P. 1
Tarombo Ni Keluargan Nami

Tarombo Ni Keluargan Nami

|Views: 422|Likes:
Published by Robert Sihotang

More info:

Published by: Robert Sihotang on Mar 21, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/10/2014

pdf

text

original

----------------------------------------------------------------------Sejarah Marga Sihotang marhuta di Sangkarnihuta Balige

1

Kata Pengantar
Tarombo atau silsilah adalah merupakan garis keturunan seseorang, tarombo sangat diperlukan bagi masyarakat keturunan Bangsa Batak untuk mengetahui hubungan kekerabatan bagi sesamanya, dari tarombo tersebut dapat juga diketahui urutan nomor generasi dari Siraja Batak maupun Keturunan Kelompok marganya; Sehingga dengan saling mengetahui tarombo, seseorang dapat menyapa orang lain dengan wajar dan tepat misalnya menyapa seseorang dengan: Kakek, Om, Bapak, Mama, Kakak, Abang, Adik, dll. Tulisan ini menyajikan tarombo keluarga kami Marga Sihotang yang tinggal di Sangkarnihuta Balige yang diuraikan dari Siraja Batak, Raja Sigodang Ulu Sihotang, Sorganimusu, Garaga Tunggal, St. Jafar Op. Gorga Sihotang hingga anak-anak kami. Tarombo ini ditujukan untuk kalangan sendiri dan diharapkan dapat diteruskan kepada generasi selanjutnya. Demikian penyajian kami semoga bermanfaat dan apabila ada kekurangan dan kesalahan dalam penulisan ini, kami mohon maaf terlebih dahulu dan kami bersedia untuk memperbaikinya; Salam dan terimakasih kami kepada para pembaca yang budiman. Penulis ttd Robert Ferdinand Sihotang

----------------------------------------------------------------------Sejarah Marga Sihotang marhuta di Sangkarnihuta Balige

2

Bagian 1: GARAGA TUNGGAL SIHOTANG
Oleh R. Effendi Sihotang, BBA-MBA (Disalin dari omartahi-sihotang.com) araga Tunggal Sihotang, adalah buyutnya Sorganimusu Sihotang yaitu anak nomor-2 (dua) dari Raja Si Godang Ulu Sihotang, dan Sebagaimana diketahui bahwa Raja Sigodang Ulu Sihotang mempunyai 7 (tujuh) anak dan 1 (satu) boru namanya Sobosihon. Sementara anaknya Sorganimusu mempunyai turunan 2 (dua) orang yaitu yang pertama Raja Sondi Patar dan yang kedua adalah bernama Raja Pangulu Baringin. Silsilah atau tarombo Garaga Tunggal (GTS) dapat dilihat pada Daftar 1. Garaga Tunggal Sihotang (GTS) mendapat perintah dari orang tuanya supaya segera berangkat ke Balige untuk melihat keluarga Sihotang yaitu Sobosihon Boru Sihotang yang berketurunan dan menjadi marga Simanjuntak setelah kawin dengan Raja Marsudung Simanjuntak. Mereka sudah berketurunan yang banyak di Balige dan belum pernah pulang ke Samosir sehingga semua sangat kerinduan melihat mereka. Menurut cerita marga Sihotang, GTS berangkat dari Negeri Sihotang dengan mendayung sendiri (solu) bersama abangnya Parbaju-baju Bosi Sihotang (PBB) langsung ke Balige, dan pada waktu itu Kota Balige terkenal sebagai kota besar serta pasar tradisionalnya juga sangat terkenal ramai dikunjungi dari berbagai kota kecil disekitar Tapanuli. Mereka tiba disana, dan kebetulan di Balige saat itu berlangsung pasar perdagangan antar kota dan penjualan berbagai kebutuhan rumah tangga disana. GTS bersama abangnya mengaso sebentar sebelum berangkat ke Hutabulu, kampung namborunya sendiri Sobosihon Boru Sihotang (SS) yang tinggal bersama para turunannya disana. Namun sebelum mereka berangkat, dengan tiba-tiba seseorang dengan berkuda putih datang menghardik GTS dan PBB, dengan berdialog mereka menyampaikan sebagai berikut: Penunggang berkuda bertanya: ”Hai pemuda……. Siapa engkau?”. Ada urusan apa kamu disini?. Apakah kamu rombongan si Begu Laos itu?” ----------------------------------------------------------------------Sejarah Marga Sihotang marhuta di Sangkarnihuta Balige 3

GTS tidak menjawab serta merta tetapi dia mengatakan bahwa mereka marga Sihotang dan ingin berkunjung ke Hutabulu Simanjuntak tempat namboru kami, kami tidak kenal dengan si Begu Laos itu. Oh........ begitu....... jadi kalian bukan musuh kami, kalau begitu marilah kita berbincangbincang. Selanjutnya GTS pun menyambut karena dia sudah memperoleh petuah dan pesan dari orang tuanya, bahwa kalau bertemu dengan orang harus dengan baik dan rendah hati melakukan tegur sapa dan selalu menanyakan apa marganya (Jolo sinungkun marga asa binoto partuturan; maksudnya Tanya dulu marganya baru bisa supaya tahu silsilah (tarombo) agar bisa memanggil namanya sesuai aturan adat Batak. Dan ternyata sipenunggang kuda itu adalah Raja Mambir Bulang Napitupulu (MBN) dari turunan Raja Salimbabiat Napitupulu. Mereka sedang berperang melawan saudaranya sendiri untuk memperebutkan wilayah warisan dari nenek moyang mereka, dan sampai terjadi bunuh membunuh diantara mereka yang bersaudara sekandung, yaitu Raja Salimbabiat Napitupulu dengan Raja Sibegu Laos Napitupulu. Sementara pihak yang lemah adalah turunan Raja Salimbabiat Napitupulu yaitu rombongan Raja Mambir Bulang Napitupulu. Keluarga mereka banyak lari ke Si Anjur, di Siborong-borong. Tanah leluhurnya begitu saja ditinggal karena takut mati dibunuh saudara-saudara mereka dengan namborunyaBPN sendiri. Dalam percakapan mereka terjadilah saling pengertian bahwa GTS kalau bisa kiranya dapat membantu pihak MBN untuk beperang melawan si Begu Laos dan apabila mereka menang boleh memilih 2 (dua) pilihan yaitu: Pertama adalah sejumlah harta yang terdiri dari Kuda 7 (tujuh) ekor serta Kerbau 17 (tujuh belas) ekor; dan atau yang Kedua adalah puteri kandung MBN yang akan menjadi isteri GTS serta sebidang tanah sawah sebagai warisan (Pauseang) yang biasa untuk kalangan menantu (boru). Sebenarnya GTS itu adalah ahli perang yang dimiliki marga Sihotang dan sangat pintar (dukun) karena bisa menerbangkan lesung (losung tempat mengelola padi jadi beras) dan terbuat dari batu megalit yang cadas dan sangat solid dan kokoh, ahli pedang dan lembing yang tangkas serta juga mampu mengobati berbagai penyakit manusia pada saat itu. Memang GTS tidak tertandingi oleh siaapun saat itu, sehingga mereka menang melawan Si Begu Laos tersebut. Akhirnya peperangan dimenangkan oleh MBN dengan para turunannya dan keluarganya, dan mereka melaksanakan pesta besar selama 7 (tujuh) hari siang dan malam. Pilihan GTS saat itu adalah puteri MBN untuk dijadikan sebagai isteri (sinonduk bolon), kebetulan GTS masih pemuda lajang yang belum kawin. Selain itu puteri MBN yang bernama si Boru Pareme Napitupulu (BPN) sangat cantik rupawan dan ----------------------------------------------------------------------Sejarah Marga Sihotang marhuta di Sangkarnihuta Balige 4

lemah lembut sehingga GTS jatuh hati sekaligus jatuh cinta sehingga memilih putri BPN menjadi pilihan utamanya. Setelah resmi menjadi isterinya, mereka tinggal di kawasan milik orang tua BPN serta diberikan sawah untuk dikelola sebagai ladang pertanian untuk bekal hidup mereka tinggal disana. Kemudian hari BPN pergi lagi untuk merantau kembali ke Sianjur yaitu tempat mereka memperoleh tanah subur untuk bertani disana, dan lama tak pernah pulang ke Balige, sehingga tanah pusaka mereka yaitu Sangkarnihuta sangat kosong hanya dihuni oleh GTS dan BPN beserta anaknya Raja Sangapan. Mereka bertani di tanah yang ditinggalMBN yaitu mengerjakan semua tanah sawah yang ditinggal hula-hulanya MBN, kehidupan mereka sudah sangat berkecukupan. Namun setelah sekian lama tinggal di Balige, GTS ingin pulang ke kampung halamannya di bona pasogit di Negeri Sihotang untuk memberitahu keadaan mereka termasuk melaporkan keberadaan Namborunya Sobosihon Sihotang (SS) keluarga Simanjuntak yang sangat besar turunannya, dan lagi mereka banyak yang berkawinan dengan puteri-puteri boru Sihotang. amun keadaan mengakibatkan GTS tidak bisa pulang, karena ombak Danau Toba saat itu sedang berkecamuk dan tidak ada perahu atau solu yang mau mengantarkan mereka, sehingga GTS memutar haluan untuk berjalan kaki pulang melalui Dolok Sanggul dan terus ke Tele serta turun ke Harian dan Negeri Sihotang. Dan sesampainya di Dolok Sanggul, ada juga berita mengatakan bahwa dia diundang bertanding kemampuan (martandang datu) ke Tara Bintang, yaitu Pakkat dan Parlilitan serta Manduamas. Tanpa diketahui sebab musababnya, dia kawin lagi disana dengan seorang puteri Raja setempat. Dan dia tidak pernah kembali lagi ke isterinya BPN, dan malah katanya dia kembali ke Negeri Sihotang. Tiggallah BPN dengan anaknya Raja Sangapan di kampung Sangkarnihuta, mereka dengan hidup sangat prihatin namun masih cukup layak hidup, sementara BPN akhirnya buta kedua matanya disamping oleh karena sudah tua dan juga akibat katarak mata yang sulit diobati karena menangis terus dan sedih ditinggal suami tercinta. Selang beberapa lama seseorang datang ke rumah BPN, dengan mengatakan bahwa dia anaknya MBN dari Sianjur, namanya Raja Parsioran Napitupulu (PN) dan ingin bertemu dengan namborunya BPN. Dan karena BPN sudah buta, dia tidak langsung percaya dia takut ada orang menyamar dengan mengatakan bahwa dia anaknya MBN, sehingga dia bertanya: Siapa sesungguhnya kamu itu, apa betul kamu anaknya MBN ito saya itu?. Hula-hula saya itu, wah ....... ini perlu dichek kebenarannya ini........ Saya nggak percaya betul kamu itu, coba tunjukkan dulu sama saya pusaka nenek moyang kami, sebuah pedang bermata dua, lembing (hujur) pusaka dan tas rotan tempat sirih yang disebut tas pusaka warna-warni (salapa salipi sibaganding) baru saya percaya kau adalah anaknya hula-hulaku (Rajaku BMN). Akhirnya PN mengatakan, Namboru saya akan pulang dulu, nanti saya tunjukkan permintanmu itu, dan dia pulang ke Sianjur mengambil barang-barang pusaka tersebut untuk dibuktikan kepada namborunya. Selang berapa lama ternyata orang tuanya MBN meninggal di Sianjur, dan akhirnya PN kembali ke Balige sendirian dan permintaan namborunya sudah dipenuhi semuanya. Inilah namboru pusaka yang kau minta itu, lalu ----------------------------------------------------------------------Sejarah Marga Sihotang marhuta di Sangkarnihuta Balige 5

ditunjukkannyalah benda-benda itu, dan barulah BPN percaya dan dengan rasa terharu dan menangis dia merangkul Paramannya sekaligus Bapak Kembalinya (panggilan: Bapak Mangulahi), sambil terisak-isak menyatakan bahwa semua ini yang ada dikampung ini adalah hartamu dan ambillah semuanya itu, lalu diberikanlah semua harta itu tentunya didepan para raja-raja sekampung dan tokoh adat dan semua anak-anaknya dengan sukacita dan rela memberikan harta itu kepada PN. Apa yang diberikan itu dikatakan peliharalah Among semuanya itu, Namun PN dengan terisak-isak pula mengatakan, mauliate ma Namboru, alai diho ma tading sebagian itu supaya Namboru hidup dengan baik dan saya senang bersama namboru di kampung ini. Dan akhirnya mereka hidup berdampingan di kampung itu selama ratusan tahun dan kisah ini merupakan sebuah sejarah yang terus menerus dipelihara marga Sihotang dan marga Napitupulu, bahkan semua warga Balige sangat mengetahui kejadian ini, dan dengan bangga marga Napitupulu mengangkat marga Sihotang boru Nagojong di kampung Balige. Balige Kota Rakyat yang penuh dengan masyarakat yang memelihara adat Batak sebagai acuan kehidupan rakyat disana. ukum pertama Somba marhula-hula, manat mardongan tubu dan elek marboru, artinya kepada raja ni huala-hula yaitu marga dari isteri dianggap sebagai raja yang patut dihormati dan disegani karena kalau hula-hula berdoa, yang tadi miskin dan melarat pasti jadi kaya raya dan banyak turunannya (Molo didurung ihan tulan dapot do pora-pora, molo martanginang hulahula, napogos hian boruna boi gabe mamora). Hukum kedua Manat mardongan tubu artinya kawan semarga atau satu turunan harus saling jaga diri alias saling mendukung dan tidak boleh berselisih. Hukum yang ketiga adalah elek marboru, artinya kepada saudara sekandung perempuan harus benar-benar saling mengasihi dan maklum. Mereka adalah petugas dikala ada pesta atau horja di marga hula-hulanya, sehingga pantaslah mereka desanjung dengan wajar dan tulus hati. Ketiga hukum ini disebut Dalihan Na Tolu atau Tungku Nan Tiga, yang berlaku sebagai hukum adat yang terus dipelihara sepanjang masa, dan adat Batak itu dipegang teguh sebagai ikatan tali persahabatan diantara sesama rakyat disana. Cukup sederhana dan sangat tradisional namun indah dan bermakna bagaikan sorga dunia. Kota Balige juga dikelilingi pegunungan yang indah dan ditengahnya terhampar Danau Toba yang elok dipandang mata. emikian kisah nyata itu terjadi, bahkan beratus tahun kemudian marga Sihotang ada di Sangkarnihuta Balige, dan namanya sudah berobah menjadi Lumban Sihotang Sangkarnihuta Balige. Dalam kisahnya kawasan Lumban Sihotang yang tadinya adalah ladang dan kuburan marga-marga besar di balige, berobah menjadi kampung kecil yang sangat elok dipandang dan semakin indah setelah pemerintah Belanda saat itu membelah kawasan ini untuk dijadikan lintas jalan utama. Menghubungkan Tapanuli dengan Kabupaten lainnya, bahkan antar provinsi Sumatera Utara dengan Provinsi Sumatera Barat dan Kota Balige ini sangat menyentuh perasaan oleh karena pemandangan ----------------------------------------------------------------------Sejarah Marga Sihotang marhuta di Sangkarnihuta Balige 6

Danau Toba yang permai terbentang disana dan dipandang dari Kampung Sangkarnihuta Sihotang Balige. GTS sungguh sangat dikenang walaupun tidak pernah kembali lagi ke Balige, namun namanya terkenal ke segala penjuru di Kota Balige yang mengatakan bahwa GTS sangat sakti dan perkasa. Ini terbukti setelah sekian ratus tahun, marga Sihotang abadi sepanjang masa disana. Selain turunannya yang mempunyai budi pekerti yang baik, mereka juga pandai bertetangga dengan handai tolan di sekitar Balige. Sampai ketemu lagi di Kota Balige, Adios, mucha gracia senior and seniorita.

----------------------------------------------------------------------Sejarah Marga Sihotang marhuta di Sangkarnihuta Balige

7

Memandang Danau Toba dari Dolok Tolong

-

Memandang Danau Toba dari Dolok Tolong 8

----------------------------------------------------------------------Sejarah Marga Sihotang marhuta di Sangkarnihuta Balige

----------------------------------------------------------------------Sejarah Marga Sihotang marhuta di Sangkarnihuta Balige

9

Bagian 2: MENGENANG JEJAK LANGKAH: St. JAFAR Op. GORGA SIHOTANG
Oleh: Robert Ferdinand Sihotang

1. 2. 3. 4. 5.

Nama Tempat dan Tanggal lahir Agama Jenis Kelamin Riwayat Orang Tua

: St. Jafar Op. Gorga Sihotang (SJS) : Balige 19 September 1930 : Kristen Protestan : Laki-laki :

JS adalah anak dari Ayahanda Tenggal Sihotang dan Ibunda tercinta Julia Boru Sianipar yang berasal dari Sianipar Sihail-hail Balige, mempunyai 1 orang kakak saudarinya bernama Tiambun br Sihotang. SJS berumur 1 Tahun dan kakaknya berumur 3 Tahun beserta ibundanya telah ditinggalkan oleh Ayahandanya dikarenakan oleh suatu penyakit yang tidak dapat terobati. Sejak ditinggal Ayahandanya dengan usia rumah tangga seumur jagung mereka tidak memiliki harta benda maupun sawah ataupun ladang, mereka hidup miskin dan penuh kesulitan untuk memperoleh kebutuhan pokok sehari-hari, Ibunda Julia br Sianipar dengan bersusah payah bekerja di sawah orang lain untuk membekali hidup mereka bertiga. Mereka tinggal di gubuk yang ditinggalkan oleh ayahandanya di Sangkarnihuta sebagai warisan yang turun temurun dari leluhur Garaga Tunggal Sihotang (GTS) sebagai Tanah Pauseang dari Tulang (Bona ni Ari) marga Napitupulu Salimbabiat. Dengan hidup keprihatinan SJS tidak dapat menyelesaikan pendidikan di sekolah rakyat sebagaimana teman sebayanya yang mempunyai orang tua, hanya bersekolah setingkat kelas 1 (satu) Sekolah Rakyat (SR) dan beruntung saat itu SJS sudah dapat menulis dan membaca. Kehidupan sehari-harinya adalah membantu ibundanya ke sawah. Ibunda SJS sangat menayangi kedua anaknya, menjaga dan memelihara mereka dengan kasih sayang dan mengajarkan mereka hidup rendah hati dan tauwakal berdasarkan kasih kristiani yang diperoleh ibundanya dari Gereja HKBP Balige yang aktif sebagai anggota Sermon Kaum Perempuan Pararikamis. Dan setelah berumur remaja SJS memulai bekerja menjadi buruh toko di Kota Balige yang tidak jauh dari Desanya Sangkarnihuta. Atas keuletan, kejujuran SJS bekerja di Toko kemudian dia diangkat menjadi penjaga toko dan termasuk salah seorang yang dipercayai oleh pemilik Toko Kelontong berkebangsaan tionghoa namanya Toko Bandung di Balige. Kemudian setelah berusia dewasa SJS menikahi kekasihnya bernama Tionggar Br. Pardede putri dari St. M. Op. Mangasi Pardede dari Sosor Parribuan Pardede Onan Balige. Dan telah dikaruniakan putera 7 orang terdiri dari 4 Orang anak laki-laki dan 3 orang anak perempuan. Sebagaimana cita-cita orang Batak --------------------------------------------------------------------Mengenang Jejak Langkah St. Jafar Op. Gorga Sihotang 10

pada umumnya, SJS membesarkan anak-anaknya dengan penuh semangat perjuangan dengan kasih sayang sebagai mana yang diperolehnya dari Ibundanya dan selalu mengajarkan anak-anaknya dengan ajaran kristiani dan berusaha untuk menyekolahkan semua anak-anaknya setinggi mungkin. Ibunda yang sangat dihormati dan dikasihinya meninggal dengan tenang pada usia 105 Tahun pada Tahun 1983 karena sudah terlalu tua, tidak dapat lagi duduk dan matanya telah rabun. 6. Riwayat Pekerjaan : Ada beberapa pekerjaan sehari-hari yang ditekuni oleh SJS untuk menopang kehidupan keluarganya, usahanya banyak mengalami pasang surut sesuai kondisi sosial dan kondisi perekonomian pada saat itu yakni: 6.1. Bertani Sebagaimana kegiatan kehidupan masyarakat di Sangkarnihuta Balige dan juga kemampuan masyarakat hanya berkisar pada pertanian sawah tadah hujan dan bercocok tanam serta memelihara ternak kecil seperti unggas dan ternak babi, SJS melakukan kegiatan sehari-harinya adalah bertani, dibantu oleh keluarga dalam melaksanakan pekerjaan disawah dengan melakukan marsiadapari dan dipekerjakan kepada para penggaji. Sawah yang dikelola adalah Sawah Indahan Arian sebagai pemberian secara adat Batak oleh Bapak mertuanya St. M. Op. Mangasi Pardede di Sosor Parribuan serta sawah-sawah yang dijual gadai oleh tetangganya di Sangkarnihuta dan di Sosor Parribuan; Saat ini sawah gadai yang diusahainya tersebut telah ditebus oleh yang empunya dan sawah Indahan Arian yang diperolehnya telah dilanjutkan lagi kepada putri sulungnya yakni Tiadja Nurmida Sihotang (Nai Jelli Br. Simangunsong) yang telah berkeluarga dengan marga Simangunsong dari Parsoburan. 6.2 Industri Rumah Tangga Kain Sarung (Mandar) Tenunan Khas Balige Tahun 1960 hingga 1968 SJS melakukan kegiatan home industri tenun untuk memproduksi kain sarung (mandar) tenunan Khas Balige. Jumlah mesin yang dimiliki ada 3 Unit, pekerja sebanyak 3 Orang karyawan dibantu oleh keluarga dalam melakukan produksi seperti mencelup benang, menjulur benang dan lain-lain. Pekerjaan ini kelihatannya sangat membosankan dan hasilnya sangat lambat karena dilakukan secara manual, karena belum ada aliran listrik. Produksi tidak dapat berjalan pada Tahun 1968 karena diakibatkan kesulitan mendapatkan bahan baku --------------------------------------------------------------------Mengenang Jejak Langkah St. Jafar Op. Gorga Sihotang 11

seperti benang, yang ada hubungannya dengan kondisi politik yang tidak menentu. Banyak industri pertenunan kecil yang guling tikar pada saat itu. Yang dapat bertahan adalah hanya pertenunan yang besar di Balige jumlahnya berkisar 5 Unit saja, termasuk perextilan DR. TD. Pardede di Balige dan akhirnya memindahkan usahanya ke Medan untuk mengurangi biaya transportasi. 6.3. Industri Rumah Tangga Minyak Rambut (Pomade) Selain bertani, dan untuk mengganti kegiatan usaha industri rumah tangga kain sarung (Mandar) yang telah gulung tikar pada tahun 1968-1978 SJS membuat usaha minyak rambut (pomade), dilakoni untuk menambah penghasilan keluarga. Pekerjaan tersebut menggunakan peralatan sederhana seperti ceret untuk tempat memanaskan bahan-bahan minyak rambut. Peralatan yang digunakan adalah: Tungku atau perapian, Sendok penggayuh, Cap atau stempel, Kaleng atau wadah Minyak rambut sedangkan bahan-bahannya adalah dari: Paselin, Gincu pewarna, Minyak wangi sebagai pengharum, Kayu cendana. Produksi didrop di-toko kelontong di Balige dan para pedagang kelontong di pasar Pekan Porsea, Siborongborong, Dolok Sanggul dan Lintong ni Huta. Kegiatan industri ini digeluti hingga tahun 1978. Produksi berhenti dikarenakan adanya penyetopan dari Polisi Distrik Balige akibat tidak mempunyai izin produksi dan dianggap ilegal. Semua peralatan yang digunakan disita oleh polisi serta peralatan tersebut hilang begitu saja di kantor Polisi Distrik Balige dan tidak ada pembinaan dari pemerintah saat itu agar usaha masyarakat kecil untuk pelestarian dan pekembangan. 6.4. Pedagang Obat Berizin Setelah home industri tenun SJS gulung tikar pada Tahun 1968 berikut industri minyak rambut (pomade) ditutup pada tahun 1978, SJS yang mempunyai pengalaman berdagang, tidak berhenti berusaha SJS memulai bisnis baru dengan melakukan jualan Obat bermerk dengan izin dari MKGR sebagai salah satu organisasi masyarakat yakni di pasar pekan di Kabupaten Tapanuli Utara di Lintong ni huta, Siborong-borong, Porsea dan Dolok Sanggul. Bisnis obat ini berkembang dengan cukup baik, sehubungan dengan Puskesmas dan Rumah Sakit masih terbatas jumlahnya di Kabupaten Tapanuli Utara hanya ada 1 Unit Rumah Sakit Umum milik Pemerintah Kelas C di Tarutung dan 1 Unit Rumah Sakit HKBP Balige type Kelas C di Balige. Pelanggan Obat ini adalah para Mantri dan Bidan Desa yang melakukan Praktek di Desa-desa juga pelanggannya adalah masyarakat yang langsung membeli Obat-obatan untuk pertolongan pertama seperti obat meceret, obat panas, obat gatal-gatal, obat batuk, obat mag, balsem, minyak Angin, dll. Pada --------------------------------------------------------------------Mengenang Jejak Langkah St. Jafar Op. Gorga Sihotang 12

saat itu yang paling diminati masyarakat adalah Obat cacing dikarenakan masyarakat sudah mengetahui tentang pengaruh negatif cacing parasit didalam tubuh manusia, sehingga masyarakat selalu mengkomsumsi obat cacing sekali tiga bulan baik anak-anak maupun orang dewasa. Dengan kesadaran masyarakat tersebut, penjualan obat cacing sangat tinggi setiap hari. Selain itu, dikarenakan kondisi ekonomi masyarakat juga masih belum baik belum mampu untuk memenuhi makanan 4 Sehat dan 5 sempurna, maka masyarakat lebih memilih untuk memberikan Vitamin tambahan kepada anak-anak Balita seperti Vitamin Sirop, tetes, kaplet maupun kapsul. Demikian juga Orang dewasa yang kerja keras di sawah ataupun di Ladang untuk menambah stamina, mereka memilih untuk mengkomsumsi Vitamin. Bisnis tersebut sangat maju, dan Harga yang ditawarkan oleh SJS dapat dijangkau oleh masyarakat karena harga yang ditawarkan tidak banyak mendapatkan untung dari penjualan tersebut. Prinsip SJS dalam berjualan tersebut adalah adalah bila untung yang pesatuan jenis obat sedikit, namun bila banyak yang laku maka jumlahnya tentu akan banyak (sedikit-dikit akan menjadi bukit). Akibatnya penjualan obat-obatan laris dan lancar sehingga obat kadaluarsa tidak ada, kualitas obat-obatan yang dijual tetap terjamin dan juga asli karena obat yang diperoleh Langsung dari Toko Obat resmi atau berizin dan terpercaya di Pematang Siantar Yakni Toko Obat Surya, Toko Obat Sinar dan Apotik Sutomo serta Agen-agen Farmasi yang membawa langsung ke Depot Obat SJS di Balige. Menurut hemat kami Bisnis obat SJS ini adalah salah satu saluran dan pembawa kesehatan pada Empat kecamatan sebagaimana disebutkan diatas, karena pada masa itu Puskesmas maupun Klinik Kesehatan masih langka dan Rumah sakit hanya ada 2 Unit saja dan fungsinya hanya sebagai tempat berobat apabila masyarakat yang sakit adalah kondisinya sudah sangat parah, dan apabila penyakit belum parah dan biasa-biasa saja, masyarakat masih cukup dan bertahan dengan melakukan pengobatan sendiri. Dan juga masyarakat sangat yakin dan percaya apabila makan obat yang dibeli dari SJS penyakitnya akan sembuh. Kesehatan mereka yang sakit kemungkinan besar dapat pulih atau sembuh dikarenakan adanya keyakinan, kesabaran, serta pikiran yang tenang juga dengan mengkomsumsi obat - obat generik tersebut dapat terbantu mempercepat penyembuhannya. Tidak jarang masyarakat yang datang setiap harinya mengucapkan terimakasih kepada SJS karena penyakitnya telah sembuh. 6.5. Perangkat Desa Sangkarnihuta Balige Sejak Tahun 1975 SJS juga ikut aktif dalam bersosialisasi dimasyarakat ikut mengabdikan dirinya bekerja apabila ada kegiatan di Kantor Desa pada saat hari tidak pergi ke onan (pekan) biasanya hari kamis, SJS senantiasa ikut berperan. Dengan peran serta ini SJS kemudian diangkat menjadi salah satu pengurus perangkat Desa meskipun tidak memperoleh pendapatan atau gaji. Namun pada akhir Tahun 1979 pemerintah mengangkat aparatur perangkat desa menjadi PNS, SJS sejak itu mendapat gaji dari pemerintah dengan gaji golongan ruang I/a dan beliau pensiun pada tahun 1990, dan setiap pemilihan umum (Pemilu) SJS selalu berperan sebagai Ketua KPPS sejak Pemilu Tahun 1971 hingga Pemilu Tahun 1987.

--------------------------------------------------------------------Mengenang Jejak Langkah St. Jafar Op. Gorga Sihotang

13

6.6. Sintua atau Majelis Gereja HKBP Balige Pada tahun 1980 SJS dinobatkan menjadi sintua di Gereja HKBP Balige. Setelah 2 Tahun berikutnya SJS dipercayakan oleh rapat huria HKBP Balige menjadi Bendahara Huria. Bendahara Huria dilakukannya selama 10 Tahun dan pada periode tersebut keuangan Gereja HKBP Balige selalu surflus sehingga dapat memelihara gedung, memperbaiki pagar serta membangun Gedung Serbaguna berlantai 2 di Lapangan belakang gereja yang dapat digunakan sebagai tempat upacara pesta adat Batak dan menjadi salah satu sumber pendapatan Gereja hingga saat ini. 7. Sikap dan Perilaku Kemungkinan dikarenakan sejak kecil sudah ditinggal oleh ayahandanya dan belaian kasih sayang ibundanya yang dekat dan selalu mengandalkan doa kepada Tuhan, karakter SJS terbentuk menjadi seorang pekerja keras, jujur, sabar dan termasuk pendiam dan penderma bagi sesamanya. Banyak sesama dan tetangga yang dibantunya. Tetangga yang hidup sebagai petani, banyak dan sering memakai uangnya tanpa bunga atau jasa untuk kebutuhan mendesak misalnya sakit atau untuk keperluan acara adat dukacita ataupun sukacita, uang tersebut dikembalikan setelah panen tiba. Ataupun kepada sesama pedagang SJS bersedia memberikan uang hasil penjualan sehari-hari dipakai tanpa bunga oleh pedagang-pedagang kecil maupun besar untuk digunakan sebagai modal belanja barang jualan mereka biasanya uang tersebut mereka pakai pada Hari senin hingga hari jumat dan dikembalikan kepada SJS pada hari jumat malam supaya SJS dapat menggunakan uang tersebut untuk belanja ataupun hendak menyetorkan hasil penjualan Obat-obatan selama 1 (satu) minggu kepada Tokenya (Toko Obat Surya, Toko Obat Sinar dan Apotik Sutomo di Pematang Siantar serta agen farmasi yang mendrop obat-obatan) pada hari sabtu subuh ke Pematang Siantar. Banyak yang senang dengan SJS baik di Onan, Tempat tinggalnya di Sangkarnihuta, termasuk juga di lingkungan Kantor Kelurahan Sangkarnihuta, maupun di lingkungan Gereja HKBP Balige terutama Tokenya dari Pematang Siantar sangat mempercayai bisnis obat yang dilakoni SJS, malahan tanpa sepengetahuan dan tanpa order dari SJS obat-obatan produksi baru selalu diantar ke Depot di Sangkarnihuta Balige, Rumah SJS berfungsi ganda berobah menjadi Gudang obat-obatan dan tempat tinggal. Seiring dengan berkat daripada Tuhan obat-obatan yang didrop tersebut semakin lancar dan laris dijual. Tuhan sangat baik dan anak-anak SJS yang sedang menuntut pelajaran di Bangku kuliah dapat menyelesaikan pendidikannya dengan baik. --------------------------------------------------------------------Mengenang Jejak Langkah St. Jafar Op. Gorga Sihotang 14

8.

Nasehat dan Pesan kepada Anak-anaknya Nasehat-nasehat SJS kepada anak-anaknya untuk melakukan kehidupan sehariharinya adalah dan sangat mumpuni dan masih relefan diikuti oleh anak-anak hingga saat ini yakni: Burju ma ho marminggu tu gareja ai disi do dapoton mu nasinakkap ni roham saguru tu lomo ni roha ni Debata; Unang lupa ho mamuji Tuhan I marhite-hite Tangiang dohot Ende ima di nalaho mangula ulaon mu:

Jahowa Siparmahan ahu ndang hurang manang aha, Ai nasa jea dipadao do sian dorbiaNa; Tongon dibaen na lomaki lao pangoluhon tondikki, dibahen Asi RohaNa. Sai ulahon ma ulaon mu marhite-hite asi dohot holong ni roha nasian Tuhan Amanta Pardenggan basa I;

-

Ingkon marsikkola do ho, ai porlu doi asa adong parbinotoannu laho mangula ulaon mu, jala asa dapotonmu upa ni ulaonmu siganup ari; Molo godang iba karejo jala nungga loja, tama ma iba dapotan upa dohot sipanganon nagodang;

-

Tumagonan ma ho gumodang hohom manangi alai lam gumodang ma ho nang mula ulaon, asa gumodang nang laba ni ari-arim; Sotung ma marisuang akka sipanganon mu ndang tarpangan ho jala bolong, alana tung mansai godang do na susa dohot marhaismartuduk laho mangalului sipanganon na siganup ari. Alani i sarihon ma dongan mu;

9.

Sedikit demi sedikit akan menjadi bukit;

Gurauan kepada pelanggan dan Ungkapan kepada anak-anaknya yang membandel SJS selalu bergurau dan melakukan pembicaraan dengan pelanggannya yang selalu menawarkan obat yang akan dibeli darinya sbb: Panuhor SJS Panuhor SJS Panuhor SJS : ” Sadia argani Sinarzin on Amang Sihotang?” : ” Pitu ratus lima pulu rupia Inang.” : ” Boi do pitu ratus amang?” : ” Tokka......, Tokka ni si Bokkanahinan do bolas ditawar-tawar.” : ” kelihatannya wajah si pembeli merenung dan tersenyum-senyum sambil berkata, Amang Sihotang on adong gait na!” :” Songoni do molo ditawar-tawar inang alana argana tetap do sian nahinan, molo naek pe sai parjolo do pinabotohon tu hamu sude nanihaholongan.

Dari gurauan tsb, pelanggannya selalu mengingatnya atau holan sihotang sihotangon dan sudah tahu dan obat yang dibeli darinya tidak dapat ditawar-tawar dan obat yang dibeli daripadanya sangat manjur. --------------------------------------------------------------------Mengenang Jejak Langkah St. Jafar Op. Gorga Sihotang 15

Menjadi salah satu turi-turian bagi anak-anaknya hingga saat ini apabila anak-anaknya menjawab perkataan atau pertanyaan SJS salah atau kurang tepat, maka SJS mengatakan: ”Aha do didok ho ...............”. Hal ini membuat anak-anaknya tahu, telah menjawab pertanyaan orang tuanya dengan salah. SJS sangat sayang kepada semua anak-anaknya baik laki-laki maupun perempuan . Semua anak-anaknya sangat menghormati dan mengaguminya meskipun tidak tinggi pendidikan namun kepintaran menghitung, kecerdasan, kerja keras dan kejujuran serta kesabarannya perlu diteladani. 10. Tempat dan Tanggal Meninggal Dunia Pada umur 69 Tahun tepatnya 17 Januari 1999, SJS dipanggil oleh Tuhan beristirahat dari semua pekerjaannya di dunia ini. Meninggal di Rumah Sakit HKBP Balige, sebelum meninggal SJS mengalami penyakit yang tidak dapat tertolong diakibatkan penyakit komplikasi oleh penyakit Diabetes Melitus yang dideritanya dengan stadium tinggi yang sangat sulit disembuhkan oleh dokter. SJS meningalkan seorang isteri, 7 orang Anak dan jumlah cucunya adalah 22 Orang terdiri dari 10 Orang pahompu laki-laki dan 12 Orang pahompu perempuan, dimakamkan pada pemakaman keluarga di Sangkarnihuta Balige. Dan pada saat itu ada 2 Orang anaknya yang belum berkeluarga yakni Anak Laki-laki dan Perempuan Bungsunya, Yakni Volmi Rosdiana Sihotang dan Rudi Anto Sihotang. Meskipun SJS telah meninggalkan Isteri, anak dan para cucunya namun nasehat , sikap dan perilakunya tetap dipegang dan dikenang oleh keturunnannya semua. Selamat Jalan Orang tua kami, Bapak dan Kakek Kami tercinta kami selalu mengenang dan mencintai dan menuruti semua nasehatmu. 11. Tarombo dan Pinompar St. Jafar Op. Gorga Sihotang Pada saat ini Desember 2012 , semua Anak-anaknya telah bekeluarga Anak bungsunya telah menikah dengan boru ni tulang nami Silalahi Situngkir dari Pematang siantar dan telah dikaruniakan 4 orang anak terdiri dari 3 laki-laki dan 1 putri dan juga Perempuan bungsu SJS Volmi Rosdiana Sihotang telah menikah dengan marga Napitupulu dari Napitupulu Bagasan Balige. Tarombo dan Pinompar St Jafar Op. Gorga Sihotang sebagaimana diperlihatkan pada Daftar: 2.

--------------------------------------------------------------------Mengenang Jejak Langkah St. Jafar Op. Gorga Sihotang

16

--------------------------------------------------------------------Mengenang Jejak Langkah St. Jafar Op. Gorga Sihotang

17

Bagian 3: Hula-Hula Nami Rajai ”Raja Sitorus”
Oleh: Robert Ferdinand Sihotang ula-hula kami adalah Gr. Dottor Op. Nova Sitorus (DS) / D Br. Panjaitan , tinggal di Lumban Siringo-ringo Desa Parsambilan Kecamatan Silaen Kabupaten Toba Samosir. Beliau adalah keturunan dari Raja Sitorus Pane Matasopiak Siringo. Silsilah atau tarombo beliau sebagaimana ditunjukkan pada Daftar: 3.1. Selama hidupnya DS bekerja di pemerintahan (Pegawai Negeri Sipil) dan mengabdikan dirinya sebagai guru pengajar di SD yang berada di Kecamatan Habinsaran dan Kecamatan Silaen. Dan terakhir tercatat sebagai Kepala SD Negeri Napitupulu Kecamatan Silaen. Pensiun Tahun 1997. Pada 20 Januari 2011 orang tua yang kami cintai telah kembali kepada Bapak di Surga meninggalkan kami seluruh para anak dan para cucunya. Sedangkan Ibu Mertua kami adalah Gr. Duma Op. Nova Boru Panjaitan salah satu putri dari Oppung kami Gr. Op. Parasman Panjaitan adalah keturunan dari marga Panjaitan Siponot yang betempat tinggal di Desa Sibide Kecamatan Habinsaran Kabupaten Toba Samosir. Selama hidupnya mengabdi sebagai Guru PNS SD Negeri Parsambilan di Kecamatan Silaen dan pensiun berumur 56 Tahun pada Tahun 1993. Hingga saat ini jumlah keturunan hula-hula kami tersebut yakni: Anak Laki-laki 3 (tiga) Orang, Anak Perempuan 3 (tiga) Orang, dan semuanya telah berumah tangga. Jumlah cucunya 22 (dua puluh dua) Orang serta cicitnya 1 (satu) Orang, sebagaimana ditunjukkan pada Daftar 3.2.

----------------------------Hula-hula Raja Sitorus

18

----------------------------Hula-hula Raja Sitorus

19

----------------------------Hula-hula Raja Sitorus

20

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->