P. 1
PERCERAIAN DI LUAR PENGADILAN AGAMA MENURUT PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 DAN KOMPILASI HUKUM ISLAM

PERCERAIAN DI LUAR PENGADILAN AGAMA MENURUT PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 DAN KOMPILASI HUKUM ISLAM

|Views: 1,436|Likes:
Published by ameersabry

More info:

Published by: ameersabry on Mar 22, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/14/2014

pdf

text

original

1

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Perkawinan merupakan fitrah manusia, yang dengan melakukan hal tersebut seorang (suami) diwajibkan memikul amanah tanggung jawab yang sangat besar di dalam dirinya terhadap orang-orang yang berhak mendapat perlindungan dan pemeliharaan. Hakikat perkawinan adalah merupakan hubungan hukum antara subjek yang mengikatkan diri dalam perkawinan tersebut yakni antara seorang pria dengan seorang wanita. Dalam membina bahtera rumah tangga sering kali dijumpai berbagai keluhan yang dapat saja berujung pada terjadinya perceraian yang kemudian menyebabkan bubarnya hubungan perkawinan. Dewasa ini kian marak pergeseran makna dari hubungan antara pernikahan dan perceraian. Jika pada masa lalu proses perceraian dalam pernikahan merupakan suatu hal yang tabu dan aib, kini sudah umum dan perceraian telah menjadi suatu fenomena yang biasa di masyarakat. Setiap orang pasti menginginkan yang terbaik dalam hidupnya, termasuk dalam kehidupan rumah tangganya. Namun realita menunjukkan sebaliknya, angka perceraian semakin meningkat setiap tahunnya. Perkawinan menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dianggap sebagai suatu perjanjian (persetujuan) asalkan kata perjanjian diambil dalam arti yang luas. Sebab untuk melangsungkan perkawinan diperlukan kehendak

2

yang bersesuaian antara seorang pria dengan seorang wanita serta keterangan tentang adanya kehendak tersebut.1 Perkawinan selain harus memenuhi syarat sahnya perkawinan menurut Agama dan kepercayaannya masing-masing sebagaimana yang diatur dalam pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, juga harus dilakukan pencatatan di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan setempat. Pada saat perkawinan yang dilangsungkan itu tidak dilakukan pencatatan maka oleh masyarakat sekarang ini sering disebut dengan pernikahan sirri. Pada dasarnya perkawinan itu dilakukan untuk waktu selamanya baik itu perkawinan monogami maupun poligami. Ini sebenarnya yang dikehendaki oleh Agama Islam. Namun dalam keadaan tertentu terdapat halhal yang menghendaki putusnya perkawinan itu dalam arti bila hubungan perkawinan tetap dilanjutkan, maka kemudharatan akan terjadi. Dalam hal ini Islam membenarkan putusnya perkawinan sebagai langkah terakhir dari usaha melanjutkan rumah tangga. Putusnya perkawinan dengan begitu merupakan jalan keluar yang baik.2 Dalam pasal 1 Undang-Undang Nomor Tahun 1974 dinyatakan

bahwa perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga(rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan yang maha esa.3
Wantjik Saleh, Hukum Perkawinan Indonesia, Jakarta, Ghalia Indonesia, 1992, hal. 80. Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, cet. I, Jakarta, Prenada Media, 2006, hal. 190. 3 Departemen Agama R.I, Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 serta Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: Direktorat jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji, 2004), hal.
2 1

3

Definisi di atas menunjukan bahwa suatu perkawinan mencakup ikatan lahir dan batin antara suami istri. Ikatan lahir disini dimaksudkan bahwa adanya perpaduan antara hak dan kewajiban suami dalam susunan kehidupan rumah tangga secara nyata, sedangkan yang yang dimaksud dengan ikatan batin ikatan yang bersifat atau berupa perasaan cinta dan kasih sayang dalam mencapai kebahagiaan dan kedamaian dan rumah tangga. Kebahagian dan kedamaian dalam rumah tangga akan dapat tercapai apabila ada rasa saling pengertian dan rasa kasih sayang antara suami dan istri serta di dukung oleh beberapa faktor . Faktor-faktor tersebut oleh Faried Ma’ruf Noor, diperinci sebagai berikut: 1. Setiap anggota rumah tangga atau keluarga memahami dan menjalani fungsinya masing-masing 2. Terciptanya suasana keagamaan dan kehidupan rumah tangga seharihari 3. Terciptanya kebutuhan ekonomi rumah tangga 4. Terciptanya fungsi pendidikan keluarga terutama bagi anak-anak.4 Apabila diperhatikan definisi pekawinan yang tercantum dalam pasal 1 di atas, Undang-undang tersebut menghendaki agar suatu perkawinan yang sudah dilangsungkan dapat terlaksana dengan bahagia antara suami istri,Tujuan ini dapat tercapai tergantung pada pergaulan yang baik pasangan tersebut. Hubungan yang baik dan sangat tergantung pada pemenuhan hak dan kewajiban masing-masing pihak. Berdasarkan uraian di atas nyatalah bahwa tujuan perkawinan adalah untuk terwujudnya hubungan yang kekal antara suami dan istri. Namun
14. Faried Ma’ruf Noor, Menuju Keluarga Sejahtera dan Bahagia, (Jakarta: Bulan Bintang, 1983), hal. 51.
4

4

tujuan mulia tersebut tidak selamanya dapat tercapai dalam suatu perkawinan, bahkan tidak jarang timbul permasalahan, perselisihan atau pertengkaran yang terus menerus antara suami dan istri. Itu ini memberi peluang kehidupan rumah tangga menjadi tidak harmonis, sehingga harus di akhiri dengan suatu perceraian. Secara umum mengenai putusnya hubungan perkawinan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan membagi sebabsebab putusnya perkawinan ke dalam 3 (tiga) golongan, yaitu seperti yang tercantum dalam Pasal 38 yakni sebagai berikut:
a. Karena kematian salah satu pihak; b. Perceraian; dan c. Atas putusan pengadilan;

Putusnya perkawinan karena perceraian dalam istilah ahli Fiqh disebut talak atau furqah. Arti dari talak adalah membuka ikatan, membatalkan perjanjian, sedangkan furqah artinya bercerai, yaitu lawan dari berkumpul. Kemudian kedua kata tersebut dipakai oleh ahli fiqh sebagai satu istilah, yang berarti bercerai antara suami isteri. Meskipun Islam tidak melarang perceraian, tetapi bukan berarti Agama Islam menyukai terjadinya perceraian dalam satu perkawinan. Dan perceraianpun tidak boleh dilaksanakan setiap saat sebagaimana dikehendaki. Walaupun diperbolehkan, Agama Islam memandang bahwa

perceraian adalah sesuatu yang tidak disukai. Hal tersebut bisa dilihat dalam

5

hadist Nabi yang artinya

“Yang halal yang paling dibenci Allah adalah

perceraian”. (HR. Abu Daud dan dinyatakan shaheh oleh Al-Hakim). Bagi orang yang melakukan perceraian tanpa alasan, Rasullullah SAW bersabda yang artinya: “Apakah yang menyebabkan salah seorang kamu mempermainkan hukum Allah, ia mengatakan: Aku sesungguhnya telah mentalak (isteriku) dan sesungguhnya” (HR. An-Nasa’i dan Ibnu Majah). Perceraian apapun bentuknya dapat membawa akibat terhadap suami isteri itu sendiri maupun terhadap anak yang lahir dari perkawinan itu. Akibat yang sangat terasa adalah terhadap anak baik secara psikis maupun yuridis. Dari segi psikis anak akan menjadi minder, kurang tenang, kurang kasih sayang, dan kurangnya pengawasan dari orang tua yang kesemuanya itu menyebabkan perkembangan mental anak terganggu. Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 memuat berbagai ketentuan tentang perceraian. Salah satu pasal dari Undang-undang tersebut menyebutkan bahwa perceraian di bebani berbagai persyaratan sebagaimana di tentukan dalam pasal 39 ayat (2) yang berbunyi: 1. 2. 3. Perceraian hanya dapat di lakukan di dalam sidang pengadilan setelah sidang yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan ke dua belah pihak. Untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan bahwa suami istri itu dapat akan hidup rukun sebagai suami istri. Tata cara perceraian di depan siding pengadilan di utus perundangan tersendiri.

6

Selanjutnya alasan yang di sebut pada ayat (2) pasal 39 tersebut di atas di perinci kembali dalam pasal 19 peraturan pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 sebagai berikut: Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan sebagainya yang sukar di sembuhkan. b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama dua tahun berturutturut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuanya. c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara lima tahun atau hukuman lebih berat setelah perkawinan berlangsung. d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan yang berat yang membahayakan pihah lain. e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak menjalankan kewajibannya sebagai suami istri. f. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun dalam rumah tangga.5
a.

Dari ketentuan di atas memperluas suatu perceraian hanya dapat di lakukan melalui bantuan pengadilan dan untuk melakukannya harus ada alasan yang cukup da rasional sehingga dapat di jadikan landasan yang wajar bahwa antara suami dan istri tidak ada harapan lagi untuk hidup bersama sebagai suami istri. Pada perinsipnya tidak ada seorangpun yang menginginkan

perkawinannya berakhir dengan perceraian, tidak ada anggota atau masyarakat yang mengharapkan keluarganya berakhir dengan perceraian. Hukum Islam mengajarkan bahwa perceraian merupakan suatu perbuatan halal tetapi sangat dibenci oleh Allah. Salah satu azas dalam Undang-Undang perkawinan adalah mempersulit terjadinya perceraian,6 cara mempersulit ini
Departemen Agama, Undang-undang, hal. 77. Lihat huruf e angkan 4 Penjelasan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1970 Tentang Perkawinan.
6 5

7

antara lain dengan menetapkan syarat-syarat tertentu seperti ikrar cerai harus diucapkan di depan sidang pengadilan. Kebijakan tersebut dijabarkan oleh hakim antara lain dengan menyelenggarakan beberapa kali sidang, untuk menggali permasalahan dan memberi kesempatan kepada suami dan isteri untuk merenungkan niatnya untuk bercerai. Akan tetapi langkah hakim ini sering dirasakan oleh pencari keadilan sebagai memperpanjang prosedur. Pengadilan Agama pilar utama pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, dan dalam upaya menekan angka perceraian khususnya serta pembinaan keluarga sejahtera pada umumnya. Masalah perceraian merupakan masalah yang cukup komplex. Keluarga yang mempunyai masalah cenderung merahasiakan masalahmasalah yang dihadapi keluarganya dan berupaya memecahkannya sendiri. Pada umumnya ketika permasalahannya sudah cukup kronis. Disamping itu juga diakui bahwa nasehat oleh BP4 dan usaha perdamaian yang dilakukan oleh pengadilan cenderung kurang metodologis, kurang profesional.7 Pembinaan kehidupan keluarga, penasehatan calon pengantin dan

penasehatan keluarga yang bermasalah pada hakikatnya adalah kegiatan pendidikan yang merubah kondisi yang kurang baik kepada keadaan yang lebih baik. Untuk kegiatan tersebt sangat tepat dilakukan melalui pendidikan, persuasif, psikologis dan sebagainya.8

Yahya Harahap, Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan, (Jakarta: Pustaka Kartini, 1993), hal.48. 8 Moh. Zahid, Dua Puluh Lima Tahun Pelaksanaan undang-undang Perkawinan, Cet. I, Jakarta: Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama R.I, 2001, hal. 78.

7

8

Dewasa ini, perceraian yang dilakukan oleh suami tanpa pengetahuan pengadilan dianggap perceraian liar, ketentuan ini diberlakukan semenjak disahkannya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Dengan demikian urusan perceraian tidak lagi menjadi urusan pribadi suami melainkan harus ada campur tangan pengadilan/pemerintah. Dalam pasal 39 ayat (1) Undang-Undang perkawinan disebutkan: ”Perceraian hanyan dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak”. Ketentuan di atas menunjukkan bahwa setiap pasangan suami isteri yang akan melakukan perceraian tidak bisa disembarang tempat, mereka diharuskan oleh Undang-Undang untuk melaksanakan perceraian di depan hakim dalam sebuah acara persidangan di pengadilan. Meskipun pasangan suami isteri tersebut melakukan nikah siri namun mereka wajib memenuhi hukum yang mengharuskan suatu perceraian dilakukan di depan persidangan. Tentunya dengan prosedur yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Berdasarkan kenyataan tersebut, maka Undang-Undang Nomor 1

Tahun 1974 dapat mengarahkan masyarakat kepada suatu tatanan hukum yang lebih tertib, sekaligus dapat mengatasi terjadinya perceraian yang dilakukan oleh suami secara semene-mena terhadap isterinya tanpa mempertimbangkan akibatnya. Kecenderungan penulis dalam membahas tesis ini supaya perceraian yang dilakukan harus melalui prosedur hukum

9

sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam di Indonesia. B. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini dapat penulis rumuskan sebagai berikut :
1. Apakah sah perceraian di luar Pengadilan agama (Mahkamah Syar’iyah)

menurut perspektif Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan KHI ?
2. Apa saja akibat yang ditimbulkan dalam perceraian yang dilakukan di

luar Pengadilan Agama (Mahkamah Syar’iyah) menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan KHI ? C. Tujuan Penelitian dan Kegunaan Penelitian Sesuai rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui sah atau tidak sah perceraian di luar Pengadilan

Agama (Mahkamah Syar’iyah) menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan KHI.
2. Untuk mengetahui konsekwensi hukum yang timbul dari perceraian di

luar Pengadilan Agama (Mahkamah Syar’iyah) menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan KHI.

Adapun kegunaan hasil penelitian ini sebagai berikut:

10

1.

Secara teoritis: Hasil penelitian ini dapat memperluas cakrawala pengetahuan dan pengembangan ilmu hukum pada umumnya serta hukum perdata pada khususnya.

2.

Secara Praktis: Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan yang berarti bagi instansi pemerintah, praktisi hukum, dan masyarakat dalam penyelesaian masalah hukum yang timbul sehubungan dengan perceraian.

D. Keaslian Penelitian Setelah penulis melakukan penelusuran terhadap berbagai literatur dan hasil penelitian pada Program Magister Ilmu Hukum Pascasarjana Universitas Syiah Kuala dan IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, terdapat 8 (delapan) penelitian yang berhubungan dengan Perceraian. Pada Program Magister Ilmu Hukum Universitas Syiah Kuala diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Saudara Abdul Manan Hasyim yang berjudul “Eksekusi Putusan Cerai Talak Dalam Kaitannya Dengan Gugatan Rekonpensi (Studi Kasus Pada Mahkamah Syar’iyah Jantho Tahun 2006)”. Penelitian ini menitik beratkan pada pelaksaksanaan eksekusi terhadap putusan cerai talak yang dimohonkan gugatan rekonpensi. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Saudara Teuku Muhammad Firmansyah yang berjudul “Suatu Tinjauan Terhadap Faktor Penyebab Cerai Gugat dan Dampaknya (Penelitian di Kota Sabang Tahun 2006)”. Penelitian ini menitikberatkan pada faktor yang menjadi penyebab tingginya kasus cerai gugat dan berbagai permasalahan yang terkait lainnya di wilayah hukum Mahkamah Syar’iyah Kota Sabang.

11

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Saudara Tasmijan yang berjudul “Cerai Gugat Suatu Tinjauan Yuridis Normatif dan Sosiologis di Wilayah Hukum Takengon Tahun 2008)”. Penelitian ini menitikberatkan pada faktor penyebab terjadinya cerai gugat dan pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara cerai gugat. Kemudian Penelitian yang dilakukan oleh Saudara Muhammad Raihan yang berjudul “Pemeriksaan Oleh Hakim Terhadap Penggabungan Gugatan Perceraian dan Harta Bersama (Studi Kasus di Mahkamah Syar’yah Banda Aceh Tahun 2011)”. Penelitian ini menitikberatkan terhadap alasan bagi hakim melakukan penggabungan pemeriksaan perkara perceraian dengan harta bersama dan pertimbangan hakim menentukan kebijakan pemeriksaan perkara tertutup untuk umum. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Saudari Nurasiah yang berjudul “Kajian Yuridis Tentang Perceraian di Bawah Tangan Menurut Hukum Islam dan Hukum Positif Tahun 2011”. Penelitian ini menitikberatkan pada konsep perceraian dan bentuk perlindungan hukum terhadap isteri/anak yang mengalami perceraian di bawah tangan menurut hukumIslam dan hukum positif. Sedangkan Penelitian yang dilakukan pada Program Pascasarjana IAIN Ar-Raniry diantaranya adalah penelitian yang dilakukan oleh Saudara Muhammad Nasir yang berjudul “Cerai Talak dan Cerai Gugat (Studi Kasus di Mahkamah Syar’iyah Jantho Tahun 2010)”. Penelitian ini menitikberatkan terhadap ketetapan hukum Islam dan hukum positif tentang cerai talak dan cerai gugat serta proses penyelesaian kasusnya. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Saudara Murdani yang berjudul “

12

Zina Sebagai Alasan Perceraian (Studi Kasus Pada Mahkamah Syar’iyah Sabang Tahun 2011)”. Penelitian ini menitikberatkan terhadap alasan perceraian di dalam pandangan fiqh, Undang-Undang Perkawinan, KHI, dan penyelesaian kasusnya. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Saudara Said Rizal yang berjudul “Tinjauan Terhadap Putusan Hakim Tentang Perceraian PNS Tanpa Izin Pejabat (Studi Kasus di Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh Tahun 2011)”. Penelitian ini menitikberatkan pada kekuatan hukum izin pejabat dalam proses penyelesaian perkara perceraian PNS, bagaimana sikap hakim dalam menyelesaikan perkara, dan apa dasar hukumnya. Maka berdasarkan hasil penelusuran kepustakaan, bahwa penelitian atas permasalahan yang ditulis oleh penulis tersebut belum pernah dilakukan sehingga dengan demikian penelitian dan tulisan ini dapat dinyatakan asli. E. KERANGKA PIKIR 1. Teori Negara Hukum Istilah Negara Hukum merupakan terjemahan langsung dari istilah yang dikenal dalam bahasa Jerman yaitu Rechtsstaat, ”Recht” berarti hukum atau hak yang juga diadopsi ke dalam bahasa Belanda dalam arti yang serupa.9 Perkembangan konsep negara hukum merupakan produk dari sejarah, sebab rumusan atau pengertian negara hukum itu terus berkembang mengikuti
Jimly Asshiddiqie, Nomokrasi Modern : Konsep Negara Hukum Yang Demokratis, dikutip dari buku Refleksi Hukum dan Konstitusi di Era Reformasi, Pustaka Bangsa Press, Medan, 2002, hal. 82.
9

13

sejarah perkembangan umat manusia. Karena itu dalam rangka memahami secara tepat dan benar konsep negara hukum, perlu terlebih dahulu diketahui gambaran sejarah perkembangan pemikiran politik dan hukum, yang mendorong lahir dan berkembangnya konsepsi negara hukum.10 Selain itu Pemikiran tentang Negara Hukum sebenarnya sudah sangat tua, jauh lebih tua dari dari usia Ilmu Negara ataupun Ilmu Kenegaraan itu sendiri11 dan pemikiran tentang Negara Hukum merupakan gagasan modern yang multiperspektif dan selalu aktual. 12 Setidaknya terdapat dua tradisi besar gagasan Negara Hukum di dunia, yaitu Negara Hukum dalam tradisi Eropa Kontinental yang disebut Rechtsstaat dan Negara Hukum dalam tradisi Anglo Saxon yang disebut dengan Rule of Law. Dalam sistem hukum Eropa Kontinental, istilah rechtsstaat juga disebut dengan concept of legality atau etat de droit, sedangkan istilah the rule of law menjadi polpuler setelah diterbitkan buku Albert Venn Dicey pada tahun 1985.13 Jimly Asshiddiqie14 menyatakan, ada sembilan prinsip pokok yang menjadi pilar utama sebuah Negara Hukum, yaitu : (1) Supremasi hukum; (2) Persamaan dalam hukum; (3) Asas Legalitas; (4) Pembatasan kekuasaan; (5) Peradilan yang bebas dan tidak memihak; (6) Peradilan tata usaha negara; (7)
S.F. Marbun, Negara Hukum dan Kekuasaan Kehakiman, Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, No. 9 Vol 4 – 1997, hal. 9. 11 Sobirin Malian, Gagasan Perlunya Konstitusi Baru Pengganti UUD 1945 , FH UII Press, Yogyakarta, 2001, hal.25. 12 A. Ahsin Thohari, Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan, Elsam, Jakarta, 2004, hal. 48. 13 Faisal A. Rani, Fungsi dan Kedudukan Mahkamah Agung Sebagai Penyelenggara Kekuasaan Kehakiman yang Merdeka Sesuai dengan Paham Negara Hukum , Syiah Kuala University Press, Banda Aceh, 2009, hal. 33. 14 Jimly Asshiddiqie, Op.Cit., hal. 85-93.
10

14

Perlindungan hak asasi manusia; (8) Bersifat demokratis; dan (9) Transparansi dan kontrol sosial. Di samping konsep negara negara hukum dengan istilah rechtsstaat dan the rule of law, juga dikenal adanya konsep negara hukum yang bersifat Nomokrasi Islam yang bersumber pada al-Qur an dan Sunnah dengan unsurunsur pokok kekuasaan adalah amanah, musyawarah, keadilan, persamaan, pengakuan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia, peradilan yang bebas, perdamaian, kesejahteraan dan ketaatan rakyat pada hukum yang sumber tertingginya pada al-Qur an, as-Sunnah dan al-Ra’yu (ijtihad).15 Sebelum amandemen UUD RI 1945 asas Negara hukum tidak diatur dalam pasal-pasal atau batang tubuh UUD RI 1945 melainkan diatur dalam bagian Penjelasan UUD RI 1945 dengan istilah yang sedikit berbeda, yakni “negara berdasar atas hukum (Rechtsstaat)”. Akan tetapi pasca amandemen UUD RI 1945, asas Negara Hukum sudah diatur secara tegas di dalam batang tubuh, yaitu dalam Pasal 1 ayat (3) yang berbunyi : “Negara Indonesia adalah negara hukum”. Dalam kepustakaan Indonesia, penyebutan negara hukum dan juga dalam penyebutan demokrasi dalam hubungannya dengan Negara Republik Indonesia, sering diberikan atribut ”Pancasila” sehingga banyak ditemui istilah ”Negara Hukum Pancasila” dan ”Demokrasi Pancasila”.16 Hal ini dikaitkan dengan dasar/falsafah negara Republik Indonesia yaitu Pancasila.

Muhammad Tahir Azhari, Negara Hukum, Suatu Studi Tentang Prinsip-Prinsipnya Dilihat Dari Segi Hukum Islam, Implementasinya Pada Periode Negara Madinah dan Masa Kini , Bulan Bintang, Jakarta, 1992, hal. 73. 16 Faisal A. Rani, Op.Cit. hal. 34.

15

15

Oemar Seno Adji berpendapat bahwa negara hukum Indonesia memiliki ciri khas tersendiri, karena Pancasila harus diangkat sebagai dasar pokok dan sumber hukum, maka negara hukum Indonesia dapat pula dinamakan Negara Hukum Pancasila. Salah satu ciri pokok dalam negara hukum pancasila ialah adanya jaminan terhadap kebebasan beragama (freedom of religion). Akan tetapi kebebasan beragama di negara hukum Pancasila selalu dalam konotasi yang positif, artinya tidak ada tempat bagi ateisme atau propaganda anti agama di bumi Indonesia. Ciri pokok lainnya dari negara hukum Indonesia adalah tidak ada pemisahan yang mutlak antara agama dan negara, karena antara agama dan negara berada dalam hubungan yang harmonis. 17 Berdasarkan uraian di atas dapat dipahami bahwa pengertian yang mendasar dari negara hukum adalah bahwa kekuasaan harus tunduk pada hukum dan semua orang sama di hadapan hukum (equality before the law). Negara menempatkan hukum sebagai dasar kekuasaan negara dan segala tindakan warga negara harus sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku. 2. Teori Kepastian Hukum Manusia sebagai makhluk sosial saling berhubungan antara satu dengan lainnya untuk dapat memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Dalam hubungan antara satu dengan lainnya kadangkala timbul perselisihan karena dalam mengerjakan kebutuhan hidupnya merugikan pihak lain. Perselisihan yang timbul dapat mengganggu keseimbangan hidup masyarakat. Dalam
17

Oemar Seno Adji, Pengadilan Bebas Negara Hukum, Airlangga, Jakarta, 1980, hal. 16.

16

menjaga keseimbangan hidup masyarakat dan mengatasi perselisihan diperlukan aturan yang mengaturnya. Aturan yang mengatur hidup masyarakat disebut norma atau kaedah. Kaedah tersebut dapat berupa kaedah agama, kaedah kesusilaan, kaedah sopan santun dan kaedah hukum. Kaedah hukum yang berlaku dalam masyarakat dapat berupa perundang-undangan dan kebiasaan atau adat istiadat. Menurut Sunnaryati Hartono hukum adalah rangkaian kaedah, peraturan-peraturan, tata aturan baik tertulis maupun tidak tertulis yang menetapkan dan mengatur hubungan antara para anggota masyarakat.18 Hukum adalah keseluruhan peraturan atau kaedah dalam suatu kehidupan bersama, yang dapat dipaksakan

pelaksanaannya dengan suatu sanksi.19 Hukum adalah perangkat kaedah-kaedah dan asas-asas yang mengatur kehidupan manusia dalam masyarakat. Salah satu fungsi terpenting dari hukum adalah tercapainya keteraturan hidup manusia dalam masyarakat. Hal ini yang menyebabkan orang dapat hidup dengan berkepastian, artinya orang dapat mengadakan kegiatan-kegiatan yang diperlukan dalam kehidupan bermasyarakat karena ia dapat mengadakan perhitungan tentang apa yang terjadi atau apa yang bisa ia harapkan.20 Demikian pentingnya fungsi hukum dalam masyarakat, sehingga ada yang menyamakan fungsi dengan tujuannya. Dikatakan bahwa tujuan hukum agar terpelihara dan terjamin keteraturan (kepastian) dan keterlibatan. Tanpa
18 Sunnaryati Hartono, Politik Hukum Menuju Satu Sistem Hukum Nasional, Alumni Bandung, 1991. hal. 8. 19 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Liberty, Yogyakarta, 2003. hal. 40. 20 Arief Sidharta, Pengantar Ilmu Hukum, Alumni, Bandung, 2000. Hal. 49.

17

kepastian dan ketertiban, Kehidupan manusia yang wajar tidak mungkin terwujud. Oleh karena itu pandangan yang menyatakan tujuan hukum menjamin kepastian dan ketertiban, pandangan tersebut tidak terlalu salah.21 Dalam fungsinya sebagai perlindungan kepentingan manusia, hukum mempunyai tujuan atau sasaran yang hendak dicapai. Adapun tujuan pokok hukum adalah menciptakan tatanan masyarakat yang tertib, menciptakan ketertiban dan keseimbangan. Dengan tercapainya ketertiban di dalam masyarakat diharapkan kepentingan manusia terlindungi. Dalam mencapai tujuan itu hukum menentukan hak dan kewajiban antara perorangan di dalam masyarakat, mengatur cara memecahkan masalah hukum dan memelihara kepastian hukum.22 Menurut Utrecht sebagaimana dikutip oleh Soerojo Wignjodipoero, hukum bertugas menjamin adanya kepastian hukum dalam masyarakat. Ada dua macam kepastian hukum yaitu kepastian oleh hukum dan kepastian dalam atau demi hukum. Kepastian oleh hukum, misalnya daluarsa (Pasal 1946 KUH Perdata). Kepastian dalam hukum tercapai apabila hukum itu tidak saling bertentangan. Peraturan perundang-undangan itu dibuat berdasarkan keadaan yang sungguh-sungguh dan di dalamnya tidak terdapat istilah-istilah multi-tafsir.23 Hukum sebagai salah satu kaedah yang berlaku dalam masyarakat, bertugas untuk menjamin adanya kepastian hukum dalam masyarakat. Selain

21 22

Ibid. hal. 50. Sudikno Mertokusumo, Op. Cit. hal. 77. 23 Soerojo Wignjodipoero, Pengantar Ilmu Hukum. Haji Masagung, Jakarta, 1988. hal. 77.

18

itu dapat pula dikatakan bahwa hukum menjaga dan mencegah agar setiap orang tidak mengadili dan menjatuhi hukuman terhadap setiap pelanggaran hukum terhadap dirinya. Setiap perkara yang timbul harus diselesaikan melalui proses pengadilan dengan perantara hakim berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku.24
3. Kedudukan Mahkamah Syar’iyah Dalam Sistem Peradilan Nasional

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (selanjutnya disebut dengan NAD) telah memberikan otonomi khusus untuk Provinsi NAD dalam rangka pengembangan otonomi daerah dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tujuan pemberian otonomi tersebut adalah memberikan kewenangan yang luas, nyata dan bertanggung jawab kepada daerah secara proporsional. Hal tersebut diwujudkan dengan peraturan, pembagian dan pemanfaatan sumber daya nasional yang berkeadilan serta memberikan perimbangan keuangan antara pusat dan daerah sesuai dengan potensi daerah masing-masing. Selain tujuan tersebut, ada kebijakan politik hukum dari pemerintah Indonesia untuk mengapresiasi aspirasi masyarakat Aceh yang sudah lama tertekan dengan konflik bersenjata dan operasi militer oleh Tentara Nasional Indonesia dan Polisi Republik Indonesia (TNI/ POLRI) yang telah menimbulkan pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) berat. Selain itu terutama juga untuk

C.S.T. Kansil, Pengantar Ilmu hukum dan Tata Hukum Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 2002. hal. 45.

24

19

meredam tuntutan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang ingin melepaskan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).25 Di dalam Pasal 25 ayat (1) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 disebutkan bahwa peradilan Syari`at Islam di Provinsi NAD sebagai bagian dari sistem peradilan nasional dilakukan oleh Mahkamah Syar`iyah yang bebas dari pengaruh pihak manapun. Kemudian dalam Pasal 26 ayat (1) disebutkan bahwa Mahkamah Syar`iyah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 ayat (1) terdiri atas Mahkamah Syar`iyah Kabupaten/Kota sebagai pengadilan tingkat pertama, dan Mahkamah Syar`iyah Provinsi sebagai pengadilan tingkat banding yang berkedudukan di Ibukota Provinsi NAD. Sedangkan untuk tingkat kasasi dilakukan oleh Mahkamah Agung RI.26 Berpijak atas dasar ketentuan Pasal 25 ayat (1) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 inilah embrio Mahkamah Syar’iyah sebagai bagian dari sistem peradilan nasional di Indonesia mulai tumbuh dan mengalami proses pencarian bentuk yang evolutif. Segala sesuatu yang dibutuhkan untuk proses pembentukan Mahkamah Syar’iyah di Aceh semakin intensif dilakukan dan dipersiapkan dengan cermat dan seksama oleh pihak pemerintah (pusat dan daerah) bersama seluruh elemen masyarakat lainnya yang meliputi peraturan perundang-undangan, sumber daya manusia, dan prasarana pendukungnya.

25 http://www.advokateyurnal.com,, Yurnal, Mahkamah Syar’iyah dan Kekuasaan Kehakiman, diakses pada tanggal 21 Desember 2010. 26 Lihat Pasal 26 ayat (2) UU No. 18 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Bagi Provinsi Daerah Istimewa Aceh sebagai Provinsi Nanggroe Aceh Darusalam.

20

Tindak lanjut pelaksanaan ketentuan Pasal 25 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2001 tersebut di atas, disahkan pula Qanun Provinsi NAD Nomor 10 Tahun 2002 tentang Peradilan Syari’at Islam yang di dalamnya mengatur tentang kedudukan dan kewenangan serta struktur organisasi Mahkamah Syar’iyah. Di dalam Pasal 2 Qanun Provinsi NAD Nomor 10 Tahun 2002 tersebut ditegaskan bahwa Mahkamah Syar`iyah adalah lembaga peradilan yang dibentuk untuk melaksanakan Syari`at Islam dalam wilayah Provinsi NAD, yang merupakan pengembangan dari Pengadilan Agama yang telah ada sebelumnya. Dalam melaksanakan kewenangannya Mahkamah Syar`iyah bebas dari pengaruh dari pihak manapun.27 Berdasarkan ketentuan Pasal 2 Qanun tersebut dapat dipahami bahwa kedudukan Mahkamah Syar’iyah di Aceh adalah sebagai pengganti dari Pengadilan Agama yang sudah berlaku. Hal tersebut ditegaskan kembali dalam Pasal 1 ayat (1) Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 11 Tahun 2003 tentang Mahkamah Syar’iyah dan Mahkamah Syar’iyah Provinsi di Provinsi NAD yang menyebutkan bahwa Pengadilan Agama yang telah ada di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam diubah menjadi Mahkamah Syar`iyah. Oleh karenanya proses beracara dan hukum acara di Mahkamah Syar’iyah
27

Rumusan lengkap isi Pasal 2 Qanun Provinsi NAD Nomor 10 Tahun 2002 sesbagai (1) Mahkamah Syar`iyah adalah Lembaga Peradilan yang dibentuk dengan Qanun ini serta melaksanakan Syari`at Islam dalam wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. (2) Dalam melaksanakan kewenangannya Mahkamah Syar`iyah bebas dari pengaruh dari pihak manapun. (3) Mahkamah Syar`iyah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) merupakan pengembangan dari Pengadilan Agama yang telah ada.

berikut :

21

pada hakekatnya adalah sama seperti yang berlaku dalam proses beracara yang berlaku pada lingkungan Peradilan Agama. Eksistensi Mahkamah Syar’iyah di Aceh kemudian diakomodasikan di dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman yang baru sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1970 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan Kehakiman. Di dalam Pasal 15 ayat (2) Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 disebutkan bahwa peradilan Syariah Islam di Provinsi NAD merupakan pengadilan khusus dalam lingkungan peradilan agama sepanjang kewenangannya menyangkut kewenangan peradilan agama, dan merupakan pengadilan khusus dalam lingkungan peradilan umum sepanjang kewenangannya menyangkut

kewenangan peradilan umum.28 Menurut Bagir Manan, oleh karena dalam Pasal 15 ayat (1) UndangUndang Nomor 4 Tahun 2004, dengan tegas disebutkan ”pengadilan khusus hanya dapat dibentuk dalam satu lingkungan peradilan”, maka pengadilan khusus merupakan bagian (kamar) dari suatu lingkungan peradilan. Jika bunyi ayat (2) ini diterapkan, akan terdapat dua pengadilan Syar’iyah, yaitu di lingkungan peradilan umum dan di lingkungan peradilan agama. Hal ini mengakibatkan tidak ada Pengadilan Syar’iyah yang berdiri di luar peradilan agama dan peradilan umum. Yang ada adalah peradilan Syar’iyah sebagai bagian dalam lingkungan pengadilan agama dan pengadilan Syar’iyah sebagai bagian dalam lingkungan peradilan umum (untuk perkara pidana).
Lihat juga ketentuan Pasal 3A UU No. 3 tahun 2006 jo. UU No. 50 Tahun 2009 tentang Perubahan Kedua Atas UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama dan penjelasannya.
28

22

Hal ini bertentangan dengan tujuan pembentukan Pengadilan Syar’iyah sebagai pengadilan yang berdiri sendiri.29 Dalam menanggapi tulisan Bagir Manan tersebut, Yurnal menyatakan bahwa Bagir Manan terasa seperti tidak bisa berbuat apa-apa ketika dia mengatakan “demikianlah kenyatannya” padahal dia juga mengakui bahwa pembentukan Pengadilan Syar’iyah itu sendiri tidak sejalan dengan ketentuan pasal 15 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman.30 Berdasarkan uraian tersebut, terlihat bahwa di Aceh tidak ada lagi Pengadilan Agama. Semua kedudukan, tugas, wewenang Pengadilan Agama dialihkan menjadi tugas, wewenang Mahkamah Syar’iyah. Sementara itu, untuk perkara Jinayat (pidana), berdasarkan Keputusan Ketua Mahkamah Agung RI Nomor KMA/070/SK/X/2004 tanggal 6 Oktober 2004 telah diselenggarakan pula penyerahan sebahagian wewenang dari peradilan umum kepada Mahkamah Syar’iyah Aceh dan sejak saat itu pula Mahkamah Syar’iyah di Aceh mulai menerima pelimpahan perkara-perkara jinayat dan mengadili serta memutuskannya. Perkembangan berikutnya mengenai Mahkamah Syar’iyah di Aceh terlihat pasca penandatanganan MoU antara Pemerintah RI dan Pimpinan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinky-Finladia pada tanggal 15 Agustus 2005. Setahun kemudian yakni pada tanggal 1 Agustus 2006 telah

Bagir Manan, Suatu Tinjauan Terhadap Kekuasaan Kehakiman Indonesia Dalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 2004, Mahkamah Agung Republik Indonesia, Jakarta, 2005, hal. 152-153. 30 Yurnal, Log.Cit.

29

23

diundangkan pula Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh, yang di dalamnya mengatur satu bab khusus tentang Mahkamah Syar’iyah yaitu dalam Bab XVIII. Di dalam Pasal 128 ayat (1) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 disebutkan bahwa Peradilan Syari'at Islam di Aceh adalah bagian dari sistem peradilan nasional dalam lingkungan peradilan agama yang dilakukan oleh Mahkamah Syar'iyah yang bebas dari pengaruh pihak manapun. Dengan dimuatnya ketentuan yang tegas tentang Mahkamah Syar’iyah dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006, secara yuridis semakin menguatkan eksistensi dan kedudukan Mahkamah Syar’iyah di Aceh sebagai salah satu sub sistem dari sistem peradilan nasional di Indonesia. 4. Kompetensi Mahkamah Syar’iyah di Aceh Tugas pokok pengadilan dalam menjalankan kekuasaan kehakiman adalah menerima, memeriksa, dan mengadili serta menyelesaikan setiap perkara yang diajukan kepadanya.31 Pengadilan mana yang berwenang untuk memeriksa akan ditentukan oleh kewenangan mengadili dari setiap pengadilan. Kata ”kompetensi” yang berasal dari bahasa Belanda ”Competentie”, kadang-kadang diterjemahkan dengan ”kewenangan” dan terkadang dengan ”kekuasaan”.32Kompetensi atau Kewenangan mengadili suatu lembaga

Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty, Yogyakarta, hal. 75. Basiq Jalil, Peradilan Agama di Indonesia: Gemuruhnya Politik Hukum (Hk. Islam, Hk. Barat dan Hk. Adat) dalam Rentang Sejarah Bersama Pasang Surut Lembaga Peradilan Agama Hingga Lahirnya Peradilan Syariat Islam Aceh, Kencana, Jakarta, 2006, hal. 137.
32

31

24

peradilan dapat dibedakan kepada dua yaitu kompetensi relatif dan kompetensi absolut. a. Kompetensi Relatif Kompetensi relatif artinya kewenangan suatu pengadilan dalam menangani perkara tertentu yang berhubungan dengan batas wilayah hukum dari suatu pengadilan dalam lingkungan peradilan yang sama dan satu tingkatan. Roihan A. Rasyid menyatakan bahwa kekuasaan relatif diartikan sebagai kekuasaan pengadilan yang satu jenis dan satu tingkatan, dalam perbedaannya dengan kekuasaan pengadilan yang sama jenis dan sama tingkatannya.33 Kompetensi relatif mempertanyakan Pengadilan Agama atau

Mahkamah Syar’iyah dalam daerah hukum manakah yang berwenang untuk mengadili suatu perkara. Misalnya antara Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh dengan Mahkamah Syar’iyah Jantho, atau Pengadilan Negeri Bireuen dengan Pengadilan Negeri Lhokseumawe. Mahkamah Syar’iyah Banda Aceh dengan Mahkamah Syar’iyah Jantho sama-sama lingkungan peradilan agama dan sama-sama pengadilan tingkat pertama, tetapi memiliki batas wilayah hukum masing-masing. Begitu pula halnya antara Pengadilan Negeri Bireuen dengan Pengadilan Negeri Lhokseumawe, sama-sama lingkungan peradilan umum dan sama-sama pengadilan tingkat pertama, tetapi memiliki batas wilayah hukum masingmasing.
Roihan A. Rasyid, Hukum Acara Pengadilan Agama, (Edisi Baru), PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006, hal. 25.
33

25

Secara umum mengenai kompetensi relatif Pengadilan Agama diatur dalam Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 yang menyebutkan “Pengadilan Agama berkedudukan di kotamadya atau di ibu kota kabupaten, dan daerah hukumnya meliputi wilayah kotamadya atau kabupaten”. Ketentuan secara khusus menyangkut kompetensi relatif dari Mahkamah Syar’iyah diatur dalam Pasal 2 Keppres. Nomor 11 Tahun 2003, yang menyebutkan bahwa daerah hukum Mahkamah Syar’iyah adalah daerah hukum eks Pengadilan Agama yang bersangkutan. Untuk Mahkamah Syar’iyah Aceh, daerah hukumnya adalah daerah hukum eks Pengadilan Tinggi Agama Banda Aceh. b. Kompetensi Absolut Kompetensi absolut artinya kekuasaan pengadilan yang berhubungan dengan jenis perkara atau jenis pengadilan atau tingkat pengadilan, dalam perbedaannya dengan jenis perkara atau jenis pengadilan atau dengan tingkatan pengadilan lainnya.34 Misalnya, Pengadilan Agama berwenang mengadili perkara perkawinan, gugatan waris bagi orang-orang yang beragama Islam, sedangkan perkara menyangkut dengan hutang piutang, pencurian dan pembunuhan merupakan kewenangan Pengadilan Negeri. Dalam hal lain, Pengadilan Agama berwenang memeriksa dan mengadili perkara pada tingkat pertama, artinya perkara yang menjadi kompetensi Pengadilan Agama tidak langsung diajukan ke tingkat banding (Pengadilan Tinggi Agama) atau ke Mahkamah Agung. Demikian juga dengan banding
34

Ibid, hal. 25.

26

dari Pengadilan Agama harus diajukan ke Pengadilan Tinggi Agama bukan ke Pengadilan Tinggi. Di dalam Pasal 3 ayat (1) disebutkan pula bahwa, ”Kekuasaan dan kewenangan Mahkamah Syar’iyah dan Mahkamah Syar’iyah Provinsi adalah kekuasaan dan kewenangan Pengadilan Agama dan Pengadilan Tinggi Agama, ditambah dengan kekuasaan dan kewenangan lain yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dalam ibadah dan syi’ar Islam yang ditetapkan dalam qanun”. Dengan demikian untuk mengetahui kewenangan absolut Mahkamah Syar’iyah harus diketahui terlebih dahulu apa yang menjadi kewenangan absolut pengadilan agama dan kewenangan lainnya yang ditetapkan dengan Qanun. Kewenangan absolut pengadilan agama disebutkan dalam Pasal 49 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang berbunyi: ”Pengadilan agama bertugas dan berwenang memeriksa, memutus, dan menyelesaikan perkara di tingkat pertama antara orang-orang yang beragama Islam di bidang: perkawinan, waris, wasiat, hibah, wakaf, zakat, shadaqah, dan ekonomi syari'ah”. Selanjutnya secara lebih rinci, mengenai sengketa-sengketa yang menjadi kewenangan Pengadilan Agama untuk memeriksa dan mengadilinya diterangkan dalam penjelasan Pasal 49 tersebut sebagai berikut: infaq,

”Penyelesaian sengketa tidak hanya dibatasi di bidang perbankan syari'ah,

27

melainkan juga di bidang ekonomi syari'ah lainnya. Yang dimaksud dengan "antara orang-orang yang beragama Islam" adalah termasuk orang atau badan hukum yang dengan sendirinya menundukkan diri dengan sukarela kepada hukum Islam mengenai hal-hal yang menjadi kewenangan Peradilan Agama sesuai dengan ketentuan Pasal di bawah ini: Dalam Pasal 49 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006, huruf a disebutkan: Yang dimaksud dengan "perkawinan" adalah hal-hal yang diatur dalam atau berdasarkan undang-undang mengenai perkawinan yang berlaku yang dilakukan menurut syari'ah, antara lain: 1. izin beristri lebih dari seorang; 2. izin melangsungkan perkawinan bagi orang yang belum berusia 21 (dua puluh satu) tahun, dalam hal orang tua wali, atau keluarga dalam garis lurus ada perbedaan pendapat; 3. dispensasi kawin; 4. pencegahan perkawinan; 5. penolakan perkawinan oleh Pegawai Pencatat Nikah; 6. pembatalan perkawinan; 7. gugatan kelalaian atas kewajiban suami dan istri; 8. perceraian karena talak; 9. gugatan perceraian; 10. penyelesaian harta bersama; 11. penguasaan anak-anak; 12. ibu dapat memikul biaya pemeliharaan dan pendidikan anak bilamana bapak yang seharusnya bertanggung jawab tidak mematuhinya; 13. penentuan kewajiban memberi biaya penghidupan oleh suami kepada bekas istri atau penentuan suatu kewajiban bagi bekas istri; 14. putusan tentang sa h tidaknya seorang anak; 15. putusan tentang pencabutan kekuasaan orang tua; 16. pencabutan kekuasaan wali; 17. penunjukan orang lain sebagai wali oleh pengadilan dalam hal kekuasaan seorang wali dicabut; 18. penunjukan seorang wali dalam hal seorang anak yang belum cukup umur 18 (delapan belas) tahun yang ditinggal kedua orang tuanya; 19. pembebanan kewajiban ganti kerugian atas harta benda anak yang ada di bawah kekuasaannya;

28

20. penetapan asal -usul seorang anak dan penetapan pengangkatan anak berdasarkan hukum Islam; 21. putusan tentang hal penolakan pemberian keterangan untuk melakukan perkawinan campuran; 22. pernyataan tentang sahnya perkawinan yang terjadi sebelum Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan dijalankan menurut peraturan yang lain. Kemudian dalam Huruf b Pasal 49 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 disebutkan: Yang dimaksud dengan "waris" adalah penentuan siapa yang menjadi ahli waris, penentuan mengenai harta peninggalan, penentuan bagian masing-masing ahli waris, dan melaksanakan pembagian harta peninggalap tersebut, serta penetapan pengadilan atas permohonan seseorang tentang penentuan siapa yang menjadi ahli waris, penentuan bagian masing-masing ahli waris. Selanjutnya dalam Huruf c Pasal 49 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 disebutkan: Yang dimaksud dengan "wasiat" adalah perbuatan seseorang memberikan suatu benda atau manfaat kepada orang lain atau lembaga/badan hukum, yang berlaku setelah yang memberi tersebut meninggal dunia. Selanjutnya dalam Huruf d Pasal 49 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 disebutkan: Yang dimaksud dengan "hibah" adalah pemberian suatu benda secara sukarela dan tanpa imbalan dari seseorang atau badan hukum kepada orang lain atau badan hukum untuk dimiliki.

29

Selanjutnya dalam Huruf e Pasal 49 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 disebutkan: Yang dimaksud dengan "wakaf' adalah perbuatan seseorang atau sekelompok orang (wakif) untuk memisahkan dan/atau menyerahkan sebagian harts benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna keperluan ibadah dan/atau kesejahteraan umum menurut syari'ah. Selanjutnya dalam Huruf f Pasal 49 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 disebutkan: Yang dimaksud dengan "zakat" adalah harta yang wajib disisihkan oleh seorang muslim atau badan hukum yang dimiliki oleh orang muslim sesuai dengan ketentuan syari'ah untuk diberikan kepada yang berhak menerimanya. Selanjutnya dalam Huruf g Pasal 49 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 disebutkan: Yang dimaksud dengan "infaq" adalah perbuatan seseorang

memberikan sesuatu kepada orang lain guna menutupi kebutuhan, baik berupa makanan, minuman, mendermakan, memberikan rezeki (karunia), atau menafkahkan sesuatu kepada orang lain berdasarkan rasa ikhlas, dan karena Allah Subhanahu Wata'ala. Selanjutnya dalam Huruf h Pasal 49 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 disebutkan:

30

Yang dimaksud dengan "shadaqah" adalah perbuatan seseorang memberikan sesuatu kepada orang lain atau lembaga/badan hukum secara spontan dan sukarela tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu dengan me ngharap ridha Allah Subhanahu Wata'ala dan pahala semata. Selanjutnya dalam Huruf i Pasal 49 Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 disebutkan: Yang dimaksud dengan "ekonomi syari'ah" adalah perbuatan atau kegiatan usaha yang dilaksanakan menurut prinsip syari'ah, antara lain meliputi: a. Bank syari'ah; b. Lembaga keuangan mikro syari'ah; c. Asuransi syari'ah; d. Reasuransi syari'ah; e. Reksa dana syari'ah; f. Obligasi syari'ah dan surat berharga berjangka menengah syari'ah; g. Sekuritas syari'ah; h. Pembiayaan syari'ah; i. Pegadaian syari'ah; j. Dana pensiun lembaga keuangan syari'ah; dan k. Bisnis syari'ah; Sebagaimana telah dikemukakan di atas bahwa Mahkamah Syar’iyah di Provinsi Aceh merupakan pengganti Pengadilan Agama yang sebelumnya memang sudah ada. Oleh karena itu maka kewenangan absolut pengadilan agama tersebut di atas dengan sendirinya menjadi kewenangan absolut Mahkamah Syar’iyah. Secara spesifik, kompetensi Mahkamah Syar’iyah di atur dalam Pasal 49 Qanun Nomor 10 Tahun 2002 yang menyebutkan Mahkamah Syar’iyah

31

bertugas dan berwenang memeriksa, memutus dan menyelesaikan perkaraperkara pada tingkat pertama, dalam bidang : a. Ahwal al-syakhsyiah; b. Mu’amalah; c. Jinayah; Kompetensi Mahkamah Syar’iyah tersebut kemudian dipertegas lagi dalam Pasal 128 ayat (3) Undang-Undang Nomor 11 tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh yang menyebutkan Mahkamah Syar'iyah berwenang memeriksa, mengadili, memutus, dan menyelesaikan perkara yang meliputi bidang ahwal al-syakhsiyah (hukum keluarga), muamalah (hukum perdata), dan jinayah (hukum pidana) yang didasarkan atas syari'at Islam. 5. Pengertian Perceraian a. Menurut Al Qur’an Allah SWT telah menetapkan ketentuan dalam Al-Quran bahwa kedua pasangan suami isteri harus segera melakukan usaha antisipasi apabila tibatiba timbul gejala-gejala dapat diduga akan menimbulkan ganggungan kehidupan rumah tanganya, yaitu dalam firman-Nya yang artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan Nusyuz-nya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka jangalah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Al-Qur’an Surat An-Nisa’ ayat 34).

32

Selanjutnya Allah SWT dalam firman-Nya, yaitu Surat An-Nisa’ ayat 128 yang artinya: “Dan jika seorang wanita khawatir akan Nusyu’ atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir, Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari Nusyu’ dan sikap tidak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. Apabila usaha antisipasi melalui ayat-ayat tersebut tidak berhasil mempertahankan kerukunan dan kesatuan ikatan perkawinan dan tinggallah jalan satu-satunya terpaksa harus bercerai dan putusnya perkawinan, maka ketentuan yang berlaku adalah Surat Al-Baqarah ayat 229 yang artinya:35 “Talaq (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali dari sesuatu yang tidak kamu berikan kepada mereka, kecuali keduanya khawatir tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barang siapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orangorang yang zalim” (Surat Al-Baqarah ayat 229). Makna yang terkandung dalam Surat Al-Baqarah ayat 229 adalah sebagai berikut: 1. Sebenarnya perceraian itu bertentangan dengan makna perkawinan itu sendiri, sehingga jika terjadi perceraian, maka sangat wajar sekali jika seandainya mereka yang bercerai ini bersedia untuk rukun dan rujuk kembali menyusun kesatuan ikatan perkawinan mereka lagi; 2. Perceraian yang boleh rujuk kembali itu hanya dua kali, yaitu talaq kesatu dan talaq ke-dua saja. Oleh karena itu terhadap tlaq le-tiga tidak ada rujuklagi, kecuali setelah dipenuhinya persyaratan khusus untuk ini;
Mahmud Junus, Hukum Perkawinan Islam Menurut Mazhab: Syafi’I, Hanafi, Maliki, dan Hambali, (Jakarta: Pustaka Muhammadiyah, 1989), hlm. 163-167.
35

33

3. syarat atas kedua orang suami-isteri yang bercerai dengan talaq tiga, untuk bisa melakukan rujuk kembali itu di dalam Surat Al-Baqarah ayat 230; 4. Jika terjadi perceraian, maka suami dilarang mengambil harta yang pernah diberikan kepada isterinya yang dicerai itu, kecuali atas dasar alasan yang kuat; 5. Jika isteri mempunyai alasan syari’at yang kuat, maka dapat dibenarkan isteri meminta cerai dengan cara khulu’, yaitu suatu perceraian dengan pembayaran tebusan oleh isteri kepada suami; 6. Allah SWT sudah mengatur segala sesuatunya, termasuk masalah perkawinan dan hubungannya dengan berbagai macam masalahyang terkait; 7. Barang siapa yang melanggar hukum Allah SWT, sebenarnya dia itu bahka menyiksa diri sendiri dengan perbuatan zhalim;36 b. Menurut Al-Hadist Menurut asalnya Thalaq itu hukumnya makruh berdasarkan Hadist Rasulullah SAW, yaitu Perbuatan halal yang paling dibenci oleh Allah adalah thalaq. (HR. Abu Daud dan Al-Hakim). Selanjutnya dalam hadist lain Rasulullah SAW bersabda Perempuan mana saja yang meminta kepada suaminya untuk cerai tanpa ada alasan apa-apa, maka haram atas dia baunya surga. (HR. Turmudzi dan Ibnu Ma’jah).
c. Menurut Peraturan Perundang-Undangan

Meskipun perkawinan dimaksudkan untuk membentuk rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmat bagi pasangan suami isteri yang memeluk agama Islam, namun dalam perjalanan kehidupan rumah tangganya juga dimungkinkan timbulnya permasalahan yang dapat mengakibatkan terancamnya keharmonisan ikatan perkawinannya. Bahkan apabila

permasalahan tersebut tidak memungkinkan untuk dirukunkan kembali, sehingga keduanya sepakat untuk memutuskan ikatan perkawinannya melalui
36

Al-Hamdani, Risalah Nikah, (Jakarta: Pustaka Amani, 2002), hlm. 202.

34

perceraian. Sebelum Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UUP) berlaku, perkawinan diatur dalam Buku I Kitab UndangUndang Hukum Perdata (KUH Perdata) termasuk ketentuan tentang putusnya perkawinan (perceraian). Dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, maka ketentuan dalam Buku I Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) tentang perkawinan tidak berlaku. Buku I Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUH Perdata) maupun Undang Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan tidak terdapat pengertian tentang perceraian, hanya mengatur tentang putusnya perkawinan serta akibatnya. Pasal 39 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan mengatur tentang putusnya perkawinan yang menyatakan bahwa: perkawinan dapat putus karena: a. Kematian; b. Perceraian; c. Atas putusan Pengadilan; Sedangkan menurut Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan hanya mengatur tentang tata cara perceraian, yaitu dalam Pasal 14 yang menyatakan bahwa: “seorang suami yang telah melangsungkan perkawinan menurut agama Islam, yang akan menceraikan isterinya, mengajukan surat kepada Pengadilan di tempat tinggalnya, yang berisi pemberitahuan bahwa ia bermaksud menceraikan isterinya disertai dengan

35

alasan-alasannya, serta meminta kepada Pengadilan agar diadakan sidang untuk keperluan itu”. Alasan-alasan yang dimaksud dalam Pasal 14 tersebut adalah sebagai berikut sebagaimana diatur dalam Pasal 19 UUP, yaitu: a. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan; b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturutturut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya; c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukum lebih berat setelah perkawinan berlangsung; d. Salah satu pinak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain; e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri; f. Antara suami dan isteri terus-menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangga. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perceraian adalah lepasnya ikatan perkawinan dan berakhirnya hubungan perkawinan.37

d. Menurut Kompilasi Hukum Islam Perceraian merupakan salah satu penyebab putusnya perkawinan. Hal ini sesuai ketentuan Pasal 113 KHI, yang mengatur bahwa putusnya perkawinan dapat dikarenakan 3 (tiga) alasan sebagai berikut: 1) Kematian; 2) Perceraian; 3) Putusan Pengadilan.
37

Loc. It.

36

Menurut Pasal 114 KHI menyatakan bahwa putusnya perkawinan yang disebabkan karena perceraian dapat terjadi karena talak oleh suami atau gugatan perceraian oleh isteri. Selanjutnya menurut Pasal 115 KHI menyatakan bahwa perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang Pengadilan Agama setelah pengadilan tersebut berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak. Selanjutnya dalam Pasal 116 KHI alasan-alasan terjadinya perceraian pasangan suami isteri dapat disebabkan karena: 1) Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, atau lain sebagainya yang sulit disembuhkan; 2) Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama, 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuannya; 3) Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung; 4) Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak yang lain; 5) Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak menjalankan kewajibannya sebagai suami atau isteri; 6) Terjadi perselisihan dan pertengkaran antara suami isteri secara terus menerus dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah tangganya; 7) Suami melanggar taklik-talak. Adapun makna taklik-talak adalah perjanjian yang diucapkan oleh calon mempelai pria setelah akad nikah yang dicantumkan dalam Akta Nikah berupa janji talak yang digantungkan kepada suatu keadaan tertentu yang mungkin terjadi di masa yang akan datang; 8) Terjadinya peralihan agama atau murtad oleh salah satu pihak yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga. Perceraian yang terjadi karena talak suami isterinya ditandai dengan adanya pembacaan ikrar talak, yaitu ikrar suami di hadapan sidang Pengadilan Agama yang menjadi salah satu sebab putusnya perkawinan dan

37

dilakukan sesuai tata cara perceraian yang diatur dalam Pasal 129, 130, dan 131 KHI. Sedangkan macam-macam perceraian yang dikarenakan talak suami terdiri dari:38 1) Talak Raj’i yaitu talak kesatu atau kedua, dimana suami berhak rujuk selama isteri dalam masa iddah (Pasal 118 KHI). 2) Talak Ba'in yang dapat dibedakan atas talak Ba'in shughraa dan talak Ba'in kubraa (Pasal 119 KHI): a) Talak ba'in shughraa adalah talak yang tidak boleh dirujuk tetapi diperbolehkan akad nikah baru dengan mantan suaminya meskipun dalam masa iddah. Adapun jenis talak ba'in shughraa dapat berupa: (1) Talak yang terjadi dalam keadaan qabla al dukhul (antara suami isteri belum pernah melakukan hubungan seksual selama perkawinannya). (2) Talak dengan tebusan atau khuluk, yaitu perceraian yang terjadi atas permintaan isteri dengan memberikan tebusan (iwad) kepada suaminya atas persetujuan suami pula. (3) Talak yang dijatuhkan oleh Pengadilan Agama. b) Talak Ba'in kubraa adalah talak yang terjadi untuk ketiga kalinya. Talak jenis ini tidak dapat dirujuk dan tidak dapat dinikahi kembali, kecuali apabila pernikahan itu setelah mantan isteri menikah dengan orang lain dan kemudian terjadi perceraian ba'da al dukhul dan habis masa iddahnya (Pasal 120 KHI). 3) Talak Sunny, yaitu talak yang diperbolehkan dan talak tersebut dijatuhkan isteri yang sedang suci serta tidak dicampuri dalam waktu suci tersebut (Pasal 121 KHI). 4) Talak Bid'i, yaitu talak yang dilarang, karena talak tersebut dijatuhkan pada waktu isteri dalam keadaan haid, atau isteri dalam keadaan suci tetapi sudah dicampuri pada waktu suci tersebut (Pasal 122 KHI). 5) Talak Li'an yaitu talak yang terjadi karena suami menuduh isterinya berbuat zina atau mengingkari anak dalam kandungan atau anak yang sudah lahir dari kandungan isterinya, sedangkan isterinya menolak atau mengingkari tuduhan tersebut. Jenis talak Li'an ini menyebabkan putusnya perkawinan antara suami isteri untuk selama-lamanya (Pasal 125 dan Pasal 126 KHI). Mengingat putusnya perkawinan yang dikarenakan talak suami terhadap isterinya terdapat beberapa macam yang tidak seluruhnya dapat
38

Muhammad Idrus Ramulya, Hukum Perkawinan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1990),

hlm. 154.

38

dirujuk kembali, sehingga diperlukan pertimbangan yang bersifat prinsipal bagi seorang suami sebelum menjatuhkan talaknya. Demikian halnya dalam ajaran agama Islam, talak meupakan perbuatan halal tetapi dibenci oleh Allah SWT. Oleh karena itu menurut Mahmud Junus diperlukan alasan-alasan bagi suami untuk menjatuhkan talaknya terhadap isterinya yang diperbolehkan dan tidak dibenci oleh Allah SWT, terdiri dari:39 1) Isteri berbuat zina; 2) Isteri nusyuz, setelah diberi nasihat dengan segala daya upaya; 3) Isteri suka mabuk, penjudi, atau melakukan kejahatan yang mengganggu keamanan rumah tangga; 4) Sebab-sebab lain yang sifatnya berat sehingga tidak memungkinkan untuk mendirikan rumah tangga secara damai dan teratur. 6. Tata Cara Perceraian Tata cara perceraian yang didasarkan atas talak suami terhadap isterinya sesuai ketentuan KHI adalah sebagai berikut: a. Seorang suami yang akan menjatuhkan talak terhadap isterinya, terlebih dulu mengajukan permohonan secara lisan maupun tertulis kepada Pengadilan Agama di wilayah tempat tinggal isteri dan disertai dengan alasan serta meminta agar diadakan sidang untuk keperluan tersebut (Pasal 129 KHI); b. Pengadilan Agama yang bersangkutan dapat mengabulkan ataupun menolak permohonan talak tersebut, dan keputusannya dapat dimintakan upaya hukum tingkat banding maupun kasasi (Pasal 130 KHI). Lebih lanjut sesuai ketentuan Pasal 131 KHI teknis penyelesaian perkara permohonan talak tersebut melalui tahapan berikut: a. Pengadilan Agama setelah mempelajari, permohonan talak, maka dalam waktu selambat-lambatnya 30 hari memanggil peinolion (suami) dan
39

Mahmud Junus, Op. Cit., hal. 113.

39

isterinya untuk meminta penjelasan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan maksud menjatuhkan talak; b. Setelah Pengadilan Agama (Hakim) tidak berhasil menasehati kedua belah pihak dan ternyata cukup alasan untuk menjatuhkan talak serta yang bersangkutan tidak mungkin lagi hidup rukun dalam rumah tangga, maka Pengadilan Agama, menjatuhkan keputusannya tentang izin bagi suami untuk mengikrarkan talaknya; c. Setelah keputusan Pengadilan Agama mempunyai kekuatan hokum tetap, suami mengikrarkan talaknya di depan sidang Pengadilan Agama, yang dihadiri oleh isteri atau kuasanya; d. Bila suami tidak mengucapkan ikrar talak dalam tempo 6 bulan terhitung sejak Putusan Pengadilan Agama tentang izin ikrar talak baginya mempunyai kekuatan hukum tetap, maka hak suami untuk mengikrarkan talaknya gugur dan ikatan perkawinan tetap utuh; e. Setelah sidang penyaksian ikrar talak dilaksanakan, Pengadilan Agama membuat penetapan tentang Terjadinya Talak sebanyak rangkap 4 yang merupakan bukti perceraian bagi mantan suami dan isteri. Helai pertama beserta surat ikrar talak dikirimkan kepada Pegawai Pencatat Nikah di wilayah .tempat tinggal suami untuk diadakan pencatatan, helaikedua dan ketiga masing-masing diberikan kepada mantan suami isteri, dan helai keempat disimpan oleh Pengadilan Agama. Dengan demikian perceraian menurut KHI merupakan salah satu sebab putusnya perkawinan antara suami-isteri, di samping sebab-sebab lain karena kematian atau putusan pengadilan. Terjadinya perceraian tersebut dapat didasarkan atau dijatuhkannya oleh suami terhadap isterinya maupun atas dasar gugatan isteri terhadap suaminya. Alasan perceraian dapat disebabkan karena salah satu pihak berzina, berperilaku buruk, meninggalkan pihak lainnya selama 2 tahun, dipidana 5 tahun atau lebih, berbuat kejam, cacat fisik, terjadi perselisihan suami isteri, suami melanggar taklik-talak, dan peralihan againa. Perceraian terjadi setelah ada putusan hakim Pengadilan Agama, yang sebelumnya telah dilakukan upaya perdamaian antara suami isteri oleh hakim dan ternyata tidak tercapai kata sepakat.

40

G. METODE PENELITIAN 1. Jenis dan Pendekatan Penelitian Jenis penelitian ini bersifat Deskriptif Analitis. Deskriptif dalam arti bahwa penelitian ini termasuk dalam ruang lingkup penelitian yang berupaya untuk mendeskripsikan atau menggambarkan penerapan suatu peraturan hukum dalam kontek teori-teori hukum dan pelaksanaannya dalam masyarakat. Sedangkan analitis dalam arti bahwa penelitian ini akan berupaya menguraikan penjelasan secara cermat, menyeluruh dan sistematis aspek-aspek hukum mengenai pelaksanaan perceraian di luar Pengadilan Agama setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan KHI Dalam melakukan penelitian ini menggunakan metode pendekatan yuridis empiris,40 yaitu penelitian tentang keberlakuan aturan-aturan hukum bila dilihat dari segi kenyataan. Dalam penelitian ini menggunakan data empiris mengenai mekanisme pelaksanaan perceraian di luar Pengadilan Agama setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan KHI. 2. Lokasi dan Populasi Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan mengambil lokasi dalam wilayah hukum Kabupaten Aceh Besar (Mahkamah Syar’iyah Jantho), karena data di Kabupaten ini dirasakan cukup representatif untuk melihat pelaksanaan perceraian di luar pengadilan yang dilaksanakan setelah berlakunya Undang-

40 Pendekatan penelitian yuridis-empiris pada prinsipnya adalah penggabungan antara pendekatan yuridis normatif dengan penambahan unsur-unsur empiris. Perbedaan yang paling prinsip terletak pada sasaran penelitian yaitu fakta empiris. Lihat dalam Soekanto, Soerjono, Maoedji, Azwar dan Bruce, Penelitian Hukum Normatif, Jakarta, Radjawali, 1985, hal. 44.

41

Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan KHI, karena memiliki masalah perceraian cukup banyak pasca terjadi konflik bersenjata dan tsunami di Aceh. Adapun populasi dalam penelitian ini adalah penetapan-penetapan Mahkamah Syar’iyah Jantho dalam perkara perceraian pada umumnya dan khususnya terhadap perceraian di luar pengadilan Agama yang dilaksanakan setelah berlakunya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan KHI sebagai sampel penelitian dan dari sampel inilah ditetapkan responden yaitu para Hakim yang memeriksa dan memutus perkara dimaksud lalu diperoleh data yang akurat mengenai landasan yuridis dari para pihak yang melakukan perceraian sehingga diketahui alasan mereka melakukan perceraian di luar Pengadilan Agama tersebut. 3. Metode Penentuan Sampel Penentuan sampel penelitian dilakukan dengan cara kelayakan (purposive sampling) yaitu memilih para informan yang terkait langsung dengan permasalahan yang diteliti, untuk memperoleh data dan informasi yang akurat serta diharapkan dapat mewakili seluruh populasi penelitian, yaitu : a. Informan Ketua Mahkamah Syar’iyah Jantho Hakim Mahkamah Syar’iyah Jantho Kepala KUA Dalam Wilayah Aceh Besar Tokoh Agama Islam : 1 orang; : 3 orang; : 3 orang; : 5 orang;

4. Sumber Dan Teknik Pengumpulan Data

42

Data yang diperlukan untuk penelitian ini adalah berupa data primer dan data sekunder. a. Data Primer Data primer diperoleh melalui penelitian lapangan, yaitu dengan mewawancarai responden dan informan. b. Data Sekunder Data skunder dapat diperoleh dengan menelusuri beberapa bahan hukum, yaitu sebagai berikut:41 1. Bahan hukum primer, yaitu bahan hukum yang mengikat. Dimana dalam penelitian ini data dari bahan hukum primer akan diperoleh melalui pembahasan tentang peraturan perundang-undangan. 2. Bahan hukum skunder, yaitu bahan-bahan hukum yang mempelajari penjelasan mengenai bahan hukum primer, dimana dalam hal ini, data tersebut diperoleh dari makalah-makalah mengenai kewenangan Mahkamah Konstitusi, buku-buku hukum khususnya dalam ruang lingkup hukum tata negara. 3. Bahan hukum tersier, yaitu bahan hukum yang memberi petunjuk maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum skunder, yang berupa kamus baik itu Kamus Bahasa Indonesia maupun Kamus Hukum. Untuk memperoleh data sekunder yang diperlukan dalam penelitian ini dilakukan melalui metode penelitian kepustakaan ( library reseach), yaitu dengan cara mengumpulkan dan mempelajari bahan-bahan
41

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta, UI-Press, 1986, hal 10

43

kepustakaan,

baik

berupa

buku-buku,

majalah,

literatur-literatur,

yurisprudensi, peraturan perundang-undangan, putusan Mahkamah Syar’iyah, hasil-hasil penelitian terdahulu dan dokumen-dokumen kepustakaan lainnya serta analisis kasus. 5. Alat Pengumpulan dan Analisis Data Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan alat pengumpulan data, yang terdiri dari kuisioner dan wawancara. Data dari responden diperoleh dengan menggunakan kuisioner yang sifatnya terbuka dan tertutup dan wawancara dengan menggunakan pedoman wawancara, sedangkan dengan informan dilakukan melalui wawancara. Kemudian sesuai dengan data yang diperoleh, baik data primer maupun data sekunder akan dianalisis dengan mengklasifikasikan masingmasing sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Setelah data primer dan data sekunder terkumpul, maka kemudian diolah dengan melalui tahap editing, ini dimaksudkan untuk menghindari kemungkinan terjadinya data yang kurang lengkap juga untuk menentukan data yang benar-benar diperlukan dan yang tidak diperlukan agar mudah dianalisis. Selanjutnya setelah semua data yang terkumpul diseleksi, diklasifikasi ditabulasi, akan dianalisis dengan mengunakan metode kualitatif deskriptif, yaitu suatu metode analisis yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran keadaan yang sebenarnya, kemudian disusun dengan sistematis sehingga pada akhirnya diperoleh suatu kesimpulan sekaligus memberikan saran-saran yang konstruktif.

44

G. SISTEMATIKA PENULISAN TESIS Adapun sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Bab I yaitu bab pendahuluan yang meliputi latar belakang masalah, identifikasi masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, keaslian penelitian, kerangka pikir, metode penelitian, dan sistematika penulisan. Bab II terkait tinjauan kepustakaan yaitu tinjauan umum tentang perceraian. Terdiri dari pengertian perceraian dan dasar hukumnya, perceraian menurut hukum perdata Indonesia, alasan perceraian, akibat putusnya perceraian. Bab III mengenai objek penelitian yaitu perceraian di luar pengadilan agama, yang terdiri dari perceraian di luar pengadilan agama, dasar hukum yang dipergunakan, faktor penyebab perceraian, pelaksanaan perceraian, pandangan undang-undang nomor 1 tahun 1974 terhadap perceraian di luar pengadilan agama, dan tata cara perceraian di pengadilan agama. Bab IV mengenai pembahasan yaitu perceraian di luar pengadilan agama menurut perspektif Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam, yang meliputi sah perceraian di luar pengadilan agama, dan akibat hukum dari perceraian di luar pangadilan agama. Bab V adalah penutup yang mencakupi kesimpulan, dan saran.

45

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PERCERAIAN A. Pengertian Perceraian dan Dasar Hukumnya Perceraian adalah salah satu langkah urgen yang dilalui oleh para pihak untuk mengakhiri perkawinan. Akibat dari pemutusan tersebut dapat berasal dari suami maupun dari istri, atas dasar dan pertimbangan yang jelas. Selain itu, tuntutan dari akibat perceraian adalah putusnya hak dan kewajiban suami istri dalam bingkai rumah tangga, dan memilih kehidupan masingmasing.

46

Menurut Subekti perceraian adalah penghapusan perkawinan dengan putusan hakim atas tuntutan salah satu pihak dalam perkawinan itu.42 Disamping itu Heppy Marpaung dalam bukunya masalah perceraian, memberikan perumusan tentang perceraian yaitu pembubaran perkawinan ketika pihak-pihak masih hidup dengan alasan yang benar dan ditetapkan dengan suatu putusan pengadilan.43 Dari kedua pengertian di atas dapat dipahami bahwa perceraian adalah suatu penghapusan dan pembubaran perkawinan dari pihak suami isteri ketika mereka masih hidup. Menyangkut pengertian perceraian dapat diketahui bahwa, dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Undang-Undang Hukum Perdata tidak diatur secara tegas dalam satu Pasal pun, namun keadaan ini tidak berarti bahwa kedua Undang-Undang tersebut tidak memberikan kemungkinan akan terjadi perceraian atau putusnya perkawinan. Dalam Pasal 38 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 menyebutkan bahwa perkawinan dapat putus karena: 1. 2. 3. Kematian Perceraian Atas putusan pengadilan Ketentuan di atas mengenai putusnya perkawinan yang disebabkan oleh kematian tidak menjadi pembahasan dalam tesis ini. Akan tetapi yang dibahas adalah putusnya perkawinan karena cerai hidup dan dilakukan di luar pengadilan.
42 43

Subekti, R. Pokok-Pokok Hukum Perdata, CV. Pembimbing, Jakarta, hal. 18. Happy Marpaung, Masalah Perceraian, Tonis Bandung, tt., hal. 15.

47

Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dalam Pasal 39 menyebutkan bahwa suatu perceraian baru dapat dilakukan apa bla terdapat alasan yang cukup, sehingga dapat dijadikan landasan dasar bahwa antara suami isteri tidak ada harapan lagi untuk hidup bersama sebagai suami isteri, berikut Pasal 14 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, memberikan rumusan perceraian adalah pemutusan perkawinan ketika suami isteri masih hidup dengan alasan yang dapat dibenarkan oleh Undang-Undang dan ditetapkan suatu putusan pengadilan.44 Dalam kamus umum bahasa Indonesia, Purwadarminta menyebutkan tentang perceraian adalah: 1. 2.
3.

Perpisahan Perihal bercerai dan Perpecahan.45

Dari pendapat di atas dapat diketahui bahwa setiap terjadinya perceraian dari perkawinan yang sah antara suami isteri dan harus dengan alasan yang benar serta harus ditetapkan dengan putusan pengadilan. Menurut Undang-Undang Perkawinan dan peraturan hukum Islam dikenal bahwa jenis perceraian ada dua macam yaitu cerai talak dan cerai gugat. Dalam hukum Islam, cerai talak diartikan sebagai melepaskan dari rantaiannya. Menceraikan isteri berarti juga membebaskannya dari ikatan perkawinan.46
44 Rushan Ismail, Tinjauan Terhadap Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 Hubungannya Dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, Thesis, 1987, hal. 102. 45 Poerwodarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1961, hal. 124. 46 Arifin Bey, Pokok-Pokok Hukum Islam I, Tintamas, Jakarta, hal. 129.

48

Al-Jaziri dalam kitabnya Al-Fikiqh Alai Madhalibi Arba’ah memberikan definisi talak adalah menghilangkan ikatan perkawinan atau mengurangi pelepasan ikatannya dengan menggunakan kata-kata tertentu.47 Selanjutnya, Assayid Sabiq dalam kitabnya Fiqh Sunnah memberikan perumusan bahwa yang dimaksud dengan talak adalah melepaskan tali perkawinan dan mengakhiri hubungan suami isteri.48 Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa perceraian dengan talak menurut hukum Islam merupakan perceraian yang dilakukan oleh pihak suami terhadap isterinya dengan menggunakan kata-kata tertentu yang dapat mengakibatkan pemutusan hubungan perkawinan antara suami isteri. Disamping itu mengenai cerai gugat, dalam hubungannya dengan cerai gugat, K. Wancik Saleh dalam bukunya Hukum Perkawinan Indonesia memberikan perumusan bahwa yang dimaksud dengan cerai gugat adalah perceraian yang disebabkan oleh adanya suatu gugatan terlebih dahulu oleh salah satu pihak kepada pengadilan, dan perceraian itu terjadi dengan suatu putusan pengadilan.49 Menurut hukum Islam dikenal berbagai jenis perceraian yang dapat dikatakan terletak dalam tangan isteri, yaitu seperti fasakh, tetapi biasanya dilakukan melalui proses hukum. Fasakh artinya “rusak atau putus”. Maksudnya ialah perceraian dengan merusak atau merombak hubungan nikah antara suami isteri.50
Departemen Agama, ilmu Fiqh, Jilid II, Proyek Pembinaan Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi Agama, Jakarta, 1984, hal. 275 48 Ibid, hal. 276. 49 Wanchik saleh. K, Hukum Perkawinan Indonesia, PT. Ichtiar Baru, 1976, hal. 40. 50 Mohd. Rifai, Ilmu Fiqh Islam Lengkap, CV. Toha Putra Semarang, Tanpa Tahun, hal. 490.
47

49

Selain fasakh, ada juga jenis perceraian lain yang juga dapat digolongkan terletak dalam tangan isteri yaitu khuluk. Walaupun pada hakekatnya baru sah bila pihak suami bersedia menerimanya. Jadi, jenis perceraian ini lebih tepat dikatakan jenis perceraian yang termasuk dalam bentuk persetujuan bersama antara suami isteri. Khuluk adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh isteri berupa pengembalian mas kawin kepada suami agar dengan demikian perkawinan tersebut menjadi bubar. Berdasarkan praktek jenis ini sukar dilakukan, sebab pengembalian mas kawin itu harus diterima oleh suami. Jika mas kawin diterima, maka akan sama halnya seperti suami memberi talak. Selain itu ada juga jenis perceraian yang terletak ditangan pihak ketiga, yaitu “Syiqaq” atau pembatalan perkawinan oleh pengadilan atau Hakam. Yaitu perceraian yang terjadi karena perselisihan dan pertengkaran yang terus menerus yang tidak dapat didamaikan lagi. Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa perceraian itu ada beberapa macam cara yang dilakukannya, dan perceraian itu adalah merupakan suatu perbuatan hukum yang dilakukan oleh suami atau isteri dengan tujuan untuk mengakhiri hubungan perkawinan ketika keduanya masih hidup. B. Perceraian Menurut Hukum Perdata Indonesia Hampir di seluruh negara Islam maupun negara yang mayoritas penduduk beragama Islam, permasalahan mengenai perceraian antara suami isteri telah dikenal atau bahkan telah dihukum positifkan. Begitu juga di

50

Indonesia hukum Islam tentang talak atau perceraian ini telah diqanunkan menjadi sebuah hukum positif yang merupakan rujukan dan kepastian hukum bagi umat Islam di Indonesia, yaitu sebagaimana termaktub dalam UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Inpres Nomor 1 Tahun 1991 Tentang Kompilasi Hukum Islam. Ada dua hal yang sangat penting untuk dipikirkan dengan adanya perceraian ini. Pertama adalah penyebab perceraian dan yang kedua adalah akibat perceraian. Langkah pertama yaitu melakukan analisa secara komprehensif terhadap penyebab perceraian, sehingga perceraian mungkin dapat dicegah atau setidaknya angka perceraian dapat diminimalkan. Langkah kedua adalah melihat dan menganalisa fakta yang terjadi akibat dari perceraian, sehingga dapat melengkapi ketentuan hukum dalam kaitannya dengan akibat perceraian. Dengan kata lain, pendekatan politik hukum dapat diterapkan dalam aktifitas ini. Kata hukum perdata yaitu segala hukum pokok yang mengatur kepentingan-kepentingan perseorangan.51 Senada dengan Abdul Kadir Muhammad mengartikan hukum perdata adalah segala peraturan hukum yang mengatur hubungan antara orang satu dengan orang lain.52 Dalam terminology Islam perdata ini sepadan dengan pengertian mu’amalah. Hukum perdata adalah hukum yang bertujuan menjamin adanya kepastian di dalam hubungan antara orang yang satu dengan orang yang lain kedua-duanya sebagai anggota masyarakat dan benda dalam masyarakat.
R. Sobekti, Pokok-Pokok Hukum Perdata, Intermasa, Jakarta, 1979, hal. 9. Abdul Kadir Muhammad, Pengantar Hukum Perusahaan Indonesia, Citra Aditya Bakri, Bandung, 1993, hal. 1.
52 51

51

Istilah hukum perdata dapat meliputi hukum formil atau disebut pula dengan hukum acara perdata dan hukum perdata materil.53 Bahwa sejalan dengan perkembangan peradaban manusia sekarang, batas-batas yang jelas antara hukum publik dan hukum privat semakin sulit ditentukan karena terjadinya proses sosialisasi di dalam hukum sebagai akibat dari makin banyaknya bidang kehidupan masyarakat yang walaupun pada dasarnya menyangkut kepentingan perorangan, ternyata memperlihatkan adanya unsur kepentingan umum atau masyarakat yang perlu dilindungi dan dijamin serta makin banyaknya ikut campur negara dalam bidang kehidupan yang sebelumnya hanya menyangkut hubungan perorangan dapat

disimpulkan bahwa hukum perdata merupakan segenap peraturan hukum yang mengatur hubungan hukum antara orang yang satu dengan orang lainnya dengan titik berat pada kepentingan perseorangan atau pribadi. Seperti halnya dengan perkara perceraian yang juga diatur dalam KUHPerdata. Di Indonesia dengan keharusan mengucapkan talak di depan sidang pengadilan, praktisis konsep talak tiga yang dijatuhkan sekaligus juga tidak berlaku lagi. Semua pengaturan ini dilakukan untuk melindungi hak-hak wanita.54 Perceraian yang dimaksud dengan hukum perdata adalah perceraian yang dilangsungkan pada pengadilan agama atau Mahkamah Syar’iyah. Sesuai dengan kedudukannya sebagai pengadilan negara Pasal 2 Undang-

Rachmadi Usman, Aspek-Aspek Hukum Perorangan dan Keluarga di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2006, hal. 1. 54 Mudzhar, M. Antho’, Dampak Gender Terhadap Perkembangan Hukum Islam, Dalam Profetika Jurnal Studi Islam, Vol. 1 Nomor 1 Tahun 1999, hal. 116.

53

52

Undang Nomor 7 Tahun 1989 menyatakan bahwa peradilan agama merupakan salah satu pelaksanaan kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara perdata tertentu yang diatur dalam Undang-Undang.55 Berbeda yang berlaku di pengadilan negeri, orang yang mengajukan gugatan perceraian tidak dibolehkan menggabungkan dengan gugatan harta bersama, baru setelah ada putusan perceraian yang mempunyai kekuatan hukum tetap gugatan harta bersama dapat diajukan atau dikenal dengan komulasi gugat.56 Untuk lebih sederhana, proses ini menurut Yahya Harahap tidak lain bertujuan untuk mewujudkan peradilan yang sederhana.57 Secara sistematis ilmu pengetahuan hukum didasarkan kepada perkembangan sikrus kehidupan manusia, yakni dari lahir, dewasa (kawin), cari harta (nafkah hidup), dan mati (pewarisan).58 Selanjutnya dalam Undang-Undang Perkawinan di Indonesia

kelihatannya lebih sepadan dengan isyarat-isyarat Al-Qur’an dan fiqh dan juga lebih sesuai dengan kondisi saat ini, mungkin perumusan UndangUndang tempo dulu mempertimbangkan dari aspek munasid. Sedangkan fiqh yang begitu mudah dalam menjatuhkan talak sepertinya saat ini kurang

relevan karena kurang sesuai dengan prisip Al-Qur’an yang begitu selektif dan ketat dalam menjatuhkan talak karena ini menyangkut aspek rumah

55 Departemen Agama RI, Bahan Penyuluhan Hukum, Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Jakarta, 1996/1997, hal. 20. 56 M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, Sinar Grafika, Jakarta, 2001, hal. 102. 57 Ibid, hal. 104. 58 Abdul Kadir Muhammad, Pengantar Hukum Perusahaan Indonesia, hal. 17.

53

tangga yang mana keutuhannya harus dipertahankan.59 Sebagaimana termaktub dalam Undang-Undang Perkawinan di Indonesia bahwa perceraian dibolehkan bila terdapat alasan yang dapat sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Perkawinan terdiri dari 3 ayat dengan rumusan: 1. Perceraian hanya dapat di lakukan di dalam sidang pengadilan setelah sidang yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan ke dua belah pihak. 2. Untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan bahwa suami istri itu dapat akan hidup rukun sebagai suami istri. 3. Tata cara perceraian di depan siding pengadilan di utus perundangan tersendiri. Dalam hukum positif dikatakan bahwa beberapa hal yang merupakan alasan untuk menjatuhkan cerai adalah sebagai berikut: Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan sebagainya yang sukar di sembuhkan. b) Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama dua tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuanya. c) Salah satu pihak mendapat hukuman penjara lima tahun atau hukuman lebih berat setelah perkawinan berlangsung. d) Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan yang berat yang membahayakan pihah lain. e) Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak menjalankan kewajibannya sebagai suami istri. f) Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun dalam rumah tangga g) Suami melanggar taklik talak h) Peralihan agama/murtad.60
a)

Sebelum lahirnya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989, semua tata cara perceraian yang berlaku di lingkungan peradilan agama mengacu kepada
Wahbah Zuhaily, Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa As-Syariah wa al-Minhaj, Dar alFikr al-Ma’asir, Beirut, 1991, hal. 230. 60 Tim Penulis, Seluk Beluk Hukum Perkawinan Dalam Islam, KANWIL DEPAG NAD, Banda Aceh, 2007, hal. 36.
59

54

ketentuan yang ada dalam Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 sehingga hukum acara tentang perceraian yang diberlakukan di lingkungan peradilan agama sama dengan yang diberlakukan di lingkungan peradilan umum. Sementara itu menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 mengenai perkawinan, bagi yang akan melakukan perkawinan harus memiliki satu agama dan bagi orang Islam yang bercerai pengadilan agama ditunjuk sebagai tempat bercerai, sedangkan pengadilan umum untuk kaum non muslim. Namun setelah lahirnya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 terdapat beberapa ketentuan khusus yang tidak ditemukan dalam Peraturan Pemerintah, salah satunya adalah ketentuan yang mengatur tentang kebolehan menggabungkan gugatan perceraian dengan beberapa gugatan lain

sebagaimana diatur dalam Pasal 66 ayat (5) dan Pasal 86 ayat (1) UndangUndang tersebut. Kedua Pasal ini membolehkan seorang suami atau isteri yang mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan agama sekaligus mengajukan gugatan penguasaan anak, nafkah anak, nafkah isteri, dan harta bersama. Selain kedua ketentuan ini terdapat pengaturan lain yang dikhususkan bagi orang Islam yaitu yang terdapat dalam kompilasi hukum Islam dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama yang dirubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006. Sebelum lahirnya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989, semua tata cara perceraian yang berlaku di lingkungan peradilan agama mengacu kepada ketentaun yang ada

55

dalam Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 sehingga hukum acara tentang perceraian yang diberlakukan di lingkungan peradilan agama sama dengan yang diberlakukan di lingkungan peradilan umum. Berbeda dengan yang berlaku di pengadilan negeri, orang yang mengajukan gugatan perceraian tidak dibolehkan menggabungkan dengan gugatan harta bersama, baru setelah ada putusan perceraian yang mempunyai kekuatan hukum tetap gugatan harta bersama dapat diajukan. Dalam Undang-Undang Nomor 7 tahun 1989 Pasal 14 dinyatakan bahwa seorang suami yang telah melangsungkan perkawinan menurut agama Islam, yang akan menceraikan isterinya atau cerai talak, mengajukan surat kepada pengadilan di tempat tinggalnya, yang berisi pemberitahuan bahwa ia bermaksud menceraikan isterinya dengan alasan-alasannya serta meminta kepada pengadilan agar diadakan sidang untuk keperluan itu.61 Pengadilan hanya memutuskan untuk mengadakan sidang pengadilan untuk menyaksikan perceraian yang dimaksud dalam Pasal 14 apabila memang terdapat alasan-alasan seperti yang dimaksud dalam Pasal 19 Peraturan Pemerintah ini, dan pengadilan berpendapat bahwa antara suami isteri yang bersangkutan tidak mungkin lagi didamaikan untuk hidup rukun lagi dalam rumah tangga. Pengadilan hanya memutuskan untuk mengadakan sidang pengadilan untuk menyaksikan perceraian yang dimaksud dalam Pasal 14 apabila memang terdapat alasan-alasan seperti yang dimaksud dalam Pasal 19 adalah sebagai berikut:1-6

61

Rachmadi Usman, Aspek-Aspek Hukum.., Op., Cit., hal. 337.

56

1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi,

2.
3. 4. 5.

6.

dan sebagainya yang sukar di sembuhkan. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama dua tahun berturutturut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuanya. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara lima tahun atau hukuman lebih berat setelah perkawinan berlangsung. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan yang berat yang membahayakan pihah lain. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak menjalankan kewajibannya sebagai suami istri. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun dalam rumah tangga Tata cara pengajuan percerian sebagaimana dalam Pasal 20 adalah

sebagai berikut: 1. Gugatan perceraian diajukan oleh suami atau isteri atau kuwasanya kepada pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman tergugat 2. Dalam hal tempat kediaman tergugat tidak jelas atau tidak diketahui atau tidak mempunyai tempat kediaman yang tetap, gugatan perceraian diajukan kepada pengadilan di tempat kediaman penggugat 3. Dalam hal tergugat bertempat kediaman di luar negeri, gugatan perceraian diajukan kepada pengadilan di tempat kediaman penggugat. Ketua pengadilan menyampaikan permohonan tersebut kepada tergugat melalui perwakilan RI setempat. Pasal 21 adalah sebagai berikut: 1. Gugatan perceraian karena alasan tersebut dalam Pasal 19 huruf b, diajukan kepada pengadilan di tempat kediaman penggugat 2. Gugatan tersebut dalam ayat (1) dapat diajukan setelah lampau 2 (dua) tahun terhitung sejak tergugat meninggalkan rumah 3. Gugatan dapat diterima apabila tergugat menyatakan atau menunjukkan sikap tidak mau lagi kembali ke rumah kediaman bersama. Berkaitan dengan gugatan perceraian sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 22 adalah Sebagai berikut: 1. Gugatan perceraian karena alasan tersebut dalam Pasal 19 huruf f diajukan kepada pengadilan di tempat kediaman tergugat

57

2. Gugatan tersebut dalam ayat (1) dapat diterima apabila telah cukup jelas bagi pengadilan mengenai sebab-sebab perselisihan dan pertengkaran itu dan setelah mendengan pihak keluarga serta orangorang yang dekat dengan suami isteri itu. Pasal 23 mengatakan gugatan perceraian karena alasan salah satu dari suami isteri mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau lebih berat dari itu. Adapun dalam Pasal 24 menyatakan bahwa mengenai akibat-akibat yang akan ditimbulkan dari perceraian sebagaimana tersebut dalam Pasal ini adalah sebagai berikut: 1. Selama berlangsungnya gugatan perceraian atas permohonan penggugat atau tergugat atau berdasarkan pertimbangan bahaya yang mungkin ditimbulkan, pengadilan dapat mengizinkan suami isteri tersebut untuk tidak tinggal dalam satu rumah. 2. Selama berlangsungnya gugatan perceraian atas permohonan penggugat atau tergugat, pengadilan dapat: a. Menentukan nafkah yang harus ditanggung oleh suami. b. Menentukan hal-hal yang perlu untuk menjamin pemeliharaan dan pendidikan anak. c. Menentukan hal-hal yang perlu untuk menjamin terpeliharanya barang-barang yang menjadi hak bersama suami isteri atau barangbarang yang menjadi hak suami atau barang-barang yang menjadi hak isteri. Pasal 25 berkaitan dengan gugatan perceraian sebagaimana dimaksud adalah gugatan perceraian gugur apabila suami atau isteri meninggal sebelum adanya putusan pengadilan mengenai gugatan perceraian itu. Peraturan Pemerintah dan pengadilan berpendapat bahwa antara suami isteri yang bersangkutan tidak mungkin lagi didamaikan untuk hidup rukun lagi dalam rumah tangga, walaupun sebelumnya telah ada perjanjian.62 Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa suatu perkawinan bubar Karena perceraian. Sebelumnya perceraian bukan merupakan satu-satunya
Moch Khaidir Ali, Pengertian Elemen Hukum Perjanjian Perdata, Mandar Maju, Bandung, 1993, hal. 12.
62

58

penyebab bubarnya perkawinan. Menurut kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata), yang dapat dikatakan sebagai penyebab bubarnya sebuah perkawinan adalah sebagai berikut: 1. Karena kematian 2. Karena keadaan tidak hadir suami atau isteri, selama sepuluh tahun, diikuti dengan perkawinan baru isterinya/suaminya 3. Karena putusan hukum setelah adanya perpisahan meja dan ranjang dan pembukuan pernyataan bubarnya perkawinan dalam putusan itu dalam register catatan sipil. 4. Karena perceraian. Melihat ketentuan di atas, tidaklah heran apabila perkawinan selalu dihantui oleh perceraian. Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengukur kuantitas perceraian adalah dengan melihat angka perceraian itu sendiri, tampaknya hal ini pun berlaku pula di Indonnesia. Perceraian di Indonesia tiap tahun semakin bertambah banyak jumlahnya, terbukti dalam beberapa tahun ini, angka permohonan di pengadilan, baik pengadilan negeri maupun pangadilan agama semakin meningkat. Apabila melihat pemberitaan di televisi, perceraian artis yang sedang menjadi sorotan semakin banyak jumlahnya. Meskipun hal ini bukan data yang tepat untuk menentukan suatu kesimpulan yanh valid, akan tetapi setidaknya hal tersebut merupakan parameter bahwa fakta perceraian dikalangan artis pada khususnya dan umumna bagi masyarakat semakin tinggi. Dengan begitu, secara de facto perceraian dapat dikatakan telah merajalela. Dengan melihat hal di atas, menimbulkan pertanyaan bagi banyak kalangan yang salah satunya adalah bagaimana bagaimana memenimalkan angka perceraian tersebut, karena secara sosiologi perceraian membawa

59

dampak

global yang

negative.

Sebetulnya,

apabila

melihat

secara

komprehensif ke dalam peraturan perundang-Undangan yang ada, perceraian pada umumnya dapat di atasi. Karena di dalam peraturan PerundangUndangan terdapat hal-hal yang mempersulit seseorang untuk melakukan perceraian. Sebagai contoh dalam Peraturan pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 tentang Perkawinan dan Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil, yang merupakan produk hukum aplikatif dari Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Dalam Peraturan Pemerintha itu disebutkan bahwa seorang pegawai negeri yang ingin melakukan perceraian harus mendapatkan izin tertulis dari atasannya. Hal ini merupakan bentuk hambatan dalam rangka menurunkan angka perceraian. Akan tetapi hal ini menjadi mubazir, apabila tidak dibarengi dengan pengadaan hukum yang tepat. Akibat yang ditimbulkan dengan adanya percerian terutama

dampaknya bagi anak hasil perkawinan, antara lain: a. Perwalian bagi anak Maksud dari perwalian bagi anak disini belaku apabila anak dari hasil perkawinan tersebut masih berada di bawah umur, yang artinya anak tersebut belim dewasa secara hukum. Ada dualism arti dewasa dimata hukum, pertama menurut hukum perdata, seseorang dikatakan dwasa apabila telah mencapai umur 21 tahun, kedua menurut UndangUndang Perkawinan, seseorang dikatakan dewasa apabila mencapai umur

60

16 tahun bagi wanita dan 19 tahun bagi laki-laki atau telah melakukan perkawinan. Mengenai perwalian ini, KUHPerdata pun tidak ketinggalan oleh karena KUHPerdata sebagai ius geralis dan undang-Undang Perkawinan sebagai ius specialis yang sama-sama mengatur tentang perwalian. Maka berlakulah asas lex specialis derogate legi generali. Artinya apabila terjadi pertentangan ketentuan diantara dua produk hukum tersebut, maka yang digunakan adalah ketentuan dalam Undang-Undang Perkawinan. Maka dari itu tidak perlu terjadi kekawatiran adanya dualisme ketentuan yangdalam hal yang sama oleh kedua produk hukum yang membahas mengenai persoalan dimaksud. Dalam hal perwalian, Pasal 359 KUHPerdata menyebutkan bahwa yang berhk menjadi wali dalam perwalian anak adalah seorang nyang dikatakan oleh pengadilan negeri, setelah mendengar atau memanggil dengan sah para keluarga sedarah dan semenda. Biasanya yang menjadi wali adalah salah satu dari kedua orang tua kandungnya yang telah bercerai tersebut, baik ibu maupun bapak. Dalam praktek biasanya hakim menentukan ibu sebagai wali bigi anak yang masih dibawah umur dan apabilaanak sudah dewasa menurut hukum, maka pilihan diserahkan kepada kehendak anak tersebut. Ketentuan serupa sebagimanaterrebut di atas juga tersurat di dalam Undang-Unang perkawinan. Di dalam Pasal 41 huruf a dan b

61

Undang-Undang perwalian menimbulkan konsekuensi bagi kedua orang tua yang bercerai sebagai berikut: Baik ibu maupun bapak tetap berkewajiban memelihara dan mendidik anaknya, dan bila mana terdapat perselihan mengenai penguasaan anak, maka pengadilan yang member keputusan. Bapak bertanggungjawab atas semua biaya pemeliharaan dan pendidikan yang diperlukan anak itu, bila mana bapak dalam kenyataannya tidak dapat memenuhi kewajiban tersebut maka pengadilan dapat menentukan bahwa ibu ikut memikul biaya. Perbedaan yang muncuk disini adalah adanya kewajiban terhadap anak bagi orang tua yang telah berceri berdasarkan ketentuan Undangundang perkawinan, kewajiban sebagaimana telah disebutkan di atas itu tetap berlangsung terus sampai anak tersebut kawin atau dapat berdiri sendiri. Artinya kewajiban tersebut dapat berakhir apabila anak sudah dewasa dimata hukum. b. Pembagian Harta bersama Yang dimaksud dengan harta persatuan disini adalah harta yang diperoleh pada waktu perkawinan berlangsung, tidak termasuk harta asal yang dibawa masing-masing pihak, baik dari bapak maupun dari ibu. Secara umum, harta perkawinan dikenal sebagai harta gono gini, perbedaan istilah mengenai harta perkawinan dapat dilihat sebagai berikut: 1. Munurut Undang-Undang Perkawinan, harta persatuan

disebut sebagai harta bersama bersama 2. Menurut hukum Islam, harta persatuan disebut sebagai

harta kekayaan suami isteri

62

3.

Menurut hukum adat, harta persatuan disebut sebagai harta

perkawinan. Perbedaan istilah di atas tidak secara siknifikan merubah arti dari harta persatuan atau disebut juga harta bersama sehingga tidak menghambat jalannya penegakan hukum dalam kaitannya dengan harta. c. Pewarisan Yang dimaksud dengan pewarisan disini adalah terjadinya pewarisanoleh karena harta persatuan yang telah dibagi maupun harta asal untuk si anak. Separti diketahui juga bahwa warisan terjadi hanya urusan kematian, itu artinya si anak berhak akan harta pewarisan apabila pewaris sudah meninggal dunia. Selama anak tersebut adalah anak secara biologis yang lahir disaat maupun di luar pekawinan terjadi, dimungkinkan bagi sianak untuk mendapatkan warisan dari orang tuanya ang telah bercerai. Khusus untuk anak yang berstatus anak angkat, tetap

mendapatkan warisan tetapi tidak termasuk harta asal. Tentu saja ada pengecualian untuk dapat disebut sebagai ahli waris. Bagi si anak, pengecualian tersebut adalah sebagi berikut: 1. Apabila anak telah dihukum karena dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh pewaris 2. Apabila anak dengan putusan hukum pernah dipersalahkan karena secara fitnah telah mengajukan pengaduan terhadap pewaris ialah suatu pengaduan telah melakukan suatu kejahatan yang teracaam dengan hukuman penjara 5 tahun lamanya atau hukuman yang lebih berat 3. Apabila anak dengan kekerasa atau perbuatan telah mencegah pewaris untuk membuat atau mencabut surat wasiatnya

63

4. Apabila anak telah menggelapkan, memalsukan surat wasiat pewaris.

merusak

atau

Oleh karenanya perceraian atau putusnya perkawinan baiakkarena cerai talak maupun cerai gugat sebagaimana disampaikan dalam hukum perdata atau KUHPerdata sebagai landasan yuridis terhadap suami isteri yang ingin melangsungkan gugatan cerai dengan berbagai konsekuensi yang ditimbulkan akibat dari perceraian dimaksud. C. Alasan perceraian Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, di dalam salah satu Pasalnya dinyatakan bahwa suatu perceraian baru dapat dilakukan apabila terdapat alasan yang cukup, sehingga dapat dijadikan landasan yang wajar bahwa antara suami isteri tidak ada harapan lagi untuk hidup bersama sebagai suami isteri (Pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974). Alasan tersebut secara terperinci disebutkan dalam penjelasan Pasal 39 Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, dan diulangi lagi menyebutkan dengan bunyi yang sama dalam Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, sebagai berikut:
1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi,

2.
3. 4. 5.

dan sebagainya yang sukar di sembuhkan. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama dua tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuanya. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara lima tahun atau hukuman lebih berat setelah perkawinan berlangsung. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan yang berat yang membahayakan pihah lain. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak menjalankan kewajibannya sebagai suami istri.

64

6. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun dalam rumah tangga Ad. 1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan sebagainya yang sukar di sembuhkan. Pengertian zina pada perumusan alasan perceraian merupakan zina menurut konsepsi agama. Karena setiap agama memandang perbuatan tersebut sebagai perbuatan yang terkutuk dan dilaknat oleh Tuhan. Oleh sebab itu cukuplah beralasan apabila perbuatan zina itu dijadikan salah satu alasan untuk melakukan gugatan perceraian. Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, tidak memberikan perumusan tentang apa yang dimaksud dengan zina, pemabuk, pemadat, penjudi, dan lain-lain yang sukar disembuhkan. Menurut bahasa Indonesia, zina diartikan

sebagai perbuatn persetubuhan yang tidak sah, seperti bersundal, bermukah, bergendok, dan sebagainya.63 Dalam hukum perdata, zina adalah hubungan sexual oleh orang yang telah kawin dengan orang lain.64 Zina menurut kitab Undang-Undang Hukum Pidana adalah persetubuhan yang dilakukan oleh laki-laki atau perempuan yang telah kawin dengan perempuan atau laki-laki yang bukan isteri atau suaminya dan perbuatan itu dilakukan dengan suka sama suka serta tidak boleh ada

W.J. Poerwadarminta, Op. Cit., hal. 1121. Ali Afandi, Hukum Waris, Hukum Keluarga, dan Hukum Pembuktian Munurut Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, PT. Bina Aksara, Jakarta, 1984, hal. 126.
64

63

65

paksaan dari salah satu pihak.65 Selain itu, juga terdapat pengertian zina menurut hukum Islam, yaitu persertubuhan yang dilakukan antara orang yang satu dengan lainnya tidak dalam ikatan yang sah.66 Dari beberapa perumusan di atas dapat diketahui bahwa yang dimaksud dengan zina adalah setiap persetubuhan bukan dengan isteri atau suami sendiri dan dilakukan secara sadar. Disamping perbuatan zina yang jelas terkutuk dan dilaknat itu, juga perbuatan menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, merupakan perbuatan yang sangat tercela, yang tidak saja merugikan bagi diri pelaku tetapi juga dapat menimbulkan keresahan bahkan kerugian masyarakat. Oleh karena itu sudah sepantasnya perbuatan tersebut dicantumkan dalam Undang-Undang sebagai salah satu alasan untuk melakukan perceraian. Dalam Undang-Undang perkawinan tidak dijelaskan lebih lanjut tentang ukuran atau batasan dari perbuatan tersebut, sehingga dapat dijadikan alasan untuk bercerai. Dalam hal ini sudah barang tentu memerlukan suatu penilaian secara kasuistis dan memang sukar untuk disembuhkan.67 Ad. 2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama dua tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuanya.
R. Soesilo, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, PT. Karya Nusantara, Bandung, 1981, hal. 181. 66 Notosusanto, Organisasi dan Yurisprudensi Peradilan Agama di Indonesia, Yayasan Badan Penerbit Gajah Mada, Yogyakarta, 1963, hal. 24. 67 Abdurrahman dan Ridwan Syahrani, Masalah-Masalah Hukum Perkawinan di Indonesia, Alumni, Bandung, 1976, hal. 57.
65

66

Untuk dapat dijadilkan alasan perceraian seperti tersebut di atas, bahwa meninggalkan pihak lain itu haruslah benar-benar tanpa izin dan tanpa alasan yang sah. Dan pihak yang meninggalkan itu tetap menunjukkan sikap untuk tidak mau kembali kepada pihak yang ditinggalkan. Apabila salah satu pihak meninggalkan pihak yang lain disebabkan hal-hal dalam rumah tangga suami isteri yang kurang baik, sehingga dianggap layak salah satu pihak meninggalkan pihak lainnya, maka hal tersebut tidak merupakan alasan bagi pihak yang ditinggalkan untuk melakukan perceraian. Bila pihak yang meninggalkan tersebut masih bersedia kembali lagi kepada pihak yang ditinggalkan sesudah hal-hal yang tidak baik itu hilang.68 Ad. 3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara lima tahun atau hukuman lebih berat setelah perkawinan berlangsung Dalam kehidupan rumah tangga, suami isteri mempunyai hak dan kewajiban satu sama lain, kewajiban itu harus dilaksanakan sebagaimana mestinya sesuai menurut kemampuan para pihak. Apabila salah satu pihak menjalani hukuman 5 (lima) tahun atau hukuman lebih berat, sudah barang tentu pihak yang menjalani hukuman tidak akan lagidapat melaksanakan kewajiban sebagaimana mestinya, sehingga dapat mengakibatkan kehilangan sebahagian yang merupakan hak dari pihak yang tidak terhukum. Oleh karena itu sepantasnya apabila
Jamil Latif. M, Aneka Hukum Perceraian di Indonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1962, hal. 94.
68

67

alasan tersebut dijadikan dasar untuk melakukan perceraian. Sebab jangan sampai kepentingan pihak yang tidak terhukum dikorbankan karena perbuatan atau kesalahan pihak lain yang menjalani hukuman 5 (lima) tahun atau lebih dalam penjara. Ad. 4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan yang berat yang membahayakan pihah lain Perbuatan kekejaman atau penganiayaan berat terhadap salah satu pihak oleh suami isteri adalah sangat bertentangan dengan tujuan suatu perkawinan yang dijalin oleh perasaan cinta dan kasih saying yang selalu harus ada untuk menjadi fundasi kerukunan dan kebahagiaan dalam suatu rumah tangga. Yang demikian sudah menjadi kewajiban apabila salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan pihak lain, kemudian dijadikan sebagai alasan untuk melakukan perceraian oleh pihak yang dianiaya. Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, tidak memberikan penjelasan lebih lanjut tentang ukuran perbuatan kekejaman atau penganiayaan dimaksud. Untuk penilaian diperlukan surat keterangan dari dokter (visum et repertum) yang menyatakan bahwa perbuatan kekejaman atau penganiayaan. Selain itu juga diperlukan keterangan dari orang-orang yang melihat dan atau mendengar secara langsung kekejaman atau penganiayaan tersebut dilakukan.69
69

Heppy Marpaung, Op. Cit., hal. 33.

68

Ad. 5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak menjalankan kewajibannya sebagai suami istri Dalam Undang-Undang Perkawinan juga tidak terdapat penjelasan yang lebih lanjut tentang jenis cacat badan atau penyakit yang diderita oleh salah sutu pihak, sehingga tidak bisa menjalankan kewajiban sebagai suami isteri. Alasan ini merupakan alasan perceraian yang sangat relavatif sekali. Oleh karena itu untuk menjadi penilaiannya diperlukan

pertimbangan tentang jenis cacat yang diderita oleh salah satu pihak serta adanya keterangan dari dokter yang menjelaskan tentang cacat badan atau penyakit yang menyebabkan pihak lain tersebut memang tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami isteri dalam rumah tangga.70 Ad. 6. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun dalam rumah tangga Alasan perceraian ini merupakan alasan yang tepat dan layak untuk dijadikan alasan dalam melakukan perceraian. Sebab perselisihan dan pertengkaran yang terus menerus antara suami isteri dapat mengakibatkan rumah tangga tidak harmonis, masing-masing mereka tersiksa. Jauh dari rasa ketenteraman dan kebahagiaan. Keadaan yang demikian sudah barang tentu antara suami isteri tidak terdapat lagi sikap yang baik dalam mengatur rumah tangganya.

70

Ruslan Ismail, Op. Cit, hal. 114.

69

Apabila hal tersebut ditinjau dari segi tujuan perkawinan, yaitu untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa, sebagaimana tercantum dalam Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, maka perselisihan dan pertengkaran yang terus menerus dalam suatu rumah tangga, merupakan suatu keadaan yang sangat prinsipil yang terhambat tercapainya tujuan perkawinan, apabila usaha perdamaian tidak mungkin tercapai, maka sudah sewajarnya kedua suami isteri yang bersangkutan harus bercerai demi kepentingan masing-masing mereka dan masa depan anak-anaknya. Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tidak terdapat penjelasan tentang cara penggunaan alasan-alasan tersebut, dapat digunakan secara alternatif dan kualitatif. Akan tetapi dari uraian alasanalasan perceraian di atas dapat diketahui bahwa semua alasan perceraian tersebut merupakan bentuk-bentuk perbuatan dan keadaan yang dapat mempengaruhi tercapainya tujuan perkawinan. Dengan demikian tidak ada alasannya jika digunakan lebih dari satu alasan, yang penting mempunyai alasan yang cukup bahwa antara suami isteri tidak dapat hidup rukun lagi sebagai suami isteri.71 D. Akibat Putusnya Perceraian Sebagaimana diuraikan pada uraian terdahulu, bahwa perceraian merupakan tindakan yang terakhir ikhtiar dan segala daya upaya yang telah
71

Ibid, hal. 115.

70

dilakukan guna perbaikan kehidupan perkawinan dan ternyata tidak ada jalan lain lagi kecuali hanya dengan perceraian antara suami isteri. Untuk sahnya suatu perceraian harus memenuhi berbagai persyaratan dan alasan serta harus dilaksanakan menurut prosedur yang telah diperuntukkan untuk itu. Dalam Undang-Undang perkawinan ditentukan bahwa suatu

perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan, setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak. Untuk melakukannya harus memenuhi alasan bahwa antara suami isteri. Dengan adanya ketentuan tersebut, maka sejak berlakunya UndangUndang Perkawinan secara efektif, yaitu sejak tanggal 1 Oktober 1975, suatu perceraian tidak dapat dibenarkan lagi dilakukan secara sewenang-wenang. Tetapi harus dilaksanakan menurut prosedur tertentu dan dilakukan di depan sidang pengadilan. Untuk melakukan harus didasarkan kepada alasan yang dibenarkan. Hal ini ditegaskan dalam Pasal 39 ayat (2) Undang-Undang perkawinan yang berbunyi: 1. Perceraian hanya dapat di lakukan di dalam sidang pengadilan setelah sidang yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan ke dua belah pihak. 2. Untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan bahwa suami istri itu dapat akan hidup rukun sebagai suami istri. 3. Tata cara perceraian di depan siding pengadilan di utus perundangan tersendiri. Undang-Undang perkawinan dan peraturan pelaksananya, tidak memuat secara jelas tentang syarat sah suatu perceraian. Namun demikian apabila diperhatikan ketentuan yang tercantum dalam Pasal 18 dan 34 ayat (2)

71

Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Jo Pasal 30 ayat (5) Peraturan Menteri Agama Nomor 3 Tahun 1975 dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan keabsahan menurut jenis perceraian dan kepercayaan yang dianut oleh pihak yang melakukan perceraian. Terhadap cerai talak yang dilakukan oleh suami yang beragama Islam terhadap isterinya, baru dianggap terjadi dan sah hukumnya, terhitung sejak pernyataan ikrar talak diucapkan di depan sidang mahkamah syar’iyah. Terhadap cerai gugat, apabila perceraian itu dilakukan oleh isteri yang beragama Islam, maka perceraian tersebut baru dianggap terjadi dan sah hukumnya terhitung sejak jatuh putusan mahkamah syar’iyah yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Sedangkan perceraian yang dilakukan oleh suami isteri yang beragama selain Islam, terhitung sejak saat pendaftaran pada daftar pencatatan oleh pegawai pada kantor catatan sipil. (Pasal 30 ayat (4) Peraturan Menteri Agama Nomor 3 Tahun 1975). Di dalam hukum Islam terdapat beberapa syarat untuk menentukan sah tidaknya suatu perceraian yang dilakukan oleh suami terhadap isterinya. Beberapa syarat tersebut adalah sudah dewasa, berpikiran sehat, mempunyai kehendak bebas, dan masih mempunyai hak talak.72 Ketiadaan salah satu dari syarat yang telah disebutkan di atas, maka perceraian yang telah dilakukan oleh suami terhadap isterinya dianggap tidak sah, oleh karena itu ia tidak mempunyai akibat hukum apapun. Apabila seorang suami yang berpikiran sehat, dengan tanpa ada suatu paksaan melafalkan talak kepada isterinya adalah sah hukumnya. Seperti
72

Jamil Latif, Op. Cit., hal. 44.

72

suami berkata kepada isterinya, kamu telah kuceraikan atau saya telah menceraikan kamu mulai sekarang. Perceraian seperti itu berlaku sejak diucapkan.73 Selain dari pada itu, Islam juga mengakui sah suatu perceraian yang dilakukan dengan kata-kata kiasan dan atau secara tulisan yang disampaikan kepada isterinya. Pada pelaksanaan perceraian seperti itu, pada saat pengucapan lafal talak, harus disertai dengan niat yang bahwa suami akan menceraikan isterinya. Begitu pula halnya jika dilakukan dengan tulisan, jika tidak diniatkan, maka perceraian dengan kata-kata kiasan atau tulisan tidak sah hukumnya. Islam memang mengakui bahwa hak untuk menjatuhkan talak ada pada suami. Suami dapat menjatuhkan talak satu atau dua bahkan tiga sekaligus terhadap isterinya dan dapat dianggap sah apabila memenuhi persyaratan sebagaimana yang telah ditetapkan di atas. Akan tetapi Islam tidak membenarkan suatu talak dilakukan secara semena-mena tanpa suatu sebab yang dapat dibenarkan. Hal ini dapat dimengerti dari Hadits Nabi Muhammad SAW yang menyatakan tidak suatu yang halal yang amat dibenci oleh Allah SWT selain dari pada talak.74 Dalam hadits yang lain disebutkan perempuan yang meminta cerai dari suaminya tanpa suatu sebab, maka haram baginya bau syurga.75

Arifin Bey, Op. Cit., hal. 192. Mahmud Yunus, Hukum Perkawinan Dalam Islam Menurut Mazhab Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hambali, PT. Hidakarya Agung, Jakarta, 1956, hal. 112. 75 Ibid, hal. 113.
74

73

73

Selain kedua hadits tersebut di atas, Allah juga mengwahyukan, yang artinya sebagai beikut: 1. Isteri-isteri yang kamu khawatir melalaikan kewajibannya, hendaknya kamu nasehati. 2. Apabila nasehat itu tidak mampan, Pisahlah dari tempat tidur mereka. 3. Bila tidak mampan juga pukullah mereka. 4. Kemudian apabila mereka mentaati kamu janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Bertitik tolak dari firman Allah tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa apabila timbul perselisihan antara suami isteri, suami berkewajiban meneguri isterinya agar tidak lagi melalaikan kewajibannya atau membuat hal-hal yang tidak disenangi oleh suaminya. Nasehat tersebut dimaksudkan bertujuan agar pihak yang melalaikan kewajiban itu benar-benar sadar akan kesalahannya. Apabila nasehat tersebut tidak diperhatikan atau diabaikan oleh isteri, suami dapat bertindak lebih jauh lagi dengan tujuan memberikan nasehat kepada pihak isteri supaya sadar akan kesalahannya, tetapi tetap berada dalam satu rumah. Bilamana langkah kedua ini masih belum membawa hasil, suami dapat mengambil langkah selanjutnya yaitu menasehati isteri dengan menggunakan kata-kata yang keras, sekaligus isteri dapat menyadari akan kesalahannya. Setelah beberapa upaya tersebut dilakukan, suami belum boleh mentalak isternya, tetapi harus terlebih dahulu menghadiri 2 (dua) orang hakam atau hakim yang disebut hakamain, satu terdiri dari keluarga pihak suami dan satu lagi dari pihak keluarga isteri. Hal ini sebagaimana ditentukan

74

dalam Al-Quran Surat An-Nas ayat 35 yang artinya sebagai berikut: “Kalau terjadi persengketaan yang hebat antara suami isteri, maka haruslah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua hakam tersebut bermaksud mengadakan perbaikan niscaya Allah memberi petunjuk kepada kedua suami isteri itu”.76 Apabila kedua hakam tersebut berpendapat bahwa tidak cukup alasan untuk bercerai, maka perceraian tidak dapat dilaksanakan. Tetapi bila mana menurut pertimbangan hakim memang terdapat alasan yang cukup dan tidak dimungkinkan lagi untuk hidup rukun dalam rumah tangga, barulah boleh suami isteri menjatuhkan talak terhadap isterinya. Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa Islam menghendaki untuk melakukan perceraian, sebenarnya harus dilakukan dihadapan dan atau putusan hakim setelah upaya perdamaian yang dilakukan tidak berhasil dan tidak dibenarkan melakukan secara sewenang-wenang tanpa suatu sebab yang dibenarkan. Apabila ketentuan tersebut dihubungkan dengan ketentuan yang terdapat di dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, maka keharusan melakukan perceraian di depan sidang mahkamah syar’iyah menurut UndangUndang tersebut adalah selaras dengan ajaran Islam, hanya saja segi keabsahannya yang berbeda. Sebab Islam mengakui sebagai perbuatan yang sah apabila suami telah mengucapkan suatu perceraian terhadap isterinya dan memenuhi syarat sebagaimana telah disebutkan di atas, walaupun pengucapan itu tidak dilakukan di depan sidang Mahkamah Syar’iyah.
76

Ibid, hal. 114.

75

BAB III PERCERAIAN DI LUAR PENGADILAN AGAMA A. Perceraian di Luar Pengadilan Agama Pada dasarnya masalah perceraian adalah perbuatan yang sangat dicegah, baik dalam hukum adat maupun dalam hukum agama, sebagaimana

76

yang dimaksud dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan bahwa tujuan dari perkawinan adalah untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa. Dalam kenyataannya, meswkipun melalui pemilihan yang sangat selektif sebelum ima perkawinan, melalui cara dan kriteria tertentu (agamanya, keturunannya, kecantikannya, dan hartanya). Namun demikian, perceraian yang merupkan perbuatan yang sangat dibenci terkadang tidak dapat dihindarkan. Pasal 4 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 bahwa perceraian ini harus dilakukan di depan sidang engadilan agama berdasarkan alasanalasan yang telah ditentukan oleh Perundang Undangan. Namun demikian masih banyak kasus-kasus perceraian yang dilakukan oleh sebagian masyarakat tidak melalui pengadilan, seperti yang terjadi di Desa Blang Krueng Kecamatan Baitussalam Kabupaten Aceh Besar. Pada tahun 2010 ada 2 kasus, tahun 2011 ada 2 kasus, tahun 2012 ada 1 kasus, yang perceraiannya tidak melalui pengadilan.77 Selanjutnya dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 diterangkan bahwa suatu perceraian dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak.

Wawancara dengan Khairul Huda, Keuchik Gampong Blang Krueng Kec. Baitussalam Kab. Aceh Besar , Tanggal 13 Januari 2013.

77

77

Pembentukan Undang-undang tersebutdan Undang-Undang pada umumnya tidak terlepasdari perhatian terhadap kenyataan-kenyataan sosial dalam masyarakat tempat dimana Undang-Undang tersebut diberlakukan. Berdasarkan hal itu, Undang-Undang perkawinan memberikan jaminan bahwa ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi penganut agama di Indonesia, tidak akan dilecehkan baik secara formil maupun materil sebagaimana yang tercermin dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Perkawinan yang menyatkn bahwa sahnya perkawinan jika berlangsung menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya. Berdasarkan penjelasan dari Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 dan peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, penulis berkesimpulan bahwa suami yang melkukan perceraian tanpa mengucapkan ikrar talak di depan sidang pengadilan berarti perceraian tersebut belum mempunyai kekuatan hukum. Oleh karenanya, perceraian semacam itu tidak sah menurut administrasi atau disebut juga dengan perceraian liar. Jadi, pengertian perceraian di luar pengadilan adalah perceraian yang dilakukan bukan menurut prosedur sebagaimana yang telah diatur dalam Undang-Undang. Walaupun undang-Undang perkawinan dan mazhab Syafi’i berbeda dalam menetapkan hukum, namun penulis berpendapat demi kemaslahatan dan kebaikan dari undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang mengatur tentang perceraian harus diamalkan sehingga suami tidak semena-mena dapat menjatuhkan talak terhadap isterinya. B. Dasar Hukum Yang Dipergunakan

78

Suatu perceraian tidak saja dapat terjadi di depan sidang pengadilan, akan tetapi juga dapat terjadi di luar sidang pengadilan yang dilakukan menurut kebiasaan yang berlaku dalam masysarat tersebut dilakukan dengan melakukan talak, baik secarablisan maupu tulisan yang disampaikan kepada isterinya dengan maksud melakukuan perceraian. Dasar hukum yang dipergunakan dalam melakukan perceraian tersebut adalah ketentuan hukum menurut salah satu mazhab, yaitu Syafi’i. Karena menurut ketentuan mazhab Syafi’i, suatu perceraian yang diucapkan oleh suami terhadap isterinya sudah dianggap terjadi dan sah menurut hukumnya sejak diikrarkan dan memenuhi persyaratan untuk itu. Mazhab yang empat yaitu, Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hambali sependapat bahwa suatu talak atau perceraian dapat dijatuhkan dengan

mengikrarkan secara lisan.78 Lafadz talak ada yang diucapkan dalam bentuk sarih dan ada yang diucapkan dalam bentuk kinayah. Dalam bentuk sarih, yaitu lafadz talak yang diikrarkan oleh suami dengan mempergunakan kata-kata yang jelas dan tegas serta dapat dipahamisebagai persyaratan talak. Seperti suami berkata kepada

isterinya,”aku talak engkau (dengan talak satu) atau aku cerai engkau (dengan satu cerai)”.79 Apabila suami telah mengucapkan atau mengikrarkan talak terhadap isterinya dengan lafadz talak sarih, seperti yang tersebut di atas, dan diucapkan dalam keadaan sadar serta atas kemauan sendiri, maka jatuhlah
Mahmud Yunus, Hukum Perkawinan dalam Islam, Menurut Mazhab Syafi’I, Hanafi, Maliki, dan Hambali, Cet. XIII, Hidakarya Agung,Jakarta, 1991, hal. 115. 79 Ibid, hal. 115.
78

79

talak itu sejak saat ia mengucapkannya. Sedangkan talak dalam bentuk kinayah, yaitu talak yang diucapkan oleh suami kepada isterinya dengan menggunakan kata-kata sindiran, atau samar-samar, seperti suami berkata kepada isterinya, “pergilah engkau dari rumah ini sekarang juga, atau pulanglah ke rumah orang tuamu”. Ucapan seperti itu apabila ddisertai dengan niat cerai atau talak, maka terjadilah talak atau perceraianantara suami isteri tersebut. Tetapi apabila tidak disertai dengan niat, maka tidak terjadi talak atau perceraian suami kepada isterinya. Disamping talak lisan sebagaimana tersebut di atas, talak juga dapat dilakukan dengan tulisan yang disampaikan oleh suami dengan maksud untuk menceraikan isteri. Dalam melakukan talak atau perceraian dengan tukisan, menurut Syafi’i, pada saat pembuatan surat untuk maksud tersebut harus disertai dengan niat bahwa suami ingin menceraikan isterinya. Jika tidak disertai dengan niat, maka tidak jatuh talak tersebut. Jadi menurut imam Syafi’i, tulisan itu diartikan sebagai kiasan atau kinayah. Berdasarkan uraian di atas, dapat diketahui bahwa dasarhukum yang dilakukan untuk melakukan perceraian di luar sidang pengadilan agama yang terjadi dalam masyarakat adalah berdasarkan ketentuan yang dianut oleh suatu mazhab tertentu sebagai hukum yang dianut oleh masyarakata setempat. C. Faktor Penyebab Perceraian Perceraian yang terjadi di luar pengadilan agama disebabkan oleh perselihan suami isteri, dipengaruhi oleh beberapa masalah yang dapat merusak keharmonisan/ketenteraman dalam rumah tangga. Diantara beberapa

80

faktor sebab terjadinya perceraian di luar pengadilan agama, secara garis besarnya disebabkan oleh beberapa masalah berikut: 1. 2. 3.
4.

Masalah ekonomi Masalah moral Masalah campur tanggan pihak ke tiga Masalah perkawinan baru (dimadu)80

Masing-masing masalah tersebut, biasanya tidaklah berdiri sendiri secara utuh, akan tetapi saling berkaitan dan berhubungan satu sama lain.

1. Masalah ekonomi Yang dimaksud masalah ekonomi sebagai penyebab terjadinya perceraian di luar pengadilan agama, adalah keterbatasankemampuan biaya suami isteri dalam memenuhi kebutuhan hidup rumah tangganya. Keterbatasan kemampuan ekonomi tersebut disebabkan karena suami isteri tersebut tidak mempunyai pekerjaan atau pendapatan yang tetap. Disamping itu juga dapat dikatakan masih tergolong belum cukup dewasa baik dari segi usia maupun pemikirannya untuk membina suatu rumah tangga. Dengan demikian kesulitan ekonomi yang disebabkan pendapatan tidak tetap itu belum mampu diatasi, sehingga

menimbulkan perselisihan dalam rumah tangga yang berakhir dengan perceraian.
Wawancara dengan Khairul Huda, Keuchik Gampong Blang Krueng Kec. Baitussalam Kab. Aceh Besar , Tanggal 13 Januari 2013
80

81

2. Masalah moral Yang dimaksud dengan masalah moral sebagai penyebab terjadinya perceraian adalah setiap tindakan dan perbuatan suamiisteri yang bertentangan dengan agama,adat kebiasaan, dan norma kehidupan berumah tangga. Masalah moral ini, pada umumnya dilakukan oleh pihak suami, sehingga dapat memberikan pengaruh negative terhadap salah seorang diantara keduanya. Seperti sikap suami yang terlalu kejam, tidak bertanggungjawab, dan suka main perempuan. Dilain pihak, sikap isteri yang kurang tanggap terhadap urusan rumah tangga atau isteri melakukan penyelewengan dengan laki-laki lain. Disebabkan perbuatan dan tindakan yang demikian, menimbulkan perselisihan dan pertengkaran dalam rumah tangga yang berakhir dengan perceraian. 3. Masalah campur tanggan pihak ke tiga Selain masalah perceraian yang telah diurutkan di atas, masalah camput tanggan pihak ketiga juga turut mempengaruhi terjadinya perceraian di luar pengadilan agama. Camput tangan pihak ketiga ini, adakalanya datang dari pihak keluarga suami dan ada kalanya datang dari pihak keluarga isteri yang mencampuri urusan rumah tangga mereka.

82

Akan tetapi masalah ini biasanya baru timbul diawali oleh masalah lain, seperti masalah ekonomi dan masalah moral sebagaimana yang telah disebutkan di atas. 4. Masalah perkawinan Baru (dimadu) Disamping berbagai macam penyebab perceraian yang telah diuraikan di atas, masalah perkawinan baru (dimadu) juga merupakan salah satu penyebab yang sering mempenguruhi terjadinya perselisihan dan pertengkaran dalam rumah tangga suami isteri yang berakhir dengan perceraian. Perkawinan baru ini, biasanya dilakukan oleh suami tanpa sepengetahuan dan persetujuan isteri pertama dan biasanya dilakukan tidak menurut prosedur perkawinan yang berlaku. Pada umumnya perkawinan baru ini disebabkan tempat tinggal suami dan isteri terpisah karena melakukan pekerjaan ditempat lain yang jauh letaknya dari kediaman isteri. Dari berbagai macam masalah tersebut, masalah moral dan masalah ekonomi merupakan yang banyak menimbulkan perselisihan dalam rumah tangga yang berakhir dengan perceraian. Sedangkan yang disebkan oleh campur tangan pihak ketiga dan perkawinan baru tidak begitu banyak. Perselisihan dalam rumah tangga sebagaimana yang telah diuraikan di atas, biasanya bukan perselisihan yang terus menerus sehingga suami isteri tidak dapat hidup rukun lagi dalam rumah tangga. Akan tetapi perselisihan biasa sebagai akibat dari hal-hal yang dapat merusak keharmonisan rumah

83

tangga seperti yang telah disebutkan di atas. Jadi dapat diketahui bahwa perselisihan semacam ini, sering menjadi penyebab terjadinya kasus perceraian di luar pengadilan agama. Sedangkan perceraian yang disebabkan oleh perselisihan terus menerus dapat dikatakan jarang terjadi. Sehubungan dengan uraian di atas, dapat dinilai bahwa penyebab perceraian seperti diuraikan di atas merupakan perceraian yang belum dapat dipertanggungjawabkan menurut Undang-Undang perkawinan yang berlaku. Dikatakan demikian, karena perselisihan yang terjadi bukanlah perselisihan yang terus menerus sehingga tidak dapat hidup rukun lagi dalam rumah tangga. Akan tetapi hanya perselisihan biasa yang disebabkan oleh halhal yang dapt merusak keharmonisan rumah tangga, dengan emosi yang tidak terkendali, suami terlalu cepat mengambil keputusan pada pemutusan perkawinan. Oleh sebab itu, jika dihubungkan dengan ketentuan yang diatur dalam Pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 dan alasan-alasan perceraian yang tercantum dalam Pasal 19 huruf f, Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, maka perceraian tersebut belum memenuhi persyaratan sebagaimana yang dimaksudkan Undang-Undang,

Pelaksanaannya juga tidak menurut prosedur yang telah ditentukan. Adapun penyebab enggannya masyarakat untuk melakukan perceraian dipengadilan agama yaitu kurangnya pengetahuan dan pemahaman sebagian masyarakat tentang tata cara berperadilan di pengadilan agama.81 Selain dari
Wawancara dengan Khairul Huda, Keuchik Gampong Blang Krueng Kec. Baitussalam Kab. Aceh Besar , Tanggal 13 Januari 2013
81

84

pada itu, penyebab yang lain adalah bahwa ada anggapan dari sebagian masyarakat yang menganggap biaya untuk persidangan membutuhkan biaya yang besar, pada hal menurut ketentuan mahkamah syar’iyah Kabupaten Aceh Besar, besar kecilnya biaya tersebut tergantung domisili para pihak.82 Selain dari alasan-alasan di atas, yang membuat sebagian masyarakat merasa enggan melakukan perceraian di pengadilan agama adalah kurangnya kesadaran masyarakat terhadap akibat hukum yang ditimbulkan akibat perceraian di luar pengadilan agama bagi kedua belah pihak terutama isteri. Ada juga yang disebabkan karena pernikan mereka tidak tercatat di KUA atau kawin sirri sehingga tidak dapat diproses melalui pengadilan agama. Untuk menanggulangi masalah perceraian liar ini, diperlukan komitmen pemerintah supaya Undang-Undang yang telah ditetapka dapat berjalan ditengan masyarakat dengan baik, perlu diadakan penyuluhanpenyuluhan hukum kepada masyarakat secara berkelanjutan dengan melibatkan pihak-pihak terkait seperti kementerian agama, dinas syari’at Islam, mejelis permusyawaratan ulama, dan lain-lain.83 Selain dari pihak itu, sudah sepantasnya pemerintah memberikan sanksi tertentu kepada pihak yang melakukan praktek perceraian liar, agar memberikan efek takut dan jera kepada masyarakat dengan tujuan UndangUndang yang telah diterapkan pemerintah tersebut dapat berjalan dengan baik. Sebagaimana kita ketahui perceraian liar masih saja terjadi disebabkan
82 Wawancara Dengan Juwaini, Hakim Mahkamah Syar’iyah Kabupaten Aceh Besar, Tanggal 18 Januari 2013. 83 Wawancara Dengan Juwaini, Hakim Mahkamah Syar’iyah Kabupaten Aceh Besar, Tanggal 18 Januari 2013.

85

tidak adanya sanksi tegas secara langsung kepada pihak yang melanggar ketentuan Undang-Undang yang telah ditetapkan tersebut. D. Pelaksanaan Perceraian Sebagaimana telah diuraikan pada bab di atas, bahwa perceraian yang dilakukan di luar sidang pengadilan agama, pada umumnya adalah perceraian yang dilangsungkan cerai talak oleh suami terhadap isterinya. Perceraian tersebut dilakukan menurut kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Dalam pelaksanaannya tidak terdapat prosedur tertentu, akan tetapi tergantung pada bentuk peristiwa yang terjadi. Pelaksanaan Perceraian di luar pengadilan agama, biasanya sering dilakukan dalam 2 (dua) katagori pelaksanaannya yaitu: 1.
2.

Pelaksanaan perceraian dilakukan secara lisan saja. Pelaksanaan perceraian yang dilakuan secara diam-diam tanpa

memberi nafkah.84 Ad. 1. Pelaksanaan perceraian dilakukan secara lisan saja Dalam pelaksanaa seperti ini, biasanya diucapkan cerai dilakukan oleh suami pada saat atau sesaat setelah terjadi perselisihan dalam rumah tangga. Setelah perceraaian tersebut terjadi, suami, isteri, atau keluarga dari keduanya, member tahu kepada kepala desa atau imam mesjid bahwa kedua suami isteri tersebut telah bercerai. Prihal apabila suami isteri yang telah bercerai itu masih berada di tempat kediaman bersama, maka setelah mendapat informasi tersebut,
Wawancara dengan Khairul Huda, Keuchik Gampong Blang Krueng Kec. Baitussalam Kab. Aceh Besar , Tanggal 13 Januari 2013
84

86

kepala desa dan imam mesjid memanggil kedua suami isteri dan keluarganya untuk bermusyawarah mencari jalan keluar yang baik. Musyawarah tersebut, kepala desa beserta anggota badan musyawarah lainnya, mengajak suami isteri yang telah bercerai untuk berdamai kembali. Apabila berhasil didamaikan, maka imam mesjid melakukan perujukan terhadap suami isteri, yang disaksikan oleh keluarga musyawarah lainnya dan keluarga kedua belah pihak selanjutnya memberikan pandangan dan nasehat kepada suami isteri tersebut untuk membina rumah tangga di masa yang akan datang dengan lebih baik lagi. Dalam hal pihak suami isteri tetap mempertahankan prinsipnya untuk bercerai, maka perceraian yang telah diucapkan oleh suami terhadap isteri dianggap sah hukumnya. Setelah itu kepaladesa menganjurkan kepada kedua belah pihak untuk menyelesaikan administrasi talak melalui pengadilan agama. Ad. 2. Perlakukan perceraian secara diam-diam dengan tanpa memberi nafkah. Dalam perlakukan perceraian semacam ini, suami meninggalkan isteri tanpa member nafkah dan tidak member kabar apapun kepada isteri, apakah dia telah menceraikan isterinya atau tidak, yang jelas ia tidak pernah pulang lagi pada isterinya. Jika dapat diketahui bahwa pelaksanaan perceraian di luar sidang pengadilan agama masih mengikuti kebiasaan berlaku dalam sebagian masyarakat setempat. Ketentuanyang telah diatur dalam Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 yang

87

mengharuskan suatu perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan, kurang mendapat perhatian dari sebahagian masyarakat. Hal ini disebabkan sebahagian masyarakat beranggapan bahwa dalam melakukan perceraian tidak perlu bersusah payah yang penting perceraian sah hukumnya menurut agama (Islam). Sedangkan keharusan melakukan perceraian melalui pengadilan agama, hanya merupakan prosedur administrasi saja.
E. Pandangan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Terhadap Perceraian

di Luar Pengadilan Agama Untuk mendapatkan gambaran tentang posisinya dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, penulis mengawali dengan meninjau secara ringkas beberapa peraturan yang pernah berlaku di Indonesia berkenaan perkawinan, yaitu: 1. Peraturan perkawinan campuran (Regeling Opde Gemen de

Huwelijhen) yang sering disebut dengan nama GHR, staatsblad 1989 Nomor 158 2. Undang-Undang orang Indonesia Kristen, yang disebut dengan HOCI, staatsblad 1933 Nomor 74 3. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1954 tentang penetapan berlakunya Undang-Undang tentang pencatatan nikah, talaq, rujuk, lembaran negara 1954 Nomor 32 4. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, lembaran negara RI 1974 Nomor 1

88

Dengan berlakunya undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, maka semua peraturan-peraturan yang berhubungan dengan perkawinan

dibatalkan. Khusus putusnya perkawinan dalam hal “talak liar” UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974 memberi pengertian bahwa seorang suami yang menceraikan isterinya di luar pengadilan agama, dianggap tidak sah. Semestinya, suami atau isteri harus mengajukan permohonan perceraiannya ke pengadilan agama setempat, agar perceraian tersebut mempunyai kekuatan hukum tetap. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 memandang bahwa perceraian di luar pengadilan agama merupakan perbuatan melanggar hukum. Ini dapat dilihat dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, yang pada prinsipnya seorang suami “harus” mengikrarkan talaknya di depan sidang pengadilan. Dalam pengertian lain apabila terjadi perceraian di luar sidang pengadilan agama atau cerai liar yaitu suatu cerai yang terjadi tidak melalui prosedur yang telah ditetapkan oleh Undang-Undang ini, maka mereka tidak dapat menuntut hak-haknya kepada negara melalui pengadilan, seperti melakukan pernikahan berikutnya, perwalian anak, dan pembagian harta gono gini. Dalam hal perwalian anak dan harta gono gini, apabila penguasaannya dikuasai secara sepihak oleh salah satu pihak, maka pihak yang lain akan sulit untuk mendapatkan haknya secara adil sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang.

89

Sedemikian komplitnya permasalahan perceraian ini, Undang-Undang Nomo 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan telah memberikan cara pengelompokan pola sebab-sebab peceraian. Pengadilan agama melakukan inovasi sebab-sebab perceraian. Tetapi temuan sebab-sebab perceraian yang diperoleh pengadilan agama masih bersifat umum atau masih perlu ditelusuri lebih mendalam. Sehingga pemanfaatan informasi sebab-sebab perceraian dari pengadilan agama tersebut kurang dapat dipergunakan untuk penasehatan bagi pasangan suami isteri yang bermasalah. Untuk memperoleh bahan penasehatan yang lebih baik, diperlukan kajian khusus tentang sebab-sebab perceraian yang terjadi dalam masyarakat.85 Salah satu pendekatan yang perlu dilakukan adalah memisahkan antara sebab langsungnya dengan sebab tidak langsung. Sebab langsung adalah yang bersifat sangat individual, kasuistis, seperti salah satu pihak tidak mencintai, tidakmempercayai atau mencurigai pihak lain. Atau salah satu pihak sudah mencintai laki-laki/perempuan lain. Adapun sebab-sebab tidak langsung dapat berupa pandangan hidup, nilai-nilai yang dianut sekelompok masyarakat dimana seseorang menjadi anggotanya.86
F.

Tata Cara Perceraian di Pengadilan Agama. Undang-Undang perkawinan mengatur tata cara perceraian dalam Pasal 39 sampai dengan Pasal 41 dan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Pasal 14 sampai dengan Pasal 36.

85 86

Moh. Zahid, Dua Puluh Lima, .. Op., Cit., hal. 79. Ibid, hal. 79.

90

Bersandar pada ketentuan-ketentuan yang diatur dalam Pasal-Pasal tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa perceraian itu ada dua macam, yaitu: 1. 2. Cerai talaq Cerai gugat

Baik cerai talaq maupun cerai gugat, keduanya harus menggunakan salah satu alasan sebagaimana diatur dalam Pasal 19 Peraturan Pemerintah Tahun 1975 sebagai berikut: Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan sebagainya yang sukar di sembuhkan. b. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama dua tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuanya. c. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara lima tahun atau hukuman lebih berat setelah perkawinan berlangsung. d. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan yang berat yang membahayakan pihah lain. e. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak menjalankan kewajibannya sebagai suami istri. f. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun dalam rumah tangga
a.

Memiliki alasan-alasan perceraian tersebut di atas dan ketentuan bahwa perceraian harus dilakukan di depan sidang pengadilan, maka dapat dikatakan bahwa walaupun Undang-Undang perkawinan memandang perceraian sebagai sesuatu yang wajar dan dibolehkan. Tetapi oleh UndangUndang tidak diperkenankan begitu saja terjadi perceraian tanpa alasan yang kuat. Dengan perkataan lain, undang-undang perkawinan mempersulit terjadinya perceraian, dan hal ini sesuai dengan tujuan perkawinan itu sendiri

91

yang menentukan bahwa perkawinan pada dasarnya adalah untuk selamalamanya. Ad. 1. Cerai talak Tata cara seorang suami yang hendak menjatuhkan talak kepada isterinya diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 dalam Pasal 14 sampai Pasal 18, yang pada dasarnya sebagai berikut: a. Seorang suami yang telah melangsungkan perkawinan menurut agama Islam yang akan menceraikan isterinya, mengajukan surat kepada pengadilan di tempat tinggalnya, yang berisi

pemberitahuan bahwa ia bermaksud menceraikan isterinya dengan alasan-alasannya serta meminta kepada pengadilan agar diadakan sidang untuk itu. Disini ditegaskan bahwa pemberitahuan itu harus secara tertulis dan diajukan oleh suami bukan surat permohonan, tetapi surat pemberitahuan. Isi surat tersebut memberitahukan bahwa ia akan menceraikan isterinya dan untuk itu iam meminta kepada pengadilan agar mengadakan sidang untuk menyaksikan

perceraian tersebut. Setelah terjadi perceraian di pengadilan, ketua pengadilan membuat surat keterangan tentang terjadinya

perceraian tersebut, bukan surat penetapan atau putusan. b. Kemudian ketua pengadilan member surat keterangan

tentang terjadinya perceraian tersebut, dan surat keterangan

92

tersebut dikirim kepada pegawai pencatat di tempat perceraian itu terjadi untuk diadakan pencatatan perceraian. c. Perceraian itu terjadi mulai dihitung pada saat perceraian

dinyatakan di depan pengadilan. Ad. 2. Cerai Gugat Yang dimaksud dengan cerai gugat adalah perceraian yang disebabkan oleh adanya suatu gugatan dahulu oleh salah satu pihak kepada pengadilan dan perceraian dan perceraian itu terjadi dengan suatu putusan pengadilan.87 Tentang tata cara gugatan perceraian gugat diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 dalam Pasal 20 sampai dengan Pasal 36, yang pada dasarnya adalah sebagai berikut: a. Pengajuan gugatan 1. Gugatan cerai diajukan oleh suami atau isteri atau kuasanya kepada pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat tergugat. 2. Dalam hal tempat kediaman tergugat tidak jelas atau tidak diketahui atau tidak mempunyai tempat kediaman yang tetap, begitu juga tergugat berkediaman di luar negari, gugatan diajukan kepada pengadilan ditempat kediaman tergugat. 3. Demikian juga gugatan cerai dengan alasan salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut
87

K. Wantik, Hukum Perkawinan Idonesia, Ghalia Indonesia, Jakarta, 1976, hal. 40.

93

tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau hal lain diluar kemampuannya, gugatan diajukan kepada pengadilan di tempat tergugat. b. Pemanggilan 1. Pemanggilan harus disampaikan kepada pribadi yang bersangkutan yang apabila tidak dapat dijumpai, pengadilan disampaikan melalui surat atau yang dipersamakan

dengannya. Panggilan dilakukan setiap kali akan diadakan persidangan. 2. Yang melakukan penggilan tersebut adalah petugas yang ditunjuk oleh pengadilan agama. 3. Panggilan tersebut harus dilakukan dengan cara yang patut dan sudah diterima oleh para pihak atau kuasanya selambatlambatnya 3 (tiga) hari sebelum sidang dibuka. Panggilan kepada tergugat harus dilampirkan dengan salinan surat gugat. 4. Panggilan bagi tergugat yang tempat kediamannya atau tidak mempunyai tempat kediaman yang tetap, panggilan

dilakukan dengan cara menempelkan gugatan pada papan pengumuman di pengadilan dan mengumumkan melalui satu atau beberapa surat kabar atau mass media lain yang ditetapkan oleh pengadilan yang dilakukan 2 (dua) kali

94

dengan tenggang waktu 1 (satu) bulan antara pengumuman pertama dengan pengumuman yang ke 2 (dua). 5. Apabila tergugat berdiam di luar negari, panggilan dilakukan melalui perwakilan RI setempat. c. 1. Persidangan Persidangan untuk memeriksa gugatan cerai harus dilakukan oleh pengadilan selambat-lambatnya 30 (tiga Puluh) hari setelah diterimanya surat gugatan di kepaniteraan. Khusus bagi gugatan yang tergugatnya bertempat kediaman di luar negeri, persidangan ditetapkan sekurang-kurangnya 6 (enam) bulan terhitung sejak dimasukkan gugatan cerai. 2. Para pihak yang berperkara dapat menghadiri sidang atau didampingi oleh kuasa hukumnya atau sama sekali

menyerahkan kepada penguasanya dengan membawa surat nikah/rujuk, akta perkawinan dan surat keterangan lain yang diperlukan. 3. Apabila tergugat tidak hadir dan sudah dipanggil sepatutnya, maka gugatan itu dapat diterima tanpa hadirnya tergugat terkecuali bila tidak beralasan 4. Pemeriksaan perkara gugatan perceraian dilakukan dalam sidang tertutup. d. Perdamaian

95

1.

Pengadilan harus berusaha untuk mendamaikan kedua belah pihak, baik sebelum maupun selama persidangan sebelum gugatan diputuskan

2.

Apabila terjadi perdamaian, maka tidak boleh diajukan gugatan perceraian baru berdasarkan alasan-alasan yang ada sebelum perdamaian dan telah diketahui oleh tergugat pada saat tercapainya perdamaian

3.

Dalam usaha mendamaikan kedua belah pihak, pengadilan dapat meminta bantuan kepada orang lain atau badan lain yang dianggap perlu.

e. 1.

Putusan Pengucapan putusan pengadilan harus dilakukan dalam sidang terbuka

2.

Putusan dapat dijatuhkan walaupun tergugat tidak hadir, asal gugatan itu didasarkan pada alasan yang telah ditetapkan

3.

Perceraian dianggap terjadi dengan segala akibatnya terdapat perbedaan antara yang beragama Islam dan yang lainnya. Bagi yang beragama Islam Perceraian dianggap terjadi sejak jatuhnya putusan pengadilan agama yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Sedangkan bagi yang beragama lain

96

terhitung sejak saat pendaftarannya pada daftar pencatatan kantor pencatatan sipil oleh pegawai pencatat Dalam hal apabila setelah waktu 14 (empat belas) hari semenjak dibacakan hasil sidang oleh hakim, atau semenjak hasil sidang tersebut disampaikan dan telah diterima oleh tergugat apabila ia tidak hadir pada pembacaan hasil sidang, tidak ada banding dari tergugat, cerai talak atau cerai gugat tersebut telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Apabila perkara yang disidangkan itu adalah perkara cerai talak (yang diajukan oleh suami), maka hasil sidangnya berupa “penetapan”. Adapun apabila kasus yang disidangkan adalah masalah cerai gugat (yang diajukan oleh isteri), maka hasil sidangnya berupa “putusan”. Adapun masa iddahnya terhitung semenjak putusan atau penetapan tersebut

mempunyai kekuatan hukum tetap.

97

BAB IV PERCERAIAN DI LUAR PENGADILAN AGAMA MENURUT PERSPEKTIF UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 DAN KOMPILASI HUKUM ISLAM
A. Sah Perceraian di Luar Mahkamah Syar’iyah Menurut Undang-Undang

Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Huhum Islam di Indonesia 1. Menurut Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 Hukum perkawinan nasional yang telah dicantumkan dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 jo Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 jo Undang-Undang Paradilan Agama Nomor 7 Tahun 1989, juga mengatur masalah perceraian. Hal ini dapat dilihat dalam beberapa Pasal, antara lain Pasal 38 Undang-Undang Nomor 1 Tahun1974. Pasal

98

ini menyatakan bahwa perkawinan dapat putus karena kematian, perceraian, atau atas putusan pengadilan. Pasal 14 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 dinyatakan bahwa seorang suami yang telah melangsungkan perkawinan menurut agama Islam, kalau ingin menceraikan isterinya, harus terlebih dahulu mengajukan surat kepada mahkamah syar’iyah di tempat tinggalnya. Surat tersebut berisi pemberitahuan bahwa ia bermaksud akan menceraikan isterinya yang disertai dengan alasan-alasannya, dan meminta kepada pengadilan/mahkamah syar’iyah agar diadakan sidang untuk keperluan tersebut. Dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama, juga ditemui ketentuan yang mengatur masalah perceraian. Misalnya pada Pasal 65 yang menyatakan bahwa perceraian hanya dapat dilakukan di ddepan sidang mahkamah syar’iyah, setelah mahkamah yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak. Pasal ini sejalan dengan Pasal 39 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 yang secara tegas menyatakan, perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang mahkamah. Kemudian Pasal 66 ayat (1) Undang-Undang Peradilan Agama Nomor 7 Tahun 1989 menyatakan bahwa seorang suami muslim yang akan menceraikan isterinyaharus mengajukan surat permohonan kepada mahkamah untuk mengadakan sidang guna menyaksikan ikrar talak. Pasal ini isinya sama dengan Pasal

99

14 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, hanya saja Pasal ini tidak menyebutkan kata-kata ikrar talak, sedangkan Pasal 66 ayat (2) UndangUndang Peradilan Agama menyebutkannya. Dari Pasal-Pasal di atas dapat diketahui bahwa pengertian perceraian menurut hukum perkawinan nasional belum dinyatakan secara ekplisit. Namun dapat dipahami perceraian itu adalah salah satu faktor penyeban putusnya hubungan perkawinan, seperti yang telah dinyatakan dalam Pasal 38 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974. Pengertian perceraian (talak) secara ekplisit baru ditemui dalam kompilasi hukum Islam di Indonesia pada Pasal 117. Pasal ini menyatakan bahwa talak adalah “ikrar suami di depan pengadilan agama (sekarang mahkamah syar’iyah) dan menjadi salah satu sebab putusnya perkawinan”. Ketentuan Pasal ini sejalan dengan Pasal 39 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yang menyatakan bahwa perceraian itu hanya dapat dilakukan di depan sidang mahkamah. Ketentuan yang sama akan dapat ditemui pada Pasal 16 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, dan Pasal 65 Undang-Undang Peradilan Agama Nomor 7 Tahun 1989. Dengan demikian tampak dengan jelas singkronisasi antara kompilasi hukum Islam sebagai hukum materil dan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun, dan Undang-Undang Peradilan Agama. Apabila dicermati dengan seksama dapat kita temukan bahwa menurut hukum perkawinan nasional cerai itu bukan lagi dipandang

100

sebagai hak absolute bagi suami, sebab dalam pengertian talak terdapat kata-kata”ikrar suami di depan sidang pengadilan agama”.konsekuensi logis dari ketentuan ini, suami tidak lagi memiliki haka absolute seperti dalam perspektif ulama fikih masa lalu. Sehingga betapapun suami talak ingin menceraikan isterinya, tanpa melalui proses mahkamah syar’iyah, tidak mungkin talak itu dapat dijatuhkan secara sah menurut pandangan Perundang-Undangan yang berlaku. Dalam uraian tentang pengertian talak (perceraian) dalam perspektif hukum perkawinan nasional, telah dinyatakan bahwa UndangUndang tidak pernah memberikan definisi talak, kecuali dalam kompilasi huku, Islam. Sejalan dengan ini, tidak pula ditemui uraian yang sifatnya eksplisit tentang rukun dan syarat-syarat talak, namun ditemuirincian tentang alasan-alasan perceraian. Bardasarkan Pasal 39 ayat (2) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 alasan perceraian itu ada apabila suami isteri tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami isteri. Dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 alasan ini dijelaskan secara detail sebagai berikut:
1.

Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan sebagainya yang sukar di sembuhkan.

2.

Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama dua tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuanya.

101

3.

Salah satu pihak mendapat hukuman penjara lima tahun atau hukuman lebih berat setelah perkawinan berlangsung.

4.

Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan yang berat yang membahayakan pihah lain.

5.

Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak menjalankan kewajibannya sebagai suami istri.

6.

Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun dalam rumah tangga Alasan-alasan perceraian di atas diulang kembali dengan redaksi

yang sama tanpa ada penambahan atau pengurangan satu katapun dalam Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, dan dalam penjelasannya dikatakan dengan ungkapan cukup jelas. Dalam UndangUndang Peradilan Agama Nomor 7 Tahun 1989 tidak ditemui adanya pengulangan alsan-alasan perceraian tersebut, tetapi hanya disinggung secara sepintas. Misalnya dalam Pasal 70 ayat (1) dinyatakan bahwa pengadilan menetapkan permohonan cerai suami isteri setelah keduanya tidak mungkin lagi didamaikan dan telah cukup alasan. Pasal 74 menjelaskan bahwa gugatan perceraian yang didasarkan atas salah satu pihak mendapat pidana penjara, penggugat cukup menyampaikan salinan putusan pengadilan yang berwenang. Pasal 75 menjelaskan bahwa gugatan perceraian yang didasarkan atas cacat badan atau penyakit

102

dengan akibat tidak dapat menjalankan kewajiban sebagai suami, diperlukan adanya surat keterangan dari dokter. Sedangkan alasan cerai yang didasarkan atas alasan syiqaq, harus didengar keterangan saksisaksi yang berasal dari keluarga atau orang-orang yang dekat dengan suami isteri. Penjelasan-penjelasan yang ada dalam Undang-Undang Peradilan Agama tersebut tampak lebih berfokus pada hukum acaranya dari pada hukum materilnya, dan ini logis karena Undang-Undang Peradilan Agama merupakan hukum acara pengadilan agama. Tambahan dari alasan-alasan cerai seperti yang ada dalam Pasal 19 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, dapat ditemui dalam kompilasi hukum Islam Pasal 116. Pasal ini pada mulanya mengulang semua alasan-alasan perceraian yang sudah ada, namun setelah itu memberikan dua tambahan. Tambahan pertamanya adalah pelanggaran terhadapt taklik talak dan tambahan keduanya karena murtad. Dari uraian tersebut dapat dinyatakan bahwa hukum perkawinan nasional tidak memakai istilah (term) rukun dan syarat-syarat talak seperti yang ada dalam fikih mazhab. Hukum perkawinan nasional juga tidak memakai (term) sah dan tidak sah dalam perceraian. Bahasa yang dipakai tampakcukup jelas dan lugas, seperti yang dinyatakan dalam Pasal 39 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 yakni “perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan

103

kedua belah pihak”. Ungkapan ini secara implicit sebenarnya sudah mengan dung makna sah dan tidak sah. Ketentuan Pasal ini dapat dikatakan sebagai unsur yang sangat esensial untuk menentuka legalitas suatu perceraian, dan ini dapat disebut sebagai rukun, sebab perceraian tidak dapat terjadi tanpa di depan sidang pengadilan. Disamping itu juga masih ada ketentuan lain yang dapat dikatakan sebagai unsur penting dalam rangka mewujudkan perceraian, yaitu adanya alasan-alasan perceraian seperti yang telah dikemukakan di atas. Kemudian unsure lainnya adalah pemenuhan administrasi, seperti adanya surat gugatan yang ditujukan kepada pengadilan di tempat tinggalnya. Kedua unsur ini persyaratan utama untuk dapat terlaksananya perceraian di depan mahkamah syar’iyah, ini tampaknya dapat dikatagorikan sebagai syarat. Dengan demikian dapat dinyatakan setidaktidaknya ada tiga unsur penting (rukun dan syarat) untuk terlaksananya 9legal atau illegalnya) perceraian menurut hukum pekawinan nasional. Tiga unsur penting ini adalah (1) dilaksanakan di depan sidang mahkamah syar’iyah, (2), terdapat satu atau beberapa alasan perceraian, (3), memenuhi persyaratan administrasi. Perceraian merupakan peristiwa pengakhiran ikatan antara suami dan isteri disebabkan oleh tidak dapat mempertahankan kembali keutuhan rumah tanga atau dengan kata lain sebagai penghapusan perkawinan. Dengan putusan hakim atau tuntutan salah satu pihak dalam perkawinan.88 Juga disebut sebagai pembubaran ikatan
88

perkawinan

Sobekti, Pokok-Pokok,.. Op., Cit., hal. 42.

104

ketika pihak-pihak masih hidup dengan alasan yang dapat dibenarkan dan ditetapkan dengan suatu putusan pengadilan.89 Oleh karena perkawinan juga merupakan bentuk dari suatu perikatan, maka ketika perikatan itu berakhir timbul berbagai akibat hukum sebagaimana lazimnya suatu perikatan. Namun demikian, karena perkawinan merupakan bentuk perikatan yang bersifat sangat khusus berupa ikatan batiniah, maka pengaturannya tidak tunduk kepada ketentuan perikatan pada umumnya, melainkan diatur secara khusus dalam sebuah Undang- Undang tersendiri yaitu Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 sebagai peraturan pelaksananya. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 mengatur berbagai ketentuan hukum materil perkawinan dengan segala sesuatu yang terkait dengannya, sedangkan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 mengatur tata cara perkawinan dan perceraian, sekaligus merupakan hukum acara dalam menyelesaikan sengketa rumah tangga (perceraian). Selain kedua ketentuan ini terdapat pengetahuan lain yang dikhususkan bagi orang beragama Islam yaitu terdapat dalan kompilasi hukum Islam dan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama yang diubah dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006, yang akan dijelaskan pada uraian selanjutnya. Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Pasal 14 seorang suami yang telah melangsungkan perkawinan menurut agama Islam,
89

Happy Marpaung, Masalah Perceraian,Tems, Bandung, 1983, hal. 24.

105

yang akan menceraiakan isterinya, maka mengajukan surat kepada pengadilan di tempat tinggalnya, yang berisi pemberitahuan bahwa ia bermaksud menceraikan isterinya disertai dengan alasan-alasannya serta meminta kepada pengadilan agar diadakan sidang untuk keperluan itu. Pada Pasal 15 pengadilan yang bersangkutan mempelajari isi surat yang dimaksud dalam Pasal 14, dan dalam waktu selambat-lambatnya 30 hari memanggil pengirim surat dan juga isterinya untuk meminta penjelasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan maksud perceraian. Pasal 39 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 menyetakan bahwa perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak dan batalnya perkawinan sebagaimana pada Pasal 37 diputuskan oleh pengadilan, aturan ini berbeda dengan kitab-kitab figh klasik yang menyatakan bahwa talak dapat terjadi dengan persyaratan sepihak oleh suami baik secara lisan maupun tertulis secara bersungguh-sungguh atau bersenda gurau. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 menetapakan bahwa perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang mahkamah syar’iyah setelah mahkamah syar’iyah tersebut telah berusaha dan tidak berhasil mendamaikan. Apabila tidak tercapai perdamaian maka pemeriksaan gugutan perceraian dilaksanakan dalam sidang tertutup sebagaimana disebutkan dalam Pasal 33.

106

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 ditetapkan percerian baik diminta oleh suami atau isteri hanya dapat dilakukan dengan alasan sebagai berikut: pertama, Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan sebagainya yang sukar di sembuhkan.90 Kedua, Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama dua tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuanya.91 Ketiga, Salah satu pihak mendapat hukuman penjara lima tahun atau hukuman lebih berat setelah perkawinan berlangsung.92 Keempat, Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan yang berat yang membahayakan pihah lain.93 Kelima, Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak menjalankan kewajibannya sebagai suami istri.94 Keenam, Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun dalam rumah tangga.95 Pasal 39 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 menyatakan perceraian hanya dapat dilakukan di depan sidang pengadilan setelah pengadilan yang bersangkutan berusaha dan tidak
Pasal 19 Butir a Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, Lihat Juga Pasal 87 jo Pasal 88 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989. 91 Pasal 19 Butir b Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975. 92 Pasal 19 Butir c jo Pasal 23 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, Lihat Juga Pasal 74 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989. 93 Pasal 19 Butir d Peraturan Pemerintah Tahun 1975. 94 Pasal 19 Butir e Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975, Lihat Juga Pasal 75 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989. 95 Pasal 19 Butir f Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975. Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974, Alasan Keenam Dikenal Dengan Istilah Syiqaq: Lihat Pasal 76 ayat (1) Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Beserta Penjelasan Pasal Demi Pasal Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989.
90

107

berhasil mendamaikan kedua belah pihak. aturan ini berbeda dengan kitab-kitab figh klasik yang menyatakan bahwa talak dapat terjadi dengan persyaratan sepihak oleh suami baik secara lisan maupun tertulis secara bersungguh-sungguh atau bersenda gurau.96 Pada Pasal 38 ayat (1) permohonan pembatalan suatu perkawinan diajukan oleh pihak-pihak yang berhak mengajukannya kepada pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat berlangsungnya perkawinan, atau tempat tinggal kedua suami isteri, suami atau isteri. Dan dalam ayat (2) tentang tata cara pengajuan permohonan pembatalan perkawinan dilakukan sesuai dengan tata cara pengujuan gugatan. Ayat (3) hal-hal yang berhubungan dengan pemeriksaan pembatalan perkawinan dan putusan pengadilan, dilakukan sesuai dengan tata cara tersebut dalam Pasal 20 sampai dengan Pasal 36 Peraturan Pemerintah. Setelah menerima putusan perceraian, maka untuk selanjutnya bagi seorang wanita harus memperhatikan masa tunggu yang telah ditetapkan dalam Pasal 39 sebagai berikut: Pada ayat (1) waktu tunggu bagi seorang janda sebagai dimaksud dalam Pasal 11 ayat (2) Undang-Undang ditentukan adalah: a. Apabila perkawinan putus karena kematian, waktu tunggu

ditetapkan 130 hari

Mudzhar, M. Antho’, Dampak Gender Terhadap Perkembangan Hukum Islam Dalam Profetika Jurnal Studi Islam, Vol. 1 Nomor 1 Tahun 1999, hal. 116.

96

108

b.

Apabila perkawinan putus karena perceraian, waktu tunggu

bagi yang masih haid ditetapkan 3 kali suci dan sekurangkurangnya 90 hari, dan bagi yang tidak haid ditetapkan 90 hari c. Apabila perkawinan putus sedang janda tersebut dalam

keadaan hamil, waktu tunggu ditetapkan sampai melahirkan. Pada ayat (2) tidak ada waktu tunggu bagi janda yang putus perkawinan karena perceraian sedangkan antara janda tersebut dengan bekas suaminya belum pernah terjaadi hubungan. Sedangkan dalam ayat (3) bagi perkawinan yang putus karena perceraian, tenggang waktu tunggu dihitung sejak jatuhnya putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum yang tetap, sedang bagi perkawinan yang putus karena kematian, tenggang waktu tunggu dihitung sejak kematian.

2.

Menurut Kompilasi Hukum Islam Di Indonesia Penerapan hukum Islam dalam proses pengambilan keputusan di

pengadilan agama selalu menjadi masalah, oleh karena rujukan yang digunakan oleh pengadilan agama senantiasa beraneka ragam. Ia terdiri dari berbagai aliran pemikiran (mazhab), yang berakibat munculnya keragaman keputusan pengadilan terhadap perkara serupa. Untuk mengatasi masalah tersebut, maka dalam suatu lokakarya yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 10 Juni 1991 mendapat legalisasi pemerintah dalam bentuk instruksi presiden kepada menteri agama untuk

109

digunakan oleh instansi pemerintah dan oleh masyarakat yang memerlukan. Kompilasi hukum Islam disusun dan dirumuskan untuk mengisi kekosongan hukum substansial (mencakup perkawinan,

kewarisan, dan pewakafan). Dengan diberlakukannya kompilasi hukum Islam, kekosongan hukum itu telah terisi dan kerisauan para petinggi hukum teratasi.97 Pengajuan cerai talak/gugat ke mahkamah syar’iyah, baik yang dilakukan oleh suami atau isteri sangat erat kaitannya dengan hak dan kewajiban suami isteri sebagai landasan keluarga yang jauh dari noda dan nista untuk membentuk keluarga sakinah, mawaddah warahmah. Pelanggaran terhadap hak dan kewajiban suami isteri itulah yang menyebabkan ketidak harmonisan keluarga, sehingga dalam satu Pasal disebutkan yang terdapat pada Bab XII bagian kesatu umum tentang hak dan kewajiban suami isteri Pasal 77 Nomor 5 yaitu “jika suami atau isteri melalaikan kewajibannya, masing-masing dapat mengajukan gugatan kepada pengadilan agama (mahkamah syar’iyah)”. Dengan demikian terjadilah perceraian di mahkamah syar’iyah. Pada Pasal 77 dimaktubkan bahwa kewajiban suami isteri tersebut sebagai berikut: 1. Suami isteri mimikul kewajiban yang luhur untuk

menegakkan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah yang menjadi sendi dasar dari susunan masyarakat.
Lihat Cik Hasan Bisri, Kompilasi Hukum Islam Dalam Sistem Hukum Nasional, Pamulang Timur, PT. Logos Wacana ilmu, 1999, hal. 1-2.
97

110

2.

Suami isteri wajib saling cinta mencintai,

hormat

menghormati, setia, dan memberikan bantuan lahir batin yang satu kepada yang lain Takkala rasa cinta telah memudar antara suami isteri dan tidak menghormati lagi kesucian akad nikah serta kesetiaan telah hilang dengan melakukan perzinaan atau perselingkuhan dengan orang lain, maka masing-masing mereka berhak mengajukan permohonan cerai kepada mahkamah syar’iyah. Karena mereka juga telah melanggar Pasal 77 Nomor 4 ”suami isteri wajib memelihara kehormatannya”. Dengan melakukan perzinaan atau perselingkuhan, maka jelas mereka tidak lagi memelihara kehormatan mereka sebagai kewajiban masing-masing suami isteri. Seorang suami sebagai pembimbing terhadap isteri yang wajib memberikan pendidikan agama dan member kesempatan belajar pengetahuan yang berguna, telah diambang kegagalan apabila isterinya nusyuz, walaupun suami dapat member sanksi kepada isterinya berupa tidak memberikan nafaqah lahir dan batin sebagaimana tersebut dalam Pasal 80 Nomor (4), (5), dan (7), yaitu: (4) Sesuai dengan penghasilannya suami menanggung: a.
b.

Nafkah, kiswah, dan tempat kediaman isteri Biaya rumah tangga, biaya perewatan, dan biaya

pengobatan bagi isteri dan anak c. Biaya pendidikan anak.

111

(5) Kewajiban suami terhadap isteri, seperti tersebut pada ayat (4) huruf a dan b di atas mulai berlaku sesudah ada tamkin sempurna dari isterinya. (7) Kewajiban suami sebagaimana dimaksud ayat (5) gugur apabila isteri nusyuz. Perbuatan hukum yang dilakukan oleh suami tersebut, boleh juga dilakukan oleh isteri, apabila suami melanggar kewajiban. Karena dalam Pasal 79 Nomor 3 menyebutkan “masing-masing pihak berhak untuk melakukan perbuatan hukum”. Pihak disini adalah suami isteri. Jadi suami atau isteri boleh melakukan perbuatan hukum, karena hak dan kedudukan suami isteri adalah seimbang dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat. Keretakan rumah tangga diawali dengan perbuatan melanggar hak dan kewajiban suami isteri, bahkan sampai melakukan hubungan perzinaan atau perselingjuhan dengan pasangan lain, masing-masing mereka dapat melakukanperbuatan hikum berupa pengajuan cerai talak/gugat ke mahkamah syar’iyah, dengan alasan salah satu atau keduanya melakukan perbuatan zina. Hal ini jelas termaktub dalam Pasal 116 sebagai berikut: Perceraian dapat terjadi karena alasan-alasan:
1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat,

penjudi, dan sebagainya yang sukar di sembuhkan. 2. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama dua tahun berturutturut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuanya.

112

3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara lima tahun atau

hukuman lebih berat setelah perkawinan berlangsung. 4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan yang berat yang membahayakan pihah lain. 5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak menjalankan kewajibannya sebagai suami istri. 6. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun dalam rumah tangga Pada Pasal 116 huruf a jelas tertera, boleh diceraikan dengan alasan ssalah satu atau keduanya melakukan perbuatan zina. Apa yang termaktub dalam kompilasi hukum Islam tentang alasan-alasan dapat diceraikan, tidak ada beda yang terdapat dalam Pasal 39 ayat (2) UndangUndang Nomor 1 Tahun 1974. Telah menjadi ketentuan hukum bahwa kompilasi hukum Islam merupakan hukum Islam yang diundangkan Negara di zaman orde baru. Kompilasi hukum Islam disusun berdasarkan keputusan bersama ketua mahkamah agung dan menteri agama, pada tanggal 21 Maret 1985. Penyusunan Kompilasi hukum Islam selama 6 tahun (1986-1991), dan pada tanggal 10 Juni 1991 berdasarkan intruksi presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 1991, kompilasi hukum Islam dikukuhkan sebagai pedoman tersendiri dalam bidang hukum materil bagi para hakim di lingkungan peradilan agama di seluruh Indonesia. Kompilasi hukum Islam merupakan respon pemerintah terhadap timbulnya berbagai keresahan di masyarakat akibat beragamnya keputusan pengadilan agama untuk suatu kasus yang sama. Keberagaman itu merupakan konsekuensi logis dari beragamnya sumber pengambilan hukum, berupa kitab-kitab fiqh yang dipakai oleh para hakim dlam

113

memutuskan suatu perkara. Karena itu, muncul suatu gagasan mengenai perlunya suatu hukum positif yang dirumuskan secara sistematis sebagai landasan rujukan bagi para hakim agama sekaligus sebagai langkah awal untuk mewujudkan kodifikasi hukum nasional. Solusi yang diambil pemerinth dengan lahirnya kompilasi hukum Islam mengandung dua hal, disatu sisi memudahkan kerja para hakim agama dan pihak-pihak lainnya yang akan mencari rujukan hukum, tetapi disisi lain berarti memangkas kreativitas dan upaya-uoaya ijtihad dalam hukum keluarga. Persoalan-persoalan baru bermunculan mengikuti dinamika masyarakat, seprti persolan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sementara rujukan hukum tidak berubah, hal ini pada gilirannya menimbulkan kesulitan baru bagi para hakim itu sendiri dalam melaksanakan tugas merela di lapangan. Adapun pengaturan tentang perceraian dalam kompilasi hukum Islam diatur dalam Bab XVI putusnya perkawinan Pasal 113 sampai Pasal 148. Beberapa Pasal yang prinsipil dalam talak di Indonesia adalah: Pasal 113 perkawinan dapat putus karena: a. b.
c.

Kematian Perceraian, dan Putusan penadilan.98

Dalam Kompilasi Hukum Islam Pasal 117 Pengertian Talak Adalah Ikrar Suami Dihadapan Sidang Pengadilan Agama Yang Menjadi Sebab Salah Satu Putusnya Perkawinan. Dengan Cara Sebagaimana dimaksud Pada Pasal 129, 130, dan 131. Lihat Intruksi Presiden RI Nomor 1 Tahun 1991, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: Direktorat Pembinaan Badan Peradilan Agama Departemen Agama RI, 2000), hal. 57.

98

114

Pasal 114 putusnya perkawinan yang disebabkan karena perceraian dapat terjadi karena talak atau berdasarkan gugatan perceraian. Pasal 115 perceraian hanya dapar dilakukan di depan sidang pengadilan agama setelah pengadilan agama tersebut berusaha dan tidak berhasil mendamaikan kedua belah pihak. Pasal 116 Perceraian dapat terjadi karena alasan-alasan sebagai berikut:
a.

b.
c. d. e.

f. g.
h.

Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabuk, pemadat, penjudi, dan sebagainya yang sukar di sembuhkan. Salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama dua tahun berturut-turut tanpa izin pihak lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain di luar kemampuanya. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara lima tahun atau hukuman lebih berat setelah perkawinan berlangsung. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan yang berat yang membahayakan pihah lain. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau penyakit dengan akibat tidak menjalankan kewajibannya sebagai suami istri. Antara suami dan istri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun dalam rumah tangga Suami melanggar taklik talak Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga.99 Kompilasi hukum Islam menetapkan perceraian boleh didasarkan

alasan bahwa seorang suami melanggar taklik talak atau peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidak rukunan dalam rumah tangga. Dalam masalah putusnya hubungn perkawinan (percerian) keputusan untuk bercerai atau tidak sangat tergantung kepada laki-laki (suami). Suami dapat menjatuhkan kata-kata cerai kepada isterinya kapan

Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Akademika Pressindo, Jakarta, 1992, hal. 140-141.

99

115

saja dan dimana saja. Kemudian, hak talak yang berada ditangan suami,100 syar’i tidak membenarkan suami menggunakan haknya itu dengan gegabah dan sesuka hati melakukannya.101 Bahkan dianggap makruh bila tanpa sebab.102 Maka tidak boleh mentalak isteri bila tanpa alasan yang dikehendaki oleh syar’i yaitu adanya nusyuz dari pihak isteri.103 Selain itu, kompilasi hukum Islam menetapkan bahwa seorang suami dapat menegakkan kewajiban isterinya nusyuz. Dalam keadaan bahwa seorang isteri melalaikan keawajibannya, dia dapat dianggap nusyuz.104 Selama dia nusyuz, seorang suami tidak wajib member nafkah, kiswah, tempat kediaman maupun biaya rumah tangga, biaya perawatan dan pengobatan untuk isterinya. 105 Ketentuan seorang suami terhadap adanya nusyuz wajib didasarkan bukti yang sah.106 Namun demikian, ada juga yang berpendapat mengatakan bahwa kedua belah pihak perkawinan boleh dianggap nusyuz. Kalau seorang suami dianggap nusyuz, isterinya berhak membuat perjanjian yang dimaksud untuk memperbaiki hubungan dengan suaminya. Kalau seorang isteri dianggap nusyuz, suaminya wajib bertindak sebagai berikut: Pertama, seorang suami menasehati isterinya dengan baik. Kedua, jika isteri tersebut tidak memperhatikan suaminya, mereka harus
100 101

Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqh, (Jakarta: Prenada Media, 2003), hal. 215. Abd Rahman Ghazaly, Fiqh Munakahat, (Jakarta: Kencana, 2006), hal. 212. 102 Ibn Hajar, Fath al-Bari…….. hal. 445. 103 Ibid, 491. 104 Pasal 83 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam 105 Pasal 84 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam 106 Pasal 84 ayat (5) Kompilasi Hukum Islam

116

berpisah tidur. Ketiga, jika isterinya tersebut masih tidak memperhatikan suaminya, dia boleh memukul isterinya dengan pukulan yang tidak berat. Atas semua bentuk harta tersebut suami dan isteri mempunyai hak sempurna untuk melakukan perbuatan hukum.107 Suami isteri masih berhak mengubah ketentuan tersebut melalui perjanjian perkawinan.108 Harta suami isteri masing-masing tidak dapat menutup keberadaan harta bersama.109 Harta bersama diperbolehkan dalam berbagai bentuk. Hak suami dan hak isteri terhadap harta bersama dilindungi, yaitu seorang suami atau isteri tidak boleh menjual atau memindahkan harta bersama tanpa persetujuan pihak lain.110 Lagi pula, harta bersama hanya boleh menjadi barang jaminan untuk salah satu pihka atas persetujuan pihak lainnya.111 Harta bersama dibagi pada masa putusnya perkawinan.112 Kedua pihak perkawinan bertanggungjawab sendiri maupun bersama untuk menjaga harta masing-masing maupun harta bersama.113 Argumen yang dikeluarkan untuk masalah ini tetap menggunakan argument tafsir ayat tentang keunggulan laki-laki (afdhaliyah al rajul) dan kekuasaan ekonomi; laki-laki rosional dan penuh pertimbangan, sementara perempuan cepat emusional, laki-laki menafkahi, perempuan dinafkahi, laki-laki membayar mas kawin dan kebutuhan lainnya, perempuan penerima semuanya, dst. Ini benar-benar bias gender. Jika
Pasal 87 ayat (2) Kompilasi Hukum Islam Pasal 87 ayat (1) Kompilasi Hukum Islam 109 Pasal 85 kompilasi Hukum Islam. Untuk Harta Bersama Dalam Perkawinan Yang Bersifat Isteri Lebih Dari Seorang Lihat Pasal 94 Kompilasi Hukum Islam. 110 Pasal 92 Kompilasi Hukum Islam 111 Pasal 91 ayat (4) Kompilasi Hukum Islam 112 Pasal 97 Kompilasi Hukum Islam 113 Pasal 90 Kompilasi Hukum Islam
108 107

117

relasi suami isteri adalah relasi privacy, maka perlindungan hukum bagi perempuan menjadi sangat sulit dan tertutup. Dengan begitu,

keselamatan perempuan dari tindakan suami untuk suatu perceraian sangat tergantung pada tingkat moralitas suaminya yang tentu saja sangat subjektif. Dalam rangka menghindari terjadinya perceraian sepihak yang tidak terkontrol, subjektif dan sering merugikan perempua, sejumlah negara Islam telah melakukan pembaharuan hukum melalui proses perceraian di pengadilan termasuk dalam hal ini adalah rumusan dalam kompilasi hukum Islam Indonesia. Baik pernikahan maupun perceraian menurut kitab-kitab fiqh dinyatakan sah sepanjang memenuhi persyaratan dan rukunnya. Pencatatan di kantor urusan agama (KUA) bukanlah merupakan kewajiban dan bukan pula bagian dari rukun perkawinan.

Pertanggungjawaban dan pembuktian hukum atas berlangsungnya perkawinan sudah dianggap cukup memadai melalui kesaksian dua orang yang adil (jujur). Dalam hal perceraian keadaannya jauh lebih sederhana lagi yaitu bukan hanya tidak diperlukan pencatatan bahkan juga tidak wajib adanya kesaksian. Kesaksian dapat dipenuhi sebagai anjuran belaka (mustahab). Ketentuan-ketentuan fiqh seperti itu sesungguhnya dapat

dipahami ketika kejujuran merupakan tradisi masyarakat. Dengan kata lain….. bisa diterima hanya untuk masyarakat yang menjujung tinggi kejujuran sedemikian rupa sehingga kesaksian dua orang yangjujur

118

dipercaya sebagai dasar pembuktian perkawinan. Konteks sosial budaya masyarakat hari ini tampaknya telah berubah. Kesaksian dua orang tidak lagi cukup sebagai dasar pembuktian yang kuat dan menentukan. Dalam syitem hukum modern dimanapun pembuktian selain keterangan saksi diperlukan pembuktian tertulis. Maka ketika pencatatan oleh negara tidak dilakukan, manipulasi pernikahan sangat mungkin terjadi. Dalam keadaan seperti ini, perempuan (isteri) sering kali menjadi korban dengan berbagai akibat yang ditimbulkannya. Sejalan dengan prinsip pernikahan dalam Islam bahwa pernikahan untuk selamanya, maka dalam masalah talak Islam memberikan langkahlangkah pendahuluan sebagai berikut: a. Apabila terjadi perselisihan antara suami isteri, terlebih

dahulu sedapat mungkin diselesaikan sendiri b. Apabila tidak dapat diselesaikan, hendaklah mengangkat

hakim (wasit) dari keluarga suami dan isteri c. Apabila terpaksa perceraian tidak bisa dihindari, haruslah

dijatuhkan talak satu, sehingga bagi suami isteri itu masih ada kemungkinan untuk rujuk. Menyimak alasan-alasan yang harus dipahami sebelum

dijatuhkannya talak atau cerai, anjuran untuk menempuh langkahlangkah tertentu sebelum benar-benar memutuskan ikatan pernikahan, dapatlah dipahami bahwa hukum positif dan hukum agama sangat tidak menghendaki terjadinya perceraian.

119

B.

Akibat Hukum Dari Perceraian di Luar Pengadilan Agama Perceraain di luar pengadilan agama, membawa akibat putusnya hubungan hukum antara suami isteri yang bersangkutan, status suami berubah menjadi duda, dan isteri menjadi janda. Selanjutnya dengan putusnya hubungan itu, menyebabkan hilangnya hak dan kewajiban suami isteri dalam rumah tangga. Keduanya harus menjalani hidup secara terpisah dan tidak mempunyai hubungan lagi satu sama lain. Masing-masing pihak bebas menentukan sikapnya untuk tetap dalam status duda atau janda atau kawin lagi. Selain akibat tersebut, perceraian di luar pengadilan agama, juga dapat menimbulkan akibat lanjut sebagai berikut: 1. Akibat terhadap isteri a. Tidak dapat melakukan perkawinan dengan orang lain melalui KUA. Salah satu akibat hukum yang dialami oleh bekas isteri, bahwa ia tidak dapat melakukan perkawinan dengan orang lain, karena perceraian yang telah terjadi dengan suaminya di luar sidang pengadilan agama tidak dapat dibuktikan secara otentik dan perceraian tersebut belum dapat diakui keabsahannya menurut Undang-Undang perkawinan yang berlaku. Oleh karena, jika bekas isteri ingin melakukan perkawinan dengan pihak lain, maka akan mendapat kesulitan bahkan tidak dapat dilaksanakan melalui KUA. b. Tidak dapat menuntut biaya hidup melalui pangadilan agama

120

Bekas isteri tidak dapat melakukan penuntutan biaya hidup dari bekas suaminya melalui pengadilan agama. Hal ini terjadi karena perceraian antara suami isteri yang bersangkutan tidak dapat dibuktikan secara otentik dan tidak diakui keabsahannya menurut Undang—Undang perkawinan yang berlaku. c. Berakhirnya tanggungjawab terhadap biaya pemeliharaan anak Disamping beberapa akibat yang telah dikemukakan di atas, isteri juga mempunyai tanggungjawab yang berat terhadap pemeliharaan anak-anak yang hidup bersamanya. Sedangkan bekas suaminya kurang

memperhatikan biaya tersebut. d. Akibat terhadap harta kekayaan Setelah perceraian terjadi, harta kekayaan suami isteri yang diperoleh selama perkawinan diadakan pembagian. Pembagian dilakukan menurut hukum adat yang berlaku dalam masyarakat setempat. Pembagian yang dimaksud, dilakukan dengan membagikan harta bersama suami isteri menjadi dua bagian. Satu bagian untuk bekas suami dan satu bagian lagi untuk bekas isteri. Cara pembagiannya, yaitu dengan terlebih dahulu mengalkulasikan semua harta kekayaan yang ada dalam jumlah uang. Kemudian setelah dikurangi untuk perlunasan hutang kedua belah pihak jika ada dan segala biaya untuk keperluan tersebut, sisanya dibagi kepada suami isteri yang masing-masing mendapat satu bagian. e. Akibat terhadap anak

121

Akibat berakhirnya rumah tangga yang dibina oleh suamiisteri, sering kali membawa goncangan dan penderitaan bagi anak-anaknya. Anak-anak tidak dapat lagi merasakan kasih sayang dan perhatian sebagaimana diharapkan, yang sesuai dengan kebutuhan kejiwaan mereke. Anak-anak yang sudah sejak lahir tergantung dan hanya mengenal ayah dan ibunya yang selama ini mencurahkan kasih sayang penuh terhadap mereka telah tiada sebagaimana semula. Bukan hanya itu saja, juga ayah atau ibunya kawin lagi dalam rumah tangga baru, maka anak-anak akan terasa asing dalam hidupnya. Apalagi kalau mereka ikut bersama ayah atau ibu tirinya, mereka mungkin tidak merasa ketenteraman dan nyaman dengan keadaan

demikian. Kadang-kadang membuat anak-anak lebih memilih tempat tinggal bersama orang lain seperti paman atau nenek/kakeknya. Sebenarnya sudah tidak terbatas bahkan suami bertanggungjawab mengurus masa depan anak-anaknya. Secara khusus, kewajiban suami untuk memberikan mareri kepada anak-anaknya lebih diperioritaskan, jika dalam kenyataannya suami tidak dapat memenuhi kewajibannya itu, pengadilan dapat menentukan bahwa ibunya turut memikul biaya tersebut ( Pasal 41 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1975). Uraian di atas dapat memberikan gambaran bahwa pembubaran perkawinan suami isteri membawa akibatnya yang tidak baik bahkan anak-anak. Apalagi perceraian itu tidak dilakukan melalui pengadilan agama, maka bekas isteri akan menemukan jalan buntu, karena

122

perceraian yang terjadi atas dirinya tidak dapat diakui keabsahannya menurut Undang-Undang perkawinan yang berlaku. Dengan demikian kepastian hukum terhadap status dirinya tidak dapat dibuktikan secara Perundang-Undangan yang berlaku. Berdasarkan uraian di atas sebelumnya berkenaan dengan perceraian baik dalam hukum Islam sebagaimana telah diuraikan melalui nas Al-Qur’an dan Hadits serta pendangan ulama dan ulama mazhab terhadap permasalah cerai, secara umum dalam pandangan dan analisis ulama terdapat beberapa perbedaan terhadap penetapan hukum dan akibat yang ditimbulkan oleh perceraian. Begitu juga halnya dalam hukum positif yang telah diatur dalam Pasal demi Pasal berkaitan dengan perceraian, tentunya kedua pandangan hukum yang ada ini bertujuan dalam upaya memberikan kemaslahatan bagi umat dalam rangka melaksanakan perceraian. Ketika perkara perceraian diajukan kepengadilan, pada umumnya kondisi rumah tangga mereka sudah mengalami keretakan yang serius dan kedua belah pihak tidak ingin mempertahankan keutuhan rumah tangganya sehingga mereka berharap segera terjadi perceraian. Dengan disegerakannya penyelesaian perceraian ini, maka masing-masing pihak dapat segera membina rumah tangga kembali dengan pasangan lain yang lebih cocok. Namun adakalanya keretakan rumah tangga mereka belum sampai taraf yang serius sehingga mereka bisa didamaikan, bahkan ada juga yang semula sudah sama-sama menghendaki perceraian dan telah telah diputus oleh pengadilan agama ternyata ketika perkaranya masih dalam upaya hukum

123

(banding/kasasi) mereka rukun kembali, hanya saja kasus terakhir ini persentasenya sangat kecil. Memperhatikan kasus demikian, maka hakim dapat memperhatikan kondisi rumah tangga mereka serta sikap mereka dalam mempertahankan keutuhan rumah tangga. Apabila salah satu pihak tidak menghendaki perceraian dan keretakan rumah tangga mereka belum terlalu parah, maka cara yang lebih baik diputus secara bersama. Melalui cara ini diharapkan, apabila pihak yang keberatan bercerai melakukan upaya hukum, maka waktu penantian putusan ini dapat digunakan untuk intropeksi sehingga masingmasing menyadari akan kesalahan dan pada akhirnya rukun kembali. Tetapi jika kedua belah pihak sudah tidak menghendaki untuk membina keutuhan rumah tangga dan memandang perceraian sebagai alternatif yang terbaik, maka cara yang lebih baik diputuskan secara terpisah dengan mendahulukan gugatan cerainya agar segera ada kepastian. Begitu juga halnya apabila kedua belah pihak sama-sama sudah tidak ingin mempertahankan rumah tangga mereka sementara secara lahiriah rumah tangga mereka belum terlalu parah, apakah lebih baik diputuskan secara bersama-sama atau secara terpisah, sebab jika diputus secara terpisah seperti boleh jadi dengan masih sederhananya konflik rumah tangga dan tidak menutupi kemungkinan bisa rukun lagi. Dengan adanya ketentuan-ketentuan hukum berkaitan dengan

perceraian baik pedoman dalam perceraian, maka dapat menjadi sebagai pedoman dan rujukan bagi suami isteri yang rumah tangganya tidak

124

mengalami kerukunan dan selalu terjadi pertengkaran dan perbedaan antara kedua belah pihak, sehingga keinginan untuk melangsungkan cerai dapat dilangsungkan pada lembaga pengadilan agama ataupun mahkamah syar’iyah sebagai lembaga legal dan resmi serta diakui oleh pemerintah.

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan
1. Untuk melakukan suatu perceraian harus terdapat alasan yang cukup

sehingga dapat dijadikan landasan yang wajar apabila antara kedua suami isteri tidak dapat rukun lagi dan harus dilaksanakan menurut prosedur yang telah ditentukan dalam Undang-Undang. Sahnya perceraian harus memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam Undang-Undang.

Terhadap cerai talaq, baru dianggap terjadi dan sah hukumnya sejak diikrarkan di depan sidang mahkamah syar’iyah dan ketetapan hakim

125

telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Sedangkan terhadap cerai gugat, perceraian baru dianggap sah hukumnya sejak putusan mahkamah syar’iyah mempunyai kekuatan hukum tetap.
2. Pemicu utama terjadinya perceraian di luar mahkamah syar’iyah adalah

keterbatasan pengetahuan sebagian masyarakat tentang tata cara beracara di mahkamah syar’iyah. Sebagian masyarakat beranggapan bahwa pelaksanaan perceraian melalui mahkamah syar’iyah sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, hanya merupakan prosedur administrasi saja dan tidak berpengaruh terhadap keabsahan perceraian yang telah dilakukan. Sistem pelaksanaan perceraian di luar mahkamah syar’iyah yang dilakukan dikalangan masyarakat, dapat dinilai masih mengikuti kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat. Perceraian dilakukan dengan melafazdkan talak, baik secara lisan ataupun tulisan yang disampaikan kepada isterinya. Pelaksanaan perceraian yang demikian merupakan penyimpangan dari ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974, yang mengharuskan suatu perceraian dilakukan di depan sidang Mahkamah Syar’iyah. B. Saran-saran
1. Supaya sebuah perceraian tercatat dan sah hukumnya, maka perceraian

tersebut harus dilakukan di depan sidang Mahkamah Syar’iyah. Untuk mencegah atau sekurang-kurangnya memperkecil terjadinya perceraian di luar mahkamah syar’iyah, maka hendaknya pemerintah konsisten

126

mengadakan

penyuluhan

hukum kepada

masyarakat

guna untuk

meningkatkan pengetahuan dan pemahaman sehingga meningkatkan kesadaran hukum masyarakat dengan melibatkan instansi-instansi terkait, seperti Kementerian Agama, Dinas Syari’at Islam, dan lain-lain dalam setiap kesempatan.
2. Agar masyarakat tertarik untuk melakukan perceraian melalui Mahkamah

Syar’iyah, hendaknya pihak mahkamah syar’iyah memberikan bantuan tertentu untuk memudahkan masyarakat dalam mengurus perceraian selama bantuan tersebut tidak bertentangan dengan hukum. Kepada warga masyarakat yang telah melakukan perceraian dengan cara melafazdkan talak, baik secara lisan ataupun tulisan di luar sidang Mahkamah Syar’iyah, agar perceraian kedua suami isteri tersebut dapat diselesaikan menurut Perundang-Undangan yang berlaku. DAFTAR PUSTAKA A. Buku Ahmad Ichsan, Hukum Perkawinan Bagi Yang Beragama Islam, Jakarta: Prenadya Paramita, 1987. Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: Akademika Pressindo, 1992. Ahmad Azhar Basyir, Hukum Perkawinan Islam, Yogyakarta Pustaka Fakultas Hukum: UII, 1995. Agusni Yahya dkk., Hak dan Kewajiban Perempuan Sebagai Isteri, Banda Aceh: Yayasan Flower Aceh, 2002. Amir Syarifuddin, Garis-Garis Besar Fiqh, Jakarta: Prenada Media, 2003. Ahsin Thohari, Komisi Yudisial dan Reformasi Peradilan, Elsam, Jakarta, 2004.

127

Abdurrahman Ghazaly, Fiqh Munakahat, Jakarta: Kencana, 2006. Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia, cet. I, Jakarta, Prenada Media, 2006. ---------, Hukum Pekawinan Islam di Indonesia antara Fiqh Munakahat dan Undang-Undang Perkawinan, Jakarta: Prenada Media, 2006. Bagir Manan, Suatu Tinjauan Terhadap Kekuasaan Kehakiman Indonesia Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004, Mahkamah Agung Republik Indonesia, Jakarta, 2005. Basiq Jalil, Peradilan Agama di Indonesia: Gemuruhnya Politik Hukum (Hk. Islam, Hk. Barat dan Hk. Adat) dalam Rentang Sejarah Bersama Pasang Surut Lembaga Peradilan Agama Hingga Lahirnya Peradilan Syariat Islam Aceh, Kencana, Jakarta, 2006. Departemen Agama RI, Bahan Penyuluh Hukum, Jakarta: Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, 1996/1997 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, Semarang: Toha Putra, 1999. Departemen Agama RI, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: Direktorat Pembinaan Badan Peradilan Agama Islam, 2001 Departemen Agama R.I, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975 Serta Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, (Jakarta: Direktorat jenderal Bimbingan Masyarakat Islam dan Penyelenggaraan Haji, 2004). Faried Ma’ruf Noor, Menuju Keluarga Sejahtera dan Bahagia, (Jakarta: Bulan Bintang, 1983). Faisal A. Rani, Fungsi dan Kedudukan Mahkamah Agung Sebagai Penyelenggara Kekuasaan Kehakiman yang Merdeka Sesuai dengan Paham Negara Hukum, Syiah Kuala University Press, Banda Aceh, 2009. Happy Marpaung, Masalah Perkawinan, Bandung: Tonis, tt. ----------, Masalah Perceraian, Bandung: Tems, 1983. Hamid Sarong, dkk, Fiqh, Editor Soraya Devi, Banda Aceh: Bandar Publishing, 2009.

128

Ibrahim Hoesin, Fiqh Perbandingan Dalam Masalah Nikah, Talak, dan Rujuk, Jakarta: Ihya Ulumuddin, 1971. Instruksi Presiden RI Nomor 1 Tahun 1991, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Jakarta: Direktorat Pembinaan Badan Peradilan Agama Departeman Agama RI, 2000. Ilyas Supena dan M. Fauzi, Dekostruksi dan Rekonstruksi Hukum Islam, Cet. I, Yogyakarta: Gama Media, 2002. Jaih Mubarok, Modifikasi hukum Islam: Studi Tentang Qawl Qadim dan Qaul Jadid, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002. Jimly Asshiddiqie, Nomokrasi Modern : Konsep Negara Hukum Yang Demokratis, dikutip dari buku Refleksi Hukum dan Konstitusi di Era Reformasi, Pustaka Bangsa Press, Medan, 2002. Mahmud Yunus, Hukum Perkawinan Dalam Islam, Menurut Mazhab Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hambali, Cet. XIII, Jakarta: Hidakarya Agung, 1991. Muhammad Tahir Azhari, Negara Hukum, Suatu Studi Tentang PrinsipPrinsipnya Dilihat Dari Segi Hukum Islam, Implementasinya Pada Periode Negara Madinah dan Masa Kini, Bulan Bintang, Jakarta, 1992. ----------, Hukum Perkawinan Dalam Islam, Jakarta, Hidakarya Agung, 1996. Muhammad Jawad Maghniyah, Fiqh Lima Mazhab, Terjemahan Masykur AB. dkk, Jakarta, Lentera, 1998. M. Antho Mudzhar, Dampak Gender Terhadap Perkembangan Hukum Islam Dalam Profetika Jurnal Studi Islam, Vol. 1 Nomor 1, 1999. Moh. Zahid, Dua Puluh Lima Tahun Pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan, Cet. I, Jakarta: Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan Departemen Agama R.I, 2001. M. Yahya Harahap, Hukum Acara Perdata, Jakarta: Sinar Grafika, 2001. Muzakkir dan Ahmad (ed), Seluk Beluk Hukum Perkawinan Dalam Islam, Banda Aceh: Bidang Urusan Agama Islam KANWIL DEPAG NAD, 2007. Oemar Seno Adji, Pengadilan Bebas Negara Hukum, Airlangga, Jakarta, 1980.

129

Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, Edisi III, cet. 3, Jakarta: Balai Pustaka, 2006. R. Sobekti, Pokok-Pokok Hukum Acara Perdata, Jakarta: Intermasa, 1979. ---------, Hukum Acara Perdata, Jakarta: Bina Cipta, 1989. Roihan A. Rasyid, Hukum Acara Pengadilan Agama, (Edisi Baru), PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2006. Sayid Sabiq, Fiqh al-Sunnah, Cet. IV, Jilid2, Beirut: Dar al-Ma’arif, 1983. Soerjono S, Maoedji, Azwar dan Bruce, Penelitian Hukum Normatif, Jakarta, Rajawali, 1985. Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta, UI-Press, 1986. ----------, Sosiologi Hukum Dalam Masyarakat, Jakarta: Rajawali, 1987. Suparman Usman, Perkawinan Antar Agama dan Problematika Hukum Perkawinan di Indonesia, Jakarta: Penerbit Saudara, 1995. S.F. Marbun, Negara Hukum dan Kekuasaan Kehakiman, Jurnal Hukum Ius Quia Iustum, No. 9 Vol 4 – 1997. Slamet Abidin, Fiqh Munakahat, Bandung: Pustaka Setia, 1999. Sudikno Mertokusumo, Hukum Acara Perdata Indonesia, Liberty, Yogyakarta. Sobirin Malian, Gagasan Perlunya Konstitusi Baru Pengganti UUD 1945, FH UII Press, Yogyakarta, 2001. Syaikh Hasan Ayyub, Fikih Keluarga, Terjemahan, M. Adul Ghafar, Jakarta: Pustaka Al-Kausar, 2001. Tim Penyusun, Kompilasi Hukum di Indonesia, Jakarta: Direktorat Pembinaan Badan Peradilan Agama Departemen Agama RI, 2000. Tarmizi M. Jakfar, Poligami dan Talak Liar Dalam Perspektif Hukum Agama di Indonesia, Editor Maskur Samir dan Munzir, Banda Aceh: ArRaniry Press, 2007. Wirjono Prodjodikoro, Hukum Perkawinan di Indonesia, Bandung: Sumur Bandung, 1981. Wahbah Zuhaily, Tafsir al-Munir fi al-Aqidah wa As-syariah wa al-Minhaj, Beirut: Dar al-Fikr al-Ma’asir, 1991.

130

Wantjik Saleh, Hukum Perkawinan Indonesia, Jakarta, Ghalia Indonesia, 1992. Yahya Harahap, Pembahasan Hukum Perkawinan Nasional Cet. I, Medan: Zahir Trading, 1975. -----------------, Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan, (Jakarta: Pustaka Kartini, 1993). B. Peraturan Perundang-Undangan Undang Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama. Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas UndangUndang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 Tentang Pemerintahan Aceh. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman. Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Peradilan Agama. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 11 tahun 2003 Tentang Mahkamah Syar`iyah dan Mahkamah Syar’iyah Provinsi di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Instruksi Presiden R.I Nomor 1 Tahun 1991 Tentang Kompilasi Hukum Islam Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 10 Tahun 2002 Tentang Peradilan Syari’at Islam. Qanun Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam Nomor 11 Tahun 2002 tentang Pelaksanaan Syari’at Islam Bidang Aqidah, Ibadah dan Syi’ar Islam. Keputusan Ketua Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor KMA/070/SK/X/2004 Tanggal 06 Oktober 2004 tentang Pelimpahan Sebagian Kewenangan dari Peradilan umum kepada Mahkamah Syar’iyah di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

131

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->