MAKALAH FARMAKOLOGI

MAKALAH FARMAKOLOGI OBAT ANTI JAMUR

Di susun Oleh

Kelompok 1
           Ayu Inda Sari Elok Yantesa Husnul Chotimah Krisdiana Ika Nani Damayani Pungki Tiara Reni Dwi Ruhana Toyo Sri Waningyuh Winda Ayu Nike Annisa 2011.01.1308 2011.01.1313 2011.01.1319 2011.01.1324 2011.01.1330 2011.01.1335 2011.01.1337 2011.01.1341 2011.01.1346 2011.01.1353 2011.01.1389

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN HUSADA JOMBANG TP.2012-2013

yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah Farmakologi yang berjudul “Obat AntiJamur”.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis penjatkan kehadirat Allah SWT. Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan. Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca dan dapat bermanfaat bagi kita semua. baik pada teknis penulisan maupun materi. Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah farmakologi.amin. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini. Tim Penyusun . Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan tugas makalah ini. mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis.

…………………………………….3 2.1 2.DAFTAR ISI Kata Pengantar Daftar Isi BAB I PENDAHULUAN 1.2 Latar Belakang Rumusan Masalah ………………………………………………………… ………………………………………………… …………………………………………………………………… …………………………………………………………………… i ii BAB II PEMBAHASAN 2. Jenis obat-obata Infeksi Jamur ……………………………………………………………… Profile infeksi jamur ……………………………………………………… BAB III 3.1 1.2 2.…….4 Pengertian ……………………………………………………………… ………….1 3..2 Kesimpulan Saran …………………………………………………………………… …………………………………………………………………… …………………………………………………………… Daftar Pustaka .

seperti pada kulit. Hanya sedikit bahankimia yang diketahui dapat menghambat jamur pathogen pada manusia. maka perumusanmasalah dalam makalah adalah:Bagaimana mekanisme obat-obat anti mikroba yang menghambat perubahan permeabitas membrane sel? .Mengingat tempat infeksi jamur di daerah yang vaskularisasinya (aliran darah) sangat rendah maka pemberian obat secara topical sangat penting. dan banyak di antaranya relative toksik. Kebutuhan untuk mendapat obat anti jamur yang lebih baik ditekankan dengan sangat meningkatnya insidens infeksi jamur.kuku.BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Infeksi jamur terjadi pada tempat yang sedikit menerima aliran darah. dan rambut. baik l okal maupunmeluas pada pasien yang kurang imun. Dengan demikian sang at penting adanya antifungi lokal maupun antifungi sistemik 1. Terjadi atau tidaknya infeksi jamur sangat ditentukanoleh peran hospest mengingat banyak infeksi jamur bersifat oportunistik. Hal ini menyebabkan distribusi obat ke daerah itu sangat sulit jika d i b e r i k a s e c a r a s i s t e m i k .2 RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang masalah yang dipaparkan sebelumnya. padahal peristiwa membelah merupakan saat yang te pat bagimikroba untuk membunuh fungi.Kebanyakan jamur sangat resisten terhadap obat-obat antibakteri. J a m u r m e m b e l a h a t a u berkembang biak lebih lambat dibandingkan bakteri.

dan ragi. Sebuah jamur adalah anggota kelompok besar eukarotik organisme yang meliputi mikroorganisme seperti ragi dan jamur.1 PENGERTIAN Obat anti jamur adalah senyawa yang digunakan untuk pengobatan penyakit yang disebabkan oleh jamur. Beberapa jenis jamur dapat berkembang pada permukaan tubuh yang bisa menyebabkan infeksi kulit. dan bakteri. Antifungi dapat diklasifikasikan berdasarkan cara kerjanya ataupun strukrur kimiawinya. kuku. Kadang disebut juga fungi. hewan. seperti cendawan. Mengingat tempat infeksi jamur di daerah yang vaskularisasinya (aliran darah) sangat rendah maka pemberian obat secara topical sangat penting. golongan polien adalah amfoterisin B dan nistatin yang bekerja mengikat ergosterol pada dinding sel jamur. Hal ini disebabkan oleh . Salah satu perbedaan utama adalah bahwa sel-sel jamur memiliki dinding sel yang mengandung kitin.Struktur kimia polien mirip dengan ergosterol atau asam lemak penyusun membrane sel. yang diklasifikasikan sebagai sebuah kerajaan yang terpisah dari tanaman.BAB II PEMBAHASAN 2. mulut atau vagina.inilah yang menyebabkan dapat berikatan dengan dinsing sel jamur. Membran sel manusia tidak mengandung ergosterol melainkan kolesterol sehingga antifungi golongan polien tidak dapat merusaknya. Jamur yang paling umum menyebabkan infeksi kulit adalah tinea. Jamur adalah organisme mikroskopis tanaman yang terdiri dari sel. Inilah yang menyebabkan toksisitasselektif dari antifungi. Infeksi umum yang ada pada mulut dan vagina disebut seriawan. Dengan demikian sangat penting adanya antifungi lokal maupun antifungi sistemik. For example. Terikatnya ergosterol oleh polien menyebabkanmembrane sel jamur bocor dan lisis. tinea pedis ('athletes foot) .

2. Penggunaannya tergantung pada jenis infeksi yang ada. flucytosine. Fluconazole umumnya digunakan untuk mengobati jamur Vaginal.2 Jenis obat-obatan antijamur Ada beberapa jenis obat-obatan antijamur a.Itakonazol . Digunakan untuk mengobati berbagai infeksi jamur.Amfoterisin B . Antijamur cream Digunakan untuk mengobati infeksi jamur pada kulit dan vagina. Sejumlah Candida umumnya tinggal di kulit. Juga dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam infeksi jamur pada tubuh c. ketoconazole. Antijamur injeksi Amphotericin. Infeksi jamur sistemik .Ketokonazol .Fluconazol . sulconazole. itraconazole. fenticonazole. Candida merupakan ragi yang merupakan salah satu jenis jamur.Flusitosin . miconazole. fluconazole. dan tioconazole. Obat tersebut digunakan untuk mengobati infeksi Candida (guam) pada mulut dan tenggorokan. example: Terbinafine umumnya digunakan untuk mengobati infeksi kuku yang biasanya disebabkan oleh jenis jamur tinea. Antara lain :ketoconazole.Candida. itraconazole. voriconazole dan caspofungin adalah obatobatan anti jamur yang sering digunakan dalam injeksi. Antijamur peroral Amphotericin dan nystatin dalam bentuk cairan dan lozenges. b. dan griseofulvin dalam bentuk tablet yang diserap ke dalam tubuh. Obat-obatan ini tidak terserap melalui usus ke dalam tubuh. Infeksi jamur dapat dibagi menjadi dua yaitu : 1.

nistatintidak dapat diabsorpsi. Golongan Azol Dinamakan azol karena semua anggotanya mempunyai cincin azol. Golongan azol juga merupakanantifungi berspektrum luas. asam salisilat. yaitu golongan azol. . Antijamur untuk infeksi sistemik : amfoterisin B.3 Infeksi jamur Infeksi jamur secara umum dibedakan menjadi infeksi jamur sistemik dan topikal 1. Antijamur untuk infeksi topikal : griseofulvin. 1. nistatin.flukonazol. natamisin Antifungi dapat diklasifikasikan berdasarkan cara kerjanya ataupun strukrur kimiawinya. Infeksi jamur topikal (dermatofit dan mukokutan) 2.. Walaupun dapat dipakai peroral. oleh karena itu hanya digunakan pada kasus-kasus berta dan yang mengalami gangguan imunitas. Triazol lbih baik darisegi distribusi atau efek sampingnya lebih sedikit. kalium iodida 2. Golongan Polien Amfoterisin menyebabkan neprotoksik. flusitosin. tolnaftat. grup azol (ketokonazol. 2. itrakonazol). haloprogin. dan golongan lain. Hal ini menarik untuk di kaji dari segi distribusi karena keduaobat dapat sampai ke kulit. polien. Nistatin juga sangat toksik makahanya digunakan untuk pemakaian topical. imidazol. azol dengan 2nitrogen (N) disebut imidazol. asam undesilinat. dan dengan 3N disebut triazol. rambut dan kuku.Kalium Iodida 2. kandisidin.Golongan azol juga bekerja menghambat sintesis ergosterol. kuku.Terbinafin bekerja menghambat sintesis ergosterol. rambut yang sangat minim vaskularisasinya. Saat dipakai peroral nistatin hanya untuk infeksi Candidaalbican di mukosa GI dan pemberian secra lokal untuk terapi infeksi kulit dan vagina 3. Golongan Lain Terbinafin dan griseofulfin digunakan secara oral untuk infeksi jamur superficial dikulit.

sedangkan griseofulfin terikat dikeratin sehingga kulit resisten terhadap infeksi jamur 2. keringatan.  50% penderita yang mendapat dosis awal secara IV akan mengalami demam dan menggigil. Salah satu penyebab efek toksik yang ditimbulkan disebabkan oleh pengikatan kolesterol pada membran sel hewan dan manusia.  Flebitis (-) à menambahkan heparin 1000 unit ke dalam infus. Resistensi terhadap amfoterisin B mungkin disebabkan oleh terjadinya perubahan reseptor sterol pada membran sel. lesu.4 Profile infeksi jamur a. . sakit kepala. menggigil. Waktu paruh kira-kira 24-48 jam pada dosis awal yang diikuti oleh eliminasi fase kedua dengan waktu paruh kira-kira 15 hari. Mekanisme kerja Amfoterisin B berikatan kuat dengan sterol yang terdapat pada membran sel jamur sehingga membran sel bocor dan kehilangan beberapa bahan intrasel dan menyebabkan kerusakan yang tetap pada sel. Efek samping  Infus : kulit panas. hanya 3 % dari jumlah yang diberikan. nyeri otot. kejang dan penurunan faal ginjal. Ekskresi : obat ini melalui ginjal berlangsung lambat sekali. flebitis. Farmakokinetik Absorbsi : sedikit sekali diserap melalui saluran cerna. sehingga kadar mantapnya akan tercapai setelah beberapa bulan setelah pemberian. anoreksia.  infeksi jamur sistemik AMFOTERISIN B Amfoterisin A dan B merupakan hasil fermentasi streptomyces nodosus. demam.

  Asidosis tubuler ringan dan hipokalemia sering dijumpai à pemberian kalium.25 mg/kgBB) yang dilarutkan dalam dekstrose 5 % dan ditingkatkan bertahap sampai 0.  Secara umum dosis 0. pemberian dilakukan selama 6 minggu dan bila perlu dapat dilanjutkan sampai 3-4 bulan  Flusitosin adalah primidin sintetis yang telah mengalami fluorinasi Mekanisme kerja Flusitosin masuk ke dalam sel jamur dengan bantuan sitosin deaminase dan dalam sitoplasma akan bergabung dengan RNA setelah mengalami deaminasi menjadi 5Fluorourasil. Indikasi  Untuk pengobatan infeksi jamur seperti koksidioidomikosis.5 mg/kgBB cukup efektif untuk berbagai infeksi jamur.4-0. aspergilosis.Pemberian bersama makanan memperlambat penyerapan tapi jumlah yang diserap tidak berkurang.3-0. Sintesis protein sel jamur terganggu akibat penghambatan langsung sintesis DNA oleh metabolit fluorourasil Farmakokinetik  Absorbsi : diserap dengan cepat dan baik melalui saluran cerna.6 mg/kgBB sebagai dosis pemeliharaan. Penyerapan juga diperlambat pada pemberian bersama suspensi alumunium hidroksida/magnesium hidroksida dan dengan neomisin. Efek toksik terhadap ginjal dapat ditekan bila amfoterisin B diberikan bersama flusitosin. . Sediaan  Amfoterisin B injeksi tersedia dalam vial yang mengandung 50 mg bubuk Dosis  Pada umumnya dimulai dengan dosis yang kecil (kurang dari 0.   Amfoterisin B merupakan obat terpilih untuk blastomikosis. kromoblastomikosis dan kandidosis. Amfoterisin B secara topikal efektif terhadap keratitis mikotik.

 Distribusi :didistribusikan dengan baik ke seluruh jaringan dengan volume distribusi mendekati total cairan tubuh. diare dan enterokolitis yang hebat. Efek samping  Dapat menimbulkan anemia.4-4.8 jam dan sedikit memanjang pada bayi prematur tetapi dapat sangat memanjang pada penderita insufisiensi ginjal. Kadar ini lebih tinggi pada penderita infusiensi ginjal.    Mual.  Ekskresi : 90% flusitosin akan dikeluarkan bersama melalui filtrasi glomerulu dalam bentuk utuh. leukopenia. terutama pada penderita dengan kelainan hematologik. Indikasi   infeksi sistemik. pusing.   Ketokonazol Mekanisme kerja Seperti azole jenis yang lain. kebingungan. hepatomegali. kadar dalam urin berkisar antara 200-500µg/ml. Kira-kira 5% penderita mengalami peninggian enzim SGPT dan SGOT. mengantuk dan halusinasi. Farmakokinetik . dan penderita dengan riwayat pemakaian obat tersebut.muntah.  Kadar puncak dalam darah setelah pemberian per-oral dicapai 1-2 jam. ketoconazole berinterferensi dengan biosintesis ergosterol. karena selain kurang toksik obat ini dapat diberikan per oral. dan trombositopenia. yang sedang mendapat pengobatan radiasi atau obat yang menekan fungsi tulang. Penggunaannya sebagai obat tunggal hanya diindikasikan pada kromoblastomikosis Sediaan dan dosis   Flusitosin tersedia dalam bentuk kapsul 250 dan 500 mg Dosis yang biasanya digunakan ialah 50-150 mg/kgBB sehari yang dibagi dalam 4 dosis.  Masa paruh obat ini dalam serum pada orang normal antara 2. Terjadi sakit kepala. sehingga menyebabkan perubahan sejumlah fungsi sel yang berhubungan dengan membran.

Dosis 100 mg/hari selama 15 hari akan menghasilkan kadar puncak sebesar 0. Mual dan muntah merupakan ESO paling sering dijumpai ESO jarang : sakit kepala. Efek samping    Efek toksik lebih ringan daripada Amfoterisin B. Kehamilan dan laktasi Obat ini sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil karena pada tikus.pada pemberian bersama antasid.   Itrakanozol Mekanisme kerja Seperti halnya azole yang lain. Absorbsi : diserap baik melalui saluran cerna dan menghasilkan kadar plasma yang cukup untuk menekan aktivitas berbagai jenis jamur. sendi dan jaringan lemak. bila diberikan bersama dengan makanan. itraconazole berinterferensi dengan enzim yang dipengaruhi oleh cytochrome P-450. 14(-demethylase. vertigo. Penyerapan melalui saluran cerna akan berkurang pada penderita dengan pH lambung yang tinggi. tulang.   Distribusi Ekskresi : ketokonazol setelah diserap belum banyak diketahui. fotofobia. : Diduga ketokonazol diekskresikan bersama cairan empedu ke lumen usus dan hanya sebagian kecil saja yang dikeluarkan bersama urin. Interferensi ini menyebabkan akumulasi 14-methylsterol dan menguraikan ergosterol di dalam sel-sel jamur dan kemudian mengganti sejumlah fungsi sel yang berhubungan dengan membran Farmakokinetik  Itrakonazol akan diserap lebih sempurna melalui saluran cerna. dosis 80 mg/kgBB/hari menimbulkan cacat pada jari hewan coba tersebut. Sediaan dan dosis . Indikasi  Ketokonazol terutama efektif untuk histoplasmosis paru. parestesia. dan trombositopenia.5 µg/ml. erupsi kulit. nyeri epigastrik. gusi berdarah. semuanya dalam bentuk metabolit yang tidak aktif.  Waktu paruh eliminasi obat ini 36 jam (setelah 15 hari pemakaian).

parakoksidioidomikosis. Efek samping        Kemerahan. kandidiasis mulut dan tenggorokan serta tinea versikolor. parestesia 10-15% penderita mengeluh mual atau muntah tapi pengobatan tidak perlu dihentikan Indikasi  Itrakonazol memberikan hasil memuaskan untuk indikasi yang sama dengan ketokonazol antara lain terhadap blastomikosis.   Kadar puncak 4-8 µg dicapai setelah beberapa kali pemberian 100 mg. koksidiodimikosis. pusing. lesu. Kandisiasis vaginal dapat diobati dengan dosis tunggal 150 mg. Efek samping .     Itrakonazol tersedia dalam kapsul 100 mg. Sediaan dan dosis  Flukonazol tersedia untuk pemakaian per oral dalam kapsul yang mengandung 50 dan 150mg.   Flukanozol Farmakokinetik Obat ini diserap sempurna melalui saluran cerna tanpa dipengaruhi adanya makanan ataupun keasaman lambung. Infeksi berat mungkin memerlukan dosis hingga 400 mg sehari. edema.   Dosis yang disarankan 100-400 mg per hari. Pitiriasis versikolor memerlukan dosis 1 x 200 mg/hari selama 5 hari. Waktu paruh eliminasi 25 jam sedangkan ekskresi melalui ginjal melebihi 90% bersihan ginjal. pruritus. Untuk dermatofitosis diberikan dosis 1 x 100mg/hari selama 2-8 minggu Kandidiasis vaginal diobati dengan dosis 1 x 200 mg/hari selama 3 hari. histoplasmosis.

Dosis ditingkatkan 1 ml sehari sampai maksimal 12-15 ml. Indikasi  Flukonazol dapat mencegah relaps meningitis oleh kriptokokus pada penderita AIDS setelah pengobatan dengan Amfoterisin B.   Anti jamur untuk infeksi topikal Griseofulvin Griseofulvin adalah antibiotik anti jamur yang dihasilkan oleh sejumlah spesies Penicillium dan pertama kali diperkenalkan adalah berbentuk obat oral yang diperuntukkan bagi pengobatan penyakit dermatophytosis Mekanisme Kerja . namun terapi masih dilanjutkan sampai sedikitnya 4 minggu setelah lesi menghilang atau tidak aktif lagi b. Penyembuhan terjadi dalam 6-8 minggu. sindrom stevensJohnson.  Gangguan saluran cerna merupakan ESO paling banyak Reaksi alergi pada kulit. Obat ini juga efektif untuk pengobatan kandidiasis mulut dan tenggorokan pada penderita AIDS. eosinofilia.   Kalium iodida Kalium Iodida adalah obat terpilih untuk Cutaneous lymphatic sporotrichosis Efek samping        mual rinitis salivasi lakrimasi rasa terbakar pada mulut dan tenggorok iritasi pada mata sialodenitis dan akne pustularis pada bagian atas bahu DOSIS    Kalium iodida diberikan dengan dosis 3 kali sehari 1 ml larutan penuh (1g/ml).

neuritis perifer. .   Pada anak griseofulvin diberikan 10 mg/kgBB/hari Untuk dewasa 500-1000 mg/hari dalam dosis tunggal. eritema multiform. griseofulvin juga inhibitor (penghambat) bagi sintensis asam nukleat. Efek samping   Leukopenia dan granulositopenia à menghilang bila terapi dilanjutkan. muntah. Sediaan dan dosis  Griseofulvin tersedia dalam bentuk tablet berisi 125 dan 500 mg dan suspesi mengandung 125 mg/ml. mual. Griseofulvin à kelompok obat fungistatis yang mengikat protein-potein mikrotubular dan berperan untuk menghambat mitosis sel jamur. insomnia. Farmakokinetik  Griseofulvin kurang baik penyerapannya pada saluran cerna bagian atas karena obat ini tidak larut dalam air. dan Epidermophyton. rambut. diare dan flatulensi. berkurangnya kecakapan.  Waktu paruh obat ini kira-kira 24 jam.5 hanya akan menghasilkan kadar puncak dalam plasma kira-kira 1 µg/ml setelah 4 jam.  Pada kulit dapat terjadi urtikaria. Sakit kepala àkeluhan utama pada kira-kira 15% penderita yang biasanya hilang sendiri sekalipun pemakaian obat dilanjutkan. vesikula dan erupsi menyerupai morbili. dan kuku yang disebabkan oleh jamur Microsporum. 50% dari dosis oral yang diberikan dikeluarkan bersama urin dalam bentuk metabolit selama 5 hari.  artralgia.  Obat ini mengalami metabolisme di hati dan metabolit utamanya adalah 6- metilgriseofulvin. Indikasi  Efektif untuk infeksi jamur di kulit. demam.  Selain itu. pusing dan sinkop. pada saluran cerna dapat terjadi rasa kering mulut. pandangan mengabur. Tricophyton.Penyerapan lebih mudah bila griseofulvin diberikan bersama makanan berlemak  Dosis oral 0. reaksi fotosensitivitas.

50% dari dosis oral yang diberikan dikeluarkan bersama urin dalam bentuk metabolit selama 5 hari. mual. Farmakokinetik  Griseofulvin kurang baik penyerapannya pada saluran cerna bagian atas karena obat ini tidak larut dalam air. pada saluran cerna dapat terjadi rasa kering mulut. muntah. diare dan flatulensi. demam.Penyerapan lebih mudah bila griseofulvin diberikan bersama makanan berlemak  Dosis oral 0.  Waktu paruh obat ini kira-kira 24 jam.5 hanya akan menghasilkan kadar puncak dalam plasma kira-kira 1 µg/ml setelah 4 jam.  Selain itu. neuritis perifer. Hasil memuaskan akan tercapai bila dosis yang diberikan dibagi empat dan diberikan setiap 6 jam Kontraindikasi  Griseofulvin bersifat kontraindikasi pada pasien penderita penyakit liver karena obat ini menyebabkan kerusakan fungsi hati   Imidazol dan Triazol Griseofulvin adalah antibiotik anti jamur yang dihasilkan oleh sejumlah spesies Penicillium dan pertama kali diperkenalkan adalah berbentuk obat oral yang diperuntukkan bagi pengobatan penyakit dermatophytosis Mekanisme Kerja  Griseofulvin à kelompok obat fungistatis yang mengikat protein-potein mikrotubular dan berperan untuk menghambat mitosis sel jamur.  Obat ini mengalami metabolisme di hati dan metabolit utamanya adalah 6- metilgriseofulvin. berkurangnya kecakapan. . griseofulvin juga inhibitor (penghambat) bagi sintensis asam nukleat.  artralgia. Efek samping   Leukopenia dan granulositopenia à menghilang bila terapi dilanjutkan. pandangan mengabur. Sakit kepala àkeluhan utama pada kira-kira 15% penderita yang biasanya hilang sendiri sekalipun pemakaian obat dilanjutkan. insomnia. pusing dan sinkop.

. reaksi fotosensitivitas. dan kuku yang disebabkan oleh jamur Microsporum. tetapi mampu melakukan penetrasi yang baik ke dalam peritoneal dan cairan persendian. eritema multiform.. Indikasi  Efektif untuk infeksi jamur di kulit. vesikula dan erupsi menyerupai morbili.  Kurang dari 1% dosis parenteral diekskresi di dalam urin dengan komposisi yang tidak berubah. Konsentrasi di dalam CSF tidak begitu banyak. rambut. Tricophyton. dan Epidermophyton. namun 40% dari total dosis oral dieliminasi melalui kotoran dengan komposisi yang tidak berubah pula. Mekanisme Kerja  Mikonazol menghambat sintesis ergosterol yang menyebabkan permeabilitas membran sel jamur meningkat Farmakokinetik   Daya absorbsi Miconazole melalui pengobatan oral kurang baik. Hasil memuaskan akan tercapai bila dosis yang diberikan dibagi empat dan diberikan setiap 6 jam MIKONAZOL  Mikonazol merupakan turunan imidazol sintetik yang relatif stabil.    Pada anak griseofulvin diberikan 10 mg/kgBB/hari Untuk dewasa 500-1000 mg/hari dalam dosis tunggal. mempunyai spektrum ani jamur yang lebar baik terhadap jamur sistemik maupun jamur dermatofit. Sediaan dan dosis  Griseofulvin tersedia dalam bentuk tablet berisi 125 dan 500 mg dan suspesi mengandung 125 mg/ml. Miconazole sangat terikat oleh protein di dalam serum. Pada kulit dapat terjadi urtikaria.

Sediaan dan dosis  Obat ini tersedia dalam bentuk krem 2% dan bedak tabur yang digunakan 2 kali sehari selama 2-4 minggu. Indikasi  Krem 2 % untuk penggunaan intravaginal diberikan sekali sehari pada malam hari untuk mendapatkan retensi selama 7 hari. tinea versikolor. . Tidak satupun dari metabolit yang dihasilkan bersifat aktif Indikasi  Diindikasikan untuk dermatofitosis.  Gel 2% tersedia pula untuk kandidiasis oral. Efek samping  Berupa iritasi dan rasa terbakar dan maserasi memerlukan penghentian terapi. Miconazole dimetabolisme oleh liver dan metabolitnya diekskresi di dalam usus dan urin. dan kandidiasis mukokutan.

. Antifungi dapat diklasifikasikan berdasarkan cara kerjanya ataupun strukrur kimiawinya 3.BAB III PENUTUP 3. Terima kasih. Kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan.1 Kesimpulan Mengingat tempat infeksi jamur di daerah yang vaskularisasinya (aliran darah) sangat rendah maka pemberian obat secara topical penting. Dengan demikian sangat penting adanya antifungi sangat lokal maupun antifungi sistemik.2 Saran Semoga apa yang kami sampaikan bisa bermanfaat.

scribd.com/2010/11/anti-jamur.DAFTAR PUSTAKA     http://kumpulan-farmasi.scribd.com/p/pengertian-obat-anti-jamur.html http://www.com/doc/47866355/MAKALAH-FARMAKOLOGI-2-EDIT http://www.html .com/doc/77099215/Antimikroba http://ikesutiyaningsih.blogspot.blogspot.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful