KODE ETIK PROFESI Kode etik merupakan prinsip-prinsip yang merupakan kesatuan moral yang melekat pada

suatu profesi sesuai kesepakatan organisasi profesi yang disusun sesara sistematis. Kode etik dapat dikatakan merupakan sekumpulan etika yang telah tersusun dalam bentuk peraturan berdasarkan prinsip moral pada umumnya yang disesuaikan dan diterima sesuai jiwa profesi guna mendukung ketentuan hukum yang berlaku demi kepentingan profesi, pengguna jasa profesi, masyarakat/publik, bangsa dan negara. Pengaturan etika disusun dalam bentuk kode etik dipandang penting mengingat jumlah penyandang profesi makin banyak sehingga membutuhkan ketentuan baku yang mampu mengendalikan serta mengawasi kinerja profesi. Selain makin banyaknya penyandang profesi, juga menghindari kesalahan profesi tanpa ada pertangungjawaban dengan mengotak-atik kelemahan etika guna mengamankan penyandang profesi itu sendiri. Faktor lain yang mendukung dibentuknya kode etik secara baku karena tuntutan masyarakat yang makin kompleks dan kritis sehingga ada kepastian hukum tentang benar atau tidaknya penyandang profesi dalam menjalankan tugasnya. Penegakan terhadap pelaksanaan kode etik secara konsekuen dilakukan oleh organisasi profesi sebagai pencetus lahirnya kode etik. Keberadaan organisasi profesi dipandang penting untuk menjatuhkan sanksi bagi pelanggar kode etik. Sanksi-sanksi diharapkan lebih efektif karena telah dibahas diantara penyandang profesi, sehingga terdapat beban moral bagi pelanggar yang secara psikis merasa dikucilkan dalam pergaulan profesi bahkan akan menjadi lebih berarti manakala organisasi profesi telah diberikan kewenangan oleh Undang-undang untuk memberikan Ijin praktek. Kewenangan tersebut dapat mengakibatkan pencabutan ijin praktek. Selain organisasi sebagai penegakan etika, juga merupakan wadah bagi pengembangan profesi, sebagai tempat tukar menukar informasi, membahas dan menyelesaikan permasalahan yang berkaitan dengan profesi, membela hak-hak anggotanya. Menurut E.Holloway dikutip dari Shidarta, kode etik itu memberi petunjuk untuk hal-hal sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. hubungan antara klien dan penyandang profesi; pengukuran dan standar evaluasi yang dipakai dalam profesi; penelitian dan publikasi/penerbitan profesi; konsultasi dan praktik pribadi;

2. 3. pada pasal 85 disinggung beberapa jenis sanksi yang bisa dikaitkan dengan pelanggaran kode etik. tentang Advokat. tingkat kemampuan kompetensi yang umum. 4. yaitu untuk: 1.5. tentang jabatan Notaris. kode etik dapat saja secara diam-diam diadopsi menjadi salah satu jenis sumber formal hukum. mencerminkan pengharapan moral dari komunitas masyarakat (atas pelayanan penyandang profesi itu kepada masyarakat). . 5. tentang perlindungan konsumen. 6. Kode etik oleh Edgar Bodenheimer dapat dikelompokkan kedalam jenis aturan yang disebut autonomic legislation. 7. Adapun Undang-undang tersebut antara lain: 1) pasal 17 ayat 1 huruf f Undang-Undang Nomor: 8 Tahun 1999. Ditambahkan oleh Holloway. standar-standar untuk pelatihan. Perkembangan hukum di Indonesia terdapat beberapa Undang-undang yang mencantumkan kode etik harus ditaati sehingga kode etik merupakan bagian dari hukum positif yang akan menimbulkan sanksi hukum bagi pelanggar disisi lain penegakan kode etik juga merupakan tujuan dari hukum positif. membiarkan profesi menjaga reputasi (nama baik) dan fungsi profesi dalam masyarakat melawan kelakuan buruk dari anggota-anggota tertentu dari profesi itu. merupakan dasar untuk menjaga kelakuan dan integritas atas kejujuran dari penyandang profesi itu sendiri. dan masyarakat pada umumnya. Namun disadari atau tidak. menjelaskan dana menetapkan tanggung jawab kepada klien. Biasanya kode etik tidak pernah dianggap sebagai bagian dari hukum positif suatu negara. administrasi personalia. Undang-Undang Nomor: 30 Tahun 2004. bahwa kode etik (standar etika) tersebut mengandung beberapa tujuan sekaligus. melarang pelaku usaha periklanan memproduksi iklan yang melanggar etika dan/atau ketentuan peraturan perundangan yang berlaku. membantu penyandang profesi dalam menentukan apa yang harus mereka perbuat kalau mereka menghadapi dilema-dilema etis dalam pekerjaannya. lembaga (institution). 2) Undang-Undang Nomor: 18 Tahun 2003.

yaitu ikatan hukum antara penyandang profesi dengan pihak yang dilayani. sehingga Penghargaan yang diberikan oleh masyarakat tentunya lebih tinggi. Profesi yang terikat dalam hubungan hukum yang menjanjikan usaha dituntut memiliki landasan intelektual dan standar kualifikasi serta moral yang lebih tinggi. Sebagai suatu gambaran dapat diamati pada hubungan antara Advokat dan klien idealnya menggunakan perikatan model menjanjikan suatu usaha dalam hal Advokat menjanjikan keberhasilan maka merupakan pelanggaran terhadap kode etika. sedangkan perikatan hukum antara profesi luhur dengan yang dilayani adalah perikatan yang menjanjikan usaha (inspanningsverbitenis). terdapat unsur lain yang membedakannya. Organisasi mempunyai batas-batas tertentu (boundaries) sehingga seseorang yang melakukan hubungan interaksi dengan lainnya tidak atas kemauan sendiri. baik dilakukan oleh pimpinan maupun oleh pegawai-pegawai administrasinya. Organisasi merupakan tata hubungan sosial. Pendapat serupa juga dikemukakan Max Weber yang dikutip oleh Miftah Thoha sebagai berikut: 1. PENGAWASAN SERTA PENINDAKAN ORGANISASI PENYANDANG PROFESI YANG MELANGGAR KODE ETIK. organisasi atau kelompok kerja sama merupakan suatu hubungan sosial yang dihubungkan dan dibatasi oleh aturan-aturan. Organisasi merupakan kelompok dari sebagian masyarakat yang mempunyai tujuan yang sama serta berinteraksi sosial dalam organisasi dengan didukung oleh perangkat aturan demi kepentingan organisasi maupun kepentingan masyarakat. PROFESI TERHADAP . Advokat tersebut baik sadar atau tidak sadar telah merendahkan profesi luhur yang seharusnya dijunjung tinggi. Aspek dari pengertian dimaksud oleh Max Weber ialah bahwa suatu organisasi atau kelompok kerja sama ini mempunyai unsur kekayaan sebagai berikut.IKATAN HUKUM DALAM HUBUNGAN HUKUM PROFESI Selain unsur pembeda antara profesi pada umumnya dan profesi luhur dari segi pengabdiannya. Hubungan keperdataan yang terjadi terhadap profesi pada umunya dengan yang dilayani merupakan perikatan yang menjanjikan suatu hasil (resultaatsverbintenis). 2. Aturan-aturan ini sejauh mungkin dapat memaksa seseorang untuk melakukan kerja sebagai suatu fungsi yang ajek. Mereka dibatasi oleh aturan-aturan tertentu. dalam hal ini seorang individu melakukan proses interaksi sesamanya didalam organisasi tersebut.

Kelompok semacam ini mempunyai karakteristik sebagai berikut: 1. Istilah lain dari unsur ini ialah terdapatnya hierarki (hierachy). Pembagian ini tidak dilakukan secara acak (random) melainkan sengaja dilakukan untuk meningkatkan usaha mencapai tujuan tertentu. dan pembagian kerja untuk menjalankan sesuatu fungsi tertentu. 2. tanggung jawab. Dalam organisasi juga dapat dilakukan usaha memadukan kembali kegiatan kepegawaian dengan cara pemindahan atau promosi. yang bisa membedakan suatu organisasi dengan kumpulan-kumpulan kemasyarakatan. Organisasi merupakan suatu kumpulan tata aturan. serta pentingnya aturan dalam organisasi. Pembagian ini tidaklah dikomunikasikan. 4. struktur organisasi. kekuasaan. adanya satu atau lebih pusat kekuasaan yang dapat dipergunakan untuk mengendalikan usaha-usaha organisasi yang telah direncanakan dan yang dapat diarahkan untuk mencapai tujuan. . bahkan yang dikatakan sebagai tujuan organisasi merupakan motivasi awal terbentuknya suatu organisasi. Organisasi merupakan suatu kerangka hubungan yang berstruktur didalamnya berisi wewenang. dan 3. adanya suatu pergantian kepegawaian. mempunyai pembagian kerja. dan menyempurnakan struktur yang dianggap perlu untuk meningkatkan efisiensi. misalnya seseorang yang cara kerjanya tidak memuaskan dapat dipindahkan dan diganti oleh orang lain. dan pertanggungan jawab yang dikomunikasikan. Pendapat Max Weber lebih condong kearah interaksi. sedangkan Kelompok masyarakat tidak akan membentuk suatu organisasi tanpa adanya kehendak yang sama serta yang terpenting mempunyai tujuan organisasi yang akan dicapai demi kepentingan bersama yang juga merupakan kepentingan anggota juga.3. sedangkan Amitai Etziomi yang dikutip oleh Miftah Thoha mengemukakan bahwa organisasi sebagai pengelompokan orang-orang yang sengaja disusun untuk mencapai tujuan tertentu. Tata aturan ini menyusun proses interaksi diantara orang-orang yang bekerja sama didalamnya sehingga interaksi tersebut tidak muncul begitu saja. Konsekuensi dari adanya hierarki ini bahwa didalam organisasi ada pimpinan atau kepala dan bawahan atau staf. Pusat kekuasaan ini juga harus dapat dipergunakan untuk menilai kembali secara ajek pelaksanaan organisasi.

Terbentuknya beberapa Organisasi profesi hukum menimbulkan dilema dalam penegakan etika profesi. Peran organisasi dengan patokan yang jelas memberikan kesempatan luas yang terkondisi positif untuk mencapai tujuan yang dapat mengcover kehendak masyarakat maupun kehendak anggota. Lebih lanjut Richard scott yang dikutip oleh Miftah Thoha mengemukakan organisasi sebagai tujuan khusus dalam organisasi itu sebagai suatu kolektivitas yang sengaja dibentuk untuk mencapai suatu tujuan khusus tertentu sedikit banyak didasarkan pada asas kelangsungan.Pelaksanaan organisasi baik struktur maupun sistem kerja organisasi diarahkan pada tujuan organisasi yang merupakan kehendak dari para anggotanya. Anggota dari suatu organisasi dapat pindah ke organisasi lain apabila akan dijatuhi sanksi dari . adanya jenjang otoritas. mempunyai gambaran prospek yang jelas. karena mendapat pengaruh dari fungsi profesi berdasarkan kondisi jaman yang tidak lain memiliki perbedaan atas kebutuhan masyarakat atas fungsi profesi itu sendiri. akan tetapi letak perbedaan pada tujuan dari suatu organisasi terpengaruh oleh latar belakang dari sejarah perkembangannya. dan adanya suatu sistem insentif yang mampu mendorong berbagai tipe partisipasi dalam usaha bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu. dan berbeda dari sekedar khususnya tujuan atau kelangsungan aktivitas. Tujuan dari organisasi sebagai suatu patokan dasar justru dapat membaca itikad dari suatu organisasi baik terhadap anggota organisasi. adanya suatu sistem komunikasi. Tujuan organisasi dapat terwujud apabila didukung oleh seperangkat sistem yang didalamnya terdapat aturan atau batasan yang jelas bagi organisasi baik secara umum maupun khusus bagi anggotannya. 4. adanya batas-batas yang jelas. akan lebih jelas persoalannya bahwa organisasi itu bagaimanapun adanya. sehingga pendapat ini lebih melihat pada cita-cita sebagai realita dari suatu organisasi. masyarakat maupun negara. Tujuan yang khusus merupakan pengendali suatu organisasi tidak melenceng dari citacita organisasi sehingga diharapkan organisasi dapat terfokus pada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga. 3. 2. Perbedaan gambaran itu meliputi hal-hal antara lain: 1. sesama organisasi. karena setiap organisasi profesi memiliki Kode Etik masing-masing. adanya aturan-aturan yang normatif. 5. Kriteria dari suatu organisasi secara umum memiliki kesamaan dengan organisasi profesi.

Kajian terhadap efektifitas hukum ataupun etika profesi tidak dapat dicermati dari nilai yang ada. tempat untuk bertukar pikiran. bahkan dengan ditegakkannya Kode Etik maka berarti telah menegakkan hukum karena Kode Etik sebagai bagian dari hukum positif. mengawasi pelaksanaannya supaya tidak terjadi pelanggaran. tukar menukar informasi dan perlindungan dikalangan anggotanya. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Shidarta yaitu secara jujur harus diakui. Padahal kajian ini pasti akan lebih menarik jika dibentangkan bersama contoh kasus nyata yang dihadapi para fungsionaris hukum kita. serta Dewan Kehormatan dalam memeriksa dan mengadili profesi/profesi hukum yang melakukan pelanggaran terhadap Kode Etik. bahkan terkesan didiamkan. organisasi profesi ini merupakan wadah untuk mengembangkan dan memajukan profesi. Sebagai konsekuensi penegakan Kode Etik maka organisasi profesi memiliki perangkat Pengawas guna mengawasi keseharian profesi/profesi hukum dalam menjalankan tugasnya. semakin mengurangi nilai kajian ini dimata orang-orang yang mempelajari etika profesi hukum. bahwa pengembangan etika profesi hukum di Indonesia kurang berjalan dengan baik dalam dunia hukum kita. dan jika terjadi pelanggaran memulihkan Kode Etik yang dilanggar itu supaya ditegakkan kembali. Munculnya berbagai organisasi profesi sejenis dengan Kode Etiknya sendiri-sendiri. Anggota Organisasi profesi/profesi hukum wajib mematuhi Kode Etik layaknya mematuhi ketentuan hukum yang berlaku. Kondisi demikian menyebabkan bahan kajian etika profesi hukum di Indonesia menjadi sangat kering dan berhenti pada ketentuan-ketentuan normatif yang abstrak. Bahkan organisasi profesi . Lembaga semacam Dewan atau Majelis Pertimbangan Profesi yang bertugas menilai pelanggaran etika masih belum berwibawa dimata para anggotanya. Penegakan Kode Etik serupa dengan penegakan terhadap hukum positif. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Liliana Tedjosaputro yaitu organisasi profesi merupakan unsur pendukung bagi suatu profesi. Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Abdulkadir Muhammad bahwa sama halnya dengan penegakan hukum adalah penegakan Kode Etik. serta tempat untuk menyelesaikan permasalahan profesi. Banyak pelanggaran etika profesi yang tidak mendapat penyelesaian secara tuntas. sehingga penegakan etika profesi hanya sebagai wacana ataupun cita-cita dari organisasi profesi. Penegakan Kode Etik adalah usaha melaksanakan Kode Etik sebagaimana mestinya.organisasinya. maka norma-norma penegakan hukum Undang-undang juga berlaku pada penegakan Kode Etik. akan tetapi harus disertai gambaran riel yang terjadi dimasyarakat. karena Kode Etik adalah bagian dari hukum positif.

Nilai objektif dan subjektif saling bertaut sehingga sulit dipisahkan. Nilai yang diberikan oleh subyek disebut nilai subyektif dan pada umumnya nilai memang bersifat subyektif karena subyeklah yang memberikan keputusan tentang nilai itu. namun tetap saja yang menentukan nilai dari obyek itu adalah si subyek.bertanggung jawab adanya penyalahgunaan tanggung jawab profesi yang terjadi dikalangan profesi dan juga penjatuhan sanksi akibat adanya pelanggaran profesi. penjatuhan sanksi yang objektif diterima dengan lapang dada oleh anggota yang melanggar Kode Etiknya. Apabila kualitas tersebut dilihat dari kondisi sebenarnya maka nilai demikian disebut nilai objektif. Walaupun kriteria nilai objektif adalah dilihat dari obyeknya. kelompok masyarakat. Penjatuhan sanksi yang objektif merupakan suatu harapan demi tegaknya etika profesi sekaligus merupakan pelindung bagi para anggotanya dan memiliki kewibawaan dimata masyarakat. suatu bangsa. Sesuatu yang dimaksud disini adalah sesuatu obyek yang tertentu. Subyek ini dapat berupa individu. Pengertian objektif itu sendiri memiliki makna yang dapat diperdebatkan. karenanya suatu nilai dapat menjadi objektif harus melalui proses yang objektif pula dan dalam organisasi dapat diwujudkan dalam bentuk penilaian anggota atas suatu obyek agar dapat bersifat objektif. itulah sebabnya ada pendapat yang mengatakan bahwa nilai itu senantiasa bersifat subyektif. Sesuai pula dengan yang dikemukakan oleh Shidarta yaitu nilai tidak lain adalah kualitas dari sesuatu. dan semakin banyak subyek yang memberikan nilai yang sama pada suatu obyek. Secara teoritis kedua macam nilai ini dapat dibedakan. . Nilai objektif tersebut memang tidak dapat dipisahkan dari subyek yang memberikan penilaian. mengingat yang ditegakkan adalah etika yang merupakan sekumpulan nilai sehingga penegakannya tidak dapat lepas dari subyek yang menilai. maka dikatakan semakin bernilai objektiflah obyek yang bersangkutan. Pembahasan dan penilaian bersama menimbulkan anggota organisasi dapat menerima sanksi pelanggaran secara lapang dada karena anggota telah menyadari atas resiko terhadap pelanggaran yang telah diperbuat. Organisasi profesi yang solid akan memberikan kewibawaan yang tinggi bagi para anggotanya dan dimata anggota masyarakat dan juga Pemerintah. atau universal. tetapi dalam prakteknya sangat sulit untuk menentukan mana nilai objektif dan subyektif. Organisasi profesi yang solid akan memberikan rasa nyaman dan perlindungan bagi anggotanya. Pembahasan dari para anggota atas proses penegakan Kode Etik sangat berpengaruh dalam menegakkan etika profesi. Apabila ada pelanggaran.

Standar . standar-standar etika membiarkan profesi menjaga reputasi atau nama dan fungsi profesi dalam masyarakat melawan kelakuan-kelakuan yang jahat dari anggotaanggota tertentu. karena pelanggaran dimaksud juga merupakan pelanggaran terhadap hukum. akan tetapi dimulai dari sosialisasi kepada anggotanya dalam setiap rapat organisasi mengenai tujuan pokok rumusan etika. 2. kebudayaan dan peranan tenaga ahli profesi yang didefinisikan dalam suatu negara dengan negara tertentu tidak sama. tempat Kode Etik itu adalah dalam Dengan demikian.Lubis yaitu dapat diutarakan bahwa prinsip-prinsip yang umum dirumuskan dalam suatu profesi akan berbeda-beda satu sama lain. lembaga (institution). 4. standar-standar etika membantu tenaga ahli profesi dalam menentukan apa yang harus mereka perbuat kalau mereka menghadapi dilema-dilema etika dalam pekerjaannya.standar etika mencerminkan / membayangkan pengharapan moral-moral dari komunitas. Pengertian pelanggaran terhadap Kode Etik memiliki makna yang luas. Hal serupa juga dikemukakan oleh Todung Mulya Lubis sebagai berikut: “dengan demikian. dan masyarakat pada umumnya. yang dijelaskan oleh Suhrawardi K.Penegakan terhadap Kode Etik bukan saja melalui sanksi terhadap anggotanya. dan 5. Tujuan dari rumusan etika harus disadari oleh anggota profesi sebagai suatu kepentingan bersama bahkan sebagai kepentingan person profesi dalam memberikan arah serta standar dalam melaksanakan profesinya. standar-standar etika menjelaskan dan menetapkan tanggung jawab kepada klien. sehingga layaknya Kode Etik sebagai suatu Undang-undang. Adapun yang menjadikan tujuan pokok dari rumusan etika yang dituangkan dalam Kode Etik profesi adalah: 1. Sedemikian pentingnya Kode Etik harus ditegakkan serupa hukum positif mengingat keberadaan Kode Etik sebagai hukum khusus yang terkait dengan kepentingan publik. kebiasaan. standar-standar etika merupakan dasar untuk menjaga kelakuan dan integritas atau kejujuran dari tenaga ahli profesi. standar-standar etika menjamin bahwa para anggota profesi akan menaati Kitab Undang-undang etika (Kode Etik) profesi dalam . pelayanannya. sedangkan pengertian pelanggaran terhadap hukum juga merupakan pelanggaran terhadap Kode Etik. 3. Hal ini dapat terjadi disebabkan perbedaan. adat-istiadat.

. sanksi dan aturan prosedural penegakannya belum cukup lengkap dan jelas. pada umumnya mengandung hak-hak dan kewajiban-kewajiban bagi para profesionalis. Sebagai normatieve etiek. Kode Etik juga mengandung dalam falsafah hukum. substansi Kode Etik. akan tetapi mempunyai fungsi penting di dalam masyarakat profesi. maka Hadi Herdiansyah dan rekan mengutip dari B. ketentuan-ketentuan mengenai kerekanan. Luasnya cakupan Kode Etik memerlukan perhatian khusus tidak saja terhadap penegakannya. 2. akan tetapi juga terhadap materi. yaitu: 1. kewajiban pada diri sendiri. 2. 3. Kode Etik profesi hukum tidak ditegakkan dengan menggunakan mekanisme atau prosedur dan sanksi yang telah diatur dalam Kode Etik yang bersangkutan.Arief Sidharta menyatakan faktor lemahnya pelaksanaan dan penegakan Kode Etik profesi hukum antara lain adalah: 1. dalam praktek. Sesuai yang dikemukakan oleh Oemar Seno Adji bahwa Kode Etik sebagai wadah peraturan-peraturan perilaku yang disepakati bersama oleh masyarakat profesi. Penegakan tanpa diimbangi oleh faktor pendukung yang lain menimbulkan kelemahan hukum yang justru dapat dimanfaatkan demi kepentingan mengelabui Kode Etik itu sendiri. 3.perangkat hukum khusus yang memang mempunyai karakteristik khusus. karena rasa hormat terhadap etika profesi inilah yang memelihara kredibilitas profesi itu dimata masyarakat”. umumnya dapat dikatakan bahwa Kode Etik mengandung ketentuan-ketentuan yang bersifat gesinnung. Berkaitan dengan penegakan Kode Etik. sistem pengawasan dan penindakan. banyak pengemban profesi hukum dan masyarakat pada umumnya tidak mengetahui dan memahami secara baik dan lengkap tentang substansi dan prosedur yang diatur dalam Kode Etik profesi hukum. Kredibilitas profesi Advokat dimasyarakat bukan semata-mata demi kepentingan Advokat. kewajiban-kewajiban pada umum. 4. tetapi harus dikembalikan pada tujuan keberadaan Advokat yang terdiri dari berbagai kepentingan dan hal tersebut dapat ditelaah dari sifat pemberlakuan Kode Etik. apa yang dikualifisir sebagai normatieve etiek. dan kewajiban terhadap orang ataupun profesi yang dilayani.

Pembinaan ini terutama ditujukan kepada manusia-manusia yang menyandang profesi tersebut. tingkat responsivitas lembaga-lembaga yang bertugas menegakkan Kode Etik pada umumnya masih rendah. apabila sistem dalam organisai profesi tertata dengan baik sehingga mekanisme organisasi dapat berjalan sebagaimana mestinya. Pada perkembangan dunia ilmu pengetahuan yang makin modern. hal tersebut sebagai dasar bagi penegak hukum untuk menegakkan supremasi hukum. 7. Sistem nilai tersebut juga hadir dalam praktek keseharian yang dilakukan dalam hubungan antara para penyandang profesi dengan para pengguna jasa mereka. akan tetapi juga dibutuhkan fungsi pembinaan bagi para anggotanya dengan tujuan efektifitas dilaksanakannya etika profesi. .4. atau sebaliknya. Setiap profesi selalu didukung oleh sistem nilai yang dituangkan dalam standar kualifikasi dan kompetensi dari penyandang profesi ini. dan Karakter organisasi profesi hukum yang tertutup dan eksklusif menyebabkan sempitnya kesempatan masyarakat untuk ikut melakukan pengawasan terhadap profesi hukum yang menyebabkan partisipasi masyarakat menjadi rendah. Organisasi profesi dapat berperan sesuai dengan yang diharapkan. penyandang profesi adalah pendukung kebudayaan. faktor kultural yang kurang mendukung kultur kelembagaan. Pengawasan dalam pelaksanaannya dilakukan oleh Komisi Pengawas merupakan bentuk penegakan hukum terhadap penegak hukum. dan anggaran rumah tangga organisasi profesi. sikap melindungi sejawat secara berlebihan. sistem nilai ini mengejawantah sebagai budaya (kultur) profesi. Sistem nilai ini juga tercermin dari Kode Etik profesi. dan sebagainya. maka peran organisasi profesi makin luas demi kepentingan umum. Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh Shidarta yaitu organisasi profesi merupakan wadah penting untuk pembinaan profesi. karena pemahaman dan penghayatan yang keliru terhadap pengertian solidaritas dan moralitas. bahkan anggaran dasar dan anggaran rumah tangga organisasi harus tertata dengan baik serta sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan. Peran organisasi profesi tidak hanya pengawasan dan penindakan. 6. selanjutnya baru dapat mengatur anggotanya. Dengan kata lain. Seperti sikap ewuh pakewuh. Tingkat konsistensi lembaga dalam menjatuhkan sanksi kepada pelanggar Kode Etik masih rendah. anggaran dasar. Pembinaan yang dilakukan oleh organisasi profesi diharapkan dapat meminimalkan pelanggaran etika dalam organisasi ataupun anggota organisasi. yakni masyarakat atau komunitas profesi. 5.

Sejalan dengan yang dikemukakan oleh Supriadi yaitu dalam kenyataannya.ditengah-tengah masyarakat sering terjadi penyalahgunaan profesi hukum oleh anggotanya sendiri. anggaran rumah tangga maupun Kode Etik sudah sesuai dengan ketentuan yang ada tanpa didukung oleh manajemen yang profesional maka organisasi tidak akan mampu melakukan pembinaan. Manajemen ini bisa diartikan sebagai seperangkat kegiatan atau suatu proses untuk mengoordinasikan dan mengintegrasikan penggunaan sumber-sumber daya dengan tujuan untuk mencapai tujuan organisasi melalui orang-orang. maka suatu hal yang pokok adalah bagaimana organisasi itu akan “dibuat berjalan”. penyalahgunaan profesi hukum terjadi karena desakan pihak klien yang menginginkan perkaranya cepat selesai dan tentunya ingin menang.Organisasi merupakan manajemen yang tentunya dikelola oleh pengurus. Selain itu. Kualitas pengurus organisasi memegang peranan penting baik dari segi keilmuan maupun dari segi moralitas serta komitmen yang tinggi terhadap organisasi itu sendiri. dengan kata lain meskipun anggaran dasar. teknik-teknik dan informasi dan dijalankan dalam kerangka suatu struktur organisasi. pengawasan maupun penindakan terhadap anggotanya. Proses ini tidak lain merupakan kegiatan manajemen. yaitu disatu sisi. Klien kadangkala tidak segan-segan menawarkan bayaran yang menggiurkan baik kepada penasihat hukum ataupun Hakim yang memeriksa perkara. Sumaryono mengatakan bahwa penyalahgunaan dapat terjadi karena adanya persaingan individu profesional hukum atau tidak adanya disiplin diri. Besesuaian dengan pendapat Shrode dan Voich. karena suatu sistem manajemen pelaksanaannya dilakukan oleh pengurus. Dalam profesi hukum dapat dilihat dua hal yang sering berkontradiksi satu sama lain. praktek pengembalaan hukum yang berada jauh dibawah citacita tersebut. akan tetapi dituntut mampu mengawasi kinerja profesi agar tidak melakukan pelanggaran terhadap Kode Etik profesi. cita-cita etika yang terlalu tinggi. Pendapat tersebut menempatkan orang-orang guna mencapai tujuan organisasi. . Organisasi profesi memiliki tantangan yang berat terhadap penindakan atas penyalahgunaan profesi oleh anggota sejawat demi terwujudnya profesionalisme dalam penerapannya. Terjadinya penyalahgunaan profesi hukum tersebut disebabkan adanya faktor kepentingan. yang dikutip oleh Abdul Wahid dan Anang Sulistyono yaitu apabila kita sudah mulai berbicara mengenai organisasi. Tantangan organisasi profesi bukan hanya penindakan penyalahgunaan profesi. dan disisi lain.