P. 1
Filsafat Ketuhanan Dalam Islam

Filsafat Ketuhanan Dalam Islam

|Views: 509|Likes:
Published by Ahmad Makhdum Basya
Allah, tiada tuhan selain dia, tempat bergantung segala sesuatu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada yang setara dengan dia.
Allah, tiada tuhan selain dia, tempat bergantung segala sesuatu, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada yang setara dengan dia.

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Ahmad Makhdum Basya on Mar 21, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/10/2013

pdf

text

original

Sections

FILSAFAT KETUHANAN DALAM ISLAM

Tujuan Pembelajaran
Mahasiswa mampu menjelaskan tentang konsep Ketuhanan dalam Islam dan mampu melaksanakan ajaran Islam secara utuh serta mampu menulis dan membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar POKOK BAHASAN  Siapakah Tuhan itu ?  Sejarah Pemikiran Manusia tentang Tuhan  Tuhan Menurut Agama – agama  Pembuktian Wujud Tuhan

Siapakah Tuhan itu ?

Tuhan dalam bahasa Arab disebut dengan (ILAAHUN – ILAAHAINI – AALIHATUN) terjemahan dari kalimat Rab )‫(رب‬

‫اله‬

Asal kata ilah selalu diterjemahkan “Tuhan”, dalam Al-Qur’an dipakai untuk menyatakan obyek yang dibesarkan atau dipentingkan manusia, Misalnya dalam surat Al Jatsiyah : 23 dan Al-Qashas ayat 38. pada kedua ayat tersebut, Ilah bisa diartikan benda, baik abstrak yakni nafsu atau keinginan pribadi maupun benda nyata. Menurut logika Al-Qur’an ilah (Tuhan), sesuatu yang dipentingkan (dianggap penting) oleh manusia sedemikian rupa, sehingga manusia merelakan dirinya dikuasai oleh–Nya. Oleh sebab itu sangat tidak mungkin jika manusia menyebutkan dirinya tidak bertuhan.

Yang dipentingkan oleh manusia dapat juga diartikan dengan:
 


 

Yang dipuja / disembah Yang dicintai / diagungkan Yang diharap kebaikannya Yang diharap pertolongannya Yang ditakuti bahayanya, dll.

Dengan demikian makna tuhan itu dapat berbentuk apa saja, asal ia diperankan atau diposisikan sebagaimana di atas.

Menurut Ibnu Taimiyah,

ilah adalah Yang dipuja dengan penuh kecintaan hati, tunduk kepada-Nya, merendahkan diri di hadapannya, takut dan mengharapkannya, kepadanya, tempat berpasrah ketika berada dalam kesulitan, berdoa dan bertawakkal kepadanya, untuk kemashlahatan diri, meminta perlindungan dari padanya dan menimbulkan ketenangan di saat mengingatnya dan terpaut cinta kepadanya. (M. Imaduddin, 1989: 56)

Makna Ilah (‫إل‬Makna Ilah (‫)ه)إله‬
lâha
• • • • •

- َ ‫ه‬ ‫ اَل ا‬:

yang Dipuja yang Dimuliakan yang Ditinggikan yang Diagungkan yang Diabdi


• •

yang Dilayani
yang Diperturutkan yang Disembah

Dalam Islam diajarkan kalimat ”la ilaha illa Allah” yang susunan kalimatnya dimulai dengan peniadaan (nafi) yaitu ”tidak ada tuhan”, kemudian baru diikuti dengan penegasan(itsbat) ”selain Allah”. Yang maksudnya adalah seorang muslim harus membersihkan diri dari segala macam Tuhan, sehingga yang ada didalam hatinya hanya ada satu Tuhan yakni Allah SWT.

Macam-macam ilah palsu

‫ا‬ ‫ا‬ ‫خا‬ ‫ذ َإ ِ ا‬ ‫ت ا‬ َّ ‫نَا‬ ُ ‫هـ‬ ‫ا‬ َ َ‫اوا‬ ‫م‬ َ ‫ت‬ ٌ ‫أ‬ ‫ر‬ ‫أ‬ ُ‫ه‬ ‫هَه ا‬ ‫ل ا‬ ‫ا‬ ْ ‫ا‬ ِ 25:43 Tidakkah kau perhatikan orang yang menjadikan sebagai ilâhnya adalah hawânya?

Ilâh Palsu: Figur Tokoh ‫إِ ا‬ َِ‫ه ٌْن‬ َ = dua ilâh ‫ل ا‬
َّ ُ ‫ا‬ ُ ُ ‫ذَ ا‬ ْ ِ ‫وإ‬ ‫ا‬ ْ َّ َّ ْ ‫ا‬ ‫ا‬ ِ َ ْ‫نَمِن‬ َ ٌ ‫ه‬ ‫ل‬ ‫إ‬ َ ً ‫م‬ ‫أ‬ ‫ًَِو‬ ‫ن‬ ‫و‬ ‫ذ‬ ‫خ‬ ‫ت‬ ‫َا‬ ‫اس‬ ‫ن‬ ‫ِل‬ ‫ل‬ َ ‫ت‬ ‫ل‬ ‫ق‬ َ ‫ت‬ ‫ن‬ ‫أ‬ ‫ء‬ َ ‫م‬ ٌ ‫ر‬ ‫م‬ َ ‫ب‬ ‫ىَا‬ ‫س‬ ٌِ ‫ع‬ ‫ا‬ ٌ َ ‫ََّللا‬ ‫نا‬ ْ ‫ا‬ ‫ا‬ ِّ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ْ ‫ا‬ ْ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ُ ‫قال ا‬ ِ ِ ِ …‫ََّللا‬ َ ِ َّ ‫ُون‬ ِ ‫د‬ Allah berkata: “Wahai Isa putera Maryam, engkaukah yang mengajarkan kepada manusia: ’Jadikanlah diriku dan ibuku sebagai dua ilâh selain Allah’?” <al-Mâ’idah 5:116>

‫َّ‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫َولِ ْ‬ ‫ْ‬ ‫َّ‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫اع ا‬ ‫ْ‬ ‫ا‬ ‫َّ‬ ‫ب ا‬ ‫ا‬ ‫ُ‬ ‫مْ‬ ‫ؤِ‬ ‫منٌِنا َ‬ ‫ن‬ ‫ِذ‬ ‫ل‬ ‫َ‬ ‫ِر‬ ‫ف‬ ‫غ‬ ‫ت‬ ‫اس‬ ‫َو‬ ‫ََّللا‬ ‫َل‬ ‫َإ‬ ‫ه‬ ‫ل‬ ‫َإ‬ ‫ََل‬ ‫ه‬ ‫ن‬ ‫مَأ‬ ‫لُ‬ ‫ك ا‬ ‫ْ‬ ‫ْ‬ ‫ا‬ ‫ف ْ‬ ‫لْ‬ ‫ُ‬ ‫ِ‬ ‫ِ ِ‬ ‫وا ْ‬ ‫ما‬ ‫مْ‬ ‫نا ِ‬ ‫ؤِ‬ ‫َ‬ ‫ت‬ ‫لُ‬ ‫ا‬ ‫‪47:19‬‬ ‫َّ‬ ‫نواَإِ ا‬ ‫ََلَإِ ا‬ ‫م ا‬ ‫ذاَقٌِلاَ ا‬ ‫ْ‬ ‫ا‬ ‫كا ُ‬ ‫مَ ا‬ ‫إِ َّ‬ ‫لا‬ ‫روناَ‬ ‫ك‬ ‫ت‬ ‫س‬ ‫ٌ‬ ‫َ‬ ‫ََّللا‬ ‫بُ‬ ‫ْ‬ ‫ا‬ ‫ل ُ‬ ‫ن ُ‬ ‫هْ‬ ‫هْ‬ ‫هَإِ ََّل ُ‬ ‫ِ‬ ‫‪37:35‬‬

Sejarah Pemikiran Manusia tentang Tuhan

Konsep ketuhanan adalah pemikiran manusia yang didasarkan atas hasil pemikiran baik melalui pengalaman lahiriah maupun batiniyah, baik yang bersifat penelitian rasional maupun pengalaman batin.

Menurut teori evolusi yang dikemukakan oleh Max Muller, yang kemudian diteruskan EB Taylor (1877), Robertson Smith, Lubbock dan Jevens, adalah sebagai berikut :

Menyatakan bahwa Ketuhanan terjadi melalui proses kepercayaan yang amat sederhana, kemudian meningkat menjadi sempurna Proses evolusi tersebut melewati beberapa proses/tahap : Dinamisme –Animisme – Politeisme – Henoteisme – Monoteisme.

Pemikiran Barat

Dinamisme

Animisme Teori Evolusionisme oleh Max Muller Bahwa pemikiran Tuhan terjadi akibat evolusi

Henoteisme

Politeisme

Monoteisme

Dinamisme

Mengakui pola kepercayaan manusia terhadap adanya kekuatan yang maha dasat dalam benda yang berpengaruh dalam kehidupan. Kekuatan tersebut diyakini terdapat dalam benda-benda

Animisme

Mengakui segala benda diyakini memiliki roh gaib yang diyakini memiliki peran besar dalam kehidupan manusia.
Sesuatu tersebut seakan-akan selalu hidup dan memiliki rasa batin (senang, sedih) sehingga minciptakan kebutuhan

Politeisme

Memiliki Pola kepercayaan pada roh-roh yang unggul seperti terhadap dewa-dewa

Henoteisme

Pola kepercayaan atas satu tuhan untuk satu
bangsa dan mengakui tuhan bangsa lain

Hal ini diusung atas motif ketidak puasan atas keberadaan dewa-dewa yang jumlahnya banyak sehingga diperlukan pengkultusan terhadap beberapa dewa saja.

Monoteisme

Hanya megakui satu tuhan untuk semu bangsa dan bersifat internasional

Menentang Teori Evolusi

Teori Evolusi ditentang boleh Andrew Lang yang menyatakan bahwa dalam masyarakat primitifpun sudah dikenal monoteisme. Ia menyatakan bahwa ide atau penentuan tentang tuhan itu tidak datang secara evolusi, tetapi datang dengan relevansi atau wahyu. Zaglul
Yusuf, 1993, 26-27

Pemikiran dan Teologis Islam
• •

Pemikiran tentang tuhan itu tertuang dalam bidang ilmu tauhid, ilmu kalam, atau ilmu ushuluddin Semua sepakat bahwa tuhan itu hanya satu yaitu ALLAH SWT Perbedaannya hanya terjadi dalam memandang masalah tertentu yang berkaitan dengan ketentuan-ketentuan tuhan: seperti masalah mukmin dan kafir, masalah baik dan buruk, masalah keterpakasaan atau kekuasaan manusia, masalah status al qur’an, dll

Pemikiran Islam

Aliran Muktazillah

Aliran Qodariyah
Berasal dari Ilmu kalam, Ilmu tauhid, dan Ilmu usluhuddin Jabariyah

Asy’ariyah atau Maturidiyah

Aliran Muktazillah

Dalam menganalisis Ketuhanan menggunakan bantuan ilmu logika guna mempertahankan keimanan Berpendapat bahwa manusia memiliki kebebasan berkehendak dan berbuat termasuk menentukan apakah dirinya kafir atau tidak

Aliran Qodariyah

Jabariyah

Berpendapat manusia tinggal menjalankan perbuatannya karena semua sudah ditentukan Tuhan. Ikhtiar jadi tak berarti
Mengambil jalan tengah antara Qodariyah dan Jabariyah. Berpendapat bahwa manusia wajib berusaha semaksimal mungkin. Akan tetapi Tuhanlah yang menentukan

Asy’ariyah atau Maturidiyah

Beberapa aliran dalam teologis Islam antara lain:

Mu’tazilah: Di antara pendapatnya, muslim yang berdosa besar itu tidak kafir dan tidak mukmin, Al-Qur’an adalah makhluk, mengutamakan akal dalam memahami Islam Qadariyah: Di antara pendapatnya: Manusia itu punya kebebasan/ kekuasaan dalam berkehendak, apakah ia jadi kafir atau mukmin, semua tergantung ia sendiri, sehingga ia harus mempertanggungjawabkannya. Jabbariyah: Manusia itu tidak punya kemerdekaan dan kekuasaan apa-apa, semua tingkah lakunya adalah sudah ditentukan atau dipaksakan oleh Allah. Asy’ariyah dan Maturidiyah: Memadukan pendapat Qadariyah dan Jabbariyah

Tuhan menurut agama-agama wahyu

Pada dasarnya semua agama wahyu mengajarkan bahwa tuhan yang benar itu hanyalah satu (esa), namun dalam perkembangannya ada yang melakukan penyimpanganpenyimpangan sehingga menganggap adanya tuhan lain selain Allah Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an antara lain: QS. 2:75, QS. 21:92, QS. 5:72, QS. 112: 1-4, QS. 3:62, QS. Shaad: 4, 35, 65, QS. Hud: 84, QS. Thoha: 98, QS. Al-Ankabut: 46, dll. Agama Yahudi juga mengakui tuhan itu esa, tapi karena tidak beriman pada Nabi Muhammad, sehingga tergolong kafirin Agama Nasrani di samping tidak beriman pada Nabi Muhammad juga menganggap bahwa tuhan itu sebagai trinitas yaitu Allah, Yesus Kristus, dan Roh Kudus. Jadi termasuk kafir nan musyrik.

Eksistensi di Al Quran tentang ke-esa-an Allah
Surat Al Anbiya Ayat 92

‫ا‬ ُ ُ ً ‫ا‬ ً ُ ‫ا‬ ُ ُ ِ ِ‫ه‬ ‫ُون‬ َ ‫د‬ ‫ب‬ ‫اع‬ ‫ف‬ َ ‫م‬ ‫ك‬ ‫ب‬ ‫اَر‬ ‫ن‬ ‫أ‬ ‫َو‬ ‫ة‬ ‫د‬ ‫ح‬ ‫ا‬ ‫َو‬ ‫ة‬ ‫م‬ ‫َأ‬ ‫م‬ ‫ك‬ ‫ت‬ ‫م‬ ‫ا‬ ‫إِنَّ َ ا‬ ُ ْ ُّ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ا‬ َّ َّ ْ ْ ‫ذهَِأ‬ ِ
“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku”

Surat Al Anbiya Ayat 25

‫ا‬ ‫ا‬ ْ ‫وحًَِإِ ا‬ ‫هََلاَإِ ا‬ ‫ا‬ ُ ََّ‫لَإَِل‬ َّ ‫ل ٌْهَِأا‬ ‫ا‬ ُ‫ن‬ ‫لا‬ ِ ‫ماَأ‬ ‫ق‬ َ‫ِن‬ ‫م‬ َ‫ا‬ ‫ن‬ ‫ل‬ ‫س‬ ‫ر‬ ‫و‬ ‫س‬ ‫ِنَر‬ ‫م‬ َ ‫ك‬ ‫ل‬ ‫ب‬ َ‫ه‬ ‫وا‬ ‫ا‬ ‫ا‬ ْ ْ ُ َّ ْ ْ‫ن‬ ٍ ‫ا‬ ‫ا‬ ‫ا‬ َ ‫ن‬ ‫ُو‬ ‫د‬ ‫ب‬ ‫اع‬ ‫ف‬ َ‫ا‬ ‫ن‬ ‫إَِلََّأ‬ ِ ْ ُْ
“ Dan kami tidak mengutus seorang Rasulnya sebelum kamu, melainkan kami wahyukan kepadaNya, bahwa hanya tidak ada Tuhan selain Allah, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku”

INTI

Ajaran Ketuhanan sejak Nabi Adam – Nabi Muhammad sama Yaitu ajaran Tauhidullah (Tauhid) Atau Monoteisme Murni

Namun apabila terjadi perbedaan Dikarenakan manusia yang mengubah ajaran tersebut

Kebohongan Besar (Dhulmun Adhim)

Kristen

Katolik

Protestan
Ortodoks Berdasar Kristen Katolik Tuhan = TuhanBapa (Roh Kudus)

Ini berlandaskan pada Ajaran Petrus (murid Nabi Isa paling senior) yang menyatakan bahwa Tuhan Bapa dan Anak secara bersamaan menghasilkan Roh kudus

Berdasar Kristen Ortodoks

Tuhan = Tuhan bapa (Roh Kudus)

Ini berlandaskan pada ajaran turun temurun yang diwariskan pada kitab Injil

Berdasar Kristen Protestan

Tuhan = Allah melalui Yesus (Nabi isa) sebagai anak Tuhan

Ini berlandaskan pada ajaran Saulus (salah seorang musuh besar Nabi Isa) yang mengatakan bahwa mereka harus kembali ke Injil walaupun Injil sudah banyak diubah dengan memasukkan ajaran Trinitas yaitu Tuhan tidak terdiri dari satu tapi 3 oknum

Berdasar Budha

Tuhan = Ajaran Nibbana Dimana 'Causa Prima’ sbg Pembentuk alam semesta

Ini berlandaskan pada Kitab suci Tripitaka agama Budha yang menyebutkan ajaran Nibbana sebagai pembentuk alam semesta melalui Causa Prima atau kehampaan

Berdasar Hindhu

Tuhan = Ida Sang Hyang Widhi wasa Dalam perwujudan Trimurti yaitu Dewa Siwa, Dewa Wisnu dan Dewa Brahma

Ini berlandaskan pada ajaran dlm agam Hindhu yang disebut dengan Pancasradha. Pancasradha merupakan keyakinan dasar umat Hindu, a.l:
Widhi Tattwa, Atma Tattwa, Karmaphala Tattwa, Punarbhava Tattwa, Moksa Tattwa

Mengkaji tentang Tuhan

  

Mengkaji tentang Tuhan hanya didasarkan atas pengamatan dan pengalaman serta pemikiran manusia, tidak akan pernah benar. Sebab tuhan adalah sesuatu yang ghaib, sehingga informasi tentang Tuhan yang hanya berasal dari manusia meskipun dinyatakan sebagai hasil renungan maupun pemikiran nasional, tidak akan benar. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Al-Anbiya: 92, surat Hud : 84 dan surat Al-Maidah : 72; bahwa Allah SWT memperkenalkan diri melalui para nabi dan rasul Surat Al-Maidah: 72, surat Ali Imran : 62, surat Shad : 35 dan 65, surat Muhammad : 19; bahwa perbuatan syirik akan diharamkan oleh Allah masuk surga dan tempat mereka adalah neraka Surat Al-Ikhlas: 1-4, surat Al-Ankabut : 46, Taha : 98 dan Shad : 4; bahwa Allah SWT adalah dzat yang Esa

Pembuktian Wujud Tuhan

Melalui pembuktian ilmiah:  Yaitu dengan menggunakan analogi-analogi ilmiah, karena ilmiah itu tidak hanya harus bisa diamati dengan indera, atau pengamatan mata, karena kenyataannya banyak hakikat keberadaan itu yang tidak bisa diamati, seperti: gaya, energi, setrum, dll.  Juga dengan pendekatan fisika seperti Hukum Termodinamika II yaitu hukum tentang keterbatasan energi. Alam itu mula-mula panas kemudian mendingin, jadi alam itu tidak mungkin bersifat azali, sebab kalau begitu berarti ia telah kehilangan energinya, padahal energi alam masih sangat tinggi.

Melalui dalil keberadaan dan keteraturan alam
Baik alam yang makrokosmos maupun mikrokosmos, termasuk di sini meliputi pendekatan astronomi (adanya ribuan sistem orbit benda-benda angkasa yang sangat menakjubkan). Menurut Ibnu Rusyd disebut sebagai dalil nidham/inayah wal ikhtira’ (keteraturan, pemeliharaan dan penciptaan)


  

Dengan dalil-dalil naqli (Q.S. 4:82, 17:88) Dengan dalil fitrah (Q.S. 7:172, 29:61) Dalil akal / rasional (Q.S. 27:88, 41:53) Dalil sejarah. (Q.S. 3:137, 7:176), dll.

Argumentasi wujud Tuhan ini terbagi menjadi empat bagian :

Secara Ontologis
       

Plato (428-348 SM) Ide bersatu dalam ide tertinggi yang disebut “ide kabalikan” (the absolute good) ST. Agustinus (354 - 430 SM) Manusia mengetahui dari pengalamannya hidup bahwa alam ini ada kebenarannya. Al Farabi (872 - 950 SM ) Wujud yang sempurna dan yang paling awal, tidak harus berwujud ST. Anselm - Canterbury (1033 - 1109 M) Manusia tidak dapat memikirkan sesuatu yang kebesarannya tidak dapat melebihi dan diatasi oleh segala sesuatu yang ada.

Secara kosmologis
  


        

Aristoteles (383 - 322 SM) Benda yang ditangkapa oleh panca indera mempunyai materi ( matter) dan bentuk (form) Al Kindi (796 - 873 SM) Alam ini diciptakan dan penciptanya adalah esa dari segala bentuk dia berbeda dengan alam. Hakekat benda : - Hakekat particular aniah (tidak seperti alam) - Hakekat universal mahiah (genus/ spesies) Ibnu Sina (980 - 1037 SM) Wujud dibagi menjadi dua, yaitu : Wujud mungkin (mahiah bisa mempunyai wujud dan bisa pula tidak mempunyai wujud) Wajib wujud (mahiah yang tidak dapat dipisahkan wujudnya) Thomas Aquinas (122 - 1274 SM) Keberadaan alam dengan dalil-dalil rasional

Secara theologis
 

William Pacey (1743 - 1805) Alam adalah struktur yang semua bagiannya adalah struktur yang saling bekerja sama

Secara moral
  

Immanuel Kant (1724 - 1804) Manusia mempunyai perasaan moral yang tertanam dalam jiwa Menurut Ibnu Rusyd metode pembuktian wujud Allah dengan pemahaman dan penghayatan keserasian alam disebut dengan dalil ikhtira’. Dan juga bisa memalui metode pembuktian wujud Allah melalui pemahaman dan penghayatan manfaat alam bagi kehidupan manusia disebut dalil inayah. (Zakiyah Darajat, 1996)

Adanya Alam Semesta

Hk. Termodinamika II
yaitu Hukum keterbatasan Energi atau Teori Pembatasan Perubabahan Energi Panas

Pendekatan Fisika

Intinya berarti bahwa Alam Semesta tidak tercipta sendiri atau Tak bersifat azali

Hukum tersebut menerangkan Bahwa energi panas selalu Berubah menjadi Energi tak Panas yang dikendalikan oleh Keseimbangan energi yang Ada dan yang tak ada

Proses Fisika dan Kimia selalu bekerja secara kontinyu Serta kehidupan tetap berjalan maka tak mungkin lah Penciptaannya bersifat azali atau tercipta sendiri

Alam semesta terdiri dari matahari dan milyaran bintang. Terdiri atas Jutaan galaksi yang terdiri dari ribuan planet. Galaksi Bimasakti terdiri dari 9 Planet termasuk Bumi. Bumi memiliki satelit alam yaitu Bulan.

Pendekatan Astronomi

Oleh karena itu, para Ahli berkesimpulan bahwa pasti ada kekuatan yang membuat dan mengendalikan semua itu yaitu kekuatan maha besar Tuhan

Argumentasi Al Quran

‫قَ ا‬ ‫ِيَخ ا‬ َّ ‫ا‬ ‫لذ ا‬ ‫ل ا‬ ‫وى‬ َّ ‫س‬ ‫ف ا‬ ‫لذِيَ ا‬ ‫َّرَ ا‬ َّ ‫وا‬ ‫هدا ى‬ ‫ا‬ ‫قد ا‬ ‫ف ا‬
“Allah yang menciptakan dan menyempurnakan, yang menentukan ukuranukuran ciptaannya dan memberi petunjuk” (Al A’LA Ayat 2-3)

Menyatakan bahwa adanya alam semesta tidak terjadi dengan sendirinya. Akan tetapi, ada yang menciptakan dan mengaturnya yaitu Allah SWT

Allah SWT

Dalam Menciptakan Hanya berfirman

Kun fayakun yang berarti jadilah maka jadi

Berbeda dengan manusia yang membutuhkan 6 periode mulai penelitian hingga memperoleh hasil nantinya

Dalam Kajian Islam

Contoh # 1 Imam Abu Hanifah : membuktikan kekuasaan Allah dengan adanya berbagai macam kehendak manusia, tetapi kenyataannya tidak sesuai dengan apa yang direncanakan. Hal ini membuktikan adanya kekuasaan yang Maha Tinggi, yang menguasai diri kita.

 

Contoh # 2 Imam Malik: membuktikan kekuasaan Allah dengan adanya manusia yang beragam bentuk , rupa kulit, suara, kemauan dan lain-lain. Namun tidak ada yang serupa. Kalau dipikirkan tentu ada yang mengaturnya diluar batas kemampuan manusia, yaitu Zat Yang Maha Kuasa yakni Allah SWT.

 

Contoh # 3 Imam Syafi’I : membuktikan kekuasaan Allah dengan memperhatikan dari sebuah jenis daun tumbuh-tumbuhan yang dapat berubah menjadi bermacam-macam benda, umpamanya apabila daun dimakan ulat sutera maka akan menjadi bahan kain yang halus (sutera) yang indah dipakai. Kalau daun tadi dimakan oleh seekor lembu maka ia akan menjadi susu yang enak diminum dan besar manfaatnya untuk kesehatan kita.

 

Contoh # 4 Imam Hambali : membuktikan Zat Yang Maha Kuasa itu dengan kejadian makhluk-makhluk terutama manusia, yang asalnya dari setitik sperma, akhirnya setelah mengalami proses yang ditentukan maka jadilah manusia yang sempurna (M. Noor Matdawam, 1984, Pembinaan Aqidah Isamiyah (Islamic Theologi)

Konsep Tauhid
Tauhid adalah suatu upaya dalam mengesakan dan mempercayai Allah SWT (faith in the unity of God)  Tauhid Rububiyah : suatu kepercyaan yang menegaskan bahwa Allah SWT zat yang menciptakan, memberi hukum-hukum, mengatur dan mengarahkan alam semesta ini.  Tauhid Uluhiyah : Allah SWT adalah satu-satunya yang wajib disembah, dimohon pertolongannya, serta yang harus ditakuti.

Istilah Tauhid memiliki makna yang berlawanan dengan makna syirik

     

Surat An-Nisa’ 48 : “sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni perbuatan syirik, dan akan mengampuni selain dari itu bagi siapa saja yang dia kehedaki. Dan barang siapa yang menyekutukan Allah SWT (syirik) maka sesungguhnya dia telah membuat dosa besar”. Surat Luqman : 13 “sesungguhnya syirik itu merupakan kezaliman yang besar” Surat An-Nisa’ 101 : “Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh kamu yang paling nyata” Tauhid adalah ajaran yang disampaikan oleh para nabi dan rasul, hal ini dijelaskan dalam surat Al-Anbiya’ 25 : “Dan kami tidak mengutus seorang rasul sebelum engkau )Muhammad( melainkan kami wahyukan kepadanya bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan selain aku, karena itu sembahlah aku”

َ‫ع‬ َّ ‫ََا‬ ‫ذ إِ ا‬ َ ‫و‬ َ ‫ت‬ َ َ‫أ‬ ُ‫ه‬ َ ‫سمْ ع‬ ‫ه‬ َ ‫لىَع ْلم‬ ََّ ََ ‫ضلَّه‬ َ ‫اوا‬ َ ََ ‫خ‬ ‫من‬ ََ ٌَ‫رأ‬ َ َ‫علَى‬ َ َ‫م‬ َ ََ َ َ‫ّللا‬ َ َ‫وأ‬ َ ُ‫ه‬ َ َ‫ْت‬ َ‫ف‬ ‫هَه ا‬ ‫ل ا‬ َ ‫خ َت‬ َ‫ع‬ َ َ‫ّللا َأ‬ َ ََ َ ‫َ َغ‬ َ‫و‬ َ‫فال‬ ََّ َ َ ‫َ َمنَْ َ َبعْ د‬ ‫منَْ َ ٌَهْدٌه‬ ‫اوة‬ ‫صره‬ َ ‫ق ْلبه‬ َ‫ف‬ َ ‫ش‬ َ ‫لى َ َب‬ َ َ‫ل‬ َ ‫ع‬ َ‫ج‬ َ ‫و‬ َ ََ َ َ ‫َت‬ َّ ‫ذ‬ Al-)٢٣( ََ ‫كر‬ ‫ون‬ Jatsiyat

23. Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya[1384] dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? [1384] Maksudnya Tuhan membiarkan orang itu sesat, karena Allah telah mengetahui bahwa Dia tidak menerima petunjuk-petunjuk yang diberikan kepadanya.

َ ْ َ ‫ا‬ ‫ا‬ َ‫و‬ ٍ ‫ري‬ ٌ ‫غ‬ َ َ ‫ه‬ ‫ل‬ ‫إ‬ َ َْ‫ِن‬ ‫م‬ َ ‫م‬ ‫ك‬ ‫ل‬ َ ‫ْت‬ َ ‫م‬ ‫ل‬ ‫ع‬ َ ‫ا‬ ‫م‬ َ ‫أل‬ ‫م‬ ‫ال‬ َ ‫ا‬ ‫ه‬ ٌ ‫َ َ ٌَا َأ‬ ‫ع ْون‬ َ ُّ َ َ َ َ َ ْ‫ل َفر‬ َ ‫قا‬ َ ْ ْ ِ ِ ِّ َ ‫لى‬ َ َ ‫صرْ حا‬ َ‫ع‬ َ َ ََ ْ ‫ع‬ ‫الطٌن‬ ًَِّ‫عل‬ َ ‫مان‬ َْ ‫فؤ َ ْوق‬ َ‫ل‬ َ َ ً‫ل َل‬ َ ْ‫فاج‬ َ ََ َ ‫ها‬ َ َ ‫د َلً َ ٌَا‬ َّ َ‫أ‬ ْ َ‫ن‬ ِّ ‫وإ‬ َ ‫لىَإ‬ َ ‫ََإ‬ ُّ ‫نًَألظ‬ َ ‫ال‬ )٣٨( ‫ٌن‬ ََ ‫كاذب‬ ََ ‫ََم‬ ‫نه‬ ‫له‬ ‫طلع‬ َ َ‫سى‬ َ ‫ََمو‬

38. Dan berkata Fir'aun: "Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui Tuhan bagimu selain aku. Maka bakarlah Hai Haman untukku tanah liat[1124] kemudian buatkanlah untukku bangunan yang Tinggi supaya aku dapat naik melihat Tuhan Musa, dan Sesungguhnya aku benar-benar yakin bahwa Dia Termasuk orang-orang pendusta".
[1124] Maksudnya: membuat batu bata.

َّ َ َ ْ َ ‫ون‬ َ‫و‬ َ َ َْ َ َ‫ أ‬ َ ََ ََ ‫ّللا‬ ‫غٌْر‬ ‫َ َمنَْ َع ْند‬ ‫ان‬ ‫لو‬ ََ ْ‫القر‬ ََ ‫دبَّر‬ َ ‫فال َ ٌَ َت‬ َ ‫ك‬ َ َ ‫آن‬ ْ ََ َ َ َ‫اختالفا‬ )٨٢( ‫كثٌرا‬ ‫جدواَفٌه‬ َ ‫و‬ َ‫ل‬

82. Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.

ْ‫و‬ َ‫ه‬ َ‫ع‬ َ َ‫ل‬ ْ ‫ق‬ َ‫ذا‬ ‫لىَأَنََْ ٌَؤْتواَبم ْثل‬ ‫ََاإل ْنس‬ ‫عت‬ ‫لئن‬ َ َ ََ َ ََُّ‫الجن‬ َ ََ َ‫م‬ َ ‫ََاجْ َت‬ ْ َ ََ َ‫و‬ َ َ َْ ‫ظهٌرا‬ ‫م َل َبعْ ض‬ َْ ‫ان َ َبعْ ضه‬ ََ ‫ك‬ ‫لو‬ ‫ون َبم ْثله‬ ََ ‫َ َال َ ٌَؤْت‬ ‫القرْ آن‬ َ ََ
)٨٨(

88.

Katakanlah: "Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Quran ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan Dia, Sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain".

ْ َ ‫وأ‬ َ‫ع‬ َ َ ‫ذ َأ‬ َ‫لى‬ َ َ َ َ ََ ‫ب‬ ََ ‫خ‬ َْ ‫وإ‬ َ‫ه‬ َ ‫كَمنََْ َبنًَآ‬ َّ ِّ‫م َذر‬ ُّ ‫ر‬ َ َ‫م‬ َ‫ش‬ َ َ‫م‬ َ َ‫ذ‬ َ ْ ‫ده‬ ْ ‫ٌ َته‬ ْ ‫مَمنََْظهوره‬ َ‫د‬ ْ َ‫م‬ َ ‫قالوا َ َب‬ َ َ ‫م َأ‬ َّ ‫َ َإ‬ َ َ ‫لى‬ َ َ‫م‬ ْ ‫شه‬ َ‫نا‬ ‫مة‬ َ َ ‫لسْ ت‬ َ َ ‫الق ٌَا‬ َ ‫َ َب‬ ْ ‫ربِّك‬ ْ ‫أَ ْنفسه‬ َ ‫د َنا َأَنَْ َ َتقولوا َ ٌَ ْو‬ َ‫ه‬ َّ ‫ك‬ َ َ‫ذا‬ )١٧٢( ‫ٌن‬ ََ ‫غافل‬ َ ََْ‫عن‬ َ َ‫نا‬

172. Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah aku ini Tuhanmu?" mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)",

َ‫خ‬ َ‫و‬ َّ ‫س‬ َ َ َْ‫من‬ َ‫ر‬ ََ ‫خ‬ ََ ْ‫واألر‬ ‫اوات‬ ََ ‫ل‬ َ َّ ‫ق َال‬ َ ‫و‬ ََ‫ض‬ َََ َ ‫م‬ َ‫س‬ ََ‫م‬ َ َ َْ‫لئن‬ َ  ْ ‫سؤ َ ْل َته‬ ْ‫و‬ َ َ‫ر‬ َّ َ ‫فؤ‬ َّ ‫ال‬ َ ‫نىٌَ ْإ‬ َ َ‫ّللا‬ َ ‫ال‬ )٦١( ‫ون‬ ََ ‫فك‬ ََّ َََّ‫ل ٌَقولن‬ ََ ‫م‬ ََ ‫شم‬ َ‫ق‬ َ َ‫ْس‬

61. Dan Sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka: "Siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan?" tentu mereka akan menjawab: "Allah", Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan (dari jalan yang benar).

ْ َ ‫رى‬ ََ ‫َّحاب‬ ََ ‫وه‬ ‫جامدَة‬ َ َ ‫مرََّ َالس‬ َ َ َُّ‫ً َ َتمر‬ َ ََ َ َ ‫ها‬ َ ‫سب‬ َ ْ‫ل َ َتح‬ َ ‫الج َبا‬ َ ‫و َت‬ َ  ْ ‫ما َ َت‬ َّ ‫َ َإ‬ َ ََ َ َ‫ل‬ َ ‫ّللا َالَّذي َأَ ْت‬ ََ ‫عل‬ ‫ون‬ ‫خبٌر‬ ‫نه‬ ‫شًْ ء‬ َ ََ ‫ق‬ ََّ َ ‫ع‬ ََ ‫ص ْن‬ َّ ‫ن َك‬ َ‫ف‬ َ ‫َ َب‬
)٨٨(

88. Dan kamu Lihat gunung-gunung itu, kamu sangka Dia tetap di tempatnya, Padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

َ َ ‫َّن‬ َّ ‫ح‬ َ ‫م َآ ٌَات َنا َفً َاآل‬ َ‫م‬ َْ ‫له‬ ََ ٌ‫تى َ ٌَ َت َب‬ َْ ‫وفً َأَ ْنفسه‬ ‫فاق‬ َ َ َ‫م‬ َ ََ َ  ْ ‫سنرٌه‬ ْ ََ ْ ٌَ َ ‫م‬ َ‫ع‬ َ‫و‬ َّ َ‫ِّك َأ‬ َّ َ‫أ‬ َ ََ َ َ‫ل‬ ِّ ‫لى َك‬ ‫شهٌد‬ َ ‫شًْ ء‬ َ ‫نه‬ ََ ‫رب‬ ‫كف‬ َ َُّ ‫ح‬ ‫نه‬ َ ََ َ ‫َ َب‬ َ َ ‫ق َأ‬ َ ‫ال‬ ْ‫ل‬
)٥٣(

53. Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan)
Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa Sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?

َ‫خ‬ َََ َ َ َْ‫ت َمن‬ َ َ ‫قد‬ َ  ََ ‫فسٌروا َفً َاألرْ ض‬ ‫م َس َنن‬ َ َْ ‫ل‬ ْ ‫قبْلك‬ ِّ ‫ك‬ ْ ََ َ ‫الم‬ َ َ‫ْف‬ َ َ‫فا ْنظروا‬ َ ْ)١٣٧( ‫ٌن‬ ََ ‫ذب‬ ‫عاق َبة‬ ََ ‫ك‬ ََ ٌ‫ك‬ َ َ‫ان‬

137. Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah[230]; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). [230] Yang dimaksud dengan sunnah Allah di sini ialah hukuman-hukuman Allah yang berupa malapetaka, bencana yang ditimpakan kepada orang-orang yang mendustakan rasul.

ْ َ ‫َ َأ‬ َ ‫د َإ‬ َ‫خ‬ َ‫و‬ َ َ ‫َْ َش ْئ َنا‬ َ‫و‬ َّ ‫وا‬ َّ ‫لك‬ َ‫ر‬ َ‫ع‬ ََ ‫ت َب‬ ‫لى َاألرْ ض‬ ََ ‫ل‬ ‫نه‬ ‫فعْ َناه‬ ‫لو‬ َ ََ َ َ ‫ها‬ َ ‫َ َب‬ َ‫ل‬ َ  ْ ََ َ‫ع‬ َ ‫ال‬ َ ََ َ َ ‫واه‬ ََْ ‫ث َأَو‬ َْ ‫ه‬ ‫لٌْه‬ َْ ‫َ َإنَْ َ َتحْ م‬ ‫ك ْلب‬ ‫م َثل‬ ‫م َثله‬ َ ‫َ َ ٌَ ْل‬ َ َ‫ل‬ َ‫ك‬ َ‫ف‬ َ‫ه‬ َ َّ ‫ك‬ ََْ ََ ‫ث‬ ْ ‫َت ْتر‬ َ َ ‫ٌن‬ َ ‫ال‬ َ‫ذبوا َبآ ٌَات َنا‬ ََ ‫َ َالَّذ‬ ‫ق ْوم‬ ‫م َثل‬ ََ ‫ذل‬ َْ ‫ه‬ ‫كه‬ ََ‫ك‬ َ ‫َ َ ٌَ ْل‬ ْ ََ ْ ‫فا‬ َ َ‫ص‬ َّ ‫ف‬ َ ‫مَ ٌَ َت‬ َ ‫ال‬ َ )١٧٦( ‫ون‬ ََ ‫كر‬ َ ََ ‫ص‬ ‫قص ص‬ َ ‫ق‬ َ‫ل‬ ْ ‫علَّه‬

176. Dan kalau Kami menghendaki, Sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi Dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya Dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->