P. 1
Revisi Ayat-Ayat Ttg Metode Pendidikan

Revisi Ayat-Ayat Ttg Metode Pendidikan

|Views: 23|Likes:
Published by Iwel Nagan

More info:

Published by: Iwel Nagan on Mar 20, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/22/2013

pdf

text

original

PENDAHULUAN Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bagi orang-orang yang bertakwa, tidak diragukan lagi, telah memberikan

petunjuk dan penjelasan untuk seluruh aspek kehidupan manusia, baik di dunia maupun di akhirat. Kesempurnaan dan kebahagiaan hidup di dunia akan dicapai apabila manusia memiliki ilmu pengetahuan. Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa orang yang ingin dunia harus dengan ilmu, yang ingin akhirat harus dengan ilmu, dan kalau ingin keduanya juga dengan ilmu. Ilmu pengetahuan diperoleh melalui belajar sebab ia tidak dibawa sejak lahir. Allah SWT berfirman: “ Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”1 Namun demikian, Allah telah menyiapkan potensi yang bisa dipergunakan untuk memperoleh pengetahuan itu. Potensi yang diberikan Allah itu ialah pendengaran, penglihatan dan hati. Bagaimana menggunakan potensi itu agar memperoleh pengetahuan? Jawaban pertanyaan inilah yang disebut dengan metode atau cara belajar. Belajar dapat didefenisikan sebagai usaha memperoleh pengetahuan Ashfaniy.2 berarti dengan menggunakan potensi yang ada. Pengertian ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Raghib alDia menegaskan bahwa kata ta’allama (belajar) diri untuk mengetahui. Masalahnya memaksakan

adalah bagaimana cara memaksakan diri itu agar mendapat pengetahuan? Atau dengan kata lain, bagaimana cara belajar agar memperoleh pengetahuan? Berikut ini akan dikemukakan beberapa cara belajar yang banyak disebut di dalam al-Qur’an.
1 Q.S. An-Nahl: 78 2 Raghib al-Ashfahâniy, Mu’jam Mufradât Alfâzh Al-Qur’ân (Beirut: Dar al-Fikr, t. th.) h. 355

1

PEMBAHASAN TAFSIR AYAT-AYAT TENTANG METODE DAN STRATEGI PENDIDIKAN A. Pengertian Metode Pendidikan Dalam Bahasa Arab, kata metode diungkapkan dalam berbagai kata. Terkadang digunakan kata (‫ )منهج‬,(‫)الطريقة‬, dan (‫ )الطريقة‬.(‫ )الوصيلة‬berarti jalan, ( ‫ )المنهج‬berarti sistem dan (‫ )الوصيلة‬berarti mediator. Dengan demikian kata arab yang dekat dengan arti metode adalah (‫)الطريقة‬. Kata serupa dengan kata (‫)الطريقة‬ ini banyak dijumpai dalam al-Qur’an. kata (‫ )طريقة‬diulang sebanyak 11 kali. Kata ini biasanya dihubungkan dengan objeknya yang dituju seperti menuju neraka seperti firman Allah:3 Artinya: “Kecuali jalan ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” Terkadang kata (‫ )الطريقة‬juga dihubungkan dengan sifat jalan yang dituju tersebut seperti firman Allah:4 Artinya: “Mereka berkata: "Hai kaum kami, Sesungguhnya kami Telah mendengarkan Kitab (Al Quran) yang Telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.” B. Tafsir Ayat-ayat tentang Metode Pendidikan Al-Qur’an tidak menunjukan arti dari metode pendidikan secara tersurat, akan tetapi tersirat, oleh karena itu pemahaman sangat dituntut dalam
3 Q.S. An-Nisa: 169 4 Q.S. Al-Ahqaf: 30

2

menemukan pengertian yang macam-macam tersebut. Berikut beberapa ayat alQur’an yang mengandung makna metode yang dapat digunakan pendidik dalam mendidik, di antaranya: 1. Metode Teladan Firman Allah:5

ô‰s)©9 tb%x. öNä3s9 ‰Îû ÉAq߉u‰ «!$# îouqó‰é& ×puZ|¡ym `yJÏj9 tb%x. (#qã_ö‰t‰ ©!$# tPöqu‰ø9$#ur t‰ÅzFy$# t‰x.s‰ur ©!$# #Z‰‰ÏVx. ÇËÊÈ
Artinya: Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri mengharap kiamat banyak. a. Asbāb al-Nuzūl ayat Ayat tersebut di atas tidak memiliki asbāb al nuzūl. b. Tafsir Ayat Ayat di atas menyatakan: Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah yakni Nabi Muhammad saw. suri teladan yang baik bagi kamu yakni bagi orang-orang yang senantiasa mengharapkan rahmat dan kasih sayang Allah dan kebahagiaan di hari kiamat, serta teladan bagi mereka yang berzikir mengingat kepada Allah dan menyebut-nyebut nama-Nya dengan banyak baik dalam suasana susah maupun senang.6 Kata uswah atau iswah berarti teladan.7 Pakar tafsir
5 Q. S. Al-Ahzab: 21 6 M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Vol. 10., (Jakarta:Lentera Hati, 2002), h. 242 7 Atabik Ali. A. Zuhdi Muhdlor, Kamus Kontemporer Arab-Indonesia, (Yogyakarta: Multi Karya grafika, 1998), h. 128.

teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang (rahmat) yang Allah berzikir dan (kedatangan) Allah hari serta kepada dengan

3

Az-Zamakhsyari8 mengemukakan

ketika dua

menafsirkan

ayat tentang

di

atas,

kemungkinan

maksud

keteladanan yang terdapat pada diri Rasul itu. Pertama dalam arti kepribadian beliau secara totalitasnya adalah teladan. Kedua dalam arti terdapat dalam kepribadian beliau hal-hal yang patut diteladani. Pendapat pertama lebih kuat dan merupakan pilihan banyak ulama. Kata fī dalam firman-Nya fī rasūlillāh berfungsi “mengangkat” dari diri Rasul satu sifat yang hendaknya diteladani, tetapi ternyata yang diangkatnya adalah Rasul saw. sendiri dengan seluruh totalitas beliau. Berdasarkan pendapat di atas, hal ini berarti bahwa segala sesuatu yang bersumber dari pada Nabi saw. baik ucapan atau pun perbuatan sudah pasti benar karena beliau ada dalam pemeliharaan Allah yang menjadikan beliau tidak terjerumus dalam kesalahan. c. Kaitannya dengan Pendidikan Kata uswah diulang dalam al-Qur’an sebanyak 6 kali dengan mengambil contoh dari Nabi. Dalam surat al-Ahzab diatas, merupakan bukti adanya metode keteladanan dalam pengajaran. Muhammad Qutb misalnya, mengisyaratkan bahwa di dalam Nabi Muhammad adalah contoh yang baik dan ini merupakan suatu metodologi dalam pengajaran. Bahwa harus mancontoh Nabi baik segi akhlak dalam bermasyarakat maupun dalam beribadah kepada Allah. Dalam al-Qur’an9 Allah menjelaskan akhlak Nabi Muhamad saw. sebagai berikut: Artinya: Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka
8 Az-Zamakhsyari, 9 Q.S. Al-Fath: 29

4

ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifatsifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya Maka tunas itu menjadikan tanaman itu Kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanampenanamnya Karena Allah hendak menjengkelkan hati orangorang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. Hal ini menandakan bahwa dalam dunia pendidikan seorang figur yang baik itu harus ada, dan dalam hal ini tentunya pendidik sebagai teladan bagi anak didiknya. Pendidik hendaknya memiliki kepribadian yang baik sehingga menjadi patut untuk diteladani oelah anak didik. Pendidik jangan hanya bicara tetapi juga harus memberikan contoh nyata kepada anak didik. Secara psikologis ternyata manusia memang mmerlukan tokoh teladan dalam hidupnya, ini adalah salah atu sifat pembawaan manusia. 2. Metode Diskusi Firman Allah:10

äí÷‰$# 4‰n<Î) È@ ‰Î6y‰ y7În/u‰ ÏpyJõ3Ïtø:$$Î/ ÏpsàÏãöqyJø9$#ur ÏpuZ|¡ptø:$# ( Oßgø9ω»y_ur ÓÉL©9$$Î/ }‰Ïd ß`|¡ômr& 4 ¨bÎ) y7/u‰ uqèd ÞOn=ôãr& `yJÎ/ ¨@|Ê `tã ¾Ï&Î#‰Î6y‰ ( uqèdur ÞOn=ôãr& tûïωtGôgßJø9$$Î/ ÇÊËÎÈ
Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orangorang yang mendapat petunjuk.
10 Q.S. An-Nahl: 125

5

a. Asbāb al-Nuzūl ayat Ayat tersebut di atas tidak memiliki asbāb al nuzūl. b. Tafsir Ayat Nabi Muhammad saw. yang diperintahkan untuk mengikuti Nabi Ibrahim as. sebagaimana pada ayat yang lalu, kini diperintahkan lagi untuk mengajak siapapun juga agar mengikuti pula prinsip-prinsip ajaran Bapak para Nabi dan Pengumandang tauhid itu. Ayat ini menyatakan: Wahai Nabi Muhammad, serulah, yakni lanjutkan usahamu untuk menyeru semua yang engkau sanggup seru kepada jalan yang ditunjukkan Tuhanmu, yakni ajaran Islam dengan ĥikmah dan pengajaran yang baik dan bantulah mereka yakni siapa pun yang menolak atau meragukan ajaran Islam dengan cara yang terbaik. Itulah tiga cara berdakwah yang hendaknya engkau tempuh menghadapi manusia yang beraneka ragam peringkat dan kecenderungannya; jangan hiraukan cemoohan, atau tuduhan-tuduhan tidak berdasarkan kaum musyrikin dan serahkan urusanmu dan urusan mereka pada Allah, karena sesungguhnya Tuhamnu yang selalu membimbing dan berbuat baik kepadamu dialah sendiri yang lebih mengetahui dari siapa pun yang menduga tahu tentang siapa yang bejat jiwanya sehingga tersesat dari jalan-Nya dan Dialah saja juga yang lebih mengetahui orang-orang yang sehat jiwanya sehingga mendapat petunjuk. Ayat ini dipahami oleh sementara ulama sebagai

6

menjelaskan tiga macam metode dakwah yang harus disesuaikan cendikiawan dengan yang seruan memiliki dakwah. Terhadap tinggi pengetahuan

diperintahkan menyampaikan dakwah dengan ĥikmah, yakni berdialog dengan kata-kata bijak11 sesuai dengan tingkat kepandaian mereka. Terhadap kaum awam, diperintahkan untuk menerapkan mau’izah, yakni memberikan nasihat dan perumpamaan yang menyentuh jiwa sesuai dengan taraf pengetahuan mereka yang sederhana. Sedang terhadap Ahl al-Kitab dan penganut agama-agama lain yang diperintahkan adalah jidāl/perdebatan dengan cara yang terbaik yaitu dengan logika dan retorika yang halus, lepas dari kekerasan dan umpatan.12 Kata ĥikmah antara lain berarti yang paling utama dari segala sesuatu, baik pengetahuan maupun perbuatan. Ia adalah pengetahuan atau tindakan yang bebas dari kesalahan atau kekeliruan. Ĥikmah juga diartikan sebagai sesuatu akan yang bila digunakan/diperhatikan mendatangkan

kemaslahatan dan kemudahan yang besar atau lebih besar, serta menghalangi terjadinya mudharat atau kesulitan yang besar atau lebih besar. Makna ini ditarik dari kata ĥakama, yang berarti kendali karena kendalli menghalangi hewan/kendaraan mengarah ke arah yang tidak diinginkan, atau menjadi liar. Memilih perbuatan yang terbaik dan sesuai dari dua hal yang buruk pun
11 Jalâl al-Dîn al-Qasimy, Tafsir al-Qasimiy, Jilid 3, (Beirut: Dâr al-Kotob al-‘ilmiyah, 1997), h. 422. 12 M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, Vol. 7., (Jakarta:Lentera Hati, 2002), h. 391

7

dinamakan

ĥikmah,

dan

pelakunya

dinamai

ĥakîm

(bijaksana). Siapa yang tepat dalam penilaiannya dan dalam pengaturannya, dialah yang wajar menyandang sifat ini atau dengan kata lain dia yang ĥakîm. Thahîr ibn ‘Âsyûr menggarisbawahi bahwa ĥikmah adalah nama himpunan segala ucapan atau pengetahuan yang mengarah kepada perbaikan keadaan dan kepercayaan manusia secara bersinambung. Thabâthabâ’i mengutip ar-Râghib al-Ashfahâni yang menyatakan secara singkat bahwa ĥikmah adalah sesuatu yang mengena kebenaran berdasarkan ilmu dan akal. Dengan demikian menurut Thabâthabâ’i, ĥikmah adalah argumen yang menghasilkan kebenaran yang tidak diragukan, tidak mengandung kelemahan tidak juga kekaburan. Pakar tafsir al-Biqâ’i menggarisbawahi bahwa ĥakîm, yakni yang memiliki hikmah, harus yakin sepenuhnya tentang pengetahuan dan tindakan yang diambilnya, sehingga dia tampil dengan penuh percaya diri, tidak berbicara dengan ragu, atau kira-kira dan tidak pula melakukan sesuatu dengan coba-coba. Kata (‫ )موعظظظة‬al-mau’izhah terambil dari kata (‫)وعظظ‬ wa’azha yang berarti nasihat.13 Mau’izhah adalah uraian yang menyentuh hati yang mengantar kepada kebaikan. Demikian dikemukakan oleh banyak ulama. Sedang kata (‫ )جظظظادلهم‬jâdilhum terambil dari kata (‫ )جظظظدال‬jidâl yang bermakna diskusi atau bukti-bukti yang mematahkan alasan atau dalil mitra diskusi dan menjadikannya tidak dapat bertahan, baik yang dipaparkan itu diterima oleh semua orang maupun hanya oleh mitra bicara.
13 Atabik Ali. A. Zuhdi Muhdlor, op. cit., h. 1864 dan 2027.

8

Ditemukan di atas, bahwa mau’izhah hendaknya disampaikan dengan ĥasanah/baik, sedang perintah berjidâl disifati dengan kata aĥsan/yang terbaik, bukan sekedar yang baik. Keduanya berbeda dengan Ĥikmah yang tidak disifati oleh satu sifat pun. Ini berarti mau’izhah ada yang baik dan ada yang tidak baik, sedang jidâl ada tiga macam, yang baik, yang terbaik, dan yang buruk. Ĥikmah tidak perlu disifati dengan sesuatu karena dari maknanya telah diketahui bahwa ia adalah sesuatu yang mengena kebenaran berdasarkan ilmu dan akal. Di sisi lain, ĥikmah yang disampaikan itu adalah yang dimiliki oleh seorang (‫ )حكيم‬ĥakîm, dan ini tentu saja akan disampaikannya setepat mungkin, sehingga tanpa menyifatinya dengan satu sifat pun, otomatis dari namanya dan sifat penyandangnya dapat diketahui bahwa penyampaiannya adalah dalam bentuk yang paling sesuai. Adapun mau’izhah, maka ia baru dapat mengena hati sasaran bila ucapan yang disampaikan itu disertai dengan pengamalan dan keteladanan dari yang menyampaikannya. Nah, inilah yang bersifat ĥasanah. Kalau tidak ia adalah yang buruk, yang seharusnya dihindari. Di sisi lain, karena mau’izhah biasanya bertujuan mencegah sasaran dari sesuatu yang kurang baik, dan ini dapat mengundang emosi, maka mau’izhah adalah sangat perlu untuk mengingatkan kebaikannya itu. Sedang jidâl terdiri dari tiga macam, yang buruk adalah yang disampaikan dengan kasar, yang mengundang kemarahan lawan serta yang menggunakan dalih-dalih yang tidak benar. Yang baik adalah yang disampaikan dengan sopan, serta menggunakan dalil-

9

dalil atau dalil walau hanya yang diakui oleh lawan, tetapi yang terbaik adalah yang disampaikan dengan baik, dan dengan argumen yang benar, lagi membungkam lawan. Penyebutan urutan ketiga macam metode itu sungguh serasi. Ia dimulai dengan ĥikmah yang dapat disampaikan tanpa syarat, disusul dengan mau’izhah dengan syarat ĥasanah, karena memang ia hanya terdiri dari satu macam, dan yang ketiga jidâl yang dapat terdiri dari tiga macam buruk, baik, yang terbaik, sedang yang dianjurkan adalah yang terbaik. Tidak dapat dipungkiri bahwa al-Qur’an, demikian juga cara berdakwah Nabi Muhammad saw. mengandung ketiga metode di atas. Ia diterapkan kepada siapa pun sesuai dengan kondisi masing-masing sasaran. Di atas telah dikemukakan bahwa ulama membagi ketiga metode ini sesuai dengan tingkat kecerdasan sasaran dakwah. Yakni cendikiawan, yang memiliki kemampuan berpikir yang tinggi diajak dengan ĥikmah. Adapun orang awam yang belum mencapai tingkat kesempurnaan akal, tidak juga telah terjerumus dalam kebejatan moral, maka mereka disentuh dengan mau’izhah. Sedang penganut agama lain dengan jidâl. Pendapat ini tidak disepakati oleh ulama. Menurut Thabâthabâ’i bisa saja ketiga cara ini dipakai dalam situasi/sasaran, atau terpisah sama sekali sesuai sasaran yang dihadapi. Bisa saja cendekiawan tersentuh oleh mau’izhah, dan tidak mustahil pula orang-orang awam memperoleh manfaat jidâl dengan yang terbaik.

10

c. Kaitannya dengan Pendidikan Berdasarkan tafsir ayat di atas dapat kita pahami bahwa dalam melaksanakan proses pendidikan metode diskusi dapat diterapkan dengan teknik ĥikmah, mau’izhah dan jidâl. Pendidik hendaknya memiliki sifat ĥakîm (bijaksana) dapat melihat situasi dan kondisi anak didiknya, sehingga tidak salah dalam menerapkan metode. Dalam diskusi tentunya terjadi tanya jawab. Dalam proses belajar mengajar, bertanya adalah salah satu hal yang sangat dibutuhkan baik oleh murid yang bertanya ataupun guru, karena bertanya itu bisa merupakan umpan balik dari proses belajar mengajar itu. Dalam al-Qur’an, term bertanya ini diungkapkan Allah swt. dengan kata sa’ala – yas’alu – su’âl – mas’alat yang berarti thalaba,14 yakni meminta atau bertanya. Ayat-ayat yang menukilkan kata sa’ala dengan segala bentuknya itu ditemukan berjumlah 118 ayat yang tersebar dalam 46 surat.15 Orang yang bertanya akan mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang diajukannya. Jawaban tersebut merupakan pengetahuan baru bagi yang bertanya. Jika terjadi diskusi terhadap pertanyaan yang mengarah ke jidâl (debat) hendaknya guru dapat menyikapinya dengan bijaksana dengan menggunakan mau’izah yakni menasehati dengan ikhlas atau memperingati anak didiknya dengan berulang-ulang. 3. Metode Cerita dan Ceramah Firman Allah:16

14 Louis Ma’luf, Al-Munjid fî al-lughât wa al-a’lâm, (Beirut: Dâr al-Masyriq, t. th.), h. 316 15 Muhammad Fu’ad ‘Abd al-Bâqiy, Mu’jam al-Mufahras li Alfâzh al-Qur’ân alKarîm, (Beirut: Dâr al-Fikr, 1981), h. 336-338. 16 Q. S. Al-Qashas: 76-81.

11

76.

Sesungguhnya Karun adalah termasuk kaum Musa17, Maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan kami Telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kuncikuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuatkuat. (Ingatlah) ketika kaumnya Berkata kepadanya: "Janganlah kamu terlalu bangga; Sesungguhnya Allah tidak menyukai orangorang yang terlalu membanggakan diri".

77. Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. 78. Karun berkata: "Sesungguhnya Aku Hanya diberi harta itu, Karena ilmu yang ada padaku". dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh Telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih Kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? dan tidaklah perlu ditanya kepada orangorang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka. 79. Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya18. berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: "Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang Telah diberikan kepada Karun; Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar". 80. Berkatalah orang-orang yang dianugerahi ilmu: "Kecelakaan yang besarlah bagimu, pahala Allah adalah lebih baik bagi orang17 Karun adalah salah seorang anak paman nabi Musa a.s 18 Menurut mufassir: Karun ke luar dalam satu iring-iringan yang lengkap dengan pengawal, hamba sahaya dan inang pengasuh untuk memperlihatkan kemegahannya kepada kaumnya.

12

orang yang beriman dan beramal saleh, dan tidak diperoleh pahala itu, kecuali oleh orang- orang yang sabar". 81. Maka kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya).

a. Asbāb al-Nuzūl ayat Ayat tersebut di atas tidak memiliki asbāb al nuzūl. b. Tafsir Ayat Pada ayat 76 berbicara tentang Musa as. dan Fir’aun. Di sana dipaparkan kekuatan dan kekuasaan serta bagaimana keduanya berakhir dengan kemusnahan saat dibarengi dengan oleh kedurhakaan dan peganiayaan serta kejauhan dari hidayah Allah. Kisah ini ditampilkan sebagai peringatan kepada kaum musyrikin Mekah yang menindas kaum muslimin antara lain disebabkan oleh kekayaan yang mereka miliki. Di sisi lain, mereka percaya bahwa kekayaan adalah pertanda dari keterbebasan dari siksa. Mereka misalnya berkata: "Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak- anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab19. Dari sini ayat-ayat yang berbicara tetnang Qarun ini ditampilkan di atas untuk membuktikan sebab kekeliruan mereka. Setelah ayat menjelaskan

19 Maksudnya: oleh Karena orang-orang kafir itu mendapat nikmat yang besar di dunia, Maka mereka merasa bahwa mereka dikasihi Tuhan dan tidak akan diazab di akhirat.

13

keangkuhannya, kini ayat di atas menguraikan sikap beberapa orang dari Bani Israil yang menasehatinya, yakni ketika kaumnya berkata kepadanya: “Hai Qarun! Janganlah engkau terlalu bangga dengan harta kekayaan yang engkau miliki, kebanggaan yang menjadikanmu melupakan Allah yang menganugerahkan nikmat itu. Sesungguhnya memperlakukan dikasihinya Allah tidak menyukai, kekasih yakni kepada yang tidak yang terlalu perlakuan

terhadap

orang-orang

membanggakan diri lagi mantap kebanggan itu dalam kepribadiannya. Pada ayat 77 disebutkan beberapa kaum Nabi Musa as. Melanjutkan nasehatnya kepada Qarunbahwa nasehat ini bukan berarti engkau hanya boleh beribadah murni dan melarangmu memperhatikan dunia. Tidak! Berusahala sekuat tenaga dan pikiranmu dalam batas yang dibenarkan Allah untuk memperoleh harta dan hiasan duniawi dan carilah secara bersungguh-sungguh pada, yakni melalui apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu dari hasil usahamu itu kebahagian negeri akhirat, dengan menginfakkan dan menggunakannya sesuai petunjuk Allah dan dalam saat yang sama janganlah melupakan, yakni mengabaikan bagianmu dari kenikmatan duni dan berbuat baiklah kepada semua pihak, sebagaimana atau disebabkan karena Allah telah berbuat baik kepadamu dengan aneka nikmat-Nya, dan janganlah engaku berbuat kerusakan dalam benuk apa pun di bagian mana pun di muka bumi ini. Sesungguhnya Allah tidak menyukai para pembuat kerusakan.

14

Pada

ayat

78

diceritakan

setelah

mendengar

nasehat kaumnya Qarun lupa diri dan semakin angkuh. Ia berkata bahwa apa yang ia dapat adalah hasil dari usahanya sendiri, tidak ada campur tangan Allah atas apa yang ia peroleh. Pada ayat 79-80 menceritakan bahwa nasehat yang disampaikan kepada Qarun tidak digubris olehnya. Bahkan tidak lama setelah dinasehati, keangkuhannya menjadi-jadi. Ia keluar memamerkan harta bendanya kepada kaumnya sehingga menyilaukan mata-mata orang yang lemah imannya, namun bagi orang berilmu hal itu dapat menjadi kebinasaan. Pada ayat 81 Allah menenggelamkan Qarun dan segala harta bendanya ke dalam bumi sebagai siksaan atas keangkuhannya kepada Allah. Tidak ada yang mampu membela dan menolongnya dari siksa Allah. c. Kaitannya dengan pendidikan Cerita tentang kejadian, terutama peristiwa sejarah, merupakan metode yang banyak diketemukan di dalam al-Qur’an. Banyak bagianbagian al-Qur’an yang berisi kisah sejarah atau peristiwa-peristiwa yang terjadi, atau setidak-tidaknya merupakan bagian yang bisa dianggap cerita. Di samping itu, banyak kisah-kisah yang diabadikan dalam nama-nama surat al-Qur’an, misalnya Ali Imran, Al-Maidah, Yunus, Hud, Nuh, Al-Kahfi, Al-Naml, Al-Jinn, dan sebagainya. Dalam AlQur’an diceritakan makhluk bukan manusia, seperti jin dan semut, sebagian karakter mereka ini adalah seperti manusia. Di sini cerita yang dikembangkan boleh jadi tentang kejadian-kejadian berkenaan dengan satu pribadi, sebuah kelompok kecil, atau suatu masyarakat secara keseluruhan atau suatu bangsa.20
20 Di antara ayat-ayat al-Qur’an yang bercerita mengenai hal ini :

15

Dalam al-Qur’an dikatakan, bahwa cerita itu mengandung pelajaran yang bermakna bagi manusia, berdasarkan pemahaman akan cerita yang terjadi di dalamnya. Ternyata bukan semata-mata cerita kosong, namun harus mendapat perhatian pemikiran atau kebahagiaan yang terletak di hati manusia berkenaan dengan cerita yang ada di dalam al-Qur’an Tujuan yang lebih khusus tentang metode cerita dalam al-Qur’an adalah untuk memberikan dorongan psikologis kepada Nabi SAW dalam perjuangannya melawan orang-orang kafir. Cerita dan kisah tentang Nabi-Nabi di dalam al-Qur’an bertujuan menggapai relevansinya dengan perbuatan dan situasi yang dihadapi Nabi SAW bersama kaum mukmin. Dalam Al-Qur’an21 disebutkan: “Dan tiap-tiap khabar, kami ceritakan kepadamu dari kisah-kisah Rasul-rasul. Dengan kisah-kisah itu kami hendak menentramkan hatimu, dan telah datang kepadamu di dalam (khabar-khabar ) ini kebenaran dan nasehat serta peringatan bagi orang-orang mukmin”. Relevansi metode cerita di lingkungan sekolah seolah-olah seperti benar-benar terjadi dengan sesungguhnya. Cerita-cerita yang dimaksudkan merupakan metode yang sangat bermanfaat untuk menyampaikan informasi dan pelajaran. Maka kewajiban pendidik muslim adalah kehendak merealisasikan peranannya untuk membentuk sikap-sikap yang merupakan bagian integral dari tujuan pendidikan Islam. Dalam ayat-ayat yang di atas juga terdapat metode nasehat, yakni di mana kaum Bani Israel menasehati Qarun. Metode nasehat juga
- Kisah tentang Lukman : Q.S. Lukman: 12-19 - Kisah tentang Ayyub : Q.S. Al-Anbiya’: 83-84, Shad: 41-43 - Kisah tentang Yunus : Q.S. Yunus: 98, As-Shaffat: 139-148, Al-Qalam: 48-50 - Kisah tentang Tsamud : Q. S. Al-A’raf: 73-79, Hud: 61-68, Ibrahim: 9-14, Al-Hijr: 80-84, Bani Israil: 59, Al-Syu’ara’: 141-159, Al-Naml: 45-53, Fushilat: 17-18, AlZariyat: 43-45, An-Najm: 51, Al-Qamr: 23-31, Al-Haqqah: 5. Al-Fajr: 9. AlSyams: 11-15. 21 Q.S. Hud: 120

16

digunakan oleh Lukman al-Hakim sebagai mana dijelaskan dalam alQur’an22

22

17

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->