P. 1
Buku Pintar Warga NU

Buku Pintar Warga NU

|Views: 275|Likes:
Published by risyantobrebes
Kebangkita Ulama
Kebangkita Ulama

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: risyantobrebes on Mar 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/21/2015

pdf

text

original

Buku Pintar Warga NU |1 Risyanto

SELAYANG PANDANG NAHDLATUL ULAMA

A. Sejarah Nahdlatul Ulama (NU) lahir dari sebuah kesadaran bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri, ia butuh komunitas yang bisa mewujudkan cita-cita secara bersama. Dengan berkelompok (bermasyarakat), manusia berusaha mewujudkan kebahagiaan dan menolak bahaya yang datang kepadanya. Persatuan, ikatan batin, saling bantu membantu, dan keselarasan merupakan prasyarat dari tumbuhnya persaudaraan (al ukhuwah) dan kasih sayang yang menjadi landasan bagi terciptanya tata kemasyarakatan yang baik dan harmonis. Meskipun tidak bisa dipungkiri bahwa lahirnya NU juga sebagai respon semakin berkembangannya aliran modern yang ‘seolah-olah’ lebih mengutamakan al Qur’an dan as Sunan, dan meninggalkan ijma’ dan qiyas. Salah satunya, ketika ada wacana menggusur makam Nabi Muhammad oleh kelompok Wahabi di Arab Saudi dan beberapa makam lain yang dianggap bisa menjadi ‘penguat’ kesyirikan. Maklum, ada kelompok yang menganggap bila Nabi Muhammad sebagai sosok yang biasa-biasa saja sehingga tidak perlu ‘dikultuskan’. Maka tidak heran bila orang NU yang sering sebelum menyebut Nabi Muhammad diawali dengan kata sayyidina, menjadi sasaran tembak bagi kelompok yang ketika menyebut Nabi Muhammad cukup dengan panggilan Muhammad. NU sebagai jam’iyyah diniyah adalah wadah bagi para ulama dan pengikut-pengikutnya yang didirikan pada 16 Rajab 1344 H / 31 Januari 1926 dengan tujuan memelihara, melestarikan, mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam yang berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah an Nahdliyah dan menganut salah satu dari madzhab empat, yakni; Imam Abu Hanifah an Nu’man, Imam Malik bin

Buku Pintar Warga NU |2 Risyanto

Anas, Imam Muhammad bin Idris as Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hambal. Serta untuk mempersatukan langkah para ulama dan pengikut-pengikutnya dalam melakukan kegiatan-kegiatannya yang bertujuan untuk menciptakan kemaslahatan masyarakat, kemajuan bangsa dan ketinggian harkat dan martabat manusia. Dengan demikian, NU merupakan gerakan keagamaan yang bertujuaan untuk ikut membangun dan mengembangkan insan dan masyarakat yang bertaqwa kepada Allah SWT, cerdas, terampil, berakhlak mulia, tenteram, adil dan sejahtera. B. Arti Lambang NU Dalam Anggaran Dasar NU, Pasal 4, disebutkan “Lambang Nahdlatul Ulama berupa gambar bola dunia yang dilingkari tali tersimpul, dikitari oleh 9 (sembilan) bintang, 5 (lima) bintang terletak melingkari di atas garis katulisitiwa, yang terbesar diantaranya terletak di tengah atas, sedang 4 (empat) bintang lainnya terletak melingkar di bawah katulistiwa, dengan tulisan NAHDLATUL ULAMA dalam huruf Arab yang melintang dari sebelah kanan bola dunia ke sebelah kiri, semua terlukis dengan warna putih di atas dasar hijau. Kesemua itu bila diberi makna satu per satu sebagai berikut: a. Gambar bola dunia Melambangkan tempat hidup, tempat berjuang, dan beramal di dunia ini dan melambangkan pula bahwa asal kejadian manusia itu dari tanah dan akan kembali ke tanah. b. Gambar peta pada bola dunia merupakan peta Indonesia Melambangkan bahwa Nahdlatul Ulama dilahirkan di Indonesia dan berjuang untuk kejayaan Negara Republik Indonesia. c. Tali yang tersimpul Melambangkan persatuan yang kokoh, kuat. Dua ikatan di bawahnya merupakan lambang hubungan antar sesama manusia

Buku Pintar Warga NU |3 Risyanto

dengan

Tuhan.

Jumlah

untaian

tali

sebanyak

99

buah

melambangkan Asmaul Husna. d. Sembilan bintang yang terdiri dari lima bintang di atas garis katulistiwa dengan sebuah bintang yang paling besar terletak paling atas melambangkan kepemimpinan Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin umat manusia dan Rasulullah. Empat buah bintang lainnya melambangkan kepemimpinan Khulafaur Rasyidin yaitu Abu Bakar Ash Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Empat bintang di garis katulistiwa melambangkan empat madzab yaitu Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hambali. Jumlah bintang sebanyak 9 (sembilan) melambangkan sembilan wali penyebar agama Islam di pulau Jawa. e. Tulisan Arab “Nahdlatul Ulama” Menunjukkan nama dari organisasi yang berarti kebangkitan ulama. Tulisan Arab ini juga dijelaskan dengan tulisan NU dengan huruf latin sebagai singkatan Nahdlatul Ulama. f. Warna hijau dan putih Warna hijau melambangkan kesuburan tanah air Indonesia dan warna putih melambangkan kesucian.

Buku Pintar Warga NU |4 Risyanto

NU DAN PARA TOKOHNYA

Bila mau menuliskan tentang sejarah para tokoh NU tentu sangat banyak sekali. Mereka umumnya cenderung tidak dikenal secara publik figur, tetapi justru mereka yang selama ini day to day mendampingi, mengkader warga NU. Mereka oleh Gus Dur disebut sebagai kiai langgar. Seorang kiai yang dulu pernah nyantri di sebuah pesantren, kemudian pulang ke kampung dan bersama masyarakat membangun langgar (mushola). Lewat langgar itulah para kiai langgar mentransfer keilmuannya yang dulu pernah dipelajari di pesantren. Di sini ada beberapa tokoh NU yang bisa penulis sebutkan sekedar sebagai uswah hasanah bagi para generasi penerus. Semoga. a. Kiai Cholil Bangkalan Tengah malam. Waktu menunjukkan pukul 24.00. Kiai Cholil keluar dari rumahnya ditemani oleh seorang santri senior bernama Kang Dawud. Mereka terus berjalan ke arah timur, sampai akhirnya tiba di Pasar Senenan. Tiba-tiba Kang Dawud dikejutkan dengan seruan salam kepada Kiai Cholil dari orang yang tidak dikenal. Kiai Cholil menjawabnya sambil tersenyum. Ketika keduanya sudah saling melihat, mereka langsung berangkulan layaknya seorang teman yang telah lama tidak bertemu. Setelah itu mereka asyik berbincang-bincang. Sementara Kang Dawud langsung gusar. Dalam benaknya terpikir, orang itu berbicara pada kiai tanpa sopan santun. Mestinya esok pagi dia datang ke rumah kiai. Tidak mencegat kiai di tengah malam seperti itu. sebagai santri ia ingin menegur langsung orang itu. hanya karena ada kiai saja perasaan itu ditahan dalam-dalam. Namun, hatinya tetap mendongkol. Untungnya, tak lama kemudian sang tamu ingin mengakhiri pertemuan. Keduanya lalu berdiri, dan sekali lagi, mereka kembali berangkulan. Tak lama kemudian sang tamu sudah menghilang di tengah kegelapan malam. Selesai menemui tamu, Kiai Cholil menegur Kang Dawud, “Dawud, kamu tahu siapa yang berbicara dengan aku tadi?” Tanya Kiai Cholil, yang dijawab dengan, “Tidak tahu, kiai,” oleh Kang Dawud.

Buku Pintar Warga NU |5 Risyanto

“Dia adalah Nabi Khidir as,” Kata Kiai Cholil. Hah ?!! “Makanya kalau ikut kiai ya harus sabar dan ikhlas ….” Kiai Cholil lahir di Bangkalan pada tanggal 14 Maret 1820 M / 11 Jumadil Akhir 1235 H. Generasi ke 29 keturunan Rasulullah melalui jalur Sayidina Hasan bin Ali. Semasa kecil, Kiai Cholil belajar pada ayahnya sendiri, KH Abdul Latief, di Bangkalan. Sekitar tahun 1850-an dikirim ke Pesantren Langitan, Tuban, untuk belajar pada Kiai Muhammad Nur. Kemudian belajar pada KH Asyik Seguto, Cangaan, Bangil. Pindah lagi ke Keboncandi, sambil belajar pada Kiai Nur Hasan di Pesantren Sidogiri Pasuruan. Dari Pasuruan pindah lagi ke salah satu pesantren di Banyuwangi. Tahun 1859 Kiai Cholil belajar ke Makkah bersama Syech Nawawi banten, Syech Ahmad Khotib Mingkabau, Syech Yasin Padang dan KH Sholeh Darat Semarang. Saking takdzimnya Kiai Cholil terhadap Tanah Haram, ia selalu keluar dari kota Makkah setiap akan buang air kecil dan besar. Kiai Cholil terkenal sebagai ahli gramatika Arab (nahwu). Beberapa kitab karyanya antara lain terjemahan Alfiyah ibn Malik ke dalam Bahasa Madura, as Shilah fi Bayanin Nikah, al Haqibah, dan mengarang sholawat thibbul qulub. Bila dicari data tentang karomah Kiai Cholil, banyak cerita mengisahkan kekeramatan kiai Cholil. Sebagian besar ulama NU juga meyakini, jika beberapa kisah aneh yang berhubungan dengan dirinya itu merupakan pertanda dia adalah seorang waliyullah. Dikenal sebagai karomah (keramat). Di antara kisah keramat Kiai Cholil, ketika Kiai Cholil pulang dari Makkah. Kapal yang ditumpangi Kiai Cholil mengalami kebocoran, sehingga air masuk ke dalam kapal. Seluruh penumpang menjadi bingung dan panik. Mereka takut tenggelam di tengah samudera. Beruntung, salah satu penumpang kapal ada yang kenal dengan

Buku Pintar Warga NU |6 Risyanto

Kiai Cholil, maka ia memohon kepada Kiai Cholil untuk membantu mengatasi masalah yang sedang dihadapi penumpang kapal. Kiai Cholil melepas sorbannya dan kemudian menyumbat lubang, dan seketika masalah kebocoran kapal dapat teratasi, selamatlah seluruh penumpang kapal. Wallahu a’lam bish showab. Kisah lain, saat sholat berjamaah, Kiai Cholil sujud dalam waktu yang lama, kurang lebih sekitar 15 menit. Anehnya, baju lengan kiai Cholil yang semula kering, berubah menjadi basah kuyup. Ketika sholat usai, Kiai Cholil ditanya para jamaah, kiai Cholil menceritakan bahwa barusan di tengah laut ada orang yang minta tolong, maka aku pun menolongnya. Beberapa hari kemudian ada serombongan orang yang datang untuk mengucapkan terima kasih karena telah ditolong. Dari bencana kapal tenggelam di tengah laut. Wallahu a’lam bish showab. Kiai Cholil wafat tanggal 24 April 1925 M / 29 Ramadhan 1343 H dalam usia 91 tahun. Dimakamkan di Tajasah, Melajeh, sekitar 2 Km sebelah selatan kota Bangkalan. Sampai sekarang, makamnya dikeramatkan orang. Banyak diziarahi oleh kaum muslimin dari seluruh tanah air. Para peziarah akan semakin banyak jumlahnya bila musim liburan sekolah atau menjelang bulan Ramadhan tiba. Di antara pesan yang ditinggalkan kiai Cholil, barangsiapa yang berwasilah dengan membaca surat al Ikhlas di makamnya sebanyak 7.000 kali tanpa batal wudhu dan berbicara, maka ia akan menemuinya. Minimal akan memohonkan kepada Allah agar hajatnya terkabul. b. Hadratus Syech Hasyim Asy’ari Suatu ketika di tahun 1943, KH M Hasyim Asy’ari menderita sakit keras. Di suatu siang, ia memaksakan diri untuk mengambil air wudhu dan bersiap pergi ke masjid. Salah seorang anggota

Buku Pintar Warga NU |7 Risyanto

keluarganya menyarankan agar dia shalat di rumah saja, karena kondisinya kian memburuk. Di luar dugaan, kiai Hasyim menjawab, kamu tahu anak-anak ku bahwa api neraka lebih panas dari penyakit ku ini. Sepulang dari masjid, ia beristirahat sambill meneruskan nasehatnya: aku menangis bukan karena penyakit ku ini, dan bukan pula berpisah dengan keluarga ku. Namun aku merasa bahwa aku masih kurang berbuat kebajikan, padahal Allah telah banyak memerintahkan, sedangkan saya tidak memenuhinya. Betapa aku malu dan takut untuk bertemu Allah karena tidak punya bekal. Sungguh, itu semua yang membuat ku menangis. Kiai Hasyim lahir pada hari Selasa Kliwon 24 Dzulqo’dah 1287 H / 14 Februari 1871 M di Desa Gedang, Jombang. Putra dari Kiai Asy’ari, seorang kiai asal Demak, Jawa Tengah. Sejak sebelum lahir, ibunya, Ny Halimah sudah yakin calon putranya akan menjadi orang hebat. Selain kandungannya mencapai 14 bulan, yang dalam kepercayaan masyarakat Jawa bila ada kandungan lebih dari 9 bulan 10 hari, maka dapat diprediksi bahwa kelak sang jabang bayi akan menjadi anak yang memiliki keistimewaan (cerdas). Ia juga bermimpi bulan purnama jatuh dari langit dan menimpa perutnya. Pertanda itu semakin menguat ketika M. Hasyim (nama aslinya) sejak kecil sudah menunjukkan sifat kepemimpinannya. Di antara kawan-kawan seusianya, dia seringkali sudah bertindak sebagai penengah dalam setiap permainan. Sementara kalau ia mendapati salah seorang temannya yang melanggar aturan, dia tidak segan menegurnya. Sejak kecil, Kiai Hasyim sudah terbiasa mengikuti pelajaraan agama dari orang tuanya di Pondok Gedang, pondok yang didirikan kakeknya. Ia dikenal cerdas dan rajin belajar. Karenanya, dalam usianya yang masih relatif muda, 13 tahun, ia sudah bisa membantu orang tuanya mengajar para santri yang usianya jauh di atas dirinya.

Buku Pintar Warga NU |8 Risyanto

Ketika Kiai Hasyim menginjak usia 14, ia mulai berkelana dari pesantren ke pesantren. Mula-mula ke Pondok Wonokoyo (Probolinggo), lalu Langitan (Tuban), Trenggilis (Semarang), kemudian ke Kiai Cholil di Demangan (Bangkalan). Dilanjutkan lagi ke Siwalanpanji (Sidoarjo) asuhan KH Ya’qub Hamdani. Sampai akhirnya dijadikan menantu oleh Kiai Ya’qub. Ia melanjutkan pendidikannya di Makkah, bermukim di sana hingga 7 bulan. Kembali lagi ke tanah air, namun tidak lama. Tahun 1893 ia kembali lagi ke Makkah melanjutkan pendidikannya dengan bermukim 7 tahun lamanya. Selama di Makkah ia belajar dalam bimbingan Syech Ahmad Khatib Minangkabau. Syech Nawawi Banten, dan Syech Mahfudz at Tarmisi (Pacitan). Di samping belajar kepada belasan ulama besar yang lain. Meski memiliki belasan guru, Kiai Hasyim lebih dekat dengan Syech Mahfudz yang termasuk sebagai guru besar di Masjidil Haram. Syech Mahfudz memiliki otoritas di bidang hadits. Ia memiliki isnad (mata rantai penghubung) pengajaran kitab Shahih Bukhari. Dari Syech Mahfudz inilah, Kiai Hasyim mendapat ijazah (legalitas) untuk mengajarkan hadits shahih Bukhari dan shahih Muslim. Karenanya, beliau di tanah air dikenal sebagai seorang ahli hadits. Kiai Hasyim mendirikan Pesantren Tebuireng pada 26 Rabiul Awal 1317 H / 1899 M, dengan murid pertama sebanyak 28 orang. Pesantren inilah yang menjadi tempat penggemblengan kaderkader NU masa itu dan di masa-masa mendatang. Tahun 1925, ia turut serta merekomendasikan pengiriman utusan ke Arab Saudi yang dikena dengan Komite Hijaz. Dari komite itu akhirnya dibentuklah Jam’iyah Nahdlatul Ulama pada 16 Rajab 1344 H / 31 Januari 1926 di Surabaya. Kiai Hasyim menjadi Rais

Buku Pintar Warga NU |9 Risyanto

Akbar. Jabatan itu disandang hingga akhir hayatnya, dan jabatan Rais Akbar diganti menjadi Rais Aam. Tahun 1942 Kiai Hasyim ditahan balatentara Jepang bersama KH Machfudz Siddiq gara-gara menentang pelaksanaan Saikere (setiap jam 07.00 pagi berbaris di lapangan dan membungkuk 90 derajat untuk menghormat Kaisar Jepang). Ia ditahan selama 4 bulan dengan tempat berpindah-pindah dari penjara Jombang, Mojokerto, hingga penjara Bubutan Surabaya, bercampur dengan para tawanan Sekutu. Tahun 1942 Kiai Hasyim diangkat menjadi Ketua Shumubu (kantor urusan agama, cikal bakal Kementerian Agama) di Jakarta, membawahi cabang-cabang Shumuka di seluruh Indonesia. Setahun kemudian menjadi Ketua Pimpinan Pusat Masyumi (1943– 1945), dan juga menjadi Penasehat Utama Jawa Hokokai bersama Ir. Soekarno (1944). Pada masa perjuangan kemerdekaan, Kiai Hasyim mengeluarkan dua buah fatwa yang sangat terkenal. Pertama, perang melawan Belanda adalah jihad (perang suci) dan dihukumi fardhu ain. Kedua, melarang kaum muslimin Indonesia melakukan perjalanan haji dengan menggunakan alat transportasi kapal Belanda. Dua fatwa itu berperan sangat besar dalam perjuangan merebut kemerdekaan RI. Kiai Hasyim wafat pada 7 Ramadhan 1336 H / 21 Juli 1947, ketika benteng pertahanan Hizbullah Sabilillah di Singosari Malang direbut tentara Belanda. Kiai Hasyim dimakamkan di belakang Pesantren Tebuireng. Pemerintah RI menganugerahkan gelar pahlawan kemerdekaan nasional kepadanya. Selain meninggalkan banyak jasa dan generasi penerus yang siap untuk melanjutkan gerakannya, ia juga meninggalkan belasan judul karya tulis dalam bahasa Arab dan Jawa. Di antara buku karyanya adalah Risalah

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 10 Risyanto

Ahlussunnah wal Jama’ah an Nahdliyah yang banyak dijadikan rujukan para ulama. Putra kiai Hasyim banyak mewarisi kiprah ayahnya, seperti: KH A. Wahid Hasyim menjadi Menteri Agama hingga tiga kali. KH Choliq Hasyim menjadi Daidancho (Komandan Batalyon) PETA. KH Yusuf Hasyim aktif di Laskar Hizbullah sebagai Komandan Kompi II dan bergabung dalam TNI dengan pangkat terakhir Letnan satu. Sedangkan KH Abdurrahman Wahid, cucunya, menjadi Presiden Republik Iindonesia ke IV. c. KH. Wahab Hasbullah Kiai Wahab lahir pada bulan Maret 1888 di Tambak Beras Jombang. Selama 20 tahun Kiai Wahab mendalami agama di berbagai pesantren. Pernah belajar di Langitan, Tuban; Mojosari, Nganjuk; Tawangsari, Sepanjang; Brangkalan, Kediri; Kiai Cholil Bangkalan; Tebuireng, Jombang; dan Makkah. Pada tahun 1914, Kiai Wahab mendirikan Sarekan Islam (SI) cabang Makkah. Mendirikan perguruan pendidikan di kampung Kawatan Gg IV Surabaya dengan nama Nahdlatul Wathan (1916). Mendirikan sebuah kelompok diskusi Taswirul Afkar, dan selanjutnya perkumpulan itu dinaikkan statusnya, dari sebuah kelompok diskusi anak-anak muda menjadi sebuah sekolah. Namanya tetap, Madrasah Taswirul Afkar, terletak di kawasan Ampel Suci tahun 1918. Kiai Wahab adalah tokoh yang sangat dinamis, lincah, pantang menyerah dan banyak akal. Ia bisa bergaul dengan berbagai macam tokoh pergerakan. Sebagai ketua cabang SI Makkah, dia banyak berhubungan banyak dengan HOS Cokroaminoto yang pemikirannya mengarah pada politik. Di madrasah

Nahdlatul Wathan Kiai Wahab bisa bergaul dengan KH Mas Mansur yang tokoh Muhammadiyah. Dan di Taswirul Afkar bisa

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 11 Risyanto

cocok dengan KH Ahmad Dahlan Ahjad, tokoh NU yang belakangan dikenal sebagai salah satu pendiri MAJLIS ISLAM ALA INDONESIA (MIAI)N. Tahun 1925, Kiai Wahab bersama dengan Syech Ghonaim al Misri dan KH Dahlan Abdul Qohar (mahasiswa NU yang tinggal di Makkah), menemui Raja Ibnu Saud di Makkah sebagai utusan Jam’iyah Nahdlatul Ulama Indonesia. Tim yang dikenal dengan sebutan Komite Hijaz ini bertujuan melobi pemerintah kerajaan Arab Saudi agar ajaran bermadzhab (selain madzhab resmi Arab Saudi) tetap dijamin di tanah haram. Misi itu berhasil diemban dengan baik. Raja Saud menyetujui permintaan itu. Kiai Wahab pula yang memprakarsai adanya tradisi jurnalistik di kalangan NU dengan mendirikan majalah tengah bulanan Soeara Nahdlatul Oelama. Majalah itu dipimpin langsung oleh Kiai Wahab sendiri dari Surabaya dan mampu bertahan 7 tahun lamanya. Kelak, majalah itu berganti nama menjadi Beriita Nahdlatul Ulama ketika dipimpin oleh KH Machfudz Siddiq dan Abdullah Ubaid sebagai wakilnya. Pernah ada kisah yang unik ketika Kiai Wahab dimintai nasehat tentang ‘perseteruan’ antara generasi muda (ANO) dengan generasi tua (NU). Masalahnya sepele, NU tidak mau mengakui keberadaan ANO karena baju seragam yang dipakai ANO adalah celana panjang, dasi, kopiah, dan tanda bintang di pundak. Seolah mirip bangsa asing. Padahal ada doktri, siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk kaum itu. Waktu itu, Kiai Wahab mengilustrasikan ketika para sahabat berperang melawan Persi, kuda yang dijadikan alat tunggangan berbalik karena takut berhadapan dengan gajah yang digunakan pasukan Persi. Begitu juga gajah-gajah Persi, ia juga balik badan melihat kuda para sahabat.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 12 Risyanto

Melihat kondisi seperti itu, pasukan Islam mulai belajar dari fenomena yang ada. Umat Islam membeli gajah dan memperkenalkan ke kuda yang akan digunakan untuk berperang. Akhirnya, setelah kuda terlatih berhadapan dengan gajah, umat Islam pun bisa mengalahkan Persia dalam pertarungan. Kiai Wahab adalah penggagas berdirinya jam’iyah NU bersama KH. M. Hasyim Asy’ari pada tahun 1926. Menjabat Katib Aam PBNU saat NU pertama kali didirikan dengan KH M Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbarnya. Di saat KH Hasyim Asy’ari dan KH Machfudz Siddiq, keduanya atas nama Rais Akbar dan Ketua PBNU dipenjara tentara pendudukan Jepang, Kiai Wahab tampil mengambil alih kepemimpinan dengan menyebut dirinya Ketua Akbar (1942). Di saat keduanya dilepaskan tentara pendudukan Jepang, posisi itu diserahkan pada mereka. Sepeninggal Kiai Hasyim Asy’ari (1947) jabatan Rais Akbar ditiadakan, diganti menjadi Rais Aam, dengan Kiai Wahab sebagai orang pertama yang menduduki posisi itu hingga wafatnya (1971). Sedangkan KH Bisri Syansuri (adik iparnya) menjadi wakilnya. Ketika Kiai Wahab wafat, posisinya digantikan Kiai Bisri. Kiai Wahab wafat pada hari Rabu 12 Dzulqa’dah 1391 H / 29 Desember 1971 M dalam usia 83 tahun, dimakamkan di pemakaman keluarga pesantren Bahrul Ulum, Tambak Beras, Jombang. d. KH. Ali Maksum Lazimnya kiai yang diamanati putra kiai, biasanya para putra kiai (gus) akan diberi perlakuan khusus. Tetapi konsep ini tidak berlaku bagi Kiai Ali Maksum. Para gus yang belajar di pesantren Kiai Ali Maksum posisinya sama dengan yang lain. Mereka bangun dari subuh dan belajar sampai jam 9 malam. Para gus harus belajar dengan rajin dan tekun. Bila para gus tidak hafal bait-bait kitab tertentu, Kiai Ali Maksum akan menghukum berdiri sampai mereka bisa hafal. Bila tetap tidak bisa hafal, mereka akan diikat di kursi atau meja.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 13 Risyanto

Inilah betapa kerasnya Kiai Ali Maksum mempersiapkan generasi NU di pesantrennya. Kiai Ali Maksum lahir tanggal 15 Maret 1915 di Lasem, Rembang, Jawa Tengah. Putra Sulung Kiai Ali Maksum, pendiri pondok Pesantren al Hidayah Lasem yang juga salah seorang kiai pendiri NU. Ia kemudian menjadi menantu KH Munawwir, pendiri Pondok Pesantren Krapyak, selatan Kraton Yogyakarta. Sejak Kiai Munawir wafat, Kiai Ali Maksum yang menjadi penggantinya. Riwayat pendidikan Kiai Ali Maksum, sejak kecil belajar di pesantren ayahnya sendiri, Pesantren al Hidayah Lasem, yang saat itu menjadi pusat rujukan para santri dari berbagai daerah. Lalu belajar pada Kiai Amir di Pekalongan, dan melanjutkan ke Pesantren Tremas, Pacitan, asuhan KH Dimyati. Di sana tinggal selama 8 tahun. Kemudia menetap di Makkah semala 2 tahun untuk memperdalam ilmunya kepada Sayid Alwy al Maliky dan Syech Umar Hamdan. Ia dikenal bisa menguasai Bahasa Arab dengan baik. Kiai Ali Maksum adalah pribadi yang sederhana dan tenang. Ia tidak pernah menonjolkan diri. Ia tampil biasa-biasa saja. Tetapi dari karismanya itu justru banyak orang bersimpatik. Kiai Ali Maksum bisa meredam dan mendamaikan elit politik NU yang mengalami berseberangan jalan ‘perjuangan’ dan akhirnya beliau diangkat sebagai Rais Aam. Dalam khutbah iftitah Munas dan Konbes, ia sempat menyinggung perlunya diberikan peluang regenerasi serta pemulihan kedudukan ulama sebagai pemegang kendali di NU yang dirasa semakin melemah di depan politisi. Sejak itu, langkah-langkah perubahan di dalam NU semakin sering dilakukan. Puncaknya terjadi pada tahun 1984, ketika muktamar dilangsungkan di Situbondo. NU resmi menyatakan kembali ke khittahnya, 1926. Lepas dari hiruk pikuk partai politik.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 14 Risyanto

Kiai Ali Maksum menjabat Rais Aam PBNU selama 4 tahun, sejak 1981 hingga 1984. Dalam susunan pengurus hasil Muktamar ke 27 di Situbondo, ia menduduki posisi Mustasyar PBNU. Sedangkan Rais Aam dipercayakan kepada KH Achmad Siddiq dan Ketua Umum PBNU dipercayakan kepada KH Abdurrahman Wahid. Kiai Ali Maksum wafat setelah menjadi shahibul bait Muktamar NU ke 28 di Krapyak, Yogyakarta. Tepatnya tanggal 7 Desember 1989 dalam usia 74 tahun. Dimakamkan di pemakaman Dongkelan, Bantul. Selain meninggalkan lembaga pendidikan yang cukup besar, ia juga mewariskan banyak buku yang menjadi hasil karya tulisnya. Di antaranya buku karyanya yang terkenal adalah Hujjah Ahlussunnah wal Jama’ah an Nahdliyah, yang banyak dijadikan rujukan para ulama NU. e. KH. As’ad Syamsul Arifin Ia memiliki santri khusus yang disebut Pelopor. Mereka bertugas langsung untuk mendakwahkan agama Islam ke daerah-daerah minus. Selain itu, tugas santri Pelopor adalah menyadarkan masyarakat blateran, yaitu mereka yang suka carok, di daerah tapal kuda Jawa Timur. Kiai As’ad lahir di Kota Suci Makkah tahun 1897. Putra KH R. Syamsul Arifin, ulama terkenal asal Pamekasan yang telah lama bermukim di tanah suci. Kiai As’ad mondok di pesantren Guluk-Guluk, Sumenep Pesantren Kiai Cholil Bangkalan; Pesantren Tebuireng, Jombang; Pesantren Sidogiri, Pasuruan; Pesantren Siwalanpanji, Sidoarjo; belajar agama di Makkah selama 9 tahun. Kiai As’ad adalah salah satu tokoh dibalik layar berdirinya Nahdlatul Ulama. Dialah yang diutus oleh gurunya, Kiai Cholil Bangkalan (1925) untuk menemui Kiai Hasyim Asy’ari di Tebuireng dengan membawa pesan tongkat dan diiringi surat Thoha ayat 17 – 23 :

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 15 Risyanto

                                                                      
17. Apakah itu yang di tangan kananmu, Hai Musa? 18. berkata Musa: "Ini adalah tongkatku, aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya". 19. Allah berfirman: "Lemparkanlah ia, Hai Musa!" 20. lalu dilemparkannyalah tongkat itu, Maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat. 21. Allah berfirman: "Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula, 22. dan kepitkanlah tanganmu ke ketiakmu, niscaya ia ke luar menjadi putih cemerlang tanpa cacad, sebagai mukjizat yang lain (pula), 23. untuk Kami perlihatkan kepadamu sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar, Dari pesan yang dibawa Kiai Wahab, Kiai Hasyim Asy’ari paham bahwa Kiai Cholil Bangkalan merestui apa yang sedang difikirkan Kiai Hasyim dan kawan-kawan untuk mendirikan sebuah jam’iyyah. Setahun kemudian, Kiai Wahab kembai lagi menemui Kiai Hasyim untuk menyerahkan pesan dari Kiai Cholil Bangkalan. Kali ini pesan yang dibawa Kiai Wahab adalah seutas tasbis dan perintah Kiai

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 16 Risyanto

Cholil Bangkalan agar Kiai Hasyim membaca Ya Jabbar dan Ya Qohhar, setiap waktu. Pesan itu ditangkap oleh Kiai Hasyim sebagai isyarat bahwa dukungan Kiai Cholil Bangkalan penuh dalam rangka pendirian jam’iyah, maka sejak itu ada jam’iyah yang mewadahi para kiai dan santri, yakni : Nahdlatul Ulama, 16 Rajab 1344 H / 31 Januari 1926 M, Kiai Wahab selalu bergabung di dalamnya. Pada tahun 1945, Kiai Wahab masuk barisan Hizbullah / sabilillah dan bergrilya di daerah Jember. Menjelang Kiai Hasyim wafat, beliau berpesan kepada Kiai Wahab untuk menjaga NU jangan sampai dipecah-pecah. Pada tahun 1982, ketika terjadi gap yang sangat tajam di antara para ulama NU. Para petinggi NU terpecah menjadi dua kelompok, antara kubu Cipete (dikenal dengan kelompok politisi, dipimpin DR. KH. Idham Chalid) berhadapan dengan kubu Situbondo (dikenal dengan kelompok ulama, dipimpin KH As’ad Syamsul Arifin). Ia bersama Kiai Mahrus Aly dan Kiai Ali Maksum menemui DR. Idham Chalid. Pertemuan di rumah Idham Chalid itu menghasilkan pernyataan pengunduran diri Idham dari jabatannya sebagai Ketua Umum PBNU. Tapi sayang, 12 hari kemudian pernyataan itu dicabut kembali. Dalam konfil besar itu, Kiai Wahab sebagai pendukung utama kelompok ulama. Kiai Wahab juga yang memelopori naiknya Gus Dur (Abdurrahman Wahid) ke tampuk kursi Ketua Umum PBNU dalam Muktamar NU ke 27 di Situbondo. Sedangkan Kiai As’ad masuk dalam struktur Mustasyar. Namun pada muktamar selanjutnya, ke 28 yang diselenggarakan di Krapyak, Yogyakarta, Kiai As’ad tidak hadir. Hal ini karena Kiai As’ad menganggap Gus Dur banyak merugikan umat Islam. Kiai As’ad menamsilkan Gus Dur sebagai imam sholat yang kentut, karenanya ma’mum harus meninggalkannya.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 17 Risyanto

Kiai As’ad wafat pada hari Sabtu 4 Agustus 1990 M / 13 Muharram 1411 H. Dimakamkan di areal pesantrennya berdampingan dengan makam ayahnya, KH R Syamsul Arifin.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 18 Risyanto

f. KH. Wahid Hasyim Malam itu kira-kira pukul 21.00, tapi jalanan di Jakarta sudah agak sepi. Hanya terlihat beberapa delman dan orang naik sepeda. Mobil-mobil tidak begitu kelihatan. Itupun hanya dinaiki tuan-tuan Dai Nippon. KH Saifuddin Zuhri duduk disamping KH A. Wahid Hasyim yang sedang mengemudikan mobil Fiat hitam. “inikah mobil dinas, Gus? Tanya Saifuddin. “Bukan! Mobil dinas saya pakai di waktu ngantor saja. Itupun jarang aku pakai. Aku diberi mobil dinas pakai tanda Jepang. Aku tak mau pakai. Aku malu memakai mobil militer Jepang. Sebab itu, aku membeli sendiri mobil Fiat ini,” Jawab Wahid Hasyim. “Bagaimana caranya bisa membeli mobil sendiri di jaman begini?” kejar Saifuddin. “Ya Allah! Kalau soal mobil saja tidak bisa memecahkan, bagaimana bisa memecahkan persoalan rakyat?” jawab Kiai Wahid tegas. “Mobil adalah alat bepergian, juga alat berjuang. Banyak di antara kawan-kawan kita yang sudah tergolong pemimpin, kadang-kadang persoalan rumah tangga saja tidak bisa memecahkannya. Bagaimana bisa memecahkan persoalan umat yang jauh lebih besar dari sekedar masalah rumah tangga?” KH. A. Wahid Hasyim lahir di Jombang pada hari Jumlat Legi 5 Rabiul Awal 1333 H / 1 Juni 1914 M. Putra lelaki pertama Kiai Hasyim Asy’ari, pendiri jam’iyah NU. Sejak kecil, Kiai Wahid Hasyim belajar pada ayahnya dan menjadi siswa di Madrasah Salafiyah di Pesantren Tebuireng. Usia 13 tahun belajar kepada Kiai Khozin di Pondok Siwalanpanji, Sidoarjo (di pesantren inilah ayahnya dulu berguru dan dijadikan menantu). Lalu melanjutkan ke Pesantren Lirboyo, Kediri. Dalam usia 15 tahun sudah menguasai bahasa Arab, Inggris, dan Belanda. Tahun 1932 naik haji dan menetap di sana selama 2 tahun. Tahun 1932 mendirikan IKPI (Ikatan Pelajar Islam Indonesia) dan mendirikan perpustakaan dengan koleksi sebanyak 1.000 buku. Ketika berusia 24 tahun, Kiai Wahid Hasyim mulai aktif dalam jamiyah NU. Mula-mula menjabat sebagai Penulis I Kring (sekretaris ranting) NU Tebuireng. Kemudian meningkat menjadi

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 19 Risyanto

anggota pengurus NU Cabang Jombang. Dalam waktu kurang dari 1 tahun dia sudah terpilih sebagai wakil ketua tanfidz PBNU yang menangani masalah pendidikan. Pada tahun 1938, Kiai Wahid Hasyim menjabat sebagai Ketua PP LP Ma’arif. Tahun 1939 terpilih sebagai Ketua dewan MAJLIS ISLAM ALA INDONESIA (MIAI). Ketika Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) berdiri, 1943, Kiai Wahid Hasyim duduk sebagai Ketua II. Sedangkan ketua umumnya ayahnya sendiri (Hasyim Asy’ari), Ketua I Ki Bagus Hadikusumo dan Ketua III Mr. Kasman Singodimejo. Tahun 1944, Kiai Wahid Hasyim didatangi utusan bala tentara Jepang yang memintanya agar mengirimkan para santri pesantren masuk Heiho (prajurit pembantu Jepang) yang banyak dikirim ke Burma. Namun permintaan itu ditolak oleh Kiai Wahid Hasyim. Justru dia mengusulkan agar mereka melatih para santri tentang kemiliteran untuk pertahanan dalam negeri. Ternyata usulan itu diterima. Maka sejak 14 Oktober 1944 berdirilah Hizbullah. Mereka dilatih kemiliteran oleh tentara Jepang dan para Shodanco PETA selama 3 bulan di Cibarusa, Bogor. Pada tahun yang sama ditunjuk sebagai Kepala Kantor Urusan Agama Pusat, menggantikan ayahnya, yang sebagai pimpinan resmi tidak bisa meninggalkan Jawa timur. Dalam pada itu dia terpilih sebagai anggota BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia) dengan termasuk sub panitia 11 yang pada tanggal 22 Juni 1945 menandatangani Piagam Jakarta. Sampai akhirnya Kiai Wahid Hasyim menjadi ketua umum PBNU 1952 menggantikan KH. Nahrawi Thohir setahun sebelumnya. Kiai Wahid Hasyim meninggal dunia tanggal 19 April 1953 akibat kecelakaan mobil yang dinaiki di daerah Cimindi, antara Cimahi dan Bandung, dalam usia 39 tahun. Dimakamkan di komplek pondok pesantren Tebuireng, di dekat makam ayahandanya.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 20 Risyanto

Ditetapkan sebagai pahlawan kemerdekaan nasional. Salah seorang putranya, KH Abdurrahman Wahid, menjadi Presiden RI IV, setelah menjabat Ketua Umum PBNU tiga periode. g. KH. Bisri Mustofa Menjadi menantu kiai itu enak-enak susah. Bila yang pintar memang enak, sebab langsung bisa mengajar tanpa harus susah payah mencari santri. Tetapi bagi yang pas-pasan atau bodoh, tentu menjadi persoalan yang serius. Pemandangan terakhir inilah yang dialami Kiai Bisri ketika menjadi menantu Kiai Cholil Harun Kasingan, Rembang. Dia prihatin ketika banyak santri minta dibacakan kitab yang macam-macam. Padahal, jangankan membaca, wujud kitabnya saja kadang dia belum pernah tahu. Sebagai seorang yang berjiwa teguh, Kiai Bisri menggunakan metode belajar candak kulak (belajar sambil mengajar). Maklum, menolak mengajar adalah suatu yang sangat dipantang. Apa kata santri bila ada menantu kiai tidak bisa membaca kitab kuning. Waktu itu, Kiai Bisri berguru kepada Kiai Kamil di Karanggeneng. Hasil belajarnya kemudian diajarkan kepada para santri. Teknik Kiai Bisri saat belajar pada Kiai Kamil cukup sekali datang dan kemudian hasil belajarnya digunakan untuk mengajar santri selama tiga kali. Suatu ketika pernah pengajian Kiai Kamil di Karanggeneng libur, maka libur pula pengajian yang diasuh Kiai Bisri selama 3 hari. Hal ini tentu memprihatinkan. Kondisi seperti itu menjadikan Kiai Bisri tidak betah tinggal di rumah mertuanya. Akhirnya, Kiai Bisri memutuskan untuk meninggalkan pesantren di mana mertuanya berada. Kiai Bisri memutuskan untuk pergi haji dengan uang tabungan hasil jualan kitab. Meski dengan bekal pas-pasan, Kiai Bisri ‘nekat’ pergi haji. Di Makkah Kiai Bisri merelakan dirinya menjadi khadim Syech Chamid Said. Kesempatan belajar di Makkah tidak disia-siakan. Tidak ada istilah waktu kosong. Kiai Bisri memaksimalkan semua waktu yang ada untuk belajar, dan akhirnya setelah satu tahun beliau pulang ke tanah air dengan penguasaan kitab kuning yang mumpuni. Kiai Bisri lahir di Sawahan, Rembang 1915. Putra H. Zainal Mustofa, seorang saudagar kaya raya pada masa itu. Kiai Bisri naik haji pada usia 8 tahun bersama orang tua dan kedua adiknya. Masuk sekolah Ongko Loro, semacam Sekolah Rakyat atau Sekolah Dasar di Rembang. Dalam bahasa Belanda sering dikenal

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 21 Risyanto

dengan sekolah HIS. Lulus Ongko Loro masuk pesantren Kasingan, Rembang asuhan Kiai Cholil. Tahun 1932 minta restu kiainya untuk pindah ke Pesantren Tremas, Pacitan, asuhan Kiai Dimyati, namun tidak diijinkan karena akan dijadikan menantunya. Sejak tahun 1936 bermukim di Makkah selama satu tahun untuk mendalami agama kepada para syech di sana. Ketika Masyumi berdiri Kiai Bisri menjadi Ketua Masyumi Cabang Rembang. Pernah menjabat Kepala Kantor Jawatan Agama (Kakandepag) Karesidenan Pati. Jabatan itu ditinggalkannya ketika tentara Belanda bersama Sekutu datang lagi untuk menjajah kemerdekaan Indonesia. Kiai Bisri bergabung dalam Laskar Hizbullah dan menjadi Ketua Cabang Rembang. Sejak tahun 1949 terpilih sebagai penghulu darurat dan Kepala KUA (non SK) dengan kekuasaan seluruh Kabupaten Rembang. Selain dikenal sebagai orator yang luar biasa dan mahir memikat massa, Kiai Bisri juga dikenal sebagai penulis yang produktif dalam mobil pun beliau rajin menulis. Karya tulisnya tidak kurang dari 176 buku, baik yang merupakan karya asli, terjemahan, syi’iran maupun esei. Di antara kitab-kitab hasil karyanya adalah tafsir al Qur’an Ibriz, al Iktsir, Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah an Nahdliyah, al Baiquniyah, terjemah syarah Alfiyah Ibnu Malik, al Mujahadah wa Riyadhoh dan al Habibah yang masih banyak dipakai kaum Nahdliyin hingga sekarang. Ada kisah unik yang dialami Kiai Bisri. Al kisah, suatu ketika Kiai Ali Maksum menyampaikan keluhan padanya seputar kegagalannya saat menulis kitab. Dengan gaya khasnya Kiai Bisri menjawab Lha, soalnya sampeyan nulis (karema) lillahi ta’ala sich. Tentu saja jawaban itu mengejutkan Kiai Ali, lho, kiai nulis kok tidak lillahi ta’ala, terus dengan niat apa? Kejar Kiai Ali Maksum penasaran. Kalau saya, menulis niatnya nyambut gawe. Seperti falsafah penjahit. Ia, meskipun ada tamu tetap menjahit. Tamu ia ajak

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 22 Risyanto

jangongan, tetapi pekerjaan menjahit tetap dilakukan. Mengapa? Karena bila tidak menjahit, bagaimana dengan nasib periuknya? Kalau belum-belum sampeyan sudah niat yang muluk-muluk dan mulai kerja, maka syetan mudah menggelincirkan. Coba jika niatnya mencari duit, pasti syetan senang. Nah nanti setelah buku karya sampeyan jadi, dan kemudian diserahkan kepada penerbit, sampeyan berniatlah yang baik-baik, seperti untuk menyebarkan ilmu atau apa saja yang penting baik .. sekali-kali syetan kita tipu donk kiai. Kiai Bisri wafat pada 16 Pebruari 1977 dalam usia 64 tahun. Dimakamkan di Pemakaman Kabongan, rembang, berdampingan dengan makam mertuanya, KH Cholil Harun. h. KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) Pagi itu, para santri Tebuireng sedang mengawasi putra kiainya yang sedang belajar berjalan. Seperti anak-anak pada umunya, putra kiai pun jatuh bangun ketika belajar berjalan. Ketika jatuh, para santri Tebuireng segera memberikan pertolongan, dan membersihkan badannya. Tetapi, ketika Kiai Wahid Hasyim melihat anaknya jatuh dan ditolong, ia justru melarang dan berkata, biarkan anak ku belajar berjalan. Bila jatuh, biarkan ia bangkit sendiri. Anak kecil yang belajar berjalan itu adalah Abdurrahman ad Dakhil yang terkenal dengan sebutan Gus Dur. Gus Dur lahir pada 4 Agustus 1940 di Denanyar, Jombang. Ayahnya Kiai Wahid Hasyim adalah putra KH. Hasyim Asy’ari (Tebuireng). Sedangkan ibunya, Ny Hj. Sholichah adalah putri KH Bisri Sansuri (Denanyar). KH. M. Hasyim Asy’ari semasa hidupnya menjabat sebagai Rais Aam, sedangkan KH Bisri Syansuri menjabat Rais Aam sesudahnya. Dari kedua jalur nasab itu menujukkan bahwa Gus Dur mempunyai aliran darah biru kiai yang sangat besar dan berpengaruh.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 23 Risyanto

Gus Dur menamatkan pendidikan dasar di Jakarta (1953). Meneruskan di SEP Gowangan, Yogyakarta, sambil belajar di Pesantren Krapyak (1956). Setelah tamat dari SMEP, melanjutkan pendidikan di Pesantren Tegalrejo, Magelang, selama 3 tahun. Lalu ke Pesantren Tambakberas, Jombang. Mengajar di Madrasah Muallimat Tambakberas sejak tahun 1959. Tahun 1960-an Gus Dur melanjutkan pendidikannya di Universitas al Azhar Cairo Mesir. Kemudian pindah ke Fakultas sastra Universitas Baghdad, Iraq. Namun keduanya tidak sampai tamat. Sampai awal tahun 1970 masih aktif dalam setiap kegiatan PPI (Perhimpunan Pelajar Indonesia) Timur Tengah. Pulang dari Iraq, mengajar di Fakultas Ushuluddin Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy) Tebuiren, Jombang, sekaligus menjadi dekannya (1972 – 1974). Menjadi sekretaris Pesantren Tebuireng (1974 – 1979). Gus Dur masuk ke dalam komunitas NU pada tahun 1979 atas dorongan kakeknya, KH Bisri Syansuri yang saat itu menjabat Rais Aam PBNU. Gus Dur langsung menempati posisi Wakil Katib Aam PBNU. Pada Muktamar NU ke 27 di Situbondo ia terpilih sebagai Ketua Umum PBNU bersama KH Achmad Siddiq sebagai Rais Aam. Jabatan itu disandangnya hingga tiga periode, yakni lewat Muktamar ke 27 di Situbondo (1984), Muktamar ke 28 di Yogyakarta (1989), dan Muktamar ke 29 di Cipasung (1994). Dalam Muktamar ke 30 di Lirboyo, Kediri (1999) Gus Dur yang saat itu menjadi Presiden RI diangkat sebagai salah seorang Mustasyar PBNU. Namun sejak muktamar ke 31 di Asrama Haji Donohudan, Solo (2004), Gus Dur dan para kiai pendukungnya tampak kurang sepakat dengan pengurus baru PBNU. Sampai akhirnya ia berencana mendirikan NU yang benar alias PBNU tandingan, dengan kantor yang sama dengan PBNU hasil muktamar Donohudan. Tetapi akhirnya niat itu tidak pernah kesampaian.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 24 Risyanto

PBNU tetap satu, dengan DR KH MA Sahal Mahfudh sebagai Rais Aam dan KH A Hasyim Muzadi sebagai Ketua Umum Tanfidziyahnya. Gus Dur ketika pada masa-masa awal meniti karier, dikenal sebagai seorang kolumnis yang produktif. Tulisannya banyak menghiasi halaman media massa nasional, terutama untuk majalah Tempo dan koran Kompas. Pernah menjabat sebagai Ketua Dewan pelaksana Harian Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), juri Festival Film Indonesia (FFI), dan juga pernah menjadi anggota MPR wakil dari DKI Jakarta. Semasa menjabat Ketua Umum PBNU yang ketiga kalinya (1998), PBNU menfasilitasi berdirinya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Gus Dur duduk sebagai Ketua Dewan Syuro partai tersebut. Nama PKB akhirnya identik dengan Gus Dur daripada ketua umumnya, Matori Abdul Jalil maupun Alwi Shihab. Gus Dur meninggal pada 30 Desember 2009. Rakyat berduka dan tidak hanya warga Nahdliyin, tetapi hampir seluruh elemen umat beragama di Indonesia berduka. Gus Dur mendapat anugerah Bapak Bangsa, Bapak Pluralisme. i. KH Achmad Siddiq Sejak belajar di Pesantren Tebuireng, Kiai Achmad sudah menunjukkan kewibawaannya. Cerdas tapi tidak banyak tingkah. Di usianya yang masih muda, dia sudah memegang ilmu tuwo. Jangankan teman sebayanya, para guru pun segan kepada Kiai Achmad. Hanya ada satu orang yang berani menggodanya, yakni: Abdul Muchith Muzadi, alias Muchith kecil, yang kelak menjadi sekretaris pribadinya. Kiai Achmad lahir di Jember pada hari Ahad Legi 10 Rajab 1344 H / 24 Januari 1926. Putra bungsu KH Muhammad Sidiq dari Nyai Maryam. Ia adalah adik kandung KH Mahfudz Siddiq.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 25 Risyanto

Pendidikan dasar Kiai Achmad dimulai dari SR (sekolah rakyat) Islam Jember, kemudian melanjutkan di Madrasah Salafiyah Pesantren Tebuireng, Jombang hingga tamat kelas enam. Di pesantren yang diasuh Hadratusy Syech Hasyim Asy’ari. Ia menjadi kader utama KH Wahid Hasyim, putra Kiai Hasyim Asy’ari. Kiai Wahidlah yang banyak memberikan pengaruh atas watak dan kecakapan Kiai Siddiq. Termasuk ketrampilan mengetik dan membuat konsep-konsep dalam organisasi. Pengabdian Kiai Achmad dapat dilihat ketika beliau menjadi Koordinator Gerakan Pemuda Islam Indonesia (GPII, ormas pemuda di bawah naungan Masyumi) untuk wilayah Jember dan Besuki (1945), hingga masuk dalam kepengurusan tingkat Jawa Timur. Ia juga pernah menjadi Ketua PWNU Jawa Timur, mengantikan KH Abdullah Siddiq, kakaknya. Dalam Muktamar NU ke – 27 di Situbondo tahun 1984, ia terpilih sebagai Rais Aam PBNU dengan KH Abdurrahman sebagai Ketua Umum Tanfidziyah. Kiai Achmad menggantikan Kiai Ali Maksum, sedangkan Gus Dur menggantikan DR. KH. Idham Chalid. Kiai Achmad adalah pemrakarsa gerakan kembali ke Khittah NU 1926 yang diputuskan di Situbondo. Ide-ide segar tentang pembaruan NU banyak bermunculan darinya, misalnya tentang Fikrah Nahdliyah, NU menerima azaz Pancasila, konsep ukhuwah NU, dan tentu saja tentang Khittah NU yang monumental. Ide-ide segar KH Achmad siddiq banyak ditulis KH Abdul Muchid Muzadi, teman semasa di Tebuireng, yang menjadi sekretaris pribadinya. Sampai hari ini, Khittah Nahdliyah dan Fikrah Nahdliyah karya Kiai Achmad masih menjadi pemandu utama PBNU untuk menentukan langkahnya. Begitu juga dengan konsep ukhuwahnya. Kiai Achmad dikenal pandai membuat tamsil. Dan pembukaan Muktamar NU ke 28 di Krapyak, Yogyakarta (1989), ia membuat

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 26 Risyanto

tamsil yang jitu di sela Khutbah Iftitahnya; NU ini ibarat kereta api, yang rel dan arah tujuannya sudah jelas. Bukan taksi, yang bisa di bawa ke mana saja oleh penumpangnya. Rel NU itu sudah jelas Pada kesempatan lain, Kiai Achmad melanjutkan, rel dan tujuan NU sudah jelas. Syarat-syarat untuk menjadi masinis juga sudah ditentukan dengan jelas. Barangsiapa yang tidak sejalan dengan tujuan NU, ya jangan naik kereta NU. Silahkan cari kendaraan yang lain saja. Dalam karier politik, Kiai Achmad pernah menjadi Kepala KUA di Situbondo dan Koordinator Jawatan Agama Daerah Besuki. Ketika KH A. Wahid Hasyim menjadi Menteri Agama, Kiai Achmad yang dipercaya sebagai sekretaris pribadinya, menggantikan AA Achsin. Dan berkat bimbingan Wahid Hasyim pula, karier Kiai Achmad terus meningkat. Pernah menjadi pegawai menengah dan tinggi di Kementerian Agama, dan juga pernah menjadi Kepala Kantor Departemen Agama Propinsi Jawa Timur. Hasil pemili 1955 mengantarkan dirinya untuk duduk di kursi DPR RI dari fraksi NU. Namun tidak lama ia bertahan di sana, sebab sikapnya senantiasa keras pada Nasakom yang didukung pemerintah Belanda dengan para kiai NU kala itu yang lebih banyak menempuh jalan kompromi. Kursi DPR RI kembali didudukinya setelah pemilu 1971. Dan sejak 1977 kembali aktif memimpin pesantren Ash Shiddiqiyah di tanah kelahirannya, Jember. Kiai Achmad wafat tanggal 23 Januari 1991 setelah dirawat di RS Dr Soetomo Surabaya. Atas permintaan dirinya sebelum meninggal, jenazahnya dimakamkan di Kompleks Makam Aulia Desa Mojo, Kediri, tak jauh dari makam KH Hamim Jazuli (Gus Mik), pendiri semaan al Qur’an Mantab.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 27 Risyanto

ISTILAH POPULER DALAM TUBUH NU

Sering warga NU dibuat pusing dengan istilah-istilah yang digunakan dalam organisasi Islam yang bernama NU, seperti: syuriah, tanfidziyah, muktamar, qonun asasi, a’wan, dll. Dalam tulisan ini sengaja penulis paparkan beberapa istilah-istilah yang digunakan jam’iyah Nahdlatul Ulam, antara lain : 1. A’wan Sebutan anggota. 2. Ahlul Halli wal Aqdi Orang yang berkompeten untuk melepaskan dan mengikat (sebagai suatu lembaga). Menurut ahli fiqh, ahlul halli wal ‘aqdi merupakan institusi yang para anggotanya terdiri dari para ahli yang mengemukakan pendapatnya tentang suatu masalah untuk mendapatkan kebenaran melalui musyawarah. Dan dengan musyawarah akan melahirkan beberapa pendapat tentang masalah yang sedang dihadapi dan mencarikan keputusannya, sehingga menghasilkan kebenaran daripada kalau diputuskan sendiri. Ada tiga syarat yang harus dimiliki oleh setiap anggota ahlul halli wal ‘aqdi, yaitu: a. Memiliki sifat adil dan selalu memelihara wibawa dan nama baik (muru’ah). b. Memiliki ilmu pengetahuan yang memadai sesuai dengan fungsi lembaganya. c. Memiliki wawasan yang luas dan kebijaksanaan, sehingga mampu menilai berbagai alternatif serta memilih yang sebaikbaiknya, untuk anggota syuriyah NU di semua jenjang kepengurusan. A’wan berasal dari bahasa Arab yang artinya

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 28 Risyanto

3. Ahlussunnah wal Jama’ah an Nahdliyah NU adalah organisasi keagamaan yang bertujuan melestarikan, mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah an Nahdliyah. Arti ahlussunah wal jamaah adalah para pengikut yang berpegang teguh kepada al Qur’an, al Hadits, al Ijma’, dan al Qiyas. Doktrin ahlussunah wal jamaah berpangkal pada 3 panutan; a. Mengikuti paham al Asy’ariyah dan al Maturidi dalam bertauhid. b. Mengikuti salah satu madzhab fiqh yang empat (Hanafi, Maliki, Hambali, dan Syafi’i) dalam beribadah. c. Mengikuti cara yang ditetapkan al Junaidi al Baghdadi dan al Ghozali dalam bertarekat. 4. Anak Cabang Adalah istilah kepengurusan badan otonom dan lembaga NU di tingkat kecamatan. Khusus untuk NU di sebut MWC (Majlis Wakil Cabang). Sedangkan untuk lembaga dan Banom biasanya menggunakan istilah Pimpinan Anak Cabang (PAC). 5. Bahtsul Masail NU dalam struktur organisasinya memiliki suatu Lembaga Bahtsul Masail (LBM). Sesuai dengan namanya, bahtsul masail, yang berarti pengkajian terhadap masalah-masalah agama, LBM berfungsi sebagai forum pengkajian hukum yang membahas berbagai masalah keagamaan. 6. Bai’at Bai’at adalah pengucapan janji atau sumpah setia. Bai’at diucapkan setiap memulai jabatan baru dalam jajaran NU dan Banom-Banomnya. Bai’at biasanya dilakukan oleh para ulama di jajaran syuri’ah atau pengurus di jenjang yang lebih tinggi. Biasanya didahului dengan membaca dua kalimah syahadat, lalu

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 29 Risyanto

mengucapkan janji untuk selalu siap dan setia dalam menjalankan tugas. 7. Banser Singkatan dari barisan Ansor serbaguna. Salah satu kekuatan inti gerakan pemuda Ansor yang identik dengan kelaskaran. Didirikan pada tahun 1964 di Kota Blitar, Jawa Timur. Nama Banser adalah atas usulan Muhammad Zainuddin Kayubi, Ketua Korda GP Ansor Karesidenan Kediri, merangkap Ketua PC GP Ansor Blitar. Makna lambang Banser: a. Kalimat ya ilaahi, melambangkan bahwa setiap gerak dan perjuangan Banser dijiwai dengan ketaqwaan setia gerak dan segala perintah Allah SWT. b. Logo Gerakan Pemuda Ansor melambangkan kesatupaduan langkah Banser yang tidak bisa dipisahkan dari organisasi induknya, yakni GP Ansor. c. Gambar burung Ababil, melambangkan kekuatan umat Islam yang menjunjung tinggi upaya kesejahteraan dan kemakmuran manusia. d. Gambar pita melambangkan keteguhan Banser dalam membela dan mendorong setiap perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan. e. Tulisan Nahnu Ansharullah melambangkan sikap Banser yang saling tolong-menolong kepada sesama manusia sebagai hamba Allah SWT. f. Warna merah (sebagai dasar logo) melambangkan keteguhan dalam melaknsakan aqidah dan semangat pantang mundur dalam membela keadilan dan kebenaran. g. Warna kuning melambangkan ketulusan, keikhlasan dan kesucian perjuangan. h. Warna hijau segitiga melambangkan keimanan, keadilan, dan kemakmuran.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 30 Risyanto

i. Warna hitam melambangkan rukun Islam lima dan Pancasila sebagai dasar negara. j. Segi lima melambangkan bahwa setiap anggota Banser siap setiap saat melaksanakan tugas organisasi. k. Perisai merah putih. Banser siap setiap saat untuk menjaga ketentraman bangsa dan NKRI. 8. Fatayat Fatayat adalah salah satu badan otonom NU yang membina para pemudi. Fatayat NU artinya para pemudi NU. Fatayat didirikan tanggal 7 Rajab 1369 H / 24 April 1950. Hanya saja, perintisannya sudah dimulai sejak tahun 1940, oleh tiga serangkai wanita; Murtasiyah (Surabaya), Khuzaimah Mansur (Gresik), dan Aminah Mansur (Sidoarjo). Arti lambang Fatayat; a. Setangkai bunga melati, lambang yang murni. b. Tegak di atas dua helai daun, setiap gerak Fatayat tidak lepas dari pemantauan bapak dan ibu (NU dan Muslimat). c. Di dalam sebuah bintang, Fatayat senantiasa berlandaskan perintah Allah dan sunnah rasul. d. Delapan bintang, empat khulafaur rasyidin madzhab. e. Dilingkari tali persatuan, Fatayat NU tidak keluar dari ahlus sunnah wal jamaah. f. Dilukis dengan warna putih di atas warna hijau, Fatayat senantiasa bergerak pada kesucian dan kebenaran. 9. Fikrah Nahdliyah Fikrah Nahdliyah adalah kerangka berpikir yang didasarkan pada ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah an Nahdliyah yang dijadikan landasan berpikir NU (khithah nahdliyah) untuk menentukan arah perjuangan dalam rangka islahul ummah (perbaikan umat). dan empat

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 31 Risyanto

Metode berpikir ke – NU – an; Dalam merespok persoalan, baik yang berkenaan dengan persoalan keagamaan maupun kemasyarakatan, NU memiliki manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah an Nahdliyah sebagai berikut; a. Mengikuti paham al Asy’ariyah dan al Maturidi dalam bertauhid. b. Mengikuti salah satu madzhab fiqh yang empat (Hanafi, Maliki, Hambali, dan Syafi’i) dalam beribadah. c. Mengikuti cara yang ditetapkan al Junaidi al baghdadi dan al Ghozali dalam bertarekat. Ciri-ciri fikrah nahdliyah; a. Fikrah tawassuthiyyah (pola pikir mmoderat), artinya NU senantiasa bersikap tawazun (seimbang) dan i’tidal (moderat) dalam menyikapi berbagai persoalan, NU tidak tafrith atau ifrath. b. Fikrah tasamuhiyah (pola pikir toleran), artinya NU dapat hidup berdampingan secara damai dengan pihak lain walau pun aqidah, cara pikir, dan budayanya berbeda. c. Fikrah ishlahiyyah (pola pikir reformatif), artinya NU senantiasa mengupayakan perbaikan menuju ke arah yang lebih baik (al ishlah ila ma huwa al ashlah). d. Fikrah tathawwuriyah melakukan (pola pikir dinamis), dalam artinya NU senantiasa kontekstualisasi merespon

berbagai persoalan. e. Fikrah manhajiyah (pola pikir metodologis), artinya NU senantiasa menggunakan kerangka berpikir yang mengacu kepada manhaj yang telah ditetapkan oleh NU.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 32 Risyanto

Ide fikrah nahdliyah ini pertama kali diajukan oleh KH Achmad Siddiq pada tahun 1969, yang selanjutnya menjadi embrio gerakan khittah pada tahun 1984. Pada muktamar-muktamar selanjutnya selalu menjadi acuan dalam komisi bahtsul masail maudhu’iyah. 10. Gerakan Pemuda Ansor Dibentuk pada tanggal 24 April 1934 M / 10 Muharram 1353 H. Melalui Muktamar NU ke 9 di Banyuwangi, dengan nama Ansoru Nahdlatil Ulama (ANO). Alasan diberi nama Ansor sebagai penghormatan dan penghargaan kepada nama yang diberikan Nabi Muhammad kepada penduduk Madinah yang telah berjasa besar dalam menyambut dan menolong kedatangan Nabi dan para sahabatnya yang berhijrah dari Makkah. Mereka rela berkorban habis-habisan dalam memberikan pertolongan pada sesama saudaranya. Pemakaian nama Ansor merupakann petunjuk dari KH. A. Wahab Hasbullah. Pada tahun 1949 dalam reuni anggota ANO dan Hizbullah di Kantor PBNU Jl. Bubutan Surabaya, yang dihadiri KH A. Wahid Hasyim, disepakati nama ANO diganti menjadi Gerakan Pemuda Ansor, sebagai gerakan untuk mempersiapkan kader penerus perjuangan NU. HA Chamid Widjaja terpilih sebagai Ketua Umum PP GP Ansor yang pertama. Pada periode 1960 – 1070 Ansor mempertegas dirinya sebagai perisai NU. Makna lambang; a. Segi tiga garis alas berarti tauhid, garis sisi kanan berarti fiqih dan garis sisi kiri berarti tasawuf. b. Segi tiga sama sisi bermakna keseimbangan pelaksanaan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah an Nahdliyah yang meliputi iman, islam, dan ihsan atau ilmu tauhid, ilmu fiqh, dan ilmu tasawuf.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 33 Risyanto

c. Garis tebal sebelah luar dan tipis sebelah dalam pada sisi segi tiga berarti keserasian dan keharmonisan hubungan antara pemimpin (garis tebal) dan yang dipimpin (garis tipis). d. Warna hijau berarti kedamaian, kebenaran, dan kesejahteraan. e. Bulan sabit berarti kepemudaan. f. Sembilan bintang; Satu yang besar berarti sunnah Rasulullah. Empat bintang disebelah kanan berarti sahabat Nabi (khulafaur rasyidin). Empat bintang di sebelah kiri berarti madzhab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’I, dan Hambali). g. Tiga sinar ke bawah berarti pancaran cahaya dasar-dasar agama, yaitu: iman, islam, dan ihsan yang terhujam dalam jiwa dan hati. h. Lima sinar ke atas berarti manifestasi pelaksanaan terhadap rukun Islam yang lima, khususnya shalat lima waktu. i. Jumlah sinar yang delapan berarti juga pancaran semangat juang dari delapan Ashabul Kahfi dalam menegakkan kebenaran dan keadilan, menentang kebatilan dan kedzaliman serta pengembangan agama Allah ke delapan penjuru mata angin. j. Tulisan Ansor (huruf besar ditulis tebal) berarti ketegasan sikap dan pendirian. 11. Ikatan Pelajar NU (IPNU) IPNU adalah salah satu badan otonom NU yang menangani pelajar, remaja, santri. Sebelum IPNU terbentuk, para pelajar NU sudah mendirikan organisasi di daerah masing-masing, yang antara satu dengan lainnya tidak saling berkaitan. Ada persatuan siswa-siswa NO (Persano) di Surabaya tahun 1939, ikatan murid NO di Malang tahun 1945, Subbanul Wathan di Madura tahun 1945, dll.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 34 Risyanto

IPNU didirikan pada tanggal 20 Jumadil Akhir 1373 H / 24 Pebruari 1954, ketika diselenggarakan Kongres LP Ma’arif di Semarang. Sejak berdirinya IPNU menjadi bagian dari LP Ma’arif, dan baru pada tahun 1966, ketika diselenggarakan Kongres IPNU di Surabaya, IPNU resmi melepaskan diri dari LP Ma’arif dan menjadi Badan Otonom NU. Salah seorang pendiri IPNU adalah Prof. Dr. KH. M. Tolchah Mansur. Namun sejak tahun 1988, melalui kongresnya yang ke 10 di Jombang (dikenal dengan Deklarasi Jombang) kepanjangannya diganti menjadi Ikatan Putera Nahdlatul Ulama, karena harus menyesuaikan diri dengan undang-undang Nomor 8 tahun 1985 tentang keormasan, yang melarang adanya organisasi pelajar di sekolah, selain OSIS. Namun setelah Orde Baru tumbang, di saat kebebasan berpendapat dan bereskpresi bisa diperoleh dengan mudah, singkatan itu dikembalikan lagi seperti saat kelahirannya. Melalui kongresnya yang ke 14 di Surabaya (18 – 22 Juni 2003), kepanjangan IPNU kembali seperti semula: Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama. Makna Lambang : a. Warna hijau melambangkan subur, kuning melambang hikmah yang tinggi dan putih bermakna kesucian. Warna kuning di antara putih melambangkan hikmah dan cita-cita yang tinggi. b. Bentuk bulat bermakna kontinyu, terus-menerus. c. Tiga titik di antara kata I.P.N.U bermakna islam, iman, dan ihsan. d. Enam strip pengapit huruf I.P.N.U bermakna rukun iman. e. Bintang berarti ketinggian cita-cita. f. Sembilan bintang; lambang keluarga Nahdlatul Ulama. Satu bintang di tengah: Nabi Muhammad.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 35 Risyanto

-

Empat bintang di kanan dan kiri: khulafaur rasyidin, yakni: Abu Bakar as Shidiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abu Thalib.

-

Empat bintang di bawah : madzhab empat, yakni: Hambali, Hanafi, Maliki, dan Syafi’i.

g. Dua kitab; al Qur’an dan al Hadits. h. Bulu lambang ilmu. Dua bulu angsa bersilang melambangkan sintesa antara ilmu umum dan ilmu agama Islam. i. Sudut bintang lima bermakna rukun Islam. 12. Ikatan Pelajar Putri NU IPPNU adalah salah satu badan otonom NU yang membidangi remaja, santri dan pelanjar putri NU. Didirikan pada tanggal 8 Rajab 1374 H / 2 Maret 1955 di Solo, Jawa Tengah. Salah seorang pendirinya adalah Ny Umroh Mahfudzah. Sejak berdirinya IPPNU bernaung di bawah LP Ma’arif, namun sejak tahun 1966 melalui kongresnya di Surabaya, IPPNU berdiri sendiri sebagai salah satu badan otonom NU. Sejak tahun 1988, melalui kongresnya yang ke 9 di Jombang (29– 31 Januari 1988), kepanjangan IPPNU berganti menjadi Ikatan Puteri-Puteri Nahdlatul Ulama, karena harus menyesuaikan diri dengan UU No 8 Tahun 1985 tentang keormasan, yang melarang adanya organisasi pelajar di sekolah, selain OSIS. Namun setelah orde baru tumbang, di saat kebebasan berpendapat dan berekspresi bisa diperoleh dengan mudah, singkatan itu dikembalikan lagi seperti saat kelahirannya. Melalui kongresnya yang ke 13 di Surabaya (18 – 22 Juni 2003), kepanjangan IPPNU kembali seperti semula : Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama. Makna Lambang : a. Warna hijau : kebenaran, kesuburan serta dinamis. b. Warna putih : kesucian, kejernihan serta kebersihan.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 36 Risyanto

c. Warna kuning : hikmah yang tinggi / kejayaan. d. Segi tiga : iman, islam, dan ihsan. e. Dua buah garis tepi mengapit warna kuning ; dua kalimat syahadat. f. Sembilan bintang : keluarga Nahdlatul Ulama yang diartikan: Satu bintang besar paling atas Nabi Muhammad. Empat bintang di sebelah kanan : empat sahabat Nabi (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali). Empat bintang di sebelah kiri : empat madzhab yang diikuti (Maliki, Hanafi, Syafi’i, Hambali). g. Dua kitab : al Qur’an dan Hadits h. Dua bulu bersilang : aktif menulis dan membaca untuk menambah wacana berfikir. i. Dua bunga melati : perempuan yang dengan kebersihan pikiran dan kesucian hatinya memadukan dua unsur ilmu pengetahuan umum dan agama. j. Lima titik di antara tulisan I.P.P.N.U : rukun islam. 13. Katib Katib (bukan khatib) adalah sebutan untuk pengurus Syuriah yang menangani administrasi. Tidak jauh beda dengan jabatan sekretaris di jajaran Tanfidziyah. Katib berasal dari Bahasa Arab yang artinya sekretaris atau penulis. Katib Aam berarti sekretaris jenderal (Sekjen). 14. Khittah Nahdliyah Khittah Nahdliyah adalah landasan berpikir, bersikap, dan bertindak warga NU yang harus dicerminkan dalam tingkah laku perseorangan maupun organisasi, serta dalam setiap proses pengambilan keputusan. Khittah ini diputuskan dalam Muktamar NU ke 27 (1984) di Situbondo. KH. Achmad Siddiq (Rais Aam PBNU 1984 – 1991) sebagai penggagas ide Khittah, mengartikan khittah dengan kalimat yang

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 37 Risyanto

sangat sederhana : NU tidak ke mana-mana (tetap dalam orbit 1926), tetapi berada di mana-mana (warganya bebas menyalurkan hak politik di partai politik manapun sesuai aspirasinya). Sedangkan kalimat Khittah itu sendiri pertama kali diucapkan oleh KH Achyat Chalimi (Mojokerto) pada tahun 1952, ketika berlangsung Muktamar NU. Kiai Achyat saat ini mengusulkan NU harus kembali ke Khittah, agar tidak awut-awutan begini. Namun usulan itu tidak disertai dengan konsep yang utuh, sehingga tidak mendapatkan banyak perhatian. Justru konsep khittah itu mulai tertata sejak tahun 1978, ketika KH A. Muchith Muzadi mengantarkan KH Achmad Siddiq yang akan naik haji melalui Surabaya. Jauh-jauh hari Kiai Muchith diminta oleh Kiai Achmad untuk membuat rumusan khittah, dengan pikiran yang sudah disampaikan oleh Kiai Achmad sebelumnya. Menjelang berangkat, naskah itu diberikan oleh Kiai Muchith dan dibawa Kiai Achmad ke tanah suci. Sepulang dari ibadah haji, naskah hasil ketikan Kiai Muchith itu sudah dikoreksi oleh Kiai Achmad dengan pembenahan di beberapa bagian. Setelah dilakukan perbaikan-perbaikan selama 3 bulan, barulah konsep itu disepakati oleh Kiai Achmad. Namun baru diundangkan pemakaiannya 6 bulan kemudian. 15. Komite Hijaz Merupakan cikal bakal kelahiran NU. Komite tersebut dibentuk dan dimotori oleh KH A. Wahab Hasbullah, atas restu dari Hadratusy Syech KH. M. Hasyim Asy’ari. Dibentuknya Komite Hijaz adalah untuk mengirimkan delegasi ulama Indonesia yang akan menghadap Raja Ibnu Saud (1925). Misi yang diemban di antaranya tentang kekhawatiran para ulama terhadap rencana raja yang akan melarang peribadatan yang dilandasai madzhab

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 38 Risyanto

diluar yang telah ditetapkan oleh madzhab tanah haram (Makkah Madinah). Semula utusan para ulama adalah KH R. Asnawi Kudus. Namun karena Kiai Asnawi ketinggalan kapal dan tidak jadi berangkat, keberangkatan itu disampaikan melalui telegram. Namun karena telegram belum mendapat jawaban juga, akhirnya berangkatlah KH A Wahab Hasbullah sebagai utusan. Secara resmi, utusan itu adalah KH A Wahab Hasbullah (Surabaya), Syech Ghonaim al Misri (warga negara Mesir yang akhirnya diangkat sebagai salah seorang Mustasyar NU), dan KH Dahlan Abdul Qohar (pelajar Indonesia yang sedang belajar di Makkah). Namun yang berangkat dari Indonesia hanya Kiai Wahab. Misi yang diemban komite ini adalah menemui Raja Saud, Ibnu Saud, untuk menyampaikan pesan ulama pesantren di Indonesia, yang meminta agar raja tetap memberikan kebebasan berlakunya hukum-hukum ibadah dalam madzhab empat di tanah Haram. Di antara penyebab munculnya Komite Hijaz adalah jatuhnya khalifah di Turki pasca Perang Dunia I, dan masuknya Ibnu Saud yang beraliran Wahabi dengan menguasai Makkah yang menjadi sentral ibadah umat Islam sedunia. Ketika itu, Saudi berkeinginan menegakkan kembali khilafah yang jatuh itu dengan menggelar komperensi umat Islam sedunia, dan dipusatkan di Makkah. Utusan dari Indonesia yang diakui adalah HOS Cokroaminoto dan KH Mas Mansur. Tetapi ikut pula berangkat HM Suja’ (Muhammadiyah), H. Abdullah Ahmad (dari Sumatera Barat) dan H. Abdul Karim Amrullah (utusan dari Persatuan Guru Agama Islam). Sementara KH A. Wahab Hasbullah malah dicoret keanggotaannya dengan alasan tidak mewakili organisasi. Akhirnya para ulama pesantren membentuk

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 39 Risyanto

tim tersebut dengan mengatasnamakan Jamiyah Nahdlatul Ulama, meski secara resmi organisasinya belum didirikan. Utusan para ulama pesantren dengan nama Komite Hijaz itu menuai hasil gemilang. Raja menjamin kebebasan beramaliah dalam madzhab empat di tanah haram, dan tidak ada penggusuran makam Nabi Muhammad dan para sahabatnya, seperti kabar sebelumnya. Sepulang dari Makkah, KH A. Wahab Hasbullah bermaksud membubarkan komite itu karena dianggap tugasnya sudah selesai. Namun keinginan itu dicegah oleh KH M. Hasyim Asy’ari. Komite tetap berjalan, namun dengan tugas yang baru, yaitu membentuk organisasi Nahdlatul Ulama, sebagaimana isyarat yang diberikan oleh Syaichona Cholil yang dikirimkan melalui salah seorang santrinya, KH. R. As’ad Syamsul Arifin. Sewaktu Kiai Wahab akan mengumpulkan para ulama di Surabaya, tampaknya intelijen Belanda sudah mencium tandatanda peristiwa besar akan terjadi di kota itu. Karenanya mereka tidak memberikan ijin pertemuan. Melihat kondisi seperti ini, para ulama tidak kehabisan cara untuk bisa mengadakan pertemuan. Dengan alasan tahlilan dalam rangka haul Syaikhona Cholil Bangkalan, para ulama berkumpul di rumah KH Ridwan Abdullah di Jl. Bubutan VI Surabaya. Di luar rumah para undangan membaca tahlil, sedangkan di dalam rumah para kiai menggelar pertemuan untuk mendirikan jamiyah NU. Selesai tahlilan itulah, tepatnya pada 16 Rajab 1344 Hijriyah bertepatan dengan 31 Januari 1926, lahirlah Jam’iyah Nahdlatul Ulama. 16. Lajnah Lajnah adalah perangkat organisasi untuk melaksanakan program yang memerlukan penanganan khusus. Lajnah dibentuk sesuai dengan kebutuhan. Tidak semua tingkatan mempunyai lajnah ini.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 40 Risyanto

Sesuai dengan keputusan Muktamar ke 31 di Donohudan Solo (2004), NU mempunyai dua lajnah, yaitu: a. Lajnah Falakiyah yang bertugas mengurus masalah hisab dan rukyah, serta pengembangan ilmu falak. b. Lajnah Ta’lif wan Nasyr, disingkat LTN yang bertugas mengembangkan penulisan, penerjemahan dan penerbitan kitab / buku, serta media informasi menurut faham ahlus sunnah wal jamaah. 17. Lesbumi Singkatan dari lembaga seniman budayawan muslimin Indonesia. Salah satu lembaga NU yang menaungi para seniman dan budayawan. Didirikan di Bandung pada 28 Juli 1962 dalam status sebagai badan otonom NU. Dalam sejarahnya, Lesbumi banyak dipimpin oleh para tokoh besar dalam perfilman nasional. Ada nama H. Jamaluddin Malik, Asrul Sani, Usmar Ismail, Anas Ma’ruf, Misbah Yusa Biran, dll. Nama Lesbumi adalah ide dari Asrul Sani, seorang sutradara film kenamaan. Menjelang peristiwa G 30 S PKI tahun 1965, Lesbumi banyak memainkan peran dalam menghadang para seniman komunis yang bernaung dalam Lembaga Keseniang Rakyat (Lekra). Sejak didirikan, Lesbumi langsung menjadi organisasi seniman dan budayawan terbesar. Di lapangan, Lesbumi jauh lebih unggul dari Lekra, karena para seniman papan atas lebih banyak bergabung di dalamnya. Sedangkan Lekra lebih banyak diisi oleh pemain figuran. Di sisi lain, jumlah pendukung. Lesbumi jauh lebih banyak. Bahkan Lesbumi bisa menguasai seluruh jalur peredaran film nasional. Meski menang di lapangan dalam menghadapi Lekra, namun Lesbumi tidak bisa hidup nyaman dalam NU. Sejak berdirinya banyak kiai NU yang merasa tidak sepakat, karena dinilai banyak membawa maksiat di dalamnya. Namun dengan dalih sebagai alat

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 41 Risyanto

perjuangan untuk menghadapi orang-orang komunis, akhirnya kehadiran Lesbumi bisa ditoleransi. Bila ada kiai sepuh merasa keberatan terhadap kegiatan Lesbumi, biasanya DR. KH. Idham Chalid, HM Subchan ZE, atau H. Djamaluddin Malik yang akan memberikan penjelasan kepada para kiai sepuh. Perjalanan Lesbumi dalam naungan NU ternyata tidak bisa berjalan secara lancar. Masih banyak kiai yang merasa kurang berkenan. Tak lama setelah NU memutuskan untuk menerima ide Nasakom dari Bung Karno, hubungan Lesbumi dengan NU semakin tidak mesra, karena para seniman menolak langkah itu. Hubungan dengan ketiga pelindungnya juga demikian. Sampai akhirnya para tahun 1967 hubungan itu tidak dapat dipertahankan lagi. Lesbumi vakum dengan sendirinya, tanpa pernah dibubarkan. Setelah menjalani tidur panjangnya, Lesbumi diaktifkan kembali pada tahun 2000-an. Sejak tahun 2004, lewat Muktamar Donohudan, Lesbumi diterima kembali ke dalam pangkuan NU. Kali ini masuk ke dalam jajaran lembaga. 18. Mabadi’ Khoira Ummah Artinya langkah-langkah awal menuju terwujudnya umat yang ideal. Langkah-langkah awal itu adalah perilaku (akhlak) yang diharapkan dimiliki oleh NU dan kaum Nahdliyin, berupa: a. As shidqu (kejujuran) b. Al wafa bil ‘ahdi (komitmen / disiplin) c. Al ‘adalah (adil) d. Al istiqomah (konsisten) Konsep mabadi khaira ummah ini pertama kali dicanankan oleh KH Machfudz Siddiq, semasa menjabat Ketua PBNU (1938-1944). KH. A. Muchith Muzadi mengatakan, Mabadi Khaira Ummah ini seharusnya Nahdliyyin. menjadi tema utama dalam pembinaan umat

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 42 Risyanto

19. Masail Diniyah Yaitu permasalahan yang sedang berkembang untuk dicarikan solusi jawaban dari sisi agama. NU mempunyai tiga komisi masail diniyah, yaitu: a. Masail diniyah waqi’iyah, yakni permasalahan-permasalahan kekinian yang menyangkut hukum suatu peristiwa. Misalnya, bagaimana hukumnya orang Islam meresmikian gereja? Apakah air mutanajis yang telah berubah menjadi air bersih secara kimiawi dapat dihukumi thahir muthahhir? b. Masail diniyah maudhu’iyah, yakni permasalahan yang menyangkut pemikiran. Misalnya tentang fikrah nadhliyah, ahlussunnal wal jamaah, globalisasi, mencampur adukkan pendapat para imam madzhab (talfiq). c. Masail diniyah qonuniyah, yakni penyikapan terhadap rencana undang-undang yang diajukan pemerintah atau undangundang peralihan yang baru disahkan. Komisi ini bertugas mengkaji RUU atau UU bari dari sisi agama, untuk kemudian diajukan kepada pemerintah sebagai bahan masukan dan koreksi. Misalnya, tanggapan atas RUU perubahan UU No 17 Tahun 1999 tentang penyelenggaraan ibadah haji. 20. Muslimat Muslimat adalah salah satu badan otonom NU yang beranggotakan kaum ibu. Lahir pada saat Kongres NU ke 16 di Purwokerto (26 Rabiul Akhir 1465 / 29 Maret 1946) dengan nama Nahdlatoel Oelama Moeslimat, disingkat NOM (masih menggunakan ejaan lama). Saat itu Muslimat masih menjadi bagian NU, belum menjadi Banom tersendiri. Barulah pada Kongres NU ke 19 di palembang (28 Mei 1952), NOM disahkan menjadi organisasi yang berdiri sendiri dan menjadi Banom NU. Saat itu namanya menjadi Muslimat NU. 21. Mustasyar

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 43 Risyanto

Mustasyar adalah lembaga penasihat. Biasanya, mustasyar dijabat para kiai sepuh yang diberi wewenang untuk memberikan masukan dan nasehat-nasehat kepada pengurus NU bila diperlukan. 22. MWC MWC (Majlis Wakil Cabang) adalah tingkat kepengurusan NU di tingkat kecamatan. Penyebutan MWC dimulai sejak tahun 1952, ketika NU menjadi partai politik. Untuk Banom, disebut PAC (Pimpinan Anak Cabang). 23. Pagar Nusa Salah satu badan otonom NU yang bertugas menggali, mengembangkan dan melestarikan pencak silat. Segala kegiatan yang berhubungan dengan pencak silat dan bela diri dengan segenap aspeknya (dari fisik sampai mental, dari pendidikan sampai pengamanan, dll) merupakan bidang garap Banom ini. Pagar nusa didirikan pada tanggal 3 Januari 1986 di Pon. Pes. Lirboyo Kediri Jawa Timur. Nama Pagar Nusa diciptakan oleh KH Mujib Ridwan (putra KH Ridwan Abdullah, penemu lambang NU), yang berarti pagar NU dan bangsa. Makna Lambang : a. Bingkai segi lima; rukun islam, azas Pancasila. b. Dikelilingi tiga garis : iman, islam, dan ihsan. c. Dasar hijau : kesuburan dan kejujuran. d. Warna lambang dan tulisan putih : suci. e. Bola dunia : induk organisasi NU. f. Bintang sembilan : induk organisasi NU, penghormatan kepada wali songo, pioner penyebar agama Islam di Indonesia. Sembilan merupakan angka terbesar. g. Trisula / cabang : lambang kekhususan pencak silat. h. Tulisan nama : lembaga pencak silat.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 44 Risyanto

i. Tulisan Arab : tidak ada kemenangan kecuali dengan pertolongan 24. Resolusi Jihad Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya erat kaitannya dengan resolusi jihad Nahdlatul Ulama yang diputuskan di kota yang sama. Resolusi itu dibuat pada tanggal 22 Oktober 1945 (18 hari menjelang perang besar-besaran meletus). Sebelum menyampaikan resolusi bersejarah itu, terlebih dahulu diawali oleh fatwa Hadratus Syech KH. M. Hasyim Asy’ari yang menyatakan antara lain: a. Umat Islam wajib mengangkat senjata melawan Belanda dan kawan-kawan yang hendak kembali menjajah Indonesia. b. Melarang 25. Syuriah Syuriah adalah pimpinan tertinggi dalam jam’iyah Nahdlatul Ulama. Syuriah berfungsi sebagai pembina, pengendali, pengawas dan penentu kebijaksanaan NU. Struktur kepengurusan syuriah di tingkat pusat terdiri dari : a. Rais am b. Wakil rais am c. Beberapa rais d. Katib am e. Beberapa wakil katib f. A’wan Sedangkan untuk Wilayah, Cabang, Majlis Wakil Cabang dan Ranting adalah: a. Rais b. Beberapa wakil rais c. Katib kaum muslimin Indonesia untuk melakukan perjalanan haji menggunakan kapal Belanda. Allah melambangkan kesederhanaan tidak takabur (sombong).

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 45 Risyanto

d. Beberapa wakil katib e. A’wan

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 46 Risyanto

26. Tanfidz Tanfidz adalah pelaksana kebijakan syuriah. Struktur kepengurusan tanfidziyah di tingkat Pengurus Besar adalah: Ketua umum Beberapa ketua Sekretaris Jenderal Beberapa wakil sekjen Bendahara Beberapa wakil bendahara

27. Thariqoh al Mu’tabaroh an Nahdliyah Pada 10 Oktobe 1957 di Magelang para kiai NU mendirikan suatu badan otonom (Banom) bernama jam’iyah ahli thariqoh (1979) mu’tabaroh. Kemudian dalam Muktamar Semarang

ditambah kata an – Nahdliyah dibelakannya untuk menegaskan bahwa badan ini tetap berafiliasi kepada NU. Sejak berdirinya pemimpin tertinggi badan ini adalah para kiai ternama dari pondok-pondok besar. Alasan utama didirikan Banom ini adalah untuk : a. Membimbing organisasi-organisasi tarikat yang dinilai belum mengajarkan amalan-amalan yang sesuai dengan al Qur’an dan al Hadits. b. Mengawasi organisasi-organisasi tarekat agar tidak menyalah gunakan pengaruhnya untuk kepentingan yang tidak dibenarkan oleh ajaran agama Islam. Orang ahli tarikat tidak pernah libur dari istighfar, dzikir, membaca al Qur’an dan bersholawat kepada Nabi Muhammad, serta melakukan semua kewajiban agama. Termasuk amalan-amalan sunnahnya.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 47 Risyanto

28. Waliyul Amri ad Dlaruri bisy Syaukah Pada tahun 1954, sebuah musyawarah alim ulama Indonesia di Cipanas mengambil keputusan bahwa Prresiden Soekarno adalah waliyul amri ad dlaruri bisy syaukah, artinya pemegang urusan pemerintahan yang punya cukup kewibawaan dipatuhi oleh pejabat dan rakyat. Sebagian politisi yang beroposisi dengan Soekarno menuduh para ulama itu hanya “menjilat” presiden dengan menjual agamanya. Sebaliknya, politisi yang netral malah memuji keberanian mereka mencantumkan status dharuri yang berarti menilai Presiden Soekarno belum sempurna memenuhi syarat, baik secara agama maupun politik, karena belum dipilih melalui pemilihan umum. Terbukti, musyawarah para rektor se Indonesia memutuskan bahwa Presiden Soekarno adalah waliyul amri, titik. Tanpa ada tambahan “dharuri”. Musyawarah alim ulama itu diadakan atas dua dorongan: Pertama, urusan agama. Dari sudut agama, pertanyaan yang muncul berkaitan adalah: dengan apakah sahnya Presiden presiden Soekarno sebagai merupakan pemerintah, bagi pemerintah yang sah menurut agama? Sebab banyak hal yang umpamanya masalah tauliyah (penyerahan perwalian

perempuan yang kawin dan tidak mempunyai wali nasab). Menurut Imam Syafi’i, wali hakim harus mendapat kuasa / mandat dari sultan / pemerintah. Kedua, dari sudut ketatanegaraan, apakah Presiden Soekarno sudah menjadi kepada negara, pemerintah yang harus ditaati oleh rakyat? Bagaimana kalau ada pihak yang memberontak dan berusaha menggantikannya? Kalau sahnya presiden sebagai waliyul amri belum jelas, maka sahnya wali hakim dan kewajiban taat pada pemerintah juga

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 48 Risyanto

belum jelas. Kalau hal ini dijadikan acuan umum, apabila kalau lebih banyak disoroti dari kepentingan politik golongan saja, maka situasi politik nasional akan menjadi panas. Oleh karena itu, NU mengambil inisiatif supaya para ulama membahas dan menyimpulkan masalah ini. Dapat dipahami sikap NU yang memprakarsai pemberian gelar pada Presiden Soekarno tersebut. Sebagai partai politik, ia tidak melepaskan tingkah laku politiknya dari hukum Islam. Keputusan hukum seperti itu tentu saja diharapkan oleh umat Islam, yang ketika itu semakin bingung dengan gelar Imam Negara Islam Indonesia (NII), Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo. Sehingga dengan keputusan musyawarah alim ulama itu umat Islam mempunyai pedoman bahwa presiden mereka adalah Soekarno. Soalnya Soekarno belum pernah diangkat oleh parlemen negara kesatuan. 29. Sembilan Pedoman Politik Warga NU NU memang sulit dipisahkan dari dunia politik, karena organisasi ini sudah puluhan tahun berkutat di dalamnya. Namun berpolitik menurut NU memiliki kriteria dan tujuan sendiri, bukan dilakukan dengan segala cara hanya sekedar untuk meraih kekuasaan. Dalam Muktamar ke 28 di Yogyakarta (1989) dirumuskan Sembilan Pedoman Politik Warga NU, yaitu garis-garis pedoman untuk melangkah bagi kaum Nahdliyin yang menerjuni dunia politik. Kesembilan pedoman politik itu adalah: a. Berpolitik bagi NU mengandung arti keterlibatan warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara menyeluruh sesuai dengan Pancasila dan UUD 1945. b. Politik bagi NU adalah politik yang berwawasan kebangsaan dan menuju integrasi bangsa dengan langkah-langkah yang senantiasa menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan untuk

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 49 Risyanto

mencapai cita-cita bersama, yaitu terwujudnya masyarakat yang adil dan makmur lahir batin, dan dilakukan sebagai amal ibadah menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat. c. Politik bagi NU adalah pengembangan nilai-nilai kemerdekaan yang hakiki dan demokratis, mendidik kedewasaan bangsa untuk menyadari hak, kewajiban, dan tanggung jawab untuk mencapai kemaslahatan bersama. d. Berpolitik bagi NU haruslah dilakukan dengan moral, etika dan budaya yang berketuhanan Yang Maha Esa, berperikemanusiaan yang adil dan beradab, menjunjung tinggi persatuan Indonesia, berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan / perwakilan, dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. e. Berpolitk bagi NU haruslah dilakukan dengan kejujuran nurani dan moral agama, konstitusional, adil, sesuai dengan peraturan dan norma-norma yang disepakati, serta dapat mengembangkan mekanisme musyawarah dalam memecahkan masalah bersama. f. Berpolitik bagi NU dilakukan untuk memperkokoh konsensuskonsensus nasional, dan dilaksanakan sesuai dengan akhlakul karimah sebagai pengamalan ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah an Nahdliyah. g. Berpolitik bagi NU dengan dalih apapun, tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kepentingan bersama dan memecah belah persatuan. h. Perbedaan pandangan di antara aspirasi-aspirasi politik warga NU harus tetap berjalan dalam suasana persaudaraan, tawadu’, dan saling menghargai satu sama lain, sehingga di dalam berpolitik itu tetap dijaga persatuan dan kesatuan di lingkungan NU.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 50 Risyanto

i. Berpolitik

bagi

NU

menuntut

adanya

komunikasi

kemasyarakatan timbal balik dana pembangunan nasional untuk menciptakan iklim yang memungkinkan perkembangan organisasi kemasyarakatan yang lebih mandiri dan mampu melaksanakan fungsinya sebagai sarana masyarakat untuk berserikat, menyalurkan aspirasi serta berpartisipasi dalam pembangunan. Di sela-sela Muktamaar NU ke 31 di Donohudan, Solo (2004), KH MA Sahal Mahfudz mengategorikan politik menjadi tiga bagian: a. Politik kebangsaan, tujuannya membela Negara Kesatuan Republik Indonesia. b. Politik kerakyatan, tujuannya membela rakyat. c. Politik kekuasaan, tujuannya mencari kekuasaan. NU tidak boleh digunakan untuk mencari kekuasaan. Adapun warganya, tidak dilarang berpolitik, tapi ada aturan, etika dan pedoman, misalnya tidak boleh membawa institusi NU. 30. Qonun Asasi Artinya aturan dasar. Bagi NU, qonun asasi adalah pokok-pokok pikiran, pendirian dan pedoman dasar bagi perjalanan NU. Yang disebut qonun asasi ini adalah pidato Rais Akbar NU Hadratus Syech KH. M. Hasyim Asy’ari pada Muktamar pertama di Surabaya.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 51 Risyanto

MENGENAL MADZHAB DAN ISTINBATULHUKMI DALAM FIQIH NU

A. Imam Madzhab Seperti yang sering kita dengar bahwa NU menganut empat madzhab, yakni: Hanafi, Maliki, Syafi’I, dan Hambali. Di sini penulis mencoba mendeskripsikan secara singkat tentang siapa imam madzhab tersebut: Pertama, Madzhab Hanafi. Dinamakan Madzhab Hanafi karena nama pendiri madzhab ini adalah Imam Abu Hanifah an Nu’man bin Tsabit. Beliau lahir pada tahun 80 H di Kufah dan wafat pada tahun 150 H. Madzhab ini dikenal madzhab ahli qiyas (akal) karena hadits yang disampaikan ke Irak sangat sedikit, sehingga beliau banyak mempergunakan qiyas. Beliau termasuk ulama yang cerdas, pengasih, dan ahli tahajud, membaca al Qur’an dan wara’. Beliau pernah ditawari menjadi hakim pada zaman Bani Umayyah yang terakhir, tetapi beliau menolak. Madzhab ini mudah berkembang karena menjadi madzhab pemerintah pada saat Khalifah Harun ar Rasyid. Kemudian pada masa pemerintahan Abu Ja’far al Manshur beliau diminta kembali untuk menjadi hakim tetapi beliau menolak, dan memilih hidup berdagang. Madzhab ini lahir di Kufah. Kedua, Madzhab Maliki. Pendirinya adalah al Imam Maliki bin Anas al Ashbahy. Ia dilahirkan di Madinah pada tahun 93 H. Ia wafat pada tahun 179 H. Beliau merupakan seorang ulama ahli hadits di Madinah. Madzhab ini dikenal dengan madzhab ahli hadits. Bahkan beliau mengutamakan perbuatan ahli Madinah daripada Khabaril Wahid (hadits yang diriwayatkan oleh perorangan). Karena, bagi beliau lebih banyak menitik beratkan kepada hadits, karena menurut beliau

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 52 Risyanto

perbuatan ahli Madinah termasuk hadits mutawatir. Madzhab ini lahir di Madinah kemudian sangat hormat dan cinta kepada Rasulullah, sehingga beliau tidak pernah naik unta di kota Madinah karena hormat kepada kuburan Rasul. Ketiga, Madzhab Syafi’i. tokoh utamanya adalah al Imam Muhammad bin Idris as Syafi’i al Quraisyi. Beliau dilahirkan di Ghuzzah pada tahun 150 H, dan wafat di Mesir pada tahun 204 H. beliau belajar kepada Imam Malik yang dikenal dengan madzhab hadits. Beliau juga pergi ke Irak dan belajar dari ulama Irak yang dikenal sebagai madzhabul qiyas (akal). Beliau berikhtiar menyatukan madzhab terpadu yaitu madzhab hadits dan madzhab qiyas. Itulah keistimewaan madzhab Syafi’i. Keempat, Madzhab Hanbali. Dinamakan Hanbali karena pendirinya al Imam Ahmad bin Hanbal as Syaebani, lahir di Baghdad tahun 164 H, dan wafat tahun 248 H. Beliau adalah murid Imam Syafi’i yang paling istimewa dan tidak pernah pisah sampai Imam Syafi’i pergi ke Mesir. Menurut beliau, hadits dhaif dapat dipergunakan untuk perbuatan-perbuatan yang afdhal bukan untuk menentukan hukum. Beliau tidak mengakui adanya ijma’ setelah sahabat karena ulama sangat banyak dan tersebar luas. B. ISTINBATULHUKMI DALAM ILMU FIQH Di dalam menentukan hukum fiqh, madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah an Nahdliyah bersumber kepada empat sumber pokok; yaitu al Qur’an, hadits, ijma’, dan qiyas. Secara singkat, paparannya sebagai berikut: Pertama adalah al Qur’an. Al Qur’an merupakan sumber utama dan pertama dalam pengambilan hukum. Karena, al Qur’an adalah perkataan Allah yang merupakan petunjuk kepada umat manusia dan

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 53 Risyanto

diwajibkan untuk berpegangan kepada al Qur’an. Allah berfirman dalam surat al Baqarah ayat : 2.

             
Artinya : Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa. Firman lain dalam surat al Maidah ayat : 44.

                                                  
Artinya : Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya. Karena itu janganlah kamu takut kepada manusia, (tetapi) takutlah kepada-Ku. dan janganlah kamu menukar ayat-ayat-Ku dengan harga yang sedikit. Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. Makna ayat yang di sebut terakhir (cetak tebal / bold), merujuk kepada persoalan-persoalan yang berkaitan dengan aqidah. Ada pula ayat al Qur’an yang berbicara tentang hak-hak sesama :

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 54 Risyanto

                                         
Artinya : Dan Kami telah tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada kisasnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak kisas) nya, Maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim.
Begitu juga surat al Maidah ayat : 47.

               
Artinya : Dan hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, Maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al Maidah : 47) Ayat ini merupakan sebuah perintah berkaitan dengan ibadah dan larangan-larangan Allah.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 55 Risyanto

Kedua, hadits. Sumber kedua dalam menentukan hukum ialah sunnah Rasulullah. Karena Rasulullah yang berhak menjelaskan dan menafsirkan al Qur’an, maka hadits menduduki tempat kedua setelah al Qur’an. Allah berfirman dalam al Qur’an surat al Hasyr ayat 7, sebagai berikut :

                                          
Artinya : Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada RasulNya (dari harta benda) yang berasal dari penduduk kotakota maka adalah untuk Allah, untuk rasul, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya. Ayat lain, surat an Nahl ayat : 44

                   
Artinya : Keterangan-keterangan (mukjizat) dan kitab-kitab. Dan Kami turunkan kepadamu Al Quran, agar kamu menerangkan pada

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 56 Risyanto

umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan supaya mereka memikirkan. Kedua ayat di atas menjelaskan bahwa hadits menduduki tempat kedua setelah al Qur’an dalam penentuan suatu hukum. Ketiga, ijma’. Yakni, kesepakatan para ulama atas suatu hukum setelah wafatnya Nabi Muhammad. Karena pada masa hidupnya Nabi Muhammad seluruh persoalan hukum kembali kepada beliau. Namun setelah wafat, semua persoalan hukum dikembalikan kepada para sahabatnya dan para mujtahid. Ijma’ dibagi ke dalam dua kelompok; Pertama, ijma’ bayani. Yakni, apabila semua mujtahid mengeluarkan pendapatnya baik berbentuk perkataan ijma’ maupun Yakni, tulisan apabila yang menunjukkan mujtahid kesepakatannya. Kedua, sukuti. sebagian mengeluarkan pendapatnya dan sebagian yang lain diam. Sedang diamnya menunjukkan setuju, bukan karena takut atau malu. Dalam masalah ijma’ sukuti, para ulama masih berselisih faham untuk diikuti. Alasannya pada sikap diam tidak dapat dipastikan. Adapun ijma’ bayani telah disepakati suatu hukum, wajib bagi umat Islam untuk mengikuti dan mentaati. Hal ini karena para ulama mujtahid itu termasuk orang-orang yang lebih mengerti dalam maksud yang dikandung oleh al Qur’an dan al Hadits, dan mereka itulah yang disebut ulil amri minkum. Allah berfirman dalam surat an Nisa’ ayat : 59.

                      

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 57 Risyanto

       
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. Para sahabat pernah melaksanakan ijma’, yaitu ketika terjadi suatu masalah yang tidak ada dalam al Qur’an dan Hadits. Pada masa sahabat Abu Bakar dan sahabat Umar jika mereka sudah sepakat maka wajib diikuti oleh seluruh umat Islam. Inilah beberapa Hadits yang memperkuat ijma’ sebagai sumber hukum, seperti disebut dalam kitab Sunan Turmudzi Juz IV hal 466. ‫ ويد ال مع الجماعة‬,‫ان ال ل يجمع أمتى على ضللة‬ Artinya : sesungguhnya Allah tidak menghimpun umat ku atas kesesatan dan perlindungan Allah beserta orang banya. Selanjutnya, dalam kitab Faidlu Qadir Juz 2 hal 431 ‫ان امتى ل تجمع على ضللة فاذا رايتم اختلفا فعليكم بالسواد العظم‬ Artinya : Sesungguhnya umat ku tidak berkumpul atas kesesatan. Apabila engkau melihat perselisihan, maka hendaknya engkau berpihak kepada golongan yang terbanyak. Keempat, qiyas. Menurut bahasa, qiyas berarti mengukur. Adapun secara istilah, qiyas ialah menyamakan sesuatu dengan sesuatu yang lain dalam hukum karena adanya sebab yang antara keduanya. Rukun qiyas ada empat, yaitu: (1) al ashlu; (2) al far’u; (3) al hukmu; dan (4) as sabab. Contoh penggunaan qiyas, misalnya, pada hukum gandum. Seperti disebutkan dalam suatu hadits sebagai yang pokok (al ashlu) nya, lalu al far’u adalah beras (tidak tercantum dalam al Qur’an dan

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 58 Risyanto

hadits), al hukmu (hukum) gandum itu wajib zakatnya, as sabab (alasan) karena makanan pokok. Dengan demikian, hasil gandum itu wajib dikeluarkan zakatnya, sesuai dengan hadits Nabi, dan begitu pun dengan beras, wajib dikeluarkan zakat. Meskipun, dalam hadits tidak dicantumkan nama beras. Tetapi, karena beras dan gandum itu kedua-duanya sebagai makanan pokok. Di sinilah aspek qiyas menjadi sumber hukum dalam syariat Islam. Dalam al Qur’an Allah berfirman :

                                          
Artinya : Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli kitab dari kampung-kampung mereka pada saat pengusiran yang pertama. Kamu tidak menyangka, bahwa mereka akan keluar dan merekapun yakin, bahwa benteng-benteng mereka dapat mempertahankan mereka dari (siksa) Allah, maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka. dan Allah melemparkan ketakutan dalam hati mereka; mereka memusnahkan rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang mukmin. Maka ambilah (Kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, Hai orang-orang yang mempunyai wawasan. Begitu juga yang ditegaskan Nabi lewat sabdanya yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu dawud dan Tirmidzi : Dari sahabat Mu’adz berkata : tatkala Rasulullah mengutus ke Yaman, Rasulullah bersabda bagaimana engkau menentukaan

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 59 Risyanto

(hukum) apabila kamu menghadapi suatu masalah wahai Mu’adz? Mu’adz menjawab, saya akan menentukan hukum dengan kitab Allah (al Qur’an). Rasulullah berkata, bila tidak kau temukan dalam al Qur’an? Mu’adz menjawab, akan aku cari di hadits. Rasulullah pun berkata lagi, kalau di hadits tidak engkau temukan jawabnya? Mu’adz menjawab, saya akan berijtihad dengan pendapat saya dan tidak akan kembali. Mendengar itu, Rasulullah memukul dada Mu’adz, dan berkata, alhamdulillah yang telah memberikan taufiq kepada utusan Rasulullah dengan apa yang Rasulullah merindhoinya. Kemudian Imam Syafi’i memperkuat pula tentang qiyas dengan firman Allah dalam al Qur’an :

                                                        
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, Maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka'bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya Dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. dan Barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 60 Risyanto

Penganut madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah an Nahdliyah lebih mendahulukan dalil al Qur’an dan al Hadits daripada akal. Karena itu, madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah an Nahdliyah mempergunakan ijma’ dan qiyas kalau tidak mendapatkan dalil nash yang shahih (jelas) dari al Qur’an dan as Sunnah. METODE PENGAMBILAN HUKUM DI LINGKUNGAN NU

Sering jamaah NU bertanya, bagaimana sebenarnya cara (metode) para kiai / ulama NU mengambil keputusan hukum. Misalnya, apakah ulama NU tidak ada yang bisa menghitung (hisab), sehingga setiap awal Ramadhan / Idul Fitri senantiasa menggunakan ru’yah (penglihatan). Kalau memang bisa menghitung, mengapa tidak menggunakan hitungan saja sehingga lebih cepat, dan efisien? Pertanyaan ini sebenarnya sederhana, namun menjadi sesuatu yang serius ketika dianggap kiai NU tidak canggih dalam masalah ilmu falak. Padahal, berapa banyak ulama yang telah dicetak oleh pesantren dalam kajian ilmu falak. Jumlahnya tentu tidak sedikit. Saya memiliki banyak kenalan kiai yang bisa membuat kalender 100 atau 200 tahun yang akan datang. Tidak hanya itu, mereka pun bisa menghitung berapa daun mangga yang akan jatuh esok hari. Ini adalah ketrampilanketrampilan bagi mereka yang memang telah menjadi master dalam ilmu falak. Sampai-sampai bila ada maling, sang kiai pun bisa menghitung (memperkirakan), ke mana larinya si maling. Cara mengetahuinya dengan menghitung menggunakan ilmu falak yang dikuasainya. Di sini penulis mencoba mengutip hasil keputusan Munas Alim Ulama NU di Bandar Lampung pada 16 – 20 Rajab 1412 H / 21 – 25 Januari 1992 tentang bagaimana metodologi (cara) para ulama NU mengambil keputusan.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 61 Risyanto

A. Ketentuan Umum 1. Yang dimaksud dengan kitab adalah al kutub mu’tabaroh, yaitu kitab-kitab tentang ajaran Islam yang sesuai dengan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah an Nahdliyah (rumusan Muktamar NU 17). 2. Yang dimaksud dengan bermazhab secara qauli adalah mengikuti pendapat-pendapat yang sudah jadi dalam lingkup mazhab tertentu. 3. Yang dimaksud dengan bermazhab secara manhaji adalah bermazhab dengan mengikuti jalan pikiran dan kaidah penetapan hukum yang telah disusun oleh imam mazhab. 4. Yang dimaksud dengan istinbath adalah mengeluarkan hukum syara’ dari dalilnya dengan qawa’id ushuliyyah dan qawa’id fiqhiyyah. 5. Yang dimaksud dengan qauli adalah imam madzhab. 6. Yang dimaksud dengan dengan wajah adalah pendapat ulama mazhab. 7. Yang dimaksud dengan taqrir jama’i adalah upaya secara kolektif untuk menetapkan pilihan terhadap satu di antara beberapa qaul / wajah. 8. Yang dimaksud dengan ilhaq (ilhaq masail bi nazha’irihi adalah menyamakan hukum suatu kasus / masalah yang belum dijawab oleh kitab dengan kasus / masalah serupa yang telah dijawab oleh kitab (menyamakan dengan pendapat yang sudah jadi). 9. Yang dimaksud dengan usulan masalah adalah permintaan untuk membahas suatu kasus / masalah, baik hanya berupa judul masalah maupun telah disertai pokok-pokok pikiran atau pula hasil pembahasan awal dengan maksud dimintakan tanggapan. 10. Yang dimaksud dengan pengesahan adalah pengesahan hasil suatu bahtsul masail oleh PB Syuriah NU, Munas Alim Ulama NU atau Muktamar NU.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 62 Risyanto

Sistem Pengambilan Keputusan I. Prosedur Penjawaban Masalah Keputusan bahtsul masail di lingkungan NU dibuat dalam kerangka bermazhab kepada salah satu mazhab empat yang disepakati dan mengutamakan bermazhab secara qauli. Oleh karena itu, prosedur penjawaban masalah disusun dalam urutan sebagai berikut; a. Dalam kasus ketika jawaban bisa dicukupi oleh ibarat kitab dan di sana terdapat hanya satu qaul / hujjah, maka dipakailah qaul / hujah sebagaimana diterangkan dalam ibarat tersebut. b. Dalam kasus ketika jawaban bisa dicukupi oleh ibarat kitab dan di sana terdapat lebih dari satu qaul / hujjah, maka dilakukan taqrir jama’i untuk memilih satu qaul / hujjah. c. Dalam kasus tidak ada satu qaul / hujjah sama sekali yang memberikan penyelesaian, maka dilakukan prosedur ilhaqul masail bi nazha’iriha secara jama’i oleh para ahlinya. d. Dalam kasus tidak ada satu qaul / wajah sama sekali dan tidak mungkin dilakukan ilhaq, maka bisa dilakukan instinbath, jama’i dengan prosedur bermazhab secara manhaji oleh para ahlinya. II. Hirarki dan Sifat Keputusan Bahtsul Masail 1. Seluruh keputusan bahtsul masail di lingkungan NU ini, baik diselenggarakan dalam struktur yang diambil dengan prosedur yang telah disepakati dalam keputusan organisasi maupun di luarnya mempunyai kedudukan yang sederajat dan tidak saling membatalkan. 2. Suatu hasil keputusan bahtsul masail dianggap mempunyai kekuatan daya ikat lebih tinggi setelah disahkan

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 63 Risyanto

oleh PB Syuriah NU tanpa harus menunggu Munas Alim Ulama maupun Muktamar. 3. Sifat keputusan dalam bahtsul masail tingkat Munas rancangan bagi keputusan yang yang dinilai telah akan dan Muktamar adalah ; a. Mengesahkan b. Diperuntukkan dipersiapkan sebelunya dan / atau, keputusan mempunyai dampak yang luas dalam segala bidang. III. Kerangka Analisis Masalah Terutama dalam memecahkan masalah sosial, bahtsul masail hendaknya mempergunakan kerangka pembahasan masalah (yang sekaligus tercermin dalam hasil keputusan) antara lain sebagai berikut; 1. Analisa masalah (sebab mengapa terjadi kasus ditinjau dari berbagai faktor) a. Faktor ekonomi b. Faktor budaya c. Faktor politik d. Faktor sosial, dll. 2. Analisa dampak (dampak positif dan negatif yang ditimbulkan oleh suatu kasus yang hendak dicari hukumnya ditinjau dari berbagai aspek), antara lain; a. Secara sosial ekonomi b. Secara sosial budaya c. Secara sosial politik, dll. 3. Analisa hukum (fatwa tentang suatu kasus setelah mempertimbangkan latar belakang dan dampaknya di segala bidang). Di samping putusan fiqh / yuridis formal, keputusan ini juga memperhatikan pertimbangan Islam dan hukum positif.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 64 Risyanto

a. Status hukum (al ahkam al khomsah / sah – batal) b. Dasar dari ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah an Nahdliyah c. Hukum positif 4. Analisa tindakan, peran, dan pengawasan (apa yang harus dilakukan sebagai konsekuensi dari fatwa di atas). Kemudian siapa saja yang akan melakukan, bagaimana, kapan, dan di mana hal itu hendak dilakukan, serta bagaimana mekanisme pemantauan agar semua berjalan sesuai dengan rencana. a. Jalur politik (berusaha pada jalur kewenangan negara dengan sasaran mempengaruhi kebijaksanaan pemerintah). b. Jalur budaya (berusaha membangkitkan pengertian dan kesadaran masyarakat melalui berbagai media massa dan forum seperti pengajian dan lain-lain). c. Jalur sosial lainnya (upaya meningkatkan kesehatan masyarakat, lingkungan dan seterusnya). B. Petunjuk Pelaksanaan I. Prosedur Pemilihan Qaul / Wajah 1. Ketika dijumpai beberapa qaul / hujjah dalam satu masalah yang sama, maka dilakukan usaha memilih salah satu pendapat. 2. Pemilihan salah satu pendapat dilakukan : a. Dengan mengambil pendapat yang lebih maslahah dan / atau yang lebih kuat. b. Sedapat mungkin dengan melaksanakan ketentuan Mukatamar NU ke I bahwa perbedaan pendapat diselesaikan dengan memiliki: 1. Pendapat yang disepakati oleh asy Syaikhani ( an Nawawi dan Rafi’i). 2. Pendapat yang dipegangi oleh Nawawi saja. 3. Pendapat yang dipegangi oleh Rafi’i saja. 4. Pendapat yang didukung oleh mayoritas ulama. 5. Pendapat ulama yang terpandai.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 65 Risyanto

6. Pendapat ulama yang paling wara’. II. Prosedur Ilhaq Dalam hal ketika suatu masalah / kasus belum dipecahkan dalam kitab, maka masalah / kasus tersebut diselesaikan dengan prosedur ilhaqul masail bi nadza’iriha secara jama’i. ilhaq dilakukan dengan dengan memperhatikan mulhaq bih, mulhaq ilaih oleh para mulhiq yang ahli.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 66 Risyanto

III. Prosedur Istinbath Dalam hal ketika tak mungkin dilakukan ilhaq karena tidak adanya mulhaq bih dan wajhul ilhaq sama sekali di dalam kitab, maka dilakukan istinbath secara jama’i, yaitu dengan mempraktekkan qawa’id ushuliyyah dan qawa’id fiqhiyyah oleh para ahlinya.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 67 Risyanto

KHILAFIYAH TRADISI NU

Setidaknya ada beberapa masalah khilafiyah yang perlu secara sadar dipahami oleh para jamaah NU, yakni; Pertama, dalam masalah sholat, NU memiliki ciri khas, yakni; (1) takbir (2) ;(‫ )ال أكبر‬baca doa iftitah (umumnya lafat ifitita ‫كبير والحمد ل كثيرا و‬ 3) ;( ‫ )سبحان ال بكرة واصيل الخ‬baca surat al Fatikhah; (4) baca surat / ayat dari al Qur’an; (4) ruku’ (‫ ) سبحان ربي العظيم و بحمده‬dan tuma’ninah; (5) I’tidal (‫ربنا لك‬ ‫الحمد ملؤالسموات و ملؤ الرض و ملؤ ما شئت من شيء بعد‬dan tuma’ninah; (6) baca doa qunut (khusus sholat subuh); (7) sujud (‫ )سمممبحان ربممي العلممي وبحمممده‬dan tuma’ninah; (8) duduk di antara dua sujud ‫رب اغفر لي ورحمني وجبرني وارفعني‬ ‫ ورزقنممي وهممدني وعممافني وعممف عنممي‬dan tuma’ninah; (9) tahiyyat ‫التحيممات المباركممات‬ ‫الصلوات اطيبات ل السلم عليك ايهاالنبي ورحمة ال وبركاته السلم علينا وعلي عباد ال الصالحين اشهد‬ ‫ان ل اله ال ال واشهد ان محمدا رسول ال اللهم صلى على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد كما صممليت‬ ‫على سيدنا ابراهم وعلى ال سيدنا ابراهم وبارك على سيدنا محمد و علي ال سيدنا محمد كما بمماركت علممى‬ 10) ;.‫ )سيدنا ابراهم و على ال سيدنا ابراهم فى العالمين انك حميد مجيد‬salam ‫السلم عليكم و رحمممة‬ ‫ ال م‬. Perlu dicatat di sini bahwa ada ormas islam lain yang membaca assalaamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa baarokaatuh). Kedua, sholat tarawih. Sholat tarawih dikalangan NU jumlahnya 20 rakaat. Cara melaksanakannya pun unik, yakni; 2 rakaat salam. Setelah melaksanakan 20 rakaat, jamaah NU menambah sholat witir 3 rakaat. 3 rakaat dibagi kedalam 2 salam, yakni; 2 rakaat salam dan 1 rakaat salam. Pada tanggal 15 ramadhan, jamaah NU ketika menjalankan 1 rakaat sholat witir menambahnya dengan doa qunut. Para imam shalat tarawih di lingkungan NU umumnya memilih cara sholat yang tidak terlalu bertele-tele. Sebab ada hadits berbunyi, dibelakang anda ada orang tua yang punya kepentingan. Maka meskipun di NU sholat tarawih jumlahnya 23 rakaat, lengkap dengan witirnya, dapat diselesaikan dalam waktu 45 menit.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 68 Risyanto

Lain halnya shalat di Masjidil Haram, Makkah. Di sana 23 rakaat diselesaikan dalam waktu kira-kira 90 – 120 menit. Surat yang dibaca imam ialah ayat-ayat suci al Qur’an dari awal, terus berurutan menuju akhir al Qur’an. Setiap malam targetnya harus diselesaikan kira-kira 1 juz lebih, dengan diperkirakan pada tanggal 29 Ramadhan (dulu setiap tanggal 27 Ramadhan) sudah khatam. Pada malam ke 29 Ramadhan itulah ada tradisi khataman al Qur’an dalam shalat tarawih di Masjidil Haram. Bahkan, di rakaat terakhir imam memanjatkan doa yang menurut ukuran orang Indonesia sangat panjang sebab doa itu bisa sampai 15 menit. Doa yang langka dilakukan seorang kiai dengan waktu sepanjang itu, meski di luar shalat sekalipun. Warga NU yang memilih shalat tarawih 20 rakaat berdasarkan pada beberapa dalil. Dalam fiqh as sunnah juz II, hlm 54 disebutkan bahwa mayoritas pakar hukum Islam sepakat dengan riwayat yang menyatakan bahwa kaum muslimin mengerjakan shalat pada zaman Umar, Utsman, Ali sebanyak 20 rakaat. Sahabat Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah shalat tarawih di bulan Ramadhan sendirian sebanyak 20 rakaat ditambah witir (HR. Baihaqi dan Thabrani). Ibnu Hajar menyatakan bahwa Rasulullah shalat bersama kaum muslimin sebanyak 20 rakaat di malam Ramadhan. Ketika tiba di malam ketika orang-orang berkumpul, namun Rasulullah tidak keluar. Kemudian paginya Rasulullah bersabda, aku takut kalau-kalau tarawih diwajibkan atas kalian, kalian tidak akan mampu melaksanakan. ‫خشيت أن تفرض عليكم فل تطيقونها‬ Hadits ini disepakati kesahihannya dan tanpa mengesampingkan hadits lain yang diriwayatkan Aisyah yang tidak menyebutkan rakaatnya, (Hamisy Muhibah, Juz II, hlm : 466 – 467) Ketiga, sholat jum’at. Di kalangan jamaah NU, ketika melaksanakan sholat jum’at menggunakan 2 kali adzan. Setelah adzan

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 69 Risyanto

pertama, para jamaan NU yang akan melaknakan sholat jum’at, melaksanakan sholat sunnah qobliyah jum’at. Setelah itu, bilal adzan berdiri mempersilahkan khatib untuk naik ke mimbar khutbah. Biasanya setting mimbar dibuat ada tiga tangga, tujuannya ketika bilal membaca sholawat nabi, khatib naik ke tangga pertama, bilal membaca sholawat nabi kedua, khatib naik ke tangga kedua, dan bila membaca sholawat nabi ketiga, khatib naik ke tangga ketiga. Khatib mengucapkan salam, setelah itu bilal adzan. Keempat, bid’ah. Dalam kitab risalah Ahlussunnah wal Jama’ah an Nahdliyah karya Hadratus Syech Hasyim Asy’ari, istilah bid’ah ini disandingkan dengan istilah sunnah. Seperti dikutip Kiai Hasyim Asy’ari, menurut Syech Zaruq dalam kitab ‘Uddadul Murid, kata bid’ah secara syara’ adalah munculnya hal baru dalam agama yang kemudian mirip dengan bagian ajaran agama itu. Padahal, pada hakekatnya bukan bagian darinya, baik formal maupun hakikatnya. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah, barangsiapa memunculkan perkaran baru dalam urusan agama yang tidak merupakan bagian dari agama itu, maka perkara tersebut tertolak. Nabi juga bersabda, setiap perkaran baru adalah bid’’ah. Menurut para ulama, makna kedua hadits ini bukan berarti semua perkara yang baru dalam urusan agama tergolong bid’ah, karena mungkin saja ada perkara baru dalam urusan agama namun masih sesuai dengan ruh syari’ah atau salah satu cabangnya (furu’). Bid’ah dalam arti lainnya adalah sesuatu yang baru yang tidak ada sebelumnya, sebagaimana firman Allah :

   

    

   

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 70 Risyanto

Artinya : Allah pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, Maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah!" lalu jadilah ia. (QS. Al Baqarah : 117) Adapun bid’ah dalam hukum Islam ialah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama yang tidak ada pada zaman Nabi Muhammad. Timbul suatu pertanyaan, apakah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama yang tidak ada pada zaman Nabi Muhammad pasti jelek? Jawaban yang benar, BELUM TENTU! Sebab ada dua kemungkinan; mungkin jelek dan mungkin baik. Kapan bid’ah itu baik dan kapan bid’ah itu jelek? Menurut Imam Syafi’i, sebagai berikut: ‫ فما وافق السنة محمودة وما خالفها فهو مذمومة‬,‫البدعة بدعتان محمودة و مذمومة‬ Bid’ah ada dua, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela. bid’ah yang sesuai dengan sunnah itulah yang terpuji dan bid’ah yang bertentangan dengan sunnah itulah yang tercela. Umar ibn Khattab, setelah mengadakan shalat tarawih berjamaah dengan 20 rakaat yang diimami oleh sahabat Ubay bin Ka’ab beliau berkata : ‫نعمت البدعة هذه‬ Sebagus bid’ah itu ialah ini (sholat tarawih secara berjamaah). Pertanyannya, bolehkah kita mengadakan bid’ah? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita kembali kepada hadits Nabi Muhammad yang menjelaskan adanya bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah sayyiah (jelek). ‫من سن فى اللسلم سنة حسنة فله أجر و أجر من عمل بها من غير ان ينقص من أجورهم شيء‬ ‫و من سن فى اللسلم سنة سيئة فعليه وزرها ووزر من عمل بها من غير ان ينقص من اوزارهم شيء‬. (Kitab Amaly, Juz : 5, Hal : 76) Barang siapa yang mengada-adakan satu cara yang baik dalam Islam, maka ia akan mendapatkan pahala dan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun, dan barang siapa yang mengada-adakan suatu cara yang jelek maka

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 71 Risyanto

ia akan mendapat dosa dan dosa-dosa orang yang ikut mengerjakan dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun. Apakah yang dimaksud dengan segala bid’ah itu sesat dan segala kesesatan itu masuk neraka? ‫كل بدعة ضللة و كل ضللة في النار‬ Semua bid’ah itu sesat dan semua kesesatan itu di neraka Mari kita pahami menurut Ilmu Balaghah. Setiap benda pasti mempunyai sifat. Tidak mungkin ada benda yang tidak bersifat. Sifat itu bisa bertentangan seperti, baik dan buruk, panjang dan pendek, gemuk dan kurus. Mustahil ada benda dalam satu waktu dan satu tempat mempunyai dua sifat yang bertentangan. Kalau dikatakan benda itu baik mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan jelek; kalau dikatakan si A berdiri mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan duduk. Bid’ah itu kata benda, dan karena itu tentu mempunyai sifat. Tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat. Mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam hadits di atas. Dalam ilmu Balaghah dikatakan ‫حدف الصفة على الموصوف‬ (membuang sifat dari benda yang bersifat). Seandainya kita tulis sifat bid’ah, maka terjadi dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, ‫كل بدعة حسنة ضللة و كل ضللة في النار‬ Semua bid’ah yang baik sesat, dan semua yang sesat masuk neraka. Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda serta dalam waktu dan tempat yang sama. Hal itu tentu mustahil, maka yang bisa dipastikan kemungkinan yang kedua, yakni; ‫كل بدعة سيئة ضللة و كل ضللة في النار‬ Semua bid’ah jelek sesat, dan semua yang sesat masuk neraka.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 72 Risyanto

Di sini tampak bagaimana kejelekan sejajar dengan kesesatan, tidak bertentangan. Hal ini terjadi pula dalam al Qur’an, Allah telah membuang sifat kapal dalam firmannya :

                   
Artinya : Adapun bahtera itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap bahtera. (QS. Al Kahfi : 79) Dalam ayat tersebut Allah tidak menyebutkan kapal baik ataukah kapal jelek? Karena yang jelek tidak akan diambil oleh raja, maka lafadh ‫ كممل سممفينة‬sama dengan ‫ كممل بدعممة‬tidak disebutkan sifatnya, walaupun pasti punya sifat, yakni, kapal yang baik ‫ كل سفينة حسنة‬. Selain itu, ada pendapat lain tentang bid’ah dari Syech Zaruq, seperti dikutip Kiai Hasyim Asy’ari. Menurutnya, ada tiga norma untuk menentukan, apakah perkara baru dalam urusan agama itu disebut bid’ah atau tidak? Pertama, jika perkara baru itu didukung oleh sebagian besar syari’at dan sumbernya, maka perkara tersebut bukan merupakan bid’ah. Akan tetapi jika tidak didukung sama sekali dari segala sudut, maka perkara tersebut batil dan sesat. Kedua, diukur dengan kaidah-kaidah yang digunakan para imam dan generasi salaf yang telah memprakarsai ajaran sunnah. Jika perkara baru tersebut bertentangan dengan perbuatan para ulama, maka dikategorikan sebagai bid’ah. Jika para ulama masih berselisih pendapat mengenai mana yang dianggap ajaran ushul (inti) dan mana yang furu’ (cabang), maka harus dikembalikan pada ajaran ushul dan dalil yang mendukungnya.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 73 Risyanto

Ketiga, setiap perbuatan ditakar dengan timbangan hukum. Adapun rincian hukum dalam syara’ ada empat, yakni : wajib, sunah, haram, makruh, khilaful aula, dan mubah. Setiap hal yang termasuk dalam salah satu hukum itu, berarti bisa diidentifikasi dengan status hukum tersebut. Tetapi, jika tidak demikian, maka hal itu bisa dianggap bid’ah. Syech Zaruq membagi bid’ah ke dalam tiga macam; Pertama, bid’ah sharihah (yang jelas dan terang), yaitu bid’ah yang dipastikan tidak memiliki dasar syar’i, seperti: wajib, sunnah, makruh, atau yang lainnya. Menjalankan bid’ah ini berarti mematikan tradisi dan menghancurkan kebenaran. Jenis bid’ah itu merupakan bid’ah yang paling jelek. Meski bid’ah ini memiliki seribu alasan sandaran dari hukum-hukum asal atau pun furu’, tetapi tetap tidak ada pengaruhnya. Kedua, bid’ah idhafiyah (relasional), yakni bid’ah yang disandarkan pada suatu praktik tertentu. Seandainya pun praktik itu telah terbebas dari unsur bid’ah tersebut, maka tidak boleh memperdebatkan apakah praktik tersebut digolongkan sebagai sunnah atau bukan bid’ah. Ketiga, bid’ah khilafi (bid’ah yang diperselisihkan), yaitu bid’ah yang memiliki dua sandaran utama yang sama-sama kuat argumentasinya. Maksudnya, dari satu sandaran utama tersebut, bagi yang cenderung mengatakan itu termasuk sunnah, maka bukan bid’ah. Tetapi bagi yang melihat dengan sandaran utama itu termasuk bid’ah, maka berarti tidak termasuk sunnah seperti soal dzikir berjamaah. Hukum bid’ah menurut Ibnu Abdus Salam, seperti dinukil Kiai Hasyim Asy’ari dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah an Nahdliyah, ada lima macam; Pertama, bid’ah yang hukumnya wajib, yakni melaksanakan sesuatu yang tidak pernah dipraktikkan Rasulullah, misalnya mempelajari ilmu nahwu atau mengkaji kata-kata asing (gharib) yang bisa membantu pada pemahaman syari’ah. Kedua, bid’ah yang hukumnya haram, seperti aliran Qadariyah, Jabariyah, dan Majusiyah.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 74 Risyanto

Ketiga, bid’ah yang hukumnya sunnah, seperti membangun pemondokan, madrasah (sekolah), dan semua hal baik yang tidak pernah ada pada periode awal. Keempat, bid’ah yang hukumnya makruh, seperti menghiasi masjid secara berlebihan atau menyobek-nyobek mushaf. Kelima, bid’ah yang hukumnya mubah, seperti berjabat tangan seusai sholat subuh maupun asar, menggunakan tempat makan dan minum yang berukuran lebar, menggunakan ukuran baju yang longgar, dan hal yang serupa. Dengan penjelasan bid’ah seperti di atas, Kiai Hasyim Asy’ari kemudian menyatakan bahwa memakai tasbih, melafadzkan niat sholat, tahlilan untuk mayit dengan syarat tidak ada sesuatu yang menghalanginya, ziarah kubur, dll. itu semua bukanlah bid’ah yang sesat. Kelima, berdoa, membacaan al Qur’an, shodaqoh, dan tahlil untuk orang yang meninggal apakah pahalanya akan sampai kepada si jenazah? Sebab bila merujuk ke al Qur’an surat an Najm ayat : 39 seolah mengisyaratkan pahala bacaan al Qur’an, tahlil, tidak akan sampai :

    

     

         

               
Artiinya: Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya. : Ayat ini seolah bertentangan dengan firman lain, seperti

                                  
Artinya : Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: "Ya Rabb Kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih duhulu dari kami, dan

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 75 Risyanto

janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang."

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 76 Risyanto

Atau firman yang tersurat dalam surat Muhammad, ayat 19 :

                   
Artinya : Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal. Atau hadits Nabi,

‫ أفينفعها ان‬,‫ يارسول ال ان أمى ماتت‬:‫سأل رجل النبى صلعم فقال‬ ‫ )رواه أبو داود‬.‫ نعم‬: ‫)تصدقت عنها؟ قال‬
Bertanya seorang laki-laki kepada Nabi, ya Rasulullah sesungguhnya ibu saya telah meninggal, apakah berguna bagi saya seandainya saya bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab, ya berguna untuk ibu mu. (HR Abu Dawud). Untuk melihat masalah ‘pertarungan ayat’ ini, tidak salah bila kita mencari rujukan bagaimana ayat itu turun. Selain itu, bagaimana logika bisa digunakan untuk menganalisisnya. Firman Allah QS 53 ayat 39, dapat diambil pemahaman bahwa secara umum yang menjadi hak seseorang adalah apa yang ia kerjakan sehingga seseorang tidak menyandarkan kepada perbuatan orang. Tetapi, makna ayat ini tidak berarti menghilangkan perbuatan seseorang untuk orang lain. Di dalam tafsir ath Thobari jilid 9 juz 27 dijelaskan bahwa ayat tersebut diturunkan ketika Walid ibn Mughirah masuk Islam diejek oleh orang musyrik, dan orang musyrik tadi berkata; kalau engkau kembali

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 77 Risyanto

kepada agama kami dan memberi uang kepada kami, kami yang menanggung siksaan mu kelak di akherat. Maka Allah menurunkan ayat di atas yang menunjukkan bahwa seseorang tidak bisa menanggung dosa orang lain. Bagi seseorang apa yang telah dikerjakan, bukan berarti menghilangkan pekerjaan seseorang untuk orang lain, seperti doa kepada orang mati dan lain-lainnya. Dalam tafsir ath Thobari juga dijelaskan, dari sahabat Ibnu Abbas bahwa ayat tersebut telah dimansukh : Dari sahabat Ibnu Abbas dalam firman Allah, tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dikerjakan, kemudian Allah menurunkan ayat surat at Thuur : 21; dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, maka Allah memasukkan anak kecil ke surga karena kebaikan orang tua. Menurut Syaikhul Islam al Imam Ibnu Taimiyah dalam kitab Majmu’ Fatawa jilid 24, orang yang berkata bahwa doa tidak sampai kepada orang mati dan perbuatan baik pahalanya tidak sampai kepada orang mati, mereka itu ahli bid’ah sebab para ulama telah sepakat bahwa mayit mendapat manfaat dari doa dan amal shaleh orang yang hidup. Keenam, memperingati maulidur rasul (hari kelahiran Nabi Muhammad). Peringatan maulid pada mulanya diperingati untuk membangkitkan semangat umat Islam. Sebab waktu itu umat Islam sedang berjuang keras mempertahankan diri dari serangan tentara salib Eropa, yakni dari Prancir, Jerman, dan Inggris. Kita mengenal masa itu sebagai Perang Salib atau The Crusade. Pada tahun 1099 tentara salib telah berhasil merebut Yerusalem dan menyulap Masjidil Aqsa menjadi gereja. Umat Islam saat itu kehilangan semangat perjuangan dan persaudaraan ukhuwah. Secara politis memang umat Islam terpecah-pecah dalam banyak kerajaan dan kesultanan. Meskipun ada satu khalifah tetap satu, yakni dari Dinasti Bani Abbas di Kota Baghdad. Namun hanya sebagai lambang spiritual belaka.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 78 Risyanto

Adalah Sultan Salahuddin al Ayyubi -- orang Eropa menyebut Saladin, seorang pemimpin yang pandai mengena hati rakyat jelata. Salahuddin memerintah pada tahun 1174 – 1193 atau 570 – 590 H pada Dinasti Bani Ayyub -- katakanlah dia jabatannya setingkat gubernur. Pusat kesultanannya berada di kota Qahirah (Kairo), Mesir, dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia. Kata Salahuddin, semangat juang umat Islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada Nabi mereka. Salahuddin mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari kelahiran Nabi Muhammad, 12 Rabi’ul Awwal kalender hijriyah yang setiap tahun berlalu begitu saja tanpa diperingati, kita harus merayakannya secara massal. Ketika Salahuddin meminta persetujuan dari khalifah di Baghdad yakni an Nashir, ternyata khalifah setuju, maka pada musim ibadah haji bulan Dzulhijjah 579 (1183), Salahuddin sebagai penguasa haramain (dua tanah suci, Mekkah dan Madinah) mengeluarkan instruksi kepada seluruh jemaah haji agar jika kembali ke kampung halaman masing-masing segera mensosialisasikan kepada masyarakat Islam di mana saja berada bahwa mulai tahun 580 (1184) tanggal 12 Rabiuul Awwal dirayakan sebagai hari maulid dengan berbagai kegiatan yang membangkitkan semangat umat Islam. Salahuddin ditentang oleh para ulama. Sebab sejak zaman Nabi peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama hanya ada dua, yakni : Idul Fitri, dan Idul Adha. Akan tetapi Salahuddin kemudian menegaskan bahwa perayaan maulid hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, bukan perayaan yang bersifat ritual, sehingga tidak dapat dikategorikan bid’ah yang terlarang. Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan maulid yang pertama kali tahun 1184 (580 H) adalah menyelenggarakan sayembaran penulisan riwayat Nabi berserta puji-

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 79 Risyanto

pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti kompetisi tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja’far al Barzanji. Karyanya yang dikenal sebagai Kitab Barzaji sampai sekarang sering dibaca masyarakat di kampung-kampung pada peringatan maulid. Barzanji bertutur tentang kehidupan Nabi Muhammad, mencakup silsilah keturunannya, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi Rasulullah. Karya itu juga mengisahkan sifat-sifat mulia yang dimiliki Nabi Muhammad serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia. Nama Barzanji diambil dari nama pengarang naskah tersebut yakni Syech Ja’far al Barzanji bin Husin bin Abdul Karim. Barzanji berasal dari nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzanji. Karya tulis tersebut sebenarnya berjudul ‘Iqd al Jawahir (kalung permata) yang disusun untuk meningkatkan kecintaan kepada Nabi Muhammad. Tetapi kemudian lebih terkenal dengan nama penulisnya. Ternyata peringatan maulid yang diselenggarakan Sultan Salahuddin itu membuahkan hasil yang positif. Semangat umat Islam menghadapi Perang Salib bergelora kembali. Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan, sehingga pada tahun 1187 (583) Yerusalem direbut Salahuddin dari tangan bangsa Eropa, dan Masjidil Aqsa kembali sampai hari ini. Dalam sejarah penyebaran Islam di Nusantara, perayaan maulid atau mauludan dimanfaatkan oleh wali songo untuk sarana dakwah dengan berbagai kegiatan yang menarik masyarakat agar mengucapkan syahadatain (dua kalimah syahadat) sebagai pertanda memeluk Islam. Itulah sebabnya perayaan maulid di sebut perayaan syahadatain, yang oleh lidah Jawa diucapkan sekaten. Dua kalimah syahadat itu dilambangkan dengan dua buah gamelan ciptaan Sunan Kalijaga bernama Gamelan Kiai Nogowilogo dan Kiai Gunturmadu, yang ditabuh di halaman Masjid Demak pada waktu

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 80 Risyanto

perayaan maulid. Sebelum menabuh dua gamelan tersebut, orang-orang yang baru masuk Islam dengan mengucapkan dua kalimah syahadat terlebih dahulu memasuki pintu gerbang “pengampunan” yang disebut gapura (dari bahasa Arab ghafura, artinya Dia mengampuni). Pada zaman kesultanan Mataram, perayaan maulid disebut Gerebeg Mulud. Kata “gerebeg” artinya mengikuti, yaitu mengikuti sultan dan para pembesar keluar dari keraton menuju masjid untuk mengikuti perayaan maulid, lengkap dengan sarana upacara, seperti : nasi gunungan (tumpeng), ingkung, jajan pasar, dan hasil bumi. Di samping Gerebeg Maulud, ada juga perayaan Gerebeg Poso (menyambut Idul Fitri) dan Gerebeg Besar (menyambut Idul Adha). Kini peringatan maulid sangat lekat dengan kehidupan warga NU. Hari Senin tanggal 12 Rabi’ul Awwal, sudah dihapal luar kepada oleh anak-anak NU. Acara yang disuguhkan dalam peringatan hari kelahiran Nabi ini amat variatif, dan kadang diselenggarakan sampai hari-hari bulan berikutnya, bulan Rabi’us Tsani (Bakdo Mulud). Dalam peringatan maulid ada yang mengirimkan masakanmasakan spesial untuk dikirimkan ke beberapa tetangga kanan dan kiri, ada yang menyelenggarakan upacara sederhana di rumah masingmasing, ada yang agar besar seperti yang diselenggarakan di mushola dan masjid-masjid. Bahkan ada juga yang menyelenggarakan secara besar-besaran dihadiri puluan ribu umat Islam. Ada yang hanya membaca Barzanji atau Diba’ (kitab sejenis Barzanji). Bisa juga ditambah dengan berbagai kegiatan keagamaan, seperti penampilan kesenian hadrah, pengumuman hasil berbagai lomba, dan puncaknya mau’idhoh hasanah dari para mubaligh kondang. Para ulama NU memandang peringatan maulid Nabi ini sebagai bid’ah atau perbuatan yang di zaman Nabi tidak ada. Namun para ulama NU sepakat bahwa bid’ahnya adalah bid’ah hasanah (tradisi yang baik) yang diperbolehkan dalam Islam.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 81 Risyanto

Banyak memang amalan seorang muslim yang zaman Nabi tidak ada namun sekarang dilakukan umat Islam, antara lain: berzanjen, diba’an, yasinan, tahlilan, mau’idhoh hasanah pada acara temanten dan maulid. Dalam Madarirushu’ud Syarhul Barzanji dikisahkan, Rasulullah bersabda, barang siapa menghormati hari kelahiran ku, tentu aku berikan syafaat kepadanya kelak di hari kiamat. Sahabat Umar bin Khattab secara semangat mengatakan, siapa yang menghormati hari kelahiran Rasullah, sama artinya dengan menghidupkan Islam. Ketujuh, sentuhan antar kulit setelah wudhu bagi yang tidak muhrim hukumnya membatalkan wudhu. Sering kita jumpai ketika suami istri (baca: biasanya pengantin baru) pergi sholat tarawih atau subuh ke masjid. Mereka bergandengan tangan, masuk masjid dan kemudian langsung sholat tanpa wudhu. Bagi orang NU hal ini dianggap tidak sah sholatnya. Mengapa? Karena sentuhan antara laki-laki dan perempuan hukumnya bisa membatalkan wudhu. Meskipun telah dinikahi. Hal ini perlu saya beri catatan kecil bahwa yang dimaksud muhrim adalah mereka yang tidak boleh dinikahi, seperti: bapak / ibu, kakak / adik kandung. Jika kita bersentuhan dengan bapak / ibu, kakak / adik, pak de / bu de, pak lek / bu lek, tentu tidak membatalkan wudhu. Sebagaimana yang tertulis dalam kitab Fathul Mu’in: ‫و رابعها تلقى بشرتي ذكر وأنثي ولو بل شهوة وان كان احدهما مكرها او ميتا‬ Dan keempat (yang membatalkan wudhu) adalah bertemunya dua kulit; pria dan wanita, walaupun tanpa syahwat, dan meskipun salah satu dari keduanya dalam keadaan dipaksa atau menjadi mayat. Kedelapan, bunga bank. Para ulama NU pernah membahas masalah ini. Untuk bunga bank konvensional, para ulama berbeda pendapat; a. Ada pendapat yang mempersamakan antara bunga bank dengan riba secara mutlak, sehingga hukumnya haram.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 82 Risyanto

b. Ada pendapat yang tidak mempermasalahkan antara bunga bank dengan riba, sehingga hukumnya boleh. c. Ada pendapat yang mengatakan hukumnya syubhat (tidak identik dengan haram). Pendapat petama dengan beberapa variasi antara lain sebagai berikut; a. Bunga itu dengan segala jenisnya sama dengan riba sehingga hukumnya haram. b. Bunga itu sama dengan riba dan hukumnya haram. Akan tetapi boleh dipungut sementara sebelum beroperasinya sistem perbankan yang Islami (tanpa bunga). c. Bunga itu sama dengan riba, hukumnya haram. Akan tetapi boleh dipungut sebab adanya kebutuhan yang kuat (hajah rajihah). Pendapat kedua juga dengan beberapa variasinya antara lain sebagai berikut; a. Bunga konsumtif sama dengan riba, hukumnya haram, dan bunga produktif tidak sama dengan riba, hukumnya halal. b. Bunga yang diperoleh dari bank tabungan giro tidak sama dengan riba, hukumnya halal. c. Bunga yang diterima dari deposito yang dipertaruhkan ke bank hukumnya boleh. d. Bunga bank tidak haram, kalau bank itu menetapkan tarif bunga terlebih dahulu secara umum. Mengingat warga NU merupakan potensi terbesar dalam pembangunan nasional dan dalam kehidupan sosial ekonomi, diperlukan adanya suatu lembaga keuangan sebagai peminjam dan pembina yang memenuhi persyaratan-persyaratan sesuai dengan keyakinan kehidupan warga NU, maka dipandang perlu mencari jalan keluar menentukan sistem perbankan yang sesuai dengan

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 83 Risyanto

hukum Islam, yakni bank tanpa bunga dengan langkah-langkah sebagai berikut; a. Sebelum tercapai cita-cita di atas, hendaknya sistem perbankan yang dijalankan sekarang ini harus segera diperbaiki. b. Perlu diatur; 1. Dalam penghimpunan dana masyarakat dengan prinsip: a. Al wadi’ah (simpanan) bersyarat atau dhamam, yang digunakan untuk menerima giro (current account) dan tabungan (saving account) serta pinjaman dari lembaga keuangan lain yang menganut sistem yang sama. b. Al mudharabah Dalam prakteknya, bentuk ini disebut investment account (deposito berjangka), misalnya 3 bulan, 6 bulan, dan sebagainya, yang pada garis besarnya dapat dinyatakan dalam; General investment account (GIA) Special investment account (SIA)

2. Penanaman dana dan kegiatan usaha a. Pada garis besarnya ada 3 kegiatan, yaitu: Pembiayaan proyek. Pembiayaan perdagangan perkongsian. Pemberian jasa atas dasar upaya melalui

usaha patungan, profit sharing dan sebagainya. b. Untuk proyek financing system yang dapat digunakan antara lain: 1. Mudharabarah muqaradhah 2. Musyarakah syirkah 3. Murabahah 4. Pemberian kredit dengan service change (bukan bunga) 5. Ijarah

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 84 Risyanto

6. Bai’uddain, termasuk di dalamnya bai’us salam 7. Al qardhul hasan (pinjaman kredit tanpa bunga, tanpa service change) c. Untuk aqriten participation, bank dalam membuka LC (letter of creadit) dan pengeluaran surat jaminan. Untuk ini dapat ditempuh kegiatan atas dasar; 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Wakalah Musyawarah Murabahah Ijarah Sewa beli Bai’us salam Al bai’ul aajil Kafalah (garansi bank) Working capital financing (pembiayaan modal

kerja) melalui purchase order dengan menggunakan prinsip murabahah. d. Untuk jasa-jasa perbankan (banking service) lainnya, seperti pengiriman dan transfer uang, jual beli valuta dan penukarannya dan lain-lain, tetap dapat dilaksanakan dengan prinsip tanpa bunga. Kesembilan, wasilah dan tawasul. Wasilah artinya sesuatu yang menjadikan kita dekat kepada Allah. Adapun tawasul sendiri artinya mendekatkan diri kepada Allah atau berdoa kepada Allah dengan mempergunakan perantara (wasilah). Pernyataan demikian dapat dilihat dalam surat al Maidah ayat 35, Allah berfirman:

          

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 85 Risyanto



       

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. Tawasul dengan wasilah amal di antaranya ialah; Pertama, iman sebagai wasilah yang menjadikan manusia dekat kepada Allah. Kedua, ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah. Ketiga, amar ma’ruf dan nahi munkar juga termasuk wasilah yang mendekatkan diri kepada Allah. Karena itu, berdoa dengan memakai wasilah di atas tidak ada ulama yang menyalahkan. Artinya, telah disepakati kebolehannya. Tawasul dengan orang-orang yang dekat kepada Allah, para nabi, para rasul, sahabat Rasulullah, para tabi’in, para syuhada’, dan para shalihin, tidak ada larangan dalam ayat Qur’an dan hadits. Bertawasul dengan orang-orang yang dekat kepada mereka yang dijadikan wasilah, senyatanya wasilah itu tetap memohon kepada Allah karena Allah tempat meminta dan harus diyakini baahwa sesungguhnya tidak ada yang bisa mencegah terhadap apa yang Engkau (Allah) berikan, dan tidak ada yang bisa memberi sesuatu apabila Engkau (Allah) mencegahnya. Mengapa bertawasul? Bertawasul dengan orang-orang dekat kepada Allah itu agar mereka ikut memohonkan kepada Allah atas apa yang diminta kepada Allah. Dengan begitu, maka dalam hal itu tidak ada unsur-unsur syirik. Jika bertawasul dengan orang-orang yang dekat kepada Allah, seperti para nabi, para rasul, dan para shalihin, pada hakikatnya tidak bertawasul dengan dzat mereka, tetapi bertawasul dengan amal perbuatan mereka yang shaleh. Karenannya, bertawasul itu tidak dengan orang-orang yang ahli maksiat, pendosa yang menjauhkan diri dari Allah, dan juga tidak bertawasul dengan pohon, batu, gunung, dll. Bertawasul dengan orang meninggal?

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 86 Risyanto

Kembali pada keyakinan kita bahwa orang mati yang rusak dan hancur adalah badannya atau jasadnya. Sedang rohnya tetap hidup dan tidak mati. Sebab mereka itu berada di alam barzakh. Mereka telah putus segala amal perbuatan mereka untuk diri mereka. Dalam kitab shahih Muslim juz II disebutkan : ‫ اذا مات النسان انقطع عنه عمله ال من ثلث صدقة‬: ‫عن أبى هريرة ان رسول ال صلعم قال‬ ‫جارية او علم ينتفع به او ولد صالح يدعوله‬ Dari Abu Hurairah bahwasannya Rasulullah bersabda : Apabila manusia telah mati maka terputuslah amalnya, kecuali tiga perkara, yakni: shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak shaleh. Hadits semacam ini juga termaktub dalam sunan Turmudzi juz III, dalam sunan Abu Dawud juz III dan sunan Nasa’I juz IV. Hadits di atas menjelaskan bahwa apabila manusia telah meninggal dunia, segala amalnya untuk dirinya sendiri. Tetapi untuk orang lain, misalnya ahli kubur mendoakan orang yang di dunia tidak ada keterangan yang melarang. Adanya salam yang disampaikan Rasulullah setiap melewati kubur, menunjukkan bahwa ahli kubur menjawab salam yang kita ucapkan. Dalam riwayat Imam Turmudzi dalam sunannya, juz III Rasulullah bersabda: ‫)السلم عليكم يا أهل القبور يغفر ال لنا ولكم وانتم سلفنا ونحن بالثر )رواه الترمذى‬ Keselamatan atas engkau wahai ahli kubur, mudah-mudahan Allah mengampuni kami dan mengampuni kalian, kalian pendahulu kami dan kami mengikuti jejak kalian. Tentu salam Rasulullah dijawab oleh ahli kubur dan juga salam kita dijawab; mudah-mudahan keselamatan bagi engkau wahai orang yang masih hidup di dunia. Adapun doa ahli kubur kepada kita diterima atau tidak, itu adalah urusan Allah. Mendoakan orang tua, kemudian orang tua di alam barzakh mendoakan kepada yang berdoa agar selamat, hal ini tidak ada larangan

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 87 Risyanto

dalam agama. Baik orang yang berdoa maupun ahli kubur seluruhnya memohon kepada Allah. Bagi yang berdoa di dunia, itu tidak meminta kepada ahli kubur karena diyakini bahwa mereka tidak dapat berbuat apaapa dan tidak bisa memberikan apa-apa. Hanya bertawasul dengan ahli kubur, agar ahli kubur bersamasama dengan pendoa memohon kepada Allah. Ketika berdiri di depan kuburan Rasulullah mengucapkan salam ‫السلم عليك يا رسول ال‬ Di beberapa hadits, Rasulullah menjawab salam orang yang menyampaikan salam kepada beliau. Artinya Rasulullah di dalam kubur juga mendoakan para pemberi salam atau yang bertawasul. Bagaimana tawasul dengan Rasulullah? Sewaktu masih hidup dan setelah wafat, tawasul pada Rasulullah itu seperti disebutkan dalam beberapa ayat al Qur’an, misalnya, firman Allah dalam surat an Nisa’, ayat 64 :

                                
Artinya : Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika Menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Dalam ayat tersebut, dijelaskan bahwa Allah mengampuni dosadosa orang yang dhalim, disamping doa mereka tetapi ada juga wasilah (doanya) Rasulullah :

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 88 Risyanto

Soal tawasul seperti di atas disebutkan pula dalam tafsirnya Ibnu Katsir juz I : Berkata al Imam al Hafidz as Syech Imamuddin Ibnu Katsir menyebutkan segolongan ulama di antaranya as Syech Abu Manshur as Shibagh dalam kitabnya as Syaamil dari al Ataby, berkata; saya duduk di kuburan Nabi Muhammad, maka datanglah seorang Badui dan ia berkata: assalamu‘alaika ya Rasulullah! Saya telah mendengar Allah berfirman; walaupun sesungguhnya mereka kemudian datang kepada mu dan mereka meminta ampun kepada Allah, dan Rasul memintakan ampun untuk mereka, mereka pasti mendapatkan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyanyang; dan saya telah datang kepada mu (ke makam Rasulullah) dengan meminta ampun akan dosaku dan memohon syafa’at dengan wasilah mu (Nabi) kepada Allah, kemudian ia membaca syair memuji Rasulullah, kemudian orang Badui tadi pergi, maka saya ketiduran dan melihat Rasulullah dalam tidur saya, beliau bersabda: Wahai Ataby temuilah orang Badui tadi sampaikan kabar gembira bahwa Allah telah mengampuni dosanya. Dalam riwayat di atas dipaparkan bahwa Ataby diampuni dosanya dengan tawasul kepada Nabi yang telah wafat. Riwayat di atas diriwayatkan oleh al Imam Nawawi dalam kitabnya, al Idlah fi Manasik al Hajj. Selanjutnya, diriwayatkan juga oleh Abu Muhammad Ibnu Quddamah dalam kitabnya al Mughni juz III, riwayat al Ataby ini banyak sekali diriwayatkan oleh para ulama terkemuka.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 89 Risyanto

PENUTUP

Alhamdulillahi robbil ‘alamiin, akhirnya buku pintar untuk warga NU bisa selesai juga disusun. Penulis senantiasa berdoa semoga apa yang tertulis dalam buku pintar ini ada manfaatnya. Penulis hanya memberikan catatan kecil; Pertama, NU selamanya akan menjadi gerakan kultural yang menyejarah bila para penerusnya senantiasa mengedepankan kepentingan bersama (jam’iyyah), daripada kepentingan diri sendiri (ananiyah). Kedua, NU saat ini bukanlah miliki kiai saja, tetapi NU menjadi milik siapa pun yang ingin berkhidmat di dalamnya. NU adalah khazanah Islam ala Indonesia yang butuh sentuhan para profesional di bidangnya. NU tidak cukup bila sekedar dikelola oleh kiai dan santri yang hanya jebolan pesantren. NU harus bisa menembus wacana NU virtual. Bukankah masih banyak warga NU yang hidup dalam kemiskinan dan kebodohan. Ketiga, apapun yang dilakukan secara ikhlas untuk lestarinya kalimah lailaaha illa Allah, Allah pasti akan menolongnya. Meskipun terkadang cercaan, hinaan, dan fitnah sebagai bumbu dalam merjuangan di jalan Allah. Terakhir, semoga semua yang kita lakukan bermanfaat untuk Islam dan kemanusiaan umumnya dan NU khususnya agar kehidupan di dunia ini menjadi rahmat sebagaimana firman Allah, Aku tidak mengutus mu wahai Muhammad, kecuali untuk menebar rahmat bagi alam semesta. Dan sabda Nabi, sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat. Semoga. Bismillah.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 90 Risyanto

DAFTAR BACAAN Abdul Muchith Muzadi, (2006), Mengenal Nahdlatul Ulama, Khalista, Surabaya. Abdul Muchith Muzadi, (2006), NU dalam Perspektif Sejarah dan Ajaran, Khalista, Surabaya. Andree Feillard, (1999), NU Vis a Vis Negara, LKiS, Yogyakarta. Ary Ginanjar Agustian, (2006), ESQ Power Sebuah Inner Journey Melalui al Ihsan, Arga; Jakarta. Djamaluddin Ancok, (1994). Psikologi Islam Solusi Islam atas ProblemProblemPsikologi, Pustaka Pelajar; Yogyakarta. Erich Fromm, (1966), The Art of Loving, Harper and Rows; London. Gay Hendricks dan Kate Ludeman, (2002), The Corporate Mystic, Kaifa; Bandung. Imam Ghozali, (1990), Ihya Ulumuddin, Kuala Lumpur, Malaysia: Asy Syifa Darulfikr. Jalaluddin Rakhmat, (2005). Psikologi Agama Sebuah Pengantar, Mizan; Jakarta. Jamal Ma’mur Asmani, (2007), Fiqh Sosial Kiai Sahal Mahfudh Antara Konsep dan Implementasi, Khalista, Surabaya. Jeanne Segal, (2001), Meningkatkan Kecerdasan Emosional, Citra Aksara: Jakarta. Khoirul Anam, (1985), Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama, Jatayu, Solo. Kholilurrohman, (2007), Psikologi Tahlil, Intelectual, Yogyakarta. M. Madchan Anies, (2009), Tahlil dan Kenduri, Tradisi Santri dan Kiai, Pustaka Pesantren, Yogyakarta. Martin E.P. Seligman, (2005). Authentic Happiness, Mizan; Jakarta. Masdar Farid Mas’udi, (2007), Membangun NU Berbasis Masjid dan Umat, LTMI-NU-P3M, Jakarta.

B u k u P i n t a r W a r g a N U | 91 Risyanto

Masyhudi Muchtar, dkk., (2007), Aswaja an Nahdliyah Ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah an Nahdliyah, Khalista, Surabaya. Munawir Abdul Fatah, (2008), Amaliyah Nahdliyah, Tradisi-Tradisi Utama Warga NU, Pustaka Pesantren, Yogyakarta. Mustofa Bisri, (2007), Fikih Keseharian Gus Mus, Khalista, Surabaya. Nanang Qosim yusuf, (2006), The 7 Awareness 7 Kesadaran Hati dan Jiwa Menuju Manusia Di Atas Rata-rata, Grasindo, Jakarta. Nur Kholik Ridwan, (2001), Islam Borjuis dan Islam Proletar, Galangpress, Yogyakarta. Robert K. Cooper dan Ayman Sawaf, (1998), Executive EQ; Kecerdasan Emosional dalam Kepemimpinan dan Organisasi, PT. Gramedia Pustaka Utama; Jakarta. Robert T. Kiyosaki, (2001), Ayah Kaya Ayah Miskin, Gramedia Pustaka Utama; Jakarta. Sirajudin Abas, (1991), Sejarah dan Keagungan Mazhab Syafi’i, Pustaka Tarbiyah, Jakarta. Sirajudin Abas, (1992), I’tiqod Ahlussunnah an Nahdliyah, Pustaka Tarbiyah, Jakarta. Soeleiman Fadeli dan Mohammad Subhan, (2007), Antologi Sejarah Istilah Amania Uswah NU, Khalista, Surabaya. Stephen R Covey, (2001), The Seven Habits of Highly Effective People (7 Kebiasaan Remaja yang Sangat Efektif), Binarupa Aksara; Jakarta. Tim PW LTN NU Jatim (Peny.), (2007), Ahkamul Fuqoha Solusi Problematika Aktual Hukum Islam, Keputusan Muktamar, Munas dan Konbes Nahdlatul Ulama (1926 – 2004), Kalista, Surabaya. Zuardin Azzaino, (1990), Asas-asas Psikologi Ilahiyah, Pustaka Hidyah; Jakarta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->