P. 1
Sekilas Info Tentang Antijamur

Sekilas Info Tentang Antijamur

|Views: 91|Likes:
Published by Elok Yantesa

More info:

Published by: Elok Yantesa on Mar 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/06/2013

pdf

text

original

SEKILAS INFO TENTANG ANTIJAMUR : FLUKONAZOL Posted on March 20, 2009 | Leave a comment Antijamur Obat antijamur terdiri dari

beberapa kelompok yaitu : kelompok polyene (amfoterisin B, nistatin, natamisin), kelompok 1)azol (ketokonazol, ekonazol, klotrimazol, mikonazol, flukonazol, itrakonazol), allilamin (terbinafin), griseofulvin, dan flusitosin.
1. Azol

Antijamur azol merupakan senyawa sintetik dengan aktivitas spektrum yang luas, yang diklasifikasi sebagai imidazol (mikonazol dan ketokonazol) atau triazol (itrakonazol dan flukonazol) bergantung kepada jumlah kandungan atom nitrogennya ada 2 atau 3. Struktur kimia dan profil farmakologis ketokonazol dan itrakonazol sama, flukonazol unik karena ukuran molekulnya yang kecil dan lipofilisitasnya yang lebih kecil. Pada jamur yang tumbuh aktif, azol menghambat 14-α- demetilase, enzim yang bertanggung jawab untuk sintesis ergosterol, yang merupakan sterol utama membran sel jamur. Pada konsentrasi tinggi, azol menyebabkan K+ dan komponen lain bocor keluar dari sel jamur. Flukonazol Gambar struktur kimia Flukonazol Farmakologi : Flukonazol merupakan inhibitor cytochrome P-450 sterol C-14 alphademethylation (biosintesis ergosterol) jamur yang sangat selektif. Pengurangan ergosterol, yang merupakan sterol utama yang terdapat di dalam membran sel-sel jamur, dan akumulasi sterol-sterol yang mengalami metilase menyebabkan terjadinya perubahan sejumlah fungsi sel yang berhubungan dengan membran. Secara in vitro flukonazol memperlihatkan aktivitas fungistatik terhadap Cryptococcus neoformans dan Candida spp. Spektrum : Spektrum aktivitas antijamurnya sama dengan ketokonazol. Fluconazole memiliki spectrum yang luas meliputi Blastomyces dermatidis, Cocciodioides immitis, Cryptococcus neoformus, Histoplasma capsulatum dan Paracoccidioides brasiliensis. Obat ini aktif terhadap Candida albicans, C. tropicalis, dan C. parapsilosis, namun tidak peka terhadap C. krusei dan Torulopsis glabrata (sekarang diklasifikasikan ke dalam spesis Candida glabrata). Fluconazole aktif di dalam dermatophytosis namun tidak efektif di dalam aspergillosis dan mucormycosis. Pada pasien penderita neutropenik, manifestasi resistensi fluconazole yang paling umum adalah pada seleksi spesis

0 mg/l. dan menjadi obat pilihan pertama untuk meningitis karena jamur. dengan pemberian dosis terhadap pasien yang memiliki tingkat filtrasi di bawah 50 ml/menit. kulit dan kuku. obat jenis ini dibersihkan melalui filtrasi glomerular. namun hal ini terjadi hanya setelah dosis ditambah secara berulang-ulang hingga mencapai 2. krusei. namun secara bersamaan terjadi reabsorpsi tubular. Tidak ada indikasi induksi atau inhibit yang signifikan pada metabolisme fluconazole yang diberikan secara berulang-ulang. seperti C.Candida yang tidak biasa dijumpai. paru dan humor aquosus. terdapat sekitar 80% dari jumlah dosis yang diberikan tercampur dengan urin dengan bentuk yang tidak berubah dan konsentrasi > 100 mg/l. 12% terikat pada protein. konsentrasi serum dengan kisaran 1. tetapi dapat diperpanjang waktunya jika terjadi gangguan pada fungsi renal. – Pengobatan fluconazole secara oral atau secara parenteral menyebabkan percepatan dan penyebaran distribusi obat. Fluconazole memiliki paruh hidup serum selama 20-30 jam. protein yang mengikat fluconazole memiliki kadar yang rendah (sekitar 12%). Obat ini mencapai konsentrasi tinggi dalam LCS. Pada pasien yang memiliki fungsi renal normal. Dua jam setelah pemberian obat secara oral dengan dosis 50 mg.0 mg/l dapat diantisipasi. Farmakokinetik : Flukonazol larut air dan cepat diabsorpsi sesudah pemberian oral. – Sarana eliminasi utama dalam hal ini adalah ekskresi renal obat-obatan yang tidak dapat dirubah komposisinya. Lebih dari 90% dari dosis yang diberikan tereliminasi ke dalam urin: sekitar 80% dalam bentuk obat-obatan asli (tidak berubah komposisinya) dan 10% dalam bentuk metabolit. Hal ini menyebabkan tingginya tingkat sirkulasi obat yang tidak terikat. dengan 90% bioavailabilitas. Konsentrasi darah naik sesuai dengan dosis dengan tingkat dosis yang bermacam-macam. Konsentrasi serum identik diperoleh setelah pengobatan secara oral dan secara parenteral yang menunjukkan bahwa metabolisme tahap awal (first-pass metabolism) obat tidak terjadi. Konsentrasi fungisidanya juga meningkat dalam vagina. saliva. fluconazole tidak dapat dimetabolisme secara ekstensif oleh manusia. yang memiliki resistensi intrinsik terhadap obat ini.0 sampai dengan 3. – Tidak seperti obat anti jamur azole jenis lain. Tingkat sirkulasi obat yang tidak terikat pada sebagian besar kelencar dan cairan tubuh biasanya melampaui 50% dari konsentrasi darah simultan. Tidak seperti obat antifungal azol jenis lainnya. – Pengobatan secara oral dengan fluconazole mengakibatkan terjadinya absorpsi obat secara cepat dan hampir sempurna. Fluconazole akan hilang selama haemodialysis dan pada sejumlah .

Fluconazole terbukti lebih efektif dan lebih dapat ditoleransi dibandingkan amphotericin B untuk mengobati atau mencegah terjadinya cryptococcosis pada pasien penderita AIDS. Fluconazole adalah jenis ramuan obat yang menjanjikan bagi perawatan penyakit candidosis stadium lanjut/berat pada pasien yang tidak menderita neutropenia. Fluconazole saat ini menjadi jenis obat yang menjadi pilihan banyak dokter untuk mengobati pasien penderita meningitis coccidioidal. Fluconazole merangsang terjadinya absorpsi secara sempurna pada saat dilakukan pengobatan secara oral. maka fluconazole diberikan dalam bentuk larutan intravena. Fluconazole tidak tidak efektif untuk mengobati aspergillosis dan mucormycosis. Sessi haemodialysis selama 3 jam dapat mengurangi konsentrasi darah hingga sekitar 50%. Modifikasi dosis perlu dilakukan pada pasien dengan gangguan ginjal. Flukonazol dapat dipakai dengan atau tanpa makanan Jika pemberian obat pada pasien tidak memungkinkan untuk diberikan lewat mulut. Fluconazole telah terbukti bermanfaat untuk perawatan prophylaktat terhadap penyakit candidosis yang diderita oleh pasien pengidap neutropenik. Fluconazole merupakan jenis obat-obatan yang ampuh untuk mengatasi meningitis cryptococcal. sehingga jenis pengobatan oral menjadi prioritas utama. Dosis & Cara Pemberian : Flukonazol tersedia dalam bentuk kapsul 50 dan 150 mg dan infus 2 mg/ml. – Vaginal candidosis dapat diobati dengan fluconazole oral dengan dosis 150 mg. Candidosis jenis Oesophageal dan mucocutaneus serta candidosis saluran kencing bagian bawah memerlukan fluconazole dengan dosis 100-200 mg/hari yang diberikan selama 2-4 pekan. namun sebaiknya tidak digunakan sebagai pilihan utama pada pasien neutropenia kecuali jika terdapat alasan-alasan tertentu. Dosis tunggal 150 mg. obat ini juga efektif untuk perawatan berbagai jenis gangguan dermatophytosis dan pityriasis versicolor. tetapi tidak boleh dijadikan prioritas utama untuk pasien pengidap AIDS kecuali jika terdapat alasan-alasan tertentu. Syaratnya.kasus terjadi selama dialysis peritoneal. Kegunaan Terapi : Fluconazole dapat digunakan untuk mengobati candidosis mukosa dan candidosis cutaneous.. Sedangkan Oropharyngeal candidosis diobati dengan dosis 50-200 mg/hari selama 1-2 pekan. kandidiasis mukokutan. Selain itu. Indikasi : infeksi sistemik. . atau melalui infus dengan kadar infus 5-10 ml/menit. pasien tersebut harus tetap mengkonsumsi fluconazole selama hidupnya agar mencegah munculnya kembali penyakit yang sama. vaginal candidiasis.

– Dosis yang disarankan untuk pasien penderita cryptococcosis atau candidosis stadium lanjut adalah 400 mg/hari. Hal ini berlaku bagi pasien yang memiliki tingkat pembersihan kreatinin 21-40 ml/menit. Flukonazol bisa menyebabkan kerusakan hati pada kasus jarang. Efek samping yang paling umum terjadi adalah gastrointestinal seperti nausea (mual) dan nyeri pada bagian perut. Fluconazole adalah jenis obat yang dapat ditoleransi dengan baik. – Pengobatan jangka panjang menggunakan fluconazole dengan tujuan menyembuhkan pasien cryptococcosis yang juga menderita AIDS harus dilakukan pada dosis 200 mg/hari. maka dosis yang diberikan adalah 100-400 mg/hari. Sedangkan pasien yang memiliki tingkat pembersihan kreatinin 10-20 ml/menit interval dosis adalah 72 jam. Ruam pada kulit bisa terjadi tapi jarang. Dosis yang disarankan untuk anak-anak adalah 1-2 mg/kg untuk jenis candidosis superficial dan 5 mg/kg untuk cryptococcosis atau candidosis stadium lanjut. Fungsi hati harus dimonitor setelah beberapa hari penggunaan obat. dan pusing. Kehamilan dan menyusui : Penggunaan pada masa kehamilan dan menyusui tidak direkomendasikan. namun jarang yang memerlukan diskontinuasi perawatan. Elevasi asimptomatik transient tingkat transaminase serum relatif biasa terjadi pada pasien penderita AIDS. bergantung pada sifat dan jangkauan infeksi serta penyakit yang mendahuluinya. dan . nyeri abdominal. interval dosis harus dilipatgandakan sampai dengan 48 jam (dengan kata lain. Pasien-pasien yang memiliki resiko tinggi terhadap serangan infeksi stadium lanjut harus diobati dengan dosis 400 mg/hari dan hal ini harus dimulai beberapa hari menjelang munculnya gejala neotropenia dan berlangsung selama 1 pekan setelah jumlah neutrofil kembali pada kisaran 1 x 109/l. sejumlah praktisi klinik telah menggunakan dosis yang lebih tinggi lagi untuk mengatasi infeksi-infeksi yang membahayakan nyawa pasien. Efek samping : Sakit kepala. Namun demikian. diare. Untuk mencegah candidosis pada pasien penderita neutropenik. khususnya pada pasien yang menerima dosis hingga 400 mg/hari. Diperlukan sekurangkurangnya 6-8 pekan lamanya untuk mengobati pasien penderita cryptococcosis yang tidak mengidap AIDS. – Pasien yang menderita haemodialysis secara reguler memerlukan dosis yang biasa yang diberikan setelah masing-masing tahap atau sesi dialysis. Lama waktu atau durasi perawatan akan berbeda sesuai dengan kondisi pasien itu sendiri. – Pasien yang menderita gangguan renal harus diberi dosis normal selama 48 hari pertama pengobatan. dosis dikurangi setengahnya). Segera setelah itu.

132/search?q=cache:C4whYXEP3z8J:farmakologi.html http://www. Nama dagang : Diflucan.com/2008/10/infeksijamur. Pasien penderita kanker atau AIDS memiliki kemungkinan untuk mengidap sindrom Stevens-Johnson (fatal exfoliative skin rashes). fluconazole tidak menghambat metabolisme adrenal maupun steroid testicular manusia.or.com/ http://www.id/files/cdk/files/11AntijamurSistemik108.majalah-farmacia. obat ini dikonsumsi dengan dosis yang tepat.com/ http://spiritia.blogspot. namun hubungan sebab akibat penyakit ini dengan fluconazole belumlah jelas.pdf/11AntijamurSist emik108.pengobatan harus dihentikan pada pasien penderita hepatitis simptomatik atau penderita gangguan fungsi hati.235.blogspot.files.co.asp?IDNews=571 · http://yosefw.com/2009/03/20/sekilas-info-tentang-antijamur-flukonazol/ mengecilnya hifa yang disebut sebagai curling factor kemudian temyata diketahui bahwa bahan yang mereka isolasi dari . Ada baiknya untuk menghentikan konsumsi fluconazole pada pasien penderita infeksi jamur superficial. Funzol.php?lino=534 http://72.id/li/bacali.com/rubrik/one_news. Berbeda dengan ketoconazole.14. di mana pasien tersebut mengalami pengelupasan kulit. Pasien penderita infeksi jamur stadium lanjut/berat yang juga mengalami pengelupasan kulit harus diawasi terus perkembangannya dan pemberian obat harus dihentikan jika terjadi luka yang serius atau erythrema multiforme. DAFTAR PUSTAKA : · · · · · http://pojokapoteker. Syaratnya. terutama jika penanganan dilakukan secara terus-menerus dengan obat-obatan jenis lain.pdf+flukonazol+merupakan&cd=10&hl=id&ct=clnk&gl=id http://www.wordpre ss.wordpress.kalbe.adasidna.

Kulit yangsakit mem punyai afinitas yang tinggi terhadap obat ini. tidak bewama dan tidak berbau. mempunyai spektrum antijamur yang lebar terhadap jamur dermatofit. lalu muncul bersama sel yang baru berdiferensiasi. 3. 50% dari dosis oral yangdiberikan dikeluarkan bersama urin dalam bentuk metabolit selarna 5 hari. Epidermop h yton dan Microsporum. Antibiotik ini dapat ditemukan dalam lapisan tanduk 4-8 jam setelah pemberian per oral. Keratinyang mengandung jamur akan terkelupas dan diganti oleh sel yang normal. Waktu paruh obat ini kira-kira 24 jam. terikat kuatdengan keratin sehingga sel baru ini akan resisten terhadap serangan jamur. Resistensi terhadap imidazol dan triazol sangat jarang terjadi dari jamur penyebab dermatofitosis. Mikonazol menghambat aktivitas jamur Tric h op h . Griseofulvin in vitro efektif terhadap berbagai jenis jamur dermatofit seperti Tric h op h yton. MIKONAZOL ASAL DAN KIMIA. Mikonazol merupakan turunan imidazol sintetik yang relatif stabil.AKTMTAS ANTIJAMUR. Actinomyces dan Nocardia. sebagian kecil larut dalam air tapi lebih larut dalam pelarut organic. Obat ini akan dihimpun dalamsel pembentuk keratin. maka hanya mikonazol dan klotrimazol yang akandibahas.2. jamur lain dan ragi. Ketokonazol yang juga termasuk golongan imidazol telah dibahas pada pembicaraan mengenai antijamur untuk infeksi sistemik. tetapi dari jamur kandida paling sering terjadi.Penicillin janczewski adalah griseofulvin.AKTIVITAS ANTIJAMUR. Terhadap selmuda yang sedang berkembang griseofulvin bersifat fungisidal. Obat ini berbentuk kristal putih. IMIDAZOL DAN TRIAZOL Antijamur golongan imidazol mempunyai spektrum yang luas. Karena sifat dan penggunaannya praktis tidak berbeda. Obat ini tidak efektif terhadap bakteri. Keringatdan hilangnya cairan transepidermal memegang peranan penting dalam penyebaranobat ini pada stratum korneum kadar yang ditemukan dalam cairan dan jaringan tubuhlainnya kecil sekali. juga itrakonazol (golongantriazol). Obat ini dimetabolisme di hati dan metabolit utamanya adalah 6-metilgriseofulvin.

rubrum. NISTATIN ASAL DAN KIMIA. Nistatin merupakan suatu antibiotik polien yang dihasilkanoleh Streptomyces noursei .yton. Sekalipun nistatin mempunyai struktur kimiadan mekanisme kerja mirip dengan amfoterisin B. Candida dan Malassezia furfur. Namun karena spektrumnya yang sempit. Mikonazol masuk kedalam sel jamur dan menyebabkan kerusakan dinding sel sehingga permeabilitasterhadap berbagai zat intrasel meningkat.4. sukar larut dalam kloroform dan eter. Klotrimazol mempunyai efek antijamur dan antibakteri dengan mekanismekerja mirip mikonazol dan secara topikal digunakan untuk pengobatan tinea pedis. albicans. Obat yang sudah menembus ke dalam lapisan tanduk kulit akan menetap di sana sampai 4 hari. Mungkin pula terjadi gangguan sintesisasam nukleat atau penimbunan peroksida dalam sel jamur yang akanmenyebabkan kerusakan. mentagrop h ytes. E. antijamur ini tidak banyak digunakan lagi. Tolsiklat merupakan antijamur topikal yang diturunkan dan tiokarbamat.Mekanisme kerja obat ini belum diketahui sepenuhnya. Tolnaftat adalah suatu tiokarbamat yang efektif untuk pengobatansebagian besar dermatofitosis tapi tidak efektif terhadap kandida. kruris dan korporis yang disebabkan oleh T. KLOTRIMAZOL Klotrimazol berbentuk bubuk tidak berwama yang praktis tidak larut dalam air. T. 3.TOLSIKLAT. Juga untuk infeksi kulit danvulvovaginitis yang disebabkan oleh C. canis dan untuk tinea versikolor. telapak dan kuku sebaiknya dipakai griseofulvin. tinea versikolor dankandidiasis mukokutan. berbau khas. larut dalam alkohol dan kloroform. TOLNAFTAT DAN TOLSIKLAT TOLNAFTAT. Obat yang berupa bubuk wama kuning kemerahan ini bersifat higroskopis. Mikonazol in vitro efektif terhadap beberapa kuman Gram positif. Untuk dermatofitosis sedang atau berat yang mengenaikulit kepala.Mikonazol topikal diindikasikan untuk dermatofitosis. floccosum dan M. Epidermop h yton. sedikit larut dalam eter.3. Larutannyamudah terurai dalam air atau plasma. 3. Microsporum. nistatin lebih toksik .

Aktivitas antijamur tergantung dari adanya ikatan dengan sterol padamembran sel jamur atau ragi terutama sekali ergosterol.. Nistatin menghambat pertumbuhan berbagai jamur dan ragi tetapi tidak aktif terhadap bakteri. berbentuk kristal putihkekuningan.sehingga tidak digunakan sebagai obat sistemik. Akibat terbentuknya ikatanantara sterol dengan antibiotik ini akan terjadi perubahan permeabilitas membran selsehingga sel akan kehilangan berbagai molekul kecil. Asam benzoat memberikanefek fungistatik sedangkan asam Salisilat memberikan efek keratolitik. Salep ini banyak digunakanuntuk pengobatan tinea pedis dan kadang-kadang juga untuk tinea kapitis. guillermondi dan C.AKTIVITAS ANTIJAMUR. ASAM UNDESILENAT Asam undesilenat merupakan cairan kuning dengan bau khas yang tajam. sukar larut dalam air tetapi larut dalam alkohol. namun resistensi ini biasanya tidak terjadi in vivo. Obat ini bersifatfungisidal terhadap Epidermop h yton. stellatiodes mulai resisten. Tric h op h yton.Obat ini dapat menghambat pertumbuhan jamur pada tinea pedis. tropicalis. haloprogin atau tolnaftat. tetapiefektivitasnya tidak sebaik mikonazol.MEKANISME KERJA. 3. HALOPROGIN Haloprogin merupakan suatu antijamur sintetik. juga ada keluhan kurangmenyenangkan dari para pemakainya karena salep ini berlemak. kulitmaupun vagina. Dalam hal iniseng berperan untuk menekan luasnya peradangan. Miciosporum dan Malassezia furfur .5.Dosis biasa dari asam ini hanya menimbulkan efek fungistatik tetapi dalam dosistinggi dan pemakaian yang lama dapat memberikan efek fungisidal. C. Dapat terjadi iritasi ringan pada tempat pemakaian. protozoa dan virus. ANTIJAMUR TOPIKAL LAINNYAASAM BENZOAT DAN ASAM SALISILAT Kombinasi asam benzoat dan asam salisilat dalam perbandingannya 2 : 1 (biasanya 6% dan 3%) ini dikenal sebagai salep Whitfield. Nistatin tidak diserap melalui saluran cema. sehingga pemakaian obat inimembutuhkan waktu beberapa minggu sampai bulanan. tetapi C. Nistatin hanya akan diikat oleh jamur atau ragi yang sensitif. bahkan sekaligusmenjadi tidak sensitif terhadap amfoterisin B. Karena asam ben-zoat hanya bersifat fungistatik maka penyembuhan baru tercapai setelah lapisantanduk yang menderita infeksi terkelupas seluruhnya. Candida albicans hampir tidak memperlihatkan resistensti terhadap nistatin.

0-7. Hayes.meluasnya maserasi dan sensitisasi. Ikatan ini akan menyebabkan membran sel bocor sehinggaterjadi kehilangan beberapa bahan intrasel dan mengakibatkan kerusakan yang tetap pada sel. Amfoterisin B berikatan kuat dengan ergosterol yang terdapat pada membran sel jamur. Drug Evaluation Annual 1995. Reaksi iritatif dapat terjadi walaupun jarang. SIKLOPIROKS OLAMIN Obat ini merupakan antijamur topikal berspektrum luas.49:239-41.Bakteri. Sensitisasi mungkin merupakan pertandacepatnya respons pengobatan sebab toksin yang dilepaskan kadang kadangmemperburuk lesi. rasa terbakar. 1996.Pappas PG. ClinInfect Dis 2004. Terbinafin topikal digunakan untuk pengobatantinea kruris dan korporis yang diberikan 1-2 kali sehari selama 1-2 minggu. vesikel. New antifungal agents-treatment standards are beginning to grow old. Siklopiroks olamintersedia dalam bentuk krim 1% yang dioleskan pada lesi 2 kali sehari.1644-56Maschmeyer G. tidak larutdalam air.scribd. P. Aktivitas anti jamur nyata pada pH 6. Alih Bahasa: Farnakologi Pendekatan Prosesperawatan. Obat ini digunakan untuk terapi dermatofitosis.MEKANISME KERJA. Terbinafin topikal tersediadalam bentuk krim 1 % dan gel 1%. et al. Gudelines for the treatment of candidiasis. Di samping itu obat ini juga digunakan untuk tinea versikolor.38:161-89. tidak berbau dan tidak berasa ini merupakan antibiotik polien yang bersifat basa amfoter lemah. Sembilan puluh delapan persen campuran ini terdiri dari amfoterisin B yang mempunyai aktivitas antijamur. Pengikatan kolesterol pada sel hewan dan manusia oleh antibiotic ini diduga merupakan salah satu penyebabefek toksiknya.5: berkurang pada pH yang lebihrendah. TERBINAFIN 'Terbinafin merupakan suatu derivat alilamin sintetik dengan struktur miripnaftitin. Penggunaan kliniknyaialah untuk dermatofitosis.Kristal seperti jarum atau prisma berwarna kuning jingga.com/doc/36154284/Uraian-Obat-Anti-Jamur • AMFOTERISIN B ASAL DAN KIMIA. Sobel JD. terutama onikomikosis..Evelyn R. virus dan riketsia tidak dipengaruhi oleh antibiotik ini karena jasadrenik ini tidak mempunyai gugus sterol pada membran selnya.Jakarta: EGC Uraian http://www. kandidiasis dan tinea versikolor. tidak stabil. Haloprogin sedikit sekali diserap melalui kulit. Resistensi terhadap amfoterisin B ini mungkin disebabkan terjadinya perubahan reseptor sterol pada membran se . Antibiotik ini bersifat fungistatik atau fungisidal tergantung pada dosis dansensitivitas jamur .Selama pemakaian obat ini dapat timbul iritasi lokal. DAFTAR PUSTAKA American Medical Association. Amfoterisin A dan B merupakan hasil fermentasi Streptomycesnodosus . dan juga digunakan secara topikal untuk dermatofitosis. tidak tahan suhu diatas 37°C tetapi dapat bertahan sampai berminggu-minggu pada suhu 4°C AKTIVITAS ANTIJAMUR Amfoterisin B menyerang sel yang sedang tumbuh dansel matang. Rex JH. daiam tubuh akan teruraimenjadi triklorofenol.Journal of Antimicrobial Chemotherapy 2002.

Empat puluh sampai 50% Candida sudah resisten sejak semula pada kadar 100 µg/mL flusitosin. Rifampisin akan mengurarangikadar plasmaitrakonazol. tetapi tidak sebanyak ketokonazol. dermatitidis. capsulatum. Obat ini berbentuk kristal putih tidak berbau. Itrakonazol. tropicalis dan C. itrakonazol juga memberikan efek terapi terhadap aspergilosis di . ITRAKONAZOL Antijamur sistemik turunan triazol ini erat hubungannya dengan ketokonazol. C. Sintesis protein sel jamur tergangguakibat penghambatan Iangsung sintesis DNA oleh metabolit fluorourasil. 5FC) merupakan antijamur sintetik yang berasal dari fluorinasi pirimidin. kandidiasis. Spektrum antijamur flusitosin agak sempit. Flusitosin (5-fluorositosin. Keadaan initidak terjadi pada sel mamalia karena dalam tubuh mamalia flusitosin tidak diubahmenjadi fluorourasil. Obat iniefektif untuk pengobatan kriptokokosis. Aktivitas antijamumya lebih lebar sedangkanefek samping yang ditimbulkan lebih kecil dibandingkan dengan ketokonazol. Obat ini bersifat liofilik dan larut dalam air pada pH asam. Ketokonazol merupakan turunan imidazol sintetik denganstruktur mirip mikonazol dan klotrimazol.sariawan pada mulut dan tenggorokan serta tinea versikolor. juga berinteraksi dengan enzimmikrosom hati.Obat ini dapat diberikan per oral dan IV.MEKANISME KERJA.FLUSITOSIN ASAL DAN KIMIA. Berbeda dariketokonazol. B. Aspergillus dan Sporot hrix spp. histoplasmosis. 1. Flusitosin masuk ke dalam sel jamur dengan bantuan sitosindeaminase dan dalam sitoplasma akan bergabung dengan RNA setelah mengalam deaminasi menjadi 5-fluorourasil dan fosforilasi. H. neoformans. albicans yang sensitif. Cryptococcus dan Candida dapat menjadi resisten selama pengobatan denganflusitosin. Infeksi saluran kemih bagian bawah oleh Candida yang sensitif dapat diobati dengan flusitosin saja karena kadar obat ini dalam urin sangat tinggi. torulopsis danaspergilosis. seperti golongan azol lainnya.3. IMIDAZOL DAN TRIAZOL KETOKONAZOL ASAL DAN KIMIA. kromomikosis. Ketokonazol aktif sebagai antijamur baik sistemik maupun nonsistemik efektif terhadap Candida. Coccidioides immitis. koksidioidomikosis. sedikit larutdalam air tapi mudah larut dalam alkohol AKTIVITAS ANTIJAMUR. dan mempunyai persamaan struktur denganfluorourasil dan floksuridin.Itrakonazol diserap lebih sempuma melalui saluran cerna bila diberikan bersamamakanan.Itrakonazol memberikan hasil mernuaskan untuk indikasi yang sama denganketokonazol antara lain terhadap blastomikosis. Invitro pemberian flusitosin bersama amfoterisin B akan menghasilkan efek supraaditif terhadap C.AKTIVITAS ANTIJAMUR. Cryptococcusneoformans.

51. BLASTOMIKOSIS. Ditemukannya kavitas tunggal di paru atau adanya infiltrasifibrokavitas yang tidak responsif terkadap kemoterapi merupakan ciri yang khas dari penyakit kronis koksidioidomikosis. infeksi cenderung menjadi kronis. dan sebaiknya dikumur dahulu sebelum ditelan untuk meng-optimalken efek topikalnya. Lamanya pengobatan biasanya 2-4 mirggu. Obat pilihan adalah amfoterisin B IV dengan dosis 0. infeksinya sangat progresif atau infeksi menyerang SSP. tulang dan jaringan lunak pada pasiendengan fungsi imunologik normal.Itrakonazol suspensi diberkan dalam keadaan lambung kosong dengan dosis duakali 100 mg sehari.12 bulan.Histoplasmosis.KOKSIDIOIDOMIKOSIS. juga pada pasien dengan penyakit imunosupresi dan AIDS. pasien harus diobati dengan amfoterisin B IV seperti mengobati kandidiasis berat pada organ lain.7 hari. Itrakonazol PENGOBATAN INFEKSI JAMUR SISTEMIK Infeksi oleh jamur patogen yang terinhalasi dapat sembuh spontan.7 hari.ASPERGILOSIS. Hasil serupa juga dapat dicapai dengan pemberianitrakonazol 200-400 mg sekali sehari. blastomikosis dan kriptokokosis pada paru yangsehat tidak membutuhkan pengobatan. Untuk meningitis yang disebabkan oleh Coccidioides obat terpilih ialah amfoterisin B yang diberikan secara intratekal . Kateterisasi ataupun manipulasi instrument lain dapat memperburuk kandidiasis. Obat terpilih untuk kasus ini adalah ketokonazol per oral 400 mgsehari selama 6 .tidak memberi respons yang memuaskan terhadap pengobatan dengan antijamur. Kadangkala dibutuhkantindakan operatif untuk mengalirkan nanah dari sekitar lesi. atau bila disangsikan terjadi penyebaran atau adanya risiko penyakit akan menjadi lebih parah.400 mg sekalisehari pada beberapa kasus. Untuk infeksi berat. Invasi aspergilosis paru sering terjadi pada pasien penyakitimunosupresi yang berat dan. Bila penyakit progresif.0 mg/kgBB setiap hari dalam infus lambat. Bila terdapat penyebaran ekstrapulmonar.4 mg/kgBB/hari selama 10 minggu.KANDIDIASIS. Kemoterapi baru dibutuhkan bila ditemukan pneumonia yang berat. Kateterisasi ataupun manipulasi instrument lain dapat memperburuk kandidiasis. amfoterisin B IV bermanfaat untuk penyakit berat ini. Amfoterisin B dicadangkan untuk pasien yang tidak dapatmenerima ketokonazol. Bila ada kelainan parenkimginjal. koksidioidomikosis. Bila ada kelainan parenkimginjal. dosis dapatditingkatkan sampai dua kalinya. Bila invasi tidak mengenai parenkim ginjal pengobatan cukup denganamfoterisin B 50 µg/mL dalam air steril selama 5 .Dosis yang dianjurkan 0. pasien harus diobati dengan amfoterisin B IV seperti mengobati kandidiasis berat pada organ lain KANDIDIASIS. Bila invasi tidak mengenai parenkim ginjal pengobatan cukup denganamfoterisin B 50 µg/mL dalam air steril selama 5 . Ketokonazol diberikan untuk terapi supresi jangka panjang terhadap lesi kulit. Pasien AIDS atau pasien penyakit imunosupresi lain biasanya membutuhkan kemoterapi untuk mengatasi pneumonia karena jamur atau oleh sebab lain. dosis obat dapat ditingkatkan. Itrakonazol juga efektif dengan dosis 200 .luar SSP. yang membutuhkan tindakan reseksi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->