A-07/PKD PETUNJUK KULIAH/DISKUSI

FARMAKOTERAPI PADA KEHAMILAN
I. PENDAHULUAN Seorang praktisi medik dalam praktek sehari-hari sering dihadapkan pada berbagai permasalahan pengobatan yang kadang memerlukan pertimbangan-pertimbangan khusus, seperti misalnya pengobatan pada kelompok umur tertentu (anak dan usia lanjut), serta wanita dengan kehamilan. Meskipun prinsip dasar dan tujuan terapi pada kelompokkelompok tersebut tidak banyak berbeda, tetapi mengingat masing-masing memiliki keistimewaan khusus dalam penatalaksanaannya, maka diperlukan pendekatan-pendekatan yang sedikit berbeda dengan kelompok dewasa. Pertimbangan pengobatan pada keadaan kehamilan, tidak saja hanya berdasarkan ketentuan dewasa, tetapi perlu beberapa penyesuaian seperti dosis dan perhatian lebih besar pada kemungkinan efek obat pada janin. Dalam modul ini akan dibahas pemakaian obat pada kehamilan. Pertimbangan-pertimbangan pemakaian, faktor-faktor yang mempengaruhi terapi serta masalah pemakaian obat akan dibahas secara singkat agar dapat memberikan gambaran umum mengenai masing-masing permasalahan. II. TUJUAN Sesudah kuliah dan diskusi, mahasiswa diharapkan: 1. Memahami masalah-masalah yang berkaitan dengan pemakaian obat pada kelompok khusus: yaitu kehamilan. 2. Memahami faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pengobatan pada kehamilan. 3. Mampu menerapkan dan membiasakan diri dengan proses terapi pada kehamilan dengan mempertimbangkan secara seksama faktor-faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan pengobatan. III. PERSIAPAN 1. Membaca Catatan Kuliah dan Diskusi A-07/CKD 2. Membuat beberapa pertanyaan atau permasalahan yang berkaitan dengan topik untuk didiskusikan di kelas. IV PUSTAKA YANG DIANJURKAN Australian Drug Evaluation Committe 1989 Medicine in Pregnancy. Australian Goverment Publishing Service, Canberra. Katzung BG 1987 Basic and Clinical Pharmacology, 3rd edition.Lange Medical Book, California. Speight TM 1997 Avery Drug Treatment: Principles and Practice of Clinical Pharmacology and Therapeutics, 4rd edition. ADIS Press, Auckland. Suryawati S et al. 1990 Pemakaian Obat pada Kehamilan. Laboratorium Farmakologi Klinik Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. ***

Bagian Farmakologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada---------------------------------------------

1

tidak saja dihadapi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi pada ibu. Hal ini mengingat bahwa dalam pemakaian obat selama kehamilan. Obat-obat dengan berat molekul 250-500 dapat secara mudah melintasi plasenta. tetapi ada juga yang tidak memberi pengaruh apapun. Bagian Farmakologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada--------------------------------------------- 2 . Contoh. Kehamilan merupakan masa rentan terhadap efek samping obat. baik melalui efek farmakologik maupun efek teratogeniknya. FARMAKOKINETIKA OBAT SELAMA KEHAMILAN II. tiopental yang sering digunakan pada seksio sesarea. Beberapa jenis obat dapat menembus plasenta dan mempengaruhi janin dalam uterus. seperti misalnya klorpromazin akan menurun. Sebaliknya untuk obat yang bersifat basa lemah absorpsi justru meningkat. Kemampuan obat untuk melintasi plasenta tergantung pada sifat lipolik dan ionisasi obat. Hampir sebagian besar obat dapat melintasi sawar darah/plasenta. khususnya bagi janin. Absorpsi Pada awal kehamilan akan terjadi penurunan sekresi asam lambung hingga 30-40%. yang memberi efek kelainan kongenital berupa fokomelia atau tidak tumbuhnya anggota gerak. pemberian obat pada masa kehamilan memerlukan pertimbangan yang benar-benar matang. Hal ini menyebabkan pH asam lambung sedikit meningkat. Obat yang mempunyai lipofilik tinggi cenderung untuk segera terdifusi ke dalam serkulasi janin. dapat menembus plasenta segera setelah pemberian. sehingga obat-obat yang bersifat asam lemah akan sedikit mengalami penurunan absorpsi. akan melintasi plasenta secara lambat dan terdapat dalam kadar yang sangat rendah pada janin.1. beberapa diantaranya mampu memberikan pengaruh buruk. dan dapat mengakibatkan terjadinya apnea pada bayi yang dilahirkan. Kecepatan dan jumlah obat yang dapat melintasi plasenta juga ditentukan oleh berat molekul. Pada fase selanjutnya akan terjadi penurunan motilitas gastrointestinal sehingga absopsi obat-obat yang sukar larut (misalnya digoksin) akan meningkat. II. tetapi juga pada janin. sedangkan obat dengan berat molekul > 1000 sangat sulit menembus plasenta. Obat yang sangat terionisasi seperti misalnya suksinilkholin dan d-tubokurarin. sedang absopsi obat-obat yang mengalami metabolisme di dinding usus. tergantung pada sifat lipofiliknya. Untuk itu.A-07/CKD CATATAN KULIAH/DISKUSI PEMAKAIAN OBAT PADA KELOMPOK KHUSUS: KEHAMILAN I. Secara umum faktor-faktor yang dapat mempengaruhi masuknya obat ke dalam plasenta dan memberikan efek pada janin adalah: (1) (2) (3) (4) (5) (6) sifat fisikokimiawi dari obat kecepatan obat untuk melintasi plasenta dan mencapai sirkulasi janin lamanya pemaparan terhadap obat bagaimana obat didistribusikan ke jaringan-jaringan yang berbeda pada janin periode perkembangan janin saat obat diberikan dan efek obat jika diberikan dalam bentuk kombinasi. PENDAHULUAN Pemakaian obat pada kehamilan merupakan salah satu masalah pengobatan yang penting untuk diketahui dan dibahas. Salah satu contoh yang dapat memberikan pengaruh sangat buruk terhadap janin jika diberikan pada periode kehamilan adalah talidomid.

Di samping itu. Jika terjadi pengaruh buruk biasanya menyebabkan kematian embrio atau berakhirnya kehamilan (abortus). yang biasanya dalam bentuk malformasi anatomis pertumbuhan organ. sehingga kadar obat tersebut dalam darah akan menurun lebih cepat. seperti misalnya fokolemia karena talidomid. akan terjadi peningkatan eliminasi obat-obat yang terutama mengalami ekskresi di ginjal. Fase embional atau organogenesis. selama masa akhir kehamilan akan terjadi perubahan kadar protein berupa penurunan albumin serum sampai 20%. − Gangguan fungsional atau metabolik yang permanen yang biasanya baru muncul kemudian. maka metabolisme obat-obat tertentu yang mengalami olsidasi dengan cara ini (misalnya fenitoin. Demikian pula pengaruh obat yang dialami ibu dapat pula dialami janin.II. yaitu pada trimester kedua dan ketiga kehamilan. III. di mana kadar albumin turun sampai 34% dan glikoprotein meningkat hingga 100%. Sedangkan pengaruh obat yang bersifa letal. Pengaruh toksik adalah jika obat yang diminum selama masa kehamilan menyebabkan terjadinya gangguan fisiologik atau bio-kimiawi dari janin yang dikandung.2. dan karbamazepin) juga meningkat. Sebagai contoh adalah terjadinya depresi pernafasan neonatus karena selama masa akhir kehamilan. teratogenik maupun letal. volume plasma dan cairan ekstraseluser ibu akan meningkat. jadi tidak timbul secara langsung pada saat kehamilan. Bagian Farmakologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada--------------------------------------------- 3 . Distribusi Pada keadaan kehamilan. yaitu pada umur kehamilan kurang dari 3 minggu.3. Telah diketahui. Sebagai akibatnya. Perubahan ini semakin menyolok pada keadaan pre-eklamsia. dan obat basa lemah terikat pada alfa-1 glikoprotein. Fase fetal. berupa kematian janin atau terjadinya abortus. − pengaruh letal. fenobarbital. meskipun mungkin dalam derajat yang berbeda. Misalnya pemakaian hormon dietilstilbestrol pada trimester pertama kehamilan terbukti berkaitan dengan terjadinya adenokarsinoma vagina pada anak perempuan di kemudian hari (pada saat mereka sudah dewasa). tetapi mungkin dapat berupa gangguan pertumbuhan. Dalam fase ini terjadi maturasi dan pertumbuhan lebih lanjut dari janin. Pengaruh obat bersifat teratogenik jika menyebabkan terjadinya malformasi anatomik pada petumbuhan organ janin. Fraksi bebas obat-obat seperti diazepam. Berbagai pengaruh buruk yang mungkin terjadi pada fase ini antara lain. tergantung pada sifat obat dan umur kehamilan paga saat minum obat. baik terhadap fungsi-fungsi fisiologik atau biokimiawi organ-organ. dan mencapai 50% pada akhir kehamilan. suatu sistem enzim yang paling berperan dalam metabolisme hepatal obat. 1. PENGARUH OBAT PADA JANIN Pengaruh buruk obat terhadap janin dapat bersifat toksik. Untuk itu. sedangkan fraksi bebas obat-obat yang bersifat basa akan menurun. Konsekuensi. Pada fase ini obat dapat memberi pengaruh buruk atau mungkin tidak sama sekali. Eliminasi Pada akhir masa kehamilan akan terjadi peningkatan aliran darah ginjal sampai dua kali lipat. fenitoin dan natrium valproat terbukti meningkat secara bermakna pada akhir kehamilan. Pada fase ini terjadi diferensiasi pertumbuhan untuk terjadinya malformasi anatomik (pengaruh teratogenik). adalah yang mengakibatkan kematian janin dalam kandungan. dan biasanya gejalanya baru muncul beberapa saat setelah kelahiran. Secara umum pengaruh buruk obat pada janin dapat beragam. Fase implantasi. Sebagai salah satu akibatnya obat-obat yang volume distribusinya kecil. sesuai dengan fase-fase berikut. ibu mengkonsumsi obat-obat seperti analgetika-narkotik. yaitu pada umur kehamilan antara 4-8 minggu. obat asam lemah terikat pada albumin. 2. walaupun diberikan pada dosis lazim. fraksi bebas obat-obat yang bersifat asam akan meningkat. 3. II. Dengan meningkatnya aktivitas mixed function oxidase. − pengaruh sub-letal. terutama pada trimester kedua dan ketiga. pada keadaan tertentu mungkin diperlukan menaikkan dosis agar diperoleh efek yang diharapkan. atau terjadinya efek samping pada sistem ekstrapiramidal setelah pemakaian fenotiazin. Pengaruh buruk senyawa asing terhadap janin pada fase ini tidak berupa malformasi anatomik lagi. misalnya ampisilin akan ditemukan dalam kadar yang rendah dalam darah. Pengaruh teratogenik ini biasanya terjadi pada dosis subletal.

tikarsilin. − Kategori B: Obat kategori B meliputi obat-obat yang pengalaman pemakainya pada wanita hamil masih terbatas. asetilkistein. Antibiotika & antiseptika Infeksi pada saat kehamilan tidak jarang terjadi. B3: Penelitian pada hewan menunjukkan peningkatan kejadian kerusakan janin.S. dan spektinomisin. agar di samping tujuan terapetik dapat tercapai semaksimal mungkin. obat-obat dikategorikan sebagai berikut (Australian Drug Evaluation Commitee). trimetoprim. seperti misalnya infeksi saluran kencjng karena dilatasi ureter dan stasis yang biasanya muncul pada awal kehamilan dan menetap sampai beberapa saat setelah melahirkan. Umumnya bersifat reversibel (membaik kembali). valproat. maka obat-obat kategori B dibagi lagi berdasarkan temuan-temuan pada studi toksikologi pada hewan. Misalnya: androgen. dopamin. kinin. − − IV. aspirin. PEMAKAIAN BEBERAPA OBAT SELAMA PERIODE KEHAMILAN IV. tetapi juga segi janin. Obat dalam kategori ini merupakan kontraindikasi mutlak selama kehamilan. amfoterisin. pertimbangan pengobatan yang harus diambil tidak saja dari segi ibu. pirimetamin. rifampisin. pirimidon. Sebagai contoh adalah isotretionin dan dietilstilbestrol. fenitoin. steroid anabolik. glikosida jantung. mengingat hampir semua antibiotika dapat melintasi plasenta dengan segala konsekuensinya. mengingat secara alamiah risiko terjadinya infeksi pada periode ini lebih besar. tetapi ada petunjuk tidak meningkatnya kejadian kerusakan janin. dan mebendazol.Dalam upaya mencegah terjadinya yang tidak diharapkan dari obat-obat yang diberikan selama kehamilan. dan antikoagulansia. Berikut akan dibahas antibiotika yang dianjurkan maupun yang harus dihindari selama kehamilan. klonazepam. Obat-obat dalam kategori ini juga mempunyai efek farmakologik yang merugikan terhadap janin. Kategori D Obat-obat yang terbukti menyebabkan meningkatnya kejadian malformasi janin pada manusia atau menyebabkan kerusakan janin yang bersifat ireversibel (tidak dapat membaik kembali). Mengingat terbatasnya pengalaman pemakaian pada wanita hamil. fenotiazin. Obat-obat yang termasuk dalam kategori A antara lain adalah parasetamol.1. Contoh obat-obat yang termasuk pada kelompok ini misalnya simetidin. Sebagai contoh adalah analgetika-narkotik. efek samping pada ibu dan janin dapat ditekan seminimal mungkin. tetapi belum tentu bermakna pada manusia. yaitu: B1: Dari penelitian pada hewan tidak terbukti meningkatnya kejadian kerusakan janin (fetal damage). penisilin. isoniazid serta bahan-bahan hemopoetik seperti besi dan asam folat. dipiridamol. − Kategori A: Yang termasuk dalam kategori ini adalah obat-obat yang telah banyak digunakan oleh wanita hamil tanpa disertai kenaikan frekuensi malformasi janin atau pengaruh buruk lainnya. Sebagai contoh adalah karbamazepin. eritromisin. Dalam menghadapi kehamilan dengan infeksi. Kategori X Obat-obat yang masuk dalam kategori ini adalah yang telah terbukti mempunyai risiko tinggi terjadinya pengaruh buruk yang menetap (irreversibel) pada janin jika diminum pada masa kehamilan. Food and Drug Administration (FDA-USA) maupun Australia Drug Evaluation Commitee. fenobarbiton. B2: Data dari penilitian pada hewan belum memadai. maka oleh U. Bagian Farmakologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada--------------------------------------------- 4 . griseofulvin. − Kategori C: Merupakan obat-obat yang dapat memberi pengaruh buruk pada janin tanpa disertai malformasi anatomik semata-mata karena efek farmakologiknya. antiinflamasi non-steroid dan diuretika. tetapi tidak terbukti meningkatkan frekuensi malformasi atau pengaruh buruk lainnya pada janin. dan alkaloid belladona adalah obat-obat yang masuk dalam kategori ini.

d.1. kadar ampisilin dalam cairan amnion relatif rendah karena belum sempurnanya ginjal janin. maka meningkat pula volume distribusi obat. Dengan meningkatnya volume plasma dan cairan tubuh. Aminoglikosida Aminoglikosida dimasukkan dalam kategori obat D. IV. tetrasiklin akan mengakibatkan terjadinya perubahan warna gigi (menjadi kekuningan) yang bersifat menetap disertai hipoplasia enamel.a.IV. Jika diberikan pada trimester pertama kehamilan. 1. terutama jika diberikan pada periode organogeneis. yang pada akhirnya akan menimbulkan gangguan pertumbuhan tulang. Penisilin Obat-obat yang termasuk dalam golongan penisilin dapat dengan mudah menembus plasenta dan mencapai kadar terapetik baik pada janin maupun cairan amnion. terutama pada bayi prematur. Selain itu aminoglikosida juga mempunyai efek samping nefrotoksik dan ototoksik pada ibu. Pemberian aminoglikosida pada wanita hamil sangat tidak dianjurkan. dan juga dapat menimbulkan kerusakan ginjal tingkat seluler pada janin. di samping meningkatnya kecepatan aliran darah antara ibu dan janin pada masa tersebut. tetrasiklin menyebabkan terjadinya deposisi tulang in utero. Tetapi pada periode akhir kehamilan di mana ginjal dan alat ekskresi yangi lain pada janin telah matur. sefalosporin relatif aman jika diberikan pada trimester pertama kehamilan. kadarnya dalam sirkulasi janin justru lebih tinggi dibanding ibu. Farmakokinetika ampisilin berubah menyolok selama kehamilan. meskipun perlu pertimbangan yang seksama dan atas indikasi yang ketat mengingat kemungkinan efek samping yang dapat terjadi pada ibu. Kadar sefalosporin dalam sirkulasi janin meningkat selama beberapa jam pertama setelah pemberian dosis pada ibu. Tetrasiklin: Seperti halnya penisilin dan antibiotika lainnya. − Ampilisin: Segi keamanan baik bagi ibu maupun janin relatif cukup terjamin. yang penggunaannya oleh wanita hamil diketaui meningkatkan angka kejadian malformasi dan kerusakan janin yang bersifat ireversibel. Kerusakan saraf kranial VIII juga banyak terjadi pada bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu yang mendapat aminoglikosida pada kehamilan. − Amoksisilin : Pada dasarnya.1.b. Meskipun hal ini bersifat tidak menetap (reversibel) dan dapat pulih kembali setelah proses remodelling. Amoksisilin diabsorpsi secara cepat dan sempurna baik setelah pemberian oral maupun parenteral. namun sebaiknya tidak diberikan pada periode tersebut. Oleh sebab itu kadar ampisilin pada wanita hamil kira-kira hanya 50% dibanding saat tidak hamil. Sefalosporin Sama halnya dengan penisilin. IV. kadarnya hanya sekitar seperempat sampai sepertiga kadar di sirkulasi ibu.c. Kadar ampisilin dalam sirkulasi darah janin meningkat secara lambat setelah pemberiannya pada ibu dan bahkan sering melebihi kadarnya dalam sirkulasi ibu. Pada awal kehamilan. Penisilin relatif paling aman jika diberikan selama kehamilan. Dalam sirkulasi janin. tetrasiklin dapat dengan mudah melintasi plasenta dan mancapai kadar terapetik pada sirkulasi janin. IV.1. Jika diberikan pada trimester kedua hingga ketiga kehamilan. absorpsi amoksisilin setelah pemberian per oral jauh lebih baik dibanding ampisilin. Seperti halnya dengan ampisilin penambahan dosis amoksisilin pada kehamilan perlu dilakukan mengingat kadarnya dalam darah ibu maupun janin relatif rendah dibanding saat tidak hamil. Dengan demikian penambahan dosis ampisilin perlu dilakukan selama masa kehamilan. Sejauh ini belum ada bukti bahwa pengaruh buruk sefalosporin seperti misalnya anemia hemolitik dapat terjadi pada bayi yang dilahirkan oleh seorang ibu yang mendapat sefalosporin pada trimester terakhir kehamilan. Mengingat kemungkinan risikonya lebih besar dibanding manfaat yang diharapkan maka pemakaian tetrasiklin pada wanita hamil sejauh mungkin harus dihindari. Bagian Farmakologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada--------------------------------------------- 5 . tetapi tidak terakumulasi setelah pemberian berulang atau melalui infus.

abdomen protuberant.1.g. Hal ini berkaitan dengan masalah fisiologis dari si ibu. di mana pemberian nitrofurantoin pada periode ini kemungkinan akan menyebabkan anemia hemolitik pada janin.IV.1. sejauh ini belum terdapat bukti bahwa eritromisin dapat menyebabkan kelainan pada janin. serta letargi. dalam kadar yang lebih rendah atau sama dengan kadarnya dalam sirkulasi ibu.h. muntah. misalnya tetrasiklin. tetapi kadarnya dalam plasma sangat rendah. Eritromisin Pemakaian eritromisin pada wanita hamil relatif aman karena meskipun dapat terdifusi secara luas ke hampir semua jaringan (kecuali otak dan cairan serebrospinal). Keadaan ini mungkin akan menetap sampai 7 hari setelah bayi lahir. Di samping itu. trimetoprim mampu menembus jaringan fetal hingga mencapai kadar yang lebih tinggi dibanding sulfametoksazol.1. terutama pada akhir masa kehamilan. IV. tetapi kadar pada janin hanya mencapai 1-2% dibanding kadarnya dalam serum ibu. Kloramfenikol dimasukkan dalam kategori C. dapat menyebabkan angka terjadinya sindroma Grey pada bayi. Untuk nyeri yang berkaitan dengan proses radang. sehingga mengakibatkan terjadinya kern-ikterus pada bayi yang baru dilahirkan. kadar nitrofurantoin pada jaringan fetal lebih tinggi dibanding ibu. Pemakaian sulfonamida pada wanita hamil harus dihindari. Bagian Farmakologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada--------------------------------------------- 6 . terutama pada trimester II dan III.2. Analgetika Keluhan nyeri selama masa kehamilan umum dijumpai. pemberian obat pengurang nyeri biasanya dilakukan dalam jangka waktu relatif pendek. IV. Jika terpaksa harus memberikan kombinasi trimetoprim + sulfametoksazol pada kehamilan. Penilaian yang seksama terhadap penyebab nyeri perlu dilakukan agar dapat ditentukan pilihan jenis obat yang paling tepat. Nitrofurantoin Nitrofurantoin sering digunakan sebagai antiseptik pada saluran kencing. meskipun bukan menjadi obat pilihan pertama. Namun ditilik dari segi keamanan dan manfaatnya.e. ditandai dengan kulit sianotik (sehingga bayi tampak keabuabuan). umumnya diperlukan pengobatan dalam jangka waktu tertentu. IV. hipotermia. yaitu obat yang karena efek farmakologiknya dapat menyebabkan pengaruh buruk pada janin tanpa disertai malformasi anatomik. Pemberian kloramfenikol selama kehamilan sejauh mungkin dihindari. Trimetoprim Karena volume distribusi yang luas. Hal ini karena sulfonamida mampu mendesak bilirubin dari tempat ikatannya dengan protein. maupun sebab-sebab yang lain. di samping pernafasan yang cepat & tidak teratur. IV. kadar nitrofurantoin dalam plasma janin juga meningkat. trimetoprim terbukti bersifat teratogen jika diberikan pada dosis besar. tetapi pemakaiannya pada wanita hamil perlu dihindari. diperlukan pemberian suplementasi asam folet. meskipun kadarnya tidak lebih tinggi dari ibu.1. Untuk nyeri yang tidak berkaitan dengan proses radang.i. Kloramfenikol Pemberian kloramfenikol pada wanita hamil. Sulfonamida Obat-obat yang tergolong sulfonamida dapat melintasi plasenta dan masuk dalam sirkulasi janin. IV.1. Jika diberikan pada awal kehamilan. Pada uji hewan. di mana hepar belum matur. pemakaian eritromisin untuk infeksi tersebut lebih dianjurkan dibanding antibiotika lain. karena adanya tarikan otot-otot dan sendi karena kehamilan. terutama pada minggu-minggu terakhir menjelang kelahiran dan selama menyusui. Kemanfaatan eritromisin untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh Chlamydia pada wanita hamil serta pencegahan penularan ke janin cukup baik. Pengaruh ini dapat bersifat reversibel.f. Dengan makin bertambahnya umur kehamilan. Meskipun belum terdapat bukti bahwa trimetoprim juga bersifat teratogen pada janin. Namun perhatian harus diberikan terutama pada kehamilan cukup bulan. Sejauh ini belum terbukti bahwa nitrofurantoin dapat meningkatkan kejadian malformasi janin. dan menunjukkan reaksi menolak menyusu.

Metadon: Jika diberikan pada kehamilan memberi gejala withdrawal yang munculnya lebih lambat dan sifatnya lebih lama dibanding heroin.b. Antiemetik Meskipun pada uji hewan terdapat bukti bahwa obat-obat antiemetik (meklozin dan siklizin) dapat menyebabkan terjadinya abnormalitas janin. Meskipun kemungkinan terjadinya efek samping hepatotoksisitas tetap ada. Antiinflamasi non-steroid Dengan dasar mekanisme kerjanya yaitu menghambat sintesis prostaglandin. Dengan terhambatnya sintesis prostaglandin.2. Keadaan withdrawl pada bayi-bayi yang baru lahir tersebut biasanya manifes dalam bentuk tremor. Meskipun angka kejadiannya relatif sangat jarang.IV. pemberian obat-obat tersebut selama kehamilan hendaknya atas indikasi yang ketat disertai beberapa pertimbangan pemilihan jenis obat.2.Analgetika-narkotika Semua analgetika-narkotika dapat melintasi plasenta dan dari berbagai penelitian pada gewan uji. Namun demikian. Tetapi kenyataannya bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu yang mendapat petidin selama proses kelahiran menunjukkan skala neuropsikologik yang lebih rendah dibanding bayi-bayi yang ibunya tidak mendapat obat ini. Terdapat bukti meningkatkan kejadian permaturitas. pada janin akan terjadi penutupan duktus arteriosus Botalli yang terlalu dini. tetapi umumnya terjadi pada dosis yang jauh lebih besar dari yang dianjurkan. IV. retardasi pertumbuhan intrauteri. atau yang mendapat anestesi lokal. efek samping obat-obat antiinflamasi non-steroid kemungkinan lebih sering terjadi pada trimester akhir kehamilan.2. sehingga bayi yang dilahirkan akan menderita hipertensi pulmonal. Dengan alasan ini maka pemakaian petidin pada persalinan hanya dibenarkan apabila anestesi epidural memang tidak memungkinkan. diare dan takhipnoe. tetapi hal ini belum terbukti pada manusia. iritabilitas. Pemakaian antiemetik selama kehamilan sebaiknya dihindari jika intervensi non-farmakologik lainnya masih dapat dilakukan. dengan risiko efek samping yang paling ringan. Terdapat hubungan yang bermakna antara pemakaian prometazin selama trimester pertama kehamilan dengan terjadinya dislokasi panggul kongenital pada janin. secara konsisten obat ini menunjukkan adanya akumulasi pada jaringan otak janin. IV.3. Antalgin: Dikenal secara luas sebagai pengurang rasa nyeri derajat ringan. IV.c. Pertimbangan ini misalnya dengan memilih obat yangmempunyai waktu paruh paling singkat. Efek samping yang lain adalah berupa tertunda dan memanjangnya proses persalinan jika obat ini diberikan pada trimester terakhir. Salah satu efek samping yang dikhawatirkan pada penggunaan antalgin ini adalah terjadinya agranulositosis. Bagian Farmakologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada--------------------------------------------- 7 . fetal distress dan kematian perinatal pada bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu yang sering mengkonsumsi analgetika-narkotik. Beratnya withdrawal karena metadon nampaknya berkaitan dengan meningkatnya dosis pemeliharaan pada ibu sampai di atas 20 mg/hari Petidin Dianggap paling aman untuk pemakaian selam proses persalinan.a. tetapi pemakaian selama kehamilan sebaiknya dihindari. kejang. muntah. Analgetika-antipiretik Parasetamol: Merupakan analgetika-antipiretik yang relatif paling aman jika diberikan selama kehamilan. Sejauh ini tidak terdapat bukti bahwa antiiflamasi non-steroid mempunyai efek teratogenik pada janin dalam bentuk malformasi anatomik.

Waktu paruh fenitoin pada bayi baru lahir sekitar 60-70 jam dan obat masih didapat dalam plasma bayi. Antihipertensi Dalam praktek sehari-hari tidak jarang kita menjumpai seorang wanita yang dalam masa kehamilannya menderita hipertensi. Antiepilepsi Fenitoin (difenilhidantoin) dapat melintasi plasenta dan mencapai sirkulasi janin setelah pemberian dosis terapetik secara intravenosa. dan hidralazin umumnya digunakan untuk mencegah kelahiran prematur akibat eklampsia. serta menghindari kemungkinan terjadinya kematian maternal karena eklamsia atau hemoragi serebral terutama saat melahirkan. jantung.IV. - - Secara lebih tegas. Oksprenolol dan atenolol relatif aman dan tidak terbukti meningkatkan kejadian kejadian malformasi janin. celah fasial. Bagian Farmakologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada--------------------------------------------- 8 . Golongan penyekat adrenoseptor beta Obat-obat golongan ini seperti misalnya oksprenolol dan atenolol dapat melintasi plasenta dan mencapai sirkulasi janin dengan memberi efek blokade beta pada janin. Berikut akan dibahas pemakaian obat-obat antihipertensi selama masa kehamilan. Oleh karena itu pemakaian fenitoin selama kehamilan sangat tidak dianjurkan. Dari beberapa penelitian dilaporkan bahwa 1-2 % spina bifida pada bayi baru lahir terjadi karena ibu mengkonsumsi asam valproat selama masa kehamilannya. Pemberian metildopa hanya efektif untuk hipertensi yang lebih berat. IV. hingga hari ke lima setelah kelahiran.4. Pada wanita hamil yang mendapat pengobatan fenitoin jangka panjang. Pemberian fenitoin selama kehamilan dalam jangka panjang ternyata berkaitan erat dengan meningkatnya angka kejadian kelainan kongenital pada bayi yang dilahirkan. mikrosefalus dan beberapa kelainan pada kranium dan tulang-tulang lainnya. Pada pemakaian jangka panjang. dimana efeknya tidak saja berupa relaksasi otot vaskuler tetapi juga berpengaruh terhadap otot uterus. Jika digunakan selama masa kehamilan aterm dapat mengakibatkan lambatnya persalinan. tetapi pada dosis besar sering memberi efek samping seperti sedasi dan mulut kering. obat-obat antihipertensi yang tidak dianjurkan selama kehamilan meliputi: 1. Sejauh mungkin juga diusahakan agar tidak terjadi komplikasi atau kelainan pada bayi yang dilahirkan. Kelainan ini berupa malformasi kraniofasial disertai penyakit jantung kongenital. Vasodilator Pada kehamilan. Golongan simpatolitik sentral: Metildopa relatif aman selama masa kehamilan. Pemakaian obat-obat golongan antagonis kalsium seperti verapamil. kadar fenitoin dalam sirkulasi janin sama dengan kadarnya dalam sirku janin sama dengan kadarnya dalam sirkulasi ibu. Obat-obat antiepilepsi lain seterti karbamazepin dan fenobarbiton ternyata juga menyebabkan terjadinya malformasi kongendital (meskipun lebih ringan ) pada bayi yang dilahirkan oleh ibu yang mengkonsumsi obat-obat tersebut selama masa kehamilannya. Dosis tertinggi pada janin ditemukan dalan hepar. diazoksid dapat menyebabkan terjadinya alopesia dan gangguan toleransi glukosa pada bayi baru lahir. baik karena hipertensinya maupun komplikasi yang menyertainya. Meskipun pendekatan terapi antar keduanya berbeda. Dalam hal ini yang harus diperhatikan adalah apakah wanita tersebut memang penderita hipertensi atau hipertensi yang dialami hanya terjadi selama masa kehamilan. meskipun terdapat beberapa kasus bayi dengan bradikardi temporer setelah pemberian atenolol pada ibu selama kehamilannya. diazoksid. Pemakaian asam valproat selama kehamilan mungkin meningkatkan derajat defek tuba neuralis.5. dan glandula adrenal. Klonidin juga relatif aman untuk ibu dan janin. tetapi tujuan terapinya adalah sama yaitu mencegah terjadinya hipertensi yang lebih berat agar kehamilannya dapat dipertahankan hingga cukup bulan. dan diltiazem selama kehamilan ternyata menunjukkan kecenderungan terjadinya hipoksia fetal jika terjadi hipotensi pada maternal. nifedipin. Obat ini mampu melintasi barier plasenta dengan kadar yang hampir sama dengan kadar maternal.

DAFTAR PUSTAKA (Ada di Bagian Farmakologi Klinik FK-UGM) Australian Drug Evaluation Committee (1989) Medicine in Pregnancy. Katzung BG (1987) Basic and Clinical Pharmacology.Auckland. 4.ADIS press.3rd edition. Pemakaian obat Angiotensin Converting Enzyme (ACE) inhibitor seperti kaptopril dan enalapril sangat tidak dianjurkan selama kehamilan karena meningkatkan kejadian mortalitas janin. Obat-obat penyekat neuroadrenergik seperti debrisokuin dan guanetidin sebaiknya juga tidak diberikan selama kehamilan karena menyebabkan hipotensi postural dan menurunkan perfusi uteroplasental. 5.2.Laboratorium Farmakologi Klinik FK-UGM. California. Obat-obat seperti reserpin sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil karena dapat menyebabkan hilangnya termoregulasi pada neonatal jika dikonsumsi selama trimester III. Speight TM (1987) Avery’s Drug Treatment: Principles and Practice of Clinical Pharmacology and Therapeutics. Diuretika sangat tidak dianjurkan selama masa kehamilan karena di samping mengurangi volume plasma juga mengakibatkan berkurangnya perfusi utero-plasenta. Lange Medical Book. V. 3. Suryawati S et al (1990). Yogyakarta *** Bagian Farmakologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada--------------------------------------------- 9 . Canberra. 3rd edition. Australian Goverment Publishing Service. Pemakaian Obat pada Kehamilan.

Bagian Farmakologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada--------------------------------------------- 10 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful