P. 1
Kebijakan Umum Ketahanan Pangan

Kebijakan Umum Ketahanan Pangan

|Views: 122|Likes:
Published by Doddy Ismunandar
Kebijakan Umum Ketahanan Pangan
Kebijakan Umum Ketahanan Pangan

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Doddy Ismunandar on Mar 19, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/17/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1.1 Latar Belakang
  • 1.2 Tujuan Penyusunan
  • 1.3 Ruang Lingkup dan Proses Penyusunan
  • 2.1 Dinamika Ekonomi Pangan Global
  • 2.2 Penyediaan Pangan Strategis
  • 2.3 Akses Pangan dan Pengentasan Kemiskinan
  • 3. Promote gender equality and empower woman
  • 4. Reduce child mortality
  • 5. Improve maternal health
  • 7. Menjaga Stabilitas Harga Pangan
  • 8. Mencegah dan Menangani Keadaan Rawan Pangan dan Gizi
  • 9. Melakukan Diversifikasi Pangan
  • 10. Meningkatkan Keamanan dan Mutu Pangan
  • 11. Memfasilitasi Penelitian dan Pengembangan
  • 12. Melaksanakan Kerjasama Internasional
  • 13. Meningkatkan Peran Serta Masyarakat
  • 14. Mengembangkan Sumberdaya Manusia
  • 15. Melaksanakan Kebijakan Makro dan Perdagangan yang Kondusif
  • 16. Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan. Strategi dan
  • 17. Kementerian Negara Koordinator Bidang Perekonomian. Koordinasi
  • 18. Badan Pusat Statistik. Akurasi dan konsistensi data produksi dan
  • 19. Badan Pertanahan Nasional. Peningkatan kepastian usaha produksi
  • 20. Perum Bulog. Memperoleh penugasan pemerintah untuk melaksanaan

Draft ke-3, Oktober 2009 Untuk diskusi kalangan internal Tidak untuk disebarluaskan

KEBIJAKAN UMUM KETAHANAN PANGAN 2010-2014

DEWAN KETAHANAN PANGAN JAKARTA (Oktober 2009)

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Kebijakan Umum Ketahanan Pangan (KUKP) 2010-2014 ini disusun sebagai penyempurnaan dari KUKP 2005-2009 yang telah dijadikan referensi berharga oleh para perumus dan pelaksana kebijakan di lapangan, pelaku ekonomi dan masyarakat madani pada umumnya. Pada intinya KUKP 2010-2014 masih menggunakan argumen utama yang tidak berubah, bahwa pangan merupakan kebutuhan dasar manusia yang pemenuhannya menjadi hak asasi setiap rakyat Indonesia dalam mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk melaksanakan pembangunan nasional. Tujuan pembangunan ketahanan pangan adalah menjamin ketersediaan dan konsumsi pangan yang cukup, aman, bermutu, dan bergizi seimbang pada tingkat rumah tangga, daerah, nasional sepanjang waktu dan merata melalui pemanfaatan sumberdaya dan budaya lokal, teknologi inovatif dan peluang pasar, serta memperkuat ekonomi pedesaan dan mengentaskan masyarakat dari kemiskinan. KUKP 2010-2014 mempertimbangkan beberapa perubahan yang terjadi pada tingkat global seperti pergerakan harga-harga pangan strategis, baik sebagai dampak berantai dari kenaikan harga mi`nyak bumi dunia, sebagai dampak dari perubahan iklim dan pemanasan global, maupun sebagai dampak dari krisis finansial global yang mempengaruhi daya beli konsumen miskin, terutama di negara-negara berkembang. KUKP ini juga mempertimbangkan fenomena dan dinamika kondisi internal di dalam negeri, seperti perubahan mendasar setting kebijakan dan aransemen kelembagaan ketahanan pangan pada tingkat daerah, terutama sebagai konsekuensi dari ketentauan terbaru bahwa ketahanan pangan adalah urusuan wajib pemerintah daerah. Disamping itu, sebagai konsekuensi dari implementasi kebijakan dan kesepakatan pimpinan daerah di tingkat provinsi 1

dan di tingkat kabupaten/kota, Indonesia juga sedang berupaya mengembangkan suatu kebijakan yang mengarah pada satu sasaran strategis tentang “Indonesia Tahan Pangan dan Gizi 2015”. Beberapa tahun terakhir, cukup banyak kebijakan khusus baik di tingkat pusat, maupun di tingkat daerah yang telah mengarah pada beberapa fenomena baru dan perubahan mendasar tersebut di atas. Pada KUKP 2010-2014, secara esensial dapat dikatakan bahwa ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau. Pemerintah propinsi, pemerintah kabupaten/kota dan pemerintah desa melaksanakan kebijakan ketahanan pangan dan bertanggungjawab terhadap penyelengaraan ketahanan pangan di wilayahnya masing-masing dengan memperhatikan pedoman, norma, standar dan kriteria yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat. Peran pemerintah pusat dan pemerintah daerah masih sangat penting dalam mencapai ketahanan pangan, walaupun akhir-akhir ini terdapat kecenderungan semakin pentingnya fungsi sektor swasta dan kelembagaan pasar. Pemerintah pusat menentukan arah kebijakan, strategi yang akan ditempuh, dan sasaran yang akan dicapai menuju tingkat ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat secara umum. Ketidakjelasan dan keterputusan antara hierarki level politis-strategis, organisasi, dan implementasi sangat mempengaruhi perjalanan serta kualitas ketahanan pangan, yang meliputi dimensi ketersediaan, aksesibilitas dan stabilitas harga, serta utilisasi produk pangan di Indonesia. Sistem produksi, produktivitas dan efisiensi pada pangan strategis seperti beras, gula, jagung dan kedelai masih cukup lemah, baik karena faktor musim, cuaca, serta ketidakpastian lainnya, maupun karena faktor perubahan teknologi yang tidak sebagus pada dekade 1970 dan 1980an. Sistem produksi pangan yang demikian, baik di sektor hulu maupun di sektor hilir, ditambah sistem distribusi yang tidak memberikan balas jasa yang fair di antara pelaku ekonomi dan stakeholders, 2

Secara khsus. perguruan tinggi. sektor swasta. Produksi beras saat ini mungkin telah mencapai tingkat swasembada dan kemandirian yang cukup baik karena tingkat ketergantungan kepada pasokan beras impor tidak terlalu eksesif dan pada waktu tertentu ketika cadangan pangan nasional tidak mencukupi. minimal sinergi kebijakan ketahana pangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. pedagang. Misalnya dalam hal kejelasan pembagian tugas dan tanggung jawab dalam rehabilitasi infrastruktur pertanian dan pedesaan yang dikenal dengan istilah O&M (operation and maintenance) jaringan irigasi. saluran drainase. jalan produksi. mulai dari instansi pemerintah. industri pengolah. jalan desa dan tentunya jalan propinsi. untuk memberikan kontribusi yang optimal dalam mewujudkan 3 . nelayan. 1.masih mempengaruhi produktivitas dan penyediaan pangan di dalam negeri. produksi gula. serta kapan dan dimana harus berperan. dengan siapa bersinergi. penyedia jasa lain dan masyarakat umum. Desentralisasi ekonomi adalah titik tolak untuk memperbaiki kerjasama. rasa tanggung jawab pejabat pusat dan daerah perlu diperbaiki. beras dan jagung justru masih perlu mengandalkan impor dari pasar dunia karena tingkat produksi dan produktivitas di dalam negeri masih cukup rendah.2 Tujuan Penyusunan Dokumen Kebijakan Umum Ketahanan Pangan (KUKP) 2010-2014 ini disusun untuk dapat dijadikan acuan bagi para stakeholders pangan. Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sistem organisasi dan enforcement. paling tidak terdapat mekanisme pengawasan untuk menetapkan prioritas alokasi anggaran pusat dan daerah yang mampu menunjang pencapaian ketahanan pangan. jalan negara dan lain-lain. dokumen kebijakan yang disertai rencana aksi pada periode 2010-2014 diharapkan menjadi common platform bagi para setakholders tersebut di atas tentang peran dan upaya yang dapat dilaksanakan. Akan tetapi. dan terutama petani.

swasta dan elemen masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. Matriks agenda aksi yang merupakan penjabaran rinci dengan target atau sasaran yang jelas dari setiap elemen 4 . 1. PP Nomor 28 Tahun 2004 tentang Keamanan Pangan beserta perangkat peraturan kebijakan di bawahnya yang tidak bertentangan. tingkat wilayah dan tingka nasional. yang meliputi ketersediaan. aksesibilitas dan stabilitas harga pangan. integrasi dan koordinasi. yang pada saat Draft Kebijakan Umum Ketahanan Pangan ini dibuat. UU 7 Tahun 1996 tentang Pangan dan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan.ketahanan pangan sebagai tujuan bersama. minimal agar saling informed tentang kegiatan yang dilaksanakannya. Substansi dan kerangka dasar dalam dokumen Kebijakan Ketahanan Umum Ketahanan Pangan ini merupakan bagian tidak terpisahkan dari Undang-Undang (UU) Nomor 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budiaya Tanaman. pembahasan RPJM juga sedang berlangsung. dan maksimal agar mampu mencapai tujuan ketahanan pangan. Substansi dasar yang disampaikan dalam dokumen ini adalah aspek keseimbangan ketahanan pangan. Ketahanan pangan mengalami dinamika dan tantangan baru yang semakin kompleks seiring dengan beberapa perubahan yang terjadi pada tingkat global dan dinamika perkembangan ekonomi nasional. regional wilayah dan skala nasional. Substansi penting lainnya adalah butir-butir kebijakan umum ketahanan pangan yang terdiri dari 15 elemen penting yang diharapkan menjadi panduan bagi pemerintah. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah bahwa kebijakan umum ini diharapkan menjadi acuan dasar bagi lembaga pemerintah dan BUMN untuk membangun sinergi.3 Ruang Lingkup dan Proses Penyusunan Ruang lingkup dokumen KUKP 2010-2014 ini merupakan penjabaran dari strategi besar Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2010-2014. baik dalam skala rumah tangga.

Draf awal KUKP 2010-2014 telah dibahas berkali-kali dalam berbagai diskusi publik. Tim perumus mengolah kembali saran dan masukan dari peserta diskusi publik untuk menyempurnakan subtansi argumen. akan dituangkan dalam suatu Peraturan Presiden (Perpres). prioritisasi kebijakan. swasta. perumusan. lembaga swadaya masyarakat. organisasi kemasyarakatan lainnya. organisasi profesi. jika dimungkinkan.kebijakan akan menjadi semacam panduang berharga bagi para stakeholders yang telah disebutkan di atas. Proses penyusunan dokumen KUKP 2010-2014 dilakukan oleh suatu Tim Penyusun yang dibentuk oleh Menteri Pertanian selaku Ketua Harian Dewan Ketahanan Pangan. identifikasi masalah. mulai dari pengenalan. diskusi internal dan pertemuan dengan para stakeholders. langkah aksi. alur pembahasan. Tahap terakhir proses ini adalah diskusi internal instansi pemerintah yang terlibat dalam proses formalisasi dokumen ini menjadi suatu kebijakan umum yang. Diskusi publik telah melibatkan unsur lembaga pemerintah. 5 . Tim ini bertugas menyusun konsep awal dokumen kebijakan melalui penelitian. perguruan tinggi. pemilihan serta susunan kata-kata yang digunakan dalam penyusunan dokumen KUKP 2010-2014 ini. sampai ada “pembagian tugas”dan tanggung jawab stakeholders. studi pustaka.

peruabahan iklim yang semakin menjadi nyata.BAB 2. banyak analis mengira bahwa “the era of cheap price is over”. Semula. Petani atau pelaku ekonomi lain pasti bekerja berdasarkan ekspektasi – untuk memperoleh tambahan pendapatan yang lebih tinggi. harga pangan kembali naik secara perlahan. masyarakat juga resah karena harga-harga produk pertanian cenderung anjlok. beberapa komoditas pangan strategis mengalami kejatuhan harga yang signifikan. Namun demikian. hampir semua orang meresahkan lonjakan harga komoditas pangan berlipat-lipat dan sempat mengganggu stabilitas politik di beberapa negara berkembang. pada semester kedua 2008. walaupun tidak sedramatis tahun-tahun sebelumnya. serta beberapa kecenderungan atau respons dari negara-negara produsen pangan yang cenderung semakin protektif. seperti kenaikan harga minyak bumi yang sangat fluktuatif. Pada awal tahun. walaupun belum menyamai lonjakan harga pada tahun 2008. politik pangan dan kebijakan pertanian di banyak negara cenderung merupakan respon terhadap fenomena pergerakan harga pangan yang cukup liar. Apabila ekspektasi positif ini tidak dapat terpenuhi. terutama karena harga beberapa komoditas pangan naik tajam pada semester pertama dan turun tajam pada semester kedua. maka agak sulit bagi siapa pun untuk berharap bahwa 6 . Pergerakan harga pangan pada tahun 2008 yang cukup merumitkan. pada akhir tahun. Pergerakan dari satu sisi ekstrim ke sisi ekstrim lainnya jelas menimbulkan kejutan yang tidak terduga. tapi pasti. Pada tahun 2009. yang pasti mengganggu stabilitas dan sinyal-sinyal insentif yang dimiliki para pelaku. Kemudian. Kesimpulan itu tidak sepenuhnhya salah karena sejak tahun 2008. TANTANGAN BARU KETAHANAN PANGAN Tantangan baru ketahanan pangan lebih banyak diwarnai perubahan yang demikian cepat terjadi pada lingkungan global.

Thailand. fakta empiris kelak yang akan menjawabnya. AS telah menjadi negara eksportir nomor 3 atau 4 terbesar dunia. bahkan tingkat laku yang ditunjukkan oleh beberapa reaksi protektif oleh beberapa produsen pangan global. Louisiana. dari pada harus mengekspornya ke pasar global. Hawaii. Misalnya. sehingga dalam beberapa tahun terakhir. eskalasi harga pangan strategis yang sangat tinggi diperkirakan mengubah struktur perdagangan global. India. terutama dari golongan berpenghasilan rendah semakin sulit untuk menjangkau peningkatan harga-harga pangan. yang bukan merupakan konsumen besar beras.petani akan termotivasi untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian. Vietnam. 2.1 Dinamika Ekonomi Pangan Global Berdasarkan penelusuran beberapa analisis dan literatur yang berkembang. Dari beberapa penjelasan di atas. Tidak secara kebetulan apabila negara-negara produsen beras ini juga sekaligus konsumen besar beras dunia. sehingga sangat mempengaruhi akses dan kualitas konsumsi pangan yang mereka lakukan. dan lain-lain lebih diutamakan untuk tujuan ekspor. perubahan pola dan struktur perdagangan komoditas pangan global tidak dapat dilepaskan dari tiga faktor penting berikut: (1) fenomena perubahan iklim yang mengacaukan ramalan produksi pangan 7 . Produksi beras yang dihasilkan di negara bagian California. produsen utama beras dunia seperti Cina. Oleh karena itu. KUKP 2010-2014 ini dapat dianggap memadai apabila kebijakan yang dapat menjadi insentif positif bagi petani untuk meningkatkan produksi dan produktivitas pangan dan pertanian secara umum. bergantian dengan India. Sementara itu konsumen pangan. Berbeda halnya dengan Amerika Serikat (AS). Apakah fenomena baru perdagangan dunia ini akan menjadi insentif bagi Amerika Serikat untuk meningkatkan penguasaan dan perluasan pangsa pasar beras ke Asia. Indonesia dan lain-lain ternyata lebih mengutamakan konsumsi di dalam negerinya.

sosial. Dalam laporan berjudul “Stern Review on the Economic of Climate Change”. akan menurunkan produksi pertanian China dan Bangladesh 30 persen nanti pada tahun 2050. persediaan stok pangan menjadi sulit diprediksi secara baik. (2) peningkatan permintaan komoditas pangan karena konversi terhadap biofuel. Sulit dilukiskan betapa dahsyat dampak sosial-ekonomi yang terjadi. perubahan iklim telah menimbulkan periode musim hujan dan musim kemarau yang makin kacau. sehingga pola tanam dan estimasi produksi pertanian. karena telah mengakibatkan gangguang besar pada sistem produksi pangan. beras. seperti yang terjadi pada pangan strategis seperti gandum. kenaikan harga minyak dunia sejak 2007 itu sempat melonjakkan harga-harga pangan secara dramatis. tidak hanya untuk memenuhi 8 . Sebagian besar negara yang memeliki sumberdaya alam agak berlimpah. yang juga telah mendorong permintaan terhadap minyak nabati dunia menjadi meningkat pesat. dan bencana kekeringan akan menjadi menu sehari-hari di negara-negara tropis dan sub-tropis. Laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyebutkan bahwa setiap kenaikan suhu udara 2 derajat Celsius. Perubahan iklim bahkan telah dianggap sebagai salah satu kontributor pada laju eskalasi harga pangan dan pertanian saat ini. dan susu. Kedua. daging.strategis. dan lingkungan tentang dampak pemanasan global. dan (3) aksi para investor (spekulan) global karena kondisi pasar keuangan yang tidak menentu. seorang pakar berkebangsaan Inggris Nicholas Stern (2006) mengemukakan risiko ekonomi. Penjelasan singkat dari faktor di atas diuraikan berikut ini: Pertama. misalnya jika tiba-tiba tinggi air laut meningkat sampai 3 meter. Kebijakan pengembangan biofuel di negaranegara maju (dan negara-negara berkembang) telah menyebabkan perubahan fokus pemanfaatan komoditas pangan dan pertanian. Sekitar 30 persen garis pantai di dunia akan lenyap pada tahu 2080. saat ini sedang mengembangkan bahan bakar biologi (biofuels).

Uni Eropa juga telah mentargetkan 10 persen dari konsumsi bahan bakar di sektor transportasi pada tahun 2020 akan berasal dari biofuel.kebutuhan pangan. juga ikut mempengaruhi keputusan para investor yang mulai meminati pasar komoditi global. namun beberapa kejadian akhir-akhir ini merupakan bukti-bukti awal dari pergeseran fokus perdagangan komoditas global. yaitu 36 miliar galon konsumsi bahan bakar biofuel pada tahun 2022. Faktor melesunya pasar keuangan global atau bursa saham di pasar-pasar besar dunia. yang sekaligus telah mengkonversi 20 persen dari produksi jagung di dalam negerinya. serta melemhanya nilai tukar dollar AS terhadap mata uang lain di dunia. Misalnya. kecenderungan melonjaknya nilai investasi (spekulasi) komoditas pangan di pasar komoditas global. Target yang lebih besar juga dicanangkan oleh Amerika Serikat. Walaupun masih harus dicermati dalam rentang waktu yang agak panjang. yang sekaligus menunjukkan terjadinya tingkat volatilitas pasar yang sangat tinggi. 2007) menyebutkan bahwa Amerika Serikat mengeluarkan anggaran US$ 7 milliar untuk mendukung pengembangan etanol. Akibat berikutnya. harga dunia komoditas minyak dan lemak yang dapat digunakan untuk energi menjadi meningkat tajam. Akibatnya. yang sebenarnya tidak mencerminkan prinsip-prinsip klasik perdagangan. dan diperkirakan akan naik menjadi 32 persen pada tahun 2016. Dalam istilah pasar keuangan global. Ketiga. tapi juga untuk memenuhi energi. dibandingkan dengan pasar keuangan global yang sedang diliputi ketidakpastian. suatu Laporan yang dipublikasi oleh International Institute for Sustainable Development (IISD. bahkan ketika hargaharga pangan lain cenderung menurun. Tidak berlebihan untuk dikatakan bahwa akan 9 . tingkat harga pangan di pasar global menjadi ”tersandera” oleh keputusan segelintir investor (spekulan) skala besar. fenomena saat ini juga dikenal sebagai low inventory stocks. yang berdasar pada perbedaan keuntungan komparatif dalam memproduksi komoditas pangan.

perdebatan itu disemarakkan oleh semakin berkembangnya mazhab teori ekonomi kelembagaan yang menekankan pada kebekerjaan (workability) dari suatu intervensi yang dilakukan negara. yang pasti menimbulkan dampak ketidakmerataan dan ketimpangan yang mengkhawatirkan. serta interaksi antara keputusan ekonomi dan keputusan non-ekonomi yang lebih bervisi pada keadilan dan kesejahteraan masyarakat. kutub arus tengah sampai sekarang masih konsisten menolak keras campur tangan pemerintah dalam stabilisasi harga beberapa bahan pangan. kontroversi lama tentang suatu dampak distortif dari kebijakan intervensi pasar masih akan berlanjut. terutama dalam rentang jangka panjang. hanya digantungkan pada pasar keuangan dan pasar komoditas global. walaupun tidak akan sekeras perdebatan pada era 1980-an. Implikasi lain dari perubahan pola dan struktur perdagangan global saat ini adalah semakin berkembangnya strategi intervensi yang dilakukakan oleh negara dalam rangka stabilisasi harga pangan.sangat berisiko tinggi apabila perdagangan pangan. kini mulai lebih realistis dengan mulai menerapkan prinsip-prinsip ekonomi kelembagaan dengan karakter keteraturan aturan main. Terlebih lagi. pengelolaan biaya transaksi. Biaya transaksi (transaction cost) yang ditimbulkan oleh upaya intervensi pemerintah tersebut ternyata sangat besar Korupsi kronis yang senantiasa menyertai strategi stabilisasi harga bahan pangan di kebanyakan Dunia Ketiga adalah salah satu bentuk biaya transaksi yang harus ditanggung masyarakat luas. Kutub perbedabatan mungkin akan bergeser. ekonom yang semula berada pada kutub arus tengah. beberapa kelompok kepentingan ( vested 10 . Di tingkat akademik. tidak hanya antara ekonom arus tengah (neoklasik) dan ekonom yang menekankan pada perencanaan sentralistik. Argumen yang dikemukakan kutub ini adalah bahwa manfaat yang dapat dipetik dari tindakan upaya stabilisasi harga umumnya sangat kecil. Bahkan. bahkan negatif. Kini. Pada intinya.

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia dan Asia pada akhir 1990-an telah memberikan pelajaran berarti bahwa liberalisasi perdagangan pangan bukanlah resep mujarab yang mampu menjawab persoalan fluktuasi dan stabilisasi harga pangan. dalam hal ini Amerika Utara dan Eropa Barat. pada tahap awal ekonomi pembangunan. tingkat harga beras sebagai pangan pokok menjadi lebih berfluktuatif. Di Indonesia. serta sebagai justifikasi pendirian lembaga logistik nasional. Ketika pangsa perdagangan komoditas pangan global semakin banyak dikuasai oleh negara-negara maju.interest) yang selalu melingkupi proses perumusan kebijakan intervensi negara tersebut justru memanfaatkannya bukan untuk tujuan implementasi stabilisasi harga semata. apalagi jika dimaksudkan untuk mengentaskan masyarakat dari kemiskinan. Stabilisasi 11 . maka negara-negara berkembang. Menariknya. Indonesia pernah mencoba melakukan liberalisasi perdagangan pangan. menjadi sangat tergantung pada pasokan pangan global. Atas saran untuk melakukan reformasi ekonomi dan keuangan yang ditawarkan oleh lembaga keuangan global seperti IMF dan Bank Dunia. melainkan untuk kepentingannya sendiri. argumen pentingnya stabilisasi inilah yang menjadi falsafah utama kebijakan harga dasar gabah dan harga atap beras. Akibat yang paling mencolok adalah bahwa pasca liberalisasi kebijakan pangan tersebut. terutama tentang betapa pentingnya arti stabilitas harga bahan pangan pada bangsa-bangsa Asia. termasuk menghilangkan tarif impor dan bea masuk beras dan beberapa komoditas strategis sampai 0 persen. yang kini menjadi Perum Bulog. beberapa ekonom menolak tegas simplifikasi dan kesalahan persepsi para ekonom arus tengah di atas. yang sebagian besar juga masih miskin. Misalnya. terutama dari perspektif makro. tidak sedikit dari ekonom arus tengah ini yang melihat betapa pentingnya suatu langkah stabilisasi harga bahan pangan yang harus ditempuh pemerintah. Telah cukup banyak studi yang menunjukkan bahwa stabilisasi harga bahan pangan sangat erat kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi.

para ekonom yang sebelumnya secara konsisten menganjurkan intervensi pemerintah untuk melakukan stabilisasi harga pangan serta mempertahankannya secara konsisten. Di Indonesia dan negara berkembang lain. Lembaga-lembaga internasional yang bervisi arus tengah dan juga liberal tersebut– sehingga sering disebut neoliberal – nampak tidak terlalu memahami lebih dalam tentang persoalan struktural yang melingkupi perdagangan komoditas pangan strategis di Indonesia. Sebaliknya pula. Pada tingkat makro global. Menariknya. kini bahkan mengkritik keras pendekatan dan paradgima yang diusulkan lembaga keuangan global tersebut.harga yang dihipotesiskan oleh IMF dan Bank Dunia akan tercipta setelah pasar pangan domestik terhubung dengan pasar global. fenomenal perubahan iklim yang mengacaukan ramalan produksi. mungkin saja krisis finansial menjadi salah satu pemicu percepatan pergeseran kekuatan ekonomi global dari negaranegara maju ke arah negara-negara berkembang progresif atau yang lebih dikenal 12 . 2. Upaya pemerintah dalam stabilisasi harga pangan dianggap masih cukup relevan. ternyata sulit terbukti di lapangan. fluktuasi harga pangan yang sangat tinggi dapat mengganggu stabilitas kehidupan ekonomi yang tentu saja sangat mempengaruhi kinerja pertumbuhan ekonomi. fluktuasi harga pangan yang luar biasa tinggi. banyak ekonom arus tengah yang juga menjadi bagian tidak terpisahkan dari poses globalisasi dan perdagangan bebas komoditas pangan. kini justru menjadi pengkritik terdepan tentang kebijakan stabilisasi tersebut. pangan merupakan bagian terbesar dari komponen konsumsi penduduk. serta variabilitas cuaca yang semakin tidak bersahabat. setidaknya sampai tercipta suatu fase di mana pangsa pengeluaran terhadap bahan makanan tidak lagi menjadi bagian yang sangat dominan.2 Penyediaan Pangan Strategis Krisis finasial global sekarang ini terasa lebih berat bagi ekonomi Indonesia karena bersamaan dengan lonjakan harga minyak bumi dunia.

Menurut laporan Program Pangan Dunia (2008). kemiskinan. 13 . posisi negara-negara berkembang yang notabene memiliki jumlah penduduk lebih besar dari negara-negara maju. 19 di Asia dan 9 di Amerika Latin) juga terkena terpaan banjir dan bencana ekologis yang menakutkan. walau memang sedang mengalami stagnansi atau pelandaian (leveling-off) karena peningkatan produksi lebih banyak hanya mengandalkan pertambahan areal panen. saat ini terdapat kecenderungan di antara negara-negara berkembang untuk semakin mementingkan urusan pangan di dalam negerinya sendiri. Ditambah lagi. Cina. bencana kekeringan dan gelombang panas juga melanda beberapa tempat di Asia. Kenaikan produksi di India.1 ton per hektar. Persoalan menjadi agak kompleks ketika produktivitas beras rata-rata dunia nyaris tidak bertambah pada beberapa tahun terakhir dan tercatat hanya 4. pemanasan global dan ketidakpastian iklim serta ancaman ekologis karena keterlambatan adaptasi dan mitigasi peruabahan iklim. Ancaman krisis pangan di belahan bumi lain bahkan lebih menakutkan. aplikasi benih baru dan teknologi lain di sektor pangan pokok ini. Produksi beras global diperkirakan sekitar 643 juta ton pada tahun 2007. terutama karena pertambahan penduduk.dengan “new emerging markets”. sebanyak 57 negara (29 di Afrika. masih belum dapat melepaskan diri dari permasalahan struktural dalam sistem produksi dan konsumsi. Eropa. pada bidang pangan dan pertanian. Myanmar dan Indonesia diperkirakan cukup signifikan untuk meningkatkan produksi beras dunia tahun 2007. Di pihak lain. betapa rendahnya tingkat perubahan teknologi. produksi beras sebenarnya tidaklah terlalu buruk. Di tingkat global. kualitas pendidikan dan lain-lain. Maknanya. bahkan dengan menerapkan strategi proteksi yang cenderung berlebihan. Akan tetapi. Angka tersebut juga sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan produksi beras 581 juta ton pada tahun 2006 atau dari perkiraan Food Outlook FAO sebelumya pada edisi Juni 2007. pengangguran. ketahanan pangan.

3 juta ton padi. Laporan WFP tersebut juga menyebutkan bahwa sekitar 854 juta jiwa di seluruh dunia terancam kelaparan. Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memprediksi musim kering tahun ini akan terjadi sampai sampai Januari 2010. ketahanan pangan Indonesia menghadapi tantangan yang semakin kompleks karena beberapa kecenderungan global di atas. Kelompok rawan pangan ini bertambah sekitar 4 juta jiwa per tahun. Pencapaian Indonesia dalam peningkatan produksi pangan pokok (beras) mungkin perlu diapresiasi.71 persen dari 60. Badan Pusat Statistik (BPS) meramalkan produksi beras 2009 mencapai 62. dan hampir seluruh wilayah di Indonesia mengalami anomali cuaca yang merata. Di Australia. sesuatu yang tidak dapat diabaikan begitu saja.3 juta ton produksi tahun 2008. Agustus dan September (JAS) 2009 mecapai 82 persen. atau meningkat 3.6 juta ton gabah kering giling (GKG). Di dalam negeri. musim kemarau panjang tahun ini yang diperkirakan menurunkan produksi pangan strategis. sehingga kenaikan harga pangan dunia saat ini benar-benar di luar jangkauan mereka dari kelompok lapis paling bawah tersebut. hal itu berarti terdapat potensi kenaikan produksi 2. ramalam produksi beras tahun ini diperkirakan sama dengan tahun lalu. sekalipun masih terdapat kontroversi statistik dan metode penghitungan. Inilah tantangan paling besar bagi siapa pun yang peduli tentang ekonomi pangan dan pencapai Tujuan Pembangunan Milenium (MDG). bencana kekeringan tahun 2007 lalu telah menurunkan produksi gandum sekitar 40 persen atau 4 juta ton.Mozambik dan Uruguay. International Research Institute for Climate and Society (IRI) Columbia University (New York) menyebutkan bahwa peluang kekeringan pada bulan Juli. Variabel yang diukur 14 . Apabila karena kemarau panjang. yang menjadi salah satu produsen gandum dunia. Tidak heran jika kondisi suplai gandum dunia agak terganggu dan melonjakkan harga gandum di pasar global. Badan Meteorologi.

April.dari ENSO Forecast (El-Nino Southern Oscillation) untuk daerah NINO 3. Mei 2010 (MAM 2010).8 juta ton tahun 1998. Membaiknya produksi jagung domestik sedikit membantu mengurangi ketergantungan sektor peternakan kecil terhadap pakan impor. Bersamaan dengan itu. kecuali kedelai yang mengalami penurunan sejak dekade 1990an. Sulawesi Utara. Musim basah baru terjadi Maret. Konsep penelitian model variasi iklim yang dikembangkan Japan Agency for MarineEarth Science and Technology (JAMSTEC) telah menjelaskan gejala cuaca abnormal atau perubahan iklim global saat kekeringan hebat tahun 1997. peningkatan produksi jagung hibrida juga sekaligus mampu mendukung sektor peternakan karena industri pakan ternak ikut tumbuh pasca stagnansi yang cukup serius pada puncak krisis ekonomi. Produksi bahan pangan penting menunjukkan kecenderungan peningkatan. karena Indonesia masih harus memenuhi konsumsi jagung dari pasar impor. Akan tetapi. dan April 2010 (FMA 2010). Hal yang agak positif adalah bahwa penggunaan benih unggul jagung hibrida. dan Sumatera Utara. 15 .4 (Indonesia dan sekitarnya) tersebut masih tetap tinggi. Lampung. dan sempat memberikan ekspektasi pertumbuhan yang lebih tinggi. produksi jagung diramalkan 17 juta ton. terutama karena peningkatan luas panen di Propinsi Sulawesi Selatan. Musim kering tahun ini serasa lebih menyengat karena terjadi bersamaan dengan dampak fenomena moda positif di Samudra Hindia atau dikenal dengan Indian Ocean Dipole (IOD). terutamabuah hasil bioteknologi pertanian. Maret. berkisar 80 persen sampai dengan Februari. Pada tahun 2009 ini. Gorontalo. Minimnya uap air di atas Indonesia dan sekitarnya karena fenomena anomali cuaca di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia telah menjadi catatan sejarah rekor buruk impor beras Indonesia yang mencapai 5. yang seharusnya telah tercapai sejak tahun 2007. Angka tersebut memang masih belum mampu mencapai target swasembada jagung.

08 6. tidak hanya sebagai sumber tambahan pendapatan petani.317.710 Gula (Tebu) 415.147.041.71 4.000 6.karena laju konsumsi jagung yang tumbuh lebih cepat.786.5 juta ton pada awal 1990an.157.26 Produktivitas (ton hablur/ha) 5.32 Produktivitas (ton/ha) 1.600 2. Namun demikian.325. Hal ini terlihat dari penurunan areal panen kedelai yang cukup signifikan.47 3. Indonesia masih harus mengandalkan jagung impor dalam jumlah yang cukup signifikan. Tabel 1.66 4.29 1.31 924.561.89 Produksi (ton GKG) 54.989 4.463 13. terakhir Aram 2 Juli 2009 Kinerja produksi gula dari Ikatan Ahli Gula Indonesia (IKAGI).000 Sumber: Produksi padi.454.29 1. Saat ini agak sulit meyakinkan petani Indonesia untuk kembali menanam kedelai ketika tingkat permintaan terhadap kebutuhan pokok seperti beras dan komoditas bernilai timbah tinggi lain semain meningkat. Indonesia melaksanakan suatu program sistematis untuk meningkatkan produksi dan produktivitas palawija.391 12.08 Produksi (ton pipilan kering) 11.001.542.840. jagung dan kedelai dari BPS.724 4. yaitu 20 persen.511 Produksi (ton biji kering) 747.096. Kinerja Produksi Pangan Strategis Indonesia.381 775.401. kinerja produksi beberapa tahun terakhir adalah penurunan permanen dari angka produksi di atas 1.90 6.345.266.838 4.805 3. tapi juga untuk meningkatkan kualitas dan 16 .668.000 Luas Panen (ha) 384.435 60.000 395.252 17.94 Produktivitas (ton/ha) 4.146 Jagung Luas Panen (ha) 3. 2006-2009 2006 2007 2008 2009 Padi Luas Panen (ha) 11. suatu peningkatan signifikan dibandingkan angka produksi tahun 2008 yang hanya tercatat 590 tibu ton (Tabel 1).637 12.900 2.430 12.925 62.000 410.20 2.215 Kedelai 701.116 590.611 592.299.630.392 Luas Panen (ha) 580.609.527 16.62 4.534 459.956 1.324 4.16 Produktivitas (ton/ha) 3. 2008 Produksi kedelai tahun 2009 diperkirakan mendekati 701 ribu ton biji kering.287. Pada dekade 1980an.937 57.000 Produksi (ton gula) 2.

teknik budidaya.1 juta industri besar dan 1. Konsumsi gula industri diperkirakan sekitar 2. Apakah target swasembada gula tersebut tercapai atau tidak. Produksi gula pada tahun 2009 ini diperkirakan mencapai 2.84 juta ton (Tabel 1) sehingga tercapainya swasembada gula konsumsi masyarakat dapat tercapai. Definisi “gula konsumsi” sengaja digunakan oleh pemerintah untuk memperhalus pencapaian target swasembada. nampaknya masih menarik untuk diterlusuri secara mendalam karena tingkat konsumsi gula yang meningkat pesat. basis 17 .85 juta ton atau lebih. tanaman dari kelompok legum (kacangkacangan) mampu mengikat Nitrogen dari udara. Namun demikian. seperti di Brazil. Produktivitas kedelai di Indonesia hanya 1.28 ton/ha atau setengah dari produktivitas kedelai di luar negeri. atau untuk membedakan dengan “gula industri”.05 juta ton industri kecil dan usaha kecil menengah (UKM). sehingga mengurangi biaya penggunaan pupuk kimia buatan. Aplikasi teknologi produksi.kesuburan tanah. yang masih dilakukan oleh industri gula rafinasi mengandalkan bahan baku impor gula mentah. Nampaknya. Argentina dan Amerika Serikat. sehingga total konsumsi gula di Indonesia diperkirakan 4. Secara agronomis.15 juta ton. persoalan teknik keprasan yang berulang sampai belasan kali juga menjadi masalah tersendiri karena insentif pendanaan pembongkaran ratoon cukup pelik untuk dapat dicerna petani tebu. akurasi prediksi dan statistik produksi dan konsumsi gula mengalami persoalan yang sama peliknya dengan statistik beras dan beberapa pangan strategis lain. Disamping itu. terutama karena pertambahan jumlah penduduk dan perkembangan pendapatan masyarakat (baca: pertumbuhan ekonomi) Indonesia. terdiri dari 1. Saat ini konsumsi gula rata-rata di Indonesia mencapai lebih dari 12 kg per kapita per tahun. Pada skala tebu rakyat. peluang tersebut tidak dapat dimanfaatkan secara baik di Indonesia. serta sensitivitas usahatani tebu (lahan basah) terhadap fenomena perubahan iklim juga dapat menjelaskan fluktuasi produksi tebu di Indonesia.

pengolah dan konsumen. terutama padi. karena kedua tanaman memerlukan jenis tanah dan iklim yang mirip. serta peningkatkan efisiensi teknis dan ekonomis pabrik-pabrik gula yang ada di Indonesia menjadi hampir mutlak untuk mencapai tujuan swasembada gula yang lebih beradab. dukungan permodalan dari sektor perbankan dan lembaga non-bank lain cukup lemah. “industri” gulanya. 18 . Dalam konteks inilah maka. Dalam kondisi biasa-biasa saja. intervensi kebijakan atau pemihakan pada sistem produksi gula di Indonesia menjadi salah satu prasyarat pencapaian swasembada gula. walaupun terdapat kecenderungan persaingan penggunaan lahan antara padi dan gula. Sekali lagi. mustahil berharap peningkatan produksi dan produktivitas tebu apabila insentif harga beli demikian rendah karena pabrik gula telah menderita inefisiensi teknis dan ekonomis. sehingga lengkaplah sudah persoalan struktural di sektor hulu produksi gula. persoalan utama bukan terletak pada positioning apakah Indonesia harus protektif atau liberal dalam pengembangan Konsistensi sebuah intervensi kebijakan jelas sangat diperlukan untuk memberikan sinyal insentif yang tepat bagi segenap pelaku. yaitu sekitar 7 persen lebih sedikit. Termasuk di sini adalah intervensi dan keputusan impor. Rekonstruksi basis produksi dalam sistem usahatani tebu. beserta perlakuannya yang sangat mencolok antara importir produsen (IP) dan importir terdaftar (IT). palawija dan hortikultura yang menghasilkan pendapatan ekonomi tinggi berlipat. Sebenarnya. pedagang.usahatani tebu semakin tergeser oleh komoditas lain. Kedua aspek ini perlu dibenahi secara bersamaan karena tidak mungkin berharap peningkatan efisiensi pabrik gula apabila kualitas rendemen gula dalam tebu petani ternyata sangat rendah. mulai dari petani. Indonesia memiliki potensi swasembada gula. Lebih buruk lagi. Titik sentral persoalannya adalah apakah segenap energi bangsa dan wisdom dalam mengambil keputusan intervensi kebijakan dapat saling mendukung dengan target swasembada gula tersebut.

pengaturan kebutuhan air. bahkan di Luar Jawa. yang tentu saja dapat berkontribusi pada pencapaian swasembada gula Indonesia. Secara teknis. langkah pemcapaian swasembada gula dapat ditempuh dengan langkah besar peningkatan rendemen. maka terdapat potensi tambahan produksi gula lebih dari 300 ribu ton. Kapasitas sumberdaya pabrik dan sumberdaya manusia masih sangat memungkinkan untuk meningkatkan produktivitas hablur menjadi 8 ton per hektar. Kenaikan rendemen 1 persen saja. penentuan awal giling yang tepat. dalam bidang penggilingan. yang selama ini hanya sekitar 7 persen atau kurang. penentuan kebun tebu yang ditebang juga sangat mempengaruhi produktivitas. maka usahatani tebu di lahan kering dengan dukungan aktivitas ekonomi luar usahatani yang lebih produktif akan dapat meningkatkan pendapatan petani di Jawa dan berkontribusi besar bagi pengentasan masyarakat dari kemiskinan serta pengembangan wilayah secara umum. optimalisasi waktu tanam. Strategi tersebut dapat ditempuh dengan “metode konvensional” dalam bidang budida ya. berupa perbaikan varietas. pengendalian organisme pengganggu. Dalam bidang panen dan pasca panen. sehingga muncullah pilihan-pilihan rasional untuk pemanfaatan tebu lahan kering. Pemerintah perlu lebih serius dalam menindaklanjuti hasil-hasil analisis kebijakan alternatif atu perubahan pola tanam usahatani seperti itu. pemupukan berimbang. karena langkah kebihakan tersebut dapat berkontribusi bagi pemandirian petani dan desentralisasi ekonomi atau otonomi daerah yang lebih beradab. Pada sistem produksi ini. penentuan tingkat optimasi kapasitas giling dapat mengurangi kehilangan gula selama proses di pabrik. penebangan tebu secara bersih dan pengangkutan tebu secara cepat. dan sebagainya. Benar bahwa pendapatan luar usahatani sangat penting bagi sebagian besar petani di Jawa. misalnya dengan pemantauan tingkat kemasakan. penyediaan bibit sehat dan murni. Sedangkan pemantauan 19 .Beberapa studi sebenarnya telah banyak dilakukan untuk mengantisipasi pergeseran usahatani tebu tanaman ekonomis lainnya.

Pada kondisi inilah. maka Indonesia tidak perlu risau lagi dengan persoalan swasembada gula. 20 . Maksudnya. sehingga analisis ekonomi politik yang diperlukan adalah bagaimana gula Indonesia dapat masuk ke segenap pasar-pasar gula strategis di belahan lain di dunia. peningkatan rendemen dapat ditempuh dengan “metode terobosan yang lebih komprehensif” seperti memperbaiki sistem insentif manajemen produksi tebu. Kelompok Kebun Agung dan sebagainya. insentif harga dan kebijakan lain seperti pendanaan kredit yang lebih dapat diandalkan. maka tidak mustahil rendemen gula pada perkebunan tebu di Indonesia dapat mencapai 13 persen atau lebih. Bahkan. Selain “metode konvensional” di atas. kebijakan revitalisasi industri gula dan restrukturisasi agro-industri di tingkat makro perlu juga lebih diarahkan pada upaya peningkatan daya saing industri secara keseluruhan. sampai pada aspek konsolidasi lahan pabrik gula.tentang kelancaran giling dapat mengurangi kehilangan gula di stasiun gilingan dan pengolahan. Apabila kedua metode peningkatan rendemen tersebut dapat dikombinasikan secara baik. Untuk itu. maka pencapaian rendemen gula sampai 11 persen bukanlah sesuatu yang sulit. sistem transfer tebu. apabila metode tersebut secara konsisten dilaksanakan. mulai dari sistem bagi hasil. Tidaklah tabu untuk belajar dari strategi bisnis dan manajemen pabrik gula skala besar dengan teknologi modern seperti di Kelompok Usaha Sugar Group di Lampung. pengukuruan kualitas tebu. Kelompok Gunung Madu Plantations (GMP). langkah-langkah pembenahan aspek mikro bisnis dan reposisi strategi mengarah pada perubahan budaya perusahaan (corporate culture) wajib segera dilakukan untuk pabrik gula di Jawa. karena produksi gula dalam negeri dapat melampaui 3 juta ton. terutama yang berada dalam skema pengelolaan BUMN induknya PT Perkebunan Nusantara (PTPN). seperti pembentukan sistem blok.

88 0.17 4.97 0.6 juta 21 .82 1. 2008 Produksi minyak goreng di Indonesia saat ini lebih banyak mengandalkan bahan baku minyak kelapa sawit (CPO). 2004-2008 (dalam juta ton) Negara Indonesia Malaysia Thailand Negara Lain Total Dunia 2004 12.11 33. maka harga eceran minyak goreng di dalam negeri juga melambung tinggi karena tingginya harga bahan baku CPO kepada industri minyak goreng di dalam negeri.13 2008 18.30 1. produksi CPO juga mengalami peningkatan yang cukup signifikan.02 Sumber: Oil World dan GAPKI. kontribusi kenaikan harga minyak goreng terhadap inflasi masih sanagt kecil (tidak sampai 2 persen). kenaikan harga minyak goreng saat ini juga terasa memberatkan bagi seorang petani kelapa sawit.59 38. Estimasi yang dikeluarkan oleh Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI). terutama dari kelompok berpenghasilan rendah tentu merupakan salah satu bahan kontroversi politik dan kebijakan publik. Walaupun.80 0.95 42.14 2007 16.86 4.97 14. Bahkan. bahkan sering bergulir ke ranah politik.99 2005 13. Kesulitan akses konsumsi minyak goreng. atau terjadi pergeseran dari proses produksi minyak goreng pada dekade 1980-an yang masih mengandalkan bagan baku minyak kelapa dalam (CCO=Crude Coconut Oil).05 15.38 13.80 4. yang juga berhak untuk memperoleh harga yang layak atas kebutuhan pokok sehari-harinya.76 3. posisi minyak goreng memang cukup strategis.Tabel 2.60 17.02 4. Produksi Minyak Sawit Dunia. Apabila harga CPO di pasar global meningkat.68 2006 16. Petani sawit sebenarnya juga memperoleh manfaat “windfall profit” atas semakin tingginya harga CPO di pasar global.70 15.88 30.35 37. dengan berbasis data Oil World menunjukkan bahwa produksi CPO Indonesia tahun 2008 ini mencapai 18.

22 .2 juta ton. Selandia Baru dan negara-negara lain yang bebas penyakit hewan. Indonesia masih harus menggantunkan pada daging impor. dan lain-lain. posisi dan tingkah laku Indonesia dan Malaysia tentu sangat strategis dalam peta perdagangan CPO dunia. Produksi daging sapi hanya 352 ribu ton. Produksi daging pada tahun 2008 tercatat 2.3 juta ton (Tabel 2).2 pangsa CPO Malaysia. Akibatnya. Akan tetapi.ton. minyak matahari dan lain-lain. analisis mendalam masih harus diakukan terhadap psosis komoditas pesaing dari CPO dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia: seperti minyak kedelai. sapi gila. seperti penyakit mulut dan kuku (PMK). yaitu mencapai 993 ribu ton. lebih tinggi dari 41. sehingga Indonesia tetap mengimpor sekitar 520 ekor sapi setiap tahun. Dengan pangsa total di atas 85 persen. terutama dari Australia. minyak kanola. atau melampaui produksi CPOO Malaysia 17. Produksi daging sapi. minyak jagung bahkan minyak kelapa.3 persen dari total produksi CPO dunia. daging ayam dan produk sektor peternakan atau yang menjadi sumber protein hewani di Indonesia sebenarnya tidaklah terlau besar untuk memenuhi kebutuhan daging yang masih akan meningkat setiap tahun. Pangsa atau kontribusi produksi CPO Indonesia kini telah mencapai 44. antraks. dengan dominasi daging ayam ras pedaging yang demikian besar. apakah Indonesia dan Malaysia mampu “mendominasi” harga keseimbangan pasar CPO di tingkat global.

9 1.7 58.5 352. sementara di negaranegara maju hanya 26 juta ton.2 294.9 208.027.0 210. kecuali telur ayam yang menujukkan surplus. Namun laju peningkatan konsumsi daging di negara berkembang pada periode 1971-1995 tercatat 70 juta ton.5 225. 2008 Saat ini.7 239.7 Sumber: Ditjen Peternakan.6 194. Perbedaan statistik peningkatan konsumsi yang mencapai 2-3 kali lipat di 23 .6 574.5 195. tingkat konsumsi produk hewani per kapita di Indonesia masih sangat kecil.3 kilogram per kapita untuk daging ayam broiler.2 307.3 kilogram per kapita. dan sebagainya.382.3 1.1 48.0 816.7 187.5 230.9 339.484.8 196. Departemen Pertanian. Ketersediaan Daging. 2004-2008 (ribu ton) 2008 2.1 207. Tingkat konsumsi daging dan susu di Indonesia dan negara berkembang memang tergolong memang masih 4-5 kali lebih rendah disbanding tingkat konsumsi di negara-negara maju.4 846.5 942.8 616.0 2006 2. Disamping itu.8 58.9 861. dan 9.4 447.15 kilogram per kapita per tahun untuk daging sapi.6 223.4 235.2 172.062.4 173. sekitar 2.2 301.4 296.051.2 1.5 944.6 341.6 217.4 193. sebagian besar tingkat konsumsi protein hewani Indonesia masih lebih besar dari kemampuan penyediaannya.7 158.020.0 779.9 2005 1.817.3 395.3 kilogram per kapita untuk susu.2 1. Telur dan Produk Peterakan Lain.169.1 762.3 57. sekitar 3.0 175.6 194.9 1.Tabel 3.0 549.204.107.4 2004 Daging Ayam ras pedaging Ayas ras petelur Ayam Buras Sapi potong Babi Lainnya Telur Itik Ayam buras Ayam ras Susu segar 2.7 992. Demikian pula untuk konsumsi susu yang meningkat 105 juta ton di negara berkembang dan hanya 50 juta ton di negara maju.1 45.3 1.1 567.7 173.4 358.4 681.1 536.069.5 2007 2. sekitar 1.

Tingginya angka pertumbuhan yang juga terjadi di belahan lain di muka bumi. 24 . telur dan produk berkualitas lainnya. dan persyaratan kualitas nutrisi dan kesehatan lainnya. yang ditandai dengan maju dan membaiknya tingkat efisiensi.atas juga cukup konsisten apabila diukur dengan indikator lain seperti nilai konsumsi dan kuantitas kalori yang dihasilkan. Tidak berlebihan untuk disampaikan bahwa sektor peternakan adalah salah satu sektor andalan dalam sistem dan usaha agribisnis di Indonesia yang telah menerapkan strategi demand-driven yang sebenarnya. industri pakan ternak yang umumnya terkait dengan investasi asing dan beroperasi dengan skala besar juga tumbuh pesat. Sektor stratgis yang melibatkan usaha rumah tangga dan menyerap jutaan lapangan kerja di pedesaan dan perkotaan tersebut tidak semata menjalankan sistem produksi dengan supplyoriented yang sangat rentan tehadap anjloknya harga karena kelebihan penawaran. ayam pedaging dan ayam kampung sendiri. Sektor peternakan memang sejak awal perkembangannya tumbuh dan berkembang karena merespons tingginya permintaan terhadap daging. yang sebenarnya telah dimulai sejak awal 1970-an. Revolusi Peternakan ditandai oleh berkembang pesatnya industri ayam petelur. sejak akhir 1970an. pupuk. suatu pergeseran sangat substansial dari pangan berbasis karbohidrat menjadi berbasis protein dan kandungan nutrisi tinggi. Di Indonesia. Tidak kalah pentingnya. sering dinamakan Revolusi Peternakan (Livestock Revolution). Revolusi peternakan didorong oleh sisi permintaan (demand-driven) karena perubahan konsumsi dari sumber kalori berbasis karbohidrat menjadi berbasis kandungan protein tinggi. Revolusi Peternakan amat berbeda secara fundamental dengan Revolusi Hijau (Green Revolution) di sektor tanaman biji-bijian yang lebih banyak didorong oleh sisi suplai (supply driven) produksi dengan karakter perubahan teknologi baru biologi dan kimiwai seperti varietas unggul. bahka di seluruh sistem agribisnis berbasis peternakan. pestisida dan sebagainya.

Dengan demikian pemerintah dapat mampu mencurahkan perhatian secara all-out terhadap wabah flu burung dan sektor peternakan umumnya.Dalam ekonomi pembangunan. Demikian pula. Kinerja cukup baik dengan tingkat pertumbuhan di atas 6 persen per tahaun pada dekade 1980an sampai awal 1990an pasti tidak dapat dilepaskan dari kemampuan dan kegigihan para peternak dalam mengantisipasi perubahan dan inovasi baru dalam teknologi sektor peternakan. terutama subsektor unggas dengan industri pakan ternak. Sektor peternakan tercatat sebagai salah satu sektor yang memiliki keterkaitan ke belakang (backward linkages) yang tinggi. yang mencatat angka pertumbuhan negatif 2 persen per tahun pada periode 1997-2001. keterkaitan ke depan (forward linkages) sektor 25 . Disamping itu. Maksudnya. perubahan lingkungan eksternal yang demikian cepat tersebut pastilah menuntut kemampuan ekstra para perumus kebijakan dan para pelaku ekonomi untuk mengantisipasi kompleksitas proses transformasi tersebut yang terjadi bersamaan dengan pertumbuhan penduduk. Ketergantungan dan tingkat sensitivitas yang demikian tinggi antara keduanya telah mewarnai pasang-surut sektor peternakan Indonesia. fenomena tersebut dikenal dengan istilah Revolusi Peternakan karena pada saat bersamaan industri pakan ternak skala kecil dan besar pun berkembang cukup besar. keterbatasan lahan pertanian dan tuntutan kualitas higienis produk peternakan serta dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Sesuatu yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa industri pakan ternak ini nyaris identik dengan investasi dan kapasitas produksi domestik. yang tentu saja mensyaratkan perbaikan tingkat efisiensi ekonomi. peningkatan permintaan. ketidak-mampuan para peternak kecil-menengah untuk memenuhi pakan ternak karena melonjaknya harga pakan ternak impor pada puncak krisis ekonomi turut berkontribusi pada anjloknya kinerja peternakan. maka strategi untuk memperkuat fondasi pemulihan ekonomi juga pasti terganggu. Untuk itu. apabila terganggu sedikit saja.

(5) minyak goreng akan mengalami transisi konsumsi yang lebih responsif terhadap harga bahan baku CPO.25 persen per tahun pada masa puncak krisis ekonomi. maupun karena ideologis dan emosional sebagian besar penduduk Indonesia. yang masih belum mampu menjawab tantangan struktural di dalamya. impor dan negara asal.75 persen per tahun pada tingkat konsumsi sekitar 820 ribu ton per tahun. Mislanya. maupun berupa disinsentif karena anjloknya harga dan lainnya. Hal tersebut 26 . dan (7) daging akan terus mencari titik keseimbangan baru produksi. serta tingkat konsumsi yang akan berkembang pesat. terutama industri perunggasan dengan industri hasil makanan. yaitu: (1) beras akan terus menempati posisi strategis secara ekonomi. baik karena faktor historis. industri hotel dan restoran dan sektor pariwisata lainnya juga cukup tinggi. yaitu mencapai 8. (4) gula akan mengalami komptisi internal gula tebu dengan gula rafinasi.peternakan. (6) terigu akan menyesuaikan diri dengan peningkatan permintaan. beras merupakan pangan pokok dan memberikan peran hingga sekitar 45 persen dari total food-intake. baik berupa insentif karena tingginya harga. maupun tingkat intenasional. pulih kembali pasca krisis dengan laju permintaan 9. Dalam hal ini. (a) Beras dan Karakter Komoditas Strategis Di Indonesia. Berikut ini akan diuraikan secara rinci karakter menonjol dari seluruh tujuh komoditas pangan strategis di tingkat nasional. walaupun sulit berharap banyak dari gandum domestik. angka kesempatan kerja dan devisa yang dihasilkan karena keterkaitan ke depan ini pun sangat besar. angka laju permintaan atau konsumsi terhadap daging ayam sangat tinggi. sosial dan politik. Laju permintaan pernah anjlok minus 5.83 persen per tahun selama tiga dasa warsa terakhir. (2) jagung akan mengalami transisi yang cukup signifikan dari posisi komoditas pangan menjadi bahan baku industri pakan. atau sekitar 80 persen dari sumber karbohidrat utama dalam pola konsumsi masyarakat Indonesia. (3) kedelai akan merespon signal insentif harga baik di tingkat domestik.

pasar beras semakin tersegmentasi dalam rezim Pasar Bebas dan Pasar Terbuka Terkendali. penyelundupan yang makin marak. Kemudian. mulai dari sistem produksi. Diantaranya adalah bahwa kebijakan pangan Indonesia harus menempatkan kebijakan perberasan sebagai salah satu pilar utamanya. Kondisi ini sebenarnya merupakan hasil perekayasaan kultural yang memberi konsekuensi luas. tepatnya penentuan harga pembelian pemerintah (HPP). atau untuk berkontribusi pada stabilitas harga pangan pokok ini. Bali-Nusa Tenggara) pada masa Orde Baru (1975-1997) telah terintegrasi secara spasial. perdagangan ekspor dan impor. Sulawesi. Beras dapat dikatakan sebagai komoditas pangan yang paling banyak mendapat perhatian. Jawa. dinamika pembangunan daerah dan sebagainya. sosial. ekonomi. walaupun lebih banyak terfokus pada kebijakan harga. distribusi (tataniaga). Pemerintah bahkan perlu secara berkala megeluarkan interensi kebijakan perberasan. Kalimantan. baik di tingkat akademik. Segmentasi pasar beras terjadi karena perubahan rezim kebijakan itu sendiri. disparitas harga. dan budaya. pola konsumsi masyarakat. karakter strategis komoditas beras tidak dapat dilepaskan dari struktur perdagangan beras yang relatif tidak sehat. Data time series bulanan selama 29 tahun di 24 propinsi menunjukkan kecenderungan sebagai berikut: Pertama pasar beras di lima wilayah kepulauan di Indonesia (Sumatera. Namun demikian. serta karna faktor infrastruktur yang kurang baik.relatif merata diseluruh Indonesia. dan lalu lintas barang yang tidak lancar akibat dari hambatan peraturan daerah. Landasan perundangan terakhir yang dikeluarkan pemerintah adalah kebijakan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2008. maupun di tingkat politis. walau tidak penuh. yang juga dimaksudkan untuk memberikan insentif produksi dan perlindungan kepada petani beras. maksudnya secara nutrisi. Kedua. sekaligus perlindungan untuk konsumen miskin. kinerja stabilisasi harga yang diukur dari tingkat 27 . beras tetap merupakan pangan terpenting bagi sebagian besar masyarakat.

maksudnya perubahan harga gabah petani cepat sekali mempengaruhi harga beras konsumen. harga dasar gabah (floor price) dan harga atap (ceiling price) beras tidak lagi di-enforced dan Bulog tidak lagi memiliki kekuasaan monopoli dalam impor beras. sehingga diharapkan mampu benar-benar menyanggah kemungkinan gejolak harga dan kuantitas pangan. yang bersifat pokok ini. juga menunjukkan hasil yang tidak terlalu mengejutkan. terutama untuk mengatasi kondisi darurat. Transmisi harga dari gabah petani ke beras konsumen lebih cepat terjadi.integrasi vertikal antara pasar gabah dan pasar beras. Walaupun harga beras melonjak sangat tinggi. Integrasi pasar secara vertikal hanya terjadi pada rezim Orde Baru dan tidak sama sekali pada rezim Pasar Bebas dan pada rezim Pasar Terbuka Terkendali. Komoditas beras mengalami permasalahan struktural tentang ketidakjelasan fungsi stok penyangga. yang harus tersedia. pasar gabah dan pasar beras menjadi agak liar setelah Presiden Soeharto berhenti menjadi Kepala Negara. Stok penyangga berbeda menurut daerah. tapi petani tidak banyak menerima manfaat dari kenaikan harga beras tersebut. Studi tentang cadangan pangan ini menemukan bahwa pengadaan gabah oleh Bulog atau kebijakan operasi pembelian gabah petani 28 . dan cadangan penyanggah (buffer stock). Perubahan harga beras konsumen tidak direspons secara cepat oleh harga gabah petani. Hal yang sebaliknya tidak terjadi. Pada daerah-daerah dengan kondisi fisik-geografis sulit dicapai dan sosial-politik tidak stabil. sebagaimana bagian dari instrumen pengendalian laju inflasi. cadangan penyanggah ini perlu lebih besar. Maksudnya. kerentanan terhadap fenomena alam dan moda atau karakter transportasi pada lokakitas tertentu misalnya. Cadangan pangan di Indonesia meliputi cadangan tetap (iron stock). Hasil analisis ini sekaligus merupakan konfirmasi anggapan umum bahwa selama ini kebijakan stabilisasi harga yang ad-hoc seperti sekarang ini memang lebih banyak difokuskan stabilitas harga beras konsumen. lokasi geografis.

Maksudnya Bulog berperan cukup baik sebagai lembaga stabilisasi harga harga gabah tingkat petani hanya pada masa Orde Baru. tapi tidak efektif pada Pasar Bebas dan Pasar Terbuka Terkendali. Areal panen dan produksi palawija masih mengandalkan lahan pertanian di Jawa. dan tidak pada rezim Pasar Bebas dan Terbuka Terkendali.hanya efektif dalam masa Orde Baru. dan tidak banyak berperan pada masa Pasar Bebas dan Pasar Terbuka Terkendali seperti sekarang ini. Pengaruh musim terhadap jumlah beras tidak terlalu signifikan. peran peningkatan areal tanam di Luar Jawa: terutama Sumatera dan Sulawesi adalah kontributor penting peningkatan produksi jagung di Indonesia. yang mulai banyak ditanam di Indonesia sejak dekade 1990-an. kecuali pada bulan Februari dan Maret pada rezim Orde Baru. Ketika pada dekade 1980-an. jagung lebih banyak digunakan untuk 29 . Areal panen bertambah sangat signifikan lebih 8 persen per tahun. yang secara teoritis dan empiris tidak akan mampu menopang beban-beban produksi pertanian dan bahan pangan di Indonesia. Pada rezim Pasar Terbuka Terkendali. Hal yang cukup menarik adalah bahwa peran Bulog dalam stabilisasi harga beras konsumen tidak ada sama sekali pada ketiga rezim atau sepanjang periode observasi. sedangkan produktivitas juga bertambah sektiar 4 persen per tahun. Walaupun pangsa produksi yang berasal dari Pulau Jawa masih lebih dominan. yang semakin diminati oleh masyarakat dan para pengambil kebijakan. Saat ini jumlah beras untuk operasi pasar murni mulai dikurangi dan sejak 2004 telah dimodifikasi menjadi Program Raskin (beras untuk keluarga miskin). (b) Jagung dan Fenomena Hibrida Peningkatan produksi jagung dengan laju lebih 14 persen per tahun dalam beberapa tahun terakhir tentu tidak dilepaskan dari peran jagung hibrida. faktor operasi pasar murni signifikan pada bulan Januari. karena pada bulan-bulan lain tidak terlihat pengaruh yang nyata.

Demikian pula. Jawa Tengah. Sesuatu yang perlu ditekankan di sini adalah jagung lokal dan jagung hibrida adalah dua komoditas yang berbeda. Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur Tujuan produksi jagung di Sumatera Utara sebagian besar untuk dijual (tujuan komersial). 1 milyar ekor per tahun ayam broiler dan petelur. Relevansi jagung hibrida dalam sistem pangan di Indonesia adalah posisinya sebagai bahan baku industri pakan ternak. plus puluhan juta bebek. dan di Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi sebagai pangan pokok. khususnya unggas. tentulah memerlukan penyediaan pakan ternak yang 30 . jagung hibrida digunakan untuk bahan baku industri dan tidak dapat digunakan sebagai pangan. sistem produksi jagung yang terintegrasi dengan industri pakan ternak adalah beberapa perkembangan terkini yang mewarnai ekonomi jagung Indonesia sekarang. Jumlah populasi unggas (standing population) yang diperkirakan 630 juta ekor per tahun ayam kampung. Pasca masuknya jagung hibrida. Lampung.pangan. Jawa Timur. yaitu: Sumatera Utara. Jagung lokal umumnya digunakan untuk pangan dan tidak dapat dijadikan bahan baku industri pakan. burung dan lain-lain. kini sebagian besar dari produksi jagung Indonesia digunakan untuk pakan ternak atau sebagai bahan baku industri pakan ternak. Di Madura. di Jawa dan Lampung sebagai pangan dan bahan baku industri. tujuan produksi jagung di Sulawesi juga digunakan untuk bahan baku industri makanan ternak. Pola kerja sama petani swasta dengan petani. sehingga sangat berpengaruh pada sistem produksi. Sentra produksi jagung di Indonesia sebenarnya relatif tidak banyak berubah. konsumsi. jagung lokal dengan varietas genjah juga ditanam pada lahan dengan intensitas pompa air lebih dari 42 hektar per pompa. kemitraan antara petani kecil dan usaha agribisnis. harga dan perdagangan ternak. Karakter jagung hibrida yang banyak ditanam di lahan sawah dan lahan kering dengan curah hujan tinggi sebenarnya merupakan perkembangan yang sangat menarik.

Laju konsumsi kedelai masih akan terus meningkat. Teknologi benih hibrida adalah upaya manusia untuk merekonstruksu seluruh pasangan gen pada tanaman menjadi heterozigot. tempe. sehingga agak sulit jika dijadikan sebagai tumpuah utama peningkatan produksi padi di Indonesia saat ini.5 – 3 juta ton per tahun. selain karena pertumbuhan penduduk yang mencapai 1. Sewaktu harga kededai 31 .memadai. (c) Kedelai dan Kesalahan Insentif Penyediaan kedelai di Indonesia sebenarnya masih akan tetap prospektif karena produksi dalam negeri tahun 2008 sekitar 700 ribu ton masih sangat jauh dari kebutuhan konsumsi kedelai nasional yang mencapai 2. Secara genetis. sedangkan jagung hibrida berkisar 7-8 juta ton. Dengan kata lain. Sebenarnya. Produktivitas jagung hibrida pasti lebih tinggi dibanding jagung non-hibrida karena fenomena heterosis tersebut. karena sektor ini mampu menyerap lebih dari 10 juta tenaga kerja dengan omzet lebih dari US$ 30 miliar per tahun. Indonesia masih harus mengandalkan kedelai impor untuk memenuhi permintaan di dalam negeri. Tidak berlebihan jika disimpulkan bahwa faktor heterosis pada jagung hibrida jauh lebih tinggi dari padi hibrida dengan faktor heterosis 10-20 persen saja. Produksi rata-rata jagung non-hibrida masih berkisar 3-4 ton biji kering per hektar. potensi peningkatan produktivitas jagung hibrida di Indonesia masih sangat tinggi mengingat perbedaan produksi – atau disebut tingkat heterisis – jagung hibrida dan non-hibrida mencapai 75-100 persen. tanaman jagung berkembang biak dengan penyerbukan silang (cross pollination) dengan susunan pasangan gen yang tidak sepadan atau heterozigot. kecap dan sebagainya.5 persen per tahun. serta perkembangan industri pengolahan dengan baku kedelai seperti tahu. dengan jalan membuat benih berasal dari persilangan. Hal ini tentu sangat berbeda dengan padi yang menyerbuk sendiri (self-pollination) dan memiliki pasangan gen samasepadan atau homozigot.

impor masih cukup murah, sekitar US$ 240 per ton, para pelaku industri, baik skala kecil menengah maupun skala besar, tidak mengalami kesulitan dalam memperoleh bahan baku kedelai impor. Ketika harga kedelai di pasar dunia tibatiba melambung sangat tinggi mencapai US$ 520 per ton per Januari 2008, dari hanya US$ 306 per ton pada Januari 2007, Indonesia nyaris dilanda krisis kedelai di dalam negeri. Pada masa Orde Baru Indonesia memang pernah memberikan keleluasaan kepada Bulog untuk melakukan monopoli impor kedelai dengan pertimbangan untuk stabilitas harga dan pasokan kedelai, terutama bagi pelaku usaha kecil dan koperasi pengrajin tahu-tempe Indonesia (Kopti). Fluktuasi harga kedelai di pasar dunia ikut mempengaruhi harga kedelai di pasar domestik, walaupun pada tingkat harga yang rendah. Kondisi ini tidak memberikan insentif kepada petani kedelai untuk berproduksi sebanyak 2,1 juta ton/tahun agar tercapai target swasembada kedelai. Pada puncak krisis ekonomi, atas saran Dana Moneter Internasional (IMF), pemerintah meliberalisasi perdagangan kedelai dengan memberlakukan bea masuk 0 persen. Pedagang besar diuntungkan oleh kebijakan penghapusan monopoli, karena marjin bruto riil kedelai pada periode pasca monopoli lebih besar. Secara umum marjin perdagangan kedelai lebih stabil menciptakan iklim usaha yang lebih kondusif untuk para pedagang kedelai pada periode pasca monopoli. Pada kondisi harga internasional yang rendah, keteraturan pasokan kedelai dan rendahnya harga riil kedelai impor menguntungkan pengarjin tahu dan tempe dan industri pengolahan kedelai. Sekali lagi, harga kedelai yang

rendah tidak menguntungkan usahatani kedelai, dan bahkan koperasi (Kopti) yang masih diliputi masalah internasl kelembagaan, karena secara umum kalah bersaing dengan pedagang besar. Sebenarnya, tidak ada yang mustahil di bumi Indonesia untuk dapat menghasilkan kedelai dengan produktivitas yang lebih baik dari saat ini, yang

32

hanya tercatat 1,31 ton per hektare. Angka produktivitas itu hanya setengah dari produktivitas kedelai di luar negeri. Tentu tidak seimbang membandingkan produktivtias kedelai Indonesia dengan kedelai AS yang memperoleh full-support dari pemerintahnya karena besarnya kekuatan lobi politik asosiasi kedelai di sana (American Soybean Association). Sementara di Indonesia, kekuatan lobi kedelai adalah perajin tahu-tempe atau yang tergabung dalam koperasi tahu-tempe, yang nota bene merupakan konsumen kedelai, bukan petani kedelai. Mereka menjadi gamang sendiri, dan tidak jarang serba salah, mengingat agenda yang diperjuangkan adalah untuk menurunkan harga kedelai di dalam negeri, bukan untuk memberikan insentif pagi peningkatan produksi. Potret demografis dan kondisi sosio-psikologis perajin tahu-tempe saat ini berbeda dengan potret orang tua atau generasi pearjin tahu-tempe pada era 1990-an. Jika pada dekade lalu, perajin tahu-tempe masih merangkap sebagai petani kedelai, generasi saat ini umumnya hanya menjalankan profesi sebagai perajin saja, dan hanya sedikit yang memiliki lahan usahatani kedelai. Fenomena spesifikasi usaha seperti itu menjadi faktor „terbelahnya‟ sistem insentif di sektor hulu (produksi) dengan di sektor hilir (distribusi dan konsumsi). Tidak terlalu heran jika koordinasi dan integrasi kebijakan antara Departemen Pertanian dan Departemen Perdagangan memang merupakan sesuatu yang sulit dilaksanakan di Indonesia. Indonesia sebenarnya memiliki banyak pemulia tanaman (breeder) kedelai yang telah mampu menghasilkan galur harapan varietas kedelai, yang sekaligus tahan serangan penyakit virus kerdil (SSV=soybean stunt virus). Di tingkat percobaan, produktivitas kedelai galur ini mampu menghasilkan biji kedelai 2,8 ton per ha, suatu pekerjaan penelitian panjang yang tidak sia-sia. Sekarang, semua terpulang kepada pemerintah, apakah berminat (1) untuk mengembangkan varietas kedelai lokal yang telah dihasilkan oleh peneliti-peneliti terbaik di negeri ini, atau (2) akan terus mengandalkan kedelai impor AS yang sangat mungkin

33

menggunakan benih rekayasa genetika (transgenik) yang kontroversial tersebut. Jika langkah pertama yang ingin diambil, pemerintah perlu segera melakukan terobosan dalam uji adaptasi, uji multilokasi, dan memberikan insentif bagi pemerintah daerah yang melaksanakan misi nasional sangat penting ini. Jika langka kedua yang ingin diambil, seperti misalnya melanjutkan kebijakan tarif impor 0%, secara semu akan terlihat bahwa keteraturan pasokan kedelai akan terjamin dan harga riil kedelai impor akan murah. Langkah ini dikatakan semu karena petani kedelai benar-benar diadu langsung dengan petani luar negeri, koperasi tahu-tempe lambat-laun akan mati, dan sokoguru ekonomi Indonesia dikuasai pedagang besar. (d) Gula dan Kemelut Struktural Sistem produksi gula sebenarnya tidak dapat dipisahkan dari karakter sistem usahatani tebu skala kecil yang sangat dominant di Jawa dan berafiliasi dengan PT Perkebunan Nusantara dengan persoalan efisiensi teknis dan efisiensi ekonomis. Pada sisi ekstrem lainnya, sistem produksi agribisnis perkebunan gula skala besar di Luar Jawa menjadi sangat dominan dalam penguasaan lahan, manajemen distribusi sumber daya alam dan penguasaan informasi dan lain-lain. Berhubung masalah yang melingkupi komoditas gula bersifat struktural, langkah peningkatan produksi tebu di tingkat usahatani, upaya intervensi melalui kebijakan tataniaga dan strategi revitalisasi industri gula di dalam negeri, semuanya belum menunjukkan peningkatan yang signifikan. Demikian pula, manajemen perdagangan atau sistem tataniaga gula dan bahan pangan lain yang bersifat strategis sebenarnya bukanlah barang baru di Indonesia karena sejarah ekonomi pertanian di negeri ini juga lahir dan berkembang bersama legasi sebuah lembaga parastatal yang melibatkan manajemen kebijakan negara. Kebijakan yang awalnya dimaksudkan untuk “mengatur” aktivitas impor gula melalui Surat Keputusan Menteri Perindustrian

34

dan Perdagangan (SK No. 643/MPP/Kep/9/2002) tentang Tataniaga Impor Gula (TIG) ternyata telah menimbulkan reaksi dan hasil akhir yang sangat beragam. Kebijakan tataniaga itu memberikan privilis kepada importir produsen (IP) untuk mengimpor gula mentah (raw sugar) dan kepada importir terdaftar (IT) untuk mengimpor gula putih (white sugar) yang tidak lain adalah perkebunan gula yang memiliki perolehan bahan baku 75 persen berasal dari petani. Perusahaan

perkebunan yang memenuhi kualifikasi sebagai IT adalah empat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang masuk kualifikasi, yaitu: PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX, PTPN X, PTPN XI, dan PT Rajawali Nusantara Indonesia (PT RNI). Pada sisi lain, kebijakan itu juga memberikan peluang bagi pengembangan industri gula rafinasi, yang khusus memutihkan gula mentah impor yang umumnya tidak layak untuk dikonsumsi secara langsung. Catatan penting dari SK 643/2002 terebut adalah bahwa gula mentah dan gula rafinasi (refined sugar) yang diimpor oleh importir produsen (IP) hanya dipergunakan sebagai bahan baku untuk proses produksi pengolahan gula, dan dilarang diperjualbelikan serta dipindahtangankan. Walaupun debat publik yang berkembang seakan serempak memberi peringatan atas rekam jejak (track record) perkebunan gula yang tidak memiliki pengalaman dalam aktivitas impor, kebijakan tataniaga itu tetap dilaksanakan. Analisis kritis terhadap sistem

tataniaga gula tersebut pasti selalu menarik karena keterburuan kebijakan dan berbagai entry barriers yang justru menimbulkan “jalan pintas” bagi para pemburu rente. Kemudian, upaya perbaikan kebijakan pengaturan impor gula dengan penerbitan Kepmen baru yaitu Nomor 527MPP/Kep/9/2004 tertanggal 17 September 2004 tentang Ketentuan Impor Gula (KIG). di antaranya dengan

kembali melibatkan BUMN Perum (Perusahaan Umum) Bulog dan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PT PPI) dalam perdagangan gula di Indonesia. Pelajaran yang dapat dipetik dari perjalanan kinerja kebijaikan

35

tataniaga gula dalam lima tahun terakhir adalah bahwa mandat kebijakan tersebut terlalu berat untuk dicapai oleh sistem administrasi pemerintahan yang sedang mengalami persoalan besar transparansi dan akuntabilitas yang mengganggu. Dalam lima tahun terakhir, ekonomi pergulaan Indonesia semakin kompleks setelah langkah restrukturisasi industri gula domestik juga disertai perkembangan indsurtri gula rafinasi (refinary) yang lumayan cepat. Selain untuk mendongkrak nilai tambah ekonomi, industri rafinisasi gula memiliki pangsa pasar yang berbeda dengan industri gula putih biasa, karena ia lebih banyak tertuju pada industri makanan dan minuman di dalam negeri. Tidak dapat disangsikan, bahwa investasi baru dan pengembangan industri gula rafinasi akan menjadi peluang besar bagi peningkatan kapasitas industri domestik dan penyerapan lapangan kerja. Untuk investasi baru dalam bidang gula rafinasi, pemerintah menerapkan kebijakan bea masuk lima persen selama dua tahun pertama, seperti dinyatakan dalam Surat Keputusan Menteri Keuangan Nomor. 135/KMK.05/2000. Ketentuan yang sama tentang keringana bea masuk ini juga berlaku kepada industri rafinasi yang melakukan perluasan usahanya. Hasilnya, dalam waktu relatif singkat, industri gula rafinasi berkembang sangat pesat, dengan lima industri besar di Jawa yang berkapasitas sekitar dua juta ton. Kerumitan baru dengan kehadiran industri rafinasi di Indonesia tidak sebatas karena diskriminsasi bea masuk atau keleluasaannya melakukan impor gula mentah, tapi keterkaitannya dengan kinerja industri bahan makanan dan minuman, yang umumnya milik asing. Industri gula rafinasi di Indonesia yang memasok gula putih ke perusahaan besar makanan dan minuman dituntut untuk selalu konsisten menghasilkan produk gula dengan spesifikasi yang ditentukan oleh perusahaan induknya di luar negeri. Pada situasi karakter usahatani tebu saat ini, kecil kemungkinan industri gula rafinasi akan menggunakan bahan baku gula tebu dari petani di dalam negeri, apalagi yang berskala kecil. Dalam istilah

36

Situasi menjadi semakin rumit ketika industri makanan dan minuman sekala besar juga memperoleh status sebagai importir produsen (IP) gula dan memiliki privilis untuk mengimpor gula mentah. di sinilah terdapat “interlocking system” yang tidak memihak petani kecil di dalam negeri akibat dari ketidakmatangan kebijakan pengembangan industri gula rafinasi di Indonesia. industri minyak makan di dalam negeri mengalami kesulitan bahan baku CPO karena para petani. Akan tetapi.37 persen. Harga minyak goreng yang tinggi sangat memberatkan masyarakat berpenghasilan rendah dan industri makanan skala mikro dan kecil. Benar bahwa kontribusi kenaikan harga minyak goreng terhadap inflasi tidak setinggi kenaikan harga beras. sampai ke pelosok di sentra produksi tebu. (e) Minyak Goreng dan Instabilitas Pasar CPO Sebagai salah satu komoditas strategis. membiarkan masyarakat menerima pukulan bertubi-tubi seperti 37 . Hasil Survai Sosial-Ekonomi Nasional (SUSENAS) terbatas tahun 2006 menyebutkan bahwa kontribusi pengeluaran rumah tangga terhadap minyak dan lemak hanya 1. Dengan karakter penegakan hukum yang lemah atau kualitas administrasi kebijakan yang masih banyak bermasalah. fenomena aliran gula mentah impor ini ke pasar bebas.97 persen. maka tak seorang pun dapat menjamin bahwa gula mentah yang diimpor oleh industri rafiniasi (atau oleh mitra dagang yang bersangkutan) tidak akan merembes ke pasar domestik. tentu saja dengan ketentuan bea masuk impor yang sama dengan pabrik gula tebu dan pabrik gula rafinasi. minyak goreng menghadapi permasalahan instabilitas pasar minyak sawit mentah (CPO).ekonomi politik. Pada musim giling. dikhwatirkan dapat menekan harga gula di tingkat petani. yang sangat jauh dibanding pengeluaran rumah tangga terhadap biji-bijian (beras) 11. Ketika harga CPO dunia mencapai US$ 1200 per ton. pemilik kebun dan agribisnis kelapa sawit skala besar telah memilih pasar ekspor sebagai tujuan akhir pemasarannya.

Ditambah lagi. dan kemungkinan underestimasi konsumsi minyak goreng 300 ribu ton per bulan tersebut. Untuk mengatasi lonjakan harga minyak goreng tersebut. sebenarnya masyarakat juga telah cukup letih dengan pengalaman industri pupuk yang menghadapi masalah sejenis. Sebagian besar produsen (dan pedagang) CPO melakukan sistem penjualan produknya ke pasar dunia dengan cara tiga bulan ke depan (forward) dan memperdagangkannya di pasar berjangka (futures). Di sinilah. dampak berantai kenaikan minyak goreng adalah terancamnya kualitas kesehatan masyarakat lapis bawah. pemerintah sebenarnya telah mencoba melakukan langkah intervensi dengan melaksanakan program stabilisasi harga (PSH) dan melibatkan produsen minyak goreng. 38 .melambungnya harga beras dan kebutuhan pokok lainya tentu sulit diterima akal sehat. melaksanakan suatu command and order seperti pada masa lalu tersebut ternyata tidak mudah. amat berharap bahwa pemerintah mampu berwibawa mengawal dan melaksanakan wajib pasok kepada kebutuhan industri domestik. misalnya dengan mewajibkan kalangan industri untuk memasok kebutuhan CPO dalam negeri (DMO=domestic market obligation). Rumah tangga miskin dan industri makanan skala kecil cenderung memakai ulang minyak goreng sisa (jelantah) berkali-kali melebihi ambang batas toleransi tubuh manusia terhadap makanan berlemak sangat jenuh tersebut. Strategi stabilitasi yang tanpa strategi pasti tidak akan menghasilkan apa-apa karena dilakukan dengan setengah hati dan ”atas belas kasihan” pengusaha. Skema kebijakan lain coba diambil. Sangat sulit berharap efektivitas PSH di tengah situasi pasar yang tidak normal. Tidak terlalu mengherankan apabila transaksi pasar fisik dan spot CPO jauh lebih berkembang dibandingkan dengan komoditas hasil perkebunan lain di Indonesia. Akan tetapi. karena lembaga negara tidak terlibat secara sistematis. Dalam skema DMO ini. walaupun sulit untuk dilaksanakan secara baik di lapangan.

petani sawit terpaksa harus menerima kenyataan bahwa harga tandan buah segar (TBS) di lapangan hanya dihargai Rp 350 per kilogram. Akibatnya. Petani sawit Indonesia tentu agak sulit untuk memahami bahwa Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE) mengurangi permintaan impor CPO – baik karena dampak krisis keuangan global. maupun karena produksi minyak nabati lain di AS dan UE yang sedang membaik. petani sawit yang paling terpukul adalah petani yang bekerja sendiri (stand-alone) atau yang tidak menjalin kemitraan dengan BUMN atau agribisnis swasta skala besar. untuk kemudian membeli TBS dari petani sawit dalam program kemitraan. Sekadar catatan. yang umumnya memperoleh harga beli yang agak lebih tinggi. walaupun juga mengalami penurunan harga. ketika pasar CPO internasional menjadi lesu. Seandainya berbagai instrumen perlindungan harga komoditas pertanian (seperti instrumen resi gudang atau mekanisme pasar lelang) 39 . harga CPO di pasar dunia tiba-tiba anjlok di bawah batas psikologis US$ 700 per ton. dari harga di atas US$ 1200 per ton pada bulan Juni 2008. suatu penurunan di luar akal sehat karena pada bulan Juni 2008 harga TBS masih terjual di atas Rp 1800 per kilogram. Berbeda halnya dengan petani yang telah menjalin kemitraan dengan BUMN atau swasta besar.kekhawatiran bahwa kebijakan DMO dapat menjadi “subsidi harga terselubung” dari petani sawit dan industri skala kecil-menengah terhadap industri besar CPO yang juga memiliki pabrik minyak goreng. Pelaku ekonomi skala besar ini umumnya mementingkan penyerapan produksi TBS dari kebunnya sendiri atau maksimal dari petani plasmanya sendiri. Petani tunggal ini harus mencari pembeli atau pedagang pengumpul TBS dengan harga yang agak layak dan harus berpacu dengan waktu untuk mengurangi derajat rusak atau derajat busuk dari hasil panennya. karena pasar saham dan pasar keuangan yang juga anjlok. Kemudian.

menentukan ketersediaan air yang berhubungan dengan waktu tanam (temporal).di dalam negeri telah berkembang. tingkat konsumsi tepung terigu di Indonesia meningkat sangat pesat. menentukan suhu udara yang berhubungan dengan sebaran lokasi spasial. Peta pewilayahan produksi gandum di Indonesia memiliki dua pembatas utama. Dengan karakter pembatas utama itu. maka daerah-daerah pegunungan yang memiliki suhu rendah seperti Bukit Barisan di Sumatera dan daerah pegunungan Pulau Jawa Bagian Selatan dapat dijadikan sentra produksi gandum dengan produksi tinggi. mungkin petani sawit tidak harus menanggung dampak buruk penurunan harga seperti saat ini. walaupun Kelompok Usaha Indofood sebagai pengolah gandum terbesar telah melakukan inisiasi “Proyek Gandum 2000” untuk mengenalkan tanaman gandum kepada petani Indonesia. Studi ekonomi gandum di Indonesia lebih banyak berkisar tentang hegemoni atau struktur pasar gandum impor yang monopolis karena berhubungan dengan proses pengambilan keputusan kebijakan pada masa Orde Baru. 40 . dan Nusa Tenggara Timur. Institut Pertanian Bogor (IPB) dan beberapa perguruan tinggi di Indonesia dengan dukungan Indofood melakukan uji tanaman gandum di 24 lokasi yang tersebar di Sumatera Barat. sekitar 2 juta hektar sangat cocok untuk ditanam gandum. dan (2) curah hujan. Pengembangan gandum domestik masih belum mengalami kemajuan yang berarti. (f) Terigu dan Kompleksitas Gandum Domestik Walaupun tidak memproduksi gandum sendiri. Hasil-hasil penelitian tersebut secara ringkas dapat disimpulkan bahwa dari sekitar 20 juta hektar lahan pertanian di Indonesia. baik dalam bentuk konsumsi terigu langsung oleh masyarakat. yaitu: (1) ketinggian tempat. maupun dalam bentuk konsumsi pangan olahan yang terbuat dari terigu. Sulawesi Selatan.

Maroko. maka ongkos angkut untuk bahan pangan berbasis biji-bijian.7 kilogram daging sapi menurut Asosiasi Produsen 41 . dan tepung jagung (seperti yang ditempuh Bolivia). dan tepung beras (Cina). Turki dan lain-lain). kebijakan yang diambil Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) adalah menghapus tarif bea masuk gandum (dan kedelai). Korea. mempertimbangkan untuk mengubah tarif impor gandum (Brzil. tepung gandum dan beras. terutama dari Australia dan Selandia Baru. Estimasi data konsumsi daging di Indonesia berbeda menurut lembaga. dan lain sebagainya. melarang ekspor gandum ke Afganistan (Pakistan). menentukan mutu ekspor gandum dan tepung terigu (Pakistan). negara-negara produsen gandum dunia telah memberlakukan larangan ekspor gandum (seperti Bolivia. dengan pertimbangan agar komoditas pangan yang dihasilkan negara-negara berkembang. termasuk gandum. Pakistan dan lain-lain). Meksiko. (g) Daging dan Kontroversi Asal Impor Berhubung produksi daging di dalam negeri tidak mencukupi. Selain itu. Negara-negara importir gandum lain juga merespon harga pangan global dengan menghapus pajak impor gandum. Indonesia masih harus menggantungkan kebutuhan daing sapi dari pasar luar negeri. Negara-negara Uni Eropa menunda pajak impor pangan biji-bijian. kini telah melonjak menjadi US$ 100 per ton. beberapa negara juga menerapkan kuota perdagangan gandum. India. walau sempat dipertanyakan masyarakat. mkisalnya pembatasan ekspor gandum (seperti Kasazkhtan). sekitar 1.Badan Pusat Statistik (Susenas BPS). Untuk merespon kenaikan biaya angkut di atas. dll). sedang coba menetapkan kuota ekspor tepung terigu dan tepung jagung. Rusia. melarang ekspor gandum ke Belarussia (Rusia). namun berkisar total 2.Ketika harga bahan bakar minyak di pasar global naik sangat tinggi.6 kilogram per kapita per tahun menurut (Survai Sosial Ekonomi Nasional . menghapus tarif gandum tepung terigu (Ekuador. Bahkan.

Spanyol. 42 . Kelompok pertama adalah mereka yang selama ini menjadi bagian dari atau berhubungan langsung dan tidak langsung dengan proses impor daging dari Australia dan Selandia Baru. Misalnya. Namun. mengingat kemampuan pengawasan di dalam negeri begitu lemah. Kelompok kedua adalah mereka yang mencoba memberikan alternatif pemenuhan daging impor dari negara-negara lain seperti India.5 kilogram daging ayam menurut Forum Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI). Studi-studi dan diskusi publik tentang daging umumnya berhubungan dengan kontroversi asal daging impor. masyarakat mempermasalahkan akurasi substansi dari SK No 482/2006. sapi gila.1 kilogram daging ayam menurut Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian (Deptan). serta 1. penyakit mulut dan kuku (PMK) dan sebagainya.Daging dan Feedlot Indonesia (APFINDO) plus 4. faktaya adalah bahwa tingkat konsumsi daging yang masih tergolong rendah juga menjadi insentif menarik bagi siapa pun untuk mendorong dan meningkatkan konsumsi daging di Indonesia. Bahkan. Kebijakan itu menggantikan SK No 745/1992 yang hanya membolehkan Indonesia mengimpor produk daging dari Australia dan Selandia Baru. ada argumen bahwa liberalisasi impor daging akan menekan peredaran daging ilegal di pasar domestik. karena dua kubu yang saling berlawanan dalam memperjuangkan kepentingannya sendiri-sendiri. suatu penyederhanaan masalah tanpa perhitungan. tentang impor daging dan meat bone meal (MBM) yang diputuskan dengan Surat Keputusan (SK) Menteri Pertanian Nomor 482/Kpts/ PD. Brazil. Argentina dan lain-lain yang masih tidak terbebas dari kemungkinan tertular penyakit berbahaya seperti antraks. Kalangan yang mendukung berargumen bahwa pelonggaran (liberalisasi) impor daging dimaksudkan untuk mengurangi posisi hegemoni atau monopoli kedua negara eksportir daging tersebut.2 kilogram daging sapi plus 3. Estimasi data mana pun yang dipakai.620/8/2006 tertanggal 22 Agustus 2006 yang agak longgar.

sebagian besar untuk digunakan sebagai sapi potong dan sebagian kecil digunakan sebagai bakalan 43 . Selama dua dasawarsa terakhir. Dengan basis konsumsi daging sapi per kapita seperti diuraikan di atas dan asumsi 200 kilogram daging per ekor yang dapat dikonsumsi. Pintu-pintu masuk impor tidak resmi lebih dari 3. Liberalisasi produk daging yang amat gegabah itu mengandung risiko yang harus ditanggung masyarakat menjadi amat berat. juga jadi alasan tersendiri tentang sulitnya penegakan hukum. Risiko yang tidak kalah besarnya. Komisi Kesehatan Hewan Departemen Pertanian yang mengacu pada ketentuan Badan Kesehatan Hewan Internasional (Office International des Epizooties/OIE) sebenarnya tidak memberikan rekomendasi pembukaan impor MBM. Keputusan kebijakan perdagangan produk daging berbahaya tersebut sungguh merupakan tragedi terbesar sektor peternakan. peluang peningkatan konsumsi daging yang juga besar. Potensi pasar daging di Indonesia yang memang besar. maka Indonesia membutuhkan sekitar 350 – 400 ribu ekor sapi per tahun. seiring dengan membaiknya tingkat pendapatan masyarakat dan kesadaran meningkatkan kecukupan protein hewani. kesan negatif masyarakat bahwa pemerintah tidak memihak peternaknya. Catatan tentang impor sapi dari Australia mencapai lebih dari 520 ribu ekor pada tahun 2007.000 dan tersebar di sepanjang pantai dan daerah perbatasan. Pola permintaan daging umumnya meningkat menjelang hari-hari besar nasional seperti Idul Fitri dan Idul Adha. diperlukan waktu lebih dari 100 tahun untuk membebaskan PMK.Wilayah Indonesia yang begitu luas dan terdiri atas 704 pelabuhan formal sering dijadikan alasan pembenaran (excuse) untuk tidak mampu melakukan pengawasan perdagangan produk daging berbahaya. suatu siklus tahunan yang seharusnya telah diketahui oleh pemerintah dan pelaku ekonomi sektor peternakan ini. Biayanya tentu sangat besar. Indonesia bebas PMK. Jika PMK kembali mewabah di Indonesia.

tidak kurang dari 68 negara sedang antre mencoba mengekspor daging dan produk daging ke Indonesia. hanya 4 persen.(induk) untuk penggemukan di Indoensia. Masih segar ingatan masyarakat tentang kasus "tekan-menekan" impor paha ayam atau chicken leg-quarter (CLQ) dari Amerika Serikat. Argentina. AS. Cina (15 persen). yang akhirnya sampai kepada otoritas tertinggi pada masa administrasi pemerintahan sebelumnya. Uni Eropa (15 persen). karena jumlah penduduk Australia yang tidak terlalu besar. Brasil. khususnya bagi kegairahan peternak meningkatkan produksi dan produktivitasnya. dan Spanyol sebagai wakil Uni Eropa. India (9 persen). Uruguay. bahkan melarang sama sekali produk daging dari negara yang tidak terbebas penyakit PMK dan sapi gila. total konsumsi daging di dalam negerinya tidak terlalu besar. Dengan potensi pasar yang sangat besar itulah. bersama Brazil (15 persen). sebagai salah satu eksportir sapi terbesar di dunia (23 persen pangsa) selain Australia (22 persen). maka pemerintah dituntut untuk lebih teliti dan hati-hati. sehingga Australia menjadi salah satu eksportir daging terbesar di dunia. Akhir-akhir ini Indonesia berupaya untuk mengimpor daging sapi dari Brazil. beberapa otoritas pelabuhan di Indoensia telah disibukkan untuk membongkar dan memusnahkan daging impor ilegal dari India. termasuk jika Indonesia akan memperketat perizinan impor produk daging yang berbahaya. Kanada (10%). Dalam beberapa tahun terakhir. Apabila dampak buruk yang harus ditanggung masyarakat banyak justru lebih dahsyat bagi kesehatan dan keselamatan jiwa. Uni Eropa (6 persen) dan lain-lain. Sebenarnya Amerika Serikat juga merupakan produsen daging terbesar di dunia (24 persen). Argentina (5 persen) dan lain-lain. Pengambilan keputusan sebaiknya dikembalikan kepada hakikat kesejahteraan masyarakat di dalam negeri Indonesia. Namun. 44 . Kontribusi produksi daging Australia di pasar dunia sebenarnya cukup kecil. dari petani. konsumen dan pengampu kepentingan lainnya.

Sejak krisis ekonomi itu. tapi lebih banyak oleh pedagang. net consumer beras sekitar 60 persen atau hanya 40 persen penduduk desa yang merupakan net producer beras. dari sekitar Rp 400 sampai melebihi Rp 2000 per kilogram. Di daerah perkotaan. Dalam perjalanannya. net consumer beras adalah 96 persen atau hanya 4 persen saja yang merupakan net producer beras. Hal itu dapat juga diterjemahkan bahwa sistem pasca panen dan distribusi beras di dalam negeri tidak efisien dan menyisakan 45 . penggilingan padi dan pelaku lain. Implikasinya adalah bahwa nilai tambah pengolahan dan perdagangan beras tidak dinikmati oleh petani dan konsumen.3 Akses Pangan dan Pengentasan Kemiskinan Akses pangan sering didekati dari kebijakan pangan murah (cheap food policy) yang konon pro-rakyat miskin dan selama 10 tahun terakhir telah dilaksanakan melalui program beras untuk keluarga miskin (raskin). karena dianggap tidak memberikan insentif yang cukup kepada petani padi dan bahan pangan lain untuk meningkatkan produksi dan produktivitasnya. argumen yang berkembang adalah fakta hasil Survai Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 1999 yang menyebutkan bahwa sebagian besar (76 persen) rumah tangga Indonesia adalah konsumen beras (net consumer) dan hanya 24 persen sisanya produsen beras (net producer). Program raskin sendiri adalah penyempurnaan dari instrumen operasi pasar murni (OPM) dan operasi pasar khusus (OPK) karena penurunan daya beli sejak krisis ekonomi 1997. spread harga atau marjin antara harga gabah di tingkat petani dan harga beras di tingkat konsumen melebar sangat besar. karena beras juga merupakan makanan pokok dengan karakteristik permintaan yang tidak elastis – perubahan harga tidak terlalu berpengaruh terhadap konsumsi beras – maka kelompok miskin itulah yang menderita cukup parah karena perubahan harga beras. Waktu itu.2. Di daerah pedesaan. Pada intinya. pemikiran kebijakan pangan murah tersebut memperoleh kritik yang cukup keras.

karena ketahanan pangan mencakup tiga aspek penting: ketersediaan. yang masih memberikan keuntungan bagi usaha penggilingan padi dan perdagangan beras. Terjadinya peningkatan ketersediaan dan konsumsi pangan ini diikuti pula dengan penurunan persentase rumahtangga yang defisit energi tingkat berat (konsumsi energi < 70% angka kecukupan gizi) yang juga dikenal sebagai sangat rawan pangan. kedua paket kebijakan pangan murah dan 46 . Beberapa ekonom pertanian sebenarnya telah mengusulkan strategi kebijakan kecukupan pangan (food adequacy). untuk menjamin ketersediaan dan kecukupan pangan di seluruh wilayah Indonesia. Meski menurun jumlah penduduk yang defisit energi tingkat berat (sangat rawan pangan) diperkirakan masih sekitar 25. Konsumsi energi dan protein sebenarnya telah semakin meningkat dalam lima tahun terakhir dan bahkan melebihi AKG yang disebutkan di atas. Strategi ini adalah bagian tak terpisahkan dari seluruh dimensi ketahanan pangan. pada Juni 2008. Di tingkat rumah tangga. Indonesia memiliki standar AKG yang dihasilkan dari Widyakarya Pangan dan Gizi (WNPG) ke-VII. Implikasinya adalah bahwa dalam konteks kebijakan pengentasan kemiskinan dan ketahanan pangan. tingkat ketersediaan pangan (atau tepatnya kecukupan pangan) diukur dengan membandingkan tingkat konsumsi enegeri dan protein dengan angka kecukupan gizi (AKG). yang dapat dijangkau dan aman dikonsumsi masyarakat luas.1% tahun 2002 menjadi 11. aksesibilitas dan stabilitas. 2008). khususnya di tingkat mikro rumah tangga.1% tahun 2008.200 kilokalori (kkal) dan 57 gram protein per kapita per hari. yaitu 2.fenomena asimetri pasar yang menjadi kendala serius dalam pembangunan ekonomi.1 juta jiwa pada tahun 2008 (Departemen Pertanian. Fokus kebijakan pangan di Indonesia perlu diarahkan untuk meningkatkan harga gabah dan menurunkan harga beras atau untuk mengurangi spread harga gabah dan beras. Persentase penduduk yang sangat rawan pangan menurun dari 13.

Dimensi lain yang perlu dicover adalah struktur usahatani keluarga. Pengentasan kemiskinan perlu mempertimbangkan aspek kepemilikan atau penguasaan lahan yang amat marjinal.kecukupan pangan masih belum cukup. maka manfaatnya akan terlihat secara jelas ketika kelompok pendapatan rendah ini telah mampu memenuhi kecukupan pangan. Hal ini pun merupakan langkah penting dalam upaya mengeluarkan petani dari kemiskinan. Bagaimana mungkin suatu daerah lumbung beras yang memiliki surplus produksi beras tapi banyak penduduknya yang tidak memiliki akses terhadap pangan. sampai pada aspek distribusi dan tataniaga beras yang sangat tidak berpihak pada petani produsen. melalui peningkatan jumlah ketersediaan pangan dan perbaikan akses 47 . Secara teoritis. yaitu mengurangi proporsi penduduk yang hidup kemiskinan dan kelaparan. Pengentasan kemiskinan perlu bervisi pemberdayaan masyarakat. Kasus ledakan gizi buruk dan dan gizi kurang yang semakin banyak dijumpai di Indonesia adalah salah satu dari contoh buruknya sinergi antara ketersediaan pangan di tingkat makro dan aksesibilitas individu dan rumah tangga terhadap bahan pangan. Mereka inilah yang masuk dalam kategori penduduk miskin dan memiliki akses buruk terhadap pangan. akses terhadap faktor produksi dan teknologi baru. baik energi maupun proteinnya. Apabila pembangunan ketahanan pangan difokuskan langsung pada kelompok miskin ini. pembangunan pertanian dapat meningkatkan ketahanan pangan. sampai setengahnya pada tahun 2015 nanti. dan sebagainya. sebagaimana komitmen Indonesia dan negara-negara lain di dunia dalam melaksakan Tujuan Pembangunan Milenium atau Millineum Development Goals =MDGs. sistem produksi yang tidak efisien. Perbaikan keterkaitan (linkages) aktivitas ekonomi di pedesaan dan perkotaan diharapkan mampu meningkatkan arus pergerakan produk dan jasa. sekaligus dapat menciptakan lapangan kerja produktif di pedesaan dan perkotaan. yang sekaligus mampu menciptakan lapangan kerja baru.

pembangunan pertanian Indonesia tidak mampu melepaskan dari jebakan kemiskinan yang memang lebih bersifat struktural. Sektor pendukung industri dan jasa yang selama itu mampu mengimbangi naiknya 48 . setelah “berhasil” dalam periode tumbuh tinggi sampai pertengahan tahun 1980-an. Pergerakan tenaga kerja dari pedesaan ke perkotaan – dan sebaliknya – yang berlangsung cukup mulus sebelum krisis ekonomi tidak dapat lagi terjadi tanpa biaya sosial yang cukup tinggi. Ketika krisis ekonomi menimbulkan pengangguran besar dan limpahan tenaga kerja dari sektor perkotaan tidak mampu tertampung di sektor pedesaan. Dalam konteks ini. akses terhadap bahan pangan. Akan tetapi. lonjakan produksi peternakan dan perikanan telah terbukti mampu mengatasi persoalan kelaparan dalam tiga dasa warsa terakhir. Cukup banyak strategi pengentasan kemiskinan telah mengedepankan aspek penyediaan pangan. Sektor pertanian mengalami fase dekonstruktif dan tumbuh rendah sekitar 3. Sejarah pembangunan pertanian di Indonesia menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas tanaman pangan melalui verietas unggul. baru kemudian memfokuskan pada stabilitas harga pangan atau strategi pembangunan jangkan panjang lainnya. pada awal dekade 1990-an.atau daya beli terhadap pangan. apalagi berlangsung melalui proses konglomerasi yang merapuhkan fondasi ekonomi yang sebenarnya. sehingga akses dan daya beli terhadap bahan pangan juga meningkat.4 persen karena proteksi besar-besaran pada sektor industri. Peningkatan produktivitas dan perbaikan pendapatan petani telah berkontribusi pada perbaikan ekonomi pedesaan. Ketangguhan sektor ini yang sempat dibanggakan pada saat puncak krisis moneter akhirnya tidak mampu bertahan lebih lama karena pembangunan pertanian dan proses transformasi ekonomi tidak dapat hanya disandarkan pada kenaikan harga-harga (inflasi) semata. pertanian pun harus menanggung beban ekonomi-politik yang tidak ringan. penganekaragaman pangan pun berlangsung cukup baik sehingga kualitas dan pemenuhan gizi seimbang juga lebih terjamin.

93 15.95 18.40 25.41 26.499 138.011 130.46 21.37 19.40 38.72 24.70 9.10 13. para ahli dan pejuang sektor pertanian merasa sangat yakin bahwa 49 .62 32.40 13.58 13.780 74.75 14.420 73.40 8.76 24.61 37.30 12.58 22.97 15. Tabel 4.831 179. 1998-2009 Garis Kemiskinan (Rp/Kap/Bulan) Kota Desa 96.23 17.845 91.10 37.43 15. Jumlah dan Persentase Penduduk Miskin.53 Tahun Des-1998 Mar-1999 Agus-1999 2000 2001 2002 2003 2004 Feb-2005 Jul-2005 Mar-2006 Mar-2007 Mar-2008 Mar-2009 Sumber: Badan Pusat Statistik (berbagai tahun) Fenomena itulah yang juga berkontribusi pada peta kemiskinan akhirakhir ini.632 100.05 12.50 19.33 18.19 34. yang umumnya berkait dengan sektor pertanian.77 22.09 20.38 19.72 17. serta turut serta berkontribusi pada keberhasilan sistem ekonomi-politik nasional.27 13.92 25.36 21.permintaan aggregat karena pertumbuhan penduduk.30 26.64 32.30 25.123 72.512 105.60 29.29 24.30 37.17 11.42 12.14 12.63 27.80 36.40 22.76 39. Tabel 4 menyajikan perkembangan terakhir data kemiskinan.888 108.03 22.90 49.272 69.23 17.10 11.837 161.324 187.03 23.717 175.803 143.15 11.64 40.66 11.50 14.96 10.90 14.60 31. Petani sebagai konstituen paling besar terbesar dari pembanguan pertanian tersebut.30 12.20 13.97 12.37 16.65 18. Paradoks seperti di atas memang cukup menyakitkan karena secara teoritis dan empiris.10 37. kapasitas dan aktivitas produksi yang memperluas kesempatan kerja.835 Persentase Penduduk Jumlah Penduduk Miskin (%) Miskin (Juta Jiwa) Kota Desa Kota+ Kota Desa Kota+ Desa Desa 21.40 24.56 23.959 92. yangs secara ironis harus juga ditanggung oleh sektor pertanian dan pedesaan.148 131.33 47.799 167.57 20.90 17.22 18.259 127.70 35.91 20.256 146.11 16. sejak krisis ekonomi belum mengalami pemulihan yang berarti karena rendahnya investasi.409 89.725 117. ternyata tidak mampu menikmati keberhasilan tersebut secara baik.42 12.52 20.51 15.20 25.942 204.455 150.17 12. yang telah berjuang keras mengangkat harkat dan martabat bangsa.382 96. termasuk potret kemiskinan di daerah pedesaan.10 18.35 14.648 80.10 38.13 20.896 222.

tanpa berlebihan untuk saling bersubsitusi (trade-off) antara sektor pertanian. sebenarnya telah amat jelas bahwa sektor pertanian sangat potensial untuk meningkatkan produktivitas tenaga kerja pedesaan. yaitu mengurangi proporsi penduduk yang hidup dalam kemiskinan dan kelaparan. Empat poin lainnya juga secara tidak langsung berhubungan dengan ketahan pangan dan pembangunan pertanian. peningkatan pendapatan yang diperoleh dari perbaikan produktivitas pertanian dapat digunakan untuk memacu investasi pendidikan anak-anak dan pengembangan sumberdaya manusia dan sebagainya.sektor vital tersebut telah dipercaya sebagai pengganda pendapatan (income multiplier) yang paling efektif dalam pengentasan masyarakat dari kemiskinan. industri dan jasa. Apabila pendapatan petani ikut meningkat – sekalipun tingkat harga tidak berubah – maka ekonomi pedesaan akan berputar lebih baik. Pembangunan pertanian yang menjadi basis pembangunan ekonomi hampir seluruh negara di dunia akan meningkatkan produktivitas tanaman. Secara teoritis dan empiris. Pembangunan pertanian menjadi landasan utama menuju modernisasi pembangunan ekonomi. karena tingkat pengeluaran terhadap produk-produk non-farm juga meningkat. empat dari delapan poin dalam MDGs berhubungan langsung dengan pembangunan ketahanan pangan dan pertanian secara umum. terutama bahan pangan. Paling tidak. 50 . menjamin keberlanjutan lingkungan hidup dan mengembangkan kemitraan tingkat global (Lihat Kotak 1). misalnya akses terhadap pangan bermutu akan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. melalui intensifikasi penggunaan lahan dan pemanfaatan sumberdaya ekoomi secara optimal. meningkatkan peranan wanita.

Combat HIV/AIDS.7 persen) menjadi 13. Sebagaimana dapat diduga. saat ini hanya 25 persen dari seluruh petani di Jawa yang dapat dikatakan berkecukupan dan tidak terjerat kemiskinan. Hasil Sensus Pertanian 2003 menunjukkan bahwa jumlah rumah tangga pertanian meningkat menjadi 25.developmentgoals. Jumlah petani gurem pun ikut meningkat dari 10.5 hektar semakin lama semakin banyak. Eradicate extreme poverty and hunger  Halve the proportion of people with less than US$ 1 a day  Halve the proportion of people who suffer from hunger 2.8 juta (52. Maksudnya.org Bagi Indonesia persoalan menjadi lebih pelik karena jumlah petani gurem dengan lahan tidak sampai 0. and other disease 7.2 persen) rumah tangga. Ensure environmental sustainability  Integrate sustainable development into country policies and reverse loss of environmental resources 8.2 juta (53. Achieve universal primary education 3.2 persen per tahun. malaria. Develop a global partnership for development.8 juta pada tahun 1993 atau meningkat sebesar 2. Millenium Development Goals. Reduce child mortality 5. Rumah tangga petani 51 .4 juta dari sekitar 20. including market access  Reduce average tariffs on agricultural products  Reduce domestic and export agricultural subsidies in OECD countries Sumber: http://www. Improve maternal health 6. sebagian besar dari petani gurem tersebut berada di Jawa karena 75 persen petani Jawa tergolong gurem atau meningkat dari 70 persen pada tahun 1993. 1990-2015 1.Kotak 1. Promote gender equality and empower woman 4. Potret petani sebaliknya terjadi terjadi di Luar Pulau Jawa.

5 hektar. kecenderungan peningkatan jumlah petani gurem di Luar Jawa ini pun – karena pada Sensus Pertanian 1993 tercatat 31 persen – perlu diperhatikan dengan seksama mengingat. produktivitas dan kesejahteraan petani dapat menjadi semakin besar.545. walau pun cukup kecil.260 unit rumah tangga usahatani atau 53. Proses pemiskinan petani seperti ini – walaupun terasa terlalu simplistik – jelas dapat berimplikasi sangat luas. Papua dan lain-lain umumnya menguasai lahan rata-rata cukup besar. namun lebih banyak tentang 52 . Implikasinya bagi pembangunan pertanian adalah bahwa persoalan struktural yang belum terpecahkan selama beberapa dekade terakhir. politik dan sosial kemasyarakatan. Namun demikian. tidak hanya fakta bahwa petani tidak memiliki penghasilan yang memadai atau “akibat” dari suatu kemiskinan. jika tidak dikatakan telah meningkat.5 persen dari total RUT. Menurut Hasil Pendapatan Usahatani (PUT) yang dilakukan Badan Pusta Statisktik (BPS) tanggal 31 Juli 2009. Persentase jumlah rumah tangga petani dengan skala usaha tidak ekonomis ini cukup konsisten dengan hasil Sensus 2003. Kalimantan. dan tentu saja dalam upaya untuk meningkatkan diversifikasi pangan.8 juta rumah tangga. Sen berupaya memberikan penjelasan yang lebih komprehensif. di bawah 0. dan hanya 34 persen dari rumah tangga petani di sana yang tercatat menguasai lahan di bawah 0.di Sumatra. Komposisi penguasaan lahan di Indonesia sampai saat ini tidak banyak berubah. masih akan menjadi salah satu kendala cukup serius dalam perbaikan akses pangan. Perssentase petani tanaman pangan yang miliki luas areal kurang dari 0.5 hektar. baik secara ekonomi.5 hektar tercatat 9. terutama apabila ancaman penurunan produksi. terutama bahwa pertanian pangan di Indonesia masih mengandalkan usahatani skala kecil. jumlah rumah tangga usahatani (RUT) tahun 2009 ini adalh 17. Sulawesi. Di dalam literatur ekonomi pembangunan sebenarnya telah disebutkan bahwa petani miskin karena mereka tidak memiliki kemampuan (entitlement) bahkan tidak memiliki kemerdekaan (freedom) untuk melakukan sesuatu bagi keluarga dan bangsanya.

pangsa transaksi lain di pedesaan seperti kiriman uang dari sanak famili dari luar pedesaan. diversikasi pendapatan rumah tangga pedesaan memang semakin besar dan dalam. penjelasan di atas tidak akan memberikan kesimpulan yang berbeda. pendidikan. Pangsa pendapatan rumah tangga yang berasal dari upah juga meningkat seiring dengan kebutuhan tenaga kerja yang lebih besar karena skala ekonomi yang juga meningkat. penerimaan dari sewa aset. produktivitas dan pendapatan petani tidak akan mencapai hasil optimal. Catatan lain adalah bahwa interpretasi terhadap perubahan kecenderungan di atas perlu dilakukan secara hati-hati. perbankan. dampak berantai yang pasti terjadi. penyuluhan. karena total pendapatan rumah tangga secara umum juga meningkat. hilir dan pendukung seperti akses pasar. Lebih-lebih lagi. tengah. Pada kondisi keterbukaan ekonomi yang 53 . pastilah upaya peningkatan produksi. Namun demikian. mengingat perbedaan penggunaan data dari suatu aktivitas yang berbeda (Sensus Pertanian dan Survai Sosial Ekonomi Nasional-Susenas) walaupun masih dalam lingkup Badan Pusat Statistik-BPS. serta transaksi keuangan di pedesaan juga mengalami peningkatan yang sangat pesat.buruknya akses atau “sebab” terjadinya suatu kemiskinan. Hal tersebut juga sangat berkaitan erat dengan kenaikan tingkat permintaan efektif (effective demand) di pedesaan. Dapat dibayangkan. Hal lain yang perlu dicatat adalah bahwa selama sepuluh tahun terakhir. terutama setelah aktivitas usaha kecil menengah. melihat kecenderungan pergeseran dominasi peran aktivitas luar usahatai (off-farm) yang cukup konsisten. pemasaran. Selama dekade terakhir. perbaikan akses ini menjadi begitu krusial dan sangat vital dalam dimensi bisnis pertanian (agribusiness) yang sangat mengedepankan kesatuan sistem dan tata-nilai yang utuh dari hulu. perdagangan dan jasa lainnya semakin masuk ke hampir seluruh pelosok pedesaan. dan kebijakan pemerintah yang relevan. apabila petani tidak memiliki akses terhadap lahan sebagai faktor produksi terpenting dalam suatu budidaya pertanian (agriculture).

perubahan komposisi pendapatan rumah tangga pedesaan ini seharusnya menjadi referensi penting bagi pengembangan kelembagaan ketahanan pangan dan pembangunan pertanian secara umum. sehingga penerimaan ekonomi dari kelompok ini juga tidak besar bahkan tidak cukup mampu menopang ekonomi rumah tangganya. Petani skala kecil inilah harus mengandalkan aktivitas ekonomi dari luar usahatani untuk mempertahankan kehidupan rumah tangganya. yang identik dengan semakin berkembangnya usahatani paruh waktu (part-time farming) dan efisiensi usahatani yang lebih baik. Kedua fenomena di atas tentu masih jauh dibandingkan dengan pergeseran pangsa pendapatan luar usahatani di Jepang. semakin besarnya dominasi aktivitas off-farm dapat juga berarti semakin membaiknya tingkat permintaan efektif (effective demand) di pedesaan karena aktivitas perdagangan. Petani skala kecil dan tidak mampu menggapai skala ekonomi usahatani. umumnya tidak mampu menikmati manfaat besar dari efisiensi usahatani. Selain karena semakin murahnya harga komoditas tanaman pangan secara relatif dan bahkan komoditas pertanian lainnya secara umum. Amerika Serikat dan negara maju lain. Dengan demikian. Singkatnya. perubahan teknologi pertanian yang terjadi pada tiga dekade terakhir juga telah berkontribusi pada peningkatan efisiensi usahatani.cukup besar seperti saat ini. Dua implikasi penting dari pergesaran dominasi aktivitas off-farm ini adalah sebagai berikut: Pertama. meningkatnya dominasi off-farm nyaris identik dengan upaya survival bagi mereka dengan skala usaha ekonomi tidak memadai. maka petani tanaman pangan pokok seperti padi dan palawija akan sangat sulit mengandalkan ekonomi rumah tangganya hanya dari sektor usahatani on-farm. 54 . Kedua. maka semakin jelaslah bahwa pembangunan ketahanan pangan perlu menjadi satu kesatuan dengan proses pembangunan ekonomi atau transformasi struktural ekonomi secara umum. jasa dan usaha lain juga meningkat.

Menjamin Ketersediaan Pangan. suatu maktriks agenda aksi disusun sedemikian rupa sebagai penjabaran rinci dari setiap elemen kebijakan dengan sasaran yang jelas. Ketersediaan pangan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi rumah tangga dengan bertumpu pada kemampuan produksi dalam negeri melalui pengembangan sistem produksi. kerangka waktu berikut focal point yang paling bertanggung jawab. Untuk menjabarkannya menjadi suatu agenda aksi yang dapat dilaksanakan di tingkat lapangan. distribusi. penangulangan risiko. pencegahanan kerawanan pangan. pemerintah berperan menjabarkan secara rinci kebijakan-kebijakan lain yang mampu memberikan insentif dari hulu sampai hilir atau perlindungan kepada petani dan konsumen sekaligus. keamanan pangan. 3. aksesibilitas. kerjasama internasional. 55 . penelitian dan pengembangan. tingkat wilayah dan tingka nasional. Langkah nyata yang berhubungan dengan hal-hal berikut menjadi sangat mutlak: penyediaan. penanganan pasca panen. Selain memberikan arah kebijakan yang lebih jelas dan mudah dicerna.1 Konsep Kebijakan Umum 1. swasta dan elemen masyarakat untuk bersama-sama mewujudkan ketahanan pangan di tingkat rumah tangga. efisiensi sistem usaha pangan.BAB 3. KEBIJAKAN UMUM KETAHANAN PANGAN Substansi kebijakan umum ketahanan pangan yang terdiri dari 15 elemen penting yang diharapkan menjadi panduan bagi pemerintah. teknologi produksi pangan. dan stabilitas harga pangan. partisipasi masyarakat dan lain-lain. penataan aspek pertanahan dan tata ruang daerah dan wilayah. sarana dan prasarana produksi pangan dan mempertahankan dan mengembangkan lahan produktif dan memanfaatkan potensi sumberdaya lokal. diversifikasi usaha dan penganekaragaman pangan.

sekaligus untuk menjaga tingkat efisiensi pada sistem produksi. Peningkatan produktivitas komoditas pangan agar tercapai lonjakan produksi pangan yang dapat dihasilkan di dalam negeri. 56 . peternakan. untuk mendukung penyediaan lahan berkelanjutan seluas 15 juta hektar untuk produksi pangan strategis. sebagai sumber penghasil pangan strategis dan bersifat pokok. d. perikanan dan kehutanan.Pemerintah memberikan dukungan peningkatan produktivitas pangan. meliputi usaha-usaha berbasis pertanian. perkebunan. melalui pemberian insentif khusus bagi mereka yang akan memanfaatkan sumberdaya lahan terbengkalai tersebut. serta rehabilitasi lahan-lahan usaha pertanian dan kehutanan secara luas. termasuk pemanfaatan sumberdaya lahan dan air. dan peningkatan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pencegahan kerusakan. terutama pangan pokok. terutama ke Luar Jawa. mendorong pemanfaatan teknologi dan peralatan tersebut melalui penyediaan insentif bagi pelaku usaha. Pemanfaatan sumberdaya lahan. terutama yang “tertidur” dan tidak produktif. b. Rencana aksi yang dilakukan adalah: a. Pengembangan konservasi dan tehabilitasi lahan. c. Perluasan areal tanaman pangan. Peningkatan efisiensi penanganan pasca panen dan pengolahan melalui perakitan dan pengembangan teknologi pasca panen dan pengolahan tepat guna spesifik lokasi untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produk. peningkatan kesadaran dan kemampuan petani/nelayan untuk memanfaatkan teknologi pasca panen dan pengolahan yang tepat untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produk. e. khususnya skala kecil.

Aktivitas perbaikan pertanahan dan tata ruang wilayah dapat diwujudkan melalu rencana aksi sebagai berikut: a. Pemerintah memfasilitasi pelestarian ketidakadilan sumberdaya air. Menata Pertanahan dan Tata Ruang dan Wilayah. untuk mewujudkan kebijakan pengelolaan lahan pertanian yang lebih beradab. serta penyebarluasan penerapan teknologi ramah lingkungan pada usaha-usaha yang rnemanfaatkan sumberdaya air dan daerah aliran sungai. g. dengan fokus pada rehabilitasi 700 ribu hektar saluran irigasi terutam di daerah lumbung pangan sekaligus melalui pemanfaatan dana stimulus fiscal serta upaya lain untuk mengantisipasi dampak krisis ekonomi global. membangun dan memelihara jaringan irigasi. menimbulkan administrasi dan sertifikasi pertanahan agar tidak baru. mencegah alih fungsi lahan pertanian subur berigasi teknis. melalui penegakan peraturan untuk menjamin kegiatan pemanfaatan sumber daya alam secara ramah lingkungan. Pemerintah mengembangkan lahan pertanian produktif. Pengembangan reforma agraria yang lebih berkeadilan tanpa harus mengganggu kepentingan petani. aman dan berkelanjutan. 57 . 2. dan bersama masyarakat mengelola pemanfaatan sumberdaya air secara adil dan berkelanjutan. rehabilitasi daerah aliran sungai dan lahan kritis. Perbaikan jaringan irigasi dan drainase.f. Petaan lahan dan air diarahkan untuk menjamin penyediaan pangan yang cukup. dan memperbaiki tata ruang. Pelestarian sumberdaya air dan pengelolaan daerah aliran sungai. pengembangan infrastruktur pengairan untuk meningkatkan efisiensi pemanfaatan air. konservasi air dalam rangka pemanfaatan curah hujan dan aliran permukaan.

Pemberian sanksi yang sangat berat bagi pelaku konversi lahan subur beririgasi teknis menjadi kegunaan lain di luar pertanian agar dapat menahan laju konversi lahan subur beririgasi yang dapat menimbulkan fenomena ketidakdilan baru. Langkah rehabilitasi kerusakan karena dampak kekeringan dan perubahan iklim (reaktif) akan jauh lebih mahal dibandingkan dengan langkah adaptasi dan mitigasi bencana 58 . sebagai amanat dari UndangUndang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang. dengan penerapan sanksi terhadap pelanggaran. ekonomi. budaya dan kelestarian sumberdaya alam. sehingga pola tanam dan estimasi produksi pertanian. Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim Pemanasan global adalah fakta. Pemanasan global telah menimbulkan periode musim hujan dan musim kemarau yang makin kacau. apalagi mitos khayal. Penerapan sistem perpajakan progresif bagi pelaku konversi lahan pertanian subur melalui penyusunan peraturan dan penerapannya secara tegas bidang perpajakan atas lahan atau usaha yang dapat menghambat/memberatkan setiap upaya mengkonversi lahan pertanian subur.b. d. 3. persediaan stok pangan menjadi sulit diprediksi secara baik. bukan sekadar prediksi. Melakukan Antisipasi. dan atau membiarkan lahan pertanian terlantar. e. disertai penerapannya secara tegas dan konsisten. Kegiatan ini meliputi perbaikan Rencana Tata Ruang Daerah dan Wilayah (RTRW) tingkat provinsi secara terkoordinasi antar daerah/wilayah dengan mempertimbangkan unsurunsur sosial. dengan sasaran jelas yakni terciptanya administrasi petanahan yang memadai dan tidak memberatkan rakyat. c. Perbaikan administrasi pertanahan dan sertifikasi lahan yang murah. Penyusunan tata tuang daerah dan wilayah.

e. Pencegahan penurunan produksi pangan. c. Pengurangan secara sistematis terhadap luas. minimal untuk mengurangi dampak kekeringan yang lebih hebat d. 59 . Perbaikan manajemen sistem irigasi. langkah hemat air dan pemanenan air setiap ada hujan. 4.pemanasan global itu (antisipatif). misalnya dengan memasyaratkan hasil-hasil studi jenis tanaman dan pola tanam yang hemat air. mulai dari tingkat teknis pola tanam pangan. misalnya dengan “injeksi” air dengan dam parit. b. dan durasi musim kemarau karena perubahan iklim di Indonesia. pengelolaan air dan rehabilitasi sumbersumber air air secara berkelanjutan menjadi sangat penting. merumuskan skema perlindungan petani produsen (dan konsumen) secara sistematis. Menjamin Cadangan Pangan Pemerintah dan Masyarakat. Rehabilitasi dan pembangunan infrastruktur irigasi serta melanjutkan program sejenis yang belum selesai pada periode sebelumnya. intensitas. g. sumur resapan dan channel reservoir yang dapat dikelola sendiri oleh masyarakat. Realisasi adaptasi perubahan iklim di sektor pertanian. Program penyiapan dan pemberian bantuan darurat bahan pangan dan air minum/air bersih jika kekeringan melanda. Tidak ada kata terlambat untuk memulai suatu langkah sekecil apa pun – bukan bersilang pendapat – yang dapat berkontribusi pada kejayaan ekonomi pertanian dan kesejahteraan rakyat. f. sampai pada pelestarian sumber-sumber air di hulu sungai dan hutan konservasi. Penyusunan sistem peringatan dini. Untuk itu diperlukan suatu upaya serius untuk mengerahkan birokrasi dan aparat pemerintah di tingkat pusat dan daerah untuk menyampaikan secara rinci serangkaian langkah berikut: a.

Cadangan pangan dilakukan untuk mengantisipasi kekurangan pangan. Cadangan pangan diutamakan berasal dari produksi dalam negeri dan pemasukan atau impor pangan dilakukan apabila produksi pangan dalam negeri tidak mencukupi. Cadangan pangan 60 . kelebihan pangan. terutama aliran pangan pokok dari daerah surplus ke daerah defisit pangan. gejolak harga dan/atau keadaan darurat. kabupaten/kota dan desa menyediakan dan mengelola cadangan pangan tertentu yang bersifat pokok. c. Peningkatan kerjasama antar-daerah otonom. Pengembangan cadangan di setiap lapis pemerintah: dari tingkat pusat. Pada keadaam darurat. masing-masing kelompok masyarakat mampu memanfaatkan dan mengelola sistem cadangan pangannya untuk mengatasi masalah kerawanan pangannya secara mandiri dan berkelanjutan. pemerintah dapat direalisasikan melalui rencana aksi berikut: a. b. Pengembangan lumbung pangan di tingkat masyarakat agar tercipta dan terintegrasi sistem cadangan pemerintah dan masyarakat. provinsi. Pemerintah pusat. Masyarakat mempunyai hak dan kesempatan seluas-luasnya dalam upaya mewujudkan dan mengelola cadangan pangan masyarakat sesuai dengan kearifan dan budaya lokal. kabupaten/kota sampai tingkat desa untuk membantu mewujudukan cadangan pangan yang bersifat pokok di setiap daerah dan di setiap desa dengan memanfaatkan sumberdaya yang tersedia. Fasilitasi dilakukan dalam aspek manajemen kelompok maupun aspek teknis pengelolaan pangan sehingga kualitas dan nilai ekonominya dapat ditingkatkan. propinsi. agar terjalin kerjasama antar daerah dengan satuan kluster ekonomi yang saling mendukung d.

Penghapusan retribusi produk pertanian yang masih mentah dengan sasaran jelas. Mengembangkan Sistem Distribusi Pangan yang Adil dan Efisien. Sistem distribusi pangan yang adil dan efisien dapat ditempuh melalui langkah-langkah sebagai berikut: a. prasarana dan pengaturan distribusi pangan serta mendorong partispasi masyarakat dalam mewujudkan sistem distribusi pangan. Meningkatkan Aksesibilitas Rumah Tangga terhadap Pangan. jalan desa dan jalan usahatani agar tercapai target pengerasan jalan desa dan jalan usahatani. yakni hlangnya pajak atau retribusi yang memberatkan petani dan pedagang kecil. pengolah. yakni berkurangnya kolusi harga antar pedagang yang merugikan petani. dengan prioritas pada daerah lumbung pangan. Sistem distribusi pangan dilaksanakan untuk menjamin penyediaan pangan setiap rumah tangga di seluruh wilayah sepanjang waktu secara efisien dan efektif. Pengembangan infrastrukturk distribusi yang meliputi pembangunan dan rehabilitasi sarana dasar.5. Pengawasan sistem persaingan pedagang yang tidak sehat dengan sasaran jelas. Sistem distribusi pangan menyangkut pengelolaan mekanisme yang adil antar pelaku mulai dari petani produsen. pedagang. c. Pemberdayaan organisasi petani di tingkat pedesaan untuk membantu meningkatkan posisi tawar petani di hadapan pedagang pengumpul dan tengkulak. dan konsumen. Pengawasan dan pengembangan standar mutu pangan. untuk mendukung terjaminnya mutu produk pangan. e. 61 . Pemerintah mengembangkan sarana. b. 6. d.

agar semakin solid rasa saling percaya di antara masyarakat baik di perdesaan maupun di perkotaan. Stabilitas harga pangan tertentu yang bersifat pokok diarahkan untuk menghindari terjadinya gejolak harga yang mengakibatkan keresahan masyarakat. yakni tersedianya peta defisit dan surplus pangan di seluruh Indonesia 7. kerawanan pangan. agar semakin terintegrasi budaya dan kearifan pangan lokal dengan pengentasan kemiskinan secara umum. dan d. Pemerintah memantau dan mengidentifkasi secara dini tentang kekurangan dan surplus pangan. Peningkatan efektivitas program subsidi pangan seperti beras untuk keluarga miskin (raskin) agar tingkat salah-sasaran semakin berkurang dan kriteria tepat lainnya semakin baik. Pengembangan pangan lokal untuk meningkatkan pendaptaan rumah tangga dan daya beli masyarakat. peningkatan daya beli. 62 . Penguatan kelembagaan di tingkat desa untuk membantu aksesibilitas. dan ketidakmampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan pangannya serta melakukan tindakan pencegahan dan penanggulangan yang diperlukan. pemberian bantuan pangan dan pangan bersubsidi.Akses rumah tangga terhadap pangan diwujudkan melalui pengendalian stabilitas harga pangan. b. dengan sasaran jelas. Menjaga Stabilitas Harga Pangan. Bantuan pangan dan pangan bersubsidi disalurkan kepada kelompok rawan pangan dan keluarga miskin untuk meningkatkan kualitas gizinya. c. Identifikasi secara dini dan pemantauan berkala gejala kurang pangan dan surplus pangan. kelancaran distribusi pangan. Pemerintah melakukan pemantauan dan stabilisasi harga pangan tertentu yang bersifat pokok melalui pengelolaan pasokan pangan. Rencana aksi untuk memperbaiki aksesibilitas pangan dapat diikhtisarkan sebagai berikut: a.

gagal panen dan bencana alam. b. gula. Pemantauan secara mingguan dan bulanan harga pangan strategis (beras. 63 . Rencana aksi untuk mencegah dan menangani keadaan rawan pangan dan gizi di atas dapat dirinci sebagai berikut: a. Mencegah dan Menangani Keadaan Rawan Pangan dan Gizi. kedelai dan daging) agar tersedia data yang konsisten serta sebaran harga pangan strategis di tingkat produsen dan tingkat konsumen yang dapat dipercaya. c. 8.kebijakan perdagangan. pemanfaatan cadangan pangan dan intervensi pasar apabila diperlukan. Penanggulangan keadaan rawan pangan dan gizi dilakukan melalui pemberian bantuan pangan dan pelayanan kesehatan serta penguatan kapasitas individu dan kelembagaan masyarakat perdesaan dan perkotaan. Pengembangan sistem pangadaan pangan pokok yang melibatkan lembaga usaha ekonomi pedesaan. Rencana aksi untuk mewujudkan stabilitas harga pangan tersebut dapat ditempuh melalui: a. Pengembangan sistem isyarat dini keadaan rawan pangan dan gizi. konflik sosial dan paceklik yang berkepanjangan. Pencegahan keadaan rawan pangan dan gizi dilakukan melalui pengembangan dan pemantapan sistem isyarat dini dan intervensi yang memadai. Pengelolaan pasokan pangan dan cadangan penyanggah untuk menjaga stabilitas harga pangan. terutama pada saat paceklik. agar kapasitas kelembagaan masyarakat dalam pengadaan pangan semakin meningkat. agar tersedia pasokan pangan. (SKPG dan sejenisnya) agar tercipta sistem isyarat dini yang mudah dimengerti dan dimanfaatkan oleh segenap lapisan masyarakat. Pemerintah melakukan pencegahan dan penanggulangan keadaan rawan pangan dan gizi akibat kemiskinan dan keadaan darurat karena bencana alam. jagung.

peternak dan nelayan kecil melalui pengembangan usahatani terpadu. Melakukan Diversifikasi Pangan. karena gagal panen dan paceklik. Pemanfaatan lahan pekarangan untuk peningkatan gizi keluarga. informasi dan edukasi yang sesuai dengan situasi sosial budaya dan ekonomi setempat. c. d. dan keanekaragaman hayati. pelestarian sumberdaya alam. Pemantauan secara berkala tentang perkembangan pola pangan rumah tangga. konservasi lingkungan hidup. Pemanfaatan cadangan pangan pemerintah di seluruh lapisan untuk dapat menanggulangi keadaan rawan pangan dan gizi untuk mempercepat langkah penanganan gejala rawan pangan. agar tersedianya pangan dengan kandungan gizi seimbang yang mudah dijangkau. untuk membangkitkan kembali kelembagaan masyarakat dengan sistem monitoring sederhana yang dilakukan oleh setiap rumah tangga di seluruh Indoensia.b. Diversifikasi konsumsi pangan diarahkan untuk mencapai konsumsi pangan yang bergizi seimbang. dan f. Peningkatan keluarga sadar gizi melalui penyuluhan dan bimbingan sosial kepada keluarga yang membutuhkan melalui sistem komunikasi. Fasilitasi pemerintah daerah untuk membangun kemampuan merespon isyarat tersebut secara tepat dan cepat untuk mencegah dan mengatasi terjadinya kerawanan pangan. Pemerintah memfasilitasi diversifikasi usaha dan konsumsi pangan melalui pengembangan teknologi dan industri pangan sesuai 64 . Diversifikasi produksi (usaha) diarahkan untuk meningkatkan pendapatan produsen. e. pengelolaan sumberdaya air. terutama pada kantong-kantong kemiskinan di perdesaan dan perkotaan 9. terutama petani. Diversifikasi pangan sebenarnya meliputi diversifikasi produksi dan diversifikasi konsumsi pangan.

kelembagaan dan budaya lokal. perikanan dan lain-lain untuk ”menyebar-ratakan” risiko gagal panen karena iklim dan cuaca serta karena fluktuasi harga yang sulit diantisipasi. Pemerintah melakukan 65 . e. peternakan. Peningkatan diversifikasi konsumsi pangan dan prinsip gizi seimbang agar tercipta sinergi saling menguntungkan antara diversifikasi pangan dan pengembangan pangan lokal. Perbaikan sistem komunikasi. 10. Penanganan keamanan dan mutu pangan diarahkan untuk menjamin produksi dan konsumsi pangan masyarakat agar terhindar dari cemaran biologis. dan fisik yang berbahaya bagi kesehatan. Pelestarian sumberdaya alam dan keanekaragaman hayati di daerah kawasan hutan sebagai sumber pangan alternatif bagi masyarakat miskin. c. dan f. perkebunan. terutama yang memiliki sifat khas dan eksotis. d.sumberdaya. terutama yang berada di sekitar kawasan hutan. b. kimia. Diversifikasi usaha atau produksi pangan dan diversifikasi konsumsi pangan dapat ditempuh melalui rencana aksi sebagai berikut: a. Pengembanga pangan lokal sesuai dengan kearifan dan kekhasan daerah untuk mengembangkan pangan lokal. Pengembangan teknologi pangan untuk meningkatkan nilai tambah dalam rangka diverisikasi pangan untuk semakin mengembangkan sumber energi dan protein dari pangan alternatif yang ada. informasi dan edukasi (KIE) gizi untuk mewujudkan pangan alternatif yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap pangan pokok seperti beras. Meningkatkan Keamanan dan Mutu Pangan. Pengembangan diversifikasi usaha melalui usahatani terpadu bidang pangan.

kimia. kemudahan. penghargaan dan dukungan politis pada kegiatan penelitian dan pengembangan. Pemerintah memfasilitasi kegiatan penelitian dan pengembangan terutama melalui alokasi anggaran yang memadai serta mendorong peran-serta sektor swasta dalam penelitian dan pengembangan ketahanan pangan dan gizi. Penetapan standar keamanan dan mutu pangan. Rencana aksi peningkatan keamanan dan mutu pangan dapat diwujudkan sebagai berikut: a.pencegahan dan penanggulangan dampak pangan yang tidak aman bagi masyarakat melalui penetapan standar keamanan dan mutu pangan. Pemberian fasiltias. Penelitian dan pengembangan bidang pangan diarahkan untuk mewujudkan ketahanan pangan dan gizi. penegakan hukum bagi penanggulangan dampak pangan yang tidak aman untuk menekan peredaran pangan tidak mutu dan tidak aman dan tidak berkualitas. kehalalan. untuk mewujdukan hasil-hasil penelitian yang dapat digunakan untuk mengembangkan produksi dan efisiensi usaha pangan. b. mutu pangan. Memfasilitasi Penelitian dan Pengembangan. serta perdagangan. 66 . kehalalan. serta perdagangan pangan. Rencana aksi untuk mendukung aktivitas penelitian dan pengembangan dapat diwujudkan melalui: a. Pembinaan sistem produksi dan konsumsi pangan masyarakat agar terhindar dari cemaran biologis. produsen pangan besar dan usaha kecil menengah tentang pangan bermutu dan aman bagi kesehatan. c. Pencegahan dini. kehalanan pangan dalam sistem perdagangan pangan. untuk secara keserluruhan meingkatkan kualitas kemananan. 11. sekaligus untuk menciptakan mekanisme penanganan dampak negatif pangan. dan fisik yang berbahaya. untuk meningkatkan pemahaman masyarakat.

Pemerintah menetapkan kebijakan perdagangan pangan. terutama pangan pokok dan yang bersifat strategis untuk melindungi kepentingan petani produsen dan konsumen. dan Asia Pasifik. 12. 67 . Melaksanakan Kerjasama Internasional. Penggalangan kerjasama ekonomi baik dalam kerangkan bilateral maupun multilateral. c. Alokasi anggaran negara yang memadai untuk penelitian dan pengembangan. Rencana aksi menuju kerjasama internasional yang lebih beradab dan saling menguntungkan dapat dirinci sebagai berikut: a. perikanan dan kehutananan. untuk memperkokoh posisi Indonesia dalam perdagangan pangan di ASEAN. keadilan dan kedaulatan yang bermartabat. dan d. Peningkatan produktivitas melalui perbaikan genetis dan teknologi budidaya. universitas dan sektor swasta dalam pencarian dan pengembangan inovasi penelitian untuk membuka ruang dan semangat bagi sektor swasta berpartisipasi dalam penelitian dan pengembagan pangan. meningkatkan efisiensi ke arah zero waste. Pemerintah memetakan kekuatan daya saing usaha pangan nasional secara berkala untuk acuan pengembangan ketahanan pangan dalam dinamika ekonomi global. memperbaiki/ mempertahankan kesuburan lahan dan meningkatkan pendapatan petani. berupa perakitan teknologi untuk menghasilkan varietas unggul spesifik lokasi untuk meningkatkan kualitas dan produktivitas usaha pertanian. Peningkatan kerjasama dan kemitraan antara lembaga penelitian.b. politik dan budaya dengan prinsip kesetaraan. Kerjasama internasional pembangunan ketahanan pangan dilakukan melalui diplomasi ekonomi. sampai 1 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). serta untuk perbaikan teknologi budidaya untuk menekan senjang hasil antara tingkat penelitian dan tingkat petani.

Pengembangan lembaga dan kebijakan pendukung. seperti lembaga simpanpinjam desa dan usaha kecil menengah (UKM) serta koperasi. untuk berkontribusi pada bangkitnya kembali lembaga simpan pinjam desa dan partisipasi UKM dan koperasi dalam penyediaan pangan. Meningkatkan Peran Serta Masyarakat.b. melalui pengembangan aktivitas produksi. konsumsi pangan bergizi seimbang. Diplomasi ekonomi. sosial dan budaya untuk meningkatkan ketahanan pangan domestik dengan sasaran jangka menengah yang jelas. politik. 13. c. informasi. dan edukasi pangan dan gizi. Peningkatan motivasi masyarakat dan kapasitas dan kelembagaan yang mendukung proses pencapaian ketahanan pangan. Pemerintah memfasilitasi keikutsertaan masyarakat melalui komunikasi. agar semakin besar tingkat kapasitas kelembagaan masyarakat di perdesaan dan perkotaan. Peningkatan jumlah atase pertanian dan perdagangan yang berkualtias dan bertanggung jawab agar mampu membawa misi kepentingan nasional dalam kancah internasional. b. serta pencegahan dan penanggulangan masalah pangan. perdagangan dan distribusi pangan. Peran serta masyarakat diarahkan untuk mewujudkan ketahanan pangan. Rencana aksi untuk meningkatkan peran serta masyarakat dapat dirinci sebagai berikut: a. 68 . yakni semakin dihormatinya Indonesia dalam arena perdagangan dan kerjasama ekonomi tingkat internasional. Pemberian insentif bagi mereka yang berjasa pada pencegahan dan penanggulangan masalah pangan dan gizi. pengeloalaan cadangan pangan. c. agar masyarakat semakin bergairah untuk berpartisipasi membantu menanggulangi masalah pangan dan gizi. serta peningkatan kapasitas dan motivasi masyarakat.

pelatihan dan penyuluhan pangan secara lebih komprehensif agar tersusun program pendidikan. Pemerintah merevitalisasi sistem penyuluhan melalui kerjasama sinergis dengan lembaga penelitian. Pemberian muatan pangan dan gizi pada kurikulum pendidikan di sekolah dasar dan kejuruan untuk meningkatklan kesadaran masyarakat tentang pangan bermutu sejak usia dini. d. peningkatan mutu penyelenggaraan penyuluhan pertanian. perguruan tinggi.14. Perbaikan program pendidikan. Rencana aksi yang dapat dilaksanakan untuk menunjang pengembangan sumberdaya manusia (SDM) meliputi: a. Penyusunan dan sosialisasi peraturan penyuluhan. Pengembangan sumberdaya manusia di bidang pangan dan gizi dilakukan melalui pendidikan. penataan kelembagaan penyuluhan pertanian. 69 . b. dan lembaga masyarakat yang peduli pada mutu pangan dan gizi. pelatihan dan penyuluhan pangan yang lebih komprehensif. bertanggung jawab dan menjunjung nilai-nilai kebenaran. peningkatan ketenagaan penyuluhan pertanian. Mengembangkan Sumberdaya Manusia. dan lembaga pengembangan swadaya masyarakat yang lebih beradab. lembaga swasta. Peningkatan kerjasama dengan lembaga non-pemerintah (LSM) dan kelompok masyarakat lain yang peduli terhadap peningkatan sumberdaya manusia (SDM) agar tercipta suatu kerjasama sinergis antara lembaga pemerintah. pelatihan dan penyuluhan secara lebih komprehensif. dan penerapan secara meluas pendekatan pemberdayaan/pendampingan kepada kelompok masyarakat petani/ nelayan c.

a. apa pun kondisinya. Alokasi anggaran negara dan anggaran daerah yang memadai untuk pembangunan pertanian dan ketahanan pangan. yaitu: beras. kedelai dan tebu (plus daging) sebagaimana disampaikan secara resmi oleh Indonesia kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). jagung. b. c. Untuk negara agraris dan basis sumberdaya seperti Indonesia. Kebijakan proteksi perdagangan. melalui peningkatan kapasitas.15. minimal untuk empat komoditas utama dalam special products (SPs). Langkah ini dapat dilakukan melalui penerapan berbagai instrumen dan regulasi perdagangan secara arif untuk melindungi dari persaingan yang tidak menguntungkan dan memberikan dukungan terhadap peningkatan daya saing produk pertanian strategis nasional. Melaksanakan Kebijakan Makro dan Perdagangan yang Kondusif Falsafah utama dari kebijakan makro dan kebijakan perdaganga yang kondusif adalah integrasi strategi ekonomi makro ke dalam pembangunan pertanian dan ketahanan pangan. misalnya dengan pemberian keringanan pajak bagi para pelaku usaha di bidang pertanian dan pengolahan pangan untuk mendorong pertumbuhan investasi usaha berbasis pertanian dan pangan. seluruh elemen kebijakan moneter dan kebijakan fiskal pasti amat terkait dengan pembangunan pertanian. Kebijakan fiskal yang memberikan insentif bagi usaha pertanian. 70 . kepedulian dan pemberian pemahaman serta umpan balik kepada lembaga pemerintah yang berkompeten termasuk lembaga legislatif.

2 Prasyarat Koordinasi dan Integrasi Kebijakan Upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional bertumpu pada sumberdaya pangan lokal yang mengandung keragaman antar daerah dan produksi domestik. Departemen Pertanian. pendidikan dan latihan). Departemen Pertahanan. sebagai prasyarat penting. pertanggung. penelitian dan pengembangan serta koordinasi pemantapan ketahanan pangan. pengamanan 71 .jawaban dan pengawasan keuangan daerah. Pemerintah Propinsi. Impor pangan hanya dilakukan pada keadaan yang memaksa. misalnya pada saat neraca pangan berada dalam keadaan negatif atau pada masa paceklik karena kekeringan dan/atau bencana alam lainnya. pengelolaan lahan dan air irigasi.3. peningkatan produktivitas. Pembinaan strategi dan interdependensi daerah dalam mewujudkan dan memantapkan ketahanan pangan. pemberian insentif perwilayahan komoditas pangan. pengembangan sumberdaya manusia (penyuluhan. mulai dari Pemerintah Pusat. peternakan. 1. pengalokasian dana alokasi ketahanan pangan. koordinasi kebijakan pangan dan pertanian antar daerah otonom. sampai Pemerintah Desa dan masyarakat untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional. Pemerintah Kabupaten/ Kota. 2. Kebijakan produksi pangan. pengolahan dan pemasaran hasil. 3. serta mengurangi ketergantungan pada pemasukan atau impor pangan. Seluruh sektor dan bidang dalam pemerintahan berperan secara aktif dan berkoordinasi secara rapi. perkebunan. Departemen Dalam Negeri. Saat ini paling tidak terdapat 20 lembaga pemerintah dan badan usaha milik negara yang terlibat langsung dan tidak langsung terhadap kebijakan ketahanan pangan. Pembinaan ketahanan pangan di daerah dan provinsi. dalam kaitannya dengan fasilitasi penyusunan anggaran daerah.

pengembangan industri kecil dan menengah. tataniaga produk pertanian strategis. 7. pengembangan ekspor komoditas pangan dan pertanian. dan lainnya serta pembiayaan ketahanan pangan dalam skema anggaran pendapatan dan belanja negara negara. 6. pengembangan 72 . skema perdagangan berjangka bagi komoditas pangan tertentu serta kerjasama internasional atau diplomasi ekonomi yang dibutuhkan untuk memantapkan ketahanan pangan. Departemen Perindustrian. Departemen Kehutanan.jaringan distribusi dan stok pangan nasional. terutama bidang pangan dan pertanian. perdagangan internasional produk pangan. rehabilitasi hutan dan perhutanan sosial untuk ketahanan pangan. pelestarian plasma-nutfah sumberdaya hutan untuk pemantapan ketahanan pangan. Departemen Keuangan. kebijakan agroindustri. Penerimaan negara dari pajak. dan pembinaan lembaga keuangan yang berhubungan dengan aktivitas pangan dan pertanian. Sistem distribusi pangan dan pertanian di dalam negeri. Departemen Kelautan dan Perikanan. konservasi sumber daya alam. serta standarisasi teknis komoditas hasil industri pangan. 5. pengawasan dan pengendalian sumber daya kelautan dan perikanan. 8. bea masuk. 4. Segmen ketahanan pangan seharusnya menjadi bagian tidak terpisahkan dari strategi petahanan dan pertahanan nasional. Pengembangan perikanan tangkap dan perikanan budidaya untuk mendukung ketahanan pangan. pengawasan komoditas pangan yang keluar dan masuk batas wilayah negara. Departemen Perdagangan. Strategi perlindungan hutan. pemanfaatan lahan hutan untuk produksi pangan dan pertanian sepanjang saling mendukung konservasi sumberdaya alam. Strategi industrialisasi yang mendukung produksi dan produktivitas industri pangan.

penanggulangan kemiskinan dan kekurangan pangan akut. jaringan irigasi dan drainase. untuk mendukung kelancaran sistem distribusi pangan. 9. pelayanan pelabuhan. vitamin dan mineral. Departemen Pekerjaan Umum. mulai dari jalan. strategi penyusunan kebijakan tata ruang dan wilayah yang akan bermanfaat pada “perwilayahan” komoditas pangan dan pertanian. khususnya tentang konsep pangan bermutu dan bergizi seimbang melalui rangkaian strategi komunikasi. pengamanan mutu pangan. sampai pada segenap lapisan masyarakat. sarana dan prsaranan lain dalam perhubungan laut. 12. Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil-Menengah (UKM). Pengembangan infrastruktur perhubungan. Departemen Perhubungan. protein.masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil serta pembinaan pengolahan dan pemasaran hasil perikanan. kebijakan peningkatan produksi UKM 73 . rehabilitasi dan rekonstruksi daerah bencana. Strategi pengembangan peran-serta kelembagaan koperasi dan UKM dalam pemantapan ketahanan pangan. informasi dan edukasi (KIE) pangan dan gizi. Departemen Komunikasi dan Informasi. Pencegahan gejala dan penanggulangan kasus rawan pangan. 14. pengawasan pergerakan komoditas pangan. 11. pemahaman masyarakat terhadap kebutuhan energi. zat penyusun serta waktu kadaluarsa bahan pangan. 13. Peningkatan kualitas kesehatan. mutu pangan dan gizi masyarakat. Departemen Kesehatan. 10. Penyeberluasan kebijakan ketahanan pangan. terutama tentang kandungan bahan. Pengembangan dan pemeliharaan sarana dan prasarana (infrsatruktur). Departemen Sosial. pemberdayaan masyarakat untuk menghadapi insekuritas pangan. pengawasan makan (dan obat). darat dan udara. jembatan.

kebijakan tataruang daerah dan wilayah. pertumbuhan dan kepadatan penduduk.bidang pangan dan pertanian. Strategi pengembangan riset dan teknologi bidang pangan. Peningkatan kepastian usaha produksi pangan. Kementerian Negara Perencanaan Pembangunan. dari hulu tingkat bahan baku dan produksi sampai hilir serta rekayasa teknologi pangan-pertanian untuk mendukung penemuan varietas unggul dan teknologi baru yang mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi komoditas pangan serta mampu mendorong aplikasi teknologi di tengah masyarakat. terutama di bidang pangan. derajat kesehatan dan kualitas gizi masyarakat. 18. 74 . koordinasi publikasi data dengan instansi lain dari tingkat pusat sampai tingkat daerah. melalui pencegahan konversi lahan pertanian subur beririgasi dan pemberian sanksi yang setimpal bagi pelanggar ketentuan konversi lahan. Kementerian Negara Riset dan Teknologi. tingkat dan kedalaman kemiskinan. kebijakan pangan dan pertanian. 16. Badan Pertanahan Nasional. 19. antara pusat dan daerah. Akurasi dan konsistensi data produksi dan konsumsi pangan dan pertanian. 15. Koordinasi strategi dan kebijakan pembangunan pangan antar-instansi pemerintah dalam lingkup perekonomian. perikanan dan kehutanan. serta dukungan strategi pengembangan dan restrukturisasi UKM. Strategi dan kebijakan perencanaan pembangunan pangan yang terintegrasi dan terkoordinasi antar-instansi pemerintah serta antara pusat dan daerah. desentralisasi kebijakan pembangunan secara umum. 17. Badan Pusat Statistik. Kementerian Negara Koordinator Bidang Perekonomian. terutama dalam kerangka revitalisasi pertanian. kebijakan perbaikan pemasaran dan jaringan usaha pangan.

Rinician inilah yang seharusnya menjadi semacam panduan berharga bagi para stakeholders ketahanan pangan dari lembaga pemerintah. sekaligus merupakan penjabaran rinci dari setiap elemen kebijakan dengan sasaran yang jelas. matriks rencana aksi ketahanan pangan 20102014 tersebut akan diuraikan berikut ini: 75 . swasta. pengelolaan cadangan pangan Pemerintah dan distribusi pangan pokok kepada golongan masyarakat tertentu. BUMN. terutama yang bersifat pokok dan strategis. perguruan tinggi lembaga swadaya masyarakat dan kalamngan masyarakat umum. 3. terutama lembaga pemerintah yang paling bertanggung jawab untuk mewujudkannya. Selengkapnya. khususnya pangan pokok beras dan pangan pokok lainnya yang ditetapkan oleh Pemerintah dalam rangka ketahanan pangan.20.3 Rencana Aksi Ketahanan Pangan 2010-2014 Rencana aksi ketahanan pangan periode 2010-2014 adalah suatu panduan pelaksanaan kebijakan umum tersebut di tingkat lapangan. berikut focal point. Perum Bulog. melakukan pengamanan harga pangan pokok. Memperoleh penugasan pemerintah untuk melaksanaan pengadaan pangan.

perbankan Utama: Deptan. jagung. KLH Utama: Dephut. terutama ke luar Jawa Pengembangan konservasi dan rehabilitasi lahan melalui pemberian insentif dan sanksi Pelestarian sumberdaya air dan pengelolaan daerah aliran sungai Peningkatan efisiensi penangan pasca panen Utama: Deptan Pendukung: Deperin. masyarakat Tercapainya swasembada pangan strategis yang berbasis peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha. swasta Utama: Deperin. Deptan. Ristek. Pendukung: Deptan. kedelai.Matriks Rencana Aksi Kebijakan Umum Ketahanan Pangan Tahun 2010-2014 No Tujuan Kebijakan Program Kegiatan Lembaga Relevan Indikator keberhasilan (output) 1 Menjamin Ketersediaan Pangan Peningkatan produktivitas untuk swasembada komoditas pangan strategis (beras. Utama: Menko Ekon.00 ha saluran irigasi. Kadin. Pendukung: KLH. Utama: Deptan. Kadin. terutama yang lama “tertidur” dan tidak termanfaatkan. Pendukung: Deptan. Pemprov Utama: Dephut. Pendukung: Dep PU. KLH. Perbankan Utama: Dep PU. Semakin memadainya insentif sistem produksi bagi petani untuk meningkatkan produksi-produktivitas Tersedianya lahan baru untuk produksi bahan pangan strategis Tersedianya lahan pangan secara berkelanjutan 15 juta hektar untuk produksi pangan Berkurangnya degradasi lahan. Pendukung: Deptan. Pendukung: BPN Dephut. terutama pada lahan marjinal/kritis Menurunnya degradasi lahan dan tersedianya air pada musim kemarau Meningkatnya efisiensi pasca panen Perbaikan jaringan irigasi-drainase Rehabilitasi 700. Pendukung: Deptan Kadin. daging) Pemberian insentif sistem produksi. Pemanfaatan sumberdaya lahan. pengamanan UU Perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan. tebu. terutama di daerah lumbung pangan 55 . meliputi subsidi input pertanian (pupuk dan benih) dan permodalan usaha pertanian. Perluasan areal tanaman pangan.

Pendukung: Depkum. Pendukung: Deptan. Bappenas. ekonomi. Pemda Utama: BPN. Penerapan sistem perpajakan progresif bagi pelaku konversi lahan pertanian subur melalui penyusunan peraturan dan penerapannya secara tegas bidang perpajakan atas lahan atau usaha yang dapat menghambat/memberatkan konversi lahan pertanian subur Lembaga Relevan Utama: BPN. Pendukung: Dep PU. sebagai amanat dari Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Tata Ruang. Berkurangnya laju konversi lahan sawah (berkelanjutan) menjadi kegunaan lain di luar pertanian 56 . Pendukung: BPN. BPN. Terciptanya administrasi petanahan yang memadai dan tidak memberatkan rakyat Tersusunnya RUTRW yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat Semakin jelasnya RTRW Provinsi dan Daerah dengan mempertimbangkan unsur-unsur sosial. Deptan. Pemprov dan Pemda Indikator keberhasilan (output) Terwujudnya kebijakan pengelolaan lahan pertanian yang lebih beradab Terselesaikannya sengketa lahan. Pemda Utama: Bappenas. Pemprov Utama: Bappenas. BPN. Pemprov dan Pemda (Kab/kota) Utama: Depkum. Pendukung: Deptan. Perbaikan Rencana Tata Ruang Daerah dan Wilayah (RTRW) tingkat provinsi secara terkoordinasi antar daerah/wilayah. BPN. Deptan. budaya dan kelestarian sumberdaya alam. terutama tentang administrasi lahan Terhentinya fenomena konversi lahan subur beririgasi yang dapat menimbulkan fenomena ketidakdilan baru. Depdagri. Bappenas Depdagri.No 2 Tujuan Kebijakan Menata Pertanahan dan Tata Ruang dan Wilayah Program Kegiatan Pengembangan reforma agraria yang lebih berkeadilan tanpa harus mengganggu kepentingan petani Perbaikan administrasi pertanahan dan serifikasi lahan yang murah Pemberian sanksi yang sangat berat bagi pelaku konversi lahan subur beririgasi teknis menjadi kegunaan lain di luar pertanian Penyusunan tata ruang daerah dan wilayah yang memapu mendukung pewilayahan komditas unggulan Penyusunan tata tuang daerah dan wilayah. Pendukung: Dep PU BPN. Pemda Utama: Dep PU Pendukung: Deptan. Pemprov Utama: Dep PU.

sampai pelestarian sumber-sumber air di hulu sungai dan hutan konservasi. perumusan skema perlindungan petani produsen (dan konsumen) secara sistematis. mulai dari aspek pola tanam sampai pada pemanenan air Tersedianya basis data bagi penyaluran bantuan darurat bahan pangan/air bersih pada saat kekeringan melanda. Pendukung:Depdagri. swasta dan Pemda Terselesaikannya pembangunan proyek infrastruktur. Perbaikan manajemen sistem irigasi. Pemda Utama: Deptan. Utama: Deptan.. Pendukung: BMKG Depdagri. dam parit. Pemda Terselenggarakannya sistem injeksi air.karena petani telah dilindungi dari beberapa macam risiko. adaptasi dan mitigasi perubahan iklim Program Kegiatan Penyusunan sistem peringatan dini. Pemda Indikator keberhasilan (output) Tersusunnya dokumen sistem peringatan dini. Kadin.No 3 Tujuan Kebijakan Melakukan antisipasi. minimal untuk mengurangi dampak kekeringan yang lebih hebat Pengurangan secara sistematis terhadap luas. Pendukung: Deptan. Rehabilitasi dan pembangunan infrastruktur irigasi serta melanjutkan program sejenis yang belum selesai pada periode sebelumnya. BMKG. sumur resapan yang dikelola langsungoleh masyarakat. Pemda Utama: Dep PU. Utama: Dep PU. terutama pada sistem kemarau. Pendukung:Depdagri. terutama yang tidak sempat selesai pada 2009 Berkurangnya kemungkinan produksi pagan. Depdagri. mulai dari tingkat teknis pola tanam pangan. dan durasi musim kemarau karena perubahan iklim. intensitas. Pendukung: Deptan. Pendukung: Deptan. Penelitian dan pengembangan varietas pangan yang tahan kekeringan dan efisiensi pemakaian air permukaan dan air tanah Lembaga Relevan Utama: Bappenas. Depdagri. Program penyiapan dan pemberian bantuan darurat bahan pangan dan air minum/air bersih jika kekeringan melanda. Tersedianya varietas baru yang unggul sekaligus mampu adaptasi dengan perubahan iklim dan pemanasan global. Pencegahan penurunan produksi pangan. Pemda Utama: Deptan. Universitas. 57 .. Depdagri dan Pemda Utama: Depsos. langkah hemat air dan pemanenan air setiap ada hujan. pengelolaan air dan rehabilitasi sumbersumber air air secara berkelanjutan. Membaiknya sistem pengelolaam air di daerah. sumur resapan dan channel reservoir . Pendukung: Deptan Depdagri. misalnya dengan “injeksi” air dengan dam parit.

Pendukung: Deptan Utama: Depdagri Pendukung: Deptan. LKMD masyarakat Utama: Menkop Pendukung: Deptan. 58 . terutama aliran pangan pokok dari daerah surplus ke daerah defisit pangan Pengelolaan sistem cadangan pangan oleh masyrakat. LKMD. masyarakat Indikator keberhasilan (output) Tersedianya cadangan pangan pokok di setiap daerah (jika perlu setiap desa) Terintegrasinya sistem cadangan pemerintah dan cadangan masyarakat Semakin terintegrasinya kerjasama antar daerah dengan satuan kluster ekonomi yang saling mendukung Terkelolanya cadangan pangan masayrakat untuk mengatasi masalah kerawanan pangannya secara mandiri dan berkelanjutan. Pem Desa. terutama pada keadaam darurat. Pemda Utama: Depdagri. Pemda. masing-masing kelompok masyarakat Fasilitasi aspek manajemen kelompok dan fasiltiasi aspek teknis pengelolaan pangan Lembaga Relevan Utama: Bulog. Pendukung: Deptan.No 4 Tujuan Kebijakan Menjamin Cadangan Pangan Pemerintah dan Masyarakat Program Kegiatan Pengembangan cadangan di setiap lapis pemerintah: daerah dan desa Pengembangan lumbung pangan di tingkat masyarakat Peningkatan kerjasama antar-daerah otonom. Meningkatnya kualitas kehidupan masayarakat nilai ekonomi cadangan pangan masyarakat. Pemda Utama: Depdgari. Pendukung: Deptan Depdagri. Bulog Pemda.

Depdag. Semakin solidnya rasa saling percaya di antara masyarakat baik di perdesaan maupun di perkotaan Terintegrasinya budaya dan kearifan pangan lokal dengan pengentasan kemiskinan secara umum Berkurangnya tingkat ”salah-sasaran” dan meningkatkanya kriteria tepat lainnya Tersedianya peta defisit dan surplus pangan di seluruh Indonesia 6 Meningkatkan Aksesibilitas Rumah Tangga terhadap Pangan Penguatan kelembagaan di tingkat desa untuk membantu aksesibilitas masyarakat miskin terhadap pangan strategis Pengembangan pangan lokal untuk meningkatkan pendaptaan rumah tangga dan daya beli masyarakat Peningkatan efektivitas program beras untuk keluarga miskin-raskin Identifikasi secara dini dan pemantauan berkala gejala kurang pangan dan surplus pangan 59 . Pemda. Menko Kesra Utama: Bulog. Pendukung: Menko Kesra. Pendukung: Pemda. Pendukung: Dephub. Pemda Utama: Deptan. Pendukung: Deptan. Pendukung:Depdagri. dengan prioritas pada daerah lumbung pangan Meningkatnya posisi tawar petani di hadapan pengumpul dan tengkulak Berkurangnya kolusi harga antar pedagang yang merugikan petani Terjaminnya mutu produk pangan Hilangnya retribusi memberatkan petani dan pedagang kecil. Depdagri. Pemda Utama: Depdagri. BP POM Utama: Depkeu. universitas Indikator keberhasilan (output) Target pengerasan jalan desa dan jalan usahatani. Pemda. Pemprov dan Pemda Utama: Depdag.No 5 Tujuan Kebijakan Mengembangkan Sistem Distribusi Pangan yang Adil dan Efisien Program Kegiatan Pengembangan (pembangunan dan rehabilitasi) sarana dasar. Pendukung: KPPU. swasta. Pendukung: Pemda. Dep PU Utama: Depdag. jalan desa dan jalan usahatani Pemberdayaan organisasi petani di tingkat pedesaan Pengawasan sistem persaingan pedagang yang tidak sehat Pengawasan dan pengembangan standar mutu produk pangan Penghapusan retribusi produk pertanian yang masih mentah Lembaga Relevan Utama: Dep PU. masyarakat Utama: Depkes. Depdagri Utama: Deptan. Pendukung: Depkes. Deperin. Pendukung: Deptan.

Deptan. Pendukung: Depkes. Indikator keberhasilan (output) Tersedianya data dan sebaran harga pangan strategis Siap sedianya pasokan pangan pada. Pemda. Pendukung: Deptan. terutama pada kantong-kantong kemiskinan di perdesaan dan perkotaan 8 Mencegah dan Menangani Keadaan Rawan Pangan dan Gizi. Utama: Bulog. univesitas Utama: Depkes. karena gagal panen dan paceklik Pemanfaatan lahan pekarangan untuk peningkatan gizi keluarga Pemanfaatan cadangan pangan pemerintah di seluruh lapisan untuk dapat menanggulangi keadaan rawan pangan dan gizi 60 . gula. Pendukung: Depkes. Depdagri. Pengembangan sistem isyarat dini keadaan rawan pangan dan gizi Pemantauan secara berkala tentang perkembangan pola pangan rumah tangga. Bappenas Utama: Depdagri. Pemda Utama: Depdag. Pendukung: Deptan. terutama pada saat paceklik. Pendukung: Deptan. Depdagri. Pemprov Utama: Bulog. Pendukung: Deptan. Pendukung: BPS. Pemda. Depkes. Bulog. Depdagri. jagung.No 7 Tujuan Kebijakan Menjaga Stabilitas Harga Pangan Program Kegiatan Pemantauan secara mingguan dan bulanan harga pangan strategis (beras. gagal panen dan bencana alam Meningkatnya kapasitas kelembagaan masyarakat di tingkat desa dalam pengadaan pangan pokok Terciptanya sistem isyarat dini yang mudah dimengerti dan dimanfaatkan oleh segenap lapisan masyarakat Bangkitnya kembali kelembagaan masyarakat dengan sistem monitoring sederhana yang dilakukan oleh setiap rumah tangga di seluruh Indoensia Tersedianya pangan dengan kandungan gizi seimbang yang mudah dijangkau Cepatnya penanganan gejala rawan pangan. Pemda. kedelai) Pengelolaan pasokan pangan dan cadangan penyanggah untuk menjaga stabilitas harga pangan Pengembangan sistem pangadaan pangan pokok yang melibatkan lembaga usaha ekonomi pedesaan Lembaga Relevan Utama: Depdag. pemda Utama: Deptan.

informasi dan edukasi (KIE) gizi Lembaga Relevan Indikator keberhasilan (output) Utama: Deptan. produsen pangan besar dan usaha kecil menengah tentang pangan bermutu dan aman bagi kesehatan Berkurangnya pangan tidak mutu dan tidak aman. 61 . Deptan Utama: Depkes. Depdagri. Deptan Utama: Depkes. kehalanan pangan dalam sistem 10 Meningkatkan Mutu dan Keamanan Pangan Pembinaan sistem produksi dan konsumsi pangan masyarakat agar terhindar dari cemaran biologis. Meningkatnya pemahaman masyarakat Pendukung:Depdagri tentang gizi seimbang Pemda. Meningkatnya kualitas kemananan. mutu pangan. Pemda Berkembangnya sumber energi dan protein dari pangan alternatif yang ada Utama: Menristek Tersedianya pangan alternatif yang dapat Pendukung: Deperin. terutama Pendukung:Depdagri. Pendukung: POM Deprin. perikanan dsb. KLH. masyarakat pangan pokok seperti beras Utama: Depkes. Tersebarnya risiko gagal panen karena Pendukung:Depdagri. kimia. peternakan. Pelestarian sumberdaya alam dan keanekaragaman hayati di daerah kawasan hutan Pengembanga pangan lokal sesuai dengan kekhasan daerah Peningkatan diversifikasi konsumsi pangan dan prinsip gizi seimbang Pengembangan teknologi pangan untuk meningkatkan nilai tambah dalam rangka diverisikasi pangan Perbaikan sistem komunikasi.No 9 Tujuan Kebijakan Melakukan Diversifikasi Pangan Program Kegiatan Pengembangan diversifikasi usaha melalui usahatani terpadu bidang pangan. yang memiliki sifat khas dan eksotis Pemda. terutama pada kawasan hutan Utama: Deptan. kehalalan. mengurangi ketergantungan terhadap Kadin. Pencegahan dini. masyarakat Teresdianya sumber pangan alternatif bagi masyarakat miskin. Depkominfo Utama: Depkes. perdagangan pangan. Dinas2 harga yang sulit untuk diantisipasi Utama: Deptan. masyarakat Utama: Depkes. Pendukung: Deprin. Pendukung: Deptan. penegakan hukum penanggulangan dampak pangan yang tidak aman. perkebunan. Pendukung: Dephut. Depdag. Penetapan standar keamanan dan mutu pangan. dan fisik yang berbahaya. iklim dan cuaca serta karena fluktuasi Pemprov. Dep Bertambahnya pemahaman masyarakat. Pemda. Berkembangnya pangan lokal. Deprin. dan terciptanya mekanisme penanganan dampak negatif pangan.

Depkeu.No 11 Tujuan Kebijakan Memfasilitasi Penelitian dan Pengembangan Program Kegiatan Pemberian fasiltias. universitas dan sektor swasta dalam pencarian dan pengembangan inovasi penelitian Lembaga Relevan Utama: Ristek. Pendukung:Depdag. Depkeu. Deptan Utama: Deplu. sosial dan budaya untuk meningkatkan ketahanan pangan domestik 62 . Deperin Utama: Deplu. universitas. Pendukung: Deptan. Pendukung: Deptan. Deptan Utama: Deplu. Deptan Indikator keberhasilan (output) Meningkatnya hasil-hasil penelitian yang dapat digunakanlangsung untuk mengembangkan produksi dan efisiensi usaha pangan Terwujudnya alokasi anggaran dana penelitian dan pengembangan bidang pangan sampai 1 persen dari PDB Semakin besarnya semangat sektor swasta untuk berpartisipasi dalam penelitian dan pengembagan pangan Semakin kokohnya posisi Indonesia dalam perdagangan pangan di ASEAN. Depdag. dan Asia Pasifik Bertambahnya secara signifikan jumlah atase pertanian dan perdagangan yang mampu membawa misi kepentingan nasional dalam kancah internasional Semakin dihormatinya Indonesia dalam arena perdagangan dan kerjasama ekonomi tingkat internasional 12 Melaksanakan Kerjasama Internasional Penggalangan kerjasama ekonomi baik dalam kerangkan bilateral maupun multilateral Peningkatan jumlah atase pertanian dan perdagangan Diplomasi ekonomi. Dephan. politik. kemudahan. masyarakat Utama: Ristek. swasta. dan dukungan politis untuk penelitian dan pengembangan Alokasi anggaran negara yang memadai untuk penelitian dan pengembangan Peningkatan kerjasama dan kemitraan antara lembaga penelitian. Pendukung:Depdag. masyarakat Utama: Ristek. Pendukung: Deptan. Pendukung:Depdag.

No 13 Tujuan Kebijakan Meningkatkan Peran Serta Masyarakat Program Kegiatan Pemberian insentif bagi mereka yang berjasa pada pencegahan dan penanggulangan masalah pangan dan gizi Peningkatan motivasi masyarakat dan kapasitas dan kelembagaan yang dapat mendukung proses pencapaian ketahanan pangan Pengembangan lembaga dan kebijakan pendukung. Dinas2 lebih komprehensif. peningkatan ketenagaan penyuluhan pertanian. Pemda Indikator keberhasilan (output) Semakin bergairahnya masyarakat untuk berpartisipasi membantu menanggulangi masalah pangan & gizi Utama: Deptan. dan lembaga masyarakat yang peduli pada mutu pangan dan gizi. pelatihan dan penyuluhan pangan yang Pemprov. Meningkatnya motivasi dan kapasitas Pendukung:Depdagri kelembagaan masyarakat di perdesaan dan perkotaan Utama: Menkop. pelatihan dan penyuluhan pangan secara lebih komprehensif Penyusunan dan sosialisasi peraturan penyuluhan. akseptabilitas Pendukung:Depdagri penyelenggaraan penyuluhan Pemprov. pemberdayaan/ pendampingan kepada kelompok masyarakat petani/ nelayan Utama: Diknas Pendukung:Deptan. Utama: Menko Kesra terciptanya suatu kerjasama sinergis Pendukung: Deptan. 63 . Dinas2 pertanian. Depdagri. Meningkatannya mutu. Pendukung: Pemda. Pemda swasta. Menko Perekonomi Kembali bangkitnya lembaga simpan pinjam desa dan semakin besarnya partisipasi UKM dan koperasi dalam penyediaan pangan 14 Mengembangkan Sumberdaya Manusia (Pangan-Pertanian) Perbaikan program pendidikan. Pemda Semakin mningkatnya kesadaran masyarakat tentang pangan bermutu sejak usia dini. Tersusunnya program pendidikan. Pendukung:Depdagri. dll Pemberian muatan pangan dan gizi pada kurikulum pendidikan di sekolah dasar dan kejuruan Peningkatan kerjasama dengan lembaga non-pemerintah (LSM) dan kelompok masyarakat lain yang peduli terhadap peningkatan sumberdaya manusia (SDM) Utama: Deptan. Pendukung: Deptan Depdag. penataan kelembagaan penyuluhan pertanian. lembaga Depdagri. seperti lembaga simpan-pinjam desa dan usaha kecil menengah (UKM) serta koperasi Lembaga Relevan Utama: Depdagri. antara lembaga pemerintah. Utama: Deptan.

Kadin. Deptan. misalnya dengan pemberian keringanan pajak bagi para pelaku usaha di bidang pertanian dan pengolahan pangan Alokasi anggaran negara dan anggaran daerah yang memadai untuk pembangunan pertanian dan ketahanan pangan. melalui peningkatan kapasitas.No 15 Tujuan Kebijakan Melaksanakan Kebijakan Makro dan Perdagangan yang Kondusif Program Kegiatan Kebijakan fiskal yang memberikan insentif bagi usaha pertanian. Kadin. yaitu: beras. Kadin. Kebijakan proteksi (dan promosi ini) danpat memberikan dukungan peningkatan daya saing produk strategis nasional Lembaga Relevan Utama: Depkeu. Pendukung: Deptan. Depdagri. Depdagri. kedelai dan tebu (plus daging) sebagaimana disampaikan secara resmi Indonesia kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Depdagri. minimal untuk empat komoditas utama dalam special products (SPs). Pendukung: Depkeu. Pemprov Utama: Depkeu. Pendukung: BKPM. Pemprov Utama: Depdag. Pemprov Indikator keberhasilan (output) Semakin bergairahnya investasi usaha berbasis pangan dan pertanian. kepedulian dan pemberian pemahaman Kebijakan proteksi perdagangan. untuk menjadikan sektor pangan dan pertanian sebagai landasan penting pembangunan ekonomi Indonesia Semakin membaiknya instrumen dan regulasi perdagangan untuk melindungi petani Indonesia dari persaingan global yang tidak menguntungkan. 64 . Deptan. anggota parlemen. jagung. dari hulu sampai hilir Semakin meningkatnya kesadaran para perumus kebijakan.

Perum Bulog mengelola cadangan 65 . sebagai penjabaran dari Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan. aksesibilitas dan stabilitas harga pangan dan utilisasi pangan. falsafah cadangan pangan ini telah diamanatkan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 2002 tentang Ketahanan Pangan. Dimensi stabilitas dapat dipenuhi dengan pelaksanaan strategi implementasi kebijakan stabilisasi harga. baik dengan dukungan penuh anggaran negara. memperkuat cadangan pangan pemerintah yang merupakan manifestasi dari konsep stok besi (iron stock) atau cadangan yang harus ada sepanjang waktu. untuk menjamin ketersediaan dan kecukupan pangan di seluruh wilayah Indonesia. yang berdimensi ketersediaan pangan. bahkan kemandirian pangan. sehingga diperlukan sekitar 3. Di tingkat normatif. terutama untuk mengatasi kondisi darurat. sekaligus meningkatkan kemandirian pangan dan kedaulatan bangsa. cadangan pangan pokok juga perlu disimpan dalam bentuk stok penyangga (buffer stock) untuk pengendalian gejolak harga. Dimensi ketersediaan dapat dipenuhi dengan konsistensi strategi peningkatan produksi pangan di dalam negeri. untuk mengurangi ketergantungan kepada pangan impor. maupun dengan pembenahan aspek kelembagaan dari pasar pangan di dalam negeri. yang dapat dijangkau dan aman dikonsumsi masyarakat luas. Penajaman kebijakan ketahanan pangan dapat ditempuh melalui berapa langkahh berikut: Pertama.6 juta ton per tahun.BAB 4. PENUTUP: PENAJAMAN KEBIJAKAN Secara umum. Selain itu. penajaman kebijakan ketahanan pangan yang dapat mewadahi berbagai macam kepentingan yang berkembang menurut pelaku ekonomi dan segenap stakholders adalah berlandaskan falsafah dasar ketahanan pangan. dalam skema operasi pasar. Dimensi aksesibilitas dapat dipenuhi dengan strategi kecukupan pangan (food adequacy). Stok besi yang aman minimal setara satu bulan total konsumsi atau sekitar 300 ribu ton.

Di satu sisi. terutama untuk menjalankan program beras untuk keluarga miskin (raskin). Sebagian besar stok pangan di Indonesia itu dikelola masyarkat sendiri dan kalangan dunia usaha. hal itu adalah batas bawah tingkat aman untuk mengantisipasi gejolak peningkatan harga. karena kemampuan Bulog hanya 7-8 persen dari produksi beras nasional. Pemerintahan Daerah Provinsi. Kapasitas gudang Bulog di seluruh Indonesia mencapai 4 juta ton lebih. memberdayakan masyarakat untuk meningkatkan cadangan pangan yang bersifat pokok. sehingga strategi pengadaan pangan (dari) dalam negeri hampir perlu memperoleh perhatian memadai. Upaya pengelolaan cadangan pangan oleh pemerintah daerah dapat menjadi komplemen dari cadangan beras pemerintah (CBP) di tingkat pusat (yang dikelola Perum Bulog). terutama pada musim paceklik. Prasyarat. kriteria. 66 .beras pemerintah (CBP) dan stok penyangga. secara administratif telah ditegaskan bahwa ketahanan pangan adalah “urusan wajib” bagi pemerintahan daearah (Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 3 Tahun 2007 tentang Laporan Pertanggungjawaban Pemerintahan Daerah dan PP Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah. walau pun tidak terbatas pada romantisasi lumbung pangan seperti pada masa lalu. bahkan kemandirian pangan di Indonesia. Apabila saat ini Bulog mampu melakukan pengadaan beras dalam negeri mencapat 2 juta ton atau lebih. Kedua. agar meminimalisir upaya perburuan rente dari para petualang. mengurani risiko karena faktor ketidakpastian iklim. Dalam hal ini kata kuncinya adalah pemerintah dan pemerintah daerah (plus masyarakat) perlu bahumembahu meningkatkan cadangan pangan. dan indikator untuk mewujudkan cadangan pangan regional ini memang perlu secara rinci dirumuskan. dan mengembangkan skema lindung nilai yang mampu mengurangi risiko finansial. demi terciptanya ketahanan pangan. dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/ Kota).

terutama yang berbasis pemanfaatan teknologi dan industri pangan. serta penelitian untuk pengembangan (R for D). mungkin masih diperlukan. Pada kondisi tidak normal tersebut. skema subsidi pangan perlu pula dilihat sebagai investasi negara untuk memperkuat 67 . karena mampu menjangkau ribuan titik distribusi di segenap pelosok tanah air. Dunia usaha dapat pula untuk menjadi aktor terdepan dalam mengembangkan diversifikasi pangan. subsidi harga pangan [dalam format Program Beras untuk Keluarga Miskin (Raskin). maka pemerintah daerah dan pemerintah pusat harus mampu menjaga stabilitas harga pangan pokok. Keempat. langkah engembangan teknologi dan industri pangan disesuaikan dengan kandungan sumber daya. dengan cara memperbaiki manajemen kebijakan perdagangan dalam negeri dan luar negeri. sehingga daya saing Imdonesia akan meningkat berlipat-lipat. Sebagaimana disinggung sebelumnya. Sistem Kepaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG). Dunia usaha dan sektor swasta Indonesia secara umum perlu secara nyata melaksanakan kemitraaan strategis dengan peguruan tinggi dan pusat-pusat penelitian pangan. kelembagaan dan budaya lokal. Diversifikasi pangan yang berbasis kearifan dan budaya lokal akan sangat kompatibel dengan strategi pemenuhan kebutuhan gizi yang seimbang sesuai dengan kondisi demografi Indonesia yang plural heterogen. dalam menghadapi kondisi darurat. Dalam hal ini. Lebih penting lagi. pemerintah perlu memobilisasi cadangan pangan pemerintah dan cadangan pangan masyarakat serta melakukan dan melibatkan industri pangan nasional.Ketiga. Hanya dengan R-and-D dan R-for-D inilah. yang dihasilkan melalui perjalanan panjang penelitian dan pengembangan (R and D). menjamin kelancaran manajeman distribusi pangan pokok. yang sebenarnya tersebut di segenap pelosok Indonesia. meningkatkan produksi dan produktivitas pangan di dalam negeri melalui aplikasi teknologi baru. Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) dan lain-lain]. inovasi baru akan tercipta.

Kemudian. Kampanye ”makan ikan” dan ”minum susu” akan mampu memperbaiki kecukupan protein dan vitamin. eksotik. 68 . Falsafah dasar tentang ”pemenuhan pangan beragam dan gizi seimbang” dapat dijadikan pintu masuk ke dalam strategi diversifikasi pangan yang berbasis tepungtepungan. vitamin dan bergizi baik. yang saat ini sangat tinggi dan sering mempengaruhi tekanan permintaan terhadap beras. pengindustrian pangan lokal ini harus memperoleh dukungan kebijakan yang memadai.jaringan distribusi program bahan pangan bersubsidi lainnya. bernilai ekonomi tinggi. mulai dari skema pembiayaan. untuk mengurangi ketergantungan terhadap konsumsi beras. yang mudah sekali dijumpai di pelosok tanah air. insentif perpajakan. Kelima. dan kemudahan lainnya. sekaligus untuk berkontribusi pada pembangunan sumberdaya manusia Indonesia yang lebih komprehensif. yang bersumber dari pangan lokal. bahkan menjadi cikal-bakal pelaksanaan food-stamp atau bantuan pangan. melaksanakan strategi diversifikasi pangan secara lebih serius. mengandung protein. yang dapat saja mengurangi tekanan konsumsi terhadap bahan karbohidrat seperti beras yang sangat sensitif secara ekonomi dan politik. Langkah awal dapat dimulai dengan pengembangan sumber pangan lokal.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->