P. 1
Sistem Jaringan Drainase Irigasi.pdf

Sistem Jaringan Drainase Irigasi.pdf

4.73

|Views: 23,740|Likes:
Published by galante gorky
Jaringan Drainase
Jaringan Drainase

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: galante gorky on Mar 11, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/10/2014

pdf

text

original

Gaya-gaya yang bekerja pada bendung:
(a)Tekanan air: luar dan dalam, hidrostatik dan hidrodinamik.
(b)Tekanan lumpur: menekan horizontal dan membebani vertical
(c)Gaya gempa: tergantung peta gempa di Indonesia. Minimum 0,1g.
(d)Berat bangunan: tubuh bendung
(e)Reaksi fondasi: gaya tekan ke atas terhadap bendung dari reaksi fondasi.

Stabilitas : bendung harus stabil dalam 3 keadaan yakni:
(a)Stabil terhadap amblasnya bendung. Daya dukung fondasi tidak boleh dilampaui
oleh tekanan akibat berat bendung.
(b)Stabil terhadap gelincir. Gaya horizontal tidak boleh melebihi gaya geser yang
melawan pada dasar bendung.
(c)Stabil terhadap guling. Momen yang menggulingkan harus bisa ditahan momen
yang melawannya.

Teknik Irigasi dan Drainase

24

Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase-dkk

Gambar 25. Filter dan Bronjong

Gambar 26. Analisis stabilitas

Stabilitas Terhadap Erosi Bawah Tanah
Bendung harus dicek stabilitasnya terhadap erosi bawah tanah, naiknya dasar galian
dan patahnya pangkal hilir bangunan.

Metode empiris: Bligh, Lane, Koshla. Metode Lane: disebut metode angka rembesan
Lane. Metode ini membandingkan panjang jalur rembesan di sepanjang kontak
bangunan dengan beda tinggi muka air. Kemiringan lebih 45o

dianggap tegak, dan yang

kurang 450

dianggap horisontal. Vertikal dihitung penuh dan horisontal dihitung 1/3.

Rumus yang digunakan:

Teknik Irigasi dan Drainase

25

+

=

H

L

H1/3

L

C

V

L

Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase-dkk

Stabilitas Terhadap Erosi Bawah Tanah Gbr 27

Gaya angkat fondasi bendung

Metode angka rembesan Lane (Gambar 28)

Harga minimum Lane

Tabel 1.

Detail Bangunan
Dinding penahan (Gambar 29). Biasanya h < 3 m, dinding depan vertikal: b = 0,26 h. B
= 0,425h. Dinding depan miring: b = 0,23h; B = 0,46h

Detail Bangunan (Gambar 30)

Perlindungan terhadap erosi bawah tanah bertujuan untuk melindungi menggunakan
beberapa kombinasi. Prinsipnya adalah mengurangi kehilangan beda tinggi per satuan
panjang rembesan atau memutup rembesan sama sekali

Pemilihan pelindung berikut bisa sendiri atau kombinasi: (a) Lantai hulu: beton 10 cm,
atau pasangan batu kali 20 – 25 cm. Tapi Lane 1/3; (b) Dinding halang: mahal, Lane
penuh 100%; (c) Filter pembuang; (d) Konstruksi pelengkap.

Erosi bawah tanah adalah 3 dimensi, konstruksi lindung harus ke semua arah. Lantai
hulu harus kedap, sambungan dengan bendung harus rapat, kombinasi lempung dan seal
karet. Salah satu penyebab runtuhnya bendung adalah penurunan yang tidak merata.

Gambar 31

Teknik Irigasi dan Drainase

26

air

muka

tinggi

beda

horisontal

panjang

jumlah

vertkal

panjang

jumlah

v

Lane

rembesan

angka

L

L

C

=

=

=

=

HLH

Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase-dkk

Dinding halang (cut-off)
Alternatif: (a) Dinding beton: bagus, tapi mahal; (b) Pasangan batu: bagus, relatif
murah, kedalaman terbatas; (c) Tanah kedap air, atau pudel (1 kapur : 4 tanah): baik
sekali, sangat murah, kontak sambungan dengan bendung tidak baik; (d) Pelat pancang
baja atau kayu: amat mahal, harus hati-hati, kontak antar pelat harus baik, cocok untuk
tanah butir halus, kena gravel sulit masuk. Agar gaya uplift minimal, sebaiknya
dipasang ujung lantai paling hulu.

Gambar 32

Lubang pembuang/filter. Dibuat untuk mengurangi gaya angkat, dengan melepas air di
ujung kolam olak. Untuk mencegah terangkutnya bahan padat fondasi bendung
dilengkapi dengan filter terbuat dari pasir krikil atau bahan sintetis.

Konstruksi pelengkap. Tubuh bendung kemungkinan turun tidak merata, bisa retak-
retak, lolosnya air. Untuk itu perlu dibuat sambungan yang bagus. Tanah bawah jenuh
karena air hujan maka perlu ditangani jangan terjadi jalur gelincir atau erosi bawah.
Gambar 33

Perencanaan Kantong Lumpur (Gambar 34)
Meskipun sudah ada bangunan pembilas di depan intake, biasanya masih ada butir halus
partikel yang masuk. Untuk mencegah masuk ke saluran diperlukan kantong lumpur.
Prinsipnya adalah memperbesar saluran sehingga kecepatan berkurang akibatnya sedi-
men mengendap. Untuk menampung sedimen saluran diperdalam, dibilas tiap 1-2 ming-
gu. Biasanya panjang 200 m untuk sedimen kasar, sampai dengan 500 m untuk sedimen
halus. Tergantung pada topografi dan keperluan pembilasan. Pertimbangan dalam
memutuskan: (a) Ekonomis atau tidak, (b) Kemudahan pekerjaan OP, (c) Perlu
dibangun, kalau sedimen masuk ke saluran > 5% kedalaman x panjang x lebar saluran
primer dan sekunder (butiran< 0,06 - 0,07 mm).
Gambar 34

Sedimen. Data yg diperlukan: pembagian butir, penyebaran ke arah vertical, sedimen
layang, sedimen dasar. Kalau tidak ada data, diandaikan volume sedimen yang akan
masuk kantong lumpur 0,05% volume air masuk. Dianjurkan 60-70% sedimen diatas
0,06-0,07 mm bisa diendapkan.

Bangunan pengambilan. Perencanaan yang baik akan mempengaruhi jumlah sedimen
masuk ke kantong lumpur. Pada jaringan saluran, perencanaan saluran yang baik adalah
membuat kapasitas angkut sama besar atau makin membesar ke arah hilir. Kalau ada
kelebihan sedimen yang tidak mengendap di kantong lumpur, diharapkan mengendap di
sawah. Petani harus membuang sedimen ini.

Topografi. Topografi tepi sungai dan kemiringan sungai sangat mempengaruhi ke-
layakan ekonomis. Kantong lumpur perlu ruangan yang luas, penempatannya harus

Teknik Irigasi dan Drainase

27

Topik 6. Sistem Jaringan Irigasi dan Drainase-dkk

dikaji cermat. Kemiringan sungai kurang, energi ditambah dengan menaikkan mercu
bendung.

Dimensi kantong lumpur
Partikel pada titik awal A kecepatan endap w dan kecepatan air v akan mengendap di
titik C . Waktu yg diperlukan: t = H/w = L/v dimana v = Q/HB. Menghasilkan LB =
Q/w, dimana L: panjang kantong lumpur, B : lebar kantong lumpur, Q : debit air, w:
kecepatan endap di kantong lumpur. Agar tidak terjadi meandering atau pulau endapan
dibuat L/B > 8. Kalau topografi tidak memungkinkan bisa dibagi-bagi ke arah
memanjang dengan dinding pemisah (devider wall).
Gambar 35

Volume tampungan
Volume kantong lumpur tergantung pada kandungan sedimen, volume air yang lewat,
dan jarak waktu pembilasan. Banyak nya sedimen yang lewat dapat dihitung dengan
cara: (a) Pengukuran langsung di lapangan, (b) Perhitungan rumus yang cocok
(Einstein-Brown, Meyer-Peter, Muller), (c) Atau memakai data kantong lumpur yang
ada di lokasi lain. Kedalaman ds = 1 m untuk jaringan kecil (10 m3

/dt ), 2,5 m untuk

jaringan besar (100 m3

/dt)

Gambar 36

Tata letak kantong lumpur
Tata letak terbaik kalau saluran pembilas lurus sebagai kelanjutan kantong lumpur,
saluran primer di sampingnya. Ambang saluran primer di atas tinggi maksimum
sedimen. Alternatif tata letak lain saluran primer searah kantong lumpur, perlu dinding
pengarah.
Gambar 37

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->