P. 1
Sistem Pemberian Skor (Angka) _Kelompok 1

Sistem Pemberian Skor (Angka) _Kelompok 1

|Views: 301|Likes:

More info:

Published by: Kholifah Z-Al Aswaja on Mar 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2015

pdf

text

original

Dosen : Ibu Ati Sumiati, S.Pd.,M.Si.

Disusun Oleh : Dwi Alfrinna Alfalah (8105108060) Renova (8105108074) Siti Nurkholifah (8105108128) Nur Cholifah Pratiwi (8105108130)

Program Studi Pendidikan Akuntansi Non Reguler 2010 Jurusan Ekonomi dan Administrasi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta 2012

KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirobbil’alamin , segala puji dan syukur kami ucapkan kepada Allah SWT karena atas rahmat dan hidayah-Nya maka penyusunan makalah ini dapat kami selesaikan. Kami mengucapkan terima kasih kepada orang tua kami yang telah mendukung kami dalam belajar selama ini, kami juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Ati Sumiati selaku Dosen Mata kulaih Evaluasi Pengajaran di Universitas Negeri Jakarta yang banyak membantu kami dalam memahami materi disetiap mata kuliah yang diajarkan. Diharapkan dengan adanya makalah ini dapat memberi manfaat bagi mahasiswa, ataupun masyarakat umum yang membaca dan mempelajarinya. Pembahasan dalam makalah ini dipaparkan secara praktis dan sederhana sehingga mudah untuk dipahami. Seperti pepatah yang mengatakan “tak ada gading yang taj retak” begitu juga dengan makalah ini yang belum sempurna kami buat. Oleh karena itu kami menerima kritik dan saran dari para pembaca guna kesempurnaan makalah ini di masa yang akan datang.

Jakarta, 15 September 2012

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR DAFTAR ISI
BAB I ................................................................................................................................................. 4 PENDAHULUAN.......................................................................................................................... 4 A. B. C. Latar Belakang ................................................................................................................. 4 Rumusan Masalah ............................................................................................................ 5 Tujuan Penulisan.............................................................................................................. 5

BAB II ................................................................................................................................................ 6 PEMBAHASAN ............................................................................................................................ 6 A. B. C. D. E. Penskoran dan Penilaian ................................................................................................. 6 Jenis-Jenis Kunci Pemberian Skor ................................................................................. 8 Pedoman Penilaian Penilaian ........................................................................................ 20 Prinsip-Prinsip Penilaian............................................................................................... 26 Prosedur Pemberian Nilai ............................................................................................. 30

BAB III............................................................................................................................................. 34 KESIMPULAN ............................................................................................................................ 34

DAFTAR PUSTAKA

Sama halnya seperti seorang ilmuwan . Makalah ini dibuat sebagai bentuk untuk memahami penguasaan konsep terhadap materi perkuliahan terkait dengan sistem pemberian skor yang harus dikuasai oleh mahasiswa sebagai seorang calon pendidik.BAB I PENDAHULUAN A. makalah ini di susun dengan menggunakan berbagai sumber dari buku referensi yang pembahasannya dapat di pertanggungjawabkan dan internet seperti yang terdapat dalam daftar pustaka. guru harus pandai menentukan teknikteknik dalam sistem pemberian skor untuk menilai sejauh mana keberhasilan siswa dan siswi dalam mengikuti pelajaran. di dalam mendidik terdapat kriteriakriteria tertentu dalam menentukan apakah siswa atau siswi yang didik tersebut berhasil dalam mencapai kompetensi mata pelajaran yang di pelajari . Untuk mencapai kompetensi dasar . Hasil-hasil tersebut menjadi tolak ukur bagaimana siswa dan siswi memahami materi pelajaran yang di ajarkan. . jika seorang ilmuwan melakukan berbagai eksperimen di dalam laboratorium maka guru pun melakukan hal yang sama. Dalam memberikan penilaian pun seorang guru harus memahami apa saja yang menjadi acuan dan prinsip-prinsip dalam memberikan penilaian secara obyektif kepada siswa dan siswi . Dalam mencerdasakan anak-anak bangsa . Dalam menentukan keberhasilan tersebut guru harus bisa memberi penskoran dan penilaian yang adil dan obyektif kepada siswa dan siswinya . hanya saja yang menjadi penelitian untuk seorang guru adalah anak-anak bangsa yang wajib di cerdaskan secara intelektual dan moral yang baik. Latar Belakang Mendidik adalah tugas utama seorang Guru.

Mengetahui teknik-teknik yang tepat untuk memberikan penskoran dan penilaian. Mampu mengklasifikasikan jenis prosedur penilaian . Rumusan Masalah 1. Dapat mengidentifikasi pedoman atau acuan dalam penilaian 6. Apakah perbedaan penskoran dan penilaian ? 2. Apa saja jenis-jenis dalam kunci pemberian skor ? 3. Mengetahui jenis-jenis dalam kunci emberian skor 3.B. Dapat menguraikan prinsip-prinsip penilaian 7. Bagaimana prinsip-prinsip dalam pemberian penilaian ? 5. 5. Tujuan Penulisan 1. Apa saja jenis prosedur penilaian ? C. Apa saja yang menjadi pedoman dalam penilaian ? 4. Mampu membandingkan teknik-teknik yang ada dan menyesuaikannya dengan situasi dan kondisi perkembangan dunia pendidikan. 4. Mengetahui perbedaan penskoran dan penilaian 2.

 Nilai : Angka ubahan dari skor dengan menggunakan acuan tertentu. Penskoran dan Penilaian Penskoran merupakan langkah pertama dalam proses pengolahan hasil tes pekerjaan siswa. banyak diantara para guru yang masih mencampuradukkan antara 2 pengertian yaitu skor dan nilai. kecemasan. dan E. Skor sebenarnya sering juga disebut dengan skor univers – skor alam. Kelemahan butir tes. skor sebenarnya. yakni acuan normal atau acuan standar. dan ada pula yang dengan huruf A. Pengubahan skor menjadi nilai dapat dilakukan untuk skor tunggal. Yang terjadi selama ini. Angka-angka hasil penskoran tersebut kemudian diubah menjadi nilai-nilai melalui suatu proses pengolahan tertentu. dan lain-lain faktor dapat berakibat terhadap skor yang diperoleh. Penskoran adalah suatu proses pengubahan jawaban-jawaban tes menjadi angka-angka (mengadakan kuantifikasi). Penggunaan simbol untuk menyatakan nilai-nilai itu ada yang dengan angka. D. dan skor kesalahan. situasi yang tidak mendukung. C. atau 0-4. adalah nilai hipotesis yang sangat tergantung dari perbedaan individu berkenaan dengan pengetahuan yang dimiliki secara tetap.yaitu skor yang diperoleh. B. .  Skor : Hasil pekerjaan menskor yang diperoleh dengan menjumlahkan angka-angka bagi setiap soal tes yang dijawab betul oleh siswa. misalnya sesudah memperoleh skor ulangan harian atau untuk skor gabungan dari beberapa ulangan dalam rangka memperoleh nilai akhir untuk rapor. 0-100. Secara rinci skor dapat dibedakan atas tiga macam.BAB II PEMBAHASAN A. seperti angka dengan rentangan 0-10.

Perbedaan skor yang diperoleh dan skor yang sebenarnya. apakah tes objektif atau tes essay. Bahkan yang lebih memprihatinkan lagi. terutama dalam penilaian soal-soal essay. dan seterusnya. Jika tes yang berbentuk soal-soal essay tersebut dinilai oleh lebih dari satu orang. jadi bukan di skor terlebih dahulu. atau panjang-pendeknya jawaban sehingga cenderung menghasilkan penilaian yang kurang andal. pekerjaan siswa langsung diberi nilai. setiap soal diberi skor yang sama meskipun sebenarnya tingkat kesukaran soal-soal dalam tes yang disusunnya itu tidak sama. sering kali terjadi perbedaan-perbedaan di antara penilai. Di lembaga-lembaga pendidikan kita. tanpa pembobotan. Untuk soalsoal essay dalam penskorannya biasanya digunakan cara member bobot kepada setiap soal menurut tingkat kesukarannya atau banyak-sedikitnya unsure yang harus terdapat dalam jawaban yang dianggap paling baik. yang berarti dalam penilaiannya itu diikutsertakan pula unsure-unsur yang irelevan seperti kerapian dan ketidakrapian tulisan. . masih banyak pengajaran yang melakukan penskoran soal-soal essay. total skor diperoleh dengan menjumlahkan skor yang diperoleh dari semua soal. disebut dengan istilah kesalahan dalam pengukuran atau kesalahan skor. Misalnya: untuk soal nomor 1 diberi skor maksimum 4. gaya bahasa. proses penskoran dan penilaian biasanya tidak dibedakan satu sama lain. Hubungan antara ketiga macam skor tersebut adalah sebagai berikut : Skor yang diperoleh = skor sebenarnya + skor kesalahan Cara menskor hasil tes biasanya disesuaikan dengan bentuk soal-soal tes yang yang dipergunakan. untuk soal nomor 5 skor maksimum 10. Untuk soal-soal objektif biasanya setiap jawaban benar di beri skor 1 (satu) dan setiap jawaban yang salah diberi skor 0 (nol). hal ini sering kali menimbulkan terjadinya halo effect. Oleh karena itu. Hasil penilaian jadi kurang objektif. untuk soal nomor 3 diberi skor maksimum 6.

Nama lain dari menskor adalah memberi angka. menskor dan menilai merupakan pekerjaan yang menuntut ketekunan yang luar biasa dari penilai. dikenal 2 macam cara pula yaitu dengan denda atau rumus tanpa denda. Kunci jawaban dan kunci pemberian skor untuk tes bentuk pilihan ganda (Multiple Choice) Dengan bentuk tes seperti ini. Rumus perhitungan skor dengan denda adalah : . atau dapat juga disebut system denda. Dalam menentukan angka untuk tes bentuk pilihan ganda. dapat digunakan tiga macam alat bantu. Kesalahan seperti ini tidak akan selalu terjadi jika dalam pelaksanaannya diadakan pemisahan antara proses penskoran dan penilaian. sebaiknya menggunakan lembar jawaban dan nomor-nomor urutannya dibuat sedemikian rupa sehingga tidak memakan tempat. ditambah dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan tertentu. disebut pedoman penilaian Keterangan dan penggunaannya dalam berbagai bentuk tes. Untuk penskoran soal-soal objektif jika yang dipergunakan rumus correction for guessing. a. disebut kunci skoring 3) Pembantu menentukan angka. disebut kunci jawaban 2) Pembantu menyeleksi jawaban yang benar dan yang salah. Dalam hal menskor atau menentukan angka. B.bukan juga hasil penilaian seorang penilai sering kali berbeda terhadap jawaban-jawaban yang sama dari soal tertentu. testte diminta untuk melingkari atau tanda silang salah satu pilihan jawaban. Hanya untuk soal yang jumlahnya melebihi 30 buah. yaitu : 1) Pembantu menentukan jawaban yang benar. Jenis-Jenis Kunci Pemberian Skor Disamping penyusunan dan pelaksanaan tes. Dalam hal menentukan kunci jawaban untuk bentuk ini langkahnya sama seperti soal bentuk betul salah.

4. 2 ½ . bahwa karena tes obyektif bentuk multiple choice utem terdiri dari berbagai model yang masing-masing memiliki derajat kesukaran yang berbeda.Yang betul .Yang salah = 8 buah = 2 buah .Untuk multiple choice (obyektif) ∑ ∑ Contoh : .Banyanknya soal = 10 buah . Dalam hubungan ini . karena dialah orang yang paling tahu mengenai . maka bobot jawaban betul yang diberikan belum tentu 1. 2. sehingga jawaban yang salah sebanyak 2 butir. Maka skor yang diberikan adalah S = R = 8 Suatu hal yang perlu di catat ialah. yaitutester . Siswa menjawab dengan betul sebanyak 8 butir item . atau 5 misalnya. 3.Banyaknya pilihan = 3 buah Maka skornya adalah = 8 . orang yang paling tahu berapa bobot yang seharusnya diberikan terhadapa jawaban betul itu adalah si pembuat soal itu sendiri. melainkan bisa saja diberikan bobot 1 ½ .2 (3–1) =8–1=7 Adapun rumus perhitungan skor tanpa denda adalah : S=R Keterangan : S = Skor yang sedang di cari R = Right (Jumlah Jawaban betul ) Contoh : Tes Hasil belajar menyajikan 10 butir item bentuk multiple choice yang masingmasing itemnya dilengkapi dengan 5 buah option.

dereajat kesukaran yang dimiliki oleh masing-masing butir item yang dikeluarkan dalam tes hasil belajar. maka kedua rumus yang telah disebutkan di atas perlu dimodifikasi menjadi sebagai berikut : ( Rumus tanpa denda : S = R X Wt ) Contoh : Tes hasil belajar bidang studi bahasa arab menyajikan 50 butir item tes obyektif bentuk multiple choice dengan rincian sebagai berikut : Nomor urut item 01-10 11-20 21-30 Model multiple choice item MCI Model melengkapi 5 pilihan MCI Model asosiasi dengan 5 pilihan MCI Model melengkapi berganda MCI Model analisis hubungan antar hal MCI model analisis kasus Total Jumlah butir item 10 10 10 Bobot jawaban betul 1 1½ 1½ 31-40 41-50 10 10 50 2 4 - Misalkan dalam tes hasil belajar tersebut siswa bernama Erlina dari 50 butir utem tes tersebut dapat menjawab betul sebagai berikut : Model multiple choice item Melengkapi 5 pilihan Asosiasi dengan 5 pilihan Melengkapi berganda Analisis hubungan antar hal Analisis kasus Jumlah jawaban betul 8 6 4 7 3 . Sehubungan dengan itu. maka apabila dalam pemberian skor itu ditentukan bobot (weight) yang berbeda-beda.

Apabila dalam pemberian skor itu digunakan sanksi berupa denda.25 Adapun apabila dalam pemberian skor dilakukan tanpa memperhotungkan denda. skor yang diberikan kepada Erlina adalah sebagai berikut : Butir item Nomor Skor 01-10 8x1=8 11-20 6x1½=9 21-30 4x1½=6 31-40 7 x 2 = 14 41-50 3 x 4 = 12 Total 49 Kalau saja dalam tes hasil belajar tersebut seoraeng siswa dapat menjawab dengan betul keseluruhan item (50 butir item). maka skor yang diberikan kepada siswa tersebut ialah : Butir item Nomor 01-10 11-20 21-30 31-40 41-50 Total Skor 10 x 1 =10 10 x 1 ½ = 15 10 x 1 ½ = 15 10 x 2 = 20 10 x 4 = 40 100 . maka skor yang diberikan kepada siswa bernama Erlina adalah sebagai berikut : Butir item Nomor Option (0) Jawaban Betul (R) Jawaban salah (W) Skor yang diberikan Bobot (Wt) ( ( ( ( ( ) ) ) ) ) Model MCI 01-10 11-20 21-30 31-40 Melengkapi 5 pilihan 5 8 6 4 7 2 4 6 3 1 1½ 1½ 2 Asosiasi dengan 5 5 pilihan Melengkapi berganda Analisis hubungan antar hal Analisis kasus Total 5 5 41-50 5 3 7 4 ( ) 15. maka dengan menggunakan rumus : S = R x Wt.

untuk kualitas kemampuan atau penguasaan yang sama terlukiskan dalam angka berbeda-beda bagi setiap penilai. ada yang memakai 5-7. sedangkan kunci skoring adalah alat yang kita gunakan untuk mempercepat pekerjaan skoring. Oleh karena itu dalam hal ini testee (tercoba) hanya diminta untuk melingkari huruf B atau S. Kunci jawaban dan kunci pemberian skor untuk tes bentuk betul-salah Untuk tes bentuk betul-salah (true-false) yang dimaksud dengan kunci jawaban adalah deretan jawaban yang kita persiapkan untuk pertanyaan atau soal-soal yang kita susun.Di samping pendapat yang menganggap perlu digunakannya correction for guessing dalam penskoran. Misalnya. sulit bagi kita untuk membedakan secara halus antara nilai 5 ½. 5 7/8 dan sebagainya. ada pula pendapat yang menganggap bahwa penggunaan rumus correction for guessing itu tidak ada gunanya dan bahkan tidak mengenai sasarannya. Atau dengan kata lain. 2) Dalam kehidupan sehari-hari kita sering dihadapkan kepada keadaan kita harus menarik kesimpulan tanpa memiliki data informasi yang lengkap sehingga kemampuan menggunakan pengetahuan yang tidak lengkap menjadi suatu tujuan mata ajaran tertentu. Adapun alasan dari pendapat yang terakhir ini dikemukakan sebagai berikut: 1) Dalam praktek sulit sekali diketahui mana jawaban yang benar dan atau salah yang diperoleh sebagai hasil terkaan saja. maka kunci jawaban yang disediakan hanya berbentuk urutan nomor serta huruf dimana kita menghendaki untuk melingkari atau dapat juga diberi tanda X pada jawabannya. Persoalan ini akan lebih dipersulit lagi dengan adanya kebiasan yang salah dari para penilai atau pengajar yang hanya memakai rentangan angka 5-8. dan mana yang bukan hasil terkaan. b. 5 ¾. . dan semacamnya sehingga kualitas yang sama tidak dilukiskan dengan nilai yang sama.

B . agar : . B 8.S 5. B .S 3. B Ada baiknya kunci jawaban ini ditentukan terlebih dahulu sebelum menyusun soalnya.S .Dapat diketahui imbangan antara jawab B dan S . B . B . B .S 2. 3.S Catatan : Dengan pengalaman ini dapat kita ketahui bahwa lubang yang terlalu kecil berakibat tertutupnya jawaban testee.S 4.S Langkah 2 : Melubangi tempat-tempat lingkaran sedemikian rupa sehingga lingkaran yang dibuat oleh testee dapat dilihat. B . B . B 2. Misalnya : 1.Dapat diketahui letak atau pola jawaban B dan S Bentuk tes betul-salah sebaiknya disusun sedemikian upa sehingga jumlah jawaban B hamper sama banyaknya dengan jawaban S.Misalnya : 1. S 3. sedangkan lubang yang terlalu besar akan saling memotong. B 6. dan tidak dapat ditebak karena tidak diketahui pola jawabannya.S 5. S 4.S 2. B . B . B 5. B . S 10.S 4. S 9. S 7. 1. Kunci jawaban untuk tes bentuk ini dapat diganti kunci skoring yang pembuatannya melalui langkah-langkah sebagai berikut : Langkah 1 : Menentukan letak jawaban yang betul.

Banyaknya soal . Dalam menentukan angka (skor) untuk tes bentuk B-S ini kit adapt menggunakan 2 cara seperti telah disinggung didepan. Contoh diatas dihitung : . artinya jumlah soal dalam tes. yaitu : . Contoh : .Oleh karena itu.2 = 6 Kedua. Sedangkan dengan hukuman (karena diragukan adanya unsure tebakan). digunakan 2 macam rumus.Yang salah = 10 buah = 2 buah . dengan rumus : S = T – 2W T singkatan dari Total.Dengan hukuman atau dengan denda Tanpa hukuman adalah apabila banyaknya angka yang diperoleh siswa sebanyak jawaban yang cocok dengan kunci. Pertama. Dengan demikian maka tanda yang dibuat akan tampak jelas. cara menjawab dengan member tanda silang akan lebih baik daripada melingkari.Angkanya adalah = 10 – (2 x 2) = 10 – 4 = 6 . dengan rumus : S=R-W Singkatan dari : S = Score R = Right W = Wrong Skor yang diperoleh siswa sebanyak jumlah soal yang benar dikurangi dengan jumlah soal yang salah.Tanpa hukuman atau tanpa denda . tetapi hasilnya sama.Yang salah = 10 buah = 8 buah = 2 buah Angkanya adalah : 8 .Yang betul .Banyaknya soal .

Sebagai ancar-ancar dapat ditentukan bahwa angka untuk tiap nomor adalah 2. Usaha yang dikeluarkan oleh siswa sedikit. Tes bentuk isian ini. Maka angka yang diberikan sebagai imbalan juga harus lebih banyak. Dengan mengingat jawaban yang hanya satu pengertian saja. Satu kesulitan lagi adalah bahwa jawaban yang dipilih dibuat sedemikian rupa sehingga jawaban yang satu tidak diperlukan bagi pertanyaan lain. lengkap dan kurang lengkap. dianggap setaraf dengan tes jawaban singkat ini. Sebaiknya tiap soal diberi angka 2. Tetapi sebaliknya apabila jawabannya bervariasi misalnya lengkap sekali. Dapat juga angkah itu kita samakan dengan angka pada bentuk betul-salah atau pilihan ganda jika memang jawaban yang diharapkannya ringan atau mudah. 1. maka angkanya dapat dibuat bervariasi pula misalnya 2. tetapi lebih sulit daripada tes bentuk betul-salah atau bentuk pilihan ganda. Kunci jawaban dan kunci pemberian skor untuk tes bentuk jawaban singkat (Short answer test) Tes berbentuk jawaban singkat adalah bentuk tes yang menghendaki jawaban berbentuk kata atau kalimat pendek. demikian pula pertanyaan-pertanyaannya. d. Kunci jawaban tes bentuk ini dapat berbentuk deretan jawaban yang dikehendaki atau deretan nomor yang diikuti oleh huruf-huruf yang terdapat didepan alternative jawaban. Telah dijelaskan bahwa tes bentuk menjodohkan ini adalah tes bentuk pilihan ganda yang lebih kompleks. . Bentuk tes ini dapat digolongkan kedaam bentuk tes objektif.c. dan 1. Kunci jawaban dan kunci pemberian skor untuk tes bentuk menjodohkan (Matching) Pada dasarnya tes ini adalah bentuk tes pilihan ganda.5. maka angka bagi tiap nomor soal mudah ditebak. dimana jawabannya dijadikan satu.

dilanjutkan dengan pemberian angka untuk soal kedua 5) Mengulangi langkah-langkah tersebut bagi soal tes ketiga dan seterusnya hingga seluruh soal diberi angka 6) Menjumlahkan angka-angka yang diperoleh oleh masing-masing siswa untuk tes bentuk uraian Dengan membaca terlebih dahulu seluruh jawaban yang diberikan oleh ssiswa. kita dapat memperoleh gambaran lengkap tidaknya jawaban yang diberikan siswa secara keseluruhan. Kunci jawaban dan kunci pemberian skor untuk tes bentuk uraian (Essay test) Sebelum menyusun sebuah tes uraian sebaiknya kita tentukan terlebih dahulu pokok-pokok jawaban yang kita kehendaki. padahal kita menghendaki 5 unsur. 3) Memberi angka bagi soal pertama 4) Membaca soal kedua dari seluruh jawaban siswa untuk mengetahui situasi jawaban. Menghadapi situasi seperti ini. kita gunakan cara pemberian angka yang relatif. 2) Menentukan angka untuk soal pertam tersebut. kita menjadi tahu bahwa mungkin tidak ada seorang pun dari siswa yang menjawab dengan betul untuk sesuatu nomor soal.e. Ini adalah cara memberikan angka dengan . Saran tersebut adalah sebagai berikut : 1) Membaca soal pertama dari seluruh siswa untuk mengetahui situasi jawaban. Dengan demikian. sedangkan jika menjawab hanya 2 atau 1 unsur. Dengan membaca seluruh jawaban. Misalnya untuk sesuatu nomor soal jawaban yang paling lengkap mengandung 3 unsur. langkah-langkah apa yang harus kita lakukan pada waktu kita mengoreksi dan member angka tes bentuk uraian. maka pada jawaban yang paling lengkap itulah kita berikan angka 5. akan mempermudah kita dalam mengoreksinya. Ada sebuah saran. misalnya jika jawaban itu lengkap diberi angka 5. kurang sedikit diberi angka 4. kita berikan angka lebih sedikit. demikian seterusnya.

yaitu : 1) Membaca setiap jawaban yang diberikan siswa dan dibandingkan dengan kunci jawaban yang telah kita susun 2) Membubuhkan skor disebelah kiri setiap jawaba. Bahaya yang mengancam kita dalah masuknya unsur subjektivitas dalam diri kita sehingga kita seringkali melakukan hal-hal diluar keadilan. Cara dan kemampuan mempertahankan kebenaran pendapatnya c. Misalnya untuk penilaian ujian skripsi : a. kemudian dijumlah dan ditentukan nilai akhir. Adakalanya kita dituntut untuk memberikan nilai terhadap prestasi belajar siswa tanpa memberikan skor terlebih dahulu. Mutu skripsi yang tersusun. maka langkah-langkahnya akan lain. tetapi dibandingkan dengan jawaban yang sudah ditentukan oleh guru. Ini dilakukan per nomor 3) Menjumlahkan skor-skor yang telah dituliskan pada setiap soal. . meliputi unsur metodologi dan pembahasan teoritik b. Luasnya materi pendukung yang digunakan untuk menjawab d. cukuplah memadai. Untuk menguragi masuknya unsure subjektivitas dalam penilaian. Apabila memberikan angka berdasarkan pada standar mutlak. kita dapat menentukan sendiri aspek-aspek yang menjadi bagian dari penilaian.menggunakan atau mendasarkan pada norma kelompok. Apabila nilai ujian diberikan terhadap setiap butir pertanyaan. dan terdapatlah skor untuk bagian soal yang berbentuk uraian Dengan cara kedua ini maka skor siswa tidak dibandingkan dengan jawaban yang paling lengkap yang diberikan oleh siswa lain. (untuk pembimbing) kemandirian dan kelancaran dalam konsultasi Untuk masing-masing aspek dapat ditentukan berapa nilainya. Misalnya pada ujian lisan.

dari batas bawah ini kita memberikan tambahan nilai sebanyak jarak antara nilai batas bawah dengan pekerjaan mahasiswa. Bertitik tolak dari plafon/batas atas. Bertitik tolak dari batas bawah. Jadi kita berangkat dari bawah. Jadi berangkat dari atas kemudian turun.Dalam menentukan nilai terhadap tiap-tiap aspek ini pun kita dituntut untuk memberikan pertimbangan yang didasari oleh kebijaksanaan. Hal ini menyangkut criteria teentaang isi tugass. Kunci jawaban dan kunci pemberian skor untuk tugas Kunci jawaban untuk memeriksa tugas merupakan pokok-pokok yang harus termuat didalam pekerjaan siswa. Menurut pengalaman. . yaitu berfikir dari pekerjaan yang paling jelek diberi nilai berapa. b. Dengan cari ini kita berfikir mengenai kesempurnaan pekerjaan tetapi diukur menurut ukuran mahasiswa. Sebenarnya kita dapat mengambil salah satu dari 2 cara dibawah ini. Hal lain yang harus diperhatikan adalah tepatnya waktu penyerahan nilai. bukan diukur dengan kemampuan dosen atau ahli-ahli yang kita kagumi. f. digunakan suatu tolok ukur tertentu. yang berupa unjuk kerja atau penampilan. pemberian nilai dengan cara ini cenderung menghasilkan nilai yang tinggi. kemudian membandingkan hasil pekerjaan yang kita hadapi dengan nilai batas bawah tersebut. Namun sebagaai kelengkapan dalam pemberian skor. pemberian nilai dengan cara ini cenderung menghasilkan nilai yang rendah. Menurut pengalaman. yaitu : a. lalu nik. Selanjutnya berangkat dari nilai batas atas tersebut kita kurangkan sedikit-sedikit sejauh kesenjangan antara nilai batas dengan pekerjaan mahasiswa yang kita hadapi. Cara ini juga bisa diterapkan untuk menilai tugas atau yang bersifat relatif.

mutu hasil. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa di satu pihak kita lihat adanya peranan penting yang diberikan kepada nilai-nilai sebagai simbol prestasi akademis siswa. diberi bobot 2 A2 . tetapi di lain pihak kita melihat pula adanya kekurangan cara pemberiannya.Tolok ukur yang disarankan dalam buku ini sebagai ukuran keberhasilan tugas adalah :  Ketepatan waktu menyerahkan tugas  Bentuk fisik pengerjaan tugas yang menandakan keseriusan siswa/mahasiswa dalam mengerjakan tugas  Sistematika yang menunjukkan alur keruntutan pikiran  Kelengkapan isi menyangkut ketuntasan penyelesaian dan kepadatan isi  Mutu hasil tugas.kelengkapan isis.ketepatan waktu.bentuk fisik. diberi bobot 3 A5 . diberi bobot 3 Maka nilai hasil akhir tugas tersebut diberikan dengan rumus : NAT = 2 x A1 + A2 + 3 x A3 + 3 x A4 + 3 x A5 12 NAT adalah Nilai Akhir Tugas. diberi bobot 1 A3 . misalnya : A1 . diberi bobot 3 A4 . .sistematika. yaitu kesesuaian hasil dengan garis-garis yang sudah ditentukan oleh guru/dosen Dalam mempertimbangkan nilai akhir perlu difikirkan peranan masing-masing aspek kriteria tersebut.

C=2. yaitu “penilaian acuan patokan” dan “penilaian acuan norma” 1. Nilai-nilai yang dimasukkan ke dalam buku rapor dan lain-lain itu merupakan hasil pengolahan dan skor mentah yang diperoleh dari pekerjaan siswa dalam tes. Nilai-nilai tersebut dimasukkan ke dalam buku laporan pendidikan atau daftar nilai lainnya. Dalam hal ini dikenal dengan adanya dua patokan yang umum dipakai dalam penilaian itu. ada lembaga pendidikan yang menggunakan nilai angka dengan skala 0 sampai 100. Pedoman Penilaian Penilaian Di dalam setiap kegiatan belajar-mengajar selalu dilakukan penilaian. yaitu A.C. D=1. B=3. dan ada pula yang menggunakan nilai angka itu dengan skala 0 sampai 10. Pengolahan nilai-nilai menjadi nilai akhir seorang siswa dapat dilakukan dengan mengacu pada kriteria atau patokan tertentu. atau mungkin juga merupakan hasil pengolahan dari nilai-nilai subsumatif. dan F(TL)=0 Nilai angka ataupun huruf itu umumnya merupakan hasil tes atau ujian yang diberikan oleh guru atau dosen kepada para siswa atau mahasiswanya setelah mereka mengikuti pelajaran selama jangka waktu tertentu. Nilai- . Hasil penilaian disajikan dalam bentuk nilai angka atau huruf. atau E atauTL. Penilaian Acuan Patok (PAP) Suatu penilaian disebut PAP jika dalam melakukan penilaian itu kita mengacu pada suatu kriteria pencapain tujuan (instruksional) yang telah dirumuskan sebelumnya. Jika nilai-nilai huruf itu akan digunakan untuk menentukan indeks prestasi mahasiswa pada akhir semester atau pada akhir suatu program pendidikan. C. dan nilai ujian akhir semester. nilai tugas penyususnan makalah. Di perguruan tinggi umumnya digunakan nilai huruf. nilai-nilai huruf itu di transfer ke dalam nilai angka dengan bobot masing-masing sebagai berikut A=4. B. Dalam hal ini. D.

2. rayon. . pengertian “kelompok” yang dimaksud dapat berarti sejumlah siswa dalam suatu kelas. Perlu kiranya dijelaskan di sini bahwa criteria atau patokan yang digunakan dalam PAP bersifat mutlak. Yang dimaksud dengan “norma” dalam hal ini adalah kapasitas atau prestasi kelompok. siapa pun calon yang tidak memnuhi syarat-syarat tersebut dinyatakan gagal dalam tes atau tidak akan diterima sebagai siswa calon penerbang. Sebagai contoh . setelah ternyata bahwa nilai-nalai UN itu pada umunya sangat rendah sehingga tidak memnuhi syarat untuk dinyatakan lulus. kriteria itu bersifat tetap-setidak-tidaknya untuk beberapa tahun atau jangka waktu tertentu-dan berlaku bagi semua siswa yang mengikuti tes di lembaga yang bersangkutan. provinsi atau wilayah. Sebagai contoh kongkret hasil UAN untuk siswa SMP dan SMA/K merupakan hasil penilaian dengan cara PAP. sekolah. nilai-nilai yang diperoleh siswa diperbandingkan dengan nilai-nilai siswa yang lain yang termasuk di dalam kelompok itu. Akan tetapi. sedangkan yang dimaksud dengan “kelompok” disini adalah semua siswa yang mengikuti tes tersebut. Berdasarkan criteria atau patokan itu . Penilaian Acuan Norma (PAN) Secara singkat dapat dirumuskan bahwa penilaian acuan norma adalah penilaian yang dilakukan dengan mengacu pada norma kelompok. misalkan untuk dapat diterima sebagai calon penerbang di sebuah lembaga penerbangan. Jadi. Artinya. setiap calon harus memenuhi syarat antara lain tinggi badan sekurang-kurangnya165 cm dan memiliki tingkat kecerdasan (IQ)serendah-rendahnya130 berdasarkan hasil tes yang diadakan oleh lembaga yang bersangkutan.nilai yang diperoleh siswa dihubungkan dengan tingkat pencapaian penguasaan siswa tentang materi pengajaran sesuai dengan tujuan (instruksional) yang telah ditetapkan.

5. lebih dapat menggunakan median sebagai norma atau prestasi kelompok. untuk menyatakan normal kelompok sebaiknya digunakan mean. Rumus yang digunakan adalah : Keterangan : P = nilai rapor semester lima q = nilai rata-rata subsumatif semester enam R= Nilai UN murni n = koefisien dari R Dengan ketentuan bahwa rentangan harga atau koefisien R bergeral dari 2 sampai 0. dan jika hasil tes itu ternyata menunjukkan kurva yang miring positif atau negatif. . penentuan norma kelompok besarnya prestasi kelompok yang merupakan acuan penilaian (lihat kembali perumusan tentang PAN) menggunakan angka rata-rata (mean) atau median. Untuk menentukan lebar jarak skala nilai digunakan rentangan tertentu yang dihitung berdasarkan besarnya devisa standar-bagi penilaian yang menggunakan mean sebagai norma kelompok atau menggunakan rentangan persentilk-bagi penilaian yang menggunakan median sebagai norma kelompok. Pengolahan nilai dengan cara PAN dapat pula dilakukan dengan statistik. Adanya rentangan harga n ini dimaksudkan agar masing-masing provinsi dapat menggunakan nilai UN disesuaikan dengan kondisi wilayahnya.kemudian nilai UN itu diolah ke dalam PAN dengan menggunakan rumus tertentu dengan maksud agar nilai-nilai tersebut dapat diperbesar. Dalam hubungan ini. Jika hasil tes dari suatu kelompok menunjukkan kurva yang mendekati normal.

Dasar pikiran dari penggunaan standar ini adalah adanya asumsi bahwa di setiap populasi yang heterogen.bagi penilaian yang menggunakan median sebagai norma kelompok. penentuan norma kelompok besarnya prestasi kelompok yang merupakan acuan penilaian menggunakan angka rata-rata atau median. Untuk menentukan lebar jarak skala nilai digunakan rentangan tertentu yang dihitung berdasarkan besarnya deviasi standar-bagi penilaian yang menggunakan mean sebagai norma kelompok atau menggunakan rentangan presentik. lebih dapat menggunakan median sebagai norma atau prestasi kelompok. yaitu standar 100. Penggunaan standar mutlak ini terutama dipertahankan dalam penerapan prinsip tuntas. yang dalam uraian sebelum ini. dibandingkan dengan standar mutlak. . tentu terdapat : 1) Kelompok baik 2) Kelompok sedang 3) Kelompok kurang Dimulai dengan bakat yang dibawa sejak lahir yang dalam hal ini tampak sebagai indeks kecerdasan atau IQ. Didalam PAP. maka seluruh populasi tergambar sebagai sebuah kurva normal. Dalam penggunaan PAN. untuk menyatakan norma kelompok sebaiknya digunakan mean. Seperti yang sudah disinggung sedikit tentang penggunaan PAN dan PAP. dan jika ternyata hasil tes tersebut menunjukkan kurva yang miring positif atau negative. prestasi belajar seorang siswaa dibandingkan dengan siswa lain dalam kelompoknya. Kualitas seseorang sangat dipengaruhi oleh kualitas kelompoknya.Pengolahan nilai secara PAN dapat pula dilakukan dengan statistic. Dalam hubungan ini. Jika hasil tes suatu kelompok menunjukkan kurva yang mendekati normal. siswa digantungkan dengan sebuah standar tertentu.

didasarkan atas pencapaian siswa terhadap tujuan yang ditentukan 2) Nilai diperoleh dengan mencari skor rata-rata langsung dari skor asal (skor mentah) Contoh : Dari ulangan ke-1. memperoleh skor 80 (mencapai 80% tujuan) Dari ulangan ke-3.Apabila anak-anak itu belajar. Dengan standar mutlak 1) Pengmbangan skor terhadap siswa. Dengan standar relatif 1) Pemberian skor terhadap siswa juga didasarkan atas pencapaian siswa terhadap tujuan yang ditentukan . memperoleh skor 60 (mencapai 60% tujuan) Dari ulangan ke-2. akan terlihat demikian : a. Dengan demikian maka penilaian berdasarkan kurva normal merupakan hal yang tidak dapat dibantah lagi. maka prestasi atau hasil belajar yang diakibatkan itu pun akan tergambar sebagai kurva normal. dengan landaan dasara bahwa tingkat pencapaian belajar siswa akan tersebar kurva normal. kurva normal Intelligence Quotient kurva normal prestasi belajar Penggunaan penilaian dengan norma kelompok atau noma relatif ini untuk pertama kali dikemukakan pada tahun 1908 (Cureton 1971). memperoleh skor 50 (mencapai 50% tujuan) dibulatkan menjadi 63 Maka nilai siswa tersebut : b. Apabila standar relatif dan standar mutlak ini dihubungkan dengan pengubahan skor menjadi nilai.

Perbedaan kedua penilaian adalah sebagai berikut: 1. Keduanya dinilai kualitasnya dari segi validitas dan reliabilitasnya.2) Nilai diperoleh dengan 2 cara : a. digunakan sebagai subjek yang hendak dijadikan sasaran evaluasi. Penilaian acuan norma dan acuan patokan memerlukan adanya tujuan evaluasi spesifik sebagai penentuan fokus item yang diperlukan. Mengubah skor dari tiap-tiap ulangan lalu diambil rata-ratanya b. Keduanya mempersyaratkan perumusan secara spesifik perilaku yang akan diukur. Kedua pengukuran memerlukan sample yang relevan. 6. 3. 7. kedua pengukuran samasama nenerlukan item-item yang disusun dalam satu tes dengan menggunakan aturan dasar penulisan instrument. Sample yang diukur mempresentasikan populasi siwa yang hendak menjadi target akhir pengambilan keputusan. 4. baru diubah ke nilai Persamaan dan Perbedaan Penilaian Acuan Norma (PAN) dan Penilaian Acuan Patokan (PAP) Penilaian Acuan Norma dan Penilaian Acuan Patokan mempunyai beberapa persamaan sebagai berikut: 1. Menjumlahkan skor tiap-tiap ulangan. tes karangan. Penilaian acuan norma biasanya mengukur sejumlah besar perilaku khusus dengan sedikit butir tes untuk setiap perilaku. tes penampilan atau keterampilan. Keduanya menggunakan macam tes yang sama seperti tes subjektif. Keduanya digunakan ke dalam pendidikan walaupun untuk maksud yang berbeda. 5. Penilaian acuan patokan biasanya mengukur . Untuk mandapatkan informasi yang diinginkan tenyang siswa. Tujuan tersebut termasuk tujuan intruksional umum dan tujuan intruksional khusus 2.

dengan sendirinya dapat pula melakukan penilaian”. Penilaian acuan norma digunakan terutama untuk survey. . Penilaian acuan patokan digunakan terutama untuk penguasaan. 2.perilaku khusus dalam jumlah yang terbatas dengan banyak butir tes untuk setiap perilaku. termasuk di dalamnya teknologi pengukuran dan penilaian prestasi belajar siswa. 3. atau mungkin bahkan hingga kini. Prinsip-Prinsip Penilaian Kira-kira dua-tiga decade yang lalu. Penilaian acuan norma menekankan perbedaan di antara peserta tes dari segi tingkat pencapaian belajar secara relatif. Penilaian acuan patokan menekankan penjelasan tentang apa perilaku yang dapat dan yang tidak dapat dilakukan oleh setiap peserta tes. dengan sendirinya bisa mengajarkannya. D. Untuk dapat melakukan pengukuran dan penilaian secara efektif diperlukan latihan dan penguasaan teori-teori yang relevan dengan tujuan dari prosesbelajar-mengajar sebagai bagian yang tidak terlepas dari kegiatan pendidikan sebagai suatu sistem. Akan tetapi. dalil tersebut sudah mulai luntur. masih banyak orang berpendapat bahwa “siapa yang menguasai materi. yang dapat dilakukan secara intuitif atau secara trial and error saja. Penilaian acuan patokan mementingkan butir-butir tes yang relevan dengan perilaku yang akan diukur tanpa perduli dengan tingkat kesulitannya. Penilaian acuan norma lebih mementingkan butir-butir tes yang mempunyai tingkat kesulitan sedang dan biasanya membuang tes yang terlalu mudah dan terlalu sulit. kini banyak orang.khususnya para guru atau pengajar – mulai menyadari bahwa masalah pengukuran dan penilaian prestasi belajar siswa bukanlah pekerjaan yang mudah. dan (implicit di dalamnya) siapa yang bisa mengajar. 4. parallel dengan berkembangnya teknologi pendidikan.

Adapun beberapa prinsip penilaian itu ialah sebagai berikut: 1. Dengan macam dan jumlah ujian yang lebih banyak. jadi. Harus dibedakan antara penskoran dengan penilaian. 2. Penskoran berarti proses pengubahan prestasi menjadi angka-angka. dalam uraian berikut ini akan dibicarakan beberapa prinsip penilaian yang perlu diperhatikan sebagai dasar dalam pelaksanaan penilaian. Normsreferenced adalah penilaian yang diorientasikan kepada suatu kelompok tertentu. sesudah itu akan dibicarakan pula tentang prosedur pemberian nilai. perhatiannya terutama ditujukan kepada validitas dan kegunaan. 3. bisa diterima-tidak bisa diterima. Penilaian hendaknya didasarkan atas hasil pengukuran yang komperhensif. Dalam proses pemberian nilai hendaknya diperhatikan adanya dua macam orientasi. Ini berarti bahwa penilaian didasarkan atas sampel prestasi yang cukup banyak. sedangkan dalam penilaian kita memproses angka-angka hasil kuantifikasi prestasi itu dalam hubungannya dengan “kedudukan” personal siswa yang memperoleh angkaangka tersebut didalam skala tertentu. yang sesuai dengan fungsinya sebagai alat ukur. prestasi siswa dapat diungkapkan secara lebih mantap meskipun harus pula dicatat bahwa banyaknya macam dan jumlah ujian harus dibarengi dengan kualitas soal-soalnya. misalnya skala tentang baik-buruk. hasil evaluasi perseorangan siswa dibandingkan dengan kelompoknya. baik macamnya maupun jenisnya. Hal ini harus dibicarakan dalam uraian terdahulu.Sehubungan dengan itu. dinyatakan lulus-tidak lulus. yaitu penilaian yang norms-referenced dan yang criterion-referenced. perhatian terutama ditujukan kepada kecermatan dan kemantapan. Dalam penskoran. Untuk itu dituntut pelaksanaan penilaian secara sinambung dan penggunaan bermacam-macam teknik pengukuran. Prestasi kelompoknya itulah yang dijadikan patokan atau norm dalam menialai siswa secara . sedangkan dalam penilaian.

Penilaian norms-referenced selalu bersifat kompetitif intrakelompok. atau sikap pengajar yang tidak selalu memburu-buru setiap tugas yang diberikan. juga digunakan sebagai feedback. Criterion-referenced ialah penilaian yang dioreientasikan kepada suatu standar absolute. setidak-tidaknya menyadari bahwa . 4. pengajar dapat menetahui kelebihan dan kelemahan siswa tertentu sehingga selanjutnya ia dapat melakukan koreksi terhadap kesalahan yang dibuatnya dan atau member reinforcemence bagi prestasinya yang baik.seharusnya hasil penilaian para siswanya itu dipergunakan untuk “mawas diri” sehingga ia dapat mengetahui dimana letak kelemahan atau kekurangannya. Ini semua akan dapat dilakukan dengan baik jika guru benar-benar ikhlas dan beritikad baik untuk meningkatkan kualitas profesinya. Bagi guru – meskipun umumnya jarang dilakukan. Ini berarti bahwa tujuan penilaian.perseorangan. Dari hasil tes. disamping untuk mengetahui status siswa dan menaksir kemampuan belajar serta penguasaannya terhadap bahan pelajaran. atau baha pelajaran terlalu sukar dan tidak sistematis cara penyajiannya. Misalnya. baik kepada siswa sendiri maupun bagi guru atau pengajar. tanpa dihubungkan dengan suatu kelompok tertentu. atau mungkin juga alat evaluasinya yang tidak memenuhi syarat-syarat penyusunan soal dan tidak atau kurang relevan dengan materi pelajaran yang telah diberikan. Mungkin metode mengajar yang dipergunakannya kurang tepat. Penilaian criterionreferenced sangat relevan bagi lembaga pendidikan yang telah menggunakan kurikulum yang berdasarkan kompetensi. oenilaian prestasi siswa yang didasarkan atas suatu kriteria pencapaian tujuan instruksional dari suatu mata pelajaran atau bagian dari mata pelajaran yang diharapkan dikuasai oleh siswa setelah melalui sejumlah pengalaman belajar tertentu. Ia menyadari bahwa kegagalan siswa tidak automatis selalu merupakan tanggung jawab siswa. Kegiatan pemberian nilai hendaknya merupakan bagian integral dari proses belajarmengajar.

yang selanjutnya dapat merusak perkembangan psikis siswa dan mahasiswa sehingga pembentukan afektif dirusak karenanya. Artinya. Penilaian yang tidak adil mudah menimbulkan frustasi pada siswa. 5. jika dilihat dari segi lain. Meskipun untuk masing-masing sekolah dan lembaga pendidikan tinggi umumnya telah ditentukan criteria bagi tiap skala penilaian yang dipergunakannya.kegiatan belajar-mengajar itu pada hakikatnya adalah suatu proses komunikasi dua arah. Dalam usaha merumuskan karakteristik siswa beserta prestasinya yang secara ideal menggambarkan tingkat nilai pada tiap anak. Apa pun skala yang dipakai dalam penilaian. seperti baik sekali-baik-cukup-sedang-kurang-kurang sekali. baik siswa maupun pengajar sama-sama belajar. penilaian harus dilakukan secara adil. Atau. kriteria yang hanya dinyatakan secara umum. apa yang dinilai serta macam skala pe nilaian yang dipergunakan dan makna masing-masing skala itu. System penilaian yang dipergunakan hendaknya jelas bagi siswa dan bagi pengajar sendiri. bahwa di dalam proses belajar-mengajar. Sumber ketidakberesan dalam penilaian terutama adalah tidak jelasnya system penilaian itu sendiri bagi para guru. . hendaknya dipahami benar-benar apa isi dan maknanya. skala penilaian demi pengembangan sistem penilaian kiranya perlu dipertimbankan. belum dapat memberikan kejelasan yang memadai bagi keperluan penilaian yang lebih baik. setelah tahap pengukuran yang menghasilkan angka-angka itu dilaksanakan. prestasi-prestasi yang menduduki skor yang sama harus memperoleh nilai yang sama pula. jangan sampai terjadi penganakemasan atau penganaktirian. Penilaian harus bersifat komparabel. 6.

Prosedur ini dan berikutnya adalah prosedur yang telah memisahkan fase pengukuran dan fase penilaian dengan berbagai variaso. atau yang lebih lazim lagi angka atau skor yang sebenarnya merupakan “biji”. ialah prosedur yang tidak membedakan dengan jelas adanya dua fase yaitu fase pengukuran dan penilaian.E. Prosedur ini mengandung lebih banyak kelemahan dari pada kebaikan. Prosedur penilaian yang paling sederhana atau mungkin juga dapat dikatakan paling tua dan banyak dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan kita. Cara demikian segera dapat kita lihat kelemahnnya. Yang pertama ialah prosedur penilaian dengan membuat peringkat skor-skor dalam bentuk table-tabel distribusi dengan . langsung dianggap sebagai nilai. sambil memberi skor sekaligus pengajar itu menilai. seorang pengajar yang memberikan angka 6 pada pekerjan seorang siswa sudah implicit di dalam benaknya mengatakan bahwa siswa tersebut “lulus”. mulai dari yang relative sederhana sampai dengan yang lebih rumit dan sophiscated. Dalam pelaksanaanya sering dikacaukan antara penskoran dan penilaian. Jadi. Prosedur Pemberian Nilai Untuk dapat melakukan penilaian terhadap hasil belajar siswa dengan baik. dan nilainya itulah angka yang diperoleh dari penskoran. Dengan pengkajian ini diharapkan kita dapat memahami kelemahaan-kelemaha maupun kebaikan yang terkandung di dalam setiap prosedur penilaian. 1. 2. yang kemudian dipergunakan sebagai alat untuk menentukan vonnis kepada siswa atau mahasiswa yang memperoleh “biji” tersebut. Apalagi jika diingat bahwa rentangan nilai yang d ipergunakan guru-guru dalam angka 0-10 masih berbeda-beda. yakni bahwa angka 6 yang kemudian dikenakan sebagai nilai itu belum tentu mempunyai harkat yang sama dengan angka 6 yang dibuat oleh guru lain. perlu kita kaji beberapa prosedur penilaian dari yang sangat sederhana dan mengandung banyak kelemahan sampai kepada yang lebih rumit dan sophisticated.

Dalam hal ini . dengan penggunaan prosdur “distribusi peringkat ini guru atau penilai sekaligus menerapkan kedua orientasi penilaian. Misalnya 50% benar sama dengan nilai 5 (dalam skala penilaian 0-10). Hal ini yang perlu diperhatikan . atau sedang bagi kelompok siswa yang bersangkutan.membuat rentangan skor teoritis . terlalu sukar. jika kemudian skor-skor yang diperoleh siswa dimasukkan ke dalam rentangan skor teoritis itu . dengan langsung mentransformasikan persentase yang dimaksud menjadi nilai. Prosedur penilaian dengan menggunakan persentase (%) banyak digunakan karena dianggap lebih sederhana dan praktis. 3. peran guru atau penilai dituntut tanggung jawab profesionalnya dalam menentukan batas persyaratan penguasaan minimal dari hasil tes yang telah ditabulasikan itu. Prosedur ini didasarkan atas anggapan bahwa proses pengukuran yang dipergunakan sebagai dasar untuk menghitung persentase itu telah mempergunakan alat-alat yang memadai dan dianggap baik. Dari pemeriksaan secara visual demikian itulah penilai dapat menetapkan batas-batas penilaian sesuai dengan distribusi kelompok skor yang terlukis di dalam table. keandalan hasil penilaian dengan persentase ini sangat bergantung pada apakah “meteran” yang dipakai sebagai dasar perhitungan persentase itu benar atau tidak. maka rentangan dan distribusi skorskor actual itu dapat diperiksa secara visual bagaimana bentuk distribusi frekuensinya sehingga sekaligus kita dapat melihat apakah tes itu terlalu mudah . yaitu penilaian normoriented dalam bentuk kompetisi intrakelompok dan penila criterion oriented yaitu dari segi penguasaan minimal yang diharapkan sesuai dengan kapasitas (prestasi actual) kelompok atau kelas masing-masing. Penilaian dengan persentase ini umumnya dikaitkan dengan skala penilaian 0-10 atau 0-100.noleh karena itu . .

yaitu yang dinamakan prosedur perstandardisasian dan penormalisasian.4. tetapi sama sekali tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan persyaratan penguasaan minimal yang dikehendaki atau dengan penilaian yang bersifat criterion-oriented. Prosedur yang menggunakan teknik statistikk yang lebih kompleks.atau ujian masuk perguruan tinggi yang biasanya diikuti oleh sejumlah besar siswa. Misalnya . sebereapa jauh seorang siswa menyimpang dari prestasi rata-rata kelompoknya. 2) Jumlah kasus(siswa yang dites) cukup besar:minimal 50. Kelemahan lain ialah : prosedur ini hanya dapat memberikan informasi kepada kita mengenai posisi atau kedudukan prestasi perseorangan di dalam kelompoknya. Prosedur penilaian yang menggunakan teknik statistik seperti diuraikan di atas cocok dan baik digunakan jika: 1) Pancaran skor-skor actual yang diperoleh mendekati pencaran kurva normal. Hal inilah yang menunjukan salah satu kelemahan dari prosedur penstandardisasian dan penormalisasian itu. untuk penilaian terhadap hasil-hasil ujian akhir sekolah yang biasanya dilaksanakan secara rayonisasi. Oleh karena itu. Dikatakan penstandardisasian karena dalam mentransprmasikan skor-skor hasil pengukuran suatu kelompok siswa menggunakan rentangan yang disebut deviasi standar yaitu penyimpangan rata-rata yang di sebut mean.atau lebih baik lagi jika 100 ke atas. Proses penstandardisasian ini kemudian diteruskan dengan penormalisasian yaitu distribusi skor-skor itu dikonfrontasikan dengan distribusi kurva normal. prosedur penilaian terakhir ini lebih dapat dipertanggungjawabkan penggunaannya. Hal ini yang perlu juga disinggung dalam uraian tentang prosedur penilaian di sini ialah penilaian akhir yang didasarkan atas hasil penilaian-penilaian sebelumnya.

nilai akhir seorang mahasiswa diperoleh dengan mengalikan skor-skor dari tes dan tugas-tugas dengan bobotbobot itu. Prinsip pembobotan ini sejalan dengan prosedur perhitungan Indeks Prestasi (PI) seperti yang biasa dikenakan terhadap mahasiswa pada akhir program studinya dilembaga yang bersangkutan. dan sebagainya) pengangkaannya dapat dilakukan dengan mengadakan “pembobotan” (weighting). yaitu dinyatakan dalam bentuk angka-angka. praktek di laboratorium. Pada prinsipnya. . tetapi untuk soal-soal subjektif dan yang tidak berbentuk tes(karya tulis atau makalah. Untuk tes dengan soal-soal objektif hal ini dengan mudah dapat dilaksanakan. Menurut pelaksanaannya. semua informasi hasil penilaian terlebih dulu harus dikuantifikasikan.penilaian terhadap prestasi seorang mahasiswa yang telah mengikuti beberapa ujian dan mengerjakan berbagai tugas di laboratorium. dan sebagainya dalam suatu mata kuliah selama satu semester. membuat makalah.

hal. 2. proses. atau obuek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas. maka dapat si simpulkan sebagai berikut: 1. Menskor adalah suatu tindakan pengukuran yaitu pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki oleh orang. Harus dibedakan antara penskoran dengan penilaian . Kedua pendekatan tersebut adalah criterion-referenced atau Pendekatan Acuan Patokan (PAP) dan normsreferenced atau Pendekatan Acuan Norma (PAN) 4. Kedua pendekatan ini memiliki tujuan. Untuk menginterpretasikan suatu skor menjadi nilai atau mengolah skor menjadi nilai diperlukan suatu acuan atau pedoman. Penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran (score) hasil belajar baik yang menggunakan tes maupun non tes. Dalam menentukan pemberian skor terdapat jenis-jenis kunci yang berbeda tergantung dari setiap jenis tes yang diberikan apakah tes bentuk pilihan ganda (Multiple Choice) .BAB III KESIMPULAN Dari uraian-uraian singkat yang telah di tulis. tes bentuk jawaban singkat (Short answer test). tes bentuk menjodohkan (Matching). tes bentuk uraian (Essay test) dan tes bentuk tugas. Prinsip penilaian yang perlu diperhatikan sebagai dasar dalam pelaksanaan penilaian diantaranya adalah Penilaian hendaknya didasarkan atas hasil pengukuran yang komperhensif. Terdapat dua acuan guna menafsirkan skor menjadi nilai. tes bentuk betul-salah.Dalam proses pemberian nilai hendaknya diperhatikan adanya dua . 3. standard an juga akan menghasilkan nilai yang berbeda. Karena itulah pemilihan dengan tepat pendekatan yang akan digunakan menjadi penting.

Prosedur penilaian dengan menggunakan persentase dan Prosedur yang menggunakan teknik statistik . Penilaian harus bersifat komparabel dan System penilaian yang dipergunakan hendaknya jelas bagi siswa dan bagi pengajar sendiri.macam orientasi yaitu penilaian yang norms-referenced dan yang criterionreferenced . prosedur penilaian dengan membuat peringkat skor-skor dalam bentuk table-tabel distribusi. Jenis-jenis prosedur dalam penilaian diantaranya adalah prosedur yang tidak membedakan dengan jelas adanya dua fase yaitu fase pengukuran dan penilaian. 5. Kegiatan pemberian nilai hendaknya merupakan bagian integral dari proses belajar-mengajar.

1997. Jakarta : Raja Grafindo Persada http://blogwirabuana.DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Pengantar Evaluasi Pendidikan . Ngalim. 2007. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan . Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran . Jakarta : Bina Aksara Purwanto.wordpress. Bandung : Remaja Rosdakarya Sudijono.Suharsimi.com/2011/03/16/penilaian-acuan-norma-pan-danpenilaian-acuan-patokan-pap/ . Anas. 2007.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->