Tim penyusun Panduan

PANDUAN ANALISIS PENGEMBANGAN KSPN
[Type the document subtitle]

Toshiba [Pick the date]

1 ANALISIS KETERKAITAN DAN INTEGRASI
Analisis keterkaitan dan integrasi kebijakan pada setiap wilayah, yang digunakan untuk melihat kedudukan KSPN terhadap kebijakan rencana tata ruang nasional/ provinsi /kabupaten/ kota untuk menyesuaikan perencanaan yang dibuat dengan kebijakan pembangunan daerah dengan tujuan agar tidak terjadi tumpang tindih kegiatan.

1.1 KETERKAITAN KSPN DENGAN RENCANA TATA RUANG WILAYAH
Penyusunan Rencana Tata Ruang (RTR) suatu kawasan harus mengacu pada Rencana/ Kebijakan Tata Ruang di atasnya. Rencana Tata Ruang (RTR) suatu KSPN disusun berdasarkan isu-isu kebijakan, antara lain :     Peraturan Pemerintah no 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) yang menetapkan sejumlah Kawasan Strategis Nasional. Contoh : Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) yang menetapkan sejumlah Kawasan Strategis Nasional, diantaranya KSN Sarbagita ( Denpasar, Badung, Gianyar dan Tabanan) Peraturan Daerah tentang RTRW Provinsi yang menjelaskan mengenai detail dari Kawasan Strategis Nasional yang masuk dalam wilayah administratif provinsi tersebut. Contoh : Pada Perda no 16 tahun 2009 mengenai RTRW Provinsi Bali menetapkan kawasan Sanur yang juga merupakan bagian dari KSN Sarbagita, sebagai kawasan strategis provinsi dengan fungsi utama sebagai Kota Pariwisata Internasional yang berjati diri budaya Bali Peraturan Daerah tentang RTRW Kota/ Kabupaten yang menjelaskan mengenai Kawasan Strategis Provinsi yang masuk dalam wilayah administratif Kota/ Kabupaten tersebut. Contoh : RTRW Kota Denpasar menetapkan Kawasan Sanur sebagai salah satu Kawasan Strategis Kota Denpasar mencakup wilayah Desa Sanur Kaja, Kelurahan Sanur dan Desa Sanur Kauh

 

Berdasarkan isu-isu kebijakan di atas, maka kedudukan RTR KSPN Sanur dengan Rencana Tata Ruang Wilayah adalah sebagai berikut :

RTRW NASIONAL

RTR KAWASAN STRATEGIS NASIONAL

RTRW PROVINSI

RTR KAWASAN STRATEGIS PROVINSI

RTRW KOTA/ KABUPATEN RDTR KOTA/ KABUPATEN

RTR KAWASAN STRATEGIS RDTR KOTA/ KABUPATEN KOTA/ KABUPATEN RTR KAWASAN PERKOTAAN/ PERDESAAN

1.2 KETERKAITAN KSPN DENGAN RENCANA PEMBANGUNAN KEPARIWISATAAN
Pembentukan KSPN merupakan bagian dalam Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataan Nasional (RIPPARNAS). Berdasarkan Ripparnas, KSPN merupakan kawasan yang memiliki fungsi utama pariwisata atau memiliki potensi untuk pengembangan pariwisata nasional yang mempunyai pengaruh penting dalam satu atau lebih aspek, seperti pertumbuhan ekonomi, sosial, budaya, pemberdayaan sumber daya alam, daya dukung lingkungan hidup serta pertahanan dan keamanan. Penetapan KSPN-KSPN di Indonesia merupakan bentuk pembangunan kepariwisataan nasional pada aspek destinasi yang diawalai dengan Perwilayahan pembangunan DPN (Destinasi Pariwisata Nasional). DPN merupakan kawasan geografis dengan cakupan wilayah propinsi dan/ atau lintas provinsi yang di dalamnya terdapat Kawasan Pengembangan Pariwisata Nasional, yang diantaranya berupa KSPN, dimana pengembangan pariwisata untuk kawasan yang menjadi KSPN langsung ditangani oleh pemerintah pusat. KSPN berdasarkan RIPPARNAS ditentukan dengan kriteria: a. memiliki fungsi utama pariwisata atau potensi pengembangan pariwisata; b. memiliki sumber daya pariwisata potensial untuk menjadi Daya Tarik Wisata unggulan dan memiliki citra yang sudah dikenal secara luas; c. memiliki potensi pasar, baik skala nasional maupun khususnya internasional d. memiliki posisi dan peran potensial sebagai penggerak investasi; e. memiliki lokasi strategis yang berperan menjaga persatuan dan keutuhan wilayah; f. memiliki fungsi dan peran strategis dalam menjaga fungsi dan daya dukung lingkungan hidup;

g. memiliki fungsi dan peran strategis dalam usaha pelestarian dan pemanfaatan aset budaya, termasuk didalamnya aspek sejarah dan kepurbakalaan; h. memiliki kesiapan dan dukungan masyarakat; i. j. memiliki kekhususan dari wilayah; berada di wilayah tujuan kunjungan pasar wisatawan utama dan pasar wisatawan potensial nasional; dan memiliki potensi kecenderungan produk wisata masa depan.

Sedangkan untuk pembangunan KSPN dilakukan secara bertahap dengan kriteria prioritas yang memiliki :

a. b. c. d. e. f. g.

komponen destinasi yang siap untuk dikembangkan; posisi dan peran efektif sebagai penarik investasi yang strategis; posisi strategis sebagai simpul penggerak sistemik Pembangunan Kepariwisataan di wilayah sekitar baik dalam konteks regional maupun nasional; potensi kecenderungan produk wisata masa depan; kontribusi yang signifikan dan/atau prospek yang positif dalam menarik kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara dalam waktu yang relatif cepat; citra yang sudah dikenal secara luas; kontribusi terhadap pengembangan keragaman produk wisata di Indonesia; dan keunggulan daya saing internasional

1.3 INTEGRASI PARIWISATA DENGAN SEKTOR LAIN
Pengembangan pariwisata harus dikaitkan dengan pengembangan ekonomi baik nasional, wilayah, maupun lokal. Sektor pariwisata harus berperan sebagai prime mover dan secara interaktif terkait dengan pengembangan sektor sektor lainnya. Peningkatan keterkaitan antara sektor pariwisata dengan sektor lainnya akan meningkatkan percepatan pertumbuhan ekonomi wilayah. Pariwisata mampu menghasilkan pertumbuhan ekonomi, karena dapat menyediakan lapangan kerja, menstimulasi berbagai sektor produksi, serta memberikan kontribusi secara langsung bagi kemajuan-kemajuan dalam usaha-usaha pembuatan dan perbaikan pelabuhan, jalan raya, pengangkutan, serta mendorong pelaksanaan program kebersihan dan kesehatan, proyek tempat kesenian dan budaya, pelestarian lingkungan hidup dan sebagainya yang dapat memberikan keuntungan dan kesenangan baik kepada masyarakat setempat maupun wisatawan dari luar. Penilaian seberapa baik integrasi pariwisata dengan sektor lainnya dapat dilihat dari angka penyerapan tenaga kerja di sektor lainnya dengan membandingkan pada angka pertumbuhan kedatangan wisatawan, PDRB dari sektor pariwisata maupun proyek proyek pembangunan terkait kepariwisataan. No 1 Variabel Angka Pertumbuhan Wisatawan dalam 3 tahun terakhir Besarnya penerimaan PDRB dari sektor pariwisata dalam 3 tahun terakhir Jumlah investasi terkait pariwisata dalam 3 tahun terakhir Angka penyerapan tenaga kerja pada sektor transportasi dan komunikasi dalam 3 tahun terakhir Angka penyerapan tenaga kerja pada sektor pertanian dalam 3 tahun terakhir Angka penyerapan tenaga kerja pada sektor bangunan Sumber Data Data Sekunder Metode Kondisi Penilaian

2

Data Sekunder

3

Data Sekunder

4

Data Sekunder

5

Data Sekunder

6

Data Sekunder

orientasi maupun konfigurasi massa dan ruang terbuka. Faktor faktor yang mempengaruhi kualitas tapak terdiri atas.No Variabel dalam 3 tahun terakhir Pelaksanaan program kebersihan dan kesehatan dalam 3 tahun terakhir Sumber Data Metode Kondisi Penilaian 7 Data Sekunder 2 ANALISIS PERWILAYAHAN 2. komposisi. namun pada prakteknya. faktor fisik.1 STRUKTUR DAN POLA TAPAK Sebuah tapak secara administratif merupakan lokasi yang seluruh boleh dibangun. biologi dan sosial budaya. site entrance. sebagai kebutuhan dalam melakukan perencanaan tatanan fisik fasilitas/ fungsi/ bangunan dalam tapak yang meliputi pengolahan dan sistem utilitas tapak. terdapat sejumlah batasan yang harus dipertimbangkan. sistem sirkulasi serta penentuan posisi. dimana tiap faktor tersebut memiliki sejumlah variabel pembentuknya 1. Faktor Fisik No Variabel 1 Dimensi tapak Sumber Data Data Primer Metode Observasi Aspek penilaian Bentuk Ukuran 2 Kondisi Keadaan Data Primer tanah Observasi Porositas Daya Dukung Keasaman 3 Topografi Data Primer Observasi Elevasi Kemiringan Ketinggian Bentang alam/ morfologi Permukaan air tanah Arah aliran air hujan Kondisi Penilaian 4 Hidrologi Data Primer Observasi . Analisa struktur dan pola tapak merupakan proses penilaian terhadap kualitas tapak yang dipengaruhi oleh sejumlah faktor.

Faktor Biologi No Variabel 1 2 Vegetasi Habitat Sumber Data Data Primer Data Primer Metode Observasi Observasi Aspek penilaian Keragaman tanaman Keragaman di dalam site Keragaman di lingkungan sekitar site Kondisi Penilaian 3. No 1 2 Faktor Sosial Budaya Variabel Peruntukan tanah Regulasi lokal Sumber Data Data Primer.No Variabel Sumber Data Metode Aspek penilaian Kualitas air tanah Kondisi Penilaian 5 Geologi Data Primer Observasi Bahaya seismik Kedalaman tanah Kondisi batuan 6 Iklim Data Primer Observasi Curah hujan Intensitas hujan Kecepatan arah angin Arah penyinaran cahaya matahari 2. Data sekunder Data Sekunder (RTBL) Metode Observasi Ketinggian bangunan Kepadatan dan tipe bangunan Peruntukan dan ijin bangunan Observasi Kondisi Sanitasi Kondisi Drainase Kondisi Air bersih Listrik Aspek penilaian Kondisi Penilaian 3 Utilitas di dalam Data Primer dan sekitar tapak .

Terdapat ketentuan dalam membentuk konsep struktur dan tapak di setiap perencanaan yang akan dilakukan. penentuan fungsi ruang terbuka baik aktif maupun pasif. penentuan jalur sirkulasi yang terdiri atas main entrance. purbakala 6 Sensory Visual Sumber Bising Dari hasil analisis di atas. Kemiringan ini eprlu dipertahankan untuk menghindari erosi Kondisi kemiringan curam tidak ideal untuk hampir semua penggunaan dan fungsi No 1 < 1 % (terlalu datar) 2 1-5 % (datar) 3 5-10 % (landai) 4 5 2. penentuan tata letak massa bangunan dan orientasinya. penentuan sistem utilitas Kemiringan Ketentuan Aliran secara umum tidak bagus. maka akan dirumuskan konsep struktur dan tapak KSPN yang menjelaskan pengolahan bentang tapak. penentuan tata letak massa bangunan. tetapi perlu dipertimbangkan tata letak terhadap arah kemiringan. Pengolahan bentang tapak. Kemiringan ini juga masih ideal untuk drainase namum perlu dikontrol agar tidak terjadi erosi Kemiringan agak curam untuk fungsi ruang terbuka aktif dan bangunan masif. 1.No 4 Variabel Sirkulasi sekitar site Sumber Data Data Primer Metode Observasi Aspek penilaian Kelas Jalan Kepadatan jalan (traffic volume) Jalur pejalan kaki Jenis angkutan Kondisi Penilaian 5 Area Historis Data Primer Observasi Landmark Situs arkeologis. 10-15 % (agak curam) 15% (curam) Zonasi Zonasi untuk bangunan masif dan ruang terbuka direncanakan dengan memenuhi beberapa pertimbangan berikut : . tidak direkomendasikan untuk eksterior dengan fungsi tertentu kecuali untuk wetland preserve atau ruang terbuka lain yang memungkinkan adanya genangan air ( ruang terbuka pasif) Kemiringan yang ideal untuk ruang terbuka aktif dan bangunan masif Kemiringan masih ideal untuk fungsi ruang terbuka aktif dan penempatan bangunan masif. side entrance dan sidewalk. penentuan zonasi serta penentuan sistem utilitas. penentuan fungsi ruang terbuka.

Kondisi. KDB.1 Analisis Kesesuaian Pemanfaatan Ruang sebagai Kawasan Inti Analisis kesesuaian pemanfaatan ruang merupakan analisis yang melihat pada potensi kawasan untuk menjadi kawasan inti berdasarkan kriteria-kriteria teknis kegiatan pemanfaatan ruang yang direncanakan. ekonomi dan budaya berdasarkan kriteria kegiatan. pada setiap kawasan inti perlu dilakukan analisis kesesuaian lahan untuk aktivitas pariwisata yang akan dilakukan di sana serta analisis daya dukung kawasan inti. 2. b. d. kenyamanan. sosial. sempadan. dan KLB Sirkulasi Sirkulasi direncanakan dengan memenuhi beberapa pertimbangan berikut : a. e. Selanjutnya.2. No Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Kawasan Inti dengan Tema Budaya Bahari Parameter S1 (sangat sesuai) S2 (sesuai) S3 (sesuai bersyarat) N (tidak sesuai) Kondisi Eksisting . bentuk tapak dan kontur Hirarki ruang Fungsi fasilitas Prinsip desain : efisiensi. Dari analisis ini akan dihasilkan kesesuaian lahan untuk pemanfaatan ruang dalam bentuk peta kesesuaian pemanfaatan ruang yang meliputi kesesuaian untuk kawasan inti. Analisis ini menggunakan metode overlay peta untuk setiap variabel fisik. maka kriteria yang dibutuhkan utnuk penentuan kawasan inti sesuai temanya adalah sebagai berikut : a. c. sirkulasi langsung ke bangunan masif sebagai fungsi utama fasilitas Jalur ini diakumulasi di daerah bising Jalur ini dibuat sebagai perpanjangan jalur yang tidak bising untuk menghubungkan semua fungsi dalam tapak No 1 2 3 2. Kondisi tapak dan kontur Keberadaan jalur jalur di luar tapak Bentuk tapak Layanan yang merata pada seluruh fungsi pada tapak sesuai dengan jenis sirkulasinya Jenis Sirkulasi Jalan raya dua arah Jalur kendaraan dalam tapak Jalur Pejalan kaki Ketentuan Dimanfaatkan sebagai titik masuk ke tapak.a. d. Berdasarkan tema kawasan inti yang telah dibentuk. c. 3. keselamatan Regulasi lokal terkait dimensi massa. b.2 PENETAPAN KAWASAN INTI DALAM KSPN Penunjukan kawasan inti dikelompokkan berdasarkan tema-tema kegiatan yang dapat dilakukan di kawasan tersebut serta hasil konsep pola tapak yang menetapkan pengembangan ruang pariwisata seperti apa yang akan dilakukan.

34 5 – 10 Sedang ( 20 – 30 ) 0.17 10 – 20 S2 (sesuai) 10 –15 50 – 75 Beragam ( 75 – 100) S3 (sesuai bersyarat) 5 – 10 25 – 50 Sedang ( 20 – 75) N (tidak sesuai) <5 < 25 Sedikit ( <10) Kondisi Eksisting 4 Beragam (50 – 70) 0.51 <2 5 6 A.34 – 0.51 2–5 Sedikit ( < 20 ) > 0. Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Kawasan Inti dengan Tema Budaya No 1 2 3 4 5 Parameter S1 (sangat sesuai) S2 (sesuai) S3 (sesuai bersyarat) N (tidak sesuai) Kondisi Eksisting B. selanjutnya pada tiap kawasan inti tersebut diperlukan identifikasi terhadap : . Kriteria Kesesuaian Lahan untuk Kawasan Inti dengan Tema Ecovillage No 1 2 3 4 5 6 Parameter S1 (sangat sesuai) S2 (sesuai) S3 (sesuai bersyarat) N (tidak sesuai) Kondisi Eksisting Setelah ditentukan lokasi spesifik yang akan menjadi kawasan inti berdasarkan kriteria kesesuaian lahan yang dibutuhkan untuk tiap tema.No 1 2 3 Parameter Kecerahan perairan (meter) Tutupan terumbu karang hidup (%) Jenis hewan karang dan biota yang berasosiasi (spesies) Jenis ikan karang (spesies) Kecepatan arus (m/dtk) Kedalaman perairan S1 (sangat sesuai) 15 – 20 >75 Sangat beragam ( > 100) Sangat beragam ( > 70) 0 – 0.17 – 0.

9 Dapat diairi dan dikeringkan Liat berpasir. Kriteria Tingkat Daya Dukung untuk Kawasan Inti dengan Tema Budaya Bahari No 1 Parameter Tinggi Tipe Pantai Terjal. sedikit berlumpur Teluk terbuka Stabil 0.1.000 – 2. 2.1 Dapat diairi dan dikeringkan Liat berpasir.7 dan > 0.500 Kondisi Eksisting 2 3 4 5 6 Bentuk Tipe Garis Pantai Arus Sungai (m/dtk) Amplitudo Rataan (m) Posisi Hamparan Lahan 7 Kualitas Tanah 8 Air Tanah 9 10 11 Salinitas (ppt) Jalur Hijau (m) Curah Hujan (mm/thn) .7 – 1.5 0. kegiatan sebagai daya tarik utama 2.2 Analisis Daya Dukung Kawasan Inti Analisis daya dukung yang digunakan merupakan analisis daya dukung fisik untuk menilai kesesuaian antara sumber daya fisik yang terdapat pada kawasan tersebut dengan kemampuan memberi toleransi terhadap kunjungan wisatawan sehingga keaslian sumber daya fisik dari kawasan tersebut tetap terjaga.1 – 2. tidak bergambut.500 Rendah Sangat landai. kebutuhan sarana dan prasarananya yang sesuai dengan kondisi lokasi tersebut. berpasir. karang.1 2. A. tidak bergambut.5 1.9 Di bawah rataan surut terendah Lumpur/pasir bergambut’ berpyritt Dekat sungai dan tingkat siltasi tinggi < 10 dan > 30 < 50 > 2. karang.5 – 1. kegiatan sebagai daya tarik pendukung 3.5 < 0.000 Penilaian Sedang Terjal.2. berpasir Teluk terbuka Stabil > 1. tidak berpyrit Dekat sungai dan mencukupi 15 – 18 > 100 < 2. pyrit rendah Dekat sungai dan mencukupi 10 – < 15 > 18 – 30 50 – 100 2. berlumpur Teluk tertutup Labil < 0.1 – 2.

3 EKONOMI REGIONAL Analisis perekonomian dilakukan dengan tujuan untuk melihat karakteristik ekonomi wilayah dan struktur aktivitas perekonomian di kawasan perencanaan saat ini sehingga dapat diketahui sektor utama yang dapat dijadikan sebagai motor penggerak ekonomi kawasan perencanaan yang dalam pelaksanaannya dapat berfungsi sebagai salah satu sektor prioritas dalam program program maupun alokasi dana pembangunan dan juga sebagai tempat investasi dari kalangan swasta yang ingin berusaha di kawasan tersebut. Kriteria Tingkat Daya Dukung untuk Kawasan Inti dengan Tema Ecovillage No Parameter Tinggi Penilaian Sedang Rendah Kondisi Eksisting 2. Data-data yang dibutuhkan untuk mengetahui gambaran kondisi ekonomi dan sektor-sektor perekonomian di kawasan perencanaan adalah sebagai berikut : Lapangan Besarnya Banyaknya penyerapan Besarnya Investasi No Usaha PDRB Tenaga Kerja/ tahun 1 2 3 4 5 6 . Kriteria Tingkat Daya Dukung untuk Kawasan Inti dengan Tema Budaya No Parameter Tinggi Penilaian Sedang Rendah Kondisi Eksisting C.B.

2. maka dibutuhkan identifikasi terhadap gambaran potensi penduduk sehingga dapat ditentukan perencanaan pengembangan/ pemberdayaan masyarakat yang sesuai serta perencanaan pembangunan fasilitas yang akan mendukung pemebrdayaan tersebut. targeting serta perencanaan pengembangan produk wisata dan promosi yang tepat penilaian terhadap persepsi wisatawan maupun masyarakat lokal sebagai dasar menciptakan branding kawasan. 3.4 KEPENDUDUKAN Dalam usaha peningkatan kesejahteraan masyarakat.2. menciptakan produk turunan wisata yang meningkatkan kualitas pengalaman wisata serta menciptakan strategi promosi yang tepat. Analisis perilaku pasar mencoba mengelompokkan wisatawan berdasarkan karakteristiknya serta mengidentifikasi hubungan karakteristik satu dengan karakteristik lainnya. penilaian terhadap tren pasar. Variabel yang dibutuhkan dalam menilai kondisi potensi penduduk adalah sebagai berikut No 1 2 3 4 5 6 Variabel Kelompok Usia Jenis Kelamin Tingkat Pendidikan Angka Partisipasi sekolah Angka Angkatan kerja Angka bukan angkatan kerja Sumber Data Data Sekunder Data Sekunder Data Sekunder Data Sekunder Data Sekunder Data Sekunder Metode Kondisi Eksisting 3 ANALISIS PASAR Kegiatan pemasaran ini pada intinya berfokus pada 3 hal yaitu pengembangan pariwisata sesuai target. Pengelompokan Wisatawan Pengelompokan wisatawan sesuai dengan perilaku wisatanya merupakan usaha untuk menentukan/memilih segmen wisatawan mana yang akan menjadi target utama promosi serta . dibutuhkan 1. Untuk mencapai tujuan di atas. penilaian terhadap karakteristik pasar yang terjadi sebagai dasar segmentasi. 1. 4.1 KARAKTERISTIK PASAR Perilaku pasar dalam konteks kepariwisataan merupakan bagaimana sejumlah faktor mempengaruhi keputusan wisatawan dalam usaha pemenuhan keseluruhan pengalaman wisatanya. Penilaian terhadap upaya promosi yang dilakukan 3.

dan klasifikasi akomodasi tersebut dapat menunjukkan besar pengganda yang dihasilkan. Pengelompokan wisatawan dilakukan dengan menggunakan analisis cluster yang terbentuk berdasarkan variabel di bawah ini: Variabel Demografi Tujuan Kunjungan Lama Tinggal Jenis Akomodasi Tingkat Pengeluaran Preferensi daya tarik Partner Kunjungan Kawasan wisata lain yang dikunjungi selain KSPN tersebut Sumber Data Data Primer Data Primer Data Primer Data Primer Data Primer Data Primer Data Primer Data Primer Metode Observasi. Penyebaran Kuesioner Observasi. Dari hasil pengelompokan ini. Penyebaran Kuesioner Observasi. Penyebaran Kuesioner Observasi. Penyebaran Kuesioner Observasi. Penyebaran Kuesioner Observasi. Penyebaran Kuesioner Instrumen Kuesioner Wisatawan Kuesioner Wisatawan Kuesioner Wisatawan Kuesioner Wisatawan Kuesioner Wisatawan Kuesioner Wisatawan Kuesioner Wisatawan Kuesioner Wisatawan Hasil rekapitulasi pengelompokan berupa tabel di bawah ini Karakteristik Segmen 1 Segmen 2 Asal Negara Demografi Tujuan Kunjungan Lama Tinggal Jenis Akomodasi Tingkat pengeluaran Partner Kunjungan Preferensi daya tarik Kawasan wisata lain yang dikunjungi selain KSPN Segmen 3 . Penyebaran Kuesioner Observasi. Penyebaran Kuesioner Observasi. akan diperoleh segmen wisatawan yang memilih klasifikasi akomodasi tertentu .bentuk promosi seperti apa yang paling sesuai untuk setiap segmen yang akan disasar tersebut. Hasil pengelompokan wisatawan ini juga dapat dikombinasikan dengan dengan hasil analisis pengganda pendapatan lokal.

Penyebaran Kuesioner Wisatawan. Variabel Sumber Data Metode Instrumen Data Primer Observasi.Karakteristik tersebut Segmen 1 Segmen 2 Segmen 3 2. maka dapat ditentukan aktivasi kegiatan apa yang paling sesuai untuk dikembangkan. Penyebaran Kuesioner Wisatawan. Hubungan antara Lama tinggal dengan Akomodasi Data yang digunakan untuk menganalisa hubungan tersebut dapat diperoleh dari pengisian kuesioner wisatawan maupun kuesioner akomodasi maupun dengan membandingkan data yang diperoleh dari hasil pengisian pada kedua kuesioner tersebut. Akomodasi Kuesioner Kuesioner Akomodasi Data ini ditampilkan dalam cross tabel sebagai berikut : Total Wisatawan Lama Tinggal (malam) 1-2 3-8 > 8 Rata-rata Lama Tinggal Jenis Akomodasi Rata-rata Lama Tinggal (malam) Wisatawan Asing Wisatawan Lokal . Penyebaran Kuesioner Wisatawa n Asal Wisatawan Kuesioner Data Primer Observasi. Hubungan antara Tujuan Kunjungan dengan Lama Tinggal Dari data kedua hubungan tersebut. Lama Tinggal Kuesioner Data ini ditampilkan dalam cross tabel sebagai berikut : Tujuan Kunjungan Liburan Ziarah Bisnis Penelitian/pendidikan Mengunjungi teman/saudara MICE Lainnya 3. Data yang dibutuhkan untuk menganalisa kedua hubungan tersebut antara lain : Variabel Sumber Data Metode Instrumen Observasi. Lama Tinggal Kuesioner Kuesioner Akomodasi Data Primer Observasi. Penyebaran Kuesioner Wisatawa n Tujuan Kunjungan Data Primer Kuesioner Data Primer Observasi. Penyebaran Kuesioner Wisatawan.

untuk itu diperlukan juga identifikasi terhadap bentuk perencanaan yang dilakukan oleh wisatawan agar dapat merencanakan pengembangan promosi yang tepat serta berapa lama promosi tersebut perlu dilakukan. Maka hal pertama yang perlu diketahui dari persepsi wisatawan adalah alasan utama mengapa mereka memilih kawasan tersebut untuk dikunjungi. Variabel yang dibutuhkan untuk mengetahui alasan utama tersebut adalah Sumber Metode Instrumen Variabel Data Penyebaran Kuesioner Kuesioner Wisatawa n Daya tarik yang menjadi Data Primer pilihan untuk dikunjungi Alasan memilih KSPN untuk dikunjungi Pengalaman yang paling disukai Pengalaman yang paling tidak disukai Data Primer Data Primer Data Primer Penyebaran Kuesioner Penyebaran Kuesioner Penyebaran Kuesioner Kuesioner Wisatawa n Kuesioner Wisatawa n Kuesioner Wisatawa n Selain itu. maka dapat diketahui variabel mana yang paling berperan terhadap kepuasan dalam pengalaman wisata secara keseluruhan. Karakteristik Perencanaan Kunjungan Pengalaman wisata tidak hanya dimulai saat wisatawan berada di destinasi namun saat mereka merencanakan keseluruhan perjalanan wisata.Hotel Bintang Hotel Non Bintang Bungalow Vila 4. persepsi wisatawan juga dapat diukur berdasarkan penilaian mereka terhadap variabel pembentuk kualitas destinasi. Variabel Sumber Data Metode Instrumen Data Primer Penyebaran Kuesioner Kuesioner Wisatawa n Bentuk Perencanaan Data Primer Penyebaran Kuesioner Kuesioner Wisatawan. karena melalui penilaian terhadap variabel tersebut. 3. .2 PERSEPSI WISATAWAN Penilaian terhadap persepsi wisatawan sangat berguna dalam membentuk citra/branding terhadap kawasan wisata tersebut. Kuesioner Wisatawan. Sumber Informasi Partner Kunjungan Lamanya persiapan sebelum kunjungan (minggu) Data Primer Data Primer Penyebaran Kuesioner Penyebaran Kuesioner Kuesioner Wisatawan.

Variabel variabel dari kualitas destinasi yang merupakan variabel independen yang digunakan dalam analisis ini antara lain Sumber Sub Variabel Metode Instrumen Variabel Data Kemudahan Data Primer Observasi. Kuesioner Wisatawan. Kuesioner Wisatawa n pembuangan Penyebaran sampah Kuesioner Kondisi keamanan Data Primer Observasi. dimana analisis tersebut menjelaskan persamaan hubungan antara penilaian kepuasan pengalaman wisata secara keseluruhan sebagai variabel dependen dan nilai masing-masing variabel pembentuk kualitas destinasi sebagai variabel independen seperti contoh persamaan di bawah ini: y = a X1 + b X2 + c X3 + C dimana. Kuesioner Wisatawan. daya tarik Penyebaran Kuesioner Kesesuaian harga Data Primer Observasi. Kuesioner Wisatawan. b. daya tarik Penyebaran Kuesioner Kondisi pelayanan Data Primer Observasi. Penyebaran Kuesioner Kondisi tempat Data Primer Observasi. Kuesioner Wisatawan. c = nilai dari tiap variabel independen Berdasarkan persamaan nilai terbesar dari tiap variabel independen akan memberikan pengaruh paling besar terhadap variabel dependen.Analisis yang dapat digunakan untuk mengetahui nilai pengaruh tiap tiap variabel tersebut adalah analisis multiple regresi. dengan pengalaman Penyebaran yang diharapkan Kuesioner Ketersediaan moda Data Primer Observasi. Kuesioner Wisatawa n Aksesibilitas transportasi Penyebaran Kuesioner . y = nilai variabel dependen X1 . daya tarik Penyebaran Kuesioner Kondisi parkir Data Primer Observasi.X3 = variabel independen a. Kuesioner Wisatawa n Penilaian perolehan informasi Penyebaran terhadap daya daya tarik wisata Kuesioner tarik wisata Kondisi keindahan Data Primer Observasi. Kuesioner Wisatawan.

Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi. Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi. Kuesioner Wisatawa n . Instrumen Kuesioner Wisatawan. Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi. Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi. Kuesioner Wisatawan. Kuesioner Wisatawa n Kuesioner Wisatawan. Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi. Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi. Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi. Kuesioner Wisatawa n Kuesioner Wisatawan. Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi. Ketersediaan Fasilitas dan informasi pusat pelayanan umum kesehatan Pelayanan pusat kesehatan Ketersediaan Kuesioner Wisatawan. Kuesioner Wisatawan. Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi.Variabel Sub Variabel Keberagaman pilihan moda transportasi Kualitas dari pelayanan transportasi Keamanan dari pelayanan transportasi Harga Kondisi jalan di dalam area KSPN Kondisi jalan menuju area KSPN Kondisi Trotoar Masyarakat Lokal KSPN Aksesibilitas untuk penyandang kekurangan fisik Keramahan masyarakat lokal Kemampuan komunikasi masyarakat lokal dalam bahasa asing Kejujuran masyarakat lokal Sumber Metode Data Data Primer Observasi. Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi. Kuesioner Wisatawan. Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi. Kuesioner Wisatawan. Kuesioner Wisatawan. Kuesioner Wisatawa n Kuesioner Wisatawan. Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi. Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi.

Kuesioner Wisatawan. Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi. Kuesioner Wisatawan. Harga Kuesioner Wisatawa n Fasilitas Lainnya Ketersediaan keberagaman cara pembayaran Ketersediaan ATM Kuesioner Wisatawan. . Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi. Penyebaran Kuesioner Wisatawan. Kebersihan Kuesioner Wisatawan. Shop) Jumlah ketersediaan Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi. Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi. Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi. Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi.Variabel Sub Variabel pelayanan telekomunikasi Jaminan keselamatan Jaminan keamanan Sumber Data Metode Instrumen Fasilitas Pariwisata (Akomodasi. Kuesioner Wisatawa n Kualitas pelayanan Kuesioner Wisatawan. Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi. Kuesioner Wisatawan. Keberagaman Kuesioner Wisatawan. Kuesioner Wisatawan. Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi. Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi. Ketersediaan pusat informasi Ketersediaan signage Ketersediaan peta pariwisata Ketersediaan informasi untuk Kuesioner Wisatawa n Kuesioner Wisatawan. Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi. Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi. restoran. Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi. Penyebaran Kuesioner Data Primer Observasi.

Variabel Sub Variabel keadaan darurat Sumber Data Metode Kuesioner Instrumen Sedangkan variabel dependen yang digunakan dalam analisis ini antara lain Sumber Variabel Metode Instrumen Data Data Primer Penyebaran Kuesioner Kuesioner Wisatawa n Penilaian pengalaman wisata yang di dapatkan Keputusan merekomendasikan kawasan wisata Data Primer Penyebaran Kuesioner Kuesioner Wisatawa n Keputusan untuk kembali Data Primer berkunjung Penyebaran Kuesioner Kuesioner Wisatawa n Hasil penilaian terhadapvariabel variabel di atas selanjutnya ditampilkan dalam tabel sebagai berikut : Daya tarik yang paling banyak diminati Alasan utama memilih KSPN untuk dikunjungi Pengalaman paling disukai Pengalaman paling tidak disukai Penilaian kepuasan secara keseluruhan Keputusan rekomendasi Keputusan berkunjung kembali Variabel kualitas destinasi yang paling mempengaruhi 3. Sehingga variabel yang digunakan untuk mengukur efektivitas promosi adalah sebagai berikut : Sumber Metode Instrumen Variabel Data Data Primer Pengisian Kuesioner Kuesioner pelaku usaha Media Promosi yang (Akomodasi. masyarakat memutuskan untuk membeli produk/jasa tersebut. digunakan daya tarik) Data Primer In depth interview Interview guideline Besarnya pengeluaran untuk promosi Klasifikasi Akomodasi Data Primer Pengisian Kuesioner Kuesioner Akomodasi . Efektivitas promosi ingin mengukur seberapa jauh usaha promosi yang dilakukan suatu usaha dapat meningkatkan jumlah konsumen membeli produk atau menggunakan jasanya. Begitu juga. dengan kegiatan pariwisata. restoran.3 EFEKTIFITAS PROMOSI Promosi merupakan bagaimana cara mengkomunikasikan produk/jasa kepada masyarakat agar dapat dikenal dan pada akhirnya. masyarakat perlu mengenal dengan baik untuk selanjutnya tertarik dengan pengalaman wisata yang dijelaskan dalam kegiatan promosi dan kemudian dilanjutkan dengan melakukan perencanaan menuju destinasi tersebut.

1 DESTINASI Analisis destinasi merupakan penilaian terhadap sumber daya destinasi pariwisata baik yang berupa sumber daya eksisting maupun sumber daya yang masih menjadi potensi untuk dikembangkan dalam rangka menciptakan pengalaman wisata. Pengelompokan Daya Tarik A. daya tarik) Kuesioner pelaku usaha (Akomodasi. daya tarik buatan dan daya tarik budaya. 3. 6. Penyebaran Kuesioner Instrumen Kuesioner Daya Tarik . Untuk mengetahui karakteristik dari tiap jenis daya tarik. Perwilayahan Daya Tarik Aksesibilitas Fasilitas dan Prasaranan Umum Fasilitas Pariwisata Masyarakat Lokal Investasi 4. Pengelompokan berdasarkan jenis ini berfungsi untuk memetakan perbedaan karakteristik yang terdapat pada tiap jenis. daya tarik) Jumlah kunjungan wisatawan pada tahun terakhir Target Promosi Profil Pengunjung Data Primer Pengisian Kuesioner 4 ANALISIS SUPLAI KEPARIWISATAAN 4. 2. restoran. maka perlu diidentifikasi variabel sebagai berikut : No 1 Variabel Bentuk Kepemilikan Sumber Data Data Primer Metode Observasi.1 Pengelompokan Berdasarkan Jenis Daya tarik dikelompokkan berdasarkan jenisnya yaitu daya tarik alam. 5.1. 7. meliputi : 1. restoran.1 Daya Tarik A.Variabel Range Harga Sumber Data Data Primer Metode Pengisian Kuesioner Instrumen Kuesioner pelaku usaha (Akomodasi. 4. sehingga perencanaan yang dibutuhkan pada tahap pengembangan daya tarik tersebut telah sesuai dengan kebutuhannya.

Penyebaran Kuesioner Instrumen Kuesioner Tarik Kuesioner Tarik Kuesioner Tarik Kuesioner Tarik Kuesioner Tarik Daya Daya Daya Daya Daya Hasil pengelompokan daya tarik berdasarkan jenisnya berupa tabel di bawah ini : Daya Tarik Buatan Karakteristik Bentuk Kepemilikan Musim teramai Musim terbaik Asal Wisatawan Sub Atraksi Media Promosi Daya Tarik Alam Daya Tarik Budaya A. Penyebaran Kuesioner Observasi. sehingga dapat ditentukan perencanaan kawasan inti yang tepat. Penyebaran Kuesioner Observasi. Penyebaran Kuesioner Observasi. Variabel yang perlu diidentifikasi untuk mengetahui kelompok daya tarik berdasarkan lokasinya adalah sebagai berikut : No 1 2 Variabel Jenis Daya Tarik Lokasi Daya Tarik Sumber Data Data Primer Data Primer Metode Observasi.No 2 3 4 5 6 Variabel Musim teramai Musim terbaik Asal Wisatawan Sub Atraksi yang terdapat di daya tarik Media Promosi Sumber Data Data Primer Data Primer Data Primer Data Primer Data Primer Metode Observasi. Peta KSPN Hasil pengelompokan daya tarik berdasarkan persebaran lokasi berupa tabel di bawah ini : Wilayah Administratif Jenis Daya Tarik Desa A Daya Tarik Alam Daya Tarik Buatan Desa B Desa C . Penyebaran Kuesioner Observasi. Penyebaran Kuesioner Observasi.2 Pengelompokan Berdasarkan Lokasi Identifikasi daya tarik berdasarkan wilayah administratif dilakukan untuk mengetahui pola persebaran daya tarik. Penyebaran Kuesioner Instrumen Kuesioner Daya Tarik Kuesioner Daya Tarik.

Parameter yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat kematangan dari suatu destinasi adalah kondisi pertumbuhan daya tarik sebagai bagian dari penawaran wisata dan keadaan pasar wisata sebagai bagian dari permintaan yang selanjutnya akan dipetakan ke dalam matriks BCG (Boston Consulting Group) seperti bagan di bawah ini. Pertumbuhan Produk (Supply) Children Problem Stars Dogs Cash Cows Pasar Wisata (demand) 1. 2. salah satunya melalui diversifikasi. Star Daya tarik memiliki peluang pertumbuhan dan profitabilitas jangka panjang terbaik.Jenis Daya Tarik Daya Tarik Budaya Wilayah Administratif Untuk mengetahui konsentrasi persebaran daya tarik. Disebut problem child karena pengelola daya tarik harus memutuskan apakah hendak memperkuat bisnis dengan strategi yang intensif atau menjualnya. Cash Cows Daya tarik ini memiliki posisi pangsa pasar relatif yang tinggi tetapi kemampuan bersaingnya rendah dengan tingkat pertumbuhan yang rendah. serta pengembangan produk. namun kemampuan bersaing cukup tinggi dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi. Kematangan Daya Tarik Wisata Daya tarik wisata merupakan komponen supply yang utama dari suatu destinasi. integrasi ke belakang. 4. Daya tarik dengan kondisi ini perlu melakukan integrasi ke depan. Dalam usaha mempertahankan kualitas daya tarik wisata agar tetap menjadi tujuan utama wisatawan berkunjung ke suatu destinasi. 3. penetrasi pasar. B. maka diperlukan pemahaman mengenai pengembangan seperti apa yang memang diperlukan oleh daya tarik tersebut. maka harus digambarkan pada peta KSPN. Problem Child Daya tarik memiliki posisi pangsa pasar relatif yang rendah. Dog . Jenis pengembangan dapat ditentukan jika tingkat kematangan daya tarik tersebut diketahui. Daya tarik dengan kondisi ini harus dikelola untuk mempertahankan posisi kuatnya selama mungkin. Disebut cash cows karena daya tarik menghasilkan pendapatan melebihi kebutuhannya.

Kuesioner 1 = Jumlah SDM kurang dan 3 Primer Penyebaran Daya Tarik belum ada SOP yang jelas Kuesioner 2 = Jumlah SDM kurang namun sudah ada SOP mengenai kepengelolaan 3 = Jumlah SDM cukup dan sudah ada SOP mengenai kepengelolaan Ketersediaan Data Observasi. Kuesioner 1 = Memiliki sedikit fasilitas 4 fasilitas Primer penyebaran Daya Tarik pendukung dan kurang pendukung kuesioner berfungsi dengan baik 2 = Memiliki sedikit fasilitas pendukung dan berfungsi dengan baik 3 = Memiliki fasilitas lengkap dan seluruhnya berfungsi dengan baik Media Promosi Data Penyebaran Kuesioner 1 = Belum ada media promosi 5 yang Primer Kuesioner Daya Tarik yang digunakan digunakan 2 = Menggunakan 1-3 media promosi 3 = Menggunakan lebih dari 3 media promosi pariwisata . Kondisi ini dapat disebabkan oleh karena posisi internal dan eksternal yang lemah. Kuesioner 1 = Memiliki kesamaan dengan 2 ditawarkan primer Penyebaran Daya Tarik daya tarik lain tingkat lokal Kuesioner 2 = Memiliki kesamaan dengan daya tarik lain di tingkat provinsi sampai nasional 3 = Hanya memiliki kesamaan dengan daya tarik di tingkat dunia dengan jumlah maksimal 3 daya tarik Tata kelola Data Observasi. Parameter Kondisi Pertumbuhan Daya Tarik Wisata Sumber No Variabel Metode Instrumen Kriteria Skor Data Keberagaman Data Observasi. Kuesioner 1 = memiliki 1-2 sub atraksi 1 sub atraksi Primer Penyebaran Daya Tarik 2 = memiliki 3-4 sub atraksi yang dimiliki Kuesioner 3 = memiliki lebih dari 4 sub atraksi Keunikan yang Data Observasi.Daya tarik memiliki posisi pangsa pasar relatif yang rendah dengan kemampuan bersaing dengan pertumbuhan produk yang juga rendah. Masing-masing parameter memiliki variabel dan kriteria penilaian sebagai berikut : 1.

penyebaran kuesioner Kuesioner daya tarik 1= 2= 3= 1= 8 Ketersediaan Fasilitas pendukung di sekitarnya Data primer Kuesioner daya tarik 2= 3= Klasifikasi Skor : Tingkat Pertumbuhan Produk Tinggi : Tingkat Pertumbuhan Produk Rendah : 2.2 jenis moda transportasi yang langsung menuju daya tarik Terdapat lebih dari 2 jenis moda transportasi yang langsung menuju daya tarik Hari beroperasi tidak tentu Terdapat 1-3 hari beroperasi dalam seminggu Setiap hari beroperasi Tidak ada fasilitas pendukung di sekitar daya tarik Hanya terdapat 1-2 fasilitas pendukung di sekitar daya tarik Terdapat lebih dari 2 fasilitas pendukung di sekitar daya tarik 6 2= 3= 7 Waktu Operasional Data primer Observasi. penyebaran kuesioner Observasi. Parameter Kondisi Pasar Wisata Sumber No Variabel Metode Data Tingkat Data Observasi. Penyebaran kuesioner Instrumen Kuesioner daya tarik 1= Kriteria Skor yang ada Tidak terdapat moda transportasi langsung menuju daya tarik Hanya ada 1.No Variabel Ketersediaan Moda Transportasi Sumber Data Data primer Metode Observasi. Penyebaran Kuesioner Kuesioner 1 = Daya Tarik 2= . 1 Pertumbuhan Primer Penyebaran Pengunjung Kuesioner Instrumen Kuesioner 1 = Daya Tarik 2= Kriteria Skor Mengalami penurunan dalam 3 tahun terakhir Mengalami kenaikan dan penurunan dalam 3 tahun terakhir (tidak stabil) Mengalami kenaikan setiap tahunnya dalam 3 tahun terakhir Mengalami penurunan dalam 3 tahun terakhir Mengalami kenaikan dan penurunan dalam 3 tahun 3= 2 Tingkat pendapatan Data Primer Observasi.

1. nyaman. penyebaran kuesioner Kuesioner 1 = Daya Tarik 2= 3= 4 Perbandingan jumlah wisawatawan dengan daya tarik sejenis lainnya Data Primer Penyebaran kuesioner Kuesioner daya tarik 1= 2= 3= Klasifikasi Skor : Tingkat Pangsa Pasar Tinggi Tingkat Pangsa Pasar Rendah 4. daya dukung lahan. Kebutuhan Pengembangan Sarana Transportasi Dalam merencanakan kebutuhan sarana transportasi yang akan mendukung pergerakan baik wisatawan maupun masyarakat saat menuju maupun berada di dalam kawasan pariwisata. dan terpadu. A.2 Aksesibilitas : : Analisis aksesibilitas dilakukan untuk menentukan kebutuhan jaringan pergerakan dan fasilitas penunjangnya menurut struktur dan pola tapak kawasan. aman. daya dukung lingkungan jalan. berdasarkan pertimbangan distribusi penduduk. maka dibutuhkan penilaian terhadap komponen komponen di bawah ini Sumber Variabel Metode Instrumen Penilaian Kondisi Eksisting No Data Moda 1 Transportasi . sehingga tercipta ruang yang lancar. daya dukung prasarana yang ada.No Variabel Sumber Data Metode Instrumen 3= Kriteria Skor terakhir (tidak stabil) Mengalami kenaikan setiap tahunnya dalam 3 tahun terakhir Tidak ada kegiatan aktif yang dapat dilakukan wisatawan Hanya sedikit sub atraksi yang memiliki kegiatan aktif denga wisatawan Seluruh sub atraksi yang tersedia merupakan kegiatan aktif dengan wisatawan Memiliki jumlah kunjungan terendah dibanding daya tarik sejenis lainnya Memiliki jumlah kunjungan rata-rata/ hampir sama dengan daya tarik sejenis lainnya Memiliki jumlah kunjungan tertinggi dibanding dengan daya tarik sejenis lainnya 3 Tingkat Partisipasi Wisatawan dalam kegiatan di daya tarik Data Primer Observasi. tenaga kerja.

Kebutuhan Pengembangan Prasarana Transportasi Analisis ini bertujuan untuk menilai kemngkinan pengembangan prasarana transportasi yang meliputi jaringan jalan dan kebutuhan pendukungnya mulai dari jaringan jalan yang menjadi pintu gerbang kawasan pariwisata sampai ke tingkat jalan lokal dengan mempertimbangkan jaringan jalan yang sudah atau yang sedang direncanakan. Analisis ini membutuhkan penilaian terhadap sejumlah komponen. halte) Kondisi 5 Penataan Parkir Manajemen 6 Lalu lintas . antara lain : Sumber Variabel Metode Instrumen Penilaian Kondisi Eksisting No Data Entry Gate 1 Kawasan Titik 2 kemacetan dan trouble spot lainnya Ketersediaan 3 signage Prasarana 4 untuk pejalan kaki (trotoar.No 2 3 4 5 6 7 Variabel Halte dalam kawasan Jalur angkutan publik Kapasitas tiap trayek Kondisi Pelayanan Kondisi keamanan Model pengelolaan transportasi Sumber Data Metode Instrumen Penilaian Kondisi Eksisting B.

yaitu:    Standar Internasional. jumlah. sesuai dengan karakteristik serta tingkat kebutuhannya Standar lokal yakni ketentuan yang berlaku khusus untuk suatu wilayah atau kota tertentu. 2. Untuk memperkirakan kebutuhan fasilitas dan utilitas pada kawasan perencanaan. Standar Penyediaan Air Bersih Terdapat 5 (lima) komponen yang akan digunakan sebagai dasar pengembangan sistem penyediaan air bersih di masa yang akan datang. Standar Pelayanan Kebersihan Air Limbah Perkiraan kebutuhan fasilitas dan utilitas pada kawasan akan mencakup kebutuhan jenis. Secara garis besar. Komponen rencana tersebut antara lain sebagai berikut : a.. Ketentuannya ialah 125 ltr/orang/hari untuk konsumsi umum dan 10 lt/pekerja/hari bagi kawasan industri. d. Standar Nasional. digunakan beberapa model kebutuhan fasilitas dan utilitas yang bersumber dari : 1. b. Perkiraan dilakukan dengan mengaplikasikan standar kebutuhan yang ada untuk desa-desa yang ada di KSPN. merupakan bakuan yang didasarkan atas ketentuan umum dan diterapkan di banyak negara sebagai suatu kebutuhan dan persyaratan. tergantung pada situasi lingkungan permukimannya.3 Fasilitas dan Prasarana Umum A. e. PDAM telah menyediakan suatu standar bagi pengadaan air bersih dimana standar tersebut didasarkan pada pedoman Direktorat Air Bersih yang telah memperhitungkan standar kebutuhan air bersih untuk industri dan rumah tangga. Suatu kebijakan lain telah ditetapkan pula bahwa perbandingan antara sambungan langsung ke rumah tangga dan kran umum berkisar antara 50% : 50% hingga 80% : 20%.1. yang menjadi pedoman umum yang digunakan di Indonesia. Jumlah penduduk yang ingin dilayani .4. Kebutuhan Air Rencana Tingkat Pelayanan Rencana Pengembangan Sumber Rencana Pengembangan Transmisi/distribusi Pengendalian Kebocoran Air. serta dapat mengacu pada berbagai studi dan standar perencanaan yang ada. c. standar perencanaan dibagi menjadi 3. sedangkan sambungan rumah tangga untuk 5 – 10 orang. standar ini disusun berdasarkan situasi dan kondisi khusus dari wilayah atau kota tersebut yang di dalamnya dipertimbangkan ketentuan khusus lain. seperti tradisi dan tata nilai budaya yang berlaku. serta kebutuhan ruang. Standar ini hanya memberikan patokan umum. Kebutuhan Sarana dan Prasarana Umum Tujuan kegiatan ini adalah untuk menghitung perkiraan jumlah kebutuhan fisik di kawasan perencanaan berdasarkan daya dukungnya. Setiap kran umum diasumsikan melayani 200 orang.

3.oleh PDAM berdasarkan informasi ialah sekitar 75% dari jumlah keseluruhan penduduk yang ada atau yang direncanakan. Penyebaran Kuesioner Observasi. c. Industri mengkomsumsi listrik sebesar 250 KVA/Ha. Penyebaran Kuesioner. Standar Penyediaan Komunikasi Untuk melayani kebutuhan telepon. Rumah Tangga mengkomsumsi listrik sebesar 170 Watt/jiwa. b. sehingga dapat ditentukan perencanaan serta kebijakan (termasuk pengendalian ) yang tepat bagi tiap wilayah tersebut. dengan asumsi kebutuhan air minum dihitung sebesar 150 lt/orang/hari. Standar Penyediaan Listrik Berdasarkan standar kebijaksanaan. d. Variabel yang perlu diidentifikasi untuk mengetahui kelompok akomodasi berdasarkan lokasinya adalah sebagai berikut : No 1 2 Variabel Lokasi Akomodasi Klasifikasi Akomodasi Bentuk dan status kepemilikan Harga Sumber Data Data Primer Data Primer Metode Observasi. kebutuhan konsumsi listrik yang ditetapkan untuk masingmasing kelompok pelanggan sebagai berikut : a. Perkiraan kebutuhan RK dan DP dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut : a.200 – 1. Penyebaran Kuesioner. b. in depth interview Observasi.4 Fasilitas Pariwisata A. in depth interview Observasi. Sosial/Fasilitas Umum mengkomsumsi listrik sebesar 80 KVA/Ha 4. Peta Akomodasi KSPN Kuesioner Akomodasi 3 Data Primer Kuesioner Akomodasi 4 Data Primer Kuesioner Akomodasi 5 Jumlah Kamar/ Kapasitas Data Primer Kuesioner Akomodasi Hasil pengelompokan akomodasi berdasarkan persebaran lokasi berupa tabel di bawah ini : . Penyebaran Kuesioner. Penyebaran Kuesioner Instrumen Kuesioner Akomodasi. Perdagangan dan jasa mengkomsumsi listrik sebesar 80 KVA/Ha. Persebaran Akomodasi Identifikasi akomodasi berdasarkan wilayah administratif dan tipe wilayah (pantai dan nonpantai) dilakukan untuk mengetahui pola persebaran dan konsentrasi akomodasi. dibutuhkan pengembangan sistem jaringan distribusinya yang meliputi fasilitas Sentral Telepon Otomat (STO).1.400 SST Untuk 1 DP memiliki kapasitas antara 10 – 20 SST 4. in depth interview Observasi. Untuk 1 RK memiliki kapasitas antara 1. Rumah Kabel (RK) dan Distribution Point (DP).

Karakteristik Akomodasi (Jumlah) Klasifikasi Akomodasi Bintang Non Bintang Vila Pondok Wisata Bentuk kepemilikan Wilayah Administratif Desa A Desa B Desa C Tipe Wilayah Pantai Non Pantai Harga Jumlah Kamar/ Kapasitas B. Variabel yang dibutuhkan dalam analisis cluster usaha akomodasi ini antara lain : No 1 Variabel Klasifikasi Akomodasi Fasilitas yang dimiliki Sumber Data Data Primer Metode Observasi. Kesesuaian Klasifikasi dengan PP Usaha Akomodasi merupakan salah satu usaha pariwisata yang klasifikasi telah diatur dalam PP no 52 tahun 2012. Penyebaran Kuesioner. Untuk mengidentifikasi apakah karakteristik dari tiap kelas usaha akomodasi tersebut sudah sesuai dengan klasifikasi pada PP. in depth interview Observasi. in depth interview Instrumen Kuesioner Akomodasi 2 Data Primer Kuesioner Akomodasi . maka dilakukan pengelompokan dengan menggunakan analisis cluster. Penyebaran Kuesioner. Dimana dalam PP tersebut terdapat penjelasan detail mengenai fasilitas yang minimal harus dimiliki oleh tiap kelas hotel.

Interview Observasi. Pengembangan UKM ini harus didukung dengan kebijakan-kebijakan yang kondusif. Interview Interview guideline D. Identifikasi terhadap persebaran usaha informal yang terdapat di kawasan wisata ini penting dilakukan untuk merencanakan penanganan yang tepat agar usaha informal tersebut tetap dapat mengakomodir kepentingan pelakunya dan tanpa memberi dampak negatif terhadap kegiatan pariwisata. Dalam kegiatan pariwisata. Interview Observasi. Sehingga diperlukan adanya pengelompokan terhadap UKM-UKM yang terdapat di kawasan wisata untuk membuat kebijakan yang tepat serta keputusan pemberian .No 3 Variabel Jumlah Kamar yang tersedia Sumber Data Data Primer Metode Observasi. in depth interview Instrumen Kuesioner Akomodasi Hasil pengelompokan akomodasi berdasarkan klasifikasi pada PP no 52 tahun 2012 berupa tabel di bawah ini : Klasifikasi Akomodasi Karakteristik Akomodasi Bintang Non Bintang Pondok Wisata Vila Fasilitas yang dimiliki Jumlah Kamar yang tersedia C. Pengelompokan UKM Usaha kecil dan menengah (UKM) merupakan salah satu bagian penting dalam membangun perekonomian daerah. Interview Interview guideline Interview guideline Interview guideline Interview guideline Instrumen 6 Data Primer Observasi. serta pemberdayaanpemberdayaan pelakunya. Variabel yang dibutuhkan dalam mengidentifikasi kondisi usaha informal antara lain : No 1 2 3 4 5 Variabel Lokasi Jenis Usaha Profil tenaga Kerja Pendapatan Permasalahan yang dihadapi dalam menjalankan usaha Harapan untuk pengembangan usaha Sumber Data Data Primer Data Primer Data Primer Data Primer Data Primer Metode Observasi Observasi. Interview Observasi. Penyebaran Kuesioner. Persebaran Usaha Informal Pariwisata Pertumbuhan usaha informal yang terdapat di suatu destinasi tidak dapat dihindari sebagai dampak dari adanya kegiatan pariwisata. UKM dapat dijadikan andalan untuk menyediakan kebutuhan wisatawan untuk melengkapi pengalaman wisatanya.

Interview Interview guideline Interview guideline Interview guideline Interview guideline Interview guideline Interview guideline Instrumen 8 Data Primer Observasi. masyarakat diberikan kesempatan aktif beraspirasi dan berkontribusi untuk merumuskan program-program pengembangaan. Interview Interview guideline 9 10 Data Primer Data Primer Observasi. Sosial Budaya Kondisi sosial budaya merupakan dasar suatu kelompok masyarakat dalam menjalankan kehidupannya. Interview Interview guideline Interview guideline 4.1. Interview Observasi. Interview Observasi. Interview Observasi. Interview Observasi. kemudahan akses pembiayaan. baik konsep perancangan kawasan maupun aktivasi aktivasi kegiatan di dalamnya yang sesuai tata nilai yang berlaku di masyarakat. maupun pemberdayaan yang sesuai dengan kebutuhan.bantuan baik dalam bentuk modal usaha. sehingga perencanaan suatu kawasan nantinya tidak akan bertentanagn dengan budaya maupun adat istiadat yang berlaku. Analisis ini bertujuan untuk melihat keberadaan warisan budaya yang digunakan masyarakat dalam mengelola kehidupan sosial dan lingkungannya serta peran dari pranata sosial di suatu kawasan. Interview Observasi. baik secara langsung maupun tidak langsung. No 1 2 3 4 5 6 7 Variabel Lokasi Jenis Usaha Profil tenaga Kerja Pendapatan Pengeluaran tiap hari/bulan/ tahun Asal Wisatawan/ Konsumen Permasalahan yang dihadapi dalam menjalankan usaha Bentuk dukungan pemerintah terhadap usaha Bentuk Kerjasama dengan usaha lain Harapan untuk pengembangan usaha Sumber Data Data Primer Data Primer Data Primer Data Primer Data Primer Data Primer Data Primer Metode Observasi Observasi. Variabel yang dibutuhkan untuk menilai kondisi sosial budaya suatu kawasan antara lain No 1 2 Variabel Keberagaman suku Bahasa lokal Sumber Data Data Sekunder Data Sekunder Metode Kondisi Eksisting . Interview Observasi.5 Masyarakat Lokal Perencanaan Pengembangan Kawasan Pariwisata berbasis peran masyarakat (community-based tourism) adalah perencanaan pembangunan dengan orientasi yang optimal pada pendayagunaan masyarakat. A.

pelibatan seluruh pemangku kepentingan (stakeholders). prinsip-prinsip universal kemasyarakatan. . penciptaan dan sosialisasi mekanisme. Tahap Pelaksanaan dimana pada tahap ini akan dilakukan peninjauan dan review/ monitoring bersama dengan seluruh stakeholder dan masyarakat lokal.No 3 4 5 6 Variabel Modal Sosial Sumber Data Data Sekunder Metode Kondisi Eksisting Keberadaan situs Data Sekunder bersejarah Keberadaan desa adat Data Sekunder Nilai. persetujuan legal. Tahap Persiapan yaitu pengenalan program perencanaan pengembangan KSPN penyusunan tujuan. Inti kegiatan PNPM Mandiri di masyarakat kelurahan/desa adalah proses menumbuhkembangkan kemandirian dan keberlanjutan upayaupaya penanggulangan kemiskinan dari. strategi kerja sama dengan wakil-wakil komunitas. melalui proses pembelajaran dan pelembagaan nilai-nilai universal kemanusiaan (value based development). Tahap Perumusan Strategi Perencanaan dan Publikasi yang berupa perencanaan tahapan. penyebaran informasi dan publikasi program 3. kebutuhan. serta analisis kebutuhan dan sumber daya pengembangan kawasan. norma yang berlaku Data Sekunder B. monitoring dan evaluasi. 2. Tingkat Partisipasi Masyarakat Lokal Bentuk partisipasi masyarakat lokal terhadap perencanaan pengembangan KSPN terdiri dari sejumlah keikutsertaan yang mereka lakukan baik dalam kegiatan pariwisata itu sendiri maupun dalam tahapan perencanaan partisipatif yang terdiri dari : 1. oleh dan untuk masyarakat. dan kepentingan semua pihak. Potensi Masyarakat Lokal Sumber Data Data Primer Metode Penyebaran Kuesioner Instrumen Kuesioner Masyarakat lokal Data Primer Penyebaran Kuesioner Kuesioner Masyarakat lokal Potensi masyarakat lokal merupakan modal dasar dalam menggerakkan Progran Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri. serta prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan (sustainable development). Variabel yang dibutuhkan untuk menilai tingkat partisipasi masyarakat lokal adalah sebagai berikut : Variabel Bentuk partisipasi masyarakat lokal dalam tahap perencanaan kawasan Bentuk partisipasi masyarakat lokal dalam kegiatan pariwisata C.

komitmen. . dll).Pelaksanaan PNPM Mandiri adalah kegiatan yang dilaksanakan sepenuhnya oleh masyarakat di desa/kelurahan setempat melalui kelembagaan masyarakat. Korkot. Pemda. sehingga sangat penting untuk melakukan penilaian terhadap persepsi masyarakat lokal berkaitan dengan kegiatan pariwisata di wilayahnya. Peran pendampingan pihak luar (Fasilitator. keputusan dan usaha dari masyarakat berbasis pada kebutuhan masyarakat. kepedulian. Masyarakat lokal yang paling dapat menilai apa yang sesuai maupun tidak sesuai dengan kegiatan pengembangan kepariwisataan di wilayahnya serta penting untuk mengetahui harapan mereka terhadap adanya kegiatan kepariwisataan. motivasi. Salah satu tahapan awal dalam pelaksanaan PNPM Mandiri ini adalah pemetaan swadaya yang merupakan potensi maupun permasalahan yang ada di masyarakat. Dampak Pariwisata terhadap Masyarakat Lokal Masyarakat lokal merupakan tuan rumah bagi kegiatan wisata di wilayahnya. Variabel yang dibutuhkan untuk mengetahui persepsi masyarakat lokal antara lain : Sumber Metode Instrumen Variabel Data Data Primer Penyebaran Kuesioner Kuesioner Masyarakat Penilaian terhadap lokal dampak positif pariwisata Penilaian terhadap dampak negatif pariwisata Harapan dari adanya kegiatan pariwisata Data Primer Penyebaran Kuesioner Kuesioner Masyarakat lokal Kuesioner Masyarakat lokal Data Primer Penyebaran Kuesioner Hasil penilaian dan harapan tersebut selanjutnya direkap dalam bentuk tabel yang akan dapat menjelaskan aspek apa saja yang harus diperbaiki dan dipertahankan dalam kegiatan pengembangan kepariwisataan guna mengakomodir kepentingan masyarakat lokal. prakarsa. hanyalah sebagai pendamping pembelajaran agar inisiatif. Pemetaan swadaya ini memetakan variabel variabel di bawah ini Variabel Keberadaan lembaga masyarakat ( Fungsi dan Kinerja) Usaha Lokal Produk lokal Kegiatan pemberdayaan yang eksisting Tingkat Pendidikan masyarakat lokal Sumber Data Data Sekunder Metode Instrumen Data Sekunder Data Sekunder Data Sekunder Data Sekunder D.

variabel independen yang diukur antara lain Sumber Metode Variabel Data Data Primer Penyebaran Kuesioner Penilaian terhadap masing –masing dampak positif pariwisata Penilaian terhadap masing-masing dampak negatif pariwisata Data Primer Penyebaran Kuesioner Instrumen Kuesioner Masyarakat lokal Kuesioner Masyarakat lokal Sedangkan variabel dependen yang digunakan dalam analisis ini adalah Sumber Data Data Primer Variabel Tingkat dukungan terhadap adanya kegiatan pariwisata 4.6 Investasi A. dilakukan analisis multiple regresi dengan bentuk persamaan y = a X1 + b X2 + c X3 + C dimana. c = nilai dari tiap variabel independen dimana. Menurut Bank Dunia (2005).X3 = variabel independen a. Iklim investasi yang kondusif dalam perekonomian merupakan harapan bagi masyarakat. . pelaku usaha dan pemerintah. iklim investasi didefinisikan sebagai suatu kumpulan faktor-faktor lokasi tertentu yang membentuk kesempatan dan dorongan bagi badan usaha untuk melakukan investasi secara produktif. menciptakan pekerjaan dan perkembangan kegiatan usaha.1.Dampak Positif yang paling banyak dirasakan Dampak Negatif yang paling banyak dirasakan Harapan dari adanya kegiatan pariwisata Selanjutnya untuk mengetahui dampak apa yang paling mempengaruhi tingkat dukungan masyarakat terhadap adanya kegiatan pariwisata di daerah. Iklim Investasi Metode Penyebaran Kuesioner Instrumen Kuesioner Masyarakat lokal Untuk menciptakan realisasi investasi yang berkesinambungan diperlukan sebuah iklim investasi yang kondusif. b. y = nilai variabel dependen X1 . investor.

maka Klasifikasi Nilai Kondisi 0-25%= Akses lahan dan kepastian berusaha sangat buruk 26-50%= Akses lahan dan kepastian berusaha buruk 51-75%= Akses lahan dan kepastian berusaha baik 76-100%= Akses lahan dan kepastian berusaha sangat baik 0-25%= Perizinan usaha sangat buruk 26-50%= Perizinan usaha buruk Perizinan Usaha Data Primer In depth interview Interview guideline 51-75%= Perizinan usaha baik 76-100%= Perizinan usaha sangat baik 0-25%= Interaksi Data In depth Interview .Berdasarkan Tata Kelola Ekonomi Daerah (TKED). untuk menilai iklim investasi di diperlukan penilaian terhadap variabel yang antara lain terdiri dari Sumber Indikator Kondisi Metode Instrumen Variabel Data Penilaian Eksisting Data In depth Interview Wakti yang Akses Primer interview guideline dibutuhkan Lahan untuk Usaha dan pengurusan Kepastian status tanah Usaha Persepsi kemudahan perolehan lahan Persepsi tentang penggusuran lahan oleh Pemda Persepsi tentang keseluruhan permsalahan lahan usaha Persentase usaha yang memiliki Tanda Daftar Perusahaan Persepsi kemudahan perolehan TDP dan rata-rata waktu perolehan TDP Persepsi bahwa pelayanan izin usaha Persepsi tingkat hambatan izin usaha Tingkat KSPN.

Variabel Pemda dan Pelaku Usaha Sumber Data Primer Metode interview Instrumen guideline Indikator Penilaian dukungan Pemda terhadap pelaku usaha Tingkat kebijakan Pemda terkait usaha Tingkat pemecahan masalah dunia usaha oleh Pemda Adanya forum komunikasi antara Pemda dengan pelaku usaha Kondisi Eksisting Program Pengemban gan UKM Data Primer In depth interview Interview guideline Kondisi dan bentuk Program pengembangan usaha eksisting Tingkat kepuasan terhadap program pengembangan usaha Klasifikasi Nilai Kondisi Interaksi pemda dengan pelaku usaha sangat buruk 26-50%= Interaksi pemda dengan pelaku usaha buruk 51-75%= Interaksi pemda dengan pelaku usaha baik 76-100%= Interaksi pemda dengan pelaku usaha sangat baik 0-25%= Program pengembangan UKM sangat buruk 26-50%= Program pengembangan UKM buruk 51-75%= Program pengembangan UKM baik 76-100%= Program pengembangan UKM sangat baik 0-25%= Kebijakan pajak dan Pajak Daerah. Data Primer In depth interview Interview guideline Tingkat kesesuaian pajak / biaya .

Variabel Retribusi dan Biaya Transaksi Lainnya Sumber Data Metode Instrumen Indikator Penilaian transaksi lain yang diberikan dengan pelayanan yang diperoleh Kondisi Eksisting Klasifikasi Nilai Kondisi biaya transaksi lainnya sangat buruk 26-50%= Kebijakan pajak dan biaya transaksi lainnya buruk 51-75%= Kebijakan pajak dan biaya transaksi lainnya baik 76-100%= Kebijakan pajak dan biaya transaksi lainnya sangat baik 0-25%= Kondisi keberadaan lembaga pembiayaan sangat buruk 26-50%= Kondisi keberadaan lembaga pembiayaan buruk 51-75%= Kondisi keberadaan lembaga pembiayaan baik 76-100%= Kondisi Lembaga Pembiayaan Data Sekunder Jumlah lembaga pembiayaan Tingkat kepuasan terhadap peranan lembaga pembiayaan Tata Cara Penanganan Pembiayaan .

terorisme. sehingga tercapai kesinambungan pentahapan pelaksanaan perencanaan pembangunan kawasan. Rencana investasi ini memiliki strategi sebagai berikut : 1. Rencana investasi merupakan rujukan bagi para pemangku kepentingan untuk menghitung kelayakan investasi dan pembiayaan suatu penataan atau pun menghitung tolok ukur keberhasilan investasi. Potensi Investasi Penilaian potensi investasi merupakan salah satu dasar dalam melakukan perencanaan investasi.Variabel Sumber Data Metode Instrumen Indikator Penilaian Kondisi Eksisting Keamanan Data Primer. terorisme. demonstrasi dll) Klasifikasi Nilai Kondisi keberadaan lembaga pembiayaan sangat baik 0-25%= Kondisi keamanan sangat buruk 26-50%= Kondisi keamanan buruk 51-75%= Kondisi keamanan baik 76-100%= Kondisi keamanan sangat baik B. Data Sekunder Tingkat kejadian yang mengganggu keamanan (kriminal. maka dibutuhkan penilaian variabel yang merupakan potensi investasi sebagai berikut . Penyiapan detail investasi tahunan sebagai pengendalian selama pelaksanaan Agar dapat melakukan strategi perencanaan investasi. Perencanaan pembiayaan meliputi perhitungan prospek ekonomi. Penetapan paket kegiatan pada tiap jangka waktu pentahapan dan penyiapan rincian sumber 2. demonstrasi dll) yang terjadi Kualitas penanganan masalah keamananan (kriminal. penyiapan pelibatan dan pemasaran paket pembangunan untuk masing-masing pelaku pembangunan 4. keuntungan setiap paket 3. besaran investasi yang dibutuhkan.

5.1 Peta Industri Peta Industri menunjukkan hubungan keterkaitan antara satu sektor usaha pariwisata dengan sektor-sektor usaha lainnya.2 INDUSTRI Analisis Industri merupakan penilaian terhadap kemampuan usaha pariwisata dalam memenuhi permintaan pasar wisata dan memberikan pemasukan ekonomi terhadap kawasan tersebut serta penilaian terhadap kondisi persaingan yang terjadi antar usaha. Sedangkan keterkaitan ke belakang menggambarkan hubungan keterkaitan antar sektor dalam pembelian terhadap total pembelian input.2 Struktur Industri Struktur Industri menunjukkan atribut industri yang mempengaruhi sifat persaingan. Keterkaitan ke depan menggambarkan hubungan keterkaitan antar sektor dalam penjualan terhadap total penjualan output yang dihasilkan. Keterkaitan ini dapat berupa keterkaitan ke depan (forward linkage) maupun keterkaitan ke belakang (backward linkage).2. 2. Sumber Data Data Primer Metode In depth interview. 3. Data –data yang harus diperoleh dagar dapat menggambarkan peta industri adalah sebagai berikut : Data Kerjasama sektor X dalam hal pembelian/ penyediaan bahan baku sebagai kebutuhan usahanya Kerjasama sektor X dalam hal penjualan output hasil usahanya 4.Variabel Profil Investasi yang sedang berjalan Profil Invetasi yang akan datang Investasi yang dibutuhkan Sumber Data Data Sekunder Data Sekunder Data Primer Metode Survei Instansional Survei Instansional Survei Instansional 4. penyebaran kuesioner Instrumen Interview guideline.2. penyebaran kuesioner In depth interview. kuesioner pelaku usaha Data Primer Interview guideline. 4. konsentrasi dan hambatan. Elemen struktur industri antara lain pangsa pasar. kuesioner pelaku usaha . Analisis industri ini meliputi : 1. 6. Peta Industri Struktur Industri Income Multiplier / Pengganda Pendapatan Lokal Daya Saing SDM Kepariwisataan Peta Kemitraan usaha Peta usaha penguatan UKM 4.

Penyebaran Kuesioner Observasi.. seperti dijelaskan pada tabel di bawah ini : Struktur Pasar Kondisi Monopoli 1.1. oligopoli. Penyebaran Kuesioner Observasi. Konsentrasi pasar Ditentukan dengan CR4 (Concentration Ratio for The Biggest Four). Nilai ini akan menunjukkan kondisi struktur industri. Penyebaran Kuesioner Instrumen Kuesioner Akomodasi Kuesioner Akomodasi Kuesioner Akomodasi Kuesioner Akomodasi Sumber Data Data Primer Data Primer Data Primer Instrumen Kuesioner F&B Kuesioner F&B Kuesioner F&B Untuk lebih jelasnya. apakah berada pada pasar monopoli. monopolistik atau persaingan sempurna. Restoran Variabel Tingkat isian kursi Kapasitas kursi Harga Data Primer Data Primer Data Primer Metode Observasi.. Hotel Variabel Sumber Data Tingkat isian kamar Data Primer Jumlah kamar Lama tinggal Harga b. maka besarnya pendapatan untuk tiap sektor usaha dijabarkan dalam tabel di bawah ini Nama Usaha Pendapatan/ tahun Nama Usaha F&B Pendapatan/ tahun Akomodasi F&B 1 Akomodasi 1 Akomodasi 2 Akomodasi 3 Akomodasi .. F&B n Total 2.. Penyebaran Kuesioner Observasi. Penyebaran Kuesioner Observasi.. Penyebaran Kuesioner Observasi. a. Tidak ada pesaing yang dapat masuk kedalam pasar . Akomodasi n Total F&B 2 F&B 3 F&B . Menurut Cramer (2009). Pangsa pasar persentase pasar yang ditentukan dalam ukuran unit maupun pendapatan. Terdapat satu perusahaan yang menguasai 100 persen pangsa pasar (Pure Monopoly) 2. CR4 merupakan penjumlahan pangsa pasar empat perusahaan terbesar dari suatu wilayah pasar. Penyebaran Kuesioner Metode Observasi..

maka dibutuhkan identifikasi mengenai jenis pengeluaran operasional suatu usaha dan berapa persen dari tiap pengeluaran tersebut yang menggunakan sumber daya lokal. Pangsa pasar tertinggi dari masing-masing perusahaan tidak lebih dari 10 persen 1. Tidak memiliki pesaing terdekat 1. Data Sekunder (Daftar hotel ) Data Primer Data Primer Metode Wawancara.2. Menurut Comanor dan Wilson (1967). Hambatan untuk masuk pasar Segala sesuatu yang memungkinkan terjadinya penurunan kesempatan atau kecepatan masuknya pesaing baru merupakan hambatan untuk masuk pasar. 4. Terdapat empat perusahaan yang menguasai pangsa pasar tidak lebih dari 40 persen. Salah satu proyeksi yang dapat digunakan untuk mengukur ini adalah MES (Minimum Efficiency of Scale). Variabel Klasifikasi Hotel Sumber Data Data Primer. Survei instansional ( Dinas Pariwisata In depth Interview In depth Interview Instrumen Interview guideline Total Pengeluaran Operasional Total Pengeluaran Tenaga Kerja Interview guideline Interview guideline . Untuk mengetahui berapa pendapatan dari usaha pariwisata yang menghasilkan pemasukan untuk masyarakat lokal.3 Pengganda Pendapatan Lokal Kegiatan pariwisata. Harga tidak elastis 1. juga harus dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat lokal dan pendapatan daerah. Tidak ada perusahaan yang berpotensi menguasai pasar 3.Struktur Pasar Perusahaan Dominan (Dominant Firm) Oligopoli Ketat (Tight Oligopoy) Kondisi 3. Nilai ini menunjukkan apakah terdapat hambatan bagi pendatang baru untuk memiliki kesempatan yang baik untuk tetap bersaing secara sehat untuk mendapatkan pangsa pasar yang lebih besar. Terdapat lebih dari 50 pesaing dalam suatu industri 2. Tingkat elastisitas harga cukup tinggi Oligopoli Longgar (Loose Oligopoly) Persaingan Monopolistik (Monopolistic Competition) Persaingan Sempurna 3. Terdapat satu perusahaan yang menguasai 50-100 persen pangsa pasar. 1. Terdiri dari empat perusahaan yang menguasai pangsa pasar. selain harus dapat memenuhi kebutuhan wisatawan. 2. 1. Empat perusahaan yang menguasai 60-100 persen pangsa pasar. 2. terdapat cukup banyak pesaing 2. Nilai MES lebih dari 10% hambatan untuk masuk pasar cukup tinggi.

Variabel Total Pengeluaran Non Tenaga Kerja Total Tenaga Kerja lokal Total Sumber daya lokal yang digunakan Sumber Data Data Primer Data Primer Data Primer Metode In depth Interview In depth Interview In depth Interview Instrumen Interview guideline Interview guideline Interview guideline Setiappengeluaran usaha yang berdampak pada pengganda pendapatan lokal di atas dijelaskan pada ilustrasi di bawah ini. dimana perusahaan memiliki hubungan langsung yang bersifat intangible (tak berwujud) dengan konsumen (wisatawan) yang sangat bergantung pada kemampuan individu Multiplier Rendah Multiplier Tinggi .4 Daya Saing SDM Kepariwisataan Keberadaan SDM kepariwisataan berperan penting dalam pengembangan pariwisata karena dalam industri pariwisata. Hotel Pajak Operasional Tenaga Kerja Kebutuhan Non Tenaga Kerja Asing Lokal Sanur Bahan Baku dari Luar Sanur Bahan Baku dari Sanur Sehingga jumlah jenis usaha pariwisata dengan multiplier yang dihasilkannya dapat diketahui pada tabel sebagai berikut : Jenis Usaha Hotel Bintang Hotel Non Bintang Pondok Wisata Vila Restoran Toko Souvenir Usaha Wisata Tirta Usaha Biro Perjalanan Wisata Usaha Transportasi 4.2.

Survei instansional (Dinas Pendidikan Kota. Survei Instansional (BPS) In depth interview. daya saing SDM pariwisata ditentukan variabel di bawah ini : Variabel Jumlah Keikutsertaan dalam pendidikan formal Jumlah Keikutsertaan dalam lembaga pendidikan informal Kualitas sistem pendidikan Sumber Data Data Primer. Data sekunder ( Data IPM/Indeks Pembangunan Manusia) Data Primer. 2000). Data Sekunder ( Data kependudukan/ pendidikan) Data Primer. Survei Instansional (BPS) In depth interview. Data Sekunder (Data ketenagakerjaan) Standar kerja yang Data Primer. Data sekunder ( Daftar Fasilitas Pendidikan.karyawan dalam membangkitkan minat dan menciptakan kesenangan serta kenyaman kepada para konsumennya (Lynch. Data Sekunder ( Data kependudukan/ pendidikan) Data Primer. Direktori LSM) In depth interview pelaku usaha In depth interview pelaku usaha In depth interview. Menurut WEF. Data Sekundr (Data Interview guideline . Instrumen Interview guideline Kriteria Skor Interview guideline Interview guideline Ketersediaan lembaga pelatihan dan penelitian Interview guideline Penerapan rekrutmen dan pelepasan karyawan Kemudahan perekrutan tenaga asing Jumlah tenaga kerja yang tersertifikasi Data Primer Interview guideline Data Primer Interview guideline Interview guideline Data Primer. Survei Instansional (BPS) In depth interview. Lembaga pariwisata) Metode In depth interview. Survei Instansional (BPS) Observasi.

2.5 Peta Kemitraan Usaha Kemitraan usaha adalah jalinan kerjasama usaha yang saling menguntungkan antara pengusaha kecil dengan pengusaha menengah/ besar (perusahaan mitra) disertai denga pembinaan dan pengembangan oleh pengusaha besar sehingga terbentuk hubungan yang saling menguntungkan. antara lain : Variabel Profil Perusahaan MitraKelompok Mitra Bidang Usaha Kemitraan antara Perusahaan – Kelompok Mitra Sumber Data Data Primer Data Primer Metode In depth interview. juga diperlukan pemetaan terhadap usaha penguatan UKM pariwisata. FGD In depth interview. Pemetaan terhadap kemitraan usaha ini penting dilakukan untuk menilai sejauh mana usaha-usaha yang ada di KSPN mampu menjalin kerjasama dengan usaha lainnya serta potensi apa yang dapat dikembangkan dari kerjasama tersebut. 2. 3. Variabel yang dibutuhkan dalam memetakan kemitraan usaha. FGD Instrumen Data Primer Pola Kemitraan antara Perusahaan-Kelompok Mitra Manfaat yang diperoleh baik Data Primer oleh perusahaan maupun kelmpok mitra 4. melalui pemberian kredit Pelatihan Pendampingan dan fasilitator Bantuan teknis dan konsultasi Penyediaan informasi Penelitian . 5. 4. FGD In depth interview. memperkuat dan membutuhkan.2. antara lain : 1. 6. Usaha penguatan UKM adalah usaha/ program/ proyek/ kegiatan/ aktivitas untuk menguatkan usaha kecil menengah yang dapat diwujudkan dalam berbagai jenis kegiatan.6 Peta Usaha Penguatan UKM Selain pemetaan UKM pariwisata yang telah dilakukan pada bagian sebelumnya sebagai profiling data yang dimiliki Pemerintah Daerah untuk membantu mengembangan UKM-UKM pariwisata tersebut. FGD In depth interview.Variabel diberlakukan Sumber Data SKKNI pariwisata) Metode surei instansional (Dinas Pariwisata Instrumen Kriteria Skor 4. Permodalan.

4. Analisis dampak lingkungan erat kaitannya dengan upaya pelestarian lingkungan termasuk penggunaan lahan. 3. Selain itu analisis aspek lingkungan erat kaitannya dengan analisis kapasitas destinasi yang mendefinisikan batas-batas lingkungan dan fisik dan kemampuan destinasi untuk mengakomodasi kunjungan wisatawan yang minimal pada kerusakan alam . yaitu meliputi: 1. Selain itu profiling usaha penguatan ini juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengembangan oleh UKM pariwisata yang telah dipetakan sebelumnya. Nama Usaha Penguatan FGD Data Primer In depth interview. Tujuan penting dari perencanaan pariwisata harus melindungi alam dan menghindari eksploitasi sumber daya alam.Tujuan dari pemetaan usaha-usaha ini adalah untuk memberi acuan awal kepada berbagai lembaga dan masyarakat yang menaruh perhatian pada pengembangan UKM pariwisata. lembaga atau individu lainnya. kualitas air. 2. Status pelaksanaan Usaha Data Primer FGD penguatan saat ini Masalah yang dihadapi Potensi Usaha penguatan Data Primer Data Primer In depth interview. sosial ekonomi. FGD In depth interview. dan koperasi lembaga perbankan pemerintah maupun swasta lembaga donor 6. dengan memetakan variabel. lembaga pemerintah lembaga non-pemerintah perusahaan swasta nasional maupun asing. dan sosial-budaya (sosio-budaya). BUMN. agar dapat terjalin kemitraan antara UKM pariwisata dan lembaga yang akan memberikan bantuan tersebut. pemandangan alam. Tujuan dan Sasaran Usaha FGD In depth interview. Lembaga pelaksana FGD Data Primer In depth interview.dan pembuangan limbah. Jenis Usaha FGD Data Primer In depth interview. 5. dampak pembangunan kepariwisataan yang perlu diperhatikan adalah dampak lingkungan. FGD Instrumen 5 ANALISIS DAMPAK KEPARIWISATAAN Dalam perencanaan pariwisata. dalam rangka melengkapi dan melanjutkan usaha penguatan serta menghindari tumpang tindih upaya dan tumpang tindih sasaran penerima manfaat. Informasi yang menjadi acuan utama ini digali dari lembaga dan individu yang mempunyai peran yang signifikan dalam usaha penguatan UKM pariwisata.variabel di bawah ini : Variabel Sumber Data Metode Data Primer In depth interview.

Strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi ancaman. namun secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan (Weaknesses) dan tantangan/ancaman (Threats). kondisi infastruktur dan . Matriks ini dapat menghasilkan empat set kemungkinan alternatif strategis.1 ANALISIS LINGKUNGAN INTERNAL Analisis lingkungan internal digunakan untuk mengetahui sampai sejauh mana kekuatan dan kelemahan wilayah yang didasarkan pada aspek fisik kawasan. kebijakan terkait kawasan. Matriks ini dapat menggambarkan secara jelas peluang dan ancaman eksternal yang dihadapi wilayah pulau-pulau kecil. 6 ANALISIS SWOT Analisis keterkaitan antar aspek merupakan analisis potensi dan masalah serta peluang dan tantangan dilakukan dengan menggunakan Metode Analisis SWOT. Strategi dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-besarnya. Model analisis SWOT adalah identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi. baik positif maupun negatif sebagai akibat dari pemanfaatan budaya sebagai obyek wisata dan kontak langsung antara penduduk setempat dan wisatawan. THREATS (ANCAMAN) (T) Tentukan faktor-faktor Ancaman Eksternal. Faktor Internal Faktor Eksternal OPPORTUNITIES (PELUANG) (O) Tentukan faktor-faktor Peluang Eksternal. STRENGTHS (KEKUATAN) (S) Tentukan faktor-faktor Kekuatan Internal. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (Strengths) dan peluang (Opportunities). Strategi (ST). Strategi ini didasarkan pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang ada serta menghindari ancaman. seperti disajikan pada gambar berikut ini. Alat yang dipakai untuk menyusun faktor-faktor strategis adalah Matrik SWOT. 6. Strategi (WT). Strategi (WO). STRATEGI (WO) Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan untuk memanfaatkan peluang STRATEGI (WT) Ciptakan strategi yang meminimalkan kelemahan dan menghindari ancaman STRATEGI (ST) Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk mengatasi ancaman Strategi (SO). STRATEGI (SO) Ciptakan strategi yang menggunakan kekuatan untuk memanfaatkan peluang WEAKNESSES (KELEMAHAN) (W) Tentukan faktor-faktor Kelemahan Internal. Strategi ini ditetapkan berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan yang ada.Analisis dampak sosial-budaya menyangkut dampak tekanan dan perubahan penduduk yang hidup dan tinggal di wilayah destinasi.

seperti kemunculan pesaing. Penilaian terjadap lingkungan eksternal ini digambarkan pada matriks faktor lingkungan ekternal di bawah ini : Faktor-faktor Strategi Eksternal Peluang Bobot Rating Bobot x Rating . kondisi sosial ekonomi maupun sumber daya destinasi. Penilaian lingkungan internal ini berupa matriks faktor lingkungan internal di bawah ini Faktor-faktor Strategi Internal Kekuatan 1 Bobot Rating Bobot x Rating n Kelemahan 1 2 N Cara Penilaian (1) (2) (3) Bobot masing-masing faktor. ancaman teroris. kebijakan yang berasal dari pemerintah pusat maupun isu global. dampak keberadaan wisatawan. seperti politik.sarana di kawasan. 6. Rating masing-masing faktor kekuatan. berskala mulai dari 1 (tidak penting) sampai dengan 100 (sangat penting). Rating masing-masing faktor kelemahan. berskala mulai dari 1 (kurang mendukung) sampai dengan 4 (sangat mendukung).2 ANALISIS LINGKUNGAN EKSTERNAL Analisis lingkungan eksternal digunakan untuk menginventarisasi adanya peluang dan tantangan/ancaman yang dihadapi oleh kawasan. dan lain lain. berskala mulai dari 1 (kurang menghambat) sampai dengan 4 (sangat menghambat).

berskala mulai dari 1 (tidak penting) sampai dengan 100 (sangat penting). berskala mulai dari 1 (peluangnya kecil) sampai dengan 4 (peluangnya sangat besar). Rating masing-masing faktor tantangan/ ancaman. . berskala mulai dari 1 (pengaruhnya kecil) sampai dengan 4 (pengaruhnya sangat besar).Faktor-faktor Strategi Eksternal 1 Bobot Rating Bobot x Rating n Ancaman 1 2 N Cara Penilaian (1) (2) (3) Bobot masing-masing faktor lingkungan. Rating masing-masing faktor peluang.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful