diuji. 2. Non Destructive Test (NDT), yaitu proses pengujian logam yang tidak dapat menimbulkan kerusakan logam atau benda yang diuji. 3. Metallography, yaitu proses pemeriksaan logam tentang komposisi kimianya, unsur-unsur yang terdapat di dalamnya, dan bentuk strukturnya. Penjelasan mengenai pengujian logam akan dijelaskan lebih lanjut pada subbab-subbab berikutnya. Berikut ini merupakan penjelasan mengenai ketiga metode pengujian logam [6]. Uji Kekerasan (Hardness Test) Proses pengujian kekerasan dapat diartikan sebagai kemampuan suatu bahan terhadap pembebanan dalam perubahan yang tetap. Dengan kata lain, ketika gaya tertentu diberikan pada suatu benda uji yang mendapat pengaruh pembebanan, benda uji akan mengalami deformasi. Kita dapat menganalisis seberapa besar tingkat kekerasan dari bahan tersebut melalui besarnya beban yang diberikan terhadap luas bidang yang menerima pembebanan tersebut [6]. Kita harus mempertimbangkan kekuatan dari benda kerja ketika memilih bahan benda tersebut. Dengan pertimbangan itu, kita cenderung memilih bahan benda kerja yang memiliki tingkat kekerasan yang lebih tinggi. Alasannya, logam keras dianggap lebih kuat apabila dibandingkan dengan logam lunak. Meskipun 2

demikian, logam yang keras biasanya cenderung lebih rapuh dan sebaliknya, logam lunak cenderung lebih ulet dan elastis [6]. Dasar-Dasar Pengujian Kekerasan Pengujian kekerasan bahan logam bertujuan mengetahui angka kekerasan logam tersebut. Dengan kata lain, pengujian kekerasan ini bukan untuk melihat apakah bahan itu keras atau tidak, melainkan untuk mengetahui seberapa besar tingkat kekerasan logam tersebut. tingkat kekerasan logam berdasarkan pada standar satuan yang baku. Karena itu, prosedur pengujian kekerasan pun diatur dan diakui oleh standar industri di dunia sebagai satuan yang baku. Satuan yang baku itu disepakati melalui tiga metode pengujian kekerasan, yaitu penekanan, goresan, dan dinamik [6].
Tabel 2.1 Logam Ferro Dan Pemakaiannya Nama Baja lunak (Mild Steel) Baja karbon sedang (medium carbon steel) Baja karbon tinggi (high carbon steel) Baja kecepatan tinggi (high speed steel) Komposisi Campuran ferro dan karbon (0,1%-0,3%) Campuran ferro dan karbon (0,4%-0,6%) Campuran ferro dan karbon (0,7%-1,5%) Sifat Ulet dan dapat ditempa dingin Lebih ulet Pemakaian Pipa, mur, baut, dan sekrup Poros, rel baja, dan peron Perlengkapan mesin perkakas, kikir, gergaji, pahat, tap, penitik, dan stempel Alat potong yang digunakan ialah pahat bubut, pisau fris, mata bor, dan perlengkapan mesin perkakas

Dapat ditempa disepuh

dan

Baja karbon tinggi ditambah dengan nikel/krom/kobalt/tungsten/ vanadium

Getas, dapat disepuh keras, dimudakan, dan tahan terhadap suhu tinggi

Pengujian kekerasan dengan cara penekanan banyak digunakan oleh industri permesinan. Hal ini dikarenakan prosesnya sangat mudah dan cepat dalam memperoleh angka kekerasan logam tersebut apabila dibandingkan dengan metode pengujian lainnya. Pengujian kekerasan yang menggunakan cara ini terdiri dari tiga jenis, yaitu pengujian kekerasan dengan metode Rockwell, Brinell, dan Vickers. Ketiga metode pengujian tersebut memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing, serta perbedaan dalam menentukan angka kekerasannya. Metode Brinell dan Vickers misalnya, memiliki prinsip dasar yang sama dalam 3

menentukan angka kekerasannya, yaitu menitikberatkan pada perhitungan kekuatan bahan terhadap setiap daya luas penampang bidang yang menerima pembebanan tersebut. Sedangkan metode Rockwell menitikberatkan pada pengukuran kedalaman hasil penekanan atau penekan (indentor) yang membentuk berkasnya (indentasi) pada benda uji [6]. Perbedaan cara pengujian ini menghasilkan nilai satuannya juga berbeda. Karena itu, tiap-tiap pengujian memiliki satuannya masing-masing sesuai dengan proses penekannya, yang mendapat pengakuan standar internasional. Perbedaan satuan itu ditunjukkan dalam bentuk tulisan angka hasil pengujiannya. Berikut ini merupakan uraian terperinci mengenai masing-masing metode pengujian. Metode Pengujian Rockwell Pengujian kekerasan dengan metode Rockwell ini diatur berdasarkan standar DIN 50103. Adapun standar kekerasan metode pengujian Rockwell ditunjukkan pada tabel sebagai berikut :
Tabel 2.2 Skala Kekerasan Metode Pengujian Rockwell Skala
A B C D E F G H K L M P R S V

Penekan Awal
Kerucut intan 120º Bola baja 1,558 mm (1/16”) Kerucut intan 120º Kerucut intan 120º Bola baja 3,175 mm (1/8”) Bola baja 1,558 mm Bola baja 1,558 mm Bola baja 3,175 mm Bola baja 3,175 mm Bola baja 6,35 mm (1/4”) Bola baja 6,35 mm Bola baja 6,35 mm Bola baja 12,7 mm (1/2”) Bola baja 12,7 mm Bola baja 12,7 mm 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10 10

Beban Utama
50 90 140 90 90 50 140 50 140 50 90 140 50 90 140

Jumlah
60 100 150 100 100 60 150 60 150 60 100 150 60 100 150

Skala Kekerasan
100 130 100 100 130 130 130 130 130 130 130 130 130 130 130

Warna Angka
Hitam Merah Hitam Hitam Merah Merah Merah Merah Merah Merah Merah Merah Merah Merah Merah

4

3 Skala Kekerasan Dan Pemakaiannya Skala A B C D E F G H K L M P R S V Pemakaiannya Untuk carbide cementite. atau bahan-bahan tipis Untuk logam. dan logam yang sangat lunak lainnya. seng. magnesium. nikel-seng. yaitu : 1. paduan alumunium. Berdasarkan rumus tertentu. Jika pada skala tertentu tidak tercapai angka kekerasan yang akuran. Dalam metode Rockwell ini terdapat dua macam indentor yang ukurannya bervariasi. bantalan. Kerucut intan dengan besar sudut 120º dan disebut sebagai Rockwell Cone. Beban minor besarnya maksimal 10 kg sedangkan beban mayor bergantung pada skala kekerasan yang digunakan [6]. atau bahan-bahan tipis Pembebanan dalam proses pengujian kekerasan metode Rockwell diberikan dalam dua tahap. dan bahan-bahan lain yang lebih keras daripada skala B-100 Untuk baja tipis. dan timbal Untuk logam. baja dengan lapisan keras yang dalam. Untuk cara pemakaian skala ini. dan logam yang sangat lunak lainnya. atau bahan-bahan tipis Untuk logam. dan besi tempa peritik Untuk besi tuang. skala ini memiliki standar atau acuan. atau bahan-bahan tipis Untuk logam. bantalan. Bola baja dengan berbagai ukuran dan disebut sebagai Rockwell Ball. dan logam yang sangat lunak lainnya. bantalan. titanium. baja tipis. dimana acuan dalam menentukan dan memilih skala kekerasan dapat diketahui melalui tabel sebagai berikut : Tabel 2. baja lunak. dan besi tempa Untuk baja. bantalan. bantalan. dan baja dengan lapisan keras yang tipis Untuk paduan tembaga. bantalan. atau bahan-bahan tipis Untuk logam. dan logam yang sangat lunak lainnya. bantalan. kita terlebih dahulu menentukan dan memilih ketentuan angka kekerasan maksimum yang boleh digunakan oleh skala tertentu. 5 . atau bahan-bahan tipis Untuk logam. Tahap pertama disebut beban minor dan tahap kedua (beban utama) disebut beban mayor. baja dengan lapisan keras yang sedang. dan tembaga-nikel Untuk alumunium. paduan tembaga. dan logam-logam bantalan Untuk paduan tembaga yang dilunakkan dan pelat lunak yang tipis Untuk besi tempa. dan logam yang sangat lunak lainnya. besi tuang keras. paduan alumunium.Tingkatan skala kekerasan menurut metode Rockwell dapat dikelompokkan menurut jenis indentor yang digunakan pada masing-masing skala. besi tempa peritik. maka kita dapat menentukan skala lain yang dapat menunjukkan angka kekerasan yang jelas. 2. atau bahan-bahan tipis Untuk logam. dan logam yang sangat lunak lainnya. dan logam yang sangat lunak lainnya.

Pengujian Rockwell yang umumnya dipakai ada tiga jenis. Cara pengujian kekerasan Rockwell Cara Rockwell ini berdasarkan pada penekanan sebuah indentor dengan suatu gaya tekan tertentu ke permukaan yang rata dan bersih dari suatu logam yang diuji kekerasannya. 2. Benda uji. penguji dapat melihat pada jarum yang terpasang pada alat ukur berupa dial indicator pointer [4]. 6 . HR itu sendiri merupakan suatu singkatan kekerasan Rockwell atau Rockwell Hardness Number dan kadang-kadang disingkat dengan huruf R saja [4]. Setelah indentor terpasang. Setelah gaya tekan dikembalikan ke gaya minor. yaitu HRA. Inilah perbedaan metode Rockwell dibandingkan dengan metode pengujian kekerasan lainnya. penguji meletakkan specimen yang akan diuji kekerasannya di tempat yang tersedia dan menyetel beban yang akan digunakan untuk proses penekanan. Dapat dipakai untuk batu gerinda sampai plastik. maka yang akan dijadikan dasar perhitungan untuk nilai kekerasan Rockwell bukanlah hasil pengukuran diameter atau diagonal bekas lekukan. tetapi justru dalamnya bekas lekukan yang terjadi itu. 2. Cocok untuk semua material yang keras dan lunak. Kesalahan pada pengujian Rockwell dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : 1. 3. dan HRC. Cara penggunaan mesin uji kekerasan Rockwell Sebelum pengujian dimulai. Operator. penguji harus memasang indentor terlebih dahulu sesuai dengan jenis pengujian yang diperlukan. 3. Mesin uji Rockwell. yaitu : 1. Kelebihan dari pengujian logam dengan metode Rockwell. HRB. Dapat digunakan untuk bahan yang sangat keras. yaitu indentor bola baja atau kerucut intan.Berikut ini merupakan cara pengujian dan penggunaan dengan menggunakan metode pengujian Rockwell. yaitu : 1. 2. Untuk mengetahui nilai kekerasannya.

2.. 2. maka semakin tinggi nilai HB. Semakin keras logam yang diuji. Bola Brinell ini tidak boleh berdeformasi sama sekali di saat proses penekanan ke permukaan logam uji.. Stopwatch. Permukaan logam yang diuji harus rata dan bersih. Tidak stabil apabila terkena goncangan. 3. 3. maka diameter paling atas dari lekukan tersebut diukur secara teliti.(1) = beban yang diberikan (KP atau Kgf) = diameter indentor yang digunakan = diameter bekas lekukan Kekerasan ini disebut kekerasan Brinell. 4. 6. 5. Tingkat ketelitian rendah. Benda uji (test specimen). Penekanan bebannya tidak praktis. Bahan-bahan atau perlengkapan yang digunakan untuk uji kekerasan Brinell adalah sebagai berikut [4]: 1. Apabila kita memakai bola baja untuk uji Brinell. Ampelas kasar dan halus. yaitu : 1. Mesin gerinda.Kekurangan dari pengujian logam dengan metode Rockwell. 7 . Metode Pengujian Brinell Cara pengujian Brinell dilakukan dengan penekanan sebuah bola baja yang terbuat dari baja krom yang telah dikeraskan dengan diameter tertentu oleh suatu gaya tekan secara statis ke dalam permukaan logam yang diuji tanpa sentakan. 7. biasanya yang terbuat dari baja krom yang telah disepuh atau cermentite carbide. Bola baja untuk Brinell (Brinell Ball). yang kemudian dipakai untuk menentukan kekerasan logam yang diuji dengan menggunakan rumus (1) : BHN = dimana : P D d 2P πD[D − (D 2 − d2 ] ) …………………. yang biasa disingkat dengan HB atau BHN (Brinell Hardness Number). Setelah gaya tekan ditiadakan dan bola baja dikeluarkan dari bekas lekukan. Mesin uji kekerasan Brinell. Mikroskop pengukur.

004 mm. Metode Pengujian Vickers Metode Vickers ini berdasarkan pada penekanan oleh suatu gaya tekan tertentu oleh sebuah indentor berupa pyramid diamond terbalik dengan sudut 8 . untuk diameter 1 sampai dengan 3 mm adalah lebih kurang 0.005 mm atau 0. 3. dan alat pengukur waktu. Selain yang telah distandarkan di atas. 5. Memeriksa dan mempersiapkan specimen sehingga siap untuk diuji. Melakukan proses pengujian sebanyak lima kali sehingga diperoleh nilai ratarata dari uji kekerasan Brinell tersebut. Ø 2. Pangukuran diameter ini untuk sebuah lekuk dilakukan dua kali secara bersilang tegak lurus dan baru dari dua nilai diameter yang diperoleh. antara 3 sampai dengan 6 mm adalah 0. Ø 0. 2. Misalnya. Ø 2 mm.005 mm. dan antara 6 sampai dengan 10 mm adalah 0. Kemudian dimasukkan ke dalam rumus Brinell untuk memperoleh hasil kekerasan Brinell-nya (HB).0002 in. Membebaskan beban tekan dan mengeluarkan bola dari lekukan lalu memasang alat optis untuk melihat bekas yang kemudian mengukur diameter bekas sebelumnya secara teliti dengan mikrometer pada mikroskop. Melakukan pemeriksaan pada pembebanan.5 mm. diambil rata-ratanya. maka penguji harus dapat memilih diameter bola yang paling sesuai [4]. Ø 1 mm. Memeriksa dan mempersiapkan mesin yang akan dipakai untuk menguji.Standar dari bola Brinell yaitu mempunyai Ø 10 mm atau 0.25 mm. Ø 1. dengan penyimpangan maksimal 0. 6. terdapat juga bola-bola Brinell dengan diameter lebih kecil (Ø 5 mm.0035 mm. Yang perlu diperhatikan adalah jarak dari titik pusat lekukan baik dari tepi specimen maupun dari tepi lekukan lainnya minimal 2 dari 3/2 diameter lekukannya [4]. diameter bola baja yang digunakan. yaitu : 1.65 mm) yang juga mempunyai toleransi-toleransi tersendiri. 4.3937 in. Berikut ini merupakan langkah-langkah yang dilakukan untuk menguji kekerasan logam dengan metode Brinell. Penggunaannya bergantung pada gaya tekan P dan jenis logam yang diuji.

Universitas Gunadarma. 4. Mikroskop pengukur diagonal bekas. 5. Jurusan Teknik Mesin. Setelah gaya tekan secara statis ini kemudian ditiadakan dan pyramid diamond dikeluarkan dari bekas yang terjad.8554 F = D2 D2 ………………. dimana permukaan logam yang diuji ini harus rata dan bersih [4]. yaitu [4]: Nama alat Merk : Rockwell Hardness Tester : AFFRI Seri 206.(2) Bahan-bahan atau perlengkapan yang biasa digunakan untuk uji kekerasan Vickers adalah sebagai berikut : 1..RTS 9 . Hal terpenting yang harus dipelajari dalam pengujian Vickers adalah bagaimana menggunakan alat uji kekerasan Vickers dalam hal memasang indentor pyramid diamond. Permukaan bekas merupakan segi empat karena pyramid merupakan piramida sama sisi. maka diagonal segi empat bekas teratas diukur secara teliti. 2.RT – 206. Benda uji (test specimen). Mesin percobaan kekerasan Vickers. menyetel beban yang akan dipakai. Untuk memperoleh nilai kekerasan Vickers. melihat dan mengukur diagonal persegi empat teratas dari bekas yang terjadi seteliti mungkin [4]. Mesin gerinda. 7. yang digunakan sebagai kekerasan logam yang akan diuji. Ampelas kasar dan halus. Nilai kekerasan yang diperoleh disebut sebagai kekerasan Vickers. meletakkan specimen di tempatnya. Indentor pyramid diamond. 6. Stopwatch.puncak 136º ke permukaan logam yang akan diuji kekerasannya. Spesifikasi Alat Uji Kekerasan Berikut ini merupakan spesifikasi alat uji kekerasan yang dimiliki oleh Laboratorium Material Teknik & Pengecoran Logam. 3. maka hasil penekanan yang diperoleh dimasukkan ke dalam rumus berikut ini : Hv = 2 F sin θ 2 1. yang biasa disingkat dengan Hv atau HVN (Vickers Hardness Number).

Wrench to select tested loads (kunci). 6. Handwheel Gambar 2. Scale Indicator Pointer. 3. Loads scale. Anvil (dudukan). Larger pointer. Tested loads mobile selector.Loading : Maximum 150 KP Minimum 60 KP Spesifikasi Indentor Indentor Indentor : HRD Load : 100 KP Indentor Indentor Indentor : Kerucut intan 120º : Steel Ball Ø 1/16” : Steel Ball Ø 1/16” HRF Load : 60 KP HRG Load : 150 KP : Kerucut intan 120º : Steel Ball Ø 1/16” : Kerucut intan 120º HRC Load : 150 KP HRB Load : 100 KP HRA Load : 60 KP Berikut ini merupakan gambar dari alat uji kekerasan Rockwell. 10 . Anvil holder screw (capstan).1 Alat Uji Kekerasan Rockwell to regulate the rising screw. 10. Small pointer. Red dot. Keterangan Gambar: 1. 4. 2. Test Lever (handle). Ring nuts to fix the penetrator. 5. Outer rings. Penetrator (indentor) 8. 9. 7.

Angka kevalidan pengujian makro berkisar antara 0.5 hingga 50 kali [3]. struktur. Sedemikian halusnya sehingga pengujiannya memerlukan kaca pembesar lensa mikroskop yang memiliki kualitas perbesaran antara 50 hingga 3000 kali [3]. yaitu metalurgi dan metalografi. 2. Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Dalam proses pengujian metalografi. dan persentase campuran logam tersebut [3]. Langkah-Langkah Pengujian Metalografi Berikut ini merupakan langkah-langkah untuk melakukan pengujian metalografi. Pemotongan Pemotongan specimen cukup dalam dimensi yang tidak terlalu besar (< 10 × 10 × 10) mm dan tidak boleh menjadi panas berlebihan dalam proses pemotongan untuk menghindari rusaknya struktur specimen tersebut akibat panas [3]. Pengujian makro (Macroscope Test) Pengujian makro ialah proses pengujian bahan yang menggunakan mata terbuka dengan tujuan dapat memeriksa celah dan lubang dalam permukaan bahan. Metalurgi dapat dikatakan pula sebagai cara pengolahan logam secara teknis untuk memperoleh jenis logam atau logam paduan yang memenuhi kebutuhan tertentu. Metalurgi adalah ilmu yang menguraikan tentang cara pemisahan logam dari ikatan unsur-unsur lain. 11 . temperatur.Uji Metalografi Ilmu logam dibagi menjadi dua bagian khusus. pengujian logam dibagi lagi menjadi dua jenis. Pengujian mikro (Microscope Test) Pengujian mikro ialah proses pengujian terhadap bahan logam yang bentuk kristal logamnya tergolong sangat halus. yaitu : 1. Sedangkan metalografi adalah ilmu yang mempelajari tentang cara pemeriksaan logam untuk mengetahui sifat.

2. Mesin ini terdiri dari piringan yang berputar dengan kain beludru (selvyt) [3]. Penyusutan rendah. Tingkat kehalusan kertas ampelas ini ditentukan oleh ukuran serbuk silikon karbida yang menempel pada kertas tersebut [3]. Mesin yang digunakan adalah mesin poles metalografi. Bahan penyalutan yang digunakan adalah termoplastik seperti resin. Pemolesan (polishing) Benda uji yang sudah melewati proses penggerindaan. yaitu : Tabel 2. dieteruskan ke proses pemolesan. dan karakteristik polishing yang baik. Penggerindaan atau pengampelasan Proses ini menggunakan kertas ampelas yang berjenjang dimulai dari ampelas yang kasar sampai dengan yang halus. penyusutan rendah. Memerlukan pengontrolan suhu panas antara 130º C . perlahan-lahan waktu proses mounting. Berikut ini merupakan bahan-bahan yang digunakan pada proses penyalutan.140º C tekanan. lamban biasa pelarut. Penyalutan (Mounting) Benda kerja yang kecil sukar dipegang pada proses penggerindaan dan pemolesan. tetapi penyelesaian dengan glacialacetic acai. Untuk pengisian vakum oxide film Araltide grade ialah suatu cairan tuangan resin yang memberikan penyalutan yang baik tanpa panas dan tekanan. Thermosetting 3 4 Phenolic varnish Epoxy resin (contohnya Araldite) Thermosetting Liquid various 5 Plyvinyl chloride Thermosetting 3. yang mencair pada temperatur 150º C. Misalnya. terdapat ampelas yang memiliki tingkat kehalusan hingga 220. angka 220 menunjukkan bahwa serbuk silikon karbida pada kertas ampelas itu bisa lolos dari ayakan hingga mencapai 220 lubang pada luas 1 inchi2 (sekitar 625 mm2) [3].4 Bahan-Bahan Mounting NO Plastik 1 Phenolic (contohnya bakelit) 2 Diall (prepolimer) phthalete Tipe Thermosetting Catatan Memerlukan pengontrolan panas dan tekanan dengan secukupnya memberikan bahan pelarut secara perlahan-lahan. 4. maka perlu disalut terlebih dahulu. 12 .

pemolesan diteruskan. dan 2 cm3 asam hydrochloric. yang memiliki komposisi 20% asam nitric dalam air dan boleh dalam keadaan dingin jika cocok. yang memiliki komposisi 50% asam hydrochloric dalam air dengan suhu antara 70º C . (2) Sulphuric. serta digunakan untuk bahan besi dan baja. Apabila terlihat sudah rata. (4) Alcoholic ferric chloride. Berikut ini merupakan penjelasan beberapa larutan etsa untuk pengujian makro dan mikro yang biasa dipakai dalam metalografi [3]. (3) Nitric. Mengetsa dalam kamus. Pengetsaan Hasil pemolesan yang terakhir akan menghasilkan suatu lapisan yang menutupi permukaan struktur logam. serta digunakan untuk bahan baja dan besi. kain poles diberi sedikit pasta oles. 13 .80º C dan waktu yang dibutuhkan 1 jam. benda uji diletakkan di atas piringan yang berputar. maka specimen dibersihkan dan dilanjutkan dengan pengetsaan [3]. yang memiliki komposisi 20% asam sulphuric dalam air dengan suhu 80º C dan waktu yang diperlukan antara 10 sampai 20 detik. 5. Struktur mikro dapat terlihat dengan jelas di bawah mikroskop dengan menghilangkan lapisan tersebut dengan cara mengetsa [3]. dapat diartikan sebagai proses pembuatan gambar atau ukuran pada pelat tembaga. serta digunakan untuk bahan besi dan baja. a) Adapun bahan-bahan larutan pada etsa makro adalah sebagai berikut : (1) Hydrochloric.Cara pemolesannya. Dalam istilah perdagangan diberi nama autosol atau gama alumina. Bila garis-garis bekas pengampelasan masih terlihat. Hasil proses itu ialah etsa. yang dilapisi lilin dengan benda tajam kemudian membiarkan garis-garis yang diperoleh itu terkena korosi cairan asam. yang memiliki komposisi 96 cm3 ethyl alcohol. 59 gram ferric chloride. yaitu berupa gambar atau ukiran. Pasta oles yang biasa digunakan adalah alumina (Al2O3).

baja paduan rendah. dikeraskan (hardening) dan ditemper (tempering). (3) NH4OH. nitrid acid (HNO3) 1 ml. yang memiliki komposisi NH4OH sebagai dasar dan H2O2 beberapa tetes. jika terjadi lapisan hitam yang tebal dapat dihilangkan dengan cara merendam pada asam nitrat (HNO3). kita langsung dapat melihat bagian mana yang bengkok atau mengambang dari serat (alur) benda kerja tersebut. dan hasil pengerolan. dan baja paduan sedang. yaitu hydrochloric acil (HCl) 140 ml. Waktu pengetsannya beberapa detik sampai 1 menit. Pemakaiannya untuk bahan tembaga dan paduannya dengan waktu pengetsaan sampai bahan uji berwarna biru. (7) Specimen alumunium atau campuran alumunium bahan etsa ialah hydrofloride acid (HF) 10 ml. Pemakaiannya untuk bahan karbon. yang memiliki komposisi 4 gram asam pikrat.(5) Bahan etsa. alkohol 95% atau 98 ml. sulphuric acid (H2SO4) 3 ml dan air 50 ml dengan waktu etsa antara 15 sampai 30 menit. Setelah kita mengetsa. b) Adapun bahan-bahan larutan pada etsa mikro adalah sebagai berikut : (1) Asam nitrat. dilunakkan. yang memiliki komposisi copper ammonium chloride 9 gram dan air 91 ml specimen untuk baja. Macro test ini biasanya dilakukan pada benda yang pembuatannya ditempa. (2) Asam pikrat. dituang. Waktu pengetsaannya sangat singkat dan karena itu. digunakan bahan etsa yang baik. Waktu etsa lebih lama daripada etsa mikro struktur. yang memiliki komposisi asam nitrat 2 ml dan alkohol 95% atau 98 ml. Waktu yang diperlukan beberapa detik sampai 1 menit. Waktu pengetsaan itu lebih l daripada etsa untuk mikro struktur. 14 . (6) Untuk mengetsa baja agar didapat hasil etsa yang dalam dan tebal lapisannya. yaitu 2 ml asam nitrat (HNO3) dan 98 ml methyl alcohol dalam waktu 10 sampai 30 detik. dan air 200 ml. (4) Bahan etsa adalah nital 2%. Pemakaiannya untuk baja karbon dalam keadaan normal.H2O2.

benda dicuci dengan air hangat atau alcohol untuk menghentikan reaksi dan mengeringkan dengan udara dari mesin kompresor [3]. yang digunakan untuk tembaga dan campurannya [3]. Dengan kata lain. (4) Terlalu lama waktu yang digunakan dalam pengetsaan. Untuk memperjelas bentuk dan corak butir-butir kristal yang berbeda jenisnya itu. Setelah bahan uji dietsa. d) Pengaruh etsa Etsa larutan kimia sangat mempengaruhi bentuk permukaan benda uji. tidak semua proses pengetsaan menghasilkan hasil etsa yang memuaskan. Dengan mikroskop.5% ammonium acrocide NH4(OH). Pengetsaan dilakukan dengan cara menempatkan asam yang akan digunakan pada sebuah cawan kemudian mencelupkan permukaan benda uji pada asam tersebut sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. maka benda uji dapat langsung dietsa. baik atau tidaknya hasil pengetsaan dapat dipengaruhi oleh larutan kimia yang digunakan untuk mengetsa [3].(5) Bahan etsa menggunakan asam yang terdiri dari 10% ammonium ferri sulfat. 15 . 2. (3) Kurangnya waktu pengetsaan. Dengan kata lain. c) Cara mengetsa Setelah bahan uji melalui beberapa tahapan. kita dapat menunjukkan adanya perbedaan beberapa elemen yang terkandung dalam bahan uji tersebut. Garis-garis yang tampak itu menunjukkan adanya batas antar butir kristal logam tersebut [3]. Meskipun demikian. dan 65% larutan asam krom dalam waktu 10 sampai 30 detik. di atas seluruh permukaan benda uji akan tampak garis-garis yang tidak teratur. dapat diamati pada mikroskop. yaitu : (1) Benda kerja terlalu kotor karena terlalu lunak atau berminyak. Setelah itu. dalam satu proses pengetsaan terkadang kita tidak berhasil mengetsa benda yang diuji. (2) Benda kerja tidak bersih pada waktu dicuci. Berikut ini merupakan faktor-faktor penyebab terjadinya kegagalan dalam mengetsa.

Uses EL-38 (8 V. 400.…. MF 20 X. yang disebut lensa obyektif. 6.(5) Salah memilih dan menggunakan cairan etsa (etching reagent) [3].. Perbesaran struktur mikro dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut : LOK × LOB × FK × UKURAN FOTO dimana : LOK LOB FK = lensa okuler (nilai 2. MF 40 X : Binocular body complete with interpupillary distance : Koehler-type illuminator complete with aperture and field diaphragms. filter slots. 15 W) tungsten filamen bulb. mikroskop terdiri dari dua buah lensa positif. yaitu lensa yang menerima sinar langsung dari bendanya atau lensa dekat dengan benda yang akan dilihat. Mikroskop Pada dasarnya. sedangkan lensa yang berada dekat dengan mata disebut lensa okuler [3]. yaitu : Tyepiece Objective Viewing head Illuminator : NWF 10 X : MSFX.(3) Ukuran foto 3R nilai 4 [3]. 16 . Perbesaran sebuah mikroskop biasanya berkisar 50. Universitas Gunadarma. Spesifikasi Alat Uji Metalografi Berikut ini merupakan spesifikasi alat uji metalografi (Mettalurgical Microscope) yang dimiliki oleh Laboratorium Material Teknik & Pengecoran Logam. 200. dan 1000 kali lebih besar dari benda uji [3]. MF 10 X. and bulb cord. Jurusan Teknik Mesin.…………. Perbesaran total oleh mikroskop ini didefinisikan dengan perbandingan antara tangen sudut buka baying akhir dengan sudut buka tanpa menggunakan alat.5) = lensa obyektif/lensa yang dipakai pada mikroskop = faktor kamera (nilai 1) . 100.

Fine controls are workable in arrange of 2 mm. complete with analyzer. Color filters : Green filter for visual observation and monochromatic film photography. Photo mechanic Polarizing filters Microscope stand : Optical path selector for visual observation and photography. Gambar 2.1 mm by vernier. and polarizer filter. reading to 0. Provided with low position stage controls. : Inverted stand.2 Mettalurgical Microscope 17 . out put sockets. : Built-in slideway. complete with built-in plane glass reflector. and blue filter for color photography [4]. Berikut ini merupakan gambar dari mikroskop untuk mengetahui struktur dari benda uji. Focusing control : Stage height is adjustable by the control knob and fixed by locking knob.Mechanical stage : Graduated 150 × 160 mm in size 30 × 30 mm cross motion. rotatable through 0-9º. built in power supply transformer. variable light intensity control. built in reflecting mirror and camera port.

Benda uji takikan berbentuk V yang mempunyai keadaan takikan 2 mm banyak dipakai. Patah getas menjadi permasalahan penting pada baja dan besi. Mesin Uji Impact Mesin uji impact adalah mesin uji untuk mengetahui harga impak suatu beban yang diakibatkan oleh gaya kejut pada bahan uji tersebut. Semakin tajam takikan. Gambar 2. Mesin uji impact charpy dapat ditunjukkan pada gambar di bawah ini [5]. tipe dan bentuk konstruksi mesin uji bentur beraneka ragam. yaitu mulai dari jenis konvensional sampai dengan sistem digital yang lebih maju [5]. yang memungkinkan peningkatan laju regangan beberapa kali lipat [5]. Dalam pembebanan statis dapat juga terjadi laju deformasi yang tinggi kalau bahan diberi takikan.Uji Impact Charpy Uji impact charpy digunakan untuk mengetahui kegetasan atau keuletan suatu bahan (specimen) yang akan diuji dengan cara pembebanan secara tiba-tiba terhadap benda yang akan diuji secara statik. Benda uji dibuat takikan terlebih dahulu sesuai dengan standar JIS Z2202 dan hasil pengujian benda tersebut akan mengakibatkan terjadinya perubahan bentuk seperti bengkokan atau patahan sesuai dengan keuletan atau kegetasan terhadap benda uji tersebut [5]. maka akan semakin besar deformasi yang terkonsentrasikan pada takikan.3 Mesin Uji Impact Charpy 18 . Pengujian impact charpy banyak dipergunakan untuk menentukan kualitas bahan.

Cara ini dapat dilakukan dengan charpy atau cara izod [5]. Pengerjaan benda uji pada impact charpy dan izod dikerjakan habis pada semua permukaan.5 Sistem Uji Impact Charpy Dan Izod 19 . Pengujian Charpy dan Izod Pada pengujian kegetasan bahan dengan cara impact charpy. pendulum diarahkan pada bagian belakang takik dari batang uji.4 Benda Uji Impact Charpy Bentuk “V” Dasar Pengujian Pada pengujian ini adalah suatu bahan uji yang ditakik. Semua dikerjakan menurut standar yang ditetapkan yaitu JIS Z 2202 [5]. Sedangkan pada pengujian impact cara izod adalah pukulan pendulum diarahkan pada jarak 22 mm dari penjepit dan takikannya menghadap pada pendulum [5]. dipukul oleh pendulum (godam) yang mengayun. Takikan dibuat dengan mesin fris atau alat notch khusus takik.Gambar 2. Dengan pengujian ini dapat diketahui sifat kegetasan suatu bahan. Gambar 2.

maka pendulum akan memukul batang uji dan selanjutnya pendulum akan mengayun sampai kedudukan 3 pada ketinggian h2.(4) Atau dapat juga diselesaikan dengan menggunakan rumus berikut ini : W1 = G × λ(1 .…………………….6 Benda Uji Standar JIS Z 2202 Prinsip Dasar Mesin Uji Impact Apabila pendulum dengan berat G dan pada kedudukan h1 dilepaskan.cos α) (kg m) dimana : W1 G h1 λ = usaha yang dilakukan (kg m) = berat pendulum (kg) = jarak awal antara pendulum dengan benda uji (m) = jarak lengan pengayun (m) . Apabila batang uji dipasang pada kedudukannya dan pendulum dilepaskan. maka akan mengayun sampai kedudukan posisi akhir 4 pada ketinggian h2 yang juga hampir sama dengan tinggi semula (h1). Usaha yang dilakukan pendulum waktu memukul benda uji atau usaha yang diserap benda uji sampai patah dapat diketahui melalui rumus sebagai berikut : W1 = G × h1 (kg m) ……………………….Gambar 2..05 kilogram meter (kg m) pada saat pendulum mencapai kedudukan 4 [5].(5) cos λ = sudut posisi awal pendulum 20 . skala akan menunjukkan usaha lebih dari 0. dimana pendulum mengayun bebas. Pada mesin uji yang baik.

.W2 (kg m) …………………….(6) cos β = sudut posisi akhir pendulum Besarnya usaha yang diperlukan untuk memukul patah benda uji dapat diketahui melalui rumus sebagai berikut : W = W1 .cos λ) (kg m) dimana : W W1 W2 G λ = usaha yang diperlukan untuk mematahkan benda uji (kg m) = usaha yang dilakukan (kg m) = sisa usaha setelah mematahkan benda uji (kg m) = berat pendulum (kg) = jarak lengan pengayun (m) ….(8) Sehingga persamaan yang diperoleh dari rumus di atas adalah sebagai berikut : W = G × λ(cos β .…………….(9) cos λ = sudut posisi awal pendulum cos β = sudut posisi akhir pendulum 21 .(7) ….……………………...…………………….Sedangkan sisa usaha setelah mematahkan benda uji dapat diketahui melalui rumus sebagai berikut : W2 = G × h2 (kg m) Sehingga dapat diperoleh persamaan sebagai berikut : W2 = G × λ(1 ...cos β) (kg m) dimana : W2 G h2 λ = sisa usaha setelah mematahkan benda uji (kg m) = berat pendulum (kg) = jarak akhir antara pendulum dengan benda uji (m) = jarak lengan pengayun (m) ...

7 Prinsip Dasar Mesin Uji Impact Spesifikasi dan Bagian Utama Alat Uji Impact Charpy Adapun spesifikasi alat uji impact tipe charpy adalah sebagai berikut [5] : Tipe alat uji Kapasitas Berat pendulum (godam) Jarak titik ayun dengan titik pukul Posisi awal pemukulan Sudut pisau pemukul : charpy : 85 Joule : 8 kg : 600 mm : 140º : 30º 22 .…………………….(10) = usaha yang diperlukan untuk mematahkan benda uji (kg m) = luas penampang di bawah takikan (mm2) Gambar 2.Dan besarnya harga impact dapat diketahui dari rumus berikut ini : K= dimana : K W Ao = nilai impact (kg m/mm2) W Ao …….

Badan alat uji impact Badan alat uji impact terbuat dari baja profil U 70 mm × 40 mm dengan tebal baja 5 mm.9 Bagian-Bagian Utama Alat Uji Impact Tipe Charpy Sedangkan bagian-bagian utama dari alat uji impact tipe charpy terdiri atas : 1. Proses pengerjaan yang dilakukan dalam pembuatan badan alat uji impact ini adalah proses penyambungan atau proses pengelasan. Sedangkan dimensi dari badan alat uji impact ini adalah 750 mm × 400 mm × 1000 mm.8 Alat Uji Impact Tipe Charpy Kapasitas 85 Joule Gambar 2.Dimensi alat uji Standar bahan uji : 750 mm × 400 mm × 1000 mm : alumunium Tampak Depan Tampak Samping Kiri Tampak Belakang Gambar 2. Badan alat uji impact berfungsi sebagai tempat dudukan 23 .

Lengan pengayun Lengan pengayun berfungsi untuk menentukan gerakan ayunan dari poros ke pendulum. Pada bagian atas pendulum dihubungkan ke bagian lengan pengayun dengan cara dilas [5]. Lengan pengayun ini terbuat dari baja silinder Ø 20 × 600 mm dan pada bagian atasnya dihubungkan ke poros dengan dilas. 24 . serta pada bagian bawahnya dihubungkan ke pendulum dengan cara dilas [5]. 4. Poros pengayun Poros pengayun berfungsi sebagai penerus ayunan dari bearing ke lengan pengayun dan pendulum. 3.10 Badan Alat Uji Impact Tipe Charpy 2. Poros pengayun terbuat dari baja silinder Ø 25 × 450 mm. Gambar 2. Berikut ini merupakan gambar alat uji impact tipe charpy [5].dari bearing dan tempat benda uji. Pada bagian ujung kanan dan kirinya dihubungkan ke bearing dan pada bagian tengahnya dihubungkan ke lengan pengayun dengan cara dilas [5]. Pendulum Pendulum berfungsi sebagai beban yang akan diayunkan ke benda uji dan juga terdapat pisau pemukul untuk mematahkan benda uji. Pendulum terbuat dari baja pelat silinder Ø 230 × 30 mm dengan berat 8 kg.

Busur derajat dan jarum penunjuk Busur derajat berfungsi sebagai alat pengukur atau alat baca dari hasil pengujian. 7. Tempat benda uji dilas menyatu dengan badan alat uji impact [5]. Tempat benda uji Tempat benda uji berfungsi sebagai tempat diletakkannya benda uji yang akan dilakukan pengujian. Jarum penunjuk Busur derajat Gambar 2. Bearing Bearing berfungsi sebagai pengayun poros dan bearing yang digunakan adalah bearing dengan ukuran diameter dalam atau diameter poros 25 mm.11 Bearing 6.5. Gambar 2.12 Busur Derajat Dan Jarum Penunjuk 25 . Bearing ditempatkan pada bagian kanan atas dan kiri atas pada badan alat uji impact dengan cara dibaut [5]. Tempat benda uji ini terbuat dari baja profil U 70 × 40 mm dengan tebal 5 mm. Jarum penunjuk berfungsi untuk menunjukkan angka pada busur derajat yang merupakan hasil dari pengujian. Jarum penunjuk dihubungkan ke poros pengayun dengan dibaut sehingga arah ayunannya sesuai dengan arah ayunan poros pengayun [5].

Gambar 2. Gambar 2.15 Dimensi Alat Uji Impact Tampak Depan 26 .14 Dimensi Alat Uji Impact Tampak Samping Gambar 2. Pisau pemukul Pisau pemukul berfungsi untuk memukul benda uji yang telah dibuat takikan.8. Posisi pisau pada saat akan memukul adalah di belakang takikan benda uji. Bahan pisau pemukul ini harus lebih keras dari benda yang akan diuji dan sudut pisau pemukul adalah 30º [5].13 Pisau Pemukul Berikut ini merupakan dimensi dari alat uji impact yang ditunjukkan dari berbagai tampak.

2176 5.8688 1.768 2.824 48 52.92 6.6332 6.1232 1.496 24 27.68 2.768 Sedangkan sisa usaha (W2) pada setiap sudut ayun dapat diketahui dari data pada tabel berikut ini.1936 8.6432 1.6432 0.232 14.432 11.7744 3.816 81.4768 Energi (W1) (Joule) 0.3824 4. Tabel 2.168 0. Tabel 2.0768 0.184 20.768 1.2 7.4064 1.936 83.9667 4.8 5.667 43.5616 3.5504 7.9667 4.7184 2.688 11.416 68.6332 6.584 39.232 17.332 60.416 72 78.744 31.504 78.1584 3.512 6.5 Besar Energi (W1) Pada Setiap Ayun Besar Sudut (α) 10º 20º 30º 40º 50º 60º 70º 80º 90º 100º 110º 120º 130º 140º Energi (W1) (kg m) 0.292 0.816 84.8816 8.064 17.0768 0.292 0.584 35.1584 3.0384 6.184 24 31.088 27 .176 56.4416 7.332 64.384 64.Besar energi (W1) pada setiap sudut ayun dapat diketahui dari data pada tabel berikut ini.4 2.667 48 56.4 3.432 8.4416 6.2 7.6 Sisa Usaha (W2) Pada Setiap Ayun Besar Sudut (β) 10º 15º 20º 25º 30º 35º 40º 45º 50º 55º 60º 65º 70º 75º 80º 85º 90º 95º 100º 105º 110º 115º 120º 125º 130º 135º 137º Sisa Usaha (W2) (kg m) 0.92 4.4512 0.8 5.256 72 75.8816 8.616 39.3088 Sisa Usaha (W2) (Joule) 0.8256 7.0496 2.7184 2.1232 1.

6. 2. 4. Mengangkat pendulum sejauh 140º dengan cara memutar berlawanan arah jarum jam secara perlahan-lahan.16 Dimensi Benda Uji Gambar 2. yaitu menghitung besarnya usaha (W) dan harga impact (K) [5]. Gambar 2. Melepaskan pendulum untuk mengayun dan mematahkan benda uji. Melihat dan mencatat hasil data yang ditunjukkan oleh jarum penunjuk pada busur derajat.Langkah-Langkah Uji Impact Charpy Adapun langkah-langkah pengujian impact tipe charpy ini adalah sebagai berikut : 1. Melakukan perhitungan dari data pengujian yang telah diperoleh. Penempatan benda uji harus benar-benar berada pada posisi tengah dimana pisau pada pendulum berada sejajar dengan takikan benda tersebut. 5.17 Cara Menempatkan Benda Uji 28 . Meletakkan benda uji di tempat benda uji pada alat uji impact. Berikut ini merupakan gambar dari dimensi benda uji dan cara menempatkan benda uji. 3. Menyetel posisi jarum penunjuk pada 0º.

yaitu : 1. titanium. sulfur. Logam besi (ferro) Logam besi adalah suatu logam paduan yang terdiri dari campuran unsur karbon dengan besi. Bijih logam ditemukan dengan cara penambangan yang terdapat dalam keadaan murni atau bercampur. perak. dan zirkonium. dan terakhir dikeringkan dengan cara dipanggang untuk mengeluarkan uap yang mengandung air [2]. dan barium. kalium. jembatan. dan pesawat terbang [2]. fosfor. bismut. liat. dan platina. dipakai untuk konstruksi mesin. Berikut ini merupakan pembagiannya. : alumunium. Bijih logam yang ditemukan dalam keadaan murni yaitu emas. perak. dipilih yang mengandung unsur logam. Logam ringan 3. Bahan Logam Logam dapat dibagi dalam dua golongan yaitu logam besi (ferro) dan bukan besi (non ferro).Logam Logam adalah unsur kimia yang mempunyai sifat-sifat kuat. silikon. Logam mulia : besi. logam pada umumnya tidak merupakan senyawa logam. dicuci dengan air untuk mengeluarkan kotoran. nikel. natrium. 4. Logam berat 2. titanium. Dalam penggunaan serta pemakaiannya. magnesium. serta kotoran seperti tanah liat. keras. Bijih logam yang ditemukan dengan cara penambangan terlebih dahulu dilakukan proses pendahuluan sebelum diolah dalam dapur pengolahan logam dengan cara dipecah sebesar kepalan tangan. yang menyerupai logam. Untuk menghasilkan suatu logam paduan yang 29 . timah putih. serta mempunyai titik cair tinggi. platina. yaitu : 1. kendaraan. tetapi merupakan paduan. molibden. Selain logam ada yang disebut dengan istilah bukan logam dan unsur metaloid. pasir. dan ada yang bercampur dengan unsur-unsur seperti karbon. Logam dan paduannya merupakan bahan teknik yang penting. dan tanah [2]. dan seng. krom. timah hitam. bangunan. : emas. penghantar listrik dan panas. tembaga. Logam tahan api : wolfram. kalsium.

meja perata. c. Sifat lebih kenyal daripada yang keras. sekrup. Adapun jenis-jenis logam besi antara lain : a. dan dimudakan. kadar karbon 0. Baja karbon sedang Komposisi campuran besi dan karbon. Besi tempa antara lain dapat digunakan untuk membuat rantai jangkar. dapat disepuh keras. Sifat rapuh. f. Kadar karbon sekitar 4%. Besi tuang Komposisinya yaitu campuran besi dan karbon. kait keran. sifat dapat ditempa.6%. badan ragum. dan cincin torak [2].3%. e. Digunakan untuk membuat benda kerja tempa berat. lemah dalam tegangan. Besi tempa Komposisi besi tempa terdiri dari 99% besi murni.1%-0. mempunyai sifat dapat ditempa dan liat. dan keperluan umum dalam pembangunan [2]. Baja karbon tinggi dengan campuran Komposisi baja karbon tinggi ditambah nikel atau kobalt. pipa. kadar karbon 0.7%-1.mempunyai sifat yang berbeda dengan besi dan karbon maka dicampur dengan bermacam-macam logam lainnya. dan tidak dapat dituang. Digunakan untuk membuat mur. Logam besi terdiri dari komposisi kimia yang sederhana antara besi dengan karbon. bagian-bagian mesin bubut. dapat 30 . Digunakan untuk membuat kikir. Digunakan untuk membuat alas mesin. kadar karbon 0. sifatnya rapuh tidak dapat ditempa. stempel. Sifat dapat ditempa. Baja lunak Komposisi campuran besi dan karbon. tap. dan alat mesin bubut [2]. d. gergaji. poros. pahat.4%-0. liat dalam pemadatan. blok silinder. tahan suhu tinggi tanpa kehilangan kekerasan. atau tungsten. khrom. baik untuk dituang. dan landasan kerja pelat [2]. dan rel baja [2]. b. liat.5%. Masuknya unsur kimia ke dalam besi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Baja karbon tinggi Komposisi campuran besi dan karbon.

Timah digunakan sebagai pelapis lembaran baja lunak (pelat timah) dan industri pengawetan [2]. c. Timah (Sn) Warna bening keperak-perakan. Tembaga (Cu) Warna cokelat kemerah-merahan. Timbel (Pb) Warna biru kelabu.disepuh keras. perlu dipahami lebih dahulu berbagai aspek kekuatan bahan terhadap pembebanan. penghantar panas dan listrik yang baik. dan dimudakan. dan kukuh. sifatnya dapat ditempa. Alumunium digunakan untuk membuat peralatan masak. liat. tahan korosi. baterai. bubungan atap. elektronik. air asam. Logam bukan besi (non ferro) Logam bukan besi yaitu logam yang tidak mengandung unsur besi (Fe). Sifat mekanik Untuk memperoleh kualitas bahan yang baik dan sesuai dengan mutu yang disyaratkan sifat mekaniknya. liat. radio penerangan. listrik. Timbel digunakan sebagai bahan pembuat kabel. b. dan pesawat terbang [2]. industri mobil. sifatnya dapat ditempa. dan alat-alat dekorasi [2]. d. sifatnya dapat ditempa. Alumunium (Al) Warna biru putih. usia 31 . baik untuk penghantar panas. mampu dituang. Aspek kekuatan ini harus dikendalikan sedemikian rupa agar dapat memberikan jaminan ketahanan. liat. sangat liat. bobot ringan. 2. Tembaga digunakan untuk membuat suku cadang bagian listrik. Faktor Penentu Kualitas Bahan Adapun beberapa faktor yang dapat menentukan kualitas suatu jenis bahan adalah sebagai berikut : 1. dan bobot sangat berat. Adapun yang termasuk logam bukan besi antara lain : a. dan bahan pengisi [2]. dan tahan korosi. sifatnya dapat ditempa. Digunakan untuk membuat mesin bubut dan alat-alat mesin [2].

Sifat fisik Kondisi fisik bahan berpengaruh besar terhadap kekuatan dan ketahanan ketika bahan tersebut digunakan berdasarkan sifat fisik ini. kita perlu melakukan analisis terhadap bentuk. arah. Cacat dalam dengan metode pengujian yang tepat adalah menggunakan radiografi dan ultrasonik [6]. Nilai kualitas geometris bahan kerja diperoleh dari hasil analisis gaya yang akan diberikan dan sifat mekanik bahan yang berhubungan dengan fungsi bahan tersebut [6]. besarnya gaya. 3. b. lengkung. geser. Cacat luar dengan metode pengujian yang tepat adalah menggunakan die penetrant dan spectromagnetic. 4. Sifat kimia Pada dasarnya. tarik. pukul tarik (impact test). Beberapa jenis cacat bahan berikut metode pengujiannya dapat diuraikan sebagai berikut : a. Untuk itu. 2. bentuk-bentuk pengujian tersebut dimaksudkan untuk merusak (destructive test). dan kelelahan. dan jaminan keamanan selama pemakaian. dalam setiap bahan logam dipastikan memiliki unsur kimia. dan posisi dimana konsentrasi tegangan itu bekerja. sangat besar pengaruhnya terhadap sifat mekanik logam tersebut di samping jenis yang berbeda dengan komposisi tertentu. proses pengujiannya bisa menggunakan pengujian kekerasan. susunan kristal unsur 32 . puntir. Dengan demikian. Kita dapat menganalisis kemungkinan terjadinya cacat sehingga dapat memilih metode pengujian yang tepat. Sifat geometri Sifat ini merupakan bagian dari persyaratan kualiatas bahan yang harus dipenuhi. Unsur kimia logam yang satu dengan logam lainnya mudah bersenyawa dan beroksidasi.penggunaan (nilai teknis) yang layak. Dalam proses pelaksanaannya. Hal ini dilakukan mengingat susunan kristal dari unsur kimia logam. specimen atau benda ujinya harus dipilih dari bagian bahan kerja yang ada sebelum proses pembentukan dilakukan [6]. Karena itu.

tahan aus. puntir. dan kombinasi dari beban tersebut. kekerasan. tekan lentur. Sifat mekanis logam meliputi kekuatan kekenyalan. ataupun suhu di bawah 0º C. Sifat mekanis Sifat mekanis suatu logam adalah kemampuan atau kelakuan logam untuk menahan beban yang diberikan. b.kimia logam tersebut sering pula digunakan untuk memperbaiki sifat mekanik dari logam tersebut [6]. Adapun karakteristik tersebut digolongkan menjadi empat sifat. suhu tinggi. Beban statis dapat berupa beban tarik. yaitu [2] : a. Deformasi ini dapat terjadi secara elastis dan plastis. yaitu perubahan ukuran atau bentuk karena pengaruh beban yang dikenakan padanya. batas penjalaran. Berikut ini merupakan pembagian dari sifat mekanis. Sifat logam pada pembeban dinamis Bahan yang dibebani secara dinamis akan lelah dan patah meskipun dibebani di bawah kekuatan statis. berubah-ubah. keliatan. Beban statis adalah beban yang tetap. beban dinamis dapat berupa beban tiba-tiba. Sedangkan deformasi plastis yaitu suatu perubahan bentuk yang tetap ada meskipun beban yang menyebabkan deformasi ditiadakan [2]. Kelelahan adalah gejala patah dari bahan disebabkan oleh beban yang berubah-ubah. sedangkan beban dinamis adalah beban yang besar dan arahnya berubah menurut waktu. Sifat logam pada pembeban tarik Bila suatu logam dibebani beban tarik. Sementara itu. Kekuatan kelelahan suatu logam adalah tegangan bolak-balik tertentu yang dapat ditahan oleh 33 . dan kekuatan stress rupture. dan beban jalar. baik besar maupun arahnya pada setiap saat. keuletan. Karakteristik Bahan Logam Bahan logam memiliki beberapa karakteristik. maka akan mengalami deformasi. baik beban statis maupun dinamis pada suhu biasa. geser. kegetasan. Deformasi elastis yaitu suatu perubahan yang segera hilang kembali apabila beban ditiadakan. yaitu : 1.

maka pertambahan panjangnya mungkin tidak berhenti sampai ia patah atau mungkin berhenti bergantung pada besarnya beban tarik tersebut [2]. yang sifat tekanannya kira-kira empat kali lebih besar daripada sifat tariknya [2]. Cara pengujian kekerasan terdiri dari tiga macam. f. Sifat ini banyak hubungannya dengan sifat kekuatan. Sebagai contoh. Untuk bahan getas. dan kemampuan dikerjakan dengan mesin (mampu mesin). karena akan terjadi pembengkokan. akibat bahan dikenai beban tibatiba. yaitu goresan. Sifat kekerasan logam Kekerasan adalah ketahanan bahan terhadap deformasi plastis karena pembebanan setempat pada permukaan berupa goresan atau penekanan. Sementara itu. daya tahan aus. d. Bila suatu bahan mengalami pembebanan tarik tertentu dan tetap. Yang 34 . Sifat logam terhadap geser dan puntir Pengujian geser suatu bahan akan sulit dilakukan dengan cara memberi beban berlawanan pada titik yang berlainan (tidak terletak pada suatu garis lurus dan salah satu arah beban). menjatuhkan bola baja. Sifat penekanan Sifat ini hampir sama dengan sifat tarikan. maka bahan umumnya akan mengalami patah getas. Penjalaran Penjalaran adalah pertambahan panjang yang terus-menerus pada beban yang konstan. dan penekanan [2].logam itu sampai banyak balikan tertentu. besi cor kelabu. g. e. besaran sifat tekanannya cenderung lebih tinggi daripada sifat tariknya. Sifat logam terhadap beban tiba-tiba Bila deformasi mempunyai kecepatan regangan yang tinggi. Untuk melihat sifat tersebut dilakukan percobaan pukul. yang dilakukan pada batang uji dan diberi tarikan menurut standar yang telah ditentukan [2]. batas kelelahan adalah tegangan bolak-balik tertinggi yang dapat ditahan oleh logam itu sampai banyak balikan tak terhingga [2]. c.

Logam yang tidak plastis pada suhu tinggi disebut getas panas. 35 . a. Dengan demikian. tetapi mempunyai tahanan redam yang tinggi sehingga untuk memegang perkakas. tegangan geser di permukaan maksimum dan di sumbu nol [2]. besi cor kelabu walaupun memiliki kekuatan dan tahanan kejut yang rendah. Hal ini terjadi karena adanya tahanan dalam. mesin besi cor kelabu tersebut akan memperoleh hasil yang lebih baik karena dapat meredam getaran [2]. Tahanan dalam adalah kemampuan logam untuk meredam beban atau getaran tiba-tiba. Sifat fisik Sifat fisik adalah sifat bahan karena mengalami peristiwa fisika seperti adanya pengaruh panas dan listrik. Bila gejala ini terjadi pada suhu kamar biasa disebut getas dingin [2]. Sifat plastis Sifat plastis adalah kemampuan suatu logam atau bahan dalam keadaan padat untuk dapat diubah bentuk yang tetap tanpa pecah. 2. Sifat itu penting untuk dipertimbangkan dalam pengolahan bentuk suatu logam. i. Sifat karena pengaruh panas antara lain mencair. b. besarnya tegangan geser tidak sama dari permukaan ke pusat. karena penekanan atau tarikan tersebut. dan struktur karena proses pemanasan. Sifat redaman logam Apabila suatu logam ditarik atau ditekan sehingga terjadi deformasi elastis kemudian beban tersebut dihilangkan. Sebagai contoh.lebih praktis adalah memberikan beban puntir pada sumbu suatu bahan yang berbentuk tabung. yaitu mudah retak karena deformasi disebabkan adanya suatu beban pada suhu tersebut. perubahan ukuran. h. Pada pengujian ini. Sifat listrik yang terkenal adalah tahanan dari suatu bahan terhadap aliran listrik atau sebaliknya sebagai daya hantar listrik [2]. Kebanyakan logam pada suhu tinggi mempunyai sifat plastis yang baik dan cenderung bertambah dengan kenaikan suhu. energi yang dibutuhkan untuk mengubah bentuk asal selalu lebih rendah daripada energi untuk deformasi elastis.

Baja yang berkadar C > komposisi eutektoid dinamakan baja hipereutektoid. Kerusakan tersebut berupa gejala korosi dan ketahanan bahan terhadap serangan korosi. 3. Adapun penggolongan baja dibandingkan dengan kadar C dari komposisi eutektoid adalah sebagai berikut : 1. Itulah sebabnya mengapa besi dan baja disebut bahan yang kaya dengan sifat-sifat. Austenit : larutan padat karbon di dalam Fe γ dengan kelarutan maksimal 2.3. mampu cor. Pembahasan dimulai dengan struktur mikro dari besi dan baja. mampu mesin. Berikut ini merupakan istilah-istilah yang terdapat pada diagram besi baja. Bahan tersebut mempunyai berbagai sifat yang paling lunak dan mudah dibuat sampai yang paling keras dan tajam pun untuk pisau pemotong dapat dibuat. Besi dan Baja Besi dan baja paling banyak dipakai sebagai bahan industri yang merupakan sumber sangat besar. Sifat pengerjaan atau teknologis Sifat pengerjaan logam adalah sifat suatu bahan yang timbul dalam proses pengolahannya. yaitu : 1. Hal ini sangat penting dalam praktik [2]. Hampir semua sifat kimia erat hubungannya dengan kerusakan (deterisasi) secara kimia.147° C. Baja yang berkadar C < komposisi eutektoid dinamakan baja hipoeutektoid. dan mampu keras [2]. 2. Sifat kimia Sifat kimia dari suatu bahan mencakup kelarutan bahan tersebut pada larutan basa atau garam. 36 .14% C pada suhu 1. dimana unsur paduan utamanya adalah karbon. Baja yang berkadar C = komposisi eutektoid dinamakan baja eutektoid. atau apa saja dengan bentuk apapun dapat dibuat dengan pengecoran. dan pengoksidasian bahan tersebut. Sifat itu harus diketahui lebih dahulu sebelum pengolahan bahan dilakukan. 4. Dari unsur besi berbagai bentuk struktur logam dapat dibuat. dimana sebagian ditentukan oleh nilai ekonomisnya tetapi yang paling penting karena sifat-sifatnya yang bervariasi. Pengujian yang dilakukan antara lain pengujian mampu las.

Sementit (Fe3C) : ikatan kimia besi karbon (Fe3C) yang terbentuk pada konsentrasi 6. Ledeburit : larutan padat karbon di dalam besi α (fcc) dengan kelarutan maksimal 0. 6. kalau berupa fase metastabil dapat berubah menjadi α’ pada temperatur rendah dengan pengerjaan. Austenit mempunyai sel satuan kubus pusat muka atau face centered cubic (fcc). yang rapat terletak bersebelahan.14% C dan kristal-kristal halus sementit (Fe3C) dengan kadar 6. : campuran mekanis yang homogen antara kristal-kristal halus austenit (γ) dengan kadar 2. Martensit adalah fase larutan padat lewat jenuh dari karbon dalam sel satuan tetragonal pusat badan atau body centered tetragonal (bct).02% C dan kristal-kristal halus sementit (Fe3C) dengan kadar 6. yang menunjukkan titik mulur yang jelas dan menjadi getas pada temperatur rendah. Pearlit (Pt) : campuran mekanis yang homogen antara kristal-kristal halus ferit (α) dengan kadar 0. 5. 7.499° C. yang menunjukkan titik mulur yang jelas tanpa kegetasan pada keadaan dingin. Grafit : kristal karbon dengan elemen kristal berwarna gelap dan bersifat stabil (Pt + Ld + Fe3C) [3]. : larutan padat karbon di dalam besi δ dengan kelarutan maksimal 0. serta terjadi pada suhu 727° C (suhu eutektoid).02% C pada suhu 727° C (titik eutektoid). semakin besar pula perbandingan satuan sumbu 37 .687% C.1% C pada suhu 1.687% C.147° C (suhu eltektikuin). Besi δ (delta) 4. Hal ini terjadi bukan dari larutan cair tetapi dari larutan pada austenit (ke kiri pearlit berkurang).687% C melalui reaksi 3 Fe + C → Fe3C. Akan tetapi. yang rapat terletak bersebelahan.2. Ferit mempunyai sel satuan kubus pusat badan atau body centered tetragonal (bcc). Fase-fase tersebut memiliki sifat-sifat khas. Besi α (ferit) 3. Semakin tinggi derajat kelewatjenuhan karbon. yang disebut sebagai karbid besi berwarna terang/keputihputihan. serta terjadi pada suhu tetap 1.

Kemampukerasan sewaktu dicelup dalam minyak atau udara dan dengan demikian kemungkinan retak atau distrosinya kurang. klasifikasi baja mengikuti SAE (Society of Automotive Engineers) dan AISI (American Iron and Steel Institute). dan karbon yang diserap. Kadar karbon bergantung pada jenis besi kasar. Karbon merupakan salah satu unsur terpenting karena dapat meningkatkan kekerasan dan kekuatan baja. Berdasarkan unsur paduannya. yang berarti bahwa sifat fisisnya tidak banyak berubah. Pada umumnya baja paduan memiliki : 1. yang berasal dari kokas selama proses peleburan. lembaran. pencanaian. Morfologi grafit bergantung pada laju pendinginan dan kadar silikon. besi bekas. Grafit meningkatkan kemampuan permesinan. Kadar silikon yang tinggi memperbesar kemungkinan pembentukan grafit. 3. atau penempaan. bergantung pula pada bentuk karbon tersebut. bentuk pelat. karbon. pipa. Baja merupakan logam yang paling banyak digunakan dalam teknik. Baja merupakan paduan yang terdiri dari besi. Baja paduan yang meliputi ± 15% dari seluruh produksi baja mempunyai kegunaan khusus karena sifatnya yang unggul dibandingkan dengan baja karbon. dan sebagainya. Karbon Besi yang mengandung > 2% karbon termasuk kelompok besi cor. serta semakin getas martensit tersebut. dan unsur lainnya. Kekerasan dan kekuatan besi meningkat dengan 38 . 2. batang. Sedangkan bainit mempunyai sifat-sifat antara martensit dengan ferit [7]. Berikut ini merupakan pengaruh unsur kimia terhadap besi cor. Tahan terhadap korosi dan keausan yang bergantung pada jenis paduannya. yang terdiri dari : 1.sel satuannya dan semakin keras. 4. Tahan terhadap perubahan suhu. Memiliki kelebihan dalam sifat-sifat metalurgi seperti butir yang halus [1]. 5. Sifat fisis logam selain bergantung pada jumlah kadar karbon. Keuletan yang tinggi tanpa pengurangan kekuatan tarik. besi cor kelabu mengandung 3-4% karbon. Baja dapat dibentuk melalui pengecoran. profil.

dalam jumlah di atas 0. Bila kadar ditingkatkan.03%. Kadar silikon menentukan berapa bagian dari karbon terikat dengan besi dan berapa bagian berbentuk grafit atau karbon bebas setelah tercapai keadaan seimbang. oleh karena itu selama proses peleburan selalu diusahakan untuk mengikat belerang tersebut. 5. kekuatan. Mangan merupakan unsur deoksidasi. Ikatan ini rendah bobot jenisnya dan dapat larut dalam terak. 2.5% mangan bereaksi dengan belerang membentuk sulfida mangan. pemurni sekaligus meningkatkan fluiditas. Mangan Dalam jumlah rendah tidak seberapa pengaruhnya. Fosfor Fosfor dapat meningkatkan fluiditas logam cair dan menurunkan titik cair. kemungkinan terbentuknya ikatan kompleks dengan karbon meningkat dan kekerasan besi cor akan naik.25% akan meningkatkan kekerasan [1]. kadar belerang meningkat sebesar 0. Mangan yang hilang selama proses peleburan berkisar antara 10 sampai 20% [1]. Belerang yang menyebabkan terjadinya lubanglubang (blow holes) membentuk ikatan dengan karbon dan menurunkan fluiditas sehingga mengurangi kemampuan tuang besi cor. Silikon Silikon sampai kadar 3. dan kekerasan besi. Belerang Belerang sangat merugikan. Oleh karena itu. 4. yang berasal dari bahan bakar [1].bertambahnya kadar karbon.25% bersifat menurunkan kekerasan besi. antara lain dengan menambahkan ferro mangan. biasa digunakan fosfor sampai 1% dalam benda cor kecil dan benda cor yang mempunyai bagian-bagian yang tipis. Setiap kali kita melebur besi cor. Sifat besi cor tersebut dapat diubah melalui perlakuan panas [1]. Benda cor yang besar tidak memerlukan kadar fosfor yang tinggi karena tidak diperlukan 39 . 3. Kelebihan silikon membentuk ikatan yang keras dengan besi sehingga dapat dikatakan bahwa silikon di atas 3.

40 . rapuh. besi dengan 0.5% fosfor akan mengandung sekitar 5% steadit [1]. dan mempunyai titik cair yang lebih rendah. Unsur fosfor sulit beroksidasi. yaitu campuran besi dengan fosfida. Untuk mengendalikan kadar fosfor.fluiditas tambahan. Sewaktu peleburan umumnya terjadi penungkatan kadar fosfor sampai 0. Steadit mengandung fosfor sebanyak 10%. Fosfor juga membentuk ikatan yang dikenal dengan nama steadit. Dengan demikian. Ikatan ini keras.02%. perlu dipilih grade besi bekas yang tepat. kecuali bila dipenuhi beberapa persyaratan tertentu.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful