PUTU WIJAYA Analisis Cerpen " Peradilan Rakyat" Karya

PERADILAN RAKYAT Cerpen Putu Wijaya 1. Sinopsis Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangadihormatioleh para penegak hukum. "Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini." Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung. "Apa yang ingin kamu Pengacara muda tertegun. "Ya, kepada kamu, bukan sebagai tombak pencarian keadilan di negeri Pengacara muda "Baik, kalau begitu, tentang, anak muda?" "Ayahanda bertanya kepadaku?" putraku, tetapi kamu sebagai ujung yang sedang dicabik-cabik korupsi ini." itu tersenyum. Anda mengerti maksudku."

"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu." Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan

negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. sembari mengangkat tangan. karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini. karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater. Pemburu Keadilan. karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih." Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. Jangan surut. "Tidak apa. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Penjahat yang paling kejam. sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini. itu bukan istilahku. Kenapa? Karena aku yakin. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air. sudah ada kebangkitan baru. bagai suara alam. sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan. aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. "Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. bahwa pada akhirnya negara cukup adil. kesimpulanku." ." "Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!" Pengacara tua itu tertawa. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa." sebebas-bebasnya. bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang. karena aku yang menjadi jaminannya. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya. mendengar suaramu. negara sudah memainkan sandiwara. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. kau yang selalu berhasil dan sempurna. Berbicaralah Aku mau berdialog. Pengacara muda terkejut. "Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua. "jangan membatasi dirimu sendiri. Walhasil. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku. tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. Dan itulah yang aku tentang. Begini. tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri." "Terima kasih. bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun." Pengacara tua itu meringis. karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. Aku ingin berkata tidak kepada negara. Berarti kita bisa bicara sungguhsungguh sebagai profesional. Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih. sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih. Di situ aku mulai berpikir. tetap kejahatan. "Aku "Baik. maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda. "Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda. Tetapi aku tolak mentah-mentah. datang kemari ingin Mulailah. Meskipun bukan bebas dari kritik. menikmati juga pujian itu.yang kini seperti macan ompong itu. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf." sambung pengacara tua menenangkan. yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar.

" Pengacara muda tertegun. Ia menatap. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Kau tolak tawaran negara. "Jadi langkahku sudah benar?" Orang tua itu kembali mengelus janggutnya." Pengacara muda sekarang menarik napas panjang." . Namun. karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat. "Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?" "Antara lain. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku." Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Sebab kebenaran sejati. Sebagai pembela. sebab aku seorang profesional. tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati. kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. Sebentar saja." "Supaya dia menang?" "Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. Kalah-menang bukan masalah lagi. tawaran yang sama dari seorang penjahat. aku menerimanya sebagai klienku. apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Kemudian ia melanjutkan. tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya. malah kau terima baik. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu. potong pengacara Ia menatap pengacara Anda tua tua itu tiba-tiba. Demi memuliakan proses itulah.Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu. aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya. "Jangan dulu mempersoalkan kebenaran. sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional." "Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer. "Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. dengan heran. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan." "Lalu kamu Pengacara muda "Bagaimana terima?" itu terkejut. tahu?" itu Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. bukan?" "Tidak! Sama sekali tidak!" "Bukan juga karena uang?!" "Bukan!" "Lalu karena apa?" Pengacara muda itu tersenyum. "Karena aku akan membelanya. "Ya aku menerimanya.

tetapi karena soal-soal sampingan. bukan?" "Bukan! Kenapa mesti takut?!" "Mereka tidak mengancam kamu?" "Mengacam bagaimana?" "Jumlah uang yang terlalu besar. Bukan karena materi perkara itu. ia mengangkat tangannya. "Berarti ya!" "Ya. kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang. "Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!" "Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?" Pengacara muda itu terdiam. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi." "Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara. Dia tidak memberikan angka-angka?" "Tidak. salah?" menggeleng. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Jangan main-main dengan kejahatan!" "Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?" Pengacara muda itu tak menjawab. . Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai." "Asal "Aku "Betul?" "Betul!" muda pujian Anda itu atau jujur tertawa kecil. Ketika yang muda hendak bicara lagi. akan bisa tahu menang. "Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?" "Tidak. "Seperti yang kamu katakan tadi. salah atau benar juga tidak menjadi persoalan." "Tapi "Perkaranya kamu mulai." saja belum bagaimana aku akan "Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!" Orang tua itu terkejut." Pengacara "Itu "Pujian. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini." jujur. "Tapi kamu menerima membela penjahat itu." Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut. pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman.Pengacara "Apa Orang tua jawabanku tua itu termenung. "Bagaimana kalau dia sampai menang?" "Negara akan mendapat pelajaran penting. peringatan?" saja. Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan." menang. bukan karena takut. Kedua tangannya mengurut dada." "Wah! Itu tidak profesional!" Pengacara muda itu tertawa." Pengacara tua itu terkejut.

Nampaknya sudah lelah dan kesakitan. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional. tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan. Keputusanmu sudah tepat." "Betul. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu." Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu. kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah. Lebih baik kamu pulang sekarang. bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah. pulanglah anak muda. lalu meloncat ke mancanegara. juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu. Hakimnya diburu-buru. Beliau perlu banyak beristirahat.. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara."Tak usah kamu ulangi lagi. Aku tidak takut. Sudah jelas. sebab aku sudah sangat rindu kepada dia. agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik." "Kalau begitu. bukan karena kamu disogok. bukan?" "Betul.. Sekretarisnya yang jelita. Selamat malam. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan." Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Ia minta tolong. Tak perlu kamu bimbang. "Katakan kepada ayahanda. Pak. ." Pengacara muda itu jadi amat terharu. bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. Rakyat pun marah. disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat." Pengacara muda itu ingin menjawab. "Maaf. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda." Pengacara tua itu menutupkan matanya. Tetapi itu pun belum cukup. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. Pengacara muda itu diculik. "Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan. Kalau tidak. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk." "Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan. kita akan menjadi bangsa yang lalai. tanpa ancaman dan tanpa sogokan. seakanakan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. menyerbu dengan yel-yel dan posterposter raksasa. Biarkan aku bertemu dengan putraku. lalu menyandarkan punggungnya ke kursi." sekarang. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak. tak mungkin dijamah lagi. "Pulanglah "Tapi. saya kira pertemuan harus diakhiri di sini. kemudian menyelimuti tubuhnya.

. Sementara sekretaris jelitanya membacakan beritaberita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk. "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. di antaranya sebagai berikut. kalau berhadapan dengan sebuah perkara.Melalui penjelasan langsung. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu. Hal ini berkaitan dengan bagaimana sang tokoh bersikap dalam situasi ketika tokoh harus mengambil keputusan. atau karakter menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh yang menggambarkan kualitas pribadi seorang tokoh. a. aku rindu kepada putraku. hubungan waktu. sedangkan watak. Ada beberapa cara penggambaran karakter tokoh dalam cerpen." rintihnya dengan amat sedih. Latar Latar waktu berhubungan dengan “kapan” terjadinya peristiwaperistiwa yang diceritakan. Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. Tokoh protagonis menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan dan harapan pembaca. Waktu c. Latar Sosial Latar sosial merujuk pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan dosial masyarakat . Secara umum kita mengenal tokoh protagonis dan antagonis. .Melalui ucapan-ucapan tokoh. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional. air mata menetes di pipi pengacara besar itu. Latar (Setting) Latar dalam sebuah cerita menunjuk pada pengertian tempat. yaitu sebagai berikut. di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini? 2. amanat. Tokoh antagonis merupakan penentang tokoh protagonis. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca. b.» . perwatakan. Tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan. atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca. nilai-nilai yang ideal bagi kita. "Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional. Bukankah sudah aku ingatkan. pelaku cerita. anakku. tetapi juga seorang putra dari ayahmu.» 2. Dalam hal ini penulis menggambarkan secara langsung karakter tokoh. tokoh yang merupakan pengejawantahan normanorma.Melalui apa yang diperbuat tokoh. menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi. dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwaperistiwa yang diceritakan. Unsur Intrinsik Tokoh dan Karakter Tokoh Istilah tokoh menunjuk pada orangnya. Dari apa yang diucapkan tokoh kita dapat mengetahui karakternya. Latar Tempat Latar tempat merujuk pada lokasi terjadinya peristiwa. Adapun tokoh antagonis adalah tokoh yang menyebabkan terjadinya konflik. Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok.Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya. Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi.

Alur erat adalah jalinan peristiwa yang sangat padu sehingga apabila salah satu peristiwa ditiadakan maka dapat mengganggu keutuhan cerita. Jadi. gaya merupakan seni pengungkapan seorang pengarang terhadap karyanya. 5. Pengarang menyusun peristiwa-peristiwa secara berurutan mulai dari perkenalan sampai penyelesaian. Kita dapat memahami tema sebuah cerita jika sudah membaca cerita tersebut secara keseluruhan. Tema disebut juga ide cerita. yakni sebagai berikut. ada juga istilah alur erat dan alur longgar. 7. cara berpikir dan bersikap.dan penghematan kata. alur biasa disebut juga susunan cerita atau jalan cerita. 3. action). pandangan hidup. Susunan yang demikian disebut alur sorot balik (flashback). kita dapat mengajukan pertanyaan siapakah yang menceritakan kisah tersebut? Ada beberapa macam sudut pandang. pengarang dapat menyampaikan sesuatu. Alur (Plot) Alur adalah urutan peristiwa yang berdasarkan hukum sebab akibat. Sudut Pandang (Point of View) Sudut pandang adalah visi pengarang dalam memandang suatu peristiwa dalam cerita. Susunan yang demikian disebut alur maju. 6. circumtanses). Adapun unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra. Dengan kata lain. tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangun cerita sebuah karya. Pengarang dapat memulainya dari peristiwa terakhir atau peristiwa yang ada di tengah. kemudian menengok kembali pada peristiwaperistiwa yang mendahuluinya. di antaranya sudut pandang orang pertama (gaya bercerita dengan sudut pandang “aku”). sudut pandang peninjau (orang ketiga). Urutan peristiwa tersebut meliputi: mulai melukiskan peristiwa-peristiwa mulai bergerak keadaan mulai memuncak mencapai titik . Ruang lingkup dalam tulisan meliputi penggunaan kalimat. keyakinan. serta hal-hal lainnya. Untuk mengetahui sudut pandang. penggunaan majas. 4. baik hal yang bersifat positif maupun negatif. Alur tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi. Tema Tema adalah persoalan pokok sebuah cerita. Latar sosial dapat berupa kebiasaan hidup.di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Selain itu. akan tetapi menjelaskan mengapa hal ini terjadi. Amanat Melalui amanat. 3. (klimaks) Pengarang menyusun peristiwa secara tidak berurutan.pemecahan masalah/ penyelesaian (denouement) keadaan (generating (rising puncak (situation). Adapun alur longgar adalah jalinan peristiwa yang tidak begitu padu sehingga apabila salah satu peristiwa ditiadakan tidak akan mengganggu jalan cerita. tradisi. APRESIASI CERPEN PERADILAN RAKYAT DENGAN PENDEKATAN ESTETIS DAN MIMETIK . Kehadiran alur dapat membuat cerita berkesinambungan. Gaya Bahasa Gaya bahasa adalah cara khas penyusunan dan penyampaian dalam bentuk tulisan dan lisan. amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang berupa pemecahan atau jalan keluar terhadap persoalan yang ada dalam cerita. istiadat. Oleh karena itu. Ada dua cara yang dapat digunakan dalam menyusun bagianbagian cerita. Tema dapat berwujud pengamatan pengarang terhadap berbagai peristiwa dalam kehidupan ini. pemilihan diksi. dan sudut pandang campuran.

Namun sayangnya. “Aku ingin berkata tidak kepada negara. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. dan berpikir kritis. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. mantan hakim pengadilan tinggi Harini Wijoso. Walhasil. dari 11 hakim yang direkomendasikan untuk dikenakan sanksi. penulis pula menjabat sebagai Pimpinan Teater Mandiri. Hal ini pula dilatarbelakangi oleh profesi penulis sebagi seorang sastrawan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya.” Putu wijaya. Sebagai pembela. yang profesional. birokrasi peradilan yang berjenjang. baru dua yang ditindaklanjuti. Seperti yang terdapat dalam kutipan cerpen berikut. negara sudah memainkan sandiwara. Semua faktor ini muncul dan berakar dari sistem peradilan yang diadopsi Indonesia. aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya. Dalam hal itu dia menghadapi gejolak antara mau membantunya atau tidak. tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin dan beku. Tetapi kasus itulah yang akhirnya membawanya dalam kehancuran. Di situ aku mulai berpikir. “Pengacara muda sekarang menarik napas panjang. “Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Putu wijaya dalam cerpen ini juga mengkritik soal banyaknya mafia – mafia kasus (markus) yang telah membudadaya dalam negeri ini. dan cerdas. pengawasan sangat lemah. penulis merupakan mahasiswa Fakultas Hukum UGM 1969. kesimpulanku. Hal ini bisa terjadi dikarenakan faktor rendahnya kualitas sumberdaya manusia baik intelektualitas dan spiritual. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. Secara nyata mafia peradilan ini melibatkan banyak lembaga. Tumpa. Yang menjadi tokoh utama dalam cerpen ini adalah seorang pengacara muda yang cerdas. Ia mencermati keadaan dan situasi. Di era kepemimpinan Harifin A. Pada masa Ketua Mahkamah Agung (MA) Bagir Manan. Keadaan Negara yang sedang carut maruk membuat para pelaku mafia kasus bisa menghindari jeratan hukum apabila mereka bisa menyewa pengacara terkenal dan menyuap aparat negara. mampu mengekspresikan dengan baik. Permasalahan muncul ketika seorang oknum pejabat yang banyak melakukan pelanggaran hukum meminta bantuannya untuk menjadi pengacaranya. Di samping tidak ada sanksi berat bagi pelaku mafia peradilan makin menambah suburnya mafia ini. suatu pertunjukan sandiwara. Dia yang telah terbukti menyuap dengan uang 400 ribu dolar AS dan Rp 800 juta.” Penulis mampu menekspresikan diri seorang pengacara muda. Dari sini Putu Wijaya menggambarkan keindahan serta realitas bagaimana seorang pengacara muda yang sangat cerdas tetapi minim pengalaman hidup dijatuhkan oleh sebuah kasus yang merupakan sandiwara pengadilan belaka ynag sarat akan unsur – unsur politik. dan rendahnya integritas pimpinan menjadi penyebab merebaknya mafia peradilan di Indonesia. Jakarta sejak tahun 1971 hingga sekarang. seorang pengacara muda yang bersikap adil dan profesional pada pekerjaannya sebagai pengacara. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta . Dia mempunyai ayah yang juga seorang pengacara yang disegani pada masanya. Secara pribadi dia tidak ingin menjadi pengacaranya tetapi secara profesional dia tidak bisa menolak klien yang meminta bantuannya sebagai pembela di pengadilan.“Ya aku menerimanya. Kutipan diatas merupakan wujud ekspreasi jiwa mengenai kedudukan posisi bangsa dan negara saat ini bisa berubah. karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater. Negara sebagai wujud teater. Mafia peradilan juga melibatkan hakim peradilan. Akhirnya dia meminta pendapat kepada ayahnya sebagai seorang pengacara bukan sebagai anak. hanya divonis 2 tahun di tingkat pengadilan banding. Satu contoh. rekomendasi tersebut tidak ada satu pun yang ditindaklanjuti. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. yang menjadi pengacara pengusaha Probosutedjo. bahwa penulis juga seorang mahasiswa fakultas hukum. sebab aku seorang profesional.Cerpen Peradilan Rakyat karya Putu Wijaya adalah cerpen yang berani menceritakan betapa ironisnya peradilan yang ada di negeri ini. Hal tersebut pula didasari. Komisi Yudisial (YK) telah mengajukan 28 hakim untuk dijatuhkan sanksi terkait pelanggaran.

kembang api semalam suntuk. D. mereka akan lupa diri dan bisa melakukan hal – hal yang di luar batas kewajaran. dalam mengambil pilihan hidup itu kita seharusnya sebagai manusia. Kita yang sebagai manusia mempunyai akhlak hendaknya dalam menjalani sebuah pekerjaan haruslah sesuai dengan norma – norma yang berlaku. Pengacara muda itu diculik. wartawan majalah Tempo (1971-1979) dan Redaktur Pelaksana majalah Zaman (1979-1985). menyerbu dengan yel – yel dan poster – poster raksasa. lalu meloncat ke mancanegara. sehingga hal – hal yang merugikan orang lain apalagi menyengsarakan orang lain tersebut bisa di hindari. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. tak mungkin dijamah lagi. Bukan tidak mungkin bila rakyat telah marah. PENUTUP Dari cerpen “Peradilan Rakyat” karya Putu Wijaya ini dapat diambil hikmah. dan memaparkan pandangannya pada pemerintahan. yang dimana hokum bisa dibeli di negeri ini.” Penulis mampu mengkritisi pemerintahan. Bagaimana pada saat ini keadilan adalah bagi orang – orang yang mempunyai uang banyak dan kekuasaan lebih. Wujud dari ekpresi terhadap situasi dan keadaan yang terjadi di masyarakat. Sehingga pilihan yang kita ambil tersebut tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. Rakyat pun marah. harus menggunakan pikiran serta perasaan. Misalnya penulis pernah menjadi wartawan majalah Ekspres (1969). Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan. Tetapi itu pun belum cukup. Banyaknya mafia – mafia kasus yang terjadi saat ini adalah bukti kebrobrokan moral yang terjadi di Negara ini. . hal ini pula didasari oleh profesi yang penah menjadi wartawaan di berbagai media cetak. Hakimnya diburu-buru. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah. disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat.