BAB I PENDAHULUAN 1.1.

Latar Belakang Dalam rangka menghadapai swasembada daging sapi tahun 2010 diperlukan peningkatan populasi sapi potong secara nasional dengan cara meningkatkan jumlah kelahiran pedet dan calon induk sapi dalam jumlah besar. Salah satu faktor penyebab rendahnya perkembangan populasi sapi adalah manajemen perkawinan yang tidak tepat, yakni: (1) pola perkawinan yang kurang benar, (2) pengamatan birahi dan waktu kawin tidak tepat, (3) rendahnya kualitas atau kurang tepatnya pemanfaatan pejantan dalam kawin alam dan (4) kurang terampilnya beberapa petugas serta (5) rendahnya pengetahuan peternak tentang kawin suntik/IB. Perkawinan adalah suatu usaha untuk memasukan sperma ke dalam alat kelamin betina. Perkawinan pertama seekor sapi perah dara tergantung pada 2 faktor utama yaitu umur dan berat badan. Apabila perkawinan sapi perah dara terlalu cepat dengan kondisi tubuh yang terlalu kecil, maka akibat yang terjadi adalah : (a) Kesulitan melahirkan, (b) Keadaan tubuhnya yang tetap kecil nantinya setelah menjadi induk sehingga dapat berakibat kemandulan dan rendahnya produksi susu. Sapi perah dara sudah siap dikawinkan setelah mencapai umur 15 - 18 bulan, Hal tersebut disebabkan karena sapi yang bersangkutan telah mendapatkan pakan yang cukup dan mencapai berat badan yang di kehendaki. Perkawinan sapi perah dara di Indonesia tidak disarankan menggunakan IB, sebab dapat dikhawatirkan pada waktu pertama kali beranak dan masih dalam fase pertumbuhan tersebut akan mengalami kesulitan sewaktu melahirkan karena besar pedet hasil IB yang dilahirkan. IB baru dianjurkan pada induk-induk sapi PFH yang beranak untuk kedua kalinya sampai seterusnya. Sapi perah dara FH dan Brown Swiss memerlukan berat badan 350 kg - 375 kg untuk perkawinan yang pertama, PFH pada berat 275 kg. Sedangkan Guernsey dan Aryshire pada berat badan 250 - 275 kg dan Jersey pada berat badan lebih kurang 225 kg.

1

(1982) pada beberapa keadaaan. Walaupun umur dari sapi dara sudah cukup untuk dikawinkan atau dengan kata lain sudah mengalami dewasa tubuh tidak berarti mengalami dewasa kelamin. yaitu dengan melihat bobot badan sebagai acuan bahwa sapi dara tersebut sudah dewasa kelamin. Intensifikasi Kawin Alam ini dapat dilakukan oleh berbagai macam cara. 2006).1. perkawinan betina sengaja ditunda dengan maksud agar induk tidak terlalu kecil waktu melahirkan. karena kelahiran yang tidak normal banyak terdapat pada sapi-sapi yang baru pertama kali melahirkan.BAB II PEMBAHASAN 2. Terlebih dahulu pejantan mendeteksi kondisi berahi betina dengan menjilati atau membau di sekitar organ reproduksi betina bagian luar setelah itu pejantan melakukan penetrasi. Induk yang terlalu kecil pada waktu melahirkan maka kemungkinan akan terjadi distokia. Menurut Lindsay et al. Sistem Perkawinan Sapi Perah Dara Sistem perkawinan merupakan sebuah gambaran dari beberapa metode perkawinan untuk program pengembakbiakan sapi.diantaranya adalah : 2 . melainkan diperiksa kondisi fisiologinya. Hal ini berarti bahwa bobot badan lebih berperan terhadap pemunculan pubertas daripada umur ternak. Masa berahi seekor sapi cukup singkat. Perkawinan Alami Perkawinan alami dilakukan oleh seekor pejantan yang langsung memancarkan sperma kedalam alat reproduksi betina dengan cara kopulasi. Umur ternak betina pada saat pubertas mempunyai variasi yang lebih luas daripada bobot badan pada saat pubertas (Nuryadi. maka perlu pengamatan secara teliti terhadap tanda . Sistem perkawinan sapi perah dapat dilakukan dengan dua cara: 1. Alasan bahwa sapi dara harus mengalami dewasa kelamin adalah membantu dalam proses kelahiran. Umur dan bobot badan pubertas dipengaruhi oleh faktor-faktor genetik.tanda berahi seekor ternak agar program perkawinan dapat berjalan sesuai rencana. Sapi dara yang berahi tidak langsung dikawinkan.

Bila ada sapi yang birahi tanpa campur tangan manusia akan terjadi perkawinan. Melalui inseminasi buatan (IB). 3 . Tujuan Inseminasi Buatan      Memperbaiki mutu genetika ternak. Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama. Cara yang lain yaitu “Pastura Mating”. Untuk melaksanakan perkawinan perlu diperhatikan waktu yang tepat agar betina dapat terjadi bunting (konsepsi). Menurut kejadian alamnya. Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin. Perkawinan Buatan Perkawinan buatan sering dikenal dengan Inseminasi Buatan (IB) atau Artificial Insemination (AI) yaitu dengan cara memasukkan sperma kedalam saluran reproduksi betina dengan menggunakan peralatan khusus (Blakely dan Bade. sapi tersebut menunjukkan gejala-gejala berahi dan mencocokkan data yang ada dalam satu siklus. perkawinan hanya mungkin terjadi antara sapi jantan dan sapi betina birahi yang merupakan periode sapi betina mau menerima sapi jantan. Cara pengaturan perkawinan pada sapi dapat dilakukan dengan pengaturan sepenuhnya oleh manusia yang disebut “Hand Mating”. 1998).    Perkawinan model kandang individu Perkawinan model kandang kelompok Perkawinan model mini Ranch (paddock) Perkawinan padang pengembalaan (angonan) Hasil perkawinan alam ini tidak diragukan keberhasilanya. di mana pemeliharaan yang jantan dan betina dipisah dan bila ada betina yang birahi diambilkan pejantan untuk mengawininya. 2. Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur. dimana sapi jantan dan betina dewasa pada musim kawin dilepas secara bersama. Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya. Saat optimum terjadinya konsepsi pada ternak sapi adalah pertengahan estrus sampai akhir estrus.

pagi hari dan sore/malam hari. jika sapi tersebut mengalami infeksi pada bagian cervic. Dalam pelaksanaan deteksi berahi bagi para inseminator maupun peternak sukar untuk dapat mengetahui saat yang tepat awal terjadinya estrus (berahi).Keuntungan Inseminasi Buatan (IB)        Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan. Menurut Ihsan (1992) deteksi berahi umumnya dapat dilakukan dengan melihat tingkah laku ternak dan keadaan vulva. Selain itu pengecekan terhadap gangguan reproduksi juga dilakukan. Menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu besar. Dengan peralatan dan teknologi yang baik sperma dapat simpan dalam jangka waktu yang lama. dan malam hari setelah sapi-sapi tersebut selesai diperah. siang hari saat sapi istirahat atau setelah diperah. Deteksi berahi yang tepat merupakan kunci utama keberhasilan suatu perkawinan selain ketepatan dan kecepatan saat melakukan perkawinan. Terjadinya berahi pada ternak di sore hari hingga pagi hari mencapai 60%. Para petugas akan mencatat ear tag (identitas) apabila sapi betina menaiki sapi lain dan diam jika dinaiki. Pengamatan dan pengecekan dilakukan oleh service veteriner pada pagi hari saat sapi digiring ke tempat pemerahan. pemeriksaan berahi yang efektif memerlukan pengetahuan yang lengkap tentang tingkah laku sapi yang berahi baik normal ataupun tidak. Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik. atau organ lainnya maka perkawinan akan ditunda. Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin. Kemudian sapi akan diperiksa dengan mencocokkan data 4 . sedangkan pada pagi hari sampai sore hari mencapai 40% (Lubis. Deteksi berahi paling sedikit dilaksanakan dua kali dalam satu hari. Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati. 2006). Inseminator adalah tenaga teknis menengah yang telah dididik dan mendapat sertifikat sebagai inseminator dari pemerintah Pelaksanaan perkawinan dilakukan pada saat berahi. Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding). begitu juga dengan kegiatan sore hari untuk pemerahan kedua.

Pelaksanaan IB ini pun dilakukan oleh inseminator yang sudah menguasai teknik inseminasi. Straw langsung didatangkan dari Amerika dengan harga sekitar Rp 350. panas. Secara fisiologis.5 ml). vulva terlihat bengkak.Rp 400. pencairan sperma dengan menggunakan air yang bersuhu 37 0C. Hari-hari ini penting diketahui misalnya untuk penyuntikkan hormon prostaglandin (PGF2α) yang harus diberikan pada harihari antara hari ke-5 sampai dengan hari ke-16 dari siklus berahi. hari ke-1 adalah hari dimana berahi muncul pertama kali.dalam satu container dengan kapasitas kurang lebih 3024 dosis. biasanya pada saat volume nitrogen tinggal 30-32 liter. Tidak jarang sapi-sapi yang berada di PT Greenfields Indonesia waktu berahinya tidak diketahui saat malam hari (10 pm) hingga pagi hari (6 am) karena tidak ada veteriner yang bertugas. dan merah maka sapi tersebut dapat dikawinkan. berlangsungnya siklus berahi ini melibatkan aktivitas sistem syaraf dan sistem hormonal dalam tubuh sapi.yang ada melalui siklus estrus dari sapi tersebut. Straw akan diambil sesuai kebutuhan dan disimpan dalam container kecil dengan kapasitas nitrogen enam liter untuk di bawa ke lapangan.000. dan (3). perabaan cervic yang benar agar dalam menyuntikkan gun tepat dua hingga tiga sentimeter di depan mulut 5 . demikian hari selanjutnya sampai dengan hari ke-21 dari siklus berahi. Hal ini dapat membuat peternak kehilangan satu siklus berahi.000. Jika sapi tersebut masuk dalam pengecekkan satu siklus berahi (rata-rata 18 . memasukkan straw ke dalam gun. tanda chalking orange pada pangkal ekor menghilang. Siklus estrus adalah berahi yang berulang secara teratur dalam kurun waktu rata-rata 21 hari. jika agak keras (tegang) maka sapi tersebut positif estrus dan dikawinkan sebelum terlambat. Penambahan nitrogen dilakukan saat batas nitrogen dalam container kurang dari panjang straw. plastic sheat berasal dari Perancis.Lamanya sapi berahi sangat bervariasi yaitu berkisar 6-30 jam (Lubis. hari ke-0 adalah saat munculnya berahi pertama kali. (2). Pergantian straw biasanya dilakukan setiap 6 bulan dengan adanya berbagai pertimbangan.23 hari). Semen-semen yang terdapat dalam satu container yang berisi 32-34 liter nitrogen terdiri dari 6-7 pejantan FH (Friesian Holstein) dengan jumlah sperma minimal dua puluh lima juta dalam satu straw kapasitas setengah milliliter (0. Dalam menyebut hari-hari dari siklus berahi. 2006). Adapun tata cara pelaksanaan perkawinan buatan tersebut dimulai dari pengambilan straw dari container. straw beku pejantan unggul yang diimpor dari Amerika dengan bangsa FH (Frisian Holstein). dengan rataan 17 jam. sehingga dapat dikatakan bahwa reproduksi sapi berlangsung secara neuro hormonal.00 . Perlengkapan yang digunakan untuk perkawinan adalah (1). cervic dapat diraba. untuk memastikan estrus lebih tepat lagi.00 . gun IB yang diimpor dari New Zealand.

lingkungan dan pakan. Perawatan Sapi Perah Dara Bunting Perawatan yang perlu dilakukan pada sapi yang mulai bunting. S.) 8% dan 48 jam sesudah berahi (48 j. dilihat dari total sperma yang motil ( % motilitas dan konsentrasinya) Ketepatan waktu IB (siklus berahi) Penempatan posisi semen saat IB (tepat di depan cervik ± 3 cm) 2.) 12%. pertengahan berahi (Pert.Br) 0%. 24 jam sesudah berahi (24 j. 36 jam sesudah berahi (36 j. Br. sedangkan kriteria semen yang digunakan untuk heifer berdasarkan easy calving 6% (mudah beranak). ektoparasit dan endoparasit.) 75%.5%.5%.Br. S.Br.) 62. termasuk jangan sampai tergelincir Pemerahan susu haruslah diperhatikan .) 24%. Selain itu dalam prosentase kebuntingan apabila dilakukan dengan IB.) sebesar 44%. Br. antara lain :    Makanan untuk sapi bunting perlu diperhatikan secara serius Keadaaan fisik sapi bunting ini akan mempengaruhi produksi selama masa laktasi mendatang Sapi yang telah bunting tua perlu dilepaskan di lapangan secara teratur. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan inseminasi buatan diantaranya adalah:     Kondisi betina. Gerak badan itu penting untuk menjamin kesehatan tubuhnya dan memperlancar foetus pada saat melahirkan. Semua prosedur untuk IB dilakukan dengan sangat hati-hati. akhir berahi (Akh. ketika sapi akan melahirkan kurang dari 1. S. menurut Rustanto (2000) menunjukkan bahwa persentase kebuntingan pada sapi apabila inseminasi dilakukan pada saat-saat : permulaan berahi (Per. Kriteria semen yang digunakan berdasarkan produksi susu yang tinggi.Br. 18 jam sesudah berahi (18 j. 6 jam sesudah berahi (6 j. meliputi kesehatan dan anatomi organ reproduksi. S. Spermatozoa. S.) 32.) 82%.Br.5 atau 2 bulan 6 . S.Br.   Sapi yang sedang bunting harus kita hindarkan dari benturan apapun. Body Condition Score (BCS).Br.2. 12 sesudah berahi (12 j.cervic. Dengan dilepas bebas di lapangan maka sapi tersebut dapat dengan bebas bergerak kemanamana dan ini merupakan gerak badan sapi tersebut.

Otot-otot daging memperoleh latihan sehingga memperlancar peredaran darah b. sebaiknya di tempat yang berumput dan terkena sinar matahari selama 1-2 jam (Mulyana. terutama pada sapi dara  Membantu pembuatan kolostrum Telah di ketahui bahwasanya sapi bunting perlu dilepaskan di lapangan terbuka agar dapat bebas bergerak. jumlahnya 2-3 kg/ ekor untuk setiap harinya. bentuk an posisi kuku sapi supaya tetap baik Gerak badan sapi atau melepaskan sapi bunting di lapangan terbuka ini. 2006) 7 .  Membantu pembentukan ambing. Gerak badan inilah sangatlah penting bagi sapi yang bunting. Hal ini akan berguna di dalam. maka harus ditambah lagi makanan yang cukup ditambah makanan penguat yang kandungan Prodnya 16 %. Menjelang induk sapi ini melahirkan. Menjaga kesehatan. Keuntungan gerak badan tersebut antara lain : a.

Sedangkan Guernsey dan Aryshire pada berat badan 250-275 kg dan Jersey pada berat badan lebih kurang 225 kg 8 . PFH pada berat 275 kg.BAB III KESIMPULAN a) Sistem perkawinan merupakan sebuah gambaran dari beberapa metode perkawinan untuk program pengembakbiakan sapi. f) perkawinan sapi perah dara terlalu cepat dengan kondisi tubuh yang terlalu kecil. maka akibat yang terjadi adalah :  Kesulitan melahirkan  Keadaan tubuhnya yang tetap kecil nantinya setelah menjadi induk sehingga dapat berakibat kemandulan dan rendahnya produksi susu g) Sapi perah dara FH dan Brown Swiss memerlukan berat badan 350 kg – 375 kg untuk perkawinan yang pertama. b) Teknik manajemen perkawinan sapi potong dapat dilakukan degan menggunakan: c) Teknik kawin alam dengan pejantan alam d) Teknik Inseminasi Buatan (IB) e) Perkawinan pertama seekor sapi perah dara tergantung pada 2 faktor utama yaitu umur dan berat badan.

C. W. SANTOS . Edke-7 . J .T. J. Philadelphia . Bee Word 61 (3) : 89-96 . KENNEDY. 1991 . Reproduction in farm animals . J . Indonesia. S. E. MooRE. 85 :169-177 . Journal of dairy science . 2006 . J . Productivity of Holstein-Friesian dairy cattle maintained under two systems in Banyumas District. 2002 .W. MOORBY. S .R . R. University ofNewcastle upon Tyne. 1980. E . DHANOA and W. Department of Agriculture. E . A . HOFFMAN. and J . Feed intake and milk produstion . P. HAFEZ. MOXLEY. 2004 . ThesisPh. FISHER. M.. B. R. Impact of age at calving lactation. Optimum body size of Holstein replacements heifers . L. DEWHURST. reproduction. J .. ETTEMA. 87 : 2730-2742. 1 .D .DAFTAR PUSTAKA ANGGRAErn. J . 1997. J . Dairy Sci . Relationships between age and body weight at calving and production in first lactation Ayrshires and Holsteins . Fish meal as pollen-protein substitutes for honey bees . M. Animal sci. Effects of level of concentrate feedingduring the second gestation of Holstein-Friesian dairy cows. SCHAEFFER and J. United Kingdom .K . LEA and FEBIGER CHALMERS. Dairy Sc . Central Java. 75 : 836-845 . F .E . 9 . health. 74 :269-278. and income in first-parity Holsteins on commercial farms . P. 2000 .