IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tinjauan Umum Kabupaten Nunukan

4.1.1 Administrasi dan Geografi Wilayah Kabupaten Nunukan terletak di daerah khatulistiwa sehingga

dipengaruhi iklim tropis basah dengan karakteristik yang khas, yakni curah hujan cukup tinggi dengan penyebaran merata sepanjang tahun. Di Wilayah Kabupaten Nunukan tidak terdapat pergantian musim yang jelas antara musim kemarau dan musim hujan. Berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan, Wilayah Kabupaten Nunukan termasuk dalam 2 (dua) wilayah utama, yaitu: − Wilayah hujan bagian barat dengan curah hujan maksimum yang umumnya terjadi pada Januari atau Mei. Curah hujan rata-rata lebih dari 266,5 mm. Hujan maksimum sekunder terjadi pada April-Juni, sedangkan hujan minimum terjadi pada Februari. Kecamatan yang termasuk dalam wilayah ini yaitu Kecamatan Krayan, Krayan Selatan, dan sebagian wilayah Kecamatan Lumbis, Sebuku, dan Sembakung. − Wilayah hujan bagian timur dengan curah hujan maksimum terjadi pada bulan April atau Mei. Hujan minimum umumnya terjadi pada bulan Juli-Agustus dengan curah hujan rata-rata 188,95 mm, tetapi curah hujan rata-rata tahunan lebih kecil dibandingkan curah hujan pada bagian kawasan pesisir, yaitu sebesar 199,5 mm. Kecamatan yang termasuk dalam wilayah ini adalah Kecamatan Nunukan, Sebatik, sebagian Kecamatan Sebuku, Lumbis, serta Sembakung.

Secara administratif wilayah Kabupaten Nunukan dibagi sembilan wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Nunukan, Kecamatan Nunukan Selatan, Kecamatan Sebatik, Kecamatan Sebatik Barat, Kecamatan Sebuku, Kecamatan Sembakung, Kecamatan Lumbis, Kecamatan Krayan, dan Kecamatan Krayan Selatan. Berdasarkan hasil penataan wilayah desa/kelurahan di Kabupaten Nunukan, telah terjadi pemekaran kecamatan. Sebelum pemekaran, Sebuku masuk ke dalam Kecamatan Nunukan dan saat ini sudah menjadi kecamatan sendiri. Selain itu, Kecamatan Krayan mengalami pemekaran menjadi Kecamatan Krayan dan Kecamatan Krayan Selatan.

49 Kabupaten Nunukan memiliki luas 14.263,68 km2. Pada tahun 2007 (Kabupaten Nunukan dalam Angka, 2008) Kabupaten Nunukan dihuni oleh 125.585 jiwa dengan kepadatan penduduk 8 jiwa per kilometer persegi. Kabupaten Nunukan sendiri terletak pada posisi 1150 33’ - 1180 3’ Bujur Timur serta 30 15’ 00’’ - 40 24’ 55’’ Lintang Utara. Persentase luas wilayah per kecamatan dapat dilihat pada Gambar 6.

Krayan Selatan 12,31% Krayan 12,88% Sebatik 0,73%

Sebatik Barat 1,00%

Lumbis 25,56%

Sebuku 21,91%

Nunukan 11,19%

Sembakung 14,41%

Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka, 2008

Gambar 6. Persentase luas wilayah per kecamatan Kabupaten Nunukan merupakan wilayah paling utara dari Provinsi Kalimantan Timur. Posisinya yang berada di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia

menjadikan Kabupaten Nunukan sebagai daerah yang strategis dalam peta lalu lintas antarnegara. Peta administrasi dapat dilihat pada Gambar 7. Wilayah Kabupaten Nunukan terdiri dari dataran tinggi dan pegunungan. Sebagian besar didominasi oleh satuan fisiografi dataran tinggi dan pegunungan dengan luas 679.457 ha atau 47,63% dari luas wilayah. Dataran tinggi dengan kelerengan yang bervariasi merupakan wilayah paling luas yaitu mencapai 488.962 ha atau 34,28% dari luas wilayah. Peta fisiografis Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 8.

50

Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan, 2008

Gambar 7. Administrasi Kabupaten Nunukan

Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan, 2008

Gambar 8. Peta fisiografis Kabupaten Nunukan

Persentase penyebaran dan luas ketinggian daerah Kabupaten Nunukan Kelerengan wilayah daratan Kabupaten Nunukan bervariasi. Kawasan di bagian utara dan selatan Kabupaten Nunukan lebih didominasi oleh kawasan dengan kelerengan rendah yaitu di bawah 15%. Wilayah yang terletak pada ketinggian lebih dari 1. Tanah alluvial/gambut hanya terdapat di Kecamatan Lumbis dengan luasan 837 ha.98% 100 .896 ha atau sebesar 3. Sebatik. Persentase penyebaran dan luas ketinggian daerah di Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 9.000 .808 ha atau 50.02%.500 m 10.1.1.500 m 18. dan Sembakung. 2008 Gambar 9.1.500 mdpl (meter di atas permukaan laut) ketinggian 0 sampai 100 mdpl meliputi areal seluas 716. Sebuku. Jenis tanah Kabupaten Nunukan yaitu tanah alluvial yang hampir seluruhnya terdapat di Kecamatan Nunukan.25% 500 .1.500 mdpl hanya seluas 246 ha atau sebesar 0.486 atau 28.2.000 m 0.3 Jenis Tanah Jenis tanah yang terdapat di Wilayah Kabupaten Nunukan hanya delapan jenis tanah dan yang paling luas adalah podsolik/regosol sebesar 410.87% 0 . 4.100 m 50. dan Lumbis.51 4.02% 1.2 Ketinggian dan Kemiringan Wilayah daratan Kabupaten Nunukan terletak pada ketinggian antara 0 hingga 1.87% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.25% dari luas Wilayah Kabupaten Nunukan. Jenis tanah yang luasnya paling kecil yaitu alluvial/gambut sebesar 50. sedangkan kawasan yang memiliki tingkat kelerengan di atas 15% banyak terdapat di kawasan barat dan tengah Kabupaten Nunukan.79%. sedangkan di Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan tidak terdapat sama sekali.500 . .7% dari luas wilayah.000 m 19. Krayan Selatan. Jenis tanah ini umumnya terdapat di Kecamatan Krayan. 1.

tekstur sedang dengan luas 17.545 ha atau 12. dan pasir yang terdapat pada suatu gumpalan tanah.303 ha dengan kelas tekstur tanah halus seluas 7. Ditinjau dari tekstur tanah. Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan.25% dari total luas wilayah Kabupaten Nunukan. dan kasar. Peta jenis tanah Kabupaten Nunukan .278 ha atau 26. Kedalaman efektif tanah merupakan kedalaman tanah yang menyebabkan akar tanaman masih bisa tumbuh dengan baik.442 ha atau 37. sedang. debu.67% dan gambut 2. Peta jenis tanah Kabupaten Nunukan dapat dilihat di Gambar 10. 2008 Gambar 10.383 ha atau 63.66% dari luas wilayah kecamatan. Wilayah Kabupaten Nunukan yang memiliki kedalaman tanah >90 cm seluas 711. Tekstur tanah adalah perbandingan partikel liat. Penyebaran dan luas masing-masing kelas tekstur tanah wilayah daratan di Kabupaten Nunukan untuk Kecamatan Sebatik dengan luas wilayah 27.60 cm seluas 600.52% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan. wilayah Kabupaten Nunukan mempunyai tekstur tanah halus.642 ha atau 9. Wilayah Kabupaten Nunukan dengan kedalaman tanah antara 30 . dengan luas 1.52 Kabupaten Nunukan memiliki kedalaman efektif tanah yang bervariasi antara kurang dari 30 cm sampai lebih dari 90 cm. Sebagian besar wilayah Kabupaten Nunukan memiliki kedalaman tanah 30 60 cm dan >90 cm.24% dari total luas wilayah Kabupaten Nunukan. Tekstur tanah di Kabupaten Nunukan sebagian besar mempunyai tekstur tanah sedang.097.68% dari total luas kecamatan.489 ha atau 67.

Peta pola penggunaan lahan berdasarkan RTRW disajikan pada Gambar 11. pertanian (meliputi penggunaan lahan untuk perkebunan dan persawahan). Perkembangan penggunaan tanah di wilayah Kabupaten Nunukan dari waktu ke waktu mengalami perubahan. Mata pencaharian di sektor perdagangan. Jenis-jenis penggunaan lahan terdiri atas pemukiman. pelayanan jasa. Hasil pengamatan terhadap pola pemanfaatan lahan di Kecamatan Nunukan menunjukkan bahwa sebagian besar lahan dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. dan perikanan terkonsentrasi pada pada Kecamatan Nunukan dan Sebatik. telah terjadi perubahan fungsi lahan. sebagian besar penduduk mendiami wilayah pesisir.1. Hal ini menunjukkan bahwa dalam periode hampir sepuluh tahun. Jumlah penduduk yang relatif besar cenderung mengelompok di daerah perkotaan. dari hutan nonproduksi (hutan alam) menjadi lahan pertanian. lahan konsesi untuk kegiatan pertambangan minyak dan gas bumi. perikanan.084 ton pada tahun 1997 menjadi 44.436 ton pada tahun 2007 (BPS Kabupaten Nunukan 2008). di tepi pantai. pertanian.4 Pola Penggunaan Lahan Persebaran penduduk di Kabupaten Nunukan tidak merata. dan bantaran sungai. perikanan. Kegiatan pertanian yang berkembang dapat dilihat dari peningkatan lonjakan kenaikan produksi padi dan palawija dari 20. perdagangan. muara-muara sungai kecil. Di sektor pertanian dan perkebunan hampir merata di semua kecamatan. Jenis mata pencaharian penduduk di kawasan pesisir Kabupaten Nunukan bervariasi dengan kecenderungan pada aktivitas kehutanan. terutama daerah yang mempunyai aktivitas ekonomi yang cukup tinggi yang ditandai dengan adanya sarana transportasi dan keadaan ekonomi masyarakatnya yang memadai. Hal ini disebabkan oleh adanya aktivitas manusia. Kecenderungan lonjakan produksi pertanian ini besar kemungkinannya diperoleh melalui perluasan lahan pertanian dalam jumlah yang besar. . Sebagian besar pemukiman penduduk di Kabupaten Nunukan yang berada di kawasan pesisir menempati daerah dataran rendah. kehutanan. serta lahan untuk fasilitas umum.53 4. dan pelayanan jasa.

.426.01% dari kawasan hutan seluruhnya. Hutan produksi pada umumnya telah diusahakan/ditebang oleh pemegang HPH maupun bekas ladang penduduk yang telah ditinggalkan.54 POLA PENGGUNAAN LAHAN Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan.4. sedangkan hutan sejenis berupa hutan reboisasi tanaman industri dari pemegang HPH. Kabupaten Nunukan memiliki kawasan hutan lindung seluas 167. hutan lindung. Peta kesesuaian lahan untuk hutan lindung di Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 12.428 ha atau 11. Hutan lindung jaraknya relatif jauh dari permukiman yang ada. Peta pola penggunaan lahan 4. 2008 Gambar 11.1 Kehutanan Hutan yang terdapat di Kabupaten Nunukan seluas 1.914 ha atau 33.1.7% dari luas wilayahnya. Sebagian besar wilayah hutan merupakan kawasan budi daya nonkehutanan seluas 470. dan hutan produksi (kawasan hutan dan kawasan budi daya nonkehutanan).368 ha yang terdiri dari hutan taman nasional.

durian. rambutan. . Penggunaan lahan pertanian lainnya pada umumnya merupakan campuran tanaman kopi. Luas penggunaan untuk pertanian lahan kering 8. Ladang seperti halnya tegalan. tetapi sifatnya hanya sementara antara satu hingga tiga kali musim panen. 2008 Gambar 12. dan padi gunung.58% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan. tegalan.4. Peta kesesuaian lahan untuk hutan lindung 4. dan ladang. Peta kesesuaian lahan pertanian di Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 13.2 Pertanian Kelompok pertanian lahan kering meliputi kebun campuran. dan lain-lain.1.55 Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. pisang. Kebun campuran adalah penggunaan lahan kering yang sifatnya menetap atau kombinasi tanaman semusim dan tanaman keras. Tegalan adalah pertanian lahan kering dengan jenis tanaman semusim seperti tanaman ketela pohon. nangka. ditanami dengan jenis tanaman semusim.304 ha atau 0.

baik perkebunan rakyat. kelapa. pala. kakao. dan jambu mete. perkebunan besar.4 Perikanan Kabupaten Nunukan selain mempunyai potensi perikanan tangkap.4. PIR/NES. Dalam rangka pengembangan sektor perkebunan di Kabupaten Nunukan. kelapa sawit. kopi.24% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan. Rawa-rawa yang merupakan areal penggenangan permanen dan dasarnya yang dangkal ditumbuhi .1. Budi daya tanaman perkebunan utama yang mendapat pembinaan secara khusus antara lain budi daya tanaman karet.56 Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Luas penggunaan lahan perkebunan yaitu 17. 4. lada. 2008 Gambar 13.1. maupun perkebunan swasta.731 ha atau 1. Di samping itu.4. sedangkan akhir-akhir ini berkembang pola kemitraan dengan komoditas unggulan yaitu sawit. diterapkan pembinaan dengan menggunakan pola partial/swadaya. budi daya lainnya bersifat introduksi dan dikembangkan secara diversifikasi seperti vanili. dan perkebunan besar baik oleh negara maupun swasta. juga perikanan budi daya seperti tambak/kolam berupa areal dengan penggenangan permanen yang telah mendapat campur tangan manusia baik itu berupa kolam air tawar maupun air laut atau yang telah dikenal dengan tambak.3 Perkebunan Perkebunan yang dimaksud yaitu perkebunan dengan jenis tanaman keras monokultur. aren. Peta kesesuaian lahan untuk pertanian 4. dan cengkeh.

Bahan galian setengah permata (half precious probing material) di Sungai Bilal.Gips. dan Sembakung. terdapat di Pasir Putih. terdiri dari: . dan Sungai Krayan. Kandungan batu bara yang terdapat di Simenggaris sedang diuji kandungannya oleh perusahaan swasta P. . 4.5 Pertambangan Pengembangan pertambangan di Kabupaten Nunukan hingga saat ini belum termanfaatkan secara optimal.05%. Bahan Galian golongan vital (golongan B). dengan kandungan CaO kandungan CaO 55. Muara Bukat (Kecamatan Nunukan).T.295 ha atau 1.Batu gunung. Sembakung. terdapat di Kecamatan Nunukan .Gamping. . Walaupun demikian. terdapat di Kecamatahn Krayan. Pulau Nunukan. . terdiri dari: .4. terdapat di sekitar Sungai Sedadap. Selain itu. terdapat di Sungai Nyamuk. 2.57 tumbuh-tumbuhan besar yang umumnya berupa rerumputan rawa dan semak belukar. batu bara juga terdapat di Kecamatan Krayan. yaitu: 1. Selain di Simenggaris.Andesit. . . Bahan Galian Golongan C. Pulau Sebatik.Pasir kuarsa. Hulu Sungai Sembakung (Kecamatan Lumbis). dan Muara Sungai Sembakung (Kecamatan Sembakung).2% dan MgO 0.1. 3. belum terdapat studi terperinci tentang jumlah kandungan cadangan mineral yang ada. terdapat di Hulu Sungai Sebuku (Kecamatan Nunukan). Anugerah Jati Mulya. Pulau Nunukan. Minyak bumi yang terdapat di Muara Bukat dan Muara Sungai Sembakung telah dieksploitasi oleh Pertamina. tetapi jumlah cadangan yang ada diperkirakan tidak banyak. Krayan Selatan.14% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan. yaitu minyak bumi dan batu bara. Pulau Nunukan. Bahan galian golongan strategis (golongan A). padahal Kabupaten Nunukan memiliki beberapa potensi pertambangan yang dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan. dan Kecamatan Sembakung. terdapat juga di Kecamatan Krayan. dan Sebatik. Krayan Selatan. Minyak bumi terdapat di Kecamatan Krayan. Luas penggunaan lahan kolam/tambak/rawa seluas 16.Emas.

kuburan baik yang di perkotaan maupun pedesaan. 2008 Gambar 14. Sembakung. Peta kesesuaian lahan untuk permukiman a.15%) − Tidak berada pada daerah banjir . Selain dikembangkan di Pulau Nunukan sebagai kawasan perkotaan dengan pusat pemerintahan.130 ha atau sekitar 0. perkantoran.58 4. demikian juga permukiman transmigrasi. Krayan Induk. Perumahan Perkotaan Berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan.6 Permukiman Penggunaan lahan permukiman meliputi perumahan. Kesesuaian lahan untuk permukiman dapat dilihat pada Gambar 14. Luas penggunaan untuk permukiman ini adalah 7.05% dari luas wilayah Kabupaten.4. Pengembangan kawasan permukiman tersebut mendorong terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah perbatasan negara yang berbasis potensi SDA wilayah.1. di pengembangan Sebatik kawasan permukiman juga akan dikembangkan Pulau (dua kecamatan). taman. tempat olahraga. Kecamatan Lumbis. dan Krayan Selatan merupakan bagian dari wilayah perbatasan negara di Kabupaten Nunukan. Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. deliniasi kawasan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan menggunakan kriteria-kriteria sebagai berikut: − Kemiringan lereng relatif landai (0 .

air sungai juga dimanfaatkan sebagai bahan baku air bersih harus melalui pengelolaan sehingga memenuhi kelayakan sebagai air bersih yang siap untuk dikonsumsi masyarakat. 3. air bersih. jalan lingkungan. Pengembangan permukiman minimal harus menghindari lahan-lahan pertanian yang produktif. 5. Pembangunan unit-unit permukiman diwajibkan untuk menyediakan lahan kuburan. Pemanfaatan air tanah sebagai sumber air bersih untuk kebutuhan penduduk perkotaan dan sistem aktivitas. tata ruang. di bagian Pulau Sebatik. dan perumahan. Sehubungan dengan potensi pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan.59 − Tidak berada pada daerah resapan air − Tersedia air baku yang cukup − Bebas dari bahaya gangguan geologi lingkungan − Mempunyai tingkat aksesibilitas dan dapat dijangkau − Tidak berada pada daerah rawan gempa − Berada dekat pusat kota − Tidak berada dalam kawasan lindung Berdasarkan kriteria tersebut. Sistem prasarana drainase: . 6. air kotor. Dapat dibangun akomodasi perkotaan serta sarana sosial-ekonomi yang dapat memfungsikan kota tersebut sebagai pendorong pengembangan kawasan sekitarnya atau daerah hinterland-nya. areal potensial dikembangkan untuk kegiatan permukiman perkotaan terletak di Pulau Nunukan atau Kota Nunukan. Pengembangan permukiman perkotaan harus didasarkan pada sistem prasarana dasar yang artinya pengembangan permukiman perkotaan harus didasarkan pada penataan bangunan dan lingkungan yang serasi dan seimbang. serta kota-kota kecamatan lainnya. 4. persampahan. minimum 5% dari luas areal pengembangan perkotaan. Pengembangan sarana dan prasarana ekonomi yang ada disesuaikan dengan potensi daerah belakangnya. Selain itu. 2. meliputi sistem drainase.Harus mempertimbangkan badan sungai yang ada sebagai saluran penerima . diperlukan pengaturan ruang sebagai berikut: 1.

.

dan longsoran. Bukan daerah kritis/bahaya lingkungan beraspek geologi. Pada lereng atau tanah yang peka terhadap erosi harus ada rekayasa teknis sehingga kekeruhan drainase tidak semakin pekat . Tidak berada dalam kawasan berfungsi lindung. Kemiringan lereng relatif landai 0 . Mempunyai sistem dan atau potensi pengembangan pengairan dan drainase.15%. . dianjurkan untuk membuat sumur resapan terutama pada tanah yang stabil dan mempunyai daya serap tinggi. kecuali desa-desa yang sudah ada di atas ketinggian 1. rezina. Perumahan Pedesaan Berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan. litosol. b. 5. seperti patahan aktif. dan longsoran tidak terdapat di Kabupaten Nunukan. 4. Kemiringan tanah <30%. Sistem air bersih: Pengambilan air baku diutamakan dari air permukaan (sungai) dengan melakukan pengelolaan sehingga layak untuk dijadikan air minum dan kebutuhan air bersih lainnya. delineasi pengembangan kawasan permukiman pedesaan di Kabupaten Nunukan menggunakan kriteria-kriteria sebagai berikut: 1.000 mdpl. 2. Adapun permukiman desa yang terletak di daerah bahaya geologi lingkungan. Permukiman desa yang tidak sesuai dengan kriteria di atas tetap dipertahankan terutama di desa yang terdapat pada kawasan Taman Nasional Krayan Mentarang yang terletak di ketinggian di atas 1. 6. dan organosol dengan kemiringan <15%. Kapasitas kemampuan pelayanan didasarkan pada perhitungan kebutuhan air bersih rata-rata 100 liter/orang/hari.Perhitungan drainase berdasarkan banjir 10 sampai 25 tahun. Ketinggian <1. erosi. 7. Kedalaman efektif tanah > 30 cm. kecuali jenis tanah regosol. sesuai dengan standar hidup perkotaan. Untuk meningkatkan recharge air tanah. erosi.500 mdpl. seperti daerah patahan aktif.000 mdpl. 3.- Koefisien aliran permukaan (run off) tidak lebih dari 25%. 7.

Diperkenankan bangunan yang menunjang fungsi kawasan/kegiatan utama untuk kepentingan umum. tetapi desa-desa berada dalam kawasan lindung. Permukiman penduduk lokal/desa-desa yang berada pada kawasan lindung tetap dipertahankan. 6. 2.1. Bagi desa-desa yang terletak di daerah aliran sungai.15% (Kabupaten Nunukan dalam Angka. Pada desa-desa yang berada di daerah aliran sungai perlu dikembangkan pelabuhan sungai yang berskala lingkungan. Berdasarkan potensi pengembangan permukiman perdesaan di Kabupaten Nunukan. Perlu disesuaikan secara dini agar permukiman perdesaan yang berbasis sentra pertanian tidak berubah menjadi permukiman perkotaan agar pertanian produktif tetap dapat dipertahankan serta konservasi tanah dan air tanah dapat dilakukan dengan baik. dan tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat) atau usaha tani. 4. perlu dilakukan pengaturan ruang sebagai berikut: 1. baik budi daya pertanian maupun budi daya kehutanan. Dapat dibangun sarana sosial-ekonomi berdasarkan kebutuhan sesuai dengan karakteristik tiap desa. kesehatan. digunakan akses sungai sebagai pintu keluar masuk desa. 2008).96% dan Kecamatan Sebatik sebesar 16. 5. 3. 4. Pengembangan jalan lainnya dapat diintegrasikan dengan pengembangan lahan usaha masyarakat. dan sarana budaya. jumlah terbesar di Kecamatan Nunukan sebesar 42. Pengembangan jalan sesuai dengan kebutuhan dan juga disesuaikan dengan karakteristik masing-masing desa. selain sarana prasarana sosial lainnya. Namun. .Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada desa-desa di daerah kritis. Secara keseluruhan distribusi berdasarkan kecamatan terlihat pada Gambar 15. peribadatan. seperti fasilitas pendidikan. diusahakan untuk dimukimkan kembali ke dalam kawasan yang sesuai untuk permukiman.5 Kondisi Penduduk di Kabupaten Nunukan Keadaan penduduk di Kabupaten Nunukan berdasarkan distribusi menurut kecamatan. Permukiman pedesaan memiliki kepadatan maksimum lima rumah/hektar dan KDB maksimum 5%. melalui pengembangan kawasan budi daya.

380 8.756.79 3.79 jiwa/km2.283 jiwa dan luas wilayah 104.028 125.24 77.34% Nunukan 42.54 1. jumlah penduduk dan kepadatan penduduk tahun 2007 Kecamatan Krayan Krayan Selatan Lumbis Sembakung Nunukan Sebuku Sebatik Sebatik Barat Jumlah Luas Wilayah (km²) 1.78% Krayan 6. Luas wilayah.19 14.263.56 8.46 3.52 jiwa/keluarga dengan jumlah rumah tangga sebanyak 2.57 4.80 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.596.585 Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km²) 4.503 53.438 2.72% Krayan Selatan 1.33.90 104.77% Sebatik 16.6 jiwa/km2. Di kecamatan lainnya.283 11.837.15% Sebuku 9.47% Sembakung 6.29 . Tabel 5. 2008 Gambar 15.42 km2. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5. 2008 Rata-rata jiwa per rumah tangga terbanyak terjadi di Kecamatan Sebuku dengan jumlah rata-rata sebanyak 4.2 jiwa/km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 20.14 33.96% Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.593 KK dan jumlah penduduk sebanyak 11.731 20.81% Lumbis 7.731 jiwa.645.Sebatik Barat 8.29 2.90 1. Distribusi penduduk Kabupaten Nunukan menurut kecamatan 2007 Berdasarkan kepadatan penduduk dari delapan kecamatan yang ada terlihat bahwa Kecamatan Sebatik memiliki kepadatan penduduk tertinggi.68 Jumlah Penduduk (Jiwa) 8. . yaitu 194.77 3.271 9.50 2.951 11.42 142. kepadatan penduduk yang ada hanya berkisar antara 1.055.124.75 194. Kepadatan Kecamatan Sebatik Barat yaitu 77.59 1.

028 3.380 2. Pembangunan Jalan Lingkar Pulau Sebatik antara lain sebagai berikut Bambangan – Setabu – Sungai.163 3.40 Krayan Selatan 2.398 18.731 2.1.230 3.41 Jumlah 125. dengan jarak ± 58.271 545 4. dan keamanan.56 2003 106.323 19. Jepun – Tanjung.245 3.546 5.52 Sebatik 20. subsektor perhubungan laut. . kota kecamatan.593 4. Aru – Sungai.17 Lumbis 9.93 Sebatik Barat 11. Fatimah – Sungai.585 32. Pancang Sungai Nyamuk .653 3.366 3.6 Kondisi Prasarana dan Sarana 4. Program pembangunan jalan Kabupaten Nunukan untuk pertumbuhan ekonomi yaitu: Pembangunan Jalan Lingkar Pulau Nunukan antara lain sebagai berikut: Binusan – Sungai. Prasarana perhubungan meliputi subsektor perhubungan darat. kabupaten. Kelancaran perhubungan antarkecamatan. Harapan – Sungai. baik dalam bidang ekonomi. dengan jarak ± 51.92 2005 115. subsektor perhubungan air.503 2.50 2004 109.438 1.6. 2008 4.60 km. Peranan perhubungan sangat vital dalam menunjang kegiatan pembangunan terutama darat.44 2002 97.96 Sembakung 8.895 3. dan pedalaman/kawasan pedesaan akan mempercepat jalanya roda pembangunan. Prasarana jalan menjadi faktor utama dalam mendukung lancarnya mobilisasi kegiatan pembangunan di daerah. dan subsektor perhubungan udara.16 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.50 km.84 2006 118.917 4.68 Sebuku 11. Bilal . Lancang – Mamolo .1 Jalan dan Angkutan Sungai Prasarana dan sarana perhubungan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menunjang kegiatan pembangunan.951 14.Aji Kuning .1.860 5.Bambangan. Jumlah penduduk. rumah tangga dan rata-rata jiwa per rumah tangga tahun 2007 Rata-Rata Jiwa/ Penduduk Rumah Tangga Kecamatan (jiwa) (kk) Keluarga Krayan 8. Taiwan – Tanjung.527 19.685 5.81 Nunukan 53.702 3.283 5.Binusan.210 32. sosial.707 30.alun-alun – Sedadap – Sungai.Tabel 6.235 3.

63 km. - Pembangunan jalan lintas kabupaten yang menghubungkan Kabupaten Nunukan dan Malinau yaitu Kecamatan Sebuku (Pembeliangan) .Kecamatan Sembakung (Atap). Pada jalan negara dan jalan provinsi. Pasir .- Pembangunan Jalan Lingkar Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan melalui Long Bawan – Kuala.Kecamatan Sebuku (Pembeliangan) .Kabupaten Malinau . Berdasarkan jenis permukaannya. yang menghubungkan kecamatankecamatan di Kabupaten Nunukan melalui: .Kecamatan Lumbis (Mansalong).Wa Yagung Long Bawan. jaringan jalan darat dibagi menjadi jalan aspal. jalan provinsi. dengan jarak ± 235 km. dengan jarak ± 22. dan jalan tanah. . semua ibukota kecamatan maupun desa-desa yang ada dapat dijangkau dengan jalan darat.Kecamatan Krayan (Long Bawan). dengan jarak ± 65.79 km. - Pembangunan jalan lintas kecamatan. Hubungan antaribukota kecamatan di dalam kabupaten sebagian besar masih menggunakan jalur angkutan laut dan sungai. dengan jarak ± 125 km.Kecamatan Malinau Utara (Salap). Belawit – Lembudud – Long. masih diusulkan penetapannya ke tingkat provinsi/pusat. dengan jarak ± 87.60 km. Layu .Kecamatan Sebuku (Pembeliangan) . Jaringan jalan kabupaten relatif masih terbatas dibandingkan dengan luas wilayah administrasi Kabupaten Nunukan. Jaringan jalan yang ada di Kabupaten Nunukan terbagi atas jalan negara.Kecamatan Lumbis (Mansalong) .Long Padi – Binuang . sehingga memudahkan penduduk untuk berinteraksi dan beraktivitas walaupun sebagian besar jalan tersebut belum beraspal.Tang Laan – Tanjung. Jaringan jalan ke lokasi rencana PPN untuk daerah Sungai Mensapa dapat langsung dijangkau oleh kendaraan roda empat dengan baik karena keberadaan . - Pembangunan jalan lintas negara yang menghubungkan Kabupaten Malinau dan Nunukan ke batas negara sejauh ± 180.Kecamatan Lumbis (Mansalong) . jalan berbatu/diperkeras. .43 km.Ba Liku – Bungayan . dan jalan kabupaten. Meskipun demikian.

2008 Gambar 16. Sebagian besar (53. Persentase panjang jalan disajikan pada Gambar 16. 3. termasuk wilayah perkotaannya. batu. Melanjutkan pembangunan ruas jalan baru dengan melengkapi kebutuhan rambu-rambu lalu lintas untuk keamanan dan ketertiban pemakai jalan. mencapai 816.90 km. Persentase panjang jalan menurut jenis permukaan 2007 (km) Jumlah panjang jalan di wilayah Kabupaten Nunukan. Meningkatkan kelas jalan.lokasi yang berdekatan dengan jalan lingkar Pulau Nunukan.5%) jaringan jalan yang ada masih merupakan jalan berpermukaan campuran (agregat antara jalan aspal. dan Kampung Buton sudah tersedia jalan agregat yang dapat dilalui oleh mobil sampai ke rencana lokasi. Pemeliharaan secara periodik dan rutin serta peningkatan jalan menuju ibukota kecamatan dengan konstruksi hotmix. . Jaringan jalan menuju Sungai Jepun. Kondisi jaringan jalan di Nunukan dapat dilihat berdasarkan jenis permukaan jalan maupun kelas jalan. dan tanah). Membuka isolasi daerah melalui pembangunan dan peningkatan jalan desa. Pemerintah Kabupaten Nunukan merencanakan pengembangan prasarana jalan yang meliputi: 1. Peta kesesuaian lahan untuk keterlintasan jalan dapat dilihat pada Gambar 17. Aspal 16% Tanah 49% Kerikil 35% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. 2. Sedadap. 4.

Nunukan Angkutan Kapal Laut Nunukan Toli – Makassar – Balikpapan . alat angkutan utama yang digunakan adalah kapal laut dan udara. Peta kesesuaian lahan untuk keterlintasan jalan Pelayanan mobilisasi penduduk dan barang antarpulau. Angkutan Sungai Tarakan .Tawau (setiap hari) Angkutan udara Tarakan .Surabaya PP Angkutan sungai di Kabupaten Nunukan memegang peranan penting. 4. dua bandar udara perintis. 3.Nunukan Terjadwal (setiap hari) Angkutan Sungai Antarnegara Nunukan . yakni sebagai berikut : 1. dan enam bandar udara air strip. tercatat satu pelabuhan laut. Berdasarkan data Kantor Badan Statistik Kabupaten Nunukan tahun 2002. sepanjang Sungai Sembakung yang menghubungkan daerah yang tersebar di sepanjang sungai mulai dari hulu ke hilir dan sepanjang sungai di Lumbis serta Krayan Selatan yang ada di wilayah pedalaman Kabupaten Nunukan. untuk keperluan lokal (dalam kota) digunakan angkutan darat. laut. tetapi juga sangat berperan pada daerah yang sudah berkembang di sekitar pantai. . Sistem angkutan sungai ini berkembang di sepanjang Sungai Sebuku (Sungai Tulid dan Sungai Tikung). 2008 Gambar 17. tidak hanya sebatas pada daerah pedalaman. 2. Tersedia jadwal rute angkutan sungai. dan udara yang melintasi Kabupaten Nunukan. Selain itu.66 Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan.

Permasalahan yang ada dalam penyediaan air bersih di Kabupaten Nunukan ini yaitu sebagian besar daerah belum memilik sambungan air PDAM sebagai badan yang dapat mengolah dan menyediakan air bersih. 14 unit hidran.1. sedangkan kecamatan lain masih memanfaatkan sumber air lainnya. dan oli. 4. Sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan di Kabupaten Nunukan ini sebelumnya sangat potensial. Kapasitas air bersih yang ada belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena permasalahan distribusi dan kualitas air yang belum sesuai dengan kebutuhan. di lain pihak adanya kegiatan angkutan sungai yang dilengkapi dengan prasarana dermaga dapat mempengaruhi ekosistem yang ada di dalamnya.2 Angkutan Udara Bandar udara Kabupaten Nunukan merupakan bandar perintis yang melayani daerah di Kabupaten Nunukan. dan masih tingginya tingkat kebocoran air. Kecamatan Nunukan telah memiliki PDAM. Dalam hal ini. peranan angkutan sungai demikian pentingnya untuk kelancaran arus barang. seperti mata air dan air permukaan sebagai sumber air bersih. bahkan antarkota yang ada di Provinsi Kalimantan Timur dengan jenis pesawat baling-baling kecil dan sedang.6. Bahan-bahan ini dapat menambah ambang total petroleum hidrokarbon di dalam air. Hal ini disebabkan masih terbatasnya prasarana dermaga perairan darat. Jumlah sambungan aktif mencapai 1.348 unit. Perkembangan penduduk menyebabkan peningkatan kebutuhan air bersih. .6.049 unit sambungan rumah (SR). kapasitas yang tersedia belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. dan 289 unit sambungan nonrumah tangga. 4.1. Ketersediaan Prasarana dan Sarana Air Bersih Sumber air baku bagi kebutuhan air bersih diambil dari Sungai Bolong dan Sungai Bilal. adanya jaringan distribusi yang belum menjangkau ke seluruh wilayah. terdiri 1. maupun penumpang ke dan dari pedalaman. Selain itu. Kondisi yang sama juga terlihat pada perpaduan dengan angkutan lainnya untuk dapat menjangkau wilayah pedalaman dan perbatasan dengan penerbangan perintis.3 Air Bersih a. Namun. Sumber daya air tersebut terdiri dari air permukaan dan air tanah dalam.Sesuai dengan sifat-sifat sungai. ekosistem perairan dapat tercemar oleh bahan organik yang berasal dari pengguna angkutan dan bahan organik seperti bahan bakar.

496 1. maupun air hujan. 2008 Gambar 18. Penyediaan air yang bersih dan layak digunakan untuk keperluan sehari-hari dapat dipenuhi dengan tersedianya Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). b. PDAM yang beroperasi di Kabupaten Nunukan berada di Kecamatan Nunukan dan Sebatik.744 Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka. Selengkapnya data perkembangan pelanggan dari tahun ke tahun dapat dilihat pada Gambar 18.000 500 0 2002 2003 2004 2005 2006 2007 1.500 1.510 1. Sisanya. tingkat pelayanan air bersih penduduk Kabupaten Nunukan sebesar 18%. Jumlah pelanggan PDAM Nunukan pada tahun 2007 (Kabupaten Nunukan dalam Angka. 2008) mencapai 1.68 Pembangunan dan pemanfaatan embung-embung yang berasal dari sungai-sungai dapat sangat bermanfaat dalam mengatasi keterbatasan air baku untuk air minum pada musim kering. Banyaknya pelanggan pada PDAM Nunukan 2002—2007 . sebanyak 82% penduduk di wilayah Kota Nunukan masih menggunakan sumber air baku yang berasal dari tanah.63% dibanding tahun sebelumnya.500 2.912 pelanggan atau dengan kata lain mengalami peningkatan masing sebesar 9.000 1. Tingkat Pelayanan Air Bersih Perkotaan Berdasarkan sistem sambungan perpipaan. 2.573 1. air permukaan.912 1.496 1.

000 500. Tabel 7. Instansi/Kantor Pemerintah Household.000.000 800. Banyaknya pelanggan air minum menurut jenis pelanggan 2007 Jenis Pelanggan Rumah Tangga (Tempat Tinggal).832 385.000 700.418 756.41%. Hospital Sarana (Fasilitas) Umum Public Facilities Hydran Pelabuhan Hydran Port Lainnya/Industri Others Jumlah Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka. banyaknya air minum yang disalurkan oleh PDAM Nunukan juga mengalami peningkatan sebesar 17. Toko.339 514. Industri.000 0 2002 2003 2004 2005 2006 468.006 887. Rumah Sakit. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 7. terdapat 1. Industry.484 390 12 26 1. Market.000 300. Banyaknya air minum yang disalurkan 2002-2007 (m3) .632 2007 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. 1.179 470. 2008 Gambar 19. Government Hotel/Objek Wisata. terdapat 1. Data selengkapnya mengenai perkembangan banyaknya air minum yang disalurkan terlihat pada Gambar 19.484 pelanggan. Di Kecamatan Nunukan.Berdasarkan data tahun 2007. Perusahaan Hotel.000 900.912 orang dengan jumlah pelanggan terbanyak dari rumah tangga (tempat tinggal).000 600.000 200. instansi/kantor pemerintah.912 Sebatik 219 90 4 2 1 316 Lumbis 229 63 1 3 296 Seiring dengan peningkatan jumlah pelanggan. Rumah Ibadah dsb Social.000 100. Factory Badan Sosial. 2008 Nunukan 1.

7 Kondisi Ekonomi Daerah Secara umum.129 2006 26.070 31. di mana sebagian besar digunakan oleh rumah tangga sebesar 18.1. 2008 Gambar 20. Pelayanan listrik di Kabupaten Nunukan menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang dikelola oleh PLN wilayah VI.921.6. kemudian kegiatan usaha sebesar 9. Tenaga listrik yang terjual sebesar 35.248 MWH. Data perkembangan banyaknya tenaga listrik yang diproduksi dapat dilihat pada Gambar 20.145 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. 40.37% tanpa migas. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tambah dari sektor pertambangan dan penggalian yang memberikan bagian terbesar terhadap nilai PDRB.672. industri. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 sebesar 1. Produksi tenaga listrik Kabupaten Nunukan mengalami peningkatan sebesar 28. Banyaknya tenaga listrik yang diproduksi Tahun 2004-2007 (MWH) 4. . dan sosial masing-masing sebesar 4. wilayah Kabupaten Nunukan memiliki sektor ekonomi andalan berupa pertambangan.553 26.70 4.33% dari tahun sebelumnya. Peningkatan ini diiringi dengan meningkatnya tenaga listrik yang terpasang sebesar 16 MWH atau terjadi peningkatan sebesar 33.000 0 2004 Diproduksi Terjual 25. 1.000 20.38% dengan migas dan 17.556 23.557 24.000 10. dan 870 MWH.103 2005 29.80%.4 Listrik dan Telekomunikasi Prasarana listrik dan telekomunikasi merupakan fasilitas dasar yang sangat dibutuhkan untuk mendorong perkembangan kabupaten.550 MWH. Adapun untuk kepentingan publik. Otomatis tenaga listrik yang terjual juga mengalami peningkatan sebesar 26.29% pada tahun 2007.000 30.235 MWH.562 2007 34.1.

84 2.41 100 2005 21.40 0. Perlu dicermati bahwa ada usaha-usaha perdagangan ilegal yang berlangsung secara lintas batas antara negara Malaysia dan Indonesia di sekitar wilayah perkotaan Kecamatan Nunukan. Tabel 8.04 0.37 2.95 7. baik yang dapat diperbaharui maupun tidak dapat diperbaharui.78 0.08 38.06 0.03 0.49 4. Struktur perekonomian Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 terlihat masih bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam.14 5.11 3.06 100 2006 21.84 51.65 6.03 62. terdapat pula perdagangan barang-barang yang berasal dari wilayah Sabah. baik regional (dalam wilayah kabupaten).03 0.49 4.Perkembangan ekonomi di Kabupaten Nunukan banyak dipengaruhi oleh sektor perdagangan.26 100 2007*) 24. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB 2003 37.44 0.82 100 2004 33. maupun perdagangan lintas batas dengan wilayah Negara Bagian Sabah di Malaysia Timur.27 43.77 9. Malaysia.28 9. Hal ini menunjukkan perlu adanya dorongan dalam proses transformasi ekonomi Kabupaten Nunukan dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier.27 1.16 4. 2008 .30 0.60 6.33 11.03 0. Struktur perekonomian menurut lapangan usaha tahun 2003 – 2007 (%) Sektor/Sub Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.68 0.24 0.46 3.34 0.17 4.04 0. Gas dan Air Minum Bangunan Perdagangan. Selain itu.84%. Hal ini tercermin pada tabel 8.85 0.08 2. nilai distribusi PDRB atas dasar harga berlaku yang masih didominasi oleh sektor pertambangan penggalian dan pertanian masing-masing sebesar 51.13 4.19 10. Hotel dan Restoran Angkutan dan Komunikasi Keuangan.01 57.44% dan 24.28 2.01 0.18 100 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.

2.8 Kebijakan Pembangunan Kabupaten Nunukan Kebijakan struktur tata ruang dalam RTRW Kabupaten Nunukan adalah sebagai berikut: 1. 1. dan meningkatkan daya dukung lingkungan buatan guna mendukung proses pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat. Mengembangkan sistem kota atau sistem pusat-pusat permukiman yang sesuai dengan daya dukung dan daya tampung serta fungsi kegiatan dominan. dan berkelanjutan. 2. 3. . Mengembangkan prasarana wilayah yang mampu mendukung terwujudnya sistem kota-kota (sistem pusat-pusat permukiman) di Kabupaten Nunukan. Secara lebih rinci kebijakaan pengembangan prasarana yaitu sebagai berikut: 1. 3. selaras. menjaga keseimbangan ekosistem. dan distribusi serta pasar. peningkatan dan pembangunan prasarana wilayah didasarkan pada rencana struktur tata ruang serta rencana pemanfaatan ruang wilayah. pusat pengumpul. Pengembangan pasokan energi listrik diarahkan untuk memenuhi kebutuhan di sentra produksi dan permukiman. Meningkatkan kualitas lingkungan hidup serta mencegah timbulnya kerusakan fungsi dan tatanan lingkungan hidup. Meningkatkan keseimbangan dan keserasian perkembangan ruang secara serasi.1. Oleh karena itu.72 4. Pengembangan prasarana transportasi diarahkan untuk menghubungkan antara sentra produksi. 3. seimbang. Pengembangan prasarana pengairan diarahkan untuk mendukung pengembangan pertanian lahan basah (sawah) dan tambak. Kebijakan pemanfaatan ruang Kabupaten Nunukan yang bertujuan mewujudkan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan. meningkatkan daya dukung lingkungan. Pengembangan prasarana wilayah diarahkan untuk mendukung terwujudnya prasarana wilayah yang diarahkan untuk mendukung terwujudnya struktur tata ruang dan pemanfaatan ruang yang sesuai dengan yang telah direncanakan. Mengembangkan kawasan-kawasan potensial di Kabupaten Nunukan dan mendukung terwujudnya struktur tata ruang yang diinginkan. 2.

Tanjung Karang. dan Atap. Long Bawan. Rencana pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan akan diarahkan pada permukiman perkotaan Nunukan. Kecamatan Nunukan dan Sebatik merupakan pusat pertumbuhan hierarki I di Kabupaten Nunukan. Pengembangan prasarana industri perkebunan dan perikanan skala besar. Kecamatan Nunukan sebagai Ibukota Kabupaten merupakan pusat kegiatan ekonomi skala regional dan skala internasional. Tanjung Karang. Pengembangan permukiman perkotaan dilakukan melalui peningkatan fungsi pusat-pusat ekonomi perkotaan dan pusat-pusat permukiman desa yaitu di Kecamatan Nunukan. Rencana pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan diarahkan pada pengembangan permukiman perkotaan yang dapat memenuhi kebutuhan lingkungan hunian yang serasi dan selaras.4. Pembeliangan. 5. industri. Pengembangan prasarana penyediaan air bersih diarahkan pada pusat permukiman dan daerah yang rawan air bersih. antara lain adanya kegiatan campuran (permukiman dan kegiatan lainnya). Mansalong. − Ketersediaan fasilitas sosial dan sarana ekonomi yang lengkap. lokasi pangkalan niaga. Ciri-ciri pusat pertumbuhan ini ditandai oleh antara lain sebagai berikut: − Pola penggunaan lahan yang didominasi oleh kegiatan nonpertanian. Pembeliangan. pergudangan. dalam RTRW. dan faslitas sosial-ekonomi yang berorientasi pelayanan antarpulau dan antarnegara. Sesuai dengan fungsi pertumbuhan. Mansalong. − Mudah diakses dari segala penjuru wilayah di Kabupaten Nunukan. Malaysia sehingga sangat strategis untuk pengembangan perdagangan antarnegara. Tau Lumbis. dan Tau Lumbis. terminal agribisnis. disebutkan rencana pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan. Selanjutnya. pemukiman. Atap. Long Bawan. − Adanya pemusatan lokasi kegiatan sosial ekonomi yang mencirikan kegiatan perkotaan. . Hal ini berdasarkan kegiatan sosial-ekonomi yang berada dan berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sabah.

1 Kehutanan Pembangunan kehutanan mencakup semua upaya untuk memanfaatkan dan memantapkan fungsi sumber daya alam hutan dan sumber daya hayati.034.74 4.58 m3.426. Pembangunan kehutanan mencakup aspek pelestarian fungsi lingkungan hidup.73% dibanding tahun sebelumnya yaitu dari 123. Sebagian besar wilayah hutan adalah kawasan budi daya nonkehutanan. kegiatan kehutanan perlu memperhatikan tata guna hutan.02% Kaw as an Budidaya Non Ke hutanan 33. Pengelolaan hutan sebagai sumber daya alam perlu ditingkatkan dan disempurnakan agar memberikan manfaat besar bagi kesejahteraan rakyat. 2008 Gambar 21. usaha perlindungan dan pengamanan flora dan fauna. Luas kawasan hutan disajikan pada Gambar 21. dan kawasan budi daya nonkehutanan. Luas kawasan hutan di Kabupaten Nunukan seluas 1.9 Potensi Sumber Daya Alam dan Wilayah 4. hutan lindung. kawasan hutan.01% dari kawasan hutan seluruhnya. Luas kawasan hutan menurut tata hutan kesepakatan 2007 (Ha) . serta penyerapan tenaga kerja bagi masyarakat.914 ha atau 33.1. hutan tanam industri. dan kesejahteraan sosial. Tam an Nas ional 25. baik dalam kawasan hutan maupun masyarakat di sekitar hutan.9. Selain itu. pembangunan ekonomi. dapat pula memantapkan fungsi ekosistem sebagai pelindung sistem penyangga kehidupan dan pelestari keanekaragaman hayati maupun sebagai sumber daya pembangunan.37 m3 menjadi 35.74% Kaw as an Hutan 30.23% Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.1.368 ha yang terdiri dari taman nasional.911. yakni seluas 470. Selain itu. Produksi kayu bulat tahun 2007 mengalami penurunan sebesar 71.01% Hutan Lindung 11. areal tanah kritis.

2 Pertanian Pertanian merupakan sektor primer yang mendominasi aktivitas perekonomian di Kabupaten Nunukan. perkebunan. Kecamatan Krayan adalah daerah yang mempunyai luas panen dan jumlah produksi padi ladang yang lebih besar dibandingkan kecamatan yang lain. yakni sebesar 4. Tanaman bawang daun merupakan komoditas tanaman sayur-sayuran yang mengalami penurunan hasil produksi. Persentase produksi padi disajikan pada Gambar 22. Pengembangan di bidang pertanian perlu ditingkatkan agar memberikan hasil yang lebih baik dari segi kuantitas dan kualitas. yaitu menjadi 48.127 ton atau dengan kata lain terjadi peningkatan produktivitas padi sebesar 9.. 2008 Gambar 22.65%. yaitu 38. Pertanian yang meliputi pertanian tanaman pangan.75 4. Peningkatan luas tanam yang pesat dibandingkan tahun sebelumnya dan diiringi dengan peningkatan hasil produksi dari masing-masing tanaman. perikanan dan peternakan terus diupayakan untuk menunjang pertumbuhan dan stabilitas ekonomi.83% dari total produksi.28%.1. Sebuku 4% Sebatik 21% Krayan 41% Nunukan 11% Sembakung 3% Lumbis 6% Krayan Selatan 14% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.9. Persentase produksi padi menurut kecamatan 2007 . Pada tahun 2007 luas panen padi (sawah dan ladang) di Kabupaten Nunukan mengalami peningkatan. Produksi tanaman padi juga mengalami kenaikan. kehutanan.11% dari total luas panen serta 40.

dapat disimpulkan bahwa meningkatnya peningkatan produksi produktivitas ikan di lokasi penelitian perairan. produksi terbesar dihasilkan oleh tanaman kakao sebesar 18. yang terdiri atas 4.903.36 ton produksi perikanan penangkapan dan 362. Sebagian besar luas areal kelapa sawit terdapat di Kecamatan Sebatik.273 rumah tangga atau naik sebesar 30. Persentase produksi komoditas kakao dan kelapa disajikan pada Gambar 23 20000 Hasil 15000 10000 5000 0 17702 18903.26%. . produksi perikanan tahun 2006 naik 9. 2008 2007 Gambar 23. Sembakung dan Nunukan. Sebatik Barat. Dilihat dari rata-rata produksi yang dihasilkan oleh setiap komoditas perkebunan. Persentase produksi perikanan disajikan pada Gambar 24.26 persen dibandingkan tahun 2006 (Gambar 25).76 4. bukan disebabkan peningkatan oleh jumlah tetapi disebabkan penangkap ikan sebesar 30. Pada tahun 2007.9.4% dibandingkan dengan tahun 2006.1. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Berdasarkan data tersebut. jumlah rumah tangga perikanan penangkapan tercatat 2.947. Lumbis.57 ton.4 Perikanan Produksi perikanan pada tahun 2007 tercatat 4.9. Sebuku.31%.585. Produksi komoditas kakao dan kelapa 2006-2007 (ton) 4.8% dibandingkan tahun 2006.3 Perkebunan Luas areal komoditas kelapa sawit pada tahun 2007 mengalami peningkatan sebesar 25.71 kelapa 2006 Tahun Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.21 ton perikanan budi daya.1 kakao 7458.1.10 ton atau meningkat 6.32 7686.

17% Se buk u 0.846.129 ton. Dinas pertambangan mencatat produksi minyak bumi dari P. Produksi pertambangan batu bara dan minyak bumi 2006—2007 dapat dilihat pada Gambar 25.362.87% Krayan Se latan 0. 2008 Gambar 24.03% Se batik Barat 15.37% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. Persentase produksi perikanan menurut kecamatan 2007 4.94% Se m bak ung 19. Kemudian pada tahun 2007 menjadi 1.37% Nunuk an 25.16% Se batik 37.77 Krayan 1.937. yakni pada tahun 2006 jumlah produksi sebanyak 1.165. Perkasa Equatorial Sembakung Ltd.9. 2008 2007 Gambar 25.T.1. Produksi minyak bumi di Kabupaten Nunukan selama tahun terakhir ini mengalami penurunan jumlah produksi. 2000000 Ton/BBL 1500000 1000000 500000 0 1670048 1165287 1846937 1362304 Batubara Minyak bumi 2006 Tahun Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka. pada tahun 2007 sebesar 1.287 ton.09% Lum bis 0. Produksi pertambangan batubara dan minyak bumi 2006-2007 .304 BBL atau menurun sebesar 22.59% dibandingkan tahun sebelumnya.5 Pertambangan Hasil tambang batu bara mengalami peningkatan yang sangat pesat.

dan Krayan yang merupakan bagian wilayah perbatasan negara di Kabupaten Nunukan. dan longsoran tidak terdapat di Kabupaten Nunukan. dikembangkan juga di Kecamatan Lumbis. Adapun permukiman desa yang terletak pada daerah bahaya geologi lingkungan. erosi.1.000 mdpl. 2008 Gambar 26. Hasil analisis menunjukkan tidak ada desa yang berada di daerah kritis. Rencana andalan pengembangan tersebut dimaksudkan untuk mendorong tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan baru di perbatasan negara yang berbasis potensi SDA wilayah yang prospektif dan potensial mendukung keberlanjutan kawasan permukiman. Berdasarkan arahan RTRW kabupaten. Demikian juga permukiman lain. lahan untuk permukiman adalah 7. Pengembangan kawasan permukiman selain dikembangkan di Pulau Nunukan sebagai kawasan perkotaan dengan pusat pemerintahan juga akan dikembangkan di Pulau Sebatik (dua kecamatan). Permukiman desa yang tidak sesuai dengan kriteria di atas tetap dipertahankan terutama di desa-desa yang terdapat pada kawasan Taman Nasional Krayan Mentarang yang terletak di ketinggian diatas 1.9. seperti patahan aktif. .6 Permukiman A. seperti permukiman transmigrasi baik lokal maupun antarwilayah di Indonesia cukup luas. Kawasan tambang batubara dan minyak bumi 4. tetapi ada desa yang berada dalam kawasan lindung. Sembukung. perkotaan.130 ha atau sekitar 0.05% dari luas wilayah kabupaten. Selain itu. Potensi Pengembangan Lahan Permukiman Potensi pengembangan kawasan permukiman meliputi perumahan.Sumber : Survei Lapangan. dan perdesaan.

masuk dalam kategori sangat tinggi. Pemerintah Kabupaten Nunukan telah memperlihatkan adanya potensi kemampuan sharing pembiayaan pada program-program stimulan pembangunan perumahan dari pemerintah pusat seperti dari Kementerian Perumahan Rakyat. Bangunan yang menunjang fungsi kawasan/kegiatan utama diperkenankan dibangun untuk kepentingan umum. Potensi Kemampuan Pembiayaan Pembangunan Kemampuan daerah dalam sharing pembiayaan pembangunan kawasan permukiman dilihat dari kemampuan indikator nilai indeks fiskal daerah. Untuk Kabupaten Nunukan.79 Berdasarkan potensi pengembangan permukiman perdesaan di Kabupaten Nunukan. Akan tetapi. Bagi desa-desa yang terletak pada daerah aliran sungai dan menggunakan akses sungai sebagai pintu keluar masuk desa dapat dibangun jalan akses dan menempatkan prasarana dan sarana sosial lainnya. Kementerian Pekerjaan Umum. Pengembangan jalan lainnya dapat diintegrasikan dengan pengembangan lahan usaha masyarakat. perlu adanya pengaturan ruang seperti permukiman penduduk lokal/desa-desa yang berada pada kawasan lindung. perlu diusahakan pemukiman kembali kawasan yang sesuai untuk permukiman. Tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat) atau usaha tani.07/2010 tentang Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah dalam Rangka Perencanaan Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan Tahun Anggaran 2011. Fasilitas sosial dan ekonomi dapat dibangun sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik msing-masing desa. B. serta fasilitas sosial dan ekonomi. Selain itu. . Nilai indeks fiskal dapat menunjukkan kemampuan daerah dalam pendampingan pembiayaan bersama dengan pemerintah pusat. penyediaan prasarana dan sarana. Permukiman perdesaan yang berbasis sentra pertanian perlu disesuaikan secara dini agar tidak berubah menjadi permukiman perkotaan agar pertanian produktif tetap dapat dipertahankan. berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Pada desa-desa yang berada di daerah aliran sungai perlu dikembangkan pelabuhan sungai yang berskala lingkungan. konservasi tanah dan air tanah dapat dilakukan dengan baik. Permukiman perdesaan memiliki kepadatan maksimum lima rumah/hektar dan KDB maksimum 5%.

800 1 Sangat Tinggi Kab. Penentuan batas persentase terendah dan tertinggi DDUB yang harus disediakan oleh daerah dengan mempertimbangkan hasil keputusan rapat koordinasi instansi yang terkait dengan program penanggulangan kemiskinan nasional.550 1 Sangat Tinggi Kab. Bulungan 4.971 1.829 0.450 1 Sangat Tinggi Sumber : Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK.303 4 Tinggi Kota Samarinda 1. Kutai Kartanegara 4.195 0. Nilai indeks fiskal di Kalimantan Timur terlihat pada Tabel 9. b.721 4 Tinggi Kab.07/2010 tentang Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah dalam rangka Perencanaan Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan tahun anggaran 2011 Kab / Kota Penentuan tingkat besaran penyediaan dana daerah untuk urusan bersama (DUUB) adalah dengan pertimbangan sebagai berikut: a. DDUB yang harus disediakan oleh daerah disesuaikan dengan katagori kelompok. dan kementerian lain yang terkait.067 1.796 1. Tana Tidung 30.993 4 Tinggi Kab. Tabel 9.175 1. − Daerah yang termasuk dalam kelompok 2 menyediakan DDUB sedang.185 0. Kutai Barat 3. .Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal.248 1. Daftar daerah berdasarkan indeks fiskal dan kemiskinan daerah di Kalimantan Timur No.928 1. DDUB yang harus disediakan oleh daerah dengan rincian sebagai berikut: − Daerah yang termasuk dalam kelompok 1 menyediakan DDUB sangat tinggi. Malinau 8.421 4 Tinggi Kota Tarakan 1.935 0.450 1 Sangat Tinggi Kab. Pasir 2.300 4 Tinggi Kota Bontang 3.134 1 Sangat Tinggi Kab.426 1. Berau 2.999 0. Nunukan 3.062 0.464 0.335 1 Sangat Tinggi Kab. − Daerah yang termasuk dalam kelompok 4 menyediakan DDUB tinggi. Kutai Timur 4. c.698 4 Tinggi Kab.886 4 Tinggi Kab. Penajam Paser Utara 2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Indeks Ruang Indeks Persentase Tingkatan Fiskal Daerah Penduduk Miskin Kelompok Penyediaan (IRFD) Daerah (IPPMD) DUUB Kab. − Daerah yang termasuk dalam kelompok 3 menyediakan DDUB rendah.416 1 Sangat Tinggi Kota Balikpapan 1.

. dapat dilihat bahwa Kabupaten Nunukan masuk pada kategori kelompok sangat tinggi. f. e. Menarik masuknya investasi baru sektor unggulan daerah untuk mendorong percepatan pembangunan wilayah perbatasan.q. perlu dipahami profil pelaksanaan pembangunan di daerah yang sesuai dengan pemenuhan kebutuhan pengembangan. Berdasarkan data indeks fiskal tersebut. Hasil perhitungan rincian penyediaan DDUB disampaikan oleh direktur jenderal perimbangan keuangan atas nama menteri keuangan kepada tim nasional paling lambat bulan Maret sebelum penyusunan rencana kerja Kementerian Negara/Lembaga. Oleh karena itu. Arah kecenderungan pengembangan meliputi aspek keselarasan antara kawasan budi daya dengan kawasan lindung. Hal ini bertujuan agar arah kecenderungan pengembangan dapat diketahui. diharapkan kondisi ini dapat terus dipertahankan. keterkaitan antara pusat-pusat pertumbuhan baru dengan pusat-pusat kegiatan (kota). Hasil perhitungan rincian penyediaan DDUB digunakan oleh pusat (tingkat nasional) sebagai bahan penetapan besaran DDUB pada masing-masing daerah. Dalam rangka mewujudkan keterpaduan dalam pembangunan di wilayah Perbatasan khususnya dalam sektor permukiman. khususnya sektor permukiman dan infrastruktur wilayah perbatasan.81 d. Kriteria mensyaratkan indeks fiskal harus dievaluasi secara periodik untuk menentukan besaran bantuan pembiayaan dari pemerintah pusat. Menteri Keuangan c. penguatan pola interaksi orientasi ekonomi yang berbasis potensi sumber daya alam wilayah menjadikan kemauan politik (political will) pemerintah pusat dan daerah (Rosentraub 1996). Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan menyiapkan bahan perhitungan rincian penyediaan DDUB untuk masingmasing daerah berdasarkan batas persentase terendah dan tertinggi. Prioritas ini dapat berupa peningkatan dana alokasi khusus (DAK). Mengingat kedudukan Kabupaten Nunukan sebagai kawasan strategis nasional (KSN) di wilayah perbatasan dapat menjadi pertimbangan tersendiri untuk tetap mendapat prioritas bantuan pembiayaan pengembangan.

manusia. subsektor sektor pertambangan. dan sosial. terpencar. subsektor kehutanan. mempunyai dampak langsung terhadap keberlanjutan aspek ekologi. subsektor pertanian tanaman perikanan. Permukiman diartikan sebagai tempat manusia hidup dan berkehidupan. perkebunan.1 Kondisi dan Permasalahan Permukiman Perbatasan Permukiman dalam istilah ini merupakan padanan kata human settlements. lokasi dan lingkungan perumahan tersebut tidak akan pernah dapat lepas dari permasalahan dan lingkup keberadaan suatu permukiman yang seharusnya memberikan kenyamanan kepada penghuninya (termasuk orang yang datang ke tempat tersebut). dan sektor industri 4. perlu memerhatikan daya dukung dan lahan untuk pengembangan permukiman. Oleh karena itu. Suatu permukiman terdiri atas the content (isi. Permukiman merupakan suatu kesatuan wilayah tempat suatu perumahan berada. perumahan.2 Analisis Kondisi Permukiman Perbatasan Kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara dengan kondisi umum yang tidak tertata. Pengetahuan mengenai permukiman disebut ekistics (istilah Yunani). yaitu manusia) dan the container (wadah. dan jaringan infrastruktur (Sastra dan Marlina 2006). permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung. dan tidak terkelola dengan baik. yaitu tempat fisik manusia tinggal yang meliputi elemen alam dan buatan manusia). kumuh. masyarakat. subsektor pariwisata. Elemen-elemen permukiman terdiri atas alam.4. Adapun . Secara ekologi. baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan (live) dan penghidupan (livelihoods). Aspek lain yang kesesuaian juga harus diperhatikan khususnya dalam pengembangan ekonomi adalah sektor unggulan wilayah yang potensial dikembangkan sehingga akan menjamin peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat agar keberlanjutan kawasan permukiman di wilayah perbatasan dapat terlaksana. ekonomi. Adapun potensi SDA wilayah berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan terdiri dari subsektor pangan. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman.2. Menurut Undang-Undang No. Ilmu ekistics dikembangkan oleh CA Doxiadis pada tahun 1967 (Winarso 2001). nomaden.

235 KK yang lokasinya di ujung barat pulau. Persebaran penduduk di wilayah perbatasan pada umumnya tidak merata sehingga kawasan permukimannya terlihat mengelompok dan terpencar. Hal ini disebabkan oleh pengelolaan yang tidak baik dan kurangnya kegiatan terkait program/proyek pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara. .366 KK di bagian tengah wilayah daratan. Kawasan permukiman adalah kawasan budi daya yang ditetapkan dalam rencana tata ruang dengan fungsi utama untuk permukiman (Permenpera 2006). Kecamatan kelompok wilayah kepulauan seperti Kecamatan Sebatik terdapat kawasan permukiman yang terdiri 5. fasos. Kondisi lingkungan permukiman terdiri dari perumahan yang kumuh (slum area). (Permenpera 2006). dan fasum lingkungan. Terkait dengan fenomena kawasan permukiman perbatasan negara. dapat disimpulkan bahwa permukiman memiliki pengertian yang lebih luas dibandingkan dengan perumahan. Kecamatan Sebatik Barat terdiri 3.163 KK yang lokasinya di ujung timur pulau. sarana. dan minim prasarana. Dari beberapa pengertian tersebut. Kecamatan Nunukan sebanyak 14. Kelompok wilayah daratan adalah Kecamatan Krayan Selatan 545 KK lokasinya di ujung barat wilayah administrasi kabupaten dan Kecamatan Lumbis 2.83 perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. tidak tertata. Kawasan permukiman perbatasan di Kabupaten Nunukan. kondisinya (existing condition) sangat dipengaruhi oleh persebaran penduduk di masing-masing kecamatan yang berada di wilayah perbatasan kabupaten. Persebaran penduduk yang mengelompok dan terpencar terlihat dari distribusi pusat-pusat permukiman yang ada di masing-masing kecamatan.653 KK. yang dimaksud kawasan permukiman perbatasan padanannya adalah kawasan perumahan dan permukiman khusus untuk menunjang kegiatan berbagai fungsi di wilayah perbatasan negara.

Pergeseran batas wilayah di Pulau Sebatik sudah jauh ke dalam wilayah tertorial Indonesia. Kebutuhan tersebut pada umumnya belum terpenuhi atau memadai. . Kawasan permukiman yang berkelompok dan terpencar Pola perkembangan kawasan permukiman yang mengelompok dan terpencar di wilayah perbatasan berdampak negatif terhadap keutuhan wilayah NKRI karena berpeluang dimanfaatkan negara tetangga untuk menggeser patok-patok perbatasan untuk memperluas wilayah negaranya. 2009 Gambar 28. untuk memenuhi kebutuhannya. 2009 Gambar 27. dan Krayan.84 Sumber : Dokumentasi Survei. Penggeseran patok-patok perbatasan negara dilakukan pada lokasi yang tidak terdapat permukiman sebagai tempat hunian dan aktivitas penduduk/masyarakat perbatasan. Kawasan permukiman yang berada di atas batas wilayah perbatasan Masyarakat wilayah perbatasan yang memiliki karakteristik lingkungan sosial yang spesifik. Oleh karena itu. dan kegiatan ekonomi bersama baik legal maupun yang ilegal memerlukan kemudahan berkomunikasi dan aksesibilitas yang baik. dari tahun ke tahun. Oleh karena itu. kehilangan wilayah teritorial negara terus terjadi dan semakin meluas. transaksi jual beli. belum lagi yang terjadi di wilayah perbatasan lain di Kecamatan Lumbis. Sebuku. seperti kegiatan pelintas batas. Sumber : Dokumentasi Survei.

85 masyarakat melakukan upaya sendiri yang umumnya tidak sesuai dengan peratuaran dan perundang-undangan yang berlaku. Pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan harus tertata. perkotaan maupun perdesaan. dan dikelola dengan baik melalui kebijakan dan strategi pengembangan kawasan permukiman perbatasan. permukiman transmigrasi baik lokal maupun antarwilayah di Indonesia cukup luas tersedia. Kawasan permukiman yang berada di muara sungai dan kumuh Kondisi kawasan permukiman perbatasan di Kabupaten Nunukan tersebut mencerminkan bahwa pemerintah pusat dan pemerintah daerah kurang memberikan perhatian pengembangan wilayah dan masyarakat perbatasan. berkelanjutan. Untuk memudahkan masyarakat dalam akses ke laut. membangun perumahan di sepanjang bantaran sungai dan sampai melanggar batas wilayah perbatasan negara lain. 4. . Sumber: Dokumentasi Survei. Pengembangan kawasan permukiman akan dikembangkan di Pulau Nunukan. antara lain dalam membangun perumahan dan fasilitas tidak memperhatikan batas-batas wilayah negara. Oleh karena itu. Misalnya. termasuk kegiatan permukiman lain seperti. Kondisi masyarakat perbatasan dengan karakteristik lingkungan yang spesifik menjadi fenomena tersendiri. digunakan sampan/perahu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang penting dan mendesak ke negara tetangga. banyak bangunan rumah dengan ruang tamu wilayah di Indonesia dan dapur di Malaysia atau yang dikenal dengan rumah Malaysia-Indonesia (Malindo).2 Pengembangan Lahan Permukiman Potensi pengembangan kawasan permukiman meliputi perumahan. 2009 Gambar 29. khususnya dalam pengembangan kawasan permukiman.2.

130 Ha atau sekitar 0. pusat pertumbuhan baru Pulau Sebatik. Adapun di Kecamatan Sebatik Timur akan dikembangkan kawasan permukiman perkotaan. Sebuku. serta permukiman transmigrasi. tetapi terdapat permukiman di desa-desa yang berada dalam kawasan lindung. khususnya desa-desa untuk mendukung kegiatan pelestarian kawasan Taman Nasional Krayan Mentarang yang terletak di ketinggian di atas 1. taman. di Kecamatan Nunukan dan Nunukan Timur akan dikembangkan lahan seluas 1. Sehubungan dengan potensi pengembangan permukiman perdesaan di Kabupaten Nunukan. perkantoran. Adapun di Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan yang berada di klaster I akan dikembangkan lahan seluas 750 ha sebagai kawasan . Di Kecamatan Lumbis. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada permukiman di daerah kritis. dan Sebatik Barat yang berada di klaster II. Permukiman desa yang terletak pada daerah rawan bencana geologi lingkungan. Penggunaan lahan permukiman meliputi perumahan.86 Pulau Sebatik. tempat olahraga. khususnya sektor perkebunan. Luas penggunaan lahan untuk pengembangan permukiman adalah 7. akan dikembangkan lahan seluas 1. erosi.000 mdpl. baik yang di perkotaan maupun pedesaan. perlu adanya pengaturan ruang. Sebuku. dan Krayan sebagai kawasan perkotaan dan pusat pemerintahan. Luas lahan untuk pengembangan kawasan permukiman. dan kuburan. ± 60 % diperuntukkan untuk kawasan permukiman klaster-klaster di kecamatan yang berada di sepanjang wilayah perbatasan. Kecamatan Lumbis.700 ha sebagai kawasan permukiman perkotaan dan pusat pemerintahan. Pengembangan kawasan permukiman sesuai dengan arahan RTRW kabupaten. seperti patahan aktif. dan longsoran tidak terdapat di Kabupaten Nunukan. pengembangan. Kecamatan-kecamatan tersebut berada di klaster III. Permukiman-permukiman perdesaan yang tidak sesuai dengan kriteria kebutuhan akan tetap dipertahankan.05% dari luas wilayah kabupaten (RTRW Kabupaten Nunukan 2005).850 Ha sebagai kawasan permukiman perdesaan dan pusat desa pertumbuhan berbasis potensi SDA wilayah. dan pengelolaan yang lebih baik. Rencana pengembangan kawasan permukiman tersebut dimaksudkan untuk mendorong tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan baru di perbatasan negara yang berbasis potensi SDA wilayah.

serta tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat). Tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat) atau usaha pertanian. Peta pengembangan permukiman di setiap klaster terlihat pada Gambar 30. Pada kecamatan yang berada di daerah aliran sungai perlu dikembangkan pelabuhan sungai. sarana.87 permukiman perdesaan dan permukiman perkotaan untuk pusat pertumbuhan baru berbasis potensi SDA wilayah. dan fasum sebagai pendukung kegiatan sosial-ekonomi di kawasan permukiman dapat dibangun sesuai kebutuhan dan karakteristik wilayah kecamatan. fasos. seperti fasilitas pendidikan. Penataan dan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan ke depan akan mendorong perkembangan wilayah perdesaan yang berbasis sentra . Pada permukiman perkotaan kepadatan maksimum 80 rumah/hektar dan KDB maksimum 40%. peribadatan. dan sarana budaya. Permukiman perdesaan memiliki kepadatan maksimum 25 rumah/hektar dan KDB maksimum 20%. kesehatan. Bangunan yang menunjang fungsi kawasan/kegiatan utama diperkenankan untuk kepentingan umum. khususnya sektor pertambangan. 2008 dan Hasil Analisis Gambar 30. Peta pengembangan permukiman di setiap klaster Pengembangan prasarana. KLUSTER II: 1850 Ha KLUSTER I: 750 Ha KLUSTER III: 1700 Ha Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. selain sarana prasarana sosial lainnya. Pengembangan jaringan jalan dapat diintegrasikan dengan pengembangan lahan usaha masyarakat.

3 Kemampuan Pembiayaan Pembangunan Permukiman Kemampuan pengembangan daerah kawasan (kabupaten/kota) permukiman dalam khususnya sharing dalam pembiayaan pembangunan permukiman berdasarkan indikator nilai indeks fiskal daerah.2. 4.248 dan skor indeks persentase penduduk miskin daerah (IPPMD) 1. Kriteria mensyaratkan agar secara periodik indeks fiskal harus dievaluasi untuk menentukan besaran bantuan pembiayaan dari pemerintah pusat. Dengan demikian. berupa dana pendamping . dengan skor indeks ruang fiskal daerah (IRFD) 3. Data indeks fiskal menunjukkan bahwa Kabupaten Nunukan masuk pada kategori kelompok sangat tinggi. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kementerian Pembangunan Daeah Tertinggal. Kementerian Pekerjaan Umum. Nilai indeks fiskal dapat menunjukkan kemampuan daerah dalam pendampingan pembiayaan bersama dengan pemerintah pusat. wilayah perbatasan dapat menjadi pertimbangan tersendiri untuk tetap mendapat prioritas bantuan pembiayaan pengembangan. Mengingat kedudukan Kabupaten Nunukan sebagai kawasan strategis nasional (KSN). Prioritas bantuan pembiayaan pembangunan dapat berupa peningkatan dana alokasi khusus (DAK).800. Hal ini bertujuan agar lahan pertanian produktif dapat dipertahankan dan konservasi tanah serta air dapat dilakukan dengan baik. khususnya bidang permukiman perbatasan. Kabupaten Nunukan termasuk dalam kategori sangat tinggi. infrastruktur. dan kementerian lain yang terkait. dan investasi sektor unggulan untuk mendorong percepatan pembangunan wilayah perbatasan. Adapun untuk menjaga kawasan permukiman yang sudah dibangun agar tetap berkelanjutan perlu dilakukan pengendalian dan penyesuaian sejak dini agar tidak berubah menjadi permukiman perkotaan yang tidak terarah (urban sprawl). Kemampuan sharing Pemda Kabupaten Nunukan ditunjukkan pada setiap mendapatkan bantuan stimulan oleh pemerintah pusat. diharapkan kondisi ini dapat terus dipertahankan.pertanian menjadi desa kota (sub urban) sebagai pusat pertumbuhan baru (Wacker 2002). Pemerintah Kabupaten Nunukan telah memperlihatkan adanya potensi kemampuan sharing pembiayan pada program-program stimulan pembangunan perumahan dari pemerintah pusat seperti dari Kementerian Perumahan Rakyat.

produktivitas. pertambangan. akses transportasi. Sektor-sektor potensial yang mempunyai peranan penting terhadap pengembangan kawasan permukiman tersebut antara lain adalah perkebunan. dan industri. Pemda menglokasikan dana untuk pembuatan kanal dan sarana air bersih senilai Rp 9 miliar serta biaya pembebasan tanah untuk pembangunan kawasan permukiman nelayan seluas 100 ha. Klaster I meliputi Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan 2.3 Analisis Komparatif Sektor Unggulan Kawasan Kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara mempunyai dampak langsung baik secara ekologi. Nunukan Selatan. lokasi startegis. jangkauan pasar. Kriteria tersebut berkorelasi positif dalam meningkatkan potensi pasar di wilayah perbatasan (Hanson 1998).dan usulan dana program pembangunan melalui APBD dari masing-masing dinas terkait. Klaster II meliputi Kecamatan Lumbis. Kesediaan pemda bersama-sama dengan pemerintah pusat mengalokasikan dana APBD dalam mengembangkan nelayan perbatasan berkorelasi dengan membuktikan kemampuan kawasan permukiman bahwa indeks fiskal yang sangat baik daerah dalam menyiapkan dana untuk pembiayaan pembangunan permukiman. dan Sebatik Dalam penetapan klaster sesuai dengan kondisi potensi sumber daya alam kawasan pada kecamatan-kecamatan yang berada di wilayah perbatasan. 4. pariwisata. kehutanan. pertanian. . Klaster III meliputi Kecamatan Nunukan. yaitu kesesuaian lahan. akses komunikasi. Kabupaten Nunukan secara geografis dapat terlihat pada Gambar 31. jumlah tenaga kerja. dan Sebatik Barat 3. di kecamatan wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan dibuat 3 (tiga) klastering subkawasan. Pada 2006 kemenpera memberikan bantuan stimulan pembangunan kawasan permukiman nelayan senilai kurang lebih Rp 4 miliar. nilai produk. dan sosial. yaitu: 1. Kriteria yang menjadi pertimbangan di setiap sektor tersebut ada delapan. Dalam menganalisis sektor-sektor potensial dan prospektif dengan menggunakan metode perbandingan eksponensial (MPE). Sebuku. perikanan. ekonomi.

Adapun pembobotan kriteria terhadap sektor unggulan dengan metode MPE dapat disajikan pada Tabel 10.1 Sektor Unggulan Subkawasan Klaster I Kecamatan yang termasuk dalam klaster I adalah Kecamatan Krayan dan Kecamatan Krayan Selatan. Pembagian klaster di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan 4. Penilaian bobot kriteria terhadap sektor unggulan klaster I Klaster I Pertambangan Perkebunan Kehutanan Pariwisata 5 5 6 5 6 6 5 5 Perikanan Pertanian Industri 6 7 6 5 7 7 6 6 No Kriteria Bobot 1 Kesesuaian Lahan 2 Produktivitas 3 Lokasi Strategis 4 Jumlah Tenaga Kerja 5 Nilai Produk 6 Jangkauan Pasar 7 Akses Transportasi 8 Akses Komunikasi Sumber: Hasil Analisis 8 8 7 6 9 6 7 7 7 6 6 6 7 7 6 6 9 8 7 7 8 9 7 7 5 4 6 7 5 5 5 5 4 4 6 6 4 5 4 4 5 5 6 5 6 5 6 6 . Tabel 10.3.KLUSTER II KLUSTER I KLUSTER III Gambar 31.

201. .137.384 2.730.004 11.357.201 11.802.004.746 dan perikanan dengan nilai MPE yaitu 768.161.730.978.771.106 Sumber: Hasil Analisis Berdasarkan tabel 11 di atas dapat disimpulkan bahwa sektor yang paling menentukan pada klaster I adalah sektor pertambangan dengan nilai 197.413 48.Berdasarkan hasil perhitungan dengan teknik MPE.304 ton.771.161.384. Data BPS (2007) menunjukkan bahwa produk pertambangan unggulan adalah minyak bumi dan batu bara. kehutanan dengan nilai MPE yaitu 11. terlihat urutan atau prioritas sektor yang potensial di Klaster I Kabupaten Nunukan. Hasil tersebut disajikan dalam Tabel 11. prioritas ketiga adalah industri dengan nilai MPE 48. pariwisata dengan nilai MPE yaitu 11.978. Urutan dari posisi ke-4 sampai ke-7. Perkebunan menempati urutan kedua dengan nilai MPE yaitu 48. pertanian dengan nilai MPE yaitu 2. Nilai sektor unggulan klaster I Klaster I No 1 2 3 4 5 6 7 Perkebunan Pertambangan Pertanian Perikanan Kehutanan Pariwisata Industri Sektor Nilai MPE 48. Jumlah produksi minyak terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun seperti yang terlihat pada Gambar 32. Tabel 11.413.802.357.137 197.746 768.362.106. Jumlah produksi minyak bumi pada tahun 2007 sebanyak 1.

kawasan Klaster I sangat sesuai untuk pertambangan (Gambar 33). Berdasarkan peta kesesuaian lahan yang menunjukkan di atas 90%.287 ton. 2008 Gambar 32.556 23.000 20.846.557 24.562 2007 34.000 30. lokasi klaster I merupakan pegunungan dan perbukitan yang tidak teratur serta mempunyai kelerengan >40%.103 2005 29.000 0 Diproduksi Terjual 2004 25.070 31. Berdasarkan peta kesesuaian lahan.553 26. sektor tambang menjadi unggul pada klaster I dan didukung juga oleh daya dukung sumber daya alam yang ada pada kawasan klaster I. Data BPS (2007) menunjukkan jumlah produksi batu bara di Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 sebesar 1.165. Produksi minyak bumi (MMSTB) 2000 . Oleh karena itu.129 2006 26. .129 ton.40.000 10.145 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.2007 (BBL) Produk batu bara pada klaster I juga merupakan produk unggulan. Jumlah produksi bahan tambang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dari tahun sebelumnya sebesar 1.937.

2 Sektor Unggulan Subkawasan Klaster II Kecamatan yang termasuk klaster II adalah Kecamatan Lumbis.Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. 4. Peta kesesuaian lahan untuk perkebunan menunjukkan klaster I yang di atas 55% cocok untuk lahan perkebunan. Kesesuaian lahan untuk pertambangan Urutan kedua adalah sektor perkebunan. Adapun pembobotan nilai dengan metode MPE dapat dilihat pada Tabel 12. Hal ini didukung oleh kesesuaian lahan serta jenis tanah yang mendukung kegiatan perkebunan sehingga dapat mencegah erosi pada wilayah-wilayah yang berlereng. 2008 Gambar 33. dan Sebatik Barat.3. Sebuku. .

094.300.403.343 10. Posisi ke-4 sampai ke-7 berturut-turut pertambangan dengan nilai MPE 49.403.744.345.094.643. kehutanan dengan nilai MPE 44. Tabel 13. Prioritas ketiga adalah industri dengan nilai MPE 53.111. .171.848.970. perikanan dengan nilai MPE 10. dan pariwisata dengan nilai MPE 2.761 53. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel 13.761.643.Tabel 12.111 Sumber: Hasil Analisis Berdasarkan tabel 13 di atas.583. Penilaian bobot kriteria terhadap sektor unggulan klaster II Klaster II Pertambangan Perkebunan Kehutanan Pariwisata 5 5 5 6 5 4 5 4 Perikanan Pertanian Industri 7 7 6 7 7 7 7 5 No Kriteria Bobot 1 Kesesuaian Lahan 2 Produktivitas 3 Lokasi Strategis 4 Jumlah Tenaga Kerja 5 Nilai Produk 6 Jangkauan Pasar 7 Akses Transportasi 8 Akses Komunikasi Sumber: Hasil Analisis 8 8 7 6 9 6 7 7 9 8 7 8 9 7 7 7 7 6 7 7 7 6 6 6 8 7 6 7 7 5 5 4 5 4 6 6 6 5 5 4 8 8 7 5 6 5 5 5 Hasil perhitungan dengan teknik MPE memperlihatkan urutan atau prioritas sektor yang potensial di Klaster II Kabupaten Nunukan. Nilai sektor unggulan klaster II Klaster II No Sektor 1 2 3 4 5 6 7 Perkebunan Pertambangan Pertanian Perikanan Kehutanan Pariwisata Industri Nilai MPE 450.343.300.583 44.957.345.957.744 63.848 49. Pertanian menempati urutan kedua dengan nilai MPE 63.970. dapat disimpulkan bahwa sektor yang paling menentukan adalah sektor perkebunan dengan nilai 450.171 2.

.Klaster II.10 ton. 2008 Gambar 34.686. Jenis komoditas unggulan perkebunan pada klaster II adalah kakao dan kelapa sawit. Produksi kelapa sebanyak 7. Selain itu. Kedua kecamatan tersebut sangat sesuai untuk tanaman perkebunan (gambar 34). berdasarkan peta kesesuaian lahan untuk perkebunan. Peta kesesuaian lahan untuk perkebunan Data BPS (2008) menunjukkan produksi kakao di Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 sebanyak 18. berdasarkan peta land system.71 ton. Produksi kakao dan kelapa terus mengalami peningkatan dari 2002 sampai tahun 2007 seperti terlihat pada Gambar 35 berikut. hampir di atas 90%.903. Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. termasuk dalam kelompok punggung gunung batuan metamorfik yang tidak teratur yang menyebabkan klaster II sangat cocok untuk perkebunan.

dan Kecamatan Sebatik.3 6407.1 2002 2003 2004 kelapa 2005 kakao 2006 2007 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.32 6430. Adapun hasil pembobotan nilai dengan metode MPE dapat dilihat pada Tabel 14.6 7458.71 18903.32 6407.20000 18000 16000 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 17702 15257. Penilaian bobot kriteria terhadap sektor unggulan klaster III Klaster III Pertambangan Perkebunan Kehutanan Pariwisata Perikanan Pertanian Industri No Kriteria Bobot 1 2 3 4 5 6 7 8 Kesesuaian Lahan Produktivitas Lokasi Strategis Jumlah Tenaga Kerja Nilai Produk Jangkauan Pasar Akses Transportasi Akses Komunikasi 8 8 7 6 9 6 7 7 7 7 8 6 7 7 7 7 5 5 8 5 5 7 7 7 8 8 9 7 7 8 7 7 9 9 9 8 8 9 7 7 7 6 8 6 5 5 7 7 5 7 8 5 5 5 7 7 7 7 8 6 6 7 7 7 Sumber: Hasil Analisis .35 13592. 2008 Gambar 35. Produksi komoditas tanaman perkebunan 2002-2007 (ton) 4. Tabel 14. Penilaian terhadap alternatif kegiatan penunjang pusat-pusat pertumbuhan terdapat di Kabupaten Nunukan berdasarkan sektor unggulan dengan pembagian klaster.8 7406.32 7686.3 Sektor Unggulan Subkawasan Klaster III Kecamatan yang termasuk dalam klaster III adalah Kecamatan Nunukan.6 17073.3. Nunukan Selatan.35 15889.

Perikanan tangkap dan budi daya perikanan laut merupakan kegiatan yang paling potensial dan telah mendukung pendapatan Kabupaten Nunukan selama ini.810 13.Hasil perhitungan dengan analisis MPE memperlihatkan urutan atau prioritas metode pengembangan wilayah perbatasan yang potensial dalam rangka meningkatkan pusat-pusat pertumbuhan.515. Nilai sektor unggulan klaster III No 1 2 3 4 5 6 7 Sektor Klaster III Perkebunan Pertambangan Pertanian Perikanan Kehutanan Pariwisata Industri Nilai MPE 55.752 6. prioritas ketiga sektor perkebunan dengan nilai MPE 55.887.887 227.887 80.791.061 11. Tabel 15. pariwisata. Hal tersebut mengandung arti bahwa budi daya perikanan darat di klaster III tidak disarankan karena kondisi topografi Kabupaten Nunukan yang berlerenglereng seperti yang ditunjukkan pada Gambar 36.717.810. Pada gambar. Posisi ke-4 sampai ke-7 adalah industri.752.039 25.8% dan 15 25%. .204.534. dan pertambangan. Keadaan berpotensi menyebabkan longsor dan tidak memungkinkan untuk adanya budi daya perikanan darat. kehutanan.841 Sumber: Hasil Analisis Berdasarkan tabel 15 di atas dapat di lihat bahwa sektor unggulan yang paling mendukung pusat pertumbuhan dalam pengembangan wilayah perbatasan adalah sektor perikanan dengan nilai 227.791. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel 15. Alternatif pertama yang harus lebih diperhatikan dalam pengembangan wilayah perbatasan pada klaster III yang meliputi Kecamatan Nunukan dan Kecamatan Sebatik yaitu peningkatan sektor perikanan.884.611.717. ditampilkan kondisi topografi pada klaster III yang didominasi oleh tingkat kelerengan 0 . Sektor pertanian menempati urutan kedua yang dapat mendukung pusat pertumbuhan dalam pengembangan wilayah perbatasan dengan nilai MPE 80.534.

Lahan Sawah Sawah adalah lahan penghasil padi yang selanjutnya diolah menjadi beras sebagai makanan pokok masyarakat Kabupaten Nunukan. yakni budi daya tanaman pangan terutama padi sawah yang produktivitasnya terus meningkat (Kabupaten Nunukan dalam Angka 2008). Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. jumlah penduduk 5 dan 10 tahun yang akan datang membutuhkan areal pertanian basis. sayur-sayuran. Kebutuhan pangan Kabupaten Nunukan selama setahun sebagai berikut: a. Adanya asumsi bahwa lahan efektif adalah 60% dari total lahan. terutama lahan dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dasar Kabupaten Nunukan. kebutuhan setiap orang setiap tahun adalah 150 kg. Kebutuhan cadangan lahan sawah di Kabupaten . dan palawija. Kebutuhan pangan yang dimaksud adalah kebutuhan beras sebagai bahan makanan pokok. 2008 Gambar 36. Peta Kabupaten Nunukan berdasarkan kelerengan Sumber daya alam pertanian.Di urutan kedua diikuti sektor pertanian dengan komoditas unggulan yang dapat mendukung pusat pertumbuhan.54 kg gabah kering giling dan setiap hektar lahan menghasilkan 4.9 ton gabah kering giling per tahun. maka jumlah kebutuhan total adalah jumlah kebutuhan dasar ditambah 67% (Tabel 15). Setiap 1 kg beras dihasilkan dari 1. Berdasarkan tiga perkiraan skenario. Sebagai dasar perhitungan.

Kacang tanah.52 kg/orang/tahun. b. 449 ekor kambing. dan 5.2 ton/ha/tahun. c.37 ha.099 ekor sapi. Kedelai. tingkat produktivitas 10. Lahan Peternakan Rakyat Pada tahun 2000. 225.35 kg/orang/tahun.182. produktivitas 0. tingkat produktivitas 1. konsumsi 1. populasi ternak di Kabupaten Nunukan adalah 2. Kacang hijau. 4. kebutuhan konsumsi 11. untuk memenuhi kebutuhan beras sebanyak 47. jagung dan lain-lain. kebutuhan konsumsi per orang per tahun adalah 26.481 ton gabah kering giling per tahun. kebutuhan konsumsi 3. seperti kacang-kacangan. Dengan asumsi pertumbuhan 5% per tahun.7 kg dan produktivitas 2.9 ton/ha/tahun.25 kg/orang/tahun.821 ekor babi. konsumsi 7. 57.350 ekor ayam buras. . kebutuhan konsumsi 57.6 ton/hektar/tahun. tingkat produktivitas 16. Lahan Palawija Untuk kebutuhan bahan pangan lainnya.3 ton/ha/tahun.09 kg/orang/tahun.3 ton/ha/tahun.9 ton/hektar/tahun. Ubi jalar.Nunukan sebesar 16.968 ekor itik. Ubi kayu. kebutuhan lahan untuk kegiatan peternakan tersebut membutuhkan lahan seluas 185 hektar pada tahun 2007 dan berkembang menjadi 236 hektar pada tahun 2012. ubi. 2.530 ekor ayam ternak. terperinci dengan tingkat konsumsi dan produktivitas sebagai berikut: Jagung.1 kg/orang/tahun dan tingkat produktivitas 0.124 ekor kerbau.

850. Perhitungan kebutuhan lahan sawah (RTRW Kabupaten Nunukan 2004-2014) Skenario Index Pesimis 2009 2014 Optimis 2009 2014 Ambisius 2009 2014 Sumber: Hasil Analisis 96.072.337.100.750.42 10.69 6.768. Produksi tanaman padi juga mengalami kenaikan.933.28% (Kabupaten Nunukan dalam Angka.053 116.961 107.696.051.55 16.338.21 Keperluan Dasar 4. Sebatik Barat.832.393. Nunukan yang berada pada klaster III.690.50 16.90 24. sedangkan Lumbis dan Sebuku berada pada klaster II.65%.Tabel 16.528 23.35 19. Hal ini didukung dengan peningkatan luas areal komoditas kelapa sawit pada tahun 2007 sebesar 25.127 ton atau dengan kata lain terjadi peningkatan produktivitas padi sebesar 9.09 8.03 10.264.751 Tahun Jumlah Penduduk Keperluan Beras (ton) 150 13.72 9. di mana tanaman padi naik sebesar 4.37 Berdasarkan peta ketinggian lahan pada Gambar 37.100 mdpl yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman padi.182.64 30. Hal ini juga didukung dengan peningkatan luas panen padi (sawah+ladang) di Kabupaten Nunukan pada tahun 2007. 2008).481.840 163.435.80 5.47 4. Sebagian besar dari luas areal kelapa sawit terdapat di Kecamatan Sebatik.171 239.784 144.15 6.83 8. pada klaster III didominasi ketinggian lahan berkisar antara 0 .53 47.979.190.698 30.90 4.334.97 30.4% dibandingkan dengan tahun 2006 (Kabupaten Nunukan dalam Angka 2008).434.05 19.54 21.04 Kebutuhan Lahan (Ha) 67% 7. yaitu menjadi 48. Alternatif ketiga dalam pengembangan wilayah perbatasan pada klaster III adalah sektor perkebunan.462. .40 15.35 Keperluan Gabah (ton) 1.

dan klaster III (Kecamatan Nunukan. 4. Selain menyebabkan ketergantungan negara tetangga.4 Analisis Strukturisasi Permasalahan dan Komponen Dominan Kebijakan Pengembangan permukiman di wilayah perbatasan dalam Undang-Undang No. Pengembangan permukiman (permukiman khusus) menjadi salah satu program prioritas pembangunan wilayah perbatasan dalam upaya pengembangan potensi ekonomi dan sumber daya alam. dan kesadaran masyarakat perbatasan terhadap identitas nasional.Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Nunukan Selatan. dan Sebatik) sektor perikanan. hal ini berkaitan juga dengan keamanan. Adanya keterbatasan infrastruktur dan permukiman di wilayah perbatasan baik yang berada dalam kawasan perkotaan maupun perdesaan yang kurang berkembang menyebabkan aktivitas sosioekonomi banyak berorientasi ke negara tetangga. klaster II (Kecamatan Lumbis. Peta Kabupaten Nunukan berdasarkan wilayah ketinggian Kesimpulan hasil analisis MPE yang dilakukan untuk sektor-sektor yang potensial dalam mendukung pengembangan permukiman perbatasan di Kabupaten Nunukan untuk klaster I (Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan) adalah sektor pertambangan. Sebuku. 4 tahun 1992 memuat amanat tentang pengembangan permukiman khusus. dan Sebatik Barat) sektor perkebunan. kehormatan. . 2008 Gambar 37.

(4) mendorong sinergitas hubungan kota dan desa. Berdasarkan hal tersebut kiranya perlu dibuat desain kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara.4. dan peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan di wilayahnya (Canales 1999).1 Elemen Permasalahan dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Menurut Saxena (1994) yang dikutip Marimin (2005) berdasarkan hasil kajian pendapat pakar. (2) dapat mengoptimalkan penggunaan lahan. (3) mengurangi dan efisiensi pembiayaan pembangunan infrastruktur. . Apabila tidak terkendali akan dapat menjadi hambatan dalam pengembangan potensi pertumbuhan sebagai penggerak pengembangan sosial. kependudukan. dan (5) memastikan transisi penggunan lahan perdesaan menuju perkotaan berjalan secara alamiah dan terarah (Seong 2006). disusunlah struktur permasalahan untuk keberhasilan pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan yang terbagi atas lima elemen pada permasalahan yang terdiri dari 24 subelemen kendala. yaitu (1) melindungi hijau/konservasi dan sumber daya alam. ekonomi. Secara lengkap elemen permasalahan dan subelemen kendala terlihat pada tabel 17. 4.Pengembangan perbatasan pusat-pusat pertumbuhan baru (border city) di wilayah ruang terbuka terdapat enam kategori. Dinamika kegiatan ekonomi perkotaan di wilayah perbatasan merupakan kondisi yang dapat meningkatkan pertumbuhan kota-kota (pusat pertumbuhan baru) perbatasan negara.

Elemen permasalahan pengembangan kawasan permukiman perbatasan No 1 Elemen (Masalah) Pengelolaan SDA wilayah perbatasan masih kurang No 1 2 3 4 5 6 7 8 2 Pengembangan dan Penataan kawasan permukiman kurang optimal 9 10 11 12 13 3 Pembangunan infrastruktur wilayah & permukiman belum sejalan 14 15 16 17 18 19 4 Kelembagaan belum mendukung pengembangan permukiman Pembiayaan belum mendukung pengembangan permukiman 20 21 22 23 24 Sub elemen (Kendala) Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan Perbedaan karakteristik antara wilayah darat dan laut Pengembangan dan pengelolaan SDA belum optimal Rendahnya kesejahteraan masyarakat Aktivitas sosial ekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga Kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional Persepsi wilayah perbatasan merupakan wil dan pintu belakang negara Pemanfaatan dan pengendalian tata ruang masih lemah Letak geografis Indonesia di titik silang benua EropaAsia.Eropa Banyak pemukiman berada di batas wilayah perbatasan Kondisi lingkungan tidak tertata. berpencar. Berikut ini adalah hasil hubungan . kumuh & tidak dikelola dengan baik Rencana Tata Ruang Wilayah yang tidak sesuai dengan kebutuhan Minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman Terbatasnya fasum & fasos Terbatasnya pelayanan publik Terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan perkim Perkembangan infrastruktur & permukiman yang tidak terencana Rendahnya kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan lahan sesuai peruntukan Penegakan hukum dan peraturan masih lemah Adanya privatisasi lahan oleh pemerintah & swasta Belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan Terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan Pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal 5 Dari lima elemen hasil kajian ini. Asia-Australia & Australia.Tabel 17. Subelemen ini berupa indikator-indikator keberlanjutan yang mempunyai nilai tinggi yang telah dipilah-pilah sesuai dengan konteks kelima elemen program tersebut. pada setiap elemennya dijabarkan menjadi sejumlah subelemen yang rinci.

00 6. pemerintah daerah.104 kontekstual antarsubelemen pada setiap elemen yang digambarkan dalam bentuk terminologi subordinat yang mengacu pada perbandingan berpasangan antar subelemen.00 2.00 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 Sub Elemen (Kendala) Gambar 38. di mana terkandung suatu arahan pada hubungan tersebut (Eriyatno dan Sofyar 2007). nilai driver power elemen masalah tertinggi pada subelemen 7 atau kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional dan subelemen 4 atau rendahnya kesejahteraan masyarakat.00 4. pengalaman di bidang pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan. swasta dan masyarakat yang terpilih berdasarkan pengetahuan.00 8. sedangkan yang memiliki nilai driver power terendah adalah 2 atau perbedaan karakteristik antara wilayah darat dan laut. Gambaran dari masing-masing elemen masalah mengenai peringkat berdasarkan nilai driver power yang ada dapat dilihat pada gambar 38. Pakar yang terlibat dalam proses ini adalah pakar dari kalangan pemerintah pusat.00 10. Masyarakat di wilayah perbatasan yang bersebelahan dengan wilayah negara tetangga yang jauh lebih maju pada umumnya memiliki orientasi sosial . 12. Peringkat elemen masalah berdasarkan nilai driver power Berdasarkan gambar 38 di atas. Hasil yang digunakan dalam model ISM adalah kajian dari pendapat pakar melalui wawancara mendalam seperti yang tertuang pada matriks interaksi tunggal terstruktur (structural self interaction matrix/SSIM).

(8) kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga. Dalam rangka memenuhi hak-hak masyarakat sebagai warga negara dalam memperoleh pelayanan publik dan kesejahteraan sosial serta membuka keterisolasian wilayah. Hasil analisis ini menggambarkan pendapat para ahli bahwa elemen masalah dalam strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara diawali oleh (1) kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional. Analisis data ISM dapat terlihat pada Lampiran 3. dependent. (4) terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman. diperlukan percepatan pembangunan di wilayah perbatasan dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan. Interpretasi dalam bentuk hierarki disajikan pada Gambar 39. linkage. dan independent. Kemiskinan dan ketertinggalan masyarakat merupakan salah satu permasalahan utama di wilayah perbatasan. Subelemen dikelompokkan ke dalam empat sektor yakni autonomous. dan (12) pemanfaatan dan pengelolaan dana . Penggunaan alat tukar dan akses informasi serta komunikasi nasional yang terbatas dikhawatirkan dalam jangka panjang akan melunturkan rasa kebangsaan dan bela negara masyarakat. (7) aktivitas sosial ekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga. (9) minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman. (3) rendahnya kesejahteraan masyarakat. (5) terbatasnya fasos dan fasum. (2) terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan. Hal ini disebabkan sentralisasi pembangunan pada masa lalu dan kecenderungan penggunaan pendekatan keamanan dalam pengelolaan wilayah perbatasan. serta kesejahteraan masyarakat rendah. fasilitas umum dan sosial terbatas. Hal ini menyebabkan prasarana dan sarana wilayah minim.ekonomi yang berorientasi kepada wilayah negara tetangga. pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu meningkatkan upaya sosialisasi peningkatan wawasan kebangsaan melalui program-program pembangunan yang selaras dengan pengembangan permukiman dan penyediaan prasarana dan sarana. Oleh karena itu. (10) terbatasnya pelayanan publik. (6) kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan. Keterbatasan pelayanan publik di wilayah perbatasan menyebabkan orientasi aktivitas sosial-ekonomi masyarakat tertarik ke wilayah negara tetangga. (11) penegakan hukum dan peraturan masih lemah.

sektor independent.106 pembangunan belum optimal. Kemudian diikuti oleh elemen masalah wilayah perbatasan yang menjadi pintu belakang negara dan adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan. Dengan Dua belas elemen masalah tersebut berada pada demikian. strategi pengembangan kawasan merupakan elemen yang berperan sebagai peubah bebas berkekuatan penggerak besar. tetapi tidak tergantung kepada sistem. belum .

berpencar. kumuh & tidak dikelola dengan baik RTRW yang tidak sesuai dengan kebutuhan Level 3 Pengembangan dan pengelolaan SDA belum optimal Perkembangan infrastruktur & permukiman yang tidak terencana Rendahnya kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan lahan sesuai peruntukan Adanya privatisasi lahan oleh pemerintah & swasta Level 4 Persepsi Wilayah Perbatasan merupakan wilayah dan pintu belakang negara Belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan Level 5 Aktivitas sosek masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga Kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga Minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman Terbatasnya pelayanan publik Independent Penegakan hukum dan peraturan masih lemah Pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal Level 6 Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan Terbatasnya fasos dan fasum Terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman Level 7 Rendahnya kesejahteraan masyarakat Terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan Level 8 Kurangnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional Gambar 39.Level 1 Perbedaan karakteristik antara wilayah darat dan laut Banyak pemukiman berada di batas wilayah perbatasan Dependent Level 2 Pemanfaatan dan pengendalian tata ruang masih lemah Letak geografis Indonesia di titik silang benua Kondisi lingkungan tidak tertata. Diagram hierarki dari subelemen masalah dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara .

20 21 19. (b) Diagram model struktural ISM dari elemen sektor masyarakat yang terpengaruh program seperti disajikan pada Gambar 39. 14. dua belas faktor kunci prioritas penggerak elemen tolok ukur yang sangat memengaruhi faktor lain dalam keberhasilan strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yaitu subelemen-subelemen yang terletak pada sektor I . 13 5 4 3 2. Matriks DP-D untuk subelemen masalah dalam strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara Perlu dicermati bahwa posisi masalah persepsi wilayah perbatasan merupakan wilayah dan pintu belakang negara serta masalah belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan dalam upaya pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan berada di dekat sektor linkage. disajikan pada Gambar 40. 15. 20. 17 20 19 5. 10. Independent 25 24 7 23 4. Dalam strategi pengembangan kawasan posisinya akan mengikuti elemen lainnya yang berada di sektor independent. 6. 18 24 17 16 15 14 13 12 8. 16. 1918. Hasil kajian subelemen pada analisis ISM berupa (a) Matriks reachability dan interpretasi dari elemen masalah yang terpengaruh program yang disajikan pada Lampiran 3.Hasil analisis ini memberikan makna bahwa kedua belas elemen faktor kunci masalah yang berada di sektor dependent sangat tergantung pada sistem dan tidak mempunyai kekuatan penggerak yang besar. (c) Matriks driver power-dependence untuk elemen sektor masyarakat yang terpengaruh program.22 2123 24 25 9 8 7 6 9. 22 11 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 10 12 13 14 15 16 17 18 3. 23 22 21 1. Berdasarkan hasil analisis. Hal ini berarti faktor kunci dapat berubah menjadi sektor linkage apabila faktor-faktor yang lain mendukung subelemen tersebut. 11 2 1 0 Linkage Autonomus Dependent Gambar 40. 12.

setiap tindakan meningkatkan peranan sektor-sektor independent. Adapun hasil yang digunakan dalam model ISM adalah kajian dari pendapat pakar melalui wawancara mendalam seperti yang tertuang pada matriks interaksi tunggal terstruktur (structural self interaction matrix/SSIM) pada Lampiran 4. perguruan tinggi. Pakar yang terlibat dalam proses ini adalah pakar dari kalangan pemerintah. Tindakan meningkatkan peranan terhadap sektor-sektor tersebut akan menghasilkan terwujudnya program menuju sistem pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan. lembaga profesi. disusunlah struktur tolok ukur untuk menuju keberhasilan pengembangan kawasan permukiman yang terbagi atas lima elemen pada tolok ukur yang terdiri dari 16 subelemen kendala.4. sedangkan lemahnya perhatian terhadap sektor-sektor tersebut akan menyebabkan kegagalan program.2 Elemen Tolok Ukur dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Berdasarkan hasil kajian dan pendapat pakar.(independent). tidak terdapat faktor-faktor kunci yang berperan sebagai peubah linkage. legislatif. masyarakat. Dalam desain kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. tetapi dengan peningkatan peranan secara optimal dari faktor-faktor kunci seperti persepsi wilayah perbatasan merupakan wilayah dan pintu belakang negara (8) dan persepsi belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan akan berdampak terhadap peningkatan faktor-faktor kunci tersebut sebagai peubah linkage. Secara lengkap elemen tolok ukur dan subelemen kendala terlihat pada Tabel 18. pengalaman di bidang pengembangan kawasan permukiman. dan LSM yang terpilih berdasarkan pengetahuan. Berdasarkan hasil analisis. . pemerintah daerah. swasta. 4.

SDA. dan prasarana Partisipasi horison & vertikal pusat dan daerah Pendekatan pengelolaan wilayah perbatasan pada aspek keamanan. antarpemerintahan. dan prasarana wilayah Pengembangan kawasan khusus dengan pemanfaatan ruang spesifik sesuai dinamika wilayah perbatasan Pengelolaan SDA darat dan laut secara seimbang Peningkatan kesejahteraan masyarakat. sarana. lingkungan. dan kesejahteraan secara seimbang Sinergi/keterpaduan dan keseimbangan pembangunan berdasarkan potensi wilayah Peningkatan kerjasama pembangunan antar negara. budaya. dan pendapatan negara Pembangunan wilayah perbatasan melalui pengembangan permukiman sebagai pusat pertumbuhan baru sebagai dan embrio kegiatan ekonomi Penataan ruang wilayah Pembangunan infrastruktur. dan antar stakeholders di wilayah perbatasan Pembuatan kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan Penyusunan kebijakan tingkat makro dan mikro. pendapatan daerah. sarana. Elemen tolok ukur pengembangan kawasan permukiman perbatasan No Elemen (Tolok Ukur) 1 Otimalisasi pengelolaan SDA kawasan No 1 2 3 Sub elemen (Kendala) Penataan dan pembukaan isolasi serta ketertinggalan wilayah perbatasan Peningkatan kegiatan pengembangan pemukiman. sosial ekonomi. dan kelembagaan pendukung pusat pertumbuhan Penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan Evaluasi kegiatan untuk penganggaran dana pada kegiatan selanjutnya 4 5 2 Peningkatan pengembangan dan penataan kawasan permukiman 6 7 8 3 Pengembangan infrastruktur wilayah dan permukiman terpadu 9 10 11 4 Pengembangan kelembagaan 12 13 14 5 Alokasi dana untuk pengelolaan wilayah perbatasan 15 16 . investasi.Tabel 18.

00 1. penataan dan pembukaan isolasi serta ketertinggalan wilayah perbatasan. peningkatan kerja sama pembangunan antarnegara antarpemerintahan dan antar-stakeholders di wilayah . gambar tersebut menjelaskan pendapat para ahli tentang elemen tolok ukur dalam strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan. dan pendapatan negara) dan 15 (penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan). 9.00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Driver Power Elemen (Tolok Ukur) Gambar 41. Selain itu.00 8. nilai driver power elemen tolok ukur tertinggi pada subelemen 5 (peningkatan kesejahteraan masyarakat. linkage dan independent. Elemen tolok ukur tersebut diawali oleh peningkatan kesejahteraan masyarakat. kesejahteraan secara seimbang. prasarana dan sarana. pendekatan pengelolaan wilayah perbatasan pada aspek sosekbudhankam dan lingkungan.00 6.00 3. sedangkan yang memiliki nilai driver power terendah adalah 3 (pengembangan kawasan khusus dengan pemanfaatan ruang spesifik sesuai dinamika wilayah perbatasan). penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan. Peringkat elemen tolok ukur berdasarkan nilai driver power Berdasarkan Gambar 41 di atas.111 Gambaran dari masing-masing elemen tolok ukur mengenai peringkat berdasarkan nilai driver power yang ada disajikan pada Gambar 41.00 4. dependent.00 5. Berdasarkan Gambar 42. pembangunan infrastruktur.00 2. Analisis data ISM disajikan pada Lampiran 4.00 7. Interpretasi dalam bentuk hierarki disajikan pada Gambar 38 dan pada Gambar 39 subelemen dikelompokkan kedalam empat sektor yakni autonomous. pendapatan daerah. pendapatan daerah dan pendapatan negara.

antar pemerintahan. Hasil kajian subelemen pada analisis ISM berupa (a) Matriks reachability dan interpretasi dari elemen tolok ukur yang terpengaruh program. SDA dan kelembagaan pendukung pusat pertumbuhan Evaluasi kegiatan untuk penganggaran dana pada kegiatan Level 3 Peningkatan kegiatan pengembangan pemukiman. Level 1 Pengembangan kawasan khusus dengan pemanfaatan ruang spesifik sesuai dinamika wilayah Dependent Level 2 Pengelolaan SDA darat dan laut secara seimbang Partisipasi horison & vertikal pusat dan daerah Penyusunan kebijakan tingkat makro dan mikro. sarana dan prasarana Pendekatan pengelolaan Wilayah Perbatasan pada aspek sosekbudhankam dan lingkungan serta kesejahteraan secara seimbang Independent Peningkatan kerjasama pembangunan antar negara.perbatasan merupakan elemen tolok ukur tersebut. (b) Diagram model struktural ISM dari elemen tolok ukur yang terpengaruh program seperti disajikan pada Gambar 38. (c) Matriks driver power-dependence untuk elemen tolok ukur yang terpengaruh program. dan antar stakeholders di wilayah perbatasan Level 5 Peningkatan kesejahteraan masyarakat. investasi. sarana dan prasarana wilayah Pembangunan Wilayah Perbatasan Penataan ruang wilayah Sinergi dan keseimbangan pembangunan Linkage Pembuatan kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan Level 4 Penataan dan pembukaan isolasi serta ketertinggalan wilayah perbatasan Pembangunan infrastruktur. pendapatan daerah dan pendapatan negara Penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan Gambar 42. yang disajikan pada lampiran 4. Diagram hierarki dari subelemen tolok ukur dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara . disajikan pada Gambar 42.

dan LSM. 16 0 1 2 3 4 5 3 Autonomus Dependent Gambar 43. 9. Matriks DP-D untuk subelemen tolok ukur dalam pengembangan strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara 4.3 Komponen-komponen Dominan dalam Kebijakan Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Kabupaten Nunukan A. Departemen PU. 1 1 0 4 . lembaga profesi. Gambar 39 merupakan diagram hirarki AHP yang telah didiskusikan dan merupakan pendapat pakar melalui wawancara yang mendalam. 13 10 11 12 13 14 15 16 17 4. Departemen Dalam Negeri. . sedangkan lemahnya perhatian terhadap sektor-sektor tersebut akan menyebabkan kegagalan program. 12 13 12 11 10 9 8 6 7 7 8 9 6 5 4 3 2 1 0 Linkage 2. perguruan tinggi. Hasil Pembobotan pada Setiap Komponen Dalam menganalisis komponen yang dominan dalam kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan wilayah perbatasan negara di Kabupaten Nunukan. DPR RI. digunakan model AHP untuk memilih arahan kebijakan yang tepat dan penting dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan. 7. Independent 5. Menpera. masyarakat. 14. KLH. Setiap tindakan yang meningkatkan peranan dari sektor-sektor tersebut akan menghasilkan sukses program menuju sistem pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. pemda. 6. swasta. Pakar yang terlibat antara lain dari Bappenas. 15 17 16 15 1.113 Berdasarkan hasil analisis terdapat 6 faktor kunci prioritas penggerak elemen tolok ukur yang sangat memengaruhi program menuju strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yaitu subelemen-subelemen yang terletak pada sektor I (independent). 8.4. 11.

Level 2 adalah faktor yang terdiri atas kebijakan pemerintah.120 Pendanaan Pembangunan 0.087 Sasaran Strategi Pengembangan (Kawasan) 0.326 Peningkatan Kesejahteraan 0.116 Minimalisasi Konflik 0.337 Pemerintah Daerah 0.271 Prasarana dan Sarana 0.158 Pengembangan Prasarana Kawasan 0.133 Pakar 0. peningkatan kesejahteraan.091 BKM / LSM 0. dan sarana.191 Stakeholders Pemerintah 0.313 Pemulihan Ekosistem 0. swasta. dan kekuatan terhadap kebijakan-kebijakan pengembangan kawasan. tingkat pendapatan. masyarakat. pengembangan prasarana kawasan dan minimalisasi konflik. prasarana.150 Masyarakat 0. Level 3 adalah aktor terdiri atas pemerintah pusat. Level 4 adalah tujuan untuk pengembangan kawasan permukiman yang terdiri atas pengembangan dan penataan kawasan.Fokus Permukiman PerbatasanNegara Faktor Kebijakan Pemerintah 0. Diagram hierarki AHP pada pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara Hierarki AHP disusun dengan lima level yang memperlihatkan tahapan proses penetapan prioritas yang dimulai dari penetapan fokus pada level l yaitu fokus pada pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. pengaruh. dan BKM/LSM setempat. Aktor tersebut terkait dengan pengembangan kawasan permukiman dan masing-masing aktor mempunyai peran.130 Strategi Pengembangan (Pembiayaan) 0. pakar.418 Tingkat Pendapatan 0.068 Tujuan Pengembangan Dan Penataan Kawasan 0.246 Gambar 44. pengelolaan SDA dan ekosistem kawasan. Hasil pengisian kuesioner matriks perbandingan berpasangan yang disampaikan kepada .624 Strategi Pengembangan (Kelembagaan) 0. pemerintah daerah. Level 5 adalah sasaran yang terdiri atas strategi pengembangan kawasan. strategi pengembangan pembiayaan.222 Swasta 0. dan strategi pengembangan kelembagaan. pendanaan pembangunan.

Dalam kaitan dengan kebijakan pemerintah diperlukan kebijakan ekonomi yang meliputi intervensi pemerintah . Keterangan : KBPM = Kebijakan Pemerintah PDPB = Pendanaan Pembangunan PSSR = Prasarana dan Sarana TKPM = Tingkat Pendapatan Gambar 45. pemerintah daerah. Hasil analisis AHP pada setiap level dari heirarki desain pengembangan kawasan berkelanjutan. hasil analisis AHP yang merupakan faktor (level 2) kebijakan pemerintah dan pendanaan pembangunan menjadi prioritas utama dengan masing-masing bobot nilai adalah 0. Bobot dan prioritas yang dianalisis adalah hasil kombinasi (combined) dari pendapat para pakar pada setiap matriks berpasangan. B. kemudian diolah dengan perangkat lunak Expert Choice. Penyiapan perangkat kebijakan dan pendanaan pembangunan diperlukan guna pengembangan kawasan permukiman di tingkat kabupaten. Pembobotan Kriteria Faktor dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Perbatasan Negara Berkelanjutan Berdasarkan hasil dari pendapat pakar tersusun faktor-faktor yang menjadi pengaruh utama dalam pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan. dan BKM/LSM. kawasan pusat pertumbuhan maupun pada kawasan yang sangat terperinci di wilayah perbatasan negara.418 dan 0. Kebijakan pemerintah akan membantu membangun pusat-pusat pertumbuhan baru kegiatan ekonomi dan perdagangan. masyarakat.271. swasta. Urutan prioritas faktor dalam pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan Berdasarkan gambar 45. pakar perguruan tinggi.115 pakar dari kalangan pemerintah pusat. Gambar 45 menunjukkan urutan prioritas faktor-faktor tersebut.

Dalam kenyataannya. penciptaan kesempatan kerja. (Permenpera 1999). serta pembangunan permukiman yang kontributif terhadap rencana tata ruang. pemerataan pendapatan. Oleh karena itu. (4) Perilaku mengindikasikan kegiatan dari pelaku yang terlibat. Adapun. Aturan dalam teori hierarki. Kebijakan pengembangan permukiman di Indonesia tahun 2000—2020 antara lain pengembangan lokasi kawasan permukiman dengan memerhatikan jumlah penduduk dan penyebarannya. memahami tiap tingkat harus mempertimbangkan tingkat yang paling atas dan paling bawah sebagai perbandingan hubungan yang paling dekat. Memahami kecenderungan pertumbuhan kawasan perkotaan di wilayah perbatasan (pusat pertumbuhan baru) sangat terkait dengan 4 faktor: kebijakan. strategi yang ditempuh adalah partisipasi masyarakat. Lokasi permukiman perlu memperhatikan keserasian dengan lingkungannya. Hal tersebut dilakukan agar segenap tujuan pembangunan berkelanjutan ini dapat tercapai. Kuswara (2004) dalam kajiannya mengungkapkan bahwa permukiman merupakan tempat aktivitas yang memanfaatkan ruang terbesar dari kawasan budi daya. proses dan pola pertumbuhan.116 secara terarah. diperlukan upaya pengembangan perencanaan dan perancangan. kesehatan lingkungan. Pengelolaan pembangunan perumahan harus memperhatikan ketersediaan sumber daya pendukung serta keterpaduannya dengan aktivitas lain. (2) Pola pertumbuhan merupakan cerminan dapat dilihat secara langsung hasilnya. swasta. dan tersedianya fasilitas sosial dan umum. pola tata guna lahan. Konsekuensinya untuk memahami proses adalah harus melihat pola dan perilaku yang terkandung di dalamnya. Pola merupakan gambaran sementara dari proses dan perilaku merupakan sumber dari proses pengambilan keputusan (Cheng 1999). (3) Proses dapat mengindikasikan dinamika pertumbuhan kota. Hasilnya adalah model pola pentahapan dan proses penyusunan kebijakan. . dalam konteks hubungan antara tujuan sosial dan ekologi. dan pemberian stimulan bagi kegiatan pembangunan yang memerlukannya. LKM. dan LSM. (1) Kebijakan merupakan faktor paling penting untuk mengontrol pertumbuhan suatu kota pada skala makro. hal tersebut sering terabaikan sehingga tidak berfungsi secara optimal dalam mendukung suksesnya perkembangan suatu kawasan/kota. perilaku masyarakat. stakeholders.

Setelah lokasi kawasan permukiman ditentukan berdasarkan pilihan yang optimal. . Rencana tapak kawasan ini penting karena akan menentukan bentuk dan pola kawasan yang dapat menciptakan suatu kawasan permukiman yang tertata sehingga kemudahan dan kenyamanan para penghuni dapat tercipta serta dapat mempengaruhi perilaku penghuni di mana pun kawasan permukiman berada termasuk di wilayah perbatasan negara. C. Tantangan pengembangan kawasan permukiman yang akan datang antara lain (i) urbanisasi yang tumbuh cepat merupakan tantangan bagi pemerintah untuk berupaya agar pertumbuhan lebih merata. Hasil analisis AHP selanjutnya yang menjadi prioritas adalah peningkatan prasarana dan sarana dengan bobot nilai 0. Diharapkan program pembangunan yang menyeluruh dan terpadu dapat dilaksanakan di wilayah perbatasan negara Kabupaten Nunukan. di mana orientasi pembangunan terfokus pada kelompok masyarakat mampu serta menguntungkan. sehingga akan memberikan keuntungan kepada pemerintah dan mensejahterakan masyarakat di sekitar kawasan tersebut. dan perumahan.191 dan yang menjadi prioritas yang terakhir adalah tingkat pendapatan dengan bobot nilai 0. perlu dibuat rencana tapak kawasan (site planning) agar dalam jangka panjang perumahan tersebut tidak menimbulkan dampak negatif dalam arti luas. Adanya peningkatan prasarana dan sarana serta peningkatan tingkat pendapatan. (iv) masalah lingkungan dan eksploitasi sumberdaya alam. (ii) ketimpangan pelayanan infrastruktur. pelayanan perkotaan. Pembobotan Kriteria Stakeholder dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Perbatasan Negara Berkelanjutan Berdasarkan hasil dari pendapat pakar. (iii) marjinalisasi sektor lokal oleh sektor nasional dan global.117 Permasalahan perumahan saat ini menurut Kirmanto (2005) telah terjadi: (i) alokasi tanah dan tata ruang yang kurang tepat.120. dan (iv) kegagalan implementasi dan kebijakan penentuan lokasi perumahan (Kirmanto 2005). (iii) konflik kepentingan dalam penentuan lokasi perumahan. (ii) perkembangan tak terkendali di daerah yang memiliki potensi untuk tumbuh. tersusun stakeholder yang menjadi pengaruh utama dalam pengelolaan pengembangan kawasan permukiman tersebut perbatasan negara berkelanjutan. dan (v) komunitas lokal tersisih. Gambar 46 menunjukkan urutan prioritas stakeholder tersebut.

Hal tersebut disebabkan kenyataan di lapangan maupun pada tingkat kebijakan sangat ditentukan oleh pengaruh dan peran dari aktor pemerintah pusat dan pemerintah daerah sesuai dengan Undang-undang No. Oleh karena itu.118 Keterangan : PP = Pemerintah Pusat PD = Pemerintah Daerah ST = Swasta MY = Masyarakat PK = Pakar Gambar 46. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Urutan prioritas stakeholder dalam pengembangan permukiman perbatasan negara berkelanjutan kawasan Berdasarkan gambar 46 hasil analisis AHP yang merupakan stakeholder (level 3) menunjukkan bahwa pemerintah pusat dan daerah mempunyai peran utama dalam pengembangan kawasan permukiman. 32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah. pemerintah mempunyai kewenangan penuh untuk mendorong percepatan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan kabupaten Nunukan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN). 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) 2000-2004. dan UU No. 4 tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. Secara umum. Undang-Undang No. Pola penanganan tersebut dapat dijabarkan melalui penyusunan kebijakan dari tingkat makro sampai tingkat mikro .337 dan 0. pengembangan wilayah perbatasan memerlukan suatu pola atau kerangka penanganan yang menyeluruh meliputi berbagai sektor dan kegiatan pembangunan serta koordinasi dan kerjasama yang efektif dari mulai pemerintah pusat sampai ke tingkat kabupaten/kota.222. bobot nilai masing-masing stakeholder adalah 0. Undang-undang No. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah mempunyai tingkat kepentingan yang tinggi terhadap penetapan alternatif kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan.

Swasta mempunyai peran sebagai penggalian sumber dana untuk investasi pembangunan yang berkaitan dengan pengembangan kawasan permukiman. kehormatan.68. Keberadaan tanah ulayat secara sesungguhnya memiliki permasalahan secara administratif karena terkadang keberadaannya melintasi batas negara di dua wilayah negara. Hak-hak ulayat masyarakat perbatasan perlu diakui dan diatur keberadaannya.91 dan 0.dan disusun berdasarkan proses yang partisipatif baik secara horisontal di pusat maupun vertikal dengan pemerintah daerah. dan swasta atau dunia usaha berdasarkan prinsip kemitraan dan kerjasama.150. sedangkan jangkauan pelaksanaannya bersifat strategis sampai dengan operasional. implikasi positif terhadap meringankan beban pembiayaan pembangunan. Kedua stakeholder tersebut mempunyai peran dalam hal melakukan pemantauan dan pengawasan di lapangan terhadap sosial ekonomi masyarakat di sekitar wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan dan usaha-usaha penegakan hukum jika ada suatu pelanggaran dalam setiap kegiatan pembangunan. Stakeholder selanjutnya adalah pakar dan BKM/LSM masing-masing stakeholder tersebut mempunyai bobot nilai 0.133. Masyarakat berperan penting untuk menjaga wilayah perbatasan. seperti pernyataan Direktorat Jendral Pemberdayaan Sosial (2005) mengemukakan bahwa tanggung jawab sosial dunia usaha telah menjadi suatu kebutuhan yang dirasakan bersama antara pemerintah. tetapi sebaliknya perlu diakui dan diatur secara jelas. masyarakat. Pembangunan permukiman sangat penting dilakukan di wilayah perbatasan tersebut menyangkut keamanan. pemerintah dengan swasta. karena hak-hak ulayat ini secara tradisional menjadi aset penghidupan sehari-hari masyarakat tersebut. Walaupun demikian. Tanggung jawab sosial swasta di antaranya peningkatan kesejahteraan dapat memberikan masyarakat. Swasta merupakan salah satu stakeholder yang mempunyai peran terhadap pengembangan kawasan permukiman. Swasta memiliki bobot nilai sebanyak 0. keberadaanya tidak dapat dihapuskan. Stakeholder selanjutnya adalah masyarakat yang mempunyai bobot nilai 0. dan kesadaran masyarakat perbatasan akan identitas nasional. . memperkuat investasi dunia usaha sehingga dapat meningkatkan dan menguatkan jaringan kemitraan serta kerja sama antara masyarakat.

120 D. Urutan prioritas tujuan dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara Berdasarkan gambar 47 hasil analisis AHP yang merupakan tujuan (level 4) menunjukkan pengembangan dan penataan kawasan dan peningkatan kesejahteraan mendapat priotitas utama dalam kriteria tujuan dengan masingmasing bobot nilai 0.313. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) dan dalam Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. gambar 47 menunjukkan urutan prioritas tujuan tersebut. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman pada pasal 2 memuat penjelasan bahwa lingkup pengaturan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) yang . Amanat GBHN ini telah dijabarkan dalam Undang-Undang No. Pengembangan kawasan menjadi prioritas sesuai dengan GBHN 1999 tertinggal mengamanatkan yang harus bahwa wilayah perbatasan dalam merupakan kawasan mendapat prioritas pembangunan.326 dan 0. Penanganan pengembangan kawasan permukiman sesuai dengan UU No. Pembobotan Kriteria Tujuan dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Berdasarkan hasil dari pendapat pakar tersusun tujuan yang menjadi capaian utama. Keterangan : PPK = Pengembangan dan Penataan Kawasan PKS = Peningkatan Kesejahteraan PE = Pengembangan SDA dan Ekosistem Kawasan PRK = Pengembangan Prasarana Kawasan MK = Minimasi Konflik Gambar 47. mengamanatkan bahwa wilayah perbatasan negara sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) dan menyiapkan berbagai kebijakan dan langkah serta program pembangunan yang menyeluruh dan terpadu sehingga akan terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan.

578 26.840 163. serta dengan menggunakan asumsi bahwa setiap keluarga terdiri dari 5 orang.menyangkut pemugaran. perumahan perluasan.579 21. penataan perbaikan. Seiring meningkatnya jumlah penduduk. maka perkiraan kebutuhan minimum rumah pada tahun 2009 dan tahun 2014 berdasarkan tiap skenario dapat ditentukan seperti tertera pada Tabel 19. pemeliharaan.429 26. perbaikan.784 144. meliputi kegiatan pemeliharaan. Konsep penataan dan pengembangan permukiman di Indonesia berbeda dengan di Malaysia. kebutuhan permukiman sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia ikut meningkat pula. serta rendahnya kesejahteraan masyarakat.053 116. Keterbatasan pelayanan publik di wilayah perbatasan menyebabkan orientasi . Hal ini disebabkan sentralisasi pembangunan di masa lalu dan kecenderungan penggunaan pendekatan keamanan dalam pengelolaan wilayah perbatasan sehingga menyebabkan minimnya prasarana dan sarana wilayah. Kebutuhan rumah di Kabupaten Nunukan tahun 2009 dan 2014 Kawasan Perumahan Skenario Pesimis 2009 2014 Optimis 2009 2014 Ambisius 2009 2014 Sumber: Hasil Analisis Jumlah Penduduk 96. Berdasarkan asumsi pertumbuhan penduduk berdasarkan pada tiap-tiap skenario yang direncanakan. dan pemanfaataannya.171 239.110 Kemiskinan dan ketertinggalan masyarakat merupakan permasalahan utama di wilayah perbatasan. pemanfaatannya. Malaysia khususnya di wilayah perbatasan dengan Indonesia menggunakan pola cascade (ditarik ke dalam tidak linier di sepanjang jalan). Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari perkembangan permukiman berpola linier/ribbon development (Departemen PU 2002). dan Pengembangan pembangunan yang menyangkut penataan permukiman baru.640 20. Tabel 19.751 Kebutuhan Rumah (unit) 18.961 107. terbatasnya fasilitas umum dan sosial. Dalam mengembangkan kawasan permukiman.264 41. meliputi kegiatan pembangunan baru. peremajaan. perluasan.

Oleh karena itu. Pengelolaan SDA dan ekosistem wilayah sangat penting untuk dilaksanakan sehingga SDA dan wilayah tidak terdegradasi akibat adanya pembangunan di kawasan tersebut. Paradigma pengelolaan wilayah perbatasan pada masa lampau berbeda dengan pradigma saat ini. Pengelolaan wilayah perbatasan dengan pendekatan kesejahteraan (prosperity approach) sangat diperlukan untuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. diperlukan percepatan pembangunan di wilayah perbatasan dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan. kegiatan-kegiatan pembangunan perlu direncanakan secara terpadu berdasarkan pada pengelolaan secara optimal potensi-potensi SDA dan ekosistem wilayah. sosial. Di lain pihak. pengembangan wilayah perbatasan melalui pendekatan kesejahteraan sekaligus pendekatan keamanan secara serasi perlu dijadikan landasan dalam penyusunan berbagai program dan kegiatan di wilayah perbatasan pada masa yang akan datang. Oleh karena itu. Kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara mempunyai dampak langsung terhadap kualitas lingkungan seperti fakta adanya kawasan permukiman yang liar dan tidak tertata yang keberadaannya juga dapat mengganggu ekosistem air tanah. budaya. Prioritas selanjutnya adalah pengelolaan SDA dan ekosistem wilayah dengan bobot nilai 0. para pekerja . Untuk masyarakat sebagai warga negara dalam memperoleh pelayanan publik dan kesejahteraan sosial serta membuka keterisolasian wilayah. sedangkan saat ini kondisi keamanan regional relatif stabil sehingga pengembangan wilayah perbatasan perlu pula menekankan kepada aspek ekonomi.122 aktivitas memenuhi sosial-ekonomi hak-hak masyarakat ke wilayah negara tetangga. dan lingkungan.158. Pada masa lalu pengelolaan wilayah perbatasan lebih menekankan kepada aspek keamanan (security approach). Kebijakan pengembangan wilayah perbatasan negara ke depan adalah dengan peningkatan keberpihakan terhadap wilayah perbatasan sebagai daerah tertinggal dan terisolir dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan dan keamanan secara seimbang. dan mengejar ketertinggalan pembangunan dari wilayah negara tetangga. meningkatkan sumber pendapatan negara. masyarakat dan pekerja di wilayah perbatasan banyak kekurangan rumah sehingga untuk memenuhi kebutuhan rumah.

Hal ini didukung meningkatnya hubungan masyarakat perbatasan baik dari segi sosial-budaya maupun ekonomi. Oleh karena itu. Forum ini mengadakan pertemuan setahun sekali dengan pergantian tempat antara Indonesia dan Malaysia. antarnegara sangat diperlukan untuk meningkatkan investasi dan optimalisasi pemanfaatan SDA di wilayah perbatasan. setiap negara di saling tergantung satu sama lain.087 yang penting dilakukan agar tidak terjadi konflik di wilayah perbatasan antara masyarakat dengan masyarakat negara tetangga.menyewa tempat tinggal dengan tarif setengah dari gajinya. Permasalahan perbatasan yang ada saat ini terjadi pada sembilan titik. Selain itu kerja sama. subregional. maupun regional diharapkan dapat menciptakan keterbukaan dan saling pengertian sehingga dapat menghindari terjadinya konflik perbatasan. Prioritas terakhir adalah minimalisasi konflik dengan bobot nilai 0. Hal ini dapat mendatangkan keuntungan bagi pemerintah daerah maupun masyarakat. Di era globalisasi seperti saat ini. Kelembagaan untuk menyelesaikan masalah-masalah perbatasan RI - Malaysia yang ada saat ini adalah General Border Committee (GBC) yang diketuai oleh Panglima TNI.116 yang sangat penting dilakukan untuk pengembangan potensi ekonomi dan sumber daya alam di kawasan tersebut. Peningkatan kerja sama bilateral. sosial-budaya. Prioritas selanjutnya yaitu pengembangan prasarana dan sarana dengan bobot nilai 0. yaitu masalah (1) Tanjung Datu. masyarakat dengan pemerintah daerah. Adanya saling ketergantungan dalam masyarakat internasional berpengaruh dalam bidang-bidang ideologi. subregional. (3) . maupun regional dalam berbagai bidang pengelolaan perbatasan tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan internasional maupun regional. ekonomi. dan pertahanan keamananan. serta untuk menanggulangi berbagai permasalahan hukum yang terjadi di wilayah perbatasan. (2) Batu Aum. maka gajinya akan lebih besar untuk kebutuhan kesejahteraan sehingga etos kerja para pekerja akan semakin meningkat (Gilbreath 2002). Apabila para pekerja dapat dipenuhi kebutuhan rumahanya oleh para stakeholders terkait. politik. Permasalahan ini sangat kompleks dan menyangkut kepastian hukum wilayah NKRI atau Malaysia. peningkatan kerja sama dengan negara tetangga baik secara bilateral. dan masyarakat dengan pemerintah provinsi/pusat.

(4) Sungai Sinapad. Hal tersebut disebabkan adanya dukungan ketersediaan infrastruktur dasar yang memadai untuk dilakukan pengembangan wilayah . (7) Sungai Buan. Urutan prioritas sasaran dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara Berdasarkan gambar 48 hasil analisis AHP yang merupakan sasaran (level 5) menunjukkan strategi pengembangan kawasan menjadi prioritas utama dengan bobot nilai 0. E. dan (9) Pulau Sebatik. Gambar 48 menunjukkan urutan prioritas sasaran tersebut. Keterangan : SPKW = Strategi Pengembangan Kawasan SPPM = Strategi Pengembangan Pembiayaan SPKL = Strategi Pengembangan Kelembagaan Gambar 48. (8) Gunung Raya. Kerja sama di bidang sosial-ekonomi daerah perbatasan Malaysia (Sarawak dan Sabah) dengan Indonesia (Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur) yang disebut Sosek Malindo telah dilengkapi dengan kelompok kerja (KK).Semilau. Pembobotan Kriteria Sasaran dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Perbatasan Negara Berkelanjutan Hasil dari pendapat pakar tersusun sasaran yang menjadi prioritas utama dalam keberhasilan pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan. (c) melaksanakan pertukaran informasi mengenai proyekproyek pembangunan sosial-ekonomi di wilayah perbatasan bersama.624. (b) merumuskan hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan pembangunan sosial ekonomi di wilayah perbatasan. (5) Sungai Semantipal. Sosek Malindo di tingkat provinsi/negeri ditujukan untuk (a) menentukan proyekproyek pembangunan sosial ekonomi yang digunakan bersama. (6) Nanga Badau. dan (d) menyampaikan laporan kepada KK Sosek Malindo tingkat pusat mengenai pelaksanaan kerja sama pembangunan sosial-ekonomi di daerah perbatasan.

pembangunan wilayah perbatasan merupakan wilayah perbatasan dikembangkan dengan mengubah arah kebijakan pembangunan yang selama ini cenderung berorientasi inward looking menjadi outward looking. Prioritas yang terakhir adalah strategi pengembangan kelembagaan dengan bobot nilai 0. a.246. peningkatan kelengkapan lingkungan (neighbourhood peningkatan investasi publik. Pengembangan wilayah perbatasan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi strategis dengan pemanfaatan sumberdaya alam setempat.125 perbatasan di Kabupaten Nunukan. Penetapan fungsi lembaga pengelola wilayah perbatasan sesuai dengan kapasitas. kawasan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pintu gerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga.130. . Adapun program pembangunan berupa penyusunan rencana pengembangan wilayah perbatasan dengan program kegiatan sebagai berikut: Penetapan arah kebijakan pembangunan wilayah perbatasan dengan orientasi mendukung pergerakan aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga. Dengan demikian. pembentukan pengelolaan community-based permukiman organization (CBO). Prioritas kedua yaitu pengembangan pembiayaan dengan bobot nilai 0. Peningkatan sarana dan prasarana pendukung terhadap aktivitas sosial ekonomi masyarakat setempat serta guna membantu pengamanan kawasan perbatasan. Hal tersebut disebabkan adanya dukungan perencanaan tata ruang yang partisipatif. bantuan teknis pengembangan desain rumah dan lingkungan. sosialisasi dan program advokasi berkelanjutan. Strategi Pengembangan Kawasan Arah pembangunan jangka panjang nasional yang berkaitan dengan attachment). Peningkatan kualitas sumber daya manusia agar lebih berpotensi dan profesional. Hal tersebut didukung oleh adanya dukungan pembiayaan dari pemerintah untuk melakukan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan. pelembagaan aktivitas sosialkultural. Penetapan garis batas negara secara jelas dan benar.

Rencana Strategi Daerah Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2003--2008. baik yang menuju Indonesia maupun Malaysia untuk memudahkan pemasaran hasil-hasil bumi setempat. perbatasan. Pembukaan sarana dan prasarana perintis dan air strip yang sudah ada di daerah perbatasan dan bantuan subsidi penerbangan ke daerah perbatasan. Bagian dokumen perencanaan daerah ini yang memuat salah satu prioritas pembangunan daerah perbatasan dengan program prioritas: Pembangunan sarana dan prasarana jalan darat yang menghubungkan pusat pusat pertumbuhan ekonomi di daerah kota dan pantai dengan wilayah di perbatasan termasuk jalan tembus menuju ke daerah Malaysia.126 Arah kebijakan pemanfaatan ruang di wilayah perbatasan Provinsi Kalimantan Timur adalah: Perlu dibuka jalur transportasi yang menghubungkan wilayah perbatasan dengan daerah-daerah lainnya. Pengawasan sumber daya alam di daerah perbatasan dan pencurian oleh pihak-pihak yang kurang bartanggung jawab serta pengawasan pemindahan patok-patok batas negara di perbatasan Indonesia dengan Malaysia. Mengoptimalkan pemanfaatan pendapatan yang berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui dengan prinsip pembangunan yang berkelanjutan. Pengembangan potensi ekonomi yang tersedia di daerah perbatasan melalui . wilayah yang terisolasi. Meningkatkan investasi dan peran wisata untuk mendorong penguatan ekonomi rakyat. dan kawasan tertinggal lainnya. wilayah pedesaan. Mengembangkan antarwilayah dan menyerasikan laju pertumbuhan antarsektor pembangunan ekonomi. Perlu dibangun pelabuhan laut yang khusus melayani arus keluar-masuk barang dari Indonesia di Wilayah Nunukan Kepulauan. Mempercepat tercapainya kemandirian masyarakat dan pemerintah Kabupaten Nunukan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Perlu dibuka pos-pos imigrasi di wilayah perbatasan untuk melegalkan arus barang yang masuk dan keluar dari wilayah Indonesia. serta kecamatan. membuka wilayah pedalaman.

dana alokasi umum (DAU). dan Ambalat Timur terulang dengan kembali Serawak di daerah (Malaysia). pelayanan. yang mengandung makna pendanaan mengikuti fungsi pemerintahan yang menjadi tanggung jawab masing-masing tingkat pemerintahan. b. Peningkatan kerja sama sosial-ekonomi antara pemerintah dan masyarakat perbatasan antarkedua negara malalui payung kerja sama-SOSEK MALINDO dan kerja sama bidang lainnya yang saling menguntungkan kedua belah pihak. kondisi. dan transparan dengan memperhatikan potensi. serta pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah dan pemerintahan daerah diatur secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang.127 pola agribisnis dan agroindustri dengan tujuan ekspor ke negara tetangga. Legitan. daerah Pinjaman daratan perbatasan Kalimantan Sumber-sumber terdiri Daerah atas dan pendanaan/pembiayaan pendapatan Asli pelaksanaan Dana pemerintahan Perimbangan. Studi pengembangan Kawasan Strategis Nasional perbatasan Provinsi Kalimantan Timur yang menyangkut pula pemerintahan 4 kabupaten merupakan masalah nasional yang perlu mendapat perhatian khusus. Perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah mencakup pembagian keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah secara proporsional. Pendanaan atau pembiayaan tersebut menganut prinsip "Money Follow's Function". atau yang ditugaskan dan/atau desa dalam rangka tugas pembantuan. Daerah. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah dimaksudkan untuk mendukung penyerahan urusan kepada pemerintahan daerah yang diatur dalam Undang-Undang No. kebutuhan. demokratis. keuangan pusat yang dikonsentrasikan kepada gubernur. adil. dan dana . pendapatan lain yang syah. serta permasalahan daerah. Strategi Pengembangan Pembiayaan Pada pasal 18 A ayat (2) UUD Negara Republik Indonesia 1945 mengamanatkan agar hubungan keuangan. Jangan sampai kasus Sepadan. Wilayah perbatasan berkaitan dengan pemerintah pusat sehingga pendanaan pembangunan wilayah perbatasan juga dapat bersumber dari RAPBN. Dana perimbangan merupakan pendanaan daerah yang bersumber dari APBN yang terdiri dari dana bagi hasil (DBH). UndangUndang No.

Sumber dana/biaya dan kekayaan sumber daya alam yang ada di Provinsi Kalimantan Timur dan keempat kabupaten yang termasuk wilayah perbatasan cukup besar apabila dana tersebut dapat dimanfaatkan dengan kebijakan. perencanaan. kecuali urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintah pusat. badan/lembaga internasional dalam bentuk devisa/rupiah.128 alokasi khusus (DAK). pelaksanaan. dan pengawasan yang baik. Dana alokasi khusus (DAK) digunakan untuk membantu membiayai kegiatan-kegiatan khusus di daerah tertentu yang menjadi prioritas nasional karena membangun wilayah perbatasan merupakan masalah daerah dan masalah nasional. Dana bagi hasil (DBH) diatur dalam Undang-Undang No. Strategi Pengembangan Kelembagaan Pengembangan strategi nasional perbatasan Provinsi Kalimantan Timur berkaitan dengan Kabupaten Nunukan sehingga sesuai dengan amanat Undangundang No. terdapat sumber-sumber pembiayaan lain yaitu pinjaman daerah yang digunakan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan pelayanan masyarakat. Dana alokasi umum (DAU) digunakan untuk pemerataan kemampuan keuangan antardaerah melalui penerapan formula yang mempertimbangkan kebutuhan dana potensi daerah. Dana perimbangan ini digunakan untuk membantu daerah dalam mendanai kewenangannya untuk menghindari ketimpangan sumber pendanaan pemerintahan antara pusat dan pemerintahan daerah. bentuk barang dan jasa. c. Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. 7 Tahun 2000 dan pada pasal 21 sektor pertambangan. Dalam Undang-Undang No. termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang tidak perlu dibayar lagi. badan/lembaga asing. dan termasuk dana reboisasi. 33 Tahun 2004 juga mengatur hibah yang berasal dari pemerintah negara asing. panas bumi sesuai dengan undang-undang No. Wilayah perbatasan berkaitan dengan empat kabupaten sehingga ada peluang peningkatan DAU untuk membangun wilayah perbatasan. Selain itu. Dalam . Sumber dana yang lain yaitu dana dekonsentrasi yang bertujuan untuk menjamin tersedianya dana untuk pelaksanaan kewenangan pemerintah yang dilimpahkan pada gubernur sebagai wakil pemerintah. 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi.

Urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah yaitu urusan dalam bidang politik luar negeri. Kriteria eksternalitas didasarkan atas pemikiran bahwa tingkat pemerintahan yang berwenang atas suatu urusan pemerintahan ditentukan oleh jangkauan dampak yang diakibatkan dari penyelenggaraan urusan pemerintahan. dan efisien. yustisi dan agama. Penyelenggaraan desentralisasi memberikan syarat terhadap pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Urusan pemerintah terdiri dari urusan pemerintahan yang dikelola secara bersama antartingkatan dan susunan pemerintah atau konkuren. Dalam setiap bidang urusan pemerintahan yang bersifat konkuren terdapat bagian urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat. pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten. moneter dan fiskal nasional. Pembagian urusan pemerintahan yang bersifat konkuren harus proporsional antara pemerintah. pemerintah daerah propinsi. akuntabilitas. pemerintah daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas perbantuan. Kriteria efisiensi didasarkan pada penyelenggaraan urusan pemerintahan harus ekonomis. ditetapkan kriteria pembagian urusan pemerintahan yang meliputi eksternalitas. Penggunaan ketiga kriteria tersebut diterapkan secara kumulatif sebagai satu kesatuan dengan mempertimbangkan keserasian dan keadilan hubungan antarkegiatan dan susunan pemerintahan.Hal ini sesuai dengan prinsip demokrasi yang mendorong akuntanbilitas pemerintah kepada rakyat. pertahanan keamanan. Kriteria tersebut yaitu tingkat pemerintah yang paling berwenang menyelenggarakan urusan pemerintahan tersebut adalah yang paling dekat dari dampak yang timbul. Untuk mencegah teradinya tumpang tindih pengakuan atau klaim atas dampak maka ditentukan kriteria akuntanbilitas. Seluruh tingkat pemerintahan wajib mengedepankan pencapaian efisiensi dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya dalam . Urusan pemerintahan yang dapat dikelola secara bersama antartingkatan dan susunan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi urusan pemerintah pusat.129 menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah tersebut. dan pemerintah daerah kabupaten/kota. Oleh karena itu.

Ketiga kriteria ini dapat disinergikan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan demokratisasi sebagai esensi dasar dari kebijakan desentralisasi.130 menghadapi globalisasi. kesehatan. Ketentuan tersebut meliputi penentuan struktur organisasi perangkat daerah. maka urusan wajib dan pilihan yang diselenggarakan oleh daerah harus dituangkan ke dalam peraturan daerah yang menjadi acuan dalam penentuan penyelenggaraan pemerintah daerah. Agar pelaksanaan urusan pemerintahan yang bersifat wajib dan pilihan memiliki payung hukum yang kuat. kependudukan dan sebagainya. Keterbatasan sumber daya dan sumber dana yang dimiliki oleh daerah membuat prioritas penyelenggaraan urusan pemerintahan harus difokuskan pada urusan wajib dan urusan pilihan yang benar-benar mengarah pada penciptaan kesejahteraan masyarakat. dan kriteria tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk menilai kemampuan apakah suatu urusan . Urusan pemerintahan yang bersifat pilihan yaitu urusan pemerintahan yang diprioritaskan oleh pemerintahan daerah yang terkait dengan upaya pengembangan potensi unggulan (core competence). Hal ini menjadi kewenangan pemerintah yang bersangkutan sesuai dengan dasar prinsip penyelenggaraan urusan sisa. Penerapan kriteria eksternalitas. personil. prosedur. Pemerintah berkewajiban menyusun norma. Urusan pemerintahan wajib adalah urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang terkait dengan pelayanan dasar (basic services) bagi masyarakat. Pedoman yang memuat norma. dan kekhasan daerah yang bersangkutan. akuntanbilitas. standar. perhubungan. Urusan kewenangan daerah terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. Hal ini tentu harus disesuaikan dengan kondisi. prosedur. lingkungan hidup. dan kriteria yang dijadikan pedoman dalam mengatur hubungan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dan antara pemerintah daerah provinsi dengan pemerintah daerah kabupaten/kota. Urusan pemerintahan di luar urusan wajib dan urusan pilihan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang bersangkutan tetap harus diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang bersangkutan. dan anggaran. serta semangat ekonomis diwujudkan melalui kriteria efisiensi. potensi. tiap tingkat pemerintahan harus melaksanakan urusan pemerintahan berdasarkan kriteria pembagian urusan pemerintahan. standar. Di luar urusan pemerintahan yang bersifat wajib dan pilihan. seperti pendidikan dasar.

Pemberdayaan pemerintah daerah sangat penting dilakukan untuk meningkatkan kapasitas daerah sehingga mampu memenuhi norma. penataan hubungan kerja baik secara horisontal maupun secara vertikal. dan kriteria yang dipersyaratkan untuk penyelenggaraan urusan pemerintahan. prosedur. dan kriteria wajib dalam mengikutsertakan pemangku kepentingan (stakeholders) terkait termasuk pemerintahan daerah. standar. peningkatan kapasitas dan fungsi kelembagaan dalam pengelolaan perbatasan dilakukan melalui optimalisasi fungsi dan peran kelembagaan antarinstansi pemerintah. tugas pembantuan dapat dimanfaatkan sebagai instrumen peningkatan kemampuan pemerintah daerah sebelum urusan pemerintahan tersebut benar-benar diserahkan kepada daerah yang bersangkutan. Selain itu. standar. prosedur. departemen/LPND bertanggung jawab menyusun norma. prosedur. peningkatan koordinasi. Berdasarkan hal tersebut. dan konsultasi antarlembaga. Urusan pemerintah yang ditugaskan kepada pemerintah daerah didasarkan pada asas tugas pembantuan yang secara bertahap dapat diserahkan kepada urusan pemerintah daerah yang bersangkutan. Urusan pemerintahan ini diserahkan apabila pemerintah daerah benar-benar telah menunjukkan kemampuan untuk memenuhi norma. standar. standar. dan kriteria sebagai prasyarat penyelenggaraan urusan pemerintah yang efisien sesuai dengan kewenangannya. Bagi pemerintahan daerah yang belum memenuhi norma. kewenangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan tersebut dapat ditunda sampai dengan pemerintahan daerah yang bersangkutan mampu memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh pemerintah. dan kriteria yang ditentukan. Untuk melaksanakan urusan pemerintah yang belum mampu dilaksanakan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota dilimpahkan kepada gubernur selaku wakil pemerintah dilaksanakan pusat. Oleh karena itu. prosedur. oleh Pelaksanaan pemerintah urusan daerah pemerintah provinsi yang belum mampu kepada dilimpahkan departemen/LPND yang membidangi urusan pemerintahan tersebut. Dengan demikian.pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah mampu diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang bersangkutan. peningkatan juga dilakukan melalui pengembangan database informasi wilayah perbatasan yang dapat dijadikan acuan bersama oleh seluruh .

Dalam hal ini.4. Perkiraan kondisi (state) dipengaruhi potensi hubungan antarkomponen terkait untuk penyusunan kebijakan dan strategi pengembangan kawasan (Cadenasso 2003). koordinasi yang intensif. diketahui tiga masalah yang paling berpengaruh terhadap strategi dan rekomendasi kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. Sistem yang belum berkelanjutan menyebabkan perlunya perumusan berbagai strategi dan rekomendasi kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. antara lain (1) Strategi Pengembangan Kawasan. Berdasarkan hasil AHP.4 Rekomendasi Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara 4. (2) Strategi Pengembangan Pembiayaan. tata hubungan yang jelas. serta tingkat pengetahuan dan persepsi yang sama. kebijakan dan peraturan-peraturan antara pemerintah pusat dan daerah. dan (3) Strategi Pengembangan Kelembagaan. hal yang harus dilakukan yaitu kombinasi antarkondisi masalah dengan membuang kombinasi yang tidak sesuai (incompatible).4. Penyusunan Strategi Pengembangan Kawasan Interpretasi kondisi masalah dalam peubah skenario dilakukan melalui keterkaitan strategi yang disusun dalam suatu skenario. Dari kombinasi antarkondisi masalah didapatkan dua skenario yaitu (1) Strategi optimis dan (2) Strategi pesimis. a. sistem yang ada saat ini masih belum berkelanjutan. Perkiraan permasalahan pengembangan kawasan pada kondisi di masa yang akan datang disajikan pada tabel 20.1 Penyusunan Strategi Pengembangan Berdasarkan hasil analisis keterkaitan dan kinerja pengembangan kawasaan permukiman menunjukkan. Pemahaman yang baik terhadap fungsi dan peran.4. diharapkan dapat menyelaraskan berbagai kewenangan. disusun analisis kebijakan yang dilakukan melalui tiga kajian strategi pilihan.stakeholder terkait. beberapa perubahan dilakukan pada peubah tertentu sehingga strategi yang bersangkutan dapat disimulasikan. . Berdasarkan dominasi responden mengenai kondisi masalah di masa yang akan datang. 4. Dari analisis tersebut.

dan melibatkan sektor swasta 1C Meningkat. Perkiraan responden mengenai permasalahan pengembangan kawasan pada kondisi masa yang akan datang No 1 Masalah 5 Kesadaran masyarakat akan identitas nasional 7A Menurun. Terbatasnya fasos dan fasum 15C Meningkat.Tabel 20. Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan 1A Menurun. karena SDA dikelola kurang optimal dan kondisi perekonomian dan pemerataan pembangunan menurun 15A Menurun. karena kawasan perumahan dan permukiman di wilayah perbatasan tidak didukung pembangunan infrastruktur lingkungan yang terpadu dengan infrastruktur primer kota 4A Menurun. karena pembangunan tidak terkoordinasi dengan baik 4C Meningkat. karena Kondisi letak geografis kurang mendukung untuk peningkatan kerjasama luar negeri antar negara 14B Tetap. karena pemerintah melakukan pembangunan sosial ekonomi. karena masyarakat tidak peduli dengan pemanfaatan lahan. karena kurang perhatian pemerintah terhadap wilayah perbatasan 5 14. Kesejahteraan Masyarakat 4B Tetap. karena banyak pengusahaan lahan di lakukan segelintir masyarakat (spekulan tanah) 15B Tetap. dan ada sosialisasi yang baik dari pemerintah tentang pemanfaatan lahan yang baik 14C Meningkat. hanya sedikit penjelasan 4 15. karena pembangunan terarah dan terencana 3 1. karena pemerintah menganggap bahwa pembangunan sosial ekonomi wilayah perbatasan tidak penting Keadaan (State) 7B Tetap. karena tidak ada sosialisasi yang baik.Minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman 14A Menurun. karena pengadaan infrastruktur wilayah perbatasan dilakukan seadanya 7C Meningkat. karena pembangunan fasos dan fasum di wilayah perbatasan mulai dilakukan oleh instansi terkait. yang penting aman dan tidak diakui oleh pihak lain 1B Tetap. karena adanya pembangunan yang tetap berjalan namun dalam jumlah yang masih minim . melakukan koordinasi. karena pembangunan infrastruktur mendukung pertumbuhan kawasan 2 4.

6 6. Kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga

6A Menurun, karena pembangunan belum merata di segala bidang

6B Tetap, karena ada perhatian pemerintah akan pentingnya wilayah perbatasan, namun implementasinya belum dilakukan

6C Meningkat, karena karena pembangunan yang dilakukan di wilayah perbatasan negara tetangga lebih intens dan lebih fokus pada upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat

Tabel 21 . Strategi dan kombinasi kondisi faktor pengembangan kawasan No. Strategi 1. Skenario 1 2. Skenario 2 Kombinasi Kondisi Faktor 7A/4A/1A/15A/14A/6A 7C/4B/1C/15C/14C/6C

Skenario satu dibangun berdasarkan keadaan faktor kunci dengan kondisi pengembangan kawasan yakni kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional (7A) karena kawasan perumahan dan permukiman di wilayah perbatasan tidak didukung pembangunan infrastruktur yang terpadu dengan infrastruktur primer kota. Selain itu, pengadaan infrastruktur wilayah perbatasan dilakukan seadanya. Rendahnya kesejahteraan masyarakat (4A) karena pemerintah

menganggap bahwa pembangunan sosial-ekonomi wilayah perbatasan tidak penting dan pembangunan tidak terkoordinasi dengan baik. Kesenjangan

pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1A) karena SDA dikelola kurang optimal, kondisi perekonomian dan pemerataan pembangunan tidak merata, serta banyak pengelolaan lahan dilakukan segelintir masyarakat (spekulan tanah). Terbatasnya fasos dan fasum (15A) karena masyarakat tidak peduli dengan pemanfaatan lahan. Dalam pemanfaatan lahan bagi masyarakat yang penting adalah keamanan dan lahan tersebut tidak diakui pihak lain. Hal ini terjadi karena tidak ada sosialisasi yang baik dari pemda mengenai pentingnya pemanfaatan lahan. Kurangnya infrastruktur kawasan dan permukiman (14A) karena letak geografis tidak mendukung peningkatan kerja sama luar negeri antarnegara sehingga perlu adanya pembangunan infrastruktur dan permukiman. Kondisi sosial dan ekonomi negara tetangga lebih baik (6A) karena pemerintah memperhatikan perbatasan. pembangunan di segala bidang dan pentingnya wilayah

Skenario dua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan kawasan yaitu, meningkatnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional (7C). Kesadaran masyarakat akan identitas sosial meningkat karena kawasan perumahan dan permukiman di wilayah perbatasan didukung pembangunan infrastruktur yang terpadu dengan infrastruktur primer kota secara bertahap dan terencana. Kesejahteraan masyarakat relatif tetap (4B) karena pemerintah melihat tingkat kesejahteraan di wilayah perbatasan cukup baik sehingga tidak menjadi prioritas utama. Menurunnya kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1C) karena SDA dikelola dengan sangat baik. Bukan hanya itu, kondisi perekonomian dan pemerataan

pembangunan juga meningkat serta meningkatnya pembangunan fasos dan fasum (15C) karena masyarakat mengoptimalkan pemanfaatan lahan sesuai dengan peruntukannya dan berkoordinasi dengan pemda. Kondisi sosial dan ekonomi di negara tetangga lebih baik (6C) karena pembangunan di wilayah perbatasan lebih difokuskan pada aspek peningkatan keamanan melalui law enforcement, dengan pembangunan perbatasan. b. Penyusunan Strategi Pengembangan Pembiayaan Strategi yang disusun dalam skenario dikaitkan melalui interpretasi kondisi masalah ke dalam peubah skenario. Beberapa perubahan dilakukan pada peubah tertentu di dalam skenario sehingga strategi yang bersangkutan dapat sosial-ekonomi disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat

disimulasikan. Berikut ini perkiraan permasalahan pengembangan pembiayaan pada kondisi di masa yang akan datang. Tabel 22. Perkiraan responden mengenai permasalahan pengembangan

pembiayaan pada kondisi masa yang akan datang
No 1 Masalah 23.Terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan Keadaan (State) 23A 23B Menurun, karena kondisi sharing Tetap, karena pendanaan pusat, provinsi, kota kondisi sharing meningkat, alokasi dana khusus pendanaan untuk pengembangan dan pusat, provinsi, pengelolaan kawasan kota dari tahun permukiman perbatasan ke tahun tidak meningkat seiring kebijakan mengalami prioritas pembangunan di peningkatan wilayah perbatasan 23C Meningkat, karena menganggap pembangunan permukiman wilayah perbatasan tidak penting,

2 17. Terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan perkim

17A Menurun, karena keberpihakan dan perhatian pemerintah terhadap pembangunan kawasan semakin besar, adanya kesadaran bahwa pembangunan wilayah sangat penting

17B Tetap, karena pendekatan diproyeksikan dan tidak transparan

17C Meningkat, karena pemerintah menganggap bahwa pembangunan di wilayah perbatasan kurang penting 24C Meningkat, karena tidak adanya pengendalian terhadap pengelolaan dana pembangunan, adanya anggapan bahwa perbatasan hanya sekedar batas

3 24. Pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal

24A Menurun, karena kondisi aturan tentang tatacara penggunaan anggaran akan jelas ditingkatkan

24B Tetap, karena sudah ada perhatian pada infrastruktur dan permukiman

Tabel 23 . Strategi dan kombinasi kondisi faktor pengembangan pembiayaan No. Strategi 1. Skenario 1 2. Skenario 2 Kombinasi Kondisi Faktor 23A/17A/24A 23C/17B/24C

Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan pembiayaan karena terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23A). Hal ini dilakukan karena kondisi sharing pendanaan pusat, provinsi, kabupaten/kota tidak seimbang. Dana alokasi khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan

permukiman perbatasan meningkat seiring kebijakan prioritas pembangunan di wilayah perbatasan. Pendanaan dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota dari tahun ke tahun juga mengalami peningkatan. Dana untuk pengembangan, pengelolaan infrastruktur, dan perkim (17A) berkurang karena keberpihakan dan perhatian pemerintah terhadap pembangunan wilayah perbatasan masih rendah. Rendahnya pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan (24A) terjadi karena kondisi pengatuaran tata cara penggunaan anggaran belum jelas sehingga perlu adnay peningkatan kinerja agar penggunaan dana pembangunan dapat optimal. Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan pembiayaan yaitu meningkatnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23C)

Alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan meningkat seiring kebijakan prioritas pembangunan di wilayah perbatasan. c. Pendanaan untuk pengembangan serta pengelolaan infrastruktur dan permukiman tetap (17B) karena keberpihakan dan perhatian pemerintah terhadap pembangunan kawasan semakin besar. Penegakan hukum dan peraturan 3 5. kabupaten/kota meningkat. karena pembangunan belum diimbangi dengan peningkatan terhadap pelayanan publik 20A Menurun.karena wilayah perbatasan hanya menjadi pintu belakang menjadi penting 20C Meningkat. Pelayanan publik 16A Menurun. karena Pemda membiarkan infrastruktur permukiman apa adanya 5C Meningkat. Aktivitas sosial ekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga 5B Tetap. Penyusunan Strategi Pengembangan Kelembagaan Strategi pengembangan kelembagaan yang disusun dalam skenario dilakukan dengan menginterpretasikan kondisi masalah ke dalam peubah skenario. dilakukan beberapa perubahan pada peubah tertentu di dalam skenario sehingga strategi yang bersangkutan dapat disimulasikan. Dalam hal ini. karena kondisi pembiayaan sudah optimal melalui lembaga pemerintah/swasta Keadaan (State) 16B Tetap. karena tidak ada terobosan berarti dalam upaya penegakan hukum 16C Meningkat. seperti belum optimalnya pemanfaatan serta pengelolaan dana pembangunan infrastruktur dan permukiman kondisinya tetap (24B) atau belum meningkat. karena Law enforcement meningkat 2 20. provinsi. Berikut ini perkiraan permasalahan pengembangan kelembagaan pada kondisi di masa yang akan datang. tetapi belum dilakukan secara baik. Perkiraan responden mengenai permasalahan pengembangan kelembagaan pada kondisi masa yang akan datang No 1 Masalah 16.karena kondisi sharing pendanaan pusat.karena rencana pemda asal jadi tanpa pemikiran matang.dibukanya beberapa pintu . Ini terlihat oleh banyaknya pelanggaranpelanggaran yang tidak menjalani proses hukum 5A Menurun. karena penegakan hukum dan peraturan masih lemah dan cenderung menurun. Tabel 24. karena pemerintah menganggap kebijakan dan pedoman tidak diperlukan 20B Tetap.

Aktivitas sosial-ekonomi masyarakat dengan wilayah negara tetangga berkurang (5C) karena kondisi pembiayaan pembangunan di wilayah perbatasan meningkat melalui lembaga pemerintah/swasta. pelayanan publik tetap (16B) karena pembangunan tidak diimbangi dengan peningkatan terhadap pelayanan publik. Skenario 1 2. pembangunan SDA di sektor perkebunan.No Masalah 16A Keadaan (State) 16B 16C penyeberangan antar wilayah. Aktivitas sosial-ekonomi masyarakat rendah (5A) karena kondisi pembiayaan melalui lembaga pemerintah/swasta masih rendah. Kondisi ini terlihat dari banyaknya pelanggaran yang tidak diproses secara hukum dan tidak ada terobosan berarti dalam upaya penegakkan hukum. pertambangan dan pertanian belum dapat menyerap tenaga lokal dan menjadi kegiatan penunjang perkembangan wilayah perbatasan Tabel 25. Skenario 2 Kombinasi Kondisi Faktor 16A/20A/5A 16B/20C/5C Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan faktor kunci dengan kondisi pengembangan kelembagaan. Strategi dan kombinasi kondisi faktor pengembangan kelembagaan No. Penegakkan hukum dan peraturan meningkat (20C) yang dapat dilihat dari berkurangnya pelanggaran yang dilakukan masyarakat perbatasan negara. tetapi pemda membiarkan pembangunan infrastruktur dan permukiman masih apa adanya. Pada skenario kedua. Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan faktor kunci dengan kondisi pengembangan kelembagaan. . Dalam skenario ini dapat dilihat terbatasnya pelayanan publik (16A) karena pembangunan tidak diimbangi dengan peningkatan pelayanan publik dan pemerintah menganggap kebijakan terkait pelayanan publik belum mendesak. Penegakkan hukum dan peraturan masih lemah (20A) dan cenderung menurun. Strategi 1.

terutama wilayah perbatasan. ekonomi. hingga saat ini peningkatan pembangunan wilayah perbatas belum memperlihatkan hasil yang nyata. kehormatan. Kondisi ini disebabkan adanya ketimpangan pembangunan antara wilayah perbatasan dengan wilayah nonperbatasan. komitmen pemerintah untuk mempercepat pembangunan wilayah perbatasan telah tercermin dalam kebijakan pembangunan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) sejak tahun 1993 yang masih konsisten dengan GBHN tahun 1999--2004.4. Apabila hal ini tidak ditangani dengan baik. Pada prinsipnya. maka dapat menjadi hambatan pengembangan potensi pertumbuhan yang selama ini berfungsi sebagai penggerak pengembangan sosial. Selain menyebabkan ketergantungan terhadap negara tetangga. Namun. Pengembangan perbatasan pusat-pusat pertumbuhan yaitu baru (border city) di wilayah (1) melindungi ruang terbuka terdapat enam kategori hijau/konservasi dan sumber daya alam. (3) efisiensi pembiayaan pembangunan infrastruktur. dan . kependudukan.5. sangat memerlukan keberpihakan pemerintah terhadap pembangunan wilayah di perbatasan tersebut. Dalam GBHN tahun 1999—2004 pada Bab IV butir G dinyatakan bahwa perlu peningkatan pembangunan di seluruh daerah termasuk wilayah perbatasan dengan tetap berlandaskan pada prinsip desentralisasi dan otonomi daerah. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Percepatan pembangunan wilayah. Oleh karena itu. dan kesadaran masyarakat perbatasan terhadap identitas nasional. Dinamika kegiatan ekonomi perkotaan di wilayah perbatasan merupakan kondisi yang dapat meningkatkan pertumbuhan kota-kota (pusat pertumbuhan baru) di perbatasan negara. Dampak dari hal ini yaitu aktivitas sosioekonomi banyak yang berorientasi ke negara tetangga. (2) dapat mengoptimalkan penggunaan lahan. infrastruktur wilayah masih terbatas dan permukiman di wilayah perbatasan baik yang berada dalam kawasan perkotaan maupun perdesaan kurang berkembang. (4) mendorong sinergisitas hubungan kota dan desa. keterbatasan infrastruktur dan permukiman di wilayang perbatasan juga menyangkut kondisi keamanan. serta (5) memastikan transisi penggunan lahan perdesaan menuju perkotaan berjalan secara alamiah dan terarah (Seong 2006).

masyarakat. belum diatur dan diarahkan melalui kebijakan dan strategi pengembangan kawasan yang bersifat nasional dan menyeluruh. analisis potensi sektor unggulan wilayah dengan menggunankan model perbandingan eksponensial (MPE). Permodelan interpretasi struktural interpretative structural modelling (ISM) merumuskan alternatif kebijakan di masa yang akan datang. analisis faktor penting dengan interpretative structural modelling (ISM). Pembuatan desain kebijakan pendekatan pengembangan analytical kawasan hierarchy permukiman process perbatasan menggunakan dibuat (AHP). dan AHP. . desain kebijakan pengembangan dengan analytical hierarchy process (AHP). dan menentukan implikasi dari skenario tersebut.1.5. Berdasarkan hal paparan di atas. Di samping itu. serta skenario pengembangan dan rekomendasi kebijakan. koordinasi masing-masing instansi terkait baik di pusat maupun daerah masih lemah. Selanjutnya pengklasifikasian subelemen dan desain kebijakan melalui deskripsi analisis kebijakan yang sesuai dengan keadaan di lapangan. maupun swasta.peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan di wilayah perbatasan (Canales 1999). membangun skenario yang mungkin terjadi. (2) Pengembangan pembiayaan. Tahapan tersebut menentukan keadaan (state) suatu faktor. 4. baik perbatasan darat maupun perbatasan laut. yaitu analisis kondisi permukiman.1 Desain Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Penanganan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. perlu dibuat desain kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. Penyusunan kebijakan dan strategi tersebut dilakukan melalui lima tahapan analisis.5. dan (3) Pengembangan kelembagaan. Penanganan beberapa kasus atau masalah permukiman di wilayah perbatasan negara yang terjadi selama ini disebabkan belum melibatkan semua stakeholders baik pemerintah daerah.1 Desain Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Kajian pengembangan strategi dilakukan pada tiga peubah yang dianggap menentukan dan menjadi rekomendasi kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yaitu (1) Pengembangan kawasan. hasil analisis ISM. 4.

Upaya penyusunan kebijakan dan strategi pengembangan kawasan permukiman perbatasan sudah pernah dilakukan sebelumnya. c. termasuk di dalamnya pengembangan kawasan permukiman. d. dan sesuai dengan kebijakan sektor masing-masing. regional. Pengembangan kawasan permukiman yang mengedepankan peningkatan kesejahteraan. Pengembangan didukung dengan penyediaan prasaran dan sarana serta lingkungan yang memadai. Pengembangan kawasan permukiman perbatasan disusun berdasarkan faktor lingkungan yang strategis dan diperkirakan akan memengaruhi perkembangan wilayah perbatasan di masa yang akan datang. ekonomi. Pengembangan dapat mendorong terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah perbatasan sebagai tempat aktivitas dan usaha penduduk wilayah serta berfungsi untuk meminimalisasi konflik di wilayah perbatasan. Pengembangan diarahkan pada wilayah yang memiliki potensi SDA sektor unggulan agar keberlanjutan kawasan permukiman dapat didukung. dan global. Hasil analisis data dengan metode ISM memperlihatkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional menjadi permasalahan yang paling krusial . Strategi pengembangan kawasan permukiman perbatasan bertumpu pada masyarakat yang menjadi subjek kegiatan yang tinggal di wilayah perbatasan.141 Pelaksanaan berbagai kegiatan pembangunan di wilayah perbatasan negara. Propenas 2000—2004. maupun bekerja di wilayah perbatasan. hanya berpedoman pada kebutuhan yang telah diamanatkan dalam GBHN 1999. Hingga saat ini. Pengembangan kawasan permukiman perbatasan ini diharapkan mampu mengantisipasi berbagai tantangan dan peluang yang tercipta akibat adanya perubahan lingkungan strategis baik lokal. antara lain: a. b. upaya tersebut belum menghasilkan suatu peraturan yang dapat dijadikan acuan dan arahan dalam pelaksanaan pembangunan. serta fungsi pertahanan dilakukan bersama-sama dan seimbang sehingga dapat meningkatkan stabilitas wilayah perbatasan. Adapun beberapa faktor kunci. Penyusunan kebijakan dan strategi telah diupayakan oleh beberapa instansi pemerintah baik pusat maupun daerah melalui kajian dan studi. dan atau memiliki tempat usaha.

pendapatan daerah dan pendapatan negara. Hal-hal yang berkembang di masyarakat yang berpotensi menurunkan nilai identitas bangsa di wilayah perbatasan antara lain penggunaan mata uang ringgit sebagai alat pembayaran yang sah. dan lain sebagainya. Kenyataan ini dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang menyebabkan rasa nasionalisme masyarakat berkurang daripada rasa untuk mempertahankan identitas nasional. Orientasi seluruh kegiatan lebih banyak diupayakan dengan basis pemberdayaan masyarakat sebagai subjek pembangunan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat. aktivasi pasar lebih ramai di wilayah Malaysia. Lapangan pekerjaan tidak akan terwujud tanpa dukungan pemerintah dalam menciptakan kegiatan melalui pembuatan kebijakan-kebijakan pendukung oleh pemerintah pusat. Pada Gambar 38 memperlihatkan bahwa penganggaran dana perlu dilakukan pemerintah secara berkala agar upaya peningkatan kesejahteraan dan peningkatan pendapatan masyarakat dapat dicapai. Tolok ukur peningkatan kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional yang paling nyata ditandai dari peningkatan kesejahteraan masyarakat. serta adanya anggaran dana alokasi khusus (DAK) untuk pengembangan kawasan permukiman perbatasan oleh pemerintah. kemudahan pengurusan KTP dan pembelian tanah di wilayah Malaysia.142 di wilayah perbatasan. . provinsi. tayangan televisi dengan dominasi acara-acara dari Negeri Malaysia. Hasil analisis MPE memperlihatkan hasil dari tiga klaster berbasis potensi sektor unggulan yang dapat mendorong percepatan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan apabila didukung oleh semua stakeholders. Selama ini dana kegiatan-kegiatan dalam upaya percepatan pertumbuhan pembangunan di wilayah perbatasan relatif belum memadai karena hanya bersumber dari anggaran rutin setiap tahunnya. Salah satu solusi yang harus segera dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan identitas nasional yaitu dengan menciptakan lapangan kerja padat karya seluas-luasnya untuk masyarakat di wilayah perbatasan. Sumber dana pembangunan permukiman di wilayah perbatasan baik dana rutin maupun dana alokasi khusus akan menentukan jenis penanganan pembangunan. dan kabupaten/kota di wilayah perbatasan. Pemerintah bekerja sama dengan LSM dan pakar-pakar terkait yang berasal dari perguruan tinggi dan lembaga penelitian dalam mewujudkan kemandirian masyarakat melalui pengadaan pelatihan dan penyuluhan.

143 Jenis penanganan pembangunan disesuaikan dengan karakteristik tenaga kerja dan masyarakat setempat yang didukung dengan potensi sektor unggulan yang tersedia di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan. klaster 2 perkebunan. sektor unggulan perkebunan yaitu pembangunan baru (PB). Dalam hal ini. dan ekosistem karang. kajian terhadap lingkungan harus dilakukan secara seksama. ekosistem di kawasan tersebut dibuat menjadi ekosistem nonalami yang dapat mengubah total ekosistem alami. Terjaganya ekologi akan tetapmemungkinkan lestarinya lingkungan. sedangkan sektor unggulan perikanan yaitu pembangunan baru (PB) dan peningkatan kualitas (PK). Berdasarkan ketentuan pada pasal 2 ayat 2 Undang-undang No. sehingga dapat diharapkan kualitas . Berdasarkan hal tersebut. Bentuk penanganan pembangunan permukiman sektor unggulan pertambangan yaitu pembangunan baru (PB) dan peningkatan kualitas (PK). potensi sektor unggulan klaster 1 yaitu pertambangan. Adapun salah satu hal yang dapat dilakukan dalam melakukan kajian terhadap kelayakan dari segi lingkungan yakni melakukan analisis terhadap dampak lingkungan (AMDAL) di lokasi yang akan dibangun. bentuk penanganan pembangunan perumahan dan permukiman memiliki dua kategori yaitu bentuk pembangunan baru (PB) dan peningkatan kualitas (PK). AMDAL menjadi semakin penting apabila suatu wilayah berhadapan atau di dalamnya terdapat ekosistem fragile di wilayah pesisir seperti ekosistem padang lamun. Dalam hal ini pelaku harus membuat AMDAL sebagai kriteria pembangunan permukiman yang dilakukan agar tidak mengakibatkan kerusakan lingkungan. Sesuai hasil analisis MPE di masingmasing klaster subkawasan. 4 tahun 1992 tentang perumahan dan permukiman. dan klaster 3 sektor perikanan. Adanya AMDAL yang dilakukan secara serius akan dapat menyelesaikan berbagai masalah seperti masalah ekologi. Ketentuan tersebut dapat digunakan dalam menentukan bentuk penanganan pembangunan di setiap jenis kegiatan usaha yang disesuaikan dengan karakteristik kebutuhan permukiman masingmasing tenaga kerja atau masyarakat yang bersangkutan. Dalam pelaksanaan pembangunan permukiman akan mengubah bentang alam di lokasi tersebut. Dengan kata lain. kelestarian lingkungan akan tetap terjaga dengan baik walaupun di lokasi tersebut dilakukan pembangunan kawasan permukiman. ekosistem mangrove.

ekosistem yang fragile sekalipun seperti mangrove. padang lamun dan terumbu karang akan terpelihara dengan baik karena berbagai hal yang dapat diminimalkan. Kabupaten Nunukan yang mempunyai wilayah pesisir yang luas dan pulau-pulau kecil terluar yang strategis. Ketebalan hutan yang difungsikan sebagai lapisan penyangga (buffer zone) menurut RTRW Kabupaten Nunukan (2005) adalah 130 kali tinggi pasang surut.1000 meter. sesuai kondisi hidro-oseanografi di wilayah tersebut. Namun demikian adanya potensi pengembangan permukiman di wilayah pesisir tersebut dapat mengancam keberadaan hutan mangrove yang selama ini masih terjaga kelestariannya dengan baik. melunturnya budaya. Kondisi tersebut perlu dijaga tanpa menghambat kebijakan pemda dalam pengembangan permukiman di wilayah pesisir dalam hal ini pembangunan permukiman tersebut hendaknya diterapkan persyaratan sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku seperti. pengendalian limbah dan pencemaran. AMDAL juga akan menjaga aspek sosial terpelihara dengan baik mengingat dalam AMDAL akan ada petunjuk untuk mengantisipasi terjadinya konflik sosial. menjaga kelanjutan sistem sosialbudaya lokal. Wilayah pesisir Kabupaten Nunukan pada umumnya berpotensi untuk pengembangan permukiman baik nelayan maupun permukiman lainnya. perlindungan pantai dengan mangrove yang ketebalan hutannya tetap dijaga tidak kurang dari 50 . dan berbagai aspek sosial lainnya yang mungkin dapat luntur akibat terjadinya pembangunan kawasan permukiman. Selain itu. Hutan mangrove yang baik akan dapat . Terkait dengan penanganan pembangunan kawasan permukiman terpadu dengan lingkungan khususnya bagi permukiman di pesisir dan nelayan. tanah & air yang baik. Dalam penanganan pembangunan permukiman tetap memperhatikan kriteria AMDAL kegiatan pembangunan permukiman terpadu yaitu dengan mempertahankan dan memperkaya ekosistem yang ada. penggunaan energi yang minimal.144 udara. karena jauh dari ancaman bencana tsunami. harus memperhatikan dan menjaga kelestarian dan keberlanjutan ekosistem hutan mangrove dalam pelaksanaannya. sehingga ekosistem tersebut tidak terganggu walau di sekitarnya dibangun kawasan permukiman. dan peningkatan pemahaman konsep lingkungan (Kepmen KLH 2000).

selain berfungsi sebagai ekosistem pesisir juga mempunyai vegitasi yang beragam dengan panorama indah dan hijau. sebaliknya hutan mangrove menahan erosi. Mangrove dapat menetralisasi lahan yang telah tercemar oleh logam berat sehingga pemanfatan lahan di wilayah pesisir baik untuk permukiman dan kegiatan bangunan lainnya tidak meluas dan efisien. hal ini disebabkan oleh: a. f. pada saat pelaksanaan hingga pembangunan dihuni permukiman. yaitu perpaduan antara hutan mangrove dan perikanan sehingga biota laut di sekitarnya dapat tumbuh dengan baik. Pembangunan kawasan permukiman juga harus dapat menjaga kelestarian lingkungan sehingga sumber daya alam tetap lestari. tajuknya rapat dan lebat sehingga dapat berfungsi sebagai pelindung pantai alami dan menahan intrusi air laut. ekosistem tetap dalam kondisi prima sehingga dapat menjamin masyarakat yang hidup di dalamnya lebih sejahtera karena selalu mendapat hasil tangkapan dalam jumlah banyak. Hal bertujuan agar masyarakat mampu berpartisipasi dalam . masyarakat. Mangrove memiliki sistem akar yang kuat. d. b.145 menjaga permukiman di wilayah pesisir karena berperan sebagai perangkat analisis mitigasi alami dalam menjaga keberlanjutan. e. c. Bangunan laut dapat menyebabkan erosi dan sedimentasi di tempat lain. Dengan demikian. Kawasan pertambakan dapat ditata ulang dengan sistem wanamina (silvofishery). Penanganan abrasi lebih murah dibanding dengan membuat bangunan laut lain dan mangrove dapat memberi dampak ikutan yang menguntungkan kualitas perairan di sekitarnya. dan Upaya pascapembangunan permukiman mempertahankan ekosistem hutan mangrove pada masyarakat yang sudah menghuni di kawasan permukiman dilakukan melalui pendekatan sistem sosialbudaya lokal. Salah satu aspek lingkungan yang harus diperhatikan dalam pembangunan kawasan permukiman yaitu harus dimulai dari sebelum pembangunan dilakukan (persiapan pembangunan). Secara estetika mangrove lebih baik daripada bangunan laut lainnya. persediaan sumber air baku untuk air minum masyarakat penghuni permukiman pesisir tetap terjaga kualitasnya.

5. Selama ini pemerintah membuat dan menerima alokasi dana yang belum memadai untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman di wilayah perbatasan. Adapun bentuk penanganan pembangunan permukiman di masingmasing klaster sesuai dengan potensi SDA pendukung pengembangan permukiman berkelanjutan dapat dilihat pada gambar 49. 2 1 3 1 Kluster 1 : Pembangunan Baru & Peningkatan Kualitas Kluster 2 : Pembangunan Baru Kluster 3 : Pembangunan Baru & Peningkatan Kualitas 2 3 Gambar 49.2 Desain Strategi Pengembangan Pembiayaan Strategi pengembangan pembiayaan dalam percepatan pembangunan di wilayah perbatasan sangat dipengaruhi oleh kebijakan dan peran pemerintah terutama pemerintah provinsi dan pemerintah daerah.146 pengendalian limbah dan pencemaran sehingga pemahaman masyarakat terhadap konsep lingkungan terus meningkat.1. Masyarakat bersama pemda melakukan kegiatan rehabilitasi hutan mangrove di pesisir wilayah Kabupaten Nunukan. Peningkatan pemahaman masyarakat penghuni terhadap konsep keberlanjutan lingkungan dapat mendorong usaha perbaikan kerusakan hutan mangrove yang dilakukan melalui kegiatan penanaman kembali. Peran pemerintah . Bentuk penanganan pembangunan permukiman 4.

Dukungan dalam pencapaian pengembangan pembiayaan pun dilakukan bersama-sama dengan kegiatan peningkatan kerja sama pembangunan antarnegara. perlu dijabarkan dalam suatu strategi. Desain strategi pengembangan kelembagaan yang berlaku bagi seluruh wilayah perbatasan baik darat maupun laut. pertahanan. kesejahteraan masyarakat. Pendekatan pengelolaan wilayah perbatasan yang dilakukan yaitu pengelolaan yang menyeluruh dan terpadu dengan aspek sosial. Adapun lembaga keuangan berperan dalam mengupayakan kemudahan kredit perumahan dengan biaya yang terjangkau bagi masyarakat yang diawasi oleh lembaga masyarakat lokal. menengah. peningkatan pendapatan daerah dan negara di wilayah perbatasan dapat tercapai melalui pengembangan pembiayaan.5. keamanan. lingkungan. dan antarstakeholders di wilayah perbatasan.147 yang besar dapat mengintervensi lembaga keuangan dengan mengeluarkan kebijakan penganggaran untuk memudahkan biaya pembangunan rumah dan melindungi hak masyarakat di wilayah perbatasan. Sedangkan. jangkauan pelaksanaannya bersifat strategik sampai dengan operasional baik jangka pendek. ekonomi. serta kesejahteraan secara seimbang. Faktor-faktor pengembangan yang mengindikasikan yaitu tolok ukur keberhasilan isolasi dalam serta pembiayaan penataan dan pembukaan ketertinggalan wilayah perbatasan dengan cara pembangunan infrastruktur serta prasarana dan sarana dalam jangka waktu yang sama.3 Desain Strategi Pengembangan Kelembagaan Secara umum. 4. Pola penanganan tersebut dapat dijabarkan melalui penyusunan kebijakan dan strategi dari tingkat makro sampai tingkat mikro yang disusun berdasarkan proses yang partisipatif baik secara horisontal di pusat maupun vertikal dengan pemerintah daerah. . budaya. pengembangan kawasan permukiman perbatasan memerlukan suatu pola atau kerangka penanganan yang menyeluruh meliputi berbagai sektor dan kegiatan pembangunan serta koordinasi dan kerja sama yang efektif dari pemerintah pusat sampai ke tingkat kabupaten/kota. Tujuan peningkatan pendapatan.1. maupun jangka panjang. antarpemerintah. Pemerintah juga menjadi fasilitator untuk penguatan kerja sama dengan stakeholders lainnya dalam mengupayakan pembanguann permukiman dan infrastruktur serta fasilitas sosial dan fasilitas umum lainnya.

Program peningkatan dan pengembangan kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat. baik antara instansi terkait maupun antara pemerintah pusat dengan daerah. Hal ini untuk menghindari terjadinya tumpang tindih kewenangan pengelolaan maupun adanya ketidaksinkronan peraturan yang ada. b. Keterlibatan masyarakat dan pemerintah daerah dalam kegiatan pengembangan kawasan permukiman perbatasan termaktub dalam UU No. e. akan sangat membantu dalam proses pengembangan yang partisipatif. Penguatan dan pembentukan lembaga pengembangan kawasan permukiman perbatasan yang bertugas untuk menyusun kebijakan dan pengkoordinasian berbagai kegiatan terkait di tingkat pusat dan daerah. Penyelarasan kegiatan-kegiatan pemerintah pusat dan pemerintah daerah melalui anggaran pembangunan sektoral dan daerah yang diarahkan bagi pengembangan kawasan pertumbuhan baru. Namun. d. 32 Tahun 2004 yang menjelaskan bahwa pengelolaan kawasan permukiman perbatasan sejauh mungkin perlu dikelola oleh pemerintah daerah. Upaya ini dilakukan untuk memudahkan antarinstansi terkait sehingga meningkatkan terjadinya pertukaran informasi koordinasi serta menciptakan kesepahaman yang sama dalam pengelolaan kawasan permukiman perbatasan. Pelaksanaan otonomi daerah perlu diiringi dengan sinkronisasi antara kewenangan dan peraturan-peraturan yang dibuat. termasuk lembaga adat. Pemberian dukungan dan fasilitas pengembangan kawasan permukiman perbatasan oleh instansi pusat dan pihak swasta dalam maupun luar negeri. Meningkatkan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat. Sinkronisasi kewenangan pengelolaan dan peraturan perundangan-undangan. kondisi kelembagaan pemerintah daerah dan partisipasi masyarakat di beberapa wilayah perbatasan masih perlu ditingkatkan.148 Kebijakan di atas perlu dilaksanakan melalui upaya-upaya: a. Selain itu diperlukan adanya basis data (database) mengenai wilayah perbatasan yang dapat menjadi referensi bersama. f. c. . Keberpihakan dan perhatian yang lebih besar dari sektor-sektor terkait di pusat terhadap kawasan permukiman perbatasan. dan pengembangan wilayah secara terpadu di perbatasan.

Pemerintah juga berperan untuk meneruskan kebijakan tersebut pada penyelenggara setempat yaitu pemerintah provinsi. dan pemerintah kabupaten untuk diaplikasikan dan dilaksanakan di wilayah perbatasan. Pemerintah pun memfasilitasi upaya peningkatan kelembagaan masyarakat dengan mendatangkan pakar untuk memberikan pelatihan maupun penyuluhan sehingga tolok ukur keberhasilan pembangunan dari peningkatan kesejahteraan masyarakat pun tercapai. Pemberdayaan mayarakat di wilayah perbatasan dibutuhkan agar masyarakat dapat mandiri sesuai potensi sektor unggulan pada setiap klaster dan membentuk kelompok-kelompok tani menuju kelompok-kelompok usaha. badan kerja sama antarnegara.149 Strategi pengembangan kelembagaan ditujukan pada masyarakat agar memperoleh posisi kemandirian (bargaining) dari posisi tawar sebelumnya sebagai objek pembangunan. Pemerintah memfasilitasi peningkatan aktivitas perekonomian di wilayah perbatasan dengan upaya-upaya pemberdayaan masyarakat. Peningkatan kesejahteraan masyarakat perbatasan dapat mendorong peran dan partisipasi masyarakat dalam setiap kegiatan yang terkait dengan pengembangan kawasan permukiman. khususnya penguatan dan pembentukan lembaga-lembaga yang ada agar program kegiatan penyuluhan dan pelatihan keterampilan dapat berjalan dengan lancar dan baik. Pemerintah sebagai penyelenggara menekakan untuk lebih mengedepankan kualitas pelayanan publik serta kontinuitas penegakkan hukum dan peraturan untuk menghidupkan aktivitas ekonomi masyarakat di negeri sendiri. dilindungi. serta tidak adanya kerja sama dari stakeholders lainnya. Kelompok- kelompok usaha ini memiliki posisi yang lebih kuat karena adanya kerja sama antaranggota mengupayakan sesuai kapasitas dan bermitra dengan pihak lain dalam keuntungan usaha. Dalam pengembangan kelembagaan kemandirian masyarakat tidak akan terlaksana bila tidak didukung. Hal ini dapat berdampak positif pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan terbukanya peluang-peluang usaha yang dibantu dalam memperoleh modal/kredit usaha dan dari lembaga-lembaga keuangan. .

kurangnya infrastruktur kawasan dan permukiman (14A). Skenario ini mengandung pengertian bahwa skenario yang dirumuskan perlu dilaksanakan berdasarkan konsep walaupun mengandung usaha pengembangan dan pengelolaan.5. Penerapan skenario pertama ini akan memberikan implikasi berupa (1) Meningkatnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional. dan (3) Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan berkurang. Skenario I Skenario pertama dibangun atas dasar kondisi dan permasalahan saat ini (existing condition) dari kawasan permukiman yang ada di wilayah perbatasan negara.150 4. ditetapkan dua skenario pengembangan yang dapat dibangun dalam kebijakan sebagai berikut: a. Kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini direkomendasikan upaya yang dapat mendorong percepatan pengembangan kawasan permukiman berbasis potensi sektor unggulan wilayah seperti hal-hal berikut: . terbatasnya fasos dan fasum (15A). kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga (6A). rendahnya kesejahteraan masyarakat (4A). Oleh karena itu. Pada skenario pertama para pelaku pembangunan (stakeholder) dalam kebijakan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara beranggapan bahwa faktor-faktor yang dikaji merupakan faktor yang potensial untuk meminimalisasi permasalahan pengembangan wilayah perbatasan di masa yang akan datang.1. Akan tetapi. tidak mengutamakan faktor-faktor penting yang seharusnya terlebih dahulu dilakukan sehingga tidak memiliki prospek kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yang berpandangan jauh ke depan. Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan kawasan yaitu kurangnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional (7A). (2) meningkatkan kesejahteraan masyarakat. kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1A).4 Arahan Kebijakan Pengembangan Kawasan Perilaku strategi ternyata menunjukkan perbedaan pada berbagai faktor yang dikaji yang diakibatkan adanya perbedaan kombinasi faktor penting di wilayah perbatasan.

Pembangunan terminal-terminal berbasis sektor unggulan wilayah sebagai showroom yang dapat diakses secara mudah 12. Pembukaan lapangan pekerjaan padat karya di wilayah perbatasan negara Pembuatan pemetaan penggunaan lahan untuk perencanaan dan penataan kawasan permukiman yang disepakati oleh semua stakeholder yang terkait termasuk masyarakat pengguna dan dapat diakses oleh stakeholder yang terkait 9. Untuk mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini. pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal (24A). swasta/investor. Kemudahan akses informasi dan pasar Pembuatan informasi terpadu Promosi berkala untuk hasil-hasil sektor unggulan wilayah Peningkatan pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan usaha yang berbasis potensi masyarakat dan kearifan lokal 6. Pembangunan pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah perbatasan 11. 8. 4.151 1. masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan dalam peningkatan keterampilan masyarakat 7. Pembuatan klaster permukiman berbasis potensi sektor unggulan wilayah berikut akses menuju dan keluar wilayah klaster 2. Pembangunan terpadu infrastruktur dengan kawasan permukiman beserta pusat-pusat kegiatan di sepanjang perbatasan 10. 5. Pemeliharaan fasos dan fasum oleh pemda dengan melibatkan masyarakat sebagai pengguna dengan pemberian reward pada daerah dengan fasos dan fasum yang terpelihara baik Skenario pertama yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan pembiayaan yaitu terbatasnya alokasi dana khusus (DAK) untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23A). 3. kurangnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman (17A). maka . Penguatan kerja sama antara pemda. Pembangunan fasos dan fasum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat secara bertahap 13.

Kemudahan pembiayaan usaha oleh lembaga-lembaga keuangan Menerapkan subsidi silang pada kegiatan usaha bersama masyarakat Kemudahan kepemilikan rumah bekerja sama dengan lembaga keuangan dengan biaya terjangkau 4. Pembuatan dan penguatan kerja sama dan kelompok usaha bersama di wilayah perbatasan 2. Pembuatan kebijakan penganggaran dana alokasi khusus (DAK) untuk pembangunan wilayah perbatasan jangka pendek. Dalam rangka mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini maka pada pengembangan kelembagaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. 6. jangka menengah dan jangka panjang yang dievaluasi penggunaannya. Pembuatan lembaga inti-plasma kegiatan usaha sektor unggulan dengan kelompok usaha yang dibina oleh pemda dan swasta/investor 5. 3. aktivitas sosial ekonomi masyarakat rendah (5A). 2. Pengawasan dan penegakkan hukum terkait kegiatan di wilayah perbatasan negara 3. . terbatasnya pelayanan publik (16A).152 pada komponen pengembangan pembiayaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. penegakan hukum dan peraturan masih lemah (20A). Evaluasi dan pembuatan kebijakan terkait wilayah perbatasan. Pelatihan dan penyuluhan sumber daya masyarakat yang diprakarsai pemda bekerja sama dengan lembaga pendidikan untuk kebutuhan tenaga kerja industri 4. Kemudahan birokrasi pembuatan sertifikasi legalitas lahan usaha dan permukiman. Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan kelembagaan yaitu.

kesejahteraan masyarakat relatif tetap (4B). meningkatnya pembangunan infrastruktur kawasan dan permukiman. masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan dalam peningkatan keterampilan masyarakat 5. Pembuatan informasi terpadu Promosi berkala untuk hasil-hasil sektor unggulan wilayah Pembangunan terpadu infrastruktur dengan kawasan permukiman Penguatan kerjasama antara pemda. sosial. Pemeliharaan fasos dan fasum oleh pemda dengan melibatkan masyarakat dengan pemberian reward pada daerah apabila kondisi fasos dan fasum yang terpelihara secara baik Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan pembiayaan yaitu. 4. Kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini dalam pengembangan kawasan maka harus didukung dengan rekomendasi berikut ini: 1. Pembangunan terminal-terminal berbasis sektor unggulan daerah sebagai showroom yang dapat diakses secara mudah 6. meningkatnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23C). Rekomendasi kebijakan dan strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara dapat seimbang antara lingkungan. menurunnya kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1C). 2. 3. meningkatnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional (7C). Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan kawasan yaitu. pengusaha/investor. meningkatnya pembangunan fasos dan fasum (15C). optimalisasi pemanfaatan dan pengelolaan dana .153 b. Skenario II Skenario kedua mengandung pengertian bahwa keadaan masa depan yang mungkin terjadi diperhitungkan dapat dipertimbangkan sesuai dengan keadaan dan kemampuan sumberdaya yang dimiliki. peningkatan dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman tetap (17B). kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga (6C). dan ekonomi dari masyarakat.

Evaluasi dan pembuatan kebijakan terkait pengembangan wilayah perbatasan 3. setiap warga negara mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk ikut serta dalam pembangunan permukiman. dan perikanan) 4. Evaluasi penganggaran dana alokasi khusus (DAK) untuk pembangunan wilayah perbatasan jangka pendek. serasi. Kemudahan pembiayaan usaha oleh lembaga-lembaga keuangan 2. Selain itu. aktivitas sosialekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga berkurang (5C). Pengawasan dan penegakan hukum terkait kegiatan di wilayah perbatasan 2. Untuk mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini. aman. perkebunan. Pelatihan dan penyuluhan sumber daya masyarakat yang diprakarsai pemda bekerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan untuk kebutuhan pengembangan tenaga kerja industri sektor unggulan wilayah (pertambangan. pelayanan publik tetap (16B). jangka menengah dan jangka panjang Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan kelembagaan yaitu.154 pembangunan tetap (24B).2 Rekomendasi Kebijakan Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Arahan kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara diperlukan kaitannya dengan adanya hak dan kewajiban dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 bahwa setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan/atau menikmati dan/atau memiliki rumah yang layak dan terjangkau dalam lingkungan yang sehat. dan teratur.5. Setiap warga negara mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk ikut serta dalam pembangunan . penegakkan hukum dan peraturan meningkat (20C). maka pada pengembangan kelembagaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. Dalam rangka mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini maka untuk pengembangan pembiayaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1.

155 permukiman. standar. serasi. Meningkatkan peran pemerintah daerah dalam pembangunan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan . manual (NSPM) bidang permukiman yang berbasis pemberdayaan masyarakat. Dalam rangka mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. Keterpaduan pengembangan kawasan permukiman dapat terselenggara jika memenuhi 3 indikator. direkomendasikan upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan mendorong percepatan pertumbuhan wilayah melalui seperti hal-hal sebagai berikut: 1. Pemerintah memfasilitasi penyelenggaraan dan pembinaan dalam bidang permukiman secara terpadu dan berkelanjutan dilaksanakan oleh stakeholders terkait 2. Terwujudnya koordinasi/kerja sama antar-stakeholders dalam setiap tahapan penyelenggaraan pengembangan permukiman berikut prasarana dan sarana secara terpadu dalam suatu kelembagaan 2. Mendorong terciptanya peraturan dan perundang-undangan di bidang permukiman perbatasan berbasis potensi SDA wilayah 4. Menyusun norma. Penguatan dan pembentukan lembaga kerjasama pembangunan di wilayah perbatasan negara 5. Berlangsung proses investasi dan pembiayaan pengembangan kawasan permukiman secara terpadu dan berkelanjutan berbasis potensi SDA wilayah kawasan permukiman layak huni secara terpadu dan Dalam pembangunan permukiman. dan lingkungan 6. yaitu: 1. peran serta masyarakat baik sebagai individu maupun komunitas wajib dilakukan. aman. Terwujudnya berkelanjutan 3. panduan. kearifan lokal. Mendorong terciptanya pengembangan klaster-klaster kawasan permukiman sebagai pusat pertumbuhan baru (border city) di wilayah perbatasan negara 3. Hal ini bertujuan agar hak setiap warga untuk mendapatkan rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat. dan teratur bisa terpenuhi dengan upaya dilakukan oleh masyarakat dibantu oleh stakeholders.

Meningkatkan kapasitas SDM dan pelaku pembangunan permukiman berbasis kawasan 8. dan utilitas (PSU) kawasan permukiman perbatasan Sedangkan. 4. dalam pengembangan sektor unggulan kawasan Kabupaten sektor Nunukan dari hasil dan pembahasan perkebunan. 3. sarana. dan investasi pembangunan kawasan permukiman perbatasan 9. Mendorong pelaksanaan penataan ruang kawasan permukiman berbasis potensi SDA wilayah prospektif dan partisipatif 10. dalam pengembangannya diperlukan persyaratan-persyaratan yang dapat mendukung keberlanjutan suatu kegiatan baik dalam pemanfatan ruang dan lahan adalah sebagai berikut: Sektor Pertambangan: 1. Mendorong berkembangnya inovasi. dan penghijauan.156 7. dan sektor perikanan yaitu sektor pertambangan. Mendorong peran serta swasta/masyarakat dalam pembangunan dan perbaikan rumah dalam rangka pemenuhan kebutuhan perumahan yang layak huni dan terjangkau 11. Meningkatkan penyediaan prasarana. teknologi. Toleransi ekploitasi kegiatan pertambangan tidak lebih dari 60% luas kawasan potensial pengembangan sektor pertambangan. Reklamasi dilakukan secara kontinyu untuk mengembalikan unsur hara tanah agar memudahkan dalam pemulihan fungsi kawasan melalui dimanfatkan untuk pengembangan fungsi lain seperti reboisasi atau perkebunan. 2. Pengembangan teknologi ekploitasi dari penggalian ke sistem pengeboran menyamping sehingga dapat meminimalkan sisa lubang-lubang galian yang . permukiman. Ekploitasi kegiatan pertambangan dengan menggunakan sistem 3 fit (3 lubang penambangan secara bersamaan). Mengembangkan kredit mikro perumahan bagi pembangunan dan perbaikan rumah dalam rangka pemenuhan kebutuhan rumah yang layak dan terjangkau 12.

pantai. inti-plasma. 2. penanaman benih. Komoditas sektor perkebunan yang akan dikembangkan selain berdasarkan potensi sektor unggulan kawasan juga memperhatikan kecenderungan pasar regionalnya dan animo masyarakat agar prospek pengembangannya dapat berkelanjutan. panen. dan kegiatan pascapanen. . Pengembangan sektor perkebunan dilakukan dengan pendekatan pengembangan perkebunan inti rakyat (PIR). pemeliharaan. 3. Pengembangan ekonomi sektor pertambangan benefit) melalui harus berorientasi manajemen pada manfaat dengan (economic pengelolaan komposisi perbandingan sharing 70% untuk perusahaan (investor) dan 30% dialokasikan masyarakat.157 dapat merusak dan mendorong terjadinya degradasi lahan secara luas dalam waktu yang lama. untuk biaya rehabilitasi lingkungan dan pemberdayaan Sektor Perkebunan: 1. Pemanfaatan sumber daya laut dengan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan dan pengembangan kemampuan dalam pemanfaatan teknologi baru bidang perikanan 3. Sektor Perikanan: 1. Mengembangkan sektor perikanan secara optimal dengan mengupayakan pelestarian ekosistem lingkungan pesisir. Pengembangan sektor perikanan dengan memanfaatkan sumber daya laut sesuai dengan kemampuan daya dukung perairan (fishing ground) baik dari ketersediaan sumber daya (tidak over fishing) maupun kemampuan dalam menghindari penggunaan bahan pencemar 2. dan swasta. 5. perusahaan negara (PTPN). Pemberdayaan masyarakat melalui penyuluhan dan pelatihan dalam hal peilihan benih. dan laut yang terjaga agar keberlanjutan kawasan dapat terwujud.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful