P. 1
5. TBC

5. TBC

|Views: 345|Likes:
Published by abdul rakan

More info:

Published by: abdul rakan on Mar 20, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/28/2015

pdf

text

original

Interaksi Obat TBC

Awanda Mustika Ika Apriliani Putri Nursyarifah Alawiyah Verawati

Adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh

Mycobacterium Tuberculosa, yang terutama menyerang paru (80%) Mikobakteria merupakan kuman tahan asam yang sifatnya berbeda dengan kuman lain karena tumbuhnya sangat lambat dan cepat sekali timbul resistensi jika terpajan dengan satu obat. Oleh karena itu, pengobatannya dalam jangka waktu panjang

1st Line Drug

• • • • •

Isoniazid Rifampicin Pirazinamid Ethambutol Streptomisin

2nd Line Drug

• • • • • •

Para Amino Salisilat Quinolon Etionamid Kanamisin Kapreomisin Sikloserin

Namun panduan resmi untuk pemberantasan TBC di Indonesia menggunakan obat first-line

1. Isoniazid
• Isoniazid atau isonikotinil hidrazid yang biasa disingkat INH • Strukturnya mirip dengan piridoksin (Vitamin B6). • Menghambat sintesis asam mikolat, yaitu komponen essensial dari dinding sel mikobakteria. • Aktif terhadap kuman yang berada intraselluler dalam makrofag maupun di luar sel (ekstraseluller). • Efek bakterisidnya hanya terlihat pada bakteri yang sedang tumbuh. • Yang harus diperhatikan selama mengkonsumsi obat ini adalah pada pasien dengan gejala hepatitis, gangguan hati dan epilepsi.

2. Pirazinamid
• Pirazinamid adalah analog nikotinamid yang telah dibuat sintetiknya. • Harus dikombinasikan dengan anti TBC yang lain. • Pirazinamid di dalam tubuh dihidrolisis oleh enzim pirazinamidase menjadi asam pirazinoat yang aktif sebagai tuberkulostatik. • Hati-hati terhadap pasien gout, diabetes melitus dan gangguan fungsi ginjal. Obat ini dapat menghambat eksresi asam urat dan dapat menyebabkan kambuhnya pirai.

3. Ethambutol
• Hampir semua galur M. tuberculosis dan M. kansasii sensitif terhadap etambutol. • Obat ini tetap menekan pertumbuhan kuman tuberkulosis yang telah resisten terhadap isoniazid dan streptomisin. • Hanya aktif untuk kuman yang sedang tumbuh. • Mekanisme kerjanya menghambat sintesis RNA, yaitu sintesis metabolit sel sehingga metabolisme sel terhambat dan sel mati. • Mengganggu eksresi asam urat sehingga dapat meningkatkan kadarnya dalam plasma.

4. Rifampicin
• Rifampicin menghambat pertumbuhan berbagai kuman Gram-positif dan Gram-negatif. • Rifampicin terutama aktif terhadap sel yang sedang bertumbuh. • Kerjanya meghambat DNA-dependent RNA polimerase dari mikobakteria dan mikroorganisme lain dengan menekan mula terbentuknya (bukan pemanjangan) rantai dalam sintesis RNA. • Resistensi kuman berkembang secara cepat jika digunakan sendirian. • Dapat menyebabkan keringat, air mata, feses dan saliva berwarna kemerah-merahan.

5. Streptomisin
• • • • Merupakan antituberkulosis pertama. Efek samping : Hipersensitif dan ototoksik. Indeks Terapi sempit. Bekerja dengan menghambat sintesis protein.

1. Para Amino Salisilat
• Sebelum ditemukan ethambutol, para-amino-salisilat merupakan obat yang paling sering dikombinasikan dengan anti tuberkulosis lain. • Obat ini bersifat bakteriostatik. • Mekanisme kerjanya yaitu menghambat pembentukan asam folat. Asam folat tersebut digunakan untuk sintesis purin dan asam-asam nukleat.

2. Quinolon
• Golongan fluorokuinolon, selain aktivitasnya terhadap berbagai bakteria Gram-positif dan Gram-negatif siprofloksasin, ofloksasin dan levofloksasin terbukti mempunyai aktivitas yang cukup baik terhadap M.tuberculosis. • Bila digunakan tunggal akan cepat timbul resistensi. • Golongan kuinolon menghambat kerja enzim DNA girase pada kuman dan bersifat bakterisidal.

3. Etionamid
• Resistensi terhadap obat ini mudah terjadi jika digunakan dalam dosis kurang tinggi atau obat ini digunakan tunggal dan timbul lebih lambat jika dikombinasikan dengan streptomisin atau INH. • Etionamid menghambat sintesis peptida. • Obat ini aktif terhadap spesies mikobakteri. Mempunyai sifat bakteriostatik terhadap Mycobacterium tuberculosis.

4. Kanamisin
• Obat ini biasa digunakan untuk bakteri yang telah resisten terhadap streptomisin. Namun sejak ditemukan kapreomisin dan amikasin yang relatif kurang toksik, maka penggunaan kanamisin kini telah ditinggalkan. • Resistensi terhadap obat ini mudah terjadi jika digunakan dalam dosis kurang tinggi atau obat ini digunakan tunggal dan timbul lebih lambat jika dikombinasikan dengan streptomisin atau INH. • Kanamisin bersifat bakterisid dengan menghambat sintesis protein bakteri. Yaitu dengan mengganggu proses translasi sehingga terjadi gangguan pada sintesis protein yang berakhir pada kematian organisme. Efeknya pada M.tuberkulosis hanya bersifat supresif.

5. Kapreomisin
• Obat ini dapat digunakan untuk bakteri yang telah resisten terhadap streptomisin. • Kapreomisin hanya digunakan dalam kombinasi dengan antituberkulosis lain. • Kapreomisin mempunyai aktivitas yang lebih dominan terhadap bakteri Gram negatif.

6. Sikloserin
• Jenis-jenis bakteri yang sudah resisten terhadap streptomisin, PAS, INH, pirazinamid dan viomisin mungkin masih senstif terhadap sikloserin. • Sikloserin strukturnya mirip dengan alanin. • Adanya sikloserin menghalangi pembentukan pentapeptida, yang merupakan tahap 1 sintesa peptidoglikan.

Nama obat Isoniazid

Interaksi obat
Berinteraksi dengan Ketoconazole

Mekanisme Interaksi Isoniazid dapat mengurangi konsentrasi plasma ketoconazole dari mengakibatkan hilangnya khasiat antijamur. (mims.com)

Interaksi (FK/FD) FD

Kemaknaan Klinis (1, 2, 3, 4, 5) 4 - Moderate

Rekomendasi 1. Memantau pasien secara klinis Gunakan kombinasi dengan hati – hati

2.

Paracetamol

Isoniazid dapat meningkatkan efek hepatotoksik parasetamol selama penggunaan bersamaan,mekanis me nya tidak jelas. (mims.com)

FD

4 - Moderate

1.

2.

3.

Pertimbangkan membatasi penggunaan parasetamol untuk kurang dari 4 g sehari Memantau pasien secara klinis Gunakan kombinasi dengan hati –

Nama obat Isoniazid

Interaksi obat
Berinteraksi dengan Phenytoin

Mekanisme Interaksi Isoniazid dapat menghambat metabolisme hati dari antikonvulsan hydantoin, sehingga kadar nya dalam serum dan efeknya meningkat dan dapat mengarah ke toksisitas fenitoin (misalnya ataksia, hyperreflexia, nystagmus dan tremor) selama penggunaan bersamaan dengan isoniazid. (mims.com) Induksi enzim oleh rifampisin meningkatkan produksi metabolit hepatotoksik dari isoniazid. (mims.com)

Interaksi (FK/FD) FD

Kemaknaan Klinis (1, 2, 3, 4, 5) 4 - Moderate

Rekomendasi 1. Memantau pasien secara klinis Gunakan kombinasi dengan hati – hati

2.

Rifampicin

FD

2 – Caution

1.

2.

Pantau fungsi hati selama penggunaan bersamaan Gunakan kombinasi dengan hati – hati

Nama obat Isoniazid

Interaksi obat
Berinteraksi dengan Carbamazepine

Mekanisme Interaksi Isoniazid dapat menghambat metabolisme Carbamazepin pada CYP3A4 sehingga kadar Carbamazepin pada darah meningkat dan efeknya juga meningkat yang menyebabkan ataksia atau sakit kepala. Carbamazepin dapat meningkatkan kadar metabolit isoniazid yang bersifat hepatotoksik (mims.com)

Interaksi (FK/FD) FD

Kemaknaan Klinis (1, 2, 3, 4, 5) 4 - Moderate

Rekomendasi 1. Menggunakan kombinasi obat secara hati – hati memonitor kadar obat dalam tubuh Dipantau tanda – tanda keracunan obat Memantau fungsi hati pasien

2.

3.

4.

Nama obat Rifampicin

Interaksi obat
Berinteraksi dengan Acebutolol / gol betabloker lainnya

Mekanisme Interaksi Rifampisin dapat meningkatkan clearance sistemik dari beta-blocker menyebabkan berkurangnya efek beta blocker. (mims.com)

Interaksi (FK/FD) FD

Kemaknaan Klinis (1, 2, 3, 4, 5) 4 – Moderate

Rekomendasi 1. Memantau pasien untuk kegagalan terapi betablocker. Gunakan kombinasi dengan hati – hati Pantau tekanan darah pasien Memantau pengurangan efek statin pada pasien, dan meningkatkan dosis statin dengan sesuai

2.

3.

Atorvastatin

Penelitian telah menunjukkan bahwa rifampisin telah secara signifikan menurunkan AUC asam simvastatin dan atorvastatin asam masing – masing sebesar 93% dan 80% dengan meningkatkan metabolisme statin pada CYP3A4.(mims.com)

FD

4 - Moderate

1.

Nama obat Rifampicin

Interaksi obat
Berinteraksi dengan Nifedipin

Mekanisme Interaksi Rifampicin menyebabkan metabolisme dari CYP3A4-termediasi dari kanal kalsium dihydropyridin pada dinding usus sehingga konsentrasi nifedipin berkurang (mims.com)

Interaksi (FK/FD) FD

Kemaknaan Klinis (1, 2, 3, 4, 5) 4 – Moderate

Rekomendasi 1. Pantau tekanan darah pasien Menyesuaikan dosis nifedipi saat akan memulai atau berhenti menggunakan rifampicin

2.

Warfarin

Rifampisin, inducer enzim yang kuat, meningkatkan metabolisme dan pembersihan antikoagulan oral, sehingga efek antikoagulan berkurang.

FK

4 - Moderate

1.

Penyesuaian / Peningkatan dosis warfarin saat penggunaan rifampicin

Nama obat Rifampicin

Interaksi obat
Berinteraksi dengan Phenytoin

Mekanisme Interaksi Antibiotik Rifampicin (Penginduksi Enzim) dapat meningkatkan metabolisme dari Fenitoin, yang dapat menurunkan konsentrasi plasma sehingga menurunkan efek dari Fenitoin.

Interaksi (FK/FD) FK

Kemaknaan Klinis (1, 2, 3, 4, 5) 4 – Moderate

Rekomendasi 1. 2. Pantau kondisi pasien Gunakan kombinasi dengan hatihati

Ethambutol

Antasida

Dalam sebuah penelitian yang melibatkan 14 subyek sehat, pemberian bersamaan etambutol lisan dan aluminium / magnesium hidroksida menghasilkan pengurangan penyerapan etambutol dan kadar serum puncak.(mims.com)

FK

4 - Moderate

Pemberian terpisah selama 4 jam dapat meminimalkan potensi interaksi.

Interaksi obat
Nama obat Berinteraks i dengan Obat – obat diklofenak Mekanisme Interaksi Interaksi (FK/FD) FD Kemaknaan Klinis (1, 2, 3, 4, 5) 4 - Moderate Rekomendasi Streptomycin Nonsteroidal antiinflammatory drugs dapat menghambat filtrasi glomerular dari aminoglikosida, sehingga kadar serum dan efek samping dari aminoglikosida meningkat. Memonitor kadar serum aminoglikosida dan pasien monitor untuk tanda-tanda toksisitas aminoglikosida (misalnya nefrotoksisitas) selama penggunaan gabungan. Menyesuaikan dosis aminoglikosida. Dianjurkan untuk menghindari penggunaan bersama. Jika tidak dapat dihindari, dengan hatihati memantau fungsi ginjal dan pendengaran, dan menghindari dosis tinggi obat

Streptomycin

Furosemide

Penggunaan bersama aminoglikosida dan diuretik loop dapat meningkatkan risiko nefrotoksisitas dan ototoxicity. Gangguan pendengaran dari berbagai tingkat telah dilaporkan dengan penggunaan bersamaan asam etacrynic dan aminoglikosida intravena

FD

5

Nama obat

Interaksi obat
Berinteraksi dengan Probenecid

Mekanisme Interaksi Pirazinamid dapat menghambat ekskresi asam urat pada ginjal dan meningkatkan hiperurikemia ,maka penggunaan bersamaan dapat mengurangi efek uricosuric dari probenesid. Gout akut adalah kontraindikasi untuk penggunaan pirazinamid, dan jika hiperurikemia yang parah atau disertai dengan arthritis gout akut, pirazinamid harus dihentikan. (mims.com)

Interaksi (FK/FD) FD

Kemaknaan Klinis (1, 2, 3, 4, 5) 4 - Moderate

Rekomendasi 1. Menyesuaikan dosis probenesid seperlunya Gunakan kombinasi dengan sangat hati – hati Memantau pasien secara klinis

Pyrazinamid

2.

3.

R/

Rifampicin 450mg No. XV S 1 dd 1 INH CIBA 300mg No. XV S 1 dd 1 Pyrazinamid 500mg No.XXX S 1 dd 2 Curcuma tab NO. XV S 1 dd 1

Pro: Nafsiah, ny (dewasa)

Efek Merugikan: isoniazid menyebabkan toksisitas aditif dengan rifampisin. Tingkat Keparahan: 2- caution Perhatian - Interaksi dapat terjadi berdasarkan mekanisme kerja dari co-administered obat. Jadi waspadalah untuk efek meningkat atau menurun, tergantung pada kombinasi obat-obatan. Dokumentasi Level: Terbatas - Laporan Beberapa interaksi ini ada. Laporanlaporan biasanya terdiri dari beberapa laporan kasus terbatas di mana pembenaran klinis suara interaksi ditemukan.

Mekanisme: Isoniazid dan rifampisin sering digunakan bersamasama dalam pengobatan TB, namun coadministration dapat meningkatkan risiko hepatotoksisitas. Induksi enzim oleh rifampisin meningkatkan produksi metabolit hepatotoksik dari isoniazid. Memantau tes fungsi hati selama penggunaan bersamaan. Hal ini tidak jelas apakah rifabutin memiliki efek yang sama pada hepatotoksisitas isoniazid, namun tetap hatihati dalam penggunaan. Tindakan yang harus Diambil: 1. Memantau fungsi hati. 2. Gunakan kombinasi dengan hati-hati.

1.Rifampicin vs pyrazinamid 2. Rifampicin vs curcuma 3. Isoniazid vs pyrazinamid 4. Isoniazid vs curcuma 5. Pyrazinamid vs curcuma Tidak ada interaksi yang berbahaya sehingga aman dikombinasi dalam pengobatan TB.

• Obat – obat Antituberkulosis digunakan dalam jangka waktu panjang dan tidak dapat digunakan secara tunggal. Kombinasi obat dilakukan untuk mencegah terjadinya resistensi kuman. • Kombinasi obat juga dapat menyebabkan interaksi obat yang mengakibatkan menurunnya efektifitas dari obat dan mempertinggi efek samping dari masing-masing obat.

 Karena dapat menimbulkan interaksi obat disarankan menggunakan obat TBC dengan sediaan kombipak.  Saran penggunaan : Semua obat TBC diminum pada pagi hari Rifampicin diminum sebelum makan Isoniazid, Pirazinamid, dan Ethambutol diminum setelah makan.  Saran penggunaan ini dapat menurunkan efek samping dari interaksi obat.

Wassalamuallaikum wr ..

Sekian, Terimakasih

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->