IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tinjauan Umum Kabupaten Nunukan

4.1.1 Administrasi dan Geografi Wilayah Kabupaten Nunukan terletak di daerah khatulistiwa sehingga

dipengaruhi iklim tropis basah dengan karakteristik yang khas, yakni curah hujan cukup tinggi dengan penyebaran merata sepanjang tahun. Di Wilayah Kabupaten Nunukan tidak terdapat pergantian musim yang jelas antara musim kemarau dan musim hujan. Berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan, Wilayah Kabupaten Nunukan termasuk dalam 2 (dua) wilayah utama, yaitu: − Wilayah hujan bagian barat dengan curah hujan maksimum yang umumnya terjadi pada Januari atau Mei. Curah hujan rata-rata lebih dari 266,5 mm. Hujan maksimum sekunder terjadi pada April-Juni, sedangkan hujan minimum terjadi pada Februari. Kecamatan yang termasuk dalam wilayah ini yaitu Kecamatan Krayan, Krayan Selatan, dan sebagian wilayah Kecamatan Lumbis, Sebuku, dan Sembakung. − Wilayah hujan bagian timur dengan curah hujan maksimum terjadi pada bulan April atau Mei. Hujan minimum umumnya terjadi pada bulan Juli-Agustus dengan curah hujan rata-rata 188,95 mm, tetapi curah hujan rata-rata tahunan lebih kecil dibandingkan curah hujan pada bagian kawasan pesisir, yaitu sebesar 199,5 mm. Kecamatan yang termasuk dalam wilayah ini adalah Kecamatan Nunukan, Sebatik, sebagian Kecamatan Sebuku, Lumbis, serta Sembakung.

Secara administratif wilayah Kabupaten Nunukan dibagi sembilan wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Nunukan, Kecamatan Nunukan Selatan, Kecamatan Sebatik, Kecamatan Sebatik Barat, Kecamatan Sebuku, Kecamatan Sembakung, Kecamatan Lumbis, Kecamatan Krayan, dan Kecamatan Krayan Selatan. Berdasarkan hasil penataan wilayah desa/kelurahan di Kabupaten Nunukan, telah terjadi pemekaran kecamatan. Sebelum pemekaran, Sebuku masuk ke dalam Kecamatan Nunukan dan saat ini sudah menjadi kecamatan sendiri. Selain itu, Kecamatan Krayan mengalami pemekaran menjadi Kecamatan Krayan dan Kecamatan Krayan Selatan.

49 Kabupaten Nunukan memiliki luas 14.263,68 km2. Pada tahun 2007 (Kabupaten Nunukan dalam Angka, 2008) Kabupaten Nunukan dihuni oleh 125.585 jiwa dengan kepadatan penduduk 8 jiwa per kilometer persegi. Kabupaten Nunukan sendiri terletak pada posisi 1150 33’ - 1180 3’ Bujur Timur serta 30 15’ 00’’ - 40 24’ 55’’ Lintang Utara. Persentase luas wilayah per kecamatan dapat dilihat pada Gambar 6.

Krayan Selatan 12,31% Krayan 12,88% Sebatik 0,73%

Sebatik Barat 1,00%

Lumbis 25,56%

Sebuku 21,91%

Nunukan 11,19%

Sembakung 14,41%

Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka, 2008

Gambar 6. Persentase luas wilayah per kecamatan Kabupaten Nunukan merupakan wilayah paling utara dari Provinsi Kalimantan Timur. Posisinya yang berada di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia

menjadikan Kabupaten Nunukan sebagai daerah yang strategis dalam peta lalu lintas antarnegara. Peta administrasi dapat dilihat pada Gambar 7. Wilayah Kabupaten Nunukan terdiri dari dataran tinggi dan pegunungan. Sebagian besar didominasi oleh satuan fisiografi dataran tinggi dan pegunungan dengan luas 679.457 ha atau 47,63% dari luas wilayah. Dataran tinggi dengan kelerengan yang bervariasi merupakan wilayah paling luas yaitu mencapai 488.962 ha atau 34,28% dari luas wilayah. Peta fisiografis Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 8.

50

Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan, 2008

Gambar 7. Administrasi Kabupaten Nunukan

Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan, 2008

Gambar 8. Peta fisiografis Kabupaten Nunukan

4. Kawasan di bagian utara dan selatan Kabupaten Nunukan lebih didominasi oleh kawasan dengan kelerengan rendah yaitu di bawah 15%.87% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. Sebatik.1.1. Jenis tanah yang luasnya paling kecil yaitu alluvial/gambut sebesar 50. .486 atau 28.02%. Wilayah yang terletak pada ketinggian lebih dari 1.100 m 50.000 m 19.51 4. dan Lumbis.98% 100 .3 Jenis Tanah Jenis tanah yang terdapat di Wilayah Kabupaten Nunukan hanya delapan jenis tanah dan yang paling luas adalah podsolik/regosol sebesar 410.1.02% 1. Krayan Selatan.808 ha atau 50.500 .79%. Persentase penyebaran dan luas ketinggian daerah di Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 9.500 mdpl hanya seluas 246 ha atau sebesar 0.1. 2008 Gambar 9.25% 500 .500 m 10. sedangkan di Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan tidak terdapat sama sekali.500 mdpl (meter di atas permukaan laut) ketinggian 0 sampai 100 mdpl meliputi areal seluas 716. Sebuku. Jenis tanah Kabupaten Nunukan yaitu tanah alluvial yang hampir seluruhnya terdapat di Kecamatan Nunukan.2.000 m 0.25% dari luas Wilayah Kabupaten Nunukan. sedangkan kawasan yang memiliki tingkat kelerengan di atas 15% banyak terdapat di kawasan barat dan tengah Kabupaten Nunukan.87% 0 .500 m 18. Tanah alluvial/gambut hanya terdapat di Kecamatan Lumbis dengan luasan 837 ha.896 ha atau sebesar 3.000 . 1. Persentase penyebaran dan luas ketinggian daerah Kabupaten Nunukan Kelerengan wilayah daratan Kabupaten Nunukan bervariasi.7% dari luas wilayah. Jenis tanah ini umumnya terdapat di Kecamatan Krayan. dan Sembakung.2 Ketinggian dan Kemiringan Wilayah daratan Kabupaten Nunukan terletak pada ketinggian antara 0 hingga 1.

Tekstur tanah di Kabupaten Nunukan sebagian besar mempunyai tekstur tanah sedang. Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Wilayah Kabupaten Nunukan yang memiliki kedalaman tanah >90 cm seluas 711. dan kasar. dan pasir yang terdapat pada suatu gumpalan tanah.303 ha dengan kelas tekstur tanah halus seluas 7. Penyebaran dan luas masing-masing kelas tekstur tanah wilayah daratan di Kabupaten Nunukan untuk Kecamatan Sebatik dengan luas wilayah 27. Ditinjau dari tekstur tanah. Peta jenis tanah Kabupaten Nunukan .25% dari total luas wilayah Kabupaten Nunukan.60 cm seluas 600.442 ha atau 37.52% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan. debu.52 Kabupaten Nunukan memiliki kedalaman efektif tanah yang bervariasi antara kurang dari 30 cm sampai lebih dari 90 cm.545 ha atau 12.68% dari total luas kecamatan.67% dan gambut 2. sedang.642 ha atau 9. tekstur sedang dengan luas 17. wilayah Kabupaten Nunukan mempunyai tekstur tanah halus.383 ha atau 63.097. Peta jenis tanah Kabupaten Nunukan dapat dilihat di Gambar 10.66% dari luas wilayah kecamatan.24% dari total luas wilayah Kabupaten Nunukan. Kedalaman efektif tanah merupakan kedalaman tanah yang menyebabkan akar tanaman masih bisa tumbuh dengan baik. Tekstur tanah adalah perbandingan partikel liat.278 ha atau 26.489 ha atau 67. 2008 Gambar 10. dengan luas 1. Wilayah Kabupaten Nunukan dengan kedalaman tanah antara 30 . Sebagian besar wilayah Kabupaten Nunukan memiliki kedalaman tanah 30 60 cm dan >90 cm.

di tepi pantai.4 Pola Penggunaan Lahan Persebaran penduduk di Kabupaten Nunukan tidak merata. pertanian. Kecenderungan lonjakan produksi pertanian ini besar kemungkinannya diperoleh melalui perluasan lahan pertanian dalam jumlah yang besar. Sebagian besar pemukiman penduduk di Kabupaten Nunukan yang berada di kawasan pesisir menempati daerah dataran rendah. muara-muara sungai kecil. Jumlah penduduk yang relatif besar cenderung mengelompok di daerah perkotaan. lahan konsesi untuk kegiatan pertambangan minyak dan gas bumi. dan perikanan terkonsentrasi pada pada Kecamatan Nunukan dan Sebatik. Kegiatan pertanian yang berkembang dapat dilihat dari peningkatan lonjakan kenaikan produksi padi dan palawija dari 20. Hasil pengamatan terhadap pola pemanfaatan lahan di Kecamatan Nunukan menunjukkan bahwa sebagian besar lahan dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian. serta lahan untuk fasilitas umum.084 ton pada tahun 1997 menjadi 44. telah terjadi perubahan fungsi lahan. dari hutan nonproduksi (hutan alam) menjadi lahan pertanian. dan bantaran sungai.436 ton pada tahun 2007 (BPS Kabupaten Nunukan 2008). perikanan. Mata pencaharian di sektor perdagangan. pertanian (meliputi penggunaan lahan untuk perkebunan dan persawahan). pelayanan jasa. terutama daerah yang mempunyai aktivitas ekonomi yang cukup tinggi yang ditandai dengan adanya sarana transportasi dan keadaan ekonomi masyarakatnya yang memadai.1.53 4. Peta pola penggunaan lahan berdasarkan RTRW disajikan pada Gambar 11. Di sektor pertanian dan perkebunan hampir merata di semua kecamatan. Jenis mata pencaharian penduduk di kawasan pesisir Kabupaten Nunukan bervariasi dengan kecenderungan pada aktivitas kehutanan. dan pelayanan jasa. . Perkembangan penggunaan tanah di wilayah Kabupaten Nunukan dari waktu ke waktu mengalami perubahan. Hal ini disebabkan oleh adanya aktivitas manusia. Hal ini menunjukkan bahwa dalam periode hampir sepuluh tahun. Jenis-jenis penggunaan lahan terdiri atas pemukiman. kehutanan. perikanan. perdagangan. sebagian besar penduduk mendiami wilayah pesisir.

Peta pola penggunaan lahan 4.7% dari luas wilayahnya.1 Kehutanan Hutan yang terdapat di Kabupaten Nunukan seluas 1.54 POLA PENGGUNAAN LAHAN Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Kabupaten Nunukan memiliki kawasan hutan lindung seluas 167. 2008 Gambar 11. sedangkan hutan sejenis berupa hutan reboisasi tanaman industri dari pemegang HPH. Hutan lindung jaraknya relatif jauh dari permukiman yang ada. Hutan produksi pada umumnya telah diusahakan/ditebang oleh pemegang HPH maupun bekas ladang penduduk yang telah ditinggalkan. dan hutan produksi (kawasan hutan dan kawasan budi daya nonkehutanan).4.1.428 ha atau 11. .426. Peta kesesuaian lahan untuk hutan lindung di Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 12. hutan lindung. Sebagian besar wilayah hutan merupakan kawasan budi daya nonkehutanan seluas 470.01% dari kawasan hutan seluruhnya.914 ha atau 33.368 ha yang terdiri dari hutan taman nasional.

55 Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. tegalan. Luas penggunaan untuk pertanian lahan kering 8.1. durian. tetapi sifatnya hanya sementara antara satu hingga tiga kali musim panen. Peta kesesuaian lahan untuk hutan lindung 4. ditanami dengan jenis tanaman semusim.4. Peta kesesuaian lahan pertanian di Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 13. . pisang. rambutan. dan padi gunung.58% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan. 2008 Gambar 12. Kebun campuran adalah penggunaan lahan kering yang sifatnya menetap atau kombinasi tanaman semusim dan tanaman keras.2 Pertanian Kelompok pertanian lahan kering meliputi kebun campuran. Tegalan adalah pertanian lahan kering dengan jenis tanaman semusim seperti tanaman ketela pohon. dan lain-lain. dan ladang.304 ha atau 0. nangka. Penggunaan lahan pertanian lainnya pada umumnya merupakan campuran tanaman kopi. Ladang seperti halnya tegalan.

Di samping itu. kakao. dan perkebunan besar baik oleh negara maupun swasta.24% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan. sedangkan akhir-akhir ini berkembang pola kemitraan dengan komoditas unggulan yaitu sawit. Rawa-rawa yang merupakan areal penggenangan permanen dan dasarnya yang dangkal ditumbuhi . Dalam rangka pengembangan sektor perkebunan di Kabupaten Nunukan. diterapkan pembinaan dengan menggunakan pola partial/swadaya.3 Perkebunan Perkebunan yang dimaksud yaitu perkebunan dengan jenis tanaman keras monokultur. Luas penggunaan lahan perkebunan yaitu 17. budi daya lainnya bersifat introduksi dan dikembangkan secara diversifikasi seperti vanili. dan jambu mete. kelapa sawit.4. Peta kesesuaian lahan untuk pertanian 4. maupun perkebunan swasta.1. kopi.4 Perikanan Kabupaten Nunukan selain mempunyai potensi perikanan tangkap. aren.56 Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. baik perkebunan rakyat.1. PIR/NES. juga perikanan budi daya seperti tambak/kolam berupa areal dengan penggenangan permanen yang telah mendapat campur tangan manusia baik itu berupa kolam air tawar maupun air laut atau yang telah dikenal dengan tambak. perkebunan besar. lada.4.731 ha atau 1. dan cengkeh. 4. pala. Budi daya tanaman perkebunan utama yang mendapat pembinaan secara khusus antara lain budi daya tanaman karet. 2008 Gambar 13. kelapa.

terdapat di Kecamatan Nunukan .1. Selain itu. terdiri dari: . .05%. .5 Pertambangan Pengembangan pertambangan di Kabupaten Nunukan hingga saat ini belum termanfaatkan secara optimal. Luas penggunaan lahan kolam/tambak/rawa seluas 16.Andesit. Minyak bumi terdapat di Kecamatan Krayan. Pulau Sebatik. dan Sungai Krayan. Bahan Galian Golongan C. Hulu Sungai Sembakung (Kecamatan Lumbis). dengan kandungan CaO kandungan CaO 55. Bahan Galian golongan vital (golongan B). . dan Kecamatan Sembakung. dan Sebatik. terdapat di Pasir Putih. belum terdapat studi terperinci tentang jumlah kandungan cadangan mineral yang ada. Pulau Nunukan. Selain di Simenggaris. Sembakung.T. padahal Kabupaten Nunukan memiliki beberapa potensi pertambangan yang dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan.14% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan. Krayan Selatan. yaitu: 1. Muara Bukat (Kecamatan Nunukan). Pulau Nunukan.2% dan MgO 0. batu bara juga terdapat di Kecamatan Krayan. terdapat di Kecamatahn Krayan.Bahan galian setengah permata (half precious probing material) di Sungai Bilal.Gips.Pasir kuarsa.Emas. terdiri dari: .Batu gunung. . Krayan Selatan. Minyak bumi yang terdapat di Muara Bukat dan Muara Sungai Sembakung telah dieksploitasi oleh Pertamina.295 ha atau 1. Walaupun demikian. terdapat di Hulu Sungai Sebuku (Kecamatan Nunukan). dan Muara Sungai Sembakung (Kecamatan Sembakung). .Gamping. dan Sembakung. terdapat di Sungai Nyamuk. terdapat juga di Kecamatan Krayan. 4. 2. Anugerah Jati Mulya. 3. Kandungan batu bara yang terdapat di Simenggaris sedang diuji kandungannya oleh perusahaan swasta P. terdapat di sekitar Sungai Sedadap. Bahan galian golongan strategis (golongan A). yaitu minyak bumi dan batu bara.4. Pulau Nunukan. tetapi jumlah cadangan yang ada diperkirakan tidak banyak.57 tumbuh-tumbuhan besar yang umumnya berupa rerumputan rawa dan semak belukar.

58 4. Kesesuaian lahan untuk permukiman dapat dilihat pada Gambar 14. Pengembangan kawasan permukiman tersebut mendorong terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah perbatasan negara yang berbasis potensi SDA wilayah. dan Krayan Selatan merupakan bagian dari wilayah perbatasan negara di Kabupaten Nunukan.6 Permukiman Penggunaan lahan permukiman meliputi perumahan.130 ha atau sekitar 0. taman. perkantoran. kuburan baik yang di perkotaan maupun pedesaan. 2008 Gambar 14. deliniasi kawasan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan menggunakan kriteria-kriteria sebagai berikut: − Kemiringan lereng relatif landai (0 .15%) − Tidak berada pada daerah banjir . Krayan Induk.05% dari luas wilayah Kabupaten. Luas penggunaan untuk permukiman ini adalah 7. di pengembangan Sebatik kawasan permukiman juga akan dikembangkan Pulau (dua kecamatan).4. Peta kesesuaian lahan untuk permukiman a. Sembakung. Kecamatan Lumbis. Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Selain dikembangkan di Pulau Nunukan sebagai kawasan perkotaan dengan pusat pemerintahan. tempat olahraga. demikian juga permukiman transmigrasi.1. Perumahan Perkotaan Berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan.

Pengembangan permukiman minimal harus menghindari lahan-lahan pertanian yang produktif. air sungai juga dimanfaatkan sebagai bahan baku air bersih harus melalui pengelolaan sehingga memenuhi kelayakan sebagai air bersih yang siap untuk dikonsumsi masyarakat. Pembangunan unit-unit permukiman diwajibkan untuk menyediakan lahan kuburan. Selain itu. Pemanfaatan air tanah sebagai sumber air bersih untuk kebutuhan penduduk perkotaan dan sistem aktivitas. persampahan. air kotor. jalan lingkungan. Pengembangan permukiman perkotaan harus didasarkan pada sistem prasarana dasar yang artinya pengembangan permukiman perkotaan harus didasarkan pada penataan bangunan dan lingkungan yang serasi dan seimbang. Pengembangan sarana dan prasarana ekonomi yang ada disesuaikan dengan potensi daerah belakangnya. dan perumahan. 5.59 − Tidak berada pada daerah resapan air − Tersedia air baku yang cukup − Bebas dari bahaya gangguan geologi lingkungan − Mempunyai tingkat aksesibilitas dan dapat dijangkau − Tidak berada pada daerah rawan gempa − Berada dekat pusat kota − Tidak berada dalam kawasan lindung Berdasarkan kriteria tersebut. areal potensial dikembangkan untuk kegiatan permukiman perkotaan terletak di Pulau Nunukan atau Kota Nunukan. diperlukan pengaturan ruang sebagai berikut: 1. tata ruang. serta kota-kota kecamatan lainnya. Sehubungan dengan potensi pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan. 2. meliputi sistem drainase. 4. air bersih. 6. di bagian Pulau Sebatik. minimum 5% dari luas areal pengembangan perkotaan.Harus mempertimbangkan badan sungai yang ada sebagai saluran penerima . Sistem prasarana drainase: . Dapat dibangun akomodasi perkotaan serta sarana sosial-ekonomi yang dapat memfungsikan kota tersebut sebagai pendorong pengembangan kawasan sekitarnya atau daerah hinterland-nya. 3.

.

000 mdpl. erosi.15%. Ketinggian <1. erosi. Kemiringan lereng relatif landai 0 . Kapasitas kemampuan pelayanan didasarkan pada perhitungan kebutuhan air bersih rata-rata 100 liter/orang/hari. Kedalaman efektif tanah > 30 cm. dan longsoran. Sistem air bersih: Pengambilan air baku diutamakan dari air permukaan (sungai) dengan melakukan pengelolaan sehingga layak untuk dijadikan air minum dan kebutuhan air bersih lainnya. 5. Tidak berada dalam kawasan berfungsi lindung. Untuk meningkatkan recharge air tanah. litosol. 7. Permukiman desa yang tidak sesuai dengan kriteria di atas tetap dipertahankan terutama di desa yang terdapat pada kawasan Taman Nasional Krayan Mentarang yang terletak di ketinggian di atas 1. .500 mdpl. Pada lereng atau tanah yang peka terhadap erosi harus ada rekayasa teknis sehingga kekeruhan drainase tidak semakin pekat . seperti patahan aktif. kecuali jenis tanah regosol. 6.000 mdpl. Perumahan Pedesaan Berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan. sesuai dengan standar hidup perkotaan. seperti daerah patahan aktif. rezina. dianjurkan untuk membuat sumur resapan terutama pada tanah yang stabil dan mempunyai daya serap tinggi. Kemiringan tanah <30%. 3. delineasi pengembangan kawasan permukiman pedesaan di Kabupaten Nunukan menggunakan kriteria-kriteria sebagai berikut: 1. dan longsoran tidak terdapat di Kabupaten Nunukan. 7. 4. 2. Adapun permukiman desa yang terletak di daerah bahaya geologi lingkungan. Bukan daerah kritis/bahaya lingkungan beraspek geologi. b. Mempunyai sistem dan atau potensi pengembangan pengairan dan drainase.Perhitungan drainase berdasarkan banjir 10 sampai 25 tahun.- Koefisien aliran permukaan (run off) tidak lebih dari 25%. dan organosol dengan kemiringan <15%. kecuali desa-desa yang sudah ada di atas ketinggian 1.

Dapat dibangun sarana sosial-ekonomi berdasarkan kebutuhan sesuai dengan karakteristik tiap desa. selain sarana prasarana sosial lainnya. Berdasarkan potensi pengembangan permukiman perdesaan di Kabupaten Nunukan. Bagi desa-desa yang terletak di daerah aliran sungai. digunakan akses sungai sebagai pintu keluar masuk desa.15% (Kabupaten Nunukan dalam Angka.96% dan Kecamatan Sebatik sebesar 16. seperti fasilitas pendidikan. 2008). 5. Permukiman pedesaan memiliki kepadatan maksimum lima rumah/hektar dan KDB maksimum 5%. Diperkenankan bangunan yang menunjang fungsi kawasan/kegiatan utama untuk kepentingan umum.5 Kondisi Penduduk di Kabupaten Nunukan Keadaan penduduk di Kabupaten Nunukan berdasarkan distribusi menurut kecamatan. kesehatan. baik budi daya pertanian maupun budi daya kehutanan.Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada desa-desa di daerah kritis. diusahakan untuk dimukimkan kembali ke dalam kawasan yang sesuai untuk permukiman. Namun. melalui pengembangan kawasan budi daya. 6. Permukiman penduduk lokal/desa-desa yang berada pada kawasan lindung tetap dipertahankan. 4. Perlu disesuaikan secara dini agar permukiman perdesaan yang berbasis sentra pertanian tidak berubah menjadi permukiman perkotaan agar pertanian produktif tetap dapat dipertahankan serta konservasi tanah dan air tanah dapat dilakukan dengan baik. 3. Pada desa-desa yang berada di daerah aliran sungai perlu dikembangkan pelabuhan sungai yang berskala lingkungan. 4. 2. Secara keseluruhan distribusi berdasarkan kecamatan terlihat pada Gambar 15. tetapi desa-desa berada dalam kawasan lindung. . Pengembangan jalan lainnya dapat diintegrasikan dengan pengembangan lahan usaha masyarakat.1. jumlah terbesar di Kecamatan Nunukan sebesar 42. Pengembangan jalan sesuai dengan kebutuhan dan juga disesuaikan dengan karakteristik masing-masing desa. dan tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat) atau usaha tani. peribadatan. perlu dilakukan pengaturan ruang sebagai berikut: 1. dan sarana budaya.

56 8.055.124.593 KK dan jumlah penduduk sebanyak 11.756.46 3.837.438 2.028 125.645. Tabel 5. Kepadatan Kecamatan Sebatik Barat yaitu 77.24 77.78% Krayan 6.77% Sebatik 16.585 Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km²) 4.Sebatik Barat 8.263.68 Jumlah Penduduk (Jiwa) 8.57 4.951 11.283 11.42 142.596.731 20. Distribusi penduduk Kabupaten Nunukan menurut kecamatan 2007 Berdasarkan kepadatan penduduk dari delapan kecamatan yang ada terlihat bahwa Kecamatan Sebatik memiliki kepadatan penduduk tertinggi.90 104.50 2.271 9.283 jiwa dan luas wilayah 104.380 8.79 3. Di kecamatan lainnya.29 2.47% Sembakung 6. 2008 Gambar 15. 2008 Rata-rata jiwa per rumah tangga terbanyak terjadi di Kecamatan Sebuku dengan jumlah rata-rata sebanyak 4.42 km2.80 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.15% Sebuku 9. .29 .6 jiwa/km2.19 14. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5.33.59 1. Luas wilayah.2 jiwa/km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 20. jumlah penduduk dan kepadatan penduduk tahun 2007 Kecamatan Krayan Krayan Selatan Lumbis Sembakung Nunukan Sebuku Sebatik Sebatik Barat Jumlah Luas Wilayah (km²) 1.503 53.79 jiwa/km2.72% Krayan Selatan 1.90 1.731 jiwa.52 jiwa/keluarga dengan jumlah rumah tangga sebanyak 2.96% Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.14 33. yaitu 194.81% Lumbis 7. kepadatan penduduk yang ada hanya berkisar antara 1.77 3.34% Nunukan 42.75 194.54 1.

Prasarana jalan menjadi faktor utama dalam mendukung lancarnya mobilisasi kegiatan pembangunan di daerah. Pancang Sungai Nyamuk . sosial.41 Jumlah 125. subsektor perhubungan laut.438 1.44 2002 97.81 Nunukan 53.210 32.50 km.245 3.230 3.50 2004 109.028 3. Lancang – Mamolo . Jumlah penduduk. Fatimah – Sungai.895 3.653 3.685 5.860 5.1 Jalan dan Angkutan Sungai Prasarana dan sarana perhubungan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menunjang kegiatan pembangunan.6. dengan jarak ± 51. Jepun – Tanjung.17 Lumbis 9.Tabel 6. Prasarana perhubungan meliputi subsektor perhubungan darat.Bambangan. Bilal .398 18. Peranan perhubungan sangat vital dalam menunjang kegiatan pembangunan terutama darat. Pembangunan Jalan Lingkar Pulau Sebatik antara lain sebagai berikut Bambangan – Setabu – Sungai.366 3.68 Sebuku 11.16 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.283 5.alun-alun – Sedadap – Sungai.271 545 4. kota kecamatan.Binusan.Aji Kuning .235 3.52 Sebatik 20. dan pedalaman/kawasan pedesaan akan mempercepat jalanya roda pembangunan.380 2. 2008 4. baik dalam bidang ekonomi.707 30. subsektor perhubungan air.92 2005 115.503 2. .93 Sebatik Barat 11.60 km.731 2. Aru – Sungai.323 19.40 Krayan Selatan 2. kabupaten.6 Kondisi Prasarana dan Sarana 4.84 2006 118. Kelancaran perhubungan antarkecamatan. Taiwan – Tanjung.1.527 19.163 3.56 2003 106. rumah tangga dan rata-rata jiwa per rumah tangga tahun 2007 Rata-Rata Jiwa/ Penduduk Rumah Tangga Kecamatan (jiwa) (kk) Keluarga Krayan 8. dengan jarak ± 58. Harapan – Sungai. Program pembangunan jalan Kabupaten Nunukan untuk pertumbuhan ekonomi yaitu: Pembangunan Jalan Lingkar Pulau Nunukan antara lain sebagai berikut: Binusan – Sungai.593 4.546 5.917 4. dan keamanan. dan subsektor perhubungan udara.951 14.1.585 32.96 Sembakung 8.702 3.

Kabupaten Malinau . - Pembangunan jalan lintas negara yang menghubungkan Kabupaten Malinau dan Nunukan ke batas negara sejauh ± 180.Kecamatan Malinau Utara (Salap).79 km. masih diusulkan penetapannya ke tingkat provinsi/pusat. dan jalan kabupaten.Kecamatan Sebuku (Pembeliangan) . yang menghubungkan kecamatankecamatan di Kabupaten Nunukan melalui: . Belawit – Lembudud – Long. Pada jalan negara dan jalan provinsi.Long Padi – Binuang . Jaringan jalan kabupaten relatif masih terbatas dibandingkan dengan luas wilayah administrasi Kabupaten Nunukan. .Kecamatan Sembakung (Atap).Kecamatan Krayan (Long Bawan). dengan jarak ± 87. Meskipun demikian. Layu .43 km. Pasir . - Pembangunan jalan lintas kabupaten yang menghubungkan Kabupaten Nunukan dan Malinau yaitu Kecamatan Sebuku (Pembeliangan) .Kecamatan Lumbis (Mansalong) . dengan jarak ± 65. jalan provinsi. . dengan jarak ± 22.Tang Laan – Tanjung. jaringan jalan darat dibagi menjadi jalan aspal. dengan jarak ± 125 km.63 km. sehingga memudahkan penduduk untuk berinteraksi dan beraktivitas walaupun sebagian besar jalan tersebut belum beraspal.Kecamatan Lumbis (Mansalong) .Kecamatan Sebuku (Pembeliangan) . Jaringan jalan yang ada di Kabupaten Nunukan terbagi atas jalan negara.- Pembangunan Jalan Lingkar Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan melalui Long Bawan – Kuala.Kecamatan Lumbis (Mansalong).Ba Liku – Bungayan .Wa Yagung Long Bawan. Berdasarkan jenis permukaannya. - Pembangunan jalan lintas kecamatan. dengan jarak ± 235 km.60 km. dan jalan tanah. Hubungan antaribukota kecamatan di dalam kabupaten sebagian besar masih menggunakan jalur angkutan laut dan sungai. Jaringan jalan ke lokasi rencana PPN untuk daerah Sungai Mensapa dapat langsung dijangkau oleh kendaraan roda empat dengan baik karena keberadaan . semua ibukota kecamatan maupun desa-desa yang ada dapat dijangkau dengan jalan darat. jalan berbatu/diperkeras.

90 km. batu. 3. .5%) jaringan jalan yang ada masih merupakan jalan berpermukaan campuran (agregat antara jalan aspal. Melanjutkan pembangunan ruas jalan baru dengan melengkapi kebutuhan rambu-rambu lalu lintas untuk keamanan dan ketertiban pemakai jalan. Membuka isolasi daerah melalui pembangunan dan peningkatan jalan desa. dan Kampung Buton sudah tersedia jalan agregat yang dapat dilalui oleh mobil sampai ke rencana lokasi. Kondisi jaringan jalan di Nunukan dapat dilihat berdasarkan jenis permukaan jalan maupun kelas jalan. 2. Sedadap.lokasi yang berdekatan dengan jalan lingkar Pulau Nunukan. dan tanah). Meningkatkan kelas jalan. mencapai 816. Aspal 16% Tanah 49% Kerikil 35% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. Jaringan jalan menuju Sungai Jepun. Persentase panjang jalan disajikan pada Gambar 16. Persentase panjang jalan menurut jenis permukaan 2007 (km) Jumlah panjang jalan di wilayah Kabupaten Nunukan. Pemeliharaan secara periodik dan rutin serta peningkatan jalan menuju ibukota kecamatan dengan konstruksi hotmix. Pemerintah Kabupaten Nunukan merencanakan pengembangan prasarana jalan yang meliputi: 1. Peta kesesuaian lahan untuk keterlintasan jalan dapat dilihat pada Gambar 17. 2008 Gambar 16. termasuk wilayah perkotaannya. Sebagian besar (53. 4.

Berdasarkan data Kantor Badan Statistik Kabupaten Nunukan tahun 2002. . Tersedia jadwal rute angkutan sungai. dan udara yang melintasi Kabupaten Nunukan. 4. Sistem angkutan sungai ini berkembang di sepanjang Sungai Sebuku (Sungai Tulid dan Sungai Tikung). Selain itu. 2.Surabaya PP Angkutan sungai di Kabupaten Nunukan memegang peranan penting.66 Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. alat angkutan utama yang digunakan adalah kapal laut dan udara. laut. Peta kesesuaian lahan untuk keterlintasan jalan Pelayanan mobilisasi penduduk dan barang antarpulau. 3. sepanjang Sungai Sembakung yang menghubungkan daerah yang tersebar di sepanjang sungai mulai dari hulu ke hilir dan sepanjang sungai di Lumbis serta Krayan Selatan yang ada di wilayah pedalaman Kabupaten Nunukan. tidak hanya sebatas pada daerah pedalaman.Tawau (setiap hari) Angkutan udara Tarakan . 2008 Gambar 17. dan enam bandar udara air strip. tercatat satu pelabuhan laut. Angkutan Sungai Tarakan .Nunukan Terjadwal (setiap hari) Angkutan Sungai Antarnegara Nunukan . dua bandar udara perintis.Nunukan Angkutan Kapal Laut Nunukan Toli – Makassar – Balikpapan . tetapi juga sangat berperan pada daerah yang sudah berkembang di sekitar pantai. yakni sebagai berikut : 1. untuk keperluan lokal (dalam kota) digunakan angkutan darat.

di lain pihak adanya kegiatan angkutan sungai yang dilengkapi dengan prasarana dermaga dapat mempengaruhi ekosistem yang ada di dalamnya. dan 289 unit sambungan nonrumah tangga.3 Air Bersih a. Bahan-bahan ini dapat menambah ambang total petroleum hidrokarbon di dalam air. Kapasitas air bersih yang ada belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena permasalahan distribusi dan kualitas air yang belum sesuai dengan kebutuhan. Selain itu. kapasitas yang tersedia belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. 4. 4. Dalam hal ini. Kecamatan Nunukan telah memiliki PDAM. Sumber daya air tersebut terdiri dari air permukaan dan air tanah dalam.6. dan masih tingginya tingkat kebocoran air.1. peranan angkutan sungai demikian pentingnya untuk kelancaran arus barang.348 unit. Jumlah sambungan aktif mencapai 1. .1.049 unit sambungan rumah (SR). Hal ini disebabkan masih terbatasnya prasarana dermaga perairan darat. 14 unit hidran. dan oli.Sesuai dengan sifat-sifat sungai. terdiri 1. maupun penumpang ke dan dari pedalaman. sedangkan kecamatan lain masih memanfaatkan sumber air lainnya. Perkembangan penduduk menyebabkan peningkatan kebutuhan air bersih. Namun. adanya jaringan distribusi yang belum menjangkau ke seluruh wilayah. Kondisi yang sama juga terlihat pada perpaduan dengan angkutan lainnya untuk dapat menjangkau wilayah pedalaman dan perbatasan dengan penerbangan perintis. bahkan antarkota yang ada di Provinsi Kalimantan Timur dengan jenis pesawat baling-baling kecil dan sedang.6. ekosistem perairan dapat tercemar oleh bahan organik yang berasal dari pengguna angkutan dan bahan organik seperti bahan bakar.2 Angkutan Udara Bandar udara Kabupaten Nunukan merupakan bandar perintis yang melayani daerah di Kabupaten Nunukan. Sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan di Kabupaten Nunukan ini sebelumnya sangat potensial. Permasalahan yang ada dalam penyediaan air bersih di Kabupaten Nunukan ini yaitu sebagian besar daerah belum memilik sambungan air PDAM sebagai badan yang dapat mengolah dan menyediakan air bersih. Ketersediaan Prasarana dan Sarana Air Bersih Sumber air baku bagi kebutuhan air bersih diambil dari Sungai Bolong dan Sungai Bilal. seperti mata air dan air permukaan sebagai sumber air bersih.

500 1.500 2.000 1. Jumlah pelanggan PDAM Nunukan pada tahun 2007 (Kabupaten Nunukan dalam Angka.496 1. tingkat pelayanan air bersih penduduk Kabupaten Nunukan sebesar 18%. Penyediaan air yang bersih dan layak digunakan untuk keperluan sehari-hari dapat dipenuhi dengan tersedianya Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). Selengkapnya data perkembangan pelanggan dari tahun ke tahun dapat dilihat pada Gambar 18.573 1.912 pelanggan atau dengan kata lain mengalami peningkatan masing sebesar 9. PDAM yang beroperasi di Kabupaten Nunukan berada di Kecamatan Nunukan dan Sebatik.000 500 0 2002 2003 2004 2005 2006 2007 1. b. 2.63% dibanding tahun sebelumnya. 2008 Gambar 18. 2008) mencapai 1.912 1. Tingkat Pelayanan Air Bersih Perkotaan Berdasarkan sistem sambungan perpipaan. maupun air hujan.68 Pembangunan dan pemanfaatan embung-embung yang berasal dari sungai-sungai dapat sangat bermanfaat dalam mengatasi keterbatasan air baku untuk air minum pada musim kering.496 1. Banyaknya pelanggan pada PDAM Nunukan 2002—2007 . sebanyak 82% penduduk di wilayah Kota Nunukan masih menggunakan sumber air baku yang berasal dari tanah.744 Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.510 1. air permukaan. Sisanya.

000 800.484 pelanggan.000 700.000 200.000 500.912 orang dengan jumlah pelanggan terbanyak dari rumah tangga (tempat tinggal). Rumah Ibadah dsb Social. Government Hotel/Objek Wisata. Industri. Perusahaan Hotel. Data selengkapnya mengenai perkembangan banyaknya air minum yang disalurkan terlihat pada Gambar 19. 2008 Nunukan 1. Factory Badan Sosial. Market. Industry. terdapat 1. Banyaknya pelanggan air minum menurut jenis pelanggan 2007 Jenis Pelanggan Rumah Tangga (Tempat Tinggal). instansi/kantor pemerintah.41%.418 756. Tabel 7.000 900. 1. terdapat 1.179 470. Hospital Sarana (Fasilitas) Umum Public Facilities Hydran Pelabuhan Hydran Port Lainnya/Industri Others Jumlah Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.832 385. Toko.632 2007 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. Banyaknya air minum yang disalurkan 2002-2007 (m3) . Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 7.000 600.484 390 12 26 1. Rumah Sakit.000 300. Di Kecamatan Nunukan. Instansi/Kantor Pemerintah Household.000 0 2002 2003 2004 2005 2006 468.000.339 514.006 887.912 Sebatik 219 90 4 2 1 316 Lumbis 229 63 1 3 296 Seiring dengan peningkatan jumlah pelanggan. 2008 Gambar 19.Berdasarkan data tahun 2007. banyaknya air minum yang disalurkan oleh PDAM Nunukan juga mengalami peningkatan sebesar 17.000 100.

2008 Gambar 20.562 2007 34.4 Listrik dan Telekomunikasi Prasarana listrik dan telekomunikasi merupakan fasilitas dasar yang sangat dibutuhkan untuk mendorong perkembangan kabupaten.000 0 2004 Diproduksi Terjual 25. . dan 870 MWH. 1.556 23.70 4. wilayah Kabupaten Nunukan memiliki sektor ekonomi andalan berupa pertambangan. Pelayanan listrik di Kabupaten Nunukan menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang dikelola oleh PLN wilayah VI. Adapun untuk kepentingan publik.145 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.921.550 MWH.1. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 sebesar 1. kemudian kegiatan usaha sebesar 9.7 Kondisi Ekonomi Daerah Secara umum. di mana sebagian besar digunakan oleh rumah tangga sebesar 18. 40.6. dan sosial masing-masing sebesar 4.80%. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tambah dari sektor pertambangan dan penggalian yang memberikan bagian terbesar terhadap nilai PDRB.248 MWH.103 2005 29. Peningkatan ini diiringi dengan meningkatnya tenaga listrik yang terpasang sebesar 16 MWH atau terjadi peningkatan sebesar 33.553 26.38% dengan migas dan 17. Otomatis tenaga listrik yang terjual juga mengalami peningkatan sebesar 26.1. Banyaknya tenaga listrik yang diproduksi Tahun 2004-2007 (MWH) 4. Data perkembangan banyaknya tenaga listrik yang diproduksi dapat dilihat pada Gambar 20.33% dari tahun sebelumnya. Produksi tenaga listrik Kabupaten Nunukan mengalami peningkatan sebesar 28.557 24.37% tanpa migas.235 MWH.129 2006 26.000 20.29% pada tahun 2007.000 30.000 10.070 31. Tenaga listrik yang terjual sebesar 35.672. industri.

08 2. baik regional (dalam wilayah kabupaten). Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB 2003 37. Gas dan Air Minum Bangunan Perdagangan.84 51.82 100 2004 33. maupun perdagangan lintas batas dengan wilayah Negara Bagian Sabah di Malaysia Timur.34 0. 2008 .49 4. nilai distribusi PDRB atas dasar harga berlaku yang masih didominasi oleh sektor pertambangan penggalian dan pertanian masing-masing sebesar 51.26 100 2007*) 24.65 6. Struktur perekonomian Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 terlihat masih bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam. Hotel dan Restoran Angkutan dan Komunikasi Keuangan.84%.03 62.37 2.68 0.49 4. terdapat pula perdagangan barang-barang yang berasal dari wilayah Sabah.14 5.Perkembangan ekonomi di Kabupaten Nunukan banyak dipengaruhi oleh sektor perdagangan.60 6.03 0.06 0.44% dan 24.13 4. Struktur perekonomian menurut lapangan usaha tahun 2003 – 2007 (%) Sektor/Sub Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik.33 11.08 38.30 0. Selain itu.27 43.03 0.03 0.24 0. Malaysia. Perlu dicermati bahwa ada usaha-usaha perdagangan ilegal yang berlangsung secara lintas batas antara negara Malaysia dan Indonesia di sekitar wilayah perkotaan Kecamatan Nunukan.04 0.17 4.16 4.78 0.41 100 2005 21.28 9.01 0. Hal ini menunjukkan perlu adanya dorongan dalam proses transformasi ekonomi Kabupaten Nunukan dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier.19 10.01 57.40 0.18 100 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.77 9.27 1.44 0.95 7.04 0.85 0. Hal ini tercermin pada tabel 8.11 3.84 2.28 2. Tabel 8. baik yang dapat diperbaharui maupun tidak dapat diperbaharui.06 100 2006 21.46 3.

Pengembangan prasarana transportasi diarahkan untuk menghubungkan antara sentra produksi. Oleh karena itu. dan meningkatkan daya dukung lingkungan buatan guna mendukung proses pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat. menjaga keseimbangan ekosistem. 2. peningkatan dan pembangunan prasarana wilayah didasarkan pada rencana struktur tata ruang serta rencana pemanfaatan ruang wilayah. pusat pengumpul. Meningkatkan keseimbangan dan keserasian perkembangan ruang secara serasi. .1. dan berkelanjutan. dan distribusi serta pasar. 3. Mengembangkan prasarana wilayah yang mampu mendukung terwujudnya sistem kota-kota (sistem pusat-pusat permukiman) di Kabupaten Nunukan.72 4. 1. 3. 3. meningkatkan daya dukung lingkungan. 2. seimbang. Pengembangan prasarana wilayah diarahkan untuk mendukung terwujudnya prasarana wilayah yang diarahkan untuk mendukung terwujudnya struktur tata ruang dan pemanfaatan ruang yang sesuai dengan yang telah direncanakan. Pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.8 Kebijakan Pembangunan Kabupaten Nunukan Kebijakan struktur tata ruang dalam RTRW Kabupaten Nunukan adalah sebagai berikut: 1. Mengembangkan kawasan-kawasan potensial di Kabupaten Nunukan dan mendukung terwujudnya struktur tata ruang yang diinginkan. 2. Pengembangan prasarana pengairan diarahkan untuk mendukung pengembangan pertanian lahan basah (sawah) dan tambak. selaras. Meningkatkan kualitas lingkungan hidup serta mencegah timbulnya kerusakan fungsi dan tatanan lingkungan hidup. Kebijakan pemanfaatan ruang Kabupaten Nunukan yang bertujuan mewujudkan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Mengembangkan sistem kota atau sistem pusat-pusat permukiman yang sesuai dengan daya dukung dan daya tampung serta fungsi kegiatan dominan. Pengembangan pasokan energi listrik diarahkan untuk memenuhi kebutuhan di sentra produksi dan permukiman. Secara lebih rinci kebijakaan pengembangan prasarana yaitu sebagai berikut: 1.

Rencana pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan diarahkan pada pengembangan permukiman perkotaan yang dapat memenuhi kebutuhan lingkungan hunian yang serasi dan selaras. pergudangan. Tau Lumbis. terminal agribisnis. dalam RTRW. disebutkan rencana pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan. Long Bawan. − Ketersediaan fasilitas sosial dan sarana ekonomi yang lengkap. Kecamatan Nunukan dan Sebatik merupakan pusat pertumbuhan hierarki I di Kabupaten Nunukan. − Adanya pemusatan lokasi kegiatan sosial ekonomi yang mencirikan kegiatan perkotaan. 5. Sesuai dengan fungsi pertumbuhan. Ciri-ciri pusat pertumbuhan ini ditandai oleh antara lain sebagai berikut: − Pola penggunaan lahan yang didominasi oleh kegiatan nonpertanian. industri. Pembeliangan. antara lain adanya kegiatan campuran (permukiman dan kegiatan lainnya).4. Pengembangan permukiman perkotaan dilakukan melalui peningkatan fungsi pusat-pusat ekonomi perkotaan dan pusat-pusat permukiman desa yaitu di Kecamatan Nunukan. Malaysia sehingga sangat strategis untuk pengembangan perdagangan antarnegara. − Mudah diakses dari segala penjuru wilayah di Kabupaten Nunukan. Pengembangan prasarana penyediaan air bersih diarahkan pada pusat permukiman dan daerah yang rawan air bersih. Long Bawan. dan Atap. dan Tau Lumbis. Selanjutnya. Hal ini berdasarkan kegiatan sosial-ekonomi yang berada dan berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sabah. Mansalong. pemukiman. Pengembangan prasarana industri perkebunan dan perikanan skala besar. Mansalong. lokasi pangkalan niaga. Pembeliangan. Rencana pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan akan diarahkan pada permukiman perkotaan Nunukan. Kecamatan Nunukan sebagai Ibukota Kabupaten merupakan pusat kegiatan ekonomi skala regional dan skala internasional. Tanjung Karang. Tanjung Karang. Atap. . dan faslitas sosial-ekonomi yang berorientasi pelayanan antarpulau dan antarnegara.

Pembangunan kehutanan mencakup aspek pelestarian fungsi lingkungan hidup. hutan tanam industri.9 Potensi Sumber Daya Alam dan Wilayah 4. 2008 Gambar 21. Selain itu.1 Kehutanan Pembangunan kehutanan mencakup semua upaya untuk memanfaatkan dan memantapkan fungsi sumber daya alam hutan dan sumber daya hayati. Luas kawasan hutan disajikan pada Gambar 21. dapat pula memantapkan fungsi ekosistem sebagai pelindung sistem penyangga kehidupan dan pelestari keanekaragaman hayati maupun sebagai sumber daya pembangunan.23% Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.37 m3 menjadi 35. Tam an Nas ional 25.02% Kaw as an Budidaya Non Ke hutanan 33.914 ha atau 33.74 4.1. usaha perlindungan dan pengamanan flora dan fauna. kawasan hutan.58 m3. dan kesejahteraan sosial.74% Kaw as an Hutan 30.034. areal tanah kritis. baik dalam kawasan hutan maupun masyarakat di sekitar hutan.73% dibanding tahun sebelumnya yaitu dari 123. pembangunan ekonomi.9.1. Produksi kayu bulat tahun 2007 mengalami penurunan sebesar 71. Sebagian besar wilayah hutan adalah kawasan budi daya nonkehutanan.368 ha yang terdiri dari taman nasional. Luas kawasan hutan di Kabupaten Nunukan seluas 1. serta penyerapan tenaga kerja bagi masyarakat. yakni seluas 470.911.01% Hutan Lindung 11. Pengelolaan hutan sebagai sumber daya alam perlu ditingkatkan dan disempurnakan agar memberikan manfaat besar bagi kesejahteraan rakyat. kegiatan kehutanan perlu memperhatikan tata guna hutan. dan kawasan budi daya nonkehutanan. Luas kawasan hutan menurut tata hutan kesepakatan 2007 (Ha) .426.01% dari kawasan hutan seluruhnya. hutan lindung. Selain itu.

Pada tahun 2007 luas panen padi (sawah dan ladang) di Kabupaten Nunukan mengalami peningkatan. Persentase produksi padi menurut kecamatan 2007 . perikanan dan peternakan terus diupayakan untuk menunjang pertumbuhan dan stabilitas ekonomi. 2008 Gambar 22. Peningkatan luas tanam yang pesat dibandingkan tahun sebelumnya dan diiringi dengan peningkatan hasil produksi dari masing-masing tanaman.127 ton atau dengan kata lain terjadi peningkatan produktivitas padi sebesar 9.65%. yaitu menjadi 48. Pertanian yang meliputi pertanian tanaman pangan.28%.1.75 4. yaitu 38.83% dari total produksi.2 Pertanian Pertanian merupakan sektor primer yang mendominasi aktivitas perekonomian di Kabupaten Nunukan. kehutanan.. Produksi tanaman padi juga mengalami kenaikan.9.11% dari total luas panen serta 40. Pengembangan di bidang pertanian perlu ditingkatkan agar memberikan hasil yang lebih baik dari segi kuantitas dan kualitas. yakni sebesar 4. Kecamatan Krayan adalah daerah yang mempunyai luas panen dan jumlah produksi padi ladang yang lebih besar dibandingkan kecamatan yang lain. Sebuku 4% Sebatik 21% Krayan 41% Nunukan 11% Sembakung 3% Lumbis 6% Krayan Selatan 14% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. Tanaman bawang daun merupakan komoditas tanaman sayur-sayuran yang mengalami penurunan hasil produksi. perkebunan. Persentase produksi padi disajikan pada Gambar 22.

9. Sebatik Barat.4% dibandingkan dengan tahun 2006.9.71 kelapa 2006 Tahun Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.585. Berdasarkan data tersebut. Pada tahun 2007.4 Perikanan Produksi perikanan pada tahun 2007 tercatat 4. Sembakung dan Nunukan.273 rumah tangga atau naik sebesar 30. 2008 2007 Gambar 23.36 ton produksi perikanan penangkapan dan 362. yang terdiri atas 4.26%.3 Perkebunan Luas areal komoditas kelapa sawit pada tahun 2007 mengalami peningkatan sebesar 25.1. Persentase produksi komoditas kakao dan kelapa disajikan pada Gambar 23 20000 Hasil 15000 10000 5000 0 17702 18903.32 7686.76 4. dapat disimpulkan bahwa meningkatnya peningkatan produksi produktivitas ikan di lokasi penelitian perairan.903.57 ton. Persentase produksi perikanan disajikan pada Gambar 24.1. Sebagian besar luas areal kelapa sawit terdapat di Kecamatan Sebatik. bukan disebabkan peningkatan oleh jumlah tetapi disebabkan penangkap ikan sebesar 30. jumlah rumah tangga perikanan penangkapan tercatat 2.26 persen dibandingkan tahun 2006 (Gambar 25). Dilihat dari rata-rata produksi yang dihasilkan oleh setiap komoditas perkebunan.947.21 ton perikanan budi daya.1 kakao 7458.8% dibandingkan tahun 2006.10 ton atau meningkat 6. produksi terbesar dihasilkan oleh tanaman kakao sebesar 18. Sebuku. Produksi komoditas kakao dan kelapa 2006-2007 (ton) 4. .31%. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Lumbis. produksi perikanan tahun 2006 naik 9.

2008 2007 Gambar 25. Produksi pertambangan batu bara dan minyak bumi 2006—2007 dapat dilihat pada Gambar 25.17% Se buk u 0.94% Se m bak ung 19.09% Lum bis 0.1.937.59% dibandingkan tahun sebelumnya. pada tahun 2007 sebesar 1. Dinas pertambangan mencatat produksi minyak bumi dari P.9.846.16% Se batik 37.37% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. yakni pada tahun 2006 jumlah produksi sebanyak 1.77 Krayan 1.87% Krayan Se latan 0.165.304 BBL atau menurun sebesar 22. Persentase produksi perikanan menurut kecamatan 2007 4. Produksi pertambangan batubara dan minyak bumi 2006-2007 .37% Nunuk an 25. Produksi minyak bumi di Kabupaten Nunukan selama tahun terakhir ini mengalami penurunan jumlah produksi.5 Pertambangan Hasil tambang batu bara mengalami peningkatan yang sangat pesat. Kemudian pada tahun 2007 menjadi 1. 2000000 Ton/BBL 1500000 1000000 500000 0 1670048 1165287 1846937 1362304 Batubara Minyak bumi 2006 Tahun Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.362.287 ton.T. Perkasa Equatorial Sembakung Ltd.03% Se batik Barat 15. 2008 Gambar 24.129 ton.

Demikian juga permukiman lain. dikembangkan juga di Kecamatan Lumbis.6 Permukiman A. Potensi Pengembangan Lahan Permukiman Potensi pengembangan kawasan permukiman meliputi perumahan.Sumber : Survei Lapangan. lahan untuk permukiman adalah 7.1. Pengembangan kawasan permukiman selain dikembangkan di Pulau Nunukan sebagai kawasan perkotaan dengan pusat pemerintahan juga akan dikembangkan di Pulau Sebatik (dua kecamatan). seperti patahan aktif. Hasil analisis menunjukkan tidak ada desa yang berada di daerah kritis. Permukiman desa yang tidak sesuai dengan kriteria di atas tetap dipertahankan terutama di desa-desa yang terdapat pada kawasan Taman Nasional Krayan Mentarang yang terletak di ketinggian diatas 1. Kawasan tambang batubara dan minyak bumi 4. tetapi ada desa yang berada dalam kawasan lindung. Sembukung. dan perdesaan. 2008 Gambar 26. perkotaan.000 mdpl. Berdasarkan arahan RTRW kabupaten.130 ha atau sekitar 0.9. seperti permukiman transmigrasi baik lokal maupun antarwilayah di Indonesia cukup luas. . dan Krayan yang merupakan bagian wilayah perbatasan negara di Kabupaten Nunukan. erosi. dan longsoran tidak terdapat di Kabupaten Nunukan. Rencana andalan pengembangan tersebut dimaksudkan untuk mendorong tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan baru di perbatasan negara yang berbasis potensi SDA wilayah yang prospektif dan potensial mendukung keberlanjutan kawasan permukiman. Selain itu.05% dari luas wilayah kabupaten. Adapun permukiman desa yang terletak pada daerah bahaya geologi lingkungan.

. perlu adanya pengaturan ruang seperti permukiman penduduk lokal/desa-desa yang berada pada kawasan lindung. Bagi desa-desa yang terletak pada daerah aliran sungai dan menggunakan akses sungai sebagai pintu keluar masuk desa dapat dibangun jalan akses dan menempatkan prasarana dan sarana sosial lainnya. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Bangunan yang menunjang fungsi kawasan/kegiatan utama diperkenankan dibangun untuk kepentingan umum. Pengembangan jalan lainnya dapat diintegrasikan dengan pengembangan lahan usaha masyarakat. konservasi tanah dan air tanah dapat dilakukan dengan baik. Pada desa-desa yang berada di daerah aliran sungai perlu dikembangkan pelabuhan sungai yang berskala lingkungan.79 Berdasarkan potensi pengembangan permukiman perdesaan di Kabupaten Nunukan. Kementerian Pekerjaan Umum. Nilai indeks fiskal dapat menunjukkan kemampuan daerah dalam pendampingan pembiayaan bersama dengan pemerintah pusat. Selain itu. Permukiman perdesaan yang berbasis sentra pertanian perlu disesuaikan secara dini agar tidak berubah menjadi permukiman perkotaan agar pertanian produktif tetap dapat dipertahankan. Untuk Kabupaten Nunukan. masuk dalam kategori sangat tinggi. B. penyediaan prasarana dan sarana.07/2010 tentang Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah dalam Rangka Perencanaan Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan Tahun Anggaran 2011. berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK. perlu diusahakan pemukiman kembali kawasan yang sesuai untuk permukiman. Potensi Kemampuan Pembiayaan Pembangunan Kemampuan daerah dalam sharing pembiayaan pembangunan kawasan permukiman dilihat dari kemampuan indikator nilai indeks fiskal daerah. Tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat) atau usaha tani. Akan tetapi. Permukiman perdesaan memiliki kepadatan maksimum lima rumah/hektar dan KDB maksimum 5%. Pemerintah Kabupaten Nunukan telah memperlihatkan adanya potensi kemampuan sharing pembiayaan pada program-program stimulan pembangunan perumahan dari pemerintah pusat seperti dari Kementerian Perumahan Rakyat. Fasilitas sosial dan ekonomi dapat dibangun sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik msing-masing desa. serta fasilitas sosial dan ekonomi.

175 1.721 4 Tinggi Kab.928 1. Tabel 9. Penentuan batas persentase terendah dan tertinggi DDUB yang harus disediakan oleh daerah dengan mempertimbangkan hasil keputusan rapat koordinasi instansi yang terkait dengan program penanggulangan kemiskinan nasional.07/2010 tentang Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah dalam rangka Perencanaan Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan tahun anggaran 2011 Kab / Kota Penentuan tingkat besaran penyediaan dana daerah untuk urusan bersama (DUUB) adalah dengan pertimbangan sebagai berikut: a.464 0.Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal.886 4 Tinggi Kab.421 4 Tinggi Kota Tarakan 1. Bulungan 4.335 1 Sangat Tinggi Kab.993 4 Tinggi Kab.999 0.426 1. − Daerah yang termasuk dalam kelompok 4 menyediakan DDUB tinggi.248 1. − Daerah yang termasuk dalam kelompok 3 menyediakan DDUB rendah.550 1 Sangat Tinggi Kab.796 1.416 1 Sangat Tinggi Kota Balikpapan 1.062 0. Berau 2.185 0. Tana Tidung 30.971 1. Nunukan 3. Malinau 8. Nilai indeks fiskal di Kalimantan Timur terlihat pada Tabel 9.303 4 Tinggi Kota Samarinda 1.800 1 Sangat Tinggi Kab.935 0.067 1. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Indeks Ruang Indeks Persentase Tingkatan Fiskal Daerah Penduduk Miskin Kelompok Penyediaan (IRFD) Daerah (IPPMD) DUUB Kab.450 1 Sangat Tinggi Kab. c. DDUB yang harus disediakan oleh daerah dengan rincian sebagai berikut: − Daerah yang termasuk dalam kelompok 1 menyediakan DDUB sangat tinggi.134 1 Sangat Tinggi Kab.829 0.450 1 Sangat Tinggi Sumber : Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK.195 0. DDUB yang harus disediakan oleh daerah disesuaikan dengan katagori kelompok. . Kutai Kartanegara 4. Kutai Timur 4. b.300 4 Tinggi Kota Bontang 3. Pasir 2.698 4 Tinggi Kab. dan kementerian lain yang terkait. Kutai Barat 3. Penajam Paser Utara 2. − Daerah yang termasuk dalam kelompok 2 menyediakan DDUB sedang. Daftar daerah berdasarkan indeks fiskal dan kemiskinan daerah di Kalimantan Timur No.

Arah kecenderungan pengembangan meliputi aspek keselarasan antara kawasan budi daya dengan kawasan lindung. Hasil perhitungan rincian penyediaan DDUB digunakan oleh pusat (tingkat nasional) sebagai bahan penetapan besaran DDUB pada masing-masing daerah. Hal ini bertujuan agar arah kecenderungan pengembangan dapat diketahui. Berdasarkan data indeks fiskal tersebut. e. Oleh karena itu. Kriteria mensyaratkan indeks fiskal harus dievaluasi secara periodik untuk menentukan besaran bantuan pembiayaan dari pemerintah pusat. Menteri Keuangan c.81 d. dapat dilihat bahwa Kabupaten Nunukan masuk pada kategori kelompok sangat tinggi. keterkaitan antara pusat-pusat pertumbuhan baru dengan pusat-pusat kegiatan (kota). Prioritas ini dapat berupa peningkatan dana alokasi khusus (DAK). Menarik masuknya investasi baru sektor unggulan daerah untuk mendorong percepatan pembangunan wilayah perbatasan. .q. Dalam rangka mewujudkan keterpaduan dalam pembangunan di wilayah Perbatasan khususnya dalam sektor permukiman. f. perlu dipahami profil pelaksanaan pembangunan di daerah yang sesuai dengan pemenuhan kebutuhan pengembangan. Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan menyiapkan bahan perhitungan rincian penyediaan DDUB untuk masingmasing daerah berdasarkan batas persentase terendah dan tertinggi. Hasil perhitungan rincian penyediaan DDUB disampaikan oleh direktur jenderal perimbangan keuangan atas nama menteri keuangan kepada tim nasional paling lambat bulan Maret sebelum penyusunan rencana kerja Kementerian Negara/Lembaga. khususnya sektor permukiman dan infrastruktur wilayah perbatasan. Mengingat kedudukan Kabupaten Nunukan sebagai kawasan strategis nasional (KSN) di wilayah perbatasan dapat menjadi pertimbangan tersendiri untuk tetap mendapat prioritas bantuan pembiayaan pengembangan. penguatan pola interaksi orientasi ekonomi yang berbasis potensi sumber daya alam wilayah menjadikan kemauan politik (political will) pemerintah pusat dan daerah (Rosentraub 1996). diharapkan kondisi ini dapat terus dipertahankan.

dan sektor industri 4. nomaden. Adapun potensi SDA wilayah berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan terdiri dari subsektor pangan. dan jaringan infrastruktur (Sastra dan Marlina 2006). Permukiman merupakan suatu kesatuan wilayah tempat suatu perumahan berada. Adapun . subsektor kehutanan.2. Elemen-elemen permukiman terdiri atas alam. permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung. manusia. yaitu tempat fisik manusia tinggal yang meliputi elemen alam dan buatan manusia). subsektor pariwisata. Secara ekologi. Permukiman diartikan sebagai tempat manusia hidup dan berkehidupan. masyarakat. Ilmu ekistics dikembangkan oleh CA Doxiadis pada tahun 1967 (Winarso 2001). Pengetahuan mengenai permukiman disebut ekistics (istilah Yunani). Suatu permukiman terdiri atas the content (isi. mempunyai dampak langsung terhadap keberlanjutan aspek ekologi. Aspek lain yang kesesuaian juga harus diperhatikan khususnya dalam pengembangan ekonomi adalah sektor unggulan wilayah yang potensial dikembangkan sehingga akan menjamin peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat agar keberlanjutan kawasan permukiman di wilayah perbatasan dapat terlaksana. perkebunan. dan sosial. baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan (live) dan penghidupan (livelihoods).4.2 Analisis Kondisi Permukiman Perbatasan Kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara dengan kondisi umum yang tidak tertata. ekonomi. yaitu manusia) dan the container (wadah.1 Kondisi dan Permasalahan Permukiman Perbatasan Permukiman dalam istilah ini merupakan padanan kata human settlements. perumahan. Oleh karena itu. Menurut Undang-Undang No. subsektor pertanian tanaman perikanan. terpencar. dan tidak terkelola dengan baik. kumuh. subsektor sektor pertambangan. perlu memerhatikan daya dukung dan lahan untuk pengembangan permukiman. lokasi dan lingkungan perumahan tersebut tidak akan pernah dapat lepas dari permasalahan dan lingkup keberadaan suatu permukiman yang seharusnya memberikan kenyamanan kepada penghuninya (termasuk orang yang datang ke tempat tersebut). 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman.

tidak tertata. Kelompok wilayah daratan adalah Kecamatan Krayan Selatan 545 KK lokasinya di ujung barat wilayah administrasi kabupaten dan Kecamatan Lumbis 2. Dari beberapa pengertian tersebut.366 KK di bagian tengah wilayah daratan.235 KK yang lokasinya di ujung barat pulau. Persebaran penduduk yang mengelompok dan terpencar terlihat dari distribusi pusat-pusat permukiman yang ada di masing-masing kecamatan. dan minim prasarana. kondisinya (existing condition) sangat dipengaruhi oleh persebaran penduduk di masing-masing kecamatan yang berada di wilayah perbatasan kabupaten.83 perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. Kecamatan Sebatik Barat terdiri 3. Kondisi lingkungan permukiman terdiri dari perumahan yang kumuh (slum area). dan fasum lingkungan.163 KK yang lokasinya di ujung timur pulau. Kecamatan Nunukan sebanyak 14. Hal ini disebabkan oleh pengelolaan yang tidak baik dan kurangnya kegiatan terkait program/proyek pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara. sarana. dapat disimpulkan bahwa permukiman memiliki pengertian yang lebih luas dibandingkan dengan perumahan. fasos. Kawasan permukiman adalah kawasan budi daya yang ditetapkan dalam rencana tata ruang dengan fungsi utama untuk permukiman (Permenpera 2006). . Persebaran penduduk di wilayah perbatasan pada umumnya tidak merata sehingga kawasan permukimannya terlihat mengelompok dan terpencar. Kawasan permukiman perbatasan di Kabupaten Nunukan. (Permenpera 2006). yang dimaksud kawasan permukiman perbatasan padanannya adalah kawasan perumahan dan permukiman khusus untuk menunjang kegiatan berbagai fungsi di wilayah perbatasan negara. Terkait dengan fenomena kawasan permukiman perbatasan negara.653 KK. Kecamatan kelompok wilayah kepulauan seperti Kecamatan Sebatik terdapat kawasan permukiman yang terdiri 5.

84 Sumber : Dokumentasi Survei. 2009 Gambar 28. Sebuku. Penggeseran patok-patok perbatasan negara dilakukan pada lokasi yang tidak terdapat permukiman sebagai tempat hunian dan aktivitas penduduk/masyarakat perbatasan. Pergeseran batas wilayah di Pulau Sebatik sudah jauh ke dalam wilayah tertorial Indonesia. dan Krayan. Kawasan permukiman yang berada di atas batas wilayah perbatasan Masyarakat wilayah perbatasan yang memiliki karakteristik lingkungan sosial yang spesifik. Sumber : Dokumentasi Survei. dari tahun ke tahun. Oleh karena itu. kehilangan wilayah teritorial negara terus terjadi dan semakin meluas. dan kegiatan ekonomi bersama baik legal maupun yang ilegal memerlukan kemudahan berkomunikasi dan aksesibilitas yang baik. Oleh karena itu. Kebutuhan tersebut pada umumnya belum terpenuhi atau memadai. Kawasan permukiman yang berkelompok dan terpencar Pola perkembangan kawasan permukiman yang mengelompok dan terpencar di wilayah perbatasan berdampak negatif terhadap keutuhan wilayah NKRI karena berpeluang dimanfaatkan negara tetangga untuk menggeser patok-patok perbatasan untuk memperluas wilayah negaranya. belum lagi yang terjadi di wilayah perbatasan lain di Kecamatan Lumbis. 2009 Gambar 27. untuk memenuhi kebutuhannya. seperti kegiatan pelintas batas. transaksi jual beli. .

. berkelanjutan. Untuk memudahkan masyarakat dalam akses ke laut. 2009 Gambar 29. 4. Pengembangan kawasan permukiman akan dikembangkan di Pulau Nunukan. digunakan sampan/perahu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang penting dan mendesak ke negara tetangga. Sumber: Dokumentasi Survei. Oleh karena itu. Kondisi masyarakat perbatasan dengan karakteristik lingkungan yang spesifik menjadi fenomena tersendiri. Pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan harus tertata. khususnya dalam pengembangan kawasan permukiman. Misalnya. membangun perumahan di sepanjang bantaran sungai dan sampai melanggar batas wilayah perbatasan negara lain. antara lain dalam membangun perumahan dan fasilitas tidak memperhatikan batas-batas wilayah negara.2. termasuk kegiatan permukiman lain seperti.85 masyarakat melakukan upaya sendiri yang umumnya tidak sesuai dengan peratuaran dan perundang-undangan yang berlaku. perkotaan maupun perdesaan.2 Pengembangan Lahan Permukiman Potensi pengembangan kawasan permukiman meliputi perumahan. banyak bangunan rumah dengan ruang tamu wilayah di Indonesia dan dapur di Malaysia atau yang dikenal dengan rumah Malaysia-Indonesia (Malindo). Kawasan permukiman yang berada di muara sungai dan kumuh Kondisi kawasan permukiman perbatasan di Kabupaten Nunukan tersebut mencerminkan bahwa pemerintah pusat dan pemerintah daerah kurang memberikan perhatian pengembangan wilayah dan masyarakat perbatasan. permukiman transmigrasi baik lokal maupun antarwilayah di Indonesia cukup luas tersedia. dan dikelola dengan baik melalui kebijakan dan strategi pengembangan kawasan permukiman perbatasan.

Penggunaan lahan permukiman meliputi perumahan. taman. seperti patahan aktif. serta permukiman transmigrasi. pusat pertumbuhan baru Pulau Sebatik. dan kuburan. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada permukiman di daerah kritis. ± 60 % diperuntukkan untuk kawasan permukiman klaster-klaster di kecamatan yang berada di sepanjang wilayah perbatasan. perlu adanya pengaturan ruang. dan Sebatik Barat yang berada di klaster II.86 Pulau Sebatik. di Kecamatan Nunukan dan Nunukan Timur akan dikembangkan lahan seluas 1. Pengembangan kawasan permukiman sesuai dengan arahan RTRW kabupaten. Adapun di Kecamatan Sebatik Timur akan dikembangkan kawasan permukiman perkotaan. dan longsoran tidak terdapat di Kabupaten Nunukan. tempat olahraga.000 mdpl. Adapun di Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan yang berada di klaster I akan dikembangkan lahan seluas 750 ha sebagai kawasan .850 Ha sebagai kawasan permukiman perdesaan dan pusat desa pertumbuhan berbasis potensi SDA wilayah.700 ha sebagai kawasan permukiman perkotaan dan pusat pemerintahan. Sehubungan dengan potensi pengembangan permukiman perdesaan di Kabupaten Nunukan. akan dikembangkan lahan seluas 1. Sebuku. baik yang di perkotaan maupun pedesaan. erosi. khususnya sektor perkebunan. Kecamatan-kecamatan tersebut berada di klaster III. tetapi terdapat permukiman di desa-desa yang berada dalam kawasan lindung. dan Krayan sebagai kawasan perkotaan dan pusat pemerintahan. Sebuku.130 Ha atau sekitar 0. Permukiman-permukiman perdesaan yang tidak sesuai dengan kriteria kebutuhan akan tetap dipertahankan. perkantoran. Luas lahan untuk pengembangan kawasan permukiman. Permukiman desa yang terletak pada daerah rawan bencana geologi lingkungan. Rencana pengembangan kawasan permukiman tersebut dimaksudkan untuk mendorong tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan baru di perbatasan negara yang berbasis potensi SDA wilayah. pengembangan. dan pengelolaan yang lebih baik. khususnya desa-desa untuk mendukung kegiatan pelestarian kawasan Taman Nasional Krayan Mentarang yang terletak di ketinggian di atas 1.05% dari luas wilayah kabupaten (RTRW Kabupaten Nunukan 2005). Kecamatan Lumbis. Di Kecamatan Lumbis. Luas penggunaan lahan untuk pengembangan permukiman adalah 7.

khususnya sektor pertambangan. Penataan dan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan ke depan akan mendorong perkembangan wilayah perdesaan yang berbasis sentra . fasos. Pengembangan jaringan jalan dapat diintegrasikan dengan pengembangan lahan usaha masyarakat. sarana. Pada kecamatan yang berada di daerah aliran sungai perlu dikembangkan pelabuhan sungai. dan sarana budaya. serta tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat). Bangunan yang menunjang fungsi kawasan/kegiatan utama diperkenankan untuk kepentingan umum. selain sarana prasarana sosial lainnya. kesehatan. 2008 dan Hasil Analisis Gambar 30. Pada permukiman perkotaan kepadatan maksimum 80 rumah/hektar dan KDB maksimum 40%. peribadatan. seperti fasilitas pendidikan. Tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat) atau usaha pertanian. Permukiman perdesaan memiliki kepadatan maksimum 25 rumah/hektar dan KDB maksimum 20%. Peta pengembangan permukiman di setiap klaster Pengembangan prasarana. Peta pengembangan permukiman di setiap klaster terlihat pada Gambar 30. dan fasum sebagai pendukung kegiatan sosial-ekonomi di kawasan permukiman dapat dibangun sesuai kebutuhan dan karakteristik wilayah kecamatan.87 permukiman perdesaan dan permukiman perkotaan untuk pusat pertumbuhan baru berbasis potensi SDA wilayah. KLUSTER II: 1850 Ha KLUSTER I: 750 Ha KLUSTER III: 1700 Ha Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan.

Mengingat kedudukan Kabupaten Nunukan sebagai kawasan strategis nasional (KSN).248 dan skor indeks persentase penduduk miskin daerah (IPPMD) 1. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Kriteria mensyaratkan agar secara periodik indeks fiskal harus dievaluasi untuk menentukan besaran bantuan pembiayaan dari pemerintah pusat. Hal ini bertujuan agar lahan pertanian produktif dapat dipertahankan dan konservasi tanah serta air dapat dilakukan dengan baik. khususnya bidang permukiman perbatasan. 4. dan investasi sektor unggulan untuk mendorong percepatan pembangunan wilayah perbatasan. infrastruktur. Prioritas bantuan pembiayaan pembangunan dapat berupa peningkatan dana alokasi khusus (DAK). Kementerian Pembangunan Daeah Tertinggal. berupa dana pendamping . Dengan demikian.800.2.3 Kemampuan Pembiayaan Pembangunan Permukiman Kemampuan pengembangan daerah kawasan (kabupaten/kota) permukiman dalam khususnya sharing dalam pembiayaan pembangunan permukiman berdasarkan indikator nilai indeks fiskal daerah. Pemerintah Kabupaten Nunukan telah memperlihatkan adanya potensi kemampuan sharing pembiayan pada program-program stimulan pembangunan perumahan dari pemerintah pusat seperti dari Kementerian Perumahan Rakyat. diharapkan kondisi ini dapat terus dipertahankan. dengan skor indeks ruang fiskal daerah (IRFD) 3. Kabupaten Nunukan termasuk dalam kategori sangat tinggi. Adapun untuk menjaga kawasan permukiman yang sudah dibangun agar tetap berkelanjutan perlu dilakukan pengendalian dan penyesuaian sejak dini agar tidak berubah menjadi permukiman perkotaan yang tidak terarah (urban sprawl). wilayah perbatasan dapat menjadi pertimbangan tersendiri untuk tetap mendapat prioritas bantuan pembiayaan pengembangan.pertanian menjadi desa kota (sub urban) sebagai pusat pertumbuhan baru (Wacker 2002). Data indeks fiskal menunjukkan bahwa Kabupaten Nunukan masuk pada kategori kelompok sangat tinggi. Kemampuan sharing Pemda Kabupaten Nunukan ditunjukkan pada setiap mendapatkan bantuan stimulan oleh pemerintah pusat. dan kementerian lain yang terkait. Nilai indeks fiskal dapat menunjukkan kemampuan daerah dalam pendampingan pembiayaan bersama dengan pemerintah pusat. Kementerian Pekerjaan Umum.

. jumlah tenaga kerja. kehutanan. pertambangan. Pemda menglokasikan dana untuk pembuatan kanal dan sarana air bersih senilai Rp 9 miliar serta biaya pembebasan tanah untuk pembangunan kawasan permukiman nelayan seluas 100 ha. Kriteria yang menjadi pertimbangan di setiap sektor tersebut ada delapan. Klaster III meliputi Kecamatan Nunukan. akses komunikasi. Kesediaan pemda bersama-sama dengan pemerintah pusat mengalokasikan dana APBD dalam mengembangkan nelayan perbatasan berkorelasi dengan membuktikan kemampuan kawasan permukiman bahwa indeks fiskal yang sangat baik daerah dalam menyiapkan dana untuk pembiayaan pembangunan permukiman. Sektor-sektor potensial yang mempunyai peranan penting terhadap pengembangan kawasan permukiman tersebut antara lain adalah perkebunan. pertanian. Klaster II meliputi Kecamatan Lumbis. Kriteria tersebut berkorelasi positif dalam meningkatkan potensi pasar di wilayah perbatasan (Hanson 1998). produktivitas. jangkauan pasar. dan Sebatik Dalam penetapan klaster sesuai dengan kondisi potensi sumber daya alam kawasan pada kecamatan-kecamatan yang berada di wilayah perbatasan.3 Analisis Komparatif Sektor Unggulan Kawasan Kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara mempunyai dampak langsung baik secara ekologi. ekonomi. dan sosial. Pada 2006 kemenpera memberikan bantuan stimulan pembangunan kawasan permukiman nelayan senilai kurang lebih Rp 4 miliar. lokasi startegis. Kabupaten Nunukan secara geografis dapat terlihat pada Gambar 31. Sebuku. 4. dan industri. di kecamatan wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan dibuat 3 (tiga) klastering subkawasan. dan Sebatik Barat 3.dan usulan dana program pembangunan melalui APBD dari masing-masing dinas terkait. pariwisata. Nunukan Selatan. nilai produk. yaitu: 1. perikanan. yaitu kesesuaian lahan. Dalam menganalisis sektor-sektor potensial dan prospektif dengan menggunakan metode perbandingan eksponensial (MPE). Klaster I meliputi Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan 2. akses transportasi.

Pembagian klaster di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan 4.KLUSTER II KLUSTER I KLUSTER III Gambar 31. Tabel 10.3. Penilaian bobot kriteria terhadap sektor unggulan klaster I Klaster I Pertambangan Perkebunan Kehutanan Pariwisata 5 5 6 5 6 6 5 5 Perikanan Pertanian Industri 6 7 6 5 7 7 6 6 No Kriteria Bobot 1 Kesesuaian Lahan 2 Produktivitas 3 Lokasi Strategis 4 Jumlah Tenaga Kerja 5 Nilai Produk 6 Jangkauan Pasar 7 Akses Transportasi 8 Akses Komunikasi Sumber: Hasil Analisis 8 8 7 6 9 6 7 7 7 6 6 6 7 7 6 6 9 8 7 7 8 9 7 7 5 4 6 7 5 5 5 5 4 4 6 6 4 5 4 4 5 5 6 5 6 5 6 6 . Adapun pembobotan kriteria terhadap sektor unggulan dengan metode MPE dapat disajikan pada Tabel 10.1 Sektor Unggulan Subkawasan Klaster I Kecamatan yang termasuk dalam klaster I adalah Kecamatan Krayan dan Kecamatan Krayan Selatan.

978.004 11.730.Berdasarkan hasil perhitungan dengan teknik MPE. Hasil tersebut disajikan dalam Tabel 11.413.413 48.161.304 ton.802.746 dan perikanan dengan nilai MPE yaitu 768.201.106 Sumber: Hasil Analisis Berdasarkan tabel 11 di atas dapat disimpulkan bahwa sektor yang paling menentukan pada klaster I adalah sektor pertambangan dengan nilai 197.106.362. terlihat urutan atau prioritas sektor yang potensial di Klaster I Kabupaten Nunukan. Nilai sektor unggulan klaster I Klaster I No 1 2 3 4 5 6 7 Perkebunan Pertambangan Pertanian Perikanan Kehutanan Pariwisata Industri Sektor Nilai MPE 48.771.161. .746 768.201 11.137 197.802. Perkebunan menempati urutan kedua dengan nilai MPE yaitu 48. Tabel 11.384 2. Data BPS (2007) menunjukkan bahwa produk pertambangan unggulan adalah minyak bumi dan batu bara.978.384.771. prioritas ketiga adalah industri dengan nilai MPE 48. pertanian dengan nilai MPE yaitu 2. Jumlah produksi minyak bumi pada tahun 2007 sebanyak 1. kehutanan dengan nilai MPE yaitu 11. Urutan dari posisi ke-4 sampai ke-7.137.357. Jumlah produksi minyak terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun seperti yang terlihat pada Gambar 32.357.004.730. pariwisata dengan nilai MPE yaitu 11.

kawasan Klaster I sangat sesuai untuk pertambangan (Gambar 33). Berdasarkan peta kesesuaian lahan.287 ton.000 30. Oleh karena itu.562 2007 34.129 2006 26.000 10.000 0 Diproduksi Terjual 2004 25.557 24.070 31.165. Jumlah produksi bahan tambang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dari tahun sebelumnya sebesar 1.40.000 20. Produksi minyak bumi (MMSTB) 2000 .2007 (BBL) Produk batu bara pada klaster I juga merupakan produk unggulan. sektor tambang menjadi unggul pada klaster I dan didukung juga oleh daya dukung sumber daya alam yang ada pada kawasan klaster I.937.553 26.129 ton. Data BPS (2007) menunjukkan jumlah produksi batu bara di Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 sebesar 1. Berdasarkan peta kesesuaian lahan yang menunjukkan di atas 90%. 2008 Gambar 32.103 2005 29.145 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.556 23. . lokasi klaster I merupakan pegunungan dan perbukitan yang tidak teratur serta mempunyai kelerengan >40%.846.

Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. .2 Sektor Unggulan Subkawasan Klaster II Kecamatan yang termasuk klaster II adalah Kecamatan Lumbis. Adapun pembobotan nilai dengan metode MPE dapat dilihat pada Tabel 12.3. dan Sebatik Barat. 2008 Gambar 33. 4. Peta kesesuaian lahan untuk perkebunan menunjukkan klaster I yang di atas 55% cocok untuk lahan perkebunan. Kesesuaian lahan untuk pertambangan Urutan kedua adalah sektor perkebunan. Sebuku. Hal ini didukung oleh kesesuaian lahan serta jenis tanah yang mendukung kegiatan perkebunan sehingga dapat mencegah erosi pada wilayah-wilayah yang berlereng.

Pertanian menempati urutan kedua dengan nilai MPE 63.744 63.957.643. Penilaian bobot kriteria terhadap sektor unggulan klaster II Klaster II Pertambangan Perkebunan Kehutanan Pariwisata 5 5 5 6 5 4 5 4 Perikanan Pertanian Industri 7 7 6 7 7 7 7 5 No Kriteria Bobot 1 Kesesuaian Lahan 2 Produktivitas 3 Lokasi Strategis 4 Jumlah Tenaga Kerja 5 Nilai Produk 6 Jangkauan Pasar 7 Akses Transportasi 8 Akses Komunikasi Sumber: Hasil Analisis 8 8 7 6 9 6 7 7 9 8 7 8 9 7 7 7 7 6 7 7 7 6 6 6 8 7 6 7 7 5 5 4 5 4 6 6 6 5 5 4 8 8 7 5 6 5 5 5 Hasil perhitungan dengan teknik MPE memperlihatkan urutan atau prioritas sektor yang potensial di Klaster II Kabupaten Nunukan. dapat disimpulkan bahwa sektor yang paling menentukan adalah sektor perkebunan dengan nilai 450.111.300. Posisi ke-4 sampai ke-7 berturut-turut pertambangan dengan nilai MPE 49. Tabel 13.957. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel 13.583 44.643.171. .111 Sumber: Hasil Analisis Berdasarkan tabel 13 di atas.345.094.761.761 53. perikanan dengan nilai MPE 10.094.343.403.744.403.848 49.Tabel 12.171 2. dan pariwisata dengan nilai MPE 2.345. kehutanan dengan nilai MPE 44. Prioritas ketiga adalah industri dengan nilai MPE 53.343 10.583.300.970.970.848. Nilai sektor unggulan klaster II Klaster II No Sektor 1 2 3 4 5 6 7 Perkebunan Pertambangan Pertanian Perikanan Kehutanan Pariwisata Industri Nilai MPE 450.

686. Jenis komoditas unggulan perkebunan pada klaster II adalah kakao dan kelapa sawit. berdasarkan peta kesesuaian lahan untuk perkebunan. 2008 Gambar 34. Produksi kakao dan kelapa terus mengalami peningkatan dari 2002 sampai tahun 2007 seperti terlihat pada Gambar 35 berikut.903. Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. termasuk dalam kelompok punggung gunung batuan metamorfik yang tidak teratur yang menyebabkan klaster II sangat cocok untuk perkebunan.10 ton. Selain itu. Kedua kecamatan tersebut sangat sesuai untuk tanaman perkebunan (gambar 34). .71 ton. hampir di atas 90%. Peta kesesuaian lahan untuk perkebunan Data BPS (2008) menunjukkan produksi kakao di Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 sebanyak 18.Klaster II. Produksi kelapa sebanyak 7. berdasarkan peta land system.

6 17073.32 7686.1 2002 2003 2004 kelapa 2005 kakao 2006 2007 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. 2008 Gambar 35.3. Produksi komoditas tanaman perkebunan 2002-2007 (ton) 4. dan Kecamatan Sebatik.32 6407.3 6407.32 6430. Penilaian bobot kriteria terhadap sektor unggulan klaster III Klaster III Pertambangan Perkebunan Kehutanan Pariwisata Perikanan Pertanian Industri No Kriteria Bobot 1 2 3 4 5 6 7 8 Kesesuaian Lahan Produktivitas Lokasi Strategis Jumlah Tenaga Kerja Nilai Produk Jangkauan Pasar Akses Transportasi Akses Komunikasi 8 8 7 6 9 6 7 7 7 7 8 6 7 7 7 7 5 5 8 5 5 7 7 7 8 8 9 7 7 8 7 7 9 9 9 8 8 9 7 7 7 6 8 6 5 5 7 7 5 7 8 5 5 5 7 7 7 7 8 6 6 7 7 7 Sumber: Hasil Analisis .35 13592.71 18903.8 7406. Nunukan Selatan.35 15889.6 7458.3 Sektor Unggulan Subkawasan Klaster III Kecamatan yang termasuk dalam klaster III adalah Kecamatan Nunukan. Tabel 14. Penilaian terhadap alternatif kegiatan penunjang pusat-pusat pertumbuhan terdapat di Kabupaten Nunukan berdasarkan sektor unggulan dengan pembagian klaster. Adapun hasil pembobotan nilai dengan metode MPE dapat dilihat pada Tabel 14.20000 18000 16000 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 17702 15257.

Hal tersebut mengandung arti bahwa budi daya perikanan darat di klaster III tidak disarankan karena kondisi topografi Kabupaten Nunukan yang berlerenglereng seperti yang ditunjukkan pada Gambar 36.534. Posisi ke-4 sampai ke-7 adalah industri. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel 15.887. kehutanan. prioritas ketiga sektor perkebunan dengan nilai MPE 55.791.810. dan pertambangan. Keadaan berpotensi menyebabkan longsor dan tidak memungkinkan untuk adanya budi daya perikanan darat. Tabel 15.752. .534.717.717.810 13. ditampilkan kondisi topografi pada klaster III yang didominasi oleh tingkat kelerengan 0 .611. Alternatif pertama yang harus lebih diperhatikan dalam pengembangan wilayah perbatasan pada klaster III yang meliputi Kecamatan Nunukan dan Kecamatan Sebatik yaitu peningkatan sektor perikanan.841 Sumber: Hasil Analisis Berdasarkan tabel 15 di atas dapat di lihat bahwa sektor unggulan yang paling mendukung pusat pertumbuhan dalam pengembangan wilayah perbatasan adalah sektor perikanan dengan nilai 227. pariwisata. Nilai sektor unggulan klaster III No 1 2 3 4 5 6 7 Sektor Klaster III Perkebunan Pertambangan Pertanian Perikanan Kehutanan Pariwisata Industri Nilai MPE 55. Sektor pertanian menempati urutan kedua yang dapat mendukung pusat pertumbuhan dalam pengembangan wilayah perbatasan dengan nilai MPE 80.887 80.887 227.752 6. Pada gambar.Hasil perhitungan dengan analisis MPE memperlihatkan urutan atau prioritas metode pengembangan wilayah perbatasan yang potensial dalam rangka meningkatkan pusat-pusat pertumbuhan.8% dan 15 25%. Perikanan tangkap dan budi daya perikanan laut merupakan kegiatan yang paling potensial dan telah mendukung pendapatan Kabupaten Nunukan selama ini.204.061 11.884.791.515.039 25.

54 kg gabah kering giling dan setiap hektar lahan menghasilkan 4. Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Sebagai dasar perhitungan. Lahan Sawah Sawah adalah lahan penghasil padi yang selanjutnya diolah menjadi beras sebagai makanan pokok masyarakat Kabupaten Nunukan. 2008 Gambar 36. Peta Kabupaten Nunukan berdasarkan kelerengan Sumber daya alam pertanian.Di urutan kedua diikuti sektor pertanian dengan komoditas unggulan yang dapat mendukung pusat pertumbuhan. Adanya asumsi bahwa lahan efektif adalah 60% dari total lahan. Kebutuhan pangan yang dimaksud adalah kebutuhan beras sebagai bahan makanan pokok. dan palawija. yakni budi daya tanaman pangan terutama padi sawah yang produktivitasnya terus meningkat (Kabupaten Nunukan dalam Angka 2008). Setiap 1 kg beras dihasilkan dari 1. kebutuhan setiap orang setiap tahun adalah 150 kg.9 ton gabah kering giling per tahun. sayur-sayuran. Berdasarkan tiga perkiraan skenario. terutama lahan dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dasar Kabupaten Nunukan. Kebutuhan cadangan lahan sawah di Kabupaten . Kebutuhan pangan Kabupaten Nunukan selama setahun sebagai berikut: a. jumlah penduduk 5 dan 10 tahun yang akan datang membutuhkan areal pertanian basis. maka jumlah kebutuhan total adalah jumlah kebutuhan dasar ditambah 67% (Tabel 15).

225. kebutuhan konsumsi per orang per tahun adalah 26.530 ekor ayam ternak. kebutuhan konsumsi 3.099 ekor sapi. tingkat produktivitas 16.37 ha. 57. 2. 449 ekor kambing.350 ekor ayam buras.7 kg dan produktivitas 2.6 ton/hektar/tahun. kebutuhan lahan untuk kegiatan peternakan tersebut membutuhkan lahan seluas 185 hektar pada tahun 2007 dan berkembang menjadi 236 hektar pada tahun 2012. ubi. Ubi kayu.Nunukan sebesar 16. c. 4. Lahan Peternakan Rakyat Pada tahun 2000.3 ton/ha/tahun. terperinci dengan tingkat konsumsi dan produktivitas sebagai berikut: Jagung.821 ekor babi.968 ekor itik. Dengan asumsi pertumbuhan 5% per tahun. konsumsi 7. kebutuhan konsumsi 57. tingkat produktivitas 10.25 kg/orang/tahun. Kedelai. tingkat produktivitas 1.1 kg/orang/tahun dan tingkat produktivitas 0. seperti kacang-kacangan.3 ton/ha/tahun. jagung dan lain-lain.9 ton/hektar/tahun. populasi ternak di Kabupaten Nunukan adalah 2. Lahan Palawija Untuk kebutuhan bahan pangan lainnya.182. untuk memenuhi kebutuhan beras sebanyak 47.2 ton/ha/tahun.52 kg/orang/tahun. Kacang hijau.09 kg/orang/tahun. b. . Ubi jalar.481 ton gabah kering giling per tahun.9 ton/ha/tahun. konsumsi 1. kebutuhan konsumsi 11. Kacang tanah. produktivitas 0. dan 5.35 kg/orang/tahun.124 ekor kerbau.

55 16. yaitu menjadi 48.37 Berdasarkan peta ketinggian lahan pada Gambar 37. Perhitungan kebutuhan lahan sawah (RTRW Kabupaten Nunukan 2004-2014) Skenario Index Pesimis 2009 2014 Optimis 2009 2014 Ambisius 2009 2014 Sumber: Hasil Analisis 96.850.528 23.54 21.72 9.750. Nunukan yang berada pada klaster III.182.35 Keperluan Gabah (ton) 1.053 116.03 10.69 6.840 163.768. pada klaster III didominasi ketinggian lahan berkisar antara 0 .90 24.28% (Kabupaten Nunukan dalam Angka.393.15 6.961 107.Tabel 16.696.264.64 30.435.481. Sebagian besar dari luas areal kelapa sawit terdapat di Kecamatan Sebatik.127 ton atau dengan kata lain terjadi peningkatan produktivitas padi sebesar 9.21 Keperluan Dasar 4.933.4% dibandingkan dengan tahun 2006 (Kabupaten Nunukan dalam Angka 2008).832.09 8.53 47.462. 2008).979. .100 mdpl yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman padi. Hal ini juga didukung dengan peningkatan luas panen padi (sawah+ladang) di Kabupaten Nunukan pada tahun 2007.051.337.83 8.97 30. Sebatik Barat.65%.698 30.42 10.05 19.784 144.751 Tahun Jumlah Penduduk Keperluan Beras (ton) 150 13.334.100.434.40 15.90 4. sedangkan Lumbis dan Sebuku berada pada klaster II.50 16. Hal ini didukung dengan peningkatan luas areal komoditas kelapa sawit pada tahun 2007 sebesar 25.072. di mana tanaman padi naik sebesar 4.338. Produksi tanaman padi juga mengalami kenaikan.35 19. Alternatif ketiga dalam pengembangan wilayah perbatasan pada klaster III adalah sektor perkebunan.171 239.47 4.690.190.80 5.04 Kebutuhan Lahan (Ha) 67% 7.

dan Sebatik Barat) sektor perkebunan. dan klaster III (Kecamatan Nunukan. Pengembangan permukiman (permukiman khusus) menjadi salah satu program prioritas pembangunan wilayah perbatasan dalam upaya pengembangan potensi ekonomi dan sumber daya alam. klaster II (Kecamatan Lumbis. Peta Kabupaten Nunukan berdasarkan wilayah ketinggian Kesimpulan hasil analisis MPE yang dilakukan untuk sektor-sektor yang potensial dalam mendukung pengembangan permukiman perbatasan di Kabupaten Nunukan untuk klaster I (Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan) adalah sektor pertambangan. hal ini berkaitan juga dengan keamanan. Nunukan Selatan. . kehormatan. Sebuku. Adanya keterbatasan infrastruktur dan permukiman di wilayah perbatasan baik yang berada dalam kawasan perkotaan maupun perdesaan yang kurang berkembang menyebabkan aktivitas sosioekonomi banyak berorientasi ke negara tetangga. dan Sebatik) sektor perikanan. 4. 4 tahun 1992 memuat amanat tentang pengembangan permukiman khusus. dan kesadaran masyarakat perbatasan terhadap identitas nasional. Selain menyebabkan ketergantungan negara tetangga.Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan.4 Analisis Strukturisasi Permasalahan dan Komponen Dominan Kebijakan Pengembangan permukiman di wilayah perbatasan dalam Undang-Undang No. 2008 Gambar 37.

Berdasarkan hal tersebut kiranya perlu dibuat desain kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. dan (5) memastikan transisi penggunan lahan perdesaan menuju perkotaan berjalan secara alamiah dan terarah (Seong 2006). (2) dapat mengoptimalkan penggunaan lahan. . Secara lengkap elemen permasalahan dan subelemen kendala terlihat pada tabel 17.1 Elemen Permasalahan dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Menurut Saxena (1994) yang dikutip Marimin (2005) berdasarkan hasil kajian pendapat pakar.4. ekonomi. yaitu (1) melindungi hijau/konservasi dan sumber daya alam. disusunlah struktur permasalahan untuk keberhasilan pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan yang terbagi atas lima elemen pada permasalahan yang terdiri dari 24 subelemen kendala. 4. kependudukan. Dinamika kegiatan ekonomi perkotaan di wilayah perbatasan merupakan kondisi yang dapat meningkatkan pertumbuhan kota-kota (pusat pertumbuhan baru) perbatasan negara. Apabila tidak terkendali akan dapat menjadi hambatan dalam pengembangan potensi pertumbuhan sebagai penggerak pengembangan sosial. (4) mendorong sinergitas hubungan kota dan desa. (3) mengurangi dan efisiensi pembiayaan pembangunan infrastruktur. dan peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan di wilayahnya (Canales 1999).Pengembangan perbatasan pusat-pusat pertumbuhan baru (border city) di wilayah ruang terbuka terdapat enam kategori.

Asia-Australia & Australia. pada setiap elemennya dijabarkan menjadi sejumlah subelemen yang rinci.Tabel 17. berpencar. kumuh & tidak dikelola dengan baik Rencana Tata Ruang Wilayah yang tidak sesuai dengan kebutuhan Minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman Terbatasnya fasum & fasos Terbatasnya pelayanan publik Terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan perkim Perkembangan infrastruktur & permukiman yang tidak terencana Rendahnya kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan lahan sesuai peruntukan Penegakan hukum dan peraturan masih lemah Adanya privatisasi lahan oleh pemerintah & swasta Belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan Terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan Pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal 5 Dari lima elemen hasil kajian ini. Subelemen ini berupa indikator-indikator keberlanjutan yang mempunyai nilai tinggi yang telah dipilah-pilah sesuai dengan konteks kelima elemen program tersebut. Elemen permasalahan pengembangan kawasan permukiman perbatasan No 1 Elemen (Masalah) Pengelolaan SDA wilayah perbatasan masih kurang No 1 2 3 4 5 6 7 8 2 Pengembangan dan Penataan kawasan permukiman kurang optimal 9 10 11 12 13 3 Pembangunan infrastruktur wilayah & permukiman belum sejalan 14 15 16 17 18 19 4 Kelembagaan belum mendukung pengembangan permukiman Pembiayaan belum mendukung pengembangan permukiman 20 21 22 23 24 Sub elemen (Kendala) Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan Perbedaan karakteristik antara wilayah darat dan laut Pengembangan dan pengelolaan SDA belum optimal Rendahnya kesejahteraan masyarakat Aktivitas sosial ekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga Kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional Persepsi wilayah perbatasan merupakan wil dan pintu belakang negara Pemanfaatan dan pengendalian tata ruang masih lemah Letak geografis Indonesia di titik silang benua EropaAsia. Berikut ini adalah hasil hubungan .Eropa Banyak pemukiman berada di batas wilayah perbatasan Kondisi lingkungan tidak tertata.

00 4. 12.00 6. Peringkat elemen masalah berdasarkan nilai driver power Berdasarkan gambar 38 di atas.00 2. Gambaran dari masing-masing elemen masalah mengenai peringkat berdasarkan nilai driver power yang ada dapat dilihat pada gambar 38. pemerintah daerah. di mana terkandung suatu arahan pada hubungan tersebut (Eriyatno dan Sofyar 2007). Masyarakat di wilayah perbatasan yang bersebelahan dengan wilayah negara tetangga yang jauh lebih maju pada umumnya memiliki orientasi sosial . nilai driver power elemen masalah tertinggi pada subelemen 7 atau kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional dan subelemen 4 atau rendahnya kesejahteraan masyarakat. swasta dan masyarakat yang terpilih berdasarkan pengetahuan. sedangkan yang memiliki nilai driver power terendah adalah 2 atau perbedaan karakteristik antara wilayah darat dan laut.00 8.00 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 Sub Elemen (Kendala) Gambar 38. Pakar yang terlibat dalam proses ini adalah pakar dari kalangan pemerintah pusat. pengalaman di bidang pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan.00 10. Hasil yang digunakan dalam model ISM adalah kajian dari pendapat pakar melalui wawancara mendalam seperti yang tertuang pada matriks interaksi tunggal terstruktur (structural self interaction matrix/SSIM).104 kontekstual antarsubelemen pada setiap elemen yang digambarkan dalam bentuk terminologi subordinat yang mengacu pada perbandingan berpasangan antar subelemen.

Hal ini menyebabkan prasarana dan sarana wilayah minim. Analisis data ISM dapat terlihat pada Lampiran 3. (5) terbatasnya fasos dan fasum. (7) aktivitas sosial ekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga. (9) minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman. Penggunaan alat tukar dan akses informasi serta komunikasi nasional yang terbatas dikhawatirkan dalam jangka panjang akan melunturkan rasa kebangsaan dan bela negara masyarakat.ekonomi yang berorientasi kepada wilayah negara tetangga. Oleh karena itu. (8) kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga. dependent. (4) terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman. serta kesejahteraan masyarakat rendah. Hasil analisis ini menggambarkan pendapat para ahli bahwa elemen masalah dalam strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara diawali oleh (1) kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional. dan independent. dan (12) pemanfaatan dan pengelolaan dana . fasilitas umum dan sosial terbatas. Interpretasi dalam bentuk hierarki disajikan pada Gambar 39. Subelemen dikelompokkan ke dalam empat sektor yakni autonomous. Keterbatasan pelayanan publik di wilayah perbatasan menyebabkan orientasi aktivitas sosial-ekonomi masyarakat tertarik ke wilayah negara tetangga. (11) penegakan hukum dan peraturan masih lemah. (3) rendahnya kesejahteraan masyarakat. (2) terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan. Dalam rangka memenuhi hak-hak masyarakat sebagai warga negara dalam memperoleh pelayanan publik dan kesejahteraan sosial serta membuka keterisolasian wilayah. Kemiskinan dan ketertinggalan masyarakat merupakan salah satu permasalahan utama di wilayah perbatasan. Hal ini disebabkan sentralisasi pembangunan pada masa lalu dan kecenderungan penggunaan pendekatan keamanan dalam pengelolaan wilayah perbatasan. (6) kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan. (10) terbatasnya pelayanan publik. diperlukan percepatan pembangunan di wilayah perbatasan dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan. pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu meningkatkan upaya sosialisasi peningkatan wawasan kebangsaan melalui program-program pembangunan yang selaras dengan pengembangan permukiman dan penyediaan prasarana dan sarana. linkage.

Kemudian diikuti oleh elemen masalah wilayah perbatasan yang menjadi pintu belakang negara dan adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan. sektor independent. belum . Dengan Dua belas elemen masalah tersebut berada pada demikian. strategi pengembangan kawasan merupakan elemen yang berperan sebagai peubah bebas berkekuatan penggerak besar. tetapi tidak tergantung kepada sistem.106 pembangunan belum optimal.

berpencar.Level 1 Perbedaan karakteristik antara wilayah darat dan laut Banyak pemukiman berada di batas wilayah perbatasan Dependent Level 2 Pemanfaatan dan pengendalian tata ruang masih lemah Letak geografis Indonesia di titik silang benua Kondisi lingkungan tidak tertata. Diagram hierarki dari subelemen masalah dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara . kumuh & tidak dikelola dengan baik RTRW yang tidak sesuai dengan kebutuhan Level 3 Pengembangan dan pengelolaan SDA belum optimal Perkembangan infrastruktur & permukiman yang tidak terencana Rendahnya kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan lahan sesuai peruntukan Adanya privatisasi lahan oleh pemerintah & swasta Level 4 Persepsi Wilayah Perbatasan merupakan wilayah dan pintu belakang negara Belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan Level 5 Aktivitas sosek masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga Kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga Minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman Terbatasnya pelayanan publik Independent Penegakan hukum dan peraturan masih lemah Pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal Level 6 Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan Terbatasnya fasos dan fasum Terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman Level 7 Rendahnya kesejahteraan masyarakat Terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan Level 8 Kurangnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional Gambar 39.

15. 20 21 19. (c) Matriks driver power-dependence untuk elemen sektor masyarakat yang terpengaruh program.22 2123 24 25 9 8 7 6 9. 20. Dalam strategi pengembangan kawasan posisinya akan mengikuti elemen lainnya yang berada di sektor independent. 1918. 23 22 21 1. Independent 25 24 7 23 4. dua belas faktor kunci prioritas penggerak elemen tolok ukur yang sangat memengaruhi faktor lain dalam keberhasilan strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yaitu subelemen-subelemen yang terletak pada sektor I . disajikan pada Gambar 40. Matriks DP-D untuk subelemen masalah dalam strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara Perlu dicermati bahwa posisi masalah persepsi wilayah perbatasan merupakan wilayah dan pintu belakang negara serta masalah belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan dalam upaya pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan berada di dekat sektor linkage. Hasil kajian subelemen pada analisis ISM berupa (a) Matriks reachability dan interpretasi dari elemen masalah yang terpengaruh program yang disajikan pada Lampiran 3. (b) Diagram model struktural ISM dari elemen sektor masyarakat yang terpengaruh program seperti disajikan pada Gambar 39. 10. 18 24 17 16 15 14 13 12 8. 13 5 4 3 2. 16. 11 2 1 0 Linkage Autonomus Dependent Gambar 40. 17 20 19 5. 14.Hasil analisis ini memberikan makna bahwa kedua belas elemen faktor kunci masalah yang berada di sektor dependent sangat tergantung pada sistem dan tidak mempunyai kekuatan penggerak yang besar. 6. 22 11 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 10 12 13 14 15 16 17 18 3. Berdasarkan hasil analisis. 12. Hal ini berarti faktor kunci dapat berubah menjadi sektor linkage apabila faktor-faktor yang lain mendukung subelemen tersebut.

Tindakan meningkatkan peranan terhadap sektor-sektor tersebut akan menghasilkan terwujudnya program menuju sistem pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan. Dalam desain kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. setiap tindakan meningkatkan peranan sektor-sektor independent. perguruan tinggi. pemerintah daerah. Pakar yang terlibat dalam proses ini adalah pakar dari kalangan pemerintah. swasta. Secara lengkap elemen tolok ukur dan subelemen kendala terlihat pada Tabel 18. pengalaman di bidang pengembangan kawasan permukiman.2 Elemen Tolok Ukur dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Berdasarkan hasil kajian dan pendapat pakar. tidak terdapat faktor-faktor kunci yang berperan sebagai peubah linkage. Berdasarkan hasil analisis.(independent). . sedangkan lemahnya perhatian terhadap sektor-sektor tersebut akan menyebabkan kegagalan program. disusunlah struktur tolok ukur untuk menuju keberhasilan pengembangan kawasan permukiman yang terbagi atas lima elemen pada tolok ukur yang terdiri dari 16 subelemen kendala.4. 4. Adapun hasil yang digunakan dalam model ISM adalah kajian dari pendapat pakar melalui wawancara mendalam seperti yang tertuang pada matriks interaksi tunggal terstruktur (structural self interaction matrix/SSIM) pada Lampiran 4. tetapi dengan peningkatan peranan secara optimal dari faktor-faktor kunci seperti persepsi wilayah perbatasan merupakan wilayah dan pintu belakang negara (8) dan persepsi belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan akan berdampak terhadap peningkatan faktor-faktor kunci tersebut sebagai peubah linkage. lembaga profesi. dan LSM yang terpilih berdasarkan pengetahuan. masyarakat. legislatif.

budaya. dan prasarana Partisipasi horison & vertikal pusat dan daerah Pendekatan pengelolaan wilayah perbatasan pada aspek keamanan. investasi. dan kelembagaan pendukung pusat pertumbuhan Penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan Evaluasi kegiatan untuk penganggaran dana pada kegiatan selanjutnya 4 5 2 Peningkatan pengembangan dan penataan kawasan permukiman 6 7 8 3 Pengembangan infrastruktur wilayah dan permukiman terpadu 9 10 11 4 Pengembangan kelembagaan 12 13 14 5 Alokasi dana untuk pengelolaan wilayah perbatasan 15 16 . dan kesejahteraan secara seimbang Sinergi/keterpaduan dan keseimbangan pembangunan berdasarkan potensi wilayah Peningkatan kerjasama pembangunan antar negara. SDA. pendapatan daerah. dan pendapatan negara Pembangunan wilayah perbatasan melalui pengembangan permukiman sebagai pusat pertumbuhan baru sebagai dan embrio kegiatan ekonomi Penataan ruang wilayah Pembangunan infrastruktur. Elemen tolok ukur pengembangan kawasan permukiman perbatasan No Elemen (Tolok Ukur) 1 Otimalisasi pengelolaan SDA kawasan No 1 2 3 Sub elemen (Kendala) Penataan dan pembukaan isolasi serta ketertinggalan wilayah perbatasan Peningkatan kegiatan pengembangan pemukiman.Tabel 18. antarpemerintahan. lingkungan. sosial ekonomi. dan prasarana wilayah Pengembangan kawasan khusus dengan pemanfaatan ruang spesifik sesuai dinamika wilayah perbatasan Pengelolaan SDA darat dan laut secara seimbang Peningkatan kesejahteraan masyarakat. dan antar stakeholders di wilayah perbatasan Pembuatan kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan Penyusunan kebijakan tingkat makro dan mikro. sarana. sarana.

00 1.00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Driver Power Elemen (Tolok Ukur) Gambar 41. Elemen tolok ukur tersebut diawali oleh peningkatan kesejahteraan masyarakat. dependent.00 4.00 8. sedangkan yang memiliki nilai driver power terendah adalah 3 (pengembangan kawasan khusus dengan pemanfaatan ruang spesifik sesuai dinamika wilayah perbatasan). pendapatan daerah. gambar tersebut menjelaskan pendapat para ahli tentang elemen tolok ukur dalam strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan. penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan.00 3.00 6. Interpretasi dalam bentuk hierarki disajikan pada Gambar 38 dan pada Gambar 39 subelemen dikelompokkan kedalam empat sektor yakni autonomous.111 Gambaran dari masing-masing elemen tolok ukur mengenai peringkat berdasarkan nilai driver power yang ada disajikan pada Gambar 41. linkage dan independent. peningkatan kerja sama pembangunan antarnegara antarpemerintahan dan antar-stakeholders di wilayah . nilai driver power elemen tolok ukur tertinggi pada subelemen 5 (peningkatan kesejahteraan masyarakat.00 7. Selain itu. Peringkat elemen tolok ukur berdasarkan nilai driver power Berdasarkan Gambar 41 di atas.00 2. penataan dan pembukaan isolasi serta ketertinggalan wilayah perbatasan. pendekatan pengelolaan wilayah perbatasan pada aspek sosekbudhankam dan lingkungan. pendapatan daerah dan pendapatan negara. dan pendapatan negara) dan 15 (penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan).00 5. Analisis data ISM disajikan pada Lampiran 4. prasarana dan sarana. pembangunan infrastruktur. kesejahteraan secara seimbang. Berdasarkan Gambar 42. 9.

sarana dan prasarana wilayah Pembangunan Wilayah Perbatasan Penataan ruang wilayah Sinergi dan keseimbangan pembangunan Linkage Pembuatan kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan Level 4 Penataan dan pembukaan isolasi serta ketertinggalan wilayah perbatasan Pembangunan infrastruktur. sarana dan prasarana Pendekatan pengelolaan Wilayah Perbatasan pada aspek sosekbudhankam dan lingkungan serta kesejahteraan secara seimbang Independent Peningkatan kerjasama pembangunan antar negara. (b) Diagram model struktural ISM dari elemen tolok ukur yang terpengaruh program seperti disajikan pada Gambar 38. dan antar stakeholders di wilayah perbatasan Level 5 Peningkatan kesejahteraan masyarakat. pendapatan daerah dan pendapatan negara Penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan Gambar 42. antar pemerintahan. Hasil kajian subelemen pada analisis ISM berupa (a) Matriks reachability dan interpretasi dari elemen tolok ukur yang terpengaruh program. Level 1 Pengembangan kawasan khusus dengan pemanfaatan ruang spesifik sesuai dinamika wilayah Dependent Level 2 Pengelolaan SDA darat dan laut secara seimbang Partisipasi horison & vertikal pusat dan daerah Penyusunan kebijakan tingkat makro dan mikro. investasi. (c) Matriks driver power-dependence untuk elemen tolok ukur yang terpengaruh program. yang disajikan pada lampiran 4.perbatasan merupakan elemen tolok ukur tersebut. SDA dan kelembagaan pendukung pusat pertumbuhan Evaluasi kegiatan untuk penganggaran dana pada kegiatan Level 3 Peningkatan kegiatan pengembangan pemukiman. disajikan pada Gambar 42. Diagram hierarki dari subelemen tolok ukur dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara .

masyarakat. perguruan tinggi. swasta. digunakan model AHP untuk memilih arahan kebijakan yang tepat dan penting dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan. Departemen PU. 7.113 Berdasarkan hasil analisis terdapat 6 faktor kunci prioritas penggerak elemen tolok ukur yang sangat memengaruhi program menuju strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yaitu subelemen-subelemen yang terletak pada sektor I (independent). Independent 5. DPR RI. Pakar yang terlibat antara lain dari Bappenas. Matriks DP-D untuk subelemen tolok ukur dalam pengembangan strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara 4. pemda. lembaga profesi. dan LSM. 14. 11. 6. 1 1 0 4 . 9. 8. Hasil Pembobotan pada Setiap Komponen Dalam menganalisis komponen yang dominan dalam kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan wilayah perbatasan negara di Kabupaten Nunukan.3 Komponen-komponen Dominan dalam Kebijakan Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Kabupaten Nunukan A. Departemen Dalam Negeri. Menpera. 15 17 16 15 1. . Gambar 39 merupakan diagram hirarki AHP yang telah didiskusikan dan merupakan pendapat pakar melalui wawancara yang mendalam. 12 13 12 11 10 9 8 6 7 7 8 9 6 5 4 3 2 1 0 Linkage 2. sedangkan lemahnya perhatian terhadap sektor-sektor tersebut akan menyebabkan kegagalan program. 13 10 11 12 13 14 15 16 17 4. 16 0 1 2 3 4 5 3 Autonomus Dependent Gambar 43.4. KLH. Setiap tindakan yang meningkatkan peranan dari sektor-sektor tersebut akan menghasilkan sukses program menuju sistem pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara.

313 Pemulihan Ekosistem 0. peningkatan kesejahteraan.191 Stakeholders Pemerintah 0.222 Swasta 0.271 Prasarana dan Sarana 0.068 Tujuan Pengembangan Dan Penataan Kawasan 0. Hasil pengisian kuesioner matriks perbandingan berpasangan yang disampaikan kepada .246 Gambar 44.326 Peningkatan Kesejahteraan 0. tingkat pendapatan.Fokus Permukiman PerbatasanNegara Faktor Kebijakan Pemerintah 0. Aktor tersebut terkait dengan pengembangan kawasan permukiman dan masing-masing aktor mempunyai peran.133 Pakar 0. pemerintah daerah. pengelolaan SDA dan ekosistem kawasan.091 BKM / LSM 0. prasarana.116 Minimalisasi Konflik 0. pengembangan prasarana kawasan dan minimalisasi konflik.624 Strategi Pengembangan (Kelembagaan) 0. Diagram hierarki AHP pada pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara Hierarki AHP disusun dengan lima level yang memperlihatkan tahapan proses penetapan prioritas yang dimulai dari penetapan fokus pada level l yaitu fokus pada pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara.130 Strategi Pengembangan (Pembiayaan) 0. pendanaan pembangunan. Level 3 adalah aktor terdiri atas pemerintah pusat. swasta. Level 2 adalah faktor yang terdiri atas kebijakan pemerintah. masyarakat.150 Masyarakat 0.158 Pengembangan Prasarana Kawasan 0.120 Pendanaan Pembangunan 0. dan BKM/LSM setempat. dan kekuatan terhadap kebijakan-kebijakan pengembangan kawasan. pengaruh. pakar. Level 4 adalah tujuan untuk pengembangan kawasan permukiman yang terdiri atas pengembangan dan penataan kawasan. Level 5 adalah sasaran yang terdiri atas strategi pengembangan kawasan.087 Sasaran Strategi Pengembangan (Kawasan) 0. dan sarana. dan strategi pengembangan kelembagaan. strategi pengembangan pembiayaan.337 Pemerintah Daerah 0.418 Tingkat Pendapatan 0.

Keterangan : KBPM = Kebijakan Pemerintah PDPB = Pendanaan Pembangunan PSSR = Prasarana dan Sarana TKPM = Tingkat Pendapatan Gambar 45. Kebijakan pemerintah akan membantu membangun pusat-pusat pertumbuhan baru kegiatan ekonomi dan perdagangan. Hasil analisis AHP pada setiap level dari heirarki desain pengembangan kawasan berkelanjutan. pakar perguruan tinggi. kemudian diolah dengan perangkat lunak Expert Choice. Penyiapan perangkat kebijakan dan pendanaan pembangunan diperlukan guna pengembangan kawasan permukiman di tingkat kabupaten.418 dan 0. kawasan pusat pertumbuhan maupun pada kawasan yang sangat terperinci di wilayah perbatasan negara. Bobot dan prioritas yang dianalisis adalah hasil kombinasi (combined) dari pendapat para pakar pada setiap matriks berpasangan. hasil analisis AHP yang merupakan faktor (level 2) kebijakan pemerintah dan pendanaan pembangunan menjadi prioritas utama dengan masing-masing bobot nilai adalah 0. masyarakat. Pembobotan Kriteria Faktor dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Perbatasan Negara Berkelanjutan Berdasarkan hasil dari pendapat pakar tersusun faktor-faktor yang menjadi pengaruh utama dalam pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan. dan BKM/LSM.271. B.115 pakar dari kalangan pemerintah pusat. Gambar 45 menunjukkan urutan prioritas faktor-faktor tersebut. Urutan prioritas faktor dalam pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan Berdasarkan gambar 45. Dalam kaitan dengan kebijakan pemerintah diperlukan kebijakan ekonomi yang meliputi intervensi pemerintah . swasta. pemerintah daerah.

proses dan pola pertumbuhan. kesehatan lingkungan. Kuswara (2004) dalam kajiannya mengungkapkan bahwa permukiman merupakan tempat aktivitas yang memanfaatkan ruang terbesar dari kawasan budi daya. Kebijakan pengembangan permukiman di Indonesia tahun 2000—2020 antara lain pengembangan lokasi kawasan permukiman dengan memerhatikan jumlah penduduk dan penyebarannya. Aturan dalam teori hierarki. Adapun. serta pembangunan permukiman yang kontributif terhadap rencana tata ruang. penciptaan kesempatan kerja. dan pemberian stimulan bagi kegiatan pembangunan yang memerlukannya. hal tersebut sering terabaikan sehingga tidak berfungsi secara optimal dalam mendukung suksesnya perkembangan suatu kawasan/kota. stakeholders. Dalam kenyataannya. perilaku masyarakat. Pola merupakan gambaran sementara dari proses dan perilaku merupakan sumber dari proses pengambilan keputusan (Cheng 1999). dan tersedianya fasilitas sosial dan umum. pemerataan pendapatan. (3) Proses dapat mengindikasikan dinamika pertumbuhan kota. . Konsekuensinya untuk memahami proses adalah harus melihat pola dan perilaku yang terkandung di dalamnya. (2) Pola pertumbuhan merupakan cerminan dapat dilihat secara langsung hasilnya. (Permenpera 1999). (1) Kebijakan merupakan faktor paling penting untuk mengontrol pertumbuhan suatu kota pada skala makro.116 secara terarah. pola tata guna lahan. Oleh karena itu. (4) Perilaku mengindikasikan kegiatan dari pelaku yang terlibat. memahami tiap tingkat harus mempertimbangkan tingkat yang paling atas dan paling bawah sebagai perbandingan hubungan yang paling dekat. LKM. Lokasi permukiman perlu memperhatikan keserasian dengan lingkungannya. swasta. diperlukan upaya pengembangan perencanaan dan perancangan. Hasilnya adalah model pola pentahapan dan proses penyusunan kebijakan. Hal tersebut dilakukan agar segenap tujuan pembangunan berkelanjutan ini dapat tercapai. strategi yang ditempuh adalah partisipasi masyarakat. dalam konteks hubungan antara tujuan sosial dan ekologi. Memahami kecenderungan pertumbuhan kawasan perkotaan di wilayah perbatasan (pusat pertumbuhan baru) sangat terkait dengan 4 faktor: kebijakan. dan LSM. Pengelolaan pembangunan perumahan harus memperhatikan ketersediaan sumber daya pendukung serta keterpaduannya dengan aktivitas lain.

perlu dibuat rencana tapak kawasan (site planning) agar dalam jangka panjang perumahan tersebut tidak menimbulkan dampak negatif dalam arti luas. Rencana tapak kawasan ini penting karena akan menentukan bentuk dan pola kawasan yang dapat menciptakan suatu kawasan permukiman yang tertata sehingga kemudahan dan kenyamanan para penghuni dapat tercipta serta dapat mempengaruhi perilaku penghuni di mana pun kawasan permukiman berada termasuk di wilayah perbatasan negara. pelayanan perkotaan. Diharapkan program pembangunan yang menyeluruh dan terpadu dapat dilaksanakan di wilayah perbatasan negara Kabupaten Nunukan. . Adanya peningkatan prasarana dan sarana serta peningkatan tingkat pendapatan. tersusun stakeholder yang menjadi pengaruh utama dalam pengelolaan pengembangan kawasan permukiman tersebut perbatasan negara berkelanjutan. dan (v) komunitas lokal tersisih. (iii) konflik kepentingan dalam penentuan lokasi perumahan. di mana orientasi pembangunan terfokus pada kelompok masyarakat mampu serta menguntungkan. dan (iv) kegagalan implementasi dan kebijakan penentuan lokasi perumahan (Kirmanto 2005). Tantangan pengembangan kawasan permukiman yang akan datang antara lain (i) urbanisasi yang tumbuh cepat merupakan tantangan bagi pemerintah untuk berupaya agar pertumbuhan lebih merata. dan perumahan. Gambar 46 menunjukkan urutan prioritas stakeholder tersebut. Setelah lokasi kawasan permukiman ditentukan berdasarkan pilihan yang optimal. (ii) perkembangan tak terkendali di daerah yang memiliki potensi untuk tumbuh. C. Hasil analisis AHP selanjutnya yang menjadi prioritas adalah peningkatan prasarana dan sarana dengan bobot nilai 0.117 Permasalahan perumahan saat ini menurut Kirmanto (2005) telah terjadi: (i) alokasi tanah dan tata ruang yang kurang tepat. (iii) marjinalisasi sektor lokal oleh sektor nasional dan global. sehingga akan memberikan keuntungan kepada pemerintah dan mensejahterakan masyarakat di sekitar kawasan tersebut.120.191 dan yang menjadi prioritas yang terakhir adalah tingkat pendapatan dengan bobot nilai 0. Pembobotan Kriteria Stakeholder dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Perbatasan Negara Berkelanjutan Berdasarkan hasil dari pendapat pakar. (iv) masalah lingkungan dan eksploitasi sumberdaya alam. (ii) ketimpangan pelayanan infrastruktur.

337 dan 0. bobot nilai masing-masing stakeholder adalah 0. dan UU No. pemerintah mempunyai kewenangan penuh untuk mendorong percepatan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan kabupaten Nunukan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN). 4 tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. Oleh karena itu. Urutan prioritas stakeholder dalam pengembangan permukiman perbatasan negara berkelanjutan kawasan Berdasarkan gambar 46 hasil analisis AHP yang merupakan stakeholder (level 3) menunjukkan bahwa pemerintah pusat dan daerah mempunyai peran utama dalam pengembangan kawasan permukiman. Pola penanganan tersebut dapat dijabarkan melalui penyusunan kebijakan dari tingkat makro sampai tingkat mikro . 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) 2000-2004.222. Hal tersebut disebabkan kenyataan di lapangan maupun pada tingkat kebijakan sangat ditentukan oleh pengaruh dan peran dari aktor pemerintah pusat dan pemerintah daerah sesuai dengan Undang-undang No. Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah. Undang-undang No. Secara umum. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah mempunyai tingkat kepentingan yang tinggi terhadap penetapan alternatif kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. pengembangan wilayah perbatasan memerlukan suatu pola atau kerangka penanganan yang menyeluruh meliputi berbagai sektor dan kegiatan pembangunan serta koordinasi dan kerjasama yang efektif dari mulai pemerintah pusat sampai ke tingkat kabupaten/kota.118 Keterangan : PP = Pemerintah Pusat PD = Pemerintah Daerah ST = Swasta MY = Masyarakat PK = Pakar Gambar 46.

dan kesadaran masyarakat perbatasan akan identitas nasional. Tanggung jawab sosial swasta di antaranya peningkatan kesejahteraan dapat memberikan masyarakat. Swasta mempunyai peran sebagai penggalian sumber dana untuk investasi pembangunan yang berkaitan dengan pengembangan kawasan permukiman. Kedua stakeholder tersebut mempunyai peran dalam hal melakukan pemantauan dan pengawasan di lapangan terhadap sosial ekonomi masyarakat di sekitar wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan dan usaha-usaha penegakan hukum jika ada suatu pelanggaran dalam setiap kegiatan pembangunan.68. Swasta memiliki bobot nilai sebanyak 0.150. Hak-hak ulayat masyarakat perbatasan perlu diakui dan diatur keberadaannya.dan disusun berdasarkan proses yang partisipatif baik secara horisontal di pusat maupun vertikal dengan pemerintah daerah. Masyarakat berperan penting untuk menjaga wilayah perbatasan. Swasta merupakan salah satu stakeholder yang mempunyai peran terhadap pengembangan kawasan permukiman. Walaupun demikian. Pembangunan permukiman sangat penting dilakukan di wilayah perbatasan tersebut menyangkut keamanan. Keberadaan tanah ulayat secara sesungguhnya memiliki permasalahan secara administratif karena terkadang keberadaannya melintasi batas negara di dua wilayah negara. . masyarakat. seperti pernyataan Direktorat Jendral Pemberdayaan Sosial (2005) mengemukakan bahwa tanggung jawab sosial dunia usaha telah menjadi suatu kebutuhan yang dirasakan bersama antara pemerintah. keberadaanya tidak dapat dihapuskan.91 dan 0.133. Stakeholder selanjutnya adalah pakar dan BKM/LSM masing-masing stakeholder tersebut mempunyai bobot nilai 0. pemerintah dengan swasta. implikasi positif terhadap meringankan beban pembiayaan pembangunan. sedangkan jangkauan pelaksanaannya bersifat strategis sampai dengan operasional. memperkuat investasi dunia usaha sehingga dapat meningkatkan dan menguatkan jaringan kemitraan serta kerja sama antara masyarakat. tetapi sebaliknya perlu diakui dan diatur secara jelas. kehormatan. dan swasta atau dunia usaha berdasarkan prinsip kemitraan dan kerjasama. karena hak-hak ulayat ini secara tradisional menjadi aset penghidupan sehari-hari masyarakat tersebut. Stakeholder selanjutnya adalah masyarakat yang mempunyai bobot nilai 0.

Penanganan pengembangan kawasan permukiman sesuai dengan UU No. Keterangan : PPK = Pengembangan dan Penataan Kawasan PKS = Peningkatan Kesejahteraan PE = Pengembangan SDA dan Ekosistem Kawasan PRK = Pengembangan Prasarana Kawasan MK = Minimasi Konflik Gambar 47.120 D. Pembobotan Kriteria Tujuan dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Berdasarkan hasil dari pendapat pakar tersusun tujuan yang menjadi capaian utama.313. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman pada pasal 2 memuat penjelasan bahwa lingkup pengaturan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) yang . Pengembangan kawasan menjadi prioritas sesuai dengan GBHN 1999 tertinggal mengamanatkan yang harus bahwa wilayah perbatasan dalam merupakan kawasan mendapat prioritas pembangunan. Amanat GBHN ini telah dijabarkan dalam Undang-Undang No. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) dan dalam Undang-Undang No. mengamanatkan bahwa wilayah perbatasan negara sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) dan menyiapkan berbagai kebijakan dan langkah serta program pembangunan yang menyeluruh dan terpadu sehingga akan terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang. gambar 47 menunjukkan urutan prioritas tujuan tersebut. Urutan prioritas tujuan dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara Berdasarkan gambar 47 hasil analisis AHP yang merupakan tujuan (level 4) menunjukkan pengembangan dan penataan kawasan dan peningkatan kesejahteraan mendapat priotitas utama dalam kriteria tujuan dengan masingmasing bobot nilai 0.326 dan 0.

meliputi kegiatan pembangunan baru. perluasan. Konsep penataan dan pengembangan permukiman di Indonesia berbeda dengan di Malaysia. serta rendahnya kesejahteraan masyarakat. Kebutuhan rumah di Kabupaten Nunukan tahun 2009 dan 2014 Kawasan Perumahan Skenario Pesimis 2009 2014 Optimis 2009 2014 Ambisius 2009 2014 Sumber: Hasil Analisis Jumlah Penduduk 96.578 26. penataan perbaikan. pemanfaatannya.640 20.840 163.110 Kemiskinan dan ketertinggalan masyarakat merupakan permasalahan utama di wilayah perbatasan.429 26.961 107.053 116.264 41.751 Kebutuhan Rumah (unit) 18. maka perkiraan kebutuhan minimum rumah pada tahun 2009 dan tahun 2014 berdasarkan tiap skenario dapat ditentukan seperti tertera pada Tabel 19. terbatasnya fasilitas umum dan sosial. Malaysia khususnya di wilayah perbatasan dengan Indonesia menggunakan pola cascade (ditarik ke dalam tidak linier di sepanjang jalan).784 144. Seiring meningkatnya jumlah penduduk. Hal ini disebabkan sentralisasi pembangunan di masa lalu dan kecenderungan penggunaan pendekatan keamanan dalam pengelolaan wilayah perbatasan sehingga menyebabkan minimnya prasarana dan sarana wilayah. perumahan perluasan.579 21. Dalam mengembangkan kawasan permukiman. dan Pengembangan pembangunan yang menyangkut penataan permukiman baru.171 239. serta dengan menggunakan asumsi bahwa setiap keluarga terdiri dari 5 orang. kebutuhan permukiman sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia ikut meningkat pula. meliputi kegiatan pemeliharaan. pemeliharaan. Berdasarkan asumsi pertumbuhan penduduk berdasarkan pada tiap-tiap skenario yang direncanakan. perbaikan. Tabel 19. dan pemanfaataannya. Keterbatasan pelayanan publik di wilayah perbatasan menyebabkan orientasi .menyangkut pemugaran. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari perkembangan permukiman berpola linier/ribbon development (Departemen PU 2002). peremajaan.

Oleh karena itu. Oleh karena itu. Untuk masyarakat sebagai warga negara dalam memperoleh pelayanan publik dan kesejahteraan sosial serta membuka keterisolasian wilayah. sosial.122 aktivitas memenuhi sosial-ekonomi hak-hak masyarakat ke wilayah negara tetangga. para pekerja . Paradigma pengelolaan wilayah perbatasan pada masa lampau berbeda dengan pradigma saat ini. Pengelolaan SDA dan ekosistem wilayah sangat penting untuk dilaksanakan sehingga SDA dan wilayah tidak terdegradasi akibat adanya pembangunan di kawasan tersebut. Pengelolaan wilayah perbatasan dengan pendekatan kesejahteraan (prosperity approach) sangat diperlukan untuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. diperlukan percepatan pembangunan di wilayah perbatasan dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan. Prioritas selanjutnya adalah pengelolaan SDA dan ekosistem wilayah dengan bobot nilai 0. sedangkan saat ini kondisi keamanan regional relatif stabil sehingga pengembangan wilayah perbatasan perlu pula menekankan kepada aspek ekonomi. budaya. kegiatan-kegiatan pembangunan perlu direncanakan secara terpadu berdasarkan pada pengelolaan secara optimal potensi-potensi SDA dan ekosistem wilayah.158. dan lingkungan. pengembangan wilayah perbatasan melalui pendekatan kesejahteraan sekaligus pendekatan keamanan secara serasi perlu dijadikan landasan dalam penyusunan berbagai program dan kegiatan di wilayah perbatasan pada masa yang akan datang. dan mengejar ketertinggalan pembangunan dari wilayah negara tetangga. Di lain pihak. Pada masa lalu pengelolaan wilayah perbatasan lebih menekankan kepada aspek keamanan (security approach). masyarakat dan pekerja di wilayah perbatasan banyak kekurangan rumah sehingga untuk memenuhi kebutuhan rumah. Kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara mempunyai dampak langsung terhadap kualitas lingkungan seperti fakta adanya kawasan permukiman yang liar dan tidak tertata yang keberadaannya juga dapat mengganggu ekosistem air tanah. Kebijakan pengembangan wilayah perbatasan negara ke depan adalah dengan peningkatan keberpihakan terhadap wilayah perbatasan sebagai daerah tertinggal dan terisolir dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan dan keamanan secara seimbang. meningkatkan sumber pendapatan negara.

antarnegara sangat diperlukan untuk meningkatkan investasi dan optimalisasi pemanfaatan SDA di wilayah perbatasan. Selain itu kerja sama. Adanya saling ketergantungan dalam masyarakat internasional berpengaruh dalam bidang-bidang ideologi. Permasalahan perbatasan yang ada saat ini terjadi pada sembilan titik. Oleh karena itu. setiap negara di saling tergantung satu sama lain. maupun regional dalam berbagai bidang pengelolaan perbatasan tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan internasional maupun regional. Kelembagaan untuk menyelesaikan masalah-masalah perbatasan RI - Malaysia yang ada saat ini adalah General Border Committee (GBC) yang diketuai oleh Panglima TNI. dan pertahanan keamananan. peningkatan kerja sama dengan negara tetangga baik secara bilateral. ekonomi. politik. masyarakat dengan pemerintah daerah. Permasalahan ini sangat kompleks dan menyangkut kepastian hukum wilayah NKRI atau Malaysia. subregional. Prioritas terakhir adalah minimalisasi konflik dengan bobot nilai 0. Apabila para pekerja dapat dipenuhi kebutuhan rumahanya oleh para stakeholders terkait. dan masyarakat dengan pemerintah provinsi/pusat. maupun regional diharapkan dapat menciptakan keterbukaan dan saling pengertian sehingga dapat menghindari terjadinya konflik perbatasan.116 yang sangat penting dilakukan untuk pengembangan potensi ekonomi dan sumber daya alam di kawasan tersebut. (3) . (2) Batu Aum. Di era globalisasi seperti saat ini. maka gajinya akan lebih besar untuk kebutuhan kesejahteraan sehingga etos kerja para pekerja akan semakin meningkat (Gilbreath 2002). Forum ini mengadakan pertemuan setahun sekali dengan pergantian tempat antara Indonesia dan Malaysia. yaitu masalah (1) Tanjung Datu. subregional. Hal ini dapat mendatangkan keuntungan bagi pemerintah daerah maupun masyarakat.menyewa tempat tinggal dengan tarif setengah dari gajinya.087 yang penting dilakukan agar tidak terjadi konflik di wilayah perbatasan antara masyarakat dengan masyarakat negara tetangga. Hal ini didukung meningkatnya hubungan masyarakat perbatasan baik dari segi sosial-budaya maupun ekonomi. Peningkatan kerja sama bilateral. Prioritas selanjutnya yaitu pengembangan prasarana dan sarana dengan bobot nilai 0. serta untuk menanggulangi berbagai permasalahan hukum yang terjadi di wilayah perbatasan. sosial-budaya.

Semilau. (5) Sungai Semantipal. dan (9) Pulau Sebatik. Gambar 48 menunjukkan urutan prioritas sasaran tersebut. Kerja sama di bidang sosial-ekonomi daerah perbatasan Malaysia (Sarawak dan Sabah) dengan Indonesia (Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur) yang disebut Sosek Malindo telah dilengkapi dengan kelompok kerja (KK). E. (c) melaksanakan pertukaran informasi mengenai proyekproyek pembangunan sosial-ekonomi di wilayah perbatasan bersama. (b) merumuskan hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan pembangunan sosial ekonomi di wilayah perbatasan. Urutan prioritas sasaran dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara Berdasarkan gambar 48 hasil analisis AHP yang merupakan sasaran (level 5) menunjukkan strategi pengembangan kawasan menjadi prioritas utama dengan bobot nilai 0. (8) Gunung Raya. Pembobotan Kriteria Sasaran dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Perbatasan Negara Berkelanjutan Hasil dari pendapat pakar tersusun sasaran yang menjadi prioritas utama dalam keberhasilan pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan. dan (d) menyampaikan laporan kepada KK Sosek Malindo tingkat pusat mengenai pelaksanaan kerja sama pembangunan sosial-ekonomi di daerah perbatasan. (4) Sungai Sinapad. (7) Sungai Buan. Hal tersebut disebabkan adanya dukungan ketersediaan infrastruktur dasar yang memadai untuk dilakukan pengembangan wilayah . (6) Nanga Badau. Keterangan : SPKW = Strategi Pengembangan Kawasan SPPM = Strategi Pengembangan Pembiayaan SPKL = Strategi Pengembangan Kelembagaan Gambar 48.624. Sosek Malindo di tingkat provinsi/negeri ditujukan untuk (a) menentukan proyekproyek pembangunan sosial ekonomi yang digunakan bersama.

peningkatan kelengkapan lingkungan (neighbourhood peningkatan investasi publik. Peningkatan kualitas sumber daya manusia agar lebih berpotensi dan profesional. bantuan teknis pengembangan desain rumah dan lingkungan. Hal tersebut didukung oleh adanya dukungan pembiayaan dari pemerintah untuk melakukan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan. a. Strategi Pengembangan Kawasan Arah pembangunan jangka panjang nasional yang berkaitan dengan attachment). Peningkatan sarana dan prasarana pendukung terhadap aktivitas sosial ekonomi masyarakat setempat serta guna membantu pengamanan kawasan perbatasan. sosialisasi dan program advokasi berkelanjutan. pembangunan wilayah perbatasan merupakan wilayah perbatasan dikembangkan dengan mengubah arah kebijakan pembangunan yang selama ini cenderung berorientasi inward looking menjadi outward looking.246. .130. Prioritas kedua yaitu pengembangan pembiayaan dengan bobot nilai 0. Prioritas yang terakhir adalah strategi pengembangan kelembagaan dengan bobot nilai 0.125 perbatasan di Kabupaten Nunukan. pembentukan pengelolaan community-based permukiman organization (CBO). Pengembangan wilayah perbatasan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi strategis dengan pemanfaatan sumberdaya alam setempat. Penetapan garis batas negara secara jelas dan benar. Adapun program pembangunan berupa penyusunan rencana pengembangan wilayah perbatasan dengan program kegiatan sebagai berikut: Penetapan arah kebijakan pembangunan wilayah perbatasan dengan orientasi mendukung pergerakan aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga. Dengan demikian. pelembagaan aktivitas sosialkultural. Hal tersebut disebabkan adanya dukungan perencanaan tata ruang yang partisipatif. Penetapan fungsi lembaga pengelola wilayah perbatasan sesuai dengan kapasitas. kawasan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pintu gerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga.

Mempercepat tercapainya kemandirian masyarakat dan pemerintah Kabupaten Nunukan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Perlu dibuka pos-pos imigrasi di wilayah perbatasan untuk melegalkan arus barang yang masuk dan keluar dari wilayah Indonesia. Pengawasan sumber daya alam di daerah perbatasan dan pencurian oleh pihak-pihak yang kurang bartanggung jawab serta pengawasan pemindahan patok-patok batas negara di perbatasan Indonesia dengan Malaysia. dan kawasan tertinggal lainnya. Pembukaan sarana dan prasarana perintis dan air strip yang sudah ada di daerah perbatasan dan bantuan subsidi penerbangan ke daerah perbatasan. Mengembangkan antarwilayah dan menyerasikan laju pertumbuhan antarsektor pembangunan ekonomi. Mengoptimalkan pemanfaatan pendapatan yang berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui dengan prinsip pembangunan yang berkelanjutan. membuka wilayah pedalaman.126 Arah kebijakan pemanfaatan ruang di wilayah perbatasan Provinsi Kalimantan Timur adalah: Perlu dibuka jalur transportasi yang menghubungkan wilayah perbatasan dengan daerah-daerah lainnya. wilayah pedesaan. Meningkatkan investasi dan peran wisata untuk mendorong penguatan ekonomi rakyat. Bagian dokumen perencanaan daerah ini yang memuat salah satu prioritas pembangunan daerah perbatasan dengan program prioritas: Pembangunan sarana dan prasarana jalan darat yang menghubungkan pusat pusat pertumbuhan ekonomi di daerah kota dan pantai dengan wilayah di perbatasan termasuk jalan tembus menuju ke daerah Malaysia. baik yang menuju Indonesia maupun Malaysia untuk memudahkan pemasaran hasil-hasil bumi setempat. Rencana Strategi Daerah Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2003--2008. Pengembangan potensi ekonomi yang tersedia di daerah perbatasan melalui . wilayah yang terisolasi. perbatasan. Perlu dibangun pelabuhan laut yang khusus melayani arus keluar-masuk barang dari Indonesia di Wilayah Nunukan Kepulauan. serta kecamatan.

atau yang ditugaskan dan/atau desa dalam rangka tugas pembantuan. dan Ambalat Timur terulang dengan kembali Serawak di daerah (Malaysia). Legitan. kondisi. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. keuangan pusat yang dikonsentrasikan kepada gubernur. dan dana . Jangan sampai kasus Sepadan. b. kebutuhan. pendapatan lain yang syah. Dana perimbangan merupakan pendanaan daerah yang bersumber dari APBN yang terdiri dari dana bagi hasil (DBH). adil. pelayanan. Studi pengembangan Kawasan Strategis Nasional perbatasan Provinsi Kalimantan Timur yang menyangkut pula pemerintahan 4 kabupaten merupakan masalah nasional yang perlu mendapat perhatian khusus. Peningkatan kerja sama sosial-ekonomi antara pemerintah dan masyarakat perbatasan antarkedua negara malalui payung kerja sama-SOSEK MALINDO dan kerja sama bidang lainnya yang saling menguntungkan kedua belah pihak. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah dimaksudkan untuk mendukung penyerahan urusan kepada pemerintahan daerah yang diatur dalam Undang-Undang No. serta pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah dan pemerintahan daerah diatur secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang. Perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah mencakup pembagian keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah secara proporsional. Strategi Pengembangan Pembiayaan Pada pasal 18 A ayat (2) UUD Negara Republik Indonesia 1945 mengamanatkan agar hubungan keuangan. Daerah. demokratis.127 pola agribisnis dan agroindustri dengan tujuan ekspor ke negara tetangga. UndangUndang No. dana alokasi umum (DAU). Wilayah perbatasan berkaitan dengan pemerintah pusat sehingga pendanaan pembangunan wilayah perbatasan juga dapat bersumber dari RAPBN. yang mengandung makna pendanaan mengikuti fungsi pemerintahan yang menjadi tanggung jawab masing-masing tingkat pemerintahan. dan transparan dengan memperhatikan potensi. Pendanaan atau pembiayaan tersebut menganut prinsip "Money Follow's Function". daerah Pinjaman daratan perbatasan Kalimantan Sumber-sumber terdiri Daerah atas dan pendanaan/pembiayaan pendapatan Asli pelaksanaan Dana pemerintahan Perimbangan. serta permasalahan daerah.

Dana perimbangan ini digunakan untuk membantu daerah dalam mendanai kewenangannya untuk menghindari ketimpangan sumber pendanaan pemerintahan antara pusat dan pemerintahan daerah. kecuali urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintah pusat. Dalam Undang-Undang No. Sumber dana yang lain yaitu dana dekonsentrasi yang bertujuan untuk menjamin tersedianya dana untuk pelaksanaan kewenangan pemerintah yang dilimpahkan pada gubernur sebagai wakil pemerintah. termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang tidak perlu dibayar lagi. Selain itu. pelaksanaan. dan termasuk dana reboisasi. Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. Dana alokasi umum (DAU) digunakan untuk pemerataan kemampuan keuangan antardaerah melalui penerapan formula yang mempertimbangkan kebutuhan dana potensi daerah. Dana alokasi khusus (DAK) digunakan untuk membantu membiayai kegiatan-kegiatan khusus di daerah tertentu yang menjadi prioritas nasional karena membangun wilayah perbatasan merupakan masalah daerah dan masalah nasional. Dana bagi hasil (DBH) diatur dalam Undang-Undang No. 33 Tahun 2004 juga mengatur hibah yang berasal dari pemerintah negara asing.128 alokasi khusus (DAK). Sumber dana/biaya dan kekayaan sumber daya alam yang ada di Provinsi Kalimantan Timur dan keempat kabupaten yang termasuk wilayah perbatasan cukup besar apabila dana tersebut dapat dimanfaatkan dengan kebijakan. terdapat sumber-sumber pembiayaan lain yaitu pinjaman daerah yang digunakan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan pelayanan masyarakat. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. perencanaan. c. panas bumi sesuai dengan undang-undang No. badan/lembaga internasional dalam bentuk devisa/rupiah. badan/lembaga asing. 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi. bentuk barang dan jasa. dan pengawasan yang baik. Strategi Pengembangan Kelembagaan Pengembangan strategi nasional perbatasan Provinsi Kalimantan Timur berkaitan dengan Kabupaten Nunukan sehingga sesuai dengan amanat Undangundang No. Dalam . 7 Tahun 2000 dan pada pasal 21 sektor pertambangan. Wilayah perbatasan berkaitan dengan empat kabupaten sehingga ada peluang peningkatan DAU untuk membangun wilayah perbatasan.

Kriteria eksternalitas didasarkan atas pemikiran bahwa tingkat pemerintahan yang berwenang atas suatu urusan pemerintahan ditentukan oleh jangkauan dampak yang diakibatkan dari penyelenggaraan urusan pemerintahan. dan efisien. dan pemerintah daerah kabupaten/kota. ditetapkan kriteria pembagian urusan pemerintahan yang meliputi eksternalitas. pertahanan keamanan. pemerintah daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas perbantuan. Untuk mencegah teradinya tumpang tindih pengakuan atau klaim atas dampak maka ditentukan kriteria akuntanbilitas. Kriteria tersebut yaitu tingkat pemerintah yang paling berwenang menyelenggarakan urusan pemerintahan tersebut adalah yang paling dekat dari dampak yang timbul. Kriteria efisiensi didasarkan pada penyelenggaraan urusan pemerintahan harus ekonomis. Urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah yaitu urusan dalam bidang politik luar negeri. akuntabilitas. Pembagian urusan pemerintahan yang bersifat konkuren harus proporsional antara pemerintah. Dalam setiap bidang urusan pemerintahan yang bersifat konkuren terdapat bagian urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat. yustisi dan agama. Penggunaan ketiga kriteria tersebut diterapkan secara kumulatif sebagai satu kesatuan dengan mempertimbangkan keserasian dan keadilan hubungan antarkegiatan dan susunan pemerintahan. Oleh karena itu.129 menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah tersebut. Penyelenggaraan desentralisasi memberikan syarat terhadap pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Urusan pemerintahan yang dapat dikelola secara bersama antartingkatan dan susunan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi urusan pemerintah pusat. pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten. pemerintah daerah propinsi.Hal ini sesuai dengan prinsip demokrasi yang mendorong akuntanbilitas pemerintah kepada rakyat. moneter dan fiskal nasional. Urusan pemerintah terdiri dari urusan pemerintahan yang dikelola secara bersama antartingkatan dan susunan pemerintah atau konkuren. Seluruh tingkat pemerintahan wajib mengedepankan pencapaian efisiensi dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya dalam .

akuntanbilitas. lingkungan hidup. potensi. Urusan pemerintahan yang bersifat pilihan yaitu urusan pemerintahan yang diprioritaskan oleh pemerintahan daerah yang terkait dengan upaya pengembangan potensi unggulan (core competence). seperti pendidikan dasar. standar. dan kekhasan daerah yang bersangkutan. prosedur. Ketentuan tersebut meliputi penentuan struktur organisasi perangkat daerah. dan kriteria tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk menilai kemampuan apakah suatu urusan . Di luar urusan pemerintahan yang bersifat wajib dan pilihan. Penerapan kriteria eksternalitas.130 menghadapi globalisasi. standar. Ketiga kriteria ini dapat disinergikan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan demokratisasi sebagai esensi dasar dari kebijakan desentralisasi. Urusan pemerintahan di luar urusan wajib dan urusan pilihan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang bersangkutan tetap harus diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang bersangkutan. tiap tingkat pemerintahan harus melaksanakan urusan pemerintahan berdasarkan kriteria pembagian urusan pemerintahan. serta semangat ekonomis diwujudkan melalui kriteria efisiensi. Urusan pemerintahan wajib adalah urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang terkait dengan pelayanan dasar (basic services) bagi masyarakat. Pemerintah berkewajiban menyusun norma. dan kriteria yang dijadikan pedoman dalam mengatur hubungan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dan antara pemerintah daerah provinsi dengan pemerintah daerah kabupaten/kota. Hal ini tentu harus disesuaikan dengan kondisi. Keterbatasan sumber daya dan sumber dana yang dimiliki oleh daerah membuat prioritas penyelenggaraan urusan pemerintahan harus difokuskan pada urusan wajib dan urusan pilihan yang benar-benar mengarah pada penciptaan kesejahteraan masyarakat. kesehatan. Agar pelaksanaan urusan pemerintahan yang bersifat wajib dan pilihan memiliki payung hukum yang kuat. dan anggaran. perhubungan. prosedur. kependudukan dan sebagainya. personil. Pedoman yang memuat norma. Hal ini menjadi kewenangan pemerintah yang bersangkutan sesuai dengan dasar prinsip penyelenggaraan urusan sisa. maka urusan wajib dan pilihan yang diselenggarakan oleh daerah harus dituangkan ke dalam peraturan daerah yang menjadi acuan dalam penentuan penyelenggaraan pemerintah daerah. Urusan kewenangan daerah terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan.

dan kriteria yang dipersyaratkan untuk penyelenggaraan urusan pemerintahan. standar. Pemberdayaan pemerintah daerah sangat penting dilakukan untuk meningkatkan kapasitas daerah sehingga mampu memenuhi norma. kewenangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan tersebut dapat ditunda sampai dengan pemerintahan daerah yang bersangkutan mampu memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh pemerintah. prosedur. dan kriteria yang ditentukan. oleh Pelaksanaan pemerintah urusan daerah pemerintah provinsi yang belum mampu kepada dilimpahkan departemen/LPND yang membidangi urusan pemerintahan tersebut. departemen/LPND bertanggung jawab menyusun norma. Dengan demikian. Urusan pemerintah yang ditugaskan kepada pemerintah daerah didasarkan pada asas tugas pembantuan yang secara bertahap dapat diserahkan kepada urusan pemerintah daerah yang bersangkutan. dan konsultasi antarlembaga.pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah mampu diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang bersangkutan. standar. Bagi pemerintahan daerah yang belum memenuhi norma. Untuk melaksanakan urusan pemerintah yang belum mampu dilaksanakan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota dilimpahkan kepada gubernur selaku wakil pemerintah dilaksanakan pusat. peningkatan kapasitas dan fungsi kelembagaan dalam pengelolaan perbatasan dilakukan melalui optimalisasi fungsi dan peran kelembagaan antarinstansi pemerintah. dan kriteria sebagai prasyarat penyelenggaraan urusan pemerintah yang efisien sesuai dengan kewenangannya. Berdasarkan hal tersebut. Urusan pemerintahan ini diserahkan apabila pemerintah daerah benar-benar telah menunjukkan kemampuan untuk memenuhi norma. prosedur. prosedur. Oleh karena itu. dan kriteria wajib dalam mengikutsertakan pemangku kepentingan (stakeholders) terkait termasuk pemerintahan daerah. prosedur. Selain itu. standar. penataan hubungan kerja baik secara horisontal maupun secara vertikal. standar. peningkatan juga dilakukan melalui pengembangan database informasi wilayah perbatasan yang dapat dijadikan acuan bersama oleh seluruh . peningkatan koordinasi. tugas pembantuan dapat dimanfaatkan sebagai instrumen peningkatan kemampuan pemerintah daerah sebelum urusan pemerintahan tersebut benar-benar diserahkan kepada daerah yang bersangkutan.

dan (3) Strategi Pengembangan Kelembagaan. Perkiraan kondisi (state) dipengaruhi potensi hubungan antarkomponen terkait untuk penyusunan kebijakan dan strategi pengembangan kawasan (Cadenasso 2003). Sistem yang belum berkelanjutan menyebabkan perlunya perumusan berbagai strategi dan rekomendasi kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. diketahui tiga masalah yang paling berpengaruh terhadap strategi dan rekomendasi kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. Pemahaman yang baik terhadap fungsi dan peran. Dari kombinasi antarkondisi masalah didapatkan dua skenario yaitu (1) Strategi optimis dan (2) Strategi pesimis. serta tingkat pengetahuan dan persepsi yang sama. antara lain (1) Strategi Pengembangan Kawasan. 4.1 Penyusunan Strategi Pengembangan Berdasarkan hasil analisis keterkaitan dan kinerja pengembangan kawasaan permukiman menunjukkan. Berdasarkan dominasi responden mengenai kondisi masalah di masa yang akan datang. disusun analisis kebijakan yang dilakukan melalui tiga kajian strategi pilihan. kebijakan dan peraturan-peraturan antara pemerintah pusat dan daerah. Dari analisis tersebut.4 Rekomendasi Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara 4. sistem yang ada saat ini masih belum berkelanjutan. Perkiraan permasalahan pengembangan kawasan pada kondisi di masa yang akan datang disajikan pada tabel 20. tata hubungan yang jelas. hal yang harus dilakukan yaitu kombinasi antarkondisi masalah dengan membuang kombinasi yang tidak sesuai (incompatible). beberapa perubahan dilakukan pada peubah tertentu sehingga strategi yang bersangkutan dapat disimulasikan. Berdasarkan hasil AHP. Dalam hal ini. koordinasi yang intensif.4. a.4. diharapkan dapat menyelaraskan berbagai kewenangan. . Penyusunan Strategi Pengembangan Kawasan Interpretasi kondisi masalah dalam peubah skenario dilakukan melalui keterkaitan strategi yang disusun dalam suatu skenario.stakeholder terkait.4. (2) Strategi Pengembangan Pembiayaan.

karena Kondisi letak geografis kurang mendukung untuk peningkatan kerjasama luar negeri antar negara 14B Tetap. karena pembangunan terarah dan terencana 3 1. karena kawasan perumahan dan permukiman di wilayah perbatasan tidak didukung pembangunan infrastruktur lingkungan yang terpadu dengan infrastruktur primer kota 4A Menurun. karena adanya pembangunan yang tetap berjalan namun dalam jumlah yang masih minim . dan melibatkan sektor swasta 1C Meningkat. karena pemerintah menganggap bahwa pembangunan sosial ekonomi wilayah perbatasan tidak penting Keadaan (State) 7B Tetap. Terbatasnya fasos dan fasum 15C Meningkat. yang penting aman dan tidak diakui oleh pihak lain 1B Tetap. karena tidak ada sosialisasi yang baik. melakukan koordinasi. hanya sedikit penjelasan 4 15. Perkiraan responden mengenai permasalahan pengembangan kawasan pada kondisi masa yang akan datang No 1 Masalah 5 Kesadaran masyarakat akan identitas nasional 7A Menurun. karena pemerintah melakukan pembangunan sosial ekonomi. karena pembangunan fasos dan fasum di wilayah perbatasan mulai dilakukan oleh instansi terkait. Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan 1A Menurun. Kesejahteraan Masyarakat 4B Tetap. karena pembangunan infrastruktur mendukung pertumbuhan kawasan 2 4. karena banyak pengusahaan lahan di lakukan segelintir masyarakat (spekulan tanah) 15B Tetap.Minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman 14A Menurun. karena masyarakat tidak peduli dengan pemanfaatan lahan. karena pengadaan infrastruktur wilayah perbatasan dilakukan seadanya 7C Meningkat. karena pembangunan tidak terkoordinasi dengan baik 4C Meningkat. karena kurang perhatian pemerintah terhadap wilayah perbatasan 5 14. karena SDA dikelola kurang optimal dan kondisi perekonomian dan pemerataan pembangunan menurun 15A Menurun. dan ada sosialisasi yang baik dari pemerintah tentang pemanfaatan lahan yang baik 14C Meningkat.Tabel 20.

6 6. Kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga

6A Menurun, karena pembangunan belum merata di segala bidang

6B Tetap, karena ada perhatian pemerintah akan pentingnya wilayah perbatasan, namun implementasinya belum dilakukan

6C Meningkat, karena karena pembangunan yang dilakukan di wilayah perbatasan negara tetangga lebih intens dan lebih fokus pada upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat

Tabel 21 . Strategi dan kombinasi kondisi faktor pengembangan kawasan No. Strategi 1. Skenario 1 2. Skenario 2 Kombinasi Kondisi Faktor 7A/4A/1A/15A/14A/6A 7C/4B/1C/15C/14C/6C

Skenario satu dibangun berdasarkan keadaan faktor kunci dengan kondisi pengembangan kawasan yakni kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional (7A) karena kawasan perumahan dan permukiman di wilayah perbatasan tidak didukung pembangunan infrastruktur yang terpadu dengan infrastruktur primer kota. Selain itu, pengadaan infrastruktur wilayah perbatasan dilakukan seadanya. Rendahnya kesejahteraan masyarakat (4A) karena pemerintah

menganggap bahwa pembangunan sosial-ekonomi wilayah perbatasan tidak penting dan pembangunan tidak terkoordinasi dengan baik. Kesenjangan

pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1A) karena SDA dikelola kurang optimal, kondisi perekonomian dan pemerataan pembangunan tidak merata, serta banyak pengelolaan lahan dilakukan segelintir masyarakat (spekulan tanah). Terbatasnya fasos dan fasum (15A) karena masyarakat tidak peduli dengan pemanfaatan lahan. Dalam pemanfaatan lahan bagi masyarakat yang penting adalah keamanan dan lahan tersebut tidak diakui pihak lain. Hal ini terjadi karena tidak ada sosialisasi yang baik dari pemda mengenai pentingnya pemanfaatan lahan. Kurangnya infrastruktur kawasan dan permukiman (14A) karena letak geografis tidak mendukung peningkatan kerja sama luar negeri antarnegara sehingga perlu adanya pembangunan infrastruktur dan permukiman. Kondisi sosial dan ekonomi negara tetangga lebih baik (6A) karena pemerintah memperhatikan perbatasan. pembangunan di segala bidang dan pentingnya wilayah

Skenario dua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan kawasan yaitu, meningkatnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional (7C). Kesadaran masyarakat akan identitas sosial meningkat karena kawasan perumahan dan permukiman di wilayah perbatasan didukung pembangunan infrastruktur yang terpadu dengan infrastruktur primer kota secara bertahap dan terencana. Kesejahteraan masyarakat relatif tetap (4B) karena pemerintah melihat tingkat kesejahteraan di wilayah perbatasan cukup baik sehingga tidak menjadi prioritas utama. Menurunnya kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1C) karena SDA dikelola dengan sangat baik. Bukan hanya itu, kondisi perekonomian dan pemerataan

pembangunan juga meningkat serta meningkatnya pembangunan fasos dan fasum (15C) karena masyarakat mengoptimalkan pemanfaatan lahan sesuai dengan peruntukannya dan berkoordinasi dengan pemda. Kondisi sosial dan ekonomi di negara tetangga lebih baik (6C) karena pembangunan di wilayah perbatasan lebih difokuskan pada aspek peningkatan keamanan melalui law enforcement, dengan pembangunan perbatasan. b. Penyusunan Strategi Pengembangan Pembiayaan Strategi yang disusun dalam skenario dikaitkan melalui interpretasi kondisi masalah ke dalam peubah skenario. Beberapa perubahan dilakukan pada peubah tertentu di dalam skenario sehingga strategi yang bersangkutan dapat sosial-ekonomi disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat

disimulasikan. Berikut ini perkiraan permasalahan pengembangan pembiayaan pada kondisi di masa yang akan datang. Tabel 22. Perkiraan responden mengenai permasalahan pengembangan

pembiayaan pada kondisi masa yang akan datang
No 1 Masalah 23.Terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan Keadaan (State) 23A 23B Menurun, karena kondisi sharing Tetap, karena pendanaan pusat, provinsi, kota kondisi sharing meningkat, alokasi dana khusus pendanaan untuk pengembangan dan pusat, provinsi, pengelolaan kawasan kota dari tahun permukiman perbatasan ke tahun tidak meningkat seiring kebijakan mengalami prioritas pembangunan di peningkatan wilayah perbatasan 23C Meningkat, karena menganggap pembangunan permukiman wilayah perbatasan tidak penting,

2 17. Terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan perkim

17A Menurun, karena keberpihakan dan perhatian pemerintah terhadap pembangunan kawasan semakin besar, adanya kesadaran bahwa pembangunan wilayah sangat penting

17B Tetap, karena pendekatan diproyeksikan dan tidak transparan

17C Meningkat, karena pemerintah menganggap bahwa pembangunan di wilayah perbatasan kurang penting 24C Meningkat, karena tidak adanya pengendalian terhadap pengelolaan dana pembangunan, adanya anggapan bahwa perbatasan hanya sekedar batas

3 24. Pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal

24A Menurun, karena kondisi aturan tentang tatacara penggunaan anggaran akan jelas ditingkatkan

24B Tetap, karena sudah ada perhatian pada infrastruktur dan permukiman

Tabel 23 . Strategi dan kombinasi kondisi faktor pengembangan pembiayaan No. Strategi 1. Skenario 1 2. Skenario 2 Kombinasi Kondisi Faktor 23A/17A/24A 23C/17B/24C

Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan pembiayaan karena terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23A). Hal ini dilakukan karena kondisi sharing pendanaan pusat, provinsi, kabupaten/kota tidak seimbang. Dana alokasi khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan

permukiman perbatasan meningkat seiring kebijakan prioritas pembangunan di wilayah perbatasan. Pendanaan dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota dari tahun ke tahun juga mengalami peningkatan. Dana untuk pengembangan, pengelolaan infrastruktur, dan perkim (17A) berkurang karena keberpihakan dan perhatian pemerintah terhadap pembangunan wilayah perbatasan masih rendah. Rendahnya pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan (24A) terjadi karena kondisi pengatuaran tata cara penggunaan anggaran belum jelas sehingga perlu adnay peningkatan kinerja agar penggunaan dana pembangunan dapat optimal. Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan pembiayaan yaitu meningkatnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23C)

karena tidak ada terobosan berarti dalam upaya penegakan hukum 16C Meningkat. karena pemerintah menganggap kebijakan dan pedoman tidak diperlukan 20B Tetap. karena kondisi pembiayaan sudah optimal melalui lembaga pemerintah/swasta Keadaan (State) 16B Tetap. c. Perkiraan responden mengenai permasalahan pengembangan kelembagaan pada kondisi masa yang akan datang No 1 Masalah 16. Alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan meningkat seiring kebijakan prioritas pembangunan di wilayah perbatasan. Tabel 24. tetapi belum dilakukan secara baik. Aktivitas sosial ekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga 5B Tetap.dibukanya beberapa pintu . Pendanaan untuk pengembangan serta pengelolaan infrastruktur dan permukiman tetap (17B) karena keberpihakan dan perhatian pemerintah terhadap pembangunan kawasan semakin besar. seperti belum optimalnya pemanfaatan serta pengelolaan dana pembangunan infrastruktur dan permukiman kondisinya tetap (24B) atau belum meningkat.karena kondisi sharing pendanaan pusat. karena Law enforcement meningkat 2 20. Dalam hal ini. Ini terlihat oleh banyaknya pelanggaranpelanggaran yang tidak menjalani proses hukum 5A Menurun.karena rencana pemda asal jadi tanpa pemikiran matang. Berikut ini perkiraan permasalahan pengembangan kelembagaan pada kondisi di masa yang akan datang. kabupaten/kota meningkat. dilakukan beberapa perubahan pada peubah tertentu di dalam skenario sehingga strategi yang bersangkutan dapat disimulasikan. Penegakan hukum dan peraturan 3 5. karena pembangunan belum diimbangi dengan peningkatan terhadap pelayanan publik 20A Menurun.karena wilayah perbatasan hanya menjadi pintu belakang menjadi penting 20C Meningkat. karena penegakan hukum dan peraturan masih lemah dan cenderung menurun. Penyusunan Strategi Pengembangan Kelembagaan Strategi pengembangan kelembagaan yang disusun dalam skenario dilakukan dengan menginterpretasikan kondisi masalah ke dalam peubah skenario. karena Pemda membiarkan infrastruktur permukiman apa adanya 5C Meningkat. Pelayanan publik 16A Menurun. provinsi.

. pertambangan dan pertanian belum dapat menyerap tenaga lokal dan menjadi kegiatan penunjang perkembangan wilayah perbatasan Tabel 25. Kondisi ini terlihat dari banyaknya pelanggaran yang tidak diproses secara hukum dan tidak ada terobosan berarti dalam upaya penegakkan hukum. Pada skenario kedua. Strategi 1. Skenario 2 Kombinasi Kondisi Faktor 16A/20A/5A 16B/20C/5C Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan faktor kunci dengan kondisi pengembangan kelembagaan. Dalam skenario ini dapat dilihat terbatasnya pelayanan publik (16A) karena pembangunan tidak diimbangi dengan peningkatan pelayanan publik dan pemerintah menganggap kebijakan terkait pelayanan publik belum mendesak. Aktivitas sosial-ekonomi masyarakat dengan wilayah negara tetangga berkurang (5C) karena kondisi pembiayaan pembangunan di wilayah perbatasan meningkat melalui lembaga pemerintah/swasta. Penegakkan hukum dan peraturan meningkat (20C) yang dapat dilihat dari berkurangnya pelanggaran yang dilakukan masyarakat perbatasan negara. pelayanan publik tetap (16B) karena pembangunan tidak diimbangi dengan peningkatan terhadap pelayanan publik. Strategi dan kombinasi kondisi faktor pengembangan kelembagaan No. Penegakkan hukum dan peraturan masih lemah (20A) dan cenderung menurun. Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan faktor kunci dengan kondisi pengembangan kelembagaan. tetapi pemda membiarkan pembangunan infrastruktur dan permukiman masih apa adanya. Aktivitas sosial-ekonomi masyarakat rendah (5A) karena kondisi pembiayaan melalui lembaga pemerintah/swasta masih rendah.No Masalah 16A Keadaan (State) 16B 16C penyeberangan antar wilayah. pembangunan SDA di sektor perkebunan. Skenario 1 2.

Dampak dari hal ini yaitu aktivitas sosioekonomi banyak yang berorientasi ke negara tetangga. ekonomi. Dinamika kegiatan ekonomi perkotaan di wilayah perbatasan merupakan kondisi yang dapat meningkatkan pertumbuhan kota-kota (pusat pertumbuhan baru) di perbatasan negara. serta (5) memastikan transisi penggunan lahan perdesaan menuju perkotaan berjalan secara alamiah dan terarah (Seong 2006). Apabila hal ini tidak ditangani dengan baik. maka dapat menjadi hambatan pengembangan potensi pertumbuhan yang selama ini berfungsi sebagai penggerak pengembangan sosial. dan kesadaran masyarakat perbatasan terhadap identitas nasional. Kondisi ini disebabkan adanya ketimpangan pembangunan antara wilayah perbatasan dengan wilayah nonperbatasan. sangat memerlukan keberpihakan pemerintah terhadap pembangunan wilayah di perbatasan tersebut. dan . hingga saat ini peningkatan pembangunan wilayah perbatas belum memperlihatkan hasil yang nyata. (4) mendorong sinergisitas hubungan kota dan desa. Dalam GBHN tahun 1999—2004 pada Bab IV butir G dinyatakan bahwa perlu peningkatan pembangunan di seluruh daerah termasuk wilayah perbatasan dengan tetap berlandaskan pada prinsip desentralisasi dan otonomi daerah. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Percepatan pembangunan wilayah.4. Pada prinsipnya. kependudukan. (3) efisiensi pembiayaan pembangunan infrastruktur. komitmen pemerintah untuk mempercepat pembangunan wilayah perbatasan telah tercermin dalam kebijakan pembangunan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) sejak tahun 1993 yang masih konsisten dengan GBHN tahun 1999--2004. kehormatan. infrastruktur wilayah masih terbatas dan permukiman di wilayah perbatasan baik yang berada dalam kawasan perkotaan maupun perdesaan kurang berkembang. Namun. keterbatasan infrastruktur dan permukiman di wilayang perbatasan juga menyangkut kondisi keamanan. Selain menyebabkan ketergantungan terhadap negara tetangga.5. Pengembangan perbatasan pusat-pusat pertumbuhan yaitu baru (border city) di wilayah (1) melindungi ruang terbuka terdapat enam kategori hijau/konservasi dan sumber daya alam. (2) dapat mengoptimalkan penggunaan lahan. terutama wilayah perbatasan. Oleh karena itu.

dan AHP. dan (3) Pengembangan kelembagaan. 4.1. hasil analisis ISM. Di samping itu.1 Desain Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Penanganan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. Berdasarkan hal paparan di atas. (2) Pengembangan pembiayaan. Penyusunan kebijakan dan strategi tersebut dilakukan melalui lima tahapan analisis. Permodelan interpretasi struktural interpretative structural modelling (ISM) merumuskan alternatif kebijakan di masa yang akan datang. dan menentukan implikasi dari skenario tersebut. perlu dibuat desain kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara.1 Desain Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Kajian pengembangan strategi dilakukan pada tiga peubah yang dianggap menentukan dan menjadi rekomendasi kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yaitu (1) Pengembangan kawasan.5. serta skenario pengembangan dan rekomendasi kebijakan. Penanganan beberapa kasus atau masalah permukiman di wilayah perbatasan negara yang terjadi selama ini disebabkan belum melibatkan semua stakeholders baik pemerintah daerah. koordinasi masing-masing instansi terkait baik di pusat maupun daerah masih lemah. desain kebijakan pengembangan dengan analytical hierarchy process (AHP). membangun skenario yang mungkin terjadi. maupun swasta. yaitu analisis kondisi permukiman.peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan di wilayah perbatasan (Canales 1999). masyarakat. Pembuatan desain kebijakan pendekatan pengembangan analytical kawasan hierarchy permukiman process perbatasan menggunakan dibuat (AHP). analisis faktor penting dengan interpretative structural modelling (ISM).5. . 4. belum diatur dan diarahkan melalui kebijakan dan strategi pengembangan kawasan yang bersifat nasional dan menyeluruh. Tahapan tersebut menentukan keadaan (state) suatu faktor. Selanjutnya pengklasifikasian subelemen dan desain kebijakan melalui deskripsi analisis kebijakan yang sesuai dengan keadaan di lapangan. analisis potensi sektor unggulan wilayah dengan menggunankan model perbandingan eksponensial (MPE). baik perbatasan darat maupun perbatasan laut.

Propenas 2000—2004. b. Pengembangan kawasan permukiman yang mengedepankan peningkatan kesejahteraan. hanya berpedoman pada kebutuhan yang telah diamanatkan dalam GBHN 1999. Pengembangan dapat mendorong terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah perbatasan sebagai tempat aktivitas dan usaha penduduk wilayah serta berfungsi untuk meminimalisasi konflik di wilayah perbatasan. Pengembangan kawasan permukiman perbatasan disusun berdasarkan faktor lingkungan yang strategis dan diperkirakan akan memengaruhi perkembangan wilayah perbatasan di masa yang akan datang. Pengembangan kawasan permukiman perbatasan ini diharapkan mampu mengantisipasi berbagai tantangan dan peluang yang tercipta akibat adanya perubahan lingkungan strategis baik lokal. maupun bekerja di wilayah perbatasan. ekonomi. Strategi pengembangan kawasan permukiman perbatasan bertumpu pada masyarakat yang menjadi subjek kegiatan yang tinggal di wilayah perbatasan. Pengembangan diarahkan pada wilayah yang memiliki potensi SDA sektor unggulan agar keberlanjutan kawasan permukiman dapat didukung.141 Pelaksanaan berbagai kegiatan pembangunan di wilayah perbatasan negara. dan global. termasuk di dalamnya pengembangan kawasan permukiman. Hasil analisis data dengan metode ISM memperlihatkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional menjadi permasalahan yang paling krusial . Hingga saat ini. antara lain: a. d. regional. Pengembangan didukung dengan penyediaan prasaran dan sarana serta lingkungan yang memadai. c. Upaya penyusunan kebijakan dan strategi pengembangan kawasan permukiman perbatasan sudah pernah dilakukan sebelumnya. dan sesuai dengan kebijakan sektor masing-masing. serta fungsi pertahanan dilakukan bersama-sama dan seimbang sehingga dapat meningkatkan stabilitas wilayah perbatasan. Adapun beberapa faktor kunci. Penyusunan kebijakan dan strategi telah diupayakan oleh beberapa instansi pemerintah baik pusat maupun daerah melalui kajian dan studi. dan atau memiliki tempat usaha. upaya tersebut belum menghasilkan suatu peraturan yang dapat dijadikan acuan dan arahan dalam pelaksanaan pembangunan.

Orientasi seluruh kegiatan lebih banyak diupayakan dengan basis pemberdayaan masyarakat sebagai subjek pembangunan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat. Selama ini dana kegiatan-kegiatan dalam upaya percepatan pertumbuhan pembangunan di wilayah perbatasan relatif belum memadai karena hanya bersumber dari anggaran rutin setiap tahunnya. pendapatan daerah dan pendapatan negara. Sumber dana pembangunan permukiman di wilayah perbatasan baik dana rutin maupun dana alokasi khusus akan menentukan jenis penanganan pembangunan. tayangan televisi dengan dominasi acara-acara dari Negeri Malaysia. Salah satu solusi yang harus segera dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan identitas nasional yaitu dengan menciptakan lapangan kerja padat karya seluas-luasnya untuk masyarakat di wilayah perbatasan. dan lain sebagainya. serta adanya anggaran dana alokasi khusus (DAK) untuk pengembangan kawasan permukiman perbatasan oleh pemerintah. provinsi. Tolok ukur peningkatan kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional yang paling nyata ditandai dari peningkatan kesejahteraan masyarakat. dan kabupaten/kota di wilayah perbatasan. Lapangan pekerjaan tidak akan terwujud tanpa dukungan pemerintah dalam menciptakan kegiatan melalui pembuatan kebijakan-kebijakan pendukung oleh pemerintah pusat. kemudahan pengurusan KTP dan pembelian tanah di wilayah Malaysia.142 di wilayah perbatasan. Pemerintah bekerja sama dengan LSM dan pakar-pakar terkait yang berasal dari perguruan tinggi dan lembaga penelitian dalam mewujudkan kemandirian masyarakat melalui pengadaan pelatihan dan penyuluhan. Pada Gambar 38 memperlihatkan bahwa penganggaran dana perlu dilakukan pemerintah secara berkala agar upaya peningkatan kesejahteraan dan peningkatan pendapatan masyarakat dapat dicapai. aktivasi pasar lebih ramai di wilayah Malaysia. . Hasil analisis MPE memperlihatkan hasil dari tiga klaster berbasis potensi sektor unggulan yang dapat mendorong percepatan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan apabila didukung oleh semua stakeholders. Kenyataan ini dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang menyebabkan rasa nasionalisme masyarakat berkurang daripada rasa untuk mempertahankan identitas nasional. Hal-hal yang berkembang di masyarakat yang berpotensi menurunkan nilai identitas bangsa di wilayah perbatasan antara lain penggunaan mata uang ringgit sebagai alat pembayaran yang sah.

bentuk penanganan pembangunan perumahan dan permukiman memiliki dua kategori yaitu bentuk pembangunan baru (PB) dan peningkatan kualitas (PK). potensi sektor unggulan klaster 1 yaitu pertambangan. Sesuai hasil analisis MPE di masingmasing klaster subkawasan. Berdasarkan hal tersebut. kajian terhadap lingkungan harus dilakukan secara seksama. Adanya AMDAL yang dilakukan secara serius akan dapat menyelesaikan berbagai masalah seperti masalah ekologi. Adapun salah satu hal yang dapat dilakukan dalam melakukan kajian terhadap kelayakan dari segi lingkungan yakni melakukan analisis terhadap dampak lingkungan (AMDAL) di lokasi yang akan dibangun. klaster 2 perkebunan. dan ekosistem karang. dan klaster 3 sektor perikanan. Dalam pelaksanaan pembangunan permukiman akan mengubah bentang alam di lokasi tersebut. AMDAL menjadi semakin penting apabila suatu wilayah berhadapan atau di dalamnya terdapat ekosistem fragile di wilayah pesisir seperti ekosistem padang lamun. Dalam hal ini pelaku harus membuat AMDAL sebagai kriteria pembangunan permukiman yang dilakukan agar tidak mengakibatkan kerusakan lingkungan.143 Jenis penanganan pembangunan disesuaikan dengan karakteristik tenaga kerja dan masyarakat setempat yang didukung dengan potensi sektor unggulan yang tersedia di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan. Dalam hal ini. 4 tahun 1992 tentang perumahan dan permukiman. Ketentuan tersebut dapat digunakan dalam menentukan bentuk penanganan pembangunan di setiap jenis kegiatan usaha yang disesuaikan dengan karakteristik kebutuhan permukiman masingmasing tenaga kerja atau masyarakat yang bersangkutan. ekosistem mangrove. sedangkan sektor unggulan perikanan yaitu pembangunan baru (PB) dan peningkatan kualitas (PK). kelestarian lingkungan akan tetap terjaga dengan baik walaupun di lokasi tersebut dilakukan pembangunan kawasan permukiman. Terjaganya ekologi akan tetapmemungkinkan lestarinya lingkungan. sektor unggulan perkebunan yaitu pembangunan baru (PB). Bentuk penanganan pembangunan permukiman sektor unggulan pertambangan yaitu pembangunan baru (PB) dan peningkatan kualitas (PK). sehingga dapat diharapkan kualitas . Berdasarkan ketentuan pada pasal 2 ayat 2 Undang-undang No. Dengan kata lain. ekosistem di kawasan tersebut dibuat menjadi ekosistem nonalami yang dapat mengubah total ekosistem alami.

pengendalian limbah dan pencemaran. menjaga kelanjutan sistem sosialbudaya lokal. karena jauh dari ancaman bencana tsunami. AMDAL juga akan menjaga aspek sosial terpelihara dengan baik mengingat dalam AMDAL akan ada petunjuk untuk mengantisipasi terjadinya konflik sosial. perlindungan pantai dengan mangrove yang ketebalan hutannya tetap dijaga tidak kurang dari 50 . tanah & air yang baik.144 udara. Hutan mangrove yang baik akan dapat . Terkait dengan penanganan pembangunan kawasan permukiman terpadu dengan lingkungan khususnya bagi permukiman di pesisir dan nelayan. ekosistem yang fragile sekalipun seperti mangrove. dan berbagai aspek sosial lainnya yang mungkin dapat luntur akibat terjadinya pembangunan kawasan permukiman. Namun demikian adanya potensi pengembangan permukiman di wilayah pesisir tersebut dapat mengancam keberadaan hutan mangrove yang selama ini masih terjaga kelestariannya dengan baik. sehingga ekosistem tersebut tidak terganggu walau di sekitarnya dibangun kawasan permukiman. Kondisi tersebut perlu dijaga tanpa menghambat kebijakan pemda dalam pengembangan permukiman di wilayah pesisir dalam hal ini pembangunan permukiman tersebut hendaknya diterapkan persyaratan sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku seperti. Wilayah pesisir Kabupaten Nunukan pada umumnya berpotensi untuk pengembangan permukiman baik nelayan maupun permukiman lainnya. penggunaan energi yang minimal. Ketebalan hutan yang difungsikan sebagai lapisan penyangga (buffer zone) menurut RTRW Kabupaten Nunukan (2005) adalah 130 kali tinggi pasang surut.1000 meter. Kabupaten Nunukan yang mempunyai wilayah pesisir yang luas dan pulau-pulau kecil terluar yang strategis. padang lamun dan terumbu karang akan terpelihara dengan baik karena berbagai hal yang dapat diminimalkan. Dalam penanganan pembangunan permukiman tetap memperhatikan kriteria AMDAL kegiatan pembangunan permukiman terpadu yaitu dengan mempertahankan dan memperkaya ekosistem yang ada. Selain itu. harus memperhatikan dan menjaga kelestarian dan keberlanjutan ekosistem hutan mangrove dalam pelaksanaannya. dan peningkatan pemahaman konsep lingkungan (Kepmen KLH 2000). sesuai kondisi hidro-oseanografi di wilayah tersebut. melunturnya budaya.

c. yaitu perpaduan antara hutan mangrove dan perikanan sehingga biota laut di sekitarnya dapat tumbuh dengan baik. d. selain berfungsi sebagai ekosistem pesisir juga mempunyai vegitasi yang beragam dengan panorama indah dan hijau. dan Upaya pascapembangunan permukiman mempertahankan ekosistem hutan mangrove pada masyarakat yang sudah menghuni di kawasan permukiman dilakukan melalui pendekatan sistem sosialbudaya lokal. masyarakat.145 menjaga permukiman di wilayah pesisir karena berperan sebagai perangkat analisis mitigasi alami dalam menjaga keberlanjutan. Salah satu aspek lingkungan yang harus diperhatikan dalam pembangunan kawasan permukiman yaitu harus dimulai dari sebelum pembangunan dilakukan (persiapan pembangunan). Mangrove memiliki sistem akar yang kuat. Mangrove dapat menetralisasi lahan yang telah tercemar oleh logam berat sehingga pemanfatan lahan di wilayah pesisir baik untuk permukiman dan kegiatan bangunan lainnya tidak meluas dan efisien. Pembangunan kawasan permukiman juga harus dapat menjaga kelestarian lingkungan sehingga sumber daya alam tetap lestari. pada saat pelaksanaan hingga pembangunan dihuni permukiman. Penanganan abrasi lebih murah dibanding dengan membuat bangunan laut lain dan mangrove dapat memberi dampak ikutan yang menguntungkan kualitas perairan di sekitarnya. hal ini disebabkan oleh: a. Hal bertujuan agar masyarakat mampu berpartisipasi dalam . Secara estetika mangrove lebih baik daripada bangunan laut lainnya. tajuknya rapat dan lebat sehingga dapat berfungsi sebagai pelindung pantai alami dan menahan intrusi air laut. persediaan sumber air baku untuk air minum masyarakat penghuni permukiman pesisir tetap terjaga kualitasnya. Bangunan laut dapat menyebabkan erosi dan sedimentasi di tempat lain. b. e. ekosistem tetap dalam kondisi prima sehingga dapat menjamin masyarakat yang hidup di dalamnya lebih sejahtera karena selalu mendapat hasil tangkapan dalam jumlah banyak. sebaliknya hutan mangrove menahan erosi. Dengan demikian. Kawasan pertambakan dapat ditata ulang dengan sistem wanamina (silvofishery). f.

146 pengendalian limbah dan pencemaran sehingga pemahaman masyarakat terhadap konsep lingkungan terus meningkat. Adapun bentuk penanganan pembangunan permukiman di masingmasing klaster sesuai dengan potensi SDA pendukung pengembangan permukiman berkelanjutan dapat dilihat pada gambar 49.1. Bentuk penanganan pembangunan permukiman 4. Peningkatan pemahaman masyarakat penghuni terhadap konsep keberlanjutan lingkungan dapat mendorong usaha perbaikan kerusakan hutan mangrove yang dilakukan melalui kegiatan penanaman kembali.2 Desain Strategi Pengembangan Pembiayaan Strategi pengembangan pembiayaan dalam percepatan pembangunan di wilayah perbatasan sangat dipengaruhi oleh kebijakan dan peran pemerintah terutama pemerintah provinsi dan pemerintah daerah. 2 1 3 1 Kluster 1 : Pembangunan Baru & Peningkatan Kualitas Kluster 2 : Pembangunan Baru Kluster 3 : Pembangunan Baru & Peningkatan Kualitas 2 3 Gambar 49.5. Peran pemerintah . Selama ini pemerintah membuat dan menerima alokasi dana yang belum memadai untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman di wilayah perbatasan. Masyarakat bersama pemda melakukan kegiatan rehabilitasi hutan mangrove di pesisir wilayah Kabupaten Nunukan.

Desain strategi pengembangan kelembagaan yang berlaku bagi seluruh wilayah perbatasan baik darat maupun laut. Adapun lembaga keuangan berperan dalam mengupayakan kemudahan kredit perumahan dengan biaya yang terjangkau bagi masyarakat yang diawasi oleh lembaga masyarakat lokal. Dukungan dalam pencapaian pengembangan pembiayaan pun dilakukan bersama-sama dengan kegiatan peningkatan kerja sama pembangunan antarnegara. pertahanan. serta kesejahteraan secara seimbang.5. lingkungan. Tujuan peningkatan pendapatan. kesejahteraan masyarakat. perlu dijabarkan dalam suatu strategi. jangkauan pelaksanaannya bersifat strategik sampai dengan operasional baik jangka pendek. Pemerintah juga menjadi fasilitator untuk penguatan kerja sama dengan stakeholders lainnya dalam mengupayakan pembanguann permukiman dan infrastruktur serta fasilitas sosial dan fasilitas umum lainnya.3 Desain Strategi Pengembangan Kelembagaan Secara umum. Sedangkan. keamanan. . 4. pengembangan kawasan permukiman perbatasan memerlukan suatu pola atau kerangka penanganan yang menyeluruh meliputi berbagai sektor dan kegiatan pembangunan serta koordinasi dan kerja sama yang efektif dari pemerintah pusat sampai ke tingkat kabupaten/kota. Faktor-faktor pengembangan yang mengindikasikan yaitu tolok ukur keberhasilan isolasi dalam serta pembiayaan penataan dan pembukaan ketertinggalan wilayah perbatasan dengan cara pembangunan infrastruktur serta prasarana dan sarana dalam jangka waktu yang sama. antarpemerintah. Pola penanganan tersebut dapat dijabarkan melalui penyusunan kebijakan dan strategi dari tingkat makro sampai tingkat mikro yang disusun berdasarkan proses yang partisipatif baik secara horisontal di pusat maupun vertikal dengan pemerintah daerah.147 yang besar dapat mengintervensi lembaga keuangan dengan mengeluarkan kebijakan penganggaran untuk memudahkan biaya pembangunan rumah dan melindungi hak masyarakat di wilayah perbatasan. peningkatan pendapatan daerah dan negara di wilayah perbatasan dapat tercapai melalui pengembangan pembiayaan. ekonomi. dan antarstakeholders di wilayah perbatasan.1. budaya. Pendekatan pengelolaan wilayah perbatasan yang dilakukan yaitu pengelolaan yang menyeluruh dan terpadu dengan aspek sosial. menengah. maupun jangka panjang.

Penguatan dan pembentukan lembaga pengembangan kawasan permukiman perbatasan yang bertugas untuk menyusun kebijakan dan pengkoordinasian berbagai kegiatan terkait di tingkat pusat dan daerah. b. termasuk lembaga adat. Hal ini untuk menghindari terjadinya tumpang tindih kewenangan pengelolaan maupun adanya ketidaksinkronan peraturan yang ada. f. kondisi kelembagaan pemerintah daerah dan partisipasi masyarakat di beberapa wilayah perbatasan masih perlu ditingkatkan. Program peningkatan dan pengembangan kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat. Upaya ini dilakukan untuk memudahkan antarinstansi terkait sehingga meningkatkan terjadinya pertukaran informasi koordinasi serta menciptakan kesepahaman yang sama dalam pengelolaan kawasan permukiman perbatasan. Keterlibatan masyarakat dan pemerintah daerah dalam kegiatan pengembangan kawasan permukiman perbatasan termaktub dalam UU No. 32 Tahun 2004 yang menjelaskan bahwa pengelolaan kawasan permukiman perbatasan sejauh mungkin perlu dikelola oleh pemerintah daerah. Pelaksanaan otonomi daerah perlu diiringi dengan sinkronisasi antara kewenangan dan peraturan-peraturan yang dibuat. Penyelarasan kegiatan-kegiatan pemerintah pusat dan pemerintah daerah melalui anggaran pembangunan sektoral dan daerah yang diarahkan bagi pengembangan kawasan pertumbuhan baru.148 Kebijakan di atas perlu dilaksanakan melalui upaya-upaya: a. . baik antara instansi terkait maupun antara pemerintah pusat dengan daerah. Sinkronisasi kewenangan pengelolaan dan peraturan perundangan-undangan. Selain itu diperlukan adanya basis data (database) mengenai wilayah perbatasan yang dapat menjadi referensi bersama. Pemberian dukungan dan fasilitas pengembangan kawasan permukiman perbatasan oleh instansi pusat dan pihak swasta dalam maupun luar negeri. dan pengembangan wilayah secara terpadu di perbatasan. c. Namun. Keberpihakan dan perhatian yang lebih besar dari sektor-sektor terkait di pusat terhadap kawasan permukiman perbatasan. Meningkatkan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat. d. e. akan sangat membantu dalam proses pengembangan yang partisipatif.

dan pemerintah kabupaten untuk diaplikasikan dan dilaksanakan di wilayah perbatasan. Peningkatan kesejahteraan masyarakat perbatasan dapat mendorong peran dan partisipasi masyarakat dalam setiap kegiatan yang terkait dengan pengembangan kawasan permukiman. Pemerintah sebagai penyelenggara menekakan untuk lebih mengedepankan kualitas pelayanan publik serta kontinuitas penegakkan hukum dan peraturan untuk menghidupkan aktivitas ekonomi masyarakat di negeri sendiri. khususnya penguatan dan pembentukan lembaga-lembaga yang ada agar program kegiatan penyuluhan dan pelatihan keterampilan dapat berjalan dengan lancar dan baik. Pemberdayaan mayarakat di wilayah perbatasan dibutuhkan agar masyarakat dapat mandiri sesuai potensi sektor unggulan pada setiap klaster dan membentuk kelompok-kelompok tani menuju kelompok-kelompok usaha. badan kerja sama antarnegara. Dalam pengembangan kelembagaan kemandirian masyarakat tidak akan terlaksana bila tidak didukung. dilindungi. Kelompok- kelompok usaha ini memiliki posisi yang lebih kuat karena adanya kerja sama antaranggota mengupayakan sesuai kapasitas dan bermitra dengan pihak lain dalam keuntungan usaha. .149 Strategi pengembangan kelembagaan ditujukan pada masyarakat agar memperoleh posisi kemandirian (bargaining) dari posisi tawar sebelumnya sebagai objek pembangunan. Hal ini dapat berdampak positif pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan terbukanya peluang-peluang usaha yang dibantu dalam memperoleh modal/kredit usaha dan dari lembaga-lembaga keuangan. serta tidak adanya kerja sama dari stakeholders lainnya. Pemerintah memfasilitasi peningkatan aktivitas perekonomian di wilayah perbatasan dengan upaya-upaya pemberdayaan masyarakat. Pemerintah pun memfasilitasi upaya peningkatan kelembagaan masyarakat dengan mendatangkan pakar untuk memberikan pelatihan maupun penyuluhan sehingga tolok ukur keberhasilan pembangunan dari peningkatan kesejahteraan masyarakat pun tercapai. Pemerintah juga berperan untuk meneruskan kebijakan tersebut pada penyelenggara setempat yaitu pemerintah provinsi.

terbatasnya fasos dan fasum (15A). ditetapkan dua skenario pengembangan yang dapat dibangun dalam kebijakan sebagai berikut: a. (2) meningkatkan kesejahteraan masyarakat. kurangnya infrastruktur kawasan dan permukiman (14A). Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan kawasan yaitu kurangnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional (7A). tidak mengutamakan faktor-faktor penting yang seharusnya terlebih dahulu dilakukan sehingga tidak memiliki prospek kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yang berpandangan jauh ke depan.4 Arahan Kebijakan Pengembangan Kawasan Perilaku strategi ternyata menunjukkan perbedaan pada berbagai faktor yang dikaji yang diakibatkan adanya perbedaan kombinasi faktor penting di wilayah perbatasan.1. Pada skenario pertama para pelaku pembangunan (stakeholder) dalam kebijakan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara beranggapan bahwa faktor-faktor yang dikaji merupakan faktor yang potensial untuk meminimalisasi permasalahan pengembangan wilayah perbatasan di masa yang akan datang. Penerapan skenario pertama ini akan memberikan implikasi berupa (1) Meningkatnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional. Akan tetapi. rendahnya kesejahteraan masyarakat (4A).5. dan (3) Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan berkurang. Kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini direkomendasikan upaya yang dapat mendorong percepatan pengembangan kawasan permukiman berbasis potensi sektor unggulan wilayah seperti hal-hal berikut: . kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga (6A). kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1A). Skenario ini mengandung pengertian bahwa skenario yang dirumuskan perlu dilaksanakan berdasarkan konsep walaupun mengandung usaha pengembangan dan pengelolaan.150 4. Oleh karena itu. Skenario I Skenario pertama dibangun atas dasar kondisi dan permasalahan saat ini (existing condition) dari kawasan permukiman yang ada di wilayah perbatasan negara.

Pembukaan lapangan pekerjaan padat karya di wilayah perbatasan negara Pembuatan pemetaan penggunaan lahan untuk perencanaan dan penataan kawasan permukiman yang disepakati oleh semua stakeholder yang terkait termasuk masyarakat pengguna dan dapat diakses oleh stakeholder yang terkait 9. Kemudahan akses informasi dan pasar Pembuatan informasi terpadu Promosi berkala untuk hasil-hasil sektor unggulan wilayah Peningkatan pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan usaha yang berbasis potensi masyarakat dan kearifan lokal 6. Pembangunan terminal-terminal berbasis sektor unggulan wilayah sebagai showroom yang dapat diakses secara mudah 12. 8. Pemeliharaan fasos dan fasum oleh pemda dengan melibatkan masyarakat sebagai pengguna dengan pemberian reward pada daerah dengan fasos dan fasum yang terpelihara baik Skenario pertama yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan pembiayaan yaitu terbatasnya alokasi dana khusus (DAK) untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23A). masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan dalam peningkatan keterampilan masyarakat 7. Pembuatan klaster permukiman berbasis potensi sektor unggulan wilayah berikut akses menuju dan keluar wilayah klaster 2. 5. swasta/investor. 4. Untuk mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini. maka . kurangnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman (17A). Pembangunan terpadu infrastruktur dengan kawasan permukiman beserta pusat-pusat kegiatan di sepanjang perbatasan 10. Pembangunan pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah perbatasan 11. pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal (24A). Penguatan kerja sama antara pemda. Pembangunan fasos dan fasum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat secara bertahap 13. 3.151 1.

. Dalam rangka mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini maka pada pengembangan kelembagaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. Pengawasan dan penegakkan hukum terkait kegiatan di wilayah perbatasan negara 3. Pelatihan dan penyuluhan sumber daya masyarakat yang diprakarsai pemda bekerja sama dengan lembaga pendidikan untuk kebutuhan tenaga kerja industri 4.152 pada komponen pengembangan pembiayaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. Pembuatan lembaga inti-plasma kegiatan usaha sektor unggulan dengan kelompok usaha yang dibina oleh pemda dan swasta/investor 5. Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan kelembagaan yaitu. terbatasnya pelayanan publik (16A). Pembuatan kebijakan penganggaran dana alokasi khusus (DAK) untuk pembangunan wilayah perbatasan jangka pendek. jangka menengah dan jangka panjang yang dievaluasi penggunaannya. Kemudahan birokrasi pembuatan sertifikasi legalitas lahan usaha dan permukiman. Evaluasi dan pembuatan kebijakan terkait wilayah perbatasan. 6. 2. Kemudahan pembiayaan usaha oleh lembaga-lembaga keuangan Menerapkan subsidi silang pada kegiatan usaha bersama masyarakat Kemudahan kepemilikan rumah bekerja sama dengan lembaga keuangan dengan biaya terjangkau 4. penegakan hukum dan peraturan masih lemah (20A). aktivitas sosial ekonomi masyarakat rendah (5A). Pembuatan dan penguatan kerja sama dan kelompok usaha bersama di wilayah perbatasan 2. 3.

menurunnya kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1C). Rekomendasi kebijakan dan strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara dapat seimbang antara lingkungan. Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan kawasan yaitu. 4. kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga (6C). peningkatan dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman tetap (17B). masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan dalam peningkatan keterampilan masyarakat 5. Pembangunan terminal-terminal berbasis sektor unggulan daerah sebagai showroom yang dapat diakses secara mudah 6. meningkatnya pembangunan infrastruktur kawasan dan permukiman. kesejahteraan masyarakat relatif tetap (4B).153 b. Kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini dalam pengembangan kawasan maka harus didukung dengan rekomendasi berikut ini: 1. 2. 3. optimalisasi pemanfaatan dan pengelolaan dana . sosial. meningkatnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23C). Skenario II Skenario kedua mengandung pengertian bahwa keadaan masa depan yang mungkin terjadi diperhitungkan dapat dipertimbangkan sesuai dengan keadaan dan kemampuan sumberdaya yang dimiliki. pengusaha/investor. dan ekonomi dari masyarakat. meningkatnya pembangunan fasos dan fasum (15C). Pembuatan informasi terpadu Promosi berkala untuk hasil-hasil sektor unggulan wilayah Pembangunan terpadu infrastruktur dengan kawasan permukiman Penguatan kerjasama antara pemda. meningkatnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional (7C). Pemeliharaan fasos dan fasum oleh pemda dengan melibatkan masyarakat dengan pemberian reward pada daerah apabila kondisi fasos dan fasum yang terpelihara secara baik Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan pembiayaan yaitu.

aman. dan teratur. Evaluasi penganggaran dana alokasi khusus (DAK) untuk pembangunan wilayah perbatasan jangka pendek. maka pada pengembangan kelembagaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. Untuk mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini. serasi. pelayanan publik tetap (16B). dan perikanan) 4.2 Rekomendasi Kebijakan Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Arahan kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara diperlukan kaitannya dengan adanya hak dan kewajiban dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 bahwa setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan/atau menikmati dan/atau memiliki rumah yang layak dan terjangkau dalam lingkungan yang sehat. setiap warga negara mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk ikut serta dalam pembangunan permukiman. penegakkan hukum dan peraturan meningkat (20C). Pengawasan dan penegakan hukum terkait kegiatan di wilayah perbatasan 2. perkebunan. Dalam rangka mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini maka untuk pengembangan pembiayaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. Selain itu.5. aktivitas sosialekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga berkurang (5C). Setiap warga negara mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk ikut serta dalam pembangunan . jangka menengah dan jangka panjang Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan kelembagaan yaitu.154 pembangunan tetap (24B). Pelatihan dan penyuluhan sumber daya masyarakat yang diprakarsai pemda bekerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan untuk kebutuhan pengembangan tenaga kerja industri sektor unggulan wilayah (pertambangan. Kemudahan pembiayaan usaha oleh lembaga-lembaga keuangan 2. Evaluasi dan pembuatan kebijakan terkait pengembangan wilayah perbatasan 3.

dan teratur bisa terpenuhi dengan upaya dilakukan oleh masyarakat dibantu oleh stakeholders. Dalam rangka mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. Terwujudnya koordinasi/kerja sama antar-stakeholders dalam setiap tahapan penyelenggaraan pengembangan permukiman berikut prasarana dan sarana secara terpadu dalam suatu kelembagaan 2. Penguatan dan pembentukan lembaga kerjasama pembangunan di wilayah perbatasan negara 5. Terwujudnya berkelanjutan 3. Meningkatkan peran pemerintah daerah dalam pembangunan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan . standar. yaitu: 1. dan lingkungan 6. Mendorong terciptanya pengembangan klaster-klaster kawasan permukiman sebagai pusat pertumbuhan baru (border city) di wilayah perbatasan negara 3. Pemerintah memfasilitasi penyelenggaraan dan pembinaan dalam bidang permukiman secara terpadu dan berkelanjutan dilaksanakan oleh stakeholders terkait 2. serasi. manual (NSPM) bidang permukiman yang berbasis pemberdayaan masyarakat. Keterpaduan pengembangan kawasan permukiman dapat terselenggara jika memenuhi 3 indikator. peran serta masyarakat baik sebagai individu maupun komunitas wajib dilakukan. Mendorong terciptanya peraturan dan perundang-undangan di bidang permukiman perbatasan berbasis potensi SDA wilayah 4.155 permukiman. kearifan lokal. Hal ini bertujuan agar hak setiap warga untuk mendapatkan rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat. direkomendasikan upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan mendorong percepatan pertumbuhan wilayah melalui seperti hal-hal sebagai berikut: 1. Berlangsung proses investasi dan pembiayaan pengembangan kawasan permukiman secara terpadu dan berkelanjutan berbasis potensi SDA wilayah kawasan permukiman layak huni secara terpadu dan Dalam pembangunan permukiman. aman. Menyusun norma. panduan.

3. Ekploitasi kegiatan pertambangan dengan menggunakan sistem 3 fit (3 lubang penambangan secara bersamaan). Meningkatkan kapasitas SDM dan pelaku pembangunan permukiman berbasis kawasan 8. Mendorong berkembangnya inovasi. dan utilitas (PSU) kawasan permukiman perbatasan Sedangkan. Mendorong pelaksanaan penataan ruang kawasan permukiman berbasis potensi SDA wilayah prospektif dan partisipatif 10. dan investasi pembangunan kawasan permukiman perbatasan 9. permukiman. dalam pengembangan sektor unggulan kawasan Kabupaten sektor Nunukan dari hasil dan pembahasan perkebunan. Reklamasi dilakukan secara kontinyu untuk mengembalikan unsur hara tanah agar memudahkan dalam pemulihan fungsi kawasan melalui dimanfatkan untuk pengembangan fungsi lain seperti reboisasi atau perkebunan. dan penghijauan. sarana. Mengembangkan kredit mikro perumahan bagi pembangunan dan perbaikan rumah dalam rangka pemenuhan kebutuhan rumah yang layak dan terjangkau 12. Pengembangan teknologi ekploitasi dari penggalian ke sistem pengeboran menyamping sehingga dapat meminimalkan sisa lubang-lubang galian yang .156 7. Toleransi ekploitasi kegiatan pertambangan tidak lebih dari 60% luas kawasan potensial pengembangan sektor pertambangan. 2. Meningkatkan penyediaan prasarana. 4. dalam pengembangannya diperlukan persyaratan-persyaratan yang dapat mendukung keberlanjutan suatu kegiatan baik dalam pemanfatan ruang dan lahan adalah sebagai berikut: Sektor Pertambangan: 1. teknologi. dan sektor perikanan yaitu sektor pertambangan. Mendorong peran serta swasta/masyarakat dalam pembangunan dan perbaikan rumah dalam rangka pemenuhan kebutuhan perumahan yang layak huni dan terjangkau 11.

Sektor Perikanan: 1. panen. dan laut yang terjaga agar keberlanjutan kawasan dapat terwujud. 5. pemeliharaan. pantai. Mengembangkan sektor perikanan secara optimal dengan mengupayakan pelestarian ekosistem lingkungan pesisir. perusahaan negara (PTPN). Pengembangan ekonomi sektor pertambangan benefit) melalui harus berorientasi manajemen pada manfaat dengan (economic pengelolaan komposisi perbandingan sharing 70% untuk perusahaan (investor) dan 30% dialokasikan masyarakat. dan swasta.157 dapat merusak dan mendorong terjadinya degradasi lahan secara luas dalam waktu yang lama. 2. . Pengembangan sektor perikanan dengan memanfaatkan sumber daya laut sesuai dengan kemampuan daya dukung perairan (fishing ground) baik dari ketersediaan sumber daya (tidak over fishing) maupun kemampuan dalam menghindari penggunaan bahan pencemar 2. untuk biaya rehabilitasi lingkungan dan pemberdayaan Sektor Perkebunan: 1. dan kegiatan pascapanen. inti-plasma. Komoditas sektor perkebunan yang akan dikembangkan selain berdasarkan potensi sektor unggulan kawasan juga memperhatikan kecenderungan pasar regionalnya dan animo masyarakat agar prospek pengembangannya dapat berkelanjutan. 3. Pengembangan sektor perkebunan dilakukan dengan pendekatan pengembangan perkebunan inti rakyat (PIR). Pemberdayaan masyarakat melalui penyuluhan dan pelatihan dalam hal peilihan benih. penanaman benih. Pemanfaatan sumber daya laut dengan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan dan pengembangan kemampuan dalam pemanfaatan teknologi baru bidang perikanan 3.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful