IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tinjauan Umum Kabupaten Nunukan

4.1.1 Administrasi dan Geografi Wilayah Kabupaten Nunukan terletak di daerah khatulistiwa sehingga

dipengaruhi iklim tropis basah dengan karakteristik yang khas, yakni curah hujan cukup tinggi dengan penyebaran merata sepanjang tahun. Di Wilayah Kabupaten Nunukan tidak terdapat pergantian musim yang jelas antara musim kemarau dan musim hujan. Berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan, Wilayah Kabupaten Nunukan termasuk dalam 2 (dua) wilayah utama, yaitu: − Wilayah hujan bagian barat dengan curah hujan maksimum yang umumnya terjadi pada Januari atau Mei. Curah hujan rata-rata lebih dari 266,5 mm. Hujan maksimum sekunder terjadi pada April-Juni, sedangkan hujan minimum terjadi pada Februari. Kecamatan yang termasuk dalam wilayah ini yaitu Kecamatan Krayan, Krayan Selatan, dan sebagian wilayah Kecamatan Lumbis, Sebuku, dan Sembakung. − Wilayah hujan bagian timur dengan curah hujan maksimum terjadi pada bulan April atau Mei. Hujan minimum umumnya terjadi pada bulan Juli-Agustus dengan curah hujan rata-rata 188,95 mm, tetapi curah hujan rata-rata tahunan lebih kecil dibandingkan curah hujan pada bagian kawasan pesisir, yaitu sebesar 199,5 mm. Kecamatan yang termasuk dalam wilayah ini adalah Kecamatan Nunukan, Sebatik, sebagian Kecamatan Sebuku, Lumbis, serta Sembakung.

Secara administratif wilayah Kabupaten Nunukan dibagi sembilan wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Nunukan, Kecamatan Nunukan Selatan, Kecamatan Sebatik, Kecamatan Sebatik Barat, Kecamatan Sebuku, Kecamatan Sembakung, Kecamatan Lumbis, Kecamatan Krayan, dan Kecamatan Krayan Selatan. Berdasarkan hasil penataan wilayah desa/kelurahan di Kabupaten Nunukan, telah terjadi pemekaran kecamatan. Sebelum pemekaran, Sebuku masuk ke dalam Kecamatan Nunukan dan saat ini sudah menjadi kecamatan sendiri. Selain itu, Kecamatan Krayan mengalami pemekaran menjadi Kecamatan Krayan dan Kecamatan Krayan Selatan.

49 Kabupaten Nunukan memiliki luas 14.263,68 km2. Pada tahun 2007 (Kabupaten Nunukan dalam Angka, 2008) Kabupaten Nunukan dihuni oleh 125.585 jiwa dengan kepadatan penduduk 8 jiwa per kilometer persegi. Kabupaten Nunukan sendiri terletak pada posisi 1150 33’ - 1180 3’ Bujur Timur serta 30 15’ 00’’ - 40 24’ 55’’ Lintang Utara. Persentase luas wilayah per kecamatan dapat dilihat pada Gambar 6.

Krayan Selatan 12,31% Krayan 12,88% Sebatik 0,73%

Sebatik Barat 1,00%

Lumbis 25,56%

Sebuku 21,91%

Nunukan 11,19%

Sembakung 14,41%

Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka, 2008

Gambar 6. Persentase luas wilayah per kecamatan Kabupaten Nunukan merupakan wilayah paling utara dari Provinsi Kalimantan Timur. Posisinya yang berada di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia

menjadikan Kabupaten Nunukan sebagai daerah yang strategis dalam peta lalu lintas antarnegara. Peta administrasi dapat dilihat pada Gambar 7. Wilayah Kabupaten Nunukan terdiri dari dataran tinggi dan pegunungan. Sebagian besar didominasi oleh satuan fisiografi dataran tinggi dan pegunungan dengan luas 679.457 ha atau 47,63% dari luas wilayah. Dataran tinggi dengan kelerengan yang bervariasi merupakan wilayah paling luas yaitu mencapai 488.962 ha atau 34,28% dari luas wilayah. Peta fisiografis Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 8.

50

Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan, 2008

Gambar 7. Administrasi Kabupaten Nunukan

Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan, 2008

Gambar 8. Peta fisiografis Kabupaten Nunukan

02%. Persentase penyebaran dan luas ketinggian daerah di Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 9.25% 500 .87% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.100 m 50. Tanah alluvial/gambut hanya terdapat di Kecamatan Lumbis dengan luasan 837 ha.79%.02% 1.000 m 0.500 mdpl (meter di atas permukaan laut) ketinggian 0 sampai 100 mdpl meliputi areal seluas 716. dan Lumbis.98% 100 .808 ha atau 50.87% 0 .500 m 18. sedangkan di Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan tidak terdapat sama sekali. Kawasan di bagian utara dan selatan Kabupaten Nunukan lebih didominasi oleh kawasan dengan kelerengan rendah yaitu di bawah 15%.7% dari luas wilayah. Jenis tanah yang luasnya paling kecil yaitu alluvial/gambut sebesar 50.500 . 1. Krayan Selatan.000 m 19.2 Ketinggian dan Kemiringan Wilayah daratan Kabupaten Nunukan terletak pada ketinggian antara 0 hingga 1. dan Sembakung. Persentase penyebaran dan luas ketinggian daerah Kabupaten Nunukan Kelerengan wilayah daratan Kabupaten Nunukan bervariasi.2.1.51 4. 4.000 . Jenis tanah Kabupaten Nunukan yaitu tanah alluvial yang hampir seluruhnya terdapat di Kecamatan Nunukan.500 m 10.1. Sebuku. . 2008 Gambar 9. Wilayah yang terletak pada ketinggian lebih dari 1.896 ha atau sebesar 3. sedangkan kawasan yang memiliki tingkat kelerengan di atas 15% banyak terdapat di kawasan barat dan tengah Kabupaten Nunukan.1.25% dari luas Wilayah Kabupaten Nunukan.3 Jenis Tanah Jenis tanah yang terdapat di Wilayah Kabupaten Nunukan hanya delapan jenis tanah dan yang paling luas adalah podsolik/regosol sebesar 410.1. Sebatik.500 mdpl hanya seluas 246 ha atau sebesar 0.486 atau 28. Jenis tanah ini umumnya terdapat di Kecamatan Krayan.

52 Kabupaten Nunukan memiliki kedalaman efektif tanah yang bervariasi antara kurang dari 30 cm sampai lebih dari 90 cm. Tekstur tanah adalah perbandingan partikel liat.442 ha atau 37. dengan luas 1.66% dari luas wilayah kecamatan.24% dari total luas wilayah Kabupaten Nunukan.60 cm seluas 600.383 ha atau 63. debu.67% dan gambut 2. dan kasar. Peta jenis tanah Kabupaten Nunukan dapat dilihat di Gambar 10. tekstur sedang dengan luas 17. dan pasir yang terdapat pada suatu gumpalan tanah.52% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan. Wilayah Kabupaten Nunukan yang memiliki kedalaman tanah >90 cm seluas 711.25% dari total luas wilayah Kabupaten Nunukan.489 ha atau 67.097. Ditinjau dari tekstur tanah. Kedalaman efektif tanah merupakan kedalaman tanah yang menyebabkan akar tanaman masih bisa tumbuh dengan baik.303 ha dengan kelas tekstur tanah halus seluas 7. Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan.278 ha atau 26.545 ha atau 12. wilayah Kabupaten Nunukan mempunyai tekstur tanah halus. Tekstur tanah di Kabupaten Nunukan sebagian besar mempunyai tekstur tanah sedang. 2008 Gambar 10. sedang. Wilayah Kabupaten Nunukan dengan kedalaman tanah antara 30 . Sebagian besar wilayah Kabupaten Nunukan memiliki kedalaman tanah 30 60 cm dan >90 cm.642 ha atau 9. Peta jenis tanah Kabupaten Nunukan . Penyebaran dan luas masing-masing kelas tekstur tanah wilayah daratan di Kabupaten Nunukan untuk Kecamatan Sebatik dengan luas wilayah 27.68% dari total luas kecamatan.

sebagian besar penduduk mendiami wilayah pesisir. perikanan. lahan konsesi untuk kegiatan pertambangan minyak dan gas bumi. . Kegiatan pertanian yang berkembang dapat dilihat dari peningkatan lonjakan kenaikan produksi padi dan palawija dari 20. terutama daerah yang mempunyai aktivitas ekonomi yang cukup tinggi yang ditandai dengan adanya sarana transportasi dan keadaan ekonomi masyarakatnya yang memadai. pertanian (meliputi penggunaan lahan untuk perkebunan dan persawahan). Hasil pengamatan terhadap pola pemanfaatan lahan di Kecamatan Nunukan menunjukkan bahwa sebagian besar lahan dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. perikanan.436 ton pada tahun 2007 (BPS Kabupaten Nunukan 2008). Hal ini disebabkan oleh adanya aktivitas manusia. Hal ini menunjukkan bahwa dalam periode hampir sepuluh tahun. Jenis mata pencaharian penduduk di kawasan pesisir Kabupaten Nunukan bervariasi dengan kecenderungan pada aktivitas kehutanan. Perkembangan penggunaan tanah di wilayah Kabupaten Nunukan dari waktu ke waktu mengalami perubahan. Peta pola penggunaan lahan berdasarkan RTRW disajikan pada Gambar 11. pertanian. Mata pencaharian di sektor perdagangan.4 Pola Penggunaan Lahan Persebaran penduduk di Kabupaten Nunukan tidak merata. dan perikanan terkonsentrasi pada pada Kecamatan Nunukan dan Sebatik. dari hutan nonproduksi (hutan alam) menjadi lahan pertanian. Jenis-jenis penggunaan lahan terdiri atas pemukiman. Jumlah penduduk yang relatif besar cenderung mengelompok di daerah perkotaan.1. kehutanan. Di sektor pertanian dan perkebunan hampir merata di semua kecamatan.084 ton pada tahun 1997 menjadi 44. pelayanan jasa. di tepi pantai. dan pelayanan jasa. serta lahan untuk fasilitas umum. telah terjadi perubahan fungsi lahan. perdagangan. Kecenderungan lonjakan produksi pertanian ini besar kemungkinannya diperoleh melalui perluasan lahan pertanian dalam jumlah yang besar. dan bantaran sungai. muara-muara sungai kecil.53 4. Sebagian besar pemukiman penduduk di Kabupaten Nunukan yang berada di kawasan pesisir menempati daerah dataran rendah.

428 ha atau 11. 2008 Gambar 11.01% dari kawasan hutan seluruhnya.7% dari luas wilayahnya.914 ha atau 33.368 ha yang terdiri dari hutan taman nasional. Peta pola penggunaan lahan 4.1.426. Hutan lindung jaraknya relatif jauh dari permukiman yang ada. Sebagian besar wilayah hutan merupakan kawasan budi daya nonkehutanan seluas 470. .4.1 Kehutanan Hutan yang terdapat di Kabupaten Nunukan seluas 1.54 POLA PENGGUNAAN LAHAN Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Hutan produksi pada umumnya telah diusahakan/ditebang oleh pemegang HPH maupun bekas ladang penduduk yang telah ditinggalkan. Peta kesesuaian lahan untuk hutan lindung di Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 12. Kabupaten Nunukan memiliki kawasan hutan lindung seluas 167. dan hutan produksi (kawasan hutan dan kawasan budi daya nonkehutanan). sedangkan hutan sejenis berupa hutan reboisasi tanaman industri dari pemegang HPH. hutan lindung.

pisang. Peta kesesuaian lahan untuk hutan lindung 4.2 Pertanian Kelompok pertanian lahan kering meliputi kebun campuran. Penggunaan lahan pertanian lainnya pada umumnya merupakan campuran tanaman kopi. 2008 Gambar 12. tetapi sifatnya hanya sementara antara satu hingga tiga kali musim panen. Tegalan adalah pertanian lahan kering dengan jenis tanaman semusim seperti tanaman ketela pohon. dan lain-lain. . Luas penggunaan untuk pertanian lahan kering 8.1. rambutan. Kebun campuran adalah penggunaan lahan kering yang sifatnya menetap atau kombinasi tanaman semusim dan tanaman keras. durian. nangka.55 Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan.304 ha atau 0.58% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan. dan ladang. dan padi gunung. Peta kesesuaian lahan pertanian di Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 13. ditanami dengan jenis tanaman semusim.4. tegalan. Ladang seperti halnya tegalan.

kopi. Luas penggunaan lahan perkebunan yaitu 17. dan perkebunan besar baik oleh negara maupun swasta. aren. maupun perkebunan swasta.3 Perkebunan Perkebunan yang dimaksud yaitu perkebunan dengan jenis tanaman keras monokultur.4.1. perkebunan besar. Dalam rangka pengembangan sektor perkebunan di Kabupaten Nunukan.24% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan. Rawa-rawa yang merupakan areal penggenangan permanen dan dasarnya yang dangkal ditumbuhi . budi daya lainnya bersifat introduksi dan dikembangkan secara diversifikasi seperti vanili. Budi daya tanaman perkebunan utama yang mendapat pembinaan secara khusus antara lain budi daya tanaman karet. kelapa sawit. 4. sedangkan akhir-akhir ini berkembang pola kemitraan dengan komoditas unggulan yaitu sawit.4.4 Perikanan Kabupaten Nunukan selain mempunyai potensi perikanan tangkap. diterapkan pembinaan dengan menggunakan pola partial/swadaya. kakao. kelapa. baik perkebunan rakyat. Peta kesesuaian lahan untuk pertanian 4. lada. Di samping itu. pala. juga perikanan budi daya seperti tambak/kolam berupa areal dengan penggenangan permanen yang telah mendapat campur tangan manusia baik itu berupa kolam air tawar maupun air laut atau yang telah dikenal dengan tambak. 2008 Gambar 13.1. dan cengkeh.56 Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan.731 ha atau 1. dan jambu mete. PIR/NES.

terdapat di Kecamatan Nunukan . 2. Krayan Selatan. terdapat di Kecamatahn Krayan. Pulau Nunukan.2% dan MgO 0. Minyak bumi yang terdapat di Muara Bukat dan Muara Sungai Sembakung telah dieksploitasi oleh Pertamina. Selain di Simenggaris. Pulau Sebatik. dan Kecamatan Sembakung. belum terdapat studi terperinci tentang jumlah kandungan cadangan mineral yang ada. terdapat juga di Kecamatan Krayan.Bahan galian setengah permata (half precious probing material) di Sungai Bilal. .1. Walaupun demikian. terdiri dari: . Anugerah Jati Mulya. yaitu minyak bumi dan batu bara. Selain itu. tetapi jumlah cadangan yang ada diperkirakan tidak banyak. Kandungan batu bara yang terdapat di Simenggaris sedang diuji kandungannya oleh perusahaan swasta P. . Sembakung. Luas penggunaan lahan kolam/tambak/rawa seluas 16. batu bara juga terdapat di Kecamatan Krayan. terdapat di sekitar Sungai Sedadap. Muara Bukat (Kecamatan Nunukan). dan Sungai Krayan. Bahan Galian Golongan C. dan Muara Sungai Sembakung (Kecamatan Sembakung). dengan kandungan CaO kandungan CaO 55. yaitu: 1. terdapat di Sungai Nyamuk. dan Sembakung. Krayan Selatan.T. Bahan galian golongan strategis (golongan A).14% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan.4.05%.5 Pertambangan Pengembangan pertambangan di Kabupaten Nunukan hingga saat ini belum termanfaatkan secara optimal.Gamping. padahal Kabupaten Nunukan memiliki beberapa potensi pertambangan yang dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan.Emas. .Gips.Andesit. .Batu gunung. . Pulau Nunukan. Hulu Sungai Sembakung (Kecamatan Lumbis).295 ha atau 1. Pulau Nunukan.Pasir kuarsa. 4. Minyak bumi terdapat di Kecamatan Krayan.57 tumbuh-tumbuhan besar yang umumnya berupa rerumputan rawa dan semak belukar. terdapat di Hulu Sungai Sebuku (Kecamatan Nunukan). terdiri dari: . terdapat di Pasir Putih. dan Sebatik. Bahan Galian golongan vital (golongan B). 3.

Perumahan Perkotaan Berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan. Luas penggunaan untuk permukiman ini adalah 7. kuburan baik yang di perkotaan maupun pedesaan.15%) − Tidak berada pada daerah banjir . 2008 Gambar 14. di pengembangan Sebatik kawasan permukiman juga akan dikembangkan Pulau (dua kecamatan). Kesesuaian lahan untuk permukiman dapat dilihat pada Gambar 14. Selain dikembangkan di Pulau Nunukan sebagai kawasan perkotaan dengan pusat pemerintahan.130 ha atau sekitar 0. Krayan Induk.1. deliniasi kawasan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan menggunakan kriteria-kriteria sebagai berikut: − Kemiringan lereng relatif landai (0 . taman. Kecamatan Lumbis. perkantoran. Pengembangan kawasan permukiman tersebut mendorong terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah perbatasan negara yang berbasis potensi SDA wilayah. Peta kesesuaian lahan untuk permukiman a.6 Permukiman Penggunaan lahan permukiman meliputi perumahan. tempat olahraga.58 4. Sembakung. Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. demikian juga permukiman transmigrasi.4.05% dari luas wilayah Kabupaten. dan Krayan Selatan merupakan bagian dari wilayah perbatasan negara di Kabupaten Nunukan.

serta kota-kota kecamatan lainnya. Selain itu. 3. air kotor. Pengembangan permukiman perkotaan harus didasarkan pada sistem prasarana dasar yang artinya pengembangan permukiman perkotaan harus didasarkan pada penataan bangunan dan lingkungan yang serasi dan seimbang. meliputi sistem drainase. air sungai juga dimanfaatkan sebagai bahan baku air bersih harus melalui pengelolaan sehingga memenuhi kelayakan sebagai air bersih yang siap untuk dikonsumsi masyarakat. Sehubungan dengan potensi pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan. minimum 5% dari luas areal pengembangan perkotaan.59 − Tidak berada pada daerah resapan air − Tersedia air baku yang cukup − Bebas dari bahaya gangguan geologi lingkungan − Mempunyai tingkat aksesibilitas dan dapat dijangkau − Tidak berada pada daerah rawan gempa − Berada dekat pusat kota − Tidak berada dalam kawasan lindung Berdasarkan kriteria tersebut. persampahan. 4. 2. areal potensial dikembangkan untuk kegiatan permukiman perkotaan terletak di Pulau Nunukan atau Kota Nunukan. jalan lingkungan. tata ruang. di bagian Pulau Sebatik. Sistem prasarana drainase: . Pemanfaatan air tanah sebagai sumber air bersih untuk kebutuhan penduduk perkotaan dan sistem aktivitas. Dapat dibangun akomodasi perkotaan serta sarana sosial-ekonomi yang dapat memfungsikan kota tersebut sebagai pendorong pengembangan kawasan sekitarnya atau daerah hinterland-nya. air bersih. diperlukan pengaturan ruang sebagai berikut: 1. Pembangunan unit-unit permukiman diwajibkan untuk menyediakan lahan kuburan. 6. 5. Pengembangan permukiman minimal harus menghindari lahan-lahan pertanian yang produktif. dan perumahan. Pengembangan sarana dan prasarana ekonomi yang ada disesuaikan dengan potensi daerah belakangnya.Harus mempertimbangkan badan sungai yang ada sebagai saluran penerima .

.

5. 7. 2. dan longsoran. Kapasitas kemampuan pelayanan didasarkan pada perhitungan kebutuhan air bersih rata-rata 100 liter/orang/hari. Pada lereng atau tanah yang peka terhadap erosi harus ada rekayasa teknis sehingga kekeruhan drainase tidak semakin pekat . 3. dan organosol dengan kemiringan <15%. Kedalaman efektif tanah > 30 cm. seperti patahan aktif. rezina. 4. kecuali jenis tanah regosol. erosi. Perumahan Pedesaan Berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan. delineasi pengembangan kawasan permukiman pedesaan di Kabupaten Nunukan menggunakan kriteria-kriteria sebagai berikut: 1.000 mdpl. dan longsoran tidak terdapat di Kabupaten Nunukan.Perhitungan drainase berdasarkan banjir 10 sampai 25 tahun. Kemiringan tanah <30%. Kemiringan lereng relatif landai 0 .000 mdpl. Mempunyai sistem dan atau potensi pengembangan pengairan dan drainase. litosol. 7. Permukiman desa yang tidak sesuai dengan kriteria di atas tetap dipertahankan terutama di desa yang terdapat pada kawasan Taman Nasional Krayan Mentarang yang terletak di ketinggian di atas 1. sesuai dengan standar hidup perkotaan. Untuk meningkatkan recharge air tanah. Tidak berada dalam kawasan berfungsi lindung. erosi. Bukan daerah kritis/bahaya lingkungan beraspek geologi.500 mdpl.- Koefisien aliran permukaan (run off) tidak lebih dari 25%. kecuali desa-desa yang sudah ada di atas ketinggian 1. Ketinggian <1. seperti daerah patahan aktif. 6. b. .15%. Adapun permukiman desa yang terletak di daerah bahaya geologi lingkungan. Sistem air bersih: Pengambilan air baku diutamakan dari air permukaan (sungai) dengan melakukan pengelolaan sehingga layak untuk dijadikan air minum dan kebutuhan air bersih lainnya. dianjurkan untuk membuat sumur resapan terutama pada tanah yang stabil dan mempunyai daya serap tinggi.

Permukiman penduduk lokal/desa-desa yang berada pada kawasan lindung tetap dipertahankan. perlu dilakukan pengaturan ruang sebagai berikut: 1. 5. 4. Bagi desa-desa yang terletak di daerah aliran sungai. diusahakan untuk dimukimkan kembali ke dalam kawasan yang sesuai untuk permukiman. 2008). 2. jumlah terbesar di Kecamatan Nunukan sebesar 42. Berdasarkan potensi pengembangan permukiman perdesaan di Kabupaten Nunukan. Secara keseluruhan distribusi berdasarkan kecamatan terlihat pada Gambar 15. kesehatan. dan sarana budaya. Namun.5 Kondisi Penduduk di Kabupaten Nunukan Keadaan penduduk di Kabupaten Nunukan berdasarkan distribusi menurut kecamatan. Pengembangan jalan sesuai dengan kebutuhan dan juga disesuaikan dengan karakteristik masing-masing desa. Dapat dibangun sarana sosial-ekonomi berdasarkan kebutuhan sesuai dengan karakteristik tiap desa. baik budi daya pertanian maupun budi daya kehutanan. tetapi desa-desa berada dalam kawasan lindung. selain sarana prasarana sosial lainnya. Perlu disesuaikan secara dini agar permukiman perdesaan yang berbasis sentra pertanian tidak berubah menjadi permukiman perkotaan agar pertanian produktif tetap dapat dipertahankan serta konservasi tanah dan air tanah dapat dilakukan dengan baik. seperti fasilitas pendidikan. 4. Pengembangan jalan lainnya dapat diintegrasikan dengan pengembangan lahan usaha masyarakat. digunakan akses sungai sebagai pintu keluar masuk desa.Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada desa-desa di daerah kritis. . peribadatan. 3. Diperkenankan bangunan yang menunjang fungsi kawasan/kegiatan utama untuk kepentingan umum. melalui pengembangan kawasan budi daya. Pada desa-desa yang berada di daerah aliran sungai perlu dikembangkan pelabuhan sungai yang berskala lingkungan. 6.15% (Kabupaten Nunukan dalam Angka.1. Permukiman pedesaan memiliki kepadatan maksimum lima rumah/hektar dan KDB maksimum 5%.96% dan Kecamatan Sebatik sebesar 16. dan tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat) atau usaha tani.

57 4.756.78% Krayan 6.263. kepadatan penduduk yang ada hanya berkisar antara 1.29 .438 2. Luas wilayah.645.596.59 1.56 8.028 125.34% Nunukan 42. Distribusi penduduk Kabupaten Nunukan menurut kecamatan 2007 Berdasarkan kepadatan penduduk dari delapan kecamatan yang ada terlihat bahwa Kecamatan Sebatik memiliki kepadatan penduduk tertinggi.81% Lumbis 7.50 2.380 8.14 33.33.47% Sembakung 6. 2008 Gambar 15. yaitu 194.79 3.951 11. Kepadatan Kecamatan Sebatik Barat yaitu 77.77 3.271 9. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5.2 jiwa/km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 20.503 53.42 km2.54 1. 2008 Rata-rata jiwa per rumah tangga terbanyak terjadi di Kecamatan Sebuku dengan jumlah rata-rata sebanyak 4.Sebatik Barat 8.90 1.52 jiwa/keluarga dengan jumlah rumah tangga sebanyak 2.6 jiwa/km2.593 KK dan jumlah penduduk sebanyak 11.585 Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km²) 4.72% Krayan Selatan 1.77% Sebatik 16.19 14.90 104.80 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.68 Jumlah Penduduk (Jiwa) 8. .283 jiwa dan luas wilayah 104.15% Sebuku 9.24 77.75 194.79 jiwa/km2.055.46 3.731 jiwa.96% Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.124. jumlah penduduk dan kepadatan penduduk tahun 2007 Kecamatan Krayan Krayan Selatan Lumbis Sembakung Nunukan Sebuku Sebatik Sebatik Barat Jumlah Luas Wilayah (km²) 1. Di kecamatan lainnya.283 11.29 2.42 142.837.731 20.

546 5. Prasarana perhubungan meliputi subsektor perhubungan darat.Bambangan.16 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.1.653 3. dan subsektor perhubungan udara.245 3.503 2.6.230 3. Prasarana jalan menjadi faktor utama dalam mendukung lancarnya mobilisasi kegiatan pembangunan di daerah.210 32.235 3.50 2004 109.6 Kondisi Prasarana dan Sarana 4. subsektor perhubungan air.92 2005 115.56 2003 106.Tabel 6. sosial.527 19. dengan jarak ± 51.860 5. . Lancang – Mamolo .271 545 4.283 5. kabupaten. Peranan perhubungan sangat vital dalam menunjang kegiatan pembangunan terutama darat. Program pembangunan jalan Kabupaten Nunukan untuk pertumbuhan ekonomi yaitu: Pembangunan Jalan Lingkar Pulau Nunukan antara lain sebagai berikut: Binusan – Sungai. dan keamanan.323 19. Jepun – Tanjung.50 km.44 2002 97. Pancang Sungai Nyamuk . baik dalam bidang ekonomi.96 Sembakung 8.Aji Kuning .028 3.707 30.60 km.68 Sebuku 11. Fatimah – Sungai.917 4.380 2.Binusan.685 5.702 3. Jumlah penduduk.alun-alun – Sedadap – Sungai. kota kecamatan.41 Jumlah 125. Aru – Sungai.163 3.895 3.1. rumah tangga dan rata-rata jiwa per rumah tangga tahun 2007 Rata-Rata Jiwa/ Penduduk Rumah Tangga Kecamatan (jiwa) (kk) Keluarga Krayan 8.17 Lumbis 9.1 Jalan dan Angkutan Sungai Prasarana dan sarana perhubungan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menunjang kegiatan pembangunan. Kelancaran perhubungan antarkecamatan.40 Krayan Selatan 2. Pembangunan Jalan Lingkar Pulau Sebatik antara lain sebagai berikut Bambangan – Setabu – Sungai.84 2006 118.593 4. dengan jarak ± 58. 2008 4.366 3.93 Sebatik Barat 11. Bilal .731 2. subsektor perhubungan laut. Harapan – Sungai.52 Sebatik 20.438 1. dan pedalaman/kawasan pedesaan akan mempercepat jalanya roda pembangunan.585 32.81 Nunukan 53.951 14. Taiwan – Tanjung.398 18.

Jaringan jalan kabupaten relatif masih terbatas dibandingkan dengan luas wilayah administrasi Kabupaten Nunukan.Wa Yagung Long Bawan. yang menghubungkan kecamatankecamatan di Kabupaten Nunukan melalui: . Layu .Kecamatan Lumbis (Mansalong). sehingga memudahkan penduduk untuk berinteraksi dan beraktivitas walaupun sebagian besar jalan tersebut belum beraspal. . - Pembangunan jalan lintas kecamatan. Pasir .43 km. dengan jarak ± 65.- Pembangunan Jalan Lingkar Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan melalui Long Bawan – Kuala. jalan berbatu/diperkeras. jalan provinsi.Kecamatan Krayan (Long Bawan). - Pembangunan jalan lintas kabupaten yang menghubungkan Kabupaten Nunukan dan Malinau yaitu Kecamatan Sebuku (Pembeliangan) . dengan jarak ± 87. semua ibukota kecamatan maupun desa-desa yang ada dapat dijangkau dengan jalan darat.Long Padi – Binuang .Tang Laan – Tanjung. dengan jarak ± 235 km. Belawit – Lembudud – Long. masih diusulkan penetapannya ke tingkat provinsi/pusat. - Pembangunan jalan lintas negara yang menghubungkan Kabupaten Malinau dan Nunukan ke batas negara sejauh ± 180.Ba Liku – Bungayan . Berdasarkan jenis permukaannya.Kecamatan Sebuku (Pembeliangan) .Kecamatan Sebuku (Pembeliangan) .79 km. dan jalan tanah. dengan jarak ± 125 km. Jaringan jalan yang ada di Kabupaten Nunukan terbagi atas jalan negara. jaringan jalan darat dibagi menjadi jalan aspal. Hubungan antaribukota kecamatan di dalam kabupaten sebagian besar masih menggunakan jalur angkutan laut dan sungai.Kecamatan Lumbis (Mansalong) . . dan jalan kabupaten.Kabupaten Malinau . Jaringan jalan ke lokasi rencana PPN untuk daerah Sungai Mensapa dapat langsung dijangkau oleh kendaraan roda empat dengan baik karena keberadaan . Pada jalan negara dan jalan provinsi.Kecamatan Lumbis (Mansalong) .Kecamatan Malinau Utara (Salap).63 km.Kecamatan Sembakung (Atap). dengan jarak ± 22.60 km. Meskipun demikian.

4. 2008 Gambar 16. Membuka isolasi daerah melalui pembangunan dan peningkatan jalan desa. . 3. Peta kesesuaian lahan untuk keterlintasan jalan dapat dilihat pada Gambar 17. Meningkatkan kelas jalan. Jaringan jalan menuju Sungai Jepun.5%) jaringan jalan yang ada masih merupakan jalan berpermukaan campuran (agregat antara jalan aspal. Persentase panjang jalan disajikan pada Gambar 16. dan tanah). Pemerintah Kabupaten Nunukan merencanakan pengembangan prasarana jalan yang meliputi: 1. mencapai 816.lokasi yang berdekatan dengan jalan lingkar Pulau Nunukan. Persentase panjang jalan menurut jenis permukaan 2007 (km) Jumlah panjang jalan di wilayah Kabupaten Nunukan. dan Kampung Buton sudah tersedia jalan agregat yang dapat dilalui oleh mobil sampai ke rencana lokasi. Aspal 16% Tanah 49% Kerikil 35% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. Sebagian besar (53. Sedadap. Kondisi jaringan jalan di Nunukan dapat dilihat berdasarkan jenis permukaan jalan maupun kelas jalan. termasuk wilayah perkotaannya.90 km. Melanjutkan pembangunan ruas jalan baru dengan melengkapi kebutuhan rambu-rambu lalu lintas untuk keamanan dan ketertiban pemakai jalan. batu. Pemeliharaan secara periodik dan rutin serta peningkatan jalan menuju ibukota kecamatan dengan konstruksi hotmix. 2.

Nunukan Angkutan Kapal Laut Nunukan Toli – Makassar – Balikpapan . Peta kesesuaian lahan untuk keterlintasan jalan Pelayanan mobilisasi penduduk dan barang antarpulau. 3. Selain itu. dan udara yang melintasi Kabupaten Nunukan. Angkutan Sungai Tarakan .66 Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. sepanjang Sungai Sembakung yang menghubungkan daerah yang tersebar di sepanjang sungai mulai dari hulu ke hilir dan sepanjang sungai di Lumbis serta Krayan Selatan yang ada di wilayah pedalaman Kabupaten Nunukan. tidak hanya sebatas pada daerah pedalaman. 4.Tawau (setiap hari) Angkutan udara Tarakan . Tersedia jadwal rute angkutan sungai. yakni sebagai berikut : 1. dan enam bandar udara air strip. alat angkutan utama yang digunakan adalah kapal laut dan udara. laut. . dua bandar udara perintis. Berdasarkan data Kantor Badan Statistik Kabupaten Nunukan tahun 2002. tetapi juga sangat berperan pada daerah yang sudah berkembang di sekitar pantai. 2008 Gambar 17.Nunukan Terjadwal (setiap hari) Angkutan Sungai Antarnegara Nunukan . 2. tercatat satu pelabuhan laut. Sistem angkutan sungai ini berkembang di sepanjang Sungai Sebuku (Sungai Tulid dan Sungai Tikung).Surabaya PP Angkutan sungai di Kabupaten Nunukan memegang peranan penting. untuk keperluan lokal (dalam kota) digunakan angkutan darat.

1. Kapasitas air bersih yang ada belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena permasalahan distribusi dan kualitas air yang belum sesuai dengan kebutuhan.348 unit. ekosistem perairan dapat tercemar oleh bahan organik yang berasal dari pengguna angkutan dan bahan organik seperti bahan bakar.6. Bahan-bahan ini dapat menambah ambang total petroleum hidrokarbon di dalam air. maupun penumpang ke dan dari pedalaman. dan masih tingginya tingkat kebocoran air. 4. sedangkan kecamatan lain masih memanfaatkan sumber air lainnya. 14 unit hidran. adanya jaringan distribusi yang belum menjangkau ke seluruh wilayah. Kecamatan Nunukan telah memiliki PDAM. dan 289 unit sambungan nonrumah tangga. bahkan antarkota yang ada di Provinsi Kalimantan Timur dengan jenis pesawat baling-baling kecil dan sedang.3 Air Bersih a. Selain itu.Sesuai dengan sifat-sifat sungai. kapasitas yang tersedia belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.049 unit sambungan rumah (SR). dan oli. Sumber daya air tersebut terdiri dari air permukaan dan air tanah dalam. peranan angkutan sungai demikian pentingnya untuk kelancaran arus barang. Perkembangan penduduk menyebabkan peningkatan kebutuhan air bersih.1. Dalam hal ini.2 Angkutan Udara Bandar udara Kabupaten Nunukan merupakan bandar perintis yang melayani daerah di Kabupaten Nunukan. seperti mata air dan air permukaan sebagai sumber air bersih. terdiri 1. Namun. 4. Permasalahan yang ada dalam penyediaan air bersih di Kabupaten Nunukan ini yaitu sebagian besar daerah belum memilik sambungan air PDAM sebagai badan yang dapat mengolah dan menyediakan air bersih. .6. Ketersediaan Prasarana dan Sarana Air Bersih Sumber air baku bagi kebutuhan air bersih diambil dari Sungai Bolong dan Sungai Bilal. Kondisi yang sama juga terlihat pada perpaduan dengan angkutan lainnya untuk dapat menjangkau wilayah pedalaman dan perbatasan dengan penerbangan perintis. Sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan di Kabupaten Nunukan ini sebelumnya sangat potensial. Hal ini disebabkan masih terbatasnya prasarana dermaga perairan darat. di lain pihak adanya kegiatan angkutan sungai yang dilengkapi dengan prasarana dermaga dapat mempengaruhi ekosistem yang ada di dalamnya. Jumlah sambungan aktif mencapai 1.

Tingkat Pelayanan Air Bersih Perkotaan Berdasarkan sistem sambungan perpipaan.496 1.500 1.68 Pembangunan dan pemanfaatan embung-embung yang berasal dari sungai-sungai dapat sangat bermanfaat dalam mengatasi keterbatasan air baku untuk air minum pada musim kering. tingkat pelayanan air bersih penduduk Kabupaten Nunukan sebesar 18%.000 500 0 2002 2003 2004 2005 2006 2007 1. 2008 Gambar 18. 2008) mencapai 1.500 2. air permukaan. 2. sebanyak 82% penduduk di wilayah Kota Nunukan masih menggunakan sumber air baku yang berasal dari tanah. PDAM yang beroperasi di Kabupaten Nunukan berada di Kecamatan Nunukan dan Sebatik.912 1.510 1.000 1. maupun air hujan.744 Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka. Banyaknya pelanggan pada PDAM Nunukan 2002—2007 .63% dibanding tahun sebelumnya. b. Selengkapnya data perkembangan pelanggan dari tahun ke tahun dapat dilihat pada Gambar 18. Jumlah pelanggan PDAM Nunukan pada tahun 2007 (Kabupaten Nunukan dalam Angka. Penyediaan air yang bersih dan layak digunakan untuk keperluan sehari-hari dapat dipenuhi dengan tersedianya Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Sisanya.573 1.496 1.912 pelanggan atau dengan kata lain mengalami peningkatan masing sebesar 9.

000 300. banyaknya air minum yang disalurkan oleh PDAM Nunukan juga mengalami peningkatan sebesar 17.000 200. Banyaknya pelanggan air minum menurut jenis pelanggan 2007 Jenis Pelanggan Rumah Tangga (Tempat Tinggal).339 514. Data selengkapnya mengenai perkembangan banyaknya air minum yang disalurkan terlihat pada Gambar 19. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 7. Rumah Ibadah dsb Social. Hospital Sarana (Fasilitas) Umum Public Facilities Hydran Pelabuhan Hydran Port Lainnya/Industri Others Jumlah Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.000 800. Instansi/Kantor Pemerintah Household. Banyaknya air minum yang disalurkan 2002-2007 (m3) . Toko. terdapat 1. Market.000 0 2002 2003 2004 2005 2006 468. instansi/kantor pemerintah.000 900. 2008 Gambar 19. Tabel 7.632 2007 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. Factory Badan Sosial. Government Hotel/Objek Wisata.418 756.912 orang dengan jumlah pelanggan terbanyak dari rumah tangga (tempat tinggal).000.41%.000 600.912 Sebatik 219 90 4 2 1 316 Lumbis 229 63 1 3 296 Seiring dengan peningkatan jumlah pelanggan. 2008 Nunukan 1. Industry. Perusahaan Hotel.000 500. Di Kecamatan Nunukan.000 700.Berdasarkan data tahun 2007.000 100.179 470.484 pelanggan.832 385. Rumah Sakit. Industri.484 390 12 26 1.006 887. 1. terdapat 1.

103 2005 29.33% dari tahun sebelumnya. Banyaknya tenaga listrik yang diproduksi Tahun 2004-2007 (MWH) 4.000 0 2004 Diproduksi Terjual 25.29% pada tahun 2007.4 Listrik dan Telekomunikasi Prasarana listrik dan telekomunikasi merupakan fasilitas dasar yang sangat dibutuhkan untuk mendorong perkembangan kabupaten. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tambah dari sektor pertambangan dan penggalian yang memberikan bagian terbesar terhadap nilai PDRB.38% dengan migas dan 17. 1. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 sebesar 1.248 MWH.070 31. kemudian kegiatan usaha sebesar 9. Tenaga listrik yang terjual sebesar 35. . Peningkatan ini diiringi dengan meningkatnya tenaga listrik yang terpasang sebesar 16 MWH atau terjadi peningkatan sebesar 33. dan sosial masing-masing sebesar 4.235 MWH.557 24. 2008 Gambar 20. 40.562 2007 34. Adapun untuk kepentingan publik.37% tanpa migas. Produksi tenaga listrik Kabupaten Nunukan mengalami peningkatan sebesar 28.7 Kondisi Ekonomi Daerah Secara umum.553 26.921.129 2006 26. dan 870 MWH.556 23.1.80%.6.000 30. di mana sebagian besar digunakan oleh rumah tangga sebesar 18.000 20.1. wilayah Kabupaten Nunukan memiliki sektor ekonomi andalan berupa pertambangan. industri.70 4. Data perkembangan banyaknya tenaga listrik yang diproduksi dapat dilihat pada Gambar 20.550 MWH.672. Pelayanan listrik di Kabupaten Nunukan menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang dikelola oleh PLN wilayah VI.000 10.145 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. Otomatis tenaga listrik yang terjual juga mengalami peningkatan sebesar 26.

49 4.37 2.01 0.28 2. baik regional (dalam wilayah kabupaten).68 0. Hotel dan Restoran Angkutan dan Komunikasi Keuangan. terdapat pula perdagangan barang-barang yang berasal dari wilayah Sabah. Selain itu.28 9. maupun perdagangan lintas batas dengan wilayah Negara Bagian Sabah di Malaysia Timur.60 6.44% dan 24.30 0.85 0.82 100 2004 33.19 10.84%.27 43. Tabel 8.08 38.27 1. Struktur perekonomian menurut lapangan usaha tahun 2003 – 2007 (%) Sektor/Sub Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.49 4.16 4.44 0.84 2.03 0. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB 2003 37. Perlu dicermati bahwa ada usaha-usaha perdagangan ilegal yang berlangsung secara lintas batas antara negara Malaysia dan Indonesia di sekitar wilayah perkotaan Kecamatan Nunukan.Perkembangan ekonomi di Kabupaten Nunukan banyak dipengaruhi oleh sektor perdagangan.11 3.34 0.03 0.77 9.78 0. nilai distribusi PDRB atas dasar harga berlaku yang masih didominasi oleh sektor pertambangan penggalian dan pertanian masing-masing sebesar 51.08 2.18 100 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. Struktur perekonomian Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 terlihat masih bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam. Gas dan Air Minum Bangunan Perdagangan.13 4.40 0.41 100 2005 21.06 100 2006 21. 2008 .26 100 2007*) 24.14 5.17 4. Hal ini tercermin pada tabel 8.04 0.65 6. Malaysia.03 0.04 0.84 51.03 62. baik yang dapat diperbaharui maupun tidak dapat diperbaharui.06 0.24 0. Hal ini menunjukkan perlu adanya dorongan dalam proses transformasi ekonomi Kabupaten Nunukan dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier.33 11.46 3.95 7.01 57.

dan berkelanjutan. seimbang. Secara lebih rinci kebijakaan pengembangan prasarana yaitu sebagai berikut: 1. selaras. Pengembangan prasarana transportasi diarahkan untuk menghubungkan antara sentra produksi. 2. peningkatan dan pembangunan prasarana wilayah didasarkan pada rencana struktur tata ruang serta rencana pemanfaatan ruang wilayah. 1. pusat pengumpul. Pengembangan prasarana pengairan diarahkan untuk mendukung pengembangan pertanian lahan basah (sawah) dan tambak. menjaga keseimbangan ekosistem. Pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan. 3. Mengembangkan sistem kota atau sistem pusat-pusat permukiman yang sesuai dengan daya dukung dan daya tampung serta fungsi kegiatan dominan. Mengembangkan prasarana wilayah yang mampu mendukung terwujudnya sistem kota-kota (sistem pusat-pusat permukiman) di Kabupaten Nunukan. 2. Mengembangkan kawasan-kawasan potensial di Kabupaten Nunukan dan mendukung terwujudnya struktur tata ruang yang diinginkan. 3.72 4. dan distribusi serta pasar. Pengembangan prasarana wilayah diarahkan untuk mendukung terwujudnya prasarana wilayah yang diarahkan untuk mendukung terwujudnya struktur tata ruang dan pemanfaatan ruang yang sesuai dengan yang telah direncanakan. 3. Oleh karena itu. . 2. Meningkatkan keseimbangan dan keserasian perkembangan ruang secara serasi. Kebijakan pemanfaatan ruang Kabupaten Nunukan yang bertujuan mewujudkan kelestarian fungsi lingkungan hidup. dan meningkatkan daya dukung lingkungan buatan guna mendukung proses pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat.1. Meningkatkan kualitas lingkungan hidup serta mencegah timbulnya kerusakan fungsi dan tatanan lingkungan hidup. Pengembangan pasokan energi listrik diarahkan untuk memenuhi kebutuhan di sentra produksi dan permukiman.8 Kebijakan Pembangunan Kabupaten Nunukan Kebijakan struktur tata ruang dalam RTRW Kabupaten Nunukan adalah sebagai berikut: 1. meningkatkan daya dukung lingkungan.

lokasi pangkalan niaga. pergudangan. industri. . Kecamatan Nunukan sebagai Ibukota Kabupaten merupakan pusat kegiatan ekonomi skala regional dan skala internasional. Rencana pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan diarahkan pada pengembangan permukiman perkotaan yang dapat memenuhi kebutuhan lingkungan hunian yang serasi dan selaras. Hal ini berdasarkan kegiatan sosial-ekonomi yang berada dan berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sabah. Pembeliangan. Pengembangan prasarana penyediaan air bersih diarahkan pada pusat permukiman dan daerah yang rawan air bersih. Long Bawan. terminal agribisnis. 5. Kecamatan Nunukan dan Sebatik merupakan pusat pertumbuhan hierarki I di Kabupaten Nunukan. Rencana pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan akan diarahkan pada permukiman perkotaan Nunukan. Mansalong. Atap. Pengembangan permukiman perkotaan dilakukan melalui peningkatan fungsi pusat-pusat ekonomi perkotaan dan pusat-pusat permukiman desa yaitu di Kecamatan Nunukan. Tau Lumbis. dan Atap. pemukiman. Mansalong. Tanjung Karang. antara lain adanya kegiatan campuran (permukiman dan kegiatan lainnya).4. Selanjutnya. disebutkan rencana pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan. − Mudah diakses dari segala penjuru wilayah di Kabupaten Nunukan. Malaysia sehingga sangat strategis untuk pengembangan perdagangan antarnegara. Pengembangan prasarana industri perkebunan dan perikanan skala besar. Pembeliangan. Tanjung Karang. Sesuai dengan fungsi pertumbuhan. dalam RTRW. Long Bawan. − Ketersediaan fasilitas sosial dan sarana ekonomi yang lengkap. − Adanya pemusatan lokasi kegiatan sosial ekonomi yang mencirikan kegiatan perkotaan. Ciri-ciri pusat pertumbuhan ini ditandai oleh antara lain sebagai berikut: − Pola penggunaan lahan yang didominasi oleh kegiatan nonpertanian. dan faslitas sosial-ekonomi yang berorientasi pelayanan antarpulau dan antarnegara. dan Tau Lumbis.

426. Sebagian besar wilayah hutan adalah kawasan budi daya nonkehutanan.1 Kehutanan Pembangunan kehutanan mencakup semua upaya untuk memanfaatkan dan memantapkan fungsi sumber daya alam hutan dan sumber daya hayati. Luas kawasan hutan di Kabupaten Nunukan seluas 1. yakni seluas 470. pembangunan ekonomi. dan kesejahteraan sosial. hutan tanam industri.37 m3 menjadi 35.58 m3. Luas kawasan hutan menurut tata hutan kesepakatan 2007 (Ha) .034.9 Potensi Sumber Daya Alam dan Wilayah 4.9.02% Kaw as an Budidaya Non Ke hutanan 33. Produksi kayu bulat tahun 2007 mengalami penurunan sebesar 71.74% Kaw as an Hutan 30.914 ha atau 33. Luas kawasan hutan disajikan pada Gambar 21.73% dibanding tahun sebelumnya yaitu dari 123.368 ha yang terdiri dari taman nasional.911. dapat pula memantapkan fungsi ekosistem sebagai pelindung sistem penyangga kehidupan dan pelestari keanekaragaman hayati maupun sebagai sumber daya pembangunan. kegiatan kehutanan perlu memperhatikan tata guna hutan. Selain itu.01% dari kawasan hutan seluruhnya. Selain itu. dan kawasan budi daya nonkehutanan. kawasan hutan. hutan lindung. Pengelolaan hutan sebagai sumber daya alam perlu ditingkatkan dan disempurnakan agar memberikan manfaat besar bagi kesejahteraan rakyat. baik dalam kawasan hutan maupun masyarakat di sekitar hutan. usaha perlindungan dan pengamanan flora dan fauna. serta penyerapan tenaga kerja bagi masyarakat. Pembangunan kehutanan mencakup aspek pelestarian fungsi lingkungan hidup.01% Hutan Lindung 11.23% Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka. Tam an Nas ional 25. areal tanah kritis.74 4.1.1. 2008 Gambar 21.

65%. 2008 Gambar 22. Persentase produksi padi menurut kecamatan 2007 .75 4. Tanaman bawang daun merupakan komoditas tanaman sayur-sayuran yang mengalami penurunan hasil produksi.. Pertanian yang meliputi pertanian tanaman pangan.1. yakni sebesar 4.2 Pertanian Pertanian merupakan sektor primer yang mendominasi aktivitas perekonomian di Kabupaten Nunukan. yaitu menjadi 48. perikanan dan peternakan terus diupayakan untuk menunjang pertumbuhan dan stabilitas ekonomi. Pengembangan di bidang pertanian perlu ditingkatkan agar memberikan hasil yang lebih baik dari segi kuantitas dan kualitas. Pada tahun 2007 luas panen padi (sawah dan ladang) di Kabupaten Nunukan mengalami peningkatan. Sebuku 4% Sebatik 21% Krayan 41% Nunukan 11% Sembakung 3% Lumbis 6% Krayan Selatan 14% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. yaitu 38. Kecamatan Krayan adalah daerah yang mempunyai luas panen dan jumlah produksi padi ladang yang lebih besar dibandingkan kecamatan yang lain.83% dari total produksi. Produksi tanaman padi juga mengalami kenaikan.9. kehutanan. perkebunan.11% dari total luas panen serta 40. Persentase produksi padi disajikan pada Gambar 22.28%.127 ton atau dengan kata lain terjadi peningkatan produktivitas padi sebesar 9. Peningkatan luas tanam yang pesat dibandingkan tahun sebelumnya dan diiringi dengan peningkatan hasil produksi dari masing-masing tanaman.

2008 2007 Gambar 23.26%.1.947. Berdasarkan data tersebut. Sembakung dan Nunukan.26 persen dibandingkan tahun 2006 (Gambar 25). Pada tahun 2007.8% dibandingkan tahun 2006.57 ton. Dilihat dari rata-rata produksi yang dihasilkan oleh setiap komoditas perkebunan. .1 kakao 7458.3 Perkebunan Luas areal komoditas kelapa sawit pada tahun 2007 mengalami peningkatan sebesar 25. Sebatik Barat. jumlah rumah tangga perikanan penangkapan tercatat 2.1.9. Persentase produksi komoditas kakao dan kelapa disajikan pada Gambar 23 20000 Hasil 15000 10000 5000 0 17702 18903.31%. Persentase produksi perikanan disajikan pada Gambar 24. Produksi komoditas kakao dan kelapa 2006-2007 (ton) 4.32 7686.10 ton atau meningkat 6. Lumbis. Sebagian besar luas areal kelapa sawit terdapat di Kecamatan Sebatik. produksi perikanan tahun 2006 naik 9. produksi terbesar dihasilkan oleh tanaman kakao sebesar 18. Sebuku. dapat disimpulkan bahwa meningkatnya peningkatan produksi produktivitas ikan di lokasi penelitian perairan. bukan disebabkan peningkatan oleh jumlah tetapi disebabkan penangkap ikan sebesar 30.36 ton produksi perikanan penangkapan dan 362. yang terdiri atas 4.4% dibandingkan dengan tahun 2006.273 rumah tangga atau naik sebesar 30.21 ton perikanan budi daya.71 kelapa 2006 Tahun Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.903.585.76 4. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya.4 Perikanan Produksi perikanan pada tahun 2007 tercatat 4.9.

9.09% Lum bis 0.846. Perkasa Equatorial Sembakung Ltd.87% Krayan Se latan 0.94% Se m bak ung 19. Dinas pertambangan mencatat produksi minyak bumi dari P. 2008 Gambar 24. Produksi minyak bumi di Kabupaten Nunukan selama tahun terakhir ini mengalami penurunan jumlah produksi.937. Persentase produksi perikanan menurut kecamatan 2007 4. 2000000 Ton/BBL 1500000 1000000 500000 0 1670048 1165287 1846937 1362304 Batubara Minyak bumi 2006 Tahun Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.77 Krayan 1.03% Se batik Barat 15.37% Nunuk an 25.16% Se batik 37. Kemudian pada tahun 2007 menjadi 1.17% Se buk u 0.T.37% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. pada tahun 2007 sebesar 1.1.362.129 ton.304 BBL atau menurun sebesar 22.165.59% dibandingkan tahun sebelumnya. yakni pada tahun 2006 jumlah produksi sebanyak 1. Produksi pertambangan batu bara dan minyak bumi 2006—2007 dapat dilihat pada Gambar 25. Produksi pertambangan batubara dan minyak bumi 2006-2007 .5 Pertambangan Hasil tambang batu bara mengalami peningkatan yang sangat pesat. 2008 2007 Gambar 25.287 ton.

Selain itu. lahan untuk permukiman adalah 7.9.05% dari luas wilayah kabupaten. dan Krayan yang merupakan bagian wilayah perbatasan negara di Kabupaten Nunukan. Hasil analisis menunjukkan tidak ada desa yang berada di daerah kritis. 2008 Gambar 26. dan perdesaan. Berdasarkan arahan RTRW kabupaten.130 ha atau sekitar 0.Sumber : Survei Lapangan. seperti permukiman transmigrasi baik lokal maupun antarwilayah di Indonesia cukup luas. Sembukung.1. Demikian juga permukiman lain. Rencana andalan pengembangan tersebut dimaksudkan untuk mendorong tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan baru di perbatasan negara yang berbasis potensi SDA wilayah yang prospektif dan potensial mendukung keberlanjutan kawasan permukiman. Kawasan tambang batubara dan minyak bumi 4.000 mdpl. erosi. dan longsoran tidak terdapat di Kabupaten Nunukan. dikembangkan juga di Kecamatan Lumbis. perkotaan.6 Permukiman A. Adapun permukiman desa yang terletak pada daerah bahaya geologi lingkungan. tetapi ada desa yang berada dalam kawasan lindung. Pengembangan kawasan permukiman selain dikembangkan di Pulau Nunukan sebagai kawasan perkotaan dengan pusat pemerintahan juga akan dikembangkan di Pulau Sebatik (dua kecamatan). Permukiman desa yang tidak sesuai dengan kriteria di atas tetap dipertahankan terutama di desa-desa yang terdapat pada kawasan Taman Nasional Krayan Mentarang yang terletak di ketinggian diatas 1. . seperti patahan aktif. Potensi Pengembangan Lahan Permukiman Potensi pengembangan kawasan permukiman meliputi perumahan.

B. Permukiman perdesaan memiliki kepadatan maksimum lima rumah/hektar dan KDB maksimum 5%. Akan tetapi.79 Berdasarkan potensi pengembangan permukiman perdesaan di Kabupaten Nunukan.07/2010 tentang Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah dalam Rangka Perencanaan Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan Tahun Anggaran 2011. Kementerian Pekerjaan Umum. . Fasilitas sosial dan ekonomi dapat dibangun sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik msing-masing desa. konservasi tanah dan air tanah dapat dilakukan dengan baik. perlu diusahakan pemukiman kembali kawasan yang sesuai untuk permukiman. Pada desa-desa yang berada di daerah aliran sungai perlu dikembangkan pelabuhan sungai yang berskala lingkungan. Nilai indeks fiskal dapat menunjukkan kemampuan daerah dalam pendampingan pembiayaan bersama dengan pemerintah pusat. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Permukiman perdesaan yang berbasis sentra pertanian perlu disesuaikan secara dini agar tidak berubah menjadi permukiman perkotaan agar pertanian produktif tetap dapat dipertahankan. Potensi Kemampuan Pembiayaan Pembangunan Kemampuan daerah dalam sharing pembiayaan pembangunan kawasan permukiman dilihat dari kemampuan indikator nilai indeks fiskal daerah. Bagi desa-desa yang terletak pada daerah aliran sungai dan menggunakan akses sungai sebagai pintu keluar masuk desa dapat dibangun jalan akses dan menempatkan prasarana dan sarana sosial lainnya. serta fasilitas sosial dan ekonomi. berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK. Selain itu. perlu adanya pengaturan ruang seperti permukiman penduduk lokal/desa-desa yang berada pada kawasan lindung. Untuk Kabupaten Nunukan. masuk dalam kategori sangat tinggi. Pemerintah Kabupaten Nunukan telah memperlihatkan adanya potensi kemampuan sharing pembiayaan pada program-program stimulan pembangunan perumahan dari pemerintah pusat seperti dari Kementerian Perumahan Rakyat. Tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat) atau usaha tani. Bangunan yang menunjang fungsi kawasan/kegiatan utama diperkenankan dibangun untuk kepentingan umum. penyediaan prasarana dan sarana. Pengembangan jalan lainnya dapat diintegrasikan dengan pengembangan lahan usaha masyarakat.

Malinau 8. DDUB yang harus disediakan oleh daerah dengan rincian sebagai berikut: − Daerah yang termasuk dalam kelompok 1 menyediakan DDUB sangat tinggi.195 0.935 0.335 1 Sangat Tinggi Kab. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Indeks Ruang Indeks Persentase Tingkatan Fiskal Daerah Penduduk Miskin Kelompok Penyediaan (IRFD) Daerah (IPPMD) DUUB Kab. .426 1.Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal. − Daerah yang termasuk dalam kelompok 3 menyediakan DDUB rendah.450 1 Sangat Tinggi Sumber : Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK. Tabel 9. Tana Tidung 30. dan kementerian lain yang terkait.134 1 Sangat Tinggi Kab.698 4 Tinggi Kab. Pasir 2. Bulungan 4. Kutai Kartanegara 4. c. Berau 2.062 0.300 4 Tinggi Kota Bontang 3.999 0.464 0. Penajam Paser Utara 2.07/2010 tentang Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah dalam rangka Perencanaan Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan tahun anggaran 2011 Kab / Kota Penentuan tingkat besaran penyediaan dana daerah untuk urusan bersama (DUUB) adalah dengan pertimbangan sebagai berikut: a. Daftar daerah berdasarkan indeks fiskal dan kemiskinan daerah di Kalimantan Timur No.928 1.303 4 Tinggi Kota Samarinda 1.248 1. Nunukan 3.550 1 Sangat Tinggi Kab. b.421 4 Tinggi Kota Tarakan 1. DDUB yang harus disediakan oleh daerah disesuaikan dengan katagori kelompok. Kutai Barat 3.416 1 Sangat Tinggi Kota Balikpapan 1.800 1 Sangat Tinggi Kab.796 1.185 0. − Daerah yang termasuk dalam kelompok 4 menyediakan DDUB tinggi. − Daerah yang termasuk dalam kelompok 2 menyediakan DDUB sedang.067 1. Nilai indeks fiskal di Kalimantan Timur terlihat pada Tabel 9.829 0. Kutai Timur 4.175 1.721 4 Tinggi Kab.450 1 Sangat Tinggi Kab. Penentuan batas persentase terendah dan tertinggi DDUB yang harus disediakan oleh daerah dengan mempertimbangkan hasil keputusan rapat koordinasi instansi yang terkait dengan program penanggulangan kemiskinan nasional.886 4 Tinggi Kab.993 4 Tinggi Kab.971 1.

81 d. keterkaitan antara pusat-pusat pertumbuhan baru dengan pusat-pusat kegiatan (kota). . Oleh karena itu. Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan menyiapkan bahan perhitungan rincian penyediaan DDUB untuk masingmasing daerah berdasarkan batas persentase terendah dan tertinggi. diharapkan kondisi ini dapat terus dipertahankan. Hasil perhitungan rincian penyediaan DDUB digunakan oleh pusat (tingkat nasional) sebagai bahan penetapan besaran DDUB pada masing-masing daerah. Kriteria mensyaratkan indeks fiskal harus dievaluasi secara periodik untuk menentukan besaran bantuan pembiayaan dari pemerintah pusat. e. khususnya sektor permukiman dan infrastruktur wilayah perbatasan.q. perlu dipahami profil pelaksanaan pembangunan di daerah yang sesuai dengan pemenuhan kebutuhan pengembangan. Hasil perhitungan rincian penyediaan DDUB disampaikan oleh direktur jenderal perimbangan keuangan atas nama menteri keuangan kepada tim nasional paling lambat bulan Maret sebelum penyusunan rencana kerja Kementerian Negara/Lembaga. Arah kecenderungan pengembangan meliputi aspek keselarasan antara kawasan budi daya dengan kawasan lindung. Menarik masuknya investasi baru sektor unggulan daerah untuk mendorong percepatan pembangunan wilayah perbatasan. Menteri Keuangan c. dapat dilihat bahwa Kabupaten Nunukan masuk pada kategori kelompok sangat tinggi. f. Berdasarkan data indeks fiskal tersebut. Prioritas ini dapat berupa peningkatan dana alokasi khusus (DAK). Mengingat kedudukan Kabupaten Nunukan sebagai kawasan strategis nasional (KSN) di wilayah perbatasan dapat menjadi pertimbangan tersendiri untuk tetap mendapat prioritas bantuan pembiayaan pengembangan. penguatan pola interaksi orientasi ekonomi yang berbasis potensi sumber daya alam wilayah menjadikan kemauan politik (political will) pemerintah pusat dan daerah (Rosentraub 1996). Hal ini bertujuan agar arah kecenderungan pengembangan dapat diketahui. Dalam rangka mewujudkan keterpaduan dalam pembangunan di wilayah Perbatasan khususnya dalam sektor permukiman.

4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. Adapun potensi SDA wilayah berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan terdiri dari subsektor pangan. Permukiman diartikan sebagai tempat manusia hidup dan berkehidupan. yaitu manusia) dan the container (wadah. subsektor sektor pertambangan. Ilmu ekistics dikembangkan oleh CA Doxiadis pada tahun 1967 (Winarso 2001). dan sosial.2 Analisis Kondisi Permukiman Perbatasan Kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara dengan kondisi umum yang tidak tertata. masyarakat. Aspek lain yang kesesuaian juga harus diperhatikan khususnya dalam pengembangan ekonomi adalah sektor unggulan wilayah yang potensial dikembangkan sehingga akan menjamin peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat agar keberlanjutan kawasan permukiman di wilayah perbatasan dapat terlaksana. Suatu permukiman terdiri atas the content (isi.4. lokasi dan lingkungan perumahan tersebut tidak akan pernah dapat lepas dari permasalahan dan lingkup keberadaan suatu permukiman yang seharusnya memberikan kenyamanan kepada penghuninya (termasuk orang yang datang ke tempat tersebut). Elemen-elemen permukiman terdiri atas alam. kumuh. Secara ekologi. Menurut Undang-Undang No. perlu memerhatikan daya dukung dan lahan untuk pengembangan permukiman. perumahan. terpencar. Adapun . mempunyai dampak langsung terhadap keberlanjutan aspek ekologi. subsektor pariwisata. Permukiman merupakan suatu kesatuan wilayah tempat suatu perumahan berada. permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung. nomaden. dan tidak terkelola dengan baik. manusia.1 Kondisi dan Permasalahan Permukiman Perbatasan Permukiman dalam istilah ini merupakan padanan kata human settlements. perkebunan. dan jaringan infrastruktur (Sastra dan Marlina 2006). subsektor pertanian tanaman perikanan. baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan (live) dan penghidupan (livelihoods).2. ekonomi. Pengetahuan mengenai permukiman disebut ekistics (istilah Yunani). subsektor kehutanan. dan sektor industri 4. Oleh karena itu. yaitu tempat fisik manusia tinggal yang meliputi elemen alam dan buatan manusia).

Kecamatan Sebatik Barat terdiri 3. fasos. Kawasan permukiman adalah kawasan budi daya yang ditetapkan dalam rencana tata ruang dengan fungsi utama untuk permukiman (Permenpera 2006). dan fasum lingkungan. sarana.83 perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Kondisi lingkungan permukiman terdiri dari perumahan yang kumuh (slum area). Kecamatan kelompok wilayah kepulauan seperti Kecamatan Sebatik terdapat kawasan permukiman yang terdiri 5. (Permenpera 2006). Persebaran penduduk yang mengelompok dan terpencar terlihat dari distribusi pusat-pusat permukiman yang ada di masing-masing kecamatan. Persebaran penduduk di wilayah perbatasan pada umumnya tidak merata sehingga kawasan permukimannya terlihat mengelompok dan terpencar.163 KK yang lokasinya di ujung timur pulau. tidak tertata. kondisinya (existing condition) sangat dipengaruhi oleh persebaran penduduk di masing-masing kecamatan yang berada di wilayah perbatasan kabupaten. Kawasan permukiman perbatasan di Kabupaten Nunukan. . Terkait dengan fenomena kawasan permukiman perbatasan negara. dapat disimpulkan bahwa permukiman memiliki pengertian yang lebih luas dibandingkan dengan perumahan.653 KK.235 KK yang lokasinya di ujung barat pulau. dan minim prasarana. Hal ini disebabkan oleh pengelolaan yang tidak baik dan kurangnya kegiatan terkait program/proyek pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara. yang dimaksud kawasan permukiman perbatasan padanannya adalah kawasan perumahan dan permukiman khusus untuk menunjang kegiatan berbagai fungsi di wilayah perbatasan negara. Kelompok wilayah daratan adalah Kecamatan Krayan Selatan 545 KK lokasinya di ujung barat wilayah administrasi kabupaten dan Kecamatan Lumbis 2.366 KK di bagian tengah wilayah daratan. Kecamatan Nunukan sebanyak 14. Dari beberapa pengertian tersebut.

untuk memenuhi kebutuhannya. dan Krayan. belum lagi yang terjadi di wilayah perbatasan lain di Kecamatan Lumbis. Kebutuhan tersebut pada umumnya belum terpenuhi atau memadai. Penggeseran patok-patok perbatasan negara dilakukan pada lokasi yang tidak terdapat permukiman sebagai tempat hunian dan aktivitas penduduk/masyarakat perbatasan. Kawasan permukiman yang berkelompok dan terpencar Pola perkembangan kawasan permukiman yang mengelompok dan terpencar di wilayah perbatasan berdampak negatif terhadap keutuhan wilayah NKRI karena berpeluang dimanfaatkan negara tetangga untuk menggeser patok-patok perbatasan untuk memperluas wilayah negaranya. Oleh karena itu. transaksi jual beli. Kawasan permukiman yang berada di atas batas wilayah perbatasan Masyarakat wilayah perbatasan yang memiliki karakteristik lingkungan sosial yang spesifik. . 2009 Gambar 28. dari tahun ke tahun.84 Sumber : Dokumentasi Survei. 2009 Gambar 27. Sumber : Dokumentasi Survei. dan kegiatan ekonomi bersama baik legal maupun yang ilegal memerlukan kemudahan berkomunikasi dan aksesibilitas yang baik. seperti kegiatan pelintas batas. Pergeseran batas wilayah di Pulau Sebatik sudah jauh ke dalam wilayah tertorial Indonesia. kehilangan wilayah teritorial negara terus terjadi dan semakin meluas. Sebuku. Oleh karena itu.

2 Pengembangan Lahan Permukiman Potensi pengembangan kawasan permukiman meliputi perumahan. Sumber: Dokumentasi Survei. 4. antara lain dalam membangun perumahan dan fasilitas tidak memperhatikan batas-batas wilayah negara. Misalnya. dan dikelola dengan baik melalui kebijakan dan strategi pengembangan kawasan permukiman perbatasan. Untuk memudahkan masyarakat dalam akses ke laut. berkelanjutan. 2009 Gambar 29. khususnya dalam pengembangan kawasan permukiman. membangun perumahan di sepanjang bantaran sungai dan sampai melanggar batas wilayah perbatasan negara lain. Pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan harus tertata. Kawasan permukiman yang berada di muara sungai dan kumuh Kondisi kawasan permukiman perbatasan di Kabupaten Nunukan tersebut mencerminkan bahwa pemerintah pusat dan pemerintah daerah kurang memberikan perhatian pengembangan wilayah dan masyarakat perbatasan. digunakan sampan/perahu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang penting dan mendesak ke negara tetangga. termasuk kegiatan permukiman lain seperti. Oleh karena itu. Pengembangan kawasan permukiman akan dikembangkan di Pulau Nunukan.85 masyarakat melakukan upaya sendiri yang umumnya tidak sesuai dengan peratuaran dan perundang-undangan yang berlaku. permukiman transmigrasi baik lokal maupun antarwilayah di Indonesia cukup luas tersedia. perkotaan maupun perdesaan. .2. banyak bangunan rumah dengan ruang tamu wilayah di Indonesia dan dapur di Malaysia atau yang dikenal dengan rumah Malaysia-Indonesia (Malindo). Kondisi masyarakat perbatasan dengan karakteristik lingkungan yang spesifik menjadi fenomena tersendiri.

pengembangan. baik yang di perkotaan maupun pedesaan. Di Kecamatan Lumbis. Permukiman desa yang terletak pada daerah rawan bencana geologi lingkungan. khususnya sektor perkebunan.130 Ha atau sekitar 0. ± 60 % diperuntukkan untuk kawasan permukiman klaster-klaster di kecamatan yang berada di sepanjang wilayah perbatasan. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada permukiman di daerah kritis. dan Krayan sebagai kawasan perkotaan dan pusat pemerintahan. khususnya desa-desa untuk mendukung kegiatan pelestarian kawasan Taman Nasional Krayan Mentarang yang terletak di ketinggian di atas 1. akan dikembangkan lahan seluas 1. Sebuku. taman.86 Pulau Sebatik. erosi. tempat olahraga. Kecamatan-kecamatan tersebut berada di klaster III.700 ha sebagai kawasan permukiman perkotaan dan pusat pemerintahan. Adapun di Kecamatan Sebatik Timur akan dikembangkan kawasan permukiman perkotaan. Adapun di Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan yang berada di klaster I akan dikembangkan lahan seluas 750 ha sebagai kawasan . di Kecamatan Nunukan dan Nunukan Timur akan dikembangkan lahan seluas 1. dan pengelolaan yang lebih baik.05% dari luas wilayah kabupaten (RTRW Kabupaten Nunukan 2005). perkantoran.850 Ha sebagai kawasan permukiman perdesaan dan pusat desa pertumbuhan berbasis potensi SDA wilayah. Sehubungan dengan potensi pengembangan permukiman perdesaan di Kabupaten Nunukan.000 mdpl. Kecamatan Lumbis. Rencana pengembangan kawasan permukiman tersebut dimaksudkan untuk mendorong tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan baru di perbatasan negara yang berbasis potensi SDA wilayah. Sebuku. pusat pertumbuhan baru Pulau Sebatik. seperti patahan aktif. dan Sebatik Barat yang berada di klaster II. serta permukiman transmigrasi. Pengembangan kawasan permukiman sesuai dengan arahan RTRW kabupaten. tetapi terdapat permukiman di desa-desa yang berada dalam kawasan lindung. dan kuburan. Luas lahan untuk pengembangan kawasan permukiman. perlu adanya pengaturan ruang. Penggunaan lahan permukiman meliputi perumahan. Permukiman-permukiman perdesaan yang tidak sesuai dengan kriteria kebutuhan akan tetap dipertahankan. Luas penggunaan lahan untuk pengembangan permukiman adalah 7. dan longsoran tidak terdapat di Kabupaten Nunukan.

KLUSTER II: 1850 Ha KLUSTER I: 750 Ha KLUSTER III: 1700 Ha Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Peta pengembangan permukiman di setiap klaster Pengembangan prasarana. Peta pengembangan permukiman di setiap klaster terlihat pada Gambar 30. 2008 dan Hasil Analisis Gambar 30. selain sarana prasarana sosial lainnya. seperti fasilitas pendidikan. Tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat) atau usaha pertanian.87 permukiman perdesaan dan permukiman perkotaan untuk pusat pertumbuhan baru berbasis potensi SDA wilayah. Pengembangan jaringan jalan dapat diintegrasikan dengan pengembangan lahan usaha masyarakat. serta tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat). Penataan dan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan ke depan akan mendorong perkembangan wilayah perdesaan yang berbasis sentra . dan fasum sebagai pendukung kegiatan sosial-ekonomi di kawasan permukiman dapat dibangun sesuai kebutuhan dan karakteristik wilayah kecamatan. Permukiman perdesaan memiliki kepadatan maksimum 25 rumah/hektar dan KDB maksimum 20%. khususnya sektor pertambangan. fasos. kesehatan. dan sarana budaya. peribadatan. sarana. Pada permukiman perkotaan kepadatan maksimum 80 rumah/hektar dan KDB maksimum 40%. Pada kecamatan yang berada di daerah aliran sungai perlu dikembangkan pelabuhan sungai. Bangunan yang menunjang fungsi kawasan/kegiatan utama diperkenankan untuk kepentingan umum.

3 Kemampuan Pembiayaan Pembangunan Permukiman Kemampuan pengembangan daerah kawasan (kabupaten/kota) permukiman dalam khususnya sharing dalam pembiayaan pembangunan permukiman berdasarkan indikator nilai indeks fiskal daerah. dan kementerian lain yang terkait. khususnya bidang permukiman perbatasan. Nilai indeks fiskal dapat menunjukkan kemampuan daerah dalam pendampingan pembiayaan bersama dengan pemerintah pusat. Hal ini bertujuan agar lahan pertanian produktif dapat dipertahankan dan konservasi tanah serta air dapat dilakukan dengan baik. berupa dana pendamping .248 dan skor indeks persentase penduduk miskin daerah (IPPMD) 1. wilayah perbatasan dapat menjadi pertimbangan tersendiri untuk tetap mendapat prioritas bantuan pembiayaan pengembangan. Kemampuan sharing Pemda Kabupaten Nunukan ditunjukkan pada setiap mendapatkan bantuan stimulan oleh pemerintah pusat. infrastruktur.800. Kriteria mensyaratkan agar secara periodik indeks fiskal harus dievaluasi untuk menentukan besaran bantuan pembiayaan dari pemerintah pusat. Dengan demikian. Data indeks fiskal menunjukkan bahwa Kabupaten Nunukan masuk pada kategori kelompok sangat tinggi. Mengingat kedudukan Kabupaten Nunukan sebagai kawasan strategis nasional (KSN). Adapun untuk menjaga kawasan permukiman yang sudah dibangun agar tetap berkelanjutan perlu dilakukan pengendalian dan penyesuaian sejak dini agar tidak berubah menjadi permukiman perkotaan yang tidak terarah (urban sprawl). dengan skor indeks ruang fiskal daerah (IRFD) 3. diharapkan kondisi ini dapat terus dipertahankan. Kabupaten Nunukan termasuk dalam kategori sangat tinggi.pertanian menjadi desa kota (sub urban) sebagai pusat pertumbuhan baru (Wacker 2002). dan investasi sektor unggulan untuk mendorong percepatan pembangunan wilayah perbatasan. 4. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pemerintah Kabupaten Nunukan telah memperlihatkan adanya potensi kemampuan sharing pembiayan pada program-program stimulan pembangunan perumahan dari pemerintah pusat seperti dari Kementerian Perumahan Rakyat. Kementerian Pekerjaan Umum. Prioritas bantuan pembiayaan pembangunan dapat berupa peningkatan dana alokasi khusus (DAK).2. Kementerian Pembangunan Daeah Tertinggal.

pariwisata. dan Sebatik Dalam penetapan klaster sesuai dengan kondisi potensi sumber daya alam kawasan pada kecamatan-kecamatan yang berada di wilayah perbatasan. produktivitas. dan industri. Pemda menglokasikan dana untuk pembuatan kanal dan sarana air bersih senilai Rp 9 miliar serta biaya pembebasan tanah untuk pembangunan kawasan permukiman nelayan seluas 100 ha.dan usulan dana program pembangunan melalui APBD dari masing-masing dinas terkait. Sektor-sektor potensial yang mempunyai peranan penting terhadap pengembangan kawasan permukiman tersebut antara lain adalah perkebunan. pertambangan. jumlah tenaga kerja. dan Sebatik Barat 3. Dalam menganalisis sektor-sektor potensial dan prospektif dengan menggunakan metode perbandingan eksponensial (MPE). nilai produk. Klaster III meliputi Kecamatan Nunukan. Kriteria yang menjadi pertimbangan di setiap sektor tersebut ada delapan. Kesediaan pemda bersama-sama dengan pemerintah pusat mengalokasikan dana APBD dalam mengembangkan nelayan perbatasan berkorelasi dengan membuktikan kemampuan kawasan permukiman bahwa indeks fiskal yang sangat baik daerah dalam menyiapkan dana untuk pembiayaan pembangunan permukiman. kehutanan. di kecamatan wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan dibuat 3 (tiga) klastering subkawasan. Sebuku. Kabupaten Nunukan secara geografis dapat terlihat pada Gambar 31. 4. . yaitu: 1. perikanan. Klaster I meliputi Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan 2. akses komunikasi. yaitu kesesuaian lahan. Pada 2006 kemenpera memberikan bantuan stimulan pembangunan kawasan permukiman nelayan senilai kurang lebih Rp 4 miliar. dan sosial. Kriteria tersebut berkorelasi positif dalam meningkatkan potensi pasar di wilayah perbatasan (Hanson 1998). jangkauan pasar.3 Analisis Komparatif Sektor Unggulan Kawasan Kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara mempunyai dampak langsung baik secara ekologi. Klaster II meliputi Kecamatan Lumbis. lokasi startegis. Nunukan Selatan. akses transportasi. pertanian. ekonomi.

Pembagian klaster di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan 4. Tabel 10.3.KLUSTER II KLUSTER I KLUSTER III Gambar 31. Penilaian bobot kriteria terhadap sektor unggulan klaster I Klaster I Pertambangan Perkebunan Kehutanan Pariwisata 5 5 6 5 6 6 5 5 Perikanan Pertanian Industri 6 7 6 5 7 7 6 6 No Kriteria Bobot 1 Kesesuaian Lahan 2 Produktivitas 3 Lokasi Strategis 4 Jumlah Tenaga Kerja 5 Nilai Produk 6 Jangkauan Pasar 7 Akses Transportasi 8 Akses Komunikasi Sumber: Hasil Analisis 8 8 7 6 9 6 7 7 7 6 6 6 7 7 6 6 9 8 7 7 8 9 7 7 5 4 6 7 5 5 5 5 4 4 6 6 4 5 4 4 5 5 6 5 6 5 6 6 . Adapun pembobotan kriteria terhadap sektor unggulan dengan metode MPE dapat disajikan pada Tabel 10.1 Sektor Unggulan Subkawasan Klaster I Kecamatan yang termasuk dalam klaster I adalah Kecamatan Krayan dan Kecamatan Krayan Selatan.

730. Nilai sektor unggulan klaster I Klaster I No 1 2 3 4 5 6 7 Perkebunan Pertambangan Pertanian Perikanan Kehutanan Pariwisata Industri Sektor Nilai MPE 48.106.730.384.004 11.137 197.201 11. Jumlah produksi minyak terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun seperti yang terlihat pada Gambar 32. prioritas ketiga adalah industri dengan nilai MPE 48. Tabel 11. Jumlah produksi minyak bumi pada tahun 2007 sebanyak 1.357.746 dan perikanan dengan nilai MPE yaitu 768. Data BPS (2007) menunjukkan bahwa produk pertambangan unggulan adalah minyak bumi dan batu bara.413.771.161. kehutanan dengan nilai MPE yaitu 11.161. pariwisata dengan nilai MPE yaitu 11. Perkebunan menempati urutan kedua dengan nilai MPE yaitu 48.802.746 768.Berdasarkan hasil perhitungan dengan teknik MPE.413 48.106 Sumber: Hasil Analisis Berdasarkan tabel 11 di atas dapat disimpulkan bahwa sektor yang paling menentukan pada klaster I adalah sektor pertambangan dengan nilai 197.384 2.362.004.978. Urutan dari posisi ke-4 sampai ke-7.201.357. terlihat urutan atau prioritas sektor yang potensial di Klaster I Kabupaten Nunukan. Hasil tersebut disajikan dalam Tabel 11.771. .978. pertanian dengan nilai MPE yaitu 2.802.304 ton.137.

145 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.165.846.129 2006 26. Produksi minyak bumi (MMSTB) 2000 . 2008 Gambar 32. Berdasarkan peta kesesuaian lahan.553 26.562 2007 34. Jumlah produksi bahan tambang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dari tahun sebelumnya sebesar 1.287 ton.000 30. Berdasarkan peta kesesuaian lahan yang menunjukkan di atas 90%.000 10.129 ton.000 0 Diproduksi Terjual 2004 25.000 20. Oleh karena itu.556 23.103 2005 29.40.2007 (BBL) Produk batu bara pada klaster I juga merupakan produk unggulan. . kawasan Klaster I sangat sesuai untuk pertambangan (Gambar 33). Data BPS (2007) menunjukkan jumlah produksi batu bara di Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 sebesar 1.937. sektor tambang menjadi unggul pada klaster I dan didukung juga oleh daya dukung sumber daya alam yang ada pada kawasan klaster I.557 24.070 31. lokasi klaster I merupakan pegunungan dan perbukitan yang tidak teratur serta mempunyai kelerengan >40%.

Sebuku. Peta kesesuaian lahan untuk perkebunan menunjukkan klaster I yang di atas 55% cocok untuk lahan perkebunan.Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan.3. . dan Sebatik Barat. 4. Kesesuaian lahan untuk pertambangan Urutan kedua adalah sektor perkebunan.2 Sektor Unggulan Subkawasan Klaster II Kecamatan yang termasuk klaster II adalah Kecamatan Lumbis. Adapun pembobotan nilai dengan metode MPE dapat dilihat pada Tabel 12. 2008 Gambar 33. Hal ini didukung oleh kesesuaian lahan serta jenis tanah yang mendukung kegiatan perkebunan sehingga dapat mencegah erosi pada wilayah-wilayah yang berlereng.

583. Pertanian menempati urutan kedua dengan nilai MPE 63.970.957.345.970.Tabel 12.761 53.171.171 2.957.300. Prioritas ketiga adalah industri dengan nilai MPE 53.583 44.848.343.403.761. dan pariwisata dengan nilai MPE 2.111 Sumber: Hasil Analisis Berdasarkan tabel 13 di atas.343 10.094.094.345. dapat disimpulkan bahwa sektor yang paling menentukan adalah sektor perkebunan dengan nilai 450.403. Posisi ke-4 sampai ke-7 berturut-turut pertambangan dengan nilai MPE 49.848 49.111. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel 13. . perikanan dengan nilai MPE 10. kehutanan dengan nilai MPE 44.744 63.643. Nilai sektor unggulan klaster II Klaster II No Sektor 1 2 3 4 5 6 7 Perkebunan Pertambangan Pertanian Perikanan Kehutanan Pariwisata Industri Nilai MPE 450. Penilaian bobot kriteria terhadap sektor unggulan klaster II Klaster II Pertambangan Perkebunan Kehutanan Pariwisata 5 5 5 6 5 4 5 4 Perikanan Pertanian Industri 7 7 6 7 7 7 7 5 No Kriteria Bobot 1 Kesesuaian Lahan 2 Produktivitas 3 Lokasi Strategis 4 Jumlah Tenaga Kerja 5 Nilai Produk 6 Jangkauan Pasar 7 Akses Transportasi 8 Akses Komunikasi Sumber: Hasil Analisis 8 8 7 6 9 6 7 7 9 8 7 8 9 7 7 7 7 6 7 7 7 6 6 6 8 7 6 7 7 5 5 4 5 4 6 6 6 5 5 4 8 8 7 5 6 5 5 5 Hasil perhitungan dengan teknik MPE memperlihatkan urutan atau prioritas sektor yang potensial di Klaster II Kabupaten Nunukan.643.300.744. Tabel 13.

903. Produksi kakao dan kelapa terus mengalami peningkatan dari 2002 sampai tahun 2007 seperti terlihat pada Gambar 35 berikut.10 ton. Produksi kelapa sebanyak 7.Klaster II. Selain itu. termasuk dalam kelompok punggung gunung batuan metamorfik yang tidak teratur yang menyebabkan klaster II sangat cocok untuk perkebunan. berdasarkan peta kesesuaian lahan untuk perkebunan. Peta kesesuaian lahan untuk perkebunan Data BPS (2008) menunjukkan produksi kakao di Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 sebanyak 18. Jenis komoditas unggulan perkebunan pada klaster II adalah kakao dan kelapa sawit. 2008 Gambar 34. Kedua kecamatan tersebut sangat sesuai untuk tanaman perkebunan (gambar 34). hampir di atas 90%. berdasarkan peta land system. Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan.686.71 ton. .

Penilaian bobot kriteria terhadap sektor unggulan klaster III Klaster III Pertambangan Perkebunan Kehutanan Pariwisata Perikanan Pertanian Industri No Kriteria Bobot 1 2 3 4 5 6 7 8 Kesesuaian Lahan Produktivitas Lokasi Strategis Jumlah Tenaga Kerja Nilai Produk Jangkauan Pasar Akses Transportasi Akses Komunikasi 8 8 7 6 9 6 7 7 7 7 8 6 7 7 7 7 5 5 8 5 5 7 7 7 8 8 9 7 7 8 7 7 9 9 9 8 8 9 7 7 7 6 8 6 5 5 7 7 5 7 8 5 5 5 7 7 7 7 8 6 6 7 7 7 Sumber: Hasil Analisis . dan Kecamatan Sebatik. Adapun hasil pembobotan nilai dengan metode MPE dapat dilihat pada Tabel 14.3.32 7686.32 6407. Penilaian terhadap alternatif kegiatan penunjang pusat-pusat pertumbuhan terdapat di Kabupaten Nunukan berdasarkan sektor unggulan dengan pembagian klaster.32 6430.20000 18000 16000 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 17702 15257. 2008 Gambar 35. Tabel 14.1 2002 2003 2004 kelapa 2005 kakao 2006 2007 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. Nunukan Selatan.8 7406.6 7458.35 15889.3 6407.3 Sektor Unggulan Subkawasan Klaster III Kecamatan yang termasuk dalam klaster III adalah Kecamatan Nunukan.35 13592. Produksi komoditas tanaman perkebunan 2002-2007 (ton) 4.71 18903.6 17073.

ditampilkan kondisi topografi pada klaster III yang didominasi oleh tingkat kelerengan 0 .810.204.534. pariwisata. Alternatif pertama yang harus lebih diperhatikan dalam pengembangan wilayah perbatasan pada klaster III yang meliputi Kecamatan Nunukan dan Kecamatan Sebatik yaitu peningkatan sektor perikanan. Pada gambar.534.884.717.887.887 80.8% dan 15 25%. prioritas ketiga sektor perkebunan dengan nilai MPE 55.717. kehutanan. .515.791.791.810 13. Nilai sektor unggulan klaster III No 1 2 3 4 5 6 7 Sektor Klaster III Perkebunan Pertambangan Pertanian Perikanan Kehutanan Pariwisata Industri Nilai MPE 55.039 25.887 227.752 6.061 11.Hasil perhitungan dengan analisis MPE memperlihatkan urutan atau prioritas metode pengembangan wilayah perbatasan yang potensial dalam rangka meningkatkan pusat-pusat pertumbuhan.611. Tabel 15.841 Sumber: Hasil Analisis Berdasarkan tabel 15 di atas dapat di lihat bahwa sektor unggulan yang paling mendukung pusat pertumbuhan dalam pengembangan wilayah perbatasan adalah sektor perikanan dengan nilai 227. Posisi ke-4 sampai ke-7 adalah industri. Keadaan berpotensi menyebabkan longsor dan tidak memungkinkan untuk adanya budi daya perikanan darat. Hal tersebut mengandung arti bahwa budi daya perikanan darat di klaster III tidak disarankan karena kondisi topografi Kabupaten Nunukan yang berlerenglereng seperti yang ditunjukkan pada Gambar 36. Perikanan tangkap dan budi daya perikanan laut merupakan kegiatan yang paling potensial dan telah mendukung pendapatan Kabupaten Nunukan selama ini. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel 15.752. Sektor pertanian menempati urutan kedua yang dapat mendukung pusat pertumbuhan dalam pengembangan wilayah perbatasan dengan nilai MPE 80. dan pertambangan.

sayur-sayuran. jumlah penduduk 5 dan 10 tahun yang akan datang membutuhkan areal pertanian basis. Lahan Sawah Sawah adalah lahan penghasil padi yang selanjutnya diolah menjadi beras sebagai makanan pokok masyarakat Kabupaten Nunukan. Kebutuhan pangan Kabupaten Nunukan selama setahun sebagai berikut: a. Adanya asumsi bahwa lahan efektif adalah 60% dari total lahan. terutama lahan dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dasar Kabupaten Nunukan. dan palawija. Peta Kabupaten Nunukan berdasarkan kelerengan Sumber daya alam pertanian. yakni budi daya tanaman pangan terutama padi sawah yang produktivitasnya terus meningkat (Kabupaten Nunukan dalam Angka 2008). Setiap 1 kg beras dihasilkan dari 1. maka jumlah kebutuhan total adalah jumlah kebutuhan dasar ditambah 67% (Tabel 15).54 kg gabah kering giling dan setiap hektar lahan menghasilkan 4.9 ton gabah kering giling per tahun. 2008 Gambar 36. Kebutuhan pangan yang dimaksud adalah kebutuhan beras sebagai bahan makanan pokok. kebutuhan setiap orang setiap tahun adalah 150 kg. Berdasarkan tiga perkiraan skenario. Kebutuhan cadangan lahan sawah di Kabupaten .Di urutan kedua diikuti sektor pertanian dengan komoditas unggulan yang dapat mendukung pusat pertumbuhan. Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Sebagai dasar perhitungan.

225.3 ton/ha/tahun. populasi ternak di Kabupaten Nunukan adalah 2. Ubi kayu.182. ubi.35 kg/orang/tahun. konsumsi 1.124 ekor kerbau. kebutuhan konsumsi 57.9 ton/ha/tahun. kebutuhan konsumsi 11.25 kg/orang/tahun. Kacang hijau. 4.3 ton/ha/tahun. 449 ekor kambing.9 ton/hektar/tahun.37 ha. dan 5.530 ekor ayam ternak. 2. kebutuhan konsumsi 3.099 ekor sapi.09 kg/orang/tahun.6 ton/hektar/tahun. Kedelai. Kacang tanah.52 kg/orang/tahun. .7 kg dan produktivitas 2.1 kg/orang/tahun dan tingkat produktivitas 0. terperinci dengan tingkat konsumsi dan produktivitas sebagai berikut: Jagung. tingkat produktivitas 16.2 ton/ha/tahun. tingkat produktivitas 1. Ubi jalar. b. Dengan asumsi pertumbuhan 5% per tahun. kebutuhan lahan untuk kegiatan peternakan tersebut membutuhkan lahan seluas 185 hektar pada tahun 2007 dan berkembang menjadi 236 hektar pada tahun 2012.350 ekor ayam buras. 57. produktivitas 0. c.481 ton gabah kering giling per tahun.821 ekor babi. tingkat produktivitas 10.Nunukan sebesar 16. untuk memenuhi kebutuhan beras sebanyak 47. Lahan Peternakan Rakyat Pada tahun 2000. seperti kacang-kacangan. kebutuhan konsumsi per orang per tahun adalah 26. jagung dan lain-lain. Lahan Palawija Untuk kebutuhan bahan pangan lainnya.968 ekor itik. konsumsi 7.

832.434.961 107.37 Berdasarkan peta ketinggian lahan pada Gambar 37.28% (Kabupaten Nunukan dalam Angka.053 116.528 23.462. Hal ini didukung dengan peningkatan luas areal komoditas kelapa sawit pada tahun 2007 sebesar 25. 2008).171 239.481.47 4.435.850.04 Kebutuhan Lahan (Ha) 67% 7.35 Keperluan Gabah (ton) 1.751 Tahun Jumlah Penduduk Keperluan Beras (ton) 150 13.4% dibandingkan dengan tahun 2006 (Kabupaten Nunukan dalam Angka 2008). yaitu menjadi 48.03 10.933.690.65%.50 16. pada klaster III didominasi ketinggian lahan berkisar antara 0 .90 4.338. di mana tanaman padi naik sebesar 4.696.97 30.051.768.182.90 24.54 21. Produksi tanaman padi juga mengalami kenaikan. Alternatif ketiga dalam pengembangan wilayah perbatasan pada klaster III adalah sektor perkebunan.40 15.55 16.09 8.334.393.100 mdpl yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman padi.784 144. Perhitungan kebutuhan lahan sawah (RTRW Kabupaten Nunukan 2004-2014) Skenario Index Pesimis 2009 2014 Optimis 2009 2014 Ambisius 2009 2014 Sumber: Hasil Analisis 96.100. .80 5.15 6.072. Sebatik Barat.190.35 19.264.42 10.840 163.64 30. Sebagian besar dari luas areal kelapa sawit terdapat di Kecamatan Sebatik.337. Hal ini juga didukung dengan peningkatan luas panen padi (sawah+ladang) di Kabupaten Nunukan pada tahun 2007.69 6. Nunukan yang berada pada klaster III.698 30.72 9.750.05 19.21 Keperluan Dasar 4.83 8.127 ton atau dengan kata lain terjadi peningkatan produktivitas padi sebesar 9.Tabel 16.53 47. sedangkan Lumbis dan Sebuku berada pada klaster II.979.

Peta Kabupaten Nunukan berdasarkan wilayah ketinggian Kesimpulan hasil analisis MPE yang dilakukan untuk sektor-sektor yang potensial dalam mendukung pengembangan permukiman perbatasan di Kabupaten Nunukan untuk klaster I (Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan) adalah sektor pertambangan. Nunukan Selatan.Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. dan klaster III (Kecamatan Nunukan. 4. Selain menyebabkan ketergantungan negara tetangga. 4 tahun 1992 memuat amanat tentang pengembangan permukiman khusus. klaster II (Kecamatan Lumbis. . dan Sebatik) sektor perikanan. Adanya keterbatasan infrastruktur dan permukiman di wilayah perbatasan baik yang berada dalam kawasan perkotaan maupun perdesaan yang kurang berkembang menyebabkan aktivitas sosioekonomi banyak berorientasi ke negara tetangga. kehormatan. Pengembangan permukiman (permukiman khusus) menjadi salah satu program prioritas pembangunan wilayah perbatasan dalam upaya pengembangan potensi ekonomi dan sumber daya alam. 2008 Gambar 37. hal ini berkaitan juga dengan keamanan. dan kesadaran masyarakat perbatasan terhadap identitas nasional. Sebuku.4 Analisis Strukturisasi Permasalahan dan Komponen Dominan Kebijakan Pengembangan permukiman di wilayah perbatasan dalam Undang-Undang No. dan Sebatik Barat) sektor perkebunan.

(4) mendorong sinergitas hubungan kota dan desa. (3) mengurangi dan efisiensi pembiayaan pembangunan infrastruktur. 4. Berdasarkan hal tersebut kiranya perlu dibuat desain kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara.4. dan (5) memastikan transisi penggunan lahan perdesaan menuju perkotaan berjalan secara alamiah dan terarah (Seong 2006). kependudukan.1 Elemen Permasalahan dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Menurut Saxena (1994) yang dikutip Marimin (2005) berdasarkan hasil kajian pendapat pakar. Apabila tidak terkendali akan dapat menjadi hambatan dalam pengembangan potensi pertumbuhan sebagai penggerak pengembangan sosial. yaitu (1) melindungi hijau/konservasi dan sumber daya alam.Pengembangan perbatasan pusat-pusat pertumbuhan baru (border city) di wilayah ruang terbuka terdapat enam kategori. disusunlah struktur permasalahan untuk keberhasilan pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan yang terbagi atas lima elemen pada permasalahan yang terdiri dari 24 subelemen kendala. ekonomi. dan peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan di wilayahnya (Canales 1999). Dinamika kegiatan ekonomi perkotaan di wilayah perbatasan merupakan kondisi yang dapat meningkatkan pertumbuhan kota-kota (pusat pertumbuhan baru) perbatasan negara. Secara lengkap elemen permasalahan dan subelemen kendala terlihat pada tabel 17. (2) dapat mengoptimalkan penggunaan lahan. .

berpencar. Asia-Australia & Australia. Elemen permasalahan pengembangan kawasan permukiman perbatasan No 1 Elemen (Masalah) Pengelolaan SDA wilayah perbatasan masih kurang No 1 2 3 4 5 6 7 8 2 Pengembangan dan Penataan kawasan permukiman kurang optimal 9 10 11 12 13 3 Pembangunan infrastruktur wilayah & permukiman belum sejalan 14 15 16 17 18 19 4 Kelembagaan belum mendukung pengembangan permukiman Pembiayaan belum mendukung pengembangan permukiman 20 21 22 23 24 Sub elemen (Kendala) Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan Perbedaan karakteristik antara wilayah darat dan laut Pengembangan dan pengelolaan SDA belum optimal Rendahnya kesejahteraan masyarakat Aktivitas sosial ekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga Kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional Persepsi wilayah perbatasan merupakan wil dan pintu belakang negara Pemanfaatan dan pengendalian tata ruang masih lemah Letak geografis Indonesia di titik silang benua EropaAsia. Subelemen ini berupa indikator-indikator keberlanjutan yang mempunyai nilai tinggi yang telah dipilah-pilah sesuai dengan konteks kelima elemen program tersebut. pada setiap elemennya dijabarkan menjadi sejumlah subelemen yang rinci. Berikut ini adalah hasil hubungan .Eropa Banyak pemukiman berada di batas wilayah perbatasan Kondisi lingkungan tidak tertata. kumuh & tidak dikelola dengan baik Rencana Tata Ruang Wilayah yang tidak sesuai dengan kebutuhan Minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman Terbatasnya fasum & fasos Terbatasnya pelayanan publik Terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan perkim Perkembangan infrastruktur & permukiman yang tidak terencana Rendahnya kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan lahan sesuai peruntukan Penegakan hukum dan peraturan masih lemah Adanya privatisasi lahan oleh pemerintah & swasta Belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan Terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan Pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal 5 Dari lima elemen hasil kajian ini.Tabel 17.

Pakar yang terlibat dalam proses ini adalah pakar dari kalangan pemerintah pusat. Peringkat elemen masalah berdasarkan nilai driver power Berdasarkan gambar 38 di atas.104 kontekstual antarsubelemen pada setiap elemen yang digambarkan dalam bentuk terminologi subordinat yang mengacu pada perbandingan berpasangan antar subelemen. pengalaman di bidang pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan. swasta dan masyarakat yang terpilih berdasarkan pengetahuan.00 4. sedangkan yang memiliki nilai driver power terendah adalah 2 atau perbedaan karakteristik antara wilayah darat dan laut. pemerintah daerah.00 8.00 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 Sub Elemen (Kendala) Gambar 38.00 2. 12. Hasil yang digunakan dalam model ISM adalah kajian dari pendapat pakar melalui wawancara mendalam seperti yang tertuang pada matriks interaksi tunggal terstruktur (structural self interaction matrix/SSIM). nilai driver power elemen masalah tertinggi pada subelemen 7 atau kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional dan subelemen 4 atau rendahnya kesejahteraan masyarakat.00 10.00 6. di mana terkandung suatu arahan pada hubungan tersebut (Eriyatno dan Sofyar 2007). Gambaran dari masing-masing elemen masalah mengenai peringkat berdasarkan nilai driver power yang ada dapat dilihat pada gambar 38. Masyarakat di wilayah perbatasan yang bersebelahan dengan wilayah negara tetangga yang jauh lebih maju pada umumnya memiliki orientasi sosial .

(2) terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan. Kemiskinan dan ketertinggalan masyarakat merupakan salah satu permasalahan utama di wilayah perbatasan. (4) terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman. Hasil analisis ini menggambarkan pendapat para ahli bahwa elemen masalah dalam strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara diawali oleh (1) kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional. Interpretasi dalam bentuk hierarki disajikan pada Gambar 39. (10) terbatasnya pelayanan publik. Dalam rangka memenuhi hak-hak masyarakat sebagai warga negara dalam memperoleh pelayanan publik dan kesejahteraan sosial serta membuka keterisolasian wilayah. linkage. diperlukan percepatan pembangunan di wilayah perbatasan dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan. dependent. Hal ini menyebabkan prasarana dan sarana wilayah minim. (8) kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga. Oleh karena itu. (11) penegakan hukum dan peraturan masih lemah. (5) terbatasnya fasos dan fasum. Analisis data ISM dapat terlihat pada Lampiran 3. (7) aktivitas sosial ekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga. (9) minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman. dan independent. Penggunaan alat tukar dan akses informasi serta komunikasi nasional yang terbatas dikhawatirkan dalam jangka panjang akan melunturkan rasa kebangsaan dan bela negara masyarakat. pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu meningkatkan upaya sosialisasi peningkatan wawasan kebangsaan melalui program-program pembangunan yang selaras dengan pengembangan permukiman dan penyediaan prasarana dan sarana. Keterbatasan pelayanan publik di wilayah perbatasan menyebabkan orientasi aktivitas sosial-ekonomi masyarakat tertarik ke wilayah negara tetangga. Subelemen dikelompokkan ke dalam empat sektor yakni autonomous. fasilitas umum dan sosial terbatas. serta kesejahteraan masyarakat rendah. (3) rendahnya kesejahteraan masyarakat.ekonomi yang berorientasi kepada wilayah negara tetangga. dan (12) pemanfaatan dan pengelolaan dana . (6) kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan. Hal ini disebabkan sentralisasi pembangunan pada masa lalu dan kecenderungan penggunaan pendekatan keamanan dalam pengelolaan wilayah perbatasan.

106 pembangunan belum optimal. strategi pengembangan kawasan merupakan elemen yang berperan sebagai peubah bebas berkekuatan penggerak besar. sektor independent. Dengan Dua belas elemen masalah tersebut berada pada demikian. tetapi tidak tergantung kepada sistem. belum . Kemudian diikuti oleh elemen masalah wilayah perbatasan yang menjadi pintu belakang negara dan adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan.

Diagram hierarki dari subelemen masalah dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara .Level 1 Perbedaan karakteristik antara wilayah darat dan laut Banyak pemukiman berada di batas wilayah perbatasan Dependent Level 2 Pemanfaatan dan pengendalian tata ruang masih lemah Letak geografis Indonesia di titik silang benua Kondisi lingkungan tidak tertata. berpencar. kumuh & tidak dikelola dengan baik RTRW yang tidak sesuai dengan kebutuhan Level 3 Pengembangan dan pengelolaan SDA belum optimal Perkembangan infrastruktur & permukiman yang tidak terencana Rendahnya kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan lahan sesuai peruntukan Adanya privatisasi lahan oleh pemerintah & swasta Level 4 Persepsi Wilayah Perbatasan merupakan wilayah dan pintu belakang negara Belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan Level 5 Aktivitas sosek masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga Kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga Minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman Terbatasnya pelayanan publik Independent Penegakan hukum dan peraturan masih lemah Pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal Level 6 Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan Terbatasnya fasos dan fasum Terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman Level 7 Rendahnya kesejahteraan masyarakat Terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan Level 8 Kurangnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional Gambar 39.

23 22 21 1. dua belas faktor kunci prioritas penggerak elemen tolok ukur yang sangat memengaruhi faktor lain dalam keberhasilan strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yaitu subelemen-subelemen yang terletak pada sektor I . disajikan pada Gambar 40. Independent 25 24 7 23 4. 20. 10. 20 21 19. (b) Diagram model struktural ISM dari elemen sektor masyarakat yang terpengaruh program seperti disajikan pada Gambar 39. Dalam strategi pengembangan kawasan posisinya akan mengikuti elemen lainnya yang berada di sektor independent.22 2123 24 25 9 8 7 6 9. 12. (c) Matriks driver power-dependence untuk elemen sektor masyarakat yang terpengaruh program. Hal ini berarti faktor kunci dapat berubah menjadi sektor linkage apabila faktor-faktor yang lain mendukung subelemen tersebut. 6. 22 11 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 10 12 13 14 15 16 17 18 3. 13 5 4 3 2. 14. Hasil kajian subelemen pada analisis ISM berupa (a) Matriks reachability dan interpretasi dari elemen masalah yang terpengaruh program yang disajikan pada Lampiran 3.Hasil analisis ini memberikan makna bahwa kedua belas elemen faktor kunci masalah yang berada di sektor dependent sangat tergantung pada sistem dan tidak mempunyai kekuatan penggerak yang besar. Berdasarkan hasil analisis. 16. 17 20 19 5. 15. Matriks DP-D untuk subelemen masalah dalam strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara Perlu dicermati bahwa posisi masalah persepsi wilayah perbatasan merupakan wilayah dan pintu belakang negara serta masalah belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan dalam upaya pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan berada di dekat sektor linkage. 1918. 18 24 17 16 15 14 13 12 8. 11 2 1 0 Linkage Autonomus Dependent Gambar 40.

Pakar yang terlibat dalam proses ini adalah pakar dari kalangan pemerintah. lembaga profesi. Dalam desain kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. Secara lengkap elemen tolok ukur dan subelemen kendala terlihat pada Tabel 18. pemerintah daerah. swasta.(independent). Adapun hasil yang digunakan dalam model ISM adalah kajian dari pendapat pakar melalui wawancara mendalam seperti yang tertuang pada matriks interaksi tunggal terstruktur (structural self interaction matrix/SSIM) pada Lampiran 4. masyarakat. Berdasarkan hasil analisis.4. legislatif. setiap tindakan meningkatkan peranan sektor-sektor independent. Tindakan meningkatkan peranan terhadap sektor-sektor tersebut akan menghasilkan terwujudnya program menuju sistem pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan. perguruan tinggi. pengalaman di bidang pengembangan kawasan permukiman. tetapi dengan peningkatan peranan secara optimal dari faktor-faktor kunci seperti persepsi wilayah perbatasan merupakan wilayah dan pintu belakang negara (8) dan persepsi belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan akan berdampak terhadap peningkatan faktor-faktor kunci tersebut sebagai peubah linkage. dan LSM yang terpilih berdasarkan pengetahuan. 4. sedangkan lemahnya perhatian terhadap sektor-sektor tersebut akan menyebabkan kegagalan program.2 Elemen Tolok Ukur dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Berdasarkan hasil kajian dan pendapat pakar. tidak terdapat faktor-faktor kunci yang berperan sebagai peubah linkage. disusunlah struktur tolok ukur untuk menuju keberhasilan pengembangan kawasan permukiman yang terbagi atas lima elemen pada tolok ukur yang terdiri dari 16 subelemen kendala. .

dan kesejahteraan secara seimbang Sinergi/keterpaduan dan keseimbangan pembangunan berdasarkan potensi wilayah Peningkatan kerjasama pembangunan antar negara.Tabel 18. lingkungan. dan prasarana wilayah Pengembangan kawasan khusus dengan pemanfaatan ruang spesifik sesuai dinamika wilayah perbatasan Pengelolaan SDA darat dan laut secara seimbang Peningkatan kesejahteraan masyarakat. budaya. pendapatan daerah. dan prasarana Partisipasi horison & vertikal pusat dan daerah Pendekatan pengelolaan wilayah perbatasan pada aspek keamanan. Elemen tolok ukur pengembangan kawasan permukiman perbatasan No Elemen (Tolok Ukur) 1 Otimalisasi pengelolaan SDA kawasan No 1 2 3 Sub elemen (Kendala) Penataan dan pembukaan isolasi serta ketertinggalan wilayah perbatasan Peningkatan kegiatan pengembangan pemukiman. sosial ekonomi. sarana. dan pendapatan negara Pembangunan wilayah perbatasan melalui pengembangan permukiman sebagai pusat pertumbuhan baru sebagai dan embrio kegiatan ekonomi Penataan ruang wilayah Pembangunan infrastruktur. dan kelembagaan pendukung pusat pertumbuhan Penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan Evaluasi kegiatan untuk penganggaran dana pada kegiatan selanjutnya 4 5 2 Peningkatan pengembangan dan penataan kawasan permukiman 6 7 8 3 Pengembangan infrastruktur wilayah dan permukiman terpadu 9 10 11 4 Pengembangan kelembagaan 12 13 14 5 Alokasi dana untuk pengelolaan wilayah perbatasan 15 16 . antarpemerintahan. investasi. SDA. dan antar stakeholders di wilayah perbatasan Pembuatan kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan Penyusunan kebijakan tingkat makro dan mikro. sarana.

Selain itu. pembangunan infrastruktur.00 6.00 7. Analisis data ISM disajikan pada Lampiran 4. sedangkan yang memiliki nilai driver power terendah adalah 3 (pengembangan kawasan khusus dengan pemanfaatan ruang spesifik sesuai dinamika wilayah perbatasan). peningkatan kerja sama pembangunan antarnegara antarpemerintahan dan antar-stakeholders di wilayah . dependent. gambar tersebut menjelaskan pendapat para ahli tentang elemen tolok ukur dalam strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan.00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Driver Power Elemen (Tolok Ukur) Gambar 41. penataan dan pembukaan isolasi serta ketertinggalan wilayah perbatasan.111 Gambaran dari masing-masing elemen tolok ukur mengenai peringkat berdasarkan nilai driver power yang ada disajikan pada Gambar 41. nilai driver power elemen tolok ukur tertinggi pada subelemen 5 (peningkatan kesejahteraan masyarakat. dan pendapatan negara) dan 15 (penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan). 9. pendapatan daerah. kesejahteraan secara seimbang. pendapatan daerah dan pendapatan negara. Elemen tolok ukur tersebut diawali oleh peningkatan kesejahteraan masyarakat.00 2. Interpretasi dalam bentuk hierarki disajikan pada Gambar 38 dan pada Gambar 39 subelemen dikelompokkan kedalam empat sektor yakni autonomous. penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan. Peringkat elemen tolok ukur berdasarkan nilai driver power Berdasarkan Gambar 41 di atas. prasarana dan sarana. pendekatan pengelolaan wilayah perbatasan pada aspek sosekbudhankam dan lingkungan. Berdasarkan Gambar 42.00 8.00 5. linkage dan independent.00 4.00 3.00 1.

sarana dan prasarana Pendekatan pengelolaan Wilayah Perbatasan pada aspek sosekbudhankam dan lingkungan serta kesejahteraan secara seimbang Independent Peningkatan kerjasama pembangunan antar negara. Level 1 Pengembangan kawasan khusus dengan pemanfaatan ruang spesifik sesuai dinamika wilayah Dependent Level 2 Pengelolaan SDA darat dan laut secara seimbang Partisipasi horison & vertikal pusat dan daerah Penyusunan kebijakan tingkat makro dan mikro. Hasil kajian subelemen pada analisis ISM berupa (a) Matriks reachability dan interpretasi dari elemen tolok ukur yang terpengaruh program.perbatasan merupakan elemen tolok ukur tersebut. antar pemerintahan. investasi. dan antar stakeholders di wilayah perbatasan Level 5 Peningkatan kesejahteraan masyarakat. SDA dan kelembagaan pendukung pusat pertumbuhan Evaluasi kegiatan untuk penganggaran dana pada kegiatan Level 3 Peningkatan kegiatan pengembangan pemukiman. disajikan pada Gambar 42. yang disajikan pada lampiran 4. pendapatan daerah dan pendapatan negara Penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan Gambar 42. Diagram hierarki dari subelemen tolok ukur dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara . (b) Diagram model struktural ISM dari elemen tolok ukur yang terpengaruh program seperti disajikan pada Gambar 38. (c) Matriks driver power-dependence untuk elemen tolok ukur yang terpengaruh program. sarana dan prasarana wilayah Pembangunan Wilayah Perbatasan Penataan ruang wilayah Sinergi dan keseimbangan pembangunan Linkage Pembuatan kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan Level 4 Penataan dan pembukaan isolasi serta ketertinggalan wilayah perbatasan Pembangunan infrastruktur.

6. 7. 16 0 1 2 3 4 5 3 Autonomus Dependent Gambar 43. Setiap tindakan yang meningkatkan peranan dari sektor-sektor tersebut akan menghasilkan sukses program menuju sistem pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara.3 Komponen-komponen Dominan dalam Kebijakan Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Kabupaten Nunukan A. KLH. lembaga profesi. Hasil Pembobotan pada Setiap Komponen Dalam menganalisis komponen yang dominan dalam kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan wilayah perbatasan negara di Kabupaten Nunukan. 15 17 16 15 1. Gambar 39 merupakan diagram hirarki AHP yang telah didiskusikan dan merupakan pendapat pakar melalui wawancara yang mendalam. 1 1 0 4 . perguruan tinggi. 14. Independent 5. masyarakat. 11. dan LSM. pemda. DPR RI. swasta. 12 13 12 11 10 9 8 6 7 7 8 9 6 5 4 3 2 1 0 Linkage 2. . digunakan model AHP untuk memilih arahan kebijakan yang tepat dan penting dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan.4. Matriks DP-D untuk subelemen tolok ukur dalam pengembangan strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara 4.113 Berdasarkan hasil analisis terdapat 6 faktor kunci prioritas penggerak elemen tolok ukur yang sangat memengaruhi program menuju strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yaitu subelemen-subelemen yang terletak pada sektor I (independent). 8. Pakar yang terlibat antara lain dari Bappenas. sedangkan lemahnya perhatian terhadap sektor-sektor tersebut akan menyebabkan kegagalan program. Menpera. 9. Departemen PU. Departemen Dalam Negeri. 13 10 11 12 13 14 15 16 17 4.

418 Tingkat Pendapatan 0. Diagram hierarki AHP pada pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara Hierarki AHP disusun dengan lima level yang memperlihatkan tahapan proses penetapan prioritas yang dimulai dari penetapan fokus pada level l yaitu fokus pada pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. swasta. Level 4 adalah tujuan untuk pengembangan kawasan permukiman yang terdiri atas pengembangan dan penataan kawasan. pendanaan pembangunan. Level 2 adalah faktor yang terdiri atas kebijakan pemerintah.Fokus Permukiman PerbatasanNegara Faktor Kebijakan Pemerintah 0. Hasil pengisian kuesioner matriks perbandingan berpasangan yang disampaikan kepada . pengembangan prasarana kawasan dan minimalisasi konflik. dan BKM/LSM setempat. prasarana.222 Swasta 0.068 Tujuan Pengembangan Dan Penataan Kawasan 0. pemerintah daerah.150 Masyarakat 0. strategi pengembangan pembiayaan.120 Pendanaan Pembangunan 0.313 Pemulihan Ekosistem 0. pakar.087 Sasaran Strategi Pengembangan (Kawasan) 0. Aktor tersebut terkait dengan pengembangan kawasan permukiman dan masing-masing aktor mempunyai peran. dan sarana.191 Stakeholders Pemerintah 0. peningkatan kesejahteraan.133 Pakar 0.116 Minimalisasi Konflik 0. pengaruh. Level 3 adalah aktor terdiri atas pemerintah pusat.624 Strategi Pengembangan (Kelembagaan) 0.158 Pengembangan Prasarana Kawasan 0.130 Strategi Pengembangan (Pembiayaan) 0.091 BKM / LSM 0. tingkat pendapatan. masyarakat.246 Gambar 44. pengelolaan SDA dan ekosistem kawasan.326 Peningkatan Kesejahteraan 0. Level 5 adalah sasaran yang terdiri atas strategi pengembangan kawasan. dan kekuatan terhadap kebijakan-kebijakan pengembangan kawasan.271 Prasarana dan Sarana 0. dan strategi pengembangan kelembagaan.337 Pemerintah Daerah 0.

Pembobotan Kriteria Faktor dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Perbatasan Negara Berkelanjutan Berdasarkan hasil dari pendapat pakar tersusun faktor-faktor yang menjadi pengaruh utama dalam pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan.115 pakar dari kalangan pemerintah pusat. Penyiapan perangkat kebijakan dan pendanaan pembangunan diperlukan guna pengembangan kawasan permukiman di tingkat kabupaten. B. masyarakat. hasil analisis AHP yang merupakan faktor (level 2) kebijakan pemerintah dan pendanaan pembangunan menjadi prioritas utama dengan masing-masing bobot nilai adalah 0. pakar perguruan tinggi. swasta. Gambar 45 menunjukkan urutan prioritas faktor-faktor tersebut. Urutan prioritas faktor dalam pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan Berdasarkan gambar 45. pemerintah daerah.418 dan 0. Keterangan : KBPM = Kebijakan Pemerintah PDPB = Pendanaan Pembangunan PSSR = Prasarana dan Sarana TKPM = Tingkat Pendapatan Gambar 45. kawasan pusat pertumbuhan maupun pada kawasan yang sangat terperinci di wilayah perbatasan negara. kemudian diolah dengan perangkat lunak Expert Choice. Hasil analisis AHP pada setiap level dari heirarki desain pengembangan kawasan berkelanjutan.271. Kebijakan pemerintah akan membantu membangun pusat-pusat pertumbuhan baru kegiatan ekonomi dan perdagangan. Dalam kaitan dengan kebijakan pemerintah diperlukan kebijakan ekonomi yang meliputi intervensi pemerintah . dan BKM/LSM. Bobot dan prioritas yang dianalisis adalah hasil kombinasi (combined) dari pendapat para pakar pada setiap matriks berpasangan.

diperlukan upaya pengembangan perencanaan dan perancangan. hal tersebut sering terabaikan sehingga tidak berfungsi secara optimal dalam mendukung suksesnya perkembangan suatu kawasan/kota. stakeholders. Lokasi permukiman perlu memperhatikan keserasian dengan lingkungannya. (3) Proses dapat mengindikasikan dinamika pertumbuhan kota. dan pemberian stimulan bagi kegiatan pembangunan yang memerlukannya. Memahami kecenderungan pertumbuhan kawasan perkotaan di wilayah perbatasan (pusat pertumbuhan baru) sangat terkait dengan 4 faktor: kebijakan. perilaku masyarakat. strategi yang ditempuh adalah partisipasi masyarakat. LKM.116 secara terarah. (4) Perilaku mengindikasikan kegiatan dari pelaku yang terlibat. Hasilnya adalah model pola pentahapan dan proses penyusunan kebijakan. Dalam kenyataannya. kesehatan lingkungan. memahami tiap tingkat harus mempertimbangkan tingkat yang paling atas dan paling bawah sebagai perbandingan hubungan yang paling dekat. (1) Kebijakan merupakan faktor paling penting untuk mengontrol pertumbuhan suatu kota pada skala makro. Kebijakan pengembangan permukiman di Indonesia tahun 2000—2020 antara lain pengembangan lokasi kawasan permukiman dengan memerhatikan jumlah penduduk dan penyebarannya. (Permenpera 1999). Adapun. . penciptaan kesempatan kerja. dalam konteks hubungan antara tujuan sosial dan ekologi. dan tersedianya fasilitas sosial dan umum. proses dan pola pertumbuhan. (2) Pola pertumbuhan merupakan cerminan dapat dilihat secara langsung hasilnya. Oleh karena itu. Konsekuensinya untuk memahami proses adalah harus melihat pola dan perilaku yang terkandung di dalamnya. Pengelolaan pembangunan perumahan harus memperhatikan ketersediaan sumber daya pendukung serta keterpaduannya dengan aktivitas lain. swasta. Pola merupakan gambaran sementara dari proses dan perilaku merupakan sumber dari proses pengambilan keputusan (Cheng 1999). Kuswara (2004) dalam kajiannya mengungkapkan bahwa permukiman merupakan tempat aktivitas yang memanfaatkan ruang terbesar dari kawasan budi daya. pola tata guna lahan. pemerataan pendapatan. dan LSM. Hal tersebut dilakukan agar segenap tujuan pembangunan berkelanjutan ini dapat tercapai. Aturan dalam teori hierarki. serta pembangunan permukiman yang kontributif terhadap rencana tata ruang.

Tantangan pengembangan kawasan permukiman yang akan datang antara lain (i) urbanisasi yang tumbuh cepat merupakan tantangan bagi pemerintah untuk berupaya agar pertumbuhan lebih merata. Hasil analisis AHP selanjutnya yang menjadi prioritas adalah peningkatan prasarana dan sarana dengan bobot nilai 0.120. Diharapkan program pembangunan yang menyeluruh dan terpadu dapat dilaksanakan di wilayah perbatasan negara Kabupaten Nunukan. di mana orientasi pembangunan terfokus pada kelompok masyarakat mampu serta menguntungkan. C. perlu dibuat rencana tapak kawasan (site planning) agar dalam jangka panjang perumahan tersebut tidak menimbulkan dampak negatif dalam arti luas. dan (iv) kegagalan implementasi dan kebijakan penentuan lokasi perumahan (Kirmanto 2005). dan perumahan. sehingga akan memberikan keuntungan kepada pemerintah dan mensejahterakan masyarakat di sekitar kawasan tersebut. (ii) perkembangan tak terkendali di daerah yang memiliki potensi untuk tumbuh. (iii) konflik kepentingan dalam penentuan lokasi perumahan. dan (v) komunitas lokal tersisih.117 Permasalahan perumahan saat ini menurut Kirmanto (2005) telah terjadi: (i) alokasi tanah dan tata ruang yang kurang tepat. Setelah lokasi kawasan permukiman ditentukan berdasarkan pilihan yang optimal. tersusun stakeholder yang menjadi pengaruh utama dalam pengelolaan pengembangan kawasan permukiman tersebut perbatasan negara berkelanjutan. Gambar 46 menunjukkan urutan prioritas stakeholder tersebut. (iv) masalah lingkungan dan eksploitasi sumberdaya alam.191 dan yang menjadi prioritas yang terakhir adalah tingkat pendapatan dengan bobot nilai 0. Adanya peningkatan prasarana dan sarana serta peningkatan tingkat pendapatan. . Rencana tapak kawasan ini penting karena akan menentukan bentuk dan pola kawasan yang dapat menciptakan suatu kawasan permukiman yang tertata sehingga kemudahan dan kenyamanan para penghuni dapat tercipta serta dapat mempengaruhi perilaku penghuni di mana pun kawasan permukiman berada termasuk di wilayah perbatasan negara. pelayanan perkotaan. Pembobotan Kriteria Stakeholder dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Perbatasan Negara Berkelanjutan Berdasarkan hasil dari pendapat pakar. (iii) marjinalisasi sektor lokal oleh sektor nasional dan global. (ii) ketimpangan pelayanan infrastruktur.

26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Pola penanganan tersebut dapat dijabarkan melalui penyusunan kebijakan dari tingkat makro sampai tingkat mikro . Urutan prioritas stakeholder dalam pengembangan permukiman perbatasan negara berkelanjutan kawasan Berdasarkan gambar 46 hasil analisis AHP yang merupakan stakeholder (level 3) menunjukkan bahwa pemerintah pusat dan daerah mempunyai peran utama dalam pengembangan kawasan permukiman. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) 2000-2004. dan UU No. pengembangan wilayah perbatasan memerlukan suatu pola atau kerangka penanganan yang menyeluruh meliputi berbagai sektor dan kegiatan pembangunan serta koordinasi dan kerjasama yang efektif dari mulai pemerintah pusat sampai ke tingkat kabupaten/kota. bobot nilai masing-masing stakeholder adalah 0.337 dan 0. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah mempunyai tingkat kepentingan yang tinggi terhadap penetapan alternatif kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan. Oleh karena itu. pemerintah mempunyai kewenangan penuh untuk mendorong percepatan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan kabupaten Nunukan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN). 32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah. Undang-undang No. Hal tersebut disebabkan kenyataan di lapangan maupun pada tingkat kebijakan sangat ditentukan oleh pengaruh dan peran dari aktor pemerintah pusat dan pemerintah daerah sesuai dengan Undang-undang No.222. Secara umum.118 Keterangan : PP = Pemerintah Pusat PD = Pemerintah Daerah ST = Swasta MY = Masyarakat PK = Pakar Gambar 46. Undang-Undang No. 4 tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman.

tetapi sebaliknya perlu diakui dan diatur secara jelas. Swasta merupakan salah satu stakeholder yang mempunyai peran terhadap pengembangan kawasan permukiman. Swasta mempunyai peran sebagai penggalian sumber dana untuk investasi pembangunan yang berkaitan dengan pengembangan kawasan permukiman. memperkuat investasi dunia usaha sehingga dapat meningkatkan dan menguatkan jaringan kemitraan serta kerja sama antara masyarakat. masyarakat. Masyarakat berperan penting untuk menjaga wilayah perbatasan. Swasta memiliki bobot nilai sebanyak 0.dan disusun berdasarkan proses yang partisipatif baik secara horisontal di pusat maupun vertikal dengan pemerintah daerah. pemerintah dengan swasta.68. Hak-hak ulayat masyarakat perbatasan perlu diakui dan diatur keberadaannya. Kedua stakeholder tersebut mempunyai peran dalam hal melakukan pemantauan dan pengawasan di lapangan terhadap sosial ekonomi masyarakat di sekitar wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan dan usaha-usaha penegakan hukum jika ada suatu pelanggaran dalam setiap kegiatan pembangunan. keberadaanya tidak dapat dihapuskan. .150. seperti pernyataan Direktorat Jendral Pemberdayaan Sosial (2005) mengemukakan bahwa tanggung jawab sosial dunia usaha telah menjadi suatu kebutuhan yang dirasakan bersama antara pemerintah.91 dan 0. Stakeholder selanjutnya adalah masyarakat yang mempunyai bobot nilai 0. Stakeholder selanjutnya adalah pakar dan BKM/LSM masing-masing stakeholder tersebut mempunyai bobot nilai 0. Pembangunan permukiman sangat penting dilakukan di wilayah perbatasan tersebut menyangkut keamanan. sedangkan jangkauan pelaksanaannya bersifat strategis sampai dengan operasional. dan kesadaran masyarakat perbatasan akan identitas nasional. Tanggung jawab sosial swasta di antaranya peningkatan kesejahteraan dapat memberikan masyarakat.133. Walaupun demikian. dan swasta atau dunia usaha berdasarkan prinsip kemitraan dan kerjasama. Keberadaan tanah ulayat secara sesungguhnya memiliki permasalahan secara administratif karena terkadang keberadaannya melintasi batas negara di dua wilayah negara. implikasi positif terhadap meringankan beban pembiayaan pembangunan. kehormatan. karena hak-hak ulayat ini secara tradisional menjadi aset penghidupan sehari-hari masyarakat tersebut.

Pembobotan Kriteria Tujuan dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Berdasarkan hasil dari pendapat pakar tersusun tujuan yang menjadi capaian utama. mengamanatkan bahwa wilayah perbatasan negara sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) dan menyiapkan berbagai kebijakan dan langkah serta program pembangunan yang menyeluruh dan terpadu sehingga akan terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan.120 D. Keterangan : PPK = Pengembangan dan Penataan Kawasan PKS = Peningkatan Kesejahteraan PE = Pengembangan SDA dan Ekosistem Kawasan PRK = Pengembangan Prasarana Kawasan MK = Minimasi Konflik Gambar 47. Amanat GBHN ini telah dijabarkan dalam Undang-Undang No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman pada pasal 2 memuat penjelasan bahwa lingkup pengaturan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) yang .326 dan 0.313. Pengembangan kawasan menjadi prioritas sesuai dengan GBHN 1999 tertinggal mengamanatkan yang harus bahwa wilayah perbatasan dalam merupakan kawasan mendapat prioritas pembangunan. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) dan dalam Undang-Undang No. Urutan prioritas tujuan dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara Berdasarkan gambar 47 hasil analisis AHP yang merupakan tujuan (level 4) menunjukkan pengembangan dan penataan kawasan dan peningkatan kesejahteraan mendapat priotitas utama dalam kriteria tujuan dengan masingmasing bobot nilai 0. Penanganan pengembangan kawasan permukiman sesuai dengan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. gambar 47 menunjukkan urutan prioritas tujuan tersebut.

Dalam mengembangkan kawasan permukiman.578 26. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari perkembangan permukiman berpola linier/ribbon development (Departemen PU 2002). meliputi kegiatan pemeliharaan.640 20. peremajaan. terbatasnya fasilitas umum dan sosial.784 144. pemeliharaan.264 41.840 163. perumahan perluasan. serta dengan menggunakan asumsi bahwa setiap keluarga terdiri dari 5 orang. Keterbatasan pelayanan publik di wilayah perbatasan menyebabkan orientasi . dan pemanfaataannya. meliputi kegiatan pembangunan baru.171 239.429 26. Seiring meningkatnya jumlah penduduk.961 107.579 21. penataan perbaikan. pemanfaatannya. serta rendahnya kesejahteraan masyarakat. dan Pengembangan pembangunan yang menyangkut penataan permukiman baru. perbaikan.053 116.751 Kebutuhan Rumah (unit) 18. Berdasarkan asumsi pertumbuhan penduduk berdasarkan pada tiap-tiap skenario yang direncanakan. perluasan.menyangkut pemugaran. Hal ini disebabkan sentralisasi pembangunan di masa lalu dan kecenderungan penggunaan pendekatan keamanan dalam pengelolaan wilayah perbatasan sehingga menyebabkan minimnya prasarana dan sarana wilayah. Malaysia khususnya di wilayah perbatasan dengan Indonesia menggunakan pola cascade (ditarik ke dalam tidak linier di sepanjang jalan).110 Kemiskinan dan ketertinggalan masyarakat merupakan permasalahan utama di wilayah perbatasan. Kebutuhan rumah di Kabupaten Nunukan tahun 2009 dan 2014 Kawasan Perumahan Skenario Pesimis 2009 2014 Optimis 2009 2014 Ambisius 2009 2014 Sumber: Hasil Analisis Jumlah Penduduk 96. kebutuhan permukiman sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia ikut meningkat pula. maka perkiraan kebutuhan minimum rumah pada tahun 2009 dan tahun 2014 berdasarkan tiap skenario dapat ditentukan seperti tertera pada Tabel 19. Konsep penataan dan pengembangan permukiman di Indonesia berbeda dengan di Malaysia. Tabel 19.

Paradigma pengelolaan wilayah perbatasan pada masa lampau berbeda dengan pradigma saat ini. masyarakat dan pekerja di wilayah perbatasan banyak kekurangan rumah sehingga untuk memenuhi kebutuhan rumah. Prioritas selanjutnya adalah pengelolaan SDA dan ekosistem wilayah dengan bobot nilai 0.122 aktivitas memenuhi sosial-ekonomi hak-hak masyarakat ke wilayah negara tetangga. meningkatkan sumber pendapatan negara.158. Pada masa lalu pengelolaan wilayah perbatasan lebih menekankan kepada aspek keamanan (security approach). para pekerja . pengembangan wilayah perbatasan melalui pendekatan kesejahteraan sekaligus pendekatan keamanan secara serasi perlu dijadikan landasan dalam penyusunan berbagai program dan kegiatan di wilayah perbatasan pada masa yang akan datang. kegiatan-kegiatan pembangunan perlu direncanakan secara terpadu berdasarkan pada pengelolaan secara optimal potensi-potensi SDA dan ekosistem wilayah. Di lain pihak. Pengelolaan SDA dan ekosistem wilayah sangat penting untuk dilaksanakan sehingga SDA dan wilayah tidak terdegradasi akibat adanya pembangunan di kawasan tersebut. dan mengejar ketertinggalan pembangunan dari wilayah negara tetangga. Untuk masyarakat sebagai warga negara dalam memperoleh pelayanan publik dan kesejahteraan sosial serta membuka keterisolasian wilayah. Oleh karena itu. Kebijakan pengembangan wilayah perbatasan negara ke depan adalah dengan peningkatan keberpihakan terhadap wilayah perbatasan sebagai daerah tertinggal dan terisolir dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan dan keamanan secara seimbang. Kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara mempunyai dampak langsung terhadap kualitas lingkungan seperti fakta adanya kawasan permukiman yang liar dan tidak tertata yang keberadaannya juga dapat mengganggu ekosistem air tanah. sosial. sedangkan saat ini kondisi keamanan regional relatif stabil sehingga pengembangan wilayah perbatasan perlu pula menekankan kepada aspek ekonomi. Pengelolaan wilayah perbatasan dengan pendekatan kesejahteraan (prosperity approach) sangat diperlukan untuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. diperlukan percepatan pembangunan di wilayah perbatasan dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan. dan lingkungan. Oleh karena itu. budaya.

116 yang sangat penting dilakukan untuk pengembangan potensi ekonomi dan sumber daya alam di kawasan tersebut. Peningkatan kerja sama bilateral. peningkatan kerja sama dengan negara tetangga baik secara bilateral. yaitu masalah (1) Tanjung Datu. Hal ini dapat mendatangkan keuntungan bagi pemerintah daerah maupun masyarakat. antarnegara sangat diperlukan untuk meningkatkan investasi dan optimalisasi pemanfaatan SDA di wilayah perbatasan. serta untuk menanggulangi berbagai permasalahan hukum yang terjadi di wilayah perbatasan.087 yang penting dilakukan agar tidak terjadi konflik di wilayah perbatasan antara masyarakat dengan masyarakat negara tetangga.menyewa tempat tinggal dengan tarif setengah dari gajinya. dan pertahanan keamananan. Apabila para pekerja dapat dipenuhi kebutuhan rumahanya oleh para stakeholders terkait. setiap negara di saling tergantung satu sama lain. Selain itu kerja sama. ekonomi. subregional. Di era globalisasi seperti saat ini. politik. Permasalahan perbatasan yang ada saat ini terjadi pada sembilan titik. masyarakat dengan pemerintah daerah. Oleh karena itu. Permasalahan ini sangat kompleks dan menyangkut kepastian hukum wilayah NKRI atau Malaysia. Kelembagaan untuk menyelesaikan masalah-masalah perbatasan RI - Malaysia yang ada saat ini adalah General Border Committee (GBC) yang diketuai oleh Panglima TNI. dan masyarakat dengan pemerintah provinsi/pusat. maka gajinya akan lebih besar untuk kebutuhan kesejahteraan sehingga etos kerja para pekerja akan semakin meningkat (Gilbreath 2002). Adanya saling ketergantungan dalam masyarakat internasional berpengaruh dalam bidang-bidang ideologi. Forum ini mengadakan pertemuan setahun sekali dengan pergantian tempat antara Indonesia dan Malaysia. (2) Batu Aum. Prioritas selanjutnya yaitu pengembangan prasarana dan sarana dengan bobot nilai 0. (3) . Hal ini didukung meningkatnya hubungan masyarakat perbatasan baik dari segi sosial-budaya maupun ekonomi. Prioritas terakhir adalah minimalisasi konflik dengan bobot nilai 0. maupun regional dalam berbagai bidang pengelolaan perbatasan tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan internasional maupun regional. subregional. sosial-budaya. maupun regional diharapkan dapat menciptakan keterbukaan dan saling pengertian sehingga dapat menghindari terjadinya konflik perbatasan.

(4) Sungai Sinapad. Kerja sama di bidang sosial-ekonomi daerah perbatasan Malaysia (Sarawak dan Sabah) dengan Indonesia (Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur) yang disebut Sosek Malindo telah dilengkapi dengan kelompok kerja (KK). (8) Gunung Raya. (b) merumuskan hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan pembangunan sosial ekonomi di wilayah perbatasan.624. Pembobotan Kriteria Sasaran dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Perbatasan Negara Berkelanjutan Hasil dari pendapat pakar tersusun sasaran yang menjadi prioritas utama dalam keberhasilan pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan. (c) melaksanakan pertukaran informasi mengenai proyekproyek pembangunan sosial-ekonomi di wilayah perbatasan bersama. Urutan prioritas sasaran dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara Berdasarkan gambar 48 hasil analisis AHP yang merupakan sasaran (level 5) menunjukkan strategi pengembangan kawasan menjadi prioritas utama dengan bobot nilai 0. (6) Nanga Badau. (7) Sungai Buan. dan (d) menyampaikan laporan kepada KK Sosek Malindo tingkat pusat mengenai pelaksanaan kerja sama pembangunan sosial-ekonomi di daerah perbatasan. E.Semilau. (5) Sungai Semantipal. Sosek Malindo di tingkat provinsi/negeri ditujukan untuk (a) menentukan proyekproyek pembangunan sosial ekonomi yang digunakan bersama. dan (9) Pulau Sebatik. Hal tersebut disebabkan adanya dukungan ketersediaan infrastruktur dasar yang memadai untuk dilakukan pengembangan wilayah . Gambar 48 menunjukkan urutan prioritas sasaran tersebut. Keterangan : SPKW = Strategi Pengembangan Kawasan SPPM = Strategi Pengembangan Pembiayaan SPKL = Strategi Pengembangan Kelembagaan Gambar 48.

246.130. Penetapan garis batas negara secara jelas dan benar. peningkatan kelengkapan lingkungan (neighbourhood peningkatan investasi publik. pembentukan pengelolaan community-based permukiman organization (CBO). Prioritas yang terakhir adalah strategi pengembangan kelembagaan dengan bobot nilai 0. Peningkatan kualitas sumber daya manusia agar lebih berpotensi dan profesional. Prioritas kedua yaitu pengembangan pembiayaan dengan bobot nilai 0.125 perbatasan di Kabupaten Nunukan. bantuan teknis pengembangan desain rumah dan lingkungan. pelembagaan aktivitas sosialkultural. Hal tersebut didukung oleh adanya dukungan pembiayaan dari pemerintah untuk melakukan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan. Adapun program pembangunan berupa penyusunan rencana pengembangan wilayah perbatasan dengan program kegiatan sebagai berikut: Penetapan arah kebijakan pembangunan wilayah perbatasan dengan orientasi mendukung pergerakan aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga. . Peningkatan sarana dan prasarana pendukung terhadap aktivitas sosial ekonomi masyarakat setempat serta guna membantu pengamanan kawasan perbatasan. a. Hal tersebut disebabkan adanya dukungan perencanaan tata ruang yang partisipatif. kawasan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pintu gerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga. Penetapan fungsi lembaga pengelola wilayah perbatasan sesuai dengan kapasitas. Dengan demikian. Strategi Pengembangan Kawasan Arah pembangunan jangka panjang nasional yang berkaitan dengan attachment). sosialisasi dan program advokasi berkelanjutan. Pengembangan wilayah perbatasan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi strategis dengan pemanfaatan sumberdaya alam setempat. pembangunan wilayah perbatasan merupakan wilayah perbatasan dikembangkan dengan mengubah arah kebijakan pembangunan yang selama ini cenderung berorientasi inward looking menjadi outward looking.

Perlu dibangun pelabuhan laut yang khusus melayani arus keluar-masuk barang dari Indonesia di Wilayah Nunukan Kepulauan. Mengoptimalkan pemanfaatan pendapatan yang berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui dengan prinsip pembangunan yang berkelanjutan. wilayah pedesaan. Pembukaan sarana dan prasarana perintis dan air strip yang sudah ada di daerah perbatasan dan bantuan subsidi penerbangan ke daerah perbatasan. membuka wilayah pedalaman. Meningkatkan investasi dan peran wisata untuk mendorong penguatan ekonomi rakyat. Pengembangan potensi ekonomi yang tersedia di daerah perbatasan melalui . Bagian dokumen perencanaan daerah ini yang memuat salah satu prioritas pembangunan daerah perbatasan dengan program prioritas: Pembangunan sarana dan prasarana jalan darat yang menghubungkan pusat pusat pertumbuhan ekonomi di daerah kota dan pantai dengan wilayah di perbatasan termasuk jalan tembus menuju ke daerah Malaysia. wilayah yang terisolasi. serta kecamatan.126 Arah kebijakan pemanfaatan ruang di wilayah perbatasan Provinsi Kalimantan Timur adalah: Perlu dibuka jalur transportasi yang menghubungkan wilayah perbatasan dengan daerah-daerah lainnya. Mempercepat tercapainya kemandirian masyarakat dan pemerintah Kabupaten Nunukan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Pengawasan sumber daya alam di daerah perbatasan dan pencurian oleh pihak-pihak yang kurang bartanggung jawab serta pengawasan pemindahan patok-patok batas negara di perbatasan Indonesia dengan Malaysia. Perlu dibuka pos-pos imigrasi di wilayah perbatasan untuk melegalkan arus barang yang masuk dan keluar dari wilayah Indonesia. dan kawasan tertinggal lainnya. perbatasan. Rencana Strategi Daerah Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2003--2008. baik yang menuju Indonesia maupun Malaysia untuk memudahkan pemasaran hasil-hasil bumi setempat. Mengembangkan antarwilayah dan menyerasikan laju pertumbuhan antarsektor pembangunan ekonomi.

Peningkatan kerja sama sosial-ekonomi antara pemerintah dan masyarakat perbatasan antarkedua negara malalui payung kerja sama-SOSEK MALINDO dan kerja sama bidang lainnya yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Pendanaan atau pembiayaan tersebut menganut prinsip "Money Follow's Function". serta pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah dan pemerintahan daerah diatur secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang. UndangUndang No. kondisi. yang mengandung makna pendanaan mengikuti fungsi pemerintahan yang menjadi tanggung jawab masing-masing tingkat pemerintahan. Strategi Pengembangan Pembiayaan Pada pasal 18 A ayat (2) UUD Negara Republik Indonesia 1945 mengamanatkan agar hubungan keuangan. atau yang ditugaskan dan/atau desa dalam rangka tugas pembantuan. Legitan.127 pola agribisnis dan agroindustri dengan tujuan ekspor ke negara tetangga. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Dana perimbangan merupakan pendanaan daerah yang bersumber dari APBN yang terdiri dari dana bagi hasil (DBH). 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah dimaksudkan untuk mendukung penyerahan urusan kepada pemerintahan daerah yang diatur dalam Undang-Undang No. pendapatan lain yang syah. Wilayah perbatasan berkaitan dengan pemerintah pusat sehingga pendanaan pembangunan wilayah perbatasan juga dapat bersumber dari RAPBN. Jangan sampai kasus Sepadan. dan transparan dengan memperhatikan potensi. b. dan dana . dana alokasi umum (DAU). Perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah mencakup pembagian keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah secara proporsional. Studi pengembangan Kawasan Strategis Nasional perbatasan Provinsi Kalimantan Timur yang menyangkut pula pemerintahan 4 kabupaten merupakan masalah nasional yang perlu mendapat perhatian khusus. daerah Pinjaman daratan perbatasan Kalimantan Sumber-sumber terdiri Daerah atas dan pendanaan/pembiayaan pendapatan Asli pelaksanaan Dana pemerintahan Perimbangan. keuangan pusat yang dikonsentrasikan kepada gubernur. pelayanan. dan Ambalat Timur terulang dengan kembali Serawak di daerah (Malaysia). adil. demokratis. kebutuhan. Daerah. serta permasalahan daerah.

128 alokasi khusus (DAK). pelaksanaan. badan/lembaga internasional dalam bentuk devisa/rupiah. Selain itu. dan termasuk dana reboisasi. Wilayah perbatasan berkaitan dengan empat kabupaten sehingga ada peluang peningkatan DAU untuk membangun wilayah perbatasan. Dalam . Sumber dana/biaya dan kekayaan sumber daya alam yang ada di Provinsi Kalimantan Timur dan keempat kabupaten yang termasuk wilayah perbatasan cukup besar apabila dana tersebut dapat dimanfaatkan dengan kebijakan. termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang tidak perlu dibayar lagi. c. perencanaan. 33 Tahun 2004 juga mengatur hibah yang berasal dari pemerintah negara asing. Dana alokasi umum (DAU) digunakan untuk pemerataan kemampuan keuangan antardaerah melalui penerapan formula yang mempertimbangkan kebutuhan dana potensi daerah. Dana perimbangan ini digunakan untuk membantu daerah dalam mendanai kewenangannya untuk menghindari ketimpangan sumber pendanaan pemerintahan antara pusat dan pemerintahan daerah. panas bumi sesuai dengan undang-undang No. Sumber dana yang lain yaitu dana dekonsentrasi yang bertujuan untuk menjamin tersedianya dana untuk pelaksanaan kewenangan pemerintah yang dilimpahkan pada gubernur sebagai wakil pemerintah. dan pengawasan yang baik. 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi. Dana alokasi khusus (DAK) digunakan untuk membantu membiayai kegiatan-kegiatan khusus di daerah tertentu yang menjadi prioritas nasional karena membangun wilayah perbatasan merupakan masalah daerah dan masalah nasional. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. Dana bagi hasil (DBH) diatur dalam Undang-Undang No. 7 Tahun 2000 dan pada pasal 21 sektor pertambangan. badan/lembaga asing. Strategi Pengembangan Kelembagaan Pengembangan strategi nasional perbatasan Provinsi Kalimantan Timur berkaitan dengan Kabupaten Nunukan sehingga sesuai dengan amanat Undangundang No. Dalam Undang-Undang No. kecuali urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintah pusat. bentuk barang dan jasa. terdapat sumber-sumber pembiayaan lain yaitu pinjaman daerah yang digunakan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan pelayanan masyarakat.

moneter dan fiskal nasional. Oleh karena itu.Hal ini sesuai dengan prinsip demokrasi yang mendorong akuntanbilitas pemerintah kepada rakyat. dan pemerintah daerah kabupaten/kota. Penggunaan ketiga kriteria tersebut diterapkan secara kumulatif sebagai satu kesatuan dengan mempertimbangkan keserasian dan keadilan hubungan antarkegiatan dan susunan pemerintahan. Urusan pemerintah terdiri dari urusan pemerintahan yang dikelola secara bersama antartingkatan dan susunan pemerintah atau konkuren. Untuk mencegah teradinya tumpang tindih pengakuan atau klaim atas dampak maka ditentukan kriteria akuntanbilitas. ditetapkan kriteria pembagian urusan pemerintahan yang meliputi eksternalitas. Pembagian urusan pemerintahan yang bersifat konkuren harus proporsional antara pemerintah. Seluruh tingkat pemerintahan wajib mengedepankan pencapaian efisiensi dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya dalam . dan efisien. Kriteria efisiensi didasarkan pada penyelenggaraan urusan pemerintahan harus ekonomis. pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten.129 menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah tersebut. pertahanan keamanan. Dalam setiap bidang urusan pemerintahan yang bersifat konkuren terdapat bagian urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat. pemerintah daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas perbantuan. akuntabilitas. Kriteria eksternalitas didasarkan atas pemikiran bahwa tingkat pemerintahan yang berwenang atas suatu urusan pemerintahan ditentukan oleh jangkauan dampak yang diakibatkan dari penyelenggaraan urusan pemerintahan. pemerintah daerah propinsi. Kriteria tersebut yaitu tingkat pemerintah yang paling berwenang menyelenggarakan urusan pemerintahan tersebut adalah yang paling dekat dari dampak yang timbul. Urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah yaitu urusan dalam bidang politik luar negeri. yustisi dan agama. Urusan pemerintahan yang dapat dikelola secara bersama antartingkatan dan susunan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi urusan pemerintah pusat. Penyelenggaraan desentralisasi memberikan syarat terhadap pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Hal ini tentu harus disesuaikan dengan kondisi. Urusan kewenangan daerah terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. Agar pelaksanaan urusan pemerintahan yang bersifat wajib dan pilihan memiliki payung hukum yang kuat. Pedoman yang memuat norma. Ketentuan tersebut meliputi penentuan struktur organisasi perangkat daerah. serta semangat ekonomis diwujudkan melalui kriteria efisiensi. dan anggaran. Urusan pemerintahan di luar urusan wajib dan urusan pilihan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang bersangkutan tetap harus diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang bersangkutan. tiap tingkat pemerintahan harus melaksanakan urusan pemerintahan berdasarkan kriteria pembagian urusan pemerintahan. Keterbatasan sumber daya dan sumber dana yang dimiliki oleh daerah membuat prioritas penyelenggaraan urusan pemerintahan harus difokuskan pada urusan wajib dan urusan pilihan yang benar-benar mengarah pada penciptaan kesejahteraan masyarakat. dan kriteria yang dijadikan pedoman dalam mengatur hubungan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dan antara pemerintah daerah provinsi dengan pemerintah daerah kabupaten/kota. seperti pendidikan dasar. Di luar urusan pemerintahan yang bersifat wajib dan pilihan. perhubungan. Pemerintah berkewajiban menyusun norma. standar. Ketiga kriteria ini dapat disinergikan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan demokratisasi sebagai esensi dasar dari kebijakan desentralisasi. Hal ini menjadi kewenangan pemerintah yang bersangkutan sesuai dengan dasar prinsip penyelenggaraan urusan sisa. Urusan pemerintahan yang bersifat pilihan yaitu urusan pemerintahan yang diprioritaskan oleh pemerintahan daerah yang terkait dengan upaya pengembangan potensi unggulan (core competence). prosedur. personil. dan kekhasan daerah yang bersangkutan.130 menghadapi globalisasi. prosedur. lingkungan hidup. potensi. Urusan pemerintahan wajib adalah urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang terkait dengan pelayanan dasar (basic services) bagi masyarakat. kependudukan dan sebagainya. Penerapan kriteria eksternalitas. akuntanbilitas. maka urusan wajib dan pilihan yang diselenggarakan oleh daerah harus dituangkan ke dalam peraturan daerah yang menjadi acuan dalam penentuan penyelenggaraan pemerintah daerah. kesehatan. standar. dan kriteria tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk menilai kemampuan apakah suatu urusan .

dan kriteria wajib dalam mengikutsertakan pemangku kepentingan (stakeholders) terkait termasuk pemerintahan daerah. standar. prosedur. standar. Bagi pemerintahan daerah yang belum memenuhi norma. dan kriteria yang dipersyaratkan untuk penyelenggaraan urusan pemerintahan. kewenangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan tersebut dapat ditunda sampai dengan pemerintahan daerah yang bersangkutan mampu memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh pemerintah. dan kriteria yang ditentukan. Oleh karena itu.pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah mampu diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang bersangkutan. prosedur. Pemberdayaan pemerintah daerah sangat penting dilakukan untuk meningkatkan kapasitas daerah sehingga mampu memenuhi norma. departemen/LPND bertanggung jawab menyusun norma. prosedur. standar. standar. prosedur. Berdasarkan hal tersebut. peningkatan koordinasi. Dengan demikian. dan konsultasi antarlembaga. tugas pembantuan dapat dimanfaatkan sebagai instrumen peningkatan kemampuan pemerintah daerah sebelum urusan pemerintahan tersebut benar-benar diserahkan kepada daerah yang bersangkutan. Selain itu. penataan hubungan kerja baik secara horisontal maupun secara vertikal. Untuk melaksanakan urusan pemerintah yang belum mampu dilaksanakan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota dilimpahkan kepada gubernur selaku wakil pemerintah dilaksanakan pusat. oleh Pelaksanaan pemerintah urusan daerah pemerintah provinsi yang belum mampu kepada dilimpahkan departemen/LPND yang membidangi urusan pemerintahan tersebut. peningkatan juga dilakukan melalui pengembangan database informasi wilayah perbatasan yang dapat dijadikan acuan bersama oleh seluruh . Urusan pemerintah yang ditugaskan kepada pemerintah daerah didasarkan pada asas tugas pembantuan yang secara bertahap dapat diserahkan kepada urusan pemerintah daerah yang bersangkutan. peningkatan kapasitas dan fungsi kelembagaan dalam pengelolaan perbatasan dilakukan melalui optimalisasi fungsi dan peran kelembagaan antarinstansi pemerintah. dan kriteria sebagai prasyarat penyelenggaraan urusan pemerintah yang efisien sesuai dengan kewenangannya. Urusan pemerintahan ini diserahkan apabila pemerintah daerah benar-benar telah menunjukkan kemampuan untuk memenuhi norma.

4. Berdasarkan dominasi responden mengenai kondisi masalah di masa yang akan datang. hal yang harus dilakukan yaitu kombinasi antarkondisi masalah dengan membuang kombinasi yang tidak sesuai (incompatible). (2) Strategi Pengembangan Pembiayaan. Dari analisis tersebut. Dalam hal ini. diketahui tiga masalah yang paling berpengaruh terhadap strategi dan rekomendasi kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. Sistem yang belum berkelanjutan menyebabkan perlunya perumusan berbagai strategi dan rekomendasi kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara.1 Penyusunan Strategi Pengembangan Berdasarkan hasil analisis keterkaitan dan kinerja pengembangan kawasaan permukiman menunjukkan. Perkiraan permasalahan pengembangan kawasan pada kondisi di masa yang akan datang disajikan pada tabel 20. koordinasi yang intensif. dan (3) Strategi Pengembangan Kelembagaan. Pemahaman yang baik terhadap fungsi dan peran.4 Rekomendasi Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara 4. . Dari kombinasi antarkondisi masalah didapatkan dua skenario yaitu (1) Strategi optimis dan (2) Strategi pesimis.stakeholder terkait. beberapa perubahan dilakukan pada peubah tertentu sehingga strategi yang bersangkutan dapat disimulasikan. a. tata hubungan yang jelas.4. diharapkan dapat menyelaraskan berbagai kewenangan. Penyusunan Strategi Pengembangan Kawasan Interpretasi kondisi masalah dalam peubah skenario dilakukan melalui keterkaitan strategi yang disusun dalam suatu skenario. kebijakan dan peraturan-peraturan antara pemerintah pusat dan daerah. Berdasarkan hasil AHP. sistem yang ada saat ini masih belum berkelanjutan. antara lain (1) Strategi Pengembangan Kawasan. 4. Perkiraan kondisi (state) dipengaruhi potensi hubungan antarkomponen terkait untuk penyusunan kebijakan dan strategi pengembangan kawasan (Cadenasso 2003). serta tingkat pengetahuan dan persepsi yang sama.4. disusun analisis kebijakan yang dilakukan melalui tiga kajian strategi pilihan.

karena pembangunan terarah dan terencana 3 1. Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan 1A Menurun. hanya sedikit penjelasan 4 15. karena tidak ada sosialisasi yang baik. yang penting aman dan tidak diakui oleh pihak lain 1B Tetap. karena pembangunan infrastruktur mendukung pertumbuhan kawasan 2 4. karena pengadaan infrastruktur wilayah perbatasan dilakukan seadanya 7C Meningkat. Perkiraan responden mengenai permasalahan pengembangan kawasan pada kondisi masa yang akan datang No 1 Masalah 5 Kesadaran masyarakat akan identitas nasional 7A Menurun. karena pemerintah menganggap bahwa pembangunan sosial ekonomi wilayah perbatasan tidak penting Keadaan (State) 7B Tetap. karena SDA dikelola kurang optimal dan kondisi perekonomian dan pemerataan pembangunan menurun 15A Menurun. karena Kondisi letak geografis kurang mendukung untuk peningkatan kerjasama luar negeri antar negara 14B Tetap. karena adanya pembangunan yang tetap berjalan namun dalam jumlah yang masih minim .Minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman 14A Menurun. karena banyak pengusahaan lahan di lakukan segelintir masyarakat (spekulan tanah) 15B Tetap. dan melibatkan sektor swasta 1C Meningkat. dan ada sosialisasi yang baik dari pemerintah tentang pemanfaatan lahan yang baik 14C Meningkat. karena kawasan perumahan dan permukiman di wilayah perbatasan tidak didukung pembangunan infrastruktur lingkungan yang terpadu dengan infrastruktur primer kota 4A Menurun. karena kurang perhatian pemerintah terhadap wilayah perbatasan 5 14. karena masyarakat tidak peduli dengan pemanfaatan lahan.Tabel 20. Kesejahteraan Masyarakat 4B Tetap. karena pembangunan tidak terkoordinasi dengan baik 4C Meningkat. Terbatasnya fasos dan fasum 15C Meningkat. karena pemerintah melakukan pembangunan sosial ekonomi. melakukan koordinasi. karena pembangunan fasos dan fasum di wilayah perbatasan mulai dilakukan oleh instansi terkait.

6 6. Kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga

6A Menurun, karena pembangunan belum merata di segala bidang

6B Tetap, karena ada perhatian pemerintah akan pentingnya wilayah perbatasan, namun implementasinya belum dilakukan

6C Meningkat, karena karena pembangunan yang dilakukan di wilayah perbatasan negara tetangga lebih intens dan lebih fokus pada upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat

Tabel 21 . Strategi dan kombinasi kondisi faktor pengembangan kawasan No. Strategi 1. Skenario 1 2. Skenario 2 Kombinasi Kondisi Faktor 7A/4A/1A/15A/14A/6A 7C/4B/1C/15C/14C/6C

Skenario satu dibangun berdasarkan keadaan faktor kunci dengan kondisi pengembangan kawasan yakni kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional (7A) karena kawasan perumahan dan permukiman di wilayah perbatasan tidak didukung pembangunan infrastruktur yang terpadu dengan infrastruktur primer kota. Selain itu, pengadaan infrastruktur wilayah perbatasan dilakukan seadanya. Rendahnya kesejahteraan masyarakat (4A) karena pemerintah

menganggap bahwa pembangunan sosial-ekonomi wilayah perbatasan tidak penting dan pembangunan tidak terkoordinasi dengan baik. Kesenjangan

pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1A) karena SDA dikelola kurang optimal, kondisi perekonomian dan pemerataan pembangunan tidak merata, serta banyak pengelolaan lahan dilakukan segelintir masyarakat (spekulan tanah). Terbatasnya fasos dan fasum (15A) karena masyarakat tidak peduli dengan pemanfaatan lahan. Dalam pemanfaatan lahan bagi masyarakat yang penting adalah keamanan dan lahan tersebut tidak diakui pihak lain. Hal ini terjadi karena tidak ada sosialisasi yang baik dari pemda mengenai pentingnya pemanfaatan lahan. Kurangnya infrastruktur kawasan dan permukiman (14A) karena letak geografis tidak mendukung peningkatan kerja sama luar negeri antarnegara sehingga perlu adanya pembangunan infrastruktur dan permukiman. Kondisi sosial dan ekonomi negara tetangga lebih baik (6A) karena pemerintah memperhatikan perbatasan. pembangunan di segala bidang dan pentingnya wilayah

Skenario dua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan kawasan yaitu, meningkatnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional (7C). Kesadaran masyarakat akan identitas sosial meningkat karena kawasan perumahan dan permukiman di wilayah perbatasan didukung pembangunan infrastruktur yang terpadu dengan infrastruktur primer kota secara bertahap dan terencana. Kesejahteraan masyarakat relatif tetap (4B) karena pemerintah melihat tingkat kesejahteraan di wilayah perbatasan cukup baik sehingga tidak menjadi prioritas utama. Menurunnya kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1C) karena SDA dikelola dengan sangat baik. Bukan hanya itu, kondisi perekonomian dan pemerataan

pembangunan juga meningkat serta meningkatnya pembangunan fasos dan fasum (15C) karena masyarakat mengoptimalkan pemanfaatan lahan sesuai dengan peruntukannya dan berkoordinasi dengan pemda. Kondisi sosial dan ekonomi di negara tetangga lebih baik (6C) karena pembangunan di wilayah perbatasan lebih difokuskan pada aspek peningkatan keamanan melalui law enforcement, dengan pembangunan perbatasan. b. Penyusunan Strategi Pengembangan Pembiayaan Strategi yang disusun dalam skenario dikaitkan melalui interpretasi kondisi masalah ke dalam peubah skenario. Beberapa perubahan dilakukan pada peubah tertentu di dalam skenario sehingga strategi yang bersangkutan dapat sosial-ekonomi disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat

disimulasikan. Berikut ini perkiraan permasalahan pengembangan pembiayaan pada kondisi di masa yang akan datang. Tabel 22. Perkiraan responden mengenai permasalahan pengembangan

pembiayaan pada kondisi masa yang akan datang
No 1 Masalah 23.Terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan Keadaan (State) 23A 23B Menurun, karena kondisi sharing Tetap, karena pendanaan pusat, provinsi, kota kondisi sharing meningkat, alokasi dana khusus pendanaan untuk pengembangan dan pusat, provinsi, pengelolaan kawasan kota dari tahun permukiman perbatasan ke tahun tidak meningkat seiring kebijakan mengalami prioritas pembangunan di peningkatan wilayah perbatasan 23C Meningkat, karena menganggap pembangunan permukiman wilayah perbatasan tidak penting,

2 17. Terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan perkim

17A Menurun, karena keberpihakan dan perhatian pemerintah terhadap pembangunan kawasan semakin besar, adanya kesadaran bahwa pembangunan wilayah sangat penting

17B Tetap, karena pendekatan diproyeksikan dan tidak transparan

17C Meningkat, karena pemerintah menganggap bahwa pembangunan di wilayah perbatasan kurang penting 24C Meningkat, karena tidak adanya pengendalian terhadap pengelolaan dana pembangunan, adanya anggapan bahwa perbatasan hanya sekedar batas

3 24. Pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal

24A Menurun, karena kondisi aturan tentang tatacara penggunaan anggaran akan jelas ditingkatkan

24B Tetap, karena sudah ada perhatian pada infrastruktur dan permukiman

Tabel 23 . Strategi dan kombinasi kondisi faktor pengembangan pembiayaan No. Strategi 1. Skenario 1 2. Skenario 2 Kombinasi Kondisi Faktor 23A/17A/24A 23C/17B/24C

Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan pembiayaan karena terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23A). Hal ini dilakukan karena kondisi sharing pendanaan pusat, provinsi, kabupaten/kota tidak seimbang. Dana alokasi khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan

permukiman perbatasan meningkat seiring kebijakan prioritas pembangunan di wilayah perbatasan. Pendanaan dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota dari tahun ke tahun juga mengalami peningkatan. Dana untuk pengembangan, pengelolaan infrastruktur, dan perkim (17A) berkurang karena keberpihakan dan perhatian pemerintah terhadap pembangunan wilayah perbatasan masih rendah. Rendahnya pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan (24A) terjadi karena kondisi pengatuaran tata cara penggunaan anggaran belum jelas sehingga perlu adnay peningkatan kinerja agar penggunaan dana pembangunan dapat optimal. Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan pembiayaan yaitu meningkatnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23C)

dilakukan beberapa perubahan pada peubah tertentu di dalam skenario sehingga strategi yang bersangkutan dapat disimulasikan. Berikut ini perkiraan permasalahan pengembangan kelembagaan pada kondisi di masa yang akan datang. Alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan meningkat seiring kebijakan prioritas pembangunan di wilayah perbatasan. karena penegakan hukum dan peraturan masih lemah dan cenderung menurun. Dalam hal ini. Ini terlihat oleh banyaknya pelanggaranpelanggaran yang tidak menjalani proses hukum 5A Menurun. Perkiraan responden mengenai permasalahan pengembangan kelembagaan pada kondisi masa yang akan datang No 1 Masalah 16. Pelayanan publik 16A Menurun.karena wilayah perbatasan hanya menjadi pintu belakang menjadi penting 20C Meningkat.karena rencana pemda asal jadi tanpa pemikiran matang. Aktivitas sosial ekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga 5B Tetap. Penegakan hukum dan peraturan 3 5. Penyusunan Strategi Pengembangan Kelembagaan Strategi pengembangan kelembagaan yang disusun dalam skenario dilakukan dengan menginterpretasikan kondisi masalah ke dalam peubah skenario. Pendanaan untuk pengembangan serta pengelolaan infrastruktur dan permukiman tetap (17B) karena keberpihakan dan perhatian pemerintah terhadap pembangunan kawasan semakin besar. karena pembangunan belum diimbangi dengan peningkatan terhadap pelayanan publik 20A Menurun.karena kondisi sharing pendanaan pusat.dibukanya beberapa pintu . karena Pemda membiarkan infrastruktur permukiman apa adanya 5C Meningkat. karena tidak ada terobosan berarti dalam upaya penegakan hukum 16C Meningkat. seperti belum optimalnya pemanfaatan serta pengelolaan dana pembangunan infrastruktur dan permukiman kondisinya tetap (24B) atau belum meningkat. Tabel 24. provinsi. karena Law enforcement meningkat 2 20. c. karena kondisi pembiayaan sudah optimal melalui lembaga pemerintah/swasta Keadaan (State) 16B Tetap. kabupaten/kota meningkat. tetapi belum dilakukan secara baik. karena pemerintah menganggap kebijakan dan pedoman tidak diperlukan 20B Tetap.

Penegakkan hukum dan peraturan masih lemah (20A) dan cenderung menurun.No Masalah 16A Keadaan (State) 16B 16C penyeberangan antar wilayah. pembangunan SDA di sektor perkebunan. Aktivitas sosial-ekonomi masyarakat dengan wilayah negara tetangga berkurang (5C) karena kondisi pembiayaan pembangunan di wilayah perbatasan meningkat melalui lembaga pemerintah/swasta. pelayanan publik tetap (16B) karena pembangunan tidak diimbangi dengan peningkatan terhadap pelayanan publik. Aktivitas sosial-ekonomi masyarakat rendah (5A) karena kondisi pembiayaan melalui lembaga pemerintah/swasta masih rendah. Penegakkan hukum dan peraturan meningkat (20C) yang dapat dilihat dari berkurangnya pelanggaran yang dilakukan masyarakat perbatasan negara. pertambangan dan pertanian belum dapat menyerap tenaga lokal dan menjadi kegiatan penunjang perkembangan wilayah perbatasan Tabel 25. Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan faktor kunci dengan kondisi pengembangan kelembagaan. . Dalam skenario ini dapat dilihat terbatasnya pelayanan publik (16A) karena pembangunan tidak diimbangi dengan peningkatan pelayanan publik dan pemerintah menganggap kebijakan terkait pelayanan publik belum mendesak. tetapi pemda membiarkan pembangunan infrastruktur dan permukiman masih apa adanya. Skenario 1 2. Pada skenario kedua. Strategi dan kombinasi kondisi faktor pengembangan kelembagaan No. Strategi 1. Kondisi ini terlihat dari banyaknya pelanggaran yang tidak diproses secara hukum dan tidak ada terobosan berarti dalam upaya penegakkan hukum. Skenario 2 Kombinasi Kondisi Faktor 16A/20A/5A 16B/20C/5C Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan faktor kunci dengan kondisi pengembangan kelembagaan.

kehormatan. (2) dapat mengoptimalkan penggunaan lahan. (3) efisiensi pembiayaan pembangunan infrastruktur.5. hingga saat ini peningkatan pembangunan wilayah perbatas belum memperlihatkan hasil yang nyata. Pada prinsipnya. serta (5) memastikan transisi penggunan lahan perdesaan menuju perkotaan berjalan secara alamiah dan terarah (Seong 2006). Selain menyebabkan ketergantungan terhadap negara tetangga. komitmen pemerintah untuk mempercepat pembangunan wilayah perbatasan telah tercermin dalam kebijakan pembangunan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) sejak tahun 1993 yang masih konsisten dengan GBHN tahun 1999--2004. Namun. ekonomi. Dampak dari hal ini yaitu aktivitas sosioekonomi banyak yang berorientasi ke negara tetangga. Apabila hal ini tidak ditangani dengan baik. keterbatasan infrastruktur dan permukiman di wilayang perbatasan juga menyangkut kondisi keamanan. Dinamika kegiatan ekonomi perkotaan di wilayah perbatasan merupakan kondisi yang dapat meningkatkan pertumbuhan kota-kota (pusat pertumbuhan baru) di perbatasan negara. dan kesadaran masyarakat perbatasan terhadap identitas nasional. (4) mendorong sinergisitas hubungan kota dan desa. infrastruktur wilayah masih terbatas dan permukiman di wilayah perbatasan baik yang berada dalam kawasan perkotaan maupun perdesaan kurang berkembang. Kondisi ini disebabkan adanya ketimpangan pembangunan antara wilayah perbatasan dengan wilayah nonperbatasan. Pengembangan perbatasan pusat-pusat pertumbuhan yaitu baru (border city) di wilayah (1) melindungi ruang terbuka terdapat enam kategori hijau/konservasi dan sumber daya alam.4. maka dapat menjadi hambatan pengembangan potensi pertumbuhan yang selama ini berfungsi sebagai penggerak pengembangan sosial. Oleh karena itu. Dalam GBHN tahun 1999—2004 pada Bab IV butir G dinyatakan bahwa perlu peningkatan pembangunan di seluruh daerah termasuk wilayah perbatasan dengan tetap berlandaskan pada prinsip desentralisasi dan otonomi daerah. dan . sangat memerlukan keberpihakan pemerintah terhadap pembangunan wilayah di perbatasan tersebut. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Percepatan pembangunan wilayah. kependudukan. terutama wilayah perbatasan.

1. Penyusunan kebijakan dan strategi tersebut dilakukan melalui lima tahapan analisis. 4. dan AHP. (2) Pengembangan pembiayaan. Pembuatan desain kebijakan pendekatan pengembangan analytical kawasan hierarchy permukiman process perbatasan menggunakan dibuat (AHP). masyarakat. perlu dibuat desain kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. dan (3) Pengembangan kelembagaan.5. dan menentukan implikasi dari skenario tersebut.1 Desain Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Kajian pengembangan strategi dilakukan pada tiga peubah yang dianggap menentukan dan menjadi rekomendasi kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yaitu (1) Pengembangan kawasan. Tahapan tersebut menentukan keadaan (state) suatu faktor. yaitu analisis kondisi permukiman. analisis faktor penting dengan interpretative structural modelling (ISM). koordinasi masing-masing instansi terkait baik di pusat maupun daerah masih lemah. 4.peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan di wilayah perbatasan (Canales 1999). membangun skenario yang mungkin terjadi. Di samping itu. Permodelan interpretasi struktural interpretative structural modelling (ISM) merumuskan alternatif kebijakan di masa yang akan datang. Berdasarkan hal paparan di atas. Selanjutnya pengklasifikasian subelemen dan desain kebijakan melalui deskripsi analisis kebijakan yang sesuai dengan keadaan di lapangan. serta skenario pengembangan dan rekomendasi kebijakan. .1 Desain Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Penanganan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. baik perbatasan darat maupun perbatasan laut. belum diatur dan diarahkan melalui kebijakan dan strategi pengembangan kawasan yang bersifat nasional dan menyeluruh. desain kebijakan pengembangan dengan analytical hierarchy process (AHP). hasil analisis ISM. analisis potensi sektor unggulan wilayah dengan menggunankan model perbandingan eksponensial (MPE). maupun swasta.5. Penanganan beberapa kasus atau masalah permukiman di wilayah perbatasan negara yang terjadi selama ini disebabkan belum melibatkan semua stakeholders baik pemerintah daerah.

serta fungsi pertahanan dilakukan bersama-sama dan seimbang sehingga dapat meningkatkan stabilitas wilayah perbatasan. Adapun beberapa faktor kunci. Pengembangan kawasan permukiman yang mengedepankan peningkatan kesejahteraan. Hingga saat ini. Upaya penyusunan kebijakan dan strategi pengembangan kawasan permukiman perbatasan sudah pernah dilakukan sebelumnya. termasuk di dalamnya pengembangan kawasan permukiman. Pengembangan kawasan permukiman perbatasan ini diharapkan mampu mengantisipasi berbagai tantangan dan peluang yang tercipta akibat adanya perubahan lingkungan strategis baik lokal. upaya tersebut belum menghasilkan suatu peraturan yang dapat dijadikan acuan dan arahan dalam pelaksanaan pembangunan. dan global. Hasil analisis data dengan metode ISM memperlihatkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional menjadi permasalahan yang paling krusial . Pengembangan kawasan permukiman perbatasan disusun berdasarkan faktor lingkungan yang strategis dan diperkirakan akan memengaruhi perkembangan wilayah perbatasan di masa yang akan datang. maupun bekerja di wilayah perbatasan. Propenas 2000—2004. dan atau memiliki tempat usaha.141 Pelaksanaan berbagai kegiatan pembangunan di wilayah perbatasan negara. ekonomi. regional. Pengembangan dapat mendorong terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah perbatasan sebagai tempat aktivitas dan usaha penduduk wilayah serta berfungsi untuk meminimalisasi konflik di wilayah perbatasan. Penyusunan kebijakan dan strategi telah diupayakan oleh beberapa instansi pemerintah baik pusat maupun daerah melalui kajian dan studi. d. c. dan sesuai dengan kebijakan sektor masing-masing. antara lain: a. Strategi pengembangan kawasan permukiman perbatasan bertumpu pada masyarakat yang menjadi subjek kegiatan yang tinggal di wilayah perbatasan. hanya berpedoman pada kebutuhan yang telah diamanatkan dalam GBHN 1999. Pengembangan didukung dengan penyediaan prasaran dan sarana serta lingkungan yang memadai. Pengembangan diarahkan pada wilayah yang memiliki potensi SDA sektor unggulan agar keberlanjutan kawasan permukiman dapat didukung. b.

dan kabupaten/kota di wilayah perbatasan. Pada Gambar 38 memperlihatkan bahwa penganggaran dana perlu dilakukan pemerintah secara berkala agar upaya peningkatan kesejahteraan dan peningkatan pendapatan masyarakat dapat dicapai. pendapatan daerah dan pendapatan negara. serta adanya anggaran dana alokasi khusus (DAK) untuk pengembangan kawasan permukiman perbatasan oleh pemerintah. tayangan televisi dengan dominasi acara-acara dari Negeri Malaysia. Salah satu solusi yang harus segera dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan identitas nasional yaitu dengan menciptakan lapangan kerja padat karya seluas-luasnya untuk masyarakat di wilayah perbatasan. aktivasi pasar lebih ramai di wilayah Malaysia. Tolok ukur peningkatan kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional yang paling nyata ditandai dari peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sumber dana pembangunan permukiman di wilayah perbatasan baik dana rutin maupun dana alokasi khusus akan menentukan jenis penanganan pembangunan. Pemerintah bekerja sama dengan LSM dan pakar-pakar terkait yang berasal dari perguruan tinggi dan lembaga penelitian dalam mewujudkan kemandirian masyarakat melalui pengadaan pelatihan dan penyuluhan. Hal-hal yang berkembang di masyarakat yang berpotensi menurunkan nilai identitas bangsa di wilayah perbatasan antara lain penggunaan mata uang ringgit sebagai alat pembayaran yang sah.142 di wilayah perbatasan. Selama ini dana kegiatan-kegiatan dalam upaya percepatan pertumbuhan pembangunan di wilayah perbatasan relatif belum memadai karena hanya bersumber dari anggaran rutin setiap tahunnya. . Orientasi seluruh kegiatan lebih banyak diupayakan dengan basis pemberdayaan masyarakat sebagai subjek pembangunan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat. Lapangan pekerjaan tidak akan terwujud tanpa dukungan pemerintah dalam menciptakan kegiatan melalui pembuatan kebijakan-kebijakan pendukung oleh pemerintah pusat. Hasil analisis MPE memperlihatkan hasil dari tiga klaster berbasis potensi sektor unggulan yang dapat mendorong percepatan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan apabila didukung oleh semua stakeholders. kemudahan pengurusan KTP dan pembelian tanah di wilayah Malaysia. dan lain sebagainya. Kenyataan ini dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang menyebabkan rasa nasionalisme masyarakat berkurang daripada rasa untuk mempertahankan identitas nasional. provinsi.

sehingga dapat diharapkan kualitas . Berdasarkan ketentuan pada pasal 2 ayat 2 Undang-undang No. sektor unggulan perkebunan yaitu pembangunan baru (PB). Dalam hal ini. Terjaganya ekologi akan tetapmemungkinkan lestarinya lingkungan. Bentuk penanganan pembangunan permukiman sektor unggulan pertambangan yaitu pembangunan baru (PB) dan peningkatan kualitas (PK). ekosistem mangrove. Dalam hal ini pelaku harus membuat AMDAL sebagai kriteria pembangunan permukiman yang dilakukan agar tidak mengakibatkan kerusakan lingkungan. bentuk penanganan pembangunan perumahan dan permukiman memiliki dua kategori yaitu bentuk pembangunan baru (PB) dan peningkatan kualitas (PK). Adanya AMDAL yang dilakukan secara serius akan dapat menyelesaikan berbagai masalah seperti masalah ekologi. sedangkan sektor unggulan perikanan yaitu pembangunan baru (PB) dan peningkatan kualitas (PK). Dalam pelaksanaan pembangunan permukiman akan mengubah bentang alam di lokasi tersebut. potensi sektor unggulan klaster 1 yaitu pertambangan. Berdasarkan hal tersebut.143 Jenis penanganan pembangunan disesuaikan dengan karakteristik tenaga kerja dan masyarakat setempat yang didukung dengan potensi sektor unggulan yang tersedia di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan. klaster 2 perkebunan. dan ekosistem karang. AMDAL menjadi semakin penting apabila suatu wilayah berhadapan atau di dalamnya terdapat ekosistem fragile di wilayah pesisir seperti ekosistem padang lamun. Sesuai hasil analisis MPE di masingmasing klaster subkawasan. dan klaster 3 sektor perikanan. Ketentuan tersebut dapat digunakan dalam menentukan bentuk penanganan pembangunan di setiap jenis kegiatan usaha yang disesuaikan dengan karakteristik kebutuhan permukiman masingmasing tenaga kerja atau masyarakat yang bersangkutan. Adapun salah satu hal yang dapat dilakukan dalam melakukan kajian terhadap kelayakan dari segi lingkungan yakni melakukan analisis terhadap dampak lingkungan (AMDAL) di lokasi yang akan dibangun. Dengan kata lain. 4 tahun 1992 tentang perumahan dan permukiman. ekosistem di kawasan tersebut dibuat menjadi ekosistem nonalami yang dapat mengubah total ekosistem alami. kelestarian lingkungan akan tetap terjaga dengan baik walaupun di lokasi tersebut dilakukan pembangunan kawasan permukiman. kajian terhadap lingkungan harus dilakukan secara seksama.

Wilayah pesisir Kabupaten Nunukan pada umumnya berpotensi untuk pengembangan permukiman baik nelayan maupun permukiman lainnya. dan peningkatan pemahaman konsep lingkungan (Kepmen KLH 2000). padang lamun dan terumbu karang akan terpelihara dengan baik karena berbagai hal yang dapat diminimalkan. penggunaan energi yang minimal. Kondisi tersebut perlu dijaga tanpa menghambat kebijakan pemda dalam pengembangan permukiman di wilayah pesisir dalam hal ini pembangunan permukiman tersebut hendaknya diterapkan persyaratan sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku seperti. sehingga ekosistem tersebut tidak terganggu walau di sekitarnya dibangun kawasan permukiman. Selain itu. AMDAL juga akan menjaga aspek sosial terpelihara dengan baik mengingat dalam AMDAL akan ada petunjuk untuk mengantisipasi terjadinya konflik sosial. dan berbagai aspek sosial lainnya yang mungkin dapat luntur akibat terjadinya pembangunan kawasan permukiman.144 udara. Kabupaten Nunukan yang mempunyai wilayah pesisir yang luas dan pulau-pulau kecil terluar yang strategis. ekosistem yang fragile sekalipun seperti mangrove. Hutan mangrove yang baik akan dapat . karena jauh dari ancaman bencana tsunami. Terkait dengan penanganan pembangunan kawasan permukiman terpadu dengan lingkungan khususnya bagi permukiman di pesisir dan nelayan.1000 meter. pengendalian limbah dan pencemaran. melunturnya budaya. sesuai kondisi hidro-oseanografi di wilayah tersebut. Ketebalan hutan yang difungsikan sebagai lapisan penyangga (buffer zone) menurut RTRW Kabupaten Nunukan (2005) adalah 130 kali tinggi pasang surut. Dalam penanganan pembangunan permukiman tetap memperhatikan kriteria AMDAL kegiatan pembangunan permukiman terpadu yaitu dengan mempertahankan dan memperkaya ekosistem yang ada. menjaga kelanjutan sistem sosialbudaya lokal. perlindungan pantai dengan mangrove yang ketebalan hutannya tetap dijaga tidak kurang dari 50 . tanah & air yang baik. harus memperhatikan dan menjaga kelestarian dan keberlanjutan ekosistem hutan mangrove dalam pelaksanaannya. Namun demikian adanya potensi pengembangan permukiman di wilayah pesisir tersebut dapat mengancam keberadaan hutan mangrove yang selama ini masih terjaga kelestariannya dengan baik.

Salah satu aspek lingkungan yang harus diperhatikan dalam pembangunan kawasan permukiman yaitu harus dimulai dari sebelum pembangunan dilakukan (persiapan pembangunan). dan Upaya pascapembangunan permukiman mempertahankan ekosistem hutan mangrove pada masyarakat yang sudah menghuni di kawasan permukiman dilakukan melalui pendekatan sistem sosialbudaya lokal. selain berfungsi sebagai ekosistem pesisir juga mempunyai vegitasi yang beragam dengan panorama indah dan hijau. d.145 menjaga permukiman di wilayah pesisir karena berperan sebagai perangkat analisis mitigasi alami dalam menjaga keberlanjutan. Kawasan pertambakan dapat ditata ulang dengan sistem wanamina (silvofishery). persediaan sumber air baku untuk air minum masyarakat penghuni permukiman pesisir tetap terjaga kualitasnya. Mangrove memiliki sistem akar yang kuat. pada saat pelaksanaan hingga pembangunan dihuni permukiman. Mangrove dapat menetralisasi lahan yang telah tercemar oleh logam berat sehingga pemanfatan lahan di wilayah pesisir baik untuk permukiman dan kegiatan bangunan lainnya tidak meluas dan efisien. Hal bertujuan agar masyarakat mampu berpartisipasi dalam . masyarakat. sebaliknya hutan mangrove menahan erosi. Bangunan laut dapat menyebabkan erosi dan sedimentasi di tempat lain. e. Penanganan abrasi lebih murah dibanding dengan membuat bangunan laut lain dan mangrove dapat memberi dampak ikutan yang menguntungkan kualitas perairan di sekitarnya. hal ini disebabkan oleh: a. yaitu perpaduan antara hutan mangrove dan perikanan sehingga biota laut di sekitarnya dapat tumbuh dengan baik. ekosistem tetap dalam kondisi prima sehingga dapat menjamin masyarakat yang hidup di dalamnya lebih sejahtera karena selalu mendapat hasil tangkapan dalam jumlah banyak. b. Pembangunan kawasan permukiman juga harus dapat menjaga kelestarian lingkungan sehingga sumber daya alam tetap lestari. Dengan demikian. Secara estetika mangrove lebih baik daripada bangunan laut lainnya. c. f. tajuknya rapat dan lebat sehingga dapat berfungsi sebagai pelindung pantai alami dan menahan intrusi air laut.

Peningkatan pemahaman masyarakat penghuni terhadap konsep keberlanjutan lingkungan dapat mendorong usaha perbaikan kerusakan hutan mangrove yang dilakukan melalui kegiatan penanaman kembali. Selama ini pemerintah membuat dan menerima alokasi dana yang belum memadai untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman di wilayah perbatasan.146 pengendalian limbah dan pencemaran sehingga pemahaman masyarakat terhadap konsep lingkungan terus meningkat. Masyarakat bersama pemda melakukan kegiatan rehabilitasi hutan mangrove di pesisir wilayah Kabupaten Nunukan. 2 1 3 1 Kluster 1 : Pembangunan Baru & Peningkatan Kualitas Kluster 2 : Pembangunan Baru Kluster 3 : Pembangunan Baru & Peningkatan Kualitas 2 3 Gambar 49. Peran pemerintah . Bentuk penanganan pembangunan permukiman 4. Adapun bentuk penanganan pembangunan permukiman di masingmasing klaster sesuai dengan potensi SDA pendukung pengembangan permukiman berkelanjutan dapat dilihat pada gambar 49.5.1.2 Desain Strategi Pengembangan Pembiayaan Strategi pengembangan pembiayaan dalam percepatan pembangunan di wilayah perbatasan sangat dipengaruhi oleh kebijakan dan peran pemerintah terutama pemerintah provinsi dan pemerintah daerah.

jangkauan pelaksanaannya bersifat strategik sampai dengan operasional baik jangka pendek. maupun jangka panjang. Tujuan peningkatan pendapatan. keamanan.5. Dukungan dalam pencapaian pengembangan pembiayaan pun dilakukan bersama-sama dengan kegiatan peningkatan kerja sama pembangunan antarnegara. peningkatan pendapatan daerah dan negara di wilayah perbatasan dapat tercapai melalui pengembangan pembiayaan. serta kesejahteraan secara seimbang. Pemerintah juga menjadi fasilitator untuk penguatan kerja sama dengan stakeholders lainnya dalam mengupayakan pembanguann permukiman dan infrastruktur serta fasilitas sosial dan fasilitas umum lainnya. 4.1. antarpemerintah. menengah. pengembangan kawasan permukiman perbatasan memerlukan suatu pola atau kerangka penanganan yang menyeluruh meliputi berbagai sektor dan kegiatan pembangunan serta koordinasi dan kerja sama yang efektif dari pemerintah pusat sampai ke tingkat kabupaten/kota.3 Desain Strategi Pengembangan Kelembagaan Secara umum. pertahanan. Sedangkan. dan antarstakeholders di wilayah perbatasan. kesejahteraan masyarakat. Desain strategi pengembangan kelembagaan yang berlaku bagi seluruh wilayah perbatasan baik darat maupun laut. ekonomi.147 yang besar dapat mengintervensi lembaga keuangan dengan mengeluarkan kebijakan penganggaran untuk memudahkan biaya pembangunan rumah dan melindungi hak masyarakat di wilayah perbatasan. Pola penanganan tersebut dapat dijabarkan melalui penyusunan kebijakan dan strategi dari tingkat makro sampai tingkat mikro yang disusun berdasarkan proses yang partisipatif baik secara horisontal di pusat maupun vertikal dengan pemerintah daerah. Faktor-faktor pengembangan yang mengindikasikan yaitu tolok ukur keberhasilan isolasi dalam serta pembiayaan penataan dan pembukaan ketertinggalan wilayah perbatasan dengan cara pembangunan infrastruktur serta prasarana dan sarana dalam jangka waktu yang sama. Adapun lembaga keuangan berperan dalam mengupayakan kemudahan kredit perumahan dengan biaya yang terjangkau bagi masyarakat yang diawasi oleh lembaga masyarakat lokal. Pendekatan pengelolaan wilayah perbatasan yang dilakukan yaitu pengelolaan yang menyeluruh dan terpadu dengan aspek sosial. budaya. perlu dijabarkan dalam suatu strategi. lingkungan. .

kondisi kelembagaan pemerintah daerah dan partisipasi masyarakat di beberapa wilayah perbatasan masih perlu ditingkatkan. Selain itu diperlukan adanya basis data (database) mengenai wilayah perbatasan yang dapat menjadi referensi bersama. f. Penguatan dan pembentukan lembaga pengembangan kawasan permukiman perbatasan yang bertugas untuk menyusun kebijakan dan pengkoordinasian berbagai kegiatan terkait di tingkat pusat dan daerah. Namun. baik antara instansi terkait maupun antara pemerintah pusat dengan daerah. d. Sinkronisasi kewenangan pengelolaan dan peraturan perundangan-undangan. 32 Tahun 2004 yang menjelaskan bahwa pengelolaan kawasan permukiman perbatasan sejauh mungkin perlu dikelola oleh pemerintah daerah. Meningkatkan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat. Pelaksanaan otonomi daerah perlu diiringi dengan sinkronisasi antara kewenangan dan peraturan-peraturan yang dibuat. c. termasuk lembaga adat.148 Kebijakan di atas perlu dilaksanakan melalui upaya-upaya: a. Program peningkatan dan pengembangan kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat. dan pengembangan wilayah secara terpadu di perbatasan. Pemberian dukungan dan fasilitas pengembangan kawasan permukiman perbatasan oleh instansi pusat dan pihak swasta dalam maupun luar negeri. akan sangat membantu dalam proses pengembangan yang partisipatif. Keberpihakan dan perhatian yang lebih besar dari sektor-sektor terkait di pusat terhadap kawasan permukiman perbatasan. . b. Upaya ini dilakukan untuk memudahkan antarinstansi terkait sehingga meningkatkan terjadinya pertukaran informasi koordinasi serta menciptakan kesepahaman yang sama dalam pengelolaan kawasan permukiman perbatasan. Hal ini untuk menghindari terjadinya tumpang tindih kewenangan pengelolaan maupun adanya ketidaksinkronan peraturan yang ada. Penyelarasan kegiatan-kegiatan pemerintah pusat dan pemerintah daerah melalui anggaran pembangunan sektoral dan daerah yang diarahkan bagi pengembangan kawasan pertumbuhan baru. e. Keterlibatan masyarakat dan pemerintah daerah dalam kegiatan pengembangan kawasan permukiman perbatasan termaktub dalam UU No.

Peningkatan kesejahteraan masyarakat perbatasan dapat mendorong peran dan partisipasi masyarakat dalam setiap kegiatan yang terkait dengan pengembangan kawasan permukiman. Pemerintah juga berperan untuk meneruskan kebijakan tersebut pada penyelenggara setempat yaitu pemerintah provinsi. Kelompok- kelompok usaha ini memiliki posisi yang lebih kuat karena adanya kerja sama antaranggota mengupayakan sesuai kapasitas dan bermitra dengan pihak lain dalam keuntungan usaha. Pemberdayaan mayarakat di wilayah perbatasan dibutuhkan agar masyarakat dapat mandiri sesuai potensi sektor unggulan pada setiap klaster dan membentuk kelompok-kelompok tani menuju kelompok-kelompok usaha. badan kerja sama antarnegara. Hal ini dapat berdampak positif pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan terbukanya peluang-peluang usaha yang dibantu dalam memperoleh modal/kredit usaha dan dari lembaga-lembaga keuangan. dilindungi. . Dalam pengembangan kelembagaan kemandirian masyarakat tidak akan terlaksana bila tidak didukung.149 Strategi pengembangan kelembagaan ditujukan pada masyarakat agar memperoleh posisi kemandirian (bargaining) dari posisi tawar sebelumnya sebagai objek pembangunan. Pemerintah memfasilitasi peningkatan aktivitas perekonomian di wilayah perbatasan dengan upaya-upaya pemberdayaan masyarakat. dan pemerintah kabupaten untuk diaplikasikan dan dilaksanakan di wilayah perbatasan. khususnya penguatan dan pembentukan lembaga-lembaga yang ada agar program kegiatan penyuluhan dan pelatihan keterampilan dapat berjalan dengan lancar dan baik. Pemerintah sebagai penyelenggara menekakan untuk lebih mengedepankan kualitas pelayanan publik serta kontinuitas penegakkan hukum dan peraturan untuk menghidupkan aktivitas ekonomi masyarakat di negeri sendiri. serta tidak adanya kerja sama dari stakeholders lainnya. Pemerintah pun memfasilitasi upaya peningkatan kelembagaan masyarakat dengan mendatangkan pakar untuk memberikan pelatihan maupun penyuluhan sehingga tolok ukur keberhasilan pembangunan dari peningkatan kesejahteraan masyarakat pun tercapai.

tidak mengutamakan faktor-faktor penting yang seharusnya terlebih dahulu dilakukan sehingga tidak memiliki prospek kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yang berpandangan jauh ke depan. Akan tetapi. Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan kawasan yaitu kurangnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional (7A).4 Arahan Kebijakan Pengembangan Kawasan Perilaku strategi ternyata menunjukkan perbedaan pada berbagai faktor yang dikaji yang diakibatkan adanya perbedaan kombinasi faktor penting di wilayah perbatasan. Pada skenario pertama para pelaku pembangunan (stakeholder) dalam kebijakan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara beranggapan bahwa faktor-faktor yang dikaji merupakan faktor yang potensial untuk meminimalisasi permasalahan pengembangan wilayah perbatasan di masa yang akan datang. ditetapkan dua skenario pengembangan yang dapat dibangun dalam kebijakan sebagai berikut: a.150 4. Penerapan skenario pertama ini akan memberikan implikasi berupa (1) Meningkatnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional. kurangnya infrastruktur kawasan dan permukiman (14A).5. dan (3) Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan berkurang. Skenario ini mengandung pengertian bahwa skenario yang dirumuskan perlu dilaksanakan berdasarkan konsep walaupun mengandung usaha pengembangan dan pengelolaan. kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1A).1. terbatasnya fasos dan fasum (15A). Kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini direkomendasikan upaya yang dapat mendorong percepatan pengembangan kawasan permukiman berbasis potensi sektor unggulan wilayah seperti hal-hal berikut: . rendahnya kesejahteraan masyarakat (4A). kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga (6A). Skenario I Skenario pertama dibangun atas dasar kondisi dan permasalahan saat ini (existing condition) dari kawasan permukiman yang ada di wilayah perbatasan negara. (2) meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu.

3. Pemeliharaan fasos dan fasum oleh pemda dengan melibatkan masyarakat sebagai pengguna dengan pemberian reward pada daerah dengan fasos dan fasum yang terpelihara baik Skenario pertama yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan pembiayaan yaitu terbatasnya alokasi dana khusus (DAK) untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23A). Pembuatan klaster permukiman berbasis potensi sektor unggulan wilayah berikut akses menuju dan keluar wilayah klaster 2. 8. Pembangunan pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah perbatasan 11. 5. Kemudahan akses informasi dan pasar Pembuatan informasi terpadu Promosi berkala untuk hasil-hasil sektor unggulan wilayah Peningkatan pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan usaha yang berbasis potensi masyarakat dan kearifan lokal 6. 4. Untuk mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini. masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan dalam peningkatan keterampilan masyarakat 7. Penguatan kerja sama antara pemda. maka .151 1. Pembukaan lapangan pekerjaan padat karya di wilayah perbatasan negara Pembuatan pemetaan penggunaan lahan untuk perencanaan dan penataan kawasan permukiman yang disepakati oleh semua stakeholder yang terkait termasuk masyarakat pengguna dan dapat diakses oleh stakeholder yang terkait 9. swasta/investor. pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal (24A). kurangnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman (17A). Pembangunan terminal-terminal berbasis sektor unggulan wilayah sebagai showroom yang dapat diakses secara mudah 12. Pembangunan terpadu infrastruktur dengan kawasan permukiman beserta pusat-pusat kegiatan di sepanjang perbatasan 10. Pembangunan fasos dan fasum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat secara bertahap 13.

Pembuatan dan penguatan kerja sama dan kelompok usaha bersama di wilayah perbatasan 2. Kemudahan pembiayaan usaha oleh lembaga-lembaga keuangan Menerapkan subsidi silang pada kegiatan usaha bersama masyarakat Kemudahan kepemilikan rumah bekerja sama dengan lembaga keuangan dengan biaya terjangkau 4. 2.152 pada komponen pengembangan pembiayaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. aktivitas sosial ekonomi masyarakat rendah (5A). 6. Kemudahan birokrasi pembuatan sertifikasi legalitas lahan usaha dan permukiman. Evaluasi dan pembuatan kebijakan terkait wilayah perbatasan. Dalam rangka mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini maka pada pengembangan kelembagaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. 3. penegakan hukum dan peraturan masih lemah (20A). terbatasnya pelayanan publik (16A). Pelatihan dan penyuluhan sumber daya masyarakat yang diprakarsai pemda bekerja sama dengan lembaga pendidikan untuk kebutuhan tenaga kerja industri 4. . Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan kelembagaan yaitu. jangka menengah dan jangka panjang yang dievaluasi penggunaannya. Pembuatan lembaga inti-plasma kegiatan usaha sektor unggulan dengan kelompok usaha yang dibina oleh pemda dan swasta/investor 5. Pengawasan dan penegakkan hukum terkait kegiatan di wilayah perbatasan negara 3. Pembuatan kebijakan penganggaran dana alokasi khusus (DAK) untuk pembangunan wilayah perbatasan jangka pendek.

153 b. Pembuatan informasi terpadu Promosi berkala untuk hasil-hasil sektor unggulan wilayah Pembangunan terpadu infrastruktur dengan kawasan permukiman Penguatan kerjasama antara pemda. masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan dalam peningkatan keterampilan masyarakat 5. Pemeliharaan fasos dan fasum oleh pemda dengan melibatkan masyarakat dengan pemberian reward pada daerah apabila kondisi fasos dan fasum yang terpelihara secara baik Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan pembiayaan yaitu. kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga (6C). kesejahteraan masyarakat relatif tetap (4B). meningkatnya pembangunan fasos dan fasum (15C). Pembangunan terminal-terminal berbasis sektor unggulan daerah sebagai showroom yang dapat diakses secara mudah 6. menurunnya kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1C). peningkatan dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman tetap (17B). Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan kawasan yaitu. meningkatnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23C). Skenario II Skenario kedua mengandung pengertian bahwa keadaan masa depan yang mungkin terjadi diperhitungkan dapat dipertimbangkan sesuai dengan keadaan dan kemampuan sumberdaya yang dimiliki. optimalisasi pemanfaatan dan pengelolaan dana . meningkatnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional (7C). meningkatnya pembangunan infrastruktur kawasan dan permukiman. Rekomendasi kebijakan dan strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara dapat seimbang antara lingkungan. sosial. 2. 4. dan ekonomi dari masyarakat. Kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini dalam pengembangan kawasan maka harus didukung dengan rekomendasi berikut ini: 1. pengusaha/investor. 3.

Selain itu. Evaluasi penganggaran dana alokasi khusus (DAK) untuk pembangunan wilayah perbatasan jangka pendek. setiap warga negara mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk ikut serta dalam pembangunan permukiman. Kemudahan pembiayaan usaha oleh lembaga-lembaga keuangan 2. aman. dan perikanan) 4.5. Dalam rangka mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini maka untuk pengembangan pembiayaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. jangka menengah dan jangka panjang Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan kelembagaan yaitu.2 Rekomendasi Kebijakan Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Arahan kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara diperlukan kaitannya dengan adanya hak dan kewajiban dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 bahwa setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan/atau menikmati dan/atau memiliki rumah yang layak dan terjangkau dalam lingkungan yang sehat. Untuk mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini. penegakkan hukum dan peraturan meningkat (20C). Setiap warga negara mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk ikut serta dalam pembangunan . pelayanan publik tetap (16B). Evaluasi dan pembuatan kebijakan terkait pengembangan wilayah perbatasan 3. serasi. Pelatihan dan penyuluhan sumber daya masyarakat yang diprakarsai pemda bekerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan untuk kebutuhan pengembangan tenaga kerja industri sektor unggulan wilayah (pertambangan. dan teratur. maka pada pengembangan kelembagaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. Pengawasan dan penegakan hukum terkait kegiatan di wilayah perbatasan 2. perkebunan.154 pembangunan tetap (24B). aktivitas sosialekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga berkurang (5C).

dan teratur bisa terpenuhi dengan upaya dilakukan oleh masyarakat dibantu oleh stakeholders. Meningkatkan peran pemerintah daerah dalam pembangunan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan . peran serta masyarakat baik sebagai individu maupun komunitas wajib dilakukan. manual (NSPM) bidang permukiman yang berbasis pemberdayaan masyarakat. panduan. Mendorong terciptanya peraturan dan perundang-undangan di bidang permukiman perbatasan berbasis potensi SDA wilayah 4. Berlangsung proses investasi dan pembiayaan pengembangan kawasan permukiman secara terpadu dan berkelanjutan berbasis potensi SDA wilayah kawasan permukiman layak huni secara terpadu dan Dalam pembangunan permukiman. Menyusun norma. Dalam rangka mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. kearifan lokal. Pemerintah memfasilitasi penyelenggaraan dan pembinaan dalam bidang permukiman secara terpadu dan berkelanjutan dilaksanakan oleh stakeholders terkait 2. yaitu: 1. Terwujudnya berkelanjutan 3. aman. Penguatan dan pembentukan lembaga kerjasama pembangunan di wilayah perbatasan negara 5. Hal ini bertujuan agar hak setiap warga untuk mendapatkan rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat. Terwujudnya koordinasi/kerja sama antar-stakeholders dalam setiap tahapan penyelenggaraan pengembangan permukiman berikut prasarana dan sarana secara terpadu dalam suatu kelembagaan 2.155 permukiman. dan lingkungan 6. standar. serasi. Mendorong terciptanya pengembangan klaster-klaster kawasan permukiman sebagai pusat pertumbuhan baru (border city) di wilayah perbatasan negara 3. Keterpaduan pengembangan kawasan permukiman dapat terselenggara jika memenuhi 3 indikator. direkomendasikan upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan mendorong percepatan pertumbuhan wilayah melalui seperti hal-hal sebagai berikut: 1.

dan penghijauan. dan investasi pembangunan kawasan permukiman perbatasan 9. Mendorong peran serta swasta/masyarakat dalam pembangunan dan perbaikan rumah dalam rangka pemenuhan kebutuhan perumahan yang layak huni dan terjangkau 11. Mengembangkan kredit mikro perumahan bagi pembangunan dan perbaikan rumah dalam rangka pemenuhan kebutuhan rumah yang layak dan terjangkau 12.156 7. dan sektor perikanan yaitu sektor pertambangan. Pengembangan teknologi ekploitasi dari penggalian ke sistem pengeboran menyamping sehingga dapat meminimalkan sisa lubang-lubang galian yang . sarana. teknologi. 3. Ekploitasi kegiatan pertambangan dengan menggunakan sistem 3 fit (3 lubang penambangan secara bersamaan). Toleransi ekploitasi kegiatan pertambangan tidak lebih dari 60% luas kawasan potensial pengembangan sektor pertambangan. dalam pengembangan sektor unggulan kawasan Kabupaten sektor Nunukan dari hasil dan pembahasan perkebunan. 4. dan utilitas (PSU) kawasan permukiman perbatasan Sedangkan. Meningkatkan kapasitas SDM dan pelaku pembangunan permukiman berbasis kawasan 8. Reklamasi dilakukan secara kontinyu untuk mengembalikan unsur hara tanah agar memudahkan dalam pemulihan fungsi kawasan melalui dimanfatkan untuk pengembangan fungsi lain seperti reboisasi atau perkebunan. 2. Mendorong pelaksanaan penataan ruang kawasan permukiman berbasis potensi SDA wilayah prospektif dan partisipatif 10. permukiman. Meningkatkan penyediaan prasarana. dalam pengembangannya diperlukan persyaratan-persyaratan yang dapat mendukung keberlanjutan suatu kegiatan baik dalam pemanfatan ruang dan lahan adalah sebagai berikut: Sektor Pertambangan: 1. Mendorong berkembangnya inovasi.

pantai. Pengembangan ekonomi sektor pertambangan benefit) melalui harus berorientasi manajemen pada manfaat dengan (economic pengelolaan komposisi perbandingan sharing 70% untuk perusahaan (investor) dan 30% dialokasikan masyarakat. untuk biaya rehabilitasi lingkungan dan pemberdayaan Sektor Perkebunan: 1. Pemanfaatan sumber daya laut dengan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan dan pengembangan kemampuan dalam pemanfaatan teknologi baru bidang perikanan 3. . Mengembangkan sektor perikanan secara optimal dengan mengupayakan pelestarian ekosistem lingkungan pesisir. Pengembangan sektor perikanan dengan memanfaatkan sumber daya laut sesuai dengan kemampuan daya dukung perairan (fishing ground) baik dari ketersediaan sumber daya (tidak over fishing) maupun kemampuan dalam menghindari penggunaan bahan pencemar 2. Komoditas sektor perkebunan yang akan dikembangkan selain berdasarkan potensi sektor unggulan kawasan juga memperhatikan kecenderungan pasar regionalnya dan animo masyarakat agar prospek pengembangannya dapat berkelanjutan. pemeliharaan. penanaman benih. dan laut yang terjaga agar keberlanjutan kawasan dapat terwujud. Pengembangan sektor perkebunan dilakukan dengan pendekatan pengembangan perkebunan inti rakyat (PIR). dan kegiatan pascapanen. panen. 2. 3. perusahaan negara (PTPN).157 dapat merusak dan mendorong terjadinya degradasi lahan secara luas dalam waktu yang lama. 5. Sektor Perikanan: 1. dan swasta. inti-plasma. Pemberdayaan masyarakat melalui penyuluhan dan pelatihan dalam hal peilihan benih.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful