P. 1
94107621-makalah-taqwa

94107621-makalah-taqwa

|Views: 46|Likes:
Published by Ahmad Ifan

More info:

Published by: Ahmad Ifan on Mar 18, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/08/2013

pdf

text

original

1

BAB 1. PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang
Taqwa secara bahasa berarti penjagaan/ perlindunganyang membentengi
manusia dari hal-hal yang menakutkan danmengkhawatirkan. Oleh karena itu,
orang yang bertaqwa adalah orangyang takut kepada Allah berdasarkan kesadaran
dengan mengerjakanperintah-Nya dan tidak melanggar larangan-Nya kerena takut
terjerumus ke dalam perbuatan dosa.
Orang yang bertaqwa adalah manusia yang terpilih, manusia yang paling
mulida disisi Allah SWT, bukan Prof., bukan pula Dr., bukan Magister, bukan
presiden, gubenur, para menteri, akan tetapi taqwa adalah prestise yang paling
mulia disisi Allah SWT. Taqwa itu mengandung makna adalah hati-hati atau
melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan Allah SWT, orang
yang bertaqwa berarti orang yang berada dalam fitrahnya, dipimpin oleh petunjuk
atau hidayah Allah SWT dan hati nurani dikontrol oleh akal yang sehat dan
implementasinya adalah berupa akhlakul karimah karena akhlak merupakan buah
dari iman dan ibadah kepada Allah SWT.
Jika dibuat perumpamaan, hidup bertaqwa di dunia ibarat berjalan di
tengah hutan belantara. Seseorang akan berjalan di dalam hutan itu dengan sangat
hati-hati. Dia senantiasa mengamati lobang di depannya, supaya tidak terperosok
didalamnya, sangat hati-hati terhadap duri, supaya tidak melukai kulitnya, dan
waspada terhadap binatang buas, supaya tidak menerkamnya. Oleh karena itu,
amat sangat wajar, jika al-Qur‟an memberikan arahan, bahwa sebaik-baik bekal
adalah taqwa.
Oleh karena itu, dalam makalah ini akan dibahas beberapa hal mengenai
taqwa, yaitu tentang pengertian taqwa, ciri-ciri orang bertaqwa, dan upaya
mengembangkannya.



2

1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa pengertian dari taqwa?
1.2.2 Bagaimana ciri-ciri orang yang bertaqwa?
1.2.3 Bagaimana upaya yang ditempuh untuk mengembangkan taqwa?
1.2.4 Bagaimana implementasi taqwa dalam kehidupan sehari-hari?

1.3 Tujuan
1.3.1 Memenuhi tugas matakuliah PAI
1.3.2 Mendefinisikan pengertian taqwa.
1.3.3 Mengetahui ciri-ciri orang yang bertaqwa.
1.3.4 Mengetahui bagaimana upaya yang ditempuh untuk mengembangkan
taqwa
1.3.5 Mengetahui tentang implementasi taqwa dalam kehidupan sehari-hari


















3



BAB 2. PEMBAHASAN


2.1 Pengertian Taqwa
Kata “Taqwa” berasal dari kata “Wiqoyah” jika dikatakan waqoo asy
Syai‟i, waqyan, wiqoyatan dan waaqiyatan berarti Shoonahu atau menjaganya.
Ibnu Manzhur mengatakan bahwa huruf “Ta” pada kata “Taqwa” merupakan
badal (pengganti) dari huruf “Waw” sedangkan huruf “Waw” merupakan badal
(pengganti) dari huruf “Ya”. Didalam al Qur‟an disebutkan :

Maknanya adalah balasan ketaqwaan mereka. Ada juga yang mengatakan
maknanya adalah Allah telah menganugerahkan kepada mereka ketaqwaan. (Lisan
al Arab 15/ 401) Sementara itu ar Raghib al Asfahani mengatakan bahwa wiqoyah
asy Syai‟i adalah menjaga sesuatu dari segala yang bisa menyakiti atau
mencelakakannya. Firman Allah swt :

Artinya : “Maka Allah memelihara mereka.” (QS. Al Insan : 11)

Artinya : “Dan tak ada bagi mereka seorang pelindungpun dari (azab)
Allah.” (QS. Al Ahzab : 34)

Artinya : “Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At
Tharim : 6)
Kemudian ar Raghib mengatakan bahwa taqwa didalam definisi syariat
bermakna menjaga diri terhadap hal-hal yang mengandung dosa, yaitu dengan
meninggalkan apa-apa yang diharamkan dan hal itu disempurnakan dengan
meninggalkan sebagaian yang mubah (dibolehkan) sebagaimana diriwayatkan,
“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram juga jelas. Dan barangsiapa
4

yang menggembalakan (kambing) di sekitar daerah larangan maka dia bisa
terjatuh didalamnya.”
Firman Allah swt :

)

35)
Artinya : “Maka Barangsiapa yang bertakwa dan mengadakan perbaikan,
tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih
hati.” (QS. Al A‟raf : 35)—(Mufrodat Ghaarib al Qur‟an 1/531)
Dan jika kita merujuk kepada setiap kamus bahasa arab tentang kata
“Taqwa” maka ia kembali kepada kata “Waqo, Wiqoyatan” yang berarti menjaga
dan memelihara diri dari sesuatu yang ditakutinya.
Dan berbagai definisi para ulama tentang taqwa berada di seputar kata
“takut” yaitu suatu perasaan (emosi) yang mendorong seseorang untuk melakukan
pemeliharaan diri dari sesuatu yang bisa membahayakan atau menyakitinya.
Diantara pengertian taqwa yang diberikan para ulama—selain yang diungkapkan
ar Raghib diatas—adalah :
Imam Ali bin Abi Thalib berkata,”Taqwa adalah takut kepada Yang Maha
Perkasa, mengamalkan al Qur‟an, qanaah dengan yang sedikit dan
mempersiapkan hari perpindahan (dari dunia ke alam akherat).”
Sedangkan Ibnu Rajab berkata,”.. Taqwa seorang hamba kepada Allah adalah
menjadikan antara dirinya dengan apa-apa ditakutinya dari Allah swt, seperti
murka-Nya, kemarahan-Nya, siksa-Nya sebuah pemeliharaan yang melindunginya
dari itu semua yaitu dengan mengerjakan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan.”
Thalq bin Habib mengatakan,”Taqwa adalah beramal taat kepada Allah diatas nur
dari Allah dengan mengharapkan pahala Allah serta meninggalkan maksiat
terhadap Allah diatas nur dari Allah dengan perasaan takut terhadap adzab Allah
(Eramuslim, 2011)
Makna Taqwa Para ulama telah menjelaskan apa yang dimaksud dengan
taqwa, diantaranya:
 Imam ar-Raghib al-Ashfahani mendefinisikan “Taqwa yaitu menjaga jiwa
dari perbuatan yang membuatnya berdosa dan itu dengan meninggalkan
5

apa yang dilarang menjadi sempurna dengan meninggalkan sebagian yang
dihalalkan”.
 Imam an-Nawawi mendefinisikan taqwa dengan “menaati perintah dan
larangan-Nya.” Maksudnya menjaga diri dari kemurkaan dan azab Allah.
 Imam al-Jurjani “Taqwa yaitu menjaga diri dari pekerjaan yang
mengakibatkan siksa baik dengan melakukan perbuatan atau
meninggalkannya.” (Komarudin, 2010)
Karena itu siapa yang tidak menjaga dirinya dari perbuatan dosa berarti
dia bukanlah orang bertaqwa. Maka orang yang melihat dengan kedua matanya
apa yang diharamkan Allah atau mendengarkan dengan kedua telinganya apa
yang dimurkai Allah atau mengambil dengan kedua tangannya apa yang tidak
diridhai Allah atau berjalan ke tempat yang dikutuk oleh Allah berarti tidak
menjaga dirinya dari dosa. Jadi orang yang membangkang perintah Allah serta
melakukan apa yang dilarang-Nya dia bukanlah termasuk orang-orang yang
bertaqwa.
Taqwa merupakan kumpulan seluruh kebaikan, dan hakekatnya adalah
“bahwa seseorang melindungi dirinya dari hukuman Tuhan dengan kepatuhan dan
ketundukan kepada-Nya. Asal usul taqwa adalah menjaga diri dari syirik,
kejahatan dan dosa, dan dari hal-hal yang syubhat, yaitu yang diragukan tentang
halal dan haramnya.
Taqwa ini juga mengandung arti bahwa “Hendaklah Allah tidak melihat
kamu berada dalam larangan-larangannya dan tidak kehilangan kamu didalam
perintah-perintahnya. Mencegah diri dari azab Allah dengan berbuat amal shaleh
dan takut kepada-Nya dikala sepi atau terang-terangan.

2.2 Ciri-ciri Orang Bertaqwa
Adapun ciri-ciri orang yang bertaqwa diantaranya :
1. Menafkahkan sebagian rizki yang diberikan Allah SWT baik dalam
keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit banyak atau sedikit.
¯ W-EONNjOEc4Ò _OÞ¯)³ ±E4Og¼^¯4`
}g)` ¯ª¬:)Þ·O ·OE4E_4Ò E_¬¯¯O4N
6

÷ª4OE©OO¯- O·¯O·-4Ò
;ªO³gNq¡ 4×-´³+-÷©·Ug¯ ^¯@@÷
4ׯg~-.- 4pO¬³g¼LNC O)×
g7.-·O-O¯- g7.-·O-ׯ-4Ò
4×-g©g¬E:^¯-4Ò E^^O4¯^¯-
4×-g·E¬^¯-4Ò ^}4N +EE4¯- ¯
+.-4Ò OUg47© ¬--gL´O¯·÷©^¯-
^¯@j÷
: Artinya
133. dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada
surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-
orang yang bertakwa, 134. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan
(hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang
menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai
orang-orang yang berbuat kebajikan.

Kita rela memberikan harta kita kepada saudara kita yang sangat
membutuhkan karena Allah, dengan tidak mengharapkan balasan dari
orang lain, yang kita berikan barang atau harta yang kita berikan itu
mengandung nilai manfaat bagi yang diberi, berinfaq diwaktu lapang atau
sempit memberikan peluang yang kaya dengan kekayaanya yang punya
ilmu dengan ilmunya, yang miskin dengan tenaganya, semuanya dalam
rangka mencari Ridha Allah.
2. Orang yang menahan amarahnya.
Amarah merupakan keadaan yang sering dimanfaatkan syaitan
untuk menjerumuskan manusia. Oleh karena itu dalam keadaan marah kita
dianjurkan untuk tidak memmutuskan suatu permasalahan. Oleh karena itu
Orang yang bertaqwa adalah orang yang mampu menahan amarahnya
sebagimana telah dijelaskan dalam surat Ali‟imran ayat 134 pada poin
sebelumnya.

7

3. Walafina‟anin-nas “Pemaaf kepada sesama manusia“.
Maaf memaaf merupakan salah satu sifat terpuji dan orang yang pertama
kali memaafkan kesalahan orang lain adalah menusia yang paling baik .
Lawan dari pemaaf adalah pendendam. Bisakab kita bersikap pemaaf
kepada saudara kita yang telah menyakiti kita ? jangan sampai saudara kita
minta maaf tetapi kita mengatakan tiada maaf bagimu.
4. “Almuhsinin“ orang berbuat kebaikan kepada orang lain,
kepada orang tua, karib kerabat, handai tolan, sesama muslim. Artinya kita
memberi manfaat kepada orang lain, karena sebaik-baik manusia adalah
orang yang banyak member manfaat kepada orang lain. “ Khair al-naas an
fau‟uhum li al-naas” sebaik-baik manusia adalah orang yang banyak
memberi manfaat kepada orang lain.
5. Segera Bangkit dan Bertaubat
Orang bertaqwa mungkin saja dalam rentang kehidupan pernah tergelincir
ke lembah dosa dan kemaksiatan. Namun begitu tepeleset melakukan dosa
yang menjijikan kita segera bangkit memohon ampun dan beristighfar ke
pada Tuhan. Jadi, sangat berbeda tajam antara orang bertaqwa dengan
orang yang tidak bertaqwa. Orang yang tidak bertaqwa, yang tidak
mendapat hidayah atau bimbingan Tuhan, biasanya, cenderung mencandu
dalam lembah dosa dan kemaksiatan. Sebagai contoh; orang yang sudah
kecanduan judi, tidak mudah dipisahkan dari tarikan judi yang semakin
mendarah-daging. Kadang kala penjudi rela jatuh pailit, kalau perlu, ludes
seluruh harta serta rumahnya yang luar biasa, bahkan tanpa menyesal,
sekalipun terbenam dalam perangkap judi yang telah menghancurkan
tatanan kehidupan.
Atau orang yang hidup dari “menternakan” uang, lewat riba yang berlipat
ganda. Meskipun “bekerja” sebagai lintah darat sama sekali tidak
terhormat, bahkan dikutuk oleh masyarakat, orang yang sudah menikmati
dunia riba dan perlintah-daratan, tidak akan mudah meninggalkan
kebiasaan, yang telah dijadikan mata pencaharian.
8

Atau orang yang mengumbar kebebasan seksual, yang diistilahkan zaman
sekarang sebagai "womanizer". Orang semacam ini juga tidak akan pernah
puas dengan berbagai eksprimen untuk memenuhi nafsu syahwat yang
serakah. Tanpa sinar terang dari ALLAH, sangat sulit, untuk dapat
membebaskan diri dari perangkap syahwat, yang tiada bertepi.
Di sinilah, betapa al-Quran sangat tepat menggambarkan ciri-ciri sekaligus
watak kita sebagai orang yang bertaqwa. Yaitu bila tergelincir ke jeratan
dosa, kita insya ALLAH akan segera melepaskan diri dan kembali kepada
petunjuk Ilahi. Dan yang paling penting adalah segera melakukan
pertobatan untuk tidak mengulangi kemaksiatan yang telah terlanjur
dilakukan
2.3 Upaya Mengembangakan Taqwa
Og¬³Ò^4C ¬-¯g~-.-
W-ONL4`-47 W-O¬³4>- -.-
¯OO¬L4^¯4Ò /·^¼4^ E` ;e4`O³·~
l³4¯g¯ W W-O¬³E>-4Ò -.- _
Ep)³ -.- lOO)lE= E©)
4pO¬UE©u¬·> ^¯g÷
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap
diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan
bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan. (Q.S. Al Hasyr : 18)
Membangun hari esok yang baik, sesuai dengan ayat (wahyu Allah SWT)
di atas dimulai dengan perintah bertaqwa kepada Allah dan di akhiri dengan
perintah yang sama. Ini mengisyaratkan bahwa landasan berfikir, serta tempat
bertolak untuk mempersiapkan hari esok haruslah dengan taqwa. Semestinya
9

orang Mukmin punya langkah antisipatif terhadap kemungkinan yang dapat
terjadi esok disebabkan kelalaian hari ini. Seorang mukmin sudah dapat
memprediksi dan mempersiapkan hari esok yang lebih baik, dinamis, lebih
mapan, lebih produktif dari pada hari ini.
Hari esok mesti dirancang harus lebih baik dari hari ini, dengan
meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, dengan
melaksanakan lima “M ” ; yaitu Mu‟ahadah, Mujahadah, Muraqabah, Muhasabah,
dan Mu‟aqabah.
1. Mu‟ahadah
Mu‟ahadah adalah mengingat perjanjian dengan Allah SWT. Sebelum
manusia lahir ke dunia, masih berada pada alam gaib, yaitu di alam arwah, Allah
telah membuat “kontrak” tauhid dengan ruh.
Kontrak tauhid ini terjadi ketika manusia masih dalam keadaan ruh belum
berupa materi (badan jasmani). Karena itu, logis sekali jika manusia tidak pernah
merasa membuat kontrak tauhid tersebut.
Mu‟ahadah konkritnya diikrarkan oleh manusia mukmin kepada Allah
setelah kelahirannya ke dunia, berupa ikrar janji kepada Allah. Wujudnya
terefleksi minimal 17 kali dalam sehari dan semalam, bagi yang menunaikan
shalat wajib, sebagaimana tertera di dalam surat Al Fatihah ayat 5 yang berbunyi:
“Iyyaka na‟budu wa iyyaka nasta‟in”. Artinya, engkau semata wahai Allah yang
kami sembah, dan engkau semata pula tempat kami menyandarkan permohonan
dan permintaan pertolongan.
Ikrar janji ini mengandung ketinggian dan kemantapan aqidah. Mengakui
tidak ada lain yang berhak disembah dan dimintai pertolongan, kecuali hanya
Allah semata.
10

Tidak ada satupun bentuk ibadah dan isti‟anah (Permintaan Pertolongan) yang
boleh dialamatkan kepada selain Allah SWT. Mu‟ahadah yang lain adalah ikrar
manusia ketika mengucapkan kalimat “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup
dan matiku hanya kuperuntukkan (ku-abdikan) bagi Allah SWT, Tuhan semesta
alam.”

2. Mujahadah
Mujahadah berarti bersungguh hati melaksanakan ibadah dan teguh
berkarya amal shaleh, sesuai dengan apa yang telah diperintahkan Allah SWT
yang sekaligus menjadi amanat serta tujuan diciptakannya manusia.
Dengan beribadah, manusia menjadikan dirinya „abdun (hamba) yang
dituntut berbakti dan mengabdi kepada Ma‟bud (Allah Maha Menjadikan) sebagai
konsekuensi manusia sebagai hamba wajib berbakti (beribadah).
Mujahadah adalah sarana menunjukkan ketaatan seorang hamba kepada
Allah, sebagai wujud keimanan dan ketaqwaan kepada-Nya. Di antara perintah
Allah SWT kepada manusia adalah untuk selalu berdedikasi dan berkarya secara
optimal.
Orang-orang yang selalu bermujahadah merealisasikan keimanannya
dengan beribadah dan beramal shaleh dijanjikan akan mendapatkan petunjuk jalan
kebenaran untuk menuju (ridha) Allah SWT hidayah dan rusyda yang dijanjikan
Allah diberikan kepada yang terus bermujahadah dengan istiqamah. Kecerdasan
dan kearifan akan memandu dengan selalu ingat kepada Allah SWT, tidak
terpukau oleh bujuk rayu hawa nafsu dan syetan yang terus menggoda.
Situasi batin dari orang-orang yang terus musyahadah (menyaksikan)
keagungan Ilahi amat tenang. Sehingga tak ada kewajiban yang diperintah
dilalaikan dan tidak ada larangan Allah yang dilanggar. Jiwa yang memiliki
11

rusyda terus hadir dengan khusyu‟. Inilah sebenarnya yang disebut mujahidin „ala
nafsini wa jawarihihi, yaitu orang yang selalu bersungguh dengan nuraninya dan
gerakannya.


3. Muraqabah
Muraqabah artinya merasa selalu diawasi oleh Allah SWT sehingga
dengan kesadaran ini mendorong manusia senantiasa rajin melaksanakan perintah
dan menjauhi larangan-Nya. Sesungguhnya manusia hakikinya selalu berhasrat
dan ingin kepada kebaikan dan menjunjung nilai kejujuran dan keadilan,
meskipun tidak ada orang yang melihatnya.
Kehati-hatian (mawas diri) adalah kesadaran. Kesadaran ini makin
terpelihara dalam diri seseorang hamba jika meyakini bahwa Allah SWT
senantiasa melihat dirinya. Dalam setiap keadaan seorang hamba tidak akan
pernah terlepas dari ujian yang harus disikapinya dengan kesabaran, serta nikmat
yang harus disyukuri. Muraqabah adalah tidak berlepas diri dari kewajiban yang
difardhukan Allah SWT yang mesti dilaksanakan, dan larangan yang wajib
dihindari.
Muraqabah dapat membentuk mental dan kepribadian seseorang sehingga ia
menjadi manusia yang jujur.
Kejujuran dan keikhlasan adalah dua hal yang harus direalisasikan dalam
hidup. Karena akan bermanfaat bagi diri sendiri. Kita harus mengawasi ucapan,
baik yang lahir maupun yang batin, karena malaikat senantiasa mencatat. Allah
SWT Maha Mengetahui segala hal di dalam batin. Allah SWT mengetahui apa
yang dirahasiakan. Bagi Allah tidak ada perbedaan antara yang tersembunyi dan
yang terang-terangan, semuanya sama.
12

4. Muhasabah
Muhasabah berarti introspeksi diri, menghitung diri dengan amal yang
telah dilakukan. Manusia yang beruntung adalah manusia yang tahu diri, dan
selalu mempersiapkan diri untuk kehidupan kelak yang abadi di yaumul akhir.
Dengan melakasanakan Muhasabah, seorang hamba akan selalu menggunakan
waktu dan jatah hidupnya dengan sebaik-baiknya, dengan penuh perhitungan baik
amal ibadah mahdhah maupun amal sholeh berkaitan kehidupan bermasyarakat.
Allah SWT memerintahkan hamba untuk selalu mengintrospeksi dirinya dengan
meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah SWT.
Muhasabah dapat dilaksanakan dengan cara mempergunakan waktu
dengan sebaik-baiknya. Waktu terus berlalu, ia diam seribu bahasa, sampai-
sampai manusia sering tidak menyadari kehadiran waktu dan melupakan nilainya.
Allah SWT bersumpah dengan berbagai kata yang menunjuk pada waktu seperti
Wa Al Lail (demi malam), Wa An Nahr (demi siang), dan lain-lain.
Waktu adalah modal utama manusia. Apabila tidak dipergunakan dengan
baik, waktu akan terus berlalu. Banyak sekali hadits Nabi SAW yang
memperingatkan manusia agar mempergunakan waktu dan mengaturnya sebaik
mungkin.

“Dua nikmat yang sering disia-siakan banyak orang: Kesehatan dan kesempatan
(waktu luang).” (H.R. Bukhari melalui Ibnu Abbas r.a).

5. Mu‟aqabah
Muaqabah artinya pemberian sanksi terhadap diri sendiri. Apabila
melakukan kesalahan atau sesuatu yang bersifat dosa maka ia segera menghapus
13

dengan amal yang lebih utama meskipun terasa berat, seperti berinfaq dan
sebagainya. Kesalahan maupun dosa adalah kesesatan. Oleh karena itu agar
manusia tidak tersesat hendaklah manusia bertaubat kepada Allah, mengerjakan
kebajikan sesuai dengan norma yang ditentukan untuk menuju ridha dan ampunan
Allah.
Berkubang dan hanyut dalam kesalahan adalah perbuatan yang melampaui
batas dan wajib ditinggalkan. Di dalam ajaran Islam, orang baik adalah orang
yang manakala berbuat salah, bersegera mengakui dirinya salah, kemudian
bertaubat, dalam arti kembali ke jalan Allah dan berniat dan berupaya kuat untuk
tidak akan pernah mengulanginya untuk kedua kalinya.

2.4 I mplementasi Taqwa Dalam Kehidupan Sehari-hari


















14






BAB 3. PENUTUP


3.1 KESIMPULAN
Taqwa merupakan kumpulan seluruh kebaikan, dan hakekatnya adalah
“bahwa seseorang melindungi dirinya dari hukuman Tuhan dengan kepatuhan dan
ketundukan kepada-Nya. Taqwa ini juga mengandung arti bahwa “Hendaklah
Allah tidak melihat kamu berada dalam larangan-larangannya dan tidak
kehilangan kamu didalam perintah-perintahnya. Mencegah diri dari azab Allah
dengan berbuat amal shaleh dan takut kepada-Nya dikala sepi atau terang-
terangan
Ciri-ciri orang yang bertaqwa diantaranya :
1) Menafkahkan sebagian rizki yang diberikan Allah SWT baik dalam
keadaan lapang maupun dalam keadaan sempit banyak atau sedikit.
2) Orang yang menahan amarahnya.
3) Walafina‟anin-nas “Pemaaf kepada sesama manusia“.
4) “Almuhsinin“ orang berbuat kebaikan kepada orang lain, kepada orang
tua, karib kerabat, handai tolan, sesama muslim.
Ada 4 jaminan Allah bagi orang yang bertaqwa, sebagaimana berikut ini:
1. Dibukakan Jalan Keluar
2. Diberi Rezki yang Tidak Terduga
3. Dimudahkan Persoalannya
4. Diampuni dosanya & Dilipatgandakan Pahalanya
Adapun korelasi antara iman dan taqwa yaitu, Taqwa sering dikaitkan oleh
Allah dengan iman.Bahkan taqwa bermula dari iman.Taqwa tumbuh dari
iman.Iman adalah perkara asas yang perlu ditanam ke dalam hati seseorang
15

terlebih dahulu. Apabila iman yang ditanam itu sudah sejati barulah akan lahir
taqwa dalam diri seseorang. Orang yang beriman belum tentu bertaqwa. Tetapi
orang yang bertaqwa sudah tentu dia beriman.


DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2007. Kaitan Iman dan Taqwa. [Dalam:
http://kawansejati.ee.itb.ac.id/03-03-kaitan-iman-dengan-taqwa]. Diakses
tanggal 27 April 2012

Arief. 2008. Korelasi Iman dan Taqwa. [Dalam:
http://ariefhikmah.com/search/korelasi-iman-dan-taqwa]. Diakses tanggal
27 April 2012

Delon A, Syafri. 2006. Keutamaan Dan Manfaat Taqwa. [Dalam:
http://groups.yahoo.com/group/surau/message/31399]. Diakses tanggal 29
April 2012

Eramuslim. 2011. Pengertian Taqwa. [Dalam :
http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/pengertian-taqwa.htm].
Diakses tanggal 29 April 2012

Furqon, Abu. 2011. Ciri-Ciri Orang Yang Bertaqwa. [Dalam:
http://abufurqan.com/2011/01/14/ciri-ciri-orang-yang-bertaqwa/]. Diakses
tanggal 27 April 2012

Komarudin. 2010. Pengertian Taqwa. [Dalam:
http://hanyakomar.wordpress.com/tag/pengertian-taqwa/]. Diakses tanggal
29 April 2012
16


QuranSains . 2007. Jaminan Bagi Orang Bertaqwa. [Dalam: http://quran-et-
sains.blogspot.com/2007/03/jaminan-bagi-orang-bertaqwa.html]. Diakses
tanggal 29 April 2012
























Kiat-kiat agar kita bisa menjadi taqwa:
17

1. Mengingat perjanjian (Mu‟ahadah). Dengan cara shalat serta menyendiri
(semedi) tetapi hanya kepada Allah tidak kepada orang lain atau mahluk
halus.
2. Merasakan kesertaan Allah (Muraqabatullah).
Macam-macamnya:
1. Dalam melaksanakan keta‟atan harus ikhlas.
2. Dalam kemaksiatan harus bertaubat, menyesal, dan meninggalkannya.
3. Dalam hal yang mubah harus menjaga adab-adab terhadap Allah dan
bersyukur.
4. Dalam mendapat musibah haruslah ridho terhadap ketentuan Allah dan
memohon pertolongannya yaitu dengan melaksanakan shalat.
3. Muhasabah (Interopeksi diri).
4. Mu‟aqobah (pemberian sanksi)
5. Mujahadah (optimalisasi).
Hal-hal yang perlu diperhatikan:
1. Hendaklah amal-amal yang sunnah tidak membuatnya lupa akan
kewajiban yang lainnya.
2. Tidak memaksakan diri dengan amalan sunnah yang diluar
kemampuannya. (Komarudin, 2010)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->