TIPOLOGI DAN KARAKTERISTIK ADOPSI TEKNOLOGI PADA INDUSTRI KECIL PENGOLAH HASIL PERTANIAN1 M.

Alfian Mizar2, Muchjidin Mawardi3, Mochamad Maksum3, dan Budi Rahardjo3 ABSTRAK Adopsi teknologi oleh industri kecil (IK) masih rendah jika dibandingkan tuntutan bisnis di lapangan, apabila pemanfaatan teknologi pada kalangan IK tidak segera dilakukan, ada kemungkinan peluang pasar yang selama ini digarap akan direbut produk impor yang lebih efisien dan murah. Kendala IK mengadopsi inovasi teknologi, karena berbagai sebab, di antaranya: (1) keterbatasan kemampuan IK dalam mengadopsi teknologi, (2) kebutuhan teknologi belum banyak didasarkan atas kebutuhan riil yang diperlukan IK, artinya penerapan teknologi pada IK kurang tepat (inappropriate). Dari hasil kajian terdapat tiga variabel yang mempengaruhi tingkat adopsi teknologi (TAT) pada industri kecil pengolah hasil pertanian (IK-PHP), Pertama, variabel penentu keberhasilan penerapan teknologi (KPT). Kedua, variabel penentu agar teknologi dapat lebih cepat diadopsi (KAT). Ketiga adalah variabel kemampuan SDM pengguna teknologi di Industri kecil (KP). Responden penelitian ini adalah IK-PHP di Jawa Timur, sejumlah 110 IK-PHP sebagai sampel yang ditentukan melalui purposive dan random sampling. Analisis datanya menggunakan Structural Equation Model (SEM, Program AMOS 5.01). Hasil penelitian menunjukkan bahwa KPT, KAT, dan KP berpengaruh signifikan terhadap TAT, dengan nilai koefisien pengaruh masing-masing sebesar 0,567 (p-value: 0,006); 0,801 (p-value: 0,000); dan 0,152 (p-value: 0,040). Tingkat adopsi teknologi yang terjadi pada IK-PHP sebagian besar pada tingkatan Routine dan Refinement. Sedangkan derajat sophisticated komponen teknologi pada IK-PHP mempunyai karakteristik sebagai berikut: untuk komponen Technoware berada pada tingkatan fasilitas daya/mesin (mekanik/eklektrik); untuk komponen Humanware berada pada tingkatan kemampuan operasi sampai dengan kemampuan memperbaiki, untuk komponen Infoware berada pada tingkatan informasi yang terbiasa dengan fakta-fakta dan informasi yang menjelaskan fakta-fakta; dan untuk komponen Organoware berada pada kategori organisasi yang mulai tumbuh dan organisasi yang sedang membangun jaringan. Key-word: Adopsi Teknologi, Industri Kecil pengolah hasil pertanian

1

Disampaikan dalam Gelar Teknologi dan Seminar Nasional Teknik Pertanian 2008 di Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Teknologi Pertanian UGM, Yogyakarta 18-19 November 2008 2 Staf Pengajar Jurusan Teknik Mesin Universitas Negeri Malang dan Mahasiswa Program S3 Teknologi Pertanian UGM. Telpon: 0818535771; e-mail: fianmz@yahoo.com 3 Staf Pengajar/ Guru Besar Pada Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 – Yogyakarta, 18-19 November 2008

1

2003). Keterlambatan IKM mengadopsi teknologi karena berbagai sebab. Teknologi merupakan aspek sangat penting dalam pengolahan hasil pertanian. 2005). Apabila adopsi teknologi pada kalangan IKM tidak segera dilakukan.A. Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 – Yogyakarta. dan terbatasnya wilayah pemasaran (Rajab. sehingga peluang yang seharusnya bisa dimanfaatkan IKM direbut produk impor. sistem manajemen. bahan baku dan pemasaran. Kendala pengembangan IKM pengolah hasil pertanian selain permodalan. dan manajemen (Deperindag. Sedangkan kendala utamanya selain permodalan dan pasar adalah teknologi. permasalahan dalam pengembangan IKM pengolah hasil pertanian antara lain adalah keterbatasan informasi dan penerapan teknologi pengolahan. sumberdaya manusia kaitannya dengan kurangnya keahlian dan keterampilan. Menurut Ditjen P2HP (2005). 18-19 November 2008 2 . termasuk melalui pengembangan sistem dukungan teknologi bagi IKM secara integratif. ada kemungkinan pasar yang selama ini digarap akan digantikan produk impor yang lebih efisien dan murah. antara lain: terbatasnya modal. manusia dan dana). diantaranya kemampuan SDM di IKM. penggunaan teknologi yang masih sederhana. PENDAHULUAN Permasalahan yang dihadapi IKM adalah masih terbatasnya pemanfaatan Iptek di dunia industri. Bagi IKM pengolah hasil pertanian. menurut Sudaryanto (2005) adopsi teknologi oleh IKM masih rendah jika dibandingkan tuntutan bisnis di lapangan. memberdayakan dan mengembangkan IKM agar kompetitif. Hal tersebut antara lain disebabkan masih terbatasnya akses terhadap sumber informasi. Permasalahan lain yang menjadi kendala IKM dalam upaya meningkatkan skala bisnisnya antara lain rendahnya kualitas sumberdaya (fisik. Selama ini telah tersedia berbagai teknologi pengolahan hasil pertanian. tetapi penerapan teknologi tersebut masih belum intensif terutama pada industri kecil pengolah hasil pertaian. 1993 dalam Hanani. dan pelayanan Iptek. 2005a). kendala yang dihadapi untuk dapat tumbuh dan berkembang. Adopsi teknologi oleh kalangan IKM dapat dikatakan tertinggal oleh negara pesaing seperti China dan sebagian Negara Asean. Terkait pemanfaatan teknologi pada IKM. Tiba saatnya dilakukan upaya sungguh-sungguh untuk mendorong peningkatan penerapan dan adopsi teknologi dikalangan pelaku usaha. 1997 dan Sastrowardojo. mesin/peralatan. terlebih jika dibandingkan jumlah riset potensial untuk tujuan implementasi. teknologi. adalah kemampuan SDM yang terbatas dalam penguasaan manajemen dan teknologi menyebabkan rendahnya efisiensi dan daya saing produk (Deperindag.

Kondisi tersebut banyak disebabkan kurangnya kemampuan SDM IKM dalam melihat peluang ganda. Pengambilan data dilakukan dengan kuesioner terpadu dan observasi. (2) Untuk mengetahui bagaimana karakterisitk derajat sophisticated komponen teknologi pada IK-PHP dalam adopsi teknologi. analisis datanya dilakukan dengan menggunakan Structural Equation Model (SEM. tetapi berbagai studi menunjukkan bahwa adopsi teknologi di IKM masih saja merupakan area yang problematis. yaitu variabel penentu keberhasilan penerapan teknologi. Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 – Yogyakarta. B. dan variabel kemampuan SDM pengguna teknologi di IK. Kendala IK dalam adopsi teknologi antara lain disebabkan oleh: (1) keterbatasan kemampuan IK dalam mengadopsi teknologi.Pengembangan dan pemberdayaan IKM melalui penguatan kemampuan teknologi saat ini masih menghadapi beberapa kendala antara lain keterbatasan kemampuan IKM dalam mengadopsi teknologi dan kurangnya promosi proaktif lembaga penghasil teknologi pada IKM. 2006). Hal ini menunjukkan bahwa keberhasilan atau kegagalan adopsi teknologi di industri kecil sangat dipengaruhi oleh faktor kesesuaian teknologi yang diadopsi dan faktor kemampuan pengguna teknologi. dan manfaat dari adopsi teknologi (Munaf. variabel penentu agar teknologi dapat lebih cepat diadopsi. TUJUAN Pembahasan ini bertujuan: (1) untuk memberikan gambaran bagaimana karakteristik adopsi teknologi pada industri kecil pengolah hasil pertanian. sejumlah 110 IK-PHP sebagai sampel yang ditentukan melalui purposive dan random sampling. dan (2) kebutuhan teknologi belum banyak didasarkan atas kebutuhan riil yang diperlukan oleh Industri kecil untuk penyelesaian masalah yang benar-benar dihadapinya.01). Program AMOS 5. Meskipun persoalan adopsi teknologi telah menjadi suatu strategi bagi IKM dan lembaga penghasil teknologi. 18-19 November 2008 3 . Kritik umum yang sering muncul dalam hubungan ini adalah penerapan teknologi kepada IKM tidak tepat (inappropriate). METODE Responden penelitian ini adalah IK-PHP di Jawa Timur. Maksud ini didasari oleh kenyataan bahwa proses adopsi teknologi menjadi faktor penting dan ikut menentukan keberhasilan pemanfaatan teknologi oleh IK. C. melalui temuan hasil penelitian untuk mengungkapkan tiga variabel yang mempengaruhi tingkat adopsi teknologi (TAT) pada IK-PHP.

1982). karena teknologi berperan dalam meningkatkan profitabilitas industri dan dapat mengeleminasi limbah dalam proses produksi (Frohman. 1. metode. (2) Faktor keberhasilan penerapan teknologi. (3) Routine (Teknologi sudah digunakan secara rutin untuk keperluan produksinya tetapi belum dilakukan/belum ada pemikiran untuk memodifikasi). adopsi merupakan proses mental dalam pengambilan keputusan untuk menerima atau menolak ide baru dan menegaskan lebih lanjut tentang penerimaan atau penolakan ide tersebut. mesin/peralatan.D. penerapan. (3) Faktor kecepatan adopsi teknologi. penggunaan dan pemanfaatan. 1975) . Tingkatan penggunaan teknologi dibagi dalam 5 level (diadaptasi dari: Loucks. (4) Refinement (Teknologi sudah digunakan secara rutin untuk keperluan produksinya dan sudah ada pemikiran/dilakukan modifikasi atau perbaikan). dan (4) Faktor kesiapan pengusaha. bahwa adopsi merupakan pemanfaatan produk baru dalam proses produksi dimana produk tersebut dapat berupa barang. Dijelaskan oleh Rietveld (1987). HASIL DAN PEMBAHASAN Untuk melengkapi hasil dan pembahasan. yaitu: (1) Discontinu (teknlogi sudah tidak digunakan lagi untuk berproduksi/berhenti digunakan). alat-alat (mesin) atau teknologi baru oleh adopter yang disampaikan pembawa teknologi (Mardikanto. (2) Mechanical Use (teknologi digunakan masih dalam tahap untuk berlatih mengoperasikan. maupun teknologi yang digunakan oleh adopter didalam kegiatannya. 1985. antara lain: (1) Tingkat adopsi teknologi. Menurut Rogers dan Shoemaker (1971). Adopsi (Adoption) yang berarti penerimaan. Manifestasi dari adopsi dapat diamati dalam bentuk tingkah laku. Zammuto dan Connor. mencoba untuk berproduksi dan masih jarang sekali digunakan untuk keperluan produksinya). Dari kajian teoritik diperoleh kerangka konseptual adopsi teknologi yang melibatkan variabel-variabel. sebelumnya perlu diuraikan mengenai kerangka konseptual adopsi teknologi di industri kecil. 18-19 November 2008 4 . ide maupun teknologi. peralatan. Adopsi teknologi memiliki dampak positif terhadap kinerja industri. Newlove and Hall. Adopsi adalah penerimaan atau penggunaan ide baru. (5) Integration (Teknologi sudah digunakan secara rutin untuk keperluan produksinya Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 – Yogyakarta.1992). Tingkat Adopsi Teknologi Pada Industri kecil Pengolah Hasil Pertanian Tingkat adopsi teknologi di industri kecil diukur berdasarkan tingkatan penggunaan (level of use) terhadap teknologi yang telah diadopsi oleh industri kecil yang bersangkutan selama kurun waktu tertentu.

hemat dalam menggunakan sumberdaya termasuk energi. awet. Faktor ketiga. kelayakan ekonomis. 2003). merinci kinerja atau keberhasilan teknologi diukur dari empat faktor yang merupakan adalah: a. 18-19 November 2008 5 . teknologi harus dapat diterima masyarakat pengguna (user). dapat dibeli dengan harga terjangkau.dan sudah ada pemikiran/perlakuan memproduksi ulang teknologi tersebut untuk spesifikasi dan fungsi yang sama. Sudarmo (2005). disebut nonpervorming. Menerapkan teknologi berarti menjadikan teknologi itu sebagai bagian dari pengoperasian fungsi-fungsi pengguna teknologi. Faktor Keberhasilan Penerapan Teknologi yang mempengaruhi Tingkat Adopsi Teknologi Penerapan Teknologi merupakan suatu proses atau rangkaian kegiatan untuk mempercepat pemanfaatan teknologi dari pencipta atau pemilik kepada pengguna teknologi. tidak berkinerja. b. teknologi harus menghasilkan produktivitas ekonomi atau keuntungan finansial. Teknologi yang non-pervorming biasanya tidak sustainable. Salah satu cara untuk mengevaluasi produktivitas teknologi adalah menghitung rasio output rupiah dibandingkan dengan input rupiah. dan faktor teknis lainnya. Dalam menerapkan. Kelayakan teknis. dapat di jangkau dan difungsikan di lingkungan yang membutuhkan. tidak berkelanjutan perkembangannya. Teknologi dapat diterima karena memang diperlukan dan bermanfaat bagi pengguna. 2. mudah dipakai. kelayakan sosial budaya dan lingkungan serta standardisasi teknologinya (Angkasa. c. menjadikan teknologi itu diketahui. bahkan teknologi yang telah digunakan diadaptasi sesuai dengan perkembangan kebutuhan untuk mencapai hasil yang lebih maksimal). mempunyai fitur atau kemampuan beragam untuk memenuhi keperluan yang makin beragam. faktor tersebut Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 – Yogyakarta. Teknologi yang tidak menghasilkan keuntungan. sebelumnya perlu dilakukan studi kelayakan untuk menilai aspek kelayakan teknis. teknologi harus menghasilkan nilai tambah. disenangi. serta tidak bertentangan dengan budaya dan kebiasaan masyarakat pengguna. tolok ukur untuk mengevaluasi teknologi. Faktor ekonomis. mengembangkan dan menyebarluaskan teknologi.

teknologi harus serasi dengan lingkungan. kemampuan permodalan dan adanya peningkatan pendapatan. Indikator dari faktor keberhasilan penerapan teknologi yang mempengaruhi tingkat adopsi teknologi adalah sebagai berikut: Tabel 1: Faktor Keberhasilan Penerapan Teknologi dan Indikatornya No 1. Faktor Sosial 4. Diminati oleh industri kecil Tidak menimbulkan dampak kerusakan terhadap lingkungan Ada dukungan kebijakan/kelembagaan 2.d. keberhasilan aplikasi teknologi dalam mendukung pengembanagan industri kecil akan tergantung pada kesesuaian teknologi tersebut dengan kondisi teknis. ekonomi. Aplikasi teknologi sederhana/mudah dilakukan oleh pengguna 3. Faktor Kecepatan Adopsi Teknologi yang mempengaruhi Tingkat Adopsi Teknologi Sebagaimana dijelaskan bahwa adopsi merupakan penerimaan atau penggunaan sesuatu ide. 2000). 5. Peralatan dan sarana produksi mudah didapat 1. Pendekatan teknis ditekankan pada keberhasilan teknologi tersebut dalam meningkatkan produktivitas. faktor ini akan menentukan sustainability keberadaan teknologi ditengah masyarakat pengguna. ide maupun teknologi. Indikasi aplikasi teknologi dapat dilakukan melalui tiga pendekatan. Faktor Ekonomi 3. Faktor keempat. Dapat meningkatkan produksi 2. dan sosial budaya. alat-alat. Pendekatan ekonomi terkait dukungan pasar. Secara finansial menguntungkan 3. dalam Najiyati. Adopsi merupakan pemanfaatan produk baru dalam suatu proses produksi dimana produk tersebut dapat berupa barang. menjelaskan bahwa adopsi teknologi adalah penerapan teknologi baru yang diakibatkaan oleh Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 – Yogyakarta. Dengan demikian. Projosuhardjo (1987). Variabel Faktor Teknis Indikator 1. Faktor Lingkungan Faktor Kelembagaan 3. Keberhasilan penerapan teknologi akan tergantung pada kriteria kesesuaian teknologi tersebut. Pendekatan sosial budaya ditekankan pada akseptabilitas dan tidak bertentangan dengan kebiasaan yang berlaku. alat-alat (mesin) atau teknologi baru oleh adopter. 18-19 November 2008 6 . Biaya operasional terjangkau 2. ekonomi dan sosial budaya (Suwito. Produknya mempunyai nilai tambah penjualan 1. yaitu teknis. Sesuai/tidak bertentangan dengan budaya masyarakat industri kecil setempat 2.

kenyamanan (convenience) dan kepuasan (satisfaction). juga dikaitkan dengan social prestige. apakah inovasi yang diintroduksikan memberikan manfaat kepada adopters yang diukur tidak hanya pada aspek teknis dan ekonomis. kompatibilitas. Menurut Suwandi (2002) dalam Tastra (2003). Relative advantage (keunggulan relatif). kecepatan adopsi teknologi dan kecepatan adopsi informasi berpengaruh positif terhadap peningkatan kualitas SDM (pelaku usaha).perubahan-perubahan kelakuan yang terjadi. Apabila inovasi dirasakan memberikan manfaat kepada adopters maka adopsi inovasi akan relatif lebih cepat. Complexity (kerumitan). Compatibility (kesesuaian). mudah dilihat atau diamati secara fisik relatif akan memudahkan mengadopsinya. b. trialabilitas. Trialability (ketercobaan). Observability (keteramatan). 18-19 November 2008 7 . Sedangkan Ray (1998). paling tidak inovasi itu mempunyai keuntungan relatif 25-30% dari sebelumnya atau relatif lebih besar dari nilai sebelumnya. e. menyatakan bahwa Relative advantage. Inovasi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma adopter akan sulit diadopsi. apakah inovasi tersebut konsisten dengan nilai-nilai yang ada. Rogers (1995) juga memberikan beberapa hal yang mempengaruhi cepat atau lambatnya suatu inovasi diadopsi oleh individu atau masyarakat adopters yaitu: a. jadi apakah inovasi tersebut lebih baik dibandingkan inovasi sebelumnya (existing). Inovasi yang kompleks relatif lebih sulit diadopsi.inovasi yang relatif lebih sederhana akan lebih mudah diadopsi. d. pengalaman sebelumnya dan kebutuhan adopter. inovasi (teknologi) yang trialable akan mengurangi keraguan untuk mempelajari dan kemudian mempertimbangkan untuk mengadopsinya. dalam menstimulasi individu atau masyarakat untuk Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 – Yogyakarta. c. berkaitan dengan tingkat kesulitan hasil inovasi untuk dipahami dan digunakan oleh individu atau masyarakat/dunia industri. sejauh mana inovasi dapat dicoba dan diuji dalam skala kecil. adopsi dapat diartikan suatu bentuk keputusan yang diambil oleh adopter untuk menerima atau menerapkan inovasi yang diperolehnya. obsevabilitas dan prediktabilitas (derajat kepastian manfaat) dari suatu inovasi berhubungan positif dengan tingkat adopsinya.

organisasi. menambahkan faktor-faktor yang mempengaruhi dalam mengadopsi teknologi. Hasil tersebut menunjukkan bahwa 49% .87% varian dalam kecepatan adopsi dijelaskan oleh lima aspek (keunggulan relatif. antara lain: (1) keuntungan relatif apabila teknologi tersebut diadopsi. dan lingkungan. (2) jenis keputusan inovasi. keputusan secara individual (opsional) akan lebih cepat dibandingkan dengan adopsi yang harus menunggu keputusan kolektif atau fihak penguasa. (7) karakteristik dan mutu inovasi. (4) Ciri-ciri sistem sosial. 18-19 November 2008 8 . (4) kesesuaian inovasi yang diperlukan. meliputi: keuntungan relatif. Studi tentang adopsi teknologi di industri kecil dan menengah (IKM) yang dilakukan Rashid (2001) telah memasukkan faktor teknologi. dan observabilitas. (4) proses mencoba sendiri. (5) keuntungan relatif dari teknologi lama versus baru. (6) kompleksitas dan efisiensi atas inovasi. intensitas memperkenalkan inovasi kepada masyarakat.Hasil-hasil penelitian (dalam Rogers. biaya. dan keteramatan). Fliegel (1971). juga sebagai dasar peletakan nilai kebenaran atau kepercayaan akan keberhasilan teknologi baru.M. kecocokan. masyarakat modern lebih cepat dibanding tradisional. Empat faktor tersebut dapat berdampak pada adopsi teknologi dan bertindak sebagai struktur evaluatif untuk menentukan kecenderungan adopsi inovasi di IKM. dan (5) kondisi ekonomi (ketersediaan modal). (3) Saluran komunikasi. kesesuaian. (2) kecocokan teknologi tersebut dengan norma kebudayaan setempat dan lingkungan fisik yang ada. mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi kecepatan adopsi suatu inovasi. (3) tingkat keuntungan atas investasi inovasi. dan gambaran inovasi. dan lokasi pengadopsi teknologi. ekonomi. Faktor-faktor kecepatan adopsi teknologi yang mempengaruhi tingkat adopsi teknologi dapat ditunjukkan oleh indikator sebagai berikut: Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 – Yogyakarta. (3) hasil pengamatan terhadap teknologi baru yang sedang dicoba oleh pengguna lain. kompleksitas. kompleksitas. kompatibilitas. Aspek teknologi meliputi: keuntungan relatif. kerumitan. antara lain: (1) Karakteristik sosial. E. (5) kegiatan promosi. (2) investasi yang diperlukan. individu. Sedangkan hasil penelitian Slamet (1978). dan (8) tingkat keusangan teknologi. adalah: (1) Sifat-sifat inovasi. trialabilitas. ketercobaan. Dalam Gumbira (2004) juga disebutkan beberapa faktor yang mempengaruhi adopsi teknologi. 1995) menunjukkan adanya hubungan positif aspek-aspek inovasi dengan kecepatan adopsinya.

Sedangkan menurut Rogers (1995) selain dipengaruhi oleh faktor teknologinya. dan (3) latar belakang sasaran/adopter (Wiryono. Teknologi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai dan normanorma masyarakat (industri kecil) akan sulit diadopsi. proses pengambilan keputusan terhadap adopsi inovasi/teknologi yang akan mempengaruhi tingkat adopsi teknologi dipengaruhi oleh faktor sumber daya manusia (SDM. b. 2. Sejauh mana tingkat kesulitan teknologi dapat dipahami dan digunakan oleh industri kecil. Kerumitan (Complexity) Ketercobaan (Trialability) 4. Faktor Kesiapan Pengusaha yang Mempengaruhi Tingkat Adopsi Teknologi Variabel-variabel yang dinilai memiliki pengaruh nyata dalam proses adopsi adalah: (1) inovasi (teknologi). Variabel Keunggulan relatif (Relative advantage) Indikator Sejauh mana teknologi dapat memberikan manfaat kepada adopters. 18-19 November 2008 9 . Aset produksi (besarnya nilai aset produksi untuk usaha berupa mesin/peralatan dan modal yang dimiliki tidak termasuk tanah dan bangunan) Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 – Yogyakarta. Sejauh mana teknologi dapat dengan mudah dilihat atau diamati secara fisik. Sejauh mana teknologi tersebut konsisten dengan nilai-nilai yang ada. dan keterlibatan menjalankan usaha) c. dalam hal ini faktor pengusaha). Pengalaman pengusaha (lamanya waktu berusaha. relatif akan memudahkan dalam menstimulasi individu/masyarakat industri kecil untuk mengadopsinya. 5. (2) metode dan strategi pergerakan inovasi.Tabel 2: Faktor Kecepatan Adopsi Teknologi dan Indikatornya No 1. 2000). Faktor SDM tersebut meliputi: a. Sejauh mana teknologi dapat dicoba dan diuji dalam skala kecil. Teknologi yang kompleks relatif lebih sulit diadopsi. pengalaman sebelumnya dan kebutuhan adopter. teknologi yang trialable akan mengurangi keraguan untuk mempelajari dan kemudian mempertimbangkan mengadopsinya. juga dikaitkan dengan social prestige. Kesesuaian (compatibility) 3. apakah teknologi yang diadopsi lebih baik dibanding teknologi sebelumnya (existing). kenyamanan (convenience) dan kepuasan (satisfaction). Keteramatan (Observability) 4. Pengetahuan (pengetahuan tentang teknologi yang terkait dengan bidang usahanya dan pengetahuan berusaha). yang diukur tidak hanya pada aspek teknis dan ekonomis.

18-19 November 2008 10 . Lamanya waktu berusaha 2. Interpersonal channels relatif efektif dalam mempengaruhi apakah individu akan menerima atau menolak inovasi. tidak termasuk tanah dan bangunan Intensitas informasi dan jenis komunikasi yang digunakan dalam mengakses teknologi.d. Kesatuan/saluran komunikasi. Pengetahuan tentang teknologi 2. Saluran media sering dianggap sebagai alat paling cepat dan efisien untuk menginformasikan kepada calon adopter potensial tentang eksistensi inovasi untuk menciptakan awarnessknowledge. Keterlibatan dalam menjalankan usaha Besarnya aset produksi untuk usaha berupa mesin/peralatan dan modal yang dimiliki. Variabel Pengetahuan Pengalaman Aset Produksi Kesatuan/saluran Komunikasi Indikator 1. adalah suatu alat dimana pesan dapat disampaikan diinformasikan dari satu pihak kepihak lain. Pengetahuan berusaha 1. 3. Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 – Yogyakarta. Komunikasi melalui saluran interpersonal (Interpersonal channels) lebih efektif dalam mendorong individu untuk menerima suatu gagasan baru. Dengan demikian faktor-faktor kesiapan pengusaha yang mempengaruhi tingkat adopsi teknologi ditunjukkan oleh indikator sebagai berikut: Tabel 3: Faktor Kesiapan Pengusaha dan Indikatornya No 1. 2. 4.

Kemanfaatan Teknologi (Aplikatif.Kesesuaian(compatibility 3. Pengalaman (waktu. faktor kecepatan adopsi teknologi.Kerumitan (Complexity) 4. Aset produksi 4.01). Integration Gambar 1: Kerangka Konseptual Adopsi Teknologi di Industri Kecil Berdasarkan hasil uji hipotesis dengan menggunakan Structural Equation Modelling (SEM. Kesatuan/saluran komunikasi ) Tingkat Adopsi Teknologi 1. menunjukkan bahwa variabel faktor keberhasilan penerapan teknologi. Pengetahuan 2. Refinement 5. 3. Teknis Ekonomi Sosial Lingkungan Kelembagaan 1. Keunggulan relatif (Relative advantage) 2. dan faktor kesiapan pengusaha berpengaruh positif terhadap tingkat adopsi teknologi di industri Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 – Yogyakarta. Discontinu 2. Mechanical Use 3. 18-19 November 2008 11 . 5.Ketercobaan(Trialability) 5. Program AMOS 5. 4. keterlibatan) 3. 2. Routine 4.Keteramatan(Observability 1. dapat diadopsi) Keunggulan relatif Faktor Teknologi (yang diterapkan dan diadopsi) Faktor SDM (di Industri Kecil) Faktor Keberhasilan Penerapan Teknologi Faktor Kecepatan Adopsi Teknologi Faktor Kesiapan Pengusaha 1.

Faktor teknis mensyaratkan bahwa teknologi haruslah: (1) dapat meningkatkan produksi.006).kecil pengolah hasil pertanian. faktor yang paling dominan dalam memberikan kontribusi adalah faktor kesesuaian.152 KP .000 0.801 KAT + 0.000 0.567 (p-value: 0.040). faktor keunggulan relative (X6).000 Fix 0. dengan nilai koefisien pengaruh masing-masing sebesar 0.152 (p-value: 0. Tabel 4: Loading Factor dari Indikator KPT (Keberhasilan Penerapan Teknologi) Item / Indikator X1 KPT X2 KPT X3 KPT X4 KPT X5 KPT Loading Factor 1. 0. faktor sosial (X3). faktor ekonomi (X2). (2) aplikasi teknologi sederhana/mudah dilakukan oleh pengguna. 18-19 November 2008 12 .567 KPT + 0. faktor lingkungan (X4) dan faktor kelembagaan (X5). dan 0. dan faktor keteramatan (X10). urutan indikator yang berkontribusi (dari terbesar ke yang terkecil) adalah faktor faktor kesesuaian (X7).000 0.05.333 1. faktor kerumitan (X8). Dengan demikian untuk variabel KAT.0. Faktor kesesuaian (compatibility) mensyaratkan bahwa teknologi haruslah konsisten dengan nilai-nilai yang ada di industri kecil dan sesuai dengan kebutuhan adopter.556 1. faktor yang paling dominan dalam memberikan kontribusi adalah faktor teknis. urutan indikator yang berkontribusi (dari terbesar ke yang terkecil) adalah faktor teknis (X1). keseluruhannya mempunyai nilai probabilitas < 0.588 1. Dengan demikian untuk variabel KPT.000).801 (p-value: 0.000 Keterangan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Pada variabel Kecepatan Adopsi Teknologi (KAT). pada variabel Keberhasilan Penerapan Teknologi (KPT).03 Lebih lanjut. Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 – Yogyakarta. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat dirumuskan model pengaruh faktor Keberhasilan Penerapan Teknologi.827 p value 0. Kecepatan Adopsi Teknologi dan Kesiapan Pengusaha terhadap Tingkat Adopsi Teknologi sebagai berikut: TAT = γ1 KPT + γ2 KAT + γ3 KP + Z1 = 0. dan (3) peralatan dan sarana produksi mudah didapat. faktor ketercobaan (X9).

Faktor pengalaman berusaha meliputi berapa lamanya waktu berusaha dan bagaimana pengusaha terlibat dalam menjalankan usaha. sedangkan sebanyak 27.000 Fix 0. Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 – Yogyakarta. faktor yang paling dominan dalam memberikan kontribusi adalah faktor pengalaman berusaha. Dengan demikian untuk variabel KP.099 1. 18-19 November 2008 13 .9%) tingkat adopsi teknologi yang masuk dalam kategori Discontinu. diantaranya tidak baik secara teknis terutama tidak dapat meningkatkan produksi dan tidak ekonomis serta tidak sesuai dengan kebutuhan usaha.174 0. Namun demikian ada pula (10.791 1.000 0.000 0. artinya teknologi sudah tidak digunakan untuk berproduksi/berhenti digunakan/ tidak digunakan lagi oleh industri kecil karena berbagai sebab.000 Fix Keterangan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Tingkat Adopsi Teknologi yang terjadi pada industri kecil pengolah hasil pertanian sebagian besar pada tingkatan Routine (sebanyak 58. dan faktor kesatuan /saluran komunikasi (X14).Tabel 5: Loading Factor dari Indikator KAT (Kecepatan Adopsi Teknologi) Item / Indikator X6 KAT X7 KAT X8 KAT X9 KAT X10 KAT Loading Factor 0.351 1.275 1.000 0.000 0.3% pada tingkatan Refinement yang menunjukkan bahwa teknologi sudah digunakan secara rutin untuk keperluan produksinya dan sudah ada pemikiran/perlakuan modifikasi atau perbaikan.000 Keterangan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Signifikan Pada variabel Kesiapan pengusaha urutan indikator yang berkontribusi (dari terbesar ke yang terkecil) adalah faktor faktor pengalaman (X12). faktor pengetahuan (X11).2%) hal ini menunjukkan bahwa teknologi yang diadopsi di industri kecil pengolah hasil pertanian sudah digunakan secara rutin untuk keperluan produksinya tetapi belum dilakukan/belum ada pemikiran untuk memodifikasi. (faktor aset produksi (X13). Tabel 6: Loading Factor dari Indikator KP (Kesiapan Pengusaha) Item / Indikator X11 X12 X13 X14 KP KP KP KP Loading Factor 1.000 0.000 P value 0.471 p value 0.932 1.

berani mengajukan ide-ide untuk perbaikan. D. sebagian besar pemilik usaha di industri kecil ini juga ikut menjadi pekerja. masih termasuk pada tingkatan antara pertama dan kedua yaitu antara kategori informasi yang terbiasa dengan fakta-fakta (informasi yang memberi pemahaman umum penggunaan fasilitas) dan informasi yang menjelaskan fakta-fakta (yaitu informasi yang memberi pemahaman dasar penggunaan peragaan fasilitas). Pada komponen Technoware. umumnya termasuk dalam katagori organisasi yang mulai tumbuh (industri kecil. modal kecil. berada pada tingkatan fasilitas daya/mesin (mekanik/ eklektrik) yang dioperasikan dan dikontrol oleh pekerja/operator. 18-19 November 2008 14 . di mana informasi yang ada memungkinkan penggunaan fasilitas yang efisien dan efektif. dan kemampuan memasang (penguasaan dalam mengatur dan mengeset teknologi yang digunakan untuk variasi produksinya).Derajat sophisticated komponen teknologi pada IK-PHP mempunyai karakteristik sebagai berikut: A. C. Komponen humanware pada pengusaha industri kecil pengolah hasil pertanian termasuk pada tingkatan kemampuan operasi (penguasaan dalam memperoleh teknologi yang sesuai dengan industri kecilnya. Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 – Yogyakarta. dan tenaga sedikit). Tinjauan pada komponen organoware menunjukkan bahwa pada IK-PHP. dan dapat menjalankan proses produksinya dengan menggunakan teknologi yang diadopsi). karena industri kecil dijalankan dengan keahlian yang berasal dari turun-temurun (generasi keluarga sebelumnya). meskipun demikian ada (sekitar 55%) yang memiliki kemampuan cukup tinggi dalam kemampuan memperbaiki (penguasaan dalam melakukan perawatan dan perbaikan ringan terhadap teknologi yang digunakan). Pada komponen Humanware. Pada umumnya pengusaha di IK-PHP memiliki karakteristik mampu menyesuaikan kondisi. Hanya sekitar 10% masuk dalam kategori informasi yang menggunakan faktafakta (memanfaatkan fakta-fakta). informasi yang dimiliki pada umumnya hanya memberikan prinsip dasar dalam menggunakan dan memperagakan sampai cara pengoperasian suatu mesin/peralatan yang ada. Secara umum komponen infoware pada IK-PHP. B. dipimpin sendiri. belum mampu melakukan terobosan-terobosan yang berisiko tinggi. di IK-PHP terdapat kelompok pekerja dan kelompok pemilik usaha.

Disamping itu ada sekitar hampir 15% termasuk dalam katagori organisasi yang sedang membangun jaringan (industri kecil yang telah mampu meningkatkan kapabilitas dan menjadi sub kontrak dengan institusi lain yang lebih besar). 18-19 November 2008 15 . dan masih sedikit memperoleh dukungan modal dari lembaga keuangan. Kemampuan Inovasi Kemampuan Meningkatkan Batas Atas Fasilitas Terintegrasi Fasilitas Komputerisasi Fasilitas otomatis Fasilitas Khusus Fasilitas Multiguna Fasilitas Daya/mesin Kemampuan Mengadaptasi Kemampuan Mereproduksi Kemampuan Memperbaiki Kemampuan Batas Bawah Mengeset Kemampuan Operasional Humanware Organoware Batas Atas Batas Bawah Fasilitas Manual Technoware Infoware Organisasi yg mulai tumbuh Organisasi sedang membangun jaringan Organisasi yg siap utk Bersaing Organisasi memproteksi Kepentingan Organisasi yg memantapkan Posisi Organisasi yg mencari Peluang Organisasi yg memimpin Informasi utk Membiasakan Informasi utk Menjelaskan Informasi utk Menentukan Batas Bawah Batas Atas Informasi utk Memanfaatkan Informasi utk meningkat pemahaman Informasi utk menggeneralisasikan Informasi utk menilai Gambar 2: Dearajat Sophisticated Komponen Teknologi Pada Industri Kecil Pengolah Hasil Pertanian Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 – Yogyakarta.tidak memiliki jadwal produksi yang tetap.

4. Faktor teknis. Ketiga adalah variabel kemampuan SDM pengguna teknologi di Industri kecil (KP). Tingkat adopsi teknologi yang terjadi pada IK-PHP sebagian besar pada tingkatan Routine dan Refinement. KAT. Pertama. Kedua. 3. dan (d) komponen Organoware berada pada kategori organisasi yang mulai tumbuh dan organisasi yang sedang membangun jaringan. faktor kesesuaian (compatibility) teknologi. dan KP berpengaruh signifikan terhadap TAT. dan ekonomis teknologi.E. Hasil penelitian menunjukkan bahwa KPT. (b) komponen Humanware berada pada tingkatan kemampuan operasi sampai dengan kemampuan memperbaiki. Derajat sophisticated komponen teknologi pada IK-PHP mempunyai karakteristik: (a) komponen Technoware berada pada tingkatan fasilitas daya/mesin (mekanik/eklektrik). Terdapat tiga variabel yang mempengaruhi tingkat adopsi teknologi (TAT) pada industri kecil pengolah hasil pertanian (IK-PHP). Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 – Yogyakarta. 2. 18-19 November 2008 16 . (c) komponen Infoware berada pada tingkatan informasi yang terbiasa dengan fakta-fakta dan informasi yang menjelaskan fakta-fakta. KESIMPULAN 1. variabel penentu keberhasilan penerapan teknologi (KPT). dan faktor pengusaha berupa pengalaman berusaha menjadi pertimbangan yang paling dominan dalam mengadopsi teknologi pada IK-PHP. variabel penentu agar teknologi dapat lebih cepat diadopsi (KAT).

Deperindag.. E-Commerce Technology Adoption Framework by New Zealand Small to Medium Enterprises. Measuring levels of use of the Innovation. 27 (1). Vol. Hanani. JURNAL SOSIOTEKNOLOGI. Program dan Strategi Pembangunan Industri Kimia. BPPT: Prosiding Seminar Teknologi untuk Negeri 2003.M. Jakarta: Ghalia Indonesia. E. Fliegel. Newlove.T. Jakarta: LP3ES.J. Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 – Yogyakarta. Austin.. M. Jakarta: Dirjen Industri Kimia. E. A. Jakarta: Departemen Pertanian. winter. Beulah W. and Al-Qirim. 2004. MZ. Extention Communication and Management. A. Studi Kelayakan Pemanfaatan Bioteknologi untuk Peningkatan Produksi di UPT. Kivlin and G. Mardikanto. G. Projosuhardjo. Departemen Perindustrian. Agustus 2006. Majalah Prisma No.R. Gene E. Rachmayanti.2003.Surakarta:Universitas Sebelas Maret. IV April 1987. Yogyakarta: Pustaka Jogja Mandiri. 1982. Frohman. Ilmu Penyuluhan PertanianII.140–155. 1971. 18-19 November 2008 17 . 2000. Putting Technology in Strategic Planning. Ditjen P2HP. Ibrahim. Edisi 8 Tahun 5.S.1985. 2005. Pengembangan Disiplin Ilmu di Institusi Pendidikan Teknologi dalam Membangun Budaya Informasi untuk UKM. Susan F. Bambang Risdianto. Rashid. Strategi Pembangunan Pertanian. Agro. 63-70. Puslitbang BAKMP. 2(1). Sekhon.DAFTAR PUSTAKA Angkasa. “Adopsi Inovasi Teknologi dalam Industri Kecil”. Pengantar Penyuluhan Pertanian..E. Rietveld. Wisman Indra. 2005a. dan Kasman. 2005. dan Hasil Hutan (IKAH) 2005-2009. T.C. and Hall. V. Muttaqin. Agro. Ray. A.L. Message Distartion and The Diffusion of Innovations in Northern India. Vol. N. Revitalisasi Agroindustri Perdesaan. Research Letters Information Mathematical Science. M. 2003. Najiyati. dan Hasil Hutan.. J. Journal California Management review. 1998. Kebijakan Pembangunan Industri Nasional.L. 2006. Pengkajian Mekanisme Difusi Teknologi Tepat Guna Pertanian. Gumbira. Sosiological Ruralis. (2001). 1987.N. 1987. Loucks. hal. Piet. Sri. 1975 . Surakarta: Hapsara Munaf D. The University of Texas. Texas. Manajemen Teknologi Agrobisnis.. Naya Prokasih India... Purnomo.

Inc. Bogor Sudaryanto. 2005. IPB. 18-19 November 2008 18 . 2003. Usaha Nasional.E. Rogers.. Gaining Advanced Manufacturing Technologies Benefit: The Role of organitation design and culture.Academy of Management Review.M dan F. R. 2005. Memasyarakatkan Ide-Ide Baru. 22(3). Disarikan Oleh Abdilah Hanafi. Everett M.. (1971). A Division of Macmillan Publishing Co Inc. 4 th ed. Subang: Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna (B2PTTG) LIPI. Slamet. M. Communication of Innovation A Cross Cultural Approach. 2000. 2003. 12 Juli 2005.1992. Sudarmo. Bahan Bacaan Penyuluhan Pertanian. Muhammadi Siswo.Roger.17(4) Prosiding Seminar Nasianal Teknik Pertanian 2008 – Yogyakarta. Adopsi Teknologi oleh UKM Masih Rendah. 1981. Diffusion of Innovations. Zammuto. Yogyakarta: UGM. Perspektif Pengembangan Teknologi Tepat Guna.com. Bisnis. Strategi Penerapan Alsintan Pascapanen Tanaman Pangan Di Jawa Timur Dalam Memasuki AFTA 2003.Net . Tastra.All Rights Reserved. Jurnal Litbang Pertanian.New York: The Free-Press. IK. Diktat Matakuliah Evaluasi Penyuluhan Pertanian. Arie.K. E. Wiryono. Rogers.1978. New York: The Free Press A division of Macmilan Publishing Co. copyright © Sajadah.M. Floyd Shomaker.F dan Connor. Surabaya. 1995.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful