P. 1
Khalifah Bani Abbasiyah

Khalifah Bani Abbasiyah

|Views: 176|Likes:
Published by Iwel Nagan

More info:

Published by: Iwel Nagan on Mar 20, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/14/2015

pdf

text

original

Khilafah Bani Abbasiyyah Bani Abbasiyyah merupakan keturunan dari Abbas bin Abdul-Muththalib (566-652) yang

juga merupakan paman dari Nabi Muhammad, oleh karena itu mereka termasuk ke dalam Bani Hasyim. Sedangkan Bani Umayyah yang merupakan salah satu kabilah dalam Quraisy, bukan termasuk yang seketurunan dengan Nabi. Kekuasaan dinasti Bani Abbas, atau khilafah Abbasiyah. sebagaimana disebutkan melanjutkan kekuasaan dinasti Bani Umayyah. Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al Saffah Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abass. Kekuasaannya berlangsung dalam rentang waktu yang panjang, dari tahun (l32-656 H / 750-1258 M). Selama dynasti ini berkuasa pola pemerintahan yang diterapkan berbeda-beda sesuai dengan perubahan politik, sosial, dan budaya. Berdasarkan perpola perubahan pemerintahan dan politik itu, para sejarawan biasa masa pemerintahan Bani Abbas menjadi lima periode. 1. Periode Pertama (132-232H / 750- 847 M), disebut periode pengaruh Persia pertama. 2. Periode Kedua (232- 334 H / 847-945 M), disebut masa pengaruh Turki Pertama. 3. Periode Ketiga (334- 447 H / 945-l055 M), masa kekuasaan dinasti Buwaih dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah. Periode ini disebut juga masa pengaruh Persia kedua. 4. Periode Keempat (447-590H / 1055-1194 M), masa kekuasaan dinasti Bani Seljuk dalam pemerintahan khilafah Abbasiyah; biasanya disebut juga dengan masa pengaruh Turki kedua. 5. Periode Kelima (590-656 H / 1194-l258 M), masa khalifah bebas dari pengaruh dinasti lain, tetapi kekuasaannya hanya efektif di sekitar kota Bagdad. Pada periode pertama pemerintahan Bani Abbas mencapai masa keemasannya. Secara politis, para khalifah betul-betul tokoh yang kuat dan merupakan pusat kekuasaan politik dan agama sekaligus. Di sisi lain, kemakmuran, masyarakat mencapai tingkat tertinggi. Periode ini juga berhasil menyiapkan landasan bagi perkembangan fi lsafat dan ilmu pengetahuan dalam Islam. Namun, setelah periode ini berakhir, pemerintahan Bani Abbas mulai menurun dalam bidang politik, meskipun filsafat dan ilmu pengetahuan terus berkembang. . Abdullah al Saffah Muhammad al-Abass (750 - 754 M) Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah al Saffah Muhammad ibn Ali ibn Abdullah ibn al-Abass. Muhammad bin Ali, cicit dari Abbas menjalankan kampanye untuk mengembalikan kekuasaan pemerintahan kepada keluarga Bani Hasyim di Parsi pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pada masa pemerintahan Khalifah Marwan II, pertentangan ini semakin memuncak dan akhirnya pada tahun 750, Abu alAbbas al-Saffah menang melawan pasukan Bani Umayyah dan kemudian dilantik sebagai

khalifah.Masa pemerintahan Abu al-Abbas, pendiri dinasti ini,sangat singkat, yaitu dari tahun 750 M sampai 754 M. . Abu Jafar al- Manshur (754-775 M) Inilah pembina sebenarnya dari daulat Abbasiah. Dia dengan keras menghadapi lawanlawannya dari Bani Umayyah, Khawarij, dan juga Syi’ah yang merasa dikucilkan dari kekusaan. Untuk mengamankan kekuasaannya, tokoh-tokoh besar yang mungkin menjadi saingan baginya satu per satu disingkirkannya. Abdullah bin Ali dan Shalih bin Ali, keduanya adalah pamannya sendiri yang ditunjuk sebagai gubernur oleh khalifah sebelumnya di Syria dan Mesir, karena tidak bersedia membaiatnya, dibunuh oleh Abu Muslim al-Khurasani atas perintah Abu Jafar. Abu Muslim sendiri karena dikhawatirkan akan menjadi pesaing baginya, dihukum mati pada tahun 755 M. Pada mulanya ibu kota negara adalah al-Hasyimiyah, dekat Kufah. Namun, untuk lebih memantapkan dan menjaga stabilitas regara yang baru berdiri itu, al-Mansyur memindahkan ibu kota negara ke kota yang baru dibangunnya, Bagdad, dekat bekas ibu kota Persia, Ctesiphon, tahtn 762 M. Dengan demikian, pusat pemerintahan dinasti Bani Abbas berada di tengah-tengah bangsa Fersia. Di ibu kota yang baru ini al-Manshur melakukan konsolidasi dan Penertiban pemerintahannya. Hal ini kelak menyebabkan terjadinya asimilasi antara bangsa Arab dengan bangsabangsa lain yang lebih dahulu mengalami perkembangan dalam bidang ilmu pengetahuan. Pada masa pemerintahan Bani Abbas, bangsa-bangsa non Arab banyak yang masuk Islam. Bangsa-bangsa itu memberi saham tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan dalam Islam. Pengaruh persia sangat kuat di bidang pemerintahan. Di samping itu, bangsa Persia banyak berjasa dalam perkembangan ilmu, filsafat, dan sastra. pengaruh India terlihat dalam bidang kedokteran, ilmu matematika, dan astronomi. Sedangkan pengaruh Yunani masuk melalui terjemahan-terjemahan dalam banyak bidang ilmu, terutama filsafat. Imam-imam mazhab hukum yang empat hidup pada masa pemerintahan Abbasiyah pertama. Imam Abu Hanifah (700-767 M) dalam pendapat-pendapat hukumnya dipengaruhi oleh perkembangan yang terjadi di Kufah. Pada masa khalifah al-Manshur ini Imam Abu Hanifah wafat (150 H / 767 M). Di saat yang sama, Imam Syafi’i lahir. Di kota Madinah, Imam Malik (713-795 M) banyak menggunakan hadis dan tradisi masyarakat Madinah dalam madzabnya. Kelak ke dua mazhab hukum ini ditengahi oleh Imam Syafi’i (767-820 M) dan Imam Ahmad ibn Hanbal (780-855 M). Di samping empat pendiri mazhab besar tersebut, pada masa pemerintahan Bani Abbas banyak mujtahid mutlak lain yang mengeluarkan pendapatnya secara bebas dan

mendirikan mazhabnya pula. Akan tetapi, karena pengikutnya tidak berkembang, pemikiran dan mazhab-madzab itu hilang bersama berlalunya zaman. Mulai muncul pemikiran Mu’tazilah. Tokoh perumusnya, Abu al-Huzail al-Allaf (135235 H /752-849 M), ada di era ini. Al-Manshur mengangkat sejumlah pejabat di lembaga eksekutif dan yudikatif. Di bidang pemerintahan, dia menciptakan tradisi baru mengangkat Wazir (Perdana Menteri) sebagai koordinator departemen. Wazir pertama yang diangkat adalah Khalid bin Barmak, berasal fui Balkh, Persia. Dia juga membentuk lembaga protokol negara, sektretaris negara, dan kepolisian negara di samping membenahi bersenjata. Dia menunjuk Muhammad ibn Abd al-Rahman sebagai hakim pada lembaga kehakiman negara. Jawatan pos yang ada sejak masa dinasti Bani Umayyah di tingkatkan perananya tambahan tugas. Kalau dulu hanya sekedar untuk mengantar surat, pada masa alManshur, jawatan pos ditugaskan untuk impun seluruh informasi di daerah-daerah sehingga ini strasi kenegaraan dapat berjalan lancar. Para direktur jawatan bertugas melaporkan tingkah laku gubernur setempat kepada khalifah. Khalifah al-Manshur berusaha menaklukkan kembali daerah yang sebelumnya membebaskan diri dari pemerintah pusat, memantapkan keamanan di daerah perbatasan. Di antara -usaha tersebut adalah merebut benteng-benteng di Asia, Malatia, wilayah Coppadocia dan Cicil ia pada tahun 756-758. Ke utara bala tentaranya melintasi pegunungan Taurus dan ati selat Bospoms. Di pihak lain, dia berdamai dengan Constantine V dan selama genjatan senjata 758-765 M, ium membayar upeti tahunan. Bala tentaranya juga berdengan pasukan Turki Khazar di Kaukasus, Daylami di laut Kaspia,Turkidi bagian lain Oksus dan India. Pada masa al-Mansur pengertian khalifah kembali berubah. Dia berkata, “lnnamd ana Sulthan Allah fi ardhlhl (sesungguhnya saya adalah kekuasaan Tuhan di bumi-Nya)”. Dengan demikian, konsep khilafah dalam pandangannya dan berlanjut ke generasi sesudahnya merupakan mandat dari Allah, bukan dari manusia, bukan pula sekedar pelanjut Nabi sebagaimana pada masa al- K hulafi’ al - Rasyadun. Di samping itu, berbeda dari daulat Umayyah, khalifah-khalifah Abbasiyah memakai “gelar tahta”, seperti al-Manshur adalah “gelar tahta” Abu Ja’far. Kalau dasar-dasar pemerintahan daulat Abbasiyah diletakkan dan dibangun oleh Abu alAbbas dan Abu Ja’far al-Manshur, maka puncak keemasan dari dinasti ini berada pada tujuh khalifah sesudahnya, yaitu al-Mahdi (775-785 M), al-Hadi (775-786M), Harun alRasyid (786-809 M), al-Ma’mun (813-833 M), al- Mu’tashim (833-842M), al-Wasiq (8 42-847 M), dan al-Mutawakkil (847-861 M). . al-Mahdi (775-785 M)

Pada masa al-Mahdi perekonomian mulai meningkat dengan peningkatan di sektor pertanian melalui irigasi dan peningkatan hasil pertambangan seperti perak, emas, tembaga, dan besi. Terkecuali itu dagang transit antara Timur dan Barat juga banyak membawa kekayaan. Bashrah menjadi pelabuhan yang penting. Secara umum, khalifah melanjutkan kebijakan-kebijakan yang dibuat pendahulunya. Juga dalam bidang ilmu pengetahuan banyak diterjemahkan adalah karya-karya terutama dalam bidang astronomi dan manthiq. Imam Ahmad ibn Hanbal lahir tahun 780 M. . al-Hadi (785-786M) Secara umum, khalifah melanjutkan kebijakan-kebijakan yang dibuat pendahulunya. Juga dalam bidang ilmu pengetahuan banyak diterjemahkan adalah karya-karya terutama dalam bidang astronomi dan manthiq. . Harun al-Rasyid (786-809 M) Popularitas daulat Abbasiyah mencapai puncaknya di zaman khalifah Harun al-Rasyid (786-809 M) dan puteranya al-Ma’mun (813-833 M). Kekayaan yang banyak dimanfaatkan Harun al- Rasyid unfuk keperluan sosial. Rumah sakit, lembaga pendidikan dokter, dan farmasi didirikan. Pada masanya sudah terdapat paling tidak sekitar 800 orang dokter. Di samping itu, pemandian-pemandian umum juga dibangun. Tingkat kemakmuran yang paling tinggi terwujud pada zaman khalifah ini. Kesejahteraan sosial, kesehatan, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan serta kesusasteraan berada pada zaman keemasannya. Penerjemahan karya-karya terutama dalam bidang astronomi dan manthiq masih diteruskan. Al-Khawarizmi yang mencetuskan Aljabar adalah di era ini. Murid Imam Abu Hanifah dan sekaligus pelanjutnya, Abu Yusuf, menjadi Qadhi di zaman Harun al-Rasyid. Pada tahun 179 H / 795 M, Imam Malik wafat. Pada masa inilah negara Islam menempatkan dirinya sebagai negara terkuat dan tak tertandingi. . Al-Amin (809-813 M)

. al-Ma’mun (813-833 M) Al-Ma’mun, pengganti al-Rasyid, dikenal sebagai khalifah yang sangat cinta kepada ilmu. Pada masa pemerintahannya, penerjemahan buku-buku asing digalakkan. Untuk menerjemahkan buku-buku Yunani, ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan Kristen dan penganut agama lain yang ahli. Ia juga banyak mendirikan sekolah, salah satu karya besarnya yang terpenting adalah pembangunan Bait al-Hikmah, pusat penerjemahan yang berfungsi sebagai perguruan tinggi dengan perpustakaan yang besar. Pada masa Al-Ma’mun inilah Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Buku-buku yang banyak diterjemahkan adalah dalam bidang filsafat dan kedokteran. Lembaga-lembaga perpustakaan kemudian berkembang pada masa pemerintahan Bani Abbas, dengan berdirinya perpustakaan dan akademi. Perpustakaan pada masa itu lebih merupakan sebuah universitas, karena di samping terdapat kitab-kitab, di sana orang juga dapat membaca, menulis dan berdiskusi. Imam Syafi’i wafat di era ini, 204H atau 820 M. Pemikiran mu’tazilah berkembang di era ini. Tokoh perumus mu’tazilah yang terbesar adalah Abu al-Huzail al-Allaf (135-235 H /752-849 M) dan al-Nazz am (l85-221H / 801835 M). . al- Mu’tashim (833-842 M) Al-Mu’tashim, khalifah berikutnya (833-842 M), memberi peluang besar kepada orangorang Turki untuk masuk dalam pemerintahan, keterlibatan mereka dimulai sebagai tentara pengawal. Tidak seperti pada masa daulat Umayyah, dinasti Abbasiyah mengadakan perubahan sistem ketentaraan. Praktek orang-orang muslim mengikuti perang sudah terhenti. Tentara dibina secara khusus menjadi prajurit-prajurit profesional. Dengan demikian, kekuatan militer dinasti Bani Abbas menjadi sangat kuat. Setelah adanya pembuatan kertas. Bidang-bidang ilmu yang diterjemahkan semakin meluas. Kemajuan pengetahuan selain di bidang umum, juga di bidang ilmu agama. Bidang ilmu tafsir, ilmu fikih, dan, ilmu teologi. Perkembangan logika di kalangan umat Islam sangat mempengaruhi perkembangan dua bidang ilmu tersebut. Walaupun demikian, dalam periode ini banyak tantangan dan gerakan politik yang mengganggu stabilitas, baik dari kalangan Bani Abbas sendiri maupun dari luar.

Gerakan-gerakan itu seperti gerakan sisa-sisa Bani Umayyah dan kalangan intern Bani Abbas, revolusi al-Khawarij di Afrika Utara, gerakan Zindik di Persia, gerakan Syi’ah, dan konflik antar bangsa dan aliran pemikiran keagamaan. Semuanya dapat dipadamkan. al-Wasiq (842-847 M) . al-Mutawakkil (847-861 M) Selama masa pemerintahan, pengaruh Mu’tazilah berkurang dan pendapat al-Qur’an adalah makhluk pun berakhir. Imam Ahmad ibn Hanbal wafat di era ini, 855 M. Demikianlah, setelah periode ini berakhir, Islam mengalami masa kemunduran. . . Sumber utama: Dr. Badri Yatim, MA., Sejarah Peradaban Islam, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, 2003. . Ada buku karangan ulama ahlus sunnah waljamaah: AS-SUYUTHI, Imam; TARIKH KHULAFA`, Sejarah Para Penguasa Islam. Jakarta: AL-KAUTSAR, 2006. ISBN 9795921754

Urutan Lengkap Khalifah dalam Lintasan Sejarah

Katagori : Kajian Siyasah/Khilafah Oleh : Redaksi 21 Dec 2004 - 1:20 am

Rasulullah SAW telah memerintahkan kepada kaum muslimin agar mereka mengangkat seorang khalifah setelah beliau SAW wafat, yang dibai'at dengan bai'at syar'iy untuk memerintahkan kaum muslimin berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW. Menegakkan syari'at Allah, dan berjihad bersama kaum muslimin melawan musuhmusuh Allah. Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya tidak ada Nabi setelah aku, dan akan ada para khalifah, dan banyak (jumlahnya)." para sahabat bertanya, "Apa yang engkau perintahkan kepada kami? Nabi SAW menjawab, "penuhilah bai'at yang pertama, dan yang pertama. Dan Allah akan bertanya kepada mereka apa-apa yang mereka pimpin." (HR. MUSLIM) Rasulullah SAW berwasiat kepada kaum muslimin, agar jangan sampai ada masa tanpa adanya khalifah (yang memimpin kaum muslimin). Jika hal ini terjadi, dengan tiadanya seorang khalifah, maka wajib bagi kaum muslimin berupaya mengangkat khalifah yang baru, meskipun hal itu berakibat pada kematian. Sabda Rasulullah SAW : "Barang siapa mati dan dipundaknya tidak membai'at Seorang imam (khalifah), maka matinya (seperti) mati (dalam keadaan) jahiliyyah." Rasulullah SAW juga bersabda : "Jika kalian menyaksikan seorang khalifah, hendaklah kalian taat, walaupun (ia) memukul punggungmu. Sesungguhnya jika tidak ada khalifah, maka akan terjadi Kekacauan." (HR. THABARANI) sesungguhnya Allah SWT telah memerintahkan (kepada kita) untuk taat kepada khalifah. Allah berfirman : "Hai orang-orang yang berfirman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri diantara kamu." (AN NISA :59) Kaum muslimin telah menjaga wasiat Rasulullah SAW tersebut sepanjang 13 abad. Selama interval waktu itu, kaum muslimin tidak pernah menyaksikan suatu kehidupan tanpa ada (dipimpin) seorang khalifah yang mengatur urusan-urusan mereka. Ketika seorang khalifah meninggal atau diganti, ahlul halli wal 'aqdi segera mencari, memilih, dan menentukan pengganti khalifah terdahulu. Hal ini terus berlangsung pada masa-masa islam (saat itu). Setiap masa, kaum muslimin senantiasa menyaksikan bai'at kepada khalifah atas dasar taat. Ini dimulai sejak masa Khulafaur Rasyidin hingga periode para Khalifah dari Dinasti 'Utsmaniyyah. Kaum muslimin mengetahui bahwa khalifah pertama dalam sejarah Islam adalah Abu Bakar ra, akan tetapi mayoritas kaum muslimin saat ini, tidak mengetaui bahwa Sultan 'Abdul Majid II adalah khalifah terakhir yang dimiliki oleh umat Islam, pada masa lenyapnya Daulah Khilafah Islamiyyah akibat ulah Musthafa Kamal yang menghancurkan sistem kilafah dan meruntuhnya Dinasti 'Utsmaniyyah. Fenomena initerjadi pada tanggal 27 Rajab 1342 H. Dalam sejarah kaum muslimin hingga hari ini, pemerintah Islam di bawah institusi Khilafah Islamiah pernah dipimpin oleh 104 khalifah. Mereka (para khalifah) terdiri dari

5 orang khalifah dari khulafaur raasyidin, 14 khalifah dari dinasti Umayyah, 18 khalifah dari dinasti 'Abbasiyyah, diikuti dari Bani Buwaih 8 orang khalifah, dan dari Bani Saljuk 11 orang khalifah. Dari sini pusat pemerintahan dipindahkan ke kairo, yang dilanjutkan oleh 18 orang khalifah. Setelah itu khalifah berpindah kepada Bani 'Utsman. Dari Bani ini terdapat 30 orang khalifah. Umat masih mengetahui nama-nama para khulafaur rasyidin dibandingkan dengan yang lain. Walaupun mereka juga tidak lupa dengan Khalifah 'Umar bin 'Abd al-'Aziz, Harun al-rasyid, Sultan 'Abdul Majid, serta khalifahkhalifah yang masyur dikenal dalam sejarah. Adapun nama-nama para khalifah pada masa khulafaur Rasyidin sebagai berikut: 1.Abu Bakar ash-Shiddiq ra (tahun 11-13 H/632-634 M) 2.'Umar bin khaththab ra (tahun 13-23 H/634-644 M) 3.'Utsman bin 'Affan ra (tahun 23-35 H/644-656 M) 4.Ali bin Abi Thalib ra (tahun 35-40 H/656-661 M) 5.Al-Hasan bin Ali ra (tahun 40 H/661 M) Setelah mereka, khalifah berpindah ke tangan Bani Umayyah yang berlangsung lebih dari 89 tahun. Khalifah pertama adalah Mu'awiyyah. Sedangkan khalifah terakhir adalah Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Hakam. Masa kekuasaan mereka sebagai berikut: 1.Mu'awiyah bin Abi Sufyan (tahun 40-64 H/661-680 M) 2.Yazid bin Mu'awiyah (tahun 61-64 H/680-683 M) 3.Mu'awiyah bin Yazid (tahun 64-68 H/683-684 M) 4.Marwan bin Hakam (tahun 65-66 H/684-685 M) 5.'Abdul Malik bin Marwan (tahun 66-68 H/685-705 M) 6.Walid bin 'Abdul Malik (tahun 86-97 H/705-715 M) 7.Sulaiman bin 'Abdul Malik (tahun 97-99 H/715-717 M) 8.'Umar bin 'Abdul 'Aziz (tahun 99-102 H/717-720 M) 9.Yazid bin 'Abdul Malik (tahun 102-106 H/720-724 M) 10.Hisyam bin Abdul Malik (tahun 106-126 H/724-743 M) 11.Walid bin Yazid (tahun 126 H/744 M) 12.Yazid bin Walid (tahun 127 H/744 M) 13.Ibrahim bin Walid (tahun 127 H/744 M) 14.Marwan bin Muhammad (tahun 127-133 H/744-750 M) Setelah mereka, khalifah berpindah ke tangan Bani Umayyah yang berlangsung lebih dari 89 tahun. Khalifah pertama adalah Mu'awiyyah. Sedangkan khalifah terakhir adalah Marwan bin Muhammad bin Marwan bin Hakam. Masa kekuasaan mereka sebagai berikut: I. Dari Bani 'Abbas 1.Abul 'Abbas al-Safaah (tahun 133-137 H/750-754 M) 2.Abu Ja'far al-Mansyur (tahun 137-159 H/754-775 M)

3.Al-Mahdi (tahun 159-169 H/775-785 M) 4.Al-Hadi (tahun 169-170 H/785-786 M) 5.Harun al-Rasyid (tahun 170-194 H/786-809 M) 6.Al-Amiin (tahun 194-198 H/809-813 M) 7.Al-Ma'mun (tahun 198-217 H/813-833 M) 8.Al-Mu'tashim Billah (tahun 218-228 H/833-842 M) 9.Al-Watsiq Billah (tahun 228-232 H/842-847 M) 10.Al-Mutawakil 'Ala al-Allah (tahun 232-247 H/847-861 M) 11.Al-Muntashir Billah (tahun 247-248 H/861-862 M) 12.Al-Musta'in Billah (tahun 248-252 H/862-866 M) 13.Al-Mu'taz Billah (tahun 252-256 H/866-869 M) 14.Al-Muhtadi Billah (tahun 256-257 H/869-870 M) 15.Al-Mu'tamad 'Ala al-Allah (tahun 257-279 H/870-892 M) 16.Al-Mu'tadla Billah (tahun 279-290 H/892-902 M) 17.Al-Muktafi Billah (tahun 290-296 H/902-908 M) 18.Al-Muqtadir Billah (tahun 296-320 H/908-932 M) II. Dari Bani Buwaih 19.Al-Qahir Billah (tahun 320-323 H/932-934 M) 20.Al-Radli Billah (tahun 323-329 H/934-940 M) 21.Al-Muttaqi Lillah (tahun 329-333 H/940-944 M) 22.Al-Musaktafi al-Allah (tahun 333-335 H/944-946 M) 23.Al-Muthi' Lillah (tahun 335-364 H/946-974 M) 24.Al-Thai'i Lillah (tahun 364-381 H/974-991 M) 25.Al-Qadir Billah (tahun 381-423 H/991-1031 M) 26.Al-Qa'im Bi Amrillah (tahun 423-468 H/1031-1075 M) III. dari Bani Saljuk 27. Al Mu'tadi Biamrillah (tahun 468-487 H/1075-1094 M) 28. Al Mustadhhir Billah (tahun 487-512 H/1094-1118 M) 29. Al Mustarsyid Billah (tahun 512-530 H/1118-1135 M) 30. Al-Rasyid Billah (tahun 530-531 H/1135-1136 M) 31. Al Muqtafi Liamrillah (tahun 531-555 H/1136-1160) 32. Al Mustanjid Billah (tahun 555-566 H/1160-1170 M) 33. Al Mustadhi'u Biamrillah (tahun 566-576 H/1170-1180 M) 34. An Naashir Liddiinillah (tahun 576-622 H/1180-1225 M) 35. Adh Dhahir Biamrillah (tahun 622-623 H/1225-1226 M) 36. al Mustanshir Billah (tahun 623-640 H/1226-1242 M) 37. Al Mu'tashim Billah ( tahun 640-656 H/1242-1258 M) Setelah itu kaum muslimin hidup selama 3,5 tahun tanpa seorang khalifah pun. Ini terjadi karena serangan orang-orang Tartar ke negeri-negeri Islam dan pusat kekhalifahan di Baghdad. Namun demikian, kaum muslimin di Mesir, pada masa dinasti Mamaluk tidak tinggal diam, dan berusaha mengembalikan kembali kekhilafahan. kemudian mereka membai'at Al Muntashir dari Bani Abbas. Ia adalah putra Khalifah al-Abbas al-Dhahir Biamrillah dan saudara laki-laki khalifah Al Mustanshir Billah, paman dari khalifah Al

Mu'tashim Billah. Pusat pemerintahan dipindahkan lagi ke Mesir. Khalifah yang diangkat dari mereka ada 18 orang yaitu : 1. Al Mustanshir billah II (taun 660-661 H/1261-1262 M) 2. Al Haakim Biamrillah I ( tahun 661-701 H/1262-1302 M) 3. Al Mustakfi Billah I (tahun 701-732 H/1302-1334 M) 4. Al Watsiq Billah I (tahun 732-742 H/1334-1354 M) 5. Al Haakim Biamrillah II (tahun 742-753 H/1343-1354 M) 6. al Mu'tadlid Billah I (tahun 753-763 H/1354-1364 M) 7. Al Mutawakkil 'Alallah I (tahun 763-785 H/1363-1386 M) 8. Al Watsir Billah II (tahun 785-788 H/1386-1389 M) 9. Al Mu'tashim (tahun 788-791 H/1389-1392 M) 10. Al Mutawakkil 'Alallah II (tahun 791-808 H/1392-14-9 M) 11. Al Musta'in Billah (tahun 808-815 H/ 1409-1426 M) 12. Al Mu'tadlid Billah II (tahun 815-845 H/1416-1446 M) 13. Al Mustakfi Billah II (tahun 845-854 H/1446-1455 M) 14. Al Qa'im Biamrillah (tahun 754-859 H/1455-1460 M) 15. Al Mustanjid Billah (tahun 859-884 H/1460-1485 M) 16. Al Mutawakkil 'Alallah (tahun 884-893 H/1485-1494 M) 17. al Mutamasik Billah (tahun 893-914 H/1494-1515 M) 18. Al Mutawakkil 'Alallah OV (tahun 914-918 H/1515-1517 M) Ketika daulah Islamiyah Bani Saljuk berakhir di anatolia, Kemudian muncul kekuasaan yang berasal dari Bani Utsman dengan pemimpinnya "Utsman bin Arthagherl sebagai khalifah pertama Bani Utsman, dan berakhir pada masa khalifah Bayazid II (918 H/1500 M) yang diganti oleh putranya Sultan Salim I. Kemuadian khalifah dinasti Abbasiyyah, yakni Al Mutawakkil "alallah diganti oleh Sultan Salim. Ia berhasil menyelamatkan kunci-kunci al-Haramain al-Syarifah. Dari dinasti Utsmaniyah ini telah berkuasa sebanyah 30 orang khalifah, yang berlangsung mulai dari abad keenam belas Masehi. nama-nama mereka adalah sebagai berikut: 1. Salim I (tahun 918-926 H/1517-1520 M) 2. Sulaiman al-Qanuni (tahun 916-974 H/1520-1566 M) 3. salim II (tahun 974-982 H/1566-1574 M) 4. Murad III (tahun 982-1003 H/1574-1595 M) 5. Muhammad III (tahun 1003-1012 H/1595-1603 M) 6. Ahmad I (tahun 1012-1026 H/1603-1617 M) 7. Musthafa I (tahun 1026-1027 H/1617-1618 M) 8. 'Utsman II (tahun 1027-1031 H/1618-1622 M) 9. Musthafa I (tahun 1031-1032 H/1622-1623 M) 10. Murad IV (tahun 1032-1049 H/1623-1640 M) 11. Ibrahim I (tahun 1049-1058 H/1640-1648 M) 12. Mohammad IV (1058-1099 H/1648-1687 M) 13. Sulaiman II (tahun 1099-1102 H/1687-1691M) 14. Ahmad II (tahun 1102-1106 H/1691-1695 M) 15. Musthafa II (tahun 1106-1115 H/1695-1703 M)

16. Ahmad II (tahun 1115-1143 H/1703-1730 M) 17. Mahmud I (tahun 1143-1168/1730-1754 M) 18. "Utsman IlI (tahun 1168-1171 H/1754-1757 M) 19. Musthafa II (tahun 1171-1187H/1757-1774 M) 20. 'Abdul Hamid (tahun 1187-1203 H/1774-1789 M) 21. Salim III (tahun 1203-1222 H/1789-1807 M) 22. Musthafa IV (tahun 1222-1223 H/1807-1808 M) 23. Mahmud II (tahun 1223-1255 H/1808-1839 M) 24. 'Abdul Majid I (tahun 1255-1277 H/1839-1861 M) 25. "Abdul 'Aziz I (tahun 1277-1293 H/1861-1876 M) 26. Murad V (tahun 1293-1293 H/1876-1876 M) 27. 'Abdul Hamid II (tahun 1293-1328 H/1876-1909 M) 28. Muhammad Risyad V (tahun 1328-1339 H/1909-1918 M) 29. Muhammad Wahiddin II (tahun 1338-1340 H/1918-1922 M) 30. 'Abdul Majid II (tahun 1340-1342 H/1922-1924 M) Sekali lagi terjadi dalam sejarah kaum muslimin, hilangnya kekhalifahan. Sayangnya, kaum muslimin saat ini tidak terpengaruh, bahkan tidak peduli dengan runtuhnya kekhilafahan. Padahal menjaga kekhilafahan tergolong kewajiban yang sangat penting. Dengan lenyapnya institusi kekhilafahan, mengakibatkan goncangnya dunia Islam, dan memicu instabilitas di seluruh negeri Islam. Namun sangat disayangkan, tidak ada (pengaruh) apapun dalam diri umat, kecuali sebagian kecil saja. Jika kaum muslimin pada saat terjadinya serangan pasukan Tartar ke negeri mereka, mereka sempat hidup selama 3,5 tahun tanpa ada khalifah, maka umat Islam saat ini, telah hidup selama lebih dari 75 tahun tanpa keberadaan seorang khalifah. Seandainya negara-negara Barat tidak menjajah dunia Islam, dan seandainya tidak ada penguasapenguasa muslim bayaran, seandainya tidak ada pengaruh tsaqofah, peradaban, dan berbagai persepsi kehidupan yang dipaksakan oleh Barat terhadap kaum muslimin, sungguh kembalinya kekhilafahan itu akan jauh lebih mudah. Akan tetapi kehendak Allah berlaku bagi ciptaanNya dan menetapkan umat ini hidup pada masa yang cukup lama. Umat Islam saat ini hendaknya mulai rindu dengan kehidupan mulia di bawah naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Dan Insya Allah Daulah Khilafah itu akan berdiri. Sebagaimana sabda Rasulullah "...kemudian akan tegak Khilafah Rasyidah yang sesuai dengan manhaj Nabi". Kami dalam hal ini tidak hanya yakin bahwa kekhilafahan akan tegak, lebih dari itu, kota Roma (sebagai pusat agama Nashrani) dapat ditaklukkan oleh kaum muslimin setelah dikalahkannya Konstantinopel yang sekarang menjadi Istambul. Begitu pula daratan Eropa, Amerika, dan Rusia akan dikalahkan. Kemudian Daulah Khilafah Islamiyah akan menguasai seluruh dunia setelah berdirinya pusat Daulah Khilafah. Sungguh hal ini dapat terwujud dengan Izin Allah. Kita akan menyaksikannya dalam waktu yang sangat dekat (Islamuda.com)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->