IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tinjauan Umum Kabupaten Nunukan

4.1.1 Administrasi dan Geografi Wilayah Kabupaten Nunukan terletak di daerah khatulistiwa sehingga

dipengaruhi iklim tropis basah dengan karakteristik yang khas, yakni curah hujan cukup tinggi dengan penyebaran merata sepanjang tahun. Di Wilayah Kabupaten Nunukan tidak terdapat pergantian musim yang jelas antara musim kemarau dan musim hujan. Berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan, Wilayah Kabupaten Nunukan termasuk dalam 2 (dua) wilayah utama, yaitu: − Wilayah hujan bagian barat dengan curah hujan maksimum yang umumnya terjadi pada Januari atau Mei. Curah hujan rata-rata lebih dari 266,5 mm. Hujan maksimum sekunder terjadi pada April-Juni, sedangkan hujan minimum terjadi pada Februari. Kecamatan yang termasuk dalam wilayah ini yaitu Kecamatan Krayan, Krayan Selatan, dan sebagian wilayah Kecamatan Lumbis, Sebuku, dan Sembakung. − Wilayah hujan bagian timur dengan curah hujan maksimum terjadi pada bulan April atau Mei. Hujan minimum umumnya terjadi pada bulan Juli-Agustus dengan curah hujan rata-rata 188,95 mm, tetapi curah hujan rata-rata tahunan lebih kecil dibandingkan curah hujan pada bagian kawasan pesisir, yaitu sebesar 199,5 mm. Kecamatan yang termasuk dalam wilayah ini adalah Kecamatan Nunukan, Sebatik, sebagian Kecamatan Sebuku, Lumbis, serta Sembakung.

Secara administratif wilayah Kabupaten Nunukan dibagi sembilan wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Nunukan, Kecamatan Nunukan Selatan, Kecamatan Sebatik, Kecamatan Sebatik Barat, Kecamatan Sebuku, Kecamatan Sembakung, Kecamatan Lumbis, Kecamatan Krayan, dan Kecamatan Krayan Selatan. Berdasarkan hasil penataan wilayah desa/kelurahan di Kabupaten Nunukan, telah terjadi pemekaran kecamatan. Sebelum pemekaran, Sebuku masuk ke dalam Kecamatan Nunukan dan saat ini sudah menjadi kecamatan sendiri. Selain itu, Kecamatan Krayan mengalami pemekaran menjadi Kecamatan Krayan dan Kecamatan Krayan Selatan.

49 Kabupaten Nunukan memiliki luas 14.263,68 km2. Pada tahun 2007 (Kabupaten Nunukan dalam Angka, 2008) Kabupaten Nunukan dihuni oleh 125.585 jiwa dengan kepadatan penduduk 8 jiwa per kilometer persegi. Kabupaten Nunukan sendiri terletak pada posisi 1150 33’ - 1180 3’ Bujur Timur serta 30 15’ 00’’ - 40 24’ 55’’ Lintang Utara. Persentase luas wilayah per kecamatan dapat dilihat pada Gambar 6.

Krayan Selatan 12,31% Krayan 12,88% Sebatik 0,73%

Sebatik Barat 1,00%

Lumbis 25,56%

Sebuku 21,91%

Nunukan 11,19%

Sembakung 14,41%

Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka, 2008

Gambar 6. Persentase luas wilayah per kecamatan Kabupaten Nunukan merupakan wilayah paling utara dari Provinsi Kalimantan Timur. Posisinya yang berada di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia

menjadikan Kabupaten Nunukan sebagai daerah yang strategis dalam peta lalu lintas antarnegara. Peta administrasi dapat dilihat pada Gambar 7. Wilayah Kabupaten Nunukan terdiri dari dataran tinggi dan pegunungan. Sebagian besar didominasi oleh satuan fisiografi dataran tinggi dan pegunungan dengan luas 679.457 ha atau 47,63% dari luas wilayah. Dataran tinggi dengan kelerengan yang bervariasi merupakan wilayah paling luas yaitu mencapai 488.962 ha atau 34,28% dari luas wilayah. Peta fisiografis Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 8.

50

Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan, 2008

Gambar 7. Administrasi Kabupaten Nunukan

Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan, 2008

Gambar 8. Peta fisiografis Kabupaten Nunukan

.7% dari luas wilayah. dan Sembakung. Sebuku.25% dari luas Wilayah Kabupaten Nunukan. Krayan Selatan.000 m 0.79%. Persentase penyebaran dan luas ketinggian daerah Kabupaten Nunukan Kelerengan wilayah daratan Kabupaten Nunukan bervariasi. Wilayah yang terletak pada ketinggian lebih dari 1.000 m 19.1.51 4.808 ha atau 50.500 m 10. 2008 Gambar 9. 4.2 Ketinggian dan Kemiringan Wilayah daratan Kabupaten Nunukan terletak pada ketinggian antara 0 hingga 1. Persentase penyebaran dan luas ketinggian daerah di Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 9.87% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.100 m 50. Kawasan di bagian utara dan selatan Kabupaten Nunukan lebih didominasi oleh kawasan dengan kelerengan rendah yaitu di bawah 15%. 1. sedangkan di Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan tidak terdapat sama sekali.486 atau 28.896 ha atau sebesar 3.500 mdpl (meter di atas permukaan laut) ketinggian 0 sampai 100 mdpl meliputi areal seluas 716.500 mdpl hanya seluas 246 ha atau sebesar 0.3 Jenis Tanah Jenis tanah yang terdapat di Wilayah Kabupaten Nunukan hanya delapan jenis tanah dan yang paling luas adalah podsolik/regosol sebesar 410.98% 100 . Jenis tanah yang luasnya paling kecil yaitu alluvial/gambut sebesar 50.2.87% 0 .1. sedangkan kawasan yang memiliki tingkat kelerengan di atas 15% banyak terdapat di kawasan barat dan tengah Kabupaten Nunukan.02% 1.000 .1.25% 500 . Jenis tanah Kabupaten Nunukan yaitu tanah alluvial yang hampir seluruhnya terdapat di Kecamatan Nunukan. Sebatik.500 m 18. dan Lumbis. Jenis tanah ini umumnya terdapat di Kecamatan Krayan.500 .02%.1. Tanah alluvial/gambut hanya terdapat di Kecamatan Lumbis dengan luasan 837 ha.

wilayah Kabupaten Nunukan mempunyai tekstur tanah halus.442 ha atau 37. dan kasar. sedang.097. Wilayah Kabupaten Nunukan dengan kedalaman tanah antara 30 .66% dari luas wilayah kecamatan.303 ha dengan kelas tekstur tanah halus seluas 7. Penyebaran dan luas masing-masing kelas tekstur tanah wilayah daratan di Kabupaten Nunukan untuk Kecamatan Sebatik dengan luas wilayah 27. Tekstur tanah di Kabupaten Nunukan sebagian besar mempunyai tekstur tanah sedang.545 ha atau 12. Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. debu. dan pasir yang terdapat pada suatu gumpalan tanah. Wilayah Kabupaten Nunukan yang memiliki kedalaman tanah >90 cm seluas 711. dengan luas 1.52% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan.278 ha atau 26. Sebagian besar wilayah Kabupaten Nunukan memiliki kedalaman tanah 30 60 cm dan >90 cm. Kedalaman efektif tanah merupakan kedalaman tanah yang menyebabkan akar tanaman masih bisa tumbuh dengan baik.642 ha atau 9. tekstur sedang dengan luas 17.489 ha atau 67.60 cm seluas 600. Ditinjau dari tekstur tanah.67% dan gambut 2.24% dari total luas wilayah Kabupaten Nunukan.68% dari total luas kecamatan. 2008 Gambar 10. Peta jenis tanah Kabupaten Nunukan dapat dilihat di Gambar 10.383 ha atau 63.25% dari total luas wilayah Kabupaten Nunukan. Tekstur tanah adalah perbandingan partikel liat.52 Kabupaten Nunukan memiliki kedalaman efektif tanah yang bervariasi antara kurang dari 30 cm sampai lebih dari 90 cm. Peta jenis tanah Kabupaten Nunukan .

serta lahan untuk fasilitas umum. perikanan. Sebagian besar pemukiman penduduk di Kabupaten Nunukan yang berada di kawasan pesisir menempati daerah dataran rendah. Jumlah penduduk yang relatif besar cenderung mengelompok di daerah perkotaan. kehutanan. Mata pencaharian di sektor perdagangan. pertanian. Jenis-jenis penggunaan lahan terdiri atas pemukiman.53 4.4 Pola Penggunaan Lahan Persebaran penduduk di Kabupaten Nunukan tidak merata. pelayanan jasa. muara-muara sungai kecil. lahan konsesi untuk kegiatan pertambangan minyak dan gas bumi. Jenis mata pencaharian penduduk di kawasan pesisir Kabupaten Nunukan bervariasi dengan kecenderungan pada aktivitas kehutanan. sebagian besar penduduk mendiami wilayah pesisir. perdagangan.1. perikanan. Hal ini menunjukkan bahwa dalam periode hampir sepuluh tahun. Hal ini disebabkan oleh adanya aktivitas manusia. Kegiatan pertanian yang berkembang dapat dilihat dari peningkatan lonjakan kenaikan produksi padi dan palawija dari 20. Hasil pengamatan terhadap pola pemanfaatan lahan di Kecamatan Nunukan menunjukkan bahwa sebagian besar lahan dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. dari hutan nonproduksi (hutan alam) menjadi lahan pertanian. dan perikanan terkonsentrasi pada pada Kecamatan Nunukan dan Sebatik. pertanian (meliputi penggunaan lahan untuk perkebunan dan persawahan). dan bantaran sungai. dan pelayanan jasa. telah terjadi perubahan fungsi lahan. Peta pola penggunaan lahan berdasarkan RTRW disajikan pada Gambar 11. terutama daerah yang mempunyai aktivitas ekonomi yang cukup tinggi yang ditandai dengan adanya sarana transportasi dan keadaan ekonomi masyarakatnya yang memadai. Perkembangan penggunaan tanah di wilayah Kabupaten Nunukan dari waktu ke waktu mengalami perubahan. di tepi pantai.084 ton pada tahun 1997 menjadi 44. .436 ton pada tahun 2007 (BPS Kabupaten Nunukan 2008). Kecenderungan lonjakan produksi pertanian ini besar kemungkinannya diperoleh melalui perluasan lahan pertanian dalam jumlah yang besar. Di sektor pertanian dan perkebunan hampir merata di semua kecamatan.

01% dari kawasan hutan seluruhnya.1. hutan lindung. sedangkan hutan sejenis berupa hutan reboisasi tanaman industri dari pemegang HPH.426.368 ha yang terdiri dari hutan taman nasional.1 Kehutanan Hutan yang terdapat di Kabupaten Nunukan seluas 1.428 ha atau 11.7% dari luas wilayahnya. Sebagian besar wilayah hutan merupakan kawasan budi daya nonkehutanan seluas 470. Peta kesesuaian lahan untuk hutan lindung di Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 12.914 ha atau 33.54 POLA PENGGUNAAN LAHAN Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Hutan lindung jaraknya relatif jauh dari permukiman yang ada. .4. Hutan produksi pada umumnya telah diusahakan/ditebang oleh pemegang HPH maupun bekas ladang penduduk yang telah ditinggalkan. 2008 Gambar 11. Kabupaten Nunukan memiliki kawasan hutan lindung seluas 167. dan hutan produksi (kawasan hutan dan kawasan budi daya nonkehutanan). Peta pola penggunaan lahan 4.

304 ha atau 0. rambutan.1. Peta kesesuaian lahan pertanian di Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 13.4. nangka.58% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan. Ladang seperti halnya tegalan. pisang. Penggunaan lahan pertanian lainnya pada umumnya merupakan campuran tanaman kopi. tegalan.55 Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. dan ladang. tetapi sifatnya hanya sementara antara satu hingga tiga kali musim panen. durian. Luas penggunaan untuk pertanian lahan kering 8. . Kebun campuran adalah penggunaan lahan kering yang sifatnya menetap atau kombinasi tanaman semusim dan tanaman keras. dan lain-lain.2 Pertanian Kelompok pertanian lahan kering meliputi kebun campuran. 2008 Gambar 12. Peta kesesuaian lahan untuk hutan lindung 4. dan padi gunung. ditanami dengan jenis tanaman semusim. Tegalan adalah pertanian lahan kering dengan jenis tanaman semusim seperti tanaman ketela pohon.

dan perkebunan besar baik oleh negara maupun swasta. Rawa-rawa yang merupakan areal penggenangan permanen dan dasarnya yang dangkal ditumbuhi . diterapkan pembinaan dengan menggunakan pola partial/swadaya. pala.4 Perikanan Kabupaten Nunukan selain mempunyai potensi perikanan tangkap. Di samping itu. kopi. Dalam rangka pengembangan sektor perkebunan di Kabupaten Nunukan. kelapa sawit.731 ha atau 1.56 Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. dan jambu mete.24% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan. aren.4. 4. juga perikanan budi daya seperti tambak/kolam berupa areal dengan penggenangan permanen yang telah mendapat campur tangan manusia baik itu berupa kolam air tawar maupun air laut atau yang telah dikenal dengan tambak. budi daya lainnya bersifat introduksi dan dikembangkan secara diversifikasi seperti vanili.1. Luas penggunaan lahan perkebunan yaitu 17. baik perkebunan rakyat.3 Perkebunan Perkebunan yang dimaksud yaitu perkebunan dengan jenis tanaman keras monokultur. perkebunan besar. Peta kesesuaian lahan untuk pertanian 4. 2008 Gambar 13.1. dan cengkeh. Budi daya tanaman perkebunan utama yang mendapat pembinaan secara khusus antara lain budi daya tanaman karet. kakao.4. lada. kelapa. sedangkan akhir-akhir ini berkembang pola kemitraan dengan komoditas unggulan yaitu sawit. maupun perkebunan swasta. PIR/NES.

Pasir kuarsa. Muara Bukat (Kecamatan Nunukan). 4.05%. Bahan Galian Golongan C.2% dan MgO 0. Kandungan batu bara yang terdapat di Simenggaris sedang diuji kandungannya oleh perusahaan swasta P. dan Kecamatan Sembakung. Luas penggunaan lahan kolam/tambak/rawa seluas 16. . Bahan galian golongan strategis (golongan A). 3. Pulau Nunukan. . yaitu: 1. . Sembakung. Pulau Nunukan. dengan kandungan CaO kandungan CaO 55. terdapat di Kecamatahn Krayan. 2. dan Sembakung. terdapat di sekitar Sungai Sedadap. Krayan Selatan. Selain itu.Bahan galian setengah permata (half precious probing material) di Sungai Bilal.T. terdapat di Pasir Putih. . terdapat di Sungai Nyamuk. terdapat di Kecamatan Nunukan .Gips.14% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan.5 Pertambangan Pengembangan pertambangan di Kabupaten Nunukan hingga saat ini belum termanfaatkan secara optimal. Minyak bumi terdapat di Kecamatan Krayan. . Minyak bumi yang terdapat di Muara Bukat dan Muara Sungai Sembakung telah dieksploitasi oleh Pertamina. Bahan Galian golongan vital (golongan B).Batu gunung. Anugerah Jati Mulya. Hulu Sungai Sembakung (Kecamatan Lumbis).295 ha atau 1. terdiri dari: . Krayan Selatan. padahal Kabupaten Nunukan memiliki beberapa potensi pertambangan yang dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan. Pulau Nunukan.Gamping. Pulau Sebatik. batu bara juga terdapat di Kecamatan Krayan. yaitu minyak bumi dan batu bara. Walaupun demikian.1. Selain di Simenggaris. terdapat juga di Kecamatan Krayan.Emas. terdapat di Hulu Sungai Sebuku (Kecamatan Nunukan). dan Sungai Krayan.Andesit.4. terdiri dari: .57 tumbuh-tumbuhan besar yang umumnya berupa rerumputan rawa dan semak belukar. tetapi jumlah cadangan yang ada diperkirakan tidak banyak. dan Sebatik. dan Muara Sungai Sembakung (Kecamatan Sembakung). belum terdapat studi terperinci tentang jumlah kandungan cadangan mineral yang ada.

58 4. 2008 Gambar 14. tempat olahraga. Pengembangan kawasan permukiman tersebut mendorong terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah perbatasan negara yang berbasis potensi SDA wilayah. Sembakung. Selain dikembangkan di Pulau Nunukan sebagai kawasan perkotaan dengan pusat pemerintahan. deliniasi kawasan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan menggunakan kriteria-kriteria sebagai berikut: − Kemiringan lereng relatif landai (0 . Peta kesesuaian lahan untuk permukiman a. di pengembangan Sebatik kawasan permukiman juga akan dikembangkan Pulau (dua kecamatan). Kesesuaian lahan untuk permukiman dapat dilihat pada Gambar 14. Kecamatan Lumbis. perkantoran. demikian juga permukiman transmigrasi. dan Krayan Selatan merupakan bagian dari wilayah perbatasan negara di Kabupaten Nunukan. kuburan baik yang di perkotaan maupun pedesaan.6 Permukiman Penggunaan lahan permukiman meliputi perumahan. Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan.15%) − Tidak berada pada daerah banjir .1. Krayan Induk. Luas penggunaan untuk permukiman ini adalah 7. Perumahan Perkotaan Berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan.4. taman.05% dari luas wilayah Kabupaten.130 ha atau sekitar 0.

serta kota-kota kecamatan lainnya. di bagian Pulau Sebatik. areal potensial dikembangkan untuk kegiatan permukiman perkotaan terletak di Pulau Nunukan atau Kota Nunukan. 5.Harus mempertimbangkan badan sungai yang ada sebagai saluran penerima . Pengembangan sarana dan prasarana ekonomi yang ada disesuaikan dengan potensi daerah belakangnya. 3. 2. 4. air kotor.59 − Tidak berada pada daerah resapan air − Tersedia air baku yang cukup − Bebas dari bahaya gangguan geologi lingkungan − Mempunyai tingkat aksesibilitas dan dapat dijangkau − Tidak berada pada daerah rawan gempa − Berada dekat pusat kota − Tidak berada dalam kawasan lindung Berdasarkan kriteria tersebut. air bersih. 6. Pengembangan permukiman perkotaan harus didasarkan pada sistem prasarana dasar yang artinya pengembangan permukiman perkotaan harus didasarkan pada penataan bangunan dan lingkungan yang serasi dan seimbang. meliputi sistem drainase. Selain itu. persampahan. Dapat dibangun akomodasi perkotaan serta sarana sosial-ekonomi yang dapat memfungsikan kota tersebut sebagai pendorong pengembangan kawasan sekitarnya atau daerah hinterland-nya. Pembangunan unit-unit permukiman diwajibkan untuk menyediakan lahan kuburan. dan perumahan. Pemanfaatan air tanah sebagai sumber air bersih untuk kebutuhan penduduk perkotaan dan sistem aktivitas. jalan lingkungan. Pengembangan permukiman minimal harus menghindari lahan-lahan pertanian yang produktif. minimum 5% dari luas areal pengembangan perkotaan. tata ruang. Sehubungan dengan potensi pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan. Sistem prasarana drainase: . diperlukan pengaturan ruang sebagai berikut: 1. air sungai juga dimanfaatkan sebagai bahan baku air bersih harus melalui pengelolaan sehingga memenuhi kelayakan sebagai air bersih yang siap untuk dikonsumsi masyarakat.

.

500 mdpl. kecuali desa-desa yang sudah ada di atas ketinggian 1. dianjurkan untuk membuat sumur resapan terutama pada tanah yang stabil dan mempunyai daya serap tinggi. litosol. Pada lereng atau tanah yang peka terhadap erosi harus ada rekayasa teknis sehingga kekeruhan drainase tidak semakin pekat . sesuai dengan standar hidup perkotaan. Ketinggian <1. dan longsoran tidak terdapat di Kabupaten Nunukan. erosi.- Koefisien aliran permukaan (run off) tidak lebih dari 25%. Mempunyai sistem dan atau potensi pengembangan pengairan dan drainase. Tidak berada dalam kawasan berfungsi lindung. Adapun permukiman desa yang terletak di daerah bahaya geologi lingkungan. Kapasitas kemampuan pelayanan didasarkan pada perhitungan kebutuhan air bersih rata-rata 100 liter/orang/hari.15%. Kemiringan lereng relatif landai 0 . b. Sistem air bersih: Pengambilan air baku diutamakan dari air permukaan (sungai) dengan melakukan pengelolaan sehingga layak untuk dijadikan air minum dan kebutuhan air bersih lainnya. dan longsoran. 7. Bukan daerah kritis/bahaya lingkungan beraspek geologi. Kedalaman efektif tanah > 30 cm. 6. erosi. 3. seperti daerah patahan aktif. 5. delineasi pengembangan kawasan permukiman pedesaan di Kabupaten Nunukan menggunakan kriteria-kriteria sebagai berikut: 1. dan organosol dengan kemiringan <15%.000 mdpl. 7. seperti patahan aktif. Perumahan Pedesaan Berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan. rezina. . Permukiman desa yang tidak sesuai dengan kriteria di atas tetap dipertahankan terutama di desa yang terdapat pada kawasan Taman Nasional Krayan Mentarang yang terletak di ketinggian di atas 1. kecuali jenis tanah regosol. Kemiringan tanah <30%. 4.000 mdpl.Perhitungan drainase berdasarkan banjir 10 sampai 25 tahun. Untuk meningkatkan recharge air tanah. 2.

seperti fasilitas pendidikan.5 Kondisi Penduduk di Kabupaten Nunukan Keadaan penduduk di Kabupaten Nunukan berdasarkan distribusi menurut kecamatan. 2008). digunakan akses sungai sebagai pintu keluar masuk desa. Pengembangan jalan lainnya dapat diintegrasikan dengan pengembangan lahan usaha masyarakat. dan tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat) atau usaha tani. Diperkenankan bangunan yang menunjang fungsi kawasan/kegiatan utama untuk kepentingan umum. Namun. 4.96% dan Kecamatan Sebatik sebesar 16. selain sarana prasarana sosial lainnya. diusahakan untuk dimukimkan kembali ke dalam kawasan yang sesuai untuk permukiman. Perlu disesuaikan secara dini agar permukiman perdesaan yang berbasis sentra pertanian tidak berubah menjadi permukiman perkotaan agar pertanian produktif tetap dapat dipertahankan serta konservasi tanah dan air tanah dapat dilakukan dengan baik. Secara keseluruhan distribusi berdasarkan kecamatan terlihat pada Gambar 15. 4.15% (Kabupaten Nunukan dalam Angka. 6.1. Berdasarkan potensi pengembangan permukiman perdesaan di Kabupaten Nunukan. peribadatan. tetapi desa-desa berada dalam kawasan lindung. Pada desa-desa yang berada di daerah aliran sungai perlu dikembangkan pelabuhan sungai yang berskala lingkungan. 5. jumlah terbesar di Kecamatan Nunukan sebesar 42. . kesehatan. 2. melalui pengembangan kawasan budi daya. Dapat dibangun sarana sosial-ekonomi berdasarkan kebutuhan sesuai dengan karakteristik tiap desa. Permukiman pedesaan memiliki kepadatan maksimum lima rumah/hektar dan KDB maksimum 5%. Bagi desa-desa yang terletak di daerah aliran sungai. perlu dilakukan pengaturan ruang sebagai berikut: 1. Pengembangan jalan sesuai dengan kebutuhan dan juga disesuaikan dengan karakteristik masing-masing desa. dan sarana budaya. Permukiman penduduk lokal/desa-desa yang berada pada kawasan lindung tetap dipertahankan.Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada desa-desa di daerah kritis. 3. baik budi daya pertanian maupun budi daya kehutanan.

34% Nunukan 42.42 142.731 20.59 1.6 jiwa/km2. .271 9.2 jiwa/km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 20.Sebatik Barat 8. 2008 Rata-rata jiwa per rumah tangga terbanyak terjadi di Kecamatan Sebuku dengan jumlah rata-rata sebanyak 4.77 3.33.29 2.47% Sembakung 6.96% Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.42 km2.90 1.951 11.24 77.837.438 2.19 14.81% Lumbis 7.645.283 11.15% Sebuku 9.055.72% Krayan Selatan 1.283 jiwa dan luas wilayah 104.585 Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km²) 4.756.29 . yaitu 194. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5.90 104.593 KK dan jumlah penduduk sebanyak 11.78% Krayan 6.50 2.263. Distribusi penduduk Kabupaten Nunukan menurut kecamatan 2007 Berdasarkan kepadatan penduduk dari delapan kecamatan yang ada terlihat bahwa Kecamatan Sebatik memiliki kepadatan penduduk tertinggi. Di kecamatan lainnya.731 jiwa.52 jiwa/keluarga dengan jumlah rumah tangga sebanyak 2.68 Jumlah Penduduk (Jiwa) 8. Luas wilayah.77% Sebatik 16. Kepadatan Kecamatan Sebatik Barat yaitu 77. 2008 Gambar 15.46 3.54 1. Tabel 5.14 33.79 3.80 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.75 194.124. kepadatan penduduk yang ada hanya berkisar antara 1.56 8.380 8.79 jiwa/km2.57 4.028 125. jumlah penduduk dan kepadatan penduduk tahun 2007 Kecamatan Krayan Krayan Selatan Lumbis Sembakung Nunukan Sebuku Sebatik Sebatik Barat Jumlah Luas Wilayah (km²) 1.503 53.596.

kota kecamatan.1 Jalan dan Angkutan Sungai Prasarana dan sarana perhubungan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menunjang kegiatan pembangunan.Tabel 6.50 km.438 1. Jumlah penduduk.731 2.1. Aru – Sungai.44 2002 97.593 4.527 19.52 Sebatik 20. sosial.245 3.283 5. Peranan perhubungan sangat vital dalam menunjang kegiatan pembangunan terutama darat.653 3.235 3.96 Sembakung 8.41 Jumlah 125. subsektor perhubungan laut.93 Sebatik Barat 11.1.323 19.707 30. Bilal . Jepun – Tanjung. dengan jarak ± 51. Taiwan – Tanjung. Prasarana perhubungan meliputi subsektor perhubungan darat.92 2005 115. dan keamanan. baik dalam bidang ekonomi.685 5.028 3.Binusan. Kelancaran perhubungan antarkecamatan.895 3. Pembangunan Jalan Lingkar Pulau Sebatik antara lain sebagai berikut Bambangan – Setabu – Sungai. kabupaten.81 Nunukan 53.503 2.16 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. rumah tangga dan rata-rata jiwa per rumah tangga tahun 2007 Rata-Rata Jiwa/ Penduduk Rumah Tangga Kecamatan (jiwa) (kk) Keluarga Krayan 8.702 3. subsektor perhubungan air. Prasarana jalan menjadi faktor utama dalam mendukung lancarnya mobilisasi kegiatan pembangunan di daerah.84 2006 118. Program pembangunan jalan Kabupaten Nunukan untuk pertumbuhan ekonomi yaitu: Pembangunan Jalan Lingkar Pulau Nunukan antara lain sebagai berikut: Binusan – Sungai. 2008 4.585 32.230 3.546 5.17 Lumbis 9.40 Krayan Selatan 2.6 Kondisi Prasarana dan Sarana 4.210 32. dengan jarak ± 58. dan pedalaman/kawasan pedesaan akan mempercepat jalanya roda pembangunan.6.366 3.68 Sebuku 11.alun-alun – Sedadap – Sungai. Lancang – Mamolo . Harapan – Sungai.60 km.380 2.398 18.271 545 4. dan subsektor perhubungan udara.56 2003 106. Pancang Sungai Nyamuk .Aji Kuning .917 4.163 3.50 2004 109. Fatimah – Sungai. .Bambangan.951 14.860 5.

- Pembangunan Jalan Lingkar Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan melalui Long Bawan – Kuala. - Pembangunan jalan lintas negara yang menghubungkan Kabupaten Malinau dan Nunukan ke batas negara sejauh ± 180. Layu . Hubungan antaribukota kecamatan di dalam kabupaten sebagian besar masih menggunakan jalur angkutan laut dan sungai.43 km. dengan jarak ± 87. sehingga memudahkan penduduk untuk berinteraksi dan beraktivitas walaupun sebagian besar jalan tersebut belum beraspal. Jaringan jalan kabupaten relatif masih terbatas dibandingkan dengan luas wilayah administrasi Kabupaten Nunukan.Kecamatan Lumbis (Mansalong) .Long Padi – Binuang . Pada jalan negara dan jalan provinsi. Jaringan jalan ke lokasi rencana PPN untuk daerah Sungai Mensapa dapat langsung dijangkau oleh kendaraan roda empat dengan baik karena keberadaan . - Pembangunan jalan lintas kecamatan. semua ibukota kecamatan maupun desa-desa yang ada dapat dijangkau dengan jalan darat. Belawit – Lembudud – Long.63 km. - Pembangunan jalan lintas kabupaten yang menghubungkan Kabupaten Nunukan dan Malinau yaitu Kecamatan Sebuku (Pembeliangan) . dengan jarak ± 22.Kecamatan Lumbis (Mansalong). dengan jarak ± 65. jalan provinsi.Tang Laan – Tanjung. yang menghubungkan kecamatankecamatan di Kabupaten Nunukan melalui: .Kecamatan Malinau Utara (Salap). dengan jarak ± 125 km. Meskipun demikian.79 km. Berdasarkan jenis permukaannya. dengan jarak ± 235 km. masih diusulkan penetapannya ke tingkat provinsi/pusat. jaringan jalan darat dibagi menjadi jalan aspal.Kecamatan Lumbis (Mansalong) . Pasir . .60 km.Kecamatan Sembakung (Atap). Jaringan jalan yang ada di Kabupaten Nunukan terbagi atas jalan negara.Kabupaten Malinau .Wa Yagung Long Bawan.Ba Liku – Bungayan . dan jalan kabupaten.Kecamatan Sebuku (Pembeliangan) . jalan berbatu/diperkeras. .Kecamatan Sebuku (Pembeliangan) . dan jalan tanah.Kecamatan Krayan (Long Bawan).

batu. dan Kampung Buton sudah tersedia jalan agregat yang dapat dilalui oleh mobil sampai ke rencana lokasi. Sedadap. Kondisi jaringan jalan di Nunukan dapat dilihat berdasarkan jenis permukaan jalan maupun kelas jalan. 2008 Gambar 16. dan tanah).90 km. mencapai 816. Meningkatkan kelas jalan. 4. Membuka isolasi daerah melalui pembangunan dan peningkatan jalan desa. Sebagian besar (53.5%) jaringan jalan yang ada masih merupakan jalan berpermukaan campuran (agregat antara jalan aspal.lokasi yang berdekatan dengan jalan lingkar Pulau Nunukan. 3. termasuk wilayah perkotaannya. Persentase panjang jalan menurut jenis permukaan 2007 (km) Jumlah panjang jalan di wilayah Kabupaten Nunukan. Pemerintah Kabupaten Nunukan merencanakan pengembangan prasarana jalan yang meliputi: 1. Melanjutkan pembangunan ruas jalan baru dengan melengkapi kebutuhan rambu-rambu lalu lintas untuk keamanan dan ketertiban pemakai jalan. Aspal 16% Tanah 49% Kerikil 35% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. 2. Pemeliharaan secara periodik dan rutin serta peningkatan jalan menuju ibukota kecamatan dengan konstruksi hotmix. Jaringan jalan menuju Sungai Jepun. . Persentase panjang jalan disajikan pada Gambar 16. Peta kesesuaian lahan untuk keterlintasan jalan dapat dilihat pada Gambar 17.

Peta kesesuaian lahan untuk keterlintasan jalan Pelayanan mobilisasi penduduk dan barang antarpulau. tetapi juga sangat berperan pada daerah yang sudah berkembang di sekitar pantai. Berdasarkan data Kantor Badan Statistik Kabupaten Nunukan tahun 2002. tidak hanya sebatas pada daerah pedalaman. 2008 Gambar 17. untuk keperluan lokal (dalam kota) digunakan angkutan darat. Selain itu.Surabaya PP Angkutan sungai di Kabupaten Nunukan memegang peranan penting.Tawau (setiap hari) Angkutan udara Tarakan .66 Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. laut. 4.Nunukan Angkutan Kapal Laut Nunukan Toli – Makassar – Balikpapan . tercatat satu pelabuhan laut. Sistem angkutan sungai ini berkembang di sepanjang Sungai Sebuku (Sungai Tulid dan Sungai Tikung). . Tersedia jadwal rute angkutan sungai. dan udara yang melintasi Kabupaten Nunukan. yakni sebagai berikut : 1. Angkutan Sungai Tarakan . 3. 2. alat angkutan utama yang digunakan adalah kapal laut dan udara. dan enam bandar udara air strip.Nunukan Terjadwal (setiap hari) Angkutan Sungai Antarnegara Nunukan . dua bandar udara perintis. sepanjang Sungai Sembakung yang menghubungkan daerah yang tersebar di sepanjang sungai mulai dari hulu ke hilir dan sepanjang sungai di Lumbis serta Krayan Selatan yang ada di wilayah pedalaman Kabupaten Nunukan.

maupun penumpang ke dan dari pedalaman. bahkan antarkota yang ada di Provinsi Kalimantan Timur dengan jenis pesawat baling-baling kecil dan sedang. Perkembangan penduduk menyebabkan peningkatan kebutuhan air bersih. Ketersediaan Prasarana dan Sarana Air Bersih Sumber air baku bagi kebutuhan air bersih diambil dari Sungai Bolong dan Sungai Bilal. Namun.348 unit.6.1. dan masih tingginya tingkat kebocoran air. 14 unit hidran. kapasitas yang tersedia belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. Sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan di Kabupaten Nunukan ini sebelumnya sangat potensial. Kondisi yang sama juga terlihat pada perpaduan dengan angkutan lainnya untuk dapat menjangkau wilayah pedalaman dan perbatasan dengan penerbangan perintis. Permasalahan yang ada dalam penyediaan air bersih di Kabupaten Nunukan ini yaitu sebagian besar daerah belum memilik sambungan air PDAM sebagai badan yang dapat mengolah dan menyediakan air bersih. di lain pihak adanya kegiatan angkutan sungai yang dilengkapi dengan prasarana dermaga dapat mempengaruhi ekosistem yang ada di dalamnya. Selain itu. ekosistem perairan dapat tercemar oleh bahan organik yang berasal dari pengguna angkutan dan bahan organik seperti bahan bakar. 4.2 Angkutan Udara Bandar udara Kabupaten Nunukan merupakan bandar perintis yang melayani daerah di Kabupaten Nunukan. sedangkan kecamatan lain masih memanfaatkan sumber air lainnya.6.049 unit sambungan rumah (SR). peranan angkutan sungai demikian pentingnya untuk kelancaran arus barang. 4.Sesuai dengan sifat-sifat sungai. dan oli. dan 289 unit sambungan nonrumah tangga. Kapasitas air bersih yang ada belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena permasalahan distribusi dan kualitas air yang belum sesuai dengan kebutuhan.3 Air Bersih a.1. . adanya jaringan distribusi yang belum menjangkau ke seluruh wilayah. Jumlah sambungan aktif mencapai 1. seperti mata air dan air permukaan sebagai sumber air bersih. Kecamatan Nunukan telah memiliki PDAM. Hal ini disebabkan masih terbatasnya prasarana dermaga perairan darat. Sumber daya air tersebut terdiri dari air permukaan dan air tanah dalam. Dalam hal ini. terdiri 1. Bahan-bahan ini dapat menambah ambang total petroleum hidrokarbon di dalam air.

496 1. Penyediaan air yang bersih dan layak digunakan untuk keperluan sehari-hari dapat dipenuhi dengan tersedianya Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Tingkat Pelayanan Air Bersih Perkotaan Berdasarkan sistem sambungan perpipaan. 2008 Gambar 18. air permukaan. 2008) mencapai 1. Sisanya.500 1. maupun air hujan. sebanyak 82% penduduk di wilayah Kota Nunukan masih menggunakan sumber air baku yang berasal dari tanah.510 1. tingkat pelayanan air bersih penduduk Kabupaten Nunukan sebesar 18%. 2. Jumlah pelanggan PDAM Nunukan pada tahun 2007 (Kabupaten Nunukan dalam Angka. Banyaknya pelanggan pada PDAM Nunukan 2002—2007 . b.744 Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka. PDAM yang beroperasi di Kabupaten Nunukan berada di Kecamatan Nunukan dan Sebatik.68 Pembangunan dan pemanfaatan embung-embung yang berasal dari sungai-sungai dapat sangat bermanfaat dalam mengatasi keterbatasan air baku untuk air minum pada musim kering.500 2.912 1.912 pelanggan atau dengan kata lain mengalami peningkatan masing sebesar 9.496 1.63% dibanding tahun sebelumnya.573 1. Selengkapnya data perkembangan pelanggan dari tahun ke tahun dapat dilihat pada Gambar 18.000 1.000 500 0 2002 2003 2004 2005 2006 2007 1.

000. 1. Industry. Rumah Sakit.912 orang dengan jumlah pelanggan terbanyak dari rumah tangga (tempat tinggal).Berdasarkan data tahun 2007.000 100.000 800.632 2007 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.000 0 2002 2003 2004 2005 2006 468.000 500. 2008 Nunukan 1. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 7.000 700. Hospital Sarana (Fasilitas) Umum Public Facilities Hydran Pelabuhan Hydran Port Lainnya/Industri Others Jumlah Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.484 390 12 26 1.000 300. Government Hotel/Objek Wisata. banyaknya air minum yang disalurkan oleh PDAM Nunukan juga mengalami peningkatan sebesar 17.000 900. Data selengkapnya mengenai perkembangan banyaknya air minum yang disalurkan terlihat pada Gambar 19. Market.912 Sebatik 219 90 4 2 1 316 Lumbis 229 63 1 3 296 Seiring dengan peningkatan jumlah pelanggan. Di Kecamatan Nunukan.484 pelanggan. Perusahaan Hotel. terdapat 1.418 756.832 385. Rumah Ibadah dsb Social.000 200. Tabel 7. Banyaknya air minum yang disalurkan 2002-2007 (m3) . Banyaknya pelanggan air minum menurut jenis pelanggan 2007 Jenis Pelanggan Rumah Tangga (Tempat Tinggal).006 887. 2008 Gambar 19. Toko. Instansi/Kantor Pemerintah Household. instansi/kantor pemerintah. Factory Badan Sosial. Industri. terdapat 1.41%.000 600.179 470.339 514.

dan 870 MWH. industri.37% tanpa migas. Produksi tenaga listrik Kabupaten Nunukan mengalami peningkatan sebesar 28. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 sebesar 1.7 Kondisi Ekonomi Daerah Secara umum.103 2005 29.921.4 Listrik dan Telekomunikasi Prasarana listrik dan telekomunikasi merupakan fasilitas dasar yang sangat dibutuhkan untuk mendorong perkembangan kabupaten.000 0 2004 Diproduksi Terjual 25.556 23.000 30.129 2006 26.235 MWH.33% dari tahun sebelumnya. Tenaga listrik yang terjual sebesar 35. Banyaknya tenaga listrik yang diproduksi Tahun 2004-2007 (MWH) 4.550 MWH.29% pada tahun 2007. kemudian kegiatan usaha sebesar 9. Data perkembangan banyaknya tenaga listrik yang diproduksi dapat dilihat pada Gambar 20.070 31. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tambah dari sektor pertambangan dan penggalian yang memberikan bagian terbesar terhadap nilai PDRB.80%. Peningkatan ini diiringi dengan meningkatnya tenaga listrik yang terpasang sebesar 16 MWH atau terjadi peningkatan sebesar 33. 40.557 24. .38% dengan migas dan 17. 2008 Gambar 20. dan sosial masing-masing sebesar 4.672.1. Adapun untuk kepentingan publik. 1.562 2007 34.000 20.70 4.553 26.248 MWH.000 10. wilayah Kabupaten Nunukan memiliki sektor ekonomi andalan berupa pertambangan.1.6.145 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. di mana sebagian besar digunakan oleh rumah tangga sebesar 18. Pelayanan listrik di Kabupaten Nunukan menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang dikelola oleh PLN wilayah VI. Otomatis tenaga listrik yang terjual juga mengalami peningkatan sebesar 26.

03 0.84 2. 2008 .82 100 2004 33.85 0. Struktur perekonomian menurut lapangan usaha tahun 2003 – 2007 (%) Sektor/Sub Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik. Hal ini tercermin pada tabel 8.03 0.68 0. baik regional (dalam wilayah kabupaten).04 0. Hotel dan Restoran Angkutan dan Komunikasi Keuangan. terdapat pula perdagangan barang-barang yang berasal dari wilayah Sabah.84 51.60 6.08 38.40 0. Gas dan Air Minum Bangunan Perdagangan. nilai distribusi PDRB atas dasar harga berlaku yang masih didominasi oleh sektor pertambangan penggalian dan pertanian masing-masing sebesar 51. maupun perdagangan lintas batas dengan wilayah Negara Bagian Sabah di Malaysia Timur.03 0.44 0.65 6.37 2.27 1. Perlu dicermati bahwa ada usaha-usaha perdagangan ilegal yang berlangsung secara lintas batas antara negara Malaysia dan Indonesia di sekitar wilayah perkotaan Kecamatan Nunukan.24 0. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB 2003 37.01 0.33 11.30 0.13 4.04 0.06 100 2006 21.06 0. Hal ini menunjukkan perlu adanya dorongan dalam proses transformasi ekonomi Kabupaten Nunukan dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier.03 62.28 2. Struktur perekonomian Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 terlihat masih bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam.17 4.34 0.08 2.Perkembangan ekonomi di Kabupaten Nunukan banyak dipengaruhi oleh sektor perdagangan.27 43. Selain itu.49 4.77 9.11 3.78 0.16 4.49 4. Malaysia.28 9.41 100 2005 21.44% dan 24. baik yang dapat diperbaharui maupun tidak dapat diperbaharui.84%.95 7.46 3.26 100 2007*) 24.01 57.18 100 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.14 5.19 10. Tabel 8.

1. Pengembangan pasokan energi listrik diarahkan untuk memenuhi kebutuhan di sentra produksi dan permukiman. Pengembangan prasarana pengairan diarahkan untuk mendukung pengembangan pertanian lahan basah (sawah) dan tambak. 3. 1. dan meningkatkan daya dukung lingkungan buatan guna mendukung proses pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat. Meningkatkan kualitas lingkungan hidup serta mencegah timbulnya kerusakan fungsi dan tatanan lingkungan hidup. meningkatkan daya dukung lingkungan. dan berkelanjutan. 3. Meningkatkan keseimbangan dan keserasian perkembangan ruang secara serasi. Pengembangan prasarana wilayah diarahkan untuk mendukung terwujudnya prasarana wilayah yang diarahkan untuk mendukung terwujudnya struktur tata ruang dan pemanfaatan ruang yang sesuai dengan yang telah direncanakan. Mengembangkan kawasan-kawasan potensial di Kabupaten Nunukan dan mendukung terwujudnya struktur tata ruang yang diinginkan. 2. dan distribusi serta pasar. Mengembangkan sistem kota atau sistem pusat-pusat permukiman yang sesuai dengan daya dukung dan daya tampung serta fungsi kegiatan dominan. Secara lebih rinci kebijakaan pengembangan prasarana yaitu sebagai berikut: 1. seimbang. .72 4. Kebijakan pemanfaatan ruang Kabupaten Nunukan yang bertujuan mewujudkan kelestarian fungsi lingkungan hidup. peningkatan dan pembangunan prasarana wilayah didasarkan pada rencana struktur tata ruang serta rencana pemanfaatan ruang wilayah. Oleh karena itu. selaras. 2. pusat pengumpul. 3.8 Kebijakan Pembangunan Kabupaten Nunukan Kebijakan struktur tata ruang dalam RTRW Kabupaten Nunukan adalah sebagai berikut: 1. Mengembangkan prasarana wilayah yang mampu mendukung terwujudnya sistem kota-kota (sistem pusat-pusat permukiman) di Kabupaten Nunukan. 2. Pengembangan prasarana transportasi diarahkan untuk menghubungkan antara sentra produksi. menjaga keseimbangan ekosistem. Pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.

pergudangan. Pengembangan prasarana penyediaan air bersih diarahkan pada pusat permukiman dan daerah yang rawan air bersih.4. pemukiman. dan Atap. dalam RTRW. Tanjung Karang. Mansalong. . Pengembangan prasarana industri perkebunan dan perikanan skala besar. Sesuai dengan fungsi pertumbuhan. Hal ini berdasarkan kegiatan sosial-ekonomi yang berada dan berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sabah. terminal agribisnis. Pembeliangan. Rencana pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan diarahkan pada pengembangan permukiman perkotaan yang dapat memenuhi kebutuhan lingkungan hunian yang serasi dan selaras. Rencana pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan akan diarahkan pada permukiman perkotaan Nunukan. antara lain adanya kegiatan campuran (permukiman dan kegiatan lainnya). Tanjung Karang. Kecamatan Nunukan dan Sebatik merupakan pusat pertumbuhan hierarki I di Kabupaten Nunukan. Kecamatan Nunukan sebagai Ibukota Kabupaten merupakan pusat kegiatan ekonomi skala regional dan skala internasional. − Mudah diakses dari segala penjuru wilayah di Kabupaten Nunukan. Mansalong. Ciri-ciri pusat pertumbuhan ini ditandai oleh antara lain sebagai berikut: − Pola penggunaan lahan yang didominasi oleh kegiatan nonpertanian. 5. Long Bawan. disebutkan rencana pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan. Pembeliangan. Atap. Malaysia sehingga sangat strategis untuk pengembangan perdagangan antarnegara. Pengembangan permukiman perkotaan dilakukan melalui peningkatan fungsi pusat-pusat ekonomi perkotaan dan pusat-pusat permukiman desa yaitu di Kecamatan Nunukan. − Adanya pemusatan lokasi kegiatan sosial ekonomi yang mencirikan kegiatan perkotaan. Long Bawan. dan Tau Lumbis. Tau Lumbis. lokasi pangkalan niaga. industri. dan faslitas sosial-ekonomi yang berorientasi pelayanan antarpulau dan antarnegara. Selanjutnya. − Ketersediaan fasilitas sosial dan sarana ekonomi yang lengkap.

Pembangunan kehutanan mencakup aspek pelestarian fungsi lingkungan hidup. Selain itu.1. 2008 Gambar 21. Luas kawasan hutan menurut tata hutan kesepakatan 2007 (Ha) . Pengelolaan hutan sebagai sumber daya alam perlu ditingkatkan dan disempurnakan agar memberikan manfaat besar bagi kesejahteraan rakyat.911.1. dapat pula memantapkan fungsi ekosistem sebagai pelindung sistem penyangga kehidupan dan pelestari keanekaragaman hayati maupun sebagai sumber daya pembangunan.9 Potensi Sumber Daya Alam dan Wilayah 4. Luas kawasan hutan di Kabupaten Nunukan seluas 1.01% dari kawasan hutan seluruhnya.368 ha yang terdiri dari taman nasional. kawasan hutan. Produksi kayu bulat tahun 2007 mengalami penurunan sebesar 71. kegiatan kehutanan perlu memperhatikan tata guna hutan.02% Kaw as an Budidaya Non Ke hutanan 33.37 m3 menjadi 35.1 Kehutanan Pembangunan kehutanan mencakup semua upaya untuk memanfaatkan dan memantapkan fungsi sumber daya alam hutan dan sumber daya hayati. hutan tanam industri. Tam an Nas ional 25. serta penyerapan tenaga kerja bagi masyarakat.74 4. hutan lindung.914 ha atau 33. Selain itu. areal tanah kritis.74% Kaw as an Hutan 30.58 m3. yakni seluas 470. Sebagian besar wilayah hutan adalah kawasan budi daya nonkehutanan.034.23% Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka. Luas kawasan hutan disajikan pada Gambar 21. usaha perlindungan dan pengamanan flora dan fauna.426.9.01% Hutan Lindung 11. dan kesejahteraan sosial. dan kawasan budi daya nonkehutanan.73% dibanding tahun sebelumnya yaitu dari 123. baik dalam kawasan hutan maupun masyarakat di sekitar hutan. pembangunan ekonomi.

83% dari total produksi. Peningkatan luas tanam yang pesat dibandingkan tahun sebelumnya dan diiringi dengan peningkatan hasil produksi dari masing-masing tanaman. perkebunan. Tanaman bawang daun merupakan komoditas tanaman sayur-sayuran yang mengalami penurunan hasil produksi.127 ton atau dengan kata lain terjadi peningkatan produktivitas padi sebesar 9. Pertanian yang meliputi pertanian tanaman pangan. Pengembangan di bidang pertanian perlu ditingkatkan agar memberikan hasil yang lebih baik dari segi kuantitas dan kualitas. yaitu menjadi 48. Persentase produksi padi menurut kecamatan 2007 .65%. Kecamatan Krayan adalah daerah yang mempunyai luas panen dan jumlah produksi padi ladang yang lebih besar dibandingkan kecamatan yang lain. perikanan dan peternakan terus diupayakan untuk menunjang pertumbuhan dan stabilitas ekonomi. Produksi tanaman padi juga mengalami kenaikan. yaitu 38. Sebuku 4% Sebatik 21% Krayan 41% Nunukan 11% Sembakung 3% Lumbis 6% Krayan Selatan 14% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.1.28%. Pada tahun 2007 luas panen padi (sawah dan ladang) di Kabupaten Nunukan mengalami peningkatan. yakni sebesar 4.11% dari total luas panen serta 40. kehutanan. 2008 Gambar 22.75 4.2 Pertanian Pertanian merupakan sektor primer yang mendominasi aktivitas perekonomian di Kabupaten Nunukan. Persentase produksi padi disajikan pada Gambar 22.9..

4 Perikanan Produksi perikanan pada tahun 2007 tercatat 4. 2008 2007 Gambar 23. jumlah rumah tangga perikanan penangkapan tercatat 2.36 ton produksi perikanan penangkapan dan 362. yang terdiri atas 4. Sembakung dan Nunukan. Sebuku.26%.31%. Pada tahun 2007.1 kakao 7458.26 persen dibandingkan tahun 2006 (Gambar 25).9. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya.585.903.3 Perkebunan Luas areal komoditas kelapa sawit pada tahun 2007 mengalami peningkatan sebesar 25. . Sebatik Barat. Persentase produksi perikanan disajikan pada Gambar 24. Berdasarkan data tersebut.76 4. Sebagian besar luas areal kelapa sawit terdapat di Kecamatan Sebatik.21 ton perikanan budi daya.8% dibandingkan tahun 2006.1.947.1. produksi terbesar dihasilkan oleh tanaman kakao sebesar 18.57 ton.273 rumah tangga atau naik sebesar 30.10 ton atau meningkat 6. Dilihat dari rata-rata produksi yang dihasilkan oleh setiap komoditas perkebunan. Produksi komoditas kakao dan kelapa 2006-2007 (ton) 4.9.71 kelapa 2006 Tahun Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.32 7686. bukan disebabkan peningkatan oleh jumlah tetapi disebabkan penangkap ikan sebesar 30. Lumbis. Persentase produksi komoditas kakao dan kelapa disajikan pada Gambar 23 20000 Hasil 15000 10000 5000 0 17702 18903. dapat disimpulkan bahwa meningkatnya peningkatan produksi produktivitas ikan di lokasi penelitian perairan.4% dibandingkan dengan tahun 2006. produksi perikanan tahun 2006 naik 9.

03% Se batik Barat 15.37% Nunuk an 25. pada tahun 2007 sebesar 1. 2008 2007 Gambar 25.846.937. Kemudian pada tahun 2007 menjadi 1. yakni pada tahun 2006 jumlah produksi sebanyak 1.16% Se batik 37.77 Krayan 1.1.94% Se m bak ung 19. 2008 Gambar 24. Persentase produksi perikanan menurut kecamatan 2007 4. 2000000 Ton/BBL 1500000 1000000 500000 0 1670048 1165287 1846937 1362304 Batubara Minyak bumi 2006 Tahun Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.59% dibandingkan tahun sebelumnya.9.287 ton. Produksi pertambangan batubara dan minyak bumi 2006-2007 .129 ton.304 BBL atau menurun sebesar 22.5 Pertambangan Hasil tambang batu bara mengalami peningkatan yang sangat pesat. Produksi minyak bumi di Kabupaten Nunukan selama tahun terakhir ini mengalami penurunan jumlah produksi.362.165.17% Se buk u 0. Dinas pertambangan mencatat produksi minyak bumi dari P.09% Lum bis 0.87% Krayan Se latan 0. Produksi pertambangan batu bara dan minyak bumi 2006—2007 dapat dilihat pada Gambar 25.37% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.T. Perkasa Equatorial Sembakung Ltd.

tetapi ada desa yang berada dalam kawasan lindung. Hasil analisis menunjukkan tidak ada desa yang berada di daerah kritis. . Sembukung. Rencana andalan pengembangan tersebut dimaksudkan untuk mendorong tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan baru di perbatasan negara yang berbasis potensi SDA wilayah yang prospektif dan potensial mendukung keberlanjutan kawasan permukiman.05% dari luas wilayah kabupaten. Berdasarkan arahan RTRW kabupaten. Selain itu. Potensi Pengembangan Lahan Permukiman Potensi pengembangan kawasan permukiman meliputi perumahan. dan longsoran tidak terdapat di Kabupaten Nunukan. lahan untuk permukiman adalah 7. seperti permukiman transmigrasi baik lokal maupun antarwilayah di Indonesia cukup luas.9. erosi.Sumber : Survei Lapangan.6 Permukiman A. Adapun permukiman desa yang terletak pada daerah bahaya geologi lingkungan.000 mdpl. dan Krayan yang merupakan bagian wilayah perbatasan negara di Kabupaten Nunukan.130 ha atau sekitar 0. perkotaan. Kawasan tambang batubara dan minyak bumi 4.1. seperti patahan aktif. 2008 Gambar 26. Pengembangan kawasan permukiman selain dikembangkan di Pulau Nunukan sebagai kawasan perkotaan dengan pusat pemerintahan juga akan dikembangkan di Pulau Sebatik (dua kecamatan). dan perdesaan. dikembangkan juga di Kecamatan Lumbis. Permukiman desa yang tidak sesuai dengan kriteria di atas tetap dipertahankan terutama di desa-desa yang terdapat pada kawasan Taman Nasional Krayan Mentarang yang terletak di ketinggian diatas 1. Demikian juga permukiman lain.

Pemerintah Kabupaten Nunukan telah memperlihatkan adanya potensi kemampuan sharing pembiayaan pada program-program stimulan pembangunan perumahan dari pemerintah pusat seperti dari Kementerian Perumahan Rakyat. Nilai indeks fiskal dapat menunjukkan kemampuan daerah dalam pendampingan pembiayaan bersama dengan pemerintah pusat. . Pada desa-desa yang berada di daerah aliran sungai perlu dikembangkan pelabuhan sungai yang berskala lingkungan. Bangunan yang menunjang fungsi kawasan/kegiatan utama diperkenankan dibangun untuk kepentingan umum. Untuk Kabupaten Nunukan. perlu adanya pengaturan ruang seperti permukiman penduduk lokal/desa-desa yang berada pada kawasan lindung. Permukiman perdesaan yang berbasis sentra pertanian perlu disesuaikan secara dini agar tidak berubah menjadi permukiman perkotaan agar pertanian produktif tetap dapat dipertahankan. Tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat) atau usaha tani. Kementerian Pekerjaan Umum. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Akan tetapi.07/2010 tentang Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah dalam Rangka Perencanaan Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan Tahun Anggaran 2011. penyediaan prasarana dan sarana. Fasilitas sosial dan ekonomi dapat dibangun sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik msing-masing desa. Permukiman perdesaan memiliki kepadatan maksimum lima rumah/hektar dan KDB maksimum 5%. masuk dalam kategori sangat tinggi. perlu diusahakan pemukiman kembali kawasan yang sesuai untuk permukiman. Bagi desa-desa yang terletak pada daerah aliran sungai dan menggunakan akses sungai sebagai pintu keluar masuk desa dapat dibangun jalan akses dan menempatkan prasarana dan sarana sosial lainnya.79 Berdasarkan potensi pengembangan permukiman perdesaan di Kabupaten Nunukan. B. Potensi Kemampuan Pembiayaan Pembangunan Kemampuan daerah dalam sharing pembiayaan pembangunan kawasan permukiman dilihat dari kemampuan indikator nilai indeks fiskal daerah. Selain itu. Pengembangan jalan lainnya dapat diintegrasikan dengan pengembangan lahan usaha masyarakat. berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK. konservasi tanah dan air tanah dapat dilakukan dengan baik. serta fasilitas sosial dan ekonomi.

464 0. DDUB yang harus disediakan oleh daerah dengan rincian sebagai berikut: − Daerah yang termasuk dalam kelompok 1 menyediakan DDUB sangat tinggi.067 1.928 1.300 4 Tinggi Kota Bontang 3. Tana Tidung 30. dan kementerian lain yang terkait.800 1 Sangat Tinggi Kab.175 1.721 4 Tinggi Kab.195 0.185 0.Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal. Kutai Timur 4. Penajam Paser Utara 2. Pasir 2. DDUB yang harus disediakan oleh daerah disesuaikan dengan katagori kelompok.971 1. − Daerah yang termasuk dalam kelompok 3 menyediakan DDUB rendah.421 4 Tinggi Kota Tarakan 1. Kutai Barat 3.796 1.935 0.062 0. Bulungan 4. − Daerah yang termasuk dalam kelompok 2 menyediakan DDUB sedang. Kutai Kartanegara 4.134 1 Sangat Tinggi Kab. Tabel 9.426 1. Malinau 8. − Daerah yang termasuk dalam kelompok 4 menyediakan DDUB tinggi. Berau 2. .993 4 Tinggi Kab.335 1 Sangat Tinggi Kab.450 1 Sangat Tinggi Sumber : Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK.886 4 Tinggi Kab. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Indeks Ruang Indeks Persentase Tingkatan Fiskal Daerah Penduduk Miskin Kelompok Penyediaan (IRFD) Daerah (IPPMD) DUUB Kab. Nilai indeks fiskal di Kalimantan Timur terlihat pada Tabel 9. Penentuan batas persentase terendah dan tertinggi DDUB yang harus disediakan oleh daerah dengan mempertimbangkan hasil keputusan rapat koordinasi instansi yang terkait dengan program penanggulangan kemiskinan nasional.450 1 Sangat Tinggi Kab. Nunukan 3. Daftar daerah berdasarkan indeks fiskal dan kemiskinan daerah di Kalimantan Timur No.550 1 Sangat Tinggi Kab.999 0.416 1 Sangat Tinggi Kota Balikpapan 1.248 1. c.698 4 Tinggi Kab.303 4 Tinggi Kota Samarinda 1.829 0. b.07/2010 tentang Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah dalam rangka Perencanaan Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan tahun anggaran 2011 Kab / Kota Penentuan tingkat besaran penyediaan dana daerah untuk urusan bersama (DUUB) adalah dengan pertimbangan sebagai berikut: a.

penguatan pola interaksi orientasi ekonomi yang berbasis potensi sumber daya alam wilayah menjadikan kemauan politik (political will) pemerintah pusat dan daerah (Rosentraub 1996). Prioritas ini dapat berupa peningkatan dana alokasi khusus (DAK). . Arah kecenderungan pengembangan meliputi aspek keselarasan antara kawasan budi daya dengan kawasan lindung. f. keterkaitan antara pusat-pusat pertumbuhan baru dengan pusat-pusat kegiatan (kota). Hal ini bertujuan agar arah kecenderungan pengembangan dapat diketahui.q. Hasil perhitungan rincian penyediaan DDUB disampaikan oleh direktur jenderal perimbangan keuangan atas nama menteri keuangan kepada tim nasional paling lambat bulan Maret sebelum penyusunan rencana kerja Kementerian Negara/Lembaga. Menarik masuknya investasi baru sektor unggulan daerah untuk mendorong percepatan pembangunan wilayah perbatasan. Mengingat kedudukan Kabupaten Nunukan sebagai kawasan strategis nasional (KSN) di wilayah perbatasan dapat menjadi pertimbangan tersendiri untuk tetap mendapat prioritas bantuan pembiayaan pengembangan. e.81 d. Berdasarkan data indeks fiskal tersebut. dapat dilihat bahwa Kabupaten Nunukan masuk pada kategori kelompok sangat tinggi. Kriteria mensyaratkan indeks fiskal harus dievaluasi secara periodik untuk menentukan besaran bantuan pembiayaan dari pemerintah pusat. perlu dipahami profil pelaksanaan pembangunan di daerah yang sesuai dengan pemenuhan kebutuhan pengembangan. Dalam rangka mewujudkan keterpaduan dalam pembangunan di wilayah Perbatasan khususnya dalam sektor permukiman. khususnya sektor permukiman dan infrastruktur wilayah perbatasan. Hasil perhitungan rincian penyediaan DDUB digunakan oleh pusat (tingkat nasional) sebagai bahan penetapan besaran DDUB pada masing-masing daerah. diharapkan kondisi ini dapat terus dipertahankan. Oleh karena itu. Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan menyiapkan bahan perhitungan rincian penyediaan DDUB untuk masingmasing daerah berdasarkan batas persentase terendah dan tertinggi. Menteri Keuangan c.

dan tidak terkelola dengan baik. permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung. ekonomi. Ilmu ekistics dikembangkan oleh CA Doxiadis pada tahun 1967 (Winarso 2001). terpencar. dan jaringan infrastruktur (Sastra dan Marlina 2006). Secara ekologi. dan sosial. Aspek lain yang kesesuaian juga harus diperhatikan khususnya dalam pengembangan ekonomi adalah sektor unggulan wilayah yang potensial dikembangkan sehingga akan menjamin peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat agar keberlanjutan kawasan permukiman di wilayah perbatasan dapat terlaksana. yaitu tempat fisik manusia tinggal yang meliputi elemen alam dan buatan manusia). Oleh karena itu. perkebunan. baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan (live) dan penghidupan (livelihoods). Permukiman diartikan sebagai tempat manusia hidup dan berkehidupan. masyarakat.2. perumahan. Pengetahuan mengenai permukiman disebut ekistics (istilah Yunani). Suatu permukiman terdiri atas the content (isi.2 Analisis Kondisi Permukiman Perbatasan Kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara dengan kondisi umum yang tidak tertata. kumuh. manusia. Adapun . subsektor kehutanan. Permukiman merupakan suatu kesatuan wilayah tempat suatu perumahan berada. mempunyai dampak langsung terhadap keberlanjutan aspek ekologi.1 Kondisi dan Permasalahan Permukiman Perbatasan Permukiman dalam istilah ini merupakan padanan kata human settlements. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman.4. Adapun potensi SDA wilayah berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan terdiri dari subsektor pangan. nomaden. lokasi dan lingkungan perumahan tersebut tidak akan pernah dapat lepas dari permasalahan dan lingkup keberadaan suatu permukiman yang seharusnya memberikan kenyamanan kepada penghuninya (termasuk orang yang datang ke tempat tersebut). subsektor pariwisata. subsektor sektor pertambangan. Menurut Undang-Undang No. yaitu manusia) dan the container (wadah. dan sektor industri 4. Elemen-elemen permukiman terdiri atas alam. perlu memerhatikan daya dukung dan lahan untuk pengembangan permukiman. subsektor pertanian tanaman perikanan.

. Kawasan permukiman perbatasan di Kabupaten Nunukan. Dari beberapa pengertian tersebut. dan minim prasarana. Terkait dengan fenomena kawasan permukiman perbatasan negara. fasos. Hal ini disebabkan oleh pengelolaan yang tidak baik dan kurangnya kegiatan terkait program/proyek pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara. dan fasum lingkungan. Persebaran penduduk di wilayah perbatasan pada umumnya tidak merata sehingga kawasan permukimannya terlihat mengelompok dan terpencar.235 KK yang lokasinya di ujung barat pulau.653 KK. yang dimaksud kawasan permukiman perbatasan padanannya adalah kawasan perumahan dan permukiman khusus untuk menunjang kegiatan berbagai fungsi di wilayah perbatasan negara. (Permenpera 2006). tidak tertata. Kecamatan Nunukan sebanyak 14. Kawasan permukiman adalah kawasan budi daya yang ditetapkan dalam rencana tata ruang dengan fungsi utama untuk permukiman (Permenpera 2006). kondisinya (existing condition) sangat dipengaruhi oleh persebaran penduduk di masing-masing kecamatan yang berada di wilayah perbatasan kabupaten. Kondisi lingkungan permukiman terdiri dari perumahan yang kumuh (slum area). dapat disimpulkan bahwa permukiman memiliki pengertian yang lebih luas dibandingkan dengan perumahan. sarana. Persebaran penduduk yang mengelompok dan terpencar terlihat dari distribusi pusat-pusat permukiman yang ada di masing-masing kecamatan.163 KK yang lokasinya di ujung timur pulau. Kecamatan kelompok wilayah kepulauan seperti Kecamatan Sebatik terdapat kawasan permukiman yang terdiri 5. Kecamatan Sebatik Barat terdiri 3. Kelompok wilayah daratan adalah Kecamatan Krayan Selatan 545 KK lokasinya di ujung barat wilayah administrasi kabupaten dan Kecamatan Lumbis 2.366 KK di bagian tengah wilayah daratan.83 perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan.

. Kawasan permukiman yang berkelompok dan terpencar Pola perkembangan kawasan permukiman yang mengelompok dan terpencar di wilayah perbatasan berdampak negatif terhadap keutuhan wilayah NKRI karena berpeluang dimanfaatkan negara tetangga untuk menggeser patok-patok perbatasan untuk memperluas wilayah negaranya. Sebuku. seperti kegiatan pelintas batas. dan Krayan. Kawasan permukiman yang berada di atas batas wilayah perbatasan Masyarakat wilayah perbatasan yang memiliki karakteristik lingkungan sosial yang spesifik. dari tahun ke tahun. 2009 Gambar 27. Penggeseran patok-patok perbatasan negara dilakukan pada lokasi yang tidak terdapat permukiman sebagai tempat hunian dan aktivitas penduduk/masyarakat perbatasan. Oleh karena itu. belum lagi yang terjadi di wilayah perbatasan lain di Kecamatan Lumbis. transaksi jual beli. Pergeseran batas wilayah di Pulau Sebatik sudah jauh ke dalam wilayah tertorial Indonesia. Kebutuhan tersebut pada umumnya belum terpenuhi atau memadai. 2009 Gambar 28. Sumber : Dokumentasi Survei. untuk memenuhi kebutuhannya. Oleh karena itu. dan kegiatan ekonomi bersama baik legal maupun yang ilegal memerlukan kemudahan berkomunikasi dan aksesibilitas yang baik. kehilangan wilayah teritorial negara terus terjadi dan semakin meluas.84 Sumber : Dokumentasi Survei.

Kawasan permukiman yang berada di muara sungai dan kumuh Kondisi kawasan permukiman perbatasan di Kabupaten Nunukan tersebut mencerminkan bahwa pemerintah pusat dan pemerintah daerah kurang memberikan perhatian pengembangan wilayah dan masyarakat perbatasan.2 Pengembangan Lahan Permukiman Potensi pengembangan kawasan permukiman meliputi perumahan. Untuk memudahkan masyarakat dalam akses ke laut. 4. Pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan harus tertata. 2009 Gambar 29. membangun perumahan di sepanjang bantaran sungai dan sampai melanggar batas wilayah perbatasan negara lain. . Pengembangan kawasan permukiman akan dikembangkan di Pulau Nunukan. khususnya dalam pengembangan kawasan permukiman. berkelanjutan. banyak bangunan rumah dengan ruang tamu wilayah di Indonesia dan dapur di Malaysia atau yang dikenal dengan rumah Malaysia-Indonesia (Malindo). Kondisi masyarakat perbatasan dengan karakteristik lingkungan yang spesifik menjadi fenomena tersendiri. digunakan sampan/perahu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang penting dan mendesak ke negara tetangga. antara lain dalam membangun perumahan dan fasilitas tidak memperhatikan batas-batas wilayah negara. permukiman transmigrasi baik lokal maupun antarwilayah di Indonesia cukup luas tersedia. perkotaan maupun perdesaan. dan dikelola dengan baik melalui kebijakan dan strategi pengembangan kawasan permukiman perbatasan. Misalnya. Sumber: Dokumentasi Survei. termasuk kegiatan permukiman lain seperti. Oleh karena itu.85 masyarakat melakukan upaya sendiri yang umumnya tidak sesuai dengan peratuaran dan perundang-undangan yang berlaku.2.

tetapi terdapat permukiman di desa-desa yang berada dalam kawasan lindung. Sebuku. Di Kecamatan Lumbis. serta permukiman transmigrasi. tempat olahraga. Sehubungan dengan potensi pengembangan permukiman perdesaan di Kabupaten Nunukan.700 ha sebagai kawasan permukiman perkotaan dan pusat pemerintahan.000 mdpl. Kecamatan Lumbis. akan dikembangkan lahan seluas 1. perlu adanya pengaturan ruang. dan longsoran tidak terdapat di Kabupaten Nunukan. Rencana pengembangan kawasan permukiman tersebut dimaksudkan untuk mendorong tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan baru di perbatasan negara yang berbasis potensi SDA wilayah. Sebuku.850 Ha sebagai kawasan permukiman perdesaan dan pusat desa pertumbuhan berbasis potensi SDA wilayah. dan kuburan. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada permukiman di daerah kritis. pusat pertumbuhan baru Pulau Sebatik. Adapun di Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan yang berada di klaster I akan dikembangkan lahan seluas 750 ha sebagai kawasan . erosi. Permukiman desa yang terletak pada daerah rawan bencana geologi lingkungan. baik yang di perkotaan maupun pedesaan. Kecamatan-kecamatan tersebut berada di klaster III. perkantoran. Pengembangan kawasan permukiman sesuai dengan arahan RTRW kabupaten. Permukiman-permukiman perdesaan yang tidak sesuai dengan kriteria kebutuhan akan tetap dipertahankan. Luas lahan untuk pengembangan kawasan permukiman.86 Pulau Sebatik. Adapun di Kecamatan Sebatik Timur akan dikembangkan kawasan permukiman perkotaan. dan pengelolaan yang lebih baik. khususnya sektor perkebunan. seperti patahan aktif.130 Ha atau sekitar 0. di Kecamatan Nunukan dan Nunukan Timur akan dikembangkan lahan seluas 1. Luas penggunaan lahan untuk pengembangan permukiman adalah 7. dan Sebatik Barat yang berada di klaster II. pengembangan.05% dari luas wilayah kabupaten (RTRW Kabupaten Nunukan 2005). Penggunaan lahan permukiman meliputi perumahan. taman. dan Krayan sebagai kawasan perkotaan dan pusat pemerintahan. ± 60 % diperuntukkan untuk kawasan permukiman klaster-klaster di kecamatan yang berada di sepanjang wilayah perbatasan. khususnya desa-desa untuk mendukung kegiatan pelestarian kawasan Taman Nasional Krayan Mentarang yang terletak di ketinggian di atas 1.

selain sarana prasarana sosial lainnya. Peta pengembangan permukiman di setiap klaster Pengembangan prasarana. Pada permukiman perkotaan kepadatan maksimum 80 rumah/hektar dan KDB maksimum 40%. kesehatan. sarana. Pengembangan jaringan jalan dapat diintegrasikan dengan pengembangan lahan usaha masyarakat. KLUSTER II: 1850 Ha KLUSTER I: 750 Ha KLUSTER III: 1700 Ha Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. dan sarana budaya.87 permukiman perdesaan dan permukiman perkotaan untuk pusat pertumbuhan baru berbasis potensi SDA wilayah. peribadatan. Bangunan yang menunjang fungsi kawasan/kegiatan utama diperkenankan untuk kepentingan umum. Tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat) atau usaha pertanian. Penataan dan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan ke depan akan mendorong perkembangan wilayah perdesaan yang berbasis sentra . Pada kecamatan yang berada di daerah aliran sungai perlu dikembangkan pelabuhan sungai. khususnya sektor pertambangan. Peta pengembangan permukiman di setiap klaster terlihat pada Gambar 30. serta tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat). fasos. 2008 dan Hasil Analisis Gambar 30. dan fasum sebagai pendukung kegiatan sosial-ekonomi di kawasan permukiman dapat dibangun sesuai kebutuhan dan karakteristik wilayah kecamatan. Permukiman perdesaan memiliki kepadatan maksimum 25 rumah/hektar dan KDB maksimum 20%. seperti fasilitas pendidikan.

infrastruktur.3 Kemampuan Pembiayaan Pembangunan Permukiman Kemampuan pengembangan daerah kawasan (kabupaten/kota) permukiman dalam khususnya sharing dalam pembiayaan pembangunan permukiman berdasarkan indikator nilai indeks fiskal daerah. Dengan demikian. wilayah perbatasan dapat menjadi pertimbangan tersendiri untuk tetap mendapat prioritas bantuan pembiayaan pengembangan. khususnya bidang permukiman perbatasan. berupa dana pendamping . Kabupaten Nunukan termasuk dalam kategori sangat tinggi. dan kementerian lain yang terkait. Data indeks fiskal menunjukkan bahwa Kabupaten Nunukan masuk pada kategori kelompok sangat tinggi.248 dan skor indeks persentase penduduk miskin daerah (IPPMD) 1. Pemerintah Kabupaten Nunukan telah memperlihatkan adanya potensi kemampuan sharing pembiayan pada program-program stimulan pembangunan perumahan dari pemerintah pusat seperti dari Kementerian Perumahan Rakyat.pertanian menjadi desa kota (sub urban) sebagai pusat pertumbuhan baru (Wacker 2002). diharapkan kondisi ini dapat terus dipertahankan. Kriteria mensyaratkan agar secara periodik indeks fiskal harus dievaluasi untuk menentukan besaran bantuan pembiayaan dari pemerintah pusat. dengan skor indeks ruang fiskal daerah (IRFD) 3. Hal ini bertujuan agar lahan pertanian produktif dapat dipertahankan dan konservasi tanah serta air dapat dilakukan dengan baik. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kemampuan sharing Pemda Kabupaten Nunukan ditunjukkan pada setiap mendapatkan bantuan stimulan oleh pemerintah pusat. Prioritas bantuan pembiayaan pembangunan dapat berupa peningkatan dana alokasi khusus (DAK). Kementerian Pekerjaan Umum. Mengingat kedudukan Kabupaten Nunukan sebagai kawasan strategis nasional (KSN). Kementerian Pembangunan Daeah Tertinggal. 4.2. Nilai indeks fiskal dapat menunjukkan kemampuan daerah dalam pendampingan pembiayaan bersama dengan pemerintah pusat. dan investasi sektor unggulan untuk mendorong percepatan pembangunan wilayah perbatasan.800. Adapun untuk menjaga kawasan permukiman yang sudah dibangun agar tetap berkelanjutan perlu dilakukan pengendalian dan penyesuaian sejak dini agar tidak berubah menjadi permukiman perkotaan yang tidak terarah (urban sprawl).

pariwisata. . ekonomi.dan usulan dana program pembangunan melalui APBD dari masing-masing dinas terkait. Klaster I meliputi Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan 2. yaitu: 1. Pemda menglokasikan dana untuk pembuatan kanal dan sarana air bersih senilai Rp 9 miliar serta biaya pembebasan tanah untuk pembangunan kawasan permukiman nelayan seluas 100 ha. Kriteria yang menjadi pertimbangan di setiap sektor tersebut ada delapan. nilai produk. dan sosial.3 Analisis Komparatif Sektor Unggulan Kawasan Kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara mempunyai dampak langsung baik secara ekologi. perikanan. pertanian. Kabupaten Nunukan secara geografis dapat terlihat pada Gambar 31. 4. Klaster II meliputi Kecamatan Lumbis. pertambangan. Nunukan Selatan. jumlah tenaga kerja. Dalam menganalisis sektor-sektor potensial dan prospektif dengan menggunakan metode perbandingan eksponensial (MPE). jangkauan pasar. dan Sebatik Barat 3. akses transportasi. Klaster III meliputi Kecamatan Nunukan. Sektor-sektor potensial yang mempunyai peranan penting terhadap pengembangan kawasan permukiman tersebut antara lain adalah perkebunan. Sebuku. kehutanan. yaitu kesesuaian lahan. Pada 2006 kemenpera memberikan bantuan stimulan pembangunan kawasan permukiman nelayan senilai kurang lebih Rp 4 miliar. produktivitas. dan Sebatik Dalam penetapan klaster sesuai dengan kondisi potensi sumber daya alam kawasan pada kecamatan-kecamatan yang berada di wilayah perbatasan. Kriteria tersebut berkorelasi positif dalam meningkatkan potensi pasar di wilayah perbatasan (Hanson 1998). akses komunikasi. Kesediaan pemda bersama-sama dengan pemerintah pusat mengalokasikan dana APBD dalam mengembangkan nelayan perbatasan berkorelasi dengan membuktikan kemampuan kawasan permukiman bahwa indeks fiskal yang sangat baik daerah dalam menyiapkan dana untuk pembiayaan pembangunan permukiman. lokasi startegis. dan industri. di kecamatan wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan dibuat 3 (tiga) klastering subkawasan.

Adapun pembobotan kriteria terhadap sektor unggulan dengan metode MPE dapat disajikan pada Tabel 10.3.KLUSTER II KLUSTER I KLUSTER III Gambar 31. Tabel 10.1 Sektor Unggulan Subkawasan Klaster I Kecamatan yang termasuk dalam klaster I adalah Kecamatan Krayan dan Kecamatan Krayan Selatan. Pembagian klaster di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan 4. Penilaian bobot kriteria terhadap sektor unggulan klaster I Klaster I Pertambangan Perkebunan Kehutanan Pariwisata 5 5 6 5 6 6 5 5 Perikanan Pertanian Industri 6 7 6 5 7 7 6 6 No Kriteria Bobot 1 Kesesuaian Lahan 2 Produktivitas 3 Lokasi Strategis 4 Jumlah Tenaga Kerja 5 Nilai Produk 6 Jangkauan Pasar 7 Akses Transportasi 8 Akses Komunikasi Sumber: Hasil Analisis 8 8 7 6 9 6 7 7 7 6 6 6 7 7 6 6 9 8 7 7 8 9 7 7 5 4 6 7 5 5 5 5 4 4 6 6 4 5 4 4 5 5 6 5 6 5 6 6 .

Berdasarkan hasil perhitungan dengan teknik MPE. prioritas ketiga adalah industri dengan nilai MPE 48. Jumlah produksi minyak terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun seperti yang terlihat pada Gambar 32.137.413 48.357.201 11. Nilai sektor unggulan klaster I Klaster I No 1 2 3 4 5 6 7 Perkebunan Pertambangan Pertanian Perikanan Kehutanan Pariwisata Industri Sektor Nilai MPE 48.161.413. . Jumlah produksi minyak bumi pada tahun 2007 sebanyak 1. pertanian dengan nilai MPE yaitu 2. Tabel 11.384 2. Urutan dari posisi ke-4 sampai ke-7.304 ton.746 dan perikanan dengan nilai MPE yaitu 768. pariwisata dengan nilai MPE yaitu 11.106. Perkebunan menempati urutan kedua dengan nilai MPE yaitu 48. Data BPS (2007) menunjukkan bahwa produk pertambangan unggulan adalah minyak bumi dan batu bara. terlihat urutan atau prioritas sektor yang potensial di Klaster I Kabupaten Nunukan.106 Sumber: Hasil Analisis Berdasarkan tabel 11 di atas dapat disimpulkan bahwa sektor yang paling menentukan pada klaster I adalah sektor pertambangan dengan nilai 197.771.746 768.802.137 197. Hasil tersebut disajikan dalam Tabel 11.201.978.384.004 11.771.362.004.357. kehutanan dengan nilai MPE yaitu 11.730.730.978.161.802.

557 24. .287 ton. Jumlah produksi bahan tambang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dari tahun sebelumnya sebesar 1.846.000 10.129 ton.103 2005 29. sektor tambang menjadi unggul pada klaster I dan didukung juga oleh daya dukung sumber daya alam yang ada pada kawasan klaster I. Berdasarkan peta kesesuaian lahan yang menunjukkan di atas 90%.000 0 Diproduksi Terjual 2004 25.556 23. Produksi minyak bumi (MMSTB) 2000 . Data BPS (2007) menunjukkan jumlah produksi batu bara di Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 sebesar 1.000 20.165.937.000 30. Oleh karena itu.40. lokasi klaster I merupakan pegunungan dan perbukitan yang tidak teratur serta mempunyai kelerengan >40%. Berdasarkan peta kesesuaian lahan. kawasan Klaster I sangat sesuai untuk pertambangan (Gambar 33).145 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.562 2007 34.2007 (BBL) Produk batu bara pada klaster I juga merupakan produk unggulan.070 31. 2008 Gambar 32.129 2006 26.553 26.

Hal ini didukung oleh kesesuaian lahan serta jenis tanah yang mendukung kegiatan perkebunan sehingga dapat mencegah erosi pada wilayah-wilayah yang berlereng.Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Sebuku. Adapun pembobotan nilai dengan metode MPE dapat dilihat pada Tabel 12.3. 4. 2008 Gambar 33.2 Sektor Unggulan Subkawasan Klaster II Kecamatan yang termasuk klaster II adalah Kecamatan Lumbis. dan Sebatik Barat. Peta kesesuaian lahan untuk perkebunan menunjukkan klaster I yang di atas 55% cocok untuk lahan perkebunan. Kesesuaian lahan untuk pertambangan Urutan kedua adalah sektor perkebunan. .

300. Prioritas ketiga adalah industri dengan nilai MPE 53.848.957.643.643. Penilaian bobot kriteria terhadap sektor unggulan klaster II Klaster II Pertambangan Perkebunan Kehutanan Pariwisata 5 5 5 6 5 4 5 4 Perikanan Pertanian Industri 7 7 6 7 7 7 7 5 No Kriteria Bobot 1 Kesesuaian Lahan 2 Produktivitas 3 Lokasi Strategis 4 Jumlah Tenaga Kerja 5 Nilai Produk 6 Jangkauan Pasar 7 Akses Transportasi 8 Akses Komunikasi Sumber: Hasil Analisis 8 8 7 6 9 6 7 7 9 8 7 8 9 7 7 7 7 6 7 7 7 6 6 6 8 7 6 7 7 5 5 4 5 4 6 6 6 5 5 4 8 8 7 5 6 5 5 5 Hasil perhitungan dengan teknik MPE memperlihatkan urutan atau prioritas sektor yang potensial di Klaster II Kabupaten Nunukan. Nilai sektor unggulan klaster II Klaster II No Sektor 1 2 3 4 5 6 7 Perkebunan Pertambangan Pertanian Perikanan Kehutanan Pariwisata Industri Nilai MPE 450. kehutanan dengan nilai MPE 44.111 Sumber: Hasil Analisis Berdasarkan tabel 13 di atas.094.343.970. Pertanian menempati urutan kedua dengan nilai MPE 63. perikanan dengan nilai MPE 10.Tabel 12.171.345. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel 13.094.744 63. dan pariwisata dengan nilai MPE 2. Tabel 13.583.761 53.583 44. .111. Posisi ke-4 sampai ke-7 berturut-turut pertambangan dengan nilai MPE 49.848 49.345.970.171 2. dapat disimpulkan bahwa sektor yang paling menentukan adalah sektor perkebunan dengan nilai 450.403.761.744.343 10.957.300.403.

berdasarkan peta kesesuaian lahan untuk perkebunan.Klaster II. Selain itu. termasuk dalam kelompok punggung gunung batuan metamorfik yang tidak teratur yang menyebabkan klaster II sangat cocok untuk perkebunan. .686. Produksi kelapa sebanyak 7. Kedua kecamatan tersebut sangat sesuai untuk tanaman perkebunan (gambar 34). berdasarkan peta land system. Peta kesesuaian lahan untuk perkebunan Data BPS (2008) menunjukkan produksi kakao di Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 sebanyak 18.10 ton.903. hampir di atas 90%. Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan.71 ton. 2008 Gambar 34. Produksi kakao dan kelapa terus mengalami peningkatan dari 2002 sampai tahun 2007 seperti terlihat pada Gambar 35 berikut. Jenis komoditas unggulan perkebunan pada klaster II adalah kakao dan kelapa sawit.

dan Kecamatan Sebatik. Penilaian bobot kriteria terhadap sektor unggulan klaster III Klaster III Pertambangan Perkebunan Kehutanan Pariwisata Perikanan Pertanian Industri No Kriteria Bobot 1 2 3 4 5 6 7 8 Kesesuaian Lahan Produktivitas Lokasi Strategis Jumlah Tenaga Kerja Nilai Produk Jangkauan Pasar Akses Transportasi Akses Komunikasi 8 8 7 6 9 6 7 7 7 7 8 6 7 7 7 7 5 5 8 5 5 7 7 7 8 8 9 7 7 8 7 7 9 9 9 8 8 9 7 7 7 6 8 6 5 5 7 7 5 7 8 5 5 5 7 7 7 7 8 6 6 7 7 7 Sumber: Hasil Analisis .20000 18000 16000 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 17702 15257.71 18903. Tabel 14. Adapun hasil pembobotan nilai dengan metode MPE dapat dilihat pada Tabel 14. Penilaian terhadap alternatif kegiatan penunjang pusat-pusat pertumbuhan terdapat di Kabupaten Nunukan berdasarkan sektor unggulan dengan pembagian klaster. Nunukan Selatan.32 6407.6 7458.6 17073.32 7686.1 2002 2003 2004 kelapa 2005 kakao 2006 2007 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.3 Sektor Unggulan Subkawasan Klaster III Kecamatan yang termasuk dalam klaster III adalah Kecamatan Nunukan. Produksi komoditas tanaman perkebunan 2002-2007 (ton) 4.35 15889.8 7406. 2008 Gambar 35.3 6407.32 6430.3.35 13592.

717. Pada gambar.887.611. prioritas ketiga sektor perkebunan dengan nilai MPE 55. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel 15. Keadaan berpotensi menyebabkan longsor dan tidak memungkinkan untuk adanya budi daya perikanan darat.204.752 6. ditampilkan kondisi topografi pada klaster III yang didominasi oleh tingkat kelerengan 0 . dan pertambangan.717.Hasil perhitungan dengan analisis MPE memperlihatkan urutan atau prioritas metode pengembangan wilayah perbatasan yang potensial dalam rangka meningkatkan pusat-pusat pertumbuhan.810.887 80. Hal tersebut mengandung arti bahwa budi daya perikanan darat di klaster III tidak disarankan karena kondisi topografi Kabupaten Nunukan yang berlerenglereng seperti yang ditunjukkan pada Gambar 36. Posisi ke-4 sampai ke-7 adalah industri.515.752.791.841 Sumber: Hasil Analisis Berdasarkan tabel 15 di atas dapat di lihat bahwa sektor unggulan yang paling mendukung pusat pertumbuhan dalam pengembangan wilayah perbatasan adalah sektor perikanan dengan nilai 227.884.887 227. Perikanan tangkap dan budi daya perikanan laut merupakan kegiatan yang paling potensial dan telah mendukung pendapatan Kabupaten Nunukan selama ini. Alternatif pertama yang harus lebih diperhatikan dalam pengembangan wilayah perbatasan pada klaster III yang meliputi Kecamatan Nunukan dan Kecamatan Sebatik yaitu peningkatan sektor perikanan.810 13.534.061 11.791. .534.8% dan 15 25%. kehutanan. Nilai sektor unggulan klaster III No 1 2 3 4 5 6 7 Sektor Klaster III Perkebunan Pertambangan Pertanian Perikanan Kehutanan Pariwisata Industri Nilai MPE 55.039 25. Sektor pertanian menempati urutan kedua yang dapat mendukung pusat pertumbuhan dalam pengembangan wilayah perbatasan dengan nilai MPE 80. pariwisata. Tabel 15.

jumlah penduduk 5 dan 10 tahun yang akan datang membutuhkan areal pertanian basis.Di urutan kedua diikuti sektor pertanian dengan komoditas unggulan yang dapat mendukung pusat pertumbuhan. Setiap 1 kg beras dihasilkan dari 1. Lahan Sawah Sawah adalah lahan penghasil padi yang selanjutnya diolah menjadi beras sebagai makanan pokok masyarakat Kabupaten Nunukan.9 ton gabah kering giling per tahun. dan palawija. sayur-sayuran. Kebutuhan pangan Kabupaten Nunukan selama setahun sebagai berikut: a. 2008 Gambar 36. maka jumlah kebutuhan total adalah jumlah kebutuhan dasar ditambah 67% (Tabel 15). kebutuhan setiap orang setiap tahun adalah 150 kg. terutama lahan dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dasar Kabupaten Nunukan.54 kg gabah kering giling dan setiap hektar lahan menghasilkan 4. Adanya asumsi bahwa lahan efektif adalah 60% dari total lahan. Kebutuhan cadangan lahan sawah di Kabupaten . Berdasarkan tiga perkiraan skenario. Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Kebutuhan pangan yang dimaksud adalah kebutuhan beras sebagai bahan makanan pokok. yakni budi daya tanaman pangan terutama padi sawah yang produktivitasnya terus meningkat (Kabupaten Nunukan dalam Angka 2008). Peta Kabupaten Nunukan berdasarkan kelerengan Sumber daya alam pertanian. Sebagai dasar perhitungan.

dan 5. jagung dan lain-lain. 2. tingkat produktivitas 16. kebutuhan lahan untuk kegiatan peternakan tersebut membutuhkan lahan seluas 185 hektar pada tahun 2007 dan berkembang menjadi 236 hektar pada tahun 2012. Ubi jalar. Kacang tanah. konsumsi 7.9 ton/hektar/tahun.350 ekor ayam buras. kebutuhan konsumsi per orang per tahun adalah 26. konsumsi 1.821 ekor babi.35 kg/orang/tahun.6 ton/hektar/tahun. c. terperinci dengan tingkat konsumsi dan produktivitas sebagai berikut: Jagung.52 kg/orang/tahun. kebutuhan konsumsi 3.Nunukan sebesar 16. produktivitas 0. untuk memenuhi kebutuhan beras sebanyak 47. 57.124 ekor kerbau. 225.3 ton/ha/tahun.7 kg dan produktivitas 2. Lahan Peternakan Rakyat Pada tahun 2000. Kedelai. tingkat produktivitas 1. kebutuhan konsumsi 11.37 ha.968 ekor itik. b. Ubi kayu.182.1 kg/orang/tahun dan tingkat produktivitas 0.25 kg/orang/tahun.481 ton gabah kering giling per tahun. kebutuhan konsumsi 57.530 ekor ayam ternak.2 ton/ha/tahun. tingkat produktivitas 10. Lahan Palawija Untuk kebutuhan bahan pangan lainnya.9 ton/ha/tahun. 4. populasi ternak di Kabupaten Nunukan adalah 2. ubi. Dengan asumsi pertumbuhan 5% per tahun. 449 ekor kambing.09 kg/orang/tahun.099 ekor sapi. seperti kacang-kacangan. . Kacang hijau.3 ton/ha/tahun.

15 6. Sebagian besar dari luas areal kelapa sawit terdapat di Kecamatan Sebatik.100 mdpl yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman padi. pada klaster III didominasi ketinggian lahan berkisar antara 0 .09 8.190.434.696. .90 24.69 6.751 Tahun Jumlah Penduduk Keperluan Beras (ton) 150 13.979.840 163. di mana tanaman padi naik sebesar 4.171 239.37 Berdasarkan peta ketinggian lahan pada Gambar 37. Hal ini juga didukung dengan peningkatan luas panen padi (sawah+ladang) di Kabupaten Nunukan pada tahun 2007.83 8.35 19.182.462.54 21. 2008).435.90 4.03 10.72 9.690.55 16.28% (Kabupaten Nunukan dalam Angka. Produksi tanaman padi juga mengalami kenaikan.65%. Alternatif ketiga dalam pengembangan wilayah perbatasan pada klaster III adalah sektor perkebunan.04 Kebutuhan Lahan (Ha) 67% 7. sedangkan Lumbis dan Sebuku berada pada klaster II.42 10. Hal ini didukung dengan peningkatan luas areal komoditas kelapa sawit pada tahun 2007 sebesar 25.47 4.64 30.50 16.127 ton atau dengan kata lain terjadi peningkatan produktivitas padi sebesar 9.750. Sebatik Barat.698 30.051.100.97 30.334.481. Nunukan yang berada pada klaster III. yaitu menjadi 48.784 144.933.850.768.21 Keperluan Dasar 4.528 23.05 19.40 15.393.338.80 5.35 Keperluan Gabah (ton) 1.072.Tabel 16.961 107.337.4% dibandingkan dengan tahun 2006 (Kabupaten Nunukan dalam Angka 2008).053 116.832.53 47. Perhitungan kebutuhan lahan sawah (RTRW Kabupaten Nunukan 2004-2014) Skenario Index Pesimis 2009 2014 Optimis 2009 2014 Ambisius 2009 2014 Sumber: Hasil Analisis 96.264.

Adanya keterbatasan infrastruktur dan permukiman di wilayah perbatasan baik yang berada dalam kawasan perkotaan maupun perdesaan yang kurang berkembang menyebabkan aktivitas sosioekonomi banyak berorientasi ke negara tetangga. . hal ini berkaitan juga dengan keamanan. klaster II (Kecamatan Lumbis. dan Sebatik Barat) sektor perkebunan. Nunukan Selatan. Sebuku.Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Selain menyebabkan ketergantungan negara tetangga. 2008 Gambar 37. dan klaster III (Kecamatan Nunukan. Peta Kabupaten Nunukan berdasarkan wilayah ketinggian Kesimpulan hasil analisis MPE yang dilakukan untuk sektor-sektor yang potensial dalam mendukung pengembangan permukiman perbatasan di Kabupaten Nunukan untuk klaster I (Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan) adalah sektor pertambangan. dan Sebatik) sektor perikanan. kehormatan.4 Analisis Strukturisasi Permasalahan dan Komponen Dominan Kebijakan Pengembangan permukiman di wilayah perbatasan dalam Undang-Undang No. dan kesadaran masyarakat perbatasan terhadap identitas nasional. 4 tahun 1992 memuat amanat tentang pengembangan permukiman khusus. Pengembangan permukiman (permukiman khusus) menjadi salah satu program prioritas pembangunan wilayah perbatasan dalam upaya pengembangan potensi ekonomi dan sumber daya alam. 4.

. Secara lengkap elemen permasalahan dan subelemen kendala terlihat pada tabel 17. dan peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan di wilayahnya (Canales 1999). kependudukan. ekonomi.1 Elemen Permasalahan dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Menurut Saxena (1994) yang dikutip Marimin (2005) berdasarkan hasil kajian pendapat pakar. (4) mendorong sinergitas hubungan kota dan desa. 4. Berdasarkan hal tersebut kiranya perlu dibuat desain kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. Dinamika kegiatan ekonomi perkotaan di wilayah perbatasan merupakan kondisi yang dapat meningkatkan pertumbuhan kota-kota (pusat pertumbuhan baru) perbatasan negara.4. dan (5) memastikan transisi penggunan lahan perdesaan menuju perkotaan berjalan secara alamiah dan terarah (Seong 2006). (2) dapat mengoptimalkan penggunaan lahan. Apabila tidak terkendali akan dapat menjadi hambatan dalam pengembangan potensi pertumbuhan sebagai penggerak pengembangan sosial. (3) mengurangi dan efisiensi pembiayaan pembangunan infrastruktur. disusunlah struktur permasalahan untuk keberhasilan pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan yang terbagi atas lima elemen pada permasalahan yang terdiri dari 24 subelemen kendala. yaitu (1) melindungi hijau/konservasi dan sumber daya alam.Pengembangan perbatasan pusat-pusat pertumbuhan baru (border city) di wilayah ruang terbuka terdapat enam kategori.

Tabel 17. berpencar. Berikut ini adalah hasil hubungan . Subelemen ini berupa indikator-indikator keberlanjutan yang mempunyai nilai tinggi yang telah dipilah-pilah sesuai dengan konteks kelima elemen program tersebut.Eropa Banyak pemukiman berada di batas wilayah perbatasan Kondisi lingkungan tidak tertata. Elemen permasalahan pengembangan kawasan permukiman perbatasan No 1 Elemen (Masalah) Pengelolaan SDA wilayah perbatasan masih kurang No 1 2 3 4 5 6 7 8 2 Pengembangan dan Penataan kawasan permukiman kurang optimal 9 10 11 12 13 3 Pembangunan infrastruktur wilayah & permukiman belum sejalan 14 15 16 17 18 19 4 Kelembagaan belum mendukung pengembangan permukiman Pembiayaan belum mendukung pengembangan permukiman 20 21 22 23 24 Sub elemen (Kendala) Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan Perbedaan karakteristik antara wilayah darat dan laut Pengembangan dan pengelolaan SDA belum optimal Rendahnya kesejahteraan masyarakat Aktivitas sosial ekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga Kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional Persepsi wilayah perbatasan merupakan wil dan pintu belakang negara Pemanfaatan dan pengendalian tata ruang masih lemah Letak geografis Indonesia di titik silang benua EropaAsia. kumuh & tidak dikelola dengan baik Rencana Tata Ruang Wilayah yang tidak sesuai dengan kebutuhan Minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman Terbatasnya fasum & fasos Terbatasnya pelayanan publik Terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan perkim Perkembangan infrastruktur & permukiman yang tidak terencana Rendahnya kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan lahan sesuai peruntukan Penegakan hukum dan peraturan masih lemah Adanya privatisasi lahan oleh pemerintah & swasta Belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan Terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan Pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal 5 Dari lima elemen hasil kajian ini. Asia-Australia & Australia. pada setiap elemennya dijabarkan menjadi sejumlah subelemen yang rinci.

12.00 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 Sub Elemen (Kendala) Gambar 38. Peringkat elemen masalah berdasarkan nilai driver power Berdasarkan gambar 38 di atas. Masyarakat di wilayah perbatasan yang bersebelahan dengan wilayah negara tetangga yang jauh lebih maju pada umumnya memiliki orientasi sosial . sedangkan yang memiliki nilai driver power terendah adalah 2 atau perbedaan karakteristik antara wilayah darat dan laut.00 8. Hasil yang digunakan dalam model ISM adalah kajian dari pendapat pakar melalui wawancara mendalam seperti yang tertuang pada matriks interaksi tunggal terstruktur (structural self interaction matrix/SSIM).00 2. pemerintah daerah.00 4. Gambaran dari masing-masing elemen masalah mengenai peringkat berdasarkan nilai driver power yang ada dapat dilihat pada gambar 38.104 kontekstual antarsubelemen pada setiap elemen yang digambarkan dalam bentuk terminologi subordinat yang mengacu pada perbandingan berpasangan antar subelemen. nilai driver power elemen masalah tertinggi pada subelemen 7 atau kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional dan subelemen 4 atau rendahnya kesejahteraan masyarakat.00 6. swasta dan masyarakat yang terpilih berdasarkan pengetahuan. pengalaman di bidang pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan. di mana terkandung suatu arahan pada hubungan tersebut (Eriyatno dan Sofyar 2007). Pakar yang terlibat dalam proses ini adalah pakar dari kalangan pemerintah pusat.00 10.

dependent. (10) terbatasnya pelayanan publik. Analisis data ISM dapat terlihat pada Lampiran 3. Subelemen dikelompokkan ke dalam empat sektor yakni autonomous. dan independent. fasilitas umum dan sosial terbatas. (8) kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga. (7) aktivitas sosial ekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga. (3) rendahnya kesejahteraan masyarakat. Keterbatasan pelayanan publik di wilayah perbatasan menyebabkan orientasi aktivitas sosial-ekonomi masyarakat tertarik ke wilayah negara tetangga. Penggunaan alat tukar dan akses informasi serta komunikasi nasional yang terbatas dikhawatirkan dalam jangka panjang akan melunturkan rasa kebangsaan dan bela negara masyarakat. Interpretasi dalam bentuk hierarki disajikan pada Gambar 39. (5) terbatasnya fasos dan fasum. pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu meningkatkan upaya sosialisasi peningkatan wawasan kebangsaan melalui program-program pembangunan yang selaras dengan pengembangan permukiman dan penyediaan prasarana dan sarana. Oleh karena itu. dan (12) pemanfaatan dan pengelolaan dana . Hal ini menyebabkan prasarana dan sarana wilayah minim. Kemiskinan dan ketertinggalan masyarakat merupakan salah satu permasalahan utama di wilayah perbatasan.ekonomi yang berorientasi kepada wilayah negara tetangga. (11) penegakan hukum dan peraturan masih lemah. (6) kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan. (9) minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman. diperlukan percepatan pembangunan di wilayah perbatasan dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan. Dalam rangka memenuhi hak-hak masyarakat sebagai warga negara dalam memperoleh pelayanan publik dan kesejahteraan sosial serta membuka keterisolasian wilayah. serta kesejahteraan masyarakat rendah. (4) terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman. (2) terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan. Hal ini disebabkan sentralisasi pembangunan pada masa lalu dan kecenderungan penggunaan pendekatan keamanan dalam pengelolaan wilayah perbatasan. linkage. Hasil analisis ini menggambarkan pendapat para ahli bahwa elemen masalah dalam strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara diawali oleh (1) kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional.

Kemudian diikuti oleh elemen masalah wilayah perbatasan yang menjadi pintu belakang negara dan adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan. strategi pengembangan kawasan merupakan elemen yang berperan sebagai peubah bebas berkekuatan penggerak besar. sektor independent.106 pembangunan belum optimal. tetapi tidak tergantung kepada sistem. Dengan Dua belas elemen masalah tersebut berada pada demikian. belum .

berpencar.Level 1 Perbedaan karakteristik antara wilayah darat dan laut Banyak pemukiman berada di batas wilayah perbatasan Dependent Level 2 Pemanfaatan dan pengendalian tata ruang masih lemah Letak geografis Indonesia di titik silang benua Kondisi lingkungan tidak tertata. Diagram hierarki dari subelemen masalah dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara . kumuh & tidak dikelola dengan baik RTRW yang tidak sesuai dengan kebutuhan Level 3 Pengembangan dan pengelolaan SDA belum optimal Perkembangan infrastruktur & permukiman yang tidak terencana Rendahnya kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan lahan sesuai peruntukan Adanya privatisasi lahan oleh pemerintah & swasta Level 4 Persepsi Wilayah Perbatasan merupakan wilayah dan pintu belakang negara Belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan Level 5 Aktivitas sosek masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga Kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga Minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman Terbatasnya pelayanan publik Independent Penegakan hukum dan peraturan masih lemah Pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal Level 6 Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan Terbatasnya fasos dan fasum Terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman Level 7 Rendahnya kesejahteraan masyarakat Terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan Level 8 Kurangnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional Gambar 39.

Hasil analisis ini memberikan makna bahwa kedua belas elemen faktor kunci masalah yang berada di sektor dependent sangat tergantung pada sistem dan tidak mempunyai kekuatan penggerak yang besar. Independent 25 24 7 23 4. 20. 23 22 21 1. (b) Diagram model struktural ISM dari elemen sektor masyarakat yang terpengaruh program seperti disajikan pada Gambar 39. 13 5 4 3 2. 17 20 19 5. 14. 20 21 19.22 2123 24 25 9 8 7 6 9. 22 11 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 10 12 13 14 15 16 17 18 3. 15. (c) Matriks driver power-dependence untuk elemen sektor masyarakat yang terpengaruh program. Matriks DP-D untuk subelemen masalah dalam strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara Perlu dicermati bahwa posisi masalah persepsi wilayah perbatasan merupakan wilayah dan pintu belakang negara serta masalah belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan dalam upaya pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan berada di dekat sektor linkage. Dalam strategi pengembangan kawasan posisinya akan mengikuti elemen lainnya yang berada di sektor independent. disajikan pada Gambar 40. 6. 16. 18 24 17 16 15 14 13 12 8. 12. Hasil kajian subelemen pada analisis ISM berupa (a) Matriks reachability dan interpretasi dari elemen masalah yang terpengaruh program yang disajikan pada Lampiran 3. 11 2 1 0 Linkage Autonomus Dependent Gambar 40. 1918. Hal ini berarti faktor kunci dapat berubah menjadi sektor linkage apabila faktor-faktor yang lain mendukung subelemen tersebut. 10. dua belas faktor kunci prioritas penggerak elemen tolok ukur yang sangat memengaruhi faktor lain dalam keberhasilan strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yaitu subelemen-subelemen yang terletak pada sektor I . Berdasarkan hasil analisis.

Pakar yang terlibat dalam proses ini adalah pakar dari kalangan pemerintah. setiap tindakan meningkatkan peranan sektor-sektor independent. perguruan tinggi. pemerintah daerah. tetapi dengan peningkatan peranan secara optimal dari faktor-faktor kunci seperti persepsi wilayah perbatasan merupakan wilayah dan pintu belakang negara (8) dan persepsi belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan akan berdampak terhadap peningkatan faktor-faktor kunci tersebut sebagai peubah linkage. sedangkan lemahnya perhatian terhadap sektor-sektor tersebut akan menyebabkan kegagalan program.(independent).2 Elemen Tolok Ukur dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Berdasarkan hasil kajian dan pendapat pakar. tidak terdapat faktor-faktor kunci yang berperan sebagai peubah linkage. . pengalaman di bidang pengembangan kawasan permukiman. Adapun hasil yang digunakan dalam model ISM adalah kajian dari pendapat pakar melalui wawancara mendalam seperti yang tertuang pada matriks interaksi tunggal terstruktur (structural self interaction matrix/SSIM) pada Lampiran 4. Berdasarkan hasil analisis. 4. dan LSM yang terpilih berdasarkan pengetahuan. disusunlah struktur tolok ukur untuk menuju keberhasilan pengembangan kawasan permukiman yang terbagi atas lima elemen pada tolok ukur yang terdiri dari 16 subelemen kendala. Tindakan meningkatkan peranan terhadap sektor-sektor tersebut akan menghasilkan terwujudnya program menuju sistem pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan. lembaga profesi. masyarakat. Dalam desain kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara.4. swasta. Secara lengkap elemen tolok ukur dan subelemen kendala terlihat pada Tabel 18. legislatif.

dan pendapatan negara Pembangunan wilayah perbatasan melalui pengembangan permukiman sebagai pusat pertumbuhan baru sebagai dan embrio kegiatan ekonomi Penataan ruang wilayah Pembangunan infrastruktur. budaya. dan kesejahteraan secara seimbang Sinergi/keterpaduan dan keseimbangan pembangunan berdasarkan potensi wilayah Peningkatan kerjasama pembangunan antar negara. dan antar stakeholders di wilayah perbatasan Pembuatan kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan Penyusunan kebijakan tingkat makro dan mikro. sosial ekonomi.Tabel 18. investasi. Elemen tolok ukur pengembangan kawasan permukiman perbatasan No Elemen (Tolok Ukur) 1 Otimalisasi pengelolaan SDA kawasan No 1 2 3 Sub elemen (Kendala) Penataan dan pembukaan isolasi serta ketertinggalan wilayah perbatasan Peningkatan kegiatan pengembangan pemukiman. SDA. dan prasarana Partisipasi horison & vertikal pusat dan daerah Pendekatan pengelolaan wilayah perbatasan pada aspek keamanan. lingkungan. sarana. sarana. antarpemerintahan. dan kelembagaan pendukung pusat pertumbuhan Penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan Evaluasi kegiatan untuk penganggaran dana pada kegiatan selanjutnya 4 5 2 Peningkatan pengembangan dan penataan kawasan permukiman 6 7 8 3 Pengembangan infrastruktur wilayah dan permukiman terpadu 9 10 11 4 Pengembangan kelembagaan 12 13 14 5 Alokasi dana untuk pengelolaan wilayah perbatasan 15 16 . dan prasarana wilayah Pengembangan kawasan khusus dengan pemanfaatan ruang spesifik sesuai dinamika wilayah perbatasan Pengelolaan SDA darat dan laut secara seimbang Peningkatan kesejahteraan masyarakat. pendapatan daerah.

gambar tersebut menjelaskan pendapat para ahli tentang elemen tolok ukur dalam strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan.00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Driver Power Elemen (Tolok Ukur) Gambar 41. Selain itu. pendapatan daerah. Peringkat elemen tolok ukur berdasarkan nilai driver power Berdasarkan Gambar 41 di atas. 9.00 7.00 2. pembangunan infrastruktur. nilai driver power elemen tolok ukur tertinggi pada subelemen 5 (peningkatan kesejahteraan masyarakat.111 Gambaran dari masing-masing elemen tolok ukur mengenai peringkat berdasarkan nilai driver power yang ada disajikan pada Gambar 41.00 1. peningkatan kerja sama pembangunan antarnegara antarpemerintahan dan antar-stakeholders di wilayah . dan pendapatan negara) dan 15 (penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan). dependent. pendapatan daerah dan pendapatan negara. kesejahteraan secara seimbang. Analisis data ISM disajikan pada Lampiran 4. Elemen tolok ukur tersebut diawali oleh peningkatan kesejahteraan masyarakat. pendekatan pengelolaan wilayah perbatasan pada aspek sosekbudhankam dan lingkungan. prasarana dan sarana.00 4. Interpretasi dalam bentuk hierarki disajikan pada Gambar 38 dan pada Gambar 39 subelemen dikelompokkan kedalam empat sektor yakni autonomous. penataan dan pembukaan isolasi serta ketertinggalan wilayah perbatasan.00 5.00 8. Berdasarkan Gambar 42. linkage dan independent.00 6.00 3. penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan. sedangkan yang memiliki nilai driver power terendah adalah 3 (pengembangan kawasan khusus dengan pemanfaatan ruang spesifik sesuai dinamika wilayah perbatasan).

yang disajikan pada lampiran 4. Hasil kajian subelemen pada analisis ISM berupa (a) Matriks reachability dan interpretasi dari elemen tolok ukur yang terpengaruh program. disajikan pada Gambar 42. sarana dan prasarana wilayah Pembangunan Wilayah Perbatasan Penataan ruang wilayah Sinergi dan keseimbangan pembangunan Linkage Pembuatan kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan Level 4 Penataan dan pembukaan isolasi serta ketertinggalan wilayah perbatasan Pembangunan infrastruktur. (c) Matriks driver power-dependence untuk elemen tolok ukur yang terpengaruh program. investasi. sarana dan prasarana Pendekatan pengelolaan Wilayah Perbatasan pada aspek sosekbudhankam dan lingkungan serta kesejahteraan secara seimbang Independent Peningkatan kerjasama pembangunan antar negara. antar pemerintahan.perbatasan merupakan elemen tolok ukur tersebut. SDA dan kelembagaan pendukung pusat pertumbuhan Evaluasi kegiatan untuk penganggaran dana pada kegiatan Level 3 Peningkatan kegiatan pengembangan pemukiman. dan antar stakeholders di wilayah perbatasan Level 5 Peningkatan kesejahteraan masyarakat. pendapatan daerah dan pendapatan negara Penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan Gambar 42. Level 1 Pengembangan kawasan khusus dengan pemanfaatan ruang spesifik sesuai dinamika wilayah Dependent Level 2 Pengelolaan SDA darat dan laut secara seimbang Partisipasi horison & vertikal pusat dan daerah Penyusunan kebijakan tingkat makro dan mikro. (b) Diagram model struktural ISM dari elemen tolok ukur yang terpengaruh program seperti disajikan pada Gambar 38. Diagram hierarki dari subelemen tolok ukur dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara .

Pakar yang terlibat antara lain dari Bappenas. masyarakat. KLH. 7. Departemen PU. 15 17 16 15 1. 13 10 11 12 13 14 15 16 17 4. lembaga profesi. swasta. 11. DPR RI. perguruan tinggi. .4. Menpera. 6. 16 0 1 2 3 4 5 3 Autonomus Dependent Gambar 43. Independent 5. 8. 14. dan LSM. Matriks DP-D untuk subelemen tolok ukur dalam pengembangan strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara 4. Setiap tindakan yang meningkatkan peranan dari sektor-sektor tersebut akan menghasilkan sukses program menuju sistem pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. 12 13 12 11 10 9 8 6 7 7 8 9 6 5 4 3 2 1 0 Linkage 2. 9. pemda. Gambar 39 merupakan diagram hirarki AHP yang telah didiskusikan dan merupakan pendapat pakar melalui wawancara yang mendalam. Hasil Pembobotan pada Setiap Komponen Dalam menganalisis komponen yang dominan dalam kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan wilayah perbatasan negara di Kabupaten Nunukan. sedangkan lemahnya perhatian terhadap sektor-sektor tersebut akan menyebabkan kegagalan program. Departemen Dalam Negeri. 1 1 0 4 .113 Berdasarkan hasil analisis terdapat 6 faktor kunci prioritas penggerak elemen tolok ukur yang sangat memengaruhi program menuju strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yaitu subelemen-subelemen yang terletak pada sektor I (independent). digunakan model AHP untuk memilih arahan kebijakan yang tepat dan penting dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan.3 Komponen-komponen Dominan dalam Kebijakan Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Kabupaten Nunukan A.

Level 5 adalah sasaran yang terdiri atas strategi pengembangan kawasan.068 Tujuan Pengembangan Dan Penataan Kawasan 0. tingkat pendapatan. Aktor tersebut terkait dengan pengembangan kawasan permukiman dan masing-masing aktor mempunyai peran. swasta.191 Stakeholders Pemerintah 0.326 Peningkatan Kesejahteraan 0. pengembangan prasarana kawasan dan minimalisasi konflik. pemerintah daerah.313 Pemulihan Ekosistem 0. strategi pengembangan pembiayaan.133 Pakar 0. Level 4 adalah tujuan untuk pengembangan kawasan permukiman yang terdiri atas pengembangan dan penataan kawasan. dan sarana.271 Prasarana dan Sarana 0. Level 2 adalah faktor yang terdiri atas kebijakan pemerintah.Fokus Permukiman PerbatasanNegara Faktor Kebijakan Pemerintah 0.337 Pemerintah Daerah 0.246 Gambar 44. peningkatan kesejahteraan.116 Minimalisasi Konflik 0. prasarana. Hasil pengisian kuesioner matriks perbandingan berpasangan yang disampaikan kepada . masyarakat. pengelolaan SDA dan ekosistem kawasan. dan BKM/LSM setempat.222 Swasta 0. pendanaan pembangunan.158 Pengembangan Prasarana Kawasan 0.150 Masyarakat 0.624 Strategi Pengembangan (Kelembagaan) 0.130 Strategi Pengembangan (Pembiayaan) 0. pengaruh. Level 3 adalah aktor terdiri atas pemerintah pusat.120 Pendanaan Pembangunan 0. dan kekuatan terhadap kebijakan-kebijakan pengembangan kawasan. Diagram hierarki AHP pada pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara Hierarki AHP disusun dengan lima level yang memperlihatkan tahapan proses penetapan prioritas yang dimulai dari penetapan fokus pada level l yaitu fokus pada pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. pakar. dan strategi pengembangan kelembagaan.091 BKM / LSM 0.087 Sasaran Strategi Pengembangan (Kawasan) 0.418 Tingkat Pendapatan 0.

Keterangan : KBPM = Kebijakan Pemerintah PDPB = Pendanaan Pembangunan PSSR = Prasarana dan Sarana TKPM = Tingkat Pendapatan Gambar 45. dan BKM/LSM. swasta. Urutan prioritas faktor dalam pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan Berdasarkan gambar 45. Dalam kaitan dengan kebijakan pemerintah diperlukan kebijakan ekonomi yang meliputi intervensi pemerintah . B. Pembobotan Kriteria Faktor dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Perbatasan Negara Berkelanjutan Berdasarkan hasil dari pendapat pakar tersusun faktor-faktor yang menjadi pengaruh utama dalam pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan. Gambar 45 menunjukkan urutan prioritas faktor-faktor tersebut.418 dan 0. masyarakat.271. Bobot dan prioritas yang dianalisis adalah hasil kombinasi (combined) dari pendapat para pakar pada setiap matriks berpasangan. pemerintah daerah. Kebijakan pemerintah akan membantu membangun pusat-pusat pertumbuhan baru kegiatan ekonomi dan perdagangan. Penyiapan perangkat kebijakan dan pendanaan pembangunan diperlukan guna pengembangan kawasan permukiman di tingkat kabupaten. pakar perguruan tinggi. kawasan pusat pertumbuhan maupun pada kawasan yang sangat terperinci di wilayah perbatasan negara.115 pakar dari kalangan pemerintah pusat. Hasil analisis AHP pada setiap level dari heirarki desain pengembangan kawasan berkelanjutan. kemudian diolah dengan perangkat lunak Expert Choice. hasil analisis AHP yang merupakan faktor (level 2) kebijakan pemerintah dan pendanaan pembangunan menjadi prioritas utama dengan masing-masing bobot nilai adalah 0.

. dan LSM. Hasilnya adalah model pola pentahapan dan proses penyusunan kebijakan. Konsekuensinya untuk memahami proses adalah harus melihat pola dan perilaku yang terkandung di dalamnya. dalam konteks hubungan antara tujuan sosial dan ekologi. (4) Perilaku mengindikasikan kegiatan dari pelaku yang terlibat.116 secara terarah. (1) Kebijakan merupakan faktor paling penting untuk mengontrol pertumbuhan suatu kota pada skala makro. perilaku masyarakat. (Permenpera 1999). stakeholders. Kuswara (2004) dalam kajiannya mengungkapkan bahwa permukiman merupakan tempat aktivitas yang memanfaatkan ruang terbesar dari kawasan budi daya. Lokasi permukiman perlu memperhatikan keserasian dengan lingkungannya. kesehatan lingkungan. Pengelolaan pembangunan perumahan harus memperhatikan ketersediaan sumber daya pendukung serta keterpaduannya dengan aktivitas lain. pemerataan pendapatan. hal tersebut sering terabaikan sehingga tidak berfungsi secara optimal dalam mendukung suksesnya perkembangan suatu kawasan/kota. memahami tiap tingkat harus mempertimbangkan tingkat yang paling atas dan paling bawah sebagai perbandingan hubungan yang paling dekat. LKM. Adapun. serta pembangunan permukiman yang kontributif terhadap rencana tata ruang. Aturan dalam teori hierarki. Kebijakan pengembangan permukiman di Indonesia tahun 2000—2020 antara lain pengembangan lokasi kawasan permukiman dengan memerhatikan jumlah penduduk dan penyebarannya. (3) Proses dapat mengindikasikan dinamika pertumbuhan kota. penciptaan kesempatan kerja. Pola merupakan gambaran sementara dari proses dan perilaku merupakan sumber dari proses pengambilan keputusan (Cheng 1999). dan pemberian stimulan bagi kegiatan pembangunan yang memerlukannya. (2) Pola pertumbuhan merupakan cerminan dapat dilihat secara langsung hasilnya. Memahami kecenderungan pertumbuhan kawasan perkotaan di wilayah perbatasan (pusat pertumbuhan baru) sangat terkait dengan 4 faktor: kebijakan. strategi yang ditempuh adalah partisipasi masyarakat. dan tersedianya fasilitas sosial dan umum. diperlukan upaya pengembangan perencanaan dan perancangan. pola tata guna lahan. Hal tersebut dilakukan agar segenap tujuan pembangunan berkelanjutan ini dapat tercapai. proses dan pola pertumbuhan. Dalam kenyataannya. swasta. Oleh karena itu.

di mana orientasi pembangunan terfokus pada kelompok masyarakat mampu serta menguntungkan. tersusun stakeholder yang menjadi pengaruh utama dalam pengelolaan pengembangan kawasan permukiman tersebut perbatasan negara berkelanjutan. Tantangan pengembangan kawasan permukiman yang akan datang antara lain (i) urbanisasi yang tumbuh cepat merupakan tantangan bagi pemerintah untuk berupaya agar pertumbuhan lebih merata. . (iii) marjinalisasi sektor lokal oleh sektor nasional dan global. perlu dibuat rencana tapak kawasan (site planning) agar dalam jangka panjang perumahan tersebut tidak menimbulkan dampak negatif dalam arti luas. Rencana tapak kawasan ini penting karena akan menentukan bentuk dan pola kawasan yang dapat menciptakan suatu kawasan permukiman yang tertata sehingga kemudahan dan kenyamanan para penghuni dapat tercipta serta dapat mempengaruhi perilaku penghuni di mana pun kawasan permukiman berada termasuk di wilayah perbatasan negara. Hasil analisis AHP selanjutnya yang menjadi prioritas adalah peningkatan prasarana dan sarana dengan bobot nilai 0. Adanya peningkatan prasarana dan sarana serta peningkatan tingkat pendapatan. pelayanan perkotaan. Gambar 46 menunjukkan urutan prioritas stakeholder tersebut. (iii) konflik kepentingan dalam penentuan lokasi perumahan. dan (v) komunitas lokal tersisih. dan perumahan.117 Permasalahan perumahan saat ini menurut Kirmanto (2005) telah terjadi: (i) alokasi tanah dan tata ruang yang kurang tepat. Setelah lokasi kawasan permukiman ditentukan berdasarkan pilihan yang optimal. dan (iv) kegagalan implementasi dan kebijakan penentuan lokasi perumahan (Kirmanto 2005). sehingga akan memberikan keuntungan kepada pemerintah dan mensejahterakan masyarakat di sekitar kawasan tersebut. (ii) perkembangan tak terkendali di daerah yang memiliki potensi untuk tumbuh.120. C.191 dan yang menjadi prioritas yang terakhir adalah tingkat pendapatan dengan bobot nilai 0. Diharapkan program pembangunan yang menyeluruh dan terpadu dapat dilaksanakan di wilayah perbatasan negara Kabupaten Nunukan. Pembobotan Kriteria Stakeholder dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Perbatasan Negara Berkelanjutan Berdasarkan hasil dari pendapat pakar. (iv) masalah lingkungan dan eksploitasi sumberdaya alam. (ii) ketimpangan pelayanan infrastruktur.

Pola penanganan tersebut dapat dijabarkan melalui penyusunan kebijakan dari tingkat makro sampai tingkat mikro .337 dan 0. pemerintah mempunyai kewenangan penuh untuk mendorong percepatan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan kabupaten Nunukan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN). bobot nilai masing-masing stakeholder adalah 0.118 Keterangan : PP = Pemerintah Pusat PD = Pemerintah Daerah ST = Swasta MY = Masyarakat PK = Pakar Gambar 46. 4 tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. dan UU No. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah mempunyai tingkat kepentingan yang tinggi terhadap penetapan alternatif kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan.222. 32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. Oleh karena itu. Urutan prioritas stakeholder dalam pengembangan permukiman perbatasan negara berkelanjutan kawasan Berdasarkan gambar 46 hasil analisis AHP yang merupakan stakeholder (level 3) menunjukkan bahwa pemerintah pusat dan daerah mempunyai peran utama dalam pengembangan kawasan permukiman. pengembangan wilayah perbatasan memerlukan suatu pola atau kerangka penanganan yang menyeluruh meliputi berbagai sektor dan kegiatan pembangunan serta koordinasi dan kerjasama yang efektif dari mulai pemerintah pusat sampai ke tingkat kabupaten/kota. Secara umum. Undang-Undang No. Hal tersebut disebabkan kenyataan di lapangan maupun pada tingkat kebijakan sangat ditentukan oleh pengaruh dan peran dari aktor pemerintah pusat dan pemerintah daerah sesuai dengan Undang-undang No. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) 2000-2004. Undang-undang No.

Swasta merupakan salah satu stakeholder yang mempunyai peran terhadap pengembangan kawasan permukiman. Keberadaan tanah ulayat secara sesungguhnya memiliki permasalahan secara administratif karena terkadang keberadaannya melintasi batas negara di dua wilayah negara. . keberadaanya tidak dapat dihapuskan. dan swasta atau dunia usaha berdasarkan prinsip kemitraan dan kerjasama. sedangkan jangkauan pelaksanaannya bersifat strategis sampai dengan operasional. Masyarakat berperan penting untuk menjaga wilayah perbatasan. dan kesadaran masyarakat perbatasan akan identitas nasional. implikasi positif terhadap meringankan beban pembiayaan pembangunan. Stakeholder selanjutnya adalah masyarakat yang mempunyai bobot nilai 0. Swasta mempunyai peran sebagai penggalian sumber dana untuk investasi pembangunan yang berkaitan dengan pengembangan kawasan permukiman. tetapi sebaliknya perlu diakui dan diatur secara jelas. masyarakat. memperkuat investasi dunia usaha sehingga dapat meningkatkan dan menguatkan jaringan kemitraan serta kerja sama antara masyarakat. Pembangunan permukiman sangat penting dilakukan di wilayah perbatasan tersebut menyangkut keamanan. Swasta memiliki bobot nilai sebanyak 0. Hak-hak ulayat masyarakat perbatasan perlu diakui dan diatur keberadaannya. Walaupun demikian. seperti pernyataan Direktorat Jendral Pemberdayaan Sosial (2005) mengemukakan bahwa tanggung jawab sosial dunia usaha telah menjadi suatu kebutuhan yang dirasakan bersama antara pemerintah. Kedua stakeholder tersebut mempunyai peran dalam hal melakukan pemantauan dan pengawasan di lapangan terhadap sosial ekonomi masyarakat di sekitar wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan dan usaha-usaha penegakan hukum jika ada suatu pelanggaran dalam setiap kegiatan pembangunan.dan disusun berdasarkan proses yang partisipatif baik secara horisontal di pusat maupun vertikal dengan pemerintah daerah. Tanggung jawab sosial swasta di antaranya peningkatan kesejahteraan dapat memberikan masyarakat.133. Stakeholder selanjutnya adalah pakar dan BKM/LSM masing-masing stakeholder tersebut mempunyai bobot nilai 0.68. karena hak-hak ulayat ini secara tradisional menjadi aset penghidupan sehari-hari masyarakat tersebut. kehormatan.150. pemerintah dengan swasta.91 dan 0.

Pengembangan kawasan menjadi prioritas sesuai dengan GBHN 1999 tertinggal mengamanatkan yang harus bahwa wilayah perbatasan dalam merupakan kawasan mendapat prioritas pembangunan.326 dan 0. mengamanatkan bahwa wilayah perbatasan negara sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) dan menyiapkan berbagai kebijakan dan langkah serta program pembangunan yang menyeluruh dan terpadu sehingga akan terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) dan dalam Undang-Undang No. gambar 47 menunjukkan urutan prioritas tujuan tersebut.313. Pembobotan Kriteria Tujuan dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Berdasarkan hasil dari pendapat pakar tersusun tujuan yang menjadi capaian utama. Keterangan : PPK = Pengembangan dan Penataan Kawasan PKS = Peningkatan Kesejahteraan PE = Pengembangan SDA dan Ekosistem Kawasan PRK = Pengembangan Prasarana Kawasan MK = Minimasi Konflik Gambar 47. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman pada pasal 2 memuat penjelasan bahwa lingkup pengaturan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) yang . Urutan prioritas tujuan dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara Berdasarkan gambar 47 hasil analisis AHP yang merupakan tujuan (level 4) menunjukkan pengembangan dan penataan kawasan dan peningkatan kesejahteraan mendapat priotitas utama dalam kriteria tujuan dengan masingmasing bobot nilai 0.120 D. Penanganan pengembangan kawasan permukiman sesuai dengan UU No. Amanat GBHN ini telah dijabarkan dalam Undang-Undang No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.

Dalam mengembangkan kawasan permukiman.429 26. pemeliharaan. Malaysia khususnya di wilayah perbatasan dengan Indonesia menggunakan pola cascade (ditarik ke dalam tidak linier di sepanjang jalan).578 26. terbatasnya fasilitas umum dan sosial. perbaikan.961 107. maka perkiraan kebutuhan minimum rumah pada tahun 2009 dan tahun 2014 berdasarkan tiap skenario dapat ditentukan seperti tertera pada Tabel 19.menyangkut pemugaran. Keterbatasan pelayanan publik di wilayah perbatasan menyebabkan orientasi .784 144. meliputi kegiatan pembangunan baru. Tabel 19. meliputi kegiatan pemeliharaan.751 Kebutuhan Rumah (unit) 18.053 116. Berdasarkan asumsi pertumbuhan penduduk berdasarkan pada tiap-tiap skenario yang direncanakan.840 163. Hal ini disebabkan sentralisasi pembangunan di masa lalu dan kecenderungan penggunaan pendekatan keamanan dalam pengelolaan wilayah perbatasan sehingga menyebabkan minimnya prasarana dan sarana wilayah. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari perkembangan permukiman berpola linier/ribbon development (Departemen PU 2002). Kebutuhan rumah di Kabupaten Nunukan tahun 2009 dan 2014 Kawasan Perumahan Skenario Pesimis 2009 2014 Optimis 2009 2014 Ambisius 2009 2014 Sumber: Hasil Analisis Jumlah Penduduk 96. dan Pengembangan pembangunan yang menyangkut penataan permukiman baru. perluasan.579 21. Seiring meningkatnya jumlah penduduk. pemanfaatannya. Konsep penataan dan pengembangan permukiman di Indonesia berbeda dengan di Malaysia. kebutuhan permukiman sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia ikut meningkat pula. dan pemanfaataannya.264 41. perumahan perluasan. peremajaan. serta rendahnya kesejahteraan masyarakat. penataan perbaikan. serta dengan menggunakan asumsi bahwa setiap keluarga terdiri dari 5 orang.640 20.171 239.110 Kemiskinan dan ketertinggalan masyarakat merupakan permasalahan utama di wilayah perbatasan.

Paradigma pengelolaan wilayah perbatasan pada masa lampau berbeda dengan pradigma saat ini. Oleh karena itu. pengembangan wilayah perbatasan melalui pendekatan kesejahteraan sekaligus pendekatan keamanan secara serasi perlu dijadikan landasan dalam penyusunan berbagai program dan kegiatan di wilayah perbatasan pada masa yang akan datang. Pada masa lalu pengelolaan wilayah perbatasan lebih menekankan kepada aspek keamanan (security approach). dan mengejar ketertinggalan pembangunan dari wilayah negara tetangga.122 aktivitas memenuhi sosial-ekonomi hak-hak masyarakat ke wilayah negara tetangga.158. sedangkan saat ini kondisi keamanan regional relatif stabil sehingga pengembangan wilayah perbatasan perlu pula menekankan kepada aspek ekonomi. meningkatkan sumber pendapatan negara. Di lain pihak. dan lingkungan. Kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara mempunyai dampak langsung terhadap kualitas lingkungan seperti fakta adanya kawasan permukiman yang liar dan tidak tertata yang keberadaannya juga dapat mengganggu ekosistem air tanah. Kebijakan pengembangan wilayah perbatasan negara ke depan adalah dengan peningkatan keberpihakan terhadap wilayah perbatasan sebagai daerah tertinggal dan terisolir dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan dan keamanan secara seimbang. para pekerja . masyarakat dan pekerja di wilayah perbatasan banyak kekurangan rumah sehingga untuk memenuhi kebutuhan rumah. budaya. Untuk masyarakat sebagai warga negara dalam memperoleh pelayanan publik dan kesejahteraan sosial serta membuka keterisolasian wilayah. Prioritas selanjutnya adalah pengelolaan SDA dan ekosistem wilayah dengan bobot nilai 0. Oleh karena itu. Pengelolaan SDA dan ekosistem wilayah sangat penting untuk dilaksanakan sehingga SDA dan wilayah tidak terdegradasi akibat adanya pembangunan di kawasan tersebut. kegiatan-kegiatan pembangunan perlu direncanakan secara terpadu berdasarkan pada pengelolaan secara optimal potensi-potensi SDA dan ekosistem wilayah. sosial. Pengelolaan wilayah perbatasan dengan pendekatan kesejahteraan (prosperity approach) sangat diperlukan untuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. diperlukan percepatan pembangunan di wilayah perbatasan dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan.

Apabila para pekerja dapat dipenuhi kebutuhan rumahanya oleh para stakeholders terkait. masyarakat dengan pemerintah daerah. Hal ini dapat mendatangkan keuntungan bagi pemerintah daerah maupun masyarakat. Forum ini mengadakan pertemuan setahun sekali dengan pergantian tempat antara Indonesia dan Malaysia. ekonomi. Di era globalisasi seperti saat ini. yaitu masalah (1) Tanjung Datu.087 yang penting dilakukan agar tidak terjadi konflik di wilayah perbatasan antara masyarakat dengan masyarakat negara tetangga. Prioritas terakhir adalah minimalisasi konflik dengan bobot nilai 0. Peningkatan kerja sama bilateral. dan masyarakat dengan pemerintah provinsi/pusat. Permasalahan ini sangat kompleks dan menyangkut kepastian hukum wilayah NKRI atau Malaysia. subregional. subregional. Prioritas selanjutnya yaitu pengembangan prasarana dan sarana dengan bobot nilai 0. (2) Batu Aum.116 yang sangat penting dilakukan untuk pengembangan potensi ekonomi dan sumber daya alam di kawasan tersebut. sosial-budaya. Hal ini didukung meningkatnya hubungan masyarakat perbatasan baik dari segi sosial-budaya maupun ekonomi. Oleh karena itu. Permasalahan perbatasan yang ada saat ini terjadi pada sembilan titik. maupun regional dalam berbagai bidang pengelolaan perbatasan tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan internasional maupun regional. maupun regional diharapkan dapat menciptakan keterbukaan dan saling pengertian sehingga dapat menghindari terjadinya konflik perbatasan. antarnegara sangat diperlukan untuk meningkatkan investasi dan optimalisasi pemanfaatan SDA di wilayah perbatasan. dan pertahanan keamananan.menyewa tempat tinggal dengan tarif setengah dari gajinya. Selain itu kerja sama. maka gajinya akan lebih besar untuk kebutuhan kesejahteraan sehingga etos kerja para pekerja akan semakin meningkat (Gilbreath 2002). serta untuk menanggulangi berbagai permasalahan hukum yang terjadi di wilayah perbatasan. peningkatan kerja sama dengan negara tetangga baik secara bilateral. politik. setiap negara di saling tergantung satu sama lain. (3) . Kelembagaan untuk menyelesaikan masalah-masalah perbatasan RI - Malaysia yang ada saat ini adalah General Border Committee (GBC) yang diketuai oleh Panglima TNI. Adanya saling ketergantungan dalam masyarakat internasional berpengaruh dalam bidang-bidang ideologi.

Kerja sama di bidang sosial-ekonomi daerah perbatasan Malaysia (Sarawak dan Sabah) dengan Indonesia (Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur) yang disebut Sosek Malindo telah dilengkapi dengan kelompok kerja (KK). Keterangan : SPKW = Strategi Pengembangan Kawasan SPPM = Strategi Pengembangan Pembiayaan SPKL = Strategi Pengembangan Kelembagaan Gambar 48. (c) melaksanakan pertukaran informasi mengenai proyekproyek pembangunan sosial-ekonomi di wilayah perbatasan bersama. (8) Gunung Raya. dan (d) menyampaikan laporan kepada KK Sosek Malindo tingkat pusat mengenai pelaksanaan kerja sama pembangunan sosial-ekonomi di daerah perbatasan. Pembobotan Kriteria Sasaran dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Perbatasan Negara Berkelanjutan Hasil dari pendapat pakar tersusun sasaran yang menjadi prioritas utama dalam keberhasilan pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan. E. (4) Sungai Sinapad. Hal tersebut disebabkan adanya dukungan ketersediaan infrastruktur dasar yang memadai untuk dilakukan pengembangan wilayah . (5) Sungai Semantipal. (6) Nanga Badau.624.Semilau. (7) Sungai Buan. Gambar 48 menunjukkan urutan prioritas sasaran tersebut. Urutan prioritas sasaran dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara Berdasarkan gambar 48 hasil analisis AHP yang merupakan sasaran (level 5) menunjukkan strategi pengembangan kawasan menjadi prioritas utama dengan bobot nilai 0. Sosek Malindo di tingkat provinsi/negeri ditujukan untuk (a) menentukan proyekproyek pembangunan sosial ekonomi yang digunakan bersama. (b) merumuskan hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan pembangunan sosial ekonomi di wilayah perbatasan. dan (9) Pulau Sebatik.

Strategi Pengembangan Kawasan Arah pembangunan jangka panjang nasional yang berkaitan dengan attachment).246. . peningkatan kelengkapan lingkungan (neighbourhood peningkatan investasi publik. Pengembangan wilayah perbatasan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi strategis dengan pemanfaatan sumberdaya alam setempat. Prioritas yang terakhir adalah strategi pengembangan kelembagaan dengan bobot nilai 0. pelembagaan aktivitas sosialkultural. Peningkatan kualitas sumber daya manusia agar lebih berpotensi dan profesional. Adapun program pembangunan berupa penyusunan rencana pengembangan wilayah perbatasan dengan program kegiatan sebagai berikut: Penetapan arah kebijakan pembangunan wilayah perbatasan dengan orientasi mendukung pergerakan aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga.125 perbatasan di Kabupaten Nunukan.130. Hal tersebut disebabkan adanya dukungan perencanaan tata ruang yang partisipatif. Hal tersebut didukung oleh adanya dukungan pembiayaan dari pemerintah untuk melakukan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan. Prioritas kedua yaitu pengembangan pembiayaan dengan bobot nilai 0. Penetapan garis batas negara secara jelas dan benar. pembangunan wilayah perbatasan merupakan wilayah perbatasan dikembangkan dengan mengubah arah kebijakan pembangunan yang selama ini cenderung berorientasi inward looking menjadi outward looking. pembentukan pengelolaan community-based permukiman organization (CBO). Dengan demikian. Penetapan fungsi lembaga pengelola wilayah perbatasan sesuai dengan kapasitas. Peningkatan sarana dan prasarana pendukung terhadap aktivitas sosial ekonomi masyarakat setempat serta guna membantu pengamanan kawasan perbatasan. bantuan teknis pengembangan desain rumah dan lingkungan. a. sosialisasi dan program advokasi berkelanjutan. kawasan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pintu gerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga.

serta kecamatan. perbatasan. Mengoptimalkan pemanfaatan pendapatan yang berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui dengan prinsip pembangunan yang berkelanjutan. Bagian dokumen perencanaan daerah ini yang memuat salah satu prioritas pembangunan daerah perbatasan dengan program prioritas: Pembangunan sarana dan prasarana jalan darat yang menghubungkan pusat pusat pertumbuhan ekonomi di daerah kota dan pantai dengan wilayah di perbatasan termasuk jalan tembus menuju ke daerah Malaysia. wilayah yang terisolasi. Pengawasan sumber daya alam di daerah perbatasan dan pencurian oleh pihak-pihak yang kurang bartanggung jawab serta pengawasan pemindahan patok-patok batas negara di perbatasan Indonesia dengan Malaysia. Rencana Strategi Daerah Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2003--2008. Pengembangan potensi ekonomi yang tersedia di daerah perbatasan melalui . Mempercepat tercapainya kemandirian masyarakat dan pemerintah Kabupaten Nunukan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. membuka wilayah pedalaman. dan kawasan tertinggal lainnya. wilayah pedesaan. Pembukaan sarana dan prasarana perintis dan air strip yang sudah ada di daerah perbatasan dan bantuan subsidi penerbangan ke daerah perbatasan. Mengembangkan antarwilayah dan menyerasikan laju pertumbuhan antarsektor pembangunan ekonomi. Meningkatkan investasi dan peran wisata untuk mendorong penguatan ekonomi rakyat. baik yang menuju Indonesia maupun Malaysia untuk memudahkan pemasaran hasil-hasil bumi setempat.126 Arah kebijakan pemanfaatan ruang di wilayah perbatasan Provinsi Kalimantan Timur adalah: Perlu dibuka jalur transportasi yang menghubungkan wilayah perbatasan dengan daerah-daerah lainnya. Perlu dibuka pos-pos imigrasi di wilayah perbatasan untuk melegalkan arus barang yang masuk dan keluar dari wilayah Indonesia. Perlu dibangun pelabuhan laut yang khusus melayani arus keluar-masuk barang dari Indonesia di Wilayah Nunukan Kepulauan.

32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. dan Ambalat Timur terulang dengan kembali Serawak di daerah (Malaysia). Legitan. serta permasalahan daerah. kebutuhan. pelayanan. adil. Pendanaan atau pembiayaan tersebut menganut prinsip "Money Follow's Function". atau yang ditugaskan dan/atau desa dalam rangka tugas pembantuan. Dana perimbangan merupakan pendanaan daerah yang bersumber dari APBN yang terdiri dari dana bagi hasil (DBH). Jangan sampai kasus Sepadan. Strategi Pengembangan Pembiayaan Pada pasal 18 A ayat (2) UUD Negara Republik Indonesia 1945 mengamanatkan agar hubungan keuangan. Daerah.127 pola agribisnis dan agroindustri dengan tujuan ekspor ke negara tetangga. kondisi. pendapatan lain yang syah. yang mengandung makna pendanaan mengikuti fungsi pemerintahan yang menjadi tanggung jawab masing-masing tingkat pemerintahan. daerah Pinjaman daratan perbatasan Kalimantan Sumber-sumber terdiri Daerah atas dan pendanaan/pembiayaan pendapatan Asli pelaksanaan Dana pemerintahan Perimbangan. serta pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah dan pemerintahan daerah diatur secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah dimaksudkan untuk mendukung penyerahan urusan kepada pemerintahan daerah yang diatur dalam Undang-Undang No. Wilayah perbatasan berkaitan dengan pemerintah pusat sehingga pendanaan pembangunan wilayah perbatasan juga dapat bersumber dari RAPBN. demokratis. dan dana . Peningkatan kerja sama sosial-ekonomi antara pemerintah dan masyarakat perbatasan antarkedua negara malalui payung kerja sama-SOSEK MALINDO dan kerja sama bidang lainnya yang saling menguntungkan kedua belah pihak. keuangan pusat yang dikonsentrasikan kepada gubernur. dan transparan dengan memperhatikan potensi. UndangUndang No. Studi pengembangan Kawasan Strategis Nasional perbatasan Provinsi Kalimantan Timur yang menyangkut pula pemerintahan 4 kabupaten merupakan masalah nasional yang perlu mendapat perhatian khusus. b. Perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah mencakup pembagian keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah secara proporsional. dana alokasi umum (DAU).

Wilayah perbatasan berkaitan dengan empat kabupaten sehingga ada peluang peningkatan DAU untuk membangun wilayah perbatasan. kecuali urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintah pusat. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. Sumber dana yang lain yaitu dana dekonsentrasi yang bertujuan untuk menjamin tersedianya dana untuk pelaksanaan kewenangan pemerintah yang dilimpahkan pada gubernur sebagai wakil pemerintah. Dana perimbangan ini digunakan untuk membantu daerah dalam mendanai kewenangannya untuk menghindari ketimpangan sumber pendanaan pemerintahan antara pusat dan pemerintahan daerah. badan/lembaga internasional dalam bentuk devisa/rupiah. terdapat sumber-sumber pembiayaan lain yaitu pinjaman daerah yang digunakan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan pelayanan masyarakat. badan/lembaga asing. Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. pelaksanaan. Dalam . Dana alokasi umum (DAU) digunakan untuk pemerataan kemampuan keuangan antardaerah melalui penerapan formula yang mempertimbangkan kebutuhan dana potensi daerah. Dana bagi hasil (DBH) diatur dalam Undang-Undang No.128 alokasi khusus (DAK). panas bumi sesuai dengan undang-undang No. dan pengawasan yang baik. perencanaan. dan termasuk dana reboisasi. 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi. 33 Tahun 2004 juga mengatur hibah yang berasal dari pemerintah negara asing. Dana alokasi khusus (DAK) digunakan untuk membantu membiayai kegiatan-kegiatan khusus di daerah tertentu yang menjadi prioritas nasional karena membangun wilayah perbatasan merupakan masalah daerah dan masalah nasional. Selain itu. c. Sumber dana/biaya dan kekayaan sumber daya alam yang ada di Provinsi Kalimantan Timur dan keempat kabupaten yang termasuk wilayah perbatasan cukup besar apabila dana tersebut dapat dimanfaatkan dengan kebijakan. bentuk barang dan jasa. 7 Tahun 2000 dan pada pasal 21 sektor pertambangan. termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang tidak perlu dibayar lagi. Dalam Undang-Undang No. Strategi Pengembangan Kelembagaan Pengembangan strategi nasional perbatasan Provinsi Kalimantan Timur berkaitan dengan Kabupaten Nunukan sehingga sesuai dengan amanat Undangundang No.

Urusan pemerintah terdiri dari urusan pemerintahan yang dikelola secara bersama antartingkatan dan susunan pemerintah atau konkuren. akuntabilitas. pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten.Hal ini sesuai dengan prinsip demokrasi yang mendorong akuntanbilitas pemerintah kepada rakyat.129 menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah tersebut. Kriteria tersebut yaitu tingkat pemerintah yang paling berwenang menyelenggarakan urusan pemerintahan tersebut adalah yang paling dekat dari dampak yang timbul. ditetapkan kriteria pembagian urusan pemerintahan yang meliputi eksternalitas. yustisi dan agama. Kriteria eksternalitas didasarkan atas pemikiran bahwa tingkat pemerintahan yang berwenang atas suatu urusan pemerintahan ditentukan oleh jangkauan dampak yang diakibatkan dari penyelenggaraan urusan pemerintahan. Urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah yaitu urusan dalam bidang politik luar negeri. Penggunaan ketiga kriteria tersebut diterapkan secara kumulatif sebagai satu kesatuan dengan mempertimbangkan keserasian dan keadilan hubungan antarkegiatan dan susunan pemerintahan. Pembagian urusan pemerintahan yang bersifat konkuren harus proporsional antara pemerintah. Dalam setiap bidang urusan pemerintahan yang bersifat konkuren terdapat bagian urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat. pertahanan keamanan. Urusan pemerintahan yang dapat dikelola secara bersama antartingkatan dan susunan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi urusan pemerintah pusat. moneter dan fiskal nasional. dan pemerintah daerah kabupaten/kota. pemerintah daerah propinsi. Seluruh tingkat pemerintahan wajib mengedepankan pencapaian efisiensi dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya dalam . Penyelenggaraan desentralisasi memberikan syarat terhadap pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. dan efisien. Untuk mencegah teradinya tumpang tindih pengakuan atau klaim atas dampak maka ditentukan kriteria akuntanbilitas. pemerintah daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas perbantuan. Kriteria efisiensi didasarkan pada penyelenggaraan urusan pemerintahan harus ekonomis. Oleh karena itu.

serta semangat ekonomis diwujudkan melalui kriteria efisiensi. Di luar urusan pemerintahan yang bersifat wajib dan pilihan. prosedur. Pedoman yang memuat norma.130 menghadapi globalisasi. dan anggaran. Urusan pemerintahan yang bersifat pilihan yaitu urusan pemerintahan yang diprioritaskan oleh pemerintahan daerah yang terkait dengan upaya pengembangan potensi unggulan (core competence). Penerapan kriteria eksternalitas. tiap tingkat pemerintahan harus melaksanakan urusan pemerintahan berdasarkan kriteria pembagian urusan pemerintahan. standar. Urusan kewenangan daerah terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. prosedur. Ketentuan tersebut meliputi penentuan struktur organisasi perangkat daerah. kependudukan dan sebagainya. dan kriteria yang dijadikan pedoman dalam mengatur hubungan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dan antara pemerintah daerah provinsi dengan pemerintah daerah kabupaten/kota. Urusan pemerintahan di luar urusan wajib dan urusan pilihan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang bersangkutan tetap harus diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang bersangkutan. Pemerintah berkewajiban menyusun norma. dan kekhasan daerah yang bersangkutan. kesehatan. seperti pendidikan dasar. Agar pelaksanaan urusan pemerintahan yang bersifat wajib dan pilihan memiliki payung hukum yang kuat. maka urusan wajib dan pilihan yang diselenggarakan oleh daerah harus dituangkan ke dalam peraturan daerah yang menjadi acuan dalam penentuan penyelenggaraan pemerintah daerah. personil. Keterbatasan sumber daya dan sumber dana yang dimiliki oleh daerah membuat prioritas penyelenggaraan urusan pemerintahan harus difokuskan pada urusan wajib dan urusan pilihan yang benar-benar mengarah pada penciptaan kesejahteraan masyarakat. potensi. Urusan pemerintahan wajib adalah urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang terkait dengan pelayanan dasar (basic services) bagi masyarakat. Hal ini tentu harus disesuaikan dengan kondisi. lingkungan hidup. Ketiga kriteria ini dapat disinergikan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan demokratisasi sebagai esensi dasar dari kebijakan desentralisasi. standar. perhubungan. Hal ini menjadi kewenangan pemerintah yang bersangkutan sesuai dengan dasar prinsip penyelenggaraan urusan sisa. akuntanbilitas. dan kriteria tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk menilai kemampuan apakah suatu urusan .

Urusan pemerintah yang ditugaskan kepada pemerintah daerah didasarkan pada asas tugas pembantuan yang secara bertahap dapat diserahkan kepada urusan pemerintah daerah yang bersangkutan. penataan hubungan kerja baik secara horisontal maupun secara vertikal. prosedur. Oleh karena itu. kewenangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan tersebut dapat ditunda sampai dengan pemerintahan daerah yang bersangkutan mampu memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh pemerintah. Pemberdayaan pemerintah daerah sangat penting dilakukan untuk meningkatkan kapasitas daerah sehingga mampu memenuhi norma. dan kriteria sebagai prasyarat penyelenggaraan urusan pemerintah yang efisien sesuai dengan kewenangannya. Selain itu. prosedur. Untuk melaksanakan urusan pemerintah yang belum mampu dilaksanakan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota dilimpahkan kepada gubernur selaku wakil pemerintah dilaksanakan pusat. oleh Pelaksanaan pemerintah urusan daerah pemerintah provinsi yang belum mampu kepada dilimpahkan departemen/LPND yang membidangi urusan pemerintahan tersebut. dan kriteria wajib dalam mengikutsertakan pemangku kepentingan (stakeholders) terkait termasuk pemerintahan daerah. departemen/LPND bertanggung jawab menyusun norma. standar. Dengan demikian. tugas pembantuan dapat dimanfaatkan sebagai instrumen peningkatan kemampuan pemerintah daerah sebelum urusan pemerintahan tersebut benar-benar diserahkan kepada daerah yang bersangkutan. dan kriteria yang ditentukan. Bagi pemerintahan daerah yang belum memenuhi norma. Urusan pemerintahan ini diserahkan apabila pemerintah daerah benar-benar telah menunjukkan kemampuan untuk memenuhi norma.pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah mampu diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang bersangkutan. peningkatan koordinasi. dan konsultasi antarlembaga. Berdasarkan hal tersebut. peningkatan kapasitas dan fungsi kelembagaan dalam pengelolaan perbatasan dilakukan melalui optimalisasi fungsi dan peran kelembagaan antarinstansi pemerintah. prosedur. peningkatan juga dilakukan melalui pengembangan database informasi wilayah perbatasan yang dapat dijadikan acuan bersama oleh seluruh . standar. standar. prosedur. standar. dan kriteria yang dipersyaratkan untuk penyelenggaraan urusan pemerintahan.

Berdasarkan hasil AHP.stakeholder terkait. beberapa perubahan dilakukan pada peubah tertentu sehingga strategi yang bersangkutan dapat disimulasikan.4 Rekomendasi Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara 4. Dari kombinasi antarkondisi masalah didapatkan dua skenario yaitu (1) Strategi optimis dan (2) Strategi pesimis. antara lain (1) Strategi Pengembangan Kawasan. dan (3) Strategi Pengembangan Kelembagaan. Pemahaman yang baik terhadap fungsi dan peran. 4. Dalam hal ini. (2) Strategi Pengembangan Pembiayaan.4. Penyusunan Strategi Pengembangan Kawasan Interpretasi kondisi masalah dalam peubah skenario dilakukan melalui keterkaitan strategi yang disusun dalam suatu skenario. Berdasarkan dominasi responden mengenai kondisi masalah di masa yang akan datang. serta tingkat pengetahuan dan persepsi yang sama. diharapkan dapat menyelaraskan berbagai kewenangan.4. sistem yang ada saat ini masih belum berkelanjutan. tata hubungan yang jelas.1 Penyusunan Strategi Pengembangan Berdasarkan hasil analisis keterkaitan dan kinerja pengembangan kawasaan permukiman menunjukkan.4. Perkiraan permasalahan pengembangan kawasan pada kondisi di masa yang akan datang disajikan pada tabel 20. Perkiraan kondisi (state) dipengaruhi potensi hubungan antarkomponen terkait untuk penyusunan kebijakan dan strategi pengembangan kawasan (Cadenasso 2003). koordinasi yang intensif. . Dari analisis tersebut. hal yang harus dilakukan yaitu kombinasi antarkondisi masalah dengan membuang kombinasi yang tidak sesuai (incompatible). diketahui tiga masalah yang paling berpengaruh terhadap strategi dan rekomendasi kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. a. disusun analisis kebijakan yang dilakukan melalui tiga kajian strategi pilihan. kebijakan dan peraturan-peraturan antara pemerintah pusat dan daerah. Sistem yang belum berkelanjutan menyebabkan perlunya perumusan berbagai strategi dan rekomendasi kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara.

karena pembangunan terarah dan terencana 3 1. karena adanya pembangunan yang tetap berjalan namun dalam jumlah yang masih minim . Kesejahteraan Masyarakat 4B Tetap. Perkiraan responden mengenai permasalahan pengembangan kawasan pada kondisi masa yang akan datang No 1 Masalah 5 Kesadaran masyarakat akan identitas nasional 7A Menurun. karena masyarakat tidak peduli dengan pemanfaatan lahan. melakukan koordinasi. yang penting aman dan tidak diakui oleh pihak lain 1B Tetap. Terbatasnya fasos dan fasum 15C Meningkat. dan ada sosialisasi yang baik dari pemerintah tentang pemanfaatan lahan yang baik 14C Meningkat. karena pembangunan tidak terkoordinasi dengan baik 4C Meningkat. karena banyak pengusahaan lahan di lakukan segelintir masyarakat (spekulan tanah) 15B Tetap. karena pengadaan infrastruktur wilayah perbatasan dilakukan seadanya 7C Meningkat. hanya sedikit penjelasan 4 15. karena tidak ada sosialisasi yang baik. karena pembangunan fasos dan fasum di wilayah perbatasan mulai dilakukan oleh instansi terkait. karena Kondisi letak geografis kurang mendukung untuk peningkatan kerjasama luar negeri antar negara 14B Tetap. karena SDA dikelola kurang optimal dan kondisi perekonomian dan pemerataan pembangunan menurun 15A Menurun. dan melibatkan sektor swasta 1C Meningkat. karena kurang perhatian pemerintah terhadap wilayah perbatasan 5 14. karena pembangunan infrastruktur mendukung pertumbuhan kawasan 2 4. karena pemerintah melakukan pembangunan sosial ekonomi.Tabel 20. karena pemerintah menganggap bahwa pembangunan sosial ekonomi wilayah perbatasan tidak penting Keadaan (State) 7B Tetap.Minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman 14A Menurun. Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan 1A Menurun. karena kawasan perumahan dan permukiman di wilayah perbatasan tidak didukung pembangunan infrastruktur lingkungan yang terpadu dengan infrastruktur primer kota 4A Menurun.

6 6. Kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga

6A Menurun, karena pembangunan belum merata di segala bidang

6B Tetap, karena ada perhatian pemerintah akan pentingnya wilayah perbatasan, namun implementasinya belum dilakukan

6C Meningkat, karena karena pembangunan yang dilakukan di wilayah perbatasan negara tetangga lebih intens dan lebih fokus pada upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat

Tabel 21 . Strategi dan kombinasi kondisi faktor pengembangan kawasan No. Strategi 1. Skenario 1 2. Skenario 2 Kombinasi Kondisi Faktor 7A/4A/1A/15A/14A/6A 7C/4B/1C/15C/14C/6C

Skenario satu dibangun berdasarkan keadaan faktor kunci dengan kondisi pengembangan kawasan yakni kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional (7A) karena kawasan perumahan dan permukiman di wilayah perbatasan tidak didukung pembangunan infrastruktur yang terpadu dengan infrastruktur primer kota. Selain itu, pengadaan infrastruktur wilayah perbatasan dilakukan seadanya. Rendahnya kesejahteraan masyarakat (4A) karena pemerintah

menganggap bahwa pembangunan sosial-ekonomi wilayah perbatasan tidak penting dan pembangunan tidak terkoordinasi dengan baik. Kesenjangan

pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1A) karena SDA dikelola kurang optimal, kondisi perekonomian dan pemerataan pembangunan tidak merata, serta banyak pengelolaan lahan dilakukan segelintir masyarakat (spekulan tanah). Terbatasnya fasos dan fasum (15A) karena masyarakat tidak peduli dengan pemanfaatan lahan. Dalam pemanfaatan lahan bagi masyarakat yang penting adalah keamanan dan lahan tersebut tidak diakui pihak lain. Hal ini terjadi karena tidak ada sosialisasi yang baik dari pemda mengenai pentingnya pemanfaatan lahan. Kurangnya infrastruktur kawasan dan permukiman (14A) karena letak geografis tidak mendukung peningkatan kerja sama luar negeri antarnegara sehingga perlu adanya pembangunan infrastruktur dan permukiman. Kondisi sosial dan ekonomi negara tetangga lebih baik (6A) karena pemerintah memperhatikan perbatasan. pembangunan di segala bidang dan pentingnya wilayah

Skenario dua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan kawasan yaitu, meningkatnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional (7C). Kesadaran masyarakat akan identitas sosial meningkat karena kawasan perumahan dan permukiman di wilayah perbatasan didukung pembangunan infrastruktur yang terpadu dengan infrastruktur primer kota secara bertahap dan terencana. Kesejahteraan masyarakat relatif tetap (4B) karena pemerintah melihat tingkat kesejahteraan di wilayah perbatasan cukup baik sehingga tidak menjadi prioritas utama. Menurunnya kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1C) karena SDA dikelola dengan sangat baik. Bukan hanya itu, kondisi perekonomian dan pemerataan

pembangunan juga meningkat serta meningkatnya pembangunan fasos dan fasum (15C) karena masyarakat mengoptimalkan pemanfaatan lahan sesuai dengan peruntukannya dan berkoordinasi dengan pemda. Kondisi sosial dan ekonomi di negara tetangga lebih baik (6C) karena pembangunan di wilayah perbatasan lebih difokuskan pada aspek peningkatan keamanan melalui law enforcement, dengan pembangunan perbatasan. b. Penyusunan Strategi Pengembangan Pembiayaan Strategi yang disusun dalam skenario dikaitkan melalui interpretasi kondisi masalah ke dalam peubah skenario. Beberapa perubahan dilakukan pada peubah tertentu di dalam skenario sehingga strategi yang bersangkutan dapat sosial-ekonomi disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat

disimulasikan. Berikut ini perkiraan permasalahan pengembangan pembiayaan pada kondisi di masa yang akan datang. Tabel 22. Perkiraan responden mengenai permasalahan pengembangan

pembiayaan pada kondisi masa yang akan datang
No 1 Masalah 23.Terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan Keadaan (State) 23A 23B Menurun, karena kondisi sharing Tetap, karena pendanaan pusat, provinsi, kota kondisi sharing meningkat, alokasi dana khusus pendanaan untuk pengembangan dan pusat, provinsi, pengelolaan kawasan kota dari tahun permukiman perbatasan ke tahun tidak meningkat seiring kebijakan mengalami prioritas pembangunan di peningkatan wilayah perbatasan 23C Meningkat, karena menganggap pembangunan permukiman wilayah perbatasan tidak penting,

2 17. Terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan perkim

17A Menurun, karena keberpihakan dan perhatian pemerintah terhadap pembangunan kawasan semakin besar, adanya kesadaran bahwa pembangunan wilayah sangat penting

17B Tetap, karena pendekatan diproyeksikan dan tidak transparan

17C Meningkat, karena pemerintah menganggap bahwa pembangunan di wilayah perbatasan kurang penting 24C Meningkat, karena tidak adanya pengendalian terhadap pengelolaan dana pembangunan, adanya anggapan bahwa perbatasan hanya sekedar batas

3 24. Pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal

24A Menurun, karena kondisi aturan tentang tatacara penggunaan anggaran akan jelas ditingkatkan

24B Tetap, karena sudah ada perhatian pada infrastruktur dan permukiman

Tabel 23 . Strategi dan kombinasi kondisi faktor pengembangan pembiayaan No. Strategi 1. Skenario 1 2. Skenario 2 Kombinasi Kondisi Faktor 23A/17A/24A 23C/17B/24C

Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan pembiayaan karena terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23A). Hal ini dilakukan karena kondisi sharing pendanaan pusat, provinsi, kabupaten/kota tidak seimbang. Dana alokasi khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan

permukiman perbatasan meningkat seiring kebijakan prioritas pembangunan di wilayah perbatasan. Pendanaan dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota dari tahun ke tahun juga mengalami peningkatan. Dana untuk pengembangan, pengelolaan infrastruktur, dan perkim (17A) berkurang karena keberpihakan dan perhatian pemerintah terhadap pembangunan wilayah perbatasan masih rendah. Rendahnya pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan (24A) terjadi karena kondisi pengatuaran tata cara penggunaan anggaran belum jelas sehingga perlu adnay peningkatan kinerja agar penggunaan dana pembangunan dapat optimal. Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan pembiayaan yaitu meningkatnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23C)

Aktivitas sosial ekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga 5B Tetap. kabupaten/kota meningkat. Pelayanan publik 16A Menurun. Penyusunan Strategi Pengembangan Kelembagaan Strategi pengembangan kelembagaan yang disusun dalam skenario dilakukan dengan menginterpretasikan kondisi masalah ke dalam peubah skenario. Berikut ini perkiraan permasalahan pengembangan kelembagaan pada kondisi di masa yang akan datang. karena Pemda membiarkan infrastruktur permukiman apa adanya 5C Meningkat. karena tidak ada terobosan berarti dalam upaya penegakan hukum 16C Meningkat. karena Law enforcement meningkat 2 20. karena pemerintah menganggap kebijakan dan pedoman tidak diperlukan 20B Tetap. dilakukan beberapa perubahan pada peubah tertentu di dalam skenario sehingga strategi yang bersangkutan dapat disimulasikan. karena penegakan hukum dan peraturan masih lemah dan cenderung menurun. Penegakan hukum dan peraturan 3 5. Perkiraan responden mengenai permasalahan pengembangan kelembagaan pada kondisi masa yang akan datang No 1 Masalah 16.karena kondisi sharing pendanaan pusat. seperti belum optimalnya pemanfaatan serta pengelolaan dana pembangunan infrastruktur dan permukiman kondisinya tetap (24B) atau belum meningkat. Tabel 24.karena wilayah perbatasan hanya menjadi pintu belakang menjadi penting 20C Meningkat.karena rencana pemda asal jadi tanpa pemikiran matang. Alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan meningkat seiring kebijakan prioritas pembangunan di wilayah perbatasan.dibukanya beberapa pintu . provinsi. Pendanaan untuk pengembangan serta pengelolaan infrastruktur dan permukiman tetap (17B) karena keberpihakan dan perhatian pemerintah terhadap pembangunan kawasan semakin besar. Ini terlihat oleh banyaknya pelanggaranpelanggaran yang tidak menjalani proses hukum 5A Menurun. karena kondisi pembiayaan sudah optimal melalui lembaga pemerintah/swasta Keadaan (State) 16B Tetap. karena pembangunan belum diimbangi dengan peningkatan terhadap pelayanan publik 20A Menurun. c. tetapi belum dilakukan secara baik. Dalam hal ini.

Strategi dan kombinasi kondisi faktor pengembangan kelembagaan No. Skenario 2 Kombinasi Kondisi Faktor 16A/20A/5A 16B/20C/5C Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan faktor kunci dengan kondisi pengembangan kelembagaan. Penegakkan hukum dan peraturan meningkat (20C) yang dapat dilihat dari berkurangnya pelanggaran yang dilakukan masyarakat perbatasan negara. pelayanan publik tetap (16B) karena pembangunan tidak diimbangi dengan peningkatan terhadap pelayanan publik. Aktivitas sosial-ekonomi masyarakat dengan wilayah negara tetangga berkurang (5C) karena kondisi pembiayaan pembangunan di wilayah perbatasan meningkat melalui lembaga pemerintah/swasta. Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan faktor kunci dengan kondisi pengembangan kelembagaan. . pertambangan dan pertanian belum dapat menyerap tenaga lokal dan menjadi kegiatan penunjang perkembangan wilayah perbatasan Tabel 25. Strategi 1. Kondisi ini terlihat dari banyaknya pelanggaran yang tidak diproses secara hukum dan tidak ada terobosan berarti dalam upaya penegakkan hukum. pembangunan SDA di sektor perkebunan. Dalam skenario ini dapat dilihat terbatasnya pelayanan publik (16A) karena pembangunan tidak diimbangi dengan peningkatan pelayanan publik dan pemerintah menganggap kebijakan terkait pelayanan publik belum mendesak.No Masalah 16A Keadaan (State) 16B 16C penyeberangan antar wilayah. Penegakkan hukum dan peraturan masih lemah (20A) dan cenderung menurun. Pada skenario kedua. Aktivitas sosial-ekonomi masyarakat rendah (5A) karena kondisi pembiayaan melalui lembaga pemerintah/swasta masih rendah. Skenario 1 2. tetapi pemda membiarkan pembangunan infrastruktur dan permukiman masih apa adanya.

Dinamika kegiatan ekonomi perkotaan di wilayah perbatasan merupakan kondisi yang dapat meningkatkan pertumbuhan kota-kota (pusat pertumbuhan baru) di perbatasan negara. infrastruktur wilayah masih terbatas dan permukiman di wilayah perbatasan baik yang berada dalam kawasan perkotaan maupun perdesaan kurang berkembang. ekonomi. terutama wilayah perbatasan. dan . Oleh karena itu.4. Kondisi ini disebabkan adanya ketimpangan pembangunan antara wilayah perbatasan dengan wilayah nonperbatasan. komitmen pemerintah untuk mempercepat pembangunan wilayah perbatasan telah tercermin dalam kebijakan pembangunan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) sejak tahun 1993 yang masih konsisten dengan GBHN tahun 1999--2004. serta (5) memastikan transisi penggunan lahan perdesaan menuju perkotaan berjalan secara alamiah dan terarah (Seong 2006). (4) mendorong sinergisitas hubungan kota dan desa. Selain menyebabkan ketergantungan terhadap negara tetangga. Apabila hal ini tidak ditangani dengan baik. kependudukan. maka dapat menjadi hambatan pengembangan potensi pertumbuhan yang selama ini berfungsi sebagai penggerak pengembangan sosial. hingga saat ini peningkatan pembangunan wilayah perbatas belum memperlihatkan hasil yang nyata. Dampak dari hal ini yaitu aktivitas sosioekonomi banyak yang berorientasi ke negara tetangga. dan kesadaran masyarakat perbatasan terhadap identitas nasional.5. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Percepatan pembangunan wilayah. Pengembangan perbatasan pusat-pusat pertumbuhan yaitu baru (border city) di wilayah (1) melindungi ruang terbuka terdapat enam kategori hijau/konservasi dan sumber daya alam. (3) efisiensi pembiayaan pembangunan infrastruktur. kehormatan. (2) dapat mengoptimalkan penggunaan lahan. Dalam GBHN tahun 1999—2004 pada Bab IV butir G dinyatakan bahwa perlu peningkatan pembangunan di seluruh daerah termasuk wilayah perbatasan dengan tetap berlandaskan pada prinsip desentralisasi dan otonomi daerah. Namun. keterbatasan infrastruktur dan permukiman di wilayang perbatasan juga menyangkut kondisi keamanan. Pada prinsipnya. sangat memerlukan keberpihakan pemerintah terhadap pembangunan wilayah di perbatasan tersebut.

hasil analisis ISM.1 Desain Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Kajian pengembangan strategi dilakukan pada tiga peubah yang dianggap menentukan dan menjadi rekomendasi kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yaitu (1) Pengembangan kawasan.1. Pembuatan desain kebijakan pendekatan pengembangan analytical kawasan hierarchy permukiman process perbatasan menggunakan dibuat (AHP). Permodelan interpretasi struktural interpretative structural modelling (ISM) merumuskan alternatif kebijakan di masa yang akan datang. masyarakat. (2) Pengembangan pembiayaan. maupun swasta. yaitu analisis kondisi permukiman. . analisis faktor penting dengan interpretative structural modelling (ISM). 4. desain kebijakan pengembangan dengan analytical hierarchy process (AHP). serta skenario pengembangan dan rekomendasi kebijakan. Di samping itu.5. baik perbatasan darat maupun perbatasan laut.peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan di wilayah perbatasan (Canales 1999). Selanjutnya pengklasifikasian subelemen dan desain kebijakan melalui deskripsi analisis kebijakan yang sesuai dengan keadaan di lapangan. Tahapan tersebut menentukan keadaan (state) suatu faktor. belum diatur dan diarahkan melalui kebijakan dan strategi pengembangan kawasan yang bersifat nasional dan menyeluruh. dan (3) Pengembangan kelembagaan. analisis potensi sektor unggulan wilayah dengan menggunankan model perbandingan eksponensial (MPE). membangun skenario yang mungkin terjadi. 4. dan menentukan implikasi dari skenario tersebut. koordinasi masing-masing instansi terkait baik di pusat maupun daerah masih lemah. Berdasarkan hal paparan di atas. dan AHP. Penyusunan kebijakan dan strategi tersebut dilakukan melalui lima tahapan analisis. Penanganan beberapa kasus atau masalah permukiman di wilayah perbatasan negara yang terjadi selama ini disebabkan belum melibatkan semua stakeholders baik pemerintah daerah.1 Desain Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Penanganan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. perlu dibuat desain kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara.5.

termasuk di dalamnya pengembangan kawasan permukiman. dan atau memiliki tempat usaha. regional.141 Pelaksanaan berbagai kegiatan pembangunan di wilayah perbatasan negara. Pengembangan didukung dengan penyediaan prasaran dan sarana serta lingkungan yang memadai. c. Upaya penyusunan kebijakan dan strategi pengembangan kawasan permukiman perbatasan sudah pernah dilakukan sebelumnya. b. Propenas 2000—2004. Pengembangan kawasan permukiman yang mengedepankan peningkatan kesejahteraan. serta fungsi pertahanan dilakukan bersama-sama dan seimbang sehingga dapat meningkatkan stabilitas wilayah perbatasan. Pengembangan kawasan permukiman perbatasan disusun berdasarkan faktor lingkungan yang strategis dan diperkirakan akan memengaruhi perkembangan wilayah perbatasan di masa yang akan datang. dan global. antara lain: a. Pengembangan dapat mendorong terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah perbatasan sebagai tempat aktivitas dan usaha penduduk wilayah serta berfungsi untuk meminimalisasi konflik di wilayah perbatasan. Hasil analisis data dengan metode ISM memperlihatkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional menjadi permasalahan yang paling krusial . hanya berpedoman pada kebutuhan yang telah diamanatkan dalam GBHN 1999. Pengembangan kawasan permukiman perbatasan ini diharapkan mampu mengantisipasi berbagai tantangan dan peluang yang tercipta akibat adanya perubahan lingkungan strategis baik lokal. Adapun beberapa faktor kunci. upaya tersebut belum menghasilkan suatu peraturan yang dapat dijadikan acuan dan arahan dalam pelaksanaan pembangunan. ekonomi. Pengembangan diarahkan pada wilayah yang memiliki potensi SDA sektor unggulan agar keberlanjutan kawasan permukiman dapat didukung. Strategi pengembangan kawasan permukiman perbatasan bertumpu pada masyarakat yang menjadi subjek kegiatan yang tinggal di wilayah perbatasan. dan sesuai dengan kebijakan sektor masing-masing. d. Hingga saat ini. Penyusunan kebijakan dan strategi telah diupayakan oleh beberapa instansi pemerintah baik pusat maupun daerah melalui kajian dan studi. maupun bekerja di wilayah perbatasan.

provinsi. pendapatan daerah dan pendapatan negara. . Lapangan pekerjaan tidak akan terwujud tanpa dukungan pemerintah dalam menciptakan kegiatan melalui pembuatan kebijakan-kebijakan pendukung oleh pemerintah pusat.142 di wilayah perbatasan. Selama ini dana kegiatan-kegiatan dalam upaya percepatan pertumbuhan pembangunan di wilayah perbatasan relatif belum memadai karena hanya bersumber dari anggaran rutin setiap tahunnya. dan kabupaten/kota di wilayah perbatasan. Hal-hal yang berkembang di masyarakat yang berpotensi menurunkan nilai identitas bangsa di wilayah perbatasan antara lain penggunaan mata uang ringgit sebagai alat pembayaran yang sah. Pada Gambar 38 memperlihatkan bahwa penganggaran dana perlu dilakukan pemerintah secara berkala agar upaya peningkatan kesejahteraan dan peningkatan pendapatan masyarakat dapat dicapai. Pemerintah bekerja sama dengan LSM dan pakar-pakar terkait yang berasal dari perguruan tinggi dan lembaga penelitian dalam mewujudkan kemandirian masyarakat melalui pengadaan pelatihan dan penyuluhan. Tolok ukur peningkatan kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional yang paling nyata ditandai dari peningkatan kesejahteraan masyarakat. Sumber dana pembangunan permukiman di wilayah perbatasan baik dana rutin maupun dana alokasi khusus akan menentukan jenis penanganan pembangunan. Salah satu solusi yang harus segera dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan identitas nasional yaitu dengan menciptakan lapangan kerja padat karya seluas-luasnya untuk masyarakat di wilayah perbatasan. Hasil analisis MPE memperlihatkan hasil dari tiga klaster berbasis potensi sektor unggulan yang dapat mendorong percepatan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan apabila didukung oleh semua stakeholders. serta adanya anggaran dana alokasi khusus (DAK) untuk pengembangan kawasan permukiman perbatasan oleh pemerintah. dan lain sebagainya. kemudahan pengurusan KTP dan pembelian tanah di wilayah Malaysia. tayangan televisi dengan dominasi acara-acara dari Negeri Malaysia. Kenyataan ini dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang menyebabkan rasa nasionalisme masyarakat berkurang daripada rasa untuk mempertahankan identitas nasional. Orientasi seluruh kegiatan lebih banyak diupayakan dengan basis pemberdayaan masyarakat sebagai subjek pembangunan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat. aktivasi pasar lebih ramai di wilayah Malaysia.

Bentuk penanganan pembangunan permukiman sektor unggulan pertambangan yaitu pembangunan baru (PB) dan peningkatan kualitas (PK). Berdasarkan ketentuan pada pasal 2 ayat 2 Undang-undang No. ekosistem di kawasan tersebut dibuat menjadi ekosistem nonalami yang dapat mengubah total ekosistem alami. Dalam hal ini pelaku harus membuat AMDAL sebagai kriteria pembangunan permukiman yang dilakukan agar tidak mengakibatkan kerusakan lingkungan. Adanya AMDAL yang dilakukan secara serius akan dapat menyelesaikan berbagai masalah seperti masalah ekologi. Sesuai hasil analisis MPE di masingmasing klaster subkawasan. kajian terhadap lingkungan harus dilakukan secara seksama. dan ekosistem karang. Terjaganya ekologi akan tetapmemungkinkan lestarinya lingkungan. ekosistem mangrove. kelestarian lingkungan akan tetap terjaga dengan baik walaupun di lokasi tersebut dilakukan pembangunan kawasan permukiman. Dalam hal ini. dan klaster 3 sektor perikanan. klaster 2 perkebunan. Adapun salah satu hal yang dapat dilakukan dalam melakukan kajian terhadap kelayakan dari segi lingkungan yakni melakukan analisis terhadap dampak lingkungan (AMDAL) di lokasi yang akan dibangun. Dalam pelaksanaan pembangunan permukiman akan mengubah bentang alam di lokasi tersebut. potensi sektor unggulan klaster 1 yaitu pertambangan. Ketentuan tersebut dapat digunakan dalam menentukan bentuk penanganan pembangunan di setiap jenis kegiatan usaha yang disesuaikan dengan karakteristik kebutuhan permukiman masingmasing tenaga kerja atau masyarakat yang bersangkutan. bentuk penanganan pembangunan perumahan dan permukiman memiliki dua kategori yaitu bentuk pembangunan baru (PB) dan peningkatan kualitas (PK). sedangkan sektor unggulan perikanan yaitu pembangunan baru (PB) dan peningkatan kualitas (PK). 4 tahun 1992 tentang perumahan dan permukiman. sektor unggulan perkebunan yaitu pembangunan baru (PB).143 Jenis penanganan pembangunan disesuaikan dengan karakteristik tenaga kerja dan masyarakat setempat yang didukung dengan potensi sektor unggulan yang tersedia di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan. Berdasarkan hal tersebut. sehingga dapat diharapkan kualitas . Dengan kata lain. AMDAL menjadi semakin penting apabila suatu wilayah berhadapan atau di dalamnya terdapat ekosistem fragile di wilayah pesisir seperti ekosistem padang lamun.

harus memperhatikan dan menjaga kelestarian dan keberlanjutan ekosistem hutan mangrove dalam pelaksanaannya. Hutan mangrove yang baik akan dapat . AMDAL juga akan menjaga aspek sosial terpelihara dengan baik mengingat dalam AMDAL akan ada petunjuk untuk mengantisipasi terjadinya konflik sosial. menjaga kelanjutan sistem sosialbudaya lokal. Terkait dengan penanganan pembangunan kawasan permukiman terpadu dengan lingkungan khususnya bagi permukiman di pesisir dan nelayan. tanah & air yang baik.1000 meter. dan berbagai aspek sosial lainnya yang mungkin dapat luntur akibat terjadinya pembangunan kawasan permukiman. sesuai kondisi hidro-oseanografi di wilayah tersebut. Kondisi tersebut perlu dijaga tanpa menghambat kebijakan pemda dalam pengembangan permukiman di wilayah pesisir dalam hal ini pembangunan permukiman tersebut hendaknya diterapkan persyaratan sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku seperti. Selain itu. sehingga ekosistem tersebut tidak terganggu walau di sekitarnya dibangun kawasan permukiman. karena jauh dari ancaman bencana tsunami. dan peningkatan pemahaman konsep lingkungan (Kepmen KLH 2000).144 udara. penggunaan energi yang minimal. padang lamun dan terumbu karang akan terpelihara dengan baik karena berbagai hal yang dapat diminimalkan. Kabupaten Nunukan yang mempunyai wilayah pesisir yang luas dan pulau-pulau kecil terluar yang strategis. Dalam penanganan pembangunan permukiman tetap memperhatikan kriteria AMDAL kegiatan pembangunan permukiman terpadu yaitu dengan mempertahankan dan memperkaya ekosistem yang ada. melunturnya budaya. Ketebalan hutan yang difungsikan sebagai lapisan penyangga (buffer zone) menurut RTRW Kabupaten Nunukan (2005) adalah 130 kali tinggi pasang surut. perlindungan pantai dengan mangrove yang ketebalan hutannya tetap dijaga tidak kurang dari 50 . Namun demikian adanya potensi pengembangan permukiman di wilayah pesisir tersebut dapat mengancam keberadaan hutan mangrove yang selama ini masih terjaga kelestariannya dengan baik. pengendalian limbah dan pencemaran. Wilayah pesisir Kabupaten Nunukan pada umumnya berpotensi untuk pengembangan permukiman baik nelayan maupun permukiman lainnya. ekosistem yang fragile sekalipun seperti mangrove.

Secara estetika mangrove lebih baik daripada bangunan laut lainnya. hal ini disebabkan oleh: a. c. ekosistem tetap dalam kondisi prima sehingga dapat menjamin masyarakat yang hidup di dalamnya lebih sejahtera karena selalu mendapat hasil tangkapan dalam jumlah banyak. tajuknya rapat dan lebat sehingga dapat berfungsi sebagai pelindung pantai alami dan menahan intrusi air laut. dan Upaya pascapembangunan permukiman mempertahankan ekosistem hutan mangrove pada masyarakat yang sudah menghuni di kawasan permukiman dilakukan melalui pendekatan sistem sosialbudaya lokal. persediaan sumber air baku untuk air minum masyarakat penghuni permukiman pesisir tetap terjaga kualitasnya. yaitu perpaduan antara hutan mangrove dan perikanan sehingga biota laut di sekitarnya dapat tumbuh dengan baik. b. d. Dengan demikian. Mangrove memiliki sistem akar yang kuat. Penanganan abrasi lebih murah dibanding dengan membuat bangunan laut lain dan mangrove dapat memberi dampak ikutan yang menguntungkan kualitas perairan di sekitarnya. Bangunan laut dapat menyebabkan erosi dan sedimentasi di tempat lain. Salah satu aspek lingkungan yang harus diperhatikan dalam pembangunan kawasan permukiman yaitu harus dimulai dari sebelum pembangunan dilakukan (persiapan pembangunan). selain berfungsi sebagai ekosistem pesisir juga mempunyai vegitasi yang beragam dengan panorama indah dan hijau. e. Kawasan pertambakan dapat ditata ulang dengan sistem wanamina (silvofishery). f. pada saat pelaksanaan hingga pembangunan dihuni permukiman. Mangrove dapat menetralisasi lahan yang telah tercemar oleh logam berat sehingga pemanfatan lahan di wilayah pesisir baik untuk permukiman dan kegiatan bangunan lainnya tidak meluas dan efisien. Pembangunan kawasan permukiman juga harus dapat menjaga kelestarian lingkungan sehingga sumber daya alam tetap lestari. Hal bertujuan agar masyarakat mampu berpartisipasi dalam . sebaliknya hutan mangrove menahan erosi. masyarakat.145 menjaga permukiman di wilayah pesisir karena berperan sebagai perangkat analisis mitigasi alami dalam menjaga keberlanjutan.

1.2 Desain Strategi Pengembangan Pembiayaan Strategi pengembangan pembiayaan dalam percepatan pembangunan di wilayah perbatasan sangat dipengaruhi oleh kebijakan dan peran pemerintah terutama pemerintah provinsi dan pemerintah daerah.5. Masyarakat bersama pemda melakukan kegiatan rehabilitasi hutan mangrove di pesisir wilayah Kabupaten Nunukan. Selama ini pemerintah membuat dan menerima alokasi dana yang belum memadai untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman di wilayah perbatasan. Peran pemerintah . 2 1 3 1 Kluster 1 : Pembangunan Baru & Peningkatan Kualitas Kluster 2 : Pembangunan Baru Kluster 3 : Pembangunan Baru & Peningkatan Kualitas 2 3 Gambar 49. Peningkatan pemahaman masyarakat penghuni terhadap konsep keberlanjutan lingkungan dapat mendorong usaha perbaikan kerusakan hutan mangrove yang dilakukan melalui kegiatan penanaman kembali. Bentuk penanganan pembangunan permukiman 4. Adapun bentuk penanganan pembangunan permukiman di masingmasing klaster sesuai dengan potensi SDA pendukung pengembangan permukiman berkelanjutan dapat dilihat pada gambar 49.146 pengendalian limbah dan pencemaran sehingga pemahaman masyarakat terhadap konsep lingkungan terus meningkat.

Tujuan peningkatan pendapatan. budaya.1. peningkatan pendapatan daerah dan negara di wilayah perbatasan dapat tercapai melalui pengembangan pembiayaan. jangkauan pelaksanaannya bersifat strategik sampai dengan operasional baik jangka pendek. Pola penanganan tersebut dapat dijabarkan melalui penyusunan kebijakan dan strategi dari tingkat makro sampai tingkat mikro yang disusun berdasarkan proses yang partisipatif baik secara horisontal di pusat maupun vertikal dengan pemerintah daerah. keamanan. serta kesejahteraan secara seimbang. antarpemerintah. Desain strategi pengembangan kelembagaan yang berlaku bagi seluruh wilayah perbatasan baik darat maupun laut. menengah. . perlu dijabarkan dalam suatu strategi. pertahanan. maupun jangka panjang. ekonomi. Pemerintah juga menjadi fasilitator untuk penguatan kerja sama dengan stakeholders lainnya dalam mengupayakan pembanguann permukiman dan infrastruktur serta fasilitas sosial dan fasilitas umum lainnya.3 Desain Strategi Pengembangan Kelembagaan Secara umum. Dukungan dalam pencapaian pengembangan pembiayaan pun dilakukan bersama-sama dengan kegiatan peningkatan kerja sama pembangunan antarnegara. pengembangan kawasan permukiman perbatasan memerlukan suatu pola atau kerangka penanganan yang menyeluruh meliputi berbagai sektor dan kegiatan pembangunan serta koordinasi dan kerja sama yang efektif dari pemerintah pusat sampai ke tingkat kabupaten/kota. Faktor-faktor pengembangan yang mengindikasikan yaitu tolok ukur keberhasilan isolasi dalam serta pembiayaan penataan dan pembukaan ketertinggalan wilayah perbatasan dengan cara pembangunan infrastruktur serta prasarana dan sarana dalam jangka waktu yang sama. Sedangkan.147 yang besar dapat mengintervensi lembaga keuangan dengan mengeluarkan kebijakan penganggaran untuk memudahkan biaya pembangunan rumah dan melindungi hak masyarakat di wilayah perbatasan.5. kesejahteraan masyarakat. Adapun lembaga keuangan berperan dalam mengupayakan kemudahan kredit perumahan dengan biaya yang terjangkau bagi masyarakat yang diawasi oleh lembaga masyarakat lokal. lingkungan. dan antarstakeholders di wilayah perbatasan. Pendekatan pengelolaan wilayah perbatasan yang dilakukan yaitu pengelolaan yang menyeluruh dan terpadu dengan aspek sosial. 4.

. dan pengembangan wilayah secara terpadu di perbatasan. Selain itu diperlukan adanya basis data (database) mengenai wilayah perbatasan yang dapat menjadi referensi bersama. e. Upaya ini dilakukan untuk memudahkan antarinstansi terkait sehingga meningkatkan terjadinya pertukaran informasi koordinasi serta menciptakan kesepahaman yang sama dalam pengelolaan kawasan permukiman perbatasan. Namun. f. 32 Tahun 2004 yang menjelaskan bahwa pengelolaan kawasan permukiman perbatasan sejauh mungkin perlu dikelola oleh pemerintah daerah. d.148 Kebijakan di atas perlu dilaksanakan melalui upaya-upaya: a. Penyelarasan kegiatan-kegiatan pemerintah pusat dan pemerintah daerah melalui anggaran pembangunan sektoral dan daerah yang diarahkan bagi pengembangan kawasan pertumbuhan baru. Pemberian dukungan dan fasilitas pengembangan kawasan permukiman perbatasan oleh instansi pusat dan pihak swasta dalam maupun luar negeri. c. akan sangat membantu dalam proses pengembangan yang partisipatif. Hal ini untuk menghindari terjadinya tumpang tindih kewenangan pengelolaan maupun adanya ketidaksinkronan peraturan yang ada. Penguatan dan pembentukan lembaga pengembangan kawasan permukiman perbatasan yang bertugas untuk menyusun kebijakan dan pengkoordinasian berbagai kegiatan terkait di tingkat pusat dan daerah. termasuk lembaga adat. kondisi kelembagaan pemerintah daerah dan partisipasi masyarakat di beberapa wilayah perbatasan masih perlu ditingkatkan. Sinkronisasi kewenangan pengelolaan dan peraturan perundangan-undangan. Keterlibatan masyarakat dan pemerintah daerah dalam kegiatan pengembangan kawasan permukiman perbatasan termaktub dalam UU No. Program peningkatan dan pengembangan kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat. Pelaksanaan otonomi daerah perlu diiringi dengan sinkronisasi antara kewenangan dan peraturan-peraturan yang dibuat. b. Keberpihakan dan perhatian yang lebih besar dari sektor-sektor terkait di pusat terhadap kawasan permukiman perbatasan. baik antara instansi terkait maupun antara pemerintah pusat dengan daerah. Meningkatkan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat.

149 Strategi pengembangan kelembagaan ditujukan pada masyarakat agar memperoleh posisi kemandirian (bargaining) dari posisi tawar sebelumnya sebagai objek pembangunan. dilindungi. serta tidak adanya kerja sama dari stakeholders lainnya. Pemerintah juga berperan untuk meneruskan kebijakan tersebut pada penyelenggara setempat yaitu pemerintah provinsi. Hal ini dapat berdampak positif pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan terbukanya peluang-peluang usaha yang dibantu dalam memperoleh modal/kredit usaha dan dari lembaga-lembaga keuangan. Peningkatan kesejahteraan masyarakat perbatasan dapat mendorong peran dan partisipasi masyarakat dalam setiap kegiatan yang terkait dengan pengembangan kawasan permukiman. dan pemerintah kabupaten untuk diaplikasikan dan dilaksanakan di wilayah perbatasan. badan kerja sama antarnegara. Pemerintah pun memfasilitasi upaya peningkatan kelembagaan masyarakat dengan mendatangkan pakar untuk memberikan pelatihan maupun penyuluhan sehingga tolok ukur keberhasilan pembangunan dari peningkatan kesejahteraan masyarakat pun tercapai. khususnya penguatan dan pembentukan lembaga-lembaga yang ada agar program kegiatan penyuluhan dan pelatihan keterampilan dapat berjalan dengan lancar dan baik. Pemerintah sebagai penyelenggara menekakan untuk lebih mengedepankan kualitas pelayanan publik serta kontinuitas penegakkan hukum dan peraturan untuk menghidupkan aktivitas ekonomi masyarakat di negeri sendiri. Pemerintah memfasilitasi peningkatan aktivitas perekonomian di wilayah perbatasan dengan upaya-upaya pemberdayaan masyarakat. . Dalam pengembangan kelembagaan kemandirian masyarakat tidak akan terlaksana bila tidak didukung. Kelompok- kelompok usaha ini memiliki posisi yang lebih kuat karena adanya kerja sama antaranggota mengupayakan sesuai kapasitas dan bermitra dengan pihak lain dalam keuntungan usaha. Pemberdayaan mayarakat di wilayah perbatasan dibutuhkan agar masyarakat dapat mandiri sesuai potensi sektor unggulan pada setiap klaster dan membentuk kelompok-kelompok tani menuju kelompok-kelompok usaha.

tidak mengutamakan faktor-faktor penting yang seharusnya terlebih dahulu dilakukan sehingga tidak memiliki prospek kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yang berpandangan jauh ke depan. Penerapan skenario pertama ini akan memberikan implikasi berupa (1) Meningkatnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional. kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga (6A). kurangnya infrastruktur kawasan dan permukiman (14A). Kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini direkomendasikan upaya yang dapat mendorong percepatan pengembangan kawasan permukiman berbasis potensi sektor unggulan wilayah seperti hal-hal berikut: . Akan tetapi. Pada skenario pertama para pelaku pembangunan (stakeholder) dalam kebijakan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara beranggapan bahwa faktor-faktor yang dikaji merupakan faktor yang potensial untuk meminimalisasi permasalahan pengembangan wilayah perbatasan di masa yang akan datang. ditetapkan dua skenario pengembangan yang dapat dibangun dalam kebijakan sebagai berikut: a. rendahnya kesejahteraan masyarakat (4A). Skenario ini mengandung pengertian bahwa skenario yang dirumuskan perlu dilaksanakan berdasarkan konsep walaupun mengandung usaha pengembangan dan pengelolaan. dan (3) Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan berkurang. Skenario I Skenario pertama dibangun atas dasar kondisi dan permasalahan saat ini (existing condition) dari kawasan permukiman yang ada di wilayah perbatasan negara.150 4.4 Arahan Kebijakan Pengembangan Kawasan Perilaku strategi ternyata menunjukkan perbedaan pada berbagai faktor yang dikaji yang diakibatkan adanya perbedaan kombinasi faktor penting di wilayah perbatasan. (2) meningkatkan kesejahteraan masyarakat.5. terbatasnya fasos dan fasum (15A).1. kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1A). Oleh karena itu. Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan kawasan yaitu kurangnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional (7A).

Pembangunan terminal-terminal berbasis sektor unggulan wilayah sebagai showroom yang dapat diakses secara mudah 12. Pembangunan terpadu infrastruktur dengan kawasan permukiman beserta pusat-pusat kegiatan di sepanjang perbatasan 10. 5. maka . kurangnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman (17A). Penguatan kerja sama antara pemda. Pembuatan klaster permukiman berbasis potensi sektor unggulan wilayah berikut akses menuju dan keluar wilayah klaster 2. Pembangunan fasos dan fasum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat secara bertahap 13. Kemudahan akses informasi dan pasar Pembuatan informasi terpadu Promosi berkala untuk hasil-hasil sektor unggulan wilayah Peningkatan pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan usaha yang berbasis potensi masyarakat dan kearifan lokal 6. Pemeliharaan fasos dan fasum oleh pemda dengan melibatkan masyarakat sebagai pengguna dengan pemberian reward pada daerah dengan fasos dan fasum yang terpelihara baik Skenario pertama yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan pembiayaan yaitu terbatasnya alokasi dana khusus (DAK) untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23A). Pembangunan pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah perbatasan 11.151 1. Pembukaan lapangan pekerjaan padat karya di wilayah perbatasan negara Pembuatan pemetaan penggunaan lahan untuk perencanaan dan penataan kawasan permukiman yang disepakati oleh semua stakeholder yang terkait termasuk masyarakat pengguna dan dapat diakses oleh stakeholder yang terkait 9. 8. swasta/investor. 3. 4. pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal (24A). Untuk mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini. masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan dalam peningkatan keterampilan masyarakat 7.

Pembuatan lembaga inti-plasma kegiatan usaha sektor unggulan dengan kelompok usaha yang dibina oleh pemda dan swasta/investor 5. Kemudahan pembiayaan usaha oleh lembaga-lembaga keuangan Menerapkan subsidi silang pada kegiatan usaha bersama masyarakat Kemudahan kepemilikan rumah bekerja sama dengan lembaga keuangan dengan biaya terjangkau 4. penegakan hukum dan peraturan masih lemah (20A). 2. Pelatihan dan penyuluhan sumber daya masyarakat yang diprakarsai pemda bekerja sama dengan lembaga pendidikan untuk kebutuhan tenaga kerja industri 4. Pembuatan kebijakan penganggaran dana alokasi khusus (DAK) untuk pembangunan wilayah perbatasan jangka pendek. aktivitas sosial ekonomi masyarakat rendah (5A). . terbatasnya pelayanan publik (16A). 3. jangka menengah dan jangka panjang yang dievaluasi penggunaannya. Pembuatan dan penguatan kerja sama dan kelompok usaha bersama di wilayah perbatasan 2.152 pada komponen pengembangan pembiayaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. Dalam rangka mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini maka pada pengembangan kelembagaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan kelembagaan yaitu. 6. Kemudahan birokrasi pembuatan sertifikasi legalitas lahan usaha dan permukiman. Pengawasan dan penegakkan hukum terkait kegiatan di wilayah perbatasan negara 3. Evaluasi dan pembuatan kebijakan terkait wilayah perbatasan.

Skenario II Skenario kedua mengandung pengertian bahwa keadaan masa depan yang mungkin terjadi diperhitungkan dapat dipertimbangkan sesuai dengan keadaan dan kemampuan sumberdaya yang dimiliki. Pembuatan informasi terpadu Promosi berkala untuk hasil-hasil sektor unggulan wilayah Pembangunan terpadu infrastruktur dengan kawasan permukiman Penguatan kerjasama antara pemda. optimalisasi pemanfaatan dan pengelolaan dana . dan ekonomi dari masyarakat. Rekomendasi kebijakan dan strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara dapat seimbang antara lingkungan. Kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini dalam pengembangan kawasan maka harus didukung dengan rekomendasi berikut ini: 1. Pemeliharaan fasos dan fasum oleh pemda dengan melibatkan masyarakat dengan pemberian reward pada daerah apabila kondisi fasos dan fasum yang terpelihara secara baik Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan pembiayaan yaitu. Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan kawasan yaitu. menurunnya kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1C). kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga (6C). sosial. masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan dalam peningkatan keterampilan masyarakat 5. meningkatnya pembangunan fasos dan fasum (15C). kesejahteraan masyarakat relatif tetap (4B). Pembangunan terminal-terminal berbasis sektor unggulan daerah sebagai showroom yang dapat diakses secara mudah 6. meningkatnya pembangunan infrastruktur kawasan dan permukiman. 4.153 b. pengusaha/investor. peningkatan dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman tetap (17B). meningkatnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23C). 3. meningkatnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional (7C). 2.

Untuk mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini. Selain itu. Pengawasan dan penegakan hukum terkait kegiatan di wilayah perbatasan 2. penegakkan hukum dan peraturan meningkat (20C). aktivitas sosialekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga berkurang (5C). Setiap warga negara mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk ikut serta dalam pembangunan .2 Rekomendasi Kebijakan Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Arahan kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara diperlukan kaitannya dengan adanya hak dan kewajiban dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 bahwa setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan/atau menikmati dan/atau memiliki rumah yang layak dan terjangkau dalam lingkungan yang sehat. Pelatihan dan penyuluhan sumber daya masyarakat yang diprakarsai pemda bekerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan untuk kebutuhan pengembangan tenaga kerja industri sektor unggulan wilayah (pertambangan. Evaluasi dan pembuatan kebijakan terkait pengembangan wilayah perbatasan 3. serasi. Evaluasi penganggaran dana alokasi khusus (DAK) untuk pembangunan wilayah perbatasan jangka pendek. jangka menengah dan jangka panjang Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan kelembagaan yaitu. setiap warga negara mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk ikut serta dalam pembangunan permukiman. maka pada pengembangan kelembagaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. Dalam rangka mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini maka untuk pengembangan pembiayaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. aman.5. pelayanan publik tetap (16B). perkebunan. dan perikanan) 4.154 pembangunan tetap (24B). dan teratur. Kemudahan pembiayaan usaha oleh lembaga-lembaga keuangan 2.

kearifan lokal. Hal ini bertujuan agar hak setiap warga untuk mendapatkan rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat. Pemerintah memfasilitasi penyelenggaraan dan pembinaan dalam bidang permukiman secara terpadu dan berkelanjutan dilaksanakan oleh stakeholders terkait 2.155 permukiman. Dalam rangka mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. panduan. Berlangsung proses investasi dan pembiayaan pengembangan kawasan permukiman secara terpadu dan berkelanjutan berbasis potensi SDA wilayah kawasan permukiman layak huni secara terpadu dan Dalam pembangunan permukiman. Penguatan dan pembentukan lembaga kerjasama pembangunan di wilayah perbatasan negara 5. Mendorong terciptanya peraturan dan perundang-undangan di bidang permukiman perbatasan berbasis potensi SDA wilayah 4. yaitu: 1. Mendorong terciptanya pengembangan klaster-klaster kawasan permukiman sebagai pusat pertumbuhan baru (border city) di wilayah perbatasan negara 3. Terwujudnya koordinasi/kerja sama antar-stakeholders dalam setiap tahapan penyelenggaraan pengembangan permukiman berikut prasarana dan sarana secara terpadu dalam suatu kelembagaan 2. aman. dan teratur bisa terpenuhi dengan upaya dilakukan oleh masyarakat dibantu oleh stakeholders. serasi. peran serta masyarakat baik sebagai individu maupun komunitas wajib dilakukan. dan lingkungan 6. Menyusun norma. Keterpaduan pengembangan kawasan permukiman dapat terselenggara jika memenuhi 3 indikator. Terwujudnya berkelanjutan 3. standar. direkomendasikan upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan mendorong percepatan pertumbuhan wilayah melalui seperti hal-hal sebagai berikut: 1. Meningkatkan peran pemerintah daerah dalam pembangunan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan . manual (NSPM) bidang permukiman yang berbasis pemberdayaan masyarakat.

dalam pengembangan sektor unggulan kawasan Kabupaten sektor Nunukan dari hasil dan pembahasan perkebunan. 2. 3. Mendorong pelaksanaan penataan ruang kawasan permukiman berbasis potensi SDA wilayah prospektif dan partisipatif 10.156 7. Reklamasi dilakukan secara kontinyu untuk mengembalikan unsur hara tanah agar memudahkan dalam pemulihan fungsi kawasan melalui dimanfatkan untuk pengembangan fungsi lain seperti reboisasi atau perkebunan. permukiman. sarana. dalam pengembangannya diperlukan persyaratan-persyaratan yang dapat mendukung keberlanjutan suatu kegiatan baik dalam pemanfatan ruang dan lahan adalah sebagai berikut: Sektor Pertambangan: 1. Mengembangkan kredit mikro perumahan bagi pembangunan dan perbaikan rumah dalam rangka pemenuhan kebutuhan rumah yang layak dan terjangkau 12. Mendorong peran serta swasta/masyarakat dalam pembangunan dan perbaikan rumah dalam rangka pemenuhan kebutuhan perumahan yang layak huni dan terjangkau 11. dan utilitas (PSU) kawasan permukiman perbatasan Sedangkan. dan investasi pembangunan kawasan permukiman perbatasan 9. Toleransi ekploitasi kegiatan pertambangan tidak lebih dari 60% luas kawasan potensial pengembangan sektor pertambangan. Mendorong berkembangnya inovasi. Pengembangan teknologi ekploitasi dari penggalian ke sistem pengeboran menyamping sehingga dapat meminimalkan sisa lubang-lubang galian yang . teknologi. 4. Meningkatkan penyediaan prasarana. Meningkatkan kapasitas SDM dan pelaku pembangunan permukiman berbasis kawasan 8. dan sektor perikanan yaitu sektor pertambangan. Ekploitasi kegiatan pertambangan dengan menggunakan sistem 3 fit (3 lubang penambangan secara bersamaan). dan penghijauan.

dan laut yang terjaga agar keberlanjutan kawasan dapat terwujud. Pemanfaatan sumber daya laut dengan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan dan pengembangan kemampuan dalam pemanfaatan teknologi baru bidang perikanan 3. dan kegiatan pascapanen. Pengembangan ekonomi sektor pertambangan benefit) melalui harus berorientasi manajemen pada manfaat dengan (economic pengelolaan komposisi perbandingan sharing 70% untuk perusahaan (investor) dan 30% dialokasikan masyarakat. penanaman benih. inti-plasma. 5. pemeliharaan. Sektor Perikanan: 1. panen. Mengembangkan sektor perikanan secara optimal dengan mengupayakan pelestarian ekosistem lingkungan pesisir. Komoditas sektor perkebunan yang akan dikembangkan selain berdasarkan potensi sektor unggulan kawasan juga memperhatikan kecenderungan pasar regionalnya dan animo masyarakat agar prospek pengembangannya dapat berkelanjutan. 3. untuk biaya rehabilitasi lingkungan dan pemberdayaan Sektor Perkebunan: 1. Pengembangan sektor perikanan dengan memanfaatkan sumber daya laut sesuai dengan kemampuan daya dukung perairan (fishing ground) baik dari ketersediaan sumber daya (tidak over fishing) maupun kemampuan dalam menghindari penggunaan bahan pencemar 2. dan swasta. pantai. Pengembangan sektor perkebunan dilakukan dengan pendekatan pengembangan perkebunan inti rakyat (PIR).157 dapat merusak dan mendorong terjadinya degradasi lahan secara luas dalam waktu yang lama. Pemberdayaan masyarakat melalui penyuluhan dan pelatihan dalam hal peilihan benih. 2. perusahaan negara (PTPN). .