P. 1
tafsir

tafsir

|Views: 30|Likes:

More info:

Published by: Wiendy Yasashi Chienoaru on Mar 21, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/06/2013

pdf

text

original

Makalah tentang Tafsir Bi Al-Ma’tsur

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Perkembangan hidup manusia mempunyai pengaruh yang besar terhadap perkembangan akal pikirannya. Hal ini jelas mempunyai pengaruh dalam pemahaman terhadap ayat-ayat Al-Qur‟an. Untuk bisa berbicara dalam konteks masa dan ruang yang berbeda, maka Al-Qur‟an harus difahami dan ditafsirkan oleh para pembacanya. Al-Qur‟an bersifat tetap, jika dilihat dari bunyi teks dan proses pewahyuannya. Al Qur‟an telah berhenti, karena pewahyuan sudah berakhir dengan berakhirnya masa kenabian Muhammad. Sementara di sisi lain, masalah-masalah yang timbul dalam lingkungan umat Islam, senantiasa berkembang seiring dinamika zaman. Maka untuk mempertemukan Al-Qur‟an dan perkembangan zaman, muncullah disiplin ilmu yang disebut dengan tafsir. Para ulama lalu melakukan upaya-upaya untuk menjadikan AlQur‟an mampu berbicara pada setiap zaman yang berbeda, melalui aktivitas penjelasan makna-makna Al-Qur‟an, dan usaha-usaha itu kemudian dikenal secara luas sebagai tafsir. Dalam peta keilmuan Islam, Ilmu tafsir merupakan ilmu yang tergolong belum matang, sehingga selalu terbuka untuk dikembangkan. Setiap periode memiliki perkembangan sampai saat ini. Meskipun sama-sama berusaha mengungkapkan makna Al-Qur‟an, masing-masing menggunakan cara dan pendekatan yang berbeda. Sehingga tidaklah mengherankan, ketika metode yang digunakan oleh para ulama dalam penafsiran Al-Qur‟an juga mengalami perkembangan yang dinamis dari zaman ke zaman. Metode-metode itu berkembang sejalan dengan perkembangan pemikiran, peradaban manusia dan juga masalah-masalah yang berkembang dalam masyarakat. Di samping itu, perkembangan itu juga terjadi karena kebutuhan manusia akan metode baru, sebagai akibat perkembangan zaman, tidak terelakkan. Melihat sejarah awal perkembangan tafsir, muncul dua jenis penafsiran alQur‟an secara estafet, yaitu tafsir bi al-ma‟tsur atau disebut juga dengan tafsir bi alriwayah dan tafsir bi al-ra‟yi atau tafsir bi al-dirayah. Namun dalam kesempatan ini kita akan membahas tentang tafsir bi al-ma‟tsur. Untuk mengkaji tentang tafsir bi alma’tsur itu sendiri, di makalah ini akan coba untuk menjelaskan tentang pengertian tafsir dan ta’wil, tafsir bi al-ma’tsur dan ragam bentuk penafsirannya, dan

Apa yang dimaksud dengan tafsir dan ta‟wil? 2. Bagaimana klasifikasi tafsir bi al-matsur? 4. 5. Untuk mengetahui tentang klasifikasi dalam tafsir bi al-matsur. Apa itu tafsir bi al-ma‟tsur? 3. Bagaimana pandangan ulama tentang tafsir bi al-matsur? 6. 3. Untuk mengetahui macam dan bentuk tafsir bi al-matsur. 6. Untuk mengetahui pandangan para ulama terhadap tafsir bi al-matsur. Bagaimana hubungan dan Kedudukan Israiliyat dalam Tafsir bi al-Ma’tsur? 1. .2 RUMUSAN MASALAH Berdasarkan uraian latar belakang diatas. 2. 4. Untuk memahami makna dari tafsir bi al-ma‟tsur. Apa saja macam dan bentuk tafsir bi al-matsur ? 5. Untuk mengetahui makna dari tafsir dan ta‟wil. rumusan masalah yang dibahas adalah sebagai berikut: 1.Makalah tentang Tafsir Bi Al-Ma’tsur nilai tafsir bi al-ma’tsur menurut pandangan para ulama yang kemudian disertai dengan alasan-alasannya. Untuk mengetahui hubungan dan Kedudukan Israiliyat dalam Tafsir bi al-Ma’tsur. 1.3 TUJUAN PEMBAHASAN Adapun tujuan dari pembahasan tersebut adalah: 1.

sebagaimana firman Allah SWT dalam surat AlFurqan. melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya” Sementara itu dari segi terminologi menurut Al-Zarqani : “ Ilmu yang di dalamnya membahas tentang Al-Qur‟an Al-Karim dari segi petunjuk (dalalah)nya kepada yang dikehendaki Allah dari sekedar yang kemampuan manusia”.1 Pengertian tafsir dan ta’wil Kata tafsir secara etimologi diambil dari kata ‫ رفغشا‬-‫فغش‬ٝ -‫فغش‬ berarti yang berarti penjelasan dan keterangan. . Menurut Az-Zarkasyi : “Tafsir adalah ilmu yang digunakan untuk memahami kitab Allah yang diturunkan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW dan menjelaskan makna-maknanya. kandungankandungan hukum yang tersendiri (terpisah) dan yang tersusun serta makna-maknanya yang terkandung atasnya secara tersusun baik. Jadi tafsir adalah ilmu yang membahas tentang dalil-dalil Al-Qur‟an dan maknamaknanya sesuai dengan yang dikehendaki Allah SWT.yang berarti (kembali ke asal). Sedangkan menurut terminologi As-Suyuti mendefenisikan ta’wil adalah: “Pemalingan ayat kepada apa yang terkandung dari dalamnya dari maknamakna”. Sedangkan kata ta’wil secara etimologi barasal dari kata ‫ال‬ٝٗ‫ رأ‬-‫أٗه‬ٝ -‫أٗه‬. 33 ْ ِ‫ئَْبكَ ث‬ ْ َ‫غَِ ر‬ ‫و إِ ا‬ ْ‫ج‬ َٗ ِّ ‫ح‬ ‫شا‬ٞ‫غ‬ َ ْ‫ٗأَح‬ َ ‫بى‬ ِ ‫ف‬ ٍ َ ‫َث‬ َ ‫ق‬ ِ ‫َل‬ َ َ ِ‫َأْرَُّ٘لَ ث‬ٝ ‫َل‬ “Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil.Makalah tentang Tafsir Bi Al-Ma’tsur BAB II PEMBAHASAN 2. Menurut Ibnu Hayyan tafsir adalah: “Ilmu membahas mengenai cara pengucapan kata-kata al-Qur‟an serta cara mengungkapkan petunjuk (dalil-dalilnya). serta mengeluarkan kandungan-kandungan hukum dan hikmahnya. menurut ukuran kemampuan manusia.

Kata bi berarti „dengan‟ sedangkan al-ma’tsur berarti ungkapan yang pembahasan tentang makna tafsir dan ta’wil. 2. fuqaha’. Berdasarkan tafsir dan ta’wil: 1.Makalah tentang Tafsir Bi Al-Ma’tsur Sedangkan ta’wil menurut mutaakhkhirin.2 Pengertian tafsir bi al-ma’tsur Menurut al-Zarkasyi. Tafsir menerangkan makna lafazh yang tak menerima selain dari satu arti. disini akan diuraikan perbedaan antara . Tafsir lebih umum dari ta’wil. 4. Sementara menurut kalangan salaf mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara tafsir dan ta‟wil. Karena itu sebagian ulama mengatakan. dan untuk mempermudah pemahaman tentang keduanya. itafsir. Secara leksikal tafsir berarti mengungkap atau menyingkap. “tafsir adalah apa yang berhubungan dengan riwayat sedangta’wil adalah apa yang berhubungan dengan diwayah”. Dengan kata lain. 2. sementara ta’wil menetapkan makna yang dikehendaki suatu lafazh yang dapat menerima banyak makna karena didukung oleh dalil. mereka mengatakan bahwa kata-kata tafsir dalam kitab-kitab tafsir nereka dengan kata-kata ta‟wil[8]. ta‟wil berarti mengartikan lafazh dengan beberapa alternative kandungan makna yang bukan merupakan makna lahirnya. dan sementara ta’wil kebanyakan penggunaannya pada maknamaknanya. Tafsir menerankang lafadzmelalui jalan riwayah. Tafsir adalah apa yang telah dijelaskan di dalam kitabullah atau tertentu (pasti) dalam sunnah yang shahih karena maknanya telah jelas dan gamblang. dengan kata lain. Dari defenisi diatas dapat diketahui bahwa ta’wil adalah memahami lafazh-lafazh Al-Qur‟an meleui pemahaman arti yang terkandung oleh lafazh tersebut. bi dan al-ma’tsur. 3. tafsir menerangkan makna yang tersurat sedangkan ta’wil menerangkan makna yang tersirat. istilah tafsir bi al-ma’tsur merupakan gabungan dari tiga kata. kebanyakan penggunaan tafsir pada lafazhlafazhnya.sedangkan ta’wil menerangkan lafazh melaui dengan jalan dirayah. Sedangkan ta’wil adalah apa yang disimpulkan para ulama. mutakallimin dan muhadits dan para sufi sebagai mana dinukilkan Ad-Dzahabi dalam At-tafsir wa alMufassirun mengatakan: “Ta’wil adalah pemalingan lafazh dari makna yang rajih kepada makna yang marjuh karena dalil yang sebanding dengannya”.

dan dipopulerkan oleh al-Zarqani yang nota bene termasuk ulama‟ kontemporer. al-Suyuthi mengatakan bahwa isi dari kitab tafsirnya adalah kompilasi penafsiran-penafsiran Nabi SAW dan para shahabat. Dalam muqaddimah tafsirnya. atau dengan perkataan para Sahabat karena merekalah yang paling mengetahui kitabullah atau dengan apa yang dikatakan oleh tokoh-tokoh besar tabi’yn karena pada umumnya mereka menerima dari para Sahabat”. yang dimaksud tafsir bi al-ma’tsur adalah kompilasi penafsiran nabi. dan sebagian ulama berpendapat bahwa menjelaskan Al- . Sedangkan secara terminologis pengertian tafsir bi al-ma’tsur yaitu: ‫ ششٗط اىَفغش ٍِ رفغش‬ٜ‫ ر مشد عبثقب ف‬ٜ‫ح اىَْق٘ه ثبىَشارت اىز‬ٞ‫ صح‬ٚ‫عزَذ عي‬ٝ ٙ‫ٕ٘ اىز‬ ُ‫اىقشاُ ثبىقشا‬. yaitu menafsirkan al-Qur‟an dengan al -Qur‟an. ٌ‫ عِ اىصحبة ٌّٖ اعي‬ٛٗ‫اٗ ثَب س‬ ‫اىْبط ىنزبة هللا‬. atau dengan sunnah karena ia berfungsi menjelaskan kitabullah. yaitu penafsiran AlQur‟an dengan al-Sunnah. sahabat dan tabi‟in. ‫ْخ ىنزبة هللاﻷ اٗ ثبىغْخ‬ٞ‫ّٖب جبءد ٍج‬. Dengan demikian secara etimologis tafsir bi alma’tsur berarti menyingkap isi kandungan al-Qur‟an dengan penjelasan yang dinukil oleh khalaf dari salaf. menurut catatan al-Suyuthi berasal dari Ibnu Taimiyah. Dengan demikian tafsir bi al-Ma’tsur adalah tafsir AlQur‟an dengan Al-Qur‟an atau penafsiran Al-Qur‟an dengan Al-Sunnah. Artinya : “Tafsir bi al-Ma’tsur ialah tafsir yang berpegang kepada riwayat yang Shahih. Dari penjelasan di atas dapatlah dipahami bahwasanya tafsir bi alMa’tsuradalah menafsirkan ayat-ayat Al-Qur‟an dengan menggunakan ayat lain atau sunnah Rasulullah Saw. Definisi seperti ini. Sedangkan sebelum al-Zarqani. tafsir bi al-ma’tsur ialah rangkaian keterangan yang terdapat dalam Al-Qur‟an dan al-Sunnah atau kata-kata sahabat sebagai keterangan/penjelasan maksud dari firman Allah.Makalah tentang Tafsir Bi Al-Ma’tsur dinukil oleh khalaf dari salah. Ulama‟ yang memahami bahwa tafsir bi al-ma’tsur bukan penafsiran al-Qur‟an dengan al-Qur‟an atau hadits atau pendapat sahabat atau tabi‟in adalah al-Suyuthi. atau hadits atau pendapat sahabat atau tabi‟in. ِٞ‫ر ىل غبىجب عِ اىصحبثخ ٌّٖ ريق٘اﻷاٗ ثَبقبىٔ مجبس اىزبثع‬. AlZarqani adalah orang yang pertama menyebutkan bahwa tafsir bi al-ma’tsur adalah penafsiran al-Qur‟an dengan al-Qur‟an. Sedangkan menurut Muhammad „Ali Ash-Shabuni.

Sehingga dalil al-Qur‟an. Dengan demikian. atau pendapat tabi‟in ini. Dalam perdebatan ini. Definisi semacam inilah yang dipegang oleh al-Suyuthi. Sekalipun redaksionalnya berdekatan. Tafsir bi al-ma’tsur.3 Klasifikasi Tafsir bi al-Ma’tsur Di atas telah dibahas tentang perbedaan dalam memaknai tafsir bi alma’tsur. baik dalil itu dari al-Qur‟an sendiri atau dari hadits Nabi. Pertama adalah pendapat yang meyakini tafsir bi al-ma’tsurdengan penafsiran al-Qur‟an dengan al-Qur‟an. Mufassir akan mengatakan bahwa menurut pendapatnya tafsir ayat “ini” adalah “begini” dasarnya adalah al -Qur‟an surat ini ayat ini. Dalam definisi tafsir jenis ini. melainkan argumentatif. 2. jika diartikan sebagai kompilasi penafsiran Nabi. ruh dari tafsir bi al-ma’tsur yang semacam adalah naql (penukilan riwayat). pendapat shahabat atau tabi‟in hanya sebagai sandaran. Riwayat tersebut langsung menjelaskan bahwa maksud ayat “ini” adalah “begini”. pendapat shahabat dan tabi‟in. Oleh karena itu. Shahabat atau tabi‟in dalam menafsirkan ayat al-Qur‟an. bukan sebagai penafsir. namun hakekat dari kedua definisi ini sangat jauh berbeda. sedangkan penafsiran berasal dari pemikiran penafsir sendiri. hadits nabi. Riwayat-riwayat yang berasal dari Nabi. shahabat dan tabi‟in. atau pendapat shahabat ini. Sedangkan bila tafsir bi al-ma’tsur diartikan sebagai penafsiran al-Qur‟an dengan al-Qur‟an.Makalah tentang Tafsir Bi Al-Ma’tsur Qur‟an dengan perkataan para sahabat bahkan tabi’in masih termasuk tafsir bi alMa’tsur bahkan mereka memberi alasan karena para tabi’in langsung menerimanya dari para sahabat. maka penulis sepakat dengan Nur Faizin yang mengatakan bahwa definisi tafsir bi al-ma’tsur yang lebih tepat adalah tafsir yang . atau hadits atau pendapat shahabat atau tabi‟in. hadits. atau hadits ini. maka penulis kitab tafsir (baca: penafsir) hanya menulis tafsir dengan menukil riwayat Nabi. dan tafsir bi al-Ma’tsur ini adalah merupakan jalan yang paling aman dari kesesatan dalam memahami Al-Qur‟an. shahabat dan tabi‟in. maka ruhnya bukan lagi naql melainkan istidlal. tafsir yang berupa kompilasi penafsiran Nabi. riwayat tidak lagi berfungsi interpretatif. Istidlal berarti menafsirkan al-Qur‟an dengan ra’yi (akal) yang didasari dengan dalil. maka riwayat menjalankan fungsi interpretatif. atau dari pendapat shahabat atau tabi‟in. Kedua. shahabat dan tabi‟in secara langsung menjelaskan ayat-ayat alQur‟an.

yang saling menjelaskan antara yang satu dengan yang lainnya (intertekstualitas). Keduanya tidak diragukan lagi dalam penerimaannya. tafsir shahabat yang bernilai marfu’. Hal ini karena Allah SWT adalah sumber berita yang paling benar yang kemudian menjelaskannya. yang tidak mungkin tercampur perkara batil darinya. (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah”.4 Macam dan Bentuk Tafsir bi al-Ma’tsur Tafsir bi al-Ma’tsur merupakan penafsiran dengan menggunakan riwayat sebagai sumber pokoknya. 2. tafsir yang menjadi ijma’ shahabat dan tafsir yang menjadi ijma’ tabi‟in. Penafsiran Al-Qur‟an dengan Al-Qur‟an adalah bentuk tafsir yang paling tertinggi.Makalah tentang Tafsir Bi Al-Ma’tsur dinukil dari Nabi SAW. daging babi. Sedangkan selain keempat macam tafsir ini adalah masuk kategori tafsirbi al-ra’yi. Dengan kata lain. Penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an Pada prinsipnya ayat-ayat al-Qur‟an merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan. Karena itu. Penafsiran corak ini dapat dibagi menjadi empat macam dan bentuknya yaitu: 1. Kata-kata darah dalam ayat ini tidak menunjukkan jenis dan kadar darah tersebut. Penjelasan Al-Qur‟an dengan Al-Qur‟an ini dapat dilihat pada surat al-Maidah . 3 yang berbunyi: ْ ٌ ْٗ ْ ٌ ّ ‫ْش‬ ْ‫خ‬ ْ ٍ ُٞ ‫اى ا‬ َ ِ‫و ى‬ َْ ْ َ‫عي‬ ٔ ‫ٕ ا‬ َ ‫ذ‬ ِ ِ‫هللاِ ث‬ ِ ُ ‫ٍب أ‬ ِ ‫اى‬ ُ ْ‫ٗىَح‬ ُ‫ذ‬ ُ‫ن‬ َ ‫ش‬ٝ َ ً َ ُ‫زَخ‬ٞ َٗ َ ‫اى‬ َ ِّ‫حُش‬ ِ ٞ‫غ‬ ِ ‫ض‬ ِ ْ “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai. darah . Yang mana ayat ini memberitahukan bahwa salah satu yang termasuk yang diharamkan oleh Allah SWT ialah darah. ia bagai mata rantai yang saling berkaitan antara satu dan yang lainnya. Akan tetapi bila kita lihat pernyataan ayat lain yaitu surat al-An‟am ayat 145 menjelaskan bahwa ada darah yang diharamkan oleh Allah SWT yaitu darah yang mengalir sebagaimana firmannya: ْ َٝ ٌ ُ َٝ َُ‫َُٔ إَِل ا أ‬ ُ‫ج‬ ْ ٍ ٍْ ‫غفُ٘حب‬ َ ‫حشاٍب‬ َ‫ط‬ َ ٍ ‫زَخ أَْٗ دٍَب ا‬ٞ ِ ‫ طَب‬َٚ‫عي‬ ‫ إِىَ ا‬ٜ ِ ُْٗ‫ٍب أ‬ ُ‫ع‬ ُ ٜ ٍ‫ع‬ ِ َ‫قُو َلا أ‬ َ َُ٘‫ن‬ َ ‫ح‬ َ ِٜ‫ذ ف‬ . bahwa darah apa sajapun termasuk kedalam kelompok yang diharamkan oleh Allah AWT baik sedikit maupun banyak. tafsir ini dinamakan juga dengan tafsir bi alriwayah (tafsir dengan riwayat) atau tafsir bi al-manqal(tafsir dengan menggunakan pengutipan riwayat).

Tapi yang menjadi persoalan adalah jika Al-Qur‟an yang qath’iy al-tsubut itu dihadapkan dengan hadits yang zhanny al-wurud bertentangan dengan Al-Qur‟an itu sendiri. tidak dapat dipisahkan dari pemahaman maksud ayat-ayat al-Qur‟an. tentang segi keshahihan dari hadits itu sendiri. 2. (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah”. dengan melihat wajah . Beliau adalah satu-satunya manusia yang mendapat wewenang penuh untuk menjelaskan alQur‟an. Penafsiran ini dapat dilihat pada surat Al-An‟am. Inilah yang kemudian menjadi permasalahan tentang penafsiran Al-Qur‟an dengan Hadits. atau darah yang mengalir”. mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk” Nabi SAW menafsirkan lafazh ٌ‫ اىظي‬dengan ‫اىششك‬ Dengan demikian. darah . 3: ْ ٌ ْٗ ْ ٌ ّ ‫ْش‬ ْ‫خ‬ ْ ٍ ُٞ ‫اى ا‬ َ ِ‫و ى‬ َْ ْ َ‫عي‬ ٔ ‫ٕ ا‬ َ ‫ذ‬ ِ ِ‫هللاِ ث‬ ِ ُ ‫ٍب أ‬ ِ ‫اى‬ ُ ْ‫ٗىَح‬ ُ‫ذ‬ ُ‫ن‬ َ ‫ش‬ٝ َ ً َ ُ‫زَخ‬ٞ َٗ َ ‫اى‬ َ ِّ‫حُش‬ ِ ٞ‫غ‬ ِ ‫ض‬ ِ ْ “Diharamkan bagimu (memakan) bangkai.Makalah tentang Tafsir Bi Al-Ma’tsur Katakanlah: "Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku. Atau dalam surat Al-Hajj. 82 ْ ‫َ ْيجِغ‬ٝ ٌ ْ ُ ٍْ ُ َ ‫ٖز‬ ٍُ ٍْ َُٗ‫ذ‬ ْ َ‫ٌ اْل‬ ْ َ‫ٗى‬ ُّ ٌُٕٗ ِ ‫اىا‬ ُ َُٖ‫ٌ أُْٗ ىَـئِلَ ى‬ ٍ ‫َبٌَُّٖ ثِظُ ْي‬ َ ِ َ ‫٘ا‬ َ ِٝ‫ُ٘ا إ‬ َ ‫َِ آ‬ٝ‫ز‬ “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik). penjelasan beliau dapat dipastikan kebenarannya karena beliaulah yang langsung menerima ayat tersebut dan diberi keleluasaan untuk menjelaskannya. sehingga Hadits merupakan penjelas penguat. kecuali kalau makanan itu bangkai. pembatas bahkan penambah dari Al-Qur‟an itu sendiri. 26. Penafsiran al-Qur’an dengan Hadits Sebagaimana diketahui bahwa Hadits merupakan sebagai bayan (penjelas) dari Al-Qur‟an itu sendiri. َ ‫َل‬ ِ َ‫اْلَْٗ ث‬ ِ ‫اىض‬ Kata (ٌ‫ن‬ٞ‫ عي‬ٚ‫زي‬ٝ ‫ )إَل ٍب‬ditafsirkan dengan surat al-maidah. Penafsiran al-Qur‟an dengan hadits dapat dilihat bagaimana Nabi menafsirkan kata ‫َبدَح‬ٝ‫ص‬ ِ ََ dalam Surat yunus. 30: ْ ٍَِ ْ ٌ ‫ً إِ ا‬ ْ ُ ٝ ‫ٍب‬ ْ َ‫اْل‬ ْ ‫حيا‬ ُٞ ُ َ‫ذ ى‬ ُّ ‫ه‬ ْ َ‫عي‬ ‫ٗس‬ َ َٚ‫زي‬ ْ‫ن‬ َ َْ٘‫ٗاجْ زَِْجُ٘ا ق‬ َ ْ‫ٌ فَبجْ زَِْجُ٘ا اىشِّ ج‬ َّ ِ ‫ظ‬ ِ ُ‫ٗأ‬ ُ ‫عب‬ ُ‫ن‬ َ ُ‫ب‬ َ . daging babi.. perinci. penjelasan-penjelasan Nabi Muhamad SAW. sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya.

Ubay bin Ka‟ab. Umar ibn Khaththab.Makalah tentang Tafsir Bi Al-Ma’tsur Allah Ta‟ala. cara penafsiran serupa inilah yang menjadi cikal bakal apa yang disebut dengan tafsir bil ma’tsur atau disebut juga dengan tafsir bil riwayah. “pada siapa kalian ayat ini diturunkan. Contoh ayat Al-Qur‟an yang ditafsirkan oleh sahabat. Dengan demikian para shahabat umumnya dapat menafsirkan al-Qur‟an . dari pada melihat Rabb mereka Azza Wa Jalla”. dan Abu Musa alAsy‟ari juga Abdullah bin al-Zubair. maka dapat dengan melihat kepada perkataan para sahabat. Ibnu Abbas. Zaid bin Tsabit. termasuk pembukuan kitab-kitabtafsir yang terjadi sekitar abad 3 H. “maka disingkapkanlah hijab. Demikian pula generasi berikutnya hingga sampai datang masa tadwin (pembukuan) akan ilmu-ilmu Islam. maka tidaklah mereka diberi sesuatu yang lebih mereka cintai. Ali ibn Abi Thalib. dan dalam Shahih Muslim barkata. Utsman ibn „Affan. dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim. namun yang paling menonjol diantara mereka ada 10 (sepuluh) orang yaitu: Abu Bakar Shiddiq. 3. kemudian beliau membaca surat Yunus. Mereka itulah penghuni syurga. Para masa shahabat menerima dan meriwayatkan tafsir dari nabi adalah secaramusyafahat artinya dari mulut ke mulut. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan . kemudian Umar membacakan surat Al-Baqarah 266: ْ َ‫ِ رَحْ زَِٖب ْاَل‬ ُ َ‫ُ ر‬ ُ‫ذ‬ ٍْ ْ َ‫ٗا‬ ٍْ ْ َ‫ٌ ا‬ ُّ ٘ ُ‫ح‬ ‫ش‬ ُ َّٖ ‫و ا‬ٞ ٍ ‫عَْب‬ ْ‫م‬ َ َُٔ‫نْ٘ َُ ى‬ َ َ‫دا‬ ِ ْٛ‫ش‬ ِ ‫ِ ّا‬ ٍ ‫خ‬ ِّ ٌ‫جْاخ‬ َ ََٝ‫ا‬ ِ ْ‫ة رَج‬ . ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya . mereka kekal di dalamnya”. hal ini disebabkan rasul sering menjelaskan kepada mereka tentang kandungan yang terdapat dalam al-Qur‟an itu sendiri. sebagaimana yang diceritakan bahwa Umar bin Khaththab pada suatu hari barkata kepada para sahabat Nabi SAW. karena merekalah yang lebih tau tentang tentang maksud ayat. Penafsiran al-Qur’an dengan perkataan shahabat Apabila penafsiran dengan al-Qur‟an dengan al-Qur‟an dan dengan hadits nabi tidak ditemui. 26: ْ ُ‫حبة‬ ْ ‫٘ا‬ ْ ُْ‫غ‬ ُ ِ‫َٖب خَ بى‬ِٞ‫ٌ ف‬ ُ َٕ ْ‫َش‬ٝ َ‫َٗل‬ ْ ُ‫اىح‬ َُٗ‫ذ‬ َ ‫َب‬ٝ‫ص‬ ُ ‫ق‬ َ ‫اى‬ َ ْ‫رىاخٌ أُْٗ ىَـئِلَ أَص‬ َ ْ‫َِ أَح‬ٝ‫ز‬ ْ ُٕ ‫خ‬ ْ َُُٖٕ٘‫ٗج‬ ِ ‫جْا‬ ِ َ‫َٗل‬ ِ ‫ىِّيا‬ َ ٌ‫ٌ قَزَش‬ َ ٌ‫دح‬ َ َْٚ‫غ‬ ِ ٗ “Bagi orang-orang yang berbuat baik. secara jelas dari hadits Abu Musa dan Ubay bin Ka‟ab ibn Ujrah. Ibnu Mas‟ud.

Tidak dimasukkannya kelompok tabi‟in bisa diprediksikan bahwa pendapat para tabi‟in paling tidak menurut Al-Rumy tidak layak dijadika referensi dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur‟an dengan metode tafsir bi al-ma’tsur. Namun demikian menurut sebahagian ulama tidak wajib mengambil tafsir dari sahabat karena menurut mereka para sahabat juga berijtihad dalam penafsirannya. lalu ia dipermainkan setan. Ibnu Abbas berkata:”ayat itu mengetengahkan contoh suatu amal”. Lalu Umar berkata:”wahai putra saudaraku. Kemudian Ibnu Abbas berkata dengan tenang tentang ayat itu. Artinya para tabi’in itu mempunyai kedudukan yang sama dengan paramufassirun yang menafsirkan al-Qur‟an dengan berdasarkan kaidah bahasa. dan seorang mujtahid bisa saja salah. sehingga ia melakukan kemaksiatan dan amalamalnya menjadi tenggelam. Para sahabat menjawab:”Allah lebih mengetahui”. dan sahabat dalam berijtihad sama saja seperti mujtahid pada umumnya. seraya berkata:”katakan‟aku tahu‟ atau „tidak tahu‟”.berkatalah! Jangan kamu menghinakan dirimu”. . kelompok Madinah dan kelompok Iraq. 4. Sebahagian ulama berpendapat bahwa tafsir itu termasuk kedalam ma’tsur. Kelompok tabi‟in yang memberikan sumbangan besar dalam penafsiran Al-Qur‟an terbagi menjadi tiga. terkadang merekapun melakukan ijtihad dan memberi interpretasi terhadap Al-Qur‟an. Penafsiran al-Qur’an dengan perkataan Tabi’in Adapun tafsir para tabi’in ada perbedaan pendapat di kalangan ulama. Maka Umar marah.dengan kata lain. Ibnu Abbas menjawab:”sungguh seorang lelaki berlaku taat kepada Allah. Umar bertanya: “amal apa?”.Makalah tentang Tafsir Bi Al-Ma’tsur “Apa sukakah seseorang diantara kamu mempunyai sebidang kebun kurma dan anggur yang mengalir dibawahnya sungai-sungai”. hal ini disebabkan sudah semakin meluasnya wilayah kekuasaan Islam. Ada pula yang berpendapat bahwa tafsir dari para tabi’in sama saja dengan tafsir bi al-ra’yi. yaitu kelompok Makkah. Karena mereka berjumpa langsung dengan para sahabat yang lebih tahu akan turunnya ayat dan maksud-maksud ayat yan dijelaskan oleh Rasul sendiri. Al-Rumy tidak memasukkan kelompok Tabi‟in dalam penjelasannya.

Atha‟. dengan terdapat perbedaan sedikit atau banyaknya penafsiran mereka. dan dia tidak melihat dari sesuatu mankhlukpun. tafsir bi al-Ma’tsur yang berasal dari sahabat mempunyai nilai tersendiri . Jabir bin `Abdullah.5 . „Ibn `Abbas. Penafsiran tabi‟in dapat dilihat bagaimana Mujahid menafsirkan surat alqiyamah: 22-23: ٌۙ ‫ش‬ ُُؕ‫شح‬ ُ ٍ ِ‫ٍئ‬ َ‫ظ‬ َ ٚ‫حٌ اِى‬ َ‫ض‬ ِ ‫سثَِّٖبَّب‬ ِ ‫ز ّاب‬ َ ْ٘‫ا‬ٝ ٌٓ ُْ٘‫ٗج‬ “Wajah-wajah orang mukmin pada hari itu berseri-seri. „Anas bin Malik.Makalah tentang Tafsir Bi Al-Ma’tsur Dikalangan tabi‟in kelompok Makkah yang merupakan tokoh -tokoh besar dalam bidang tafsir seperti: Mujshid. Pandangan Ulama Tentang Nilai Tafsir bi al-Ma’tsur Di antara para sahabat yang terkenal banyak menafsirkan al-Qur‟an adalah khalifah yang empat. dan Sa‟ad bin Jabir. Sementara kelompok ahli tafsir di Irak ada Hasan Bashri. Qatadah bin Du‟amah. Jumhur `ulama berpendapat. „Ibn Mas‟ud. Sedang hal yang memungkinkan dimasuki ra‟yu maka statusnya adalah mauquf (terhenti) pada sahabat selama tidak disandarkan kepada Rasulullah. dan kedha’ifannya di lihat dari sudut sanad (mata rantai periwayat). `Abdullah bin `Amr bin `Ash dan `Aisyah. `Ubai bin Ka`ab. tafsir Sahabat mempunyai status hukum marfu’ (disandarkan kepada Rasulullah) bila berkenaan dengan asbab al’nuzul dan semua hal yang tidak mungkin dimasuki ra’yu. Tidak diragukan lagi. `Abdullah bin `Umar. Sebagian ulama mewajibkan untuk mengambil tafsir mauquf pada Sahabat. Abu al-„Aliyah al-Riyahi. „Abu Musa al-„Asy`ari. Atha‟ bin Abi Muslim al-Khurasani. di samping mereka mempunyai pemahaman yang sahih. Ikrimah. Yarkasy dalam kitabnya al-Burhan fi ’Ulum 2. Masruq bin al-Ajda‟. Cukup banyak riwayat-riwayat yang dinisbahkan kepada mereka dan kepada sahabat yang lain di berbagai tempat yang tentu saja berbeda-beda derajat keshahihan. Di kalangan kelompok Madinah adalah Muhammad bin Ka‟ab alQardhiyyi. `Abdullah bin Zubair. Zaid bin Tsabit. Kepada Tuhannyalah mereka melihat”. dan Zaid bin Aslam. Mujahid berkata bahwa orang mukmin menunggu balasan/pahala dari Tuhannya. Thawus. dan Murrah al-Hamdzani. karena merekalah yang paling ahli bahasa `Arab dan menyaksikan langsung konteks dan situasi serta kondisi yang hanya diketahui oleh mereka.

maka hal itupun tidak diragukan lagi. karena mereka dari kalangan ahli bait. 2. Mereka membuat tafsir al-Qur‟an yang menisbahkan kepada Nabi melalui sahabat dekat mereka. Penafsiran yang paling dipalsukan adalah terhadap `Ali bin Abi Thalib dan „Ibn `Abbas. Tentang tafsiran Tabi’in sebagian ulama menolak untuk dijadikan hujjahsebab para Tabi’in tidak mendengar langsung dari Rasulullah. Ada beberapa hal yang menyebabkan tafsir bi al-Ma’tsur tidak bisa menjadi hujjah. Jika dari Nabi. sehingga tidak diketahui dari siapa tafsir itu diriwayatkan. Yang pertama.Makalah tentang Tafsir Bi Al-Ma’tsur al Qur’an berkata : ketahuilah al-Qur‟an itu ada dua bagian. sementara golongan syi‟ah menisbahkannya Rasulullah melalui imam ahli bait. yaitu : a) b) c) Adanya tafsiran palsu yang disandarkan kepada Sahabat dan para Tabi’in. padahal pengetahuan ahli kitab hanya terbatas secara umum dan tidak diketahui secara pasti dari kitab mereka. Tafsiran palsu terjadi karena adanya fanatisme dari golongan. hanya perlu dicari kesalahan sanadnya. Sedangkan masuknya cerita Israiliyat ke dalam tafsir para sahabat dan Tabi’in. karena pendapatnya dapat dijadikan pegangan. atau jika mereka menafsirkan berdasarkan asbab al-nuzul atau situasi dan kondisi yang mereka saksikan. perlu diperhatikan apakah mereka menafsirkan dari segi bahasa ? Jika ternyata demikian maka mereka adalah yang paling mengerti tentang bahasa `Arab. ketika mereka ingin mengetahui asal muasal kejadian rahasia alam dan lain-lain. dan mereka bertanya kepada kalangan ahli kitab. Hubungan dan Kedudukan Israiliyat dalam Tafsir bi al-Ma’tsur Para ulama berbeda pendapat mengenai status tafsir bi al-Ma’tsur. Sahabat atau tokoh Tabi’in.6 . menurut „Ibn Khaldun kebanyakan dari kalangan bangsa `Arab. Satu penafsirannya datang berdasarkan naql (riwayat) dan bagian yang lain tidak dengan naql. Hal ini terjadi pada masa Tabi’in akibatnya terjadi penafsiran yang benar dan salah. dengan menisbahkan tafsiran kepada mereka agar tafsiran tersebut dapat diterima sebagai hujjah. penafsirannya itu adakalanya dari Nabi. Masuknya unsur-unsur cerita Israiliyat. Adanya Penghapusan Isnad. Jika berasal dari sahabat. Sedangkan dihapusnya sistem isnad dalam tafsir al-Qur‟an menyebabkan sulitnya mencari otentitas riwayat. ada yang mengatakan bisa menjadi hujjah dan ada yang tidak bisa menjadihujjah.

selain itu dengan perkataan sahabat dan tabi’in. karena banyak hadits yang ditolak para ulama karena kelemahan dari perawinya.Makalah tentang Tafsir Bi Al-Ma’tsur BAB III PENUTUP 3. Penafsiran al-qur‟an dengan dengan perkataan tabi’in Kemudian penafsiran dengan Al-Qur‟an dengan Al-Qur‟an dinilai penafsiran yang paling tinggi. barangkali corak itu memang merupakan satusatunya alternatif mengingat jarak antara generasi mereka dan generasi tabi‟in masih cukup dekat dan laju perubahan sosial perkembangan ilmu pun belum sepesat sekarang ini. Penafsiran al-Qur‟an dengan al-Qur‟an 2. Keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki dari tafsir bi al-ma’tsur bukan berarti corak tersebut merupakan alternatif terbaik untuk situasi kekinian.1 Kesimpulan Dari pemaparan yang telah disebutkan diatas dapatlah diambil suatu kesimpulan bahwa tafsir bi al-ma’tsur dapat klasifikasikan kepada 4 (empat) bentuk penafsiran. Ini bertolak dari asumsi bahwa penafsiran Al-Qur‟an pada dasarnya adalah usaha mufassir pada sekat tertentu untuk menawab persoalan yang dihadapi. sebahagian ulama tidak memasukkan kedua kategori tersebut ke dalam tafsir bi al-ma’tsur. yaitu : 1. Perbedaan yang dihadapi para mufassir sekarang tentu saja menyebabkan sebahagian sosio-kultural hasil penafsiran klasik tidak berhasil menjawab persoalan kekinian Yng dihadapi. karena tafsir sahabat menurut seabagian pendapat sama saja dengan para mujtahid pada umumnya dalam nerijtihad apalagi para tabi‟in karena mereka bukanlah termasuk orang yang mengetahui langsung tafsir tersebut dari segi turunnya atau penjelasan-penjelasan yang langsung diberikan oleh nabi. Penafsiran al-qur‟an dengan perkataan sahabat 4. Penafsiran al-qur‟an dengan hadits 3. kemudian dengan hadits apabila hadits tersebut dapat diketahui akan keshahihannya. . Untuk beberapa periode pasca Nabi SAW (hingga tabi‟in).

Kuala Lumpur: Islamic Fondation. 2002 Denffer. Manahil Al-Qur’an fi Ulum Al-Qur’an. Bandung: Mizan. Metode Penafsiran Al-Qur’an. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Ulum Al-Qur’an. Al-Itqan fi Ulum al-Qur’an (Beirut: Dar al-Kutub al-„Ilmiyah. Pengantar Ilmu Tafsir. 1367 H. 1995 Syihab. 1983 Az-Dzahabi. 2001 Ash Shiddieqy. Muhammad Husain. Rasyid. Amirul Hasan & Muhammad Halaby. M. An Introduction To The Science Of The Qur’an. Al-Burhan fi Ulum Al-Qur’an. Ahmad Von. terj. 1997 Al-Utsaimin. Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an. 1986 Al-Qaththan. Nashruddin. Badr al-Din. Membumikan al-Qur’an. Muhammad Abd al-Azham. M. Muhammad Ali. Abd al-Rahman. 1996 Asy-Syatibi. Jakarta: Darus Sunnah Press. 1973 al-Rahman. Al-Munjid Fi al-Lughah wa A’lam. Kairo: Al-Manar.Pn : Mansyurat al-Ashr al-Hadits. Ikhtisar Ulumul Qur’an Praktis. terj. 1988 . M. Quraisy. Al-Muwafaqat fi Ushul al-Fiqh as-Syar’iyah. 1992 As-Suyuti. 1997 Ridha. 2000 Ma‟luf. Ummu Ismail. M.Beirut: Dar al-Kutub al-„Ilmiyah. Hashbi. Sejarah dan Pengantar Ilmu Al-Qur’an/ Tafsir. 200 Az-Zarkasyi. Dirasat Fi ‘Ulum Al-Qur’an. Abu Ishaq. T. Louis. Jilid. I Ash-Shabuni. Al-Tafsir wa Al-Mufassirun. Manna‟. 1988 Al-Zarqani. Beirut: Dar al-Kutub al-„Ilmiah. Yogyakarta: Titian Ilahi Press. Beirut: Dar al-Masyriq. Beirut: Dar al-Ma‟arif. Qodirun Nur Jakarta: Pustaka Amani. Jakarta: Bulan Bintang.Makalah tentang Tafsir Bi Al-Ma’tsur DAFTAR PUSTAKA Baidawi. Fahd ibn „Abd. terj. Tafsir Al-Manar. Kairo: Maktabah Wahbah. Muhammad.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->