P. 1
Kabupaten Nunukan

Kabupaten Nunukan

|Views: 584|Likes:
Published by Syaiful Hidayah

More info:

Published by: Syaiful Hidayah on Mar 22, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/07/2014

pdf

text

original

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Tinjauan Umum Kabupaten Nunukan

4.1.1 Administrasi dan Geografi Wilayah Kabupaten Nunukan terletak di daerah khatulistiwa sehingga

dipengaruhi iklim tropis basah dengan karakteristik yang khas, yakni curah hujan cukup tinggi dengan penyebaran merata sepanjang tahun. Di Wilayah Kabupaten Nunukan tidak terdapat pergantian musim yang jelas antara musim kemarau dan musim hujan. Berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan, Wilayah Kabupaten Nunukan termasuk dalam 2 (dua) wilayah utama, yaitu: − Wilayah hujan bagian barat dengan curah hujan maksimum yang umumnya terjadi pada Januari atau Mei. Curah hujan rata-rata lebih dari 266,5 mm. Hujan maksimum sekunder terjadi pada April-Juni, sedangkan hujan minimum terjadi pada Februari. Kecamatan yang termasuk dalam wilayah ini yaitu Kecamatan Krayan, Krayan Selatan, dan sebagian wilayah Kecamatan Lumbis, Sebuku, dan Sembakung. − Wilayah hujan bagian timur dengan curah hujan maksimum terjadi pada bulan April atau Mei. Hujan minimum umumnya terjadi pada bulan Juli-Agustus dengan curah hujan rata-rata 188,95 mm, tetapi curah hujan rata-rata tahunan lebih kecil dibandingkan curah hujan pada bagian kawasan pesisir, yaitu sebesar 199,5 mm. Kecamatan yang termasuk dalam wilayah ini adalah Kecamatan Nunukan, Sebatik, sebagian Kecamatan Sebuku, Lumbis, serta Sembakung.

Secara administratif wilayah Kabupaten Nunukan dibagi sembilan wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Nunukan, Kecamatan Nunukan Selatan, Kecamatan Sebatik, Kecamatan Sebatik Barat, Kecamatan Sebuku, Kecamatan Sembakung, Kecamatan Lumbis, Kecamatan Krayan, dan Kecamatan Krayan Selatan. Berdasarkan hasil penataan wilayah desa/kelurahan di Kabupaten Nunukan, telah terjadi pemekaran kecamatan. Sebelum pemekaran, Sebuku masuk ke dalam Kecamatan Nunukan dan saat ini sudah menjadi kecamatan sendiri. Selain itu, Kecamatan Krayan mengalami pemekaran menjadi Kecamatan Krayan dan Kecamatan Krayan Selatan.

49 Kabupaten Nunukan memiliki luas 14.263,68 km2. Pada tahun 2007 (Kabupaten Nunukan dalam Angka, 2008) Kabupaten Nunukan dihuni oleh 125.585 jiwa dengan kepadatan penduduk 8 jiwa per kilometer persegi. Kabupaten Nunukan sendiri terletak pada posisi 1150 33’ - 1180 3’ Bujur Timur serta 30 15’ 00’’ - 40 24’ 55’’ Lintang Utara. Persentase luas wilayah per kecamatan dapat dilihat pada Gambar 6.

Krayan Selatan 12,31% Krayan 12,88% Sebatik 0,73%

Sebatik Barat 1,00%

Lumbis 25,56%

Sebuku 21,91%

Nunukan 11,19%

Sembakung 14,41%

Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka, 2008

Gambar 6. Persentase luas wilayah per kecamatan Kabupaten Nunukan merupakan wilayah paling utara dari Provinsi Kalimantan Timur. Posisinya yang berada di daerah perbatasan Indonesia-Malaysia

menjadikan Kabupaten Nunukan sebagai daerah yang strategis dalam peta lalu lintas antarnegara. Peta administrasi dapat dilihat pada Gambar 7. Wilayah Kabupaten Nunukan terdiri dari dataran tinggi dan pegunungan. Sebagian besar didominasi oleh satuan fisiografi dataran tinggi dan pegunungan dengan luas 679.457 ha atau 47,63% dari luas wilayah. Dataran tinggi dengan kelerengan yang bervariasi merupakan wilayah paling luas yaitu mencapai 488.962 ha atau 34,28% dari luas wilayah. Peta fisiografis Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 8.

50

Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan, 2008

Gambar 7. Administrasi Kabupaten Nunukan

Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan, 2008

Gambar 8. Peta fisiografis Kabupaten Nunukan

1. 4.1.51 4. Jenis tanah Kabupaten Nunukan yaitu tanah alluvial yang hampir seluruhnya terdapat di Kecamatan Nunukan. . Wilayah yang terletak pada ketinggian lebih dari 1.25% dari luas Wilayah Kabupaten Nunukan. sedangkan kawasan yang memiliki tingkat kelerengan di atas 15% banyak terdapat di kawasan barat dan tengah Kabupaten Nunukan. Persentase penyebaran dan luas ketinggian daerah di Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 9.486 atau 28. Sebatik.2 Ketinggian dan Kemiringan Wilayah daratan Kabupaten Nunukan terletak pada ketinggian antara 0 hingga 1.7% dari luas wilayah. Jenis tanah yang luasnya paling kecil yaitu alluvial/gambut sebesar 50. 2008 Gambar 9.100 m 50. 1.02% 1. Kawasan di bagian utara dan selatan Kabupaten Nunukan lebih didominasi oleh kawasan dengan kelerengan rendah yaitu di bawah 15%.000 m 19.808 ha atau 50. Jenis tanah ini umumnya terdapat di Kecamatan Krayan.500 .500 m 18.25% 500 .3 Jenis Tanah Jenis tanah yang terdapat di Wilayah Kabupaten Nunukan hanya delapan jenis tanah dan yang paling luas adalah podsolik/regosol sebesar 410.98% 100 . Krayan Selatan.500 mdpl (meter di atas permukaan laut) ketinggian 0 sampai 100 mdpl meliputi areal seluas 716.000 . Persentase penyebaran dan luas ketinggian daerah Kabupaten Nunukan Kelerengan wilayah daratan Kabupaten Nunukan bervariasi. Tanah alluvial/gambut hanya terdapat di Kecamatan Lumbis dengan luasan 837 ha.87% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.000 m 0.79%.87% 0 .1. dan Sembakung.896 ha atau sebesar 3.500 m 10.2. dan Lumbis. sedangkan di Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan tidak terdapat sama sekali. Sebuku.1.500 mdpl hanya seluas 246 ha atau sebesar 0.02%.

dengan luas 1.383 ha atau 63.60 cm seluas 600. Tekstur tanah di Kabupaten Nunukan sebagian besar mempunyai tekstur tanah sedang. Penyebaran dan luas masing-masing kelas tekstur tanah wilayah daratan di Kabupaten Nunukan untuk Kecamatan Sebatik dengan luas wilayah 27. Ditinjau dari tekstur tanah.489 ha atau 67. debu. Wilayah Kabupaten Nunukan yang memiliki kedalaman tanah >90 cm seluas 711.303 ha dengan kelas tekstur tanah halus seluas 7.67% dan gambut 2. Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan.442 ha atau 37. dan kasar. Wilayah Kabupaten Nunukan dengan kedalaman tanah antara 30 . Peta jenis tanah Kabupaten Nunukan . Sebagian besar wilayah Kabupaten Nunukan memiliki kedalaman tanah 30 60 cm dan >90 cm. wilayah Kabupaten Nunukan mempunyai tekstur tanah halus.25% dari total luas wilayah Kabupaten Nunukan.66% dari luas wilayah kecamatan.278 ha atau 26.68% dari total luas kecamatan. Peta jenis tanah Kabupaten Nunukan dapat dilihat di Gambar 10.24% dari total luas wilayah Kabupaten Nunukan. 2008 Gambar 10.52% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan. Kedalaman efektif tanah merupakan kedalaman tanah yang menyebabkan akar tanaman masih bisa tumbuh dengan baik.545 ha atau 12.52 Kabupaten Nunukan memiliki kedalaman efektif tanah yang bervariasi antara kurang dari 30 cm sampai lebih dari 90 cm. sedang. tekstur sedang dengan luas 17.642 ha atau 9. dan pasir yang terdapat pada suatu gumpalan tanah.097. Tekstur tanah adalah perbandingan partikel liat.

perikanan. Jenis-jenis penggunaan lahan terdiri atas pemukiman. dan bantaran sungai. Mata pencaharian di sektor perdagangan. Jenis mata pencaharian penduduk di kawasan pesisir Kabupaten Nunukan bervariasi dengan kecenderungan pada aktivitas kehutanan. di tepi pantai. dan pelayanan jasa. Di sektor pertanian dan perkebunan hampir merata di semua kecamatan. Kecenderungan lonjakan produksi pertanian ini besar kemungkinannya diperoleh melalui perluasan lahan pertanian dalam jumlah yang besar. muara-muara sungai kecil. pertanian. dari hutan nonproduksi (hutan alam) menjadi lahan pertanian.4 Pola Penggunaan Lahan Persebaran penduduk di Kabupaten Nunukan tidak merata. Sebagian besar pemukiman penduduk di Kabupaten Nunukan yang berada di kawasan pesisir menempati daerah dataran rendah. sebagian besar penduduk mendiami wilayah pesisir. terutama daerah yang mempunyai aktivitas ekonomi yang cukup tinggi yang ditandai dengan adanya sarana transportasi dan keadaan ekonomi masyarakatnya yang memadai. lahan konsesi untuk kegiatan pertambangan minyak dan gas bumi. Jumlah penduduk yang relatif besar cenderung mengelompok di daerah perkotaan. dan perikanan terkonsentrasi pada pada Kecamatan Nunukan dan Sebatik. telah terjadi perubahan fungsi lahan. Hal ini disebabkan oleh adanya aktivitas manusia. Perkembangan penggunaan tanah di wilayah Kabupaten Nunukan dari waktu ke waktu mengalami perubahan. kehutanan. serta lahan untuk fasilitas umum. Hasil pengamatan terhadap pola pemanfaatan lahan di Kecamatan Nunukan menunjukkan bahwa sebagian besar lahan dimanfaatkan untuk kegiatan pertanian.53 4. Hal ini menunjukkan bahwa dalam periode hampir sepuluh tahun. pertanian (meliputi penggunaan lahan untuk perkebunan dan persawahan).436 ton pada tahun 2007 (BPS Kabupaten Nunukan 2008).084 ton pada tahun 1997 menjadi 44. pelayanan jasa. perikanan. perdagangan.1. . Kegiatan pertanian yang berkembang dapat dilihat dari peningkatan lonjakan kenaikan produksi padi dan palawija dari 20. Peta pola penggunaan lahan berdasarkan RTRW disajikan pada Gambar 11.

7% dari luas wilayahnya.426. Sebagian besar wilayah hutan merupakan kawasan budi daya nonkehutanan seluas 470. Hutan lindung jaraknya relatif jauh dari permukiman yang ada. Kabupaten Nunukan memiliki kawasan hutan lindung seluas 167.914 ha atau 33.4. Peta kesesuaian lahan untuk hutan lindung di Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 12.1. Hutan produksi pada umumnya telah diusahakan/ditebang oleh pemegang HPH maupun bekas ladang penduduk yang telah ditinggalkan.1 Kehutanan Hutan yang terdapat di Kabupaten Nunukan seluas 1. Peta pola penggunaan lahan 4. .54 POLA PENGGUNAAN LAHAN Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. dan hutan produksi (kawasan hutan dan kawasan budi daya nonkehutanan). 2008 Gambar 11.01% dari kawasan hutan seluruhnya.368 ha yang terdiri dari hutan taman nasional. hutan lindung.428 ha atau 11. sedangkan hutan sejenis berupa hutan reboisasi tanaman industri dari pemegang HPH.

58% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan. Kebun campuran adalah penggunaan lahan kering yang sifatnya menetap atau kombinasi tanaman semusim dan tanaman keras. rambutan.4. dan ladang. Tegalan adalah pertanian lahan kering dengan jenis tanaman semusim seperti tanaman ketela pohon. dan padi gunung. tegalan. pisang. Peta kesesuaian lahan pertanian di Kabupaten Nunukan dapat dilihat pada Gambar 13. Ladang seperti halnya tegalan. . nangka.55 Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Luas penggunaan untuk pertanian lahan kering 8. ditanami dengan jenis tanaman semusim.304 ha atau 0. Penggunaan lahan pertanian lainnya pada umumnya merupakan campuran tanaman kopi.2 Pertanian Kelompok pertanian lahan kering meliputi kebun campuran. tetapi sifatnya hanya sementara antara satu hingga tiga kali musim panen. dan lain-lain. Peta kesesuaian lahan untuk hutan lindung 4. 2008 Gambar 12. durian.1.

24% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan. Di samping itu. maupun perkebunan swasta. kelapa. kakao. Luas penggunaan lahan perkebunan yaitu 17. sedangkan akhir-akhir ini berkembang pola kemitraan dengan komoditas unggulan yaitu sawit.1. 2008 Gambar 13. dan perkebunan besar baik oleh negara maupun swasta.4. Dalam rangka pengembangan sektor perkebunan di Kabupaten Nunukan.3 Perkebunan Perkebunan yang dimaksud yaitu perkebunan dengan jenis tanaman keras monokultur.56 Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. lada. Peta kesesuaian lahan untuk pertanian 4. kelapa sawit.731 ha atau 1. pala. baik perkebunan rakyat. PIR/NES.1. 4. kopi.4 Perikanan Kabupaten Nunukan selain mempunyai potensi perikanan tangkap. diterapkan pembinaan dengan menggunakan pola partial/swadaya. perkebunan besar. aren. Budi daya tanaman perkebunan utama yang mendapat pembinaan secara khusus antara lain budi daya tanaman karet. dan jambu mete. dan cengkeh.4. budi daya lainnya bersifat introduksi dan dikembangkan secara diversifikasi seperti vanili. Rawa-rawa yang merupakan areal penggenangan permanen dan dasarnya yang dangkal ditumbuhi . juga perikanan budi daya seperti tambak/kolam berupa areal dengan penggenangan permanen yang telah mendapat campur tangan manusia baik itu berupa kolam air tawar maupun air laut atau yang telah dikenal dengan tambak.

1. Krayan Selatan. . 4. dan Muara Sungai Sembakung (Kecamatan Sembakung). Muara Bukat (Kecamatan Nunukan).T. . Kandungan batu bara yang terdapat di Simenggaris sedang diuji kandungannya oleh perusahaan swasta P. dengan kandungan CaO kandungan CaO 55. dan Sungai Krayan. dan Sembakung. Selain itu. .57 tumbuh-tumbuhan besar yang umumnya berupa rerumputan rawa dan semak belukar. terdiri dari: . Walaupun demikian. terdapat di Kecamatan Nunukan .Bahan galian setengah permata (half precious probing material) di Sungai Bilal. batu bara juga terdapat di Kecamatan Krayan. terdapat di Kecamatahn Krayan.Pasir kuarsa. Pulau Nunukan. Hulu Sungai Sembakung (Kecamatan Lumbis). . Pulau Sebatik. . Selain di Simenggaris. terdapat di Sungai Nyamuk.Emas. 3.Batu gunung.5 Pertambangan Pengembangan pertambangan di Kabupaten Nunukan hingga saat ini belum termanfaatkan secara optimal.Gips. padahal Kabupaten Nunukan memiliki beberapa potensi pertambangan yang dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan. Pulau Nunukan. Sembakung. dan Sebatik.Gamping. terdiri dari: . terdapat juga di Kecamatan Krayan.295 ha atau 1. Minyak bumi terdapat di Kecamatan Krayan. 2.05%. Krayan Selatan.14% dari luas wilayah Kabupaten Nunukan. Bahan galian golongan strategis (golongan A).2% dan MgO 0. Minyak bumi yang terdapat di Muara Bukat dan Muara Sungai Sembakung telah dieksploitasi oleh Pertamina. Bahan Galian Golongan C. yaitu minyak bumi dan batu bara. Pulau Nunukan. terdapat di Hulu Sungai Sebuku (Kecamatan Nunukan). Luas penggunaan lahan kolam/tambak/rawa seluas 16.Andesit. Bahan Galian golongan vital (golongan B). tetapi jumlah cadangan yang ada diperkirakan tidak banyak. belum terdapat studi terperinci tentang jumlah kandungan cadangan mineral yang ada.4. yaitu: 1. terdapat di Pasir Putih. terdapat di sekitar Sungai Sedadap. dan Kecamatan Sembakung. Anugerah Jati Mulya.

Krayan Induk. di pengembangan Sebatik kawasan permukiman juga akan dikembangkan Pulau (dua kecamatan). deliniasi kawasan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan menggunakan kriteria-kriteria sebagai berikut: − Kemiringan lereng relatif landai (0 .15%) − Tidak berada pada daerah banjir .58 4. Kecamatan Lumbis. dan Krayan Selatan merupakan bagian dari wilayah perbatasan negara di Kabupaten Nunukan. demikian juga permukiman transmigrasi. taman.6 Permukiman Penggunaan lahan permukiman meliputi perumahan. Luas penggunaan untuk permukiman ini adalah 7.1.4. Perumahan Perkotaan Berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan. 2008 Gambar 14. tempat olahraga.05% dari luas wilayah Kabupaten. Kesesuaian lahan untuk permukiman dapat dilihat pada Gambar 14. Selain dikembangkan di Pulau Nunukan sebagai kawasan perkotaan dengan pusat pemerintahan. perkantoran. Sembakung. Peta kesesuaian lahan untuk permukiman a. Pengembangan kawasan permukiman tersebut mendorong terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah perbatasan negara yang berbasis potensi SDA wilayah. kuburan baik yang di perkotaan maupun pedesaan. Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan.130 ha atau sekitar 0.

6. areal potensial dikembangkan untuk kegiatan permukiman perkotaan terletak di Pulau Nunukan atau Kota Nunukan. 5. persampahan. meliputi sistem drainase. air sungai juga dimanfaatkan sebagai bahan baku air bersih harus melalui pengelolaan sehingga memenuhi kelayakan sebagai air bersih yang siap untuk dikonsumsi masyarakat. 4. air bersih.59 − Tidak berada pada daerah resapan air − Tersedia air baku yang cukup − Bebas dari bahaya gangguan geologi lingkungan − Mempunyai tingkat aksesibilitas dan dapat dijangkau − Tidak berada pada daerah rawan gempa − Berada dekat pusat kota − Tidak berada dalam kawasan lindung Berdasarkan kriteria tersebut. minimum 5% dari luas areal pengembangan perkotaan. Sistem prasarana drainase: . jalan lingkungan. tata ruang. Pemanfaatan air tanah sebagai sumber air bersih untuk kebutuhan penduduk perkotaan dan sistem aktivitas. 2. Pengembangan permukiman minimal harus menghindari lahan-lahan pertanian yang produktif. di bagian Pulau Sebatik. Sehubungan dengan potensi pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan. serta kota-kota kecamatan lainnya. Pembangunan unit-unit permukiman diwajibkan untuk menyediakan lahan kuburan. diperlukan pengaturan ruang sebagai berikut: 1. Selain itu. 3. dan perumahan.Harus mempertimbangkan badan sungai yang ada sebagai saluran penerima . Dapat dibangun akomodasi perkotaan serta sarana sosial-ekonomi yang dapat memfungsikan kota tersebut sebagai pendorong pengembangan kawasan sekitarnya atau daerah hinterland-nya. Pengembangan permukiman perkotaan harus didasarkan pada sistem prasarana dasar yang artinya pengembangan permukiman perkotaan harus didasarkan pada penataan bangunan dan lingkungan yang serasi dan seimbang. air kotor. Pengembangan sarana dan prasarana ekonomi yang ada disesuaikan dengan potensi daerah belakangnya.

.

seperti patahan aktif. 6. Tidak berada dalam kawasan berfungsi lindung. . dan organosol dengan kemiringan <15%. delineasi pengembangan kawasan permukiman pedesaan di Kabupaten Nunukan menggunakan kriteria-kriteria sebagai berikut: 1. Kemiringan tanah <30%.Perhitungan drainase berdasarkan banjir 10 sampai 25 tahun. Kemiringan lereng relatif landai 0 . dianjurkan untuk membuat sumur resapan terutama pada tanah yang stabil dan mempunyai daya serap tinggi. 7. 2. kecuali jenis tanah regosol. Kapasitas kemampuan pelayanan didasarkan pada perhitungan kebutuhan air bersih rata-rata 100 liter/orang/hari. Ketinggian <1.15%. Permukiman desa yang tidak sesuai dengan kriteria di atas tetap dipertahankan terutama di desa yang terdapat pada kawasan Taman Nasional Krayan Mentarang yang terletak di ketinggian di atas 1. Kedalaman efektif tanah > 30 cm. litosol. Untuk meningkatkan recharge air tanah. dan longsoran. 3.500 mdpl. erosi. Perumahan Pedesaan Berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan. Pada lereng atau tanah yang peka terhadap erosi harus ada rekayasa teknis sehingga kekeruhan drainase tidak semakin pekat . Bukan daerah kritis/bahaya lingkungan beraspek geologi. Mempunyai sistem dan atau potensi pengembangan pengairan dan drainase. erosi.000 mdpl. dan longsoran tidak terdapat di Kabupaten Nunukan. seperti daerah patahan aktif. Adapun permukiman desa yang terletak di daerah bahaya geologi lingkungan.- Koefisien aliran permukaan (run off) tidak lebih dari 25%. Sistem air bersih: Pengambilan air baku diutamakan dari air permukaan (sungai) dengan melakukan pengelolaan sehingga layak untuk dijadikan air minum dan kebutuhan air bersih lainnya. 7.000 mdpl. 5. 4. kecuali desa-desa yang sudah ada di atas ketinggian 1. b. sesuai dengan standar hidup perkotaan. rezina.

perlu dilakukan pengaturan ruang sebagai berikut: 1. Dapat dibangun sarana sosial-ekonomi berdasarkan kebutuhan sesuai dengan karakteristik tiap desa.5 Kondisi Penduduk di Kabupaten Nunukan Keadaan penduduk di Kabupaten Nunukan berdasarkan distribusi menurut kecamatan. peribadatan. Permukiman pedesaan memiliki kepadatan maksimum lima rumah/hektar dan KDB maksimum 5%.96% dan Kecamatan Sebatik sebesar 16. Diperkenankan bangunan yang menunjang fungsi kawasan/kegiatan utama untuk kepentingan umum. 5. digunakan akses sungai sebagai pintu keluar masuk desa.1. . Perlu disesuaikan secara dini agar permukiman perdesaan yang berbasis sentra pertanian tidak berubah menjadi permukiman perkotaan agar pertanian produktif tetap dapat dipertahankan serta konservasi tanah dan air tanah dapat dilakukan dengan baik. tetapi desa-desa berada dalam kawasan lindung. melalui pengembangan kawasan budi daya. diusahakan untuk dimukimkan kembali ke dalam kawasan yang sesuai untuk permukiman. kesehatan. 6. baik budi daya pertanian maupun budi daya kehutanan. 2008). 2.15% (Kabupaten Nunukan dalam Angka. Bagi desa-desa yang terletak di daerah aliran sungai. seperti fasilitas pendidikan. Pada desa-desa yang berada di daerah aliran sungai perlu dikembangkan pelabuhan sungai yang berskala lingkungan. 4. 3.Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada desa-desa di daerah kritis. dan sarana budaya. Namun. Pengembangan jalan lainnya dapat diintegrasikan dengan pengembangan lahan usaha masyarakat. dan tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat) atau usaha tani. Pengembangan jalan sesuai dengan kebutuhan dan juga disesuaikan dengan karakteristik masing-masing desa. Secara keseluruhan distribusi berdasarkan kecamatan terlihat pada Gambar 15. 4. jumlah terbesar di Kecamatan Nunukan sebesar 42. Permukiman penduduk lokal/desa-desa yang berada pada kawasan lindung tetap dipertahankan. selain sarana prasarana sosial lainnya. Berdasarkan potensi pengembangan permukiman perdesaan di Kabupaten Nunukan.

645.46 3.75 194.50 2.585 Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km²) 4.124.283 11.57 4.19 14.59 1.77% Sebatik 16.72% Krayan Selatan 1.731 jiwa. Luas wilayah.14 33.263.731 20.Sebatik Barat 8.283 jiwa dan luas wilayah 104.90 1.15% Sebuku 9. yaitu 194.593 KK dan jumlah penduduk sebanyak 11. jumlah penduduk dan kepadatan penduduk tahun 2007 Kecamatan Krayan Krayan Selatan Lumbis Sembakung Nunukan Sebuku Sebatik Sebatik Barat Jumlah Luas Wilayah (km²) 1.2 jiwa/km2 dengan jumlah penduduk sebanyak 20. Distribusi penduduk Kabupaten Nunukan menurut kecamatan 2007 Berdasarkan kepadatan penduduk dari delapan kecamatan yang ada terlihat bahwa Kecamatan Sebatik memiliki kepadatan penduduk tertinggi.81% Lumbis 7. 2008 Rata-rata jiwa per rumah tangga terbanyak terjadi di Kecamatan Sebuku dengan jumlah rata-rata sebanyak 4.52 jiwa/keluarga dengan jumlah rumah tangga sebanyak 2. Tabel 5.29 2. 2008 Gambar 15. Di kecamatan lainnya.96% Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.380 8. kepadatan penduduk yang ada hanya berkisar antara 1.951 11.756.6 jiwa/km2.42 km2.34% Nunukan 42. .438 2.79 3.24 77.80 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.77 3.54 1.42 142.503 53.68 Jumlah Penduduk (Jiwa) 8.837.78% Krayan 6.596.271 9.055.90 104.56 8.47% Sembakung 6.028 125. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 5.33.79 jiwa/km2.29 . Kepadatan Kecamatan Sebatik Barat yaitu 77.

917 4.860 5. sosial.96 Sembakung 8.593 4. . Pembangunan Jalan Lingkar Pulau Sebatik antara lain sebagai berikut Bambangan – Setabu – Sungai.16 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. Lancang – Mamolo . Peranan perhubungan sangat vital dalam menunjang kegiatan pembangunan terutama darat. Jumlah penduduk.1.17 Lumbis 9.81 Nunukan 53.6 Kondisi Prasarana dan Sarana 4. dan subsektor perhubungan udara. kabupaten.271 545 4.283 5.546 5. Jepun – Tanjung.527 19.707 30.323 19.Bambangan.380 2.028 3. rumah tangga dan rata-rata jiwa per rumah tangga tahun 2007 Rata-Rata Jiwa/ Penduduk Rumah Tangga Kecamatan (jiwa) (kk) Keluarga Krayan 8.52 Sebatik 20. dan pedalaman/kawasan pedesaan akan mempercepat jalanya roda pembangunan.84 2006 118. dengan jarak ± 51.235 3.503 2.366 3.702 3. Pancang Sungai Nyamuk . dengan jarak ± 58. baik dalam bidang ekonomi.1 Jalan dan Angkutan Sungai Prasarana dan sarana perhubungan mempunyai peranan yang sangat penting dalam menunjang kegiatan pembangunan.230 3. dan keamanan.Aji Kuning .alun-alun – Sedadap – Sungai.731 2.56 2003 106. Taiwan – Tanjung.585 32. subsektor perhubungan air.438 1.1.Tabel 6. Prasarana jalan menjadi faktor utama dalam mendukung lancarnya mobilisasi kegiatan pembangunan di daerah.44 2002 97.163 3. 2008 4.50 2004 109. Prasarana perhubungan meliputi subsektor perhubungan darat.60 km. kota kecamatan. Program pembangunan jalan Kabupaten Nunukan untuk pertumbuhan ekonomi yaitu: Pembangunan Jalan Lingkar Pulau Nunukan antara lain sebagai berikut: Binusan – Sungai.Binusan. Bilal .40 Krayan Selatan 2.895 3.92 2005 115.245 3.50 km.951 14. Aru – Sungai. Harapan – Sungai.6.685 5.68 Sebuku 11.41 Jumlah 125.653 3.93 Sebatik Barat 11. Fatimah – Sungai.210 32. Kelancaran perhubungan antarkecamatan. subsektor perhubungan laut.398 18.

masih diusulkan penetapannya ke tingkat provinsi/pusat. dan jalan tanah. Jaringan jalan ke lokasi rencana PPN untuk daerah Sungai Mensapa dapat langsung dijangkau oleh kendaraan roda empat dengan baik karena keberadaan .Kecamatan Sebuku (Pembeliangan) .Ba Liku – Bungayan .Kecamatan Malinau Utara (Salap). . Hubungan antaribukota kecamatan di dalam kabupaten sebagian besar masih menggunakan jalur angkutan laut dan sungai. dengan jarak ± 22.Kecamatan Lumbis (Mansalong).- Pembangunan Jalan Lingkar Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan melalui Long Bawan – Kuala. Belawit – Lembudud – Long.Kabupaten Malinau .Kecamatan Sembakung (Atap).Long Padi – Binuang .63 km. dengan jarak ± 65. - Pembangunan jalan lintas negara yang menghubungkan Kabupaten Malinau dan Nunukan ke batas negara sejauh ± 180. Jaringan jalan kabupaten relatif masih terbatas dibandingkan dengan luas wilayah administrasi Kabupaten Nunukan.Kecamatan Sebuku (Pembeliangan) . dengan jarak ± 125 km. dengan jarak ± 235 km. Pada jalan negara dan jalan provinsi. dengan jarak ± 87.43 km.Tang Laan – Tanjung. semua ibukota kecamatan maupun desa-desa yang ada dapat dijangkau dengan jalan darat.Kecamatan Lumbis (Mansalong) .Kecamatan Krayan (Long Bawan). sehingga memudahkan penduduk untuk berinteraksi dan beraktivitas walaupun sebagian besar jalan tersebut belum beraspal. - Pembangunan jalan lintas kecamatan. - Pembangunan jalan lintas kabupaten yang menghubungkan Kabupaten Nunukan dan Malinau yaitu Kecamatan Sebuku (Pembeliangan) .60 km. Pasir . dan jalan kabupaten. Meskipun demikian. Layu . jalan berbatu/diperkeras. jaringan jalan darat dibagi menjadi jalan aspal.Wa Yagung Long Bawan.Kecamatan Lumbis (Mansalong) . Jaringan jalan yang ada di Kabupaten Nunukan terbagi atas jalan negara. .79 km. Berdasarkan jenis permukaannya. jalan provinsi. yang menghubungkan kecamatankecamatan di Kabupaten Nunukan melalui: .

batu. 2008 Gambar 16. mencapai 816. Melanjutkan pembangunan ruas jalan baru dengan melengkapi kebutuhan rambu-rambu lalu lintas untuk keamanan dan ketertiban pemakai jalan. 4. termasuk wilayah perkotaannya. Membuka isolasi daerah melalui pembangunan dan peningkatan jalan desa. Pemeliharaan secara periodik dan rutin serta peningkatan jalan menuju ibukota kecamatan dengan konstruksi hotmix. Meningkatkan kelas jalan. Aspal 16% Tanah 49% Kerikil 35% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. 2. Persentase panjang jalan disajikan pada Gambar 16. Kondisi jaringan jalan di Nunukan dapat dilihat berdasarkan jenis permukaan jalan maupun kelas jalan. 3. Jaringan jalan menuju Sungai Jepun. Peta kesesuaian lahan untuk keterlintasan jalan dapat dilihat pada Gambar 17.90 km. dan Kampung Buton sudah tersedia jalan agregat yang dapat dilalui oleh mobil sampai ke rencana lokasi. . Sedadap. Pemerintah Kabupaten Nunukan merencanakan pengembangan prasarana jalan yang meliputi: 1. Persentase panjang jalan menurut jenis permukaan 2007 (km) Jumlah panjang jalan di wilayah Kabupaten Nunukan. Sebagian besar (53. dan tanah).lokasi yang berdekatan dengan jalan lingkar Pulau Nunukan.5%) jaringan jalan yang ada masih merupakan jalan berpermukaan campuran (agregat antara jalan aspal.

yakni sebagai berikut : 1. alat angkutan utama yang digunakan adalah kapal laut dan udara. 2008 Gambar 17. Tersedia jadwal rute angkutan sungai. untuk keperluan lokal (dalam kota) digunakan angkutan darat. tetapi juga sangat berperan pada daerah yang sudah berkembang di sekitar pantai. dua bandar udara perintis. dan udara yang melintasi Kabupaten Nunukan. 3. Peta kesesuaian lahan untuk keterlintasan jalan Pelayanan mobilisasi penduduk dan barang antarpulau.Surabaya PP Angkutan sungai di Kabupaten Nunukan memegang peranan penting. .Tawau (setiap hari) Angkutan udara Tarakan . sepanjang Sungai Sembakung yang menghubungkan daerah yang tersebar di sepanjang sungai mulai dari hulu ke hilir dan sepanjang sungai di Lumbis serta Krayan Selatan yang ada di wilayah pedalaman Kabupaten Nunukan. dan enam bandar udara air strip. Berdasarkan data Kantor Badan Statistik Kabupaten Nunukan tahun 2002. Angkutan Sungai Tarakan . 2.Nunukan Terjadwal (setiap hari) Angkutan Sungai Antarnegara Nunukan .Nunukan Angkutan Kapal Laut Nunukan Toli – Makassar – Balikpapan . Selain itu.66 Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. tidak hanya sebatas pada daerah pedalaman. Sistem angkutan sungai ini berkembang di sepanjang Sungai Sebuku (Sungai Tulid dan Sungai Tikung). tercatat satu pelabuhan laut. laut. 4.

dan oli. Sumber daya air tersebut terdiri dari air permukaan dan air tanah dalam. maupun penumpang ke dan dari pedalaman. Namun. Ketersediaan Prasarana dan Sarana Air Bersih Sumber air baku bagi kebutuhan air bersih diambil dari Sungai Bolong dan Sungai Bilal. Kondisi yang sama juga terlihat pada perpaduan dengan angkutan lainnya untuk dapat menjangkau wilayah pedalaman dan perbatasan dengan penerbangan perintis.1.2 Angkutan Udara Bandar udara Kabupaten Nunukan merupakan bandar perintis yang melayani daerah di Kabupaten Nunukan. Dalam hal ini. 4. Bahan-bahan ini dapat menambah ambang total petroleum hidrokarbon di dalam air. kapasitas yang tersedia belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. 4.1. .6. Hal ini disebabkan masih terbatasnya prasarana dermaga perairan darat. peranan angkutan sungai demikian pentingnya untuk kelancaran arus barang. Perkembangan penduduk menyebabkan peningkatan kebutuhan air bersih.348 unit. dan masih tingginya tingkat kebocoran air. Sumber daya air untuk memenuhi kebutuhan di Kabupaten Nunukan ini sebelumnya sangat potensial. bahkan antarkota yang ada di Provinsi Kalimantan Timur dengan jenis pesawat baling-baling kecil dan sedang. dan 289 unit sambungan nonrumah tangga. Kecamatan Nunukan telah memiliki PDAM. di lain pihak adanya kegiatan angkutan sungai yang dilengkapi dengan prasarana dermaga dapat mempengaruhi ekosistem yang ada di dalamnya. sedangkan kecamatan lain masih memanfaatkan sumber air lainnya. adanya jaringan distribusi yang belum menjangkau ke seluruh wilayah.3 Air Bersih a.6.049 unit sambungan rumah (SR). 14 unit hidran.Sesuai dengan sifat-sifat sungai. Permasalahan yang ada dalam penyediaan air bersih di Kabupaten Nunukan ini yaitu sebagian besar daerah belum memilik sambungan air PDAM sebagai badan yang dapat mengolah dan menyediakan air bersih. ekosistem perairan dapat tercemar oleh bahan organik yang berasal dari pengguna angkutan dan bahan organik seperti bahan bakar. Selain itu. terdiri 1. Kapasitas air bersih yang ada belum dapat dimanfaatkan secara optimal karena permasalahan distribusi dan kualitas air yang belum sesuai dengan kebutuhan. Jumlah sambungan aktif mencapai 1. seperti mata air dan air permukaan sebagai sumber air bersih.

Banyaknya pelanggan pada PDAM Nunukan 2002—2007 .63% dibanding tahun sebelumnya. Sisanya.573 1.68 Pembangunan dan pemanfaatan embung-embung yang berasal dari sungai-sungai dapat sangat bermanfaat dalam mengatasi keterbatasan air baku untuk air minum pada musim kering.912 1. Selengkapnya data perkembangan pelanggan dari tahun ke tahun dapat dilihat pada Gambar 18. 2008 Gambar 18.912 pelanggan atau dengan kata lain mengalami peningkatan masing sebesar 9.500 2.496 1. Tingkat Pelayanan Air Bersih Perkotaan Berdasarkan sistem sambungan perpipaan. sebanyak 82% penduduk di wilayah Kota Nunukan masih menggunakan sumber air baku yang berasal dari tanah.000 500 0 2002 2003 2004 2005 2006 2007 1. air permukaan. PDAM yang beroperasi di Kabupaten Nunukan berada di Kecamatan Nunukan dan Sebatik.510 1. Penyediaan air yang bersih dan layak digunakan untuk keperluan sehari-hari dapat dipenuhi dengan tersedianya Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM). 2008) mencapai 1. b.000 1. 2.500 1. maupun air hujan. Jumlah pelanggan PDAM Nunukan pada tahun 2007 (Kabupaten Nunukan dalam Angka.496 1.744 Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka. tingkat pelayanan air bersih penduduk Kabupaten Nunukan sebesar 18%.

Factory Badan Sosial.000 600.912 orang dengan jumlah pelanggan terbanyak dari rumah tangga (tempat tinggal). Di Kecamatan Nunukan.000 100.000 300.000 0 2002 2003 2004 2005 2006 468.832 385. Market. terdapat 1. Rumah Ibadah dsb Social.339 514. Banyaknya air minum yang disalurkan 2002-2007 (m3) . banyaknya air minum yang disalurkan oleh PDAM Nunukan juga mengalami peningkatan sebesar 17.000 500.000 900.000 700.000. Instansi/Kantor Pemerintah Household. terdapat 1.000 200. Hospital Sarana (Fasilitas) Umum Public Facilities Hydran Pelabuhan Hydran Port Lainnya/Industri Others Jumlah Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka. 1.484 390 12 26 1. 2008 Nunukan 1. Government Hotel/Objek Wisata. 2008 Gambar 19. Data selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7.912 Sebatik 219 90 4 2 1 316 Lumbis 229 63 1 3 296 Seiring dengan peningkatan jumlah pelanggan.418 756. Toko. Rumah Sakit. Industry.000 800. Perusahaan Hotel.484 pelanggan. instansi/kantor pemerintah. Data selengkapnya mengenai perkembangan banyaknya air minum yang disalurkan terlihat pada Gambar 19.179 470.Berdasarkan data tahun 2007. Industri. Banyaknya pelanggan air minum menurut jenis pelanggan 2007 Jenis Pelanggan Rumah Tangga (Tempat Tinggal).41%.632 2007 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.006 887.

38% dengan migas dan 17. Tenaga listrik yang terjual sebesar 35.000 30.103 2005 29.553 26. Otomatis tenaga listrik yang terjual juga mengalami peningkatan sebesar 26.4 Listrik dan Telekomunikasi Prasarana listrik dan telekomunikasi merupakan fasilitas dasar yang sangat dibutuhkan untuk mendorong perkembangan kabupaten.000 0 2004 Diproduksi Terjual 25.556 23. Peningkatan ini diiringi dengan meningkatnya tenaga listrik yang terpasang sebesar 16 MWH atau terjadi peningkatan sebesar 33. dan 870 MWH.1. Data perkembangan banyaknya tenaga listrik yang diproduksi dapat dilihat pada Gambar 20.6. Laju pertumbuhan ekonomi Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 sebesar 1. 2008 Gambar 20.70 4.672.248 MWH. di mana sebagian besar digunakan oleh rumah tangga sebesar 18. kemudian kegiatan usaha sebesar 9.145 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.235 MWH. dan sosial masing-masing sebesar 4. wilayah Kabupaten Nunukan memiliki sektor ekonomi andalan berupa pertambangan. 40. Banyaknya tenaga listrik yang diproduksi Tahun 2004-2007 (MWH) 4.7 Kondisi Ekonomi Daerah Secara umum. 1.550 MWH.000 10.070 31. . Adapun untuk kepentingan publik.000 20.129 2006 26. industri.37% tanpa migas. Produksi tenaga listrik Kabupaten Nunukan mengalami peningkatan sebesar 28.29% pada tahun 2007. Pelayanan listrik di Kabupaten Nunukan menggunakan pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang dikelola oleh PLN wilayah VI.921.80%.562 2007 34.557 24. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh fluktuasi nilai tambah dari sektor pertambangan dan penggalian yang memberikan bagian terbesar terhadap nilai PDRB.33% dari tahun sebelumnya.1.

Perlu dicermati bahwa ada usaha-usaha perdagangan ilegal yang berlangsung secara lintas batas antara negara Malaysia dan Indonesia di sekitar wilayah perkotaan Kecamatan Nunukan.60 6. nilai distribusi PDRB atas dasar harga berlaku yang masih didominasi oleh sektor pertambangan penggalian dan pertanian masing-masing sebesar 51.30 0. Struktur perekonomian menurut lapangan usaha tahun 2003 – 2007 (%) Sektor/Sub Sektor Pertanian Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Listrik. terdapat pula perdagangan barang-barang yang berasal dari wilayah Sabah.03 0.27 43.34 0.17 4.40 0.33 11.26 100 2007*) 24.27 1.65 6. Selain itu. 2008 .11 3.28 9.28 2.14 5.03 0.49 4.82 100 2004 33.95 7.85 0.24 0. Persewaan dan Jasa Perusahaan Jasa-jasa PDRB 2003 37.19 10.37 2. baik yang dapat diperbaharui maupun tidak dapat diperbaharui.77 9. Hal ini menunjukkan perlu adanya dorongan dalam proses transformasi ekonomi Kabupaten Nunukan dari sektor primer ke sektor sekunder dan tersier.08 2.16 4.68 0. Malaysia. Struktur perekonomian Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 terlihat masih bertumpu pada eksploitasi sumber daya alam. maupun perdagangan lintas batas dengan wilayah Negara Bagian Sabah di Malaysia Timur.78 0. Hotel dan Restoran Angkutan dan Komunikasi Keuangan.84 51. baik regional (dalam wilayah kabupaten).18 100 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.49 4.Perkembangan ekonomi di Kabupaten Nunukan banyak dipengaruhi oleh sektor perdagangan.84 2.84%.03 0.08 38.44 0.13 4.04 0.04 0. Hal ini tercermin pada tabel 8.06 0.06 100 2006 21. Gas dan Air Minum Bangunan Perdagangan. Tabel 8.03 62.41 100 2005 21.46 3.01 0.44% dan 24.01 57.

Pengembangan prasarana wilayah diarahkan untuk mendukung terwujudnya prasarana wilayah yang diarahkan untuk mendukung terwujudnya struktur tata ruang dan pemanfaatan ruang yang sesuai dengan yang telah direncanakan. Secara lebih rinci kebijakaan pengembangan prasarana yaitu sebagai berikut: 1. selaras.8 Kebijakan Pembangunan Kabupaten Nunukan Kebijakan struktur tata ruang dalam RTRW Kabupaten Nunukan adalah sebagai berikut: 1. 3. 1. Mengembangkan sistem kota atau sistem pusat-pusat permukiman yang sesuai dengan daya dukung dan daya tampung serta fungsi kegiatan dominan. 3. Pengembangan prasarana pengairan diarahkan untuk mendukung pengembangan pertanian lahan basah (sawah) dan tambak. Mengembangkan prasarana wilayah yang mampu mendukung terwujudnya sistem kota-kota (sistem pusat-pusat permukiman) di Kabupaten Nunukan. 2. Pengembangan prasarana transportasi diarahkan untuk menghubungkan antara sentra produksi. . 2. pusat pengumpul. peningkatan dan pembangunan prasarana wilayah didasarkan pada rencana struktur tata ruang serta rencana pemanfaatan ruang wilayah. dan berkelanjutan. dan distribusi serta pasar. Meningkatkan kualitas lingkungan hidup serta mencegah timbulnya kerusakan fungsi dan tatanan lingkungan hidup. Oleh karena itu. Mengembangkan kawasan-kawasan potensial di Kabupaten Nunukan dan mendukung terwujudnya struktur tata ruang yang diinginkan.72 4. dan meningkatkan daya dukung lingkungan buatan guna mendukung proses pembangunan berkelanjutan untuk kesejahteraan masyarakat. 2. menjaga keseimbangan ekosistem.1. 3. seimbang. Pengembangan pasokan energi listrik diarahkan untuk memenuhi kebutuhan di sentra produksi dan permukiman. Meningkatkan keseimbangan dan keserasian perkembangan ruang secara serasi. Kebijakan pemanfaatan ruang Kabupaten Nunukan yang bertujuan mewujudkan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan. meningkatkan daya dukung lingkungan.

pergudangan. disebutkan rencana pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan. Rencana pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan diarahkan pada pengembangan permukiman perkotaan yang dapat memenuhi kebutuhan lingkungan hunian yang serasi dan selaras. Tanjung Karang. . industri. Pengembangan prasarana industri perkebunan dan perikanan skala besar. − Ketersediaan fasilitas sosial dan sarana ekonomi yang lengkap. Ciri-ciri pusat pertumbuhan ini ditandai oleh antara lain sebagai berikut: − Pola penggunaan lahan yang didominasi oleh kegiatan nonpertanian.4. Kecamatan Nunukan dan Sebatik merupakan pusat pertumbuhan hierarki I di Kabupaten Nunukan. Pengembangan permukiman perkotaan dilakukan melalui peningkatan fungsi pusat-pusat ekonomi perkotaan dan pusat-pusat permukiman desa yaitu di Kecamatan Nunukan. 5. lokasi pangkalan niaga. − Mudah diakses dari segala penjuru wilayah di Kabupaten Nunukan. Atap. dan faslitas sosial-ekonomi yang berorientasi pelayanan antarpulau dan antarnegara. Sesuai dengan fungsi pertumbuhan. Pembeliangan. Tanjung Karang. Kecamatan Nunukan sebagai Ibukota Kabupaten merupakan pusat kegiatan ekonomi skala regional dan skala internasional. dalam RTRW. Long Bawan. terminal agribisnis. Rencana pengembangan permukiman perkotaan di Kabupaten Nunukan akan diarahkan pada permukiman perkotaan Nunukan. pemukiman. antara lain adanya kegiatan campuran (permukiman dan kegiatan lainnya). Mansalong. Selanjutnya. dan Tau Lumbis. Pembeliangan. Pengembangan prasarana penyediaan air bersih diarahkan pada pusat permukiman dan daerah yang rawan air bersih. dan Atap. Tau Lumbis. Malaysia sehingga sangat strategis untuk pengembangan perdagangan antarnegara. Mansalong. Long Bawan. Hal ini berdasarkan kegiatan sosial-ekonomi yang berada dan berbatasan langsung dengan Negara Bagian Sabah. − Adanya pemusatan lokasi kegiatan sosial ekonomi yang mencirikan kegiatan perkotaan.

2008 Gambar 21. dapat pula memantapkan fungsi ekosistem sebagai pelindung sistem penyangga kehidupan dan pelestari keanekaragaman hayati maupun sebagai sumber daya pembangunan. Sebagian besar wilayah hutan adalah kawasan budi daya nonkehutanan. areal tanah kritis.034. dan kesejahteraan sosial.426.01% dari kawasan hutan seluruhnya. hutan lindung. Luas kawasan hutan di Kabupaten Nunukan seluas 1.911.02% Kaw as an Budidaya Non Ke hutanan 33. Produksi kayu bulat tahun 2007 mengalami penurunan sebesar 71.74 4. serta penyerapan tenaga kerja bagi masyarakat.9. pembangunan ekonomi. Luas kawasan hutan disajikan pada Gambar 21.1. Luas kawasan hutan menurut tata hutan kesepakatan 2007 (Ha) . kegiatan kehutanan perlu memperhatikan tata guna hutan. baik dalam kawasan hutan maupun masyarakat di sekitar hutan. Selain itu.73% dibanding tahun sebelumnya yaitu dari 123.74% Kaw as an Hutan 30.9 Potensi Sumber Daya Alam dan Wilayah 4. Pengelolaan hutan sebagai sumber daya alam perlu ditingkatkan dan disempurnakan agar memberikan manfaat besar bagi kesejahteraan rakyat. dan kawasan budi daya nonkehutanan. hutan tanam industri. Tam an Nas ional 25. Selain itu. Pembangunan kehutanan mencakup aspek pelestarian fungsi lingkungan hidup.1 Kehutanan Pembangunan kehutanan mencakup semua upaya untuk memanfaatkan dan memantapkan fungsi sumber daya alam hutan dan sumber daya hayati.58 m3.23% Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.01% Hutan Lindung 11. yakni seluas 470.914 ha atau 33. kawasan hutan.37 m3 menjadi 35. usaha perlindungan dan pengamanan flora dan fauna.1.368 ha yang terdiri dari taman nasional.

perikanan dan peternakan terus diupayakan untuk menunjang pertumbuhan dan stabilitas ekonomi. Sebuku 4% Sebatik 21% Krayan 41% Nunukan 11% Sembakung 3% Lumbis 6% Krayan Selatan 14% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. Tanaman bawang daun merupakan komoditas tanaman sayur-sayuran yang mengalami penurunan hasil produksi.28%.127 ton atau dengan kata lain terjadi peningkatan produktivitas padi sebesar 9.. yaitu menjadi 48. Pada tahun 2007 luas panen padi (sawah dan ladang) di Kabupaten Nunukan mengalami peningkatan.2 Pertanian Pertanian merupakan sektor primer yang mendominasi aktivitas perekonomian di Kabupaten Nunukan. Pengembangan di bidang pertanian perlu ditingkatkan agar memberikan hasil yang lebih baik dari segi kuantitas dan kualitas. Peningkatan luas tanam yang pesat dibandingkan tahun sebelumnya dan diiringi dengan peningkatan hasil produksi dari masing-masing tanaman. yaitu 38. 2008 Gambar 22.1. kehutanan. perkebunan. Persentase produksi padi disajikan pada Gambar 22.11% dari total luas panen serta 40. Kecamatan Krayan adalah daerah yang mempunyai luas panen dan jumlah produksi padi ladang yang lebih besar dibandingkan kecamatan yang lain. yakni sebesar 4.75 4.83% dari total produksi.65%.9. Persentase produksi padi menurut kecamatan 2007 . Pertanian yang meliputi pertanian tanaman pangan. Produksi tanaman padi juga mengalami kenaikan.

2008 2007 Gambar 23. Lumbis. yang terdiri atas 4.26%. jumlah rumah tangga perikanan penangkapan tercatat 2.3 Perkebunan Luas areal komoditas kelapa sawit pada tahun 2007 mengalami peningkatan sebesar 25.903. Persentase produksi perikanan disajikan pada Gambar 24. Sebatik Barat. produksi perikanan tahun 2006 naik 9.1. Sebuku. Berdasarkan data tersebut.4 Perikanan Produksi perikanan pada tahun 2007 tercatat 4. Sebagian besar luas areal kelapa sawit terdapat di Kecamatan Sebatik.1.10 ton atau meningkat 6. Produksi komoditas kakao dan kelapa 2006-2007 (ton) 4.585. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya.76 4. produksi terbesar dihasilkan oleh tanaman kakao sebesar 18. Pada tahun 2007.947. Dilihat dari rata-rata produksi yang dihasilkan oleh setiap komoditas perkebunan. Sembakung dan Nunukan.21 ton perikanan budi daya.71 kelapa 2006 Tahun Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka.1 kakao 7458.9.31%.32 7686.8% dibandingkan tahun 2006. bukan disebabkan peningkatan oleh jumlah tetapi disebabkan penangkap ikan sebesar 30.273 rumah tangga atau naik sebesar 30.57 ton. Persentase produksi komoditas kakao dan kelapa disajikan pada Gambar 23 20000 Hasil 15000 10000 5000 0 17702 18903. . dapat disimpulkan bahwa meningkatnya peningkatan produksi produktivitas ikan di lokasi penelitian perairan.4% dibandingkan dengan tahun 2006.36 ton produksi perikanan penangkapan dan 362.9.26 persen dibandingkan tahun 2006 (Gambar 25).

165.846. Produksi minyak bumi di Kabupaten Nunukan selama tahun terakhir ini mengalami penurunan jumlah produksi.9.287 ton. Produksi pertambangan batu bara dan minyak bumi 2006—2007 dapat dilihat pada Gambar 25.37% Nunuk an 25. yakni pada tahun 2006 jumlah produksi sebanyak 1.16% Se batik 37. Persentase produksi perikanan menurut kecamatan 2007 4. Perkasa Equatorial Sembakung Ltd.59% dibandingkan tahun sebelumnya. Kemudian pada tahun 2007 menjadi 1.37% Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.87% Krayan Se latan 0.03% Se batik Barat 15. 2000000 Ton/BBL 1500000 1000000 500000 0 1670048 1165287 1846937 1362304 Batubara Minyak bumi 2006 Tahun Sumber : Kabupaten Nunukan dalam Angka. 2008 Gambar 24.T.17% Se buk u 0. 2008 2007 Gambar 25.937. Produksi pertambangan batubara dan minyak bumi 2006-2007 .77 Krayan 1.129 ton.362. pada tahun 2007 sebesar 1. Dinas pertambangan mencatat produksi minyak bumi dari P.09% Lum bis 0.1.5 Pertambangan Hasil tambang batu bara mengalami peningkatan yang sangat pesat.94% Se m bak ung 19.304 BBL atau menurun sebesar 22.

seperti patahan aktif. Adapun permukiman desa yang terletak pada daerah bahaya geologi lingkungan. dikembangkan juga di Kecamatan Lumbis.000 mdpl. Rencana andalan pengembangan tersebut dimaksudkan untuk mendorong tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan baru di perbatasan negara yang berbasis potensi SDA wilayah yang prospektif dan potensial mendukung keberlanjutan kawasan permukiman. tetapi ada desa yang berada dalam kawasan lindung. Permukiman desa yang tidak sesuai dengan kriteria di atas tetap dipertahankan terutama di desa-desa yang terdapat pada kawasan Taman Nasional Krayan Mentarang yang terletak di ketinggian diatas 1.Sumber : Survei Lapangan. erosi. lahan untuk permukiman adalah 7.05% dari luas wilayah kabupaten. Berdasarkan arahan RTRW kabupaten. seperti permukiman transmigrasi baik lokal maupun antarwilayah di Indonesia cukup luas. dan perdesaan. Pengembangan kawasan permukiman selain dikembangkan di Pulau Nunukan sebagai kawasan perkotaan dengan pusat pemerintahan juga akan dikembangkan di Pulau Sebatik (dua kecamatan). dan longsoran tidak terdapat di Kabupaten Nunukan. Kawasan tambang batubara dan minyak bumi 4. 2008 Gambar 26.6 Permukiman A. Potensi Pengembangan Lahan Permukiman Potensi pengembangan kawasan permukiman meliputi perumahan. . Hasil analisis menunjukkan tidak ada desa yang berada di daerah kritis. Selain itu. Demikian juga permukiman lain.130 ha atau sekitar 0. perkotaan. Sembukung.1. dan Krayan yang merupakan bagian wilayah perbatasan negara di Kabupaten Nunukan.9.

perlu adanya pengaturan ruang seperti permukiman penduduk lokal/desa-desa yang berada pada kawasan lindung. konservasi tanah dan air tanah dapat dilakukan dengan baik. B. Pengembangan jalan lainnya dapat diintegrasikan dengan pengembangan lahan usaha masyarakat. Potensi Kemampuan Pembiayaan Pembangunan Kemampuan daerah dalam sharing pembiayaan pembangunan kawasan permukiman dilihat dari kemampuan indikator nilai indeks fiskal daerah. Tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat) atau usaha tani. Pemerintah Kabupaten Nunukan telah memperlihatkan adanya potensi kemampuan sharing pembiayaan pada program-program stimulan pembangunan perumahan dari pemerintah pusat seperti dari Kementerian Perumahan Rakyat. berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK. Kementerian Kelautan dan Perikanan. Permukiman perdesaan yang berbasis sentra pertanian perlu disesuaikan secara dini agar tidak berubah menjadi permukiman perkotaan agar pertanian produktif tetap dapat dipertahankan. . Pada desa-desa yang berada di daerah aliran sungai perlu dikembangkan pelabuhan sungai yang berskala lingkungan. Permukiman perdesaan memiliki kepadatan maksimum lima rumah/hektar dan KDB maksimum 5%.79 Berdasarkan potensi pengembangan permukiman perdesaan di Kabupaten Nunukan.07/2010 tentang Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah dalam Rangka Perencanaan Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan Tahun Anggaran 2011. Akan tetapi. masuk dalam kategori sangat tinggi. Bangunan yang menunjang fungsi kawasan/kegiatan utama diperkenankan dibangun untuk kepentingan umum. perlu diusahakan pemukiman kembali kawasan yang sesuai untuk permukiman. Kementerian Pekerjaan Umum. penyediaan prasarana dan sarana. Untuk Kabupaten Nunukan. Nilai indeks fiskal dapat menunjukkan kemampuan daerah dalam pendampingan pembiayaan bersama dengan pemerintah pusat. Fasilitas sosial dan ekonomi dapat dibangun sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik msing-masing desa. Selain itu. serta fasilitas sosial dan ekonomi. Bagi desa-desa yang terletak pada daerah aliran sungai dan menggunakan akses sungai sebagai pintu keluar masuk desa dapat dibangun jalan akses dan menempatkan prasarana dan sarana sosial lainnya.

Bulungan 4.07/2010 tentang Indeks Fiskal dan Kemiskinan Daerah dalam rangka Perencanaan Pendanaan Urusan Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan tahun anggaran 2011 Kab / Kota Penentuan tingkat besaran penyediaan dana daerah untuk urusan bersama (DUUB) adalah dengan pertimbangan sebagai berikut: a. Kutai Timur 4. Pasir 2.796 1.721 4 Tinggi Kab. . dan kementerian lain yang terkait. Malinau 8.550 1 Sangat Tinggi Kab. b.303 4 Tinggi Kota Samarinda 1.426 1.800 1 Sangat Tinggi Kab. c.935 0.886 4 Tinggi Kab. Tabel 9. − Daerah yang termasuk dalam kelompok 3 menyediakan DDUB rendah.999 0. Nunukan 3.185 0.971 1.195 0.335 1 Sangat Tinggi Kab. Berau 2. Daftar daerah berdasarkan indeks fiskal dan kemiskinan daerah di Kalimantan Timur No. − Daerah yang termasuk dalam kelompok 2 menyediakan DDUB sedang. Penentuan batas persentase terendah dan tertinggi DDUB yang harus disediakan oleh daerah dengan mempertimbangkan hasil keputusan rapat koordinasi instansi yang terkait dengan program penanggulangan kemiskinan nasional.248 1.450 1 Sangat Tinggi Kab. DDUB yang harus disediakan oleh daerah dengan rincian sebagai berikut: − Daerah yang termasuk dalam kelompok 1 menyediakan DDUB sangat tinggi.067 1.829 0.175 1. − Daerah yang termasuk dalam kelompok 4 menyediakan DDUB tinggi. Tana Tidung 30.450 1 Sangat Tinggi Sumber : Peraturan Menteri Keuangan Nomor 61/PMK.Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal.421 4 Tinggi Kota Tarakan 1.062 0.416 1 Sangat Tinggi Kota Balikpapan 1.464 0. Penajam Paser Utara 2. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Indeks Ruang Indeks Persentase Tingkatan Fiskal Daerah Penduduk Miskin Kelompok Penyediaan (IRFD) Daerah (IPPMD) DUUB Kab.928 1.698 4 Tinggi Kab. Nilai indeks fiskal di Kalimantan Timur terlihat pada Tabel 9.134 1 Sangat Tinggi Kab. Kutai Kartanegara 4. DDUB yang harus disediakan oleh daerah disesuaikan dengan katagori kelompok.300 4 Tinggi Kota Bontang 3.993 4 Tinggi Kab. Kutai Barat 3.

q. Arah kecenderungan pengembangan meliputi aspek keselarasan antara kawasan budi daya dengan kawasan lindung. Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan menyiapkan bahan perhitungan rincian penyediaan DDUB untuk masingmasing daerah berdasarkan batas persentase terendah dan tertinggi. Hasil perhitungan rincian penyediaan DDUB digunakan oleh pusat (tingkat nasional) sebagai bahan penetapan besaran DDUB pada masing-masing daerah. Kriteria mensyaratkan indeks fiskal harus dievaluasi secara periodik untuk menentukan besaran bantuan pembiayaan dari pemerintah pusat. Berdasarkan data indeks fiskal tersebut. diharapkan kondisi ini dapat terus dipertahankan. . penguatan pola interaksi orientasi ekonomi yang berbasis potensi sumber daya alam wilayah menjadikan kemauan politik (political will) pemerintah pusat dan daerah (Rosentraub 1996). f. Dalam rangka mewujudkan keterpaduan dalam pembangunan di wilayah Perbatasan khususnya dalam sektor permukiman.81 d. Menteri Keuangan c. Prioritas ini dapat berupa peningkatan dana alokasi khusus (DAK). Menarik masuknya investasi baru sektor unggulan daerah untuk mendorong percepatan pembangunan wilayah perbatasan. Hasil perhitungan rincian penyediaan DDUB disampaikan oleh direktur jenderal perimbangan keuangan atas nama menteri keuangan kepada tim nasional paling lambat bulan Maret sebelum penyusunan rencana kerja Kementerian Negara/Lembaga. khususnya sektor permukiman dan infrastruktur wilayah perbatasan. Hal ini bertujuan agar arah kecenderungan pengembangan dapat diketahui. Mengingat kedudukan Kabupaten Nunukan sebagai kawasan strategis nasional (KSN) di wilayah perbatasan dapat menjadi pertimbangan tersendiri untuk tetap mendapat prioritas bantuan pembiayaan pengembangan. keterkaitan antara pusat-pusat pertumbuhan baru dengan pusat-pusat kegiatan (kota). e. dapat dilihat bahwa Kabupaten Nunukan masuk pada kategori kelompok sangat tinggi. Oleh karena itu. perlu dipahami profil pelaksanaan pembangunan di daerah yang sesuai dengan pemenuhan kebutuhan pengembangan.

Adapun . subsektor kehutanan. Permukiman merupakan suatu kesatuan wilayah tempat suatu perumahan berada. dan sosial. Pengetahuan mengenai permukiman disebut ekistics (istilah Yunani). dan tidak terkelola dengan baik. mempunyai dampak langsung terhadap keberlanjutan aspek ekologi. subsektor pertanian tanaman perikanan. terpencar.4.2 Analisis Kondisi Permukiman Perbatasan Kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara dengan kondisi umum yang tidak tertata. nomaden. ekonomi. kumuh. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. yaitu manusia) dan the container (wadah. Aspek lain yang kesesuaian juga harus diperhatikan khususnya dalam pengembangan ekonomi adalah sektor unggulan wilayah yang potensial dikembangkan sehingga akan menjamin peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat agar keberlanjutan kawasan permukiman di wilayah perbatasan dapat terlaksana. Elemen-elemen permukiman terdiri atas alam. Oleh karena itu. Suatu permukiman terdiri atas the content (isi. Permukiman diartikan sebagai tempat manusia hidup dan berkehidupan. baik berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan (live) dan penghidupan (livelihoods). Menurut Undang-Undang No. subsektor sektor pertambangan. masyarakat. Secara ekologi. Adapun potensi SDA wilayah berdasarkan RTRW Kabupaten Nunukan terdiri dari subsektor pangan. dan jaringan infrastruktur (Sastra dan Marlina 2006). permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung.1 Kondisi dan Permasalahan Permukiman Perbatasan Permukiman dalam istilah ini merupakan padanan kata human settlements. dan sektor industri 4.2. perlu memerhatikan daya dukung dan lahan untuk pengembangan permukiman. Ilmu ekistics dikembangkan oleh CA Doxiadis pada tahun 1967 (Winarso 2001). manusia. perumahan. perkebunan. yaitu tempat fisik manusia tinggal yang meliputi elemen alam dan buatan manusia). subsektor pariwisata. lokasi dan lingkungan perumahan tersebut tidak akan pernah dapat lepas dari permasalahan dan lingkup keberadaan suatu permukiman yang seharusnya memberikan kenyamanan kepada penghuninya (termasuk orang yang datang ke tempat tersebut).

Kondisi lingkungan permukiman terdiri dari perumahan yang kumuh (slum area).653 KK. Kecamatan Sebatik Barat terdiri 3. Kecamatan kelompok wilayah kepulauan seperti Kecamatan Sebatik terdapat kawasan permukiman yang terdiri 5. Terkait dengan fenomena kawasan permukiman perbatasan negara. (Permenpera 2006).366 KK di bagian tengah wilayah daratan. Persebaran penduduk yang mengelompok dan terpencar terlihat dari distribusi pusat-pusat permukiman yang ada di masing-masing kecamatan. dan minim prasarana. Kelompok wilayah daratan adalah Kecamatan Krayan Selatan 545 KK lokasinya di ujung barat wilayah administrasi kabupaten dan Kecamatan Lumbis 2. fasos. Persebaran penduduk di wilayah perbatasan pada umumnya tidak merata sehingga kawasan permukimannya terlihat mengelompok dan terpencar.235 KK yang lokasinya di ujung barat pulau. Kawasan permukiman perbatasan di Kabupaten Nunukan. yang dimaksud kawasan permukiman perbatasan padanannya adalah kawasan perumahan dan permukiman khusus untuk menunjang kegiatan berbagai fungsi di wilayah perbatasan negara. dan fasum lingkungan. sarana. Dari beberapa pengertian tersebut. Kecamatan Nunukan sebanyak 14.83 perumahan adalah kelompok rumah yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian yang dilengkapi dengan prasarana dan sarana lingkungan. tidak tertata. Kawasan permukiman adalah kawasan budi daya yang ditetapkan dalam rencana tata ruang dengan fungsi utama untuk permukiman (Permenpera 2006). dapat disimpulkan bahwa permukiman memiliki pengertian yang lebih luas dibandingkan dengan perumahan. Hal ini disebabkan oleh pengelolaan yang tidak baik dan kurangnya kegiatan terkait program/proyek pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara. kondisinya (existing condition) sangat dipengaruhi oleh persebaran penduduk di masing-masing kecamatan yang berada di wilayah perbatasan kabupaten.163 KK yang lokasinya di ujung timur pulau. .

dari tahun ke tahun. Pergeseran batas wilayah di Pulau Sebatik sudah jauh ke dalam wilayah tertorial Indonesia. Oleh karena itu. Kawasan permukiman yang berada di atas batas wilayah perbatasan Masyarakat wilayah perbatasan yang memiliki karakteristik lingkungan sosial yang spesifik. dan kegiatan ekonomi bersama baik legal maupun yang ilegal memerlukan kemudahan berkomunikasi dan aksesibilitas yang baik.84 Sumber : Dokumentasi Survei. Oleh karena itu. transaksi jual beli. Kawasan permukiman yang berkelompok dan terpencar Pola perkembangan kawasan permukiman yang mengelompok dan terpencar di wilayah perbatasan berdampak negatif terhadap keutuhan wilayah NKRI karena berpeluang dimanfaatkan negara tetangga untuk menggeser patok-patok perbatasan untuk memperluas wilayah negaranya. Sebuku. Penggeseran patok-patok perbatasan negara dilakukan pada lokasi yang tidak terdapat permukiman sebagai tempat hunian dan aktivitas penduduk/masyarakat perbatasan. Sumber : Dokumentasi Survei. kehilangan wilayah teritorial negara terus terjadi dan semakin meluas. untuk memenuhi kebutuhannya. . 2009 Gambar 27. 2009 Gambar 28. dan Krayan. seperti kegiatan pelintas batas. belum lagi yang terjadi di wilayah perbatasan lain di Kecamatan Lumbis. Kebutuhan tersebut pada umumnya belum terpenuhi atau memadai.

perkotaan maupun perdesaan. digunakan sampan/perahu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang penting dan mendesak ke negara tetangga. Misalnya. 4. berkelanjutan. Pengembangan kawasan permukiman akan dikembangkan di Pulau Nunukan. Pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan harus tertata. Kondisi masyarakat perbatasan dengan karakteristik lingkungan yang spesifik menjadi fenomena tersendiri. Untuk memudahkan masyarakat dalam akses ke laut. Kawasan permukiman yang berada di muara sungai dan kumuh Kondisi kawasan permukiman perbatasan di Kabupaten Nunukan tersebut mencerminkan bahwa pemerintah pusat dan pemerintah daerah kurang memberikan perhatian pengembangan wilayah dan masyarakat perbatasan. 2009 Gambar 29. membangun perumahan di sepanjang bantaran sungai dan sampai melanggar batas wilayah perbatasan negara lain.85 masyarakat melakukan upaya sendiri yang umumnya tidak sesuai dengan peratuaran dan perundang-undangan yang berlaku. Sumber: Dokumentasi Survei. Oleh karena itu. banyak bangunan rumah dengan ruang tamu wilayah di Indonesia dan dapur di Malaysia atau yang dikenal dengan rumah Malaysia-Indonesia (Malindo). . termasuk kegiatan permukiman lain seperti. antara lain dalam membangun perumahan dan fasilitas tidak memperhatikan batas-batas wilayah negara. permukiman transmigrasi baik lokal maupun antarwilayah di Indonesia cukup luas tersedia.2 Pengembangan Lahan Permukiman Potensi pengembangan kawasan permukiman meliputi perumahan.2. khususnya dalam pengembangan kawasan permukiman. dan dikelola dengan baik melalui kebijakan dan strategi pengembangan kawasan permukiman perbatasan.

Permukiman-permukiman perdesaan yang tidak sesuai dengan kriteria kebutuhan akan tetap dipertahankan. Kecamatan-kecamatan tersebut berada di klaster III. Luas penggunaan lahan untuk pengembangan permukiman adalah 7. khususnya sektor perkebunan. seperti patahan aktif. Sebuku. Sehubungan dengan potensi pengembangan permukiman perdesaan di Kabupaten Nunukan.05% dari luas wilayah kabupaten (RTRW Kabupaten Nunukan 2005). dan pengelolaan yang lebih baik. pengembangan. Rencana pengembangan kawasan permukiman tersebut dimaksudkan untuk mendorong tumbuhnya pusat-pusat pertumbuhan baru di perbatasan negara yang berbasis potensi SDA wilayah. Penggunaan lahan permukiman meliputi perumahan. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak ada permukiman di daerah kritis. erosi. perlu adanya pengaturan ruang. dan Sebatik Barat yang berada di klaster II. khususnya desa-desa untuk mendukung kegiatan pelestarian kawasan Taman Nasional Krayan Mentarang yang terletak di ketinggian di atas 1. baik yang di perkotaan maupun pedesaan. Di Kecamatan Lumbis. Adapun di Kecamatan Sebatik Timur akan dikembangkan kawasan permukiman perkotaan. taman. dan Krayan sebagai kawasan perkotaan dan pusat pemerintahan. ± 60 % diperuntukkan untuk kawasan permukiman klaster-klaster di kecamatan yang berada di sepanjang wilayah perbatasan. Adapun di Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan yang berada di klaster I akan dikembangkan lahan seluas 750 ha sebagai kawasan . dan kuburan. tempat olahraga.86 Pulau Sebatik. di Kecamatan Nunukan dan Nunukan Timur akan dikembangkan lahan seluas 1.850 Ha sebagai kawasan permukiman perdesaan dan pusat desa pertumbuhan berbasis potensi SDA wilayah. tetapi terdapat permukiman di desa-desa yang berada dalam kawasan lindung.700 ha sebagai kawasan permukiman perkotaan dan pusat pemerintahan. Kecamatan Lumbis. pusat pertumbuhan baru Pulau Sebatik.130 Ha atau sekitar 0. akan dikembangkan lahan seluas 1. Permukiman desa yang terletak pada daerah rawan bencana geologi lingkungan. Luas lahan untuk pengembangan kawasan permukiman.000 mdpl. Sebuku. serta permukiman transmigrasi. Pengembangan kawasan permukiman sesuai dengan arahan RTRW kabupaten. perkantoran. dan longsoran tidak terdapat di Kabupaten Nunukan.

seperti fasilitas pendidikan. khususnya sektor pertambangan. dan fasum sebagai pendukung kegiatan sosial-ekonomi di kawasan permukiman dapat dibangun sesuai kebutuhan dan karakteristik wilayah kecamatan. Penataan dan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan ke depan akan mendorong perkembangan wilayah perdesaan yang berbasis sentra . Peta pengembangan permukiman di setiap klaster Pengembangan prasarana. 2008 dan Hasil Analisis Gambar 30. Peta pengembangan permukiman di setiap klaster terlihat pada Gambar 30. Bangunan yang menunjang fungsi kawasan/kegiatan utama diperkenankan untuk kepentingan umum. Tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat) atau usaha pertanian. Pada permukiman perkotaan kepadatan maksimum 80 rumah/hektar dan KDB maksimum 40%. selain sarana prasarana sosial lainnya. peribadatan. dan sarana budaya. Pengembangan jaringan jalan dapat diintegrasikan dengan pengembangan lahan usaha masyarakat. Pada kecamatan yang berada di daerah aliran sungai perlu dikembangkan pelabuhan sungai. Permukiman perdesaan memiliki kepadatan maksimum 25 rumah/hektar dan KDB maksimum 20%.87 permukiman perdesaan dan permukiman perkotaan untuk pusat pertumbuhan baru berbasis potensi SDA wilayah. fasos. KLUSTER II: 1850 Ha KLUSTER I: 750 Ha KLUSTER III: 1700 Ha Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. sarana. kesehatan. serta tipe bangunan disesuaikan dengan penghuni kawasan (budaya setempat).

berupa dana pendamping . Kementerian Kelautan dan Perikanan. dan investasi sektor unggulan untuk mendorong percepatan pembangunan wilayah perbatasan. Hal ini bertujuan agar lahan pertanian produktif dapat dipertahankan dan konservasi tanah serta air dapat dilakukan dengan baik. Kemampuan sharing Pemda Kabupaten Nunukan ditunjukkan pada setiap mendapatkan bantuan stimulan oleh pemerintah pusat. infrastruktur. Dengan demikian. wilayah perbatasan dapat menjadi pertimbangan tersendiri untuk tetap mendapat prioritas bantuan pembiayaan pengembangan. dan kementerian lain yang terkait.248 dan skor indeks persentase penduduk miskin daerah (IPPMD) 1. diharapkan kondisi ini dapat terus dipertahankan. Mengingat kedudukan Kabupaten Nunukan sebagai kawasan strategis nasional (KSN). 4.pertanian menjadi desa kota (sub urban) sebagai pusat pertumbuhan baru (Wacker 2002).800.3 Kemampuan Pembiayaan Pembangunan Permukiman Kemampuan pengembangan daerah kawasan (kabupaten/kota) permukiman dalam khususnya sharing dalam pembiayaan pembangunan permukiman berdasarkan indikator nilai indeks fiskal daerah. Kementerian Pembangunan Daeah Tertinggal. Prioritas bantuan pembiayaan pembangunan dapat berupa peningkatan dana alokasi khusus (DAK). Data indeks fiskal menunjukkan bahwa Kabupaten Nunukan masuk pada kategori kelompok sangat tinggi. khususnya bidang permukiman perbatasan. Kementerian Pekerjaan Umum. Kabupaten Nunukan termasuk dalam kategori sangat tinggi. Pemerintah Kabupaten Nunukan telah memperlihatkan adanya potensi kemampuan sharing pembiayan pada program-program stimulan pembangunan perumahan dari pemerintah pusat seperti dari Kementerian Perumahan Rakyat. dengan skor indeks ruang fiskal daerah (IRFD) 3. Nilai indeks fiskal dapat menunjukkan kemampuan daerah dalam pendampingan pembiayaan bersama dengan pemerintah pusat. Adapun untuk menjaga kawasan permukiman yang sudah dibangun agar tetap berkelanjutan perlu dilakukan pengendalian dan penyesuaian sejak dini agar tidak berubah menjadi permukiman perkotaan yang tidak terarah (urban sprawl).2. Kriteria mensyaratkan agar secara periodik indeks fiskal harus dievaluasi untuk menentukan besaran bantuan pembiayaan dari pemerintah pusat.

pertanian. Pemda menglokasikan dana untuk pembuatan kanal dan sarana air bersih senilai Rp 9 miliar serta biaya pembebasan tanah untuk pembangunan kawasan permukiman nelayan seluas 100 ha. ekonomi. yaitu: 1. jumlah tenaga kerja. Dalam menganalisis sektor-sektor potensial dan prospektif dengan menggunakan metode perbandingan eksponensial (MPE). Kesediaan pemda bersama-sama dengan pemerintah pusat mengalokasikan dana APBD dalam mengembangkan nelayan perbatasan berkorelasi dengan membuktikan kemampuan kawasan permukiman bahwa indeks fiskal yang sangat baik daerah dalam menyiapkan dana untuk pembiayaan pembangunan permukiman. Sebuku. akses transportasi. kehutanan. Nunukan Selatan. produktivitas. dan Sebatik Dalam penetapan klaster sesuai dengan kondisi potensi sumber daya alam kawasan pada kecamatan-kecamatan yang berada di wilayah perbatasan.dan usulan dana program pembangunan melalui APBD dari masing-masing dinas terkait. 4. . Kabupaten Nunukan secara geografis dapat terlihat pada Gambar 31. Klaster III meliputi Kecamatan Nunukan. yaitu kesesuaian lahan. lokasi startegis.3 Analisis Komparatif Sektor Unggulan Kawasan Kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara mempunyai dampak langsung baik secara ekologi. dan Sebatik Barat 3. perikanan. di kecamatan wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan dibuat 3 (tiga) klastering subkawasan. Kriteria tersebut berkorelasi positif dalam meningkatkan potensi pasar di wilayah perbatasan (Hanson 1998). pariwisata. akses komunikasi. Pada 2006 kemenpera memberikan bantuan stimulan pembangunan kawasan permukiman nelayan senilai kurang lebih Rp 4 miliar. dan industri. Klaster I meliputi Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan 2. Klaster II meliputi Kecamatan Lumbis. nilai produk. dan sosial. Sektor-sektor potensial yang mempunyai peranan penting terhadap pengembangan kawasan permukiman tersebut antara lain adalah perkebunan. Kriteria yang menjadi pertimbangan di setiap sektor tersebut ada delapan. jangkauan pasar. pertambangan.

1 Sektor Unggulan Subkawasan Klaster I Kecamatan yang termasuk dalam klaster I adalah Kecamatan Krayan dan Kecamatan Krayan Selatan. Pembagian klaster di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan 4. Penilaian bobot kriteria terhadap sektor unggulan klaster I Klaster I Pertambangan Perkebunan Kehutanan Pariwisata 5 5 6 5 6 6 5 5 Perikanan Pertanian Industri 6 7 6 5 7 7 6 6 No Kriteria Bobot 1 Kesesuaian Lahan 2 Produktivitas 3 Lokasi Strategis 4 Jumlah Tenaga Kerja 5 Nilai Produk 6 Jangkauan Pasar 7 Akses Transportasi 8 Akses Komunikasi Sumber: Hasil Analisis 8 8 7 6 9 6 7 7 7 6 6 6 7 7 6 6 9 8 7 7 8 9 7 7 5 4 6 7 5 5 5 5 4 4 6 6 4 5 4 4 5 5 6 5 6 5 6 6 .KLUSTER II KLUSTER I KLUSTER III Gambar 31. Tabel 10.3. Adapun pembobotan kriteria terhadap sektor unggulan dengan metode MPE dapat disajikan pada Tabel 10.

pertanian dengan nilai MPE yaitu 2.802.384.161.978.413 48.771.746 dan perikanan dengan nilai MPE yaitu 768.802. Nilai sektor unggulan klaster I Klaster I No 1 2 3 4 5 6 7 Perkebunan Pertambangan Pertanian Perikanan Kehutanan Pariwisata Industri Sektor Nilai MPE 48. Urutan dari posisi ke-4 sampai ke-7. terlihat urutan atau prioritas sektor yang potensial di Klaster I Kabupaten Nunukan.106.384 2.004 11.106 Sumber: Hasil Analisis Berdasarkan tabel 11 di atas dapat disimpulkan bahwa sektor yang paling menentukan pada klaster I adalah sektor pertambangan dengan nilai 197. Tabel 11.357.978. Jumlah produksi minyak bumi pada tahun 2007 sebanyak 1. Hasil tersebut disajikan dalam Tabel 11.304 ton.746 768.357.730.362.413.201. Data BPS (2007) menunjukkan bahwa produk pertambangan unggulan adalah minyak bumi dan batu bara. prioritas ketiga adalah industri dengan nilai MPE 48.730.201 11. Perkebunan menempati urutan kedua dengan nilai MPE yaitu 48.137 197. Jumlah produksi minyak terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun seperti yang terlihat pada Gambar 32.004. kehutanan dengan nilai MPE yaitu 11. . pariwisata dengan nilai MPE yaitu 11.771.137.161.Berdasarkan hasil perhitungan dengan teknik MPE.

556 23.129 ton.287 ton. 2008 Gambar 32.103 2005 29. kawasan Klaster I sangat sesuai untuk pertambangan (Gambar 33).000 0 Diproduksi Terjual 2004 25. Oleh karena itu. sektor tambang menjadi unggul pada klaster I dan didukung juga oleh daya dukung sumber daya alam yang ada pada kawasan klaster I.553 26. lokasi klaster I merupakan pegunungan dan perbukitan yang tidak teratur serta mempunyai kelerengan >40%. Berdasarkan peta kesesuaian lahan.846. Jumlah produksi bahan tambang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun dari tahun sebelumnya sebesar 1.937.2007 (BBL) Produk batu bara pada klaster I juga merupakan produk unggulan. Berdasarkan peta kesesuaian lahan yang menunjukkan di atas 90%.129 2006 26.145 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka.40.000 30.165.557 24. Produksi minyak bumi (MMSTB) 2000 .000 10.562 2007 34. Data BPS (2007) menunjukkan jumlah produksi batu bara di Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 sebesar 1.070 31. .000 20.

dan Sebatik Barat. .2 Sektor Unggulan Subkawasan Klaster II Kecamatan yang termasuk klaster II adalah Kecamatan Lumbis.3. 2008 Gambar 33. 4.Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Hal ini didukung oleh kesesuaian lahan serta jenis tanah yang mendukung kegiatan perkebunan sehingga dapat mencegah erosi pada wilayah-wilayah yang berlereng. Peta kesesuaian lahan untuk perkebunan menunjukkan klaster I yang di atas 55% cocok untuk lahan perkebunan. Kesesuaian lahan untuk pertambangan Urutan kedua adalah sektor perkebunan. Sebuku. Adapun pembobotan nilai dengan metode MPE dapat dilihat pada Tabel 12.

957.094. Pertanian menempati urutan kedua dengan nilai MPE 63.094.403. . Posisi ke-4 sampai ke-7 berturut-turut pertambangan dengan nilai MPE 49.403.583 44.343. Nilai sektor unggulan klaster II Klaster II No Sektor 1 2 3 4 5 6 7 Perkebunan Pertambangan Pertanian Perikanan Kehutanan Pariwisata Industri Nilai MPE 450. Penilaian bobot kriteria terhadap sektor unggulan klaster II Klaster II Pertambangan Perkebunan Kehutanan Pariwisata 5 5 5 6 5 4 5 4 Perikanan Pertanian Industri 7 7 6 7 7 7 7 5 No Kriteria Bobot 1 Kesesuaian Lahan 2 Produktivitas 3 Lokasi Strategis 4 Jumlah Tenaga Kerja 5 Nilai Produk 6 Jangkauan Pasar 7 Akses Transportasi 8 Akses Komunikasi Sumber: Hasil Analisis 8 8 7 6 9 6 7 7 9 8 7 8 9 7 7 7 7 6 7 7 7 6 6 6 8 7 6 7 7 5 5 4 5 4 6 6 6 5 5 4 8 8 7 5 6 5 5 5 Hasil perhitungan dengan teknik MPE memperlihatkan urutan atau prioritas sektor yang potensial di Klaster II Kabupaten Nunukan.761 53.643.300.744.171 2.761.643.300.345. Prioritas ketiga adalah industri dengan nilai MPE 53. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel 13. perikanan dengan nilai MPE 10.970.744 63.343 10.848.171.111. kehutanan dengan nilai MPE 44.583. dapat disimpulkan bahwa sektor yang paling menentukan adalah sektor perkebunan dengan nilai 450.957.Tabel 12.111 Sumber: Hasil Analisis Berdasarkan tabel 13 di atas. dan pariwisata dengan nilai MPE 2.345.848 49. Tabel 13.970.

2008 Gambar 34.10 ton.71 ton. Kedua kecamatan tersebut sangat sesuai untuk tanaman perkebunan (gambar 34). Produksi kelapa sebanyak 7. Selain itu. hampir di atas 90%. Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan.Klaster II. berdasarkan peta land system. Produksi kakao dan kelapa terus mengalami peningkatan dari 2002 sampai tahun 2007 seperti terlihat pada Gambar 35 berikut.903.686. Peta kesesuaian lahan untuk perkebunan Data BPS (2008) menunjukkan produksi kakao di Kabupaten Nunukan pada tahun 2007 sebanyak 18. termasuk dalam kelompok punggung gunung batuan metamorfik yang tidak teratur yang menyebabkan klaster II sangat cocok untuk perkebunan. . Jenis komoditas unggulan perkebunan pada klaster II adalah kakao dan kelapa sawit. berdasarkan peta kesesuaian lahan untuk perkebunan.

71 18903.32 6430. Adapun hasil pembobotan nilai dengan metode MPE dapat dilihat pada Tabel 14.3 Sektor Unggulan Subkawasan Klaster III Kecamatan yang termasuk dalam klaster III adalah Kecamatan Nunukan.32 7686.32 6407. Penilaian bobot kriteria terhadap sektor unggulan klaster III Klaster III Pertambangan Perkebunan Kehutanan Pariwisata Perikanan Pertanian Industri No Kriteria Bobot 1 2 3 4 5 6 7 8 Kesesuaian Lahan Produktivitas Lokasi Strategis Jumlah Tenaga Kerja Nilai Produk Jangkauan Pasar Akses Transportasi Akses Komunikasi 8 8 7 6 9 6 7 7 7 7 8 6 7 7 7 7 5 5 8 5 5 7 7 7 8 8 9 7 7 8 7 7 9 9 9 8 8 9 7 7 7 6 8 6 5 5 7 7 5 7 8 5 5 5 7 7 7 7 8 6 6 7 7 7 Sumber: Hasil Analisis . Tabel 14. 2008 Gambar 35.6 7458.6 17073. Produksi komoditas tanaman perkebunan 2002-2007 (ton) 4.3 6407.20000 18000 16000 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 17702 15257.35 15889. Nunukan Selatan.1 2002 2003 2004 kelapa 2005 kakao 2006 2007 Sumber: Kabupaten Nunukan dalam Angka. Penilaian terhadap alternatif kegiatan penunjang pusat-pusat pertumbuhan terdapat di Kabupaten Nunukan berdasarkan sektor unggulan dengan pembagian klaster. dan Kecamatan Sebatik.35 13592.3.8 7406.

kehutanan. prioritas ketiga sektor perkebunan dengan nilai MPE 55. ditampilkan kondisi topografi pada klaster III yang didominasi oleh tingkat kelerengan 0 .717. Pada gambar.752 6.Hasil perhitungan dengan analisis MPE memperlihatkan urutan atau prioritas metode pengembangan wilayah perbatasan yang potensial dalam rangka meningkatkan pusat-pusat pertumbuhan.752. Tabel 15. Alternatif pertama yang harus lebih diperhatikan dalam pengembangan wilayah perbatasan pada klaster III yang meliputi Kecamatan Nunukan dan Kecamatan Sebatik yaitu peningkatan sektor perikanan.841 Sumber: Hasil Analisis Berdasarkan tabel 15 di atas dapat di lihat bahwa sektor unggulan yang paling mendukung pusat pertumbuhan dalam pengembangan wilayah perbatasan adalah sektor perikanan dengan nilai 227.810 13. Sektor pertanian menempati urutan kedua yang dapat mendukung pusat pertumbuhan dalam pengembangan wilayah perbatasan dengan nilai MPE 80.039 25. Hal tersebut mengandung arti bahwa budi daya perikanan darat di klaster III tidak disarankan karena kondisi topografi Kabupaten Nunukan yang berlerenglereng seperti yang ditunjukkan pada Gambar 36.717.8% dan 15 25%.515. Keadaan berpotensi menyebabkan longsor dan tidak memungkinkan untuk adanya budi daya perikanan darat.534.534.204.887. pariwisata. Perikanan tangkap dan budi daya perikanan laut merupakan kegiatan yang paling potensial dan telah mendukung pendapatan Kabupaten Nunukan selama ini.810.791. Posisi ke-4 sampai ke-7 adalah industri.061 11. dan pertambangan. .611.887 80. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel 15. Nilai sektor unggulan klaster III No 1 2 3 4 5 6 7 Sektor Klaster III Perkebunan Pertambangan Pertanian Perikanan Kehutanan Pariwisata Industri Nilai MPE 55.884.791.887 227.

terutama lahan dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pangan dasar Kabupaten Nunukan. sayur-sayuran. Berdasarkan tiga perkiraan skenario. Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. Adanya asumsi bahwa lahan efektif adalah 60% dari total lahan. Peta Kabupaten Nunukan berdasarkan kelerengan Sumber daya alam pertanian. 2008 Gambar 36. dan palawija. maka jumlah kebutuhan total adalah jumlah kebutuhan dasar ditambah 67% (Tabel 15). Kebutuhan cadangan lahan sawah di Kabupaten . jumlah penduduk 5 dan 10 tahun yang akan datang membutuhkan areal pertanian basis.54 kg gabah kering giling dan setiap hektar lahan menghasilkan 4. Kebutuhan pangan yang dimaksud adalah kebutuhan beras sebagai bahan makanan pokok. Setiap 1 kg beras dihasilkan dari 1. Kebutuhan pangan Kabupaten Nunukan selama setahun sebagai berikut: a. Sebagai dasar perhitungan.9 ton gabah kering giling per tahun. Lahan Sawah Sawah adalah lahan penghasil padi yang selanjutnya diolah menjadi beras sebagai makanan pokok masyarakat Kabupaten Nunukan. yakni budi daya tanaman pangan terutama padi sawah yang produktivitasnya terus meningkat (Kabupaten Nunukan dalam Angka 2008).Di urutan kedua diikuti sektor pertanian dengan komoditas unggulan yang dapat mendukung pusat pertumbuhan. kebutuhan setiap orang setiap tahun adalah 150 kg.

kebutuhan konsumsi 11.821 ekor babi.09 kg/orang/tahun. 57. Ubi jalar. tingkat produktivitas 16.9 ton/hektar/tahun.1 kg/orang/tahun dan tingkat produktivitas 0. Kedelai.3 ton/ha/tahun.350 ekor ayam buras. 225.2 ton/ha/tahun. ubi.Nunukan sebesar 16.25 kg/orang/tahun. untuk memenuhi kebutuhan beras sebanyak 47. tingkat produktivitas 10. konsumsi 1.3 ton/ha/tahun. b. kebutuhan konsumsi 3. 2. Lahan Peternakan Rakyat Pada tahun 2000. konsumsi 7. Dengan asumsi pertumbuhan 5% per tahun.481 ton gabah kering giling per tahun.099 ekor sapi.37 ha. dan 5.124 ekor kerbau.968 ekor itik.6 ton/hektar/tahun. . Kacang hijau. 449 ekor kambing. seperti kacang-kacangan. Kacang tanah. tingkat produktivitas 1. 4. kebutuhan lahan untuk kegiatan peternakan tersebut membutuhkan lahan seluas 185 hektar pada tahun 2007 dan berkembang menjadi 236 hektar pada tahun 2012. Ubi kayu. c. Lahan Palawija Untuk kebutuhan bahan pangan lainnya.182.35 kg/orang/tahun. jagung dan lain-lain. produktivitas 0. populasi ternak di Kabupaten Nunukan adalah 2. kebutuhan konsumsi 57. terperinci dengan tingkat konsumsi dan produktivitas sebagai berikut: Jagung.530 ekor ayam ternak. kebutuhan konsumsi per orang per tahun adalah 26.52 kg/orang/tahun.7 kg dan produktivitas 2.9 ton/ha/tahun.

80 5.182. Hal ini didukung dengan peningkatan luas areal komoditas kelapa sawit pada tahun 2007 sebesar 25.784 144.933.051.03 10.35 19. Nunukan yang berada pada klaster III.50 16. Produksi tanaman padi juga mengalami kenaikan. Hal ini juga didukung dengan peningkatan luas panen padi (sawah+ladang) di Kabupaten Nunukan pada tahun 2007.337.171 239.05 19.4% dibandingkan dengan tahun 2006 (Kabupaten Nunukan dalam Angka 2008).35 Keperluan Gabah (ton) 1.55 16.Tabel 16.338. .979.832. 2008).751 Tahun Jumlah Penduduk Keperluan Beras (ton) 150 13.696.64 30.69 6. Perhitungan kebutuhan lahan sawah (RTRW Kabupaten Nunukan 2004-2014) Skenario Index Pesimis 2009 2014 Optimis 2009 2014 Ambisius 2009 2014 Sumber: Hasil Analisis 96.698 30.37 Berdasarkan peta ketinggian lahan pada Gambar 37.528 23.54 21.100 mdpl yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman padi.072. yaitu menjadi 48. Sebatik Barat. di mana tanaman padi naik sebesar 4.850.40 15.435.65%.481.434.100.961 107.09 8.053 116.264.768. Alternatif ketiga dalam pengembangan wilayah perbatasan pada klaster III adalah sektor perkebunan.690.28% (Kabupaten Nunukan dalam Angka.90 4.53 47.72 9.04 Kebutuhan Lahan (Ha) 67% 7. pada klaster III didominasi ketinggian lahan berkisar antara 0 .21 Keperluan Dasar 4.83 8.750.393.190.97 30. sedangkan Lumbis dan Sebuku berada pada klaster II.42 10.334. Sebagian besar dari luas areal kelapa sawit terdapat di Kecamatan Sebatik.462.840 163.127 ton atau dengan kata lain terjadi peningkatan produktivitas padi sebesar 9.90 24.47 4.15 6.

dan kesadaran masyarakat perbatasan terhadap identitas nasional. klaster II (Kecamatan Lumbis. 4 tahun 1992 memuat amanat tentang pengembangan permukiman khusus. Adanya keterbatasan infrastruktur dan permukiman di wilayah perbatasan baik yang berada dalam kawasan perkotaan maupun perdesaan yang kurang berkembang menyebabkan aktivitas sosioekonomi banyak berorientasi ke negara tetangga. Sebuku. Nunukan Selatan. . Pengembangan permukiman (permukiman khusus) menjadi salah satu program prioritas pembangunan wilayah perbatasan dalam upaya pengembangan potensi ekonomi dan sumber daya alam. dan klaster III (Kecamatan Nunukan.Sumber: Bappeda Kabupaten Nunukan. dan Sebatik Barat) sektor perkebunan. kehormatan.4 Analisis Strukturisasi Permasalahan dan Komponen Dominan Kebijakan Pengembangan permukiman di wilayah perbatasan dalam Undang-Undang No. Peta Kabupaten Nunukan berdasarkan wilayah ketinggian Kesimpulan hasil analisis MPE yang dilakukan untuk sektor-sektor yang potensial dalam mendukung pengembangan permukiman perbatasan di Kabupaten Nunukan untuk klaster I (Kecamatan Krayan dan Krayan Selatan) adalah sektor pertambangan. hal ini berkaitan juga dengan keamanan. dan Sebatik) sektor perikanan. Selain menyebabkan ketergantungan negara tetangga. 4. 2008 Gambar 37.

kependudukan. ekonomi. dan peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan di wilayahnya (Canales 1999). disusunlah struktur permasalahan untuk keberhasilan pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan yang terbagi atas lima elemen pada permasalahan yang terdiri dari 24 subelemen kendala. (4) mendorong sinergitas hubungan kota dan desa. . Secara lengkap elemen permasalahan dan subelemen kendala terlihat pada tabel 17. (3) mengurangi dan efisiensi pembiayaan pembangunan infrastruktur.1 Elemen Permasalahan dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Menurut Saxena (1994) yang dikutip Marimin (2005) berdasarkan hasil kajian pendapat pakar. (2) dapat mengoptimalkan penggunaan lahan. yaitu (1) melindungi hijau/konservasi dan sumber daya alam. Apabila tidak terkendali akan dapat menjadi hambatan dalam pengembangan potensi pertumbuhan sebagai penggerak pengembangan sosial. Dinamika kegiatan ekonomi perkotaan di wilayah perbatasan merupakan kondisi yang dapat meningkatkan pertumbuhan kota-kota (pusat pertumbuhan baru) perbatasan negara. dan (5) memastikan transisi penggunan lahan perdesaan menuju perkotaan berjalan secara alamiah dan terarah (Seong 2006).Pengembangan perbatasan pusat-pusat pertumbuhan baru (border city) di wilayah ruang terbuka terdapat enam kategori. 4. Berdasarkan hal tersebut kiranya perlu dibuat desain kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara.4.

Asia-Australia & Australia. kumuh & tidak dikelola dengan baik Rencana Tata Ruang Wilayah yang tidak sesuai dengan kebutuhan Minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman Terbatasnya fasum & fasos Terbatasnya pelayanan publik Terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan perkim Perkembangan infrastruktur & permukiman yang tidak terencana Rendahnya kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan lahan sesuai peruntukan Penegakan hukum dan peraturan masih lemah Adanya privatisasi lahan oleh pemerintah & swasta Belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan Terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan Pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal 5 Dari lima elemen hasil kajian ini.Eropa Banyak pemukiman berada di batas wilayah perbatasan Kondisi lingkungan tidak tertata. Elemen permasalahan pengembangan kawasan permukiman perbatasan No 1 Elemen (Masalah) Pengelolaan SDA wilayah perbatasan masih kurang No 1 2 3 4 5 6 7 8 2 Pengembangan dan Penataan kawasan permukiman kurang optimal 9 10 11 12 13 3 Pembangunan infrastruktur wilayah & permukiman belum sejalan 14 15 16 17 18 19 4 Kelembagaan belum mendukung pengembangan permukiman Pembiayaan belum mendukung pengembangan permukiman 20 21 22 23 24 Sub elemen (Kendala) Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan Perbedaan karakteristik antara wilayah darat dan laut Pengembangan dan pengelolaan SDA belum optimal Rendahnya kesejahteraan masyarakat Aktivitas sosial ekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga Kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga Kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional Persepsi wilayah perbatasan merupakan wil dan pintu belakang negara Pemanfaatan dan pengendalian tata ruang masih lemah Letak geografis Indonesia di titik silang benua EropaAsia.Tabel 17. Subelemen ini berupa indikator-indikator keberlanjutan yang mempunyai nilai tinggi yang telah dipilah-pilah sesuai dengan konteks kelima elemen program tersebut. berpencar. Berikut ini adalah hasil hubungan . pada setiap elemennya dijabarkan menjadi sejumlah subelemen yang rinci.

Pakar yang terlibat dalam proses ini adalah pakar dari kalangan pemerintah pusat.00 8.00 10. swasta dan masyarakat yang terpilih berdasarkan pengetahuan. Hasil yang digunakan dalam model ISM adalah kajian dari pendapat pakar melalui wawancara mendalam seperti yang tertuang pada matriks interaksi tunggal terstruktur (structural self interaction matrix/SSIM). sedangkan yang memiliki nilai driver power terendah adalah 2 atau perbedaan karakteristik antara wilayah darat dan laut. di mana terkandung suatu arahan pada hubungan tersebut (Eriyatno dan Sofyar 2007). 12. Peringkat elemen masalah berdasarkan nilai driver power Berdasarkan gambar 38 di atas. Gambaran dari masing-masing elemen masalah mengenai peringkat berdasarkan nilai driver power yang ada dapat dilihat pada gambar 38. pemerintah daerah. Masyarakat di wilayah perbatasan yang bersebelahan dengan wilayah negara tetangga yang jauh lebih maju pada umumnya memiliki orientasi sosial .00 6.00 2.104 kontekstual antarsubelemen pada setiap elemen yang digambarkan dalam bentuk terminologi subordinat yang mengacu pada perbandingan berpasangan antar subelemen. pengalaman di bidang pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan.00 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 Sub Elemen (Kendala) Gambar 38. nilai driver power elemen masalah tertinggi pada subelemen 7 atau kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional dan subelemen 4 atau rendahnya kesejahteraan masyarakat.00 4.

(3) rendahnya kesejahteraan masyarakat. (4) terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman. Kemiskinan dan ketertinggalan masyarakat merupakan salah satu permasalahan utama di wilayah perbatasan. Subelemen dikelompokkan ke dalam empat sektor yakni autonomous. (9) minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman. Analisis data ISM dapat terlihat pada Lampiran 3. Hasil analisis ini menggambarkan pendapat para ahli bahwa elemen masalah dalam strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara diawali oleh (1) kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional. (10) terbatasnya pelayanan publik. (6) kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan. fasilitas umum dan sosial terbatas. (8) kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga. Hal ini disebabkan sentralisasi pembangunan pada masa lalu dan kecenderungan penggunaan pendekatan keamanan dalam pengelolaan wilayah perbatasan. dan independent. Keterbatasan pelayanan publik di wilayah perbatasan menyebabkan orientasi aktivitas sosial-ekonomi masyarakat tertarik ke wilayah negara tetangga. (2) terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan. linkage. Oleh karena itu. Dalam rangka memenuhi hak-hak masyarakat sebagai warga negara dalam memperoleh pelayanan publik dan kesejahteraan sosial serta membuka keterisolasian wilayah. dependent. diperlukan percepatan pembangunan di wilayah perbatasan dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan. Penggunaan alat tukar dan akses informasi serta komunikasi nasional yang terbatas dikhawatirkan dalam jangka panjang akan melunturkan rasa kebangsaan dan bela negara masyarakat. Interpretasi dalam bentuk hierarki disajikan pada Gambar 39. (11) penegakan hukum dan peraturan masih lemah. pemerintah pusat dan pemerintah daerah perlu meningkatkan upaya sosialisasi peningkatan wawasan kebangsaan melalui program-program pembangunan yang selaras dengan pengembangan permukiman dan penyediaan prasarana dan sarana. serta kesejahteraan masyarakat rendah. (5) terbatasnya fasos dan fasum. Hal ini menyebabkan prasarana dan sarana wilayah minim. dan (12) pemanfaatan dan pengelolaan dana . (7) aktivitas sosial ekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga.ekonomi yang berorientasi kepada wilayah negara tetangga.

belum . Kemudian diikuti oleh elemen masalah wilayah perbatasan yang menjadi pintu belakang negara dan adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan.106 pembangunan belum optimal. strategi pengembangan kawasan merupakan elemen yang berperan sebagai peubah bebas berkekuatan penggerak besar. sektor independent. tetapi tidak tergantung kepada sistem. Dengan Dua belas elemen masalah tersebut berada pada demikian.

Level 1 Perbedaan karakteristik antara wilayah darat dan laut Banyak pemukiman berada di batas wilayah perbatasan Dependent Level 2 Pemanfaatan dan pengendalian tata ruang masih lemah Letak geografis Indonesia di titik silang benua Kondisi lingkungan tidak tertata. kumuh & tidak dikelola dengan baik RTRW yang tidak sesuai dengan kebutuhan Level 3 Pengembangan dan pengelolaan SDA belum optimal Perkembangan infrastruktur & permukiman yang tidak terencana Rendahnya kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan lahan sesuai peruntukan Adanya privatisasi lahan oleh pemerintah & swasta Level 4 Persepsi Wilayah Perbatasan merupakan wilayah dan pintu belakang negara Belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan Level 5 Aktivitas sosek masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga Kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga Minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman Terbatasnya pelayanan publik Independent Penegakan hukum dan peraturan masih lemah Pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal Level 6 Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan Terbatasnya fasos dan fasum Terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman Level 7 Rendahnya kesejahteraan masyarakat Terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan Level 8 Kurangnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional Gambar 39. Diagram hierarki dari subelemen masalah dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara . berpencar.

dua belas faktor kunci prioritas penggerak elemen tolok ukur yang sangat memengaruhi faktor lain dalam keberhasilan strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yaitu subelemen-subelemen yang terletak pada sektor I . Hasil kajian subelemen pada analisis ISM berupa (a) Matriks reachability dan interpretasi dari elemen masalah yang terpengaruh program yang disajikan pada Lampiran 3. Matriks DP-D untuk subelemen masalah dalam strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara Perlu dicermati bahwa posisi masalah persepsi wilayah perbatasan merupakan wilayah dan pintu belakang negara serta masalah belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan dalam upaya pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan berada di dekat sektor linkage. Independent 25 24 7 23 4. 16. Berdasarkan hasil analisis. 14. 1918.22 2123 24 25 9 8 7 6 9. 20. disajikan pada Gambar 40. 18 24 17 16 15 14 13 12 8. 12. (c) Matriks driver power-dependence untuk elemen sektor masyarakat yang terpengaruh program. 17 20 19 5. 23 22 21 1. 13 5 4 3 2. Hal ini berarti faktor kunci dapat berubah menjadi sektor linkage apabila faktor-faktor yang lain mendukung subelemen tersebut.Hasil analisis ini memberikan makna bahwa kedua belas elemen faktor kunci masalah yang berada di sektor dependent sangat tergantung pada sistem dan tidak mempunyai kekuatan penggerak yang besar. 10. 15. (b) Diagram model struktural ISM dari elemen sektor masyarakat yang terpengaruh program seperti disajikan pada Gambar 39. 20 21 19. Dalam strategi pengembangan kawasan posisinya akan mengikuti elemen lainnya yang berada di sektor independent. 22 11 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 10 12 13 14 15 16 17 18 3. 6. 11 2 1 0 Linkage Autonomus Dependent Gambar 40.

tidak terdapat faktor-faktor kunci yang berperan sebagai peubah linkage. masyarakat. sedangkan lemahnya perhatian terhadap sektor-sektor tersebut akan menyebabkan kegagalan program. setiap tindakan meningkatkan peranan sektor-sektor independent. 4. disusunlah struktur tolok ukur untuk menuju keberhasilan pengembangan kawasan permukiman yang terbagi atas lima elemen pada tolok ukur yang terdiri dari 16 subelemen kendala.(independent). Tindakan meningkatkan peranan terhadap sektor-sektor tersebut akan menghasilkan terwujudnya program menuju sistem pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan. legislatif. Adapun hasil yang digunakan dalam model ISM adalah kajian dari pendapat pakar melalui wawancara mendalam seperti yang tertuang pada matriks interaksi tunggal terstruktur (structural self interaction matrix/SSIM) pada Lampiran 4. pengalaman di bidang pengembangan kawasan permukiman. Dalam desain kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. Secara lengkap elemen tolok ukur dan subelemen kendala terlihat pada Tabel 18. swasta.2 Elemen Tolok Ukur dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Berdasarkan hasil kajian dan pendapat pakar. Pakar yang terlibat dalam proses ini adalah pakar dari kalangan pemerintah. dan LSM yang terpilih berdasarkan pengetahuan. pemerintah daerah. lembaga profesi. . tetapi dengan peningkatan peranan secara optimal dari faktor-faktor kunci seperti persepsi wilayah perbatasan merupakan wilayah dan pintu belakang negara (8) dan persepsi belum adanya kebijakan dan pedoman pembangunan permukiman perbatasan akan berdampak terhadap peningkatan faktor-faktor kunci tersebut sebagai peubah linkage. perguruan tinggi.4. Berdasarkan hasil analisis.

investasi. dan pendapatan negara Pembangunan wilayah perbatasan melalui pengembangan permukiman sebagai pusat pertumbuhan baru sebagai dan embrio kegiatan ekonomi Penataan ruang wilayah Pembangunan infrastruktur. antarpemerintahan.Tabel 18. budaya. dan prasarana wilayah Pengembangan kawasan khusus dengan pemanfaatan ruang spesifik sesuai dinamika wilayah perbatasan Pengelolaan SDA darat dan laut secara seimbang Peningkatan kesejahteraan masyarakat. lingkungan. SDA. dan antar stakeholders di wilayah perbatasan Pembuatan kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan Penyusunan kebijakan tingkat makro dan mikro. pendapatan daerah. sarana. dan kelembagaan pendukung pusat pertumbuhan Penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan Evaluasi kegiatan untuk penganggaran dana pada kegiatan selanjutnya 4 5 2 Peningkatan pengembangan dan penataan kawasan permukiman 6 7 8 3 Pengembangan infrastruktur wilayah dan permukiman terpadu 9 10 11 4 Pengembangan kelembagaan 12 13 14 5 Alokasi dana untuk pengelolaan wilayah perbatasan 15 16 . Elemen tolok ukur pengembangan kawasan permukiman perbatasan No Elemen (Tolok Ukur) 1 Otimalisasi pengelolaan SDA kawasan No 1 2 3 Sub elemen (Kendala) Penataan dan pembukaan isolasi serta ketertinggalan wilayah perbatasan Peningkatan kegiatan pengembangan pemukiman. dan kesejahteraan secara seimbang Sinergi/keterpaduan dan keseimbangan pembangunan berdasarkan potensi wilayah Peningkatan kerjasama pembangunan antar negara. sosial ekonomi. dan prasarana Partisipasi horison & vertikal pusat dan daerah Pendekatan pengelolaan wilayah perbatasan pada aspek keamanan. sarana.

pendapatan daerah.111 Gambaran dari masing-masing elemen tolok ukur mengenai peringkat berdasarkan nilai driver power yang ada disajikan pada Gambar 41.00 5. penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan. nilai driver power elemen tolok ukur tertinggi pada subelemen 5 (peningkatan kesejahteraan masyarakat.00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Driver Power Elemen (Tolok Ukur) Gambar 41. Analisis data ISM disajikan pada Lampiran 4. Selain itu. Elemen tolok ukur tersebut diawali oleh peningkatan kesejahteraan masyarakat. linkage dan independent.00 2.00 6.00 7. 9.00 1. pendapatan daerah dan pendapatan negara. pembangunan infrastruktur. penataan dan pembukaan isolasi serta ketertinggalan wilayah perbatasan. prasarana dan sarana.00 3. sedangkan yang memiliki nilai driver power terendah adalah 3 (pengembangan kawasan khusus dengan pemanfaatan ruang spesifik sesuai dinamika wilayah perbatasan). dependent. gambar tersebut menjelaskan pendapat para ahli tentang elemen tolok ukur dalam strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan. peningkatan kerja sama pembangunan antarnegara antarpemerintahan dan antar-stakeholders di wilayah .00 8. pendekatan pengelolaan wilayah perbatasan pada aspek sosekbudhankam dan lingkungan.00 4. Berdasarkan Gambar 42. Peringkat elemen tolok ukur berdasarkan nilai driver power Berdasarkan Gambar 41 di atas. Interpretasi dalam bentuk hierarki disajikan pada Gambar 38 dan pada Gambar 39 subelemen dikelompokkan kedalam empat sektor yakni autonomous. kesejahteraan secara seimbang. dan pendapatan negara) dan 15 (penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan).

investasi.perbatasan merupakan elemen tolok ukur tersebut. disajikan pada Gambar 42. dan antar stakeholders di wilayah perbatasan Level 5 Peningkatan kesejahteraan masyarakat. pendapatan daerah dan pendapatan negara Penganggaran dana untuk pembangunan kawasan permukiman perbatasan Gambar 42. (c) Matriks driver power-dependence untuk elemen tolok ukur yang terpengaruh program. sarana dan prasarana wilayah Pembangunan Wilayah Perbatasan Penataan ruang wilayah Sinergi dan keseimbangan pembangunan Linkage Pembuatan kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan Level 4 Penataan dan pembukaan isolasi serta ketertinggalan wilayah perbatasan Pembangunan infrastruktur. yang disajikan pada lampiran 4. sarana dan prasarana Pendekatan pengelolaan Wilayah Perbatasan pada aspek sosekbudhankam dan lingkungan serta kesejahteraan secara seimbang Independent Peningkatan kerjasama pembangunan antar negara. (b) Diagram model struktural ISM dari elemen tolok ukur yang terpengaruh program seperti disajikan pada Gambar 38. Hasil kajian subelemen pada analisis ISM berupa (a) Matriks reachability dan interpretasi dari elemen tolok ukur yang terpengaruh program. Level 1 Pengembangan kawasan khusus dengan pemanfaatan ruang spesifik sesuai dinamika wilayah Dependent Level 2 Pengelolaan SDA darat dan laut secara seimbang Partisipasi horison & vertikal pusat dan daerah Penyusunan kebijakan tingkat makro dan mikro. SDA dan kelembagaan pendukung pusat pertumbuhan Evaluasi kegiatan untuk penganggaran dana pada kegiatan Level 3 Peningkatan kegiatan pengembangan pemukiman. antar pemerintahan. Diagram hierarki dari subelemen tolok ukur dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara .

lembaga profesi. . Pakar yang terlibat antara lain dari Bappenas. 7. Hasil Pembobotan pada Setiap Komponen Dalam menganalisis komponen yang dominan dalam kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan wilayah perbatasan negara di Kabupaten Nunukan. Menpera. sedangkan lemahnya perhatian terhadap sektor-sektor tersebut akan menyebabkan kegagalan program. KLH.3 Komponen-komponen Dominan dalam Kebijakan Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Kabupaten Nunukan A. Matriks DP-D untuk subelemen tolok ukur dalam pengembangan strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara 4. 6. 13 10 11 12 13 14 15 16 17 4. Independent 5. 15 17 16 15 1. 9. perguruan tinggi. DPR RI.113 Berdasarkan hasil analisis terdapat 6 faktor kunci prioritas penggerak elemen tolok ukur yang sangat memengaruhi program menuju strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yaitu subelemen-subelemen yang terletak pada sektor I (independent). 16 0 1 2 3 4 5 3 Autonomus Dependent Gambar 43. Gambar 39 merupakan diagram hirarki AHP yang telah didiskusikan dan merupakan pendapat pakar melalui wawancara yang mendalam. Departemen PU. 8. 11. dan LSM. swasta. Departemen Dalam Negeri.4. 14. Setiap tindakan yang meningkatkan peranan dari sektor-sektor tersebut akan menghasilkan sukses program menuju sistem pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. pemda. 1 1 0 4 . masyarakat. 12 13 12 11 10 9 8 6 7 7 8 9 6 5 4 3 2 1 0 Linkage 2. digunakan model AHP untuk memilih arahan kebijakan yang tepat dan penting dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan.

Level 3 adalah aktor terdiri atas pemerintah pusat. pakar. dan kekuatan terhadap kebijakan-kebijakan pengembangan kawasan.271 Prasarana dan Sarana 0.130 Strategi Pengembangan (Pembiayaan) 0.133 Pakar 0. pendanaan pembangunan.222 Swasta 0.158 Pengembangan Prasarana Kawasan 0.116 Minimalisasi Konflik 0. pengembangan prasarana kawasan dan minimalisasi konflik.068 Tujuan Pengembangan Dan Penataan Kawasan 0.091 BKM / LSM 0. Level 5 adalah sasaran yang terdiri atas strategi pengembangan kawasan.150 Masyarakat 0. pengelolaan SDA dan ekosistem kawasan. masyarakat. Hasil pengisian kuesioner matriks perbandingan berpasangan yang disampaikan kepada . pengaruh. strategi pengembangan pembiayaan.337 Pemerintah Daerah 0.624 Strategi Pengembangan (Kelembagaan) 0.120 Pendanaan Pembangunan 0. dan strategi pengembangan kelembagaan. dan BKM/LSM setempat. Level 4 adalah tujuan untuk pengembangan kawasan permukiman yang terdiri atas pengembangan dan penataan kawasan.313 Pemulihan Ekosistem 0. swasta.418 Tingkat Pendapatan 0. pemerintah daerah.191 Stakeholders Pemerintah 0. Diagram hierarki AHP pada pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara Hierarki AHP disusun dengan lima level yang memperlihatkan tahapan proses penetapan prioritas yang dimulai dari penetapan fokus pada level l yaitu fokus pada pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara.Fokus Permukiman PerbatasanNegara Faktor Kebijakan Pemerintah 0.246 Gambar 44. Level 2 adalah faktor yang terdiri atas kebijakan pemerintah. dan sarana.326 Peningkatan Kesejahteraan 0. peningkatan kesejahteraan.087 Sasaran Strategi Pengembangan (Kawasan) 0. tingkat pendapatan. Aktor tersebut terkait dengan pengembangan kawasan permukiman dan masing-masing aktor mempunyai peran. prasarana.

Gambar 45 menunjukkan urutan prioritas faktor-faktor tersebut. hasil analisis AHP yang merupakan faktor (level 2) kebijakan pemerintah dan pendanaan pembangunan menjadi prioritas utama dengan masing-masing bobot nilai adalah 0. B. Hasil analisis AHP pada setiap level dari heirarki desain pengembangan kawasan berkelanjutan. Urutan prioritas faktor dalam pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan Berdasarkan gambar 45. dan BKM/LSM. masyarakat.115 pakar dari kalangan pemerintah pusat. Bobot dan prioritas yang dianalisis adalah hasil kombinasi (combined) dari pendapat para pakar pada setiap matriks berpasangan. Pembobotan Kriteria Faktor dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Perbatasan Negara Berkelanjutan Berdasarkan hasil dari pendapat pakar tersusun faktor-faktor yang menjadi pengaruh utama dalam pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan.418 dan 0. pakar perguruan tinggi.271. Kebijakan pemerintah akan membantu membangun pusat-pusat pertumbuhan baru kegiatan ekonomi dan perdagangan. Penyiapan perangkat kebijakan dan pendanaan pembangunan diperlukan guna pengembangan kawasan permukiman di tingkat kabupaten. pemerintah daerah. kemudian diolah dengan perangkat lunak Expert Choice. Keterangan : KBPM = Kebijakan Pemerintah PDPB = Pendanaan Pembangunan PSSR = Prasarana dan Sarana TKPM = Tingkat Pendapatan Gambar 45. swasta. kawasan pusat pertumbuhan maupun pada kawasan yang sangat terperinci di wilayah perbatasan negara. Dalam kaitan dengan kebijakan pemerintah diperlukan kebijakan ekonomi yang meliputi intervensi pemerintah .

Hal tersebut dilakukan agar segenap tujuan pembangunan berkelanjutan ini dapat tercapai. diperlukan upaya pengembangan perencanaan dan perancangan. dan tersedianya fasilitas sosial dan umum. pemerataan pendapatan.116 secara terarah. (2) Pola pertumbuhan merupakan cerminan dapat dilihat secara langsung hasilnya. (1) Kebijakan merupakan faktor paling penting untuk mengontrol pertumbuhan suatu kota pada skala makro. Lokasi permukiman perlu memperhatikan keserasian dengan lingkungannya. Pola merupakan gambaran sementara dari proses dan perilaku merupakan sumber dari proses pengambilan keputusan (Cheng 1999). kesehatan lingkungan. Pengelolaan pembangunan perumahan harus memperhatikan ketersediaan sumber daya pendukung serta keterpaduannya dengan aktivitas lain. Aturan dalam teori hierarki. hal tersebut sering terabaikan sehingga tidak berfungsi secara optimal dalam mendukung suksesnya perkembangan suatu kawasan/kota. dalam konteks hubungan antara tujuan sosial dan ekologi. perilaku masyarakat. Konsekuensinya untuk memahami proses adalah harus melihat pola dan perilaku yang terkandung di dalamnya. swasta. Dalam kenyataannya. stakeholders. Kuswara (2004) dalam kajiannya mengungkapkan bahwa permukiman merupakan tempat aktivitas yang memanfaatkan ruang terbesar dari kawasan budi daya. dan LSM. proses dan pola pertumbuhan. (3) Proses dapat mengindikasikan dinamika pertumbuhan kota. . (4) Perilaku mengindikasikan kegiatan dari pelaku yang terlibat. dan pemberian stimulan bagi kegiatan pembangunan yang memerlukannya. (Permenpera 1999). penciptaan kesempatan kerja. Oleh karena itu. memahami tiap tingkat harus mempertimbangkan tingkat yang paling atas dan paling bawah sebagai perbandingan hubungan yang paling dekat. serta pembangunan permukiman yang kontributif terhadap rencana tata ruang. Adapun. strategi yang ditempuh adalah partisipasi masyarakat. Memahami kecenderungan pertumbuhan kawasan perkotaan di wilayah perbatasan (pusat pertumbuhan baru) sangat terkait dengan 4 faktor: kebijakan. LKM. Kebijakan pengembangan permukiman di Indonesia tahun 2000—2020 antara lain pengembangan lokasi kawasan permukiman dengan memerhatikan jumlah penduduk dan penyebarannya. pola tata guna lahan. Hasilnya adalah model pola pentahapan dan proses penyusunan kebijakan.

(iii) marjinalisasi sektor lokal oleh sektor nasional dan global.120. Adanya peningkatan prasarana dan sarana serta peningkatan tingkat pendapatan. (ii) ketimpangan pelayanan infrastruktur. (iv) masalah lingkungan dan eksploitasi sumberdaya alam. dan (iv) kegagalan implementasi dan kebijakan penentuan lokasi perumahan (Kirmanto 2005). tersusun stakeholder yang menjadi pengaruh utama dalam pengelolaan pengembangan kawasan permukiman tersebut perbatasan negara berkelanjutan. di mana orientasi pembangunan terfokus pada kelompok masyarakat mampu serta menguntungkan. Hasil analisis AHP selanjutnya yang menjadi prioritas adalah peningkatan prasarana dan sarana dengan bobot nilai 0. dan perumahan. Tantangan pengembangan kawasan permukiman yang akan datang antara lain (i) urbanisasi yang tumbuh cepat merupakan tantangan bagi pemerintah untuk berupaya agar pertumbuhan lebih merata. . sehingga akan memberikan keuntungan kepada pemerintah dan mensejahterakan masyarakat di sekitar kawasan tersebut. C.191 dan yang menjadi prioritas yang terakhir adalah tingkat pendapatan dengan bobot nilai 0.117 Permasalahan perumahan saat ini menurut Kirmanto (2005) telah terjadi: (i) alokasi tanah dan tata ruang yang kurang tepat. perlu dibuat rencana tapak kawasan (site planning) agar dalam jangka panjang perumahan tersebut tidak menimbulkan dampak negatif dalam arti luas. Pembobotan Kriteria Stakeholder dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Perbatasan Negara Berkelanjutan Berdasarkan hasil dari pendapat pakar. (iii) konflik kepentingan dalam penentuan lokasi perumahan. Gambar 46 menunjukkan urutan prioritas stakeholder tersebut. (ii) perkembangan tak terkendali di daerah yang memiliki potensi untuk tumbuh. Diharapkan program pembangunan yang menyeluruh dan terpadu dapat dilaksanakan di wilayah perbatasan negara Kabupaten Nunukan. dan (v) komunitas lokal tersisih. Rencana tapak kawasan ini penting karena akan menentukan bentuk dan pola kawasan yang dapat menciptakan suatu kawasan permukiman yang tertata sehingga kemudahan dan kenyamanan para penghuni dapat tercipta serta dapat mempengaruhi perilaku penghuni di mana pun kawasan permukiman berada termasuk di wilayah perbatasan negara. pelayanan perkotaan. Setelah lokasi kawasan permukiman ditentukan berdasarkan pilihan yang optimal.

Hal tersebut disebabkan kenyataan di lapangan maupun pada tingkat kebijakan sangat ditentukan oleh pengaruh dan peran dari aktor pemerintah pusat dan pemerintah daerah sesuai dengan Undang-undang No. Pola penanganan tersebut dapat dijabarkan melalui penyusunan kebijakan dari tingkat makro sampai tingkat mikro . 4 tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman. Urutan prioritas stakeholder dalam pengembangan permukiman perbatasan negara berkelanjutan kawasan Berdasarkan gambar 46 hasil analisis AHP yang merupakan stakeholder (level 3) menunjukkan bahwa pemerintah pusat dan daerah mempunyai peran utama dalam pengembangan kawasan permukiman. Undang-undang No. 26 tahun 2007 tentang Penataan Ruang. pemerintah mempunyai kewenangan penuh untuk mendorong percepatan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan kabupaten Nunukan sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN). bobot nilai masing-masing stakeholder adalah 0. Undang-Undang No.337 dan 0.118 Keterangan : PP = Pemerintah Pusat PD = Pemerintah Daerah ST = Swasta MY = Masyarakat PK = Pakar Gambar 46. 32 Tahun 2004 tentang pemerintah daerah.222. pengembangan wilayah perbatasan memerlukan suatu pola atau kerangka penanganan yang menyeluruh meliputi berbagai sektor dan kegiatan pembangunan serta koordinasi dan kerjasama yang efektif dari mulai pemerintah pusat sampai ke tingkat kabupaten/kota. Oleh karena itu. dan UU No. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) 2000-2004. Secara umum. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah mempunyai tingkat kepentingan yang tinggi terhadap penetapan alternatif kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan.

dan kesadaran masyarakat perbatasan akan identitas nasional. Kedua stakeholder tersebut mempunyai peran dalam hal melakukan pemantauan dan pengawasan di lapangan terhadap sosial ekonomi masyarakat di sekitar wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan dan usaha-usaha penegakan hukum jika ada suatu pelanggaran dalam setiap kegiatan pembangunan. Tanggung jawab sosial swasta di antaranya peningkatan kesejahteraan dapat memberikan masyarakat. memperkuat investasi dunia usaha sehingga dapat meningkatkan dan menguatkan jaringan kemitraan serta kerja sama antara masyarakat. Swasta memiliki bobot nilai sebanyak 0. Stakeholder selanjutnya adalah masyarakat yang mempunyai bobot nilai 0. . Keberadaan tanah ulayat secara sesungguhnya memiliki permasalahan secara administratif karena terkadang keberadaannya melintasi batas negara di dua wilayah negara. seperti pernyataan Direktorat Jendral Pemberdayaan Sosial (2005) mengemukakan bahwa tanggung jawab sosial dunia usaha telah menjadi suatu kebutuhan yang dirasakan bersama antara pemerintah. Swasta mempunyai peran sebagai penggalian sumber dana untuk investasi pembangunan yang berkaitan dengan pengembangan kawasan permukiman. implikasi positif terhadap meringankan beban pembiayaan pembangunan. tetapi sebaliknya perlu diakui dan diatur secara jelas.68. karena hak-hak ulayat ini secara tradisional menjadi aset penghidupan sehari-hari masyarakat tersebut. Swasta merupakan salah satu stakeholder yang mempunyai peran terhadap pengembangan kawasan permukiman. Pembangunan permukiman sangat penting dilakukan di wilayah perbatasan tersebut menyangkut keamanan. keberadaanya tidak dapat dihapuskan. sedangkan jangkauan pelaksanaannya bersifat strategis sampai dengan operasional. Masyarakat berperan penting untuk menjaga wilayah perbatasan. kehormatan. Hak-hak ulayat masyarakat perbatasan perlu diakui dan diatur keberadaannya.dan disusun berdasarkan proses yang partisipatif baik secara horisontal di pusat maupun vertikal dengan pemerintah daerah. pemerintah dengan swasta. Walaupun demikian.133.150. dan swasta atau dunia usaha berdasarkan prinsip kemitraan dan kerjasama. masyarakat. Stakeholder selanjutnya adalah pakar dan BKM/LSM masing-masing stakeholder tersebut mempunyai bobot nilai 0.91 dan 0.

Pembobotan Kriteria Tujuan dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Berdasarkan hasil dari pendapat pakar tersusun tujuan yang menjadi capaian utama.313.326 dan 0. Amanat GBHN ini telah dijabarkan dalam Undang-Undang No. Penanganan pengembangan kawasan permukiman sesuai dengan UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang.120 D. Pengembangan kawasan menjadi prioritas sesuai dengan GBHN 1999 tertinggal mengamanatkan yang harus bahwa wilayah perbatasan dalam merupakan kawasan mendapat prioritas pembangunan. gambar 47 menunjukkan urutan prioritas tujuan tersebut. mengamanatkan bahwa wilayah perbatasan negara sebagai Kawasan Strategis Nasional (KSN) dan menyiapkan berbagai kebijakan dan langkah serta program pembangunan yang menyeluruh dan terpadu sehingga akan terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan. 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Propenas) dan dalam Undang-Undang No. Keterangan : PPK = Pengembangan dan Penataan Kawasan PKS = Peningkatan Kesejahteraan PE = Pengembangan SDA dan Ekosistem Kawasan PRK = Pengembangan Prasarana Kawasan MK = Minimasi Konflik Gambar 47. Urutan prioritas tujuan dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara Berdasarkan gambar 47 hasil analisis AHP yang merupakan tujuan (level 4) menunjukkan pengembangan dan penataan kawasan dan peningkatan kesejahteraan mendapat priotitas utama dalam kriteria tujuan dengan masingmasing bobot nilai 0. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan Permukiman pada pasal 2 memuat penjelasan bahwa lingkup pengaturan sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) yang .

perumahan perluasan. Seiring meningkatnya jumlah penduduk. Malaysia khususnya di wilayah perbatasan dengan Indonesia menggunakan pola cascade (ditarik ke dalam tidak linier di sepanjang jalan). pemeliharaan. maka perkiraan kebutuhan minimum rumah pada tahun 2009 dan tahun 2014 berdasarkan tiap skenario dapat ditentukan seperti tertera pada Tabel 19. Keterbatasan pelayanan publik di wilayah perbatasan menyebabkan orientasi .menyangkut pemugaran. Konsep penataan dan pengembangan permukiman di Indonesia berbeda dengan di Malaysia. perluasan.784 144. Berdasarkan asumsi pertumbuhan penduduk berdasarkan pada tiap-tiap skenario yang direncanakan.751 Kebutuhan Rumah (unit) 18. meliputi kegiatan pembangunan baru. kebutuhan permukiman sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia ikut meningkat pula.640 20. serta dengan menggunakan asumsi bahwa setiap keluarga terdiri dari 5 orang. Hal ini disebabkan sentralisasi pembangunan di masa lalu dan kecenderungan penggunaan pendekatan keamanan dalam pengelolaan wilayah perbatasan sehingga menyebabkan minimnya prasarana dan sarana wilayah. perbaikan.171 239.840 163.264 41.961 107.053 116. penataan perbaikan. serta rendahnya kesejahteraan masyarakat.110 Kemiskinan dan ketertinggalan masyarakat merupakan permasalahan utama di wilayah perbatasan.429 26.579 21.578 26. terbatasnya fasilitas umum dan sosial. Dalam mengembangkan kawasan permukiman. dan pemanfaataannya. meliputi kegiatan pemeliharaan. Hal tersebut dimaksudkan untuk menghindari perkembangan permukiman berpola linier/ribbon development (Departemen PU 2002). dan Pengembangan pembangunan yang menyangkut penataan permukiman baru. peremajaan. pemanfaatannya. Kebutuhan rumah di Kabupaten Nunukan tahun 2009 dan 2014 Kawasan Perumahan Skenario Pesimis 2009 2014 Optimis 2009 2014 Ambisius 2009 2014 Sumber: Hasil Analisis Jumlah Penduduk 96. Tabel 19.

Pengelolaan SDA dan ekosistem wilayah sangat penting untuk dilaksanakan sehingga SDA dan wilayah tidak terdegradasi akibat adanya pembangunan di kawasan tersebut. Untuk masyarakat sebagai warga negara dalam memperoleh pelayanan publik dan kesejahteraan sosial serta membuka keterisolasian wilayah. dan mengejar ketertinggalan pembangunan dari wilayah negara tetangga. para pekerja . Oleh karena itu. sosial. meningkatkan sumber pendapatan negara. Pengelolaan wilayah perbatasan dengan pendekatan kesejahteraan (prosperity approach) sangat diperlukan untuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. Pada masa lalu pengelolaan wilayah perbatasan lebih menekankan kepada aspek keamanan (security approach). sedangkan saat ini kondisi keamanan regional relatif stabil sehingga pengembangan wilayah perbatasan perlu pula menekankan kepada aspek ekonomi. Prioritas selanjutnya adalah pengelolaan SDA dan ekosistem wilayah dengan bobot nilai 0. budaya. masyarakat dan pekerja di wilayah perbatasan banyak kekurangan rumah sehingga untuk memenuhi kebutuhan rumah. kegiatan-kegiatan pembangunan perlu direncanakan secara terpadu berdasarkan pada pengelolaan secara optimal potensi-potensi SDA dan ekosistem wilayah. pengembangan wilayah perbatasan melalui pendekatan kesejahteraan sekaligus pendekatan keamanan secara serasi perlu dijadikan landasan dalam penyusunan berbagai program dan kegiatan di wilayah perbatasan pada masa yang akan datang. Paradigma pengelolaan wilayah perbatasan pada masa lampau berbeda dengan pradigma saat ini. dan lingkungan. Oleh karena itu. Kebijakan pengembangan wilayah perbatasan negara ke depan adalah dengan peningkatan keberpihakan terhadap wilayah perbatasan sebagai daerah tertinggal dan terisolir dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan dan keamanan secara seimbang.158. Kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara mempunyai dampak langsung terhadap kualitas lingkungan seperti fakta adanya kawasan permukiman yang liar dan tidak tertata yang keberadaannya juga dapat mengganggu ekosistem air tanah. diperlukan percepatan pembangunan di wilayah perbatasan dengan menggunakan pendekatan kesejahteraan. Di lain pihak.122 aktivitas memenuhi sosial-ekonomi hak-hak masyarakat ke wilayah negara tetangga.

Peningkatan kerja sama bilateral. serta untuk menanggulangi berbagai permasalahan hukum yang terjadi di wilayah perbatasan. Hal ini dapat mendatangkan keuntungan bagi pemerintah daerah maupun masyarakat. Kelembagaan untuk menyelesaikan masalah-masalah perbatasan RI - Malaysia yang ada saat ini adalah General Border Committee (GBC) yang diketuai oleh Panglima TNI. Permasalahan perbatasan yang ada saat ini terjadi pada sembilan titik. Prioritas terakhir adalah minimalisasi konflik dengan bobot nilai 0. peningkatan kerja sama dengan negara tetangga baik secara bilateral. politik. subregional.menyewa tempat tinggal dengan tarif setengah dari gajinya. dan masyarakat dengan pemerintah provinsi/pusat. Permasalahan ini sangat kompleks dan menyangkut kepastian hukum wilayah NKRI atau Malaysia. maupun regional diharapkan dapat menciptakan keterbukaan dan saling pengertian sehingga dapat menghindari terjadinya konflik perbatasan. Di era globalisasi seperti saat ini.116 yang sangat penting dilakukan untuk pengembangan potensi ekonomi dan sumber daya alam di kawasan tersebut. maupun regional dalam berbagai bidang pengelolaan perbatasan tidak dapat dilepaskan dari konteks lingkungan internasional maupun regional. ekonomi. (3) .087 yang penting dilakukan agar tidak terjadi konflik di wilayah perbatasan antara masyarakat dengan masyarakat negara tetangga. sosial-budaya. maka gajinya akan lebih besar untuk kebutuhan kesejahteraan sehingga etos kerja para pekerja akan semakin meningkat (Gilbreath 2002). Apabila para pekerja dapat dipenuhi kebutuhan rumahanya oleh para stakeholders terkait. yaitu masalah (1) Tanjung Datu. antarnegara sangat diperlukan untuk meningkatkan investasi dan optimalisasi pemanfaatan SDA di wilayah perbatasan. Selain itu kerja sama. Adanya saling ketergantungan dalam masyarakat internasional berpengaruh dalam bidang-bidang ideologi. dan pertahanan keamananan. setiap negara di saling tergantung satu sama lain. Prioritas selanjutnya yaitu pengembangan prasarana dan sarana dengan bobot nilai 0. Forum ini mengadakan pertemuan setahun sekali dengan pergantian tempat antara Indonesia dan Malaysia. (2) Batu Aum. Hal ini didukung meningkatnya hubungan masyarakat perbatasan baik dari segi sosial-budaya maupun ekonomi. Oleh karena itu. masyarakat dengan pemerintah daerah. subregional.

Kerja sama di bidang sosial-ekonomi daerah perbatasan Malaysia (Sarawak dan Sabah) dengan Indonesia (Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur) yang disebut Sosek Malindo telah dilengkapi dengan kelompok kerja (KK). Keterangan : SPKW = Strategi Pengembangan Kawasan SPPM = Strategi Pengembangan Pembiayaan SPKL = Strategi Pengembangan Kelembagaan Gambar 48. Pembobotan Kriteria Sasaran dalam Pengembangan Kawasan Permukiman Perbatasan Negara Berkelanjutan Hasil dari pendapat pakar tersusun sasaran yang menjadi prioritas utama dalam keberhasilan pengembangan kawasan permukiman perbatasan negara berkelanjutan. (4) Sungai Sinapad. dan (9) Pulau Sebatik. Sosek Malindo di tingkat provinsi/negeri ditujukan untuk (a) menentukan proyekproyek pembangunan sosial ekonomi yang digunakan bersama. (5) Sungai Semantipal.Semilau. Urutan prioritas sasaran dalam pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara Berdasarkan gambar 48 hasil analisis AHP yang merupakan sasaran (level 5) menunjukkan strategi pengembangan kawasan menjadi prioritas utama dengan bobot nilai 0. dan (d) menyampaikan laporan kepada KK Sosek Malindo tingkat pusat mengenai pelaksanaan kerja sama pembangunan sosial-ekonomi di daerah perbatasan. (b) merumuskan hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan pembangunan sosial ekonomi di wilayah perbatasan. (6) Nanga Badau. E. (8) Gunung Raya. Gambar 48 menunjukkan urutan prioritas sasaran tersebut.624. (7) Sungai Buan. Hal tersebut disebabkan adanya dukungan ketersediaan infrastruktur dasar yang memadai untuk dilakukan pengembangan wilayah . (c) melaksanakan pertukaran informasi mengenai proyekproyek pembangunan sosial-ekonomi di wilayah perbatasan bersama.

Hal tersebut didukung oleh adanya dukungan pembiayaan dari pemerintah untuk melakukan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan. a.130. .246. Peningkatan kualitas sumber daya manusia agar lebih berpotensi dan profesional. Peningkatan sarana dan prasarana pendukung terhadap aktivitas sosial ekonomi masyarakat setempat serta guna membantu pengamanan kawasan perbatasan. Prioritas kedua yaitu pengembangan pembiayaan dengan bobot nilai 0. pelembagaan aktivitas sosialkultural. Pengembangan wilayah perbatasan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi strategis dengan pemanfaatan sumberdaya alam setempat. Adapun program pembangunan berupa penyusunan rencana pengembangan wilayah perbatasan dengan program kegiatan sebagai berikut: Penetapan arah kebijakan pembangunan wilayah perbatasan dengan orientasi mendukung pergerakan aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga. Prioritas yang terakhir adalah strategi pengembangan kelembagaan dengan bobot nilai 0. pembangunan wilayah perbatasan merupakan wilayah perbatasan dikembangkan dengan mengubah arah kebijakan pembangunan yang selama ini cenderung berorientasi inward looking menjadi outward looking. Penetapan fungsi lembaga pengelola wilayah perbatasan sesuai dengan kapasitas. pembentukan pengelolaan community-based permukiman organization (CBO). sosialisasi dan program advokasi berkelanjutan.125 perbatasan di Kabupaten Nunukan. Hal tersebut disebabkan adanya dukungan perencanaan tata ruang yang partisipatif. Penetapan garis batas negara secara jelas dan benar. Strategi Pengembangan Kawasan Arah pembangunan jangka panjang nasional yang berkaitan dengan attachment). kawasan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pintu gerbang aktivitas ekonomi dan perdagangan dengan negara tetangga. peningkatan kelengkapan lingkungan (neighbourhood peningkatan investasi publik. bantuan teknis pengembangan desain rumah dan lingkungan. Dengan demikian.

Meningkatkan investasi dan peran wisata untuk mendorong penguatan ekonomi rakyat. Mempercepat tercapainya kemandirian masyarakat dan pemerintah Kabupaten Nunukan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat. dan kawasan tertinggal lainnya. wilayah pedesaan. Perlu dibuka pos-pos imigrasi di wilayah perbatasan untuk melegalkan arus barang yang masuk dan keluar dari wilayah Indonesia. Mengembangkan antarwilayah dan menyerasikan laju pertumbuhan antarsektor pembangunan ekonomi. Pengawasan sumber daya alam di daerah perbatasan dan pencurian oleh pihak-pihak yang kurang bartanggung jawab serta pengawasan pemindahan patok-patok batas negara di perbatasan Indonesia dengan Malaysia. Mengoptimalkan pemanfaatan pendapatan yang berasal dari sumber daya alam yang dapat diperbaharui dengan prinsip pembangunan yang berkelanjutan. Pembukaan sarana dan prasarana perintis dan air strip yang sudah ada di daerah perbatasan dan bantuan subsidi penerbangan ke daerah perbatasan. baik yang menuju Indonesia maupun Malaysia untuk memudahkan pemasaran hasil-hasil bumi setempat. membuka wilayah pedalaman. Rencana Strategi Daerah Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2003--2008. serta kecamatan. Bagian dokumen perencanaan daerah ini yang memuat salah satu prioritas pembangunan daerah perbatasan dengan program prioritas: Pembangunan sarana dan prasarana jalan darat yang menghubungkan pusat pusat pertumbuhan ekonomi di daerah kota dan pantai dengan wilayah di perbatasan termasuk jalan tembus menuju ke daerah Malaysia. Perlu dibangun pelabuhan laut yang khusus melayani arus keluar-masuk barang dari Indonesia di Wilayah Nunukan Kepulauan. wilayah yang terisolasi.126 Arah kebijakan pemanfaatan ruang di wilayah perbatasan Provinsi Kalimantan Timur adalah: Perlu dibuka jalur transportasi yang menghubungkan wilayah perbatasan dengan daerah-daerah lainnya. perbatasan. Pengembangan potensi ekonomi yang tersedia di daerah perbatasan melalui .

serta pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah dan pemerintahan daerah diatur secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang. Pendanaan atau pembiayaan tersebut menganut prinsip "Money Follow's Function". Peningkatan kerja sama sosial-ekonomi antara pemerintah dan masyarakat perbatasan antarkedua negara malalui payung kerja sama-SOSEK MALINDO dan kerja sama bidang lainnya yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Legitan. Dana perimbangan merupakan pendanaan daerah yang bersumber dari APBN yang terdiri dari dana bagi hasil (DBH). dana alokasi umum (DAU). b. adil. daerah Pinjaman daratan perbatasan Kalimantan Sumber-sumber terdiri Daerah atas dan pendanaan/pembiayaan pendapatan Asli pelaksanaan Dana pemerintahan Perimbangan. Studi pengembangan Kawasan Strategis Nasional perbatasan Provinsi Kalimantan Timur yang menyangkut pula pemerintahan 4 kabupaten merupakan masalah nasional yang perlu mendapat perhatian khusus. Perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah mencakup pembagian keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah secara proporsional. dan transparan dengan memperhatikan potensi. demokratis. atau yang ditugaskan dan/atau desa dalam rangka tugas pembantuan. Strategi Pengembangan Pembiayaan Pada pasal 18 A ayat (2) UUD Negara Republik Indonesia 1945 mengamanatkan agar hubungan keuangan.127 pola agribisnis dan agroindustri dengan tujuan ekspor ke negara tetangga. yang mengandung makna pendanaan mengikuti fungsi pemerintahan yang menjadi tanggung jawab masing-masing tingkat pemerintahan. dan Ambalat Timur terulang dengan kembali Serawak di daerah (Malaysia). kebutuhan. Daerah. pelayanan. Wilayah perbatasan berkaitan dengan pemerintah pusat sehingga pendanaan pembangunan wilayah perbatasan juga dapat bersumber dari RAPBN. UndangUndang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. pendapatan lain yang syah. Jangan sampai kasus Sepadan. kondisi. serta permasalahan daerah. dan dana . 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah dimaksudkan untuk mendukung penyerahan urusan kepada pemerintahan daerah yang diatur dalam Undang-Undang No. keuangan pusat yang dikonsentrasikan kepada gubernur.

Dalam . c. kecuali urusan pemerintahan yang menjadi urusan pemerintah pusat. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah. 33 Tahun 2004 juga mengatur hibah yang berasal dari pemerintah negara asing.128 alokasi khusus (DAK). Dalam Undang-Undang No. perencanaan. Dana alokasi khusus (DAK) digunakan untuk membantu membiayai kegiatan-kegiatan khusus di daerah tertentu yang menjadi prioritas nasional karena membangun wilayah perbatasan merupakan masalah daerah dan masalah nasional. Sumber dana yang lain yaitu dana dekonsentrasi yang bertujuan untuk menjamin tersedianya dana untuk pelaksanaan kewenangan pemerintah yang dilimpahkan pada gubernur sebagai wakil pemerintah. pelaksanaan. panas bumi sesuai dengan undang-undang No. bentuk barang dan jasa. dan pengawasan yang baik. Dana perimbangan ini digunakan untuk membantu daerah dalam mendanai kewenangannya untuk menghindari ketimpangan sumber pendanaan pemerintahan antara pusat dan pemerintahan daerah. 27 Tahun 2003 tentang Panas Bumi. Selain itu. terdapat sumber-sumber pembiayaan lain yaitu pinjaman daerah yang digunakan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan pelayanan masyarakat. badan/lembaga asing. Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya. Strategi Pengembangan Kelembagaan Pengembangan strategi nasional perbatasan Provinsi Kalimantan Timur berkaitan dengan Kabupaten Nunukan sehingga sesuai dengan amanat Undangundang No. badan/lembaga internasional dalam bentuk devisa/rupiah. Sumber dana/biaya dan kekayaan sumber daya alam yang ada di Provinsi Kalimantan Timur dan keempat kabupaten yang termasuk wilayah perbatasan cukup besar apabila dana tersebut dapat dimanfaatkan dengan kebijakan. Wilayah perbatasan berkaitan dengan empat kabupaten sehingga ada peluang peningkatan DAU untuk membangun wilayah perbatasan. 7 Tahun 2000 dan pada pasal 21 sektor pertambangan. termasuk tenaga ahli dan pelatihan yang tidak perlu dibayar lagi. Dana alokasi umum (DAU) digunakan untuk pemerataan kemampuan keuangan antardaerah melalui penerapan formula yang mempertimbangkan kebutuhan dana potensi daerah. dan termasuk dana reboisasi. Dana bagi hasil (DBH) diatur dalam Undang-Undang No.

pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten. Penggunaan ketiga kriteria tersebut diterapkan secara kumulatif sebagai satu kesatuan dengan mempertimbangkan keserasian dan keadilan hubungan antarkegiatan dan susunan pemerintahan. Pembagian urusan pemerintahan yang bersifat konkuren harus proporsional antara pemerintah. dan pemerintah daerah kabupaten/kota.129 menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah tersebut. Kriteria eksternalitas didasarkan atas pemikiran bahwa tingkat pemerintahan yang berwenang atas suatu urusan pemerintahan ditentukan oleh jangkauan dampak yang diakibatkan dari penyelenggaraan urusan pemerintahan. Seluruh tingkat pemerintahan wajib mengedepankan pencapaian efisiensi dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya dalam . Kriteria tersebut yaitu tingkat pemerintah yang paling berwenang menyelenggarakan urusan pemerintahan tersebut adalah yang paling dekat dari dampak yang timbul.Hal ini sesuai dengan prinsip demokrasi yang mendorong akuntanbilitas pemerintah kepada rakyat. Urusan pemerintah terdiri dari urusan pemerintahan yang dikelola secara bersama antartingkatan dan susunan pemerintah atau konkuren. Penyelenggaraan desentralisasi memberikan syarat terhadap pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Urusan pemerintahan yang dapat dikelola secara bersama antartingkatan dan susunan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi urusan pemerintah pusat. akuntabilitas. yustisi dan agama. moneter dan fiskal nasional. Oleh karena itu. dan efisien. ditetapkan kriteria pembagian urusan pemerintahan yang meliputi eksternalitas. Kriteria efisiensi didasarkan pada penyelenggaraan urusan pemerintahan harus ekonomis. Untuk mencegah teradinya tumpang tindih pengakuan atau klaim atas dampak maka ditentukan kriteria akuntanbilitas. Urusan pemerintahan yang sepenuhnya menjadi kewenangan pemerintah yaitu urusan dalam bidang politik luar negeri. pertahanan keamanan. Dalam setiap bidang urusan pemerintahan yang bersifat konkuren terdapat bagian urusan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat. pemerintah daerah propinsi. pemerintah daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas perbantuan.

Urusan pemerintahan yang bersifat pilihan yaitu urusan pemerintahan yang diprioritaskan oleh pemerintahan daerah yang terkait dengan upaya pengembangan potensi unggulan (core competence). Urusan kewenangan daerah terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan.130 menghadapi globalisasi. perhubungan. Hal ini tentu harus disesuaikan dengan kondisi. seperti pendidikan dasar. standar. dan kriteria tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk menilai kemampuan apakah suatu urusan . kesehatan. potensi. prosedur. Pedoman yang memuat norma. maka urusan wajib dan pilihan yang diselenggarakan oleh daerah harus dituangkan ke dalam peraturan daerah yang menjadi acuan dalam penentuan penyelenggaraan pemerintah daerah. lingkungan hidup. dan kriteria yang dijadikan pedoman dalam mengatur hubungan pemerintah pusat dengan pemerintah daerah dan antara pemerintah daerah provinsi dengan pemerintah daerah kabupaten/kota. Penerapan kriteria eksternalitas. akuntanbilitas. Urusan pemerintahan wajib adalah urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang terkait dengan pelayanan dasar (basic services) bagi masyarakat. dan kekhasan daerah yang bersangkutan. Ketiga kriteria ini dapat disinergikan dalam rangka mewujudkan kesejahteraan masyarakat dan demokratisasi sebagai esensi dasar dari kebijakan desentralisasi. Hal ini menjadi kewenangan pemerintah yang bersangkutan sesuai dengan dasar prinsip penyelenggaraan urusan sisa. Urusan pemerintahan di luar urusan wajib dan urusan pilihan yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang bersangkutan tetap harus diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang bersangkutan. kependudukan dan sebagainya. dan anggaran. Di luar urusan pemerintahan yang bersifat wajib dan pilihan. standar. personil. Keterbatasan sumber daya dan sumber dana yang dimiliki oleh daerah membuat prioritas penyelenggaraan urusan pemerintahan harus difokuskan pada urusan wajib dan urusan pilihan yang benar-benar mengarah pada penciptaan kesejahteraan masyarakat. tiap tingkat pemerintahan harus melaksanakan urusan pemerintahan berdasarkan kriteria pembagian urusan pemerintahan. prosedur. Pemerintah berkewajiban menyusun norma. Agar pelaksanaan urusan pemerintahan yang bersifat wajib dan pilihan memiliki payung hukum yang kuat. Ketentuan tersebut meliputi penentuan struktur organisasi perangkat daerah. serta semangat ekonomis diwujudkan melalui kriteria efisiensi.

peningkatan kapasitas dan fungsi kelembagaan dalam pengelolaan perbatasan dilakukan melalui optimalisasi fungsi dan peran kelembagaan antarinstansi pemerintah. peningkatan juga dilakukan melalui pengembangan database informasi wilayah perbatasan yang dapat dijadikan acuan bersama oleh seluruh . prosedur. penataan hubungan kerja baik secara horisontal maupun secara vertikal. standar. Oleh karena itu. oleh Pelaksanaan pemerintah urusan daerah pemerintah provinsi yang belum mampu kepada dilimpahkan departemen/LPND yang membidangi urusan pemerintahan tersebut. Untuk melaksanakan urusan pemerintah yang belum mampu dilaksanakan oleh pemerintah daerah kabupaten/kota dilimpahkan kepada gubernur selaku wakil pemerintah dilaksanakan pusat. prosedur. Urusan pemerintahan ini diserahkan apabila pemerintah daerah benar-benar telah menunjukkan kemampuan untuk memenuhi norma. standar. Urusan pemerintah yang ditugaskan kepada pemerintah daerah didasarkan pada asas tugas pembantuan yang secara bertahap dapat diserahkan kepada urusan pemerintah daerah yang bersangkutan. prosedur. dan konsultasi antarlembaga. Berdasarkan hal tersebut. dan kriteria wajib dalam mengikutsertakan pemangku kepentingan (stakeholders) terkait termasuk pemerintahan daerah. departemen/LPND bertanggung jawab menyusun norma. peningkatan koordinasi. prosedur. dan kriteria yang dipersyaratkan untuk penyelenggaraan urusan pemerintahan. Dengan demikian.pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah mampu diselenggarakan oleh pemerintah daerah yang bersangkutan. Pemberdayaan pemerintah daerah sangat penting dilakukan untuk meningkatkan kapasitas daerah sehingga mampu memenuhi norma. tugas pembantuan dapat dimanfaatkan sebagai instrumen peningkatan kemampuan pemerintah daerah sebelum urusan pemerintahan tersebut benar-benar diserahkan kepada daerah yang bersangkutan. dan kriteria sebagai prasyarat penyelenggaraan urusan pemerintah yang efisien sesuai dengan kewenangannya. Selain itu. Bagi pemerintahan daerah yang belum memenuhi norma. standar. standar. dan kriteria yang ditentukan. kewenangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan tersebut dapat ditunda sampai dengan pemerintahan daerah yang bersangkutan mampu memenuhi persyaratan yang ditentukan oleh pemerintah.

Berdasarkan hasil AHP. Dari kombinasi antarkondisi masalah didapatkan dua skenario yaitu (1) Strategi optimis dan (2) Strategi pesimis.stakeholder terkait.4 Rekomendasi Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara 4. antara lain (1) Strategi Pengembangan Kawasan.4. hal yang harus dilakukan yaitu kombinasi antarkondisi masalah dengan membuang kombinasi yang tidak sesuai (incompatible).4. 4. Dari analisis tersebut. Penyusunan Strategi Pengembangan Kawasan Interpretasi kondisi masalah dalam peubah skenario dilakukan melalui keterkaitan strategi yang disusun dalam suatu skenario. dan (3) Strategi Pengembangan Kelembagaan. (2) Strategi Pengembangan Pembiayaan. Perkiraan permasalahan pengembangan kawasan pada kondisi di masa yang akan datang disajikan pada tabel 20. Berdasarkan dominasi responden mengenai kondisi masalah di masa yang akan datang. diharapkan dapat menyelaraskan berbagai kewenangan. a. Pemahaman yang baik terhadap fungsi dan peran.1 Penyusunan Strategi Pengembangan Berdasarkan hasil analisis keterkaitan dan kinerja pengembangan kawasaan permukiman menunjukkan. koordinasi yang intensif.4. tata hubungan yang jelas. Sistem yang belum berkelanjutan menyebabkan perlunya perumusan berbagai strategi dan rekomendasi kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. Perkiraan kondisi (state) dipengaruhi potensi hubungan antarkomponen terkait untuk penyusunan kebijakan dan strategi pengembangan kawasan (Cadenasso 2003). sistem yang ada saat ini masih belum berkelanjutan. serta tingkat pengetahuan dan persepsi yang sama. diketahui tiga masalah yang paling berpengaruh terhadap strategi dan rekomendasi kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. . Dalam hal ini. kebijakan dan peraturan-peraturan antara pemerintah pusat dan daerah. disusun analisis kebijakan yang dilakukan melalui tiga kajian strategi pilihan. beberapa perubahan dilakukan pada peubah tertentu sehingga strategi yang bersangkutan dapat disimulasikan.

karena Kondisi letak geografis kurang mendukung untuk peningkatan kerjasama luar negeri antar negara 14B Tetap.Minimnya infrastruktur kawasan dan permukiman 14A Menurun. karena pembangunan fasos dan fasum di wilayah perbatasan mulai dilakukan oleh instansi terkait. karena tidak ada sosialisasi yang baik. karena masyarakat tidak peduli dengan pemanfaatan lahan. melakukan koordinasi. karena kurang perhatian pemerintah terhadap wilayah perbatasan 5 14. karena adanya pembangunan yang tetap berjalan namun dalam jumlah yang masih minim . karena kawasan perumahan dan permukiman di wilayah perbatasan tidak didukung pembangunan infrastruktur lingkungan yang terpadu dengan infrastruktur primer kota 4A Menurun. Perkiraan responden mengenai permasalahan pengembangan kawasan pada kondisi masa yang akan datang No 1 Masalah 5 Kesadaran masyarakat akan identitas nasional 7A Menurun. hanya sedikit penjelasan 4 15. Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan 1A Menurun. karena pembangunan tidak terkoordinasi dengan baik 4C Meningkat. karena pengadaan infrastruktur wilayah perbatasan dilakukan seadanya 7C Meningkat. karena pemerintah menganggap bahwa pembangunan sosial ekonomi wilayah perbatasan tidak penting Keadaan (State) 7B Tetap. karena banyak pengusahaan lahan di lakukan segelintir masyarakat (spekulan tanah) 15B Tetap. Kesejahteraan Masyarakat 4B Tetap. Terbatasnya fasos dan fasum 15C Meningkat. karena pemerintah melakukan pembangunan sosial ekonomi. karena SDA dikelola kurang optimal dan kondisi perekonomian dan pemerataan pembangunan menurun 15A Menurun. yang penting aman dan tidak diakui oleh pihak lain 1B Tetap. karena pembangunan infrastruktur mendukung pertumbuhan kawasan 2 4. dan ada sosialisasi yang baik dari pemerintah tentang pemanfaatan lahan yang baik 14C Meningkat. karena pembangunan terarah dan terencana 3 1. dan melibatkan sektor swasta 1C Meningkat.Tabel 20.

6 6. Kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga

6A Menurun, karena pembangunan belum merata di segala bidang

6B Tetap, karena ada perhatian pemerintah akan pentingnya wilayah perbatasan, namun implementasinya belum dilakukan

6C Meningkat, karena karena pembangunan yang dilakukan di wilayah perbatasan negara tetangga lebih intens dan lebih fokus pada upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat

Tabel 21 . Strategi dan kombinasi kondisi faktor pengembangan kawasan No. Strategi 1. Skenario 1 2. Skenario 2 Kombinasi Kondisi Faktor 7A/4A/1A/15A/14A/6A 7C/4B/1C/15C/14C/6C

Skenario satu dibangun berdasarkan keadaan faktor kunci dengan kondisi pengembangan kawasan yakni kurangnya kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional (7A) karena kawasan perumahan dan permukiman di wilayah perbatasan tidak didukung pembangunan infrastruktur yang terpadu dengan infrastruktur primer kota. Selain itu, pengadaan infrastruktur wilayah perbatasan dilakukan seadanya. Rendahnya kesejahteraan masyarakat (4A) karena pemerintah

menganggap bahwa pembangunan sosial-ekonomi wilayah perbatasan tidak penting dan pembangunan tidak terkoordinasi dengan baik. Kesenjangan

pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1A) karena SDA dikelola kurang optimal, kondisi perekonomian dan pemerataan pembangunan tidak merata, serta banyak pengelolaan lahan dilakukan segelintir masyarakat (spekulan tanah). Terbatasnya fasos dan fasum (15A) karena masyarakat tidak peduli dengan pemanfaatan lahan. Dalam pemanfaatan lahan bagi masyarakat yang penting adalah keamanan dan lahan tersebut tidak diakui pihak lain. Hal ini terjadi karena tidak ada sosialisasi yang baik dari pemda mengenai pentingnya pemanfaatan lahan. Kurangnya infrastruktur kawasan dan permukiman (14A) karena letak geografis tidak mendukung peningkatan kerja sama luar negeri antarnegara sehingga perlu adanya pembangunan infrastruktur dan permukiman. Kondisi sosial dan ekonomi negara tetangga lebih baik (6A) karena pemerintah memperhatikan perbatasan. pembangunan di segala bidang dan pentingnya wilayah

Skenario dua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan kawasan yaitu, meningkatnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional (7C). Kesadaran masyarakat akan identitas sosial meningkat karena kawasan perumahan dan permukiman di wilayah perbatasan didukung pembangunan infrastruktur yang terpadu dengan infrastruktur primer kota secara bertahap dan terencana. Kesejahteraan masyarakat relatif tetap (4B) karena pemerintah melihat tingkat kesejahteraan di wilayah perbatasan cukup baik sehingga tidak menjadi prioritas utama. Menurunnya kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1C) karena SDA dikelola dengan sangat baik. Bukan hanya itu, kondisi perekonomian dan pemerataan

pembangunan juga meningkat serta meningkatnya pembangunan fasos dan fasum (15C) karena masyarakat mengoptimalkan pemanfaatan lahan sesuai dengan peruntukannya dan berkoordinasi dengan pemda. Kondisi sosial dan ekonomi di negara tetangga lebih baik (6C) karena pembangunan di wilayah perbatasan lebih difokuskan pada aspek peningkatan keamanan melalui law enforcement, dengan pembangunan perbatasan. b. Penyusunan Strategi Pengembangan Pembiayaan Strategi yang disusun dalam skenario dikaitkan melalui interpretasi kondisi masalah ke dalam peubah skenario. Beberapa perubahan dilakukan pada peubah tertentu di dalam skenario sehingga strategi yang bersangkutan dapat sosial-ekonomi disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat

disimulasikan. Berikut ini perkiraan permasalahan pengembangan pembiayaan pada kondisi di masa yang akan datang. Tabel 22. Perkiraan responden mengenai permasalahan pengembangan

pembiayaan pada kondisi masa yang akan datang
No 1 Masalah 23.Terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan Keadaan (State) 23A 23B Menurun, karena kondisi sharing Tetap, karena pendanaan pusat, provinsi, kota kondisi sharing meningkat, alokasi dana khusus pendanaan untuk pengembangan dan pusat, provinsi, pengelolaan kawasan kota dari tahun permukiman perbatasan ke tahun tidak meningkat seiring kebijakan mengalami prioritas pembangunan di peningkatan wilayah perbatasan 23C Meningkat, karena menganggap pembangunan permukiman wilayah perbatasan tidak penting,

2 17. Terbatasnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan perkim

17A Menurun, karena keberpihakan dan perhatian pemerintah terhadap pembangunan kawasan semakin besar, adanya kesadaran bahwa pembangunan wilayah sangat penting

17B Tetap, karena pendekatan diproyeksikan dan tidak transparan

17C Meningkat, karena pemerintah menganggap bahwa pembangunan di wilayah perbatasan kurang penting 24C Meningkat, karena tidak adanya pengendalian terhadap pengelolaan dana pembangunan, adanya anggapan bahwa perbatasan hanya sekedar batas

3 24. Pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal

24A Menurun, karena kondisi aturan tentang tatacara penggunaan anggaran akan jelas ditingkatkan

24B Tetap, karena sudah ada perhatian pada infrastruktur dan permukiman

Tabel 23 . Strategi dan kombinasi kondisi faktor pengembangan pembiayaan No. Strategi 1. Skenario 1 2. Skenario 2 Kombinasi Kondisi Faktor 23A/17A/24A 23C/17B/24C

Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan pembiayaan karena terbatasnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23A). Hal ini dilakukan karena kondisi sharing pendanaan pusat, provinsi, kabupaten/kota tidak seimbang. Dana alokasi khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan

permukiman perbatasan meningkat seiring kebijakan prioritas pembangunan di wilayah perbatasan. Pendanaan dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota dari tahun ke tahun juga mengalami peningkatan. Dana untuk pengembangan, pengelolaan infrastruktur, dan perkim (17A) berkurang karena keberpihakan dan perhatian pemerintah terhadap pembangunan wilayah perbatasan masih rendah. Rendahnya pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan (24A) terjadi karena kondisi pengatuaran tata cara penggunaan anggaran belum jelas sehingga perlu adnay peningkatan kinerja agar penggunaan dana pembangunan dapat optimal. Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan pembiayaan yaitu meningkatnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23C)

karena tidak ada terobosan berarti dalam upaya penegakan hukum 16C Meningkat. Ini terlihat oleh banyaknya pelanggaranpelanggaran yang tidak menjalani proses hukum 5A Menurun.karena wilayah perbatasan hanya menjadi pintu belakang menjadi penting 20C Meningkat. karena pembangunan belum diimbangi dengan peningkatan terhadap pelayanan publik 20A Menurun. dilakukan beberapa perubahan pada peubah tertentu di dalam skenario sehingga strategi yang bersangkutan dapat disimulasikan. Alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan meningkat seiring kebijakan prioritas pembangunan di wilayah perbatasan.dibukanya beberapa pintu .karena rencana pemda asal jadi tanpa pemikiran matang. Tabel 24. Perkiraan responden mengenai permasalahan pengembangan kelembagaan pada kondisi masa yang akan datang No 1 Masalah 16. kabupaten/kota meningkat. Penyusunan Strategi Pengembangan Kelembagaan Strategi pengembangan kelembagaan yang disusun dalam skenario dilakukan dengan menginterpretasikan kondisi masalah ke dalam peubah skenario. Pendanaan untuk pengembangan serta pengelolaan infrastruktur dan permukiman tetap (17B) karena keberpihakan dan perhatian pemerintah terhadap pembangunan kawasan semakin besar. karena Law enforcement meningkat 2 20. karena kondisi pembiayaan sudah optimal melalui lembaga pemerintah/swasta Keadaan (State) 16B Tetap. seperti belum optimalnya pemanfaatan serta pengelolaan dana pembangunan infrastruktur dan permukiman kondisinya tetap (24B) atau belum meningkat. Pelayanan publik 16A Menurun. Dalam hal ini. provinsi. karena penegakan hukum dan peraturan masih lemah dan cenderung menurun. Aktivitas sosial ekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga 5B Tetap. Penegakan hukum dan peraturan 3 5. Berikut ini perkiraan permasalahan pengembangan kelembagaan pada kondisi di masa yang akan datang. karena Pemda membiarkan infrastruktur permukiman apa adanya 5C Meningkat. tetapi belum dilakukan secara baik.karena kondisi sharing pendanaan pusat. c. karena pemerintah menganggap kebijakan dan pedoman tidak diperlukan 20B Tetap.

Kondisi ini terlihat dari banyaknya pelanggaran yang tidak diproses secara hukum dan tidak ada terobosan berarti dalam upaya penegakkan hukum. Strategi 1. Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan faktor kunci dengan kondisi pengembangan kelembagaan. tetapi pemda membiarkan pembangunan infrastruktur dan permukiman masih apa adanya. Penegakkan hukum dan peraturan masih lemah (20A) dan cenderung menurun. Skenario 2 Kombinasi Kondisi Faktor 16A/20A/5A 16B/20C/5C Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan faktor kunci dengan kondisi pengembangan kelembagaan. pelayanan publik tetap (16B) karena pembangunan tidak diimbangi dengan peningkatan terhadap pelayanan publik. Pada skenario kedua. Aktivitas sosial-ekonomi masyarakat rendah (5A) karena kondisi pembiayaan melalui lembaga pemerintah/swasta masih rendah. Strategi dan kombinasi kondisi faktor pengembangan kelembagaan No. Penegakkan hukum dan peraturan meningkat (20C) yang dapat dilihat dari berkurangnya pelanggaran yang dilakukan masyarakat perbatasan negara. pembangunan SDA di sektor perkebunan.No Masalah 16A Keadaan (State) 16B 16C penyeberangan antar wilayah. Aktivitas sosial-ekonomi masyarakat dengan wilayah negara tetangga berkurang (5C) karena kondisi pembiayaan pembangunan di wilayah perbatasan meningkat melalui lembaga pemerintah/swasta. . Dalam skenario ini dapat dilihat terbatasnya pelayanan publik (16A) karena pembangunan tidak diimbangi dengan peningkatan pelayanan publik dan pemerintah menganggap kebijakan terkait pelayanan publik belum mendesak. pertambangan dan pertanian belum dapat menyerap tenaga lokal dan menjadi kegiatan penunjang perkembangan wilayah perbatasan Tabel 25. Skenario 1 2.

serta (5) memastikan transisi penggunan lahan perdesaan menuju perkotaan berjalan secara alamiah dan terarah (Seong 2006). Selain menyebabkan ketergantungan terhadap negara tetangga. kehormatan. infrastruktur wilayah masih terbatas dan permukiman di wilayah perbatasan baik yang berada dalam kawasan perkotaan maupun perdesaan kurang berkembang. Dinamika kegiatan ekonomi perkotaan di wilayah perbatasan merupakan kondisi yang dapat meningkatkan pertumbuhan kota-kota (pusat pertumbuhan baru) di perbatasan negara. Oleh karena itu. Dalam GBHN tahun 1999—2004 pada Bab IV butir G dinyatakan bahwa perlu peningkatan pembangunan di seluruh daerah termasuk wilayah perbatasan dengan tetap berlandaskan pada prinsip desentralisasi dan otonomi daerah. Dampak dari hal ini yaitu aktivitas sosioekonomi banyak yang berorientasi ke negara tetangga. Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Percepatan pembangunan wilayah. Pada prinsipnya. sangat memerlukan keberpihakan pemerintah terhadap pembangunan wilayah di perbatasan tersebut. kependudukan. keterbatasan infrastruktur dan permukiman di wilayang perbatasan juga menyangkut kondisi keamanan.4. dan kesadaran masyarakat perbatasan terhadap identitas nasional. (2) dapat mengoptimalkan penggunaan lahan. hingga saat ini peningkatan pembangunan wilayah perbatas belum memperlihatkan hasil yang nyata.5. Kondisi ini disebabkan adanya ketimpangan pembangunan antara wilayah perbatasan dengan wilayah nonperbatasan. maka dapat menjadi hambatan pengembangan potensi pertumbuhan yang selama ini berfungsi sebagai penggerak pengembangan sosial. terutama wilayah perbatasan. Namun. komitmen pemerintah untuk mempercepat pembangunan wilayah perbatasan telah tercermin dalam kebijakan pembangunan dalam Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) sejak tahun 1993 yang masih konsisten dengan GBHN tahun 1999--2004. (4) mendorong sinergisitas hubungan kota dan desa. ekonomi. dan . Apabila hal ini tidak ditangani dengan baik. Pengembangan perbatasan pusat-pusat pertumbuhan yaitu baru (border city) di wilayah (1) melindungi ruang terbuka terdapat enam kategori hijau/konservasi dan sumber daya alam. (3) efisiensi pembiayaan pembangunan infrastruktur.

belum diatur dan diarahkan melalui kebijakan dan strategi pengembangan kawasan yang bersifat nasional dan menyeluruh. koordinasi masing-masing instansi terkait baik di pusat maupun daerah masih lemah. dan AHP. (2) Pengembangan pembiayaan.5.peningkatan kesejahteraan secara berkelanjutan di wilayah perbatasan (Canales 1999). dan menentukan implikasi dari skenario tersebut.1 Desain Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Penanganan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. serta skenario pengembangan dan rekomendasi kebijakan. Penyusunan kebijakan dan strategi tersebut dilakukan melalui lima tahapan analisis. 4. 4. Di samping itu. perlu dibuat desain kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. desain kebijakan pengembangan dengan analytical hierarchy process (AHP). . analisis faktor penting dengan interpretative structural modelling (ISM). dan (3) Pengembangan kelembagaan. baik perbatasan darat maupun perbatasan laut. yaitu analisis kondisi permukiman.1 Desain Kebijakan dan Strategi Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Kajian pengembangan strategi dilakukan pada tiga peubah yang dianggap menentukan dan menjadi rekomendasi kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yaitu (1) Pengembangan kawasan. maupun swasta. Penanganan beberapa kasus atau masalah permukiman di wilayah perbatasan negara yang terjadi selama ini disebabkan belum melibatkan semua stakeholders baik pemerintah daerah. Permodelan interpretasi struktural interpretative structural modelling (ISM) merumuskan alternatif kebijakan di masa yang akan datang. masyarakat. analisis potensi sektor unggulan wilayah dengan menggunankan model perbandingan eksponensial (MPE). Berdasarkan hal paparan di atas.1. Tahapan tersebut menentukan keadaan (state) suatu faktor.5. membangun skenario yang mungkin terjadi. Pembuatan desain kebijakan pendekatan pengembangan analytical kawasan hierarchy permukiman process perbatasan menggunakan dibuat (AHP). Selanjutnya pengklasifikasian subelemen dan desain kebijakan melalui deskripsi analisis kebijakan yang sesuai dengan keadaan di lapangan. hasil analisis ISM.

Upaya penyusunan kebijakan dan strategi pengembangan kawasan permukiman perbatasan sudah pernah dilakukan sebelumnya. maupun bekerja di wilayah perbatasan. Penyusunan kebijakan dan strategi telah diupayakan oleh beberapa instansi pemerintah baik pusat maupun daerah melalui kajian dan studi. Hingga saat ini. dan sesuai dengan kebijakan sektor masing-masing. termasuk di dalamnya pengembangan kawasan permukiman. c. hanya berpedoman pada kebutuhan yang telah diamanatkan dalam GBHN 1999. Propenas 2000—2004. serta fungsi pertahanan dilakukan bersama-sama dan seimbang sehingga dapat meningkatkan stabilitas wilayah perbatasan. d. Pengembangan diarahkan pada wilayah yang memiliki potensi SDA sektor unggulan agar keberlanjutan kawasan permukiman dapat didukung. Hasil analisis data dengan metode ISM memperlihatkan bahwa kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional menjadi permasalahan yang paling krusial . Pengembangan dapat mendorong terbentuknya pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah perbatasan sebagai tempat aktivitas dan usaha penduduk wilayah serta berfungsi untuk meminimalisasi konflik di wilayah perbatasan. dan atau memiliki tempat usaha. antara lain: a. b. Pengembangan kawasan permukiman perbatasan disusun berdasarkan faktor lingkungan yang strategis dan diperkirakan akan memengaruhi perkembangan wilayah perbatasan di masa yang akan datang. Pengembangan kawasan permukiman yang mengedepankan peningkatan kesejahteraan. regional. Strategi pengembangan kawasan permukiman perbatasan bertumpu pada masyarakat yang menjadi subjek kegiatan yang tinggal di wilayah perbatasan. ekonomi.141 Pelaksanaan berbagai kegiatan pembangunan di wilayah perbatasan negara. Adapun beberapa faktor kunci. Pengembangan didukung dengan penyediaan prasaran dan sarana serta lingkungan yang memadai. upaya tersebut belum menghasilkan suatu peraturan yang dapat dijadikan acuan dan arahan dalam pelaksanaan pembangunan. dan global. Pengembangan kawasan permukiman perbatasan ini diharapkan mampu mengantisipasi berbagai tantangan dan peluang yang tercipta akibat adanya perubahan lingkungan strategis baik lokal.

Pemerintah bekerja sama dengan LSM dan pakar-pakar terkait yang berasal dari perguruan tinggi dan lembaga penelitian dalam mewujudkan kemandirian masyarakat melalui pengadaan pelatihan dan penyuluhan. aktivasi pasar lebih ramai di wilayah Malaysia. Salah satu solusi yang harus segera dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan identitas nasional yaitu dengan menciptakan lapangan kerja padat karya seluas-luasnya untuk masyarakat di wilayah perbatasan. Tolok ukur peningkatan kesadaran masyarakat terhadap identitas nasional yang paling nyata ditandai dari peningkatan kesejahteraan masyarakat. . tayangan televisi dengan dominasi acara-acara dari Negeri Malaysia. provinsi. dan kabupaten/kota di wilayah perbatasan. Lapangan pekerjaan tidak akan terwujud tanpa dukungan pemerintah dalam menciptakan kegiatan melalui pembuatan kebijakan-kebijakan pendukung oleh pemerintah pusat. Hasil analisis MPE memperlihatkan hasil dari tiga klaster berbasis potensi sektor unggulan yang dapat mendorong percepatan kesejahteraan masyarakat di wilayah perbatasan apabila didukung oleh semua stakeholders. Selama ini dana kegiatan-kegiatan dalam upaya percepatan pertumbuhan pembangunan di wilayah perbatasan relatif belum memadai karena hanya bersumber dari anggaran rutin setiap tahunnya. Pada Gambar 38 memperlihatkan bahwa penganggaran dana perlu dilakukan pemerintah secara berkala agar upaya peningkatan kesejahteraan dan peningkatan pendapatan masyarakat dapat dicapai. Hal-hal yang berkembang di masyarakat yang berpotensi menurunkan nilai identitas bangsa di wilayah perbatasan antara lain penggunaan mata uang ringgit sebagai alat pembayaran yang sah. Kenyataan ini dipengaruhi oleh faktor-faktor lain yang menyebabkan rasa nasionalisme masyarakat berkurang daripada rasa untuk mempertahankan identitas nasional. Sumber dana pembangunan permukiman di wilayah perbatasan baik dana rutin maupun dana alokasi khusus akan menentukan jenis penanganan pembangunan. pendapatan daerah dan pendapatan negara. Orientasi seluruh kegiatan lebih banyak diupayakan dengan basis pemberdayaan masyarakat sebagai subjek pembangunan untuk meningkatkan kemandirian masyarakat. kemudahan pengurusan KTP dan pembelian tanah di wilayah Malaysia. dan lain sebagainya.142 di wilayah perbatasan. serta adanya anggaran dana alokasi khusus (DAK) untuk pengembangan kawasan permukiman perbatasan oleh pemerintah.

ekosistem di kawasan tersebut dibuat menjadi ekosistem nonalami yang dapat mengubah total ekosistem alami. Bentuk penanganan pembangunan permukiman sektor unggulan pertambangan yaitu pembangunan baru (PB) dan peningkatan kualitas (PK). sehingga dapat diharapkan kualitas . ekosistem mangrove. sektor unggulan perkebunan yaitu pembangunan baru (PB). Sesuai hasil analisis MPE di masingmasing klaster subkawasan. 4 tahun 1992 tentang perumahan dan permukiman. AMDAL menjadi semakin penting apabila suatu wilayah berhadapan atau di dalamnya terdapat ekosistem fragile di wilayah pesisir seperti ekosistem padang lamun. Ketentuan tersebut dapat digunakan dalam menentukan bentuk penanganan pembangunan di setiap jenis kegiatan usaha yang disesuaikan dengan karakteristik kebutuhan permukiman masingmasing tenaga kerja atau masyarakat yang bersangkutan. Adanya AMDAL yang dilakukan secara serius akan dapat menyelesaikan berbagai masalah seperti masalah ekologi. Terjaganya ekologi akan tetapmemungkinkan lestarinya lingkungan. dan ekosistem karang.143 Jenis penanganan pembangunan disesuaikan dengan karakteristik tenaga kerja dan masyarakat setempat yang didukung dengan potensi sektor unggulan yang tersedia di wilayah perbatasan Kabupaten Nunukan. Adapun salah satu hal yang dapat dilakukan dalam melakukan kajian terhadap kelayakan dari segi lingkungan yakni melakukan analisis terhadap dampak lingkungan (AMDAL) di lokasi yang akan dibangun. potensi sektor unggulan klaster 1 yaitu pertambangan. bentuk penanganan pembangunan perumahan dan permukiman memiliki dua kategori yaitu bentuk pembangunan baru (PB) dan peningkatan kualitas (PK). sedangkan sektor unggulan perikanan yaitu pembangunan baru (PB) dan peningkatan kualitas (PK). kelestarian lingkungan akan tetap terjaga dengan baik walaupun di lokasi tersebut dilakukan pembangunan kawasan permukiman. dan klaster 3 sektor perikanan. Berdasarkan hal tersebut. kajian terhadap lingkungan harus dilakukan secara seksama. Dalam pelaksanaan pembangunan permukiman akan mengubah bentang alam di lokasi tersebut. Dengan kata lain. Berdasarkan ketentuan pada pasal 2 ayat 2 Undang-undang No. klaster 2 perkebunan. Dalam hal ini pelaku harus membuat AMDAL sebagai kriteria pembangunan permukiman yang dilakukan agar tidak mengakibatkan kerusakan lingkungan. Dalam hal ini.

pengendalian limbah dan pencemaran. dan berbagai aspek sosial lainnya yang mungkin dapat luntur akibat terjadinya pembangunan kawasan permukiman. ekosistem yang fragile sekalipun seperti mangrove. AMDAL juga akan menjaga aspek sosial terpelihara dengan baik mengingat dalam AMDAL akan ada petunjuk untuk mengantisipasi terjadinya konflik sosial. dan peningkatan pemahaman konsep lingkungan (Kepmen KLH 2000). sehingga ekosistem tersebut tidak terganggu walau di sekitarnya dibangun kawasan permukiman. Selain itu. sesuai kondisi hidro-oseanografi di wilayah tersebut. melunturnya budaya.144 udara. perlindungan pantai dengan mangrove yang ketebalan hutannya tetap dijaga tidak kurang dari 50 . Ketebalan hutan yang difungsikan sebagai lapisan penyangga (buffer zone) menurut RTRW Kabupaten Nunukan (2005) adalah 130 kali tinggi pasang surut. karena jauh dari ancaman bencana tsunami. Dalam penanganan pembangunan permukiman tetap memperhatikan kriteria AMDAL kegiatan pembangunan permukiman terpadu yaitu dengan mempertahankan dan memperkaya ekosistem yang ada. Terkait dengan penanganan pembangunan kawasan permukiman terpadu dengan lingkungan khususnya bagi permukiman di pesisir dan nelayan. Wilayah pesisir Kabupaten Nunukan pada umumnya berpotensi untuk pengembangan permukiman baik nelayan maupun permukiman lainnya. Kondisi tersebut perlu dijaga tanpa menghambat kebijakan pemda dalam pengembangan permukiman di wilayah pesisir dalam hal ini pembangunan permukiman tersebut hendaknya diterapkan persyaratan sesuai peraturan dan perundang-undangan yang berlaku seperti. Namun demikian adanya potensi pengembangan permukiman di wilayah pesisir tersebut dapat mengancam keberadaan hutan mangrove yang selama ini masih terjaga kelestariannya dengan baik. harus memperhatikan dan menjaga kelestarian dan keberlanjutan ekosistem hutan mangrove dalam pelaksanaannya. tanah & air yang baik. penggunaan energi yang minimal.1000 meter. Kabupaten Nunukan yang mempunyai wilayah pesisir yang luas dan pulau-pulau kecil terluar yang strategis. Hutan mangrove yang baik akan dapat . padang lamun dan terumbu karang akan terpelihara dengan baik karena berbagai hal yang dapat diminimalkan. menjaga kelanjutan sistem sosialbudaya lokal.

persediaan sumber air baku untuk air minum masyarakat penghuni permukiman pesisir tetap terjaga kualitasnya. yaitu perpaduan antara hutan mangrove dan perikanan sehingga biota laut di sekitarnya dapat tumbuh dengan baik. sebaliknya hutan mangrove menahan erosi. masyarakat. Pembangunan kawasan permukiman juga harus dapat menjaga kelestarian lingkungan sehingga sumber daya alam tetap lestari. tajuknya rapat dan lebat sehingga dapat berfungsi sebagai pelindung pantai alami dan menahan intrusi air laut. b. Salah satu aspek lingkungan yang harus diperhatikan dalam pembangunan kawasan permukiman yaitu harus dimulai dari sebelum pembangunan dilakukan (persiapan pembangunan).145 menjaga permukiman di wilayah pesisir karena berperan sebagai perangkat analisis mitigasi alami dalam menjaga keberlanjutan. Dengan demikian. Bangunan laut dapat menyebabkan erosi dan sedimentasi di tempat lain. Secara estetika mangrove lebih baik daripada bangunan laut lainnya. ekosistem tetap dalam kondisi prima sehingga dapat menjamin masyarakat yang hidup di dalamnya lebih sejahtera karena selalu mendapat hasil tangkapan dalam jumlah banyak. pada saat pelaksanaan hingga pembangunan dihuni permukiman. Penanganan abrasi lebih murah dibanding dengan membuat bangunan laut lain dan mangrove dapat memberi dampak ikutan yang menguntungkan kualitas perairan di sekitarnya. selain berfungsi sebagai ekosistem pesisir juga mempunyai vegitasi yang beragam dengan panorama indah dan hijau. Mangrove memiliki sistem akar yang kuat. Hal bertujuan agar masyarakat mampu berpartisipasi dalam . c. Kawasan pertambakan dapat ditata ulang dengan sistem wanamina (silvofishery). hal ini disebabkan oleh: a. d. Mangrove dapat menetralisasi lahan yang telah tercemar oleh logam berat sehingga pemanfatan lahan di wilayah pesisir baik untuk permukiman dan kegiatan bangunan lainnya tidak meluas dan efisien. f. dan Upaya pascapembangunan permukiman mempertahankan ekosistem hutan mangrove pada masyarakat yang sudah menghuni di kawasan permukiman dilakukan melalui pendekatan sistem sosialbudaya lokal. e.

Masyarakat bersama pemda melakukan kegiatan rehabilitasi hutan mangrove di pesisir wilayah Kabupaten Nunukan. 2 1 3 1 Kluster 1 : Pembangunan Baru & Peningkatan Kualitas Kluster 2 : Pembangunan Baru Kluster 3 : Pembangunan Baru & Peningkatan Kualitas 2 3 Gambar 49. Peningkatan pemahaman masyarakat penghuni terhadap konsep keberlanjutan lingkungan dapat mendorong usaha perbaikan kerusakan hutan mangrove yang dilakukan melalui kegiatan penanaman kembali.1.2 Desain Strategi Pengembangan Pembiayaan Strategi pengembangan pembiayaan dalam percepatan pembangunan di wilayah perbatasan sangat dipengaruhi oleh kebijakan dan peran pemerintah terutama pemerintah provinsi dan pemerintah daerah. Peran pemerintah . Adapun bentuk penanganan pembangunan permukiman di masingmasing klaster sesuai dengan potensi SDA pendukung pengembangan permukiman berkelanjutan dapat dilihat pada gambar 49. Selama ini pemerintah membuat dan menerima alokasi dana yang belum memadai untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman di wilayah perbatasan.146 pengendalian limbah dan pencemaran sehingga pemahaman masyarakat terhadap konsep lingkungan terus meningkat.5. Bentuk penanganan pembangunan permukiman 4.

kesejahteraan masyarakat. 4. Desain strategi pengembangan kelembagaan yang berlaku bagi seluruh wilayah perbatasan baik darat maupun laut. jangkauan pelaksanaannya bersifat strategik sampai dengan operasional baik jangka pendek.5. antarpemerintah. Sedangkan. serta kesejahteraan secara seimbang. budaya. perlu dijabarkan dalam suatu strategi. Pola penanganan tersebut dapat dijabarkan melalui penyusunan kebijakan dan strategi dari tingkat makro sampai tingkat mikro yang disusun berdasarkan proses yang partisipatif baik secara horisontal di pusat maupun vertikal dengan pemerintah daerah.3 Desain Strategi Pengembangan Kelembagaan Secara umum. pengembangan kawasan permukiman perbatasan memerlukan suatu pola atau kerangka penanganan yang menyeluruh meliputi berbagai sektor dan kegiatan pembangunan serta koordinasi dan kerja sama yang efektif dari pemerintah pusat sampai ke tingkat kabupaten/kota. keamanan. . Pemerintah juga menjadi fasilitator untuk penguatan kerja sama dengan stakeholders lainnya dalam mengupayakan pembanguann permukiman dan infrastruktur serta fasilitas sosial dan fasilitas umum lainnya. ekonomi. Adapun lembaga keuangan berperan dalam mengupayakan kemudahan kredit perumahan dengan biaya yang terjangkau bagi masyarakat yang diawasi oleh lembaga masyarakat lokal.1. Dukungan dalam pencapaian pengembangan pembiayaan pun dilakukan bersama-sama dengan kegiatan peningkatan kerja sama pembangunan antarnegara. dan antarstakeholders di wilayah perbatasan. maupun jangka panjang. Pendekatan pengelolaan wilayah perbatasan yang dilakukan yaitu pengelolaan yang menyeluruh dan terpadu dengan aspek sosial. pertahanan. Faktor-faktor pengembangan yang mengindikasikan yaitu tolok ukur keberhasilan isolasi dalam serta pembiayaan penataan dan pembukaan ketertinggalan wilayah perbatasan dengan cara pembangunan infrastruktur serta prasarana dan sarana dalam jangka waktu yang sama. menengah. peningkatan pendapatan daerah dan negara di wilayah perbatasan dapat tercapai melalui pengembangan pembiayaan. Tujuan peningkatan pendapatan.147 yang besar dapat mengintervensi lembaga keuangan dengan mengeluarkan kebijakan penganggaran untuk memudahkan biaya pembangunan rumah dan melindungi hak masyarakat di wilayah perbatasan. lingkungan.

148 Kebijakan di atas perlu dilaksanakan melalui upaya-upaya: a. baik antara instansi terkait maupun antara pemerintah pusat dengan daerah. e. termasuk lembaga adat. kondisi kelembagaan pemerintah daerah dan partisipasi masyarakat di beberapa wilayah perbatasan masih perlu ditingkatkan. Hal ini untuk menghindari terjadinya tumpang tindih kewenangan pengelolaan maupun adanya ketidaksinkronan peraturan yang ada. dan pengembangan wilayah secara terpadu di perbatasan. akan sangat membantu dalam proses pengembangan yang partisipatif. Sinkronisasi kewenangan pengelolaan dan peraturan perundangan-undangan. c. f. Pelaksanaan otonomi daerah perlu diiringi dengan sinkronisasi antara kewenangan dan peraturan-peraturan yang dibuat. . Namun. 32 Tahun 2004 yang menjelaskan bahwa pengelolaan kawasan permukiman perbatasan sejauh mungkin perlu dikelola oleh pemerintah daerah. Meningkatkan kapasitas kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat. b. d. Keterlibatan masyarakat dan pemerintah daerah dalam kegiatan pengembangan kawasan permukiman perbatasan termaktub dalam UU No. Penyelarasan kegiatan-kegiatan pemerintah pusat dan pemerintah daerah melalui anggaran pembangunan sektoral dan daerah yang diarahkan bagi pengembangan kawasan pertumbuhan baru. Keberpihakan dan perhatian yang lebih besar dari sektor-sektor terkait di pusat terhadap kawasan permukiman perbatasan. Program peningkatan dan pengembangan kelembagaan pemerintah daerah dan masyarakat. Pemberian dukungan dan fasilitas pengembangan kawasan permukiman perbatasan oleh instansi pusat dan pihak swasta dalam maupun luar negeri. Selain itu diperlukan adanya basis data (database) mengenai wilayah perbatasan yang dapat menjadi referensi bersama. Upaya ini dilakukan untuk memudahkan antarinstansi terkait sehingga meningkatkan terjadinya pertukaran informasi koordinasi serta menciptakan kesepahaman yang sama dalam pengelolaan kawasan permukiman perbatasan. Penguatan dan pembentukan lembaga pengembangan kawasan permukiman perbatasan yang bertugas untuk menyusun kebijakan dan pengkoordinasian berbagai kegiatan terkait di tingkat pusat dan daerah.

dan pemerintah kabupaten untuk diaplikasikan dan dilaksanakan di wilayah perbatasan.149 Strategi pengembangan kelembagaan ditujukan pada masyarakat agar memperoleh posisi kemandirian (bargaining) dari posisi tawar sebelumnya sebagai objek pembangunan. dilindungi. khususnya penguatan dan pembentukan lembaga-lembaga yang ada agar program kegiatan penyuluhan dan pelatihan keterampilan dapat berjalan dengan lancar dan baik. . Pemerintah pun memfasilitasi upaya peningkatan kelembagaan masyarakat dengan mendatangkan pakar untuk memberikan pelatihan maupun penyuluhan sehingga tolok ukur keberhasilan pembangunan dari peningkatan kesejahteraan masyarakat pun tercapai. badan kerja sama antarnegara. Pemberdayaan mayarakat di wilayah perbatasan dibutuhkan agar masyarakat dapat mandiri sesuai potensi sektor unggulan pada setiap klaster dan membentuk kelompok-kelompok tani menuju kelompok-kelompok usaha. Pemerintah memfasilitasi peningkatan aktivitas perekonomian di wilayah perbatasan dengan upaya-upaya pemberdayaan masyarakat. Hal ini dapat berdampak positif pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dengan terbukanya peluang-peluang usaha yang dibantu dalam memperoleh modal/kredit usaha dan dari lembaga-lembaga keuangan. Pemerintah juga berperan untuk meneruskan kebijakan tersebut pada penyelenggara setempat yaitu pemerintah provinsi. Kelompok- kelompok usaha ini memiliki posisi yang lebih kuat karena adanya kerja sama antaranggota mengupayakan sesuai kapasitas dan bermitra dengan pihak lain dalam keuntungan usaha. Peningkatan kesejahteraan masyarakat perbatasan dapat mendorong peran dan partisipasi masyarakat dalam setiap kegiatan yang terkait dengan pengembangan kawasan permukiman. Pemerintah sebagai penyelenggara menekakan untuk lebih mengedepankan kualitas pelayanan publik serta kontinuitas penegakkan hukum dan peraturan untuk menghidupkan aktivitas ekonomi masyarakat di negeri sendiri. serta tidak adanya kerja sama dari stakeholders lainnya. Dalam pengembangan kelembagaan kemandirian masyarakat tidak akan terlaksana bila tidak didukung.

Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan kawasan yaitu kurangnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional (7A). ditetapkan dua skenario pengembangan yang dapat dibangun dalam kebijakan sebagai berikut: a. (2) meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Akan tetapi.150 4. dan (3) Kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan berkurang. kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga (6A). rendahnya kesejahteraan masyarakat (4A). tidak mengutamakan faktor-faktor penting yang seharusnya terlebih dahulu dilakukan sehingga tidak memiliki prospek kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara yang berpandangan jauh ke depan. kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1A).5. Skenario ini mengandung pengertian bahwa skenario yang dirumuskan perlu dilaksanakan berdasarkan konsep walaupun mengandung usaha pengembangan dan pengelolaan. Penerapan skenario pertama ini akan memberikan implikasi berupa (1) Meningkatnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional.4 Arahan Kebijakan Pengembangan Kawasan Perilaku strategi ternyata menunjukkan perbedaan pada berbagai faktor yang dikaji yang diakibatkan adanya perbedaan kombinasi faktor penting di wilayah perbatasan. Kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini direkomendasikan upaya yang dapat mendorong percepatan pengembangan kawasan permukiman berbasis potensi sektor unggulan wilayah seperti hal-hal berikut: . Oleh karena itu. Pada skenario pertama para pelaku pembangunan (stakeholder) dalam kebijakan pengembangan kawasan permukiman di wilayah perbatasan negara beranggapan bahwa faktor-faktor yang dikaji merupakan faktor yang potensial untuk meminimalisasi permasalahan pengembangan wilayah perbatasan di masa yang akan datang. terbatasnya fasos dan fasum (15A). kurangnya infrastruktur kawasan dan permukiman (14A).1. Skenario I Skenario pertama dibangun atas dasar kondisi dan permasalahan saat ini (existing condition) dari kawasan permukiman yang ada di wilayah perbatasan negara.

Pembangunan fasos dan fasum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat secara bertahap 13. maka . Pemeliharaan fasos dan fasum oleh pemda dengan melibatkan masyarakat sebagai pengguna dengan pemberian reward pada daerah dengan fasos dan fasum yang terpelihara baik Skenario pertama yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi pengembangan pembiayaan yaitu terbatasnya alokasi dana khusus (DAK) untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23A). Pembangunan terpadu infrastruktur dengan kawasan permukiman beserta pusat-pusat kegiatan di sepanjang perbatasan 10. masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan dalam peningkatan keterampilan masyarakat 7. 3. 8. Pembukaan lapangan pekerjaan padat karya di wilayah perbatasan negara Pembuatan pemetaan penggunaan lahan untuk perencanaan dan penataan kawasan permukiman yang disepakati oleh semua stakeholder yang terkait termasuk masyarakat pengguna dan dapat diakses oleh stakeholder yang terkait 9. Pembangunan pusat-pusat pertumbuhan baru di wilayah perbatasan 11.151 1. Penguatan kerja sama antara pemda. kurangnya dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman (17A). 5. Kemudahan akses informasi dan pasar Pembuatan informasi terpadu Promosi berkala untuk hasil-hasil sektor unggulan wilayah Peningkatan pemberdayaan masyarakat dalam kegiatan usaha yang berbasis potensi masyarakat dan kearifan lokal 6. pemanfaatan dan pengelolaan dana pembangunan belum optimal (24A). Pembuatan klaster permukiman berbasis potensi sektor unggulan wilayah berikut akses menuju dan keluar wilayah klaster 2. Pembangunan terminal-terminal berbasis sektor unggulan wilayah sebagai showroom yang dapat diakses secara mudah 12. swasta/investor. 4. Untuk mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini.

Kemudahan birokrasi pembuatan sertifikasi legalitas lahan usaha dan permukiman. 6. Evaluasi dan pembuatan kebijakan terkait wilayah perbatasan. aktivitas sosial ekonomi masyarakat rendah (5A). Skenario pertama dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan kelembagaan yaitu. Dalam rangka mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini maka pada pengembangan kelembagaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. 2. jangka menengah dan jangka panjang yang dievaluasi penggunaannya. Pengawasan dan penegakkan hukum terkait kegiatan di wilayah perbatasan negara 3.152 pada komponen pengembangan pembiayaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. Pelatihan dan penyuluhan sumber daya masyarakat yang diprakarsai pemda bekerja sama dengan lembaga pendidikan untuk kebutuhan tenaga kerja industri 4. Pembuatan kebijakan penganggaran dana alokasi khusus (DAK) untuk pembangunan wilayah perbatasan jangka pendek. Pembuatan lembaga inti-plasma kegiatan usaha sektor unggulan dengan kelompok usaha yang dibina oleh pemda dan swasta/investor 5. Pembuatan dan penguatan kerja sama dan kelompok usaha bersama di wilayah perbatasan 2. terbatasnya pelayanan publik (16A). 3. Kemudahan pembiayaan usaha oleh lembaga-lembaga keuangan Menerapkan subsidi silang pada kegiatan usaha bersama masyarakat Kemudahan kepemilikan rumah bekerja sama dengan lembaga keuangan dengan biaya terjangkau 4. penegakan hukum dan peraturan masih lemah (20A). .

4. menurunnya kesenjangan pembangunan ekonomi dan kemiskinan di wilayah perbatasan (1C). Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan kawasan yaitu. optimalisasi pemanfaatan dan pengelolaan dana . 3. masyarakat dan lembaga-lembaga pendidikan dalam peningkatan keterampilan masyarakat 5. peningkatan dana untuk pengembangan dan pengelolaan infrastruktur dan permukiman tetap (17B). dan ekonomi dari masyarakat. Pembangunan terminal-terminal berbasis sektor unggulan daerah sebagai showroom yang dapat diakses secara mudah 6. Pemeliharaan fasos dan fasum oleh pemda dengan melibatkan masyarakat dengan pemberian reward pada daerah apabila kondisi fasos dan fasum yang terpelihara secara baik Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan pembiayaan yaitu. Rekomendasi kebijakan dan strategi pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara dapat seimbang antara lingkungan. sosial. Kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini dalam pengembangan kawasan maka harus didukung dengan rekomendasi berikut ini: 1. meningkatnya pembangunan fasos dan fasum (15C). 2. meningkatnya alokasi dana khusus untuk pengembangan dan pengelolaan kawasan permukiman perbatasan (23C). meningkatnya pembangunan infrastruktur kawasan dan permukiman. Pembuatan informasi terpadu Promosi berkala untuk hasil-hasil sektor unggulan wilayah Pembangunan terpadu infrastruktur dengan kawasan permukiman Penguatan kerjasama antara pemda. pengusaha/investor. meningkatnya kesadaran masyarakat akan identitas nasional (7C). kesejahteraan masyarakat relatif tetap (4B). kondisi sosial dan ekonomi lebih baik di negara tetangga (6C). Skenario II Skenario kedua mengandung pengertian bahwa keadaan masa depan yang mungkin terjadi diperhitungkan dapat dipertimbangkan sesuai dengan keadaan dan kemampuan sumberdaya yang dimiliki.153 b.

5. serasi.2 Rekomendasi Kebijakan Pengembangan Kawasan Permukiman Berkelanjutan di Wilayah Perbatasan Negara Arahan kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara diperlukan kaitannya dengan adanya hak dan kewajiban dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1992 bahwa setiap warga negara mempunyai hak untuk menempati dan/atau menikmati dan/atau memiliki rumah yang layak dan terjangkau dalam lingkungan yang sehat. penegakkan hukum dan peraturan meningkat (20C). Selain itu. jangka menengah dan jangka panjang Skenario kedua yang dibangun berdasarkan keadaan dari faktor kunci dengan kondisi komponen pengembangan kelembagaan yaitu. pelayanan publik tetap (16B). maka pada pengembangan kelembagaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. Setiap warga negara mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk ikut serta dalam pembangunan . Dalam rangka mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini maka untuk pengembangan pembiayaan direkomendasikan seperti hal-hal berikut: 1. dan perikanan) 4.154 pembangunan tetap (24B). Pengawasan dan penegakan hukum terkait kegiatan di wilayah perbatasan 2. setiap warga negara mempunyai hak dan kesempatan yang sama untuk ikut serta dalam pembangunan permukiman. Untuk mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara pada skenario ini. aktivitas sosialekonomi masyarakat lebih ke wilayah negara tetangga berkurang (5C). dan teratur. perkebunan. Pelatihan dan penyuluhan sumber daya masyarakat yang diprakarsai pemda bekerja sama dengan lembaga-lembaga pendidikan untuk kebutuhan pengembangan tenaga kerja industri sektor unggulan wilayah (pertambangan. Evaluasi dan pembuatan kebijakan terkait pengembangan wilayah perbatasan 3. Evaluasi penganggaran dana alokasi khusus (DAK) untuk pembangunan wilayah perbatasan jangka pendek. aman. Kemudahan pembiayaan usaha oleh lembaga-lembaga keuangan 2.

Mendorong terciptanya pengembangan klaster-klaster kawasan permukiman sebagai pusat pertumbuhan baru (border city) di wilayah perbatasan negara 3.155 permukiman. Terwujudnya berkelanjutan 3. Berlangsung proses investasi dan pembiayaan pengembangan kawasan permukiman secara terpadu dan berkelanjutan berbasis potensi SDA wilayah kawasan permukiman layak huni secara terpadu dan Dalam pembangunan permukiman. Pemerintah memfasilitasi penyelenggaraan dan pembinaan dalam bidang permukiman secara terpadu dan berkelanjutan dilaksanakan oleh stakeholders terkait 2. Terwujudnya koordinasi/kerja sama antar-stakeholders dalam setiap tahapan penyelenggaraan pengembangan permukiman berikut prasarana dan sarana secara terpadu dalam suatu kelembagaan 2. dan lingkungan 6. yaitu: 1. aman. Keterpaduan pengembangan kawasan permukiman dapat terselenggara jika memenuhi 3 indikator. serasi. Penguatan dan pembentukan lembaga kerjasama pembangunan di wilayah perbatasan negara 5. Hal ini bertujuan agar hak setiap warga untuk mendapatkan rumah yang layak dalam lingkungan yang sehat. dan teratur bisa terpenuhi dengan upaya dilakukan oleh masyarakat dibantu oleh stakeholders. kearifan lokal. Dalam rangka mendukung kebijakan pengembangan kawasan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan negara. manual (NSPM) bidang permukiman yang berbasis pemberdayaan masyarakat. Meningkatkan peran pemerintah daerah dalam pembangunan permukiman berkelanjutan di wilayah perbatasan . direkomendasikan upaya yang dapat dilakukan yaitu dengan mendorong percepatan pertumbuhan wilayah melalui seperti hal-hal sebagai berikut: 1. panduan. peran serta masyarakat baik sebagai individu maupun komunitas wajib dilakukan. Mendorong terciptanya peraturan dan perundang-undangan di bidang permukiman perbatasan berbasis potensi SDA wilayah 4. standar. Menyusun norma.

3. Reklamasi dilakukan secara kontinyu untuk mengembalikan unsur hara tanah agar memudahkan dalam pemulihan fungsi kawasan melalui dimanfatkan untuk pengembangan fungsi lain seperti reboisasi atau perkebunan. dan investasi pembangunan kawasan permukiman perbatasan 9. Meningkatkan kapasitas SDM dan pelaku pembangunan permukiman berbasis kawasan 8. Mengembangkan kredit mikro perumahan bagi pembangunan dan perbaikan rumah dalam rangka pemenuhan kebutuhan rumah yang layak dan terjangkau 12. 4. sarana. dan penghijauan. dalam pengembangannya diperlukan persyaratan-persyaratan yang dapat mendukung keberlanjutan suatu kegiatan baik dalam pemanfatan ruang dan lahan adalah sebagai berikut: Sektor Pertambangan: 1. Toleransi ekploitasi kegiatan pertambangan tidak lebih dari 60% luas kawasan potensial pengembangan sektor pertambangan. 2. permukiman. Mendorong peran serta swasta/masyarakat dalam pembangunan dan perbaikan rumah dalam rangka pemenuhan kebutuhan perumahan yang layak huni dan terjangkau 11. dan utilitas (PSU) kawasan permukiman perbatasan Sedangkan. dalam pengembangan sektor unggulan kawasan Kabupaten sektor Nunukan dari hasil dan pembahasan perkebunan.156 7. Pengembangan teknologi ekploitasi dari penggalian ke sistem pengeboran menyamping sehingga dapat meminimalkan sisa lubang-lubang galian yang . Mendorong pelaksanaan penataan ruang kawasan permukiman berbasis potensi SDA wilayah prospektif dan partisipatif 10. teknologi. Meningkatkan penyediaan prasarana. Mendorong berkembangnya inovasi. dan sektor perikanan yaitu sektor pertambangan. Ekploitasi kegiatan pertambangan dengan menggunakan sistem 3 fit (3 lubang penambangan secara bersamaan).

perusahaan negara (PTPN).157 dapat merusak dan mendorong terjadinya degradasi lahan secara luas dalam waktu yang lama. Pemberdayaan masyarakat melalui penyuluhan dan pelatihan dalam hal peilihan benih. dan swasta. panen. inti-plasma. Komoditas sektor perkebunan yang akan dikembangkan selain berdasarkan potensi sektor unggulan kawasan juga memperhatikan kecenderungan pasar regionalnya dan animo masyarakat agar prospek pengembangannya dapat berkelanjutan. dan laut yang terjaga agar keberlanjutan kawasan dapat terwujud. Pemanfaatan sumber daya laut dengan menggunakan teknologi yang ramah lingkungan dan pengembangan kemampuan dalam pemanfaatan teknologi baru bidang perikanan 3. Mengembangkan sektor perikanan secara optimal dengan mengupayakan pelestarian ekosistem lingkungan pesisir. 5. . Pengembangan sektor perikanan dengan memanfaatkan sumber daya laut sesuai dengan kemampuan daya dukung perairan (fishing ground) baik dari ketersediaan sumber daya (tidak over fishing) maupun kemampuan dalam menghindari penggunaan bahan pencemar 2. Pengembangan sektor perkebunan dilakukan dengan pendekatan pengembangan perkebunan inti rakyat (PIR). Pengembangan ekonomi sektor pertambangan benefit) melalui harus berorientasi manajemen pada manfaat dengan (economic pengelolaan komposisi perbandingan sharing 70% untuk perusahaan (investor) dan 30% dialokasikan masyarakat. dan kegiatan pascapanen. 3. untuk biaya rehabilitasi lingkungan dan pemberdayaan Sektor Perkebunan: 1. penanaman benih. pemeliharaan. 2. pantai. Sektor Perikanan: 1.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->