BAB I PENDAHULUAN A.

LATAR BELAKANG Bertambahnya penyakit yang berkaitan pada pasien lansia adalah ketidakmampuan system kardiovaskuler mengatasi perpindahan volume cepat trombosis intraseluler serta kejang setempat (diduga karena hiperkonsentrasi darah yang berlebihan dan kurangnya aliran darah setempat). Diabetes Mellitus adalah keadaan hiperglikemi kronik yang disertai berbagai kelainan metabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah, disertai lesi pada membran basalis dengan mikroskop elektron (Mansjoer dkk,1999). Diabetes yang tidak disadari dan tidak diobati dengan tepat atau diputus akan memicu timbulnya penyakit berbahaya dan memicu terjadinya komplikasi. Komplikasi yang diakibatkan kadar gula yang terus menerus tinggi dan merupakan penyulit dalam perjalanan penyakit diabetes mellitus salah satunya adalah Hiperglikemia Hiperosmolar Non Ketotik Hiperglikemia Angka kematian HHNK 40-50%, lebih tinggi dari pada diabetik ketoasidosis. Karena pasien HHNK kebanyakan usianya tua dan seringkali mempunyai penyakit lain. Sindrom koma hiperglikemik hiperosmolar non ketosis penting diketahui karena kemiripannya dan perbedaannya dari ketoasidosis diabetic berat

dan merupakan diagnosa banding serta perbedaan dalam penatalaksanaan (Hudak dan Gallo). Pasien yang mengalami sindrom koma hipoglikemia hiperosmolar nonketosis akan mengalami prognosis jelek. Komplikasi sangat sering terjadi dan angka kematian mencapai 25%-50%. B. TUJUAN 1. Tujuan umum Mahasiswa dapat memberikan asuhan keperawatan pada klien (HHNK) hiperglikemia hiperosmolar non ketotik 2.
1.

Tujuan khusus mahasiswa mahasiswa mengetahui mengetahui pengertian etiologi dari

Diharapkan Diharapkan

Hiperglikemia Hiperosmolar Non Ketotik.
2.

Hiperglikemia Hiperosmolar Non Ketotik. 3. Diharapkan mahasiswa mengetahui manifestasi klinik dari Hiperglikemia Hiperosmolar Non Ketotik. 4. Diharapkan mahasiswa mengetahui komplikasi Hiperglikemia Hiperosmolar Non Ketotik. 5. Diharapkan mahasiswa mengetahui tindakan kritis pada pasien dengan Hiperglikemia Hiperosmolar Non Ketotik.

Diharapkan mahasiswa mengetahui penatalaksaan medis Hiperglikemia Hiperosmolar Non Ketotik. 7. Diharapkan keperawatan mahasiswa pada mampu memberikan asuhan pasien dengan Hiperglikemia Hiperosmolar Non Ketotik.6. .

Ini terjadi pada penderita diabetes tipe II (www. Hiperosmolar Non Ketogenik adalah sindrom berkaitan dengan kekurangan insulin secara relative. meningkatkan dehidrasi hipertonik dan tanpa disertai ketosis serum. biasa terjadi pada DM tipe II. .BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. tidak ada ketosis/ada tapi ringan dan gangguan neurologis Hiperglikemik Hiperosmolar Non Ketosis adalah keadaan koma akibat dari komplikasi diabetes melitus di mana terjadi gangguan metabolisme yang menyebabkan: kadar gula darah sangat tinggi. kejang dan suatu keadaan yang disebut koma.com) Hyperglikemia.PENGERTIAN Hiperglikemia Hiperosmolar Non Ketotik adalah suatu komplikasi akut dari diabetes melitus di mana penderita akan mengalami dehidrasi berat. yang bisa menyebabkan kebingungan mental.wikipedia. paling sering terjadi pada panderita NIDDM. pusing. Secara klinik diperlihatkan dengan hiperglikemia berat yang mengakibatkan hiperosmolar dan dehidrasi.

B. Menurut Hudak dan Gallo (edisi VI) koma hiperosmolar adalah komplikasi dari diabetes yang ditandai dengan : 1. Asidosis ringan. 3. pankreatektomi b. 2. steroid. Sering terjadi koma dan kejang lokal. infeksi) c. hiperosmolar. dehidrasi berat tanpa ketoasidosis. thiazid) (tpn) b. DM. thiroid) . 5. Angka kematian yang tinggi. High kalori enteral feeding stress (ami. Pharmakologic (glukokortikoid. Kejadian terutama pada lansia. 2000).ETIOLOGI Agen pharmakologic (phenitoin.Increase exogenous glukose a. Increase endogenous glukosa a. pankreatitis. 4. disertai penurunan kesadaran (Mansjoer.Koma Hiperosmolar Hiperglikemik NonKetotik ialah suatu sindrom yang ditandai dengan hiperglikemia berat. Acute b. Hiperosmolaritas dan kehilangan cairan yang hebat. a. Hiperalimentation b.Insufisiensi insulin a.

2. Kelompok usia dewasa tua (>45 tahun) Kegemukan (BB(kg)>120% BB idaman. Pemberian cairan hipertonik.d. Luka bakar. Pembedahan/operasi. 8. 7.freeservers. Faktor risiko: 1. pankreatitits dan gangguan kardiovaskular. sepsis. 4. gastroenteritis. 6.com) GDPT (Glukosa Darah Puasa Terganggu) . 3. h. e. f. Infeksi: pneumonia. atau Tekanan darah tinggi (TD > 140/90 mmHg) Riwayat keluarga DM Riwayat kehamilan dengan BB lahir bayi > 4000 Riwayat DM pada kehamilan Dislipidemia (HDL<35 mg/dl dan/atau IMT>27 (kg/m2) gram trigliserida>250 mg/dl) Pernah TGT (Toleransi Glukosa Terganggu) atau (http://endokrinologi. 5. Penyakit akut: perdarahan gastrointestinal. g.

C. Tidak ada hiperventilasi dan tidak ada bau napas. Hipernatremia. terdapat gejala-gejala . 10. Agak mengantuk.tabloid-nakita. 4. 7. Osmolaritas serum tinggi dengan gejala SSP minimal (disorientasi. kulit terasa hangat dan kering. Glukosa serum mencapai 600 mg/dl sampai 2400 mg/dl. nafsu makan menurun. 6. Poliuria selam 1 -3 hari sebelum gejala klinis timbul. 8.com). Gejala-gejala meliputi : 1. mual dan muntah. mudah lelah (www. pandangan kabur. 2. 3. nyeri abdomen. kejang setempat). banyak kencing. Penipisan volume sangat berlebihan (dehidrasi. pusing. Kegagalan mekanisme haus yang mengakibatkan pencernaan air tidak adekuat. hipovolemi). 9.MANIFESTASI KLINIK Tanda dan gejala umum pada klien dengan HHNK adalah haus. Kadang-kadang gastrointestinal. insiden stupor atau sering koma. 5. Kerusakan fungsi ginjal.

Kadar HCO3 kurang dari 10 mEq/L. sehingga terjadi akumulasi glukosa di plasma. 13. Penurunan insulin menyebabkan hambatan pergerakan glukosa ke dalam sel.PATOFISIOLOGI Sindrome Hiperglikemia Hiperosmolar Non Ketotik mengambarkan kekurangan hormon insulin dan kelebihan hormon glukagon. Peningkatan hormon glukagon glukosa menyebabkan mengakibatkan glycogenolisis yang dapat Kondisi meningkatkan kadar glukosa plasma. 15. Peningkatan kadar hiperosmolar. Kalium serum biasanya normal. Asidosis ringan. 16. Kadar CO2 normal. hiperosmolar serum akan menarik cairan intraseluler ke dalam intra vaskular. Tingginya kadar glukosa serum akan dikeluarkan melalui ginjal. 14. sehingga timbul glycosuria yang dapat mengakibatkan diuresis osmotik secara berlebihan . yang dapat menurunkan volume cairan intraselluler. Celah anion kurang dari 7 mEq/L. 12. Bila klien tidak merasakan sensasi haus akan menyebabkan kekurangan cairan. D. Tidak ada ketonemia.11.

Ginjal tidak dapat menahan hiperglikemi ini. Akibat kekurangan insulin maka glukosa tidak dapat diubah menjadi glikogen sehingga kadar gula darah meningkat dan terjadi hiperglikemi. Perfusi ginjal menurun mengakibatkan sekresi hormon lebih meningkat lagi dan timbul hiperosmolar hiperglikemik. Poliuria mengakibatkan dehidrasi intra selluler. Produksi insulin yang kurang akan menyebabkan menurunnya transport glukosa ke sel-sel sehingga sel-sel kekurangan makanan dan simpanan karbohidrat. sodium dan phospat. Bersamaan keadaan glukosuria maka sejumlah air hilang dalam urine yang disebut poliuria. Sehubungan dengan sifat gula yang menyerap air maka semua kelebihan dikeluarkan bersama urine yang disebut glukosuria. karena ambang batas untuk gula darah adalah 180 mg% sehingga apabila terjadi hiperglikemi maka ginjal tidak bisa menyaring dan mengabsorbsi sejumlah glukosa dalam darah. Dampak dari poliuria akan menyebabkan kehilangan cairan berlebihan dan diikuti hilangnya potasium. lemak .( poliuria ). hal ini akan merangsang pusat haus sehingga pasien akan merasakan haus terus menerus sehingga pasien akan minum terus yang disebut polidipsi.

infark cerebral.Pengobatan utama adalah rehidrasi dengan mengunkan cairan . PENATALAKSANAAN MEDIS Pengobatan 1. E. F. Gagal ginjal. dan hiperosmolar. d. Koma. b. jantung. berlebihan dehidrasi Disfungsi sistem saraf pusat karena ganguan transport oksigen ke otak dan cenderung menjadi koma. Gagal jantung. Hemokonsentrasi akan meningkatkan viskositas darah dimana dapat mengakibatkan pembentukan bekuan darah. Kegagalan tubuh mengembalikan ke situasi homestasis akan diuresis mengakibatkan osmotik hiperglikemia.dan protein menjadi menipis. berat. maka klien akan merasa lapar sehingga menyebabkan banyak makan yang disebut poliphagia. tromboemboli.KOMPLIKASI a. Gangguan hati. Karena digunakan untuk melakukan pembakaran dalam tubuh. c.

Gklukosa 5% diberikan pada waktu kadar glukosa dalam sekitar 200-250 mg%.Kalium pengobatan skema mirip ketoasidosis diabetik . 2. baru diperhitungkan kekurangan dan diberikan dalam 12-48 jam. penyakit ginjal atau hipernatremia. pelaksanaan menggunakan 3.NACL bisa diberikan cairan isotonik atau hipotonik ½ normal diguyur 1000 ml/jam sampai keadaan cairan intravaskular dan perfusi jaringan mulai membaik.Insulin Pada saat ini para ahli menganggap bahwa pasien ketotik insulin hipersemolar sensitif dosis hiperglikemik insulin non dan terhadap pada diketahui pula bahwa pengobatan dengan rendah ketoasidosis Karena itu dapat proprotokol diabetik sangat bermanfaat. Pemberian cairan isotonil harus mendapatkan pertimbangan untuk pasien dengan kegagalan jantung.

Hindari infeksi sekunder Hati-hati dengan suntikan. perhitungan kekurangan kalium harus segera diberikan 4.Kalium darah harus dipantau dengan baik. kateter . Bila terdapat tanda fungsi ginjal membaik. permasalahan infus set.

sodium. phospat  imbalance elektrolit kesadaran  metabolisme anaerob .PATHWAY < hormon insulin akumulasi glukosa di plasma kadar glukosa plasma  glukosa ke sel  hiperglikemia makanan sel < tromboemboli glikosuria hemokonsentrasi viskositas darah  > hormon glukagon glikogenesis transport poliphagia diuresis osmotik >> hipertrofi ventrikel poliuria Jantung kehilangan cairan >> otak gang.G. transport O2 iskemia jaringan Gagal nekrosis Koma G3 perfusi jaringan potasium.

merangsang pusat haus polidipsi dehidrasi hiperosmolar asam laktat  fatigue Jalan napas ≠ efektif Intoleransi aktivitas hipovolume Vol. cairan < dari kebutuhan BAB III ASUHAN KEPERAWATAN .

Primery Survey Kemungkinan ada sumbatan jalan nafas. hipotensi postural. b. akan terjadi dehidrasi. Disability 2. yang berdampak pada resiko terbentuknya trombus. dan tidak ada pernapasan Kussmaul.A. Circulation Sebagai akibat diuresis osmotik. tanda-tanda dehidrasi seperti turgor turun disertai tanda kelainan neurologist. sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan oksigen. Sekunder Survey Bilamana managemen ABC menghasilkan kondisi yang stabil. a. Air way . Sehingga akan menyebabkan tidak adekuatnya perfusi organ. perlu pengkajian dengan menggunakan pendekatan head to toe. tidak ada bau aseton yang tercium dari pernapasan. bibir dan lidah kering. Dari pemeriksaan fisik ditemukan pasien dalam keadaan apatis sampai koma. Visikositas darah juga akan mengalami peningkatan. d. terjadi karena adanya penurunan kesadaran/koma sebagai akibat dari gangguan transport oksigen ke otak. Pemeriksaan fisik a. PENGKAJIAN 1. c. Breathing Tachypnea.

Nafas tidak bau Cardiovaskular (Tachicardia. Hipotensi postural. CHF ). Riwayat Keperawatan . luka sulit sembuh. 1. 6) Gastrointestinal (Distensi abdomen danPenurunan bising usus) 3. minggu. Kejang. Nocturia. Pulmonary (Tachypnae. Mungkin penyakit kardiovaskula( hipertensi. Capilary refill > 3 detik.1) 2) 3) Neurologi (Stupor. Tidak ada nafas kusmaul. inkontinensia Turgor kulit tidak elastis. acetone. Reflek normal. Nutrisi – metabolik • Rasa haus meningkat. Mempunyai infeksi kulit. Tersier Survey a. • Anorexia • Berat badan turun. polidipsi atau tidak ada rasa haus. 4) 5) Renal (Poliuria( tahap awal ). Lemah. Oliguria ( tahap Integumentary (Membran mukosa dan kulit kering. dyspnae. disorientasi. Mata lembek. lanjut ). Persepsi-managemen kesehatan • Riwayat DM tipe II • Riwayat keluarga DM • Gejala timbul beberapa hari.menurun atau tidak ada. b.

pH > 7. Osmolalitas serum: biasanya lebih dari 350 mOsm/kg. 7. . lemah. 8. 6. Serum glukosa: 800-3000 mg/dl. Keton urine tidak ada atau hanya sedikit. Gas darah arteri: biasanya normal. 3. Pemeriksaan Diagnostik 1. • Penglihatan kabur. 2.  mungkin aritmia karena penurunan potasium 10. Bikarbonat serum> 15 mEq/L. 2. Elektrolit  biasanya rendah karena diuresis. Kognitif • Kepala pusing. 11. 9. Hemoglobin dan hematokrit  meningkat karena dehidrasi. nocturia. d.3. EKG serum. Aktivitas – exercise • lelah.c. 5. Sel darah putih  meningkat pada keadaan infeksi. e. • Diarhe atau konstipasi. Eliminasi • Poliuria. hipotensi orthostatik. 4. • Gangguan sensorik. BUN dan creatinin serum  meningkat karena dehidrasi atau ada gangguan renal.

1. 1. Volume cairan kurang dari kebutuhan berhubungan dengan deuresis osmotik Intervensi : a. Jalan napas tidak efektif 4. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi. Dapatkan riwayat pasien atau orang terdekat sehubungan lamanya atau intensitas dari gejala seperti pengeluaran urine yang berlebih.B. Volume cairan kurang dari kebutuhan 2. Gangguan perfusi jaringan 3. Pantau TTV. Intoleransi aktivitas 5. catat adanya perubahan TD ortostatik. 6. Prioritas Masalah. Tanda dan gejala mungkin sudah ada pada beberapa waktu sebelumnya. Rasional : Membantu dalam memperkirakan kekurangan volume total. Rasional : Hipovolemia dapat dimanisfestasikan oleh hipotensi dan takikardia. . Perkiraan berat ringannya hipovolemia. b. dapat dibuat ketika tekanan darah sistolik pasien turun lebih dari 10 mm Hg dari posisi berbaring ke posisi duduk atau berdiri.

demam dengan kulit kemerahan. dan adanya apnea dan munculnya sianosis. pernapasan dangkal. Pantau pola nafas seperti adanya pernapasan Kussmaul atau pernapasan yang berbau keton. pernapasan cepat. Pantau masukan dan pengeluaran. e. f. Rasional : kering mungkin sebagai cerminan dari . Pantau frekuensi dan kualitas pernapasan. Rasional : Paru-paru mengeluarkan asam karbonat melalui pernapasan yang menghasilkan kompensasi alkalosis respiratoris terhadap keadaan ketoasidosis. menggigil dan diaforesis merupakan hal umum terjadi pada proses infeksi. d. dan munculnya sianosis mungkin merupakan indikasi dari kelelahan pernapasan dan mungkin pasien itu kehilangan kemampuannya untuk melakukan kompensasi pada asidosis. penggunaan otot bantu napas. atau kelembabannya. dehidrasi. Rasional : Koreksi hiperglikemia dan asidosis akan menyebabkan pola dan frekuensi pernapasan mendekati normal. catat berat jenis urin. Rasional : Meskipun demam. warna kulit. Tetapi peningkatan kerja pernapasan.c. Pernapasan yang berbau aseton berhubungan dengan pemecahan asam aseto-asetat dan harus berkurang bila ketosis harus terkoreksi. Pantau suhu.

Kadar natrium yang tinggi mencerminkan kehilangan cairan atau dehidrasi berat atau reabsorpsi natrium dalam berespon terhadap sekresi aldosteron. Berikan cairan sesuai dengan indikasi : normal salin atau setengah normal salin dengan atau tanpa dektrosa. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan adanya gangguan transport O2 Intervensi : a. Rasional : Kalium harus ditambahkan pada IV untuk mencegah hipokalemia. Berikan kalium atau elektrolit yang lain melalui IV dan atau melalui oral sesuai indikasi. . dan keefektifan dari terapi yang diberikan. fungsi ginjal. Rasional : Mungkin menurun yang dapat mencerminkan perpindahan cairan dari intrasel (diuresis osmotik). Rasional : 2. i. h. Pertahankan tirah baring dengan posisi kepala datar dan pantau tanda vital sesuai indikasi.Memberikan perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti. Rasional : Tipe dan jumlah cairan tergantung pada derajat kekurangan cairan dan respon pasien secara individual. Pantau pemeriksaan laboratorium seperti natrium. g.

Rasional : Meningkatkan istirahat menurunkan stimulasi sensori yang belebihan. seperti masase punggung. suara yang halus dan sentuhan yang lembut. dan perkembangan kerusakan SSP.Perubahan tekanan CSS mungkin merupakan potensi adanya resiko herniasi batang otak yang memerlukan tindakan medis dengan segera. Rasional : Perubahan pada frekuensi (tersering adalah bradikardia) dan disritmia dapat terjadi. Pantau frekuensi atau irama jantung. c. Pantau status neurologis secara teratur dan bandingkan dengan nilai standart (misalnya skala koma Glascow). b. e. d. Rasional : Penurunan refleks menandakan adanya kerusakan pada tingkat otak tengah atau batang otak dan sangat berpengaruh langsung terhadap keamanan pasien. . mencerminkan trauma atau tekanan batang otak. batuk dan Babinski. lingkungan yang tenang. Rasional : Mengkaji adanya kecenderungan pada tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK dan bermanfaat dalam menentukan lokasi. Berikan tindakan yang menimbulkan rasa nyaman. Catat ada atau tidaknya refleks-refleks tertentu seperti refleks menelan.

. Refleks Babinski positif mengindikasikan adanya trauma sepanjang jalur pyramidal pada otak. Rasional: Menurunkan hipoksemia. Restriksi cairan mungkin diperlukan untuk mengurangi cairan tubuh total dan selanjutnya akan menurnkan edema serebral terutama saat munculnya SIADH. Berikan cairan IV dengan alat control khusus. Tidak adanya refleks batuk meninjukkan adanya kerusakan pada medulla. h. g. f. Rasional: Peningkatan aliran vena dari kepala akan menurunkan TIK.Kehilangan refleks berkedip mengisyaratkan adanya kerusakan pada daerah pons dan medulla. yang mana dapat meningkatkan vasodilatasi dan volume darah serebral yang meningkatkan TIK. Jalan napas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kesadaran. Jaga kepala pasien tetap berada pada posis netral. Rasional: Meminimalkan fluktuasi dalam aliran vaskuler dan TIK. 3. Batasi pemasukan cairan dan berikan larutan hipertonik atau elektrolit sesuai indikasi. Berikan O2 tambahan sesuai indikasi. Tinggikan kepala tempat tidur sekitar 15-45 derajat sesuai toleransi atau indikasi.

Intervensi: a. Rasional: Sianosis mungkin perifer (terlihat pada kuku) atau sentral (terlihat sekitar bibir atau daun telinga). Auskultasi bunyi napas. b. Rasional: Berguna dalam evaluasi derajat distress pernapasan dan atau kronisnya proses penyakit. c. Krekels basah menyebar menunjukkan cairan pada intestisial atau dekompensasi jantung. catat area penurunan aliran udara dan atau bunyi tambahan. Selidiki adanya perubahan. Kaji frekuensi. e. Rasional: Bunyi napas mungkin redup karena penurunan aliran udara atau area konsolidasi. kedalaman pernapasan. Keabu-abuan dan sianosis sentral mengindikasikan beratnya hipoksemia. d. Palpasi fremitus. Kaji atau awasi secara rutin kulit dan warna membrane mukosa. . Adanya mengi mengindikasikan spasme bronkus atau tertahannya secret. Awasi tingkat kesadaran atau status mental. Rasional: Penurunan getaran vibrasi diduga ada pengumpulan cairan atau udara terjebak.

Rasional: Dapat menunjukkan peningkatan hipoksia atau komplikasi. Catat kadar Hb. Rasional: Penurunan menunjukkan Kehilangan PaO2 darah atau peningkatan untuk dapat PaCO2 dapat kebutuhan dukungan ventilasi. masker parsial atau masker dengan humidifikasi tinggi seuai indikasi. jantung. menurunkan PaO2. disritmia. h. g. Kaji atau diskusikan tingkat kelelahan pasien dan identifikasi aktivitas yang dapat dilakukan pasien. bermakna mengakibatkan penurunan kapasitas pembawa O2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan. . Rasional: Takikardia. Awasi atau buat gambaran GDA. 4. dan perubahan TD dapat menunjukkan efek hipoksemia sistemik pada fungsi Berikan O2 tambahan melalui nasal kanul. Rasional: Memaksimalkan sediaan O2. nasi oksimetri. juga selama periode kompensasi fisiologi sirkulasi terhadap unit fungsional alveolar. Intervensi: a. khususnya bila ventilasi menurun depresi anestesi atau nyeri. Awasi tanda vital dan irama jantung. f.

e. Rasional: Mencegah kelelahan yang berlebihan. berpindah tempat. Diskusikan dengan pasien kebutuhan akan aktivitas. frekuensi pernapasan dan tekanan darah sebelum atau sesudah melakukan aktivitas. Berikan aktivitas alternative dengan periode istirahat yang cukup atau tanpa diganggu. kelelahan otot menjadi terus memburuk setiap hari karena proses penyakit dan munculnya ketidakseimbangan natrium dan kalium. Diskusikan cara penghematan kalori selama mandi. Rasional: Mengindikasikan tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi secara fisiologis. dsb. Rasional: Pasien akan dapat melakukan lebih banyak kegiatan dengan penurunan kebutuhan akan energi pada setiap kegiatan. c. Buat jadwal perencanaan dengan pasien dan identifikasi aktivitas yang menimbulkan kelelahan. b.Rasional: Pasien biasanya telah mengalami penurunan tenaga. d. Pantau nadi. Rasional: Pendidikan sangat lelah. dapat memberikan motivasi untuk meningkatkan tingkat aktivitas meskipun pasien mungkin .

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan 1. paling sering terjadi pada panderita NIDDM. Hyperglikemia.f. Hiperosmolar Non Ketogenik adalah sindrom berkaitan dengan kekurangan insulin secara relative. . Tingkatkan partisipasi pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari sesuai dengan yang dapat ditoleransi. Rasional: Meningkatkan kepercayaan diri atau harga diri yang positif sesuai tingkat aktivitas yang dapat ditoleransi pasien.

Marilynn E. Peningkatan kadar glukosa mengakibatkan hiperosmolar. Edisi 3. 3. . 7. Angka kematian HHNK 40-50%. Penurunan insulin menyebabkan hambatan pergerakan glukosa ke dalam sel. Sindrome Hiperglikemia Hiperosmolar Non Ketotik mengambarkan kekurangan hormon insulin dan kelebihan hormon glukagon. Jakarta: EGC. 1999. yang dapat menurunkan volume cairan intraselluler. DAFTAR PUSTAKA Doenges. 5. sehingga terjadi akumulasi glukosa di plasma. Karena pasien HHNK kebanyakan usianya tua dan seringkali mempunyai penyakit lain. 6. Rencana Asuhan Keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. 4.2. Peningkatan hormon glukagon menyebabkan glycogenolisis yang dapat meningkatkan kadar glukosa plasma. Kondisi hiperosmolar serum akan menarik cairan intraseluler ke dalam intra vaskular. lebih tinggi dari pada diabetik ketoasidosis.

Sylvia Anderson.Hudak dan Gallo. Patofisiologi: konsep klinis prosesproses penyakit. ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT PADA KLIEN DENGAN HIPERGLIKEMIA HIPEROSMOLAR NON KETOTIK Tugas ini disusun untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Keperawatan Gawat Darurat I . Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: EGC. 1996. . 2000. Jakarta: Media Aesculapius.. 2001. Jakarta: EGC. Arif. 1995. Smeltzer. Asman. Jakarta: balai penerbit FKUI. Price.Buku ajar ilmu penyakit dalam. Mansjoer. Edisi 8. Edisi 3.. Suzanne C. Edisi 4. Buku ajar keperawatan medikabedah Brunner dan Suddarth. volume II. Jakarta: EGC. edisi VI. Edisi ketiga. Keperawatan Kritis Pendekatan Holistik.

Ns.Kep.Pengampu: Priyanto S. Disusun oleh : Nori sulistyawati 010401072 Nursalim 0104010 PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN NGUDI WALUYO UNGARAN 2007 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful