P. 1
Konsep Pendidikan Yb Mangunwijaya Dalam Perspektif Gus Dur

Konsep Pendidikan Yb Mangunwijaya Dalam Perspektif Gus Dur

5.0

|Views: 2,050|Likes:
Published by akekaly_088543
it's a continue concept of Mangunwijaya's education concept. but here it's in the Gus Dur's perspective
it's a continue concept of Mangunwijaya's education concept. but here it's in the Gus Dur's perspective

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: akekaly_088543 on Mar 11, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/03/2013

pdf

text

original

BAB IV

KONSEP PENDIDIKAN HUMANISTIK MANGUNWIJAYA
DALAMPERSPEKTIF KH. ABDURRAHMAN WAHID
A. Konsep Pendidikan KH. Abdurrahman Wahid
Konsep dan gagasan KH. Abdurrahman Wahid tentang pendidikan secara jelas
terlihat pada gagasannya tentang pembaharuan pesantren. Menurutnya, semua aspek
pendidikan pesantren, mulai dari visi, misi, tujuan, kurikulum, manajemen dan
kepemimpinannya harus diperbaiki dan disesuaikan dengan perkembangan zaman era
globalisasi
1
. Meski demikian, menurut Gus Dur pesantren juga harus
mempertahankan identitas dirinya sebagai penjaga tradisi keilmuan klasik, dalam arti
tidak larut sepenuhnya dengan modernisasi, tapi mengambil sesuatu yang dipandang
manfaat-positif untuk perkembangan. Dalam hal modernisasi ini ia berlandaskan pada
maqolah sebagaimana berikut:
حلصلا ديدجلاب ذخ للاو حلاصلا ميدقلا ىلع ةظفاحملا
Artinya : “Memelihara dan melestarikan nilai-nilai lama yang masih relevan dan
mengambil nilai-nilai baru yang lebih relevan.”
2
Selain itu, menurutnya dalam melakukan modernisasi tersebut pesantren juga
harus mampu melihat gejala sosial yang tumbuh di masyarakat, sehingga keberadaan
pesantren dapat berperan sebagai pusat pengembangan masyarakat. Dengan ini,
1
Abuddin Nata. Tokoh-tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia. (Jakarta: Rajagrafindo
Persada, 2004), 360.
2
Ahkamul Fuqoha Solusi Problematika Aktual Hukum Islam Keputusan Muktamar, Munas dan
Konbes NU (1926-199). (Surabaya: LTNU Jatim dan Diantama Lembaga Studi dan Pengembangan
Pesantren, 2005), 1.
56
sebenarnya Gus Dur hendak mengatakan bahwa peran pesantren ialah tidak hanya
sebagai lembaga pendidikan keagamaan an sich, namun juga mampu memberikan
sumbangsih yang berarti serta membangun system nilai dan kerangka moral pada
individu dan masyarakat. Dengan cara demikian, pesantren dapat menjadi lembaga
pendidikan yang mendidik manusia untuk bisa menjalani kehidupan dalam arti yang
sesungguhnya
3
.
Lebih lanjut, berdasar latar ini menurut Gus Dur pesantren seharusnya
menyelenggarakan pendidikan umum. Hal ini dimaksudkan supaya peserta didik
yang belajar di pesantren adalah peserta didik yang memiliki ilmu agama yang kuat
sekaligus juga memiliki ilmu yang kuat secara seimbang. Gus Dur menginginkan,
agar di samping mencetak ahli ilmu agama Islam, pesantren juga mampu mencetak
orang yang memiliki keahlian dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang ending
berguna untuk perkembangan masyarakat itu sendiri
4
.
Dengan dasar di atas, Gus Dur menginginkan ada perubahan pada kurikulum
pesantren. menurutnya, kurikulum pesantren selain harus kontekstual dengan
kebutuhan zaman juga harus mampu merangsang daya intelektual-kritis anak didik.
Terkait yang terakhir ini semisal dengan melebarkan pembahasan fiqih antar
madzhab. Namun, sebagaimana ia tuturkan sebelumnya, bentuk kurikulum tersebut
tetap harus dalam asas yang bermanfaat bagi masyarakat dan juga tidak sampai
menghilangkan identitas diri pesantren sebagai lembaga pendidikan agama. Dalam
3
Abuddin Nata, Tokoh Pembeharuan., 351-352.
4
Ibid., 353.
57
arti jangan sampai pesantren mengajarkan ketrampilan saja ataupun sebaliknya, yakni
mengajarkan agama saja, tetapi keduanya harus dalam porsi yang seimbang
5
.
Kemudian terkait dengan pembelajaran, Gus Dur menyatakan bahwa
pendekatan pembelajaran di pesantren harus mampu merangsang kemampuan
berpikir kritis, sikap kretif dan juga merangsang peserta didik untuk bertanya
sepanjang hayat. Ia sangat menolak system pembelajaran yang doktriner dan banking
yang akhirnya hanya akan membunuh daya eksplorasi anak didik
6
.
Sedangkan terkait dengan Guru dan pemimpin menurut Gus Dur harus
dilakukan perpaduan antara bercorak karismatik dengan corak yang demokratis,
terbuka dan menerapkan manajemen modern
7
.
Kesemua konsep pendidikan anak pertama dari KH. Wahid Hasyim ini
sebenarnya sangat dipengaruhi oleh keyakinan dan paradaigmanya, yakni demokrasi,
inklusifme agama, dan pembelaannya terhadap kaum mustadl’afin. Keyakinan-
keyakinan ini terlihat jelas dari belantara pemikirannya yang terkodifikasi dalam
karya-karyanya, semisal dalam buku Tuhan tak Pelu Dibela, Islamku Islam Anda,
Islam Kita, Islam Kosmopolitan, Mengurai Hubungan Agama dan Negara, Tabayun
Gus Dur dan beberapa buku atau artikel karyanya yang lain.
Singkatnya, konsep pendidikan Gus Dur ini ialah konsep pendidikan yang
didasarkan pada keyakinan religius dan bertujuan untuk membimbing atau
5
Abdurrahman Wahid. Tabayun Gus Dur: Pribumisasi Islam. Ed. M. Saleh Isre. (Yogyakarta: LKiS,
1998), 153.
6
Abdurrahman Wahid. “ Pendidikan Kita dan Kebudayaan”. http://www.gusdur.net/indonesia/index.
diakses tanggal 22 Juli 2008.
7
Abuddin Nata, Tokoh Pembeharuan., 360.
58
menghantarkan peserta didik menjadi manusia yang utuh, mandiri dan bebas dari
belenggu penindasan. Atau dengan kata masyhur-nya ialah konsep pendidikan yang
memerdekakan manusia.
B. Pendidikan Mangunwijaya dalam Perspektif Gus Dur
Paradigma pendidikan Mangunwijaya jika dikerucutkan akan mengerucut pada
usahanya dalam mengembalikan alur pendidikan nasional dalam makna pendidikan
yang sebenarnya. Ide-ide pendidikannya sarat dengan semangat pemerdekaan
manusia, keberpihakannya pada kaum tertindas, demokratisasi, persaudaraan sesama
manusia dan bersandarkan pada dimensi teologis. Strategi pendidikannya yang
demikian merupakan cerminan dari sikap religiusitas yang selalu menjadi landasan
hidupnya. Mangunwijaya selalu berpikir bagaimana menciptakan sebuah sitem tata
sosial yang fair, yang menghargai manusia dengan kemanusiawiannya sebagai subjek
kehidupan bukan objek. Tidak ada tirani mayoritas maupun minoritas, penindasan
oleh struktur maupun sesame manusia.
Tindakan Mangunwijaya ini, menurut Gus Dur ialah sesuai dengan dimensi
ajaran Islam, dan pastinya hal ini juga menjadi dasar dari konsep pendidikannya.
Menurut Gus Dur, islam sangat menghormati perbedaan, demokratisasi, membela
kaum mustdl’afin, egaliter dan juga melarang umatnya untuk bertindak diskriminasi
dan kekerasan kepada siapa pun. Nilai-nilai universal Islam ini menurutnya tercermin
dalam lima jaminan dasar, yakni hifdzu an-nafs, hifdzu ad- din, hifdzu an-nash, hifdzu
59
al-mal, dan hifdzu al-aqli
8
. Selain, itu dalam al-qur’an juga banyak tersebar ayat-ayat
yang menerangkan hal itu, diantaranya ialah
$ pks+r'¯»t] ⨠$¨Z9$# $¯RÎ) /ä » 3 oYø)n=yz `ÏiB 9x.s(
4Ós\Ré&ur öNä » 3 oYù=yèy_ur $\/qãèä© Y@ͨ!$t7s%ur
(#þqèùu $yètGÏ9 4 ¨bÎ) ö/ä3tBtò2r& y+YÏã «!$#
öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz « » ÊÌ
Terjemahnya : “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan
kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan
dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-
suku supaya kamu saling kenal-mengenal.
Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu
disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara
kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha
Mengenal”. (QS. Al Hujurat : 13)
* $ pks+r'¯»t] tûï Ï%©!$# (#qãYtB#uä (#qçRqä. tûüÏBº§qs%
ÅÝó¡É)ø9$$Î/ uä!#y+pkà ¨! öqs9ur #`n?tã öNä3Å¡àÿRr& Írr&
»ûøïy+Ï9ºuqø9$# tûüÎ/tø%F{$#ur 4 bÎ) ïÆä3t] $'ÏYxî ÷rr&
#ZŽÉ)sù ª!$$sù 4`n<÷rr& $yJÍkÍ5 ( Yxsù (#qãèÎ7Fs?
#uqolù;$# br& (#qä9Ï+÷ès? 4 bÎ)ur (#ÿ¼âqù=s? ÷rr&
(#qàÊ̍÷èè? ¨bÎ*sù ©!$# tb%x. $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? #ZŽÎ6yz
« » ÊÌÎ
Terjemahnya :“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu
orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi
saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau
ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia Kaya ataupun
miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka
janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin
menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar
balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka
Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala
apa yang kamu kerjakan”.(QS. An Nisa’ : 135).
8
Abdurrahman Wahid. Islam Kosmopolitan: Nilai-nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan. Ed.
Agus M. A. dan A. Suedy. (Jakarta: The Wahid Institute, 2007), 4-5.
60
$ uZøOu÷rr&ur tPöqs)ø9$# súï Ï%©!$# (#qçR%x. s
cqàÿyèôÒtFó¡ç sX͍»t±tB «ÚöF{$# $ygt/̍»tótBur
ÓÉL©9$# $uZø.t»t/ $pkŽÏù ( ôM£Js?ur àMyJÎ=x. sÎn/u
4Óo_ó¡ßsø9$# 4`n?tã ûÓÍ_t/ Y@ÉÏäÂuŽó Î) $yJÎ/ (#rçŽy9|¹ (
$tRö¨By·ur $tB sc%x. ßìuZóÁt] ÜcöqtãöÏù ¼çmãBöqs%ur
$tBur (#qçR$Y2 scqä©Ì÷èt] « » ÊÌÐ
Terjemahnya :”Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah
ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan
bahagian baratnya yang telah Kami beri berkah
padanya. dan telah sempurnalah Perkataan Tuhanmu
yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan
kesabaran mereka. dan Kami hancurkan apa yang telah
dibuat Fir'aun dan kaumnya dan apa yang telah
dibangun mereka”.(QS. Al A’raaf : 137).
Kemudian terkait dengan sikap religiusitas Mangunwijaya yang kemudian
menjadi cermin konsep pendidikannya, terutama tentang mata kurikulum komunikasi
iman, menurut Gus Dur memang harus dijalankan dan ditekankan. Bahkan dalam
salah satu artikelnya Gus Dur menyatakan bahwa faham religiusitas seperti inilah
yang nantinya mampu membentuk tatanan masyarakat yang ideal. Sebab di dalamnya
tidak ada sekat apapun, baik sekat agama, suku, etnis maupun yang lainnya, yang ada
adalah kesatuan makhluk Tuhan
9
. Dalam arti, Gus Dur hendak mengatakan bahwa
dengan konsep pendidikan ini anak didik diharapkan akan menjadi generasi-generasi
yang memiliki keyakinan dan paradigma yang inklusif, demokratis dan dialogis
dalam kehidupannya kelak. Hal ini sama dengan gagasannya tentang pelebaran
9
Abdurrahman Wahid. “ Romo Mangun dan Moral Absoluth”. Dalam Mendidik Manusia Merdeka:
Romo YB. Mangunwijaya 65 Tahun. Ed. Th. Sumartana dkk. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1995), 331-
333.
61
pembahasan fiqih dalam pesantren yang menurutnya selama ini menyempit pada satu
madzhab, yakni madzhab Syafi’i
10
.
Selanjutnya, menurut Gus Dur konsep kurikulum dan pembelajaran yang
digagas Mangunwijaya, yakni kurikulum dan pembelajaran yang besifat kontekstual,
dinamis, demokratis, dan bertumpu pada anak didik, memang harus dijalankan. Sebab
oposisi binner atasnya, menurut tokoh fenomenal Nahdlotul Ulama ini, akan
bertentangan dengan hakikat manusia dan tujuan diadakannya pendidikan itu sendiri.
Manusia sebagai makhluk yang merdeka, berdimensi sosial, bernilai serta makhluk
ber-Tuhan dan tujuan pendidikan tidak lain ialah bagaimana mengantar anak didik
mampu menjadi manusia yang utuh, mandiri, dan cerdas lahir-bathin. Untuk itu,
maka menurutnya kurikulum dan pembelajaran harus didesain sedemikian rupa sesuai
dengan hakikat manusia dan tujuan diadakannya pendidikan tersebut. Dalam arti,
hubungan guru-murid harus demokratis-dialogis, dalam pembelajaran menggunakan
metode dan pendekatan yang merangsang berpikir kritis dan kreatif, serta
kurikulumnya juga harus sesuai dengan perkembangan zaman, kebutuhan dan
kemampuan anak didik. Dan pastinya kesemuanya ini harus dijiwai dengan
keimanan. Hal ini ditekankan oleh Gus Dur, sebagaimana juga Mangunwijaya, karena
jika tidak maka dikhawatirkan ilmu pengetahuan yang dimiliki anak didik tersebut
nantinya akan menjadi monster mengerikan yang menghancurkan nilai-nilai
kemanusiaan
11
. Menurut Gus Dur, pada titik inilah sebenarnya yang terlupakan pada
10

11
Abudin Nata. Tokoh Pembeharuan., 355.
62
pendidikan Negara kita. Keadaan ini dicontohkan dengan banyaknya anak terdidik
yang melakukan tindak asusila dan tak berperikemanusiaan
12
.
Lalu terkait dengan gagasan Mangunwijaya tentang partisipasi masyarakat
dalam pendidikan, menurut Gus Dur sangat perlu dilakukan. Sebab, menurutnya
untuk masyarakatlah pendidikan itu diadakan. Manfaat atau tidaknya pendidikan
diukur dari kebutuhan masyarakat
13
. Selain itu, tidak mungkin proses pendidikan
hanya dilakukan oleh atau di sekolahan saja, sebab proses belajar anak didik terus
berlangsung di mana pun mereka berada selama hidupnya. Bisa ketika di rumah, di
masjid, di sawah maupun di mana saja.
Untuk memperkuat konsep konsep di atas, bisa dilihat dari beberapa dalil nash
dan hadits di bawah ini:
1. Hakikat Manusia
ô+s)s9 $uZø)n=y{ z » ` |¡SM}$# þ`Îû «`|¡ômr& 5OÉ»qø)s? « » Í
Terjemahnya :”esungguhnya Kami telah menciptakan manusia
dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At Tiin : 4)
br&ur }§ø·©9 « » ` |¡SM~Ï9 žwÎ) $tB 4ÓtÎy¹ « » Ì Ò
Terjemahnya:”Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh
selain apa yang telah diusahakanny.” (QS. An Najm :
39)
3 … žcÎ) ©!$# Yw çŽÉitóã] $tB BQöqs)Î/ 4ÓÆLym
(#rçŽÉitóã] $tB öNÍkŦàÿRr'Î/ 3 ...
Terjemahnya : ….Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan
sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan
yang ada pada diri mereka sendiri….( QS. Ar Ra’ad :
11)
12

13
Ibid., 352.
63
y7tRqè=t«ó¡o «Ætã ̍ôJy.ø9$# Ύţ÷yJø9$#ur ( ö@è% !
$yJÎgäÏù ÷NøOÎ) ׎Î7Y2 ßìÏÿ»oYtBur Ĩ $¨ = Z Ï9 !
$yJßgßJøOÎ)ur çŽt9ò2r& `ÏB $yJÎgÏèøÿ¯R 3 stRqè=t«ó¡our
#s($tB tbqà)ÏÿZã] »@è% uqøÿyèø9$# 3 sÏ9ºxx. ßûÎiüt7ã]
ª!$# ãNä3s9 ÏM»t]Fy$# öNà6¯=yès9 tbr㍩3xÿtFs? « » ËÊÒ
Terjemahnya : Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan
judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang
besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa
keduanya lebih besar dari manfaatnya". dan mereka
bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan.
Katakanlah: " yang lebih dari keperluan." Demikianlah
Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya
kamu berfikir, (QS. Al Baqarah : 219)
.ملسم هاور. هناسجمي وا هنارصني وا هندوهي هاوباف هرطفلا ىلع دلوي لا دولوم نم ام
Artinya : Tidaklah anak yang dilahirkan itu Kecuali membawa fitrah
untuk percaya kepada Allah. Maka kedua orang tualah yang
menjadikan anak tersebut beragama Yahudi, Nasrani, dan
Majusi. (HR. Muslim)
Dari beberapa nash di atas, maka bisa diambil kesimpulan
bahwa manusia adalah makhluk yang paling sempurna bentuk dan
kepribadiannya dan juga makhluk yang religius, mempunyai
potensi, merdeka dan berpikir. Dalam arti makhluk yang
mempunyai pilihan dalam hidup dan berkewajiban untuk
mempertanggungjawabkannya. Sedang dalil yang menerangkan
‘Belajar Sejati’ sebagaimana berikut :
2. ‘Belajar Sejati’ (Visi Pendidikan)
نيصلاب ولو ملعلا اوبلطا
64
Artinya : “carilah ilmu pengetahuan walau ke negeri Cina”
دحللا ىلا دحملا نم ملعلا اوبلطا
Artinya : “carilah ilmu pengetahuan mulai dari ayunan hingga
masuk liang lahat”.
Hadist di atas menerangkan bahwa Islam menyuruh umatnya
untuk belajar dan belajar, meskipun hal itu berada ditempat yang
sangat jauh dan sulit. Selain itu, juga bisa diambil kepahaman
bahwa Islam sejak awal sudah mencanangkan “Belajar Sejati”,
sebuah proses belajar yang berlangsung selama hidup (long life
education) dan juga tidak tersekat oleh ruang dan waktu.
Keyakinan ini sama persis seperti yang digagas oleh Gus Dur dan
juga Mangunwijaya.
3. Kurikulum dan Pembelajaran
@ è% Hw ãAqè%r& óOä3s9 Ï+ZÏã ßûÉî!#tyz «!$# Iwur
ãNn=ôãr& |=øtóø9$# Iwur ãAqè%r& öNä3s9 `ÎoTÎ) î7n=tB (
÷bÎ) ßìÎ7¨?r& žwÎ) $tB #Óyrqã] ¥`n<Î) 4 ö@è% ö@yd
»qtGó¡o 4yJôãF{$# 玍ÅÁt7ø9$#ur 4 Yxsùr&
tbr㍩3xÿtGs? « » Î É
Terjemahnya :”Katakanlah: aku tidak mengatakan kepadamu,
bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak
(pula) aku mengetahui yang ghaib dan tidak (pula)
aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang
malaikat. aku tidak mengikuti kecuali apa yang
diwahyukan kepadaku. Katakanlah: "Apakah sama
orang yang buta dengan yang melihat?" Maka
Apakah kamu tidak memikirkan(nya)?"(QS. Al An’am
: 50)
65
öNs9urr& (#r㍩3xÿtGt] þ`Îû NÍkŦàÿRr& 3 $¨B t,n=y{ ª!$#
ÏNºu » q uK¡¡9$# uÚöF{$#ur $tBur !$yJåks]ø·t/ žwÎ)
»d,ysø9$$Î/ 9@y_r&ur wK|¡•B 3 ¨bÎ)ur #ZŽÏVx. z`ÏiB
Ĩ $¨Z9$# «·!$s)Î=Î/ öNÎgÎn/u tbrãÏÿ»s3s9 « » Ñ
Terjemahnya : Dan mengapa mereka tidak memikirkan tentang
(kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan langit
dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya
melainkan dengan (tujuan) yang benar dan waktu
yang ditentukan. dan Sesungguhnya kebanyakan di
antara manusia benar-benar ingkar akan Pertemuan
dengan Tuhannya. (QS. Al Rum : 8).
مكنامز ريغ نامزل قلخ مهّ نءاف مكتيبرت ريغب مكدلوأ اوبّدأ
Artinya : “Didiklah anak-anakmu dengan pola pendidikan yang berbeda dengan pola
pendidikan yang kalian dapatkan karena Sesungguhnya mereka itu
dilahirkan untuk zaman yang berbeda dengan zamanmu”
14
.
)ةشئع( مهلزانم ساّنلا لزنن نأ . ملسو هيلع لا ىلص لا لوسر انرمأ
Artinya : “Rasulullah SAW. Menyuruh kami menempatkan orang-orang sesuai
dengan posisinya.” (HR. ‘Aisyah)
)سابع نبا و ىناريطلا هاور( هل قلخ امل رّسيم ّ لكف اولمعا
Artinya : “Bekerjalah, maka setiap orang di mudahkan untuk mengerjakan apa yang
memang diciptakan untuknya” (HR. Thabrani dan Ibnu ‘Abbas)

)ىذمرتلا هاور( هربك ىف لقعلا ىف ةدابز هرغص ىف ىبّصلا ةمارع
Artinya : “Anak yang energik ketika kecilnyaadalah pertanda ia akan menjadi orang
yang cerdas ketika dewasa” (HR. Tirmidzi).
Keterangan-keterangan di atas, jika ditarik pada kurikulum dan pembelajaran,
maka bisa ditarik kesimpulan bahwa ajaran Islam menganjurkan kurikulum harus
bersifat kontekstual, religius, dinamis, bersandar pada kebutuhan dan kemampuan
14
Ahmad Bahruddin, Pendidikan Alternatif Qaryah Thoyyibah, (Yogyakarta: LKiS, 2007), Xvi.
66
anak didik. Selain itu juga menerangkan terkait pembelajaran harus bersifat
demokratis, menyenangkan dan merangsang anak didik untuk belajar tentang segala
hal, baik ilmu Kauniyah maupun insaniyah.
Dari uraian-uraian di atas, maka bisa dipahamai bahwa konsep pendidikan
humanistik Mangunwijaya menurut perspektif Gus Dur sangat ideal dan juga sesuai
dengan ajaran Islam. Meski Mangunwijaya bersandar pada ajaran teologi Katholik
dan juga terinspirasi oleh pemikiran Paulo Friere dan Jean Pieget, Menurut Gus Dur
konsep pendidikan Mangunwijaya dengan ajaran Islam berjalan dalam satu rel, yakni
pada semangat pemerdekaan manusia. Maka dari itu, kita sebagai umat muslim tidak
ada salahnya jika kita mempelajari dan mengikuti konsep pendidik Mangunwijaya
yang nota-bene-nya sebagai seorang Pastur Katholik, toh setelah diteliti kesemuanya
itu ternyata ada dasarnya dalam ajaran Islam. Selain itu, Islam juga tidak pernah
melarang umatnya untuk mempelajari ilmu apa pun dan dari siapa pun, asalkan ada
asas manfaat di dalamnya.
Selain itu, konsep pendidikan Mangunwijaya ini bisa digunakan sebagai
mediasi untuk pemaknaan pendidikan yang memerdekakan, hal ini baik kepada
pendidikan Islam maupun pendidikan Nasional,
Kemudian, meski konsep pendidikan Mangunwijaya sesuai dengan nilai-nilai
ajaran Islam dan ideal, menurut penulis ada dua pemikiran darinya yang harus
dikritisi dan digaris bawahi, di antaranya ialah:
Pertama, konsep pendidikan Mangunwijaya ini harus didudukkan pada konteks
sosiologisnya. Menurut penulis, keberhasilan konsep Mangunwijaya di SDKEM,
67
banyak dipengaruhi oleh karakteristik yang sangat spesifik masyarakatnya.
Karakteristik tersebut ialah latar belakang ekonomi murid yang kebanyakan miskin,
dan juga kultur masyarakat setempat yang sangat mendukung. Semisal mata pelajaran
Komunikasi Iman, terkait ini Romo Mangun mengatakan bahwa di sekolah tidak ada
pelajaran tentang doktrin-doktrin agama, yang ada ialah komunikasi anatar iman dan
agama. Doktrin-doktrin agama bisa diberikan dan dipelajari siswa di sekolah Informal
dan Nonformal, yakni di rumah, di masjid atau di geraja. Menurut penulis,
keberhasilan mata pelajaran ini ialah karena kultur masyarakatnya yang memang
religius. Selain itu, kerjasama antara sekolah Formal, Informal dan Nonformal di sana
berjalan dengan baik. Maka, jika konsep ini dibawa dan ditumbuhkan pada bentuk
sosiologis yang berbeda, semisal di sebuah daerah yang memang minim religius dan
sekolah Nonformal, maka hasilnya pun akan jauh dari sempurna.
Kedua, kurikulum dan sistem evaluasi. Dalam hal ini Romo Mangun tidak
konsisten dengan gagasannya sendiri. ia menolak sistem ulangan normatif dan
Kurikulum Nasional, namun dalam kenyataannya ia masih mengikutinya. Dalam
kurikulum masih mengikuti Kurikulum Nasional dengan porsi 30%, dan pada sistem
evaluasi masih menggunakan ulangan normatif, seperti UAN, EBTANAS dan
Ulangan Semester. Terkait ini, penulis setuju dengan ketegaran pendiri pendidikan
alternatif Qaryah Thayyibah, Bahrudin. Ia menolak UAN dan tidak mengikutinya.
68
69

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->