IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tinjauan Umum Kabupaten Nunukan

4.1.1 Administrasi dan Geografi Wilayah Kabupaten Nunukan terletak di daerah khatulistiwa sehingga

dipengaruhi iklim tropis basah dengan karakteristik yang khas, yakni curah hujan cukup tinggi dengan penyebaran merata sepanjang tahun. Di Wilayah Kabupaten Nunukan tidak terdapat pergantian musim yang jelas antara musim kemarau dan musim hujan. Berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan, Wilayah Kabupaten Nunukan termasuk dalam 2 (dua) wilayah utama, yaitu: − Wilayah hujan bagian barat dengan curah hujan maksimum yang umumnya terjadi pada Januari atau Mei. Curah hujan rata-rata lebih dari 266,5 mm. Hujan maksimum sekunder terjadi pada April-Juni, sedangkan hujan minimum terjadi pada Februari. Kecamatan yang termasuk dalam wilayah ini yaitu Kecamatan Krayan, Krayan Selatan, dan sebagian wilayah Kecamatan Lumbis, Sebuku, dan Sembakung. − Wilayah hujan bagian timur dengan curah hujan maksimum terjadi pada bulan April atau Mei. Hujan minimum umumnya terjadi pada bulan Juli-Agustus dengan curah hujan rata-rata 188,95 mm, tetapi curah hujan rata-rata tahunan lebih kecil dibandingkan curah hujan pada bagian kawasan pesisir, yaitu sebesar 199,5 mm. Kecamatan yang termasuk dalam wilayah ini adalah Kecamatan Nunukan, Sebatik, sebagian Kecamatan Sebuku, Lumbis, serta Sembakung.

Secara administratif wilayah Kabupaten Nunukan dibagi sembilan wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Nunukan, Kecamatan Nunukan Selatan, Kecamatan Sebatik, Kecamatan Sebatik Barat, Kecamatan Sebuku, Kecamatan Sembakung, Kecamatan Lumbis, Kecamatan Krayan, dan Kecamatan Krayan Selatan. Berdasarkan hasil penataan wilayah desa/kelurahan di Kabupaten Nunukan, telah terjadi pemekaran kecamatan. Sebelum pemekaran, Sebuku masuk ke dalam Kecamatan Nunukan dan saat ini sudah menjadi kecamatan sendiri. Selain itu, Kecamatan Krayan mengalami pemekaran menjadi Kecamatan Krayan dan Kecamatan Krayan Selatan.

49 Kabupaten Nunukan memiliki luas 14.263,68 km2. Pada tahun 2007 (Kabupaten Nunukan dalam Angka, 2008) Kabupaten Nunukan dihuni oleh 125.585 jiwa dengan kepadatan penduduk 8 jiwa per kilometer persegi. Kabupaten Nunukan sendiri terletak pada posisi 1150 33’ - 1180 3’ Bujur Timur serta 30 15’ 00’’ - 40 24’ 55’’ Lintang Utara. Persentase luas wilayah per kecamatan dapat dilihat pada Gambar 6.

Krayan Selatan 12,31% Krayan 12,88% Sebatik 0,73%

Sebatik Barat 1,00%

Lumbis 25,56%

Sebuku 21,91%

Nunukan 11,19%

Sembakung 14,41%

Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka, 2008

Gambar 6. Persentase luas wilayah per kecamatan Kabupaten Nunukan merupakan wilayah paling utara dari Provinsi Kalimantan Timur. Posisinya yang berada di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia

menjadikan Kabupaten Nunukan sebagai daerah yang strategis dalam peta lalu lintas antarnegara. Peta administrasi dapat dilihat pada Gambar 7. Wilayah Kabupaten Nunukan terdiri dari dataran tinggi dan pegunungan. Sebagian besar didominasi oleh satuan fisiografi dataran tinggi dan pegunungan dengan luas 679.457 ha atau 47,63% dari luas wilayah. Dataran tinggi dengan kelerengan yang bervariasi merupakan wilayah paling luas yaitu mencapai 488.962 ha atau 34,28% dari luas wilayah. Peta fisiografis Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 8.

50

Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan, 2008

Gambar 7. Administrasi Kabupaten Nunukan

Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan, 2008

Gambar 8. Peta fisiografis Kabupaten Nunukan

Kawasan di bagian utara dan selatan Kabupaten Nunukan lebih didominasi oleh kawasan dengan kelerengan rendah yaitu di bawah 15%.25% dari luas Wilayah Kabupaten Nunukan.98% 100 .500 m 10. 2008 Gambar 9.02% 1. sedangkan di Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan tidak terdapat sama sekali.02%.1.2. Krayan Selatan. Wilayah yang terletak pada ketinggian lebih dari 1.000 .500 mdpl hanya seluas 246 ha atau sebesar 0.87% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.808 ha atau 50.51 4. Tanah alluvial/gambut hanya terdapat di Kecamatan Lumbis dengan luasan 837 ha.87% 0 . Sebuku.100 m 50. Persentase penyebaran dan luas ketinggian daerah Kabupaten Nunukan Kelerengan wilayah daratan Kabupaten Nunukan bervariasi. 1.3 Jenis Tanah Jenis tanah yang terdapat di Wilayah Kabupaten Nunukan hanya delapan jenis tanah dan yang paling luas adalah podsolik/regosol sebesar 410. Persentase penyebaran dan luas ketinggian daerah di Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 9. dan Lumbis.25% 500 .7% dari luas wilayah.500 mdpl (meter di atas permukaan laut) ketinggian 0 sampai 100 mdpl meliputi areal seluas 716.1.500 m 18. Jenis tanah yang luasnya paling kecil yaitu alluvial/gambut sebesar 50.1.000 m 0.486 atau 28.000 m 19. Sebatik. sedangkan kawasan yang memiliki tingkat kelerengan di atas 15% banyak terdapat di kawasan barat dan tengah Kabupaten Nunukan.2 Ketinggian dan Kemiringan Wilayah daratan Kabupaten Nunukan terletak pada ketinggian antara 0 hingga 1. . Jenis tanah ini umumnya terdapat di Kecamatan Krayan.500 .79%. 4.1. dan Sembakung.896 ha atau sebesar 3. Jenis tanah Kabupaten Nunukan yaitu tanah alluvial yang hampir seluruhnya terdapat di Kecamatan Nunukan.

Tekstur tanah adalah perbandingan partikel liat.66% dari luas wilayah kecamatan.68% dari total luas kecamatan.25% dari total luas wilayah Kabupaten Nunukan.097. Sebagian besar wilayah Kabupaten Nunukan memiliki kedalaman tanah 30 60 cm dan >90 cm.24% dari total luas wilayah Kabupaten Nunukan. Penyebaran dan luas masing-masing kelas tekstur tanah wilayah daratan di Kabupaten Nunukan untuk Kecamatan Sebatik dengan luas wilayah 27. dan kasar. Wilayah Kabupaten Nunukan yang memiliki kedalaman tanah >90 cm seluas 711.303 ha dengan kelas tekstur tanah halus seluas 7.60 cm seluas 600.489 ha atau 67. Tekstur tanah di Kabupaten Nunukan sebagian besar mempunyai tekstur tanah sedang. debu. Wilayah Kabupaten Nunukan dengan kedalaman tanah antara 30 . tekstur sedang dengan luas 17.52% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan.442 ha atau 37. wilayah Kabupaten Nunukan mempunyai tekstur tanah halus. Ditinjau dari tekstur tanah. Peta jenis tanah Kabupaten Nunukan dapat dilihat di Gambar 10.383 ha atau 63.545 ha atau 12.52 Kabupaten Nunukan memiliki kedalaman efektif tanah yang bervariasi antara kurang dari 30 cm sampai lebih dari 90 cm. sedang. 2008 Gambar 10. Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Peta jenis tanah Kabupaten Nunukan . Kedalaman efektif tanah merupakan kedalaman tanah yang menyebabkan akar tanaman masih bisa tumbuh dengan baik.67% dan gambut 2.278 ha atau 26. dengan luas 1. dan pasir yang terdapat pada suatu gumpalan tanah.642 ha atau 9.

Jenis mata pencaharian penduduk di kawasan pesisir Kabupaten Nunukan bervariasi dengan kecenderungan pada aktivitas kehutanan. Hasil pengamatan terhadap pola pemanfaatan lahan di Kecamatan Nunukan menunjukkan bahwa sebagian besar lahan dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. sebagian besar penduduk mendiami wilayah pesisir. terutama daerah yang mempunyai aktivitas ekonomi yang cukup tinggi yang ditandai dengan adanya sarana transportasi dan keadaan ekonomi masyarakatnya yang memadai. perikanan. pelayanan jasa. dan bantaran sungai. Hal ini menunjukkan bahwa dalam periode hampir sepuluh tahun. muara-muara sungai kecil. dan perikanan terkonsentrasi pada pada Kecamatan Nunukan dan Sebatik. Perkembangan penggunaan tanah di wilayah Kabupaten Nunukan dari waktu ke waktu mengalami perubahan. Kegiatan pertanian yang berkembang dapat dilihat dari peningkatan lonjakan kenaikan produksi padi dan palawija dari 20. dari hutan nonproduksi (hutan alam) menjadi lahan pertanian. Peta pola penggunaan lahan berdasarkan RTRW disajikan pada Gambar 11. Sebagian besar pemukiman penduduk di Kabupaten Nunukan yang berada di kawasan pesisir menempati daerah dataran rendah. telah terjadi perubahan fungsi lahan. di tepi pantai. Di sektor pertanian dan perkebunan hampir merata di semua kecamatan. pertanian.53 4. Hal ini disebabkan oleh adanya aktivitas manusia.436 ton pada tahun 2007 (BPS Kabupaten Nunukan 2008). kehutanan. Mata pencaharian di sektor perdagangan. lahan konsesi untuk kegiatan pertambangan minyak dan gas bumi. Kecenderungan lonjakan produksi pertanian ini besar kemungkinannya diperoleh melalui perluasan lahan pertanian dalam jumlah yang besar. pertanian (meliputi penggunaan lahan untuk perkebunan dan persawahan). dan pelayanan jasa. serta lahan untuk fasilitas umum. Jenis-jenis penggunaan lahan terdiri atas pemukiman.084 ton pada tahun 1997 menjadi 44. Jumlah penduduk yang relatif besar cenderung mengelompok di daerah perkotaan. .4 Pola Penggunaan Lahan Persebaran penduduk di Kabupaten Nunukan tidak merata.1. perikanan. perdagangan.

Peta pola penggunaan lahan 4. Kabupaten Nunukan memiliki kawasan hutan lindung seluas 167. . sedangkan hutan sejenis berupa hutan reboisasi tanaman industri dari pemegang HPH.428 ha atau 11.914 ha atau 33.1 Kehutanan Hutan yang terdapat di Kabupaten Nunukan seluas 1.4. hutan lindung. Hutan lindung jaraknya relatif jauh dari permukiman yang ada. dan hutan produksi (kawasan hutan dan kawasan budi daya nonkehutanan).426.7% dari luas wilayahnya.01% dari kawasan hutan seluruhnya. 2008 Gambar 11. Hutan produksi pada umumnya telah diusahakan/ditebang oleh pemegang HPH maupun bekas ladang penduduk yang telah ditinggalkan.368 ha yang terdiri dari hutan taman nasional.54 POLA PENGGUNAAN LAHAN Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Sebagian besar wilayah hutan merupakan kawasan budi daya nonkehutanan seluas 470. Peta kesesuaian lahan untuk hutan lindung di Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 12.1.

durian.58% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan. tetapi sifatnya hanya sementara antara satu hingga tiga kali musim panen.4. tegalan. dan lain-lain. . Tegalan adalah pertanian lahan kering dengan jenis tanaman semusim seperti tanaman ketela pohon. dan padi gunung. rambutan. pisang. 2008 Gambar 12. Luas penggunaan untuk pertanian lahan kering 8. Ladang seperti halnya tegalan.2 Pertanian Kelompok pertanian lahan kering meliputi kebun campuran. nangka. dan ladang.55 Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Penggunaan lahan pertanian lainnya pada umumnya merupakan campuran tanaman kopi. ditanami dengan jenis tanaman semusim. Peta kesesuaian lahan pertanian di Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 13. Peta kesesuaian lahan untuk hutan lindung 4. Kebun campuran adalah penggunaan lahan kering yang sifatnya menetap atau kombinasi tanaman semusim dan tanaman keras.304 ha atau 0.1.

Budi daya tanaman perkebunan utama yang mendapat pembinaan secara khusus antara lain budi daya tanaman karet. pala. dan jambu mete. Luas penggunaan lahan perkebunan yaitu 17. aren.56 Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan.24% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan.1.4. diterapkan pembinaan dengan menggunakan pola partial/swadaya. kelapa. baik perkebunan rakyat. budi daya lainnya bersifat introduksi dan dikembangkan secara diversifikasi seperti vanili.4. maupun perkebunan swasta. kelapa sawit. 4. kakao. Di samping itu.1. Peta kesesuaian lahan untuk pertanian 4.731 ha atau 1. dan perkebunan besar baik oleh negara maupun swasta.3 Perkebunan Perkebunan yang dimaksud yaitu perkebunan dengan jenis tanaman keras monokultur. Dalam rangka pengembangan sektor perkebunan di Kabupaten Nunukan. sedangkan akhir-akhir ini berkembang pola kemitraan dengan komoditas unggulan yaitu sawit.4 Perikanan Kabupaten Nunukan selain mempunyai potensi perikanan tangkap. dan cengkeh. kopi. perkebunan besar. 2008 Gambar 13. PIR/NES. juga perikanan budi daya seperti tambak/kolam berupa areal dengan penggenangan permanen yang telah mendapat campur tangan manusia baik itu berupa kolam air tawar maupun air laut atau yang telah dikenal dengan tambak. Rawa-rawa yang merupakan areal penggenangan permanen dan dasarnya yang dangkal ditumbuhi . lada.

Gips. dan Sebatik.Andesit. terdapat di Kecamatan Nunukan .295 ha atau 1.1. . Krayan Selatan. Luas penggunaan lahan kolam/tambak/rawa seluas 16. Selain di Simenggaris.Gamping. terdiri dari: . terdapat di Sungai Nyamuk. terdapat di Pasir Putih. dengan kandungan CaO kandungan CaO 55. Pulau Nunukan. terdapat juga di Kecamatan Krayan. Selain itu. Anugerah Jati Mulya.05%. dan Muara Sungai Sembakung (Kecamatan Sembakung). dan Sungai Krayan. 4.Emas. . dan Sembakung. 3. padahal Kabupaten Nunukan memiliki beberapa potensi pertambangan yang dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan. Kandungan batu bara yang terdapat di Simenggaris sedang diuji kandungannya oleh perusahaan swasta P. Bahan Galian golongan vital (golongan B).T.2% dan MgO 0. Hulu Sungai Sembakung (Kecamatan Lumbis). 2. . batu bara juga terdapat di Kecamatan Krayan. terdapat di Kecamatahn Krayan. Sembakung. terdiri dari: . Walaupun demikian.Pasir kuarsa. Muara Bukat (Kecamatan Nunukan). Pulau Nunukan. tetapi jumlah cadangan yang ada diperkirakan tidak banyak. .14% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan. . Minyak bumi yang terdapat di Muara Bukat dan Muara Sungai Sembakung telah dieksploitasi oleh Pertamina. Krayan Selatan.Bahan galian setengah permata (half precious probing material) di Sungai Bilal. Pulau Sebatik. yaitu: 1. yaitu minyak bumi dan batu bara.Batu gunung. Pulau Nunukan.5 Pertambangan Pengembangan pertambangan di Kabupaten Nunukan hingga saat ini belum termanfaatkan secara optimal. belum terdapat studi terperinci tentang jumlah kandungan cadangan mineral yang ada.57 tumbuh-tumbuhan besar yang umumnya berupa rerumputan rawa dan semak belukar.4. terdapat di sekitar Sungai Sedadap. Minyak bumi terdapat di Kecamatan Krayan. terdapat di Hulu Sungai Sebuku (Kecamatan Nunukan). Bahan Galian Golongan C. dan Kecamatan Sembakung. Bahan galian golongan strategis (golongan A).

perkantoran.15%) − Tidak berada pada daerah banjir . di pengembangan Sebatik kawasan permukiman juga akan dikembangkan Pulau (dua kecamatan). 2008 Gambar 14.130 ha atau sekitar 0. Peta kesesuaian lahan untuk permukiman a. Luas penggunaan untuk permukiman ini adalah 7. demikian juga permukiman transmigrasi. deliniasi kawasan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan menggunakan kriteria-kriteria sebagai berikut: − Kemiringan lereng relatif landai (0 . Krayan Induk. Selain dikembangkan di Pulau Nunukan sebagai kawasan perkotaan dengan pusat pemerintahan. taman. dan Krayan Selatan merupakan bagian dari wilayah perbatasan negara di Kabupaten Nunukan.05% dari luas wilayah Kabupaten.58 4. kuburan baik yang di perkotaan maupun pedesaan. Kecamatan Lumbis.1. Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Perumahan Perkotaan Berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan.4.6 Permukiman Penggunaan lahan permukiman meliputi perumahan. Sembakung. Kesesuaian lahan untuk permukiman dapat dilihat pada Gambar 14. Pengembangan kawasan permukiman tersebut mendorong terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah perbatasan negara yang berbasis potensi SDA wilayah. tempat olahraga.

dan perumahan. air bersih. serta kota-kota kecamatan lainnya. Dapat dibangun akomodasi perkotaan serta sarana sosial-ekonomi yang dapat memfungsikan kota tersebut sebagai pendorong pengembangan kawasan sekitarnya atau daerah hinterland-nya.59 − Tidak berada pada daerah resapan air − Tersedia air baku yang cukup − Bebas dari bahaya gangguan geologi lingkungan − Mempunyai tingkat aksesibilitas dan dapat dijangkau − Tidak berada pada daerah rawan gempa − Berada dekat pusat kota − Tidak berada dalam kawasan lindung Berdasarkan kriteria tersebut. 6. jalan lingkungan. Sehubungan dengan potensi pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan. tata ruang. 4. areal potensial dikembangkan untuk kegiatan permukiman perkotaan terletak di Pulau Nunukan atau Kota Nunukan. Sistem prasarana drainase: . air kotor. Pemanfaatan air tanah sebagai sumber air bersih untuk kebutuhan penduduk perkotaan dan sistem aktivitas. Pengembangan sarana dan prasarana ekonomi yang ada disesuaikan dengan potensi daerah belakangnya. Pengembangan permukiman minimal harus menghindari lahan-lahan pertanian yang produktif. Pembangunan unit-unit permukiman diwajibkan untuk menyediakan lahan kuburan. Pengembangan permukiman perkotaan harus didasarkan pada sistem prasarana dasar yang artinya pengembangan permukiman perkotaan harus didasarkan pada penataan bangunan dan lingkungan yang serasi dan seimbang. 2. di bagian Pulau Sebatik. persampahan. air sungai juga dimanfaatkan sebagai bahan baku air bersih harus melalui pengelolaan sehingga memenuhi kelayakan sebagai air bersih yang siap untuk dikonsumsi masyarakat. Selain itu. 5. minimum 5% dari luas areal pengembangan perkotaan. 3. diperlukan pengaturan ruang sebagai berikut: 1.Harus mempertimbangkan badan sungai yang ada sebagai saluran penerima . meliputi sistem drainase.

.

Kedalaman efektif tanah > 30 cm. . Ketinggian <1.000 mdpl. dan longsoran tidak terdapat di Kabupaten Nunukan. Pada lereng atau tanah yang peka terhadap erosi harus ada rekayasa teknis sehingga kekeruhan drainase tidak semakin pekat . b. 7. Mempunyai sistem dan atau potensi pengembangan pengairan dan drainase. Adapun permukiman desa yang terletak di daerah bahaya geologi lingkungan. Tidak berada dalam kawasan berfungsi lindung. 5. kecuali desa-desa yang sudah ada di atas ketinggian 1. erosi. rezina. 4. Sistem air bersih: Pengambilan air baku diutamakan dari air permukaan (sungai) dengan melakukan pengelolaan sehingga layak untuk dijadikan air minum dan kebutuhan air bersih lainnya. kecuali jenis tanah regosol.- Koefisien aliran permukaan (run off) tidak lebih dari 25%.500 mdpl. delineasi pengembangan kawasan permukiman pedesaan di Kabupaten Nunukan menggunakan kriteria-kriteria sebagai berikut: 1. Kemiringan tanah <30%. dianjurkan untuk membuat sumur resapan terutama pada tanah yang stabil dan mempunyai daya serap tinggi. Kemiringan lereng relatif landai 0 . dan longsoran. litosol.15%. Bukan daerah kritis/bahaya lingkungan beraspek geologi. Permukiman desa yang tidak sesuai dengan kriteria di atas tetap dipertahankan terutama di desa yang terdapat pada kawasan Taman Nasional Krayan Mentarang yang terletak di ketinggian di atas 1. seperti daerah patahan aktif. 2. 6. sesuai dengan standar hidup perkotaan. dan organosol dengan kemiringan <15%. Perumahan Pedesaan Berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan. Untuk meningkatkan recharge air tanah.Perhitungan drainase berdasarkan banjir 10 sampai 25 tahun. Kapasitas kemampuan pelayanan didasarkan pada perhitungan kebutuhan air bersih rata-rata 100 liter/orang/hari. erosi.000 mdpl. 3. 7. seperti patahan aktif.

Secara keseluruhan distribusi berdasarkan kecamatan terlihat pada Gambar 15. 2. perlu dilakukan pengaturan ruang sebagai berikut: 1. seperti fasilitas pendidikan. Diperkenankan bangunan yang menunjang fungsi kawasan/kegiatan utama untuk kepentingan umum. selain sarana prasarana sosial lainnya. Pada desa-desa yang berada di daerah aliran sungai perlu dikembangkan pelabuhan sungai yang berskala lingkungan. melalui pengembangan kawasan budi daya.96% dan Kecamatan Sebatik sebesar 16.Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada desa-desa di daerah kritis. 3. Namun.1. dan sarana budaya. 2008). baik budi daya pertanian maupun budi daya kehutanan. . tetapi desa-desa berada dalam kawasan lindung. peribadatan. Permukiman pedesaan memiliki kepadatan maksimum lima rumah/hektar dan KDB maksimum 5%. jumlah terbesar di Kecamatan Nunukan sebesar 42. dan tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat) atau usaha tani. Dapat dibangun sarana sosial-ekonomi berdasarkan kebutuhan sesuai dengan karakteristik tiap desa. 4.5 Kondisi Penduduk di Kabupaten Nunukan Keadaan penduduk di Kabupaten Nunukan berdasarkan distribusi menurut kecamatan. Perlu disesuaikan secara dini agar permukiman perdesaan yang berbasis sentra pertanian tidak berubah menjadi permukiman perkotaan agar pertanian produktif tetap dapat dipertahankan serta konservasi tanah dan air tanah dapat dilakukan dengan baik. Pengembangan jalan lainnya dapat diintegrasikan dengan pengembangan lahan usaha masyarakat. 4. Permukiman penduduk lokal/desa-desa yang berada pada kawasan lindung tetap dipertahankan. diusahakan untuk dimukimkan kembali ke dalam kawasan yang sesuai untuk permukiman. 5. digunakan akses sungai sebagai pintu keluar masuk desa.15% (Kabupaten Nunukan dalam Angka. Berdasarkan potensi pengembangan permukiman perdesaan di Kabupaten Nunukan. 6. Bagi desa-desa yang terletak di daerah aliran sungai. Pengembangan jalan sesuai dengan kebutuhan dan juga disesuaikan dengan karakteristik masing-masing desa. kesehatan.

90 1.837.438 2. 2008 Gambar 15.80 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.50 2.90 104.19 14.731 20.283 jiwa dan luas wilayah 104. kepadatan penduduk yang ada hanya berkisar antara 1. 2008 Rata-rata jiwa per rumah tangga terbanyak terjadi di Kecamatan Sebuku dengan jumlah rata-rata sebanyak 4.055.028 125.77 3. Luas wilayah.124. .29 2.585 Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km²) 4.57 4. Tabel 5. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5.34% Nunukan 42.756.596.81% Lumbis 7.68 Jumlah Penduduk (Jiwa) 8.263.42 km2.56 8.15% Sebuku 9. yaitu 194.72% Krayan Selatan 1. Distribusi penduduk Kabupaten Nunukan menurut kecamatan 2007 Berdasarkan kepadatan penduduk dari delapan kecamatan yang ada terlihat bahwa Kecamatan Sebatik memiliki kepadatan penduduk tertinggi.96% Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.2 jiwa/km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 20.29 .52 jiwa/keluarga dengan jumlah rumah tangga sebanyak 2.14 33.42 142.283 11.77% Sebatik 16.6 jiwa/km2.24 77.47% Sembakung 6.Sebatik Barat 8.271 9.951 11.78% Krayan 6.54 1. jumlah penduduk dan kepadatan penduduk tahun 2007 Kecamatan Krayan Krayan Selatan Lumbis Sembakung Nunukan Sebuku Sebatik Sebatik Barat Jumlah Luas Wilayah (km²) 1.79 jiwa/km2. Di kecamatan lainnya.59 1. Kepadatan Kecamatan Sebatik Barat yaitu 77.593 KK dan jumlah penduduk sebanyak 11.46 3.75 194.33.503 53.731 jiwa.645.79 3.380 8.

230 3.84 2006 118. dengan jarak ± 51. Program pembangunan jalan Kabupaten Nunukan untuk pertumbuhan ekonomi yaitu: Pembangunan Jalan Lingkar Pulau Nunukan antara lain sebagai berikut: Binusan – Sungai.60 km.41 Jumlah 125.895 3.163 3. Pancang Sungai Nyamuk . Pembangunan Jalan Lingkar Pulau Sebatik antara lain sebagai berikut Bambangan – Setabu – Sungai.40 Krayan Selatan 2.283 5.1. .271 545 4.398 18. Harapan – Sungai.245 3.96 Sembakung 8. subsektor perhubungan air. sosial.860 5. dengan jarak ± 58.81 Nunukan 53.1.731 2.Bambangan.951 14.6 Kondisi Prasarana dan Sarana 4. Peranan perhubungan sangat vital dalam menunjang kegiatan pembangunan terutama darat. dan pedalaman/kawasan pedesaan akan mempercepat jalanya roda pembangunan.380 2. dan subsektor perhubungan udara. Taiwan – Tanjung.6.585 32.653 3. Jumlah penduduk.1 Jalan dan Angkutan Sungai Prasarana dan sarana perhubungan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menunjang kegiatan pembangunan. baik dalam bidang ekonomi.44 2002 97. Prasarana jalan menjadi faktor utama dalam mendukung lancarnya mobilisasi kegiatan pembangunan di daerah.685 5.235 3.92 2005 115.16 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.702 3.503 2. Fatimah – Sungai.Binusan.323 19. Bilal .50 km.Aji Kuning .50 2004 109.593 4.56 2003 106.alun-alun – Sedadap – Sungai.028 3.68 Sebuku 11. Lancang – Mamolo .52 Sebatik 20. Kelancaran perhubungan antarkecamatan.707 30.546 5.17 Lumbis 9.917 4. kota kecamatan.93 Sebatik Barat 11. Jepun – Tanjung. dan keamanan.527 19. subsektor perhubungan laut. Prasarana perhubungan meliputi subsektor perhubungan darat.438 1.210 32. 2008 4. kabupaten.366 3. Aru – Sungai. rumah tangga dan rata-rata jiwa per rumah tangga tahun 2007 Rata-Rata Jiwa/ Penduduk Rumah Tangga Kecamatan (jiwa) (kk) Keluarga Krayan 8.Tabel 6.

dengan jarak ± 235 km. Hubungan antaribukota kecamatan di dalam kabupaten sebagian besar masih menggunakan jalur angkutan laut dan sungai.79 km. dengan jarak ± 87.Kabupaten Malinau .Kecamatan Krayan (Long Bawan). Pasir .63 km. Berdasarkan jenis permukaannya. jaringan jalan darat dibagi menjadi jalan aspal.Kecamatan Sebuku (Pembeliangan) . dengan jarak ± 65. dan jalan kabupaten. Meskipun demikian.Ba Liku – Bungayan .Tang Laan – Tanjung.Kecamatan Lumbis (Mansalong) . masih diusulkan penetapannya ke tingkat provinsi/pusat. dengan jarak ± 22. semua ibukota kecamatan maupun desa-desa yang ada dapat dijangkau dengan jalan darat. .Wa Yagung Long Bawan.- Pembangunan Jalan Lingkar Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan melalui Long Bawan – Kuala.Kecamatan Lumbis (Mansalong). - Pembangunan jalan lintas kabupaten yang menghubungkan Kabupaten Nunukan dan Malinau yaitu Kecamatan Sebuku (Pembeliangan) . .Kecamatan Sebuku (Pembeliangan) .43 km.Kecamatan Malinau Utara (Salap). yang menghubungkan kecamatankecamatan di Kabupaten Nunukan melalui: . - Pembangunan jalan lintas kecamatan.Long Padi – Binuang . - Pembangunan jalan lintas negara yang menghubungkan Kabupaten Malinau dan Nunukan ke batas negara sejauh ± 180. Belawit – Lembudud – Long. Jaringan jalan kabupaten relatif masih terbatas dibandingkan dengan luas wilayah administrasi Kabupaten Nunukan. Pada jalan negara dan jalan provinsi. jalan provinsi.60 km. Jaringan jalan yang ada di Kabupaten Nunukan terbagi atas jalan negara.Kecamatan Lumbis (Mansalong) . dan jalan tanah. dengan jarak ± 125 km. sehingga memudahkan penduduk untuk berinteraksi dan beraktivitas walaupun sebagian besar jalan tersebut belum beraspal. Jaringan jalan ke lokasi rencana PPN untuk daerah Sungai Mensapa dapat langsung dijangkau oleh kendaraan roda empat dengan baik karena keberadaan . jalan berbatu/diperkeras. Layu .Kecamatan Sembakung (Atap).

dan Kampung Buton sudah tersedia jalan agregat yang dapat dilalui oleh mobil sampai ke rencana lokasi. 3. . Persentase panjang jalan disajikan pada Gambar 16. termasuk wilayah perkotaannya. 4. Kondisi jaringan jalan di Nunukan dapat dilihat berdasarkan jenis permukaan jalan maupun kelas jalan.5%) jaringan jalan yang ada masih merupakan jalan berpermukaan campuran (agregat antara jalan aspal. Pemeliharaan secara periodik dan rutin serta peningkatan jalan menuju ibukota kecamatan dengan konstruksi hotmix. dan tanah).90 km. Melanjutkan pembangunan ruas jalan baru dengan melengkapi kebutuhan rambu-rambu lalu lintas untuk keamanan dan ketertiban pemakai jalan. 2008 Gambar 16. batu. Persentase panjang jalan menurut jenis permukaan 2007 (km) Jumlah panjang jalan di wilayah Kabupaten Nunukan.lokasi yang berdekatan dengan jalan lingkar Pulau Nunukan. 2. Pemerintah Kabupaten Nunukan merencanakan pengembangan prasarana jalan yang meliputi: 1. Sedadap. mencapai 816. Peta kesesuaian lahan untuk keterlintasan jalan dapat dilihat pada Gambar 17. Aspal 16% Tanah 49% Kerikil 35% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. Jaringan jalan menuju Sungai Jepun. Meningkatkan kelas jalan. Sebagian besar (53. Membuka isolasi daerah melalui pembangunan dan peningkatan jalan desa.

Peta kesesuaian lahan untuk keterlintasan jalan Pelayanan mobilisasi penduduk dan barang antarpulau. 2. Angkutan Sungai Tarakan . 3. sepanjang Sungai Sembakung yang menghubungkan daerah yang tersebar di sepanjang sungai mulai dari hulu ke hilir dan sepanjang sungai di Lumbis serta Krayan Selatan yang ada di wilayah pedalaman Kabupaten Nunukan. Berdasarkan data Kantor Badan Statistik Kabupaten Nunukan tahun 2002. 2008 Gambar 17. dan udara yang melintasi Kabupaten Nunukan.Surabaya PP Angkutan sungai di Kabupaten Nunukan memegang peranan penting. tidak hanya sebatas pada daerah pedalaman.66 Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan.Tawau (setiap hari) Angkutan udara Tarakan . untuk keperluan lokal (dalam kota) digunakan angkutan darat. alat angkutan utama yang digunakan adalah kapal laut dan udara. Sistem angkutan sungai ini berkembang di sepanjang Sungai Sebuku (Sungai Tulid dan Sungai Tikung). tetapi juga sangat berperan pada daerah yang sudah berkembang di sekitar pantai. Selain itu.Nunukan Angkutan Kapal Laut Nunukan Toli – Makassar – Balikpapan .Nunukan Terjadwal (setiap hari) Angkutan Sungai Antarnegara Nunukan . laut. tercatat satu pelabuhan laut. yakni sebagai berikut : 1. 4. . dan enam bandar udara air strip. Tersedia jadwal rute angkutan sungai. dua bandar udara perintis.

Permasalahan yang ada dalam penyediaan air bersih di Kabupaten Nunukan ini yaitu sebagian besar daerah belum memilik sambungan air PDAM sebagai badan yang dapat mengolah dan menyediakan air bersih. dan oli. Selain itu. di lain pihak adanya kegiatan angkutan sungai yang dilengkapi dengan prasarana dermaga dapat mempengaruhi ekosistem yang ada di dalamnya. maupun penumpang ke dan dari pedalaman. Sumber daya air tersebut terdiri dari air permukaan dan air tanah dalam.3 Air Bersih a. Kapasitas air bersih yang ada belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena permasalahan distribusi dan kualitas air yang belum sesuai dengan kebutuhan. adanya jaringan distribusi yang belum menjangkau ke seluruh wilayah. . 14 unit hidran. terdiri 1. sedangkan kecamatan lain masih memanfaatkan sumber air lainnya. Kecamatan Nunukan telah memiliki PDAM. kapasitas yang tersedia belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. bahkan antarkota yang ada di Provinsi Kalimantan Timur dengan jenis pesawat baling-baling kecil dan sedang.1. 4.2 Angkutan Udara Bandar udara Kabupaten Nunukan merupakan bandar perintis yang melayani daerah di Kabupaten Nunukan. seperti mata air dan air permukaan sebagai sumber air bersih.1.049 unit sambungan rumah (SR).6. Bahan-bahan ini dapat menambah ambang total petroleum hidrokarbon di dalam air. Dalam hal ini.Sesuai dengan sifat-sifat sungai. ekosistem perairan dapat tercemar oleh bahan organik yang berasal dari pengguna angkutan dan bahan organik seperti bahan bakar. Namun. Sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan di Kabupaten Nunukan ini sebelumnya sangat potensial. Ketersediaan Prasarana dan Sarana Air Bersih Sumber air baku bagi kebutuhan air bersih diambil dari Sungai Bolong dan Sungai Bilal. 4. peranan angkutan sungai demikian pentingnya untuk kelancaran arus barang. Hal ini disebabkan masih terbatasnya prasarana dermaga perairan darat. Kondisi yang sama juga terlihat pada perpaduan dengan angkutan lainnya untuk dapat menjangkau wilayah pedalaman dan perbatasan dengan penerbangan perintis. Jumlah sambungan aktif mencapai 1. dan masih tingginya tingkat kebocoran air. dan 289 unit sambungan nonrumah tangga. Perkembangan penduduk menyebabkan peningkatan kebutuhan air bersih.6.348 unit.

912 1.496 1.744 Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.000 500 0 2002 2003 2004 2005 2006 2007 1. PDAM yang beroperasi di Kabupaten Nunukan berada di Kecamatan Nunukan dan Sebatik.510 1.63% dibanding tahun sebelumnya.000 1.912 pelanggan atau dengan kata lain mengalami peningkatan masing sebesar 9.68 Pembangunan dan pemanfaatan embung-embung yang berasal dari sungai-sungai dapat sangat bermanfaat dalam mengatasi keterbatasan air baku untuk air minum pada musim kering. sebanyak 82% penduduk di wilayah Kota Nunukan masih menggunakan sumber air baku yang berasal dari tanah.496 1. maupun air hujan. 2008) mencapai 1. Sisanya.500 1. Penyediaan air yang bersih dan layak digunakan untuk keperluan sehari-hari dapat dipenuhi dengan tersedianya Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM).573 1. tingkat pelayanan air bersih penduduk Kabupaten Nunukan sebesar 18%. Jumlah pelanggan PDAM Nunukan pada tahun 2007 (Kabupaten Nunukan dalam Angka. 2.500 2. Banyaknya pelanggan pada PDAM Nunukan 2002—2007 . Selengkapnya data perkembangan pelanggan dari tahun ke tahun dapat dilihat pada Gambar 18. 2008 Gambar 18. air permukaan. Tingkat Pelayanan Air Bersih Perkotaan Berdasarkan sistem sambungan perpipaan. b.

Rumah Sakit. Hospital Sarana (Fasilitas) Umum Public Facilities Hydran Pelabuhan Hydran Port Lainnya/Industri Others Jumlah Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka. Factory Badan Sosial.000 900.000 800. Government Hotel/Objek Wisata. Rumah Ibadah dsb Social.Berdasarkan data tahun 2007. Perusahaan Hotel. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 7. Toko.912 Sebatik 219 90 4 2 1 316 Lumbis 229 63 1 3 296 Seiring dengan peningkatan jumlah pelanggan.000 500. Banyaknya air minum yang disalurkan 2002-2007 (m3) .832 385.41%.418 756.000 300. Data selengkapnya mengenai perkembangan banyaknya air minum yang disalurkan terlihat pada Gambar 19.632 2007 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. banyaknya air minum yang disalurkan oleh PDAM Nunukan juga mengalami peningkatan sebesar 17. 1. terdapat 1. Industri. instansi/kantor pemerintah.006 887.484 pelanggan. Banyaknya pelanggan air minum menurut jenis pelanggan 2007 Jenis Pelanggan Rumah Tangga (Tempat Tinggal).912 orang dengan jumlah pelanggan terbanyak dari rumah tangga (tempat tinggal).000. 2008 Gambar 19.179 470.000 600. Market.000 0 2002 2003 2004 2005 2006 468.000 200. Di Kecamatan Nunukan. 2008 Nunukan 1.000 100.000 700.339 514. Industry. Tabel 7. Instansi/Kantor Pemerintah Household. terdapat 1.484 390 12 26 1.

562 2007 34.070 31.6.38% dengan migas dan 17.000 30.129 2006 26. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 sebesar 1.550 MWH. Pelayanan listrik di Kabupaten Nunukan menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang dikelola oleh PLN wilayah VI. Peningkatan ini diiringi dengan meningkatnya tenaga listrik yang terpasang sebesar 16 MWH atau terjadi peningkatan sebesar 33.80%.7 Kondisi Ekonomi Daerah Secara umum.103 2005 29.29% pada tahun 2007.553 26.672. industri.37% tanpa migas.235 MWH. 1. wilayah Kabupaten Nunukan memiliki sektor ekonomi andalan berupa pertambangan.4 Listrik dan Telekomunikasi Prasarana listrik dan telekomunikasi merupakan fasilitas dasar yang sangat dibutuhkan untuk mendorong perkembangan kabupaten.145 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.000 10. 2008 Gambar 20.921.000 0 2004 Diproduksi Terjual 25. 40. Otomatis tenaga listrik yang terjual juga mengalami peningkatan sebesar 26.1.557 24. Data perkembangan banyaknya tenaga listrik yang diproduksi dapat dilihat pada Gambar 20.000 20.248 MWH. Adapun untuk kepentingan publik. Banyaknya tenaga listrik yang diproduksi Tahun 2004-2007 (MWH) 4. Produksi tenaga listrik Kabupaten Nunukan mengalami peningkatan sebesar 28. kemudian kegiatan usaha sebesar 9. . dan 870 MWH. dan sosial masing-masing sebesar 4. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tambah dari sektor pertambangan dan penggalian yang memberikan bagian terbesar terhadap nilai PDRB.556 23.33% dari tahun sebelumnya.1.70 4. di mana sebagian besar digunakan oleh rumah tangga sebesar 18. Tenaga listrik yang terjual sebesar 35.

85 0.27 1.08 2.08 38. Hotel dan Restoran Angkutan dan Komunikasi Keuangan.04 0. 2008 . nilai distribusi PDRB atas dasar harga berlaku yang masih didominasi oleh sektor pertambangan penggalian dan pertanian masing-masing sebesar 51.44 0. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB 2003 37.01 57.16 4. Struktur perekonomian menurut lapangan usaha tahun 2003 – 2007 (%) Sektor/Sub Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.03 0.13 4.18 100 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. Struktur perekonomian Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 terlihat masih bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam.84 51.03 62. Perlu dicermati bahwa ada usaha-usaha perdagangan ilegal yang berlangsung secara lintas batas antara negara Malaysia dan Indonesia di sekitar wilayah perkotaan Kecamatan Nunukan.68 0.95 7.14 5.03 0. Gas dan Air Minum Bangunan Perdagangan. Tabel 8.30 0. terdapat pula perdagangan barang-barang yang berasal dari wilayah Sabah. Selain itu. Hal ini menunjukkan perlu adanya dorongan dalam proses transformasi ekonomi Kabupaten Nunukan dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier.49 4.77 9.78 0.84%.34 0.01 0.33 11.82 100 2004 33.60 6. baik regional (dalam wilayah kabupaten).37 2.27 43.11 3.24 0.44% dan 24.26 100 2007*) 24.Perkembangan ekonomi di Kabupaten Nunukan banyak dipengaruhi oleh sektor perdagangan.41 100 2005 21.19 10.28 2.40 0.49 4.28 9.46 3. maupun perdagangan lintas batas dengan wilayah Negara Bagian Sabah di Malaysia Timur.06 0.84 2.04 0.65 6. baik yang dapat diperbaharui maupun tidak dapat diperbaharui.06 100 2006 21.17 4. Malaysia. Hal ini tercermin pada tabel 8.03 0.

Meningkatkan keseimbangan dan keserasian perkembangan ruang secara serasi. 1. 2. selaras.72 4. Meningkatkan kualitas lingkungan hidup serta mencegah timbulnya kerusakan fungsi dan tatanan lingkungan hidup. Pengembangan prasarana wilayah diarahkan untuk mendukung terwujudnya prasarana wilayah yang diarahkan untuk mendukung terwujudnya struktur tata ruang dan pemanfaatan ruang yang sesuai dengan yang telah direncanakan. Mengembangkan sistem kota atau sistem pusat-pusat permukiman yang sesuai dengan daya dukung dan daya tampung serta fungsi kegiatan dominan. Oleh karena itu. peningkatan dan pembangunan prasarana wilayah didasarkan pada rencana struktur tata ruang serta rencana pemanfaatan ruang wilayah. dan distribusi serta pasar. dan berkelanjutan. 3.1. menjaga keseimbangan ekosistem. Secara lebih rinci kebijakaan pengembangan prasarana yaitu sebagai berikut: 1. Kebijakan pemanfaatan ruang Kabupaten Nunukan yang bertujuan mewujudkan kelestarian fungsi lingkungan hidup. 2. . Mengembangkan prasarana wilayah yang mampu mendukung terwujudnya sistem kota-kota (sistem pusat-pusat permukiman) di Kabupaten Nunukan. pusat pengumpul. Pengembangan prasarana transportasi diarahkan untuk menghubungkan antara sentra produksi. Pengembangan prasarana pengairan diarahkan untuk mendukung pengembangan pertanian lahan basah (sawah) dan tambak. Mengembangkan kawasan-kawasan potensial di Kabupaten Nunukan dan mendukung terwujudnya struktur tata ruang yang diinginkan. Pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.8 Kebijakan Pembangunan Kabupaten Nunukan Kebijakan struktur tata ruang dalam RTRW Kabupaten Nunukan adalah sebagai berikut: 1. meningkatkan daya dukung lingkungan. 3. seimbang. dan meningkatkan daya dukung lingkungan buatan guna mendukung proses pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat. Pengembangan pasokan energi listrik diarahkan untuk memenuhi kebutuhan di sentra produksi dan permukiman. 2. 3.

. lokasi pangkalan niaga. Sesuai dengan fungsi pertumbuhan. antara lain adanya kegiatan campuran (permukiman dan kegiatan lainnya). dan Tau Lumbis. 5. Pembeliangan. pemukiman. Tau Lumbis. Malaysia sehingga sangat strategis untuk pengembangan perdagangan antarnegara. terminal agribisnis. Hal ini berdasarkan kegiatan sosial-ekonomi yang berada dan berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sabah. Mansalong. Kecamatan Nunukan dan Sebatik merupakan pusat pertumbuhan hierarki I di Kabupaten Nunukan. Ciri-ciri pusat pertumbuhan ini ditandai oleh antara lain sebagai berikut: − Pola penggunaan lahan yang didominasi oleh kegiatan nonpertanian. dalam RTRW. Rencana pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan akan diarahkan pada permukiman perkotaan Nunukan. disebutkan rencana pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan. − Adanya pemusatan lokasi kegiatan sosial ekonomi yang mencirikan kegiatan perkotaan. Pengembangan prasarana penyediaan air bersih diarahkan pada pusat permukiman dan daerah yang rawan air bersih. − Mudah diakses dari segala penjuru wilayah di Kabupaten Nunukan. Pengembangan permukiman perkotaan dilakukan melalui peningkatan fungsi pusat-pusat ekonomi perkotaan dan pusat-pusat permukiman desa yaitu di Kecamatan Nunukan.4. Kecamatan Nunukan sebagai Ibukota Kabupaten merupakan pusat kegiatan ekonomi skala regional dan skala internasional. Atap. Long Bawan. Tanjung Karang. dan faslitas sosial-ekonomi yang berorientasi pelayanan antarpulau dan antarnegara. Pengembangan prasarana industri perkebunan dan perikanan skala besar. industri. pergudangan. − Ketersediaan fasilitas sosial dan sarana ekonomi yang lengkap. Long Bawan. Selanjutnya. Mansalong. dan Atap. Tanjung Karang. Rencana pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan diarahkan pada pengembangan permukiman perkotaan yang dapat memenuhi kebutuhan lingkungan hunian yang serasi dan selaras. Pembeliangan.

dapat pula memantapkan fungsi ekosistem sebagai pelindung sistem penyangga kehidupan dan pelestari keanekaragaman hayati maupun sebagai sumber daya pembangunan.1 Kehutanan Pembangunan kehutanan mencakup semua upaya untuk memanfaatkan dan memantapkan fungsi sumber daya alam hutan dan sumber daya hayati. Pengelolaan hutan sebagai sumber daya alam perlu ditingkatkan dan disempurnakan agar memberikan manfaat besar bagi kesejahteraan rakyat.911. baik dalam kawasan hutan maupun masyarakat di sekitar hutan.37 m3 menjadi 35.368 ha yang terdiri dari taman nasional. Selain itu. hutan lindung. Pembangunan kehutanan mencakup aspek pelestarian fungsi lingkungan hidup. usaha perlindungan dan pengamanan flora dan fauna. Produksi kayu bulat tahun 2007 mengalami penurunan sebesar 71.9. kawasan hutan. 2008 Gambar 21.58 m3.01% Hutan Lindung 11.74% Kaw as an Hutan 30. Luas kawasan hutan disajikan pada Gambar 21. Luas kawasan hutan di Kabupaten Nunukan seluas 1.914 ha atau 33.9 Potensi Sumber Daya Alam dan Wilayah 4. areal tanah kritis. Luas kawasan hutan menurut tata hutan kesepakatan 2007 (Ha) .73% dibanding tahun sebelumnya yaitu dari 123. yakni seluas 470. Tam an Nas ional 25.426. Selain itu. dan kawasan budi daya nonkehutanan.034.01% dari kawasan hutan seluruhnya.1.02% Kaw as an Budidaya Non Ke hutanan 33.23% Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka. Sebagian besar wilayah hutan adalah kawasan budi daya nonkehutanan.1.74 4. dan kesejahteraan sosial. hutan tanam industri. serta penyerapan tenaga kerja bagi masyarakat. pembangunan ekonomi. kegiatan kehutanan perlu memperhatikan tata guna hutan.

2 Pertanian Pertanian merupakan sektor primer yang mendominasi aktivitas perekonomian di Kabupaten Nunukan. Pengembangan di bidang pertanian perlu ditingkatkan agar memberikan hasil yang lebih baik dari segi kuantitas dan kualitas. perkebunan.83% dari total produksi. Pada tahun 2007 luas panen padi (sawah dan ladang) di Kabupaten Nunukan mengalami peningkatan. yaitu menjadi 48. Pertanian yang meliputi pertanian tanaman pangan.75 4. Persentase produksi padi menurut kecamatan 2007 .65%. yakni sebesar 4. perikanan dan peternakan terus diupayakan untuk menunjang pertumbuhan dan stabilitas ekonomi. yaitu 38. Persentase produksi padi disajikan pada Gambar 22.11% dari total luas panen serta 40.28%. Tanaman bawang daun merupakan komoditas tanaman sayur-sayuran yang mengalami penurunan hasil produksi.1. Kecamatan Krayan adalah daerah yang mempunyai luas panen dan jumlah produksi padi ladang yang lebih besar dibandingkan kecamatan yang lain. 2008 Gambar 22. Peningkatan luas tanam yang pesat dibandingkan tahun sebelumnya dan diiringi dengan peningkatan hasil produksi dari masing-masing tanaman. kehutanan.9.127 ton atau dengan kata lain terjadi peningkatan produktivitas padi sebesar 9. Produksi tanaman padi juga mengalami kenaikan. Sebuku 4% Sebatik 21% Krayan 41% Nunukan 11% Sembakung 3% Lumbis 6% Krayan Selatan 14% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka..

yang terdiri atas 4. Berdasarkan data tersebut. 2008 2007 Gambar 23. jumlah rumah tangga perikanan penangkapan tercatat 2.903.585.76 4.26%.31%. Persentase produksi komoditas kakao dan kelapa disajikan pada Gambar 23 20000 Hasil 15000 10000 5000 0 17702 18903. produksi terbesar dihasilkan oleh tanaman kakao sebesar 18. produksi perikanan tahun 2006 naik 9. Lumbis. Sembakung dan Nunukan.3 Perkebunan Luas areal komoditas kelapa sawit pada tahun 2007 mengalami peningkatan sebesar 25.1. Pada tahun 2007. Sebuku. .1 kakao 7458.36 ton produksi perikanan penangkapan dan 362.4% dibandingkan dengan tahun 2006. bukan disebabkan peningkatan oleh jumlah tetapi disebabkan penangkap ikan sebesar 30.32 7686.26 persen dibandingkan tahun 2006 (Gambar 25).71 kelapa 2006 Tahun Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.21 ton perikanan budi daya.1.273 rumah tangga atau naik sebesar 30.10 ton atau meningkat 6.9. Dilihat dari rata-rata produksi yang dihasilkan oleh setiap komoditas perkebunan. Sebatik Barat. Persentase produksi perikanan disajikan pada Gambar 24.8% dibandingkan tahun 2006.4 Perikanan Produksi perikanan pada tahun 2007 tercatat 4.9. Sebagian besar luas areal kelapa sawit terdapat di Kecamatan Sebatik.947. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya.57 ton. Produksi komoditas kakao dan kelapa 2006-2007 (ton) 4. dapat disimpulkan bahwa meningkatnya peningkatan produksi produktivitas ikan di lokasi penelitian perairan.

937.9. Produksi pertambangan batubara dan minyak bumi 2006-2007 . Perkasa Equatorial Sembakung Ltd.16% Se batik 37.165. Dinas pertambangan mencatat produksi minyak bumi dari P. 2000000 Ton/BBL 1500000 1000000 500000 0 1670048 1165287 1846937 1362304 Batubara Minyak bumi 2006 Tahun Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.129 ton.17% Se buk u 0.37% Nunuk an 25. pada tahun 2007 sebesar 1.5 Pertambangan Hasil tambang batu bara mengalami peningkatan yang sangat pesat.03% Se batik Barat 15. 2008 2007 Gambar 25.362. Produksi pertambangan batu bara dan minyak bumi 2006—2007 dapat dilihat pada Gambar 25. Kemudian pada tahun 2007 menjadi 1. Produksi minyak bumi di Kabupaten Nunukan selama tahun terakhir ini mengalami penurunan jumlah produksi.37% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.94% Se m bak ung 19.59% dibandingkan tahun sebelumnya.77 Krayan 1.T.09% Lum bis 0.1.87% Krayan Se latan 0.846. 2008 Gambar 24.304 BBL atau menurun sebesar 22. yakni pada tahun 2006 jumlah produksi sebanyak 1. Persentase produksi perikanan menurut kecamatan 2007 4.287 ton.

Berdasarkan arahan RTRW kabupaten.05% dari luas wilayah kabupaten. Potensi Pengembangan Lahan Permukiman Potensi pengembangan kawasan permukiman meliputi perumahan. Pengembangan kawasan permukiman selain dikembangkan di Pulau Nunukan sebagai kawasan perkotaan dengan pusat pemerintahan juga akan dikembangkan di Pulau Sebatik (dua kecamatan). dan longsoran tidak terdapat di Kabupaten Nunukan. Permukiman desa yang tidak sesuai dengan kriteria di atas tetap dipertahankan terutama di desa-desa yang terdapat pada kawasan Taman Nasional Krayan Mentarang yang terletak di ketinggian diatas 1. tetapi ada desa yang berada dalam kawasan lindung. Kawasan tambang batubara dan minyak bumi 4. perkotaan. dan perdesaan. 2008 Gambar 26. Selain itu. Rencana andalan pengembangan tersebut dimaksudkan untuk mendorong tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan baru di perbatasan negara yang berbasis potensi SDA wilayah yang prospektif dan potensial mendukung keberlanjutan kawasan permukiman. dikembangkan juga di Kecamatan Lumbis. erosi.9. seperti permukiman transmigrasi baik lokal maupun antarwilayah di Indonesia cukup luas. Demikian juga permukiman lain. Sembukung.Sumber : Survei Lapangan. Adapun permukiman desa yang terletak pada daerah bahaya geologi lingkungan.6 Permukiman A. lahan untuk permukiman adalah 7. .000 mdpl.1. seperti patahan aktif. Hasil analisis menunjukkan tidak ada desa yang berada di daerah kritis. dan Krayan yang merupakan bagian wilayah perbatasan negara di Kabupaten Nunukan.130 ha atau sekitar 0.

masuk dalam kategori sangat tinggi. Akan tetapi. Tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat) atau usaha tani. Pemerintah Kabupaten Nunukan telah memperlihatkan adanya potensi kemampuan sharing pembiayaan pada program-program stimulan pembangunan perumahan dari pemerintah pusat seperti dari Kementerian Perumahan Rakyat. Potensi Kemampuan Pembiayaan Pembangunan Kemampuan daerah dalam sharing pembiayaan pembangunan kawasan permukiman dilihat dari kemampuan indikator nilai indeks fiskal daerah. Bagi desa-desa yang terletak pada daerah aliran sungai dan menggunakan akses sungai sebagai pintu keluar masuk desa dapat dibangun jalan akses dan menempatkan prasarana dan sarana sosial lainnya. B. Untuk Kabupaten Nunukan. Selain itu. Pengembangan jalan lainnya dapat diintegrasikan dengan pengembangan lahan usaha masyarakat. berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK. perlu adanya pengaturan ruang seperti permukiman penduduk lokal/desa-desa yang berada pada kawasan lindung. Pada desa-desa yang berada di daerah aliran sungai perlu dikembangkan pelabuhan sungai yang berskala lingkungan. penyediaan prasarana dan sarana. Permukiman perdesaan yang berbasis sentra pertanian perlu disesuaikan secara dini agar tidak berubah menjadi permukiman perkotaan agar pertanian produktif tetap dapat dipertahankan. serta fasilitas sosial dan ekonomi. Permukiman perdesaan memiliki kepadatan maksimum lima rumah/hektar dan KDB maksimum 5%. perlu diusahakan pemukiman kembali kawasan yang sesuai untuk permukiman.07/2010 tentang Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah dalam Rangka Perencanaan Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan Tahun Anggaran 2011. Nilai indeks fiskal dapat menunjukkan kemampuan daerah dalam pendampingan pembiayaan bersama dengan pemerintah pusat.79 Berdasarkan potensi pengembangan permukiman perdesaan di Kabupaten Nunukan. Fasilitas sosial dan ekonomi dapat dibangun sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik msing-masing desa. konservasi tanah dan air tanah dapat dilakukan dengan baik. Kementerian Kelautan dan Perikanan. . Kementerian Pekerjaan Umum. Bangunan yang menunjang fungsi kawasan/kegiatan utama diperkenankan dibangun untuk kepentingan umum.

b. Malinau 8.928 1. dan kementerian lain yang terkait. Nilai indeks fiskal di Kalimantan Timur terlihat pada Tabel 9.800 1 Sangat Tinggi Kab.300 4 Tinggi Kota Bontang 3. DDUB yang harus disediakan oleh daerah dengan rincian sebagai berikut: − Daerah yang termasuk dalam kelompok 1 menyediakan DDUB sangat tinggi.248 1.062 0. Kutai Barat 3.886 4 Tinggi Kab.935 0.416 1 Sangat Tinggi Kota Balikpapan 1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Indeks Ruang Indeks Persentase Tingkatan Fiskal Daerah Penduduk Miskin Kelompok Penyediaan (IRFD) Daerah (IPPMD) DUUB Kab. Kutai Timur 4. . Pasir 2.335 1 Sangat Tinggi Kab.134 1 Sangat Tinggi Kab.07/2010 tentang Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah dalam rangka Perencanaan Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan tahun anggaran 2011 Kab / Kota Penentuan tingkat besaran penyediaan dana daerah untuk urusan bersama (DUUB) adalah dengan pertimbangan sebagai berikut: a. − Daerah yang termasuk dalam kelompok 3 menyediakan DDUB rendah.993 4 Tinggi Kab.829 0.067 1. DDUB yang harus disediakan oleh daerah disesuaikan dengan katagori kelompok. Daftar daerah berdasarkan indeks fiskal dan kemiskinan daerah di Kalimantan Timur No.450 1 Sangat Tinggi Kab. − Daerah yang termasuk dalam kelompok 4 menyediakan DDUB tinggi. Tana Tidung 30. Bulungan 4.464 0.999 0. c.303 4 Tinggi Kota Samarinda 1.721 4 Tinggi Kab.450 1 Sangat Tinggi Sumber : Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK.426 1. Penajam Paser Utara 2.971 1. Penentuan batas persentase terendah dan tertinggi DDUB yang harus disediakan oleh daerah dengan mempertimbangkan hasil keputusan rapat koordinasi instansi yang terkait dengan program penanggulangan kemiskinan nasional. Nunukan 3.195 0.796 1. Tabel 9.Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal. − Daerah yang termasuk dalam kelompok 2 menyediakan DDUB sedang.175 1.698 4 Tinggi Kab.421 4 Tinggi Kota Tarakan 1.550 1 Sangat Tinggi Kab. Berau 2.185 0. Kutai Kartanegara 4.

dapat dilihat bahwa Kabupaten Nunukan masuk pada kategori kelompok sangat tinggi. Arah kecenderungan pengembangan meliputi aspek keselarasan antara kawasan budi daya dengan kawasan lindung. Menteri Keuangan c. Prioritas ini dapat berupa peningkatan dana alokasi khusus (DAK). e. Dalam rangka mewujudkan keterpaduan dalam pembangunan di wilayah Perbatasan khususnya dalam sektor permukiman. Hasil perhitungan rincian penyediaan DDUB digunakan oleh pusat (tingkat nasional) sebagai bahan penetapan besaran DDUB pada masing-masing daerah. . Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan menyiapkan bahan perhitungan rincian penyediaan DDUB untuk masingmasing daerah berdasarkan batas persentase terendah dan tertinggi. Oleh karena itu. penguatan pola interaksi orientasi ekonomi yang berbasis potensi sumber daya alam wilayah menjadikan kemauan politik (political will) pemerintah pusat dan daerah (Rosentraub 1996). keterkaitan antara pusat-pusat pertumbuhan baru dengan pusat-pusat kegiatan (kota). Hasil perhitungan rincian penyediaan DDUB disampaikan oleh direktur jenderal perimbangan keuangan atas nama menteri keuangan kepada tim nasional paling lambat bulan Maret sebelum penyusunan rencana kerja Kementerian Negara/Lembaga. diharapkan kondisi ini dapat terus dipertahankan.q. f. khususnya sektor permukiman dan infrastruktur wilayah perbatasan. Berdasarkan data indeks fiskal tersebut. Kriteria mensyaratkan indeks fiskal harus dievaluasi secara periodik untuk menentukan besaran bantuan pembiayaan dari pemerintah pusat. Hal ini bertujuan agar arah kecenderungan pengembangan dapat diketahui. perlu dipahami profil pelaksanaan pembangunan di daerah yang sesuai dengan pemenuhan kebutuhan pengembangan. Mengingat kedudukan Kabupaten Nunukan sebagai kawasan strategis nasional (KSN) di wilayah perbatasan dapat menjadi pertimbangan tersendiri untuk tetap mendapat prioritas bantuan pembiayaan pengembangan.81 d. Menarik masuknya investasi baru sektor unggulan daerah untuk mendorong percepatan pembangunan wilayah perbatasan.

perumahan. manusia. terpencar. subsektor pariwisata. ekonomi. Pengetahuan mengenai permukiman disebut ekistics (istilah Yunani). Aspek lain yang kesesuaian juga harus diperhatikan khususnya dalam pengembangan ekonomi adalah sektor unggulan wilayah yang potensial dikembangkan sehingga akan menjamin peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat agar keberlanjutan kawasan permukiman di wilayah perbatasan dapat terlaksana. Elemen-elemen permukiman terdiri atas alam. subsektor pertanian tanaman perikanan. Secara ekologi.2. Adapun .2 Analisis Kondisi Permukiman Perbatasan Kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara dengan kondisi umum yang tidak tertata. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. Suatu permukiman terdiri atas the content (isi. dan tidak terkelola dengan baik. Ilmu ekistics dikembangkan oleh CA Doxiadis pada tahun 1967 (Winarso 2001). kumuh. mempunyai dampak langsung terhadap keberlanjutan aspek ekologi. Menurut Undang-Undang No. perlu memerhatikan daya dukung dan lahan untuk pengembangan permukiman. lokasi dan lingkungan perumahan tersebut tidak akan pernah dapat lepas dari permasalahan dan lingkup keberadaan suatu permukiman yang seharusnya memberikan kenyamanan kepada penghuninya (termasuk orang yang datang ke tempat tersebut). subsektor sektor pertambangan. dan jaringan infrastruktur (Sastra dan Marlina 2006). Permukiman diartikan sebagai tempat manusia hidup dan berkehidupan. masyarakat. yaitu tempat fisik manusia tinggal yang meliputi elemen alam dan buatan manusia). permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung. perkebunan. yaitu manusia) dan the container (wadah.4. dan sosial. Oleh karena itu. nomaden. baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan (live) dan penghidupan (livelihoods). Permukiman merupakan suatu kesatuan wilayah tempat suatu perumahan berada. Adapun potensi SDA wilayah berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan terdiri dari subsektor pangan.1 Kondisi dan Permasalahan Permukiman Perbatasan Permukiman dalam istilah ini merupakan padanan kata human settlements. dan sektor industri 4. subsektor kehutanan.

sarana. Kelompok wilayah daratan adalah Kecamatan Krayan Selatan 545 KK lokasinya di ujung barat wilayah administrasi kabupaten dan Kecamatan Lumbis 2.83 perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan.163 KK yang lokasinya di ujung timur pulau. Kecamatan kelompok wilayah kepulauan seperti Kecamatan Sebatik terdapat kawasan permukiman yang terdiri 5. Hal ini disebabkan oleh pengelolaan yang tidak baik dan kurangnya kegiatan terkait program/proyek pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara. (Permenpera 2006). dan minim prasarana. yang dimaksud kawasan permukiman perbatasan padanannya adalah kawasan perumahan dan permukiman khusus untuk menunjang kegiatan berbagai fungsi di wilayah perbatasan negara. Terkait dengan fenomena kawasan permukiman perbatasan negara. fasos. Kecamatan Nunukan sebanyak 14. dan fasum lingkungan. Kecamatan Sebatik Barat terdiri 3. kondisinya (existing condition) sangat dipengaruhi oleh persebaran penduduk di masing-masing kecamatan yang berada di wilayah perbatasan kabupaten. Persebaran penduduk yang mengelompok dan terpencar terlihat dari distribusi pusat-pusat permukiman yang ada di masing-masing kecamatan. tidak tertata. Kawasan permukiman perbatasan di Kabupaten Nunukan. Persebaran penduduk di wilayah perbatasan pada umumnya tidak merata sehingga kawasan permukimannya terlihat mengelompok dan terpencar.653 KK. dapat disimpulkan bahwa permukiman memiliki pengertian yang lebih luas dibandingkan dengan perumahan.235 KK yang lokasinya di ujung barat pulau. Kondisi lingkungan permukiman terdiri dari perumahan yang kumuh (slum area). Dari beberapa pengertian tersebut.366 KK di bagian tengah wilayah daratan. Kawasan permukiman adalah kawasan budi daya yang ditetapkan dalam rencana tata ruang dengan fungsi utama untuk permukiman (Permenpera 2006). .

Oleh karena itu. belum lagi yang terjadi di wilayah perbatasan lain di Kecamatan Lumbis. transaksi jual beli. 2009 Gambar 27. dan Krayan. Penggeseran patok-patok perbatasan negara dilakukan pada lokasi yang tidak terdapat permukiman sebagai tempat hunian dan aktivitas penduduk/masyarakat perbatasan. . 2009 Gambar 28. untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan tersebut pada umumnya belum terpenuhi atau memadai. seperti kegiatan pelintas batas.84 Sumber : Dokumentasi Survei. Kawasan permukiman yang berada di atas batas wilayah perbatasan Masyarakat wilayah perbatasan yang memiliki karakteristik lingkungan sosial yang spesifik. kehilangan wilayah teritorial negara terus terjadi dan semakin meluas. Sumber : Dokumentasi Survei. Sebuku. Pergeseran batas wilayah di Pulau Sebatik sudah jauh ke dalam wilayah tertorial Indonesia. dari tahun ke tahun. Kawasan permukiman yang berkelompok dan terpencar Pola perkembangan kawasan permukiman yang mengelompok dan terpencar di wilayah perbatasan berdampak negatif terhadap keutuhan wilayah NKRI karena berpeluang dimanfaatkan negara tetangga untuk menggeser patok-patok perbatasan untuk memperluas wilayah negaranya. dan kegiatan ekonomi bersama baik legal maupun yang ilegal memerlukan kemudahan berkomunikasi dan aksesibilitas yang baik. Oleh karena itu.

Sumber: Dokumentasi Survei. antara lain dalam membangun perumahan dan fasilitas tidak memperhatikan batas-batas wilayah negara. Oleh karena itu. . khususnya dalam pengembangan kawasan permukiman.85 masyarakat melakukan upaya sendiri yang umumnya tidak sesuai dengan peratuaran dan perundang-undangan yang berlaku. Pengembangan kawasan permukiman akan dikembangkan di Pulau Nunukan. Untuk memudahkan masyarakat dalam akses ke laut. termasuk kegiatan permukiman lain seperti. berkelanjutan. 2009 Gambar 29.2 Pengembangan Lahan Permukiman Potensi pengembangan kawasan permukiman meliputi perumahan. 4. Misalnya. Pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan harus tertata. membangun perumahan di sepanjang bantaran sungai dan sampai melanggar batas wilayah perbatasan negara lain. Kondisi masyarakat perbatasan dengan karakteristik lingkungan yang spesifik menjadi fenomena tersendiri.2. Kawasan permukiman yang berada di muara sungai dan kumuh Kondisi kawasan permukiman perbatasan di Kabupaten Nunukan tersebut mencerminkan bahwa pemerintah pusat dan pemerintah daerah kurang memberikan perhatian pengembangan wilayah dan masyarakat perbatasan. banyak bangunan rumah dengan ruang tamu wilayah di Indonesia dan dapur di Malaysia atau yang dikenal dengan rumah Malaysia-Indonesia (Malindo). perkotaan maupun perdesaan. digunakan sampan/perahu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang penting dan mendesak ke negara tetangga. permukiman transmigrasi baik lokal maupun antarwilayah di Indonesia cukup luas tersedia. dan dikelola dengan baik melalui kebijakan dan strategi pengembangan kawasan permukiman perbatasan.

Adapun di Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan yang berada di klaster I akan dikembangkan lahan seluas 750 ha sebagai kawasan . akan dikembangkan lahan seluas 1.700 ha sebagai kawasan permukiman perkotaan dan pusat pemerintahan. tetapi terdapat permukiman di desa-desa yang berada dalam kawasan lindung. serta permukiman transmigrasi. erosi. Sehubungan dengan potensi pengembangan permukiman perdesaan di Kabupaten Nunukan. Sebuku. Penggunaan lahan permukiman meliputi perumahan. ± 60 % diperuntukkan untuk kawasan permukiman klaster-klaster di kecamatan yang berada di sepanjang wilayah perbatasan. khususnya desa-desa untuk mendukung kegiatan pelestarian kawasan Taman Nasional Krayan Mentarang yang terletak di ketinggian di atas 1.05% dari luas wilayah kabupaten (RTRW Kabupaten Nunukan 2005). Kecamatan Lumbis. pengembangan. Rencana pengembangan kawasan permukiman tersebut dimaksudkan untuk mendorong tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan baru di perbatasan negara yang berbasis potensi SDA wilayah. di Kecamatan Nunukan dan Nunukan Timur akan dikembangkan lahan seluas 1. dan kuburan. perkantoran.130 Ha atau sekitar 0. Sebuku. Di Kecamatan Lumbis. Permukiman desa yang terletak pada daerah rawan bencana geologi lingkungan. Luas lahan untuk pengembangan kawasan permukiman. seperti patahan aktif.850 Ha sebagai kawasan permukiman perdesaan dan pusat desa pertumbuhan berbasis potensi SDA wilayah. pusat pertumbuhan baru Pulau Sebatik. dan Krayan sebagai kawasan perkotaan dan pusat pemerintahan. dan pengelolaan yang lebih baik. Adapun di Kecamatan Sebatik Timur akan dikembangkan kawasan permukiman perkotaan. tempat olahraga. Luas penggunaan lahan untuk pengembangan permukiman adalah 7. taman. Pengembangan kawasan permukiman sesuai dengan arahan RTRW kabupaten. baik yang di perkotaan maupun pedesaan. khususnya sektor perkebunan. dan Sebatik Barat yang berada di klaster II. Permukiman-permukiman perdesaan yang tidak sesuai dengan kriteria kebutuhan akan tetap dipertahankan. dan longsoran tidak terdapat di Kabupaten Nunukan. Kecamatan-kecamatan tersebut berada di klaster III. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada permukiman di daerah kritis. perlu adanya pengaturan ruang.000 mdpl.86 Pulau Sebatik.

seperti fasilitas pendidikan. khususnya sektor pertambangan. 2008 dan Hasil Analisis Gambar 30. peribadatan. Peta pengembangan permukiman di setiap klaster terlihat pada Gambar 30. dan fasum sebagai pendukung kegiatan sosial-ekonomi di kawasan permukiman dapat dibangun sesuai kebutuhan dan karakteristik wilayah kecamatan. serta tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat). Tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat) atau usaha pertanian.87 permukiman perdesaan dan permukiman perkotaan untuk pusat pertumbuhan baru berbasis potensi SDA wilayah. Penataan dan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan ke depan akan mendorong perkembangan wilayah perdesaan yang berbasis sentra . dan sarana budaya. Pengembangan jaringan jalan dapat diintegrasikan dengan pengembangan lahan usaha masyarakat. fasos. Pada kecamatan yang berada di daerah aliran sungai perlu dikembangkan pelabuhan sungai. sarana. Pada permukiman perkotaan kepadatan maksimum 80 rumah/hektar dan KDB maksimum 40%. Bangunan yang menunjang fungsi kawasan/kegiatan utama diperkenankan untuk kepentingan umum. Permukiman perdesaan memiliki kepadatan maksimum 25 rumah/hektar dan KDB maksimum 20%. kesehatan. Peta pengembangan permukiman di setiap klaster Pengembangan prasarana. KLUSTER II: 1850 Ha KLUSTER I: 750 Ha KLUSTER III: 1700 Ha Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. selain sarana prasarana sosial lainnya.

dengan skor indeks ruang fiskal daerah (IRFD) 3. Kementerian Pembangunan Daeah Tertinggal. berupa dana pendamping . dan kementerian lain yang terkait. Kriteria mensyaratkan agar secara periodik indeks fiskal harus dievaluasi untuk menentukan besaran bantuan pembiayaan dari pemerintah pusat. Data indeks fiskal menunjukkan bahwa Kabupaten Nunukan masuk pada kategori kelompok sangat tinggi.pertanian menjadi desa kota (sub urban) sebagai pusat pertumbuhan baru (Wacker 2002). Pemerintah Kabupaten Nunukan telah memperlihatkan adanya potensi kemampuan sharing pembiayan pada program-program stimulan pembangunan perumahan dari pemerintah pusat seperti dari Kementerian Perumahan Rakyat. Kementerian Pekerjaan Umum. Hal ini bertujuan agar lahan pertanian produktif dapat dipertahankan dan konservasi tanah serta air dapat dilakukan dengan baik.800. Kementerian Kelautan dan Perikanan.2. Kabupaten Nunukan termasuk dalam kategori sangat tinggi. Prioritas bantuan pembiayaan pembangunan dapat berupa peningkatan dana alokasi khusus (DAK). dan investasi sektor unggulan untuk mendorong percepatan pembangunan wilayah perbatasan.3 Kemampuan Pembiayaan Pembangunan Permukiman Kemampuan pengembangan daerah kawasan (kabupaten/kota) permukiman dalam khususnya sharing dalam pembiayaan pembangunan permukiman berdasarkan indikator nilai indeks fiskal daerah. Kemampuan sharing Pemda Kabupaten Nunukan ditunjukkan pada setiap mendapatkan bantuan stimulan oleh pemerintah pusat.248 dan skor indeks persentase penduduk miskin daerah (IPPMD) 1. khususnya bidang permukiman perbatasan. Nilai indeks fiskal dapat menunjukkan kemampuan daerah dalam pendampingan pembiayaan bersama dengan pemerintah pusat. diharapkan kondisi ini dapat terus dipertahankan. 4. wilayah perbatasan dapat menjadi pertimbangan tersendiri untuk tetap mendapat prioritas bantuan pembiayaan pengembangan. infrastruktur. Dengan demikian. Mengingat kedudukan Kabupaten Nunukan sebagai kawasan strategis nasional (KSN). Adapun untuk menjaga kawasan permukiman yang sudah dibangun agar tetap berkelanjutan perlu dilakukan pengendalian dan penyesuaian sejak dini agar tidak berubah menjadi permukiman perkotaan yang tidak terarah (urban sprawl).

Kriteria yang menjadi pertimbangan di setiap sektor tersebut ada delapan. kehutanan. Pada 2006 kemenpera memberikan bantuan stimulan pembangunan kawasan permukiman nelayan senilai kurang lebih Rp 4 miliar.3 Analisis Komparatif Sektor Unggulan Kawasan Kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara mempunyai dampak langsung baik secara ekologi. Sektor-sektor potensial yang mempunyai peranan penting terhadap pengembangan kawasan permukiman tersebut antara lain adalah perkebunan. Kriteria tersebut berkorelasi positif dalam meningkatkan potensi pasar di wilayah perbatasan (Hanson 1998). perikanan. Klaster II meliputi Kecamatan Lumbis. Nunukan Selatan. akses transportasi. akses komunikasi. Klaster I meliputi Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan 2. produktivitas. dan Sebatik Dalam penetapan klaster sesuai dengan kondisi potensi sumber daya alam kawasan pada kecamatan-kecamatan yang berada di wilayah perbatasan. pertanian. Kabupaten Nunukan secara geografis dapat terlihat pada Gambar 31. . pertambangan. 4. yaitu kesesuaian lahan. dan sosial. Dalam menganalisis sektor-sektor potensial dan prospektif dengan menggunakan metode perbandingan eksponensial (MPE). Pemda menglokasikan dana untuk pembuatan kanal dan sarana air bersih senilai Rp 9 miliar serta biaya pembebasan tanah untuk pembangunan kawasan permukiman nelayan seluas 100 ha. Kesediaan pemda bersama-sama dengan pemerintah pusat mengalokasikan dana APBD dalam mengembangkan nelayan perbatasan berkorelasi dengan membuktikan kemampuan kawasan permukiman bahwa indeks fiskal yang sangat baik daerah dalam menyiapkan dana untuk pembiayaan pembangunan permukiman. ekonomi. jumlah tenaga kerja. Sebuku. dan industri.dan usulan dana program pembangunan melalui APBD dari masing-masing dinas terkait. jangkauan pasar. lokasi startegis. nilai produk. pariwisata. di kecamatan wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan dibuat 3 (tiga) klastering subkawasan. Klaster III meliputi Kecamatan Nunukan. dan Sebatik Barat 3. yaitu: 1.

Adapun pembobotan kriteria terhadap sektor unggulan dengan metode MPE dapat disajikan pada Tabel 10. Penilaian bobot kriteria terhadap sektor unggulan klaster I Klaster I Pertambangan Perkebunan Kehutanan Pariwisata 5 5 6 5 6 6 5 5 Perikanan Pertanian Industri 6 7 6 5 7 7 6 6 No Kriteria Bobot 1 Kesesuaian Lahan 2 Produktivitas 3 Lokasi Strategis 4 Jumlah Tenaga Kerja 5 Nilai Produk 6 Jangkauan Pasar 7 Akses Transportasi 8 Akses Komunikasi Sumber: Hasil Analisis 8 8 7 6 9 6 7 7 7 6 6 6 7 7 6 6 9 8 7 7 8 9 7 7 5 4 6 7 5 5 5 5 4 4 6 6 4 5 4 4 5 5 6 5 6 5 6 6 .1 Sektor Unggulan Subkawasan Klaster I Kecamatan yang termasuk dalam klaster I adalah Kecamatan Krayan dan Kecamatan Krayan Selatan. Pembagian klaster di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan 4.KLUSTER II KLUSTER I KLUSTER III Gambar 31. Tabel 10.3.

137.413. Urutan dari posisi ke-4 sampai ke-7.384 2.802.413 48.746 768. Tabel 11. Jumlah produksi minyak bumi pada tahun 2007 sebanyak 1.357.802. . Data BPS (2007) menunjukkan bahwa produk pertambangan unggulan adalah minyak bumi dan batu bara. pariwisata dengan nilai MPE yaitu 11.730.978.978. prioritas ketiga adalah industri dengan nilai MPE 48.106.161.201. Perkebunan menempati urutan kedua dengan nilai MPE yaitu 48.357.771. Hasil tersebut disajikan dalam Tabel 11.730.201 11.304 ton. kehutanan dengan nilai MPE yaitu 11.362.Berdasarkan hasil perhitungan dengan teknik MPE. Jumlah produksi minyak terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun seperti yang terlihat pada Gambar 32. pertanian dengan nilai MPE yaitu 2. Nilai sektor unggulan klaster I Klaster I No 1 2 3 4 5 6 7 Perkebunan Pertambangan Pertanian Perikanan Kehutanan Pariwisata Industri Sektor Nilai MPE 48.771.746 dan perikanan dengan nilai MPE yaitu 768.161. terlihat urutan atau prioritas sektor yang potensial di Klaster I Kabupaten Nunukan.004.004 11.384.106 Sumber: Hasil Analisis Berdasarkan tabel 11 di atas dapat disimpulkan bahwa sektor yang paling menentukan pada klaster I adalah sektor pertambangan dengan nilai 197.137 197.

553 26. Jumlah produksi bahan tambang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dari tahun sebelumnya sebesar 1.145 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.562 2007 34.000 20. 2008 Gambar 32.165.846. Data BPS (2007) menunjukkan jumlah produksi batu bara di Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 sebesar 1. sektor tambang menjadi unggul pada klaster I dan didukung juga oleh daya dukung sumber daya alam yang ada pada kawasan klaster I. .000 10.000 0 Diproduksi Terjual 2004 25.557 24.129 ton. Oleh karena itu. kawasan Klaster I sangat sesuai untuk pertambangan (Gambar 33).129 2006 26. Berdasarkan peta kesesuaian lahan yang menunjukkan di atas 90%.556 23.070 31.2007 (BBL) Produk batu bara pada klaster I juga merupakan produk unggulan.103 2005 29.000 30. Produksi minyak bumi (MMSTB) 2000 .287 ton.937. Berdasarkan peta kesesuaian lahan.40. lokasi klaster I merupakan pegunungan dan perbukitan yang tidak teratur serta mempunyai kelerengan >40%.

. dan Sebatik Barat. Adapun pembobotan nilai dengan metode MPE dapat dilihat pada Tabel 12. Hal ini didukung oleh kesesuaian lahan serta jenis tanah yang mendukung kegiatan perkebunan sehingga dapat mencegah erosi pada wilayah-wilayah yang berlereng.Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan.3.2 Sektor Unggulan Subkawasan Klaster II Kecamatan yang termasuk klaster II adalah Kecamatan Lumbis. Kesesuaian lahan untuk pertambangan Urutan kedua adalah sektor perkebunan. 4. Sebuku. 2008 Gambar 33. Peta kesesuaian lahan untuk perkebunan menunjukkan klaster I yang di atas 55% cocok untuk lahan perkebunan.

848.583. kehutanan dengan nilai MPE 44. Prioritas ketiga adalah industri dengan nilai MPE 53. dapat disimpulkan bahwa sektor yang paling menentukan adalah sektor perkebunan dengan nilai 450. .643.094. Penilaian bobot kriteria terhadap sektor unggulan klaster II Klaster II Pertambangan Perkebunan Kehutanan Pariwisata 5 5 5 6 5 4 5 4 Perikanan Pertanian Industri 7 7 6 7 7 7 7 5 No Kriteria Bobot 1 Kesesuaian Lahan 2 Produktivitas 3 Lokasi Strategis 4 Jumlah Tenaga Kerja 5 Nilai Produk 6 Jangkauan Pasar 7 Akses Transportasi 8 Akses Komunikasi Sumber: Hasil Analisis 8 8 7 6 9 6 7 7 9 8 7 8 9 7 7 7 7 6 7 7 7 6 6 6 8 7 6 7 7 5 5 4 5 4 6 6 6 5 5 4 8 8 7 5 6 5 5 5 Hasil perhitungan dengan teknik MPE memperlihatkan urutan atau prioritas sektor yang potensial di Klaster II Kabupaten Nunukan. dan pariwisata dengan nilai MPE 2.970.300.761.744 63.848 49.345. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel 13. perikanan dengan nilai MPE 10.343.957. Nilai sektor unggulan klaster II Klaster II No Sektor 1 2 3 4 5 6 7 Perkebunan Pertambangan Pertanian Perikanan Kehutanan Pariwisata Industri Nilai MPE 450.583 44. Posisi ke-4 sampai ke-7 berturut-turut pertambangan dengan nilai MPE 49.403.171 2.643.111 Sumber: Hasil Analisis Berdasarkan tabel 13 di atas.343 10.Tabel 12. Pertanian menempati urutan kedua dengan nilai MPE 63.300.345.761 53. Tabel 13.744.094.970.111.403.957.171.

termasuk dalam kelompok punggung gunung batuan metamorfik yang tidak teratur yang menyebabkan klaster II sangat cocok untuk perkebunan. Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Jenis komoditas unggulan perkebunan pada klaster II adalah kakao dan kelapa sawit. Produksi kelapa sebanyak 7.10 ton. .Klaster II. 2008 Gambar 34. berdasarkan peta kesesuaian lahan untuk perkebunan.686. Selain itu. Kedua kecamatan tersebut sangat sesuai untuk tanaman perkebunan (gambar 34).71 ton. Peta kesesuaian lahan untuk perkebunan Data BPS (2008) menunjukkan produksi kakao di Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 sebanyak 18. Produksi kakao dan kelapa terus mengalami peningkatan dari 2002 sampai tahun 2007 seperti terlihat pada Gambar 35 berikut. hampir di atas 90%. berdasarkan peta land system.903.

35 15889.8 7406. Nunukan Selatan.1 2002 2003 2004 kelapa 2005 kakao 2006 2007 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.32 6430.6 17073.6 7458.3 6407. Adapun hasil pembobotan nilai dengan metode MPE dapat dilihat pada Tabel 14. Penilaian terhadap alternatif kegiatan penunjang pusat-pusat pertumbuhan terdapat di Kabupaten Nunukan berdasarkan sektor unggulan dengan pembagian klaster.35 13592. Penilaian bobot kriteria terhadap sektor unggulan klaster III Klaster III Pertambangan Perkebunan Kehutanan Pariwisata Perikanan Pertanian Industri No Kriteria Bobot 1 2 3 4 5 6 7 8 Kesesuaian Lahan Produktivitas Lokasi Strategis Jumlah Tenaga Kerja Nilai Produk Jangkauan Pasar Akses Transportasi Akses Komunikasi 8 8 7 6 9 6 7 7 7 7 8 6 7 7 7 7 5 5 8 5 5 7 7 7 8 8 9 7 7 8 7 7 9 9 9 8 8 9 7 7 7 6 8 6 5 5 7 7 5 7 8 5 5 5 7 7 7 7 8 6 6 7 7 7 Sumber: Hasil Analisis .3. Produksi komoditas tanaman perkebunan 2002-2007 (ton) 4. dan Kecamatan Sebatik.32 6407. 2008 Gambar 35.20000 18000 16000 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 17702 15257.3 Sektor Unggulan Subkawasan Klaster III Kecamatan yang termasuk dalam klaster III adalah Kecamatan Nunukan.32 7686.71 18903. Tabel 14.

534. Keadaan berpotensi menyebabkan longsor dan tidak memungkinkan untuk adanya budi daya perikanan darat.611.810 13.717. Pada gambar.887.717.887 80.884. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel 15. Nilai sektor unggulan klaster III No 1 2 3 4 5 6 7 Sektor Klaster III Perkebunan Pertambangan Pertanian Perikanan Kehutanan Pariwisata Industri Nilai MPE 55.841 Sumber: Hasil Analisis Berdasarkan tabel 15 di atas dapat di lihat bahwa sektor unggulan yang paling mendukung pusat pertumbuhan dalam pengembangan wilayah perbatasan adalah sektor perikanan dengan nilai 227.039 25.061 11. Posisi ke-4 sampai ke-7 adalah industri. prioritas ketiga sektor perkebunan dengan nilai MPE 55. ditampilkan kondisi topografi pada klaster III yang didominasi oleh tingkat kelerengan 0 .Hasil perhitungan dengan analisis MPE memperlihatkan urutan atau prioritas metode pengembangan wilayah perbatasan yang potensial dalam rangka meningkatkan pusat-pusat pertumbuhan.810. Tabel 15.204.791. dan pertambangan.887 227. .752 6.752. pariwisata. Hal tersebut mengandung arti bahwa budi daya perikanan darat di klaster III tidak disarankan karena kondisi topografi Kabupaten Nunukan yang berlerenglereng seperti yang ditunjukkan pada Gambar 36.534. Sektor pertanian menempati urutan kedua yang dapat mendukung pusat pertumbuhan dalam pengembangan wilayah perbatasan dengan nilai MPE 80.8% dan 15 25%. Alternatif pertama yang harus lebih diperhatikan dalam pengembangan wilayah perbatasan pada klaster III yang meliputi Kecamatan Nunukan dan Kecamatan Sebatik yaitu peningkatan sektor perikanan.791. kehutanan.515. Perikanan tangkap dan budi daya perikanan laut merupakan kegiatan yang paling potensial dan telah mendukung pendapatan Kabupaten Nunukan selama ini.

2008 Gambar 36. sayur-sayuran. Kebutuhan pangan yang dimaksud adalah kebutuhan beras sebagai bahan makanan pokok. Lahan Sawah Sawah adalah lahan penghasil padi yang selanjutnya diolah menjadi beras sebagai makanan pokok masyarakat Kabupaten Nunukan.9 ton gabah kering giling per tahun. kebutuhan setiap orang setiap tahun adalah 150 kg. Kebutuhan cadangan lahan sawah di Kabupaten . jumlah penduduk 5 dan 10 tahun yang akan datang membutuhkan areal pertanian basis. maka jumlah kebutuhan total adalah jumlah kebutuhan dasar ditambah 67% (Tabel 15). dan palawija.54 kg gabah kering giling dan setiap hektar lahan menghasilkan 4. Peta Kabupaten Nunukan berdasarkan kelerengan Sumber daya alam pertanian. Kebutuhan pangan Kabupaten Nunukan selama setahun sebagai berikut: a.Di urutan kedua diikuti sektor pertanian dengan komoditas unggulan yang dapat mendukung pusat pertumbuhan. yakni budi daya tanaman pangan terutama padi sawah yang produktivitasnya terus meningkat (Kabupaten Nunukan dalam Angka 2008). Setiap 1 kg beras dihasilkan dari 1. Adanya asumsi bahwa lahan efektif adalah 60% dari total lahan. Berdasarkan tiga perkiraan skenario. Sebagai dasar perhitungan. terutama lahan dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dasar Kabupaten Nunukan. Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan.

kebutuhan lahan untuk kegiatan peternakan tersebut membutuhkan lahan seluas 185 hektar pada tahun 2007 dan berkembang menjadi 236 hektar pada tahun 2012. 225. b. Kedelai.350 ekor ayam buras. populasi ternak di Kabupaten Nunukan adalah 2. konsumsi 1.3 ton/ha/tahun.52 kg/orang/tahun.37 ha.3 ton/ha/tahun. . tingkat produktivitas 10.35 kg/orang/tahun.099 ekor sapi. tingkat produktivitas 16. produktivitas 0. 57. Lahan Palawija Untuk kebutuhan bahan pangan lainnya. 4.530 ekor ayam ternak. Ubi kayu.6 ton/hektar/tahun.9 ton/hektar/tahun. Kacang tanah.25 kg/orang/tahun. untuk memenuhi kebutuhan beras sebanyak 47. 449 ekor kambing.09 kg/orang/tahun. kebutuhan konsumsi 57. Dengan asumsi pertumbuhan 5% per tahun.9 ton/ha/tahun. tingkat produktivitas 1. Lahan Peternakan Rakyat Pada tahun 2000. dan 5.1 kg/orang/tahun dan tingkat produktivitas 0.2 ton/ha/tahun.481 ton gabah kering giling per tahun. kebutuhan konsumsi 3. terperinci dengan tingkat konsumsi dan produktivitas sebagai berikut: Jagung. ubi. kebutuhan konsumsi 11. kebutuhan konsumsi per orang per tahun adalah 26.Nunukan sebesar 16.968 ekor itik.821 ekor babi. seperti kacang-kacangan. c.7 kg dan produktivitas 2.182. jagung dan lain-lain.124 ekor kerbau. Kacang hijau. konsumsi 7. Ubi jalar. 2.

462.100 mdpl yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman padi. di mana tanaman padi naik sebesar 4.21 Keperluan Dasar 4.051.42 10.338. pada klaster III didominasi ketinggian lahan berkisar antara 0 .37 Berdasarkan peta ketinggian lahan pada Gambar 37.97 30.784 144. sedangkan Lumbis dan Sebuku berada pada klaster II. 2008).850.15 6.55 16.690. Alternatif ketiga dalam pengembangan wilayah perbatasan pada klaster III adalah sektor perkebunan.334.127 ton atau dengan kata lain terjadi peningkatan produktivitas padi sebesar 9.28% (Kabupaten Nunukan dalam Angka. Hal ini didukung dengan peningkatan luas areal komoditas kelapa sawit pada tahun 2007 sebesar 25.751 Tahun Jumlah Penduduk Keperluan Beras (ton) 150 13.750.4% dibandingkan dengan tahun 2006 (Kabupaten Nunukan dalam Angka 2008). yaitu menjadi 48. Produksi tanaman padi juga mengalami kenaikan.64 30. Perhitungan kebutuhan lahan sawah (RTRW Kabupaten Nunukan 2004-2014) Skenario Index Pesimis 2009 2014 Optimis 2009 2014 Ambisius 2009 2014 Sumber: Hasil Analisis 96.53 47.264.435.100.47 4. Hal ini juga didukung dengan peningkatan luas panen padi (sawah+ladang) di Kabupaten Nunukan pada tahun 2007.04 Kebutuhan Lahan (Ha) 67% 7.961 107.696. Nunukan yang berada pada klaster III.053 116.80 5.35 19.528 23.840 163.69 6.65%.05 19.40 15.50 16.481. .83 8.337.09 8.933.Tabel 16. Sebatik Barat.72 9.182.54 21.03 10.768.072.171 239.979.832.698 30. Sebagian besar dari luas areal kelapa sawit terdapat di Kecamatan Sebatik.190.35 Keperluan Gabah (ton) 1.90 4.434.90 24.393.

Sebuku. . 2008 Gambar 37. dan Sebatik Barat) sektor perkebunan. 4 tahun 1992 memuat amanat tentang pengembangan permukiman khusus. Adanya keterbatasan infrastruktur dan permukiman di wilayah perbatasan baik yang berada dalam kawasan perkotaan maupun perdesaan yang kurang berkembang menyebabkan aktivitas sosioekonomi banyak berorientasi ke negara tetangga. Peta Kabupaten Nunukan berdasarkan wilayah ketinggian Kesimpulan hasil analisis MPE yang dilakukan untuk sektor-sektor yang potensial dalam mendukung pengembangan permukiman perbatasan di Kabupaten Nunukan untuk klaster I (Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan) adalah sektor pertambangan. Nunukan Selatan. dan Sebatik) sektor perikanan. Pengembangan permukiman (permukiman khusus) menjadi salah satu program prioritas pembangunan wilayah perbatasan dalam upaya pengembangan potensi ekonomi dan sumber daya alam. hal ini berkaitan juga dengan keamanan. 4.4 Analisis Strukturisasi Permasalahan dan Komponen Dominan Kebijakan Pengembangan permukiman di wilayah perbatasan dalam Undang-Undang No. klaster II (Kecamatan Lumbis. dan kesadaran masyarakat perbatasan terhadap identitas nasional.Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Selain menyebabkan ketergantungan negara tetangga. dan klaster III (Kecamatan Nunukan. kehormatan.

yaitu (1) melindungi hijau/konservasi dan sumber daya alam. disusunlah struktur permasalahan untuk keberhasilan pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan yang terbagi atas lima elemen pada permasalahan yang terdiri dari 24 subelemen kendala. Dinamika kegiatan ekonomi perkotaan di wilayah perbatasan merupakan kondisi yang dapat meningkatkan pertumbuhan kota-kota (pusat pertumbuhan baru) perbatasan negara. Apabila tidak terkendali akan dapat menjadi hambatan dalam pengembangan potensi pertumbuhan sebagai penggerak pengembangan sosial. (3) mengurangi dan efisiensi pembiayaan pembangunan infrastruktur. dan peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan di wilayahnya (Canales 1999). Berdasarkan hal tersebut kiranya perlu dibuat desain kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. kependudukan. .4. (4) mendorong sinergitas hubungan kota dan desa. Secara lengkap elemen permasalahan dan subelemen kendala terlihat pada tabel 17. ekonomi.Pengembangan perbatasan pusat-pusat pertumbuhan baru (border city) di wilayah ruang terbuka terdapat enam kategori. 4. (2) dapat mengoptimalkan penggunaan lahan. dan (5) memastikan transisi penggunan lahan perdesaan menuju perkotaan berjalan secara alamiah dan terarah (Seong 2006).1 Elemen Permasalahan dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Menurut Saxena (1994) yang dikutip Marimin (2005) berdasarkan hasil kajian pendapat pakar.

pada setiap elemennya dijabarkan menjadi sejumlah subelemen yang rinci.Eropa Banyak pemukiman berada di batas wilayah perbatasan Kondisi lingkungan tidak tertata. Elemen permasalahan pengembangan kawasan permukiman perbatasan No 1 Elemen (Masalah) Pengelolaan SDA wilayah perbatasan masih kurang No 1 2 3 4 5 6 7 8 2 Pengembangan dan Penataan kawasan permukiman kurang optimal 9 10 11 12 13 3 Pembangunan infrastruktur wilayah & permukiman belum sejalan 14 15 16 17 18 19 4 Kelembagaan belum mendukung pengembangan permukiman Pembiayaan belum mendukung pengembangan permukiman 20 21 22 23 24 Sub elemen (Kendala) Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan Perbedaan karakteristik antara wilayah darat dan laut Pengembangan dan pengelolaan SDA belum optimal Rendahnya kesejahteraan masyarakat Aktivitas sosial ekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga Kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional Persepsi wilayah perbatasan merupakan wil dan pintu belakang negara Pemanfaatan dan pengendalian tata ruang masih lemah Letak geografis Indonesia di titik silang benua EropaAsia. kumuh & tidak dikelola dengan baik Rencana Tata Ruang Wilayah yang tidak sesuai dengan kebutuhan Minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman Terbatasnya fasum & fasos Terbatasnya pelayanan publik Terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan perkim Perkembangan infrastruktur & permukiman yang tidak terencana Rendahnya kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan lahan sesuai peruntukan Penegakan hukum dan peraturan masih lemah Adanya privatisasi lahan oleh pemerintah & swasta Belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan Terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan Pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal 5 Dari lima elemen hasil kajian ini. Berikut ini adalah hasil hubungan . Subelemen ini berupa indikator-indikator keberlanjutan yang mempunyai nilai tinggi yang telah dipilah-pilah sesuai dengan konteks kelima elemen program tersebut. Asia-Australia & Australia.Tabel 17. berpencar.

Hasil yang digunakan dalam model ISM adalah kajian dari pendapat pakar melalui wawancara mendalam seperti yang tertuang pada matriks interaksi tunggal terstruktur (structural self interaction matrix/SSIM).00 6.00 2. swasta dan masyarakat yang terpilih berdasarkan pengetahuan. pemerintah daerah. Pakar yang terlibat dalam proses ini adalah pakar dari kalangan pemerintah pusat. Gambaran dari masing-masing elemen masalah mengenai peringkat berdasarkan nilai driver power yang ada dapat dilihat pada gambar 38.00 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 Sub Elemen (Kendala) Gambar 38. pengalaman di bidang pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan. Masyarakat di wilayah perbatasan yang bersebelahan dengan wilayah negara tetangga yang jauh lebih maju pada umumnya memiliki orientasi sosial . nilai driver power elemen masalah tertinggi pada subelemen 7 atau kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional dan subelemen 4 atau rendahnya kesejahteraan masyarakat.00 10.104 kontekstual antarsubelemen pada setiap elemen yang digambarkan dalam bentuk terminologi subordinat yang mengacu pada perbandingan berpasangan antar subelemen. sedangkan yang memiliki nilai driver power terendah adalah 2 atau perbedaan karakteristik antara wilayah darat dan laut. 12. di mana terkandung suatu arahan pada hubungan tersebut (Eriyatno dan Sofyar 2007). Peringkat elemen masalah berdasarkan nilai driver power Berdasarkan gambar 38 di atas.00 4.00 8.

Kemiskinan dan ketertinggalan masyarakat merupakan salah satu permasalahan utama di wilayah perbatasan. pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu meningkatkan upaya sosialisasi peningkatan wawasan kebangsaan melalui program-program pembangunan yang selaras dengan pengembangan permukiman dan penyediaan prasarana dan sarana. Hal ini menyebabkan prasarana dan sarana wilayah minim. Interpretasi dalam bentuk hierarki disajikan pada Gambar 39. linkage. Keterbatasan pelayanan publik di wilayah perbatasan menyebabkan orientasi aktivitas sosial-ekonomi masyarakat tertarik ke wilayah negara tetangga. Oleh karena itu. (11) penegakan hukum dan peraturan masih lemah. dan (12) pemanfaatan dan pengelolaan dana . (2) terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan. (7) aktivitas sosial ekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga. Hal ini disebabkan sentralisasi pembangunan pada masa lalu dan kecenderungan penggunaan pendekatan keamanan dalam pengelolaan wilayah perbatasan.ekonomi yang berorientasi kepada wilayah negara tetangga. (8) kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga. Subelemen dikelompokkan ke dalam empat sektor yakni autonomous. (5) terbatasnya fasos dan fasum. Hasil analisis ini menggambarkan pendapat para ahli bahwa elemen masalah dalam strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara diawali oleh (1) kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional. Analisis data ISM dapat terlihat pada Lampiran 3. (3) rendahnya kesejahteraan masyarakat. diperlukan percepatan pembangunan di wilayah perbatasan dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan. fasilitas umum dan sosial terbatas. dan independent. (6) kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan. (4) terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman. dependent. Penggunaan alat tukar dan akses informasi serta komunikasi nasional yang terbatas dikhawatirkan dalam jangka panjang akan melunturkan rasa kebangsaan dan bela negara masyarakat. (10) terbatasnya pelayanan publik. (9) minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman. serta kesejahteraan masyarakat rendah. Dalam rangka memenuhi hak-hak masyarakat sebagai warga negara dalam memperoleh pelayanan publik dan kesejahteraan sosial serta membuka keterisolasian wilayah.

106 pembangunan belum optimal. Dengan Dua belas elemen masalah tersebut berada pada demikian. strategi pengembangan kawasan merupakan elemen yang berperan sebagai peubah bebas berkekuatan penggerak besar. sektor independent. belum . tetapi tidak tergantung kepada sistem. Kemudian diikuti oleh elemen masalah wilayah perbatasan yang menjadi pintu belakang negara dan adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan.

kumuh & tidak dikelola dengan baik RTRW yang tidak sesuai dengan kebutuhan Level 3 Pengembangan dan pengelolaan SDA belum optimal Perkembangan infrastruktur & permukiman yang tidak terencana Rendahnya kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan lahan sesuai peruntukan Adanya privatisasi lahan oleh pemerintah & swasta Level 4 Persepsi Wilayah Perbatasan merupakan wilayah dan pintu belakang negara Belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan Level 5 Aktivitas sosek masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga Kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga Minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman Terbatasnya pelayanan publik Independent Penegakan hukum dan peraturan masih lemah Pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal Level 6 Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan Terbatasnya fasos dan fasum Terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman Level 7 Rendahnya kesejahteraan masyarakat Terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan Level 8 Kurangnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional Gambar 39. Diagram hierarki dari subelemen masalah dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara . berpencar.Level 1 Perbedaan karakteristik antara wilayah darat dan laut Banyak pemukiman berada di batas wilayah perbatasan Dependent Level 2 Pemanfaatan dan pengendalian tata ruang masih lemah Letak geografis Indonesia di titik silang benua Kondisi lingkungan tidak tertata.

11 2 1 0 Linkage Autonomus Dependent Gambar 40. Hal ini berarti faktor kunci dapat berubah menjadi sektor linkage apabila faktor-faktor yang lain mendukung subelemen tersebut. 1918. Hasil kajian subelemen pada analisis ISM berupa (a) Matriks reachability dan interpretasi dari elemen masalah yang terpengaruh program yang disajikan pada Lampiran 3.Hasil analisis ini memberikan makna bahwa kedua belas elemen faktor kunci masalah yang berada di sektor dependent sangat tergantung pada sistem dan tidak mempunyai kekuatan penggerak yang besar. dua belas faktor kunci prioritas penggerak elemen tolok ukur yang sangat memengaruhi faktor lain dalam keberhasilan strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yaitu subelemen-subelemen yang terletak pada sektor I . 10. 15. 20. (c) Matriks driver power-dependence untuk elemen sektor masyarakat yang terpengaruh program. 17 20 19 5. Berdasarkan hasil analisis. 6. 14. 13 5 4 3 2. 12. 22 11 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 10 12 13 14 15 16 17 18 3. 18 24 17 16 15 14 13 12 8.22 2123 24 25 9 8 7 6 9. 23 22 21 1. (b) Diagram model struktural ISM dari elemen sektor masyarakat yang terpengaruh program seperti disajikan pada Gambar 39. Dalam strategi pengembangan kawasan posisinya akan mengikuti elemen lainnya yang berada di sektor independent. Matriks DP-D untuk subelemen masalah dalam strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara Perlu dicermati bahwa posisi masalah persepsi wilayah perbatasan merupakan wilayah dan pintu belakang negara serta masalah belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan dalam upaya pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan berada di dekat sektor linkage. Independent 25 24 7 23 4. 16. 20 21 19. disajikan pada Gambar 40.

(independent).4. lembaga profesi. sedangkan lemahnya perhatian terhadap sektor-sektor tersebut akan menyebabkan kegagalan program. pengalaman di bidang pengembangan kawasan permukiman. . tidak terdapat faktor-faktor kunci yang berperan sebagai peubah linkage. masyarakat. Dalam desain kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. swasta.2 Elemen Tolok Ukur dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Berdasarkan hasil kajian dan pendapat pakar. perguruan tinggi. legislatif. Secara lengkap elemen tolok ukur dan subelemen kendala terlihat pada Tabel 18. dan LSM yang terpilih berdasarkan pengetahuan. Adapun hasil yang digunakan dalam model ISM adalah kajian dari pendapat pakar melalui wawancara mendalam seperti yang tertuang pada matriks interaksi tunggal terstruktur (structural self interaction matrix/SSIM) pada Lampiran 4. Pakar yang terlibat dalam proses ini adalah pakar dari kalangan pemerintah. 4. pemerintah daerah. tetapi dengan peningkatan peranan secara optimal dari faktor-faktor kunci seperti persepsi wilayah perbatasan merupakan wilayah dan pintu belakang negara (8) dan persepsi belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan akan berdampak terhadap peningkatan faktor-faktor kunci tersebut sebagai peubah linkage. setiap tindakan meningkatkan peranan sektor-sektor independent. disusunlah struktur tolok ukur untuk menuju keberhasilan pengembangan kawasan permukiman yang terbagi atas lima elemen pada tolok ukur yang terdiri dari 16 subelemen kendala. Berdasarkan hasil analisis. Tindakan meningkatkan peranan terhadap sektor-sektor tersebut akan menghasilkan terwujudnya program menuju sistem pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan.

budaya. sosial ekonomi. pendapatan daerah. Elemen tolok ukur pengembangan kawasan permukiman perbatasan No Elemen (Tolok Ukur) 1 Otimalisasi pengelolaan SDA kawasan No 1 2 3 Sub elemen (Kendala) Penataan dan pembukaan isolasi serta ketertinggalan wilayah perbatasan Peningkatan kegiatan pengembangan pemukiman. sarana. lingkungan. dan kelembagaan pendukung pusat pertumbuhan Penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan Evaluasi kegiatan untuk penganggaran dana pada kegiatan selanjutnya 4 5 2 Peningkatan pengembangan dan penataan kawasan permukiman 6 7 8 3 Pengembangan infrastruktur wilayah dan permukiman terpadu 9 10 11 4 Pengembangan kelembagaan 12 13 14 5 Alokasi dana untuk pengelolaan wilayah perbatasan 15 16 . dan prasarana wilayah Pengembangan kawasan khusus dengan pemanfaatan ruang spesifik sesuai dinamika wilayah perbatasan Pengelolaan SDA darat dan laut secara seimbang Peningkatan kesejahteraan masyarakat. antarpemerintahan. dan kesejahteraan secara seimbang Sinergi/keterpaduan dan keseimbangan pembangunan berdasarkan potensi wilayah Peningkatan kerjasama pembangunan antar negara. dan pendapatan negara Pembangunan wilayah perbatasan melalui pengembangan permukiman sebagai pusat pertumbuhan baru sebagai dan embrio kegiatan ekonomi Penataan ruang wilayah Pembangunan infrastruktur. SDA. dan antar stakeholders di wilayah perbatasan Pembuatan kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan Penyusunan kebijakan tingkat makro dan mikro.Tabel 18. sarana. dan prasarana Partisipasi horison & vertikal pusat dan daerah Pendekatan pengelolaan wilayah perbatasan pada aspek keamanan. investasi.

Selain itu. gambar tersebut menjelaskan pendapat para ahli tentang elemen tolok ukur dalam strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan. 9.00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Driver Power Elemen (Tolok Ukur) Gambar 41. Analisis data ISM disajikan pada Lampiran 4. pendapatan daerah dan pendapatan negara. linkage dan independent.00 2. penataan dan pembukaan isolasi serta ketertinggalan wilayah perbatasan. pendapatan daerah.00 8. pembangunan infrastruktur. Interpretasi dalam bentuk hierarki disajikan pada Gambar 38 dan pada Gambar 39 subelemen dikelompokkan kedalam empat sektor yakni autonomous. Peringkat elemen tolok ukur berdasarkan nilai driver power Berdasarkan Gambar 41 di atas. dan pendapatan negara) dan 15 (penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan).00 6.00 1. penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan. dependent. prasarana dan sarana. kesejahteraan secara seimbang.00 7.00 3. Berdasarkan Gambar 42. pendekatan pengelolaan wilayah perbatasan pada aspek sosekbudhankam dan lingkungan.00 5.111 Gambaran dari masing-masing elemen tolok ukur mengenai peringkat berdasarkan nilai driver power yang ada disajikan pada Gambar 41.00 4. nilai driver power elemen tolok ukur tertinggi pada subelemen 5 (peningkatan kesejahteraan masyarakat. peningkatan kerja sama pembangunan antarnegara antarpemerintahan dan antar-stakeholders di wilayah . Elemen tolok ukur tersebut diawali oleh peningkatan kesejahteraan masyarakat. sedangkan yang memiliki nilai driver power terendah adalah 3 (pengembangan kawasan khusus dengan pemanfaatan ruang spesifik sesuai dinamika wilayah perbatasan).

investasi.perbatasan merupakan elemen tolok ukur tersebut. SDA dan kelembagaan pendukung pusat pertumbuhan Evaluasi kegiatan untuk penganggaran dana pada kegiatan Level 3 Peningkatan kegiatan pengembangan pemukiman. (c) Matriks driver power-dependence untuk elemen tolok ukur yang terpengaruh program. sarana dan prasarana wilayah Pembangunan Wilayah Perbatasan Penataan ruang wilayah Sinergi dan keseimbangan pembangunan Linkage Pembuatan kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan Level 4 Penataan dan pembukaan isolasi serta ketertinggalan wilayah perbatasan Pembangunan infrastruktur. Level 1 Pengembangan kawasan khusus dengan pemanfaatan ruang spesifik sesuai dinamika wilayah Dependent Level 2 Pengelolaan SDA darat dan laut secara seimbang Partisipasi horison & vertikal pusat dan daerah Penyusunan kebijakan tingkat makro dan mikro. antar pemerintahan. yang disajikan pada lampiran 4. sarana dan prasarana Pendekatan pengelolaan Wilayah Perbatasan pada aspek sosekbudhankam dan lingkungan serta kesejahteraan secara seimbang Independent Peningkatan kerjasama pembangunan antar negara. disajikan pada Gambar 42. dan antar stakeholders di wilayah perbatasan Level 5 Peningkatan kesejahteraan masyarakat. pendapatan daerah dan pendapatan negara Penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan Gambar 42. (b) Diagram model struktural ISM dari elemen tolok ukur yang terpengaruh program seperti disajikan pada Gambar 38. Diagram hierarki dari subelemen tolok ukur dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara . Hasil kajian subelemen pada analisis ISM berupa (a) Matriks reachability dan interpretasi dari elemen tolok ukur yang terpengaruh program.

Hasil Pembobotan pada Setiap Komponen Dalam menganalisis komponen yang dominan dalam kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan wilayah perbatasan negara di Kabupaten Nunukan.4. 11. Departemen Dalam Negeri. 9. 1 1 0 4 . lembaga profesi. digunakan model AHP untuk memilih arahan kebijakan yang tepat dan penting dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan. . dan LSM. KLH. swasta. pemda. 8. 7. perguruan tinggi. 15 17 16 15 1. masyarakat. 16 0 1 2 3 4 5 3 Autonomus Dependent Gambar 43.113 Berdasarkan hasil analisis terdapat 6 faktor kunci prioritas penggerak elemen tolok ukur yang sangat memengaruhi program menuju strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yaitu subelemen-subelemen yang terletak pada sektor I (independent). 14. sedangkan lemahnya perhatian terhadap sektor-sektor tersebut akan menyebabkan kegagalan program. 13 10 11 12 13 14 15 16 17 4. Gambar 39 merupakan diagram hirarki AHP yang telah didiskusikan dan merupakan pendapat pakar melalui wawancara yang mendalam. 6. Pakar yang terlibat antara lain dari Bappenas. Setiap tindakan yang meningkatkan peranan dari sektor-sektor tersebut akan menghasilkan sukses program menuju sistem pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. DPR RI. 12 13 12 11 10 9 8 6 7 7 8 9 6 5 4 3 2 1 0 Linkage 2. Matriks DP-D untuk subelemen tolok ukur dalam pengembangan strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara 4. Menpera.3 Komponen-komponen Dominan dalam Kebijakan Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Kabupaten Nunukan A. Departemen PU. Independent 5.

068 Tujuan Pengembangan Dan Penataan Kawasan 0. Level 3 adalah aktor terdiri atas pemerintah pusat. pengelolaan SDA dan ekosistem kawasan.158 Pengembangan Prasarana Kawasan 0. swasta. Level 5 adalah sasaran yang terdiri atas strategi pengembangan kawasan. Level 4 adalah tujuan untuk pengembangan kawasan permukiman yang terdiri atas pengembangan dan penataan kawasan. pengaruh.624 Strategi Pengembangan (Kelembagaan) 0.091 BKM / LSM 0. dan kekuatan terhadap kebijakan-kebijakan pengembangan kawasan.246 Gambar 44. Hasil pengisian kuesioner matriks perbandingan berpasangan yang disampaikan kepada .313 Pemulihan Ekosistem 0. dan BKM/LSM setempat.133 Pakar 0. pengembangan prasarana kawasan dan minimalisasi konflik.222 Swasta 0. prasarana.130 Strategi Pengembangan (Pembiayaan) 0.418 Tingkat Pendapatan 0.120 Pendanaan Pembangunan 0. dan sarana. pakar. pendanaan pembangunan. strategi pengembangan pembiayaan.337 Pemerintah Daerah 0. Diagram hierarki AHP pada pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara Hierarki AHP disusun dengan lima level yang memperlihatkan tahapan proses penetapan prioritas yang dimulai dari penetapan fokus pada level l yaitu fokus pada pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. pemerintah daerah.191 Stakeholders Pemerintah 0.087 Sasaran Strategi Pengembangan (Kawasan) 0. Level 2 adalah faktor yang terdiri atas kebijakan pemerintah. Aktor tersebut terkait dengan pengembangan kawasan permukiman dan masing-masing aktor mempunyai peran.Fokus Permukiman PerbatasanNegara Faktor Kebijakan Pemerintah 0.271 Prasarana dan Sarana 0. dan strategi pengembangan kelembagaan.326 Peningkatan Kesejahteraan 0.150 Masyarakat 0. tingkat pendapatan. peningkatan kesejahteraan. masyarakat.116 Minimalisasi Konflik 0.

115 pakar dari kalangan pemerintah pusat. pakar perguruan tinggi. pemerintah daerah.418 dan 0. Hasil analisis AHP pada setiap level dari heirarki desain pengembangan kawasan berkelanjutan. Keterangan : KBPM = Kebijakan Pemerintah PDPB = Pendanaan Pembangunan PSSR = Prasarana dan Sarana TKPM = Tingkat Pendapatan Gambar 45. Dalam kaitan dengan kebijakan pemerintah diperlukan kebijakan ekonomi yang meliputi intervensi pemerintah . Urutan prioritas faktor dalam pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan Berdasarkan gambar 45. Penyiapan perangkat kebijakan dan pendanaan pembangunan diperlukan guna pengembangan kawasan permukiman di tingkat kabupaten. dan BKM/LSM.271. masyarakat. kemudian diolah dengan perangkat lunak Expert Choice. Bobot dan prioritas yang dianalisis adalah hasil kombinasi (combined) dari pendapat para pakar pada setiap matriks berpasangan. B. Kebijakan pemerintah akan membantu membangun pusat-pusat pertumbuhan baru kegiatan ekonomi dan perdagangan. Pembobotan Kriteria Faktor dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Perbatasan Negara Berkelanjutan Berdasarkan hasil dari pendapat pakar tersusun faktor-faktor yang menjadi pengaruh utama dalam pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan. hasil analisis AHP yang merupakan faktor (level 2) kebijakan pemerintah dan pendanaan pembangunan menjadi prioritas utama dengan masing-masing bobot nilai adalah 0. Gambar 45 menunjukkan urutan prioritas faktor-faktor tersebut. kawasan pusat pertumbuhan maupun pada kawasan yang sangat terperinci di wilayah perbatasan negara. swasta.

dalam konteks hubungan antara tujuan sosial dan ekologi. memahami tiap tingkat harus mempertimbangkan tingkat yang paling atas dan paling bawah sebagai perbandingan hubungan yang paling dekat. Dalam kenyataannya. pola tata guna lahan. Pola merupakan gambaran sementara dari proses dan perilaku merupakan sumber dari proses pengambilan keputusan (Cheng 1999). proses dan pola pertumbuhan. Lokasi permukiman perlu memperhatikan keserasian dengan lingkungannya. Oleh karena itu. dan tersedianya fasilitas sosial dan umum. Kuswara (2004) dalam kajiannya mengungkapkan bahwa permukiman merupakan tempat aktivitas yang memanfaatkan ruang terbesar dari kawasan budi daya. dan LSM. hal tersebut sering terabaikan sehingga tidak berfungsi secara optimal dalam mendukung suksesnya perkembangan suatu kawasan/kota. (Permenpera 1999). Hasilnya adalah model pola pentahapan dan proses penyusunan kebijakan. Konsekuensinya untuk memahami proses adalah harus melihat pola dan perilaku yang terkandung di dalamnya. swasta. kesehatan lingkungan.116 secara terarah. perilaku masyarakat. strategi yang ditempuh adalah partisipasi masyarakat. Adapun. (4) Perilaku mengindikasikan kegiatan dari pelaku yang terlibat. . (2) Pola pertumbuhan merupakan cerminan dapat dilihat secara langsung hasilnya. (1) Kebijakan merupakan faktor paling penting untuk mengontrol pertumbuhan suatu kota pada skala makro. LKM. penciptaan kesempatan kerja. Pengelolaan pembangunan perumahan harus memperhatikan ketersediaan sumber daya pendukung serta keterpaduannya dengan aktivitas lain. pemerataan pendapatan. Aturan dalam teori hierarki. stakeholders. serta pembangunan permukiman yang kontributif terhadap rencana tata ruang. Memahami kecenderungan pertumbuhan kawasan perkotaan di wilayah perbatasan (pusat pertumbuhan baru) sangat terkait dengan 4 faktor: kebijakan. Hal tersebut dilakukan agar segenap tujuan pembangunan berkelanjutan ini dapat tercapai. Kebijakan pengembangan permukiman di Indonesia tahun 2000—2020 antara lain pengembangan lokasi kawasan permukiman dengan memerhatikan jumlah penduduk dan penyebarannya. diperlukan upaya pengembangan perencanaan dan perancangan. dan pemberian stimulan bagi kegiatan pembangunan yang memerlukannya. (3) Proses dapat mengindikasikan dinamika pertumbuhan kota.

(ii) ketimpangan pelayanan infrastruktur. pelayanan perkotaan. Diharapkan program pembangunan yang menyeluruh dan terpadu dapat dilaksanakan di wilayah perbatasan negara Kabupaten Nunukan. dan (v) komunitas lokal tersisih.191 dan yang menjadi prioritas yang terakhir adalah tingkat pendapatan dengan bobot nilai 0. Rencana tapak kawasan ini penting karena akan menentukan bentuk dan pola kawasan yang dapat menciptakan suatu kawasan permukiman yang tertata sehingga kemudahan dan kenyamanan para penghuni dapat tercipta serta dapat mempengaruhi perilaku penghuni di mana pun kawasan permukiman berada termasuk di wilayah perbatasan negara. dan (iv) kegagalan implementasi dan kebijakan penentuan lokasi perumahan (Kirmanto 2005). Gambar 46 menunjukkan urutan prioritas stakeholder tersebut. sehingga akan memberikan keuntungan kepada pemerintah dan mensejahterakan masyarakat di sekitar kawasan tersebut. Adanya peningkatan prasarana dan sarana serta peningkatan tingkat pendapatan. dan perumahan. Setelah lokasi kawasan permukiman ditentukan berdasarkan pilihan yang optimal.117 Permasalahan perumahan saat ini menurut Kirmanto (2005) telah terjadi: (i) alokasi tanah dan tata ruang yang kurang tepat. Hasil analisis AHP selanjutnya yang menjadi prioritas adalah peningkatan prasarana dan sarana dengan bobot nilai 0. tersusun stakeholder yang menjadi pengaruh utama dalam pengelolaan pengembangan kawasan permukiman tersebut perbatasan negara berkelanjutan. di mana orientasi pembangunan terfokus pada kelompok masyarakat mampu serta menguntungkan. Pembobotan Kriteria Stakeholder dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Perbatasan Negara Berkelanjutan Berdasarkan hasil dari pendapat pakar. (iii) marjinalisasi sektor lokal oleh sektor nasional dan global. (iii) konflik kepentingan dalam penentuan lokasi perumahan. .120. (iv) masalah lingkungan dan eksploitasi sumberdaya alam. C. (ii) perkembangan tak terkendali di daerah yang memiliki potensi untuk tumbuh. Tantangan pengembangan kawasan permukiman yang akan datang antara lain (i) urbanisasi yang tumbuh cepat merupakan tantangan bagi pemerintah untuk berupaya agar pertumbuhan lebih merata. perlu dibuat rencana tapak kawasan (site planning) agar dalam jangka panjang perumahan tersebut tidak menimbulkan dampak negatif dalam arti luas.

Hal tersebut disebabkan kenyataan di lapangan maupun pada tingkat kebijakan sangat ditentukan oleh pengaruh dan peran dari aktor pemerintah pusat dan pemerintah daerah sesuai dengan Undang-undang No. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah mempunyai tingkat kepentingan yang tinggi terhadap penetapan alternatif kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan. dan UU No. Undang-undang No.337 dan 0. Undang-Undang No. Secara umum. 32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) 2000-2004. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. 4 tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. Urutan prioritas stakeholder dalam pengembangan permukiman perbatasan negara berkelanjutan kawasan Berdasarkan gambar 46 hasil analisis AHP yang merupakan stakeholder (level 3) menunjukkan bahwa pemerintah pusat dan daerah mempunyai peran utama dalam pengembangan kawasan permukiman.118 Keterangan : PP = Pemerintah Pusat PD = Pemerintah Daerah ST = Swasta MY = Masyarakat PK = Pakar Gambar 46. Pola penanganan tersebut dapat dijabarkan melalui penyusunan kebijakan dari tingkat makro sampai tingkat mikro .222. bobot nilai masing-masing stakeholder adalah 0. pemerintah mempunyai kewenangan penuh untuk mendorong percepatan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan kabupaten Nunukan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN). pengembangan wilayah perbatasan memerlukan suatu pola atau kerangka penanganan yang menyeluruh meliputi berbagai sektor dan kegiatan pembangunan serta koordinasi dan kerjasama yang efektif dari mulai pemerintah pusat sampai ke tingkat kabupaten/kota. Oleh karena itu.

Kedua stakeholder tersebut mempunyai peran dalam hal melakukan pemantauan dan pengawasan di lapangan terhadap sosial ekonomi masyarakat di sekitar wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan dan usaha-usaha penegakan hukum jika ada suatu pelanggaran dalam setiap kegiatan pembangunan. Walaupun demikian. Hak-hak ulayat masyarakat perbatasan perlu diakui dan diatur keberadaannya. Stakeholder selanjutnya adalah pakar dan BKM/LSM masing-masing stakeholder tersebut mempunyai bobot nilai 0.68. karena hak-hak ulayat ini secara tradisional menjadi aset penghidupan sehari-hari masyarakat tersebut. Swasta mempunyai peran sebagai penggalian sumber dana untuk investasi pembangunan yang berkaitan dengan pengembangan kawasan permukiman. seperti pernyataan Direktorat Jendral Pemberdayaan Sosial (2005) mengemukakan bahwa tanggung jawab sosial dunia usaha telah menjadi suatu kebutuhan yang dirasakan bersama antara pemerintah. masyarakat. Pembangunan permukiman sangat penting dilakukan di wilayah perbatasan tersebut menyangkut keamanan. tetapi sebaliknya perlu diakui dan diatur secara jelas.133. Swasta merupakan salah satu stakeholder yang mempunyai peran terhadap pengembangan kawasan permukiman. dan kesadaran masyarakat perbatasan akan identitas nasional. keberadaanya tidak dapat dihapuskan. Masyarakat berperan penting untuk menjaga wilayah perbatasan. Swasta memiliki bobot nilai sebanyak 0. dan swasta atau dunia usaha berdasarkan prinsip kemitraan dan kerjasama.91 dan 0. pemerintah dengan swasta. Stakeholder selanjutnya adalah masyarakat yang mempunyai bobot nilai 0. implikasi positif terhadap meringankan beban pembiayaan pembangunan.150. . memperkuat investasi dunia usaha sehingga dapat meningkatkan dan menguatkan jaringan kemitraan serta kerja sama antara masyarakat. kehormatan.dan disusun berdasarkan proses yang partisipatif baik secara horisontal di pusat maupun vertikal dengan pemerintah daerah. Keberadaan tanah ulayat secara sesungguhnya memiliki permasalahan secara administratif karena terkadang keberadaannya melintasi batas negara di dua wilayah negara. Tanggung jawab sosial swasta di antaranya peningkatan kesejahteraan dapat memberikan masyarakat. sedangkan jangkauan pelaksanaannya bersifat strategis sampai dengan operasional.

Pengembangan kawasan menjadi prioritas sesuai dengan GBHN 1999 tertinggal mengamanatkan yang harus bahwa wilayah perbatasan dalam merupakan kawasan mendapat prioritas pembangunan. gambar 47 menunjukkan urutan prioritas tujuan tersebut. Urutan prioritas tujuan dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara Berdasarkan gambar 47 hasil analisis AHP yang merupakan tujuan (level 4) menunjukkan pengembangan dan penataan kawasan dan peningkatan kesejahteraan mendapat priotitas utama dalam kriteria tujuan dengan masingmasing bobot nilai 0. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.120 D. Pembobotan Kriteria Tujuan dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Berdasarkan hasil dari pendapat pakar tersusun tujuan yang menjadi capaian utama. Amanat GBHN ini telah dijabarkan dalam Undang-Undang No.326 dan 0. Penanganan pengembangan kawasan permukiman sesuai dengan UU No.313. Keterangan : PPK = Pengembangan dan Penataan Kawasan PKS = Peningkatan Kesejahteraan PE = Pengembangan SDA dan Ekosistem Kawasan PRK = Pengembangan Prasarana Kawasan MK = Minimasi Konflik Gambar 47. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman pada pasal 2 memuat penjelasan bahwa lingkup pengaturan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) yang . 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) dan dalam Undang-Undang No. mengamanatkan bahwa wilayah perbatasan negara sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) dan menyiapkan berbagai kebijakan dan langkah serta program pembangunan yang menyeluruh dan terpadu sehingga akan terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan.

kebutuhan permukiman sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia ikut meningkat pula. Berdasarkan asumsi pertumbuhan penduduk berdasarkan pada tiap-tiap skenario yang direncanakan. Hal ini disebabkan sentralisasi pembangunan di masa lalu dan kecenderungan penggunaan pendekatan keamanan dalam pengelolaan wilayah perbatasan sehingga menyebabkan minimnya prasarana dan sarana wilayah. Seiring meningkatnya jumlah penduduk. Dalam mengembangkan kawasan permukiman. maka perkiraan kebutuhan minimum rumah pada tahun 2009 dan tahun 2014 berdasarkan tiap skenario dapat ditentukan seperti tertera pada Tabel 19. Malaysia khususnya di wilayah perbatasan dengan Indonesia menggunakan pola cascade (ditarik ke dalam tidak linier di sepanjang jalan). dan Pengembangan pembangunan yang menyangkut penataan permukiman baru.840 163. Konsep penataan dan pengembangan permukiman di Indonesia berbeda dengan di Malaysia. perluasan. peremajaan. meliputi kegiatan pembangunan baru. serta dengan menggunakan asumsi bahwa setiap keluarga terdiri dari 5 orang.640 20. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari perkembangan permukiman berpola linier/ribbon development (Departemen PU 2002).171 239.578 26. pemanfaatannya.579 21. meliputi kegiatan pemeliharaan. penataan perbaikan. terbatasnya fasilitas umum dan sosial. Keterbatasan pelayanan publik di wilayah perbatasan menyebabkan orientasi . perumahan perluasan.429 26. Kebutuhan rumah di Kabupaten Nunukan tahun 2009 dan 2014 Kawasan Perumahan Skenario Pesimis 2009 2014 Optimis 2009 2014 Ambisius 2009 2014 Sumber: Hasil Analisis Jumlah Penduduk 96.751 Kebutuhan Rumah (unit) 18. perbaikan. serta rendahnya kesejahteraan masyarakat.menyangkut pemugaran.784 144. dan pemanfaataannya.264 41.961 107. Tabel 19. pemeliharaan.110 Kemiskinan dan ketertinggalan masyarakat merupakan permasalahan utama di wilayah perbatasan.053 116.

dan mengejar ketertinggalan pembangunan dari wilayah negara tetangga.122 aktivitas memenuhi sosial-ekonomi hak-hak masyarakat ke wilayah negara tetangga. sedangkan saat ini kondisi keamanan regional relatif stabil sehingga pengembangan wilayah perbatasan perlu pula menekankan kepada aspek ekonomi. Oleh karena itu. para pekerja . Untuk masyarakat sebagai warga negara dalam memperoleh pelayanan publik dan kesejahteraan sosial serta membuka keterisolasian wilayah. masyarakat dan pekerja di wilayah perbatasan banyak kekurangan rumah sehingga untuk memenuhi kebutuhan rumah. Oleh karena itu. Pengelolaan wilayah perbatasan dengan pendekatan kesejahteraan (prosperity approach) sangat diperlukan untuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat.158. Di lain pihak. Kebijakan pengembangan wilayah perbatasan negara ke depan adalah dengan peningkatan keberpihakan terhadap wilayah perbatasan sebagai daerah tertinggal dan terisolir dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan dan keamanan secara seimbang. Pengelolaan SDA dan ekosistem wilayah sangat penting untuk dilaksanakan sehingga SDA dan wilayah tidak terdegradasi akibat adanya pembangunan di kawasan tersebut. meningkatkan sumber pendapatan negara. diperlukan percepatan pembangunan di wilayah perbatasan dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan. budaya. Kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara mempunyai dampak langsung terhadap kualitas lingkungan seperti fakta adanya kawasan permukiman yang liar dan tidak tertata yang keberadaannya juga dapat mengganggu ekosistem air tanah. pengembangan wilayah perbatasan melalui pendekatan kesejahteraan sekaligus pendekatan keamanan secara serasi perlu dijadikan landasan dalam penyusunan berbagai program dan kegiatan di wilayah perbatasan pada masa yang akan datang. sosial. dan lingkungan. kegiatan-kegiatan pembangunan perlu direncanakan secara terpadu berdasarkan pada pengelolaan secara optimal potensi-potensi SDA dan ekosistem wilayah. Prioritas selanjutnya adalah pengelolaan SDA dan ekosistem wilayah dengan bobot nilai 0. Pada masa lalu pengelolaan wilayah perbatasan lebih menekankan kepada aspek keamanan (security approach). Paradigma pengelolaan wilayah perbatasan pada masa lampau berbeda dengan pradigma saat ini.

setiap negara di saling tergantung satu sama lain. Prioritas terakhir adalah minimalisasi konflik dengan bobot nilai 0. masyarakat dengan pemerintah daerah. maka gajinya akan lebih besar untuk kebutuhan kesejahteraan sehingga etos kerja para pekerja akan semakin meningkat (Gilbreath 2002).116 yang sangat penting dilakukan untuk pengembangan potensi ekonomi dan sumber daya alam di kawasan tersebut. Hal ini dapat mendatangkan keuntungan bagi pemerintah daerah maupun masyarakat. Prioritas selanjutnya yaitu pengembangan prasarana dan sarana dengan bobot nilai 0. subregional. Permasalahan perbatasan yang ada saat ini terjadi pada sembilan titik. subregional. Oleh karena itu. Adanya saling ketergantungan dalam masyarakat internasional berpengaruh dalam bidang-bidang ideologi. sosial-budaya. Peningkatan kerja sama bilateral. Forum ini mengadakan pertemuan setahun sekali dengan pergantian tempat antara Indonesia dan Malaysia. (2) Batu Aum. maupun regional diharapkan dapat menciptakan keterbukaan dan saling pengertian sehingga dapat menghindari terjadinya konflik perbatasan. Selain itu kerja sama. Permasalahan ini sangat kompleks dan menyangkut kepastian hukum wilayah NKRI atau Malaysia. Hal ini didukung meningkatnya hubungan masyarakat perbatasan baik dari segi sosial-budaya maupun ekonomi. antarnegara sangat diperlukan untuk meningkatkan investasi dan optimalisasi pemanfaatan SDA di wilayah perbatasan. maupun regional dalam berbagai bidang pengelolaan perbatasan tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan internasional maupun regional. peningkatan kerja sama dengan negara tetangga baik secara bilateral. Kelembagaan untuk menyelesaikan masalah-masalah perbatasan RI - Malaysia yang ada saat ini adalah General Border Committee (GBC) yang diketuai oleh Panglima TNI. (3) . dan masyarakat dengan pemerintah provinsi/pusat. Di era globalisasi seperti saat ini. ekonomi. Apabila para pekerja dapat dipenuhi kebutuhan rumahanya oleh para stakeholders terkait. politik. yaitu masalah (1) Tanjung Datu.menyewa tempat tinggal dengan tarif setengah dari gajinya.087 yang penting dilakukan agar tidak terjadi konflik di wilayah perbatasan antara masyarakat dengan masyarakat negara tetangga. dan pertahanan keamananan. serta untuk menanggulangi berbagai permasalahan hukum yang terjadi di wilayah perbatasan.

E. (6) Nanga Badau.Semilau. Kerja sama di bidang sosial-ekonomi daerah perbatasan Malaysia (Sarawak dan Sabah) dengan Indonesia (Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur) yang disebut Sosek Malindo telah dilengkapi dengan kelompok kerja (KK). (b) merumuskan hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan pembangunan sosial ekonomi di wilayah perbatasan. (5) Sungai Semantipal. (7) Sungai Buan.624. Pembobotan Kriteria Sasaran dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Perbatasan Negara Berkelanjutan Hasil dari pendapat pakar tersusun sasaran yang menjadi prioritas utama dalam keberhasilan pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan. Keterangan : SPKW = Strategi Pengembangan Kawasan SPPM = Strategi Pengembangan Pembiayaan SPKL = Strategi Pengembangan Kelembagaan Gambar 48. dan (d) menyampaikan laporan kepada KK Sosek Malindo tingkat pusat mengenai pelaksanaan kerja sama pembangunan sosial-ekonomi di daerah perbatasan. (4) Sungai Sinapad. Sosek Malindo di tingkat provinsi/negeri ditujukan untuk (a) menentukan proyekproyek pembangunan sosial ekonomi yang digunakan bersama. Gambar 48 menunjukkan urutan prioritas sasaran tersebut. Hal tersebut disebabkan adanya dukungan ketersediaan infrastruktur dasar yang memadai untuk dilakukan pengembangan wilayah . (8) Gunung Raya. (c) melaksanakan pertukaran informasi mengenai proyekproyek pembangunan sosial-ekonomi di wilayah perbatasan bersama. Urutan prioritas sasaran dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara Berdasarkan gambar 48 hasil analisis AHP yang merupakan sasaran (level 5) menunjukkan strategi pengembangan kawasan menjadi prioritas utama dengan bobot nilai 0. dan (9) Pulau Sebatik.

pembangunan wilayah perbatasan merupakan wilayah perbatasan dikembangkan dengan mengubah arah kebijakan pembangunan yang selama ini cenderung berorientasi inward looking menjadi outward looking. peningkatan kelengkapan lingkungan (neighbourhood peningkatan investasi publik. pembentukan pengelolaan community-based permukiman organization (CBO). Penetapan fungsi lembaga pengelola wilayah perbatasan sesuai dengan kapasitas. pelembagaan aktivitas sosialkultural.130. Prioritas yang terakhir adalah strategi pengembangan kelembagaan dengan bobot nilai 0. Penetapan garis batas negara secara jelas dan benar. Peningkatan sarana dan prasarana pendukung terhadap aktivitas sosial ekonomi masyarakat setempat serta guna membantu pengamanan kawasan perbatasan.246. a. kawasan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pintu gerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga. Strategi Pengembangan Kawasan Arah pembangunan jangka panjang nasional yang berkaitan dengan attachment). Peningkatan kualitas sumber daya manusia agar lebih berpotensi dan profesional. bantuan teknis pengembangan desain rumah dan lingkungan. sosialisasi dan program advokasi berkelanjutan. Hal tersebut disebabkan adanya dukungan perencanaan tata ruang yang partisipatif. . Pengembangan wilayah perbatasan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi strategis dengan pemanfaatan sumberdaya alam setempat. Prioritas kedua yaitu pengembangan pembiayaan dengan bobot nilai 0. Adapun program pembangunan berupa penyusunan rencana pengembangan wilayah perbatasan dengan program kegiatan sebagai berikut: Penetapan arah kebijakan pembangunan wilayah perbatasan dengan orientasi mendukung pergerakan aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga.125 perbatasan di Kabupaten Nunukan. Dengan demikian. Hal tersebut didukung oleh adanya dukungan pembiayaan dari pemerintah untuk melakukan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan.

membuka wilayah pedalaman. Rencana Strategi Daerah Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2003--2008. Perlu dibuka pos-pos imigrasi di wilayah perbatasan untuk melegalkan arus barang yang masuk dan keluar dari wilayah Indonesia. Mempercepat tercapainya kemandirian masyarakat dan pemerintah Kabupaten Nunukan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. dan kawasan tertinggal lainnya. Mengembangkan antarwilayah dan menyerasikan laju pertumbuhan antarsektor pembangunan ekonomi. serta kecamatan. perbatasan. baik yang menuju Indonesia maupun Malaysia untuk memudahkan pemasaran hasil-hasil bumi setempat.126 Arah kebijakan pemanfaatan ruang di wilayah perbatasan Provinsi Kalimantan Timur adalah: Perlu dibuka jalur transportasi yang menghubungkan wilayah perbatasan dengan daerah-daerah lainnya. Mengoptimalkan pemanfaatan pendapatan yang berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui dengan prinsip pembangunan yang berkelanjutan. Bagian dokumen perencanaan daerah ini yang memuat salah satu prioritas pembangunan daerah perbatasan dengan program prioritas: Pembangunan sarana dan prasarana jalan darat yang menghubungkan pusat pusat pertumbuhan ekonomi di daerah kota dan pantai dengan wilayah di perbatasan termasuk jalan tembus menuju ke daerah Malaysia. wilayah pedesaan. Meningkatkan investasi dan peran wisata untuk mendorong penguatan ekonomi rakyat. Perlu dibangun pelabuhan laut yang khusus melayani arus keluar-masuk barang dari Indonesia di Wilayah Nunukan Kepulauan. Pengawasan sumber daya alam di daerah perbatasan dan pencurian oleh pihak-pihak yang kurang bartanggung jawab serta pengawasan pemindahan patok-patok batas negara di perbatasan Indonesia dengan Malaysia. wilayah yang terisolasi. Pembukaan sarana dan prasarana perintis dan air strip yang sudah ada di daerah perbatasan dan bantuan subsidi penerbangan ke daerah perbatasan. Pengembangan potensi ekonomi yang tersedia di daerah perbatasan melalui .

pelayanan. Strategi Pengembangan Pembiayaan Pada pasal 18 A ayat (2) UUD Negara Republik Indonesia 1945 mengamanatkan agar hubungan keuangan. Jangan sampai kasus Sepadan. yang mengandung makna pendanaan mengikuti fungsi pemerintahan yang menjadi tanggung jawab masing-masing tingkat pemerintahan. Daerah. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah dimaksudkan untuk mendukung penyerahan urusan kepada pemerintahan daerah yang diatur dalam Undang-Undang No. pendapatan lain yang syah. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Wilayah perbatasan berkaitan dengan pemerintah pusat sehingga pendanaan pembangunan wilayah perbatasan juga dapat bersumber dari RAPBN. keuangan pusat yang dikonsentrasikan kepada gubernur. dan transparan dengan memperhatikan potensi.127 pola agribisnis dan agroindustri dengan tujuan ekspor ke negara tetangga. atau yang ditugaskan dan/atau desa dalam rangka tugas pembantuan. serta permasalahan daerah. dana alokasi umum (DAU). adil. kondisi. kebutuhan. serta pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah dan pemerintahan daerah diatur secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang. b. Dana perimbangan merupakan pendanaan daerah yang bersumber dari APBN yang terdiri dari dana bagi hasil (DBH). Perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah mencakup pembagian keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah secara proporsional. Legitan. dan Ambalat Timur terulang dengan kembali Serawak di daerah (Malaysia). dan dana . Studi pengembangan Kawasan Strategis Nasional perbatasan Provinsi Kalimantan Timur yang menyangkut pula pemerintahan 4 kabupaten merupakan masalah nasional yang perlu mendapat perhatian khusus. Pendanaan atau pembiayaan tersebut menganut prinsip "Money Follow's Function". UndangUndang No. daerah Pinjaman daratan perbatasan Kalimantan Sumber-sumber terdiri Daerah atas dan pendanaan/pembiayaan pendapatan Asli pelaksanaan Dana pemerintahan Perimbangan. demokratis. Peningkatan kerja sama sosial-ekonomi antara pemerintah dan masyarakat perbatasan antarkedua negara malalui payung kerja sama-SOSEK MALINDO dan kerja sama bidang lainnya yang saling menguntungkan kedua belah pihak.

Sumber dana/biaya dan kekayaan sumber daya alam yang ada di Provinsi Kalimantan Timur dan keempat kabupaten yang termasuk wilayah perbatasan cukup besar apabila dana tersebut dapat dimanfaatkan dengan kebijakan. termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang tidak perlu dibayar lagi. Strategi Pengembangan Kelembagaan Pengembangan strategi nasional perbatasan Provinsi Kalimantan Timur berkaitan dengan Kabupaten Nunukan sehingga sesuai dengan amanat Undangundang No. c. terdapat sumber-sumber pembiayaan lain yaitu pinjaman daerah yang digunakan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan pelayanan masyarakat. 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi. badan/lembaga internasional dalam bentuk devisa/rupiah. Sumber dana yang lain yaitu dana dekonsentrasi yang bertujuan untuk menjamin tersedianya dana untuk pelaksanaan kewenangan pemerintah yang dilimpahkan pada gubernur sebagai wakil pemerintah. panas bumi sesuai dengan undang-undang No. Dana alokasi umum (DAU) digunakan untuk pemerataan kemampuan keuangan antardaerah melalui penerapan formula yang mempertimbangkan kebutuhan dana potensi daerah. Wilayah perbatasan berkaitan dengan empat kabupaten sehingga ada peluang peningkatan DAU untuk membangun wilayah perbatasan. badan/lembaga asing. bentuk barang dan jasa. 7 Tahun 2000 dan pada pasal 21 sektor pertambangan. perencanaan. dan termasuk dana reboisasi. dan pengawasan yang baik. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. kecuali urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintah pusat. Dalam . 33 Tahun 2004 juga mengatur hibah yang berasal dari pemerintah negara asing. Dalam Undang-Undang No. Selain itu. pelaksanaan. Dana alokasi khusus (DAK) digunakan untuk membantu membiayai kegiatan-kegiatan khusus di daerah tertentu yang menjadi prioritas nasional karena membangun wilayah perbatasan merupakan masalah daerah dan masalah nasional. Dana bagi hasil (DBH) diatur dalam Undang-Undang No.128 alokasi khusus (DAK). Dana perimbangan ini digunakan untuk membantu daerah dalam mendanai kewenangannya untuk menghindari ketimpangan sumber pendanaan pemerintahan antara pusat dan pemerintahan daerah.

Hal ini sesuai dengan prinsip demokrasi yang mendorong akuntanbilitas pemerintah kepada rakyat. moneter dan fiskal nasional. pemerintah daerah propinsi. Urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah yaitu urusan dalam bidang politik luar negeri. Oleh karena itu. Penyelenggaraan desentralisasi memberikan syarat terhadap pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. dan efisien. pemerintah daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas perbantuan. dan pemerintah daerah kabupaten/kota. yustisi dan agama. Kriteria efisiensi didasarkan pada penyelenggaraan urusan pemerintahan harus ekonomis. ditetapkan kriteria pembagian urusan pemerintahan yang meliputi eksternalitas. Pembagian urusan pemerintahan yang bersifat konkuren harus proporsional antara pemerintah. Dalam setiap bidang urusan pemerintahan yang bersifat konkuren terdapat bagian urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat. pertahanan keamanan. Untuk mencegah teradinya tumpang tindih pengakuan atau klaim atas dampak maka ditentukan kriteria akuntanbilitas. Urusan pemerintahan yang dapat dikelola secara bersama antartingkatan dan susunan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi urusan pemerintah pusat. Urusan pemerintah terdiri dari urusan pemerintahan yang dikelola secara bersama antartingkatan dan susunan pemerintah atau konkuren.129 menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah tersebut. akuntabilitas. Penggunaan ketiga kriteria tersebut diterapkan secara kumulatif sebagai satu kesatuan dengan mempertimbangkan keserasian dan keadilan hubungan antarkegiatan dan susunan pemerintahan. pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten. Kriteria tersebut yaitu tingkat pemerintah yang paling berwenang menyelenggarakan urusan pemerintahan tersebut adalah yang paling dekat dari dampak yang timbul. Kriteria eksternalitas didasarkan atas pemikiran bahwa tingkat pemerintahan yang berwenang atas suatu urusan pemerintahan ditentukan oleh jangkauan dampak yang diakibatkan dari penyelenggaraan urusan pemerintahan. Seluruh tingkat pemerintahan wajib mengedepankan pencapaian efisiensi dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya dalam .

Pemerintah berkewajiban menyusun norma. potensi. lingkungan hidup. prosedur. personil. dan kriteria tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk menilai kemampuan apakah suatu urusan . standar.130 menghadapi globalisasi. prosedur. kependudukan dan sebagainya. akuntanbilitas. Agar pelaksanaan urusan pemerintahan yang bersifat wajib dan pilihan memiliki payung hukum yang kuat. seperti pendidikan dasar. Hal ini tentu harus disesuaikan dengan kondisi. kesehatan. Penerapan kriteria eksternalitas. Urusan pemerintahan wajib adalah urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang terkait dengan pelayanan dasar (basic services) bagi masyarakat. Urusan kewenangan daerah terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. standar. dan kekhasan daerah yang bersangkutan. dan kriteria yang dijadikan pedoman dalam mengatur hubungan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dan antara pemerintah daerah provinsi dengan pemerintah daerah kabupaten/kota. Keterbatasan sumber daya dan sumber dana yang dimiliki oleh daerah membuat prioritas penyelenggaraan urusan pemerintahan harus difokuskan pada urusan wajib dan urusan pilihan yang benar-benar mengarah pada penciptaan kesejahteraan masyarakat. Ketiga kriteria ini dapat disinergikan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan demokratisasi sebagai esensi dasar dari kebijakan desentralisasi. Urusan pemerintahan yang bersifat pilihan yaitu urusan pemerintahan yang diprioritaskan oleh pemerintahan daerah yang terkait dengan upaya pengembangan potensi unggulan (core competence). Di luar urusan pemerintahan yang bersifat wajib dan pilihan. tiap tingkat pemerintahan harus melaksanakan urusan pemerintahan berdasarkan kriteria pembagian urusan pemerintahan. Pedoman yang memuat norma. Urusan pemerintahan di luar urusan wajib dan urusan pilihan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang bersangkutan tetap harus diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang bersangkutan. Hal ini menjadi kewenangan pemerintah yang bersangkutan sesuai dengan dasar prinsip penyelenggaraan urusan sisa. Ketentuan tersebut meliputi penentuan struktur organisasi perangkat daerah. maka urusan wajib dan pilihan yang diselenggarakan oleh daerah harus dituangkan ke dalam peraturan daerah yang menjadi acuan dalam penentuan penyelenggaraan pemerintah daerah. perhubungan. serta semangat ekonomis diwujudkan melalui kriteria efisiensi. dan anggaran.

standar. oleh Pelaksanaan pemerintah urusan daerah pemerintah provinsi yang belum mampu kepada dilimpahkan departemen/LPND yang membidangi urusan pemerintahan tersebut. prosedur. prosedur. dan kriteria sebagai prasyarat penyelenggaraan urusan pemerintah yang efisien sesuai dengan kewenangannya. dan konsultasi antarlembaga. dan kriteria yang dipersyaratkan untuk penyelenggaraan urusan pemerintahan. Selain itu. tugas pembantuan dapat dimanfaatkan sebagai instrumen peningkatan kemampuan pemerintah daerah sebelum urusan pemerintahan tersebut benar-benar diserahkan kepada daerah yang bersangkutan. standar. dan kriteria yang ditentukan. Dengan demikian. prosedur. Pemberdayaan pemerintah daerah sangat penting dilakukan untuk meningkatkan kapasitas daerah sehingga mampu memenuhi norma. Untuk melaksanakan urusan pemerintah yang belum mampu dilaksanakan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota dilimpahkan kepada gubernur selaku wakil pemerintah dilaksanakan pusat. Berdasarkan hal tersebut. standar. peningkatan kapasitas dan fungsi kelembagaan dalam pengelolaan perbatasan dilakukan melalui optimalisasi fungsi dan peran kelembagaan antarinstansi pemerintah. Bagi pemerintahan daerah yang belum memenuhi norma. prosedur. peningkatan koordinasi. Urusan pemerintah yang ditugaskan kepada pemerintah daerah didasarkan pada asas tugas pembantuan yang secara bertahap dapat diserahkan kepada urusan pemerintah daerah yang bersangkutan. departemen/LPND bertanggung jawab menyusun norma. dan kriteria wajib dalam mengikutsertakan pemangku kepentingan (stakeholders) terkait termasuk pemerintahan daerah. kewenangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan tersebut dapat ditunda sampai dengan pemerintahan daerah yang bersangkutan mampu memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh pemerintah. standar. Oleh karena itu.pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah mampu diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang bersangkutan. peningkatan juga dilakukan melalui pengembangan database informasi wilayah perbatasan yang dapat dijadikan acuan bersama oleh seluruh . Urusan pemerintahan ini diserahkan apabila pemerintah daerah benar-benar telah menunjukkan kemampuan untuk memenuhi norma. penataan hubungan kerja baik secara horisontal maupun secara vertikal.

4. koordinasi yang intensif.stakeholder terkait. disusun analisis kebijakan yang dilakukan melalui tiga kajian strategi pilihan. diketahui tiga masalah yang paling berpengaruh terhadap strategi dan rekomendasi kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. (2) Strategi Pengembangan Pembiayaan. dan (3) Strategi Pengembangan Kelembagaan. Pemahaman yang baik terhadap fungsi dan peran. Dalam hal ini. antara lain (1) Strategi Pengembangan Kawasan. beberapa perubahan dilakukan pada peubah tertentu sehingga strategi yang bersangkutan dapat disimulasikan. . Berdasarkan dominasi responden mengenai kondisi masalah di masa yang akan datang. a. Sistem yang belum berkelanjutan menyebabkan perlunya perumusan berbagai strategi dan rekomendasi kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara.4. kebijakan dan peraturan-peraturan antara pemerintah pusat dan daerah. Dari kombinasi antarkondisi masalah didapatkan dua skenario yaitu (1) Strategi optimis dan (2) Strategi pesimis. Dari analisis tersebut. Perkiraan kondisi (state) dipengaruhi potensi hubungan antarkomponen terkait untuk penyusunan kebijakan dan strategi pengembangan kawasan (Cadenasso 2003). diharapkan dapat menyelaraskan berbagai kewenangan. tata hubungan yang jelas. Penyusunan Strategi Pengembangan Kawasan Interpretasi kondisi masalah dalam peubah skenario dilakukan melalui keterkaitan strategi yang disusun dalam suatu skenario. Perkiraan permasalahan pengembangan kawasan pada kondisi di masa yang akan datang disajikan pada tabel 20.4.1 Penyusunan Strategi Pengembangan Berdasarkan hasil analisis keterkaitan dan kinerja pengembangan kawasaan permukiman menunjukkan. Berdasarkan hasil AHP.4.4 Rekomendasi Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara 4. sistem yang ada saat ini masih belum berkelanjutan. hal yang harus dilakukan yaitu kombinasi antarkondisi masalah dengan membuang kombinasi yang tidak sesuai (incompatible). serta tingkat pengetahuan dan persepsi yang sama.

Perkiraan responden mengenai permasalahan pengembangan kawasan pada kondisi masa yang akan datang No 1 Masalah 5 Kesadaran masyarakat akan identitas nasional 7A Menurun. Terbatasnya fasos dan fasum 15C Meningkat. karena kawasan perumahan dan permukiman di wilayah perbatasan tidak didukung pembangunan infrastruktur lingkungan yang terpadu dengan infrastruktur primer kota 4A Menurun. karena banyak pengusahaan lahan di lakukan segelintir masyarakat (spekulan tanah) 15B Tetap. karena pembangunan terarah dan terencana 3 1. karena SDA dikelola kurang optimal dan kondisi perekonomian dan pemerataan pembangunan menurun 15A Menurun. karena pembangunan infrastruktur mendukung pertumbuhan kawasan 2 4. karena pembangunan tidak terkoordinasi dengan baik 4C Meningkat. karena pengadaan infrastruktur wilayah perbatasan dilakukan seadanya 7C Meningkat.Tabel 20. karena pemerintah menganggap bahwa pembangunan sosial ekonomi wilayah perbatasan tidak penting Keadaan (State) 7B Tetap. Kesejahteraan Masyarakat 4B Tetap. karena Kondisi letak geografis kurang mendukung untuk peningkatan kerjasama luar negeri antar negara 14B Tetap.Minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman 14A Menurun. dan ada sosialisasi yang baik dari pemerintah tentang pemanfaatan lahan yang baik 14C Meningkat. yang penting aman dan tidak diakui oleh pihak lain 1B Tetap. karena kurang perhatian pemerintah terhadap wilayah perbatasan 5 14. karena adanya pembangunan yang tetap berjalan namun dalam jumlah yang masih minim . karena tidak ada sosialisasi yang baik. karena masyarakat tidak peduli dengan pemanfaatan lahan. Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan 1A Menurun. dan melibatkan sektor swasta 1C Meningkat. hanya sedikit penjelasan 4 15. karena pembangunan fasos dan fasum di wilayah perbatasan mulai dilakukan oleh instansi terkait. karena pemerintah melakukan pembangunan sosial ekonomi. melakukan koordinasi.

6 6. Kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga

6A Menurun, karena pembangunan belum merata di segala bidang

6B Tetap, karena ada perhatian pemerintah akan pentingnya wilayah perbatasan, namun implementasinya belum dilakukan

6C Meningkat, karena karena pembangunan yang dilakukan di wilayah perbatasan negara tetangga lebih intens dan lebih fokus pada upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat

Tabel 21 . Strategi dan kombinasi kondisi faktor pengembangan kawasan No. Strategi 1. Skenario 1 2. Skenario 2 Kombinasi Kondisi Faktor 7A/4A/1A/15A/14A/6A 7C/4B/1C/15C/14C/6C

Skenario satu dibangun berdasarkan keadaan faktor kunci dengan kondisi pengembangan kawasan yakni kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional (7A) karena kawasan perumahan dan permukiman di wilayah perbatasan tidak didukung pembangunan infrastruktur yang terpadu dengan infrastruktur primer kota. Selain itu, pengadaan infrastruktur wilayah perbatasan dilakukan seadanya. Rendahnya kesejahteraan masyarakat (4A) karena pemerintah

menganggap bahwa pembangunan sosial-ekonomi wilayah perbatasan tidak penting dan pembangunan tidak terkoordinasi dengan baik. Kesenjangan

pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1A) karena SDA dikelola kurang optimal, kondisi perekonomian dan pemerataan pembangunan tidak merata, serta banyak pengelolaan lahan dilakukan segelintir masyarakat (spekulan tanah). Terbatasnya fasos dan fasum (15A) karena masyarakat tidak peduli dengan pemanfaatan lahan. Dalam pemanfaatan lahan bagi masyarakat yang penting adalah keamanan dan lahan tersebut tidak diakui pihak lain. Hal ini terjadi karena tidak ada sosialisasi yang baik dari pemda mengenai pentingnya pemanfaatan lahan. Kurangnya infrastruktur kawasan dan permukiman (14A) karena letak geografis tidak mendukung peningkatan kerja sama luar negeri antarnegara sehingga perlu adanya pembangunan infrastruktur dan permukiman. Kondisi sosial dan ekonomi negara tetangga lebih baik (6A) karena pemerintah memperhatikan perbatasan. pembangunan di segala bidang dan pentingnya wilayah

Skenario dua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan kawasan yaitu, meningkatnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional (7C). Kesadaran masyarakat akan identitas sosial meningkat karena kawasan perumahan dan permukiman di wilayah perbatasan didukung pembangunan infrastruktur yang terpadu dengan infrastruktur primer kota secara bertahap dan terencana. Kesejahteraan masyarakat relatif tetap (4B) karena pemerintah melihat tingkat kesejahteraan di wilayah perbatasan cukup baik sehingga tidak menjadi prioritas utama. Menurunnya kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1C) karena SDA dikelola dengan sangat baik. Bukan hanya itu, kondisi perekonomian dan pemerataan

pembangunan juga meningkat serta meningkatnya pembangunan fasos dan fasum (15C) karena masyarakat mengoptimalkan pemanfaatan lahan sesuai dengan peruntukannya dan berkoordinasi dengan pemda. Kondisi sosial dan ekonomi di negara tetangga lebih baik (6C) karena pembangunan di wilayah perbatasan lebih difokuskan pada aspek peningkatan keamanan melalui law enforcement, dengan pembangunan perbatasan. b. Penyusunan Strategi Pengembangan Pembiayaan Strategi yang disusun dalam skenario dikaitkan melalui interpretasi kondisi masalah ke dalam peubah skenario. Beberapa perubahan dilakukan pada peubah tertentu di dalam skenario sehingga strategi yang bersangkutan dapat sosial-ekonomi disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat

disimulasikan. Berikut ini perkiraan permasalahan pengembangan pembiayaan pada kondisi di masa yang akan datang. Tabel 22. Perkiraan responden mengenai permasalahan pengembangan

pembiayaan pada kondisi masa yang akan datang
No 1 Masalah 23.Terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan Keadaan (State) 23A 23B Menurun, karena kondisi sharing Tetap, karena pendanaan pusat, provinsi, kota kondisi sharing meningkat, alokasi dana khusus pendanaan untuk pengembangan dan pusat, provinsi, pengelolaan kawasan kota dari tahun permukiman perbatasan ke tahun tidak meningkat seiring kebijakan mengalami prioritas pembangunan di peningkatan wilayah perbatasan 23C Meningkat, karena menganggap pembangunan permukiman wilayah perbatasan tidak penting,

2 17. Terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan perkim

17A Menurun, karena keberpihakan dan perhatian pemerintah terhadap pembangunan kawasan semakin besar, adanya kesadaran bahwa pembangunan wilayah sangat penting

17B Tetap, karena pendekatan diproyeksikan dan tidak transparan

17C Meningkat, karena pemerintah menganggap bahwa pembangunan di wilayah perbatasan kurang penting 24C Meningkat, karena tidak adanya pengendalian terhadap pengelolaan dana pembangunan, adanya anggapan bahwa perbatasan hanya sekedar batas

3 24. Pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal

24A Menurun, karena kondisi aturan tentang tatacara penggunaan anggaran akan jelas ditingkatkan

24B Tetap, karena sudah ada perhatian pada infrastruktur dan permukiman

Tabel 23 . Strategi dan kombinasi kondisi faktor pengembangan pembiayaan No. Strategi 1. Skenario 1 2. Skenario 2 Kombinasi Kondisi Faktor 23A/17A/24A 23C/17B/24C

Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan pembiayaan karena terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23A). Hal ini dilakukan karena kondisi sharing pendanaan pusat, provinsi, kabupaten/kota tidak seimbang. Dana alokasi khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan

permukiman perbatasan meningkat seiring kebijakan prioritas pembangunan di wilayah perbatasan. Pendanaan dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota dari tahun ke tahun juga mengalami peningkatan. Dana untuk pengembangan, pengelolaan infrastruktur, dan perkim (17A) berkurang karena keberpihakan dan perhatian pemerintah terhadap pembangunan wilayah perbatasan masih rendah. Rendahnya pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan (24A) terjadi karena kondisi pengatuaran tata cara penggunaan anggaran belum jelas sehingga perlu adnay peningkatan kinerja agar penggunaan dana pembangunan dapat optimal. Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan pembiayaan yaitu meningkatnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23C)

kabupaten/kota meningkat. seperti belum optimalnya pemanfaatan serta pengelolaan dana pembangunan infrastruktur dan permukiman kondisinya tetap (24B) atau belum meningkat. karena tidak ada terobosan berarti dalam upaya penegakan hukum 16C Meningkat. Penegakan hukum dan peraturan 3 5. karena kondisi pembiayaan sudah optimal melalui lembaga pemerintah/swasta Keadaan (State) 16B Tetap.karena kondisi sharing pendanaan pusat. dilakukan beberapa perubahan pada peubah tertentu di dalam skenario sehingga strategi yang bersangkutan dapat disimulasikan. Perkiraan responden mengenai permasalahan pengembangan kelembagaan pada kondisi masa yang akan datang No 1 Masalah 16. Berikut ini perkiraan permasalahan pengembangan kelembagaan pada kondisi di masa yang akan datang. Tabel 24. Ini terlihat oleh banyaknya pelanggaranpelanggaran yang tidak menjalani proses hukum 5A Menurun. Pelayanan publik 16A Menurun. karena Pemda membiarkan infrastruktur permukiman apa adanya 5C Meningkat. provinsi. karena pemerintah menganggap kebijakan dan pedoman tidak diperlukan 20B Tetap. karena Law enforcement meningkat 2 20.karena rencana pemda asal jadi tanpa pemikiran matang. Penyusunan Strategi Pengembangan Kelembagaan Strategi pengembangan kelembagaan yang disusun dalam skenario dilakukan dengan menginterpretasikan kondisi masalah ke dalam peubah skenario. Dalam hal ini. Alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan meningkat seiring kebijakan prioritas pembangunan di wilayah perbatasan. karena pembangunan belum diimbangi dengan peningkatan terhadap pelayanan publik 20A Menurun. Pendanaan untuk pengembangan serta pengelolaan infrastruktur dan permukiman tetap (17B) karena keberpihakan dan perhatian pemerintah terhadap pembangunan kawasan semakin besar. tetapi belum dilakukan secara baik. c. Aktivitas sosial ekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga 5B Tetap.karena wilayah perbatasan hanya menjadi pintu belakang menjadi penting 20C Meningkat. karena penegakan hukum dan peraturan masih lemah dan cenderung menurun.dibukanya beberapa pintu .

No Masalah 16A Keadaan (State) 16B 16C penyeberangan antar wilayah. pertambangan dan pertanian belum dapat menyerap tenaga lokal dan menjadi kegiatan penunjang perkembangan wilayah perbatasan Tabel 25. . Penegakkan hukum dan peraturan masih lemah (20A) dan cenderung menurun. Aktivitas sosial-ekonomi masyarakat rendah (5A) karena kondisi pembiayaan melalui lembaga pemerintah/swasta masih rendah. pelayanan publik tetap (16B) karena pembangunan tidak diimbangi dengan peningkatan terhadap pelayanan publik. Strategi dan kombinasi kondisi faktor pengembangan kelembagaan No. Pada skenario kedua. Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan faktor kunci dengan kondisi pengembangan kelembagaan. Skenario 1 2. Aktivitas sosial-ekonomi masyarakat dengan wilayah negara tetangga berkurang (5C) karena kondisi pembiayaan pembangunan di wilayah perbatasan meningkat melalui lembaga pemerintah/swasta. Skenario 2 Kombinasi Kondisi Faktor 16A/20A/5A 16B/20C/5C Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan faktor kunci dengan kondisi pengembangan kelembagaan. Dalam skenario ini dapat dilihat terbatasnya pelayanan publik (16A) karena pembangunan tidak diimbangi dengan peningkatan pelayanan publik dan pemerintah menganggap kebijakan terkait pelayanan publik belum mendesak. Strategi 1. Penegakkan hukum dan peraturan meningkat (20C) yang dapat dilihat dari berkurangnya pelanggaran yang dilakukan masyarakat perbatasan negara. Kondisi ini terlihat dari banyaknya pelanggaran yang tidak diproses secara hukum dan tidak ada terobosan berarti dalam upaya penegakkan hukum. pembangunan SDA di sektor perkebunan. tetapi pemda membiarkan pembangunan infrastruktur dan permukiman masih apa adanya.

kehormatan. kependudukan. ekonomi. serta (5) memastikan transisi penggunan lahan perdesaan menuju perkotaan berjalan secara alamiah dan terarah (Seong 2006). (2) dapat mengoptimalkan penggunaan lahan. (4) mendorong sinergisitas hubungan kota dan desa. terutama wilayah perbatasan. Dinamika kegiatan ekonomi perkotaan di wilayah perbatasan merupakan kondisi yang dapat meningkatkan pertumbuhan kota-kota (pusat pertumbuhan baru) di perbatasan negara. infrastruktur wilayah masih terbatas dan permukiman di wilayah perbatasan baik yang berada dalam kawasan perkotaan maupun perdesaan kurang berkembang. sangat memerlukan keberpihakan pemerintah terhadap pembangunan wilayah di perbatasan tersebut.4. dan kesadaran masyarakat perbatasan terhadap identitas nasional. dan . (3) efisiensi pembiayaan pembangunan infrastruktur. maka dapat menjadi hambatan pengembangan potensi pertumbuhan yang selama ini berfungsi sebagai penggerak pengembangan sosial. Dampak dari hal ini yaitu aktivitas sosioekonomi banyak yang berorientasi ke negara tetangga. Selain menyebabkan ketergantungan terhadap negara tetangga.5. Dalam GBHN tahun 1999—2004 pada Bab IV butir G dinyatakan bahwa perlu peningkatan pembangunan di seluruh daerah termasuk wilayah perbatasan dengan tetap berlandaskan pada prinsip desentralisasi dan otonomi daerah. hingga saat ini peningkatan pembangunan wilayah perbatas belum memperlihatkan hasil yang nyata. Apabila hal ini tidak ditangani dengan baik. Pada prinsipnya. Pengembangan perbatasan pusat-pusat pertumbuhan yaitu baru (border city) di wilayah (1) melindungi ruang terbuka terdapat enam kategori hijau/konservasi dan sumber daya alam. Namun. komitmen pemerintah untuk mempercepat pembangunan wilayah perbatasan telah tercermin dalam kebijakan pembangunan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) sejak tahun 1993 yang masih konsisten dengan GBHN tahun 1999--2004. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Percepatan pembangunan wilayah. Kondisi ini disebabkan adanya ketimpangan pembangunan antara wilayah perbatasan dengan wilayah nonperbatasan. keterbatasan infrastruktur dan permukiman di wilayang perbatasan juga menyangkut kondisi keamanan. Oleh karena itu.

(2) Pengembangan pembiayaan. Di samping itu. perlu dibuat desain kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara.peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan di wilayah perbatasan (Canales 1999). Berdasarkan hal paparan di atas. 4. baik perbatasan darat maupun perbatasan laut. dan menentukan implikasi dari skenario tersebut. hasil analisis ISM. Tahapan tersebut menentukan keadaan (state) suatu faktor. . membangun skenario yang mungkin terjadi. dan (3) Pengembangan kelembagaan. Permodelan interpretasi struktural interpretative structural modelling (ISM) merumuskan alternatif kebijakan di masa yang akan datang. serta skenario pengembangan dan rekomendasi kebijakan.1 Desain Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Kajian pengembangan strategi dilakukan pada tiga peubah yang dianggap menentukan dan menjadi rekomendasi kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yaitu (1) Pengembangan kawasan. desain kebijakan pengembangan dengan analytical hierarchy process (AHP). koordinasi masing-masing instansi terkait baik di pusat maupun daerah masih lemah. Penyusunan kebijakan dan strategi tersebut dilakukan melalui lima tahapan analisis. belum diatur dan diarahkan melalui kebijakan dan strategi pengembangan kawasan yang bersifat nasional dan menyeluruh. analisis potensi sektor unggulan wilayah dengan menggunankan model perbandingan eksponensial (MPE). 4. Pembuatan desain kebijakan pendekatan pengembangan analytical kawasan hierarchy permukiman process perbatasan menggunakan dibuat (AHP).5. dan AHP.5.1 Desain Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Penanganan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. maupun swasta. Penanganan beberapa kasus atau masalah permukiman di wilayah perbatasan negara yang terjadi selama ini disebabkan belum melibatkan semua stakeholders baik pemerintah daerah. Selanjutnya pengklasifikasian subelemen dan desain kebijakan melalui deskripsi analisis kebijakan yang sesuai dengan keadaan di lapangan.1. masyarakat. analisis faktor penting dengan interpretative structural modelling (ISM). yaitu analisis kondisi permukiman.

maupun bekerja di wilayah perbatasan. hanya berpedoman pada kebutuhan yang telah diamanatkan dalam GBHN 1999. Pengembangan kawasan permukiman yang mengedepankan peningkatan kesejahteraan. d. Pengembangan kawasan permukiman perbatasan disusun berdasarkan faktor lingkungan yang strategis dan diperkirakan akan memengaruhi perkembangan wilayah perbatasan di masa yang akan datang. Upaya penyusunan kebijakan dan strategi pengembangan kawasan permukiman perbatasan sudah pernah dilakukan sebelumnya. Hingga saat ini. Pengembangan kawasan permukiman perbatasan ini diharapkan mampu mengantisipasi berbagai tantangan dan peluang yang tercipta akibat adanya perubahan lingkungan strategis baik lokal. ekonomi. termasuk di dalamnya pengembangan kawasan permukiman. Pengembangan didukung dengan penyediaan prasaran dan sarana serta lingkungan yang memadai. Propenas 2000—2004. serta fungsi pertahanan dilakukan bersama-sama dan seimbang sehingga dapat meningkatkan stabilitas wilayah perbatasan. dan atau memiliki tempat usaha. Hasil analisis data dengan metode ISM memperlihatkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional menjadi permasalahan yang paling krusial . b. dan global. c. regional. Pengembangan diarahkan pada wilayah yang memiliki potensi SDA sektor unggulan agar keberlanjutan kawasan permukiman dapat didukung. Adapun beberapa faktor kunci. upaya tersebut belum menghasilkan suatu peraturan yang dapat dijadikan acuan dan arahan dalam pelaksanaan pembangunan.141 Pelaksanaan berbagai kegiatan pembangunan di wilayah perbatasan negara. Pengembangan dapat mendorong terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah perbatasan sebagai tempat aktivitas dan usaha penduduk wilayah serta berfungsi untuk meminimalisasi konflik di wilayah perbatasan. Strategi pengembangan kawasan permukiman perbatasan bertumpu pada masyarakat yang menjadi subjek kegiatan yang tinggal di wilayah perbatasan. dan sesuai dengan kebijakan sektor masing-masing. Penyusunan kebijakan dan strategi telah diupayakan oleh beberapa instansi pemerintah baik pusat maupun daerah melalui kajian dan studi. antara lain: a.

dan kabupaten/kota di wilayah perbatasan. Tolok ukur peningkatan kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional yang paling nyata ditandai dari peningkatan kesejahteraan masyarakat. provinsi. Sumber dana pembangunan permukiman di wilayah perbatasan baik dana rutin maupun dana alokasi khusus akan menentukan jenis penanganan pembangunan. Hal-hal yang berkembang di masyarakat yang berpotensi menurunkan nilai identitas bangsa di wilayah perbatasan antara lain penggunaan mata uang ringgit sebagai alat pembayaran yang sah. tayangan televisi dengan dominasi acara-acara dari Negeri Malaysia. kemudahan pengurusan KTP dan pembelian tanah di wilayah Malaysia. Orientasi seluruh kegiatan lebih banyak diupayakan dengan basis pemberdayaan masyarakat sebagai subjek pembangunan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat. Selama ini dana kegiatan-kegiatan dalam upaya percepatan pertumbuhan pembangunan di wilayah perbatasan relatif belum memadai karena hanya bersumber dari anggaran rutin setiap tahunnya. Kenyataan ini dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang menyebabkan rasa nasionalisme masyarakat berkurang daripada rasa untuk mempertahankan identitas nasional. Salah satu solusi yang harus segera dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan identitas nasional yaitu dengan menciptakan lapangan kerja padat karya seluas-luasnya untuk masyarakat di wilayah perbatasan. aktivasi pasar lebih ramai di wilayah Malaysia. dan lain sebagainya. serta adanya anggaran dana alokasi khusus (DAK) untuk pengembangan kawasan permukiman perbatasan oleh pemerintah. . Lapangan pekerjaan tidak akan terwujud tanpa dukungan pemerintah dalam menciptakan kegiatan melalui pembuatan kebijakan-kebijakan pendukung oleh pemerintah pusat. pendapatan daerah dan pendapatan negara.142 di wilayah perbatasan. Pada Gambar 38 memperlihatkan bahwa penganggaran dana perlu dilakukan pemerintah secara berkala agar upaya peningkatan kesejahteraan dan peningkatan pendapatan masyarakat dapat dicapai. Hasil analisis MPE memperlihatkan hasil dari tiga klaster berbasis potensi sektor unggulan yang dapat mendorong percepatan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan apabila didukung oleh semua stakeholders. Pemerintah bekerja sama dengan LSM dan pakar-pakar terkait yang berasal dari perguruan tinggi dan lembaga penelitian dalam mewujudkan kemandirian masyarakat melalui pengadaan pelatihan dan penyuluhan.

bentuk penanganan pembangunan perumahan dan permukiman memiliki dua kategori yaitu bentuk pembangunan baru (PB) dan peningkatan kualitas (PK). dan ekosistem karang. Dalam pelaksanaan pembangunan permukiman akan mengubah bentang alam di lokasi tersebut. Adanya AMDAL yang dilakukan secara serius akan dapat menyelesaikan berbagai masalah seperti masalah ekologi. sedangkan sektor unggulan perikanan yaitu pembangunan baru (PB) dan peningkatan kualitas (PK). kelestarian lingkungan akan tetap terjaga dengan baik walaupun di lokasi tersebut dilakukan pembangunan kawasan permukiman. Bentuk penanganan pembangunan permukiman sektor unggulan pertambangan yaitu pembangunan baru (PB) dan peningkatan kualitas (PK). Adapun salah satu hal yang dapat dilakukan dalam melakukan kajian terhadap kelayakan dari segi lingkungan yakni melakukan analisis terhadap dampak lingkungan (AMDAL) di lokasi yang akan dibangun. potensi sektor unggulan klaster 1 yaitu pertambangan. sektor unggulan perkebunan yaitu pembangunan baru (PB). kajian terhadap lingkungan harus dilakukan secara seksama. Berdasarkan hal tersebut. ekosistem mangrove. Dalam hal ini. Sesuai hasil analisis MPE di masingmasing klaster subkawasan. sehingga dapat diharapkan kualitas . 4 tahun 1992 tentang perumahan dan permukiman. Terjaganya ekologi akan tetapmemungkinkan lestarinya lingkungan. Dalam hal ini pelaku harus membuat AMDAL sebagai kriteria pembangunan permukiman yang dilakukan agar tidak mengakibatkan kerusakan lingkungan. Berdasarkan ketentuan pada pasal 2 ayat 2 Undang-undang No. AMDAL menjadi semakin penting apabila suatu wilayah berhadapan atau di dalamnya terdapat ekosistem fragile di wilayah pesisir seperti ekosistem padang lamun. Ketentuan tersebut dapat digunakan dalam menentukan bentuk penanganan pembangunan di setiap jenis kegiatan usaha yang disesuaikan dengan karakteristik kebutuhan permukiman masingmasing tenaga kerja atau masyarakat yang bersangkutan. ekosistem di kawasan tersebut dibuat menjadi ekosistem nonalami yang dapat mengubah total ekosistem alami. Dengan kata lain.143 Jenis penanganan pembangunan disesuaikan dengan karakteristik tenaga kerja dan masyarakat setempat yang didukung dengan potensi sektor unggulan yang tersedia di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan. dan klaster 3 sektor perikanan. klaster 2 perkebunan.

Wilayah pesisir Kabupaten Nunukan pada umumnya berpotensi untuk pengembangan permukiman baik nelayan maupun permukiman lainnya. pengendalian limbah dan pencemaran. tanah & air yang baik. sehingga ekosistem tersebut tidak terganggu walau di sekitarnya dibangun kawasan permukiman. menjaga kelanjutan sistem sosialbudaya lokal. penggunaan energi yang minimal. karena jauh dari ancaman bencana tsunami. dan berbagai aspek sosial lainnya yang mungkin dapat luntur akibat terjadinya pembangunan kawasan permukiman.1000 meter. Hutan mangrove yang baik akan dapat . melunturnya budaya. ekosistem yang fragile sekalipun seperti mangrove.144 udara. Kabupaten Nunukan yang mempunyai wilayah pesisir yang luas dan pulau-pulau kecil terluar yang strategis. perlindungan pantai dengan mangrove yang ketebalan hutannya tetap dijaga tidak kurang dari 50 . Namun demikian adanya potensi pengembangan permukiman di wilayah pesisir tersebut dapat mengancam keberadaan hutan mangrove yang selama ini masih terjaga kelestariannya dengan baik. Terkait dengan penanganan pembangunan kawasan permukiman terpadu dengan lingkungan khususnya bagi permukiman di pesisir dan nelayan. harus memperhatikan dan menjaga kelestarian dan keberlanjutan ekosistem hutan mangrove dalam pelaksanaannya. Selain itu. padang lamun dan terumbu karang akan terpelihara dengan baik karena berbagai hal yang dapat diminimalkan. Ketebalan hutan yang difungsikan sebagai lapisan penyangga (buffer zone) menurut RTRW Kabupaten Nunukan (2005) adalah 130 kali tinggi pasang surut. Kondisi tersebut perlu dijaga tanpa menghambat kebijakan pemda dalam pengembangan permukiman di wilayah pesisir dalam hal ini pembangunan permukiman tersebut hendaknya diterapkan persyaratan sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku seperti. AMDAL juga akan menjaga aspek sosial terpelihara dengan baik mengingat dalam AMDAL akan ada petunjuk untuk mengantisipasi terjadinya konflik sosial. dan peningkatan pemahaman konsep lingkungan (Kepmen KLH 2000). Dalam penanganan pembangunan permukiman tetap memperhatikan kriteria AMDAL kegiatan pembangunan permukiman terpadu yaitu dengan mempertahankan dan memperkaya ekosistem yang ada. sesuai kondisi hidro-oseanografi di wilayah tersebut.

yaitu perpaduan antara hutan mangrove dan perikanan sehingga biota laut di sekitarnya dapat tumbuh dengan baik. dan Upaya pascapembangunan permukiman mempertahankan ekosistem hutan mangrove pada masyarakat yang sudah menghuni di kawasan permukiman dilakukan melalui pendekatan sistem sosialbudaya lokal. Mangrove memiliki sistem akar yang kuat.145 menjaga permukiman di wilayah pesisir karena berperan sebagai perangkat analisis mitigasi alami dalam menjaga keberlanjutan. Secara estetika mangrove lebih baik daripada bangunan laut lainnya. Mangrove dapat menetralisasi lahan yang telah tercemar oleh logam berat sehingga pemanfatan lahan di wilayah pesisir baik untuk permukiman dan kegiatan bangunan lainnya tidak meluas dan efisien. e. selain berfungsi sebagai ekosistem pesisir juga mempunyai vegitasi yang beragam dengan panorama indah dan hijau. pada saat pelaksanaan hingga pembangunan dihuni permukiman. b. Pembangunan kawasan permukiman juga harus dapat menjaga kelestarian lingkungan sehingga sumber daya alam tetap lestari. hal ini disebabkan oleh: a. ekosistem tetap dalam kondisi prima sehingga dapat menjamin masyarakat yang hidup di dalamnya lebih sejahtera karena selalu mendapat hasil tangkapan dalam jumlah banyak. d. Salah satu aspek lingkungan yang harus diperhatikan dalam pembangunan kawasan permukiman yaitu harus dimulai dari sebelum pembangunan dilakukan (persiapan pembangunan). Dengan demikian. Bangunan laut dapat menyebabkan erosi dan sedimentasi di tempat lain. Hal bertujuan agar masyarakat mampu berpartisipasi dalam . Kawasan pertambakan dapat ditata ulang dengan sistem wanamina (silvofishery). c. f. masyarakat. persediaan sumber air baku untuk air minum masyarakat penghuni permukiman pesisir tetap terjaga kualitasnya. Penanganan abrasi lebih murah dibanding dengan membuat bangunan laut lain dan mangrove dapat memberi dampak ikutan yang menguntungkan kualitas perairan di sekitarnya. sebaliknya hutan mangrove menahan erosi. tajuknya rapat dan lebat sehingga dapat berfungsi sebagai pelindung pantai alami dan menahan intrusi air laut.

Adapun bentuk penanganan pembangunan permukiman di masingmasing klaster sesuai dengan potensi SDA pendukung pengembangan permukiman berkelanjutan dapat dilihat pada gambar 49. Selama ini pemerintah membuat dan menerima alokasi dana yang belum memadai untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman di wilayah perbatasan.1. Bentuk penanganan pembangunan permukiman 4.146 pengendalian limbah dan pencemaran sehingga pemahaman masyarakat terhadap konsep lingkungan terus meningkat. Peran pemerintah .2 Desain Strategi Pengembangan Pembiayaan Strategi pengembangan pembiayaan dalam percepatan pembangunan di wilayah perbatasan sangat dipengaruhi oleh kebijakan dan peran pemerintah terutama pemerintah provinsi dan pemerintah daerah. 2 1 3 1 Kluster 1 : Pembangunan Baru & Peningkatan Kualitas Kluster 2 : Pembangunan Baru Kluster 3 : Pembangunan Baru & Peningkatan Kualitas 2 3 Gambar 49. Peningkatan pemahaman masyarakat penghuni terhadap konsep keberlanjutan lingkungan dapat mendorong usaha perbaikan kerusakan hutan mangrove yang dilakukan melalui kegiatan penanaman kembali. Masyarakat bersama pemda melakukan kegiatan rehabilitasi hutan mangrove di pesisir wilayah Kabupaten Nunukan.5.

pertahanan. Sedangkan. lingkungan. perlu dijabarkan dalam suatu strategi. keamanan. Pendekatan pengelolaan wilayah perbatasan yang dilakukan yaitu pengelolaan yang menyeluruh dan terpadu dengan aspek sosial. Adapun lembaga keuangan berperan dalam mengupayakan kemudahan kredit perumahan dengan biaya yang terjangkau bagi masyarakat yang diawasi oleh lembaga masyarakat lokal. Pola penanganan tersebut dapat dijabarkan melalui penyusunan kebijakan dan strategi dari tingkat makro sampai tingkat mikro yang disusun berdasarkan proses yang partisipatif baik secara horisontal di pusat maupun vertikal dengan pemerintah daerah. Dukungan dalam pencapaian pengembangan pembiayaan pun dilakukan bersama-sama dengan kegiatan peningkatan kerja sama pembangunan antarnegara. maupun jangka panjang. ekonomi. pengembangan kawasan permukiman perbatasan memerlukan suatu pola atau kerangka penanganan yang menyeluruh meliputi berbagai sektor dan kegiatan pembangunan serta koordinasi dan kerja sama yang efektif dari pemerintah pusat sampai ke tingkat kabupaten/kota. serta kesejahteraan secara seimbang. dan antarstakeholders di wilayah perbatasan. 4. . kesejahteraan masyarakat.147 yang besar dapat mengintervensi lembaga keuangan dengan mengeluarkan kebijakan penganggaran untuk memudahkan biaya pembangunan rumah dan melindungi hak masyarakat di wilayah perbatasan. Desain strategi pengembangan kelembagaan yang berlaku bagi seluruh wilayah perbatasan baik darat maupun laut. antarpemerintah. Faktor-faktor pengembangan yang mengindikasikan yaitu tolok ukur keberhasilan isolasi dalam serta pembiayaan penataan dan pembukaan ketertinggalan wilayah perbatasan dengan cara pembangunan infrastruktur serta prasarana dan sarana dalam jangka waktu yang sama.1. Tujuan peningkatan pendapatan. peningkatan pendapatan daerah dan negara di wilayah perbatasan dapat tercapai melalui pengembangan pembiayaan. Pemerintah juga menjadi fasilitator untuk penguatan kerja sama dengan stakeholders lainnya dalam mengupayakan pembanguann permukiman dan infrastruktur serta fasilitas sosial dan fasilitas umum lainnya. budaya. jangkauan pelaksanaannya bersifat strategik sampai dengan operasional baik jangka pendek. menengah.3 Desain Strategi Pengembangan Kelembagaan Secara umum.5.

akan sangat membantu dalam proses pengembangan yang partisipatif. Upaya ini dilakukan untuk memudahkan antarinstansi terkait sehingga meningkatkan terjadinya pertukaran informasi koordinasi serta menciptakan kesepahaman yang sama dalam pengelolaan kawasan permukiman perbatasan. Meningkatkan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat. b. Namun. d. Pemberian dukungan dan fasilitas pengembangan kawasan permukiman perbatasan oleh instansi pusat dan pihak swasta dalam maupun luar negeri. Sinkronisasi kewenangan pengelolaan dan peraturan perundangan-undangan. dan pengembangan wilayah secara terpadu di perbatasan. Hal ini untuk menghindari terjadinya tumpang tindih kewenangan pengelolaan maupun adanya ketidaksinkronan peraturan yang ada. . Keberpihakan dan perhatian yang lebih besar dari sektor-sektor terkait di pusat terhadap kawasan permukiman perbatasan. Program peningkatan dan pengembangan kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat. Pelaksanaan otonomi daerah perlu diiringi dengan sinkronisasi antara kewenangan dan peraturan-peraturan yang dibuat. termasuk lembaga adat.148 Kebijakan di atas perlu dilaksanakan melalui upaya-upaya: a. Penyelarasan kegiatan-kegiatan pemerintah pusat dan pemerintah daerah melalui anggaran pembangunan sektoral dan daerah yang diarahkan bagi pengembangan kawasan pertumbuhan baru. c. e. 32 Tahun 2004 yang menjelaskan bahwa pengelolaan kawasan permukiman perbatasan sejauh mungkin perlu dikelola oleh pemerintah daerah. kondisi kelembagaan pemerintah daerah dan partisipasi masyarakat di beberapa wilayah perbatasan masih perlu ditingkatkan. Keterlibatan masyarakat dan pemerintah daerah dalam kegiatan pengembangan kawasan permukiman perbatasan termaktub dalam UU No. baik antara instansi terkait maupun antara pemerintah pusat dengan daerah. Selain itu diperlukan adanya basis data (database) mengenai wilayah perbatasan yang dapat menjadi referensi bersama. f. Penguatan dan pembentukan lembaga pengembangan kawasan permukiman perbatasan yang bertugas untuk menyusun kebijakan dan pengkoordinasian berbagai kegiatan terkait di tingkat pusat dan daerah.

Pemberdayaan mayarakat di wilayah perbatasan dibutuhkan agar masyarakat dapat mandiri sesuai potensi sektor unggulan pada setiap klaster dan membentuk kelompok-kelompok tani menuju kelompok-kelompok usaha. Pemerintah juga berperan untuk meneruskan kebijakan tersebut pada penyelenggara setempat yaitu pemerintah provinsi. Dalam pengembangan kelembagaan kemandirian masyarakat tidak akan terlaksana bila tidak didukung. khususnya penguatan dan pembentukan lembaga-lembaga yang ada agar program kegiatan penyuluhan dan pelatihan keterampilan dapat berjalan dengan lancar dan baik.149 Strategi pengembangan kelembagaan ditujukan pada masyarakat agar memperoleh posisi kemandirian (bargaining) dari posisi tawar sebelumnya sebagai objek pembangunan. Hal ini dapat berdampak positif pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan terbukanya peluang-peluang usaha yang dibantu dalam memperoleh modal/kredit usaha dan dari lembaga-lembaga keuangan. Peningkatan kesejahteraan masyarakat perbatasan dapat mendorong peran dan partisipasi masyarakat dalam setiap kegiatan yang terkait dengan pengembangan kawasan permukiman. Pemerintah sebagai penyelenggara menekakan untuk lebih mengedepankan kualitas pelayanan publik serta kontinuitas penegakkan hukum dan peraturan untuk menghidupkan aktivitas ekonomi masyarakat di negeri sendiri. badan kerja sama antarnegara. dan pemerintah kabupaten untuk diaplikasikan dan dilaksanakan di wilayah perbatasan. Pemerintah memfasilitasi peningkatan aktivitas perekonomian di wilayah perbatasan dengan upaya-upaya pemberdayaan masyarakat. dilindungi. serta tidak adanya kerja sama dari stakeholders lainnya. . Pemerintah pun memfasilitasi upaya peningkatan kelembagaan masyarakat dengan mendatangkan pakar untuk memberikan pelatihan maupun penyuluhan sehingga tolok ukur keberhasilan pembangunan dari peningkatan kesejahteraan masyarakat pun tercapai. Kelompok- kelompok usaha ini memiliki posisi yang lebih kuat karena adanya kerja sama antaranggota mengupayakan sesuai kapasitas dan bermitra dengan pihak lain dalam keuntungan usaha.

Skenario ini mengandung pengertian bahwa skenario yang dirumuskan perlu dilaksanakan berdasarkan konsep walaupun mengandung usaha pengembangan dan pengelolaan. kurangnya infrastruktur kawasan dan permukiman (14A). rendahnya kesejahteraan masyarakat (4A). Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan kawasan yaitu kurangnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional (7A).1. Skenario I Skenario pertama dibangun atas dasar kondisi dan permasalahan saat ini (existing condition) dari kawasan permukiman yang ada di wilayah perbatasan negara. Pada skenario pertama para pelaku pembangunan (stakeholder) dalam kebijakan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara beranggapan bahwa faktor-faktor yang dikaji merupakan faktor yang potensial untuk meminimalisasi permasalahan pengembangan wilayah perbatasan di masa yang akan datang.5. Kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini direkomendasikan upaya yang dapat mendorong percepatan pengembangan kawasan permukiman berbasis potensi sektor unggulan wilayah seperti hal-hal berikut: . Penerapan skenario pertama ini akan memberikan implikasi berupa (1) Meningkatnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional.4 Arahan Kebijakan Pengembangan Kawasan Perilaku strategi ternyata menunjukkan perbedaan pada berbagai faktor yang dikaji yang diakibatkan adanya perbedaan kombinasi faktor penting di wilayah perbatasan. Oleh karena itu. terbatasnya fasos dan fasum (15A). ditetapkan dua skenario pengembangan yang dapat dibangun dalam kebijakan sebagai berikut: a. kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1A). tidak mengutamakan faktor-faktor penting yang seharusnya terlebih dahulu dilakukan sehingga tidak memiliki prospek kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yang berpandangan jauh ke depan. dan (3) Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan berkurang. (2) meningkatkan kesejahteraan masyarakat.150 4. Akan tetapi. kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga (6A).

5. Pembangunan terpadu infrastruktur dengan kawasan permukiman beserta pusat-pusat kegiatan di sepanjang perbatasan 10. kurangnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman (17A). 8. maka . 3. Kemudahan akses informasi dan pasar Pembuatan informasi terpadu Promosi berkala untuk hasil-hasil sektor unggulan wilayah Peningkatan pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan usaha yang berbasis potensi masyarakat dan kearifan lokal 6. Pemeliharaan fasos dan fasum oleh pemda dengan melibatkan masyarakat sebagai pengguna dengan pemberian reward pada daerah dengan fasos dan fasum yang terpelihara baik Skenario pertama yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan pembiayaan yaitu terbatasnya alokasi dana khusus (DAK) untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23A). Pembangunan pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah perbatasan 11. Pembuatan klaster permukiman berbasis potensi sektor unggulan wilayah berikut akses menuju dan keluar wilayah klaster 2. Pembangunan terminal-terminal berbasis sektor unggulan wilayah sebagai showroom yang dapat diakses secara mudah 12. swasta/investor. masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan dalam peningkatan keterampilan masyarakat 7. Pembangunan fasos dan fasum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat secara bertahap 13. pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal (24A). 4.151 1. Pembukaan lapangan pekerjaan padat karya di wilayah perbatasan negara Pembuatan pemetaan penggunaan lahan untuk perencanaan dan penataan kawasan permukiman yang disepakati oleh semua stakeholder yang terkait termasuk masyarakat pengguna dan dapat diakses oleh stakeholder yang terkait 9. Penguatan kerja sama antara pemda. Untuk mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini.

Pembuatan dan penguatan kerja sama dan kelompok usaha bersama di wilayah perbatasan 2. Pembuatan lembaga inti-plasma kegiatan usaha sektor unggulan dengan kelompok usaha yang dibina oleh pemda dan swasta/investor 5. Kemudahan birokrasi pembuatan sertifikasi legalitas lahan usaha dan permukiman. 2. . jangka menengah dan jangka panjang yang dievaluasi penggunaannya. Evaluasi dan pembuatan kebijakan terkait wilayah perbatasan. Pembuatan kebijakan penganggaran dana alokasi khusus (DAK) untuk pembangunan wilayah perbatasan jangka pendek. 6. Kemudahan pembiayaan usaha oleh lembaga-lembaga keuangan Menerapkan subsidi silang pada kegiatan usaha bersama masyarakat Kemudahan kepemilikan rumah bekerja sama dengan lembaga keuangan dengan biaya terjangkau 4. Dalam rangka mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini maka pada pengembangan kelembagaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. 3. terbatasnya pelayanan publik (16A).152 pada komponen pengembangan pembiayaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. Pengawasan dan penegakkan hukum terkait kegiatan di wilayah perbatasan negara 3. penegakan hukum dan peraturan masih lemah (20A). aktivitas sosial ekonomi masyarakat rendah (5A). Pelatihan dan penyuluhan sumber daya masyarakat yang diprakarsai pemda bekerja sama dengan lembaga pendidikan untuk kebutuhan tenaga kerja industri 4. Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan kelembagaan yaitu.

Pembuatan informasi terpadu Promosi berkala untuk hasil-hasil sektor unggulan wilayah Pembangunan terpadu infrastruktur dengan kawasan permukiman Penguatan kerjasama antara pemda. menurunnya kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1C). sosial. 4. meningkatnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional (7C). 3. kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga (6C). pengusaha/investor. meningkatnya pembangunan fasos dan fasum (15C). Rekomendasi kebijakan dan strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara dapat seimbang antara lingkungan. Kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini dalam pengembangan kawasan maka harus didukung dengan rekomendasi berikut ini: 1. masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan dalam peningkatan keterampilan masyarakat 5. Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan kawasan yaitu. peningkatan dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman tetap (17B).153 b. Pembangunan terminal-terminal berbasis sektor unggulan daerah sebagai showroom yang dapat diakses secara mudah 6. dan ekonomi dari masyarakat. Pemeliharaan fasos dan fasum oleh pemda dengan melibatkan masyarakat dengan pemberian reward pada daerah apabila kondisi fasos dan fasum yang terpelihara secara baik Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan pembiayaan yaitu. Skenario II Skenario kedua mengandung pengertian bahwa keadaan masa depan yang mungkin terjadi diperhitungkan dapat dipertimbangkan sesuai dengan keadaan dan kemampuan sumberdaya yang dimiliki. kesejahteraan masyarakat relatif tetap (4B). optimalisasi pemanfaatan dan pengelolaan dana . meningkatnya pembangunan infrastruktur kawasan dan permukiman. 2. meningkatnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23C).

Pelatihan dan penyuluhan sumber daya masyarakat yang diprakarsai pemda bekerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan untuk kebutuhan pengembangan tenaga kerja industri sektor unggulan wilayah (pertambangan. serasi. aktivitas sosialekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga berkurang (5C).5. jangka menengah dan jangka panjang Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan kelembagaan yaitu. Selain itu. Setiap warga negara mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk ikut serta dalam pembangunan . maka pada pengembangan kelembagaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. penegakkan hukum dan peraturan meningkat (20C). Evaluasi dan pembuatan kebijakan terkait pengembangan wilayah perbatasan 3. Pengawasan dan penegakan hukum terkait kegiatan di wilayah perbatasan 2. setiap warga negara mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk ikut serta dalam pembangunan permukiman.154 pembangunan tetap (24B). aman. dan perikanan) 4. pelayanan publik tetap (16B). Evaluasi penganggaran dana alokasi khusus (DAK) untuk pembangunan wilayah perbatasan jangka pendek. Untuk mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini.2 Rekomendasi Kebijakan Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Arahan kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara diperlukan kaitannya dengan adanya hak dan kewajiban dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 bahwa setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan/atau menikmati dan/atau memiliki rumah yang layak dan terjangkau dalam lingkungan yang sehat. Kemudahan pembiayaan usaha oleh lembaga-lembaga keuangan 2. Dalam rangka mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini maka untuk pengembangan pembiayaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. perkebunan. dan teratur.

Menyusun norma. yaitu: 1. Terwujudnya koordinasi/kerja sama antar-stakeholders dalam setiap tahapan penyelenggaraan pengembangan permukiman berikut prasarana dan sarana secara terpadu dalam suatu kelembagaan 2. dan teratur bisa terpenuhi dengan upaya dilakukan oleh masyarakat dibantu oleh stakeholders. Mendorong terciptanya pengembangan klaster-klaster kawasan permukiman sebagai pusat pertumbuhan baru (border city) di wilayah perbatasan negara 3. Terwujudnya berkelanjutan 3. Keterpaduan pengembangan kawasan permukiman dapat terselenggara jika memenuhi 3 indikator. serasi. Meningkatkan peran pemerintah daerah dalam pembangunan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan . Hal ini bertujuan agar hak setiap warga untuk mendapatkan rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat. Mendorong terciptanya peraturan dan perundang-undangan di bidang permukiman perbatasan berbasis potensi SDA wilayah 4. panduan. dan lingkungan 6. Berlangsung proses investasi dan pembiayaan pengembangan kawasan permukiman secara terpadu dan berkelanjutan berbasis potensi SDA wilayah kawasan permukiman layak huni secara terpadu dan Dalam pembangunan permukiman. direkomendasikan upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan mendorong percepatan pertumbuhan wilayah melalui seperti hal-hal sebagai berikut: 1. peran serta masyarakat baik sebagai individu maupun komunitas wajib dilakukan. standar. Penguatan dan pembentukan lembaga kerjasama pembangunan di wilayah perbatasan negara 5. aman.155 permukiman. manual (NSPM) bidang permukiman yang berbasis pemberdayaan masyarakat. Pemerintah memfasilitasi penyelenggaraan dan pembinaan dalam bidang permukiman secara terpadu dan berkelanjutan dilaksanakan oleh stakeholders terkait 2. Dalam rangka mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. kearifan lokal.

dan utilitas (PSU) kawasan permukiman perbatasan Sedangkan. Toleransi ekploitasi kegiatan pertambangan tidak lebih dari 60% luas kawasan potensial pengembangan sektor pertambangan. Meningkatkan kapasitas SDM dan pelaku pembangunan permukiman berbasis kawasan 8. Mendorong peran serta swasta/masyarakat dalam pembangunan dan perbaikan rumah dalam rangka pemenuhan kebutuhan perumahan yang layak huni dan terjangkau 11. Pengembangan teknologi ekploitasi dari penggalian ke sistem pengeboran menyamping sehingga dapat meminimalkan sisa lubang-lubang galian yang . Mendorong pelaksanaan penataan ruang kawasan permukiman berbasis potensi SDA wilayah prospektif dan partisipatif 10. Ekploitasi kegiatan pertambangan dengan menggunakan sistem 3 fit (3 lubang penambangan secara bersamaan). Mengembangkan kredit mikro perumahan bagi pembangunan dan perbaikan rumah dalam rangka pemenuhan kebutuhan rumah yang layak dan terjangkau 12. permukiman. sarana. dan investasi pembangunan kawasan permukiman perbatasan 9. dan penghijauan. Meningkatkan penyediaan prasarana. 4.156 7. dalam pengembangan sektor unggulan kawasan Kabupaten sektor Nunukan dari hasil dan pembahasan perkebunan. dalam pengembangannya diperlukan persyaratan-persyaratan yang dapat mendukung keberlanjutan suatu kegiatan baik dalam pemanfatan ruang dan lahan adalah sebagai berikut: Sektor Pertambangan: 1. Mendorong berkembangnya inovasi. 2. Reklamasi dilakukan secara kontinyu untuk mengembalikan unsur hara tanah agar memudahkan dalam pemulihan fungsi kawasan melalui dimanfatkan untuk pengembangan fungsi lain seperti reboisasi atau perkebunan. teknologi. 3. dan sektor perikanan yaitu sektor pertambangan.

Sektor Perikanan: 1. Pemberdayaan masyarakat melalui penyuluhan dan pelatihan dalam hal peilihan benih. penanaman benih. Komoditas sektor perkebunan yang akan dikembangkan selain berdasarkan potensi sektor unggulan kawasan juga memperhatikan kecenderungan pasar regionalnya dan animo masyarakat agar prospek pengembangannya dapat berkelanjutan. panen. pemeliharaan. dan kegiatan pascapanen. .157 dapat merusak dan mendorong terjadinya degradasi lahan secara luas dalam waktu yang lama. Pemanfaatan sumber daya laut dengan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan dan pengembangan kemampuan dalam pemanfaatan teknologi baru bidang perikanan 3. dan laut yang terjaga agar keberlanjutan kawasan dapat terwujud. 5. 3. Mengembangkan sektor perikanan secara optimal dengan mengupayakan pelestarian ekosistem lingkungan pesisir. Pengembangan ekonomi sektor pertambangan benefit) melalui harus berorientasi manajemen pada manfaat dengan (economic pengelolaan komposisi perbandingan sharing 70% untuk perusahaan (investor) dan 30% dialokasikan masyarakat. 2. pantai. Pengembangan sektor perkebunan dilakukan dengan pendekatan pengembangan perkebunan inti rakyat (PIR). inti-plasma. perusahaan negara (PTPN). dan swasta. untuk biaya rehabilitasi lingkungan dan pemberdayaan Sektor Perkebunan: 1. Pengembangan sektor perikanan dengan memanfaatkan sumber daya laut sesuai dengan kemampuan daya dukung perairan (fishing ground) baik dari ketersediaan sumber daya (tidak over fishing) maupun kemampuan dalam menghindari penggunaan bahan pencemar 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful