P. 1
Agama Islam-Etos Kerja

Agama Islam-Etos Kerja

|Views: 8|Likes:
Published by Dwi Mursita Sari

More info:

Published by: Dwi Mursita Sari on Mar 21, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/30/2013

pdf

text

original

A.

ARTI DAN ETOS KERJA ISLAM
1. Pengertian Etos Kerja
Etos berasal dari bahasa Yunani (etos) yang memberikan arti sikap, kepribadian,
watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Sikap ini tidak saja dimiliki oleh individu,
tetapi juga oleh kelompok bahkan masyarakat .
Dalam kamus besar bahasa Indonesia etos kerja adalah semangat kerja yang menjadi ciri
khas dan keyakinan seseorang atau sesesuatu kelompok.
Secara terminologis kata etos, yang mengalami perubahan makna yang meluas.
Digunakan dalam tiga pengertian yang berbeda yaitu:
b. suatu aturan umum atau cara hidup
c. suatu tatanan aturan perilaku.
d. Penyelidikan tentang jalan hidup dan seperangkat aturan tingkah laku .
Etos kerja dapat diartikan sebagai pandangan bagaimana melakukan kegiatan
yang bertujuan mendapatkan hasil atau mencapai kesuksesan. Dengan kata lain, etos
kerja adalah totalitas kepribadian diri serta cara mengekspresikan, memandang, meyakini
dan memberikan makna tentang suatu pekerjaan yang mendorong diri untuk bertindak
dan meraih amal (hasil yang optimal). Etos juga berarti percaya, tekun dan senang pada
pekerjaan yang sedang dihadapi. Etos kerja dalam arti luas menyangkut akan akhlak
dalam pekerjaan. Untuk bisa menimbang bagaimana akhlak seseorang dalam bekerja
sangat tergantung dari cara melihat arti kerja dalam kehidupan, cara bekerja dan hakikat
bekerja. Dalam Islam, iman banyak dikaitkan dengan amal. Dengan kata lain, kerja yang
merupakan bagian dari amal tak lepas dari kaitan iman seseorang.
Salah satu bentuk ibadah adalah bekerja dengan sungguh-sungguh untuk
memperoleh hasil yang maksimal. Umat islam sangat dituntut untuk bekerja dan dilarang
malas, mengemis, dan menggantungkan hidup kepada orang lain.

2. Fungsi dan Tujuan Etos Kerja
Secara umum, etos kerja berfungsi sebagai alat penggerak tetap perbuatan dan
kegiatan individu. Menurut A. Tabrani Rusyan, fungsi etos kerja adalah:
a. Pendorang timbulnya perbuatan.
b. Penggairah dalam aktivitas.
c. Penggerak, seperti mesin bagi mobil besar kecilnya motivasi akan menentukan
cepat lambatnya suatu perbuatan .

3. Ciri-Ciri Etos Kerja Islami
Toro Tasmara dalam bukunya Membudayakan Etos kerja Islami menyebutkan
beberapa ciri etos kerja muslim, yaitu :
1. Menghargai Waktu
Orang yang memiliki etos kerja menjadikan waktu sebagai sesuatu yang sangat
berharga. Esensi waktu adalah rasa tanggung jawab yang sangat besar terhadap
pemanfaatan kehidupan ini. Ia tidak akan menyia-nyiakan waktu yang ia miliki
dengan mengisinya dengan hal-hal yang kurang bermanfaat.

2. Memiliki Moralitas yang Ikhlas
Orang yang ikhlas yaitu melaksanakan tugasnya secara professional, bekerja
dengan ilmu, keahlian, dan ketrampilan serta tanpa motivasi lain. Keikhlasan
menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelah, dan segala pengorbanan
tidak terasa berat.
Orang-orang yang ikhlas memiliki ciri yang bisa dilihat, diantaranya:
1. Senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal
2. Terjaga dari segala yang diharamkan Allah

3. Memiliki Kejujuran
Jujur dalam bahasa Arab disebut Shidik, artinya benar. Kejujuran adalah bisikan
hati yang scara terus-menerus mendesak dn memberikan moral luhur yang didorong
kecintaan pada illahi. Kejujuran bukan datang dari luar dan bukan pula sebuah
keterpaksaan, melainkan sebuah panggilan dan kesadaran dari dalam diri sendiri.
Orang yang jujur pada diri sendiri, berarti memiliki keterbukaan jiwa yang
transparan.

4. Memiliki Komitmen
Komitmen adalah keyakinan yang mengikat hati nurani secara kukuh dan
kemudian menggerakkan diri berperilaku sesuai dengan yang diyakini. Orang yang
berkomitmen memungkinkan dirinya berjuang keras menghadapi berbagai tantangan
dan tekanan. Mereka tidak mengenal kata menyerah dan putus asa

5. Istiqamah, Kuat Pendirian
Istiqamah berarti tetap dan tegar dalam kebenaran sekalipun berhadapan dengan
rintangan. Orang yang istiqamah memiliki sikap taat azas, pantang menyerah dan
mampu mempertahankan prinsip serta komitmennya.

6. Memiliki Kedisiplinan
Disiplin aitu kemampuan untuk mengendalikan diri dengan tenang dan tetap taat,
walaupun dalam situasi yang tidak mendukung. Disiplin merupakan tiang utama etos
kerja produktif.

7. Konsekuen dan Berani Menghadapi Tantangan
Orang yang konsekuen memiliki motivasi yang kuat untuk mencapai tujuan dan
menjaga apa yang telah menjadi keputusan atau pilihannya.

8. Memiliki Sikap Percaya Diri
Sikap percaya diri dapat dilihat dari beberapa cirri kepribadian antara lain :
a. Berani untuk menyatakan pendapat atau gagasannya sendiri.
b. Mampu menguasai emosinya.
c. Memiliki kemandirian yang sangat kuat

9. Kreatif
Orang yang kreatif mencari alternatif-alternatif tentang sesuatu yang dihadapi .
Ciri-ciri orang yang kreatif adalah :
a. Kuatnya motivasi untuk berprestasi
b. Komitmen terhadap tugas
c. Inisiatif dan optimisme

10. Bertanggung Jawab
Tanggung jawab adalah suatu sikap dan tindakn seseorang dalam menerima
sesuatu sebagai amanah dengan penuh kesadaran dan ingin menunaikannya dengan
sebaik-baiknya. Amanah adalah titipan yang konsekuensinya tanggung jawab. Bila
tanggung jawab telah ditunaikan berarti kewajiban telah dilaksanakan dan akhirnya
hati merasa aman dan terbebas dari segala tuntutan.

11. Bahagia Karena Melayani
Orang yang bahagia karena melayani akan menjadikan dirinya sibuk memberikan
pelayanan. Ia ingin menjadi orang yang bermakna bagi orang lain dan akan bahagia
apabila hidupnya dipenuhi dengan pelayanan. Setiap pribadi muslim harus senang
untuk melayani karena melayani di samping merupakan ibadah juga berarti
menjadikan diri sebagai orang yang bermanfaat kepada orang lain.

12. Memiliki Harga Diri
Memiliki harga diri maksudnya yaitu bertahan atau tidak melibatkan diri apalagi
menjerumuskan diri kepada hal-hal tercela dan tidak bermakna.
Ciri orang yang memiliki harga diri yaitu :
a. Konsisten dengan kebenaran
b. Persesuaian antara perbuatan dengan ucapan
c. Suka melayani dan mengutamakan kepentingan bersama
d. Menghormati setiap orang yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia
e. Bersih hati dari perbuatan dan sifat-sifat tercela
f. Sederhana dalam berbagai hal

13. Memiliki Jiwa kepempimpinan
Allah mengatakan manusia khalifah di bumi (QS. Al-Baqarah (2): 30) yang
berarti mengambil peran sebagai pemimpin dalam kehidupan di bumi.memimpin
berarti mengambil peran secara aktif untuk memengaruhi dirinya dan memberikan
inspirasi teladan bagi orang lain. Seorang pemimpin adalah orang yang mempunyai
konsep dan personalitas yang tinggi. Ia terbuka terhadap kritik dan menerima serta
mengikuti apa yang terbaik.
14. Berorientasi Ke Masa Depan
Hendaklah setiap diri memerhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok (QS.
Al-Hasyr (59):18). Keberhasilan masa depan berhubungan erat dengan kehidupan
sekarang. Bila masa depan diharapkan adanya keberhasilan, maka sekarang perlu ada
perencanaan yang terarah, usaha yang sungguh-sungguh dan perkiraan-perkiraan
hambatan serta cara-cara mengatasi hambatan tersebut.

15. Hidup Berhemat dan Efisien
Orang yang berhemat adalah orang yang mempunyai pandangan jauh ke depan.
Berhemat merupakan estimasi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang sehingga
dapat menyikapinya dengan tenang karena sudah diperkirakan dan disiapkan solusi untuk
mengatasi sesuatu keadaan yang tidak normal.
Efisien berkaitan erat dengan cara melaksanakan sesuatu yang benar, tepat dan akurat,
tanpa memubazirkan waktu dan potensi-potensi lain kepada seharusnya yang tidak perlu.

16. Memiliki Jiwa Wiraswasta
Orang yang memiliki jiwa wiraswasta biasanya selalu melihat setiap segi
kehidupan sebagai peluang. Seorang yang memiliki jiwa wiraswasta umumnya
mempunyai sifat-sifat sebagai berikut;
1. Memiliki niat yang kuat dan tidak ada kata menyerah
2. Percaya diri; memiliki keberanian untuk mengambil keputusan dan memikul risikonya
3. Terbuka dan ingin bekerja sama dalam memngembangkan diri
4. Mempunyai perhatian yang besar terhadap segala sesuatu walaupun hal yang kecil
5. Tidak puas dengan dengan apa yang ada dan selalu mencari terobosan baru
6. Tidak melihat setiap kendala sebagai kendala atau hambatan
7. Setiap tindakan atau keputusannya didasarkan pada perhitungan yang obyektif, nalar,
dan faktual
8. Selalu menjalin komunikasi dan mengembangkan jaringan informasi yang
memperbanyak jaringan kerjanya.
9. Senang pada kompetisi karena dapat mengetahui posisi usahanya
10. Tidak takut pada perubahan

17. Memiliki Insting Berkompetisi
Salah satu harkat dan martabat manusia baik di mata manusia maupun dalam
pandangan Allah adalah amal shaleh. Oleh sebab itu, manusia yang ingin menjaga dan
mempertahankan harkat tentu akan siap dan terus berkompetisi untuk memperbanyak
amal kebaikannya. Berkompetisi dalam kebaikan adalah perintah Allah (QS. Al-Baqarah
(2): 148) yang harus dilaksanakan.
¯]7¯g¯4Ò NOE_;_jÒ 4O¬- OgOg¢¯4ON` W
W-O¬³)l4¯c·· gª4O¯OEC^¯- _ 4×^¯Ò¡
4` W-O+^O7¯·> gª·4C Nª7¯) +.- ¬1g©E_
_ Ep)³ -.- _OÞ>4N ÷]7 ¡7¯/E* EOCg³·~
^¯jg÷
Artinya : Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya.
Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti
Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha
Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Baqarah (2): 148)
18. Keinginan Untuk Mandiri
Islam merupakan agama yang sangat menghargai kemandirian. Karena
kemandirian disamping dapat mengembangkan potensi yang dimiliki dengan maksimal
juga akan menjauhkan diri dari ketergantungan kepada orang lain sehingga tidak
menyusahkan orang lain dan bermanfaat untuk orang lain.

19. Kemauan Belajar dan Mencari ilmu
Wahyu Allah yang pertama diterima oleh Muhammad (QS. Al-„Alaq (96) : 1-5)
sangat erat hubungannya dengan belajar dan menuntut ilmu. Nabi mengatakan “Tuntutlah
ilmu pengetahuan semenjak dari buaian sampai ke liang lahat, tuntutlah ilmu sekalipun ke
negeri Cina”. Kewajiban belajar nilainya sama dengan kewajiban ikut berjuang ke medan
perang (QS. Al-Taubah (9): 122). Derajat orang yang memiliki ilmu pengetahuan tidak
sama dengan orang yang tidak memiliki ilmu pengetahuan (QS. Al-Zumar (39): 9) dan
orang yang berilmu derajatnya ditinggikan oleh Allah beberapa derajat (QS. Al
Mujadalah (58): 11).

20. Memiliki Semangat Perantauan
Salah satu ciri pribadi muslim yang memiliki etos kerja ialah adanya suatu
dorongan untuk melakukan perantauan. Dengan menjelajahi hamparan bumi ditemukan
berbagai peristiwa budaya yang dapat dijadikan pelajaran dan menyebabkan seseorang
memiliki wawasan universal dn tidak terperangkap dalam fanatisme sempit. Pengalaman
dalam perantauan akan melatih seseorang untuk senantiasa berbuat baik, mampu
membaca budaya dan situasi.

21. Memerhatikan Kesehatan dan Gizi
Etos kerja pribadi muslim adalah etos yang sangat erat kaitannya dengan cara
pemeliharaan kesehatan dan kesegaran serta kebugaran jasmani. Karena tidak mungkin
seseorang dapat bekerja dan melaksanakan tugasnya dengan optimal bila tidak didukung
oleh fisik yang sehat. Allah menyuruh manusia untuk memerhatikan apa yang
dimakannya yaitu; Makanan yang halal dan baik (bergizi tinggi dan memberikan efek
kimiawi yang menguntungkan pada tubuh) (QS. Al-Baqarah (2): 168) dan makanan yang
sedap serta baik akibatnya.
E_GCÒ^4C +EEL¯- W-O¬U7 O©g` O)×
^·¯O·- 1EÞUEO 4lj´O·C ºº4Ò W-ON¬):4©·>
gª4O7C7= ^}·C^OO=¯- _ +O^^)³ ¯ª7¯·¯
·Ò÷³4N N×-)lG` ^¯gg÷
Artinya : Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di
bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; Karena Sesungguhnya
syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu (QS. Al-Baqarah (2): 168)
Secara spesifik Al-Qur‟an menginformasikan beberapa jenis makanan dan
menurut penilitian jenis-jenis makanan itu mengandung kalori yang cukup tinggi dan
sehat, misalnya;
1. Daging (QS. Al-Nahal (16): 5)
¦E¬u^·-4Ò E_·³ÞUE= ¯ ¯ª¬:·¯ E_1g·
E7;g1 ÷7g¼E44`4Ò E_u4g`4Ò 4pO¬U¬±··>
^)÷
Artinya : Dan dia Telah menciptakan binatang ternak untuk kamu; padanya ada (bulu)
yang menghangatkan dan berbagai-bagai manfaat, dan sebahagiannya kamu makan. (QS.
An-Nahl (16): 5)
2. Ikan (QS. Al-Nahal (16): 14)
W=4O¬-4Ò Og~-.- 4OOCEc 4O¯·4l^¯-
W-O¬U¬±·4-g¯ +OuLg` V©¯··¯ ºC@O·C
W-ON_@OuC4-¯OÞ4Ò +Ou4g` LO41·UgO
E_4^OOO4:·U·> O4O·>4Ò ¬C·U¬¼^¯-
4O´=-4O4` gO1g· W-O7¯4¯l4g¯4Ò ;g`
·g¡)-;_·· ¯ª¬:^UE¬·¯4Ò ¬]ÒNO7¯;=·> ^¯j÷
Artinya : Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat
memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu
perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya
kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur (QS. An-Nahl
(16): 14)
3. Susu (QS. Al-Nahal (16): 66)
±Ep)³4Ò ¯7¯·¯ O)× ´¦E¬u^·- LE4O¯¯g¬·¯
W 7¯O´³¯Owe 4¼¯]¯ O)× ·gOg^O7C+ }g`
÷×u-4 l[¯O·· ±¬E14Ò 44l-¯ +g¯~··
L¯j*.Ec 4×-)@OO=Ug¢¯ ^gg÷
Artinya : Dan Sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi
kamu. kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu
yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang
meminumnya. (QS. An-Nahl (16): 66)

22. Tangguh dan Pantang Menyerah
Diantara ciri dan cara dari kepribadian muslim yang mempunyai etos kerja adalah
bekerja keras, ulet dan pantang menyerah. Keuletan merupakan modal dalam menghadapi
segala tantangan atau tekanan. Bagi seseorang yang memiliki etos kerja tantangan adalah
suatu hal yang biasa dan merupakan tangga untuk menuju cita-cita dan keberhasilan.
Oleh sebab itu tantangan merupakan bagian dari kehidupan yang harus dilalui dengan
sungguh-sungguh dan tekun, pantang menyerah dan putus asa (QS. Yusuf (2): 87) karena
putus asa bukan etos kerja pribadi muslim.

23. Berorientasi pada Produktivitas
Seorang muslim seharusnya menghayati makna firman Allah (QS. Bani Israil
(17): 27 melarang sikap mubazir. Seorang muslim seharusnya berperilaku pada cara kerja
yang efisien dengan hemat energi dan penggunaan waktu yang penuh makna. Perilaku
seperti ini merupakan modal untuk menjadikan seseorang sebagai manusia yang
berorientasi kepada nilai-nilai produktif. Pribadi muslim adalah manusia yang
memerhatikan produktivitas (QS. Al-Kahfi (18: 7).

24. Memperkaya Jaringan Silaturahmi
Pribadi yang memiliki etos kerja akan menjadikan silaturahmi sebagai salah satu
pengembangan dirinya yang dapat memperlancar gerakan hidup. Diantara keuntungan
silaturahmi adalah :
1. Memberikan nilai ibadah
2. Apabila dilakukan dengan akhlak yang mulia, akan menimbulkan kesan positif
bagi orang lain
3. Memberikan satu informasi yang membuka peluang dan kesempatan usaha
4. Mendapat pelajaran yang berharga dari pengalaman pribadi orang lain

25. Memiliki Semangat Perubahan
Pribadi yang memiliki etos kerja menyadari bahwa manusia adalah makhluk
Allah yang memiliki kebebasan untuk memilih. Allah sebagai pencipta manusia sangat
demokratis “Sesungguhnya Ia tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka
merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Al-Ra‟d (13): 11).
+O·¯ ¬e4l´]³E¬N` }g)` ÷×u-4 gOuCE³4C
;}g`4Ò ·gOg¼·UE= +O4^OO¬E¼^4·© ;}g`
@O^`Ò¡ *.- ¯ ·])³ -.- ºº +O´)O4¯NC 4`
`¬¯O·³) _/4®EO W-Ò+O´)O4¯NC 4`
¯ªjg´O¬¼^Ò) ¯ .-·O)³4Ò E1-4OÒ¡ +.-
±¬¯O·³) -w7EO÷c ºE·· E14O4` +O·¯ _ 4`4Ò
¦÷_·¯ }g)` ·gOg^Ò÷1 }g` ·-4Ò ^¯¯÷
Artinya : Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di
muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah
tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada
diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum,
Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka
selain Dia.
Srijanti dkk, dalam buku Etika Membangun Masyarakat Islam Modern menjelaskan etos kerja
islam itu adalah :
1. Bekerja sampai tuntas
2. Bekerja dengan ikhlas
3. Bekerja dengan jujur
4. Bekerja menggunakan teknologi
5. Bekerja dengan kelompok
6. Bekerja keras
7. Bekerja sebagai bentuk pelayanan

B. KESEJAHTERAAN SOSIAL
Sejahtera berarti;
- aman sentosa,
- makmur,
- selamat,
- terlepas dari segala macam gangguan dan kesukaran.
Kesejahteraan yaitu ;
- keamanan,
- keselamatan,
- ketentraman,
- kemakmuran,
- kesenangan hidup, dsb
Kesejahteraan social berarti keadaan sejahtera masyarakat.
Lemahnya kesejahteraan masyarakat pada umumnya disebabkan oleh belum atau
kurangnya pribadi-pribadi muslim memanfaatkan potensi-potensi yang dimiliki, seperti:
- tidak disiplin
- malas
- tidak mau bekerja keras
- tidak gigih belajar
- tidak menguasai keterampilan
Untuk mendapatkan kesejahteran sosial yang baik tahapan yang harus diupayakan
adalah :
1. Setiap pribadi yang ada di masyarakat harus berusaha memiliki ilmu pengetahuan dan
keterampilan.
2. Bantuan dari keluarga terdekat berupa zakat, infak, sedekah dan pemberian-pemberian
lainnya.
3. Bantuan dari masyarakat kepada anggota-anggota masyarakat yang membutuhkan baik
berupa keuangan, keterampilan maupun saran, pendapat, wawasan, dan lapangan
pekerjaan.
4. Tanggung jawab pemerintah untuk mensejahterakan rakyatnya.

C. ZAKAT DAN KEPEDULIAN SOSIAL
Manfaat ibadah zakat adalah:
1. Mengurangi atau mengikis sifat-sifat kikir di dalam jiwa serta melatih memiliki sifat-
sifat dermawan dan mengantarkan seseorang mensyukuri nikmat Allah SWT,
2. Menciptakan ketenangan dan ketentraman, bukan hanya kepada penerima tetapi juga
kepada pemberi zakat,
3. Mengembangkan harta benda
D. PENGELOLAAN DAN PENDISTRIBUSIAN ZAKAT
Pengelolaan dan pendistribusian zakat harus berorientasi untuk memajukan kesejahteraan
sosial. Zakat bila telah terkumpul pada lembaga tertentu seperti amil zakat atau rumah zakat
dapat diberikan dengan jumlah yang cukup, tidak hanya kebutuhan konsumsi para mustahiq
yang membutuhkan tetapi juga dapat digunakan untuk menompang terciptanya
kesejahteraan social yang baik.
Zakat dapat pula digunakan untuk kegiatan yang bersifat bisnis dan untuk menciptakan
lapangan pekerjaan.







ETOS KERJA DAN
KESEJAHTERAAN SOSIAL



DISUSUN OLEH : 1. ANNISA AMBARSARI
2. DWI MURSITA SARI
3. MEDYARINA KURNIASIH

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->