P. 1
radiologi hsg

radiologi hsg

|Views: 82|Likes:
Published by hannidjunadi
hsg
hsg

More info:

Categories:Types, Resumes & CVs
Published by: hannidjunadi on Mar 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/10/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN I.

1 Latar Belakang Fertilitas (kesuburan) adalah kemampuan seorang istri untuk menjadi hamil dan melahirkan anak hidup oleh suami yang mampu menghamilinya. Jadi, fertilitas adalah fungsi satu pasangan yang sanggup menjadikan kehamilan dan kelahiran anak hidup. Berdasarkan definisi diatas maka dapatlah dimengerti bahwa untuk menghasilkan keturunan, penilaian terhadap kesuburan tidak hanya dilakukan sepihak, namun kedua belah pihak. Baik itu dari istri maupun suami. Terjadinya suatu konsepsi membutuhkan berfungsinya berbagai sistem fisiologik secara memadai pada kedua pasangan. Infertilitas (ketidaksuburan) dapat terjadi akibat suatu defisiensi mayor (misalnya penyumbatan tuba) atau berbagai defisiensi minor. Sebelum dan sesudahnya tidak seorangpun tahu, apakah pasangan itu fertil atau tidak. Riwayat fertilitas sebelumnya sama sekali tidak menjamin fertilitas di kemudian hari, baik pada pasangan itu sendiri, maupun berlainan pasangan. Disebut infertilitas primer kalau istri belum pernah hamil walaupun bersenggama dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan. Disebut infertilitas sekunder kalau istri pernah hamil, akan tetapi kemudian tidak terjadi kehamilan lagi walaupun bersenggama dan dihadapkan kepada kemungkinan kehamilan selama 12 bulan. Mengingat sangat kompleksnya proses reproduksi, sungguh mengherankan bahwa 80 % pasangan mencapai konsepsi dalam waktu satu tahun. Lebih tepatnya, 25 % mengalami konsepsi dalam bulan pertama, 60 % dalam 6 bulan, 75 % pada 9 bulan dan 90 % pada 18 bulan. Laju konsepsi bulanan yang terus menurun yang diperlihatkan oleh angka-angka ini kemungkinan besar mencerminkan rentang spektrum fertilitas dari pasangan yang sangat subur hingga pasangan dengan infertilitas relatif. Infertilitas dipengaruhi oleh berbagai faktor antara lain: 1. Faktor laki – laki (produksi sperma cacat, kesulitan inseminasi), 30 – 40 %. 2. Faktor ovulasi, 5 – 25 %.

3. Faktor tuba atau uterus, 15 – 25 %. 4. Faktor serviks / imunologik, 5 – 10 %. 5. Tidak dapat dijelaskan setelah investigasi, 10 – 25 %. Pada seperempat kasus diyakini terdapat lebih dari satu faktor yang terlibat. Diantara pelbagai faktor penyebab tersebut ada yang bisa dicegah dan diobati. Karena itu, pemeriksaan dini kesehatan reproduksi bagi pria dan wanita perlu dalam upaya mendapatkan keturunan. Dari latar belakang diatas, maka dapat diketahui bahwa fertilitas dipengaruhi oleh banyak faktor. Investigasi dan evaluasi sebaiknya dilakukan untuk mengetahui etiologi dan menyingkirkan kemungkinan-kemungkinan lain. Hysterosalpingografi merupakan salah satunya. Dengan pemeriksaan radiologis yang menggunakan bahan kontras ini dapat ditegakkan diagnosa infertilitas karena adanya kelainan pada tuba fallopii atau uterus. I.2 Perumusan Masalah Dari latar belakang diatas dapatlah ditarik suatu pokok permasalahan yaitu bagaimana cara menegakkan diagnosa infertilitas dengan pemeriksaan Hysterosalpingografi. I.3 Tujuan Penulisan Tujuan penulisan referat ini adalah untuk mengetahui pemeriksaan Hysterosalpingografi pada infertilitas.

Sekalipun pembuahan terjadi. “fertilitas wanita”. sistem reproduksi pria dan wanita secara anatomik dan secara fisiologi harus utuh. Faktor serviks / imunologik. Faktor – faktor yang mungkin mempengaruhi infertilitas pasangan sangat bergantung pada keadaan lokal. Infertilitas (ketidaksuburan) bisa berasal dari suami. 3. 30 – 40 %. dan prosedur rujukan. Faktor ovulasi. Faktor laki – laki (produksi sperma cacat. 5. dan koitus harus cukup sering dilakukan agar air mani dapat diendapkan dalam selang waktu yang dekat dengan pelepasan oosit dari folikel. populasi yang di investigasi. Karena itu tidak mengherankan bila 10 sampai 15 % pasangan mengalami infertilitas. diikuti dengan pemindahan konseptus ke rongga rahim pada saat endometrium dapat memberi sokongan terhadap kelanjutan perkembangannya dan implantasi. 4. Jadi. lebih dari 40 % embrio yang dihasilkannya bersifat abnormal dan tidak berkembang atau tidak dapat hidup sesaat setelah implantasi. Dengan demikian tidak ada istilah “fertilitas pria”. istri atau kedua-duanya. Tidak dapat dijelaskan setelah investigasi. 5 – 10 %. ataupun “infertilitas wanita” mengingat fertilitas dan infertilitas itu merupakan kemampuan sepasang suami istri sebagai satu kesatuan biologik. “infertilitas pria”. 5 – 25 %. fertilitas adalah fungsi satu pasangan yang sanggup menjadikan kehamilan dan kelahiran anak hidup. Faktor tuba atau uterus. Pada seperempat kasus diyakini terdapat lebih dari satu faktor yang terlibat. 2. 15 – 25 %. kesulitan inseminasi). . Konsepsi membutuhkan penjajaran gamet pria dan wanita pada stadium pematangannya yang optimal. 10 – 25 %. Agar peristiwa ini terjadi.BAB II TINJAUAN PUSTAKA Suatu pasangan mungkin akan mengalami kesulitan mendapatkan keturunan apabila selama setahun berhubungan badan secara normal tanpa kontrasepsi tetapi tidak terjadi kehamilan. Analisis yang dilaporkan oleh beberapa klinik yang meliputi jumlah pasien yang banyak dalam dua dekade lalu adalah sebagai berikut: 1. Fertilitas sendiri mengandung arti kemampuan seorang istri untuk menjadi hamil dan melahirkan anak hidup oleh suami yang mampu menghamilkannya.

Adanya sumbatan saluran sperma dan infeksi secara tidak langsung dapat menyebabkan gangguan kesuburan pria. Endometriosis gejala klinisnya disertai rasa sakit dan akan timbul bila daya tahan tubuh wanita menurun. • Selain itu ada juga Endometriosis. maka perlu dilakukan berbagai investigasi pada pasangan yang mengeluh sulit untuk memperoleh keturunan. burung). • • Kelainan fungsi reproduksi wanita seperti ada tumor di kandungan. terdapat perlengketan jaringan dalam rongga di sekitar indung telur atau di dalam tuba fallopi – atau akibat adanya infeksi. Herpes dan jamur. Citomegalo-virus. Untuk menyingkirkan berbagai etiologi yang mempengaruhi infertilitas. Adanya kerusakan organ tubuh bagian dalam akibat kecelakaan atau berolahraga. Rubella. Ketidakteraturan ini merupakan faktor infertilitas yang sering terjadi pada wanita. Setiap . Pengeluaran telur yang tidak teratur dipengaruhi hormon.Pendapat lain juga menjelaskan berbagai macam faktor yang mempengaruhi infertilitas: A. Infertilitas pria • • • • • Pada pria terjadi jumlah sperma yang sedikit dan sperma tidak dapat “berlari” menembus sel telur. dipinggul dsb. yaitu jaringan rahim endometrium keluar menyeberang saluran indung telur dan bebas berkeliaran di luar rahim. yaitu Toksoplasma (parasit yang biasa menumpang hidup pada hewan piaraan seperti kucing. atau kanker. ketidakseimbangan hormon wanita Infeksi yang dikenal dengan istilah TORCH. Infertilitas wanita • • Banyak wanita yang masa suburnya tidak teratur. anjing. di rongga perut. yang kesemuanya bisa menggagalkan kehamilan. Kelainan genetik dan kerusakan pada testis yang disebabkan virus atau bahan kimia di lingkungan sekitar. B. Impotensi dan komplikasi atau efek samping suatu penyakit seperti diabetes. tumor testis.

kemudian dilakukan pemeriksaan untuk memastikan apakah wanita tersebut menghasilkan sel telur (ovulasi) dan memeriksa apakah tuba fallopii tersumbat. 4. Pemeriksaan ovulasi meliputi :  Memeriksa suhu badan melalui mulut setiap pagi waktu bangun tidur dan mencatatnya dalam suatu grafik khusus (tanda ovulasi apabila terjadi sedikit kenaikan suhu badan pada pertengahan siklus haid). masalah menstruasi. pernah mengalami peradangan rongga panggul atau rongga perut. dan d. Istri yang berumur antara 31 – 35 tahun dapat diperiksa pada kesempatan pertama pasangan itu datang ke dokter. Cairan yang akan diperiksa sebaiknya dikumpulkan kedalam tabung plastik setelah 3 hari tidak berhubungan badan dan diperiksa dalam beberapa jam setelah dikumpulkan. diketahui mengidap kelainan endokrin c.  Memeriksa perubahan cairan leher rahim. gangguan ereksi). maka tidak diperlukan lagi pemeriksaan pada wanita. Kemudian dilakukan pemeriksaan darah untuk meneliti ketidakseimbangan hormon tertentu. mengandung sperma yang cukup (lebih dari 20 juta per ml) dan sebagian besar (50 %) harus dalam keadaan aktif dan selalu bergerak. Tahap selanjutnya biasanya analisa cairan semen karena bila didalam semen tidak terdapat sperma. Istri yang berumur antara 20 – 30 tahun baru akan diperiksa setelah berusaha untuk mendapat anak selama 12 bulan. 3.  Memeriksa indung telur dengan ultrasonografi pada masa ovulasi.pasangan infertil harus diperlakukan sebagai satu kesatuan. Adapun syarat – syarat pemeriksaan pasangan infertil adalah sebagai berikut: 1.  Memeriksa kadar hormon tertentu dalam darah.  Sumbatan pada tuba fallopii bisa diketahui dengan cara menyuntikkan zat pewarna khusus kedalam rahim (uterus). Apabila hasil pemeriksaan semen normal. Cairan semen yang normal seharusnya terkumpul dalam jumlah yang cukup (3 ml). pernah mengalami keguguran berulang b. Itu berarti kalau istri saja yang diperiksa sedangkan suami tidak diperiksa maka pasangan itu tidak diperiksa. pernah mengalami bedah ginekologik 2. Pemeriksaan infertilitas tidak dilakukan pada pasangan infertil yang salah satu anggota pasangannya mengidap penyakit yang dapat membahayakan kesehatan istri atau anaknya. Istri pasangan infertil yang berumur antara 36 – 40 tahun hanya dilakukan pemeriksaan infertilitas kalau belum mempunyai anak dari perkawinan ini. Pemeriksaan dapat dilakukan lebih dini apabila : a. Dengan alat sinar X atau dengan • • • . Berikut adalah pemeriksaan yang dilakukan pada pasangan infertil: • Pemeriksaan infertilitas seharusnya mengikutsertakan kedua pasangan dan selalu dimulai dengan riwayat medis secara lengkap dan riwayat reproduksi (misal paparan terhadap penyakit kelamin.

Tindakan bedah bisa dilakukan untuk menghilangkan penyumbatan tuba. bisa terlihat sejumlah sperma yang bergerak aktif. Pengobatan pada infertilitas berupa pengenalan dan perbaikan dari penyebab dasar infertilitas. maka bisa dilihat aliran zat pewarna tersebut melalui rahim dan keluar dari tuba. Infeksi pelvis. Cairan leher rahim diambil dalam 6 jam setelah berhubungan badan dan diperiksa dibawah mikroskop. • Untuk melihat apakah cairan leher rahim dari wanita tersebut bersifat melawan sperma. maka perlu pemeriksaan sesudah hubungan badan (post-coital) pada saat mendekati masa ovulasi. .peralatan laparoskop (yang dimasukkan melaui dinding perut untuk memeriksa isi rongga perut). Mungkin diperlukan obat untuk memacu ovulasi. Cara pembuahan in-vitro (bayi tabung) dan inseminasi buatan mungkin merupakan pilihan yang terbaik bagi pasangan. endometriosis dan ketidakseimbangan hormon akan memerlukan pengobatan yang khusus. Pada keadaan normal.

Biasanya. III. sialografi. Hal ini menyatakan bahwa HSG dapat mempunyai aplikasi terapi. HSG juga dapat memberikan gambaran dari cavum uteri dan mendeteksi adanya abnormalitas uterus yang juga dapat menyebabkan infertilitas atau keguguran yang berulang. Sekarang oleh ahli radiologi di Indonesia lebih banyak di pakai bahan kontras cair dalam air. Hipotesis tersebut menyatakan bahwa setelah pemberian. Suatu penelitian terbatas menyatakan bahwa fertilitas meningkat setelah HSG dilakukan dengan kontras minyak. Penggunaan urografin 60 % (meglumin diatrizoate 60 % atau . mucus menghilang dan kemampuan otot polos meningkat. kebanyakan HSG dilakukan hanya untuk tujuan diagnostik karena efek terapeutiknya yang masih kontroversial. adhesi berkurang. Bahan kontras ini juga dipakai untuk limfografi. fistulografi dan untuk saluran-saluran yang halus misalnya saluran air mata. Tapi.BAB III PEMBAHASAN III. Pada kasus infertilitas pemeriksaan ini bertujuan untuk mendiagnosa ada atau tidaknya sumbatan pada salah satu atau kedua tuba fallopii yang dapat menghambat penyatuan sperma dan sel telur.1 Deskripsi Pemeriksaan Hysterosalpingografi (HSG) adalah pemeriksaan X-ray dari tuba fallopii dan uterus dengan menggunakan kontras yang diinjeksikan melalui cervik uteri. Disamping itu. Kadang pemeriksaan ini dilakukan untuk mendiagnosa penyebab nyeri pelvis yang berasal dari dalam uterus atau memberikan informasi keberhasilan operasi tuba beberapa minggu atau bulan pasca operasi. Kekurangan lipiodol ialah bahwa resorpsi kembali berlangsung lama sekali jika kontras ini masuk ke dalam rongga peritoneum. HSG dilakukan 2 – 5 hari setelah menstruasi berakhir dan sebelum ovulasi untuk memastikan bahwa pasien tidak dalam keadaan hamil saat prosedur dilakukan.2 Bahan Kontras Pada tahun-tahun yang terakhir ini dipakai juga bahan kontras lipiodol ultrafluid untuk pemeriksaan HSG. fungsi cavum uteri meningkat.

adenomatorus. Kelainan bawaan uterus atau adhesi bila kanalis servisis dan cavum uteri yang dapat menyebabkan abortus. Setelah curettage atau dilatasi kanalis servisis. Sterilitas primer maupun sekunder. Bahan kontras ini sifatnya encer. Perdarahan pervaginam yang berat. 5. yaitu : 1. 3. Untuk menentukan apakah IUD (Intra Uterine Device) masih ada dalam cavum uteri. polip endometrium. Lipiodol ultrafluid :  urografin 60% (meglumin diatrizoate 60% atau sodium diatrizoate 10%)  hipaque 50% (sodium diatrizoate)  endografin (meglumine iodipamide)  diaginol viscous (sodium acetrizoate plus dextran)  Salpix (sodium acetrizoate plus polyvinyl pyrolidone)  isopaque (metrizoate) III. III. Hamil muda. karena bahaya terjadinya abortus.sodium diatrizoate 10 %).4 Kontra Indikasi HSG 1. misalnya yang disebabkan mioma uteri. Proses inflamasi yang akut pada abdomen. dengan HSG dapat diketahui lebar dan konfigurasi uteri internum. 4. Abortus habitualis dalam trimester II. Pada perdarahan pervaginam sedikit. 2. 3. 6. Tumor maligna cavum uteri. 4. 2. memberikan opasitas yang memuaskan dan mudah masuk kedalam tuba dan menimbulkan pelimpahan kontras kedalam rongga peritoneum dengan segera. Penyakit ginjal dan jantung yang lanjut . 5. untuk melihat potensi tuba.3 Indikasi HSG Indikasi HSG yang paling sering ialah dalam bidang ginekologi.

Keluhan utama ialah rasa nyeri pada waktu pemeriksaan dilakukan. dapat ahli radiology atau ginekolog akan memasukkan speculum kedalam vagina.6 Prosedur Pelaksanaan Sebelum pemeriksaan dilaksanaan. lalu kontras di injeksikan kedalam uterus • • • Kontras akan mengisi uterus dan tuba fallopii dan akhirnya akan tumpah memenuhi cavum pelvis disekeliling uterus dan tuba Beberapa foto akan diambil selama pemeriksaan berlangsung Pemeriksaan dapat dilakukan dengan menggunakan fluoroskopi. Asma Sedang dalam terapi Kelainan perdarahan Jika pasien mempunyai infeksi pelvis. obat – obatan atau makanan. III. tanyakan apakah pasien mempunyai riwayat : • • • • Alergi terhadap bahan X-ray.III. sebaiknya diberikan antibiotik sebelum tes dilakukan. Rasa nyeri ini akan hilang sendiri dalam beberapa jam.5 Komplikasi HSG Umumnya komplikasi HSG hanya ringan saja. Kadang-kadang timbul keadaan pra-renjatan (pre-shock) karena pasien sensitiv terhadap kontras. menempatkan sebuah tabung kedalam servik. Prosedur : • • Pasien diminta membuka pakaian dan berbaring pada meja pemeriksaan Kemudian pemeriksa. .

daerah vulva dibersihkan dengan betadine Speculum dimasukkan ke dalam vagina secara perlahan Cervix dibersihkan menggunakan kassa steril dan betadine Sonde uterus digunakan untuk mengetahui arah fleksi dan dalamnya cavum uteri Cateter yang digunakan adalah polycateter yang mempunyai dua cabang pada pangkalnya. jika tidak terlihat maka tambahkan lagi bahan kontras 1 cc Setelah terlihat spill maka balon cateter dikempiskan dan cateter dilepaskan perlahanlahan lalu di ekspos . speculum vagina dilepas perlahan-lahan Kaki pasien diluruskan dan pasien digeser perlahan ke arah cranial (pertengahan meja) Fluoroscopy pada bagian pelvis.pada saat memasukkan cateter dibantu dengan alat cocor bebek dan lampu sorot Setelah cateter fix. satu untuk memasukkan udara sehingga menahan bahan kontras agar tidak keluar.TEKNIK PEMERIKSAAN HSG MENGGUNAKAN CATETER • • • • • • • • • • • • Pasien tidur supine di atas meja pemeriksaan.5 cc. dan menentukan apakah kedua tuba uterine terisi bahan kontras atau belum. sambil memasukkan bahan kontras yang telah terisi didalam spuit 10 cc Bahan kontras dimasukkan kira-kira 3 cc sampai terlihat spill sehingga dapat terlihat cavum uteri. cabang yang kedua untuk memasukkan bahan kontras. balon dikembangkan dengan mengisi udara sebanyak 1. kemudian cateter ditarik untuk memastikan balon telah menatap dan sempurna. bagian bokong diberi alas kain steril Pasien diposisikan lithotomi. Poly cateter dimasukkan perlahan sampai canalis cervikalis.

3. lalu di eksposi 2. kedua tangan di atas kepala. Posisi Oblique ke arah kanan . panggul bagian kanan merapat ke meja pemeriksaan. panggul bagian kiri diangkat kirakira 45º. Posisi Obliqu  Posisi pasien kira-kira 45º. tungkai bawah kiri lurus. posisi sama dengan plan foto III. kedua tangan diatas kepala.8 Gambar dan Kriteria Gambar 1. pervis rapatpada meja pemeriksaan. tampak gambaran corpus uteri dan spill pada peritoneal cavity ( rongga peritoneal ).  Kaset ukuran : 18X24 cm dipasang melintang  CR : diarahkan pada pertengahan antara SIAS dan sympisis pubis e ke arah kiri : supine. Antero Posterior  Posisi pasien : supine diatas meja pemeriksaan dengan kedua tungkai lurus.  Kaset ukuran : 18X24 cm diletakkan melintang : diarahkan pada pertengahan antara SIAS dengan sympisis pubis  CR Pembersihan bahan kontras. meja pemeriksaan diposisikan trendelenberg  Kaset ukuran : 18X24 cm dipasang melintang  Bahan kontras : disuntikkan 2-5 cc  CR : pada symphisis pubis. 2. panggul bagian kiri merapat ke meja pemeriksaan. panggul bagian kanan diangkat bagian kanan. kedua tangan diatas kepala. Posisi Oblique kearah kanan  Posisi pasien : supine. Antero Posterior View Criteria gambar yang tampak adalah tampak pengisian bahan kontras kedalam tuba fallopi. meja dalam keadaan trendelenberg. tungkai kanan lurus.III.7 Teknik radiografi 1. posisi meja trendelenberg.

Nyeri atau rasa kram yang moderat mungkin dapat timbul beberapa jam setelah beberapa jam post pemeriksaan 3. atau tampon vagina sebaiknya ditunda hingga 48 jam setelah prosedur.Criteria gambar yang tampak adalah tampak pada pengisian bahan kontras pada cavum uteri. dan spill pada rongga peritoneum..9 Efek Samping Hal-hal yang mungkin timbul setelah pemeriksaan Hysterosalpingografi antara lain: 1. . Gejala-gejala ini sebaiknya dilaporkan kepada dokter jika menetap lebih dari beberapa jam. Pemakain semprot. Posisi Oblique ke arah kiri Criteria gambar yang tampak adalah tampak pengisian bahan kontras pada cavum uteri. Demam atau nyeri yang persisten dapat merupakan indikasi berkembangnya infeksi. tuba uterine. Bercak darah pervaginal selama beberapa hari 2. 3. 4. III. tuba uterus bagian kanan dan kiri serta spill di sekitar fimbrae. sanggama.

.

.

.

.

.

.

salah satunya adalah dengan Hysterosalpingofrafi (HSG). 5 – 25 %  Faktor tuba atau uterus.  Hal-hal yang dapat mempengaruhi infertilitas antara lain :  Faktor laki-laki (produksi sperm cacat.BAB IV KESIMPULAN  Fertilitas (kesuburan ) adalah kemampuan seorang istri untuk menjadi hamil dan melahirkan anak hidup oleh suami yang mampu menghamilinya. sebaiknya dilakukan investigasi dan evaluasi agar diagnosa dapat ditegakkan. 5 – 10 %  Tidak dapat dijelaskan setelah investigasi.  Hysterosalpingografi adalah pemeriksaan X-ray dari tuba fallopii dan uterus dengan menggunakan kontras yang diinjeksikan melalui servik uteri. HSG juga dapat memberikan gambaran dari cavum uteri dan mendeteksi adanya abnormalitas uterus yang juga dapat menyebabkan infertilitas dan keguguran berulang. 10 – 25 %  Untuk mengetahui etiologi infertilitas pada satu pasangan. Disamping itu. . 30 – 40 %  Faktor ovulasi. kesulitan inseminasi). Pada kasus infertilitas pemeriksaan ini bertujuan untuk mendiagnosa ada atau tidaknya sumbatan pada salah satu atau kedua tuba fallopii -yang dapat menghambat penyatuan sperma dan sel telur.  Berbagai macam tes dan pemeriksaan dapat dilakukan untuk mengetahui etiologi dari infertilitas. 15 – 25 %  Faktor serviks / imunlogik.

1995.Com Edisi Senin.Com. Infertilitas. Ilmu Kandungan. Jakarta . Infokes. Hipokrates Derek Llwellyn – Jones.Com. Hal 309 – 321. Kompas-Online Edisi Jum’at. Sistem reproduksi wanita. Meldrum. Ed. Hal 234 – 238. Jakarta Infokes. Infertilitas. 16 Oktober 2000 Kompas-Online. Kemandulan. 2003.DAFTAR PUSTAKA Abington Reproductive Medicine. Hipokrates EcureMe. 1995. Hysterosalpingography David E. Infertilitas. 2. Dasar – dasar obstetrik dan ginekologi. Radiologi Diagnostik FKUI. 1997. 2000. 6. Hal 598 – 610. Ed. Ed. Yayasan Bina Pustaka Sarwono prawirohardjo. Gaya baru. Hal 496 – 533. 2002. Essensial Obstetri dan ginekologi. Pelbagai penyebab kemandulan.Com. 2. Hysterosalpingogram Gani Ilyas & Sudarmo Saleh Purwohudoyo. 28 Juni 2002 Suradji Sumapraja.Com. 2000. 2002.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->