P. 1
ushul fiqh bagian 03 - agustianto

ushul fiqh bagian 03 - agustianto

5.0

|Views: 20,692|Likes:
Published by Edy Ramdan

More info:

Published by: Edy Ramdan on Mar 11, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/07/2014

pdf

text

original

a. Sebab

Menurut bahasa sebab adalah sesuatu yang dapat menyampaikan kepada sesuatu yang
lain berarti jalan yang dapat menyampaikan kepada suatu tujuan. Sedangkan menurut istilah
sebab adalah sutatu sifat yang dijadikan syar’i sebagai tanda adanya hukum. Menurut ulama
ushul, sebab itu harus muncul dari nash, bukan buatan manusia. Pengertian ini menunjukkan
sebab sama dengan illat. Walaupun sebnarnya ada perbedaannya.

Contohnya: ﺲﻤﺸﻟا كﻮﻟﺪﻟ ةﻼﺼﻟا ﻢﻗأ

Artinya: Dirikanlah shalat, karena matahari tergelincir

Ayat tersenut menjelaskan adanya sebab perbuatan mukallaf, dimana tergelincirnya

matahari menjadi sebab wajibnya shalat.

b. Syarat

Yaitu sesuatu yang berada diluar hukum syara’ tetapi keberadaan hukum syara’
bergantung kepadanya. Jika syarat tidak ada maka hukum pun tidak ada. Tetapi adanya syarat
tidak mengharuskan adanya hukum syara’.

Contoh:

ﻢﻜهﻮﺟو اﻮﻠﺴﻏ ﺎﻓ ةﻼﺼﻟا ﻰﻟا ﻢﺘﻤﻗ اذا

.......

Artinya: Apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu….(5:6)

Wudhu yang dibicarakan ayat ini, menjadi “syarat” pelaksanaan shalat . Wudhu adalah salah
satu syarat sah sholat. Shalat tidak dapat dilakukan tanpa wudhu, tetapi jika seorang berwudhu
tidak harus melaksanakan shalat.

26

agustianto.niriah.com

c. Mani’ (penghalang)

Yaitu sifat yang keberadaannya menyebabkan tidak ada hukum atau tidak ada sebab.

Contoh: ﻞﺗﺎﻘﻟا ثﺮﻳ ﻻ

Artinya: Pembunuh Tidak Mewarisi (H.R. Bukhari dan Muslim)

Ayat tersebut menjelaskan adanya “penghalang” perbuatan mukallaf. Menurut hadits ini
pembunuhan menjadi “penghalang” seorang waris mendapat warisan. Jadi, hubungan suami istri
dan hubungan kekerabatan menyebabkan timbulnya hubungan kewarisan. Jika ayah wafat
maka istri dan anak mendapat bagian warisan sesuai haknya tetapi jika, istri atau anak
membunuh suami atau ayah tersebut maka hak mewarisi bisa terhalang (H.R. Bukhari & Muslim)

Gambar 5.1 Keterkaitan antara “Sebab”, syarat dan mani

Suatu hukum yang akan dikerjakan adalah hukum yang ada sebabnya,terpenuhi
syaratnya dan tidak ada penghalang, Sebaliknya hukum tidak ada bila sebab, syaratnya dan
penghalang tidak ada. Misalnya shalat zuhur wajib dikerjakan apabila telah tergelincir matahari
(sebab), dan telah berwudhuk (syarat) serta tidak ada heidh (penghalang). Jika wanita sedang
heidh, maka shalat tidak shah Demikian pula bila matahari belum tergelincir, atau belum
berwudhuk, maka Shalatnya tidak shah Salah satu dari tiga unsur itu tidak ada, maka suatu
hukum tidak sah

27

agustianto.niriah.com

d. Azimah

Azimah adalah hukum yang disyaraitkan allah kepada seluruh hambanya sejak semula.
Artinya belum ada hukum seblum hukum itu disyari’atkan allah, sehingga sejak disyari’atkannya
seluruh mukallaf wajib mengikutinya. Menurut Imam Baidhawi, Azimah ialah Hukum yang
ditetapkan tidak berbeda dengan dalil yang ditetapkan. Misalnya jumlah rakaat sholat dzuhur
adalah 4 rakaat, hal ini ditetapkan allah sejak semula, sebelumnya tidak ada hukum lain yang
menetapkan jumlah rakaat shalat dzuhur.

e. Rukhsah

Rukhsah adalah apabila ada dalil lain yang menunjukkan bahwa orang-orang
tertentu boleh mengerjakan sholat dhuhur 2 rakaat seperti seorang musafir atau rukhsah
disebut juga hukum yang ditetapkan berbeda dengan dalil yang ada karena ada uzur. Contoh
lain adalah puasa pada orang musafir, di tengah hutan tidak ditemukan makanan, selain
babi, bunga bank di daerah yang belum ada bank syari’ah

Gambar 5.1 Ketentuan Allah yang menetapkan sesuatu sebagai sebab,

syarat, mani’ sah fasid, azimah dan rukhshah

28

agustianto.niriah.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->