P. 1
Nota Kesepahaman

Nota Kesepahaman

|Views: 3,082|Likes:
Published by leestone

More info:

Published by: leestone on Mar 10, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/27/2012

pdf

text

original

NOTA KESEPAHAMAN

No : …./…../….-…./…./2009 PENGADAAN MATERIAL ................ MERK .................... PADA PEMBANGUNAN PERUMAHAN TAHAP PERTAMA PROYEK SAWANGAN VILLAGE, DEPOK

Pada hari ini ........ tanggal ...... bulan ....... tahun dua ribu sembilan (...–...–2009), kami yang bertandatangan dibawah ini :
1.

Ir. H. Agusnar, dalam kapasitasnya selaku Direktur Teknik PT. Patrialand Utama Development dan oleh karenanya bertindak untuk dan atas nama PT. Patrialand Utama Development yang didirikan berdasarkan hukum Republik Indonesia dan berkedudukan di Jl. Raya Mochtar No 1, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Depok, Jawa Barat, selanjutnya disebut sebagai Pihak Pertama. …………………., dalam kapasitasnya selaku ……………… PT. ……………… dan oleh karenanya bertindak untuk dan atas nama PT. ………………. yang didirikan berdasarkan hukum Republik Indonesia dan berkedudukan di Jl. …… ……………............................................................ Telp : (…) ………….., Fax : (…) ……..…….., selanjutnya disebut sebagai Pihak Kedua.

2.

Dimana Pihak Pertama dan Pihak Kedua secara bersama-sama disebut Para Pihak. Para Pihak dalam kapasitasnya tersebut diatas terlebih dahulu menerangkan : • Bahwa Pihak Pertama adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang Developer dan sedang membangun Proyek Sawangan Village yang berlokasi di Jl. Raya Mochtar No 1, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Depok, Jawa Barat. Bahwa Pihak Kedua adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengadaan material bahan bangunan berupa ….……. dengan merek ……..… Bahwa Pihak Kedua bermaksud untuk mengadakan kerjasama dengan Pihak Pertama dalam hal pengadaan material ………...……… dengan merek …………, dimana pelaksanaan pembangunan perumahan proyek tersebut dikerjakan oleh para kontraktor (Dalam hal ini disebut sebagai Pihak Ketiga) yang ditunjuk oleh Pihak Pertama.

• •

Selanjutnya berdasarkan kesepakatan bersama dan uraian tersebut diatas, Para Pihak menyetujui mekanisme kerjasama seperti yang diatur dalam ketentuan dan syarat sesuai pasal-pasal berikut ini.

PASAL 1 DASAR DAN LINGKUP PEKERJAAN (1). Tujuan dari kesepakatan adalah adanya kerjasama Para Pihak berdasarkan itikad baik dan saling menguntungkan (tanpa ada pihak yang merasa dirugikan) guna pelaksanaan pembangunan proyek sesuai dengan ketentuan dan syarat yang telah disetujui Para Pihak dalam kesepakatan ini.

(2)

Pihak Pertama dalam kapasitasnya seperti tersebut diatas menyetujui memakai merek ‘…………….’ dalam hal pengadaan material ……………, yang diperuntukkan dalam pelaksanaan pembangunan perumahan Tahap Pertama pada Proyek Sawangan Village dimana pelaksanaannya dikerjakan oleh Pihak Ketiga.

(3) Pihak Pertama dalam kapasitasnya seperti tersebut diatas menyetujui pemberian ijin kepada Pihak Kedua untuk menjual langsung barang/produknya yaitu material berupa ………………….. (dengan merek dan spesifikasi teknis yang diinginkan oleh Pihak Pertama) kepada Pihak Ketiga (4) Pada intinya, Pihak Pertama menginginkan terjalinnya kerjasama yang baik dan saling menguntungkan antara Para Pihak dengan Pihak Ketiga sehingga pelaksanaan proyek dapat berjalan dengan lancar. PASAL 2 HARGA BARANG dan PEMBAYARAN (1) Pihak Pertama menyetujui harga yang diberikan oleh Pihak Kedua kepada Pihak Ketiga untuk pembangunan beberapa unit rumah Tahap Pertama pada Proyek Sawangan Village dengan tipe 30/72, tipe 36/90 dan tipe 45/120 adalah sesuai dengan Penawaran Harga No. ................................... tanggal ........................... (terlampir) dengan perincian sebagai berikut :
NO Jenis Produk Harga

1 (2)

............... Uk. .................... Cm

Rp ..................,00

Harga-harga tersebut diatas adalah tetap (fixed price) kecuali ada hal-hal diluar kekuasaan Pihak Kedua yang menyebabkan kenaikan bahan baku maka harga akan dinegosiasikan kembali. Harga tersebut diatas adalah harga sampai ke lokasi proyek diatas truk sebagaimana disebutkan Pasal 3 Nota Kesepahaman ini. Harga barang diatas sudah termasuk PPN 10 % Harga barang diatas adalah berlaku sampai dengan tanggal 31 Desember 2009. PASAL 3 PEMESANAN, PENGIRIMAN DAN PENYERAHAN BARANG

(3) (4)

(1) Pembelian barang/produk milik Pihak Kedua dilakukan oleh Pihak Ketiga (Bukan oleh Pihak Pertama) sehingga Pihak Ketiga-lah yang membuat Surat Pemesanan/Purchase Order (PO) untuk pembelian barang/produk milik Pihak Kedua. (2) Pihak Pertama akan memberikan daftar/list nama-nama beserta nomor telpon Pihak Ketiga kepada Pihak Kedua setelah Pihak Pertama menunjuk para kontraktor yang tergabung dalam Pihak Ketiga tersebut.

(3) Diperlukan sifat proaktif Pihak Kedua untuk menghubungi Pihak Ketiga dalam hal Pemesanan Barang. Bila adanya ganjalan dari Pihak Ketiga terhadap pemesanan barang milik Pihak Kedua maka sesegera mungkin Pihak Kedua melaporkan permasalahan tersebut kepada Pihak Pertama agar Pihak Pertama membantu mencarikan solusi atau jalan keluar sehingga tidak ada pihak yang dirugikan. (4) Demi terjalinnya kerjasama Para Pihak dengan Pihak Ketiga dalam hal pemesanan barang/produk milik Pihak Kedua oleh Pihak Ketiga sehingga terwujud keseragaman jadwal/schedule pelaksanaan proyek maka Pihak Kedua diwajibkan memberi salinan dalam bentuk fotocopy kepada Pihak Pertama terhadap semua Surat Pemesanan/Purchase Order selambat-lambatnya 2 (dua) hari setelah Pihak Kedua menerima surat pesanan (PO) dari Pihak Ketiga. (5) Pihak Kedua akan mengirimkan barang atas dasar surat pesanan (PO) yang sudah diterima dari Pihak Ketiga, maksimal 7 (tujuh) hari kerja setelah surat pesanan (PO) diterima Pihak Kedua. (6) Pihak Kedua berkewajiban mengirim barang ke lokasi sesuai jadwal/schedule distribusi barang yang telah diberikan oleh Pihak Ketiga maupun Pihak Pertama. (7) Penyerahan barang Pihak Kedua kepada Pihak Ketiga berdasarkan Franco dalam lokasi proyek Sawangan Village (diatas truk). Sebelum barang diberikan ke Pihak Ketiga, Truk Pengangkut Barang Pihak Kedua harus meminta ijin kepada staff bagian Administrasi Pihak Pertama yang bertempat di ‘Kantor Teknik Proyek Sawangan Village’ agar dapat dicek jumlah barang yang dikirim dan menyortir kualitas/mutu barang tersebut. (8) Bila ternyata kualitas BARANG tersebut dibawah Standart yang berlaku maka Pihak Kedua diharuskan mengganti sejumlah Barang tersebut sesuai dengan persyaratan spesifikasi teknis yang telah disetujui oleh Pihak Pertama dan Pihak Ketiga. (9) Apabila terdapat material yang rusak/pecah selama transportasi, maka Pihak Kedua bertanggung-jawab mengganti barang tersebut kepada Pihak Ketiga sesegera mungkin sehingga pengiriman dapat tercukupi sesuai jadwal pelaksanaan proyek yang diinginkan oleh Pihak Ketiga dan Pihak Pertama. PASAL 4 PEMBAYARAN Perlu diketahui Pihak Pertama bahwa sistem pembayaran Pihak Ketiga terhadap pembelian barang/produk milik Pihak Kedua adalah sebagai berikut : (1) Pihak Kedua akan menyerahkan dokumen-dokumen penjualan sebagai tagihan kepada Pihak Ketiga. Adapun dokumen-dokumen tersebut adalah : (a) (b) (c) (d) Nota Penjualan Faktur Pajak Surat Jalan Surat Pemesanan (PO)

(2)

Pihak Ketiga berkewajiban melakukan pembayaran 30 (tiga puluh) hari kalender dari invoice yang diterima. Apabila dalam waktu yang telah ditentukan, Pihak Ketiga tidak melaksanakan pembayaran kepada Pihak Kedua maka dalam tenggang waktu 15 (lima belas) hari kalender setelah jatuh tempo tanggal pembayaran Pihak Ketiga tersebut, Pihak Kedua akan melakukan hal-hal sebagai berikut : (a) Pihak Kedua akan melayangkan surat teguran keras atas keterlambatan pembayaran kepada Pihak Ketiga. (b) Pihak Kedua akan memberitahukan kepada Pihak Pertama agar Pihak Pertama bersedia menegur dan menindak secara tegas Pihak Ketiga atas keterlambatan/kemangkiran pembayaran Pihak Ketiga kepada Pihak Kedua tersebut. Pihak Kedua berkeinginan, apapun tindakan tegas yang akan dilakukan Pihak Pertama kepada Pihak Ketiga, guna mempercepat kelancaran keterlambatan pembayaran Pihak Ketiga kepada Pihak Kedua. (c) Dalam konten kontrak kerjasama pembelian barang/produk milik Pihak Kedua yang telah dipesan oleh Pihak Ketiga, Pihak Kedua akan memberikan sanksi kepada Pihak Ketiga terhadap keterlambatan pembayaran yang dimaksud diatas sebesar 1 0/00 (satu per-mil) dari nilai tagihan yang akan jatuh tempo untuk setiap hari keterlambatan, dengan denda maksimum 5% (lima persen) dari nilai tagihan yang jatuh tempo tersebut yang dibayarkan Pihak Ketiga kepada Pihak Kedua. PASAL 5 JAMINAN PENGADAAN

(1)

Pihak Kedua menjamin kepada Pihak Pertama bahwa spesifikasi teknis keseluruhan BARANG dengan ketentuan seperti tersebut dalam pasal 1 perjanjian ini dapat dipenuhi oleh Pihak Pertama. Pihak Kedua diwajibkan memberikan sertifikat garansi selama ….. tahun untuk menjamin mutu/kualitas barang/produknya kepada Pihak Pertama pada setiap rumah yang memakai barang/produk milik Pihak Kedua. Dan bila terjadi kerusakan terhadap mutu/kualitas barang milik Pihak Kedua selama masa garansi tersebut maka Pihak Kedua bersedia segera datang memenuhi panggilan Pihak Pertama untuk memperbaiki atau mengganti barang/produknya tersebut sesuai tingkat kerusakannya. Pihak Kedua menjamin kepada Pihak Ketiga bahwa jumlah barang yang dipesan oleh Pihak Ketiga kepada Pihak Kedua, dapat dipenuhi oleh Pihak Pertama sesuai jadwal yang telah diberikan Pihak Ketiga kepada Pihak Kedua. Adapun bila terjadi perubahan akan mengikuti ketentuan dan syarat yang telah disepakati Pihak Kedua dan Pihak Ketiga dalam bentuk Amandemen atau Addendumnya.

(2)

(3)

(4). Pihak Kedua tidak dibenarkan memindahtangankan pekerjaaan dan tanggungjawab atas alasan apapun kepada Pihak Lainnya TANPA seijin dan sepengetahuan dari Pihak Ketiga dan Pihak Pertama.

PASAL 6 KEADAAN MEMAKSA / FORCE MAJEURE 1. Keadaan memaksa/force majeure adalah keadaan yang berada diluar kekuasaan Para Pihak untuk dapat teratasi, misalnya : (a) Pemogokan umum atau tindakan industrial berskala nasional, huru-hara, blokade, teroris, peperangan atau permusuhan umum. (b) Kuasa Tuhan Yang Maha Mulia, misalnya gempa bumi, halilintar, angin topan, badai, banjir dan bencana alam lainnya. (c) Kejadian-kejadian lain yang tidak dapat diatasi oleh kedua belah pihak. (d) Krisis Ekonomi dan Politik. 2. Bila terjadi keadaan memaksa/force majeure seperti yang dimaksud diatas, maka Para Pihak sepakat untuk menetapkan sebagai berikut ; • Atas penyerahan barang yang terlambat, rusak/musnah yang dinyatakan sebagai akibat dari keadaan memaksa/force majeure, maka segala sesuatunya akan diselesaikan secara musyawarah mufakat.

3.

Apabila terjadi keadaan memaksa/force majeure dalam waktu 3 (tiga) hari kerja sejak terjadinya keadaan memaksa/force majeure, pihak yang menderita karena peristiwa tersebut harus memberitahukan secara tertulis kepada pihak lainnya disertai pengesahan oleh instansi yang berwenang tentang kebenaran keadaan tersebut. Kejadian-kejadian yang termasuk dalam pasal 6 ayat 1 diatas, baru diartikan keadaan memaksa/force majeure apabila memang terbukti bahwa keadaan tersebut mempunyai hubungan langsung dengan penerimaaan barang dan dinyatakan dalam berita acara yang ditandatangani Para Pihak.

4.

PASAL7 PERSELISIHAN (1) Segala masalah yang tercakup dalam kesepakatan ini atau karena kontrak pembelian barang antara Pihak Kedua dengan Pihak Ketiga, yang mungkin akan timbul dalam menjalankannya, akan diatur dan diselesaikan kemudian dengan itikad baik oleh masing masing pihak dalam bentuk musyawarah untuk mufakat dengan sepengetahuan Pihak Pertama. (2) Bila perselisihan, persengketaan atau gugatan yang timbul dari dan berkaitan dengan Nota Kesepahaman ini tidak teratasi oleh masing masing pihak, maka akan diselesaikan melalui arbitrase di Jakarta, Indonesia, sesuai dengan Peraturan Arbitrase, Badan Arbitrase Nasional Indonesia (BANI) dan penetapan putusan dari para arbitrator bersifat final dan mengikat pada Para Pihak dan tidak dimungkinkan adanya banding untuk keputusan tersebut . (3) Permohonan dibuat kepada pengadilan yang mempunyai kewenangan wilayah hukum menurut undang-undang untuk pelaksanaan penetapan yang dibuat dalam sidang arbritase tersebut. Kesepakatan ini diatur sesuai dengan perundang-undangan Negara Republik Indonesia.

(4) Untuk pelaksanaannya dan segala yang timbul dari nota kesepahaman ini, maka Para Pihak telah sepakat untuk memilih hukum yang tetap dan umum serta segala akibatnya di Kantor Panitera Pengadilan Negeri Depok, Jawa Barat. (5) Seluruh biaya Pengadilan Negeri Depok Jawa Barat, menjadi kewajiban dan beban kepada pihak yang kalah. PASAL 8 PEMBATALAN KESEPAKATAN (1) Pihak Pertama berhak membatalkan Nota Kesepahaman ini secara sepihak setelah memberi pemberitahuan secara tertulis selama 7 (tujuh) hari sebelumnya kepada Pihak Kedua dan tembusannya kepada Manajemen Konstruksi (MK), bila : a. Pihak Kedua telah melanggar kondisi Nota Kesepahaman. b. Pihak Kedua tidak memenuhi kegiatan berupa pengadaan dan pengiriman barang yang sesuai spesifikasi teknis, jumlah barang, dan jadwal pengiriman yang diinginkan Pihak Ketiga sehingga dapat memperlambat kegiatan pelaksanaan pembangunan yang dilakukan Pihak Ketiga. c. Pihak Kedua tidak mentaati perintah Project Manager (PM) dari Pihak Pertama setelah mendapatkan 3 (tiga) kali instruksi tertulis berturut-turut atas mutu material yang harus diganti/diperbaiki atau jumlah barang yang harus dikirim atau jadwal pengiriman yang harus ditepati. d. Pihak Kedua telah dinyatakan bangkrut atau dilikuidasi. e. Pihak Kedua telah mengalihkan pekerjaan baik keseluruhan atau sebagian kepada Pihak Lainnya tanpa persetujuan dari Pihak Ketiga dan Pihak Pertama. (2) Dalam hal terjadi Force Majeure, Pihak Pertama dan/atau Pihak Kedua berhak membatalkan kesepakatan, hal-hal yang mungkin timbul akibat pembatalan akan diselesaikan secara musyawarah. (3) Para Pihak sepakat dalam hal terjadi pembatalan Nota Kesepahaman ini akan mengabaikan pasal 1266 dan pasal 1267 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHP) Republik Indonesia. PASAL 9 AMANDEMEN / ADDENDUM Semua lampiran-lampiran dan surat-menyurat sampai dengan dibuatnya Nota Kesepahaman dan hal-hal lain yang belum atau belum cukup diatur dalam Nota Kesepahaman dan atau pembahasannya hanya dapat dilakukan atas persetujuan tertulis antara Pihak Pertama dan Pihak Kedua dan ditetapkan dalam suatu AMANDEMEN dan atau ADDENDUM yang merupakan satu kesatuan dalam bagian yang tidak terpisahkan dari Nota Kesepahaman ini. PASAL 10

BEA MATERAI DAN PAJAK Bea materai dari Nota Kesepahaman dan pajak-pajak lainnya yang mungkin timbul sebagai akibat dari kesepakatan ini dibebankan kepada Pihak Kedua sesuai dengan Perundang-undangan yang berlaku. PASAL 11 DOMISILI Sesuai dengan lokasi daerah dimana Proyek Sawangan Village berada, Para Pihak sepakat untuk memilih tempat kedudukan hukum yang umum dan tetap yaitu di Kantor Kepaniteraan Pengadilan Negeri Depok, Jawa Barat. PASAL 12 PENUTUP (1) Untuk meningkatkan pemasaran Pihak Marketing Sawangan Village maka Pihak Kedua diwajibkan mengadakan spanduk barang/produk milik Pihak Kedua, seminggu setelah penandatangan Nota Kesepahaman ini, dengan ukuran minimal 1m x 4m dan dipasang di depan Perumahan Sawangan Village. (2) Para Pihak berjanji untuk menyimpan isi dari Kesepakatan ini secara sangat rahasia dan setuju untuk tidak membuka rahasia berupa informasi apapun sehubungan dengan isi kesepakatan ini kepada siapapun yang tidak termasuk dalam Kesepakatan ini. (3) Judul yang ada dalam Nota Kesepahaman ini dimaksudkan untuk mempermudah saja dan sama sekali tidak mengurangi, membatasi, membentuk atau menguraikan lingkup atau maksud dari Pasal-pasal Kesepakatan ini atau mempengaruhi Kesepakatan ini. (4) Berdasarkan rencana pelaksanaan Kesepakatan ini, Para Pihak berjanji berusaha dan setuju untuk melaksanakan, menyelesaikan, dan melengkapi kewajibannya. Demikian kesepakatan ini dibuat dan ditandatangani oleh Para Pihak, pada hari, tanggal, bulan dan tahun sebagaimana tertulis pada kepala Nota Kesepahaman, dalam rangkap 2 (dua) yang sama bunyinya, bermaterai cukup dan masing-masing mempunyai kekuatan hukum yang sama serta diberikan kepada Para Pihak. Pihak Kedua PT. ............................. Pihak Pertama PT. Patrialand Utama Development

(.............................) Presiden Direktur

( Ir. H. Agusnar ) Direktur Teknik

Pasal 1266 dan Pasal 1267 Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUHP) Republik Indonesia. 1265. Suatu syarat batal adalah syarat yang bila dipenuhi akan menghapuskan perikatan dan membawa segala sesuatu kembali pada keadaan semula, seolah-olah tidak pernah ada suatu perikatan. Syarat ini tidak menunda pemenuhan perikatan; ia hanya mewajibkan kreditur mengembalikan apa yang telah diterimanya, bila peristiwa yang dimaksudkan terjadi. (KUHPerd. 997, 1169, 1258 dst., 1266 dst., 1381, 1519 dst.)

1266. Syarat batal dianggap selalu dicantumkan dalam persetujuan yang timbalbalik, andaikata salah satu pihak tidak memenuhi kewajibannya. Dalam hal demikian persetujuan tidak batal demi hukum, tetapi pembatalan harus dimintakan kepada pengadilan. Permintaan ini juga harus dilakukan, meskipun syarat batal mengenai tidak dipenuhinya kewajiban dinyatakan di dalam persetujuan. Jika syarat batal tidak dinyatakan dalam persetujuan, maka hakim dengan melihat keadaan, atas permintaan tergugat, leluasa memberikan suatu jangka-waktu untuk memenuhi kewajiban, tetapi jangka waktu itu tidak boleh lebih dari satu bulan. (KUHPerd. 1480, 1517, 1589, 1781 dst.)

1267. Pihak yang terhadapnya perikatan tidak dipenuhi, dapat memilih: memaksa
pihak yang lain untuk memenuhi persetujuan, jika hal itu masih dapat dilakukan, atau menuntut pembatalan persetujuan, dengan penggantian biaya, kerugian dan bunga. (KUHPerd. 1243 dst., 1480, 1517.)
-----------------------------------------------------------------------------------BANI adalah lembaga independen yang memberikan jasa beragam yang berhubungan dengan arbitrase, mediasi dan bentuk-bentuk lain dari penyelesaian sengketa di luar pengadilan. BANI didirikan pada tahun 1977 atas prakarsa tiga pakar hukum terkemuka, yaitu almarhum Prof Soebekti S.H. dan Haryono Tjitrosoebono S.H. dan Prof Dr. Priyatna Abdurrasyid, dan dikelola dan diawasi oleh Dewan Pengurus dan Dewan Penasehat yang terdiri dari tokohtokoh masyarakat dan sektor bisnis. BANI berkedudukan di Jakarta dengan perwakilan di beberapa kota besar di Indonesia termasuk Surabaya, Bandung, Pontianak, Denpasar, Palembang, Medan dan Batam. BANI telah mengembangkan aturan dan tata cara sendiri, termasuk batasan waktu di mana Majelis Arbitrase harus memberikan putusan. Aturan ini dipergunakan dalam arbitrase domestik dan internasional yang dilaksanakan di Indonesia. Pada saat ini BANI memiliki lebih dari 100 arbiter berlatar belakang berbagai profesi, 30% diantaranya adalah asing.

Di Indonesia minat untuk menyelesaikan sengketa melalui arbitrase mulai meningkat sejak diundangkannya Undang-undang Nomor 30 Tahun 1999 Tentang Arbitrase dan Alternatif Penyelesaian Sengketa Umum (UU Arbitrase). Penyelesaian sengketa di luar pengadilan telah menjadi pilihan pelaku bisnis untuk menyelesaikan sengketa bisnis mereka. Selain karakteristik cepat, efisien dan tuntas, arbitrase menganut prinsip win-win solution, dan tidak bertele-tele karena tidak ada lembaga banding dan kasasi. Biaya arbitrase juga lebih terukur, karena prosesnya lebih cepat. Keunggulan lain arbitrase adalah putusannya yang serta merta (final) dan mengikat (binding), selain sifatnya yang rahasia (confidential) di mana proses persidangan dan putusan arbitrase tidak dipublikasikan.

Tipe MU-200 MU-250 MU-300 MU-301 MU-380 MU-400 MU-440 MU-450 MU-L500

Jenis Produk Adukan acian Adukan acian diatas Plaster Adukan pasangan bata Adukan plesteran & pasangan bata merah Adukan pasangan bata ringan Adukan Perekat Keramik Dinding Adukan Perata Lantai Adukan Perekat Keramik Lantai Larutan Kedap Air

Estimasi Volume (sak)

Harga per kantong (40 kg) Rp 45.000 Rp 36.000 Rp 13.000 Rp 13.500 Rp 45.000 Rp 42.000 Rp 13.000 Rp 55.000 Rp 60.000

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->