P. 1
ushul fiqh bagian 03 - agustianto

ushul fiqh bagian 03 - agustianto

5.0

|Views: 20,703|Likes:
Published by Edy Ramdan

More info:

Published by: Edy Ramdan on Mar 11, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/07/2014

pdf

text

original

Pengertian hakim secara terminology adalah sebagai berikut:

a. Hakim merupakan persoalan mendasar dan penting dalam ushul fiqh, karena berkaitan
dengan, “Siapa pembuat hukum sebenarnya dalam syariat Islam”, “Siapa memberikan
pahala dan dosa”.

b. Semua Hukum tersebut bersumber dari Allah swt, melalui Nabi saw, maupun ijtihad para
mujtahid yang didasarkan pada metode istimbath, seperti qiyas, ijma’, dan metode istimbath
lainnya. Kaedah Ushul .ﷲ ﻻا ﻢﻜﺣ ﻻ (Tidak ada hukum kecuali bersumber dari Allah)

c. Hakim adalah Allah, Dialah Pembuat hukum dan satu-satunya sumber hukum yang dititahkan
kepada seluruh mukallaf, baik berkaitan dengan hukum taklify (wajib, sunnah, haram,
makruh, mubah), maupun hukum wadh’iy (sabab, syarat, mani’, sah, batal/fasid, azimah dan
rukhshah)

3.2.2 Dalil Hakim

Dalil-dalil yang menyatakan hanya Allah SWTPembuat Hukum:

a. Al-An’am, (6) ayat 57

“Menetapkan hukum itu hanya Allah. Dialah yang menjelaskan kebenaran dan Dia Pemberi
keputusan yang paling baik”

b. Al-Maidah, (5) ayat 49

“Dan Hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan
Allah dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka”

2

agustianto.niriah.com

c. Al-Maidah (5) ayat 44,45,

- Barang siapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturukan Allah, maka
mereka itulah orang-orang kafir
- Barang siapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturukan Allah, maka
mereka itulah orang-orang yang zalim
- Barang siapa yang tidak memutuskan hukum menurut apa yang diturukan Allah, maka
mereka itulah orang-orang yang fasiq

d. Menetapkan hukum apapun harus merujuk Alquran dan Sunnah (QS. An-Nisaa 4:59)

“Apabila kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan
Rasulnya, jika kamu beriman kepada Allah dan Hari kiamat”

e. Allah membatalkan iman seseorang sampai ia rela menetapkan hukum sesuai dengan
kehendak Allah dan rela dengan hukum-hukum Allah tersebut : (QS 4:65)

“Demi Tuhanmu, Mereka pada hakikatnya tidak beriman, hingga mereka menjadikan kamu
(Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka
tidak merasa keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan
sepenuhnya.”

Kita dan semua ulama sepakat tantang “Hanya Allah sebagai Hakim, (pembuat syari)”,
Tetapi bagaimana jika wahyu (syara’) belum turun seperti di zaman sebelum Nabi Muhammad
diutus (Zaman Fatrah)?

Dalam hal ini timbul persoalan, “Siapa hakim, syari’ atau pembuat hukum?” Apakah
telah ada kewajiban bagi manusia untuk menjalankan syariat atau keharusan baginya untuk
meninggalkan larangan? sementara rasul pembawa syariat belum datang?

Apakah akal sebelum datangnya wahyu mampu menentukan (mengetahui) baik
buruknya sesuatu, sehingga orang yang berbuat baik diberi pahala dan orang yang berbuat
buruk dikenakan dosa (sanksi hukum)? sehingga akal bisa menjadi pembuat hukum?

Dalam menyelesaikan persoalan inilah, kita perlu melihat kembali definisi Hakim yang

kedua

Berkaitan dengan definisi Hakim yang kedua,yaitu: Yang menemukan, menjelaskan,
memperkenalkan dan menyingkapkan hukum, para ulama ushul membaginya kepada dua
kondisi (masa), yaitu:

3

agustianto.niriah.com

a. Sebelum Nabi Muhammad diangkat sebagai Rasul

Dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat para ulama tentang siapa yang menemukan,
memperkenalkan dan menjelaskan hukum

Apakah Allah semata melalui wahyu (kedatangan Rasul)? atau “Akal” manusia bisa
menemukan syari’ah tanpa kedatangan wahyu (Nabi)?

Dalam hal ini, Ada 2 kelompok ulama :

1) Ahlus Sunnah Wal Jamaah (Jumhur)

2) Ulama Muktazilah

Perbedaan Ulama tentang Siapa yang menemukan/memperkenalkan hukum di masa
sebelum Nabi Saw Datang
1) Ahlus Sunnah wal Jamaah

Tidak ada Hakim (Tidak ada hukum syara’ sebelum kedatangan Rasulullah SAW)

“Pada saat itu tidak ada hakim. Maka tidak ada hukum syari’ sebelum Nabi Muhammad
diutus jadi Rasul”

Alasan mereka, ”Hukum tidak bisa diperoleh kecuali melalui Rasul, sementara akal tidak
mampu mencapainya. Oleh sebab itu menurut mereka, hakim adalah Allah. (Yang
memunculkan hukum itu adalah Allah dalam bentuk hukum syara’ yang diciptakan dan
diturunkanNya via Nabi). Sedangkan Nabi belum ada.

2) Muktazilah

Hakim pada Hakikatnya Allah, tapi akal mampu menemukan hukum-hukum-Nya tanpa
ada wahyu.

“Hakim pada hakikatnya adalah Allah SWT, tetapi akal mampu menemukan hukum-
hukum Allah, dan menyingkap serta menjelaskannya, sebelum datangnya syara
(sebelum datang Nabi/wahyu)

Persoalan ini oleh para ulama ushul fiqh dikenal dengan istilah Tahsin dan Taqbih.

Tahsin ialah kemampuan akal mengetahui sesuatu itu baik. Sedangkan taqbih ialah
kemampuan itu mengetahui sesuatu itu buruk

4

agustianto.niriah.com

b. Setelah Nabi Muhammad diangkat menjadi Rasul

Dalam hal ini, para ulama ushul fiqh sepakat bahwa hakim adalah Allah (wahyu-Nya), yaitu
berupa syariat yang dibawa Nabi Muhammad. Apa yang dihalalkan Allah, hukumnya halal,
dan apa yang diharamkannya hukumnya haram. Yang dihalalkan itu hasan (baik), dan yang
diharamkan itu hukumnya haram (buruk). Dalam hal ini tak ada persoalan.

Menurut ulama Ushul Fiqh Ada 4 Pengertian Baik (Hasan) dan Buruk (Qabih)

a. Baik (hasan) berarti seluruh perbuatan yang sesuai dengan tabiat manusia, seperti
menolong orang. Sedangkan buruk (qabih) adalah perbuatan yang tidak disenangi tabiat
manusia seperti mengambil harta orang secara zalim

b. Hasan berarti sifat yang positif/mulia/sempurna, seperti memilki ilmu dan kemuliaan.
sedangkan qabih sifat yang negatif, seperti bodoh, dan kikir.

c. Hasan adalah sesuatu yang boleh dikerjakan manusia. Dia mengetahui kebaikannya dan
mampu mengerjakan. Sedangkan Qabih sesuatu yang tidak boleh dikerjakan, karena
perbuatan itu buruk, sehingga ia tak mau mengerjakannya.

d. Hasan berarti sesuatu yang bila dikerjakan, maka orang itu mendapat pujian di dunia dan
pahala di akhirat, seperti taat beribadah. Sedangkan qabih berarti sesuatu yang apabila
dikerjakan maka orang itu mendapat cercaan di dunia dan mendapat siksa di akhirat, seperti
mengerjakan maksiat.

Pendapat Ulama tentang kemampuan akal mengetahui baik-buruk

a. Pengertian Baik dan Buruk No 3 dan 4 tadi, menjadi persoalan bagi ulama ushul, apakah
dapat dicapai akal atau tidak?
b. Ulama Asy’ariyah berpendapat bahwa baik dan buruk dalam pengertian ke 3 dan 4 bersifat
syar’i dan harus diitentukan oleh syara’ (wahyu)
c. Muktazilah berpendapat bahwa baik dan buruk seluruhnya dapat dicapai/diketahui oleh akal,
tanpa harus diberitahu syara (wahyu). Wahyu hanya berfungsi sbg alat konfirmasi dan
menguatkan capaian akal.

5

agustianto.niriah.com

Tabel 3.1 Kemampuan Akal Mengetahui Syari’at:

Ahlus Sunnah/
Asy’ariyah

Muktazilah

Maturidiyah

Akal tidak mampu
mengetahui baik &
buruk,tanpa perantaraan
Rasul

Akal mampu mengetahui baik
dan buruk

Akal mampu mengetahui baik
dan buruk

Akal tidak mampu mampu
mengetahui orang yang taat
dapat pahala di akhirat dan
orang yang berbuat maksiat
mendapat siksa

Akal mampu mampu
mengetahui orang yang taat
dapat pahala di akhirat dan
orang yang berbuat maksiat
mendapat siksa

Akal tidak mampu mampu
mengetahui orang yang taat
dapat pahala di akhirat dan
orang yang berbuat maksiat
mendapat siksa

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->