a. Pengelolaan syok hipovolemik. 1) Pemantauan.

Parameter di bawah ini harus dipantau selama stabilisasi dan pengobatan: denyut jantung, frekuensi pernapasan, tekanan darah, tekanan vena central (CVP) dan pengeluaran urin.pengeluaran urin yang kurang dari 30 ml/jam (atau 0,5 ml/kg/jam) menunjukkan perfusi ginjal yang tidak adekuat. 2) Penatalaksanaan pernapasan. Pasien harus diberikan aliran oksigen yang tinggi melalui masker atau kanula. Jalan napas yang bersih harus dipertahankan dengan posisi kepala dan mandibula yang tepat dan aliran pengisapan darah dan secret yang sempurna. Penentuan gas darah arterial harus dilakukan untuk mengamati ventilasi dan oksigenasi. Jika ditemukan kelainan secara klinis atau laboratorium gas darah, pasien harus diintubasi dan diventilasi dan ventilator yang volumenya terukur. Volume tidal harus diatur sebesar 12 sampai 15 ml/kg. frekuensi pernapasan sebesar 12-16 per menit. Oksigen harus diberikan untuk mempertahankan PO2 sekitar 100 mmHg. Jika pasien “melawan” terhadap ventilator, maka obat sedative atau pelumpuh otot harus diberikan. Jika cara ini gagal untuk menghasilkan oksigenase yang adekuat, atau jika fungsi paru-paru menurun harus ditambahkan 3-10 cm tekanan ekspirasi akhir positif. 3) Pemberian cairan.  Penggantian cairan harus dimulai dengan memasukkan larutan Ringer Laktat atau larutan garam fisiologis secara secara cepat. Kecepatan pemberian dan jumlah aliran intravena yang diperlukan bervariasi tergantung beratnya syok. Umumnya paling sedikit 1 sampai 2 liter larutan Ringer Laktat harus diberikan dalam 45-60 menit pertama atau bias lebih cepat lagi apabila dibutuhkan. Jika hipotensi bias diperbaiki dan tekanan darah tetap stabil, ini merupakan indikasi bahwa kehilangan darah sudah minimal. Jika hipotensi tetap berlangsung, harus dilakukan transfusi darah pada pasien-pasien ini secepat mungkin, dan kecepatan serta jumlah yang diberikan disesuaikan dengan respons dari parameter yang dipantau. o Darah yang belum dilakukan reaksi silang atau yang bergolongan O-negatif dapat diberikan terlebih dahulu, apabila syok menetap

– Ini hanya berlaku pada kompartemen abdomen. o Hipotermi juga merupakan konsekuensi dari transfusi massif. o Segera setelah hasil rekasi silang diperoleh.pakaian MAST ini dikenakan pada kedua tungkai atau abdomen dari pasien. Hitung jumlah trombosit dan status koagulasi harus dipantau terus menerus pada pasien yang mendapat terapi transfusi massif. Darah yang akan diberikan harus dihangatkan dengan koil penghangat dan suhu tubuh pasien dipantau. Darah yang disimpan tidak mengandung trombosit hidup dan factor pembekuan V dan VI. o Pemakaian yang lama (24-48 jan) pada tungkai yang cedera dapat menyebabkan timbulnya sindrom kompartemen pada fascia. Hal yang perlu diperhatikan: o Pakaian MAST dapat meningkatkan kejadian perdarahan karena cedera diafragmatik. o Koagulopati delusional dapat timbul pada pasien yang mendapat tranfusi darah yang massif. jenis golongan darah yang sesuai harus diberikan. o Kehamilan.dan tidak ada cukup waktu (kurang lebih 45 menit) untuk menunggu hasil reaksi siolang selesai dikerjakan. Kontraindikasi untuk memakainya: o Edema paru yang bersamaan. dan masing-masing ketiga kompartemen individual ini (kedua tungkai dan abdomen) dapat dikembungkan.  Celana militer anti syok (MAST = Military Antishock Trousers) –Tekanan berlawanan eksternal dengan pakaian MAST bermanfaat sebagai terapi tambahan pada terapi penggantian cairan. Pakaian ini meredistribusikan darah dari ekstremitas bawah ke sirkulasi sentral dan mengurangi darah arteri ke tungkai dengan memperkecil diameter pembuluh darah. . Satu unit plasma segar beku harus diberikan untuk setiap 5 unit whole blood yang diberikan.

Pemakaian vasopresor pada penanganan syok hipovolemik pada akhir-akhir ini kurang disukai. Hal ini terutama bermanfaat bagi pasien yang lebih tua dengan penyakit koroner atau penyakit pembuluh darah otak yang berat. Zat yang digunakan adalah norepineprin 4 sampai 8 mg yang dilarutkan dalam 500 ml 5% dekstrosa dalam air (D5W). a. atau metaraminol. cairan serebrospinal sesuai indikasi.4) Vasopresor. Vasopresor dapat diberikan sebagai tindakan sementara untuk meningkatkan tekanan darah sampai didapatkannya cairan pengganti yang adekuat. Setelah kultur darah dan kultur factor-faktor lain yang berkaitan. Pengelolaan syok septic 1) Penggantian cairan harus dimulai untuk menggantikan cairan yang keluar dari pembuluh darah. luka. 5 sampai 10 mg yang dilarutkan dalam 500 ml D5W. Diberikan Dopamin 2-20 µg/kg/menit. yang bersifat vasokonstriktor predominan dengan efek yang minimal pada jantung. obat-obat vasoaktif diindikasikan. Dosis harus disesuaikan dengan tekanan darah. Hal ini karena cepatnya mula penyakit dan lamanya lamanya gejala anafilaksis berhubungan erat dengan kematian. 3) Jika pemberian cairan pengganti gagal mengatasi hipotensi. pemakaian antibiotika yang tepat harus dimulai. tetapi vasopresor mungkin bermanfaat pada beberapa keadaan. Harus dilakukan dilakukan pengawasan terhadap tanda-tanda klinis gagaljantung kongestif dan pemantauan tekanan vena sentral. Dengan demikian sangat masuk akal bila epinefrin 1:1000 yang diberikan adalah 0. TERAPI syok anafilatik Tanpa memandang beratnya gejala anafilaksis. sekali diagnosis sudah ditegakkan pemberian epinefrin tidak boleh ditunda-tunda. vasopresor tidak boleh digunakan.01 ml/kgBB sampai mencapai . seperti urin. sputum. Pada kebanyakan kasus. 2) Karena organism penyebab biasanya jarang diketahui pada permulaan evaluasi maka spectrum antibiotika yang dipakai harus ditentukan secara empiris. Alasannya adalah bahwa hal ini akan lebih mengurangi perfusi jaringan.

atau sengatan serangga. penisilin. Tatalaksana Syok kardiogenik meliputi 3 langkah 1. Syok mempunyai ciri penyakit 2 pembuluh darah yang tinggi. 1. sistem kardiovaskular yang juga harus berfungsi baik sehingga perfusi jaringan memadai. Pasien di rumah sakit komunitas harus segera dikirim ke fasilitas pelayanan tersier yang berpengalaman. Meskipun prioritas pengobatan ditujukan pada sistem pernafasan dan kardiovaskular. 2. Tingkat disfungsi ventrikel dan .1-0. Mempertahankan tekanan arteri rata-rata yang adekuat untuk mencegah sekuele neurologi dan ginjal adalah vital. Bila mungkin dipasang tourniket proksimal dari tempat suntikan dan kendurkan setiap 10 menit. Tourniket tersebut dapat dilepas bila keadaan sudah terkendali.3 ml dibekas tempat suntikan untuk mengurangi absorpsi alergen tadi.maksimal 0. Bila pencetusnya adalah alergen seperti pada suntikan imunoterapi. Selanjutnya dua hal pentingyang harus segera diperhatikan dalam memberikan terapi pada pasien anafilaksis yaitu mengusahakan sistem pernafasan yang lancar. segera diberikan suntikan infiltrasi epinefrin 1:1000 0. suntikan dapat diberikan secara intramuskulardan bahkan kadang-kadang dosis epinefrin dapat dinaikan sampai 0. tidak berarti pada organ lain tidak perludiperhatikan atau diobati. Prioritas ini berdasarkan kenyataan bahwa kematian pada anafilaksis terutama disebabkan karena tersumbatnya saluran nafas atau syok anafilaktik. sehingga oksigen berjalan baik.5 ml sepanjang pasien tidak mengidap kelainan jantung.3 ml subkutan dan dapat diberikan setiap 15-20 menit sampai 3-4 kali seandainya gejala penyakit bertambah buruk atau dari awalnya kondisi penyakitnya sudah berat. penyakit left main dan penuruna fungsi ventrikel kiri. Hipotensi di atas segera dengan IABP. Menentukan secara dini anatomi koroner Hal ini merupakan langkah penting dalam tatalaksana syok kardiogenik yang berasal dari kegagalam pompa (Pump failure) iskemik yang predominan. Tindakan resusitasi segera Tujuannya adalah mencegah kerusakan organ sewaku pasien dibawa untuk terapi definitif.

infark miokard sebelumnya atau kardiomiopati. Penatalaksanaan syok neurogenik/spinal Penatalaksanaannya berupa pemberian cairan yang cukup untuk mengisi ruangan vena dan vasopresor seperti neosineprin untuk meningkatkan tonus arteri. . Melakukan revaskularisasi dini Setelah menentukan anatomi koroner. Laju mortalitas di rumah sakit dengan CABG pada penelitian SHOCK dan registry adalah sama dengan outcome dengan PCI. walaupun lebih banyak penyakit arteri koroner berat dan diabetes yaitu dua kali pada pasien yang mengalami CABG. harus diikuti dengan pemilihan modalitas terapi secepatnya. underfeeling ventrikel kiri. 3. bradiaritmia. Trial SHOCK merekomendasikan CABG emergency pada pasien left main atau penyakit 3 pembuluh besar. Tidak ada trial acak yang membandingkan PCI dengan CABG pada syok kardiogenik.instabilitas hemodinamik mempunyai korelasi dengan anatomi koroner. Suatu lesi circumflex atau lesi koroner kanan jarang mempunyai manifestasi syok pada keadaaan tanpa infar ventrikel kanan. a.