P. 1
Karl Popper

Karl Popper

|Views: 189|Likes:
Published by Iwel Nagan

More info:

Published by: Iwel Nagan on Mar 20, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/12/2015

pdf

text

original

The Power of Eleven blog Blogcrowds GeckoandFly Forum email “Karl Raimund Popper (1902- ); Problematika Teori Metode

Ilmiah” Friday, February 02, 2007 PEMBAHASAN Raimund Adalah Seorang Pemikir yang menguasai banyak bidang; sejrah, kesusatraan, psikologi, polirik dan filsafat. The Logic of Scientific Discovery menjadikannya terkenal sebagai seorang filusuf. Ia banyak berhubungan dengan anggota-angota lingkaran pena dan melontarkan banyak mengkritisi persoalan metode induktif yang berdasarkan fakta. Ia mempertanyakan berapa pun jumlah fakta yang di kumpulkan tidak dapat menjamin sebagai sebuah kebenaran umum. Menurut Poper suatu teori dikategorikan ilmiah tidak cukup dengan adanya pembuktian, tetapi ia harus dapat diuji (testable). Jika teori tersebut tidak lolos dari ujian maka teori tersebut tidak benar dan harus diganti dengan teori yang lebih tepat. Sebaliknya, jika teori tersebut bertahan dalam ujian maka kebenarannya ilmiahnya akan semakin kokoh dan terpecaya Sesuai dengan pemikiran Popper diatas, sebuah epistemologi penemuan ilmiah yang logis harus diteliti dengan menggunakan sebuah teori metode ilmiah. Teori metode ilmiah menggunakan hubungan analisis logis murni diantara pernyataan-pernyataan ilmiah. Kemudian memilih metode-metode dengan menentukan cara yang tepat dimana pernyataan-pernyataan ilmiah dapat sesuai dengan teori metode ilmiah. Keputusankeputusan yang kita pilih tadi akan sangat bergantung kepada sejumlah tujuan yang mungkin kita pilih. Keputusan yang kita ambil bertujuan untuk menetapkan hukumhukum yang tepat yang disebut Poper sebagai “sebuah metode empirik". Menurut Popper, metode empirik ini sangat berkaitan erat dengan kriteria demakrasi. Dimana Popper juga mengajukannya untuk menggunakan sebagai aturan-aturan untuk menetukan ketahanan daya uji pernyataan ilmiah, yang disebut juga sebagai falsifiabiti. Kenapa Pernyataan-Pernyataan Tentang Methodologi Sangat Di Butuhkan? Apakah aturan-aturan metode ilmiah, dan mengapa kita membutuhkannya? Apakah teori aturan-aturan diatas dapat menjadi sebagai sebuah metodologi? Sebuah cara yang salah satunya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, akan dengan leluasa tergantung kepada sikap seseorang terhadap ilmu pengetahuan. Mereka yang condong ke aliran positivisme, akan melihat bahwa ilmu pengetahuan empirik sebagai sebuah sitem pernyataan yang dapat mencukupi ukuran-ukuran logis.

Seperti penuh arti atau verifiability, yang akan memberikan sebuah jawaban. Namun jawaban yang berbeda akan dilontarkan oleh mereka yang memandang perbedaan karakteristik dari pernyataan empirik sebagai kelemahan mereka yang harus direvisi/diperbaiki. Dalam kenyataannya mereka dapat dikritisi dan digantikan dengan sesuatu yang baik lainnya; dan mereka yang menghargainya sebagai tugas mereka untuk menganalisis kemampuan karakterisitik keilmuan untuk dikembangkan. Dan juga untuk menganalisis tingkatan karakteristik dimana sebuah pilihan dibentuk. Dalam kasuskasus krusial yang terjadi antara pertentangan system teori. Poper sangat mengakuti bahwa ada sebuah kebutuhan untuk suatu teori anilisa logis. Untuk sebuah analisa yang tidak memperhatikan bagaimana teori-teori tersebut berubah dan berkembang. Akan tetapi analisa macam ini tidak menerangkan aspek yang menyangkut ilmu pengetahuan empirik yang diakui Popper sebagai seseuatu yang harus mendapatkan hadiah (penghargaan)yang tinggi. Sistem lain seperti ilmu mesin klasik akan menjadi ilmiah dalam beberapa tingkatan yang kamu inginkan; namun mereka yang menegakannya secara dogmatis dan menyakininya. Barangkali, itulah bentuk usaha mereka untuk mempertahankan sebuah sistem yang sukses untuk menyerang para penganut kritisime sepanjang tidak dapat dibuktikan dengan penuh keyakinan. Mengadopsi sebuah kebalikan dari sikap kiritis dalam pandangan Popper adalah sebagai sesuatu yang tepat bagi seorang ilmuwan. Dalam kenyataannya, tidak ada bukti teori yang meyakinkan yang pernah dihasilkan.untuk itu mungkin untuk dikatakan bahwa hasil-hasil percobaan dapat dipercaya. Atau pertentangan-pertentangan yang dinyatakan untuk ada diantara hasilhasil percobaan dan teori hanya akan muncul dan hilang seiring dengan kemajuan pemahaman kita. (Dalam usaha menyerang Einsteins, kedua argumen tersebut sering digunakan untuk mnedukung mekanika Newton dan pendapat serupa belimpahlimpah dalam bidang ilmu social.) Proper mengatakan bahwa apabila kamu menuntut sebuah bukti yang sempurna atau penyangkalan yang sempurna pada ilmu pengetahuan empirik, kamu tidak akan pernah mendapatkan manfaat dari percobaan tersebut, dan tidak akan pernah dapat belajar bahwa betapa salahnya/keliru kamu. Dengan demikian Propper menggolongkan ilmu pengetahuan empirik menjadi struktur formal dan struktur logis dari statemen-statemennya. Kita tidak akan bisa untuk mengeluarkan bentuk kebalikan dari metapisika yang dihasilkan dari pengangkatan suatu teori ilmiah yang telah usang kedalam sebuah kebenaran yang tidak dapat dipertentangkan lagi. Propper mengusulkan bahwa ilmu pengetahuan empirik harus digolongkan dengan menggunkan sebuah metode yaitu dengan cara kita menghadapkannya dengan sebuah sistem ilmiah. Dengan sistem ilmiah tersebut kita dapat mengetahui dengan sistem apakah kita bekerja dan apakah yang dapat kita lakukan dengan sistem-sistem ilmiah tadi. Itulah beberapa aturan yang hendak ditetapkan oleh Popper yang akan membimbing para ilmuwan ketika mereka sibuk dalam riset atau penemuan mereka. Maka dengan arti demikian kita dapat mengerti. Pendekatan Naturalistik Terhadap Teori Metode

Sebuah sindiran yang kemukakan oleh Popper pada bagian yang lalu sebagai perbedaan yang mendalam antara posisi Popper dan posisi para penganut aliran positivis yang membutuhkan beberapa amplikasi. Para penganut aliran positivis mereka tidak menyukai sebuah gagasan yang dihadapkan yang hanya akan menghasilkan permasalahan yang penuh arti yang berada diluar bidang kajian ilmu pengetahuan empirik yaitu ketika masalah-masalah dihadapkan dengan teori filsafat asli. Dia tidak menyukai sebuh gagasan yang akan menjadi sebuah teori pengetahuan yang asli, teori metodologi dan efistemology (istilah) yang asli. Dia mengharapkan untuk dapat melihat dalam permasalahan nosof dengan hanya “permasalahan biasa atau hanya teka-teki saja.” Sekarang keinginan ini, yang mana dia sendiri tidak mengungkapkan sebuah keinginan atau usulan sebagai fakta pernyataan yang dapat memuaskan. Untuk sesuatu yang lebih mudah daripada mengungkap sebuah permasalahn apakah seperti “yang tidak berarti” atau “kepura-puraan” saja. Yang harus kamu lakukan adalah menentukan sebuah arti sempit kesenangan untuk sebuah arti. Dan kamu akan dibatasi untuk mengatakan pertanyaan yang menyenangkan apa saja yang mana kamu tidak menentukan makna apa saja yang terdapat didalamnya Selain itu apabila kmau mengakui sesuatu yang penuh arti yang tidak menerima sebagai permasalahan dalam ilmu alam. Mestinya ada ajaran/ dogma, makna/arti yang sekali ditegakkan adalah selalu meninggikan pertarungan mati diatas. Ajaran maka tidak akan leluasa untuk diserang. Ia telah menjadi (Dalam Wittgensteins perkataan sendiri). Sesuatu yang tidak disangkal dan pasti. Pernyataan kontroversial apakah filosofi ada atau mempunyai hak untuk tetap ada adalah hampir sama lamanya filsafat tersebut. Berkali-kali keseluruhan pergerakan filsafat baru yang muncul pada akhirnya mengungkap permasalah-permaslahan filsafat lama sebagai permasalahan semu, yang menghadapi kebohongan dan kejahatan filsafat dengan arti yang baik dan ilmu pengetahuan positif. Empiris yang penuh makna. Pada jaman ini selalu melakukan sebuah pertahanan dari“filsafat tradisional” yang berusaha menjelaskan kepada para pemimpin baru serangan posoitivistik. Pokok permasalahan filsafat ialah analisis kritik terhadap permohonan autoritas pengalaman, dengan tepat pengalaman tersebut dimana setiap penemuan baru positivisme berada, seperti pernah terjadi pengambilan kearaifan untuk pendanaan. Permasalahan diatas bagaimanapun aliran postivisme hanya menjawab dengan sebuah angkatan atau mengangkat bahu. Mereka mengartikan tidak ada sesuatu terhadap dia semenjak mereka tidak memiliki ilmu pengetahuan empiris, yang dengan sendirinya penuh makna. Eksperimen atau percobaan baginya adalah sebuah program bukan sebuah masalah (kalau dikaji dengan psikologi empiris). Saya tidak berpikir bahwa aliran positivisme memungkinakan untuk menanggapi atau menjawab berbagai macam perbedaan terhadap usaha pribadi untuk menganalisis “percobaan” yang saya tafsirkan sebagai sebuah metode ilmu pengetahuan empiris. Untuk hanya dua jenis atau bentuk pernyataan yang ada untuk menghilangkan pengulangan logis dan pernyataan-pernyataan empiris. Jika metodologi yang dipakai

tidak logis/ilmiah, maka mereka akan menutupi itu harus menjadi sebuah cabang dari ilmu pengetahuan empiris-ilmu pengetahuan yang hilang dikatakan dari ahli pengetahuan prilaku dalam karyanya. Pandangan ini, sesuai dengan metodologi yang mana sebuah ilmu pengetahuan empiris dalam perputarannya-sebuah studi tetang perilaku actual/nyata dari para ilmuan, atau tentang prosedur yang nyata dari ilmu pengetahuan yang dapat digambarkan sebagai”naturalistic/alamiah.”. Metodologi naturalistik (terkadang dinamakan sebagai sebuah teori induktif ilmu pengetetahuan) yang mempunyai nilai bukan keragauan. Seorang mahasiswa ilmu pengetahuan logis yang hilang boleh menarik perhatian terhadapanya, dan mempelajarinya. Tetapi yang saya katakana”metodologi” tidak dapat digunakan untuk sebuah ilmu pengetahuan empiris. Saya tidak percaya bahwa ini merupakan sesuatu yang memungkinkan untuk ditentukan dengan menggunakan metode-metode ilmu pengetahuan empiris, seperti pertanyaan kontrovesial/yang bertentangan apakah ilmu pengetahuan menggunakan sebuah prinsip induksi atau tidak. Keraguan saya bertambah ketika saya mengingnat bahwa apa yang dinamakan sebuah “ilmu pengetahuan” dan siapakah yang disebut sebagai seorang ”ahli/ilmuwan” harus senantiasa menyisakan sebuah permasalahan dari perjanjian atau keputusan. Saya yakin bahwa pertanyaan-pertanyaan tentang bentuk ini akan diobati dalam berbagai cara yang berbeda. Contoh, kita harus mempertimbangkan dan membandingkan dua sistem yang berbeda dari aturan. Aturan metodologi,seseorang dengan atau tanpa prinsip induksi. Kita diperbolehkan untuk menguji apakah sebuah prinsip/asas yang diperkenalkan, dapat digunakan tanpa menimbulkan ketidakkonsistenan; apakahn ia membantu kita; dan apakah kita sangat membutuhkannya. Inilah merupakan tipe pemriksaan yang memimpin saya untuk melakukan asas induksi. Tidak karena asas diatas merupakan sebuah fakta makalah yang tidak pernah digunakan dalam ilmu pengetahuan. Tetapi menuru pemikiran saya, itu bukan sesuatu yang dibutuhkan, itu tidak dapat membantu kita; dan peristiwa tersebut memunculkan ketidak seimbangan. Dengan demikian saya menolak pandangan naturalistik. Pandangan ini tidak bisa dikritik. Pandangan naturalistik memungkinkan jatuh untuk memperhatikan dimana pun mereka meyakini diri mereka sendiri untuk dapat menemukan sebuah fakta, mereka hanya mengusulkan sebuah kesepakatan, karena itu akan memudahkan dimasukan kedalam dogma. Kritisisme atas pandangan naturalistik digunakan tidak hanya untuk kriteria untuk makna saja, akan tetapi ide/pemikiran ilmu pengetahuan. Serta adanya konsekuensi terhadap ide metode empiris. Aturan-Aturan Metodologis Sebagai Konvensi Aturan metodologi disini menghormati sebagi konvensi. Mereka boleh jadi diuraikan sebagai aturan permainan yang hilang tentang logika murni melainkan seperti hanya ketentuan-ketentuan catur, yang mana sedikit sebagai bagian dari logika murni,

mengingat bahwa ketentuan logika murni memrintah perubahan pengurusan bentuk bahasa. Hasil dari pemeriksaan dalam kententuan catur mungkin berjudul ”logika catur” tetapi susah antara logika murni dan sederhana. Dengan cara yang sama hasil dari ketentuan hilang-permainan ilmu pengetahuan-ini adalah tentang penemuan ilmiah, mungkin diberi judul”logika dari penemuan ilmiah.” Dua contoh sederhana tentang aturan metodologis. Mereka akan sanggup untuk menunjukan bahwa dengan susah payah menempatkan suatu metode yang hilang yang tingkatannya sama sebagai pertanyaan yang logis, yaitu Permainan ilmu pengetahuan adalah pada prinsinya tanpa akhir, suatu hari ia memutuskan bahwa laporan ilmiah tidak meminta untuk tes selanjutnya, dan akhirnya mereka dapat memastikan/membuktikan suatu kebenaran, berhenti dalam permainan. Sesekali hipotesis telah diusulkan dan diuji. Dan telah dibuktikan kebenarannya, mungkin tidak diijinkan untuk keluar tanpa alasan yang baik. Suatu alasan yang baik sebagai contoh: penggantian hipotesis oleh yang lain yang mana biasa menguji yang lebih baik atau pemalsuan hilang dari konsekuensi hipoteisis oleh yang lain yang hilang (konsep bias menguji lebih baik akan dianalisis lebih secara penuh). Dua contoh diatas menunjukan aturan metodologi seperti yang kita lihat. Sangat jelas mereka sangat berbeda dari aturan yang pada umumnya ”logis”. Walaupun mungkin kriteria logika disediakan untuk memastikan apakah bias menguji suatu statemen, pasti tidak terkait dengan pertanyaan-pertanyaan yang hilang apakah seseorang menggunakan dirinya sendiri untuk menguji. Dalam bagian ke-6 saya mencoba untuk menggambarakan ilmu pengetahuan empiris dengan bantuan yang hilang dan ukuran falsifiabilitas yang hilang. Tetapi saya berkewajiban untuk keadilan yang hilang dari keberatan yang pasti, saya sanggup terhadap suatu lampiran metodologis kepada definisiku. Sama halnya sebagai catur yang digambarkan oleh aturan yang sesuai untuk itu, jadi ilmu pengetahuan empiris mungkin digambarkan oleh aturan yang sesuai untuk itu, jadi ilmu pengetahuan empiris mungkin digambarkan dengan menggunakan aturan metodologisnya. Dalam menetapkan aturan ini kita boleh menggunakan secara sistematik. Pertama suatu aturan tertinggi di letakkan dan dilayani dengan baik dari standar untuk memutuskan diatas aturan yang sisa, dan yang mana suatu jenis aturan yang lebih tinggi. Aturan itu dikatakan aturan lain yang hilang tentang prosedur ilmiah harus dirancang sedemikian rupa sehingga mereka tidak dilindungi statemen manapun dalam melawan terhadap pemalsuan ilmu pengetahuan. Aturan metodologi begitu lekat dihubungkan kedua-duanya dengan aturan metodologi yang lain dengan batas ukuran. Tetapi hubungan bukanlah suatu yang logis atau mengurangi. Itu menyebabkan, lebih baik, dari fakta yang hilang bahwa aturan di bangun dengan tidak ada tujuan applicabilitas yang pasti tentang batas ukuran. Dengan begitu penerimaan dan perumusan mereka berproses/ berjalan menurut suatu aturan praktis tentang suatu jenis lebih tinggi sebagai contoh ini telah menjadi aturan

diatas; teori yang kita tidak memutuskan untuk mengalahkan tes manapun akan tidak lagi falsifiable. Itu adalah hubungan sistematis antara aturan yang membuatnya untuk berbicara tentang teori metode. Teori ini mengizinkan pernyataan resmi dari teori ini, sebagai contoh pertunjukan, terus terang kebanyakan bagian konvensi terhadap suatu yang nyata. Kebenaran dalam lingkungan tidak diharapkan dari metodologi. Meskipun demikian mungkin dapat membantu dalam banyak kesempatan untuk memperjelas situasi logis, dan bahkan untuk memecahkan beberapa permasalahan yang sudah luas sampai sekarang terbukti sangat sulit/keras kepala. Salah satu dari ini sebagai contoh permasalahan hilang dalam memutuskan apakah sesuatu kemungkinan harus diterima atau ditolak. Itu sudah sering meragukan apakah hilang berbagai permasalahan teori pengetahuan dalam hubungan sistematis untuk satu sama lain, dan juga apakah mereka dapat diperlakukan secara sistematis. Saya berharap untuk menunjukan buku ini bahwa keragu-raguan tidak pada tempatnya. Titik menjadi beberapa arti penting. Alasannya menjadi satu-satunya untuk mungusulkan batas ukuran dengan penuh keberhasilan; bahwa banyak sekali poin-poin dapat diperjelas dan diterangkan dengan bantuannya. Deifnisi dogma hanya akan hilang kesimpulan menarik dari dapat diusahakan pngertian yang mendalam, kata Mcngr. Ini adalah benar untuk penjelasan konsep pengetahuan yang hilang. Itu adalah konsekuensi dari definisi tentang ilmu pengetahuan empiris. Itu adalah metodologi yang hilang yang tergantung pada definisi ini. Ilmuwan yang hilang akan mampu untuk menyesuaikan diri terhadap intuitifnya gagasan untuk keberhasilan usahanya. Ahli filsafat akan menerima definisiku sebagai suatau yang bermanfaat jika dia dapat menerima konsekuensinya. Yang memungkinkan kita untuk mendeteksi pertentangan dan kekurangan dalam teori pengetahuan yang lebih tua, dan untuk melacak kembali asumsi pokok yang hilang dan konvensi untuk mereka yang bersemi. Tapi kita harus pula mencukupi saran atau usulan kiota sendiri tidaklah diancam kesulitan. Metode ini mendeteksi pertentangan pemecahan yang diterapkan dalam ilmu pengetahuan sendiri. Tetapi arti penting dalam ilmu pengetahuan yang hilang. Itui adalah metode ini, konvesi metodologi dibenarkan mungkin membuktikan nilai mereka. Apakah para ahli filsafat menyelidi metodologi sebagai bagian dari filsafat. Saya takut,dan sangat ragu, tetapi tidak benar-benar dapat memberi arti banyak. Namun, mungkin saja berharga dalam hubungan ini yang tidak sedikit doktrinnya adalaha metafisis, dan begitu juga filsafat, akan bias ditafsirkan sebagai ciri hipotesisasi pada aturan metodologi, sebab contoh dalam bentuk “prinsip sebab akibat” yang akan di bahas pada bagian berikutnya. Karena kebuthan objektifitas ilmiah dapat ditafsirkan sebagai aturan metodologi: aturan yang mungkin hanya diperkenalkan statemen dalam ilmu pengetahuan sebagai intersubjektif yang bias menguji. Itu tentu saja akan menjadi bias dikatakan bahwa mayorits permasalah dari teori filosofi. Dan ini merupakan pembahasan menarik yang dapat ditafsirkan dalam metode.

RANGKUMAN Karel Raimund Adalah Seorang Pemikir yang menguasai banyak bidang; sejrah, kesusatraan, psikologi, polirik dan filsafat. The Logic of Scientific Discovery menjadikannya terkenal sebagai seorang filusuf. Ia banyak berhubungan dengan anggota-angota lingkaran pena dan melontarkan banyak mengkritisi persoalan metode induktif yang berdasarkan fakta. Ia mempertanyakan berapa pun jumlah fakta yang di kumpulkan tidak dapat menjamin sebagai sebuah kebenaran umum. Menurut Poper suatu teori dikategorikan ilmiah tidak cukup dengan adanya pembuktian, tetapi ia harus dapat diuji (testable). Jika teori tersebut tidak lolos dari ujian maka teori tersebut tidak benar dan harus diganti dengan teori yang lebih tepat. Sebaliknya, jika teori tersebut bertahan dalam ujian maka kebenarannya ilmiahnya akan semakin kokoh dan terpecaya. Sesuai dengan pemikiran Popper diatas, sebuah epistemologi penemuan ilmiah yang logis harus diteliti dengan menggunakan sebuah teori metode ilmiah. Teori metode ilmiah menggunakan hubungan analisis logis murni diantara pernyataan-pernyataan ilmiah. Kemudian memilih metode-metode dengan menentukan cara yang tepat dimana pernyataan-pernyataan ilmiah dapat sesuai dengan teori metode ilmiah. Keputusankeputusan yang kita pilih tadi akan sangat bergantung kepada sejumlah tujuan yang mungkin kita pilih. Keputusan yang kita ambil bertujuan untuk menetapkan hukumhukum yang tepat yang disebut Poper sebagai “sebuah metode empirik". Menurut Popper, metode empirik ini sangat berkaitan erat dengan kriteria demakrasi. Dimana Popper juga mengajukannya untuk menggunakan sebagai aturan-aturan untuk menetukan ketahanan daya uji pernyataan ilmiah, yang disebut juga sebagai falsifiabiti. Apakah aturan-aturan metode ilmiah, dan mengapa kita membutuhkannya? Apakah teori aturan-aturan diatas dapat menjadi sebagai sebuah metodologi? Sebuah cara yang salah satunya dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan diatas, akan dengan leluasa tergantung kepada sikap seseorang terhadap ilmu pengetahuan. Mereka yang condong ke aliran positivisme, akan melihat bahwa ilmu pengetahuan empirik sebagai sebuah sitem pernyataan yang dapat mencukupi ukuran-ukuran logis. Seperti penuh arti atau verifiability, yang akan memberikan sebuah jawaban. Namun jawaban yang berbeda akan dilontarkan oleh mereka yang memandang perbedaan karakteristik dari pernyataan empirik sebagai kelemahan mereka yang harus direvisi/diperbaiki. Dalam kenyataannya mereka dapat dikritisi dan digantikan dengan sesuatu yang baik lainnya; dan mereka yang menghargainya sebagai tugas mereka untuk menganalisis kemampuan karakterisitik keilmuan untuk dikembangkan. Dan juga untuk menganalisis tingkatan karakteristik dimana sebuah pilihan dibentuk. Dalam kasus-kasus krusial yang terjadi antara pertentangan system teori. Poper sangat mengakuti bahwa ada sebuah kebutuhan untuk suatu teori anilisa logis. Untuk sebuah analisa yang tidak memperhatikan bagaimana teori-teori tersebut berubah dan berkembang. Akan tetapi analisa macam ini tidak menerangkan aspek yang menyangkut ilmu pengetahuan empirik yang diakui Popper sebagai seseuatu yang harus mendapatkan hadiah (penghargaan) yang tinggi. Sistem lain seperti ilmu mesin klasik akan menjadi ilmiah dalam beberapa tingkatan yang kamu inginkan; namun mereka yang menegakannya secara dogmatis dan menyakininya. Barangkali, itulah bentuk usaha mereka untuk mempertahankan sebuah sistem yang sukses untuk menyerang para penganut kritisime sepanjang tidak dapat dibuktikan dengan penuh keyakinan. Mengadopsi sebuah kebalikan dari sikap kiritis dalam pandangan Popper adalah sebagai sesuatu yang tepat bagi seorang ilmuwan.

Dalam kenyataannya, tidak ada bukti teori yang meyakinkan yang pernah dihasilkan.untuk itu mungkin untuk dikatakan bahwa hasil-hasil percobaan dapat dipercaya. Atau pertentangan-pertentangan yang dinyatakan untuk ada diantara hasilhasil percobaan dan teori hanya akan muncul dan hilang seiring dengan kemajuan pemahaman kita. (Dalam usaha menyerang Einsteins, kedua argumen tersebut sering digunakan untuk mnedukung mekanika Newton dan pendapat serupa belimpahlimpah dalam bidang ilmu social.) Proper mengatakan bahwa apabila kamu menuntut sebuah bukti yang sempurna atau penyangkalan yang sempurna pada ilmu pengetahuan empirik, kamu tidak akan pernah mendapatkan manfaat dari percobaan tersebut, dan tidak akan pernah dapat belajar bahwa betapa salahnya/keliru kamu. TANGGAPAN PENULIS Permasalahan teori metode ilmiah mendapatkan perhatian dari Popper sebagai tanggapan atas teori induksi. Teori induksi lebih menekankan pengumpulan faktafakta yang digunakan untuk membentuk sebuah kebenaran ilmiah yang dapat di akui secara umum. Namun, berbeda halnya dengan tanggapan Popper bahwa ia harus terlebih dahulu diuji ketahannya dengan serangakaian ujian keilmiahan. Ujian yang diajukan Popper bertujuan untuk meningkatan kwalitas dari suatu teori metode ilmu pengetahuan. Keberhasilan teori setelah melewati ujian diatas tadi akan menjadikan teori tersebut layak diakui sebagai kebenaran umum. Teori yang telah teruji akan menjadi pondasi dasar bagi para ilmuwan dan peneliti untuk mengadakan riset dan penelitian ilmiah mereka. Penemuan ilmiah yang logis harus dapat diuji dengan menggunakn teori metode ilmiah yang murni. Diawali dengan memilih metode yang cocok untuk mengadakan riset dan penelitian ilmiah.Kemudian dilanjutkan dengan penentuan tujuan akhir yang ingin dicapai dari riset dan penelitian tersebut. Sudah menjadi sebuah keharusan dalam penelitian dan riset adanya pembuktian faktafakta yang dapat menjadi dan menigkatan kwalitas hasil penelitian tersebut. Tidak hanya harus terjebak dalam metode-metode penelitian yang harus dipilih terlalu lama. Yang hanya akan memperlambat suatu proses peneltian. Diharapakan dengan adanya ketelitian metode dapat menghasilkan penemuan ilmiah yang berharga. Dan dapat memudahkan peneliti dalam bekerja. Posted byOki sUkirmAN at 9:41 AM 0 comments: Post a Comment Links to this post Create a Link Newer Post Older Post Home Subscribe to: Post Comments (Atom) Blog Archive ▼ 2008 (7) ▼ October (2) Sisi Lain Potret Jatinangor: "െപോനോോറനോന് ഡി രുമത് ... Mahasiswa dan Sumpah Pemuda.

► May (3) ► January (2) ► 2007 (41) ► 2006 (10) My Link Jurnalistik nu aing My Blog List detiknews - detiknews Tabung Kompor Gas 3 Kg Bikin Dag Dig Dug 34 minutes ago ShoutMix chat widget 252 KARL RAIMUND POPPER DAN AUGUSTE COMTE (Suatu Tinjauan Tematik Problem Epistemologi dan Metodologi) Ichwan Supandi Azis Abstract: Epistemological and methodological basic of science are very important to reduce the negative aspects of scientific development. This paper was written with major theme both Auguste Comte verifiable and Karl Raimund Popper falsifiable methodes. they introduced the important epistemology and methodology which should be applicated to the scientific progress in order to make better result. Kata Kunci: Ambivalen, epistemologi, metodologi, metode verifiable, metode falcifiable. Di tengah-tengah maraknya kemajuan technoscience yang sangat spektakuler serta dampaknya yang ambivalen, masalah landasan epistemologis dan metodologis mempunyai arti dan kedudukan yang sentral dan strategis. Auguste Comte dan Karl Raimund Popper adalah dua sosok filsuf besar dan berpengaruh serta secara kualitatif berbeda dan kontroversial. Auguste Comte hidup di abad ke-19 mengalami secara langsung revolusi Perancis dengan segala akibatnya. Positivisme merupakan aliran produk pemikirannya yang kemudian di abad ke-20 ini dikembangluaskan oleh filsuf kelompok Wina dengan alirannya Neo-Positivisme (Positivisme-Logis). Popper adalah sosok filsuf kontemporer yang pola pemikirannya sangat diwarnai dan dipengaruhi oleh konstelasi zamannya. Falsifikasionisme merupakan aliran ynng dilahirkannya sebagai jawaban terhadap problem-problem epistemologi, filsafat,ilmu, sosial, politik, sejarah, dan metodologi. Popper mempunyai peimikiran yang sangat luas, orisinal, aktual,dan kontroversial (Kuper, 1987: 91). Problem utama Comte dan Popper berkenaan dengan masalah demarkasi untuk membedakan antara ilmu dengan yang bukan ilmu (pseudo-science). Bagi Comte, garis demarkasi tersebut adalah verifiable, sedangkan bagi Popper adalah falcifiable (Flew, 1985: 281). Kemajuan technoscience dewasa ini bersifat mendasar, menyeluruh, dan cepat dengan dampaknya yang bersifat ambivalen, ternyata di dalamnya telah meredam problem epistemologi dan metodologi yang sangat mendasar. Membahas pemikiran Comte dan Popper secara komparatif sama artinya dengan menguak sisi-sisi kelemahan dan kekuatan landasan epistemologis dan metodologis technoscience dewasa ini.

MASALAH EPISTEMOLOGI DAN METODOLOGI
Ichwan Supandi Aziaadalah dosen Universitas Negeri Jember, alumni Pascasarjana Filsafat UGM Ichwan S Azis, Karl Raimund Popper dan Comte

253 Tulisan ini bersifat tematik, artinya memusatkan perhatian kepada tematema atau tokoh-tokoh yang mewakilinya dalam bentuk pumikiran untuk kemudian dianalisis dan dikomparasikan dalam rangka mengungkapkan buah pikiran yang terkandung dalam tema-tema tersebut. Kebenaran merupakan kata kunci yang di dalamnya terkandung intensitas pengetahuan manusia, sedangkan kata metode menunjuk kepada suatu cara untuk memperoleh pengetahuan. Adapun masalah evidensi dan kepastian pengetahuan, banyak tergantung kepada sejauhmana intensitas hubungan antara subjek dengan objek untuk memperoleh kebenaran yang diinginkan. Oleh sebab itu, masalah perolehan pengetahuan menjadi aspek yang sangat mendasar dan aktua1. sepanjang sejarah permikiran kefilsafatan dan dunia keilimuan sampai sekarang. Sejarah telah melukiskan bahwa masalah perolehan pengetahuan menjadi problem aktual yang melahirkan aliran Rasionalisme dan Empirisme yang pada gilirannya telah melahirkan aliran Kritisisme sebagai alternatif dan solusi terhadap pertikaian dua aliran besar tersebut. Positivme dan Neo-positivisme merupakan representasi jawaban berikutnya terhadap problem-problen mendasar tersebut. Propper tampil diantara pertikaian besar tersebut dengan alirannya Falsifikasionisme yang bertumpu di atas landasan epistemologis Rasionalismekritis dan Empirisme-kritis. Menyimak isi pemikirannya, Popper memang pantas untuk disejajarkan dengan Rene Descartes (Rasionalisme), David Hume (Empirisme), Immanuel Kant (Kritisisme), dan Au'guste Comte (Positivisms) (Dister, 1992: 56). Kedekatan hubungan antara epistemologi dengan metodologi tampak bila dikaitkan dengan pandangan Protagoras (kaum Sophis) yang menyatakan bahwa "man is the measure of all things" (di dalam segala hal manusia adalah menjadi tolok ukur) (Hamlyn, DW. , 1967: 8). Epistemologi yang oleh Popper dianggap sebagai teori ilmu pengetahuan dan metodologi secara kualitatif akan menentukan proses dan produk ilmiah. Konflik metodologi akan tampak bila dikaitkan dengan jenis ilmu yakni natural-sciences (ilmu-ilmu pengetahuan alam), social-science (ilmu-ilmu sosial/humaniora), dan cultural-sciences (ilmu-ilmu budaya). Persoalannya adalah apakah ilmu-ilmu sosial dan budaya dapat menggunakan metode-metode yang dipakai oleh ilmu-ilmu pengetahuan alam? Apabila dikaji secara mendalam, maka secara kualitatif-metodologis, setiap pangetahuan ilmiah senantiasa bergerak antara sifat-sifat "subjectif-kualitatif", "induktif-deduktif" dan "kuantitatif-kualitatif". Kecenderungan sikap absolutisme-deterministik terhadap metode, selalu menjadi sumber pertikaian metodologis (methoderstrijd) dengan bersitegang mempertahankan dan memperebutkan epistemologi masing-masing. Sebenarnya sikap yang demikian itu tidak perlu, karena masing-masing mempunyai keunggulan dan kekurangan sehingga yang diperlukan adalah pengakuan adanya sifat komplementer dan menghindarkan sikap eksklusif (Pranarka, 1985: 11). Berdasarkan atas seluruh uraian tersebut, maka muncul sebagai berikut: Bagaimana pemikiran Popper mengenai masalah-masalah pokok epistemologi dan metodologi falsifikasionisme? Bagaimana pandangan Comte mengenai masalah-masalah pokok epistemologi dan metodologi melalui Positivisme? Di

mana perbedaan mendasar dan titik temu antara pemikiran Popper dan Comte
Jurnal Filsafat, Desember 2003, Jilid 35, Nomor 3

254 mengenai masalah-masalah epistemologi dan metodologi dikaitkan dengan masalah sosialitas dan historifiitas manusia ?. LATAR BELAKANG PEMIKIRAN KARL RAIMUND POPPER DAN AUGUSTE COMTE Untuk membahas dan mengkomparasikan pemikiran dua tokoh yang berpengaruh ini, diperlukan beberapa aspek yang nantinya dapat dijadikan titik pijak pembahasan untuk sampai kepada uraian yang sinkat dan jelas. Titik tinjau tersebut adalah latar belakang yang membentuk pemikifan kedua tokoh tersebut, dasar pemikiran, masalah-masalah pokok epistemologi, masalah-masalah metodologi technoscience (iptek), masalah sosialitas dan historisitas manusia. Comte dan Popper adalah dua filsuf yang hidup di abad yang berbeda dengan latar belakang konstelasi zamannya masing-raasing. Sebagai pemikir luas dan berpengaruh luas buah pikirannya, dua tokoh ini dihadapkan kepada persoalan-persoalan kefilsafatan dan keilmuan para filsuf sebelumnya dan sezamannya. Maka alternatif dan solusi yang telah diberikan terhadap persoalan persoalan tersebut sangat berpengartuh terhadap pemikir-pemikir sezamannya dan sesudahnya. Auguste adalah filsuf dan warga negara Perancis yang hidup di abad ke-19 setelah revolusi Perancis yang terkenal itu. Ia menerima dan mengalami secara langsung akibat-akibat negatif secara langsung revolusi tersebut khususnya dibidang "sosial, ekonomi, politk, dan pendidikan. Pengalaman pahit yang dilalui dan dialaminya secara langsung bersama bangsanya itu, memotivaisi dirinya untuk memberikan alternatif dan solusi ilmiah-filosofis. (epistemologis) dan metodologis sebagaimana buah pikirannya itu tercermin di dalam aliran Positivisme. Aliran ini menjadi berkembang dengan subur didukung oleh para elit-ilmiah dan maraknya era industrialisasi saat itu. Berbeda dengan Karl Ralgiund Popper yang hidup di-abad ke-2O (kontemporer), yaitu suatu abad yang diawali oleh konflik sosial secara terbuka yang sifatnya multi nasionial dengan adanya perang dunia I dan II, sebagai akibat pertentangan totaliterisme dan demokrasi. Popper telah mewarisi problenproblem filosofis yang telah diwariskan oleh paira filsuf pendahulunya dan terakumulasi dalam pemikiran filsafat dewasa ini (kontemporer) dengan sifatnya yang pluralistik dan sedang berrkembang. Pada saat yang sama Popper juga mengalami langsung kemajuan technoscience (iptek) yang sangat spektakuler dengan segala implikasinya yang bersifat, ambivalen. Dipandang dari sudut pendidikan. Popper lebih beruntung dibandingkan Comte, karena ia dapat mencapai jenjang tertinggi yakni Doktor di bidang filsafat, serta sempat menjabat sebagai guru besar filsafat dan metodologi di lingkungan yang lebih luas yaitu di Austria, Inggris, America Serikat, Australia, dan New Zealand. Anehnya kedua filsuf besar dan berpengaruh ini mempunyai kesukaan ilmu yang sama yakni matematika dan fisika teoritis, hanya saja Popper lebih menguasai secara mendalam ilmu pengetahuan alam modern.
Ichwan S Azis, Karl Raimund Popper dan Comte

255 FALSIFIKASIONISME DAN POSITIVISME Dasar pemikiram Comte diperoleh secara inspiratif dari Saint Simon,

Charles Lyell, dan Charles Darwin. Selain dari itu, pemikiran Herbert Spencer mengenai hukum perkembangan juga mempengaruhi pemikirannya. Kata rasional bagi Comte terkait dengan masalah yang bersifat empirik dan positif yakni pengetahuan riil yang diperoleh melalui observasi (pengalaman indrawi), eksperimentasi, komparasi, dan generalisasi-induktif diperoleh hukum yang sifatnya umum sampai kepada suatu teori. Karena itulah maka bagi positiviseme, tuntutan utama adalah pengetahuan faktual yang dialami oleh subjek, sehingga kata rasional bagi Comte menunjuk peran utama dan penting rasio untuk mengolah fakta menjadi pengalaman. Berdasarkan atas pemikiran yang demikian itu, maka sebagai konsekuensinya metode yang dipakai adalah "Induktif-verifikatif". Popper mempunyai pandangan yang berbeda dengan Comte mengenai kata rasional ini. Bagi Popper, kata rasional identik dengan kata intelektual yang ada kaitannya dengan laku observapi, eksperimentasi, dan komparasi dalam langkah-lanpkah ilmiah, namun meletakkan kata ini dalam arti mengagungkan akal di atas pengamatan dan percobaan sehingga pengertiannya menjadi meletakkan tidak bertentangan dengan irrasionalisme, melainkan dipertentangkan dengan empirisme. Karena itu dalam arti luas, Rasionalisme dimaksudkan mencakup di dalamnya intelektualisme dan Empirisme, dengan catatan Empirisme di sini bukan untuk meeneguhkan suatu teori, melainkan dalam rangka mengadakan refutasi atau falsifikasi pada suatu teori.Pemikiran Popper mendasarkan diri pada Rasionalisme kritis dan Empirisme-kritis yang dalam bentuk metodologinya disebut "Deduktif-Falsifikatif" dengan realisasimetodologinya Tentang Problem-Solving. Metode yang demikian itu mengisyaratkan perhatian Popper akan pentingnya problem sebagai esensisubstansial pengetahuan manusia, karena menurut pemikirannya, ilmu dimulai oleh problem dan diakhiri pula dengan problem. Keberadaan(existence) sebagai masalah sentral bagi perolehan pengetahuan, mendapat bentuk khusus bagi Positivisme yakni sebagai suatu yang jelas dan pasti sesuai dengan makna yang terkandung di dalam kata "positif". Kata nyata (riil) dalam kaitannya dengan positif bagi suatu objek pengetahuan, menunjuk kepada hal yang dapat dijangkau atau tidak dapat dijangkau oleh akal. Adapun yang dapat dijangkau oleh akal dapat dijadikan sebagai objek ilmiah, sedangkan sebaliknya yang tidak dapat dijangkau oleh akal, maka tidak dapat dijadikan sebagai objek ilmiah. Kebenaran bagi Positivisme selalu bersifat riil dan pragmatik artinya nyata dan dikaitkan dengan kemanfaatan nantinya berujung kepada penataan atau penertiban (Koento Wibisono, 1996; 38). Selanjutnya Comte beranggapan bahwa pengetahuan yang demikian itu tidak bersumber dari otoritas misalnya bersumber dari kitab suci, atau penalaran metafisik (sumber tidak langsung), melainkan bersumber dari pengetahuan langsung terhadap suatu objek secara indrawi. Menurut pemikiran Popper, kebenaran sebagai masalah pokok pengetahuan manusia adalah bukan milik manusia karena itu kewajiban manusia adalah
Jurnal Filsafat, Desember 2003, Jilid 35, Nomor 3

256 mendekatinya dengan cara tertentu. Kata cara tertentu menunjuk kepada ajaran Popper mengenai kebenaran dan sumber diperolehnya. Bagi Popper, ini merupakan tangkapan manusia terhadap objek melalui rasio dan pengalamannya, namun selalu bersifat tentatif. Artinya kebenaran selalu bersifat sementara yakni

harus dihadapkan kepada suatu pengujian yang ketat dan gawat (crucial-test) dengan cara pengujian "trial and error" (proses penyisihan terhadap kesalahan atau kekeliruan) sehingga kebenaran se1alu dibuktikan melalui jalur konjektur dan refutasi dengan tetap konsisten berdiri di atas landasan pemikiran Rasionalisme-kritis dan Empirisme-kritis. Pandangan Popper mengenai kebenaran yang demikian itu bukan berarti mengisyaratkan bahwa dirinya tergolong penganut Relativisme, karena menurut pemikirannya Relativisme sama sekali tidak mengakui kebenaran sebagai milik dan tangkapan manusia terhadap suatu objek. Popper mengakui bahwa manusia mampu menangkap dan menyimpan kebenaran sebagaimana yang diinginkannya serta menggunakannya, namun bagi manusia, kebenairan selalu bersifat sementara karena harus selalu terbuka untuk dihadapkan dengan pengujian. Ada sesuatu yang ada dalam pemikiran Popper, dimana pada saat para filsuf dan ilmuwan kontemporer beramai-ramai mencampakkan metafisika, justru ia mengakui kebenaran metafisik, dan dikatakannya bahwa kalimat ungkapanungkapan metafisik mengandung makna (meaningful). Pernyataan tersebut diungkapkan dengan menunjukkan bukti-bukti sejarah bahwa metafisika mampu memandu dan memberi aspirasi ke dunia kefilsafatan dan keilmuan selama berabad-abad. Positivisme Comte dan Neo-Positivisme tetap bersitegang mempertahankan pandangannya bahwa metafisika sebagai omong kosong (non sense) karena kalimat-kalimat atau ungkapan-ungkapan yang dikemukakanya tidak faktual dan tidak dapat diterima oleh akal, dan karena itu maka tidak bermakna (meaningless). Metafisika di dalam hukum tiga tahap Comte menempati tahap kedua untuk sampai kepada tahap positif, maka bagi Comte untuk mengklarifikasi suatu pernyataan itu bermakna atau tidak (meaningful dan meaningless), ia melakukan verifikasi untuk sampai kepada kebenaran yang dimaksud (Bertens, K. , 1981: 171). Berbeda dengan pandangan tersebut, Popper berpendapat bahwa yang menentukan kebenaran itu bukan perlakuan verifikasi melainkan melalui proses falsifikasi dimana data-data yang telah diobservasi, dieksperimentasi, dikomparasi dan di generalisasi-induktif berhenti sampai di situ karena telah dianggap benar dan baku (positif), melainkan harus dihadapkan dengan pengujian baru. Pendapat Popper yang demikian itu karena ia bertumpu di atas anggapan dasarnya bahwa suatu teori, hukum ilmiah atau hipotesis tidak dapat diteguhkan (diverifikasikan) secara positif, melainkan dapat disangkal (difalsifikasikan) (Alfons Taryadi, 1989: 27). Pandangan tersebut mengisyaratkan demikian besar dan mendasar perbedaan pemikiran Comte dengan Popper (Positivisme dan Falsifikasionisme) yang pada gilirannya mennyentuh persoalan pokok dunia keilmuan yakni demarkasi antara yang ilmiah dan tidak ilmiah (pseudo-science). Bagi Comte, garis demarkasi tersebut adalah veriviable, sedangkan bagi Popper adalnh falsifiable, dan sebagai konsekwensinya Comte menggunakan metode
Ichwan S Azis, Karl Raimund Popper dan Comte

257 ilmiah Induktif-Verivikatif, sedangkan Popper menggunakan motode ilmiah Deduktif Falsifikatif. Sebagai konsekwensi lanjut Comte menggunakan pola operasional metodologisnya dalam bentuk observasi, eksperimentasi, komparasi, dan generalisasi-induktif, sedangkan Popper menggunakan tentatif ProblemSolving dengan rumusan simboliknya P1 (Problem 1, TS (Tentatif-Solution), EE (Error-Elimination), dan P2 (Problem 2), yakni langkah-langkah perumusan

problem, sebagai penolakan teori lama, usul penyelesaian, perumusan hukum, usaha refutasi, sampai kepada hipotesis, teori, hukum ilmiah (walaupun masih selalu bersifat tentatif), dan ujung muaranya timbul problem baru. Oleh karena landasan epistemologis dan metodologisnya berbeda, maka pandangan kedua tokoh besar inipun berbeda mengenai sosialitas, historisitas dan aplikasi-metodologisnya. Comte berpendapat bahwa perkembangan dan kemajuan besifat "naturalistik-linier-eksklusif" artinya semuanya berjalan secara alami, bergerak ke depan (sebagaimana spiral), dan sifatnya tertutup. Pandangan yang demikian merupakan representasi dari hukum tiga tahap yang dikemukakannya (tahap theologis, metafisis, dan positif). Sedangkan menurut Popper, perkembangan dan kemajuan itu selalu bersifat "artificial-linier-inklusif" artinya semuanya berjalan sesuai dengan alur pemikiran yang bersifat logis-kritis (peran aktif subjek) tetapi selalu bersifat terbuka (kritis). Berpijak di atas perbedaan pemikiran yang demikian itu, sebenarnya telah tercermin satu pemikiran kefilsafatan yang juga berbeda secara mendasar yaitu Comte (Positivisme) bertumpu di atas aliran Determinisme, sedangkan Popper (Falsifikasionisme) berpijak di atas aliran Indeterminisme. Secara panjang lebar dan sangat mengagumkan, Popper menjelaskan semuanya itu dalam tulisannya "Open Society and Its Enemies" Volume I dan II dan "The Poverty of Historicism" merupakan karya monumentalnya Berdasarkan atas pandangan Comte yang "Naturalistik Deterministik itu, dalam hal historisitas manusia ia juga beranggapan bahwa sejarah berjalan secara "linier-eksklusif" artinya seluruh benda alam ini berjalan menurut hukum atom (law of nature)sebagaimana bentuk spiral dan tertutup sehingga dapat dipantau secara kuantitatif, sehingga jalan pikiran, sikap, dan pengalaman manusia berjalan secara "natural-deterministik". Menurut pandangan Popper, pemikiran yang demikian itu dapat digolongkan ke dalam penganut Historisisme dengan pelopornya Plato, GWF Hegel, Karl Marx. Yang dimaksud dengan Historisisme di sini adalah suatu aliran yang beranggapan bahwa ilmu-ilmu sosial bertujuan untuk meramalkan perkembangan sejarah dengan cara menemukan rithme, pola, hukum, atau trend yang menentukan jalannya sejarah (Popper, 1985: 3). Historisisme tampaknya berupaya untuk menerapkan metode ilmu pengetahuan alam ke dalam ilmu-ilmu sosial dan sejarah. Metode ini memberikan penjelasan (erklaren) dengan mengandalkan observasi-empirik dilanjutkan dengan berbagai macam eksperimentasi, komparasi, dan generalisasi-induktif dengan menggabungkan berbagai hukum-alam nantinya sampai kepada hukumhukum ilmiah (scientific laws, natural law).
Jurnal Filsafat, Desember 2003, Jilid 35, Nomor 3

258 Menurut pendapat Popper, upaya Historisisme untuk menerapkan metodemotode ilmu-ilmu pengetahuan alam ke dalam ilmu-ilmu sosial dan sejarah pasti mengalami kegagalan karena akan mengalami kesulitan-kesulitan dalam melakukan generalisasi, eksperimentasi berkenaan dengan kompleksitas fenomena-fenomena sosial dan sejarah yang hukum kausalitasnya berbeda dengan kausalitas fisika dan matematika. Perkembangan dan kemajuan dalam kaitannya dengan sosialitas dan historisitas manusia ditentukan oleh perbuatanperbuatan manusia sendiri yang bebas namun diwarnai dan dipengarui oleh sosiopsikologis

dan sosio-cultural yang melatarbelakanginya. Mengingat kompleksitas permasalahan sosialitas dan historisitas manusia yang demikian itu, maka orang kesulitan melakukan diagnosis untuk melakukan prediksi yang tepat (pas). Hal-hal seperti itu menyangkut masalah esensialisme-metodologis (Popper, 1985: 6). Perbedaan yang sangat prisipiil antara metode ilmu-ilmu pengetahuan alam dengan ilmu-ilmu humaniora terletak pada persoalan objek forma (point of view/sudut pandang) dalam kaitannya dengan hubungan sebab akibat, dan persoalan penjelasan (eksplanasi). Ilmu-ilmu pengetahuan alam membutuhkan penjelasan (erklaren), sedangkan ilmu-ilmu pengetahuan sosial/budaya (humaniora) menggunakan penghayatan/keterlibatan (verstehen) atau hermeneutik (interpretasi). Popper menekankan sifat indeterminitas manusia bahwa historisitas manusia tidak semata-mata ditentukan oloh hukum alam (law of nature), melainkan juga dipengaruhi oleh perkembangan pikiran manusia sendiri. Sifat manusia yang rasional, kritis dan terbuka inilah maka sifat historisitas manusia menjadi "linier-inklusif" sebagai perwujudan sifat manusia ynng indeterministik. Kesulitan besar yang terjadi apabila sosialitas dan historisitas manusia secara metodologis dilakukan generalisasi-induktif untuk memperoleh hukum manusia yang bersifat universal di dasarkan atas uniformity of nature (kesatuan hukum alam). Kesulitan tersebut terkait dengan masalah waktu, tempat, sejarah, dan latar belakang kultur. Menurut Comte, yang diperlukan adalah hukum yang dapat menghubungkan zaman-zaman. zaman yang munculnya berurutan, dan inilah yang dimaksud oleh Historisisme adanya hukum yang identik antara sosiologi dan sejarah sebagaimana tesis yang dikemukakannya bahwa ilmu-ilmu sosial tak daripada ilmu tentang sejarah (dalam arti sejarah teoriritis). Dengan demikian, maka tugas pokok para sosiolog menurut faham ini adalah memperoleh pengertian umum tentang tendensi-tendensi besar yang mempengaruhi perubahan-perubahan sosial. Pada saat Comte mebicarakan fisika-sosial dan perkembangannya, dengan itu ia membagi sosialitas manusia menjadi dua bagian besar yaitu statika-sosial dan dinamika sosial yang diambil dari teorinya tentang "Geometrical Fenomena of the Heavenly Bondles", mendapat kecaman yang sangat keras dari Popper. Dikatakannya bahwa pembagian yang didasarkan atas pembagian dalam ilmu alam yang diterapkan dalam ilmu-ilmn sosial (sejarah), merupakan pembagian atas dasar pengertian yang salah (Koento Wibisono, 1996: 51).
Ichwan S Azis, Karl Raimund Popper dan Comte

259 Berdasarkan atas seluruh pembahasan penikiran Popper dan Comte (Falsifikasionisme dan Positivisme), maka dapatlah diungkapkan tentang adanya perbedaan-perbedaan pandangan kedua filsuf besar tersebut disamping telah ditemukan kesamaan-kesamaannya. Perbedaan yang sangat umum dan mendasar pemikiran Comte dan Popper adalah sebagaimana yang telah dikemukakan oleh Kuper (1987 : 92) bahwa di saat dunia kefilsafatan dan keilmuan dikuasai oleh positivisme yang serba induktivis, positivis, subjektivis, dan instrumentalis. Popper berpikir sebaliknya yakni deduktivis, anti-positivis objektivis dan anti-instrumentalis. Kedua filsuf ini mempunyai cita-cita yang sama dalam hal kebenaran, perkembangan, dan kemajuan dalam dunia kefilsafatan dan keilmuan.

EVALUASI KRITIS Beberapa hal yang menunjukkan kekuatan dan kelemahan pemikiran kedua filsuf besar dan ternama ini antara lain dari sudut latar belakag filsafat dimana zaman mereka hidup yakni akibat negatif revolusi Perancis dan akibat perang Dunia I dan TI menumbuhkan pemikiran mereka yang orisinal dan aktual sekaligus petunjuk kekuatan berpikir mereka. Sedangkan kelemahannya terletak pada tradisi berpikir filosof dimana setiap alternatif dan solusi yang timbul dari setiap problem selalu menimbulkan problem baru. Maka Falsifikasionalisme dan Positivisme merupakan karya berpikir monumental, orisinal, dan aktual kedua filsuf tersebut. Kemampuan Popper memunculkan problem dan kebenaran tentatif sebagai esensi-substansial dalam dunia kefilsafatan dan keilmuan menunjukkan kekuatan berpikirnya sekaligus kelemahannya yakni membuat Popper terjebak dalam dunia Relativisme. Sebaliknya Comte yang selalu mendasarkan dirinya di atas pemikiran Empiristik-Positivistik membuat dirinya berpengaruh kuat dalam dunia epistemologi dan metodologi sesuai dengan sifat alami manusia yang selalu cenderung realistik, praktis, dan pragmatis, menunjuk kepada kekuatan berpikirnya. Sedangkan kelemahannya terletak pada kelemahan-kelemahan dalam penggunaan metode Induktif-Verifikatif dalam hal kualitas kebenaran yang sifatnya probabilistik-generalistik. Selain dari itu, Pemikiran Popper yang bertumpu di atas Rasionalisme-kritis dan Empirisme-kritis dengan metodenya Falsifikasionisme menunjukkan kekuatan dan orisinalitas berpikirnya, namun membawa kepada kelemahannya yakni lebih banyak berputar-putar dalam analisis teoritis, dan cenderung meremehkan program-penelitian induktif yang nota bene juga mengungkapkan kebenaran faktual. KESIMPULAN Berdasarkan atas seluruh uraian mengenai pemikiran Popper dan Auguste Comte, maka kesimpulan yang dapat diperoleh adalah sebagai berikut: 1. Pemikiran Popper bertumpu di atas landasan epistemologi Rasionalisme-kritis dan Empirisme-kritis dengan metodologi Deduktif-falsifikatif serta operasionalisasi metodologisnya Tentative Problem-Solving yang diisyaratkan
Jurnal Filsafat, Desember 2003, Jilid 35, Nomor 3

260 dengan rumus simboliknya PI, TS, EE, dan P2 (Problem 1, Tentatif-Solution, Error-Elimination, dan Problem 2). Tentatif Problem Solving mempunyai sifat objektif, rasional, realistis, kritis, evolusioner, pluralistis, dan imajinatif. Adapun pandangan Popper mengenai perkembangan, kemajuan, sosialitas, dan historisitas manusia, bersifat "Artifisial (logis)-Linier-Inklusif (Indeterministik)". 2. Comte mendasarkan pemikiran epistemologisnya kepada EmpirismePositivistik dengan metodologinya Induktif-Verifikatif serta andalan operasional-metodologisnya observasi, eksperimentasi, komparasi, dan generalisasi-induktif sehigga kebenaran yang diperolehnya bersifat generalisasi-probabilistik dan positifistik. Sedangkan pandangan mongenai perkembangan, kemajuan, sosialitas, dan historisitas manusia bersifat "Natural-Linier-eksklusif (deterministik)". 3. Perbedaan yang sangat mendasar antara pemikiran Popper dengan Comte selain landasan epistemologinya, juga metodologinya. Di saat para filsuf dan ilmuwan dikuasai oleh pemikiran Comte (Positivisme/Neo-Positivisme) yang

induktivis, subjektivis, positivis, dan instrumentalis, maka pemikiran Popper bersifat kontroversial yakni deduktivis, objektivis (realis), anti-positivis, dan anti-instrumentalis. Permikiran Popper mengenai perkembangan, kemajuan, sosialitas, dan historisitas manusia bersifat "Artifisial (logis)-Linier-inklusif (indeterministis)", sedangkan Comte pandangannya bersifat "Natural-Liniereksklusif (deterministik)". Adapun kesamaan (titik temu) pandangan kedua filsuf ini bahwa keduanya sama-sama mendambakan kebenaran sebagai tujuan pertama dan utama pengetahuan manusia. Selain dari itu, keduanya sama-sama mendambakan perkembangan dan kemajuan demi ilmu, kesejahteraan dan kemakmuran umat manusia. DAFTAR PUSTAKA Alfons Taryadi, 1989, Epistemologi Pemecahan Masalah, PT Gramedia, Jakarta. Bertens, K. , 1981, Filsafat Barat Dalam Abad XX, Jilid I, PT Gramedia, Jakarta. Dister, Nico Syukur, 1992, Descartes. Hume, dan Kant, Tiga Tonggak Filsafat Modern dalam Para Filsuf Penentu Zaman, Muji Sutrisno, FX Budi Hardiman F, (Editor), Kanisius, Yogyakarta. Flew, Anthony, 1983, Dictionary of Philosophy, The Macmilan Press, New York. Hamlyn, DW., 1967, Epistemology, History of, dalam Encyclopedia of Philosophy, Vol. 3, (Editor: Paul Edward ), The Macmillan Company & The Free Press, New York, Collier Macmillan Ltd. London (hal. 8-38). Koento Wibisono, 1996, Arti Perkembangan menurut Positivisme Comte, Gadjah Mada University Press, Cetakan ke-2, Yogyakarta. Kuper, Jessica. , 1987, Methode, Ethics and Models, Roudledge & Kegan Paul Ltd. London. Popper, Karl R. , 1985, Gagalnya Historisme. Terjemahan Nana Suprapto (judul asli The Poverty of Historicism), PT Temprint, Jakarta.
Ichwan S Azis, Karl Raimund Popper dan Comte

261 Popper, Karl R., 1974, Conjectures and Refutation, Harper & Row, New York, London, Fifth Edition. Popper, Karl R., 1966, The Open Society and Its Enemies, Vol. I & II, Roudledge & Kegan Paul Ltd. London, Fifth Edition. Pranarka, AMW, 1985, Sejarah Pemikiran tentang Pancasila, Centre for Strategic and International Study, Jakarta. und Popper 31 Mar 2008 Filed under: Epistemology, Philosophers Author: Arif Ketika Ia Hidup Karl Raimund Popper lahir di Wina tanggal 28 Juli 1902. Ayahnya Dr. Simon Siegmund Carl Popper adalah seorang pengacara yang sangat berminat pada filsafat. Maka tidak mengherankan bila ia begitu tertarik dengan dunia filsafat, karena ayahnya telah mengkoleksi buku-buku karya filusuf-filusuf ternama.

Pada usia 16 tahun ia keluar dari sekolahnya, Realgymnasium, dengan alasan Ia bosan dengan pelajaran disana maka ia menjadi pendengar bebas di Universitas Wina dan baru pada tahun 1922 ia diterima sebagai mahasiswa disama. Setelah perang dunia I dimana begitu banyak penindasan dan pembunuhan maka Popper terdorong untuk menulis sebuah karangan tentang kebebasan. Dan diusia 17 tahun ia menjadi anti Marxis karena kekecewaannya pada pendapat yang menghalalkan “segala cara” dalam melakukan revolusi termasuk pengorbanan jiwa. Dimana pada saat itu terjadi pembantaian pemuda yang beraliran sosialis dan komunis dan banyak dari teman-temannya yang terbunuh. Dan sejak saat itu ia menarik suatu kebijaksanaan yang diungkapkan oleh Socrates yaitu “Saya tahu bahwa saya tidak tahu”, dan dari sini ia menyadari dengan sungguh-sungguh perbedaan antara pemikiran dogmatis dan kritis. Salah satu peristiwa yang mempengaruhi perkembangan intelektual Popper dalam filsafatnya adalah dengan tumbangnya teaori Newton dengan munculnya Teori tentang gaya berat dan kosmologi baru yang gikemukakan oleh Einstein. Dimana Popper terkesan dengan ungkapan Einstein yang mengatakan bahwa teorinya tak dapat dipertahankan kalau gagal dalm tes tertentu, dan ini sangat berlainan sekali dengan sikap kaum Marxis yang dogmatis dan selalu mencari verifikasi terhadap teori-teori kesayangannya. Dari peristiwa ini Popper menyimpulkan bahwa sikap ilmiah adalah sikap kritis yang tidak mencari pembenaran-pembenaran melainkan tes yang crucial berupa pengujian yang dapat menyangkal teori yang diujinya, meskipun tak pernah dapat meneguhkannya. Tokoh lain yang cukup berpengaruh pada Popper yang berkaitan dengan perkembangan pemikiran filsafatnya adalah Karl Buhler, seorang profesor psikologi di Universitas Wina. Buhler memperkenalkan pada Popper tentang 3 tingkatan fungsi bahasa, yaitu fungsi ekspresif, fungsi stimulatif, dan fungsi deskriptif. Dua fungsi pertama selalu hadir pada bahasa manusia dan binatang sedangkan fungsi ketiga khas pada bahasa manusia dan bahkan tidak selalu hadir. Dan pada perkembangannya Popper menambahkan fungsi keempat yaitu fungsi argumentatif, yang dianggapnya terpenting karena merupakan basis pemikiran kritis. Dalam perkembangan selanjutnya ia banyak menulis buku-buku yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan epistemologi, dan sampai pada bukunya yang berjudul Logik der Forschung, ia mengatakan bahwa pengetahuan tumbuh lewat percobaan dan pembuangan kesalahan. Dan terus berkembang sampai karyanya yang berjudul The Open Society and Its Enemies, dalam karyanya ini Popper mengungkapkan bahwa arti terbaik “akal” dan “masuk akal” adalah keterbukaan terhadap kritik – kesediaan untuk dikritik dan keinginan untuk mengkritik diri sendiri. Dari sini Popper menarik kesimpulan bahwa menghadapkan teori-teori pada faktafakta yang dapat menunjukkan ketidakbenarannya adalan satu-satunya cara yang tepat untuk mengujinya dan juga satu-satunya cara yang menungkinkan ilmu pengetahuan bisa berkembang terus menerus. Dan dengan adanya kemungkinan untuk menguji teori tentang ketidakbenarannya berarti teori itu terbuka untuk di kritik dan ia

memunculkan apa yang dinamakan Rasionalisme kritis. Demikianlah sekelumit kehidupan Karl Raimund Popper yang mengakhiri hidupnya pada tahun 1994. Proses Pengembangan Pengetahuan Ilmiah Popper menekankan bahwa pengalaman merupakan unsur yang paling menentukan dan pengalaman tidak mengenai sesuatu yang berdiri sendiri yang dapat dipakai sebagai tolok ukur atau batu uji mutlak buat pembuktian atau embenaran suatu teori atay pernyataan, melainkan mengenai cara menguji, atau metode penelitian itu sendiri. Jadi Popper mengatakan bahwa pengalaman saman dengan pengujian dan pengujian sama dengan metode penelitian. Popper juga mengungkapkan adanya tahap-tahap pengembangan pengetahuan ilmiah, yaitu tahap 1, Penemuan masalah, ilmu pengetahuan mulai dari satu masalah yang bermula dari suatu penyimpangan, dan penyimpangan ini mengakibatkan orang terpaksa mempertanyakan keabsahan perkiraan itu dan ini merupakan masalah pengetahuan. Tahap 2, Pembuatan Teori, langkah selanjutnya adalah merumuskan suatu Teori sebagai jawabannya yang merupakan hasil daya cipta pikiran manusia dan sifatnya percobaan atau terkaan. Teori sifatnya lebih abstrak dari masalah. Tahap 3, Perumusan ramalan atau hipotesis, Teori selanjutnya digunakan untuk menurunkan ramalan atau hipotesis spesifik secara deduktif dan ini ditujukan kepada kenyataan empiris tertentu. Tahap 4, Pengujuan ramalan atau hipotesis, selanjutnya hipotesis diuji melalui pengamatan dan eksperimen tujuannya adalah mengumpulkan keterangan empiris dan menunjukkan ketidakbenarannya. Tahap 5, Penilaian hasil, tujuan menilai benar tidaknya suatu teori oleh Popper dinamakan pernyataan dasar yang menggambarkan hasil pengujian. Pernyataan dasar ini memainkan peranan khusus yaitu pernyataan yang bertentangan dengan teori, dan ini semacam petunjuk ketidakbenaran potensial dari teori yang ada. Dalam tahap ke 5 ini terdapat dua kemungkinan, pertama, teori ini diterima sehingga tidak berhasil ditunjukkan ketidakbenarannya dan untuk sementara teori ini dapat dikategorikan sebagai pengetahuan ilmiah sampai pada suatus aat dapat dirobohkan dengan menyusun suatu pengujian yang lebih cermat. Kemungkinan kedua, adalah teori ini ditolak sehingga terbukti bahwa ketidakbenarannya dan konsekuensinya muncul masalah baru dan harus segera dibentuk teori baru untuk mengatasinya. Tahap 6, Pembuatan Teori Baru, dengan ditolaknya teori lama maka muncullah masalah baru yang membutuhkan teori baru untuk mengatsinya dan sifat dari teori ini tetap abstrak dan merupakan perkiraan atau dugaan sehingga merupakan suatu percobaan yang harus tetap diuji. Dari penjelasan diatas bahwa untuk mengembangkan pengetahuan ilmiah tentunya manusia tidka akan lepas dari kegiatan percobaan, kesalahan, terkaan dan penolakan yang silih berganti dan menurut Popper teori adalah unsur tetap dalam evolusi manusia dan teori pula adalah unsur rasio dan bagian dari pembawaan manusia. Menurut Popper filsafat ilmu pengetahuan tidak lain merupakan suatu pengujian untuk memberikan alasan atau argumentasi untuk memilih teori satu dan membuang teori yang lain dan bukan mengenai pembenaran suatu teori. Dan apa yang dapat dibuat tidak lain hanya mengadakan pilihan rasional dalam keputusan tentang suatu pernyataan. Filsafat ilmu pengetahuan hanya dapat berbicara tentang pengetahuan dalam arti kata produksi, sedangkan masalah bagaimana pengetahuan itu dihasilkan

atau ditemukan tidak bisa menjadi pokok pembicaraan oleh karena meliputi “intuisi kreatif” yang tidak terbuka untuk ditelaah. Apa yang dimaksud oleh Popper Rasionalisme Kritis adalah memberikan kebebasan pada manusia untuk berfikir penuh kepada manusia. Pikiran manusia merupakan percobaan atau terkaan belaka. Untuk memperbaiki nasibnya manusia dituntut mengembangkan pengetahuan ilmiah dengan cara mengungkapkan kesalahankesalahan yang tersimpan dalam pikirannya sendiri. Teori disatu pihak hanyalah alat untuk mencapai pikiran yang lain dan lebih tepat. Teori pada hakekatnya merupakan jalan menuju fakta-fakta baru. Tugas Ilmuwan menurut Popper adalah membebaskan manusia dari terkaan dan ia dituntut untuk berkarya dan menciptakan fakta baru sehingga dengan cara ini manusia dapat dibebaskan dari cengkraman kesalahan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->