P. 1
Asbab Al Nuzul

Asbab Al Nuzul

|Views: 6|Likes:
Published by Iwel Nagan

More info:

Published by: Iwel Nagan on Mar 20, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/10/2014

pdf

text

original

Pendahuluan Qur’an diturunkan untuk memberi petunjuk kepada manusia kearah tujuan yang terang dan jalan yang

lurus dengan menegakkan asa kehidupan yang didasarkan pada keimanan kepada Allah dan risalah-Nya. Juga memberitahukan hal-hal yang telah lalu, kejadian-kejadian yang sekarang serta berita-berita yang akan datang. Sebagian besar Qur’an pada mulanya diturunkan untuk tujuan yang umum ini, tetapi kehidupan para sahabat bersama Rasulullah telah menyaksikan banyak peristiwa sejarah, bahkan kadang terjadi di antara mereka peristiwa khusus yang memerlukan penjelasan hukum Allah atau masih kabur bagi mereka. Kemudian mereka bertanya kepada Rasulullah untuk mengetahui hukum Islam mengenai hal itu. Maka Qur’an turun untuk peristiwa khusus tadi atau untuk pertanyaan yang muncul itu. Hal seperti itulah yang dinamakan asbāb al-nuzūl. Ilmu yang berkembang berkat studi Qaur’an adalah ilmu asbāb al-nuzūl (konteks historis wahyu). Untuk mempelajari Qur’an kaum muslim menyadari bahwa mustahil memahami firman Allah tanpa mengetahui kapan firman itu turun dan situasi disampaikannya firman itu.1 Ali bin Ahmad al-Wahidi adalah orang pertama yang menghimpun dan mensistematisasi keterangan data yang tersebar dalam banyak tulisan tentang Qur’an maupun subjek lain dengan judul asbāb al-nuzūl.2 Para penyelidik ilmu-ilmu Qur’an menaruh perhatian besar terhadap pengetahuan tentang asbāb al-nuzūl. Untuk menafsirkan Qur’an ilmu ini sangat diperlukan, sehingga ada pihak yang mengkhususkan diri dalam pembahasan mengenai ilmu ini.

1

Muhammad ‘Ali As-Shobuni, al-Tibyân fî ‘Ulûm al-Qur’ân, Beirut: Dar al-Irsyad, h.

272 Ismail R. al-Faruqi dan Lamya al-Faruqi, Atlas Budaya Islam, Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang, Bandung: Mizan, 2003.
2

1

PEMBAHASAN ASBĀB AL-NUZŪL 1. Pengertian Asbāb al-Nuzūl Asbāb al-nuzūl secara etimologi terdiri dari dua kata, yaitu asbaab bentuk jamak dari kata sebab yang berarti sebab atau latar belakang dan kata nuzūl yang berarti turun. Maka dengan demikian asbāb al-nuzūl secara harfiah berarti sebab-sebab turun. Sedangkan menurut istilah ada beberapa pendapat para ahli di antaranya Az-Zarqani dan Abu Syuhbah berpendapat bahawa asbāb al-nuzūl adalah keterangan mengenai suatu ayat atau rangkaian ayat yang berisi tentang sebab-sebab turunnya atau menjelaskan hukum suatu kasus pada waktu kejadiannya.3 Menurut Manna’ Khalil Al-Qattan mengatakan bahwa asbāb alnuzūl adalah sesuatu hal yang karenanya Al-Qur’an diturunkan untuk menerangkan status (hukum)nya, pada masa hal itu terjadi, baik berupa peristiwa maupun pertanyaan.4 Senada dengan itu menurut Subhi Sholih asbāb al-nuzūl ialah sesuatu yang dengan sebabnya turun suatu ayat atau beberapa ayat yang mengandung sebab itu, atau memberi jawaban terhadap sebab itu, atau menerangkan hukumnya pada masa terjadinya sebab itu.5 Menurut Mannā’ Khalīl al-Qattān bahwa turunnya ayat-ayat Al-Qur’an itu ada dua macam yaitu: 1. Bila terjadi suatu peristiwa, maka turunlah ayat al-Qur’an mengenai peristiwa itu. Hal itu seperti yang diriwayatkan dari Ibn Abbas, yang mengatakan: “Ketika turun: dan peringatkanlah kerabat-kerabatmu yang terdekat,6 Nabi pergi dan naik ke bukit Safa, lalu berseru: ‘Wahai kaumku!’ Maka mereka berkumpul dekat ke Nabi. Ia berkata lagi: ‘Bagaimana pendapatmu bila aku beritahukan kepadamu bahwa di balik gunung ini ada sepasukan berkuda yang hendak
Az-Zarqani, Manāhil Al-‘Irfān fī ‘Ulūm al-Qur’ān,Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah: Beirut, 2003, h. 106. lihat juga Muhammad ibn Muhammad Abu Syuhbah, Al-Madkhal li dirāsati AlQur’ān Al-Karīm, Maktabah Sanah: Kairo, 1992, h. 122. 4 Mannā’ Khalīl al-Qattān, Mabāhis fi ‘ulūm al-Qur’ān, Terj. Mudzakir, Jakarta: Lentera Nusa, 2006. h. 107 5 Subhi Solih, Mabāhis fi Ulūm al-Qur’an, Beirut: Dar Al-‘Ilmiy, 1997, h. 132. 6 Al-Qur’an, Surat Asy-Syu’ara’: 214
3

2

menyerangmu; percayakah kamu apa yang kukatakan?’ Mereka menjawab: ‘Kami belum pernah melihat engkau berdusta.’ Dan Nabi melanjutkan: ‘Aku memperingatkan kamu tentang siksa yang pedih.’ Ketika itu Abu Lahab lalu berkata: ‘Celakahlah engkau: apakah engkau mengumpulkan kami hanya untuk urusan ini?’ Lalu ia berdiri. Maka turunlah surah ini. Celakalah kedua tangan Abu Lahab.7 2. Bila Rasulullah ditanya tentang sesuatu hal, maka turunlah ayat al-Qu’ran menerangkan hukumnya. Hal itu seperti ketika Khaulah binti Sa’labah dikenakan zihar oleh suaminya Aus bin Samit.8 Sedangkan menurut az-Zarqani dan Abu Syuhbah al-Quran terbagi dua yaitu pertama al-Qur’an turun tanpa didahului oleh sebab, dan yang kedua alQur’an turun didahului dengan sebab.9 Dapat kita simpulkan bahwa al-Qur’an turun berkisar pada dua hal yaitu: 1. Turunnya dengan didahului oleh suatu sebab. Dalam hal ini ayat-ayat tasyri’iyyah atau ayat-ayat hukum merupakan ayat-ayat yang pada umumnya mempunyai sebab turun. Jarang atau sedikit sekalli ayat-ayat hukum yang turun tanpa suatu sebab. Dan sebab turunnya ayat itu ada kalanya berupa peristiwa yang terjadi di masyarakat Islam dan ada kalanya berupa pertanyaan dari kalangan Islam dan dari kalangan lainnya yang ditujukan kepada Nabi. Contoh ayat yang turun karena ada peristiwa ialah: Artinya: “Janganlah kamu kawini wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman, sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun ia menarik hatimu. Dan janganlah kamu mengawinkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman, sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupn ia menarik hatimu. Mereka
7 8

Shaleh dan Dahlan dkk, Asbabun Nuzul, Bandung: CV Diponegoro, 2000, h. 689. Mannā’ Khalīl al-Qattān, Op, Cit, h. 108-109. 9 Az-Zarqani dan Abu Syuhbah, Op.cit, h. 106 dan h. 122.

3

mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunaan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”.10 Turunnya ayat ini adalah karena ada peristiwa sebagaimana Nabi mengutus Murtsid al-Ghanawi ke Makkah untuk tugas mengeluarkan orangorang Islam yang lemah. Setelah ia sampai di sana, ia dirayu oleh seorang wanita musyrik yang cantik dan kaya, tetapi ia menolak karena takut kepada Allah. Kemudian wanita tersebut datang lagi dan meminta untuk dikawini. Murtsid pada prinsipnya dapat menerimanya, tetapi dengan syarat setelah mendapat persetujuan dari Nabi. Setelah ia kembali ke Madinah ia menerangkan kasus yang dihadapinya dan ia minta izin kepada Nabi untuk kawin dengan wanita itu. Maka turunlah surat al-Baqarah ayat 22111. Contoh ayat turun karena ada pertanyaan yang ditujukan kepada Nabi. Artinya: “Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan perempuan yang mengadu kepadamu tentang suaminya…” Ayat ini turun ketika Khaulah binti Sa’labah dikenakan zihar12 oleh suaminya, Aus bin Samit. Lalu ia datang kepada Nabi mengadukan hal itu. Aisyah berkata: “Maha suci Allah yang pendengaran-Nya meliputi segalanya. Aku mendengar ucapan Khaulah binti Sa’labah itu, sekalipun tidak seluruhnya. Ia mengadukan suaminya kepada Rasulullah. Katanya: “Rasulullah, suamiku telah menghabiskan masa mudaku dan sudah beberapa kali aku mengandung karenanya, sekarang, setelah aku menjadi tua dan tidak beranak lagi, ia menjatuhkan zihar kepadaku! Ya Allah sesungguhnya aku mengadu kepadaMu.” Aisyah berkata: “Tiba-tiba Jibril turun membawa ayat-ayat ini.” 2. Turunnya tanpa didahului oleh suatu sebab.
Al-Qur’an, Surat al-Baqarah: 221 Shaleh dan Dahlan dkk, op. cit., 2000, h. 73 12 Zihar ialah bila seorang suami mengatakan kepada istrinya: “Engkau bagiku seperti punggung ibuku.”
11 10

4

Ayat-ayat semacam ini banyak terdapat dalam Al-Qur’an dan jumlahnya lebih banyak daripada ayat hukum yang mempunyai asbāb al-nuzūl. Misalnya, ayat-ayat yag mengkisahkan hal-ihwal umat terdahulu beserta para Nabinya, atau menerangkan peristiwa yang terjadi di masa yang lalu, atau menceritakan hal-hal ghaib yang akan terjadi, atau menggambarkan keadaan hari kiamat beserta nikmat surga dan siksaan neraka.13 Ayat-ayat yang demikian itu diturunkan oleh Allah bukan untuk memberikan tanggapan terhadap suatu pertanyaan atau suatu peristiwa yang terjadi pada waktu itu, melainkan semata-mata untuk memberikan petunjuk kepada manusia agar menempuh jalan yang lurus. Dan Allah menjadikan ayatayat ini mempunyai hubungan menurut konteks Qur’ani dengan ayat-ayat yang sebelumnya dan ayat-ayat sesudahnya. Rasanya suatu hal yang berlebihan bila kita memperluas pengertian asbāb al-nuzūl dengan membentuknya dari berita-berita tentang generasi terdahulu dan peristiwa-peristiwa masa lalu. As-Suyuti dan orang-orang yang banyak memperhatikan asbāb al-nuzūl mengatakan bahwa ayat itu tidak turun di saat-saat terjadinya sebab. Ia mengatakan demikian itu karena hendak mengkritik atau membatalkan apa yang dikatakan oleh al-Wahidi dalam menafsirkan surat al-Fîl, bahwa sebab turunnya surah tersebut adalah kisah datangnya orang-orang Habsyah. Kisah ini sebenarnya sedikitpun tidak termasuk kedalam asbāb al-nuzūl.melainkan termasuk kategori berita peristiwa masa lalu, seperti kisah kau Nabi Nuh, kaum ‘Ad, kaum Samud, pembangunan Ka’bah dan lain-lain yang serupa itu. 2. Manfaat mengetahui Asbāb al-nuzūl Mengetahui asbāb al-nuzūl mempunyai banyak faedah yang terpenting diantaranya: a. Mengetahui hikmah diundangkannya suatu hukum dan perhatian syara’ terhadap kepentingan umum dalam menghadapi segala peristiwa, karena
13

Masjfuk Zuhdi, Pengantar Ulumul Qur’an bagian I, Surabaya: Bina Ilmu, h 39

5

sayangnya kepada umat.14 Dengan mengetahui asbāb al-nuzūl kita dapat memahami peristiwa dan alasan mengapa hukum itu disyari’atkan dan menambah keimanan orang mukmin. b. Mengkhususkan atau membatasi hukum yang diturunkan dengan sebab yang terjadi , bila hukum itu dinyatakan dalam bentuk umum. Ini bagi mereka yang berpendapat bahwa “yang menjadi pegangan adalah sebab yang khusus dan bukan lafalnya yang umum.”15 Contohnya firman Allah: Artinya: “Janganlah sekali-kali kamu menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka untuk dipuji dengan perbuatan yang belum mereka kerjakan, jangnlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang sedih.”16 Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Marwan berkata kepada juru pintunya: “Hai Rafi’, berangkatlah menemui Ibnu ‘Abbas, dan katakanlah kepadanya bahwa sekiranya orang akan disiksa karena merasa gembira dengan apa yang telah diperolehnya dan ingin dipuji atas perbuatan yang tidak mereka kerjakan, pasti mereka semua akan disiksa.” Maka berkatalah Ibnu ‘Abbas: “Apa yang menjadi masalah kalian tentang ayat ini (Q.S. Ali Imran: 188)? Turunnya ayat ini berkenaan dengan ahli kitab. Ketika Nabi SAW bertanya kepada mereka tentang sesuatu, mereka menutupinya dan memberikan jawaban yang tidak ada sangkut pautnya dengan pertanyaan itu. Kemudian mereka keluar dan memberitahukan kepada kawan-kawannya dengan gembira bahwa mereka telah dapat menjawab pertanyaan Rasul dengan jawaban yang tidak ada sangkut pautnya dengan pertanyaan beliau. Dengan cara itu mereka berharap dapat pujian atas perbuatannya.”17
Az-Zarqani, op.cit, h. 109 lihat juga Az-Zarkasyi, Al-Burhān fī ‘Ulūm al-Qur’ān, Birut: Dar Fikr, h. 45 15 Mannā’ Khalīl al-Qattān, op. cit., h. 110 lihat juga Az-Zarkasyi, Ibid. h. 45 16 Al-Qur’an, Surat Ali Imran: 188 17 Az-zarqani, Op,cit, h. 110. lihat juga Asbabun Nuzul, Op.cit, h. 123
14

6

c. Apabila lafal yang diturunkan itu lafal yang umum dan terdapat dalil atas pengkhususannya, maka pengetahuan mengenai asbāb al-nuzūl membatasi pengkhususan itu hanya terhadap yang selain bentuk sebab. Dan bentuk sebab ini dapat dikeluarkan (dari cakupan lafal yang umum itu), karena masuknya bentuk sebab ke dalam lafal yang umum itu bersifat qath’i (pasti). Maka ia tidak boleh dikeluarkan melalui ijtihad, karena ijtihad itu bersifat zanni (dugaan). Pendapat ini dijadikan pegangan oleh ulama umumnya.18 Contohnya firman Allah: Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh (berzina) perempuan baik-baik yang tidak tahu-menahu dan beriman, mereka kena laknat didunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar, pada hari (ketika) lidah, tangan menjadi saksi atas mereka mengenai apa yang telah mereka kerjakan dulu. Pada hari itu Allah akan memberi mereka balasan setimpal menurut yang semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah Yang Benar, lagi Yang Menjelaskan (segala sesuatu menurut hakikat yang sebenarnya).”19 Ayat ini turun berkenaan Aisyah secara khusus, atau dengan Aisyah dan istri-istri Nabi lainnya. Diriwayatkan dari Ibn Abbas, firman Allah ini turun berkenaan dengan Aisyah secara khusus. Dari Ibn Abbas pula dan masih mengenai ayat tersebut: “Ayat itu berkenaan dengan Aisyah dan istri-istri Nabi. Allah tidak menerima tobat orang yang menuduh seorang perempuan diantara perempuan-perempuan beriman selain istriistri Nabi.” Kemudian Ibn Abbas membacakan surat an-Nur ayat 23-25 itu. Atas dasar ini, maka penerimaan tobat orang yang menuduh zina (sebagaimana yang dinyatakan dalam surat an-Nur ayat 23-25 sekalipun
18 19

Mannā’ Khalīl al-Qattān, Op,cit, h. 111 Al-Qur’an, Surat An-Nur: 23-25

7

merupakan pengkhususan dari keumuman firman Allah “Sesungguhnya orang-orang yang meenuduh Aisyah atau istri-istri Nabi yang lain. Karena yang terakhir ini tidak ada tobatnya, mengingat masuknya sebab (yakni, orang menuduh Aisyah atau istri-istri Nabi) ke dalam cakupan makna lafal yang umum itu bersifat qath’i (pasti). d. Mengetahui sebab nuzul adalah cara terbaik untuk memahami makna Al-Qur’an dan menyingkap kesamaran yang tersmbunyi dalam ayatayat yang tidak dapat ditafsirkan tanpa mengetahui sebab nuzulnya.20 Al-Wahidi (w. 427 H) menjelaskan: “Tidaklah mungkin mengetahui tafsir ayat tanpa mengetahui sejarah dan penjelasan sebab turunnya.” Ibn Daqiqi ‘Id (w. 706 H) berpendapat, “Keterangan tentang sebab nuzul adalah cara yang tepat untuk memahami makna Qur’an. Ibn Taimiyah (w. 726 H) mengatakan: “Mengetahui sebab nuzul akan membantu dalam memahami ayat, karena mengetahui sebab menimbulkan pengetahuan mengenai musabab (akibat).”21 Contohnya antara lain, kesulitan Marwan bin al-Hakam dalam memahami ayat yang baru disebutkan tadi, sampai Ibn Abbas menjelaskan kepadanya sebab nuzul ayat itu. Contoh lain ialah firman Allah: Artinya: “Sesungguhnya Safa dan Marwa adalah sebagian dari Syi’ar Allah. Maka barang siapa beribadah haji ke Baitullah dan berumroh, maka tidak ada dosa baginya untuk mengerjakan sa’i di antara keduanya. Dan barang siapa mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan dan maha Mengetahui.”22

20 21

Mannā’ Khalīl al-Qattān, op. cit., h. 112 As-Suyuti, Al-Itqān fi ‘Ulūm al-Qur’ān, (Beirut: Dar al-Kotob al-‘Ilmiyyah, 2000), Al-Qur’an, Surat al-Baqarah: 158

h. 28
22

8

Lafal ayat ini secara tekstual tidak menunjukkan sa’i itu wajib, sebab ketiadaan dosa untuk mengerjakannya itu menunukkan kebolehan dan bukannya kewajiban. Sebagian ulama juga berpendapat demikian, karena berpegang pada arti tekstual ayat itu.23 Aisyah telah menolak pemahaman ‘Urwah Ibnu Zubair seperti itu, dengan sebab nuzul ayat tersebut, yaitu bahwa para sahabat merasa keberatan bersa’I antara safa dan Marwa karena perbuatan itu berasal dari perbuatan jahiliah. Di Safa terdapat “Isaf” dan di Marwaterdapat “Na’ilah”. Keduanya adalah berhala yang biasa diusap oleh orang jahiliah ketika mengerjakan sa’i. sumber dari Aisyah menyebutkan bahwa ‘Urwah berkata kepadanya: “Bagaimana pendapatmu tentang firman Allah ‘Sesungguhnya Safa dan Marwa adalah sebagian dari Syi’ar Allah. Maka barang siapa beribadah haji ke Baitullah dan berumroh, maka tidak ada dosa baginya untuk mengerjakan sa’I di antara keduanya?’ aku sendiri tidak berpendapat bahwa seseorang itu berdosa bila ia tidak melakukan sa’I itu!” aisyah menjawab: “Alangkah buruknya pendapatmu itu wahai anak saudaraku. Sekiranya maksud ayat itu seperti yang engkau takwilkan, niscaya ayat itu berbunyi ‘tidak ada dosa bagi orang yang tidak melakkan sa’i.’ tetapi ayat itu turun karena orang ansar belum masuk Islam biasa mendatangi ‘Manat’ yang zalim itu dan menyembahnya. Orang yang dulu menyembah tentu keberatan untuk bersa’i di antara Safa dan Marwa. Maka Allah menurunkan ayat itu. Kata Aisyah: "Selain itu, Rasulullah pun telah menjelaskan sa’i diantara keduanya. Maka tak seorang pun dapat meninggalkan sa’i diantara keduanya.” e. Sebab nuzul dapat menerangkan tentang siapa ayat itu diturunkan sehingga ayat tersebut tidak diterapkan kepada orang lain karena dorongan permusuhan perselisihan. Contohnya firman Allah:
Az-Zamakhsyari meriwayatkan dalam Al-Kasysyaf, bahwa Abu Hanifah, berkata: “Sesungguhnya sa’i itu wajib, tetapi ia bukan rukun. Orang yang meninggalkannya kena dam.” Yang berpendapat sa’i tidak wajib adalah Ibn Abbas, Ibnu Zubair, Anas bin Malk dan Ibn Sirin.
23

9

Artinya: “Dan orang yang berkata kepada kedua ibu bapaknya: ‘Cis bagi kamu berdua, apakah kamu berdua memperingatkan aku bahwa aku akan dibangkaitkan, padahal sungguhtelah berlalu beberapa umat sebelumku?’ lalu kedua ibu bapaknya itu memohon pertolongan kepada Allah seraya berkata: ‘Celaka kamu, berimanlah! Sesungguhnya janji Allah adalah benar’, lalu ia berkata: ‘ini tidak lain hanyalah dengan orang-orang dahulu belaka.’”24 Mu’awiyah bermaksud mengangkat Yazid menjadi khalifah, dan ia mengirim surat kepada Marwan, gubernurnya di Madinah, mengenai hal itu. Karena itu Marwan lalu mengumpulkan rakyat kemudian berpidato dan mengajak mereka membai’at Yazid. Maka hampir saja marwan melakukan hal tidak terpuji kepada Abdurrahman bin Abu Bakar sekiranya ia tidak segera masuk kerumah Aisyah. Marwan berkata: “Orang inilah yang dimaksud ayat: “Dan orang yang berkata kepada ibu bapaknya: ‘Cis bagi kamu berdua, apakah kamu berdua memperingatkan aku bahwa aku akan dibangkaitkan, padahal sungguh telah berlalu beberapa umat sebelumku?’” Aisyah menolak/membantah pendapat Marwan tersebut dan menjelaskan sebab turunya. Ada beberapa riwayat yang menerangkan tentang hal ini, diantaranya dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Aisyah menolak keterangan yang menyatakan bahwa ayat tersebut turun berkenaan dengan Abdurrahman bin Abu Bakar, dengan berkata: “ayat ini turun berkenaan dengan si fulan”, seraya menyebut nama orang itu.25 3. Redaksi Sebab Nuzul Bentuk redaksi yang menerangkan sebab nuzul itu terkadang berupa pernyataan tegas mengenai sebab dan terkadang pula berupa pernyataan yang

24 25

Al-Qur’an, Surat al-Ahqaf: 17 Asbabun Nuzul, h. 496

10

hanya mengandung kemungkinan mengenainya. Ada pun bentuk redaksi tersebut adalah: 1. 2. ‫( سبب نرول هذه الية‬sebab nuzul ayat ini adalah begini). Menggunakan fa ta’qbiyah (kira-kira seperti “maka”, yang menunjukkan urutan peristiwa) seperti ‫ فنزلت‬atau ‫ فأنزل ال‬sesudah ia menyebutkan peristiwa atau pertanyaan. Misalnya, ia mengatakan: “telah terjadi peristiwa begini” atau “Rasulullah ditanya tentang hal begini, maka turunlah ayat ini.” Dengan demikian, kedua bentuk di atas merupakan pernyataan yang jelas tentang sebab. Bentuk lainnya, yaitu redaksi yang boleh jadi menerangkan sebab nuzul atau hanya sekedar menjelaskan kandungan hukum ayat ialah bila perawi mengatakan: ‫( نزلففت هففذه اليففة فففي‬ayat ini turun mengenai ini). Yang dimaksud dengan ungkapan (redaksi) ini terkadang sebab nuzul ayat dan terkadang pula kandungan hukum ayat tersebut. Akan tetapi redaksi seperti ini tidak dapat dipastikan untuk menunjukkan asbāb al-nuzūl. Sighat ini mungkin saja dapat menjelaskan hukum yang ada padanya. Untuk menentukan antara keduanya diperlukan dalil atau qarinah lain yang dapat membantu. 4. Beberapa Riwayat Mengenai Sebab Nuzul Terkadang terdapat banyak riwayat mengenai sebab nuzul suatu ayat. Dalam keadaan demikian sikap seorang mufassir sebagai berikut: a. Apabila bentuk-bentuk redaksi riwayat itu tidak tegas, maka dalam hal ini tidak ada kontradksi di antara riwayat-riwayat itu, sebab maksud riwayat-riwayat tersebut adalah penafsiran dan penjelasan bahwa hal itu termasuk ke dalam makna ayat dan disimpulkan darinya, bukan menyebutkan sebab nuzul, kecuali bila ada karinah atau indikasi pada salah satu riwayat bahwa maksudnya adalah penjelasan sebab nuzul.

11

b. Apabia salah satu bentuk redaksi riwayat itu tidak tegas, sedangkan riwayat yang lain menyebutkan sebab nuzul dengan tegas yang berbeda dengan riwayat yang pertama, maka yang menjadi pegangan adalah riwayat yang menyebutkan sebab nuzul yang tegas, dan riwayat yang lain dipandang termasuk di dalam hukum ayat. c. Apabila riwayat itu banyak dan semuanya menegaskan sebab nuzul, sedang salah satu riwayat di antaranya itu sahih, maka yang menjadi pegangan adalah riwayat yang sahih. d. Apabla riwayat-riwayat itu sama-sama sahih namun terdapat segi yang memperkuat salah satunya, seperti kehadiran perawi dalam kisah tersebut, atau salah satu dari riwayat-riwayat itu lebih sahih, maka riwayat yang lebih kuat ituah yang didahulukan. e. Apabila riwayat-riwayat tersebut sama kuat, maka riwayat-riwayat itu dipadukan atau dikompromikan bila mungkin, hingga dinyatakan bahwa ayat tersebut turun sesudah terjadi dua buah sebab atau lebih karena jarak waktu di antara sebab-sebab itu berdekatan. f. Bila riwayat-riwayat itu tida bisa dikompromikan karena jarak waktu antara sebab-sebab tersebut berjauhan, maka hal demikian dibawa kepada atau dipandang sebagai banyak dan berulangnya nuzul. 5. Pedoman Mengetahui Asbāb al-Nuzūl Pedoman dasar para ulama dalam mengetahui asbāb al-nuzūl ialah hadis atau riwayat sahih26 yang berasal dari Rasulullah atau dari sahabat. Itu disebabkan pemberitahuan seorang sahabat mengenai hal seperti ini, bila jelas, maka hal itu bukan sekedar pendapat, tetapi ia mempunyai hukum marfu’ (disandarkan kepada Nabi). Al-Wahidi mengatakan: Tidak halal berpendapat mengenai asbāb al-nuzūl Kitab kecuali dengan berdasarkan suatu riwayat atau mendengar langsung dari orang-orang yang menyaksikan turunnya, mengetahui

26

Az-Zarqani, Op,cit, h. 114

12

sebab-sebabnya dan membahas tentang pengertiannya serta bersungguhsungguh dalam mencarinya.”27 Inilah jalan yang ditempuh oleh ulama salaf. Mereka amat berhati-hati untuk mengatakan sesuatu mengenai asbāb al-nuzūl tanpa pengetahuan yang jelas. Oleh karena itu, yang dapat dijadikan pegangan dalam asbāb al-nuzūl adalah riwayat yang ucapan-ucapan sahabatnya yang bentuknya seperti musnad, yang secara pasti menunjukkan asbāb al-nuzūl. Namun pada saat ini kita orang-orang yang awam dapat mengetahui asbāb al-nuzūl dengan membaca kitab atau buku asbāb al-nuzūl yang telah disusun oleh para ahli. 6. Yang menjadi pegangan adalah lafal yang umum, bukan sebab yang khusus Apabila ayat yang diturunkan sesuai dengan sebab secara umum, atau sesuai dengan sebab secara khusus, maka yang umum diterapkan pada keumumannya dan yang khusus pada kekhususannya. Contoh yang pertama ialah firman Allah28 Artinya: “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah: ‘haid adalah suatu kotoran.’ Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri”. Anas berkata: “Bila istri orang-orang Yahudi haid, mereka dikeluarkan dari rumah, tidak diberi makan dan minum, dan didalam rumah tida boleh bersama-sama. Lalu Rasulullah ditanya tentang hal itu, maka Allah menurunkan: Mereka (sahabat) bertanya kepadamu tentang haid… kemudian

27 28

As-Suyuti, Al-Itqān fī ‘Ulūm Alqur’an, h. 63 Al-Qur’an, Surat al-Baqarah: 222

13

Rasulullah berkata: “Bersama-samalah dengan mereka di rumah dan perbuatlah segala sesuatu kecuali menggaulinya.29 Contoh yang kedua firman Allah:30 Artinya: “dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa itu dari neraka, yang menafkahkan hartanya di jalan Allah untuk membersihkannya, padaha tidak ada seorang pun yang memberikan itu semua sematamata karena mencari keridaan Allah, Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan kelak ia benar-benar mendapatkan kepuasan”. Ayat di atas diturunkan mengenai Abu Bakar. Menurut ‘Urwah, Abu Bakar telah memerdekakan tujuh orang budak yang disiksa karena membela agama Allah yaitu Bilal,’Amir bin Fuhairah, Nahdiyah dan anak perempuannya, Umm ‘Isa dan budak perempuan bani Mau’il. Untuk itu turunlah ayat “Dan kelak akan … hingga akhir ayat. Apabila sebab itu khusus, sedang ayat yang turun berbentuk umum maka para ahli usul fiqh berselisih pendapat: a. Jumhur ulama berpendapat bahwa yang menjadi pegangan adalah lafal yang umum dan bukan sebab yang khusus. Hukum yang diambil dari lafal yang umum itu melampaui sebabnya yang khusus sampai pada hal-hal yang serupa dengan itu. b. Segolongan ulama berpendapat bahwa yang menjadi pegangan adalah sebab yang khusus bukan lafal yang umum, karena lafal yang umum itu menunjukkan bentuk sebab yang khusus. 7. Banyaknya nuzul dengan satu sebab Terkadang banyak ayat yang turun, sedangkan sebabnya hanya satu. Sehingga banyak ayat yang turun di dalam berbagai surah berkenaan dengan satu peristiwa.

Al-Wahidi, Asbāb an-Nuzūl, h. 76-77, lihat juga Al-Dimasyqi, Lubāb fī ‘Ulūm alKitāb, h. 66. 30 Q.S. al-Lail: 21

29

14

Contohnya ialah apa yang diriwayatkan oleh Sa’id bin Mansur, ‘Abdurrazzaq, Tirmizi, Ibn Jarrir, Ibn Munzir, Ibn Abi Hatim, Tabrani dan hakim yang mengatakan sahih, dari Ummu Salamah, ia berkata: “Rasulullah aku tidak mendengar Allah menyebutkan kaum perempuan sedikitpun mengenai hijrah. Maka Allah menurunkan: Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal diantara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan sebagian yang lain…” (Ali ‘Imran: 195) Diriwayatkan pula oleh Ahmad, Nas’i, Ibn Jarir, Ibnul Munzir, Tabrani dan Ibn Mardawaih dari Ummu Slamah yang mengatakan: “Aku telah bertanya: Rsulullah, mengapa kami tidak disebutkan dalam Qur’an seperti kaum laki-laki? Maka pada suatu hari aku dikejutkan oleh seruan Rasulullah di atas mimbar. Ia membacakan: “Sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim …” sampai akhir ayat 35 surat al-Ahzab.” Diriwayatkan pula oleh hakim dari Ummu Salamah yang mengatakan: “Kaum laki-laki berperang sedang perempuan tidak. Di samping itu kami hanya memperoleh warisan setengah bagian? Maka Allah menurunkan ayat: Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain, karena bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita pun ada bagian dari apa yang mereka usahakan pula … (An-Nisa’: 32) dan ayat: Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim … (Al-Ahzab: 35).”

15

PENUTUP Kesimpulan 1. Asbāb al-nuzūl ialah keterangan mengenai suatu ayat atau rangkaian ayat yang berisi tentang sebab-sebab turunnya atau menjelaskan hukum suatu kasus pada waktu kejadiannya. 2. Al-Qur’an turun berkisar pada dua hal: pertama, turun dengan didahului oleh suatu sebab, baik itu bila terjadi suatu peristiwa maupun pertanyaan yang diajukan kepada Nabi.. Kedua turun tanpa didahului oleh suatu sebab. 3. Manfaat mengetahui asbāb al-nuzūl daiantaranya ialah mengetahui hikmah diundangkannya suatu hukum, membatasi hukum yang diturunkan dengan sebab yang terjadi, dan mengetahui asbāb al-nuzūl adalah cara terbaik untuk memahami makna Al-Qur’an dan menyingkap kesamaran yang tersembunyi dalam ayat-ayat yang tidak dapat ditafsirkan tanpa mengetahui asbāb al-nuzūl. 4. Apabila sebab nuzul itu banyak, maka terkadang semuanya tidak tegas, terkadang pula semuanya tegas, dan terkadang sebagiannya tidak tegas dan sebagian lainnya tegas dalam menunjukkan sebab.

16

DAFTAR PUSTAKA Al-Qur’an Al-Karim Abu Syuhbah, Al-Madkhâl li Dirâsati al-Qur’ân al-Karîm, Kairo, 1992. Abi Hafsah, Al-Lubâb fî ‘Ulûm al-Qur’ân, Beirut: Dar al-Fikr, 1998. Al-Wahidi, Asbâb Nuzûl al-Qur’ân, Beirut: Dar al-Kotob al-‘Ilmiyyah, 1998. As-Shobuni, Shafwah al-Tafsir, Kairo: Dar al-Shobuni, 1976. As-Suyuti, Al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qurân, Beirut: Dar al-Kotob al-‘Ilmiyyah, 2000. Az-Zarkasy, Al-Burhân fi ‘Ulûm al-Qurân, Beirut: Dar al-Fikr, 1988. Az-Zarqani, Manâhil al-‘Irfân, Beirut: Dar al-Kotob al-‘Ilmiyyah, 2003. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, Belajar Mudah Ulum al-Qur’an, Jakarta: Lentera, 2002. Ismail al-Faruqi dan Lamya al-Faruqi, Atlas Budaya Islam Menjelajah Khazanah Peradaban Gemilang, Bandung: Penerbit Mizan, 2005. Mannâ’ Khalîl al-Qattân, Mabâhis fi ‘Ulûm al-Qurân, Terj. Mudzakir, Jakarta: Lentera Nusa, 2006. Masjfuk Zuhdi, Pengantar Ulumul Qur’an bagian I, Surabaya: Bina Ilmu, 2000. Shaleh dkk, Asbabun Nuzul, Bandung: CV. Diponegoro, 2003.

17

KATA PENGANTAR Assalamu ’alaikum Wr. Wb. Puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Illahi Robbi, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah buat junjungan alam nabi Muhammad SAW. Makalah ini disusun sebagai materi presentasi penulis dalam seminar kelas mata kuliah Studi Qur’an di jurusan Pendidikan Islam Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau (UIN Suska Riau) Pekanbaru. Makalah ini berjudul ”Asbāb Al-Nuzūl” , membahas ha-hal apa yang menjadi latar belakang turunnya suatu ayat. Ini sangat penting agar kita mengetahui mengapa suatu hukum disyari’atkan Allah. Penulis menyadari sepenuhnya, bahwa makalah ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, sebagai penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi penulis, pembaca, dan semua pihak yang tekait. Tak lupa penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan makalah ini, terutama kepada Dosen Pembimbing Dr. Kadar, M.Ag Wassalam Pekanbaru, November 2008

Penulis

18

19

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->