PUTU WIJAYA Analisis Cerpen " Peradilan Rakyat" Karya

PERADILAN RAKYAT Cerpen Putu Wijaya 1. Sinopsis Seorang pengacara muda yang cemerlang mengunjungi ayahnya, seorang pengacara senior yang sangadihormatioleh para penegak hukum. "Tapi aku datang tidak sebagai putramu," kata pengacara muda itu, "aku datang ke mari sebagai seorang pengacara muda yang ingin menegakkan keadilan di negeri yang sedang kacau ini." Pengacara tua yang bercambang dan jenggot memutih itu, tidak terkejut. Ia menatap putranya dari kursi rodanya, lalu menjawab dengan suara yang tenang dan agung. "Apa yang ingin kamu Pengacara muda tertegun. "Ya, kepada kamu, bukan sebagai tombak pencarian keadilan di negeri Pengacara muda "Baik, kalau begitu, tentang, anak muda?" "Ayahanda bertanya kepadaku?" putraku, tetapi kamu sebagai ujung yang sedang dicabik-cabik korupsi ini." itu tersenyum. Anda mengerti maksudku."

"Tentu saja. Aku juga pernah muda seperti kamu. Dan aku juga berani, kalau perlu kurang ajar. Aku pisahkan antara urusan keluarga dan kepentingan pribadi dengan perjuangan penegakan keadilan. Tidak seperti para pengacara sekarang yang kebanyakan berdagang. Bahkan tidak seperti para elit dan cendekiawan yang cemerlang ketika masih di luar kekuasaan, namun menjadi lebih buas dan keji ketika memperoleh kesempatan untuk menginjak-injak keadilan dan kebenaran yang dulu diberhalakannya. Kamu pasti tidak terlalu jauh dari keadaanku waktu masih muda. Kamu sudah membaca riwayat hidupku yang belum lama ini ditulis di sebuah kampus di luar negeri bukan? Mereka menyebutku Singa Lapar. Aku memang tidak pernah berhenti memburu pencuri-pencuri keadilan yang bersarang di lembaga-lembaga tinggi dan gedung-gedung bertingkat. Merekalah yang sudah membuat kejahatan menjadi budaya di negeri ini. Kamu bisa banyak belajar dari buku itu." Pengacara muda itu tersenyum. Ia mengangkat dagunya, mencoba memandang pejuang keadilan

bahwa di negeri yang sangat tercela hukumnya ini. karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater. menikmati juga pujian itu. Anda dengan seluruh sejarah Anda memang terlalu besar untuk dibicarakan. "Kau sudah mulai lagi dengan puji-pujianmu!" potong pengacara tua. Meskipun bukan bebas dari kritik.yang kini seperti macan ompong itu. "Aku "Baik. Belum lama ini negara menugaskan aku untuk membela seorang penjahat besar. Aku ingin berkata tidak kepada negara." Pengacara muda diam beberapa lama untuk merumuskan diri. tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin danbeku. karena memberikan seorang pembela kelas satu untuk mereka. negara tidak benar-benar menugaskan aku untuk membelanya. bahwa pada akhirnya negara cukup adil. karena aku yang menjadi jaminannya. "Tidak apa. "Aku tidak datang untuk menentang atau memuji Anda." sebebas-bebasnya." "Itu semua juga tidak lepas dari hasil gemblenganmu yang tidak kenal ampun!" Pengacara tua itu tertawa. Berbicaralah Aku mau berdialog. "jangan membatasi dirimu sendiri. walaupun sudah dibela oleh tim pembela seperti aku. kesimpulanku. aku pinjam dari apa yang diobral para pengamat keadilan di koran untuk semua sepak-terjangku. datang kemari ingin Mulailah. Pihak keluarga pun datang dengan gembira ke rumahku untuk mengungkapkan kebahagiannya. bagai suara alam. "Aku suka kau menyebut dirimu aku dan memanggilku kau. maka negara akan mendapatkan kemenangan ganda. Tetapi aku tolak mentah-mentah. Jangan membunuh diri dengan diskripsi-diskripsi yang akan menjebak kamu ke dalam doktrin-doktrin beku. mengalir sajalah sewajarnya bagaikan mata air. sembari mengangkat tangan. Di situ aku mulai berpikir. Ia tersadar pada kekeliruannya lalu minta maaf. sudah diberikan seorang pembela yang perkasa seperti Mike Tyson. Negara harusnya percaya bahwa menegakkan keadilan tidak bisa lain harus dengan keadilan yang bersih. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. bahwa kejahatan dibela oleh siapa pun. Katakan saja apa yang hendak kamu katakan." sambung pengacara tua menenangkan. karena kamu sangat diperlukan oleh bangsamu ini. tetapi kau juga adalah keadilan itu sendiri. Pemburu Keadilan. Anda sudah tidak memerlukan cercaan atau pujian lagi. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. Jangan surut. mendengar suaramu." . itu bukan istilahku. Begini. kau yang selalu berhasil dan sempurna. Karena kau bukan hanya penegak keadilan yang bersih." "Terima kasih." Pengacara tua itu meringis. Dan itulah yang aku tentang. tetap kejahatan. sebagaimana yang sudah Anda lakukan selama ini. Negara hendak menjadikan aku sebagai pecundang. sudah ada kebangkitan baru. Pengacara muda terkejut. Bila negara tetap dapat menjebloskan bangsat itu sampai ke titik terakhirnya hukuman tembak mati. Dan aku terlalu kecil untuk menentang bahkan juga terlalu tak pantas untuk memujimu. Walhasil. karena kemenangan itu pastilah kemenangan yang telak dan bersih. Kenapa? Karena aku yakin. yang sepantasnya mendapat hukuman mati. Negara hanya ingin mempertunjukkan sebuah teater spektakuler. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya. Lalu ia meneruskan ucapannya dengan lebih tenang. Aku punya sederetan koreksi terhadap kebijakan-kebijakan yang sudah Anda lakukan. meskipun sisa-sisa keperkasaannya masih terasa. Negara ingin menunjukkan kepada rakyat dan dunia. sebab aku selalu berhasil memenangkan semua perkara yang aku tangani. Penjahat yang paling kejam. Berarti kita bisa bicara sungguhsungguh sebagai profesional. negara sudah memainkan sandiwara.

Kemudian ia melanjutkan. potong pengacara Ia menatap pengacara Anda tua tua itu tiba-tiba." Pengacara muda tertegun. Namun. aku menerimanya sebagai klienku. Ia menatap. Kalah-menang bukan masalah lagi. tahu?" itu Pengacara tua mengelus jenggotnya dan mengangkat matanya melihat ke tempat yang jauh. mencoba mengetahui apa yang ada di dalam lubuk hati orang tua itu. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. apakah keputusanku untuk menolak itu tepat atau tidak. Tapi kau telah menunjukkan dirimu sebagai profesional. karena sebagai profesional kau tak bisa menolak mereka yang minta tolong agar kamu membelanya dari praktik-praktik pengadilan yang kotor untuk menemukan keadilan yang paling tepat." Pengacara tua mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Demi memuliakan proses itulah. Asal semua itu dilakukannya tanpa ancaman dan tanpa sogokan uang! Kau tidak membelanya karena ketakutan. Sebab kebenaran sejati. tak peduli orang itu orang yang pantas ditembak mati. Aku datang kemari karena setelah negara menerima baik penolakanku. Sambil menghela napas kemudian ia berkata: "Sebab aku kenal siapa kamu." "Lalu kamu Pengacara muda "Bagaimana terima?" itu terkejut. kebenaran yang paling benar mungkin hanya mimpi kita yang tak akan pernah tercapai. malah kau terima baik." . bajingan itu sendiri datang ke tempat kediamanku dan meminta dengan hormat supaya aku bersedia untuk membelanya. tetapi di situ sudah ada tujuan-tujuan politik. "Tapi aku datang kemari bukan untuk minta pertimbanganmu. dengan heran. Kau tolak tawaran negara. "Jadi itu yang ingin kamu tanyakan?" "Antara lain. aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya. bukan?" "Tidak! Sama sekali tidak!" "Bukan juga karena uang?!" "Bukan!" "Lalu karena apa?" Pengacara muda itu tersenyum. Yang ada hanya usaha untuk mendekati apa yang lebih benar. sebab di balik tawaran itu tidak hanya ada usaha pengejaran pada kebenaran dan penegakan keadilan sebagaimana yang kau kejar dalam profesimu sebagai ahli hukum. tawaran yang sama dari seorang penjahat. "Ya aku menerimanya. "Karena aku akan membelanya. Upaya untuk mengejar itu yang paling penting. Sebagai pembela. tapi seakan ia sudah mengarungi jarak ribuan kilometer." Pengacara muda sekarang menarik napas panjang. sebab aku seorang profesional." "Supaya dia menang?" "Tidak ada kemenangan di dalam pemburuan keadilan. "Jangan dulu mempersoalkan kebenaran.Pengacara muda itu berhenti sebentar untuk memberikan waktu pengacara senior itu menyimak. Sebentar saja. "Jadi langkahku sudah benar?" Orang tua itu kembali mengelus janggutnya." "Kalau begitu kau sudah mendapatkan jawabanku.

Hanya ada kemungkinan kalau kamu membelanya. Aku akan memenangkannya dan aku akan menang!" Orang tua itu terkejut. "Seperti yang kamu katakan tadi. pada akhirnya juga adalah sebuah ancaman. Ketika yang muda hendak bicara lagi." Pengacara muda itu tersenyum dan manggut-manggut." "Wah! Itu tidak profesional!" Pengacara muda itu tertawa." "Tapi "Perkaranya kamu mulai. Kedua tangannya mengurut dada. "Berarti ya!" "Ya." Pengacara "Itu "Pujian. "Tapi kamu menerima membela penjahat itu. Aku dengar sebuah tim yang sangat tangguh akan diturunkan." jujur. "Bagaimana kalau dia sampai menang?" "Negara akan mendapat pelajaran penting. bukan karena takut. Bukan karena materi perkara itu. ." Pengacara tua itu terkejut. Kamu terlalu besar untuk kalah saat ini." menang. "Sama sekali tak dibicarakan berapa mereka akan membayarmu?" "Tidak. "Aku tak pernah mencari uang dari kesusahan orang!" "Tapi bagaimana kalau dia sampai menang?" Pengacara muda itu terdiam. salah?" menggeleng." saja belum bagaimana aku akan "Sudah bertahun-tahun aku hidup sebagai pengacara. Ia merebahkan tubuhnya bersandar. Dia tidak memberikan angka-angka?" "Tidak. kamu akan berhasil keluar sebagai pemenang. akan bisa tahu menang. peringatan?" saja. salah atau benar juga tidak menjadi persoalan. bukan?" "Bukan! Kenapa mesti takut?!" "Mereka tidak mengancam kamu?" "Mengacam bagaimana?" "Jumlah uang yang terlalu besar. Yang tua memicingkan matanya dan mulai menembak lagi. ia mengangkat tangannya.Pengacara "Apa Orang tua jawabanku tua itu termenung. Jangan main-main dengan kejahatan!" "Jadi kamu akan memenangkan perkara itu?" Pengacara muda itu tak menjawab." "Jangan meremehkan jaksa-jaksa yang diangkat oleh negara." "Asal "Aku "Betul?" "Betul!" muda pujian Anda itu atau jujur tertawa kecil. Keputusan sudah bisa dibaca walaupun sidang belum mulai. tetapi karena soal-soal sampingan.

saya kira pertemuan harus diakhiri di sini. Sudah jelas. kita akan menjadi bangsa yang lalai." "Betul. pulanglah anak muda. kemudian menyelimuti tubuhnya. kalau kamu mampu terus mendengarkan suara hati nuranimu sebagai penegak hukum yang profesional. menyerbu dengan yel-yel dan posterposter raksasa. tetapi pengacara tua tidak memberikan kesempatan. Laksanakan tugasmu sebagai seorang profesional. seakanakan kamu sudah memiliki pamrih di luar dari pengejaran keadilan dan kebenaran. Rakyat pun marah." "Dan kamu menerima tanpa harapan akan mendapatkan balas jasa atau perlindungan balik kelak kalau kamu perlukan. sebab aku sudah sangat rindu kepada dia. Menegakkan hukum selalu dirongrong oleh berbagai tuduhan. bahwa bukti-bukti yang sempat dikumpulkan oleh negara terlalu sedikit dan lemah." Entah karena luluh oleh senyum di bibir wanita yang memiliki mata yang sangat indah itu. Nampaknya sudah lelah dan kesakitan. lalu menyandarkan punggungnya ke kursi." Apa yang dibisikkan pengacara muda itu kemudian menjadi kenyataan. Lalu ia mendekatkan mulutnya ke telinga wanita itu. Dan semoga itu akan membuat negeri kita ini menjadi lebih dewasa secepatnya. Ia minta tolong. Ia memandang sekali lagi orang tua itu dengan segala hormat dan cintanya. Tak perlu kamu bimbang. Setelah itu wanita itu menoleh kepada pengacara muda. Selamat malam.. bukan karena kamu disogok. Tetapi itu pun belum cukup. "Katakan kepada ayahanda. Tetapi semua rongrongan itu hanya akan menambah pujian untukmu kelak. Hakimnya diburu-buru. Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah. Aku tidak takut. "Pulanglah "Tapi. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta kembang api semalam suntuk. Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu. Peradilan ini terlalu tergesa-gesa. tak mungkin dijamah lagi. "Maaf. Beliau perlu banyak beristirahat. bahwa kamu melakukan itu bukan karena takut. Lebih baik kamu pulang sekarang. Kalau tidak.. Pengacara muda itu diculik. lalu meloncat ke mancanegara. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan. Pak. disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar." "Kalau begitu. "Aku kira tak ada yang perlu dibahas lagi. Tetapi orang tua itu mengangkat tangan dan memperingatkan dengan suara yang serak. tanpa ancaman dan tanpa sogokan. Sekretarisnya yang jelita. bukan?" "Betul. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. pengacara muda itu tak mampu lagi menolak. juga bukan karena kamu ingin memburu publikasi dan bintang-bintang penghargaan dari organisasi kemanusiaan di mancanegara yang benci negaramu. Keputusanmu sudah tepat. Biarkan aku bertemu dengan putraku. ." Pengacara muda itu ingin menjawab. Aku akan memenangkan perkara ini dan itu berarti akan membebaskan bajingan yang ditakuti dan dikutuk oleh seluruh rakyat di negeri ini untuk terbang lepas kembali seperti burung di udara."Tak usah kamu ulangi lagi." sekarang." Pengacara tua itu menutupkan matanya. Ia berdiri hendak memeluk ayahnya. agar suaranya jangan sampai membangunkan orang tua itu dan berbisik." Pengacara muda itu jadi amat terharu.

dan lingkungan sosial tempat terjadinya peristiwaperistiwa yang diceritakan. sedangkan watak. Hal ini berkaitan dengan bagaimana sang tokoh bersikap dalam situasi ketika tokoh harus mengambil keputusan. Adapun tokoh antagonis adalah tokoh yang menyebabkan terjadinya konflik. "Aku terus membuka pintu dan mengharapkan kau datang lagi kepadaku sebagai seorang putra. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu. Latar Sosial Latar sosial merujuk pada hal-hal yang berhubungan dengan perilaku kehidupan dosial masyarakat . Tokoh protagonis menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan dan harapan pembaca.» .Melalui apa yang diperbuat tokoh. Hal ini penting untuk memberikan kesan realistis kepada pembaca. di mana seorang penjahat besar yang terbebaskan akan menyulut peradilan rakyat seperti bencana yang melanda negeri kita sekarang ini? 2. b. "Setelah kau datang sebagai seorang pengacara muda yang gemilang dan meminta aku berbicara sebagai profesional. atau karakter menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh yang menggambarkan kualitas pribadi seorang tokoh. Latar Tempat Latar tempat merujuk pada lokasi terjadinya peristiwa. Unsur Intrinsik Tokoh dan Karakter Tokoh Istilah tokoh menunjuk pada orangnya. nilai-nilai yang ideal bagi kita.» 2. Tokoh antagonis merupakan penentang tokoh protagonis. air mata menetes di pipi pengacara besar itu. Dari apa yang diucapkan tokoh kita dapat mengetahui karakternya. Dalam hal ini penulis menggambarkan secara langsung karakter tokoh. di antaranya sebagai berikut.Pengacara tua itu terpagut di kursi rodanya. perwatakan. anakku. Ada beberapa cara penggambaran karakter tokoh dalam cerpen. Latar Latar waktu berhubungan dengan “kapan” terjadinya peristiwaperistiwa yang diceritakan. . Sementara sekretaris jelitanya membacakan beritaberita keganasan yang merebak di seluruh wilayah negara dengan suaranya yang empuk. hubungan waktu. atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca. a. amanat.Melalui ucapan-ucapan tokoh. Waktu c. Latar (Setting) Latar dalam sebuah cerita menunjuk pada pengertian tempat. Lupakah kamu bahwa kamu bukan saja seorang profesional. Unsur latar dapat dibedakan ke dalam tiga unsur pokok. tetapi juga seorang putra dari ayahmu. Tokoh cerita menempati posisi strategis sebagai pembawa dan penyampai pesan. yaitu sebagai berikut. kalau berhadapan dengan sebuah perkara. Tak inginkah kau mendengar apa kata seorang ayah kepada putranya. Latar memberikan pijakan cerita secara konkret dan jelas. pelaku cerita. Bukankah sudah aku ingatkan. Secara umum kita mengenal tokoh protagonis dan antagonis. tokoh yang merupakan pengejawantahan normanorma. aku rindu kepada putraku." rintihnya dengan amat sedih. . Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi. menciptakan suasana tertentu yang seolah-olah sungguh-sungguh ada dan terjadi.Melalui penjelasan langsung.

3. alur biasa disebut juga susunan cerita atau jalan cerita. 4. Alur erat adalah jalinan peristiwa yang sangat padu sehingga apabila salah satu peristiwa ditiadakan maka dapat mengganggu keutuhan cerita. cara berpikir dan bersikap. pandangan hidup. Adapun alur longgar adalah jalinan peristiwa yang tidak begitu padu sehingga apabila salah satu peristiwa ditiadakan tidak akan mengganggu jalan cerita. Adapun unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra. circumtanses). Tema Tema adalah persoalan pokok sebuah cerita. Ruang lingkup dalam tulisan meliputi penggunaan kalimat. Pengarang menyusun peristiwa-peristiwa secara berurutan mulai dari perkenalan sampai penyelesaian. pengarang dapat menyampaikan sesuatu. Ada dua cara yang dapat digunakan dalam menyusun bagianbagian cerita. action). Latar sosial dapat berupa kebiasaan hidup. Urutan peristiwa tersebut meliputi: mulai melukiskan peristiwa-peristiwa mulai bergerak keadaan mulai memuncak mencapai titik . Susunan yang demikian disebut alur maju. 7. pemilihan diksi.di suatu tempat yang diceritakan dalam karya fiksi. Sudut Pandang (Point of View) Sudut pandang adalah visi pengarang dalam memandang suatu peristiwa dalam cerita. penggunaan majas. (klimaks) Pengarang menyusun peristiwa secara tidak berurutan. tradisi. Dengan kata lain. Alur (Plot) Alur adalah urutan peristiwa yang berdasarkan hukum sebab akibat. tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangun cerita sebuah karya. Amanat Melalui amanat. yakni sebagai berikut. Tema dapat berwujud pengamatan pengarang terhadap berbagai peristiwa dalam kehidupan ini. serta hal-hal lainnya. istiadat.pemecahan masalah/ penyelesaian (denouement) keadaan (generating (rising puncak (situation). gaya merupakan seni pengungkapan seorang pengarang terhadap karyanya. Selain itu. Oleh karena itu. Alur tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi.dan penghematan kata. Jadi. Kehadiran alur dapat membuat cerita berkesinambungan. Susunan yang demikian disebut alur sorot balik (flashback). 6. APRESIASI CERPEN PERADILAN RAKYAT DENGAN PENDEKATAN ESTETIS DAN MIMETIK . baik hal yang bersifat positif maupun negatif. Untuk mengetahui sudut pandang. Gaya Bahasa Gaya bahasa adalah cara khas penyusunan dan penyampaian dalam bentuk tulisan dan lisan. Kita dapat memahami tema sebuah cerita jika sudah membaca cerita tersebut secara keseluruhan. 5. kita dapat mengajukan pertanyaan siapakah yang menceritakan kisah tersebut? Ada beberapa macam sudut pandang. akan tetapi menjelaskan mengapa hal ini terjadi. amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang berupa pemecahan atau jalan keluar terhadap persoalan yang ada dalam cerita. keyakinan. sudut pandang peninjau (orang ketiga). Pengarang dapat memulainya dari peristiwa terakhir atau peristiwa yang ada di tengah. Tema disebut juga ide cerita. 3. dan sudut pandang campuran. ada juga istilah alur erat dan alur longgar. kemudian menengok kembali pada peristiwaperistiwa yang mendahuluinya. di antaranya sudut pandang orang pertama (gaya bercerita dengan sudut pandang “aku”).

Hal ini pula dilatarbelakangi oleh profesi penulis sebagi seorang sastrawan. Lalu aku melakukan investigasi yang mendalam dan kutemukan faktanya.“Ya aku menerimanya. Pada masa Ketua Mahkamah Agung (MA) Bagir Manan. Tapi negara terus juga mendesak dengan berbagai cara supaya tugas itu aku terima. penulis pula menjabat sebagai Pimpinan Teater Mandiri. Putu wijaya dalam cerpen ini juga mengkritik soal banyaknya mafia – mafia kasus (markus) yang telah membudadaya dalam negeri ini. Semua faktor ini muncul dan berakar dari sistem peradilan yang diadopsi Indonesia. Dia mempunyai ayah yang juga seorang pengacara yang disegani pada masanya. hanya divonis 2 tahun di tingkat pengadilan banding. yang menjadi pengacara pengusaha Probosutedjo. Dia yang telah terbukti menyuap dengan uang 400 ribu dolar AS dan Rp 800 juta.” Putu wijaya. Tumpa. Seperti yang terdapat dalam kutipan cerpen berikut. Secara pribadi dia tidak ingin menjadi pengacaranya tetapi secara profesional dia tidak bisa menolak klien yang meminta bantuannya sebagai pembela di pengadilan. Keadaan Negara yang sedang carut maruk membuat para pelaku mafia kasus bisa menghindari jeratan hukum apabila mereka bisa menyewa pengacara terkenal dan menyuap aparat negara. Namun sayangnya. Hal tersebut pula didasari. Tak mungkin semua itu tanpa alasan. sebab aku seorang profesional. negara sudah memainkan sandiwara. dan rendahnya integritas pimpinan menjadi penyebab merebaknya mafia peradilan di Indonesia. suatu pertunjukan sandiwara. Jakarta sejak tahun 1971 hingga sekarang. pengawasan sangat lemah. Dari sini Putu Wijaya menggambarkan keindahan serta realitas bagaimana seorang pengacara muda yang sangat cerdas tetapi minim pengalaman hidup dijatuhkan oleh sebuah kasus yang merupakan sandiwara pengadilan belaka ynag sarat akan unsur – unsur politik. “Dengan gemilang dan mudah ia mempecundangi negara di pengadilan dan memerdekaan kembali raja penjahat itu.Cerpen Peradilan Rakyat karya Putu Wijaya adalah cerpen yang berani menceritakan betapa ironisnya peradilan yang ada di negeri ini. Secara nyata mafia peradilan ini melibatkan banyak lembaga. Di situ aku mulai berpikir. dan berpikir kritis. Satu contoh. aku mengabdi kepada mereka yang membutuhkan keahlianku untuk membantu pengadilan menjalankan proses peradilan sehingga tercapai keputusan yang seadil-adilnya.” Penulis mampu menekspresikan diri seorang pengacara muda. mampu mengekspresikan dengan baik. “Aku ingin berkata tidak kepada negara. Negara sebagai wujud teater. Kutipan diatas merupakan wujud ekspreasi jiwa mengenai kedudukan posisi bangsa dan negara saat ini bisa berubah. Sebagai seorang pengacara aku tidak bisa menolak siapa pun orangnya yang meminta agar aku melaksanakan kewajibanku sebagai pembela. Yang menjadi tokoh utama dalam cerpen ini adalah seorang pengacara muda yang cerdas. Ia merayakan kemenangannya dengan pesta . yang profesional. rekomendasi tersebut tidak ada satu pun yang ditindaklanjuti. Dalam hal itu dia menghadapi gejolak antara mau membantunya atau tidak. mantan hakim pengadilan tinggi Harini Wijoso. “Pengacara muda sekarang menarik napas panjang. Di samping tidak ada sanksi berat bagi pelaku mafia peradilan makin menambah suburnya mafia ini. bahwa penulis juga seorang mahasiswa fakultas hukum. Bangsat itu tertawa terkekeh-kekeh. seorang pengacara muda yang bersikap adil dan profesional pada pekerjaannya sebagai pengacara. dari 11 hakim yang direkomendasikan untuk dikenakan sanksi. Walhasil. Hal ini bisa terjadi dikarenakan faktor rendahnya kualitas sumberdaya manusia baik intelektualitas dan spiritual. Ia mencermati keadaan dan situasi. tetapi mutlak hanya pencarian keadilan yang kalau perlu dingin dan beku. Komisi Yudisial (YK) telah mengajukan 28 hakim untuk dijatuhkan sanksi terkait pelanggaran. baru dua yang ditindaklanjuti. Akhirnya dia meminta pendapat kepada ayahnya sebagai seorang pengacara bukan sebagai anak. Sebagai pembela. Mafia peradilan juga melibatkan hakim peradilan. Tetapi kasus itulah yang akhirnya membawanya dalam kehancuran. Di era kepemimpinan Harifin A. Permasalahan muncul ketika seorang oknum pejabat yang banyak melakukan pelanggaran hukum meminta bantuannya untuk menjadi pengacaranya. kesimpulanku. dan cerdas. penulis merupakan mahasiswa Fakultas Hukum UGM 1969. birokrasi peradilan yang berjenjang. karena pencarian keadilan tak boleh menjadi sebuah teater.

dan memaparkan pandangannya pada pemerintahan. D. disiksa dan akhirnya baru dikembalikan sesudah jadi mayat. sehingga hal – hal yang merugikan orang lain apalagi menyengsarakan orang lain tersebut bisa di hindari. Bagaimana pada saat ini keadilan adalah bagi orang – orang yang mempunyai uang banyak dan kekuasaan lebih. Kita yang sebagai manusia mempunyai akhlak hendaknya dalam menjalani sebuah pekerjaan haruslah sesuai dengan norma – norma yang berlaku. Mereka terbakar dan mengalir bagai lava panas ke jalanan. dalam mengambil pilihan hidup itu kita seharusnya sebagai manusia. Tetapi itu pun belum cukup. menyerbu dengan yel – yel dan poster – poster raksasa. Wujud dari ekpresi terhadap situasi dan keadaan yang terjadi di masyarakat.” Penulis mampu mengkritisi pemerintahan. Hakimnya diburu-buru. yang dimana hokum bisa dibeli di negeri ini. Rakyat pun marah. Gedung pengadilan diserbu dan dibakar. Banyaknya mafia – mafia kasus yang terjadi saat ini adalah bukti kebrobrokan moral yang terjadi di Negara ini. PENUTUP Dari cerpen “Peradilan Rakyat” karya Putu Wijaya ini dapat diambil hikmah. wartawan majalah Tempo (1971-1979) dan Redaktur Pelaksana majalah Zaman (1979-1985). Rakyat terus mengaum dan hendak menggulingkan pemerintahan yang sah. Bukan tidak mungkin bila rakyat telah marah. mereka akan lupa diri dan bisa melakukan hal – hal yang di luar batas kewajaran. .kembang api semalam suntuk. harus menggunakan pikiran serta perasaan. tak mungkin dijamah lagi. Pengacara muda itu diculik. hal ini pula didasari oleh profesi yang penah menjadi wartawaan di berbagai media cetak. Misalnya penulis pernah menjadi wartawan majalah Ekspres (1969). Sehingga pilihan yang kita ambil tersebut tidak merugikan diri sendiri dan orang lain. lalu meloncat ke mancanegara.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful